Alien alriandry (206.613.003) Sonny Novrizal usman (206.613.008) Ramos Prioritas S (207.

613.029) Tirta Purnama Aji (207.613.025) Mochamad. Ichlas (207.613.034) Satria Indra Pratama (207.613.033) Agam Santosa (207.613.024)

Sejarah Pemilu di Indonesia Pemilu 1955 Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan dipro-klamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerin-tah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa menyele-nggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut menyebutkan, pemilu untuk me-milih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulanJanuari1946.Kalaukemudianternyata pemilu pertamaTersebut Baru terselenggara Hampir sepuluh tahunsetelah kemudian tentu bukan tanpa sebab. Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memlih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih angota DPR dan MPR,tidak ada Konstituante. Keterlambatan dan “penyimpangan” tersebut bukan tanpa sebab pula. Ada kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula yang berasal dari faktor luar negeri. Sumber penyebab dari dalam antara lain ketidaksiapan pemerintah menyelenggarakan pemilu, baik karena belum tersedianya perangkat perundang-undangan untuk mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya stabilitas keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari dalam itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan perkisaran (sirkulasi) kekuasaan secara teratur dan kompetitif. Penyebab dari luar antara lain serbuan kekuatan asing yang mengharuskan negara ini terlibat peperangan. Tidak terlaksananya pemilu pertama pada bulan Januari 1946 seperti yang diamanatkanOleh Maklumat 3 Nopember 1945, Paling tidak disebabkan 2(dua) hal: 1.Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan perangkat UU Pemilu; 2.Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal antar kekuatan politik yang ada pada waktu itu, apalagi pada saat yang sama gangguan dari luar juga masih mengancam.Dengan katalainparapemimpinlebihdisibukkanolehurusankonsolidasi. Namun, tidaklah berarti bahwa selama masa konsolidasi kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelengga-rakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No. UU No 27 tahun 1948 tentang Pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No. 12 tahun 1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No 12/1949 diamanatkan bahwa pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung).

meskipun tahun 1958 Pejabat Presiden Sukarno sudah melantik Panitia Pemilihan Indonesia II. 27 Tahun 1948 tentang Pemilu yang diubah dengan UU No. mereka tidak menggunakan fasilitas negara dan otoritasnya kepada pejabat bawahan untuk menggiring pemilih yang menguntungkan partainya. Padahal menurut UUD 1945. UU inilah yang menjadi payung hukum Pemilu 1955 yang diselenggarakan secara langsung. Otoriterianisme pemerintahan Presiden Soekarno makin jelas ketika pada 4 Juni 1960 ia membubarkan DPR hasil Pemilu 1955. Karena UUD 1945 tidak memuat klausul tentang tata cara memilih anggota DPR dan MPR. juga dari Masyumi. Pemilu pertama itu tidak berlanjut dengan pemilu kedua lima tahun beri-kutnya. Presiden Soekarno secara sepihak dengan senjata Dekrit 5 Juli 1959 membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR) dan MPR Sementara (MPRS) yang semua anggotanya diangkat presiden. Karena pemilu kali ini dilakukan untuk dua keperluan. Sampai Presiden Soekarno . Hasil pemilihan anggota Dewan Konstituante menunjukkan bahwa PNI. Selanjutnya UU ini baru selesai dibahas oleh parlemen pada masa pemerintahan Wilopo