MASALAH LEHER SECARA UMUM Michael J. DePalma and Curtis W.

Slipman PENDAHULUAN DAN EPIDEMIOLOGI Keberhasilan pengobatan untuk nyeri penyakit-penyakit spinal servikal tergantung dari keakuratan menentukan penyebab kerusakan jaringan, termasuk ruang lingkup penyakit biomekanik dan biokimia. Para klinisi membutuhkan suatu konsep dalam proses diagnosis dan tatalaksana yang sesuai dengan kepahaman patofisiologi dari kerusakan spinal servikal dan hubungannya dengan manifestasi kinis, kesadaran akan keuntungan dan kerugian dari alat-alat diagnosis, dan pengetahuan tentang pilihan-pilihan terapinya. Langkah awal dari proses ini adalah mencari riwayat. Hal ini penting utnuk membedakan antara nyeri servikal aksial (nyeri leher) dan nyeri lengan atas. Seperti yang dikatakan oleh Bogduk, nyeri leher, dan sebaliknya. Nyeri servikal aksial tidak harus menjadi nyeri servikal radikular. Nyeri servikal aksial didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi di seluruh atau bagian dari perpanjangan inferior oksiput inferior ke regio interskapular superior, sampai midline atau hanya parmidline. Pasien merasakannya sebagai bendungan dari leher. Nyeri servikal radikular didefinisikan sebagai nyeri sampai bahu, area distal atau semuanya, yang bermnifestasi seperti nyeri lengan atas. Penyebab dari gejalanya bermacam-macam, diagnosis dan tatalaksananya juga bermacam-macam. Penyamaan nyeri servikal aksial dan nyeri servikal radikular dapat menyebabkan salah diagnosis, ketidaksesuaian pemeriksaan dan pemberian pengobatan secara optimal. Sering terjadi keraguan karena kedua penyakit ini disebabkan oleh klerusakan spinal servikal. Masing-masing penyakit berbeda dalam kejadian, mekanisme, patofisiologi, pengobatan dan rehabilitasi. Laporan epidemiologi kadang-kadang menggabungkan nyeri leher dan nyeri lengan atas, tapi keluhan tentang juga banyak. Prevalensi dari nyeri leher dengan atau tanpa disertyai nyeri lengan atas berkisar 9% sampai 18% dari prevalensi umum,130,145,238,248 dan satu dari tiga orang dapat mengingat paling sedikit satu
25

leher

bukanlah lengan atas, dan lengan atas bukanlah leher. Nyeri di lengan atas bukanlah

1

kejadian dari nyeri leher dalam kehidupan mereka.

130

Nyeri servikal dalam praktek
256

lebih sering ditemukan dibanding nyeri pinggang bagian bawah,

dan nyeri leher

akibat trauma yang kronis sekitar 40% pasien, dengan 8% sampai 10% dengan nyeri yang sangat.55 Angka kejadian meningkat di temp[at kerja, dengan prevalensi 35% sampai 71% pada daerah hutan di swedia dan pekerja industrial.98,99 Jumlah keluhan servikal akibat pekerjaan meningkat sesuai peningkatan umur. Sekitar 25% sampai 30% pekerja dengan umur kurang dari 30 tahun dilaporkan mengalami kekakuan leher, dan 50% pekerja diatas 45 tahun dilaporkan dengan keluhan yang sama. Radiculopathy servikal jarang terjadi, angka kejadian 83,2 per 100,000, dan terjadi antara umur 50-54 tahun187 5 sampai 10% pekerja dibawah umur 30 tahun mengeluh nyeri menyebar sampai lengan atas, dimana 25% sampai 40% diantaranya diatas 45 tahun mengalami nyeri di lengan atas.100 23% dari pekerja pria pernah mengalami paling sedikit satu kali periode nyeri lengan atas.100 Nyeri leher, nyeri radikular servikal, atau keduanya adalah keluhan umum yang bayanyak dikeluhakan pasien dari berbagai profil. Evaluasi dan pengobatan spinal servikal secara umum membutuhklan analisa kemungkianan tentang kerusakan struktur yang palinng bertanggung jawab terhadap kondisi pasien. Seorang klinisi spinal mengenali gejala individual dengan cermat dan menggabungkan menjadi diagnosis dan pengobatan yang akurat untuk penyakit ini. Bab ini bertujuan sebagai pegangan dalam pendekatan terhadp penyakit-penyakit nyeri spinal servikal secara umum, serta menyediakan algoritme pengobatan yang menggabungkan terapi yang sesuai denga spektrum pelayanan. PATOFISIOLOGI DAN ARTI GAMBARAN NYERI BERALIH Pegetahuan tentang hubungan anatomi dan spinal servikal penting, untuk memahami mekanisme penyakit-penyakit spinal servikal. Spinal servikal adalah suatu segmen yang terpisah dari tulang aksial (lihat gambar 37-), dan berfungsi untuk menopang dan menstabilkan kepala; membuat kepala dapat bergerak dalam segala bidang dan gerakan; serta menjaga tulang belakang, akar saraf, saraf spinal, dan ateri vertebrae.163 Ada tujuh tulang belakang servikal dan delapan saraf

2

servikal. Artikulasio atlantooksipital (C0-1) memudahkan 10º fleksi dan 25 º ekstensi. Level C1-2 atau sendi atlantoaksial (lihat gambar 37-2) membentuk segmen servikal bagian atas dan bertanggung jawab untuk 40% sampai 50% dari semua rotasi aksial servikal, ditunjukkan secara klinis dengan rotasi 45 º di setiap arah.61,62,65,70,249 Bagian bawah dari C2-3, fleksi lateral dari spinal dipasangakan dengan rotasi di arah yang sama. Segmen spinal menandakan sebuah transisi dimana dapat terjadi perubahan gerak dari rotasi ke fleksi, ekstensi dan belokan lateral.70,242 Kombinasi pergerakan ini difasilitasi oleh kecenderungan 45 º sagital dari sendi zygopophyseal servikal (lihat gambar 37-1).147 Sendi zygopophyseal memberikan gerakan diantara spinal servikal, menghubungkan masing-masing segmen vertebrae,216 dan diinervasi oleh cabang medial dari rami servikal dorsal (gambar 37-3).21 Sebagai tambahan, sendi C0-1 diinervasi oleh ramus C1 ventral, 122 dan sendi C1-2 oleh ramus C2 ventral lateral dan nervus sinuvertebral C1, C2, dan C3 medial.120 Gerakan flksi yang bebas terjadi di C4-5 dan C5-6, sedangkan belokan lateral terjadi di C3-4 dan C4-5.70,242 Vertebrae servikal bagian bawah (C3-7) memiliki sendi sinovial yang unik seperti artikulasio, sendi uncovertebare atau sebdi luscha, berlokasi diantara prosessus uncinate (gambar 37-4).165 Sendi ini umumnya menyebabkan perubahan pada osteoartritis, yang dapat menyempitkan diameter foramen intravertebrae (gambar 37-5).80,97,234 Foramen intravertebrae yang terbesar di level C2-3 dan terjadi penurunan ukuran progresis di level C6-7. Kompleks radikular dari akar ganglia dorsal, akar saraf, nervus spinal dan sekeliling sheat berjumlah 20% sampai 35% area cross-sectional foramen intervertebrae.80,97,234 Volume sisa foramen intervertebrae diisi oleh aerolar longgar atau jaringan adipose, ligamentum Hoffman’s arteri radikular, dan sejumlah saluran vena yang biasanya melingkari akar saraf.216 Neuroforamina dibatasi di anteromedial oleh sendi uncovertebrae, superior dan inferior oleh pedikel succesive, dan medial oleh tepi end plate vertebrae dan disk intervertebrae (lihat gambar 375).216

3

Gambar 37-1. Hubungan anatomi ligamen spinal servikal dengan struktur-struktur lainnya di leher. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

Gambar 37-2. Gambaran atlas dan axis dari sisi anterior. Tuberkel anterior atlas telah dipotong sehingga terlihat prosesus odontoid axis. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

4

216 Anatomi normal servical spine dapat mengalami degenerasi dan trauma melalui berbagai jenis gangguan servikal spine. Nervus oksipital ketiga (TON) adalah cabang nervus besar yang membutuhkan tiga blok terpisah di level C2 inferior-C3 superior dan terletak di daerah lateral sendi C2-3.Gambar 37-3 Zona target dari blok cabang medial servikal. yang mempengaruhi kurvatura servical lordotik. yang menyediakan transmisi aksial untuk menghilangkan tekanan pada setiap range of motion. memperlihatkan zona target (tanda panah bulat) berlokasi di bagian tengah C2 melalui pilar artikular C7. Semua bagiannya dibentuk oleh anulus fibrosis yang diinervasi posterolateral oleh nervus sinuvertebral. Ilustrasi lateral dari spinal servikal.30 Porsi bagian dalam dari diskus yang membentuk nukleus pulposus gelatinosus. dan inervasi anterior oleh nervus vertebral (Gambar 37-6). setiap cabang dibentuk oleh dari nervus vebtebral dan ramus ventral. Diskus intervertebra terletak antara vertebra C2 sampai vertebra C7. 5 .216 Setiap diskus intervertebrata lebih tebal di bagian anterior dibandingkan bagian posterior.

Non neural struktur pada leher. Harus ada inervasi. 1994. (redrawan from Bogduk N. SVN Sinuvertetbral nerve. A. seperti diskus intervertebrata. ligamen 6 . 1991. Trowney: Clinila Anatomy of Lumbar Spine. Proksimal sendi uncovertebral pada serabut saraf servikal (NR). dan sensitif untuk penyakit atau cedera sehingga menimbulkan nyeri. yang bisa menghasilkan nyeri yang sama dengan klinisnya. B. Servikal spine. Pasokan saraf pada diskus intervertebralis. Potongan aksial servikal ke 7 Gambar 37-6. Anterior Longitudinal Ligament. Churchil Livingstone) Tiga kebutuhan penting yang diperlukan untuk menimbulkan nyeri. (Panel B redrawn form Macnab I. williams&Wilkins) Gambar 37-5. gambaran Sendi Luschka’s. sendi zigopophasial. ALL. Baltimore. New York. posterior longitudinal Ligament.Gambar 37-4 Sendi Luschka’s (Uncovertebral). McCulloch J: Neck Ache and Shoulder Pain. PLL.

Dia berhipotesis bahwa fenomena sistem saraf pusat dimediasi oleh nyeri alih.116-118. karena anestesi sarap perifer distal yang tidak mengurangi nyeri alih ini. tendon.118 pertama kali menemukan nyeri alih terbentuk oleh struktur spinal non neuron yang distimulasi oleh periosteum.63. Nyeri pada C5-6 menyebar sampa fossa suprasinatus skapula. dan terjadi ketika struktur mesodermal seperti ligamen.69. Seperti nyeri alih yang disebut dengan somatik.116-118. dan gangguan servikal spine dapat menghasilkan nyeri ke ekstremitas atas sampai dengan sakit kepala.28. fascia. Penelitian ini pertama kali mendemonstrasikan fenomena ini sebagai nyeri alih somaik.216 Hal ini terjadi melalui biomekanikal dan/atau biokemikal pada struktur non neural yang bisa menstimulasi serabut nosiseptive saraf. atau periosteum yang distimulasi.216 Mekanisme gejala somatik ini memerlukan konvergen. sehingga gejala beralih ke struktur jaringan mesodermal lain yang sama asal embrigeniknya.128 Percobaan klasik telah dilakukan melalui stimulasi pada struktur midline posterior sehingga menghasilkan nyeri di leher dan menjalar somatik ke ekstremitas atas. Pada C3-4 dan C4-5 menimbulkan gejala di sekitar leher posterior.39. kapsul sendi. dapat menjadi sumber nyeri dan menghasilkan penjalaran somatik ke ekstremitas atas. sedangkan nyeri C6-7 menyebar sampai ke 7 .25 Aferen dari servikal spine dan distal ekstremitas atas berkumpul pada neuron kedua pada spinal cord.116-118. menyebabkan nyeri alih.39.219 Nyeri berasal dari sendi zigopophasial yang cenderung diikuti secara konstan dan disadari beralih. sebelumnya disebut sklerotomal.59. 36. 38. terjadi nyeri spinal yang menjalar ke distal ekstremitas. dan otot dengan hipertonis saline. melalui kompresi atau infalamas.128 Gejala ini dihasilkan tanpa iritasi ke jaringan neural.73 Gejala anestesi pada sendi menunjukkan kesamaan pada gejala simptomatik beralih dari sendi servikal.36. anulus diskus intervertebralis.128 Kellergen117. Pada C1-2 dan C2-3 beralih ke oksiut.longitudinal posterior.10.216 Mekanisme stimulasi pada sendi zigopophasial atau inervasi sarafnya telah menunjukkan nyeri pada kepala dan leher dengan nyeri alih ke ekstremitas atas (Gambar 37-7). dan otot.25 Melalui mekanisme ini diskus servikal intervertebrata dan sendi zigapophasial menyebabkan gejala ekstremitas atas.

Selain itu. dan C3-4.224 Berdasarkan pengalaman kami.* Tambahan.224 Ketika dilakukan bersamaan.kaudal skapula.453-457. Hal ini tidak berarti sendi unilateral menstimulasi hanya nyeri kontralateral. dan manifestasi ini tidak pernah diteliti. bilateral paramidline nyeri leher atas tanpa sakit kepala disebabkan disrupsi diskus intervertebra servikal (CIDD) daripada nyeri akibat sendi zigopophasial. C4-5.28 Setiap sendi dapat menunjukkan gejala unilateral atau bilateral. April C.78. C1-2. Spine 15. (redrawn from Dawyer A. A Study in normal volunteers. dan C5-6 bergejala sampai ke kepala. Bogduk N.218 Gambar 37-7. dan C4-5 sendi zigopophasial nyeri alihnya sampai ke muka. C2-3. dengan izin) Gejala nyeri yang sama juga dihasilkan oleh stimulasi mekanis pada diskus intervertebrata (Gambar 37-8 dan Tabel 37-1). 8 . Nyeri alin C2-C3 sampai C6-C7.25 Hal logis yang juga menunjang adalah stimulasi pada muskulature servikal atas dapat menghasilkan nyeri kepala. C3-4. Observasi kami yang didukung oleh penelitian terbaru Grub dan Kelly78 menemukan bahwa 34% sampai 50% diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral pada setiap diskus servikal. penemuan ini menunjang bahwa gejala nyeri berasal dari struktur yang menginervasi dibandingkan dengan strukturnya sendiri.52 Perbedaan CIDD dan nyeri pada sendi zigopophasial atau nyeri dari jaringan lunak servikal spine memerlukan interpretasi riwayat dan pemeriksaan fisik lain.45. 1990. penelitian yang lebih lengkap dari Penn Spine Center menyebutkan bahawa 30% sampai 62% pada diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral selama servikal diskography. Cervical Zygapophasial Joint pain patterns I.203.

(tabel 37-1) 9 . Nyeri alih pada setiap area digambarkan dengan nomor.Gambar 37-8. Gambaran nyeri alih pada diskus servikal intervertebralis selama provokasi servikal.

Tabel 37-1. Distribusi frekuensi nyeri pda tingkat diskus servikalis Disc Number Body region Numerical coordinates by body region (lihat gambar 378) C2-3 N=10 C3-4 N=19 C4-5 N=27 C5-6 N=27 C6-7 N=16 C7-T1 N=2 Posterior head Occipital Suboccipital Posterior neck Posterior inferior neci Superior porsterior trapezius Superior periscapula Inferior periscapula Superior interscapula Inferior periscapula Posterior shoulder Upper arm Forearm Hand Lower thoracle Temporalparictal Frontal Ear Face Anterior neck Chest 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 0 1 6 9 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 1 5 17 15 9 4 1 1 1 5 3 2 2 1 0 0 0 1 2 0 0 2 6 23 23 17 11 6 9 4 11 8 1 0 3 2 1 1 4 4 4 0 2 6 20 17 12 11 5 11 3 12 4 2 0 1 0 1 1 3 4 5 0 1 1 9 13 7 9 5 12 6 7 4 2 1 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 .

96. C7.11 arteritis.200 dan athetoid atau cerebral palsy distonik. Penyebab tersering radikulopati servikal adalah herniasi diskus intervertebra servikal. atau tekanan langsung pada akson yang terluka kronik atau pada akar ganglion dorsal yang normal. nyeri periskapular atau trapezial lebih hebat dibandingkan nyeri leher yang bisa disebabkan serabut saraf servikal seperti C4 atau C5.25 peningkatan discharge akar ganglion dorsal. Etiologi dari gejala ekstremitas atas dapat membingungkan antara gangguan non radikular yang menyebabkan nyeri pada dinatoman unkarakteristik (gejala dinatomal-gejala referred).72 11 . lengan bawah. berasal dari serabut C7-C8.225 Tanpa memandang nyeri radikular lebih sering terjadi pada ekstremitas atas dan lebih sering dibandingkan keluhan aksial. Neurokompresi langsung akar saraf tidak menyebabkan nyeri. Sedangkan pada bagian tengah atau bawah ipsilateral skapula.96 dan kelemahan miotomal asli dapat terjadi.Nyeri servikal radikular adalah secara fundamental berbeda secara klinis karena keluhan utamanya adalah nyeri ekstremitas atas yang lebih parah dibandingkan dengan nyeri aksial. tetapi nyeri C6. dan/atau tangan (Gambar 37-9).102 diikuti oleh spondilosis servikal259 dengan atau tanpa mielopati servikal (kotak 37-1).225 Nyeri radikular pada C5 terasa sampai lengan atas. sensitivitas mekanik atau sensitivitas kimia akar saraf itu sendiri.189 Kausa potensial lainnya dari radikulopati servikal termasuklah tumor. dan diskus intervertebra.216 Nyeri ekstremitas atas disebabkan oleh radikulopathy yang beralih ke lengan atas. Kerentanan saraf dalam foramen intervertebra meningkat sesuai dengan perubahan pada satu atau lebih dari tiga struktur yang terpisah: sendi zigapophiseal. Mekanisme pasti bagaimana herniasi diskus atau spondilosis menyebabkan nyeri radikuler masih tidak jelas. nyeri pada bagian belakan atas dengan atau tanpa gejala di lengan dapat berasal dari serabut C4 sampai C6.182 sarkoidosis.64 Namun demikian. dan C8 terasa sampai ke lengan bawah dan tangan.137 Mekanisme yang dipertimbangkan mengenai nyeri pada radikulopati servikal termasuklah inflamasi akar saraf.245 trauma. Akan tetapi. sendi uncovertebral.

Awalnya. Herniasi diskus merupakan istilah umum. yang mengalami onset gejala saat bangun setelah tidur pada posisi yang tidak nyaman. Arthropati sendi zigapophiseal servikal yang sangat nyeri dapat terjadi akibat degenerasi diskus intervertebra servikal. kontusio meniskus intraartikular. baik makrotrauma maupun mikrotrauma. atau robekan kapsul sendi zigapophiseal (gambar 37-12). hemarthrosis intraartikular. dan sekuestrasi (gambar 37-10). robekan sirkurumfensial anular luar. atau tulang subkondral. robekan semakin banyak. permukaan artikular. Akselerasi-deselerasi cedera sendi zigapophiseal dapat terjadi pada cedera tulang pilar artikular.121 Cedera biokimiawi diakui telah terjadi sebelum adanya perubahan biomekanikal. dan proteoglikan tipe 2 semakin mengalami degradasi. yang kemudian dibagi lagi menjadi protrusi. Cedera sendi zigapophiseal servikal dapat terjadi akibat osteoarthritis atau trauma.Cedera diskus intervertebra servikal dapat dikategorikan menjadi dua kategori besar: disrupsi internal dan herniasi.198 Hasil akhirnya adalah diskus servikal yang tidak kompeten secara biomekanik dan rapuh terhadap cedera biokimiawi. Robekan ini akhirnya bergabung membentuk robekan radial yang terjadi bersamaan dengan kerusakan kemampuan menyerap air dari nukleus pulposus. Disrupsi diskus internal adalah istilah deskriptif yang digunakan untuk menjelaskan kerusakan arsitektur internal nukleus pulposus dan atau serat anular dengan deformasi eksternal yang sedikit atau tanpa deformasi eksternal.51 Proses degenerasi diskus terjadi pada spektrum abnormalitas diskus (gambar 37-11). berhubungan dengan interupsi suplai darah dan nutrisi ke diskus.* Kami telah berhasil mengobati pasien dengan sinovitis sendi zigapophiseal servikal. 12 . Efek biokimiawi dan biomekanik dapat menyebabkan manifestasi gejala sendi zigapophiseal servikal. yang disebabkan oleh mikrotrauma berulang. Integritas mekanik diskus intervertebra menjadi susah apabila jarak diskus menyempit. Diskusi yang lebih jelas mengenai herniasi adalah sebagai berikut. ekstrusi.

intradural.Kotak 37-1 Kelainan yang Mempengaruhi Leher Mekanik • • • • • • • • • • • • • • Infeksi • • • • • • • • • • Osteomielitis vertebra Diskitis Herpes zoster Endokarditis infeksi Proses granulomatosa Abses epidural. dan subdural Abses retrofaringeal AIDS Osteoporosis Osteomalasia 13 Sprain servikal Strain servikal Herniasi nucleus pulposus Osteoarthritis Spondilosis servikal Stenosis servikal Spondilitis ankilosa Sindrom Reiter Arthritis psoriasis Arthritis enteropati Arthritis rheumatoid Hiperostosis skeletal idiopatik difusa Reumatik polimyalgia Fibrositis (fibromyalgia) Reumatologik Endokrin dan Metabolik .

• • • Tumor Penyakit parathyroid Penyakit Paget Penyakit pituitari Tumor Jinak • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Osteokondroma Osteoma osteoid Osteoblastoma Giant cell tumor Kista tulang aneurisma Hemangioma Granuloma eosinofilik Penyakit Gaucher Mieloma multipel Plasmasitoma soliter Kondrosarkoma Sarkoma Ewing Kordoma Limfoma Metastasis Hemangioma epidural Lipoma epidural Meningioma Neurofibroma Limfoma Ekstrameduler. intradural Tumor Maligna Tumor Ekstradural Tumor Intradural 14 .

A.o Neurofibroma o Meningioma o Ependimoma o Sarcoma • Intrameduler o Ependimoma o Astrocytoma Lain-lain • • Malformasi arteri-vena Syringomyelia GAMBAR 37-10 Herniasi diskus intervertebra servikal. B. Herniasi atau protrusi subligamen kecil. 15 . C. Fragmen sekuestrasi (tanda panah). Ekstrusi.

Robekan-robekan konsentrik akhirnya bergabung membentuk robeka radial. A. ruptur atau robekan kapsula sendi zigapophiseal. fraktur/avulsi end plate. fraktur corpus vertebra. kontusio meniscus intrartikular sendi zigapophiseal. fraktur pelat subkondral. EP. fraktur yang melibatkan permukaan artikular. B. Tampak sagital. ZH. robekan ligamen longitudinal anterior. VB. hemarthrosis sendi zigapophiseal. Akhirnya menyebabkan kolaps jarak diskus. fraktur pilar artikular. Robekan annulus fibrosus diskus intervertebra. IM. GAMBAR 37-12 Lesi yang lebih sering mempengaruhi tulang servikal setelah perubahan arah secara tiba-tiba: AF. AL.GAMBAR 37-11 Degenerasi diskus intervertebra. ZC. AP. SC. AS. 16 .

Peregangan otot paling sering terjadi karena banyak otot servikal tidak berakhir dalam tendon. kepala akan maju dan memfleksi leher setelah maksimal luas sekitar 45 derajat.105 Cedera ini adalah jenis cedera yang paling umum dari cedera untuk penumpang kendaraan bermotor di Amerika Serikat.185 dan merupakan salah satu penyebab paling umum kesakitan setelah cedera olahraga noncatastropic.GANGGUAN KLINIS UMUM KETEGANGAN DAN KESELEO PADA SERVIKAL Epidemiologi Ketegangan pada servikal merupakan cedera musculotendinous akibat cedera yang berlebihan yang dihasilkan dari kekuatan berlebihan yang mengenai tulang belakang. atau cedera leher kronis.48 Sekitar sepertiga dari individu yang terlibat dalam tabrakan kendaraan bermotor mengalami sakit leher dalam 24 jam setelah kecelakaan.183 Keseleo dan ketegangan pada servikal terjadi sekitar 85% dari sakit leher yang terjadi secara akut. berulang.233 Patofisiologi Patomekanisma yang berbeda merupakan penyebab pada ketegangan dan cedera keseleo pada servikal. keseleo pada servikal merupakan peregangan berlebihan atau robekan pada ligamen tulang belakang.233 Kejadian lebih tinggi pada wanita dan individu berusia 30 sampai 50 tahun. Akselerasi-deselerasi cedera dapat mengenai tulang belakang servikal sehingga menghasilkan kelengkungan berbentuk S sekitar 100 meter per detik setelah hentaman dari belakang.154 Otot posterior leher beraktivasi yang terjadi pada 90 sampai 120 meter per detik 237 dan bertepatan dengan deselerasi 17 .113 Dengan 200 sampai 250 meter per detik setelah hentaman. melainkan langsung melekat ke tulang melalui jaringan myofascial yang bercampur dengan periosteum. tergantung pada sifat dari stres yang abnormal yang dikenakan pada tulang belakang servikal.48 Sebaliknya.207 Automobile terkait cedera servikal dan cedera keseleo lebih sering terjadi pada masyarakat barat dan di daerah metropolitan yang memiliki densitas kenderaan motor yang lebih tinggi.

Gambar 37-13 Gambaran radiografi berurutan tulang belakang servikal fase ekstensi cedera leher akibat gerakan cepat dari kepala. 18 . sternokleidomastoid. seperti dalam kegiatan rekreasi.kepala bergerak ke depan. Ono L . Saat 110 meter per detik. dan inferior prosesus artikular C5 ke superior prosesus artikular C6 (panah hitam). Robekan otot secara parsial atau lengkap dan perdarahan telah divisualisasikan oleh USG 151 dan magnetic resonance imaging (MRI). Modifikasi dari Kaneoka K.190 Gaya fisiologis yang bekerja relatif normal pada tulang belakang servikal mengakibatkan regangan jaringan lunak khas terlihat pada bukan atlet. Pada individu dengan kyphosis toraks dan konsekuensial lordosis servikalis dan ekstensi.168 Temuan ini memberikan dukungan eksperimental untuk otot sederhana atau cedera regangan ligamen selama tabrakan kendaraan bermotor. ekstensor leher eksentris kontrak untuk mengurangi kecepatan kepala. ketegangan terjadi pada levator skapula. 180 dan diamati dalam pemeriksaan postmortem. skalenus. ekstensor. Inami S. vertebra C5 rotasi abnormal axis rotasi tinggi.110 Robekan dari ligamentum longitudinal anterior telah dilaporkan dalam eksplorasi bedah34 dan diidentifikasi pada postmortem.33 Penelitian secara anatomi telah menunjukan bahwa ligamentum longitudinal anterior menyatu secara tidak disadari dengan diskus intervertebralis dan dapat terluka dengan luka pada diskus servikalis.48 Gerakan berulang. dan otot suboksipital. sehingga meningkatkan risiko untuk cedera (Gambar 37-13).154 Saat kepala terus bergerak ke depan. dapat memperpendek rotator servikalis. dan fleksor lateral yang sering muncul pada individu dengan spondylosis servikalis. et al: Gerakan abnormal segmen tulang belakang servikal saat gerakan cepat dari kepala. trapezius superior. menyebabkan badan vertebra terpisah anterior dari C6 (panah putih).48 Trauma pukulan sering terjadi pada cedera olahraga dan dapat mengakibatkan ketegangan atau keseleo pada servikal secara akut.

cedera olahraga. lokasi gejala. Dalam kebanyakan gambar-gambar ini adalah normal atau menjelaskan kerugian nonspesifik lordosis servikalis karena memfiksasi otot (Gambar 37-14). Tes diagnostik lebih lanjut seperti pencitraan atau evaluasi elektrodiagnostik tidak diindikasikan kecuali terdeteksi kelainan neulogik atau motorik. Hal ini terjadi karena otot menjaga dan membalut untuk menghindari rasa sakit. Palpasi daerah yang terlibat biasanya tidak nyaman atau cukup menyakitkan. Sakit kepala ini biasanya tajam atau tumpul dan berlokalisasi ke otot-otot servikal atau bahu. Suatu kejadian akut seperti tabrakan kendaraan bermotor. Anamnesis dari riwayat mekanisme cedera harus ditanyakan dari pasien. Penting untuk memeriksa radiografi servikalis fleksi dan ekstensi untuk mengevaluasi ketidakstabilan sebelum memberikan pemulihan fungsional. Detail yang harus dicari adalah awal mulanya dari nyeri relatif terhadap peristiwa traumatis. dan teknik penutupan neuroforaminal seharusnya tidak menolak rasa sakit berpindah ke ekstremitas atas distal. Penurunan berbagai gerakan servikal dapat terdeteksi pada pemeriksaan. Tanda-tanda neurologis biasanya tidak ada. 19 . Pasien juga dapat mengeluh kelelahan leher atau kekakuan yang berkurang dengan aktivitas bertahap. Daerah yang paling sering terlibat adalah trapezius atas dan otot sternokleidomastoid. tetapi pola ini dapat dibedakan dari kelemahan neuromuskuler. atau nyeri anggota badan yang signifikan dilaporkan. setiap pola rujukan. Faktor yang memberatkan meliputi gerakan pasif atau aktif. atau kecelakaan industri dapat membuat kekuatan signifikan yang cukup untuk melukai jaringan lunak servikal. jatuh.Diagnosa Anamnesis dan pemeriksaan fisik membantu dokter dalam mendiagnosis cedera jaringan lunak servikalis. Radiografi polos digunakan pertama kali untuk mengevaluasi kelainan tulang atau fraktur. Ketegangan pada servikal dan cedera keseleo dapat dikaitkan dengan sakit kepala. atau gejala terkait lainnya. Pemeriksaan motorik dapat menjelaskan arah kelemahan karena rasa sakit.

Pijat ringan menimbulkan efek sedasi . Jika pasien mengeluh substansial "kejang" tidak terbantu dengan analgesik dan posisi yang tepat. dan soft cervical collar dapat digunakan dalam program pengobatan. membantu mengatasi 20 . penurunan adhesi. stimulasi listrik. relaksasi otot. Modalitas Fisik seperti pijat. dan perubahan vaskular (lihat bab 20)255 Terapi panas superfisial 133dan terapi panas dalam dengan USG 67 memproduksi efek analgesia dan relaksasi otot. tetapi beberapa dokter menggunakan obat tersebut selama 5 sampai 7 hari untuk meningkatkan kualiti tidur. Jarang diresepkan relaksan otot.Gambar 37-14 Radiografi polos lateral tulang belakang servikal. dan fleksi (D). Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan acetaminophen (parasetamol) digunakan sebagai kendali rasa sakit dan memelihara pola tidur. Pengobatan Pertama meliputi pengendalian nyeri dan inflamasi untuk menghambat respon cedera. dan memfasilitasi partisipasi aktif dalam program pemulihan fungsional. terapi panas dangkal dan dalam. tizanidine atau antidepresan trisiklik mungkin bisa membantu. netral (C). ekstensi (B). menunjukkan penurunan lordosis (A). mengurangi keadaan tidak normal.

48.peradangan. Soft cervical collar dapat dipakai saat terjaga. 21 . Proprioseptif ditingkatkan dengan menggunakan umpan balik visual selama latihan dan tugas fungsional. keseimbangan.124 Program tersebut (Tabel 37-2) meningkatkan disipasi sehat kekuatan di tulang belakang leher dengan upaya myofascial efisien.156 Kembali beraktivitas secara bertahap harus dimulai 2 sampai 4 minggu setelah cedera. dan postur tubuh harus dimasukkan ke dalam latihan.146 Soft cervical collar (Gambar 37-15) dapat diresepkan untuk meringankan kesakitan sehingga mengganggu tidur dan mengurangi ketegangan leher lebih lanjut. Gerakan segmen sehat servikalis memerlukan stabilisasi efisien di seluruh tulang belakang leher dan dada.192 Stimulasi listrik saraf transkutan (TENS) juga dapat efektif dalam modulasi nyeri muskuloskeletal (lihat Bab 22). Pelatihan proprioseptif kembali. Hal ini harus dilakukan dengan tuntutan dinamis bersamaan dengan dukungan pasien.48 Setelah nyeri akut bertambah baik. dan harus mencakup program pemulihan fungsional untuk mengatasi defisit postur tubuh dan fungsi biomekanik. biomekanik tulang belakang yang tepat harus dikembalikan dengan pembentukan pola pergerakan yang tepat. dan meningkatkan elastisitas jaringan ikat (lihat bab 21). tetapi harus terbatas pada 72 jam pertama setelah cedera untuk meminimalkan gangguan pada penyembuhan dan mencegah perkembangan jaringan lunak menjadi rapat. Fleksibilitas dan berbagai gerakan ditingkatkan dengan mobilisasi dan latihan peregangan.

Studi epidemiologi dari 561 pasien di Rochester. Cervical soft collar dengan tepi lebar ke posterior dan menyempit ke sisi anterior.2 per 100.Gambar 37-15 Servikal ortosis.000.25 Membedakan antara nyeri servikal radikuler dari Servikal Radikulopati sangat penting karena strategi penatalaksanaan akan sangat tergantung dari ada atau tidak adanya dua kondisi ini.64 Tanda dan gejala dari Servikal Radikulopati meliputi kelemahan otot. ditemukan insiedensi usia rata-rata yang terkena Servikal Radikulopati yaitu sebanyak 83. Sebaliknya. Minnesota. parestesi. gangguan sensori dan penurunan refleks peregangan otot.187 Riwayat 22 . SERVIKAL RADIKULOPATI DAN NYERI RADIKULER Epidemiologi Servikal Radikulopati adalah sebuah proses patologik meliputi disfungsi neurofisiologi dari akar otak.64 Nyeri servikal radikuler ditandai dengan hipereksitasi dari akar otak yang terkena. Servikal Radikulopati meliputi refleks dan penurunan kekuatan menjadi akar otak yang hipofungsional sebagai hasil dari perubahan patologik dalam fungsi akar otak.187 Puncaknya terjadi pada umur 50 Dan 54 pada studi kohort.

240 Banyak penelitian menunjukkan peran dari respon peradangan CIDH dalam beberapa cara menyebabkan Gejala Dan tanda dari nyeri radikuler.152.115 Studi pada hewan menunjukkan gangguan fisiologi pada akar syaraf disebabkan oleh tekanan yang gradual197 dan inflamasi dengan tidak adanya tekanan.259 neural kompresi pada cervikal interval disk herniation (CIDH) penyebab radikulopati pertama kali diperkenalkan oleh Semmes Dan Murphey208 pada tahun 1943.hiperosiosis (pertumbuhan tulang yang berlebihan).C8. Studi radiologi menunjukan abnormalitas dari servikal disk. C6.trauma terjadi di bawah 15 % pasien.114. Dalam kasus ini tidak Jelas apakah ada perkembangan dari pengaruh biocemikal versus biomekanikal terhadap elemen syaraf.74.187 Penurunan frekuensi pada C7.259 Walaupun kista servikal sendi zygapophyseal jarang.157. dan respon terhadap keduanya dengan patologi yang sama.167. Dan C5.187.102 dengan perubahan spinal spondilitik merupakan penyebab kedua tersering (gambar 37-16).166 Menifestasi dari Spondilosis servikal (atau perubahan pada osteoartritis degeneratif) yaitu berupa hipertropi ligamen.259 Hipertropi dari persendian zygapophyseal dan uncovertebral menghasilkan stenosis dari foramen intervetebra dan impingement akar syaraf.216.20.259 Osteofit badan vertebra dan material disk dapat membentuk sebuah disk keras yang dapat menyebabkan penekanan dari akar syaraf yang berdekatan.187 Patofisiologi Cedera akar syaraf servikal biasanya disebabkan oleh hernia interval disk servikal.degenerasi dari disk dan atropi dari persendian zygapophyseal.142 ada pasien dengan kista servikal sendi zygapophyseal dengan penyebab radikulopati telah dirawat di Penn Spine center (gambar 37-17).172 akar otak secara anatomis kurang resilient dari pada syaraf perifer terhadap rangsangan biomenikal dan biocemikal. 23 .

termasuk ujung medial skapular (C5. cedera T1. dan dorsal pertama dari interossei. Sensasi terhadap sentuhan ringan. Mengurangi nyeri radikuler dengan mengangkat humerus ipsilateral yang dikenal dengan the shoulder abduction relief sign.54. Itu dapat terjadi pada banyak lokasi. penyakit syaraf motorik α.225 Faktor-faktor yang menyebabkan kekambuhan meliputi aktivitas yang meningkatkan tekanan subaraknoid. Pasien dengan akut CIDH radikulopati biasanya mengeluhkan riwayat nyeri servikal axial yang diikuti oleh nyeri hebat pada ekstremitas atas. ektensi servikal dapat memperkuat gejala. atau T1). tusukan jarum dan getaran dapat 24 . atau C7). Nyeri radikuler servikal dapat berupa deep dull ache atau Sharp lacinating pain. Kelemahan yang parah (<3/5 Medical Research Council (MRC)) hampir jarang ada dengan satu lesi akar syaraf dan seharusnya mengingatkan dokter terhadap kemungkinan adanya multilevel radikulopati. Atropi dapat dideteksi dengan luka yang parah dan panjang. misalnya pasien menengok ke samping karena adanya herniasi disk. cedera C8. merupakan alat yang dapat digunakan sebagau diagnosis dan dapat digunakan sebagai maneuver theurapeutic.Diagnosis Riwayat dan Pemeriksaan Fisik.68 Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengamatan klinik dari posisi leher. C7. bersin atau maneuver valsava. Kebalikannya nyeri radikuler spondilitik muncul lebih sering. Jika terdapat komponen signifikan dari stenosis muncul. pada thenar eminence. hilangnya otot pada trisep. plexopathy atau neuropati fokal peripheral. posteromedial lengan (C7.257 dan mungkin membutuhkan untuk dilakukan berulang kali atau dengan otot pada kerugian mekanik to menghilangkan kelemahan ringan. anterolateral lengan bawah (C6 atau C7). deltoid dan lengan bagian lateral (C5 atau C6).64.C8. C8 atau T1). C6. Hilangnya otot pada fossa suprascapular atau infrascapular atau deltoid dikarenakan keterlibatan C5 atau C6. posterior lengan bawah (C7 atau C8) dan jari tangan (C6. trapezius superior (C5 atau C6). cedera pada C7. seperti batuk. prekordium (C5 atau C6).187 Tes manual otot mempunyai spesifisitas yang lebih besar dari pada refleks atau abnormalitas sensori (Tabel 373).

Manuver provokatif seperti penutupan neuroforaminal dan root tension sign membantu unutk melokalisasi lesi spina servikalis. dapat diasumsikan ketegangan syaraf dapat diprovokasi sebagai akibat dari inflamasi akar syaraf. rotasi aksial servikal lateral pada waktu yang sama dengan abduksi/ekstensi ipsilateral glenohumeral dengan siku dan ekstensi pergelangan tangan. sangat spesifik tapi tidak sensitive terhadap radikulopati servikal.13526 fleksi servikal secara cepat ketika pasien duduk. fleksi lateral dan rotasi servikal aksial menghasilkan gejala radikuler. Maneuver Spurling.disesuaikan. Pasien seharusnya diperiksa kemungkinan adanya tanda Hoffman dan refleks babinski to memastikan bahwa tidak adanya spinal cord yang terlibat. Ketegangan syaraf yang disebabakan nyeri radikuler mungkin lebih sensitif dari pada maneuver spurling tapi kurang spesifik. dapat membantu mendeteksi nyeri radikuler. spondilosis atau multiple sklerosis.246 Ketegangan akar syaraf. dengan dukungan kepala Theraband chest press Mengangkat kedua lengan bilateral Duduk Supported dying bug Mengangkat lengan resiprokal Swiss ball reciprocal Mengangkat lengan Unsupported dying bug Chest flies Bench press Icline Dumbbell press Swiss ball bilateral Mengangkat bahu Level stabilisasi Servikothorak Level 1 (Dasar) Level 2 (Intermediate) Level 3 (Advance) Cervical active range of Gravitasi servikal Aktif servikal motion Isometrik servikal Perlawanan isometrik Perlawanan gravitasi range 25 . Tanda L’hermitte.231 ekstensi servikal. Studi sistematik membandingkan kegunaan dua maneuver pemeriksaan belum ada yang dipublikasi. Jika pada pemeriksaan ini ditemukan nyeri radikuler.176 Tabel 37-2 Latihan Stabilisasi Servikothorak Tipe latihan Stabilisasi servikal langsung Latihan stabilisasi servikal tidak langsung Supinasi.195 dan seharusnya dilakukan bilateral untuk memastikan tidak adanya gejala kontralateral. dapat menghasilkan sensasi shok elektrik dibawah spina dan kadang-kadang ke ekstremitas dimana servikal kordnya terlibat sebagai akibat dari adanya tumor.

head unsupported Tidak dianjurkan untuk Parsial sit-up level 1 Mengangkat lengan Swiss ball chest flies Swiss ball reciprocal 26 .Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lengan Bilateral Seated row Berdiri Latissimus pull-down Theraband reciprocal Menekan dada Theraband straight arm latissimus pull-down Theraband chest press Theraband pull-down Standing rowing Crossovers Menekan tricep latissimus Menekan dada Mengangkat suprasinatus Standing rowing Biceps pull-down Upright row Mengangkat bahu Mengangkat suprasinatus Flexed positions hip-hinge 0-30 derajat Mengangkat lengan resiprokal Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lenganbilateral 30-60 derajat Incline prone flies Mengangkat resiprokal Cable crossovers 60-90 derajat Bilateral anterior deltoid Mengangakat deltoid Intracapular flies Telungkup Intrascapular flies Mengangkat lengan Quadruped resiprokal Mengangkat unilateral Mengangkat bilateral lengan Head unsupport Head supported Prone flies Latissimus flies deltoid lengan Swiss ball bilateral Mengangkat anterior Swiss ball prone Rowing Swiss ball prone flies Telentang.

dan fraktur.From Sweeney T. dan fleksi dan ekstensi merupakan indikasi dalam mengevaluasi stabilitas spinal dalam kasus rematoid artritis atau ankylosing spondilitis.196 Bagaimanapun. lateral. Studi Pencitraan Walaupun poto polos servikal tidak terlalu sensitif dalam mendeteksi patologi pada diskus. namun pemeriksaan radiografi tetap merupakan pemeriksaan yang utama digunakan pada hampir setiap pemeriksaan pada cedera muskeloskeletal. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360. Prentice C.163 CT (computed tomographic) myelography merupakan kriteria standar terhadap pilihan pencitraan lain yang harus ditentukan dalam menilai penyakit nyeri servikal degeneratif.112 27 . menunjukkan sedang sampai berat C4 foraminal kiri stenosis disebabkan oleh arthrosis sendi zygapophyseal dan hipertrofi sendi uncovertebral. setelah penyatuan. with permission of Hanley & Belfus Gambar 37-16 Aksial (A) dan sagital (B) Magnetik resonance image memperlihatkan sisi kanan C5-6 ekstrusi intervetebral disk. kebanyakan klinisi melakukan peningkatan CT dalam mengevaluasi osseous dengan detail seperti pada foraminal stenosis. Saal JA.64 spondylostheais. et al. open mouth. atau akibat trauma.163 tumor tulang. Cervicothoracic muscular stabilizing technique. C Aksial computed tomography memperlihatkan segmental level C3-4. 1990.163 Poto polos anteroposterior.

93.152. Pasien dengan tambahan benda metalik dalam tubuhnya. plexus.112. Penambahan kontras pada CT dapat secara akurat menilai kelainan patologi diskus163 pada kasus ini.164 MRI tergolong noninvasif dan tidak memaparkan pancaran radio pada pasien. apabila dilakukan oleh dokter yang terlatih dengan 28 . Evaluasi elektrodiagnostik Penelitian mengenai saraf konduksi dan elektromiografi dapat digunakan untuk menilai fungsi neurofisiologi dari serabut saraf.sendi T1 MRI merupakan pilihan bantuan imaging dalam menginvestigasi servikal radikulopati. menunjukkan gambaran kista sendi zygagophyseal (ditunjuk dengan tanda hitam) emanating dari bagian kanan C7 . Pemeriksaan elektrodiagnostik. namun MRI tergolong mahal.157.240 temuan klinis harus berhubungan dengan temuan radiologis untuk memastikan diagnosis lesi sesuai dengan tanda dan gejala pada pasien.150 karena pemeriksaan MRI menghasilkan gambaran dengan baik dan detail pada diskus. dan jaringan meural. osseous. (lihat bagian 7). seperti pacemakers atau katup jantung prostetic tidak dapat menjalani pemeriksaan MRI. dan saraf perifer.20.Gambar 37-17 penampang aksial diskus intrvertebral C7-T1. ligamen. Dikarenakan abnomalitas diskus servikal intervertebra timbul pada pasien secara asimptomatis. membutuhkan kerjasama pasien untuk mengurangi aryifact. dan sering tidak dapat ditoleransi oleh pasien yang pobia terhadap ruangan tertutup atau claustrophobia. Walaupun sering digunakan dalam pemeriksaan imaging/radiologis.

menunjukkan bahwa temuan yang normal pada otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang berdekatan.baik. maka hubungan otot kontralateral dan saraf harus dinilai untuk menyingkirkan suatu proses umum seperti neuropati perifer atau penyakit motor neuron. Apabila abnormalitas ditemukan. maka akan dapat mengklasifikasi atau memastikan suatu diagnosis dugaan.108 Tabel 37-3 tingkatan serabut saraf. Pemeriksaan skrining dari enam otot tungkai atas sebagai tambahan untuk cervical paraspinal dapat mengidentifikasi 94% hingga 99% dari servikal radikulopati. C6 C5. saraf perifer. termasuk abnormalitas pada dua atau lebih otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang sama namun dengan saraf perifer yang berbeda.57 Penelitian ini dapat secara efektif menyingkirkan diagnosis lain seperti lesi pleksus brakial (seperti Tumor Pancoast atau Sindrom Parsonage-Turner) dan penjepitan saraf perifer setempat (seperti carpal tunnel syndrome dan penjepitan saraf ulnaris pada bagian siku atau pergelangan tangan). perbaikan fungsi motorik mungkin akan dapat kembali dengan perawatan konservatif dan penelitian dapat diulang kembali untuk mendokumentasikan penyembuhan neurofisiologis (lihat Bagian 9 hingga 11). C6 C5. Apabila amplitudo dari otot yang terkena terdiri dari potensial aksi otot maka dapat menurunkan kurang dari 50% dari tungkai kontralateral (gambar 37-18). Pemeriksaan elektrodiagnositik juga membantu dalam menentukan prognosis dan keruksaan dari saraf. C6 C7 Saraf Axilla Musculocutaneous Suprascapular Suprascapular Radial Otot Deltoid Bisep brachii Supraspinatus Infraapinatus Triceps 29 .252 Setidaknya sebuah penelitian mengenai hubungan saraf motorik dan sensorik saraf konduksi harus dilakukan dalam keterlibatannya terhadap tungkai untuk memastikan ketidakterlibatan pleksus yang seiring atau suatu proses perifer. dan otot ekstrmitas atas yang dievaluasi pada pasien dengan nyeri Tingkatan serabut saraf C5. The American Association of Neuromuscular and Electrodiagnostic Medicine digunakan sebagai penuntun dalam pemeriksaan elektrodignostik untuk radikulopati.

Sebagai contoh. dan mengurangi rasa sakit adalah tahapan terapi awal.217 Pendekatan terhadap tatalaksana harus ditentukan berdasarkan masing-masing individual pasien. Gelombang bagian atas yang meninggi menunjukkan bemtuk gelombang yang sehat dengan amplitudo dan durasi yang normal. Penjelasan ini 30 .Median C8. modifikasi aktivitas. Gelombang pada bagian bawah menggambarkan penurunan 65% dari amplitudo CMAP dari otot kontralateral. menghindari komplikasi spinal cord. Tatalaksana Pengobatan Fisik dan Rehabilitasi Tatalaksana objektif yang utama dari radikulopati servikal adalah adanya perubahan dari nyeri. mungkin tidak menginginkan gejala yang dapat timbul kembali akibat aktivitas fisik yang berat. Pola rencana pengobatan harus mempertimbangkan begaimana keadaan suatu individu saat di rumah. Indikasi utama pembedahan adalah defisit neurologis yang progresif.254 Terlepas dari beberapa penelitian yang membandingkan pembedahan sebagai pengobatan rehabilitasi dan perawatan konservatif. MODALITIES Edukasi pasien.87.199. dan pada komunitasnya. Pada atlit sebaliknya. di kantor. mengumpulkan bukti pendukung perbaikan naturall dari gejala radiks servikal dengan perawatan konservatif.64. Jika tidak.254 dan mencegah terjadinya rekurensi. dengan sedikit mengalami peningkatan durasi. pada pasien yang cenderung tidak banyak kegiatan fisik mungkin akan memutuskan untuk mentoleransi sedikit ketidaknyamanan setelah perawatan konservatif. peningkatan pada kelemahan myotomal. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai mekanisme bagaimana injuri itu terjadi dan kemungkinan hasil dari terapinya. T1 Median Ulnar Pronator teres Abductor polllucia brevis Dorsal interosssei pertama Gambar 37-18 Layar gelombang Oscilloscope dari kedua bagian potensial aksi amlitudo otot abduktor policis brevis (CMAP). level kebutuhan pasien setelah perawatan fungsional dapat membantu menunjukkan seberapa agresif untuk diintervensi.53.

Termoterapi sering digunakan untuk modulasi nyeri dan meningkatkan relaksasi otot. 134. dan digunakan sebagai pengingat posisi servikal yang benar.191 dingin dapat di aplikasikan 15-30 menit 1-4 kali sehari dan panas superficial dapat diaplikasikan sampai 30 menit 2-3 kali sehari.161 Tidak ada panduan definitif yang dipublikasikan berkaitan dengan peranan modalitas thermal pada cervical radikulopati. Stimulasi saraf bermielin besar danmemblokir transmisi nociceptive pada saraf yang lebih kecil pada level neuron traktus sphinothalamikus.rotasi axial dan flexi ipsilateral. Cervical orthisis berfungsi untuk membatasi nyeri ROM dan memfasilitasi kenyamanan pasien saat fase akut injuri. Gejala yang ringan hingga sedang biasanya masih dapat ditoleransi oleh pasien. TENS dipercayai beraksi via teori gate.191 TENS sangat bermanfaat dalam manajemen sebagian besar gangguan muskuloskeletal dan neurogenik.134. dan evaluasi ergonomik utilitas. Karena peningkatan respon metabolisme dan inflamasi dapat memperparah nerve root injury. Nyeri yang berat dapat mengganggu pekerjaan dan aktivitas atletik dan juga retriksi dari aktivitas seharihari.254 Mengangkat beban berat dan berulang harus dihindari begitu juga dengan ekstensi cervical spine.132 Modalitas deep heating seperti ultrasound seharusnya dihindari pada terapi servikal radikulopati. Ini dapat digunakan pada awal terapi servikal radikulopati untuk membantu midulasi nyeri dan memudahkan pasien untuk mendapat modalitas terapi lainnya.191 Soft cervical collar membatasi flexi dan ekstensi kurang lebih 26%.254 segmen yang lebih sempit harus diposisikan anterior untuk 31 .seharusnya ditekankan pada bagaimana pentingnya postur tubuh yang benar.159 Meskipun TENS telah memperlihatkan beberapa pengurangan nyeri pada low back pain. Keputusan mengenai bahan panas apa yang diberikan tergantung dari persepsi pasien bahan apa yang memberikan pengurangan rasa nyeri yang terbaik. biomekanik.229 tetapi tidak ada penelitian yang mempublikasikan mengenai evidens dari penggunaan alat ini pada nyeri servikal radikulopati.

64.mempertahankan leher pada posisi netral atau sedikit fleksi.114. Pada dosis rendah. Traksi servikal mengaplikasikan sebuah distrktif force menyebrangi servikal intervertebral disk space. Ini biasanya sering digunakan pada pasien dengan servikal radikulopati.254 Hal ini diduga bekerja melalui dekompresi dari soft tissue servikal dan intervertebral disk.85 Karena alasan ini agen yang lebih baru ini lebih disukai dibandingkan dengan NSAID tradisional untuk pasien servikal radikulopati. Agen antiinflamasi yang memiliki target pada Cyclooxygenase-2 pathway memeiliki efek analgesik dan antiinflamasi yang sama dengan non-selektif NSAID. pijat dan TENS dapat dipergunakan sebelum dan selama traksi untuk mengurangi nyeri dan membantu relaksasi otot.Efeks samping berkaitan dengan penggunaan NSAID berkaitan dengan iritasi mukosa gastrointestinal.47 Sebuah beban 25 lb diperlukan untuk distract segmen midservikal selama 25 menit pada sudut 24 derajat. rheumathoid arthritis. inhibisi platelet dan fungsi ginjal. dan karena injeksi spinal diagnostik 32 .Penggunaan soft collar harus dibatasi untuk minggu pertama atau kedua dari gejala.46. L’hermmite’s sign positif.47 Medikasi Peran untuk medikasi antiinflamasi secara logis pada evidensi komponen antiinflamasi dengan CIDH berkaitan.236 Superficial heat.115 NSAID merupakan intervensi farmakologik first line untuk mengobati servikal radikulopati.47.47 Traksi dikontraindikasikan pada pasien dengan myelopathy. obat ini memiliki efek analgesik dan pada dosis tinggi memiliki efek antiinflamasi. meskipun kurangnya efikasi yang terbukti.127 untuk meminimalkan adverse outcomes yang berkaitan dengan deconditioning soft tissuelebih lanjut. tetapi dengan toleransi gastrointestinal yang lebih baik dan efek plateletnya lebih kecil.74. 54.64. 46 Traksi servikal dapat juga dilakukan dengan beban berat yang intermiten atau beban ringan yang terus menerus pada regimen terapi di gym ataupun di rumah.199. atau atlantoaxial subluxation.254 Pengecualian ini meliputipasien dengan L’hermitte’s sign positif dan yang menderita rheumatoid arthritis atau atlantoaxial subluksasi.

sperti mulut kering. Disis terapetik bervariasi antara 300-900 mg/hari dapat mencapai 3600 mg. Kami memberikan obat antiepilepsi untuk pasien dengan nyeri radikular post.hari. Analgesik opiat dapat berguna pada saat nyeri radikular sangat berat dan mengganggu tidur. Karena ini direkomendasikan untuk dimulai pada dosis rendah. pregabalin (lyrica) merupakan pilihan yang tidak mengganggu metabolisme hati. Kombinasi short-acting Opiod dan analgesik dapat diberikan untuk memfasilitasi pola tidur restorative dengan mengontrol nyeri radikular ( kadang-kadang dikonjungsi dengan penggunaan soft sevikal collar).dan terapetik dapat dilaakukan tanpa menginterupsi pengobatan ini.64 Efek samping yang berkaitan sebagian besar adalak efek antikolonergik. ataxia. antidepresi trisiklik.operative yang persisten atau pasien yang tidak bisa di operasi tetapi gagal dengan intervensi obat lain. pusing dan konstipasi. zonisamide(zonegran) dan oxcarbazepine(trileptal). 33 . Namun penemuan terbaru menyarankan untuk berhati-hati pada penggunaan celecoxib. Medikasi opiat tidak boleh diberikan setelah fase akut dan intervensi lain harus dimaksimalkan sebelum diubah pada penggunaan opioid jangka panjang. dan mulut kering. Obat ini dapat digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena nyeri defans muskular selama 5-7 hari. 300 mg waktu tidur dan dititrasi sampai gejala terkontrol atau samapai adanya efeksamping. dan antiepilapsi. retensi urin. Pilihan lain meliputi tiagabine(gabitril). Pasien diharuskan berolahraga pada pemberian celecoxib dosis tinggi pada periode tertentu karena adanya peningkatan risiko kardiovaskular (National Cancer Institute Adenoma Pervention with Celecoxib Trial) Medikasi tambahan sering diberikan pada konjungsi dengan medikasi antiinflamasi dan meliputi obat-obat relaksan otot. Obat yang terbaru. Relaksan otot merupakan sedatif dan efek sekundernya berupa relaksasi otot skeletal. kelelahan. Obat antiepilepsi seperti gabapentin sangat efektif pada modulasi nyeri neuropati. dapat bermanfaat untuk menurunkan nyeri radikular dan untuk menyebabkan tidur. Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin atau nortriptilin di resepkan dengan dosis 10-25 mg pada saat waktu tidur. Efek samping yang paling sering adalah letargi.

15. ditentukan dengan diagnostic control.26 pada pasien dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal. 52% hanyan mempunyai 1 keluhan sendi dan jarang lebih dari dua gejala sendi berturut-turut. 179 Penggantian dari disk artificial cervical berbeda dengan disketomi cervical anterior dan fusion. Nyeri Sendi Servikal Epidemiologi Prevalensi dari sendi facet servikal-disertai nyeri pada pasien dengan keluahan nyeri leher dengan berkisar 36% sampai 60%.90. 15. C3-4 dan C4-5 ditemukan keluhan hanya kurang dari 5% dari keseluruhan kasus Pasien dengan nyeri sendi facet servikal. atau berkembang menjadi myelopati. diikuti C5-6(35%) dan C6-7 (17%).149.228 Gejala yang paling sering muncul.26. kekuatan dan sensasi daripada saat perawatan konservatif. traumatic sendi servikal zygapophyseal-disertai nyeri leher dipekirakan prevalensinya sekitar 54% sampai 64%. yaitu C2-3 (36%).9 Kronis. seperti disketomi anterior cervical dan fusion.140. Hasil dari penelitian pada pembedahan ini menujukan hasil yang baik atau memuaskan dari 80% sampai 96% dari para pasien.141 Rasa nyeri pada sendi servikal zygapophyseal sering ditemukan dengan gejala invertebal disk di level yang sama.15.Pembedahan Indikasi untuk pembedahan untuk pengobatan CIDH-spondylotic-yang berhubungan dengan cervical radiculopathy meliputi nyeri pada daerah kepala. dimulai dengan mengukur konservatif antiinflamatory. kemudian menjadi minimal intervensi invasif dan akhirnyadekompresi pembedahan terbuka jika diperlukan. deficit myotomal yang parah (progresif atau stabil). 202 Tujuannya dalah untuk memodulasi keefektifan dan meningkatkan respon alami tubuh terhadap CIDH. 58% sampai 88% mengeluh dengan sakit kepala. 49 Demikian pula pada sendi servikal zygapophyseal bersumber dari nyeri leher setelah trauma kronis. Sendi pada C1-2.122 tiga bulan setelah tindakan pembedahan. 4.76.179 Perbedaan lamanya waktu perbaikan antara konservatif dan pembedahan mendekati kurang lebih 1 tahun.141 Prevalensi 34 . dicapai hasil lebih cepat perbaikan pada nyeri radicular.141. ( gambar 3720) atau foraminotomi posterior.

diperkirakan lebih nyeri pada sendi servikal zygapophyseal daripada diskus atau cedera pada akar.26.140.15. dapat diprediksi dari struktur bagian yang paling banyak cedera. Dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme terjadinya cedera dan kecuali pada cedera spinal cord. Rincian dari kejadian meliputi posisi leher pada saat kejadian. Bagaimanapun juga.141 Nyeri pada servikal bawah yang disebabkan oleh trauma sendi servikal zygapophyseal banyak ditemukan pada level C5-6.28 Dalam pengalaman kami. riwayar klinis tidak dapat menentukan pathognomonic yang dapat membedakan dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal akibat trauma dari sumber axial nyeri leher. Nyeri leher unilateral paramidline dengan atau anpa gejala perascupular yang menunjukan rasa lebih nyeri dibandingkan sakit kepala. Diagnosis Riwayat dan Pemeriksan Fisik Pada penderita yang mengalami cedera whisplash harus dilakukan pemeriksaan secara detail dan lengkap. Para dokter harus mencurigai sudah terjadi cedera sendi zygapophyseal ketika pasien dapat menentukan titik nyeri dengan nyeri yang sangat hebat atau dapat menetapkan area nyeri yang dimana area tersebut termasuk penjalaran persarafan sendi zygapophyseal. plexopati.dari nyeri sendi servikal zygapophyseal pada C2-3 diperkirakan 50-53% pada pasien dengan keluhan utama nyeri kepala pada posterior setelah cedera seperti dicambuk.141 Lebih dari satu struktur dapat cedera pada nyeri sendi servikal zygapophyseal yang disebabkan oleh trauma.111 Peningkaan 35 . nyeri sendi servikal zygapophyseal bagian atas termasuk sendi C2-3 lebih banyak dengan gambaran klinis sakit kepala unilateral pada occipital dibandikngkan nyeri leher. atau cedera otak karena trauma. Pada pemeriksaan fisik harus juga menilai fungsi neurologi dan ROM servikal. Nyeri tekan pada palpasi posterolateral disekeliling sendi yang juga mendukung terjadinya nyeri sendi zygapophyseal.216 Nyeri sendi servikal zygapophyseal secara spontan (nontraumatik) biasanya mempengaruhi 1 sendi dan dapat menyebabkan spondilosis dan biomekanika yang salah.

Pengobatan Pengobatan Medis Dan Rehabilitasi Selama fase akut dari cedera. Superficial cryotherapy.nyeri subocipital atau tereksaserbasi pada fleksi cervical 45 derajat dan rotasi axial dapat memunculkan nyeri pada sendi C1-2. Pemeriksaan Pencitraan Subluksasi sendi servikal zygapophyseal dapat terdeteksi pada pemeriksaan radiografi dan CT Scan. Cryotherapy biasanya diterapkan selama 20 menit tiga sampai empat kali sehari untuk vasokonstriksi dan menurunkan rasa nyeri dan 36 . 59 Meskipun hanya baru berupa dugaan dari investigasi hasil yang ditemukan dari pemeriksaan fisik namun dapat menjadi diagnostic dari nyeri sendi servikal zygapophyseal. Jika nyeri tidak berkurang dengan pengobatan ini. tapi efek metabolik dar terapi panas tersebut menghalangi pengobatan cedera sendi servikal zygapophyseal akut. Modalitas fisik seharusnya digunakan pada fase akut dari cedera untuk mengurangi nyeri dan inflamasi. Ini artinya pencitraan terbatas dalam menentukan sumber dari nyeri tersebut.32.239 Pencitraan nuclear mungkin menunjukan peningkatan ambilan radiotracer jika terjadi abnormalitas pada sendi servikal zygapophyseal. NSAID diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri dan inflamasi. dan dapat menggunakan opiate untuk membantu meredakan nyeri. namun CT Scan lebih jelas dalam menggambarkan terjadinya fraktur sendi. Meskipun terapi panas pada permukaan dapat menyebabkan efek analgesic dan relaksasi otot. opiate dapat diberikan dalam jangka waktu yang singkat untuk memulihkan pola tidur dan pemulihan fungsional tubuh. seperti menggunakan terapi es lebih efektif dibandingkan terapi panas dalam analgesic dan antiinflamatori. Cedera jaringan lunak lebih banyak tidak terdeteksi dengan pemeriksaan lebih canggih. pengobatan terfokus pada analgesia dan antiinflamasi. tapi tidak dapat membedakan antara simtomatik dan kelainan asimtomatik.

tapi bukan pengobatan yang utama. Pemulihan pergerakan servikal tulang belakang membantu mencapai postur yang seimbang pada penurunan ketegangan akibat cedera sendi. kekuatan. Stabilisasi dan memerlukan pendekatan menangani pemulihan fungsional.mediator inflamatori. Soft servikal collar dapat rusak pada jangka waktu yang pendek. mengedukasi kembali postur dan kekuatan. Edukasi pada pasien tentang posisi menopang untuk menghindari faktor yang merugikan serta dengan pemberian analgesic dan antiinflamasi.235 Bagian 37 . Hal ini digunakan untuk memberikan rasa nyaman terutama pada saat tidur. baik konsekuensi psikologis dan samping gangguan fisik (E. Columbus.235 kemampuan prorioseptif dapat diaplikasikan selama exercises penguatan hingga tercapainya tujuan yang diinginkan. selanjutnya adalah program menjaga keseluruhan. meningkatkan fungsi dan mencegah terjadinya cedera.48. memaksimalkan fungsi dan mencegah integral pemulihan fungsional digunakan untuk membatasi rasa perkembangan cedera dari stabilisasi meliputi cedra. 2002). dan sakit. personal communicaion. panjangnya jaringan lunakdan deficit biomekanik dan menguantnya otot spinal. kondisi fisik. Stabilisasi cervicothoracic adalah dari biomekanik tulang atau kekambuhan dari belakang. di dan latihan 48 Setelah pasien selesai latihan perawatan dirumah. organ. terhadap pasien secara juga dari cedera yang Rehabilitasi dalam dialaminya. Menstabilisasi fleksibilitas cervicothorakal.W. Transisi fase ini berawal dari berkurangnya nyeri akibat cedera akut. Johnson. Restorasi fungsional termasuk biomekanik. semua itu diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan mencegah kambuhnya cedera. mobilitas dan kekuatan. lebih dari 72 jam setelah cedera pertama.133 Mobilisasi dan pemijatan dapat membantu otot yang putus dan jaringan lunak juga disertai dengan pembidaian. Fase pemulihan meliputi stabilisasi dan pengembalian fungsional menjadi ROM yang normal. semua hal tersebut dapat menurunkan rasa nyeri.

Program jangkauan nyeri gerak ditulang stabilisasi dimulai dengan gerak serviks.48 Kinetika scapulothoracic yang tepat dan sambungan glenohumeral memungkinkan gerakan mekanis postur tulang belakang yang efisien.36 Pasien harus diajarkan bagaimana mengontrol aktivitas seluruh gerakan kinetik tubuh.48 otot fleksor lateral. rhomboid. serratus muscles harus diperkuat. belakang atau dan postur teknik mobilisasi peregangan tubuh yang benar.pemulihan fleksibilitas tulang belakang. Salah satu tujuan utama dari program latihan adalah meningkatkan keseimbangan otot dan fleksibilitas dari kelompok otot cervicothoracic dan capital muscle group. Intervensi tulang belakang physiatry. pengurangan postural.48 Pasien melakukan latihan isotonik konsentris. tubuh posisi statis. Latihan terlentang dan dengan ke posisi duduk dan berdiri. rotator. dan jaringan lunak membentuk interval bebas Setiap pembatasan jangkauan merupakan kemudian menambahkan gerakan progresif di luar kisaran ini sampai gejala mereda. Trapezius. dan kondisi tubuh. ekstensor. Radiculopathies serviks menengah ke atas dengan kelemahan myotomal dapat scapulothoracic dan dan rotator cuff glenohumeral. menghindari gerakan gabungan kecuali gerakan yang diregangkan atau melemah sebagai buruk yang ditargetkan selama fase ini. dan kemudian maju dengan kegiatan yang dinamis dan fungsional.48 Perhatian juga diberikan mengganggu stabilisasi anterior. pada girdle bahu dan ekstremitas atas. Kisaran normal gerak dan postur tubuh yang baik sangat penting untuk mencegah microtrauma berulang-ulang untuk struktur serviks disebabkan oleh pola pergerakan sedikit. pertama dalam posisi dan dikembangkan cemara untuk dengan latihan isometrik dari yang dilakukan progresiv Otot-otot yang kemudian berkembang hati-hati dan tanpa akibat rasa sikap sakit. Kontrol neuromuskular Peningkatan Penguatan serviks dimulai fleksor. serta disipasi energi yang efisien oleh anggota badan bagian atas selama aktivitas fungsional. Intervensi Physiatry spine adalah subspesialisasi relatif muda dan berkembang dalam bidang physiatry. 38 .

202 Karenanya kekurangan dalam konfigurasi metode investigasi. sensitivitas dan spesifisitas dari diagnostik serviks SNRBs. akar saraf Jika pencitraan mengungkapkan lesi struktural pada yang menguatkan temuan pemeriksaan menegaskan kecurigaan klinis. dan spesifitas dan sensitivitas diagnostik lumbal SNRBs erat dgn nilai-nilai untuk rekan- rekan serviks mereka. saraf. karena pengertian dan sikap kooperatif pasien merupakan hal yang sangat penting dalam memperoleh hasil yang akurat dan informasi diagnostik yang valid.216 untuk berkisar 100%.119 dan disarankan kepekaan telah terbukti yang diamati untuk miror Pemanfaatan SNRBs lumbal diagnostik telah dieksplorasi dalam literatur. gambar panduan prosedur tulang belakang untuk mendiagnosa dan menyakitkan. diagnosis saraf diagnostik fluoroscopically langkah berikutnya dalam tingkat segmental yang dicurigai (Figure 37-19). studi elektrodiagnostik adalah samar-samar dalam sering dapat diklarifikasi dengan dipandu selektif (SNRB) di MRI. jika pemeriksaan root blok negatif. kita harus mengeksplorasinya dari data lumbar (lihat chapter 25).6. yang merupakan kombinasi dari obat-obatan berdasarkan pendekatan perawatan jaringan gejala berorientasi medis.6 nilai Pada spesifisitas diagnostik dari SNRBs serviks telah menjadi 100%. Spesialis intervensi perawatan tulang pasien dalam kerangka model atau medis bukan model pengetahuan algoritmik. Diagnosis selektif fisik. Diagnosis SNRB merupakan sebuah tes diagnostic fingsional.Lingkup subspesialisasi ini mengobati gangguan melibatkan ketepatan tulang belakang yang penggunaan rasa kebijaksanaan. dari 87% observasi nilai fisik dan pengaturan abnormalitas intervensi terapi dapat elektrodiagnostik Namun. Jika blok diagnostik adalah algoritma diagnostik harus diselidiki. 39 . cedera pengalaman klinis memerlukan penyakit berbasis belakang mengandalkan pendekatan berbasis yang luas. blok dan akar tingkat evaluasi dipercepat. Intervensi Physiatrists tulang bukti dan belakang.

Riwayat natural dari radiculopathy dikarenakan oleh CIDH atau spondylosis yang merupakan sebuah resulusi berangsur dari berbagai gejala dengan perawatan konservasi dalam 65% sampai 83% pasien.125.199 dibandingkan dengan perubahan spondylotic. 87 199.243 Kesempurnaan hasil berkisar antara 50% sampai 83%. 10 % dikarenakan oleh spondylosis) meningkat secara signifikan dengan perawatan konservatif dimana tidak memerlukan injeksi spinal. dengan interval follow-up dari 6 sampai 21 bulan.53. Tujuan dari SNRI adalah memodulasi respon terhadap CIDH dengan saraf. dan pengurangan yang sama dalam menghindari oprasi. maka injeksi lebih lanjut mungkin tidak diperlukan.221.221.35.17. 17.27 mereka invasif telah terbukti aman yang valid untuk dan menawarkan intervensi. mencakup diatas 2 sampai 4 SNRIs didalam 14%222 dan 20%220 dari kasus.243 Tidak mengherankan.220. Didalam profil pasien ini.222 Walaupun demikian.Terapi selektif injeksi akar saraf.220. karena mungkin kurang dari 20% pasien akan merespon suntikan lebih lanjut.53.222 mencakup petunjuk fluoroscopically cervical epidural atau selektif injeksi akar saraf (SNRIs) dengan kortikosteroid. Ini menyuntikkan kortikosteroid dekat ke antarmuka disk-akar 40 . gejala radikuler nontraumatic serviks. Meskipun terdapat kekhawatiran tentang keselamatan serviks SNRIs. Beberapa studi telah melakukan penelitian kegunaan terapi cervical SNRIs untuk mengobati cervical radiculopathy setelah kegagalan dari terapi konservatif.222 Baru-baru ini.104 untuk pengobatan minimal inflamasi mengobati nyeri. bila dilakukan dengan benar.35.53. 199. dua dari studi ini. jika SNRI awal tidak ada perbaikan dalam nyeri radikuler.221.199. dan nyeri traumatic spondilotic cervical radicular dan mereka sukses diobati dengan perawatan konservatif.199. 87.53.187.17. Heckmann et al. trauma menyebabkan cervical radiculopaty dan menandakan diagnosis yang jelek.243 Kebanyakan hasil yang sukses diperoleh dihadapan CIDH 35.222 ”Whiplash”-menyebabkan nyeri cervical radicular tidak ditemukan dalam concomitant foraminal stenosis. Observasi retsospektif menunjukkan bahwa 65% sampai 60 pasien dengan cervical radiculopathy (90% dikarenakan CIDH. injeksi anastesi lokal menunjukkan efikasi yang setara dengan gabungan anasthetik dan kortikosteroid.

89. Percutaneous diskectomy telah diteliti sebagai alternatif non operasi untuk mengobati persistent cervical radiculopathy yang disebabkan oleh fokus hernisi yang nyata. Tidak terdapat komplikasi mayor yang dihadapi dan prosedur harus dilakukan dengan sedasi intravena yang ringan pada pasien tersebut.217 Dalam kurun waktu 12 bulan. atau keduanya. enzimatik. Nucleoplasty merupakan sebuah teknologi yang menggunakan energy cobalt untuk menguapkan jaringan nuclear menjadi molekul gas. atau keduanya.211 atau tak ditentukan.Harus dicatat bahwa setiap 21 pasien didalam penelitian kohort ini harus dipertimbangkan pasien yang akan dibedah oleh fellowship-trained bedah tulang belakang.95 Dua studi dengan dengan data hasil terpanjang menunjukkan hasil yang berbeda dan termasuk studi kohort heterogen. 17 sampai 21 memeiliki hasil yang baik dan sempurna.dimaksudkan untuk mengontrol nyeri dan untuk memulai proses penyembuhan akar saraf.123. menjadi jaringan inert. Sebagian kasus akhirnya karena volume herniasi akan diskus membutuhkan decompession persistent invertebral.95. Teknologi ini baru saja berkembang dan diaplikasikan untuk tulang belakang. 6 sampai 12 bulan pertama dan menunjukkan penurunan 41 . Dalam kurun waktu 6 bulan. 209 Baru-baru ini didalam sebuah studi di sebuah Penn Soine Center.95. sedangkan herniasi disk yang intervertebralis yang telah mengalami resorbs.83. 91% sampai 95% dari 21 pasien ini rata-rata menunjukkan penurunan sebesar 83% dari level nyeri mereka.211. dengan angka penurunan terbesar terjadi dalam 2 minggu pertama.217 nukleoplasti di kombinasikan dengan SNRI untuk pengobatan biomechanical dan biochemical dikarenakan keterkaitan CIDH nyeri cervical radicular yang tidak merespon dengan terapi konservatif. Berbagai teknologi telah digunakan untuk menyelesaikan decompresi cervical intervertebral disk. Percutaneous diskectomy dan/atau decompresi diskus. dan telah di nilai terapi bedah yang semestinya diberikan.41. kelanjutan dari respon inflamasi. Ditemukan bukti untuk memperkuat subsequent studies dari nukeloplasti tanpa SNRI yang mana 81% sampai 85% dari pasien menunjukkan hasil yang memuaskan. dekompresi mekanik 41. laser. Pasien menunjukkan pengaruh CIDH tanpa stenosis dan persistent radicular pain. Interval follow up relatif singkat 83.

Gambar 37-19 Gambar Fluoroscopic dari diagnosis blok akar saraf selektif C6 42 . tanpa komplikasi. physical terapi.6. analgesic dan / atau NSAIDs. dan 12 bulan setelah nukleoplasti dibandingkan dengan TENS. 39 Diskectomi perkutan dengan teknologi kobalasi digabungkan dengan/atau tanpa SNRI dapat menyelamatkan dan efektif dalam meredakan nyeri servikal radikular dikarenakan oleh protrusi diskus inverterbralis yang diperkuat.31 136 Baru-baru ini secara acak dicoba terhadap 115 pasien menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap nyerinya dan ketidakmampuan pada 3.yang signifikan pada radicular pain.

. 1994.Penentuan sendi menyebabkan gejala memerlukan penggunaan teliti fluroskopi spesifik suntikan.) Intervensi Psikiatrik Tulang Belakang Riwayat perjalanan whiplash yang diinduksi sebagai nyeri leher dengan pemulihan bertahap pada kebanyakan pasien.Diagnosa yang akurat untuk memaksimalkan pengobatan jika nyeri yang dirasakan pasien sudah pada tahp sedang atau berat akan memetap selama perjalanan panyakit ini. Simpson JM: Surgery of the cervical spain. Diskus yang bermasalah telah dibuang. London. dan bone graft sudah ditempatkan di intervertebral Donor tulang tersebut menyebabkan peningkatan dari tinggi diskus. oleh karena itu foramen menjadi terbuka dan terjadi fusi ( Redrawn from an HS.Gambar 37-20 Servikal disketomi anterior dan gabungan penggunaan teknik SmithRobinson. tepat yang dengan target- Diagnosa Penyakit Sendi Zygapophyseal dengan Metode Blok Struktur anatomi dan pola dari struktur vertebra yang saling berdekatan dan bertumpang tindih mengharuskan penggunaan fluroskop untuk membimbing penggunaan diagnosa penyakit sendi dengan metode blok unuk melihat apakah 43 . Martin Dunnitz with permission.

rasa sakit pasien akan reda.13Beberapa metode ini harus dilakukan beberapa kali menggunakan anastetik dalam berbagai macam durasi efek sebelum menentukan penatalaksanaan lebih lanjut. sendi yang diuji akan dikecualikan sebagai sumber yang mengakibatkan gejala. intraartikuler kortikosteroid tidak efektif. (Gambar 37-21)Metode ini dapat memberikan diagnosa pasti sendi mana yang merupakan sumber nyeri.Jika rasa sakit tak hentihentinya.sendi tersebut yang menjadi sumber sakit.Jika suntikan medial.Rata-rata satu pertiga responden dapat menunjukkan jawaban falsepositive..Diagnosa didasarkan pada konsep bahwa jika struktur gejala diblokir. blok komparatif menggabungkan injeksi plasebo dilakukan sebelum melakukan neurotomi cabang 44 .Anesthetik lokal dapat disuntikkan ke dalam sendi atau pada percabangan saraf medial disekitar sendi untuk pembiusan.Pendekatan kami untuk nyeri sendi servikalis zygapophyseal termasuk instutasi terapi suntikan setelah diagnosa tunggal positif blok intraartikuler.

bagi pengobatan penyakit kronis whiplash berkaitan nyeri sendi servikalis zygapophyseal.suntikan tunggal intraarterikuler tidak efektif.Melalui percobaan control-placebo yang acak dan double-blind. menggunakan salah satu hasil ukur tidak membatasi terapi fisik. maka ablasi radiofrekunsi pada sendi yang menginervasi cabang medial boleh dianjurkan.Waktu median yang berlalu sebelum nyeri kembali ke tingkat preneurotomi pada kelompok perlakuan adalah 9 bulan.Studi berikutnya oleh McDonald eta al.14Dalam pengalaman kami. penulis merawat pasien dengan hanya satu injeksi terapi.Bagaimanapun yang sama .dalam studi ini.Terapi suntikan pada sendi zygapophyseal Terapi injeksi intraartikuler pada sendi servikalis zygapophyseal dapat lebih sesuai dilakukan farmakologik dan pada individu yang tidak memgalami pemulihan dalam modalitas fisik. Percutaneous frekuensi radio Ablasi Neurotomi Cabang medial Jika pasien tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dari suntikan steroid.kira-kira 50% pasien boleh mendapatkan rawatan ulang neurotomi. Pasien yang mendapatkan manfaat dari suntikan ini mengalami rata-rata dua suntikan terapeutik. mengamati bahwa terapi neurotomi kedua dapat memberikan keredaan nyeri pada pasien jika gejala pasien berulang setelah suksesnya prosedur pertama. terapi suntikan steroid intraarticular yang dijalankan dengan fluroskopik efektif dalam mengobati nyeri sendi servikalis zygapophyseal .Slipman et al. dibandingkan dengan 1 minggu dalam studi kelompok kontrol sama.223 telah mendemonstasikan hasil data dari baik hingga terbaik telah didapatkan dari 61% pasien yang setiap hari menderita nyeri kepala oksipital berkaitan whiplash yang berasal dari C2-3.Lord et al telah menemukan keberhasilan radiofrekuensi neurotmi pada pasien dengan nyeri kronis sendi servikalis zygapophyseal. Menurut Barnsley dkk. Prosedur yang berulang mencapai pengurangan periode sebagai gejala awal prosedur 45 . Bagaimanapun.

dan denervasi sendi C2-3 belum diteliti karena dampak buruk dari suboksipital hipoestesia dari neurotomi dari nervus oksipital ketiga. dan C2-3 belum lagi diteliti.Jarum diposisikan untuk injeksi pada C4 dan C6 cabang nervus medial dan TON.In Cousins MJ.dengan menggunakan pendekatan posterior. Saat ini tidak ada teknik khusus untuk mendenervasi sendi atlantooksipital dan atlantoaksial.dengan izin JB Lippincott) Cervical Internal Disk Disruption Epidemiologi Gangguan disk internal pertama kali dijelaskan oleh Crock lebih dari 30 tahun lalu.Kiri: gambaran posterior tulang belankang servikalis yang menunjukkan lokasi ganglia C2(G) pada belakang sendi atlantoaxial lateral(LAAJ).1988.Pilar artrikuler mungkin dihalang oleh bayangan besar C7 processus transverses.pengobatan. Injeksi faset servikalis.Bridenbaugh PO.ed 2 Philidephia JB Lippicott.(Dari Bogduk N:Blok Nyeri belakang sendi zygapophyseal dan steroid epidural. dan menunjukkan bahwa disk intervertebralis telah kehilangan arsitektur normal internal tetapi tetap mempertahankan kontur eksternal yang diawetkan dengan tidak 46 .cabang arterikuler(A) dan nervus oksipital ketiga(TON).Sendi ditembus untuk ke tulang belakang servikalis dengan menggunakan pendekatan lateral.Kanan: Gambaran lateral tulang belakang servikalis yang menunjukkan jarum dalam kavity sendi faset C5-C6.Radiografi lateral servikal menunjukkan posisi tepat penempatan jarum kedalam sendi zygapophyseal .Kami telah berhasil menggunakan neurotomi frekuensi radio dari sendi C2-3 zygapophyseal dan kebanyakan pasien tidak tertekan oleh hipoestesia suboksipital.editors:Blokir Neuronal dalan anastetik klinis dan penatalakksaan nyeri.dimana nervus medial C7 boleh diposisikan dipertengahan antara cembungan lateral C6-C7 dan C7-T1 sendi zygapopphyseal. Pengantian jarum untuk cabang nervus medial dan injeksi zygapopphyseal intraartrikuler.B.Neurotomies frekuensi radio sendi atlantooksipital dan atlantoaksial.yang memproduksi karakteristik artogram.ramus ventral C2(C2VR)dan lokasi cabang nervus medial servikalis dorsal rami (MB).

adanya kompresi akar saraf. Dalam sakit leher yang disebabkan oleh trauma kronis, 20% pasien mungkin CIDD, dan satu lagi 41% mungkin CIDD dan cedera sendi bersamaan zygapophyseal. Litigasi buruk dapat mempengaruhi hasil pengobatan untuk CIDD, tetapi efek litigasi potensial belum dibuktikan dalam penyelidikan lainnya. Dalam kasus nonlitigation, hasil nonoperative dan operasi adalah sama dengan yang untuk CIDD. Diagnosa Sejarah dan Pemeriksaan Fisik Kompleks gejala CIDD termasuk sakit leher posterior, nyeri oksipital dan suboccipital, nyeri trapezial atas, nyeri interscapular dan periscapular, nyeri nonradicular lengan, vertigo, tinitus, disfungsi mata, disfagia, nyeri wajah, nyeri dada dan dinding anterior. Pasien sering melaporkan riwayat trauma sebelumnya, seperti tabrakan kendaraan bermotor, dengan onset akut. Dalam absense peristiwa pencetus, gejala CIDD dapat mulai secara spontan dan secara bertahap, atau eksplosif. Jika gejala rujukan yang hadir, keluhan utama pasien adalah nyeri terutama aksial dikaitkan dengan mencolok gejala ekstremitas atas. Faktor memperburuk biasanya mencakup lama duduk, dan batuk, bersin, atau mengangkat. Berbaring terlentang dengan dukungan kepala biasanya meredakan gejala-gejala pasien. Pemeriksaan fisik hanya dapat menunjukkan serviks halus berbagai-dangerakan pembatasan, kecuali jika telah menjalani operasi sebelum serviks. Pemeriksaan neuromusculoskeletal menyeluruh harus dilakukan untuk mengecualikan radiculopathy myelopathyor. Jika spondylosis hadir, ekstensi leher rahim dan lateral bending lebih terbatas daripada fleksi dan rotasi aksial berada. Palpasi atas proses spinosus servikal tingkat yang terlibat dapat menimbulkan rasa sakit di daerah itu atau sebagian dari rasa sakit aksial pasien. Memisahkan pasien dari mereka yang menderita nyeri leher nonorganik dapat dicapai dengan memunculkan tanda-tanda nonorganik, seperti kelembutan dangkal atau nonanatomic, nyeri dengan rotasi kepala dan panggul bersama, kehilangan sensori nonanatomic, memberikan arah kelemahan, dan reaksi berlebihan.

47

Studi Pencitraan Membedakan menyakitkan dan tidak menyakitkan dari disk serviks hanya pada karakteristik pencitraan bisa sulit. Kelainan Disk telah dicatat pada pasien tanpa gejala, dan CIDD menurut definisi menampilkan penampilan sesuai usia pada MRI. Plain films dapat mengungkapkan hyperostosis dan keruntuhan ruang disk tapi sering tidak berkorelasi dengan gejala rasa sakit. Disk pengeringan, kehilangan ketinggian disk, celah annular, osteophytosis, dan reaktif akhir-piring adalah perubahan penanda dari degenerasi disk. Sebuah sinyal intradiskal menurun pada T2-tertimbang gambar berkorelasi baik dengan degenerasi histologis dari disk. Fitur MRI tidak berguna, bagaimanapun, dalam mendeteksi disk serviks gejala. Akibatnya, tes diagnostik fungsional seperti diskography provokasi digunakan untuk mendiagnosa tingkat disk yang menyakitkan. Pemahaman kami tentang distribusi sakit dari CIDD atau degeneratif disk telah diperluas oleh penelitian dari tes diagnostik fungsional. Pengobatan Obat Fisikal dan Rehabilitasi Mengobati cedera serviks intervertebralis tanpa radiculopathy mirip dengan mengobati gejala radikuler. Langkah awal adalah untuk mengontrol nyeri dan peradangan. OAINS dapat digunakan secara jangka pendek kecuali kontraindikasi karena penyakit ginjal atau intoleransi gastrointestinal untuk OAINS. The American College of Rheumatology pedoman menyatakan bahwa fungsi ginjal pada pasien sehat harus diperiksa pada 6 minggu setelah memulai OAINS. Jika fungsi ginjal normal pada 6 minggu, harus diperiksa kembali pada 12 bulan. Obat seperti antidepresan trisiklik dapat membantu memodulasi nyeri dan membantu dalam regulasi tidur. Analgesik opiat biasanya digunakan hemat dan hanya untuk periode singkat. Modalitas fisik dapat diresepkan untuk memodulasi nyeri dan transisi pasien dari pengobatan pasif untuk restorasi fungsional aktif. Modalitas yang dangkal dan terapi TENS (Transcutaneous electrical nerve stimulation) dapat digunakan untuk rasa sakit. Modalitas panas juga dapat digunakan untuk meningkatkan elastisitas
48

jaringan lunak sebelum dan selama traksi leher rahim. Dalam studi, stimulasi listrik (TENS) telah ditemukan untuk membantu dalam rasa sakit serviks. Traksi mungkin akan bermanfaat dengan mengalihkan disk intervertebralis yang menyakitkan. Namun, traksi harus digunakan hati-hati karena jika mengganggu jaringan annular terluka dapat memprovokasi gejala yang menyakitkan. Kerah leher rahim dapat membantu mempertahankan posisi nyaman tetapi tidak boleh dipakai oleh pasien selama lebih dari 72 jam. Modalitas pasif harus digunakan pada awal proses pengobatan dan kemudian, pada dasar yang dibutuhkan, dan tidak harus mengganti berdasarkan aktivitas terapi. Seperti semua mekanik gangguan nyeri serviks lainnya, CIDD

membutuhkan evaluasi mendalam tentang biomekanik tulang belakang. Semasa nyeri akut mulai mereda, pasien terdaftar di sebuah peregangan aktif dan program fleksibilitas dengan transisi ke kondisi dan stabilisasi. Efek independen dari latihan dan stabilisasi, khususnya dalam pengobatan cedera leher rahim, belum divalidasi secara ilmiah. Namun, peran stabilisasi tulang belakang leher bukan hanya peregangan dan penguatan didukung. Efek juga dapat disimpulkan dari laporan penelitian stabilisasi lumbal yang menunjukkan penurunan signifikan dalam rasa sakit dan kecacatan pada sekelompok pasien dengan spondylosis dan spondylolisthesis. Satu-satunya cara metodologis yang benar untuk mempelajari hasil pada pasien dengan nyeri diskogenic serviks adalah dengan mendaftarkan diri dan mengobati kohort pasien setelah nyeri leher diskography terbukti sesuai aksial. Tetapi tidak ada studi seperti itu. Interventional Spine Physiatry Provokasi Diskografi Diskografi Provokasi adalah tes diagnostik fungsional di mana keakuratan penyelidikan sangat mengandalkan masukan pasien. Smith dan Nichols pertama kali dijelaskan Diskografi serviks pada awal 1950-an, dan utilitas telah diperebutkan sejak itu. Diskografi Provokasi adalah satu-satunya tes yang dapat mengatasi gejala status dari disk, dan biasanya digunakan ketika CIDD

49

dipertanyakan. Hal ini juga digunakan sebagai evaluasi presurgical. Sebuah respon positif memerlukan bukti struktural dari kekacauan internal untuk menguatkan produksi sakit biasa atau pasien dengan sakit serviks. Pendukung Diskografi menunjukkan bahwa disk sehat menerima sejumlah volume tertentu dari kontras dan tidak menghasilkan gejala dengan stimulasi mekanik. Diskografi harus dianggap sah hanya jika injeksi kontrol asimtomatik disk yang menyertai suntikan menurut hitungan menyakitkan. Meskipun hasil positif palsu telah dibuktikan pada sukarelawan tanpa gejala, temuan ini dapat diberhentikan karena ketidakcukupan teknis. Diskografi provokasi serviks belum menghasilkan respon nyeri positif palsu pada sukarelawan tanpa gejala. Pada kesempatan, seorang discogram provokatif dapat menghasilkan respon positif palsu di hadapan gabungan zygapophyseal yang menyakitkan serviks. Bogduk dan April menyimpulkan bahwa discogram serviks positif dengan kesakitan serviks traumatis kronis adalah konklusif yang mungkin menyesatkan, dan merekomendasikan menyelesaikan blok diagnostik bersama zygapophyseal pada tingkat disk yang menyakitkan sebelum mengejar intervensi pengobatan. Disk intervertebralis serviks telah terbukti untuk merujuk nyeri ke kepala dan wajah baik secara sepihak dan bilateral, dan tumpang tindih pola rujukan nyeri yang dihasilkan oleh sendi zygapophyseal menyakitkan. Transforaminal Epidural Steroid Injections. Berangsur-ansur steroid ke dalam ruang epidural anterior untuk mandi posterolateral margin dari permukaan melingkar dari disk intervertebralis dan ligamentum longitudinal posterior dapat mengatasi nosisepsi biokimia yang dirangsang. Sebuah C7 transforaminal epidural injeksi steroid (TFESI) dilakukan jika gejala konsisten dengan nyeri diskogenic dan terutama terletak di dasar, atau merujuk ke luar dari dasar, dari tulang belakang leher. Prosedur identik dilakukan di tingkat C5 atau C6 untuk mengobati nyeri leher bagian atas dengan atau tanpa sakit kepala, dan gejala ekstremitas wajah atau bagian atas. Jika efek kortikosteroid, yang didefinisikan sebagai pengurangan 50% pada tingkat preinjection nyeri yang berlangsung selama 2 hari dalam waktu 7 hari setelah prosedur, tidak dialami oleh

50

yang dapat dicapai dengan diskectomy serviks anterior dan fusi atau dengan fusi posterior. Operasi Pasien yang mengalami sakit parah dan bandel serviks aksial dianggap diskogenic asal yang mungkin menjadi kandidat untuk operasi. Pendekatan kami untuk pasien dengan CIDD adalah mempertimbangkan diskografi serviks jika pasien tidak menyadari efek penghilang rasa sakit setelah dua TFESIs kortikosteroid. Obat disuntikkan antara posterior lamina mungkin tidak berdifusi anterior untuk mencapai generator nyeri potensial. Interlaminar epidural suntikan steroid telah diselidiki dalam kelompok heterogen pasien dengan nyeri radikuler dan aksial. Dalam pengalaman kami. Sebagian besar pasien dalam studi ini memiliki definisi penyakit gejala sakit aksial. Hasil berhasil sekitar 40% sampai 84% dari pasien yang diobati. sehingga mengurangi rasa sakit diskogenic. Satu-satunya pengobatan bedah untuk CIDD atau gejala degeneratif disk serviks adalah fusi. maka pasien mungkin menjadi sebuah kandidat bedah. Meskipun kurangnya literatur tentang kegunaan TFESIs dalam mengobati nyeri leher rahim diskogenik. Alasannya adalah bahwa dengan menggabungkan unsurunsur vertebra tulang. Suntikan diselesaikan posterior melalui pendekatan interlaminar tanpa bimbingan fluoroscopic. Yang paling akut atau subakut durasi gejala. maka pasien memerlukan kronis komprehensif sakit-modulasi program. atau keduanya. semakin baik hasilnya. Pemanfaatan Diskografi provokasi untuk menentukan tingkat adalah 51 . dengan menggunakan teknik kerugian-perlawanan. Efektivitas TFESIS belum sistematis dipelajari. nyeri radikuler. tingkat dua yang noncontiguous. diskografi serviks atau diagnostik blok bersama zygapophyseal biasanya dikejar.pasien. atau disk menurut hitungan menyakitkan adalah lobular. Jika diskogram mengungkapkan satu atau dua tingkat berdekatan memproduksi nyeri. gerak dihilangkan. sekitar 50% pasien mengalami bantuan yang signifikan dan abadi. kita biasanya melakukan dua injeksi awalnya sebelum menilai respon klinis. Jika tiga atau lebih tingkat yang sesuai. mungkin karena cedera disk yang relatif akut inflamasi.

penyakit motor neuron.3 Rata-rata penderitanya berumur di atas 50 tahun dan kebanyakan berjenis kelamin laki-laki. sangat baik. neurosifilis. siringomielia.44 Penyebab-penyebab lain dari mielopati harus disingkirkan. dan tumor spinal. yang termasuk penyebab penyakit ini adalah multipel sklerosis. 93% pasien ini dilaporkan penurunan lebih besar dari 50% dan peringkat rasa sakit mereka selepas operasi. Kajian ini adalah retrospektif. dan penulis mungkin telah memasukkan beberapa pasien yang memiliki keluhan terutama radikuler.253 namun presentase penyakit ini tidak sebanyak radikulopati spondilotik servikal.259 Salah satu dari penyebab tersebut ditemukan pada lebih 17% pasien yang menderita mielopati spondilotik. Menariknya. atau sangat baik pada rata-rata 4. Garvey dkk. degenerasi gabungan subakut. menemukan bahwa 82% dari 87 pasien melaporkan diri mereka sebagai hasil yang baik.4 tahun setelah fusi. perbedaan yang signifikan secara statistik diperoleh untuk pasien yang dirawat berdasarkan diskogram benar-benar positif. Sebuah tinjauan literatur yang luas menyimpulkan bahwa Diskografi serviks terkontrol meningkatkan hasil bedah. Seibenrock dan Aebi mengamati pengurangan rasa sakit yang lebih besar dari 75% pada 96% dari 27 pasien yang menjalani fusi servikal sebanyak 39 tingkat.37 Diagnosis 52 .kontroversial. Beberapa penulis telah melaporkan "baik atau sangat baik" menghasilkan 70% sampai 96% pasien setelah fusi servikal tingkat ditentukan oleh Diskografi. Mielopati Servikal dan Mieloradikulopati Epidemiologi Mielopati spondilotik servikal adalah lesi vertebra servikal paling sering yang terjadi pada kisaran umur diatas usia pertengahan. vaskulitis.

Penyebab lain 53 .259 Nyeri aksial servikal menjadi keluhan utama pada 70% pasien di satu titik poin perjalanan penyakit ini. Kombinasi dari terlibatnya medula dan radiks disebut mieloradikulopati spondilotik servikal. Ekstremitas atas akan menunjukkan kelemahan dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan yang disebabkan karena kerusakan sel horn anterior. dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan.259 Manifestasi neuron motorik atas seperti Hoffman’s sign. Hasil pemeriksaan yang sering didapat adalah kelemahan karena mielopati pada batang tubuh bawah dan. Onset gejala biasanya tidak terlihat. agak naik sedikit ke batang tubuh atas. Pemeriksaan radiologi biasanya menunjukkan kompresi medula servikal.Riwayat dan Pemeriksaan Fisik. kebanyakan spondilitik.259 Nyeri dan perubahan suhu tubuh mengindikasikan adanya lesi pada traktus spinotalamikus setinggi level gangguan sensori pada regio lumbal dan thorakal. Pemeriksaan pencitraan. atau bisa juga diindikasikan oleh distribusi “glove and stocking” .171 Gangguan fungsi kandung kemih terjadi pada kira-kira sepertiga pasien dan merupakan tanda memburuknya lesi medulla spinalis. Gejala dan tanda bisa simetris atau tidak.259 Refleks asimetrik pada batang tubuh atas atau kelemahan miotomal bisa berarti bahwa penyakit ini juga disertai radikulopati. refleks brisk dan babinski seringkali muncul. Manifestasi klinis yang menunjukkan level medula yang terlibat. Defisit propriosepsi dan getaran mengindikasikan malfungsi kolumna posterior lebih banyak pada batang tubuh bawah daripada atas. diikuti periode statis yang berlangsung beberapa tahun. bisa jadi tidak sama dengan level maksimum kompresi hasil pemeriksaan radiologinya. dan regangan total batang tubuh atas jarang terjadi. Umumnya. walaupun minoritas pasien mengalami onset akut dengan atau tanpa didahului suatu trauma.259 Riwayat alami perjalanan penyakit ini diawali dengan deteriorasi.259 Penderita akan mengeluh nyeri radikuler sebagai tanda keterlibatan akar saraf pada level medula yang mengalami stenosis. perbedaannya bisa mencapai satu sampai dua segmen. Penderita mielopati sering mengeluh mati rasa dan parestesia pada batang tubuh dan ekstremitas distal. kelemahan tersebut lebih sering terjadi pada batang tubuh bagian bawah dibandingkan bagian atas.

Pada kasus servikal mielopati. deformasi medula atau abnormalitas sinyal intramedula.259 Stenosis spinal servikal sentral yang asimptomatik ditemukan pada 16% orang yang berumur di bawah 64 tahun. MRI dapat mendeteksi mielomalasia. atrofi. seperti pada pasien yang potensial motorik nya terlihat normal namun terlihat banyak gangguan pada motorik maksimalnya melalui pemeriksaan ini.188 dan jumlah cairan serebrospinal di sekitar medula (gambar 37-23). dan subluksasi. pemeriksaan dengan jarum elektroda dapat mengungkapkan derajat abnormalitas pada otot dibawah lesi segmen.178 Untuk mendiagnosis mielopati spondilotik servikal secara akurat. ulnar dan tibial posterior lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan klinis dalam mendeteksi disfungsi kolumna posterior. Elektromiografi dan pemeriksaan konduksi saraf dapat digunakan untuk mendiagnosis lesi radiks saraf.166 Pemeriksaan elektrodiagnosis.seperti superimpos CIDH yang menekan thecal sac. seperti yang telah dibahas pada bagian radikulopati servikal. Diameter kanal sentral yang kurang dari 10 mm pada penderita yang simptomatik menyokong diagnosis mielopati. dan apakah terdapat hiperostosis. sedangkan dimensi postoperatif medulla sangat berhubungan dengan kesembuhan penderita. atau osifikasi pada ligamen longitudinal posterior (etiologi pada 27%pasien usia pertengahan 241 ). kira-kira sepertiga kanal sentral harus dicurigai dan bukti adanya perubahan kanal sentral harus benarbenar objektif. Gambaran preoperatif potongan transvers medulla spinalis pada lokasi kompresi maksimal akan berpengaruh pada hasil klinis akhir. jika 54 . Termasuk juga banyak berkurangnya aliran cairan serebrospinal. somatosensory evoked potential dapat digunakan untuk mendeteksi keterlibatan medula spinalis secara subklinis.40.258 Stimulasi somatosensory evoked potential pada saraf median. foraminal encroachment. Penggunaan somatosensory evoked potential untuk mendiagnosis mielopati servikal sudah diteliti. ini mengindikasikan adanya lesi saraf motorik atas. Foto polos radiologi akan memberikan gambaran diameter oseus pada kanal sentral dan penurunan tinggi ruang diskus intervertebralis. yang mengindikasikan kompresi medula yang progresif.240 Reduksi 30% pada potongan cross sectional vertebra servikal adalah batas minimum reduksi pada pasien yang simptomatik. perubahan sinyal.

91 Pada kasus impingement akibat spondilosis degeneratif atau osifikasi ligamen longitudinal posterior. atau pada mereka yang perawatan konservatifnya tidak berhasil.66. mengindikasikan mieloradikulopati. dan penderita masih bisa bergerak karena tehnik ini tidak menggunakan fusi. 79 atau laminoplasti (gambar 37-24). Dekompresi anterior biasanya diterapi dengan korpektomi.181 Bedah.258 Penatalaksanaan Perawatan non-operatif. maka pembedahan yang diindikasikan adalah diskektomi dan fusi servikal pada level vertebra yang sesuai. Mielopati servikal dapat dibedakan dari sklerosis multipel dari jenis abnormalitas pola yang ditampilkan somatosensory evoked potential. dimana komplikasi deformitas dan kifosis lebih jarang terjadi. pembedahan bertujuan untuk menghilangkan struktur rusak bagian anterior (seperti osteopit) atau ligamen longitudinal posterior yang mengalami kalsifikasi (untuk mengurangi tekan dari posterior).162 55 . dan kemudian segmen tersebut digabungkan dengan autograf fibula atau alograf tulang.37.92 Laminektomi tanpa fusi yang luas bisa menyebabkan komplikasi deformitas paska operasi dan kifosis. Hasil pemeriksaan berupa perubahan pada konduksi saraf perifer yang ditambah dengan keterlambatan sentral.162 Sehingga tehnik laminoplasti lebih sering digunakan.40.44. dimana badan vertebrae dibuang sebagai tambahan diskus intervertebralis yang berdekatan.keluhan utamanya adalah nyeri aksial servikal atau radikular.18 Dekompresi posterior diterapi dengan laminektomi dengan atau tanpa fusi.107 Jika hanya CIDH yang menyebabkan kompresi medulla spinalis. Perawatan konservatif termasuk terapi fisik dan ortosis servikal dilakukan pada pasien dengan gejala ringan atau statis tanpa ada gangguan berjalan atau refleks patologis. Pembedahan diindikasikan pada penderita dengan gejala yang berat atau progresif. Kedua pembedahan ini akan menyediakan runag gerak yang leboh banyak pada medulla.181 Perbaikan defisit fungsi sensori dan motoriknya terjadi pada 33%-50% pasien.

143. 56 . Terlihat kurangnya cairan serebrospinal anterior dan posterior medulla spinalis setinggi C3-4 dan C4-5.91 Pada kasus dengan tiga atau lebih vertebrae yang mengalami stenosis dan lordosis servikal masih normal. dan umumnya dihindari karena dapat timbul komplikasi dari ketidakcocokan graft91 atau nonunion. Jika tiga atau kurang vertebrae yang mengalamai stenosis. koprektomi anterior dan fusi adalah pembedahan yang dilakukan.2.153 Bedah korpektomi yang dilakukan pada dua atau lebih vertebrae akan menyebabkan hasil operasi yang kurang stabil. dilakukan bedah laminoplasti. terjadi perbaikan gejala pada 85%-99% pasien.3. Gambaran potongan sagital MRI dari Stenosis spinal sentral dan mielomalasia.91 Jika.4 Terapi ini efektif pada pasien dengan dekompresi anterior.88 Khusus untuk menatalaksana mielopati servikal terbukti bahwa tehnik laminoplasti jauh lebih efektif dibandingkan laminektomi.5. tiga atau lebih vertebrare yang terlibat dan lordosis servikal abnormal. dan juga memiliki komplikasi yang lebih sedikit. dilakukan laminektomu dan fusi untuk mempertahankan kestabilan vertebrae servikal.88 Gambar 37-23 .Dekompresi anterior atau posterior tejadi tergantung dari kontur dan jumlah vertebra servikal yang mengalami stenosis.

Definisinya telah diselaraskan beberapa kali. Istilah nyeri kepala servikogenik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1983.9%).9 tahun dan rata-rata durasi timbulnya gejala adalah 6. Laminektomi dan laminoplasti.2% pada pasien yang mempunyai keluhan nyeri kepala. Berbagai struktur tulang belakang terlibat dalam nyeri kepala servikogenik. dan mencapai 36. Nyeri Kepala Servikogenik Nyeri kepala servikogenik adalah gejala buruk yang biasa dikaitkan dengan struktur serviks tulang belakang. A. Laminoplasti dilakukan dengan memotong keseluruhan lamina pada satu sisi sementara kontralateral lamina dibor saja sehingga berfungsi seperti sendi. termasuk akar saraf dan tulang belakang. Hasil akhirnya elemen posterior akan sembuh dengan kanal yang lebih lebar berkat graft yang diletakkan di lubang lamina. B. dengan mean usia sebesar 42.5% pada populasi umum. ganglion akar dorsal.1%) dari laki-laki (20. sendi uncinate 57 . Laminektomi dengan eksisi elemen posterior sebelah lateral setinggi pedikel.Gambar 37-24. Epidemiologi dan Patofisiologi Prevalensi nyeri kepala servikogenik telah dilaporkan berkisar dari 0. turut menunjukkan kurangnya consensus mengenai definisinya.8 tahun. Wanita lebih rentan terhadap gejala ini (79.4% hingga 2. Ini menunjukkan terdapat berbagai stimulasi rasa nyeri dan manifestasi yang menyebabkan nyeri kepala servikogenik.

Diagnosis Riwayat dan pemeriksaan fisik Etiologi nyeri kepala diperoleh dengan mendapatkan riwayat nyeri kepala pasien atau trauma leher seperti Whiplash event. Nyeri kepala servikogenik bisa menjadi keluhan primer. facet joint. Nyeri kepala servikogenic diklasifikasikan sebagai unilateral primer dan berasal dari daerah occipital posterior. fonofobia. saraf akar. ligamen dan otot. Nyeri kepala servikogenik bisa disebabkan oleh perubahan degenerative. Lamanya gejala nyeri berfluktuasi dari episode initial. disk invertebratal. namun karakteristiknya lebih lama dan berasosiaso dengan nyeri kepala migrain. 58 . namun biasanya sisi sumber nyeri utama tetap paling intens dan kuat nyerinya. dan C5-6 disk intevertebral. Lama gejala berkisar dari beberapa jam ke beberapa minggu. Keluhan autonomik seperti fotofobia. membayangi asal nyeri serviks axial. progresif kepada kronik dan nyeri konstan. dan nausea adalah lebih kurang dari pasien yang menderita migrain. dahi wajah dan ipsilateral bahu. Intensiti nyeri pada nyeri kepala servikogenik kurang meyiksa dari nyeri kepala tipe kluster dan tidak berdenyut. Keluhan tambahan adalah pusing dan vertigo. Kebanyakkan pasien mengeluh nyeri semakin bertambah bermula di daerah serviks dan menjalar ke kepala dan leher. Terdapat bukti yang mendukung teori konvergensi yang menjelaskan hubungan antara gejala kranial dan stimulator nyeri pada servikal tulang belakang. kesan langsung dari trauma. baik dalam isolasi atau kombinasi. Antara penyebab primer nyeri kepala servikogenik termasuk C2-3 zygapophyseal joint. Karakteristik nyeri berbeda dari nyeri yang kuat kepada nyeri tajam dan menusuk-nusuk. C3-4. ipsilateral anterolateral. Whiplash event seperti kecelakaan akan mengakibatkan kecederaan sendi servikal zygapophyseal. C4-5. C2-3. Gejala bisa menjalar dan melibatkan bagian kontralateral.(uncovertebral joint). disk intervertebral. atau terjadi tanpa kesan biomekanikal pada struktur tulang belakang servikal. Reffered pain menjalar ke vertex kepala.

Suspek kejadian fraktur bisa didiagnosis dengan lebih teliti melalui CT scan servikal yang dilakukan dengan multiplanar reformatted image. Nyeri ini juga bisa sering muncul semasa palpasi mendalam pada sendi yang berhubungan. Jika nyeri kepala servikogenik berasal dari sendi servikal zygapophyseal. Sebagian gerakan kepala dan leher bisa menyebabkan gejala nyeri seperti rotasi axial. Spurling’s maneuver tidak menunjukkan gejala radikular ekstrimitas atas. perubahan arthritic. penurunan ketinggian disk.Pemeriksaan fisik pasien dengan keluhan nyeri kepala servikogenik sering menujukkan penurunan range of motion karena kekakuan otot. Ia memerlukan posisi anteroposterior. namun selalunya memperburuk nyeri axial dan pasien akan mengeluh munculnya nyeri paramidline sendi zygapophyseal. Nyeri yang berasal dari disk invertebralis berasal dari garis tengah nyeri yang menyebar sepanjang tulang belakang ke kepala atau wajah. dan herniasi. MRI adalah lebih baik dari CT dalam mendiagnosis disk intervertebralis . dan kurangnya fleksibilitas jaringan lunak. termasuk proses terbuka odentoid process. Pencitraan Riwayat trauma membutuhkan fleksi dan ekstensi servikal pada radiografi lateral untuk mendeteksi abnormalitas pada pergerakan segmental. MRI mempunyai false-positive rate sebesar 51% dan false-negative sebesar 27% dalam mendeteksi nyeri disk yang diidentifikasi melalui discography. Tetapi. atau ekstensi servikal. untuk menyingkirkan fraktur. 59 . Abnormalitas yang dilihat dalam imej harus dihubungkan secara klinikal karena hasil tersebut bisa menjadi gejala atau penyakit tanpa gejala sepanjang hayat pasien. pasien bisa menunjukkan dengan satu jari atau melalui telapak tangannya bagian nyeri maksimumnya yang unilateral. Kita sering melihat pasien yang mengeluh onset selepas waktu tidurnya pada posisi yang canggung.

Nyeri servikogenik disebabkan oleh nyeri sendi atas zygapophyseal dapat dipelajari dengan konfirmasi diagnostic blockade. Ablasi radiofrequency cabang medis untuk nyeri sendi dapat mengurangi nyeri kepala servikogenik yang disebabkan oleh cedera sendi servikal zygapophyseal dengan baik. SindromWhiplash Sindrom Whiplash (hiperfleksi-hiperekstensi) harus dikonseptualisasikan dalam tiga komponen. injeksi terapeutik akan dilakukan sebagai terapi pada sendi servikal zygapophyseal. kepala atau leher tidak mempertahankan pukulan langsung. namun ini tidak dteliti dengan studi kohort. paradigma blok ganda tersebut dilakukan untuk meminimalkan tingkat positif palsu suntikan diagnostik tunggal. kita mendiagnosis blockade pada C45 sendi zygapophyseal yang merangkum gejala anterior kepala dan gejala pada wajah. Saat kejadian whiplash. Setelah studi pemetaan sendi zygapophyseal. Algorithm tradisional termasuk diagnostic intraarticular yang dilakukan bertahap pada C2-3. struktur tersebut dirawat seperti yang dinyatakan di atas. Apabila sendi yang sakit diidentifikasi. Jika pasien mengalami bantuan jangka pendek dari minimum dua dan maksimum empat terapi suntikan. Ablasi radiofrequency pada nervus ketiga occipital dapat membaikpulih sendi zygapophyseal C2-3 dan telah dilakukan dengan sukses di Penn Spine Centre. tetapi 60 . dan sendi C1-2.Sindrom Whiplash boleh diartikan seperti efek biomekanikal yang dikeluarkan oleh penghuni satu mobil apabila mobil itu ditabrak mobil lain.Diagnostik Uji Fungsional dan Penatalaksanaan Apabila etiologi nyeri kepala servikogenik sudah diidentifikasi. C3-4.Cedera whiplash adalah kelainan atau struktur terluka akibat peristiwa whiplash. Sindrom whiplash adalah himpunan gejala yang timbul dari cedera whiplash.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kronisitas gejala whiplash mengembangkan independen dari litigasi. ruang C5-6 disk melebar secara anterior dan menyebabkan batasan antara prosesessus artrikuler pada sendi zygapophyseal C5-6 dan geseran posterior dalam disk. dan setelah 2 tahun 82% adalah bebas dari gejala. posterior atau anulus dan sendi servikal zygapophyseal . Kontrol otot untuk menstabilkan tulang belakang leher tidak bereaksi dengan cepat dalam mencegah pasukan dari terjadi cedera di unit fungsional servikal tulang belakang. Kurangnya tonus otot dan terbentuknya kekuatan abnormal mengakibatkan pergerakan sekitar sumbu abnormal rotasi subjek pasif yang menahan struktural ke ketegangan yang abnormal Misalnya. gangguan visual dan tinnitus. semuanya berisiko untuk cedera. Pukulan dari belakang merupakan pola paling umum kecerderaan whiplash. ligamentum longitudinal anterior. namun cedera yang disebabkan oleh kepala dan pukulan samping juga dapat terjadi. Gejala yang paling sering dilaporkan cedera whiplash termasuk rasa sakit leher dan sakit kepala. Kebanyakan pasien dengan sindrom whiplash diharapkan untuk sembuh dalam waktu 2 sampai 3 bulan pertama setelah cedera. mengakibatkan cedera ketegangan dan regangan. sama seperti cedera jaringan lunak. dan litigasi tidak mengubah respon terhadap pengobatan. parestesia ekstremitas atas.Bagi pasien yang cedera parah . Gejala yang kurang umum termasuk pusing. 61 . Cedera juga terjadi pada jaringan lunak leher .dalam waktu 3 bulan diperkirakan hanya 6% dari seluruh pasien whiplash dan persentase ini menurun minimal sampai 4% dalam masa 2 tahun. di 110ms setelah kesan impak dari belakang . bukan hanya berasumsi bahwa rasa sakit adalah hasil dari keadaannya seperti pertimbangan keuntungan sekunder. Whiplash didefinisikan oleh gerakan pasif leher. dan kelemahan. Dokter harus mengejar evaluasi dan pengobatan gejala whiplash terkait. diikuti dengan nyeri bahu korset. Cedera ini biasanya sembuh dalam waktu relatif singkat.Selama kejadian whiplash disk anterior.masing-masing mengalami cedera karena respon inersia tubuh terhadap pasukan yang diberikan di atasnya.

Aldrich F: Posterolateral microdiscectomy for cervical monoradiculopathy caused by posterolateral soft cervical disc sequestration. Amsterdam. tujuan pengobatan dan prognosis. 2. Abel MS: Occult traumatic lesions of the cervical vetebrae. pp 97-112. 4. Blok bangunan untuk intervensi terapi yang berhasil mengendalikan termasuk rasa sakit dan peradangan sementara pada saat yang sama mendidik pasien tentang cedera. J Neurosurg 72:370377. CRC Crit Rev Clin Radiol Nucl Med 6:469-553.1975 Abel MS: The radiology of chronic neck pain: sequele of occult traumatic lesions. Sebagai teknologi kemajuan dan pengetahuan kita tentang gangguan tulang belakang leher tumbuh jalur klinis kami untuk pengobatan masalah serviks akan terus berkembang dan memperbaiki. DAFTAR PUSTAKA 1. 1977.Kesimpulan Nyeri leher adalah salah satu keluhan paling umum dari pasien yang mencari bantuan medis. 26. 62 . 1990. 3. perawatan perilaku dan intervensi dalam konteks luas mencapai dalam apa yang terbaik untuk fisiologis dan psikologis pasien kesejahteraan. Bryun GW. North-Holland Publishing.1982. Pengetahuan tentang biomekanik tulang belakang dan fisiologi jalan membantu menentukan generator rasa sakit yang paling mungkin dalam setiap kasus. farmakologis. In Vinken PI. Berbagai struktur tulang belakang dapat menghasilkan tumpang tindih atau simtomatologi jelas. Adams C: Cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. Hal ini penting untuk melihat pasien secara keseluruhan dan lembaga fisik. Diagnosis yang akurat memberikan kesempatan terbaik untuk pengobatan yang efektif. Crit Rev Diagn Imaging 20:27-78. editors: Handbook of Clinical Neurology.

8. 13. 1987. MartinDunitz. 1999. et al: The prevalence of chronic cervical zygapophyseal jonit pain after whiplash. Bodguk N: Cervical zygapophyseal joint pain patterns. 1992. Bodguk N: The prevalence of cervical zygapophyseal joint pain: a first approximation. 1994. Clin Exp Rheumatol 18(2 suppl 19):S59-S64. Bogduk N: The pathophysiology of whiplash. Eur Spine J 16(3):321-328. Acta Neurochir 146(6):559-565. 12. London. Clin J Pain 9:124-130. et al:Selective diagnostic cervical nerve root block: correlation with clinical symptomps and MRI-pathology. Aprill C. 6. spine 20:20-26. Wallis BJ. Anderberg L. 9. Wallis BJ. et al: Evaluation of CT-guided periganglionic foraminal steroid injections for teratment of radicular pain in patients with foraminal stenosis. Aprill C. 2004. N Eng J Med 330(15):1047-1050. Pain Physician 12:137-157. Lord SM. et al: False-positive rates of cervical zygapophysial joint blocks. Singh V. Anthony M: Cervicogenic hedeahe: prevalence and response to local streroid therapy. et al: Lack of effect of intraarticular corticosteroids for chronic pain in the cervical zygapophyseal joints. 1998. Benyamin R. Barnsley L. 7. Atkinson R. Lord S. spine 7:412-416. 1995. 17. Annertz M. 11. 2009. Parr AT. 10. et al: Sarcoidosis presenting as cervical radiculopathy: a case report and literature review.5. et al: Transforaminal steroids injection for treatment of cervical radiculopathy: a prospective and randomised study. 16. Andenberg L. Delmer O. Simpson JM: Surgery of the cervical spine. 1993. spine 15:458-461. Berger O. Brandt L. Annertz M. Barnsely L. Tsairis P. 1994. J Radiol 80:917-925. 2000. et al: Systematic review of the effectiveness of cervical epidurals in the management of chronic neck pain. II: A clinical evaluation. spine 17:744-747. Dousset V. Spine State Art Rev 12(2):209-242. Barnsley L. Wallis BJ. An HS. Ghelman B. Lord SM. 15. 14. 63 . Dwyer A. Lord SM. Persson L. 1990.2007. Barnsley L.

Facchinetti A. discography and cervical zygapophiseal joint blocks. 23. 2008. Phys Med Rehabil Clin N Am14:455-472. Curr Pain Headache Rep5(4):382-386. JB Lippincott. Twomey LT: Clinical Anatomy of the Lumbar Spine. 1988. Bogduk N: The anatomy and pathophysiology of neck pain. McCowin PR. In Bogduk N. 1997. editor: Clinical anatomy of the lumbar spine and sacrum. et al: Cervical spine tomography in trauma. 1990. Pain 54:213-217. Bogduk N. 1993. 19. Churchill Livingstone. Baker R. 31. Philadelphia. Marangola JP. J Bone Joint Surg 72(8):1178-1184. Bonaldi G. Spine 7:319-330. 2003. Boden SD. 64 . Bernard TN Jr. In Cousins MJ. Aprill C: On the nature of neck pain. 27. Clin Orthop 221:149-160. 24. 22. 21. et al:Abnormal magnetic resonance scans of the cervical spine in asymptomatic subjects: a prospective investigation. 1988. 1988. Marsland A: The cervical zygapophyseal joints as a source of neck pain. editors: Neural Blockade in Clinical Anesthesia and Pain Management. Spine 13:2-8. Bridenbaugh PO. Bogduk N. Bogduk N: Cervicogenic headache: anatomic basis and patophysiologic mechanism. Bogduk N. Davis DO. Spine 13:610-617. 29. 2001. Moro JJ. Bogduk N: Low back pain. 25. ed 2. Spine 2:163-172. Binet EF. 1987. Bogduk N: Back pain: zygapophiseal joint blocks and epidural steroids. ed 2. 30. Bogduk N: The clinical anatomy of the cervical dorsal rami. Whitecloud TS III: Cervical Spondylotic myelopathy and myeloradiculopathy: anterior decompression and stabilization with autogenous fibula strut graft. Bogduk N. Churchill Livingstone. et al: Plasma radio-frequency-based diskectomy for treatment of cervical herniated nucleus pulposus: feasibility. 28. 20. 26. Dreyfuss P. Inglis A: The innervation of the cervical intervertebral discs. 1991. New York. Bogduk N. 1977. Baruzzi F. 1982. New York.18. Windsor M. Pain Med 9(suppl 1):S11-S34. et al: Complications of spinal diagnostic and treatment procedures.

Nordby A. 34. Burkhead WZ. Chiu. Chavin JM. 37. 35. JC. Greensan M. Mt Sinai J Med 67(4):278-282. 1979. 33. Philadelphia. ed 3. FA Davis. Differential diagnosis.. Bush K. Acta Radiol 36:425-428. Campbell AMG. 32. Bucholz RW. et al: Occult cervical spine injuries in fatal traffic accidents. Eur Spine J 5:319-325. Muscle Nerve 21:1220-1223. 1991. Br Med J 2:481-485. JAMA 198:143-147. Hillier S: Outcome of cervical radiculopathy treated with periradicular/epidural corticosteroid injections: a prospective study with independent clinical review.safety. AJNR Am J Neuroradiol 27(10):21042111. Phillips DG: Cervical disk lesions with neurologic disorder. treatment and prognosis. 65 . Casilino P. Cesaroni A. Thoni K. 1998. 1996. 1989. J Trauma 119:768-771. 42. Hartman JT. 39. 2000. Clifford TJ. 1966. Campbell DG. Parsons CM: Referred head pain and its concomitants.1944. Buonocore E. Chan KM. Nelson CL: Cineradiograms of cervical spine in diagnosis of soft tissue injuries. 1995. et al: The usefulness of central motor conduction studies in the localization of cord involvement in cervical spondylitic myelopathy. Borchgrevink GE. J Nerv Ment Dis 99:544-551. and preliminary clinical results. Spine J 8(suppl):78S-79S. Nasathurai S. et al: Plasma disc decompression compared to conservative care for treating symptomatic contained cervical disc protrusion: one year results from a prospective randomized controlled study. 41. Cicala RS. Clin J Pain 5(2):143-145. 38. Graham W. Nardi PV. et al: Percutaneous microdecompressive endoscopic cervical disectomy with laser thermodiskoplasty. 2008. Angel JJ: Long term result of cervical epidural steroid injections. 2006. et al: MR imaging and radiography of patients with cervical hyperextension-flexion injuries after car accidents. 40. Smevik O. 1960. Cailliet R:Neck and Arm Pain. 36.

Cyteval C. Clark CR. et al: Cervical radiculopathy: open study on percutaneous periradicular forminal steroid infiltration permormed under CT control in 30 patients. Farrell JP. A contribution to the aetilogy and mechanism of neck. Cloward RB: Cervical diskography. 1981.43. Strohm BR: Effect of duration of intermittent cervical traction on vertebral separation. Clarke E. John Wiley. Strohm BR: A study of tractive forces angle of pull on vertebran interspaces in the cervical spine. Cyriax J: Rheumatic headache. Press JM. Brain 75: 187-225. Davidson RI.. 1965. 53. Herring SA. Med J Aust 1: 983-989. 2007. 48. Spine 13: 642-747. Robinson PK: Cervical myelopathy: a complication of cervical spondylosis. 1938. 1959. 45. 1998. 46. Metzmaker JN: Shoulder abduction test diagnosis of radicular pain in cervical extradural compressive monoradiculopathies. New York. 1970. et al: Radiographic evaluation of cervical spine injuries. 51. Arch Phys Med Rehabil 46: 820. 49. 66 . ed 2. Dunn EJ. Thomas E. 1979. 44. In Kibler WB. 2004. New York. Br Med J 2:1367-1368. Pain med 8(4): 344-353. Crafts RC: Textbook of Human Anatomy. Colachis S. editors: Functional Rehabilitation of Sports and Muskuloskeletal Injuries. Bogduk N: Cervical zygapophysical joint pain maps. Bailey B. and arm pain. Arch Phys Med Rehabil 47: 353-359. Spine 6: 441-446. 1956. Igram CM. Cole AJ. Stratton SA. Decoux E. shoulder. et al: Functional rehabilitation of cervical spine athletic injuries. 1966. 1988. Aspen. 54. Ann Surg 130: 1052-1064. 52. 50. Crock HV: A reappraisal on intervertebral disc lesions. Cooper G. Am J Neuroradiol 25: 441-445. el Khoury GY. 47. Colachis SC Jr.

J Rehabil Med 41(8): 626-631. 66. Actamaz F. 58. Taguchi T. Magalliard J. Panjabi MM. Blackwell.. A study in normal volunteers. et al: The natural history of severe cervical disc degeneration. Dusunceli Y. Ellenberg MR. I. J Orthop Res 9:828-834. et al: Neck pain: a major cause of disability following car accidents. 61. 56. Am J Phys Med Rehabil 80(2): 84-91. 1987. Dwyer A. Injury 18:10-21. Levitt RL. 63. Deans G. Falconer J. 59. et al: Efficacy of neck stabilization exercises for neck pain: a randomized controlled study. Ellis H: Clinicak Anatomy: A Revision and Applied Anatomy for Clinical Students. 1990. Dillingham TR. et al: Identification of cervical radiculopathies. Hayes KW. 57.55. Dvorak J. 67 . Dvorak J. Acta Orthop Scand 43:392-396. Chang RW: Therapeutic ultrasound in the treatment of musculoskeletal condotions. 1994. Michaelsen M. Fletcher D: Atlanto-occipital and lateral atlanto- axial joint pain patterns. Honet JC. 1987. Ozturk C. 2001. Panjabi MM. McBroom RJ. Grob D. 1994. 1972. Bogduk N: Cervical zygapophyseal joint pain paterns. Spine 15:453-457. DePalma AF. 60. Rothman RH. Dooley JF. 64. Andary M. et al: Validation of flexion extensiin radiographs of cervical spine. 1988. Treanor WJ: Cervical radiculopathy. 1976. Spine 13(1):79-83. Optimizing the electromyographic screen. Arch Phys Med Rehabil 75:342-352. Aprill C. et al: In vivo flexion/extension of the normal cervical spine. Arthritis Care Res 3:85-91. 67. 1990. Spine 8:120-127. 1991. et al: Nerve root infiltration in the diagnosis of radicular pain. London. Kerr M. 65. 62. Dreyfuss P. 2009. 2001. J Am Acad Orthop Surg 9(6):376-388. Emery SE: Cervical spondylitic myelopathy: diagnosis and treatment. Novotny J. ed 6. Spine 19:1125-1131. Lauder TD.

Kelly CK: Cervical discography: clinical implications from 12 years experience. Feinstein B. Jameson RM. Hadley LA: Anatomicroradiographic studies of the spine: changes responsible for certain painful back conditions. Furusawa N. Spine 12:1-5. Yonenobu K. Grubb SA. et all: Herniation of cervical intervertebral disk: immunohistochemical examination and measurement of nitric oxide production. 72. J Bone Joint Surg Am 69:815-821. Arch Phys Med Rehabil 70 (5):402-403. 1954. 2000. 68 . et al: Experiments in reffered pain from deep somatic tissues. Gore DR. Gore DR. Fukui T. 1996. Shiotani M. 69. 78. Fujiwara K. et al: Cervical radiculopathy or myelopathy secondary to athetoid cerebral palsy. Langton JBK.68. 70. 77. Sepic SB: Antrerior cervical fusion for degenerated or protruded discs: a review of one hundred forty-six patients. Spine 27(17): 1887-1894. Funct Neurol 15(4):199-202. Sepic SB. 1987. 74. 80. 75. Spine 15:440447. Spine 9:667-671. 76. et al: Outcome of anterior cervical discectomy and fusion as percieved by patients treated for dominant axialmechanical cervical spine pain. Fredriksen T. et al: Reffer pain distribution of the cervical zygapophyseal joints and cervical dorsal rami. et al: Neck pain: a long term follow up of 205 patients. Babaa H. Fielding J: Cineroentgenography of the normal cervical spine. Pain 68:79-83. Spine 26:1110-1116. J Bone Join Surg (Am) 39:1280-1284. 2000. 79. 2001. Marin E: The shoulder abduction relief sign in cervical radiculopathy. J Bone Joint Surg Am 36:981-997. 1984. Fast A. Ohseti K. Sjaastad O: Cervicogenic headache (CEH): notes on some burning issues. Fuji T. Garvey TA. Transfeldt E. Gardner GM. Spine 25:1382-1389. 1989. 1998. Miiyoshi N. N Y State J Med xxxix:969-974. Malcolm JR. 2002. 1957. Parikh S. 1987. Benoist M. 1939. 71. 73. Deburg A: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy for spondylotic myelopathy. Guigui P.

Lang CJ. Clin Orthop Relat Res 198:179-183. 1988. Hekowitz H. Clin Rehabil 22 (7): 592-600. 2001. Edwards CC II. Watanabe K. 2008 82. 85. Smith BS. Cephalgia 8 (suppl 7): 1-96. et al: CT-guided percutaneous laser disk decompression (PLDD) for cervical disk hernia. Hawkey DJ: Cox-2 inhibitors. 89. 1989. Hirabayashi K.2001 84. 1990. Overholt DP: Surgical management of cervical soft disc herniation: a comparison between the anterior and posterior approach. Heller H: A biophysical explanation for Nd: YAG percutaneous laser disc decompression success. Spine J 2(2): 162. Headache Classification Committee of the international Headache Society: Clasification and diagnostic criteria for headache disorders. Spine 26(12):1330-1336. 86. 1999. 83. Dagenais D: Cervicogenic headaches: a critical review. Wakano K. Herkowitz HN: The surgical management of cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. and facial pain. Zobelein I. Spine 8: 693-699. Kautiainen H. et al: The diagnostic accuracy of spinal nerve injection studies: their role in the evaluation of recurrent sciatica. 88. Fukuda K. et al: Herniated cervical intervertebral discs with radiculopathy: an outcome study of concervatively or surgically treated patients. Dohi M. et al:Strength training and stretching versus stretching only in the treatment of patiens with chronic pain: a randomized one-year follow-up study. 90. 1985. Kurz LT. Heller JG. 69 . Haldeman S. 2001. Hanonen P. J Spinal Disord 12:396-401. Myers SR. 92. Linke R. J Clin Laser Med Surg 19(5): 235-238. cranial neuralgias. Radiat Med 19(5):263266. Harada J. 87. et al: Laminoplasty versus laminectomy and fusion for multilevel cervical myelopathy: an independent matched cohort analysis. Lancet 353:307-314.81. 1983. Heckmann JC. 1999. Hellinger J. Spine 15: 1026-1030. 2002. 91. Hakkinen A. Haueisen DC. Murakami H. Clin Orthop 239:94-108. et al: Expansive open door laminoplasty for cervical spine stenotic myelopathy.

J Neurosurg 28:204-206. Zotterman Y. Geriatrics 37:123. 102. Pergamon press. Hoogland T. New York. 1982. Calvin WH: Mechanosensitivity of dorsal root ganglia and chronically injured axons: a physiological basic for the radicular pain of nerve root compression. 1964. Arch Phys Med Rehabil 86(2): 277-283. Clin Neurosurg 27:466-480. Howe JF.1954 100. 96. Pain 3:25-41. Hoyland JA. editors: cervical Pain. dorsal and lumbar spinal syndromes. 1980. 2005. J Spinal Disord 8(3): 228-232. Hult L: Cervical. Hitselberger WE. 2008. Acta orthop Scand Suppl 17-38. Hult L: Frequency of symptoms for different afe group and professions. 105. 99. Huston CW. Orton D. Hunt WE: Cervical spondylosis: natural history and rare indications for Hunt WE. Witten RM: Abnormal myelograms is asymptomatic patients. Scheckenbach C: Low-dose chemonucleolysis combined with percutaneous nucleotomy in herniated cervical disks. 95. J Spinal Disord Tech 21 (6): 406-408. et al: Effectiveness of repeated surgical decompression. 1995. Freemont AJ. 1954. 70 . In Hirsch C. Garvin C: Complications and side effects of cervical and lumbosacral nerve root injections. Acta Orthop Scandal Suppl 17:39-102. Jackson R: Cervical trauma: not just another pain in the neck. 104. Neurosurg 33 (29) : 485-502. 94. 1968. Holt EP: Fallacy of cervical discography: report of 50 cases in normal subjects. 1977. loeser JD. Schofferman J.1989. Hult L: The munkfors investigation.93. 101. Jayson MI: Intervetebral foramen venous obstruction: a cause of periradicular fibrosis? Spine 14(6):558-568. 1986 103. JAMA 188:799-801. Slipman CW. Miller CA: Management of cervical radiculopathy. Clin Husted DS. radiofrequency neurotomy for cervical facet joint pain. 97. 98. 1971.

prostaglandins and matrix metalloproteinases. 1948. 110. Rauschning W. 113. interleukins. Brin G. Oxford. Garrett GD: The segmental distribution of the cutananeous Kellegren JH: Observations on referred pain arising from muscle Clin Sci Kellegren JH: On the distribution of pain arising from deep somatic nerves in the limbs of man. Holland BA: Imaging of the cervical spine. 1995. and PGE2. 115. 118.106. et al: Abnormal segmental motion of the Kang JD. Spine 22:1065-1073. 1977. J Bone Joint Surg Am 59:332. Larkin L. Inami S. disc spontaneously produce matrix metalloproteinases. 1971. 114. Keegen JJ. 1997. Arch Phys med Rehabil 52:239-243. 1997. 3:175-190. 1939. Jonsson H Jr. 1986. et al: Cervical orthoses: astudy radiculopathy. 109. 108. cervical spine during whiplash loading. cervical zygapophysial joint pain syndromes. Mclntyre L. 1998. Clin Sci 3:35-46. 112. interleukin6. Simmons EF. 1991. 1938. Hart DL. 71 . Spine 23:2701-2712. Kaneoka K. Stefanovic-Racic M. spondylosis and disc degeneration. Ono L. 1993. J Jpn Orthop Assoc 71: S1680. Anat Rec 102:409-437. Kang JD. Johnson EW. 116. Georgescu HI. ed 2. et al: Hidden cervical spine injuries in Jull G. 111. J Spinal Disord 4:251-263. Bogduk NK. Med J Aus 148: 233-236. comparing their effectiveness in restricting cervical motion in normal subjects. J Neurol Neurosurg Psychiatry 49:353-361. Spine 20:2373-2378. Jeffreys RV: The surgical treatment of cervical myelopathy due to Butterworth-Heinemann. et al: Toward a biochemical understanding of human intervertebral disc degeneration and herniation: contributions of nitric oxide. nitric oxide. 107. 117. Marsland A: The accuracy of manual disgnosis for Kaiser JA. 1988. Jeffreys E: Disorders of the Cervical Spine. et al: Herniated cervical intervertebral traffic accident victims with skull fractures. structures with charts of segmental pain. Melvin JL: Value of electromyography in lumbar Johnson RM.

1960. Knight MTN. Its frequency and relationship to symptom. 1988.et al : Lumbar epidural perineural injection: a new technique. 1956. Ann Rheum Dis 28:121. Krempen JF.2005 126.1969 131. 120. Spone 25:801-803. In Kirkaldy-Willis WH. Acta Neurochir(Wien)147:1065-1070. Moreau P: Localisation of the level of symptomatic Kimmel DL: Innervation of the spinal dura mater of the posterior cranial cervical disc degeneration. Voss D : Propioceptive Neuromuscular Facilitation : Patterns and techniques. Klein BR. editor: Managing low back pain. Presented at the annual Meeting of the North American Spine Society. Garner MND : An in vivo. Voccato AR. 2001 124. J Bone Joint Surg Br 63(2) 272-277. Bickert U. Leivseth G. Macnab I. Kuslich SD. Clin Neurosurg 25 :209217. 1997.1978 130.1997 127. Smith BS : Nerve root injection : amethod for evaluating the etiology sciatica. Knott M. Kolstad F. New York. Ludwig J. Goswarni A. New York.1956 72 . McGraw-Hill 125.Albert TJ : Health outcome assessment before and after anterior cervical discectomy and fusion for radiculopathy a prospective analysis. Kikuchi S. Jbone Joint Surg AM 56:1435-1444. Larocca H : Acceleration injuries of the neck. Churchill Livingstone. Ahern JW. Patko JT : Cervical percutaneous laser disc decrompession : preliminary result of ongoing prospective outcome study. J Clin Laser Med Surg 19(1): 3-8. Lazorthes G Gaubert J : L’innervation des articulation interapophysaire vertebrales. New York. Neurology 10:800-809. Kraemer j. fossa. C R Assoc Anat 43: 488-494. 122. Prosspective Analysis of Tissue sensitivity of lumbar spinal tissue. 1981. Kirkaldy-willis WH:The pathology and pathogenesis of low back pain. Lawrence JS : Disc degeneration. 121. 129.1974 128. Eur Spine J 6 :357-361.119. Nygaard OP : Transforaminal steroid injection in the treatment of cervical radiculopathy : a prospective outcome study.2000 123.

A placebo-controlled prevalence study. Delateur BJ : Therapeutic heat. Barnsley L. neurosurgery 36:732-739. In Lehmann JF.1982. 141. Barnsley L. Stow RW : Pain threshold Measurement after therapeutic application of ultrasound.1995 139. Baltimore. Liversedge LA. 1197. Williams and Wilkins 134. lyons JB. et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft 144. fehling MG. Lord SM. Fehling MG. 1990. Yan DL. Barnsley L. et al: Cervical synovial cyst:case report and review of the literature. Lord SM. Spine 21:17371745. 142. Macdonald RL.1995 140. HutchinsonEC.1932 136. tator CH. Lord SM. Baltimore. 73 . J Neurol Neourosurg Psychiatry 57: 1187-1190. et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft fusion for cervical myelopathy. et al: third occipital nerve headache:a prevalence study. J Neurosurg 26:990-997. Ricci G. ed 4. Eur Spine J 17:1664-1669. 1996.1953 138. Zhang ZH : Percutaneous cervical nucleoplasty in the treatment of cervical disc herniation. Rev Neurol 1: 210- 239. Clin J Pain 11:208-213.2008 137. Wallis BJ. Brunner GD. editor : therapeutic hot and cold.Acqui M. Barnsley L. Arch Phys Med Rehabil 39:560-565. Bogduk N : percutaneous radiofrequency neurotomy in the treatment of cervical zygaphophysial joint pain : acaution. Lehmann JF: Therapeutic Heat and Cold. microwaves and infrared.132.ed 3. Li J.1999 143. Macdonald RL. Lancet 2:652-659. 1994. Lehmann JD. Cervical Spondylosis simulating motor neuron disease.1958 133. Eur Spine j 8:232-237. Wallis BJ.et al:Chronic cervical zygapophyseal join pain after whiplash. Williams and Wilkins 135. L’hermitte J Etude de la commation de la moe le). Lord SM. Lunardi P. Lehmann JF. Bodguk N: The utility of comparative local anesthetic block versus placebo-controlled block versus placebo-controlled blocks for the diagnosis of cervical zygapophysial joint pain.

Society for Automotive Enggineers. J Neurosurg 96 (1 suppl): 10-16. 154. et al: Systemic review of cervical dischography as a diagnostic test for chronic spinal pain. Sievers D. Neck Ache and Shoulder Pain. Fujimura. J bone joint surg Br 80:19-24. Warrendale. outcome after anterior corpectomy. Martino F. Lord SM. 1993 156. AMJ Epidemiol 134: 13561367. proceedings of the 37th STAPP Car Crash Conference. 2002 155. 1993. Manchikanti L. McConnel WE. Cafaro E. 151. radial med (torino) 83:211-215. Comey CH: Cervical spinal stenosisz. Guzman HM. Mayr MT. radiology 3:5-15. 1992. Suzuki N. Neurosurgery 45:61-67. Stratford JG. pain physician 5: 243-249. Baltimore. Wargo BW. Malanga G: The diagnosis and treatment of cervical radiculopathy. McCulloc J. Malacca R. Howard RP.145. 1991 147. at al: MRI of cervical intervertebral discs in asymptomatic subjects. 153. et al: ( L’ecographia musculo-tendinea nei trauma distorvi acuti del collo). 1998. et al: Analysis of human test subject kinematic responses to low velocity rear end impacts. Macnab I. Manchikanti L. Jeans ME. Williams & Wilkins. Makela M. 1999 74 . Rivera J. pain 9: 209-217. et al: Prevalence. 2002. Matsumoto M. Bogduk N: Long-term follow up patients treated with cervical radiofrequency neurotomy for chronic neck pain. Manelfe C:Imaging of spine and spinal cord. et al: Ice Message and Transcutaneous Electrical Stimulation: Comparison of treatment for low back pain. et al: prevalence of cervical faced join pain in chronin neck pain. 1994. 1991 152. pain physician 12: 305-321. Ettore GC. paper 930889. allograft reconstruction. Heliovara M. Subach BR. Determinas and consequences of chronic neck pain in Finland. Dunbar EE. 2009 150. 146. McDonald GJ. and instrumentation. Singh V. 1980 148. med sci sports exerc 29 ( suppl ) : s236-s245. 1997 149.

Radiology 161:753-759. Melzack R. Baltimore. et al: Cervical radiculopathy: prospective evaluation with surface coil MR imaging. 158. 1989. 1993. 1965. 1994. ed 2. 1986 166. Morio Y. Meloche J. Bellavance A. 1990. Merskey H. Masaryk T. International Association for the Study of Pain. McKinney LA: Early mobilization of acue sprain of the neck. 161. Modic M. Davis 163. 1987 164. 160. In Merskey H. 2001 168. editor: Thermal Agents in Rehabilitation. Br Med J 299: 1006-1008. Bergeron Y. 165. et al: Painful intervertebral dysfunction: Robert Maigne’s original contribution to headache of cervical origin. Michlovitz S: Cryotherapy: the use of cold as a therapeutic agent. 1977 75 . Mink JH. science 150:971-979. Phys Med Rehabil Clin N Am 14:493-548. Nagashima H. 162.157. Spine 26: 1238-1245. Mulopulos G. Yamamuro T: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy. Bogduk N. et al: Correlation berween operative outcomes of cervical compression myelopathy and MRI if the spinal cord. Gordon RE. Agur AM: Essential Clinical Anatomy. Mikawa Y. teshima R. Spine 12:6-11. 2003. Wall PD: Pain mechanisms: a new theory. Clin Orthop relat Res 129:49-60. Seattle. 1955. Acta Radiol 46:927. CT with metrimazide and metrizamide myelography. 167. Murphy RW: nerve roots and spinal nerves in degenerative disk disease.. 1956 159. Philadelphia. McRae DL: Asymptomatic intervertebral disc protrusions. Headache 33 (6): 328-334. The Quebec Headache Study Group. Bogduk N: Classification of chronic pain: descriptions of chronic pain syndromes and definitions of pain terms. In Michlovitz S. Williams & Willkins. Moore KL. Shikata J. Deustch Al: The cervical spine: radiologist’s perspective. editors: Cervinogenic headache.

1998. 180. et al. 1995 171. Wilmink JT. 1993. Spine 20(17):1884-1888. Philadelphia.: Evaluation of specific stabilizing evercise in the treatment of chronic low back pain with radiologic diagnosis of spondylosis or spondylilisthesis. Norris H. Pavlov H. 1983 172. 174. 1987. 1972 173. 177. Persson LC. Eur J Appl Physiol 57:353-359. Parke. Philadelphia. ed 3. Phyty GD. Morits U. Rydevik B. editor: Rehabilitation Medicine: Principles an Practice. 178. editors: The spine. 1986. Watt I: The prognosis of neck injuries resulting from rearend vehicle collisions. AJR Am J Roentgenol 7:119-127. et al: Injury mmechanism of the cervical intevertebral disc during simulated whisplash. Nurrick S: The Natural history and the results of surgical treatment of the spinal cord disorder associated with cervical spondylosis. Torg JS: Roentgen examination of cervical spine injuries in the athelete. 175.. Simone FA. 2004 176. Panjabi M. Nordborg C: Autologous nucleus pulposus induces neurophysiologic and histologic changes in porcine cauda equine nerve roots. Clin Sports Med :761. et al: CT myelographic findings in degenerative disorders of the cervical spine: clinical significance. Brandt L: Cervical radiculopathy:pain. WW: Applied anatomy of the spine.169. Spine 29(11):1217-1225. 179. 1988 170. muscle weakness and sensory loss in patients with cervcal radiculopathy treated with 76 . Spine 22:2959-2967. 1997. Lippincott. O’Sullivan PB. Penning L. Parminder SP: Management of cervical pain. Brain 95:101-108. Twomwy LT. Van Woerdden HH. 1992. J Bone Joint Surg Br 65:608-611. In DeLisa JA. Newham DJ: The Consequences of eccentric contractions and their relathionship to delayed-onset muscle pain. Pearson A. zolmarker K. Ito S. Spine 18:1425-1432. Nilsson N: The Prevalence of cervicogenic headache in a random population sample of 20-59 years old. Saunders. In Rothman RH.

et al: Anatomy of the normal and traumatized spine. 90-95. 1984. Herring SA. Stereoact Funct Neurosurg 54-55. Sturzenegger M. Litchy WJ. Press JM. editors: Mechanisms of Head and Spine Trauma. Pain Clinic 1:3-7. et al: Neck strains and sprains among motor vehicle occupants-United states. Arch Phys Med Rehabil 65:601-602. Rappaport ZH. Johnson EW: Football shoulder and neck injury: a study of the ‘stinger”. 184. Radanov BP. J comput Assist Tomogr 13:399-404. Rauschning W. and psychososial finding. Dever M: Experimental pathophysiological correlates of clinical symptomatology in peripheral neuropatic pain syndrome. Brain 117(pt 2):325-335. DC. 1990 191. 189. Medicine 74:281-297. Philips DG: Surgical treatment of myelopathy with cervical spondylosis. Quinlan KP. Acta Orthop Scand 65:525-528. Eur Spine J 6:256-266. In Sances A. Tomas DL. Di Stefano G: Long-term outcome after whisplash injury: a 2-year follow-up considering features of injury mechanism and somatic. Washington.In The textbook of Military Medicine. O’Fallon WM. Radharkrishnan K. physiotherapy or cervical collar: a prospective. Hildingson C. Petterson K. Wilner H. radiologic. controlled study. Minn. et al: Epidemiology of cervical radiculopathy: a population-based study from Rochester. Toolanen G. Myers B. 2000. Metes J:MR imaging compressive myelomalacia. 187. 188. Borden Institute. 1995. 182. Ramanauskas W. 1977. 1994. Annest JL. Office of the Surgeon General. Purkis IE: Cervical epidural steroids. 181. et al: MRI and neurology in acute whiplash trauma: no correlation in prospective examination of 39 cases. Ewing CL. 1994. 1989 190. 1986. Poindexter DP.surgery. 185. 1986. Kibler WB: Rehabilitation of musculoskeletal disorders. 186. J Neurol Neurosurg Psychiatry 36:879-884. 1996. Deer Park. Accid Anal Prev 2004(36):21-27. 1973 183. 1976-1990. Aloray 77 .

Spine 9:7-15. Spine 21(16):1877-1883. Yurth E: Nonoperative management of herniated cervical intervertebral disc with radiculopathy. randomized. Redford JB. Saal J. 1995.double-blind study. manual therapy and education:a review of conservative measures. 1996. Spine 21(3): 300-312. Pool JJ. van Tulder MW. 1986 196. et al: A systematic review of the diagnostic accuracy of provocative tests of the neck for diagnosing cervical radiculopathy. 2006 195. Sanchez MC. Lundborg G: Pathoanatomy and pathophysiology of nerve root compression. Reitman C.Sapir D. Gundry CR. Neuroimaging Clin N Am 5(3):329-348. Saal J. Kirschenbaum LP: Epidural analgesic techniques in the management of cervical pain. Rubinstein SM. Gorup J: Radiofrequency medical branch neurotomy in litigantanonlitigantpatientswithcervicalwhiplash. Eur Spine J 16(3):307-319. 1996 201. Hacker R et al: Artificial disc vs. Spine 20:1821-1827.192. Brown M. 194. Gutieerez DA. Arenillas JIC. Russell EJ: Computed tomography and myelography in the evaluationof cervical degenerative disease.Spine26(12):E268E273. Saal J: The role of inflammation in lumbar pain. 1995 198. Rowlingson JC.controlled. 1995 200. Riew DK. 1984. Spine state art rev 9:673-688.Schellhas KP. 2007 197. 2005. 199. Spine J 5:88S. et al: Cervical discogenic pain: prospective correlation of magnetic resonance imaging and discography in asymptomatic subjects and pain sufferers. Heller J. 204. Spine State Art Rev 9:661-672. Anesth Analg 65:938-942. 78 . Esses S: Modalities. fusion for the treatment of cervical radiculopathy: a prospective randomized study. 2001. Spine J 6(suppl):2S-3S. et al: Cervical radiculopathy: a rare symptom of giant cell arteritis. Rydevik B.Sasso R. Patel A: Orthotic devices in the management of spinal disorders. Arthritis Rheum 26:207-209. Smith MD. Kim Y. 203. 1983 202. Gilula L: Can cervical nerve root blocks prevent surgery for cervical radiculopathy? A prospective. 1995 193.

Segil CM: An evaluation of discography in the localization of symptomatic levels in discogenic disease of the spine. 211.Sharps LS.Shulman M: Treatment of neck pain with cervical epidural injection. Goldthwaite N. Wortzman G. J Clin Laser Medi Surg 13(3):205-207. Murphey MD: The syndrome of unilateral rupture of the sixth cervical intervertebral disk with compression of the seventh cervical nerve root: a report of four cases with symptoms simulating coronary disease. 210. 1984. Aust Fam Phys 13:243-247. Can J Surg 16:217-221. Fredriksen T. Saunte C.Sjaastad O.ClinExpRheumatol 19):S3-S6. 1973. 2002. Cephalalgia 3:249-256. 1995. 2000. 207. et al: Upper cervical anterior diskectomy and fusion improves discogenic cervical headaches Spine 27(20):2240-2244. 208. Pain Physician 5(2): 121-126 2002. Headache 38(6):442-445. 17(2suppl classification epidemiology. 1943. 214. Lougheed WM.Seibenrock KA.Simmons EH. 1994. 213. et al: Invertebral nerve root in the investigation of chronic lumbar disc disease. Hovdahl H.Schutz H.Siebert W: Percutaneous laser discectomy of cervical discs: preliminary clinical results. Fredriksen and T: Cervicogenic headache: criteria. et al: ‘Cervicogenic’ headache: an hypothesis. 212.205. Clin Orthop 108:57-69. 79 . Arch Orthop Trauma Surg 113:199-201.Sjaastad O.Schofferman J. 206.Sjaastad O. Aebi M: Cervical discography in discogenic pain syndrome and its predictive value for cervical fusion.Semmes RE. Isaac Z: Percutaneous disc decompression using nucleoplasty.Selecki BR: Whiplash. 215. The Cervicogenic Headache International Study Group. 1986. 1998. Garges K. JAMA 121:1209-1214. 1983. Reg Anesth 11:92-94. 209. 1975. Pfaffenrath V: Cervicogenic headache diagnostic criteria. 216.

et al: Outcomes and side effects following percutaneous cervical disk decompression using coblation technology: a pilot study. Isaac Z.2002. Slipman CW. 219. Slipman CW. Plastaras CT. 1998. Arch Phys Med Rehabil 83(11): 1665. et al: Therapeautic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of atraumatic cervical spondylitic radicular pain: a retrospective analysis with independent clinical review. 223. Lipetz JS. 80 . et al: Outcomes of therepeutic selective nerve root blocks for whiplash induced cervical radicular pain.217. et al: Symptom provocation of fluoroscopically guided cervical nerve root stimulation: are dynatomal maps identical to dermatomal maps. 2001. 225.2002. Palmitier RS. et al: An evidence-based algorithmic approach to cervical spinal disorders. Freg ME. 220. Jackson HB. Slipman CW.Slipman CW. Am J Phys Med Rehabil 80(3): 182-188. Plastaras C. 2004. Patel R. Spine J 4(5S):71S. Isaac Z.2001.AmJPhysMedRehabil83(6):446-454. et al: Does the cervical zygapophyseal joint refer symptoms to the neck bilaterally? preliminary data from 100 patients. Crit Rec Phys Rehabil Med 13(4):283-299. Slipman CW.2004. Arch Phys Med Rebail 83(11): 1664. 2000. Bhargava A. 2005. et al: Provocative cervical discography symptom mapping. et al: Therapeutic zygapophyseal joint injections for headaches emanating from the C2-3 joint. Slipman CW.Slipman CW. 224. Lipetz JS. Lipetz JS.Slipman CW. 218. Jackson HB. Slipman CW. Spine J 5(4): 381-388. 222. Oleski C. 221. 2001. pain physician 4(2):167-174. et al: Cervical zygapophyseal joint syndrome and referral to the head and face: premilinary data from 100 patients. Thomas J. Spine 23: 2235-2242. Lipetz JS.Slipman CW. Isaac Z. Chow DW. 226. DePalma MJ. Plastaras CT. et al: Therapeutic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of traumatically induced cervical spondyliticradicularpain. Arch Phys Med Rehabil 81:741-746.

Swezey AM: Efficacy of home cervical traction therapy. Radiology 68: 718-720. Am J Phys Med Rehabil 78:30-32. Leblanc F. 2000. 1995. 234. 232. Saal JA. Spitzer WO. and operative findings. Clin J Pain 4: 233. 1995. Sweeney T. computed tomography. Swezey RL. 1999. et al: Cervicothoracic muscular stabilizing technique. Medj Aust 174: 174-176. Euinton HA. Scoville WB: Lateral rupture of the cervical intervertebral discs: a common cause of shoulder and arm pain. et al: Cervical nonorganic signs: a new clinical tool to assess abnormal illness behavior in neck pain patients: a pilot study.associated disorders: redefining whiplash and its management. Smith GW. 228. Prentice C. Nichols PJ: The technique of cervical discography. Robinson R.227. et al: A prospective study of nerve root infiltration in the diagnosis of sciatica: a comparison with radiculography. 236. Scientific Publishing. et al: Scientific monograph of the Quebec Task Force on whiplash. 230. 81 . Bashford GM. Arch Phys Med Rehabil 81:170-175. Spine 20 (suppl 8): 3s-73s. 1988. McLaren MI. Spine 12(suppl): S1. Spitzer W. 1987. Swanberg H: The Intervertebral Foramina in Man. Spurling RG. Speldewinde GC. et al: Scientific approach to the assessment and management of activity-related spinal disorder: a monograph for clinicians. Chicago. Su RK: Treatment of whiplash injuries with acupuncture. Report of the Quebec Task Force on Spinal Disorders. Stanley D. 1957. Sobel JB. Skovron ML. 229. Dupuis M. Su HC. Salmi LR. Spine 15(6): 540-543. 233. 237. 1990. Sollenberger P. 1990. Surg Gynecol Obstet 78:350-358. Davidson IR: Diagnostic cervical zygapophysial joint blocks for chronic cervical pain. 231. 1944. 2000. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360. 235.S57.

241. Society for Automotive Engineers. 1987. 244. KM Banjir. radiologi 218:886-892. Laasoen EM. Warrendale. Validitas tes klinis dalam diagnosis kompresi akar pada penyakit disc serviks. Carlier RTy. tahun 1993. 242. Und B. Schlbom H. Arch Phys Med Rehabil 70:692-695. Scand J Rheumatol Suppl 47:15-29. 247. Tomita K. 248. Feydy A. Takala J. Teresi LM. In Proc 40th Stapp Car Crash Conp 1996 pp 295-315. Spine 14:253-257. Radiology 164: 83-88.2001 245. et al: Asymptomatic degenerative disk disease and spondylosis of the cervical spine: MR imaging. Pancoast tumor menyajikan sebagai radioculopathy serviks. Taylor JR. Arch Phys Med Rehabil 71:606-609. Umaeda S. dkk: radikulopati servikal kronis: pendekatan injeksi perradicular lateral yang kortikosteroid. Reicher MA. Nomura S. Welch J: Human subject kinematic electromyographic activity during low speed rear impacts. Lufkin RB.238. Arch Orthop Trauma Surg 107:148-153. 1982. et al: kisaran normal gerak pada tulang belakang leher. Cephalalgia 1 (suppl 25) :11-16. Viikari-Juntura E. 1996. 239.1990. et al: Serviks laminoplasty untuk memperbesar kanal tulang belakang di osifikasi bertingkat dari ligamentum longitudinal posterior dengan myelopathy. Nordwall A. Acta Orthop Scand 251 (suppl) :61-63. Sievers K. 1999 82 . Porras M. 240. Spine 9: 1115-1122. 246. 1993. Vallee JN. Vargo MM.1988 243. Szabo T. Vincent G: sakit kepala cervicogenic perbandingan dengan migrain dan sakit kepala tipe tegang. VanAkkerveeken PF: nilai diagnostik infiltrasi sheat akar saraf.1989. Klaukka T: Rheumatic symptoms in the middle aged population in southwesten Finland.1989. Twomey LT: Acute injuries to cervical joints: an autopsy study of neck sprain.

1994. Philadephia.: radiculopathies serviks:. dan tanggapan saraf tibialis posterior dengan temuan klinis dan radiologis.1987. Jones SJ. Yoss RE. Corbin KB. J tulang sendi Surg Am 55:525-534. 255. Saunders. Jonsson BG: nyeri dari daerah leher-bahu dan cuti sakit. somatosensori membangkitkan potensi dalam cervical spondylosis: korelasi median.249. Whitecloud TS. McCarthy CS. Neurologi 7:673683. 252. Philadephia. Arch Phys Med Rehabil 75:465-469. ed 2. 251. 258. Levine La. Ylinen J. Lippincott. ulanr.1957. Wolff MW. Aminoff MJ. 253. et al: Bantuan dari rasa sakit oleh pasien. Wilbourn AJ. Southwick WO. otak 108:273-300. Scand J Med Soc 8:131-136. Pemijatan Beard: Prinsip dan Teknik. 256. 1990. Yu YL. White AA III. 259. dkk: signifikansi gejala dan tanda-tanda di lokalisasi di root terlibat dalam tonjolan disk serviks. Wood EC. Spine 12:313-316. White AA III. Phys Med Clin Rehabil N AM 13:589-608. AAEM minimonograph 32: pemeriksaan diagnostik elektro pada pasien dengan radioculopathies. Punjab MM: Masalah ketidakstabilan klinis pada tulang belakang manusia: Pendekatan biokimia pada sistemik tulang belakang. Seago Ra: serviks discogenis sindrom: hasil intervensi toperative pada pasien dengan Diskografi positif.1973. otot saraf 21:16121631. Ruuska J: penggunaan klinis pengukuran kekuatan leher isometrik dalam rehabilitasi. Westerling D.1998. 1974.2002.1960. Wilkinson M: Anatomi mengerikan dari cervical spondylosis dan myelopathy. 257.1985 83 .1990 250. 254. Deponte RJ. Pendekatan konservatif untuk manajemen. Brain 83:589-616.

261. 84 . Liew S. Huang CY.260. Zheng Y. Simmons E: Nilai pencitraan resonansi magnetik dan Diskografi di detrmining tingkat serviks discectomy fusi d. Yu YL.1987. Spine 29 (19) : 2140-2145. 2004. Acta Neurol Scand 75:367-373. Woo E.: cercival spondylotic myelopathy dan radikulopati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful