PERBANDINGAN PENERAPAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM PENCAPAIAN TUJUAN KOGNITIF PADA SISWA

KELAS VII B DAN VII C SMP NEGERI 28 SURABAYA TAHUN 2006/2007
PROPOSAL PENELITIAN

Oleh
MOCH. HENDY BAYU PRATAMA NIM 061494070

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN PROGRAM PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAJAR 2007

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas yang dilakukan guru bersama murid akan menghasilkan sekelompok murid cepat belajar dengan prestasi baik, sekelompok murid sedang dengan prestasi sedang, dan sekelompok murid rendah dengan prestasi rendah pula. Biasanya, keadaan seperti ini membuat kelompok murid rendah akan memunculkan reaksi-reaksi tertentu yang menimbulkan masalah belajar, seperti membuat ramai. Kelompok ini melakukan hal tersebut karena mereka mempunyai kesulitan belajar. Kesulitan belajar ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam proses belajar. Individu yang mengalami kesulitan belajar akan terhambatan dalam proses belajarnya, terutama dalam mencapai tujuan. Kesulitan belajar sebagai masalah sebenarnya terletak dalam hambatan ini, yaitu akibat yang mungkin timbul, baik terhadap dirinya maupun lingkungannya jika hambatan-hambatan ini tidak dapat diatasi. Oleh karena itu adanya kesulitan belajar menuntut adanya usaha-usaha untuk memecahkannya. Jenis masalah belajar ada bermacam-macam. Haditono (dalam Iskandar dkk, 1995:276) mengelompokkan menjadi empat kategori, yakni dari kategori biologi, psikologis, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari keempat kategori tersebut, salah satu masalah belajar yang paling nyata adalah cara mengajar yang kurang tepat. Jika seorang guru mengajar siswanya dengan cara yang salah, seperti memakai metode ceramah saja, maka yang terjadi adalah siswa menjadi merasa bosan dan menjadi kurang termotivasi untuk mengikuti pelajaran. Jika hal ini terjadi, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan maksimal. Maka dari itu, untuk menanggulangi hal tersebut, ada baiknya jika pada salah satu kegiatan belajar mengajar memakai metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah mengupayakan peserta didik untuk mampu mengajarkan kepada peserta lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model

pembelajaran yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks (Ibrahim dkk, 2000:20). Karena objek penelitian ini adalah sekelompok siswa dan sengaja dilakukan oleh guru untuk menyempurnakan atau meningkatkan proses dan praksis pembelajaran, maka penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Menurut Arikunto (2006:91), penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas. Adapun menurut Suyanto (1997), penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk peneltian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah untuk mengembangkan ketrampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dhadap di kelasnya. Selain itu, tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan dan atau memperbaiki praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru (Sadikin dan Suranto, 2002). Karena penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, maka harus ada yang menjadi bahan penelitian. Adapun bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya fiksi yang berbentuk cerpen. Alasan dipergunakan karya fiksi atau cerpen sebagai bahan penelitian tersebut, karena bermanfaat untuk memberikan hiburan, sekaligus secara tidak langsung pembaca dapat belajar berbagai permasalahan kehidupan yang secara sengaja ditawarkan oleh pengarang Melihat besarnya manfaat fiksi sebagai karya sastra dalam mendukung pengalaman dalam menjalani kehidupan, maka sudah selayaknya keberadaan sastra mendapat perhatian dalam dunia pendidikan. Untuk membangkitkan semangat siswa dalam menggemari sastra dapatlah ditempuh dengan cara menghadirkan karya sastra dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam dunia pendidikan, kegiatan memahami sastra dituangkan dalam kurikulum sebagaimana yang dapat dilihat pada tujuan umum pengajaran bahasa dan sastra Indonesia tahun 1994 butir keempat, yaitu: menikmati, menghayati, dan

(2) SMP Negeri 28 adalah tempat peneliti untuk melaksanakan PPL 2. 1988:88). dengan bahan cerpen ini banyak mempunyai keuntungan-keuntungan praktis. Cerpen dapat dimanfaatkan sebagai sarana perubahan minat sastra. antara lain. antara lain. memperluas wawasan kehidupan sastra. khususnya di daerah Lidah dan sekitarnya. Sebuah cerita pendek biasanya dapat sampai selesai dalam sekali jam tatap muka. Maka dari itu. mengingkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (GBPP. hanya ada satu orang yang menggunakan SMP . (1) SMP Negeri 28 Surabaya termasuk SMP favorit di Surabaya. terutama dalam penyajiannya. (1) teori kooperatif tipe STAD jarang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sekarang. khususnya dalam bidang pengajaran sastra di sekolah. karena cerpen lebih diminati dan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. (2) sejauh sepengetahuan peneliti. (3) sejauh sepengetahuan peneliti. 1994). Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menghadirkan cerpen sebagai bahan pengajaran memahami karya sastra. Adapun alasan peneliti mengambil SMP Negeri 28 Surabaya. Kreativitas guru sangat diperlukan dalam mencapai tujuan pengajaran memahami sastra. belum ada yang menggunakan kedua teori tersebut untuk menganalisis hasil belajar siswa SMP Negeri 28 Surabaya. termasuk siswa kelas VII B dan VII C. Dalam penelitian ini juga hendak diungkapkan kemampuan siswa dalam mencapai tujuan kognitif dalam memahami sebuah karya sastra (cerita anak terjemahan) yang berjudul “Georgia Abbot” dengan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran kooperatif tipe STAD. dan tugas-tugas yang berhubungan dalam cerita pendek tersebut biasanya dapat selesai pula untuk dibaca dan ditelusuri bersama-sama oleh seluruh siswa dalam sekelas (Rahmanto. sebagai sampel penelitian. Oleh karenanya.memamfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian. Berdasarkan gambaran diatas. peneliti tertarik untuk menerapkannya. dapat ditegaskan bahwa yang dipakai sebagai bahan penelitian ini adalah prosa yang berbentuk cerpen. Alasan peneliti menggunakan teori perbandingan penerapan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam hal ini. maka dapat dirumuskan permasalahan yang berhubungan dengan topik penelitian.2 Manfaat Praktis Secara praktis. antara lain. 1. 1. manfaat dalam penelitian ini.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah diatas.Negeri 28 sebagai sampel penelitian. .4. maka tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan perbandingan hasil belajar dengan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pencapaian tujuan kognitif pada siswa kelas VII B dan VII C SMP Negeri 28 Surabaya tahun 2006/2007. penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi model pembelajaran kooperatif. (1) Bagi Siswa Dengan adanya penelitian ini.4. yakni bagaimana perbandingan hasil belajar dengan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pencapaian tujuan kognitif pada siswa kelas VII B dan VII C SMP Negeri 28 Surabaya tahun 2006/2007.1 Manfaat Teoretis Secara teoretis. yakni penelitian yang dilakukan oleh Yulis Nurfatna.2 Rumusan Permasalahan Berdasarkan uraian dalam latar belakang. khususnya tipe STAD yang dikembangkan oleh Robets Slavin. diharapkan siswa mampu mengembangkan keterampilan berpikir secara krisis dalam memahami karya sastra. sumbangan pada model pembelajaran kooperatif dikhususkan pada tipe STAD. 1.4 Manfaat Penelitian 1. 1.

menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks.(2) Bagi Guru Hasil penelitian ini dapat membantu guru dalam meningkatkan kualitas profesional guru dan menentukan pendekatan pelajaran yang tepat dalam pembelajaran memahami karya sastra. (3) Bagi Sekolah Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai masukan dalam mengambil kebijakan pada proses pembelajaran di sekolah. Dengan demikian guru dapat memperbaiki hal-hal yang masih kurang dalam mencapai tujuan yang diharapkan.1 Definisi Agar terhindar dari penafsiran yang kurang tepat terhadap permasalahan khususnya terhadap penelitian ini. (4) Bagi Peneliti Hasil dari penelitian ini dapat menjadi masukan tambahan informasi sekaligus sebagai umpan untuk mengembangkan penelitian lain yang berkaitan dengan pembelajaran yag lebi komples ataupun lainnya dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan 1. (2) Pembelajaran lain. dan Keterbatasan 1. (1) Pembelajaran konvensional adalah salah satu model pembelajaran yang hanya memusatkan pada metode pembelajaran ceramah. Pada model pembelajaran ini. siswa diharuskan untuk menghafal materi yang diberikan oleh guru dan tidak untuk menghubungkan materi tersebut dengan keadaan sekarang.5. (3) STAD adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif yang mengacu kepada belajar kelompok siswa. maka penulis memberikan secara operasional dalam penelitian. kooperatif adalah suatu metode pembelajaran yang mengupayakan peserta didik untuk mampu mengajarkan kepada peserta . Asumsi.5 Definisi.

Hal ini bertujuan untuk menghindari meluasnya penjabaran analisis. (4) Kognitif adalah kemampuan atau proses pikir intelektual yang dimiliki oleh setiap individu. 2006:60). antara lain: (1) penelitian yang dilakukan terbatas hanya pencapaian tujuan kognitif yang dilakukan oeh siswa dengan menerapkan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran kooperatif tipe STAD (2) penelitian ini terbatas pada siswa kelas VII C dan VII D di SMP Negeri 28 Surabaya BAB II KAJIAN PUSTAKA . kuis.5. asumsi dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) tiap individu mempunyai kemampuan dasar memahami unsur intrinsik cerita (2) tiap individu mempunyai tingkat kognitif yang berbeda-beda (3) ada pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual terhadap pelajaran menganalisis unsur intrinsik 1.2 Asumsi Menurut Surakhmad (dalam Arikunto. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial.5.3 Keterbatasan Dalam setiap penelitian harus ada keterbatasan. tetapi langsung merujuk ke rumusan dan tujuan permasalahan. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini. asumsi atau anggapan dasar adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya dapat diterima oleh penyelidik. 1.Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4—5 orang. Berdasarkan latar belakang yang ada. satu sama lain dan atau melakukan diskusi.

Dari segi pencapaian keterampilan sosial. Dalam penelitiannya.2 SMA Negeri 1 Talun Blitar Pertama.1 Penemuan yang Lalu Menurut sepengetahuan peneliti. pada tingkat fakultas. dapat diketahui juga bahwa siswa . dari analisis data berupa analisis ketuntasan belajar tiap siswa kelas VII F SMP Negeri 28 Surabaya pada kemampuan akademik. Gambaran kedua peneliti tersebut bisa dilihat pada tabel I. Dalam penelitian tersebut.2 SMA Negeri 1 Talun Blitar 2006 Skrirsi Tahun 2006 Kategori Laporan Inti Bahasan Mendeskripsikan keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pencapaian tujuan kognitif dan afektif di kelas VII F SMP Negeri 28 Surabaya. dan peningkatan respon siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual Siswa X. pengkajian yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD ini hanya ada dua orang. Mendeskripsikan langkah-langkah. Tabel I Penelitian yang Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD No 1 Peneliti Yulia Nurfatna (061494120) Judul Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dalam Pencapaian Tujuan Kognitif dan Afektif 2 Dina Ziadatul Wiyani Peningkatan Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Pendekatan Kontekstual model Kooperatif tipe STAD Siswa X.5% siswa telah mencapai ketuntasan belajar dan mencapai tingkat perkembangan pengetahuan yang cukup besar. peningkatan hasil belajar. ia mendeskripsikan keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pencapaian tujuan kognitif dan afektif pada siswa kelas VII F SMP Negeri 28 Surabaya. Nurfatna (2006:15) menyimpulkan. 92.2. penelitian yang dilakukan oleh Yulis Nurfatna.

yakni “Perbandingan Penerapan Pembelajaran Konvensional dan Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dalam pencapaian Tujuan Kognitif pada Siswa kelas VII B dan VII C SMP Negeri 28 Surabaya Tahun 2006/2007. 2.3%) alasannya adalah bisa mengurangi rasa bosan. Dalam penelitiaannya. Wiyani (2006:52—53) menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa kels X. Blitar.2 SMA Negeri 1. penelitian yang dilakukan oleh Dina Ziadatul Wiyani. bekerjasama dalam memberikan ide. menghormati pendapat orang lain. yakni 75. 2.5%. Adapun sebagian besar (84. peningkatan hasil belajar. pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran yang mengupayakan peserta didik untuk mampu mengajarkan kepada peserta lain. Dalam penelitian tersebut. Pembelajaran kooperatif ini mengacu kepada metode pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar. . Banyak terdapat pendekatan kooperatif yang berbeda antara satu dengan lainnya.” maka dalam bab ini peneliti menggemukakan teori yang berkaitan dengan variabel yang terdiri dari penerapan pembelajaran konvensional dan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pengorganisasian pembelajaran dicirikan siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama.3%. namun masih perlu ditingkatkan lagi dalam keterampilan menyanggah. dan juga bisa meningkatkan bersosialisasi dengan sesamanya dalam memahami informasi atau materi.2. Blitar. dan mereka akan berbagi penghargaan bila mereka berhasil sebagai kelompok. Talun. ia mendeskripsikan langkah-langkah. dan peningkatan respon siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual siswa kelas X.1 Pembelajaran Kooperatif Menurut Suyanto (2005).2 Teori yang Mendasari Berdasarkan judul penelitian. yakni sebesar 86. mengalami peningkatan.2 SMA Negeri 1.sudah berhasil dalam kegiatan kooperatif melalui bertanya. Talun. Kedua. Sedangkan respon siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD ini adalah banyak yang menyukainya.

dan bertanggung jawab secara sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Suyanto. Dalam satu pelajaran tertentu. . Pembelajaran kooperatif memiliki ciri khusus. Menurut Rustarmadi (2006) dan Ibrahim. Pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk memecahkan sebuah masalah yang kompleks. dan pengembangan ketrampilan sosial. dkk (2000:6—7). (3) siswa dituntut untuk bekerja sama dalam kesamaan dan perbedaan. dan silih asuh antar sesama siswa. aktivitas pembelajaran kooperatif dapat memainkan banyak peran dalam pelajaran. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan metode diskusi yang biasanya dilaksanakan dikelas karena didalamnya menekankan pembelajaran dalam kelompok kecil dimana siswa belajar dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang optimal. penerimaan terhadap keragaman. dan rendah. yaitu hasl belajar akademik. Kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar. Pembelajaran kooperatif meletakan tanggung jawab individu sekaligus kelompok sehingga percaya diri siswa tumbuh dan berkembang secara positif. pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk tiga tujuan berbeda.Kebanyakan melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (Slavin. (4) pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah. dkk (2000:7). 2005). 2000:25). bekerja. Lebih lanjut lagi. pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting. dalam Nur dan Wikandari. (5) penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu. antara lain: (1) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. sedang. silih asih. sebagai latihan hidup bermasyarakat. Menurut Ibrahim. (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi.

CIRC (Cooperative Integraded Reading and Composition). Pada pembelajaran kooperatif dapat dilihat langkah-langkah model pembelajaran kooperatif (Suharto. (3) partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Learning Together. 2. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut: (1) siswa dapat meningkatkan kemampuan bekerja sama.2 Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD . Tipe-tipe tersebut memiliki metode yang berbeda-beda. 2006:78) pada tabel II. pembelajaran kooperatif mempunyai banyak manfaat bagi siswa. TGT (Teams-Games-Tournament).2. dkk. TAI (Team-Assisted-Individualization). dan sikap positif. antara lain: STAD (Student Teams-Achievement Divisions). harga diri. dan Investigasi Kelompok. Tabel II Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif NO 1 FASE Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 2 Menyajikan informasi PERAN GURU Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan 3 4 5 6 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar Membimbing kelompok bekerja dan belajar Evaluasi Memberi penghargaan bacaan Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar Guru membimbing kelompok belajar Guru mengevaluasi hasil belajar dan mempresentasikan hasil kerjanya Guru memberi penghargaan untuk upaya hasil belajar individu dan kelompok Pembelajaran kooperatif ini memiliki berbagai jenis atau tipe. Jigsaw. (2) siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan. walaupun memiliki ciri yang sama. (4) mengurangi kecemasan siswa.Menurut Lie (1999). dan (6) meningkatkan prestasi akademis siswa. (5) menngkatkan motivasi.

2000:26). seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu. Guru memberikan pelajaran dan selanjutnya siswa bekerja dalam kelompok masing-masing untuk memastikan bahwa anggota kelompok telah menguasai pelajaran yang diberikan. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4—5 orang. STAD terdiri dari siklus kegiatan pengajaran biasa seperti berikut ini: • • • Mengajar: menyajikan pelajaran Belajar dalam tim: siswa bekerja di dalam tim mereka dengan dipandu oleh lembar kegiatan siswa untuk menuntaskan materi pelajaran Tes: siswa mengerjakan kuis atau tugas lain secara individual . menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial. juga mengacu kepada belajar kelompok siswa. satu sama lain dan atau melakukan diskusi. dan rendah. dalam STAD. Kemudian. sedang. dan memiliki kemampuan tinggi.STAD merupakan salah satu sistem pembelajaran kooperatif yang didalamnya siswa dibentuk ke dalam kelompok belajar yang terdiri dari 4 atau 5 anggota yang mewakili siswa dengan tingkat kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda. menurut Slavin (dalam Nur dan Wikandari. Menurut Nur dan Wikandari (2000:31—32). jenis kelamin. Akhirnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Ibrahim dkk (2000:20—21). siswa melaksanakan tes atas materi yang diberikan dan mereka harus mengerjakan sendiri tanpa bantuan siswa lainnya. Lebih lanjut lagi. kuis. Guru menyajikan pelajaran. dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran yang paling sederhana. pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu. Guru yang menggunakan STAD. Setiap kelompok haruslah heterogen. siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran mnurut tingkat prestasi. terdiri dari laki dan perempuan yang berasal dari berbagai suku. dan suku.

Bagilah kelompok ke dalam kelompok-kelompok masing-masing terdiri dari empat atau lima anggota. 2. pastikan bahwa tim-tim yang terbentuk itu berimbang menurut jenis kelamin dan asal suku. Buatlah lembar kegiatan siswa (LKS) dan kuis pendek untuk pelajaran yang anda rnerencanakan untuk diajarkan. atau papan pengumuman digunakan untuk memberi penghargaan kepada tim yang berhasil mencetak skor tinggi. Selama belajar kelompok (satu atau dua periode kelas) tugas anggota tim adalah menguasai secara tuntas materi yang anda presentasikan dan membantu anggota tim mereka menguasai secara tuntas materi tersebut. dan sertifikat. Langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut (Nur dan Wikandari. Untuk menempatkan siswa dalam kelompok. Pada saat anda menjelaskan STAD. Apabila mereka sedang mengerjakan soal.• Penghargaan tim: skor tim dihitung berdasarkan skor peningkatan anggota tim. • Mintalah anggota tim bekerja sama mengatur bangku atau meja-kursi mereka. kepada kelas anda. membuat tim terdiri dari lima anggota hanya apabila kelas tidak dapat dibagi habis dengan empat anggota. 3. Kemudian ambil satu siswa dari tiap perempatan itu sebagai anggota tiap tim. bacakan tugas-tugas yang harus dikerjakan tim. dan berikan siswa kesempatan sekitar 10 menit untuk memilih nama tim mereka. Sebaiknya empat anggota. 2000:32—35): 1. urutkan mereka dari atas ke bawah berdasarkan kinerja akademik tertentu dan bagilah daftar siswa yang telah urut itu menjadi empat. Siswa mendapat LKS atau materi pelajaran lain yang dapat mereka gunakan untuk latihan keterampilan yang sedang diajarkan dan menilai mereka sendiri dan anggota tim mereka. setiap siswa dalam suatu pasangan atau tigaan hendaknya Bagilah LKS atau materi belajar lain (dua set untuk tiap . laporan berkala kelas. • tim). • Anjurkan agar siswa pada tiap-tiap tim bekerja dalam duaan (berpasangan) atau tigaan.

• Pada saat siswa sedang bekerja dalam tim. • Apabila siswa memiliki pertanyaan. Jangan mengijinkan siswa untuk bekerja sama pada saat mengerjakan kuis itu. • Pastikan siswa memahami bahwa LKS itu untuk belajar. Oleh karena itu. Bila tiba saatnya memberikan kuis. pada saat ini mereka harus menunjukkan bahwa mereka telah belajar sebagai individu. dan berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk menyelesaikan tes itu. • Berikan kesempatan kepada siswa untuk saling menjelaskan jawaban mereka. 4. penting bagi siswa pada akhirnya diberi lembar kunci jawaban LKS untuk mengecek pekerjaan mereka sendiri dan teman satu tim mereka pada saat mereka belajar. mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu kepada teman satu timnya sebelum mengajukan kepada anda. berikanlah pujian kepada tim yang bekerja baik dan secara bergantian duduklah bersama tiap tim untuk memperhatikan bagaimana anggota-anggota tim itu bekerja. Apabila ada siswa yang tidak dapat mengerjakan soal itu. bukan untuk diisi dan dikumpulkan. partner secara bergantian memegang lembar jawaban atau mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. teman satu tim siswa itu memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan soal itu. bagikan kuis atau bentuk evaluasi yang lain. Salah satu cara dapat ditempuh. Apabila siswasiswa itu sedang mengerjakan soal-soal jawaban singkat. berkelilinglah di dalam kelas. Mintalah siswa menggeser tempat duduknya lebih jauh bila hal ini dimungkinkan. mereka dapat saling mengajukan pertanyaan di antara satu tim. meminta . tidak hanya saling mencocokan jawaban mereka dengan lembar kunci jawaban itu.mengerjakannya diantara teman dalam pasangan atau tigaan itu. • Beri penekanan kepada siswa bahwa mereka tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar sampai mereka yakin bahwa seluruh anggota tim mereka dapat menjawab 100% benar soal-soal kuis tersebut.

Skor tim pada STAD didasarkan pada peningkatan skor anggota tim dibandingkan dengan skor yang lalu mereka sendiri. pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal ini membuat hubungan antara bekerja dengan baik dan menerima pengakuan jelas bagi siswa. Sesegera mungkin setelah tiap kuis. Anda dapat memberikan sertifikat kepada anggota tim atau mempersiapkan suatu peragaan dalam papan pengumuman. Adapun kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah: dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Setelah 5 atau 6 minggu penerapan STAD. Anda hendaknya mempersiapkan semacam pengakuan kepada tiap tim yang mencapai rata-rata peningkatan 20 atau lebih. Setiap model-model pembelajaran. meingkatkan motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik. pengumuman skor tim itu dilakukan pada pertemuan pertama setelah kuis tersebut. 5. Pengakuan kepada prestasi tim. dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. kombinasikan hasil-hasil kuis itu ke dalam satu skor mingguan. aturlah ulang siswa ke dalam tim-tim baru. 6. Minat anda sendiri yang besar terhadap skor tim akan membantu. dan mengumumkan skor tim itu secara tertulis di papan pengumuman atau cara lain yang sesuai. Buatlah skor individual dan skor tim. anda seharusnya menghitung skor peningkatan individual dan skor tim. Apabila mungkin. Segera setelah anda menghitung poin untuk tiap siswa dan menghitung skor tim. Hal ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dengan teman sekelas yang lain dan menjaga program pengajaran tetap segar.siswa saling menukarkan pekerjaan mereka dengan siswa anggota tim lain atau mengumpulkan pekerjaan itu untuk anda periksa sendiri apda kesempata lain. . Begitu juga pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Apabila anda memberikan lebih dari satu kuis dalam satu minggu. Penting untuk membantu siswa menghargai skor tim. Hitunglah skor tim dengan menjumlahkan poin peningkatan yang diperoleh tiap anggota tim dan membagi jumlah itu dengan jumlah anggota tim yang mengerjakan kuis itu.

dapat mendengar. 2. Tabel III Perbedaan antara Model Pembelajaran Konvensional dan Kooperatif KONVENSIONAL KOOPERATIF . orang lain dan menyakinkan dirinya untuk saling memahami dan saling mengerti. tipe STAD ini harus lengkap. Berikut akan dijelaskan.2. pembelajaran kooperatif tipe STAD ini juga memiliki kekurangan. serta menerima pendapat siswa dapat mengurangi kejenuhan dan kebosanan. perbedaan antara pembelajaran konvensional dan pembelajaran kooperatif. pada tabel III.- dapat meningkatkan kreativitas siswa.3 Pembelajaran Kovensional Pembelajaran konvensional adalah salah satu model pembelajaran yang hanya memusatkan pada metode pembelajaran ceramah. antara lain: setiap siswa harus berani berpendapat atau menjelaskan kepada siswa akan sedikit ramai ketika perpindahan kelompok (dari sarana dan fasilitas yang dibutuhkan dalam pembelajaran kooperatif pembelajaran kooperatif tipe STAD ini juga memerlukan banyak teman-temannya. menghormati. Pada model pembelajaran ini. Selain kelebihan. dapat mengidntifikasikan perasaannya juga perasaan siswa lain. waktu. kelompok asal ke kelompok ahli dan sebaliknya). siswa diharuskan untuk menghafal materi yang diberikan oleh guru dan tidak untuk menghubungkan materi tersebut dengan keadaan sekarang (kontekstual). dapat menyakinkan dirinya untuk orang lain dengan membantu lain.

3 pengumpulan data . Berdasarkan permasalahan dari kajian pustaka yang telah diuraikan. Artinya.2 desain & pendekatan pen 3.4 Hipotesis Hipotesis yang dirumuskan dapat diterima atau ditolak berdasarkan hasil dari penelitian.Menyadarkan pada hafalan Pemilihan informasi atau materi ditentukan oleh guru Cenderung terfokus pada satu bidang tertentu Memberikan tumpuan informasi atau materi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan Memberikan hasi belajar hanya melalui kegiatan berupa ujian atau ulangan Menyadarkan pada memori spasial Pemilihan informasi atau materi berdasarkan kebutuhan individu siswa Mengitegrasikan beberapa bidang disiplin Selalu mengaitkan informasi atau materi dengan pengetahuan awal yang dimiliki siswa Menerapkan penilaian autentik melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah Adapun langkah-langkah dari model pembelajaran konvensional bisa dilihat pada tabel IV sebagai berikut: Tabel IV Langkah-langkah Model Pembelajaran Konvensional NO 1 2 3 4 FASE Menyampaikan tujuan Menyajikan informasi Mencek pemahaman dan memberikan umpan balik Memberikan kesempatan latihan lanjutan PERAN GURU Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut Guru menyajikan informasi kepada siswa secara tahap demi tahap dengan metode ceramah Guru mencek keberhasilan siswa dan memberikan umpan balik Guru memberikan tugas tambahan untuk dikerjakan di rumah. maka hipotesis dari penelitian ini adalah “ada peningkatan pencapaian tujuan kognitif yang dilakukan siswa ketika dilakukan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD” 3. sampel (cuplikan) dan teknik smpling (pencuplikan) 3.3 Ringkasan dan kerangka berpikir 2. 2.1Pemilihan subjek (populasi. hipotesis yang dikemukakan harus diuji kebenarannya.

.BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian memberikan rambu-rambu agar penelitian mempunyai patokan atau memberi panduan pada penulis tentang melakukan penelitian dengan uraian meupun teknik yang dapat dipertanggung jawabkan sehingga diperoleh kejelasan ilmiah.

penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk peneltian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. maka akan diuraikan satu persatu tentang hal tersebut. Menurut Arikunto (2006:91). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII C dan VII D SMP Negeri 28 Surabaya dengan jumlah siswa tiap kelas rata-rata 40 siswa. penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan. Selain itu.1 Populasi penelitian Menurut Arikunto (2006:102).1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.2 Penentuan Populasi dan Sampel 3. Adapun menurut Hadi (dalam Asnawati. instrumen penelitian. dan terjadi dalam sebuah kelas. Adapun menurut Suyanto (1997). Dalam hal ini peneliti bertidak sebagai guru dan siswa kelas VII C dan VII D SMP Negeri 28 Surabaya sebagai subjek penelitian. penentuan populasi dan sampel. . Jadi dapat disimpulkan bahwa populasi adalah sekelompok subjek dalam daerah atau lingkungan tertentu yang menjadi subjek penelitian. variabel penelitian. Untuk lebih jelas. rancangan penelitian.2. prosedur penelitian. 2006:16). dan metode analisis data. 2002). sehingga jumlah keseluruhan populasi sebanyak 80 siswa.Pembahasan pada bab ini meliputi: jenis penelitian. tempat dan waktu penelitian. 3. populasi adalah keseluruhan subjek yang dijadikan penelitian. populasi adalah sekelompok penduduk yang dimaksud untuk diselidiki. Tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah untuk mengembangkan ketrampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dihadapi di kelasnya. Siswa kelas VII C dan VII D sama-sama mempunyai kemampuan tingkat kognitif atau akademik yang heterogen. 3. tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan dan atau memperbaiki praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru (Sadikin dan Suranto. metode pengumpulan data.

4 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian one group pre test post test desain. . teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan teknik random sampling. Menurut Arikunto (2006).3.2 Sampel Menurut Hadi (dalam Asnawati. karena peneliti menganggap dengan 30 responden sudah bisa mewakili seluruh subjek penelitian. kemudian diambil tanpa prasangka apapun sesuai dengan sampel yang ditentukan. rancangan penelitian tersebut digambarkan sebagai berikut: 01 X 02 Keterangan: 01: Pre test. . 2006:16). Implementasi penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2007. Adapun cara yang digunakan adalah teknik cara undian.2. Dalam penelitian ini sampel yang dipakai adalah 30 responden tiap kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII C dan VII D. Menurut Riyanto (1996:71). 3. Alasan peneliti hanya mengambil 30 responden tiap kelas adalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (2006:117) yang menyatakan bahwa sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. teknik undian dilakukan dengan cara menuliskan semua nomor subjek. Dalam penelitian ini. 3. sampel adalah sebagian dari populasi. yaitu tes yang dilakukan di awal pokok bahasan yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. atau tepatnya pada tanggal 24 dan 26 Mei 2007.3 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 28 Surabaya pada semester genap tahun ajaran 2006/2007.

yaitu tes di akhir pokok bahasan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan materi siswa yang diketahui dari ketuntasan hasil belajar. yaitu tahap persiapan pmbelajaran dan tahap pelaksanaan pembelajaran. kompetensi dasar pada pokok bahasan memahami cerita anak terjemahan adalah “siswa dapat membaca buku cerita anak terjemahan dan menganalisis unsurunsurnya”. Dalam penelitian ini.siswa laki-laki dan --.5 Variabel Penelitian Variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah: (1) Pelaksanaan metode pembelajaran konvensional (2) Pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD (3) Aktivitas guru dan siswa (4) Penguasaan konsep materi Bahasa dan Sastra Indonesia (memahami cerita terjemahan) 3. yaitu pelaksanaan pembelajaran konvensional dan kooperatif tipe STAD pada pokok bahasan memahami cerita anak terjemahan 02: Post test. 3. terdiri dari --.X: Perlakuan.siswa perempuan yang memiliki tingkat kemampuan akademik yang heterogen.6 Prosedur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap. (1) (a) Tahap Persiapan Analisis tujuan pembelajaran umum Pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengacu pada kompetensi dasar kurikulum 2004 (KBK) yang nantinya dikuasai oleh siswa setelah proses belajar mengajar. (b) Analisis siswa Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas VII B dan VII C S MP Negeri 28 Surabaya yang pilih secara acak dengan cara diudi. .

Mampu menemukan latar dalam cerita anak terjemahan Mampu mengaitkan isi buku cerita dengan kehidupan Mampu menemukan tema.Selain itu. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) 2) dibaca 3) sekarang Selanjutnya dari indikator tersebut. siswa latar belakang sosial ekonomi dan jenis kelamin yang berbeda. meliputi: 1) 2) 3) (d) Menemukan unsur intrinsik di dalam cerita anak Mengungkapkan pikiran dan imajinasi berkenaan dengan Mengaitkan isi buku cerita dengan kehidupan sekarang terjemahan yang disertai bukti yang mendukung unsur pelaku dan latar dari cerita anak terjemahan yang dibaca Merumuskan indikator hasil belajar Merumuskan indikator hasil belajar berdasarkan analisis pokok bahasan dan rumusan indikator hasil belajar selanjutnya akan digunakan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran dan menyusun tes hasil belajar. latar. yaitu: 1) 2) Mampu menemukan tema dalam cerita anak terjemahan. (c) Analisis konsep Analisis konsep diilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama pada materi yang akan diajarkan. . Hasil analisis konsep tentang memahami cerita anak terjemahan berupa ringkasan materi memahami cerita anak terjemahan yang dikerjakan siswa dalam bentuk portofolio. perwatakan. dengan unsur pelaku dan latar dari cerita anak terjemahan yang yang disertai dengan bukti yang mendukung. akan dijabarkan lagi menjadi beberapa subindikator. dan nilai Mampu mengungkapkan pikiran dan imajinasi berkenaan dalam cerita terjemahan disertai dengan bukti yang mendukung.

dengan unsur pelaku dari cerita anak terjemahan yang dibaca dengan unsur latar dari cerita anak terjemahan yang dibaca siswa atau sekarang Mengelompokkan indikator hasl belajar sesuai dengan rencana Memilih pendekatan pembelajaran Dalam penelitian ini akan digunakan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD. tanya jawab. perwatakan. kerja kelompok. Mampu menemukan sudut pandang dalam cerita anak Mampu mengungkapkan pikiran dan imajinasi berkenaan Mampu mengungkapkan pikiran dan imajinasi berkenaan Mampu mengaitkan isi buku cerita dengan kehidupan terjemahan yang disertai dengan bukti yang mendukung. dan lembar tugas. dan pemberian tugas. Media yang digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar yakni: Kumpulan Kegiatan Siswa (KKS). Sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah metode ceramah.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) (e) (f) Mampu menemukan perwatakan dalam cerita anak Mampu menemukan nilai moral dalam cerita anak Mampu menemukan plot dalam cerita anak terjemahan. pembelajaran . tanya jawab. latar. terjemahan yang disertai dengan bukti yang mendukung. peneliti mengambil materi memahami cerita anak terjemahan yang terdiri dari sub pokok bahasan: menemukan tema. terjemahan yang disertai dengan bukti yang mendukung. dan nilai dalam cerita terjemahan disertai dengan bukti yang mendukung. Metode yang digunakan dalam pembelajaran konvensional adalah metode ceramah. dan pemberian tugas. dan mengaitkan isi buku cerita dengan kehidupan sekarang. (g) Memilih materi dan media Dalam penelitian ini. mengungkapkan pikiran dan imajinasi berkenaan dengan unsur pelaku dan latar dari cerita anak terjemahan yang dibaca. diskusi.

tahun 2006. pada bab 11.(h) Menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi: 1) Silabus. Lembar Tugas ini digunakan untuk mengetahui hasil post tes siswa. materi pokok. penilaian. yaitu satu orang mahasiswa akta mengajar pembimbing tugas akhir dan oleh guru pamong. (2) Tahap Pelaksanaan . indikator. 2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). sebagai pedoman pengajaran bagi guru yang terdiri dari standar kompetensi. (j) Pengembangan instrumen penelitian Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar yang terdiri dari tes awal (pre tes) dan tes akhir (post tes). kompetensi dasar. adalah lembar yang dibuat sendiri oleh guru dengan mengutip dari buku paket Bahasa Indonesia SMP karangan Alex Suryanto dan Anita Verly. halaman 168—172. yakni satu memakai metode pembelajaran konvensional dan satunya lagi memakai metode pembelajaran kooperatif tipe STAD. halaman 164—168. pada bab 12. sumber belajar. tahun 2004. 4) Lembar Tugas. KKS ini digunakan untuk mengetahui hasil dari pre tes siswa. kegiatan pembelajaran. alokasi waktu. adalah rencana dan pelaksanaan pembelajaran yang dibuat untuk setiap kali tatap muka. 5) Mampu menemukan nilai moral dalam cerita anak terjemahan yang disertai dengan bukti yang mendukung (i) Telaah perangkat pembelajaran yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) oleh dosen pembimbing tugas akhir dan oleh guru pamong. sedangkan peneliti berperan sebagai guru pengajar. angkatan XIII. yaitu kisi-kisi soal oleh dosen Menetapkan pengamat. RPP untuk penelitian ini disusun sebanyak 2 buah. 3) Kumpulan Kegiatan Siswa (KKS) yang digunakan dalam penelitian ini adalah KKS yang ditulis oleh Tumarni dkk. (k) (l) Telaah instrumen penelitian.

Pengamat mengamati kelompok yang terdiri dari 5—6 orang siswa. Di kelas VII B dilaksanakan metode pembelajaran konvensional. Setiap pertemuan terdiri dar 2 jam pelajaran (2 x 45 menit). dan di kelas VII C dilaksanakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alokasi tersebut didasarkan pada ketentuan yang digunakan oleh SMP Negeri 28 Surabaya yang digunakan sebagai tempat penelitian. menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa memberikan pre tes kepada siswa menyajikan informasi atau materi mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar memberikan post tes kepada siswa membimbing dalam kelompok evaluasi penghargaan menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa memberikan pre tes kepada siswa menyajikan informasi atau materi memberikan post tes kepada siswa evaluasi pembelajaran konvensional adalah sebagai Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai . yaitu mahasiswa akta mengajar angkatan XIII. b) Pelaksanaan proses belajar mengajar Langkah-langkah berikut: 1) 2) 3) 4) 5) berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) c) Pengamatan Pengamatan dilakukan oleh satu orang pengamat.a) Waktu Waktu yang digunakan pada penelitian ini adalah dua kali tatap muka di kelas yang berbeda dengan metode yang berbeda.

Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang tingkat penguasaan siswa terhadap konsep materi yang diketahui melalui ketuntasan belajar siswa sebelum dan sesudah dilaksanakannya kegiatan metode pembelajaran konvensional dan kooperatif tipe STAD. yakni: (1) Tes Awal (Pre tes) Tes awal dilakukan pada awal pembelajaran yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum PBM. yakni metode tes.8 Metode Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diinginkan. peneliti hanya menggunakan satu metode.9 Metode Analisis Data Hasil belajar siswa. pre tes dan post tes dianalisis berdasarkan ketuntasan belajar siswa. 3.d) Pemberian tugas LKS setiap tatap muka dan tes di akhir pelajaran pokok bahasan memahami cerita anak terjemahan 3. Tes yang dilakukan oleh peneliti terbagi menjadi dua macam. 3. Instrumen ini terdiri dari tes awal (pre tes) dan tes akhir (post tes). (2) Tes Akhir (Post tes) Tes akhir dilakukan setelah satu pokok bahasa selesai disampaikan. yakni 70. Hasil-hasil post tes pembelajaran kooperatif tipe STAD dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dengan memakai uji t. Metode tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa.7 Instrumen Penelitian Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini digunakan intrumen penelitian adalah tes hasil belajar siswa. . pada penerapan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dalam penelitian ini peneliti dalam menganalisis data menggunakan metode Analisis Deskriptif Presentase. Tes ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah PBM.

1 Hasil Penelitian Hasil pre tes siswa terlihat pada tabel 2.t= Md N ( N − 1) ∑x d 2 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. sedangkan hasil post tes siswa pada tabel 3. Hasil pre tes siswa menunjukkan bahwa masih terdapat iswa yang .

karena telah 100% menunjukkan standar ketuntasan minimal.2 Pembahasan Pencapaian tujuan kognitif siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I ada yang belum mencapai standar ketuntasan minimal. Tabel 3 Hasil Post Tes Siswa Kelas VII C setelah Pelaksanaan Siklus II No Nama Hasil Post Tes Siswa Hasil post tes siswa setelah dilakukan siklus II diperoleh nilai siswa mencapai standar kelulusan minimum. 100% telah memenuhi standar ketuntasan minimal.memperoleh di bawah standar kelulusan minimal. sedangkan pada hasil post tes siswa setelah silakukan siklus II. Pada siklus II diatur sesuai dengan siklus I. sehingga perlu dilakukan siklus II. Tabel 2 Hasil Pre Tes Siswa Kelas VII C No Nama Hasil Pre Tes Siswa Hasil pre tes pada siklus I terlihat bahwa nilai siswa yang belum memenuhi standar kelulusan minimal yaitu 70. sedangkan materi pembelajaran ditukar antar siswa dalam kelompok. yakni 70. 4. Tes akhir merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi pencapaian tujuan kognitif dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw selama . yaitu 70 (tabel 3). maka perlu dilaksanakan kegiatan siklus II. Kegiatan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dihentikan pada siklus II.

Selain itu. pembelajaran kooperatif. Kenyataan ini terjadi karena siswa belum pernah mengikuti pembelajaran kooperatif. perlu dibudayakan. maka.1 Simpulan Setelah membaca. khususnya tipe Jigsaw. .pembelajaran berlangsung. mempunyai kemampuan berkomunikasi. memahami. BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Maka dari itu. yakni siswa lebih mandiri. Banyak yang dapat dilihat mengenai kemampuan siswa. Catatan penulis tentang respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif pada umumnya memberkan respon yang positif. waktu yang ada untuk kegiatan sosialisasi sangat terbatas untuk memperoleh hasil yang baik. terutama dalam hal partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. dan menganalisis aspek psikologi kepribadian tokoh utama dalam novel Frida karya Barbara Mujica. berdiskusi serta mengemukakan pendapat lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

1995. Belajar dan Pembelajaran. buku II. 16 Juli 2005. Pengenalan PTK. Makalah Work Shop Tim Pengembang Kurikulum SMP Makasar. Bagian Kesatu. para peneliti. K. 1997. “Pengajaran dan Pembelajaran CTL”. Suyanto. Surabaya: University Press IKIP. Depdikbud 2005.2 Saran Berkaitan dengan hal itu. BAHAN PENUNJANG Iskandar. Adapun saran-sarannya adalah sebagai berikut. dkk.5. . dan pecinta sastra serta para pendidik khususnya guru bahasa dan sastra indonesia. Jakarta: Dirjen Dikti. saran yang disampaikan dalam penelitian ini ditujukan kepada para sastrawan. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas.

Surabaya: SIC. Asnawati. “CTL (Contextual Teaching and Learning) dan Model-model Pembelajaran”. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran (edisi 3). Surabaya: UNESA Press. Skripsi tidak diterbitkan. Managemen Tindakan Kelas. Jakarta: Insan Cendekia. Yatim. Universitas Negeri Surabaya. A. Basrowi. 2006. Jurnal Gentengkali. Mohammad. Makalah disajikan pada waktu kuliah Perencanaan Pengajaran II. Metodologi Penelitian Pendidikan. dkk. Ibrahim. Prosedur Penelitian. Lie. Nur. “Strategi Peningkatan Mutu SLTP Melalui Cooperatif Learning”. Yogyakarta: Kanisius. 2000. Skripsi tidak diterbitkan. Metode Pengajaran Sastra. 1989. Suatu Pendekatan Praktik. Universitas Negeri Surabaya. “Hubungan Percaya Diri dengan Pengambilan Keputusan pada Siswa SMA Kelas X Tahun 2006/2007”. Sadikin. Rahmanto.Arikunto. Surabaya: JBSI. 1996. Wiyani. Diana Ziadatul. Jakarta: Runeka Cipta. 2000. Atik. Pembelajaran Kooperatif. Riyanto. 2002. B. Edisi 2 Th II/1998. Buku Pedoman Program Pengalaman Lapangan (PPL) Universitas Negeri Surabaya. dan Prima Retno Wikandari. . 2006. dkk. 2006. dan Suranto. “Peningkatan Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Pendekatan Kontekstual model Kooperatif STAD Siswa X. 18 November 2006. 2006.2 SMA Negeri 1 Talun Blitar”. Suharsimi. Surabaya: Unesa Press. Suharto. 1999. Surabaya: UNESA Press. Surabaya: JPPB. 2006. Rustarmaji.

Andre. Skripsi tidak diterbitkan. Frida. 1989. 2000. Yogyakarta: Zenith Publisher. Universitas Negeri Surabaya. Yogyakarta: Hanindita Kartono. 1992. (penerjemah: Sri Widaningsih dan Laksmi). Surabaya: JBSI. 2003. Yogyakarta: Kanisius. 1991. Titik. Apresiasi Prosa Fiksi. Psikologi Kepribadian Neo Freudianisme. Freud dan Interpretasi Sastra. Lestari (Kajian Psikoanalisis)”. dan Dominasi Laki-laki dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini” dalam Prasasti Vol 54. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. . Bandung: Mandar Maju. Bandung: Bentang Nadjid. “Tokoh Utama Mandar dalam Novel Cinta Seorang Psikopat karya V. 1996. Barbara. Max. dan Gardner Lindzey. Hall. Bandung: PT Eresco. (penerjemah: A. Irene Dwi. Indarti. Jakarta: Intermasa. 1993. Milner. Supratiknya). RBS. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Surabaya: Unesa Press. Psikologi Umum.. 2004.Fudyartanta. E. Bulan Agustus 2004. Moh. 1994. Metodologi Penelitian Sastra. Dkk. Mujica. Surabaya: Unesa Press Jabrohim. 2005. Agam. Kartini. Hardjana. Adat. (penerjemah: Nuraini Juliastuti). Bandung: Mandar Maju. Mayasari. Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Calvin S. Teori Teori Kepribadian. “Sikap Perempuan Bali terhadap Tradisi. 2005. Jakarta: PT Gramedia. Koeswara. 2004.

1986. dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nyoman Kutha. Fondasi Psikologi Perkembangan. 2004. Metode Penelitan Sastra. Satoto. Soediro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Surabaya: JBSA. 2003. “Novel Imipramine karya Nova Riyanti Yusuf (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud)”. Universitas Negeri Surabaya.Niswah. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSA. Anis Choirun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Metode Kritik. Universitas Negeri Surabaya. Universitas Negeri Surabaya. Teori Pengkajian Fiksi. “Analisis Mimpi dan Realita Tokoh Aston dalam Novel Pol karya Putu Wijaya (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud)”. Surabaya: JBSA. 2000. 1995. Benard. Rahmawati. Andik. Surabaya: JBSA. . “Kecemasan Tokoh Firdaus dalam Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi (Kajian Psikoanalisis)”. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Skripsi tidak diterbitkan. Teori. Universitas Negeri Surabaya. Burhan. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: UGM Press. Rachmat Djoko. Pradopo. Jakarta: Restu Agung. Surabaya: JBSA. Tutik. Palmquist. 2005. Stephen. menyelami mimpi. mencapai kematangan diri. Universitas Negeri Surabaya. Ratna. Ellysa. Satriya. Skripsi tidak diterbitkan. “Mimpi dan Dampak Mimpi bagi Tokoh Maya Amanita dalam Novel Cala Ibi karya Nukila Amal. Skripsi tidak diterbitkan. Nurgiyantoro. 2003. Rubiyanti. “Dinamika Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Melanie karya V. dan Teknik Penelitian Sastra. Poduska. 2005. Empat Teori Kepribadian. 2004. 2003. 2005. Rahmani. Metode. Beberapa Teori Sastra. Lestari (Tinjauan Psikologis)”.

Artikel di harian Jawa Pos. . Wardani. Muhammad. 2004. Tanggal 28 November 2004. “Membaca Frida: Sang Wanita dan Wanita Lain di Belakangnya”.Syafiq. dalam Barbara Mujica. 2004. Jakarta: PT Gramedia. Frida. “Menggapai Pesona Frida Kahlo”. Wellek. Rene & Austin Warren. (Penerjemah: Melani Budianta). Farah. 1990. Yogyakarta: Bentang. 2004. Teori Kesusastraan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful