Proposal PTK APLIKASI PENDEKATAN PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) DAPAT MENINGKATKAN PEMBELAJARAN SOSIOLOGI PADA KELAS XII

IPS MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2005 – 2006

Disusun Oleh ………………………………… DEPARTEMEN AGAMA MADRASAH ALIYAH NEGERI SALATIGA 2005

pembelajarannya. Jika hal ini terjadi, yang terjadi kemudian sebuah verbalisme pengetahuan belaka. Siswa mampu menghafal sejumlah konsep-konsep sosiologi tertentu dalam dimensi akademis, tetapi tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah. Dengan asumsi dasar pada batasan masalah tersebut, Problem-Based Learning (PBL) menjadi relevan untuk diterapkan sebagai strategi pembelajaran Sosiologi. Dengan pendekatan PBL diasumsikan belajar Sosiologi akan menjadi menarik karena objek yang dipelajari situasi dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa. Di samping itu, konsep pengetahuan esensial yang dipelajari akan menggerakkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan dengan sendirinya akan mendorong siswa untuk belajar pada situasi bagaimana belajar. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka secara spesifik masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut: 2.

a. b.

Apakah dengan pendekatan Problem-Based Learning dapat meningkatkan pembelajaran Sosiologi pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2006 – 2007? Bagaimana perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning? 3. Tujian Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

A.

JUDUL PENELITIAN Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “APLIKASI PENDEKATAN PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) DAPAT MENINGKATKAN PEMBELAJARAN SOSIOLOGI PADA KELAS XII IPS MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2005 – 2006” B. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. (Umaedi (1999 : 1) mengatakan bahwa “Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan sumber daya manusia itu sendiri”. Salah satu strategi kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah melalui peningkatan mutu pendidikan. Sejalan dengan perkembangan abad 21, yang dikenal dengan era globalisasi maka diperlukan profesionalisme di segala bidang termasuk dunia pendidikan. Permasalahan yang selalu mengemuka dalam dunia pendidikan adalah bagaimana suatu proses pembelajaran dirancang dan diturunkan dalam praktek. Baik dan buruknya kualitas pendidikan sangat berhubungan dengan kinerja guru dalam menjalankan profesinya sebagai pembelajar. Dalam ruang ini, seorang guru selalu ditantang untuk dapat menemukan format yang tepat dan memformulasikan dalam strategi yang taktis suatu rancangan pembelajaran yang mencerahkan (Parman, 2005 : 9). Berangkat dari latar belakang tersebut, secara mikro (praksis pembelajaran) perlu ditemukan cara terbaik untuk menyampaikan konsep yang diajarkan di dalam mata pelajaran tertentu, sehingga siswa dapat menggunakan dan mengingat lebih lama konsep-konsep tersebut sebagai suatu kompetensi yang berguna. Di samping itu, guru dituntut kemampuannya untuk berkomunikasi secara efektif dengan siswanya. Konsekuensi logis dari tuntutan profesionalitas ini adalah kemampuan menemukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan kekhasan mata pelajaran tertentu. Dalam kedudukannya sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang sudah relatif lama berkembang di lingkungan akademis, secara teoritik idealnya Sosiologi memiliki posisi strategis dalam membahas dan mempelajari masalahmasalah sosial-politik yang berkembang di masyarakat. Karenanya, pengajaran Sosiologi perlu semakin tanggap dan sensitif terhadap perkembangan di masyarakat dan selalu siap dengan pemikiran kritis dan alternatif menjawab tantangan yang ada. Melihat masa depan masyarakat kita, sosiologi semakin dituntut untuk tanggap terhadap isu globalisasi yang didalamnya mencakup demokratisasi, meliputi desentralisasi dan otonomi, penegakkan HAM, good governance (kepemerintahan yang baik), emansipasi, dan masyarakat yang demokratis. Pengajaran Sosiologi di Sekolah Menengah Umum berfungsi untuk meningkatkan kemampuan berfikir, berperilaku, dan berinteraksi dalam keragaman realitas sosial dan budaya berdasarkan etika. Tujuan pengajaran sosiologi Sekolah Menengah Umum pada dasarnya mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku siswa yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tataran realitas, pengajaran sosiologi di sekolah, sering kali guru terjebak dengan cara-cara konvensional yang hanya berorientasi pada pencapaian aspek-aspek kognitif yang mengandalkan metode ceramah dalam

a. b.