dari PNI pada tahun 1953. perolehan suaranya merosot 114. Patut dicatat dan dibanggakan bahwa pemilu yang pertama kali tersebut berhasil diselenggarakan dengan aman. umum. memang tidak bertentangan dengan UUD 1945. Pemilu untuk anggota Dewan Konstituante dilakukan tanggal 15 Desember 1955. Pada waktu itu Indonesia kembali menjadi negara kesatuan. setelah sebelumnya dewan legislatif itu menolak RAPBN yang diajukan pemerintah. Sejak itu pembahasan UU Pemilu mulai dilakukan lagi. sementara Masyumi. termasuk dari negara-negara asing. Karena itu sosok pejabat negara tidak dianggap sebagai pesaing yang menakutkan dan akan memenangkan pemilu dengan segala cara. ketika Mohammad Natsir dari Masyumi menjadi Perdana Menteri. meski tetap menjadi pemenang kedua. Maka lahirlah UU No. bebas dan rahasia. Kemudian pada paroh kedua tahun 1950. tetapi di Irian Barat yang memiliki jatah 6 kursi tidak ada pemilihan. yang – meminjam istilah Prof. pemerintah memutuskan untuk menjadikan pemilu sebagai program kabinetnya. Misalnya. Dekrit itu kemudian mengakhiri rezim demokrasi dan mengawali otoriterianisme kekuasaan di Indonesia. tetapi democracy by decree. Pemilu ini diikuti oleh lebih 30-an partai politik dan lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan.Yang terjadi kemudian adalah berubahnya format politik dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. jujur dan adil serta sangat demokratis. pembahasan RUU Pemilu dilanjutkan oleh pemerintahan Sukiman Wirjosandjojo. Tetapi pemerintah Sukiman juga tidak berhasil menuntaskan pembahasan undang-undang pemilu tersebut. kisah sukses Pemilu 1955 akhirnya tidak bisa dilanjutkan dan hanya menjadi catatan emas sejarah.267 dibanding-kan suara yang diperoleh dalam pemilihan anggota DPR. Setelah Kabinet Natsir jatuh 6 bulan kemudian. NU dan PKI meningkat dukungannya. Periode Demokrasi Terpimpin Sangat disayangkan. yang dilakukan oleh Panitia Sahardjo dari Kantor Panitia Pemilihan Pusat sebelum kemudian dilanjutkan ke parlemen.Yang menarik dari Pemilu 1955 adalah tingginya kesadaran berkom-petisi secara sehat. Pengangkatan keanggotaan MPR dan DPR. Dengan demikian UU No. 7 Tahun 1953 tentang Pemilu. MPR adalah pemegang kekuasaan tertinggi. setelah sejak 1949 menjadi negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). sehingga kalau pemilihannyalangsung dikhawatirkan akan banyak terjadi distorsi. Maka kursi yang dipilih hanya 514.Sifat pemilihan tidak langsung ini didasarkan pada alasan bahwa mayoritas warga negara Indonesia pada waktu itu masih buta huruf. sebuah keputusan presiden untuk membubarkan Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945 yang diperkuat angan-angan Presiden Soekarno menguburkan partai-partai. konsekuensi pengangkatan itu adalah terkooptasi-nya kedua lembaga itu di bawah presiden. Ismail Sunny -sebagai kekuasaan negara bukan lagi mengacu kepada democracy by law. Tetapi. 12 tahun 1949 yang mengadopsi pemilihan bertingkat (tidak langsung) bagi anggota DPR tidak berlaku lagi. dalam arti tanpa pemi-lihan. Pemilu 1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak. sedangkan DPR neben atau sejajar dengan presiden. lancar. maka hasilnya pun perlu dipaparkan semuanya. Jumlah kursi anggota Konstituante dipilih sebanyak 520. yaitu memilih anggota DPR dan memilih anggota Dewan Kons-tituante. meski yang menjadi calon anggota DPR adalah perdana menteri dan menteri yang sedang memerintah. Pemerintah ketika itu berupaya menyelenggarakan pemilu karena pasal 57 UUDS 1950 menyatakan bahwa anggota DPR dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum.

cara pembagian kursi dalam Pemilu 1971 menyebabkan tidak selarasnya hasil perolehan suara secara nasional dengan perolehan keseluruhan kursi oleh suatu partai. akhirnya memperoleh kursi lebih sedikit dibandingkan Parmusi. ekonomi dan sosial pascakudeta G 30 S/PKI yang gagal semakin luas. hanya saja ia melakukan pembersihan lembaga tertinggi dan tinggi negara tersebut dari sejumlah anggota yang dianggap berbau Orde Lama. Malah tahun 1963 MPRS yang anggotanya diangkat menetapkan Soekarno. 15 Tahun 1969 sebagai dasar. oleh Jenderal Soeharto diubah lagi dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan dalam tahun 1971. Pada waktu itu ketentuan tentang kepartaian (tanpa UU) kurang lebih sama dengan yang diterapkan Presiden Soekarno. karena pada pembagian kursi atas dasar sisa terbesar pun perolehan suara partai tersebut tidak mencukupi. kemudian diubah lagi pada SI MPR 1967. Jelasnya. Ini adalah satu bentuk kekuasaan otoriter yang mengabaikan kemauan rakyat tersalurkan lewat pemilihan berkala. yang menggunakan UU No. Pertama. maka setelah pembagian pertama. Sedangkan pada Pemilu 1955 pejabat negara. Dengan cara pembagian kursi seperti Pemilu 1955 itu. termasuk perdana menteri yang berasal dari partai bisa ikut menjadi calon partai secara formal. Contoh paling gamblang adalah bias perolehan kursi antara PNI dan Parmusi. pembagian kursi pada Pemilu 1971 dilakukan dalam tiga tahap. Pada prakteknya Pemilu kedua baru bisa diselenggarakan tanggal 5 Juli 1971. Namun demikian. DPR. dengan mengabaikan stembus accoord 4 partai Islam yang mengikuti Pemilu 1971. Pemilu 1971 Ketika Jenderal Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi pejabat Presiden menggantikan Bung Karno dalam Sidang Istimewa MPRS 1967. kelemahannya sistem demiki-an lebih banyak menyebabkan suara partai terbuang percuma. DPR dan DPRD. maka jumlah sisa suara partai-partai yang menggabungkan sisa suara itu dibagi dengan kiesquotient. Penyelesaian UU itu sendiri memakan waktu hampir tiga tahun. apabila ada partai yang melakukan stembus accoord. suara partai dibagi dengan kiesquotient di daerah pemi-lihan.diberhentikan oleh MPRS melalui Sidang Istimewa bulan Maret 1967 (Ketetapan XXXIV/MPRS/ 1967) setelah meluasnya krisis politik. Tetapi. yaitu Golkar. Tetapi pada prakteknya pada Pemilu 1971 para pejabat pemerintah berpihak kepada salah satu peserta Pemilu. rezim yang kemudian dikenal dengan sebutan Demokrasi Terpimpin itu tidak pernah sekalipun menyelenggarakan pemilu. UU yang diadakan adalah UU tentang pemilu dan susunan dan kedudukan MPR. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. Tetapi di daerah pemilihan yang tidak terdapat partai yang melakukan stembus acccord. Tahap pembagian kursi pada Pemilu 1971 adalah sebagai berikut. Tahap kedua. PNI yang secara nasional suaranya lebih besar dari Parmusi. Jadi sesungguhnya pemerintah pun merekayasa ketentuan-ketentuan yang menguntungkan Golkar seperti menetapkan seluruh pegawai negeri sipil harus menyalurkan aspirasinya kepada salah satu peserta Pemilu itu. Apabila tidak ada partai yang melakukan stembus accoord. ini dalam hal ada partai yang melakukan stembus accoord. ia juga tidak secepatnya menyelenggarakan pemilu untuk mencari legitimasi kekuasaan transisi. termasuk gabungan sisa suara partai yang melakukan stembus accoord dari perolehan kursi pembagian tahap kedua. dan DPRD. pembagian kursi hanya dilakukan dalam dua tahap. 16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. orang yang mengangkatnya. Malah Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 yang mengamanatkan agar Pemilu bisa diselenggarakan dalam tahun 1968. Pada tahap berikutnya apabila masih ada kursi yang tersisa masing-masing satu kursi diserahkan kepada partai yang meraih sisa suara terbesar. sebagai presiden seumur hidup. hanya Murba yang tidak mendapat kursi. Hal yang sangat signifikan yang berbeda dengan Pemilu 1955 adalah bahwa para pejebat negara pada Pemilu 1971 diharuskan bersikap netral. Menjelang pemilu 1971. Sekedar untuk perbandingan. pemerintah bersama DPR GR menyelesaikan UU No. seandainya pembagian kursi peroleh-an suara partai-partai pada Pemilu 1971 dilakukan dengan sistem kombinasi sebagaimana digunakan dalam Pemilu 1955. Dalam hubungannya dengan pembagian kursi. semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan. Karena peringkat . Sebagai pejabat presiden Pak Harto tetap menggunakan MPRS dan DPR-GR bentukan Bung Karno. Cara ini ternyata mampu menjadi mekanisme tidak langsung untuk mengurangi jumlah partai yang meraih kursi dibandingkan penggunaan sistem kombinasi. cara pembagian yang digunakan dalam Pemilu 1971 berbeda dengan Pemilu 1955. sisa kursi dibagikan langsung kepada partai yang memiliki sisa suara terbesar. Dalam Pemilu 1971. yang berarti setelah 4 tahun pak Harto berada di kursi kepresidenan.

Kenaikan suara PPP terjadi di banyak basis-basis eks Masjumi. sehingga kenaikan suara secara nasional tidak begitu besar. 1982. 99 kursi atau naik 2.743.378. pelaksanaan Pemilu yang periodik dan teratur mulai terlaksana. sedangkan PPP dan PDI menjadi pelengkap atau sekedar ornamen. Berikut ini dipaparkan hasil dari 5 kali Pemilu tersebut secara berturut-turut. Secara nasional tambahan kursi hanya 5. berhasil menambah perolehan kursi secara signifikan dari 30 kursi pada Pemilu 1982 menjadi 40 kursi pada Pemilu 1987 ini. Secara nasional PPP berhasil meraih 18. Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. PNI memperoleh kursi lebih banyak dari Parmusi.096 suara atau 62. dua parpol dan satu Golkar. yaitu Pemilu 1977.11 persen. Dari 93.tokoh unsur NU. Cara pembagian kursi juga tidak berubah. atau bertambah 5 kursi dibanding gabungan kursi 4 partai Islam dalam Pemilu 1971. Secara nasional Golkar berhasil merebut tambahan 10 kursi dan itu berarti kehilangan masing-masing 5 kursi bagi PPP dan PDI Golkar meraih 48. Dari segi jadwal sejak itulah pemilu teratur dilaksanakan.750 pemilih. Yogyakarta. Hasil Pemilu kali ini ditandai dengan kemerosotan terbesar PPP. yaitu tetap mengacu pada Pemilu sebelumnya. Ini terjadi setelah sebelumnya pemerintah bersama-sama dengan DPR berusaha menyederhanakan jumlah partai dengan membuat UU No. terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara itu Golkar memperoleh tambahan 53 kursi sehingga menjadi 299 kursi. 1982. Adapun cara pembagian kursi pada Pemilu ini tetap mengacu pada ketentuan Pemilu 1971. Golkar bahkan sudah menjadi pemenang sejak Pemilu 1971.666. Keadaan ini secara lang-sung dan tidak langsung membuat kekuasaan eksekutif dan legislatif berada di bawah kontrol Golkar. bahkan di DKI Jakarta dan DI Aceh mengalahkan Golkar.724 suara atau 242 kursi. Dari suara yang sah itu Golkar meraih 39.334. sebagaimana diindikasikan dengan pembentukan DPP PDI hasil Kongres 1986 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam.terbawah sisa suara terbesar adalah 65. 1987. setelah itu selalu terjadwal sekali dalam 5 tahun. Jakarta. tetapi kehilangan 12 kursi di Jawa Tengah. Cara pembagian kursi masih dilakukan seperti dalam Pemilu 1971. Jawa Barat dan Kalimantan.750. Parkindo dan Partai Katolik. PPP berhasil menaikkan 17 kursi dari Sumatera. Kedua partai itu adalah Partai Persatuan Pembangunan atau PPP dan Partai Demokrasi Indonesia atau PDI) dan satu Golongan Karya atau Golkar. Hasilnya pun sama.633 pemilih. dan 1997 pesertanya hanya tiga tadi. yakni tahun 1977. Hanya Jakarta dan Kalimantan Selatan yang berhasil diambil Golkar dari PPP. Namun perolehan kursinya menurun menjadi 232 kursi atau kehilangan 4 kursi dibandingkan Pemilu 1971. sehingga hanya mendapat 61 kursi. Penyebab merosotnya PPP antara lain karena tidak boleh lagi partai itu memakai asas Islam dan diubahnya lambang dari Ka'bah kepada Bintang dan terjadinya penggembosan oleh tokoh.998. Ini seiring dengan tampilnya tokoh utama Masjumi mendukung PPP. karena suaranya secara nasional di atas Parmusi. dan 1997 Setelah 1971.93 persen. Satu hal yang nyata perbedaannya dengan Pemilu-pemilu sebelumnya adalah bahwa sejak Pemilu 1977 pesertanya jauh lebih sedikit.32 persen. Dari 70. Jadi dalam 5 kali Pemilu. Pada Pemilu 1977 suara PPP naik di berbagai daerah. PDI juga merosot perolehan kursinya dibanding gabungan kursi partai-partai yang berfusi sebelumnya. PDI. Pemilu 1977. Tetapi kenaikan suara PPP di basis-basis Masjumi diikuti pula oleh penurunan suara dan kursi di basis-basis NU. 1992. Pada Pemilu ini perolehan suara dan kursi secara nasional Golkar meningkat.491 suara. yakni mengikuti sistem proporsional di daerah pemilihan. 1987. Pendukung utama Golkar adalah birokrasi sipil dan militer. Hasil Pemilu 1977 Pemungutan suara Pemilu 1977 dilakukan 2 Mei 1977.816 atau 91.17 persen. 1992. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. yakni hanya memperoleh 29 kursi atau berkurang 1 kursi di banding gabungan suara PNI. Hasil Pemilu 1987 Pemungutan suara Pemilu 1987 diselenggarakan tanggal 23 April 1987 secara serentak di seluruh tanah air. Pemilu ketiga diselenggarakan 6 tahun lebih setelah Pemilu 1971. Golkar selalu menjadi pemenang. Hasil Pemilu 1982 Pemungutan suara Pemilu 1982 dilangsungkan secara serentak pada tanggal 4 Mei 1982. suara yang sah mencapai 85. suara yang sah mencapai 63. . yang tahun 1986 dapat dikatakan mulai dekat dengan kekuasaan.344 suara atau 90.737.869. tetapi gagal merebut kemenangan di Aceh. yakni hilangnya 33 kursi dibandingkan Pemilu 1982.

. Sedangkan perolehan kursinya meningkat menjadi 325 kursi.10 persen. Ini artinya dalam dua pemilu.06 persen. Bahkan di Kabupaten Sampang. Dari 124. Sebab. yaitu meningkat 5. sehingga menjadi 56 kursi. dan dimenangkan oleh pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. atau merosot 5. 113.420. PPP juga mengalami hal yang sama. Kalau pada Pemilu 1987 perolehan suaranya mencapai 73. Protes terhadap kecurangan terjadi di banyak daerah. Madura. dan diikuti oleh 24 partai politik.84 persen. yakni menurun dari 299 menjadi 282. atau bertambah 43 kursi dari hasil pemilu sebelumnya. Dewan Perwakilan Daerah. Pada Pemilu 1992 ini PDI berhasil meningkatkan perolehan kursinya 16 kursi dibandingkan Pemilu 1987. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2004 Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2004 diselenggarakan untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2004-2009. kali ini Golkar kembali merebut suara pendukungnnya. Sedangkan PDI. yang mengalami konflik internal dan terpecah antara PDI Soerjadi dengan Megawati Soekarnoputri setahun menjelang pemilu. dan hanya mendapat 11 kursi. Penurunan yang tampak nyata bisa dilihat pada perolehan kursi. Pemilihan Umum Anggota DPR Pemilihan Umum Anggota DPR dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka. termasuk 3 provinsi di Sumatera.41. tetapi karena kehilangan 6 kursi di Sumatera. 1982. 128 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2004 diselenggarakan secara serentak pada tanggal 5 Appril 2004 untuk memilih 550 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 124. Pemilu kali ini diwarnai banyak protes. Perolehan suaranya mencapai 74. Pemilihan Umum Anggota DPD Pemilihan Umum Anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak. atau kehilangan 17 kursi dibanding pemilu sebelumnya. PPP juga menikmati hal yang sama.16 persen. meski ada penambahan kursi dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. PDI berhasil menambah 32 kursinya di DPR RI. atau naik 6. perolehan suara Golkar kali ini merosot dibandingkan Pemilu 1987. Ketika di beberapa tempat di daerah itu pemilu diulang pun. akibatnya partai itu hanya mampu menaikkan 1 kursi secara nasional. masih menggunakan cara yang sama dengan Pemilu 1971. DPD. pada Pemilu 1992 turun menjadi 68.43 persen.19%) dinyatakan sah.339 orang (84. tidak mengambil bagian. 1987. dengan peserta pemilu adalah perseorangan. PPP memang berhasil menaikkan perolehan 7 kursi di Jawa. Pemungutan suara diselenggarakan tanggal 29 Mei 1997.420.462. serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2004-2009. perolehan suaranya merosot 11. Malah partai itu tidak memiliki wakil sama sekali di 9 provinsi. puluhan kotak suara dibakar massa karena kecurangan penghitungan suara dianggap keterlaluan. dengan daerah pemilihan adalah provinsi.339 orang pemilih terdaftar. Pemilihan Umum ini diselenggarakan selama 2 putaran.414 suara (91. 1977. Tetapi di luar Jawa suara dan kursi partai berlambang ka’bah itu merosot.51 persen. dan DPRD Indonesia 2004 Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat. Yang berhasil menaikkan perolehan suara dan kursi di berbagai daerah adalah PDI. dan 1992. Hasil Pemilu 1997 Sampai Pemilu 1997 ini cara pembagian kursi yang digunakan tidak berubah. Pemilihan Umum ini adalah yang pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia. yang berarti kehilangan 45 kursi di DPR dibandingkan Pemilu 1992. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah pada Pemilu 1992 mengalami kemerosotan.Hasil Pemilu 1992 Cara pembagian kursi untuk Pemilu 1992 juga masih sama dengan Pemilu sebelumnya. Pemilu 2004 Pemilihan Umum Anggota DPR. khususnya pendukung PPP. Pada Pemilu 1992 partai ini kehilangan banyak kursi di luar Jawa. Dari total jumlah suara. Hasil Pemilu yang pemungutan suaranya dilaksanakan tanggal 9 Juni 1992 ini pada waktu itu agak mengagetkan banyak orang.07%) menggunakan hak pilihnya. Dukungan terhadap partai itu di Jawa sangat besar. yaitu 1987 dan 1992. meski masih bisa menaikkan 1 kursi dari 61 pada Pemilu 1987 menjadi 62 kursi pada Pemilu 1992 ini. Pada Pemilu 1997 ini PPP meraih 89 kursi atau meningkat 27 kursi dibandingkan Pemilu 1992. Begitu pula untuk perolehan kursi. tetapi pemilih. Jumlah kursi anggota DPD untuk setiap provinsi ditetapkan sebanyak 4 kursi.

Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Putaran Pertama Pemilu putaran pertama diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004 dan diikuti oleh 5 pasangan calon. dari 150.662.844 orang (79.94%) dinyatakan sah. Mantan Presiden Megawati Sukarnoputri tidak menghadiri acara pelantikan tersebut.257.44%) menggunakan hak pilihnya. serta 5 utusan-utusan negara lainnya. yakni: 1. Berdasarkan hasil Pemilihan Umum yang diumumkan pada tanggal 4 Oktober 2004. PM Singapura Lee Hsien Loong. Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Berdasarkan hasil Pemilihan Umum.H. H. PM Timor Timur Mari Alkatiri.Aturan Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta Pemilihan Umum Anggota DPR 2009. Dari total jumlah suara. Abdurrahman Wahid dan Marwah Daud Ibrahim (dicalonkan oleh Partai Kebangkitan Bangsa) 2. Berdasarkan hasil Pemilihan Umum yang diumumkan pada tanggal 26 Juli 2004. Apabila tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Megawati Soekarnoputri dan KH. SH. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Putaran Kedua Pemilu putaran kedua diselenggarakan pada tanggal 20 September 2004. Hj. dan Partai Persatuan dan Kesatuan Indonesia) 6. pasangan calon Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih.76%) menggunakan hak pilihnya. Abdurrahman Wahid dan Marwah Daud Ibrahim tidak lolos karena berdasarkan tes kesehatan. H. Partai Bulan Bintang.544 orang pemilih terdaftar. H. Pelantikannya diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober 2004 dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pelantikan Presiden & Wakil Presiden terpilih tahun 2004 ini juga dihadiri sejumlah pemimpin negara sahabat. Karena tidak ada satu pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50%. Dr.054 suara (97. (dicalonkan oleh Partai Persatuan Pembangunan) 4. 116. dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden.705 orang (77. Dari total jumlah suara. K.644. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. Prof. Dr. 119. yaitu: PM Australia John Howard. . 122. Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya 20% suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia. Wiranto. HM. dan diikuti oleh 2 pasangan calon. pasangan K. yakni SBY-JK dan Mega Hasyim. dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Muhammad Jusuf Kalla (dicalonkan oleh Partai Demokrat. PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi.184 orang pemilih terdaftar. Hamzah Haz dan H. H.293. Abdurrahman Wahid dinilai tidak memenuhi syaratkesehatan. Salahuddin Wahid (dicalonkan oleh Partai Golongan Karya) Dari keenam pasangan calon tersebut. H. dan Ir. Pendaftaran Pasangan Calon Sebanyak 6 pasangan calon mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum. 114. dan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah.84%) dinyatakan sah. Amien Rais dan Dr.656.868 suara (97. Ir. maka diselenggarakan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh 2 pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua. Siswono Yudo Husodo (dicalonkan oleh Partai Amanat Nasional) 3. Ahmad Hasyim Muzadi (dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) 5.320. M. H. dari 153.Sc.H. Pada malam hari yang sama. Agum Gumelar.

Sebab itu. Indonesia sudah mempunyai pilar berkehidupan negara yang sangat baik. setiap selesai pelaksanaan debat. masalah otonomi dan pemekaran daerah. tegas. Jakarta. dan harga mati.kpu. UUD 1945. yaitu Pancasila. Menurutnya. Hanya karena dengan demikian kita dapat terus mempersatukan NKRI dengan suatu perekat bangsa yang dinamakan azas kegotongroyongan. KPU telah menggelar lima kali debat yaitu.Hafiz Anshary mengatakan. yaitu Kabinet Indonesia Bersatu. dan integrasi wilayah Indonesia. Dalam debat antarcalon presiden (02/7) yang bertema “NKRI. Dengan pemerintahan yang adil. apa pun akan kita lakukan. NKRI lahir dari pengorbanan jutaan jiwa dan raga para pejuang bangsa yang bertekad mempertahankan keutuhan bangsa. dan Bhinneka Tunggal Ika. dan berwibawa. Capres Megawati Soekarnoputri mengemukakan. hukum. mediacenter. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan moderator antara lain mengenai jaminan politik rakyat dalam Pemilu. NKRI hanya dapat dipertahankan apabila pemerintahan adil. Capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan. Demokrasi. “Kita bersepakat bahwa NKRI sudah final bagi kita. Dr. Pratikno ini. Dalam debat yang dipandu oleh Dekan Fisip UGM Prof.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan anggota kabinet yang baru. “Demi NKRI.” ujar Megawati . tiga kali debat antarcapres dan dua kali debat antarcawapres. NKRI. Hafiz juga memohon maaf jika selama pelaksanaan rangkaian debat terdapat berbagai kekurangan. Menurutnya.id Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak dapat diganggu gugat dan harus terus dipertahankan. termasuk mempertahankan Kedaulatan dan keutuhan NKRI. Ketua KPU A. NKRI adalah prinsip pokok. Menurutnya. Hakekat kemajemukan bangsa Indonesia harus diikat dengan sistem persatuan dan harus diperhatikan kedepan. Debat antar capres yang berlangsung di Balai Sarbini.go. Bhinneka Tunggal Ika adalah perekat semua rakyat dan semua kepulauan yang ada di Indonesia “Marilah kita kembali kepada jati diri dan harga diri bangsa Indonesia. keutuhan NKRI sudah final dan harus terus tetap ditegakkan. tegas. dan berwibawalah masalah dan konflik di Indonesia dapat diselesaikan. NKRI adalah hal pokok yang harus kita pertahankan. KPU bersama tim kampanye masing-masing calon selalu melakukan evaluasi .” ujar SBY. dan Otonomi Daerah. Pilkada dan politisasi birokrasi. debat terakhir ini disaksikan sekitar 80 juta penduduk Indonesia. “Mereka tentu berharap mendapat gambaran jelas dari para calon pemimpin bangsa bagaimana komitmen ketiga calon terhadap ketiga tema ini. pluralisme. tetapi juga bintang yang mengayomi kehidupan seluruh rakyat.” ujar Hafiz. para capres juga ditanyakan langkah dan kebijakannya terkait demokrasi dan otonomi daerah. Jakarta ini adalah debat terakhir dari rangkaian debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU). Capres Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan. ketiga calon presiden (capres) berkomitmen menjaga keutuhan Indonesia.” tegas Kalla. Pancasila bukan hanya falsafah bangsa. Menurut Kalla.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful