P. 1
Servikal

Servikal

|Views: 1,446|Likes:
Published by nipolin

More info:

Published by: nipolin on Apr 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2013

pdf

text

original

MASALAH LEHER SECARA UMUM Michael J. DePalma and Curtis W.

Slipman PENDAHULUAN DAN EPIDEMIOLOGI Keberhasilan pengobatan untuk nyeri penyakit-penyakit spinal servikal tergantung dari keakuratan menentukan penyebab kerusakan jaringan, termasuk ruang lingkup penyakit biomekanik dan biokimia. Para klinisi membutuhkan suatu konsep dalam proses diagnosis dan tatalaksana yang sesuai dengan kepahaman patofisiologi dari kerusakan spinal servikal dan hubungannya dengan manifestasi kinis, kesadaran akan keuntungan dan kerugian dari alat-alat diagnosis, dan pengetahuan tentang pilihan-pilihan terapinya. Langkah awal dari proses ini adalah mencari riwayat. Hal ini penting utnuk membedakan antara nyeri servikal aksial (nyeri leher) dan nyeri lengan atas. Seperti yang dikatakan oleh Bogduk, nyeri leher, dan sebaliknya. Nyeri servikal aksial tidak harus menjadi nyeri servikal radikular. Nyeri servikal aksial didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi di seluruh atau bagian dari perpanjangan inferior oksiput inferior ke regio interskapular superior, sampai midline atau hanya parmidline. Pasien merasakannya sebagai bendungan dari leher. Nyeri servikal radikular didefinisikan sebagai nyeri sampai bahu, area distal atau semuanya, yang bermnifestasi seperti nyeri lengan atas. Penyebab dari gejalanya bermacam-macam, diagnosis dan tatalaksananya juga bermacam-macam. Penyamaan nyeri servikal aksial dan nyeri servikal radikular dapat menyebabkan salah diagnosis, ketidaksesuaian pemeriksaan dan pemberian pengobatan secara optimal. Sering terjadi keraguan karena kedua penyakit ini disebabkan oleh klerusakan spinal servikal. Masing-masing penyakit berbeda dalam kejadian, mekanisme, patofisiologi, pengobatan dan rehabilitasi. Laporan epidemiologi kadang-kadang menggabungkan nyeri leher dan nyeri lengan atas, tapi keluhan tentang juga banyak. Prevalensi dari nyeri leher dengan atau tanpa disertyai nyeri lengan atas berkisar 9% sampai 18% dari prevalensi umum,130,145,238,248 dan satu dari tiga orang dapat mengingat paling sedikit satu
25

leher

bukanlah lengan atas, dan lengan atas bukanlah leher. Nyeri di lengan atas bukanlah

1

kejadian dari nyeri leher dalam kehidupan mereka.

130

Nyeri servikal dalam praktek
256

lebih sering ditemukan dibanding nyeri pinggang bagian bawah,

dan nyeri leher

akibat trauma yang kronis sekitar 40% pasien, dengan 8% sampai 10% dengan nyeri yang sangat.55 Angka kejadian meningkat di temp[at kerja, dengan prevalensi 35% sampai 71% pada daerah hutan di swedia dan pekerja industrial.98,99 Jumlah keluhan servikal akibat pekerjaan meningkat sesuai peningkatan umur. Sekitar 25% sampai 30% pekerja dengan umur kurang dari 30 tahun dilaporkan mengalami kekakuan leher, dan 50% pekerja diatas 45 tahun dilaporkan dengan keluhan yang sama. Radiculopathy servikal jarang terjadi, angka kejadian 83,2 per 100,000, dan terjadi antara umur 50-54 tahun187 5 sampai 10% pekerja dibawah umur 30 tahun mengeluh nyeri menyebar sampai lengan atas, dimana 25% sampai 40% diantaranya diatas 45 tahun mengalami nyeri di lengan atas.100 23% dari pekerja pria pernah mengalami paling sedikit satu kali periode nyeri lengan atas.100 Nyeri leher, nyeri radikular servikal, atau keduanya adalah keluhan umum yang bayanyak dikeluhakan pasien dari berbagai profil. Evaluasi dan pengobatan spinal servikal secara umum membutuhklan analisa kemungkianan tentang kerusakan struktur yang palinng bertanggung jawab terhadap kondisi pasien. Seorang klinisi spinal mengenali gejala individual dengan cermat dan menggabungkan menjadi diagnosis dan pengobatan yang akurat untuk penyakit ini. Bab ini bertujuan sebagai pegangan dalam pendekatan terhadp penyakit-penyakit nyeri spinal servikal secara umum, serta menyediakan algoritme pengobatan yang menggabungkan terapi yang sesuai denga spektrum pelayanan. PATOFISIOLOGI DAN ARTI GAMBARAN NYERI BERALIH Pegetahuan tentang hubungan anatomi dan spinal servikal penting, untuk memahami mekanisme penyakit-penyakit spinal servikal. Spinal servikal adalah suatu segmen yang terpisah dari tulang aksial (lihat gambar 37-), dan berfungsi untuk menopang dan menstabilkan kepala; membuat kepala dapat bergerak dalam segala bidang dan gerakan; serta menjaga tulang belakang, akar saraf, saraf spinal, dan ateri vertebrae.163 Ada tujuh tulang belakang servikal dan delapan saraf

2

servikal. Artikulasio atlantooksipital (C0-1) memudahkan 10º fleksi dan 25 º ekstensi. Level C1-2 atau sendi atlantoaksial (lihat gambar 37-2) membentuk segmen servikal bagian atas dan bertanggung jawab untuk 40% sampai 50% dari semua rotasi aksial servikal, ditunjukkan secara klinis dengan rotasi 45 º di setiap arah.61,62,65,70,249 Bagian bawah dari C2-3, fleksi lateral dari spinal dipasangakan dengan rotasi di arah yang sama. Segmen spinal menandakan sebuah transisi dimana dapat terjadi perubahan gerak dari rotasi ke fleksi, ekstensi dan belokan lateral.70,242 Kombinasi pergerakan ini difasilitasi oleh kecenderungan 45 º sagital dari sendi zygopophyseal servikal (lihat gambar 37-1).147 Sendi zygopophyseal memberikan gerakan diantara spinal servikal, menghubungkan masing-masing segmen vertebrae,216 dan diinervasi oleh cabang medial dari rami servikal dorsal (gambar 37-3).21 Sebagai tambahan, sendi C0-1 diinervasi oleh ramus C1 ventral, 122 dan sendi C1-2 oleh ramus C2 ventral lateral dan nervus sinuvertebral C1, C2, dan C3 medial.120 Gerakan flksi yang bebas terjadi di C4-5 dan C5-6, sedangkan belokan lateral terjadi di C3-4 dan C4-5.70,242 Vertebrae servikal bagian bawah (C3-7) memiliki sendi sinovial yang unik seperti artikulasio, sendi uncovertebare atau sebdi luscha, berlokasi diantara prosessus uncinate (gambar 37-4).165 Sendi ini umumnya menyebabkan perubahan pada osteoartritis, yang dapat menyempitkan diameter foramen intravertebrae (gambar 37-5).80,97,234 Foramen intravertebrae yang terbesar di level C2-3 dan terjadi penurunan ukuran progresis di level C6-7. Kompleks radikular dari akar ganglia dorsal, akar saraf, nervus spinal dan sekeliling sheat berjumlah 20% sampai 35% area cross-sectional foramen intervertebrae.80,97,234 Volume sisa foramen intervertebrae diisi oleh aerolar longgar atau jaringan adipose, ligamentum Hoffman’s arteri radikular, dan sejumlah saluran vena yang biasanya melingkari akar saraf.216 Neuroforamina dibatasi di anteromedial oleh sendi uncovertebrae, superior dan inferior oleh pedikel succesive, dan medial oleh tepi end plate vertebrae dan disk intervertebrae (lihat gambar 375).216

3

Gambar 37-1. Hubungan anatomi ligamen spinal servikal dengan struktur-struktur lainnya di leher. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

Gambar 37-2. Gambaran atlas dan axis dari sisi anterior. Tuberkel anterior atlas telah dipotong sehingga terlihat prosesus odontoid axis. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

4

yang menyediakan transmisi aksial untuk menghilangkan tekanan pada setiap range of motion. memperlihatkan zona target (tanda panah bulat) berlokasi di bagian tengah C2 melalui pilar artikular C7. Semua bagiannya dibentuk oleh anulus fibrosis yang diinervasi posterolateral oleh nervus sinuvertebral. setiap cabang dibentuk oleh dari nervus vebtebral dan ramus ventral.216 Anatomi normal servical spine dapat mengalami degenerasi dan trauma melalui berbagai jenis gangguan servikal spine. Ilustrasi lateral dari spinal servikal. Diskus intervertebra terletak antara vertebra C2 sampai vertebra C7. dan inervasi anterior oleh nervus vertebral (Gambar 37-6). Nervus oksipital ketiga (TON) adalah cabang nervus besar yang membutuhkan tiga blok terpisah di level C2 inferior-C3 superior dan terletak di daerah lateral sendi C2-3.216 Setiap diskus intervertebrata lebih tebal di bagian anterior dibandingkan bagian posterior. yang mempengaruhi kurvatura servical lordotik. 5 .Gambar 37-3 Zona target dari blok cabang medial servikal.30 Porsi bagian dalam dari diskus yang membentuk nukleus pulposus gelatinosus.

ligamen 6 . ALL. Harus ada inervasi. Potongan aksial servikal ke 7 Gambar 37-6. williams&Wilkins) Gambar 37-5. 1991. 1994. posterior longitudinal Ligament. PLL. dan sensitif untuk penyakit atau cedera sehingga menimbulkan nyeri. Non neural struktur pada leher. McCulloch J: Neck Ache and Shoulder Pain. Anterior Longitudinal Ligament. Trowney: Clinila Anatomy of Lumbar Spine. (Panel B redrawn form Macnab I. SVN Sinuvertetbral nerve. B. sendi zigopophasial. Proksimal sendi uncovertebral pada serabut saraf servikal (NR). Baltimore. Churchil Livingstone) Tiga kebutuhan penting yang diperlukan untuk menimbulkan nyeri. Pasokan saraf pada diskus intervertebralis.Gambar 37-4 Sendi Luschka’s (Uncovertebral). (redrawan from Bogduk N. gambaran Sendi Luschka’s. Servikal spine. yang bisa menghasilkan nyeri yang sama dengan klinisnya. A. seperti diskus intervertebrata. New York.

63. karena anestesi sarap perifer distal yang tidak mengurangi nyeri alih ini.25 Aferen dari servikal spine dan distal ekstremitas atas berkumpul pada neuron kedua pada spinal cord.216 Hal ini terjadi melalui biomekanikal dan/atau biokemikal pada struktur non neural yang bisa menstimulasi serabut nosiseptive saraf.73 Gejala anestesi pada sendi menunjukkan kesamaan pada gejala simptomatik beralih dari sendi servikal. 38.216 Mekanisme stimulasi pada sendi zigopophasial atau inervasi sarafnya telah menunjukkan nyeri pada kepala dan leher dengan nyeri alih ke ekstremitas atas (Gambar 37-7).28.10.116-118.59. 36. Penelitian ini pertama kali mendemonstrasikan fenomena ini sebagai nyeri alih somaik. dan gangguan servikal spine dapat menghasilkan nyeri ke ekstremitas atas sampai dengan sakit kepala. terjadi nyeri spinal yang menjalar ke distal ekstremitas.219 Nyeri berasal dari sendi zigopophasial yang cenderung diikuti secara konstan dan disadari beralih.116-118.39.118 pertama kali menemukan nyeri alih terbentuk oleh struktur spinal non neuron yang distimulasi oleh periosteum.25 Melalui mekanisme ini diskus servikal intervertebrata dan sendi zigapophasial menyebabkan gejala ekstremitas atas.128 Percobaan klasik telah dilakukan melalui stimulasi pada struktur midline posterior sehingga menghasilkan nyeri di leher dan menjalar somatik ke ekstremitas atas.36.128 Kellergen117. atau periosteum yang distimulasi.longitudinal posterior. Pada C1-2 dan C2-3 beralih ke oksiut. menyebabkan nyeri alih. tendon.39. sedangkan nyeri C6-7 menyebar sampai ke 7 . sehingga gejala beralih ke struktur jaringan mesodermal lain yang sama asal embrigeniknya. dan otot dengan hipertonis saline.116-118. sebelumnya disebut sklerotomal. Nyeri pada C5-6 menyebar sampa fossa suprasinatus skapula. Dia berhipotesis bahwa fenomena sistem saraf pusat dimediasi oleh nyeri alih.69. melalui kompresi atau infalamas.216 Mekanisme gejala somatik ini memerlukan konvergen. Seperti nyeri alih yang disebut dengan somatik. dan terjadi ketika struktur mesodermal seperti ligamen. dan otot. Pada C3-4 dan C4-5 menimbulkan gejala di sekitar leher posterior. anulus diskus intervertebralis. kapsul sendi.128 Gejala ini dihasilkan tanpa iritasi ke jaringan neural. fascia. dapat menjadi sumber nyeri dan menghasilkan penjalaran somatik ke ekstremitas atas.

218 Gambar 37-7. penemuan ini menunjang bahwa gejala nyeri berasal dari struktur yang menginervasi dibandingkan dengan strukturnya sendiri. 8 . bilateral paramidline nyeri leher atas tanpa sakit kepala disebabkan disrupsi diskus intervertebra servikal (CIDD) daripada nyeri akibat sendi zigopophasial. dengan izin) Gejala nyeri yang sama juga dihasilkan oleh stimulasi mekanis pada diskus intervertebrata (Gambar 37-8 dan Tabel 37-1). Selain itu.224 Berdasarkan pengalaman kami. Spine 15. Bogduk N. April C.* Tambahan. dan manifestasi ini tidak pernah diteliti. C4-5. Cervical Zygapophasial Joint pain patterns I.52 Perbedaan CIDD dan nyeri pada sendi zigopophasial atau nyeri dari jaringan lunak servikal spine memerlukan interpretasi riwayat dan pemeriksaan fisik lain. Hal ini tidak berarti sendi unilateral menstimulasi hanya nyeri kontralateral.78. dan C4-5 sendi zigopophasial nyeri alihnya sampai ke muka.224 Ketika dilakukan bersamaan.kaudal skapula.203. C3-4. C2-3. C1-2. 1990.453-457. dan C3-4. penelitian yang lebih lengkap dari Penn Spine Center menyebutkan bahawa 30% sampai 62% pada diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral selama servikal diskography.25 Hal logis yang juga menunjang adalah stimulasi pada muskulature servikal atas dapat menghasilkan nyeri kepala. Observasi kami yang didukung oleh penelitian terbaru Grub dan Kelly78 menemukan bahwa 34% sampai 50% diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral pada setiap diskus servikal. (redrawn from Dawyer A. Nyeri alin C2-C3 sampai C6-C7. dan C5-6 bergejala sampai ke kepala.45. A Study in normal volunteers.28 Setiap sendi dapat menunjukkan gejala unilateral atau bilateral.

Nyeri alih pada setiap area digambarkan dengan nomor.Gambar 37-8. Gambaran nyeri alih pada diskus servikal intervertebralis selama provokasi servikal. (tabel 37-1) 9 .

Tabel 37-1. Distribusi frekuensi nyeri pda tingkat diskus servikalis Disc Number Body region Numerical coordinates by body region (lihat gambar 378) C2-3 N=10 C3-4 N=19 C4-5 N=27 C5-6 N=27 C6-7 N=16 C7-T1 N=2 Posterior head Occipital Suboccipital Posterior neck Posterior inferior neci Superior porsterior trapezius Superior periscapula Inferior periscapula Superior interscapula Inferior periscapula Posterior shoulder Upper arm Forearm Hand Lower thoracle Temporalparictal Frontal Ear Face Anterior neck Chest 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 0 1 6 9 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 1 5 17 15 9 4 1 1 1 5 3 2 2 1 0 0 0 1 2 0 0 2 6 23 23 17 11 6 9 4 11 8 1 0 3 2 1 1 4 4 4 0 2 6 20 17 12 11 5 11 3 12 4 2 0 1 0 1 1 3 4 5 0 1 1 9 13 7 9 5 12 6 7 4 2 1 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 .

lengan bawah. atau tekanan langsung pada akson yang terluka kronik atau pada akar ganglion dorsal yang normal.64 Namun demikian.189 Kausa potensial lainnya dari radikulopati servikal termasuklah tumor. dan diskus intervertebra. Neurokompresi langsung akar saraf tidak menyebabkan nyeri. Mekanisme pasti bagaimana herniasi diskus atau spondilosis menyebabkan nyeri radikuler masih tidak jelas.102 diikuti oleh spondilosis servikal259 dengan atau tanpa mielopati servikal (kotak 37-1).225 Nyeri radikular pada C5 terasa sampai lengan atas.96 dan kelemahan miotomal asli dapat terjadi.137 Mekanisme yang dipertimbangkan mengenai nyeri pada radikulopati servikal termasuklah inflamasi akar saraf.225 Tanpa memandang nyeri radikular lebih sering terjadi pada ekstremitas atas dan lebih sering dibandingkan keluhan aksial.245 trauma.200 dan athetoid atau cerebral palsy distonik. tetapi nyeri C6.11 arteritis.96. Akan tetapi. berasal dari serabut C7-C8. Penyebab tersering radikulopati servikal adalah herniasi diskus intervertebra servikal. C7. sensitivitas mekanik atau sensitivitas kimia akar saraf itu sendiri. dan/atau tangan (Gambar 37-9). nyeri pada bagian belakan atas dengan atau tanpa gejala di lengan dapat berasal dari serabut C4 sampai C6.72 11 .182 sarkoidosis.25 peningkatan discharge akar ganglion dorsal.Nyeri servikal radikular adalah secara fundamental berbeda secara klinis karena keluhan utamanya adalah nyeri ekstremitas atas yang lebih parah dibandingkan dengan nyeri aksial. Sedangkan pada bagian tengah atau bawah ipsilateral skapula. Kerentanan saraf dalam foramen intervertebra meningkat sesuai dengan perubahan pada satu atau lebih dari tiga struktur yang terpisah: sendi zigapophiseal. Etiologi dari gejala ekstremitas atas dapat membingungkan antara gangguan non radikular yang menyebabkan nyeri pada dinatoman unkarakteristik (gejala dinatomal-gejala referred). dan C8 terasa sampai ke lengan bawah dan tangan. nyeri periskapular atau trapezial lebih hebat dibandingkan nyeri leher yang bisa disebabkan serabut saraf servikal seperti C4 atau C5.216 Nyeri ekstremitas atas disebabkan oleh radikulopathy yang beralih ke lengan atas. sendi uncovertebral.

12 .51 Proses degenerasi diskus terjadi pada spektrum abnormalitas diskus (gambar 37-11). Efek biokimiawi dan biomekanik dapat menyebabkan manifestasi gejala sendi zigapophiseal servikal.* Kami telah berhasil mengobati pasien dengan sinovitis sendi zigapophiseal servikal. permukaan artikular. robekan sirkurumfensial anular luar. kontusio meniskus intraartikular. Diskusi yang lebih jelas mengenai herniasi adalah sebagai berikut. berhubungan dengan interupsi suplai darah dan nutrisi ke diskus. Awalnya. hemarthrosis intraartikular. atau robekan kapsul sendi zigapophiseal (gambar 37-12). yang disebabkan oleh mikrotrauma berulang. Robekan ini akhirnya bergabung membentuk robekan radial yang terjadi bersamaan dengan kerusakan kemampuan menyerap air dari nukleus pulposus. Disrupsi diskus internal adalah istilah deskriptif yang digunakan untuk menjelaskan kerusakan arsitektur internal nukleus pulposus dan atau serat anular dengan deformasi eksternal yang sedikit atau tanpa deformasi eksternal.Cedera diskus intervertebra servikal dapat dikategorikan menjadi dua kategori besar: disrupsi internal dan herniasi.198 Hasil akhirnya adalah diskus servikal yang tidak kompeten secara biomekanik dan rapuh terhadap cedera biokimiawi. dan sekuestrasi (gambar 37-10). Herniasi diskus merupakan istilah umum. baik makrotrauma maupun mikrotrauma. Arthropati sendi zigapophiseal servikal yang sangat nyeri dapat terjadi akibat degenerasi diskus intervertebra servikal. robekan semakin banyak. atau tulang subkondral. Cedera sendi zigapophiseal servikal dapat terjadi akibat osteoarthritis atau trauma. Integritas mekanik diskus intervertebra menjadi susah apabila jarak diskus menyempit. Akselerasi-deselerasi cedera sendi zigapophiseal dapat terjadi pada cedera tulang pilar artikular. yang kemudian dibagi lagi menjadi protrusi. dan proteoglikan tipe 2 semakin mengalami degradasi. ekstrusi.121 Cedera biokimiawi diakui telah terjadi sebelum adanya perubahan biomekanikal. yang mengalami onset gejala saat bangun setelah tidur pada posisi yang tidak nyaman.

Kotak 37-1 Kelainan yang Mempengaruhi Leher Mekanik • • • • • • • • • • • • • • Infeksi • • • • • • • • • • Osteomielitis vertebra Diskitis Herpes zoster Endokarditis infeksi Proses granulomatosa Abses epidural. dan subdural Abses retrofaringeal AIDS Osteoporosis Osteomalasia 13 Sprain servikal Strain servikal Herniasi nucleus pulposus Osteoarthritis Spondilosis servikal Stenosis servikal Spondilitis ankilosa Sindrom Reiter Arthritis psoriasis Arthritis enteropati Arthritis rheumatoid Hiperostosis skeletal idiopatik difusa Reumatik polimyalgia Fibrositis (fibromyalgia) Reumatologik Endokrin dan Metabolik . intradural.

• • • Tumor Penyakit parathyroid Penyakit Paget Penyakit pituitari Tumor Jinak • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Osteokondroma Osteoma osteoid Osteoblastoma Giant cell tumor Kista tulang aneurisma Hemangioma Granuloma eosinofilik Penyakit Gaucher Mieloma multipel Plasmasitoma soliter Kondrosarkoma Sarkoma Ewing Kordoma Limfoma Metastasis Hemangioma epidural Lipoma epidural Meningioma Neurofibroma Limfoma Ekstrameduler. intradural Tumor Maligna Tumor Ekstradural Tumor Intradural 14 .

Ekstrusi. Fragmen sekuestrasi (tanda panah). 15 . B. C.o Neurofibroma o Meningioma o Ependimoma o Sarcoma • Intrameduler o Ependimoma o Astrocytoma Lain-lain • • Malformasi arteri-vena Syringomyelia GAMBAR 37-10 Herniasi diskus intervertebra servikal. Herniasi atau protrusi subligamen kecil. A.

B. A. ruptur atau robekan kapsula sendi zigapophiseal. Akhirnya menyebabkan kolaps jarak diskus. hemarthrosis sendi zigapophiseal. fraktur/avulsi end plate. 16 . Robekan annulus fibrosus diskus intervertebra. robekan ligamen longitudinal anterior.GAMBAR 37-11 Degenerasi diskus intervertebra. ZH. EP. Tampak sagital. SC. fraktur corpus vertebra. kontusio meniscus intrartikular sendi zigapophiseal. IM. Robekan-robekan konsentrik akhirnya bergabung membentuk robeka radial. fraktur pelat subkondral. GAMBAR 37-12 Lesi yang lebih sering mempengaruhi tulang servikal setelah perubahan arah secara tiba-tiba: AF. fraktur yang melibatkan permukaan artikular. AL. VB. AP. fraktur pilar artikular. AS. ZC.

GANGGUAN KLINIS UMUM KETEGANGAN DAN KESELEO PADA SERVIKAL Epidemiologi Ketegangan pada servikal merupakan cedera musculotendinous akibat cedera yang berlebihan yang dihasilkan dari kekuatan berlebihan yang mengenai tulang belakang.48 Sebaliknya.233 Kejadian lebih tinggi pada wanita dan individu berusia 30 sampai 50 tahun. Akselerasi-deselerasi cedera dapat mengenai tulang belakang servikal sehingga menghasilkan kelengkungan berbentuk S sekitar 100 meter per detik setelah hentaman dari belakang.207 Automobile terkait cedera servikal dan cedera keseleo lebih sering terjadi pada masyarakat barat dan di daerah metropolitan yang memiliki densitas kenderaan motor yang lebih tinggi. melainkan langsung melekat ke tulang melalui jaringan myofascial yang bercampur dengan periosteum.185 dan merupakan salah satu penyebab paling umum kesakitan setelah cedera olahraga noncatastropic.233 Patofisiologi Patomekanisma yang berbeda merupakan penyebab pada ketegangan dan cedera keseleo pada servikal. Peregangan otot paling sering terjadi karena banyak otot servikal tidak berakhir dalam tendon.105 Cedera ini adalah jenis cedera yang paling umum dari cedera untuk penumpang kendaraan bermotor di Amerika Serikat. kepala akan maju dan memfleksi leher setelah maksimal luas sekitar 45 derajat. atau cedera leher kronis. keseleo pada servikal merupakan peregangan berlebihan atau robekan pada ligamen tulang belakang.48 Sekitar sepertiga dari individu yang terlibat dalam tabrakan kendaraan bermotor mengalami sakit leher dalam 24 jam setelah kecelakaan.183 Keseleo dan ketegangan pada servikal terjadi sekitar 85% dari sakit leher yang terjadi secara akut. berulang.154 Otot posterior leher beraktivasi yang terjadi pada 90 sampai 120 meter per detik 237 dan bertepatan dengan deselerasi 17 .113 Dengan 200 sampai 250 meter per detik setelah hentaman. tergantung pada sifat dari stres yang abnormal yang dikenakan pada tulang belakang servikal.

ekstensor.48 Trauma pukulan sering terjadi pada cedera olahraga dan dapat mengakibatkan ketegangan atau keseleo pada servikal secara akut. ekstensor leher eksentris kontrak untuk mengurangi kecepatan kepala. menyebabkan badan vertebra terpisah anterior dari C6 (panah putih). sternokleidomastoid. skalenus. dan otot suboksipital. Gambar 37-13 Gambaran radiografi berurutan tulang belakang servikal fase ekstensi cedera leher akibat gerakan cepat dari kepala.33 Penelitian secara anatomi telah menunjukan bahwa ligamentum longitudinal anterior menyatu secara tidak disadari dengan diskus intervertebralis dan dapat terluka dengan luka pada diskus servikalis. Robekan otot secara parsial atau lengkap dan perdarahan telah divisualisasikan oleh USG 151 dan magnetic resonance imaging (MRI). Saat 110 meter per detik. sehingga meningkatkan risiko untuk cedera (Gambar 37-13).168 Temuan ini memberikan dukungan eksperimental untuk otot sederhana atau cedera regangan ligamen selama tabrakan kendaraan bermotor. seperti dalam kegiatan rekreasi. dan inferior prosesus artikular C5 ke superior prosesus artikular C6 (panah hitam). 18 .110 Robekan dari ligamentum longitudinal anterior telah dilaporkan dalam eksplorasi bedah34 dan diidentifikasi pada postmortem.kepala bergerak ke depan.48 Gerakan berulang.190 Gaya fisiologis yang bekerja relatif normal pada tulang belakang servikal mengakibatkan regangan jaringan lunak khas terlihat pada bukan atlet.154 Saat kepala terus bergerak ke depan. dapat memperpendek rotator servikalis. trapezius superior. Inami S. Ono L . dan fleksor lateral yang sering muncul pada individu dengan spondylosis servikalis. Pada individu dengan kyphosis toraks dan konsekuensial lordosis servikalis dan ekstensi. et al: Gerakan abnormal segmen tulang belakang servikal saat gerakan cepat dari kepala. ketegangan terjadi pada levator skapula. 180 dan diamati dalam pemeriksaan postmortem. Modifikasi dari Kaneoka K. vertebra C5 rotasi abnormal axis rotasi tinggi.

Diagnosa Anamnesis dan pemeriksaan fisik membantu dokter dalam mendiagnosis cedera jaringan lunak servikalis. Tanda-tanda neurologis biasanya tidak ada. Daerah yang paling sering terlibat adalah trapezius atas dan otot sternokleidomastoid. Anamnesis dari riwayat mekanisme cedera harus ditanyakan dari pasien. atau kecelakaan industri dapat membuat kekuatan signifikan yang cukup untuk melukai jaringan lunak servikal. Hal ini terjadi karena otot menjaga dan membalut untuk menghindari rasa sakit. dan teknik penutupan neuroforaminal seharusnya tidak menolak rasa sakit berpindah ke ekstremitas atas distal. tetapi pola ini dapat dibedakan dari kelemahan neuromuskuler. Penurunan berbagai gerakan servikal dapat terdeteksi pada pemeriksaan. Pasien juga dapat mengeluh kelelahan leher atau kekakuan yang berkurang dengan aktivitas bertahap. Faktor yang memberatkan meliputi gerakan pasif atau aktif. cedera olahraga. jatuh. Palpasi daerah yang terlibat biasanya tidak nyaman atau cukup menyakitkan. Radiografi polos digunakan pertama kali untuk mengevaluasi kelainan tulang atau fraktur. setiap pola rujukan. Dalam kebanyakan gambar-gambar ini adalah normal atau menjelaskan kerugian nonspesifik lordosis servikalis karena memfiksasi otot (Gambar 37-14). Detail yang harus dicari adalah awal mulanya dari nyeri relatif terhadap peristiwa traumatis. Sakit kepala ini biasanya tajam atau tumpul dan berlokalisasi ke otot-otot servikal atau bahu. atau gejala terkait lainnya. Tes diagnostik lebih lanjut seperti pencitraan atau evaluasi elektrodiagnostik tidak diindikasikan kecuali terdeteksi kelainan neulogik atau motorik. 19 . Pemeriksaan motorik dapat menjelaskan arah kelemahan karena rasa sakit. Penting untuk memeriksa radiografi servikalis fleksi dan ekstensi untuk mengevaluasi ketidakstabilan sebelum memberikan pemulihan fungsional. Suatu kejadian akut seperti tabrakan kendaraan bermotor. lokasi gejala. Ketegangan pada servikal dan cedera keseleo dapat dikaitkan dengan sakit kepala. atau nyeri anggota badan yang signifikan dilaporkan.

ekstensi (B). terapi panas dangkal dan dalam. netral (C). Jarang diresepkan relaksan otot. dan soft cervical collar dapat digunakan dalam program pengobatan. Modalitas Fisik seperti pijat. Pengobatan Pertama meliputi pengendalian nyeri dan inflamasi untuk menghambat respon cedera. menunjukkan penurunan lordosis (A). tizanidine atau antidepresan trisiklik mungkin bisa membantu. mengurangi keadaan tidak normal. dan memfasilitasi partisipasi aktif dalam program pemulihan fungsional. Jika pasien mengeluh substansial "kejang" tidak terbantu dengan analgesik dan posisi yang tepat. tetapi beberapa dokter menggunakan obat tersebut selama 5 sampai 7 hari untuk meningkatkan kualiti tidur. membantu mengatasi 20 . penurunan adhesi. relaksasi otot. dan perubahan vaskular (lihat bab 20)255 Terapi panas superfisial 133dan terapi panas dalam dengan USG 67 memproduksi efek analgesia dan relaksasi otot. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan acetaminophen (parasetamol) digunakan sebagai kendali rasa sakit dan memelihara pola tidur. stimulasi listrik. dan fleksi (D). Pijat ringan menimbulkan efek sedasi .Gambar 37-14 Radiografi polos lateral tulang belakang servikal.

tetapi harus terbatas pada 72 jam pertama setelah cedera untuk meminimalkan gangguan pada penyembuhan dan mencegah perkembangan jaringan lunak menjadi rapat.peradangan. Fleksibilitas dan berbagai gerakan ditingkatkan dengan mobilisasi dan latihan peregangan. keseimbangan.156 Kembali beraktivitas secara bertahap harus dimulai 2 sampai 4 minggu setelah cedera. dan postur tubuh harus dimasukkan ke dalam latihan. Gerakan segmen sehat servikalis memerlukan stabilisasi efisien di seluruh tulang belakang leher dan dada. dan meningkatkan elastisitas jaringan ikat (lihat bab 21).124 Program tersebut (Tabel 37-2) meningkatkan disipasi sehat kekuatan di tulang belakang leher dengan upaya myofascial efisien. 21 .192 Stimulasi listrik saraf transkutan (TENS) juga dapat efektif dalam modulasi nyeri muskuloskeletal (lihat Bab 22).48 Setelah nyeri akut bertambah baik. dan harus mencakup program pemulihan fungsional untuk mengatasi defisit postur tubuh dan fungsi biomekanik. Soft cervical collar dapat dipakai saat terjaga. biomekanik tulang belakang yang tepat harus dikembalikan dengan pembentukan pola pergerakan yang tepat. Hal ini harus dilakukan dengan tuntutan dinamis bersamaan dengan dukungan pasien. Pelatihan proprioseptif kembali. 48.146 Soft cervical collar (Gambar 37-15) dapat diresepkan untuk meringankan kesakitan sehingga mengganggu tidur dan mengurangi ketegangan leher lebih lanjut. Proprioseptif ditingkatkan dengan menggunakan umpan balik visual selama latihan dan tugas fungsional.

187 Riwayat 22 . Sebaliknya. Servikal Radikulopati meliputi refleks dan penurunan kekuatan menjadi akar otak yang hipofungsional sebagai hasil dari perubahan patologik dalam fungsi akar otak. ditemukan insiedensi usia rata-rata yang terkena Servikal Radikulopati yaitu sebanyak 83.2 per 100. Studi epidemiologi dari 561 pasien di Rochester. Minnesota. parestesi. Cervical soft collar dengan tepi lebar ke posterior dan menyempit ke sisi anterior.64 Tanda dan gejala dari Servikal Radikulopati meliputi kelemahan otot.64 Nyeri servikal radikuler ditandai dengan hipereksitasi dari akar otak yang terkena.187 Puncaknya terjadi pada umur 50 Dan 54 pada studi kohort.Gambar 37-15 Servikal ortosis. SERVIKAL RADIKULOPATI DAN NYERI RADIKULER Epidemiologi Servikal Radikulopati adalah sebuah proses patologik meliputi disfungsi neurofisiologi dari akar otak.000. gangguan sensori dan penurunan refleks peregangan otot.25 Membedakan antara nyeri servikal radikuler dari Servikal Radikulopati sangat penting karena strategi penatalaksanaan akan sangat tergantung dari ada atau tidak adanya dua kondisi ini.

Studi radiologi menunjukan abnormalitas dari servikal disk. Dalam kasus ini tidak Jelas apakah ada perkembangan dari pengaruh biocemikal versus biomekanikal terhadap elemen syaraf.259 neural kompresi pada cervikal interval disk herniation (CIDH) penyebab radikulopati pertama kali diperkenalkan oleh Semmes Dan Murphey208 pada tahun 1943.142 ada pasien dengan kista servikal sendi zygapophyseal dengan penyebab radikulopati telah dirawat di Penn Spine center (gambar 37-17).259 Hipertropi dari persendian zygapophyseal dan uncovertebral menghasilkan stenosis dari foramen intervetebra dan impingement akar syaraf.187.114.hiperosiosis (pertumbuhan tulang yang berlebihan).259 Walaupun kista servikal sendi zygapophyseal jarang.187 Patofisiologi Cedera akar syaraf servikal biasanya disebabkan oleh hernia interval disk servikal.259 Osteofit badan vertebra dan material disk dapat membentuk sebuah disk keras yang dapat menyebabkan penekanan dari akar syaraf yang berdekatan.157.187 Penurunan frekuensi pada C7.C8. dan respon terhadap keduanya dengan patologi yang sama.degenerasi dari disk dan atropi dari persendian zygapophyseal.240 Banyak penelitian menunjukkan peran dari respon peradangan CIDH dalam beberapa cara menyebabkan Gejala Dan tanda dari nyeri radikuler.166 Menifestasi dari Spondilosis servikal (atau perubahan pada osteoartritis degeneratif) yaitu berupa hipertropi ligamen.102 dengan perubahan spinal spondilitik merupakan penyebab kedua tersering (gambar 37-16).216.115 Studi pada hewan menunjukkan gangguan fisiologi pada akar syaraf disebabkan oleh tekanan yang gradual197 dan inflamasi dengan tidak adanya tekanan.74.172 akar otak secara anatomis kurang resilient dari pada syaraf perifer terhadap rangsangan biomenikal dan biocemikal. C6. 23 .trauma terjadi di bawah 15 % pasien.152.20. Dan C5.167.

atau C7). Kelemahan yang parah (<3/5 Medical Research Council (MRC)) hampir jarang ada dengan satu lesi akar syaraf dan seharusnya mengingatkan dokter terhadap kemungkinan adanya multilevel radikulopati.Diagnosis Riwayat dan Pemeriksaan Fisik. C7.C8. cedera T1. posteromedial lengan (C7. Sensasi terhadap sentuhan ringan. C8 atau T1). seperti batuk.64. prekordium (C5 atau C6). bersin atau maneuver valsava. Jika terdapat komponen signifikan dari stenosis muncul. hilangnya otot pada trisep. cedera pada C7. Kebalikannya nyeri radikuler spondilitik muncul lebih sering. termasuk ujung medial skapular (C5.187 Tes manual otot mempunyai spesifisitas yang lebih besar dari pada refleks atau abnormalitas sensori (Tabel 373).68 Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengamatan klinik dari posisi leher. Itu dapat terjadi pada banyak lokasi. Atropi dapat dideteksi dengan luka yang parah dan panjang. ektensi servikal dapat memperkuat gejala. misalnya pasien menengok ke samping karena adanya herniasi disk. pada thenar eminence. plexopathy atau neuropati fokal peripheral. C6. atau T1). cedera C8. trapezius superior (C5 atau C6). tusukan jarum dan getaran dapat 24 .54. Nyeri radikuler servikal dapat berupa deep dull ache atau Sharp lacinating pain. deltoid dan lengan bagian lateral (C5 atau C6). anterolateral lengan bawah (C6 atau C7). penyakit syaraf motorik α. Pasien dengan akut CIDH radikulopati biasanya mengeluhkan riwayat nyeri servikal axial yang diikuti oleh nyeri hebat pada ekstremitas atas. Mengurangi nyeri radikuler dengan mengangkat humerus ipsilateral yang dikenal dengan the shoulder abduction relief sign.257 dan mungkin membutuhkan untuk dilakukan berulang kali atau dengan otot pada kerugian mekanik to menghilangkan kelemahan ringan. merupakan alat yang dapat digunakan sebagau diagnosis dan dapat digunakan sebagai maneuver theurapeutic. dan dorsal pertama dari interossei.225 Faktor-faktor yang menyebabkan kekambuhan meliputi aktivitas yang meningkatkan tekanan subaraknoid. posterior lengan bawah (C7 atau C8) dan jari tangan (C6. Hilangnya otot pada fossa suprascapular atau infrascapular atau deltoid dikarenakan keterlibatan C5 atau C6.

Studi sistematik membandingkan kegunaan dua maneuver pemeriksaan belum ada yang dipublikasi. dapat menghasilkan sensasi shok elektrik dibawah spina dan kadang-kadang ke ekstremitas dimana servikal kordnya terlibat sebagai akibat dari adanya tumor.13526 fleksi servikal secara cepat ketika pasien duduk. fleksi lateral dan rotasi servikal aksial menghasilkan gejala radikuler. dengan dukungan kepala Theraband chest press Mengangkat kedua lengan bilateral Duduk Supported dying bug Mengangkat lengan resiprokal Swiss ball reciprocal Mengangkat lengan Unsupported dying bug Chest flies Bench press Icline Dumbbell press Swiss ball bilateral Mengangkat bahu Level stabilisasi Servikothorak Level 1 (Dasar) Level 2 (Intermediate) Level 3 (Advance) Cervical active range of Gravitasi servikal Aktif servikal motion Isometrik servikal Perlawanan isometrik Perlawanan gravitasi range 25 . Jika pada pemeriksaan ini ditemukan nyeri radikuler.176 Tabel 37-2 Latihan Stabilisasi Servikothorak Tipe latihan Stabilisasi servikal langsung Latihan stabilisasi servikal tidak langsung Supinasi.195 dan seharusnya dilakukan bilateral untuk memastikan tidak adanya gejala kontralateral. Maneuver Spurling. dapat diasumsikan ketegangan syaraf dapat diprovokasi sebagai akibat dari inflamasi akar syaraf. spondilosis atau multiple sklerosis.disesuaikan.246 Ketegangan akar syaraf. rotasi aksial servikal lateral pada waktu yang sama dengan abduksi/ekstensi ipsilateral glenohumeral dengan siku dan ekstensi pergelangan tangan. Manuver provokatif seperti penutupan neuroforaminal dan root tension sign membantu unutk melokalisasi lesi spina servikalis. dapat membantu mendeteksi nyeri radikuler. Tanda L’hermitte. Ketegangan syaraf yang disebabakan nyeri radikuler mungkin lebih sensitif dari pada maneuver spurling tapi kurang spesifik.231 ekstensi servikal. sangat spesifik tapi tidak sensitive terhadap radikulopati servikal. Pasien seharusnya diperiksa kemungkinan adanya tanda Hoffman dan refleks babinski to memastikan bahwa tidak adanya spinal cord yang terlibat.

Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lengan Bilateral Seated row Berdiri Latissimus pull-down Theraband reciprocal Menekan dada Theraband straight arm latissimus pull-down Theraband chest press Theraband pull-down Standing rowing Crossovers Menekan tricep latissimus Menekan dada Mengangkat suprasinatus Standing rowing Biceps pull-down Upright row Mengangkat bahu Mengangkat suprasinatus Flexed positions hip-hinge 0-30 derajat Mengangkat lengan resiprokal Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lenganbilateral 30-60 derajat Incline prone flies Mengangkat resiprokal Cable crossovers 60-90 derajat Bilateral anterior deltoid Mengangakat deltoid Intracapular flies Telungkup Intrascapular flies Mengangkat lengan Quadruped resiprokal Mengangkat unilateral Mengangkat bilateral lengan Head unsupport Head supported Prone flies Latissimus flies deltoid lengan Swiss ball bilateral Mengangkat anterior Swiss ball prone Rowing Swiss ball prone flies Telentang. head unsupported Tidak dianjurkan untuk Parsial sit-up level 1 Mengangkat lengan Swiss ball chest flies Swiss ball reciprocal 26 .

112 27 . lateral.163 Poto polos anteroposterior. namun pemeriksaan radiografi tetap merupakan pemeriksaan yang utama digunakan pada hampir setiap pemeriksaan pada cedera muskeloskeletal. with permission of Hanley & Belfus Gambar 37-16 Aksial (A) dan sagital (B) Magnetik resonance image memperlihatkan sisi kanan C5-6 ekstrusi intervetebral disk. 1990.163 CT (computed tomographic) myelography merupakan kriteria standar terhadap pilihan pencitraan lain yang harus ditentukan dalam menilai penyakit nyeri servikal degeneratif.From Sweeney T. dan fleksi dan ekstensi merupakan indikasi dalam mengevaluasi stabilitas spinal dalam kasus rematoid artritis atau ankylosing spondilitis. open mouth. kebanyakan klinisi melakukan peningkatan CT dalam mengevaluasi osseous dengan detail seperti pada foraminal stenosis. Prentice C.163 tumor tulang.64 spondylostheais. Studi Pencitraan Walaupun poto polos servikal tidak terlalu sensitif dalam mendeteksi patologi pada diskus. Saal JA. Cervicothoracic muscular stabilizing technique. dan fraktur.196 Bagaimanapun. setelah penyatuan. menunjukkan sedang sampai berat C4 foraminal kiri stenosis disebabkan oleh arthrosis sendi zygapophyseal dan hipertrofi sendi uncovertebral. atau akibat trauma. et al. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360. C Aksial computed tomography memperlihatkan segmental level C3-4.

20. dan sering tidak dapat ditoleransi oleh pasien yang pobia terhadap ruangan tertutup atau claustrophobia.150 karena pemeriksaan MRI menghasilkan gambaran dengan baik dan detail pada diskus. plexus.240 temuan klinis harus berhubungan dengan temuan radiologis untuk memastikan diagnosis lesi sesuai dengan tanda dan gejala pada pasien. Pemeriksaan elektrodiagnostik. (lihat bagian 7).164 MRI tergolong noninvasif dan tidak memaparkan pancaran radio pada pasien. Penambahan kontras pada CT dapat secara akurat menilai kelainan patologi diskus163 pada kasus ini.sendi T1 MRI merupakan pilihan bantuan imaging dalam menginvestigasi servikal radikulopati.157. seperti pacemakers atau katup jantung prostetic tidak dapat menjalani pemeriksaan MRI. membutuhkan kerjasama pasien untuk mengurangi aryifact. menunjukkan gambaran kista sendi zygagophyseal (ditunjuk dengan tanda hitam) emanating dari bagian kanan C7 . dan saraf perifer. Walaupun sering digunakan dalam pemeriksaan imaging/radiologis. namun MRI tergolong mahal.112. Dikarenakan abnomalitas diskus servikal intervertebra timbul pada pasien secara asimptomatis. apabila dilakukan oleh dokter yang terlatih dengan 28 . Pasien dengan tambahan benda metalik dalam tubuhnya. osseous.152. Evaluasi elektrodiagnostik Penelitian mengenai saraf konduksi dan elektromiografi dapat digunakan untuk menilai fungsi neurofisiologi dari serabut saraf.93. dan jaringan meural.Gambar 37-17 penampang aksial diskus intrvertebral C7-T1. ligamen.

maka akan dapat mengklasifikasi atau memastikan suatu diagnosis dugaan. saraf perifer. maka hubungan otot kontralateral dan saraf harus dinilai untuk menyingkirkan suatu proses umum seperti neuropati perifer atau penyakit motor neuron.57 Penelitian ini dapat secara efektif menyingkirkan diagnosis lain seperti lesi pleksus brakial (seperti Tumor Pancoast atau Sindrom Parsonage-Turner) dan penjepitan saraf perifer setempat (seperti carpal tunnel syndrome dan penjepitan saraf ulnaris pada bagian siku atau pergelangan tangan). The American Association of Neuromuscular and Electrodiagnostic Medicine digunakan sebagai penuntun dalam pemeriksaan elektrodignostik untuk radikulopati.252 Setidaknya sebuah penelitian mengenai hubungan saraf motorik dan sensorik saraf konduksi harus dilakukan dalam keterlibatannya terhadap tungkai untuk memastikan ketidakterlibatan pleksus yang seiring atau suatu proses perifer. termasuk abnormalitas pada dua atau lebih otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang sama namun dengan saraf perifer yang berbeda.108 Tabel 37-3 tingkatan serabut saraf. C6 C7 Saraf Axilla Musculocutaneous Suprascapular Suprascapular Radial Otot Deltoid Bisep brachii Supraspinatus Infraapinatus Triceps 29 . menunjukkan bahwa temuan yang normal pada otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang berdekatan. perbaikan fungsi motorik mungkin akan dapat kembali dengan perawatan konservatif dan penelitian dapat diulang kembali untuk mendokumentasikan penyembuhan neurofisiologis (lihat Bagian 9 hingga 11). Apabila amplitudo dari otot yang terkena terdiri dari potensial aksi otot maka dapat menurunkan kurang dari 50% dari tungkai kontralateral (gambar 37-18). C6 C5. C6 C5. Pemeriksaan skrining dari enam otot tungkai atas sebagai tambahan untuk cervical paraspinal dapat mengidentifikasi 94% hingga 99% dari servikal radikulopati. Apabila abnormalitas ditemukan.baik. Pemeriksaan elektrodiagnositik juga membantu dalam menentukan prognosis dan keruksaan dari saraf. dan otot ekstrmitas atas yang dievaluasi pada pasien dengan nyeri Tingkatan serabut saraf C5.

254 Terlepas dari beberapa penelitian yang membandingkan pembedahan sebagai pengobatan rehabilitasi dan perawatan konservatif. Indikasi utama pembedahan adalah defisit neurologis yang progresif. Tatalaksana Pengobatan Fisik dan Rehabilitasi Tatalaksana objektif yang utama dari radikulopati servikal adalah adanya perubahan dari nyeri.Median C8. dan mengurangi rasa sakit adalah tahapan terapi awal. T1 Median Ulnar Pronator teres Abductor polllucia brevis Dorsal interosssei pertama Gambar 37-18 Layar gelombang Oscilloscope dari kedua bagian potensial aksi amlitudo otot abduktor policis brevis (CMAP). Gelombang bagian atas yang meninggi menunjukkan bemtuk gelombang yang sehat dengan amplitudo dan durasi yang normal. mungkin tidak menginginkan gejala yang dapat timbul kembali akibat aktivitas fisik yang berat. dengan sedikit mengalami peningkatan durasi. Pada atlit sebaliknya.87.199.64. mengumpulkan bukti pendukung perbaikan naturall dari gejala radiks servikal dengan perawatan konservatif. pada pasien yang cenderung tidak banyak kegiatan fisik mungkin akan memutuskan untuk mentoleransi sedikit ketidaknyamanan setelah perawatan konservatif. Pola rencana pengobatan harus mempertimbangkan begaimana keadaan suatu individu saat di rumah. dan pada komunitasnya.53. di kantor. Sebagai contoh. Penjelasan ini 30 . Gelombang pada bagian bawah menggambarkan penurunan 65% dari amplitudo CMAP dari otot kontralateral. MODALITIES Edukasi pasien. level kebutuhan pasien setelah perawatan fungsional dapat membantu menunjukkan seberapa agresif untuk diintervensi. modifikasi aktivitas. peningkatan pada kelemahan myotomal.254 dan mencegah terjadinya rekurensi. Jika tidak.217 Pendekatan terhadap tatalaksana harus ditentukan berdasarkan masing-masing individual pasien. menghindari komplikasi spinal cord. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai mekanisme bagaimana injuri itu terjadi dan kemungkinan hasil dari terapinya.

134.132 Modalitas deep heating seperti ultrasound seharusnya dihindari pada terapi servikal radikulopati. dan digunakan sebagai pengingat posisi servikal yang benar. Stimulasi saraf bermielin besar danmemblokir transmisi nociceptive pada saraf yang lebih kecil pada level neuron traktus sphinothalamikus. Cervical orthisis berfungsi untuk membatasi nyeri ROM dan memfasilitasi kenyamanan pasien saat fase akut injuri. Nyeri yang berat dapat mengganggu pekerjaan dan aktivitas atletik dan juga retriksi dari aktivitas seharihari.254 segmen yang lebih sempit harus diposisikan anterior untuk 31 . Keputusan mengenai bahan panas apa yang diberikan tergantung dari persepsi pasien bahan apa yang memberikan pengurangan rasa nyeri yang terbaik.159 Meskipun TENS telah memperlihatkan beberapa pengurangan nyeri pada low back pain.254 Mengangkat beban berat dan berulang harus dihindari begitu juga dengan ekstensi cervical spine. dan evaluasi ergonomik utilitas. Termoterapi sering digunakan untuk modulasi nyeri dan meningkatkan relaksasi otot.seharusnya ditekankan pada bagaimana pentingnya postur tubuh yang benar.191 Soft cervical collar membatasi flexi dan ekstensi kurang lebih 26%. Karena peningkatan respon metabolisme dan inflamasi dapat memperparah nerve root injury.191 dingin dapat di aplikasikan 15-30 menit 1-4 kali sehari dan panas superficial dapat diaplikasikan sampai 30 menit 2-3 kali sehari. Ini dapat digunakan pada awal terapi servikal radikulopati untuk membantu midulasi nyeri dan memudahkan pasien untuk mendapat modalitas terapi lainnya. biomekanik.161 Tidak ada panduan definitif yang dipublikasikan berkaitan dengan peranan modalitas thermal pada cervical radikulopati. Gejala yang ringan hingga sedang biasanya masih dapat ditoleransi oleh pasien. TENS dipercayai beraksi via teori gate.229 tetapi tidak ada penelitian yang mempublikasikan mengenai evidens dari penggunaan alat ini pada nyeri servikal radikulopati. 134.191 TENS sangat bermanfaat dalam manajemen sebagian besar gangguan muskuloskeletal dan neurogenik.rotasi axial dan flexi ipsilateral.

254 Hal ini diduga bekerja melalui dekompresi dari soft tissue servikal dan intervertebral disk. L’hermmite’s sign positif. dan karena injeksi spinal diagnostik 32 .mempertahankan leher pada posisi netral atau sedikit fleksi.47.Efeks samping berkaitan dengan penggunaan NSAID berkaitan dengan iritasi mukosa gastrointestinal.115 NSAID merupakan intervensi farmakologik first line untuk mengobati servikal radikulopati.199.46.254 Pengecualian ini meliputipasien dengan L’hermitte’s sign positif dan yang menderita rheumatoid arthritis atau atlantoaxial subluksasi.64. rheumathoid arthritis.236 Superficial heat. pijat dan TENS dapat dipergunakan sebelum dan selama traksi untuk mengurangi nyeri dan membantu relaksasi otot. inhibisi platelet dan fungsi ginjal.64.47 Sebuah beban 25 lb diperlukan untuk distract segmen midservikal selama 25 menit pada sudut 24 derajat. 54. Agen antiinflamasi yang memiliki target pada Cyclooxygenase-2 pathway memeiliki efek analgesik dan antiinflamasi yang sama dengan non-selektif NSAID. atau atlantoaxial subluxation.85 Karena alasan ini agen yang lebih baru ini lebih disukai dibandingkan dengan NSAID tradisional untuk pasien servikal radikulopati. Pada dosis rendah.127 untuk meminimalkan adverse outcomes yang berkaitan dengan deconditioning soft tissuelebih lanjut. obat ini memiliki efek analgesik dan pada dosis tinggi memiliki efek antiinflamasi.74.Penggunaan soft collar harus dibatasi untuk minggu pertama atau kedua dari gejala. 46 Traksi servikal dapat juga dilakukan dengan beban berat yang intermiten atau beban ringan yang terus menerus pada regimen terapi di gym ataupun di rumah.47 Traksi dikontraindikasikan pada pasien dengan myelopathy. Ini biasanya sering digunakan pada pasien dengan servikal radikulopati. meskipun kurangnya efikasi yang terbukti. Traksi servikal mengaplikasikan sebuah distrktif force menyebrangi servikal intervertebral disk space.47 Medikasi Peran untuk medikasi antiinflamasi secara logis pada evidensi komponen antiinflamasi dengan CIDH berkaitan.114. tetapi dengan toleransi gastrointestinal yang lebih baik dan efek plateletnya lebih kecil.

hari. Pilihan lain meliputi tiagabine(gabitril). dapat bermanfaat untuk menurunkan nyeri radikular dan untuk menyebabkan tidur. Medikasi opiat tidak boleh diberikan setelah fase akut dan intervensi lain harus dimaksimalkan sebelum diubah pada penggunaan opioid jangka panjang. Disis terapetik bervariasi antara 300-900 mg/hari dapat mencapai 3600 mg. Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin atau nortriptilin di resepkan dengan dosis 10-25 mg pada saat waktu tidur. zonisamide(zonegran) dan oxcarbazepine(trileptal). sperti mulut kering. retensi urin.operative yang persisten atau pasien yang tidak bisa di operasi tetapi gagal dengan intervensi obat lain.dan terapetik dapat dilaakukan tanpa menginterupsi pengobatan ini. Karena ini direkomendasikan untuk dimulai pada dosis rendah. antidepresi trisiklik. 33 . Kombinasi short-acting Opiod dan analgesik dapat diberikan untuk memfasilitasi pola tidur restorative dengan mengontrol nyeri radikular ( kadang-kadang dikonjungsi dengan penggunaan soft sevikal collar). Namun penemuan terbaru menyarankan untuk berhati-hati pada penggunaan celecoxib. Kami memberikan obat antiepilepsi untuk pasien dengan nyeri radikular post. Pasien diharuskan berolahraga pada pemberian celecoxib dosis tinggi pada periode tertentu karena adanya peningkatan risiko kardiovaskular (National Cancer Institute Adenoma Pervention with Celecoxib Trial) Medikasi tambahan sering diberikan pada konjungsi dengan medikasi antiinflamasi dan meliputi obat-obat relaksan otot. dan mulut kering. dan antiepilapsi. Relaksan otot merupakan sedatif dan efek sekundernya berupa relaksasi otot skeletal. Obat yang terbaru. 300 mg waktu tidur dan dititrasi sampai gejala terkontrol atau samapai adanya efeksamping. pusing dan konstipasi. Obat ini dapat digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena nyeri defans muskular selama 5-7 hari. Analgesik opiat dapat berguna pada saat nyeri radikular sangat berat dan mengganggu tidur.64 Efek samping yang berkaitan sebagian besar adalak efek antikolonergik. ataxia. Obat antiepilepsi seperti gabapentin sangat efektif pada modulasi nyeri neuropati. kelelahan. pregabalin (lyrica) merupakan pilihan yang tidak mengganggu metabolisme hati. Efek samping yang paling sering adalah letargi.

52% hanyan mempunyai 1 keluhan sendi dan jarang lebih dari dua gejala sendi berturut-turut. 49 Demikian pula pada sendi servikal zygapophyseal bersumber dari nyeri leher setelah trauma kronis.228 Gejala yang paling sering muncul.149. seperti disketomi anterior cervical dan fusion. traumatic sendi servikal zygapophyseal-disertai nyeri leher dipekirakan prevalensinya sekitar 54% sampai 64%. dimulai dengan mengukur konservatif antiinflamatory.9 Kronis. atau berkembang menjadi myelopati. yaitu C2-3 (36%). deficit myotomal yang parah (progresif atau stabil). 58% sampai 88% mengeluh dengan sakit kepala. C3-4 dan C4-5 ditemukan keluhan hanya kurang dari 5% dari keseluruhan kasus Pasien dengan nyeri sendi facet servikal.140. kemudian menjadi minimal intervensi invasif dan akhirnyadekompresi pembedahan terbuka jika diperlukan.26 pada pasien dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal. Hasil dari penelitian pada pembedahan ini menujukan hasil yang baik atau memuaskan dari 80% sampai 96% dari para pasien.15. diikuti C5-6(35%) dan C6-7 (17%). 179 Penggantian dari disk artificial cervical berbeda dengan disketomi cervical anterior dan fusion. ( gambar 3720) atau foraminotomi posterior.90. Sendi pada C1-2. kekuatan dan sensasi daripada saat perawatan konservatif.141 Prevalensi 34 .Pembedahan Indikasi untuk pembedahan untuk pengobatan CIDH-spondylotic-yang berhubungan dengan cervical radiculopathy meliputi nyeri pada daerah kepala.26.141 Rasa nyeri pada sendi servikal zygapophyseal sering ditemukan dengan gejala invertebal disk di level yang sama. 4.15. ditentukan dengan diagnostic control. Nyeri Sendi Servikal Epidemiologi Prevalensi dari sendi facet servikal-disertai nyeri pada pasien dengan keluahan nyeri leher dengan berkisar 36% sampai 60%.141.122 tiga bulan setelah tindakan pembedahan.179 Perbedaan lamanya waktu perbaikan antara konservatif dan pembedahan mendekati kurang lebih 1 tahun. 15. dicapai hasil lebih cepat perbaikan pada nyeri radicular.76. 202 Tujuannya dalah untuk memodulasi keefektifan dan meningkatkan respon alami tubuh terhadap CIDH.

riwayar klinis tidak dapat menentukan pathognomonic yang dapat membedakan dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal akibat trauma dari sumber axial nyeri leher. Para dokter harus mencurigai sudah terjadi cedera sendi zygapophyseal ketika pasien dapat menentukan titik nyeri dengan nyeri yang sangat hebat atau dapat menetapkan area nyeri yang dimana area tersebut termasuk penjalaran persarafan sendi zygapophyseal. nyeri sendi servikal zygapophyseal bagian atas termasuk sendi C2-3 lebih banyak dengan gambaran klinis sakit kepala unilateral pada occipital dibandikngkan nyeri leher.216 Nyeri sendi servikal zygapophyseal secara spontan (nontraumatik) biasanya mempengaruhi 1 sendi dan dapat menyebabkan spondilosis dan biomekanika yang salah. Dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme terjadinya cedera dan kecuali pada cedera spinal cord. Rincian dari kejadian meliputi posisi leher pada saat kejadian. Pada pemeriksaan fisik harus juga menilai fungsi neurologi dan ROM servikal. atau cedera otak karena trauma.141 Lebih dari satu struktur dapat cedera pada nyeri sendi servikal zygapophyseal yang disebabkan oleh trauma. plexopati.26. diperkirakan lebih nyeri pada sendi servikal zygapophyseal daripada diskus atau cedera pada akar. Diagnosis Riwayat dan Pemeriksan Fisik Pada penderita yang mengalami cedera whisplash harus dilakukan pemeriksaan secara detail dan lengkap. Nyeri leher unilateral paramidline dengan atau anpa gejala perascupular yang menunjukan rasa lebih nyeri dibandingkan sakit kepala.28 Dalam pengalaman kami. dapat diprediksi dari struktur bagian yang paling banyak cedera.111 Peningkaan 35 .15.dari nyeri sendi servikal zygapophyseal pada C2-3 diperkirakan 50-53% pada pasien dengan keluhan utama nyeri kepala pada posterior setelah cedera seperti dicambuk. Nyeri tekan pada palpasi posterolateral disekeliling sendi yang juga mendukung terjadinya nyeri sendi zygapophyseal. Bagaimanapun juga.140.141 Nyeri pada servikal bawah yang disebabkan oleh trauma sendi servikal zygapophyseal banyak ditemukan pada level C5-6.

pengobatan terfokus pada analgesia dan antiinflamasi. tapi efek metabolik dar terapi panas tersebut menghalangi pengobatan cedera sendi servikal zygapophyseal akut.239 Pencitraan nuclear mungkin menunjukan peningkatan ambilan radiotracer jika terjadi abnormalitas pada sendi servikal zygapophyseal. Cryotherapy biasanya diterapkan selama 20 menit tiga sampai empat kali sehari untuk vasokonstriksi dan menurunkan rasa nyeri dan 36 .nyeri subocipital atau tereksaserbasi pada fleksi cervical 45 derajat dan rotasi axial dapat memunculkan nyeri pada sendi C1-2. 59 Meskipun hanya baru berupa dugaan dari investigasi hasil yang ditemukan dari pemeriksaan fisik namun dapat menjadi diagnostic dari nyeri sendi servikal zygapophyseal. Pengobatan Pengobatan Medis Dan Rehabilitasi Selama fase akut dari cedera. Modalitas fisik seharusnya digunakan pada fase akut dari cedera untuk mengurangi nyeri dan inflamasi. Pemeriksaan Pencitraan Subluksasi sendi servikal zygapophyseal dapat terdeteksi pada pemeriksaan radiografi dan CT Scan. dan dapat menggunakan opiate untuk membantu meredakan nyeri. NSAID diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri dan inflamasi. Ini artinya pencitraan terbatas dalam menentukan sumber dari nyeri tersebut. Jika nyeri tidak berkurang dengan pengobatan ini.32. Meskipun terapi panas pada permukaan dapat menyebabkan efek analgesic dan relaksasi otot. Cedera jaringan lunak lebih banyak tidak terdeteksi dengan pemeriksaan lebih canggih. tapi tidak dapat membedakan antara simtomatik dan kelainan asimtomatik. opiate dapat diberikan dalam jangka waktu yang singkat untuk memulihkan pola tidur dan pemulihan fungsional tubuh. seperti menggunakan terapi es lebih efektif dibandingkan terapi panas dalam analgesic dan antiinflamatori. namun CT Scan lebih jelas dalam menggambarkan terjadinya fraktur sendi. Superficial cryotherapy.

baik konsekuensi psikologis dan samping gangguan fisik (E.W. memaksimalkan fungsi dan mencegah integral pemulihan fungsional digunakan untuk membatasi rasa perkembangan cedera dari stabilisasi meliputi cedra. mobilitas dan kekuatan. mengedukasi kembali postur dan kekuatan. kondisi fisik. semua hal tersebut dapat menurunkan rasa nyeri. semua itu diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan mencegah kambuhnya cedera. Stabilisasi dan memerlukan pendekatan menangani pemulihan fungsional. Soft servikal collar dapat rusak pada jangka waktu yang pendek. Edukasi pada pasien tentang posisi menopang untuk menghindari faktor yang merugikan serta dengan pemberian analgesic dan antiinflamasi. Menstabilisasi fleksibilitas cervicothorakal. Fase pemulihan meliputi stabilisasi dan pengembalian fungsional menjadi ROM yang normal. Hal ini digunakan untuk memberikan rasa nyaman terutama pada saat tidur. lebih dari 72 jam setelah cedera pertama. Pemulihan pergerakan servikal tulang belakang membantu mencapai postur yang seimbang pada penurunan ketegangan akibat cedera sendi. Johnson. dan sakit. kekuatan. organ. Columbus. Restorasi fungsional termasuk biomekanik. selanjutnya adalah program menjaga keseluruhan. 2002).235 Bagian 37 .mediator inflamatori. meningkatkan fungsi dan mencegah terjadinya cedera. terhadap pasien secara juga dari cedera yang Rehabilitasi dalam dialaminya. Stabilisasi cervicothoracic adalah dari biomekanik tulang atau kekambuhan dari belakang. Transisi fase ini berawal dari berkurangnya nyeri akibat cedera akut. personal communicaion.235 kemampuan prorioseptif dapat diaplikasikan selama exercises penguatan hingga tercapainya tujuan yang diinginkan. di dan latihan 48 Setelah pasien selesai latihan perawatan dirumah. panjangnya jaringan lunakdan deficit biomekanik dan menguantnya otot spinal.48. tapi bukan pengobatan yang utama.133 Mobilisasi dan pemijatan dapat membantu otot yang putus dan jaringan lunak juga disertai dengan pembidaian.

Intervensi tulang belakang physiatry. Latihan terlentang dan dengan ke posisi duduk dan berdiri.36 Pasien harus diajarkan bagaimana mengontrol aktivitas seluruh gerakan kinetik tubuh. pengurangan postural. ekstensor.48 Kinetika scapulothoracic yang tepat dan sambungan glenohumeral memungkinkan gerakan mekanis postur tulang belakang yang efisien. Radiculopathies serviks menengah ke atas dengan kelemahan myotomal dapat scapulothoracic dan dan rotator cuff glenohumeral. Salah satu tujuan utama dari program latihan adalah meningkatkan keseimbangan otot dan fleksibilitas dari kelompok otot cervicothoracic dan capital muscle group. tubuh posisi statis. pada girdle bahu dan ekstremitas atas. Kontrol neuromuskular Peningkatan Penguatan serviks dimulai fleksor. rotator. serratus muscles harus diperkuat. Trapezius.48 Pasien melakukan latihan isotonik konsentris. serta disipasi energi yang efisien oleh anggota badan bagian atas selama aktivitas fungsional. dan kemudian maju dengan kegiatan yang dinamis dan fungsional. Intervensi Physiatry spine adalah subspesialisasi relatif muda dan berkembang dalam bidang physiatry. Kisaran normal gerak dan postur tubuh yang baik sangat penting untuk mencegah microtrauma berulang-ulang untuk struktur serviks disebabkan oleh pola pergerakan sedikit.pemulihan fleksibilitas tulang belakang.48 Perhatian juga diberikan mengganggu stabilisasi anterior. pertama dalam posisi dan dikembangkan cemara untuk dengan latihan isometrik dari yang dilakukan progresiv Otot-otot yang kemudian berkembang hati-hati dan tanpa akibat rasa sikap sakit. rhomboid. dan kondisi tubuh. menghindari gerakan gabungan kecuali gerakan yang diregangkan atau melemah sebagai buruk yang ditargetkan selama fase ini. Program jangkauan nyeri gerak ditulang stabilisasi dimulai dengan gerak serviks. dan jaringan lunak membentuk interval bebas Setiap pembatasan jangkauan merupakan kemudian menambahkan gerakan progresif di luar kisaran ini sampai gejala mereda.48 otot fleksor lateral. 38 . belakang atau dan postur teknik mobilisasi peregangan tubuh yang benar.

karena pengertian dan sikap kooperatif pasien merupakan hal yang sangat penting dalam memperoleh hasil yang akurat dan informasi diagnostik yang valid. dari 87% observasi nilai fisik dan pengaturan abnormalitas intervensi terapi dapat elektrodiagnostik Namun.216 untuk berkisar 100%. studi elektrodiagnostik adalah samar-samar dalam sering dapat diklarifikasi dengan dipandu selektif (SNRB) di MRI.119 dan disarankan kepekaan telah terbukti yang diamati untuk miror Pemanfaatan SNRBs lumbal diagnostik telah dieksplorasi dalam literatur. kita harus mengeksplorasinya dari data lumbar (lihat chapter 25). blok dan akar tingkat evaluasi dipercepat.6. Diagnosis selektif fisik. akar saraf Jika pencitraan mengungkapkan lesi struktural pada yang menguatkan temuan pemeriksaan menegaskan kecurigaan klinis.6 nilai Pada spesifisitas diagnostik dari SNRBs serviks telah menjadi 100%. Diagnosis SNRB merupakan sebuah tes diagnostic fingsional. sensitivitas dan spesifisitas dari diagnostik serviks SNRBs. gambar panduan prosedur tulang belakang untuk mendiagnosa dan menyakitkan. Spesialis intervensi perawatan tulang pasien dalam kerangka model atau medis bukan model pengetahuan algoritmik. jika pemeriksaan root blok negatif. Jika blok diagnostik adalah algoritma diagnostik harus diselidiki. dan spesifitas dan sensitivitas diagnostik lumbal SNRBs erat dgn nilai-nilai untuk rekan- rekan serviks mereka. yang merupakan kombinasi dari obat-obatan berdasarkan pendekatan perawatan jaringan gejala berorientasi medis. saraf. diagnosis saraf diagnostik fluoroscopically langkah berikutnya dalam tingkat segmental yang dicurigai (Figure 37-19).Lingkup subspesialisasi ini mengobati gangguan melibatkan ketepatan tulang belakang yang penggunaan rasa kebijaksanaan.202 Karenanya kekurangan dalam konfigurasi metode investigasi. 39 . cedera pengalaman klinis memerlukan penyakit berbasis belakang mengandalkan pendekatan berbasis yang luas. Intervensi Physiatrists tulang bukti dan belakang.

Didalam profil pasien ini. mencakup diatas 2 sampai 4 SNRIs didalam 14%222 dan 20%220 dari kasus. 10 % dikarenakan oleh spondylosis) meningkat secara signifikan dengan perawatan konservatif dimana tidak memerlukan injeksi spinal.187.222 Walaupun demikian. gejala radikuler nontraumatic serviks. maka injeksi lebih lanjut mungkin tidak diperlukan. Riwayat natural dari radiculopathy dikarenakan oleh CIDH atau spondylosis yang merupakan sebuah resulusi berangsur dari berbagai gejala dengan perawatan konservasi dalam 65% sampai 83% pasien.104 untuk pengobatan minimal inflamasi mengobati nyeri.220.243 Kesempurnaan hasil berkisar antara 50% sampai 83%. dua dari studi ini. 199.222 ”Whiplash”-menyebabkan nyeri cervical radicular tidak ditemukan dalam concomitant foraminal stenosis.220.17.199.222 mencakup petunjuk fluoroscopically cervical epidural atau selektif injeksi akar saraf (SNRIs) dengan kortikosteroid.243 Kebanyakan hasil yang sukses diperoleh dihadapan CIDH 35.53.125. dan pengurangan yang sama dalam menghindari oprasi. karena mungkin kurang dari 20% pasien akan merespon suntikan lebih lanjut.53.243 Tidak mengherankan.27 mereka invasif telah terbukti aman yang valid untuk dan menawarkan intervensi.35. Ini menyuntikkan kortikosteroid dekat ke antarmuka disk-akar 40 .199 dibandingkan dengan perubahan spondylotic. Observasi retsospektif menunjukkan bahwa 65% sampai 60 pasien dengan cervical radiculopathy (90% dikarenakan CIDH.35. bila dilakukan dengan benar.53. jika SNRI awal tidak ada perbaikan dalam nyeri radikuler.53. trauma menyebabkan cervical radiculopaty dan menandakan diagnosis yang jelek.199. dan nyeri traumatic spondilotic cervical radicular dan mereka sukses diobati dengan perawatan konservatif. Tujuan dari SNRI adalah memodulasi respon terhadap CIDH dengan saraf.Terapi selektif injeksi akar saraf. dengan interval follow-up dari 6 sampai 21 bulan. Heckmann et al.221. Beberapa studi telah melakukan penelitian kegunaan terapi cervical SNRIs untuk mengobati cervical radiculopathy setelah kegagalan dari terapi konservatif.17. 17.221.222 Baru-baru ini. 87.221. 87 199. Meskipun terdapat kekhawatiran tentang keselamatan serviks SNRIs. injeksi anastesi lokal menunjukkan efikasi yang setara dengan gabungan anasthetik dan kortikosteroid.

dengan angka penurunan terbesar terjadi dalam 2 minggu pertama. Tidak terdapat komplikasi mayor yang dihadapi dan prosedur harus dilakukan dengan sedasi intravena yang ringan pada pasien tersebut. Teknologi ini baru saja berkembang dan diaplikasikan untuk tulang belakang. Ditemukan bukti untuk memperkuat subsequent studies dari nukeloplasti tanpa SNRI yang mana 81% sampai 85% dari pasien menunjukkan hasil yang memuaskan. Percutaneous diskectomy dan/atau decompresi diskus.dimaksudkan untuk mengontrol nyeri dan untuk memulai proses penyembuhan akar saraf.83.95. laser. Dalam kurun waktu 6 bulan. Interval follow up relatif singkat 83. Sebagian kasus akhirnya karena volume herniasi akan diskus membutuhkan decompession persistent invertebral.217 Dalam kurun waktu 12 bulan. dekompresi mekanik 41. sedangkan herniasi disk yang intervertebralis yang telah mengalami resorbs. 91% sampai 95% dari 21 pasien ini rata-rata menunjukkan penurunan sebesar 83% dari level nyeri mereka. Nucleoplasty merupakan sebuah teknologi yang menggunakan energy cobalt untuk menguapkan jaringan nuclear menjadi molekul gas.89. menjadi jaringan inert. Berbagai teknologi telah digunakan untuk menyelesaikan decompresi cervical intervertebral disk. Pasien menunjukkan pengaruh CIDH tanpa stenosis dan persistent radicular pain.211.95. dan telah di nilai terapi bedah yang semestinya diberikan.Harus dicatat bahwa setiap 21 pasien didalam penelitian kohort ini harus dipertimbangkan pasien yang akan dibedah oleh fellowship-trained bedah tulang belakang. kelanjutan dari respon inflamasi.41. 17 sampai 21 memeiliki hasil yang baik dan sempurna. atau keduanya. atau keduanya. enzimatik.217 nukleoplasti di kombinasikan dengan SNRI untuk pengobatan biomechanical dan biochemical dikarenakan keterkaitan CIDH nyeri cervical radicular yang tidak merespon dengan terapi konservatif.123. Percutaneous diskectomy telah diteliti sebagai alternatif non operasi untuk mengobati persistent cervical radiculopathy yang disebabkan oleh fokus hernisi yang nyata. 209 Baru-baru ini didalam sebuah studi di sebuah Penn Soine Center.95 Dua studi dengan dengan data hasil terpanjang menunjukkan hasil yang berbeda dan termasuk studi kohort heterogen.211 atau tak ditentukan. 6 sampai 12 bulan pertama dan menunjukkan penurunan 41 .

39 Diskectomi perkutan dengan teknologi kobalasi digabungkan dengan/atau tanpa SNRI dapat menyelamatkan dan efektif dalam meredakan nyeri servikal radikular dikarenakan oleh protrusi diskus inverterbralis yang diperkuat. analgesic dan / atau NSAIDs. tanpa komplikasi. Gambar 37-19 Gambar Fluoroscopic dari diagnosis blok akar saraf selektif C6 42 . physical terapi.yang signifikan pada radicular pain. dan 12 bulan setelah nukleoplasti dibandingkan dengan TENS.31 136 Baru-baru ini secara acak dicoba terhadap 115 pasien menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap nyerinya dan ketidakmampuan pada 3.6.

.Penentuan sendi menyebabkan gejala memerlukan penggunaan teliti fluroskopi spesifik suntikan. tepat yang dengan target- Diagnosa Penyakit Sendi Zygapophyseal dengan Metode Blok Struktur anatomi dan pola dari struktur vertebra yang saling berdekatan dan bertumpang tindih mengharuskan penggunaan fluroskop untuk membimbing penggunaan diagnosa penyakit sendi dengan metode blok unuk melihat apakah 43 .) Intervensi Psikiatrik Tulang Belakang Riwayat perjalanan whiplash yang diinduksi sebagai nyeri leher dengan pemulihan bertahap pada kebanyakan pasien. Simpson JM: Surgery of the cervical spain. 1994. oleh karena itu foramen menjadi terbuka dan terjadi fusi ( Redrawn from an HS.Gambar 37-20 Servikal disketomi anterior dan gabungan penggunaan teknik SmithRobinson. Diskus yang bermasalah telah dibuang. dan bone graft sudah ditempatkan di intervertebral Donor tulang tersebut menyebabkan peningkatan dari tinggi diskus.Diagnosa yang akurat untuk memaksimalkan pengobatan jika nyeri yang dirasakan pasien sudah pada tahp sedang atau berat akan memetap selama perjalanan panyakit ini. London. Martin Dunnitz with permission.

Rata-rata satu pertiga responden dapat menunjukkan jawaban falsepositive. (Gambar 37-21)Metode ini dapat memberikan diagnosa pasti sendi mana yang merupakan sumber nyeri.Jika suntikan medial.Anesthetik lokal dapat disuntikkan ke dalam sendi atau pada percabangan saraf medial disekitar sendi untuk pembiusan.Pendekatan kami untuk nyeri sendi servikalis zygapophyseal termasuk instutasi terapi suntikan setelah diagnosa tunggal positif blok intraartikuler. intraartikuler kortikosteroid tidak efektif.13Beberapa metode ini harus dilakukan beberapa kali menggunakan anastetik dalam berbagai macam durasi efek sebelum menentukan penatalaksanaan lebih lanjut.Jika rasa sakit tak hentihentinya..sendi tersebut yang menjadi sumber sakit. rasa sakit pasien akan reda. blok komparatif menggabungkan injeksi plasebo dilakukan sebelum melakukan neurotomi cabang 44 .Diagnosa didasarkan pada konsep bahwa jika struktur gejala diblokir. sendi yang diuji akan dikecualikan sebagai sumber yang mengakibatkan gejala.

Melalui percobaan control-placebo yang acak dan double-blind.Bagaimanapun yang sama . Bagaimanapun. penulis merawat pasien dengan hanya satu injeksi terapi.Slipman et al.Lord et al telah menemukan keberhasilan radiofrekuensi neurotmi pada pasien dengan nyeri kronis sendi servikalis zygapophyseal.14Dalam pengalaman kami. Menurut Barnsley dkk.Studi berikutnya oleh McDonald eta al.Terapi suntikan pada sendi zygapophyseal Terapi injeksi intraartikuler pada sendi servikalis zygapophyseal dapat lebih sesuai dilakukan farmakologik dan pada individu yang tidak memgalami pemulihan dalam modalitas fisik. terapi suntikan steroid intraarticular yang dijalankan dengan fluroskopik efektif dalam mengobati nyeri sendi servikalis zygapophyseal . mengamati bahwa terapi neurotomi kedua dapat memberikan keredaan nyeri pada pasien jika gejala pasien berulang setelah suksesnya prosedur pertama. dibandingkan dengan 1 minggu dalam studi kelompok kontrol sama.kira-kira 50% pasien boleh mendapatkan rawatan ulang neurotomi. menggunakan salah satu hasil ukur tidak membatasi terapi fisik. Pasien yang mendapatkan manfaat dari suntikan ini mengalami rata-rata dua suntikan terapeutik. Prosedur yang berulang mencapai pengurangan periode sebagai gejala awal prosedur 45 .Waktu median yang berlalu sebelum nyeri kembali ke tingkat preneurotomi pada kelompok perlakuan adalah 9 bulan.223 telah mendemonstasikan hasil data dari baik hingga terbaik telah didapatkan dari 61% pasien yang setiap hari menderita nyeri kepala oksipital berkaitan whiplash yang berasal dari C2-3.dalam studi ini. maka ablasi radiofrekunsi pada sendi yang menginervasi cabang medial boleh dianjurkan.bagi pengobatan penyakit kronis whiplash berkaitan nyeri sendi servikalis zygapophyseal.suntikan tunggal intraarterikuler tidak efektif. Percutaneous frekuensi radio Ablasi Neurotomi Cabang medial Jika pasien tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dari suntikan steroid.

B.yang memproduksi karakteristik artogram.dimana nervus medial C7 boleh diposisikan dipertengahan antara cembungan lateral C6-C7 dan C7-T1 sendi zygapopphyseal. Injeksi faset servikalis. Saat ini tidak ada teknik khusus untuk mendenervasi sendi atlantooksipital dan atlantoaksial. dan denervasi sendi C2-3 belum diteliti karena dampak buruk dari suboksipital hipoestesia dari neurotomi dari nervus oksipital ketiga.dengan izin JB Lippincott) Cervical Internal Disk Disruption Epidemiologi Gangguan disk internal pertama kali dijelaskan oleh Crock lebih dari 30 tahun lalu.Bridenbaugh PO.Kanan: Gambaran lateral tulang belakang servikalis yang menunjukkan jarum dalam kavity sendi faset C5-C6.dengan menggunakan pendekatan posterior.cabang arterikuler(A) dan nervus oksipital ketiga(TON). Pengantian jarum untuk cabang nervus medial dan injeksi zygapopphyseal intraartrikuler.editors:Blokir Neuronal dalan anastetik klinis dan penatalakksaan nyeri.Sendi ditembus untuk ke tulang belakang servikalis dengan menggunakan pendekatan lateral.In Cousins MJ.pengobatan.Pilar artrikuler mungkin dihalang oleh bayangan besar C7 processus transverses.(Dari Bogduk N:Blok Nyeri belakang sendi zygapophyseal dan steroid epidural.1988.ramus ventral C2(C2VR)dan lokasi cabang nervus medial servikalis dorsal rami (MB).Radiografi lateral servikal menunjukkan posisi tepat penempatan jarum kedalam sendi zygapophyseal .ed 2 Philidephia JB Lippicott. dan menunjukkan bahwa disk intervertebralis telah kehilangan arsitektur normal internal tetapi tetap mempertahankan kontur eksternal yang diawetkan dengan tidak 46 .Jarum diposisikan untuk injeksi pada C4 dan C6 cabang nervus medial dan TON. dan C2-3 belum lagi diteliti.Neurotomies frekuensi radio sendi atlantooksipital dan atlantoaksial.Kami telah berhasil menggunakan neurotomi frekuensi radio dari sendi C2-3 zygapophyseal dan kebanyakan pasien tidak tertekan oleh hipoestesia suboksipital.Kiri: gambaran posterior tulang belankang servikalis yang menunjukkan lokasi ganglia C2(G) pada belakang sendi atlantoaxial lateral(LAAJ).

adanya kompresi akar saraf. Dalam sakit leher yang disebabkan oleh trauma kronis, 20% pasien mungkin CIDD, dan satu lagi 41% mungkin CIDD dan cedera sendi bersamaan zygapophyseal. Litigasi buruk dapat mempengaruhi hasil pengobatan untuk CIDD, tetapi efek litigasi potensial belum dibuktikan dalam penyelidikan lainnya. Dalam kasus nonlitigation, hasil nonoperative dan operasi adalah sama dengan yang untuk CIDD. Diagnosa Sejarah dan Pemeriksaan Fisik Kompleks gejala CIDD termasuk sakit leher posterior, nyeri oksipital dan suboccipital, nyeri trapezial atas, nyeri interscapular dan periscapular, nyeri nonradicular lengan, vertigo, tinitus, disfungsi mata, disfagia, nyeri wajah, nyeri dada dan dinding anterior. Pasien sering melaporkan riwayat trauma sebelumnya, seperti tabrakan kendaraan bermotor, dengan onset akut. Dalam absense peristiwa pencetus, gejala CIDD dapat mulai secara spontan dan secara bertahap, atau eksplosif. Jika gejala rujukan yang hadir, keluhan utama pasien adalah nyeri terutama aksial dikaitkan dengan mencolok gejala ekstremitas atas. Faktor memperburuk biasanya mencakup lama duduk, dan batuk, bersin, atau mengangkat. Berbaring terlentang dengan dukungan kepala biasanya meredakan gejala-gejala pasien. Pemeriksaan fisik hanya dapat menunjukkan serviks halus berbagai-dangerakan pembatasan, kecuali jika telah menjalani operasi sebelum serviks. Pemeriksaan neuromusculoskeletal menyeluruh harus dilakukan untuk mengecualikan radiculopathy myelopathyor. Jika spondylosis hadir, ekstensi leher rahim dan lateral bending lebih terbatas daripada fleksi dan rotasi aksial berada. Palpasi atas proses spinosus servikal tingkat yang terlibat dapat menimbulkan rasa sakit di daerah itu atau sebagian dari rasa sakit aksial pasien. Memisahkan pasien dari mereka yang menderita nyeri leher nonorganik dapat dicapai dengan memunculkan tanda-tanda nonorganik, seperti kelembutan dangkal atau nonanatomic, nyeri dengan rotasi kepala dan panggul bersama, kehilangan sensori nonanatomic, memberikan arah kelemahan, dan reaksi berlebihan.

47

Studi Pencitraan Membedakan menyakitkan dan tidak menyakitkan dari disk serviks hanya pada karakteristik pencitraan bisa sulit. Kelainan Disk telah dicatat pada pasien tanpa gejala, dan CIDD menurut definisi menampilkan penampilan sesuai usia pada MRI. Plain films dapat mengungkapkan hyperostosis dan keruntuhan ruang disk tapi sering tidak berkorelasi dengan gejala rasa sakit. Disk pengeringan, kehilangan ketinggian disk, celah annular, osteophytosis, dan reaktif akhir-piring adalah perubahan penanda dari degenerasi disk. Sebuah sinyal intradiskal menurun pada T2-tertimbang gambar berkorelasi baik dengan degenerasi histologis dari disk. Fitur MRI tidak berguna, bagaimanapun, dalam mendeteksi disk serviks gejala. Akibatnya, tes diagnostik fungsional seperti diskography provokasi digunakan untuk mendiagnosa tingkat disk yang menyakitkan. Pemahaman kami tentang distribusi sakit dari CIDD atau degeneratif disk telah diperluas oleh penelitian dari tes diagnostik fungsional. Pengobatan Obat Fisikal dan Rehabilitasi Mengobati cedera serviks intervertebralis tanpa radiculopathy mirip dengan mengobati gejala radikuler. Langkah awal adalah untuk mengontrol nyeri dan peradangan. OAINS dapat digunakan secara jangka pendek kecuali kontraindikasi karena penyakit ginjal atau intoleransi gastrointestinal untuk OAINS. The American College of Rheumatology pedoman menyatakan bahwa fungsi ginjal pada pasien sehat harus diperiksa pada 6 minggu setelah memulai OAINS. Jika fungsi ginjal normal pada 6 minggu, harus diperiksa kembali pada 12 bulan. Obat seperti antidepresan trisiklik dapat membantu memodulasi nyeri dan membantu dalam regulasi tidur. Analgesik opiat biasanya digunakan hemat dan hanya untuk periode singkat. Modalitas fisik dapat diresepkan untuk memodulasi nyeri dan transisi pasien dari pengobatan pasif untuk restorasi fungsional aktif. Modalitas yang dangkal dan terapi TENS (Transcutaneous electrical nerve stimulation) dapat digunakan untuk rasa sakit. Modalitas panas juga dapat digunakan untuk meningkatkan elastisitas
48

jaringan lunak sebelum dan selama traksi leher rahim. Dalam studi, stimulasi listrik (TENS) telah ditemukan untuk membantu dalam rasa sakit serviks. Traksi mungkin akan bermanfaat dengan mengalihkan disk intervertebralis yang menyakitkan. Namun, traksi harus digunakan hati-hati karena jika mengganggu jaringan annular terluka dapat memprovokasi gejala yang menyakitkan. Kerah leher rahim dapat membantu mempertahankan posisi nyaman tetapi tidak boleh dipakai oleh pasien selama lebih dari 72 jam. Modalitas pasif harus digunakan pada awal proses pengobatan dan kemudian, pada dasar yang dibutuhkan, dan tidak harus mengganti berdasarkan aktivitas terapi. Seperti semua mekanik gangguan nyeri serviks lainnya, CIDD

membutuhkan evaluasi mendalam tentang biomekanik tulang belakang. Semasa nyeri akut mulai mereda, pasien terdaftar di sebuah peregangan aktif dan program fleksibilitas dengan transisi ke kondisi dan stabilisasi. Efek independen dari latihan dan stabilisasi, khususnya dalam pengobatan cedera leher rahim, belum divalidasi secara ilmiah. Namun, peran stabilisasi tulang belakang leher bukan hanya peregangan dan penguatan didukung. Efek juga dapat disimpulkan dari laporan penelitian stabilisasi lumbal yang menunjukkan penurunan signifikan dalam rasa sakit dan kecacatan pada sekelompok pasien dengan spondylosis dan spondylolisthesis. Satu-satunya cara metodologis yang benar untuk mempelajari hasil pada pasien dengan nyeri diskogenic serviks adalah dengan mendaftarkan diri dan mengobati kohort pasien setelah nyeri leher diskography terbukti sesuai aksial. Tetapi tidak ada studi seperti itu. Interventional Spine Physiatry Provokasi Diskografi Diskografi Provokasi adalah tes diagnostik fungsional di mana keakuratan penyelidikan sangat mengandalkan masukan pasien. Smith dan Nichols pertama kali dijelaskan Diskografi serviks pada awal 1950-an, dan utilitas telah diperebutkan sejak itu. Diskografi Provokasi adalah satu-satunya tes yang dapat mengatasi gejala status dari disk, dan biasanya digunakan ketika CIDD

49

dipertanyakan. Hal ini juga digunakan sebagai evaluasi presurgical. Sebuah respon positif memerlukan bukti struktural dari kekacauan internal untuk menguatkan produksi sakit biasa atau pasien dengan sakit serviks. Pendukung Diskografi menunjukkan bahwa disk sehat menerima sejumlah volume tertentu dari kontras dan tidak menghasilkan gejala dengan stimulasi mekanik. Diskografi harus dianggap sah hanya jika injeksi kontrol asimtomatik disk yang menyertai suntikan menurut hitungan menyakitkan. Meskipun hasil positif palsu telah dibuktikan pada sukarelawan tanpa gejala, temuan ini dapat diberhentikan karena ketidakcukupan teknis. Diskografi provokasi serviks belum menghasilkan respon nyeri positif palsu pada sukarelawan tanpa gejala. Pada kesempatan, seorang discogram provokatif dapat menghasilkan respon positif palsu di hadapan gabungan zygapophyseal yang menyakitkan serviks. Bogduk dan April menyimpulkan bahwa discogram serviks positif dengan kesakitan serviks traumatis kronis adalah konklusif yang mungkin menyesatkan, dan merekomendasikan menyelesaikan blok diagnostik bersama zygapophyseal pada tingkat disk yang menyakitkan sebelum mengejar intervensi pengobatan. Disk intervertebralis serviks telah terbukti untuk merujuk nyeri ke kepala dan wajah baik secara sepihak dan bilateral, dan tumpang tindih pola rujukan nyeri yang dihasilkan oleh sendi zygapophyseal menyakitkan. Transforaminal Epidural Steroid Injections. Berangsur-ansur steroid ke dalam ruang epidural anterior untuk mandi posterolateral margin dari permukaan melingkar dari disk intervertebralis dan ligamentum longitudinal posterior dapat mengatasi nosisepsi biokimia yang dirangsang. Sebuah C7 transforaminal epidural injeksi steroid (TFESI) dilakukan jika gejala konsisten dengan nyeri diskogenic dan terutama terletak di dasar, atau merujuk ke luar dari dasar, dari tulang belakang leher. Prosedur identik dilakukan di tingkat C5 atau C6 untuk mengobati nyeri leher bagian atas dengan atau tanpa sakit kepala, dan gejala ekstremitas wajah atau bagian atas. Jika efek kortikosteroid, yang didefinisikan sebagai pengurangan 50% pada tingkat preinjection nyeri yang berlangsung selama 2 hari dalam waktu 7 hari setelah prosedur, tidak dialami oleh

50

sehingga mengurangi rasa sakit diskogenic. Sebagian besar pasien dalam studi ini memiliki definisi penyakit gejala sakit aksial. tingkat dua yang noncontiguous. Interlaminar epidural suntikan steroid telah diselidiki dalam kelompok heterogen pasien dengan nyeri radikuler dan aksial. Suntikan diselesaikan posterior melalui pendekatan interlaminar tanpa bimbingan fluoroscopic. Hasil berhasil sekitar 40% sampai 84% dari pasien yang diobati. maka pasien mungkin menjadi sebuah kandidat bedah. Jika tiga atau lebih tingkat yang sesuai. nyeri radikuler. Efektivitas TFESIS belum sistematis dipelajari. Yang paling akut atau subakut durasi gejala. Dalam pengalaman kami.pasien. Satu-satunya pengobatan bedah untuk CIDD atau gejala degeneratif disk serviks adalah fusi. Operasi Pasien yang mengalami sakit parah dan bandel serviks aksial dianggap diskogenic asal yang mungkin menjadi kandidat untuk operasi. Pemanfaatan Diskografi provokasi untuk menentukan tingkat adalah 51 . sekitar 50% pasien mengalami bantuan yang signifikan dan abadi. mungkin karena cedera disk yang relatif akut inflamasi. diskografi serviks atau diagnostik blok bersama zygapophyseal biasanya dikejar. dengan menggunakan teknik kerugian-perlawanan. gerak dihilangkan. yang dapat dicapai dengan diskectomy serviks anterior dan fusi atau dengan fusi posterior. Obat disuntikkan antara posterior lamina mungkin tidak berdifusi anterior untuk mencapai generator nyeri potensial. Meskipun kurangnya literatur tentang kegunaan TFESIs dalam mengobati nyeri leher rahim diskogenik. Alasannya adalah bahwa dengan menggabungkan unsurunsur vertebra tulang. kita biasanya melakukan dua injeksi awalnya sebelum menilai respon klinis. Jika diskogram mengungkapkan satu atau dua tingkat berdekatan memproduksi nyeri. Pendekatan kami untuk pasien dengan CIDD adalah mempertimbangkan diskografi serviks jika pasien tidak menyadari efek penghilang rasa sakit setelah dua TFESIs kortikosteroid. atau disk menurut hitungan menyakitkan adalah lobular. semakin baik hasilnya. maka pasien memerlukan kronis komprehensif sakit-modulasi program. atau keduanya.

3 Rata-rata penderitanya berumur di atas 50 tahun dan kebanyakan berjenis kelamin laki-laki. perbedaan yang signifikan secara statistik diperoleh untuk pasien yang dirawat berdasarkan diskogram benar-benar positif.37 Diagnosis 52 . penyakit motor neuron.253 namun presentase penyakit ini tidak sebanyak radikulopati spondilotik servikal. Garvey dkk. yang termasuk penyebab penyakit ini adalah multipel sklerosis.4 tahun setelah fusi. siringomielia. dan penulis mungkin telah memasukkan beberapa pasien yang memiliki keluhan terutama radikuler. dan tumor spinal. Mielopati Servikal dan Mieloradikulopati Epidemiologi Mielopati spondilotik servikal adalah lesi vertebra servikal paling sering yang terjadi pada kisaran umur diatas usia pertengahan. atau sangat baik pada rata-rata 4. sangat baik. Sebuah tinjauan literatur yang luas menyimpulkan bahwa Diskografi serviks terkontrol meningkatkan hasil bedah. degenerasi gabungan subakut. Beberapa penulis telah melaporkan "baik atau sangat baik" menghasilkan 70% sampai 96% pasien setelah fusi servikal tingkat ditentukan oleh Diskografi. Kajian ini adalah retrospektif.44 Penyebab-penyebab lain dari mielopati harus disingkirkan.kontroversial. neurosifilis. Menariknya. vaskulitis. menemukan bahwa 82% dari 87 pasien melaporkan diri mereka sebagai hasil yang baik.259 Salah satu dari penyebab tersebut ditemukan pada lebih 17% pasien yang menderita mielopati spondilotik. 93% pasien ini dilaporkan penurunan lebih besar dari 50% dan peringkat rasa sakit mereka selepas operasi. Seibenrock dan Aebi mengamati pengurangan rasa sakit yang lebih besar dari 75% pada 96% dari 27 pasien yang menjalani fusi servikal sebanyak 39 tingkat.

Penderita mielopati sering mengeluh mati rasa dan parestesia pada batang tubuh dan ekstremitas distal. perbedaannya bisa mencapai satu sampai dua segmen.259 Refleks asimetrik pada batang tubuh atas atau kelemahan miotomal bisa berarti bahwa penyakit ini juga disertai radikulopati. Defisit propriosepsi dan getaran mengindikasikan malfungsi kolumna posterior lebih banyak pada batang tubuh bawah daripada atas. diikuti periode statis yang berlangsung beberapa tahun. Pemeriksaan pencitraan.259 Riwayat alami perjalanan penyakit ini diawali dengan deteriorasi.171 Gangguan fungsi kandung kemih terjadi pada kira-kira sepertiga pasien dan merupakan tanda memburuknya lesi medulla spinalis. walaupun minoritas pasien mengalami onset akut dengan atau tanpa didahului suatu trauma. Manifestasi klinis yang menunjukkan level medula yang terlibat. atau bisa juga diindikasikan oleh distribusi “glove and stocking” . bisa jadi tidak sama dengan level maksimum kompresi hasil pemeriksaan radiologinya. Gejala dan tanda bisa simetris atau tidak.Riwayat dan Pemeriksaan Fisik. kelemahan tersebut lebih sering terjadi pada batang tubuh bagian bawah dibandingkan bagian atas. refleks brisk dan babinski seringkali muncul. Onset gejala biasanya tidak terlihat.259 Manifestasi neuron motorik atas seperti Hoffman’s sign. Hasil pemeriksaan yang sering didapat adalah kelemahan karena mielopati pada batang tubuh bawah dan.259 Penderita akan mengeluh nyeri radikuler sebagai tanda keterlibatan akar saraf pada level medula yang mengalami stenosis. Kombinasi dari terlibatnya medula dan radiks disebut mieloradikulopati spondilotik servikal. agak naik sedikit ke batang tubuh atas.259 Nyeri aksial servikal menjadi keluhan utama pada 70% pasien di satu titik poin perjalanan penyakit ini. Penyebab lain 53 . kebanyakan spondilitik. Pemeriksaan radiologi biasanya menunjukkan kompresi medula servikal. dan regangan total batang tubuh atas jarang terjadi.259 Nyeri dan perubahan suhu tubuh mengindikasikan adanya lesi pada traktus spinotalamikus setinggi level gangguan sensori pada regio lumbal dan thorakal. dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan. Umumnya. Ekstremitas atas akan menunjukkan kelemahan dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan yang disebabkan karena kerusakan sel horn anterior.

somatosensory evoked potential dapat digunakan untuk mendeteksi keterlibatan medula spinalis secara subklinis. pemeriksaan dengan jarum elektroda dapat mengungkapkan derajat abnormalitas pada otot dibawah lesi segmen.166 Pemeriksaan elektrodiagnosis. Elektromiografi dan pemeriksaan konduksi saraf dapat digunakan untuk mendiagnosis lesi radiks saraf. Termasuk juga banyak berkurangnya aliran cairan serebrospinal.188 dan jumlah cairan serebrospinal di sekitar medula (gambar 37-23). atau osifikasi pada ligamen longitudinal posterior (etiologi pada 27%pasien usia pertengahan 241 ). sedangkan dimensi postoperatif medulla sangat berhubungan dengan kesembuhan penderita. Gambaran preoperatif potongan transvers medulla spinalis pada lokasi kompresi maksimal akan berpengaruh pada hasil klinis akhir. Penggunaan somatosensory evoked potential untuk mendiagnosis mielopati servikal sudah diteliti.259 Stenosis spinal servikal sentral yang asimptomatik ditemukan pada 16% orang yang berumur di bawah 64 tahun. kira-kira sepertiga kanal sentral harus dicurigai dan bukti adanya perubahan kanal sentral harus benarbenar objektif. yang mengindikasikan kompresi medula yang progresif.seperti superimpos CIDH yang menekan thecal sac. ini mengindikasikan adanya lesi saraf motorik atas. dan apakah terdapat hiperostosis. ulnar dan tibial posterior lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan klinis dalam mendeteksi disfungsi kolumna posterior. foraminal encroachment. deformasi medula atau abnormalitas sinyal intramedula.40. Diameter kanal sentral yang kurang dari 10 mm pada penderita yang simptomatik menyokong diagnosis mielopati. jika 54 . dan subluksasi.178 Untuk mendiagnosis mielopati spondilotik servikal secara akurat. seperti yang telah dibahas pada bagian radikulopati servikal. atrofi. MRI dapat mendeteksi mielomalasia. perubahan sinyal. seperti pada pasien yang potensial motorik nya terlihat normal namun terlihat banyak gangguan pada motorik maksimalnya melalui pemeriksaan ini.240 Reduksi 30% pada potongan cross sectional vertebra servikal adalah batas minimum reduksi pada pasien yang simptomatik.258 Stimulasi somatosensory evoked potential pada saraf median. Pada kasus servikal mielopati. Foto polos radiologi akan memberikan gambaran diameter oseus pada kanal sentral dan penurunan tinggi ruang diskus intervertebralis.

92 Laminektomi tanpa fusi yang luas bisa menyebabkan komplikasi deformitas paska operasi dan kifosis.37. Perawatan konservatif termasuk terapi fisik dan ortosis servikal dilakukan pada pasien dengan gejala ringan atau statis tanpa ada gangguan berjalan atau refleks patologis. Dekompresi anterior biasanya diterapi dengan korpektomi.162 55 . dan penderita masih bisa bergerak karena tehnik ini tidak menggunakan fusi. Mielopati servikal dapat dibedakan dari sklerosis multipel dari jenis abnormalitas pola yang ditampilkan somatosensory evoked potential.18 Dekompresi posterior diterapi dengan laminektomi dengan atau tanpa fusi. maka pembedahan yang diindikasikan adalah diskektomi dan fusi servikal pada level vertebra yang sesuai. dan kemudian segmen tersebut digabungkan dengan autograf fibula atau alograf tulang.66.91 Pada kasus impingement akibat spondilosis degeneratif atau osifikasi ligamen longitudinal posterior. Pembedahan diindikasikan pada penderita dengan gejala yang berat atau progresif.162 Sehingga tehnik laminoplasti lebih sering digunakan. dimana badan vertebrae dibuang sebagai tambahan diskus intervertebralis yang berdekatan.258 Penatalaksanaan Perawatan non-operatif.40. dimana komplikasi deformitas dan kifosis lebih jarang terjadi.keluhan utamanya adalah nyeri aksial servikal atau radikular.181 Bedah. mengindikasikan mieloradikulopati. Hasil pemeriksaan berupa perubahan pada konduksi saraf perifer yang ditambah dengan keterlambatan sentral. 79 atau laminoplasti (gambar 37-24).107 Jika hanya CIDH yang menyebabkan kompresi medulla spinalis. pembedahan bertujuan untuk menghilangkan struktur rusak bagian anterior (seperti osteopit) atau ligamen longitudinal posterior yang mengalami kalsifikasi (untuk mengurangi tekan dari posterior). Kedua pembedahan ini akan menyediakan runag gerak yang leboh banyak pada medulla.181 Perbaikan defisit fungsi sensori dan motoriknya terjadi pada 33%-50% pasien. atau pada mereka yang perawatan konservatifnya tidak berhasil.44.

88 Gambar 37-23 . terjadi perbaikan gejala pada 85%-99% pasien. dan umumnya dihindari karena dapat timbul komplikasi dari ketidakcocokan graft91 atau nonunion.143. koprektomi anterior dan fusi adalah pembedahan yang dilakukan.5. dan juga memiliki komplikasi yang lebih sedikit.91 Jika.4 Terapi ini efektif pada pasien dengan dekompresi anterior. tiga atau lebih vertebrare yang terlibat dan lordosis servikal abnormal.2.3.Dekompresi anterior atau posterior tejadi tergantung dari kontur dan jumlah vertebra servikal yang mengalami stenosis. Jika tiga atau kurang vertebrae yang mengalamai stenosis.153 Bedah korpektomi yang dilakukan pada dua atau lebih vertebrae akan menyebabkan hasil operasi yang kurang stabil. Gambaran potongan sagital MRI dari Stenosis spinal sentral dan mielomalasia. dilakukan laminektomu dan fusi untuk mempertahankan kestabilan vertebrae servikal. 56 . dilakukan bedah laminoplasti.88 Khusus untuk menatalaksana mielopati servikal terbukti bahwa tehnik laminoplasti jauh lebih efektif dibandingkan laminektomi.91 Pada kasus dengan tiga atau lebih vertebrae yang mengalami stenosis dan lordosis servikal masih normal. Terlihat kurangnya cairan serebrospinal anterior dan posterior medulla spinalis setinggi C3-4 dan C4-5.

Nyeri Kepala Servikogenik Nyeri kepala servikogenik adalah gejala buruk yang biasa dikaitkan dengan struktur serviks tulang belakang. Wanita lebih rentan terhadap gejala ini (79. Ini menunjukkan terdapat berbagai stimulasi rasa nyeri dan manifestasi yang menyebabkan nyeri kepala servikogenik. Laminektomi dan laminoplasti.9%). Berbagai struktur tulang belakang terlibat dalam nyeri kepala servikogenik. dengan mean usia sebesar 42.8 tahun.Gambar 37-24.4% hingga 2.1%) dari laki-laki (20. Epidemiologi dan Patofisiologi Prevalensi nyeri kepala servikogenik telah dilaporkan berkisar dari 0. B. termasuk akar saraf dan tulang belakang. turut menunjukkan kurangnya consensus mengenai definisinya.2% pada pasien yang mempunyai keluhan nyeri kepala.5% pada populasi umum. ganglion akar dorsal. dan mencapai 36. Laminoplasti dilakukan dengan memotong keseluruhan lamina pada satu sisi sementara kontralateral lamina dibor saja sehingga berfungsi seperti sendi. Istilah nyeri kepala servikogenik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1983. A. Definisinya telah diselaraskan beberapa kali. Hasil akhirnya elemen posterior akan sembuh dengan kanal yang lebih lebar berkat graft yang diletakkan di lubang lamina. Laminektomi dengan eksisi elemen posterior sebelah lateral setinggi pedikel. sendi uncinate 57 .9 tahun dan rata-rata durasi timbulnya gejala adalah 6.

Lama gejala berkisar dari beberapa jam ke beberapa minggu. saraf akar. membayangi asal nyeri serviks axial. dahi wajah dan ipsilateral bahu. Antara penyebab primer nyeri kepala servikogenik termasuk C2-3 zygapophyseal joint. 58 . Nyeri kepala servikogenik bisa menjadi keluhan primer. Nyeri kepala servikogenic diklasifikasikan sebagai unilateral primer dan berasal dari daerah occipital posterior. Diagnosis Riwayat dan pemeriksaan fisik Etiologi nyeri kepala diperoleh dengan mendapatkan riwayat nyeri kepala pasien atau trauma leher seperti Whiplash event. Keluhan tambahan adalah pusing dan vertigo. ligamen dan otot. facet joint. Gejala bisa menjalar dan melibatkan bagian kontralateral. ipsilateral anterolateral. disk invertebratal. Nyeri kepala servikogenik bisa disebabkan oleh perubahan degenerative. kesan langsung dari trauma. Kebanyakkan pasien mengeluh nyeri semakin bertambah bermula di daerah serviks dan menjalar ke kepala dan leher. Reffered pain menjalar ke vertex kepala. baik dalam isolasi atau kombinasi. fonofobia. progresif kepada kronik dan nyeri konstan. namun karakteristiknya lebih lama dan berasosiaso dengan nyeri kepala migrain. Whiplash event seperti kecelakaan akan mengakibatkan kecederaan sendi servikal zygapophyseal. Terdapat bukti yang mendukung teori konvergensi yang menjelaskan hubungan antara gejala kranial dan stimulator nyeri pada servikal tulang belakang. C3-4. dan C5-6 disk intevertebral. Intensiti nyeri pada nyeri kepala servikogenik kurang meyiksa dari nyeri kepala tipe kluster dan tidak berdenyut. Karakteristik nyeri berbeda dari nyeri yang kuat kepada nyeri tajam dan menusuk-nusuk. atau terjadi tanpa kesan biomekanikal pada struktur tulang belakang servikal.(uncovertebral joint). C4-5. namun biasanya sisi sumber nyeri utama tetap paling intens dan kuat nyerinya. Keluhan autonomik seperti fotofobia. C2-3. disk intervertebral. dan nausea adalah lebih kurang dari pasien yang menderita migrain. Lamanya gejala nyeri berfluktuasi dari episode initial.

atau ekstensi servikal. perubahan arthritic. dan kurangnya fleksibilitas jaringan lunak. MRI adalah lebih baik dari CT dalam mendiagnosis disk intervertebralis . untuk menyingkirkan fraktur. Pencitraan Riwayat trauma membutuhkan fleksi dan ekstensi servikal pada radiografi lateral untuk mendeteksi abnormalitas pada pergerakan segmental. Jika nyeri kepala servikogenik berasal dari sendi servikal zygapophyseal. termasuk proses terbuka odentoid process. MRI mempunyai false-positive rate sebesar 51% dan false-negative sebesar 27% dalam mendeteksi nyeri disk yang diidentifikasi melalui discography. penurunan ketinggian disk. 59 . namun selalunya memperburuk nyeri axial dan pasien akan mengeluh munculnya nyeri paramidline sendi zygapophyseal. Abnormalitas yang dilihat dalam imej harus dihubungkan secara klinikal karena hasil tersebut bisa menjadi gejala atau penyakit tanpa gejala sepanjang hayat pasien. Kita sering melihat pasien yang mengeluh onset selepas waktu tidurnya pada posisi yang canggung. Sebagian gerakan kepala dan leher bisa menyebabkan gejala nyeri seperti rotasi axial. Tetapi.Pemeriksaan fisik pasien dengan keluhan nyeri kepala servikogenik sering menujukkan penurunan range of motion karena kekakuan otot. Nyeri ini juga bisa sering muncul semasa palpasi mendalam pada sendi yang berhubungan. Nyeri yang berasal dari disk invertebralis berasal dari garis tengah nyeri yang menyebar sepanjang tulang belakang ke kepala atau wajah. Ia memerlukan posisi anteroposterior. Spurling’s maneuver tidak menunjukkan gejala radikular ekstrimitas atas. Suspek kejadian fraktur bisa didiagnosis dengan lebih teliti melalui CT scan servikal yang dilakukan dengan multiplanar reformatted image. dan herniasi. pasien bisa menunjukkan dengan satu jari atau melalui telapak tangannya bagian nyeri maksimumnya yang unilateral.

Algorithm tradisional termasuk diagnostic intraarticular yang dilakukan bertahap pada C2-3. Saat kejadian whiplash.Diagnostik Uji Fungsional dan Penatalaksanaan Apabila etiologi nyeri kepala servikogenik sudah diidentifikasi.Sindrom Whiplash boleh diartikan seperti efek biomekanikal yang dikeluarkan oleh penghuni satu mobil apabila mobil itu ditabrak mobil lain. Ablasi radiofrequency cabang medis untuk nyeri sendi dapat mengurangi nyeri kepala servikogenik yang disebabkan oleh cedera sendi servikal zygapophyseal dengan baik. SindromWhiplash Sindrom Whiplash (hiperfleksi-hiperekstensi) harus dikonseptualisasikan dalam tiga komponen. Ablasi radiofrequency pada nervus ketiga occipital dapat membaikpulih sendi zygapophyseal C2-3 dan telah dilakukan dengan sukses di Penn Spine Centre. Setelah studi pemetaan sendi zygapophyseal. C3-4. tetapi 60 . Sindrom whiplash adalah himpunan gejala yang timbul dari cedera whiplash. struktur tersebut dirawat seperti yang dinyatakan di atas. kita mendiagnosis blockade pada C45 sendi zygapophyseal yang merangkum gejala anterior kepala dan gejala pada wajah.Cedera whiplash adalah kelainan atau struktur terluka akibat peristiwa whiplash. Jika pasien mengalami bantuan jangka pendek dari minimum dua dan maksimum empat terapi suntikan. Nyeri servikogenik disebabkan oleh nyeri sendi atas zygapophyseal dapat dipelajari dengan konfirmasi diagnostic blockade. kepala atau leher tidak mempertahankan pukulan langsung. Apabila sendi yang sakit diidentifikasi. dan sendi C1-2. injeksi terapeutik akan dilakukan sebagai terapi pada sendi servikal zygapophyseal. paradigma blok ganda tersebut dilakukan untuk meminimalkan tingkat positif palsu suntikan diagnostik tunggal. namun ini tidak dteliti dengan studi kohort.

Whiplash didefinisikan oleh gerakan pasif leher. Gejala yang paling sering dilaporkan cedera whiplash termasuk rasa sakit leher dan sakit kepala. dan kelemahan. namun cedera yang disebabkan oleh kepala dan pukulan samping juga dapat terjadi. di 110ms setelah kesan impak dari belakang . Pukulan dari belakang merupakan pola paling umum kecerderaan whiplash.masing-masing mengalami cedera karena respon inersia tubuh terhadap pasukan yang diberikan di atasnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa kronisitas gejala whiplash mengembangkan independen dari litigasi.dalam waktu 3 bulan diperkirakan hanya 6% dari seluruh pasien whiplash dan persentase ini menurun minimal sampai 4% dalam masa 2 tahun. sama seperti cedera jaringan lunak. Kurangnya tonus otot dan terbentuknya kekuatan abnormal mengakibatkan pergerakan sekitar sumbu abnormal rotasi subjek pasif yang menahan struktural ke ketegangan yang abnormal Misalnya. Cedera ini biasanya sembuh dalam waktu relatif singkat. diikuti dengan nyeri bahu korset. Dokter harus mengejar evaluasi dan pengobatan gejala whiplash terkait. Kontrol otot untuk menstabilkan tulang belakang leher tidak bereaksi dengan cepat dalam mencegah pasukan dari terjadi cedera di unit fungsional servikal tulang belakang. Kebanyakan pasien dengan sindrom whiplash diharapkan untuk sembuh dalam waktu 2 sampai 3 bulan pertama setelah cedera. Cedera juga terjadi pada jaringan lunak leher . parestesia ekstremitas atas. dan litigasi tidak mengubah respon terhadap pengobatan. ligamentum longitudinal anterior. posterior atau anulus dan sendi servikal zygapophyseal .Bagi pasien yang cedera parah . Gejala yang kurang umum termasuk pusing. gangguan visual dan tinnitus. bukan hanya berasumsi bahwa rasa sakit adalah hasil dari keadaannya seperti pertimbangan keuntungan sekunder. mengakibatkan cedera ketegangan dan regangan. 61 . semuanya berisiko untuk cedera.Selama kejadian whiplash disk anterior. ruang C5-6 disk melebar secara anterior dan menyebabkan batasan antara prosesessus artrikuler pada sendi zygapophyseal C5-6 dan geseran posterior dalam disk. dan setelah 2 tahun 82% adalah bebas dari gejala.

3. Abel MS: Occult traumatic lesions of the cervical vetebrae. Berbagai struktur tulang belakang dapat menghasilkan tumpang tindih atau simtomatologi jelas. Amsterdam. 2. pp 97-112. 1977.1982. Pengetahuan tentang biomekanik tulang belakang dan fisiologi jalan membantu menentukan generator rasa sakit yang paling mungkin dalam setiap kasus. 1990. Diagnosis yang akurat memberikan kesempatan terbaik untuk pengobatan yang efektif. tujuan pengobatan dan prognosis. Sebagai teknologi kemajuan dan pengetahuan kita tentang gangguan tulang belakang leher tumbuh jalur klinis kami untuk pengobatan masalah serviks akan terus berkembang dan memperbaiki. perawatan perilaku dan intervensi dalam konteks luas mencapai dalam apa yang terbaik untuk fisiologis dan psikologis pasien kesejahteraan. J Neurosurg 72:370377.1975 Abel MS: The radiology of chronic neck pain: sequele of occult traumatic lesions. Adams C: Cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. Crit Rev Diagn Imaging 20:27-78. DAFTAR PUSTAKA 1. Bryun GW. Blok bangunan untuk intervensi terapi yang berhasil mengendalikan termasuk rasa sakit dan peradangan sementara pada saat yang sama mendidik pasien tentang cedera. North-Holland Publishing. Hal ini penting untuk melihat pasien secara keseluruhan dan lembaga fisik. Aldrich F: Posterolateral microdiscectomy for cervical monoradiculopathy caused by posterolateral soft cervical disc sequestration. In Vinken PI. 26. 62 .Kesimpulan Nyeri leher adalah salah satu keluhan paling umum dari pasien yang mencari bantuan medis. 4. farmakologis. editors: Handbook of Clinical Neurology. CRC Crit Rev Clin Radiol Nucl Med 6:469-553.

Acta Neurochir 146(6):559-565. Clin J Pain 9:124-130. spine 20:20-26. 2009. 12. Lord S. 1987. Dwyer A. Delmer O. Wallis BJ. et al: Sarcoidosis presenting as cervical radiculopathy: a case report and literature review. Wallis BJ. Barnsley L.2007. 8. et al:Selective diagnostic cervical nerve root block: correlation with clinical symptomps and MRI-pathology. Bodguk N: The prevalence of cervical zygapophyseal joint pain: a first approximation. 9.5. Aprill C. Wallis BJ. II: A clinical evaluation. Lord SM. Tsairis P. Annertz M. J Radiol 80:917-925. 13. Berger O. An HS. Clin Exp Rheumatol 18(2 suppl 19):S59-S64. 16. et al: False-positive rates of cervical zygapophysial joint blocks. 17. Eur Spine J 16(3):321-328. Bodguk N: Cervical zygapophyseal joint pain patterns. 11. Bogduk N: The pathophysiology of whiplash. et al: Evaluation of CT-guided periganglionic foraminal steroid injections for teratment of radicular pain in patients with foraminal stenosis. Barnsely L. Pain Physician 12:137-157. London. N Eng J Med 330(15):1047-1050. Annertz M. 15. Atkinson R. Barnsley L. Parr AT. Benyamin R. et al: Lack of effect of intraarticular corticosteroids for chronic pain in the cervical zygapophyseal joints. Anthony M: Cervicogenic hedeahe: prevalence and response to local streroid therapy. et al: Transforaminal steroids injection for treatment of cervical radiculopathy: a prospective and randomised study. 1990. 2004. 1994. MartinDunitz. Spine State Art Rev 12(2):209-242. 14. 1994. Singh V. Lord SM. 6. 1995. Simpson JM: Surgery of the cervical spine. 1999. Brandt L. 1998. 63 . Andenberg L. spine 7:412-416. 1993. Ghelman B. Barnsley L. Persson L. Lord SM. 7. Dousset V. 2000. spine 17:744-747. spine 15:458-461. 10. Aprill C. et al: The prevalence of chronic cervical zygapophyseal jonit pain after whiplash. et al: Systematic review of the effectiveness of cervical epidurals in the management of chronic neck pain. 1992. Anderberg L.

1988. et al: Cervical spine tomography in trauma. Philadelphia. 20. In Cousins MJ. Bogduk N: Cervicogenic headache: anatomic basis and patophysiologic mechanism. Bogduk N. Baker R. 2008. Bogduk N. Clin Orthop 221:149-160. Churchill Livingstone. Bogduk N. 24. Bogduk N: The clinical anatomy of the cervical dorsal rami. 21. discography and cervical zygapophiseal joint blocks. Whitecloud TS III: Cervical Spondylotic myelopathy and myeloradiculopathy: anterior decompression and stabilization with autogenous fibula strut graft. et al: Complications of spinal diagnostic and treatment procedures. New York. New York. 28. Bogduk N: The anatomy and pathophysiology of neck pain. 1990. ed 2. editor: Clinical anatomy of the lumbar spine and sacrum. Inglis A: The innervation of the cervical intervertebral discs. 23. editors: Neural Blockade in Clinical Anesthesia and Pain Management. 1987. Dreyfuss P. 22. 31. 19. Bernard TN Jr. McCowin PR. Spine 2:163-172. et al: Plasma radio-frequency-based diskectomy for treatment of cervical herniated nucleus pulposus: feasibility. et al:Abnormal magnetic resonance scans of the cervical spine in asymptomatic subjects: a prospective investigation. Spine 13:610-617. Phys Med Rehabil Clin N Am14:455-472. Boden SD. In Bogduk N. J Bone Joint Surg 72(8):1178-1184. Bogduk N: Low back pain. Marsland A: The cervical zygapophyseal joints as a source of neck pain. Facchinetti A. 1991. Aprill C: On the nature of neck pain. Baruzzi F. 26.18. JB Lippincott. Curr Pain Headache Rep5(4):382-386. ed 2. Bonaldi G. 2001. 2003. 1993. Binet EF. 1982. Spine 13:2-8. 25. Twomey LT: Clinical Anatomy of the Lumbar Spine. 1997. 1988. Bridenbaugh PO. 29. Pain Med 9(suppl 1):S11-S34. 1988. Pain 54:213-217. Bogduk N. 27. 1977. Bogduk N. Churchill Livingstone. Spine 7:319-330. 64 . Moro JJ. Marangola JP. Bogduk N: Back pain: zygapophiseal joint blocks and epidural steroids. 30. Windsor M. Davis DO.

38. Eur Spine J 5:319-325. 1991. Acta Radiol 36:425-428. et al: Occult cervical spine injuries in fatal traffic accidents. Cailliet R:Neck and Arm Pain. Greensan M. Spine J 8(suppl):78S-79S. 1979. Muscle Nerve 21:1220-1223. et al: Percutaneous microdecompressive endoscopic cervical disectomy with laser thermodiskoplasty. Campbell DG. Clin J Pain 5(2):143-145. Philadelphia. Br Med J 2:481-485. Chiu. J Trauma 119:768-771. and preliminary clinical results. Cicala RS. ed 3. Nasathurai S. 35. Angel JJ: Long term result of cervical epidural steroid injections. FA Davis. Cesaroni A. et al: MR imaging and radiography of patients with cervical hyperextension-flexion injuries after car accidents.. 65 . Buonocore E. 41. 2008. 1960. JAMA 198:143-147. Chavin JM. Differential diagnosis. 39. Bush K. 40. Casilino P.1944. Nelson CL: Cineradiograms of cervical spine in diagnosis of soft tissue injuries. 32. 42. Nardi PV. Campbell AMG. Phillips DG: Cervical disk lesions with neurologic disorder. 1996. Thoni K.safety. Mt Sinai J Med 67(4):278-282. 37. Smevik O. Graham W. Borchgrevink GE. Hillier S: Outcome of cervical radiculopathy treated with periradicular/epidural corticosteroid injections: a prospective study with independent clinical review. Clifford TJ. 2006. 1998. JC. J Nerv Ment Dis 99:544-551. 1966. et al: Plasma disc decompression compared to conservative care for treating symptomatic contained cervical disc protrusion: one year results from a prospective randomized controlled study. Bucholz RW. Chan KM. 36. 1989. 1995. 34. Hartman JT. treatment and prognosis. 33. AJNR Am J Neuroradiol 27(10):21042111. Burkhead WZ. et al: The usefulness of central motor conduction studies in the localization of cord involvement in cervical spondylitic myelopathy. Nordby A. Parsons CM: Referred head pain and its concomitants. 2000.

el Khoury GY. 1938. In Kibler WB. 46. Strohm BR: Effect of duration of intermittent cervical traction on vertebral separation. Bailey B. Br Med J 2:1367-1368. Med J Aust 1: 983-989. 1979. Clark CR. Metzmaker JN: Shoulder abduction test diagnosis of radicular pain in cervical extradural compressive monoradiculopathies. Press JM. Aspen. 45. 66 . Thomas E. Cooper G. Crafts RC: Textbook of Human Anatomy. 51. New York. John Wiley. 2004. Ann Surg 130: 1052-1064. 44. 54. 47. 1965. Strohm BR: A study of tractive forces angle of pull on vertebran interspaces in the cervical spine. et al: Cervical radiculopathy: open study on percutaneous periradicular forminal steroid infiltration permormed under CT control in 30 patients. et al: Radiographic evaluation of cervical spine injuries. 1988. Farrell JP. Cyteval C. 1998. Dunn EJ. Clarke E. 50. 48. Stratton SA. Spine 6: 441-446. 52. Cyriax J: Rheumatic headache. Brain 75: 187-225. 1966. Bogduk N: Cervical zygapophysical joint pain maps. Am J Neuroradiol 25: 441-445. 1970. 1959. Herring SA. and arm pain. Colachis SC Jr. Cloward RB: Cervical diskography. Crock HV: A reappraisal on intervertebral disc lesions. Robinson PK: Cervical myelopathy: a complication of cervical spondylosis.. Pain med 8(4): 344-353. Igram CM. 53.43. Arch Phys Med Rehabil 47: 353-359. Decoux E. shoulder. New York. 1956. 2007. 1981. Davidson RI. Cole AJ. et al: Functional rehabilitation of cervical spine athletic injuries. Arch Phys Med Rehabil 46: 820. Spine 13: 642-747. 49. editors: Functional Rehabilitation of Sports and Muskuloskeletal Injuries. Colachis S. A contribution to the aetilogy and mechanism of neck. ed 2.

Acta Orthop Scand 43:392-396. Honet JC. 56. 1988. Treanor WJ: Cervical radiculopathy. Hayes KW. Panjabi MM. Emery SE: Cervical spondylitic myelopathy: diagnosis and treatment. 61. Dvorak J. 1994. 1990. Actamaz F. 60. et al: The natural history of severe cervical disc degeneration. Andary M. 62. 1972. 67. Dreyfuss P. 64. 1976. Michaelsen M. Dusunceli Y. McBroom RJ. Taguchi T. London. et al: Neck pain: a major cause of disability following car accidents. Arch Phys Med Rehabil 75:342-352. Rothman RH. 1990. 58. Lauder TD. et al: Efficacy of neck stabilization exercises for neck pain: a randomized controlled study. Blackwell. Spine 15:453-457. et al: Validation of flexion extensiin radiographs of cervical spine. Kerr M. 63. 1987. Spine 19:1125-1131. I. et al: In vivo flexion/extension of the normal cervical spine. Magalliard J. Chang RW: Therapeutic ultrasound in the treatment of musculoskeletal condotions. Spine 13(1):79-83. J Rehabil Med 41(8): 626-631. Novotny J. 59. 2001. Levitt RL. Aprill C.55. A study in normal volunteers. 66. Injury 18:10-21. Arthritis Care Res 3:85-91. J Orthop Res 9:828-834. Dvorak J. Ellis H: Clinicak Anatomy: A Revision and Applied Anatomy for Clinical Students. 1991. Dillingham TR. Dwyer A. et al: Nerve root infiltration in the diagnosis of radicular pain. Ozturk C. 67 . 2009. 65. Panjabi MM. 1994. 57. Am J Phys Med Rehabil 80(2): 84-91. Falconer J. Spine 8:120-127. 1987. Grob D. ed 6. et al: Identification of cervical radiculopathies. Fletcher D: Atlanto-occipital and lateral atlanto- axial joint pain patterns. Bogduk N: Cervical zygapophyseal joint pain paterns.. J Am Acad Orthop Surg 9(6):376-388. Dooley JF. Deans G. DePalma AF. 2001. Optimizing the electromyographic screen. Ellenberg MR.

Fuji T. 75. J Bone Joint Surg Am 69:815-821. 72. 1957. Funct Neurol 15(4):199-202. 1987. 1984. 1998. 1989. Arch Phys Med Rehabil 70 (5):402-403. 2001. 74. Ohseti K. Transfeldt E. Spine 27(17): 1887-1894.68. 2002. 68 . 79. et al: Cervical radiculopathy or myelopathy secondary to athetoid cerebral palsy. Sjaastad O: Cervicogenic headache (CEH): notes on some burning issues. Benoist M. Fast A. 71. Parikh S. Garvey TA. et al: Neck pain: a long term follow up of 205 patients. 1954. Furusawa N. Sepic SB: Antrerior cervical fusion for degenerated or protruded discs: a review of one hundred forty-six patients. 73. Spine 25:1382-1389. Shiotani M. Fujiwara K. 78. 80. Feinstein B. Gardner GM. 1996. Gore DR. 76. 2000. Hadley LA: Anatomicroradiographic studies of the spine: changes responsible for certain painful back conditions. et al: Outcome of anterior cervical discectomy and fusion as percieved by patients treated for dominant axialmechanical cervical spine pain. 1939. Gore DR. Spine 15:440447. N Y State J Med xxxix:969-974. Fukui T. Sepic SB. 1987. et al: Experiments in reffered pain from deep somatic tissues. Guigui P. 69. 2000. Spine 26:1110-1116. Langton JBK. Yonenobu K. Kelly CK: Cervical discography: clinical implications from 12 years experience. Spine 9:667-671. Fredriksen T. J Bone Joint Surg Am 36:981-997. J Bone Join Surg (Am) 39:1280-1284. Spine 12:1-5. Babaa H. 70. Jameson RM. Fielding J: Cineroentgenography of the normal cervical spine. Pain 68:79-83. Grubb SA. et all: Herniation of cervical intervertebral disk: immunohistochemical examination and measurement of nitric oxide production. Miiyoshi N. 77. Deburg A: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy for spondylotic myelopathy. Marin E: The shoulder abduction relief sign in cervical radiculopathy. Malcolm JR. et al: Reffer pain distribution of the cervical zygapophyseal joints and cervical dorsal rami.

and facial pain. cranial neuralgias. 83. 2008 82. Hekowitz H. 87. Edwards CC II. Cephalgia 8 (suppl 7): 1-96. Clin Rehabil 22 (7): 592-600. Lang CJ. Harada J.81. et al:Strength training and stretching versus stretching only in the treatment of patiens with chronic pain: a randomized one-year follow-up study. 1999. Haldeman S. 88. Kurz LT. 86. et al: The diagnostic accuracy of spinal nerve injection studies: their role in the evaluation of recurrent sciatica. et al: CT-guided percutaneous laser disk decompression (PLDD) for cervical disk hernia. Watanabe K. et al: Expansive open door laminoplasty for cervical spine stenotic myelopathy. Dagenais D: Cervicogenic headaches: a critical review. Spine 15: 1026-1030. Zobelein I. Hanonen P. Smith BS. Spine J 2(2): 162. Lancet 353:307-314. Hakkinen A. Hirabayashi K. Kautiainen H. Fukuda K. Radiat Med 19(5):263266. Heller H: A biophysical explanation for Nd: YAG percutaneous laser disc decompression success. Hawkey DJ: Cox-2 inhibitors. 2002. Dohi M. et al: Herniated cervical intervertebral discs with radiculopathy: an outcome study of concervatively or surgically treated patients. Overholt DP: Surgical management of cervical soft disc herniation: a comparison between the anterior and posterior approach. 2001. 92. 1989.2001 84. 1999. 85. Linke R. Wakano K. 91. Myers SR. 69 . Hellinger J. Herkowitz HN: The surgical management of cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. 1985. Clin Orthop Relat Res 198:179-183. 89. et al: Laminoplasty versus laminectomy and fusion for multilevel cervical myelopathy: an independent matched cohort analysis. Haueisen DC. Headache Classification Committee of the international Headache Society: Clasification and diagnostic criteria for headache disorders. J Spinal Disord 12:396-401. 90. Clin Orthop 239:94-108. Heller JG. Heckmann JC. 1988. Spine 26(12):1330-1336. 1990. Spine 8: 693-699. J Clin Laser Med Surg 19(5): 235-238. 1983. 2001. Murakami H.

Huston CW. dorsal and lumbar spinal syndromes. editors: cervical Pain. Zotterman Y. Pain 3:25-41. Orton D. Scheckenbach C: Low-dose chemonucleolysis combined with percutaneous nucleotomy in herniated cervical disks. Clin Husted DS. et al: Effectiveness of repeated surgical decompression. JAMA 188:799-801. Geriatrics 37:123. 104. 1968. 1982. 102. Holt EP: Fallacy of cervical discography: report of 50 cases in normal subjects. 1977. Neurosurg 33 (29) : 485-502. Schofferman J. New York. Hult L: The munkfors investigation. Hult L: Cervical.93. 1995. Miller CA: Management of cervical radiculopathy. radiofrequency neurotomy for cervical facet joint pain. Calvin WH: Mechanosensitivity of dorsal root ganglia and chronically injured axons: a physiological basic for the radicular pain of nerve root compression. Jackson R: Cervical trauma: not just another pain in the neck. 1954. Arch Phys Med Rehabil 86(2): 277-283. Hitselberger WE. Acta Orthop Scandal Suppl 17:39-102. 94. Witten RM: Abnormal myelograms is asymptomatic patients. 98. 2008. 1986 103. Garvin C: Complications and side effects of cervical and lumbosacral nerve root injections. 105. Clin Neurosurg 27:466-480. J Spinal Disord Tech 21 (6): 406-408. 70 .1989. 96. J Spinal Disord 8(3): 228-232. 2005. In Hirsch C. Howe JF. 97. 1980. loeser JD. 1971. Hult L: Frequency of symptoms for different afe group and professions. Hoogland T. Pergamon press. 1964. 99. J Neurosurg 28:204-206. 95. Acta orthop Scand Suppl 17-38. Hoyland JA. 101. Jayson MI: Intervetebral foramen venous obstruction: a cause of periradicular fibrosis? Spine 14(6):558-568. Hunt WE: Cervical spondylosis: natural history and rare indications for Hunt WE. Slipman CW. Freemont AJ.1954 100.

Med J Aus 148: 233-236. Mclntyre L. Jeffreys RV: The surgical treatment of cervical myelopathy due to Butterworth-Heinemann. Johnson EW. Brin G. 1988. Ono L. Garrett GD: The segmental distribution of the cutananeous Kellegren JH: Observations on referred pain arising from muscle Clin Sci Kellegren JH: On the distribution of pain arising from deep somatic nerves in the limbs of man. Inami S. et al: Cervical orthoses: astudy radiculopathy. prostaglandins and matrix metalloproteinases. et al: Toward a biochemical understanding of human intervertebral disc degeneration and herniation: contributions of nitric oxide. 1993. 111. 112. Arch Phys med Rehabil 52:239-243. Jeffreys E: Disorders of the Cervical Spine. 118. Marsland A: The accuracy of manual disgnosis for Kaiser JA. 110. 3:175-190. Bogduk NK. 1991. cervical spine during whiplash loading. Spine 23:2701-2712. 1995. 1997. Georgescu HI. 1997. Jonsson H Jr. 1938. 116. Simmons EF. Melvin JL: Value of electromyography in lumbar Johnson RM. 109. disc spontaneously produce matrix metalloproteinases. 1998. et al: Abnormal segmental motion of the Kang JD. Anat Rec 102:409-437. 1939. and PGE2. 1977. et al: Hidden cervical spine injuries in Jull G. 1986. Clin Sci 3:35-46. Hart DL. J Spinal Disord 4:251-263. 114. interleukins. 115. cervical zygapophysial joint pain syndromes. 71 . 107. 117. Spine 22:1065-1073. 1971. 108. J Neurol Neurosurg Psychiatry 49:353-361.106. J Bone Joint Surg Am 59:332. J Jpn Orthop Assoc 71: S1680. Stefanovic-Racic M. structures with charts of segmental pain. Kaneoka K. comparing their effectiveness in restricting cervical motion in normal subjects. nitric oxide. 113. Kang JD. ed 2. spondylosis and disc degeneration. Holland BA: Imaging of the cervical spine. Spine 20:2373-2378. 1948. Oxford. Rauschning W. interleukin6. Larkin L. et al: Herniated cervical intervertebral traffic accident victims with skull fractures. Keegen JJ.

Acta Neurochir(Wien)147:1065-1070. 1956. Bickert U. C R Assoc Anat 43: 488-494.2005 126. Kolstad F. Moreau P: Localisation of the level of symptomatic Kimmel DL: Innervation of the spinal dura mater of the posterior cranial cervical disc degeneration. Lazorthes G Gaubert J : L’innervation des articulation interapophysaire vertebrales.2000 123.et al : Lumbar epidural perineural injection: a new technique. 120. 121. 122. 1960. Kuslich SD. J Clin Laser Med Surg 19(1): 3-8. Voss D : Propioceptive Neuromuscular Facilitation : Patterns and techniques. editor: Managing low back pain. McGraw-Hill 125.Albert TJ : Health outcome assessment before and after anterior cervical discectomy and fusion for radiculopathy a prospective analysis.1956 72 . New York. New York. Presented at the annual Meeting of the North American Spine Society. Smith BS : Nerve root injection : amethod for evaluating the etiology sciatica. Knott M. Goswarni A. Klein BR. Eur Spine J 6 :357-361.1997 127. Ann Rheum Dis 28:121. Prosspective Analysis of Tissue sensitivity of lumbar spinal tissue. Garner MND : An in vivo. Voccato AR.119. Kikuchi S. Neurology 10:800-809. Larocca H : Acceleration injuries of the neck. Lawrence JS : Disc degeneration. 2001 124. Nygaard OP : Transforaminal steroid injection in the treatment of cervical radiculopathy : a prospective outcome study. Krempen JF. Ahern JW. Ludwig J. Clin Neurosurg 25 :209217. fossa. Kraemer j. New York. 1988.1974 128. Macnab I. Its frequency and relationship to symptom. 1997. In Kirkaldy-Willis WH. Churchill Livingstone. Patko JT : Cervical percutaneous laser disc decrompession : preliminary result of ongoing prospective outcome study. J Bone Joint Surg Br 63(2) 272-277. 129. Kirkaldy-willis WH:The pathology and pathogenesis of low back pain. Spone 25:801-803. 1981.1969 131. Jbone Joint Surg AM 56:1435-1444.1978 130. Knight MTN. Leivseth G.

Lunardi P. et al: Cervical synovial cyst:case report and review of the literature.ed 3. ed 4. Macdonald RL.1932 136.Acqui M. Baltimore. 73 . et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft fusion for cervical myelopathy. Barnsley L. 1990. Stow RW : Pain threshold Measurement after therapeutic application of ultrasound. lyons JB. J Neurosurg 26:990-997. neurosurgery 36:732-739.2008 137. Spine 21:17371745. Cervical Spondylosis simulating motor neuron disease. Lord SM. Williams and Wilkins 134. Lord SM. Liversedge LA. Li J. Delateur BJ : Therapeutic heat. L’hermitte J Etude de la commation de la moe le). Yan DL. Fehling MG. Lehmann JD. tator CH. 1996. Macdonald RL. Williams and Wilkins 135. Brunner GD.1999 143. fehling MG.1953 138.1995 139. Ricci G. Bogduk N : percutaneous radiofrequency neurotomy in the treatment of cervical zygaphophysial joint pain : acaution. editor : therapeutic hot and cold. Lord SM. In Lehmann JF. Rev Neurol 1: 210- 239.1995 140. HutchinsonEC. 1994. Barnsley L. microwaves and infrared. Barnsley L. Bodguk N: The utility of comparative local anesthetic block versus placebo-controlled block versus placebo-controlled blocks for the diagnosis of cervical zygapophysial joint pain. Barnsley L.et al:Chronic cervical zygapophyseal join pain after whiplash. Clin J Pain 11:208-213. Lehmann JF. Eur Spine j 8:232-237. Lehmann JF: Therapeutic Heat and Cold. Zhang ZH : Percutaneous cervical nucleoplasty in the treatment of cervical disc herniation. Arch Phys Med Rehabil 39:560-565. Lord SM. Wallis BJ. 142. 1197.1982. et al: third occipital nerve headache:a prevalence study. Wallis BJ.1958 133. Lancet 2:652-659. J Neurol Neourosurg Psychiatry 57: 1187-1190. A placebo-controlled prevalence study. Eur Spine J 17:1664-1669. 141. Baltimore. et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft 144.132.

J Neurosurg 96 (1 suppl): 10-16. Manchikanti L.145. and instrumentation. McDonald GJ. radial med (torino) 83:211-215. paper 930889. Wargo BW. med sci sports exerc 29 ( suppl ) : s236-s245. 2002 155. pain physician 12: 305-321. Sievers D. Fujimura. Comey CH: Cervical spinal stenosisz. 151. Malanga G: The diagnosis and treatment of cervical radiculopathy. et al: Analysis of human test subject kinematic responses to low velocity rear end impacts. 1993 156. outcome after anterior corpectomy. Malacca R. 1992. Jeans ME. 2009 150. Heliovara M. 146. pain 9: 209-217. et al: Prevalence. Manchikanti L. Neck Ache and Shoulder Pain. Guzman HM. Ettore GC. Stratford JG. Baltimore. Dunbar EE. Martino F. J bone joint surg Br 80:19-24. et al: prevalence of cervical faced join pain in chronin neck pain. 1998. Society for Automotive Enggineers. AMJ Epidemiol 134: 13561367. 1991 147. et al: Systemic review of cervical dischography as a diagnostic test for chronic spinal pain. Williams & Wilkins. Neurosurgery 45:61-67. Suzuki N. Bogduk N: Long-term follow up patients treated with cervical radiofrequency neurotomy for chronic neck pain. 1980 148. 1993. Matsumoto M. Mayr MT. Manelfe C:Imaging of spine and spinal cord. 1999 74 . 153. Macnab I. Cafaro E. Lord SM. Singh V. allograft reconstruction. at al: MRI of cervical intervertebral discs in asymptomatic subjects. McConnel WE. Determinas and consequences of chronic neck pain in Finland. proceedings of the 37th STAPP Car Crash Conference. Makela M. McCulloc J. Howard RP. Subach BR. 2002. pain physician 5: 243-249. 1997 149. et al: ( L’ecographia musculo-tendinea nei trauma distorvi acuti del collo). et al: Ice Message and Transcutaneous Electrical Stimulation: Comparison of treatment for low back pain. 1991 152. radiology 3:5-15. 1994. 154. Rivera J. Warrendale.

158. Seattle. Melzack R. McKinney LA: Early mobilization of acue sprain of the neck. 160. In Merskey H. 161. McRae DL: Asymptomatic intervertebral disc protrusions. Davis 163. Spine 12:6-11. Philadelphia. Yamamuro T: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy. et al: Cervical radiculopathy: prospective evaluation with surface coil MR imaging. science 150:971-979. Bogduk N. Bellavance A. Mink JH. et al: Painful intervertebral dysfunction: Robert Maigne’s original contribution to headache of cervical origin. 1955. Spine 26: 1238-1245. 1986 166. 1993. Phys Med Rehabil Clin N Am 14:493-548. Merskey H. Agur AM: Essential Clinical Anatomy. teshima R. 1987 164. 1977 75 . Bogduk N: Classification of chronic pain: descriptions of chronic pain syndromes and definitions of pain terms. In Michlovitz S. 167. Williams & Willkins. Mikawa Y. Bergeron Y. 1965. 2003. Wall PD: Pain mechanisms: a new theory. Morio Y. Murphy RW: nerve roots and spinal nerves in degenerative disk disease. 2001 168. Gordon RE. ed 2. Br Med J 299: 1006-1008. Radiology 161:753-759. Headache 33 (6): 328-334. et al: Correlation berween operative outcomes of cervical compression myelopathy and MRI if the spinal cord. Modic M. Moore KL. Masaryk T. Deustch Al: The cervical spine: radiologist’s perspective. 162. Clin Orthop relat Res 129:49-60. CT with metrimazide and metrizamide myelography. 1994. 165. Meloche J. Baltimore. editor: Thermal Agents in Rehabilitation. editors: Cervinogenic headache. 1956 159. Shikata J.. Michlovitz S: Cryotherapy: the use of cold as a therapeutic agent. Mulopulos G. 1990. International Association for the Study of Pain. 1989.157. The Quebec Headache Study Group. Acta Radiol 46:927. Nagashima H.

Eur J Appl Physiol 57:353-359. J Bone Joint Surg Br 65:608-611. editor: Rehabilitation Medicine: Principles an Practice. Torg JS: Roentgen examination of cervical spine injuries in the athelete. Philadelphia. editors: The spine.169. Rydevik B. Nurrick S: The Natural history and the results of surgical treatment of the spinal cord disorder associated with cervical spondylosis. 1997. muscle weakness and sensory loss in patients with cervcal radiculopathy treated with 76 . Saunders. Penning L. Parke. Spine 22:2959-2967. Watt I: The prognosis of neck injuries resulting from rearend vehicle collisions. 175. Morits U. O’Sullivan PB. et al. Spine 29(11):1217-1225. Pearson A. Spine 18:1425-1432. Simone FA. 1983 172. Newham DJ: The Consequences of eccentric contractions and their relathionship to delayed-onset muscle pain. et al: Injury mmechanism of the cervical intevertebral disc during simulated whisplash. Persson LC. 1998. zolmarker K. Brain 95:101-108. 1986. 1988 170. Parminder SP: Management of cervical pain. 178. ed 3. AJR Am J Roentgenol 7:119-127. 1993. Phyty GD. Norris H. In DeLisa JA. 1972 173.. Nordborg C: Autologous nucleus pulposus induces neurophysiologic and histologic changes in porcine cauda equine nerve roots. 2004 176. 1992.: Evaluation of specific stabilizing evercise in the treatment of chronic low back pain with radiologic diagnosis of spondylosis or spondylilisthesis. Van Woerdden HH. Clin Sports Med :761. Panjabi M. et al: CT myelographic findings in degenerative disorders of the cervical spine: clinical significance. Lippincott. 177. 1995 171. In Rothman RH. 1987. Pavlov H. Nilsson N: The Prevalence of cervicogenic headache in a random population sample of 20-59 years old. Brandt L: Cervical radiculopathy:pain. 179. 180. Spine 20(17):1884-1888. Philadelphia. 174. Ito S. WW: Applied anatomy of the spine. Wilmink JT. Twomwy LT.

DC. 1973 183. Washington. Poindexter DP. Stereoact Funct Neurosurg 54-55. et al: Epidemiology of cervical radiculopathy: a population-based study from Rochester. Philips DG: Surgical treatment of myelopathy with cervical spondylosis. 187. Acta Orthop Scand 65:525-528. Quinlan KP. Rappaport ZH. Eur Spine J 6:256-266. Petterson K. 181. In Sances A. 186. and psychososial finding. Myers B. Office of the Surgeon General. Hildingson C. Di Stefano G: Long-term outcome after whisplash injury: a 2-year follow-up considering features of injury mechanism and somatic. Litchy WJ. Kibler WB: Rehabilitation of musculoskeletal disorders. 189. 185. radiologic. Wilner H. Herring SA. Press JM. 1976-1990. 1996. Pain Clinic 1:3-7. Ramanauskas W. Sturzenegger M. et al: Anatomy of the normal and traumatized spine. 188. 182. 1984. 1986. Accid Anal Prev 2004(36):21-27. et al: Neck strains and sprains among motor vehicle occupants-United states. 90-95. Medicine 74:281-297. Borden Institute. Rauschning W. et al: MRI and neurology in acute whiplash trauma: no correlation in prospective examination of 39 cases. Toolanen G. Minn. Ewing CL. 1994. editors: Mechanisms of Head and Spine Trauma. physiotherapy or cervical collar: a prospective. 2000.surgery. 1977. Aloray 77 . 1986. Metes J:MR imaging compressive myelomalacia. Radanov BP. Radharkrishnan K. Arch Phys Med Rehabil 65:601-602. Annest JL. 1995. Purkis IE: Cervical epidural steroids. Johnson EW: Football shoulder and neck injury: a study of the ‘stinger”. Deer Park. 1990 191. controlled study. J Neurol Neurosurg Psychiatry 36:879-884. 1989 190.In The textbook of Military Medicine. Dever M: Experimental pathophysiological correlates of clinical symptomatology in peripheral neuropatic pain syndrome. J comput Assist Tomogr 13:399-404. 184. Brain 117(pt 2):325-335. O’Fallon WM. Tomas DL. 1994.

1986 196. 2001.192. et al: Cervical discogenic pain: prospective correlation of magnetic resonance imaging and discography in asymptomatic subjects and pain sufferers. Heller J. Redford JB. 1995 200. Spine 21(3): 300-312. Spine 9:7-15. randomized. Neuroimaging Clin N Am 5(3):329-348. Gorup J: Radiofrequency medical branch neurotomy in litigantanonlitigantpatientswithcervicalwhiplash. Kim Y. 199.controlled. Spine 20:1821-1827. Spine 21(16):1877-1883. Hacker R et al: Artificial disc vs. et al: A systematic review of the diagnostic accuracy of provocative tests of the neck for diagnosing cervical radiculopathy.Schellhas KP.Sasso R. Spine J 5:88S. 78 . Saal J: The role of inflammation in lumbar pain. 1996. Spine state art rev 9:673-688. Rubinstein SM. Brown M. 1995 198. Saal J. Patel A: Orthotic devices in the management of spinal disorders. Saal J. 1996 201. Rowlingson JC. Pool JJ. Kirschenbaum LP: Epidural analgesic techniques in the management of cervical pain. Riew DK. 204. 2007 197. Reitman C. manual therapy and education:a review of conservative measures. Arthritis Rheum 26:207-209. 2005. van Tulder MW. Spine J 6(suppl):2S-3S. 1995 193. et al: Cervical radiculopathy: a rare symptom of giant cell arteritis. 1983 202. Esses S: Modalities. Spine State Art Rev 9:661-672. 2006 195. 1984. Eur Spine J 16(3):307-319. fusion for the treatment of cervical radiculopathy: a prospective randomized study. Lundborg G: Pathoanatomy and pathophysiology of nerve root compression. 1995.Sapir D. Arenillas JIC. Yurth E: Nonoperative management of herniated cervical intervertebral disc with radiculopathy. Russell EJ: Computed tomography and myelography in the evaluationof cervical degenerative disease. 194. Smith MD.Spine26(12):E268E273. Sanchez MC. Gilula L: Can cervical nerve root blocks prevent surgery for cervical radiculopathy? A prospective. Gundry CR. Anesth Analg 65:938-942. 203. Gutieerez DA.double-blind study. Rydevik B.

Fredriksen T. Murphey MD: The syndrome of unilateral rupture of the sixth cervical intervertebral disk with compression of the seventh cervical nerve root: a report of four cases with symptoms simulating coronary disease. Segil CM: An evaluation of discography in the localization of symptomatic levels in discogenic disease of the spine. 1998. Fredriksen and T: Cervicogenic headache: criteria. 1986.Seibenrock KA. et al: Invertebral nerve root in the investigation of chronic lumbar disc disease. 1943.Sharps LS. Aust Fam Phys 13:243-247. 212. 1975. Reg Anesth 11:92-94.Simmons EH.Sjaastad O.Semmes RE.Sjaastad O. 79 . 1984. 1994. 209. 1973.205. 210. 211. JAMA 121:1209-1214. 1995. Goldthwaite N. Hovdahl H. Isaac Z: Percutaneous disc decompression using nucleoplasty.Siebert W: Percutaneous laser discectomy of cervical discs: preliminary clinical results. 213. Cephalalgia 3:249-256. Clin Orthop 108:57-69.Shulman M: Treatment of neck pain with cervical epidural injection. 216. Wortzman G. 1983. 208. Headache 38(6):442-445. 214. et al: ‘Cervicogenic’ headache: an hypothesis. et al: Upper cervical anterior diskectomy and fusion improves discogenic cervical headaches Spine 27(20):2240-2244. 215. 206. J Clin Laser Medi Surg 13(3):205-207. Can J Surg 16:217-221. Pain Physician 5(2): 121-126 2002.Schutz H. 207. 2000.Selecki BR: Whiplash.Sjaastad O. Saunte C. The Cervicogenic Headache International Study Group. 17(2suppl classification epidemiology. Aebi M: Cervical discography in discogenic pain syndrome and its predictive value for cervical fusion. Arch Orthop Trauma Surg 113:199-201. Garges K.Schofferman J. 2002. Lougheed WM. Pfaffenrath V: Cervicogenic headache diagnostic criteria.ClinExpRheumatol 19):S3-S6.

2005. Spine J 5(4): 381-388. Spine 23: 2235-2242. et al: Symptom provocation of fluoroscopically guided cervical nerve root stimulation: are dynatomal maps identical to dermatomal maps. Isaac Z. Slipman CW. Slipman CW. et al: An evidence-based algorithmic approach to cervical spinal disorders. 219. 2000. et al: Therapeautic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of atraumatic cervical spondylitic radicular pain: a retrospective analysis with independent clinical review. 80 . Plastaras CT.2004.Slipman CW. Slipman CW.217. Bhargava A. et al: Does the cervical zygapophyseal joint refer symptoms to the neck bilaterally? preliminary data from 100 patients. Slipman CW. Freg ME. pain physician 4(2):167-174. 218. Chow DW.2002. Slipman CW. 2001. et al: Cervical zygapophyseal joint syndrome and referral to the head and face: premilinary data from 100 patients. Spine J 4(5S):71S.Slipman CW. et al: Provocative cervical discography symptom mapping. 222. Jackson HB. Patel R. Thomas J. Plastaras CT. Crit Rec Phys Rehabil Med 13(4):283-299.2001. 225. 221. Palmitier RS. 1998. Slipman CW. Lipetz JS. 220. 224. Isaac Z. Lipetz JS. Am J Phys Med Rehabil 80(3): 182-188. Plastaras C. DePalma MJ. et al: Outcomes and side effects following percutaneous cervical disk decompression using coblation technology: a pilot study. Isaac Z. et al: Therapeutic zygapophyseal joint injections for headaches emanating from the C2-3 joint.2002. et al: Outcomes of therepeutic selective nerve root blocks for whiplash induced cervical radicular pain. et al: Therapeutic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of traumatically induced cervical spondyliticradicularpain. 2001. Lipetz JS. Jackson HB. Oleski C. 223.AmJPhysMedRehabil83(6):446-454.Slipman CW. 2004. Arch Phys Med Rebail 83(11): 1664.Slipman CW. Arch Phys Med Rehabil 83(11): 1665. Arch Phys Med Rehabil 81:741-746. 226. Lipetz JS.

228. McLaren MI. Euinton HA. Prentice C. Leblanc F. 1988. 1957. 235. et al: Cervicothoracic muscular stabilizing technique. 237. Smith GW. et al: A prospective study of nerve root infiltration in the diagnosis of sciatica: a comparison with radiculography. et al: Cervical nonorganic signs: a new clinical tool to assess abnormal illness behavior in neck pain patients: a pilot study. Swezey RL. et al: Scientific monograph of the Quebec Task Force on whiplash. Sweeney T. Stanley D. Speldewinde GC. Am J Phys Med Rehabil 78:30-32. Sollenberger P. Spine 12(suppl): S1. 81 . 230. 1990. Dupuis M. Spine 15(6): 540-543. 236. 1995. Nichols PJ: The technique of cervical discography. Scientific Publishing. Medj Aust 174: 174-176. 233. Spitzer W. computed tomography. 234. Sobel JB. 231. 1944.associated disorders: redefining whiplash and its management. and operative findings. Radiology 68: 718-720. 1999. 1990. Report of the Quebec Task Force on Spinal Disorders. Spitzer WO. Bashford GM. Robinson R. et al: Scientific approach to the assessment and management of activity-related spinal disorder: a monograph for clinicians. Skovron ML. Swanberg H: The Intervertebral Foramina in Man. Surg Gynecol Obstet 78:350-358.227. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360.S57. Salmi LR. 2000. Su HC. Spurling RG. 1987. Su RK: Treatment of whiplash injuries with acupuncture. Arch Phys Med Rehabil 81:170-175. Scoville WB: Lateral rupture of the cervical intervertebral discs: a common cause of shoulder and arm pain. Davidson IR: Diagnostic cervical zygapophysial joint blocks for chronic cervical pain. 2000. Swezey AM: Efficacy of home cervical traction therapy. Saal JA. Chicago. 232. 229. Spine 20 (suppl 8): 3s-73s. Clin J Pain 4: 233. 1995.

Reicher MA. Vallee JN. Society for Automotive Engineers. et al: kisaran normal gerak pada tulang belakang leher. radiologi 218:886-892. 241. Klaukka T: Rheumatic symptoms in the middle aged population in southwesten Finland. tahun 1993. 1987. Laasoen EM.1988 243. 1996. Takala J. 239. Vargo MM. Acta Orthop Scand 251 (suppl) :61-63. Arch Phys Med Rehabil 70:692-695. Scand J Rheumatol Suppl 47:15-29. Carlier RTy. Lufkin RB. 1999 82 . KM Banjir. Szabo T. 244. Pancoast tumor menyajikan sebagai radioculopathy serviks. dkk: radikulopati servikal kronis: pendekatan injeksi perradicular lateral yang kortikosteroid. 248. Validitas tes klinis dalam diagnosis kompresi akar pada penyakit disc serviks. In Proc 40th Stapp Car Crash Conp 1996 pp 295-315. Spine 14:253-257. Twomey LT: Acute injuries to cervical joints: an autopsy study of neck sprain. VanAkkerveeken PF: nilai diagnostik infiltrasi sheat akar saraf. 1993. 240. Tomita K. 1982. 242. Vincent G: sakit kepala cervicogenic perbandingan dengan migrain dan sakit kepala tipe tegang. Radiology 164: 83-88. Cephalalgia 1 (suppl 25) :11-16. Taylor JR. Warrendale. Welch J: Human subject kinematic electromyographic activity during low speed rear impacts. 247. et al: Asymptomatic degenerative disk disease and spondylosis of the cervical spine: MR imaging. Arch Orthop Trauma Surg 107:148-153. Viikari-Juntura E.238. Sievers K. Umaeda S. 246. et al: Serviks laminoplasty untuk memperbesar kanal tulang belakang di osifikasi bertingkat dari ligamentum longitudinal posterior dengan myelopathy. Nordwall A.1989. Feydy A.1989. Porras M. Und B. Arch Phys Med Rehabil 71:606-609.2001 245. Spine 9: 1115-1122.1990. Schlbom H. Nomura S. Teresi LM.

1994. et al: Bantuan dari rasa sakit oleh pasien. Westerling D. Scand J Med Soc 8:131-136. Yoss RE. AAEM minimonograph 32: pemeriksaan diagnostik elektro pada pasien dengan radioculopathies. 255.1957. Jones SJ. somatosensori membangkitkan potensi dalam cervical spondylosis: korelasi median. Aminoff MJ.1973.1990 250.249. Philadephia. Whitecloud TS. ed 2. Ylinen J. Wood EC. otot saraf 21:16121631. 256. 252. 253. Wolff MW. Wilkinson M: Anatomi mengerikan dari cervical spondylosis dan myelopathy. White AA III.1987.1998. Yu YL. Spine 12:313-316. otak 108:273-300. Arch Phys Med Rehabil 75:465-469. Pemijatan Beard: Prinsip dan Teknik. Corbin KB. Saunders. J tulang sendi Surg Am 55:525-534. 257. Phys Med Clin Rehabil N AM 13:589-608. 254. 1990. Neurologi 7:673683.1985 83 . Southwick WO. Ruuska J: penggunaan klinis pengukuran kekuatan leher isometrik dalam rehabilitasi. dan tanggapan saraf tibialis posterior dengan temuan klinis dan radiologis. McCarthy CS. 259. 258. Deponte RJ.: radiculopathies serviks:. Philadephia.2002. Seago Ra: serviks discogenis sindrom: hasil intervensi toperative pada pasien dengan Diskografi positif. ulanr. dkk: signifikansi gejala dan tanda-tanda di lokalisasi di root terlibat dalam tonjolan disk serviks. Brain 83:589-616. Punjab MM: Masalah ketidakstabilan klinis pada tulang belakang manusia: Pendekatan biokimia pada sistemik tulang belakang. White AA III. Levine La.1960. Pendekatan konservatif untuk manajemen. Jonsson BG: nyeri dari daerah leher-bahu dan cuti sakit. 1974. Wilbourn AJ. Lippincott. 251.

Zheng Y. 261.260. Simmons E: Nilai pencitraan resonansi magnetik dan Diskografi di detrmining tingkat serviks discectomy fusi d.1987. Liew S. Woo E. 84 .: cercival spondylotic myelopathy dan radikulopati. Acta Neurol Scand 75:367-373. Yu YL. 2004. Huang CY. Spine 29 (19) : 2140-2145.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->