FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA BERULANG PADA BALITA USIA 36 – 59 BULAN DI PUSKESMAS SALOTUNGO WATAN

SOPPENG

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar

Oleh

RADHYALLAH C. 121 08 531

FAKULTAS KEDOKTERAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2009

HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan judul

“FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

KEJADIAN ISPA BERULANG PADA BALITA USIA 36 – 59 BULAN DI PUSKESMAS SALOTUNGO WATAN SOPPENG”

Diajukan oleh :

RADHYALLAH C.121 08 531

Disetujui untuk diajukan dihadapan Dewan Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Pembimbing I

Pembimbing II

Nurhaya Nurdin,S.Kep.Ns,M.N

Bestfy Anitasari,S.Kep.Ns

Mengetahui, Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

DR. dr. Ilhamjaya Patellongi, M.Kes Nip : 19580128 198903 1 002

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI “FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

KEJADIAN ISPA BERULANG PADA BALITA USIA 36 – 59 BULAN DI PUSKESMAS SALOTUNGO WATAN SOPPENG”
Diajukan oleh : R AD H Y A L L A H C 121 08 531 Telah dipertahankan didepan dewan penguji skripsi Pada hari : Selasa, 02 Januari 2010 Tempat : Ruang Kelas 1 Lt.4 PSIK. FK. Univeristas Hasanuddin Makassar Tim Penguji

1. DR. dr. Ilhamjaya Patellongi, M.Kes ( ………………………………. ) 2. Syahrul Said,S.Kep.,Ns 3. Nurhaya Nurdin,S.Kep.Ns,M.N 4. Bestfy Anitasari,S.Kep.Ns ( ………………………………. ) ( ………………………………. ) ( ………………………………. )

Mengetahui, An. Dekan Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar

DR. dr. Ilhamjaya Patellongi, M.Kes Nip : 19580128 198903 1 002

DR. dr. Ilhamjaya Patellongi, M.Kes Nip : 19580128 198903 1 002

dr.Kep. selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dan arahan dari awal hingga akhir penyusunan proposal ini . selaku pembimbing yang telah memberikan masukan tentang metode penulisan dalam penyelesaian proposal ini 5.Kep. selaku penguji yang bersedia meluangkan waktunya untuk memberi bimbingan dalam ujian proposal ini 4. Syahrul Said. Bapak DR. Proposal ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan system kredit semester di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar Penulis menyadari bahwa bahwa proposal ini dapat selesai karena bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Bestfy Anitasari.M. Bapak Prof.Ns. S. S.KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT.N. M.Kep.Ns. 3. sekaligus sebagai penguji yang telah memberikan masukan dan arahan sehingga proposal ini dapat selesai.Ns. Ilhamjaya Patellongi. Nurhaya Nurdin. oleh karena itu pada kesempatan ini. dr. S. peneliti menyapaikan terimakasih dann penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kepada : 1. DR.Kes selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin Makassar. Irwan Yusuf.D selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar 2. karena atas rahmat dan karuniaNya sehingga Proposal ini dapat selesai. Ph.

baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung untuk memberikan saran dan kritik dalam penyelesaian proposal ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan proposal ini masih jauh dari kesempurnaan dan oleh karena itu dengan segala kerendahan hati. Teman-teman sejawat. Pimpinan Puskesmas Salotungo Watansoppeng – Provinsi Sulawesi Selatan. Keluarga tercinta yang senantiasa member support dalam rangaka menyelesaikan proposal ini 8. penulis menerima segala saran dan kritik yang sifatnya membangun dalam penyempurnaan proposal ini.6. 27 Oktober 2009 Penulis Radhyallah . Terimakasih Makassar. yang bersedia memberi izin dalam pengambilan data awal untuk mendukung proposal ini. 7.

7%) Balita. Dan pada tingkat pengetahuan ibu tentang ISPA dengan kategori baik terdapat 4 (26. Artinya ada hubungan antara perilaku rhidup bersih sehat dengan kejadian ISPA berulang pada Balita. Dari penelitian ini diperoleh bahwa kejadian ISPA pada rumah tangga tidak sehat terdapat responden 10 (66. Hasil uji statistik dengan menggunakan SPSS versi 16. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA BERULANG PADA BALITA USIA 36 – 59 BULAN DI PUSKESMAS SALOTUNGO WATAN SOPPENG.3%). Artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ISPA dengan kejadian ISPABerulang pada Balita.009.7%) lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga sehat dengan jumlah responden 5 (33.0 diperoleh nilai p = 0.0 diperoleh nilai p = 0. sakit tenggorokan disertai dengan demam atau tidak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa yang berhubungan dengan kejadian ispa berulang pada balita usia 36 – 59 bulan di puskesmas salotungo watan soppeng Bentuk penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional yaitu mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ispa berulang pada balita usia 36 – 59 bulan di puskesmas salotungo watan soppeng.009.7%) Balita yang menderita ISPA lebih sedikit dibandingkan dengan tingkat pengetahuan ibu dengan kategori kurang yang berjumlah 7 (46. salah satunya adalah pendidikan namun yang tidak kalah penting adalah adanya pendidikan kesehatan karena dengan pendkes tersebut dapat mensejajarkan tingkat pengetahuan masyarakat . Berdasarkan hal tersebut diatas maka penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan menerapkan pola perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap anggota keluarga akan menciptakan rumah tangga yang sehat yang pada akhirnya akan meninggkat derajat kesehatan setiap anggota keluarga dan pengetahuan tentang ISPA sangat di pengaruhi oleh banyak hal. mulai dari rongga hidung sampai alveoli beserta organ adneksanya (sinus. Hasil uji statistik dengan menggunakan SPSS versi 16. DIBIMBING OLEH NURHAYA NURDIN DAN BESTFY ANITASARI. Karena nilai p < 0. Karena nilai p < 0.05 maka Ho tidak ditolak.ABSTRAK RADHYALLAH. XI + 54 Halaman + 10 Tabel + 24 Lampiran Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi pada saluran pernafasan . rongga telinga dan pleura).05 maka Ho tidak ditolak.yang disebabkan oleh mikroorganisme yang berlangsung selama 14 hari ditandai dengan batuk pilek.

......................... 1 B................................................................................ 4 1...... 5 3............................................................................................................. 5 5...................................................................................................................................................................................................... Pengobatan ........................... ii Halaman Pengesahan.......................... Latar Belakang ...................................... Masalah Kesehatan Balita .............. 7 1..................................................... PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ Manfaat Penelitian .................................................................................................................................. Tinjauan Tentang Balita ................................................................................................... 6 B............ 4 A................................................... iv A b s t r a k ..... iii Kata Pengantar .... Etiologi .................................... 4 2..................................................................................... 3 BAB II........................................................... 3 2........DAFTAR I S I Halaman Judul ...................................................... Tujuan Penelitian ............................................................ Defenisi Balita .......................... vi BAB I.................................................... 3 1....... Tinjauan Tentang ISPA .............................. 2 C........ i Halaman Persetujuan ............................. 8 ......................................................... 5 4................................................................................................. Definisi .................. TINJAUAN PUSTAKA ...... 7 2........................................................................................ Klasifikasi ISPA .... Rumusan Masalah .................................................. Pencegahan ..... Tanda Gejala Umum ISPA ........................................................................................................................................................................ 6 6.... Tujuan Umum ............................................................................. Tujuan Khusus ...................................................... 3 D.. 1 A........................................................................................................................................................................................................................................

........................................................ 29 2.................................................... Manfaat PHBS ............. 29 B........................................ 27 B.................................................................. Kerangka Konsep ................ Indikator Penilaian PHBS .......... 27 A...................................... Populasi dan Sampel .................................................................................................................................... Status Gizi Balita .......................................................................................................C.... Imunsasi .......................... Waktu Penelitian ................................................................................... 9 b...................................................................................................... 30 3............... Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) ...................................................................................... 29 C......................................... METODE PENELITIAN .................................... Sirkulasi Udara ... KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS .......................... 28 BAB IV................. 29 A.................... Populasi ............................................................................................................... Definisi PHBS ......................................... Akses Jaminan Layanan Kesehatan ........ 19 5......................................................... Kriteria Inklusi dan Eksklusi ........ 29 1.......................... 31 ... Pengetahuan Ibu Berhubungan dengan Kejadian ISPA................................................... 25 BAB III..................................................... Hipotesis ...................................................................................................................................................... 17 4................... 9 c....................................................................................... 9 1.. 9 a.............. Sampel ......... Rancangan Penelitian ..................................................................... 29 2................ Kepadatana Hunian ............... 29 1......................................................................................................... Tempat dan Waktu Penelitian ................................ 15 3.... Tempat Penelitian ........................................................................ 13 2................... Tinjauan Umum Tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Berulang ....................... 22 6......................................... 23 7.......................................................

............................................................. Masalah Etika ......................................................................................... 49 1.................................... Hasil Penelitian................................................. 52 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 50 3............................. Analisa bivariat.................................................................... 33 2.................. 40 A................ Pengetahuan Ibu tentang ISPA........................... SARAN ...... 40 1................. Pembahasan ....................................... Perilaku Hidup Bersih Sehat ................ 37 G................................... Analisa Univariat............. 49 2.................................................................................................................................... 33 1.......................................................................................................... 51 4......... Pegolahan dan Analisa Data .................................................... 55 A... 55 B..................................................................D..................................................... Karakteristik Responden Orang Tua Balita.......................................................................................... 33 F................................ Identifikasi Variabel .................................................................... Status Gizi ................................ 55 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ...................................... 43 4...................................... 45 B................................................................................. Akses Jaminan Layanan Kesehatan Masyarakat ......... 40 2............................................................ 32 E............................ 38 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................ Alur Peneltian .................................................................................. 42 3........................... Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif ...................................... Kesimpulan ............................. Variabel Penelitian ................................................................ Karakteristik Balita.............................................

...................................................... 44 Tabel 7 Hubungan Perilaku Hidup Bersih Sehat dengan Kejadian ISPA di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng .................................................. 45 Tabel 8 Hubungan Akses Jaminan Layanan Kesehatan Masyarakat dengan Kejadian ISPA di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng ................... 47 Tabel 10 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian ISPA di di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng........................................................ 46 Tabel 9 Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA di di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng ......................... 24 Skema Kerangka Konsep Penelitian ................................................................................................................................................... 32 Tabel 3 Baku Penilaian Status Gizi Anak Perempuan dan Anak Laki-laki Usia 3659 Bulan Menurut Berat Badan dan Umur (BB/U)............................................ 19 Tabel 2 Perbandingan Kebutuhan Kamar dan Jumlah Penghuni................... 42 Tabel 6 Distribusi Variabel Faktor-faktor Yang Berhubunga dengan Kejadian ISPA pada Balita Usia 36-59 Bulan di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng ............. 48 ........................................ 41 Tabel 5 Distribusi Sampel Balita di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng.....................................................................................................DAFTAR TABEL Tabel 1 Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif............................................................................... 35 Tabel 4 Distribusi Karakteristik Responden Orang Tua Balita di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng......................................... 27 Bagan Alur Penelitian ........................................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran : 1. Print out hasil penelitian 4. Soppeng 6. Surat keterangan telah melakukan penelitian dari Kepala Puskesmas Salotungo Kab. Kuesioner 2. Master Tabel 3. Surat izin penelitian dari Kesbang Politik dan Linmas Kab. Surat izin penelitian dari Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar 5. Daftar riwayat hidup . Soppeng 7.

tahun 1997 terjadi prevalensi 9% dengan kelompok umur 6 – 11 bulan. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan terjadi pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. Prevalensi ISPA dalam beberapa tahun menurut hasil SDKI yaitu pada tahun 1991 terjadi prevalensi 9. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.BAB I PENDAHULUAN A. 2007).8% dengan kelompok umur 12 – 23 bulan. 2004). Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat (Rasmaliah. karena ISPA (seperti . 40 % . Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. tahun 1994 terjadi prevalensi 10% dengan kelompok umur 6 – 35 bulan.3% dari sekian kasus penyebab kematian pada balita (Depkes RI. Dari pola 10 penyakit terbanyak di beberapa rumah sakit umum di Indonesia maupun data survey (SDKI.60 % dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. sinusitis. Latar Belakang ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) masih merupakan masalah kesehatan yang penting. Surkesnas) juga menunjukkan tingginya kasus ISPA. tahun 2002-2003 . pneumonia) penyebab kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. common cold. Penyebab kematian bayi di Indonesia hasil survey mortalita subdit ISPA tahun 2005 menunjukkan bahwa ISPA merupakan dari penyebab kematian bayi dengan jumlah 22. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. influenza.

Faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Salotungo Kabupaten Soppeng. B.03% dari jumlah kasus pola 10 penyakit terbesar. Sedangkan menurut data yang dikumpulkan melalui Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2008 tercatat bahwa jumlah kasus ISPA sebanyak 42. Kab. Soppeng. khususnya diwilayah kerja Puskesmas Salotungo sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA pada Balita.29% dari seluruh kejadian ISPA di Puskesmas SalotungotaTahun 2008 yang dialami oleh Balita. maka peneliatian ini difokuskan pada . Dari hasil uraian diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ISPA merupakan masalah kesehatan utama yang ada ditengah masyarakat baik ditingkat nasional maupun tingkat kabupaten/kota. 2007). . 2008).563 penderita (Dinkes SulSel.terjadi prevalensi 8% dengan kelompok umur 6 – 23 bulan. Dan dari hasil data kunjungan Puskesmas Salotungo. dan pada tahun 2007 terjadi prevalensi 11% dengan kelompok umur 12 – 23 bulan (Depkes RI. Dari olah data kunjungan kasus ISPA Balita dengan usia 39 – 59 bulan menunjukkan bahwa terdapat 75 kunjungan kasus atau sekitar 27. Rumusan Masalah Berdasarkan dari hasil uraian latar belakang diatas. Provinsi Sulawesi Selatan survey dalam kasus pola 10 penyakit terbesar Puskesmas Salotungo tahun 2008 pun menunjukkan bahwa angka kesakitan yang paling tinggi ditimbulkan oleh ISPA dengan jumlah 1950 kasus dengan persentase sekitar 29.

Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan kejadian ISPA berulang pada Balita usia 36 – 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Salotungo Kabupaten Soppeng.C. Diketahuinya faktor perilaku hidup bersih sehat berhubungan dengan kejadian ISPA berulang b. Diketahuinya faktor pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian ISPA berulang D. Data variable yang diperoleh dan telah diolah dapat dijadikan data untuk mendukung penelitian tentang ISPA oleh peneliti berikutnya. Puskesmas . sebagai media untuk menambah wawasan dan referensi/kajian dalam mengungkap kasus kejadian ISPA pada balita 3. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Soppeng khususnya Puskesmas Salotungo dalam usaha peningkatan kesehatan lingkungan 2. Manfaat Penelitian 1. Akademik/Institut Pendidikan . Pembaca . Tujuan Penelitian 1. Diketahuinya faktor status gizi berhubungan dengan kejadian ISPA berlang c. 2. Tujuan Khusus a. .

Saluran pernafasan adalah organ yang dimulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus. Adapun batasan definisinya masing-masing sebagai berikut : a.yang disebabkan oleh mikroorganisme yang berlangsung selama 14 hari ditandai dengan batuk pilek. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga dapat menimbulkan gejala penyakit. Tinjauan Tentang ISPA 1. rongga telinga dan pleura. Definisi Istilah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengandung tiga unsur. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. sakit tenggorokan disertai dengan demam atau tidak (Rasmaliah. yaitu infeksi. saluran pernafasan dan akut. . Jadi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi pada saluran pernafasan . b. 2004). rongga telinga dan pleura. rongga telinga dan pleura). mulai dari rongga hidung sampai alveoli beserta organ adneksanya (sinus. c. Dengan demikian ISPA secara otomatis mencakup saluran nafas yang dimulai dari hidung termasuk jaringan adneksanya seperti sinus.

a. 2002 antaralain . 2009 sebagai berikut : a. Panas atau demam. Stafilokokus. virus dan riketsia. pnemonia dan bukan pneumonia b. Etiologi ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri.< 5 tahun. Pilek d. Bordetella dan Korinobakterium. klasifikasi dibagi atas : pnemonia berat. Tanda Gejala Umum ISPA Adapun tanda gejala ISPA menurut Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PRSSI). 3. 4. Batuk b. Virus penyebeb ISPA antara lain adalah golongan . klasifikasi dibagi atas : pnemonia berat dan bukan pneumonia. Kelompok umur < 2 bulan . Klasifikasi ISPA Karena bentuk ISPA yang paling sering menyebabkan kematian balita adalah pneumonia maka klasifikasinya dan dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan atas 2 kelompok menurut Warung Masyrakat Informasi Indonesia [Warmasi].2. Bakteri penyebeb ISPA antara lain darin genus Streptokokus. Sesak napas. suhu badan lebih dari 38. Pnemokokus. Etiologi a.5 º C e. Serak (anak bersuara parau) c. Kelompok umur 2 bulan . Hemofillus.

b. 5. Etiologi Pnemonia Penyebab pnemonia pada balita sukar ditegakkan karena dahak sukar diperoleh. 2009). 6. 2004). Menurut publikasi WHO bahwa penyebab pnemonia adalah Streptokokus pnemonia dan Hemopillus inluenzae (Warmasi. serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan bergizi dan minuman yang sehat (air putih. Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian . Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit. Pikornavirus. b. Pengobatan a. Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. oksigendan sebagainya. Pencegahan Penemuan dini penderita ISPA dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA). Adenovirus. sari buah) sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA (Rasmaliah.Mikosovirus. Koronavirus. Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa. diberikan antibiotik parenteral. Mikoplasma. Herpesvirus.

dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari (Rasmaliah. Karena Balita dikategorikan dalam dua kelompok maka selanjutnya kita sebut masa bayi dan awal masa kanak-kanak dimana masing-masing memiliki ciri-ciri khas yang berlainan Dimana masa bayi menurut Nadia. 2005 bahwa masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu atau dalam bulan dapat disebut masa bayi adalah bayi .kontrmoksasol keadaan penderita menetap. untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein.dekstrometorfan dan. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Defenisi Balita Bawah lima tahun atau sering disingkat sebagai Balita dan membatasinya sebagai bayi dan anak yang berusia lima tahun kebawah. 2004). c. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. B. Tinjauan Tentang Balita 1. dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin. antihistamin. amoksisilin atau penisilin prokain. Diberikan perawatan dirumah. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher.

Disisi lain. Masalah Kesehatan Balita Beberapa faktor kematian Balita maupun yang berperan dalam dalam proses tumbuh kembang Balita adalah adanya penyakit seperti .23%. yaitu persentase 9. Diare. Departemen Kesehatan RI pada tahun 2006. penyakit sistem saluran napas menempati peringkat pertama dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit di Indonesia. . Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.69%.dengan usia 0-24 bln. (Nadia. 2005). Infeksi Saluran Pernafasan dan menurut laporan Ditjen Pelayanan Medik. Sedangkan untuk persentase 10 penyakit utama pada pasien rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia pada tahun yang sama. 2. Masa ini disebut juga masa menjelajah dimana anak belajar untuk menguasai dan mengendalikan lingkungannya. Masa bayi sering dianggap sebagai keadaan tidak berdaya dimana bayi setiap hari belajar untuk semakin mandiri. penyakit Sistem Saluran Napas menempati urutan ke-8 dengan persentase 1. Dan awal masa kanak-kanak berlansung 25-59 bln. meskipun anak berusaha memiliki kecendrungan untuk meniru orang lain namun dalam bermain sang anak pun beusaha menunjukkan kreatifitasnya sehingga pada usia ini sering juga disebut usia kreatif. Pada masa ini juga anak sering meniru tindakan atau bicara orang sekitarnya sehingga bias disebut sebagai usia meniru. para ahli psikolog menyebutkan bahwa masa ini adalah masa kelompok dimana anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial dalam mempersiapakn diri sebelum masuk usia sekolah.

bina suasana dan pemberdayaan masyarakat (Dinkes SulSel. Definisi PHBS Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan. imunisasi. Indikator Penilaian PHBS Sasaran PHBS tatanan rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga yaitu pasangan usia subur. Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) a. Dalam PHBS juga dilakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan. perbaikan gizi dan pendidikan kesehatan pada orang tua (Depkes RI. pemeriksaan dan perkembangan kecerdasan. 2006). 2007). dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan. C. usia lanjut dan pengasuh anak. ibu hamil dan menyusui. 2006 indikator PHBS rumah tangga yang .Untuk itu kegiatan yang dilakukan terhadap Balita dalam rangka pemantauan pertumbuhan dan perkembangan Balita dan untuk pencegahan terhadap penyakit antaralain pemeriksaan perkembangan dan pertumbuhan fisiknya. pemeriksaan penyakit infeksi. Menurut Dinkes SulSel. Indikator PHBS adalah suatu alat ukur untuk menilai keadaan atau permasalahan kesehatan(ISPA). anak dan remaja. b. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Berulang 1.

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman. Memberi bayi ASI ekslusif Adalah bayi usia 0-6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa memberikan tambahan makanan atau minuman lain. ASI adalah makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan protein tinggi yang sangat baik untuk bayi karena mengandung zat kekebalan terhadap penyakit. bersih. Dengan demikian secara default pengontrolan nilai timbangan bayi/balita bukan hanya menilai status berat badan semata akan tetapi status gizi bayi/balita hubungannya dengan daya tahan tubuh bayi/balita dan begitupula imunisasi untuk member kekebalan pada bayi sehingga tidak mudah sakit terutama akibat masalah kesehatan lingkungan. 3). 2). dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi saluran nafas pada bayi baru lahir dan penyakit lainnya.digunakan yaitu mengacu kepada standar pelayanan minimal bidang kesehatan ada sepuluh indikator. bidan. yaitu: 1). Menimbang dan Imunisasi bayi/balita Penimbangan bayi dan balita dilakukan mulai umur 1 bulan sampai 5 tahun di posyandu. . Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan Adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter. dan tenaga para medis lainnya).

berkumur. mandi. tatakan kulkas dan lain-lain. memasak. vas bunga. 7). Menggunakan air bersih Air adalah kebutuhan dasar yang diperlukan sehari-hari untuk minum. sedangkan jamban leher angsa digunakan untuk daerah yang cukup air dan daerah padat penduduk. Menggunakan jamban sehat Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit pembuangan kotoran dan air untuk membersihkannya. membersihkan lantai. Memberantas jentik di rumah Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik secara berkala tidak terdapat jentik nyamuk.4). Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air. mencuci alat-alat dapur dan sebagainya agar kita tidak mudah terkena penyakit atau terhindar dari sakit. Hal yang dilakukan agar rumah bebas . 5). Pemeriksaan jentik berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk (tempat-tempat penampungan air) yang ada dalam rumah seperti bak mandi atau WC. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Menghindarkan atau mengurangi kita menghirup debu/kotoran yang menempel pada di saat kita menyentuh bagian wajah 6).

dapat juga dilakukan sebagai aktifitas fisik. fitness. 10).mencuci mobil dan turun tangga. Merebus dengan air akan melarutkan beberapa vitamin dan mineral dalam sayur dan buah tersebut. menutup. Pemanasan tinggi akan menguraikan beberapa vitamin seperti vitamin C. bermain bola. mencuci pakaian. 8). berenang. Makan buah dan sayur setiap hari Makan sayur dan buah sangat penting karena sayur dan buah mengandung vitamin dan mineral yang mengatur pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh serta mengandung serat yang tinggi. mengubur plus menghindari gigitan nyamuk).jentik adalah melakukan 3 M plus (menguras. 9). Melakukan aktivitas fisik Aktivitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik. Tidak ada merokok di dalam rumah Tidak merokok adalah penduduk 10 tahun keatas yang tidak merokok selama 1 bulan terakhir. lari ringan. Selain itu kegiatan olahraga seperti push up. Aktivitas fisik yang dapat dilakukan antara lain kegiatan sehari-hari yaitu berjalan kaki. berkebun. Konsumsi sayur dan buah yang tidak merusak kandungan gizinya adalah dengan memakannya dalam keadaan mentah atau dikukus. senam. mental dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Perokok terdiri atas perokok .

c. Dari hasil penelitian tersebut diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat belum melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat untuk menuju rumah tangga sehat sehingga masih ada masyarakat yang tidak merasakan manfaat dari perilaku hidup bersih dan sehat. merusak gigi.aktif dan perokok pasif. kanker rahim dan keguguran. Padahal menurut Dinkes SulSel. impotensi. kanker kulit. gangguan pada mata seperti katarak. 2006 dari penerapan perilaku hidup bersih dan sehat sangat banyak bermanfaat bagi penduduk Indonesia. 2007). menyebabkan penyakit paru-paru kronis. Sulastri. Manfaat PHBS. Bahaya perokok aktif dan perokok pasif adalah dapat menyebabkan kerontokan rambut.57%) memiliki kategori tidak baik (Yamin Susanti. kemandulan. stroke. yaitu: 1). RD. Dalam penelitian tentang Kebiasaan ibu dalam pencegahan primer penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) pada balita keluarga non gakin di desa nanjung mekar wilayah kerja puskesmas Nanjung Mekar Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa kebiasaan ibu dalam pencegahan primer penyakit ISPA dengan menciptakan rumah yang sehat setengahnya responden (50. kehilangan pendengaran lebih awal disbanding bukan perokok. W. . Setiap rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit. .

Meningkatkan citra pemerintah dalam bidang kesehatan. 4). Menurut Dinas Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008 dalam Profil Puskesmas Salotungo. 3).2). 5). b). Klasifikasi II (Tidak Sehat): jika melakukan 1 sampai dengan 6 dari 10 indikator PHBS dalam tatanan rumah tangga . Dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan dan usaha lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan anggota rumah tangga. Rumah tangga sehat dapat meningkat produktivitas kerja anggota keluarga. 2008. a). klasifikasi tersebut sebagai berikut . 6). Klasifikasi I (Sehat) : jika melakukan 1 sampai dengan 7 dari 10 indikator PHBS dalam tatanan rumah tangga. Adapun kategori rumah tangga sehat dan rumah tangga tidak sehat dapat dinilai dari sepuluh indikator PHBS di atas maka akan didapatkan dua klasifikasi rumah tangga yang menjalankan PHBS. Dapat menjadikan percontohan rumah tangga sehat bagi daerah lain. Salah satu indikator menilai keberhasilan Pemerintah Daerah Kabupaten /Kota di bidang kesehatan.

Namun sampai saat tahun 2009 ini permasalahan gizi.000 balita (28%) dan gizi buruk berkisar 1. Status Gizi Balita Pemerintah telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2009 dibidang kesehatan yang mencakup program-program prioritas anataralain .040. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai suatu aksi gizi. Penanganan terhadap masalah gizi Balita di masyarakat melalui posyandu ternyata belum berjalan dengan baik dan pola penanganan dalam mengatasi masalah gizi kurang & buruk ini juga belum optimal. akan tetapi masih sekedar hanya untuk mengisi kegiatan posyandunya saja. program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. . 2008).584. sangat tergantung pada perilaku ibu dalam melihat bagaimana memperbaikan gizi keluarga.8%).2. program lingkungan sehat.000 balita (8. Data Dinas Kesehatan Republik Indonesia (Dinkes RI) tahun 2005 menunjukkan bahwa balita yang mengalami masalah gizi kurang berkisar 5. Sisi yang lain. Salah satu sasarannya adalah menurunnya frekuensi gizi kurang menjadi 20% pada tahun 2009 dan penurunan gizi buruk menjadi 5 % (Anggraini. pola perbaikan gizi balita. baik gizi kurang maupun buruk masih sering dijumpai ditengah-tengah kehidupan masyarakat. belum sampai pada substansi PMT itu sendiri yakni meningkatkan kualitas makanan bergizi agar balita mengalami tumbuh kembang yang sehat. Di Posyandu. program pencegahan dan pemberantasan penyakit dan program perbaikan gizi masyarakat.

Dalam penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan upaya pencegahan ISPA pada balita di puskesmas Ngoresan Surakarta menunjukkan bahwa pada subvariabel pemenuhan gizi Balita sebagian besar responden (59. 3. terprogram dan berkelanjutan merupakan langkah kebijakan gizi yang harus dijalankan (Pos Keadilan Peduli Umat [pkpu]. Pengetahuan Ibu Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. 2008). Untuk itu.77%) memiliki kategori baik. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat seperti dalam tabel berikut : . pola pendampingan gizi secara langsung. Disinilah dirasakan sangat penting adanya Pondok gizi Budarzi (ibu sadar gizi). Yaitu sebuah wadah yang terdapat dalam masyarakat dan berkonsentrasi untuk menangani masalah gizi balita serta memelihara status gizi balita agar tetap baik dan sehat. Hal ini membuktikan bahwa belum sepenuhnya masyarakat khususnya para ibu memenuhi kebutuhan gizi Balitanya (Purnomo. 2008). dengan jalan pendampingan keluarga serta pemanfaatan potensi-potensi lokal yang bermanfaat untuk meningkatkan status gizi.Dalam kenyataannya masih banyak ibu-ibu yang belum mengerti arti pentingnya gizi pada anak.

2007 dalam Warman. sehingga perilaku dan keadaan lingkungan sosialnya menjadi sehat (Warman. Kepercayaan lebih kuat pengaruhnya yang diturunkan dari orang tua atau dari orang dipercaya.Tabel 1. Dalam masyarakat pegetahuan tentang kesehatan biasanya diperoleh melalui pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Tingkat pengetahuan dalam domain kognitif Domain Tahu Memahami Definisi Mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan secara benar. . Masyarakat dapat terhindar dari penyakit asalkan pengetahuan tentang kesehatan dapat ditingkatkan. tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut. kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponenkomponen. kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek Aplikasi Analisis Sintesis Evaluasi ( Notoatmodjo. kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata terutama karena alasan ekonomi dan tidak adanya waktu. 2008) Dan pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian Pengetahuan sebagai parameter keadaan sosial dapat sangat menentukan kesehatan masyarakat. 2008).

2007). sikap ibu (p=0. hasil uji statistik menunjukkan bahwa pengetahuan ibu (p=0. putro. kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu Negara.031.01. dan tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian ispa non pneumonia pada Balita. Melalui pendidikan. BBLR. sedangkan tindakan .353) berpengaruh terhadap kejadian ISPA pada bayi/balita. 2008). pengetahuan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. OR=3. Dan pada penelitian tentang Pengaruh status imunisasi DPT.Disi lain. 2008 . dan Pada hasil penelitian Hubungan antara pengetahuan dan sikap orang tua dengan upaya pencegahan kekambuhan ispa pada anak di wilayah kerja puskesmas purwantoro I juga menunjukkan bahwa pengetahua orang tua tentang Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Anak di wilayah kerja Puskesmas Purwantoro I menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini mempunyai pengetahuan yang baik (Purnomo.810). paparan asap rokok. OR=10. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan untuk berperilaku sehat (Depkes RI. Pada penelitian tentang Pengetahuan ibu tentang penyakit ISPA pada anak balita di Puskesmas Ngoresan sebagian besar dalam kategori baik (67%) dan sikap ibu dalam dalam upaya pencegahan ISPA pada balita di Puskesmas Ngoresan sebagian besar dalam kategori baik (62%) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan upaya pencegahan ISPA pada balita di Puskesmas Ngoresan Surakarta.

05) menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap ibu berpengaruh terhadap kejadian ISPA pada bayi/balita . Jadi dapat disimpulkan dari hasil penelitian dengan tingkat kemaknaan 95% (a=0. 2008). Menurut teori dijelaskan bahwa pengetahuan dan sikap positif tidak selalu diikuti oleh tindakan.3. Sikap Dan Tindakan Ibu Terhadap Kejadian Ispa Pada Bayi Dan Anak Balita : Studi Di Puskesmas Pakel. Kabupaten Tulungagung Propiusi Jaws Timur Tabun 2006 Hasil dari penelitian menunjukkan pengaruh yang signifikan didapatkan pada variabel kejadian ISPA Non Pneumonia dengan pengetahuan ibu (OR=0.(p=0. seperti pada hasil penelitian ini.53I) tidak berpengaruh terhadap kejadian ISPA pada bayi/balita. Dalam praktek sehari-hari terjadi sebaliknya. 2006). . Dan dalam penelitian tentang pengaruh Pengetahuan.3 kali lebih besar terkena ISPA Non Pneumonia dibandingkan dengan balita dengan ibu yang mempunyai pengetahuan tentang ISPA yang tinggi (Ayu. Dari seluruh penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa dari hasil pengukuran pengetahuan ibu tentang ISPA menunjukkan masih ada ibu balita yang mengalami kasus ISPA kurang mengetahui tentang penyakit ISPA.11<0.83) yang artinya balita dengan ibu yang mempunyai pengetahuan tentang ISPA yang rendah akan mempunyai risiko 0. (Setiyorini. sedangkan tindakan tidak berpengaruh. 950/oCI: 0. ibu telah berperilaku positif meskipun pengetahuan dan sikapnya masih negatif.

5. tak tertutup kemungkinan yang ikut masuk adalah nyamuk dan serangga pembawa penyakit lainnya. Jendela pada bangunan selain memiliki fungsi tempat masuk cahaya dan aksesoris rumah. pintu dan ventilasi. Kalau udara bisa ke luar dan masuk dengan lancar. Hal ini menjadi dilematis ketika penghuni rumah membutuhkan sirkulasi udara ke dalam ruangan. tapi juga dari faktor kesehatan. dalam waktu bersamaan serangga datang mengganggu (Anwar. selain memiliki fungsi tempat ke luar masuk penghuni rumah. Sebagai tempat untuk melepaskan lelah. pintu dan ventilasi sebagai tempat ke luar dan masuk udara. Kepadatana Hunian Menurut Asrul Azwar (1989). jendela. sudah pasti berfungsi sebagai tempat sirkulasi udara. . Persoalannya. Salah satu faktor penting dari sebuah rumah yang berhubungan dengan kesehatan adalah sirkulasi udara. beristirahat setelah melaksanakan kewajiban sehar-hari.4. Sirkulasi udara dari sebuah rumah bisa lewat jendela. kesehatan penghuni rumah pun akan baik. juga sebagai tempat sirkulasi udara. Sirkulasi Udara Rumah yang baik tidak hanya dilihat dari faktor arsitektur. 2008). Demikian juga pintu. rumah tangga bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mempunyai arti sangat penting : a.

Sebagai tempat untukberlindung diri dari berbagai bahaya yang datang mengancam. c. Dr.b. Kepadatan penghuni merupakan kedaan dimana kondisi antara jumlah penghuni dengan luas seluruh rumah tidak seimbang dengan jumlah penghuni atau melebihi kapasitas maka akan berdampak negative pada kesehatan. Sebagai lambang status social yang dimiliki yang dirasakan sampai saat ini. e. 1995 dalam Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. d. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada. BPS. 2009 . Bila rumah terlalu sempit dengan jumhlah penghuni yang tidak berbanding maka penularan bibit penyakit dari manusia ke manusia lainnya mudah terjadi misalnya penyait Tuberkulosis atau penyakit saluran pernafsan lainnya (Entjang. Sebagai tempat untuk meletakkan atau menyimpan barang-barang berharga yang dimiliki terutama hal ini masih ditemui pada masyarakat pedesaan. Sulianti Saroso Jakarta [RSPI]. Perbandingan Kebutuhan Kamar dan Jumlah Penghuni (Orang) Jumlah Kamar Satu Dua Tiga Empat Lima keatas Jumlah Penghuni 2 3 5 8 10 Sumber . Adapun ketentuan perbandingan kebutuhan kamar dengan junlah penghuni (orang) adalah sebagai berikut : Tabel 2. 2001).

2009). . Sulianti Saroso Jakarta. (Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit. ibu.Ukuran minimal suatu rumah sederhana untuk 4 orang penghuni (ayah. Imunisasi Kata imun berasal dari bahasa Latin immunitas yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. kontak serumah di lingkungan social dan tempat kerja memiliki resiko terbatas. dapur dan serambi kerja membutuhkan ukuran minimal 40 m² dengan ukuran rata-rata luas lantai perkapita 10 m². Sulianti Saroso Jakarta [RSPI]. yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya. dan 2 anak) dengan komposisi ruang 2 kamar tidur. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya. 1 ruang makan. Dr. 6. WHO mengemukakan. dan lebih spesifik lagi. Dr. kondisi perumhan yang terlalu padat dan ventilasi yang tidak baik sering membawa infeksi TB menular lebih dari ½ anggota keluarga. terhadap penyakit menular. yang masuk ke dalam tubuh (RSPI Prof. Dalam sejarah. 2009).

Dr. yaitu imunisasi aktif dan pasif. Itulah sebabnya.Kuman disebut antigen. atau seandainya terkena pun. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Sulianti Saroso Jakarta. Dr. Pada umumnya. Tetapi pada reaksi yang ke-2. 2009). 2009). karena tubuh belum mempunyai pengalaman. pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi. . reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat. misalnya antibodi terhadap campak (RSPI Prof. ke-3 dan seterusnya. sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Imunisasi ada dua macam. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut. dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Sulianti Saroso Jakarta. maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. tidak akan menimbulkan akibat yang fatal (RSPI Prof.

1. 95%CI: 0.71) terhadap kejadian ISPA Non Pneumonia pada balita (Setiyorini. BBLR.27<81. paparan asap rokok. 2008). dan tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian ispa non pneumonia pada balita menunjukkan tidak adanya pengaruh status imunisasi DPT (OR=3. .Salah satu penelitian tentang Pengaruh status imunisasi DPT.

Kerangka Konsep. I.BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS B. Landasasan Teori penelitian. maka dikembangkanlah kerangka konsep penelitian sebagai berikut . Latar Belakang dan Bab. Skema Kerangka Konsep Penelitian Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ispa Variabel Independen Perilaku Hidup Bersih Sehat Variabel Dependen Status Gizi Balita Kejadian ISPA berulang Pengetahuan Ibu Berulang pada Balita Sirkulasi Udara Kepadatana Hunian Imunsasi Keterangan : : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti . Berdasarkan dari uaraian yang dikemukakan pada Bab. II.

B.

Hipotesis Dari seluruh penjelasan diatas maka disusunlah suatua Hipotesis yaitu ; 1. Ada hubungan antara perilaku hidup bersih sehat dengan kejadian ISPA berulang pada Balita. 2. Ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA berulang pada Balita. 3. Ada hubungan antara

pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian ISPA berulang pada Balita.

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional yaitu mengungkapkan hubungan antara variabel independen : Perilaku Hidup Bersih Sehat, Jaminan Akses Layanan Kesehatan, Status Gizi Balita, Pengetahuan Ibu dengan variabel dependen : Kejadian ISPA pada Balita, (Nursalam & Pariani, 2008).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian Adapun tinjauan umum tempat penelitian yang akan dilakukan adalah di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng dengan luas wilayah 67 Km persegi yang terdiri dari daratan dan perbukitan.

2. Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan November 2009.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Populasi dalam penelitain adalah setiap subyek ( misalnya manusia; pasien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan ( Nursalam, 2008). Sedangkan menurut Notoatmojo mengatakan populasi adalah keseluruhan objek penelitian/objek yang diteliti tersebut ( Notoatmodjo, 2002).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Balita yang terdaftar diwilayah kerja Puskesmas Salotungo Kec. Lalabata Kab. Soppeng dan mengalami kasus ISPA Balita (39 – 59 bln) dengan jumlah populasi sebanyak sebanyak 75 kunjungan kasus .

2. Sampel Notoatmojo, 2005 mengatakan sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmodjo, 2005). Sedangkan menurut Nursalam, 2008. Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. (Nursalam, 2008). Besarnya sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut : Rumus :

Keterangan N n Z d Q P

:

: Jumlah Populasi : Jumlah Sampel : Standar deviasi normal untuk α = 0.05 (1.96) : Tingkat ketelitian (0,05) :1-P : Perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggap 50% :

Dimana diketahui N = 75 Balita

Keluarga tidak bersedia untuk diteliti 2). Keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita ISPA pada Balita dengan gejala . serak (anak bersuara parau). 3). Kriteria Eksklusi 1).2 kali priode ISPA dalam waktu satu bulan. suhu badan lebih dari 37 º C. panas atau demam. Keluarga yang salah satu anggota keluarganya pernah menderita ISPA sebelumnya pada Balita dalam waktu 1 bulan atau paling tidak pernah mengalami 1 . Kriteria Inklusi dan Eksklusi a. Keluarga bersedia untuk diteliti 2). Jadi jumlah sampel adalah 63 Balita ISPA 3. b. Keluarga yang memiliki balita dengan usia < 35 bulan . pilek. Kriteria Inklusi 1). Keluarga yang memiliki balita dengan usia 36 – 59 bulan.Maka besarnya sampel adalah . Pernapasan lebih dari 40 kali/menit pada anak usia 36 – 59 bulan 4). batuk.

Keluarga yang memiliki balita dengan kasus tidak ISPA 4). Pengisian Kuesioner Pengolahan dan Analisa Data Hasil dan Pembahasan Kesimpulan . Status Gizi Balita. Pengetahuan Ibu.3). Alur Peneltian Persetujuan Judul Oleh Pembimbing I dan II Izin Pengambilan Data Awal Penetapan Sampel (Kriteria Inklusi) Sampel Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kejadian ISPA Variabel Perilaku Hidup Bersih Sehat. Keluarga yang memiliki balita namun baru pertama kali menderita ISPA D.

Lalabata Kab.E. a. Identifikasi Variabel Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda. 2.2008 ). 2008). Soppeng. mulai dari rongga hidung sampai alveoli beserta organ adneksanya (sinus. Variabel dalam penelitaian ini adalah kejadian ISPA pada Balita usia 36 – 59 bulan di Puskesmas Salotungo Kec. rongga telinga dan pleura) yang ditandai . 2008) Defenisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut : a.manusia. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Berulang Definisi Operasional : Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berulang adalah infeksi pada saluran pernafasan . Variabel Penelitian 1. Variabel independen dalam penelitian ini adalah perilaku hidup bersih sehat. dll). b. Variabel Independen Variabel independen adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain (Nursalam. Variabel juga merupakan ciri yang dimiliki oleh kelompok tersebut ( Nursalam. status gizi dan pengetahuan ibu. Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif Definisi Operasional adalah definisi berdasarkan karakteistik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam. 2008). Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam.

Menggunakan air bersih 5). Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2). Perilaku Hidup Bersih Sehat Defenisi Operasional : Rumah tangga yang melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan dengan indikator PHBS dengan 10 kriteria. sesak nafas yang pernah dialami sebelumnya pada Balita dalam waktu 1 bulan atau paling tidak pernah mengalami 1 . serak (anak bersuara parau). suhu badan lebih dari 37 º C. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 7). Anak Balita Anak Balita yang akan diteliti adalah anak yang berumur antara 36 bulan sampai 59 bulan pada saat penelitian dilakukan yang menderita ISPA berulang dan tidak menderita ISPA. Melakukan aktivitas fisik 8). Menimbang dan Imunisasi bayi/balita 4).2 kali priode ISPA dalam waktu satu bulan. Memberi bayi ASI ekslusif 3). Menggunakan jamban sehat . c. antaralain : 1). panas atau demam. Memberantas jentik di rumah 6). b.dengan batuk. pilek. Tidak merokok di dalam rumah 10). Makan buah dan sayur setiap hari 9).

19.11.3 10.4 10.4 12.9 Gizi Lebih (Kg) 18.2 .19.4 10.12.5 10.4 .8 Gizi Lebih (Kg) 18.0 18.Kriteria Objektif Rumah Tangga Sehat : : apabila 1 – 7 option indikator PHBS diatas dimiliki oleh sebuah rumah tangga.6 .9 20.3 18.11.18.6 19.0 10.20.4 20.19.3 10.8 .3 .3 10.7 9.5 10.6 .9 10.5 .6 .6 10.11.7 .20.2 12.9 .19. d.20.6 12.920/MENKES/SK/VIII/2002.4 19.5 .8 10.1 20.2 10.11.0 .8 (Kg) 11.8 .8 12.6 10.2 10.1 .6 .4 10.3 .7 .7 10.2 9.5 20.8 10.7 19.9 11.3 19.11.11.0 .7 Umur (Bln) 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Gizi Buruk (Kg) 9.6 .12. Defenisi Objektif : Sesuai dengan KEPMEN KES RI.1 .18.4 10.8 .5 10.7 . Tabel 3 Baku Rujukan Penilaian Status Gizi Anak Perempuan Dan Anak Laki-Laki Usia 36 – 59 Bulan Menurut Berat Badan Dan Umur (BB/U) Anak Perempuan Gizi Kurang Gizi Baik (Kg) 9.18.11.9 11.12.4 10.12.8 11.2 10.1 10.11.11.19.4 .5 (Kg) 11.19.8 .11.5 .9 .6 9.3 12.3 .0 12.8 10.0 12.18.6 20.3 18. Status Gizi Balita Defenisi Operasional : Status gizi balita yang diukur berdasarkan berat badan dan umur Balita.3 20.7 11.8 9.3 12.9 10.5 19.12.1 9.1 10.19.1 .11.18.9 .0 .1 20.18.5 12.9 .20.7 10.2 .1 10.17.2 11.6 10.8 -12.12.4 10.3 . Rumah Tangga Tidak sehat : apabila < 7 option indikator PHBS diatas dimiliki oleh sebuah rumah tangga.0 19.9 10.7 10.8 .1 .4 .7 18.8 9.5 18.5 .2 .4 .18.4 11.7 .4 11.2 19.0 10.19.1 19.6 Anak Laki-laki Gizi Kurang Gizi Baik (Kg) 9.11.6 11.5 .7 10. No.20.19.7 Umur (Bln) 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Gizi Buruk (Kg) 9.9 .2 11.1 11.18.5 .12.8 20.4 .11.12.3 9.5 10.7 19.20.12.3 .3 10.4 12.20. 1 Agustus 2002 memberi rujukan penilaian status gizi anak perempuan dan laki-laki usia 0 – 59 bulan menurut berat badan dan umur (BB/U) .12.0 12.2 10.9 10.5 12.11.9 .12.8 .9 .7 9.9 19.2 .5 18.0 .8 .0 .20.0 10.2 12.6 11.0 10.7 12.

0 11.7 .1 11.13.22.5 .20.8 11.8 23.0 .2 11.22.8 23.13.1 11.7 14.3 11.7 11.13.7 .9 -12.5 .2 .1 21.5 11.4 .5 .3 13.1 .0 12.4 11.8 12.21.4 .1 13. Berobat dengan Non Asuransi/JPK : Bila pasien tersebut tidak menggunakan asuransi/jaminan klaim pelayanan kesehatan untuk berobat. Jaminan Akses Layanan Kesehatan Defenisi Operasional : Suatu upaya atau tindakan pemeliharaan kesehatan yang dilakukan oleh responden dengan menggunakan sistem jaminan/asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah Defenisi Objekti : : Bila pasien tersebut klaim pelayanan Berobat dengan Asuransi/JPK menggunakan asuransi/jaminan kesehatan untuk berobat.7 21.9 20.9 22.6 11.5 11.0 11.2 21.49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 10.1 .2 .22.22.3 21.5 21.2 .9 11.21.4 11.1 13.22.5 11.1 11.9 .2 13.7 .22.22.4 11.1 22.14.8 .2 13.3 .12.2 .0 11.9 22.4 .8 .3 11.1 12. .14.9 21.3 e.8 12.2 13.9 13.0 13.2 11.0 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 11.4 11.9 .2 11.21.0 .4 13.5 14.9 11.13.0 .9 .3 .22.3 .9 12.1 .6 13.8 .7 11.21.8 13.12.6 .12.3 11.1 11.6 22.2 .7 21.2 11.0 12.20.13.23.5 .6 11.13.0 21.5 13.8 10.1 .2 21.4 11.0 12.1 .7 13.6 .3 .12.0 .21.13.7 10.3 11.7 11.6 .4 21.3 13.13.4 22.0 11.13.2 .13.13.6 11.22.22.6 13.8 13.21.0 23.13.6 12.1 .8 11.13.21.9 11.21.13.3 22.14.6 22.2 22.8 -21.9 14.4 .3 .7 .

Pegolahan dan Analisa Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan computer program SPSS versi 16. Univariat. Analisa data dilakukan secara : 1. Pengetahuan Ibu Defenisi Operasional : Kemampuan seorang responden orang tua Balita untuk menilai dan mengambil keputusan jika seorang anaknya mengalami ISPA untuk membawanya berobat di Puskesmas. Defenisi Objetik Baik : : skor 7 – 10 (Jika menjawab dengan benar 7 – 10 soal wawancara) Cukup : skor 5–6 (Jika menjawab dengan benar 5 – 6 soal wawancara) Kurang : skor <4 (Jika menjawab dengan benar < 4 soal wawancara) Keterangan Jawaban Benar Jawaban Salah : : bobot nilai = 1 : bobot nilai = 0 F.f. yaitu untuk mengetahui distribusi kejadian penyakit ISPA serta variable yang berhubungan dengan kejadian ISPA. .0 dan selanjutnya disajikan dalam bentuk table distribusi disertai penjelasan dan table analisa hubungan antara variable yang diteliti.

G.05 Dengan tingkat kemaknaan Bermakna jika nilai P value Interprestasi 3. yaitu analisis yang digunakan untuk melihat variable yang paling berpengaruh (dominan) dengan kejadian ISPA. .05 : H0 ditolak apabila nilai P > 0. Bivariat. tujuan dan dampak bagi mahasiswa. Analisa yang digunakan adalah logistic regresi . Multivariat. serta setelah responden menyatakan setuju untuk dijadikan responden secara tertulis melalui Informed Concern. Persetujuan Responden ditetapkan setelah terlebih dahulu mendapatkan penjelasan tentang kegiatan penelitian.2. yaitu untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA untuk menguji hipotesis penelitian digunakan uji Chi Square (X²) dengan rumus : Keterangan ∑ 0 E : : Jumlah sampel yang diteliti : Nilai observasional : Nilai expeated (harapan) : 0. Calon responden yang tidak menyetujui untuk dijadikan responden tidak akan dipaksa. Masalah Etika 1.05 : < 0.

2. Value Meskipun penelitian ini dilakukan oleh peneliti pemula namun segala isi dan pengolahan data yang dituangkan dalam penelitian ini dilakukan usaha seoptimal mungkin agar memberikan hasil yang valid. 3. 5. Peneliti Penelitian ini dilakukan oleh peneliti pemula sehingga pembaca atau pemerhati tentang penyakit ISPA akan masih sulit untuk menerima hasil penelitian ini. . Kerahasiaan Kerahasian informasi responden yang dijadikan sampel dalam penelitian akan dijamin oleh peneliti dan hanya informasi tertentu saja yang ditampilkan. 6. Anomanitas (tanpa nama) Seluruh responden yang dijadikan dalam sampel penelitian tidak akan disebutkan namanya baik dalam kuesioner maupun dalam penyajian pelaporan penelitian melainkan dalam bentuk inisial. 4. Alat Ukur Alat ukur data dirancang oleh peneliti sendiri tanpa melakukan uji coba sehingga hasil yang didapat mungkin kurang valid. oleh karena itu validitas dan reabilitasnya masih perlu diuji coba.

3%). .7%) dan terendah pada tingkat SD sebanyak 1 orang (3. Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng.3%) dan terdapat kelompok umur terendah yaitu kelompok umur < 21 dimana memiliki jumlah sebaran 2 orang (6.III/Perguruan Tinggi sebanyak 17 orang (56. Banyaknya responden yang terpilih sebagai sampel adalah 45 anak balita dengan distribusi sebagai berikut: 1. Karakteristik Responden Orang Tua Balita Adapun distribusi responden menurut karakteristik orang tua Balita dengan kelompok umur pada tabel 4 menunjukan bahwa responden terbanyak pada kelompok umur 32 – 41 dengan jumlah 16 orang (53.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.7%). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 November sampai dengan 23 Desember 2009. Sedang pada data responden menurut kelompok pendidikan orang tua Balita menunjukan bahwa tingkat pendidikan responden terbanyak pada tingkat D. Pada kelompok jenis kelamin menunjukan bahwa jumlah responden dengan jenis kelamin perempuan dengan jumah 21 orang (70%) lebih besar dibandingkan dengan responden dengan jenis kelamin laki-laki dengan jumlah 9 orang (30%).

3 100. Desember 2009 .0 100.3 13.7 100.0 % Total 2 8 16 4 30 Total 9 21 30 Total 1 5 7 17 30 Total 4 1 7 18 30 13.0 100.Dan pada data menurut kelompok kerja menunjukan bahwa responden terbanyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 18 orang (60%) dan yang paling sedikit adalah pegawai swasta sebanyak 1 orang (3.0 70.III / Perguruan Tinggi Total Variabel Pekerjaan : PNS Pegawai Swasta Wiraswasta Lainnya Total n 2 8 16 4 30 n 9 21 30 n 1 5 7 17 30 n % 6.3 56.3 60.7 26.3 16.0 % 30.3 3.3 23.3%). Soppeng 2009 Variabel Umur : <= 21 22 – 31 32 – 41 42 – 51 Total Variabel Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan Total Variabel Pendidikan : SD SMP SMU D. Tabel 4 Distribusi Karakteristik Responden Orang Tua Balita di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kab.0 % 3.7 53.0 4 1 7 18 30 Sumber : Data Primer.7 23.

7 3. Analisa Univariat Tabel 4 menunjukan persentase kejadian ISPA berulang bahwa ISPA berulang dan ISPA tidak berulang memiliki distribusi masingmasing 15 Balita dengan persentase 50%.0 46.7%) Balita. Soppeng 2009 Variabel Umur 36 – 47 48 – 59 = 60 Total Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total n 15 14 1 30 n 16 14 30 % 50.7 100.2.3 100. Desember 2009 3. .3%) dibanding perempuan dengan jumlah 14 (46. Dan distribusi data Balita menurut kelompok jenis kelamin menunjukan bahwa persentase jenis kelarnin laki-laki lebih tinggi yaitu 16 anak balita (53. Karakteristik Balita Pada table 5 distribusi sampel Balita dengan kelompok umur menunjukan bahwa kelompok umur sampel terbanyak pada umur 36 – 47 bulan dengan jumlah 15 Balita (50%) dan terendah pada kelompok umur 60 bulan dengan jumlah 1 Balita (3.0 Total 15 14 1 30 Total 16 14 30 Sumber : Data Primer. Tabel 5 Distribusi Sampel Balita di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kab.3 46.0 % 53.3%).

Tabel 6 Distribusi Variabel Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Usia 36 – 59 Bulan di Puskesmas Salotungo Kecamatan Lalabata Kab.7%). Pada distribusi akses jaminan layanan kesehatan masyarakat menunjukan bahwa semua responden memanfaatkan akses tersebut dengan jumlah 30 (100%). pengetahuan kurang 8 orang (26. Sedang pada distribusi status gizi menunjukan bahwa terdapat kelompok distribusi dengan gizi buruk dengan jumlah 27 (90%) lebih besar dibanding dengan status gizi baik dengan jumlah 3 (10%).0 Total 15 15 30 Total 19 11 30 Total 3 27 .0 100.3 36.7%).0 90. Dan pada data distibusi pengetahuan tentang kejadian ISPA menunjukkan bahawa terdapat pengetahuan ibu tentang ISPA yang baik sebesar 17 orang (56.7 100. Soppeng 2009 Variabel Kejadian ISPA ISPA Berulang ISPA Tidak Berulang Total Variabel PHBS Sehat Tidak Sehat Total Variabel Status Gizi Gizi Baik Gizi Buruk n 15 15 30 n 19 11 30 N 3 27 % 50.0 % 10.7%) dan terkecil dengan pengetahuan cukup 5 orang (16.0 50.0 % 63.3%) dan rumah tangga tidak sehat dengan jumlah 11 (36.Pada kelompok variabel PHBS menunjukan bahwa terdapat rumah tangga sehat dengan jumlah 19 (63.7%).

Analisa bivariat a.0 % 56. Soppeng Tahun 2009 Variabel Perilaku ISPA Berulang Hidup Bersih Sehat n % Sehat Tidak Sehat Total 5 10 15 33.3% 66. Hubungan Perilaku Hidup Bersih Sehat dengan kejadian ISPA Berulang Tabel 7 Hubungan Perilaku Hidup Bersih Sehat dengan kejadian ISPA di Puskesmas Salotungo Kab.7% 100% Kejadian ISPA ISPA Tidak Berulang n 14 1 15 % 93. Desember 2009 Tabel 7 menunjukkan bahwa kejadian ISPA pada rumah tangga tidak sehat terdapat responden 10 (66.0 Total 15 15 30 Total 17 5 8 30 Sumber : Data Primer.0 100.3% 6.7 16.001 100% P Sumber : Data Primer.7% 0.7%) lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga sehat dengan jumlah responden 5 . Desember 2009 4.Variabel Kejadian ISPA ISPA Berulang ISPA Tidak Berulang Total Variabel Pengetahuan Ortu Baik Cukup Kurang Total n 15 15 30 n 17 5 8 30 % 50.7 100.3% 36.7% 100% n 19 11 30 Total % 63.0 50.7 26.

Artinya ada hubungan antara perilaku rhidup bersih sehat dengan kejadian ISPA pada Balita Berulang.(33. Karena nilai p > 0. Karena nilai p < 0.05 maka Ho ditolak. Desember 2009 Tabel 8 menunjukkan bahwa pada kasus kejadian ISPA berulang terdapat status gizi baik 2 (13.3% 86. . b.7% 93.00. Hasil uji statistik dengan menggunakan SPSS versi 16.0 diperoleh nilai p = 0.0 diperoleh nilai p = 1.05 maka Ho tidak ditolak.0% 1.3% 100.0% n 3 27 30 Total % 10.3%) lebih besar dibandingkan rumah tangga tidak sehat dengan jumlah 1 (6.001.3%).0% 100.0% 90.7%) pada Balita. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA Berulang Tabel 8 Hubungan Status Gizi dengan kejadian ISPA di Puskesmas Salotungo Kab. Sedangkan pada kasus ISPA tidak berulang terdapat rumah tangga sehat dengan jumlah responden 14 (93.000 P Sumber : Data Primer.3%) pada Balita lebih sedikit dibanding dengan status gizi buruk 13 (86. Hasil uji statistik dengan menggunakan SPSS versi 16.7%) responden.7% 100. Soppeng Tahun 2009 Variabel Status Gizi Gizi Baik Gizi Buruk Total ISPA Berulang n 2 13 15 % 13.0% Kejadian ISPA ISPA Tidak Berulang n 1 14 15 % 6.

7% 16.0% 0.7% 100.7% 46.7% 26.009 P Sumber : Data Primer.7% 6. Sedang pada kasus ISPA tidak berulang terdapat 13 (86.7%) Balita yang menderita lebih besar dengan kategori baik pada pengetahuan orang tua tentang ISPA dibanding pada tingkat pengetahuan orang tua tentang ISPA dengan kategori kurang. Hubungan Pengetahuan Ibu tentang ISPA dengan kejadian ISPA Berulang Tabel 9 Hubungan Pengetahuan Orang Tua tentang kejadian ISPA di Puskesmas Salotungo Kab.7%) Balita yang menderita ISPA baerulang lebih sedikit dibandingkan dengan tingakat pengetahuan orang tua dengan kategori kurang yang berjumlah 7 (46.7% 6. Soppeng Tahun 2009 Variabel Pengetahuan Ortu Baik Cukup Kurang Total ISPA Berulang n 4 4 7 15 % 26.0% Kejadian ISPA ISPA Tidak Berulang n 13 1 1 15 % 86.Artinya tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA berulang pada Balita.7% 100.7%) Balita yang menderita ISPA berulang. Desember 2009 Pada tabel 9 menunjukkan bahwa pada tingkat pengetahuan orang tua tentang ISPA dengan kategori baik terdapat 4 (26.7% 26.0% N 17 5 8 30 Total % 56.0 diperoleh .7% 100. c. Hasil uji statistik dengan menggunakan SPSS versi 16.

. Artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ISPA dengan kejadian ISPABerulang pada Balita.nilai p = 0.04.009. 5. Perilaku Hidup Bersih Sehat Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara perilaku hidup bersih sehat dengan kejadian ISPA berulang pada Balita dimana diperoleh nilai p = 0.05 maka Ho tidak ditolak. Karena nilai p < 0.009. Artinya bahwa pendidikan adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada seseorang untuk melakukan perilaku hidup bersih sehat. Pembahasan 1. B. Ananlisa Multivariat Untuk melihat variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian ISPA maka dilakukan uji logistic regresi pada dua variabel yang berpengaruh dalam penelitian ini yaitu variabel perilaku hidup berish sehat dan pengetahuan orang tua. Berdasarkan hasil analisa multivariat maka variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian ISPA adalah perilaku hidup bersih sehat dengan nilai P = 0. Adanya hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian ISPA karena dalam penelitian ini menunjukkan bahwa rata – rata responden dengan tingkat pendidikan tinggi terdapat 15 (50%) yang memiliki rumah tangga yang sehat.

2007 yang mengatakan bahwa melalui pendidikan. Dan dalam penelitian Yamin et al. pengetahuan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. 2.3%) dibandingkan responden dengan status gizi pendidikan tinggi yang mengalami gizi baik pada Balitanya 2 (6. Keadaan ini disebabkan bahwa dalam penelitian ini menggambarkan karakteristik responden yang mempengaruhi status gizi Balita adalah terdapatnya responden orang tua Balita dengan status pendidikan tinggi yang mengalami gizi buruk pada Balitanya yang jauh lebih besar 22 (73.57%) memiliki kategori tidak baik.000.Hal ini sesuai dengan kutipan Depkes RI. Hal ini menandakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi yang dimiliki pada orang tua Balita tidak mempengaruhi pengetahuan orang tua Balita .7%). Status Gizi Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA berulang pada Balita dengan nilai P = 1. 2007 yang terkait masalah perilaku hidup bersih sehat untuk mendukung terciptanya rumah tangga yang sehat menyebutkan bahwa kebiasaan ibu dalam pencegahan primer penyakit ISPA dengan menciptakan rumah tangga yang sehat setengahnya responden (50. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan untuk berperilaku sehat.

3. artinya bahwa dengan pendidikan yang tinggi dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan orang tua terhadap kejadian ISPA pada Balita. Dalam penelitian ini menggambarkan bahwa responden dengan kategori status pendidikan tinggi jauh lebih besar daripada responden dengan status pendidikan rendah yang memiliki pengetahuan tentang kejadian ISPA pada Balita yang baik. Hal ini sesuai dalam sebuah dalam penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan upaya pencegahan ISPA pada balita di puskesmas ngoresan Surakarta menunjukkan bahwa pada subvariabel pemenuhan gizi Balita sebagian besar responden (59. Dengan tingginya tingkat pendidikan orang tua maka akan meningkat pula pengetahuan orang tua tentang kejadian ISPA dimana dengan pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap sikap dan tindakannya dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah kejadian ISPA yang menimpa .77%) memiliki kategori baik.dalam pengambilan keputusan untuk pemenuhan gizi Balitanya yang bisa mempengaruhi status kesehatannya saat ini.009. Hal ini membuktikan bahwa belum sepenuhnya masyarakat khususnya para ibu memenuhi kebutuhan gizi Balitanya (Purnomo. Pengetahuan Ibu tentang ISPA Dari hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian ISPA berulang pada Balita dengan nilai P = 0. 2008).

. Kemampuan peneliti yang masih sangat kurang dalam melakukan penelitian yang dikarenakan masih dalam kategori peneliti pemula. 2008). Kurangnya pendalaman pertanyaan terhadap karakteristik responden yang bisa berpengaruh terhadap variabel indepen faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA sehingga dalam pembahasan pada penelitian ini tidak begitu mendetail. 2. C. Keterbatasan Penelitian Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah 1. Pengetahua orang tua tentang Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Anak di wilayah kerja Puskesmas Purwantoro I menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini mempunyai pengetahuan yang baik (Purnomo. Putro.anaknya. 2008 . Penelitian ini didukung oleh penelitian lain yang terkait yaitu Hubungan antara pengetahuan dan sikap orang tua dengan upaya pencegahan kekambuhan ISPA pada anak di wilayah kerja puskesmas purwantoro I juga menunjukkan : (1). Hal lain yang perlu diperhatikan juga bahwa tingginya pengetahuan ibu tentang kejadian ISPA tidak terlepas dari pengalaman pribadi atau orang lain yang di adopsinya agar seseorang berperilaku positif dalam setiap pengambilan keputusan.

3. Dalam membuat alat ukur (kuesioner) pada penelitian ini bahwasanya walaupun telah dilakukan uji validitas namun juga masih jauh dari sempurna 4. . Dan melakukan uji serta interprestasi pada penelitian ini masih kurang dalam melakukan atau menuangkan pembahasan yang lebih baik.

Tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA berulang pada Balita 3. Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian ISPA berulang pada Balita B. SARAN 1. Kesimpulan Berdasrkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Ada hubungan antara perilaku hidup bersih sehat dengan kejadian ISPA berulang pada Balita 2. Dengan menerapkan pola perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap anggota keluarga akan menciptakan rumah tangga yang sehat yang pada akhirnya akan meninggkat derajat kesehatan setiap anggota keluarga 2. Pengetahuan tentang ISPA sangat di pengaruhi oleh banyak hal. salah satunya adalah pendidikan namun yang tidak kalah penting adalah adanya pendidikan kesehatan karena dengan pendkes tersebut dapat mensejajarkan tingkat pengetahuan masyarakat 5.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Pendalaman pertanyaan terhadap karakteristik responden yang bisa berpengaruh terhadap variabel indepen faktor yang berhubungan dengan .

Pembaca . 4. Dalam melakukan uji serta interprestasi pada penelitian berikutnya dapat dalam melakukan atau menuangkan pembahasan yang lebih baik. sebagai media untuk menambah wawasan dan referensi/kajian dalam mengungkap kasus kejadian ISPA pada balita . 5.kejadian ISPA oleh peneliti selanjutnya kiranya dapat dilakukan dan lebih baik. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Soppeng khususnya Puskesmas Salotungo dalam usaha peningkatan kesehatan lingkungan 6. Puskesmas .

go. SD.ums. Anggraini.unair.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail. BAB 27 Peingkatan Akses Masyarakat Terhadap Layanan Kesehatan Yang Lebih Berkualitas. 2006. (Online). 2005. (http://dinkessulsel. (Online). (http://www. diakses 6 November 2009 Badan Perencanaan dan Pembanguanan Nasasional. (Online). (http://etd. Pedoman Pengembangan Kabupaten/Kota Percontohan Program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS). Profil Kesehatan Indonesia.920/MENKES/SK/VIII/2002. (http://www. 2008. No.pdf).lib. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Makanan Bergizi Dengan Status Gizi Balita Usia 1-3 Tahun Di Desa Lencoh Wilayah Kerja Puskesma Selo Boyolali. Membuka Sirkulasi Udara Tanpa Nyamuk. IK. (Online).id/1884/1/J210040033.id/get-file-server/node/5534/). Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan. Kabupaten Tulungagung Propiusi Jaws Timur Tabun 2006. KEPMEN KES RI.php?id=gdlhub-gdl-s1-2006ayuirakusu-2327&PHPSESSID=068ef00626d3e335b59998cc35e21ce4).ac. diakses 6 Juli 2008.id/go.bappenas. Profil Kesehatan Sulawesi Selatan Tahun 2007). (Online). Depatemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. (http://wartamedika. . diakses 26 Oktober 2009 Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2008. Klasifikasi Status Gizi Anak Bawah Lima Tahun (BALITA) . 2006. Jakarta : Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat.adln.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. diakses 11 Juli 2009. 2008.eprints. Sikap Dan Tindakan Ibu Terhadap Kejadian Ispa Pada Bayi Dan Anak Balita : Studi Di Puskesmas Pakel. Makassar : Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Depatemen Kesehatan Republik Indonesia.ac. Pengaruh Pengetahuan. 2008. 2007.go.DAFTAR PUSTAKA Anwar.page?kid=2790 ).pdf). diakses 6 Oktober 2009 Ayu.

Nursalam & Pariani. 2008. diakses 10 Juli 2009. Sulianti Saroso Jakarta. A. 2005.id/?show=detailnews&kode=862&tbl=kesling). 2009. diakses 6 Oktober 2009 Rasmaliah. (http://www.usu. 2008.infeksi. Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Upaya Pencegahan Ispa Pada Balita Di Puskesmas Ngoresan Surakarta.pdf).ac.de/files/kegiatan/PERKEMBANGAN%20 BALIT%20YANG%20IDEAL%20Suatu%20Tinjauan%20Psikologis.pdf) . Nadia..(http://www.id/903/). diakses 5 Juli 2009 . (http://etd. (http://www. (Online). Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Orang Tua Dengan Upaya Pencegahan Kekambuhan Ispa Pada Anak Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwantoro I.ums. diakses 07 Oktober 2009. (Online). Diakses 1 November 2009 Pos Keadlian Peduli Umat.php?lng=in&pg=15). I m m u n i s a s i. Perhimpinan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Profil Kesehatan Watansoppeng : Puskesmas Salotungo Puskesmas Salotungo.co. 2008.eprints. Puskesmas Salotungo.pdpersi. Suatu Tinjauan Psikologis. Putro.or.id/2009/profil_budarzi. (Online).kharisma.id/download/fkm/fkm-rasmaliah9. DEP. (Online). (http://library. Tesisis dan Instrumen Keperawatan. Surabaya : PSIK FK Unair.ac.Nursalam. Dr.pdf). Metodologi Riset Keperawatan. Profil Program Perbaikan & Pemeliharaan Status Gizi Balita Melalui Pondok Gizi Ibu Sadar Gizi (PG BUDARZI). diakses 22 Oktober 2009 Purnomo. W.id/2691). (http://www.com/articles.eprints. Perkembangan Balita Yang Ideal.pkpu. 2000. (http://etd. (Online). (Online). diakses 7 Oktober 2009. Jakarta : Salemba Medika.ac. Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Musim Kemarau. Anak Rawan Terkena ISPA. 2008.ums. (Online). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Dan Penganggulangannya. Pedoman Skripsi.. 2002. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. 2008 . 2008.

2007.Setiyorini. (Online). RD. (http://www.id/kesehatanonline/mod.co. diakses 13 Oktober 2009 .com). A. (http://pustaka.wordpress. 2008.ac.pd f). W. (Online) (http://yayanakhyar. Warman.ac. Paparan Asap Rokok.unpad. Yamin. (Online). Bblr. diakses 5 Juli 2009. Pengaruh Status Imunisasi Dpt. Sulastri. Dan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Kejadian Ispa Non Pneumonia Pada Balita. (Online). diakses 6 November 2009. D.warmasif. 2008. Sosial Ekonomi dan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Diare Akut Pada Balita di Kelurahan Pekan Arba Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir. (http://www.php?id=gdlhubgdl-s1-2009-setiyorini9941&PHPSESSID=6c1784a347f723a344115bf159462dcf). Susanti. Infekis Saluran Nafas Akut (ISPA). Kebiasaan Ibu Dalam Pencegahan Primer Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Pada Balita Keluarga Non Gakin Di Desa Nanjung Mekar Wilayah Kerja Puskesmas Nanjung Mekar Kabupaten Bandung.unair.php?mod=download&o p=visit&lid=887). diakses 11 Juli 2009 Warung Masyrakat Informasi Indonesia.id/wp_content/uploads/2009/07/kebiasaan_ibu. 2009.id/go.adln.lib. Hubungan Faktor Lingkungan.

Makassar. Semua data yang dikumpulkan akan dirahasiakan dan tanpa nama. Wb Nama saya Radhyalla. 21 November 2009 Hormat saya Radhyallah . Wassalamu’alaikum Wr. Atas pertisipasi saudara dalam mengisi kuesioner ini sangat saya hargai dan saya ucapkan terima kasih.LEMBAR PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN PADA PENELITIAN Assalamu’alaikum Wr. saya mohon kesediaan saudara untuk menandatangani lembar persetujuan yang telah disediakan. Untuk itu saya mohon partisipasi saudara untuk mengisi kuesioner atau daftar pertanyaan yang telah saya persiapkan dengan sejujur – jujurnya. Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi perkembangan ilmu keperawatan serta peran perawat di masyarakat. Saya akan melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ispa Berulang Pada Balita Usia 36 – 59 Bulan Di Puskesmas Salotungo Watan Soppeng”. Data hanya disajikan untuk penelitian dan pengembangan ilmu keperawatan dan tidak digunakan untuk maksud – maksud yang lain. Sebagai bukti kesediaan menjadi responden dalam penelitian ini. mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Wb.

Atas dasar pemikiran bahwa penelitian ini dilakukan untuk pengembangan ilmu keperawatan.SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN PADA PENELITIAN Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bersedia untuk berpartisipasi pada penelitian “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ispa Berulang Pada Balita Usia 36 – 59 Bulan Di Puskesmas Salotungo Watan Soppeng” yang dilakukan oleh Radhyallah mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Hasanuddin Makassar. … November 2009 Respon Tanda tangan . maka saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Soppeng. Tanda tangan di bawah ini menunjukkan bahwa saya telah di beri penjelasan dan menyatakan bersedia menjadi responden.

Perempuan . Nelayan d. Pegawai Negeri b. Tidak Sekolah b. SD c. Pekerjaan KK : a. SMP d. Umur 3. Lain-lain 1). Wiraswasta c. Nama 2. Identitas Responden 1. Bertani f. Berdagang e. SMU/Sederajat e.KUESIONER PENELITIAN Nomor Kuesioner : Tanggal wawancara : I. Pegawai swasta g. Pendidikan : : : : a. Laki-laki 2). Akademik/PT 5. Jenis Kelamin 4.

Kejadian ISPA 1. Umur : : …… 1). Identitas Balita 1. Perempuan III. . Gizi Kurang c. Nama 2. Ya b. Kg. Tidak IV.II. Gizi Baik d. Status Gizi 1. Tidak 2. batuk. Gizi Buruk b. Apakah anak ibu pernah mengalami sakit demam. Gizi Lebih Dengan berat badan : …….. a. Ya b. flue dan sesak nafas sebelumnya dalam kurun waktu 1 bulan ini ? a. Berdasarkan hasil diagnose medis/puskesmas. anak ibu dinyatakan menderita sakit ISPA ? a. Laki-laki 2). Timbangan anak ibu dalam kategori .

Apakah anak ibu telah di imunisasi lengkap ? b. Perilaku Hidup Bersih Sehat N O 1 Indikato PHBS Melaksanaka n PHBS Ya Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan a. Apakah persalinan ibu ditolong oleh dukun terlatih ? c. Apakah ibu memberi anaknya makanan saring selama umurnya kurang dari 6 bulan ? 3 Menimbang dan Imunisasi bayi/balita a. Apakah anak ibu rutin ditimbang di Puskesmas atau di Posyandu ? Tidak . Apakah ibu memberi anaknya susu selain ASI selama umurnya masih 6 bulan kebawah ? b. Apakah Ibu memberi anaknya hanya ASI saja selama umurnya masih 6 bulan ? c. Apakah persalinan ibu ditolong oleh dukun kampung ? 2 Memberi bayi ASI ekslusif (0-6 bln hanya diberi ASI) a. Apakah persalinan ibu dibantu oleh bidan kesehatan ? b.V.

Apakah ibu dan keluarga menggunakan air ledeng atau air sumur sebagai kebutuhan mandi. apakah ibu dan keluarga selalu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun ? b. mencuci dan memasak ? c. apakah kebiasaan keluarga ibu menggunakan air mengalir ? 6 Menggunakan jamban sehat (jamban keluarga) a. Apakah ibu dan keluarga sering menggunakan air sungai untuk mandi. Untuk mencuci tangan. Apakah sabun cuci tangan dan sabun mandi dalam rumah tangga ibu terpisah(tidak campur aduk) ? c. Setelah bersih-bersih rumah. Apakah ibu dan keluarga menyediakan jamban keluarga ? b. Apakah di rumah ibu telah tersedia air PAM atau air sumur b. mencuci dan memasak ? 5 Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun a. Apakah penimbangan dan imunisasi anak ibu dilakukan setiap bulannya ? 4 Menggunakan air bersih (ledeng atau air sumber) a.c. Apakah ibu dan keluarga menggunakan jamban setiap kali buang air besar ? .

Apakah ibu dan keluarga setiap hari mengkosumsi buah-buahan ? c. Apakah ibu dan keluarga sering menggunakan sungai sebagai tempat untuk buang air besar ? 7 Memberantas jentik di rumah a. Apakah pembuangan sampah rumah tangga ibu dilakukan di TPS ? 8 Makan buah dan sayur setiap hari a. Apakah ibu sering mendapatkan serbuk abate secara gratis dari Puskesmas ? c. Apakah anggota keluarga senang makan sayur ? 9 Melakukan aktivitas fisik a. Apakah ibu dan keluarga setiap hari mengkosumsi sayuran ? b. Apakah ibu dan keluarga masing-masing memiliki waktu luang khusus untuk olah raga ? b. Apakah penampungan air di rumah ibu sering di cuci/dikuras ? b.c. naik turun tangga. cuci baju. Apakah semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh pembantu rumah tangga ? . Apakah ibu dan keluarga sering melakukan kegiatan fisik minimal seperti berkebun. dll c. jalan pagi.

Apakah tersedia bak sampah tertutup untuk debu dan puntung rokok ? VI. Keturunan d. Tidak . Ya b. Menular b. Penyakit batuk dan flue menular melalui ? a. Setiap kali anak ibu mengalami demam.? a. Tidak tahu 2. batuk dan sesak napas. Makanan c. Udara d. Pengetahuan Ibu Tentang ISPA 1.10 Tidak merokok di dalam rumah a. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (demam yang disertai batuk dan flue) adalah merupakan salah satu penyakit. Tidak menular c. Apakah tersedia ruangan/tempat khusus bagi anggota keluarga yang merokok ? c. Kulit b. Apakah ada anggota keluarga yang merokok dalam rumah ? b.. apakah ibu langsung membawanya untuk berobat di Puskesmas ? a. Tidak tahu 3.

Debu dan asap rokok b. Penyebab flue. disertai batuk dan flue adalah penyakit menular yang mudah menyerang a.c. a. sesak nafas adalah a. maka tindakan ibu a. Penyakit berat c. Apabila anak ibu telah dibawa berobat di Puskesmas akibat demam. Tetap kembali berobat di Puskesmas b. Tidak tahu 7. Penyakit infeksi saluran nafas d. Batuk dan flue dapat digolongkan dalam kategori . Jarang mandi c. Tidak tahu 6. Bawa ke dukun c. batuk dan sesak napas dan belum juga sembuh dalam waktu 3 hari. Cari obat di warung d. Demam. Makanan d. Balita b. Dibawa ke dukun d. Dibiarkan 5. Remaja . batuk. Dibiarkan 4. Penyakit ringan b.

Persediaan obat di rumah c. Obat d. Makanan d. Untuk mencegah terjadinya penyakit batuk. Tidak tahu 10. Kebersihan lingkungan b. Diberi obat tradisional d. Jenis kelamin c. Orang dewasa d. Membelikan obat flue di warung c. Penanganan awal pada anak yang sakit ISPA dengan gejala demam. flue pada balita. Tidak tahu 9. Tidak tahu .c. Orang tua 8. Kekebalan tubuh b. a. maka sebaiknya setiap rumah tangga memperhatikan . batuk dan flue adalah a. Anak Balita tahan terhadap penyakit influenza dipengaruhi oleh a. Membawanya berobat ke Puskesmas b.

Tenaga kontrak di Bag. Paser – KALTIM.DAFTAR RIWAYAT HIDUP NAMA NIM TTL AGAMA ALAMAT SUKU/BANGSA : RADHYALLAH : C. Tenaga Honorer di Puskesmas Pembantu Dinas Kesehatan Kab.IR. mulai Agustus – Desember 2004 5.121 08 531 : SOPPENG. 11 APRIL 1979 : ISLAM : JL. BIRINGKANAYA MAKASSAR : BUGI/INDONESIA RIWAYAT PENDIDIKAN 1. Soppeng mulai September 2001 s/d Juni 2003 2. Akper Depkes Banta-Bantaeng – Makassar Tahun 2001 RIWAYAT PEKERJAAN 1. ICU Rumah Sakit Hikma – Makassar. SD Inpres Bulurokeng – Makassar Tahun 1994 2. SMU Muhammadiyah 06 – Makassar Tahun 1998 4. Tenaga honorer di Puskesmas Pembantu Dinas Kesehatan Kab. SMP Negeri 9 Bulurokeng – Makassar Tahun 1995 3. mulai Juli s/d Desember 2003 3. Soppeng. mulai Januari – Juni 2004 4. Tenaga honorer pada ruang Emergency Care di Rumah Sakit Ajjapange Kab. SOETAMI NO. Pegawai Negeri Sipil di Puskesmas Pembantu Dinas Kesehatan Kab. PROF. mulai Februari 2005 hingga saat ini.9 KEL. BULUROKENG KEC. Paser – KALTIM. .DR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful