MASALAH LEHER SECARA UMUM Michael J. DePalma and Curtis W.

Slipman PENDAHULUAN DAN EPIDEMIOLOGI Keberhasilan pengobatan untuk nyeri penyakit-penyakit spinal servikal tergantung dari keakuratan menentukan penyebab kerusakan jaringan, termasuk ruang lingkup penyakit biomekanik dan biokimia. Para klinisi membutuhkan suatu konsep dalam proses diagnosis dan tatalaksana yang sesuai dengan kepahaman patofisiologi dari kerusakan spinal servikal dan hubungannya dengan manifestasi kinis, kesadaran akan keuntungan dan kerugian dari alat-alat diagnosis, dan pengetahuan tentang pilihan-pilihan terapinya. Langkah awal dari proses ini adalah mencari riwayat. Hal ini penting utnuk membedakan antara nyeri servikal aksial (nyeri leher) dan nyeri lengan atas. Seperti yang dikatakan oleh Bogduk, nyeri leher, dan sebaliknya. Nyeri servikal aksial tidak harus menjadi nyeri servikal radikular. Nyeri servikal aksial didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi di seluruh atau bagian dari perpanjangan inferior oksiput inferior ke regio interskapular superior, sampai midline atau hanya parmidline. Pasien merasakannya sebagai bendungan dari leher. Nyeri servikal radikular didefinisikan sebagai nyeri sampai bahu, area distal atau semuanya, yang bermnifestasi seperti nyeri lengan atas. Penyebab dari gejalanya bermacam-macam, diagnosis dan tatalaksananya juga bermacam-macam. Penyamaan nyeri servikal aksial dan nyeri servikal radikular dapat menyebabkan salah diagnosis, ketidaksesuaian pemeriksaan dan pemberian pengobatan secara optimal. Sering terjadi keraguan karena kedua penyakit ini disebabkan oleh klerusakan spinal servikal. Masing-masing penyakit berbeda dalam kejadian, mekanisme, patofisiologi, pengobatan dan rehabilitasi. Laporan epidemiologi kadang-kadang menggabungkan nyeri leher dan nyeri lengan atas, tapi keluhan tentang juga banyak. Prevalensi dari nyeri leher dengan atau tanpa disertyai nyeri lengan atas berkisar 9% sampai 18% dari prevalensi umum,130,145,238,248 dan satu dari tiga orang dapat mengingat paling sedikit satu
25

leher

bukanlah lengan atas, dan lengan atas bukanlah leher. Nyeri di lengan atas bukanlah

1

kejadian dari nyeri leher dalam kehidupan mereka.

130

Nyeri servikal dalam praktek
256

lebih sering ditemukan dibanding nyeri pinggang bagian bawah,

dan nyeri leher

akibat trauma yang kronis sekitar 40% pasien, dengan 8% sampai 10% dengan nyeri yang sangat.55 Angka kejadian meningkat di temp[at kerja, dengan prevalensi 35% sampai 71% pada daerah hutan di swedia dan pekerja industrial.98,99 Jumlah keluhan servikal akibat pekerjaan meningkat sesuai peningkatan umur. Sekitar 25% sampai 30% pekerja dengan umur kurang dari 30 tahun dilaporkan mengalami kekakuan leher, dan 50% pekerja diatas 45 tahun dilaporkan dengan keluhan yang sama. Radiculopathy servikal jarang terjadi, angka kejadian 83,2 per 100,000, dan terjadi antara umur 50-54 tahun187 5 sampai 10% pekerja dibawah umur 30 tahun mengeluh nyeri menyebar sampai lengan atas, dimana 25% sampai 40% diantaranya diatas 45 tahun mengalami nyeri di lengan atas.100 23% dari pekerja pria pernah mengalami paling sedikit satu kali periode nyeri lengan atas.100 Nyeri leher, nyeri radikular servikal, atau keduanya adalah keluhan umum yang bayanyak dikeluhakan pasien dari berbagai profil. Evaluasi dan pengobatan spinal servikal secara umum membutuhklan analisa kemungkianan tentang kerusakan struktur yang palinng bertanggung jawab terhadap kondisi pasien. Seorang klinisi spinal mengenali gejala individual dengan cermat dan menggabungkan menjadi diagnosis dan pengobatan yang akurat untuk penyakit ini. Bab ini bertujuan sebagai pegangan dalam pendekatan terhadp penyakit-penyakit nyeri spinal servikal secara umum, serta menyediakan algoritme pengobatan yang menggabungkan terapi yang sesuai denga spektrum pelayanan. PATOFISIOLOGI DAN ARTI GAMBARAN NYERI BERALIH Pegetahuan tentang hubungan anatomi dan spinal servikal penting, untuk memahami mekanisme penyakit-penyakit spinal servikal. Spinal servikal adalah suatu segmen yang terpisah dari tulang aksial (lihat gambar 37-), dan berfungsi untuk menopang dan menstabilkan kepala; membuat kepala dapat bergerak dalam segala bidang dan gerakan; serta menjaga tulang belakang, akar saraf, saraf spinal, dan ateri vertebrae.163 Ada tujuh tulang belakang servikal dan delapan saraf

2

servikal. Artikulasio atlantooksipital (C0-1) memudahkan 10º fleksi dan 25 º ekstensi. Level C1-2 atau sendi atlantoaksial (lihat gambar 37-2) membentuk segmen servikal bagian atas dan bertanggung jawab untuk 40% sampai 50% dari semua rotasi aksial servikal, ditunjukkan secara klinis dengan rotasi 45 º di setiap arah.61,62,65,70,249 Bagian bawah dari C2-3, fleksi lateral dari spinal dipasangakan dengan rotasi di arah yang sama. Segmen spinal menandakan sebuah transisi dimana dapat terjadi perubahan gerak dari rotasi ke fleksi, ekstensi dan belokan lateral.70,242 Kombinasi pergerakan ini difasilitasi oleh kecenderungan 45 º sagital dari sendi zygopophyseal servikal (lihat gambar 37-1).147 Sendi zygopophyseal memberikan gerakan diantara spinal servikal, menghubungkan masing-masing segmen vertebrae,216 dan diinervasi oleh cabang medial dari rami servikal dorsal (gambar 37-3).21 Sebagai tambahan, sendi C0-1 diinervasi oleh ramus C1 ventral, 122 dan sendi C1-2 oleh ramus C2 ventral lateral dan nervus sinuvertebral C1, C2, dan C3 medial.120 Gerakan flksi yang bebas terjadi di C4-5 dan C5-6, sedangkan belokan lateral terjadi di C3-4 dan C4-5.70,242 Vertebrae servikal bagian bawah (C3-7) memiliki sendi sinovial yang unik seperti artikulasio, sendi uncovertebare atau sebdi luscha, berlokasi diantara prosessus uncinate (gambar 37-4).165 Sendi ini umumnya menyebabkan perubahan pada osteoartritis, yang dapat menyempitkan diameter foramen intravertebrae (gambar 37-5).80,97,234 Foramen intravertebrae yang terbesar di level C2-3 dan terjadi penurunan ukuran progresis di level C6-7. Kompleks radikular dari akar ganglia dorsal, akar saraf, nervus spinal dan sekeliling sheat berjumlah 20% sampai 35% area cross-sectional foramen intervertebrae.80,97,234 Volume sisa foramen intervertebrae diisi oleh aerolar longgar atau jaringan adipose, ligamentum Hoffman’s arteri radikular, dan sejumlah saluran vena yang biasanya melingkari akar saraf.216 Neuroforamina dibatasi di anteromedial oleh sendi uncovertebrae, superior dan inferior oleh pedikel succesive, dan medial oleh tepi end plate vertebrae dan disk intervertebrae (lihat gambar 375).216

3

Gambar 37-1. Hubungan anatomi ligamen spinal servikal dengan struktur-struktur lainnya di leher. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

Gambar 37-2. Gambaran atlas dan axis dari sisi anterior. Tuberkel anterior atlas telah dipotong sehingga terlihat prosesus odontoid axis. (Redrawn from Crafts RC: Textbook of Human Anatomy, ed 2, New York, 1979, Jhon Wiley.)

4

memperlihatkan zona target (tanda panah bulat) berlokasi di bagian tengah C2 melalui pilar artikular C7.216 Anatomi normal servical spine dapat mengalami degenerasi dan trauma melalui berbagai jenis gangguan servikal spine. yang mempengaruhi kurvatura servical lordotik. Semua bagiannya dibentuk oleh anulus fibrosis yang diinervasi posterolateral oleh nervus sinuvertebral. setiap cabang dibentuk oleh dari nervus vebtebral dan ramus ventral.Gambar 37-3 Zona target dari blok cabang medial servikal. 5 . yang menyediakan transmisi aksial untuk menghilangkan tekanan pada setiap range of motion. Diskus intervertebra terletak antara vertebra C2 sampai vertebra C7.216 Setiap diskus intervertebrata lebih tebal di bagian anterior dibandingkan bagian posterior.30 Porsi bagian dalam dari diskus yang membentuk nukleus pulposus gelatinosus. Nervus oksipital ketiga (TON) adalah cabang nervus besar yang membutuhkan tiga blok terpisah di level C2 inferior-C3 superior dan terletak di daerah lateral sendi C2-3. dan inervasi anterior oleh nervus vertebral (Gambar 37-6). Ilustrasi lateral dari spinal servikal.

1991. SVN Sinuvertetbral nerve. dan sensitif untuk penyakit atau cedera sehingga menimbulkan nyeri. Servikal spine. Churchil Livingstone) Tiga kebutuhan penting yang diperlukan untuk menimbulkan nyeri. Baltimore. Potongan aksial servikal ke 7 Gambar 37-6. Trowney: Clinila Anatomy of Lumbar Spine. gambaran Sendi Luschka’s. Pasokan saraf pada diskus intervertebralis. yang bisa menghasilkan nyeri yang sama dengan klinisnya. (redrawan from Bogduk N.Gambar 37-4 Sendi Luschka’s (Uncovertebral). Non neural struktur pada leher. New York. williams&Wilkins) Gambar 37-5. McCulloch J: Neck Ache and Shoulder Pain. PLL. Anterior Longitudinal Ligament. seperti diskus intervertebrata. Proksimal sendi uncovertebral pada serabut saraf servikal (NR). posterior longitudinal Ligament. sendi zigopophasial. ALL. Harus ada inervasi. A. (Panel B redrawn form Macnab I. ligamen 6 . 1994. B.

36. tendon. fascia. dan otot. 38. anulus diskus intervertebralis.longitudinal posterior.39.128 Kellergen117. dan otot dengan hipertonis saline. dapat menjadi sumber nyeri dan menghasilkan penjalaran somatik ke ekstremitas atas. kapsul sendi. Pada C1-2 dan C2-3 beralih ke oksiut.59.10. sedangkan nyeri C6-7 menyebar sampai ke 7 .116-118.128 Percobaan klasik telah dilakukan melalui stimulasi pada struktur midline posterior sehingga menghasilkan nyeri di leher dan menjalar somatik ke ekstremitas atas.73 Gejala anestesi pada sendi menunjukkan kesamaan pada gejala simptomatik beralih dari sendi servikal. sebelumnya disebut sklerotomal. atau periosteum yang distimulasi.63. menyebabkan nyeri alih. karena anestesi sarap perifer distal yang tidak mengurangi nyeri alih ini.118 pertama kali menemukan nyeri alih terbentuk oleh struktur spinal non neuron yang distimulasi oleh periosteum.216 Hal ini terjadi melalui biomekanikal dan/atau biokemikal pada struktur non neural yang bisa menstimulasi serabut nosiseptive saraf.216 Mekanisme gejala somatik ini memerlukan konvergen. Seperti nyeri alih yang disebut dengan somatik. Dia berhipotesis bahwa fenomena sistem saraf pusat dimediasi oleh nyeri alih. sehingga gejala beralih ke struktur jaringan mesodermal lain yang sama asal embrigeniknya. Penelitian ini pertama kali mendemonstrasikan fenomena ini sebagai nyeri alih somaik.28.216 Mekanisme stimulasi pada sendi zigopophasial atau inervasi sarafnya telah menunjukkan nyeri pada kepala dan leher dengan nyeri alih ke ekstremitas atas (Gambar 37-7).36.116-118. Nyeri pada C5-6 menyebar sampa fossa suprasinatus skapula.69. Pada C3-4 dan C4-5 menimbulkan gejala di sekitar leher posterior. dan terjadi ketika struktur mesodermal seperti ligamen.219 Nyeri berasal dari sendi zigopophasial yang cenderung diikuti secara konstan dan disadari beralih.116-118.39.128 Gejala ini dihasilkan tanpa iritasi ke jaringan neural. melalui kompresi atau infalamas.25 Melalui mekanisme ini diskus servikal intervertebrata dan sendi zigapophasial menyebabkan gejala ekstremitas atas. dan gangguan servikal spine dapat menghasilkan nyeri ke ekstremitas atas sampai dengan sakit kepala.25 Aferen dari servikal spine dan distal ekstremitas atas berkumpul pada neuron kedua pada spinal cord. terjadi nyeri spinal yang menjalar ke distal ekstremitas.

1990. C4-5. dan C3-4. penemuan ini menunjang bahwa gejala nyeri berasal dari struktur yang menginervasi dibandingkan dengan strukturnya sendiri. Bogduk N. Cervical Zygapophasial Joint pain patterns I.78. dan C5-6 bergejala sampai ke kepala. (redrawn from Dawyer A. 8 . Nyeri alin C2-C3 sampai C6-C7.52 Perbedaan CIDD dan nyeri pada sendi zigopophasial atau nyeri dari jaringan lunak servikal spine memerlukan interpretasi riwayat dan pemeriksaan fisik lain. Hal ini tidak berarti sendi unilateral menstimulasi hanya nyeri kontralateral. C3-4.224 Ketika dilakukan bersamaan.218 Gambar 37-7. Spine 15. A Study in normal volunteers. C1-2.203. Observasi kami yang didukung oleh penelitian terbaru Grub dan Kelly78 menemukan bahwa 34% sampai 50% diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral pada setiap diskus servikal.224 Berdasarkan pengalaman kami.kaudal skapula. bilateral paramidline nyeri leher atas tanpa sakit kepala disebabkan disrupsi diskus intervertebra servikal (CIDD) daripada nyeri akibat sendi zigopophasial.25 Hal logis yang juga menunjang adalah stimulasi pada muskulature servikal atas dapat menghasilkan nyeri kepala.453-457. penelitian yang lebih lengkap dari Penn Spine Center menyebutkan bahawa 30% sampai 62% pada diskus servikal menghasilkan nyeri bilateral selama servikal diskography. April C. dan manifestasi ini tidak pernah diteliti.* Tambahan.28 Setiap sendi dapat menunjukkan gejala unilateral atau bilateral. Selain itu. dan C4-5 sendi zigopophasial nyeri alihnya sampai ke muka. dengan izin) Gejala nyeri yang sama juga dihasilkan oleh stimulasi mekanis pada diskus intervertebrata (Gambar 37-8 dan Tabel 37-1).45. C2-3.

Gambaran nyeri alih pada diskus servikal intervertebralis selama provokasi servikal.Gambar 37-8. (tabel 37-1) 9 . Nyeri alih pada setiap area digambarkan dengan nomor.

Tabel 37-1. Distribusi frekuensi nyeri pda tingkat diskus servikalis Disc Number Body region Numerical coordinates by body region (lihat gambar 378) C2-3 N=10 C3-4 N=19 C4-5 N=27 C5-6 N=27 C6-7 N=16 C7-T1 N=2 Posterior head Occipital Suboccipital Posterior neck Posterior inferior neci Superior porsterior trapezius Superior periscapula Inferior periscapula Superior interscapula Inferior periscapula Posterior shoulder Upper arm Forearm Hand Lower thoracle Temporalparictal Frontal Ear Face Anterior neck Chest 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 0 1 6 9 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 1 5 17 15 9 4 1 1 1 5 3 2 2 1 0 0 0 1 2 0 0 2 6 23 23 17 11 6 9 4 11 8 1 0 3 2 1 1 4 4 4 0 2 6 20 17 12 11 5 11 3 12 4 2 0 1 0 1 1 3 4 5 0 1 1 9 13 7 9 5 12 6 7 4 2 1 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 .

Etiologi dari gejala ekstremitas atas dapat membingungkan antara gangguan non radikular yang menyebabkan nyeri pada dinatoman unkarakteristik (gejala dinatomal-gejala referred).64 Namun demikian.225 Nyeri radikular pada C5 terasa sampai lengan atas.11 arteritis.245 trauma. Kerentanan saraf dalam foramen intervertebra meningkat sesuai dengan perubahan pada satu atau lebih dari tiga struktur yang terpisah: sendi zigapophiseal.72 11 .137 Mekanisme yang dipertimbangkan mengenai nyeri pada radikulopati servikal termasuklah inflamasi akar saraf. dan C8 terasa sampai ke lengan bawah dan tangan. dan diskus intervertebra.96. lengan bawah.Nyeri servikal radikular adalah secara fundamental berbeda secara klinis karena keluhan utamanya adalah nyeri ekstremitas atas yang lebih parah dibandingkan dengan nyeri aksial. tetapi nyeri C6. sensitivitas mekanik atau sensitivitas kimia akar saraf itu sendiri. C7. sendi uncovertebral.96 dan kelemahan miotomal asli dapat terjadi.102 diikuti oleh spondilosis servikal259 dengan atau tanpa mielopati servikal (kotak 37-1).182 sarkoidosis.225 Tanpa memandang nyeri radikular lebih sering terjadi pada ekstremitas atas dan lebih sering dibandingkan keluhan aksial. berasal dari serabut C7-C8. dan/atau tangan (Gambar 37-9). Sedangkan pada bagian tengah atau bawah ipsilateral skapula. Neurokompresi langsung akar saraf tidak menyebabkan nyeri.189 Kausa potensial lainnya dari radikulopati servikal termasuklah tumor. atau tekanan langsung pada akson yang terluka kronik atau pada akar ganglion dorsal yang normal. nyeri pada bagian belakan atas dengan atau tanpa gejala di lengan dapat berasal dari serabut C4 sampai C6. Mekanisme pasti bagaimana herniasi diskus atau spondilosis menyebabkan nyeri radikuler masih tidak jelas.25 peningkatan discharge akar ganglion dorsal. Penyebab tersering radikulopati servikal adalah herniasi diskus intervertebra servikal.216 Nyeri ekstremitas atas disebabkan oleh radikulopathy yang beralih ke lengan atas. Akan tetapi. nyeri periskapular atau trapezial lebih hebat dibandingkan nyeri leher yang bisa disebabkan serabut saraf servikal seperti C4 atau C5.200 dan athetoid atau cerebral palsy distonik.

