HUBUNGAN SOSIAL ANTAR AGAMA PENYERANGAN OLEH MASSA ORGANISASI ISLAM TERHADAP AHMADIYAH TINJAUAN KONFLIK ANALISIS

1. Pendahuluan Permasalahan antar kelompok agama baru-baru ini menjadi perhatian dari berbagai pihak dan kalangan di Indonesia. Pemerintah dan lembaga-lembaga tertentu yang berada di Indonesia melakukan berbagai usaha dalam menjawab permasalah hubungan antar kelompok agama ini, yang pada dasarnya adalah wilayah yang terbungkus oleh lingkungan multikultural. Akan tetapi, dalam pandangan masyarakat awam, langkah yang ditempuh oleh pihak-pihak yang harus bertanggung jawab tersebut, terkesan tidak memberikan hasil. Hal ini dinilai dari fakta dan realita yang ada, terutama yang diketahui dari berbagai media massa, bahwa masalah konflik antar kelompok ini tidak pernah menemukan titik temu untuk menyatakan damai. Salah satu masalah yang sangat sensitif, berhubungan dengan konflik antar kelompok ini, adalah permasalahan konflik antar pemeluk agama. Bahkan dalam beberapa kasus telah terjadi proses kriminalisasi terhadap kelompok-kelompok minoritas oleh kelompok dominan, dengan mempermasalahkan penodaan suatu agama dan mengganggu ketertiban umum. Penulis menyusun makalah ini berdasarkan beberapa alasan dan tujuan yang dipaparkan dalam latar belakang dan permasalahan.

1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki struktur masyarakat yang majemuk yaitu, terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, kelompok, dan agama dalam kelompok masyarakat muncul praktek-praktek eksklusif sosial. Praktek eksklusif berdasar agama ini menyebabkan pengabaian, pengasingan dan pencabutan hak atas orang atau sekelompok orang berdasarkan oleh pemahaman ajaran agama. Praktek eksklusif ini sering menimpa kelompok minoritas yaitu kepercayaan dan kelompok sekte keagamaan yang berbeda dari apa yang telah ditentukan oleh negara. Pihak yang mempunyai daya untuk melakukan praktek eksklusif sosial terhadap kaum minoritas ini adalah kaum dominan (kelompok agama yang berkuasa) demi memperoleh kekuatan dan

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam UUD 1945 Hal ini lah yang dilihat sebagai masalah dalam tulisan ini. Banten oleh sebuah organisasi massa Islam berupa tindakan kekerasan yang bahkan dianggap melanggar HAM. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan tindakan . Pluralitas agama di Indonesia di satu sisi menjadi kekayaan bangsa namun di sisi lain menjadi ancaman yang berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial di masyarakat. Penulis mencoba memberikan analisis untuk menjawab masalah ini dilihat dari sudut pandang kerangka analisis sosiologis: teori konflik. integritas masyarakat masih tertata dengan kokoh. Permasalahan Di beberapa wilayah Indonesia. persaudaraan. kemanusiaan. yaitu 1). Hal inilah yang menjadi alasan penulis untuk membahas bagaimana hubungan antar agamaagama yang ada di Indonesia. yaitu teori konflik. 1. Contohnya pada hari minggu.2. Banten yaitu tindakan kekerasan terhadap kaum minoritas dan mengenai kebebasan memeluk agama dan beribadah dalam konteks relasi sosial antar agama. Di sini timbul dua pertanyaan. kekeluargaan dan kebangsaan. yaitu tentang konflik agama di kecamatan Cikeusik Pandeglang.perhatian dari penguasa. 6 februari 2011 terjadi tekanan terhadap kaum minoritas ahmadiyah. Konflik agama yang terjadi di masyarakat Indonesia disebabkan oleh pertikaian karena tidak dilegitimasikan sebagai agama nasional di Indonesia dan aliran menyimpang yang dianggap kaum mayoritas itu. Penulis mengangkat masalah hubungan antar kelompok agama ini dari sudut pandang kerangka analisis sosiologis. bahkan disintegrasi nasional. Namun hal ini hanya sebagian saja karena pada kenyataannya masih terjadi konflik yang disebabkan berbagai faktor yang kemudian menyebabkan disintegrasi dalam masyarakat. Kerjasama dan toleransi antar pemeluk agama terjalin dengan baik. padahal ketentuan dan peraturan tentang kebebasan memeluk agama dan menjalankannya sudah diatur di dalam UUD 1945 ? 2). di kecamatan Cikeusik Pandeglang. Permasalah konflik dan tindakan kekerasan ini kemudian mengarah kepada pertanyaan mengenai kebebasan memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. berdasarkan kepada rasa solidaritas. mengapa konflik agama bisa terjadi.

2. sebagai pemberi makna dan tujuan. Secara sosiologis. Struktural Fungsional Pendekatan ini menitikberatkan pada fungsi agama dalam struktur yang saling kait mengait di masyarakat. c).kekerasan dan praktek eksklusif sosial terjadi pada konflik ahmadiyah dan organisasi massa Islam di Indonesia ? 1. Teori Konflik Kata konflik berasal dari kata kerja bahasa latin configere yang berarti saling memukul. b). Perspektif konflik lebih menekankan sifat pluralistik dari masyarakat dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan yang terjadi di antara berbagai kelompoknya.] Analisis ini menggarisbawahi peran agama dalam menciptakan ketidaksetaraan dalam masyarakat.3. sebagai perekat sosial. Mengutip dari Narwoko dan Suyanto (2004 : 117) Teori konflik lebih menitikberatkan analisisnya pada asal-usul tercipta nya suatu aturan atau tertib sosial. sebagai kontrol sosial. yaitu Struktural Fungsional dan Teori Konflik. Marx berpendapat bahwa agama hanya alat untuk menanamkan kesadaran palsu (false consciousness) agar supaya orang-orang dapat menerima permasalahan sosial di dunia ini dan berharap terus pada datangnya dunia yang lebih baik. Agama juga dipandang sebagai . Teori ini tidak bertujuan untuk menganalisis asal-usul terjadinya pelanggaran peraturan atau latar belakang seseorang berperilaku menyimpang. 1. yaitu terdapat tiga fungsi utama agama: a). konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) karena salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Teori ini merujuk kepada pendapat Durkheim. terdapat dua kerangka analisis yang dipakai oleh sosiolog. Kerangka Konseptual Dalam melihat hubungan antar agama ini.

kaum muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. 2. Dalam situs Ahmadiyah tertulis. Dalam tulisan ini. Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900. Teori ini membantu menjelaskan penyebab dari pola-pola relasi yang konfliktual antar kelompok agama. dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut atau berbohong. Amerika Utara. . Australia. dan Eropa. saat ini jumlah anggota mereka di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. di wilayah Punjab. kekuasaan. Dia dilahirkan di Desa Qadian.alat bagi kaum elite politik untuk mempertahankan kekuasaannya karena agama. tahun 1835. penulis menganalisis relasi (hubungan) antar agama dari sudut pandang teori konflik.1. Oleh pengikutnya. dan politik memiliki hubungan yang erat. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Amerika Selatan. yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Perebutan kekuasaan dalam suatu negara akan terus berlangsung. Pembahasan 2. Begitulah dia tumbuh. India. yaitu agama yang di satu sisi merupakan perekat sosial namun di sisi lain merupakan penyebab utama terjadinya disintegrasi. berpenyakit dan pencandu narkotik. Asia. mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa menaatinya. Didirikan untuk menjauhkan kaum Muslim dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran atau bentuk khusus sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Ahmadiyah mengaku memiliki cabang di 174 negara yang tersebar di Afrika. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani. Pendekatan ini juga dapat menjelaskan dua fenomena yang bersifat paradoks. karena itu agama-agama berlomba untuk semakin mendekatkan diri dengan sumber-sumber kekuasaan dari masa ke masa. Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1835-1908. Corong gerakan ini adalah Majalah Al-Adyan yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Sejarah Ahmadiyah Secara demografis. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi. pergerakan Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke beberapa negara.

seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadis di India. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaru). keburukan yang disembunyikannya. Dan biasanya suatu yang dianggap baik ini adalah sesuatu yang menyangkut kepentingan kelompok yang berkuasa (atau bisa dikatakan kelompok yang dominan). yang mencakup suatu proses untuk mendapatkan kekayaan. yang berarti kebaikan itu belum tentu baik pula di mata masyarakat lain (golongan atau kelompok lain). penyusun mencoba menguraikan analisis berdasarkan teori konflik Marx. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi Muhammad SAW. Melihat kepada masalah hubungan antar agama ini. yang menjadi pertanyaan mendasar adalah: mengapa konfik bisa terjadi?. Tidak lama setelah. menyingkap pengakuannya. Manusia cenderung untuk berusaha mendapatkan hal-hal yang dianggap baik (menurut hemat mereka sendiri). Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad. kekufuran serta penyimpangan . Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi Al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. kekuasaan. Karena itulah bisa menimbulkan persaingan antara individu satu dengan individu yang lain atau kelompok yang satu dengan kelompok lain. tentu pertanyaan itu harus bisa dijawab terlebih dahulu untuk mencari langkah yang tepat untuk menanggulangi masalah-masalah yang erat kaitannya dengan masyarakat yang multi-budaya. Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908. Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’. Marx menganggap bahwa proses pertikaian ini adalah proses pertentangan kelas. tetapi bersifat relatif. Menjawab pertanyaan ini.Pemerintah koloni Inggris banyak berbuat baik kepada mereka sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada Pemerintah koloni Inggris. yang mana dikatakan bahwa di dalam suatu masyarakat dapat dijumpai hal yang dianggap baik oleh suatu golongan atau kelompok. Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para dai Islam yang lain sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Pada awalnya. atau kedudukan. Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran. Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama) agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka dan yang benar tetap hidup.

kesucian agama dipegang oleh suatu kekuasaan otoritas yang dimiliki oleh pemuka-pemuka agama (ulama atau paus). pangan) dan juga terpenuhinya kebutuhan mental spiritual (rohani). sesuai dengan ketentuan hak asasi. papan. Di satu pihak mengatakan hal itu benar namun pihak yang lain tidak berpendapat demikian sehingga memicu konflik. Mengenai kebebasan memeluk agama dan menjalankannya. sesuai logika. Konflik ini kemudian mengarah kepada tindakan kekerasan kepada kelompok-kelompok tertentu yang dianggap menyimpang atau melanggar norma agama yang telah berlaku di suatu masyarakat. apa faktor yang menyebabkan konflik tetap saja terjadi meskipun peraturan. Hal inilah kemudian yang dapat memicu konflik apabila sedikit saja ada gerakan yang menentang arus dari norma dan aturan-aturan tersebut. agama adalah sebuah kebebasan bagi pemeluknya untuk menentukan keyakinan dan kepercayaannya. tentu menjadi pertanyaan kembali. Banten kecamatan Cikeusik penyerangan kediaman pimpinan Ahmadiyah yang mengakibatkan 3 orang tewas dan 7 orang luka-luka. Berbicara mengenai HAM. tata cara. yang terkadang perkataan (fatwa) dari para pemuka agama ini tidak terbantahkan dan diikuti oleh semua penganutnya Penanaman tentang agama ini dimulai sejak lahir dan anak-anak.Agama menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya disintegrasi. berarti membicarakan hal yang terkait dengan kebutuhan biologis (sandang. Seharusnya. ketentuan. tidak mungkin terjadinya konflik. upacara/ritual dan sebagainya yang harus dituruti. Seseorang dijadikan pemeluk agama yang sama dengan orang tuanya sejak lahir. Namun kenyataan serta data-data yang ada berkata berbeda. aturan. Marx mengatakan bahwa analisis konflik menggarisbawahi peran agama dalam menciptakan ketidaksetaraan dalam masyarakat. . Hal ini bisa kita lihat contoh pada kasus Pandeglang. yang mana keyakinan ini sangat dijunjung tinggi dan dijaga oleh penganutnya. yang mengatakan bahwa agama dapat menjadi pemicu ketidaksetaraan dalam masyarakat. serta UUD 1945 tentang kebebasan beragama telah ditetapkan. melalui jalur sistem pendidikan nasional. Dalam kelompok agama tersebut. Sosialisasi terhadap agama mencakup nilai-nilai. uraian di atas menegaskan implikasi dari teori konflik. tentu dengan adanya UUD 1945 tentang kebebasan beragama. Namun. yaitu kepercayaan atau agama. Norma dan aturan agama tersebut sudah menjadi hal yang lumrah dalam pola pikr masyarakat umumnya. Agama terkait dengan keyakinan.

sebagai subsistem dari sistem sosial yang mempunyai fungsi sosial tertentu. 1997) . social institution. dari data Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia Tahun 2008. Bahkan. 1996) . terlepas dari jaringan institusi atau institusi sosial yang mendukung eksistensinya kepentingan sosial.2. misalnya sebagai salah satu pranata sosial. Kajian agama yang bercorak sosiologis ini meletakkan agama dan keberagamaan manusia semata – mata sebagai gejala sosial (Abdullah. sehingga tidaklah mengerankan jika ahli filsafat agama juga ikut ambil bagian dalam tugas ahli teologi ini ( Shcarf. dan politik selalu menyertai pemikiran teologis yang berkembang dalam suatu masyarakat. misi sesungguhnya dari teologi adalah mempertahankan doktrin agama dengan menggunakan istilah yang rasional-filosofis. Dalam konteks kajian sosiologis seperti ini agama tidak dilihat berdasar apa dan bagaimana isi ajaran dan doktrin keyakinannya. Kajian agama dalam corak teologis berangkat dari adanya klaim tentang kebenaran mutlak ajaran suatu agama dalam doktrin-doktrin keagamaaan yang diyakini berasal dari Tuhan. dan Jaksa Agung . social instituion. Sebagai contoh. pokoknya iman. Menteri Agama. Oleh karena itu. yakni teologis dan sosiologis. dari sinilah muncul kajian empiris terhadap fenomena keberagamaan manusia. pada bulan Juni 2008. tidak pernah bisa beranjak dari frame di atas yaitu keimanan mutlak terhadap kebenaran ajaran agama yang di yakininya. meskipun tetap mempunyai fungsi sosial tertentu.2 Aspek teologis dan sosiologis Secara umum kajian tentang agama setidaknya terbagi ke dalam dua dimensi. ekonomi. melainkan bagaimana ajaran dan keyakinan agama itu di lakukan dan mewujud dalam perilaku keberagamaan manusia dalam dunia realitas seperti itulah yang kemudian di kenal dengan Sosiologi Agama Meski demikian sesungguhnya dimensi (doktrin) teologi tidak pernah berdiri sendiri. teologi sebagai suatu disiplin ilmu yang mengkaji agama. dimensi sosiologis melihat agama sebagai salah satu dari institusi sosial. Karena posisinya sebagai subsistem. misalnya sebagai salah satu pranata sosial. maka eksistensi dan peran agama dalam suatu masyarakat tak ubahnya dengan posisi dan peran subsistem lainnya. Berbeda dari dimensi teologis. Menteri Dalam Negeri. kebenarannya juga diakui berada di luar jangkauan kemampuan pikiran manusia sehingga semata-mata menjadi ajaran yang cukup diimani saja.

[11] Penyebab terakhir yang mungkin bisa menjadi bahan renungan adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makna pluralisme. 2.mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang membatasi gerak langkah anggota dan pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Hal ini kemudian menyebabkan sebagian kasus konflik di tingkat masyarakat (umumnya di lingkungan masyarakat yang tidak mengerti tentang masalah multi-budaya) jatuh kepada usaha penyerangan atau tindakan kekerasan kepada kelompok minoritas Ahmadiyah tersebut. Masalah yang dianggap sebagai penodaan agama ini diawali oleh konflik antar masyarakat dan kemudian berlanjut ke pengadilan. KESIMPULAN DAN SARAN Dari pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya. ditarik beberapa kesimpulan mengenai masalah yang terjadi antara agama-agama di Indonesia (dalam sudut pandang teori konflik). . antara lain sebagai berikut: 1. Pada tingkat tertentu. Di Indonesia masih banyak terjadi konflik yang disebabkan oleh agama itu sendiri. 3. Seyogyanya pemerintah mengambil langkah untuk menanamkan makna pluralisme tersebut kepada masyarakat melalaui sistem pendidikan nasional dan dimulai dari usia dini. Di bebarapa daerah Indonesia masih terdapat organisasi masyarakat Islam yang dominan di beberapa daerah Indonesia yang dapat menyebabkan timbulnya suatu keadaan yang memarginalkan kelompok lain. Oleh karena. masyarakat lebih mementingkan apa yang baik untuk agama atau golongan yang mereka sendiri. sudah jelas bahwa Majelis Ulama Indonesia dan beberapa organisasi massa keislaman dan kelompok kepentingan memiliki andil besar untuk mendorong proses munculnya tuduhan penodaan agama Islam di tingkat masyarakat sipil. Hal ini disebabkan oleh kurangnya toleransi antar umat beragama karena masih merasa agama yang mereka anut adalah yang paling benar. Di sini lah dituntut kebijakan dari pemerintah untuk mengambil langkah dalam menyelesaikan malasah ini.

Saran dari penyusun dalam menghadapi masalah hubungan antar agama ini adalah kembali kepada diri individu masing-masing. Dari sekian banyak kasus yang telah diuraikan. penerapan upaya tersebut kurang maksimal karena masih banyak sifat egois dari masingmasing penganut agama yang fanatik sehingga implementasi dari peraturan yang dimaksudkan memerlukan sosialisansi dan pemanhaman dari semua pihak. Selain itu agama juga menjadi alat bagi kaum elite tertentu untuk mempertahankan kekuasaannya. Karena umat antar agama seharusnya memiliki keterbukaan dalam menanggapi dan melihat perbedaan yang ada di antara mereka. pemerintah sudah berupaya mengeluarkan kebijkan-kebijakan untuk menangggulangi atau menyelesaikan konflik tersebut. sangat diharapkan kebijakan dari pemerintah untuk mengambil langkah dalam menyelesaikan malasah konflik yang terjadi antar agama-agama di Indonesia.3. Banyak aturan-aturan baru dari suatu agama yang membuat rumit agama itu sendiri sehingga menimbulkan pertentangan dengan norma-norma yang ada. yang mengakibatkan konflik. Selain itu. Namun. 4. . Penyebab utama terjadinya konflik agama adalah disebabkan oleh pengaruh kelompok agama itu sendiri yang sangat dominan di masyarakat.

1997 http://id. 1982 Thayib.Dwi dan Suyanto.wikipedia.DAFTAR PUSTAKA Narwoko. Surabaya: Pusat Kajian Strategi dan Kebijakan (PKSK). J. 2004 Soekanto. Bagong. Jakarta: Kencana. Soerjon. HAM dan Pluralisme Agama. Anshari dkk. Jakarta: Ghalia Indonesia. Teori Sosiologi : Tentang Pribadi Dalam Masyarakat.org/wiki/Konflik . Sosiologi : Teks pengantar & terapan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful