P. 1
makalah jiwa jadi

makalah jiwa jadi

|Views: 608|Likes:
Published by Fanny Moscovia

More info:

Published by: Fanny Moscovia on Apr 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

Peran Perawat Dalam Pemberian Terapi ECT

Disusun Oleh :

Fanny Indrayani Maya Puspita Tutri Wulandari Ulfah Sarifah

TINGKAT: II A

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN KIMIA 17 POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III 2011
1

Di sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber dan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa 1. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada mahasiswa. Kami mohon untuk saran dan kritiknya. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. April 2011 Tim Penulis 2 . Makalah ini disusun agar mahasiswa dapat mengetahui peran perawat dalam pemberian terapi ECT . Jakarta. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Keperawatan Jiwa 1 yang telah memberikan bimbingannya hingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih. Makalah ini memuat tentang “Peran Perawat dalam terapi ECT” dan sengaja dipilih karena penugasan oleh dosen untuk dipelajari dan di pahami.

.. Indikasi ………………………………………………………….... H... G. I... B....4 1... Tujuan Khusus …………………………………………………. C. Kesimpulan ………………………………………………… 16 6 6 7 11 12 13 13 13 14 6 16 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………...........1.....1 1.DAFTAR ISI COVER ………………………………………………………………………..... Persiapan Pasien ……………………………………………… E.... Reaksi Penderita ………………………………………………........ 2....... 1 2 3 4 4 5 5 5 Sistematika Penulisan ……………………………….....2 1.... A.......... F.. Efek Samping …………………………………………………. Cara Pemberian ECT ………………………………………….. Peran Perawat …………………………………………………........... 1. Tujuan Umum …………………………………………… ……. Pengertian ……………………………………………... Manfaat Penelitian ………………………………………... D... BAB III PENUTUP …………………………………………………………....5 Pendahuluan . 17 3 .......... Dosis …………………………………………………………….. DAFTAR ISI …………………………………………………. ……... BAB I PENDAHULUAN ……………………………………... KATA PENGANTAR ……………………………………………………….... 5 BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………..... Kontra Indikasi …………………………………………………......3 1.........

Terapi ini berupa terapi fisik dengan pasien-pasien psikiatri dengan indikasi dan cara tertentu. Pada pelaksanaan pengobatan ECT. Terapi kejang listrik adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektroda yang dipasang pada satu atau dua “temples” (Stuard.2007). dirantai. sambil mencari makanan dan menjadi tontonan masyarakat. mirip efek obat antidepresan. serta terapi modalitas yang sesuai dengan gejala atau penyakit pasien yang akan mendukung penyembuhan pasien jiwa. Terapi kejang listrik merupakan salah satu terapi dalam kelompok terapi total. 4 . Suatu peningkatan kadar norefinefrin dan serotonin. Tetapi bila pasien tersebut tidak berbahaya.1 Latar belakang Salah satu terapi pada psikiatri atau dunia kedokteran jiwa yang tidak banyak diketahui oleh banyak masyarakat adalah suatu terapi kejut dengan menggunakan sebuah instrumen khusus yang dinamakan sebagai ECT (Electro Convulsion Therapy). 2010). Zaman dahulu penanganan pasien gangguan jiwa adalah dengan dipasung. lalu ditempatkan di rumah atau hutan jika gangguan jiwa berat. Pada terapi Universitas Universitas Sumatera Sumatera Utara Utaramodalitas tersebut perlu adanya yang akan memberikan peningkatan dukungan keluarga dan dukungan sosial penyembuhan karena pasien akan merasa berguna dalam masyarakat dan tidak merasa diasingkan dengan penyakit yang dialaminya (Kusumawati. supaya dapat mengurangi ketakutan-ketakutan yang disertai dengan kehilangan memori (Erlinafsiah. 2010). tapi diperkirakan bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan biokimia dalam otak. atau diikat. mekanismenya sebenarnya tidak diketahui. Kehilangan memori dan kekacauan mental sementara merupakan efek samping yang paling umum dimana perawat merupakan hal yang penting hadir pada saat pasien sadar setelah ECT.BAB I PENDAHULUAN 1. dibiarkan berkeliaran di desa. Terapi dalam gangguan jiwa bukan hanya meliputi pengobatan dengan farmakologi tetapi juga dengan psikoterapi.

Reaksi Penderita. Untuk mengidentifikasi peran perawat sebelum ECT. Tujuan Umum. Untuk mengidentifikasi peran perawat sesudah ECT. 1.1. BAB III : Kesimpulan 5 . Sistematika Penulisan. 2. Efek Samping. Manfaat Penelitian.3 Tujuan Khusus 1. Indikasi. Tujuan Khusus. Peran Perawat. BAB II : Pengertian. Kontra Indikasi. Cara Pemberian ECT.5 Sistematika Penulisan BAB I : Pendahuluan. 1. Dosis. Persiapan Pasien.4 Manfaat Penelitian Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang pentingnya peran perawat mengenai ECT sebelum praktek dan untuk dapat memberikan asuhan keperawatan.2 Tujuan Umum Mengidentifikasi Convulsive Terapy) peran perawat sebelum dan sesudah ECT(Electro 1.

Pengertian Eectro Convulsif Therapy (ECT) atau yang lebih dikenal dengan elektroshock adalah suatu terapi psikiatri yang menggunakan energi shock listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. dan gejala vegetatif). B. perubahan perilaku mulai kelihatan setelah 2-6 terapi. Jika efektif. berikan antidepresan saja (imipramin 200-300 mg/hari selama 4 minggu) namun jika tidak ada perbaikan perlu dipertimbangkan tindakan ECT. Mania (gangguan bipolar manik) juga dapat dilakukan ECT. sehingga diharapkan pada hasil akhirnya pasien akan menjadi kejang. Diperkirakan hampir 1 juta orang didunia mendapat terapi ECT setiap tahunnya dengan intensitas antara 23 kali seminggu. dimana pasien dibaringkan pada sebuah kasur. Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall. Terapi ini dilakukan dengan frekuensi 2-3 hari sekali. Seperti apa yang pernah diceritakan oleh salah satu guru penulis. ECT lebih efektif dari antidepresan untuk klien depresi dengan gejala psikotik (waham. Indikasi Indikasi terapi kejang listrik adalah klien depresi pada psikosa manik depresi. 6 . dan setelah diberikan kejutan listrik. terutama jika litium karbonat tidak berhasil. paranoid. disiapkan ember untuk menampung air liur pasien yang akan banyak dikeluarkan. sedangkan pada mania dan katatonik membutuhkan waktu lebih lama yaitu 10-20x terapi secara rutin.Biasanya ECT ditujukan untuk terapi pasien gangguan jiwa yang tidak berespon kepada obat psikiatri pada dosis terapinya. klien schizofrenia stupor katatonik dan gaduh gelisah katatonik. Prinsip kerja alat ini adalah dengan memberikan kejutan aliran listrik kepada pasien. ECT pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang neurologist Italia Ugo Cerletti dan Lucio Bini pada tahun 1930.BAB II PEMBAHASAN A. Pada klien depresi memerlukan waktu 6-12x terapi untuk mencapai perbaikan.

Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa ECT dapat merusak struktur otak.Kehilangan memori dan kebingungan yang lebih jelas dengan penempatan elektrode bilateral bukan sepihak. Efek pada memori Ini adalah efek diakui ECT pada memori jangka panjang yang menimbulkan banyak perhatian sekitarnya penggunaannya. Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia retrograde dan antegrade. pemulihan kenangan seperti itu "hampir selesai" dengan tujuh bulan pasca perawatan. hipotensi) 2. peningkatan konsumsi oksigen otot jantung. Kehilangan memori anterograde biasanya terbatas pada waktu pengobatan sendiri atau segera sesudahnya.C. Sebagian besar pengobatan modern menggunakan pulsa arus singkat. Pada minggu-minggu dan bulan berikutnya ECT 7 . Secara psikis efek samping yang paling sering muncul adalah kebingungan dan memory loss setelah beberapa jam kemudian. Amnesia retrograde yang paling ditandai untuk peristiwa yang terjadi dalam minggu-minggu atau bulan sebelum pengobatan. dengan hanya kehilangan kenangan yang berkesinambungan dalam beberapa pekan dan bulan sebelum pengobatan.Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :  Cardiovaskuler : 1. Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi. sebagian besar efek yang singkat tinggal. dysrhythmia)  Efek Cerebral : 1. dan dengan gelombang sinus usang daripada singkat-pulsa arus. Namun hal ini masih diperdebatkan karena masih belum terbukti secara pasti. Namun. Peningkatan konsumsi oksigen. Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia. Efek samping Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari anesthesia umum. 2. Peningkatan tekanan intra cranial 4. Peningkatan cerebral blood flow 3. hipertensi. dengan satu studi yang menunjukkan bahwa meskipun beberapa orang kehilangan kenangan dari tahun sebelum pengobatan.

apakah tidak lebih berguna untuk menerima keluhan sebagai gangguan somatoform. Sebagai contoh."Pada bulan Juli 2007. kehilangan dorongan bunuh diri mereka. "meskipun lebih dari lima puluh tahun penggunaan klinis dan kontroversi yang sedang berlangsung". "bidang itu sendiri tidak pernah benarbenar memiliki kesempatan untuk memiliki diskusi tentang pasien yang memiliki keluhan tentang jangka panjang kehilangan memori. tetapi beberapa orang memiliki kerugian terus-menerus. Pada tahun 2000. Fink menunjukkan bahwa." Sackeim mengatakan ini adalah "hampir saat DAS untuk lapangan". Amerika psikiater Sarah Lisanby dan rekan menemukan bahwa ECT bilateral meninggalkan pasien dengan memori lebih terus menerus gangguan acara publik dibandingkan dengan RUL ECT. terutama dengan ECT bilateral. Duke University studi. Portugis peneliti menerbitkan sebuah tinjauan tentang keamanan dan kemanjuran ECT dalam sebuah artikel berjudul. dan telah meningkatkan fungsi sosial." Meskipun lebih dari lima puluh tahun penggunaan klinis. studi prospektif pada efek kognitif dari ECT. sampai 2007 ada "pernah ada skala besar. menjelajahi dasar dalam sejarah individu dan pengalaman. dan temuan itu tidak terbatas pada bentuk tertentu ECT. terutama pada pasien yang telah sembuh dari penyakit depresi mereka. Sackeim menyatakan bahwa sebelum tahun 2001. Berdasarkan temuan itu. Mitos dan Bukti''Dia tidak setuju dengan posisi bahwa temuan kronis.  Kontroversi efek jangka panjang pada kognisi umum Menurut peneliti terkemuka Harold ECT Sackeim.''Electroconvulsive Terapi:. defisit kognitif global harus memiliki tidak ada bantalan pada 8 . defisit kognitif substansial. Beberapa studi telah menemukan bahwa pasien seringkali tidak menyadari defisit kognitif diinduksi oleh ECT. "Daripada mendukung laporan-laporan ini sebagai akibat langsung dari ECT. dan "waktu pertama''publik''yang bidang itu sendiri berkata 'tidak' ke posisi yang tidak dapat terjadi. pada bulan Juni 2008.masalah ini secara bertahap meningkatkan memori. dan menawarkan pengobatan suportif yang tepat?" Sebagai contoh. sebuah penelitian kedua diterbitkan menyimpulkan bahwa ECT rutin mengarah pada kronis. pada bulan Juni 2009.

 Efek pada struktur otak Ada kontroversi atas efek ECT pada jaringan otak meskipun fakta bahwa sejumlah asosiasi kesehatan mental." Dalam bagian kertas yang berjudul “Menghancurkan Kehidupan”. dan ia percaya sangat penting untuk menangani "dampak sebenarnya dari kerugian pada kehidupan setiap pasien. Bahkan ketika yang relatif halus." Dalam sebuah studi tahun 2004 yang dirancang untuk mengevaluasi apakah modern teknik ECT menyebabkan kerusakan otak diidentifikasi. psikiater Peter Breggin telah menerbitkan buku dan ulasan literatur jurnalistik dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ECT rutin menyebabkan kerusakan otak yang dibuktikan dengan daftar cukup studi pada manusia dan hewan." Sebuah artikel opini baru-baru ini oleh seorang neuropsikolog dan psikiater di Dublin menunjukkan bahwa ECT pasien yang mengalami masalah kognitif berikut ECT harus ditawarkan beberapa bentuk rehabilitasi kognitif.rasio risiko-manfaat dari ECT. Sebuah laporan tahun 1999 oleh Amerika Serikat Surgeon General menyatakan. Secara khusus. Dr Breggin menegaskan bahwa hewan dan penelitian autopsi manusia telah menunjukkan bahwa ECT rutin menyebabkan “menentukan perdarahan luas dan kematian sel tersebar. Hilangnya kemampuan untuk mempertahankan dan mempelajari materi baru tidak hanya memalukan dan menyedihkan tetapi juga menonaktifkan. termasuk American Psychiatric Association. mereka tetap menderita kehancuran identitas mereka karena pemusnahan aspek kunci dari kehidupan pribadi mereka. "kekhawatiran bahwa ECT menyebabkan patologi otak kotor struktural belum didukung oleh dekade penelitian secara metodologis suara di kedua manusia dan hewan". “Bahkan ketika orang-orang terluka dapat terus berfungsi secara sosial dangkal. Dr Breggin menulis. "Studi ini juga melaporkan. kegiatan ini dapat mengganggu kegiatan rutin hidup. Seorang kritikus terkemuka ECT. dua belas monyet 9 ." Tidak ada tumpang tindih antara studi klinis dan konsumen pada pertanyaan manfaat. telah menyimpulkan bahwa tidak ada bukti bahwa ECT menyebabkan kerusakan otak struktural.

Dalam studi ini." Pada tahun 2008. "menunjukkan Tidak ada monyet yang diperlakukan ECT-temuan patologis. Vaidya et al. binatang kemudian dikorbankan dan otak mereka dibandingkan dengan monyet menjalani anestesi saja. Dr Charles Kellner. atau 48 . peneliti Rusia menerbitkan sebuah penelitian berjudul. para peneliti menemukan bahwa setelah seri kejut listrik." Ada penelitian hewan terbaru yang telah mendokumentasikan kerusakan otak signifikan setelah seri kejut listrik. Menurut para peneliti. seorang peneliti ECT terkemuka dan pemimpin redaksi mantan Journal ECT ''negara'' dalam sebuah 10 .mengalami kejut listrik setiap hari selama enam minggu dalam kondisi dimaksudkan untuk mensimulasikan ECT manusia. Para peneliti menyimpulkan bahwa "penyebab utama kematian neuron adalah kejang ditimbulkan oleh kejutan listrik. karena protokol yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbeda dari yang digunakan secara klinis Bukti dari penelitian sebelumnya (Gombos et al.jadwal jam) atau dengan dua rangsangan hanya 2 jam selain tidak menyebabkan hilangnya neuron hippocampal". Data kami konsisten dengan temuan dari model hewan lain dan dari penelitian pada manusia dalam menunjukkan bahwa neuron terletak di korteks entorhinal dan di hilus dari dentate gyrus sangat rentan terhadap kejang berulang. pada tahun 2005. “Menginduksi Neuron Kematian Syok Electroconvulsive di Hippocampus Mouse: Korelasi Neurodegeneration dengan Kegiatan” kejang. Sebagai contoh. Menurut penulis. mereka mempertanyakan penerapan riset mereka sendiri sehubungan dengan terapi Electroconvulsive pada manusia: "Sebuah peringatan penting dari hasil kita adalah bahwa tidak jelas sejauh mana mereka relevan dengan penggunaan terapi electroconvulsive dalam psikiatri. 1999) dan dari percobaan percontohan kami menunjukkan bahwa mengobati tikus baik dengan lima sampai sepuluh banyak spasi ECS (di 24 -. ada kerugian yang signifikan dari neuron di bagian otak dan khususnya di bagian didefinisikan dari hippocampus dimana sampai 10% dari neuron tewas. peneliti Portugis melakukan studi tikus bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah seri kejut listrik menyebabkan perubahan struktural dalam bagian-bagian yang rentan dari otak. "Namun. Banyak ahli pendukung ECT mempertahankan bahwa prosedur tersebut aman dan tidak menyebabkan kerusakan otak. "jawaban Penelitian ini positif pertanyaan apakah pemberian berulang kejang ECS dapat menyebabkan lesi otak.

Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT c. ECT tidak dilakukan pada janin.  Efek lain : 1." Dr Kellner secara khusus mengutip sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk menunjukkan tidak adanya penurunan kognitif pada delapan mata pelajaran setelah lebih dari 100 perawatan seumur hidup ECT. Harold Sackeim. dan menghindari hiperventilasi berlebihan direkomendasikan. Selama ECT. pemantauan jantung janin eksternal. menerbitkan sebuah studi skala besar kurang dari sebulan setelah wawancara ini menyimpulkan bahwa jenis ECT digunakan dalam delapan pasien yang menerima perawatan seumur hidup 100. Persiapan Disarankan untuk ECT selama kehamilan mencakup pemeriksaan panggul. secara rutin menyebabkan gigih . gelombang sinus bilateral. defisit kognitif global. Persiapan Pasien a.wawancara yang diterbitkan baru-baru ini bahwa. ketinggian pinggul kanan wanita hamil. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan yang akan dilakukan. "Ada sejumlah dirancang dengan baik studi yang menunjukkan ECT tidak menyebabkan kerusakan otak dan berbagai laporan dari pasien yang telah menerima sejumlah besar perawatan selama hidupnya dan tidak menderita masalah berarti karena ECT. penghentian obat antikolinergik yang tidak penting. Peningkatan tekanan intragastric Beberapa pasien mengalami nyeri otot setelah ECT. mayoritas telah menemukan ECT aman. Peningkatan tekanan intra okuler 2. b. tocodynamometry rahim. D. dan administrasi dari antasida nonparticulate. Salah satu penulis penelitian dikutip. intubasi. hidrasi intravena. Hal ini disebabkan oleh relaksan otot diberikan selama prosedur dan jarang karena aktivitas otot. Siapkan surat persetujuan 11 .

Tensimeter h. berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT h. adalah sebagai berikut : a. perhiasan atau penjepit rambut yang mungkin dipakai klien f. Litium biasanya dihentikan beberapa hari sebelumnya karena berisiko organik. Obat SA injeksi 1 ampul g. Reaksi Penderita o Konvulsi epilepsi grand mal o Fase tonik o Fase klonik o Fase reaksi o Tidak sadar : 10 menit : 30 – 40 menit : Nafas dalam & kuat : 10 menit 12 . j. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer) b. Persiapan Alat Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT.d. Pemberian antikolinergik ini mengembalikan aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal.2 mg setengah jam sebelum ECT. Spuit disposibel f. Lepas gigi palsu. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi g. Jika klien menggunakan obat antidepresan. dan antikonvulsan harus dihentikan sehari sebelumnya. sedatifhipnotik. 1. antipsikotik. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0.6-1. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT e. Stetoskop i. i. Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain c. Slim suiger Set konvulsator E. Cairan Nacl secukupnya e. lensa kontak. Klien jika ada tanda ansietas. Kain kasa d.

o Kepala miring o Sadar o Bingung o Tertidur > 1 jam o Dijaga F. Relatif : Angina tidak terkontrol. CVE. depresi berat 6 – 12 x o Pasien episode mani 8 – 20 x o Pasien schizoprenia 10 – 20 x Penatalaksanaan dalam pemberian ECT sebagai berikut : a. Absolut : Infark myocard. Dosis pemberian   Berdasarkan respon klinik Dihentikan : o Respon klinis diperkirakan cukup o Tidak ada perbaikan 6 – 12 x  Efektif perminggu pengobatan diantara pasien bisa 20 – 25 x G. Kontra Indikasi a. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal. c. H. massa intracranial b. retinal detachment. Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk menghindari kemungkinan kejang umum. Gagal jantung kongestif. b. kecuali bagian kepala. fraktur tulang besar. Setelah alat sudah disiapkan. Cara Pemberian ECT o Biasanya diberikan 3 x 1 minggu. glaukoma. d. seluruh badan di tutup dengan selimut. Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat elektrode menempel. pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata dan cukup keras. Osteoporosis berat. Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini dipakai untuk menghasilkan koma ringan. 13 . Pakaian dikendorkan.

Kepala dimiringkan. atur posisi miring pada pasien sampai sadar. Ambulasikan pasien dengan bantuan. Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk membantu klien dalam masa pemulihan setelah tindakan ECT dilakukan yang telah dimodifikasi dari pendapat Stuart (2007) dan Townsen (1998). Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang dibungkus kain dimasukkan dan klien diminta menggigit. orientasikan pasien. pinggang. Bila banyak lendir. 14 memeriksa adanya . harus mempersiapkan alat dan mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan. 5. Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang dibasahi caira NaCl. 4. h. Jika pasien berespon. siku. k. 3. j. Menurut pendapat Stuart (2007) memantau klien dalam masa pemulihan yaitu dengan cara sebagai berikut: 1. Persendian (bahu. g. dibersihkan dengan slim siger. Bantu pemberian oksigen dan pengisapan lendir sesuai kebutuhan. ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang dengan dilapisi kain. 2. i. m. n.Pertahankan jalan napas paten. f.e. Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan. Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan diafragma. l. Observasi sampai klien sadar. Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai timer berhenti dan dilepas. lutu) di tahan selama kejang dengan mengikuti gerak kejang. I. Pantau tanda-tanda vital. Rahang bawah (dagu). Peran Perawat Perawat sebelum melakukan terapi ECT. setelah hipotensi postural. Setelah pernapasan pulih kembali. Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan kejang (menahan tidak boleh dengan kuat). o.

Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya. 9. Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat. Menurut Townsend (1998). orientasikan pasien sesuai kebutuhan. Tawarkan analgesik untuk sakit kepala jika diperlukan. Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi. 7. 3. Berikan makanan ringan. Implementasi keperawatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: 1. 8. 4. Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik pada aktivitas-aktivitas rutin pasien untuk meminimalkan kebingungan.6. Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya yang berhubungan dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya. jika terjadi kehilangan memori dan kekacauan mental sementara yang merupakan efek samping ECT yang paling umum hal ini penting untuk perawat hadir saat pasien sadar supaya dapat mengurangi ketakutanketakutan yang disertai dengan kehilangan memori. 15 . 2. 5. Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa. Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan memori tersebut hanya sementara.

Dan peran perawat dalam terapi ECT yaitu perawat sebelum melakukan terapi ECT.Oleh karena itu perawat harus memperhatikan efek samping yang akan terjadi. dimana pemberian arus listrik singkat dikepala digunakan untuk menghasilkan kejang tonik klonik umum.BAB III PENUTUP 2. Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall. Therapi ECT merupakan peubahan untuk penderita psikiatrik berat. harus mempersiapkan alat dan mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.1 Kesimpulan ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. 16 .Pada terapi ECT ini.ada efek samping yang di hasilkan.

html http://dokmud.com/2009/10/27/electro-convulsive-therapi-ect/ 17 .wordpress.com/2011/03/elektro-convulsif-therapie-ect.wordpress.blogspot.DAFTAR PUSTAKA http://dokmud.com/2009/10/27/electro-convulsive-therapi-ect/ http://wir-nursing.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->