P. 1
Proposal Make a Match

Proposal Make a Match

|Views: 2,625|Likes:
Published by Dhia ChaYank

More info:

Published by: Dhia ChaYank on Apr 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

SKRIPSI PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KECEPATAN PEMAHAMAN SISWA BIDANG STUDY PENDIDIKAN

AGAMA ISLAM DI SMPN X

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk insan yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian disiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil, serta sehat jasmani rohani. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan juga merupakan suatu jalan atau cara yang mengantarkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Bahkan pendidikan menjadi sebuah kewajiban yang harus dijalani manusia dalam kehidupannya. Sebagaimana Hadits Nabi : Artinya : “memmtut wajib bagi setiap orang muslim dan muslimah “(HRAnas Ibnu Malik Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional juga disebutkan bahwasanya : “pendidikan adalah usaha sadar dan terancam untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Namun, tampaknya pelaksanaan pendidikan kita di sekolah belum sesuai dengan harapan di atas. Padahal dalam pendidikan guru merupakan figur sentral, agar guru mampu menunaikan tugasnya dengan baik, terlebih dahulu harus memahami dengan seksama hal-hal yang berhubungan dengan proses belajar mengajar. Namun pelaksanaan pedidikan kita di sekolah belum sesuai dengan harapan-harapan di atas. Para guru di sekolah masih bekerja sendirisendiri sesuai dengan mata pelajaran yang di berikannya. Mengapa demikian ? Sebab, selama ini belum ada standart yang mengatur pelaksanaan proses pendidikan. Artinya, belum ada pedoman yang bisa dijadikan rujukan bagaimana seharusnya proses pendidikan berlangsung. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua guru menyadari dan mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pendidikan harus menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi agar siswa tidak merasa bosan, guru harus mampu memiliki modal pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran yang di sampaikan. Kondisi seperti ini membutuhkan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan semua peserta didik sehingga dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman maupun gagasan-gagasan. Salah satu alternatif yang bisa dipilih dalam rangka menghasilkan pembelajaran yang berkualitas yaitu pembelajaran kooperatif. Namun, banyak guru menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan metode belajar kelompok. Mereka telah membagi para siswa dalam kelompok dan memberikan tugas kelompok. Namun, guru-guru ini mengeluh bahwa hasil kegiatan-kegiatan ini tidak seperti yang mereka harapkan. Siswa bukannya memanfaatkan kegiatan tersebut dengan baik untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, mereka malah memboroskan waktu dengan bermain, bergurau dan sebagainya. Banyak sekali macam pembelajaran kooperatif yang ada, misalnya; “Two Stay Two Stray” (dua tinggal dua tamu), kancing gemerincing, lingkaran kecil lingkaran besar, bercerita

berpasangan dan masih banyak lagi yang tidak dapat penulis jelaskan satu persatu. Namun, dalam penelitian ini penuis hanya meneliti tentang pembelajaran kooperatif tipe “Make a Match” karena berdasarkan survei yang dilaksanakan peneliti di SMP Negeri X ini sudah banyak diterapkan macam-macam pembelajaran kooperatif dan pembelajaran kooperatif tipe “Make a Match” lah yang merupakan pembelajaran koopertif yang paling jarang diterapkan di SMP Negeri X. Metode “Make a Match” atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa.Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Dalam konteks Keindonesiaan, Pendidikan Islam juga merupakan bagian dari sistem Pendidikan Nasional, di mana pembelajaran Agama Islam dalam konteks kebijakan Pendidikan Nasional identik dengan Pendidikan Agama Islam yang diselenggarakan pada lembaga pendidikan formal di semua jenjang pendidikan, mulai pendidikan anak usia dini, dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Adapun dasar pentingnya pengajaran dan pendidikan khususnya pendidikan Agama Islam difirmankan Allah s.w.t. dalam surat : Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-mujadalah : 11) Seiring dengan hal tersebut, guru Pendidikan Agama Islam di SMPN X dalam menyampaikan pelajarannya, salah satunya menggunakan metode Make a Match karena dengan metode ini siswa akan lebih mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan. Berdasarkan latar belakang di atas, Peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh apabila diterapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan model Make a Match (Mencari pasangan) di SMPN X khususnya untuk mata pelajaran PAI dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Macth terhadap kecepatan Pemahaman siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Di SMPN X”. B. Rumusan Masalah Berangkat dari latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan beberapa masalah yang terkait dengan penelitian ini. Yakni : 1. Bagaimana penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe “Make a Match ” di SMPN X ? 2. Bagaimana Kecepatan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMPN X ? 3. Apakah ada pengaruh setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe “make a match” terhadap kecepatan pemahaman siswa bidang study Pendidikan Agama Islam di SMPN X ? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Agar sasaran yang dicapai dalam penelitian ini lebih terarah, maka penulis perlu menjabarkan tujuan dan kegunaan penelitian yang akan dicapai. 1. Tujuan penelitian a. Untuk mengetahui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe make a match di SMPN X. b. Untuk mengetahui kecepatan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN X. c. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap kecepatan pemahaman siswa bidang study Pendidikan Agama Islam di SMPN X. 2. Kegunaan Penelitian

maka perlu dicantumkan batasan masalah. Rumusan Masalah. dan Sistematika Pembahasan. Penelitian ini hanya terbatas pada variabel pembelajaran kooperatif tipe make a match yang berpengaruh atau tidak terhadap peningkatan pemahaman siswa. tetapi sangat asik dan menyenangkan. Model Pembelajaran Make a Match artinya model pembelajaran Mencari Pasangan. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. populasi dan sampel. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. 3. 2. bagi perkembangan kegiatan belajar mengajar. Memberikan kontribusi bagi kelengkapan kepustakaan di kampus. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Memberi sumbangan pemikiran bagi kalangan pendidik di SMPN X. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban). BAB IV : Merupakan hasil penelitian yang berisi deskripsi data dan analisis data serta pengujian hipotesis. prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif. Tujuan dan Kegunaan Penelitian. konsep pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. BAB III : Metode penlitian yang berisikan tentang jenis penelitian. sumber penelitian metode pengumpulan data dan analiss data. khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. E. Dengan harapan hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang dikehendaki peneliti. 3. . Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.Penulis berharap banyak hal yang merupakan hasil penelitian dalam skripsi ini akan berguna bagi banyak pihak. Dalam penelitian ini tidak semua bidang Pendidikan Agama Islam bisa dinilai dengan menggunakan pembelajaran kooperatif time make a match tetapi materi yang sesuai dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran Make a Match akan riuh. BAB II : Landaan Teori. Bab ini berisikan tentang rumusan teoritis tentang konsep strategi pembelajaran kooperatif. Definisi Operasional. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan skripsi ini penulis susun dengan menggunakan sistem bab demi bab. Bab V : Merupakan pembahasan akhir dari skripsi yang berisi kesimpulan dan saran. 2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu. Langkah-langkah pembelajaran Make a Match adalah sebagi berikut : 1. 2. Memberi cakrawala berpikir ilmiah bagi mahasiswa pada umumnya dalam upaya pengembangan pendidikan. Batasan Masalah Agar dalam penelitian ini tidak ada penyimpangan. Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini adalah : Bab I : Membahas tentang pendahuluan yang diuaraikan menjadi sub bab : Latar Belakang. selanjutnya diteruskan dengan tinjauan tentang pemahaman siswa dan dilanjutkan dengan “Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match terhadap Peningkatkan Kecepatan Pemahaman siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam”. secara spesifik harapan kegunaan Penelitian ini adalah : 1. D.

4. Latar Belakang Penguasaan kemampuan Bahasa Inggris merupakan sebuah syarat mutlak yang harus dimiliki di era komunikasi dan globalisasi saat ini.3. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6. 5. 7. . mereka mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu yang cerdas. Artinya siswa yang kebetulan mendapat kartu soal maka harus mencari pasangan yang memegang kartu jawaban soal secepat mungkin. LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA MENYUSUN TEKS BERBENTUK PROCEDURE MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DI KELAS IX A SMP PASUNDAN BANJAR 1. Pembelajaran Bahasa Inggris (Language Learning) di jenjang SMP merupakan materi pokok sebagai bagian dari fungsi pengembangan diri siswa dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Kesimpulan/penutup. terampil dan berkepribadian sebagai bekal hidup di masa mendatang. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 8. Demikian juga sebaliknya. teknologi dan seni yang diharapakan setelah menamatkan studi. Demikian seterusnya sampai semua kartu soal dan jawaban jatuh ke semua siswa. PENDAHULUAN 1.

Writing (menulis) merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang dirasa sering menjadi masalah bagi siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. berbicara. Pembelajaran mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. yaitu: menyimak.Penguasan materi pelajaran Bahasa Inggris dalam jenjang SMP meliputi empat keterampilan berbahasa. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure telah penulis lakukan secara klasikal. yaitu: Kosa Kata. Dalam kegiatan inti pembelajaran. Perbedaan secara grammatical antara bahasa Inggris sebagai bahasa asing dan bahasa indonesia sebagai bahasa utama merupakan masalah yang sering timbul pada saat belajar menulis. siswa biasanya diberi contoh teks monolog berbentuk prosedure dan siswa diminta untuk mencari arti dari teks tersebut yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kalimat yang benar.adalah salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemampuan mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. Hal tersebut sangat menarik untuk diteliti mengingat kemampuan menulis (writing ability) sangatlah dipengaruhi oleh penguasaan kosa kata. Proses pembelajaran seperti itu sudah biasa . Dalam pembelajaran tersebut penulis menjelaskan materi pokok yang terdapat dalam indikator sebagai berikut :  Menyusun kalimat acak menjadi teks yang padu berbentuk procedure. Dari ke empat keterampilan berbahasa di atas. Semua itu didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya. struktur bahasa dan kemampuan siswa dalam merangkai kata menjadi sebuah teks yang berterima. Tata Bahasa dan Pronunciation sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure dan report. membaca dan menulis.

Mereka tentunya kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Guru bukan lagi merupakan sosok yang ditakuti dan bukan pula sosok otoriter. penulis mencoba memadukan pendekatan Contextual Teaching And Learning dengan pendekatan Cooperative Learning dengan menggunakan model pembelajaran Mix and Match. Prinsip PAIKEM (Pembelajaran Aktif. .dilakukan oleh penulis dan ternyata hasil pembelajaran siswa tidak sesuai yang diharapakan dan siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penulis sadar bahwa di era Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini. Setelah mengikuti pelatihan guru melalui MGMP BERMUTU (Better Education Through Reformed Management and Universal Teaching Upgrading yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Banjar. Sebagai upaya memperbaiki kegagalan tersebut penulis berusaha mencari metode dan strategi pembelajaran yang tepat sebagai solusi selanjutnya. tetapi guru harus jadi seorang fasilitator dan motor yang mampu memfasilitasi dan menggerakkan siswanya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan. Penulis memperoleh data dari hasil pengamatan melalui refleksi yang dilakukan bahwa siswa terlihat pasif. guru dituntut untuk kreatif dan inovatif. Setelah mengamati uraian di atas. dapat dilihat sebuah gambaran kegagalan terhadap hasil dan proses belajar dan hal tersebut merupakan masalah yang harus segera diatasi. serta pengalaman penulis saat mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan. Efektif dan Menyenangkan) harus dilaksanakan. Guru harus mampu mencari satu teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas. Hal ini sangat mengundang pertanyaan dan asumsi bahwasannya metode pembelajaran tersebut tidak berhasil (gagal) dan cenderung tidak efektip. Inovatif. Kreatif. bosan dan bahkan ada beberapa siswa yang mengeluh tidak percaya diri dalam mengungkapkan ide atau gagasannya.

manusia visual. “Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa Menyusun Teks Berbentuk Procedure Melalui Model Pembelajaran Make a Match Di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar” 2. Senada dengan yang diungkapkan oleh Tim Power Brain Indonesia dalam situsnya menyatakan bahwa secara ilmiah sudah diketahui bahwa dalam hal penyerapan informasi tersebut manusia dibagi menjadi 3 bagian. maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: ”Apakah melalui Penggunaan Model Pembelajaran MAKE A MATCH dapat meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Menyusun Teks Berbentuk Procedure Di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar?” 2. dkk. Pemecahan Masalah Terdapat tiga macam modalitas belajar yang digunakan oleh seseorang dalam pembelajaran.com).medikaholistik. yang mana ia akan secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/ dilihatnya. penulis mencoba menggunakan metode Contextual Teaching Learning (CTL) penulis gunakan dalam upaya membangun pengetahuan siswa . dan komunikasi (DePorter. pemrosesan informrasi. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas. manusia auditorik. di mana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain tersebut melakukan hal tadi (http://www. di mana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal. Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah 1. dan manusia kinestetik. Berdasarkan hal tersebut diatas. 2000).Penulis mencoba merencanakan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul.

Dari guru akting di depan kelas. (2) pembelajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategibelajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. (7) pendidikan atau education bukan pengajaran atau instruction. kritis dan kreatif. (3) umpan balik amat penting bagi siswa. siswamenonton ke siswa aktif bekerja dan berkarya. Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber pembelajaran yang memadai. (1) real word learning. . (4) menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. Hal ini senada dengan Mulyasa (2006:103) mengemukakan : pentingnya lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual. (4) berpusat pada siswa. (8)memecahkan masalah. bukan guru akting.terhadap materi yang disampaikan yang mengedepankan kerjasama antar teman secara berkelompok dengan model pembelajaran Make a Match atau mencocokkan kartu yang berisi kalimat acak menjadi sebuah teks yang berterima. (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan. Guru bukan hanya menyampaikanmateri pembelajaran berupa hafalan tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran. (10) hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes. (9) siswa akting. Sementara itu menurut Nurhadi (2004: 148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah. (2) mengutamakan pengalaman nyata. (5) siswa aktif. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting danmenunjang pembelajaran kontekstual.(1) belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yangberpusat pada siswa. (3) berpikir tingkat tinggi. guru mengarahkan. guru mengarahkan. siswa menonton.

Siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan mengemukakan gagasan. menyenangkan. efisien dan menyenangkan. 3. menggunakan berbagai sumber.Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki ciri harus ada kerja sama. saling menunjang. 2. siswa aktif. Manfaat bagi Peneliti . Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan. pendapat dan perasaannya secara sederhana baik lisan maupun tertulis. 3. Manfaat Hasil Penelitian 1. gembira. siswa kritis dan guru kreatif. sharing dengan teman. belajar dengan bergairah. tidak membosankan. 4. pembelajaran terintegrasi. Meningkatkan kemampuan siswa untuk menyusun teks procedure. Mengembangkan strategi pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif.

5. Membantu pendidik. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah yang merupakan salah satu syarat kenanikan pangkat dari golongan IVa ke jenjang berikutnya. 5.1. 3. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah untuk dijadikan penilaian guna mendapatkan tunjangan sertifikasi guru/pendidik. efisien dan menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris untuk meningkatkan kompetensi menulis mereka. Melalui model pembelajaran Make a Match membantu memperbaiki pembelajaran Bahasa Inggris di SMP Pasundan Banjar 5. Hipotesis Tindakan . 4. Meningkatkan rasa senang dan motivasi belajar. Meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. Mengembangkan model pembelajaran yang efektif. meningkatakan kualitas profesionalisme guru sebagai 2. Manfaat Keilmuan 1. 2. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure 2. Membantu memperbaiki / meningkatkan proses hasil belajar dan mengajar. Meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menulis teks sederhana 4. 3. Meningkatkan kompetensi komunikatif dan prestasi Belajar Bahasa Inggris.

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Jika dalam pembelajaran mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek berbentuk procedure melalui Teknik Make a Match. maka kualitas proses dan hasil pembelajaran akan meningkat”. .

materials. Teks procedure umumnya berisi tips atau serangkaian tindakan atau langkah dalam membuat suatu barang atau melakukan suatu aktifitas. 2. 2. serangkaian langkah. Teks procedur dikenal pula dengan istilah directory. Contextual Teaching and Learning (CTL) Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi. Teks procedure umumnya memiliki struktur : 1. tujuan kegiatan. KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN 1. sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. 3. CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan .2. sosial dan kultural). goal. bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu barang/melakukan suatu aktifitas yang sifatnya opsional. steps. Kajian Pustaka 1. Teks Procedure Teks procedure bertujuan untuk memberikan petunjuk tentang langka langkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu (Otong Setiawan Djuharie. 2006 :38).

serta bersama-sama membangun pengertian. Cooperative Learning (CL) Pendekatan Kooperatif (Cooperative Learning) merupakan suatu pendekatan pengajaran yangmengutamakan siswa untuk saling bekerjasama satu dengan lainnya untuk memahami dan mengerjakan segala tugas belajar mereka. mendengarkan pendapat orang lain. Lundgren mendeskripsikan keterampilan kooperatif yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran kooperatif sebagai keterampilan interpersonal dalam belajar. mendorong partisipasi (tingkat awal). . dan membuat ringkasan (tingkat menengah). Dengan pengalaman belajarnya siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. dalam setiap tingkat terdapat beberapa keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan baik. memiliki kesempatan mengungkapkan gagasan. bertanya. menghargai kontribusi. mendegarkan dengan aktif. menjadi sangat penting dalam belajar karena memiliki unsur yang berguna menantang pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang. 3. meningkatkan minat. kesadaran bersosial dan sikap toleransi terhadap perbedaan individu. Belajar kelompok. menerima tanggung jawab. yaitu tingkat awal. keterampilan komunikasi yang penting. Keterampilan tersebut antara lain mengunakan kesepakatan. Keterampilan kooperatif tersebut meliputi tiga (3) tingkatan. menunjukkan penghargaan dan simpati. mengambil giliran dan berbagi tugas. tingkat menegah dan tingkat mahir.mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. percaya diri. Kegiatan bekerjasama dapat mengembangkan tingkat pemikiran yang tinggi.

Maka dari itu. hanya saja tujuh pilar kooperatif ini dianggap terlalu berat jika akan dilaksanakan semua dalam pembelajaran di SMPN Pasundan Banjar Kelas IX A. Pembelajaran kooperatif siswa belajar dan membentuk pengalaman dan pengetahuannya sendiri secara bersama-sama dalam kelompoknya. menanyakan kebenaran dan berkompromi (tingkat mahir). Penulis menyetujui bahwa pendekatan kooperatif sangat cocok untuk digunakan dalam pembelajaran di era KTSP ini. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki kesempatan untuk bekerja bersama-sama. suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Dalam penelitian ini. 4. sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras. budaya. penulis mendesain satu teknik pembelajaran yang lebih sederhana tanpa mengurangi esensi dari kooperatifitu sendiri. memeriksa dengan cermat. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi.mengelaborasi. memiliki daya ingat yang lebih besar dan mendapat pengalaman belajar yang lebih positif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Model Pembelajaran Make a Match Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. penulis menggunakan Model pembelajaran MAKE A MATCH. belajar lebih cepat dan efisien. Cooperative Learning merupakan satu strategi pembelajaran yang terbaik yang telah diteliti. Model pembelajaran kooperatif .

Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah). Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: 1. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas. 2. 6. Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. guru menerapkan metode pembelajaran make a match.mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. . Metode make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. 4. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 3. yang telah disepakati bersama. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. 5.

Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. 3. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. demikian seterusnya. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. 8. Dalam hal ini penulis menggunakan teknik pembelajaran Make a Match. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. Setelah satu babak. . 9. kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. siswa menjadi termotivasi. minat belajar siswa tinggi adalah dengan metode pembelajaran kooperatif. Dengan optimalisasi pembelajaran Bahasa Inggris melalui metode Kooperatif merupakan alternatif proses pembelajaran agar lebih menyenangkan dan bermakna. 2. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.5 Rencana Tindakan Rencana tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi pembelajaran Writing agar dapat menarik. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: 1. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. 1. Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994).7.

yang telah disepakati bersama.4. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. 6. 7. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. 8. 9. kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. observasi (observation). Rencana tindakan itu tidak hanya diberikan dalam satu kali tatap muka tetapi dapat dilaksanakan lebih dari satu pertemuan dalam tiap siklus. Setelah siswa melakukan kunjungan studi ke luar atau observasi lapangan sampai siswa mengerjakan tugas dan menghasilkan sebuah karya serta mempresentasikannya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah). refleksi (reflection) atau evaluasi. 5. Setelah satu babak. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. . demikian seterusnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Taggart (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning). 3. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan guru-guru MGMP Bahasa Inggris Kelompok 3. tindakan (action).

Pembuatan lembar instrumen penelitian 2. 3. laki-laki 17 dan perempuan 24 siswa dengan latar belakang sosial-ekonomi siswa mayoritas anak buruh dan petani dengan tingkat kesejahteraan menengah ke bawah. . Mempersiapkan materi pembelajaran untuk tugas observasi dan diskusi. 158 Kota Banjar. Kelas IX A berjumlah 41 siswa. Waktu pelaksanaan pada Bulan Februari 2010 atau pada semester 2. Alamat sekolah di Jalan Tentara Pelajar No. Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar menarik dan mudah dipahami siswa. Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran. 5. Subyek penelitian yang di ambil adalah kelas IX A. 2. Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Pasundan Banjar.1. Penelitian ini merupakan tugas kelompok 3 MGMP program BERMUTU yang pada pelaksanaannya Guru Model berkolaborasi dengan 5 orang Guru Bahasa Inggris yang tergabung dalam kelompok 3. Persiapan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran kontekstual dengan persiapan : 1. Buku-buku pembelajaran yang dimiliki sendiri masih terbatas. Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran 4. siswa masih belum seluruhnya mempunyai keaktifan dalam belajar. Kemampuan akademik siswa masih terbatas karena motivasi belajar siswa yang rendah. Situasi kelas saat pembelajaran masih belum optimal.

Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan proses pembelajaran dan mengetahui optimalisasi pembelajaran Make a Match. 7. Merancang model pembelajaran klasikal. Tahap Melakukan Tindakan (Action). 7. Menerapkan model pembelajaran klasikal. 8. Menganalisis Silabus/ Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2.kompetensi. pedoman observasi. 3. tes akhir). Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan metode CTL dengan menggunakan model Pembelajaran Make a Match. Merencanakan tugas kelompok. Persiapan pre test. Lembar penilaian proses untuk memantau keaktifan. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana. Menyiapkan instrumen (angket. 3.6. 3. Menyusun kelompok belajar peserta didik. 5. . kemandirian. 6. mencakup: 1. Siklus Penelitian Dalam pelaksanaannya penulis merencanakan menggunakan 2 siklus sebagai dasar penelitian tindakan kelas. 2. SIKLUS ke-1 Tahap Perencanaan (Planning). kelancaran dan ketepatan. post tes dan pembuatan perangkat penilaian. mencakup: 1. 4.

Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran klasikal dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. 2. 3. 5.4. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran klasikal yang dilakukan guru kelas IX. Tahap refleksi (Reflection). Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelemahankelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. mencakup: 1. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran klasikal. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran klasikal. 4. Tahap Mengamati (observation). 3. . 2. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan. mencakup: 1. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Melakukan diskusi dengan guru Bahasa Inggris kelompok III MGMP Bahasa Inggris Kota Banjar dan kepala sekolah untuk rencana observasi.

mencakup: 1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran Make a Match. Tahap Mengamati (observation). Merancang perbaikan berdasarkan refleksi siklus 1. Melakukan analisis pemecahan masalah. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran. mencakup: 1. dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya. Mencatat perubahan yang terjadi. mendiskusikan. 2. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar peserta didik. 3. 2. 5. Mengevaluasi hasil refleksi. Melaksanakan tindakan perbaikan dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Make a Match. SIKLUS ke-2 Tahap Perencanaan (Planning).4. mencakup: 1. . Tahap Melakukan Tindakan (Action). 2. Melakukan refleksi terhadap kreativitas peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Analisis dan Refleksi . Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian. (2) guru memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran Bahasa Inggris. 3. mencakup: 1. Lembar Kerja Siswa sebagai evaluasi atau penilaian 5. 4. Potongan kartu yang berisi kalimat prosedure yang di acak dan dibagikan kepada semua siswa sebagai instrumen menyusun sebuah teks prosedur 2. Merefleksikan hasil belajar peserta didik dengan penerapan model pembelajaran Make a Match. dan (3) terjadi peningkatan prestasi peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2. Merefleksikan proses pembelajaran Make a Match 2.3. hasil yang diharapkan adalah agar (1) peserta didik memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Lembar Observasi dan Lembar Cek list 3. Tahap Refleksi (Reflection). menyusun rekomendasi. Pembuatan Instrumen Pengamatan yang dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru mata pelajaran yang sejenis sebagai pengamat di kelas ini menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut : 1. 4.

4. Analisis 1 dalam siklus 1 yang hasilnya direfleksikan ke siklus 2.Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah memanfaatkan analisa deskriptif kuantitatif dari proses dan hasil belajar. JADWAL PENELITIAN Rencana Jadwal penelitian sebagai berikut: No 1 Tanggal Pertemuan 9 Februari 2010 Siklus 1 Tahapan Kegiatan Keterangan Tahap Perencanaan Tindakan (Planning) 2 3 4 5 19 Februari 2010 19 Februari 2010 23 Februari 2010 02 Maret 2010 Tahap Tindakan (Action) Tahap Pengamatan (Observation) Tahap Refleksi (reflection) Siklus II Tahap Perencaan Tindakan (Planning) 6 7 8 9 9 Maret 2010 9 Maret 2010 12 Maret 2010 15 Maret 2010 Tahap Tindakan (Action) Tahap Pengamatan (Observation) Tahap Refleksi (reflection) Tahap Analisis Data dan Deskripsi Temuan sebagai bahan Laporan SMP Pasundan Banjar SMP Pasundan Banjar . Penelitian dengan metode pembelajaran kontekstual ini. refleksi yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang dilakukan. Tindak lanjut dalam penelitian ini siswa dapat menjadi lebih aktif dan pembelajaran kontekstual akan dilakukan secara kontinyu oleh guru. Analisis berdasarkan siklus yang secara bertahap. peneliti berharap siswa akan menjadi lebih termotivasi dalam proses pembelajaran. Analisis juga dilakukan dari hasil observasi dan wawancara.

Deakin: Deakin University. 1988.10 23 Maret 2010 Penyusunan Laporan PTK 5. Jakarta Depdiknas. 2005.al. R. The Action Research Planner. S. Penelitian Tindakan Kelas. Wibawa. Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendasmen Dirtendik: 2003. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran . DAFTAR PUTSAKA Kemmis.Jakarta: Dirjen Dikgu dan Tentis. Basuki. 2005. 2006. 2003. dan Taggart. Suhardjono et. Arikunto. Suharsimi. Depdiknas. 2006. Jakarta: Dirjen PMPTK. Penelitian Tindakan Kelas. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru.

Mulyana. Slamet. Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pengembangan Profesi Guru.Permendiknas no 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan. . Bandung: LPMP.2007. Jakarta: ----------.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->