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA. Untuk mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA. 4. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan penelitian ini adalah:

a. b.
C.

Melalui pendekatan Problem-Based Learning kualitas pembelajaran Sosiologi pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA akan meningkat. Melalui pendekatan Problem-Based Learning akan terjadi peningkatan tingkah laku yang menyertai pembelajaran Sosiologi kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA. Kajian Teori

1.

Definisi Problem-Based Learning Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 2), “Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Learning (Pembelajaran Proyek), Experience-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran autentik), dan Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”. Mayo, Donnely, Nash & Schwartz, 1993 dalam Whatis PBL.html mendefinisikan Problem-Based Learning sebagai strategi untuk pemecahan masalah yang signifikan, yang disandarkan pada situasi keadaan yang nyata dan memberikan sumber-sumber, menunjukkan atau memandu dan memberikan petunjuk pada pembelajar untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah. Menurut Finkle dan Torp (1995 dalam http://www.corf.html) dijelaskan bahwa Problem-Based Learning adalah sebuah kurikulum sistem pengajaran yang simultan untuk mengembangkan antara strategi pengembangan pemecahan masalah dari dasar pengembangan disiplin pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan menyesuaikan pada permasalahan yang nyata. Di dalam problem-based learning, siswa bekerja dalam suatu kelompok kecil untuk membahas sesuatu masalah yang tidak dimengerti dan penting, apa yang mereka tidak tahu dan berusaha untuk belajar memecahkan permasalahan tersebut . (White H.B &Richlin, 1996: http://udel/pbl/dancase). Hamzah (2004: http://www.udel.edu/pbl/) menjelaskan bahwa Problem-Based Learning (PBL) merupakan salah satu metode pembelajaran dimana Authentic Assesment (penilaian nyata) dapat diterapkan secara komprehensif. Keuntungan dari pembelajaran Problem-Based Learning yakni, memberikan fokus yang menarik bagi siswa dalam menyusun pemecahan masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan permasalahan yang kontekstual melalui penerapan ceramah dan penggabungan penelitian sehingga siswa akan senantiasa aktif menyusun konsep yang akhirnya dimemorikan dalam kognitifnya di dalam pembelajaran yang bermakna. Terkait dengan penilaian tersebut, bahwa salah satu persoalan yang dijumpai guru dalam penerapan KBK adalah menyangkut hal penillaian kompetensi dasar. Bila kurikulum 1994 yang lalu penilaian banyak menekankan pada kemampuan kognitif (pengetahuan) saja, maka dalam kurikulum 2004 (KBK), penilaian mencakup tiga aspek, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan) secara serempak. Untuk mencapai kompetensi dasar yang benar-benar maksimal baik dalam bentuk kognitif, afektif, dan psikomotor secara simultan, kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar menyampaikan dan menerima informasi, tetapi mengolah sebagai masukan pada

1

usaha peningkatan kemampuan. menekankan pada praksis belajad dengan memberikan ruang bagi siswa untuk mengambil peranan secara aktif dalam belajar.udel. evaluasi diri. yakni: (1) Visual-Spatial. sedangkan pendidik (guru) hanya sebagai fasilitator. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2005 – 2006 yang berjumlah 40 siswa. Dina Mustafa. dan juga suatu langkah untuk memecahkan masalah yang lebih rumit dari sebelumnya. melalui PBL siswa ikut secara intensif dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Menurut Hamzah (2004: http://www. kasus. Implementasi Pendekatan Problem-Based Learning Paradigma baru pembelajaran yang dewasa ini menjadi diskursus dalam dunia pendidikan. yaitu: a. Akan dilaksanakan tahun 2005 – 2006 yang melibatkan siswa berjumlah 40 siswa. Problem-Based Learning merupakan model pembelajaran yang memusatkan pada peserta didik. Tindakan berikutnya adalah menentukan tujuan instruksional dari penyampaian materi tersebut. 2. Sesuai dengan pendapat Slavin (1995: 9) bahwa jumlah sampai lima orang. dan Experimential Learning yang berhubungan dengan pengetahuan terapan. Uraian tersebut di atas merupakan proses yang harus dilakukan guru dalam rangka membentuk suatu metode PBL dalam kelas. METODE PENELITIAN 1. dan (8) Natural. wawancara. Tugas pokok pengajar atau pendidik adalah menciptakan lingkungan belajar yang baik. Dalam hal ini. menyediakan sumber belajar. Model PBL merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dengan masalah nyata. b. (4) Interpersona. b. 2 . dan jurnal. norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. 2001 : 6). Dalam belajar eksperimental tersebut. 2001 : 89). Setelah siswa menemukan masalah dalam kehidupannya. Karakteristik Pendekatan Problem-Based Learning (PBL) Karakteristik dalam metode Problem Based Leaning ini antara lain: Pemunculan masalah dari siswa atau situasi masalah dari guru. Tahap Persiapan Dalam tahap ini. merasakan dan secara geografis dekat dengan mereka. Dengan kata lain. Non Tes Teknik non tes yang dipilih pada penelitian ini ada 3 yaitu observasi.edu/pbl/) ProblemBased Learning (PBL) terbagi dua. siswa diharapkan memunculkan permasalahan. Setiap tahap ada tujuan dan langkahnya yang dapat disusun sendiri. sehingga motivasi dan rasa ingin tahu menjadi meningkat. 2. Apakah materi sesuai dengan metode atau tidak. Teori ini membedakan dua jenis belajar yaitu Cognitive Learning yang berhubungan dengan pengetahuan akademik. Tidak seperti lingkungan belajar yang terstuktur secara ketat yang dibutuhkan dalam pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif. Kerja sama (berpasangan. 3. Menurut Percivall dan Ellington (1988: 79). Ada delapan kecerdasan. Pada setiap siklus guru memberikan tes untuk mengukur kemampuan siswa dalam penguasaan konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi. Lingkungan belajar menekankan peranan sentral siswa. yaitu instrumen tes dan nontes: a. Masalah tersebut tidak dapat didekati dengan solusi final sebagai suatu yang salah atau benar. 3. Pembagian kelompok ini dimaksudkan agar peneliti lebih mudah melaksanakan tes tertulis secara objektif untuk mengukur kemampuan siswa secara individual. (3) Musical – Rhytmical. guru melakukan studi pendahuluan baik terhadap materi yang akan disampaikan maupun studi untuk penerapan metode yang akan diterapkan. dan penilaian. inisiatif diri. Penjelasan langkah berikut akan dapat membantu memahami uraian di atas. Teori belajarar Experimental Learning dikembangkan oleh C. Untuk mengatasi hambatan atau kendala dalam pembelajaran tersebut ada tiga tahap yang harus dilakukan yaitu: analisis. dan Mestika Sekarwinahyu. Problem Posing Merupakan suatu proses memunculkan masalah. 2006: 6 – 7). Menghasilkan produk. (2) Bodily – Kinesthetic. sebagaimana digambarkan dalam tabel (lampiran). tetapi menekankan pada solusi bijak yang didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan tertentu. karya atau penyelesaian masalah. Anies (2003 : 1) mengemukakan bahwa model PBL merupakan suatu metode instruksional yang mempunyai ciriciri penggunaan masalah nyata sebagai sebagai konteks siswa yang mempelajari cara berpikir kritis serta keterampilan dalam memecahkan masalah. siswa atau juga oleh guru. kelompok kecil atau kelompok besar sesuai dengan pilihan guru dan siswa). menyeimbangkan pertumbuhan intelektual dengan pertumbuhan emosional. berbagi rasa serta pemikiran dengan pembelajar tetapi tidak mendominasi (Asmawi. membantu pembelajar merumuskan tujuan belajar. Presentasi dilakukan di depan kelas sehingga kelompok siswa yang lain dapat ikut mengevaluasi produk yang dihasilkan. Aspek tersebut didasarkan pada teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) Howard Gardner. Gallow (2003 : 1) menjelaskan bahwa PBL meletakkan asumsi dasar pada permasalahan yang berbentuk narasi. Dalam teori ini dikembangkan dan diperkenalkan adanya keterlibatan pribadi. Paradigma baru ini menekankan pada pilihan metode mengajar yang menekankan studentsactive approach atau student-centered instruction. Penyelidikan authentic atau penyelidikan dalam rangka melakukan reinvention (pengulangan pernyataan masalah). Hal ini akan dapat terjadi dengan apa yang disebut belajar eksperimental (experimential learning). c. Agar belajar dapat bermakna secara signifikan diperlukan adanya inisiatif yang datang dari pihak siswa itu sendiri. Permasalahan berikutnya adalah bagaimana mengoptimalkan kegiatan pembelajaran yang terarah pada tujuan yang bermakna?. Di samping itu. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data dalam PTK ini ada dua. Strategi pembelajaran Problem-Based Learning. bukan guru yang ditekankan. Masalah yang menjadi pijakan proses belajar dalam pendekatan ini diambil pada masalah nyata yang siswa dapat melihat. masing-masing terdiri dari 20 siswa dan 20 siswa. Proses ini dapat dimunculkan dari situasi. sehingga jelas acuan atau indikatornya yang akan diraih. Observasi digunakan untuk mengetahui tentang respon dan sikap siswa terhadap pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi. D. respon dan sikap siswa terhadap pendekatan PBL. Dan tahap berikutnya adalah membentuk kelompok. Salah satu bentuk pembelajaran yang menerapkan students-active approach atau student-centered instruction adalah model pembelajaran berbasis masalah atau Problem-Based Learning (PBL). Langkah dalam pembelajaran PBL dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Dalam penelitian ini sangat mungkin bahwa permasalahan sehari-hari khususnya topik interaksi sosial banyak menimbulkan permasalahan yang dapat diambil. terdapat banyak kendalakendala dalam rangka untuk mendapat kebermaknaan belajar. dalam kelompok mereka akan beradu argumentasi untuk dapat merencanakan strategi dan sekaligus pelaksanaan untuk memecahkan masalah tersebut. Presentasi Hasil Presentasi hasil merupakan tahap terakhir untuk mengecek hasil karya atau produk dari investigasi dan inquiri dalam rangka memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok masing-masing. bahwa jumlah yang ideal untuk satu kelompok sebaiknya berkisar antara empat hingga enam orang. sedangkan Maltby (1995: 410) anggota setiap kelompok bisa berkisar tiga sampai delapan orang. Problem Solving Merupakan pemecahan masalah. 2003: 59). Setting Penelitian Penelitian ini berbasis kelas dengan lokasi kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA Propinsi Jawa Tengah. model Problem-Based Learning merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada paradigma konstruktivisme yang sangat mementingkan peserta didik dan berorientasi pada proses belajar siswa (Palina Pannen. Masalah – meskipun guru sebagai manager utama pembelajaran memiliki kewenangan menentukan topik masalah – tetapi secara otoriter menentukan sendiri secara paksa. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi dalam pembelajaran berbasis masalah. (6) Verbal – Linguistic. ada proses demokrasi. lingkungan belajar dan sistem manajemen dalam pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya yang terbuka. (7) Intrapersona. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa dalam pembelajaran ini lebih mementingkan pengembangan multi aspek. penyelesaian. dan peranan siswa yang aktif. dan dampak langsung yang terjadi pada diri siswa. dan ia harus sepenuhnya terlibat. dalam teknik pengelompokan ini siswa yang berkemampuan dan jenis kelaminnya berbeda disatukan dalam satu tim kecil yang terdiri dari lima hingga enam anggota. Tes Tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan pembelajaran konsep modernisasi sesaat setelah proses pembelajaran Sosiologi dilaksanakan pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2005 – 2006. 1996 : 35). Tahap Pemunculan Masalah Permasalahan dapat dimunculkan dari diri siswa maupun dari guru atau dapat juga dari kenyataan hidup. Kemudian setelah guru menyajikan teori utama atau topik kompetensi dasar. Dengan demikian siswa diharapkan dapat mengembangkan cara berfikir dan keterampilan yang lebih tinggi. Di sisi lain presentasi ini bagi guru adalah merupakan sarana untuk penilaian afektif dan psikomotorik dengan memantau keterurutan dan kelancaran kelompok siswa dalam berkomunikasi antar kelompok maupun dalam kelompok baik lisan maupun tulisan. (Nurhadi dan Agus Gerrad. menurut Manning (1992 : 69) terdiri dari empat sampai lima orang. merupakan bagian dari metode pembelajaran inquiri yang di dalamnya terdapat juga unsur kooperatif. masalah tidak serta merta ditentukan oleh guru. Rogers (1969 dalam Asmawi. dapat disimpulkan bahwa belajar harus dilakukan oleh siswa atau pembelajar. (Soekamto dan Winataputra. (5) Logical – Mathematical. atau dunia nyata yang membutuhkan keahlian. yang tidak hanya mengembangkan aspek kognitif saja. Tahap Investigasi dan Inquiri Masalah Siswa diharapkan dapat berinvestigasi atau inquiri dalam kehidupan nyata terkait dengan topik yang dibahas yaitu interaksi sosial. Berdasarkan teori tersebut di atas. Lebih lanjut. Pada saat melaksanakan tes tertulis kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2005 – 2006 yang berjumlah 40 siswa dibagi menjadi dua gelombang. Dalam problem solving ini meliputi dua aspek yaitu masalah untuk menemukan (problem to find) dan masalah membuktikan (problem to prove). Pengajuan pertanyaan masalah atau soal yang berfokus pada keterkaitan antar disiplin. a.

Lexy. 7. Pedoman Umum Pengembangan Penilaian Berbasis Kompetensi. yang kemudian digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan tindakan pada siklus ke-2. angket maupun jurnal. dan perubahan tingkah laku yang menyertainya. Kalaupun ada hanya digunakan untuk pembuatan laporan penelitian yang tidak seberapa. Kesimpulan diambil atas dasar perubahan hasil tes dan non tes antara siklus ke-1 ke siklus berikutnya. Menjamin S. Indikator Kinerja Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) artinya penelitian dengan berbasis pada kelas. FIP-UNNES. Kegiatan Siklus I a. Bloom. Dari perubahan hasil tes. diperlukan kriteria keberhasilan. J.edu/pbl Moleong. Prosedur Penelitian 3 . dll). Upu. Siklus ke-1 bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi. Refleksi Kegiatan Siklus III a. (3) mengamati (observasi). Untuk kepentingan keabsahan data. Sedangkan perubahan hasil non tes baik dari wawancara. SALATIGA: Sebelas Maret University Press. Dari kegiatan refleksi ini. PELAKSANAAN DAN PENJADWALAN Berikut ini adalah jadwal pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Tindakan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus sebab setelah dilakukan refleksi yang meliputi analisis dan penilaian terhadap proses tindakan. http://www. 2004. akan muncul permasalahan atau pemikiran baru sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang. Data kualitatif yang diperoleh dari observasi. Pelaksanaan c. Finkle & Torp. Washington: TNSTA. 2003. yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi secara klasikal. Nilai yang diperoleh siswa dirata-rata untuk menemukan tingkat pemahaman konsep modernisasi para siswa dalam pembelajaran Sosiologi. Refleksi F. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyasa. Pelaksanaan c. yang dilanjutkan dengan siklus ke-3. Kegiatan Siklus II a.dan siswa yang menunjukkan gejala khusus dalam penerapan pendekatan PBL. Sedangkan siklus ke-2 dilakukan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi setelah dilakukan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang didasarkan pada refleksi siklus ke-2. Problem-Based Learning. Bandung: Remaja Rosda Karya. Edisi Mei – Agustus 2004. panduan pembelajaran KBfC\Jakarta: Rosda Karya Safari. Pelaksanaan c.html Fred Percival and Herry Ellington alih bahasa Sudjarwo. E. dari siklus ke siklus. 1982. Moleong. Jakarta: Dirken Dikdasmen Rirektorat Tenaga Kependidikan. yang ditetapkan sebelum tindakan dilakukan. Edukasi (Jurnal Ilmiah Pendidikan). Anies. Validitas Data Hasil belajar (nilai tes) yang divalidasi instrumen tes menentukan validasi teoritik maupun validasi empirik (analisis kualitatif dan kuantitatif). 2005. 2004. Evaluasi Pembelajaran. karena tidak diperlukan fasilitas-fasilitas (ATK. Persiapan b.eudel. Jika terjadi sebaliknya maka sebagai indikasi kurang berhasil dalam perlakuan Penelitian Tindakan Kelas ini. Jakarta: Erlangga Hamzah. (2) melakukan tindakan. (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang di berbagai tingkatan. Buku 2. wawancara dan jurnal diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang dijadikan fokus analisis. Tetapi jika sebaliknya. Wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan dan sikap siswa dalam pelaksanaan pendekatan PBL. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.suara merdeka. Yogyakarta: Depdiknas Dikdasmen Dikmenum.x 100% R Keterangan: NP = Nilai persentase NK = Nilai komulatif R = Jumlah responden b. Jurnal digunakan untuk mengetahui berbagai gejala yang muncul dan tercatat atau terekam pada saat penerapan pendekatan PBL baik yang bersifat maju maupun mundur untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya. Tabel nilai hasil postes untuk tiga siklus FREKUENSI NILAI INTERVAL NILAI Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Istimewa 91 – 100 Sangat Paham 81 – 90 Paham 71 – 80 Sedang 61 – 70 Kurang 51 – 50 Tidak Paham 0 – 40 JUMLAH KATEGORI Indikator kinerja dari data kualitatif ditetapkan bahwa peningkatan partisipasi responden (siswa) dan peningkatan sikap positif baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya sebagai indikator peningkatan pembelajaran yang positif. pengamatan ulang. KBK Sebuah Inovasi Kurikulum dalam Pembelajaran.cotf. New York: McGraw-Hill Book Company. 2004. maka perlu refleksi dan perbaikan pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan antara siklus selanjutnya. tindakan ulang serta dilakukan refleksi ulang. Persiapan b. baik sumber maupun metoda. 3. 1. dan (4) merefleksi. C. Teknologi Pendidikan. Makalah Workshop Metode-Metode Pembelajaran Problem Based-Learning. dan motivasi yang menjadikan siswa bersemangat mengikuti proses pendekatan PBL.edu/ete/teacherout. http://www. S. Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004. Sulawesi Selatan: Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan. jika menunjukkan kenaikan positif secara signifikan berarti terjadi peningkatan hasil pembelajaran. Ahmad Munib. PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur 4 tahap. Peraga. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. 2003. Strategic Teaching in Science. Untuk mengevaluasi ada tidaknya dampak positif terhadap tindakan. RENCANA ANGGARAN Penelitian ini tidak membutuhkan anggaran (biaya) yang berarti. 4. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Pembelajaran Efektif: Upaya Peningkatan Kualitas Lulusan Menuju Penyediaan Sumber Daya Insani yang Unggul. penyebab siswa kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran. 2004. Depdiknas. 2004. 2002 : 178). 2002. Arnie Fajar. dengan metode kualitatif.com/harian/ 0304/28/kha2. Jakarta: Depdiknas. E. Persiapan b. 6. Sutarno. Metodologi Penelitian Kualitatif. Data kuantitatif dan kualitatif ini kemudian dikaitkan sebagai dasar untuk mendeskripsikan keberhasilan penerapan pendekatan PBL. Agus Purwito. (Marchia K Pearshall Relevant Reasearch).09. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan menggunakan deskripsi persentase. (3) membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu. Refleksi Waktu 5 Januari 2005 14 Januari 2005 15 Januari Waktu 20 Januari 2005 26 Januari 2005 27 Januari 2005 Waktu - 2. Anderson.W 1992. diperoleh ketetapan tentang hal-hal yang telah tercapai menjadi bahan dalam merencanakan kegiatan siklus berikutnya. G. yaitu (1) merencanakan. 2002. Jadi seumpama pada siklus ke-2 kategori sangat paham lebih besar daripada siklus ke1 berarti terjadi peningkatan yang positif sebagaimana terlihat pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1. 5. (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. Nilai persentase dihitung dengan ketentuan sebagai berikut: NK NP = -----. Implementasi Kurikulum 2004. 1988. DAFTAR PUSTAKA Abdul Ghofur. Alternative Assesment Applied Approach Mengajar di Perguruan Tinggi. Dengan penelitian ini diperoleh manfaat berupa perbaikan praksis yang meliputi penanggulangan berbagai masalah belajar siswa dan kesulitan mengajar oleh guru. Human Characteristic and School Learning. Indikator kinerja dari data kuantitatif ditetapkan kriteria bahwa semakin meningkat perolehan hasil tes pada kategori diatasnya menunjukkan kriteria peningkatan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini. Portopolio dalam Pembelajaran IPS. (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dikumen yang berkaitan (Lexy J. Penerapan Metode Pembelajaran Problem-Based Learning dan Minat Belajar dalam Pencapaian Kompetensi Dasar Sosiologi. Asmawi Zainul 2001. 1995. SALATIGA: Tesis S-2 Prodi Teknologi Pendidikan – UNS. Proses pembelajaran (observasi dan wawancara) yang divalidasi datanya melalui trianggulasi. 2006. yaitu pengujian validitas data dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat berbeda. diungkap apa adanya sesuai hasil yang telah terkumpul sebagai perbandingan antara siklus ke-1 dengan siklus berikutnya. Analisis Data Teknik yang digunakan untuk analisis data pada penelitian ini adalah teknik deskriptif analitik dengan penjelasan sebagai berikut: a.html. penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi.(28 April 2003). http://www.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.