P. 1
MEDISINA edisi 12_Maret 2011

MEDISINA edisi 12_Maret 2011

|Views: 838|Likes:
Published by mamangdani

More info:

Published by: mamangdani on Apr 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2014

pdf

text

original

DARI REDAKSI

HARMONISASI KOSMETIK ASEAN
Media Informasi Farmasi Indonesia

JLBUBO!BQPUFLFS!JOEPOFTJB
Majalah MEDISINA Media Infor masi Farmasi Indonesia merupakan media komunikasi yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) melalui PT. ISFI Penerbitan. MEDISINA terbit setiap tiga bulan sekali pada minggu pertama. Pelindung : Drs. M. Dani Pratomo, Apt., Redaktur Kehormatan: Drs. Saleh Rustandi, Apt. Drs. Masrial Mahyudin., Apt. Drs. Pre Agusta Siswantoro, Apt. Drs. Djoko Suyono, Apt Dra. Meinarwati, Apt. Prof. DR. Dachrianus, Apt. Drs Bambang Triwara, Apt. Drs. Zurbandi., Apt, MM Drs. Sukiman Said Umar., Apt. Drs. Wahyudi U. Hidayat., Apt, M.Sc Pemimpin Umum: Drs. Nurul Falah EP, Apt. Pemimpin Redaksi: Drs. Azwar Daris, Apt, M.Kes Sidang Redaksi: Drs. Nunut Robbyanto, Apt. Drs. Noffendri, Apt Dra. Sus Maryati, Apt, MM Dra. Chusun, Apt, M.Kes Staf Redaksi: Evita Fitriani,S Farm, Apt., Mittha Lusianti, S Farm, Apt. Keuangan: Dra. Eddyningsih,Apt., Staf Khusus: Drs. Husni Junus, Apt. Layout & Desain: Dani Rachadian. Alamat Redaksi : Jl. Wijaya Kusuma No. 17 Tomang Jakarta Barat, Telp./Fax.: 021-56943842, e-mail: ptisfi penerbitan@yahoo.com. No. Rekening: a/n. PT. ISFI Penerbitan, BCA KC. Tomang : 310 300 9860.

WALAUPUN sudah terlambat tak salah kami mengucapkan Selamat Tahun Baru Masehi 1 Januari 2011, Selamat Tahun Baru Imlek 2562 yang jatuh pada tanggal 3 Februari 2011 dan Selamat Tahun Baru Saka (Nyepi) 1933 yang jatuh pada tanggal 5 Maret 2011. Semoga di tahun yang akan datang ini terjadi perubahan yang lebih baik pada kehidupan bangsa kita. Amin. Salah satu yang perlu disampaikan awal tahun ini adalah sejak 1 Januari 2011 telah disepakati dilaksanakannya harmonisasi ASEAN untuk produk Kosmetika. Tujuan harmonisasi Regulasi Kosmetika adalah : 1. Meningkatkan kerjasama antar anggota dalam rangka menjamin keamanan, kualitas dan klaim manfaat dari semua kosmetika yang dipasarkan di ASEAN. 2. Menghapuskan hambatan dalam perdagangan kosmetika antar Negara ASEAN, melalui : • Harmonisasi persyaratan teknis. • Saling pengakuan atas persetujuan registrasi kosmetika. • Mengadopsi dan menerapkan ASEAN Cosmetic Directive. Untuk itu di Indonesia terhitung 1 Januari 2011 juga telah ditetapkan berlakunya PERMENKES No. 1176 tahun 2010 tentang Notifikasi Kosmetika. Setiap kosmetika hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar dari Menteri Kesehatan berupa notifikasi yang dilaksanakan oleh Badan POM, bukan Registrasi lagi seperti produk sediaan farmasi lainnya. Kosmetika yang boleh dinotifikasi adalah kosmetika yang dibuat telah menerapkan standar proses yaitu Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) dan memenuhi persyaratan produk meliputi keamanan, mutu, penandaan dan klaim. Pendaftaran notifikasi dilakukan dengan mengisi formulir (template) secara elektronik pada website Badan POM. Notifikasi berlaku 3 tahun dan dapat diperpanjang. Setiap industri atau importir kosmetika wajib melakukan monitoring efek samping dari kosmetika yang diedarkannya, menanggapi dan menangani keluhan konsumen atas efek samping kosmetiknya masingmasing serta melaporkan kepada Kepala Badan POM. Badan POM dan aparatnya didaerah akan melakukan pengawasan

keamanan, mutu, kemanfaatan dan penandaan dari kosmetika yang beredar dan akan memberikan tindak lanjut atas hasil pengujian Balai-balai POM tersebut. Izin edar dari kosmetika lama yang telah dikeluarkan selama ini masih tetap berlaku sampai 20 Agustus 2013. Untuk Kosmetika dalam negeri Pemerintah telah mengeluarkan Permenkes No.1175 tahun 2010 tentang Izin Produksi Kosmetika. Izin produksi kosmetika berlaku 5 tahun dan dapat diperpanjang, serta dibedakan jadi 2 golongan yaitu : 1. Industri Kosmetika Golongan A yang dapat membuat semua bentuk dan jenis kosmetika, memiliki apoteker penanggung jawab, memiliki laboratorium penguji mutu dan menerapkan CPKB. 2. Industri Kosmetika Golongan B yang dapat membuat hanya jenis kosmetika tertentu dengan menggunakan teknologi sederhana, memiliki penanggung jawab tenaga teknis kefarmasian dan cukup menerapkan hygiene, sanitasi dan dokumentasi sesuai CPKB. Bagi Industri Kosmetika yang telah memiliki izin dan memproduksi bermacam-macam produksi wajib melakukan penyesuaian dengan penerapan CPKB selambat-lambatnya 20 Agustus 2012. Bagi industri kosmetika golongan B yang ingin memproduksi lebih dari yang telah ditentukan BPOM sebagai golongan B maka dia harus berubah ke golongan A dan harus mampu menerapkan CPKB. Dengan berlakunya harmonisasi ASEAN dalam bidang Kosmetika ini mungkin akan banyak kosmetika Negara ASEAN lainnya yang masuk ke Indonesia atau sebaliknya. Tujuan akhir dari pengawasan kosmetika adalah melindungi masyarakat dari penggunaan kosmetika yang tidak memenuhi syarat. Kami menampilkan pada penerbitan ini info tentang penyakit wazir, info sehat tentang tanaman sirsak, tanaman beracun, sertifikasi kompetensi apoteker, penyakit tuberkolose, pilot poject pelayanan kefarmasian di puskesmas dan tak kalah pentingnya sehat dan umur panjang adalah idaman setiap orang, hak azasi manusia serta hal-hal menarik lainnya. Selamat membaca.

4

Edisi XII Maret - April 2011

Ekstrak Susu untuk Kulit Bayi
Sabun mandi bayi yang bersifat basa, bisa mengganggu pertahanan alami kulit bayi. Sebaiknya gunakan pembersih yang mengandung ekstrak susu yang bisa menjaga dan mempertahankan pH kulit bayi.
ulit merupakan bagian dari sistem per tahanan alami tubuh. Normalnya, bakteri, jamur dan virus tidak bisa menembus kulit. Salah satu yang berperan dalam hal ini yakni pH (keasaman) kulit, yang merupakan keseimbangan produksi antara kelenjar minyak dan keringat. Asam berperan penting untuk membunuh bakteri. Saat pH kulit terganggu, infeksi dan gangguan pada kulit bisa terjadi. Kulit bayi perlu perhatian lebih, karena umumnya lebih sensitif. Iklim Indonesia yang cenderung panas dan lembab, membuat bayi mudah terkena biang keringat. Selain itu dapat terjadi

Advertorial
sekaligus menjaga pH kulit bayi. Cairan ini tidak secara langsung membunuh bakteri di kulit seperti antiseptik, melainkan membantu mengembalikan serta menjaga pH normal kulit bayi. Dengan demikian, keasaman kulit yang dihasilkan kelenjar minyak dan keringat sebagai pertahanan alami kulit, dapat bekerja optimal menangkal serangan bakteri atau jamur. LACTACYD ® Liquid Baby Skin Care mengandung ekstrak susu, dengan pH 3-4. Jika dilarutkan ke air, akan menurunkan pH air yang tinggi hingga mendekati pH kulit bayi. Untuk perawatan sehari-hari, LACTACYD ® Liquid Baby Skin Care dapat digunakan sebagai pengganti sabun. Cukup larutkan 3-4 sendok makan LACTACYD® Liquid Baby Skin Care ke air mandi bayi. Bersihkan wajah bayi dengan cotton ball yang telah dibasahi. Kemudian basuh dan gosok pelan-pelan seluruh tubuh bayi dengan air tersebut menggunakan washlap. Selanjutnya, bilas tubuh bayi sampai bersih. LACTACYD ® Liquid Baby Skin Care juga dapat digunakan sebagai pengganti shampoo. Basahi kepala bayi dengan washlap, lalu usapkan LACTACYD® Liquid Baby Skin Care ke kepala bayi. Setelah itu, bilas dengan air bersih menggunakan washlap yang diperas setengah kering. Bagaimana jika telah terjadi gangguan pada kulit? Larutkan LACTACYD® Liquid Baby Skin Care ke dalam air, dengan perbandingan 1:3. Tuangkan pada washlap, gosokkan dengan lembut pada daerah yang mengalami gangguan. Diamkan selama +20 detik, lalu bilas. Lakukan 2-3 kali sehari. Cara ini antara lain bisa digunakan untuk mengatasi biang keringat, ruam popok, seborrheic dermatitis (peradangan yang membuat kulit tampak kering, bersisik dan merah), serta eksim. Merawat kulit bayi perlu perhatian ekstra. Perawatan tepat dengan cairan pembersih yang lembut dan tidak bersifat basa, akan menjaga kesehatan kulit serta mengoptimalkan pertahanan alami kulit bayi.
(nid)

K

ruam popok, akibat kulit bayi terpapar lama oleh urin dan feses di popok. Infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur, juga perlu diwaspadai saat terjadi ruam popok. Konsultasi ke dokter jika ada benjolan di kulit yang terlihat seperti melepuh dan berisi cairan, kulit tampak merah, dan terasa hangat. Ini tanda telah terjadi infeksi, sehingga harus segera diatasi. Iritasi ringan pada kulit terlihat ‘sepele’ dan bisa sembuh dengan sendirinya. Memang, kondisi ini tidak berbahaya. Namun bayi bisa sangat terganggu dan sering rewel. Nafsu makan atau minum ASI-nya dapat berkurang. Gerakannya bisa terganggu karena saat terjadi gesekan akan terasa perih. Saat tidur, ia bisa terus rewel karena merasa tidak nyaman. Semua ini mungkin dapat mengganggu pertumbuhannya. Kesehatan kulit bisa menurun akibat perubahan pH. Derajat pH yakni 1-14; 7 adalah pH netral. Di bawah 7 berarti asam, sebaliknya di atas 7 berarti basa. Umumnya pH normal kulit bayi adalah sekitar 5,5. Selain keringat dan kotoran, sabun bisa mengganggu pH karena umumnya sabun mengandung pewangi serta soda pembersih yang bersifat basa. Akhirnya, pH naik dan kulit mudah teriritasi. Merawat Kulit Bayi Tentu, bayi tetap harus dimandikan setiap hari; kebersihan kulit bayi harus selalu terjaga. Yang perlu dilakukan adalah memilih bahan pembersih yang aman dan lembut bagi kulit bayi. LACTACYD® Liquid Baby Skin Care membersihkan

Daftar Isi
SAYA selalu antusias membaca PENELITIAN 28 informasi dunia farmasi. Saya usul, Tananman Nerium Oliander salah satu bagaimana kalau Medisina memuat tanaman yang beracun dan apabila rubrik khusus tentang perkembangan ditelan dalam konsumsi tertentu dapat pengobatan kematian. Kemudian menyebabkan secara herbal. Menurut saya, saat ini pengobatan herbal cukup bagaimana tanaman beracun ini bisa menjadi Obat? orang dan juga banyak banyak dilirik yang mendirikan industry obat herbal di Indonesia. MEDISINA menyambut baik usulan tersebut, mudah-mudahan di edisi mendatang kami bisa membuat rubric khusus tentang obat herbal. Terimakasih. Mittha, S. Farm., Apt PRAKTEK KEFARMASIANJakarta 30 Implementasi Praktek Kefarmasian oleh Apoteker mulai dilakukan di PT SAYA pernah membaca bahwa Puskesmas melalui Pilot Project di ISFI juga menerbitkan buku ISO wilayah Bantul - DI Yogyakarta IndoFarmakoterapi, apa beda ISO

28

PROFIL UTAMA
Dra. Eva Fairus, Apt, Marketing Manager Produk OTC dan Kosmetik PT Kimia Farma, mengaku tidak begitu peduli dengan penampilan. Ketertarikannya pada kosmetik, muncul secara otodidak. Bagaimana ia berhasil mengembangkan industri kosmetik di Kimia Farma ?

08

pasar ASEAN? dan Bagaimana nasib konsumen dengan Sistem Notifikasi Kosmetika?

WAWANCARA 18

TOPIK UTAMA 10
Pada tahun 2007, ASEAN Consultative Committee on Standard and Qulity (ACCSQ) membentuk Adhoc Working Group untuk masing-masing bidang yang akan diharmonisasi, di antaranya Cosmetic Product Working Group (CPWG) yang bertugas melakukan persiapan dan penyusunan regulasi ASEAN di bidang kosmetika. Siapkah Industri Kosmetika Indonesia bersaing di

Tahun 2011, pasar kosmetik memasuki era pasar bebas. Akan banyak perubahan sistem yang mengundang pro kontra. Bagaimana BPOM mengatasi masalah yang sudah dan akan muncul di kemudian hari? Ikuti wawancara dengan Kepala Badan POM, Dra. Kustantinah, Mapp, SC, Apt.

majalah MEedisina, AGENDA 59 di Kudus saya belum bisa mendapatkan majalah ini di ALBUM 60 toko buku. Jika ingin berlangganan, ke DARI saya harus menghubungi? REDAKSI 04 mana FORUMISO Indonesia adalah buku Buku KETUA IAI 62 informasi obat yang meliputi informasi INFO PENDIDIKAN 40 indikasi, kontra indikasi, INFO SEHAT 53 efek samping, kemasan dan dosis obat. Sedangkan KILAS BERITA 32 ISO Farmakoterapi berisi tentang KOLOM 51, 57 lengkap mengenai penjelasan penyakit SURAT PEMBACA 07 deskripsi, patofisiologi, manifestasi klinis dan 37 TOKOH efikasinya. Keduanya memi-

nesia dan ISO Farmakoterapi? Untuk

TOPIK KHUSUS 20

Gangguan pada struktur hemoroid, yang kita kenal dengan istilah wasir atau ambeien. Hemoroid dapat menonjol dan turun ke lumen kanal anal. Bagaimana Penyakit ini terjadi, pencegahan dan pengobatannya?

liki penggunaan yang berbeda. Untuk berlangganan Medisina bisa menghubungi PT ISFI Penerbitan, Jalan Wijaya Kususma No. 17, Tomang, Jakarta, atau telp: 021-56943842. Indra Okz Kudus

BAGI anggota IAI yang berminat untuk mendapatkan Majalah MEDISINA dapat memesan langsung ke PT. ISFI Penerbitan melalui fax. 021-56943842 atau e-mail: ptisfipenerbitan@ yahoo.com, dengan mengirimkan bukti pembayaran + ongkos kirim, atau bisa juga melalui Pengurus Daerah IAI masing-masing secara kolektif.
Foto Cover: Dani Rachadian

6

Edisi XII Maret - April 2011

Surat Pembaca
Mendapatkan Prociding Ilmiah
Bagaimana cara saya mendapatkan prosiding ilmiah, kongres Ilmiah IAI di Makassar? Apakah bisa melalui PT ISFI Penerbitan? Nanny. S Jakarta Prosiding Ilmiah bahannya baru saja kami terima. Untuk saat ini, kami masih menyelesaikan beberapa produk yang harus diterbitkan lebih dulu. Setelah itu, baru kami akan menerbitkan prosiding ilmiah tersebut. Bila diterbitkan, kami akan kirimkan infonya melalui website IAI atau melalui email.
Mekanisme pengiriman artikel Jurnal Ilmiah Farmasi Saya tertarik untuk mengirimkan artikel ilmiah kepada redaksi Jurnal Farmasi Ilmiah. Bagaimana caranya dan apa saja ketentuannya? Faizzah sabrina Jakarta Untuk mengirimkan Jurnal Farmasi Ilmiah dapat melalui email ptisfipenerbitan@yahoo.com, atau dikirim ke alamat IAI Pusat Jl. Wijaya Kusuma No. 17 Tomang, Jakarta Barat. Mengenai ketentuannya dapat dilihat di Website IAI ikatanapotekerindonesia.net, atau mengirim email pertanyaan ke email PT ISFI. . Artikel cerita menginspirasi Apakah MEDISINA menerima artikel kesehatan dalam bentuk cerita yang menginspirasi? Laila N Jakarta Sampai saat ini, kami belum menerima artikel dengan tema seperti itu. Belum ada rubrik di MEDISINA yang memuat artikel demikian. E-Book ISO Apakah PT ISFI menjual ISO versi digital atau ebook ISO? Djojokusumo Stefanus Jakarta Kami belum membuat ISO versi digital. Kemungkinan ISO akan dibawa ke arah digital sudah ada. Jika nanti terealisasikan, kami pasti akan umumkan. Pesar Buku Undang-undang Saya berminat memesan buku peraturan perundang-undangan kefarmasian dan suplmennya, bagaimana caranya? Harganya berapa? Nuraini, S. Si., Apt Jakarta Buku tersebut dapat dipesan di PT ISFI Penerbitan. Jika ingin lebih mudah, bisa menghubungi toko-toko buku terdekat seperti Toko Buku Gunung Agung. Sertifikasi Apoteker Saya apoteker yang belum pernah mengikuti PUKA dan belum memiliki Sertifikat kompetensi. Bagaimana cara saya untuk mengikutinya, karena sering saya tidak mendapat informasi perihal sertifikasi tersebut? Rini. M.S Jakarta Informasi mengenai sertifikasi apoteker dapat dilihat di website IAI. Anda juga bisa menghubungi Sekretariat IAI di line telepon 021-56962581. Bisa ditanyakan perihal jadwal sertifikasi apoteker.

Pembaca budiman, ada ralat pada Medisina Edisi 11 pada rubrik Tokoh halaman 37 tertulis judul “Membuat Racun Tempur” seharusnya tertulis “Membuat Ransum Tempur”. Atas kekeliruan tersebut kami mohon maaf, terima kasih.

REDAKSI menyediakan ruang untuk para pembaca untuk menymbangkan tulisan baik itu artikel, berita, kolom, dan sebagainya untuk dimuat di majalah MEDISINA. Tulisan yang dimuat tetap selaras dengan visi dan misi majalah MEDISINA, sehingga kami dari redaksi berhak untuk melakukan pengeditan seandainya dianggap perlu. Naskah dikirim via e-mail ke alamat ptisfipenerbitan@ yahoo.com. untuk informasi hubungi Redaksi MEDISINA telepon: 021-56943842, Untuk setiap tulisan yang dimuat akan mendapatkan imbalan yang pantas dari Redaksi. Selamat berkarya dan terima kasih.
Edisi XII Maret - April 2011

7

PROFIL UTAMA
Dra. Eva Fairus., Apt

PERNAH JADI KORBAN IKLAN KOSMETIK

A

walnya, Dra. Eva Fairus, Apt, Marketing Manager Produk OTC dan Kosmetik PT Kimia Farma, mengaku tidak begitu peduli dengan penampilan. Ia mengistilahkan dirinya sebagai ‘Itik Buruk Rupa’. Ketertarikannya pada kosmetik, muncul secara otodidak. “Setiap melihat wanita cantik, pasti banyak yang mendekat. Berarti, penampilan itu magnet. Jadi, wanita harus cantik luar dalam,” tuturnya. Dengan banyak membaca buku dan melihat artikel di majalah, Eva tambah tertarik pada dunia kosmetik. Dia juga mulai rajin merawat diri, menjaga penampilan dan berdandan. PENAMPILAN DAN TOTALITAS KERJA Setelah mempelajari ilmu tentang kosmetik, Eva tertarik untuk mengembangkan kosmetik di tempatnya bekerja. Wanita berkulit coklat ini memiliki pengalaman di dunia kosmetik, yaitu selama bekerja di Mustika Ratu. Ketika pindah ke PT Kimia Farma, Tbk, banyak peluang pengembangan kosmetik yang ia bayangkan. “PT Kimia Farma itu lengkap; punya pabrik, distributor dan retail. Saya pikir, amat disayangkan kalau hanya obat yang dikembangkan,” katanya. Beranjak dari sana, kosmetik Kimia Farma kini makin banyak di pasaran. Baginya, pekerjaan adalah suatu totalitas. Karnanya, ketika masuk ke Kimia Farma, ia berpikir pembaharuan apa yang bisa dilakukan. Ketika mengembangkan produk kosmetik di pasar, tak jarang Eva turun sendiri melakukan demo. Banyak muatan yang disampaikan Eva kepada sesama wanita, di antaranya adalah meyakinkan bahwa setiap wanita itu pada dasarnya cantik. Keuletan dan rasa percaya dirinya dalam menjual produk, membuatnya dipercaya menjabat posisi penting di BUMN terkemuka di Indonesia itu. Prinsip Eva dalam memasarkan produk adalah: berkata benar, tidak berlebihan apalagi over promise. Sebelum memasarkan produk, Eva bersedia jika dirinya di uji coba lebih dulu. “Kita akan total menjual produk, ketika kita yakin bahwa produk itu benar-benar bagus,” katanya bersemangat. Keyakinan ini membuat timnya bekerja dengan benar, berkata dengan benar, dan tidak hanya menjual mimpi. Posisi Marketing Manager membuat Eva tetap rendah hati. Menurutnya, posisi atau jabatan di dunia kerja adalah bentuk prestasi, bukan sesuatu yang harus membuatnya tinggi hati. Dalam menjalani tugas sehari-hari, ia punya banyak kiat. “Saya menganggap bawahan adalah tim saya. Tempat mereka bisa share apa pun menyangkut pekerjaan. Yang saya lakukan adalah menanamkan rasa tanggung jawab. Mereka sudah memiliki target pekerjaan, dan memiliki sistem sendiri,” katanya. Disamping menanamkan rasa tanggung jawab, Eva berusaha membangun situasi kerja yang sehat. Ia lebih senang jika MEDISINA

n Da

iR

ac

ha

di

an

8

Edisi XII Maret - April 2011

PROFIL UTAMA
menanyakan langsung perihal kepemimpinannya kepada bawahannya. “Enakan tanya langsung aja, deh,” katanya tertawa. Yang selalu dihindari adalah conflict management, karena hal itu dapat memicu lingkungan yang tidak sehat di kantor. HOBY TRAVELING “Sejak dulu saya suka sekali traveling. Menjadi apoteker kan berat, kuliahnya juga berat. Saya berpikir untuk memilih kerja yang ada refreshingnya. Yang bisa jalan-jalan naik pesawat. Karena itu saya memilih bergelut di dunia marketing,” kata asli Pekalongan ini. Walau tidak punya banyak waktu di sela-sela jam kerjanya yang padat, Eva bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk jalan-jalan. “Selesai meeting atau acara, ketika berada di luar kota, saya sempatkan jalan-jalan walau sebentar,” kata wanita berzodiak Taurus ini. Eva sangat suka mengunjungi tempat-tempat yang pemandangannya bagus. Laut, hutan, gunung dan pemandangan alam biasanya menjadi sasaran kunjungannya. Ketika liburan, adalah saat yang tepat untuk men-charge diri. Banyak hal biasa dipelajari ketika jalan-jalan. Ia banyak belajar dari apa yang dilihat. “Saya suka belajar dari karakter orang. Saya tarik nilai positifnya untuk diri saya,” katanya. Ia sering mengamati bagaima perilaku orang dari suatu negara. Mengapa orang Cina berjalan cepat, mengapa orang Jepang gigih bekerja dan sebagainya. Kegemarannya traveling, membuat Eva kian mencintai negaranya sendiri, kata lulusan Apoteker Universitas Indonesia ini, Indonesia memiliki daerah-daerah yang menarik. Wisata alam Indonesia tidak ada habisnya. Sepanjang perjalananya mengelilingi Indonesia, ia selalu menemukan halhal baru. “Jika di luar negeri tempattempat itu sudah dikelola baik, di Indonesia belum,” katanya.
Dani Rachadian

Dra. Eva Fairuz, Apt. Wanita harus cantik luar dan dalam.

MENGIDOLAKAN IBU Sang ayah meninggal ketika Eva duduk di bangku SMP. Tanggung jawab membesarkan ia dan kelima saudaranya, jatuh ke tangan sang ibu. Kegigihan ibu dalam melakoni dua peran sekaligus, membuat Eva tak segan-segan memuji Ibunya. “Saya belajar banyak hal dari beliau. Bagaimana beliau menjaga penampilan di depan suami. Bagaimana beliau gigih dan pintar dalam bekerja,” tuturnya. Menurut wanita yang mengagumi Siti Khadijah, istri Rasullullah, ini kepribadian sang ibu membuatnya kuat dan pantang menyerah. Banyak sisi positif ibunya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Sifat yang jujur dan tidak pernah ingkar janji ibunya, selali ingin ditiru Eva. “Ibu saya mengajarkan untuk menepati janji. Maka, ketika saya berjanji kepada ibu, beliau pasti menanyakan janji saya agar saya terbiasa menepati janji,” katanya. Keuletan sang ibu dalam berdagang, sedikit banyak mempengaruhi Eva dalam bekerja. Sang ibu bersikap profesional, memisahkan mana yang hasil berdagang dan mana yang digunakan untuk kebutuhan. “Selain tangguh, ibu saya juga sosok yang pintar,” katanya. Selain sang Ibu, Eva selalu mengagumi orang-orang yang berprestasi. Tidak ada yang dikagumi secara ber-

lebihan, tapi Eva merasa perlu belajar dari orang-orang terbaik yang ada di sekitarnya. “Saya bisa belajar dari mana pun, atasan, bawahan atau rekan kerja. Jika mereka berprestasi, saya akan lihat bagaimana mencapainya,” katanya. IMPIAN DAN HARAPAN Banyak yang ingin dicapai oleh Eva. Selain ingin bisa pergi ke Tanah Suci untuk menjalankan rukun Islam yang kelima, ia ingin punya usaha sendiri. Seperti apa bentuk usahanya, ia masih enggan berceritera. Eva yang memiliki rasa empati yang tinggi ini juga ingin, suatu saat nanti bisa banyak memberi pada masyarakat. Ini sesuai anjuran sang ibu, yakni agar bisa berguna bagi orang banyak dan tidak selalu bergantung kepada keluarga atau suami. Harapan lainnya, ia ingin agar pemerintah lebih memperhatian produk dalam negeri. Terutama produk kosmetik, yang saat ini memasuki era pasar bebas. Menurutnya, produk asing akan banyak masuk ke Indonesia. Peran pemerintah diperlukan, untuk mendukung agar perusahaan kosmetik survive. Tentunya, agar masyarakat juga cerdas. “Dulu, saya sempat jadi korban iklan. Sampai wajah saya bermasalah. Semoga masyarakat Indonesia bisa memilih kosmetika yang aman, cocok dan sehat untuk kulit mereka,” katanya. (vit)
Edisi XII Maret - April 2011

9

LAPORAN UTAMA
istimewa

HARMONISASI KOSMETIK ASEAN

AFTA, Harapan dan Ganjalan

S
10

Mulai Januari 2011 Indonesia akan dibanjiri produk kosmetik dari negara-negara ASEAN. Harmonisasi berarti lonceng kematian bagi industri kosmetik tanah air? Bagaimana nasib konsumen kosmetik?
Di antara beberapa produk yang akan menjalani Harmonisasi ASEAN, kosmetik adalah yang pertama. Pada tahun 2007, ASEAN Consultative Committee on Standard and Qulity (ACCSQ) membentuk Adhoc Working Group untuk masing-masing bidang yang akan diharmonisasi, di antaranya Cosmetic Product Working Group (CPWG) yang bertugas melakukan persiapan dan penyusunan regulasi ASEAN di bidang kosmetika. Pada September 2003, telah ditandatangani kesepakatan ASEAN HARMONIZED COSMETIC REGULATORY SCHEME (AHCRS)

oleh 10 Menteri Perindustrian dan Perdagangan negara anggota ASEAN. Dengan ditandatanganinya AHCRS, CPWG diubah menjadi ASEAN COSMETIC COMMITTEE (ACC) untuk mendukung negara anggota dalam mempersiapkan implementasi harmonisasi ASEAN dan memantau perkembangan serta kesiapan negara anggota, dalam menerapkan harmonisasi ASEAN di bidang kosmetika. Dulu Registrasi, Kini Notifikasi Dalam penyeragaman aturan, ada beberapa perubahan yang harus dilakukan pemerintah Indonesia terkait Harmonisasi ASEAN. Sistem lama untuk registrasi kosmetik, kini tidak lagi berlaku. Sistem baru yang digunakan adalah notifikasi. Pelaksanaan notifikasi tidak serumit registrasi. Prosesnya terbilang singkat dan lebih efektif. Produsen tidak harus mengeluh karena proses registrasi yang memakan waktu panjang. Saat produsen ingin mengedarkan produknya di Indonesia, cukup memenuhi persyaratan yang telah

alah satu tujuan berdirinya ASEAN, berkaitan dengan mempercepat pertumbuhan ekonomi negara-negara yang tergabung di dalamnya. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah bentuk konkrit dari kerja sama tersebut. Berlakunya AFTA mendorong lahirnya usaha-usaha baru, yang mendukung terjalinnya kerjasama perdagangan di antara negara ASEAN. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas produk dan daya saing yang sehat, sehingga mampu berkompetisi dalam aturan yang sama. Ini yang disebut Harmonisasi.
Edisi XII Maret - April 2011

LAPORAN UTAMA
disepakati oleh ASEAN. Di antaranya adalah memiliki izin produksi, Angka Pengenal Import (API) untuk importir dan surat kontrak produksi untuk perusahaan yang melakukan toll manufacturing. Setelah persyaratan terpenuhi, produsen dianggap layak untuk mengedarkan produknya. Pendaftaran berlaku sekali, kecuali jika ada perubahan informasi identitas pemohon. Produsen juga harus menyertakan persyaratan, terkait produk yang diedarkan. Kosmetika yang akan dinotifikasi harus dibuat dengan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) dan memenuhi persyaratan teknis, meliputi keamanan, bahan, penandaan, dan klaim. Untuk mendukung aturan notifikasi tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1176/Menkes/Per/VIII/2010. Di sini, pemerintah juga menyertakan hal terkait pembatalan notifikasi produk yang beredar. Pergantian sistem registrasi menjadi notifikasi, berdampak pada banyak hal. Banyaknya kosmetik asing yang akan menyerbu pasar Indonesia, mengundang kekhawatiran banyak pihak. Kekhawatiran pertama tumbuh seiring maraknya peredaran kosmetik palsu, illegal, atau berbahan baku merkuri. Kekhawatiran kedua, tumbuh seiring pola konsumtif masyarakat yang senang diimingi mimpi lewat iklan produk kosmetik. Pre Market Evaluation & Post Market Evaluation Bila registrasi menjadi notifikasi, pengawasan ikut mengalami pergantian. Pemerintah tidak lagi melakukan uji laboratorium terhadap kosmetik yang belum beredar. Pengawasan dilakukan setelah kosmetik dipasarkan. Pemerintah menekankan pengawasan tiga arah. Dari produsen, pemerintah dan konsumen. Dulu, BPOM melakukan pengawasan mutu dan keamanan sebelum produk dipasarkan. Sekarang, internal, melakukan monitoring efek samping penggunaan kosmetik, menangani keluhan konsumen, produsen/importir perorangan mau pun badan usaha harus menjamin serta bertanggung jawab atas keamanan, mutu dan manfaat produk. Pada beberapa kasus kosmetik yang membahayakan, produsen wajib melaporkan ke BPOM untuk ditindaklanjuti. Dan, dengan kewajiban dan inisiatif sendiri atau pemerintah, produsen wajib menarik kosmetik yang tidak memenuhi syarat dan standar dari pasar. Sedangkan konsumen diberi tanggung jawab penuh, terhadap kosmetik yang dipilih. Diharapkan konsumen cermat dan cerdas memilih kosmetik. Konsumen juga diminta tidak segan melaporkan kepada bihak yang berwenang, jika mengalami keluhan. Banyak pertanyaan muncul. Dilema terjadi pada dua sisi. Di satu sisi, AFTA mendorong perusahaan lokal Indonesia yang mampu bersaing untuk mendapatkan akses mudah mengimpor produk kosmetiknya. Di sisi lain, posisi UKM (usaha kecil menengah) terjepit pada kebijakan yang belum mampu dilaksanakan. Dan juga, apakah konsumen mampu untuk cerdas memilih kosmetik yang tepat dan baik manfaatnya. Pertanyaan yang sama berlaku untuk pemerintah dan produsen: apakah mampu menjalankan tanggung jawabnya dalam implementasi pasar bebas kosmetik?(vit)
istimewa

BPOM hanya melakukan pengawasan post market. Boleh dilakukan sampling untuk dilakukan uji di labolatorium, setelah kosmetik dipasarkan. Pemantauan lain yang dilakukan pemerintah adalah pelaksanaan CPKB, audit dokumentasi produk, pengawasan terhadap periklanan dan monitoring efek samping. Tanggung jawab yang besar dipanggul produsen. Undang-Undang No. 8 tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsumen, menjadi landasan agar dilakukan produksi kosmetik yang baik. Produsen wajib melakukan pengawasan
Dani Rachadian

Notifikasi. Melaksanakan Harmonisasi Kosmetika ASEAN, Badan POM telah menyediakan loket khusus notifikasi.

Edisi XII Maret - April 2011

11

LAPORAN UTAMA

Mimpi Buruk Korban Kosmetik
Post market evaluation menuntut masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih produk kosmetik. Pemerintah perlu melakukan edukasi.
istimewa

saha pemenuhan kebutuhan hidup kini semakin meningkat. Dulu, masyarakat hanya concern pada kebutuhan pokok. Kini, masyarakat tidak hanya fokus pada masalah kesehatan yang berbasis penyakit, tapi pada kebutuhan pendukung lainnya. Kebutuhan untuk peningkatan harga diri mendapat perhatian khusus, seperti keturunan dan penampilan. Untuk menunjang penampilan, terutama kaum Hawa dilakukan sejumlah usaha, diantaranya dengan menjadi konsumen kosmetik. Segala lapisan masyarakat dewasa ini adalah konsumen kosmetik aktif. Mulai dari bayi sampai orang tua. Luasnya segmentasi pasar kosmetik, menjadikan kosmetik sebagai produk perdagangan dengan omzet yang besar. Terlebih, produsen kosmetik juga pintar mensegmentasikan produknya, sehingga di pasar kita bisa temui harga kosmetik mulai dari yang termurah, menengah sampai yang mahal. Dengan begitu, diharapkan seluruh lapisan masyarakat bisa menjadi konsumen. Banyaknya produk kosmetik yang beredar, mungkin membuat masyarakat bingung dalam menjatuhkan pilihan.

U

Berias. Kosmetika adalah kebutuhan bersifat personal, hati-hati dalam memilih dan menggunakannya.

Untuk itu, produsen memasang iklan di berbagai media. Masyarakat diajak untuk bermimpi. Bermimpi tentang kecantikan, kulit yang putih, rambut yang hitam dan lain sebagainya. Kosmetik: Bisa menjadi Mimpi Buruk Harus diakui, banyak yang tergoda membeli produk iklan yang bagus dan menggelitik. Kosmetik yang mengklaim produknya mampu memutihkan kulit, misalnya, laris di pasaran. Mei (36 tahun) mengaku membeli sebuah produk pemutih kulit, setelah melihat iklan di media. Tidak lama setelah mengonsumsi kosmetik tersebut, kulit Mei memerah dan mengelupas. Beberapa bulan kemudian, kulitnya terlihat putih. Mei mengaku puas kulit wajahnya menjadi putih, walau pun secara kesehatan kulitnya menipis karena proses pengelupasan yang mungkin disebabkan zat berbahaya. Di masyarakat, banyak dijumpai kasus seperti Mei. Iklan dengan klaim berlebihan menjadi pemicunya. Menurut Ida Marlinda Loenggana, peneliti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), saat ini masyarakat

tidak begitu perhatian terhadap kode kosmetik. “Mereka biasanya membeli kosmetik yang baru dipasarkan dengan dukungan iklan yang menarik,” tuturnya. Pola seperti ini menjelaskan bahwa konsumen kosmetik Indonesia, belum bijak dalam memilih kosmetik yang baik. Kekhawatiran muncul, ketika Harmonisasi ASEAN diberlakukan. Bagaimana caranya agar masyarakat menjadi konsumen yang cerdas? Di era perdagangan bebas, produsen kosmetik dapat memasarkan produknya dengan lebih cepat dan mudah. Kemudahan akses distribusi ini kemungkinan besar bisa menurunkan harga jual kosmetik. Otomatis konsumen makin dipermudah untuk mengonsumsi kosmetik dalam dan luar negeri, dengan harga bersaing. Pada Harmonisasi ASEAN, konsumen diberi tanggung jawab untuk ikut mengawasi kosmetik. Mereka dibebani tanggung jawab untuk pandai memilih kosmetik yang baik di pasar. Ini bukan hal yang mudah, terlebih karena konsumen harus memilih kosmetik di antara banyaknya kosmetik asing yang masuk ke Indonesia. Sementara kosmetik yang mereka pilih, adalah kosmetik yang tidak mengalami evaluasi pre market seperti sebelumnya. Awal 2011, Balai POM Sumatera Utara menyatakan, dari 478 kosmetik yang beredar, 10,46% nya tidak memenuhi syarat karena mengandung zat berbahaya, di antaranya rhodamin dan merkuri. Beberapa di antaranya adalah kosmetik yang tidak teregristasi di BPOM. Hal ini tentunya membuat masyarakat resah. Ketika Harmonisasi ASEAN baru berjalan, jumlah kosmetik illegal dan berbahaya sudah banyak ditemukan. Apakah di era pasar bebas hal ini justru semakin merebak? Sebelum pasar bebas ASEAN khusus kosmetik berjalan jauh, masyarakat harus pintar. Edukasi terus menerus sangat dibutuhkan. Pemerintah dan lembaga terkait bertanggung jawab atas pendidikan masyarakat. Jangan sampai makin banyak korban berjatuhan, karena mengear mimpi untuk tampak lebih cantik dan lebih putih.(vit)

12

Edisi XII Maret - April 2011

Atasi Nyeri tanpa Ragu

LAPORAN UTAMA

Positif, Notifikasi Kosmetik
Notifikasi menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari produsen. Peluang bari produsen kosmetik untuk memasarkan produknya di negara-negara ASEAN.
kan banyak persiapan. Ketika pertama kali dipaparkan bahwa kosmetik akan masuk pasar bebas, Indonesia bertanya: Apa yang harus dipersiapkan? Munculnya perbedaan sistem dari premarket ke post market, dirasakan Sri Indrawaty tidak akan membawa dampak yang lebih buruk. “Kalau dulu kita melakukan evaluasi di awal, sekarang tidak lagi. Tapi, tetap ada rambu-rambu yang harus dipenuhi produsen, dan tentu saja tidak mudah.” Sistem pengawasan yang berubah, menuntut produsen agar proaktif. Produsen diminta menjaga mutu, kualitas dan melaporkan segala keluhan termasuk jika terdapat produknya di pasar dipalsukan atau illegal. Kepercayaan kepada produsen, memunculkan wacana baru tentang kemungkinan produsen tetap menjaga kualitas ketimbang mengedepankan komersialisasi. Persaingan harga dan meraup untung besar, membuat produsen melakukan banyak cara. Misalnya untuk pemutih wajah, harga mercuri yang terbilang murah sering dimanfaatkan. Sri Indrawaty tidak menampik, penyimpangan bisa terjadi bahkan sebelum notifikasi hal tersebut sudah terjadi. Hal ini membuktikan, bukan notifikasinya yang salah. Namun, Sri Indrawaty lebih mengedepankan pemikiran positif. “Jika kita berpikiran negatif pada Industri kosmetik, khususnya UKM, sama juga kita membunuh mereka. Saya lebih setuju kalau kita memberi ruang dan kepercayaan kepada mereka, serta terus melakukan post market evaluation lebih intens dan pembinaan untuk menjaga tanggung jawab mereka.” Memang, awalnya UKM melihat ini sebagai hal yang menyulitkan. Masalahmasalah menyangkut kelengkapan
Dani Rachadian

Dirjen Yanfar. Indonesia siap melakuakan notifikasi

Indonesia tidak bisa hidup sendiri. Kita harus bisa berperan secara global, karena itulah kita ikut dalam harmonisasi ASEAN. Jika ingin maju, kita harus tahu peran apa yang bisa diambil,” ujar Direktur Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra. Sri Indrawaty., M.Kes., Apt, saat ditemui di ruangannya di gedung Kementerian Kesehatan RI. Walau baru terhitung bulan, kekhawatiran beberapa pihak mengenai pasar bebas kosmetik tidak bisa dihindari. YLKI misalnya, secara garis besar sangat mendukung Harmonisasi ASEAN, hanya saja mengkhawatirkan implementasi pelaksanaanya. Masyarakat sendiri menyambut baik kosmetik impor, yang mungkin akan turun harga. Namun, manfaat dan kemanannya menjadi persoalan baru. Dalam proses pelaksanaan notifikasi, Sri Indrawaty meyakinkan bahwa Indonesia akan siap. Jauh sebelum pelaksanaan notifikasi ditentukan, telah dilakuEdisi XII Maret - April 2011

CPKB dan safety assesor, menjadi biaya tambahan. Belum lagi penyempurnaan SDM. Sri Indrawaty menyarankan, UKM memiliki organisasi yang kuat dan solid, sehingga mereka bisa berkumpul dan berdiskusi untuk membahas masalah yang dihadapi. Menurut pengamatannya, sejauh ini UKM memandang positif Harmonisasi ASEAN. Kepala BPOM Dra. Kustantinah, M.App., Sc, Apt melihat Harmonisasi ASEAN sebagai hal yang positif. Kekhawatiran akan dampak dari harmonisasi ASEAN pasti ada, terutama pada produsen. Menurutnya, sesuatu yang baru kerap dilihat dari sisi sulitnya, sehingga mengundang kontra. Padahal, hal yang sulit dilakukan justru untuk memperoleh hasil, mutu dan kemanfaatan yang lebih baik. “Yang pasti, semua komponen yang terlibat harus siap. SDM dan Sistem BPOM harus siap, stake holder harus dipersiapkan, termasuk konsumen,” katanya. Salah satu persiapan yang telah dilakukan pemerintah, adalah mengubah regulasi sebagai pendukung pelaksanaan Harmonisasi ASEAN. “Dari sanalah lahir PP 1175 dan 1176 sebagai panduan,” katanya. Dalam hal sistem pengawasan, ia menyatakan telah membentuk tim terpadu di BPOM untuk melakukan sosialisasi kepada kurang lebih 600 perusahaan kosmetik. Sistem aplikasi telah dibuat sejak enam bulan sebelumnya dan sudah dilakukan uji coba. Pemerintah, yaitu Kemenkes dan BPOM, dalam mensukseskan pelaksanaan Harmonisasi ASEAN menyatakan sangat concern. Ketidak inginan terjadi penyimpangan yang merugikan kosumen dan produsen, diutamakan. Kepada produsen, diharapkan agar pasar bebas kosmetik dapat menjadi tantangan baru agar produk mereka mampu dipasarkan di luar negeri. Konsumen diharapkan semakin cerdas dalam memilih dan memutuskan apa yang terbaik. “Konsumen kita suka melihat produk-produk bermerek, tapi belum tentu suka beli. Lagi pula produk kita banyak yang bagus. Mungkin kita perlu membantu mempromosikan produk kita sendiri nantinya,” tutur Sri Indrawaty. (Vit)

14

LAPORAN UTAMA

YLKI Apoteker Jangan Hanya jadi Bemper
YLKI berharap konsumen cerdas memilih produk kosmetik. Apoteker harus full time agar bisa bertanggung jawab penuh.

YLKI. Harmonisasi Kosmetika ASEAN pada dasarnya menguntungkan konsumen kalau dilaksanakan dengan benar.

eredaran kosmetik berbahaya dan ilegal sempat menyita perhatian. YLKI sebagai lembaga yang fokus pada masalah consument product, tidak ingin konsumen dirugikan dengan berlakunya Harmonisasi ASEAN untuk kosmetik. “Tahun 2008, Harmonisasi ASEAN masih buram untuk kita. Saat itu, kita lebih berkonsentrasi pada efeknya ke masyarakat,” kata Ida Marlinda Loenggana, peneliti dari YLKI.

P

Pelaksanaan Harmonisasi ASEAN kemudian mundur ke tahun 2011. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat digencarkan. “Proses advokasi sempat terhenti akibat mundurnya pelaksanaan Harmonisasi ASEAN. Sekarang kami kembali gencar melakukan advokasi.” Secara garis besar, YLKI mendukung pelaksanaan Harmonisasi ASEAN. Menurut Ida, pasar bebas kosmetik sebenarnya menguntungkan konsumen, mengingat untuk ber-

gabung persyaratannya sangat ketat. Untuk bisa diedarkan, produsen harus memenuhi syarat sesuai GMP yang diberlakukan di ASEAN. Otomatis, ketika kosmetik masuk ke Indonesia, konsumen bisa mendapatkan kosmetik yang berkualitas dan harganya bersaing. “Aturannya sangat bagus. Tinggal implementasinya, pelaksanaannya. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah dan produsen, agar konsumen benar-benar aman dari kosmetik berbahaya,” katanya. Ida menyatakan bahwa konsumen kosmetik Indonesia masih tergiur iklan. Serbuan kosmetik impor dengan klaim yang berlebihan, cukup menghawatirkan. Apalagi, konsumen tidak terlalu peduli dengan label kosmetik seperti CD dan CL. “Mereka biasanya membeli produk terbaru dan melihat iklannya dulu,” katanya. Hal ini dimanfaatkan produsen kosmetik yang tidak bertanggung jawab. Kadang untuk membuat konsumennya putih, dimasukkan bahan merkuri. “Merkuri memang ces pleng, langsung putih. Tapi, beberapa bulan ke depan, tidak tahu apa yang terjadi dengan kulit mereka,” kata Ida. Untuk membuat konsumen bijak, perlu usaha keras berbagai pihak. Apalagi nantinya kosmetik yang beredar tidak memakai kode CL dan CD, melainkan Cosmetik ASEAN (CA), karena sistemnya sudah notifikasi (pencatatan). Diakui, persyaratan untuk notifikasi tidak mudah. “Mereka harus memenuhi CPKB, dan ini lebih sulit dari yang biasanya. Untuk Indonesia, mungkin hanya sebagian kecil yang bisa menjalankan. Tiga tahun ke depan, ini adalah masa adaptasi untuk menyesuaikan dengan peraturan CPKB ASEAN,” tambah Ida. Selama masa adaptasi inilah YLKI mengambil peranan. YLKI kerap melakukan edukasi melalui media seperti TV dan radio. Pembelajaran pertama yang diberikan adalah
Edisi XII Maret - April 2011

Dani Rachadian

15

LAPORAN UTAMA
Dani Rachadian istimewa

Ida Marlinda Loenggana. Peneliti YLKI

Pemanfaatan Kosmetika. Kosmetika bila digunakan tidak sesuai aturan pemakaiannya dapat membahayakan.

bagaimana memilih kosmetik yang baik, di masa adaptasi dan pasar bebas nanti. “Di masa adaptasi, di mana kode CD dan CL masih berlaku, disarankan masyarakat memilih kosmetik tersebut. Nanti ketika produk CA yang berlaku, masyarakat harus jeli melihat made in nya. Kalau bisa, pilih yang made in Indonesia,” tuturnya. YLKI kerap melakukan penelitian pada kosmetik yang beredar. Beberapa kali sampling dilakukan. Didapatkan, kosmetik Indonesia masih banyak yang illegal. Selain belum teregristasi, ada kosmetik yang teregristasi tapi mengandung merkuri. Belum lagi klaim kosmetik yang berlebihan, baik di kemasan, atau yang disampaikan melalui klinik-klinik kecantikan. Pada pengawasan post market, jumlah kosmetik illegal bisa bertambah. Walau masyarakat sudah diberitahukan untuk cermat memilih kosmetik, namun memberi edukasi kepada produsen dan masyarakat tidak secepat prakteknya. Menjelang berakhirnya masa adaptasi Harmonisasi ASEAN, Ida menghawatirkan korban kosmetik palsu dan illegal makin banyak. “Jika implementasi tidak sesuai peraturan, pengawasan postmarket akan sangat menghawatirkan. Bisa jatuh korban lebih dulu,” katanya. Sejauh ini YLKI, berusaha menjalin hubungan baik dengan BPOM.

Setiap pembicaraan ke arah sana, YLKI senantiasa dilibatkan. YLKI dan BPOM berusaha untuk selalu aware pada dampak yang akan muncul pada konsumen.Tahun 2011, YLKI berencana untuk melakukan advokasi dan press conference lebih intens. Tujuannya mendesak pemerintah agar lebih aware terhadap kepentingan masyarakat. YLKI juga mengadakan pertemuan dengan komisi penyiaran, menyangkut iklan kosmetik. “YLKI menekankan perlunya Undang Undang periklanan, bukan sekedar kodek etik. Pengawasan iklan kosmetik penting, karena harus jelas klaim dan kemanfatannya,”
istimewa

katanya. Menurutnya, pada dasarnya Indonesia memiliki persyaratan sedikit berbeda dari ASEAN perihal pasar bebas kosmetik. Apoteker harus menjadi penanggung jawab industri kosmetik. Hal ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 51/2009. Ikut bertanggungjawabnya apoteker dalam perindustrian kosmetik, diharapkan dapat menurunkan keluhan konsumen, dan mengawasi produksi kosmetik itu sendiri. Hal ini terjadi, jika apoteker bisa bertanggungjawab full time. “Kalau apoteker belum full time, nanti malah jadi bemper,” katanya.(vit)

Konsumen Kosmetika. Dihadapkan pada banyaknya pilihan produk kosmetik yang beredar.

16

Edisi XII Maret - April 2011

LAPORAN UTAMA

Kita Harus Siap
istimewa

Persatuan Kosmetik Seluruh Indonesia (PERKOSMI)

Globalisasi adalah tansda kemajuan. Indonesia mampu menghadapi pasar bebas ASEAN.

Saya yakin, Indonesia mampu menghadapi pasar bebas ASEAN,” ujar Dra. Nuning S. Barwa., MBA., Apt, Presiden Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (PERKOSMI), saat ditemui MEDISINA. Keoptimisan Nuning didukung oleh banyak faktor. Salah satunya, ia percaya bahwa pemerintah yang dipressure lebih kuat, pasti kompak untuk menjalankan komitmen. Menurut Nuning di ASEAN, Indonesia termasuk negara yang cukup disegani dalam hal produksi kosmetik. “We are among the best. Tiga teratas,” katanya. Karena posisi Indonesia yang sedemikian, Nuning merasa Indonesia siap menghadapi persaingan pasar bebas kosmetik. “Yang kita butuhkan saat ini adalah berpegang pada komitmen yang sudah ditetapkan oleh negara-negara ASEAN,” katanya Nuning mengisyaratkan bahwa globalisasi adalah suatu tanda kemajuan. Mau tidak mau, Indonesia harus terjun ke dalamnya agar perusahaan-perusahaan kosmetik bisa memperbesar pasar. Resiko globalisasi adalah penyamaan aturan atau penghilangan border. Dan ini harus menjadi komitmen. “Terkait Harmonisasi ASEAN, seharusnya ketika Indonesia memutuskan bergabung, kita sudah punya visi yang sama yaitu suatu saat akan menghilangkan border

dan menstandarkan aturan yang dipakai bersama,” katanya. Kosmetik, sebagai salah satu perbekalan kesehatan yang memiliki resiko kecil, adalah produk yang pertama kali memasuki pasar bebas dengan sistem sama, yaitu notifikasi. Nuning percaya bahwa pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan dan Menteri Kesehatan sudah melakukan banyak analisa agar sistem terimplemantasi dengan baik. Mengenai UKM (usaha kecil menengah, bagi Nuning yang penting adalah pembinaan yang intensitasnya lebih tinggi. “Sistem registrasi lama masih berlaku dan perusahaan masih punya waktu mempersiapkan diri sampai 2013. Jika mereka belum mampu, kami menyarankan untuk toll manufacturing lebih dulu,” katanya. Saran ini bagi perusahaan atau UKM yang belum mampu menerapkan CPKB, diambil dengan banyak pertimbangan. Tentunya hal ini sambil menunggu mereka menyiapkan CPKB. Menurut Nuning, ada tiga hal yang perlu diperhatikan lebih dulu dalam CPKB: sanitasi, dokumentasi dan personal. Diharapkan, tiga hal itu dulu yang diaplikasikan oleh UKM. Dana yang ada, kalau bisa dimanfaatkan untuk promosi. “Perkosmi membimbing UKM, memberikan pengarahan dan solusi atas keluhan yang muncul,”

Dani Rachadian

Harmonisasi Kosmetika ASEAN. Meningkatkan tensi persaingan usaha di industri kosmetika.

katanya. Salah satu bentuk dukungan yang dilakukan Perkosmi, bersama pemerintah yaitu BPOM, Departremen Perindustrian dan Perdagangan adalah memberi fasilitas coaching/monitoring atas kesiapan industri tersebut. Beberapa kali dilakukan personal coaching, yang langsung ditujukan pada pemilik UKM. “Yang kami lakukan berupa coaching untuk notifikasi dan dokumentasi. Perkosmi juga melakukan training, bekerja sama dengan institusi pendidikan seperti Universitas Indonesia. Tujuannya untuk peningkatan SDM dan pemenuhan safty assesor perusahaan,” katanya. So, Indonesia tidak perlu takut menghadapi Harmonisasi ASEAN. Nuning percaya, apa pun keputu-

Dra. Nuning S Barwa. Presiden PERKOSMI

san yang diambil pemerintah, pada dasarnya untuk kebaikan perusahaan kosmetik. Kalau negara lain yang dibawah kita saja mampu, kenapa kita tidak?” katanya. Ia berharap agar pemerintah tidak membuat aturanaturan yang terlalu memberatkan perusahaan kosmetik, terutama UKM. “Peraturan yang dibentuk ASEAN sudah cukup baik. Jangan diberatkan dengan aturan lain yang bisa membebani, terutama dalam hal biaya,” katanya. Kemampuan birokrat Indonesia sangat baik, terutama ketika mereka di-pressure secara positif. “Walau ada kendala, kita hadapi globalisasi ini dengan sikap positif dan terbuka. Kita harus siap!”(Vit)
Edisi XII Maret - April 2011

17

WAWANCARA
Dra. Kustantinah., M.App.Sc, Apt
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
Dani Rachadian

Harmonisasi Asean,

Kenapa Tidak?

M

enjadi lembaga negara yang berperan penting dalam pengawasan produk obat, kosmetik, suplemen dan makanan tentu tidak mudah. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kerap harus menghadapi dilema antara banyak kepentingan: pemerintah, produsen dan konsumen. Tahun 2011, pasar kosmetik memasuki era pasar bebas. Akan banyak perubahan sistem yang mengundang pro kontra. Bagaimana BPOM mengatasi masalah yang sudah dan akan muncul di kemudian hari? MEDISINA melakukan wawancara khusus dengan kepala BPOM Dra. Kustantinah., M.App.Sc, Apt di ruangan kerjanya, Gedung BPOM Jalan Percetakan Negara. Apakah Indonesia siap menghadapi era persaingan pasar bebas kosmetik? Harmonisasi ASEAN mau tidak mau harus dijalankan, siap atau tidak siap, karena kita sudah komitment untuk bergabung di dalamnya. Ini adalah keputusan yang diambil 10 pimpinan negara di ASEAN. Seharusnya kita bangga, sebagai negara yang memiliki banyak penduduk, orang pintarnya juga banyak. Kalau negara lain yang lebih terbelakang saja mengatakan siap dan mampu, mengapa kita tidak. Apa saja yang telah dipersiapkan sejauh ini? Banyak yang harus dan telah dipersiapkan. Yang pertama adalah regulasinya. Dulu kita melakukan pengawasan pre market, sekarang post market. Perubahan sistem ini membutuhkan evaluasi pada regulasi yang lama. Maka keluar Permenkes Nomor 1175 tahun

2010 dan Nomor 1176 tahun 2010, yang menjadi landasan kita bekerja. Setelah regulasi disempurnakan, barulah sistem di-up date. BPOM sudah membuat sistem baru dan dipersiapkan dalam 6 bulan ini. Pada November dan Desember 2010, sistem notifikasi tersebut sudah diuji coba. Disamping regulasi, SDM juga perlu dipersiapkan. Badan POM sebagai pihak yang paling banyak berhubungan dengan hal ini, telah mempersiapkan tim terpadu untuk memperlancar jalannya Harmonisasi ASEAN. Selebihnya kita perlu mempersiapkan pihak-pihak terkait seperti stake holder atau importir agar dibina, juga masyarakat perlu pencerdasan. Kelemahan sistem notifikasi yang masih baru yaitu sistem online, yang kadang terhambat loadingnya. Hal ini dimanfaatkan oleh oknumoknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil untung. Pendapat Anda? Sekarang ini, berita begitu mudah didapat, namun belum tentu sesuai kebenarannya. Terima kasih kepada teman-teman MEDISINA, yang mau membantu memberikan informasi. Seperti biasa, hal yang baru pasti dianggap sulit, padahal belum tentu. Sistem notifikasi lebih mudah dibandingkan dulu. Terasa sulit, karena baru dan kita belum terbiasa. Jika ada kendala, bisa langsung menghubungin BPOM. Mengenai notifikasi, sudah disosialisasikan kepada semua pihak yang akan terlibat? Ibu Dra. Linda Sitanggang., Ph.D dan teman-teman dari BPOM, sejak September 2010 telah banyak melaku-

kan sosialisasi, ke perusahaan kosmetik besar atau kecil. Juga telah dilakukan pelatihan, untuk melakukan notifikasi. Pelatihan perlu, karena sistem kita sekarang online, dan belum semua orang terbiasa. Berapa perusahaan kosmetik yang sudah disosialisasi dan berapa produk yang dinotifikasi? Kita sudah mensosialisasikan kepada sekitar 600 perusahaan, dan dalam 3 bulan ini yang sudah ternotifikasi sekitar 3600 produk. Sistem ini terbilang cepat, karena untuk verifikasi hanya perlu waktu 14 hari kerja. Sebelum notifikasi, perusahaan harus melakukan pendaftaran dan melampirkan persyaratan seperti SIUP dan sertifikat CPKB. Kami akan mengeluarkan ID atau password perusahaan yang sifatnya rahasia. Ketika produsen mendapatkan ID, mereka baru bisa melakukan notifikasi. Untuk persyaratan yang tidak valid, kami bisa melakukan reject. Beberapa perusahaan merasa

18

Edisi XII Maret - April 2011

dani r

WAWANCARA
sistem yang baru ini loading-nya masih sulit, sehingga ada oknum yang memanfaatkan untuk mengambil keuntungan. Bagaimana solusinya? Sebenarnya, sistem online kami maksudkan untuk meminimalisir tatap muka, agar tidak ada penyimpanganpenyimpangan. Kesulitan sistem mungkin karena ini adalah baru. Kalau dicoba terus menerus akan terbiasa. Untuk oknum yang ingin mencari keuntungan, entah dengan menjadi calo sebaiknya dihindari. Dalam website BPOM sudah tercantum harga pendaftaran per produk resmi, yang ditransfer ke rekening Menteri Keuangan langsung. Dari 3600 produk yang ternotifikasi, berapa persentase produk asing dan lokal? 50:50. Kalau ada perubahan, tidak significant. Tak perlu kuatir produk kita akan terhimpit gelombang. Yang ada adalah, pelaku usaha tambah giat memanfaatkan peluang. Karena, jika produk mereka beredar di Indonesia, otomatis boleh beredar di luar negeri. Tidak khawatir Harmonisasi ASEAN akan membunuh UKM? UKM (usaha kecil menengah) harus kita bina dan bimbing agar tidak mati. Di Kemenkes Bina Farmasi dan Alkes ada bagian Bina Produk dan Distribusi. Mereka melakukan bermacam-macam pembinaan kepada UKM. Pembinaan dilakukan sampai mereka dewasa dan mampu mengembangkan produk, sesuai dengan ketentuan. Lewat Harmonisasi ASEAN, produsen diberi tanggung jawab lebih. Seberapa besar komitment ini bisa dipegang oleh produsen? Menurut aturan hukum yang berlaku, juga tercantum dalam Undangundang Perlindungan Konsumen, produsen adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas produknya. Badan POM ikut mengawasi agar mutu produk itu tetap baik di pasar, dengan melakukan sampling. Bagaimana ada produk yang mengandung bahan berbahaya, tapi produsen mengatakan hal itu bukan miliknya atau dari kompetitor? Saya rasa, itu alasan klasik. Justru, di Harmonisasi ASEAN hal tersebut bisa ditekan, karena telah dibentuk Post Market Allert System. Artinya, jika ada satu negara yang mengirimkan produk palsu atau tidak memenuhi syarat,akan diberi peringatan. Jika pabrik tersebut tidak menarik atau melaporkan produknya, akan diberitahukan ke seluruh negara ASEAN. Otomatis nama pabrik tersebut akan buruk dan produknya dihindari. Jadi, jika pabrik menemukan produknya dipalsukan, segera laporkan ke pihak berwenang. Jika diam saja, bisa terlihat adanya unsur sengaja. Terkait CPKB, sejauh ini pabrikpabrik di Indonesia sudah memenuhi syarat? Tahun 2010, kami telah melakukan pemeriksaan pada 78 pabrik kosmetik, 43 di antaranya belum memenuhi syarat. Kami memeriksa berdasar risiko analisis yang menyesuaikan dengan anggaran biaya yang dimiliki. Jadi, pakai skala prioritas. Kami harapkan, dengan diberlakukan aturan CPKB, mereka lebih ingin memperbaiki diri. Ini salah satu cara, agar produk mereka bisa beredar. Dalam masa adaptasi 2-3 tahun ke depan, bagaimana jika produsen belum bisa memenuhi syarat CPKB? Ini pilihan untuk mereka. Jika ingin bisa berkembang, mereka harus bisa melaksanakan CPKB. Kami hanya membantu menyediakan fasilitas berupa pembinaan dengan Kemenkes. Kami juga melakukan mapping atau pemetaan untuk pabrik-pabrik yang butuh pengarahan. Saat mereka belum bisa memenuhi syarat, kita minta mereka untuk membuat Corective action Prevention Action (KAPA), dan menuliskan kapan target mereka untuk bisa memenuhi syarat. Jika aspek yang belum dipenuhi adalah aspek kritis, maka harus dipenuhi. Jka tidak, akan kena sanksi atau tindakan hukum. Otomatis pabrik mereka harus ditutup? Kami akan memberikan saran, untuk membuat produk yang low risk saja, jika mereka belum mampu membuat produk standar hight risk. Hal ini termuat dalam Permenkes 1175. Kami berusaha agar mereka tidak mati. Mereka juga harus berusaha tidak mematikan atau merugikan konsumen, dengan membuat produk yang terjamin mutunya. Apa yang dilakukan pemerintah untuk melindungi konsumen dari produk berbahaya? Edukasi. Prinsipnya adalah mencerdaskan masyarakat. Kemenkes melakukan pembinaan, kami membantu. Ini juga yang dipesankan Menteri Perdagangan. Masyarakat Indonesia harus dicerdaskan dan diberdayakan. Kami juga berharap, organisasi profesi bisa ikut andil. Bisa dengan mengajarkan pemilihan dan pemakaian produkproduk yang aman. Konsumen akan tergiur oleh iklan. Seperti apa pengawasan iklan untuk produk kosmetik? Pengawasan yang berlaku adalah post audit bukan pre audit. Untuk pengawasan pre audit, tim sudah dibentuk. Dalam tim terdapat orang periklanan, psikolog, kesehatan dan lain-lain. Permenkes yang lama memang kita sarankan untuk di up date, karena jika kita ingin terlibat dalam pengawasan pre audit, regulasinya harus ada dulu. Apa harapan pada lembaga pemerintahan terkait, YLKI, masyarakan dan produsen? BPOM tidak mungkin melakukan ini sendirian. Bersama lembaga pemerintahan terkait, kita perlu melakukan pengawasan sesuai fungsi masingmasing. Para akademisi mungkin bisa melakukan pelatihan-pelatihan tentang keamanan produk, kompetensi dan pelatihan safety assessor. Kepada IAI kami juga berharap, karena sebagian besar penanggung jawab produk kesehatan adalah apoteker, jadi kompetensi apoteker lebih ditinggkatkan. (vit)
Edisi XII Maret - April 2011

19

TOPIK KHUSUS

Hemoroid dan Penyebabnya
Hemoroid atau wasir banyak ditemukan di masyarakat. Banyak yang tidak ke dokter, sehingga sulit diketahui angka pastinya. Penyebabnya bermacam-macam.

S

ebagian besar masyarakat, bahkan dokter, banyak yang menghubungkan kata hemoroid dengan proses penyakit patologis yang menyakitkan. Padahal, hemoroid merupakan suatu struktur anatomi normal pada anus atau dubur, yang terdiri dari tiga bagian: lapisan epitel (mukosa dan adonerm), stroma dengan pembuluh darah dan otot halus, serta serat jaringan penghubung otot longitudinal yang melekat pada spinkter internal. Pada kondisi tertentu, misalnya karena proses penuaan, struktur ini melemah. Terjadi gangguan pada struktur hemoroid, yang kita kenal dengan istilah wasir atau ambeien. Hemoroid dapat menonjol dan turun ke lumen kanal anal. Bisa juga terjadi pelebaran pembuluh darah vena di anus, membentuk pleksus hemoroidal (bantalan anal). ”Hemoroid sebenarnya normal dan dimiliki oleh hampir semua orang. Yang menjadi masalah, kalau hemoroid sampai keluar. Bisa timbul gejala, seperti berdarah atau benjolan,” ujar dr. Toar JM Lalisang, Sp.B dari Divisi Bedah Digestive, Departemen Bedah, RS Ciptomangunkusumo. Hemoroid berasal dari kata haem dan rhoos. Haem artinya darah, rhoos artinya aliran. Kalau ada orang buang air besar berdarah, disebut hemoroid Jumlah penderita di Indonesia sebenarnya banyak, namun angka insiden ini tidak terpantau. ”Tapi kalau yang berat, yang datang ke klinik, bisa seratus orang pertahun,” ujar dr. Toar. Kasus berat adalah yang berdarah tidak
Edisi XII Maret - April 2011

berhenti dan tonjolannya berada di luar dan tidak bisa masuk.

Penyebab dan Patofisiologi
Secara patofisiologi, penyakit hemoroidal terjadi karena adanya degenerasi bantalan anal (turun, obstruksi, edema dan inflamasi non infeksi). Kondisi ini menyebabkan perubahan hemodinamik lokal, pembukaan arteriovenous shunt, diikuti obstruksi vena. Beberapa etiologi penyebab hemoroid, yaitu: 1. POLA MAKAN. Sebagian besar ahli setuju, pola makan rendah serat menghasilkan kotoran yang keras, orang harus mengejan saat buang air besar (BAB). Terjadi peningkatan tekanan yang menyebabkan pembesaran hemoroid, mungkin juga mengganggu aliran darah balik. Kehamilan dan tensi tinggi tidak normal dari otot spinkter internal, juga menyebabkan hemoroid, kemungkinan berdasarkan mekanisme yang sama. 2. KEBIASAAN. Duduk berlama-lama di toilet (misalnya sambil membaca) diyakini menyebabkan masalah aliran darah balik di daerah perianal (suatu efek torniket), menyebabkan pembesaran hemoroid. Penuaan menyebabkan perlemahan struktur pendukung, dan terjadi prolaps. Perlemahan struktur pendukung bisa terjadi di usia 30-an. 3. MENGEJAN DAN KONSTIPASI. Mengejan dan konstipasi telah lama diketahui sebagai penyebab terbentuknya tonjolan hemoroid. Pasien yang melaporkan penyakit hemoroid memiliki tonus kanal saat istirahat, lebih tinggi dari normal. Yang menarik,

tonus saat istirahat lebih rendah setelah dilakukan hemoroidektomi, dibanding sebelum dilakukan prosedur. Perubahan pada tonus saat istirahat adalah mekanisme aksi dilatasi Lord, suatu prosedur medis untuk keluhan anorektal yang umum dilakukan di Inggris. 4. KEHAMILAN. Kehamilan membuat wanita mudah mengalami gejala akibat hemoroid, meski etiologinya tidak diketahui. ”Hemoroid pada wanita hamil bisa disebabkan adanya peningkatan tekanan. Masuk trimester akhir, tekanan di rongga panggul membesar, sehingga aliran darah balik terganggu, akhirnya pembuluh darah membesar,” kata dr. Toar. 5. HIPERTENSI PORTAL. Sering dihubungkan dengan dengan hemoroid. Tetapi, gejala hemoroid tidak terjadi lebih sering pada pasien dengan hipertensi portal daripada pasien tanpa hipertensi portal. Pasien-pasien ini jarang mengalami perdarahan secara masif akibat hemoroid. Pendarahan sering dipersulit oleh koagulasi. Jika ada perdarahan, dianjurkan melakukan ligasi jahitan langsung. 6. VARISES ANOREKTAL umum terjadi pada pasien dengan hipertensi portal. Varises terjadi di dalam midrektum, pada sambungan antara sistim portal dengan vena rektal tengah dan inferior. Varises terjadi lebih sering pada pasien nonsirosis, dan mereka jarang mengalami perdarahan. Pengobatan biasanya diarahkan pada hipertensi portal yang menjadi penyebabnya. Portosystemic shunts and transjugular intrahepatic portosystemic shunts (TIPS) digunakan untuk mengendalikan hipertensi dan perdarahan.

20

TOPIK KHUSUS

Konstipasi pada Penderita Hemoroid
istimewa

tanpa menggunakan obat atau hanya dengan obat ringan. Yang paling penting adalah mengubah kebiasaan diet, dengan mengonsumsi makanan yang mampu meningkatkan volume kotoran dan mengandung zat yang Konstipasi adalah penyebab utama hemoroid. Bengan banyak dapat melembutkan tekstur (berbagai mengonsumsi serat dan banyak berolah raga, konstipasi bisa diatasi. jenis minyak). Anak-anak dan orang dewasa harus mendapatkan cukup serat dalam diet mereka. Sayuran, buahbuahan, umbi-umbian, kacang, beras merah atau sereal merupakan sumber serat yang sangat baik. Meski begitu, konsumsi serat saja tidak cukup. Untuk menuai manfaat dari serat, perbanyaklah minum cairan. “Jika hanya mengonsumsi serat, tapi tidak banyak minum, tidak ada gunanya,” kata dr. Toar. Pokoknya yang penting tinja harus lunak, tapi juga jangan sampai mencret, karena mencret juga tidak baik. Jadi, mulailah dengan pengaturan makan makanan tinggi serat disertai minum air putih yang cukup. onstipasi atau sembelit ketegangan otot untuk memperbaiki Hal yang penting juga adalah merupakan penyebab utama pergerakan usus, yang akhirnya menjalani hidup aktif secara fisik. terjadinya hemoroid. Bahkan, menyebabkan hemoroid. Jika otot terus Kadang-kadang, dengan hanya berjalan hemoroid sering disebut dalam keadaan tegang, bisa singkat setiap hari dapat membangun sebagai gejala utama konstipasi. menyebabkan hemoroid menonjol pergerakan usus. Tapi, jika seseorang Biasanya, konstipasi hemoroid terjadi keluar anus. Darah juga bisa keluar hanya dapat duduk di kursi roda atau karena pola makan yang kurang serat secara terus menerus dari anus. tempat tidur, seringlah mengubah dan kurang cairan atau karena kebiasaan Hemoroid konstipasi sering menyerang posisi dan melakukan latihan kontraksi yang buruk. Misalnya, sering menunda wanita. Biasanya akibat ketegangan yang perut dengan mengangkat kaki. buang air besar (BAB). Seorang timbul karena kehamilan dan kelahiran. Seorang terapis dapat merekomendasipenderita yang mengalami konstipasi Tapi, kondisi ini hanya bersifat kan latihan yang sesuai. Kebiasaan dan hemoroid, biasanya memiliki sementara. buang air besar secara teratur, sangat masalah pergerakan usus. membantu mencegah sembelit. Penderita biasanya mengalami Penyebab konstipasi kerusakan pada otot anus dan jaringan Konstipasi terutama disebabkan Terapi obat penghubung di sekitarnya. Juga bisa karena diet rendah serat, kurangnya Untuk obat, pilihan utama dalam terjadi kerusakan pada perineum kolon. aktivitas fisik, tidak cukup minum air, menyembuhkan konstipasi biasanya Hal ini bisa terjadi karena saat proses atau sering menahan buang air besar. jatuh pada jenis obat-obatan pencahar mencerna, kotoran didorong oleh Stres dan perjalanan juga dapat (laksatif). Namun, satu hal yang harus kontraksi otot melalui usus, dan air berkontribusi pada sembelit atau diketahui dari jenis obat-obatan ini yaitu serta garam diserap kembali. Jika perubahan pola buang air besar. bila tidak digukanan secara benar, akan asupan air tidak mencukupi, air yang Penyakit seperti sindrom iritasi usus dapat menimbulkan masalah lain. diserap saat proses mencerna akan besar, kanker usus, fibrosis kista, Laksatif bekerja melalui banyak cara. membuat keras tinja. Kotoran yang masalah kesehatan mental, gangguan Beberapa di antaranya bersifat sebagai keras dan kering ini menyebabkan kerja neurologis atau obat tertentu juga lubrikan (pelumas), sedangkan yang usus melambat. Tinja yang keras dan dapat menyebabkan sembelit. lainnya dapat melunakkan konsistensi kering juga akan meningkatkan tekanan feses, menyerap air lebih banyak pada pada anus dan kolon. Pengobatan usus besar, dan ada juga yang Hal ini menyebabkan konstipasi dan Pada sebagian besar kasus, membentuk massa. berakibat pada meningkatnya konstipasi bisa ditangani dengan baik

K

Edisi XII Maret - April 2011

21

TOPIK KHUSUS

Terapi Farmakologis Hemoroid
Pengobatan hemoroid diberikan jika terlihat adanya gejala. Obat-obatan yang ada, digunakan untuk mengurangi gejala.
istimewa

W

asir pada dasarnya tidak membutuhkan pengobatan, kecuali menunjukkan gejala dan mengganggu penderita. Meski tidak mematikan seperti penyakit jantung, kanker atau stroke, penyakit ini berpotensi menurunkan kualitas hidup penderita. Rasa tidak nyaman akibat bengkak pada anus, bisa mengurangi produktivitas. Karena itu, pemberian terapi pada hemoroid akan sangat membantu meningkatkan kualitas hidup serta menghindari komplikasi. Untuk derajat tertentu, jika telah terjadi perdarahan dan prolaps, tindakan invasif menjadi pilihan terakhir. Pengobatan hemoroid sendiri
Edisi XII Maret - April 2011

terdiri dari pengobatan medis dan pembedahan. Pengobatan medis terdiri dari non farmakologis, farmakologis dan tindakan minimal invasif. Pengobatan medis non farmakologis berupa perbaikan pola hidup, yang mencakup meningkatkan konsumsi makanan berserat tinggi dan memperbanyak minum. Juga, mengubah kebiasaan buang air besar (defekasi). Memperbaiki pola cara buang air besar (BAB), merupakan pengobatan dalam setiap bentuk dan derajat hemoroid. Dianjurkan dalam posisi jongkok waktu BAB dan menjaga kebersihan lokal, dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit 3x sehari.

Pasien dinasehati untuk tidak terlalu banyak duduk atau tidur, namun banyak bergerak/jalan. Pasien harus banyak minum, 30-40 cc/kgBB/hari, dan banyak makan serat (dianjurkan sekitar 30 gram/hari) seperti buahbuahan, sayuran, sereal dan bila perlu suplementasi serat. Makanan yang terlalu berbumbu atau terlalu pedas harus dihindari. Mandi di bak mandi dengan air hangat, biasanya dapat mengurangi rasa sakit di perianal. Hal ini mungkin karena air hangat dapat merelaksasi mekanisme spinkter dan spasme. Sebuah literatur menyebutkan, kompres es dapat mengurangi nyeri akibat thrombosis akut. Sebagian besar pasien melihat adanya perbaikan atau resolusi komplit dari gejala-gejala yang mereka alami, dengan tindakan konservatif di atas. Pengobatan diarahkan hanya pada gejala dan bukan penampakan hemoroid. Jika pasien mengeluhkan nyeri hebat, kemungkinan ia menderita hemoroid eksternal akibat thrombosis. Ini biasanya membaik dalam 7-10 hari, tetapi jika tetap terasa sakit di luar periode tersebut, bisa dilakukan eksisi untuk menghilangkan thrombus. Penggunaan dressing penekan, bisa menjadi pilihan pengobatan. Pengobatan Farmakologis Pengobatan farmakologis non spesifik meliputi laksatif, analgesik, antiinflamasi dan obat-obatan topikal (mengandung anastesi lokal dan steroid). Sementara obat-obatan spesifik untuk hemoroid (agen phlebotropik) yang ada saat ini adalah flavonoid, mencakup micronised diosmin dan hesperidin dan hidrosmin. Obat-obatan ini secara signifikan menurunkan gejala dan mencegah terjadinya rekurensi. Bahkan sebuah studi menemukan, pemberian diosmin dan hesperidin sama efektif

22

TOPIK KHUSUS
dengan rubber band ligation, dengan efek samping yang lebih kecil. Laksatif Laksatif dalam bentuk serat dapat membantu mengurangi gejala hemoroid, terutama perdarahan. Sebuah tinjauan dilakukan P. Alonso dan kawan-kawan terhadap tujuh hasil penelitian melibatkan 378 pasien, yang secara acak diberi serat atau non serat. Meta analisa ini menunjukkan, laksatif dalam bentuk serat memiliki efek dalam pengobatan hemoroid simtomatik. Diosmin-Hesperidin Keduanya biasa diformulasi sebagai micronized purified flavonoid fraction (MPFF) unik, yang mengandung 90% diosmin dan 10% hesperidin. Hesperidin diekstrak dari genus citrus dengan
istimewa

spesies Rutaceae aurantieae, suatu tipe jeruk kecil yang biasa ditemukan di daratan Spanyol, Afrika Utara dan China. Sementara diosmin yang merupakan senyawa flavonoid diperoleh melalui proses sintesa, mulai dari bahan baku. Melalui mikronisasi, kedua bahan aktif tersebut mengalami proses penggilingan dengan teknologi tinggi. Sebuah jet of air at supersonic velocities mampu mengurangi ukuran partikel standar dari 37 μm, hingga kurang dari 2 μm. Akibatnya, penyerapan keduanya jadi lebih cepat dan lebih baik, sehingga bisa meningkatkan bioavailabilitas. Implikasinya tentu mengarah pada efikasi klinis yang lebih cepat dan superior. Kedua senyawa tersebut memiliki mekanisme kerja yang unik. Layaknya noradrenalin, obat ini mengakibatkan

kontraksi vena, menurunkan ekstravasasi dari kapiler dan menghambat reaksi inflamasi terhadap prostaglandin (PGE2, PGF2). Detailnya, diosmin-hesperidin dengan tepat bisa memerangi secara simultan semua aspek patologik dari penyakit pembuluh darah, lymphatic dan mikrosirkulasi. Laporan dari Divisi Gastroenterology Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI /RSCM (2000) menunjukkan, pengobatan dengan diosmin dan hesperidin satu tablet 2x sehari selama 8 minggu, secara signifikan menurunkan derajat hemoroid. Sementara penelitian plasebo terkontrol buta ganda yang dilakukan Ho dan kawan-kawan melaporkan, pengobatan dengan satu tablet kombinasi diosmin dan hesperidin 1x sehari selama 2 bulan, secara signifikan mengurangi gejala. Kombinasi Bismuth Kombinasi bismuth subgallate, bismuth resorcin, bismuth subiodide dan Zn oxide bisa meredakan gejala pada hemoroid eksterna dan interna tanpa komplikasi & fisura ani. Kombinasi obat ini juga bisa ditambahkan dengan suatu kortikosteroid (hidrokortison), yang bisa memperkuat efikasi dengan mengurangi gatal, bengkak dan kemerahan pada inflamasi. Polidokanol Polidokanol merupakan sclerosing agent yang efektif. Obat ini mengandung 95% hydroxypolyethoxydodecane dan 5% ethyl alcohol. Polidokanol juga dikenal sebagai obat yang memiliki risiko komplikasi yang rendah. Asam Tranexamik Asam tranexamik adalah salah satu agen hemostatik yang dapat
Edisi XII Maret - April 2011

23

TOPIK KHUSUS
menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang. Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat konversi plasminogen menjadi plasmin yang mencegah lisis klot darah, meningkatkan sistim kolagen dan menstabilkan klot darah. Sebuah penelitian plasebo terkontrol buta ganda yang dilakukan di Divisi Gastroenterologi, Departmen Ilmu Penyakit Dalam FKUI / RSCM, melibatkan 54 pasien dengan perdarahan hemoroid melaporkan, asam tranexamik dapat menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang secara signifikan dibanding plasebo. Obat Bebas Banyak obat bebas yang bisa digunakan untuk mengobati hemoroid. Ini biasanya obat yang sama yang digunakan utuk mengatasi gejala anal, seperti gatal atau tidak nyaman. Beberapa penelitian menunjukkan, obat-obatan ini tidak berdampak pada hemoroid, hanya menurunkan gejala hemoroid. Produk-produk yang digunakan untuk pengobatan hemoroid tersedia dalam bentuk ointments, creams, gels, suppositories, foams dan pads. Saat digunakan pada anal canal, produkproduk ini dimasukkan dengan jari
istimewa

atau suatu pipa. Sebelum dimasukkan, pipa harus diberi pelumas. Protektan Protektan mencegah iritasi daerah perianal dengan membentuk barier fisik pada kulit, yang mencegah kontak kulit yang teriritasi dengan cairan atau kotoran yang berpotensi memperburuk kondisi. Barier tersebut menurunkan iritasi, rasa gatal, sakit dan rasa terbakar. Protektan meliputi: Aluminum hydroxide gel Cocoa butter Glycerin Kaolin Lanolin Minyak mineral White petrolatum Starch Zinc oxide atau calamine (yang mengandung zinc oxide) dalam konsentrasi sampai 25% Astringents Astringents menyebabkan koagulasi protein dalam sel kulit perianal atau lapisan kanal anal. Hal ini menyebabkan kulit kering, yang pada akhirnya membantu mengurangi rasa terbakar, gatal dan sakit. Astringents meliputi: Calamine 5- 25%

Zinc oxide 5- 25% Witch hazel 10- 50% Antiseptik Antiseptik menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain. Belum jelas, apakah antiseptik lebih efektif dari sabun dan air. Contoh antiseptik meliputi: Boric acid Hydrastis Phenol Benzalkonium chloride Cetylpyridinium chloride Benzethonium chloride Resorcinol Keratolitis Keratolitik adalah kimia yang menyebabkan lapisan terluar kulit atau jaringan lain mengelupas. Alasan digunakan obat ini, agar obat-obatan yang digunakan pada anus dan daerah perianal dapat masuk ke jaringan yang lebih dalam. Dua agen keratolitik yang disetujui FDA adalah: Aluminum chlorhydroxy allantoinate 0,2- 2,0% Resorcinol 1 - 3% Analgesik Produk-produk analgesik, seperti produk anastesi, mengurangi rasa sakit, gatal dan terbakar dengan menekan reseptor dari saraf rasa sakit. Contoh analgesik: Menthol 0,1 - 1,0% (lebih besar dari 1,0% tidak dianjurkan) Camphor 0,1 - 3% (lebih besar dari 3% tidak dianjurkan) Juniper tar 1 - 5% Kortikosteroid Kortikosteroid menurunkan inflamasi dan mengurangi rasa gatal. Jika digunakan berkepanjangan, bisa menyebabkan kerusakan permanen pada kulit.

24

Edisi XII Maret - April 2011

TOPIK KHUSUS

Operasi Hemoroid
Banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hemoroid parah. Antaranya dengan eksisi dan fiksasi. Yang lebih diminati adalah melakukan pengikatan pada sumber perdarahan.

P

ada dasarnya, pengobatan hemoroid internal bergantung pada tingkat kegawatan. Jika hemoroid tidak mengalami prolaps, atau prolaps tetapi menurun secara spontan, para ahli menganjurkan hidrokortison, laksatif dan mengonsumsi makanan berserat serta memperbanyak konsumsi air. Jika gejala masih berlangsung, tindakan yang bisa dilakukan mulai dari injeksi skleroterapi, rubber band ligation, fotokoagulasi menggunakan sinar infra merah, elektrokoagulasi, koagulasi laser dan cryotherapy. Masing-masing pengobatan memiliki keuntungan dan kerugian. Reseksi melalui tindakan operasi diperlukan penderita hemoroid derajat tiga dan empat, pasien yang tidak membaik meski diberi terapi non operatif, dan yang menderita gejala signifikan akibat hemoroid eksternal. Hemoroid eksternal umumnya memperlihatkan gejala karena adanya trombosis akut, rekuren trombosis atau masalah kebersihan. Eksisi Mengenai eksisi hemoroid, dr. Toar JM Lalisang, Sp.B, ahli bedah saluran cerna dari FKUI, mengatakan bahwa indikasi untuk melakukan eksisi sangat relatif. Karena hemoroid sendiri adalah suatu struktur anatomi yang juga memiliki fungsi. “Kalau hemoroid diambil (dieksisi), fungsinya akan menghilang. Akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan,” katanya. Operasi dilakukan, kalau memang hemoroid sudah tidak berfungsi lagi. Misalnya, kalau benjolan sudah di luar dan mengeras. “Artinya jika sudah mengganggu, ya dibuang saja,” katanya. Terdapat beberapa teknik yaitu St.

Marks Milligan – Morgan technique, submucosal haemorrhoidectomy (Parks method), dan yang terbaru circular stapler anopexy (teknik Longo). Teknik circular stapler anopexy atau procedure for prolapse and haemorrhoids (PPH) baru dikembangkan tahun 1993. Teknik ini bekerja dengan mendorong jaringan hemoroid yang merosot ke arah atas dan dijahitkan ke selaput lendir dinding anus. Kemudian, sebuah gelang dari bahan titanium diselipkan di jahitan dan ditanamkan di bagian atas saluran anus untuk mengokohkan posisi jaringan hemoroid tersebut. PPH memiliki beberapa keuntungan dibandingkan operasi konvensional, di antaranya nyeri minimal karena tindakan dilakukan di luar bagian sensitif, tindakan cepat karena hanya menghabiskan 12-45 menit, dan pasien dapat pulih lebih cepat paska operasi. Namun risiko perdarahan, trombosis, serta penyempitan saluran anus masih dapat terjadi. Fiksasi Saat ini berkembang tehnik preserving anal canal. “Kalau misalnya BAB berdarah, bukan berarti hemoroid harus dibuang semua. Tapi, sumber

pendarahannya yang diikat. Itu disebut manipulasi operatif,” kata dr. Toar. Beberapa teknik fiksasi, meliputi skleroterapi, rubber band ligation, cryosurgery, infrared thermocoagulation, photocoagulation dan Doppler ultrasound guided haemorrhoid artery ligation. Skleroterapi. Dilakukan untuk menghentikan perdarahan. Metode ini menggunakan zat sklerosan yang disuntikkan para vasal. Setelah itu, sklerosan merangsang pembentukan jaringan parut sehingga menghambat aliran darah ke vena-vena hemoroidalis. Akibatnya, perdarahan berhenti. Sklerosan yang dipakai adalah 5% phenol in almond oil dan 1% polidocanol. Metode ini mudah dilaksanakan, aman dan hasilnya baik. Rubber band ligation. Metode ini akan mengabliterasi lokal vena hemoroidalis sampai terjadi ulserasi (7-10 hari), diikuti terjadinya jaringan parut (3-4 minggu). Prosedur ini dilakukan pada hemoroid derajat 1-3. Infrared thermocoagulation. Prinsipnya adalah mendenaturasi protein melalui efek panas dari infrared, yang mengakibatkan jaringan terkoagulasi. Untuk mencegah efek samping dari infrared berupa kerusakan jaringan sekitar yang sehat, jangka waktu paparan dan kedalamannya perlu diukur akurat. Metode ini untuk derajat 1-2. Laser haemorrhoidectomy. Metode ini mirip infrared. Punya kelebihan dalam kemampuan memotong. Namun, biayanya mahal. Doppler ultrasound guided haemorrhoid artery ligation. Metode ini menjadi pilihan utama saat terjadi perdarahan, karena dapat mengetahui secara tepat lokasi arteri hemoroidalis yang hendak dijahit. Cryotherapy. Metode ini kurang direkomendasikan karena sering kurang akurat dalam menentukan area freezing.
Edisi XII Maret - April 2011

25

TOPIK KHUSUS

Jalan Panjang Melawan TB
If the importance of a disease for mankind is measured by the number of fatalities it causes, then tuberculosis must be considered much more important than those most feared infectious diseases, plague, cholera and the like. (Robert Koch, 1843-1910)
istimewa

P
26

erjuangan manusia terhadap TB (tuberkulosis) adalah sebuah sejarah panjang, penuh dengan penemuan dan terobosan. Pada 24 Maret 1882, Robert Koch mempresentasikan penemuannya pada dunia akademis berupa bakteri penyebab TB, sebuah penemuan penting dalam catatan sejarah melawan tuberkulosis. Pada era Koch, satu dari empat orang di Benua Eropa meninggal karena tuberkulosis, dan perawatan di sanatorium menjadi satu-satunya cara
Edisi XII Maret - April 2011

yang dianggap efektif dalam menyembuhkan penyakit ini. Tanggal 24 Maret, kemudian diperingati sebagai Hari TB Sedunia, sebagai penghargaan terhadap sumbangsih Koch dalam penanggulangan TB. Sejarah mencatat berbagai upaya yang dilakukan manusia, dalam usahanya menangani TB. Mulai dari ujicoba vaksin BCG (Bacille Calmette Guérin) pada tahun 1920, ditemukannya streptomycin dan P.A.S dalam pengobatan TB pada tahun 1943, disusul Isoniazid

pada tahun 1952, hingga penemuan pada tahun 1960 oleh Dr. John Crofton, seorang ahli TB dari Universitas Edinburgh, yang menyatakan bahwa kombinasi dari PAS, streptomycin dan isoniazid, dapat menyembuhkan TB. Pada tahun 1993, WHO (World Health Organization) menyatakan TB sebagai kegawatdaruratan global, dengan perkiraan sepertiga penduduk dunia terinfeksi TB. Pada tahun itu, strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short Course) diujicobakan di India, beberapa Negara di Afrika dan di Indonesia. Hingga saat ini, strategi DOTS dinyatakan sebagai strategi yang paling efektif dalam mengendalikan TB. Di Indonesia, strategi ini dilaksanakan oleh Puskesmas yang memiliki jangkauan relatif paling luas dibandingkan unit pelayanan kesehatan lainnya (klinik swasta, rumah sakit, dll). Dengan strategi ini, pemeriksaan awal TB dilakukan melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Jiika terbukti positif mengandung kuman mycobacterium tuberculosis, pasien diharuskan menjalani pengobatan selama 6 hingga 9 bulan. Lamanya waktu pengobatan yang harus dijalani, membuat pengobatan TB membutuhkan pendampingan dari orang yang bertindak sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO). PMO dapat berasal dari petugas kesehatan, anggota keluarga, tokoh agama mau pun orang yang dekat dengan pasien. Lamanya waktu pengobatan, menjadi salah satu potensi kegagalan pada penyembuhan TB. Setelah dua bulan, umumnya pasien merasa lebih baik, seperti hilangnya batuk dan bertambahnya berat badan. Kondisi ini ditambah efek samping obat yang biasanya dialami pasien, membuat pasien rentan untuk berhenti menyelesaikan pengobatan TB hingga tuntas. Indonesia telah diakui keberhasilannya dalam pengendalian TB, Hal ini dibuktikan dalam laporan Global Report update tahun 2009, bahwa Indonesia pada tahun 2010 berhasil menurunkan

TOPIK KHUSUS
Resistance= MDR) makin menjadi masalah. Bila tidak ditangani dengan baik, akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. TB MDR membutuhkan pengobatan jangka waktu yang lebih lama dibandingkan TB biasa, dengan biaya pengobatan yang tentunya lebih besar. Tidak tuntasnya pengobatan TB, tidak adequatnya pengobatan yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan terutama RS pemerintah dan swasta serta dokter praktek swasta dan dokter spesialistik, yang belum menerapkan strategi DOTS, menjadi pintupintu penyebab munculnya TB MDR. Untuk mengarahkan masyarakat dalam pencarian pengobatan TB yang benar, diperlukan strategi pemasaran program sebagai bentuk sosialisasi adanya layanan TB. Sosialisasi ini bisa dalam bentuk memberikan label, kepada fasilitas yang menyediakan layanan pengobatan TB. Daftar fasilitas layanan TB tersebut harus dimiliki para penyedia layanan (dokter praktek swasta, baik dokter umum mau pun dokter spesialis, rumah sakit). Dengan demikian, para penyedia layanan yang belum mampu melaksanakan pengobatan TB dengan strategi DOTS, dapat merujuk ke daftar tersebut. Upayaupaya baru terkait dengan pengendalian TB, memang perlu mendapat dukungan dari semua pihak. (nun)
istimewa

posisinya dari posisi 3 menjadi posisi ke 5, sebagai negara dengan jumlah pasien TB terbanyak di dunia. Selain itu, dari data Global Report juga bisa dilihat keberhasilan Indonesia dalam menurunkan angka kematian akibat TB, dari 348/ hari (Global Report/GR, 2002), 300/ hari (GR, 2007), 250/hari (GR, 2009) menjadi 169/hari (GR, 2010). Namun demikian, masalah dalam pengendalian TB masih sangat besar, dan Indonesia masih berkontribusi sebesar 5,8% dari kasus TB yang ada di dunia. Dengan 528.063 penderita baru dan kematian akibat TB sebesar 91.368 pertahun, TB masih menjadi tantangan dalam masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Masalah lain yang dihadapi, adalah pola pencarian pengobatan masyarakat; 34% masyarakat datang ke RS baik milik pemerintah mau pun swasta. Padahal, belum semua RS menerapkan strategi DOTS dalam pelayanannya. Lebih dari 15% penderita TB, belum dapat menjangkau pelayanan diagnosa dan pengobatan TB yang akurat dan layak. Data di atas menunjukkan bahwa porsi kelompok masyarakat yang memilih pergi berobat TB ke layanan kesehatan swasta dibandingkan ke

Puskesmas, masih cukup signifikan. Pilihan ini tentunya didasarkan oleh pertimbangan pelayanan yang lebih memuaskan. Masalah muncul ketika masyarakat pergi berobat ke layanan swasta yang memberikan pengobatan TB, tidak sesuai dengan standar dalam pemberian pengobatan. Masyarakat dengan pola seperti ini harus diarahkan ke pengobatan TB yang standar. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kekebalan obat ganda TB (Multi Drug Resistance= MDR). Kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (Multi Drug
istimewa

Edisi XII Maret - April 2011

27

PENELITIAN

erium oleander adalah tanaman hias yang indah daun dan bunganya. Daunnya hijau tua, mudah dan cepat tumbuh terutama di daerah tropis, baik di lahan basah atau kering. Banyak terdapat di pekarangan kantor, taman, pinggir atau pembatas jalan tol, berbunga merah muda atau merah jingga. Nerium oleander adalah satu dari banyak tanaman beracun dan dapat sangat toksik, jika ditelan dalam jumlah tertentu dan dapat menimbulkan kematian terutama pada anakanak. Menelan 10 - 20 lembar daun, bisa menimbulkan keracunan pada orang dewasa dan 1 lembar daun bisa menimbulkan keracunan pada anak / balita. Letal dosis adalah 0,5 mg / kg berat badan. Racunnya adalah glikosida oleandrin dan neriin, yang termasuk glikosida jantung. Gejala keracunan biasanya mual, muntah, keluar banyak air liur, sakit bagian belakang, diare bisa sampai berdarah, Reaksi pada jantung berupa detak jantung yang tidak teratur, juga mempengaruhi susunan saraf pusat dengan gejala sempoyongan (drowsiness), tremor, kejang mendadak (seizure), pingsan dan akhirnya meninggal. Dapat terjadi reaksi iritasi

N

NERIUM OLEANDER SI CANTIK BERACUN UNTUK OBAT
kulit, iritasi mata dan reaksi alergi pada kulit. Nerium oleander mengandung 2 % glikosida oleandrin (Wikipedia). Nerium oleander dapat digunakan sebagai rodentisida, insektisida dan sebagai obat dalam untuk demam, cacingan, malaria, lepra, penyakit kelamin dan aborti facien. Pada sapi hamil, belum tercatat dapat menyebabkan abortus. Dapat juga disalahgunakan untuk bunuh diri (suicide). Martindale edisi 34, Pharmaceutical Press 2005, memuat Nerium oleander berisi zat glikosida cardioaktif terdiri dari oleandrin, digunakan untuk mengobati kekacauan jantung yang diperoleh dari daun, bunga dan kulit batangnya. Keracunan sama dengan digoksin, dapat terjadi jika mengonsumsi bagian dari tanaman tadi. Oleander kuning (Thevetia peruviana ) juga berisi glikosida jantung dan efek keracunannya sama dengan Nerium oleander. Dalam Pharmakope Rusia edisi IX, 1961, Nerium oleander dapat digunakan sebagai obat dalam dengan dosis maksimum sekali 0.2 mg dan dosis maksimum sehari 0,4 mg. Kepala Badan POM dengan SK No. HK.00.05.41.1384, 2 Maret 2005, pada lampirannya tentang bahan yang dilarang digunakan dalam obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka Nomor I.22 menetapkan: Nerium oleander termasuk salah satu tanaman yang dilarang digunakan sebagai bahan obat untuk Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Walikota Bandung (2009) menetapkan, Nerium oleander dilarang ditanam sebagai tanaman hias karena beracun. Tanaman hias Nerium oleander yang sudah ada di taman kota Bandung dicabuti. Walikota khawatir ada warga, anak / ternak yang memakan/melalap daun oleander yang tumbuh indah itu meracuni warganya. Termasuk yang

28

Edisi XII Maret - April 2011

PENELITIAN
kena larangan Walikota Bandung adalah pohon Bintaro yang rimbun dan berbuah seperti buah apel, berbunga putih yang banyak ditanam di taman, dipinggir jalan raya/jalan Tol, termasuk jalan-jalan di Bintaro - Jakarta, dimana getah buahnya bersifat racun pada kardiovaskular. MA Hussain dan MS Gorsi dalam Joshita dkk, JFI Volume 4 No.4 – Juli 2009, telah meneliti daun Nerium oleander dan ternyata memiliki aktivitas anti mikroba terhadap Bacillus pumilus, Bacilus subtilis, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Joshita Djajadisastra, Abdul Mun’im dan Dessy NP dari Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia dalam JFI volume 4 nomor 4 – Juli 2009, telah melakukan penelitian terhadap ekstrak etanol dari daun Nerium oleander dengan pembawa berupa gel berbasis karbromer terhadap jerawat (acne). Penilaian keberhasilan Nerium oleander untuk pemastian manfaat, dilakukan dengan uji aktivitas ekstrak terhadap bakteri Propioni bacterium acnes yang menyebabkan jerawat. Hasilnya, ekstrak Nerium oleander menghasilkan kadar hambat minimum (KHM) terhadap Propioni bacterium acnes sebesar 50.000 ug / ml dan 20.000 ug / ml untuk Staphylococcus aureus. (amd)

AKTIVITAS ANTI BAKTERI JAMUR ENDOFIT
engan pertumbuhan penduduk dan pertambahan jenis penyakit, kebutuhan bahan baku obat semakin meningkat, jumlah mau pun macamnya. Salah satu sumber daya alam Indonesia yang dapat digali dan dikembangkan adalah jamur-jamur endofit. Yakni kelompok jamur yang sebagian atau seluruh hidupnya berada dalam jaringan tumbuhan hidup, dan biasanya tidak merugikan inangnya. Jamur-jamur endofit umumnya memroduksi metabolit sekunder, memiliki aktivitas biologis (biofit) yang bermanfaat seperti misalnya antikanker, anti virus atau antibakteri. Jamur endofit dapat ditemukan pada berbagai jenis tumbuhan, terutama tanaman obat asli Indonesia suku Zingiberaceae seperti Lengkuas (alpinia galanga sw ), Bangle

D

hantu (Zingiber attensii Val.) dll. Jamur endofit merupakan suatu mikroorganisme yang terdapat dalam suatu system jaringan tumbuhan seperti biji, daun, bunga, ranting, batang dan akar / rimpang. Pencarian jamur endofit yang banyak terdapat pada tumbuhan, dilakukan untuk menambah atau memperkaya koleksi mikroba. Selanjutnya, mikroba tersebut perlu diidentifikasi, untuk mengetahui sifat pertumbuhan dan jenisnya. Bakteri uji yang digunakan, merupakan flora normal dalam tubuh manusia, tetapi pada keadaan tertentu dapat berpotensi membahayakan dan menjadi pathogen. Bakteri itu adalah Escherichia coli, yang merupakan bakteri gram negative berbentuk batang yang tidak membentuk spora dan merupakan flora normal di usus manusia. E.coli kadang-kadang bisa menyebabkan infeksi saluran urine, jika dia nyasar ke sana. Bakteri lain adalah Staphylococcus aureus, bakteri gram positif yang dapat menghasilkan eksotoksin pada makanan yang tercemar, dan menyebabkan penyakit diare. Ditemukan biasanya pada kulit normal dan hidung. Demikian penelitian Ernawati Sinaga, Noverita dan Dinah

Fitria dari Fakultas Biologi Universitas Nasional , Jakarta. Isolasi dan pemurnian jamur yang diperoleh dari daun dan rimpang kedua tanaman di atas, ditanamkan pada media MEA ( Malt Extract Agar ) kemudian difermentasikan pada media PDY ( Potatoes Dextrose Yeast ). Hasil uji pada kedua bakteri tersebut menunjukkan, sebagian besar isolate jamur endofit yang diperoleh dari kedua rimpang itu memiliki aktivitas anti bakteri yang kuat. Bahkan 70% dari isolate jamur endofit yang diperoleh, memiliki daya anti bakteri yang lebih kuat dibanding control cakram kertas Ampicillin 10 ug terhadap bakteri E coli, dan 90% dari isolate jamur endofit memiliki daya anti bakteri lebih kuat terhadap Staphylococcus aureus. (amd)

Edisi XII Maret - April 2011

29

PRAKTEK KEFARMASIAN

Pilot Projek Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan membuat Pilot Project Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Untuk menyiapkan infrastruktur implementasi PP No. 51/2009, atau sekedar project oriented?
Nunut Rubyanto

Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Kehadiran Apoteker menjadi keharusan untuk melayani pasien Puskesmas.

asal 51 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 (PP No.51/2009) tentang Pekerjaan Kefarmasian menyebutkan, “Pelayanan Kefarmasian di apotek, Puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit hanya dapat dilakukan oleh apoteker. Bila pada 31 Agustus 2011 PP tersebut harus dilaksanakan, di setiap Puskesmas harus tersedia apoteker untuk melakukan pelayanan kefarmasian. Tapi, sampai saat ini tidak ada (belum ada) data yang valid tentang berapa Puskesmas di Indonesia yang telah memiliki apoteker. Juga, pekerjaan seperti apa yang harus dilakukan apoteker di Puskesmas belum ada standar yang baku. Evaluasi tentang bagaimana kinerja apoteker di Puskesmas, juga belum ada. Menurut Dra. Engko Sosialin, Apt, Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian

P

Kesehatan, selama ini pelayanan kefarmasian di Puskesmas oleh apoteker masih sebatas mengelola logistik obat. Yaitu, bagaimana mengelola stok obat agar tidak mengalami kekurangan atau mengalami over stock. Pelayanan seperti informasi obat, komunikasi informasi dan edukasi serta konseling belum terlaksana. Apalagi sampai melakukan visite bersama dokter (untuk Puskesmas dengan perawatan), atau aktivitas promosi kesehatan sama sekali belum terjamah. Padahal, menurut PP No.51/2009 apoteker dalam melakukan praktek kefarmasian harus mengikuti paradigma yang berlaku, sesuai standar pelayanan dan berdasarkan pada standar prosedur operasional (SPO). Paradigma yang sekarang berlaku adalah patient oriented (berorientasi pasien), bukan drug oriented (berorientasi obat). Pemerintah menyadari hal ini. Salah satu sebab pelayanan kefarmasian (pharmaceuitical care) di Puskesmas

tidak jalan, karena minimnya tenaga apoteker. Karena itu, menurut Dra. Engko, dicoba dibuat terobosan untuk mengatasi persoalan ini dengan membuat pilot project Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care) di Puskesmas perawatan di 5 (lima) provinsi. Yaitu di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah dan Bengkulu. Dari masing-masing provinsi diambil 10 Puskesmas dengan perawatan (rawat inap). Syarat utama Puskesmas peserta pilot project ini adalah memiliki tenaga kefarmasian apoteker. “Puskesmas yang belum memiliki apoteker, tidak dibisa ikut,” tegas Engko. Menurut rencana, pilot project akan fokus pada bagaimana memberdayakan apoteker. Sehingga, disamping mampu mengelola manajemen logistic dengan baik, juga mampu melaksanakan praktek kefarmasian yang meliputi pelayanan farmasi klinik, visite, komunikasi informasi dan edukasi (KIE), konseling, juga melakukan home pharmacy care (pelayanan residensial). Untuk itu, dilakukan semacam pelatihan yang ditujukan untuk pengayaan materi bagi apoteker di Puskesmas, agar mampu melaksanakan poin-poin praktek kefarmasian tersebut. Pada 17-19 Februari 2011, di Yogayakarta diadakan pertemuan sekaligus pelatihan bagi 10 apoteker Puskesmas peserta pilot project. Diikuti juga oleh kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten. Diberikan pengayaan materi oleh pakar mau pun praktisi. Selanjutnya dilakukan peninjauan lapangan, sekaligus melakukan praktek di salah satu Puskesmas peserta pilot project, yaitu Puskesmas Piyungan. Peninjauan lapangan dimaksudkan untuk melihat lebih dekat, aktivitas pelayanan kefarmasian mulai dari pengadaan, pelayanan resep, pelayanan informasi obat, Konsultasi Informasi dan Edukasi (KIE), visite ke pasien rawat inap dan diskusi, dipandu oleh praktisi ahli dan dokter kepala Puskesmas.

30

Edisi XII Maret - April 2011

PRAKTEK KEFARMASIAN
Kepala Puskesmas Piyungan dr. Lucia Sri Rejeki, ketika dihubungi Medisina menyambut positif dilaksanakannya pilot project ini. Kebetulan, Puskesmas yang dipimpinnya jitunjuk menjadi salah satu peserta. Menurut dr. Lucia, kehadiran apoteker di Puskesmas sangat membantu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sangat terasa perbedaan sebelum dan sesudah dilayani apoteker. Tak bisa dipungkiri, sebagaian besar intervensi medis menggunakan obat. Biaya pelayanan kesehatan, komponen terbesarnya juga biaya obat. Maka, efisiensi dan efektivitas pelayanan kefarmasian, merupakan syarat mutlak bagi tercapainya luaran pelayanan kesehatan di Puskesmas. Diakui oleh dr. Lucia, bahwa di Puskesmas yang dipimpinnya aktivitas apoteker masih sebatas pada pelayanan obat kepada pasien. Dr. Lucia sepakat apabila apoteker terlibat dan aktif mengikuti visite yang dilakukan dokter. Namun, keterbatasan jumlah apoteker yang hanya satu orang, waktu dan perhatiannya baru fokus bagaimana pasien mendapatkan obat sesuai dengan yang dibutuhkan, dan digunakan dengan tepat oleh pasien. Apa kompetensi pendukung yang dibutuhkan apoteker di Puskesmas? Dr. Lucia mengatakan, “Barangkali harus ditambah kemampuan public speaking, bagaimana berkomunikasi dengan publik, dengan masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan relative rendah.” Apoteker di Puskesmas Piyungan, Ana Chrisnaningtyas, S. Farm, Apt, menyatakan bahwa sebagai apoteker ia sangat ingin melaksanakan semua apa yang semestinya dilaksanakan oleh apoteker. Bukan hanya sebatas mengelola stok dan menyerahkan obat, dengan informasi yang sangat minim. “Apa mau dikata, setiap hari waktu dan konsentrasi saya habis untuk melayani pasien rutin non rawat inap. Ketika dokter melakukan visite, saya belum selesai melayani pasien yang setiap hari mencapai seratusan. Tidak mungkin pelayanan saya tinggalkan untuk mengikuti visite dokter,” jelasnya. Menurut Naning, nama panggilan Ana Chrisnaningtyas, dia berharap suatu saat apoteker di Puskesmasnya ditambah. Paling tidak satu apoteker lagi, sehingga setiap hari bisa berbagi tugas. Seorang melakukan pelayanan di poliklinik, satu orang lagi mengikuti visite dokter dan melakukan tugas-tugas kefarmasian yang harus dilakukan oleh apoteker. Ternasuk mengikuti kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas pembantu mau pun kegiatan di Posyandu. Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Dra. Ismaryani, M.Kes Apt mengatakan, di Bantul jumlah Puskesmas yang ada apotekernya paling banyak dibanding kabupaten/kota lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Nunut Rubyanto

(SDK) Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Drs. Elvi Effendi, Msi, Apt. Setiap tahun, katanya, di Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, selalu ada formasi untuk apoteker di Puskesmas. Sayangnya, apoteker yang ada di Puskesmas kadang malah ditarik ke Dinas Kesehatan, untuk mengisi jabatan structural, hingga Puskesmas kembali kosong, tidak ada apotekernya. Contohnya di Sleman, waktu pengadaan CPNS alokasinya untuk Puskesmas, tapi begitu jalan beberapa bulan ditarik ke Dinas untuk menduduki jabatan struktural. Tentang luaran yang diinginkan dari pilot project, Dra. Engko Sosialin, Apt mengharapkan bahwa dengan ditunjuk menjadi pilot project yang artinya

dr. Lucia Sri Rejeki

Dra. Engko Sosialin, Apt

Dra. Ismaryani, M.Kes, Apt.

Bahkan, ada satu wilayah di Yogyakarta yang sama sekali belum ada tenaga apoteker di Puskesmasnya. Di Kabupaten Bantul, sudah 9 (sembilan) Puskesmas yang ada apoteker. Ismaryani akan terus berusaha agar ada apoteker di semua Puskesmas di Bantul. Sehingga, pada saatnya nanti semua pelayanan kefarmasian di Puskesmas dilakukan oleh apoteker, seperti yang diamanatkan Peraturan Pemerintah No.51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Hal senada disampaikan Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan

menjadi percontohan, dapat menjadi trigger bagi Puskesmas di sekitarnya untuk belajar. Dengan demikian, dapat segera dilakukan pembenahan dan perubahan seperti yang diamanatkan PP No.51/2009. Yakni bahwa, “Pelayanan Kefarmasian di apotek, Puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit hanya dapat dilakukan oleh apoteker”. Ada kalangan yang pesimis dan menilai bahwa pilot project yang dilakukan pemerintah, masih sebatas project oriented. Artinya, ya hanya untuk proyet itu sendiri. Projeknya habis, habis juga programnya. Kita tunggu saja. (Nun)
Edisi XII Maret - April 2011

31

KILAS BERITA
pengalaman baru melihat keindahan alam Indonesia Timur. Perhatian apoteker saat ini adalah PP No.51/2009. Topik ini masih menjadi topik teratas di antara topik lainnya. “Hadirnya PP. 51 tidak lepas dari kebutuhan dunia kesehatan di Indonesia akan kontribusi apoteker dan kebutuhan masyarakat akan pelayanan apoteker,” ujar Dani dalam sambutannya saat pembukaan Kongres Ilmiah. Menurut Dani, IAI berusaha menyikapi PP. 51 secara ringan namun positif. Justru, apoteker paling diuntungkan oleh PP. 51. “Banyak tantangan dan peluang baru yang bisa dimanfaatkan apoteker, dalam mengasah kompetensi dan menjalankan praktek kefarmasian, seperti yang digemakan Federation of International Pharmaceutical (FIP) mengenai praktek kolaborasi kefarmasian,” katanya. Praktek kolaborasi apoteker dan tenaga kesehatan lain, memang baru digemakan, dan Dani berharap ke depan hal ini dapat terimplementasi dengan baik. Pendapat ini didukung penuh Direktur Jendral Bina Farmasi dan Alkes, Dra. Sri Indrawaty., M.Kes., Apt. Menurutnya, Kemenkes akan menunjang pelaksanaan PP. 51 melalui keluarnya Permenkes terkait. Apoteker diharapkan mau dan mampu menjalankan profesinya dengan baik. Untuk itu, dibutuhkan kompetensi yang maksimal. Ia mnaruh harapan besar pada apoteker, agar bisa menjadi profesi yang berguna di bidang kesehatan. “Mulai tahun 2011, aoteker dituntut berperan aktif dan mau berdampingan dengan dokter dalam pelayanan obat maupun obat tradisional,” katanya. Pelaksanaannya harus diperkuat dengan kompetensi yang baik,dari pihak apoteker sendiri. Kongres ilmiah kali ini mengambil tema “Harmonisasi dan Sinkronisasi Peran Apoteker dalam Pengembangan Ilmu Kefarmasian di BiDani Rachadian

KONGRES ILMIAH IAI XVIII

Apoteker

Pemeran Utama

dalam PP No.51/2009
Hotel Sahid Makassar, Jumat 10 Desember 2010, ramai dikunjungi Apoteker. Selama 3 hari, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) mengadakan Kongres Ilmiah XVIII. Para apoteker memadati ruangan-ruangan hotel, yang terletak tidak jauh dari pantai Losari.
ongres Ilmiah diadakan setiap tahun dan merupakan rangkaian acara dari Rakernas IAI. Tahun sebelumnya, Kongress Ilmiah di adakan di Hotel Bidakara, Jakarta. Acara ini diminati para apoteker dari berbagai wilayah dan dari berbagai bidang kerja. Dari sekitar 636 peserta, panitia menerima 34 makalah oral dan 65 poster. Inilah

K
32

pertama kalinya IAI mengadakan acara di wilayah timur Indonesia. Menurut Ketua Umum IAI, Drs. Dani Pratomo, MM, Apt, penyelenggaraan di wilayah timur ini untuk pemerataan. Diharapkan, apoteker dari daerah timur yang biasanya sulit menjangkau daerah barat, bisa berpartisipasi. Sedangkan untuk apoteker wilayah barat, diharapkan bisa menjadi

Edisi XII Maret - April 2011

KILAS BERITA
dang Sains dan Klinik”. Jelas, tema ini tidak lepas dari adaptasi PP. 51. Sri Indrawaty menegaskan, implementasi peran apoteker berdasarkan PP. 51 tidak hanya dikawal oleh pemerintah, tapi juga IAI dan perguruan tinggi. “Pemerintah, IAI dan perguruan tinggi harus bahu membahu melaksanakan PP. 51 dengan baik, agar bisa mencapai tujuan pelayanan kesehatan yang benar,” tuturnya. Dra. Kustantinah, M.App., Sc, Apt juga memberi semangat bagi implementasi PP. 51. Ditekankan, PP.51 bukanlah kerja individu, tapi gotong royong. Apoteker adalah pemeran utamanya. Kustantinah meyakinkan apoteker agar lebih meningkatkan kemampuan komunikasinya. “Dengan banyaknya informasi yang dimiliki, apoteker dituntut memiliki kemampuan memberikan informasi untuk self care dan self medication yang akan membantu dalam berkomunikasi dengan profesi kesehatan lain, pasien atau konsumen,” katanya. Dalam pelaksanaanya, apoteker harus memahami prinsip-prinsip quality ansurance (jaminan mutu). Terkait hal tersebut, apoteker harus mengambil peran kunci dalam pelaksanaan GMP, GCP, GDP, GLP serta GPP. Diiringi penguasaan informasi teknis mengenai produk sediaan farmasi dan produk kesehatan lain. Kongres Ilmiah ini dihadiri Walikota Makassar Ir. Ilham Arief Sirajuddin, MM. Ia mengaku senang, bisa menjadi tuan rumah pelaksanaan kongres ilmiah. Ia berharap ada hal-hal baru yang bisa ditemukan oleh apoteker di Makassar. “Masih banyak dari alam Kota Makasar yang nantinya bisa ditemukan oleh apoteker dan dikembangkan menjadi obat,” katanya saat pembukaan acara. Kongres Ilmiah di Makasar berakhir hari Minggu 12 Desember 2010. Selain lagu Hymne IAI, diperagakan jas apoteker. (vit)

Dani Rachadian

RAPAT KERJA NASIONAL IAI di Makasar

P

ada 10 -12 Desember 2010, berlangsung Rapat Kerja Nasional Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bertempat di Hotel Sahid, Makasar,. Hadiri para pengurus pusat dan pengurus daerah IAI. Ketua Umum PP IAI Drs. Dani Pratomo menyampaikan progress report tahun 2010 dan prioritas program 2011. Pada kesempatan itu juga diperkenalkan lagu Hymne Ikatan Apoteker Indonesia. Rakernas juga menetapkan pedoman dan standar yang harus disempurnakan oleh pengurus pusat IAI, berupa Standar Kompetensi Apoteker Indonesia, Pedoman Cara Praktek / Pelayanan Kefarmasian yang Baik (Good Pharmacy Practice) sebagai pedoman praktek seluruh apoteker di Indonesia. Juga ditetapkan pemberlakuan Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker, mulai Maret 2011. Disamping itu, PP IAI akan membuat pedoman tentang Ketentuan dan Tata Cara Sertifikasi Apoteker Indonesia. Dalam rangka implementasi Per-

aturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, raker menetapkan membuat “time schedule” rencana implementasi PP dimaksud mulai Jaanuari 2011, membentuk Tim Monitoring Apoteker Praktek tingkat pusat dan daerah, demi tegaknya komitmen praktek Apoteker, penggunaan tanda pengenal Apoteker praktek berupa jas praktek warna putih atau putih tulang yang dilengkapi atribut, berupa tulisan “Apoteker” dan nama apoteker. Diputuskan, PP IAI harus melakukan upaya advokasi kepada pemerintah pusat agar segera menerbitkan peraturan perundangundangan untuk implementasi PP 51 / 2009. Dan PD IAI melakukan advokasi kepada Pemerintah Daerah masing-masing agar dalam implementasi PP 51 / 2009 diperlukan persyaratan rekomendasi dari Pengurus Cabang IAI setempat, pada setiap perizinan serta perlunya dilaksanakan penempatan tenaga apoteker di Puskesmas. (amd)

Edisi XII Maret - April 2011

33

KILAS BERITA

Uji Coba Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker
Nunut Rubyanto

S

ertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker (SKPA) mulai diterapkan menggunakan metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Ada ujian dan hasilnya bisa lulus atau tidak lulus. Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian (PP. No. 51/2009), mengatur tentang prasyarat untuk melaksanakan praktek bagi apoteker. Antara lain berupa sertifikat kompetensi, sebagaimana disebutkan pada Pasal 37: (1) Apoteker yang menjalankan pekerjaan kefarmasian harus memiliki sertifikat kompetensi profesi. (2) Bagi apoteker yang baru lulus pendidikan profesi, dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung setelah melakukan registrasi. (3) Sertifikat kompetensi profesi berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk setiap 5 (lima) tahun, melalui uji kompetensi profesi apabila apoteker tetap akan menjalankan pekerjaan kefarmasian.
Edisi XII Maret - April 2011

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan tata cara registrasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur dengan Peraturan Menteri. Pada pasal 40 ayat 1, ketentuan mengenai sertifikat kompetensi merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). Dengan demikian, untuk memiliki Surat tanda Registrasi Apoteker, seorang apoteker wajib memiliki sertifikat kompetensi apoteker. Sertifikasi bagi apoteker sudah berlangsung lima tahun terakhir, yang menimbulkan pro kontra. Namun, Pengurus ISFI (sebelum berubah menjadi IAI) saat itu tetap melaksanakan sertifikasi. Hasilnya, lebih dari 60% apoteker, yang baru mau pun lama telah tersertifikasi. Dengan dalih pemutihan, dilaksanakan Penataran dan Uji Kompetensi (PUKA). Selama tiga hari, apoteker mengikuti semacam

seminar, kemudian mendapat sertifikat kompetensi pada akhir acara. Memasuki tahun keenam dan setelah memiliki dasar hukum yang kuat, PP IAI menyiapkan konsep SKPA yang tidak sekedar penataran. Ada ujian untuk menilai, sejauh mana kompetensi seorang apoteker terpelihara selama jangka waktu tertentu. Yang digunakan adalah metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE), yaitu ujian dengan pendekatan klinik. Metode ini telah dilakukan beberapa tahun lalu di Jawa Tengah dan di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai pilot project dari Departemen Kesehatan. Kini metode itu digunakan oleh PP IAI secara nasional, untuk SKPA. Pada 7-8 Januari 2011, dilakukan uji coba metode baru tersebut terhadap 43 (empat puluh tiga) apoteker, bertempat di Fakultas Farmasi Universitar Sanatha Dharma, Yogyakarta. Metode ini menggunanakan bahasan materi per modul, sehingga lebih fokus pada satu titik dan untuk mengurangi beban peserta uji. SKPA di Yogyakarta membahas modul diare dan infeksi saluran pencernaan. Hari pertama, peserta uji diajak membahas secara partisipatif patologi dan epidemiologi penyakit diare dan infeksi saluran pencernaan. Pemateri adalah dokter yang menguasai masalah penyakit tersebut. Materi selanjutnya adalah penatalaksanaan dan farmakoterapi diare dan infeksi saluran pencernaan, dilanjutkan dengan diskusi kelompok pendalaman materi. Peserta dibagi dalam kelompok 4-6 orang, didampingi seorang fasilitator sehingga peserta dapat benar-benar memahami. Setelah itu, hasil diskusi dipresentasikan dan dilakukan tanya jawab dengan kelompok lain. Setelah diskusi, peserta uji diberi penjelasan tentang tata cara ujian pada hari kedua. Sebelum selesai, peserta diberi tugas untuk membuat resume atas materi yang didapat pada hari pertama

34

KILAS BERITA
dan dikumpulkan sebagai syarat untuk mengikuti ujian pada hari berikutnya. Pada hari kedua, peserta uji harus melakukan uji baik MCQ mau pun praktek, yaitu role play sebagai apoteker yang sedang melakukan praktek di komunitas atau klinik. Meliputi komunikasi dengan pasien, need assesment, menghitung dosis, melakukan koreksi atas obat dan atau dosisnya, melakukan komunikasi dengan dokter penulis resep, kemudian dispensing dan penyerahan obat. Peserta uji juga harus membuat patient medication record dan memberikan informasi yang cukup kepada pasien serta menyerahkan obat. Semua aktifitas uji tersebut dilakukan pada meja yang tersusun sebagai station 1 sampai 6; di masing-masing station membutuhkan waktu 10 menit. Sebelum istirahat makan siang, semuan peserta telah menyelesaikan ujian, tinggal menunggu hasil uji yang akan diterima dalam amplop tertutup. Passing grade ujian ini adalah peserta yang nilainya di atas 60,00 dinyatakan lulus. Pada 10-12 Februari 2011, juga dilakukan uji coba di Surabaya dengan peserta 83 orang, dengan modul bahasan diabetes militus. Rencananya, 4-5 Maret 2011 ini juga akan dilakukan uji coba SKPA di Bandung, dengan modul bahasan hipertensi. Dari tiga kali uji coba, akan dievaluasi dan disempurnakan untuk kemudian diterapkan secara nasional. Rencananya, pada pertengahan Maret ini, akan dilakukan Pelatihan Fasilitator Sertifikasi dan Resertifikasi yang menghadirkan seluruh pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia. SKPA yang tengah diuji coba, terlalu berorientasi klinik sehingga beberapa peserta menganggap sangat cocok untuk apoteker yang praktek di apotek atau rumah sakit, sementara bagi yang tidak pernah praktek akan merasa grogi dan nerveous bahkan merasa diteror karena khawatir tidak lulus. Namun, sebagian besar peserta merasa puas dan sangat terbantu untuk belajar lagi. Memang, sebagai apoteker mestinya ada upaya sistematis agar belajar untuk mempertahankan kompetensinya seiring berjalannya waktu. Ini sesuai ciri profesi, yaitu long live learner. (nun) Dalam Pelayanan Obat yang Rasional dan Terjangkau”. Seminar diselenggarakan atas kerjasama PD IAI Jakarta dan Kagama, dihadiri sekitar 250 peserta. Menurut Tjihno Prasetyo, ketua pelaksana seminar, masalah pelayan kefarmasian adalah topik hangat saat ini. Selain PP. 51/2009, materi tersebut belum biasa diangkat. “Kalau nanti apoteker melakukan pelayan kefarmasian, pasti akan mengalami masalah obat rasional,” katanya saat memberi sambutan. Menurut Dani Pratomo, Ketua Umum PP IAI, yang mampu menjawab pertanyaan tentang kerasionalan penggunaan obat memang adalah apoteker. Bagi Dani Pratomo, pendidikan berkelanjutan melalui seminar adalah salah satu solusi menjawab tantangan apoteker ke depan. “Pagi ini, kita dibekali ilmu untuk menuju tantangan-tantangan PP. 51,” katanya saat memberi sambutan. “Saya tertarik untuk melihat apoteker mandiri, suatu saat nanti, dan mendapatkan fee dari menjual jasa,” katranya lagi. Bagaimana agar bisa mandiri, apoteker harus bekerja
Edisi XII Maret - April 2011

Peran Apoteker Dalam Pelayanan Obat yang Rasional dan Terjangkau
Evita Fitriani

Seminar Sehari

P

raktek pelayanan kefarmasian saat ini menjadi sorotan dalam dunia kesehatan. Tak bisa dipungkiri, PP. 51/2009 telah mengalihkan perhatian beberapa tokoh kefarmasian. Sejalan dengan pentingnya praktek ke-

farmasian diaplikasikan di masyarakat, beberapa organisasi dan institusi mulai mengambil peranan. Sabtu, 29 Januari 2011,di auditorium gedung Prof. Dr. Satrio, RSPAD Gatot Subroto, diselenggarakan seminar sehari bertema “ Peran Apoteker

35

KILAS BERITA
Evita Fitriani

keras meningkatkan kompetensinya. Banyak terjadi kasus, di mana ketidakberadaan apoteker menyebabkan tingginya angka ketidakrasionalan pemberian obat. Kasus-kasus ketidakrasionalan penggunaan obat bermacam-macam. Beberapa pasien mendapatkan politerapi, tanpa memperhatikan efek samping dan interaksi yang mungkin terjadi. Beberapa pasien mendapat obat dengan harga yang sangat mahal, tanpa diberi alternatif. Kejadian ini menjadi pelajaran penting, bahwa apoteker seharusnya berada di tempat pelayanan kefarmasian, untuk mengedukasi pasien dan berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lain. “Sejauh ini peran tersebut digantikan oleh asisten apoteker,” tuturnya.

Apoteker adalah profesi yang mendapatkan fasilitas berlebih. Selain boleh tidak hadir di apotek, apoteker diberi pendamping yang siap menggantikan perannya, yaitu asisten apoteker. Hal ini memicu apoteker menjadi profesi yang tidak dikenal dan tidak mandiri. “Saat ini, profesi kita dalam taraf dipaksa oleh undangundang, agar melakukan pelayan kefarmasian dengan sebaiknya.” Seorang peserta menyatakan bahwa apoteker kadang lebih mengedepankan omset apotek ketimbang pelayanan kefarmasian. “Beberapa waktu lalu, saya mendapat resep obat yang saya pikir aneh. Tapi, saya tidak menindaklanjuti kepada dokter, terkait dengan tujuan omset. Ini menjadi dilema APA,” katanya.

Kejadian tersebut bukan sekali dua kali. Menurut Dani, hal tersebut tidak hanya terkait omset, tapi juga tingkat percaya diri apoteker. “Jika bekal ilmu kita bagus, ditunjang bekal komunikasi dan percaya diri yang bagus, kita berani mengatakan ‘tidak’ untuk resep-resep yang tidak rasional,” katanya. Sebagai ketua umum IAI, Dani berharap agar dengan terimplementasikannya PP. 51/2009, tingkat penggunaan obat tidak rasional dapat ditekan. Pasien juga bisa mendapatkan pelayanan kefarmasian yang baik. Dani menekankan 5 pertanyaan: Sudahkan apoteker memiliki persepsi yang sama? Bisakah perubahan paradigma terjadi? Siapa yang memulai lebih dulu? Siapa mengerjakan apa? Dan, mungkinkah? Hal ini harus dijawab oleh masing-masing pribadi apoteker. Tantangan apoteker sangat besar dan berat. Kalau apoteker bisa melihat peluang di balik tantangan tersebut, otomatis tujuan untuk mencapai apoteker yang mandiri bisa tercapai. Untuk sekarang, kompetensi apoteker yang harus dikedepankan lebih dulu. Sesuai pesan Dani, kita harus menjadi apoteker paripurna. Banyak konsekuensi dari menjadi apoteker paripurna. “Yang pasti, apoteker paripurna jaminannya masuk surga,” kata Dani yang disambut meriah peserta seminar. (vita)

36

Edisi XII Maret - April 2011

TOKOH
Nunut Rubyanto

AKBP SUTRISNO UNTORO

T

ak ada yang menduga kalau apoteker yang satu ini adalah seorang polisi, berpangkat Ajun Komisaris Besar. AKBP Drs. Sutrisno Untoro, Apt yang lebih akrab dipanggil Koting, lahir di Yogyakarta, 27 Juni tahun 1965. Sebetulnya, menjadi apoteker apalagi polisi bukanlah cita-citanya. Cita-citanya adalah menjadi insinyur kimia. “Saya tertarik kimia sejak SMA. Sebelum di farmasi, saya pernah kuliah di Fakultas Teknik yang banyak mata kuliah kimianya,” ujarnya. Garis nasib kemudiasn menuntunnya masuk Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, tahun 1985. Hal ini membuat banyak perubahan. Aktifis mahasiswa terutama untuk kegiatan olahraga ini, selama masa kuliah mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi Program Perwira Bea Siswa Militer Sukarela ABRI (Milsuk ABRI). “Alhamdulillah diterima,” ujarnya berkaca-kaca. Setelah mengikuti pendidikan selama 9 bulan, ia resmi menjadi anggota POLRI dengan pangkat Letnan Dua, bertugas Pama di Polda DI Yogayakarta. Ditemui di ruang kerjanya di Rumah sakit Bayangkara R Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sutrino sedang sibuk mengurus pengadaan barang. “Ya, iinilah tugas saya. Kebetulan,

di rumah sakit ini yang memiliki sertifikat pengadaan hanya saya,” jelasnya. Sutrisno Untoro saat ini tercatat sebagai Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia bidang Kesejahteraan Anggota, berada di bawah Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat. Menurut Sutrisno banyak job di kepolisian yang sangat membutuhkan kompetensi seorang apoteker. Sayangnya, banyak apoteker yang tidak tertarik menjadi polisi sehingga kaderisasi berjalan lambat. Di Pusdokkes POLRI, apoteker sangat sedikit sehingga didominasi oleh tenaga kesehatan lain seperti dokter dan dokter gigi. Bapak lima anak ini terkenal supel, ramah dan mudah bergaul sehingga memiliki jaringan yang luas. “Mungkin, ini kunci kesuksesan, ya,” katanya. Dalam menjalani kehidupan, manusia memang tidak bisa sendirian. Sebagai makhluk social, manusia membutuhkan orang lain. Maka, Perbanyak silaturrahmi, karena silaturrahmi akan membuka pintu rejeki dan memanjangkan umur”, katanya mengutip hadis. (nun)
Edisi XII Maret - April 2011

Nunut Rubyanto

Perbanyak Silaturrahmi

37

TOKOH

do

k.

pr

iba

di

Dra. Yanieta Arbi Astutie, MM,M.Sc., Apt

Batas akhir bagi PBF
enjadi apoteker dan dosen di Fakultas atau Jurusan Farmasi, sudah hal yang lumrah. Tetapi, yang menjadi apoteker sekaligus dosen di Fakultas Kehutanan, boleh jadi hanya satu: Dra. Yanieta Arbi Astutie,M.Sc, MM,Apt. Ia terakhir tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat. Sebuah perjalanan yang unik dan panjang, sampai ia “terdampar” di Fakultas Kehutanan. Kelahiran 24 Januari 1969 ini baru saja menyelesaikan S2 di Fakultas Kehutanan Universitas gadjah Mada. Awalnya, ia bertugas di Balai Pengawas Obat dan Makanan

31 Agustus 2012

M

(Balai POM) Pontianak. Karena satu dan lain hal, ia hijrah menjadi dosen di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Yennie, panggilan akrab Yanieta, sekarang menjabat Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Kalimantan Barat. Seabrek kegiatan yang menyita waktu, tenaga dan pikirannya justru membuatnya selalu bersemangat. Di samping mengajar, Yennie tercatat sebagai pengusaha. Ia adalah salah satu pemilik Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang cukup ternama di Pontianak dan Kalimantan Barat. Ia juga memiliki perusahaan lain, yang bergerak di bidang transportasi dan konstruksi. Dihubungi saat melakukan koordinasi dengan GP Farmasi Kalimanatan Barat, Dinas Kesehatan dan Balai POM Pontianak, terkait rencana implementasi Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009. Yennie merasa ada yang salah dalam pemahaman teman-teman di PBF. Katanya, GP Farmasi Kalimantan Barat terutama yang bergerak di distribusi (PBF), merasa keberatan dengan makin dekatnya batas akhir implementasi PP No. 51 tahun 2009. Mereka mencoba meminta kelonggaran waktu transisi. “Saya jelaskan, batas akhir bagi PBF untuk memenuhi ketentuan dalam PP No 51 tahun 2009 adalah 31 Agustus 2012, kecuali PBF yang mengurus perijinan baru. Misalnya karena pindah lokasi atau memang baru berdiri,” katanya. Menurut Yennie, saat ini ada sekitar 58 PBF di Kalimantan Barat, yang berdasar ketentuan PP No. 51 tahun 2009, penanggungjawabnya harus seorang apoteker (selama ini asisten apoteker). Bagi asisten apoteker yang menjadi penanggungjawab PBF, batas akhir untuk melakukan penyesuaian dengan PP No. 51 tahun 2009 selambat-lambatnya adalah 3 tahun setelah diundangkan, berarti 31 Agustus 2012; masih cukup lama. Jadi, tidak ada alasan belum siap bagi PBF, karena lebih dari 4.000 apoteker baru setiap tahun yang siap mengisi posisi sebagaimana ketentuan PP No. 51/2009. “Kita coba dulu. Kalau ada masalah atau kesulitan, masalahnya di mana, kita sama-sama cari jalan keluarnya,” katanya. (nun)

38

Edisi XII Maret - April 2011

TOKOH
Sjahrir Hannanu
terasa dalam maknanya untuk Sjahrir, mengingat peran apiteker tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Ia berharap, apoteker mampu berdiri sebagai apoteker, di mana pun berada. Tentunya, ini terkait dengan kompetensi apoteker yang saat ini tengah digemakan. “Saya rasa, apoteker lebih mengerti tentang makna lagu ini. Lagu ini hanya gambaran saya tentang apoteker, tapi saya yakin IAI akan menterjemahkannya lebih dalam,” tuturnya. Keterlibatan Sjahrir dan Iffan dalam membuat dan mengaransemen lagu Hymne IAI, menjadi salah satu langkah baik dalam membangun IAI ke depan. Semoga Hymne IAI bisa membangkitkan semangat apoteker, untuk bekerja sesuai dengan jati dirinya, sehingga Apoteker bisa bersinar terang memancarkan citra sesuai pesan y g terkandung dalam Hymne. (vita) yang p g y

Hymne IAI: Pesan Pemusik untuk Apoteker U
sai pemutaran perdana Hymne IAI di Kongres dan Rakernas IAI Makassar, 9-12 Desember 2010, terlihat wajah puas pada penciptanya, Sjahrir Hannanu. Walau bukan seorang apoteker, suami Prof. Elly Wahyudin, Apt ini merasa senang bisa membuat sebuah karya uat untuk para apoteker. “Awalnya istri saya bilang, IAI belum punya lagu um Hymne. Saya tertarik membuatkan. Mungkin karena saya ungkin senang musik,” katanya. Syahrir memang penggemar ang dan pendengar musik. Kegemarannya menurun pada anak-anaknya. Dlam mencipta Hymne IAI, Sjahrir juga dibantu anaknya Muhammad Iffan Hannanu untuk menannanu

Dirimu terbit bagai mentari bersinar terang pancarkan citra darimu terharap insan IAI berpadu satu membangun bangsa. Dikau Apoteker Indonesia majulah emban tugas nan mulia Jadikan hadirmu jati dirimu tegakkan cita kemanusiaan. Dikau pejuang abdi profesi ikhlas senyum dalam karyamu cerminkan Bhineka Tunggal Ika Apoteker Indonesia. (Hymne IAI)
garransemen lagunya. “Saya membuatnya nya sekitar satu jam, tanggal 27 Januari jam 4 m sore,” katanya. Menjadi suami seorang apoteker, membuat bapak tiga anak ini bisa meresapi api keinginan dan cita-cita rekan apoteker. Dalam bait lagunya, ada sebuah bait, “Jadikan hadirmu jati dirimu”. Bait ini

Dani Rachadian

Edisi XII Maret - April 2011

39

PENDIDIKAN
Dani Rachadian

Sekolah Farmasi ITB

Menjaga Kualitas Lulusan, Tanggung Jawab Kami
Telah berdiri sejak 64 tahun yang lalu, pendidikan tinggi farmasi ini terus berkembang dan menjadi favorit.
Farmasi. Pada tahun 1973, terjadi perkembangan yang signifikan di ITB. Semua mahasiswa baru masuk Tahap Persiapan Bersama (TPB), dan tidak mendapat pendidikan di departemen mana pun. Diberlakukan sistem kredit semester (SKS). Mahasiswa dapat memilih mata kuliah yang diinginkan dengan jumlah maksimum 24 SKS per semester. Sistem ini memudahkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan. Kemudian, kurikulum diubah setiap 5 tahun, disusun berdasar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Selain Program Sarjana, Sekolah farmasi menyediakan Program Magister dan Program Doktoral. Ada 8 jalur pilihan untuk Program Magister dan Doktoral, yaitu Farmasi Analisis, Kimia Medisinal, Teknologi Farmasi, Biofarmasi, Farmakognosi-Fitokimia, Farmakologi-Toksikologi, Analisis dan Keamanan Makanan, dan Farmasi Rumah Sakit. Juga dibuka program pendidikan profesi bergelar apoteker, dengan lama studi 1 tahun. Pada tahun 1996, Departemen Farmasi ITB berkesempatan mendapatkan tempat baru, yaitu Laboratorium Teknologi (Labtek) VII, di

ekolah Farmasi ITB didirikan 6 Oktober 1947, dengan nama Departemen Farmasi di bawah fakultas yang bernama Faculteit voor Wiskunde and Natuurwetenschapen. Fakultas ini bagian dari Univertitas Indonesia. Pada 1 Februari 1949, namanya diubah menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Alam (FIPIA), namun tetap berada di bawah Universitas Indonesia. Struktur organisasi Departemen Farmasi sangat sederhana, hanya satu orang yang bertanggung jawab untuk mengatur departemen. Pada tahun 1953, untuk pertama kalinya warga negara Indonesia, Prof. dr. Rd Mhd Djuhana Wiradikarta, menjadi dekan of FIPIA. Pada 2 Maret 1959, Fakultas Teknik dan FIPIA digabung menjadi sebuah institusi baru, yaitu Insitut Teknologi Bandung (ITB). Departemen Farmasi menjadi bagian dari Departemen Kimia dan Biologi sampai 1961. Pada tahun 1973, Departemen Farmasi berada di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sekolah Farmasi ITB saat ini mempunyai 4 kelompok keilmuan. Yaitu Farmasetika, Farmakokimia, Farmakologi dan Farmasi Klinik serta Biologi

S

sebelah Gedung Teknik Elektro dan FMIPA. Dengan luas tanah 6579 m2, Departmen Farmasi ITB mengoptimalkan fasilitas dan bangunan untuk melayani mahasiswa dan stake holder. Banyak instrumen dan fasilitas modern diadakan, dan didukung staf berpengalaman. Semua ini membuat Departemen Farmasi ITB menjadi salah satu pendidikan farmasi terbaik di Indonesia. Berdasar SK Rektor ITB No. 222/ SK/1001/OT/2005, status Departemen Farmasi berubah menjadi Sekolah Farmasi. Mulai tahun 2006 memiliki 2 program studi untuk strata sarjana, yaitu Program Studi Science Technology Farmasi dan Program Studi Farmasi Klinik dan Komunitas. Dr. Daryono Hadi Tjahjono merupakan dekan ke-2 sejak nama Sekolah Farmasi ITB digunakan, beliau menggantikan Dr. Tutus Gusdinar Kartawinata yang acara timbang terima Pimpinan Sekolah Farmasi ITB dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2011. Daryono menjelaskan mengapa disebut Sekolah Farmasi ITB karena memiliki karakteristik keilmuan yang serumpun. Jaga Kualitas Pendidikan Diakui oleh Daryono bahwa Sekolah Farmasi ITB memiliki keunggulan lulusannya terutama di Program Studi Science Technology Farmasi, hal ini dapat dibuktikan bagaimana kiprah para alumni Farmasi ITB yang sukses menjadi pengusaha farmasi, baik di obat-obatan maupun kosmetik. Namun Daryono tetap berharap bahwa alumnus Sekolah Farmasi ITB juga bisa berkiprah di lembaga Pemerintah karena itu merupakan posisi yang strategis yang bisa membantu pengembangan kefarmasian Indonesia, melalui kebijakan-kebijakan yang lebih mendukung pengembangan teknologi kefarmasian. Sebagai lembaga pendidikan unggulan, tentunya Sekolah Farmasi ITB harus bisa menjaga kualitas pendidikan dan juga para lulusannya. Menurut Daryono saat ini Sekolah Farmasi ITB menerima hanya melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan ditambah mahasiswa luar negeri yang

40

Edisi XII Maret - April 2011

PENDIDIKAN
Botani Farmasi, Farmasi Bahan Alam, Farmakognosi, Produksi Bahan Alam, Bioteknologi Tumbuhan). Budaya Riset dan Penelitian Riset dan penelitian menjadi keunggulan utama Sekolah Farmasi ITB, tidak hanya dikembangkan untuk bidang akademik semata juga dalam pelayanan masyarakat, contohnya Sekolah Farmasi ITB telah memiliki labolatorium untuk pengujian bioavailabilitas dan bioekivalensi (BA/BE) sediaan obat, termasuk uji disolusi. Kegiatan ini merupakan kontribusi Sekolah Farmasi ITB dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan mutu sediaan-sediaan obat yang beredar di Indonesia. Cikal bakal unit ini adalah Laboratorium Biofarmasi Departemen Farmasi – FMIPA – ITB, yang telah memulai penelitian-penelitian biofarmasi sejak tahun 1987, pada saat pemerintah meluncurkan program obat generik berlogo. Unit ini melayani dan menjalin kerjasama dengan industri farmasi, untuk penilaian mutu produk dan atau pemenuhan kelengkapan pendaftaran obat jadi yang diproduksi. Selain itu peneliti-peneliti Sekolah Farmasi ITB sudah diakui kompetensinya oleh WHO (World Health Organization) untuk menjadi pendamping ahli dalam proses pengujian industri obat-obatan di Indonesia. Kemudian untuk pengembangan internal, Sekolah Farmasi ITB sudah mengirimkan staf-satf pengajarnya untuk melakukan tugas belajar ke
dok. SF ITB

luar negeri, seperti Perancis, Jepang, dan Jerman, sebagai upaya untuk bisa meningkatkan kompetensi mereka sehingga pada saatnya nanti bisa diandalkan untuk menggantikan para pengajar generasi sebelumnya yang akan memasuki masa pensiun. Upaya peningkatan kompetensi juga dilakukan melalui pengembangan penelitian dan riset di kalangan staf pengajar Sekolah Farmasi ITB. “Mudah-mudahan tahun 2014 nanti kita bisa mencapai jumlah penelitian dengan perbandingan 1:1 (satu dosen satu penelitian) dalam satu tahun”, ujar Daryono. Rencana dan Prospek di Masa Depan Daryono menjabat sebagai dekan sampai tahun 2014. dalam empat tahun kepemimpinannya, telah disiapkan berbagai program pengembangan Sekolah Farmasi ITB. Selain programprogram rutin, juga membuat penyesuaian sistem di Sekolah Farmasi ITB, terutama setelah ITB berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU) dan menjadi Perguruan Tinggi Pemerintah (PTP). Menurut Daryono perubahan yang paling signifikan adalah dalam hal pengelolaan keuangan. Namun beliau tetap optimis bahwa target yang telah ditetapkan akan bisa diraih, tentunya bila dilakukan dengan kerja keras dan kerjasama seluruh sivitas akademi Sekolah Farmasi ITB, sebagai wujud tanggung jawab kami memberikan yang terbaik bagi masyarakat, tutur Daryono mengakhiri sesi wawancara dengan majalah Medisina.(dra)

Dani Rachadian

Dr. Daryono Hadi Tjahjono. Dekan Sekolah Farmasi ITB

jumlanya tidak lebih dari 20% jumlah mahasiswa lokal. Sinyalemen bahwa sulitnya menjalani pendidikan di Sekolah Farmasi ITB diakui oleh Daryono. Mungkin ini disebabkan mahasiswa terutama yang mengambil program profesi Apoteker dituntut bisa membuat sediaan farmasi, hal itulah yang sering dirasakan menjadi kesulitan terbesar dari mahasiswa. Namun Daryono menjelaskan hal tersebut sebagai upaya untuk menjaga standar kelulusan mahasiswanya agar dapat memenuhi kompetensi yang dibutuhkan ketika mulai berkiprah di masyarakat. Selain sistem pendidikan yang ketat, Sekolah Farmasi ITB didukung oleh sarana penunjang pendidikan yang memadai , diantaranya dilengkapi berbagai macam labolatorium yang digunakan untuk empat Kelompok Keilmuan (KK) , yaitu KK Farmakologi-Farmasi Klinik (5 laboratorium: Farmakologi – Toksikologi, Imunologi, Anatomi dan Fisiologi Manusia, Simulasi Farmasi Klinik, Perhewanan), KK. Farmakokimia (7 laboratorium: Kimia Klinik dan Diagnostik, Kimia Medisinal, Farmasi Analisis, Mikrobiologi Analisis, Keamanan dan Analisis Makanan, Analisis Instrumen, Komputasi dan Pemodelan Obat), KK. Farmasetika (7 labolatorium : Dasar-dasar Sediaan Farmasi, Farmasi Fisika, Teknologi Farmasi Likuida Semisolida, Teknologi Farmasi Solida, Teknologi Farmasi Sediaan Steril, Farmakokinetik, Biofarmasi), dan KK. Biologi farmasi (5 labolatorium:

Aktifitas Mahasiswa di Labolatorium. Mahasiswa Lebih menguasai materi kuliah dengan eksperimen langsung.

Edisi XII Maret - April 2011

41

PROFIL PD
istimewa

Bunaken. Eksotisme alam yang menjadi magnet kota Manado sebagai Tuan Rumah Rakernas IAI2011

PROFIL PENGURUS DAERAH IAI SULAWESI UTARA

eserta Rakernas banyak yang mencibir, ketika Ketua Pengurus Daerah IAI Sulawesi Utara mengajukan bidding untuk menjadi tuan rumah Rakernas IAI dan Kongres Ilmiah tahun 2011, yang akan dilaksanakan akhir tahun ini. Bisa dipahami, karena Sulawesi Utara bukanlah propinsi dengan populasi apoteker yang tinggi. Juga belum memiliki Perguruan Tinggi Farmasi yang kuat. Ada dua Perguruan Tinggi Farmasi di propinsi Sulawesi Utara ,yaitu Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) dan Fakultas Farmasi Universitas Kristen Tomohon. Keduanya terbilang masih baru dan belum memiliki program profesi apoteker. Wajar ada yang bertanya-tanya, bagaimana bisa menyelenggarakan Rakernas dan Kongres Ilmiah, tanpa di back up fakultas farmasi yang mapan?

P

Berbenah Menjadi Tuan Rumah 2011
Namun, peserta juga tidak ada yang mempermasalahkan, Rakernas 2010 diselenggarakan di Makasar, Sulawesi Selatan, yang notabene berada di Indonesia Timur. Dan ini kali pertama, Rakernas dan Kongres Ilmiah dilaksanakan di luar Jawa. Ketika peserta memilih Sulawesi Utara, berari 2 tahun berturut-turut akan dilaksanakan di Indonesia Timur, tepatnya di Pulau Sulawesi. Dra. Lily Ranti, MM, Apt, Ketua PD IAI Sulawesi Utara, dengan sangat memukau mempresentasikan keunggulan Sulawesi Utara. Ia menunjukkan kesiapannya menjadi tuan rumah perhelatan bergengsi tahunan, yang dihadiri lebih dari 500 apoteker seluruh Indonesia. Nyatanya, PD IAI Sulut menang bidding dengan mengalahkan saingan utamanya PD IAI Sumatera Utara. Lily mengakui, memang Sulawesi

42

Edisi XII Maret - April 2011

Dani Rachadian

Dra. Lily Ranti, MM, Apt. Ketua Umum PD IAI Sulawesi Utara

Utara populasi apotekernya tidak sepadat di propinsi di Jawa atau Sulawesi Selatan yang jadi tuan rumah Rakernas dan Kongres Ilmiah tahun 2010. Juga, tidak banyak perusahaan swasta local yang bergerak di bidang farmasi di Sulawesi Utara. Namun, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Lily dan PD IAI Sulawesi Utara. Ternyata, Lily Ranti sudah mempersiapkan sebelumnya dan sudah

PROFIL PD
gurusan di tingkat cabang (kabupaten/ kota), “Awalnya susah bukan main, tapi akhirnya teman sejawat menyadari betapa penting arti organisasi profesi.” Pada 2010, Sulawesi utara menjadi salah satu propinsi sebagai pilot project pelaksanaan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) di apotek, dari Kementerian Kesehatan. Momentum ini dimanfaatkan PD IAI untuk melakukan konsolidasi organisasi dan penyiapan implementasi Peraturan Pemerintah No.51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian di Sulawesi Utara. Dengan inisiatif PD IAI, pilot project dikembangkan dan di multiplikasi ke apotek-apotek yang lain. Apoteker pendamping mulai dipopulerkan dan setiap pelayanan kefarmasian harus dilakukan oleh apoteker. Obsesi Lily, PP No.51/2009 harus mampu diimplementasikan Sulawesi Utara, walau jumlah apoteker masih sangat terbatas. Optimisme menatap masa depan, merupakan modal berharga untuk beranjak dari stagnasi menuju kondisi dinamis profesi apoteker. Sekali lagi, dengan dialek Manadonya Lily menegaskan, “Silakan datang ke Manado pada Rakernas IAI dan Kongres ilmiah tahun 2011 mendatang. Kami akan lakukan yang terbaik. Kami yakin, banyak yang akan membantu demi kesuksesan acara tersebut, bukankah torang samua basudara?” (nun)
istimewa

Penandatanganan Nota Kerjasama PD IAI Sulut dan BKKBN . Peningkatan kerjasama dengan lembaga lain.

melakukan koordinasi dengan Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Unsrat. Wajar jika dia sangat antusias agar Rakernas IAI 2011 dan Kongres Ilmiah dilaksanakan di Manado. Di tangan Lily Ranti, kegiatan apoteker di Sulawesi Utara maju pesat dan sangat dinamis. Tak heran bila Lily yang pada periode 2006-2010 adalah Ketua PD ISFI Sulawesi Utara, kembali terpilih untuk menakhodai PD IAI Sulawesi Utara periode 2010-2014. Sudah purna tugas dari PNS di Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara, Lily justru menemukan dunianya di organisasi profesi apoteker. Berbagai kegiatan dirancang dan dieksekusi dengan baik. Kegiatan yang cukup berhasil, membuat PD IAI Sulawesi Utara mendapat kepercayaan dari stake holder, antara lain Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota, Balai POM, BKKBN dan swasta. Pada 17 Februari 2011, dilakukan penandatangan kerjasama antara PD IAI Sulawesi Utara dengan BKKBN Propinsi Sulawesi Utara. Tujuannya untuk menjamin ketersediaan alat kontrasepsi bagi masyarakat dan mendistribusikannya melalui apotek-apotek yang ada di Sulawesi Utara. Konsolidasi yang dilakukan Lily, pada tahap awal adalah mengorganisir

Pengurus Daerah agar kepengurusan berjalan efektif, dan melakukan berbagai aktifitas yang muaranya bagaimana apoteker merasa memiliki organisasi profesinya, dan merasakan benefit yang besar sebagai anggota IAI. Diakui, organisasi profesi ini sudah cukup lama vakum dan tidak mampu memberi manfaat yang signifikan bagi anggota. Lily menyadari, apoteker selama ini kurang mampu bersosialisasi dengan baik dan menghabiskan waktunya dengan kegiatan rutin, di kantor mau pun di tempat praktek. Ketika ia mencoba menggerakkan roda organisasi, dengan cara membentuk kepenistimewa

PD IAI Sulut dan BKKBN. Bekerjasama mensukseskan program pemerintah di bidang Keluarga Berencana.

Edisi XII Maret - April Edisi XI Desember 2010 - Februari 2011

43

PROFIL USAHA
MARTHA TILAAR GROUP
terus meningkat. Pasar bebas kosmetik memaksa kita untuk meningkatkan mutu dan kualitas produk serta SDM.” Ada 3 hal penting lain yang ditekankan Martha Tilaar Group, untuk menjaga keselarasan. Tigal hal tersebut adalah: keselarasan dengan Tuhan, keselarasan dengan makhluk dan keselarasan dengan alam. Dari point yang ketiga, muncullah produk-produk trend warna Indonesia. Strategi Pasar Beberapa tahun ke depan, Martha Tilaar Group tidak semata ingin menjual produk ke manca negara, tapi sekaligus memperkenalkan budaya lokal Indonesia. Sejumlah hal telah dilakukan, untuk mencapai target dimaksud. Di antaranya, penekanan akan pentingnya Wild Cultivation. Menurut Nuning, bertanggung jawab pada alam adalah penting. Petani harus respek pada lahan; harus tahu berapa kali mereka layak panen. Tanaman apa yang ditaman dan apa manfaat tanaman lokal itu bagi dunia kesehatan. “Saat ini konsumen cenderung berpikiran bahwa produk from west is the best, padahal belum tentu cocok dengan kita. Produk kita bagusbagus, lho,” kata Nuning. Sebagian anggota masyarakat memang lebih memilih kosmetik dari luar, ketimbang buatan dalam negeri. Sejumlah pusat pertokoan di Indonesia, lebih memilih produk dari untuk di-display di mall-malll. Pemilik pusat belanja mungkin merasa, bahwa produk asli Indonesia belum layak. “Kami ingin menjadi nyonya di negara sendiri, tapi masyarakat tampaknya belum yakin untuk memilih produk bangsa sendiri.” Padahal, produk-produk Martha Tilaar sudah banyak beredar di sejumlah negara. Di sejumlah pusat perbelanjaan di Singapura, produk mereka sudah terpajang dan mendapat sambutan baik. Itu karena produk Martha Tilaar selalu tampil berbeda. Pemanfaatan sumber daya alam untuk bahan baku kosmetik, menjadi salah satu kiat untuk tampil beda dari yang lain itu. Sejak tahun 1987, Martha Tilaar memang mengangkat alam Indonesia sebagai tema produk kosmetiknya. Strategi ini cukup jitu. Tahun 1998,

Siap 1000% Hadapi Pasar Bebas Kosmetik
Martha Tilaar Group tak henti berinovasi. Lewat produknya, keindahan alam Indonesia ikut “dijual”. Harmonisasi ASEAN adalah momentum untuk meningkatkan kualitas produk dan SDM.
istimewa

P

ersaingan yang semakin keras di industri kosmetik, justru menyulut semangat Martha Tilaar Group. “Menyambut Harmonisasi ASEAN 2011, Martha Tilaar Group siap 1000%,” ujar Direktur CSR Martha Tilaar Group Nuning S. Barwa, yang juga menjabat President Perkosmi. Grup ini melihat sebagai hal yang positif, atas tumbuh kembangnya perusahaan kosmetik nasional. Hal ini sejalan dengan perkembangan perekonomian Indonesia. Tak ingin melaju sendirian, grup ini memberikan bimbingan kepada perusahaan-perusaan kosmetik yang baru berkembang. “Selain sebagai produsen kosmetik, Martha Tilaar menjadi semacam teaching scholl bagi perusahaan kosmetik atau bagi pemerintah dan mahasiswa,” kata Nuning. Maksudnyai, jika pemerintah atau perusahaan yang baru berkembang ingin belajar mengenai proses produksi, sanitasi, dokumentasi, Martha Tilaar dengan senang hati
Edisi XII Maret - April 2011

akan membantu. “Goverment bodies dari 9 negara ASEAN banyak belajar dari perusahaan kami,” tambahnya. Berbagi ilmu, tidak takut nanti jumlah pesaing bertambah banyak? Nuning menggelengkan kepala. Bagi Martha Tilaar, agar perusahaan bisa maju maka dibutuhkan persaingan. “Tidak mungkin kita lari sendiri di depan, tanpa ada yang di belakang. Dengan bertambahnya kompetitor, tandanya kita lebih pintar. Jangan melihat hal tersebut dengan pandangan yang sempit. Mengingat globalisasi di depan mata, jaringan perusahan kosmetik di Indonesia harus kuat. We growth together, it’s better than anything,” katanya. Martha Tilaar menggabungkan dua hal penting. Yang pertama bisnis entreupreneurship dan kedua sosial entrepreneurship. Bila keduanya berjalan beriringan, maka produk yang dihasilkan mau pun kualitas SDM akan memiliki nilai plus. Produk dan SDM adalah dua hal terpenting untuk memajukan iklim bisnis di tengah globalisasi. “Saat ini orientasi ekspor kami

44

PROFIL USAHA
saat krisis melanda Indonesia, Martha Tilaar tetap eksis dengan produk kosmetik alam “Pusako Minang”. Produk ini sangat laku di pasaran. Saat itu, untuk pertama kalinya dibuat lipstik dwi warna. Gebrakan ini membuat Martha Tilaar memperoleh 2 penghargaan, yaitu dari Mark Plus Startegic Forum Marketing dan Majalah SWA, serta Mark Plus Forum Marketing Majalah Gatra sebagai The first National Product of the year. Dari sini, Martha Tilaar makin percaya bahwa alam Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Hal ini, tentunya, layak diketahui oleh masyarakat dunia. Dari sukses produk “Pusako Minang”, tahun 1999 Martha Tilaar mengeluarkan produk alam Indonesia lainnya bertajuk “Mentari Pagi Bromo”. Lewat kosmetik ini ingin ditampilkan kecantikan alam Jawa timur, dengan memperlihatkan efek warna jingga di pagi hari. Sampai saat ini, lebih 10 produk kosmetika bertajuk alam Indonesia yang sudah diluncurkan ke pasar. Konsumen, Pemberi Inspirasi “Kebutuhan konsumen selalu menjadi inspirasi kami dalam membuat produk,” kata Nuning. Selain memenuhi kebutuhan konsumen, Martha Tilaar juga ingin membuat konsumen lebih pintar. Untuk itu, dilakukan edukasi kepada konsumen tentang pemilihan dan pemanfaatan kosmetik. Di sisi lain, pihak perusahaan menjadikan konsumen sebagai direct factor untuk pengembangan produk. Menghadapi pasar bebas ASEAN, konsumen bisa menjadi penyemangat dan inspirasi bagi pengembangan produk. “Kami ingin memberikan produk yang cocok, berkualitas dan range harga yang bervariasi dan terjangkau oleh konsumen,” kata Nuning. Menurutnya, Ibu Martha Tilaar sebagai pendiri Martha Tilaar Group memiliki hubungan emosional yang baik dengan konsumen dan selalu ingin memberikan yang terbaik. “Konsumen meng-explore keinginannya, kami mentransformasikan dalam bentuk produk,” katanya. (vit)
dok. pribadi

Apotek NOTRIA FARMA

Kawah Candra Dimuka

Calon Apoteker
“pejuang” bagi calon apoteker.

Tak banyak Apoteker yang konsisten dengan idealisme untuk memperjuangkan nasib apoteker, salah satunya Dra. Hindun HS,Apt. Melalui apotek miliknya, Hindun bermimpi mewariskan semangat

S

ekilas, Apotek Notria Farma berbeda dengan apotek umumnya. Bangunannya lebih sebagai tempat tinggal. Sejak awal, apotek di Jalan Dr. Benyamin, Purwokerto, Jawa Tengah, ini memang dikonsep sebagai “Rumah Apoteker”. Menurut pemilik sekaligus apoteker pengelola apotek ini, Dra. Hj. Hindun HS, Apt, “Pasien yang datang memang

untuk bertemu apoteker, bukan sekedar mendapatkan obat.” Apotek Notria Farma didirikan Hindun pada 1 Juni 1988. Apotek didisain lebih sebagai tempat praktek dan pengabdian apoteker untuk mengembangkan profesi, ilmu. Juga sebagai media sosialisasi apoteker kepada masyarakat. Sebagai pensiunan pegawai negeri
Edisi XII Maret - April 2011

45

PROFIL USAHA
memenuhi syarat sebagai tempat untuk pendidikan calon apoteker, melakukan pelayanan dengan baik kepada pasien sesuai peraturan perundang-undangan dan kode etik apoteker, serta memiliki pasien dengan variasi kasus yang beragam. Calon apoteker yang PKL/PKPA di Notria Farma, harus tahan banting karena Hindun sangat keras dalam membimbing. Mereka harus belajar ulang tentang kemampuan (keilmuan dan ketrampilan) farmasetis sebelum PKL/PKPA di sini. Semua pelajaran tentang kefarmasian yang terkait dengan pelayanan di apotek di-review, dan calon apoteker dibebani dengan bermacam tugas terkait pelayanan yang dilakukan hari ini, serta membuat perencanaan untuk besok. Walau shift berakhir jam 22.00, namun calon apoteker belum bisa istirahat karena harus mendiskusikan kasus yang dijumpai hari itu, dengan berbagai tinjaun dari sisi patologi, penatalaksanaan sampai farmakoterapi. Farmakoterapi selalu disertai informasi yang sejelas-jelasnya tentang obat yang diberikan, tujuan pengobatan, mekanisme kerja obat, aturan pakai dan durasi, efek samping yang mungkin timbul serta saran atau supportif agar pasien segera sembuh dari penyakitnya. Atau mengurangi penderitaan, antara lain aktivitas atau makanan yang sebaiknya dilakukan atau dihindari. Tak banyak yang mampu bertahan. Sekarang, yang masih konsisten mengirim calon apotekernya hanya beberapa perguruan tinggi farmasi. Antara lain Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Beberapa fakultas farmasi yang lain mundur, karena tidak sanggup mengikuti pola bimbingan dan pendampingan yang dilakukan Hindun. Terkait masalah ini, Hindun hanya tersenyum dan berujar, “Tidak semua orang bisa melewati Kawah Candra Dimuka. Hanya orang yang terpilih yang bisa melewatinya,” katanya. (nun)
dok. pribadi

Konseling dan Bimbingan. Ibu Hindun tidak segan memberikan bimbingan dan pelajaran pada para juniornya.

sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Banyumas, Hindun memiliki banyak waktu untuk mengelola apotek dan membimbing calon apoteker. Di apoteknya, ada dua apoteker pendamping, yang berpraktek paruh waktu sehingga pelayanan kefarmasian selalu dilakukan oleh apoteker. Terdapat papan nama yang menunjukkan, pada jam tertentu siapa apoteker yang sedang praktek. Tidak seperti lazimnya apotek, Notria Farma buka dari jam 08.00, dan tutup saat apoketer Hindun merasa lelah dan harus istirahat yaitu jam 01.00-02.00 dini hari. Hindun sebagai apoteker memiliki dedikasi luar biasa, untuk membaktikan keahliannya kepada masyarakat. Tak heran bila Notria Farma memiliki konsumen yang sangat loyal. Meski dikenal sebagai sosok yang tegas, tak kenal kompromi dan konsisten, Hindun sangat ramah dan pintar melayani pasien; bahkan sangat care. Dengan sabar, ia akan mendampingi dan melayani pasien, membantu kebutuhan pasien (need assessment), memilihkan obat yang paling tepat dan rasional sesuai kondisi pasien. Termasuk, mempertimbangkan harga yang paling sesuai untuk pasien.

Tidak semua permintaan obat, baik melalui resep dokter mau pun untuk swamedikasi (self-medication) bisa dilayani. Rasionalitas dan efektifitas menjadi pertimbangan utama bagi Hindun dan apoteker yang praktek di sini. Artinya, pada setiap pasien yang datang dilakukan serangkaian pemastian, agar pasien mendapatkan obat yang paling tepat sesuai kebutuhannya dan dengan resiko yang sangat minimal. Di samping sebagai sarana melakukan praktek kefarmasian, apotek ini juga aktif mendukung kegiatan pendidikan bagi calon apoteker. Hindun sangat konsen membantu mempersiapkan calon apoteker yang memiliki komitmen terhadap pasien dan pelayanan kefarmasian, dan memiliki idealisme untuk membangun profesi apoteker. Salah satunya dengan menyediakan apoteknya sebagai tempat Praktek Kerja Lapangan/Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKL/PKPA) bagi calon apoteker baru. Sebagai tempat PKL/PKPA, Notria Farma memenuhi persyaratan sarana prasarana mau pun komitmen apotekernya, untuk membimbing dan mendampingi calon apoteker. Sarana dalam pengertian bahwa secara fisik

46

Edisi XII Maret - April 2011

PROFIL USAHA
PT. KIMIA FARMA TBK,
dibandingkan dengan perusahaan kosmetik lain, tidak membuat Kimia Farma getir. Target konsumennya adalah wanita yang ingin merawat kulitnya menjadi sehat, bukan hanya sekadar cantik. Produk kosmetik yang mengklaim hal yang sama sangat banyak, namun KF tetap menjalankan marketing yang sehat dalam menjual produknya. “Masyarakat Indonesia memiliki perhatian yang tinggi pada produk luar negeri, seperti produk dari Eropa atau Amerika. Padahal, iklim di sana dan iklim di negara kita berbeda. Jadi, belum tentu cocok,” Kata Eva. Pembelajaran kepada masyarakat ditempuh Kimia Farma dalam melakukan strategi marketing. Pada acara talkshow, Kimia Farma melakukan demo perawatan wajah yang baik. Juga, dijalin kerjasama dengan dokter spesialis kulit. “Dokter kulit kan paham tentang keadaan kulit seseorang. Kimia Farma berbicara secara kesehatan dan estetikanya,” Eva menambahkan. Dinyatakan bahwa masyarakat kini semakin mengenal produk kosmetik KF, sebagai produk yang diperhitungkan. Notifikasi Permudah Sistem Di sela pro kontra mengenai Harmonisasi ASEAN untuk kosmetik, Kimia Farma justru merasa diuntungkan dengan sistem yang baru ini. “Sistem baru ini pastinya membuat semuanya menjadi lebih mudah dan simple. Produk kita bisa makin cepat diedarkan. Tidak seperti dulu,” katanya. Tantangan dari notifikasi adalah meningkatnya persaingan. Bagaimana pun, Eva optimistis produknya bisa bertahan. “Yang kita berikan kepada konsumen berbeda. Yang kami tawarkan utamanya adalah produk perawatan kulit yang sehat. Lalu, menjadi cantik secara natural,” tuturnya. Eva yakin, produk KF bisa bersaing dari sisi harga. Sejauh ini, produk kosmetik KF telah masuk ke pasar Malaysia dan Singapura. Dalam pasar bebas ini ditargetkan setiap tahun KF bisa melaunching produk baru. Fokus

Notifikasi Permudah Sistem
Pada dasarnya semua wanita cantik, tinggal bagaimana merawat diri. Produk kosmetik KF tidak hanya menjual mimpi. Wanita harus cantik secara natural.
Dani Rachadian

ama Marcks sudah tak asing lagi di telinga konsumen kosmetik Indonesia. Produk bedak tabur ini telah dipakai sekian lama oleh wanita Indonesia. Berangkat dari kepercayaan masyarakat pada produk ini, PT Kimia Farma, Tbk terus mengembangkan sayap untuk membuat produk kosmetik. Walau terbilang pendatang baru di dunia kosmetik, nama besar Kimia Farma (KF) tidak perlu diragukan. Menghadapi Harmonisasi ASEAN per Januari 2011, mereka sangat siap. “Bahkan, kami sudah siap sebelum Harmonisasi diluncurkan,” ujar Marketing Manager OTC dan Kosmetik, Dra. Eva Fairus, Apt. Dari segi CPKB, Kimia Farma telah memenuhi syarat. Pertama kali yang dilakukan ketika ingin membuat produk, memang harus memenuhi persyaratan seperti GMP; dalam hal ini CPKB untuk kosmetik. Menurut Eva,

N

48

Edisi XII Maret - April 2011

Dani Rachadian

Dra. Eva Fairuz, Apt. Marketing Manager OTC dan Kosmetik Kimia Farma

saat ini produk KF belum beragam jenisnya. KF masih fokus pada produkproduk perawatan dan kesehatan kulit. “Kami belum merambah ke produk riasan. Prinsip kami adalah membuah kulit muka orang sehat dulu. Jika kulit mereka sehat, pakai riasan apa pun akan bagus hasilnya,” kata Eva. Segmentasi yang lebih sempit

PROFIL USAHA
Dani Rachadian

Dra. Eva Fairuz. Kosmetika yang digunakan harus aman bagi penggunanya.

utama tetap pada perawatan kesehatan dan kecantikan natural. Sedangkan target jangka menengah, dapat menembus pasar ASEAN. “Kami kerap beriklan di media, selain melakukan demo perawatan kulit. Kami berusaha untuk tidak sekedar menjual mimpi.

Dalam beriklan kami cantumkan sesuatu secara benar kemanfaatannya,” tuturnya. So Beautiful So Natural Menjadikan wanita ndonesia cantik dan natural atau tidak ‘menor’, adalah

keinginan KF. Selaku produsen kosmetik, KF menyadari bahwa setiap wanita memiliki impian untuk cantik. Yang perlu ditekankan adalah kenyataan bahwa sebenarnya semua wanita itu cantik, tinggal bagaimana merawat diri. Bagi Eva, konsumen adalah rekan yang perlu diedukasi. KF tidak ingin meletakkan sisi komersil dari produknya, tanpa membimbing pelanggan untuk pintar merawat diri dengan kosmetik. “Memakai kosmetik itu ibarat difoto, fotografer yang tau angle mana seseorang bagus kalau difoto. Begitu juga kosmetik, konsumen kami beri pengarahan seperti apa kosmetik yang cocok dan sehat untuk kulit mereka,” tambah Eva. Di era pasar bebas nanti, ia berharap jangan sampai ada wanita yang menjadi korban iklan.(vit)

Edisi XII Maret - April 2011

49

PROFIL USAHA
Kosmetik Larissa
di berbagai kota di Jawa, Kosmetika Larissa memasuki pasar umum, walau disadari hal itu sangat beresiko dan high cost. Disadari, produk semestinya beredar di masyarakat dan bukan hanya di Salon Larissa Aesthetic Center. Penanggung jawab produksi adalah Pricilla Rosalyna Maranatha, S.Si Apt dan penanggungjawab Quality Control Vivi Listyani Wibowo S.Farm, Apt, yang pada 2010 telah mengantongi sertifikat CPKB (Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik) dari Badan POM. Menghadapi Harmonisasi Kosmetika ASEAN, Pricilla mengharapkan agar standar yang digunakan semakin pasti dan tidak berubah-ubah. Misalnya penggunaan sulfur untuk kosmetika anti acne masih dibolehkan, namun di ASEAN sudah tidak boleh. Hydroquinone juga masih dimungkinkan, tapi di negara lain sudah tidak boleh sama sekali. Jika nanti kosmetika dari luar dipasarkan di Indonesia, konsumen yang sebagaian besar masih latah dan tergila-gila pada produk luar negeri akan cenderung memilih produk impor. Apalagi dengan harga yang lebih murah. Di sisi lain, Rosalyna mengingatkan pentingnya pengawasan. “Bagaimana mengawasi pemalsuan produk, jika registrasi ijin edar hanya dengan notifikasi. Selama ini, di Indonesia banyak dijumpai produk illegal. Kita sedih karena betapa mudahnya produk illegal bias didapatklan,” katanya. Dan menurut Vivi Listyani, masalah pembakuan row material juga mendesak untuk dipastikan. “Misalnya, kita diminta oleum cocos (minyak kelapa) cosmetic grade, memangnya ada? Demikian juga gula untuk cosmetic grade,” katanya. Beberapa aturan juga dinilainya kurang realistis. Misalnya, kita diminta menjelaskan secara rinci komponen bahan baku. Padahal dari supplier kita hanya mendapatkan emulsifier (Emusifying agent) yang sudah jadi dan tidak ada keterangan apa saja isinya. (nun)

Optimistis hadapi Harmonisasi ASEAN
Perusahaan ini awalnya adalah Salon Larissa. Seiring dengan berjalannya waktu, kebutuhan produk untuk salon terus meningkat, sehingga didirikanlah pabrik kosmetik. Upaya cerdas membangun captive market.

H

armonisasi pasar kosmetika ASEAN, mungkin membawa dampak yang signifikan bagi pelaku usaha dan perilaku konsumen kosmetika di Indonesia. Dengan Hrmonisasi ASEAN, produkproduk dari seluruh negara ASEAN dapat dipasarkan tanpa hambatan. Dan untuk bisa beredar di pasaran pun, proses registrasi produk untuk ijin edar kosmetika cukup dengan notifikasi. Bagaimana prospek industry kecil kosmetika di Indonesia memasuki era Harmonisasi ASEAN? PT Larissa Anugerah Sejahtera, yang memroduksi kosmetika dengan merek dagang LARISSA, harmonisasi ASEAN dihadapi dengan sikap optimis. Karena, dengan menggunakan standar internasional, maka aturan dan peraturan akan menjadi transparan dan realistis. Aturan yang sederhana dan berkepastian, memang menjadi syarat mutlak bagi pelaku usaha untuk bisa tenang menjalankan usahanya. Perusahaan ini, awalnya berupa Larissa Salon, bergerak di bidang jasa

perawatan kulit dan rambut, didirikan oleh R. Ngt. Poedji Limawati pada 11 Juni 1984. Seiiring dengan berjalannya waktu, Larissa Salon berubah menjadi Larissa Skin Care and Hair Treatment. Pada tahun 2000, kebetulan ada kerabat yang juga seorang apoteker, diputuskan untuk mendirikan home industry kosmetik Larissa. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan Larissa Skin Care and Hair Treatment. Digunakan label Natural Beauty, kemudian berubah dengan merek dagang Larissa. Karena perkembangan yang pesat antara industry kosmetika Larissa dengan Larissa Skin Care and Hair Treatment, secara manajemen kemudian dipisah. Produksi kosmetik berada di bawah PT Larissa Anugerah Sejahtera, Larissa Skin Care and Hair Treatment di bawah PT Larissa Aesthetic Center. Kini telah dibuat lebih dari 40 produk kosmetika Larissa, dan saat ini masih sebatas beredar di Larissa Aesthetic Center untuk melayani pelanggan salon. Karena telah memiliki captive market outlet 15 buah, yang tersebar

50

Edisi XII Maret - April 2011

KOLOM

Notifikasi Kosmetika: Konsumen jadi Kelinci Percobaan?
Oleh : Nunut Rubiyanto
dikenal masyarakat dan digunakan secara luas. Beberapa produsen atau pemegang lisensi merek membantah, dan mengatakan bahwa produk tersebut telah dipalsu oleh orang yang tidak bertanggungjawab dengan mengorbankan kepentingan konsumen dan merusak nama produk yang dipalsukan. Yang jelas, produk tersebut telah beredar luas di pasaran dan telah digunakan konsumen dalam waktu yang tidak diketahui, bisa singkat mungkin juga lama. Artinya bahan-bahan berbahaya tersebut seperti mercury yang merupakan zat karsinorium, produk komestik tersebut terbukti mengandung zat berbahaya dan zat warna, seperti merkuri, asam retinoat, zat warna rhodamin dan lainnya. Efek penggunaan kosmetika yang mengandung merkuri, dimulai dengan perubahan warna yakni bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit, kerusakan permanen pada susunan saraf, otak, ginjal dan gangguan janin. Dalam jangka pendek, dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah, diare dan kerusakan ginjal serta merupakan zat karsiogenik (menyebabkan kanker). Efek penggunaan kosmetika yang mengandung

P

ada 11 Juni 2009, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dr. Huniah Rubiana Thamrin Akib, MS, M Kes, SpFk, mengeluarkan Publik Warning NO. KH.00.01.43.2503 mengenai penarikan peredaran 70 (tujuh puluh) item kosmetik yang mengandung bahan berbahaya / bahan dilarang merkuri, hidrokinon, asam retinoat, zat warna merah K.3 (CI 15585), merah K.10 (rhodamin B) dan jingga K.1 (CI 12075). Ke-70 item tersebut terdiri dari 18 (delapan belas) produk kosmetika rias wajah dan rias mata mengandung bahan berbahaya/bahan dilarang, 7 (tujuh) produk kosmetika pewarna rambut mengandung bahan berbahaya/ bahan dilarang dan 1 (satu) produk kosmetika sediaan mandi mengandung bahan berbahaya /bahan dilarang. Yang terbanyak adalah 44 (empat puluh empat) produk kosmetika perawatan kulit mengandung bahanberbahaya / bahan dilarang. Sangat mengejutkan, karena beberapa produk ternama juga tercatat dalam public warning tersebut. Selain itu, terdapat nama produk yang

Pemusnahan Kosmetika Ilegal dan Palsu. Sudah amankah konsumen kosmetika Indonesia?

genik, telah terpejan ke dalam tubuh manusia, dan itu sangat berbahaya. Tahun sebelumnya, pada 26 November 2008, Badan POM juga melakukan recalling 27 produk kosmetika yang beredar di Indonesia dengan alasan yang sama. Produk yang ditarik tersebut terdiri dari 8 (delapan) produk lokal, 8 (delapan) tidak jelas asal usulnya, dan 11 (sebelas) impor dari Jepang dan China. Kepala BPOM saat itu mengatakan, berdasar hasil investigasi dan pengujian laborato-

asam retinoat yakni kulit kering, rasa terbakar dan cacat pada janin. Pemakaian jangka panjang berbahaya untuk tubuh. Hidrokuinon boleh dipakai dan masuk dalam kategori obat keras (harus dengan resep dokter.) Jika berlebihan akan membuat kulit mudah teriritasi, rasa terbakar pada kulit. Penggunaan bahan tersebut dalam sediaan kosmetik dapat membahayakan kesehatan dan dilarang digunakan, seperti tercantum dalam Peraturan Menteri
Edisi XII Maret - April 2011

51

KOLOM
Kesehatan RI No. 445/MENKES/ PER/V/1998, tentang Bahan, Zat Warna, Substratum, Zat Pengawet dan Tabir Surya dalam Kosmetik dan Keputusan Kepala BPOM No.HK.00.05.4.1745, tentang Kosmetik. Tahun 2011, Indonesia secara resmi memasuki era Harmonisasi Asean di bidang kosmetika. Suatu produk yang telah mendapatkan register dan ijin edar di suatu negara Asean, otomatis mendapat ijin edar di seluruh negara Asean, tanpa harus melalui registrasi lagi. Melihat pengalaman masa lalu, pasti akan merasa ngeri ketika tahun 2011 ini Indonesia masuk dalam skema pasar bebas ASEAN untuk produk kosmetika, salah satu standar yang disepakati bersama adalah bahwa registrasi produk kosmetika hanya melalui notifikasi. Dengan notifikasi, produsen yang semula harus mendaftarkan secara fisik produk kosmetika yang akan mendapatkan registrasi dan ijin edar, sekarang cukup mencatatkan produk beserta dokumennya secara on-line. Semula, untuk memperoleh nomor registrasi dan ijin edar, produk kosmetika harus dilakukan uji pre market. Artinya, dilakukan serangkaian uji pemastian bahwa produk tersebut aman dan tidak mengandung bahan-bahan yang dilarang. Kini, uji dilakukan setelah produk beredar (post market). Uji post market dilakukan melalui post market surveillance atau product safety evaluation, dengan cara sampling terhadap produk kosmetika yang telah beredar di pasaran. Bila produk yang telah dinyatakan lolos uji pre market saja di pasar terjadi penyelewengan, yaitu didapati produk yang tidak sesuai dengan ketika di daftarkan, bagaimana dengan uji post market? Berapa item produk yang mampu di uji post market misalnya dalam setahun, dibandingkan dengan item produk yang beredar? Bagaimana nasib konsumen yang telah menggunakan suatu produk kosmetika yang ternyata setelah diuji post market dinyatakan terlarang dan harus ditarik dari peredaran? Apa tanggung jawab pemerintah yang telah menyerahkan perlindungan hak-hak warga negaranya sebagai konsumen kepada produsen? Bagaimana jika setelah suatu produk kosmetika yang beredar di pasar dinyatakan mengandung bahan-bahan yang dilarang, kemudian harus ditarik dari peredaran tapi ternyata produsen atau importer berdalih bahwa produknya telah dipalsukan? Konsumen kosmetika tidak lebih dari sekedar kelinci percobaan? Hal ini perlu ditegaskan, mengingat konsumen kosmetika hakekatnya hanya mengkonsumsi klaim atas kemanfaatan, apalagi perilaku konsumen Indonesia yang cenderung tidak cerdas dan mudah terbuai bujuk rayu dan serbuan iklan. Singkatnya, sederetan pertanyaan tersebut menuntut kesiapan pemerintah, bukan sekedar retorika namun aksi nyata untuk melakukan empowerment kepada masyarakat selaku konsumen, sekaligus melakukan law enforcement terhadap aturan yang mungkin sudah sangat ideal, sehingga masyarakat bukan sekedar kelinci percobaan. *)Apoteker praktisi di apotek, Ketua PD IAI DI Yogyakarta, Wakil Sekjen PP IAI

SAYA BERMINAT BERLANGGANANMAJALAH
6 Edisi

52

Edisi XII Maret - April 2011

INFO SEHAT
diperoleh dari badan yang sehat dan bugar. Kesehatan dan kebugaran diperoleh salah satunya dari kesehatan ususa. Dalam usus, terdapat kira-kira 20% bakteri baik (bermanfaat), 30% bakteri jahat dan 50% bakteri netral. Kelompok yang memegang peranan penting adalah bakteri netral. Menurut Dr. Shinya, satu cara mencegah bakteri netral menjadi berbahaya adalah dengan mengonsumsi makanan terfermentasi. Lactobacillus adalah bakteri baik yang lazim dalam usus manusia. Lactobacillus juga adalah bakteri yang diperlukan untuk fermentasi yogurt, keju, kecap, acar dan cuka. Kekebalan terhadap penyakit berkurang, jika kondisi usus buruk. Dua pertiga sel imun dalam tubuh berkumpul dalam saluran pencernaan. Bakteri bermanfaat seperti lactobacillus, mengaktifkan sel imun. Jika tak dilakukan upaya untuk memperbaiki kesehatan usus, kekuatan kekebalan dan daya hidup akan melemah sehingga kita rentan terhadap penyakit gaya hidup, penyakit menular, penyakit alergi dan penyakit lain. Makanan hasil fermentasi sangat diperlukan untuk memasok enzim, yang menjadi kunci kesehatan manusia. Sebagian besar enzim dibuat oleh bakteri usus. Ketika lingkungan usus terganggu karena bertambahnya bakteri jahat, produksi enzim terganggu. Makanan hasil fermentasi dan makanan yang banyak mengandung enzim, bisa menggantikan enzim dalam tubuh. Fungsi enzim untuk membantu aktivitas kehidupan, bukan hanya untuk pencernaan tapi juga untuk metabolisme, pernafasan, pembuangan dan detoksifikasi. Berat badan ideal, menurut teori body mass index ( BMI ) adalah antara 18.5 – 24.9 = berat badan dalam kg dibagi tinggi dalam meter kuadrat, atau tinggi dalam cm – 100 = berat dalam kg, kemudian dikali 90% (untuk pria) atau x 80% (wanita). Kesehatan menurut Undang-undang Kesehatan, adalah sehat secara fisik, mental, spiritual mau pun social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis. Untuk mencapai hidup
Edisi XII Maret - April 2011

Rahasia Tubuh Sehat dan Umur Panjang
adan sehat dan umur panjang adalah idaman setiap orang. Hidup sehat memang mahal, tapi jauh lebih murah dari pada jatuh sakit. Ungkapan Barat “You are what you eat”, kita adalah apa yang kita makan, memang benar dan gizi dalam makanan sehari-hari adalah kunci kesehatan. Panduan untuk hidup sehat era tahun 1950-1970-an adalah 4 sehat 5 sempurna, sedang tahun 1980-an di samping makanan yang bergizi, juga kurangi lemak dalam makanan. Pada tahun 1990-an, panduannya adalah kurangi konsumsi karbohidrat dalam menu makanan. Tahun 2000-an, temanya lain lagi, yaitu gizi seimbang. Gizi seimbang akan membuat badan sehat dan berat badan ideal. Badan sehat adalah badan yang tiada penyakit dan daya tahan tubuh (imunitas) tinggi. Menurut Dr. Hiromi Shinya, Gurubesar pada Albert Einstein College of Medicine, A.S., daya tahan tubuh berkurang jika kondisi usus buruk. Kondisi usus tergantung keseimbangan antara bakteri baik, bakteri jahat dan bakteri netral di usus. Bakteri baik adalah bakteri yang memroduksi enzim anti oksidan. Jika radikal bebas masuk ke usus, bakteri baik akan mati dan memroduksi enzim anti oksidan yang akan menetralkan

B

radikal bebas. Bakteri jahat bekerja membusukkan bahan makanan yang tidak dapat dicerna, dan umumnya dianggap beracun. Bahan yang tidak dapat dicerna menimbulkan gas-gas beracun. Bakteri sedang (netral) jika dikelilingi bakteri baik, akan ikut memroduksi enzim antioksidan. Tapi jika dikelilingi bakteri jahat, akan ikut memroduksi enzim teroksidasi dan berubah menjadi bakteri jahat. Makanan, kebiasaan-kebiasaan dan gaya hidup kitalah yang mengatur keseimbangan ini, apakah mengubah bakteri sedang menjadi bakteri baik atau jahat. Dengan ditemukannya antibiotika dan vaksin, telah banyak mengurangi angka kematian bayi dan balita akibat penyakit menular dan menjadikan peningkatan usia harapan hidup. Obat-obatan yang disintesa secara kimiawi, adalah barang asing bagi tubuh dan bisa bersifat racun. Antibiotika tidak hanya menghancurkan kuman yang diincar, tetapi juga membunuh bakteri baik di usus. Antibiotika bukan jawaban lengkap atas penyakit menular. Satu-satunya cara agar kita menang melawan penyakit adalah dengan memperkuat system kekebalan tubuh. Sistem kekebalan yang kuat, akan mengurangi peluang terkena penyakit. Kekebalan tubuh

53

INFO SEHAT
sehat, tergantung beberapa faktor: 1. Faktor fisik, yaitu menu makanan, olah raga , istirahat dan gaya hidup yang baik (life style). 2. Faktor mental yaitu tiada stress, tiada benci, marah dan cemburu / iri hati serta tiada dendam, memiliki kebahagiaan dan cinta serta berfikir positif. 3. Faktor lingkungan, yaitu sanitasi yang baik, hindari polusi padat, cair, gas, gelombang elektromagnit dan sinar UV. 4. Faktor spiritual, yaitu memiliki rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Yang Maha Kuasa, memiliki rasa cinta terhadap sesama dan alam serta selalu berdoa Makanan yang baik, menurut Shinya, terdiri dari 85% makanan nabati dan 15% makanan hewani (tidak lebih dari 85-100 gram/hari atau 1 gram/kg berat badan). Makanan nabati terbagi menjadi 50% biji-bijian, beras coklat, roti dari gandum utuh (kasar), kacangkacangan, 30% berasal dari sayur hijau dan kuning serta umbi-umbian seperti kentang, ubi jalar, bit dan sayur laut, 510% buah-buahan. Boleh makan sate tiap hari, tapi bukan sate kambing atau sate sapi, tapi sate nenas, apel, papaya dan timun. Protein hewani terdiri dari ikan jenis apa pun, daging unggas, sapi, telur atau produk kacang kedelai. Makanan yang kita makan adalah kehidupan kita sendiri. Kita mengambil kehidupan dari buah dan sayuran, mengubahnya menjadi daya hidup kita. Sayuran yang menggunakan pestisida dan pupuk kimia berlebihan, akan mengurangi daya hidup yang tersedia dalam sayuran dan buah yang kita makan. Olahraga yang sesuai adalah yang secukupnya, sesuai usia seperti jalan kaki, berenang, tenis, bersepeda, golf dan aerobik. Yang dimaksud life style adalah “penyakit gaya hidup”, seperti tiap hari sebagai penghisap berat (merokok), peminum berat (minuman keras), pemakan berat (banyak mengkonsumsi daging, sebaliknya sedikit mengonsumsi buah dan sayuran) serta kurang berolahraga. Kesemua itu menimbulkan radikal bebas dalam tubuh, yang merugikan tubuh. Stress, marah, dendam dan sebagainya meningkatkan sekresi kortisol dalam tubuh, yang akan meningkatkan retensi natrium, peningkatan tekanan darah dan kadar gula darah. Faktor lingkungan seperti sanitasi, berpengaruh pada penyakit menular seperti diare, DBD, malaria dan sebagainya. Polusi, sinar UV dan gelombang elektromagnit menghasilkan radikal bebas dan bisa merusak protein dalam sel-sel. Protein yang rusak terbungkus dalam kantong untuk dipecah dan dibuang oleh enzim. Proses ini disebut detoksifikasi intraseluler. Perusakan protein terjadi setiap hari, proses detoksifikasi juga terjadi setiap hari. Jika protein yang rusak lebih besar dari proses detoksifikasi, terjadi proses penuaan. Kalau lebih banyak lagi akan terjadi penyakit degenerative seperti amnesia, diabetes dan kalau sampai merusak DNA akan menjadi tumor, yang bila pecah dan menyebarkan meningkat menjadi kanker. Secara umum, tiap sel membela diri kalau kehidupan terancam lewat interaksi rumit tiga system: - Detoksifikasi intraseluler. Yang bekerja sebagai petugas kebersihan (detoksifikasi) ini adalah enzim. Oleh Dr. Shinya disebut Newzim, karena kerjanya membantu memperbarui sel-sel makhluk hidup. Newzim adalah kelompok enzim yang berfungsi ketika kehidupan terancam, berbeda dengan dengan enzim pencernaan atau enzim metabolism. - Kekebalan alami , bawaan dari lahir, di mana sel darah putih memerintahkan limfosit membuat antibody untuk menghancurkan kuman. - Apoptosis, adalah penghancuran sel sebagai pertahanan terakhir. Bila sel sarat dengan benda asing seperti sampah atau kemasukan virus atau bakteri yang terlalu kuat untuk dilawan dengan detoksifikasi seluler atau kekebalan alami, disebut juga bunuh diri sel. Tiga sistem ini disebut juga tiga kegiatan inti penyelamat hidup. Selain kekebalan alami, ada kekebalan dapatan. Satu kuman memasuki tubuh, sebagai antigen, tubuh mengenali kuman tersebut dan membentuk antibody untuk mempertahankan diri. Suatu kekebalan dapatan berupa antibody hanya ampuh melawan satu penyakit saja. Newzim tidak hanya melawan infeksi, tetapi juga mampu mengurai dan mendetoksifikasi tiap sel dalam tubuh. Setiap makhluk hidup membutuhkan enzim. Binatang herbivora mendapatkan enzim dari daun tana-

54

Edisi XII Maret - April 2011

INFO SEHAT
man, sebagai makanan pokok. Binatang pemakan buah-buahan memperoleh enzim tambahan dari buah-buahan. Binatang carnivora memperoleh enzim tambahan dari makanan yang dimakannya dan secara instink, singa, harimau dan binatang buas lainnya selalu mendahulukan memakan usus dan jeroan lain, karena disana enzim paling banyak dalam tubuh. Manusia juga perlu penambahan enzim dari luar untuk melakukan detoksifikasi. Yakni dari buah-buahan dan sayuran. Buah-buahan yang baik adalah yang alami; buah yang sudah diolah dan tahan lama sudah disterilkan dan ditambahi bahan pengawet, yang umumnya adalah asam benzoate atau turunannya. Proses ini mematikan sebagian besar enzim dalam buah-buahan. Pada tumbuhan, salah satu tugas enzim adalah memroduksi asam sitrat, yang menjadikan buah terasa asam ketika muda kemudian melakukan fermentasi asam itu menjadi fructose yang berasa manis . Penelitian Dr. Shinya (dokter Jepang yang praktek di Amerika) pada binatang percobaan seperti tikus, monyet dan anjing menunjukkan bahwa enzim (Newzim) bekerja lebih aktif kalau orang makan seperlunya dan berhenti makan sebelum kenyang. Dia juga menemukan bahwa untuk mengaktifkan Newzim, selain makan lebih sedikit juga utamakan sayuran dan buah-buahan dan minum banyak air yang baik serta berpuasa. Sementara air yang baik, menurut Dr. Masaru Emoto, adalah air putih yang belum tercemar dan dibacakan doa sebelum meminumnya. Menurutnya, kualitas air tergantung informasi yang diterimanya. Air dapat merespons kata-kata positif dengan membentuk kristal yang indah dan memberikan kesehatan yang baik. Seribu empat ratus tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW berpesan tentang makan untuk menjaga kesehatan. Yaitu, makanlah sesudah lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Selain puasa wajib, disunatkan puasa pada hari-hari tertentu setiap bulan. Juga, diajarkan doa sebelum makan dan minum. (AM Daris)

Manfaat Tanaman Sirsak

gan nama Zuurzak (Belanda), Soursop (Inggris), Corossol atau Anone (Perancis), Guanabana (Spanyol), Graviola Sirsak mulai dari buah, daun, (Brazil), Saucrapfel (Jerman), Thukulit pohon, akar dan bijinya Rian-rhaek (Thailand), Seetha(Tamil), Guayabano (Filipina),Ciguofan lizhi sangat bermanfaat. Untuk (Cina), Durian Belanda (Malaysia), terapi kanker, hasilnya lebih Sirsak/Nangka Belanda (Indonesia) baik dari chemo. Buah sirsak berkhasiat termasuk seluruh bagian tanamannya. Penelitian ohon sirsak sangat berguna, Health Sciences Institute, suku Indian berasal dari Karibia, Amerika yang hidup di hutan Amazon biasa Tengah, Amerika Selatan dan menggunakan bagian dari pohon (kulit banyak tumbuh di hutan kayu, akar, daun, daging buah, biji) Amazon. Dibawa ke Indonesia oleh selama berabad – abad sebagai obat. Belanda abad 19. Nama Latinnya An- Sirsak diyakini mampu menyembuhnona muricata L. Dikenal juga denkan sakit jantung, asma , masalah liver

P

Edisi XII Maret - April 2011

55

INFO SEHAT
(hati) dan rematik. Tahun 1976, sirsak terbukti sebagai pembunuh sel kanker pada uji coba yang dilakukan 20 laboratorium independen berbeda, di bawah pengawasan The National Cancer Institute. Ironisnya, hasil penelitian ini kemudian dikubur, khawatir merugikan industri obat Chemoterapy yang saat itu merupakan alternative terbaik untuk mengobati penyakit kanker. Pada awal 1990-an, hasil penelitian ramuan obat herbal suku Indian di Amazon, daun sirsak mengandung zat Annonaceous acetogenin, yang dapat membunuh sel kanker tanpa mengganggu sel sel sehat. Hasil Riset beberapa univesitas termasuk Purdue University (USA), Catholic University (Korea Selatan) dan Universitas di Jepang membuktikan, pohon dan buah sirsak bermanfaat: 1. Menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami tanpa rasa mual , tanpa berat badan turun, tanpa rambut rontok seperti yang terjadi pada terapi chemo. 2. Melindungi system kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan. 3. Meningkatkan energy, memperbaiki penampilan fisik. 4. Secara efektif memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 tipe kanker berbeda, di antaranya kanker usus besar, payudara, prostat, paru – paru dan pancreas. 5. Daya kerjanya 10.000 x lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker, dibanding Adriamycin dan terapi chemo. 6. Tidak seperti chemo, sari buah sirsak secara selektif hanya memburu dan membunuh sel – sel jahat, serta tidak membahayakan atau membunuh sel-sel sehat. Dosis yang pernah dicoba untuk pengobatan kanker adalah: 10 helai daun sirsak tua, direbus dengan 3 gelas air (600 ml) hingga tersisa 1 gelas (200 ml), saring dan diminum 2x sehari pagi dan sore. Efeknya perut akan terasa hangat /panas dan badan berkeringat. Setelah pemakaian rutin 3 – 4 minggu, kondisi pasien kanker akan membaik dan bisa beraktivitas kembali. Kaya Vitamin, Mineral dan Serat Buah Sirsak mengandung sedikit lemak (0,3 g/100 g) sehingga baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan. Vitamin yang paling dominan adalah vitamin C (sekitar 20 mg /100g daging buah). Kebutuhan vitamin C perorang/hari yaitu 60 mg, dapat dipenuhi dengan mengonsumsi 300 gram buah sirsak. Kandungan vitamin C-nya yang cukup tinggi, merupakan antioksidan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan. Kandungan mineralnya adalah fosfor dan kalsium, masing-masing 27 dan 14 mg/100 g. Kedua mineral ini penting untuk pembentukan massa tulang, sehingga berguna untuk membentuk tulang yang kuat dan menghambat osteoporosis. Keunggulan sirsak terletak pada kadar Natrium yang rendah (14 mg/100g ), tetapi tinggi Kalium (278 mg/100g). Perbandingan Kalium dan Natrium yang tinggi sangat menguntungkan untuk mencegah Hipertensi. Konsumsi 100 g sirsak dapat memenuhi 13% kebutuhan serat seharihari. Sirsak juga kaya akan senyawa fitokimia, sehingga banyak manfaatnya bagi kesehatan. (http:/www.herb4myhealth.com)

Resep pengobatan tradisional dengan sirsak: 1. Kanker (lihat resep di atas dengan 10 lembar daun sirsak tua) 2. Sakit Pinggang: 20 lembar daun sirsak , direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 3 gelas, diminum 1 kali sehari ¾ gelas 3. Bayi Mencret: Buah sirsak masak diperas dan disaring, airnya,diminumkan pada bayi 2-3 sendok makan 4. Ambeien: Buah sirsak masak diperas, diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2x sehari, pagi dan sore. 5. Bisul: Daun sirsak muda tempelkan di tempat yang terkena bisul 6. Anyang-anyangan: Sirsak setengah masak dan gula pasir secukupnya, direbus dengan 2 gelas air, disaring dan diminum. 7. Sakit Kandung Air Seni: Buah sirsak setengah masak, gula dan garam secukupnya dibuat kolak. Konsumsi setiap hari selama 1 minggu. 8. Penyakit Liver: Puasa makanan lain, hanya minum juice sirsak selama 1 minggu. 9. Eksim dan Rematik: Tumbuk daun sirsak sampai halus, tempelkan di bagian yang sakit. (Ediningsih)

56

Edisi XII Maret - April 2011

KOLOM

JASA PROFESI APOTEKER
Oleh : Ahaditomo*)
belum mendefiniskan pekerjaan profesinya dalam menjalankan praktik kefarmasian dalam pelayanan kesehatan. Pekerjaan profesi apoteker lebih terlihat melalui pelayanan obat sebagai produk, bukan pelayanan kepada pasien dengan media produk obat. Dengan demikian, format pelayanan profesi apoteker lebih terlihat dan difahami sebagai pelayanan jual beli obat, atau dirasakan sebagai pelayanan berorientasi barang obat, yang sering diterima sebagai pelayanan berbasis keuntungan ekonomi. Dengan kesepakatan global melalui WHO dan FIP serta FAPA, tentang pelayanan farmasi berdasarkan asuhan kefarmasian, orientasi pelayanan oleh apoteker adalah pasien, melalui obat sebagai tanggung jawabnya. Secara sederhana apoteker akan memberikan berbagai tindakan profesi kepada pasien, melalui kompetensi ilmu kefarmasian yang dikuasainya berdasarkan SPO (Standard Prosedur Operasional), yang disiapkan asosiasi apoteker, yaitu Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Dengan demikian, akan terjadi perubahan mendasar dalam pelayanan apoteker dalam format pelayanan kesehatan. Seorang apoteker memberikan jasa pelayanan apoteker kepada pasien yang memerlukan pelayanan obat, yang dinamakan sebagai pelayanan farmasi apoteker. Untuk pelayanan berbasis profesi ini, apoteker memperoleh imbalan jasa profesi yang ditarik dari klien, sewaktu memberikan pelayanan farmasi kepada pasien. Imbalan diperhitungkan berdasarkan berbagai bentuk intervensi kefarmasian yang yang dilakukan, dan ditujukan untuk mendapatkan outcome farmakoterapi yang optimal. Tindakan apoteker sebagai profesi Setiap profesi yang disumpah, melakukan pekerjaan profesinya dalam bentuk “tindakan karakteristik” yang sekaligus menjadi otoritas profesinya, yang dilaksanakan berdasarkan SPO. Apoteker memiliki rangkaian tindakan berdasarkan ilmu farmasi yang dikuasai, yang tersusun atas 2 bagian besar, yaitu (1) domain yang terkait dengan “bentuk dosis” atau dosage form, (2) domain farmakoterapi farmasi. Yakni, bagaimana bentuk dosis dari suatu senyawa aktif farmasi yang terkandung di dalamnya, dijelaskan dan diuraikan kepada calon pengguna (yaitu pasien, yang berada dalam berbagai status sakit atau kesakitan seperti rawat jalan, rawat inap atau dalam kegawatan). Tindakan apoteker ini disamping memerlukan “ketrampilan” profesi, juga memiliki “liability” profesi yang harus dipertanggung jawabkan secara ilmu pengetahuan, profesi , etik dan moral serta legal. Perspektif legal di sini adalah, apoteker bisa dimintai pertanggung jawaban di depan hukum terhadap berbagai “keputusan pribadinya”, dalam melakukan pilihan tindakan yang dilakukan. Bentuk tindakan apoteker dimaksud, di antaranya: 1. Memilih obat, yang diminta melalui resep dokter ( terutama) atau tidak. 2. Menghitung jumlah obat yang akan diberikan kepada pasien, terkait dengan rancangan regimentasi dosisnya serta lamanya penggunaan dalam program terapi oleh dokter. 3. Memasukkan ke dalam wadah yang menjamin status obat berada dalam keadaan stabil farmasetik, dan terjamin spesifikasi khasiatnya. 4. Menuliskan label cara penggunaan serta menandai lainnya, sehingga obat yang tersimpan di dalam waEdisi XII Maret - April 2011

asa profesi dikenal sebagai besaran imbalan yang diterima pelaku profess, atas layanan profesi yang diberikannya kepada klien. Pelayanan profesi yang dimaksud adalah, tindakan tertentu yang dilakukan oleh professional atas permintaan klien dalam bentuk rangkaian pekerjaan spesifik, yang dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan yang didapatkan di perguruan tinggi. Pekerjaan profesi dilakukan di bawah sumpah profesi di depan Negara. Contoh professional yang memberikan pelayanan profesi di bawah sumpah, di antaranya adalah dokter, dokter gigi, akuntan publik dan notaris. Atas pekerjaan profesi masing masing, mereka mendapatkan jasa profesi yang besarannya diatur bersama sama oleh asosiasi profesi yang diakui oleh sistem yang ada di masyarakat, antara lain sistem pajak. Apoteker adalah profesi kesehatan yang diakui Undang Undang melalui UU 36/09 tentang kesehatan, UU 44/09 tentang rumah sakit dan PP 51/09. Tetapi, selama ini apoteker

J

57

KOLOM
dah dikenali dan difahami dengan mudah oleh pasien. 5. Menjelaskan dan menguraikan cara penggunaan obat secara rinci dan mudah dimengerti oleh pasien, dalam kerangka dicapainya outcome farmakoterapi yang optimal, dalam bentuk adherence pasien dalam penggunaan obat (termasuk jadwal, saat meminum, urutan obat), serta cara menyimpannya. 6. Domain 1-4 terkait dengan bentuk dosis dari suatu senyawa aktif farmasi (SAF), yang sering dikenali sebagai “dispensing”. Sedangkan (5) terkait dengan farmakoterapi farmasi. Banyak pilihan tindakan apoteker yang dapat dilakukan, tergantung derajad sakit dan kesakitan pasien serta latar belakang pendidikan, sosial dan keadaan lainnya yang mempengaruhi proses farmakoterapi farmasi. Lebih dari itu, format jenis SAF serta pilihan bentuk dosis atau perubahannya, perlu membuat apoteker hati hati dan cermat dalam memahami permintaan obat (diagnosa), serta mengambil keputusan profesi. Sebab, hal ini terkait dengan outcome farmakoterapi seorang dokter atau klinisi. Terkait dengan begitu banyaknya jenis SAF dan ragam bentuk dosisnya (kapsul, tablet, lapis banyak, cair, suspensi, semprot, hirup, topical, suntikan, ampul, vial dll) serta besaran dosis atau “strength” masing masing SAF, perlu perhitungan yang tepat dan akurat dari apoteker. Menghitung jasa profesi Perspektif. Atas produk jasa berupa tindakan apoteker untuk pasien yang bersifat individual, apoteker mendapat “imbalan jasa” yang proporsional, dengan tingkat atau derajat kesulitan proses melakukan tindakan apoteker. Secara garis besar, tindakan apoteker yang dimaksud terait dengan jenis SAF dan bentuk dosisnya, serta derajat kesulitan mekanisme kerjanya sebagai akibat status keparahan pasien. Melalui jenis obat misalnya Aspirin, dapat dianalisis berbagai tindakan dan keputusan apoteker untuk pasien. Aspirin adalah merek obat buatan Bayer, berbentuk tablet (solid dosage form) yang mengandung jumlah Asam Asetilsalisilat (ASA) berbeda, yaitu tablet 500 mg dan tablet 80-100 mg. Masingmasingnya memiliki indikasi klinis yang berbeda. Tablet 500 mg untuk sakit kepala dan penurun panas, anti inflamasi untuk indikasi RA (rheumatoid Arthritis). Sedangkan tablet 80-100 mg, untuk menurunkan kepekatan darah dalam penyakit kardiovaskuler, dan yang terbaru untuk indikasi kanker colorectal. Tentunya, untuk masing masing besaran dosis dari (ASA) dan indikasi klinisnya , memerlukan pertimbangan apoteker yang sangat cermat, sehingga keputusannya akan menghasilkan intervensi farmakoterapi yang berhasil. Untuk ini, apoteker memperoleh besaran imbal jasa yang tidak sama untuk penggunaan Aspirin terkait bentuk dosis, besaran dosisnya serta indikasi kliniknya. Belum lagi penggunaan Aspirin 80-100 mg yang berlangsung sangat lama, sebagai akibat jenis penyakitnya. Pertimbangan dan keputusan apoteker akan lebih beragam dan kompleks, bila pasien memerlukan berbagai jenis SAF dan bentuk dosisnya, yang satu sama lain berbeda indikasi kliniknya. Contohnya, penderita yang mengidap penyakit diabetes, hipertensi, sekaligus hiperlipidemia. Besaran jasa profesi. Jasa profesi diperhitungan untuk setiap pasien adalah Rp.X, untuk setiap jenis obat dan indikasi kliniknya yang terkait. Ditambah untuk setiap perubahan bentuk dosis, serta perhitungan dosis dari suatu SAF. Untuk pasien rawat jalan tidak sama dengan rawat inap yang mendapatkan TPN (Total Parenteral Nutrition), atau pasien dalam perawatan ICU, ICCU . Melalui SAF, bentuk dosis serta manipulasinya (bila ada), apoteker akan menagih kepada pasien atas jasa profesi yang diberikan. Besaran Rp. X merupakan hasil kajian yang cermat oleh “peer apoteker” terkait, yang kemudian ditetapkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia ( IAI), dan berlaku nasional. Kesimpulan Melalui jasa profesi, apoteker tidak lagi “menjual obat” berdasar perhitungan “mark up”, melainkan terkait dengan farmakoterapi farmasi pasien. Apoteker memberi “pelayanan profesi” berazas asuhan kefarmasian, dengan orientasi pasien bukan berbasis barang obat. Obat merupakan media bagi apoteker, yang sekaligus pejabat publik yang dsumpah, untuk menjamin outcome intervensi farmakoterapi yang optimal. Apoteker akan tertampilkan sebagai “health provider” yang memiliki visi terkait dengan “quality life” pasien, dan memberi motivasi pribadi bahwa menjadi apoteker adalah panggilan hidup, bukan menjadi “pegawai apotek”. Pendapatan apoteker akan berubah, dari semula menerima “gaji bulanan sebagai karyawan apotek” menjadi “pemberi jasa kefarmasian kepada pasien”, dengan besaran yang sangat berbeda. Bila gaji karyawan berbasis UMP (Upah Minimum Propinsi), jasa profesi berbasis PDB atau Pendapatan Domesti Bruto dengan “rasio proporsional” global. Undang Undang 36/09 tentang kesehatan dan PP 51/09, memberi kesempatan tunggal bagi apoteker Indonesia ke depan, untuk mengenali dirinya dan memberikan kontribusi optimal dalam skenario kesembuhan pasien.
*) Ketua Umum PP ISFI periode 20012005, Anggota Dewan Penasehat PP IAI 2010-2014

58

Edisi XII Maret - April 2011

AGENDA
Lustrum XIII dan Reuni VIII Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada
Tanggal : 7 September – 2 Oktober 2011 Tempat : Fakultas Farmasi UGM Rangkaian Acara: Workshop Kurikulum “Pendidikan Farmasi”, The International Symposium in Pharmacy and Pharmaceutical Science, Pelatihan Kefarmasian, Kegiatan Olah Raga, Kegiatan Sosial, Sepeda Gembira, Tasyakuran, Pharmacy EXPO, Pameran Foto, Welcome Party, Peringatan Dies Fakultas Farmasi ke-65, Musyawarah Alumni, Rekreasi Alumni, Malam Keakraban, Pertunjukan Wayang dan napak tilas. Hubungi : Gedung Unit III lt. 3 Fakultas Farmasi UGM Telp : (0274) 553110 Fax : (0274) 553110 Email : lustrum2011_faugm@yahoo.com Website : http://farmasi.ugm.ac.id/lustrum

5th Conference of AASP, Bandung, 16-19 June 2011
Tanggal Tempat Tema : 16-19 Juni 2011 : Sekolah Farmasi ITB Bandung : “Pharmacist as a Key Health Care Player: Interplay of Education, Science and Practice” Hubungi : AASP 2011 School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesa 10 Bandung 40132 Phone: +62-22-2514421. Fax: +62-22-2504852 E-mail: aasp2011@fa.itb.ac.id. Website: http://www.aasp2011. fa.itb.ac.id Contact Person: Lucy Sasongko: Emal: lucys@fa.itb.ac.id Kusnandar Anggadireja : Email: kusnandar@ fa.itb.ac.id

Seminar Internasional Universitas Gajah Mada
: 19-20 Juli 2011 : The 2nd International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences Tempat : Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, INDONESIA Investasi : Umum, Industri Rp. 1.500.000,Pelajar/Mahasisawa Rp. 500.000,Akademisi/Peneliti/Kandidat PhD : Rp. 1.000.000 Internasional : USD 200 Hubungi: Website : http://farmasi.ugm.ac.id/icpaps2011 Email : icpaps2011@gmail.com Contact Person : Desy Setyaningrum, SE., Phone : (+62274) 553110 Facsimile : (+62274) 546857
Edisi XII Maret - April 2011

WORKSHOP HISFARSI JAWA TIMUR ANGKATAN III
Tanggal Tempat Tema : 25-27 Maret 2011 : Hotel Bisanta Bidakara, Surabaya : Peran aktif farmasi pada pengelolaan kasus infeksi dan pengendalian penggunaan antibiotik. Investasi Rp. 3.500.000 (Sudah termasuk kamar hotel, akomodasi dan konsumsi selama workshop) : Tim PPRA RSUD Dr. Soetomo, Gedung Ex PDN Lantai 2 Dr. Sutomo. Jalan Mayjen Prof. Dr. Moestopo 6-8 Surabaya. Telp: 031-5501182, 03170512195 : puspenit@indo.net.id : QIBTI: 08155039300

Tanggal Tema

Hubungi

Email CP

59

ALBUM

Lagu Hymne Ikatan Apoteker Indonesia pertama kali dinyanyikan oleh paduan suara Universitas Hasanuddin pada acara Rapat Kerja Nasional IAI dan Kongres Ilmiah XVIII tahun 2010 di Makassar tanggal 9-11 Desember 2010

Para pemenang lomba kesiapan implementasi Peraturan Pemerintah No 51 tahun 2009 tetang Pekerjaan Kefarmasian di Daerah. Juara pertama PD IAI Jawa Timur, juara kedua PD IAI DI Yogyakarta dan juara ketiga PD IAI Jawa Barat.

Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) melakukan audiensi dengan Menteri Dalam Negeri Drs. Gamawan Fauzi di Kantor Kementerian Dalam Negeri untuk meminta dukungan implementasi PP No.51 tahun 2009

Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) menerima kunjungan informal Presiden Asosiasi Farmasis Malaysia Mrs Datok Nancy Ho di Jakarta.

Seminar dan Rapat Kerja Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi seluruh Indonesia pada tanggal 21-27 Januari 2011 di STIKES Tunas Bhakti Husada Tasikmalaya Jawa Barat. Acara dihadiri oleh Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Seminar Nasional Kurikulum Pendidikan tinggi Farmasi, kerjasama antara Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Fakultas Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta, pada tanggal 29 Januari 2011 di Hotel Jogjakarta Plaza. Sebagai pembicara ketua umum APTFI, Prof. Dr. Elly Wahyudin, DEA, Apt, Ir. Hendrotomo, MT dan Drs. Ahaditomo, MS, Apt.

60

Edisi XII Maret - April 2011

ALBUM

Pelantikan Pengurus dan Rapat Kerja Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Maluku Utara, dilanjutkan Seminar Nasional pada tanggal 11-12 Februari 2011 di Bella Internasional Hotel Ternate Maluku Utara. Acara dihadiri oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia.

Continuing Professional Development, dengan tema “Peran Apoteker dalam Pelayanan Obat yang Rasional dan Terjangkau”. Acara ini kerjasama Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia DI Yogyakarta dengan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada tanggal 14 Februari 2011 di Kampus Fakultas Farmasi UGM.

Pelantikan Apoteker Baru Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tanggal 19 Februari 2011 di Kampus Paingan Sleman Yogyakarta. Apoteker baru yang dilantik berjumlah 89 orang.

Pertemuan dalam rangka Pilot Project Pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas tanggal 17-19 Februari 2011 di Hotel Sahid Raya Yogyakarta. Pertemuan dihadiri oleh apoteker dan dokter kepala puskesmas dari 10 puskesmas di Kabupaten Bantul dan Sleman Propinsi DI Yogyakarta.

Wisuda apoteker baru Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tanggal 24 Februari 2011 di Gedung University Center Universitas Gadjah Mada, dihadiri oleh Ketua umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia.

Pengambilan Sumpah Apoteker baru Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta pada tanggal 26 Februari 2011 di Gedung Jogya Expo Center (JEC) DI Yogyakarta. Apoteker yang dimbil sumpahnya berjumlah 123 orang.

Edisi XII Maret - April 2011

61

FORUM
Drs. M. Dani Pratomo, MM., Apt Ketua Umum PP IAI

Harga Obat

harus Dikendalikan
ewaktu saya mencari keyword harga obat pada kolom pencarian di situs Kompas.com, ada puluhan bahkan mungkin ratusan berita yang memuat keyword tersebut. Dalam setahun terakhir, masalah harga obat telah dua kali diangkat menjadi headline Kompas. Namun, harga obat tetap naik. Secara umum, obat dikategorikan menjadi 2 kelompok: obat paten dan obat generik. Obat paten adalah obat yang masih mendapatkan perlakuan khusus, semacam monopoli, untuk periode waktu tertentu. Selama masa itu, obat paten tidak memiliki kompetitor langsung dan biasanya produsen mematok harga jual yang mahal. Obat generik adalah obat yang hak patennya sudah lewat. Dalam cara memasarkan, obat generik boleh menggunakan nama generik (international nonpropretiary name) atau nama dagang. Penggunaan bahan baku yang setara, biasa dilakukan produsen obat generik untuk menjaga kualitas, harga. Obat generik yang dipasarkan dengan nama dagang, sering dianggap sebagai obat paten. Hal ini dimanfaatkan produsen untuk menetapkan harga obat generik bermerek mendekati, bahkan melebih harga obat paten. Struktur Harga dan Pola Persaingan Komponen pembentuk harga pokok produksi obat secara umum terdiri dari biaya bahan baku, biaya kemasan dan biaya produksi. Yang tidak termasuk HPP adalah biaya pemasaran, biaya distribusi dan laba. Kecuali biaya pemasaran dan laba, harga pokok produksi dan biaya distribusi, umumnya relatif sama antara produsen yang satu dan lainnya. Tidak ada referensi baku, untuk biaya pemasaran mau pun besarnya laba yang ingin diraih produsen. Produsen sering menggunakan harga obat paten dan obat sejenis yang sudah beredar sebagai acuan. Teori tidak tertulis mengatakan, harga jual minimal 4 kali harga pokok produksi. Biasanya, makin efisien proses produksi makin besar alokasi untuk biaya pemasaran dan laba yang ingin dicapai. Obat generik bermerek tertentu dengan mudah menjadi top of mind penulis resep, sehingga penjualannya meledak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mungkin ada kolusi antara produsen dan penulis resep. Konsumen sebagai the real buyer tidak memiliki informasi yang memadai. Dalam pemasaran, ini dianggap strategi yang jitu. Produsen yang tidak memiliki strategi pemasaran yang jitu dan malas bersaing dengan pola yang sudah ada, mengambil jalan pintas. Mereka membuang habis biaya pemasaran dalam bentuk diskon puluhan persen. Kata ahli pemasaran, mereka menggunakan strategi push demand.

S

Fenomena yang sama, terjadi pada obat yang masuk program asuransi. Karena purchasing power yang dimiliki asuransi demikian besar, harga obat bisa turun sangat signifikan. Tidak terkecuali obat paten. Para produsen biasanya memangkas biaya pemasaran, bila perlu mengurangi laba. Bagi produsen, memasarkan obat ke perusahaan asuransi jauh lebih mudah dan ekonomis. Asuransi atau Mengendalikan Harga Pemasaran Dari uraian di atas, cara efektif untuk mengendalikan harga adalah diberlakukannya program asuransi kesehatan bagi semua. Asuransi mampu membuat mekanisme pasar berjalan sempurna. Tidak akan ada lagi harga obat generik (bermerek) yang harganya mendekati atau lebih mahal dari obat paten. Namun, asuransi belum bisa dilaksanakan penuh. Perlu model pengendalian harga, melalui pengendalian biaya pemasaran. Pemerintah berhak mengatur tataniaga obat, bila mekanisme pasar tidak berjalan sempurna. Untuk obat yang sama, komponen biaya pemasaran dan laba adalah 2 faktor yang sangat bervariasi, antara masing masing produsen. Kedua komponen ini bertanggungjawab terhadap perbedaan harga obat. Laba adalah hak asasi perusahaan. Tidak demikian dengan biaya pemasaran. Karena adanya asimetri distribusi informasi, timbul mekanisme pasar yang tidak sempurna. Atas nama konsumen, pemerintah seyogyanya mengendalikan besaran biaya pemasaran. Misalnya, biaya pemasaran dibatasi maksimal 20% dari HPP. Karena HPP untuk jenis obat yang sama relatif sama, maka biaya pemasaran antar produsen kurang lebih juga sama. Bila hal ini bisa diterapkan, tidak akan terjadi program pemasaran yang jor-joran dan cenderung tidak etis. Kemungkinan kolusi juga berkurang, karena biaya pemasaran dibatasi. Yang lebih penting, penulis resep bisa lebih objektif memilih obat sesuai kondisi ekonomi pasien. ***

62

Edisi XII Maret - April 2011

Hubungi kami, PT ISFI Penerbitan di Telp. 021-56943842, e-mail: ptisfipenerbitan@yahoo.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->