Diskusi yang lebih jelas mengenai herniasi adalah sebagai berikut. Akselerasi-deselerasi cedera sendi zigapophiseal dapat terjadi pada cedera tulang pilar artikular. atau tulang subkondral. Integritas mekanik diskus intervertebra menjadi susah apabila jarak diskus menyempit. Efek biokimiawi dan biomekanik dapat menyebabkan manifestasi gejala sendi zigapophiseal servikal.51 Proses degenerasi diskus terjadi pada spektrum abnormalitas diskus (gambar 37-11). hemarthrosis intraartikular. berhubungan dengan interupsi suplai darah dan nutrisi ke diskus.Cedera diskus intervertebra servikal dapat dikategorikan menjadi dua kategori besar: disrupsi internal dan herniasi. yang disebabkan oleh mikrotrauma berulang. ekstrusi.* Kami telah berhasil mengobati pasien dengan sinovitis sendi zigapophiseal servikal. robekan semakin banyak.198 Hasil akhirnya adalah diskus servikal yang tidak kompeten secara biomekanik dan rapuh terhadap cedera biokimiawi. Robekan ini akhirnya bergabung membentuk robekan radial yang terjadi bersamaan dengan kerusakan kemampuan menyerap air dari nukleus pulposus. 12 . robekan sirkurumfensial anular luar. Awalnya. Herniasi diskus merupakan istilah umum. atau robekan kapsul sendi zigapophiseal (gambar 37-12). yang kemudian dibagi lagi menjadi protrusi. permukaan artikular.121 Cedera biokimiawi diakui telah terjadi sebelum adanya perubahan biomekanikal. dan sekuestrasi (gambar 37-10). yang mengalami onset gejala saat bangun setelah tidur pada posisi yang tidak nyaman. Disrupsi diskus internal adalah istilah deskriptif yang digunakan untuk menjelaskan kerusakan arsitektur internal nukleus pulposus dan atau serat anular dengan deformasi eksternal yang sedikit atau tanpa deformasi eksternal. kontusio meniskus intraartikular. Cedera sendi zigapophiseal servikal dapat terjadi akibat osteoarthritis atau trauma. baik makrotrauma maupun mikrotrauma. Arthropati sendi zigapophiseal servikal yang sangat nyeri dapat terjadi akibat degenerasi diskus intervertebra servikal. dan proteoglikan tipe 2 semakin mengalami degradasi.

intradural. dan subdural Abses retrofaringeal AIDS Osteoporosis Osteomalasia 13 Sprain servikal Strain servikal Herniasi nucleus pulposus Osteoarthritis Spondilosis servikal Stenosis servikal Spondilitis ankilosa Sindrom Reiter Arthritis psoriasis Arthritis enteropati Arthritis rheumatoid Hiperostosis skeletal idiopatik difusa Reumatik polimyalgia Fibrositis (fibromyalgia) Reumatologik Endokrin dan Metabolik .Kotak 37-1 Kelainan yang Mempengaruhi Leher Mekanik • • • • • • • • • • • • • • Infeksi • • • • • • • • • • Osteomielitis vertebra Diskitis Herpes zoster Endokarditis infeksi Proses granulomatosa Abses epidural.

intradural Tumor Maligna Tumor Ekstradural Tumor Intradural 14 .• • • Tumor Penyakit parathyroid Penyakit Paget Penyakit pituitari Tumor Jinak • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Osteokondroma Osteoma osteoid Osteoblastoma Giant cell tumor Kista tulang aneurisma Hemangioma Granuloma eosinofilik Penyakit Gaucher Mieloma multipel Plasmasitoma soliter Kondrosarkoma Sarkoma Ewing Kordoma Limfoma Metastasis Hemangioma epidural Lipoma epidural Meningioma Neurofibroma Limfoma Ekstrameduler.

Ekstrusi. Herniasi atau protrusi subligamen kecil. C. 15 . B. A.o Neurofibroma o Meningioma o Ependimoma o Sarcoma • Intrameduler o Ependimoma o Astrocytoma Lain-lain • • Malformasi arteri-vena Syringomyelia GAMBAR 37-10 Herniasi diskus intervertebra servikal. Fragmen sekuestrasi (tanda panah).

VB. Tampak sagital. ruptur atau robekan kapsula sendi zigapophiseal. fraktur pelat subkondral. AS. IM. fraktur pilar artikular. EP. A. kontusio meniscus intrartikular sendi zigapophiseal. Robekan annulus fibrosus diskus intervertebra.GAMBAR 37-11 Degenerasi diskus intervertebra. AP. SC. Akhirnya menyebabkan kolaps jarak diskus. fraktur/avulsi end plate. Robekan-robekan konsentrik akhirnya bergabung membentuk robeka radial. 16 . fraktur corpus vertebra. GAMBAR 37-12 Lesi yang lebih sering mempengaruhi tulang servikal setelah perubahan arah secara tiba-tiba: AF. ZH. fraktur yang melibatkan permukaan artikular. AL. ZC. B. hemarthrosis sendi zigapophiseal. robekan ligamen longitudinal anterior.

Peregangan otot paling sering terjadi karena banyak otot servikal tidak berakhir dalam tendon.48 Sebaliknya. Akselerasi-deselerasi cedera dapat mengenai tulang belakang servikal sehingga menghasilkan kelengkungan berbentuk S sekitar 100 meter per detik setelah hentaman dari belakang.48 Sekitar sepertiga dari individu yang terlibat dalam tabrakan kendaraan bermotor mengalami sakit leher dalam 24 jam setelah kecelakaan. kepala akan maju dan memfleksi leher setelah maksimal luas sekitar 45 derajat.233 Kejadian lebih tinggi pada wanita dan individu berusia 30 sampai 50 tahun.233 Patofisiologi Patomekanisma yang berbeda merupakan penyebab pada ketegangan dan cedera keseleo pada servikal.154 Otot posterior leher beraktivasi yang terjadi pada 90 sampai 120 meter per detik 237 dan bertepatan dengan deselerasi 17 .185 dan merupakan salah satu penyebab paling umum kesakitan setelah cedera olahraga noncatastropic.113 Dengan 200 sampai 250 meter per detik setelah hentaman.207 Automobile terkait cedera servikal dan cedera keseleo lebih sering terjadi pada masyarakat barat dan di daerah metropolitan yang memiliki densitas kenderaan motor yang lebih tinggi. tergantung pada sifat dari stres yang abnormal yang dikenakan pada tulang belakang servikal. atau cedera leher kronis. melainkan langsung melekat ke tulang melalui jaringan myofascial yang bercampur dengan periosteum.183 Keseleo dan ketegangan pada servikal terjadi sekitar 85% dari sakit leher yang terjadi secara akut.GANGGUAN KLINIS UMUM KETEGANGAN DAN KESELEO PADA SERVIKAL Epidemiologi Ketegangan pada servikal merupakan cedera musculotendinous akibat cedera yang berlebihan yang dihasilkan dari kekuatan berlebihan yang mengenai tulang belakang.105 Cedera ini adalah jenis cedera yang paling umum dari cedera untuk penumpang kendaraan bermotor di Amerika Serikat. berulang. keseleo pada servikal merupakan peregangan berlebihan atau robekan pada ligamen tulang belakang.

48 Trauma pukulan sering terjadi pada cedera olahraga dan dapat mengakibatkan ketegangan atau keseleo pada servikal secara akut.154 Saat kepala terus bergerak ke depan. 18 . Ono L . vertebra C5 rotasi abnormal axis rotasi tinggi. seperti dalam kegiatan rekreasi. menyebabkan badan vertebra terpisah anterior dari C6 (panah putih).110 Robekan dari ligamentum longitudinal anterior telah dilaporkan dalam eksplorasi bedah34 dan diidentifikasi pada postmortem. Saat 110 meter per detik. sehingga meningkatkan risiko untuk cedera (Gambar 37-13). trapezius superior. ekstensor leher eksentris kontrak untuk mengurangi kecepatan kepala. Pada individu dengan kyphosis toraks dan konsekuensial lordosis servikalis dan ekstensi. Robekan otot secara parsial atau lengkap dan perdarahan telah divisualisasikan oleh USG 151 dan magnetic resonance imaging (MRI).kepala bergerak ke depan. 180 dan diamati dalam pemeriksaan postmortem.168 Temuan ini memberikan dukungan eksperimental untuk otot sederhana atau cedera regangan ligamen selama tabrakan kendaraan bermotor. et al: Gerakan abnormal segmen tulang belakang servikal saat gerakan cepat dari kepala. skalenus.33 Penelitian secara anatomi telah menunjukan bahwa ligamentum longitudinal anterior menyatu secara tidak disadari dengan diskus intervertebralis dan dapat terluka dengan luka pada diskus servikalis. ekstensor. Modifikasi dari Kaneoka K.190 Gaya fisiologis yang bekerja relatif normal pada tulang belakang servikal mengakibatkan regangan jaringan lunak khas terlihat pada bukan atlet. dan fleksor lateral yang sering muncul pada individu dengan spondylosis servikalis. dan inferior prosesus artikular C5 ke superior prosesus artikular C6 (panah hitam). dapat memperpendek rotator servikalis.48 Gerakan berulang. dan otot suboksipital. ketegangan terjadi pada levator skapula. Gambar 37-13 Gambaran radiografi berurutan tulang belakang servikal fase ekstensi cedera leher akibat gerakan cepat dari kepala. sternokleidomastoid. Inami S.

Sakit kepala ini biasanya tajam atau tumpul dan berlokalisasi ke otot-otot servikal atau bahu. tetapi pola ini dapat dibedakan dari kelemahan neuromuskuler. Daerah yang paling sering terlibat adalah trapezius atas dan otot sternokleidomastoid. Penting untuk memeriksa radiografi servikalis fleksi dan ekstensi untuk mengevaluasi ketidakstabilan sebelum memberikan pemulihan fungsional. setiap pola rujukan. Tanda-tanda neurologis biasanya tidak ada. Palpasi daerah yang terlibat biasanya tidak nyaman atau cukup menyakitkan. Tes diagnostik lebih lanjut seperti pencitraan atau evaluasi elektrodiagnostik tidak diindikasikan kecuali terdeteksi kelainan neulogik atau motorik. Hal ini terjadi karena otot menjaga dan membalut untuk menghindari rasa sakit.Diagnosa Anamnesis dan pemeriksaan fisik membantu dokter dalam mendiagnosis cedera jaringan lunak servikalis. Detail yang harus dicari adalah awal mulanya dari nyeri relatif terhadap peristiwa traumatis. Radiografi polos digunakan pertama kali untuk mengevaluasi kelainan tulang atau fraktur. Suatu kejadian akut seperti tabrakan kendaraan bermotor. jatuh. lokasi gejala. Anamnesis dari riwayat mekanisme cedera harus ditanyakan dari pasien. Dalam kebanyakan gambar-gambar ini adalah normal atau menjelaskan kerugian nonspesifik lordosis servikalis karena memfiksasi otot (Gambar 37-14). atau kecelakaan industri dapat membuat kekuatan signifikan yang cukup untuk melukai jaringan lunak servikal. Faktor yang memberatkan meliputi gerakan pasif atau aktif. atau gejala terkait lainnya. Ketegangan pada servikal dan cedera keseleo dapat dikaitkan dengan sakit kepala. Penurunan berbagai gerakan servikal dapat terdeteksi pada pemeriksaan. dan teknik penutupan neuroforaminal seharusnya tidak menolak rasa sakit berpindah ke ekstremitas atas distal. Pasien juga dapat mengeluh kelelahan leher atau kekakuan yang berkurang dengan aktivitas bertahap. atau nyeri anggota badan yang signifikan dilaporkan. cedera olahraga. Pemeriksaan motorik dapat menjelaskan arah kelemahan karena rasa sakit. 19 .

relaksasi otot. Jika pasien mengeluh substansial "kejang" tidak terbantu dengan analgesik dan posisi yang tepat. dan fleksi (D). Jarang diresepkan relaksan otot. Modalitas Fisik seperti pijat. mengurangi keadaan tidak normal. tetapi beberapa dokter menggunakan obat tersebut selama 5 sampai 7 hari untuk meningkatkan kualiti tidur. membantu mengatasi 20 . ekstensi (B). penurunan adhesi. dan perubahan vaskular (lihat bab 20)255 Terapi panas superfisial 133dan terapi panas dalam dengan USG 67 memproduksi efek analgesia dan relaksasi otot.Gambar 37-14 Radiografi polos lateral tulang belakang servikal. menunjukkan penurunan lordosis (A). stimulasi listrik. Pengobatan Pertama meliputi pengendalian nyeri dan inflamasi untuk menghambat respon cedera. tizanidine atau antidepresan trisiklik mungkin bisa membantu. dan memfasilitasi partisipasi aktif dalam program pemulihan fungsional. Pijat ringan menimbulkan efek sedasi . dan soft cervical collar dapat digunakan dalam program pengobatan. netral (C). Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan acetaminophen (parasetamol) digunakan sebagai kendali rasa sakit dan memelihara pola tidur. terapi panas dangkal dan dalam.

192 Stimulasi listrik saraf transkutan (TENS) juga dapat efektif dalam modulasi nyeri muskuloskeletal (lihat Bab 22). Proprioseptif ditingkatkan dengan menggunakan umpan balik visual selama latihan dan tugas fungsional.146 Soft cervical collar (Gambar 37-15) dapat diresepkan untuk meringankan kesakitan sehingga mengganggu tidur dan mengurangi ketegangan leher lebih lanjut. Gerakan segmen sehat servikalis memerlukan stabilisasi efisien di seluruh tulang belakang leher dan dada. Hal ini harus dilakukan dengan tuntutan dinamis bersamaan dengan dukungan pasien. tetapi harus terbatas pada 72 jam pertama setelah cedera untuk meminimalkan gangguan pada penyembuhan dan mencegah perkembangan jaringan lunak menjadi rapat.48 Setelah nyeri akut bertambah baik. 48. dan postur tubuh harus dimasukkan ke dalam latihan. 21 . keseimbangan. dan harus mencakup program pemulihan fungsional untuk mengatasi defisit postur tubuh dan fungsi biomekanik.156 Kembali beraktivitas secara bertahap harus dimulai 2 sampai 4 minggu setelah cedera. Pelatihan proprioseptif kembali. Soft cervical collar dapat dipakai saat terjaga. Fleksibilitas dan berbagai gerakan ditingkatkan dengan mobilisasi dan latihan peregangan. biomekanik tulang belakang yang tepat harus dikembalikan dengan pembentukan pola pergerakan yang tepat. dan meningkatkan elastisitas jaringan ikat (lihat bab 21).124 Program tersebut (Tabel 37-2) meningkatkan disipasi sehat kekuatan di tulang belakang leher dengan upaya myofascial efisien.peradangan.

Servikal Radikulopati meliputi refleks dan penurunan kekuatan menjadi akar otak yang hipofungsional sebagai hasil dari perubahan patologik dalam fungsi akar otak. Cervical soft collar dengan tepi lebar ke posterior dan menyempit ke sisi anterior.Gambar 37-15 Servikal ortosis.187 Puncaknya terjadi pada umur 50 Dan 54 pada studi kohort.25 Membedakan antara nyeri servikal radikuler dari Servikal Radikulopati sangat penting karena strategi penatalaksanaan akan sangat tergantung dari ada atau tidak adanya dua kondisi ini.187 Riwayat 22 . Minnesota.000. parestesi. gangguan sensori dan penurunan refleks peregangan otot.64 Tanda dan gejala dari Servikal Radikulopati meliputi kelemahan otot. ditemukan insiedensi usia rata-rata yang terkena Servikal Radikulopati yaitu sebanyak 83.2 per 100. Sebaliknya. Studi epidemiologi dari 561 pasien di Rochester.64 Nyeri servikal radikuler ditandai dengan hipereksitasi dari akar otak yang terkena. SERVIKAL RADIKULOPATI DAN NYERI RADIKULER Epidemiologi Servikal Radikulopati adalah sebuah proses patologik meliputi disfungsi neurofisiologi dari akar otak.

trauma terjadi di bawah 15 % pasien.259 Osteofit badan vertebra dan material disk dapat membentuk sebuah disk keras yang dapat menyebabkan penekanan dari akar syaraf yang berdekatan.172 akar otak secara anatomis kurang resilient dari pada syaraf perifer terhadap rangsangan biomenikal dan biocemikal. Dan C5.hiperosiosis (pertumbuhan tulang yang berlebihan). Studi radiologi menunjukan abnormalitas dari servikal disk. Dalam kasus ini tidak Jelas apakah ada perkembangan dari pengaruh biocemikal versus biomekanikal terhadap elemen syaraf. 23 .216.187 Penurunan frekuensi pada C7.187.115 Studi pada hewan menunjukkan gangguan fisiologi pada akar syaraf disebabkan oleh tekanan yang gradual197 dan inflamasi dengan tidak adanya tekanan.259 Walaupun kista servikal sendi zygapophyseal jarang.167.114.152. dan respon terhadap keduanya dengan patologi yang sama.187 Patofisiologi Cedera akar syaraf servikal biasanya disebabkan oleh hernia interval disk servikal.20.259 neural kompresi pada cervikal interval disk herniation (CIDH) penyebab radikulopati pertama kali diperkenalkan oleh Semmes Dan Murphey208 pada tahun 1943.240 Banyak penelitian menunjukkan peran dari respon peradangan CIDH dalam beberapa cara menyebabkan Gejala Dan tanda dari nyeri radikuler.C8.166 Menifestasi dari Spondilosis servikal (atau perubahan pada osteoartritis degeneratif) yaitu berupa hipertropi ligamen.degenerasi dari disk dan atropi dari persendian zygapophyseal.102 dengan perubahan spinal spondilitik merupakan penyebab kedua tersering (gambar 37-16).74.157.142 ada pasien dengan kista servikal sendi zygapophyseal dengan penyebab radikulopati telah dirawat di Penn Spine center (gambar 37-17).259 Hipertropi dari persendian zygapophyseal dan uncovertebral menghasilkan stenosis dari foramen intervetebra dan impingement akar syaraf. C6.

dan dorsal pertama dari interossei. Sensasi terhadap sentuhan ringan. cedera C8. C6. atau T1). Itu dapat terjadi pada banyak lokasi.Diagnosis Riwayat dan Pemeriksaan Fisik. Mengurangi nyeri radikuler dengan mengangkat humerus ipsilateral yang dikenal dengan the shoulder abduction relief sign. anterolateral lengan bawah (C6 atau C7). Kebalikannya nyeri radikuler spondilitik muncul lebih sering. posteromedial lengan (C7. trapezius superior (C5 atau C6).C8. ektensi servikal dapat memperkuat gejala. penyakit syaraf motorik α.187 Tes manual otot mempunyai spesifisitas yang lebih besar dari pada refleks atau abnormalitas sensori (Tabel 373). Nyeri radikuler servikal dapat berupa deep dull ache atau Sharp lacinating pain. misalnya pasien menengok ke samping karena adanya herniasi disk. C8 atau T1). Kelemahan yang parah (<3/5 Medical Research Council (MRC)) hampir jarang ada dengan satu lesi akar syaraf dan seharusnya mengingatkan dokter terhadap kemungkinan adanya multilevel radikulopati. Atropi dapat dideteksi dengan luka yang parah dan panjang. Hilangnya otot pada fossa suprascapular atau infrascapular atau deltoid dikarenakan keterlibatan C5 atau C6. prekordium (C5 atau C6). hilangnya otot pada trisep. plexopathy atau neuropati fokal peripheral. pada thenar eminence. merupakan alat yang dapat digunakan sebagau diagnosis dan dapat digunakan sebagai maneuver theurapeutic. atau C7).68 Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengamatan klinik dari posisi leher. C7. Pasien dengan akut CIDH radikulopati biasanya mengeluhkan riwayat nyeri servikal axial yang diikuti oleh nyeri hebat pada ekstremitas atas. termasuk ujung medial skapular (C5. posterior lengan bawah (C7 atau C8) dan jari tangan (C6. seperti batuk.225 Faktor-faktor yang menyebabkan kekambuhan meliputi aktivitas yang meningkatkan tekanan subaraknoid. cedera pada C7. deltoid dan lengan bagian lateral (C5 atau C6).54. cedera T1. tusukan jarum dan getaran dapat 24 .257 dan mungkin membutuhkan untuk dilakukan berulang kali atau dengan otot pada kerugian mekanik to menghilangkan kelemahan ringan.64. Jika terdapat komponen signifikan dari stenosis muncul. bersin atau maneuver valsava.

fleksi lateral dan rotasi servikal aksial menghasilkan gejala radikuler. dapat menghasilkan sensasi shok elektrik dibawah spina dan kadang-kadang ke ekstremitas dimana servikal kordnya terlibat sebagai akibat dari adanya tumor. Manuver provokatif seperti penutupan neuroforaminal dan root tension sign membantu unutk melokalisasi lesi spina servikalis. Pasien seharusnya diperiksa kemungkinan adanya tanda Hoffman dan refleks babinski to memastikan bahwa tidak adanya spinal cord yang terlibat.13526 fleksi servikal secara cepat ketika pasien duduk. sangat spesifik tapi tidak sensitive terhadap radikulopati servikal.246 Ketegangan akar syaraf. dapat membantu mendeteksi nyeri radikuler. Tanda L’hermitte. dapat diasumsikan ketegangan syaraf dapat diprovokasi sebagai akibat dari inflamasi akar syaraf. dengan dukungan kepala Theraband chest press Mengangkat kedua lengan bilateral Duduk Supported dying bug Mengangkat lengan resiprokal Swiss ball reciprocal Mengangkat lengan Unsupported dying bug Chest flies Bench press Icline Dumbbell press Swiss ball bilateral Mengangkat bahu Level stabilisasi Servikothorak Level 1 (Dasar) Level 2 (Intermediate) Level 3 (Advance) Cervical active range of Gravitasi servikal Aktif servikal motion Isometrik servikal Perlawanan isometrik Perlawanan gravitasi range 25 . Jika pada pemeriksaan ini ditemukan nyeri radikuler. Maneuver Spurling.disesuaikan. Studi sistematik membandingkan kegunaan dua maneuver pemeriksaan belum ada yang dipublikasi.195 dan seharusnya dilakukan bilateral untuk memastikan tidak adanya gejala kontralateral. spondilosis atau multiple sklerosis. rotasi aksial servikal lateral pada waktu yang sama dengan abduksi/ekstensi ipsilateral glenohumeral dengan siku dan ekstensi pergelangan tangan.231 ekstensi servikal. Ketegangan syaraf yang disebabakan nyeri radikuler mungkin lebih sensitif dari pada maneuver spurling tapi kurang spesifik.176 Tabel 37-2 Latihan Stabilisasi Servikothorak Tipe latihan Stabilisasi servikal langsung Latihan stabilisasi servikal tidak langsung Supinasi.

Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lengan Bilateral Seated row Berdiri Latissimus pull-down Theraband reciprocal Menekan dada Theraband straight arm latissimus pull-down Theraband chest press Theraband pull-down Standing rowing Crossovers Menekan tricep latissimus Menekan dada Mengangkat suprasinatus Standing rowing Biceps pull-down Upright row Mengangkat bahu Mengangkat suprasinatus Flexed positions hip-hinge 0-30 derajat Mengangkat lengan resiprokal Mengangkat lengan unilateral Mengangkat lenganbilateral 30-60 derajat Incline prone flies Mengangkat resiprokal Cable crossovers 60-90 derajat Bilateral anterior deltoid Mengangakat deltoid Intracapular flies Telungkup Intrascapular flies Mengangkat lengan Quadruped resiprokal Mengangkat unilateral Mengangkat bilateral lengan Head unsupport Head supported Prone flies Latissimus flies deltoid lengan Swiss ball bilateral Mengangkat anterior Swiss ball prone Rowing Swiss ball prone flies Telentang. head unsupported Tidak dianjurkan untuk Parsial sit-up level 1 Mengangkat lengan Swiss ball chest flies Swiss ball reciprocal 26 .

196 Bagaimanapun. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360.From Sweeney T.64 spondylostheais. with permission of Hanley & Belfus Gambar 37-16 Aksial (A) dan sagital (B) Magnetik resonance image memperlihatkan sisi kanan C5-6 ekstrusi intervetebral disk.163 Poto polos anteroposterior. kebanyakan klinisi melakukan peningkatan CT dalam mengevaluasi osseous dengan detail seperti pada foraminal stenosis. open mouth. namun pemeriksaan radiografi tetap merupakan pemeriksaan yang utama digunakan pada hampir setiap pemeriksaan pada cedera muskeloskeletal.163 tumor tulang. C Aksial computed tomography memperlihatkan segmental level C3-4. Studi Pencitraan Walaupun poto polos servikal tidak terlalu sensitif dalam mendeteksi patologi pada diskus. Cervicothoracic muscular stabilizing technique. Saal JA. Prentice C. lateral.112 27 . 1990. menunjukkan sedang sampai berat C4 foraminal kiri stenosis disebabkan oleh arthrosis sendi zygapophyseal dan hipertrofi sendi uncovertebral. dan fleksi dan ekstensi merupakan indikasi dalam mengevaluasi stabilitas spinal dalam kasus rematoid artritis atau ankylosing spondilitis. dan fraktur. setelah penyatuan. atau akibat trauma. et al.163 CT (computed tomographic) myelography merupakan kriteria standar terhadap pilihan pencitraan lain yang harus ditentukan dalam menilai penyakit nyeri servikal degeneratif.

Dikarenakan abnomalitas diskus servikal intervertebra timbul pada pasien secara asimptomatis. dan jaringan meural.152. dan saraf perifer. apabila dilakukan oleh dokter yang terlatih dengan 28 . Walaupun sering digunakan dalam pemeriksaan imaging/radiologis. namun MRI tergolong mahal.150 karena pemeriksaan MRI menghasilkan gambaran dengan baik dan detail pada diskus.93. Pemeriksaan elektrodiagnostik.sendi T1 MRI merupakan pilihan bantuan imaging dalam menginvestigasi servikal radikulopati.157.164 MRI tergolong noninvasif dan tidak memaparkan pancaran radio pada pasien. Penambahan kontras pada CT dapat secara akurat menilai kelainan patologi diskus163 pada kasus ini. Pasien dengan tambahan benda metalik dalam tubuhnya. dan sering tidak dapat ditoleransi oleh pasien yang pobia terhadap ruangan tertutup atau claustrophobia.112. membutuhkan kerjasama pasien untuk mengurangi aryifact.20. menunjukkan gambaran kista sendi zygagophyseal (ditunjuk dengan tanda hitam) emanating dari bagian kanan C7 . osseous. (lihat bagian 7). ligamen.Gambar 37-17 penampang aksial diskus intrvertebral C7-T1. seperti pacemakers atau katup jantung prostetic tidak dapat menjalani pemeriksaan MRI. plexus. Evaluasi elektrodiagnostik Penelitian mengenai saraf konduksi dan elektromiografi dapat digunakan untuk menilai fungsi neurofisiologi dari serabut saraf.240 temuan klinis harus berhubungan dengan temuan radiologis untuk memastikan diagnosis lesi sesuai dengan tanda dan gejala pada pasien.

menunjukkan bahwa temuan yang normal pada otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang berdekatan. Pemeriksaan elektrodiagnositik juga membantu dalam menentukan prognosis dan keruksaan dari saraf. dan otot ekstrmitas atas yang dievaluasi pada pasien dengan nyeri Tingkatan serabut saraf C5. saraf perifer. Pemeriksaan skrining dari enam otot tungkai atas sebagai tambahan untuk cervical paraspinal dapat mengidentifikasi 94% hingga 99% dari servikal radikulopati. termasuk abnormalitas pada dua atau lebih otot yang dipersarafi oleh serabut saraf yang sama namun dengan saraf perifer yang berbeda. C6 C5. Apabila abnormalitas ditemukan. maka hubungan otot kontralateral dan saraf harus dinilai untuk menyingkirkan suatu proses umum seperti neuropati perifer atau penyakit motor neuron. The American Association of Neuromuscular and Electrodiagnostic Medicine digunakan sebagai penuntun dalam pemeriksaan elektrodignostik untuk radikulopati.252 Setidaknya sebuah penelitian mengenai hubungan saraf motorik dan sensorik saraf konduksi harus dilakukan dalam keterlibatannya terhadap tungkai untuk memastikan ketidakterlibatan pleksus yang seiring atau suatu proses perifer. C6 C5. perbaikan fungsi motorik mungkin akan dapat kembali dengan perawatan konservatif dan penelitian dapat diulang kembali untuk mendokumentasikan penyembuhan neurofisiologis (lihat Bagian 9 hingga 11).108 Tabel 37-3 tingkatan serabut saraf.baik.57 Penelitian ini dapat secara efektif menyingkirkan diagnosis lain seperti lesi pleksus brakial (seperti Tumor Pancoast atau Sindrom Parsonage-Turner) dan penjepitan saraf perifer setempat (seperti carpal tunnel syndrome dan penjepitan saraf ulnaris pada bagian siku atau pergelangan tangan). maka akan dapat mengklasifikasi atau memastikan suatu diagnosis dugaan. Apabila amplitudo dari otot yang terkena terdiri dari potensial aksi otot maka dapat menurunkan kurang dari 50% dari tungkai kontralateral (gambar 37-18). C6 C7 Saraf Axilla Musculocutaneous Suprascapular Suprascapular Radial Otot Deltoid Bisep brachii Supraspinatus Infraapinatus Triceps 29 .

dengan sedikit mengalami peningkatan durasi. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai mekanisme bagaimana injuri itu terjadi dan kemungkinan hasil dari terapinya.53. Pola rencana pengobatan harus mempertimbangkan begaimana keadaan suatu individu saat di rumah. menghindari komplikasi spinal cord.Median C8.199.254 Terlepas dari beberapa penelitian yang membandingkan pembedahan sebagai pengobatan rehabilitasi dan perawatan konservatif. Tatalaksana Pengobatan Fisik dan Rehabilitasi Tatalaksana objektif yang utama dari radikulopati servikal adalah adanya perubahan dari nyeri. Gelombang pada bagian bawah menggambarkan penurunan 65% dari amplitudo CMAP dari otot kontralateral. Jika tidak. modifikasi aktivitas. T1 Median Ulnar Pronator teres Abductor polllucia brevis Dorsal interosssei pertama Gambar 37-18 Layar gelombang Oscilloscope dari kedua bagian potensial aksi amlitudo otot abduktor policis brevis (CMAP). Penjelasan ini 30 . Sebagai contoh. di kantor. Indikasi utama pembedahan adalah defisit neurologis yang progresif. pada pasien yang cenderung tidak banyak kegiatan fisik mungkin akan memutuskan untuk mentoleransi sedikit ketidaknyamanan setelah perawatan konservatif. level kebutuhan pasien setelah perawatan fungsional dapat membantu menunjukkan seberapa agresif untuk diintervensi. dan mengurangi rasa sakit adalah tahapan terapi awal.254 dan mencegah terjadinya rekurensi.217 Pendekatan terhadap tatalaksana harus ditentukan berdasarkan masing-masing individual pasien.64. Gelombang bagian atas yang meninggi menunjukkan bemtuk gelombang yang sehat dengan amplitudo dan durasi yang normal.87. MODALITIES Edukasi pasien. Pada atlit sebaliknya. mengumpulkan bukti pendukung perbaikan naturall dari gejala radiks servikal dengan perawatan konservatif. dan pada komunitasnya. peningkatan pada kelemahan myotomal. mungkin tidak menginginkan gejala yang dapat timbul kembali akibat aktivitas fisik yang berat.

134. Stimulasi saraf bermielin besar danmemblokir transmisi nociceptive pada saraf yang lebih kecil pada level neuron traktus sphinothalamikus.191 TENS sangat bermanfaat dalam manajemen sebagian besar gangguan muskuloskeletal dan neurogenik. Nyeri yang berat dapat mengganggu pekerjaan dan aktivitas atletik dan juga retriksi dari aktivitas seharihari. Keputusan mengenai bahan panas apa yang diberikan tergantung dari persepsi pasien bahan apa yang memberikan pengurangan rasa nyeri yang terbaik. Karena peningkatan respon metabolisme dan inflamasi dapat memperparah nerve root injury. Cervical orthisis berfungsi untuk membatasi nyeri ROM dan memfasilitasi kenyamanan pasien saat fase akut injuri. dan evaluasi ergonomik utilitas.191 dingin dapat di aplikasikan 15-30 menit 1-4 kali sehari dan panas superficial dapat diaplikasikan sampai 30 menit 2-3 kali sehari.132 Modalitas deep heating seperti ultrasound seharusnya dihindari pada terapi servikal radikulopati. TENS dipercayai beraksi via teori gate.191 Soft cervical collar membatasi flexi dan ekstensi kurang lebih 26%. dan digunakan sebagai pengingat posisi servikal yang benar.rotasi axial dan flexi ipsilateral.161 Tidak ada panduan definitif yang dipublikasikan berkaitan dengan peranan modalitas thermal pada cervical radikulopati.seharusnya ditekankan pada bagaimana pentingnya postur tubuh yang benar.254 segmen yang lebih sempit harus diposisikan anterior untuk 31 . Gejala yang ringan hingga sedang biasanya masih dapat ditoleransi oleh pasien.159 Meskipun TENS telah memperlihatkan beberapa pengurangan nyeri pada low back pain.229 tetapi tidak ada penelitian yang mempublikasikan mengenai evidens dari penggunaan alat ini pada nyeri servikal radikulopati. Termoterapi sering digunakan untuk modulasi nyeri dan meningkatkan relaksasi otot.254 Mengangkat beban berat dan berulang harus dihindari begitu juga dengan ekstensi cervical spine.134. biomekanik. Ini dapat digunakan pada awal terapi servikal radikulopati untuk membantu midulasi nyeri dan memudahkan pasien untuk mendapat modalitas terapi lainnya.

46 Traksi servikal dapat juga dilakukan dengan beban berat yang intermiten atau beban ringan yang terus menerus pada regimen terapi di gym ataupun di rumah. L’hermmite’s sign positif.Efeks samping berkaitan dengan penggunaan NSAID berkaitan dengan iritasi mukosa gastrointestinal.199. Traksi servikal mengaplikasikan sebuah distrktif force menyebrangi servikal intervertebral disk space.mempertahankan leher pada posisi netral atau sedikit fleksi. inhibisi platelet dan fungsi ginjal.114. atau atlantoaxial subluxation.115 NSAID merupakan intervensi farmakologik first line untuk mengobati servikal radikulopati.254 Hal ini diduga bekerja melalui dekompresi dari soft tissue servikal dan intervertebral disk. Pada dosis rendah. 54.236 Superficial heat.Penggunaan soft collar harus dibatasi untuk minggu pertama atau kedua dari gejala. dan karena injeksi spinal diagnostik 32 . rheumathoid arthritis.47.85 Karena alasan ini agen yang lebih baru ini lebih disukai dibandingkan dengan NSAID tradisional untuk pasien servikal radikulopati.64. pijat dan TENS dapat dipergunakan sebelum dan selama traksi untuk mengurangi nyeri dan membantu relaksasi otot.47 Traksi dikontraindikasikan pada pasien dengan myelopathy.64. tetapi dengan toleransi gastrointestinal yang lebih baik dan efek plateletnya lebih kecil.74.47 Sebuah beban 25 lb diperlukan untuk distract segmen midservikal selama 25 menit pada sudut 24 derajat.46. meskipun kurangnya efikasi yang terbukti. obat ini memiliki efek analgesik dan pada dosis tinggi memiliki efek antiinflamasi.47 Medikasi Peran untuk medikasi antiinflamasi secara logis pada evidensi komponen antiinflamasi dengan CIDH berkaitan. Ini biasanya sering digunakan pada pasien dengan servikal radikulopati. Agen antiinflamasi yang memiliki target pada Cyclooxygenase-2 pathway memeiliki efek analgesik dan antiinflamasi yang sama dengan non-selektif NSAID.127 untuk meminimalkan adverse outcomes yang berkaitan dengan deconditioning soft tissuelebih lanjut.254 Pengecualian ini meliputipasien dengan L’hermitte’s sign positif dan yang menderita rheumatoid arthritis atau atlantoaxial subluksasi.

hari. zonisamide(zonegran) dan oxcarbazepine(trileptal). ataxia. Obat ini dapat digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena nyeri defans muskular selama 5-7 hari. Analgesik opiat dapat berguna pada saat nyeri radikular sangat berat dan mengganggu tidur. pregabalin (lyrica) merupakan pilihan yang tidak mengganggu metabolisme hati. antidepresi trisiklik. Kombinasi short-acting Opiod dan analgesik dapat diberikan untuk memfasilitasi pola tidur restorative dengan mengontrol nyeri radikular ( kadang-kadang dikonjungsi dengan penggunaan soft sevikal collar). dan mulut kering. Namun penemuan terbaru menyarankan untuk berhati-hati pada penggunaan celecoxib.64 Efek samping yang berkaitan sebagian besar adalak efek antikolonergik. pusing dan konstipasi. Medikasi opiat tidak boleh diberikan setelah fase akut dan intervensi lain harus dimaksimalkan sebelum diubah pada penggunaan opioid jangka panjang. Disis terapetik bervariasi antara 300-900 mg/hari dapat mencapai 3600 mg.dan terapetik dapat dilaakukan tanpa menginterupsi pengobatan ini. sperti mulut kering. Efek samping yang paling sering adalah letargi. Pasien diharuskan berolahraga pada pemberian celecoxib dosis tinggi pada periode tertentu karena adanya peningkatan risiko kardiovaskular (National Cancer Institute Adenoma Pervention with Celecoxib Trial) Medikasi tambahan sering diberikan pada konjungsi dengan medikasi antiinflamasi dan meliputi obat-obat relaksan otot. Obat yang terbaru. retensi urin. kelelahan. Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin atau nortriptilin di resepkan dengan dosis 10-25 mg pada saat waktu tidur. Relaksan otot merupakan sedatif dan efek sekundernya berupa relaksasi otot skeletal.operative yang persisten atau pasien yang tidak bisa di operasi tetapi gagal dengan intervensi obat lain. 300 mg waktu tidur dan dititrasi sampai gejala terkontrol atau samapai adanya efeksamping. Pilihan lain meliputi tiagabine(gabitril). 33 . Obat antiepilepsi seperti gabapentin sangat efektif pada modulasi nyeri neuropati. dapat bermanfaat untuk menurunkan nyeri radikular dan untuk menyebabkan tidur. Kami memberikan obat antiepilepsi untuk pasien dengan nyeri radikular post. dan antiepilapsi. Karena ini direkomendasikan untuk dimulai pada dosis rendah.

52% hanyan mempunyai 1 keluhan sendi dan jarang lebih dari dua gejala sendi berturut-turut.228 Gejala yang paling sering muncul. 15. yaitu C2-3 (36%). kemudian menjadi minimal intervensi invasif dan akhirnyadekompresi pembedahan terbuka jika diperlukan.140.76.90. C3-4 dan C4-5 ditemukan keluhan hanya kurang dari 5% dari keseluruhan kasus Pasien dengan nyeri sendi facet servikal.26.141 Prevalensi 34 . kekuatan dan sensasi daripada saat perawatan konservatif.122 tiga bulan setelah tindakan pembedahan. ditentukan dengan diagnostic control.141 Rasa nyeri pada sendi servikal zygapophyseal sering ditemukan dengan gejala invertebal disk di level yang sama. traumatic sendi servikal zygapophyseal-disertai nyeri leher dipekirakan prevalensinya sekitar 54% sampai 64%. 4. seperti disketomi anterior cervical dan fusion. 202 Tujuannya dalah untuk memodulasi keefektifan dan meningkatkan respon alami tubuh terhadap CIDH. Nyeri Sendi Servikal Epidemiologi Prevalensi dari sendi facet servikal-disertai nyeri pada pasien dengan keluahan nyeri leher dengan berkisar 36% sampai 60%. Sendi pada C1-2. dimulai dengan mengukur konservatif antiinflamatory.179 Perbedaan lamanya waktu perbaikan antara konservatif dan pembedahan mendekati kurang lebih 1 tahun. atau berkembang menjadi myelopati.141. Hasil dari penelitian pada pembedahan ini menujukan hasil yang baik atau memuaskan dari 80% sampai 96% dari para pasien. 58% sampai 88% mengeluh dengan sakit kepala. 49 Demikian pula pada sendi servikal zygapophyseal bersumber dari nyeri leher setelah trauma kronis. diikuti C5-6(35%) dan C6-7 (17%).15.26 pada pasien dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal.Pembedahan Indikasi untuk pembedahan untuk pengobatan CIDH-spondylotic-yang berhubungan dengan cervical radiculopathy meliputi nyeri pada daerah kepala.149. dicapai hasil lebih cepat perbaikan pada nyeri radicular. 179 Penggantian dari disk artificial cervical berbeda dengan disketomi cervical anterior dan fusion. deficit myotomal yang parah (progresif atau stabil).15. ( gambar 3720) atau foraminotomi posterior.9 Kronis.

Dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme terjadinya cedera dan kecuali pada cedera spinal cord.111 Peningkaan 35 . Para dokter harus mencurigai sudah terjadi cedera sendi zygapophyseal ketika pasien dapat menentukan titik nyeri dengan nyeri yang sangat hebat atau dapat menetapkan area nyeri yang dimana area tersebut termasuk penjalaran persarafan sendi zygapophyseal. Rincian dari kejadian meliputi posisi leher pada saat kejadian.216 Nyeri sendi servikal zygapophyseal secara spontan (nontraumatik) biasanya mempengaruhi 1 sendi dan dapat menyebabkan spondilosis dan biomekanika yang salah. Bagaimanapun juga.141 Lebih dari satu struktur dapat cedera pada nyeri sendi servikal zygapophyseal yang disebabkan oleh trauma. plexopati. riwayar klinis tidak dapat menentukan pathognomonic yang dapat membedakan dengan nyeri sendi servikal zygapophyseal akibat trauma dari sumber axial nyeri leher.140.26. Nyeri leher unilateral paramidline dengan atau anpa gejala perascupular yang menunjukan rasa lebih nyeri dibandingkan sakit kepala. atau cedera otak karena trauma. dapat diprediksi dari struktur bagian yang paling banyak cedera.28 Dalam pengalaman kami. Pada pemeriksaan fisik harus juga menilai fungsi neurologi dan ROM servikal. diperkirakan lebih nyeri pada sendi servikal zygapophyseal daripada diskus atau cedera pada akar.15.dari nyeri sendi servikal zygapophyseal pada C2-3 diperkirakan 50-53% pada pasien dengan keluhan utama nyeri kepala pada posterior setelah cedera seperti dicambuk. nyeri sendi servikal zygapophyseal bagian atas termasuk sendi C2-3 lebih banyak dengan gambaran klinis sakit kepala unilateral pada occipital dibandikngkan nyeri leher. Diagnosis Riwayat dan Pemeriksan Fisik Pada penderita yang mengalami cedera whisplash harus dilakukan pemeriksaan secara detail dan lengkap. Nyeri tekan pada palpasi posterolateral disekeliling sendi yang juga mendukung terjadinya nyeri sendi zygapophyseal.141 Nyeri pada servikal bawah yang disebabkan oleh trauma sendi servikal zygapophyseal banyak ditemukan pada level C5-6.

Ini artinya pencitraan terbatas dalam menentukan sumber dari nyeri tersebut. opiate dapat diberikan dalam jangka waktu yang singkat untuk memulihkan pola tidur dan pemulihan fungsional tubuh. seperti menggunakan terapi es lebih efektif dibandingkan terapi panas dalam analgesic dan antiinflamatori. Cedera jaringan lunak lebih banyak tidak terdeteksi dengan pemeriksaan lebih canggih.32. namun CT Scan lebih jelas dalam menggambarkan terjadinya fraktur sendi. 59 Meskipun hanya baru berupa dugaan dari investigasi hasil yang ditemukan dari pemeriksaan fisik namun dapat menjadi diagnostic dari nyeri sendi servikal zygapophyseal. Superficial cryotherapy. Jika nyeri tidak berkurang dengan pengobatan ini. tapi efek metabolik dar terapi panas tersebut menghalangi pengobatan cedera sendi servikal zygapophyseal akut. Modalitas fisik seharusnya digunakan pada fase akut dari cedera untuk mengurangi nyeri dan inflamasi. pengobatan terfokus pada analgesia dan antiinflamasi. tapi tidak dapat membedakan antara simtomatik dan kelainan asimtomatik. Pemeriksaan Pencitraan Subluksasi sendi servikal zygapophyseal dapat terdeteksi pada pemeriksaan radiografi dan CT Scan.nyeri subocipital atau tereksaserbasi pada fleksi cervical 45 derajat dan rotasi axial dapat memunculkan nyeri pada sendi C1-2. Pengobatan Pengobatan Medis Dan Rehabilitasi Selama fase akut dari cedera. Cryotherapy biasanya diterapkan selama 20 menit tiga sampai empat kali sehari untuk vasokonstriksi dan menurunkan rasa nyeri dan 36 . dan dapat menggunakan opiate untuk membantu meredakan nyeri.239 Pencitraan nuclear mungkin menunjukan peningkatan ambilan radiotracer jika terjadi abnormalitas pada sendi servikal zygapophyseal. NSAID diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri dan inflamasi. Meskipun terapi panas pada permukaan dapat menyebabkan efek analgesic dan relaksasi otot.

Menstabilisasi fleksibilitas cervicothorakal. dan sakit. semua hal tersebut dapat menurunkan rasa nyeri. Columbus. Fase pemulihan meliputi stabilisasi dan pengembalian fungsional menjadi ROM yang normal.48.235 Bagian 37 . kekuatan. Hal ini digunakan untuk memberikan rasa nyaman terutama pada saat tidur.235 kemampuan prorioseptif dapat diaplikasikan selama exercises penguatan hingga tercapainya tujuan yang diinginkan. Johnson. Edukasi pada pasien tentang posisi menopang untuk menghindari faktor yang merugikan serta dengan pemberian analgesic dan antiinflamasi. 2002). selanjutnya adalah program menjaga keseluruhan. Stabilisasi dan memerlukan pendekatan menangani pemulihan fungsional. organ. lebih dari 72 jam setelah cedera pertama. Stabilisasi cervicothoracic adalah dari biomekanik tulang atau kekambuhan dari belakang. mobilitas dan kekuatan. terhadap pasien secara juga dari cedera yang Rehabilitasi dalam dialaminya. Restorasi fungsional termasuk biomekanik.W. memaksimalkan fungsi dan mencegah integral pemulihan fungsional digunakan untuk membatasi rasa perkembangan cedera dari stabilisasi meliputi cedra. Soft servikal collar dapat rusak pada jangka waktu yang pendek.mediator inflamatori. kondisi fisik. di dan latihan 48 Setelah pasien selesai latihan perawatan dirumah. semua itu diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan mencegah kambuhnya cedera. panjangnya jaringan lunakdan deficit biomekanik dan menguantnya otot spinal. baik konsekuensi psikologis dan samping gangguan fisik (E. tapi bukan pengobatan yang utama. mengedukasi kembali postur dan kekuatan. Pemulihan pergerakan servikal tulang belakang membantu mencapai postur yang seimbang pada penurunan ketegangan akibat cedera sendi.133 Mobilisasi dan pemijatan dapat membantu otot yang putus dan jaringan lunak juga disertai dengan pembidaian. Transisi fase ini berawal dari berkurangnya nyeri akibat cedera akut. meningkatkan fungsi dan mencegah terjadinya cedera. personal communicaion.

dan jaringan lunak membentuk interval bebas Setiap pembatasan jangkauan merupakan kemudian menambahkan gerakan progresif di luar kisaran ini sampai gejala mereda. serratus muscles harus diperkuat.48 otot fleksor lateral.pemulihan fleksibilitas tulang belakang. Program jangkauan nyeri gerak ditulang stabilisasi dimulai dengan gerak serviks.48 Kinetika scapulothoracic yang tepat dan sambungan glenohumeral memungkinkan gerakan mekanis postur tulang belakang yang efisien. belakang atau dan postur teknik mobilisasi peregangan tubuh yang benar.48 Perhatian juga diberikan mengganggu stabilisasi anterior. Intervensi tulang belakang physiatry. tubuh posisi statis. rotator. ekstensor. pertama dalam posisi dan dikembangkan cemara untuk dengan latihan isometrik dari yang dilakukan progresiv Otot-otot yang kemudian berkembang hati-hati dan tanpa akibat rasa sikap sakit. Trapezius. menghindari gerakan gabungan kecuali gerakan yang diregangkan atau melemah sebagai buruk yang ditargetkan selama fase ini. Kisaran normal gerak dan postur tubuh yang baik sangat penting untuk mencegah microtrauma berulang-ulang untuk struktur serviks disebabkan oleh pola pergerakan sedikit. serta disipasi energi yang efisien oleh anggota badan bagian atas selama aktivitas fungsional. pengurangan postural. dan kemudian maju dengan kegiatan yang dinamis dan fungsional. Radiculopathies serviks menengah ke atas dengan kelemahan myotomal dapat scapulothoracic dan dan rotator cuff glenohumeral. pada girdle bahu dan ekstremitas atas.48 Pasien melakukan latihan isotonik konsentris. Latihan terlentang dan dengan ke posisi duduk dan berdiri. Intervensi Physiatry spine adalah subspesialisasi relatif muda dan berkembang dalam bidang physiatry. rhomboid. 38 . Salah satu tujuan utama dari program latihan adalah meningkatkan keseimbangan otot dan fleksibilitas dari kelompok otot cervicothoracic dan capital muscle group. dan kondisi tubuh.36 Pasien harus diajarkan bagaimana mengontrol aktivitas seluruh gerakan kinetik tubuh. Kontrol neuromuskular Peningkatan Penguatan serviks dimulai fleksor.

216 untuk berkisar 100%.202 Karenanya kekurangan dalam konfigurasi metode investigasi. blok dan akar tingkat evaluasi dipercepat. studi elektrodiagnostik adalah samar-samar dalam sering dapat diklarifikasi dengan dipandu selektif (SNRB) di MRI.119 dan disarankan kepekaan telah terbukti yang diamati untuk miror Pemanfaatan SNRBs lumbal diagnostik telah dieksplorasi dalam literatur. dan spesifitas dan sensitivitas diagnostik lumbal SNRBs erat dgn nilai-nilai untuk rekan- rekan serviks mereka. yang merupakan kombinasi dari obat-obatan berdasarkan pendekatan perawatan jaringan gejala berorientasi medis. Diagnosis SNRB merupakan sebuah tes diagnostic fingsional. karena pengertian dan sikap kooperatif pasien merupakan hal yang sangat penting dalam memperoleh hasil yang akurat dan informasi diagnostik yang valid. Spesialis intervensi perawatan tulang pasien dalam kerangka model atau medis bukan model pengetahuan algoritmik. sensitivitas dan spesifisitas dari diagnostik serviks SNRBs. dari 87% observasi nilai fisik dan pengaturan abnormalitas intervensi terapi dapat elektrodiagnostik Namun. Intervensi Physiatrists tulang bukti dan belakang. Diagnosis selektif fisik. diagnosis saraf diagnostik fluoroscopically langkah berikutnya dalam tingkat segmental yang dicurigai (Figure 37-19). jika pemeriksaan root blok negatif. saraf.Lingkup subspesialisasi ini mengobati gangguan melibatkan ketepatan tulang belakang yang penggunaan rasa kebijaksanaan. cedera pengalaman klinis memerlukan penyakit berbasis belakang mengandalkan pendekatan berbasis yang luas.6 nilai Pada spesifisitas diagnostik dari SNRBs serviks telah menjadi 100%. gambar panduan prosedur tulang belakang untuk mendiagnosa dan menyakitkan. Jika blok diagnostik adalah algoritma diagnostik harus diselidiki.6. akar saraf Jika pencitraan mengungkapkan lesi struktural pada yang menguatkan temuan pemeriksaan menegaskan kecurigaan klinis. kita harus mengeksplorasinya dari data lumbar (lihat chapter 25). 39 .

220.243 Kebanyakan hasil yang sukses diperoleh dihadapan CIDH 35.222 Walaupun demikian.Terapi selektif injeksi akar saraf.17. 17.35. 87 199. karena mungkin kurang dari 20% pasien akan merespon suntikan lebih lanjut. Beberapa studi telah melakukan penelitian kegunaan terapi cervical SNRIs untuk mengobati cervical radiculopathy setelah kegagalan dari terapi konservatif. Observasi retsospektif menunjukkan bahwa 65% sampai 60 pasien dengan cervical radiculopathy (90% dikarenakan CIDH. dan nyeri traumatic spondilotic cervical radicular dan mereka sukses diobati dengan perawatan konservatif.35. dengan interval follow-up dari 6 sampai 21 bulan. Riwayat natural dari radiculopathy dikarenakan oleh CIDH atau spondylosis yang merupakan sebuah resulusi berangsur dari berbagai gejala dengan perawatan konservasi dalam 65% sampai 83% pasien.53. jika SNRI awal tidak ada perbaikan dalam nyeri radikuler.125.199.199 dibandingkan dengan perubahan spondylotic. Heckmann et al. dan pengurangan yang sama dalam menghindari oprasi. 87. gejala radikuler nontraumatic serviks. Tujuan dari SNRI adalah memodulasi respon terhadap CIDH dengan saraf.222 mencakup petunjuk fluoroscopically cervical epidural atau selektif injeksi akar saraf (SNRIs) dengan kortikosteroid.221. bila dilakukan dengan benar.220.221. maka injeksi lebih lanjut mungkin tidak diperlukan.104 untuk pengobatan minimal inflamasi mengobati nyeri.187.243 Tidak mengherankan.17. 10 % dikarenakan oleh spondylosis) meningkat secara signifikan dengan perawatan konservatif dimana tidak memerlukan injeksi spinal.243 Kesempurnaan hasil berkisar antara 50% sampai 83%.27 mereka invasif telah terbukti aman yang valid untuk dan menawarkan intervensi. 199. mencakup diatas 2 sampai 4 SNRIs didalam 14%222 dan 20%220 dari kasus. dua dari studi ini. Meskipun terdapat kekhawatiran tentang keselamatan serviks SNRIs.53.222 Baru-baru ini.53.221. Didalam profil pasien ini. injeksi anastesi lokal menunjukkan efikasi yang setara dengan gabungan anasthetik dan kortikosteroid.53. trauma menyebabkan cervical radiculopaty dan menandakan diagnosis yang jelek.222 ”Whiplash”-menyebabkan nyeri cervical radicular tidak ditemukan dalam concomitant foraminal stenosis.199. Ini menyuntikkan kortikosteroid dekat ke antarmuka disk-akar 40 .

95 Dua studi dengan dengan data hasil terpanjang menunjukkan hasil yang berbeda dan termasuk studi kohort heterogen. Sebagian kasus akhirnya karena volume herniasi akan diskus membutuhkan decompession persistent invertebral.211. dengan angka penurunan terbesar terjadi dalam 2 minggu pertama. 91% sampai 95% dari 21 pasien ini rata-rata menunjukkan penurunan sebesar 83% dari level nyeri mereka.41.217 Dalam kurun waktu 12 bulan. kelanjutan dari respon inflamasi. sedangkan herniasi disk yang intervertebralis yang telah mengalami resorbs. Interval follow up relatif singkat 83. Teknologi ini baru saja berkembang dan diaplikasikan untuk tulang belakang. Nucleoplasty merupakan sebuah teknologi yang menggunakan energy cobalt untuk menguapkan jaringan nuclear menjadi molekul gas. menjadi jaringan inert. dekompresi mekanik 41. dan telah di nilai terapi bedah yang semestinya diberikan. Ditemukan bukti untuk memperkuat subsequent studies dari nukeloplasti tanpa SNRI yang mana 81% sampai 85% dari pasien menunjukkan hasil yang memuaskan. Tidak terdapat komplikasi mayor yang dihadapi dan prosedur harus dilakukan dengan sedasi intravena yang ringan pada pasien tersebut.123.dimaksudkan untuk mengontrol nyeri dan untuk memulai proses penyembuhan akar saraf. laser. Pasien menunjukkan pengaruh CIDH tanpa stenosis dan persistent radicular pain. Percutaneous diskectomy dan/atau decompresi diskus. Berbagai teknologi telah digunakan untuk menyelesaikan decompresi cervical intervertebral disk.95.95.Harus dicatat bahwa setiap 21 pasien didalam penelitian kohort ini harus dipertimbangkan pasien yang akan dibedah oleh fellowship-trained bedah tulang belakang. 6 sampai 12 bulan pertama dan menunjukkan penurunan 41 . Percutaneous diskectomy telah diteliti sebagai alternatif non operasi untuk mengobati persistent cervical radiculopathy yang disebabkan oleh fokus hernisi yang nyata. Dalam kurun waktu 6 bulan.83. 17 sampai 21 memeiliki hasil yang baik dan sempurna. 209 Baru-baru ini didalam sebuah studi di sebuah Penn Soine Center.217 nukleoplasti di kombinasikan dengan SNRI untuk pengobatan biomechanical dan biochemical dikarenakan keterkaitan CIDH nyeri cervical radicular yang tidak merespon dengan terapi konservatif. atau keduanya.211 atau tak ditentukan. atau keduanya.89. enzimatik.

physical terapi. tanpa komplikasi.31 136 Baru-baru ini secara acak dicoba terhadap 115 pasien menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap nyerinya dan ketidakmampuan pada 3.6.yang signifikan pada radicular pain. Gambar 37-19 Gambar Fluoroscopic dari diagnosis blok akar saraf selektif C6 42 . dan 12 bulan setelah nukleoplasti dibandingkan dengan TENS. 39 Diskectomi perkutan dengan teknologi kobalasi digabungkan dengan/atau tanpa SNRI dapat menyelamatkan dan efektif dalam meredakan nyeri servikal radikular dikarenakan oleh protrusi diskus inverterbralis yang diperkuat. analgesic dan / atau NSAIDs.

Martin Dunnitz with permission. oleh karena itu foramen menjadi terbuka dan terjadi fusi ( Redrawn from an HS.) Intervensi Psikiatrik Tulang Belakang Riwayat perjalanan whiplash yang diinduksi sebagai nyeri leher dengan pemulihan bertahap pada kebanyakan pasien.Diagnosa yang akurat untuk memaksimalkan pengobatan jika nyeri yang dirasakan pasien sudah pada tahp sedang atau berat akan memetap selama perjalanan panyakit ini.. 1994.Penentuan sendi menyebabkan gejala memerlukan penggunaan teliti fluroskopi spesifik suntikan.Gambar 37-20 Servikal disketomi anterior dan gabungan penggunaan teknik SmithRobinson. tepat yang dengan target- Diagnosa Penyakit Sendi Zygapophyseal dengan Metode Blok Struktur anatomi dan pola dari struktur vertebra yang saling berdekatan dan bertumpang tindih mengharuskan penggunaan fluroskop untuk membimbing penggunaan diagnosa penyakit sendi dengan metode blok unuk melihat apakah 43 . London. dan bone graft sudah ditempatkan di intervertebral Donor tulang tersebut menyebabkan peningkatan dari tinggi diskus. Diskus yang bermasalah telah dibuang. Simpson JM: Surgery of the cervical spain.

Pendekatan kami untuk nyeri sendi servikalis zygapophyseal termasuk instutasi terapi suntikan setelah diagnosa tunggal positif blok intraartikuler.. (Gambar 37-21)Metode ini dapat memberikan diagnosa pasti sendi mana yang merupakan sumber nyeri.sendi tersebut yang menjadi sumber sakit.13Beberapa metode ini harus dilakukan beberapa kali menggunakan anastetik dalam berbagai macam durasi efek sebelum menentukan penatalaksanaan lebih lanjut.Diagnosa didasarkan pada konsep bahwa jika struktur gejala diblokir. sendi yang diuji akan dikecualikan sebagai sumber yang mengakibatkan gejala.Jika suntikan medial. blok komparatif menggabungkan injeksi plasebo dilakukan sebelum melakukan neurotomi cabang 44 .Jika rasa sakit tak hentihentinya.Anesthetik lokal dapat disuntikkan ke dalam sendi atau pada percabangan saraf medial disekitar sendi untuk pembiusan. rasa sakit pasien akan reda.Rata-rata satu pertiga responden dapat menunjukkan jawaban falsepositive. intraartikuler kortikosteroid tidak efektif.

Lord et al telah menemukan keberhasilan radiofrekuensi neurotmi pada pasien dengan nyeri kronis sendi servikalis zygapophyseal. penulis merawat pasien dengan hanya satu injeksi terapi.dalam studi ini.bagi pengobatan penyakit kronis whiplash berkaitan nyeri sendi servikalis zygapophyseal. menggunakan salah satu hasil ukur tidak membatasi terapi fisik.Melalui percobaan control-placebo yang acak dan double-blind. Percutaneous frekuensi radio Ablasi Neurotomi Cabang medial Jika pasien tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dari suntikan steroid. Prosedur yang berulang mencapai pengurangan periode sebagai gejala awal prosedur 45 . mengamati bahwa terapi neurotomi kedua dapat memberikan keredaan nyeri pada pasien jika gejala pasien berulang setelah suksesnya prosedur pertama.14Dalam pengalaman kami.Bagaimanapun yang sama .223 telah mendemonstasikan hasil data dari baik hingga terbaik telah didapatkan dari 61% pasien yang setiap hari menderita nyeri kepala oksipital berkaitan whiplash yang berasal dari C2-3. Pasien yang mendapatkan manfaat dari suntikan ini mengalami rata-rata dua suntikan terapeutik.Terapi suntikan pada sendi zygapophyseal Terapi injeksi intraartikuler pada sendi servikalis zygapophyseal dapat lebih sesuai dilakukan farmakologik dan pada individu yang tidak memgalami pemulihan dalam modalitas fisik. maka ablasi radiofrekunsi pada sendi yang menginervasi cabang medial boleh dianjurkan.suntikan tunggal intraarterikuler tidak efektif. dibandingkan dengan 1 minggu dalam studi kelompok kontrol sama.Waktu median yang berlalu sebelum nyeri kembali ke tingkat preneurotomi pada kelompok perlakuan adalah 9 bulan. terapi suntikan steroid intraarticular yang dijalankan dengan fluroskopik efektif dalam mengobati nyeri sendi servikalis zygapophyseal .Slipman et al. Menurut Barnsley dkk. Bagaimanapun.kira-kira 50% pasien boleh mendapatkan rawatan ulang neurotomi.Studi berikutnya oleh McDonald eta al.

ramus ventral C2(C2VR)dan lokasi cabang nervus medial servikalis dorsal rami (MB).Bridenbaugh PO.dengan menggunakan pendekatan posterior. Injeksi faset servikalis. dan denervasi sendi C2-3 belum diteliti karena dampak buruk dari suboksipital hipoestesia dari neurotomi dari nervus oksipital ketiga.pengobatan.Kanan: Gambaran lateral tulang belakang servikalis yang menunjukkan jarum dalam kavity sendi faset C5-C6.yang memproduksi karakteristik artogram.editors:Blokir Neuronal dalan anastetik klinis dan penatalakksaan nyeri.cabang arterikuler(A) dan nervus oksipital ketiga(TON). Pengantian jarum untuk cabang nervus medial dan injeksi zygapopphyseal intraartrikuler.Neurotomies frekuensi radio sendi atlantooksipital dan atlantoaksial.dimana nervus medial C7 boleh diposisikan dipertengahan antara cembungan lateral C6-C7 dan C7-T1 sendi zygapopphyseal.Radiografi lateral servikal menunjukkan posisi tepat penempatan jarum kedalam sendi zygapophyseal .In Cousins MJ.1988.Jarum diposisikan untuk injeksi pada C4 dan C6 cabang nervus medial dan TON.Sendi ditembus untuk ke tulang belakang servikalis dengan menggunakan pendekatan lateral. dan C2-3 belum lagi diteliti.ed 2 Philidephia JB Lippicott. dan menunjukkan bahwa disk intervertebralis telah kehilangan arsitektur normal internal tetapi tetap mempertahankan kontur eksternal yang diawetkan dengan tidak 46 .Kiri: gambaran posterior tulang belankang servikalis yang menunjukkan lokasi ganglia C2(G) pada belakang sendi atlantoaxial lateral(LAAJ).(Dari Bogduk N:Blok Nyeri belakang sendi zygapophyseal dan steroid epidural.Pilar artrikuler mungkin dihalang oleh bayangan besar C7 processus transverses. Saat ini tidak ada teknik khusus untuk mendenervasi sendi atlantooksipital dan atlantoaksial.Kami telah berhasil menggunakan neurotomi frekuensi radio dari sendi C2-3 zygapophyseal dan kebanyakan pasien tidak tertekan oleh hipoestesia suboksipital.dengan izin JB Lippincott) Cervical Internal Disk Disruption Epidemiologi Gangguan disk internal pertama kali dijelaskan oleh Crock lebih dari 30 tahun lalu.B.

adanya kompresi akar saraf. Dalam sakit leher yang disebabkan oleh trauma kronis, 20% pasien mungkin CIDD, dan satu lagi 41% mungkin CIDD dan cedera sendi bersamaan zygapophyseal. Litigasi buruk dapat mempengaruhi hasil pengobatan untuk CIDD, tetapi efek litigasi potensial belum dibuktikan dalam penyelidikan lainnya. Dalam kasus nonlitigation, hasil nonoperative dan operasi adalah sama dengan yang untuk CIDD. Diagnosa Sejarah dan Pemeriksaan Fisik Kompleks gejala CIDD termasuk sakit leher posterior, nyeri oksipital dan suboccipital, nyeri trapezial atas, nyeri interscapular dan periscapular, nyeri nonradicular lengan, vertigo, tinitus, disfungsi mata, disfagia, nyeri wajah, nyeri dada dan dinding anterior. Pasien sering melaporkan riwayat trauma sebelumnya, seperti tabrakan kendaraan bermotor, dengan onset akut. Dalam absense peristiwa pencetus, gejala CIDD dapat mulai secara spontan dan secara bertahap, atau eksplosif. Jika gejala rujukan yang hadir, keluhan utama pasien adalah nyeri terutama aksial dikaitkan dengan mencolok gejala ekstremitas atas. Faktor memperburuk biasanya mencakup lama duduk, dan batuk, bersin, atau mengangkat. Berbaring terlentang dengan dukungan kepala biasanya meredakan gejala-gejala pasien. Pemeriksaan fisik hanya dapat menunjukkan serviks halus berbagai-dangerakan pembatasan, kecuali jika telah menjalani operasi sebelum serviks. Pemeriksaan neuromusculoskeletal menyeluruh harus dilakukan untuk mengecualikan radiculopathy myelopathyor. Jika spondylosis hadir, ekstensi leher rahim dan lateral bending lebih terbatas daripada fleksi dan rotasi aksial berada. Palpasi atas proses spinosus servikal tingkat yang terlibat dapat menimbulkan rasa sakit di daerah itu atau sebagian dari rasa sakit aksial pasien. Memisahkan pasien dari mereka yang menderita nyeri leher nonorganik dapat dicapai dengan memunculkan tanda-tanda nonorganik, seperti kelembutan dangkal atau nonanatomic, nyeri dengan rotasi kepala dan panggul bersama, kehilangan sensori nonanatomic, memberikan arah kelemahan, dan reaksi berlebihan.

47

Studi Pencitraan Membedakan menyakitkan dan tidak menyakitkan dari disk serviks hanya pada karakteristik pencitraan bisa sulit. Kelainan Disk telah dicatat pada pasien tanpa gejala, dan CIDD menurut definisi menampilkan penampilan sesuai usia pada MRI. Plain films dapat mengungkapkan hyperostosis dan keruntuhan ruang disk tapi sering tidak berkorelasi dengan gejala rasa sakit. Disk pengeringan, kehilangan ketinggian disk, celah annular, osteophytosis, dan reaktif akhir-piring adalah perubahan penanda dari degenerasi disk. Sebuah sinyal intradiskal menurun pada T2-tertimbang gambar berkorelasi baik dengan degenerasi histologis dari disk. Fitur MRI tidak berguna, bagaimanapun, dalam mendeteksi disk serviks gejala. Akibatnya, tes diagnostik fungsional seperti diskography provokasi digunakan untuk mendiagnosa tingkat disk yang menyakitkan. Pemahaman kami tentang distribusi sakit dari CIDD atau degeneratif disk telah diperluas oleh penelitian dari tes diagnostik fungsional. Pengobatan Obat Fisikal dan Rehabilitasi Mengobati cedera serviks intervertebralis tanpa radiculopathy mirip dengan mengobati gejala radikuler. Langkah awal adalah untuk mengontrol nyeri dan peradangan. OAINS dapat digunakan secara jangka pendek kecuali kontraindikasi karena penyakit ginjal atau intoleransi gastrointestinal untuk OAINS. The American College of Rheumatology pedoman menyatakan bahwa fungsi ginjal pada pasien sehat harus diperiksa pada 6 minggu setelah memulai OAINS. Jika fungsi ginjal normal pada 6 minggu, harus diperiksa kembali pada 12 bulan. Obat seperti antidepresan trisiklik dapat membantu memodulasi nyeri dan membantu dalam regulasi tidur. Analgesik opiat biasanya digunakan hemat dan hanya untuk periode singkat. Modalitas fisik dapat diresepkan untuk memodulasi nyeri dan transisi pasien dari pengobatan pasif untuk restorasi fungsional aktif. Modalitas yang dangkal dan terapi TENS (Transcutaneous electrical nerve stimulation) dapat digunakan untuk rasa sakit. Modalitas panas juga dapat digunakan untuk meningkatkan elastisitas
48

jaringan lunak sebelum dan selama traksi leher rahim. Dalam studi, stimulasi listrik (TENS) telah ditemukan untuk membantu dalam rasa sakit serviks. Traksi mungkin akan bermanfaat dengan mengalihkan disk intervertebralis yang menyakitkan. Namun, traksi harus digunakan hati-hati karena jika mengganggu jaringan annular terluka dapat memprovokasi gejala yang menyakitkan. Kerah leher rahim dapat membantu mempertahankan posisi nyaman tetapi tidak boleh dipakai oleh pasien selama lebih dari 72 jam. Modalitas pasif harus digunakan pada awal proses pengobatan dan kemudian, pada dasar yang dibutuhkan, dan tidak harus mengganti berdasarkan aktivitas terapi. Seperti semua mekanik gangguan nyeri serviks lainnya, CIDD

membutuhkan evaluasi mendalam tentang biomekanik tulang belakang. Semasa nyeri akut mulai mereda, pasien terdaftar di sebuah peregangan aktif dan program fleksibilitas dengan transisi ke kondisi dan stabilisasi. Efek independen dari latihan dan stabilisasi, khususnya dalam pengobatan cedera leher rahim, belum divalidasi secara ilmiah. Namun, peran stabilisasi tulang belakang leher bukan hanya peregangan dan penguatan didukung. Efek juga dapat disimpulkan dari laporan penelitian stabilisasi lumbal yang menunjukkan penurunan signifikan dalam rasa sakit dan kecacatan pada sekelompok pasien dengan spondylosis dan spondylolisthesis. Satu-satunya cara metodologis yang benar untuk mempelajari hasil pada pasien dengan nyeri diskogenic serviks adalah dengan mendaftarkan diri dan mengobati kohort pasien setelah nyeri leher diskography terbukti sesuai aksial. Tetapi tidak ada studi seperti itu. Interventional Spine Physiatry Provokasi Diskografi Diskografi Provokasi adalah tes diagnostik fungsional di mana keakuratan penyelidikan sangat mengandalkan masukan pasien. Smith dan Nichols pertama kali dijelaskan Diskografi serviks pada awal 1950-an, dan utilitas telah diperebutkan sejak itu. Diskografi Provokasi adalah satu-satunya tes yang dapat mengatasi gejala status dari disk, dan biasanya digunakan ketika CIDD

49

dipertanyakan. Hal ini juga digunakan sebagai evaluasi presurgical. Sebuah respon positif memerlukan bukti struktural dari kekacauan internal untuk menguatkan produksi sakit biasa atau pasien dengan sakit serviks. Pendukung Diskografi menunjukkan bahwa disk sehat menerima sejumlah volume tertentu dari kontras dan tidak menghasilkan gejala dengan stimulasi mekanik. Diskografi harus dianggap sah hanya jika injeksi kontrol asimtomatik disk yang menyertai suntikan menurut hitungan menyakitkan. Meskipun hasil positif palsu telah dibuktikan pada sukarelawan tanpa gejala, temuan ini dapat diberhentikan karena ketidakcukupan teknis. Diskografi provokasi serviks belum menghasilkan respon nyeri positif palsu pada sukarelawan tanpa gejala. Pada kesempatan, seorang discogram provokatif dapat menghasilkan respon positif palsu di hadapan gabungan zygapophyseal yang menyakitkan serviks. Bogduk dan April menyimpulkan bahwa discogram serviks positif dengan kesakitan serviks traumatis kronis adalah konklusif yang mungkin menyesatkan, dan merekomendasikan menyelesaikan blok diagnostik bersama zygapophyseal pada tingkat disk yang menyakitkan sebelum mengejar intervensi pengobatan. Disk intervertebralis serviks telah terbukti untuk merujuk nyeri ke kepala dan wajah baik secara sepihak dan bilateral, dan tumpang tindih pola rujukan nyeri yang dihasilkan oleh sendi zygapophyseal menyakitkan. Transforaminal Epidural Steroid Injections. Berangsur-ansur steroid ke dalam ruang epidural anterior untuk mandi posterolateral margin dari permukaan melingkar dari disk intervertebralis dan ligamentum longitudinal posterior dapat mengatasi nosisepsi biokimia yang dirangsang. Sebuah C7 transforaminal epidural injeksi steroid (TFESI) dilakukan jika gejala konsisten dengan nyeri diskogenic dan terutama terletak di dasar, atau merujuk ke luar dari dasar, dari tulang belakang leher. Prosedur identik dilakukan di tingkat C5 atau C6 untuk mengobati nyeri leher bagian atas dengan atau tanpa sakit kepala, dan gejala ekstremitas wajah atau bagian atas. Jika efek kortikosteroid, yang didefinisikan sebagai pengurangan 50% pada tingkat preinjection nyeri yang berlangsung selama 2 hari dalam waktu 7 hari setelah prosedur, tidak dialami oleh

50

Sebagian besar pasien dalam studi ini memiliki definisi penyakit gejala sakit aksial. semakin baik hasilnya. yang dapat dicapai dengan diskectomy serviks anterior dan fusi atau dengan fusi posterior. Alasannya adalah bahwa dengan menggabungkan unsurunsur vertebra tulang. tingkat dua yang noncontiguous. Operasi Pasien yang mengalami sakit parah dan bandel serviks aksial dianggap diskogenic asal yang mungkin menjadi kandidat untuk operasi. Efektivitas TFESIS belum sistematis dipelajari. Interlaminar epidural suntikan steroid telah diselidiki dalam kelompok heterogen pasien dengan nyeri radikuler dan aksial. gerak dihilangkan. Satu-satunya pengobatan bedah untuk CIDD atau gejala degeneratif disk serviks adalah fusi. sehingga mengurangi rasa sakit diskogenic. Suntikan diselesaikan posterior melalui pendekatan interlaminar tanpa bimbingan fluoroscopic. Meskipun kurangnya literatur tentang kegunaan TFESIs dalam mengobati nyeri leher rahim diskogenik. Pemanfaatan Diskografi provokasi untuk menentukan tingkat adalah 51 . Jika diskogram mengungkapkan satu atau dua tingkat berdekatan memproduksi nyeri. Dalam pengalaman kami. Hasil berhasil sekitar 40% sampai 84% dari pasien yang diobati. maka pasien memerlukan kronis komprehensif sakit-modulasi program. nyeri radikuler. Pendekatan kami untuk pasien dengan CIDD adalah mempertimbangkan diskografi serviks jika pasien tidak menyadari efek penghilang rasa sakit setelah dua TFESIs kortikosteroid. maka pasien mungkin menjadi sebuah kandidat bedah. Jika tiga atau lebih tingkat yang sesuai. atau keduanya. diskografi serviks atau diagnostik blok bersama zygapophyseal biasanya dikejar. Obat disuntikkan antara posterior lamina mungkin tidak berdifusi anterior untuk mencapai generator nyeri potensial. sekitar 50% pasien mengalami bantuan yang signifikan dan abadi. atau disk menurut hitungan menyakitkan adalah lobular.pasien. kita biasanya melakukan dua injeksi awalnya sebelum menilai respon klinis. mungkin karena cedera disk yang relatif akut inflamasi. Yang paling akut atau subakut durasi gejala. dengan menggunakan teknik kerugian-perlawanan.

vaskulitis. degenerasi gabungan subakut. perbedaan yang signifikan secara statistik diperoleh untuk pasien yang dirawat berdasarkan diskogram benar-benar positif.4 tahun setelah fusi. atau sangat baik pada rata-rata 4.3 Rata-rata penderitanya berumur di atas 50 tahun dan kebanyakan berjenis kelamin laki-laki.259 Salah satu dari penyebab tersebut ditemukan pada lebih 17% pasien yang menderita mielopati spondilotik. 93% pasien ini dilaporkan penurunan lebih besar dari 50% dan peringkat rasa sakit mereka selepas operasi.kontroversial. Garvey dkk.37 Diagnosis 52 . dan penulis mungkin telah memasukkan beberapa pasien yang memiliki keluhan terutama radikuler. Kajian ini adalah retrospektif. dan tumor spinal. Beberapa penulis telah melaporkan "baik atau sangat baik" menghasilkan 70% sampai 96% pasien setelah fusi servikal tingkat ditentukan oleh Diskografi. siringomielia. Menariknya. Seibenrock dan Aebi mengamati pengurangan rasa sakit yang lebih besar dari 75% pada 96% dari 27 pasien yang menjalani fusi servikal sebanyak 39 tingkat. yang termasuk penyebab penyakit ini adalah multipel sklerosis.253 namun presentase penyakit ini tidak sebanyak radikulopati spondilotik servikal. Mielopati Servikal dan Mieloradikulopati Epidemiologi Mielopati spondilotik servikal adalah lesi vertebra servikal paling sering yang terjadi pada kisaran umur diatas usia pertengahan. penyakit motor neuron. neurosifilis. menemukan bahwa 82% dari 87 pasien melaporkan diri mereka sebagai hasil yang baik. sangat baik. Sebuah tinjauan literatur yang luas menyimpulkan bahwa Diskografi serviks terkontrol meningkatkan hasil bedah.44 Penyebab-penyebab lain dari mielopati harus disingkirkan.

Umumnya. agak naik sedikit ke batang tubuh atas. diikuti periode statis yang berlangsung beberapa tahun. atau bisa juga diindikasikan oleh distribusi “glove and stocking” . Hasil pemeriksaan yang sering didapat adalah kelemahan karena mielopati pada batang tubuh bawah dan. Gejala dan tanda bisa simetris atau tidak. Defisit propriosepsi dan getaran mengindikasikan malfungsi kolumna posterior lebih banyak pada batang tubuh bawah daripada atas.259 Penderita akan mengeluh nyeri radikuler sebagai tanda keterlibatan akar saraf pada level medula yang mengalami stenosis. kebanyakan spondilitik. kelemahan tersebut lebih sering terjadi pada batang tubuh bagian bawah dibandingkan bagian atas. Kombinasi dari terlibatnya medula dan radiks disebut mieloradikulopati spondilotik servikal. Onset gejala biasanya tidak terlihat.171 Gangguan fungsi kandung kemih terjadi pada kira-kira sepertiga pasien dan merupakan tanda memburuknya lesi medulla spinalis. Manifestasi klinis yang menunjukkan level medula yang terlibat. dan regangan total batang tubuh atas jarang terjadi.259 Manifestasi neuron motorik atas seperti Hoffman’s sign. Ekstremitas atas akan menunjukkan kelemahan dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan yang disebabkan karena kerusakan sel horn anterior. dan menurunnya kekuatan otot intrinsik tangan. refleks brisk dan babinski seringkali muncul. Penderita mielopati sering mengeluh mati rasa dan parestesia pada batang tubuh dan ekstremitas distal.259 Riwayat alami perjalanan penyakit ini diawali dengan deteriorasi.259 Nyeri dan perubahan suhu tubuh mengindikasikan adanya lesi pada traktus spinotalamikus setinggi level gangguan sensori pada regio lumbal dan thorakal.259 Nyeri aksial servikal menjadi keluhan utama pada 70% pasien di satu titik poin perjalanan penyakit ini. bisa jadi tidak sama dengan level maksimum kompresi hasil pemeriksaan radiologinya.Riwayat dan Pemeriksaan Fisik.259 Refleks asimetrik pada batang tubuh atas atau kelemahan miotomal bisa berarti bahwa penyakit ini juga disertai radikulopati. Penyebab lain 53 . Pemeriksaan pencitraan. perbedaannya bisa mencapai satu sampai dua segmen. walaupun minoritas pasien mengalami onset akut dengan atau tanpa didahului suatu trauma. Pemeriksaan radiologi biasanya menunjukkan kompresi medula servikal.

dan apakah terdapat hiperostosis. kira-kira sepertiga kanal sentral harus dicurigai dan bukti adanya perubahan kanal sentral harus benarbenar objektif. Foto polos radiologi akan memberikan gambaran diameter oseus pada kanal sentral dan penurunan tinggi ruang diskus intervertebralis. deformasi medula atau abnormalitas sinyal intramedula.40. sedangkan dimensi postoperatif medulla sangat berhubungan dengan kesembuhan penderita. ulnar dan tibial posterior lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan klinis dalam mendeteksi disfungsi kolumna posterior. Gambaran preoperatif potongan transvers medulla spinalis pada lokasi kompresi maksimal akan berpengaruh pada hasil klinis akhir. yang mengindikasikan kompresi medula yang progresif.258 Stimulasi somatosensory evoked potential pada saraf median. Pada kasus servikal mielopati. atrofi.188 dan jumlah cairan serebrospinal di sekitar medula (gambar 37-23). seperti yang telah dibahas pada bagian radikulopati servikal. foraminal encroachment. Termasuk juga banyak berkurangnya aliran cairan serebrospinal.178 Untuk mendiagnosis mielopati spondilotik servikal secara akurat. Diameter kanal sentral yang kurang dari 10 mm pada penderita yang simptomatik menyokong diagnosis mielopati.259 Stenosis spinal servikal sentral yang asimptomatik ditemukan pada 16% orang yang berumur di bawah 64 tahun. MRI dapat mendeteksi mielomalasia. perubahan sinyal. pemeriksaan dengan jarum elektroda dapat mengungkapkan derajat abnormalitas pada otot dibawah lesi segmen. Penggunaan somatosensory evoked potential untuk mendiagnosis mielopati servikal sudah diteliti.240 Reduksi 30% pada potongan cross sectional vertebra servikal adalah batas minimum reduksi pada pasien yang simptomatik. jika 54 . Elektromiografi dan pemeriksaan konduksi saraf dapat digunakan untuk mendiagnosis lesi radiks saraf.166 Pemeriksaan elektrodiagnosis.seperti superimpos CIDH yang menekan thecal sac. ini mengindikasikan adanya lesi saraf motorik atas. atau osifikasi pada ligamen longitudinal posterior (etiologi pada 27%pasien usia pertengahan 241 ). dan subluksasi. seperti pada pasien yang potensial motorik nya terlihat normal namun terlihat banyak gangguan pada motorik maksimalnya melalui pemeriksaan ini. somatosensory evoked potential dapat digunakan untuk mendeteksi keterlibatan medula spinalis secara subklinis.

79 atau laminoplasti (gambar 37-24). dimana badan vertebrae dibuang sebagai tambahan diskus intervertebralis yang berdekatan. dan penderita masih bisa bergerak karena tehnik ini tidak menggunakan fusi. maka pembedahan yang diindikasikan adalah diskektomi dan fusi servikal pada level vertebra yang sesuai. atau pada mereka yang perawatan konservatifnya tidak berhasil.18 Dekompresi posterior diterapi dengan laminektomi dengan atau tanpa fusi.107 Jika hanya CIDH yang menyebabkan kompresi medulla spinalis.181 Bedah. Dekompresi anterior biasanya diterapi dengan korpektomi. dan kemudian segmen tersebut digabungkan dengan autograf fibula atau alograf tulang. mengindikasikan mieloradikulopati.162 Sehingga tehnik laminoplasti lebih sering digunakan.66.keluhan utamanya adalah nyeri aksial servikal atau radikular. dimana komplikasi deformitas dan kifosis lebih jarang terjadi. pembedahan bertujuan untuk menghilangkan struktur rusak bagian anterior (seperti osteopit) atau ligamen longitudinal posterior yang mengalami kalsifikasi (untuk mengurangi tekan dari posterior).40. Hasil pemeriksaan berupa perubahan pada konduksi saraf perifer yang ditambah dengan keterlambatan sentral. Pembedahan diindikasikan pada penderita dengan gejala yang berat atau progresif.91 Pada kasus impingement akibat spondilosis degeneratif atau osifikasi ligamen longitudinal posterior.258 Penatalaksanaan Perawatan non-operatif.37. Perawatan konservatif termasuk terapi fisik dan ortosis servikal dilakukan pada pasien dengan gejala ringan atau statis tanpa ada gangguan berjalan atau refleks patologis. Kedua pembedahan ini akan menyediakan runag gerak yang leboh banyak pada medulla.162 55 . Mielopati servikal dapat dibedakan dari sklerosis multipel dari jenis abnormalitas pola yang ditampilkan somatosensory evoked potential.92 Laminektomi tanpa fusi yang luas bisa menyebabkan komplikasi deformitas paska operasi dan kifosis.181 Perbaikan defisit fungsi sensori dan motoriknya terjadi pada 33%-50% pasien.44.

terjadi perbaikan gejala pada 85%-99% pasien. 56 .153 Bedah korpektomi yang dilakukan pada dua atau lebih vertebrae akan menyebabkan hasil operasi yang kurang stabil.5. dan juga memiliki komplikasi yang lebih sedikit.91 Pada kasus dengan tiga atau lebih vertebrae yang mengalami stenosis dan lordosis servikal masih normal. dilakukan bedah laminoplasti.2. Gambaran potongan sagital MRI dari Stenosis spinal sentral dan mielomalasia.4 Terapi ini efektif pada pasien dengan dekompresi anterior. dan umumnya dihindari karena dapat timbul komplikasi dari ketidakcocokan graft91 atau nonunion. Terlihat kurangnya cairan serebrospinal anterior dan posterior medulla spinalis setinggi C3-4 dan C4-5. tiga atau lebih vertebrare yang terlibat dan lordosis servikal abnormal.88 Khusus untuk menatalaksana mielopati servikal terbukti bahwa tehnik laminoplasti jauh lebih efektif dibandingkan laminektomi. Jika tiga atau kurang vertebrae yang mengalamai stenosis. dilakukan laminektomu dan fusi untuk mempertahankan kestabilan vertebrae servikal.143.Dekompresi anterior atau posterior tejadi tergantung dari kontur dan jumlah vertebra servikal yang mengalami stenosis.88 Gambar 37-23 . koprektomi anterior dan fusi adalah pembedahan yang dilakukan.3.91 Jika.

B. turut menunjukkan kurangnya consensus mengenai definisinya.2% pada pasien yang mempunyai keluhan nyeri kepala. dan mencapai 36. dengan mean usia sebesar 42. termasuk akar saraf dan tulang belakang. ganglion akar dorsal. Laminoplasti dilakukan dengan memotong keseluruhan lamina pada satu sisi sementara kontralateral lamina dibor saja sehingga berfungsi seperti sendi. Laminektomi dengan eksisi elemen posterior sebelah lateral setinggi pedikel. Laminektomi dan laminoplasti.9%). Epidemiologi dan Patofisiologi Prevalensi nyeri kepala servikogenik telah dilaporkan berkisar dari 0. Berbagai struktur tulang belakang terlibat dalam nyeri kepala servikogenik.1%) dari laki-laki (20.4% hingga 2. sendi uncinate 57 .8 tahun. Ini menunjukkan terdapat berbagai stimulasi rasa nyeri dan manifestasi yang menyebabkan nyeri kepala servikogenik.Gambar 37-24. Istilah nyeri kepala servikogenik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1983.9 tahun dan rata-rata durasi timbulnya gejala adalah 6. Nyeri Kepala Servikogenik Nyeri kepala servikogenik adalah gejala buruk yang biasa dikaitkan dengan struktur serviks tulang belakang. Hasil akhirnya elemen posterior akan sembuh dengan kanal yang lebih lebar berkat graft yang diletakkan di lubang lamina. Wanita lebih rentan terhadap gejala ini (79. Definisinya telah diselaraskan beberapa kali.5% pada populasi umum. A.

dahi wajah dan ipsilateral bahu. Diagnosis Riwayat dan pemeriksaan fisik Etiologi nyeri kepala diperoleh dengan mendapatkan riwayat nyeri kepala pasien atau trauma leher seperti Whiplash event. Kebanyakkan pasien mengeluh nyeri semakin bertambah bermula di daerah serviks dan menjalar ke kepala dan leher. facet joint. 58 . saraf akar. Terdapat bukti yang mendukung teori konvergensi yang menjelaskan hubungan antara gejala kranial dan stimulator nyeri pada servikal tulang belakang. Lama gejala berkisar dari beberapa jam ke beberapa minggu. Keluhan tambahan adalah pusing dan vertigo. membayangi asal nyeri serviks axial. Nyeri kepala servikogenik bisa disebabkan oleh perubahan degenerative. dan C5-6 disk intevertebral. dan nausea adalah lebih kurang dari pasien yang menderita migrain. ipsilateral anterolateral. Gejala bisa menjalar dan melibatkan bagian kontralateral. Keluhan autonomik seperti fotofobia. Reffered pain menjalar ke vertex kepala. kesan langsung dari trauma. Whiplash event seperti kecelakaan akan mengakibatkan kecederaan sendi servikal zygapophyseal. ligamen dan otot. namun biasanya sisi sumber nyeri utama tetap paling intens dan kuat nyerinya. C2-3. namun karakteristiknya lebih lama dan berasosiaso dengan nyeri kepala migrain.(uncovertebral joint). Nyeri kepala servikogenik bisa menjadi keluhan primer. Antara penyebab primer nyeri kepala servikogenik termasuk C2-3 zygapophyseal joint. Intensiti nyeri pada nyeri kepala servikogenik kurang meyiksa dari nyeri kepala tipe kluster dan tidak berdenyut. C4-5. disk intervertebral. Karakteristik nyeri berbeda dari nyeri yang kuat kepada nyeri tajam dan menusuk-nusuk. progresif kepada kronik dan nyeri konstan. Lamanya gejala nyeri berfluktuasi dari episode initial. Nyeri kepala servikogenic diklasifikasikan sebagai unilateral primer dan berasal dari daerah occipital posterior. atau terjadi tanpa kesan biomekanikal pada struktur tulang belakang servikal. fonofobia. C3-4. baik dalam isolasi atau kombinasi. disk invertebratal.

Nyeri yang berasal dari disk invertebralis berasal dari garis tengah nyeri yang menyebar sepanjang tulang belakang ke kepala atau wajah. dan herniasi. MRI mempunyai false-positive rate sebesar 51% dan false-negative sebesar 27% dalam mendeteksi nyeri disk yang diidentifikasi melalui discography. penurunan ketinggian disk. atau ekstensi servikal. Spurling’s maneuver tidak menunjukkan gejala radikular ekstrimitas atas. termasuk proses terbuka odentoid process. Abnormalitas yang dilihat dalam imej harus dihubungkan secara klinikal karena hasil tersebut bisa menjadi gejala atau penyakit tanpa gejala sepanjang hayat pasien. namun selalunya memperburuk nyeri axial dan pasien akan mengeluh munculnya nyeri paramidline sendi zygapophyseal. Kita sering melihat pasien yang mengeluh onset selepas waktu tidurnya pada posisi yang canggung. Tetapi. pasien bisa menunjukkan dengan satu jari atau melalui telapak tangannya bagian nyeri maksimumnya yang unilateral. dan kurangnya fleksibilitas jaringan lunak. MRI adalah lebih baik dari CT dalam mendiagnosis disk intervertebralis . perubahan arthritic. Nyeri ini juga bisa sering muncul semasa palpasi mendalam pada sendi yang berhubungan. Sebagian gerakan kepala dan leher bisa menyebabkan gejala nyeri seperti rotasi axial. untuk menyingkirkan fraktur. Jika nyeri kepala servikogenik berasal dari sendi servikal zygapophyseal. Ia memerlukan posisi anteroposterior. Suspek kejadian fraktur bisa didiagnosis dengan lebih teliti melalui CT scan servikal yang dilakukan dengan multiplanar reformatted image.Pemeriksaan fisik pasien dengan keluhan nyeri kepala servikogenik sering menujukkan penurunan range of motion karena kekakuan otot. 59 . Pencitraan Riwayat trauma membutuhkan fleksi dan ekstensi servikal pada radiografi lateral untuk mendeteksi abnormalitas pada pergerakan segmental.

Cedera whiplash adalah kelainan atau struktur terluka akibat peristiwa whiplash. injeksi terapeutik akan dilakukan sebagai terapi pada sendi servikal zygapophyseal. namun ini tidak dteliti dengan studi kohort. Setelah studi pemetaan sendi zygapophyseal. Ablasi radiofrequency cabang medis untuk nyeri sendi dapat mengurangi nyeri kepala servikogenik yang disebabkan oleh cedera sendi servikal zygapophyseal dengan baik. Sindrom whiplash adalah himpunan gejala yang timbul dari cedera whiplash. struktur tersebut dirawat seperti yang dinyatakan di atas. kita mendiagnosis blockade pada C45 sendi zygapophyseal yang merangkum gejala anterior kepala dan gejala pada wajah. paradigma blok ganda tersebut dilakukan untuk meminimalkan tingkat positif palsu suntikan diagnostik tunggal. tetapi 60 . Nyeri servikogenik disebabkan oleh nyeri sendi atas zygapophyseal dapat dipelajari dengan konfirmasi diagnostic blockade. dan sendi C1-2. SindromWhiplash Sindrom Whiplash (hiperfleksi-hiperekstensi) harus dikonseptualisasikan dalam tiga komponen. Ablasi radiofrequency pada nervus ketiga occipital dapat membaikpulih sendi zygapophyseal C2-3 dan telah dilakukan dengan sukses di Penn Spine Centre. Apabila sendi yang sakit diidentifikasi. C3-4. kepala atau leher tidak mempertahankan pukulan langsung.Sindrom Whiplash boleh diartikan seperti efek biomekanikal yang dikeluarkan oleh penghuni satu mobil apabila mobil itu ditabrak mobil lain.Diagnostik Uji Fungsional dan Penatalaksanaan Apabila etiologi nyeri kepala servikogenik sudah diidentifikasi. Algorithm tradisional termasuk diagnostic intraarticular yang dilakukan bertahap pada C2-3. Saat kejadian whiplash. Jika pasien mengalami bantuan jangka pendek dari minimum dua dan maksimum empat terapi suntikan.

61 . di 110ms setelah kesan impak dari belakang .dalam waktu 3 bulan diperkirakan hanya 6% dari seluruh pasien whiplash dan persentase ini menurun minimal sampai 4% dalam masa 2 tahun. Kurangnya tonus otot dan terbentuknya kekuatan abnormal mengakibatkan pergerakan sekitar sumbu abnormal rotasi subjek pasif yang menahan struktural ke ketegangan yang abnormal Misalnya. Kontrol otot untuk menstabilkan tulang belakang leher tidak bereaksi dengan cepat dalam mencegah pasukan dari terjadi cedera di unit fungsional servikal tulang belakang. bukan hanya berasumsi bahwa rasa sakit adalah hasil dari keadaannya seperti pertimbangan keuntungan sekunder. Dokter harus mengejar evaluasi dan pengobatan gejala whiplash terkait. Penelitian telah menunjukkan bahwa kronisitas gejala whiplash mengembangkan independen dari litigasi. sama seperti cedera jaringan lunak. Cedera ini biasanya sembuh dalam waktu relatif singkat. Kebanyakan pasien dengan sindrom whiplash diharapkan untuk sembuh dalam waktu 2 sampai 3 bulan pertama setelah cedera.masing-masing mengalami cedera karena respon inersia tubuh terhadap pasukan yang diberikan di atasnya. namun cedera yang disebabkan oleh kepala dan pukulan samping juga dapat terjadi. Pukulan dari belakang merupakan pola paling umum kecerderaan whiplash.Bagi pasien yang cedera parah . ligamentum longitudinal anterior. diikuti dengan nyeri bahu korset. dan setelah 2 tahun 82% adalah bebas dari gejala. gangguan visual dan tinnitus. Gejala yang paling sering dilaporkan cedera whiplash termasuk rasa sakit leher dan sakit kepala. mengakibatkan cedera ketegangan dan regangan. parestesia ekstremitas atas. semuanya berisiko untuk cedera.Selama kejadian whiplash disk anterior. Cedera juga terjadi pada jaringan lunak leher . dan litigasi tidak mengubah respon terhadap pengobatan. ruang C5-6 disk melebar secara anterior dan menyebabkan batasan antara prosesessus artrikuler pada sendi zygapophyseal C5-6 dan geseran posterior dalam disk. Gejala yang kurang umum termasuk pusing. dan kelemahan. Whiplash didefinisikan oleh gerakan pasif leher. posterior atau anulus dan sendi servikal zygapophyseal .

1977.1975 Abel MS: The radiology of chronic neck pain: sequele of occult traumatic lesions.1982. CRC Crit Rev Clin Radiol Nucl Med 6:469-553. 26. North-Holland Publishing. perawatan perilaku dan intervensi dalam konteks luas mencapai dalam apa yang terbaik untuk fisiologis dan psikologis pasien kesejahteraan. pp 97-112.Kesimpulan Nyeri leher adalah salah satu keluhan paling umum dari pasien yang mencari bantuan medis. Pengetahuan tentang biomekanik tulang belakang dan fisiologi jalan membantu menentukan generator rasa sakit yang paling mungkin dalam setiap kasus. 3. In Vinken PI. 1990. Adams C: Cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. Diagnosis yang akurat memberikan kesempatan terbaik untuk pengobatan yang efektif. Sebagai teknologi kemajuan dan pengetahuan kita tentang gangguan tulang belakang leher tumbuh jalur klinis kami untuk pengobatan masalah serviks akan terus berkembang dan memperbaiki. J Neurosurg 72:370377. Aldrich F: Posterolateral microdiscectomy for cervical monoradiculopathy caused by posterolateral soft cervical disc sequestration. Crit Rev Diagn Imaging 20:27-78. 62 . DAFTAR PUSTAKA 1. Bryun GW. Berbagai struktur tulang belakang dapat menghasilkan tumpang tindih atau simtomatologi jelas. Abel MS: Occult traumatic lesions of the cervical vetebrae. Blok bangunan untuk intervensi terapi yang berhasil mengendalikan termasuk rasa sakit dan peradangan sementara pada saat yang sama mendidik pasien tentang cedera. Amsterdam. 4. editors: Handbook of Clinical Neurology. Hal ini penting untuk melihat pasien secara keseluruhan dan lembaga fisik. 2. tujuan pengobatan dan prognosis. farmakologis.

6. Aprill C. Lord S. 1995. Parr AT. 1999. Annertz M. Singh V. Bodguk N: The prevalence of cervical zygapophyseal joint pain: a first approximation. 13. 1990. Acta Neurochir 146(6):559-565. Barnsley L. 1987. Andenberg L. et al: Transforaminal steroids injection for treatment of cervical radiculopathy: a prospective and randomised study. MartinDunitz. 1994. 2009. 17. spine 17:744-747. Bogduk N: The pathophysiology of whiplash. Brandt L. Dwyer A. Clin Exp Rheumatol 18(2 suppl 19):S59-S64. Wallis BJ. et al:Selective diagnostic cervical nerve root block: correlation with clinical symptomps and MRI-pathology. Wallis BJ. et al: Evaluation of CT-guided periganglionic foraminal steroid injections for teratment of radicular pain in patients with foraminal stenosis. Clin J Pain 9:124-130. spine 7:412-416. 11. Eur Spine J 16(3):321-328. 1992. 8. Spine State Art Rev 12(2):209-242. 1993. Barnsley L. 63 . et al: False-positive rates of cervical zygapophysial joint blocks. 1994. Anderberg L. Ghelman B. 14. 15. N Eng J Med 330(15):1047-1050. 10. Wallis BJ. et al: Lack of effect of intraarticular corticosteroids for chronic pain in the cervical zygapophyseal joints. Anthony M: Cervicogenic hedeahe: prevalence and response to local streroid therapy. Tsairis P. 2000. Benyamin R. Atkinson R. 9. Persson L. Berger O.2007. 7. Barnsely L. Lord SM. J Radiol 80:917-925. Delmer O. Annertz M. Barnsley L. Dousset V. 12. 16. et al: Systematic review of the effectiveness of cervical epidurals in the management of chronic neck pain. et al: Sarcoidosis presenting as cervical radiculopathy: a case report and literature review. et al: The prevalence of chronic cervical zygapophyseal jonit pain after whiplash. Lord SM. Bodguk N: Cervical zygapophyseal joint pain patterns. spine 20:20-26. II: A clinical evaluation. 1998. Pain Physician 12:137-157. Aprill C. 2004. An HS. spine 15:458-461.5. Simpson JM: Surgery of the cervical spine. Lord SM. London.

editors: Neural Blockade in Clinical Anesthesia and Pain Management. Phys Med Rehabil Clin N Am14:455-472. Churchill Livingstone. 64 . Bogduk N.18. JB Lippincott. 26. 27. Clin Orthop 221:149-160. ed 2. Boden SD. Pain 54:213-217. et al:Abnormal magnetic resonance scans of the cervical spine in asymptomatic subjects: a prospective investigation. 1988. Pain Med 9(suppl 1):S11-S34. Bogduk N: Back pain: zygapophiseal joint blocks and epidural steroids. Bogduk N. Spine 13:2-8. Bogduk N: The clinical anatomy of the cervical dorsal rami. Bogduk N: Low back pain. Windsor M. 1977. 1988. 28. 20. Inglis A: The innervation of the cervical intervertebral discs. 25. discography and cervical zygapophiseal joint blocks. Dreyfuss P. Marangola JP. McCowin PR. 24. In Cousins MJ. 1997. Bridenbaugh PO. 19. 23. et al: Cervical spine tomography in trauma. 1988. Bernard TN Jr. Bogduk N. J Bone Joint Surg 72(8):1178-1184. Churchill Livingstone. Moro JJ. Marsland A: The cervical zygapophyseal joints as a source of neck pain. ed 2. 2001. et al: Complications of spinal diagnostic and treatment procedures. Spine 13:610-617. 21. 1987. 2003. 31. Bonaldi G. Twomey LT: Clinical Anatomy of the Lumbar Spine. Bogduk N: The anatomy and pathophysiology of neck pain. 22. Spine 2:163-172. editor: Clinical anatomy of the lumbar spine and sacrum. Facchinetti A. 1982. 1991. Binet EF. 29. 1993. 1990. New York. Aprill C: On the nature of neck pain. New York. Spine 7:319-330. Baruzzi F. Bogduk N. Whitecloud TS III: Cervical Spondylotic myelopathy and myeloradiculopathy: anterior decompression and stabilization with autogenous fibula strut graft. Bogduk N: Cervicogenic headache: anatomic basis and patophysiologic mechanism. Baker R. In Bogduk N. Curr Pain Headache Rep5(4):382-386. Philadelphia. 2008. et al: Plasma radio-frequency-based diskectomy for treatment of cervical herniated nucleus pulposus: feasibility. Davis DO. 30. Bogduk N.

et al: The usefulness of central motor conduction studies in the localization of cord involvement in cervical spondylitic myelopathy. Campbell DG. Graham W. Nardi PV.. 2008. 32. Borchgrevink GE. Br Med J 2:481-485. 39. Greensan M. Cicala RS. 36. Spine J 8(suppl):78S-79S. 1995. 42. Hillier S: Outcome of cervical radiculopathy treated with periradicular/epidural corticosteroid injections: a prospective study with independent clinical review. Chan KM. 41. Phillips DG: Cervical disk lesions with neurologic disorder. 65 . JC. 1966. Clifford TJ. Hartman JT. 1998. Thoni K. Chiu. et al: Plasma disc decompression compared to conservative care for treating symptomatic contained cervical disc protrusion: one year results from a prospective randomized controlled study. et al: MR imaging and radiography of patients with cervical hyperextension-flexion injuries after car accidents. FA Davis.1944. Parsons CM: Referred head pain and its concomitants. AJNR Am J Neuroradiol 27(10):21042111. Nordby A. Eur Spine J 5:319-325. Cailliet R:Neck and Arm Pain. 1979. Cesaroni A. 37. Casilino P. Nelson CL: Cineradiograms of cervical spine in diagnosis of soft tissue injuries. 2000. ed 3. Muscle Nerve 21:1220-1223. Burkhead WZ. Bush K. treatment and prognosis. et al: Percutaneous microdecompressive endoscopic cervical disectomy with laser thermodiskoplasty. 1989. Acta Radiol 36:425-428. J Nerv Ment Dis 99:544-551. Buonocore E. et al: Occult cervical spine injuries in fatal traffic accidents. 1996. 33. and preliminary clinical results. Mt Sinai J Med 67(4):278-282. Campbell AMG. Smevik O. Differential diagnosis. 1960. Angel JJ: Long term result of cervical epidural steroid injections. 40. Clin J Pain 5(2):143-145. 38. JAMA 198:143-147. Chavin JM. J Trauma 119:768-771. Bucholz RW. 35. 1991. Nasathurai S. 2006. 34.safety. Philadelphia.

Bailey B. 48. 45. et al: Functional rehabilitation of cervical spine athletic injuries. Igram CM. Br Med J 2:1367-1368. 1956. 54. Strohm BR: Effect of duration of intermittent cervical traction on vertebral separation. Farrell JP. New York. Bogduk N: Cervical zygapophysical joint pain maps. 2007. Spine 13: 642-747. 1998. Clarke E. Crock HV: A reappraisal on intervertebral disc lesions. Herring SA. Press JM. 1959. Dunn EJ. Davidson RI. Clark CR. Spine 6: 441-446. 2004. 1970. el Khoury GY. Cyteval C. 53. In Kibler WB. Crafts RC: Textbook of Human Anatomy. 1966. Cyriax J: Rheumatic headache. 52. and arm pain. 1965. Brain 75: 187-225. Stratton SA. Ann Surg 130: 1052-1064. Robinson PK: Cervical myelopathy: a complication of cervical spondylosis. Cole AJ. A contribution to the aetilogy and mechanism of neck. Colachis SC Jr. 46.43. 50. Cooper G. Pain med 8(4): 344-353. 49. Metzmaker JN: Shoulder abduction test diagnosis of radicular pain in cervical extradural compressive monoradiculopathies. 1981. Decoux E. et al: Radiographic evaluation of cervical spine injuries. New York. Arch Phys Med Rehabil 47: 353-359. 1979. Aspen. Am J Neuroradiol 25: 441-445. John Wiley. shoulder. 66 . Strohm BR: A study of tractive forces angle of pull on vertebran interspaces in the cervical spine. Colachis S. Med J Aust 1: 983-989. editors: Functional Rehabilitation of Sports and Muskuloskeletal Injuries.. Arch Phys Med Rehabil 46: 820. Cloward RB: Cervical diskography. 44. Thomas E. 1988. ed 2. et al: Cervical radiculopathy: open study on percutaneous periradicular forminal steroid infiltration permormed under CT control in 30 patients. 51. 47. 1938.

65. Spine 8:120-127. Treanor WJ: Cervical radiculopathy. 66. 57. Taguchi T. Bogduk N: Cervical zygapophyseal joint pain paterns. ed 6. J Am Acad Orthop Surg 9(6):376-388. et al: Validation of flexion extensiin radiographs of cervical spine. 60. Dillingham TR. 1994. Honet JC. 1976. Dusunceli Y. 1972. 1990. Injury 18:10-21. Spine 15:453-457. et al: Neck pain: a major cause of disability following car accidents. 1991. 58. Fletcher D: Atlanto-occipital and lateral atlanto- axial joint pain patterns. 2001. 1988. Spine 13(1):79-83. 1994. 2009. J Rehabil Med 41(8): 626-631. Dreyfuss P. et al: The natural history of severe cervical disc degeneration. Dvorak J. 1987. Rothman RH. Arch Phys Med Rehabil 75:342-352. Falconer J. Panjabi MM. 61. Kerr M. Dwyer A. Emery SE: Cervical spondylitic myelopathy: diagnosis and treatment. et al: Nerve root infiltration in the diagnosis of radicular pain. Spine 19:1125-1131. Aprill C. Ellenberg MR. Blackwell. Optimizing the electromyographic screen. Magalliard J.55. 1987. 1990. et al: In vivo flexion/extension of the normal cervical spine. Lauder TD. Deans G. Michaelsen M. Panjabi MM. 2001. Andary M.. Ellis H: Clinicak Anatomy: A Revision and Applied Anatomy for Clinical Students. Novotny J. 67 . 64. Actamaz F. 63. Dooley JF. 56. 67. I. Dvorak J. 59. McBroom RJ. Chang RW: Therapeutic ultrasound in the treatment of musculoskeletal condotions. 62. et al: Identification of cervical radiculopathies. Grob D. Levitt RL. A study in normal volunteers. Hayes KW. London. Am J Phys Med Rehabil 80(2): 84-91. Acta Orthop Scand 43:392-396. J Orthop Res 9:828-834. Arthritis Care Res 3:85-91. et al: Efficacy of neck stabilization exercises for neck pain: a randomized controlled study. Ozturk C. DePalma AF.

et al: Cervical radiculopathy or myelopathy secondary to athetoid cerebral palsy. Sepic SB. et al: Experiments in reffered pain from deep somatic tissues. Ohseti K. Spine 26:1110-1116. Deburg A: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy for spondylotic myelopathy. 1998. Gore DR. 73. Sjaastad O: Cervicogenic headache (CEH): notes on some burning issues. Fuji T. 78. 71. Arch Phys Med Rehabil 70 (5):402-403. Parikh S. Yonenobu K. Garvey TA. et al: Neck pain: a long term follow up of 205 patients. 80. Feinstein B. 69. 74. Spine 27(17): 1887-1894. Jameson RM. Fielding J: Cineroentgenography of the normal cervical spine. 1939. Gardner GM. 2000. et al: Reffer pain distribution of the cervical zygapophyseal joints and cervical dorsal rami. Transfeldt E. Kelly CK: Cervical discography: clinical implications from 12 years experience. Benoist M. 1954. 1987. J Bone Joint Surg Am 69:815-821. Fast A. Pain 68:79-83. 77. J Bone Join Surg (Am) 39:1280-1284. 2002. 2000. Furusawa N. 70. Fukui T. Miiyoshi N. Spine 25:1382-1389. N Y State J Med xxxix:969-974. Grubb SA. Babaa H. 68 . Gore DR. 79. Fredriksen T. 1987.68. Spine 12:1-5. 75. J Bone Joint Surg Am 36:981-997. 72. 1957. 1989. 1984. Spine 9:667-671. et al: Outcome of anterior cervical discectomy and fusion as percieved by patients treated for dominant axialmechanical cervical spine pain. Spine 15:440447. 76. Marin E: The shoulder abduction relief sign in cervical radiculopathy. Shiotani M. Guigui P. Fujiwara K. Hadley LA: Anatomicroradiographic studies of the spine: changes responsible for certain painful back conditions. Malcolm JR. et all: Herniation of cervical intervertebral disk: immunohistochemical examination and measurement of nitric oxide production. 2001. Funct Neurol 15(4):199-202. Sepic SB: Antrerior cervical fusion for degenerated or protruded discs: a review of one hundred forty-six patients. 1996. Langton JBK.

90. Herkowitz HN: The surgical management of cervical spondylitic radiculopathy and myelopathy. 1999. et al: Laminoplasty versus laminectomy and fusion for multilevel cervical myelopathy: an independent matched cohort analysis. Lancet 353:307-314. 1999. Edwards CC II. J Spinal Disord 12:396-401. Spine 26(12):1330-1336. Hekowitz H. Hirabayashi K. 1985. Clin Orthop Relat Res 198:179-183. Heckmann JC. 2002. Haldeman S. Murakami H. Hawkey DJ: Cox-2 inhibitors. Headache Classification Committee of the international Headache Society: Clasification and diagnostic criteria for headache disorders. cranial neuralgias. Heller H: A biophysical explanation for Nd: YAG percutaneous laser disc decompression success. 92. et al: CT-guided percutaneous laser disk decompression (PLDD) for cervical disk hernia. 1983. Dagenais D: Cervicogenic headaches: a critical review. 2001. 87. Clin Orthop 239:94-108. et al: Expansive open door laminoplasty for cervical spine stenotic myelopathy. Kautiainen H. 88. J Clin Laser Med Surg 19(5): 235-238. 89. and facial pain. Hellinger J. 2001. Heller JG. et al: The diagnostic accuracy of spinal nerve injection studies: their role in the evaluation of recurrent sciatica. Spine 15: 1026-1030. Fukuda K. Haueisen DC. Radiat Med 19(5):263266. Clin Rehabil 22 (7): 592-600. Wakano K. 1990. Hakkinen A.81. et al: Herniated cervical intervertebral discs with radiculopathy: an outcome study of concervatively or surgically treated patients. Overholt DP: Surgical management of cervical soft disc herniation: a comparison between the anterior and posterior approach. Kurz LT. Hanonen P. Dohi M. Spine J 2(2): 162. 2008 82. 1989. Cephalgia 8 (suppl 7): 1-96. 91. Harada J. Zobelein I. Watanabe K.2001 84. Smith BS. Myers SR. 85. Spine 8: 693-699. et al:Strength training and stretching versus stretching only in the treatment of patiens with chronic pain: a randomized one-year follow-up study. 1988. 86. Linke R. 69 . 83. Lang CJ.

1968. Acta Orthop Scandal Suppl 17:39-102. 1980. J Spinal Disord 8(3): 228-232. Pergamon press. 104. radiofrequency neurotomy for cervical facet joint pain. Clin Husted DS. 1982. Hunt WE: Cervical spondylosis: natural history and rare indications for Hunt WE. 99. Jackson R: Cervical trauma: not just another pain in the neck. 1995. Clin Neurosurg 27:466-480. 1954. loeser JD. Neurosurg 33 (29) : 485-502. Orton D. In Hirsch C. Garvin C: Complications and side effects of cervical and lumbosacral nerve root injections. Acta orthop Scand Suppl 17-38. Witten RM: Abnormal myelograms is asymptomatic patients. 97. Arch Phys Med Rehabil 86(2): 277-283. 1986 103. Miller CA: Management of cervical radiculopathy. Zotterman Y. JAMA 188:799-801. Jayson MI: Intervetebral foramen venous obstruction: a cause of periradicular fibrosis? Spine 14(6):558-568.1989. Geriatrics 37:123.1954 100. 2008. et al: Effectiveness of repeated surgical decompression. Hitselberger WE. 101. 2005. Hoogland T. J Spinal Disord Tech 21 (6): 406-408. Huston CW. 102. 96.93. Howe JF. 95. Pain 3:25-41. 94. J Neurosurg 28:204-206. Hoyland JA. Schofferman J. 1977. Slipman CW. New York. Calvin WH: Mechanosensitivity of dorsal root ganglia and chronically injured axons: a physiological basic for the radicular pain of nerve root compression. Hult L: Cervical. 98. 1964. 70 . editors: cervical Pain. 105. Holt EP: Fallacy of cervical discography: report of 50 cases in normal subjects. Hult L: The munkfors investigation. Freemont AJ. dorsal and lumbar spinal syndromes. Hult L: Frequency of symptoms for different afe group and professions. 1971. Scheckenbach C: Low-dose chemonucleolysis combined with percutaneous nucleotomy in herniated cervical disks.

J Neurol Neurosurg Psychiatry 49:353-361. Jeffreys E: Disorders of the Cervical Spine. 116. 117. Med J Aus 148: 233-236. Simmons EF. 1991. Jeffreys RV: The surgical treatment of cervical myelopathy due to Butterworth-Heinemann. 110. et al: Hidden cervical spine injuries in Jull G. et al: Abnormal segmental motion of the Kang JD. Spine 22:1065-1073. et al: Toward a biochemical understanding of human intervertebral disc degeneration and herniation: contributions of nitric oxide. Garrett GD: The segmental distribution of the cutananeous Kellegren JH: Observations on referred pain arising from muscle Clin Sci Kellegren JH: On the distribution of pain arising from deep somatic nerves in the limbs of man. 1948. 108. ed 2. 1997. interleukin6. 114. structures with charts of segmental pain. Kaneoka K. Hart DL. Bogduk NK. Mclntyre L. J Spinal Disord 4:251-263. Kang JD. 1993. disc spontaneously produce matrix metalloproteinases. Oxford. 107. 109. et al: Herniated cervical intervertebral traffic accident victims with skull fractures. Brin G. 1997. Georgescu HI. Jonsson H Jr. Stefanovic-Racic M. 111.106. Holland BA: Imaging of the cervical spine. Arch Phys med Rehabil 52:239-243. nitric oxide. 1988. 1998. 113. 1971. et al: Cervical orthoses: astudy radiculopathy. Anat Rec 102:409-437. Rauschning W. 118. 1986. Clin Sci 3:35-46. 3:175-190. Johnson EW. Inami S. J Bone Joint Surg Am 59:332. Keegen JJ. spondylosis and disc degeneration. Spine 23:2701-2712. 112. cervical zygapophysial joint pain syndromes. 1995. interleukins. 1939. 71 . Spine 20:2373-2378. J Jpn Orthop Assoc 71: S1680. Melvin JL: Value of electromyography in lumbar Johnson RM. cervical spine during whiplash loading. Larkin L. 1938. comparing their effectiveness in restricting cervical motion in normal subjects. prostaglandins and matrix metalloproteinases. Ono L. 115. 1977. Marsland A: The accuracy of manual disgnosis for Kaiser JA. and PGE2.

Larocca H : Acceleration injuries of the neck. J Bone Joint Surg Br 63(2) 272-277. New York. In Kirkaldy-Willis WH. Jbone Joint Surg AM 56:1435-1444. Nygaard OP : Transforaminal steroid injection in the treatment of cervical radiculopathy : a prospective outcome study. Kikuchi S. Prosspective Analysis of Tissue sensitivity of lumbar spinal tissue.1956 72 . Kolstad F. Ahern JW. 122. Macnab I. Leivseth G. 129. Knott M. Its frequency and relationship to symptom. 2001 124.Albert TJ : Health outcome assessment before and after anterior cervical discectomy and fusion for radiculopathy a prospective analysis.119. Bickert U. McGraw-Hill 125. Presented at the annual Meeting of the North American Spine Society. fossa. C R Assoc Anat 43: 488-494. Krempen JF. 1988. Patko JT : Cervical percutaneous laser disc decrompession : preliminary result of ongoing prospective outcome study. 1997.1978 130.1974 128. Churchill Livingstone. Clin Neurosurg 25 :209217. Moreau P: Localisation of the level of symptomatic Kimmel DL: Innervation of the spinal dura mater of the posterior cranial cervical disc degeneration. New York. 1981. Knight MTN. Ludwig J. 120. 1956. Kuslich SD. 121. editor: Managing low back pain.2000 123. Goswarni A. Klein BR. Neurology 10:800-809. Garner MND : An in vivo.1997 127. Smith BS : Nerve root injection : amethod for evaluating the etiology sciatica. Lawrence JS : Disc degeneration. Eur Spine J 6 :357-361. Acta Neurochir(Wien)147:1065-1070.et al : Lumbar epidural perineural injection: a new technique. Spone 25:801-803. New York.1969 131. Voss D : Propioceptive Neuromuscular Facilitation : Patterns and techniques. Kraemer j.2005 126. Ann Rheum Dis 28:121. Kirkaldy-willis WH:The pathology and pathogenesis of low back pain. J Clin Laser Med Surg 19(1): 3-8. Lazorthes G Gaubert J : L’innervation des articulation interapophysaire vertebrales. 1960. Voccato AR.

Brunner GD. 1996. In Lehmann JF. Barnsley L.2008 137. editor : therapeutic hot and cold. Rev Neurol 1: 210- 239. 142. neurosurgery 36:732-739. Williams and Wilkins 134. Cervical Spondylosis simulating motor neuron disease. Lancet 2:652-659.1958 133. et al: third occipital nerve headache:a prevalence study. J Neurosurg 26:990-997. Ricci G. Liversedge LA. Zhang ZH : Percutaneous cervical nucleoplasty in the treatment of cervical disc herniation. fehling MG. tator CH. Lehmann JD.ed 3.Acqui M. Bogduk N : percutaneous radiofrequency neurotomy in the treatment of cervical zygaphophysial joint pain : acaution. 1990. Li J. L’hermitte J Etude de la commation de la moe le). et al: Cervical synovial cyst:case report and review of the literature.et al:Chronic cervical zygapophyseal join pain after whiplash.1982.1932 136. Eur Spine j 8:232-237. Lord SM. Eur Spine J 17:1664-1669. Lunardi P. Macdonald RL. Arch Phys Med Rehabil 39:560-565. Lord SM. ed 4. Barnsley L. Stow RW : Pain threshold Measurement after therapeutic application of ultrasound. microwaves and infrared. Clin J Pain 11:208-213. Lord SM. et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft 144. Baltimore. 141. Wallis BJ. Williams and Wilkins 135.132.1995 139. Spine 21:17371745. 1197. Barnsley L. Delateur BJ : Therapeutic heat. Macdonald RL. Yan DL. et al: Multilevel anterior cervical corpectomy and fibular allograft fusion for cervical myelopathy. lyons JB. Lord SM.1995 140. Barnsley L. HutchinsonEC.1999 143. J Neurol Neourosurg Psychiatry 57: 1187-1190. Wallis BJ. Baltimore. Lehmann JF. Lehmann JF: Therapeutic Heat and Cold. Bodguk N: The utility of comparative local anesthetic block versus placebo-controlled block versus placebo-controlled blocks for the diagnosis of cervical zygapophysial joint pain. 1994. 73 . Fehling MG.1953 138. A placebo-controlled prevalence study.

1993 156. 1992. Malanga G: The diagnosis and treatment of cervical radiculopathy. et al: Systemic review of cervical dischography as a diagnostic test for chronic spinal pain. radiology 3:5-15. Stratford JG. 2002. 1991 152.145. Comey CH: Cervical spinal stenosisz. et al: Prevalence. allograft reconstruction. 151. Neck Ache and Shoulder Pain. 1997 149. Williams & Wilkins. McConnel WE. Bogduk N: Long-term follow up patients treated with cervical radiofrequency neurotomy for chronic neck pain. McDonald GJ. at al: MRI of cervical intervertebral discs in asymptomatic subjects. Guzman HM. pain physician 12: 305-321. Heliovara M. Neurosurgery 45:61-67. Fujimura. Warrendale. Lord SM. Dunbar EE. 146. pain 9: 209-217. Jeans ME. 1994. Makela M. paper 930889. Sievers D. outcome after anterior corpectomy. Mayr MT. et al: Ice Message and Transcutaneous Electrical Stimulation: Comparison of treatment for low back pain. Wargo BW. Determinas and consequences of chronic neck pain in Finland. Martino F. Ettore GC. Manelfe C:Imaging of spine and spinal cord. 2009 150. Subach BR. McCulloc J. Manchikanti L. AMJ Epidemiol 134: 13561367. et al: ( L’ecographia musculo-tendinea nei trauma distorvi acuti del collo). and instrumentation. et al: Analysis of human test subject kinematic responses to low velocity rear end impacts. et al: prevalence of cervical faced join pain in chronin neck pain. Cafaro E. 2002 155. J bone joint surg Br 80:19-24. Malacca R. Manchikanti L. 154. 1993. med sci sports exerc 29 ( suppl ) : s236-s245. Society for Automotive Enggineers. Singh V. Rivera J. Suzuki N. 153. 1980 148. Baltimore. 1998. Howard RP. 1991 147. pain physician 5: 243-249. J Neurosurg 96 (1 suppl): 10-16. 1999 74 . radial med (torino) 83:211-215. Matsumoto M. Macnab I. proceedings of the 37th STAPP Car Crash Conference.

1987 164. Acta Radiol 46:927. Philadelphia. 1955. Gordon RE.. teshima R. Baltimore. Nagashima H. et al: Painful intervertebral dysfunction: Robert Maigne’s original contribution to headache of cervical origin. 1986 166. Agur AM: Essential Clinical Anatomy. Modic M. Mikawa Y. International Association for the Study of Pain. Bellavance A. 1994. Spine 26: 1238-1245. Mulopulos G. 2003. 1993. Bogduk N.157. In Michlovitz S. Clin Orthop relat Res 129:49-60. Deustch Al: The cervical spine: radiologist’s perspective. Merskey H. ed 2. Michlovitz S: Cryotherapy: the use of cold as a therapeutic agent. Davis 163. 158. Shikata J. editors: Cervinogenic headache. et al: Cervical radiculopathy: prospective evaluation with surface coil MR imaging. In Merskey H. Meloche J. CT with metrimazide and metrizamide myelography. Murphy RW: nerve roots and spinal nerves in degenerative disk disease. 1977 75 . 2001 168. The Quebec Headache Study Group. Phys Med Rehabil Clin N Am 14:493-548. Yamamuro T: Spinal deformity and instability after multilevel cervical laminectomy. Moore KL. Mink JH. science 150:971-979. editor: Thermal Agents in Rehabilitation. Williams & Willkins. 1990. Melzack R. Wall PD: Pain mechanisms: a new theory. Morio Y. McKinney LA: Early mobilization of acue sprain of the neck. 162. 161. Spine 12:6-11. Br Med J 299: 1006-1008. Headache 33 (6): 328-334. 167. Seattle. 1956 159. Bogduk N: Classification of chronic pain: descriptions of chronic pain syndromes and definitions of pain terms. 1965. 1989. Bergeron Y. McRae DL: Asymptomatic intervertebral disc protrusions. Radiology 161:753-759. 160. 165. et al: Correlation berween operative outcomes of cervical compression myelopathy and MRI if the spinal cord. Masaryk T.

et al: CT myelographic findings in degenerative disorders of the cervical spine: clinical significance. Brain 95:101-108. Pavlov H. Saunders. 179. In Rothman RH. Spine 20(17):1884-1888. Brandt L: Cervical radiculopathy:pain. Clin Sports Med :761. 174. Parke. Torg JS: Roentgen examination of cervical spine injuries in the athelete. Pearson A. AJR Am J Roentgenol 7:119-127. Philadelphia. editor: Rehabilitation Medicine: Principles an Practice. zolmarker K. editors: The spine. Lippincott. Spine 18:1425-1432. Parminder SP: Management of cervical pain. et al: Injury mmechanism of the cervical intevertebral disc during simulated whisplash. Philadelphia. 2004 176. Persson LC. O’Sullivan PB. J Bone Joint Surg Br 65:608-611. 1987. 180.169. muscle weakness and sensory loss in patients with cervcal radiculopathy treated with 76 .: Evaluation of specific stabilizing evercise in the treatment of chronic low back pain with radiologic diagnosis of spondylosis or spondylilisthesis. ed 3. Watt I: The prognosis of neck injuries resulting from rearend vehicle collisions. 1998. 1992. Spine 29(11):1217-1225. Wilmink JT. 1972 173. WW: Applied anatomy of the spine. 177. Morits U. 175. Spine 22:2959-2967. Ito S. 1986. Nilsson N: The Prevalence of cervicogenic headache in a random population sample of 20-59 years old. In DeLisa JA. 1997. Nurrick S: The Natural history and the results of surgical treatment of the spinal cord disorder associated with cervical spondylosis. Eur J Appl Physiol 57:353-359. Van Woerdden HH. 1995 171. Rydevik B. Phyty GD. Twomwy LT. Penning L. Panjabi M. 178. Norris H. 1993. 1983 172.. Nordborg C: Autologous nucleus pulposus induces neurophysiologic and histologic changes in porcine cauda equine nerve roots. 1988 170. Simone FA. et al. Newham DJ: The Consequences of eccentric contractions and their relathionship to delayed-onset muscle pain.

Radanov BP. 1976-1990. Accid Anal Prev 2004(36):21-27. 1986. Toolanen G. 181. Herring SA. Press JM. Poindexter DP. J comput Assist Tomogr 13:399-404. 186. O’Fallon WM. Rappaport ZH. Petterson K. Stereoact Funct Neurosurg 54-55. et al: MRI and neurology in acute whiplash trauma: no correlation in prospective examination of 39 cases. Johnson EW: Football shoulder and neck injury: a study of the ‘stinger”. Tomas DL. 90-95. Hildingson C. 1996. 187. Brain 117(pt 2):325-335. et al: Anatomy of the normal and traumatized spine. In Sances A. physiotherapy or cervical collar: a prospective. et al: Neck strains and sprains among motor vehicle occupants-United states. editors: Mechanisms of Head and Spine Trauma. Di Stefano G: Long-term outcome after whisplash injury: a 2-year follow-up considering features of injury mechanism and somatic. 1986. Quinlan KP.In The textbook of Military Medicine. Metes J:MR imaging compressive myelomalacia. 185. J Neurol Neurosurg Psychiatry 36:879-884. controlled study. Pain Clinic 1:3-7. Kibler WB: Rehabilitation of musculoskeletal disorders. Borden Institute. radiologic. 1984. 188. 2000. 1990 191. Philips DG: Surgical treatment of myelopathy with cervical spondylosis. 182. 189. Annest JL. Deer Park. 1994. Office of the Surgeon General. Dever M: Experimental pathophysiological correlates of clinical symptomatology in peripheral neuropatic pain syndrome. 1977. Rauschning W. Acta Orthop Scand 65:525-528. Ramanauskas W. Wilner H. Eur Spine J 6:256-266. Purkis IE: Cervical epidural steroids. Arch Phys Med Rehabil 65:601-602. Aloray 77 . Myers B. 1995. Radharkrishnan K. Ewing CL. Sturzenegger M. 184. Litchy WJ. 1973 183. Minn. et al: Epidemiology of cervical radiculopathy: a population-based study from Rochester. 1989 190. and psychososial finding. 1994. DC. Medicine 74:281-297.surgery. Washington.

Gutieerez DA. 1995. fusion for the treatment of cervical radiculopathy: a prospective randomized study. Arenillas JIC. Riew DK. Gorup J: Radiofrequency medical branch neurotomy in litigantanonlitigantpatientswithcervicalwhiplash. 199. 2006 195. 1995 193. Patel A: Orthotic devices in the management of spinal disorders. 2001.Spine26(12):E268E273. Brown M. 1984. Arthritis Rheum 26:207-209. Spine J 6(suppl):2S-3S. Heller J. Rubinstein SM. 1995 200. 194.192. Spine 9:7-15. Yurth E: Nonoperative management of herniated cervical intervertebral disc with radiculopathy. 204. Rydevik B. 2005. Eur Spine J 16(3):307-319. manual therapy and education:a review of conservative measures. Reitman C. Spine J 5:88S. Redford JB. Gilula L: Can cervical nerve root blocks prevent surgery for cervical radiculopathy? A prospective. et al: Cervical radiculopathy: a rare symptom of giant cell arteritis. Spine 20:1821-1827. Spine 21(3): 300-312.Schellhas KP. 2007 197. Russell EJ: Computed tomography and myelography in the evaluationof cervical degenerative disease. 1986 196. et al: Cervical discogenic pain: prospective correlation of magnetic resonance imaging and discography in asymptomatic subjects and pain sufferers. Kim Y. Lundborg G: Pathoanatomy and pathophysiology of nerve root compression. Sanchez MC. et al: A systematic review of the diagnostic accuracy of provocative tests of the neck for diagnosing cervical radiculopathy.Sapir D. 78 . 1996 201. Rowlingson JC. Esses S: Modalities. Gundry CR.Sasso R. Spine 21(16):1877-1883. 1983 202. randomized. Spine state art rev 9:673-688. Saal J. Neuroimaging Clin N Am 5(3):329-348. 1995 198.controlled.double-blind study. van Tulder MW. Kirschenbaum LP: Epidural analgesic techniques in the management of cervical pain. Saal J. 203. Saal J: The role of inflammation in lumbar pain. 1996. Smith MD. Pool JJ. Anesth Analg 65:938-942. Spine State Art Rev 9:661-672. Hacker R et al: Artificial disc vs.

Lougheed WM. Goldthwaite N. 216.Sharps LS. Saunte C. Clin Orthop 108:57-69. Fredriksen and T: Cervicogenic headache: criteria. 1994. 207. 206. Aebi M: Cervical discography in discogenic pain syndrome and its predictive value for cervical fusion. 1943.Sjaastad O. et al: ‘Cervicogenic’ headache: an hypothesis.Schofferman J. Murphey MD: The syndrome of unilateral rupture of the sixth cervical intervertebral disk with compression of the seventh cervical nerve root: a report of four cases with symptoms simulating coronary disease. 212. Fredriksen T.Schutz H.Sjaastad O. JAMA 121:1209-1214. 79 . Segil CM: An evaluation of discography in the localization of symptomatic levels in discogenic disease of the spine. Garges K. 211. et al: Upper cervical anterior diskectomy and fusion improves discogenic cervical headaches Spine 27(20):2240-2244. 1986. 1973. 1975. Cephalalgia 3:249-256. 214.Selecki BR: Whiplash.Siebert W: Percutaneous laser discectomy of cervical discs: preliminary clinical results. 17(2suppl classification epidemiology. et al: Invertebral nerve root in the investigation of chronic lumbar disc disease. J Clin Laser Medi Surg 13(3):205-207.Shulman M: Treatment of neck pain with cervical epidural injection. Aust Fam Phys 13:243-247. 2000. Arch Orthop Trauma Surg 113:199-201. The Cervicogenic Headache International Study Group.ClinExpRheumatol 19):S3-S6. Reg Anesth 11:92-94. 213.Seibenrock KA. 2002. 215.Sjaastad O. Isaac Z: Percutaneous disc decompression using nucleoplasty. 208. Pain Physician 5(2): 121-126 2002. 1998.205. Can J Surg 16:217-221. 1984. 1995. Hovdahl H.Simmons EH. 210.Semmes RE. 209. 1983. Wortzman G. Pfaffenrath V: Cervicogenic headache diagnostic criteria. Headache 38(6):442-445.

Spine J 5(4): 381-388. Lipetz JS. 226. Isaac Z. 218. Slipman CW.Slipman CW. Freg ME. Plastaras C. 225. et al: An evidence-based algorithmic approach to cervical spinal disorders. et al: Cervical zygapophyseal joint syndrome and referral to the head and face: premilinary data from 100 patients. 2005. Jackson HB.2001. DePalma MJ. et al: Outcomes of therepeutic selective nerve root blocks for whiplash induced cervical radicular pain.2002.Slipman CW. Isaac Z. Arch Phys Med Rehabil 81:741-746. Lipetz JS. 2004. et al: Does the cervical zygapophyseal joint refer symptoms to the neck bilaterally? preliminary data from 100 patients. 220. Slipman CW. et al: Outcomes and side effects following percutaneous cervical disk decompression using coblation technology: a pilot study. Palmitier RS. Lipetz JS. Thomas J. 219. Lipetz JS. Plastaras CT. Patel R. Isaac Z. Slipman CW. 222. 221. et al: Therapeutic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of traumatically induced cervical spondyliticradicularpain. Spine 23: 2235-2242.AmJPhysMedRehabil83(6):446-454. Slipman CW. Plastaras CT. 2001. Am J Phys Med Rehabil 80(3): 182-188. Arch Phys Med Rehabil 83(11): 1665. Slipman CW. Crit Rec Phys Rehabil Med 13(4):283-299. Spine J 4(5S):71S. 80 . et al: Provocative cervical discography symptom mapping.2002. 223. Oleski C. et al: Therapeutic zygapophyseal joint injections for headaches emanating from the C2-3 joint.2004. et al: Symptom provocation of fluoroscopically guided cervical nerve root stimulation: are dynatomal maps identical to dermatomal maps. 1998. Slipman CW. pain physician 4(2):167-174. Chow DW. Bhargava A.Slipman CW. Jackson HB.217. 2001. 2000.Slipman CW. 224. et al: Therapeautic selective nerve root block in the nonsurgical treatment of atraumatic cervical spondylitic radicular pain: a retrospective analysis with independent clinical review. Arch Phys Med Rebail 83(11): 1664.

1987. 232. Surg Gynecol Obstet 78:350-358. 2000. 1999. Sobel JB. Medj Aust 174: 174-176. Swanberg H: The Intervertebral Foramina in Man. Prentice C. 231. Swezey RL. computed tomography. 1944. Sollenberger P. Spine 20 (suppl 8): 3s-73s. Scoville WB: Lateral rupture of the cervical intervertebral discs: a common cause of shoulder and arm pain. Radiology 68: 718-720. Spine 15(6): 540-543. Spurling RG. et al: Scientific approach to the assessment and management of activity-related spinal disorder: a monograph for clinicians. Stanley D. 1988. Speldewinde GC. Su RK: Treatment of whiplash injuries with acupuncture. Sweeney T. 1990. 234. 1990. Su HC. et al: Cervical nonorganic signs: a new clinical tool to assess abnormal illness behavior in neck pain patients: a pilot study. Salmi LR. Skovron ML. Leblanc F. 233. Clin J Pain 4: 233. 1995. Smith GW. Nichols PJ: The technique of cervical discography. Saal JA.associated disorders: redefining whiplash and its management. 230. 2000. 237. 81 .S57. Am J Phys Med Rehabil 78:30-32. Robinson R. 1995. Phys Med Rehabil State Art Rev 4:335-360. McLaren MI. 236. Scientific Publishing. Euinton HA. 1957. et al: Cervicothoracic muscular stabilizing technique. Spine 12(suppl): S1. Report of the Quebec Task Force on Spinal Disorders. Dupuis M. and operative findings. Chicago. 229. 235. Arch Phys Med Rehabil 81:170-175. Bashford GM. et al: A prospective study of nerve root infiltration in the diagnosis of sciatica: a comparison with radiculography.227. Swezey AM: Efficacy of home cervical traction therapy. Davidson IR: Diagnostic cervical zygapophysial joint blocks for chronic cervical pain. Spitzer WO. Spitzer W. et al: Scientific monograph of the Quebec Task Force on whiplash. 228.

238. VanAkkerveeken PF: nilai diagnostik infiltrasi sheat akar saraf. Tomita K. Scand J Rheumatol Suppl 47:15-29. Carlier RTy. Und B. Reicher MA. Szabo T.2001 245. In Proc 40th Stapp Car Crash Conp 1996 pp 295-315. Twomey LT: Acute injuries to cervical joints: an autopsy study of neck sprain.1989. tahun 1993. Cephalalgia 1 (suppl 25) :11-16. 241. Arch Phys Med Rehabil 70:692-695. Nordwall A. 1999 82 . 239. Spine 9: 1115-1122. Radiology 164: 83-88. dkk: radikulopati servikal kronis: pendekatan injeksi perradicular lateral yang kortikosteroid. Lufkin RB. Taylor JR. Vincent G: sakit kepala cervicogenic perbandingan dengan migrain dan sakit kepala tipe tegang. Arch Orthop Trauma Surg 107:148-153. Vargo MM. 248.1988 243. 246. Klaukka T: Rheumatic symptoms in the middle aged population in southwesten Finland. Welch J: Human subject kinematic electromyographic activity during low speed rear impacts. Vallee JN. 1993. et al: Asymptomatic degenerative disk disease and spondylosis of the cervical spine: MR imaging. Teresi LM. 244. Schlbom H. Arch Phys Med Rehabil 71:606-609. 1996.1990. Porras M. Umaeda S. Spine 14:253-257. 247. Viikari-Juntura E. 240. 1982. 1987. et al: kisaran normal gerak pada tulang belakang leher. Sievers K.1989. Society for Automotive Engineers. Laasoen EM. KM Banjir. 242. et al: Serviks laminoplasty untuk memperbesar kanal tulang belakang di osifikasi bertingkat dari ligamentum longitudinal posterior dengan myelopathy. Pancoast tumor menyajikan sebagai radioculopathy serviks. Nomura S. Feydy A. Warrendale. Takala J. Validitas tes klinis dalam diagnosis kompresi akar pada penyakit disc serviks. Acta Orthop Scand 251 (suppl) :61-63. radiologi 218:886-892.

Philadephia. ed 2. Whitecloud TS. Levine La. Yoss RE. Spine 12:313-316.1957. Yu YL. Philadephia. 1990. Pendekatan konservatif untuk manajemen.1987. McCarthy CS. J tulang sendi Surg Am 55:525-534. Wolff MW. Neurologi 7:673683. Seago Ra: serviks discogenis sindrom: hasil intervensi toperative pada pasien dengan Diskografi positif. 1974.1994. 253. 251. Deponte RJ. Wilbourn AJ. Lippincott. somatosensori membangkitkan potensi dalam cervical spondylosis: korelasi median. dan tanggapan saraf tibialis posterior dengan temuan klinis dan radiologis. dkk: signifikansi gejala dan tanda-tanda di lokalisasi di root terlibat dalam tonjolan disk serviks.2002.1960. Pemijatan Beard: Prinsip dan Teknik. Brain 83:589-616. Scand J Med Soc 8:131-136. 252. Wood EC. Westerling D. otot saraf 21:16121631. 254. et al: Bantuan dari rasa sakit oleh pasien. Phys Med Clin Rehabil N AM 13:589-608. Southwick WO.1973. Ruuska J: penggunaan klinis pengukuran kekuatan leher isometrik dalam rehabilitasi.1998. White AA III. Jones SJ.: radiculopathies serviks:.1985 83 . Saunders. Arch Phys Med Rehabil 75:465-469. 259. otak 108:273-300. AAEM minimonograph 32: pemeriksaan diagnostik elektro pada pasien dengan radioculopathies.1990 250. Wilkinson M: Anatomi mengerikan dari cervical spondylosis dan myelopathy. Ylinen J. Aminoff MJ. Punjab MM: Masalah ketidakstabilan klinis pada tulang belakang manusia: Pendekatan biokimia pada sistemik tulang belakang. Jonsson BG: nyeri dari daerah leher-bahu dan cuti sakit. Corbin KB. ulanr. 258. 255.249. White AA III. 256. 257.

Woo E.260. Simmons E: Nilai pencitraan resonansi magnetik dan Diskografi di detrmining tingkat serviks discectomy fusi d. Zheng Y. Yu YL. Liew S. Spine 29 (19) : 2140-2145. 261.1987. Huang CY.: cercival spondylotic myelopathy dan radikulopati. Acta Neurol Scand 75:367-373. 2004. 84 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful