P. 1
LP COMBUSTIO

LP COMBUSTIO

|Views: 94|Likes:
Published by gathotbayu

More info:

Published by: gathotbayu on Apr 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2012

pdf

text

original

LP COMBUSTIO

Definisi Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang di sebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air, panas,bahan kimia, listrik dan radiasi. B. Klasifikasi Luka baker diklasifikasikan berdasarkan : Kedalaman luka bakar Luka bakar ketebalan parsial di bedakan menjadi luka bakar superfisial dan luka bakarketebalan partial dalam. Luka bakar ketebalan partial superfisial ( luka bakar derajat 1 ) merusak lapisan epidermis. Sedangkan cedera ketebalan partial dalam ( luka bakar derajat 2 ) mengenai lapisan epidermis dan dermis termasuk kelenjar keringat dan sebasea, saraf sensoris dan motorik, kapiler dan folikel rambut. Luka bakar ketebalan penuh ( luka bakar derajat 3 ) mengenai lapisan lemak lapisan ini mengandung kelenjar keringat dan akar folikel rambut, dan semua lapisan epidermis mengalami kerusakan. Keparahan luka bakar Cedera luka bakar dapat berkisar dari lepuh kecil sampai luka bakar masif derajat 3. Cedera luka bakar di kategorikan ke dalam luka bakar minor, sedang dan mayor. Cedera luka bakar minor adalah cedera ketebalan partial yang kurang dari 15 % LPTT ( luas permukaan tubuh total ) pada orang dewasa dan anak-anak 10% LPTT, atau cedera ketebalan penuh kurang dari 2% LPTT. Cedera luka bakar sedang adalah cedera luka bakar sedang terkomplikasi adalah cedera ketebalan partial dengan 15-20% dari LPTT pada orang dewasa atau 10-20% LPTT pada anakanak atau cedera dengan ketebalan penuh kurang dari 10% LPTT yang tidak berhubungan dengan komplikasi Cedera luka bakar mayor adalah cedera ketebalan partial lebih dari 25% pada orang dewasa atau 20% LPTT pada anak-anak, cedera ketebalan penuh 10% LPTT atau lebih, luka bakar yang mengenai tangan,wajah,mata,kaki dan perineum. Cedera inhalasi, cedera listrik, luka bakar yang berkaitan dengan cedera lain ( cedera jaringan lunak, fraktur, dan trauma lain). Lokasi luka bakar Luka bakar pada wajah seringa menyebabkan abrasi kornea, pada telinga akan menyebabkan kondritis auricular, luka bakar pada tangan dan persendian membutukan terapi fisik dan okupasi yang lama. Luka bakar pada perineal menyebabkan mudah terserang infeksi karena autokontaminasi oleh urin dan feses. Lokasi luka bakar sirkumferensialis ektremitas berefek pada penebalan pembuluh darah, luka bakar pada sirkumfernsial toraks dapat menyebabkan inadekuat ekspansi dinding dada dan insufisiensi pulmonal. Agen penyebab luka bakar Agen yang menyebabkan terjadinya luka bakar adalah termal ( cedera terbakar, kontak dengan kobaran api, uap panas), listrik, kimia sinar matahari dan radiasi. Ukuran luka bakar Luas dan kedalaman luka bakar berhubungan denga intensitas dan durasi dari pemajanan terhadap agen penyebab. Metode rule of nine untuk menentukan persentase luas permukaan tubuh yang mengalami cedera luka bakar, dasar dari perhitungan ini adalah dengan membagi tubuh kedalam bagian-bagian anatomi yang setiap bagiannya mencerminkan luas 9% dari LPT(luas permukan tubuh) atau

klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebkan terjadinya edema yang akan berlanjut ke keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi karena kehilangan volume cairan yang akan mempengaruhi nilai normal cural dan elektrolit tubuh. Patofisiologi Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas tubuh. karena semua reseptor sensoris telah mengalami kerusakan total · Terjadi syok · Hematuria · Kemungkinan terjadi hemolisis ( destruksi sel darah merah ) · Luka bakar berwarna putih · Kulit retak dengan bagian lemak yang tampak · Ada edema D. air. Pada kardiovaskuler perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler yang mengakibtkan kehilangan Na. Perhitungan pada setiap bagian tubuh : o Kepala : 9% o Ekstremitas atas kanan : 9% o Ekstremitas bawah kiri : 9% o Torso : 36% o Perineum : 1% o Ekstremitas bawah kanan : 18% o Ekstremitas bawah kiri : 18% o Total : 100% C.kelipatan dari 9%. dan protein plasma serta adema jaringan yang di . Keadaan hipovolemik yang tidak segera di atasi akan berlanjut ke keadaan syok hipovolemik. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis. Tanda dan Gejala Ø Luka bakar derajat satu ( superfisial) · Pada awalnya terasa nyeri dan kemudian gatal stimulasi reseptor sensoris · Kesemutan · Hiperestensi · Kemerahan dan akan menjadi putih pada saat di tekan · Sembuh dengan spontan tanpa meninggalkan jaringan parut Ø Luka bakr derajat dua ( partial ) · Nyeri · Berwarna merah pink · Membentuk lepuh dan edema subkutan · Hiperestesia · Sensitif terhadap udara dingin · Dasar luka berbintik-bintik merah · Epidermis retak · Permukaan luka basah Ø Luka bakar derajat tiga ( Full) · Luka terasa nyeri. natrium. dermis maupun jaringan subkutan. Luka bakar menyebabkan naiknya permeabilitas pembuhuh darah sehingga air.

Jika resusitasi cairan untuk kebutuhan vaskuler tidak adekuat maka akan mengakibatkan terjadinya gagal ginjal. hemokonsentrasi sel darah merah. gangguan fungsi neutrofil dan penurunan jumlah limfosit. Pathway Thermal ( suhu) Radiasi. zat kimia.d takipneu Dx : hipotermi b/d mengalami termoregulasi .H2O kerusakan respon imun Dan protein dr intrvaskuler Dx : kerusakan pertukaran Ke ruang interstitial Gas b. Sedangkan ulkus lambung terjadi sebagai akibat dari perdarahan lambung yang terjadi sekunder akibat fisiologik masif yang ditandai oleh darah okulta dan feses. regurtitas muntahan seperti bubuk kopi dari lambung. Pada renal dstruksi sel-sel darah merah pada lokasi cedera akan menghasilkan hemoglobin bebas salam urine. Hemoglobin dan mioglobulin yang menyumbat tubulus renal akan mengakibatkan nekrosis akut tubuler. listrik Luka bakar Dx : kerusakan integritas kulit b/d kehilangan barrier kulit Kemungkinan Cedera inhalasi kelenjar kapiler kehilangan barier kulit Hipoksia Permeabilitas kapiler problem termoregulasi respon inflamasi Takipneu perpindahan natrium. Pada renal dengan menurunnya volume intravaskuler maka aliran plasma ke ginjal dan urine. Dari gastrointestinal akan terjadi penurunan aktivitas neurologik serta respon hipovolemik dan respon endokrin akibat adanya perlukaan luas. E. imunosupresan membuat resiko terjadinya sepsis. penurunan perfusi pada organ dan edema menyeluruh. atau vomitus yang berdarah.ikuti dengan penurunan curah jantung. sepsis kehilangan barrier kulit . Denganberkurangnya peristaltik dan bising usus akan menyebabkan ilius paralitik sebagai akibat dari adanya luka bakar. Dari imunologi respon dari kehilangan integritas kulit di perparah dengan pelepasan faktorfaktor inflamsi yang abnormal. perubahan kadar immunoglobulin serta komplemen serum.

G. dukungan nutrisi.Dx : infeksi b/d sepsis. pencegahan dan penanganan komplikasi termasuk infeksi. okupasional dan vokasional. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium a. Elektrolit serum e. pencegahan syok. rehabilitasi fisik. CoHbg d. Hitung darah lengkap b. syok hipovelemik hipoksia Tekanan darah perpusi jaringan takikardi Dx : kerusakan integritas jaringan aliran darah keginjal b/d perfusi jaringan syok hipovelemik dx : perfusi jaringan ginjal tidak efektif F. rekonstruksi fungsional dan kosmetik. konsling psikososial. deteksi dan penanganan cedera yang menyertai. Fase akut ( > 48 jam pertama luka bakar mudah sembuh ) Mulai dengan adanya diuresis dimana terjadi perpindahan cairan dari intertitial dan diteruskan melalui daerah luka bakar. Ø Durasi : dari awitan cedera hingga selesainya resusitasi cairan Ø Prioritas : pertolongan pertama. Natrium urin random . Analisa gas darah c. cairan b/d dehidrasi . Penatatalaksanan Penatalaksanaan luka bakar dapat dibagi menjadi tiga fase : Fase resusitasi (28 jam pertama ) Pasien memerlukan penanganan yang cepat dan tepat sesuai dengan kondisinya serta memerlukan terapi cairan yang sesuai dengan kebutuhan dan pemantauan ketat. Ø Durasi : dari dimulainya diuresis hingga hampir selesainya proses penutupan luka Ø Prioritas : perawatan dan oenutupan luka. Ø Prioritas : pencegahan jaringan parut dan kontraktur. penilaian luka dan perawatan. Fase rehabilitasi ( luka sembuh sampai pengembalian fungsi tubuh ) Mengembalikan fungsi tubuh yang mengalami defisit atau kemunduran seperti kontraktur Ø Durasi : dari penutupan luka yang besar hingga kembalinya kepada tingkat penyesuaian fisik dan psikososial yang optimal. pencegahan gengguan pernapasan. Kehilangan barrier kulit Syok Hipovolemik Dehidrasi iskemik curah jantung Dx : defisit Vol.

f. BUN atau Kreatinin j. . Alkalin fosfat g. Urine Foto rontgen dada Bronkoskopi serat optik Loop aliran daran Scan paru EKG Fotografi luka bakar H. Glukosa serum h. Komplikasi Ø Glandula thyroid menjadi lebih aktif Ø Pneumonia Ø Ileus paralitik Ø Ulkus lambung Ø Hiperetrofi jaringan parut Ø Kontraktur ( kekakuan ) BAB II RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN No Diagnosa keperawatan Tujuan Intervensi 1. Albumin serum i.

.2.

Defisit volume cairan b/d syok hipovelemik Kerusakan intergritas kulit b/d kehilngan barrier kulit .3.

hematokrit dalam batas normal. kesimbangan urine output lebih dari 1300 ml/hari ( paling sedikit 30 ml/jam ) 2. klien mampu untuk mencegah dan mengatasi kehilangan cairan : · Klien mampu mengkonsumsi air putih sebanyak 2 liter/hari 5. turgor kulit baik 4.Resiko infeksi b/d kerusakan respon imun Tujuan jangka pendek Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x 24 jam syok hipovelemik klien berkurang Tujuan jangka panjang Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x 24 jam keseimbangan volume cairan klien dapat dipertahankan dengan kriteria hasil : 1. Tujuan jangka pendek Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam luka menunjukkan regenerasi jaringan Tujuan jangka panjang Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam telah tercapai penyembuhan pada area luka dengan kriteria hasil : Area luka terbuka berwarna merah muda Pigmentasi kulit Elastisitas membaik Tekstur kulit baik Timbul eschar Luka yang baru sembuh teraba lunak dan licin Kulit secara umum tampak utuh dan bebas dari tanda-tanda infeksi . vital sign dalam keadaan normal 3.

gelisah dak ikterus ambil sampel darah pantau ulang hasil pemeriksaan eritrosit. catat ukuran. dan mobilisasi pada autograff 7. cegah penekanan. letargi. tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi 2. kedalaman luka. leukosit deferensiasi. perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka 3. immunglobulin. infeksi. tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidakseimbangan cairan ( hipertermi. malas minum. catat intake dan output cairan 6. lakukan prosedur secara steril Lakukan pencegahan infeksi silang atau perpindahan mikro-organisme. bersihkan luka. perhatikan perubahan penampilan bau atau kuantitas drainase 5. disfungsi hati dll) 3. bersihkan jaringan nekrotik yang lepas ( termasuk pecahnya lepuh ) 4. lakukan latihan mobilisasi pada daerah yang tidak luka kaji adanya fluktuasi suhu tubuh. gagal ginjal. apneu. oleskan preparat antibiotik topikal dan pasang balutan sesuai ketentuan medis 6. tubuh.Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x 24 jam tidak terjadi infeksi monitor cairan 1. monitor memberan mukosa dan turgor kulit serta rasa haus 5. periksa luka tiap hari. dan rambut setiap hari 2. . pertahankan pemberiaan infus dan atur cairan sesuai kebutuhan integritas kulit membaik : 1. monitor berat badan klien 4.

Moenadjat. 2001. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol. http://doddyy. Jakarta : EGC. Yefta. FKUI : Media Aesculapus. Jakarta : FKUI. 2003. Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran. 2002. Arif. dkk.com/2010/03/lp-combustio.DAFTAR PUSTAKA Brunner dan Suddarth.html .3 . luka Bakar Pengetahuan Klinik Praktis.blogspot.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->