P. 1
Makalah Pembaharuan Islam di Timur Tengah

Makalah Pembaharuan Islam di Timur Tengah

|Views: 2,609|Likes:
Published by Fariz Abror

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Fariz Abror on Apr 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

PEMBAHARUAN ISLAM DI TIMUR TENGAH DAN PEMIKIRAN EMPAT TOKOH

Dosen Pengampu : Drs. Fadil SJ, M.Ag.

Oleh :

Siti Fadhilatul Munawwaroh Zainul Umam Akhmad Fariz Siti Nurul Fatimah T

(11210029) (11210030) (11210031) (11210032)

FAKULTAS SYARI’AH JURUSAN AL-AHWAL ASY-SYAKHSIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2011

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan segala rahmatNYA sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan sebenar-benarnya. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada makhluk yang paling sempurna yakni Nabi besar Muhammad SAW. kepada kami semua, kepada seluruh teman-teman yang telah berpatisipasi dalam menyelesaikan tugas ini. Kami tak luput dari kesalahan sehingga apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dari makalah ini harap maklumi dan kami tunggu saran dan kritik dari saudara-saudara sekalian. Akhir kata Ihdinas Shiroothol Mustaqiim tsummas salamu’alaikum wr. wb

Malang, 20 Oktober 2011

Penulis

1

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang………………………………………………………….…………………………… 3 1.2 Identifikasa dan Deskripsi objek……………………………………………………………... 3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Guna dan Citra………………………………………………………..……………………………... 4 2.2 Pengolahan bentuk……………………………………..…………….…………………………… 4 2.3 Strategi fisual;Proporsi,irama,balance…………………………………………………...…4 2.4 Tatanan Ruang…………………….……………………………………………………………….. 4 2.5 Nilai nilai islam dalam rancangan objek………………………………………………….. 5

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan …….………………………………………………….……….................................. 12 3.2 Saran…………………….……………………………………………………................................. 12

DAFTAR PUSTAKA.……………………………………………………........13

2

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembaruan Islam termasuk dalam salah satu materi dalam perkuliahan sejarah peradaban Islam yang merupakan sebuah ilmu yang bisa menjadi pelajaran dan perbandingan berbagai

macam dimensi kehidupan. Kemajuan, kemunduran, serta penyebab dari semua perkembangan tersebut. Sebagaimana semboyan “Jas Merah” yang dikoarkan oleh Bung Karno untuk tidak melupakan sejarah. Layaknya filsafat roda yang berputar, begitu pula sejarah yang terjadi pada kejayaan Islam. Awal yang menciptakan sebuah kejayaan pun mengalami suatu penurunan ataupun kemunduran yang jauh dari perkiraan.

Gejolak pembaruan pertama bermula di abad 18-19 di Timur Tengah, yang disebabkan oleh keadaan islam yang jauh dalam kemunduran dan menyalahartikan qadha dan qadar. Umat Islam tahun itu juga berada jauh di belakang kejayaan Eropa yang menjajah negaranegara Islam pada saat itu.

Para tokoh pembaru pun muncul dengan pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Serta lambat laun menggiring kemunduran Islam untuk kembali bangkit menuju kejayaan yang hilang. B. RUMUSAN MASALAH 1. 2. 3. C. TUJUAN 1. 2. 3. Pengertian dari pembaruan. Penyebab terjadinya pembaruan di Timur Tengah Siapa saja tokoh-tokoh pembaru serta bagaimana pemikiran mereka Apa pembaruan itu?. Apa sebab terjadinya pembaruan di Timur Tengah?. Siapa tokoh-tokoh pembaru serta bagaimana pemikiran mereka?.

3

BAB II PEMBAHASAN

A. MAKNA PEMBARUAN

Pembaruan, dalam kamus besar bahasa indonesia bermakna gerakan umum atau hasil khusus untuk menghapuskan kesalahan fungsi sistem yang ada di masyarakat. Sedangkan jika diartikan dengan pembaruan di Timur Tengah, maka akan membicarakan para tokoh-tokoh pembaru ataupun mereka yang mengembalikan kebangkitan dunia Islam yang tertelan oleh kejumudan paham fatalis dan perkembangan Barat. B. PENYEBAB PEMBARUAN Bermula dari kesalahpahaman akan hakikat Islam, terutama di bidang qadha dan qadar yang menjadikan umat muslim pada masa itu memiliki paham fatalis, yang menggantungkan semua hidupnya kepada takdir. Dari pemahaman tersebut, keadaan umat muslim menjadi statis dan melupakan ilmu pengetahuan. Pada abad 18, Eropa juga “mapan” (menjajah) di negara-negara Islam, Eropa mendominasi segala jalur penting, diantaranya jalur laut, jalur perdagangan, bahkan sampai jalur pertempuran. Dan juga, pada abad itu gerakan kristenisasi menyebar dengan subur di negara-negara Islam. Dari semua sebab kemunduran tersebut akhirnya para tokoh pembaru yang memang memiliki komitmen yang benar terhadap Islam pun tampil. Dengan tujuan mengatasi keterbelakangan umat islam dalam hampir seluruh aspek kehidupan dan terdorong oleh kemajuan barat dan dampaknya.  JAMALUDDIN AL-AFGHANI (1839-1897) Jamaluddin al-Afghani lahir di Asad pada tahun 1839 dan meninggal di Istambul tinggalnya selalu berpindah-pindah dari satu Negara ke Negara lain. Beliau pernah hidup di Afganistan, Mesir, Prancis, dan Turki.

4

Pemikiran-pemikirannya tentang kemajuan umat Islam adalah :

1) Islam adalah agama yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan. bila terlihat ada pertentangan antara ajaran Islam dengan kondisi yang interpretasi baru atas ajaran Islam yang tercantum dalam al-Qur’an dan hadits. Untuk itu ijtihad sangat diperlukan. 2) Umat islam mundur karena meninggalkan ajaran Islam yang sejati. Ia mengamb il contoh paham qadha dan qadar. Di masa silam, paham ini menupuk keberanian dan kesabaran. Kini telah dirusak dan di ubah menjadi faham fatalis. 3) Kemunduran umat Islam dibidang politik disebabkan munculnya perpecahan yang terdapat di kalangan umat Islam, yaitu pemerintahan absolute yang dipimpin oleh penguasa yang tidak amanah, mengabaikan pertahanan militer, menyerahkan administrasi Negara kepada yang bukan ahlinya, dan ada campur tangan asing. Jalan keluar untuk memperbaiki umat Islam ialah melenyapkan salah pengertian yang dianut umat Islam dengan kembali kepada ajaran Islam yang kaffah. Corak kepemimpinen otokrasi di ubah menjadi demokrasi. 4) Terwujudnya Pan-Islamisme (persatuan umat Islam). Persatuan dan kerjasama adalah sendi dalam Islam.1 

MUHAMMAD ABDUH (1849-1905) Muhammad Abduh lahir di Mesir. Setelah menulis dan membaca al-Qur’an di kampung halamannya, Ia melanjutkan studi di Tanta, namun ia merasa tidak puas dengan metode menghafal di luar kepala. Akhirnya ia bertemu dengan Syekh Darwisy Khadr yang banyak mengubah jalan hidupnya, kemudian ia kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, pada 1866. Saat di al-Azhar, Muhammad Abduh untuk pertama kalinya bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani yang dating ke Mesir dalam perjalanannya ke Istanbul, sejak al-Afghani datang kembali ke Mesir pada tahun 1871 dan menetap di sana.1 Muhammad Abduh menjadi muridnya yang paling setia. Pada tahun 1877 Abduh rumahnya sendiri

1 Ibid., hlm. 399., Lihat juga, Harun Nasution, Op.Cit., hlm. 51-57

5

Pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh tentang umat Islam adalah :

1) Kemunduran Islam disebabkan karena ke-jumud-an2 di kalangan umat Islam. Sikap ini, menurutnya, dimasukan kedalam Islam oleh orang-orang Non-Arab yang ingin merampas puncak kekuasaan politik dunia Islam. 2) Masuknya berbagai bid’ah ke dalam Islam merupakan penyebab umat Islam melupakan ajaran Islam yang sebenarnya. Untuk menghilangkan bid’ah, umat Islam harus kembali ke ajaran Islam yang sejati. 3) Ajaran Islam harus dikembalikan kepada aslinya dengan interpretasi yang disesuaikan dengan keadaan modern. Untuk itu, pintu ijtihad perlu dibuka. Dengan sendirinya taqlid (ikut membabi buta) kepada pendapat ulama tidak perlu dipertahankan. 4) Manusia mempunyai kemampuan dengan akalnya. Menurutnya, al-Quran bukan berbicara kepada hati manusia, melainkan kepada akal manusia. Aql adalah pembantu utama manusia dalam bertindak, sedangkan naql adalah sendi paling kokoh. Pemikiran akallah yang banyak menimbulkan ilmu pengetahuan. 5) Kepercayaannya kepada kemampuan akal membawanya kepada faham kebebasan berkehendak dan bertindak (Qodariyah). Ia setuju dengan analisa yang mengatakan bahwa umat islam mundur karena faham Jabariyah. 6) Ia sangat mementingkan pendidikan. Ia berusaha mengubah kurikulum al-Azhar. Ilmu modern perlu dimasukkan dalam kurikulum. Menurutnya, modernisasi sistem pendidikan di al-Azhar sangat besar pengaruhnya dalam pembaharuan Islam. 7) Di sekolah-sekolah umum juga perlu diajarkan pendidikan agama3.

2

2 Dalam kata Junud, terkandung pengertian membeku, statis, tidak ada perubahan. 3 Ibid., hlm. 400., Lihat juga, Harun Nasution, Op.,Cit.,hlm. 58-68

6

 HASAN AL-BANNA (1906-1949) Hasan Al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906 di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Pada Umur 12 tahun, Hasan Al-Banna telah menghafalkan Al-Quran. Ayahnya, Syeikh Ahmad Al-Banna adalah seorang ulama fiqih dan ahli hadits, terus memberikan motivasi kepada Al-Banna. Aktivitas dakwah Hasan al-Banna bermula ketika dia masih muda. Pada usia 12 tahun, ia bergabung dengan organisasi “Masyarakat untuk Tingkah Laku Moral”. Hal ini menunjukkkan bahwa beliau sudah tertarik dengan masalah-masalah keagamaan sejak usia dini.  Pemikiran Hasan al-Banna tentang agama Islam

Pemikiran Imam al-Banna dan dakwahnya adalah Islam. Tidak unsur selain Islam. Dan ia tidak pernah mencampuradukkan islam dengan unsur lain sedikitpun, berupa agama, atau kepercayaan selain Islam. Imam al-Banna tidak membawa agama baru atau pemikiran baru, namun yang ia bawa adalah apa yang telah di sampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu pemikiran Imam al-Banna menjadi istimewa Pemikiran Al-banna yang memandang bahwa Islam adalah agama yang universal dan menyeluruh, bukan hanya agama yang bersifat ibadah ritual saja. Tetapi Islam juga mencangkup sosok individu, keluarga, pemerintahan dan kenegaraan. Ide terbesarnya ada pada IM (Ikhwanul Muslimin), yang bergerak berprinsip :      Allah tujuan kami (Allahu ghayatuna) Rasulullah teladan kami (Ar-Rasul qudwatuna) Al-Qur'an landasan hukum kami (Al-Quran dusturuna) Jihad jalan kami (Al-Jihad sabiluna) Mati syahid di jalan Allah cita-cita kami yang tertinggi (Syahid fiisabilillah asma amanina).

7

 RASYID RIDHA (1865-1935) Beliau adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha’uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Lahir di Qalmun, sebuah desa di wilayah Tripoli-Syam, Lebanon Utara, 27 Jumadil Ula 1282 H/18 Oktober 1865 M. Sejak kecil, Rasyid Ridha telah hafal Al-Quran dan digembleng secara langsung dalam ilmu-ilmu keislaman, seperti tafsir, hadits, fiqih, dan bahasa arab oleh syeikh besar yang ada di tanah kelahirannya. Setelah wafatnya Jamaluddin, Rasyid Ridha memutuskan untuk hijrah ke Mesir dan berguru langsung pada Muhammad Abduh. Dan disanalah Rasyid Ridha mendarmabaktikan hidupnya selama puluhan tahun demi tercerahkannya kaum muslimin.  Pemikiran-pemikirannya tentang kemajuan umat Islam adalah :

1) Pemikiran Rasyid Ridha pada dasarnya sama dengan al-Afghani dan Abduh. Umat islam mundur karena meninggalkan ajaran islam yang sebenarnya. 2) Umat islam banyak melakukan bid’ah. Oleh karena itu mereka harus dibawa kembali ke ajaran Islam yang asli dan meniggalkan bid’ah. 3) Kefanatikan juga menjadi penyebab kemunduran umat Islam. Oleh karena itu, toleransi bermadzhab prlu du hidupkan kembali. 4) Paham Fatalisme juga menyebabkan umat Islam lemah dan statis. Orang eropa maju karena menganut paham dinamis. Menurutnya Islamlah yang mengajarkan faham dinamis, karena itu umat Islam harus aktif dan dinamis. 5) Semua orang hendaknya bersatu dibawah satu keyakinan, satu sistem moral, system pendidikan dan sistem hukum. Untuk itu ia mengusulkan sistem khalifah. Tetapi kholifah tidak boleh berkuasa secara absolut 6) Membangun sekolah lebih baik dari pada pembangunan masjid yang diisi orangorang bodoh sebab dengan membangun sekolah kebodohan dapat dihapuskan. Sebagai langkah konkret, ia membangu Madrasah ad-Da’wahwa al-Irsyad tahun, untuk menandingi aktifitas misionarisme Kristen.  ALI SYARI’ATI Ali Syari’ati lahir 23 November 1933, di desa Mazinan, pinggiran kota Masyahad dan Sabzavar, Provinsi Khorasa, Iran. Desanya berada di tepi gurun pasir Dasht-I Kavir, di sebelah Timur Laut Iran. Dia lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Muhammad Taqi Syari’ati adalah seorang ulama yang mempunyai silsilah panjang

8

keluarga ulama dari Masyhad. Kota pemakaman Imam Ali Ridha, Imam ke delapan dari kepercayaan Islam Syi’ah. Sementara dari pihak ibu, kakeknya, Akhun Hakim, adalah sosok ulama yang kisah hidupnya turut menginspirasi Syari’ati. Sementara pamannya, adalah murid dari ulama terkemuka Adib Nishapuri, yang telah belajar filsafat, fiqh, dan sastra. Guru pertama Ali Syari’ati adalah Taqi Syari’ati, ayahnya sendiri, yang memutuskan untuk mengajar di kota Masyhad. Pada tahun 1940, Syari’ati mulai bersekolah di Sekolah Dasar Negeri, yang bukan sekolah agama. Dan tahun 1950 ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru selama dua tahun. Tahun 1956, Syari’ati melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Masyhad. Dan di tahun 1959, Syari’ati berhasil lulus sebagai sarjana Fakultas Sastra Universitas Masyhad dengan peringkat pertama di kelasnya. Tahun 1960, Syari’ati mendapatkan beasiswa dari pemerintah Iran dan melanjutkan pendidikan tingkat sarjana di Universitas Sorbonne, Prancis. Syari’ati menjadi asisten riset Massignon (Islamolog Prancis) tahun 1960-1962 untuk menterjemahkan dokumen berbahasa Persia, dalam menulis biografi putri Nabi Muhammad, Fatimah. Di tempat yang sama, pada tahun 1963-1964 Syari’ati menyerap wawasan sosiologi Islam dari Jacques Berque. Dan ia pun akhirnya berhasil meraih gelar doktor di bidang Sosiologi dan Filsafat Sejarah Islam pada tahun 1964. Kesibukannya sudah terlihat pada tahun 1952, ia memulai karirnya sebagai guru di desa Ahmadabad. Dekat Masyhad, sambil terus belajar di Sekolah Pendidikan Guru. Dan pada tahun 1950-an itu pula ia ikut dalam gerakan NRM (Nasional Resistance Movement) cabang Masyhad, yang dibentuk oleh Mehdi Bazargan dan aktifis sosial yang bernama Sayyid Mahmud Thaliqani. Karena

gerakan itulah, tahun 1957 ia bersama ayahnya dipenjara di Rumah Tahanan Qazil Qal’ah, Taheran, selama 8 bulan sebagai akibat gerakan oposisinya melawan rezim Syah Reza Pahlevi. Pada tahun 1962-1963, dia sibuk dengan aktifitas politik dan jurnalistik. Ia juga menjadi redaktur jurnal Iran-e Azad (free Iran) yang didirikan organisasi

9

Gerakan Nasional Anti-Syah di Eropa. Gerakan yang menuntut pembebasan Iran (Liberation Movement of Iran). Tahun 1965, setelah mendapatkan gelar Doktor, Syari’ati diterima menjadi asisten profesor di Universitas Masyhad. Ia juga mengajar di tiga SMU dalam rangka mendirikan lembaga pendidikan. Pada tahun 1967, dia menjadi dosen Sejarah Islam di Fakultas Sastra Universitas Masyhad. Sebagai sosiolog muslim, Syari’ati sering berdiskusi dengan mahasiswanya membicarakan masalah yang dihadapi Kaum Muslim berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Karena pemikiran baru itu, Rezim Syah Iran menghentikan aktivitas mengajarnya, dan pada tahun 1968 ia dipensiunkan dari Kementrian Pendidikan di usianya yang baru 35 Tahun. Setelah dipensiunkan ia pun pindah ke Taheran, dan kembali melanjutkan aktivitas mengajarnya di Institut Hussainiyah Al-Irshad. Setelah pemikiran Syari’ati berhasil disalurkan kepada masyarakat, berbagai perlawanan pun bermunculan. Dan akhirnya pada November 1972 berdampak pengepungan dan penutupan Institut Hussayniah Irshad oleh polisi Iran. Ia pun akhirnya diganjar penjara di Rumah Tahanan Komitah, penjara khusus tahanan politik. Maret 1975, Syari’ati terpaksa dibebaskan. Tapi, walaupun dibebaskan, ia tetap diawasi dengan ketat, dan dilarang untuk menuangkan ide-idenya ke dalam buku ataupun berhubungan dengan murid-muridnya. Tetapi, secara diam-diam ia tetap memberikan kuliah perlawanan. Karena batasan-batasan tersebut, akhirnya Syari’ati memutuskan untuk pergi ke London pada Mei 1977. Dengan mengganti nama resminya Muhammad Ali Mazinani, menjadi Ali Syari’ati agar tidak terdeteksi dan bisa lolos ke luar negeri. Juni 1977, Pouran, istri Syari’ati beserta tiga putrinya hendak menyusul ke London. Namun, setelah menjemput dan membawa mereka kesebuah rumah yang telah disewa Syari’ati di daerah Southampton, Inggris pagi 19 Juni 1997, Syariati ditemukan tewas di Southampton, Inggris. Pemerintah iran menyatakan Syari’ati tewas akibat penyakit jantung, tetapi banyak yang percaya bahwa dia dibunuh oleh polisi rahasia Iran. Syari’ati akhirnya dikuburkan di Damaskus, Suriah. Pada 27 Juni 1977.

10

Belajar di Perancis menjadikan pemikiran Syari’ati cenderung kepada filsafat. Dan pemikiran yang sangat Syari’ati terkenal diantaranya Pemikiran tentang penciptaan manusia. Penciptaan manusia adalah pemikiran Syari’ati yang menyatakan bahwa manusia memiliki dua dimensi yang bertolak belakang. Ruh ilahiyah yang selalu menjurus kepada kesempurnaan dan sifat asal tanah yang rendah dan hina. Manusia juga satu-satunya makhluk yang sanggup memegang dan mengemban amanat untuk menjadi khalifah. Karena kebebasan memilih yang dikaruniakan oleh Allah Swt. Dan manusia mencoba berjuang untuk mendapatkan kesempurnaan yang ia inginkan. Manusia juga dikaruniai dengan sifat Ilahiah, yang membebaskannya dari seorang basyar atau makhluk yang hanya “berada”, menjadi insan atau makhluk yang “menjadi”. Sifat-sifat tersebut adalah kesadaran diri yang membuka ide-ide, kemauan bebas untuk memilih apapun dan kreativitas untuk menghadirkan hal-hal baru. Pemikiran lainnya membahas tentang penjara yang membelenggu dan menghalangi manusia untuk menggapai kesempurnaan. Penjara Sejarah yang menjadikan manusia terpaku pada kehidupan nenek moyang, penjara masyarakat yang menjadikan manusia terisolasi dari dunia luar, penjara biologis yang menafikan potensi-potensi menakjubkan yang dimiliki manusia dan penjara ego yang menghindari segala perubahan.

11

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Dalam berbagai pembahasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa

pembaharuan di Timur Tengah adalah sebuah gerakan yang terjadi di Timur Tengah guna mengembalikan kejayaan Islam. Paham fatalis salah satu penyebab pembaharuan yang menghambat segala perkembangan Islam, berkembang dan memperluas kristenisasi dan wilayah jajahan.  Beberapa tokoh pembaru Islam dan pemikirannya :  Jamaluddin al-Afghani yang lebih mengutamakan pembaruan dari persatuan Islam, hingga mendirikan PAN Islamisme untuk merealisasikan persatuan tersebut.     Muhammad Abduh yang memulai pembaruan dengan memperbarui sistem pendidikan, sebagaimana dilakukan di Al-Azhar. Hasan al-Banna yang melakukan pembaruan dengan basis pendidikan dan persatuan Islam yang diwujudkan dalam Ikhwanul Muslimin. Rasyid Ridha yang lebih berbasis pada menghidupkan ijtihad serta melanjutkan metode tafsir baru dari gurunya Muhammad Abduh. Ali Syari’ati yang melakukan pembaharuan dengan basis politik dan jurnalistik. B. SARAN Dengan tersusunnya makalah ini semoga bisa bermanfaat bagi kita semua untuk mengetahui dan memahami tentang sejarah peradaban islam dan pembaharuannya. Khususnya, pembaharuan yang terjadi di Timur Tengah, beserta para tokoh yang terlibat di dalamnya. Eropa yang

12

DAFTAR PUSTAKA
   Taufik, Akhmad, “Sejarah pemikiran dan tokoh modernisme Islam”, ( Jakarta; PT Raja Grafindo Persada; 2005). Herry, Muhammad, “Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20”,( Jakarta; Gema Insani Press, 2006). Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN Pres, Malang, 2008

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->