SKRIPSI PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KECEPATAN PEMAHAMAN SISWA BIDANG STUDY PENDIDIKAN

AGAMA ISLAM DI SMPN X

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk insan yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian disiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil, serta sehat jasmani rohani. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan juga merupakan suatu jalan atau cara yang mengantarkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Bahkan pendidikan menjadi sebuah kewajiban yang harus dijalani manusia dalam kehidupannya. Sebagaimana Hadits Nabi : Artinya : “memmtut wajib bagi setiap orang muslim dan muslimah “(HRAnas Ibnu Malik Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional juga disebutkan bahwasanya : “pendidikan adalah usaha sadar dan terancam untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Namun, tampaknya pelaksanaan pendidikan kita di sekolah belum sesuai dengan harapan di atas. Padahal dalam pendidikan guru merupakan figur sentral, agar guru mampu menunaikan tugasnya dengan baik, terlebih dahulu harus memahami dengan seksama hal-hal yang berhubungan dengan proses belajar mengajar. Namun pelaksanaan pedidikan kita di sekolah belum sesuai dengan harapan-harapan di atas. Para guru di sekolah masih bekerja sendirisendiri sesuai dengan mata pelajaran yang di berikannya. Mengapa demikian ? Sebab, selama ini belum ada standart yang mengatur pelaksanaan proses pendidikan. Artinya, belum ada pedoman yang bisa dijadikan rujukan bagaimana seharusnya proses pendidikan berlangsung. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua guru menyadari dan mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pendidikan harus menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi agar siswa tidak merasa bosan, guru harus mampu memiliki modal pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran yang di sampaikan. Kondisi seperti ini membutuhkan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan semua peserta didik sehingga dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman maupun gagasan-gagasan. Salah satu alternatif yang bisa dipilih dalam rangka menghasilkan pembelajaran yang berkualitas yaitu pembelajaran kooperatif. Namun, banyak guru menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan metode belajar kelompok. Mereka telah membagi para siswa dalam kelompok dan memberikan tugas kelompok. Namun, guru-guru ini mengeluh bahwa hasil kegiatan-kegiatan ini tidak seperti yang mereka harapkan. Siswa bukannya memanfaatkan kegiatan tersebut dengan baik untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, mereka malah memboroskan waktu dengan bermain, bergurau dan sebagainya. Banyak sekali macam pembelajaran kooperatif yang ada, misalnya; “Two Stay Two Stray” (dua tinggal dua tamu), kancing gemerincing, lingkaran kecil lingkaran besar, bercerita

berpasangan dan masih banyak lagi yang tidak dapat penulis jelaskan satu persatu. Namun, dalam penelitian ini penuis hanya meneliti tentang pembelajaran kooperatif tipe “Make a Match” karena berdasarkan survei yang dilaksanakan peneliti di SMP Negeri X ini sudah banyak diterapkan macam-macam pembelajaran kooperatif dan pembelajaran kooperatif tipe “Make a Match” lah yang merupakan pembelajaran koopertif yang paling jarang diterapkan di SMP Negeri X. Metode “Make a Match” atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa.Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Dalam konteks Keindonesiaan, Pendidikan Islam juga merupakan bagian dari sistem Pendidikan Nasional, di mana pembelajaran Agama Islam dalam konteks kebijakan Pendidikan Nasional identik dengan Pendidikan Agama Islam yang diselenggarakan pada lembaga pendidikan formal di semua jenjang pendidikan, mulai pendidikan anak usia dini, dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Adapun dasar pentingnya pengajaran dan pendidikan khususnya pendidikan Agama Islam difirmankan Allah s.w.t. dalam surat : Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-mujadalah : 11) Seiring dengan hal tersebut, guru Pendidikan Agama Islam di SMPN X dalam menyampaikan pelajarannya, salah satunya menggunakan metode Make a Match karena dengan metode ini siswa akan lebih mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan. Berdasarkan latar belakang di atas, Peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh apabila diterapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan model Make a Match (Mencari pasangan) di SMPN X khususnya untuk mata pelajaran PAI dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Macth terhadap kecepatan Pemahaman siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Di SMPN X”. B. Rumusan Masalah Berangkat dari latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan beberapa masalah yang terkait dengan penelitian ini. Yakni : 1. Bagaimana penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe “Make a Match ” di SMPN X ? 2. Bagaimana Kecepatan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMPN X ? 3. Apakah ada pengaruh setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe “make a match” terhadap kecepatan pemahaman siswa bidang study Pendidikan Agama Islam di SMPN X ? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Agar sasaran yang dicapai dalam penelitian ini lebih terarah, maka penulis perlu menjabarkan tujuan dan kegunaan penelitian yang akan dicapai. 1. Tujuan penelitian a. Untuk mengetahui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe make a match di SMPN X. b. Untuk mengetahui kecepatan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN X. c. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap kecepatan pemahaman siswa bidang study Pendidikan Agama Islam di SMPN X. 2. Kegunaan Penelitian

Penulis berharap banyak hal yang merupakan hasil penelitian dalam skripsi ini akan berguna bagi banyak pihak. Dalam penelitian ini tidak semua bidang Pendidikan Agama Islam bisa dinilai dengan menggunakan pembelajaran kooperatif time make a match tetapi materi yang sesuai dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. Memberi cakrawala berpikir ilmiah bagi mahasiswa pada umumnya dalam upaya pengembangan pendidikan. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan skripsi ini penulis susun dengan menggunakan sistem bab demi bab. Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran Make a Match akan riuh. Dengan harapan hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang dikehendaki peneliti. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah : 1. selanjutnya diteruskan dengan tinjauan tentang pemahaman siswa dan dilanjutkan dengan “Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match terhadap Peningkatkan Kecepatan Pemahaman siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam”. lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. populasi dan sampel. secara spesifik harapan kegunaan Penelitian ini adalah : 1. 2. konsep pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. BAB III : Metode penlitian yang berisikan tentang jenis penelitian. tetapi sangat asik dan menyenangkan. . Memberikan kontribusi bagi kelengkapan kepustakaan di kampus. BAB II : Landaan Teori. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban). khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Bab V : Merupakan pembahasan akhir dari skripsi yang berisi kesimpulan dan saran. Langkah-langkah pembelajaran Make a Match adalah sebagi berikut : 1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian. 3. bagi perkembangan kegiatan belajar mengajar. sumber penelitian metode pengumpulan data dan analiss data. maka perlu dicantumkan batasan masalah. Batasan Masalah Agar dalam penelitian ini tidak ada penyimpangan. dan Sistematika Pembahasan. Penelitian ini hanya terbatas pada variabel pembelajaran kooperatif tipe make a match yang berpengaruh atau tidak terhadap peningkatan pemahaman siswa. E. langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Definisi Operasional. D. BAB IV : Merupakan hasil penelitian yang berisi deskripsi data dan analisis data serta pengujian hipotesis. 3. Model Pembelajaran Make a Match artinya model pembelajaran Mencari Pasangan. Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini adalah : Bab I : Membahas tentang pendahuluan yang diuaraikan menjadi sub bab : Latar Belakang. Bab ini berisikan tentang rumusan teoritis tentang konsep strategi pembelajaran kooperatif. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Setiap siswa mendapat satu buah kartu. Rumusan Masalah. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. 2. Memberi sumbangan pemikiran bagi kalangan pendidik di SMPN X. prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. 2.

mereka mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu yang cerdas. Pembelajaran Bahasa Inggris (Language Learning) di jenjang SMP merupakan materi pokok sebagai bagian dari fungsi pengembangan diri siswa dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Kesimpulan/penutup. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. 7. Latar Belakang Penguasaan kemampuan Bahasa Inggris merupakan sebuah syarat mutlak yang harus dimiliki di era komunikasi dan globalisasi saat ini. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. PENDAHULUAN 1. LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA MENYUSUN TEKS BERBENTUK PROCEDURE MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DI KELAS IX A SMP PASUNDAN BANJAR 1. 5.3. Demikian seterusnya sampai semua kartu soal dan jawaban jatuh ke semua siswa. teknologi dan seni yang diharapakan setelah menamatkan studi. 6. . terampil dan berkepribadian sebagai bekal hidup di masa mendatang. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Artinya siswa yang kebetulan mendapat kartu soal maka harus mencari pasangan yang memegang kartu jawaban soal secepat mungkin. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. 8. Demikian juga sebaliknya. 4.

membaca dan menulis. Pembelajaran mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. Hal tersebut sangat menarik untuk diteliti mengingat kemampuan menulis (writing ability) sangatlah dipengaruhi oleh penguasaan kosa kata. Tata Bahasa dan Pronunciation sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan. struktur bahasa dan kemampuan siswa dalam merangkai kata menjadi sebuah teks yang berterima. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure dan report. Proses pembelajaran seperti itu sudah biasa .adalah salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP). lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure telah penulis lakukan secara klasikal. Perbedaan secara grammatical antara bahasa Inggris sebagai bahasa asing dan bahasa indonesia sebagai bahasa utama merupakan masalah yang sering timbul pada saat belajar menulis. Writing (menulis) merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang dirasa sering menjadi masalah bagi siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris.Penguasan materi pelajaran Bahasa Inggris dalam jenjang SMP meliputi empat keterampilan berbahasa. Kemampuan mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. Dalam kegiatan inti pembelajaran. Dari ke empat keterampilan berbahasa di atas. siswa biasanya diberi contoh teks monolog berbentuk prosedure dan siswa diminta untuk mencari arti dari teks tersebut yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kalimat yang benar. yaitu: Kosa Kata. berbicara. Dalam pembelajaran tersebut penulis menjelaskan materi pokok yang terdapat dalam indikator sebagai berikut :  Menyusun kalimat acak menjadi teks yang padu berbentuk procedure. Semua itu didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya. yaitu: menyimak.

guru dituntut untuk kreatif dan inovatif.dilakukan oleh penulis dan ternyata hasil pembelajaran siswa tidak sesuai yang diharapakan dan siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Setelah mengamati uraian di atas. Penulis memperoleh data dari hasil pengamatan melalui refleksi yang dilakukan bahwa siswa terlihat pasif. Hal ini sangat mengundang pertanyaan dan asumsi bahwasannya metode pembelajaran tersebut tidak berhasil (gagal) dan cenderung tidak efektip. bosan dan bahkan ada beberapa siswa yang mengeluh tidak percaya diri dalam mengungkapkan ide atau gagasannya. Prinsip PAIKEM (Pembelajaran Aktif. Efektif dan Menyenangkan) harus dilaksanakan. Setelah mengikuti pelatihan guru melalui MGMP BERMUTU (Better Education Through Reformed Management and Universal Teaching Upgrading yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Banjar. Kreatif. serta pengalaman penulis saat mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan. Penulis sadar bahwa di era Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini. Guru bukan lagi merupakan sosok yang ditakuti dan bukan pula sosok otoriter. Sebagai upaya memperbaiki kegagalan tersebut penulis berusaha mencari metode dan strategi pembelajaran yang tepat sebagai solusi selanjutnya. Guru harus mampu mencari satu teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas. penulis mencoba memadukan pendekatan Contextual Teaching And Learning dengan pendekatan Cooperative Learning dengan menggunakan model pembelajaran Mix and Match. . Inovatif. dapat dilihat sebuah gambaran kegagalan terhadap hasil dan proses belajar dan hal tersebut merupakan masalah yang harus segera diatasi. Mereka tentunya kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. tetapi guru harus jadi seorang fasilitator dan motor yang mampu memfasilitasi dan menggerakkan siswanya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan.

Berdasarkan hal tersebut diatas. di mana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain tersebut melakukan hal tadi (http://www.Penulis mencoba merencanakan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul. manusia auditorik. Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah 1. Senada dengan yang diungkapkan oleh Tim Power Brain Indonesia dalam situsnya menyatakan bahwa secara ilmiah sudah diketahui bahwa dalam hal penyerapan informasi tersebut manusia dibagi menjadi 3 bagian. yang mana ia akan secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/ dilihatnya.medikaholistik.com). maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: ”Apakah melalui Penggunaan Model Pembelajaran MAKE A MATCH dapat meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Menyusun Teks Berbentuk Procedure Di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar?” 2. dan komunikasi (DePorter. “Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa Menyusun Teks Berbentuk Procedure Melalui Model Pembelajaran Make a Match Di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar” 2. penulis mencoba menggunakan metode Contextual Teaching Learning (CTL) penulis gunakan dalam upaya membangun pengetahuan siswa . 2000). Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas. di mana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal. dan manusia kinestetik. manusia visual. dkk. Pemecahan Masalah Terdapat tiga macam modalitas belajar yang digunakan oleh seseorang dalam pembelajaran. pemrosesan informrasi.

(2) mengutamakan pengalaman nyata.terhadap materi yang disampaikan yang mengedepankan kerjasama antar teman secara berkelompok dengan model pembelajaran Make a Match atau mencocokkan kartu yang berisi kalimat acak menjadi sebuah teks yang berterima. siswa menonton. Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber pembelajaran yang memadai. (8)memecahkan masalah. Strategibelajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. bukan guru akting. (4) berpusat pada siswa. guru mengarahkan.(1) belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yangberpusat pada siswa. (7) pendidikan atau education bukan pengajaran atau instruction. siswamenonton ke siswa aktif bekerja dan berkarya. (2) pembelajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Sementara itu menurut Nurhadi (2004: 148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah. (10) hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes. Hal ini senada dengan Mulyasa (2006:103) mengemukakan : pentingnya lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual. . guru mengarahkan. (9) siswa akting. (5) siswa aktif. (4) menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. Dari guru akting di depan kelas. (3) umpan balik amat penting bagi siswa. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting danmenunjang pembelajaran kontekstual. (1) real word learning. (3) berpikir tingkat tinggi. kritis dan kreatif. Guru bukan hanya menyampaikanmateri pembelajaran berupa hafalan tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran. (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan.

3.Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki ciri harus ada kerja sama. 4. Meningkatkan kemampuan siswa untuk menyusun teks procedure. Manfaat bagi Peneliti . menyenangkan. Mengembangkan strategi pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif. belajar dengan bergairah. sharing dengan teman. baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan. Manfaat Hasil Penelitian 1. pendapat dan perasaannya secara sederhana baik lisan maupun tertulis. 2. tidak membosankan. Siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan mengemukakan gagasan. siswa kritis dan guru kreatif. 3. saling menunjang. efisien dan menyenangkan. Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata. siswa aktif. menggunakan berbagai sumber. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. gembira. pembelajaran terintegrasi.

Membantu pendidik. Mengembangkan model pembelajaran yang efektif. 4. Meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. 3. 5. Meningkatkan kompetensi komunikatif dan prestasi Belajar Bahasa Inggris. efisien dan menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris untuk meningkatkan kompetensi menulis mereka. meningkatakan kualitas profesionalisme guru sebagai 2. Meningkatkan rasa senang dan motivasi belajar. 5. Meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menulis teks sederhana 4.1. Hipotesis Tindakan . 2. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah yang merupakan salah satu syarat kenanikan pangkat dari golongan IVa ke jenjang berikutnya. Melalui model pembelajaran Make a Match membantu memperbaiki pembelajaran Bahasa Inggris di SMP Pasundan Banjar 5. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure 2. 3. Manfaat Keilmuan 1. Membantu memperbaiki / meningkatkan proses hasil belajar dan mengajar. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah untuk dijadikan penilaian guna mendapatkan tunjangan sertifikasi guru/pendidik.

.Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Jika dalam pembelajaran mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek berbentuk procedure melalui Teknik Make a Match. maka kualitas proses dan hasil pembelajaran akan meningkat”.

3. bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu barang/melakukan suatu aktifitas yang sifatnya opsional. Kajian Pustaka 1. tujuan kegiatan. KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN 1. Teks procedur dikenal pula dengan istilah directory. 2. steps.2. Teks procedure umumnya berisi tips atau serangkaian tindakan atau langkah dalam membuat suatu barang atau melakukan suatu aktifitas. materials. sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. goal. Teks Procedure Teks procedure bertujuan untuk memberikan petunjuk tentang langka langkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu (Otong Setiawan Djuharie. Contextual Teaching and Learning (CTL) Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi. 2. serangkaian langkah. 2006 :38). sosial dan kultural). Teks procedure umumnya memiliki struktur : 1. CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan .

keterampilan komunikasi yang penting. mendegarkan dengan aktif. Keterampilan tersebut antara lain mengunakan kesepakatan. Cooperative Learning (CL) Pendekatan Kooperatif (Cooperative Learning) merupakan suatu pendekatan pengajaran yangmengutamakan siswa untuk saling bekerjasama satu dengan lainnya untuk memahami dan mengerjakan segala tugas belajar mereka. .mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. mendorong partisipasi (tingkat awal). meningkatkan minat. dalam setiap tingkat terdapat beberapa keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan baik. kesadaran bersosial dan sikap toleransi terhadap perbedaan individu. Kegiatan bekerjasama dapat mengembangkan tingkat pemikiran yang tinggi. tingkat menegah dan tingkat mahir. Belajar kelompok. menjadi sangat penting dalam belajar karena memiliki unsur yang berguna menantang pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang. percaya diri. memiliki kesempatan mengungkapkan gagasan. yaitu tingkat awal. 3. Lundgren mendeskripsikan keterampilan kooperatif yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran kooperatif sebagai keterampilan interpersonal dalam belajar. mendengarkan pendapat orang lain. menunjukkan penghargaan dan simpati. bertanya. Dengan pengalaman belajarnya siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. mengambil giliran dan berbagi tugas. Keterampilan kooperatif tersebut meliputi tiga (3) tingkatan. dan membuat ringkasan (tingkat menengah). menghargai kontribusi. menerima tanggung jawab. serta bersama-sama membangun pengertian.

4. penulis mendesain satu teknik pembelajaran yang lebih sederhana tanpa mengurangi esensi dari kooperatifitu sendiri. Dalam penelitian ini. sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras. budaya. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki kesempatan untuk bekerja bersama-sama. memiliki daya ingat yang lebih besar dan mendapat pengalaman belajar yang lebih positif. memeriksa dengan cermat.mengelaborasi. suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Maka dari itu. Model Pembelajaran Make a Match Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Cooperative Learning merupakan satu strategi pembelajaran yang terbaik yang telah diteliti. Model pembelajaran kooperatif . menanyakan kebenaran dan berkompromi (tingkat mahir). Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi. belajar lebih cepat dan efisien. penulis menggunakan Model pembelajaran MAKE A MATCH. Penulis menyetujui bahwa pendekatan kooperatif sangat cocok untuk digunakan dalam pembelajaran di era KTSP ini. Pembelajaran kooperatif siswa belajar dan membentuk pengalaman dan pengetahuannya sendiri secara bersama-sama dalam kelompoknya. hanya saja tujuh pilar kooperatif ini dianggap terlalu berat jika akan dilaksanakan semua dalam pembelajaran di SMPN Pasundan Banjar Kelas IX A.

Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: 1. Metode make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas. yang telah disepakati bersama. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. 5. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. guru menerapkan metode pembelajaran make a match.mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. 6. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 4. siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. 3. . Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2. Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

1. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. 3. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: 1. minat belajar siswa tinggi adalah dengan metode pembelajaran kooperatif. kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.7.5 Rencana Tindakan Rencana tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi pembelajaran Writing agar dapat menarik. 2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. . 9. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. siswa menjadi termotivasi. demikian seterusnya. 8. Setelah satu babak. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. Dengan optimalisasi pembelajaran Bahasa Inggris melalui metode Kooperatif merupakan alternatif proses pembelajaran agar lebih menyenangkan dan bermakna. Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Dalam hal ini penulis menggunakan teknik pembelajaran Make a Match.

Rencana tindakan itu tidak hanya diberikan dalam satu kali tatap muka tetapi dapat dilaksanakan lebih dari satu pertemuan dalam tiap siklus. demikian seterusnya. 5. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Taggart (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning). 7. kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Setelah satu babak. observasi (observation). Setelah siswa melakukan kunjungan studi ke luar atau observasi lapangan sampai siswa mengerjakan tugas dan menghasilkan sebuah karya serta mempresentasikannya. refleksi (reflection) atau evaluasi. yang telah disepakati bersama. . Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6. tindakan (action).4. 3. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. 8. 9. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah). Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan guru-guru MGMP Bahasa Inggris Kelompok 3.

siswa masih belum seluruhnya mempunyai keaktifan dalam belajar. Penelitian ini merupakan tugas kelompok 3 MGMP program BERMUTU yang pada pelaksanaannya Guru Model berkolaborasi dengan 5 orang Guru Bahasa Inggris yang tergabung dalam kelompok 3.1. Mempersiapkan materi pembelajaran untuk tugas observasi dan diskusi. Situasi kelas saat pembelajaran masih belum optimal. laki-laki 17 dan perempuan 24 siswa dengan latar belakang sosial-ekonomi siswa mayoritas anak buruh dan petani dengan tingkat kesejahteraan menengah ke bawah. Alamat sekolah di Jalan Tentara Pelajar No. Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran. 5. Kemampuan akademik siswa masih terbatas karena motivasi belajar siswa yang rendah. 158 Kota Banjar. Persiapan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran kontekstual dengan persiapan : 1. . Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Pasundan Banjar. Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar menarik dan mudah dipahami siswa. Pembuatan lembar instrumen penelitian 2. Subyek penelitian yang di ambil adalah kelas IX A. Waktu pelaksanaan pada Bulan Februari 2010 atau pada semester 2. 2. Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran 4. Buku-buku pembelajaran yang dimiliki sendiri masih terbatas. Kelas IX A berjumlah 41 siswa. 3.

tes akhir). Menganalisis Silabus/ Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2. 3. 3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana. Tahap Melakukan Tindakan (Action). 8. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif. mencakup: 1. kelancaran dan ketepatan. 7. .6. Merancang model pembelajaran klasikal. Lembar penilaian proses untuk memantau keaktifan. 4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan metode CTL dengan menggunakan model Pembelajaran Make a Match. pedoman observasi. SIKLUS ke-1 Tahap Perencanaan (Planning).kompetensi. post tes dan pembuatan perangkat penilaian. Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan proses pembelajaran dan mengetahui optimalisasi pembelajaran Make a Match. Menerapkan model pembelajaran klasikal. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan. 3. Merencanakan tugas kelompok. kemandirian. Menyusun kelompok belajar peserta didik. 2. Siklus Penelitian Dalam pelaksanaannya penulis merencanakan menggunakan 2 siklus sebagai dasar penelitian tindakan kelas. 7. Menyiapkan instrumen (angket. Persiapan pre test. mencakup: 1. 5. 6.

2. . 3. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran klasikal yang dilakukan guru kelas IX. 4. mencakup: 1. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. mencakup: 1. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran klasikal. 3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran klasikal. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan. Tahap Mengamati (observation). Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran klasikal dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelemahankelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. Tahap refleksi (Reflection). Melakukan diskusi dengan guru Bahasa Inggris kelompok III MGMP Bahasa Inggris Kota Banjar dan kepala sekolah untuk rencana observasi. 5.4. 2.

Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran Make a Match. 2.4. dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya. Melakukan refleksi terhadap kreativitas peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Melakukan analisis pemecahan masalah. mencakup: 1. Tahap Melakukan Tindakan (Action). Merancang perbaikan berdasarkan refleksi siklus 1. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar peserta didik. mendiskusikan. Mencatat perubahan yang terjadi. SIKLUS ke-2 Tahap Perencanaan (Planning). Tahap Mengamati (observation). mencakup: 1. 2. 5. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran. . mencakup: 1. Melaksanakan tindakan perbaikan dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Make a Match. 2. 3. Mengevaluasi hasil refleksi.

hasil yang diharapkan adalah agar (1) peserta didik memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. 4.3. 4. Lembar Observasi dan Lembar Cek list 3. (2) guru memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Analisis dan Refleksi . Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2. 3. Pembuatan Instrumen Pengamatan yang dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru mata pelajaran yang sejenis sebagai pengamat di kelas ini menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut : 1. Merefleksikan proses pembelajaran Make a Match 2. dan (3) terjadi peningkatan prestasi peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Lembar Kerja Siswa sebagai evaluasi atau penilaian 5. menyusun rekomendasi. Potongan kartu yang berisi kalimat prosedure yang di acak dan dibagikan kepada semua siswa sebagai instrumen menyusun sebuah teks prosedur 2. mencakup: 1. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian. Tahap Refleksi (Reflection). Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan. Merefleksikan hasil belajar peserta didik dengan penerapan model pembelajaran Make a Match.

4. Analisis berdasarkan siklus yang secara bertahap. Penelitian dengan metode pembelajaran kontekstual ini. Analisis juga dilakukan dari hasil observasi dan wawancara. Tindak lanjut dalam penelitian ini siswa dapat menjadi lebih aktif dan pembelajaran kontekstual akan dilakukan secara kontinyu oleh guru. peneliti berharap siswa akan menjadi lebih termotivasi dalam proses pembelajaran.Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah memanfaatkan analisa deskriptif kuantitatif dari proses dan hasil belajar. Analisis 1 dalam siklus 1 yang hasilnya direfleksikan ke siklus 2. refleksi yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang dilakukan. JADWAL PENELITIAN Rencana Jadwal penelitian sebagai berikut: No 1 Tanggal Pertemuan 9 Februari 2010 Siklus 1 Tahapan Kegiatan Keterangan Tahap Perencanaan Tindakan (Planning) 2 3 4 5 19 Februari 2010 19 Februari 2010 23 Februari 2010 02 Maret 2010 Tahap Tindakan (Action) Tahap Pengamatan (Observation) Tahap Refleksi (reflection) Siklus II Tahap Perencaan Tindakan (Planning) 6 7 8 9 9 Maret 2010 9 Maret 2010 12 Maret 2010 15 Maret 2010 Tahap Tindakan (Action) Tahap Pengamatan (Observation) Tahap Refleksi (reflection) Tahap Analisis Data dan Deskripsi Temuan sebagai bahan Laporan SMP Pasundan Banjar SMP Pasundan Banjar .

Wibawa. Arikunto. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. DAFTAR PUTSAKA Kemmis.Jakarta: Dirjen Dikgu dan Tentis. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran . Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendasmen Dirtendik: 2003. Jakarta Depdiknas. The Action Research Planner. R. Depdiknas. Jakarta: Dirjen PMPTK. Suharsimi. dan Taggart. Penelitian Tindakan Kelas.al.10 23 Maret 2010 Penyusunan Laporan PTK 5. S. Suhardjono et. 2005. 2005. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. 2006. Basuki. 2003. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Deakin: Deakin University. 1988.

Mulyana.Permendiknas no 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan. Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pengembangan Profesi Guru. Bandung: LPMP. Jakarta: ----------. Slamet. .2007.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.