MASALAH LEHER SECARA UMUM Michael J. DePalma and Curtis W.

Slipman PENDAHULUAN DAN EPIDEMIOLOGI Keberhasilan pengobatan untuk nyeri penyakit-penyakit spinal servikal tergantung dari keakuratan menentukan penyebab kerusakan jaringan, termasuk ruang lingkup penyakit biomekanik dan biokimia. Para klinisi membutuhkan suatu konsep dalam proses diagnosis dan tatalaksana yang sesuai dengan kepahaman patofisiologi dari kerusakan spinal servikal dan hubungannya dengan manifestasi kinis, kesadaran akan keuntungan dan kerugian dari alat-alat diagnosis, dan pengetahuan tentang pilihan-pilihan terapinya. Langkah awal dari proses ini adalah mencari riwayat. Hal ini penting utnuk membedakan antara nyeri servikal aksial (nyeri leher) dan nyeri lengan atas. Seperti yang dikatakan oleh Bogduk, nyeri leher, dan sebaliknya. Nyeri servikal aksial tidak harus menjadi nyeri servikal radikular. Nyeri servikal aksial didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi di seluruh atau bagian dari perpanjangan inferior oksiput inferior ke regio interskapular superior, sampai midline atau hanya parmidline. Pasien merasakannya sebagai bendungan dari leher. Nyeri servikal radikular didefinisikan sebagai nyeri sampai bahu, area distal atau semuanya, yang bermnifestasi seperti nyeri lengan atas. Penyebab dari gejalanya bermacam-macam, diagnosis dan tatalaksananya juga bermacam-macam. Penyamaan nyeri servikal aksial dan nyeri servikal radikular dapat menyebabkan salah diagnosis, ketidaksesuaian pemeriksaan dan pemberian pengobatan secara optimal. Sering terjadi keraguan karena kedua penyakit ini disebabkan oleh klerusakan spinal servikal. Masing-masing penyakit berbeda dalam kejadian, mekanisme, patofisiologi, pengobatan dan rehabilitasi. Laporan epidemiologi kadang-kadang menggabungkan nyeri leher dan nyeri lengan atas, tapi keluhan tentang juga banyak. Prevalensi dari nyeri leher dengan atau tanpa disertyai nyeri lengan atas berkisar 9% sampai 18% dari prevalensi umum,130,145,238,248 dan satu dari tiga orang dapat mengingat paling sedikit satu
25

leher

bukanlah lengan atas, dan lengan atas bukanlah leher. Nyeri di lengan atas bukanlah

1

kejadian dari nyeri leher dalam kehidupan mereka.

130

Nyeri servikal dalam praktek
256

lebih sering ditemukan dibanding nyeri pinggang bagian bawah,

dan nyeri leher

akibat trauma yang kronis sekitar 40% pasien, dengan 8% sampai 10% dengan nyeri yang sangat.55 Angka kejadian meningkat di temp[at kerja, dengan prevalensi 35% sampai 71% pada daerah hutan di swedia dan pekerja industrial.98,99 Jumlah keluhan servikal akibat pekerjaan meningkat sesuai peningkatan umur. Sekitar 25% sampai 30% pekerja dengan umur kurang dari 30 tahun dilaporkan mengalami kekakuan leher, dan 50% pekerja diatas 45 tahun dilaporkan dengan keluhan yang sama. Radiculopathy servikal jarang terjadi, angka kejadian 83,2 per 100,000, dan terjadi antara umur 50-54 tahun187 5 sampai 10% pekerja dibawah umur 30 tahun mengeluh nyeri menyebar sampai lengan atas, dimana 25% sampai 40% diantaranya diatas 45 tahun mengalami nyeri di lengan atas.100 23% dari pekerja pria pernah mengalami paling sedikit satu kali periode nyeri lengan atas.100 Nyeri leher, nyeri radikular servikal, atau keduanya adalah keluhan umum yang bayanyak dikeluhakan pasien dari berbagai profil. Evaluasi dan pengobatan spinal servikal secara umum membutuhklan analisa kemungkianan tentang kerusakan struktur yang palinng bertanggung jawab terhadap kondisi pasien. Seorang klinisi spinal mengenali gejala individual dengan cermat dan menggabungkan menjadi diagnosis dan pengobatan yang akurat untuk penyakit ini. Bab ini bertujuan sebagai pegangan dalam pendekatan terhadp penyakit-penyakit nyeri spinal servikal secara umum, serta menyediakan algoritme pengobatan yang menggabungkan terapi yang sesuai denga spektrum pelayanan. PATOFISIOLOGI DAN ARTI GAMBARAN NYERI BERALIH Pegetahuan tentang hubungan anatomi dan spinal servikal penting, untuk memahami mekanisme penyakit-penyakit spinal servikal. Spinal servikal adalah suatu segmen yang terpisah dari tulang aksial (lihat gambar 37-), dan berfungsi untuk menopang dan menstabilkan kepala; membuat kepala dapat bergerak dalam segala bidang dan gerakan; serta menjaga tulang belakang, akar saraf, saraf spinal, dan ateri vertebrae.163 Ada tujuh tulang belakang servikal dan delapan saraf

2

servikal. Artikulasio atlantooksipital (C0-1) memudahkan 10º fleksi dan 25 º ekstensi. Level C1-2 atau sendi atlantoaksial (lihat gambar 37-2) membentuk segmen servikal bagian atas dan bertanggung jawab untuk 40% sampai 50% dari semua rotasi aksial servikal, ditunjukkan secara klinis dengan rotasi 45 º di setiap arah.61,62,65,70,249 Bagian bawah dari C2-3, fleksi lateral dari spinal dipasangakan dengan rotasi di arah yang sama. Segmen spinal menandakan sebuah transisi dimana dapat terjadi perubahan gerak dari rotasi ke fleksi, ekstensi dan belokan lateral.70,242 Kombinasi pergerakan ini difasilitasi oleh kecenderungan 45 º sagital dari sendi zygopophyseal servikal (lihat gambar 37-1).147 Sendi zygopophyseal memberikan gerakan diantara spinal servikal, menghubungkan masing-masing segmen vertebrae,216 dan diinervasi oleh cabang medial dari rami servikal dorsal (gambar 37-3).21 Sebagai tambahan, sendi C0-1 diinervasi oleh ramus C1 ventral, 122 dan sendi C1-2 oleh ramus C2 ventral lateral dan nervus sinuvertebral C1, C2, dan C3 medial.120 Gerakan flksi yang bebas terjadi di C4-5 dan C5-6, sedangkan belokan lateral terjadi di C3-4 dan C4-5.70,242 Vertebrae servikal bagian bawah (C3-7) memiliki sendi sinovial yang unik seperti artikulasio, sendi uncovertebare atau sebdi luscha, berlokasi diantara prosessus uncinate (gambar 37-4).165 Sendi ini umumnya menyebabkan perubahan pada osteoartritis, yang dapat menyempitkan diameter foramen intravertebrae (gambar 37-5).80,97,234 Foramen intravertebrae yang terbesar di level C2-3 dan terjadi penurunan ukuran progresis di level C6-7. Kompleks radikular dari akar ganglia dorsal, akar saraf, nervus spinal dan sekeliling sheat berjumlah 20% sampai 35% area cross-sectional foramen intervertebrae.80,97,234 Volume sisa foramen intervertebrae diisi oleh aerolar longgar atau jaringan adipose, ligamentum Hoffman’s arteri radikular, dan sejumlah saluran vena yang biasanya melingkari akar saraf.216 Neuroforamina dibatasi di anteromedial oleh sendi uncovertebrae, superior dan inferior oleh pedikel succesive, dan medial oleh tepi end plate vertebrae dan disk intervertebrae (lihat gambar 375).216

3

Gambar 37-1. Hubungan anatomi ligamen spinal servikal dengan struktur-struktur lainnya di leher. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

Gambar 37-2. Gambaran atlas dan axis dari sisi anterior. Tuberkel anterior atlas telah dipotong sehingga terlihat prosesus odontoid axis. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

4

memperlihatkan zona target (tanda panah bulat) berlokasi di bagian tengah C2 melalui pilar artikular C7. Semua bagiannya dibentuk oleh anulus fibrosis yang diinervasi posterolateral oleh nervus sinuvertebral.30 Porsi bagian dalam dari diskus yang membentuk nukleus pulposus gelatinosus. dan inervasi anterior oleh nervus vertebral (Gambar 37-6). setiap cabang dibentuk oleh dari nervus vebtebral dan ramus ventral.216 Anatomi normal servical spine dapat mengalami degenerasi dan trauma melalui berbagai jenis gangguan servikal spine. Nervus oksipital ketiga (TON) adalah cabang nervus besar yang membutuhkan tiga blok terpisah di level C2 inferior-C3 superior dan terletak di daerah lateral sendi C2-3. Ilustrasi lateral dari spinal servikal. Diskus intervertebra terletak antara vertebra C2 sampai vertebra C7. yang mempengaruhi kurvatura servical lordotik. yang menyediakan transmisi aksial untuk menghilangkan tekanan pada setiap range of motion.216 Setiap diskus intervertebrata lebih tebal di bagian anterior dibandingkan bagian posterior.Gambar 37-3 Zona target dari blok cabang medial servikal. 5 .

seperti diskus intervertebrata. B. dan sensitif untuk penyakit atau cedera sehingga menimbulkan nyeri. 1994. SVN Sinuvertetbral nerve. Proksimal sendi uncovertebral pada serabut saraf servikal (NR). McCulloch J: Neck Ache and Shoulder Pain. Potongan aksial servikal ke 7 Gambar 37-6. ligamen 6 . New York. (Panel B redrawn form Macnab I. Anterior Longitudinal Ligament. Trowney: Clinila Anatomy of Lumbar Spine. (redrawan from Bogduk N.Gambar 37-4 Sendi Luschka’s (Uncovertebral). Harus ada inervasi. PLL. A. Churchil Livingstone) Tiga kebutuhan penting yang diperlukan untuk menimbulkan nyeri. Servikal spine. gambaran Sendi Luschka’s. Pasokan saraf pada diskus intervertebralis. ALL. 1991. Non neural struktur pada leher. williams&Wilkins) Gambar 37-5. Baltimore. sendi zigopophasial. yang bisa menghasilkan nyeri yang sama dengan klinisnya. posterior longitudinal Ligament.

128 Gejala ini dihasilkan tanpa iritasi ke jaringan neural.59. Nyeri pada C5-6 menyebar sampa fossa suprasinatus skapula. Penelitian ini pertama kali mendemonstrasikan fenomena ini sebagai nyeri alih somaik.216 Mekanisme gejala somatik ini memerlukan konvergen.116-118.219 Nyeri berasal dari sendi zigopophasial yang cenderung diikuti secara konstan dan disadari beralih. Dia berhipotesis bahwa fenomena sistem saraf pusat dimediasi oleh nyeri alih. terjadi nyeri spinal yang menjalar ke distal ekstremitas.25 Melalui mekanisme ini diskus servikal intervertebrata dan sendi zigapophasial menyebabkan gejala ekstremitas atas. fascia.128 Kellergen117. tendon. dan otot dengan hipertonis saline.216 Hal ini terjadi melalui biomekanikal dan/atau biokemikal pada struktur non neural yang bisa menstimulasi serabut nosiseptive saraf. karena anestesi sarap perifer distal yang tidak mengurangi nyeri alih ini. kapsul sendi. 38. sebelumnya disebut sklerotomal.118 pertama kali menemukan nyeri alih terbentuk oleh struktur spinal non neuron yang distimulasi oleh periosteum.69. dapat menjadi sumber nyeri dan menghasilkan penjalaran somatik ke ekstremitas atas. sehingga gejala beralih ke struktur jaringan mesodermal lain yang sama asal embrigeniknya. dan otot. Seperti nyeri alih yang disebut dengan somatik. anulus diskus intervertebralis.73 Gejala anestesi pada sendi menunjukkan kesamaan pada gejala simptomatik beralih dari sendi servikal.128 Percobaan klasik telah dilakukan melalui stimulasi pada struktur midline posterior sehingga menghasilkan nyeri di leher dan menjalar somatik ke ekstremitas atas.longitudinal posterior.28. Pada C1-2 dan C2-3 beralih ke oksiut.39.116-118.10.216 Mekanisme stimulasi pada sendi zigopophasial atau inervasi sarafnya telah menunjukkan nyeri pada kepala dan leher dengan nyeri alih ke ekstremitas atas (Gambar 37-7).39.25 Aferen dari servikal spine dan distal ekstremitas atas berkumpul pada neuron kedua pada spinal cord. 36. melalui kompresi atau infalamas. dan terjadi ketika struktur mesodermal seperti ligamen. sedangkan nyeri C6-7 menyebar sampai ke 7 . atau periosteum yang distimulasi. dan gangguan servikal spine dapat menghasilkan nyeri ke ekstremitas atas sampai dengan sakit kepala.63. Pada C3-4 dan C4-5 menimbulkan gejala di sekitar leher posterior.36. menyebabkan nyeri alih.116-118.

dengan izin) Gejala nyeri yang sama juga dihasilkan oleh stimulasi mekanis pada diskus intervertebrata (Gambar 37-8 dan Tabel 37-1). dan C3-4.kaudal skapula. penemuan ini menunjang bahwa gejala nyeri berasal dari struktur yang menginervasi dibandingkan dengan strukturnya sendiri. dan C4-5 sendi zigopophasial nyeri alihnya sampai ke muka.28 Setiap sendi dapat menunjukkan gejala unilateral atau bilateral. C4-5.453-457.25 Hal logis yang juga menunjang adalah stimulasi pada muskulature servikal atas dapat menghasilkan nyeri kepala. C1-2.45. penelitian yang lebih lengkap dari Penn Spine Center menyebutkan bahawa 30% sampai 62% pada diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral selama servikal diskography. dan C5-6 bergejala sampai ke kepala. C3-4. 1990.78. Hal ini tidak berarti sendi unilateral menstimulasi hanya nyeri kontralateral. April C.224 Berdasarkan pengalaman kami.52 Perbedaan CIDD dan nyeri pada sendi zigopophasial atau nyeri dari jaringan lunak servikal spine memerlukan interpretasi riwayat dan pemeriksaan fisik lain. Spine 15. Observasi kami yang didukung oleh penelitian terbaru Grub dan Kelly78 menemukan bahwa 34% sampai 50% diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral pada setiap diskus servikal. Selain itu. Cervical Zygapophasial Joint pain patterns I. Bogduk N. C2-3.218 Gambar 37-7.203. dan manifestasi ini tidak pernah diteliti.224 Ketika dilakukan bersamaan. bilateral paramidline nyeri leher atas tanpa sakit kepala disebabkan disrupsi diskus intervertebra servikal (CIDD) daripada nyeri akibat sendi zigopophasial.* Tambahan. A Study in normal volunteers. (redrawn from Dawyer A. 8 . Nyeri alin C2-C3 sampai C6-C7.

Gambaran nyeri alih pada diskus servikal intervertebralis selama provokasi servikal. Nyeri alih pada setiap area digambarkan dengan nomor.Gambar 37-8. (tabel 37-1) 9 .

Distribusi frekuensi nyeri pda tingkat diskus servikalis Disc Number Body region Numerical coordinates by body region (lihat gambar 378) C2-3 N=10 C3-4 N=19 C4-5 N=27 C5-6 N=27 C6-7 N=16 C7-T1 N=2 Posterior head Occipital Suboccipital Posterior neck Posterior inferior neci Superior porsterior trapezius Superior periscapula Inferior periscapula Superior interscapula Inferior periscapula Posterior shoulder Upper arm Forearm Hand Lower thoracle Temporalparictal Frontal Ear Face Anterior neck Chest 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 0 1 6 9 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 1 5 17 15 9 4 1 1 1 5 3 2 2 1 0 0 0 1 2 0 0 2 6 23 23 17 11 6 9 4 11 8 1 0 3 2 1 1 4 4 4 0 2 6 20 17 12 11 5 11 3 12 4 2 0 1 0 1 1 3 4 5 0 1 1 9 13 7 9 5 12 6 7 4 2 1 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 .Tabel 37-1.

dan C8 terasa sampai ke lengan bawah dan tangan. sendi uncovertebral.72 11 .225 Tanpa memandang nyeri radikular lebih sering terjadi pada ekstremitas atas dan lebih sering dibandingkan keluhan aksial.245 trauma. Mekanisme pasti bagaimana herniasi diskus atau spondilosis menyebabkan nyeri radikuler masih tidak jelas. C7. Penyebab tersering radikulopati servikal adalah herniasi diskus intervertebra servikal. dan/atau tangan (Gambar 37-9). Sedangkan pada bagian tengah atau bawah ipsilateral skapula. Akan tetapi. tetapi nyeri C6.137 Mekanisme yang dipertimbangkan mengenai nyeri pada radikulopati servikal termasuklah inflamasi akar saraf.216 Nyeri ekstremitas atas disebabkan oleh radikulopathy yang beralih ke lengan atas. atau tekanan langsung pada akson yang terluka kronik atau pada akar ganglion dorsal yang normal. sensitivitas mekanik atau sensitivitas kimia akar saraf itu sendiri.189 Kausa potensial lainnya dari radikulopati servikal termasuklah tumor. dan diskus intervertebra. Neurokompresi langsung akar saraf tidak menyebabkan nyeri.182 sarkoidosis. nyeri periskapular atau trapezial lebih hebat dibandingkan nyeri leher yang bisa disebabkan serabut saraf servikal seperti C4 atau C5.Nyeri servikal radikular adalah secara fundamental berbeda secara klinis karena keluhan utamanya adalah nyeri ekstremitas atas yang lebih parah dibandingkan dengan nyeri aksial. berasal dari serabut C7-C8.11 arteritis. nyeri pada bagian belakan atas dengan atau tanpa gejala di lengan dapat berasal dari serabut C4 sampai C6.200 dan athetoid atau cerebral palsy distonik.96 dan kelemahan miotomal asli dapat terjadi. lengan bawah. Etiologi dari gejala ekstremitas atas dapat membingungkan antara gangguan non radikular yang menyebabkan nyeri pada dinatoman unkarakteristik (gejala dinatomal-gejala referred).225 Nyeri radikular pada C5 terasa sampai lengan atas. Kerentanan saraf dalam foramen intervertebra meningkat sesuai dengan perubahan pada satu atau lebih dari tiga struktur yang terpisah: sendi zigapophiseal.96.102 diikuti oleh spondilosis servikal259 dengan atau tanpa mielopati servikal (kotak 37-1).25 peningkatan discharge akar ganglion dorsal.64 Namun demikian.

atau robekan kapsul sendi zigapophiseal (gambar 37-12). Disrupsi diskus internal adalah istilah deskriptif yang digunakan untuk menjelaskan kerusakan arsitektur internal nukleus pulposus dan atau serat anular dengan deformasi eksternal yang sedikit atau tanpa deformasi eksternal.51 Proses degenerasi diskus terjadi pada spektrum abnormalitas diskus (gambar 37-11). Diskusi yang lebih jelas mengenai herniasi adalah sebagai berikut.Cedera diskus intervertebra servikal dapat dikategorikan menjadi dua kategori besar: disrupsi internal dan herniasi. Cedera sendi zigapophiseal servikal dapat terjadi akibat osteoarthritis atau trauma. yang disebabkan oleh mikrotrauma berulang.* Kami telah berhasil mengobati pasien dengan sinovitis sendi zigapophiseal servikal. atau tulang subkondral. 12 . dan proteoglikan tipe 2 semakin mengalami degradasi. Arthropati sendi zigapophiseal servikal yang sangat nyeri dapat terjadi akibat degenerasi diskus intervertebra servikal. Efek biokimiawi dan biomekanik dapat menyebabkan manifestasi gejala sendi zigapophiseal servikal. dan sekuestrasi (gambar 37-10). berhubungan dengan interupsi suplai darah dan nutrisi ke diskus. robekan sirkurumfensial anular luar. permukaan artikular. Awalnya. baik makrotrauma maupun mikrotrauma.198 Hasil akhirnya adalah diskus servikal yang tidak kompeten secara biomekanik dan rapuh terhadap cedera biokimiawi. kontusio meniskus intraartikular. yang kemudian dibagi lagi menjadi protrusi.121 Cedera biokimiawi diakui telah terjadi sebelum adanya perubahan biomekanikal. Herniasi diskus merupakan istilah umum. robekan semakin banyak. Integritas mekanik diskus intervertebra menjadi susah apabila jarak diskus menyempit. Robekan ini akhirnya bergabung membentuk robekan radial yang terjadi bersamaan dengan kerusakan kemampuan menyerap air dari nukleus pulposus. Akselerasi-deselerasi cedera sendi zigapophiseal dapat terjadi pada cedera tulang pilar artikular. hemarthrosis intraartikular. yang mengalami onset gejala saat bangun setelah tidur pada posisi yang tidak nyaman. ekstrusi.

intradural.Kotak 37-1 Kelainan yang Mempengaruhi Leher Mekanik • • • • • • • • • • • • • • Infeksi • • • • • • • • • • Osteomielitis vertebra Diskitis Herpes zoster Endokarditis infeksi Proses granulomatosa Abses epidural. dan subdural Abses retrofaringeal AIDS Osteoporosis Osteomalasia 13 Sprain servikal Strain servikal Herniasi nucleus pulposus Osteoarthritis Spondilosis servikal Stenosis servikal Spondilitis ankilosa Sindrom Reiter Arthritis psoriasis Arthritis enteropati Arthritis rheumatoid Hiperostosis skeletal idiopatik difusa Reumatik polimyalgia Fibrositis (fibromyalgia) Reumatologik Endokrin dan Metabolik .

intradural Tumor Maligna Tumor Ekstradural Tumor Intradural 14 .• • • Tumor Penyakit parathyroid Penyakit Paget Penyakit pituitari Tumor Jinak • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Osteokondroma Osteoma osteoid Osteoblastoma Giant cell tumor Kista tulang aneurisma Hemangioma Granuloma eosinofilik Penyakit Gaucher Mieloma multipel Plasmasitoma soliter Kondrosarkoma Sarkoma Ewing Kordoma Limfoma Metastasis Hemangioma epidural Lipoma epidural Meningioma Neurofibroma Limfoma Ekstrameduler.

A. Herniasi atau protrusi subligamen kecil. B. Fragmen sekuestrasi (tanda panah). 15 .o Neurofibroma o Meningioma o Ependimoma o Sarcoma • Intrameduler o Ependimoma o Astrocytoma Lain-lain • • Malformasi arteri-vena Syringomyelia GAMBAR 37-10 Herniasi diskus intervertebra servikal. C. Ekstrusi.

IM. A. ZH. fraktur pelat subkondral. fraktur/avulsi end plate. AS. GAMBAR 37-12 Lesi yang lebih sering mempengaruhi tulang servikal setelah perubahan arah secara tiba-tiba: AF. fraktur pilar artikular. 16 . fraktur yang melibatkan permukaan artikular. kontusio meniscus intrartikular sendi zigapophiseal. SC. AP. VB. Akhirnya menyebabkan kolaps jarak diskus. AL. hemarthrosis sendi zigapophiseal. Robekan-robekan konsentrik akhirnya bergabung membentuk robeka radial. robekan ligamen longitudinal anterior. Robekan annulus fibrosus diskus intervertebra. EP.GAMBAR 37-11 Degenerasi diskus intervertebra. B. fraktur corpus vertebra. Tampak sagital. ruptur atau robekan kapsula sendi zigapophiseal. ZC.

48 Sebaliknya. tergantung pada sifat dari stres yang abnormal yang dikenakan pada tulang belakang servikal. berulang.48 Sekitar sepertiga dari individu yang terlibat dalam tabrakan kendaraan bermotor mengalami sakit leher dalam 24 jam setelah kecelakaan.183 Keseleo dan ketegangan pada servikal terjadi sekitar 85% dari sakit leher yang terjadi secara akut.185 dan merupakan salah satu penyebab paling umum kesakitan setelah cedera olahraga noncatastropic.154 Otot posterior leher beraktivasi yang terjadi pada 90 sampai 120 meter per detik 237 dan bertepatan dengan deselerasi 17 . Akselerasi-deselerasi cedera dapat mengenai tulang belakang servikal sehingga menghasilkan kelengkungan berbentuk S sekitar 100 meter per detik setelah hentaman dari belakang. kepala akan maju dan memfleksi leher setelah maksimal luas sekitar 45 derajat.105 Cedera ini adalah jenis cedera yang paling umum dari cedera untuk penumpang kendaraan bermotor di Amerika Serikat.GANGGUAN KLINIS UMUM KETEGANGAN DAN KESELEO PADA SERVIKAL Epidemiologi Ketegangan pada servikal merupakan cedera musculotendinous akibat cedera yang berlebihan yang dihasilkan dari kekuatan berlebihan yang mengenai tulang belakang.207 Automobile terkait cedera servikal dan cedera keseleo lebih sering terjadi pada masyarakat barat dan di daerah metropolitan yang memiliki densitas kenderaan motor yang lebih tinggi. melainkan langsung melekat ke tulang melalui jaringan myofascial yang bercampur dengan periosteum. Peregangan otot paling sering terjadi karena banyak otot servikal tidak berakhir dalam tendon.233 Patofisiologi Patomekanisma yang berbeda merupakan penyebab pada ketegangan dan cedera keseleo pada servikal. keseleo pada servikal merupakan peregangan berlebihan atau robekan pada ligamen tulang belakang.113 Dengan 200 sampai 250 meter per detik setelah hentaman.233 Kejadian lebih tinggi pada wanita dan individu berusia 30 sampai 50 tahun. atau cedera leher kronis.

48 Gerakan berulang.kepala bergerak ke depan. sehingga meningkatkan risiko untuk cedera (Gambar 37-13). ketegangan terjadi pada levator skapula. Inami S. ekstensor. seperti dalam kegiatan rekreasi. dan fleksor lateral yang sering muncul pada individu dengan spondylosis servikalis. Robekan otot secara parsial atau lengkap dan perdarahan telah divisualisasikan oleh USG 151 dan magnetic resonance imaging (MRI).48 Trauma pukulan sering terjadi pada cedera olahraga dan dapat mengakibatkan ketegangan atau keseleo pada servikal secara akut. Saat 110 meter per detik. 18 . menyebabkan badan vertebra terpisah anterior dari C6 (panah putih).154 Saat kepala terus bergerak ke depan. dapat memperpendek rotator servikalis. 180 dan diamati dalam pemeriksaan postmortem. sternokleidomastoid. vertebra C5 rotasi abnormal axis rotasi tinggi. Modifikasi dari Kaneoka K.190 Gaya fisiologis yang bekerja relatif normal pada tulang belakang servikal mengakibatkan regangan jaringan lunak khas terlihat pada bukan atlet. ekstensor leher eksentris kontrak untuk mengurangi kecepatan kepala.168 Temuan ini memberikan dukungan eksperimental untuk otot sederhana atau cedera regangan ligamen selama tabrakan kendaraan bermotor. Ono L . Gambar 37-13 Gambaran radiografi berurutan tulang belakang servikal fase ekstensi cedera leher akibat gerakan cepat dari kepala. dan inferior prosesus artikular C5 ke superior prosesus artikular C6 (panah hitam). Pada individu dengan kyphosis toraks dan konsekuensial lordosis servikalis dan ekstensi.33 Penelitian secara anatomi telah menunjukan bahwa ligamentum longitudinal anterior menyatu secara tidak disadari dengan diskus intervertebralis dan dapat terluka dengan luka pada diskus servikalis.110 Robekan dari ligamentum longitudinal anterior telah dilaporkan dalam eksplorasi bedah34 dan diidentifikasi pada postmortem. dan otot suboksipital. et al: Gerakan abnormal segmen tulang belakang servikal saat gerakan cepat dari kepala. skalenus. trapezius superior.

jatuh. atau kecelakaan industri dapat membuat kekuatan signifikan yang cukup untuk melukai jaringan lunak servikal. atau gejala terkait lainnya. Tes diagnostik lebih lanjut seperti pencitraan atau evaluasi elektrodiagnostik tidak diindikasikan kecuali terdeteksi kelainan neulogik atau motorik.Diagnosa Anamnesis dan pemeriksaan fisik membantu dokter dalam mendiagnosis cedera jaringan lunak servikalis. tetapi pola ini dapat dibedakan dari kelemahan neuromuskuler. atau nyeri anggota badan yang signifikan dilaporkan. Daerah yang paling sering terlibat adalah trapezius atas dan otot sternokleidomastoid. setiap pola rujukan. Penurunan berbagai gerakan servikal dapat terdeteksi pada pemeriksaan. Ketegangan pada servikal dan cedera keseleo dapat dikaitkan dengan sakit kepala. Anamnesis dari riwayat mekanisme cedera harus ditanyakan dari pasien. Hal ini terjadi karena otot menjaga dan membalut untuk menghindari rasa sakit. Faktor yang memberatkan meliputi gerakan pasif atau aktif. 19 . cedera olahraga. lokasi gejala. Suatu kejadian akut seperti tabrakan kendaraan bermotor. Sakit kepala ini biasanya tajam atau tumpul dan berlokalisasi ke otot-otot servikal atau bahu. Pemeriksaan motorik dapat menjelaskan arah kelemahan karena rasa sakit. Pasien juga dapat mengeluh kelelahan leher atau kekakuan yang berkurang dengan aktivitas bertahap. Detail yang harus dicari adalah awal mulanya dari nyeri relatif terhadap peristiwa traumatis. Tanda-tanda neurologis biasanya tidak ada. Radiografi polos digunakan pertama kali untuk mengevaluasi kelainan tulang atau fraktur. Palpasi daerah yang terlibat biasanya tidak nyaman atau cukup menyakitkan. Dalam kebanyakan gambar-gambar ini adalah normal atau menjelaskan kerugian nonspesifik lordosis servikalis karena memfiksasi otot (Gambar 37-14). Penting untuk memeriksa radiografi servikalis fleksi dan ekstensi untuk mengevaluasi ketidakstabilan sebelum memberikan pemulihan fungsional. dan teknik penutupan neuroforaminal seharusnya tidak menolak rasa sakit berpindah ke ekstremitas atas distal.

Pijat ringan menimbulkan efek sedasi . Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan acetaminophen (parasetamol) digunakan sebagai kendali rasa sakit dan memelihara pola tidur. Pengobatan Pertama meliputi pengendalian nyeri dan inflamasi untuk menghambat respon cedera.Gambar 37-14 Radiografi polos lateral tulang belakang servikal. dan fleksi (D). menunjukkan penurunan lordosis (A). tizanidine atau antidepresan trisiklik mungkin bisa membantu. Modalitas Fisik seperti pijat. Jika pasien mengeluh substansial "kejang" tidak terbantu dengan analgesik dan posisi yang tepat. relaksasi otot. tetapi beberapa dokter menggunakan obat tersebut selama 5 sampai 7 hari untuk meningkatkan kualiti tidur. dan perubahan vaskular (lihat bab 20)255 Terapi panas superfisial 133dan terapi panas dalam dengan USG 67 memproduksi efek analgesia dan relaksasi otot. stimulasi listrik. penurunan adhesi. ekstensi (B). Jarang diresepkan relaksan otot. netral (C). dan memfasilitasi partisipasi aktif dalam program pemulihan fungsional. dan soft cervical collar dapat digunakan dalam program pengobatan. mengurangi keadaan tidak normal. terapi panas dangkal dan dalam. membantu mengatasi 20 .

124 Program tersebut (Tabel 37-2) meningkatkan disipasi sehat kekuatan di tulang belakang leher dengan upaya myofascial efisien. dan postur tubuh harus dimasukkan ke dalam latihan. tetapi harus terbatas pada 72 jam pertama setelah cedera untuk meminimalkan gangguan pada penyembuhan dan mencegah perkembangan jaringan lunak menjadi rapat. dan meningkatkan elastisitas jaringan ikat (lihat bab 21).156 Kembali beraktivitas secara bertahap harus dimulai 2 sampai 4 minggu setelah cedera. Fleksibilitas dan berbagai gerakan ditingkatkan dengan mobilisasi dan latihan peregangan. 48. Pelatihan proprioseptif kembali. dan harus mencakup program pemulihan fungsional untuk mengatasi defisit postur tubuh dan fungsi biomekanik. 21 . Proprioseptif ditingkatkan dengan menggunakan umpan balik visual selama latihan dan tugas fungsional.48 Setelah nyeri akut bertambah baik.peradangan. keseimbangan. Gerakan segmen sehat servikalis memerlukan stabilisasi efisien di seluruh tulang belakang leher dan dada.192 Stimulasi listrik saraf transkutan (TENS) juga dapat efektif dalam modulasi nyeri muskuloskeletal (lihat Bab 22).146 Soft cervical collar (Gambar 37-15) dapat diresepkan untuk meringankan kesakitan sehingga mengganggu tidur dan mengurangi ketegangan leher lebih lanjut. Hal ini harus dilakukan dengan tuntutan dinamis bersamaan dengan dukungan pasien. biomekanik tulang belakang yang tepat harus dikembalikan dengan pembentukan pola pergerakan yang tepat. Soft cervical collar dapat dipakai saat terjaga.

Servikal Radikulopati meliputi refleks dan penurunan kekuatan menjadi akar otak yang hipofungsional sebagai hasil dari perubahan patologik dalam fungsi akar otak. gangguan sensori dan penurunan refleks peregangan otot. Minnesota. Cervical soft collar dengan tepi lebar ke posterior dan menyempit ke sisi anterior.187 Riwayat 22 .000.64 Tanda dan gejala dari Servikal Radikulopati meliputi kelemahan otot. Studi epidemiologi dari 561 pasien di Rochester.64 Nyeri servikal radikuler ditandai dengan hipereksitasi dari akar otak yang terkena. SERVIKAL RADIKULOPATI DAN NYERI RADIKULER Epidemiologi Servikal Radikulopati adalah sebuah proses patologik meliputi disfungsi neurofisiologi dari akar otak.25 Membedakan antara nyeri servikal radikuler dari Servikal Radikulopati sangat penting karena strategi penatalaksanaan akan sangat tergantung dari ada atau tidak adanya dua kondisi ini.2 per 100. ditemukan insiedensi usia rata-rata yang terkena Servikal Radikulopati yaitu sebanyak 83. parestesi. Sebaliknya.187 Puncaknya terjadi pada umur 50 Dan 54 pada studi kohort.Gambar 37-15 Servikal ortosis.

259 Hipertropi dari persendian zygapophyseal dan uncovertebral menghasilkan stenosis dari foramen intervetebra dan impingement akar syaraf.74.hiperosiosis (pertumbuhan tulang yang berlebihan). Dalam kasus ini tidak Jelas apakah ada perkembangan dari pengaruh biocemikal versus biomekanikal terhadap elemen syaraf. C6.degenerasi dari disk dan atropi dari persendian zygapophyseal. Dan C5.167. 23 .259 neural kompresi pada cervikal interval disk herniation (CIDH) penyebab radikulopati pertama kali diperkenalkan oleh Semmes Dan Murphey208 pada tahun 1943.102 dengan perubahan spinal spondilitik merupakan penyebab kedua tersering (gambar 37-16).187 Patofisiologi Cedera akar syaraf servikal biasanya disebabkan oleh hernia interval disk servikal.187.142 ada pasien dengan kista servikal sendi zygapophyseal dengan penyebab radikulopati telah dirawat di Penn Spine center (gambar 37-17).166 Menifestasi dari Spondilosis servikal (atau perubahan pada osteoartritis degeneratif) yaitu berupa hipertropi ligamen.259 Osteofit badan vertebra dan material disk dapat membentuk sebuah disk keras yang dapat menyebabkan penekanan dari akar syaraf yang berdekatan.172 akar otak secara anatomis kurang resilient dari pada syaraf perifer terhadap rangsangan biomenikal dan biocemikal.240 Banyak penelitian menunjukkan peran dari respon peradangan CIDH dalam beberapa cara menyebabkan Gejala Dan tanda dari nyeri radikuler.157.20.C8.259 Walaupun kista servikal sendi zygapophyseal jarang. dan respon terhadap keduanya dengan patologi yang sama.187 Penurunan frekuensi pada C7.114.216.115 Studi pada hewan menunjukkan gangguan fisiologi pada akar syaraf disebabkan oleh tekanan yang gradual197 dan inflamasi dengan tidak adanya tekanan.152. Studi radiologi menunjukan abnormalitas dari servikal disk.trauma terjadi di bawah 15 % pasien.

cedera T1. Atropi dapat dideteksi dengan luka yang parah dan panjang. pada thenar eminence. C7.257 dan mungkin membutuhkan untuk dilakukan berulang kali atau dengan otot pada kerugian mekanik to menghilangkan kelemahan ringan. misalnya pasien menengok ke samping karena adanya herniasi disk. Hilangnya otot pada fossa suprascapular atau infrascapular atau deltoid dikarenakan keterlibatan C5 atau C6. atau C7). cedera C8. tusukan jarum dan getaran dapat 24 . posteromedial lengan (C7. Sensasi terhadap sentuhan ringan. atau T1). Kelemahan yang parah (<3/5 Medical Research Council (MRC)) hampir jarang ada dengan satu lesi akar syaraf dan seharusnya mengingatkan dokter terhadap kemungkinan adanya multilevel radikulopati. Nyeri radikuler servikal dapat berupa deep dull ache atau Sharp lacinating pain.Diagnosis Riwayat dan Pemeriksaan Fisik. penyakit syaraf motorik α.187 Tes manual otot mempunyai spesifisitas yang lebih besar dari pada refleks atau abnormalitas sensori (Tabel 373).C8. cedera pada C7. hilangnya otot pada trisep. C6. prekordium (C5 atau C6). deltoid dan lengan bagian lateral (C5 atau C6). Pasien dengan akut CIDH radikulopati biasanya mengeluhkan riwayat nyeri servikal axial yang diikuti oleh nyeri hebat pada ekstremitas atas. Itu dapat terjadi pada banyak lokasi. seperti batuk. dan dorsal pertama dari interossei.54. termasuk ujung medial skapular (C5. Mengurangi nyeri radikuler dengan mengangkat humerus ipsilateral yang dikenal dengan the shoulder abduction relief sign. Jika terdapat komponen signifikan dari stenosis muncul. ektensi servikal dapat memperkuat gejala. Kebalikannya nyeri radikuler spondilitik muncul lebih sering. posterior lengan bawah (C7 atau C8) dan jari tangan (C6. anterolateral lengan bawah (C6 atau C7).68 Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengamatan klinik dari posisi leher. C8 atau T1).225 Faktor-faktor yang menyebabkan kekambuhan meliputi aktivitas yang meningkatkan tekanan subaraknoid. bersin atau maneuver valsava. trapezius superior (C5 atau C6).64. merupakan alat yang dapat digunakan sebagau diagnosis dan dapat digunakan sebagai maneuver theurapeutic. plexopathy atau neuropati fokal peripheral.

dengan dukungan kepala Theraband chest press Mengangkat kedua lengan bilateral Duduk Supported dying bug Mengangkat lengan resiprokal Swiss ball reciprocal Mengangkat lengan Unsupported dying bug Chest flies Bench press Icline Dumbbell press Swiss ball bilateral Mengangkat bahu Level stabilisasi Servikothorak Level 1 (Dasar) Level 2 (Intermediate) Level 3 (Advance) Cervical active range of Gravitasi servikal Aktif servikal motion Isometrik servikal Perlawanan isometrik Perlawanan gravitasi range 25 .231 ekstensi servikal. dapat membantu mendeteksi nyeri radikuler. sangat spesifik tapi tidak sensitive terhadap radikulopati servikal.246 Ketegangan akar syaraf.disesuaikan.13526 fleksi servikal secara cepat ketika pasien duduk. rotasi aksial servikal lateral pada waktu yang sama dengan abduksi/ekstensi ipsilateral glenohumeral dengan siku dan ekstensi pergelangan tangan. dapat menghasilkan sensasi shok elektrik dibawah spina dan kadang-kadang ke ekstremitas dimana servikal kordnya terlibat sebagai akibat dari adanya tumor.176 Tabel 37-2 Latihan Stabilisasi Servikothorak Tipe latihan Stabilisasi servikal langsung Latihan stabilisasi servikal tidak langsung Supinasi. Maneuver Spurling. Jika pada pemeriksaan ini ditemukan nyeri radikuler. Manuver provokatif seperti penutupan neuroforaminal dan root tension sign membantu unutk melokalisasi lesi spina servikalis. Studi sistematik membandingkan kegunaan dua maneuver pemeriksaan belum ada yang dipublikasi.195 dan seharusnya dilakukan bilateral untuk memastikan tidak adanya gejala kontralateral. Tanda L’hermitte. spondilosis atau multiple sklerosis. dapat diasumsikan ketegangan syaraf dapat diprovokasi sebagai akibat dari inflamasi akar syaraf. Ketegangan syaraf yang disebabakan nyeri radikuler mungkin lebih sensitif dari pada maneuver spurling tapi kurang spesifik. fleksi lateral dan rotasi servikal aksial menghasilkan gejala radikuler. Pasien seharusnya diperiksa kemungkinan adanya tanda Hoffman dan refleks babinski to memastikan bahwa tidak adanya spinal cord yang terlibat.

head unsupported Tidak dianjurkan untuk Parsial sit-up level 1 Mengangkat lengan Swiss ball chest flies Swiss ball reciprocal 26 .Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lengan Bilateral Seated row Berdiri Latissimus pull-down Theraband reciprocal Menekan dada Theraband straight arm latissimus pull-down Theraband chest press Theraband pull-down Standing rowing Crossovers Menekan tricep latissimus Menekan dada Mengangkat suprasinatus Standing rowing Biceps pull-down Upright row Mengangkat bahu Mengangkat suprasinatus Flexed positions hip-hinge 0-30 derajat Mengangkat lengan resiprokal Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lenganbilateral 30-60 derajat Incline prone flies Mengangkat resiprokal Cable crossovers 60-90 derajat Bilateral anterior deltoid Mengangakat deltoid Intracapular flies Telungkup Intrascapular flies Mengangkat lengan Quadruped resiprokal Mengangkat unilateral Mengangkat bilateral lengan Head unsupport Head supported Prone flies Latissimus flies deltoid lengan Swiss ball bilateral Mengangkat anterior Swiss ball prone Rowing Swiss ball prone flies Telentang.

Prentice C. et al. Studi Pencitraan Walaupun poto polos servikal tidak terlalu sensitif dalam mendeteksi patologi pada diskus. Cervicothoracic muscular stabilizing technique.163 tumor tulang.64 spondylostheais. kebanyakan klinisi melakukan peningkatan CT dalam mengevaluasi osseous dengan detail seperti pada foraminal stenosis. lateral. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360.163 Poto polos anteroposterior. setelah penyatuan. 1990. atau akibat trauma. dan fraktur.From Sweeney T.112 27 . C Aksial computed tomography memperlihatkan segmental level C3-4. open mouth. menunjukkan sedang sampai berat C4 foraminal kiri stenosis disebabkan oleh arthrosis sendi zygapophyseal dan hipertrofi sendi uncovertebral. dan fleksi dan ekstensi merupakan indikasi dalam mengevaluasi stabilitas spinal dalam kasus rematoid artritis atau ankylosing spondilitis. namun pemeriksaan radiografi tetap merupakan pemeriksaan yang utama digunakan pada hampir setiap pemeriksaan pada cedera muskeloskeletal. with permission of Hanley & Belfus Gambar 37-16 Aksial (A) dan sagital (B) Magnetik resonance image memperlihatkan sisi kanan C5-6 ekstrusi intervetebral disk.196 Bagaimanapun. Saal JA.163 CT (computed tomographic) myelography merupakan kriteria standar terhadap pilihan pencitraan lain yang harus ditentukan dalam menilai penyakit nyeri servikal degeneratif.

Pasien dengan tambahan benda metalik dalam tubuhnya. seperti pacemakers atau katup jantung prostetic tidak dapat menjalani pemeriksaan MRI. dan saraf perifer.157. ligamen. apabila dilakukan oleh dokter yang terlatih dengan 28 .112. Walaupun sering digunakan dalam pemeriksaan imaging/radiologis.164 MRI tergolong noninvasif dan tidak memaparkan pancaran radio pada pasien. (lihat bagian 7).sendi T1 MRI merupakan pilihan bantuan imaging dalam menginvestigasi servikal radikulopati.93. dan jaringan meural.150 karena pemeriksaan MRI menghasilkan gambaran dengan baik dan detail pada diskus. membutuhkan kerjasama pasien untuk mengurangi aryifact.152.240 temuan klinis harus berhubungan dengan temuan radiologis untuk memastikan diagnosis lesi sesuai dengan tanda dan gejala pada pasien. menunjukkan gambaran kista sendi zygagophyseal (ditunjuk dengan tanda hitam) emanating dari bagian kanan C7 .Gambar 37-17 penampang aksial diskus intrvertebral C7-T1. namun MRI tergolong mahal.20. Penambahan kontras pada CT dapat secara akurat menilai kelainan patologi diskus163 pada kasus ini. osseous. Pemeriksaan elektrodiagnostik. Dikarenakan abnomalitas diskus servikal intervertebra timbul pada pasien secara asimptomatis. plexus. Evaluasi elektrodiagnostik Penelitian mengenai saraf konduksi dan elektromiografi dapat digunakan untuk menilai fungsi neurofisiologi dari serabut saraf. dan sering tidak dapat ditoleransi oleh pasien yang pobia terhadap ruangan tertutup atau claustrophobia.

C6 C7 Saraf Axilla Musculocutaneous Suprascapular Suprascapular Radial Otot Deltoid Bisep brachii Supraspinatus Infraapinatus Triceps 29 . saraf perifer.108 Tabel 37-3 tingkatan serabut saraf. Pemeriksaan elektrodiagnositik juga membantu dalam menentukan prognosis dan keruksaan dari saraf.252 Setidaknya sebuah penelitian mengenai hubungan saraf motorik dan sensorik saraf konduksi harus dilakukan dalam keterlibatannya terhadap tungkai untuk memastikan ketidakterlibatan pleksus yang seiring atau suatu proses perifer. maka hubungan otot kontralateral dan saraf harus dinilai untuk menyingkirkan suatu proses umum seperti neuropati perifer atau penyakit motor neuron. C6 C5. C6 C5.57 Penelitian ini dapat secara efektif menyingkirkan diagnosis lain seperti lesi pleksus brakial (seperti Tumor Pancoast atau Sindrom Parsonage-Turner) dan penjepitan saraf perifer setempat (seperti carpal tunnel syndrome dan penjepitan saraf ulnaris pada bagian siku atau pergelangan tangan). perbaikan fungsi motorik mungkin akan dapat kembali dengan perawatan konservatif dan penelitian dapat diulang kembali untuk mendokumentasikan penyembuhan neurofisiologis (lihat Bagian 9 hingga 11).baik. maka akan dapat mengklasifikasi atau memastikan suatu diagnosis dugaan. menunjukkan bahwa temuan yang normal pada otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang berdekatan. Apabila abnormalitas ditemukan. The American Association of Neuromuscular and Electrodiagnostic Medicine digunakan sebagai penuntun dalam pemeriksaan elektrodignostik untuk radikulopati. Pemeriksaan skrining dari enam otot tungkai atas sebagai tambahan untuk cervical paraspinal dapat mengidentifikasi 94% hingga 99% dari servikal radikulopati. dan otot ekstrmitas atas yang dievaluasi pada pasien dengan nyeri Tingkatan serabut saraf C5. termasuk abnormalitas pada dua atau lebih otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang sama namun dengan saraf perifer yang berbeda. Apabila amplitudo dari otot yang terkena terdiri dari potensial aksi otot maka dapat menurunkan kurang dari 50% dari tungkai kontralateral (gambar 37-18).

Penjelasan ini 30 . modifikasi aktivitas.87.199. level kebutuhan pasien setelah perawatan fungsional dapat membantu menunjukkan seberapa agresif untuk diintervensi. mungkin tidak menginginkan gejala yang dapat timbul kembali akibat aktivitas fisik yang berat.64.217 Pendekatan terhadap tatalaksana harus ditentukan berdasarkan masing-masing individual pasien. Indikasi utama pembedahan adalah defisit neurologis yang progresif. Pada atlit sebaliknya. mengumpulkan bukti pendukung perbaikan naturall dari gejala radiks servikal dengan perawatan konservatif. pada pasien yang cenderung tidak banyak kegiatan fisik mungkin akan memutuskan untuk mentoleransi sedikit ketidaknyamanan setelah perawatan konservatif. dan pada komunitasnya. menghindari komplikasi spinal cord. Tatalaksana Pengobatan Fisik dan Rehabilitasi Tatalaksana objektif yang utama dari radikulopati servikal adalah adanya perubahan dari nyeri. Sebagai contoh. peningkatan pada kelemahan myotomal.Median C8. Pola rencana pengobatan harus mempertimbangkan begaimana keadaan suatu individu saat di rumah.254 dan mencegah terjadinya rekurensi. MODALITIES Edukasi pasien. dengan sedikit mengalami peningkatan durasi.254 Terlepas dari beberapa penelitian yang membandingkan pembedahan sebagai pengobatan rehabilitasi dan perawatan konservatif. Jika tidak. di kantor. T1 Median Ulnar Pronator teres Abductor polllucia brevis Dorsal interosssei pertama Gambar 37-18 Layar gelombang Oscilloscope dari kedua bagian potensial aksi amlitudo otot abduktor policis brevis (CMAP). dan mengurangi rasa sakit adalah tahapan terapi awal.53. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai mekanisme bagaimana injuri itu terjadi dan kemungkinan hasil dari terapinya. Gelombang pada bagian bawah menggambarkan penurunan 65% dari amplitudo CMAP dari otot kontralateral. Gelombang bagian atas yang meninggi menunjukkan bemtuk gelombang yang sehat dengan amplitudo dan durasi yang normal.

TENS dipercayai beraksi via teori gate.132 Modalitas deep heating seperti ultrasound seharusnya dihindari pada terapi servikal radikulopati. 134. Nyeri yang berat dapat mengganggu pekerjaan dan aktivitas atletik dan juga retriksi dari aktivitas seharihari.134.254 segmen yang lebih sempit harus diposisikan anterior untuk 31 . Cervical orthisis berfungsi untuk membatasi nyeri ROM dan memfasilitasi kenyamanan pasien saat fase akut injuri.159 Meskipun TENS telah memperlihatkan beberapa pengurangan nyeri pada low back pain. dan evaluasi ergonomik utilitas.254 Mengangkat beban berat dan berulang harus dihindari begitu juga dengan ekstensi cervical spine. Ini dapat digunakan pada awal terapi servikal radikulopati untuk membantu midulasi nyeri dan memudahkan pasien untuk mendapat modalitas terapi lainnya. Stimulasi saraf bermielin besar danmemblokir transmisi nociceptive pada saraf yang lebih kecil pada level neuron traktus sphinothalamikus.161 Tidak ada panduan definitif yang dipublikasikan berkaitan dengan peranan modalitas thermal pada cervical radikulopati.seharusnya ditekankan pada bagaimana pentingnya postur tubuh yang benar. Karena peningkatan respon metabolisme dan inflamasi dapat memperparah nerve root injury. biomekanik.rotasi axial dan flexi ipsilateral.191 dingin dapat di aplikasikan 15-30 menit 1-4 kali sehari dan panas superficial dapat diaplikasikan sampai 30 menit 2-3 kali sehari.229 tetapi tidak ada penelitian yang mempublikasikan mengenai evidens dari penggunaan alat ini pada nyeri servikal radikulopati. Termoterapi sering digunakan untuk modulasi nyeri dan meningkatkan relaksasi otot. Keputusan mengenai bahan panas apa yang diberikan tergantung dari persepsi pasien bahan apa yang memberikan pengurangan rasa nyeri yang terbaik. dan digunakan sebagai pengingat posisi servikal yang benar. Gejala yang ringan hingga sedang biasanya masih dapat ditoleransi oleh pasien.191 TENS sangat bermanfaat dalam manajemen sebagian besar gangguan muskuloskeletal dan neurogenik.191 Soft cervical collar membatasi flexi dan ekstensi kurang lebih 26%.

pijat dan TENS dapat dipergunakan sebelum dan selama traksi untuk mengurangi nyeri dan membantu relaksasi otot. meskipun kurangnya efikasi yang terbukti.64. tetapi dengan toleransi gastrointestinal yang lebih baik dan efek plateletnya lebih kecil. L’hermmite’s sign positif.74. Pada dosis rendah.115 NSAID merupakan intervensi farmakologik first line untuk mengobati servikal radikulopati.47 Traksi dikontraindikasikan pada pasien dengan myelopathy.199. Agen antiinflamasi yang memiliki target pada Cyclooxygenase-2 pathway memeiliki efek analgesik dan antiinflamasi yang sama dengan non-selektif NSAID.254 Hal ini diduga bekerja melalui dekompresi dari soft tissue servikal dan intervertebral disk.Penggunaan soft collar harus dibatasi untuk minggu pertama atau kedua dari gejala.127 untuk meminimalkan adverse outcomes yang berkaitan dengan deconditioning soft tissuelebih lanjut. dan karena injeksi spinal diagnostik 32 . 54. inhibisi platelet dan fungsi ginjal.254 Pengecualian ini meliputipasien dengan L’hermitte’s sign positif dan yang menderita rheumatoid arthritis atau atlantoaxial subluksasi.114.47. Ini biasanya sering digunakan pada pasien dengan servikal radikulopati. obat ini memiliki efek analgesik dan pada dosis tinggi memiliki efek antiinflamasi. atau atlantoaxial subluxation.64.Efeks samping berkaitan dengan penggunaan NSAID berkaitan dengan iritasi mukosa gastrointestinal.mempertahankan leher pada posisi netral atau sedikit fleksi. Traksi servikal mengaplikasikan sebuah distrktif force menyebrangi servikal intervertebral disk space.47 Medikasi Peran untuk medikasi antiinflamasi secara logis pada evidensi komponen antiinflamasi dengan CIDH berkaitan.47 Sebuah beban 25 lb diperlukan untuk distract segmen midservikal selama 25 menit pada sudut 24 derajat.85 Karena alasan ini agen yang lebih baru ini lebih disukai dibandingkan dengan NSAID tradisional untuk pasien servikal radikulopati.46. 46 Traksi servikal dapat juga dilakukan dengan beban berat yang intermiten atau beban ringan yang terus menerus pada regimen terapi di gym ataupun di rumah. rheumathoid arthritis.236 Superficial heat.

Disis terapetik bervariasi antara 300-900 mg/hari dapat mencapai 3600 mg. 300 mg waktu tidur dan dititrasi sampai gejala terkontrol atau samapai adanya efeksamping. Efek samping yang paling sering adalah letargi. dapat bermanfaat untuk menurunkan nyeri radikular dan untuk menyebabkan tidur. kelelahan. dan mulut kering. Pilihan lain meliputi tiagabine(gabitril). Karena ini direkomendasikan untuk dimulai pada dosis rendah. Pasien diharuskan berolahraga pada pemberian celecoxib dosis tinggi pada periode tertentu karena adanya peningkatan risiko kardiovaskular (National Cancer Institute Adenoma Pervention with Celecoxib Trial) Medikasi tambahan sering diberikan pada konjungsi dengan medikasi antiinflamasi dan meliputi obat-obat relaksan otot. antidepresi trisiklik. zonisamide(zonegran) dan oxcarbazepine(trileptal). retensi urin.hari. pregabalin (lyrica) merupakan pilihan yang tidak mengganggu metabolisme hati. Namun penemuan terbaru menyarankan untuk berhati-hati pada penggunaan celecoxib. Kami memberikan obat antiepilepsi untuk pasien dengan nyeri radikular post. pusing dan konstipasi. sperti mulut kering.64 Efek samping yang berkaitan sebagian besar adalak efek antikolonergik. Obat yang terbaru.operative yang persisten atau pasien yang tidak bisa di operasi tetapi gagal dengan intervensi obat lain. Obat ini dapat digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena nyeri defans muskular selama 5-7 hari. dan antiepilapsi. 33 . Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin atau nortriptilin di resepkan dengan dosis 10-25 mg pada saat waktu tidur.dan terapetik dapat dilaakukan tanpa menginterupsi pengobatan ini. Analgesik opiat dapat berguna pada saat nyeri radikular sangat berat dan mengganggu tidur. Obat antiepilepsi seperti gabapentin sangat efektif pada modulasi nyeri neuropati. Relaksan otot merupakan sedatif dan efek sekundernya berupa relaksasi otot skeletal. Medikasi opiat tidak boleh diberikan setelah fase akut dan intervensi lain harus dimaksimalkan sebelum diubah pada penggunaan opioid jangka panjang. ataxia. Kombinasi short-acting Opiod dan analgesik dapat diberikan untuk memfasilitasi pola tidur restorative dengan mengontrol nyeri radikular ( kadang-kadang dikonjungsi dengan penggunaan soft sevikal collar).

Pembedahan Indikasi untuk pembedahan untuk pengobatan CIDH-spondylotic-yang berhubungan dengan cervical radiculopathy meliputi nyeri pada daerah kepala. Nyeri Sendi Servikal Epidemiologi Prevalensi dari sendi facet servikal-disertai nyeri pada pasien dengan keluahan nyeri leher dengan berkisar 36% sampai 60%.26.76. atau berkembang menjadi myelopati. 4. kekuatan dan sensasi daripada saat perawatan konservatif. traumatic sendi servikal zygapophyseal-disertai nyeri leher dipekirakan prevalensinya sekitar 54% sampai 64%. dimulai dengan mengukur konservatif antiinflamatory. yaitu C2-3 (36%).90.149.141 Rasa nyeri pada sendi servikal zygapophyseal sering ditemukan dengan gejala invertebal disk di level yang sama. diikuti C5-6(35%) dan C6-7 (17%).141 Prevalensi 34 . C3-4 dan C4-5 ditemukan keluhan hanya kurang dari 5% dari keseluruhan kasus Pasien dengan nyeri sendi facet servikal. Hasil dari penelitian pada pembedahan ini menujukan hasil yang baik atau memuaskan dari 80% sampai 96% dari para pasien. kemudian menjadi minimal intervensi invasif dan akhirnyadekompresi pembedahan terbuka jika diperlukan. 202 Tujuannya dalah untuk memodulasi keefektifan dan meningkatkan respon alami tubuh terhadap CIDH. deficit myotomal yang parah (progresif atau stabil).26 pada pasien dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal.15.122 tiga bulan setelah tindakan pembedahan.140. ditentukan dengan diagnostic control.141.228 Gejala yang paling sering muncul. 49 Demikian pula pada sendi servikal zygapophyseal bersumber dari nyeri leher setelah trauma kronis. dicapai hasil lebih cepat perbaikan pada nyeri radicular. ( gambar 3720) atau foraminotomi posterior.15. 52% hanyan mempunyai 1 keluhan sendi dan jarang lebih dari dua gejala sendi berturut-turut. 58% sampai 88% mengeluh dengan sakit kepala. seperti disketomi anterior cervical dan fusion.179 Perbedaan lamanya waktu perbaikan antara konservatif dan pembedahan mendekati kurang lebih 1 tahun. Sendi pada C1-2.9 Kronis. 179 Penggantian dari disk artificial cervical berbeda dengan disketomi cervical anterior dan fusion. 15.

Para dokter harus mencurigai sudah terjadi cedera sendi zygapophyseal ketika pasien dapat menentukan titik nyeri dengan nyeri yang sangat hebat atau dapat menetapkan area nyeri yang dimana area tersebut termasuk penjalaran persarafan sendi zygapophyseal. plexopati.15. riwayar klinis tidak dapat menentukan pathognomonic yang dapat membedakan dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal akibat trauma dari sumber axial nyeri leher.111 Peningkaan 35 . Nyeri tekan pada palpasi posterolateral disekeliling sendi yang juga mendukung terjadinya nyeri sendi zygapophyseal.dari nyeri sendi servikal zygapophyseal pada C2-3 diperkirakan 50-53% pada pasien dengan keluhan utama nyeri kepala pada posterior setelah cedera seperti dicambuk. Rincian dari kejadian meliputi posisi leher pada saat kejadian.140. dapat diprediksi dari struktur bagian yang paling banyak cedera. Diagnosis Riwayat dan Pemeriksan Fisik Pada penderita yang mengalami cedera whisplash harus dilakukan pemeriksaan secara detail dan lengkap. Nyeri leher unilateral paramidline dengan atau anpa gejala perascupular yang menunjukan rasa lebih nyeri dibandingkan sakit kepala.141 Lebih dari satu struktur dapat cedera pada nyeri sendi servikal zygapophyseal yang disebabkan oleh trauma.28 Dalam pengalaman kami.26. Bagaimanapun juga.216 Nyeri sendi servikal zygapophyseal secara spontan (nontraumatik) biasanya mempengaruhi 1 sendi dan dapat menyebabkan spondilosis dan biomekanika yang salah. atau cedera otak karena trauma. Dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme terjadinya cedera dan kecuali pada cedera spinal cord. diperkirakan lebih nyeri pada sendi servikal zygapophyseal daripada diskus atau cedera pada akar. Pada pemeriksaan fisik harus juga menilai fungsi neurologi dan ROM servikal.141 Nyeri pada servikal bawah yang disebabkan oleh trauma sendi servikal zygapophyseal banyak ditemukan pada level C5-6. nyeri sendi servikal zygapophyseal bagian atas termasuk sendi C2-3 lebih banyak dengan gambaran klinis sakit kepala unilateral pada occipital dibandikngkan nyeri leher.

Meskipun terapi panas pada permukaan dapat menyebabkan efek analgesic dan relaksasi otot. Jika nyeri tidak berkurang dengan pengobatan ini. pengobatan terfokus pada analgesia dan antiinflamasi.239 Pencitraan nuclear mungkin menunjukan peningkatan ambilan radiotracer jika terjadi abnormalitas pada sendi servikal zygapophyseal. Cedera jaringan lunak lebih banyak tidak terdeteksi dengan pemeriksaan lebih canggih. Superficial cryotherapy. dan dapat menggunakan opiate untuk membantu meredakan nyeri. Modalitas fisik seharusnya digunakan pada fase akut dari cedera untuk mengurangi nyeri dan inflamasi. tapi tidak dapat membedakan antara simtomatik dan kelainan asimtomatik. opiate dapat diberikan dalam jangka waktu yang singkat untuk memulihkan pola tidur dan pemulihan fungsional tubuh. namun CT Scan lebih jelas dalam menggambarkan terjadinya fraktur sendi.32. Cryotherapy biasanya diterapkan selama 20 menit tiga sampai empat kali sehari untuk vasokonstriksi dan menurunkan rasa nyeri dan 36 . Pemeriksaan Pencitraan Subluksasi sendi servikal zygapophyseal dapat terdeteksi pada pemeriksaan radiografi dan CT Scan.nyeri subocipital atau tereksaserbasi pada fleksi cervical 45 derajat dan rotasi axial dapat memunculkan nyeri pada sendi C1-2. 59 Meskipun hanya baru berupa dugaan dari investigasi hasil yang ditemukan dari pemeriksaan fisik namun dapat menjadi diagnostic dari nyeri sendi servikal zygapophyseal. seperti menggunakan terapi es lebih efektif dibandingkan terapi panas dalam analgesic dan antiinflamatori. Pengobatan Pengobatan Medis Dan Rehabilitasi Selama fase akut dari cedera. NSAID diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri dan inflamasi. tapi efek metabolik dar terapi panas tersebut menghalangi pengobatan cedera sendi servikal zygapophyseal akut. Ini artinya pencitraan terbatas dalam menentukan sumber dari nyeri tersebut.

panjangnya jaringan lunakdan deficit biomekanik dan menguantnya otot spinal. Transisi fase ini berawal dari berkurangnya nyeri akibat cedera akut.mediator inflamatori. meningkatkan fungsi dan mencegah terjadinya cedera.235 Bagian 37 . Fase pemulihan meliputi stabilisasi dan pengembalian fungsional menjadi ROM yang normal. kondisi fisik. baik konsekuensi psikologis dan samping gangguan fisik (E. tapi bukan pengobatan yang utama. organ. terhadap pasien secara juga dari cedera yang Rehabilitasi dalam dialaminya. Pemulihan pergerakan servikal tulang belakang membantu mencapai postur yang seimbang pada penurunan ketegangan akibat cedera sendi. kekuatan. personal communicaion. mengedukasi kembali postur dan kekuatan. Johnson.133 Mobilisasi dan pemijatan dapat membantu otot yang putus dan jaringan lunak juga disertai dengan pembidaian. 2002). lebih dari 72 jam setelah cedera pertama. Stabilisasi dan memerlukan pendekatan menangani pemulihan fungsional.W. semua hal tersebut dapat menurunkan rasa nyeri. dan sakit. Columbus. Hal ini digunakan untuk memberikan rasa nyaman terutama pada saat tidur. semua itu diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan mencegah kambuhnya cedera. Edukasi pada pasien tentang posisi menopang untuk menghindari faktor yang merugikan serta dengan pemberian analgesic dan antiinflamasi. memaksimalkan fungsi dan mencegah integral pemulihan fungsional digunakan untuk membatasi rasa perkembangan cedera dari stabilisasi meliputi cedra. Menstabilisasi fleksibilitas cervicothorakal.235 kemampuan prorioseptif dapat diaplikasikan selama exercises penguatan hingga tercapainya tujuan yang diinginkan. Restorasi fungsional termasuk biomekanik. Soft servikal collar dapat rusak pada jangka waktu yang pendek. Stabilisasi cervicothoracic adalah dari biomekanik tulang atau kekambuhan dari belakang. di dan latihan 48 Setelah pasien selesai latihan perawatan dirumah. mobilitas dan kekuatan.48. selanjutnya adalah program menjaga keseluruhan.

belakang atau dan postur teknik mobilisasi peregangan tubuh yang benar.48 otot fleksor lateral.48 Pasien melakukan latihan isotonik konsentris. dan kemudian maju dengan kegiatan yang dinamis dan fungsional. pengurangan postural. rhomboid. pada girdle bahu dan ekstremitas atas. Salah satu tujuan utama dari program latihan adalah meningkatkan keseimbangan otot dan fleksibilitas dari kelompok otot cervicothoracic dan capital muscle group.48 Kinetika scapulothoracic yang tepat dan sambungan glenohumeral memungkinkan gerakan mekanis postur tulang belakang yang efisien. menghindari gerakan gabungan kecuali gerakan yang diregangkan atau melemah sebagai buruk yang ditargetkan selama fase ini. dan jaringan lunak membentuk interval bebas Setiap pembatasan jangkauan merupakan kemudian menambahkan gerakan progresif di luar kisaran ini sampai gejala mereda. serratus muscles harus diperkuat. Latihan terlentang dan dengan ke posisi duduk dan berdiri. pertama dalam posisi dan dikembangkan cemara untuk dengan latihan isometrik dari yang dilakukan progresiv Otot-otot yang kemudian berkembang hati-hati dan tanpa akibat rasa sikap sakit.48 Perhatian juga diberikan mengganggu stabilisasi anterior.pemulihan fleksibilitas tulang belakang. serta disipasi energi yang efisien oleh anggota badan bagian atas selama aktivitas fungsional. Program jangkauan nyeri gerak ditulang stabilisasi dimulai dengan gerak serviks.36 Pasien harus diajarkan bagaimana mengontrol aktivitas seluruh gerakan kinetik tubuh. Radiculopathies serviks menengah ke atas dengan kelemahan myotomal dapat scapulothoracic dan dan rotator cuff glenohumeral. ekstensor. rotator. tubuh posisi statis. Kontrol neuromuskular Peningkatan Penguatan serviks dimulai fleksor. Trapezius. Intervensi tulang belakang physiatry. 38 . dan kondisi tubuh. Kisaran normal gerak dan postur tubuh yang baik sangat penting untuk mencegah microtrauma berulang-ulang untuk struktur serviks disebabkan oleh pola pergerakan sedikit. Intervensi Physiatry spine adalah subspesialisasi relatif muda dan berkembang dalam bidang physiatry.

216 untuk berkisar 100%. cedera pengalaman klinis memerlukan penyakit berbasis belakang mengandalkan pendekatan berbasis yang luas. diagnosis saraf diagnostik fluoroscopically langkah berikutnya dalam tingkat segmental yang dicurigai (Figure 37-19). dan spesifitas dan sensitivitas diagnostik lumbal SNRBs erat dgn nilai-nilai untuk rekan- rekan serviks mereka. yang merupakan kombinasi dari obat-obatan berdasarkan pendekatan perawatan jaringan gejala berorientasi medis. akar saraf Jika pencitraan mengungkapkan lesi struktural pada yang menguatkan temuan pemeriksaan menegaskan kecurigaan klinis. jika pemeriksaan root blok negatif.Lingkup subspesialisasi ini mengobati gangguan melibatkan ketepatan tulang belakang yang penggunaan rasa kebijaksanaan. Diagnosis SNRB merupakan sebuah tes diagnostic fingsional. gambar panduan prosedur tulang belakang untuk mendiagnosa dan menyakitkan.6 nilai Pada spesifisitas diagnostik dari SNRBs serviks telah menjadi 100%. sensitivitas dan spesifisitas dari diagnostik serviks SNRBs. karena pengertian dan sikap kooperatif pasien merupakan hal yang sangat penting dalam memperoleh hasil yang akurat dan informasi diagnostik yang valid. blok dan akar tingkat evaluasi dipercepat. saraf. kita harus mengeksplorasinya dari data lumbar (lihat chapter 25).202 Karenanya kekurangan dalam konfigurasi metode investigasi. studi elektrodiagnostik adalah samar-samar dalam sering dapat diklarifikasi dengan dipandu selektif (SNRB) di MRI. dari 87% observasi nilai fisik dan pengaturan abnormalitas intervensi terapi dapat elektrodiagnostik Namun.6. Intervensi Physiatrists tulang bukti dan belakang.119 dan disarankan kepekaan telah terbukti yang diamati untuk miror Pemanfaatan SNRBs lumbal diagnostik telah dieksplorasi dalam literatur. 39 . Spesialis intervensi perawatan tulang pasien dalam kerangka model atau medis bukan model pengetahuan algoritmik. Jika blok diagnostik adalah algoritma diagnostik harus diselidiki. Diagnosis selektif fisik.

Didalam profil pasien ini.199.199 dibandingkan dengan perubahan spondylotic. mencakup diatas 2 sampai 4 SNRIs didalam 14%222 dan 20%220 dari kasus. 199. Heckmann et al. Riwayat natural dari radiculopathy dikarenakan oleh CIDH atau spondylosis yang merupakan sebuah resulusi berangsur dari berbagai gejala dengan perawatan konservasi dalam 65% sampai 83% pasien.222 ”Whiplash”-menyebabkan nyeri cervical radicular tidak ditemukan dalam concomitant foraminal stenosis. dan pengurangan yang sama dalam menghindari oprasi. dan nyeri traumatic spondilotic cervical radicular dan mereka sukses diobati dengan perawatan konservatif.220.Terapi selektif injeksi akar saraf. Meskipun terdapat kekhawatiran tentang keselamatan serviks SNRIs.222 mencakup petunjuk fluoroscopically cervical epidural atau selektif injeksi akar saraf (SNRIs) dengan kortikosteroid.243 Kebanyakan hasil yang sukses diperoleh dihadapan CIDH 35.187.221.35.27 mereka invasif telah terbukti aman yang valid untuk dan menawarkan intervensi.53.53. Ini menyuntikkan kortikosteroid dekat ke antarmuka disk-akar 40 . 10 % dikarenakan oleh spondylosis) meningkat secara signifikan dengan perawatan konservatif dimana tidak memerlukan injeksi spinal. gejala radikuler nontraumatic serviks.17. bila dilakukan dengan benar. trauma menyebabkan cervical radiculopaty dan menandakan diagnosis yang jelek. 87.222 Baru-baru ini.17.125.222 Walaupun demikian. 87 199.199. Tujuan dari SNRI adalah memodulasi respon terhadap CIDH dengan saraf. injeksi anastesi lokal menunjukkan efikasi yang setara dengan gabungan anasthetik dan kortikosteroid.221. karena mungkin kurang dari 20% pasien akan merespon suntikan lebih lanjut. maka injeksi lebih lanjut mungkin tidak diperlukan.35. jika SNRI awal tidak ada perbaikan dalam nyeri radikuler. dua dari studi ini.220.243 Tidak mengherankan.221.104 untuk pengobatan minimal inflamasi mengobati nyeri.53. dengan interval follow-up dari 6 sampai 21 bulan.243 Kesempurnaan hasil berkisar antara 50% sampai 83%.53. Beberapa studi telah melakukan penelitian kegunaan terapi cervical SNRIs untuk mengobati cervical radiculopathy setelah kegagalan dari terapi konservatif. Observasi retsospektif menunjukkan bahwa 65% sampai 60 pasien dengan cervical radiculopathy (90% dikarenakan CIDH. 17.

91% sampai 95% dari 21 pasien ini rata-rata menunjukkan penurunan sebesar 83% dari level nyeri mereka.123.95. Sebagian kasus akhirnya karena volume herniasi akan diskus membutuhkan decompession persistent invertebral. Dalam kurun waktu 6 bulan.211 atau tak ditentukan. atau keduanya. Percutaneous diskectomy dan/atau decompresi diskus.95. Berbagai teknologi telah digunakan untuk menyelesaikan decompresi cervical intervertebral disk.217 nukleoplasti di kombinasikan dengan SNRI untuk pengobatan biomechanical dan biochemical dikarenakan keterkaitan CIDH nyeri cervical radicular yang tidak merespon dengan terapi konservatif.dimaksudkan untuk mengontrol nyeri dan untuk memulai proses penyembuhan akar saraf.89. 6 sampai 12 bulan pertama dan menunjukkan penurunan 41 . Tidak terdapat komplikasi mayor yang dihadapi dan prosedur harus dilakukan dengan sedasi intravena yang ringan pada pasien tersebut.41. dan telah di nilai terapi bedah yang semestinya diberikan. enzimatik. atau keduanya. 209 Baru-baru ini didalam sebuah studi di sebuah Penn Soine Center.217 Dalam kurun waktu 12 bulan. dengan angka penurunan terbesar terjadi dalam 2 minggu pertama. Ditemukan bukti untuk memperkuat subsequent studies dari nukeloplasti tanpa SNRI yang mana 81% sampai 85% dari pasien menunjukkan hasil yang memuaskan.95 Dua studi dengan dengan data hasil terpanjang menunjukkan hasil yang berbeda dan termasuk studi kohort heterogen.211.83. Teknologi ini baru saja berkembang dan diaplikasikan untuk tulang belakang. laser. Interval follow up relatif singkat 83. sedangkan herniasi disk yang intervertebralis yang telah mengalami resorbs. 17 sampai 21 memeiliki hasil yang baik dan sempurna. menjadi jaringan inert. kelanjutan dari respon inflamasi. Pasien menunjukkan pengaruh CIDH tanpa stenosis dan persistent radicular pain. Percutaneous diskectomy telah diteliti sebagai alternatif non operasi untuk mengobati persistent cervical radiculopathy yang disebabkan oleh fokus hernisi yang nyata. Nucleoplasty merupakan sebuah teknologi yang menggunakan energy cobalt untuk menguapkan jaringan nuclear menjadi molekul gas. dekompresi mekanik 41.Harus dicatat bahwa setiap 21 pasien didalam penelitian kohort ini harus dipertimbangkan pasien yang akan dibedah oleh fellowship-trained bedah tulang belakang.

6.yang signifikan pada radicular pain. Gambar 37-19 Gambar Fluoroscopic dari diagnosis blok akar saraf selektif C6 42 . dan 12 bulan setelah nukleoplasti dibandingkan dengan TENS. tanpa komplikasi.31 136 Baru-baru ini secara acak dicoba terhadap 115 pasien menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap nyerinya dan ketidakmampuan pada 3. 39 Diskectomi perkutan dengan teknologi kobalasi digabungkan dengan/atau tanpa SNRI dapat menyelamatkan dan efektif dalam meredakan nyeri servikal radikular dikarenakan oleh protrusi diskus inverterbralis yang diperkuat. analgesic dan / atau NSAIDs. physical terapi.

1994. dan bone graft sudah ditempatkan di intervertebral Donor tulang tersebut menyebabkan peningkatan dari tinggi diskus. oleh karena itu foramen menjadi terbuka dan terjadi fusi ( Redrawn from an HS.Diagnosa yang akurat untuk memaksimalkan pengobatan jika nyeri yang dirasakan pasien sudah pada tahp sedang atau berat akan memetap selama perjalanan panyakit ini. Diskus yang bermasalah telah dibuang. Martin Dunnitz with permission. Simpson JM: Surgery of the cervical spain. tepat yang dengan target- Diagnosa Penyakit Sendi Zygapophyseal dengan Metode Blok Struktur anatomi dan pola dari struktur vertebra yang saling berdekatan dan bertumpang tindih mengharuskan penggunaan fluroskop untuk membimbing penggunaan diagnosa penyakit sendi dengan metode blok unuk melihat apakah 43 .) Intervensi Psikiatrik Tulang Belakang Riwayat perjalanan whiplash yang diinduksi sebagai nyeri leher dengan pemulihan bertahap pada kebanyakan pasien.Gambar 37-20 Servikal disketomi anterior dan gabungan penggunaan teknik SmithRobinson..Penentuan sendi menyebabkan gejala memerlukan penggunaan teliti fluroskopi spesifik suntikan. London.

sendi tersebut yang menjadi sumber sakit.Jika suntikan medial. rasa sakit pasien akan reda. intraartikuler kortikosteroid tidak efektif.Anesthetik lokal dapat disuntikkan ke dalam sendi atau pada percabangan saraf medial disekitar sendi untuk pembiusan.. sendi yang diuji akan dikecualikan sebagai sumber yang mengakibatkan gejala.13Beberapa metode ini harus dilakukan beberapa kali menggunakan anastetik dalam berbagai macam durasi efek sebelum menentukan penatalaksanaan lebih lanjut. (Gambar 37-21)Metode ini dapat memberikan diagnosa pasti sendi mana yang merupakan sumber nyeri.Diagnosa didasarkan pada konsep bahwa jika struktur gejala diblokir.Jika rasa sakit tak hentihentinya. blok komparatif menggabungkan injeksi plasebo dilakukan sebelum melakukan neurotomi cabang 44 .Rata-rata satu pertiga responden dapat menunjukkan jawaban falsepositive.Pendekatan kami untuk nyeri sendi servikalis zygapophyseal termasuk instutasi terapi suntikan setelah diagnosa tunggal positif blok intraartikuler.

Studi berikutnya oleh McDonald eta al. menggunakan salah satu hasil ukur tidak membatasi terapi fisik. Percutaneous frekuensi radio Ablasi Neurotomi Cabang medial Jika pasien tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dari suntikan steroid.kira-kira 50% pasien boleh mendapatkan rawatan ulang neurotomi. Bagaimanapun.223 telah mendemonstasikan hasil data dari baik hingga terbaik telah didapatkan dari 61% pasien yang setiap hari menderita nyeri kepala oksipital berkaitan whiplash yang berasal dari C2-3. Pasien yang mendapatkan manfaat dari suntikan ini mengalami rata-rata dua suntikan terapeutik.14Dalam pengalaman kami.Terapi suntikan pada sendi zygapophyseal Terapi injeksi intraartikuler pada sendi servikalis zygapophyseal dapat lebih sesuai dilakukan farmakologik dan pada individu yang tidak memgalami pemulihan dalam modalitas fisik.Bagaimanapun yang sama .dalam studi ini.Melalui percobaan control-placebo yang acak dan double-blind.Slipman et al.Lord et al telah menemukan keberhasilan radiofrekuensi neurotmi pada pasien dengan nyeri kronis sendi servikalis zygapophyseal. terapi suntikan steroid intraarticular yang dijalankan dengan fluroskopik efektif dalam mengobati nyeri sendi servikalis zygapophyseal . maka ablasi radiofrekunsi pada sendi yang menginervasi cabang medial boleh dianjurkan. dibandingkan dengan 1 minggu dalam studi kelompok kontrol sama. mengamati bahwa terapi neurotomi kedua dapat memberikan keredaan nyeri pada pasien jika gejala pasien berulang setelah suksesnya prosedur pertama.bagi pengobatan penyakit kronis whiplash berkaitan nyeri sendi servikalis zygapophyseal. penulis merawat pasien dengan hanya satu injeksi terapi. Menurut Barnsley dkk.Waktu median yang berlalu sebelum nyeri kembali ke tingkat preneurotomi pada kelompok perlakuan adalah 9 bulan.suntikan tunggal intraarterikuler tidak efektif. Prosedur yang berulang mencapai pengurangan periode sebagai gejala awal prosedur 45 .

editors:Blokir Neuronal dalan anastetik klinis dan penatalakksaan nyeri.ed 2 Philidephia JB Lippicott.Sendi ditembus untuk ke tulang belakang servikalis dengan menggunakan pendekatan lateral.Neurotomies frekuensi radio sendi atlantooksipital dan atlantoaksial.pengobatan.cabang arterikuler(A) dan nervus oksipital ketiga(TON). Pengantian jarum untuk cabang nervus medial dan injeksi zygapopphyseal intraartrikuler. dan menunjukkan bahwa disk intervertebralis telah kehilangan arsitektur normal internal tetapi tetap mempertahankan kontur eksternal yang diawetkan dengan tidak 46 .Bridenbaugh PO.In Cousins MJ.Radiografi lateral servikal menunjukkan posisi tepat penempatan jarum kedalam sendi zygapophyseal . dan denervasi sendi C2-3 belum diteliti karena dampak buruk dari suboksipital hipoestesia dari neurotomi dari nervus oksipital ketiga.B.dengan menggunakan pendekatan posterior.Jarum diposisikan untuk injeksi pada C4 dan C6 cabang nervus medial dan TON.Pilar artrikuler mungkin dihalang oleh bayangan besar C7 processus transverses.dengan izin JB Lippincott) Cervical Internal Disk Disruption Epidemiologi Gangguan disk internal pertama kali dijelaskan oleh Crock lebih dari 30 tahun lalu. dan C2-3 belum lagi diteliti.ramus ventral C2(C2VR)dan lokasi cabang nervus medial servikalis dorsal rami (MB).1988.(Dari Bogduk N:Blok Nyeri belakang sendi zygapophyseal dan steroid epidural. Injeksi faset servikalis.Kiri: gambaran posterior tulang belankang servikalis yang menunjukkan lokasi ganglia C2(G) pada belakang sendi atlantoaxial lateral(LAAJ).dimana nervus medial C7 boleh diposisikan dipertengahan antara cembungan lateral C6-C7 dan C7-T1 sendi zygapopphyseal.Kanan: Gambaran lateral tulang belakang servikalis yang menunjukkan jarum dalam kavity sendi faset C5-C6.Kami telah berhasil menggunakan neurotomi frekuensi radio dari sendi C2-3 zygapophyseal dan kebanyakan pasien tidak tertekan oleh hipoestesia suboksipital.yang memproduksi karakteristik artogram. Saat ini tidak ada teknik khusus untuk mendenervasi sendi atlantooksipital dan atlantoaksial.

adanya kompresi akar saraf. Dalam sakit leher yang disebabkan oleh trauma kronis, 20% pasien mungkin CIDD, dan satu lagi 41% mungkin CIDD dan cedera sendi bersamaan zygapophyseal. Litigasi buruk dapat mempengaruhi hasil pengobatan untuk CIDD, tetapi efek litigasi potensial belum dibuktikan dalam penyelidikan lainnya. Dalam kasus nonlitigation, hasil nonoperative dan operasi adalah sama dengan yang untuk CIDD. Diagnosa Sejarah dan Pemeriksaan Fisik Kompleks gejala CIDD termasuk sakit leher posterior, nyeri oksipital dan suboccipital, nyeri trapezial atas, nyeri interscapular dan periscapular, nyeri nonradicular lengan, vertigo, tinitus, disfungsi mata, disfagia, nyeri wajah, nyeri dada dan dinding anterior. Pasien sering melaporkan riwayat trauma sebelumnya, seperti tabrakan kendaraan bermotor, dengan onset akut. Dalam absense peristiwa pencetus, gejala CIDD dapat mulai secara spontan dan secara bertahap, atau eksplosif. Jika gejala rujukan yang hadir, keluhan utama pasien adalah nyeri terutama aksial dikaitkan dengan mencolok gejala ekstremitas atas. Faktor memperburuk biasanya mencakup lama duduk, dan batuk, bersin, atau mengangkat. Berbaring terlentang dengan dukungan kepala biasanya meredakan gejala-gejala pasien. Pemeriksaan fisik hanya dapat menunjukkan serviks halus berbagai-dangerakan pembatasan, kecuali jika telah menjalani operasi sebelum serviks. Pemeriksaan neuromusculoskeletal menyeluruh harus dilakukan untuk mengecualikan radiculopathy myelopathyor. Jika spondylosis hadir, ekstensi leher rahim dan lateral bending lebih terbatas daripada fleksi dan rotasi aksial berada. Palpasi atas proses spinosus servikal tingkat yang terlibat dapat menimbulkan rasa sakit di daerah itu atau sebagian dari rasa sakit aksial pasien. Memisahkan pasien dari mereka yang menderita nyeri leher nonorganik dapat dicapai dengan memunculkan tanda-tanda nonorganik, seperti kelembutan dangkal atau nonanatomic, nyeri dengan rotasi kepala dan panggul bersama, kehilangan sensori nonanatomic, memberikan arah kelemahan, dan reaksi berlebihan.

47

Studi Pencitraan Membedakan menyakitkan dan tidak menyakitkan dari disk serviks hanya pada karakteristik pencitraan bisa sulit. Kelainan Disk telah dicatat pada pasien tanpa gejala, dan CIDD menurut definisi menampilkan penampilan sesuai usia pada MRI. Plain films dapat mengungkapkan hyperostosis dan keruntuhan ruang disk tapi sering tidak berkorelasi dengan gejala rasa sakit. Disk pengeringan, kehilangan ketinggian disk, celah annular, osteophytosis, dan reaktif akhir-piring adalah perubahan penanda dari degenerasi disk. Sebuah sinyal intradiskal menurun pada T2-tertimbang gambar berkorelasi baik dengan degenerasi histologis dari disk. Fitur MRI tidak berguna, bagaimanapun, dalam mendeteksi disk serviks gejala. Akibatnya, tes diagnostik fungsional seperti diskography provokasi digunakan untuk mendiagnosa tingkat disk yang menyakitkan. Pemahaman kami tentang distribusi sakit dari CIDD atau degeneratif disk telah diperluas oleh penelitian dari tes diagnostik fungsional. Pengobatan Obat Fisikal dan Rehabilitasi Mengobati cedera serviks intervertebralis tanpa radiculopathy mirip dengan mengobati gejala radikuler. Langkah awal adalah untuk mengontrol nyeri dan peradangan. OAINS dapat digunakan secara jangka pendek kecuali kontraindikasi karena penyakit ginjal atau intoleransi gastrointestinal untuk OAINS. The American College of Rheumatology pedoman menyatakan bahwa fungsi ginjal pada pasien sehat harus diperiksa pada 6 minggu setelah memulai OAINS. Jika fungsi ginjal normal pada 6 minggu, harus diperiksa kembali pada 12 bulan. Obat seperti antidepresan trisiklik dapat membantu memodulasi nyeri dan membantu dalam regulasi tidur. Analgesik opiat biasanya digunakan hemat dan hanya untuk periode singkat. Modalitas fisik dapat diresepkan untuk memodulasi nyeri dan transisi pasien dari pengobatan pasif untuk restorasi fungsional aktif. Modalitas yang dangkal dan terapi TENS (Transcutaneous electrical nerve stimulation) dapat digunakan untuk rasa sakit. Modalitas panas juga dapat digunakan untuk meningkatkan elastisitas
48

jaringan lunak sebelum dan selama traksi leher rahim. Dalam studi, stimulasi listrik (TENS) telah ditemukan untuk membantu dalam rasa sakit serviks. Traksi mungkin akan bermanfaat dengan mengalihkan disk intervertebralis yang menyakitkan. Namun, traksi harus digunakan hati-hati karena jika mengganggu jaringan annular terluka dapat memprovokasi gejala yang menyakitkan. Kerah leher rahim dapat membantu mempertahankan posisi nyaman tetapi tidak boleh dipakai oleh pasien selama lebih dari 72 jam. Modalitas pasif harus digunakan pada awal proses pengobatan dan kemudian, pada dasar yang dibutuhkan, dan tidak harus mengganti berdasarkan aktivitas terapi. Seperti semua mekanik gangguan nyeri serviks lainnya, CIDD

membutuhkan evaluasi mendalam tentang biomekanik tulang belakang. Semasa nyeri akut mulai mereda, pasien terdaftar di sebuah peregangan aktif dan program fleksibilitas dengan transisi ke kondisi dan stabilisasi. Efek independen dari latihan dan stabilisasi, khususnya dalam pengobatan cedera leher rahim, belum divalidasi secara ilmiah. Namun, peran stabilisasi tulang belakang leher bukan hanya peregangan dan penguatan didukung. Efek juga dapat disimpulkan dari laporan penelitian stabilisasi lumbal yang menunjukkan penurunan signifikan dalam rasa sakit dan kecacatan pada sekelompok pasien dengan spondylosis dan spondylolisthesis. Satu-satunya cara metodologis yang benar untuk mempelajari hasil pada pasien dengan nyeri diskogenic serviks adalah dengan mendaftarkan diri dan mengobati kohort pasien setelah nyeri leher diskography terbukti sesuai aksial. Tetapi tidak ada studi seperti itu. Interventional Spine Physiatry Provokasi Diskografi Diskografi Provokasi adalah tes diagnostik fungsional di mana keakuratan penyelidikan sangat mengandalkan masukan pasien. Smith dan Nichols pertama kali dijelaskan Diskografi serviks pada awal 1950-an, dan utilitas telah diperebutkan sejak itu. Diskografi Provokasi adalah satu-satunya tes yang dapat mengatasi gejala status dari disk, dan biasanya digunakan ketika CIDD

49

dipertanyakan. Hal ini juga digunakan sebagai evaluasi presurgical. Sebuah respon positif memerlukan bukti struktural dari kekacauan internal untuk menguatkan produksi sakit biasa atau pasien dengan sakit serviks. Pendukung Diskografi menunjukkan bahwa disk sehat menerima sejumlah volume tertentu dari kontras dan tidak menghasilkan gejala dengan stimulasi mekanik. Diskografi harus dianggap sah hanya jika injeksi kontrol asimtomatik disk yang menyertai suntikan menurut hitungan menyakitkan. Meskipun hasil positif palsu telah dibuktikan pada sukarelawan tanpa gejala, temuan ini dapat diberhentikan karena ketidakcukupan teknis. Diskografi provokasi serviks belum menghasilkan respon nyeri positif palsu pada sukarelawan tanpa gejala. Pada kesempatan, seorang discogram provokatif dapat menghasilkan respon positif palsu di hadapan gabungan zygapophyseal yang menyakitkan serviks. Bogduk dan April menyimpulkan bahwa discogram serviks positif dengan kesakitan serviks traumatis kronis adalah konklusif yang mungkin menyesatkan, dan merekomendasikan menyelesaikan blok diagnostik bersama zygapophyseal pada tingkat disk yang menyakitkan sebelum mengejar intervensi pengobatan. Disk intervertebralis serviks telah terbukti untuk merujuk nyeri ke kepala dan wajah baik secara sepihak dan bilateral, dan tumpang tindih pola rujukan nyeri yang dihasilkan oleh sendi zygapophyseal menyakitkan. Transforaminal Epidural Steroid Injections. Berangsur-ansur steroid ke dalam ruang epidural anterior untuk mandi posterolateral margin dari permukaan melingkar dari disk intervertebralis dan ligamentum longitudinal posterior dapat mengatasi nosisepsi biokimia yang dirangsang. Sebuah C7 transforaminal epidural injeksi steroid (TFESI) dilakukan jika gejala konsisten dengan nyeri diskogenic dan terutama terletak di dasar, atau merujuk ke luar dari dasar, dari tulang belakang leher. Prosedur identik dilakukan di tingkat C5 atau C6 untuk mengobati nyeri leher bagian atas dengan atau tanpa sakit kepala, dan gejala ekstremitas wajah atau bagian atas. Jika efek kortikosteroid, yang didefinisikan sebagai pengurangan 50% pada tingkat preinjection nyeri yang berlangsung selama 2 hari dalam waktu 7 hari setelah prosedur, tidak dialami oleh

50

gerak dihilangkan. nyeri radikuler. maka pasien memerlukan kronis komprehensif sakit-modulasi program. Interlaminar epidural suntikan steroid telah diselidiki dalam kelompok heterogen pasien dengan nyeri radikuler dan aksial. atau disk menurut hitungan menyakitkan adalah lobular. yang dapat dicapai dengan diskectomy serviks anterior dan fusi atau dengan fusi posterior.pasien. Jika diskogram mengungkapkan satu atau dua tingkat berdekatan memproduksi nyeri. mungkin karena cedera disk yang relatif akut inflamasi. Alasannya adalah bahwa dengan menggabungkan unsurunsur vertebra tulang. kita biasanya melakukan dua injeksi awalnya sebelum menilai respon klinis. tingkat dua yang noncontiguous. Yang paling akut atau subakut durasi gejala. atau keduanya. Pendekatan kami untuk pasien dengan CIDD adalah mempertimbangkan diskografi serviks jika pasien tidak menyadari efek penghilang rasa sakit setelah dua TFESIs kortikosteroid. Operasi Pasien yang mengalami sakit parah dan bandel serviks aksial dianggap diskogenic asal yang mungkin menjadi kandidat untuk operasi. Suntikan diselesaikan posterior melalui pendekatan interlaminar tanpa bimbingan fluoroscopic. semakin baik hasilnya. Sebagian besar pasien dalam studi ini memiliki definisi penyakit gejala sakit aksial. Dalam pengalaman kami. maka pasien mungkin menjadi sebuah kandidat bedah. Obat disuntikkan antara posterior lamina mungkin tidak berdifusi anterior untuk mencapai generator nyeri potensial. diskografi serviks atau diagnostik blok bersama zygapophyseal biasanya dikejar. Pemanfaatan Diskografi provokasi untuk menentukan tingkat adalah 51 . Efektivitas TFESIS belum sistematis dipelajari. sekitar 50% pasien mengalami bantuan yang signifikan dan abadi. Jika tiga atau lebih tingkat yang sesuai. dengan menggunakan teknik kerugian-perlawanan. Hasil berhasil sekitar 40% sampai 84% dari pasien yang diobati. Meskipun kurangnya literatur tentang kegunaan TFESIs dalam mengobati nyeri leher rahim diskogenik. sehingga mengurangi rasa sakit diskogenic. Satu-satunya pengobatan bedah untuk CIDD atau gejala degeneratif disk serviks adalah fusi.

Sebuah tinjauan literatur yang luas menyimpulkan bahwa Diskografi serviks terkontrol meningkatkan hasil bedah. Mielopati Servikal dan Mieloradikulopati Epidemiologi Mielopati spondilotik servikal adalah lesi vertebra servikal paling sering yang terjadi pada kisaran umur diatas usia pertengahan. Beberapa penulis telah melaporkan "baik atau sangat baik" menghasilkan 70% sampai 96% pasien setelah fusi servikal tingkat ditentukan oleh Diskografi. 93% pasien ini dilaporkan penurunan lebih besar dari 50% dan peringkat rasa sakit mereka selepas operasi. menemukan bahwa 82% dari 87 pasien melaporkan diri mereka sebagai hasil yang baik. Kajian ini adalah retrospektif. dan penulis mungkin telah memasukkan beberapa pasien yang memiliki keluhan terutama radikuler. dan tumor spinal.253 namun presentase penyakit ini tidak sebanyak radikulopati spondilotik servikal.4 tahun setelah fusi. penyakit motor neuron.37 Diagnosis 52 . vaskulitis. atau sangat baik pada rata-rata 4. Menariknya. Garvey dkk. yang termasuk penyebab penyakit ini adalah multipel sklerosis.259 Salah satu dari penyebab tersebut ditemukan pada lebih 17% pasien yang menderita mielopati spondilotik. sangat baik. neurosifilis. degenerasi gabungan subakut.kontroversial. perbedaan yang signifikan secara statistik diperoleh untuk pasien yang dirawat berdasarkan diskogram benar-benar positif. siringomielia.44 Penyebab-penyebab lain dari mielopati harus disingkirkan. Seibenrock dan Aebi mengamati pengurangan rasa sakit yang lebih besar dari 75% pada 96% dari 27 pasien yang menjalani fusi servikal sebanyak 39 tingkat.3 Rata-rata penderitanya berumur di atas 50 tahun dan kebanyakan berjenis kelamin laki-laki.

259 Riwayat alami perjalanan penyakit ini diawali dengan deteriorasi. Gejala dan tanda bisa simetris atau tidak.Riwayat dan Pemeriksaan Fisik. atau bisa juga diindikasikan oleh distribusi “glove and stocking” . diikuti periode statis yang berlangsung beberapa tahun.259 Refleks asimetrik pada batang tubuh atas atau kelemahan miotomal bisa berarti bahwa penyakit ini juga disertai radikulopati. Manifestasi klinis yang menunjukkan level medula yang terlibat. Pemeriksaan pencitraan. dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan. Defisit propriosepsi dan getaran mengindikasikan malfungsi kolumna posterior lebih banyak pada batang tubuh bawah daripada atas.259 Manifestasi neuron motorik atas seperti Hoffman’s sign. Umumnya. kebanyakan spondilitik. Pemeriksaan radiologi biasanya menunjukkan kompresi medula servikal.171 Gangguan fungsi kandung kemih terjadi pada kira-kira sepertiga pasien dan merupakan tanda memburuknya lesi medulla spinalis. refleks brisk dan babinski seringkali muncul. agak naik sedikit ke batang tubuh atas. kelemahan tersebut lebih sering terjadi pada batang tubuh bagian bawah dibandingkan bagian atas. Ekstremitas atas akan menunjukkan kelemahan dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan yang disebabkan karena kerusakan sel horn anterior.259 Nyeri dan perubahan suhu tubuh mengindikasikan adanya lesi pada traktus spinotalamikus setinggi level gangguan sensori pada regio lumbal dan thorakal. bisa jadi tidak sama dengan level maksimum kompresi hasil pemeriksaan radiologinya. dan regangan total batang tubuh atas jarang terjadi. Penyebab lain 53 . Kombinasi dari terlibatnya medula dan radiks disebut mieloradikulopati spondilotik servikal. Onset gejala biasanya tidak terlihat. Penderita mielopati sering mengeluh mati rasa dan parestesia pada batang tubuh dan ekstremitas distal. Hasil pemeriksaan yang sering didapat adalah kelemahan karena mielopati pada batang tubuh bawah dan.259 Penderita akan mengeluh nyeri radikuler sebagai tanda keterlibatan akar saraf pada level medula yang mengalami stenosis. walaupun minoritas pasien mengalami onset akut dengan atau tanpa didahului suatu trauma.259 Nyeri aksial servikal menjadi keluhan utama pada 70% pasien di satu titik poin perjalanan penyakit ini. perbedaannya bisa mencapai satu sampai dua segmen.

Foto polos radiologi akan memberikan gambaran diameter oseus pada kanal sentral dan penurunan tinggi ruang diskus intervertebralis.240 Reduksi 30% pada potongan cross sectional vertebra servikal adalah batas minimum reduksi pada pasien yang simptomatik. perubahan sinyal. atau osifikasi pada ligamen longitudinal posterior (etiologi pada 27%pasien usia pertengahan 241 ). somatosensory evoked potential dapat digunakan untuk mendeteksi keterlibatan medula spinalis secara subklinis. MRI dapat mendeteksi mielomalasia.seperti superimpos CIDH yang menekan thecal sac. Penggunaan somatosensory evoked potential untuk mendiagnosis mielopati servikal sudah diteliti. Gambaran preoperatif potongan transvers medulla spinalis pada lokasi kompresi maksimal akan berpengaruh pada hasil klinis akhir. ulnar dan tibial posterior lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan klinis dalam mendeteksi disfungsi kolumna posterior. Pada kasus servikal mielopati. jika 54 . deformasi medula atau abnormalitas sinyal intramedula.259 Stenosis spinal servikal sentral yang asimptomatik ditemukan pada 16% orang yang berumur di bawah 64 tahun. sedangkan dimensi postoperatif medulla sangat berhubungan dengan kesembuhan penderita. kira-kira sepertiga kanal sentral harus dicurigai dan bukti adanya perubahan kanal sentral harus benarbenar objektif.258 Stimulasi somatosensory evoked potential pada saraf median. yang mengindikasikan kompresi medula yang progresif. dan apakah terdapat hiperostosis. Termasuk juga banyak berkurangnya aliran cairan serebrospinal. Elektromiografi dan pemeriksaan konduksi saraf dapat digunakan untuk mendiagnosis lesi radiks saraf.188 dan jumlah cairan serebrospinal di sekitar medula (gambar 37-23). pemeriksaan dengan jarum elektroda dapat mengungkapkan derajat abnormalitas pada otot dibawah lesi segmen.40. Diameter kanal sentral yang kurang dari 10 mm pada penderita yang simptomatik menyokong diagnosis mielopati. seperti yang telah dibahas pada bagian radikulopati servikal. ini mengindikasikan adanya lesi saraf motorik atas. foraminal encroachment. dan subluksasi.166 Pemeriksaan elektrodiagnosis. seperti pada pasien yang potensial motorik nya terlihat normal namun terlihat banyak gangguan pada motorik maksimalnya melalui pemeriksaan ini.178 Untuk mendiagnosis mielopati spondilotik servikal secara akurat. atrofi.

atau pada mereka yang perawatan konservatifnya tidak berhasil.37. dimana komplikasi deformitas dan kifosis lebih jarang terjadi.91 Pada kasus impingement akibat spondilosis degeneratif atau osifikasi ligamen longitudinal posterior.40.44. dimana badan vertebrae dibuang sebagai tambahan diskus intervertebralis yang berdekatan. Hasil pemeriksaan berupa perubahan pada konduksi saraf perifer yang ditambah dengan keterlambatan sentral.181 Perbaikan defisit fungsi sensori dan motoriknya terjadi pada 33%-50% pasien.162 Sehingga tehnik laminoplasti lebih sering digunakan. Mielopati servikal dapat dibedakan dari sklerosis multipel dari jenis abnormalitas pola yang ditampilkan somatosensory evoked potential. mengindikasikan mieloradikulopati.181 Bedah.92 Laminektomi tanpa fusi yang luas bisa menyebabkan komplikasi deformitas paska operasi dan kifosis.keluhan utamanya adalah nyeri aksial servikal atau radikular. maka pembedahan yang diindikasikan adalah diskektomi dan fusi servikal pada level vertebra yang sesuai.107 Jika hanya CIDH yang menyebabkan kompresi medulla spinalis. Dekompresi anterior biasanya diterapi dengan korpektomi.66.162 55 . Kedua pembedahan ini akan menyediakan runag gerak yang leboh banyak pada medulla. dan kemudian segmen tersebut digabungkan dengan autograf fibula atau alograf tulang.18 Dekompresi posterior diterapi dengan laminektomi dengan atau tanpa fusi. 79 atau laminoplasti (gambar 37-24). Pembedahan diindikasikan pada penderita dengan gejala yang berat atau progresif. dan penderita masih bisa bergerak karena tehnik ini tidak menggunakan fusi. pembedahan bertujuan untuk menghilangkan struktur rusak bagian anterior (seperti osteopit) atau ligamen longitudinal posterior yang mengalami kalsifikasi (untuk mengurangi tekan dari posterior).258 Penatalaksanaan Perawatan non-operatif. Perawatan konservatif termasuk terapi fisik dan ortosis servikal dilakukan pada pasien dengan gejala ringan atau statis tanpa ada gangguan berjalan atau refleks patologis.

91 Jika.2.3. dilakukan laminektomu dan fusi untuk mempertahankan kestabilan vertebrae servikal.143.5.91 Pada kasus dengan tiga atau lebih vertebrae yang mengalami stenosis dan lordosis servikal masih normal. Jika tiga atau kurang vertebrae yang mengalamai stenosis. dan juga memiliki komplikasi yang lebih sedikit.88 Gambar 37-23 .4 Terapi ini efektif pada pasien dengan dekompresi anterior.88 Khusus untuk menatalaksana mielopati servikal terbukti bahwa tehnik laminoplasti jauh lebih efektif dibandingkan laminektomi. tiga atau lebih vertebrare yang terlibat dan lordosis servikal abnormal. 56 . Terlihat kurangnya cairan serebrospinal anterior dan posterior medulla spinalis setinggi C3-4 dan C4-5. dan umumnya dihindari karena dapat timbul komplikasi dari ketidakcocokan graft91 atau nonunion.153 Bedah korpektomi yang dilakukan pada dua atau lebih vertebrae akan menyebabkan hasil operasi yang kurang stabil. Gambaran potongan sagital MRI dari Stenosis spinal sentral dan mielomalasia.Dekompresi anterior atau posterior tejadi tergantung dari kontur dan jumlah vertebra servikal yang mengalami stenosis. terjadi perbaikan gejala pada 85%-99% pasien. dilakukan bedah laminoplasti. koprektomi anterior dan fusi adalah pembedahan yang dilakukan.

Berbagai struktur tulang belakang terlibat dalam nyeri kepala servikogenik. turut menunjukkan kurangnya consensus mengenai definisinya. Hasil akhirnya elemen posterior akan sembuh dengan kanal yang lebih lebar berkat graft yang diletakkan di lubang lamina.9%). Laminektomi dengan eksisi elemen posterior sebelah lateral setinggi pedikel. Epidemiologi dan Patofisiologi Prevalensi nyeri kepala servikogenik telah dilaporkan berkisar dari 0. dan mencapai 36. A. termasuk akar saraf dan tulang belakang. Istilah nyeri kepala servikogenik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1983. Laminektomi dan laminoplasti.1%) dari laki-laki (20.Gambar 37-24. Nyeri Kepala Servikogenik Nyeri kepala servikogenik adalah gejala buruk yang biasa dikaitkan dengan struktur serviks tulang belakang.2% pada pasien yang mempunyai keluhan nyeri kepala. Definisinya telah diselaraskan beberapa kali. sendi uncinate 57 . dengan mean usia sebesar 42. Ini menunjukkan terdapat berbagai stimulasi rasa nyeri dan manifestasi yang menyebabkan nyeri kepala servikogenik. B. Laminoplasti dilakukan dengan memotong keseluruhan lamina pada satu sisi sementara kontralateral lamina dibor saja sehingga berfungsi seperti sendi. ganglion akar dorsal.4% hingga 2.5% pada populasi umum. Wanita lebih rentan terhadap gejala ini (79.9 tahun dan rata-rata durasi timbulnya gejala adalah 6.8 tahun.

membayangi asal nyeri serviks axial. Karakteristik nyeri berbeda dari nyeri yang kuat kepada nyeri tajam dan menusuk-nusuk. disk intervertebral. namun karakteristiknya lebih lama dan berasosiaso dengan nyeri kepala migrain. Keluhan tambahan adalah pusing dan vertigo. disk invertebratal. Lamanya gejala nyeri berfluktuasi dari episode initial. Kebanyakkan pasien mengeluh nyeri semakin bertambah bermula di daerah serviks dan menjalar ke kepala dan leher. ipsilateral anterolateral.(uncovertebral joint). Lama gejala berkisar dari beberapa jam ke beberapa minggu. Whiplash event seperti kecelakaan akan mengakibatkan kecederaan sendi servikal zygapophyseal. Antara penyebab primer nyeri kepala servikogenik termasuk C2-3 zygapophyseal joint. C3-4. fonofobia. saraf akar. kesan langsung dari trauma. progresif kepada kronik dan nyeri konstan. Reffered pain menjalar ke vertex kepala. dahi wajah dan ipsilateral bahu. Terdapat bukti yang mendukung teori konvergensi yang menjelaskan hubungan antara gejala kranial dan stimulator nyeri pada servikal tulang belakang. 58 . dan C5-6 disk intevertebral. ligamen dan otot. Gejala bisa menjalar dan melibatkan bagian kontralateral. Diagnosis Riwayat dan pemeriksaan fisik Etiologi nyeri kepala diperoleh dengan mendapatkan riwayat nyeri kepala pasien atau trauma leher seperti Whiplash event. dan nausea adalah lebih kurang dari pasien yang menderita migrain. Nyeri kepala servikogenik bisa disebabkan oleh perubahan degenerative. Keluhan autonomik seperti fotofobia. atau terjadi tanpa kesan biomekanikal pada struktur tulang belakang servikal. namun biasanya sisi sumber nyeri utama tetap paling intens dan kuat nyerinya. facet joint. C4-5. baik dalam isolasi atau kombinasi. Nyeri kepala servikogenik bisa menjadi keluhan primer. Intensiti nyeri pada nyeri kepala servikogenik kurang meyiksa dari nyeri kepala tipe kluster dan tidak berdenyut. Nyeri kepala servikogenic diklasifikasikan sebagai unilateral primer dan berasal dari daerah occipital posterior. C2-3.

perubahan arthritic. atau ekstensi servikal. Abnormalitas yang dilihat dalam imej harus dihubungkan secara klinikal karena hasil tersebut bisa menjadi gejala atau penyakit tanpa gejala sepanjang hayat pasien. Spurling’s maneuver tidak menunjukkan gejala radikular ekstrimitas atas. MRI adalah lebih baik dari CT dalam mendiagnosis disk intervertebralis . penurunan ketinggian disk. Ia memerlukan posisi anteroposterior. 59 . Nyeri yang berasal dari disk invertebralis berasal dari garis tengah nyeri yang menyebar sepanjang tulang belakang ke kepala atau wajah. Pencitraan Riwayat trauma membutuhkan fleksi dan ekstensi servikal pada radiografi lateral untuk mendeteksi abnormalitas pada pergerakan segmental.Pemeriksaan fisik pasien dengan keluhan nyeri kepala servikogenik sering menujukkan penurunan range of motion karena kekakuan otot. dan herniasi. Suspek kejadian fraktur bisa didiagnosis dengan lebih teliti melalui CT scan servikal yang dilakukan dengan multiplanar reformatted image. namun selalunya memperburuk nyeri axial dan pasien akan mengeluh munculnya nyeri paramidline sendi zygapophyseal. untuk menyingkirkan fraktur. Nyeri ini juga bisa sering muncul semasa palpasi mendalam pada sendi yang berhubungan. termasuk proses terbuka odentoid process. pasien bisa menunjukkan dengan satu jari atau melalui telapak tangannya bagian nyeri maksimumnya yang unilateral. Kita sering melihat pasien yang mengeluh onset selepas waktu tidurnya pada posisi yang canggung. Tetapi. MRI mempunyai false-positive rate sebesar 51% dan false-negative sebesar 27% dalam mendeteksi nyeri disk yang diidentifikasi melalui discography. Sebagian gerakan kepala dan leher bisa menyebabkan gejala nyeri seperti rotasi axial. dan kurangnya fleksibilitas jaringan lunak. Jika nyeri kepala servikogenik berasal dari sendi servikal zygapophyseal.

kepala atau leher tidak mempertahankan pukulan langsung. paradigma blok ganda tersebut dilakukan untuk meminimalkan tingkat positif palsu suntikan diagnostik tunggal. Apabila sendi yang sakit diidentifikasi.Sindrom Whiplash boleh diartikan seperti efek biomekanikal yang dikeluarkan oleh penghuni satu mobil apabila mobil itu ditabrak mobil lain. namun ini tidak dteliti dengan studi kohort. C3-4. Ablasi radiofrequency pada nervus ketiga occipital dapat membaikpulih sendi zygapophyseal C2-3 dan telah dilakukan dengan sukses di Penn Spine Centre. SindromWhiplash Sindrom Whiplash (hiperfleksi-hiperekstensi) harus dikonseptualisasikan dalam tiga komponen. Algorithm tradisional termasuk diagnostic intraarticular yang dilakukan bertahap pada C2-3. dan sendi C1-2. Jika pasien mengalami bantuan jangka pendek dari minimum dua dan maksimum empat terapi suntikan. Saat kejadian whiplash. kita mendiagnosis blockade pada C45 sendi zygapophyseal yang merangkum gejala anterior kepala dan gejala pada wajah. Ablasi radiofrequency cabang medis untuk nyeri sendi dapat mengurangi nyeri kepala servikogenik yang disebabkan oleh cedera sendi servikal zygapophyseal dengan baik. struktur tersebut dirawat seperti yang dinyatakan di atas. tetapi 60 . Nyeri servikogenik disebabkan oleh nyeri sendi atas zygapophyseal dapat dipelajari dengan konfirmasi diagnostic blockade. injeksi terapeutik akan dilakukan sebagai terapi pada sendi servikal zygapophyseal.Diagnostik Uji Fungsional dan Penatalaksanaan Apabila etiologi nyeri kepala servikogenik sudah diidentifikasi. Sindrom whiplash adalah himpunan gejala yang timbul dari cedera whiplash.Cedera whiplash adalah kelainan atau struktur terluka akibat peristiwa whiplash. Setelah studi pemetaan sendi zygapophyseal.

gangguan visual dan tinnitus. Penelitian telah menunjukkan bahwa kronisitas gejala whiplash mengembangkan independen dari litigasi. Whiplash didefinisikan oleh gerakan pasif leher. semuanya berisiko untuk cedera. di 110ms setelah kesan impak dari belakang . Gejala yang paling sering dilaporkan cedera whiplash termasuk rasa sakit leher dan sakit kepala. Cedera juga terjadi pada jaringan lunak leher . dan litigasi tidak mengubah respon terhadap pengobatan.masing-masing mengalami cedera karena respon inersia tubuh terhadap pasukan yang diberikan di atasnya. dan setelah 2 tahun 82% adalah bebas dari gejala. Kebanyakan pasien dengan sindrom whiplash diharapkan untuk sembuh dalam waktu 2 sampai 3 bulan pertama setelah cedera. dan kelemahan.Bagi pasien yang cedera parah . Gejala yang kurang umum termasuk pusing. sama seperti cedera jaringan lunak. Dokter harus mengejar evaluasi dan pengobatan gejala whiplash terkait. Pukulan dari belakang merupakan pola paling umum kecerderaan whiplash. ligamentum longitudinal anterior. parestesia ekstremitas atas. bukan hanya berasumsi bahwa rasa sakit adalah hasil dari keadaannya seperti pertimbangan keuntungan sekunder.Selama kejadian whiplash disk anterior. diikuti dengan nyeri bahu korset.dalam waktu 3 bulan diperkirakan hanya 6% dari seluruh pasien whiplash dan persentase ini menurun minimal sampai 4% dalam masa 2 tahun. 61 . ruang C5-6 disk melebar secara anterior dan menyebabkan batasan antara prosesessus artrikuler pada sendi zygapophyseal C5-6 dan geseran posterior dalam disk. namun cedera yang disebabkan oleh kepala dan pukulan samping juga dapat terjadi. posterior atau anulus dan sendi servikal zygapophyseal . Kurangnya tonus otot dan terbentuknya kekuatan abnormal mengakibatkan pergerakan sekitar sumbu abnormal rotasi subjek pasif yang menahan struktural ke ketegangan yang abnormal Misalnya. mengakibatkan cedera ketegangan dan regangan. Kontrol otot untuk menstabilkan tulang belakang leher tidak bereaksi dengan cepat dalam mencegah pasukan dari terjadi cedera di unit fungsional servikal tulang belakang. Cedera ini biasanya sembuh dalam waktu relatif singkat.

Pengetahuan tentang biomekanik tulang belakang dan fisiologi jalan membantu menentukan generator rasa sakit yang paling mungkin dalam setiap kasus. DAFTAR PUSTAKA 1. Blok bangunan untuk intervensi terapi yang berhasil mengendalikan termasuk rasa sakit dan peradangan sementara pada saat yang sama mendidik pasien tentang cedera. pp 97-112. CRC Crit Rev Clin Radiol Nucl Med 6:469-553. Amsterdam. Hal ini penting untuk melihat pasien secara keseluruhan dan lembaga fisik.Kesimpulan Nyeri leher adalah salah satu keluhan paling umum dari pasien yang mencari bantuan medis. Abel MS: Occult traumatic lesions of the cervical vetebrae. Crit Rev Diagn Imaging 20:27-78. North-Holland Publishing. 62 . perawatan perilaku dan intervensi dalam konteks luas mencapai dalam apa yang terbaik untuk fisiologis dan psikologis pasien kesejahteraan. 1977. Sebagai teknologi kemajuan dan pengetahuan kita tentang gangguan tulang belakang leher tumbuh jalur klinis kami untuk pengobatan masalah serviks akan terus berkembang dan memperbaiki. Berbagai struktur tulang belakang dapat menghasilkan tumpang tindih atau simtomatologi jelas. Aldrich F: Posterolateral microdiscectomy for cervical monoradiculopathy caused by posterolateral soft cervical disc sequestration. In Vinken PI. editors: Handbook of Clinical Neurology. Bryun GW. farmakologis. Diagnosis yang akurat memberikan kesempatan terbaik untuk pengobatan yang efektif. J Neurosurg 72:370377. 3. Adams C: Cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. 4. tujuan pengobatan dan prognosis. 26. 1990. 2.1975 Abel MS: The radiology of chronic neck pain: sequele of occult traumatic lesions.1982.

spine 7:412-416. et al: Sarcoidosis presenting as cervical radiculopathy: a case report and literature review. Bodguk N: Cervical zygapophyseal joint pain patterns. 7. 1993. et al: False-positive rates of cervical zygapophysial joint blocks. 1998. MartinDunitz. et al: Systematic review of the effectiveness of cervical epidurals in the management of chronic neck pain. Barnsley L. Lord SM. Aprill C. Anthony M: Cervicogenic hedeahe: prevalence and response to local streroid therapy. Anderberg L. Lord S. Barnsley L. 16. Spine State Art Rev 12(2):209-242. Eur Spine J 16(3):321-328. II: A clinical evaluation. Atkinson R. J Radiol 80:917-925. 1987. Brandt L. spine 17:744-747. 1999. 2000. Dousset V. Wallis BJ. 11. Acta Neurochir 146(6):559-565. Simpson JM: Surgery of the cervical spine. 10. 63 . 1995. Delmer O. An HS. Wallis BJ. Pain Physician 12:137-157. et al: Evaluation of CT-guided periganglionic foraminal steroid injections for teratment of radicular pain in patients with foraminal stenosis. spine 15:458-461. 2009. 1992. spine 20:20-26. Barnsely L. Benyamin R. et al: Lack of effect of intraarticular corticosteroids for chronic pain in the cervical zygapophyseal joints. Bogduk N: The pathophysiology of whiplash. 8. et al:Selective diagnostic cervical nerve root block: correlation with clinical symptomps and MRI-pathology. 6. 12. Lord SM. Aprill C. Persson L. Berger O. 14. 2004. London. Lord SM. 1990. Wallis BJ. Clin J Pain 9:124-130.5. 1994. Andenberg L. Barnsley L. 9. Parr AT. Annertz M. 17. et al: Transforaminal steroids injection for treatment of cervical radiculopathy: a prospective and randomised study. et al: The prevalence of chronic cervical zygapophyseal jonit pain after whiplash. N Eng J Med 330(15):1047-1050. 1994.2007. Bodguk N: The prevalence of cervical zygapophyseal joint pain: a first approximation. 15. 13. Clin Exp Rheumatol 18(2 suppl 19):S59-S64. Ghelman B. Dwyer A. Singh V. Annertz M. Tsairis P.

23. Bonaldi G. Clin Orthop 221:149-160. 1988. Bridenbaugh PO. Facchinetti A. ed 2. et al: Cervical spine tomography in trauma. J Bone Joint Surg 72(8):1178-1184. Bernard TN Jr. Binet EF. Aprill C: On the nature of neck pain. Windsor M. 2008. Bogduk N. 1993. 1997. 26. 1991. Boden SD. 2003. 1987. 1982. Inglis A: The innervation of the cervical intervertebral discs. Whitecloud TS III: Cervical Spondylotic myelopathy and myeloradiculopathy: anterior decompression and stabilization with autogenous fibula strut graft. Marsland A: The cervical zygapophyseal joints as a source of neck pain. Spine 7:319-330. Bogduk N: Back pain: zygapophiseal joint blocks and epidural steroids. Baruzzi F. 29. Baker R. Pain 54:213-217. Davis DO. et al: Plasma radio-frequency-based diskectomy for treatment of cervical herniated nucleus pulposus: feasibility. 21. 2001. McCowin PR. Phys Med Rehabil Clin N Am14:455-472. Twomey LT: Clinical Anatomy of the Lumbar Spine. Bogduk N: Low back pain. Moro JJ. 64 . Spine 2:163-172. et al: Complications of spinal diagnostic and treatment procedures. 30. 24. New York. Spine 13:2-8. Churchill Livingstone. Churchill Livingstone. Spine 13:610-617. In Cousins MJ. Bogduk N: Cervicogenic headache: anatomic basis and patophysiologic mechanism. 20. editors: Neural Blockade in Clinical Anesthesia and Pain Management. In Bogduk N. Bogduk N. et al:Abnormal magnetic resonance scans of the cervical spine in asymptomatic subjects: a prospective investigation. 19. Bogduk N. Bogduk N: The clinical anatomy of the cervical dorsal rami. 27. 1988. 1988. New York. 1990. Curr Pain Headache Rep5(4):382-386. discography and cervical zygapophiseal joint blocks. JB Lippincott. 1977. Philadelphia. 25.18. 28. ed 2. Pain Med 9(suppl 1):S11-S34. Bogduk N. 22. editor: Clinical anatomy of the lumbar spine and sacrum. Marangola JP. Dreyfuss P. Bogduk N: The anatomy and pathophysiology of neck pain. Bogduk N. 31.

Bucholz RW. J Trauma 119:768-771. and preliminary clinical results. Clifford TJ. Chavin JM. Bush K. 1991. Graham W. 32. Chiu. Muscle Nerve 21:1220-1223. 1979. 33. AJNR Am J Neuroradiol 27(10):21042111. FA Davis. 35. et al: Plasma disc decompression compared to conservative care for treating symptomatic contained cervical disc protrusion: one year results from a prospective randomized controlled study. et al: Percutaneous microdecompressive endoscopic cervical disectomy with laser thermodiskoplasty. Borchgrevink GE. Cailliet R:Neck and Arm Pain. 2000. Chan KM. 42. 2008. Thoni K. Campbell DG. Hillier S: Outcome of cervical radiculopathy treated with periradicular/epidural corticosteroid injections: a prospective study with independent clinical review. et al: The usefulness of central motor conduction studies in the localization of cord involvement in cervical spondylitic myelopathy. Parsons CM: Referred head pain and its concomitants. JAMA 198:143-147. Cesaroni A. Philadelphia. JC. Acta Radiol 36:425-428. 1998. Nordby A. 1996. 1960.1944. Cicala RS. Angel JJ: Long term result of cervical epidural steroid injections. 37. 1989. Clin J Pain 5(2):143-145. Spine J 8(suppl):78S-79S.. Campbell AMG. 36. Buonocore E. treatment and prognosis. Nasathurai S. ed 3. et al: Occult cervical spine injuries in fatal traffic accidents. 39. Eur Spine J 5:319-325. Hartman JT. Differential diagnosis. J Nerv Ment Dis 99:544-551.safety. 34. 65 . Br Med J 2:481-485. Phillips DG: Cervical disk lesions with neurologic disorder. et al: MR imaging and radiography of patients with cervical hyperextension-flexion injuries after car accidents. Greensan M. 1995. Casilino P. Burkhead WZ. 2006. Nardi PV. Nelson CL: Cineradiograms of cervical spine in diagnosis of soft tissue injuries. Mt Sinai J Med 67(4):278-282. 41. 38. 40. Smevik O. 1966.

et al: Cervical radiculopathy: open study on percutaneous periradicular forminal steroid infiltration permormed under CT control in 30 patients. Cyteval C. New York. 44. In Kibler WB. Arch Phys Med Rehabil 47: 353-359. 2004. Spine 13: 642-747. Strohm BR: A study of tractive forces angle of pull on vertebran interspaces in the cervical spine. 47. Robinson PK: Cervical myelopathy: a complication of cervical spondylosis. et al: Functional rehabilitation of cervical spine athletic injuries. Davidson RI. et al: Radiographic evaluation of cervical spine injuries. 1938. Am J Neuroradiol 25: 441-445. 1966. el Khoury GY. 45. 2007. Bailey B. 1965. 1981. Dunn EJ. Br Med J 2:1367-1368. 66 . Bogduk N: Cervical zygapophysical joint pain maps.43. Herring SA. Farrell JP. and arm pain. Clarke E. 46. Cole AJ. Thomas E. Arch Phys Med Rehabil 46: 820. 1959. 53. Metzmaker JN: Shoulder abduction test diagnosis of radicular pain in cervical extradural compressive monoradiculopathies. Med J Aust 1: 983-989. Brain 75: 187-225. 52. Cloward RB: Cervical diskography. Cooper G. editors: Functional Rehabilitation of Sports and Muskuloskeletal Injuries. Aspen. shoulder. Press JM. John Wiley. ed 2. 1998. Spine 6: 441-446. 1979. Decoux E. 1956. Igram CM. 49. Stratton SA. 51. Colachis SC Jr. Colachis S. Pain med 8(4): 344-353. Cyriax J: Rheumatic headache. New York. Strohm BR: Effect of duration of intermittent cervical traction on vertebral separation.. Ann Surg 130: 1052-1064. 50. 54. 1988. Crock HV: A reappraisal on intervertebral disc lesions. Crafts RC: Textbook of Human Anatomy. A contribution to the aetilogy and mechanism of neck. Clark CR. 1970. 48.

65. Treanor WJ: Cervical radiculopathy. 64. et al: Validation of flexion extensiin radiographs of cervical spine.. A study in normal volunteers. Dwyer A. 59. ed 6. 1987. Dooley JF. et al: Efficacy of neck stabilization exercises for neck pain: a randomized controlled study. 61. Dvorak J. 62. 58. Falconer J. J Rehabil Med 41(8): 626-631. Ozturk C. Am J Phys Med Rehabil 80(2): 84-91. Panjabi MM. Actamaz F. Honet JC. Dillingham TR. Spine 15:453-457. 67 . Novotny J. 1990. Ellis H: Clinicak Anatomy: A Revision and Applied Anatomy for Clinical Students. 57. 66. Rothman RH. Deans G. 1994. Bogduk N: Cervical zygapophyseal joint pain paterns. et al: Neck pain: a major cause of disability following car accidents. et al: In vivo flexion/extension of the normal cervical spine. Blackwell. Spine 8:120-127. Dreyfuss P. Dvorak J. Panjabi MM. Fletcher D: Atlanto-occipital and lateral atlanto- axial joint pain patterns. Aprill C. et al: The natural history of severe cervical disc degeneration. I. Arch Phys Med Rehabil 75:342-352. 1991. 63. Magalliard J. McBroom RJ. Acta Orthop Scand 43:392-396.55. 2009. et al: Nerve root infiltration in the diagnosis of radicular pain. J Am Acad Orthop Surg 9(6):376-388. 1988. DePalma AF. et al: Identification of cervical radiculopathies. Emery SE: Cervical spondylitic myelopathy: diagnosis and treatment. Spine 13(1):79-83. 1990. Levitt RL. 1987. Grob D. J Orthop Res 9:828-834. Lauder TD. Hayes KW. 67. Andary M. Spine 19:1125-1131. London. Kerr M. Ellenberg MR. 2001. 56. Dusunceli Y. Arthritis Care Res 3:85-91. 1994. Taguchi T. 1976. Chang RW: Therapeutic ultrasound in the treatment of musculoskeletal condotions. 1972. Optimizing the electromyographic screen. 2001. Michaelsen M. 60. Injury 18:10-21.

N Y State J Med xxxix:969-974. Funct Neurol 15(4):199-202. Sepic SB. 1954. 72. 70. Spine 27(17): 1887-1894. Babaa H. 1998. Furusawa N. 78. et al: Neck pain: a long term follow up of 205 patients. Jameson RM. Hadley LA: Anatomicroradiographic studies of the spine: changes responsible for certain painful back conditions. Fukui T. Spine 25:1382-1389. Pain 68:79-83. 68 . 1957. Spine 15:440447. 77. Spine 9:667-671. 75. Malcolm JR. Transfeldt E. Benoist M. Marin E: The shoulder abduction relief sign in cervical radiculopathy. Shiotani M. 1987. 79. Guigui P. Spine 12:1-5. Gardner GM. 1989. 69. Fuji T. Fast A. et al: Experiments in reffered pain from deep somatic tissues. Sepic SB: Antrerior cervical fusion for degenerated or protruded discs: a review of one hundred forty-six patients. 80. et al: Outcome of anterior cervical discectomy and fusion as percieved by patients treated for dominant axialmechanical cervical spine pain. J Bone Joint Surg Am 69:815-821. Grubb SA. Sjaastad O: Cervicogenic headache (CEH): notes on some burning issues. Arch Phys Med Rehabil 70 (5):402-403. 71. 1984. 1996. J Bone Join Surg (Am) 39:1280-1284. Gore DR. Fredriksen T. Spine 26:1110-1116. Yonenobu K. 2002. 2000. et all: Herniation of cervical intervertebral disk: immunohistochemical examination and measurement of nitric oxide production. et al: Reffer pain distribution of the cervical zygapophyseal joints and cervical dorsal rami.68. 74. 76. Garvey TA. et al: Cervical radiculopathy or myelopathy secondary to athetoid cerebral palsy. Miiyoshi N. Fielding J: Cineroentgenography of the normal cervical spine. Gore DR. Kelly CK: Cervical discography: clinical implications from 12 years experience. Ohseti K. 73. 2001. 2000. Langton JBK. Feinstein B. Parikh S. Fujiwara K. J Bone Joint Surg Am 36:981-997. 1939. 1987. Deburg A: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy for spondylotic myelopathy.

Radiat Med 19(5):263266. 1985. Smith BS. Spine 26(12):1330-1336. Linke R. 85.2001 84. Lang CJ. Hekowitz H. Dohi M. Heller H: A biophysical explanation for Nd: YAG percutaneous laser disc decompression success. Hellinger J. Haldeman S. 1988. 87. Harada J. Murakami H. Clin Rehabil 22 (7): 592-600. Zobelein I. Hakkinen A. Heckmann JC. J Clin Laser Med Surg 19(5): 235-238. 89. Heller JG. Kurz LT. Hirabayashi K. Wakano K. cranial neuralgias. Haueisen DC. Fukuda K. Watanabe K. Hanonen P. Edwards CC II. 2002. et al: Herniated cervical intervertebral discs with radiculopathy: an outcome study of concervatively or surgically treated patients. 1999. et al: CT-guided percutaneous laser disk decompression (PLDD) for cervical disk hernia. Kautiainen H. et al: Laminoplasty versus laminectomy and fusion for multilevel cervical myelopathy: an independent matched cohort analysis. Clin Orthop 239:94-108. 69 . Herkowitz HN: The surgical management of cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. 1990. 83. 2001.81. Spine J 2(2): 162. 2008 82. 88. Clin Orthop Relat Res 198:179-183. 1989. 91. Lancet 353:307-314. Overholt DP: Surgical management of cervical soft disc herniation: a comparison between the anterior and posterior approach. Spine 8: 693-699. Cephalgia 8 (suppl 7): 1-96. et al: The diagnostic accuracy of spinal nerve injection studies: their role in the evaluation of recurrent sciatica. 86. et al: Expansive open door laminoplasty for cervical spine stenotic myelopathy. Headache Classification Committee of the international Headache Society: Clasification and diagnostic criteria for headache disorders. 1999. 2001. Dagenais D: Cervicogenic headaches: a critical review. Hawkey DJ: Cox-2 inhibitors. J Spinal Disord 12:396-401. 92. Spine 15: 1026-1030. and facial pain. 1983. et al:Strength training and stretching versus stretching only in the treatment of patiens with chronic pain: a randomized one-year follow-up study. Myers SR. 90.

Neurosurg 33 (29) : 485-502. 1986 103. 1971. Acta orthop Scand Suppl 17-38. 98. Jayson MI: Intervetebral foramen venous obstruction: a cause of periradicular fibrosis? Spine 14(6):558-568. 104. 1954. Schofferman J. dorsal and lumbar spinal syndromes. 97. Zotterman Y. 1977. Acta Orthop Scandal Suppl 17:39-102. Hitselberger WE. Huston CW. Hult L: Frequency of symptoms for different afe group and professions. Hunt WE: Cervical spondylosis: natural history and rare indications for Hunt WE. Holt EP: Fallacy of cervical discography: report of 50 cases in normal subjects. 1968. 101. Howe JF. 2008. In Hirsch C. Slipman CW. Pergamon press. 95. editors: cervical Pain. 1995.1989. Scheckenbach C: Low-dose chemonucleolysis combined with percutaneous nucleotomy in herniated cervical disks. Garvin C: Complications and side effects of cervical and lumbosacral nerve root injections. Jackson R: Cervical trauma: not just another pain in the neck.93. 1964. J Spinal Disord 8(3): 228-232. Witten RM: Abnormal myelograms is asymptomatic patients. 105. 2005. 94. JAMA 188:799-801. Hult L: The munkfors investigation. loeser JD. Arch Phys Med Rehabil 86(2): 277-283. 102. New York. Hult L: Cervical. Clin Husted DS. Hoogland T. 1982. 70 . Geriatrics 37:123. J Spinal Disord Tech 21 (6): 406-408. 96. 99. Calvin WH: Mechanosensitivity of dorsal root ganglia and chronically injured axons: a physiological basic for the radicular pain of nerve root compression. Orton D. Hoyland JA. Freemont AJ. 1980. Clin Neurosurg 27:466-480. J Neurosurg 28:204-206.1954 100. radiofrequency neurotomy for cervical facet joint pain. et al: Effectiveness of repeated surgical decompression. Miller CA: Management of cervical radiculopathy. Pain 3:25-41.

71 . interleukins. 1948. et al: Toward a biochemical understanding of human intervertebral disc degeneration and herniation: contributions of nitric oxide. 118. 115. 111. cervical zygapophysial joint pain syndromes. Kaneoka K. Keegen JJ. 1988. nitric oxide. 1939. Simmons EF. Rauschning W. 116. Georgescu HI. 109. J Neurol Neurosurg Psychiatry 49:353-361. Marsland A: The accuracy of manual disgnosis for Kaiser JA. 1993. 3:175-190. Johnson EW. Inami S. ed 2. Jeffreys E: Disorders of the Cervical Spine. et al: Abnormal segmental motion of the Kang JD. Larkin L. 110. 1997. disc spontaneously produce matrix metalloproteinases. Kang JD. Melvin JL: Value of electromyography in lumbar Johnson RM. 1986. Brin G. and PGE2. 1998. J Spinal Disord 4:251-263. Jonsson H Jr. Ono L. Hart DL. 1938. 1991. 1995. 112. Clin Sci 3:35-46. Spine 22:1065-1073. J Jpn Orthop Assoc 71: S1680. Anat Rec 102:409-437. 1977. Arch Phys med Rehabil 52:239-243. 1997. Spine 23:2701-2712.106. spondylosis and disc degeneration. 113. et al: Herniated cervical intervertebral traffic accident victims with skull fractures. et al: Cervical orthoses: astudy radiculopathy. Spine 20:2373-2378. structures with charts of segmental pain. 107. 114. Stefanovic-Racic M. Oxford. Jeffreys RV: The surgical treatment of cervical myelopathy due to Butterworth-Heinemann. comparing their effectiveness in restricting cervical motion in normal subjects. Garrett GD: The segmental distribution of the cutananeous Kellegren JH: Observations on referred pain arising from muscle Clin Sci Kellegren JH: On the distribution of pain arising from deep somatic nerves in the limbs of man. Holland BA: Imaging of the cervical spine. interleukin6. 1971. J Bone Joint Surg Am 59:332. Med J Aus 148: 233-236. Mclntyre L. 117. Bogduk NK. 108. et al: Hidden cervical spine injuries in Jull G. prostaglandins and matrix metalloproteinases. cervical spine during whiplash loading.

et al : Lumbar epidural perineural injection: a new technique.2000 123. Kirkaldy-willis WH:The pathology and pathogenesis of low back pain. Larocca H : Acceleration injuries of the neck. New York. New York. 1988. Bickert U. Garner MND : An in vivo. 1981. Prosspective Analysis of Tissue sensitivity of lumbar spinal tissue. 129. Krempen JF.Albert TJ : Health outcome assessment before and after anterior cervical discectomy and fusion for radiculopathy a prospective analysis. Patko JT : Cervical percutaneous laser disc decrompession : preliminary result of ongoing prospective outcome study. 2001 124.2005 126. Eur Spine J 6 :357-361. Voccato AR. Lawrence JS : Disc degeneration. Jbone Joint Surg AM 56:1435-1444. Clin Neurosurg 25 :209217.1969 131. Voss D : Propioceptive Neuromuscular Facilitation : Patterns and techniques. 121. 120. Lazorthes G Gaubert J : L’innervation des articulation interapophysaire vertebrales. Ann Rheum Dis 28:121. Its frequency and relationship to symptom.1974 128. J Clin Laser Med Surg 19(1): 3-8. editor: Managing low back pain. In Kirkaldy-Willis WH.1956 72 . Kuslich SD. Ahern JW. Spone 25:801-803. Kolstad F. Acta Neurochir(Wien)147:1065-1070.119. Leivseth G.1997 127. Smith BS : Nerve root injection : amethod for evaluating the etiology sciatica. Churchill Livingstone. Klein BR. Neurology 10:800-809. 1960. 122. McGraw-Hill 125.1978 130. New York. Moreau P: Localisation of the level of symptomatic Kimmel DL: Innervation of the spinal dura mater of the posterior cranial cervical disc degeneration. 1956. Presented at the annual Meeting of the North American Spine Society. Ludwig J. J Bone Joint Surg Br 63(2) 272-277. Knott M. Macnab I. Kraemer j. Nygaard OP : Transforaminal steroid injection in the treatment of cervical radiculopathy : a prospective outcome study. 1997. Goswarni A. Kikuchi S. Knight MTN. C R Assoc Anat 43: 488-494. fossa.

et al: third occipital nerve headache:a prevalence study. Yan DL. Bodguk N: The utility of comparative local anesthetic block versus placebo-controlled block versus placebo-controlled blocks for the diagnosis of cervical zygapophysial joint pain. et al: Cervical synovial cyst:case report and review of the literature. A placebo-controlled prevalence study. Barnsley L. L’hermitte J Etude de la commation de la moe le). Lunardi P. ed 4. Liversedge LA. Wallis BJ. Clin J Pain 11:208-213. Lehmann JF: Therapeutic Heat and Cold. HutchinsonEC. Delateur BJ : Therapeutic heat.1995 140. J Neurol Neourosurg Psychiatry 57: 1187-1190.2008 137. Arch Phys Med Rehabil 39:560-565. tator CH. J Neurosurg 26:990-997. Barnsley L. 1994.ed 3. Stow RW : Pain threshold Measurement after therapeutic application of ultrasound. Barnsley L.1982. Zhang ZH : Percutaneous cervical nucleoplasty in the treatment of cervical disc herniation. Lehmann JD. et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft 144.1995 139.1958 133. Bogduk N : percutaneous radiofrequency neurotomy in the treatment of cervical zygaphophysial joint pain : acaution. Macdonald RL.Acqui M. 141. 1990. Fehling MG.1999 143. Spine 21:17371745. Lancet 2:652-659. et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft fusion for cervical myelopathy. Ricci G. Lord SM. Barnsley L. Rev Neurol 1: 210- 239. Williams and Wilkins 135. Li J. Eur Spine J 17:1664-1669. Brunner GD. 1996. 142. 1197. Lord SM. Cervical Spondylosis simulating motor neuron disease.1953 138. fehling MG. Lord SM. neurosurgery 36:732-739. In Lehmann JF. lyons JB. microwaves and infrared. Lord SM. Baltimore. Macdonald RL. Lehmann JF.132. Williams and Wilkins 134. Eur Spine j 8:232-237.1932 136. 73 .et al:Chronic cervical zygapophyseal join pain after whiplash. Wallis BJ. editor : therapeutic hot and cold. Baltimore.

Mayr MT. allograft reconstruction. Jeans ME. et al: ( L’ecographia musculo-tendinea nei trauma distorvi acuti del collo). 1997 149. 2002 155. 151. Society for Automotive Enggineers. 1993 156. J bone joint surg Br 80:19-24. 1999 74 . Singh V. Malanga G: The diagnosis and treatment of cervical radiculopathy. et al: Ice Message and Transcutaneous Electrical Stimulation: Comparison of treatment for low back pain. outcome after anterior corpectomy. Howard RP. at al: MRI of cervical intervertebral discs in asymptomatic subjects. Determinas and consequences of chronic neck pain in Finland. Makela M. et al: Analysis of human test subject kinematic responses to low velocity rear end impacts. Guzman HM. 154. Cafaro E. 1980 148. 1991 147. Manchikanti L. Manchikanti L. 2002. et al: Prevalence. 1998. paper 930889. McDonald GJ. 1993. Neurosurgery 45:61-67. Williams & Wilkins. med sci sports exerc 29 ( suppl ) : s236-s245. Dunbar EE. Manelfe C:Imaging of spine and spinal cord. radiology 3:5-15. 1991 152. Baltimore. pain physician 5: 243-249. J Neurosurg 96 (1 suppl): 10-16. 2009 150. 1994. and instrumentation. McConnel WE. Rivera J. radial med (torino) 83:211-215. Ettore GC. 146. Comey CH: Cervical spinal stenosisz. Warrendale. McCulloc J. Wargo BW. Heliovara M. Suzuki N. 1992. proceedings of the 37th STAPP Car Crash Conference. Matsumoto M. pain 9: 209-217. Neck Ache and Shoulder Pain. AMJ Epidemiol 134: 13561367. Martino F. 153. Stratford JG. Fujimura. Sievers D. Lord SM. Bogduk N: Long-term follow up patients treated with cervical radiofrequency neurotomy for chronic neck pain. Malacca R. Macnab I.145. pain physician 12: 305-321. Subach BR. et al: Systemic review of cervical dischography as a diagnostic test for chronic spinal pain. et al: prevalence of cervical faced join pain in chronin neck pain.

161. Nagashima H. CT with metrimazide and metrizamide myelography. Clin Orthop relat Res 129:49-60. 160. 158. 2001 168. Spine 12:6-11. Acta Radiol 46:927. et al: Cervical radiculopathy: prospective evaluation with surface coil MR imaging. et al: Correlation berween operative outcomes of cervical compression myelopathy and MRI if the spinal cord. Merskey H. Moore KL. Masaryk T. McRae DL: Asymptomatic intervertebral disc protrusions. 1965. Meloche J. Morio Y. In Merskey H. Murphy RW: nerve roots and spinal nerves in degenerative disk disease. 1986 166. ed 2. Williams & Willkins. The Quebec Headache Study Group. 165. Phys Med Rehabil Clin N Am 14:493-548. Melzack R. Modic M. Philadelphia. 1993. 1990. Seattle. 1955. Agur AM: Essential Clinical Anatomy. science 150:971-979.. International Association for the Study of Pain. In Michlovitz S. 1956 159. 1977 75 . 167. McKinney LA: Early mobilization of acue sprain of the neck. Bogduk N: Classification of chronic pain: descriptions of chronic pain syndromes and definitions of pain terms. teshima R. 1994. 1989. Michlovitz S: Cryotherapy: the use of cold as a therapeutic agent. Mink JH. 162. Deustch Al: The cervical spine: radiologist’s perspective. Bergeron Y. Spine 26: 1238-1245. Bogduk N.157. Radiology 161:753-759. Gordon RE. Yamamuro T: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy. Br Med J 299: 1006-1008. 1987 164. Mulopulos G. Headache 33 (6): 328-334. Bellavance A. Wall PD: Pain mechanisms: a new theory. Mikawa Y. Shikata J. 2003. editor: Thermal Agents in Rehabilitation. Baltimore. editors: Cervinogenic headache. Davis 163. et al: Painful intervertebral dysfunction: Robert Maigne’s original contribution to headache of cervical origin.

J Bone Joint Surg Br 65:608-611. Newham DJ: The Consequences of eccentric contractions and their relathionship to delayed-onset muscle pain. Norris H. Simone FA. Torg JS: Roentgen examination of cervical spine injuries in the athelete. 180. 1995 171. 1987. Clin Sports Med :761.. 1986. Persson LC. O’Sullivan PB. Penning L. Morits U. Brandt L: Cervical radiculopathy:pain. Philadelphia.: Evaluation of specific stabilizing evercise in the treatment of chronic low back pain with radiologic diagnosis of spondylosis or spondylilisthesis. et al: CT myelographic findings in degenerative disorders of the cervical spine: clinical significance. ed 3. Watt I: The prognosis of neck injuries resulting from rearend vehicle collisions. Eur J Appl Physiol 57:353-359. Nurrick S: The Natural history and the results of surgical treatment of the spinal cord disorder associated with cervical spondylosis. Parminder SP: Management of cervical pain. Pavlov H. In Rothman RH. editor: Rehabilitation Medicine: Principles an Practice. 1972 173. zolmarker K. Nilsson N: The Prevalence of cervicogenic headache in a random population sample of 20-59 years old. Spine 18:1425-1432. Nordborg C: Autologous nucleus pulposus induces neurophysiologic and histologic changes in porcine cauda equine nerve roots. In DeLisa JA. Spine 22:2959-2967. 174. Wilmink JT. 1997. Phyty GD. 1988 170. Lippincott. Saunders. 2004 176. 1992.169. Spine 29(11):1217-1225. et al: Injury mmechanism of the cervical intevertebral disc during simulated whisplash. WW: Applied anatomy of the spine. Twomwy LT. Rydevik B. 178. et al. Van Woerdden HH. editors: The spine. Pearson A. Ito S. 1983 172. 177. Spine 20(17):1884-1888. Brain 95:101-108. AJR Am J Roentgenol 7:119-127. Philadelphia. 1993. 179. Parke. 175. Panjabi M. muscle weakness and sensory loss in patients with cervcal radiculopathy treated with 76 . 1998.

J comput Assist Tomogr 13:399-404. O’Fallon WM. and psychososial finding. 1995. Stereoact Funct Neurosurg 54-55. Deer Park. Toolanen G. Aloray 77 . 1984. Office of the Surgeon General. Herring SA. Myers B. radiologic.In The textbook of Military Medicine. 188. 185. 1986. 189. 2000. Annest JL. editors: Mechanisms of Head and Spine Trauma. et al: Epidemiology of cervical radiculopathy: a population-based study from Rochester. 90-95. Tomas DL. In Sances A. Acta Orthop Scand 65:525-528. 187. Petterson K. Medicine 74:281-297. Ewing CL. 1994. et al: Anatomy of the normal and traumatized spine. 186. 1977. 1989 190. Purkis IE: Cervical epidural steroids. 182. Radharkrishnan K. Brain 117(pt 2):325-335. Sturzenegger M. Poindexter DP. Radanov BP. et al: MRI and neurology in acute whiplash trauma: no correlation in prospective examination of 39 cases. Quinlan KP. physiotherapy or cervical collar: a prospective. Accid Anal Prev 2004(36):21-27. Dever M: Experimental pathophysiological correlates of clinical symptomatology in peripheral neuropatic pain syndrome. 1973 183. Johnson EW: Football shoulder and neck injury: a study of the ‘stinger”. J Neurol Neurosurg Psychiatry 36:879-884. 1986. et al: Neck strains and sprains among motor vehicle occupants-United states. Arch Phys Med Rehabil 65:601-602. Minn. Press JM. controlled study. Metes J:MR imaging compressive myelomalacia. 1990 191. Eur Spine J 6:256-266. Philips DG: Surgical treatment of myelopathy with cervical spondylosis. 1976-1990. 1996. DC. Hildingson C. 184.surgery. Rauschning W. 181. Ramanauskas W. Rappaport ZH. Di Stefano G: Long-term outcome after whisplash injury: a 2-year follow-up considering features of injury mechanism and somatic. Borden Institute. Pain Clinic 1:3-7. 1994. Wilner H. Washington. Litchy WJ. Kibler WB: Rehabilitation of musculoskeletal disorders.

Saal J. et al: Cervical radiculopathy: a rare symptom of giant cell arteritis. 2001. Spine 9:7-15.Spine26(12):E268E273. Russell EJ: Computed tomography and myelography in the evaluationof cervical degenerative disease. et al: A systematic review of the diagnostic accuracy of provocative tests of the neck for diagnosing cervical radiculopathy.Schellhas KP. Arthritis Rheum 26:207-209. Spine 20:1821-1827. Neuroimaging Clin N Am 5(3):329-348. Redford JB. Reitman C. 1995. Spine J 6(suppl):2S-3S. Kim Y.controlled. Pool JJ. 2005. 78 . randomized. 203. Arenillas JIC. van Tulder MW. Gorup J: Radiofrequency medical branch neurotomy in litigantanonlitigantpatientswithcervicalwhiplash.double-blind study.192. 1984. Spine J 5:88S. 1983 202. manual therapy and education:a review of conservative measures. Spine state art rev 9:673-688. Brown M. 194. Riew DK. Kirschenbaum LP: Epidural analgesic techniques in the management of cervical pain. Rydevik B. Saal J. Gilula L: Can cervical nerve root blocks prevent surgery for cervical radiculopathy? A prospective. fusion for the treatment of cervical radiculopathy: a prospective randomized study. 2007 197. Lundborg G: Pathoanatomy and pathophysiology of nerve root compression. Rubinstein SM. Rowlingson JC. Saal J: The role of inflammation in lumbar pain. Spine State Art Rev 9:661-672. 1995 200. Spine 21(16):1877-1883. 2006 195. Hacker R et al: Artificial disc vs. 1986 196. 1995 198. Spine 21(3): 300-312. Anesth Analg 65:938-942. Yurth E: Nonoperative management of herniated cervical intervertebral disc with radiculopathy. Sanchez MC.Sapir D. Patel A: Orthotic devices in the management of spinal disorders. 204. Gundry CR. 1995 193. et al: Cervical discogenic pain: prospective correlation of magnetic resonance imaging and discography in asymptomatic subjects and pain sufferers. Esses S: Modalities. 199. 1996. 1996 201.Sasso R. Eur Spine J 16(3):307-319. Smith MD. Heller J. Gutieerez DA.

Clin Orthop 108:57-69.Sjaastad O.Siebert W: Percutaneous laser discectomy of cervical discs: preliminary clinical results.Selecki BR: Whiplash. Headache 38(6):442-445. 211. Fredriksen and T: Cervicogenic headache: criteria.Sjaastad O. 209. Wortzman G. Cephalalgia 3:249-256. Can J Surg 16:217-221. Aebi M: Cervical discography in discogenic pain syndrome and its predictive value for cervical fusion. 1998. 2000. 17(2suppl classification epidemiology. 213.Sjaastad O. 208. The Cervicogenic Headache International Study Group. 1984. Pfaffenrath V: Cervicogenic headache diagnostic criteria. 1983.Simmons EH. Arch Orthop Trauma Surg 113:199-201. Pain Physician 5(2): 121-126 2002. Segil CM: An evaluation of discography in the localization of symptomatic levels in discogenic disease of the spine. 1994. 1975. Saunte C. 1943. Fredriksen T. 206.Shulman M: Treatment of neck pain with cervical epidural injection.Sharps LS.Schofferman J. 1986. 215. 212. Garges K. Isaac Z: Percutaneous disc decompression using nucleoplasty. JAMA 121:1209-1214. et al: Invertebral nerve root in the investigation of chronic lumbar disc disease.Seibenrock KA. Reg Anesth 11:92-94. 1995. et al: ‘Cervicogenic’ headache: an hypothesis.ClinExpRheumatol 19):S3-S6.Schutz H. Murphey MD: The syndrome of unilateral rupture of the sixth cervical intervertebral disk with compression of the seventh cervical nerve root: a report of four cases with symptoms simulating coronary disease. Aust Fam Phys 13:243-247. 216. 214. 79 . 1973. 207. 2002. 210. Lougheed WM.205. Goldthwaite N. Hovdahl H. et al: Upper cervical anterior diskectomy and fusion improves discogenic cervical headaches Spine 27(20):2240-2244. J Clin Laser Medi Surg 13(3):205-207.Semmes RE.

Isaac Z. Bhargava A. Slipman CW. 1998. et al: Cervical zygapophyseal joint syndrome and referral to the head and face: premilinary data from 100 patients. Plastaras CT. Arch Phys Med Rehabil 83(11): 1665. Spine J 4(5S):71S.Slipman CW. 218.2002. et al: Outcomes and side effects following percutaneous cervical disk decompression using coblation technology: a pilot study. Am J Phys Med Rehabil 80(3): 182-188. 2001.2002. Slipman CW. Isaac Z. Plastaras C. Thomas J. Lipetz JS. Isaac Z. Lipetz JS. pain physician 4(2):167-174. 221. Arch Phys Med Rebail 83(11): 1664. 2001. et al: An evidence-based algorithmic approach to cervical spinal disorders. et al: Does the cervical zygapophyseal joint refer symptoms to the neck bilaterally? preliminary data from 100 patients. 224. Chow DW. et al: Therapeutic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of traumatically induced cervical spondyliticradicularpain.AmJPhysMedRehabil83(6):446-454. et al: Therapeautic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of atraumatic cervical spondylitic radicular pain: a retrospective analysis with independent clinical review.217. Jackson HB. 226. 2000. Lipetz JS. DePalma MJ. Crit Rec Phys Rehabil Med 13(4):283-299. Slipman CW. Arch Phys Med Rehabil 81:741-746.Slipman CW. et al: Outcomes of therepeutic selective nerve root blocks for whiplash induced cervical radicular pain. 222.2004.Slipman CW. 80 .Slipman CW. Jackson HB. Freg ME. Patel R.2001. 2005. et al: Symptom provocation of fluoroscopically guided cervical nerve root stimulation: are dynatomal maps identical to dermatomal maps. 225. Slipman CW. Spine 23: 2235-2242. Palmitier RS. Lipetz JS. 220. et al: Provocative cervical discography symptom mapping. Slipman CW. Plastaras CT. Spine J 5(4): 381-388. et al: Therapeutic zygapophyseal joint injections for headaches emanating from the C2-3 joint. 223. Oleski C. Slipman CW. 2004. 219.

Swanberg H: The Intervertebral Foramina in Man. et al: Scientific monograph of the Quebec Task Force on whiplash.associated disorders: redefining whiplash and its management. 1944. Davidson IR: Diagnostic cervical zygapophysial joint blocks for chronic cervical pain. Spine 12(suppl): S1. Spine 20 (suppl 8): 3s-73s. Smith GW. Robinson R. and operative findings. 1990. Nichols PJ: The technique of cervical discography. McLaren MI. Salmi LR. et al: Cervicothoracic muscular stabilizing technique. et al: Cervical nonorganic signs: a new clinical tool to assess abnormal illness behavior in neck pain patients: a pilot study. computed tomography. 1999. Report of the Quebec Task Force on Spinal Disorders. Spine 15(6): 540-543. Arch Phys Med Rehabil 81:170-175. Spurling RG. Leblanc F. Scientific Publishing. Surg Gynecol Obstet 78:350-358. 237. Spitzer WO. 2000. 236. Bashford GM. Chicago. Skovron ML. 228. Stanley D. 1988. Saal JA. Speldewinde GC. 1987. Dupuis M. Euinton HA. Prentice C. Sobel JB. Medj Aust 174: 174-176. 1990. Su RK: Treatment of whiplash injuries with acupuncture. 81 . 232. 2000. 234. Radiology 68: 718-720. 1957. et al: A prospective study of nerve root infiltration in the diagnosis of sciatica: a comparison with radiculography. Spitzer W.227. Am J Phys Med Rehabil 78:30-32. Swezey AM: Efficacy of home cervical traction therapy. 1995. 233. 230. 235. Scoville WB: Lateral rupture of the cervical intervertebral discs: a common cause of shoulder and arm pain. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360. Clin J Pain 4: 233. 231. Sweeney T. Su HC. Sollenberger P. 229. 1995. Swezey RL. et al: Scientific approach to the assessment and management of activity-related spinal disorder: a monograph for clinicians.S57.

Reicher MA. Teresi LM. Takala J.2001 245. Sievers K. 1982. Radiology 164: 83-88. 244. radiologi 218:886-892.1989. et al: kisaran normal gerak pada tulang belakang leher. Laasoen EM. Scand J Rheumatol Suppl 47:15-29. Society for Automotive Engineers. Twomey LT: Acute injuries to cervical joints: an autopsy study of neck sprain. Viikari-Juntura E.1989. Schlbom H. Nomura S. Welch J: Human subject kinematic electromyographic activity during low speed rear impacts. 1999 82 . Cephalalgia 1 (suppl 25) :11-16. 247. Carlier RTy. Vallee JN. Vargo MM. Spine 14:253-257. Validitas tes klinis dalam diagnosis kompresi akar pada penyakit disc serviks. Und B. Pancoast tumor menyajikan sebagai radioculopathy serviks. Arch Phys Med Rehabil 71:606-609. Klaukka T: Rheumatic symptoms in the middle aged population in southwesten Finland. Umaeda S. Feydy A. Vincent G: sakit kepala cervicogenic perbandingan dengan migrain dan sakit kepala tipe tegang. et al: Serviks laminoplasty untuk memperbesar kanal tulang belakang di osifikasi bertingkat dari ligamentum longitudinal posterior dengan myelopathy. 239. Nordwall A. 240. 1993. et al: Asymptomatic degenerative disk disease and spondylosis of the cervical spine: MR imaging. 1996. Szabo T.1988 243. 248. Warrendale. Arch Orthop Trauma Surg 107:148-153. Arch Phys Med Rehabil 70:692-695. Taylor JR. Acta Orthop Scand 251 (suppl) :61-63. dkk: radikulopati servikal kronis: pendekatan injeksi perradicular lateral yang kortikosteroid.238. Spine 9: 1115-1122. In Proc 40th Stapp Car Crash Conp 1996 pp 295-315. 246. Porras M. Tomita K. tahun 1993.1990. KM Banjir. VanAkkerveeken PF: nilai diagnostik infiltrasi sheat akar saraf. 241. 1987. Lufkin RB. 242.

dkk: signifikansi gejala dan tanda-tanda di lokalisasi di root terlibat dalam tonjolan disk serviks.1998. 254. Punjab MM: Masalah ketidakstabilan klinis pada tulang belakang manusia: Pendekatan biokimia pada sistemik tulang belakang. 256. somatosensori membangkitkan potensi dalam cervical spondylosis: korelasi median. Wolff MW. Jonsson BG: nyeri dari daerah leher-bahu dan cuti sakit. 1974. Westerling D. ulanr.1973. AAEM minimonograph 32: pemeriksaan diagnostik elektro pada pasien dengan radioculopathies. Arch Phys Med Rehabil 75:465-469. Yoss RE. et al: Bantuan dari rasa sakit oleh pasien. White AA III. Pendekatan konservatif untuk manajemen. 251. 252. Corbin KB. Wood EC. Spine 12:313-316.: radiculopathies serviks:.249. 253. Neurologi 7:673683. otot saraf 21:16121631. Brain 83:589-616. otak 108:273-300. McCarthy CS. Levine La.1985 83 . 259.2002.1960. Lippincott. Ruuska J: penggunaan klinis pengukuran kekuatan leher isometrik dalam rehabilitasi. Jones SJ. Whitecloud TS. Philadephia. Aminoff MJ. Ylinen J. Deponte RJ. Saunders. Yu YL. 255.1994. Philadephia.1990 250. Phys Med Clin Rehabil N AM 13:589-608. Scand J Med Soc 8:131-136. 257.1987. Southwick WO.1957. dan tanggapan saraf tibialis posterior dengan temuan klinis dan radiologis. Wilkinson M: Anatomi mengerikan dari cervical spondylosis dan myelopathy. Seago Ra: serviks discogenis sindrom: hasil intervensi toperative pada pasien dengan Diskografi positif. Wilbourn AJ. 258. 1990. J tulang sendi Surg Am 55:525-534. ed 2. Pemijatan Beard: Prinsip dan Teknik. White AA III.

2004. 261.1987. 84 .: cercival spondylotic myelopathy dan radikulopati. Huang CY. Acta Neurol Scand 75:367-373. Yu YL. Liew S. Woo E. Spine 29 (19) : 2140-2145. Simmons E: Nilai pencitraan resonansi magnetik dan Diskografi di detrmining tingkat serviks discectomy fusi d. Zheng Y.260.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful