P. 1
PEMILU

PEMILU

|Views: 155|Likes:
Published by Firstian Pambudi

More info:

Published by: Firstian Pambudi on Apr 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2012

pdf

text

original

PEMILU

Definisi
Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses pemilihan seseorang atau orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beranekaragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas, Pemilu dapat juga berarti proses mengisi jabatan-jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata 'pemilihan' lebih sering digunakan. Pemilu merupakan salah satu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan lain-lain kegiatan. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakaioleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik. Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara. Setelah pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.

Dasar Pemilu
1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG
PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM, BESERTA PENJELASANNYA.

2. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI
POLITIK, BESERTA PENJELASANNYA.

3. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN
UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH, BESERTA PENJELASANNYA.

4. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN
UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN, BESERTA PENJELASANNYA.

5. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG
BANTUAN DAN FASILITAS PEMERINTAH DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009.

6. SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07-A TAHUN 2008
TENTANG PETUNJUK HAKIM KHUSUS PERKARA PIDANA PEMILU.

7. SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008
TENTANG GUGATAN YANG BERKAITAN DENGAN PARTAI POLITIK.

8. SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008
TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PROSES PERSIDANGAN PELANGGARAN PIDANA PEMILU.

9. PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2008
TENTANG PENUNJUKAN HAKIM KHUSUS PERKARA PIDANA PEMILU.

10. PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN
TERHADAP PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 09 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, PROGRAM DAN JADUAL PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TAHUN 2009.

11. KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA JAKSA AGUNG RI, KEPALA KEPOLISIAN NEGARA RI,
KETUA BADAN PENGAWASAN PEMILU NOMOR 055/A/VI/2008, POL. B/06/VI/2008, 01/BAWASLU/KB/VI/2008 TENTANG SENTRA PENEGAKAN HUKUM TERPADU DAN POLA PENANGANAN PERKARA TINDAK PIDANA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009.

12. PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH.

tetapi juga penyelenggara pemilu. Asal "Luber" sudah ada sejak zaman Orde Baru. Asas adil adalah perlakuan yang sama terhadap peserta pemilu dan pemilih. . Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan suara. Asas jujur dan adil mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun peserta pemilu. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG DUKUNGAN KELANCARAN PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009. Asas jujur mengandung arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap peserta atau pemilih tertentu.13. Bebas dan Rahasia". kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri. Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Umum. Asas Pemilihan umum di Indonesia menganut asas "Luber" yang merupakan singkatan dari "Langsung. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Kemudian di era reformasi berkembang pula asas "Jurdil" yang merupakan singkatan dari "Jujur dan Adil".

Guna mempermudah penggambaran sistem pemilihan umum yang dianut Indonesia. Pemilu-pemilu lainnya terjadi di masa sistem politik rezim otoritarian kontemporer Orde Baru. Sistem Demokrasi Liberal menaungi pemilu 1955. 1999. 1997. . Jadi. dengan beberapa pengecualian. Pemilu-pemilu yang pernah terjadi adalah 1955. 1992. dan 2004. tetapi juga pengawasan langsung di lapangan. ada baiknya kita lakukan pembicaraan menurut karakteristik masing-masing pemilu. 1987. Kualitas pelaksanaan Pemilu tidak hanya ditentukan oleh pendidikan politik yang menghasilkan masyarakat melek Pemilu. Sejarah Indonesia yang merdeka tahun 1945 cukup sering menyelenggarakan pemilihan umum. tetapi juga momentum menjalin rekonsiliasi nasional. 1977. bergantung pada tipe sistem politik yang berlangsung. 1982. Indonesia telah mengadakan sekitar 9 kali pemilihan umum dalan perjalanan politiknya. 1999. Masing-masing pemilihan umum memiliki karakteristik masing-masing. Tipe sistem pemilihan umum yang banyak dipakai di Indonesia adalah Proporsional. melalui serangkaian proses Pemilu yang adil dan terbuka.Latar Belakang Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif dan Presiden-Wakil Presiden tidak hanya menjadi momentum pemilihan pemimpin bangsa di semua tingkatan struktur kekuasaan politik. dan 2004. 1971. khususnya pada saat kampanye dan pemungutan suara. tetapi juga pengontrol jalannya regulasi dan perilaku politik Parpol beserta calon legislatif. Keterlibatan masyarakat dalam Pemilu tidak hanya pada sektor partisipasi sebagai pemilih yang cerdas.

Namun. Menurut UU nomor 7 tahun 1953 tersebut. kecuali daerah pemilihan yang telah mendapat jaminan 6 kursi itu  penetapan jumlah anggota DPR seluruh Indonesia adalah total jumlah penduduk Indonesia dibagi 300. Pemilu ini merupakan ”reaksi” atas Maklumat Nomor X/1945 tanggal 3 Nopember 1945 dari Wakil Presiden Moh. Jika kurang dari 6. harus diadakan secepat mungkin.000 dan dibulatkan ke atas . Jumlah anggota konstituante di masing-masing daerah pemilihan adalah bilangan bulat hasil pembagian tersebut. seimbang dengan jumlah penduduk warganegara masingmasing. Perbedaanperbedaan tersebut sebagai berikut (pasal 32 dan 33) :1  jumlah anggota konstituante adalah hasil bagi antara total jumlah penduduk Indonesia dengan 150. Hatta. yang menginstruksikan pendirian partai-partai politik di Indonesia. Pemilu tersebut baru diadakan tahun 1955.Pemilu 1955 Pemilu 1955 merupakan pemilu pertama yang diadakan oleh Republik Indonesia. Pemilu pun. Dalam UU tersebut.000. Sisa jumlah anggota konstituante dibagikan antara daerah-daerah pemilihan lainnya.7 tahun 1953 yang diundangkan 4 April 1953. Sistem yang digunakan adalah Proporsional. masingmasing 1. kekurangan anggota dibagikan antara daerah-daerah pemilihan yang memperoleh jumlah anggota tersedikit.000 dibulatkan ke atas  jumlah anggota konstituante di masing-masing daerah pemilihan adalah hasil bagi antara total penduduk WNI di masing-masing wilayah tersebut dengan 150. Landasan hukum Pemilu 1955 adalah UU No. akibat belum siapnya aturan perundangan dan logistik (juga kericuhan politik dalam negeri/pemberontakan). menurut Maklumat. dibulatkan menjadi 6.  jika dengan cara poin ke dua di atas belum mencapai jumlah anggota konstituante seperti di poin ke satu. Pemilu 1955 bertujuan memilih anggota bikameral: Anggota DPR dan Konstituante (seperti MPR). terdapat perbedaan sistem bilangan pembagi pemilih (BPP) untuk anggota konstituante dan anggota parlemen.

105 suara. Sementara itu.837. untuk pemilihan anggota Konstituante. Pemilu untuk memilih anggota DPR diikuti 118 parpol/gabungan/perseorangan dengan total suara 43. Sisa jumlah anggota DPR dibagikan antara daerah-daerah pemilihan lainnya. masing-masing 1. seimbang dengan jumlah penduduk warganegara masing-masing. kecuali daerah pemilihan yang telah mendapat jaminan 3 kursi itu. jumlah suara sah meningkat menjadi 37. Pemilu 1955.1 Kedua untuk memilih anggota Konstituante pada tanggal 15 Desember 1955. ada 2 putaran. dibulatkan menjadi 3. kekurangan anggota dibagikan antara daerah-daerah pemilihan memperoleh jumlah anggota tersedikit.785. sementara pemilu Konstituante akhirnya memilih 514 anggota Konstituante. Pemilu DPR akhirnya memilih 257 anggota DPR.299 suara sah. sebab itu. jumlah anggota DPR di masing-masing daerah pemilihan adalah hasil bagi antara total penduduk WNI di masing-masing wilayah tersebut dengan 300.000. Pertama untuk memilih anggota DPR pada tanggal 29 September 1955.  jika dengan cara poin ke lima di atas belum mencapai jumlah anggota DPR seperti di poin ke empat. Jika kurang dari 3. .104. Jumlah anggota DPR di masing-masing daerah pemilihan adalah bilangan bulat hasil pembagian tersebut.464 dengan 37.

16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR.Pemilu 1971 Pemilu 1971 diadakan tanggal 3 Juli 1971.509 atau 94% dari total suara.179. agama. Pemilu diadakan di 26 provinsi Indonesia dengan Sistem Proporsional Daftar. DPR dan DPRD. Suara bagi setiap partai dibagi menurut BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No.2 Dari total 460 orang anggota parlemen yang diangkat presiden. 75 orang berasal dari angkatan bersenjata sementara 25 dari golongan fungsional seperti tani.245 orang dengan suara sah mencapai 54. nelayan. Pemilu ini dilakukan berdasarkan UU No. Total pemilih yang terdaftar adalah 58. UU No.1 Rakyat pemilih mencoblos tanda gambar partai. Pemilu ditujukan memilih 460 anggota DPR dimana 360 dilakukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat sementara 100 orang diangkat oleh Presiden dari kalangan angkatan bersenjata dan pemerintahan. dan .699.

jumlah anggota berjenis kelamin laki-laki 426 dan perempuan 34 orang. komposisinya sedikit berbeda. Dari ke-25 anggota golongan fungsional kemudian bergabung dengan Sekber Golkar sehingga suara Golkar ”meroket” hingga ke angka 257 (dari 232 ditambah 25).sejenisnya. Dari 460 orang anggota parlemen. Voting dilakukan di 27 daerah pemilihan berdasarkan sistem Proporsional dengan Daftar Partai (Party-List System). Pemilu 1982 Pemilu 1982 diadakan tanggal 4 Mei 1982. Sebanyak 364 anggota dipilih langsung oleh rakyat. Partai yang beroleh kursi berdasarkan pembagian total suara yang didapat di masing-masing wilayah pemilihan dibagi ”electoral quotient” . Tujuannya sama seperti Pemilu 1977 di mana hendak memilih anggota DPR (parlemen). sementara 96 orang diangkat oleh presiden. Hanya saja.

869.816 atau 91. 400 dipilih secara langsung dan 100 diangkat oleh Presiden Suharto. Sama seperti Pemilu 1977. yang berjenis kelamin laki-laki sejumlah 422 dan perempuan 38 orang. sejumlah anggota Golongan Fungsional pun akhirnya bergabung dengan Golkar.30%. total kursi yang diperoleh Golkar menjadi 267 (dari 246 ditambah 21). Jumlah tatal pemilih terdaftar adalah 82.132. Tujuan pemilihan sama dengan pemilu sebelumnya yaitu memilih anggota parlemen. Dari jumlah ini.000 dengan total suara sah mencapai 85. Total pemilih yang terdaftar adalah sekitar 94.000. Daftar hasil pemilu 1987 termuat dalam tabel berikut : Jumlah anggota parlemen yang berjenis kelamin laki-laki adalah 443 sementara yang . Sehingga.263 orang dengan jumlah suara sah mencapai 74.930. Dari 360 anggota parlemen.875 atau 91.di masing-masing wilayah. Pemilu 1987 Pemilu 1987 diadakan tanggal 23 April 1987. yaitu Proporsional dengan varian Party-List. Sistem Pemilu yang digunakan sama seperti pemilu sebelumnya.23%. Total kursi yang tersedia adalah 500 kursi.

kisaran usia anggota DPR ini adalah 21-30 tahun 3 orang. 61-70 tahun 70 orang. 41-50 tahun 173 orang. dan di atas 65 tahun 21 orang. 51-60 tahun 213 orang. Tujuan pemilu ini adalah memilih 424 orang anggota DPR.289 kandidat (caleg) telah disetujui untuk bertarung guna memperoleh kursi parlemen.perempuan 57 orang. 51-65 tahun 287 orang. Sistem Pemilu yang digunakan sama seperti pemilu sebelumnya yaitu Proporsional dengan varian Party-List. 41-50 tahun 144 orang.697 orang dengan total suara sah adalah 97. 31-40 tahun 38 orang.789. yaitu sebanyak 100 orang diangkat langsung oleh Presiden Suharto. Sistem pemilu yang digunakan adalah Proporsional dengan varian Party-List. Sementara itu. Tujuan Pemilu 1992 adalah memilih secara langsung 400 kursi DPR. Di sisi lain.534. jumlah anggota parlemen berusia 21-30 tahun adalah 5 orang. Pemilu 1992 Pemilu 1992 diadakan tanggal 9 Juni 1992. silakan perhatikan tabel berikut : Anggota DPR yang berasal dari Angkatan Bersenjata dan kelompok Fungsional. Hasil Pemilu 1997 dapat dilihat pada tabel berikut : . Pada tanggal 7 Maret 1997. sebanyak 2.565. Pemilu ini diadakan tanggal 29 Mei 1997. Total pemilih yang terdaftar adalah 105. Pemilu 1997 Pemilu 1997 merupakan Pemilu terakhir di masa administrasi Presiden Suharto. Dari jumlah tersebut yang berjenis kelamin laki-laki adalah 439 orang sementara perempuan 61 orang. dan 71-80 tahun 1 orang. Untuk hasil Pemilu 1992. 31-40 tahun 45 orang. Komposisi anggota DPR totalnya adalah 500 orang.

Megawati Sukarnoputri ”dihabisi” secara politik dengan cara pemerintah mendukung pimpinan tandingan Suryadi dan Fatimah Ahmad. dan DPRD. Sementara itu. Distribusi anggota DPR yang berusia 21-30 tahun 3 orang. Habibie.J. Artinya. Pemilu ini terselenggara di bawah sistem politik Demokrasi Liberal. Pemilu 1999 Pemilu 1999 adalah pemilu pertama pasca kekuasaan presiden Suharto. Ketiga RUU ini diolah oleh Tim 7 yang diketuai Prof. sementara yang lolos verifikasi untuk ikut Pemilu 1999 adalah 48 partai. Sebelum menyelenggarakan Pemilu. DPR. Pemilu 1999 .J. 41-50 tahun 134 orang. pemerintahan B. Jumlah partai yang terdaftar di Kementrian Hukum dan HAM adalah 141 partai. Setelah disetujui DPR. dan PDI.Pemilu 1997 ini menuai sejumlah protes. Madura. Di Kabupaten Sampang. dan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Habibie mengajukan 3 rancangan undang-undang selaku dasar hukum dilangsungkannya pemilu 1999. barulah pemilu layak dijalankan. RUU tentang Pemilu. 51-65 orang 310 orang. PPP. yang berjenis kelamin laki-laki adalah 443 orang sementara perempuan adalah 57 orang. yaitu RUU tentang Partai Politik. puluhan kotak suara dibakar massa oleh sebab kecurangan Pemilu dianggap sudah keterlaluan. Pemilu ini diadakan di bawah kepemimpinan Presiden B. Ryaas Rasyid dari Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta. 31-40 tahun 51 orang. dan di atas 65 tahun 2 orang. jumlah partai peserta tidak lagi dibatasi seperti pemilu-pemilu lalu yang hanya terdiri dari Golkar. PDI mengalami penurunan suara signifikan akibat intervensi pemerintah terhadap kepemimpinan partai. Dari 500 anggota DPR.

PPI. Lebih jauh. pembagian kursi dilakukan tanpa stembusaccord. 8 partai beraliran Islam yang melakukan stembus-accord tersebut mengklaim beroleh 53 dari 120 kursi sisa. PNBI. Opsi Kedua. Murba. Sistem Pemilu yang digunakan adalah Proporsional dengan varian Party-List. PKM. PADI. PUDI. Partai-partai beraliran Islam yang melakukan stembus-accord (penggabungan sisa suara) menurut hitungan PPI (Panitia Pemiliha Indonesia) hanya beroleh 40 dari 120 kursi. Masyumi. partai-partai yang menolak menandatangani hasil tidaklah menyertakan point-points spesifik keberatan mereka. Partai SUNI. PKD. Hasilnya. Problem selanjutnya adalah pembagian kursi. SPSI. PND. Partai MKGR. pembagian kursi sisa dihitung dengan memperhatikan suara stembus-accord. dan masyarakat mengetahui hasil tersebut tanggal 26 Juli 1999. PUMI. Ada sekitar 27 partai politik yang tidak menandatangani berkas hasil pemilu 1999 yaitu : Partai Keadilan. Opsi Pertama. Krisna. Sebab itu. Rekomendasi Panwaslu adalah. di depan seluruh partai politik peserta pemilu 1999 menyarankan voting. PDI. Namun. Lebih dari 8 partai melakukan walk-out. 12 suara mendukung Opsi Pertama. hasil Pemilu 1999 sudah sah. PSP. PBI. tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Di sisi lain. Presiden kemudian memutuskan bahwa Pemilu 1999 adalah sah. PNI Supeni. PNU. Partai KAMI. Pemilu 1999 mengalami hambatan dalam proses perhitungan suara. PRD. PBN. Presiden menyerahkan kembali penyelesaian persoalan kepada Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu). Masalah yang muncul adalah pembagian kursi sisa. PIB. Keputusannya. Oleh sebab adanya penolakan ini. PID. pembagian tanpa stembus-accord. Voting ini terdiri atas 2 opsi. KPU. Perbedaan pendapat ini lalu diserahkan PPI kepada KPU (Komisi Pemilihan Umum). KPU menyerahkan keputusan kepada Presiden. PAY.diadakan tanggal 7 Juni 1999. dan 43 suara mendukung Opsi Kedua. dan PARI. .

Contohnya. . Hasil ini diperoleh dengan menerapkan sistem pemilihan Proporsional dengan Varian Roget. sebanyak 460 orang berjenis kelamin laki-laki dan hanya 40 orang yang berjenis kelamin perempuan. termasuk perolehan kursi berdasarkan the largest remainder (sisa kursi diberikan kepada partai-partai yang punya sisa suara terbesar). jika dari daerahnya partai mendapatkan suara terbesar. dan DPRD II). Pemilu 2004 menggunakan sistem pemilu yang berbeda-beda. Dalam pemilu 2004.700. Jika sejak Pemilu 1971 calon nomor urut pertama dalam daftar partai otomatis terpilih bila partai itu mendapat kursi. serta DPD (Dewan Perwakilan Daerah). seorang Caleg A meski berada di urutan terbawah daftar caleg. maka pada Pemilu 1999 calon terpilih ditetapkan berdasarkan suara terbesar atau terbanyak dari daerah di mana seseorang dicalonkan. Dalam sistem ini. maka dia-lah yang terpilih. bergantung untuk memilih siapa.17% dari suara yang sah. anggota parlemen (DPR.658 atau meliputi 9. sebuah partai memperoleh kursi seimbang dengan suara yang diperolehnya di daerah pemilihan. Untuk ketiga maksud pemilihan tersebut. Dari total 500 anggota DPR yang dipilih. pada Pemilu 1999 penetapan calon terpilih didasarkan pada rangking perolehan suara suatu partai di daerah pemilihan. Untuk penetapan caleg terpilih berdasarkan perolehan suara di Daerah Tingkat II (kabupaten/kota). DI pemilu 2004 ini. Pemilu 2004 sekaligus membuktikan pemanifestasian sistem pemerintahan Presidensil yang dianut oleh pemerintah Indonesia. rakyat Indonesia memilih presiden. persentase anggota DPR yang berjenis kelamin perempuan hanya meliputi 8% dari total. untuk pertama kali rakyat Indonesia memilih presidennya secara langsung. Sebab itu. terdapat 3 sistem pemilihan yang berbeda. Perbedaan dengan Pemilu 1997 adalah.Total jumlah suara partai yang tidak menghasilkan kursi 9. Pemilu 1999 ini sama dengan metode yang digunakan pada Pemilu 1971. DPRD I. Pemilu 2004 Pemilu 2004 merupakan sejarah tersendiri bagi pemerintah dan rakyat Indonesia.

5%. Pemilu ini pun mirip dengan Pemilu 1999 di mana 48 partai ikut berlaga dalam kompetisi ’dagang janji’ ini. Sementara untuk memilih presiden. yaitu Single Non Transverable Vote (SNTV). threshold dinaikkan menjadi 2. digunakan sistem pemilu Lainnya. Namun. partai-partai politik tatkala masuk ke perhitungan kursi caleg hanya dibatasi bagi yang berhasil mengumpulkan komposisi suara di atas 2. Untuk memilih anggota DPD. digunakan sistem pemilu Proporsional dengan varian Proporsional Daftar (terbuka). digunakan sistem pemilihan Mayoritas/Pluralitas dengan varian Two Round System (Sistem Dua Putaran).Untuk memilih anggota parlemen.5%. . Artinya. Hasil Pemilu 2004 adalah sebagai berikut : Pemilu 2009 Pemilu 2009 masih menggunakan sistem yang mirip dengan Pemilu 2004.

Pembahasan harus melibatkan semua pemangku kepentingan.Tujuan Berbagai literatur pemilu menunjukkan. Proporsional Daftar adalah sistem pemilihan mengikuti jatah kursi di tiap daerah pemilihan. Daerah pemilihan anggota DPR adalah . Pemerintahan bisa saja kuat. sehingga korupsi merajalela. bisa-bisa malah menimbulkan perpecahan politik. Mekanisme pengaturan pemilihan anggota parlemen ini ada di dalam UU No. harus membahas serius upaya menetapkan tujuan yang hendak dicapai dari pemilu yang dirancangnya. tetapi banyak kelompok terdiskriminasi. DPRD I. maka para perancang pemilu atau pembuat undang-undang pemilu. suara yang diperoleh partai-partai politik di tiap daerah selaras dengan kursi yang mereka peroleh di parlemen. akan menimbulkan ketidakpuasan banyak kelompok yang tidak terwakili. Jenis – Jenis Pemilihan Anggota Parlemen (DPR. Jika negara mengedepankan integritas politik. DPRD 2) Sistem pemilu yang digunakan adalah Proporsional dengan Daftar Calon Terbuka. pemilu sulit menghasilkan pemerintahan efektif. integritas politik dan pemerintahan efektif. tetapi kontrol tidak terjadi. Melihat implikasi politik dari setiap tujuan yang ditetapkan. pemilu bisa menjaga stabilitas politik. Demikian juga pengutamaan tujuan pemerintahan efektif. Untuk kursi DPR. masing-masing tidak saling memperkuat. sehingga stabilitas politik pun sangat rentan. dan memastikan satu tujuan yang jadi prioritas. tiga tujuan pemilu yaitu keterwakilan politik. Jadi. Artinya kalau suatu negara memprioritaskan keterwakilan politik sebagai tujuan. dijatahkan 550 kursi.12 tahun 2003. tapi justru saling menegasikan.

beroleh 85 kursi provinsi berpenduduk > 12 juta beroleh 100 kursi Sementara itu. Bilangan ini berbeda antar satu daerah dengan daerah lain. beroleh 45 kursi provinsi berpenduduk > 3 juta sampai dengan 5 juta. DPRD I.665 kursi Cara Menghitung Suara. dan DPRD II sebagai berikut : kursi DPR = 550 kursi kursi DPRD I = 1.Provinsi atau bagian-bagian provinsi. beroleh 65 kursi provinsi berpenduduk > 7 juta sampai dengan 9 juta. Sistem Proporsional ditandai oleh adanya Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).780 kursi kursi DPRD II = 13. beroleh 75 kursi provinsi berpenduduk > 9 juta sampai dengan 12 juta. beroleh 55 kursi provinsi berpenduduk > 5 juta sampai dengan 7 juta. bergantung .1 Untuk kursi di DPRD I dan DPRD II berlaku ketentuan berikut : Untuk DPRD I (Provinsi) adalah :2 daerah pemilihan DPRD I adalah Kabupate/Kota atau gabungan kabupaten/kota provinsi berpenduduk sampai dengan 1 juta mendapat 35 kursi provinsi berpenduduk > 1 juta sampai dengan 3 juta. pada Pemilu 2004. total kursi untuk DPR. untuk DPRD II (Kota/Kabupaten) berlaku ketentuan :3 daerah pemilihan DPRD II adalah kecamatan atau gabungan kecamatan kabupaten/kota berpenduduk sampai dengan 100 ribu beroleh 20 kursi kabupaten/kota berpenduduk > 100 ribu sampai dengan 300 ribu beroleh 25 kursi kabupaten/kota berpenduduk > 300 ribu sampai dengan 400 ribu beroleh 35 kursi kabupaten/kota berpenduduk > 400 ribu sampai dengan 500 ribu beroleh 40 kursi kabupaten/kota berpenduduk > 500 ribu beroleh 45 kursi Dengan demikian.

pada jumlah total penduduknya.000.500. Maka BPP untuk daerah XYZ adalah : Jadi. sisa suara itu dianggap hangus stembus accord tidak diperkenankan Contoh perhitungan suara sebagai berikut : Daerah pemilihan XYZ memiliki jatah 10 kursi untuk parlemen.000 .100. Total suara sah yang dihasilkan pemilu 12.000 Partai Sapi = 1.700.000.500. BPP untuk daerah pemilihan XYZ adalah 470.000 Partai Kura = 7.000.000. Hasil Pemilu Daerah Pemilihan XYZ sebagai berikut : Partai Ular = 5.000 Partai Kuda = 2. Cara pembagian BPP bagi setiap partai politik adalah sebagai berikut : Tahap 1 menghitung total suara sah masing-masing parpol menghitung BPP dengan cara total suara sah masing-masing parpol dibagi jumlah kursi yang diperebutkan di daerah tersebut menghitung suara sah tiap parpol dibagi dengan BPP parpol yang suaranya melebihi BPP otomatis langsung mendapat kursi parpol yang suaranya melebihi BPP tetapi belum cukup untuk kursi jadi beroleh sisa suara Tahap 2 kursi yang belum habis dibagi pada tahap 1 kembali dihitung sisa suara diberikan kepada parpol satu per satu bergantung suara terbanyak setelah kursi habis dibagikan dan sisa suara masih ada.000 Partai Lalat = 2.

kamar lainnya adalah DPD. dan DPRD II. pengelolaan sumber daya alam dan sumber ekonomi lain. Tugas spesifik dari anggota DPD adalah membahas dan mempertimbangkan penyusunan RUU yang berkaitan dengan pembentuka. Tugas lainnya adalah mengawasi pelaksanaan UU yang berkaitan dengan ketiga poin-poin yang telah disebut tadi. parpol lalu menetapkan caleg terpilih berdasar nomor urut si caleg dalam daftar parpol di daerah tersebut. DPRD I. dan RUU lain yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. pemekaran dan penggabungan daerah. Anggota DPD ini akan menggantikan posisi Fraksi Utusan Golongan dan Fraksi TNI/Polri yang selama ini tidak dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum. Kamar pertama adalah DPR. Langkah penentuan caleg tersebut sebagai berikut : melihat hasil perhitungan perolehan suara setiap caleg caleg yang beroleh suara mencapai BPP langsung ditetapkan sebagai calon terpilih caleg yang tidak mencapai BPP tidak beroleh kursi. Sementara itu. Anggota DPD nantinya akan menjadi anggota MPR. Pemilihan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Pemilu 2004 mengaplikasikan hasil Amandemen UUD 1945 dalam mana parlemen terdiri atas Bikameral.Maka perhitungan suara daerah XYZ adalah : Setelah kursi yang diperoleh tersedia. . masing-masing parpol menentukan caleg terpilih melalui Daftar Terbuka untuk menduduki kursi-kursi tersebut.

dan Hamzah Haz-Agum Gumelar. maka diadakan pemilu putaran kedua. Megawati Sukarnoputri-Hasyim Muzadi. Dalam kasus Pemilu 2004. Namun.656. Setelah voting. Jika di dalam putaran pertama ada di antara pasangan capres-cawapres yang beroleh suara > 50% dengan sedikitnya 20% suara di setiap dari ½ jumlah provinsi yang ada di Indonesia. Putaran kedua menghendaki pasangan capres-cawapres yang beroleh suara terbanyak otomatis terpilih selaku presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Amien Rais-Siswono Yudhohusodo. Dalam putaran pertama tanggal 5 Juli 2004. total suara pemilih yang valid adalah 118. Pasangan-pasangan tersebut adalah Susilo Bambang Yudhoyono-Yusuf Kalla.868. terdapat 5 pasangan yang maju bersaing menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. jika tidak ada satu pun pasangan yang memenuhi syarat tersebut. Putaran pertama seluruh pasangan (capres-cawapres) yang ada bertarung untuk memperoleh mayoritas 50% + 1.Daerah pemilihan anggota DPD adalah Provinsi dan setiap provinsi memiliki 4 kursi DPD. WirantoSolahuddin Wahid. maka calon dengan persebaran suara yang lebih merata di tiap daerah yang jadi pemenang Pemilihan Presiden Sistem yang digunakan adalah Two Round System. maka pasangan tersebut otomatis menang. di mana pemilihan presiden akan diadakan dua putaran. Mekanisme pemilihan anggota DPD di Pemilu 2004 sebagai berikut : pemilih mencoblos 1 (satu) calon anggota DPD yang nama dan fotonya tercantum di ballot empat calon anggota DPD yang beroleh suara terbanyak otomatis menjadi anggota DPD dari provinsi tersebut jika terdapat calon dengan urutan suara keempat yang beroleh suara sama. diperoleh hasil sebagai berikut : .

pasangan Susilo Bambang Yudhoyo – Yusuf Kalla menduduki posisi teratas dengan meraih 33. posisi presiden dan wakil presiden menjadi lebih ”kuat” ketimbang posisi presiden Abdurrahman Wahid yang diturunkan di tengah jalan melalui kekuatan parlemen. Hasil putaran kedua tanggal 20 September 2004 adalah sebagai berikut : Melalui hasil di atas. Sebab itu. Sebab itu. Melalui hasil ini. Ini akibat presiden dipilih langsung oleh rakyat. terutama yang menggunakan jenis sistem politik Demokrasi Liberal.602. Otomatis.674 % suara.Melalui hasil seperti tampak pada tabel di atas. Pasangan Megawati Sukarnoputri – Hasyim Muzadi meraih posisi kedua dengan mendapat 26. Sistem Pemilihan umum merupakan mekanisme penting dalam sebuah negara. Kedua pasangan tersebut tidak beroleh suara > 50 % serta beroleh suara 20 % di ½ jumlah provinsi yang ada di Indonesia. putaran kedua harus dilaksanakan. pemilihan sebuah sistem pemilihan umum perlu disepakati bersama antara partai-partai politik yang terdaftar . dapat dipastikan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono – Yusuf Kalla menang dalam putaran kedua. pasangan tersebut menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2004 – 2009. Pemilihan Umum yang mendistribusikan perwakilan kepentingan elemen masyarakat berbeda ke dalam bentuk representasi orang-orang partai di parlemen.

Varian dari sistem Mayoritas/Plularitas adalah First Past The Post.(yang sudah duduk di parlemen) dengan pemerintah. Alternative Vote. Untuk melihat peta sistem pemilu. Meskipun kalah di suatu daerah pemilihan. jumlah partai politik. perhatikan bagan di bawah ini sebagai berikut :1 Secara garis besar. Penjelasan hanya dititikberatkan pada kategori-kategori umum dari setiap jenis sistem pemilu. dan Party Block Vote. Two Round System. Khususnya untuk pemilihan anggota parlemen (baik pusat maupun daerah) digunakan jenis Proporsional. Block Vote. calon legislatif ataupun partai politik dapat mengakumulasikan suara dari daerah- . Sebelum dilakukan pembahasan atas sistem pemilu yang pernah diterapkan di Indonesia. Calon legislatif atau partai dengan suara yang kalah otomatis tersingkir begitu saja. ada baiknya dijelaskan jenis-jenis sistem pemilu yang banyak dipakai di dunia. trend kepentingan partai saat itu. Indonesia telah menyelenggarakan 9 kali pemilihan umum. dan juga jenis sistem politik yang tengah berlangsung. Perbedaan ini akibat sejumlah faktor yang mempengaruhi seperti jumlah penduduk. sistem Mayoritas/Pluralitas menghendaki kemenangan partai atau calon legislatif yang memperoleh suara terbanyak. Sistem proporsional biasanya diminati di negara-negara dengan sistem kepartaian Plural ataupun multipartai (banyak partai). yang kadang berbeda dari satu pemilu ke pemilu lain.

. dan Borda Count. Hal yang diambil adalah ciri-ciri positif dari masing-masing sistem. Varian dari sistem lainnya ini adalah Single No Transferable Vote (SNTV). Limited Vote. Sistem Other/Lainnya adalah sistem-sistem pemilu yang tidak termasuk ke dalam 3 sistem sebelumnya. Varian dari sistem ini adalah Mixed Member Proportional dan Parallel.daerah pemilihan lain. Varian sistem Proporsional adalah Proporsional Daftar dan Single Transverable Vote. sehingga memenuhi kuota guna mendapatkan kursi. Sistem Mixed (campuran) merupakan pemaduan antara sistem Proporsional dengan Mayoritas/Pluralitas. Kedua sistem pemilu tersebut berjalan secara beriringan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->