Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme

Oleh Mujibur Rohman

Abstract
Colonial discourse is an ideological weapon to conquer the indigenous people. Its goal is to distinguish the colonizer and the colonized into two conflicting identities. Colonialism constructs the indigenous people in two ways. First, colonialism identifies the colonized by researches based on the rule of knowledge. Second, combining the structure of society they have created with the structure of the pre-colonial society. However, there are ambivalences and contradictions in the colonial discourses themself. Therefore, colonial discourse is not always successful. On the other hand, imitation made by the indigenous society to the colonial culture is a resistance strategy against colonialism, in which imitation is a form of mockery toward the culture and identity of the colonizer. Kata kunci: wacana kolonial, dekonstruksi, hibriditas

Pendahuluan “Wa! Saja kira itoe ajer!” Demikian bunyi headline iklan dalam surat kabar zaman kolonial Belanda, Sin Po, 19 Juli 1923. Iklan tersebut menampilkan gambar seorang pribumi memakai destar gaya Madura, lengkap dengan kostum lorengnya. Matanya terbelalak takjub sembari tangannya meraba cairan water witte petroleum “Sheel”. Entah dengan tujuan yang disengaja atau tidak, gambar tersebut memberikan imajinasi tertentu tentang masyarakat pribumi. Gambaran pribumi yang naif, yang tidak bisa membedakan antara air dan minyak. 1 Gambar dalam iklan tersebut menjadi bagian terkecil dari strategi kolonial untuk membentuk persepsi mengenai masyarakat pribumi. Persepsi, gambaran, atau bahkan stereotip tentang masyarakat pribumi ini disebarkan lewat berbagai media massa. Persepsi tersebut bertujuan untuk membelah masyarakat pribumi dan kolonial ke dalam dua kutub yang saling bertentangan. Pertentangan-pertentangan yang ingin dibangun yaitu, masyarakat pribumi adalah masyarakat yang irasional, naif, konyol, feminis, dan terbelakang. Persepsi tersebut dilawankan dengan Barat, yang menurut mereka sendiri, rasional, dewasa, maskulin, beradab, dan maju. Seluruh pengertian tentang beradab dan tidak beradab, baik secara implisit maupun secara eksplisit menjadi muatan wacana kolonial (colonial discourse). Wacana merupakan senjata ideologis kolonialisme. Strategi penaklukan oleh kolonialisme bukan semata kekerasan fisik.2 Akan tetapi, kolonialisme juga menyertakan peranan berbagai institusi, para ilmuan,
1 Bedjo Riyanto, “Mempermainkan Realitas dalam Realitas Main-main: Wong Cilik dalam Ruang Imajiner Iklan”, dalam Budi Susanto SJ (ed.), Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 50-51. Menurut Riyanto, gambaran tersebut membongkar dominasi kaum bangsawan dan elit kolonial yang selama ini menjadi pusat, sekaligus alat untuk mempermainkan dan mengejek kaum pribumi. 2 Kekerasan dan pembantaian terhadap masyarakat pribumi mewarnai zaman merkantilisme antara tahun 1498-1763, sebagai awal penaklukan dan penghisapan sumber daya lokal oleh kapitalisme. Untuk lebih jelasnya lihat,

5 Ungkapan Niuwenhuis merupakan contoh lain mengenai stereotip masyarakat pribumi. Kolonial memberi nama. Wacana kolonial menarasikan masyarakat pribumi. Gelinas. Young. Said mengadopsi dan mengembangkan gagasan tersebut dari Foucault hingga menjadi satu jenis studi baru tentang kolonialisme. hlm. terj. Kolonialisme mengonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujuan kekuasaannya. terj. hlm. Said menggambarkan bahwa naskah-naskah literer. Zuly Qodir dan Uzair Fauzan (Yogyakarta: LKiS. 2003). menggabungkan bangunan struktur masyarakat yang mereka ciptakan dengan tatanan masyarakat terjajah melalui misi pemberadaban (civilizing mission). 2003). Kolonialisme mengonstruksi masyarakat terjajah lewat dua cara yang saling menguatkan. Menurut Jacques B. 385. seolah menulis di atas kertas kosong tentang masyarakat yang sama sekali belum ditandai. Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme. . siapa saja yang pernah membaca The Waning of the Middle Ages karya Johan Huizinga. Ilmu pengetahuan berperan sebagai alat ideologis kolonialisme untuk membentuk kesadaran tertentu di kalangan masyarakat pribumi. kolonialisme melakukan identifikasi masyarakat kolonial melalui wacana dengan kaidah-kaidah dan sistem pengetahuan. Said ingin memperlihatkan bahwa pengetahuan orang-orang Eropa tentang non-Eropa adalah bagian dari proses mempertahankan hegemoni Eropa atas “pihak-pihak lain”. Raimond Robitaille (London: Zed Books. Juggernaut Politics: Understanding Predatory Globalization. 2003). dan lintas teks. hlm. Postcolonialism: an Historical Introduction (United Kingdom: Blackwell Publishing. hlm. Frances Gouda mengutip esai Niuwenhuis dalam Indische Courant dan majalah Politiek Economische Bond yang mengatakan. “Pribumi malas” merupakan contoh stereotip wacana kolonial yang nantinya akan diikuti oleh serangkaian diskursus moral pemberadaban masyarakat terjajah.C. Kedua. Kolonialisme/Pascakolonialisme.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 2 penulis. Pertama. 59. Hartono Hadikusumo. dan mengkaji masyarakat terjajah dalam kerangka kerja dan aturan-aturan yang telah mereka tentukan. 48. Barat “mendemistifikasi” status pengetahuan dan mengaburkan batas-batas antara ideologis dan obyektif. (Yogyakarta: Bentang. Mereka memiliki otoritas penuh untuk menciptakan gambaran masyarakat pribumi. Wacana kolonial menjadi isu utama dalam pemikiran Orientalisme Edward Said yang termaktub dalam Orientalism (1978). pasti akan menemukan banyak kesamaan antara pandangan mistik orang Eropa di akhir Abad Pertengahan dengan mentalitas orang Jawa pada tahun 1920-an. 2001). 4-6.4 Pada wilayah praktis. bidang. 3 Ania Loomba. Melalui gagasannya.3 Pemikiran Said tentang analisa wacana kolonial dapat memberikan gambaran bahwa kolonialisme merupakan produksi ideologis lintas geografis. 5 Lihat Simon Philpott. peneliti. dan berbagai tulisan Barat tentang Timur membantu menciptakan dikotomi antara Barat dengan “pihak-pihak lain”. mencirikan. terj. 4 Robert J. serta para ahli dari berbagai bidang. penciptaan wacana kolonial sama sekali meniadakan subyek terjajah. penelitian.

Belanda menggunakan aura autokrasi tradisional Indonesia untuk menundukkan masyarakat Lihat Frances Gouda. praktik-praktik kolonialisme melenceng jauh atau malah berbanding terbalik dari misi pemberadaban. Bahkan. terj. Tetapi memelihara tatanan. hlm.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 3 Niuwenhuis. ideologi. hlm. bangsawan kerajaan demi mencapai kepentingan kekuasaannya. perkembangan masyarakat pribumi terhenti pada tahap awal evolusi mereka. bahkan memanfaatkan. kecanggihan teknologi Barat yang menjadi visi dunia. yang hanya mampu melihat kepingan persepsi”. Belanda memaksa seluruh kerajaan di Nusantara untuk mengakui kedaulatan kolonial melalui Deklarasi Singkat. 48-50.7 Praktik kolonialisme juga tidak serta-merta menghapus tatanan prakolonial. Jugiarie Soegiarto dan Suma Riella Rusdiarti (Jakarta: Serambi. Kolonial menggabungkan tatanan masyarakat prakolonial dengan struktur sosial baru ciptaan mereka lalu menyebutnya sebagai “tradisi”. 8 Ibid. 6 . Kenyataannya. Pengetahuan inilah yang dikonsumsi orang-orang Barat. 1900-1942. Kolonial Belanda berlindung di belakang.. Strategi ini menandakan budaya “dominasi tanpa hegemoni”. Ini menjadi hasrat kolonial Eropa untuk menyusun sejumlah retorika upaya pemberadaban berdasarkan kerangka “kami” dan “mereka”. kolonialisme justru muncul sebagai “makhluk terluka [dengan] pandangan kabur. Produksi pengetahuan mengenai pribumi sejatinya adalah penjelasan pandangan mereka terhadap kaum pribumi. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda. demikian kata Gouda. 2007). bukan sesuatu yang “nyata” dan obyektif.6 Barat menyusun retorika tersebut dalam berbagai tulisan-tulisan tentang masyarakat pribumi. 47. Ini merupakan tahapan awal sebelum mereka melakukan penguasaan secara fisik. sehingga masyarakat ini terus menjadi bocah dengan nalar kekanak-kanakan. Persinggungan Barat modern dengan yang disebut budaya primitif dalam latar kolonial memunculkan wacana tentang dominasi dan pengendalian.8 Penjajahan Belanda di Indonesia juga melakukan praktik yang tidak jauh berbeda. hlm. 7 Ibid. Pemikiran kolonial tentang keunggulan peradaban Barat. 208. mewariskan keunggulan kulit putih atas kulit berwarna yang menciptakan hubungan yang timpang dengan pribumi. Intervensi tersebut disamarkan lewat penumpulan dan pembelokan fungsi lembaga dan struktur sosial masyarakat pribumi.. Mereka kemudian memelihara dan menerapkan “tradisi” tersebut melalui pembenaran ideologis. Bukannya tampil sebagai pahlawan. Praktik kolonial Belanda juga tidak jauh dari praktik seperti ini. Kolonialisme menggunakan kelicikan dan keliatannya dengan mencampuri fungsi lembaga pribumi dan membelokkannya agar sejalan dengan kepentingan kolonialisme. Kolonial Belanda menganggap masyarakat pribumi sebagai masyarakat belum sempurna evolusi biologisnya. struktur hierarkis dan unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Timur adalah gambaran masyarakat feodal Eropa pada Abad Pertengahan. Pada tahun 1900-an misalnya.

Gerakan anti kolonialisme. etnis. Sehingga. Dua strategi tersebut bersumber dari pemikiran Derrida dan pemikiran Homi K. Akan tetapi. kondisi masyarakat poskolonial tercipta sebagai hasil interaksi antara kolonialisme dengan tatanan masyarakat prakolonial. masa lalu prakolonial justru telah hilang. 22-23.9 Hal tersebut menunjukkan. Bhabha. Proses meniru menjadi strategi masyarakat poskolonial untuk melakukan perlawanan atas kolonialisme. Dikutip dari Gouda. Spivak juga berpendapat serupa. Peniruan itu mengaburkan batas-batas antara penjajah dan terjajah. “penguasa kolonial secara sintesis mendorongnya dan menstabilkannya!”10 Praktik-praktik inilah yang menjadi kegelisahan Loomba tentang proses terciptanya masyarakat poskolonial.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 4 pribumi dan memperoleh konsesi serta tanah yang mereka inginkan dari penguasa setempat. Dutch Culture. 10 Ungkapan ini disampaikan Mangoenkoesoemo dalam pidato pembukaan kongres “Javanese Culture Development” di Solo awal Juli 1918.11 Wacana kolonial mengandalkan perbedaan ras. Sejarah kolonialisme telah mempengaruhi kondisi prakolonial. Dalam pandangan Loomba. Berikut ini strategi perlawanan masyarakat poskolonial atas kolonialisme: 1. Dekonstruksi Wacana kolonial yang melakukan ”pelainan” (othering) terhadap masyarakat terjajah lewat Orientalisme. 11 Ania Loomba. 208. terj. kondisi masa lalu prakolonial telah (di)kabur(kan) oleh kolonialisme itu sendiri.. Sebab.. Sebaliknya.imperialisme tidak bisa dilakukan dengan serta-merta menginginkan kembalinya masa lalu prakolonial. kolonial Belanda yang datang dari Eropa modern tidak bermaksud menghapus sistem feodal. hlm. dan budaya sebagai bagian dari aparatus kekuasaannya. kritik poskolonial tidak sekadar menyalahkan kolonialisme sumber tunggal terciptanya kondisi poskolonial. Di lain pihak. sebagaimana kata Tjipto Mangoenkoesoemo. Ada dua strategi yang dapat dilakukan untuk melawan hegemoni kolonial.. strategi peniruan masyarakat pribumi juga berbahaya bagi kekuasaan kolonial. 1999)... Menurutnya. 49. proses interaksi antara kolonial dengan masyarakat pribumi jauh melenceng dari tujuan wacana kolonial. Misbah Zulfa Ellizabet (Yogyakarta: Tiara Wacana. Kolonialisme. masih terdapat celah bagi masyarakat terjajah untuk melakukan kontra-hegemoni. Oposisi biner 9 W. Wertheim. . Meskipun kolonial bersikukuh mempertahankan keunggulan budaya dan ras mereka lewat wacana kolonial. F. Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Kajian Perubahan Sosial. dan kondisi prakolonial sulit dipisahkan dari jejak kolonialisme. Tidak ada kemurnian lagi di sana.. hlm. Strategi Perlawanan Poskolonial Masyarakat poskolonial melakukan perlawanan terhadap kolonialisme melalui “pertukaran” budaya penjajah-terjajah. telah menyebabkan pertentangan Timur dan Barat. hlm.

upaya dekonstruksi adalah mencermati bagaimana teks tersebut menuturkan wacana dan menciptakan klaim-klaim kebenarannya berdasarkan struktur bahasa. 2005).. Nomor 11-12. yakni dekonstruksi. 5.13 Pengertian dekonstruksi di sini bukan memutarbalikkan oposisi biner sekadar untuk menjadi unggul. 13 Haryatmoko. Dalam wacana kolonial. Namun hal itu belum sepenuhnya berhasil. November-Desember 2007. Pengetahuan membutuhkan alat penyampai yaitu bahasa. Kemudian Derrida melanjutkan konsep “destruksi” dengan istilah baru yang lebih radikal. 46-47. Narasi muncul dari teks dan langsung berurusan dengan bahasa. Melakukan kontra-hegemoni terhadap wacana kolonial berarti mempertanyakan ulang teks-teks produk kolonialisme. di mana pengarang hadir sebagai subyek yang mempunyai otoritas terhadap makna teks.15 Otoritas tersebut digunakan untuk menggambarkan masyarakat sesuai dengan kehendak pengarang. “il n’y pas de hors-texte”. 15 Muhammad Al-Fayyadl. hlm. Karena dalam pandangan Derrida. hlm. 16 Ibid. “Derrida yang Membuat Resah: Rezim Dogmatis dan Kepastian”. dekonstruksi menjadi strategi politik perjuangan kelompok terabaikan. Derrida…. logika wacana kolonial tidak bisa lepas dari logika bahasa yang digunakan. dalam Basis. Gayatri Spivak: Ethics. dikutip dari Muhammad Al-Fayyadl. Tahun ke-56. Dekonstruksi merupakan upaya untuk mencari kesejajaran yang disertai interval antara sebelum muncul sebuah konsep baru. Pemikiran dekonstruksi Derrida membongkar seluruh asumsi dan persepsi kolonial tentang masyarakat pribumi. konsep pengetahuan itu tidak lahir dengan sendirinya. dan kelompok subaltern. 2007). dekonstruksi menjadi upaya membongkar seluruh bangunan pengetahuan Barat dan memaksa keluar darinya untuk memutuskan hubungan secara total. Subalternity and the Critique of Postcolonial Reason (Cambridge: Polity Press. hlm. pembentukan makna dalam tulisan berlindung di balik 12 Kata aslinya.16 Jika teks-teks Orientalisme menjadi senjata bagi Timur untuk berbeda secara epistemologis. 20-21. 16. Pemutusan hubungan dengan bangunan pengetahuan Barat mengenai Timur dilakukan dengan bertolak dari teks-teks pengetahuan Barat. Dekonstruksi memberikan suara terhadap mereka yang telah ”dilainkan” (othered) oleh wacana kolonial. hlm. . Selain itu. Oleh karenanya. Ungkapan Derrida ”tidak ada sesuatu di luar teks”12 menyiratkan bahwa preposisi tentang masyarakat terjajah berada dalam teks tersebut.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 5 tersebut beroperasi melalui struktur bahasa dalam teks-teks kolonial. Derrida (Yogyakarta: LKiS. Kemudian mendorong mereka untuk membentuk sejarah dan identitasnya sendiri. 14 Stephen Morton.14 Dominasi Barat tidak bisa lepas dari logosentrisme. xii. Sebelum Derrida sebenarnya Heidegger sudah mengkritik kecenderungan logosentrisme Barat yang disebut ”destruksi”. Dalam hal ini. Di sinilah peran dekonstruksi. hlm. terdominasi.

18 Setelah bangunan pengetahuan dalam wacana kolonial runtuh. Oleh karena itu.17 Membongkar seluruh sistem pertentangan yang membentuk identitas penjajah dan terjajah. kebutuhan selanjutnya adalah membuka ruang kepada the Other. 96-97.. 20 Muhammad Al-Fayyadl. Ibid. yang telah disingkirkan dari sejarah. Setelah meruntuhkan narasi dalam wacana kolonial. Pembacaan dan penulisan kembali wacana kolonial berhubungan dengan pandangan Derrida tentang dekonstruksi mimesis. Runtuhnya pusat kebenaran mengandaikan masyarakat terjajah mampu merumuskan kembali identitas mereka melalui basis kesadaran mereka. sebagaimana telah dibahas Alan Gardiner dan Hellen Tiffin. Jadi bukan menghadirkan sepenuhnya apa yang ditirunya. Sebagai contoh. Gareth Griffiths. ditafsirkan. adalah untuk membongkar kebenaran tunggal yang hendak dipaksakan terhadap kelompok lain. Fati Soewandi dan Agus Mokamat (Yogyakarta: Penerbit Qalam. 2003). Peniruan dekonstruktif. beberapa pandangan novel karya Defoe dengan menelanjangi penggunaan kata-kata dan kiasan oleh pengarang novel tersebut dalam melakukan invasi Ibid. Derrida…. Menelanjangi Kuasa Bahasa: Teori dan Praktik Sastra Poskolonial. 299. dan dibaca laiknya teks yang tak pernah selesai ditulis. 21-23. terj. berarti memandang teks dan muatannya sebagai sesuatu yang tidak tetap dan berubah-ubah. para penulis Karibia dan Afrika Selatan menulis kembali dan menyebarluaskan dan kolonisasi. Begitu pula.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 6 sistem-sistem pertentangan yang cenderung didiamkan atau sengaja dibangun oleh sang pengarang. Dekonstruksi mimetik adalah meniru dalam rangka mencari kesejajaran dengan yang ditiru.19 Praktik diskursif yang telah mengasingkan masyarakat kolonial melalui wacana kolonial dibongkar dengan menulis ulang sejarah sosial masyarakat. hlm.. untuk terlibat langsung dalam memaknai dunia. Kebutuhan masyarakat poskolonial adalah menulis ulang asumsi wacana kolonial dan membongkar kekeliruan yang dilakukan Barat. identitas masyarakat dalam stereotip kolonial bukan sesuatu yang tetap dan telah ”jadi”. hlm. 18 17 . hlm. 212-213.20 Dekonstruksi mimesis masyarakat terjajah terhadap penjajah akan menggoyahkan kekuasaan wacana kolonial yang membagi dua identitas—penjajah dan terjajah—sebagai sesuatu yang pasti (fixed). 19 Bill Ashcroft. identitas adalah sesuatu yang terusmenerus dimaknai. kebutuhan selanjutnya adalah menulis kembali teks-teks kolonial dengan menelanjangi wacana yang sebelumnya digunakan sebagai upaya penaklukan. dan Helen Tiffin. Di sinilah pentingnya menulis (kembali) masyarakatnya dengan pandangan yang sama sekali berbeda dengan pandangan Orientalisme.

Masyarakat kolonial masih tetap eksis dan mampu menembus batas oposisi biner yang diciptakan wacana kolonial. Hal tersebut membuktikan bahwa wacana kolonial yang tidak memberi kesempatan ”bersuara” kepada subyek koloni dalam proses konstruksi identitas tidak berhasil sepenuhnya. Tampaknya Bhabha ingin mencari ketegangan terus-menerus di antara keduanya yang melahirkan hibriditas.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 7 2.23 Liminalitas dapat menghidupkan “ruang antara” dari persinggungan budaya penjajah dan terjajah. Keragaman kultural adalah obyek yang epistemologis. yang menjadi proses simbolis interaksi antara yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Bhabha mengenai ”ruang ketiga” (third space) atau ”ruang antara” (in-between). gagasan Homi K. Bhabha. dan rasial dalam wacana kolonial. The Location of Culture (London and New York: Routledge. 22 Homi K. Jika keragaman kultural menunjuk pada kategori perbandingan etik. yang menggambarkan Pembahasan yang lebih mendalam tentang pemikiran Bhabha. Bhabha merupakan strategi mencari ruang persinggungan berbagai budaya dalam poskolonial. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. ”Kebekuan” (fixity) yang dimaksud adalah paradoks mode representasi dalam tanda-tanda kultural. Sehingga oposisi biner dan esensialisme identitas tidak terealisasi. pertemuan budaya kolonial dan budaya masyarakat pribumi menghasilkan ”hibriditas” dan ”ambivalensi” dalam wacana poskolonial. Identitas “Ruang Ketiga” Dalam konteks lain. Sebaliknya. Meskipun penjajah menjaga keasliannya untuk berbeda dengan pribumi. dekonstruksi peniruan atau mimesis yang digagas Derrida dapat berjalan seiring dengan gagasan Homi K. Gambaran penting dalam wacana kolonial adalah. Kegagalan wacana kolonial tersebut disebabkan oleh banyaknya perbedaan rasial dan kultural antara penjajah-terjajah. perbedaan kultural merupakan proses melalui statemen pembedaan dari atau di dalam kebudayaan. lihat Homi K.. historis. praktik kolonial mengelaborasi dan melanggengkan tata masyarakat pada masa prakolonial. 21 . 2002). 23 Ibid. estetik. lalu membentuk ruang sendiri. yang hitam dan yang putih.22 Wacana kolonial oleh Bhabha dijembatani oleh liminalitas sebagai ”ruang antara” (inbetween) berbagai penandaan identitas. di mana perbedaan kultural adalah proses dialog (enunciation) kebudayaan melalui proses konstruksi yang berasal dari sistem-sistem identifikasi kultural. Bhabha. hlm. Produksi makna antar budaya mengisyaratkan bahwa wacana digerakkan oleh ”ruang antara” yang disebut ”ruang ketiga” ini. 4. Proses tersebut merupakan ruang interaksi antara budaya terjajah dan penjajah. dengan menyandingkan perbedaan identifikasi kultural antara terjajah dan penjajah. tegangan identitas antara penjajah dan terjajah tetap tak terhindarkan. ia tergantung pada konsep ”kebekuan” (fixity) konstruksi ideologis “pelainan” (othering). maupun etnologi. 34. hlm.21 Jika dekonstruksi mimetik Derrida digunakan dalam fenomena bahasa. The Location….

Hal tersebut mematahkan klaim kaum nasionalis maupun kolonialis tentang diri yang tunggal. dan merasa menjadi wakil budaya Barat di hadapan masyarakat pribumi. sebagaimana disinggung di atas. Kolonialisme…. baik dari sisi penjajah maupun terjajah. Masyarakat terjajah dijadikan seolah-olah seperti penjajah. Tujuan penciptaan ”kelompok perantara” bagi kolonialisme adalah untuk mengukuhkan kekuasaan kolonial.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 8 kondisi umum bahasa serta implikasi khusus wacana ke dalam sebuah strategi yang institusional dan performatif.26 Pada praktiknya. Kolonial mengajari masyarakat pribumi untuk meniru melalui ”kelompok perantara”. 141. 28 Ibid. diunduh pada 29 Juni 2009 dari: http://translate. Supriyono. Hermeneutika Pascakolonial: Soal Identitas. 26 Keith Foulcher.eipcp. “Mencari Identitas Kultur Keindonesiaan”. 2008). . V (Yogyakarta: Kanisius. tapi sebenarnya tidak sama sekali. cet. Identitas-identitas kolonial itu. 15. Hal ini sekaligus memberi peringatan agar tidak menafsirkan perbedaan kultural dalam kerangka yang reduktif dan absolut. dalam Muji Sutrisno dan Hendar Putranto (ed.25 Sebenarnya. individu kolonial sendiri tak jarang mengambil gagasan Barat untuk menentang pemerintah kolonial.. Edisi 14. Jurnal Kalam. Tulisan-tulisan Bhabha sendiri menegaskan. Bahkan. 224-225. Almost the same. artikel. tahun 1999. ”Kelompok perantara” tersebut adalah mereka yang mendapat pendidikan etis kolonial. pengertian hibriditas versi kolonial adalah untuk mencangkokkan identitas tertentu berdasarkan kemurnian kultural dalam rangka memantapkan status kekuasaan kolonial.). but not quite dalam istilah Bhabha. Dalam pandangan kolonial. menggunakan hibriditas dalam pengertian ”ruang antara” (in-between) yang mengacu pada ”ruang ketiga” (third space) dan pada ambivalensi terutama dalam konteks hubungan budaya kolonial. meragukan.28 ”Ruang ketiga” yang menjembatani wacana kolonial dan masyarakat terjajah yang digunakan untuk memulihkan identitas 24 Lihat J.24 Bhabha sendiri. 230-231. dan selalu berubah.27 Proyek pemberadaban kolonial yang hendak menuntun masyarakat terjajah. Namun bagi penjajah. hlm. tidak stabil. Sebaliknya. apa yang kolonial hibridkan kepada masyarakat terjajah disejajarkan dengan gagasan kaum pribumi. Dengan hal ini. hlm. “Mimikri “Siti Nurbaya””: Catatan untuk Faruk”.net/strands/02/hutnyk-strands01. “Contact Zones: Hybridity and Diaspora”. ”masyarakat perantara” tersebut akan mengidentifikasikan dirinya dengan budaya penjajah. 27 Ania Loomba. gagal menemukan wujudnya. hlm. sekaligus memasukkan kelainan yang permanen. 25 John Hutnyk. bahwa penjajah dan terjajah tidak independen satu sama lain. peniruan masyarakat terjajah akan terhambat oleh sifat kodrati yang membedakan Barat dan non-Barat. maka status kekuasaan kolonial menjadi terancam. Justru keduanya bersifat relasional. hlm. ”kaum perantara” hasil yang dibentuk politik etis misi pemberadaban (civilizing mission) tersebut menjadi senjata yang menghantam kekuasaan kolonial.

hibriditas menjadi strategi untuk melakukan resistensi terhadap budaya dominan. terhadap non-Barat selalu berhubungan dengan ”pertempuran” imperial. novel. “Western Colonial Representations of the Other: The Case of Exotica Tibet”. dalam New Political Science.net/strands/02/hutnyk-strands01. Volume 29. gambar. 142.30 Dekolonisasi Pengetahuan Bentuk-bentuk representasi kolonial maupun neokolonial saat ini. maupun tulisan lainnya. Hibriditas lebih mengandung pengertian proses kultural daripada deskripsi kebudayaan. hlm. tulisan perjalanan. dampak yang muncul tergantung dari relasi kekuasaan yang ada. Nomor 1. negara Dunia Ketiga bukan hanya kaya akan sumber daya. Bhabha menawarkan hibriditas sebagai kamuflase yang mengacaukan.29 Kebutuhan masyarakat poskolonial adalah memikirkan kembali pandangan mereka tentang identitas sosial dan budaya yang selama ini (di)kabur(kan) oleh kolonialisme. puisi. Hibriditas menabrak batas-batas wilayah kultural dan kenegaraan.31 Kemunculan wacana kolonial maupun neokolonial menandakan. 31 Dibyesh Anand. misalnya film. Hibriditas mengajak kita berpikir (kembali) bahwa bentuk-bentuk formasi identitas dan kebudayaan adalah sesuatu yang tidak tetap (fixed). Peniruan terhadap budaya dominan dalam konteks poskolonial menjadi siasat untuk merongrong kekuatan-kekuatan hegemonik dari pusat kebudayaan. Maret 2007. Dalam konteks poskolonial. Hibriditas tidak mengacu pada apakah budaya koheren atau tidak. bahwa dunia Timur maupun Dunia Ketiga tak henti dipelajari dan direpresentasikan. Meskipun pengalaman representasi (antara penjajah dan terjajah) tidak sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. John Hutnyk. Supriyono. Hibriditas menjadi kunci bagi kritik kebudayaan serta kajian poskolonial. Hal tersebut menuntut poskolonialisme untuk keluar dari batas-batas nasional. hlm. Hibriditas adalah cara baru memasuki dunia dan berhubungan dengan proses menafsirkan perbedaan budaya. Pertemuan antara budaya metropolis dan budaya pinggiran menghasilkan sesuatu yang unik dan kreatif. dan lain sebagainya. Bagi negara-negara imperial. artikel. 25. Munculnya representasi Dunia Ketiga merupakan proses konstruksi di mana Dunia Pertama terbentuk. Hal tersebut menjadi ruang dekonstruksi wacana kolonial. namun justru produktif. Neokolonial kontemporer juga menghasilkan bentuk-bentuk tekanan representasi budaya yang timpang dalam berbagai kontes politik dan tatanan dunia modern. diunduh pada tanggal 29 Juni 2009 dari: http://translate. iklan. namun juga lahan bagi J.”Mencari Identitas…. Masyarakat terjajah menghadirkan realitas dirinya melalui berbagai media. Hibriditas menjadi tuntutan atas esensialisme identitas dan budaya. Intensitas kontak berbagai budaya didukung oleh perkembangan teknologi komunikasi.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 9 pribumi adalah teks. 30 29 . Begitu pula.eipcp. “Contact Zones: Hybridity and Diaspora”. dalam bentuk film.

and Helen Tiffin (Ed.34 Dalam konteks lain. pendidikan muncul sebagai bentuk hegemoni yang paling efektif saat ini. solusi atas permasalahan sosial. 1994). The Post-colonial Studies Reader (London and New York: Routledge. terutama Bab VI. Mereka melanjutkan penguasaan atas negara terjajah dalam berbagai proyek pengetahuan sebagai kelanjutan pemberadaban yang belum selesai di masa lalu kolonial. menyembunyikan agenda penguasaan abadi di negara-negara berkembang. 344-407. Nur Cholis (Yogyakarta: Insist Press. politik. Pendidikan menjadi mungkin sebagai alat hegemoni ketika perkembangan zaman dan persoalan yang 32 Lihat penjelasan Gouda. kemudian dikembalikan ke negara Dunia Ketiga dalam berbagai bentuk teori lewat pendidikan. sekian alasan tentang misi pemberadaban. Anjungan Hindia Belanda Terbakar: Kehadiran Belanda di Pameran Kolonial se-Dunia di Paris. negara-negara imperialis Dunia Pertama memegang kendali kebijakan.. pengetahuan yang mereka peroleh dari lumpur tanah jajahan di masa lalu. Hal ini tidak mengejutkan. 2005). maupun ketergantungan ekonomi dan politik Dunia Ketiga. hlm. 1931. akan tetap mereka daku sebagai milik mereka. serta pengiriman pakar pendidikan ke negara berkembang lebih merefleksikan kebutuhan neokolonial daripada kesadaran masyarakat setempat.).Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 10 pengembangan ilmu pengetahuan mereka. Globalisasi pengetahuan Barat terus-menerus mengukuhkan Barat sebagai yang legitimate. Dekolonisasi Metodologi. Kolonialisme di masa lalu mencari bentuk baru hubungan hegemoni-dominasi dalam rangka mengukuhkan kekuasaannya atas dunia. pemberian beasiswa untuk mengakses pendidikan di negara metropolis Eropa. Hasil pendidikan tersebut adalah munculnya kelompok-kelompok elit masyarakat yang berorientasi pada Barat. hubungan antara negara industri lanjut atau kapitalisme tahap akhir mensyaratkan kolonisasi dalam bentuk-bentuk baru. Albatch. ini.. 33 Linda Tuhiwai Smith. dan menentukan sumber-sumber pengetahuan. hlm. Keberadaan fasilitas dan teknologi dalam pendidikan. xviii. Tentu saja. Foucault sendiri mengatakan. Akibatnya. dan kehidupan sosial di berbagai negara berkembang. terj. berarti mempelajari secara seksama detail masyarakat setempat. Pada dasarnya. Menjajah. Frances Gouda. 452-456.. Pendidikan menjadi jalan di mana negara imperialis memasukkan pengetahuan mereka. Garreth Griffiths. 32 kemudian Melihat hal memamerkan kepada publik dunia apa yang telah mereka temukan dan pelajari. menuliskan kembali.”33 Tumpukan naskah yang dipelajari kolonialisme dari berbagai dunia di masa lalu. yang menentukan bentuk-bentuk pengetahuan. 34 Philip G. hlm. kelak mereka susun secara sistematis. Kolonisasi tersebut dilakukan melalui basis ekonomi. . “Education and Neocolonialism” dalam Bill Ashcroft. Ini menjadi modal hegemoni Barat terhadap negara di luar Barat. “efek dari kisah para pengembara telah memberikan sumbangan besar bagi pengetahuan Barat yang sebanding dengan pengumpulan data ilmiah secara sistematis. Negara-negara imperialis juga tidak segan memberikan fasilitas dan teknologi pada negara miskin dan berkembang untuk melanjutkan hegemoni kolonialisme masa lalu. Dutch. Mereka mempelajari.

di mana Barat hendak menundukkan negara-negara yang telah melakukan dekolonisasi formal untuk kembali dikuasai lewat pengetahuan. 1972). Keduanya. pengetahuan juga terdapat dalam peraturan-peraturan sebuah institusi serta keputusankeputusan politis. Kita pantas untuk curiga bahwa para intelektual hasil pendidikan Barat menjadi perantara semakin kuatnya hegemoni Barat terhadap Timur atau secara umum dunia nonBarat. bahwa kolonialisme-imperialisme.35 Di sini kita akan sampai pada kesimpulan. Apakah ia mewakili cara pandang (neo)kolonialis-imperialis atau apakah ia menjadi wakil masyarakatnya.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 11 dihadapi masyarakat membutuhkan hierarki pengetahuan dan teori yang berkembang pesat pula. 86-88. hlm. Kita kembali pada Foucault dan Gramsci untuk realitas tersebut. Persoalannya adalah bagaimana seorang intelektual memandang masyarakatnya. Lihat Michel Foucault. adalah bukti praktik diskursif kolonialisme. A. Pengetahuan itu sendiri adalah wilayah untuk melakukan koordinasi dan subordinasi atas berbagai pernyataan. pengetahuan adalah kekuasaan. Karena beberapa tokoh yang lantang mengkritik imperialisme justru berada di pusat imperial. merupakan praktik diskursif yang menyebar ke berbagai dimensi kehidupan. Maka benar kata Foucault. Masyarakat terjajah melakukan impor pengetahuan Barat sebagai prasyarat program berbagai bantuan yang dikucurkan imperial. Persoalannya bukan pada salah atau benar individu yang memperoleh pendidikan Barat.M. sehingga sebuah konsep dapat diterima dan diaplikasikan. Sheridan Smith (London: Tavistock. Akan tetapi. Alih-alih mengkritisi persoalan yang ada secara obyektif. kolonialismeimperialisme. negara metropolis imperial menggunakan ilmu pengetahuan untuk melakukan hegemoni. Ketergantungan negara bekas terjajah dengan penjajah dalam hal pengetahuan. apa pun bentuknya. Menurut Foucault. Bagaimanapun. dengan menggunakan konsep hegemoni Gramsci sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Domestifikasi pengetahuan dari pusat imperial ini menjadikan pengetahuan tidak kritis dan sering keluar dari konteks masyarakatnya.36 Fenomena di atas menunjukkan sebuah kecenderungan. The Archaeology of Knowledge. Sehingga masyarakat terjajah kesulitan untuk melepaskan diri dari penjajahan. produksi pengetahuan itu sendiri sudah dikendalikan. Linda Tuhiwai Smith. kita bisa memahami hubungan dominatif antar negara. Selanjutnya. Dekolonisasi…. Tentu saja peran mereka sebagai tangan panjang hegemoni teori dan pengetahuan Barat tidak bisa diabaikan begitu saja. 36 35 . sehingga pendidikan dalam negeri hanya menjadi versi dari domestifikasi ilmu pengetahuan negara imperial. kaum intelektual adalah benteng masyarakat. hlm. bukan hanya penghisapan secara ekonomi dan penundukan secara politik. Dan ini adalah sebuah pilihan. 182-184. Dalam hal ini. pendidikan dan kelompok ilmuan menjadi komprador bagi imperialisme. terj.

dan kesadaran untuk memandang diri sendiri sebagai masyarakat yang merdeka.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 12 Penutup Dekolonisasi formal sudah dicapai oleh negara-negara terjajah. Jika wacana kolonial dapat kita simpulkan sebagai pembentuk kesadaran pribumi. kolonialisme adalah sejarah kelam perjalanan bangsa kita. yang tertinggal. Sebab. apakah dekolonisasi adalah pencapaian kemerdekaan sejati? Penting untuk merenungkan pertanyaan ini. Indonesia pun sudah memproklamirkan kemerdekaan sebagai negara-bangsa lebih dari setengah abad silam. Memang. Namun. membangun kesadaran intelektual. Dampak kolonialisme bukan hanya dampak ekonomis-politis. bahwa kita adalah bangsa yang lemah. maka menata kembali kesadaran sebagai bangsa yang merdeka adalah menata pengetahuan. Peran intelektual dalam poskolonial adalah wakil mereka yang terpinggirkan dan kelompok-kelompok subaltern. . Kolonialisme juga membentuk mental dan karakter bangsa kita melalui wacana yang mereka tebarkan di masa lalu kolonial. dan lain sebagainya. yang selalu butuh bantuan. Namun. Hal ini berarti mengembangkan pengetahuan. Feodalisme yang berlangsung selama berabad-abad. hal itu juga bukan satu-satunya pembentuk mental dan karakter umum masyarakat kita. berbagai persoalan yang muncul sebagai residu kolonialisme-imperialisme masih berlangsung hingga kini. yang bahkan dipelihara oleh penjajah. Bayang-bayang masa lalu tersebut masih terasa hingga kini. juga menjadi pembentuk karakter masyarakat. Persoalan mentalitas dan karakter masyarakat mestinya juga menjadi prioritas dalam pembangunan.

Hartono Hadikusumo. 2003. 2003. Jakarta: Serambi. Fati Soewandi dan Agus Mokamat. Yogyakarta: LKiS. Stephen. Sheridan Smith. Gareth Griffiths. Basis.M. Anand. terj. tahun 1999. Raimond Robitaille. Garreth Griffiths. 2003. Jacques B. 2007. Ashcroft. dari: http://www. Nomor 1. Bill. . Yogyakarta: Penerbit Qalam. London and New York: Routledge. Muhammad.). Bhabha. Yogyakarta: Bentang. New Political Science. terj.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 13 Daftar Pustaka Al-Fayyadl. Keith. Cambridge: Polity Press. London: Tavistock. Derrida. Gelinas. 2002. Bill. Jurnal Kalam. Ashcroft. Frances.net/strands/02/hutnyk-strands01. Artikel. Gayatri Spivak: Ethics. Maret 2007. “Mimikri “Siti Nurbaya”: Catatan untuk Faruk”. Subalternity and the Critique of Postcolonial Reason. Loomba.translate. “Derrida yang Membuat Resah Rezim Dogmatis dan Kepastian”. Routledge: London and New York. Jugiarie Soegiarto dan Suma Riella Rusdiarti. diunduh pada 29 Juni 2009. terj. 1994. Gouda.eipcp. Tahun ke-56. The Archaeology of Knowledge. Homi K. The Location of Culture. terj. Haryatmoko. 1972. A. London: Zed Books. The Post-colonial Studies Reader. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Foucault. “Contact Zones: Hybridity and Diaspora”. Menelanjangi Kuasa Bahasa: Teori dan Praktik Sastra Poskolonial. Morton. Foulcher. Nomor 1112. Hutnyk. Edisi 14. 2005. Ania. November-Desember 2007. dan Helen Tiffin (Ed. dan Helen Tiffin. John. “Western Colonial Representations of the Other: The Case of Exotica Tibet”. terj. Michel. Dibyesh. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda. 2007. 1900-1942. Volume 29. Juggernaut Politics: Understanding Predatory Globalization.

Young. Simon Philpott. Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Kajian Perubahan Sosial. Muji dan Hendar Putranto (Ed. 161177.C. April 2010. 2003. Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme. Bedjo. Postcolonialism: an Historical Introduction. W. terj. Mujibur Rohman alumni Program Studi Sosiologi. Yogyakarta: Kanisius. hlm. Sutrisno. Artikel. “Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme”. United Kingdom: Blackwell Publishing. 2003). 1999. Yogyakarta: Tiara Wacana. [tanggal akses] dari: …. Yogyakarta: Insist Press. Robert J.). 2001. [halaman website] .). Versi web dipublikasikan pada Desember 2010. Yogyakarta: Kanisius. Smith. Artikel pernah dimuat di Jurnal Sosiologi Reflektif. Dekolonisasi Metodologi.F. Linda Tuhiwai. 2. 2005. 2004. Vol. Nur Cholis. Hermeneutika Pascakolonial: Soal Identitas. Zuly Qodir dan Uzair Fauzan (Yogyakarta: LKiS.Wacana Kolonial dan Kritik Poskolonialisme | 14 Riyanto. terj. dalam Budi Susanto SJ (ed. Wertheim. N0. terj. “Mempermainkan Realitas dalam Realitas Main-main: Wong Cilik dalam Ruang Imajiner Iklan”. 4. © Mujibur Rohman Untuk mengutip versi ini: Mujibur Rohman. Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia. Misbah Zulfa Ellizabet. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful