P. 1
MEDISINA edisi 14

MEDISINA edisi 14

|Views: 1,147|Likes:
Published by mamangdani

More info:

Published by: mamangdani on Apr 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2014

pdf

text

original

Sections

Sudahkah masyarakat merasakan keberadaan apoteker? Sudah mampukah
apoteker berdiri sejajar dan setara dengan profesi kesehatan lain? Atau masih
inferior di depan profesi kesehatan lain?

mendapatkan gaji sekadarnya). Kesan ini
seakan mendapat pembenaran, karena
tanpa kehadiran apoteker apotek tetap
jalan – tak beda dengan bisnis retail
pada umumnya.
Ada yang berpendapat, keterasingan
tersebut disebabkan apoteker bingung
mau mengerjakan apa di apotek karena
perannya sudah diambil alih oleh jajaran
tenaga kerja lainnya yang tak jarang
merupakan tenaga kerja yang tidak
kompeten. Jarangnya kehadiran apoteker
di apotek sudah menjadi “penyakit
kronis” dan rupanya bukan monopoli
apoteker senior saja. Apoteker yang
baru menyelesaikan pendidikan di
perguruan tinggi pun banyak yang
tertular “penyakit” hanya datang ke

dok. Kem

Kes RI

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012 11

Farma. Apotek non jaringan pun mulai
menambah apoteker pendamping.
Dan yang penting apoteker tersebut
selalu “nongkrong” di apotek - tidak
lagi pasang papan nama seperti dahulu.
Bahkan di di Surabaya ada apotek
yang memiliki 5 apoteker pendamping
(termasuk apoteker magang).
Untunglah dunia farmasi Indonesia
akan dibenahi secara mendasar oleh
pemerintah. Landasan hukum untuk
perubahan tersebut cukup kuat: PP 51
tahun 2009 dan UU Kesehatan no 36
tahun 2009. Pemerintah dan organisasi
IAI sudah sepakat, tidak ada lagi kata
mundur demi mengembalikan profesi
apoteker ke jalan yang benar – seperti
praktek kefarmasian di negara maju
yang bertujuan melindungi masyarakat
dalam mendapat dan menggunakan
obat secara benar. Ada baiknya kita
simak pernyataan Ketua IAI, Dani
Pratomo pada Rakernas IAI 2011: “
Kita harus berinvestasi sejak sekarang.
Jika kita bisa memetik buahnya itu
baik, tapi kalau pun tidak, anak cucu
kita akan mewarisi masa depan yang
lebih baik dari kita. Mari berpikir tidak
hanya kepentingan di depan mata, tetapi
kepentingan generasi yang akan datang
“.

APOTEKER INDONESIA:
BERSIAP MENGHADAPI
PERUBAHAN

Demi perubahan pula, sejak
Juli 2011 para apoteker di tanah air
sibuk berbenah. Bersama IAI pusat

dan daerah mereka terpacu untuk
mempersiapkan diri menjelang
dilaksanakannya regulasi baru mengenai
praktek maupun pekerjaan kefarmasian.
Kesibukan tersebut terjadi setelah
terbitnya Permenkes No. 889 tahun
2011 tentang registrasi, izin praktek,
dan izin kerja tenaga kefarmasian yang
memberikan tenggat hingga 31 Agustus
2011 untuk dilaksanakan - sekaligus
sinyal jelas akan diberlakukannya PP
51 tahun 2009 tentang pekerjaan
kefarmasian dan Undang Undang
Kesehatan No. 36 tahun 2009
Regulasi yang akan diterapkan
memang akan merubah secara mendasar
wajah kefarmasian di Indonesia, di
antaranya:
• Pelayanan kefarmasian hanya
dapat dilakukan oleh apoteker
yang terdaftar, memiliki izin dan
kompeten. Apotek adalah sarana
pelayanan kefarmasian tempat
dilakukan praktek kefarmasian
oleh Apoteker. Dengan demikian
apotek hanya dapat beroperasi bila
ada apoteker di tempat. Analoginya
adalah tempat praktek dokter, yang
tak dapat dilangsungkan bila dokter
tidak ada.
• Praktek kefarmasian harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang mempunyai keahlian dan
kewenangan (pasal 108 UU no
36 Tentang Kesehatan). Selain
apoteker, tenaga yang dimaksud
adalah sarjana farmasi, asisten
apoteker dan D3 Farmasi yang

LAPORAN UTAMA

apotek kalau mau menandatangani gaji
bulanan. Perilaku ini semakin membuat
stigma apoteker jarang ada di apotek
menjadi semakin kuat.
Jarangnya apoteker di apotek
menyebabkan beberapa pemilik
sarana apotek yang hanya mengejar
keuntungan sebanyak-banyaknya
tergoda membeli obat obatan dari
jalur tidak resmi , dan tak jarang pula
menjual barang-barang ilegal (tak
punya izin edar). Tentu saja tindakan ini
mengandung resiko dan dapat menyeret
apotek ke ranah hukum, dan sedikit
banyak apoteker bersangkutan mesti
bertanggung jawab, walau kondisi ini
terjadi tanpa sepengatahuannya.
Asisten apoteker yang selama ini
tampil penuh waktu di apotek, seperti
yang mencuat pada blog anggota PAFI,
tampaknya mahfum bahwa perubahan
untuk meningkatkan kualitas dunia
farmasi di Indonesia mau tidak mau
harus dilaksanakan. Mereka sadar
konsep jual beli obat lewat asisten
apoteker yang terjadi selama ini harus
ditinggalkan. Asisten apoteker tidak
boleh lagi melayani pasien atas nama
Apoteker, sebab akan ada dampak
hukum bagi mereka (melanggar pasal
198 dari UU Kesehatan 2009 dan juga
terkait kewenangan profesi sebagaimana
diuraikan dalam PP 51/09 )
Namun keadaan ini di beberapa
daerah sudah mulai dikoreksi oleh
pengurus daerah Ikatan Apoteker
Indonesia. Di Yogyakarta misalnya,
sudah jarang ditemukan apotek buka
tanpa kehadiran apoteker di dalamnya.
Di Purwokerto dan sekitarnya, menurut
ibu Hindun Apt yang diwawancarai
Medisina, sudah sebagian besar apotek
tutup bila ada apoteker berhalangan
masuk. Dituturkan pula oleh ibu
Hindun, ada apotek milik apoteker yang
dengan kesadaran sendiri ditutup karena
yang bersangkutan akan lama tidak
ditempat karena mengikuti program S3
di UGM, Yogyakarta.
Beberapa apotek juga tidak lagi
menerapkan hanya 1 apoteker yang
bekerja di apoteknya, terutama apotek
jaringan seperti apotek K24, Kimia

Pelayanan Kefarmasian. Berikan informasi yang selengkap-lengkapnya kepada pasien.

Evita Fitriani

12

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

telah terdaftar dan memilik SIK.
• Setiap orang yang tidak memiliki
keahlian dan kewenangan dilarang
mengadakan, menyimpan,
mengolah, mempromosikan, dan
mengedarkan obat dan bahan
obat yang berkhasiat. Ancaman
pidana akan diberlakukan apabila
orang tidak berwenang melakukan
pekerjaan kefarmasian.
Dalam bahasa sederhana, profil
apoteker Indonesia masa depan
tampaknya adalah apoteker yang
berada di garis depan pelayanan
kefarmasian. Ia melaksanakan praktek
penuh waktu di apotek, melakukan
dan mengawasi pekerjaan kefarmasian.
Mengawasi semua pekerjaan di apotek
sesuai dengan prosedur standar
yang telah ditetapkan, dan tidak
akan meninggalkan apotek kecuali
sudah ada apoteker penggantinya.
Ia berkomunikasi langsung dengan
pasien lewat penyerahan obat resep
– tidak pernah mewakilinya kepada
tenaga lain yang tidak kompeten dan
berwenang, dan memberikan cara
pemakaian yang benar demi efektifnya
obat yang diberikan. Ia sangat piawai
berkomunikasi karena ia selalu
menambah ilmu kefarmasian dan
kedokteran secara berkesinambungan,
dan sangat akrab dengan teknologi
informasi.

MENGURANGI RESIKO
DI TANJAKAN PERUBAHAN

Secara umum para apoteker di
Indonesia sangat lega dengan keluarnya
peraturan dan Undang Undang yang
memberikan peran jelas bagi apoteker
untuk melakukan pekerjaan kefarmasian
dalam pelayanan sediaan farmasi,
distribusi atau penyaluran sediaan
farmasi, produksi sediaan farmasi, dan
pengadaan sediaan farmasi. Walau
awalnya banyak sikap skeptis tentang
peraturan baru ini (mengingat gagalnya
peraturan hampir serupa - PP 25 tahun
1980), nada optimis akan lahirnya dunia
kefarmasian yang sehat di tanah air
kian menggema. Apalagi kalau semua
apoteker di tanah air bersatu padu

mengawal pelaksanaan regulasi yang
akan membenahi dunia kefarmasian di
tanah air.

Kekuatiran implementasi PP 51
akan bernasib seperti PP 25 tahun 1980
juga ditepis oleh Ahaditomo, mantan
Ketua ISFI dan kini anggota KFN
seperti yang diutarakannya kepada
Medisina “Sebagai anggota KFN,
saya sangat optimis atas terlaksananya
ketentuan pelayanan kefarmasian
mendatang. Menurut saya pribadi, PP
51/09 telah mengisi semua kekurangan
yang ada di PP 25/80. PP 51/09 melihat
apoteker sebagai subjek hukum yang
definitif sehingga semua masalah
yang terkait dengan proses farmasi
yang berimplikasi hukum menjadi

Registrasi Apoteker). Dan kegiatan ini
telah diikuti ribuan apoteker dengan
antusias. Untuk mempercepat, semua
jajaran PB IAI dan PD IAI telah
melakukan proses pengumpulan
dokumen yang diperlukan untuk
pembuatan STRA secara berkelompok
di daerahnya masing-masing. Ada juga
sebagian apoteker yang mengurus STRA
langsung ke sekretariat KFN di Gedung
Kemenkes, Kuningan, Jakarta.
Sesungguhnya menurut Permenkes
829 kegiatan untuk memperoleh STRA
tersebut berakhir 30 Agustus 2011.
Namun melihat banyaknya kendala
di lapangan, seperti terlambatnya
pembentukan KFN (organ yang
berwenang menerbitkan STRA, baru

LAPORAN UTAMA

jelas, siapa subjek hukumnya dan apa
objek hukumnya. Ini tentu berbeda
dengan pelaksanaan ketentuan PP
25/80 yang tidak memiliki kekuatan
hukum yang cukup (bukan UU) dan
perangkat pelaksanaan yang tidak
lengkap. Kesenjangan pelaksanaan
proses kefarmasian Indonesia saat itu,
kelemahan konstruksi hukum PP 25/80
serta kelemahan implementasinya oleh
semua fihak, mulai sistem birokrasi
kesehatan,hukum dan organisasi profesi
merupakan faktor dominan kegagalan
PP 25 saat itu.”
Kegiatan pertama yang harus
dilaksanakan untuk melaksanakan
regulasi baru tersebut adalah
melaksanakan registrasi untuk
memperoleh STRA (Surat Tanda

dok. Kem

Kes RI

dilantik 22 Agustus 2011) penerbitan
STRA turut terlambat pula. Bahkan soal
Batas akhir pengurusan STRA akhirnya
diundur hingga 31 Desember 2011
(surat edaran Kemenkes tertanggal 7
September 2011).
Masalah keterlambatan penerbitan
STRA agaknya dapat dimaklumi
banyak sejawat apoteker. Namun ada
juga yang penasaran karena melihat
tidak berurutnya penerbitan STRA. Hal
ini mengemuka dalam Konpernas di
Menado akhir Oktober 2011. Banyak
pertanyaan yang belum terjawab:
Mengapa STRA sejawat yang baru
belakangan diserahkan ke KFN lebih
dahulu terbitnya dibandingkan sejawat
yang sudah jauh hari mengurusnya.
Mengapa STRA yang dikelola secara

Pelantikan Anggota Komite Farmasi Nasional (KFN).

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012 13

berkelompok oleh PD IAI belum ada
yang diterbitkan? Mengapa STRA si A
lebih dahulu terbitnya dibandingkan
si B padahal waktu mengurusnya
bersamaan?

Terlepas dari masalah tersebut,
untuk mempercepat penerbitan,
penandatangan STRA tidak lagi
dilakukan oleh 1 orang saja (ketua
KFN), tapi juga dilakukan oleh 4
anggota KFN yang berdomisili di
Jakarta.

Walau para apoteker sepakat untuk
melaksanakan PP 51 dan UU Kesehatan
No. 36 tahun 2009, penafsiran
yang beragam tentang bagaimana
mengimplementasikan pasal pasal
pada PP 51 dan UU Kesehatan No.
36 memicu polemik yang cukup ramai
juga di kalangan apoteker di tanah air.
Polemik hangat terjadi di milis-milis,
seperti milis alumni Fakultas Farmasi
Universitas Airlangga. Wacana boleh
tidaknya pegawai negeri, pegawai RS,
dan apoteker di Puskesmas merangkap
menjadi apoteker penanggung jawab
di apotek swasta mendominasi diskusi
tersebut. Pengertian dari pihak regulator
dan pengurus IAI di berbagai daerah
pun juga tidak seragam sehingga perlu
kearifan semua pihak agar implementasi
yang seragam dan adil tercipta untuk
semua pihak.

Menurut Ahaditomo setiap
perubahan pasti akan mengalami
penolakan terlebih dahulu. Itu hal yang
sangat manusiawi. Justru di situlah
tantangan untuk kita semua, terutama
untuk KFN. Yaitu menghadapi pihak-
pihak yang melakukan penolakan atau
juga cenderung skeptis. Maka, ini juga
menjadi pekerjaan rumah untuk profesi
IAI, karena tantangan paling besar
datangnya dari pihak dalam (apoteker
sendiri).

Dani Pratomo, ketua IAI, juga
menyadari, tak sedikit apoteker yang
skeptis dengan perubahan nasib yang
akan dialami pasca implementasi PP No
51 tahun 2009, terutama apoteker yang
merasa diuntungkan oleh keadaan status
quo. Diantara mereka bahkan ada yang
terang-terangan menolak PP No 51
tahun 2009 karena dianggap merugikan

kepentingan pribadinya.
Polemik ini juga mencuat pada
Rakernas Ikatan Apoteker Indonesia
di Menado 28-30 Oktober 2011. Ada
dua pendapat yang mencuat. Pertama
yang menginginkan PP 51 dilaksanakan
segera tanpa kompromi, kedua agar
implementasi PP 51 dilakukan secara
bertahap mengingat banyaknya
problema di lapangan. Salah satu
problema adalah minimnya tenaga
apoteker di kota-kota di Indonesia
Timur. Faktanya, hampir semua
apoteker tersebut adalah pegawai
negeri yang merangkap bekerja sebagai
apoteker penanggung jawab di apotek
swasta. Bila terhadap apoteker di RS
dan puskesmas dilarang menjadi APA

berpraktek penuh waktu, tentulah akan
melanggar hukum bila apotek tetap
buka seperti sediakala.
Beberapa apotek memang
mengandalkan operasionil apotek
bukan kepada apoteker penuh waktu,
mengingat sulitnya mendapatkan
apoteker yang sesuai dengan
kesanggupan keuangan apotek (tidak
semua apotek memiliki cash flow bagus)
Kelompok apotek ini, yang biasanya
menggaji apoteker sangat rendah tentu
mengalami kesulitan untuk menggaji 2
apoteker full time yang pasti tidak mau
dibayar tidak wajar seperti dahulu
Diperkirakan akan terjadi eksodus
apoteker dari apotek yang selama ini
menggaji apoteker dengan nilai di
bawah kewajaran. Pihak apoteker kini
akan berpikir dua kali menerima gaji
yang setara UMR tapi harus 8 jam
berpraktek di apotek. Di samping
itu, apoteker yang selama ini bekerja
paruh waktu di apotek, tetapi waktunya
tersita banyak untuk pekerjaan
utamanya tentu akan mengundurkan
diri pula sebagai apoteker Penanggung
Jawab. Noffendri, S.Si, Apt, misalnya.
Untuk menjaga integritas dirinya, 1
November 2011 ia melayangkan surat
ke Dinas Kesehatan Kota Serang untuk
pencabutan Surat Izin Apotek (SIA)
apotek Sumber Sehat di Serang dengan
alasan kesibukannya sebagai dosen tidak
akan memungkinkannya bisa memenuhi
pasal 21 ayat 1 PP 51 (Penyerahan
dan Pelayanan Resep dokter harus
dilaksanakan oleh Apoteker).
Agaknya implementasi PP 51
tersebut perlu dikawal secara bijak,
ada cukup banyak apotek, terutama
di tempat terpencil, yang mengalami
kesulitan menghadirkan apoteker selama
jam buka mengingat terbatasnya tenaga
di sana, yang rata-rata merangkap
sebagai pegawai negeri. Juga akan ada
apotek yang “sempoyongan” karena
akan mengeluarkan biaya lebih besar,
terutama apotek beromset kecil – yang
selama ini keteteran bersaing dengan
apotek jaringan (margin keuntungan
apotek jaringan besar karena mampu
mendapatkan diskon besar karena selalu
membeli obat dalam partai besar)(ak)

LAPORAN UTAMA

di apotek lain , tentulah apotek swasta
yang mereka kelola ketika sore hari akan
tutup karena ketidak beradaan apoteker.
Mengingat pula masih banyaknya
penafsiran berbeda terhadap peraturan
baru ini, ada pula yang menyarankan
agar pelbagai persepsi terhadap
peraturan yang ada disamakan dahulu -
disimulasikan untuk mencegah hal-hal
yang dapat merugikan dunia farmasi
Indonesia.

Kesulitan lain juga akan menimpa
banyak apotek di kota besar seperti
Jakarta yang tidak segera menyiapkan
apoteker penuh waktu dan apoteker
pendamping, mengingat Pasal 21 ayat
2 PP 51 menyatakan: Penyerahan dan
pelayanan obat berdasarkan resep
dokter dilaksanakan oleh Apoteker. Jika
apoteker yang sudah ada tidak bersedia

Noffendri, S.Si, Apt. Menjaga Integritas profesi.

Dani Rachadian

14

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

LAPORAN UTAMA

Apotek Rakyat mulai hadir

di dunia farmasi Indonesia
sejak 2007, berdasarkan
SK Menteri Kesehatan
No. 284/2007, yang saat itu dijabat Siti
Fadilah Supari. Pada saat pencanangan
apotek rakyat, diumumkanlah bahwa
misi apotek rakyat adalah untuk
memperluas akses obat murah dan
terjamin kepada masyarakat, selain
untuk menertibkan peredaran obat-
obat palsu dan ilegal, serta memberikan
kesempatan pada apoteker untuk
memberikan pelayanan kefarmasian.
Karena itu pemberian izin kepada toko
obat yang akan menjadi apotek rakyat
dipermudah, beberapa apotek rakyat
boleh bergabung menggaji 1 apoteker
penanggung jawab, tetapi juga ada
larangan, yakni tidak boleh melayani
resep racikan, menjual obat dalam
partai besar dan tidak boleh menjual
psikotropika dan narkotika.
Namun banyak pihak menduga,
diluncurkannya apotek rakyat
sesungguhnya cara pintas untuk
melegalkan bisnis ratusan toko obat

yang banyak menyalurkan obat-
obat daftar G di Pasar Pramuka dan
Jatinegara. Apakah kebijakan tersebut
tidak senafas dengan peraturan lain yang
ada tampaknya dikesampingkan sama
sekali saat itu. Berkat kebijakan tersebut
lahirlah ratusan apotek rakyat, yang
sebagian besar terkonsentrasi di Pasar
Pramuka dan Pasar Jatinegara, Jakarta.
Apakah keberadaan apotek rakyat
pernah dievaluasi? Menurut investigasi
Medisina walaupun apotek rakyat
memiliki apoteker (umumnya 1 apoteker
untuk 4 apotek rakyat), boleh dikatakan
hampir tidak ada apoteker yang
menunggui apotek tersebut. Seorang
apoteker yang menjadi penanggung
jawab apotek rakyat terus terang
mengakui bahwa ia ke apotek rakyat
paling banter 1 bulan sekali, untuk
mengambil gaji yang berasal dari 4
apotek yang memakai namanya sebagai
penanggung jawab. Dan hampir semua
apotek rakyat melakukan penyimpangan
dari batasan-batasan yang seharusnya
tidak boleh dilakukan, karena masih
mewarisi kebiasaan toko obat, terutama

APOTEK RAKYAT:

KEMBALI KE JALAN LURUS?

menjual obat-obat dalam jumlah partai
besar.

Tengoklah apotek rakyat di pasar
Pramuka, banyak sekali yang menjual
obat dalam partai besar untuk dijual
kembali, tanpa memberikan faktur/
kuitansi penjualan yang benar (tanpa
identitas apotek). Menurut pengamatan
Medisina, di apotek Rakyat Pramuka
siapapun dapat membeli obat daftar G
tanpa resep dalam jumlah berapapun.
Sehingga patut disimpulkan intensitas
pengawasan apoteker di apotek rakyat
jauh lebih rendah dari apotek biasa.
Seharusnya apoteker di apotek rakyat
wajib memeriksa resep dan memeriksa
kesesuaian jumlah/dosis obat yang
diberikan kepada pembeli. Dan juga
menjaga agar obat yang diberikan
apotek yang dikelolanya merupakan
obat yang baik.
PP 51 dan Undang Undang
Kesehatan ternyata tidak sedikitpun
menyinggung keberadaan apotek rakyat.
Dengan demikian “keistimewaan”
yang diberikan kepada apotek rakyat
(4 apotek berpatungan menggaji 1
apoteker penanggung jawab) tampaknya
sudah kehilangan landasan hukumnya
dan harus mengikuti ketentuan tentang
apotek pada umumnya. Menarik juga
untuk menyimak kebijakan apa yang
akan diterapkan terhadap apotek rakyat
yang sejak awal keluar dari “pakem
pelayanan kefarmasian” tersebut.
Di samping apotek rakyat, ada
yang memperkirakan banyak apotek
biasa akan mengalami “seleksi alam”.
Pemilik sarana yang tidak nyaman dan
sulit menyesuaikan diri dengan regulasi
ini akan meninggalkan bisnis apotek.
Di sisi lain sudah sewajarnya apoteker
sendiri siap dan berperan penuh mengisi
kekosongan tersebut, agar kebutuhan
rakyat akan obat bermutu dan terjangkau
dapat dijaga. (ak)

Dani Rachadian

Pasar Pramuka : Perlu keseriusan pemerintah untuk mengawasi distribusi obat di masyarakat.

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012 15

LAPORAN UTAMA

Pekerjaan kefarmasian di

Indonesia diharapkan
dilaksanakan oleh apoteker
yang kompeten. Kompetensi
didefinisikan sebagai seperangkat
tindakan cerdas, penuh tanggung
jawab yang dimiliki seseorang sebagai
syarat untuk dianggap mampu oleh
masyarakat dalam melaksanakan tugas-
tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Kompetensi merupakan pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir
dan bertindak (Depdiknas, 2002).
Idealnya, apoteker yang akan
melakukan pekerjaan kefarmasian di
Indonesia sudah memenuhi standar
kompetensi yang telah ditetapkan
organisasi profesi. Dalam masa
peralihan ini persyaratan lulus uji
kompetensi tidak dipersyaratkan untuk
memperoleh STRA, namun tidak akan
ada kompromi lagi dimasa PP 51 sudah
berjalan. Apalagi kalau pemerintah
mengeluarkan peraturan tidak
diperlukan lagi izin sarana bagi apoteker
yang membuka apotek, sebagaimana
halnya dokter tak memerlukan izin
sarana dalam melakukan praktek
pribadi. Tentulah apoteker yang
benar-benar kompeten yang dicari
banyak orang, karena banyak mendapat
manfaat bila berinteraksi dengannya
Berbekal kompetensi, apoteker
harus mampu melaksanakan
keseluruhan pekerjaan yang spesifik
yang ditanganinya secara trampil, dan
bekerja sesuai standar yang diharapkan
dalam pekerjaan, yang biasanya
dijabarkan dalam Standar Prosedur
Operasional.

Searah dengan itu, Pasal 16 PP 51
tahun 2009 menyebutkan keharusan
apoteker dalam melaksanakan pekerjaan
kefarmasian menerapkan SPO, Standar
Prosedur Operasional. Disebutkan pula

Standar Prosedur Operasional harus
dibuat secara tertulis dan diperbaharui
secara terus menerus sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang farmasi dan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

SPO pada dasarnya adalah tata
kerja dari suatu kegiatan (suatu
set instruksi) yang harus diketahui
dan dipatuhi pekerja terkait. SOP
merupakan tatacara baku dan yang
harus dilalui untuk menyelesaikan
suatu proses kerja tertentu. Dengan
melaksanakan instruksi yang terdapat

baiknya SOP disusun secara sistematis,
di runut sesuai alur kerja yang terjadi
ditempat pelayanan kefarmasian.
SPO sebenarnya sudah dikenal
jauh-jauh hari oleh beberapa pelayanan
kefarmasian di Indonesia, terutama oleh
apotek jaringan seperti Kimia Farma.
Namun bagi sebagian besar apotek,
SPO memang belum dijadikan acuan
dalam bekerja.
Untuk mempermudah apoteker di
tanah air membuat dan menerapkan
SPO di tempat prakteknya, Ikatan
Apoteker Indonesia bekerja sama
dengan Direktorat Jenderal Bina

STANDAR OPERASIONAL

APOTEKER KOMPETEN

pada SPO akan dihasilkan produk yang
memenuhi standar. Bila terjadi produk
yang tak berkualitas, akan cepat dilacak
penyebab kesalahan dengan meneliti
apakah ada SPO yang dilanggar.
SPO juga merupakan dokumen legal
yang akan melindungi dan memberi
kepastian hukum bagi apoteker dalam
melakukan pekerjaan kefarmasian.
SPO dari suatu unit pelayanan
farmasi tidak harus sama dengan unit
pelayanan lainnya. SPO juga harus
dievaluasi secara berkala untuk melihat
apakah masih sesuai dengan kondisi
yang ada.

Walau setiap layanan kefarmasian
boleh bebas membuat SPO, ada

Kefarmasian Dan Alat Kesehatan
Kementerian Kesehatan telah
menyelesaikan Draft Final Pedoman
Membuat SPO, yang merupakan bagian
dari Pedoman Apoteker Praktik di
Sarana Pelayanan Kefarmasian (GPP,
Good Pharmacy Practice). Pedoman
tersebut telah dibagikan ke masing-
masing PD pada Rakernas IAI akhir
Oktober 2011 kemarin.
SPO yang termaktub pada
Pedoman tersebut mencakup SPO
Pengelolaan Farmasi dan Alat
Kesehatan (10 SPO), SPO Pelayanan
Kefarmasian, SPO Higiene dan Sanitasi
(4 SPO), SPO Tata Kelola Administrasi
(3 SPO), dan 7 SPO lainnya (ak)

Dani Rachadian

Grup Diskusi : Sesi acara SKPA untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

16

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

Di hari-hari mendatang,

apoteker Indonesia mesti rajin
mengupdate diri agar ilmu dan
pengetahuan farmasinya tetap selaras
dengan perkembangan ilmu
pengetahuan. Apoteker secara
berkala akan diuji kemampuannya
dalam melayani masyarakat yang
membutuhkan pelayanan kefarmasian.
Dengan kata lain, apoteker harus
melewati standar kompetensi yang
ditetapkan oganisasi profesi apoteker
di tanah air, IAI.
Mengenai kemampuan, apoteker
Indonesia ternyata tak kalah
kompetensinya dengan sejawat
dari negara lain. Beberapa apoteker
lulusan Indonesia telah bekerja di luar
negeri yang tentunya telah lulus uji
kompetensi di negara bersangkutan.
Salah satu apoteker Indonesia yang
bekerja di Amerika Serikat adalah Ria
Widya. Apoteker UI lulusan 1980 ini
telah 11 tahun bekerja sebagai clinical
pharmacy di UCLA Medical Centre,
yang menurut US World & Report
termasuk dalam 5 rumah sakit terbaik
di Amerika Serikat.
Menurut Ria Widya yang
diwawancarai Medisina 27 November
2011, sebelum bekerja sebagai
pegawai negeri di UCLA Medical
Centre, ia harus mengikuti berbagai
proses penilaian. Sebagai orang asing
, ijazah dan berkas-berkas seperti SIK
dari Indonesia divalidasi dulu oleh
pemerintah federal AS apakah bisa
dipersamakan atau tidak. Setelah
dokumen pendidikan dianggap tak
bermasalah, Ria diuji kemampuannya
tentang ilmu kefarmasian. Setelah
dinyatakan lulus, ia harus melakukan
praktek magang di negara bagian yang
diinginkannya, dalam hal ini di negara

Apoteker Indonesia:

Kompeten di AS

kepada pasien sering bertanya kepada
clinical pharmacy, apakah ada dampak
buruk bila pasien diberi suatu obat.
Diskusi dengan para klinisi sangat
intensif. Para perawat dan tenaga
rumah sakit sangat menghargai

Ria Widya

LAPORAN UTAMA

bagian California.
Waktu magang selama 1500 jam,
dalam rentang waktu 1 tahun di
sarana pelayanan kesehatan seperti
rumah sakit. Setelah magang selesai,
ia harus melalui uji kompetensi yang
dilakukan Board of Pharmacy negara
bagian California. Pertanyaannya
tidak hanya tentang ilmu farmasi ,
tetapi juga tentang UU yang berlaku
di sana. Setelah dinyatakan lulus,
Board of Pharmacy negara bagian
California mengeluarkan lisensi, yang
membolehkannya bekerja sebagai
farmasis.

Dua tahun sekali, lisensi harus

diperbarui dengan syarat apoteker
telah mengumpulkan 30 kredit yang
diperoleh dari seminar, mengikuti kuis
ilmiah secara on line dan menjawab
kuis yang diadakan majalah yang telah
diakreditasi oleh Board of Pharmacy.
Menurut Ria yang sehari-hari
bekerja sebagai Clinical Pharmacy di
bagian in patient, para dokter di rumah
sakitnya sebelum memberikan terapi

dok. pribadi

Ria Widya : Kedua dari kanan, berfoto bersama teman kuliah satu angkatan di Universitas Indonesia.

apoteker, karena merasakan sekali
manfaat clinical pharmacy yang
senantiasa mengikuti perkembangan
kesehatan pasien dan memberikan
pendapat dari sisi farmasi klinis. Beda
jauh dengan di Indonesia, dimana
apoteker masih berusaha keras diakui
eksistensinya oleh tenaga kesehatan
lain. (AK)

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012 17

WAWANCARA

Sebagai mantan Ketua Umum

ISFI, penasehat IAI dan kini
anggota KFN, Ahaditomo
memiliki banyak pemikiran
tentang seperti apa dan ke mana masa
depan apoteker akan dibawa. Dengan
terlibatnya dalam keanggotaan KFN,
diharapkan Ahaditomo mampu
mengembalikan profesi Apoteker ke
arah yang benar seperti yang dicita-
citakan selama ini.
Menariknya, bila berdiskusi dengan
Ahaditomo, lebih dulu kita akan diajak
untuk menyimak ke belakang tentang
pergeseran wajah profesi farmasi
Indonesia, yang kaya nuansa ketidak-
jelasan. Namun, ia mengajak agar kita
tidak pesimis dan bersikap skeptis,
dan mengingatkan bahwa seberat-
beratnya masalah masih bisa diperbaiki.
Sehubungan dengan momentum
perubahan di dunia farmasi Indonesia,
Medisina melakukan wawancara
khusus dengan Ahaditomo, Rabu, 26
September 2011.

Sertifikat kompetensi apoteker,
setelah lewat masa transisi menurut
Permenkes 889 akan dilaksanakan
oleh organisasi profesi. Bagaimana
baiknya metode yang harus
dilaksanakan organisasi profesi,
sebelum memberikan sertifikat
kompetensi?

Sertifikasi kompetensi nantinya
akan menjadi tugas organisasi profesi
untuk melaksanakannya. KFN yang
menyusun rujukan atau rumusannya.
Untuk itu, perlu konsep yang matang.
Apa yang akan dilakukan oleh
KFN, adalah merumuskan ulang,
menyempurnakan dan menetapkan
definisi kompetensi apoteker berdasar
UU 36/2009 pasal 108, setelah
diperkuat oleh amar keputusan MK
N0.12/2011.

Drs. Ahaditomo, Apt

Yang harus disadari, apoteker adalah
tenaga kesehatan, bukan sekadar tenaga
kerja. Mereka adalah pejabat publik
yang disumpah dan diberi wewenang
untuk melakukan berbagai tindakan di
berbagai jenis pekerjaan keprofesian
apoteker. Wewenang apoteker didasari
adanya STRA (Surat Tanda Registrasi
Apoteker) dan SIPA (Surat Izin Praktek
Apoteker), dan dikelompokkannya
apoteker sebagai tenaga kesehatan.
Merujuk kompetensi apoteker pada
UU Kesehatan 36/09 dan PP 51/09,
akan diterbitkan rumusan yang lebih
rinci tentang format keahlian /ekspertis
apoteker terkait pembuatan obat (QA,
Produksi dan QC), distribusi obat,
pelayanan kefarmasian kepada pasien
berdasarkan resep dokter , penelitian
tentang obat dan penggunaan obat
tradisional, yang mengacu pada ilmu
farmasi, profesi, moral dan etik.
Rumusan-rumusan di atas
merupakan rambu rambu yang nantinya
diturunkan menjadi visi dan misi
pendidikan dan tujuan belajar-mengajar
pendidikan tinggi program apoteker
selama 5 tahun. Baru kemudian, dengan
panduan rumusan tersebut akan dibuat
jenis dan bentuk soal ujian kompetensi
di pendidikan tinggi apoteker oleh
organisasi profesi apoteker ( IAI), yang
berlaku nasional. Dari sinilah konsep
pemberian sertifikat kompetensi dijalani
nantinya.

Mengenai apoteker yang baru
lulus, mereka langsung diberi
sertifikat kompetensi. Mengingat
kualitas pendidikan farmasi
yang menghasilkan apoteker
sangat beragam, apakah KFN
akan berkontribusi di perguruan
tinggi farmasi agar apoteker
yang dihasilkan memang sudah
kompeten?

Pertanyaan ini menarik sekali.
Kalau kita bicara soal kualitas yang
terkait dengan kompetensi, saat ini
yang kita penuhi lebih dulu adalah
derajat kompetensi yang minimal,
namun mampu menjamin apoteker
tersebut dapat melakukan tindakan
apoteker dalam proses kefarmasian.
Dalam perjalanannya nanti, KFN
akan membantu perguruan tinggi
farmasi untuk menyesuaikan program
belajar mengajar agar sesuai standart
kompetensi apoteker yang baru.
Program-program terkait kompetensi
seperti CPD berkelanjutan dan
terstruktur akan digalakkan, juga
asistensi PTF akan terus dilakukan oleh
IAI, sebagai organisasi profesi.

Untuk mempermudah pendaftaran,
STRA menurut Permenkes 889
dapat diajukan secara on line.Kapan
dapat dilaksanakan?

Ya. Prosedur pendaftaran STRA
dapat dilakukan secara online untuk
tujuan kemudahan bagi pendaftar.
Saat ini, kendala utama terletak
di ketersediaan dana pembuatan

Evita Fitriani

Kembalikan Profesi
Apoteker Ke Fitrahnya

18

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

WAWANCARA

perangkat lunak, teknologinya sendiri
sudah tersedia di pasar. Tapi, saya
rasa itu hanya kendala teknis. Kita
bisa memulainya kapan saja dengan
urutan perencanaan, pengembangan,
modeling, uji coba dan peluncuran.
Mudah-mudahan tahun 2012,
pemerintah sudah dapat menyiapkan
RAB khusus.

Sampai saat ini, berapa persen
permohonan STRA yang sudah
selesai? Apa kendala penerbitan
STRA masa transisi?

Persentase penyelesaian STRA
sudah melewati 50%. Kendalanya
adalah masa pendaftaran yang pendek,
dan beban administrasi proses
penerbitannya yang juga sangat pendek.
Sekarang kami berusaha menyelesaikan
masalah ini secepatnya.

Apakah KFN ikut berperan dalam
meningkatkan kualitas tenaga
menengah kefarmasian?

KFN juga bertanggung jawab
terhadap tenaga tehnis kefarmasian
melalui aplikasi STRTTK sebagaimana
ketentuan PP 51/09. Implikasinya
adalah,KFN juga akan merumuskan
rentang ketrampilan yang harus
dikuasai TTK melalui kisi kisi KKNI.
Dalam penatalaksanaanya nanti melalui
apoteker yang telah memiliki STRA.

Sebagai anggota KFN, apakah
Bapak merasa bahwa komposisi
yang ada saat ini sudah ideal?
Apakah sudah cukup mewakili
bidangnya masing-masing?

Saya rasa cukup untuk pertama kali,
tetapi belum ideal. Nantinya, keperluan
tambahan untuk meningkatkan kinerja
dapat dilakukan dengan membuat team
ad hoc. Saya piki, KFN tidak boleh
terperangkap pada kata perwakilan,
karena di KFN yang ada adalah
apoteker yang bekerja untuk masa
depan profesi apoteker. Tim ad hoc
sendiri nantinya akan berfungsi untuk
melakukan audit terhadap pelaksanaan
ketentuan UU 36/09 dan PP 51/09
yang dilakukan oleh KFN

Tentang keberadaan apotek rakyat,

masih relevankah keberadaanya setelah
PP-51?

Simple saja. Kita tahu bahwa
UU 36/09, PP 51/09 dan UU Obat
Keras 419/49 serta UU Narkotika
dan Psikotropika merupakan legislasi
yang diperintahkan negara kepada
pemerintah. Dan ini harus dijalankan.
Terlebih saat ini definisi apotek menjadi
lebih sempurna, yaitu sebagai tempat
bagi apoteker untuk menyelenggarakan
praktek. Apotek sama seperti sarana
kesehatan lainnya, yang memiliki syarat
dan standar yang ditetapkan. Legislasi
apotek rakyat adalah Permenkes,
dan saat ini ada aturan baru di atas
Permenkes yaitu UU 36/09 dan PP
51/09. Tentu, apotek rakyat harus
mengikuti ketentuan yang baru karena
lebih kuat posisinya.

Sebagai anggota KFN, saya sangat
optimis atas terlaksananya ketentuan
pelayanan yang baru ini. Menurut
sayai, PP 51/09 telah mengisi semua
kekurangan yang ada di PP 25/80. PP
51/09 melihat apoteker sebagai subjek
hukum yang definitive, sehingga semua
masalah yang terkait dengan proses
farmasi yang berimplikasi hukum
menjadi jelas, siapa subjek hukumnya
dan apa objek hukumnya. Ini berbeda
dengan pelaksanaan ketentuan PP
25/80 yang tidak memiliki kekuatan
hukum yang cukup (bukan UU) dan
perangkat pelaksanaan yang tidak
lengkap. Kesenjangan pelaksanaan
proses kefarmasian Indonesia selama
sekitar 30-tahun, kelemahan konstruksi
hukum PP 25/80 serta kelemahan
implementasinya oleh semua fihak,

Tapi, saya tidak akan mengatakan
bahwa apotek rakyat akan dibubarkan.
Kita harus tetap memberi ruang
untuk membimbing. Saya lebih suka
mengatakan memberikan kesempatan
untuk mereka memperbaiki diri.
Caranya? Ya, kita undang apoteker
dan pengusahanya, kita sosialisasikan
mengenai UU dan PP ini. Langkah
selanjutnya, perlu audit ulang untuk
untuk apotek rakyat tersebut.

Menurut bapak, apa kendala
pelaksanaan PP 51? Dan apakah
bapak optimis PP. 51 tidak bernasib
seperti PP 25 tahun 1980?

mulai sistem birokrasi kesehatan,hukum
dan organisasi profesi, merupakan
faktor dominan kegagalannya.

Banyak apotek terutama di perifer
yang kesulitan untuk menggaji
wajar lebih dari 1 apoteker.
Bagaimana jalan keluar terbaik
agar beban apotek tidak bertambah
berat?

Ini yang dimaksud konsep apotek
berbasis ekonomi. Apotek menjual
obat melalui sistem “mark up”. Tidak
didukung infrastruktur pelayanan
yang memadai. Hal ini menyebabkan
deformasi apotek menjadi toko obat

dok. pKem

kes

Ahaditomo : Berdiri paling kiri berfoto bersama dengan anggota Komite Farmasi Nasional (KFN).

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012 19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->