PANDUAN PELAKSANAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) Bab 1 Latar Belakang Berlakunya Bea

Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) berdasarkan Undang Undang No. 21 Tahun 1997 tanggal 29 Mei 1997 Tentang "Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan, yang diubah lagi dengan UU No. 28 Tahun 2009 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH (PDRB). Bagi Negara Republik lndonesia yang sedang meningkatkan pembangunan di segala bidang menuju masyarakat adil dan makmur, pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat penting bagi penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan kewajiban perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan yang merupakan sarana peran serta dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional guna tercapainya masyarakat adil dan makmur, dan sejahtera. Sesuai dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tanah sebagai bagian dari bumi yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki fungsi sosial, disamping memenuhi kebutuhan dasar untuk pangan dan lahan usaha, juga merupakan alat investasi yang sangat menguntungkan. Di samping itu, bangunan juga memberi manfaat ekonomi bagi pemiliknya. Oleh karena itu, bagi mereka yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan, wajar menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak, yang dalam hal ini Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Namum, pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menurut Undang-undang ini telah memperhatikan aspek keadilan bagi masyarakat terutama masyarakat golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpenghasilan rendah, yaitu dengan mengatur nilai perolehan hak atas tanah dan bangunan yang tidak dikenakan pajak. Pada masa lalu ada pungutan pajak dengan nama Bea Balik Nama yang diatur dalam Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291. Bea Balik Nama ini dipungut atas setiap perjanjian pemindahan hak atas harta tetap yang ada di wilayah Indonesia, termasuk peralihan harta karena hibah wasiat yang ditinggalkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal terakhir di Indonesia. Yang dimaksud dengan harta tetap dalam Ordonansi tersebut adalah barang-barang

tetap dan hak-hak kebendaan atas tanah, yang pemindahan haknya dilakukari dengan pembuatan akta menurut cara yang diatur dalam undang-undang, yaitu Ordonansi Balik Nama Staatsblad 1834 Nomor 27. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, hak-hak kebendaan yang dimaksud di atas tidak berlaku lagi, karena semuanya sudah diganti dengan hak-hak baru yang diatur dalam Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dengan demikian, sejak diundangkannya Undang-undang tentang peraturan Dasar PokokPokok Agraria, Bea Balik Nama atas hak harta tetap berupa hak atas tanah tidak dipungut lagi, sedangkan ketentuan mengenai pengenaan pajak atas akta pendaftaran dan pemindahan kapal yang didasarkan pada Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291 masih tetap berlaku. Dengan pertimbangan hal tersebut di atas dan sebagai pengganti Bea Balik Nama atas harta tetap berupa hak atas tanah yang tidak dipungut lagi sejak diundangkannya Undangundang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, perlu diadakan pungutan pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dengan nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Tarif yang ditetapkan menurut Undang-undang ini adalah sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak. Dengan demikian, semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undang ini tidak diperkenankan. Prinsip yang dianut dalam Undang-undang ini adalah: a. pemenuhan kewajiban Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah berdasarkan sistem self assesment, yaitu Wajib Pajak menghitung dan membayar sendiri utang pajaknya; b. besarnya tarif ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak; c. agar pelaksanaan Undang-undang ini dapat berlaku secara efektif, maka baik kepada Wajib Pajak maupun kepada pejabat-pejabat umum yang melanggar ketentuan atau tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana ditentukan oleh Undang-undang ini, dikenakan sanksi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku; d. hasil penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan merupakan penerimaan negara yang sebagian besar diserahkan kepada Pemerintah Daerah, untuk meningkatkan pendapatan daerah guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan dalam rangka memantapkan otonomi daerah; e. semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undang ini tidak diperkenankan. Penyusunan Undang-undang tersebut dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama penerimaan daerah yang dinilai penting bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan nasional.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

2

Berdasarkan pemikiran itu pula, subjek pajak yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan dianggap wajar apabila diwajibkan untuk menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak yang diberi nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Dengan memperhatikan fungsi tanah yang demikian penting bagi penyelenggaraan kehidupan masyarakat ataupun bagi pembangunan, penggalian sumber penerimaan pajak tersebut sudah barang tentu akan berarti sekali terutama sebagai sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Namun demikian, dengan terjadinya gejolak moneter pada akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998 yang demikian besar pengaruhnya terhadap kehidupan perekonomian dan pelaksanaan pembangunan, maka penggalian sumber-sumber penerimaan pajak yang baru menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Gejolak moneter yang terjadi beberapa bulan terakhir, telah memberi pengaruh yang besar dan menimbulkan gangguan terhadap pelaksanaan pembangunan nasional terutama dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Diantara berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh untuk mengurangi pengaruh gejolak moneter yang tidak menguntungkan tadi adalah penangguhan rencana pengenaan beban baru terhadap masyarakat. Behan baru seperti itu akan merupakan tambahan biaya ekonomi, yang dalam keadaan perekonomian yang sulit akan mengurangi kemantapan penciptaan lapangan kerja dan menurunkan kesempatan kerja yang baru, yang besar artinya terhadap kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu dikeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang "Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No. 1 Tahun 1997 tentang Penangguhan Mulai berlakunya Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Peralehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Menjadi Undang- Undang" . Pada Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1998 menyatakan "Undang Undang No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3688), ditangguhkan mulai berlakunya selama enam bulan dari tanggal 1 Januari 1998 sampai dengan tanggal 30 Juni 1998. Pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan harus memperhatikan asas-asas keadilan, kepastian hukum, legalitas, dan kesederhanaan serta didukung oleh sistem administrasi perpajakan yang memudahkan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Sehubungan dengan diberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 yang bersamaan dengan terjadinya perubahan tatanan perekonomian nasional dan internasional, berpengaruh terhadap perubahan perilaku perekonomian masyarakat sehingga perlu diakomodasikan dengan penyempurnaan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

3

meningkatkan disiplin dan pelayanan kepada masyarakat serta pengenaan sanksi bagi pejabat dan Wajib Pajak yang melanggar. b. legalitas. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sejahtera. dan kesederhanaan. d. Berlandaskan pada arah dan tujuan penyempurnaan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tersebut. bertujuan untuk mewujudkan tata. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 'tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 4 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848). c. 20 Tahun 2000 tentang " Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan". menampung perubahan tatanan dan perilaku ekonomi masyarakat dengan tetap berpedoman pada tujuan pembangunan nasional di bidang ekonomi yang bertumpu pada kemandirian bangsa untuk membiayai pembangunan de ngan sumber pembiayaan yang berasal dari penerimaan pajak. memperluas cakupan objek pajak untuk mengantisipasi terjadinya perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dalam bentuk dan terminologi yang baru.Oleh karena itu dibuat Undang-Undang No. tertib. dan berkeadilan. lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat pelaku ekonomi untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan sesuai dengan kewajibannya. kepastian hukum. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839) dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. menyesuaikan ketentuan yang berkaitan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. memberikan kemudahan dan perlindungan hukum kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajibannya. arah dan tujuan penyempurnaan Undang-undang ini adalah sebagai berikut: a. kehidupan bangsa yang aman. Berpegang teguh pada asas-asas keadilan. b. maka pokok-pokok perubahan sebagai berikut: a.

perlu dilakukan perluasan objek pajak daerah dan retribusi daerah dan pemberian diskresi dalam penetapan*tarif. Sehingga BPHTB yang dulunya ditangani oleh pemerintah pusat yang merupakan pajak pusat. perlu disesuaikan dengan kebijakan otonomi daerah. Tujuan UU No. Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka di buatlah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tanggal 15 September 2009 tentang "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah". pemerataan dan keadilan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3688) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 5 .Daerah. sekarang ditangani sendiri oleh pemerintah kabupaten/kota dan merupakan pajak daerah. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaanpemerintahandaerah. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan retribusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam rangkameningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan kemandirian daerah. maka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya. Aturan Peralihan Pengelolaan BPHTB ■ Pasal 180 ayat (6) Undang-Undang PDRD "Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44. pecan serta masyarakat. disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. 28 Tahun 2009 O Memperbaiki kewenangan pemungutan O Meningkatkan local taxing power O Meningkatkan efektivitas pengawasan O Meningkatkan sistem pengelolaan Inti dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah: ► Pengenaan pajak yang close list ► Pengawasan:represive 4 preventif dan korektif ► Sanksi bagi daerah apabila melanggar ► Memperkenalkan earmarking system ► Pengalihan hak pemungutan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah Berdasarkan Pasal 2 ayat 2 huruf "k" Undang undang PDRD dinyatakan bahwa salah satu Jenis pajak kabupaten/ kota adalah Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB). dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah. Kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi.

Dengan demikian. maka penulis mencoba membuat buku panduan bagi bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan BPHTB. Notaris/PPAT. Badan Pertanahan(BPN). DJP tidak berwenang memungut BPHTB lagi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988) tetap berlaku paling lama 1 (satu) tahun sejak diberlakukannya UndangUndang ini". Oleh karena Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan (BPHTB) merupakan Pajak Baru yang akan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. sedangkan mulai tahun 2011. Dan tak kalah pentingnya buku ini sangat berguna bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan khususnya BPHTB. Buku ini juga berguna bagi Stage holder pemerintah daerah yang terlihat dalam penanganan BPHTB. Bank Persepsi maupun Bank Pembagi. yaitu.Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 130. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 6 . Kantor pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memungut BPHTB sampai dengan 31 Desember 2010.

Aspek Penerimaan (Revenue) Pajak Properti merupakan sumber penerimaan yang potensial bagi daerah. Syarat-syarat untuk membentuk Desentralisasi yang Ideal adalah: • Infrastruktur sudah berjalan baik • Undang-Undang/Aturan yang mendasari • Lebih efisien pelaksanaannya • Hasil yang lebih baik • Tidak memicu disintegrasi bangsa • Daerah siap menerima pelimpahan wewenang dari pemerintah Pusat. Beberapa kemungkinan tahap implementasi yang bisa diadopsi oleh Pemda: • Mengadopsi tax rate. Penilaian dan Pemungutan. NJOPTKP. Aspek Tinjauan Dalam Pengelolaan Pajak Properti: 1. Akuntabilitas dan Trasparancy Dengan Berlakunya UU Nomor 28 Tahun 2009. 1. sistem pendataan dan penilaian yang sudah berjalan • Menggunakan seluruh informasi properti yang sudah ada saat ini • Melakukan cloning terhadap seluruh kebijakan dan keahlian yang dimiliki pemerintah pusat Dalam rangka persiapan Desentralisasi BPHTB. Mengadministrasikan. hal hal yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota adalah. 3. Menilai. Peraturan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 7 . Makna dari Desentralisasi pengelolaan BPHTB adalah menyerahkan semua kewenangan: Mendata. dan tepat jika dikelola oleh pemerintah daerah. dimana BPHTB menjadi Pajak Daerah hal itu berarti Desentralisasi BPHTB kepada pemerintah kabupaten/kota. Basis Data. Aspek Wewenang Perumusan ( Policy) Untuk meningkatkan local Taxing Power.Bab 2 Persiapan yang Harus Dilakukan oleh Pemerintah Daerah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan merupakan salah satu pajak property yang harus ditangani dengan tepat. Aspek Pengelolaan (Administrasi) Meliputi semua kegiatan Pengelolaan: Identifikasi Objek/ Subjek. NPOPTKP. Menetapkan. 2. Memungut dan lain-lain kepada Pemerintah daerah.

Pengadaan Peralatan 4. NJOP • Penetapan Pajak {NPOPTKP. Scanner dan Plotter untuk pets 3. Digital Camera 9. DBKB. Honorarium Tim (Petugas Pungut. Komputer dan Printer 4. Input Data Objek/Subjek 10.DHKP) 5. Biaya Administrasi 7. STTS dan lain-lain ) 3. Theodolit 7. Pencetakan Keluaran (SPPT. GPS 5. Pembangunan Basis Data 2. Pelaksanaan Pendataan & Penilaian 9. SISMIOP dan lain-lain Perangkat Keras : 1. Pelatihan SDM 6. Biaya Pemungutan 8. Pembiayaan 1.STTS. Pengadaan Barang (Blangko SPPT. NPOPTKP. Peralatan Perangkat Lunak: aplikasi oracle. dan lain-lain ) 5. dan lain-lain 4. File Storage 8. BDNPP. Ketetapan Minimal dan lain-lain) • Administrasi Penerimaan • Pemungutan dan Tempat Pembayaran • Penagihan • Tunggakan • Pemeriksaan/ Penelitian • Pengurangan dan Keberatan • dan lain-lain 2. Personil Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 8 .Peraturan-peraturan terkait tentang: • Pendataan • Penilaian/Penentuan NJOP • Pencetakan SPPT/STTS/DHKP • Penerbitan SPPT/Salinan/Ket. Distometer 6. High Speed Printer 2.

Bank. Pemagangan/Pelatihan Pemagangan/pelatihan dapat dilakukan pemerintah daerah dengan menempatkan pegawai pada Kantor Pelayanan. Kantor Pertanahan dan lain-lain. Tahapan. 3. kegiatan untuk Transfer Knowledge Transfer knowledge dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dengan membuat diktat yang bekerjasama dengan Balai Pusat Pelatihan Keuangan (BPPK) atau pihak lain yang berkompeten. Koordinasi antar instansi Pemerintah daerah mengadakan koordinasi dengan stakeholder atau pihak lain yang terkait. Media Asistensi/Pendampingan Asistensi/Pendampingan dilakukan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak dengan melakukan pelatihan secara langsung. Misalnya dengan Notaris/PPAT. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 9 . Pajak Pratama untuk dapat mengetahui secara langsung kegiatan apa saja yang dilakukan dalam pengelolaan BPHTB dan sekaligus mempraktekkannya. Developer. membimbing pelaksanaan kegiatan pengelolaaan dan pengawasannya yang dilakukan di Kantor pemerintah daerah. pemetaan dan Selain mempersiapkan empat hal tersebut diatas. 2.• • • • • • • Petugas Pendata/ Surveyor untuk pengidentifikasian objek pajak Penilai (Valuer) Operator Console (OC) Petugas Administrasi Pemungutan Petugas Pungut Petugas Penagih/Juru Sita Pendistribusi SPPT pengukuran. maka pemerintah daerah juga harus melaksanakan beberapa kegiatan yaitu: 1. 4.

000.001 .001 .000.000.000.000.000 NPOPTKP KAB/KOTA 24 2 3 4 5 6 7 8 9 10 6.000 30.000 48.000.000.Tarif 5 % Tarif 5 % .000.000.000.000.001 .24.36.NPOPTKP waris dan N P O P T K P w a ris hibah wasiat paling dan hibah wasiat tinggi 300jt paling rendah .000 12.42.000. dengan asumsi: dengan asumsi: .NPOPTKP paling 300jt tinggi 60 jt untuk selain waris N P O P T K P p a lin g Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 10 .000 18.30.18.54. UU BPHTB Tarif UU PDRD Paling Tinggi 5% Paling rendah Rp300 juta untuk Waris dan Hibah Wasiat Paling rendah Rp60 juta untuk Selain Waris dan Hibah Wasiat 5% (Maksimal) x (NPOPNPOPTKP) Sebesar 5% NPOPTKP Paling banyak Rp300 juta untuk Waris dan Hibah Wasiat Paling banyak Rp60 juta untuk Selain Waris dan Hibah Wasiat BPHTB Terutang 5% x (NPOP .60.000.001 .001 .000.000 36.001 .001 .000.001 .12.000 42.000 54.000. UU PDRD.48.001 . Sebaran Kabupaten/Kota dan Penerapan NPOPTKP NO 1 16.NPOPTKP) Dampak pengalihan BPHTB.Matrik Perbedaan BPHTB pada Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).000 Jumlah 175 163 96 32 1 2 0 0 4 497 @) Berdasarkan kompilasi data di DIP Tahun 2009 Perubahan UU BPHTB.000.000 24.000.000.

hibah w asiat Potensi penerimaan 4. stakeholder maupun Wajib Pajak.dan hibah wasiat rendah 60 jt untuk selain waris dan. 2.67 % Potensi Penerimaan 8. Pemerintah daerah harus lebih mengintensifkan pengawasan terhadap laporan BPHTB baik dari internal. Melakukan perbaikan administrasi pembuktian BPHTB. 6.01 T Dampak yang timbul dari penerapan UU PDRD secara nasional. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) waris dan hibah wasiat menggunakan Nilai yang paling rendah yaitu 300 Juta. 7.99 T -37. 3. Meningkatkan koordinasi dengan instansi lain yang terkait. Melakukan intensifikasi maupun Ekstensifikasi dari data perpajakan yang dimiliki. misalnya Menambah jumlah Wajib Pajak. 5. maka pemerintah daerah disarankan untuk mengambil langkah-langkah: 1. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 11 . Untuk mengantisipasi kemungkinan semakin turunnya potensi penerimaan BPHTB. Tarif yang digunakan adalah yang paling tinggi atau 5%. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) selain Waris dan hibah wasiat menggunakan nilai yang paling rendah. 4. memperbaiki/ menyesuaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

Seksi Pemeriksaan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 12 . Kepala Kantor 2. Fungsi Penagihan -Seksi Penagihan 7.Bab 3 Struktur Organisasi yang Dapat Diterapkan oleh Pemerintah Daerah Dalam bentuk struktur organisasi yang akan menangani pelaksanaan BPHTB di daerah maka Pemda dapat mengadosi contoh dari Struktur organisasi yang dilaksanakan oleh Dirjen Pajak. Bagan Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan Kanwil Pajak 1. Kepala SubBag Umum 3. Fungsi Pengawasan a. Fungsi Penerimaan dan Manajemen IT Seksi Pusat Data dan Informasi 6. Seksi Pengawasan dan Konsultasi b. dimana bentuk organisasi tersebut didasarkan pada fungsi (organization byfungtion). Ekstensifikasi dan Penilaian 4. Fungsional Penilai b. a. Fungsi Penetapan dan Pelayanan Seksi Pelayanan 5. Fungsi Pendataan dan Penilaian.

Tata cara penelitian Surat Setoran BPHTB (SSB) diatur dengan Peraturan No. Proses pengajuan Penelitian SSB (Pasal 2): Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 13 . 4) Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan apabila atas tanah dan/ atau bangunan yang diperoleh haknya tidak memiliki tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan. daerah dapat mengadopsi/mencontoh perturan yang sudah ada sebelumnya. 2) Dalam hal BPHTB terutang nihil. Kegiatan penelitian SSB tersebut tidak diatur dalam Undang-Undang PDRD. 3) Penyampaian SSB oleh Wajib Pajak atau kuasanya untuk keperluan Penelitian SSB dilakukan dengan menggunakan formulir sebagaimana pada Lampiran 1 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dan dilampiri dengan fotokopi SPPT atau Surat Tanda Terima Setoran (STTS)/Struk ATM bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan/ bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan lainnya atas tanah dan/atau bangunan yang diperoleh haknya.Bab 4 Penelitian Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Dalam upaya untuk meningkatkan pengawasan terhadap penerimaan BPHTB maka pemerintah daerah dapat melaksanakan kegiatan penelitian SSB. Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah SSB ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah/Pejabat Lelang atau Pejabat Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang/Pejabat Kantor Pertanahan yang berkaitan dengan perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. dan fotokopi kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dalam hal Wajib Pajak sudah memiliki NPWP. Pasal 2 1) KPPBB/KPP Pratama/ Pemerintah Daerah melakukan Penelitian SSB atas SSB yang sudah tertera Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) atau SSB yang dilampiri dengan Bukti Penerimaan Negara (BPN) yang disampaikan oleh Wajib Pajak atau kuasanya untuk keperluan Penelitian SSB.16/PJ/2008 Tanggal 17 April 2008. oleh karena itu pemerintah daerah harus membuat Peraturan Daerah (Perda) mengenai petunjuk pelaksannnanya. Untuk itu pemerintah. fotokopi identitas Wajib Pajak.

besarnya BPHTB yang terutang. pengenaan atas objek pajak tertentu. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). termasuk besarnya pengurangan yang dihitung sendiri. mencocokkan NJOP bangunan per meter persegi yang dicantumkan dalam SSB dengan NJOP bangunan per meter persegi pada Basis Data PBB. d. atau pemberian Hak Pengelolaan Item-item yang diteliti adalah: • NOP antara SSB. hibah wasiat. dan bukti pembayaran PBB • NJOP bumi antara SSB dengan basis data. • Kebenaran penghitungan. b. SPPT. yang terdiri. 2) Objek pajak tertentu sebagaimana dimaksud pda ayat (1) huruf d meliputi perolehan hak karena waris. Pemerintah daerah menindaklanjuti dengan: a. NPOP. • NJOP bangunan antara SSB dengan basis data. NPOPTKP. tarif. dan BPHTB yang harus dibayar. mencocokkan NOP yang dicantumkan dalam SSB dengan NOP yang tercantum dalam fotokopi SPPT atau Surat Tanda Terima Setoran (STTS)/bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan lainnya. c.Pasal 3 1) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 telah terpenuhi. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 14 . Pengenaan atas objek pajak tertentu (waris/hibah wasiat/pemberian hak pengelolaan). meneliti kebenaran penghitungan BPHTB yang meliputi komponen Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP). e. Tarif. mencocokkan NJOP bumi per meter persegi yang dicantumkan dalam SSB dengan NJOP bumi per meter persegi pada Basis Data PBB. meneliti kebenaran penghitungan BPHTB yang disetor.

(4) SSB atau SSB bukti pelunasan yang telah diteliti. BPHTB yang harus dibayar . b. palinglama3 (tiga) hari kerja sejak tanggal diterimanya SSB dalam hal memerlukan Penelitian Lapangan SSB. distempel dengan bentuk stempel sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Pasal 4 (1) Penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dapat dilanjutkan dengan Penelitian Lapangan SSB apabila diperlukan.BPHTB terutang . Pasal 5 (1) KPPBB/KPP Pratama/Pemerintah Daerah harus menyelesaikan Penelitian SSB dalam jangka waktu: a. Wajib Pajak diminta untuk melunasi kekurangan tersebut. (3) Dalam hal tersebut kekurangan pembayaran BPHTB seba-gaimana dimaksud pada ayat (2). Penelitian SSB Pasal 4: Penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (1) dapat dilanjutkan dengan Penelitian Lapangan SSB apabila diperlukan. jangka waktu penyelesaian Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi paling lama 1 (satu) hari kerja dihitung sejak diterimanya SSB bukti pelunasan kekurangan tersebut yang sudah tertera NTPN atau dilampiri BPN. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 15 . (2) Dalam hal berdasarkan Penelitian SSB dan/ atau Penelitian Lapangan SSB ternyata BPHTB yang harus disetor lebih besar daripada BPHTB yang disetor oleh Wajib Pajak. (2) Hasil Penelitian Lapangan SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Laporan Hasil Penelitian Lapangan SSB dengan menggunakanformulirsebagaimana pada Lampiran 2 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal diterimanya SSB dalam hal tidak memerlukan Penelitian Lapangan SSB.

atau Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga. b. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 16 . Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB) apabila berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah BPHTB terutang kurang dibayar. c. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) apabila ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah diterbitkan SKBKB.Pasal 6 Terhadap SSB yang telah diteliti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) masih dapat diterbitkan: a. Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB) apabila pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. hasil pemeriksaan terhadap SSB terdapat kekurangan pembayaran BPHTB sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitting.

12) pemekaran usaha. 2) tukar menukar. atau 2) di luar pelepasan hak. 5) waris. b. d. (3) Hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada . c. 10) penggabungan usaha. hak milik. (2) Perolehan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.ayat (1) adalah: a. hak guna usaha. atau 13) hadiah. 7) pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. 3) hibah. dan f. 6) pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain. b. pemindahan hak karena: 1) jual beli. e. 9) pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. 8) penunjukan pembeli dalam lelang. hak pengelolaan.Bab 5 Pengertian Umum tentang BPHTB Pengertian mengenai BPHTB yang diulas disini berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 (PDRD) dan dikombinasikan dengan Undang-Undang 20 Tahun 2000 (BPHTB) beserta peraturan pelaksanaannya. hak guna bangunan. 11) peleburan usaha. 4) Hibah wasiat. Berdasarkan Undang-Undang PDRD tetang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan diatur pada Bagian Ke tujuh Belas: OBJEK PAJAK Pasal 85 (1) Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan. (4) Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 17 . hak milik atas satuan rumah susun. hak pakai. pemberian hak baru karena: 1) kelanjutan pelepasan hak.

Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama. b. antara lain: a. tanah dan bangunan. Yang dimaksud dengan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. Hibah wasiat adalah suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu. d. gedung. perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia. Objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang dapat berupa: a. e. e. c. kolam renang. dan orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. termasuk tanaman di atasnya. d. tanah. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah penetapan pemenang lelang oleh Pejabat Lelang sebagaimana yang tercantum dalam Risalah Lelang. badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut. rumah. c. c. Objek BPHTB yang diatur pada UU PDRD sama dengan Objek BHTB yang diatur pada UU PBB. bangunan.Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh: a. negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum. Yang dimaksud dengan pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut. b. orang pribadi atau Badan karena wakaf. tempat olah raga. b. orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 18 . silo.

Hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku. terkuat.Sebagai pelaksanaan dari putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Yang dimaksud dengan pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut. Hak milik adalah hak turun-temurun. terjadi peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut. Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunanbangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. yang memberi Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 19 . Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama. Hadiah adalah suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah. dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain. Yang dimaksud dengan pemberian hak baru karena kelanjutan pelepasan hak adalah pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak. Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung.

penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya. benda bersama. Yang dimaksud dengan tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum adalah tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan baik Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah dan kegiatan yang semata-mata tidak ditujukan untuk mencari keuntungan. rumah sakit pemerintah. Hak pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya. yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah. baik pemerintah maupun non pemerintah. Contoh: 1. berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah. Yang dimaksud wakaf adalah perbuatan hukum orang pribadi atau badan yang Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 20 . yang dilaksanakan baik sebelum maupun setelah berakhirnya HGB. Yang dimaksud dengan perbuatan hukum lain misalnya memperpanjang hak atas tanah tanpa adanya perubahan nama. dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan. tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk instansi pemerintah. Contoh: Perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB). Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama. jalan umum. Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik tanpa adanya perubahan nama. Bekas tanah hak milik adat (dengan bukti surat Girik atau sejenisnya) menjadi hak baru. 2. Badan atau perwakilan organisasi internasional yang dimaksud dalam pasal ini adalah badan atau perwakilan organisasi internasional. antara lain. Yang dimaksud dengan konversi hak adalah perubahan hak dari hak lama menjadi hak baru menurut Undang-Undang Pokok Agraria. penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga. termasuk pengakuan hak oleh pemerintah. Hak milik atas satuan rumah susun adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah.wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya. segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. misalnya.

DASAR PENGENAAN Pasal 87 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 21 . 5 Tahun 1960).. (2) Wajib Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.. 8 Tahun 1953 Obyek Pajak yang diperoleh karena waris. ♦ Hak Pengelolaan: Peraturan Pemerintah No.memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa hak milik tanah dan atau bangunan dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya tanpa imbalan apa pun. Pasal 86 (1) Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. maka perlu dijelaskan pada Peraturan Daerah. 16 Tahun 1985). maka adalah wajar apabila perolehan hak karena waris termasuk objek pajak ♦ hibah wasiat merupakan penetapan wasiat yang khusus berlaku pada saat pemberi wasiat meninggal dunia. misalnya yang tidak diketahui siapa Wajib Pajaknya atau adanya perselisihan dalam menetapkan Wajib Pajaknya. ♦ Hak Milik atas satuan Rumah susun : UU Rumah Susun (UU No. jenis jenis hak hak atas tanah dasar hukumnya adalah sebagai berikut: ♦ Hak Milik. hibah wasiat dan pemberian hak pengelolaan diatur dengan PP No 8/1953 Pasal 3 ayat (2) Pengenaan BPHTB pada waris dan hibah wasiat. Hak Guna Usaha. Hak Guna Bangunan. Hak Pakai: UUPA (UU No. SUBJEK PAJAK Subjek Pajak yang diatur dalam UU PDRD sama dengan UU PBB 32 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. untuk lebih memberikan rasa keadilan: ♦ Saat pewaris meninggal dunia pada hakikatnya telah terjadi pemindahan hak dari pewaris kepada ahli waris ♦ mengingat ahli waris memperoleh hak secara cuma-cuma. pada umumnya penerima hibah wasiat adalah orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga yang tidak mampu atau badan sebagai penghargaan Pengenaan BPHTB karena Pemberian hak pengelolaan: • Hak pengelolaan merupakan hak menguasai dari negara atas tanah yang sebagian kewenangannya dilimpahkan kepada pemegang haknya. yaitu ketentuan yang belum diatur dalam dalam Undang-Undang PDRD. Untuk lebih memberi kepastian hukum tentang Wajib Pajak.

000. (6) Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) ditetapkan dengan Peraturan Daerah NPOPTKP pada UU PDRD terdapat perbedaan dengan UU PBB. hibah wasiat adalah nilai pasar. c. peleburan usaha adalah nilai pasar. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. (3) Jika Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan. 1. pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar. jual beli adalah harga transaksi. k. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar.(1) Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangu-nan adalah Nilai Perolehan Objek Pajak. b. waris adalah nilai pasar. penunjukkan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. tukar menukar adalah nilai pasar. h. penggabungan usaha adalah nilai pasar.000. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar.000. g. (4) Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp60.000. (2) Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 60.000. dalam hal: a. pemekaran usaha adalah nilai pasar. dan/atau o. d. f.00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. dasar pengenaan yangdipakai adalah NJOP Pajak Bumi dan Bangunan. termasuk suami/istri. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp 300. j. m. i. n. hadiah adalah nilai pasar.00 (tiga ratus juta rupiah). peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar. besarnya NPOPTKP ditetapkan paling rendah Rp.enam puluh juta untuk setiap WP..000. hibah adalah nilai pasar. e. (5) Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. Dan NPOPTKP untuk waris atau hibah wasiat ditetapkan paling Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 22 .

dalam Pengenaan BPHTB perlu diatur dalam Perda. Yang perlu diantisipasi dari Undang Undang PDRD ini dalam hal Penetapan NPOPTKP ini adalah Pasal 87 ayat (4). Seperti yang diamanatkan pada UU PDRD maka. yang berlaku setelah pewaris meninggal dunia . Besarnya BPHTB terhutang atas perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan karena Waris &Hibah wasiat yang diterima dikenakan sebesar 50% dari BPHTB yang seharusnya terhutang. Tapi perlu diantisipasi juga kemungkinan kecurangan yang dilakukan Wajib Pajak dengan cara memecah transaksi sebanyak mungkin agar memperoleh pengurangan jumlah NPOPTKP yang banyak. hal tersebut perlu dibuat Peraturan Daerah yang lebih efektif dalam pengenaan BPHTB.000..04/2000 tanggal 14 Desember 2000. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) BPHTB 2. • Perolehan hak karena hibah wasiat adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan dari pemberi hibah wasiat yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia. SaatTerhutang Pajak atas Perolehan Hak karena Waris dan Hibah Wasiat sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Seharusnya pengurangan NPOPTKP diterapkan "Untuk Setiap Transaksi Wajib Pajak".514/KMK. yaitu mengenai: 1. Pengenaan BPHTB atas Hak Baru 5. Berikut ini beberapa contoh mengenai Pengenaan BPHTB yang dapat diadopsi oleh Pemerintah Daerah. Pengenaan BPHTB Karena Waris dan Hibah Wasiat PERATURAN PEMERINTAH RI NOMOR 111 TAHUN 2000 TENTANG PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KARENA WARIS DAN HIBAH WASIAT Kep. Keu No. Men. penguranagan NPOPTKP ditetapkan "Untuk Setiap Wajib Pajak" hal tersebut akan menimbulkan polemik karena sulit dilaksanakan di lapangan. • Perolehan hak karena waris adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh ahli waris kepada pewaris. Misalnya untuk kegiatan transaksi-transaksi yang dilakukan pada satu Hamparan Objek Pajak pada satu waktu tertentu maka pengenaan NPOPTKP nya hanya Satu Kali.000.(Tiga ratus juta rupiah). 300. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar (SKPDLB) BPHTB 3. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 23 . dimana.rendah Rp. Surat Ketetapan Bebas BPHTB (SKB BPHTB) 4.

Lembaga Pemerintah Non Departemen.. Dalam hal nilai pasar lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota hanya dapat melakukan pendaftaran perolehan hak karena waris dan hibah wasiat pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Pengenaan BPHTB Karena Pemberian Hak Pengelolaan PERATURAN PEMERINTAH RI NOMOR 112 TAHUN 2000 TENTANG PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAKATAS TANAH DAN BANGUNAN KARENA PEMBERIAN HAK PENGELOLAAN Kep.Nilai Perolehan Objek Pajak karena waris dan hibah wasiat adalah nilai pasar pada saat didaftarkannya perolehan hak tersebut ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 24 . No.. 6. Hak Pengelolaan adalah Hak menguasai dari Negara atas tanah yang kewenangan pelak-sanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya.515/KMK. Keu. 36 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Pemerintah Daerah Provinsi. dalam hal penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen. dan Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas). • 50% (lima puluh persen) dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan selain dimaksud pada huruf a. lembaga pemerintah lainnya. Nilai Perolehan Objek Pajak yang digunakan sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan.04/2000 tanggal 14 Desember 2000. Men. Saat terutang pajak atas perolehan hak atas tanah dan bangunan untuk pemberian Hak Pengelolaan adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Antara lain untuk: • merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah • keperluan pelaksanaan tugas • menyerahkan bagian tanah tersebut kepada pihak ketiga atau bekerja sama dengan pihak ketiga Besarnya Bea Perolehan Hak-atas Tanah dan Bangunan karena pemberian Hak Pengelolaan adalah sebagai berikut: • 0% (nol persen) dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang.

000.00 (-) Rp 35.( NPOP . Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (a) dapat diubah dengan mempertimbangkan perkembangan perekonomian regional. (2) Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 7. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ditetapkan oleh setiap Pemerintah Kabupaten/Kota dengan memperhatikan usulan Masyarakat b.000M. Dalam hal nilai pasar lebih rendah dari pada Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan.( NJOP . Tata Cara Penentuan Besarnya NPOPTKP BPHTB (Contoh Perda NPOPTKP pada Lampiran 1) a.NPOPTKP ) x Tarif Contoh: Wajib Pajak "A" membeli tanah dan bangunan Nilai Perolehan Objek Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak = Rp 95.000. Cara Menghitung BPHTB: BPHTB .00 = Rp 60.NPOPTKP ) x Tarif Atau. TARIF. Pasal 89 (1) Besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (2) dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (6). Nilai Perolehan Objek Pajak yang digunakan sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan.00 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 25 . CARA MENGHITUNG DAN TEMPAT PAJAK TERHUTANG Pasal 88 (1) Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen).Nilai Perolehan Objek Pajak dalam hal pemberian Hak Pengelolaan adalah nilai pasar pada saat diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan.000. (2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Tanah dan/ atau Bangunan berada. Bila NJOP sebagai dasar Pengenaan maka: BPHTB .000.

pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. dapat dibayar Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 26 . n.00 SAAT TERHUTANG = Rp 1.000. e. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. j./1999 Tentang Tata Cara Pembayaran BPHTB sehubungan Merger Bank Mandiri dan Lelang. m. h. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. dan o. 1.000. Untuk Penetapan BPHTB terhutangatas lelang dan Penggabungan usaha atas Bank Mandiri maka pemerintah daerah dapat merujuk pada: Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP 09/PJ. c. lelang adalah sejak tanggal penunjukkan pemenang lelang.Pajak yang Terutang = 5% x Rp35. f.000. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke kantor bidang pertanahan. dapat dibayar sebesar BPHTB terutang setelah dikurangi sebesar 100% (seratus persen) dengan menggunakan Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB). pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pangadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. pemasukan dalam perseroan atau badanhukumlainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. BPHTB yang terutang sehubungan dengan penjualan tanah dan atau bangunan secara lelang yang harga lelangnya lebih rendah daripada NJOP PBB. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. i. b.750. g. jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang terutang sehubungan dengan Penggabungan Usaha (merger) dan Pembentukan Bank Mandiri. d. (2) Pajak yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). k. pemberian hak baru atas Tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak.00 Pasal 90 (1) Saat terutangnya pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan ditetapkan untuk: a.

sebesar BPHTB terutang menurut harga lelang dengan menggunakan SSB. pasal 92 dan pasal 93 telah diatur ketentuan bagi Pajabat Pembuat Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 27 . KETENTUAN BAGI PEJABAT .00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap laporan. Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pasal 91. (2) Kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara hanya dapat menandatangani risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak.500. Pasal 93 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara. yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) dan ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp7. Kewajiban membayar sebagaimana dimaksud pada hal di atas dilaksanakan sebelum akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan atau risalah lelang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)/ Notaris/ Pejabat Lelang.000.00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pelanggaran. (3) Kepala kantor bidang pertanahan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (3) dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 92 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara melaporkan pembuatan akta atau risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan kepada Kepala Daerah paling lambat pada tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya. (2) Tata cara pelaporan bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. (2) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara. yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp250. (3) Kepala kantor bidang pertanahan hanya dapat melakukan pendaftaran Hak atas Tanah atau pendaftaran peralihan Hak atas Tanah setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. Pasal 91 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak.000.

maka Laporan disampaikan pada hari kerja berikutnya. 5. Ketentuan pemberian hak baru oleh Badan pertanahan berlaku dalam hal perolehan hak atas tanah karena pemberian hak baru dimaksud merupakan objek pajak dan pelaksanaannya tidak dilakukan melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah atau Kantor Lelang. Apabila tanggal 10 bulan berikutnya jatuh pada hari libur. Penyampaian laporan tersebut diperlukan dalam rangka pengawasan terhadap kepatuhan dan kebenaran pemenuhan kewajiban perpajakan. PPAT/ Notaris/ Camat yang terlambat melakukan pelaporan bulanan Pembuatan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 28 . 4. untuk tertib administrasi pelaporan dan pemberitahuan serta pemberlakuan sanksi administrasi bagi pejabat. status hak. 2. Dalam hal terjadi perpanjangan atau pembaharuan hak karena berakhirnya hak atas tanah yang sudah bersertifikat dan diberikan kepada pemegang hak semula. Pelaporan atau pemberitahuan dimaksud tidak perlu dilakukan dalam hal tidak terjadi perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. luas tanah.Akta Tanah/ Notaris dan Kepala Kantor Lelang/Pejabat Lelang untuk menyampaikan laporan tentang pembuatan akta. maka pejabat dimaksud juga perlu memberitahukan penerbitan keputusan pemberian hak baru atas tanah. Laporan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sekurang-kurangnya memuat nomor dan tanggal akta. mengingat pendaftaran perolehan hak baru atas tanah dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya. Oleh karena itu. harga transaksi atau nilai pasar. 3. Laporan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud di atas disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. luas bangunan. Selain itu. nama dan alamat pihak yang mengalihkan dan memperoleh hak. Risalah Lelang atau surat keputusan pemberian hak atas tanah. Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan. serta tanggal dan jumlah setoran. maka tata cara pelaporan atau pemberitahuan perolehan hak atas tanah atau bangunan perlu diatur lebih detail dan juga menampung semua aspirasi dari stakeholder. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya tidak perlu menyampaikan pemberitahuan dimaksud. atau Risalah Lelang atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Hal-hal yang perlu disiapkan oleh Pemerintah Daerah Dalam Rangka penyusunan Perda tentang Pelaporan dan Pemberitahuan Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 1. nomor dan tahun Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan. letak tanah dan atau bangunan.

28 Tahun 2009. 250.-yang harus dibayar 4.(Dua ratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap laporan (Pasal 93 ayat 2 UU.yang harus dibayar. 250. Pemerintah daerah dapat mengeluarkan Ketetapan perihal pemberian sanksi bagi PPAT yang melanggar Pasal 93 ayat 2 UU no.Akta Tanah dikenakan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD). Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan Pejabat Lelang Negara yang melanggar Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) dan ayat (2). bisa dikenakan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD). dengan ini disampaikan penjelasan sebagai berikut: 1. Agar membayar denda di Bank-bank Pemerintah/ Kantor Pos yang ditunjuk. maka: a.000. 4..500. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud di atas dikenakan sanksi denda sebesar Rp.000. No. 7.500.000. No. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) wajib menyampaikan Laporan Bulanan Pembuatan Akta Tanah oleh PPAT kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. b. dikenakan sanksi administrasi dan denda sebesar Rp 7. Pembayaran denda dilaksanakan dengan menggunakan Surat Setoran Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 29 . Agar membayar denda di Bank-bank Pemerintah/ Kantor Pos yang ditunjuk.00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pelanggaran. Pasal 91 ayat (1) W. Pasal 93 ayat 1 UU. Dengan diterbitkannya Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD). b.28 Tahun 2009 2. dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Dengan diterbitkannya Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD). SSPDPD Lembar ke-2. 28 Tahun 2009 yaitu Surat Tagihan Denda Pajak Daerah(STDPD) dengan jumlah denda yang: Rp. Apa bila Akta ditandatangani sebelum BPHTB terbayar. 3. No. c. maka: a. supaya dikirimkan ke Kantor Pemerintah Daerah.000. paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya 2. Pembayaran denda dilaksanakan dengan menggunakan Surat Setoran Pembayaran Denda Pajak Daerah (SSPDPD). 28 Tahun 2009) 3. Pemerintah Daerah dapat mengeluarkan ketetapan perihal pemberian sanksi bagi PPAT dan Pejabat Lelang yang melanggar Pasal 91 ayat 1 dan ayat 2 dengan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD) dengan jumlah denda yang: Rp.

PENETAPAN DAN MUATAN YANG DIATUR DALAM PERATURAN DAERAH Pasal 95 (1) Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah. berupa pemberian pengurangan. dan perwakilan negara asing sesuai dengan kelaziman internasional. c. SSBP Lembar ke-2. sanksi administratif. dan i. kedaluwarsa. (4) Peraturan Daerah tentang Pajak dapat juga mengatur ketentuan mengenai: a. dan cara penghitungan pajak. tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa. dasar pengenaan. keringanan. tarif. f. penetapan. (4) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa karcis dan nota perhitungan. asas timbal balik. pemberian pengurangan. nama.Pembayaran Denda Pajak Daerah (SSPDPD). wilayah pemungutan. c. d. tata cara pembayaran dan penagihan. b. supaya dikirimkan ke Kantor Pemerintah Daerah d. konsulat. h. dan/atau c. (3) Peraturan Daerah tentang Pajak paling sedikit mengatur ketentuan mengenai: a. g. keringanan. Surat Tagihan Denda Pajak Daerah dapat dibatalkan dengan menunjukkan SSPDB telah dilaporkan sebelum tanggal ditandatanginya akta. tanggal mulai berlakunya. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 30 . dan Subjek Pajak. (3) Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan berdasarkan penetapan Kepala Daerah dibayar dengan menggunakan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan. masa pajak. PEMUNGUTAN PAJAK Pasal 96 Tata Cara Pemungutan (1) Pemungutan Pajak dilarang diborongkan. objek. b. dan pembebasan pajak kepada kedutaan. (2) Setiap Wajib Pajak wajib membayar Pajak yang terutang berdasarkan surat ketetapan pajak atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. (2) Peraturan Daerah tentang Pajak tidak berlaku surut. e. dan pembebasan da-lam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya.

(2) SPTPD selain berfungsi sebagai alat pembayaran/ penyetoran BPHTB dan pelaporan data perolehan hak atas tanah dan atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berfungsi sebagai Surat Pemberitahuan Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (SPOP PBB).(5) Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan menggunakan SPTPD. dilakukan pendaftaran hak oleh Pejabat Pertanahan dalam hal waris dan hibah wasiat. penggabungan usaha. tukar menukar. hibah. (2) Kewajiban membayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada saat: a. dan/ atau SKPDKBT. b. peleburan usaha. c. Untuk lebih mempermudah bagi Pemerintah Daerah dalam membuat bentuk formulir SPTPD maka dapat mencontoh bentuk formulir SSB yang sudah ada dengan beberapa penyesuaian untuk kentingan daerah masing-masing. d. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 31 . pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. SKPDKB. dan hadiah. putusan pengandilan mempunyai kekuatan hukum tetap dalam hal pelaksananan putusan hakim. Nomor2 (1) SPTPD untuk BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 ayat (1) digunakan untuk melakukan pembayaran/ penyetoran BPHTB yang terutang dan sekaligus digunakan untuk melaporkan data perolehan hak atas tanah dan bangunan. KEPUTUSAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBAYARAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DAN BENTUK SERTA FUNGSI SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH BPHTB Nomor 1 (1) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang terutang wajib dibayar oleh Wajib Pajak atau Kuasanya dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB) ke Tempat Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah di wilayah Kabupaten/Kota yang meliputi letak tanah dan atau bangunan. ditandatanganinya surat keputusan pemberian hak oleh Pejabat Pertanahan dalam hal pemberian hak baru. e. ditunjuknya pemenang lelang dalam hal lelang. dibuat dan ditandatanganinya akta dalam hal jual beli. (Contoh Formulir SPTPD untuk BPHTB pada Lampiran 2).

Lembar ke-5: untuk PPAT/ Notaris/Pejabat Lelang/ Pejabat Pertanahan Nomor3 (1) Formulir SPTPD disediakan di PPAT/Notaris. Lembar ke-2: untuk Kantor Pelayanan Pemda melalui Bank Operasional BPHTB. (6) SPTPD lembar ke-5 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Wajib Pajak kepada PPAT/ Notaris/Kepala Kantor Lelang/Pejabat Lelang/Pejabat Pertanahan. Nomor 5 Penyampaian SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 3 ayat (4) dan Pasal 4 ayat (3) dilakukan dalam jangka jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal pembayaran atau perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. (3) SPTPD nihil lembar ke-2. yaitu: a. SSB lembar ke-3. dan tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala KPPBB. Lembar ke-4: untuk Tempat Pembayaran BPHTB. b. Kantor Lelang. (2) Wajib Pajak setelah melakukan pembayaran memperoleh SPTPD lembar ke-1. Nomor4 (1) Dalam hal Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang nihil. d. Kantor Pertanahan. c. e. Lembar ke-1: untuk Wajib Pajak. (3) Tempat Pembayaran BPHTB mengirimkan SPTPD Lembar ke-2 Bank Operasional untuk diteruskan ke Pemda yang bersangkutan setiap ada pelimpahan.(3) SPTPD BPHTB terdiri dari 5 (lima) rangkap. Tempat Pembayaran BPHTB. Lembar ke-3: untuk Pemda disampaikan oleh Wajib Pajak. (5) SPTPD Lembar ke-4 disimpan oleh Tempat Pembayaran BPHTB sebagai arsip. dan SPTPD Lembar ke-5. SSB nihil lembar ke-3. dan SSB nihil lembar ke-4 disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Pemda. (2) SPTPD nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) cukup diketahui oleh PPAT/Notaris/Kepala Kantor Lelang/ Pejabat Lelang/Pejabat Pertanahan. (4) SPTPD Lembar ke-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Pemda. Pemda. Nomor6 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 32 . maka Wajib Pajak tetap mengisi SPTPD dengan keterangan nihil.

SKPDKBT jika ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak-yang terutang.Bentuk formulir dan petunjuk pengisian SPTPD adalah sebagai mana ditetapkan dalam Lampiran Keputusan Pemerintah Daerah. pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. c. SKPDKB. SKPDN jika jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. SPTPD. Kepala Daerah dapat menerbitkan: a. (5) Jumlah pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 3) dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. b. 2) jika SPTPD tidak disampaikan kepada Kepala Daerah dalam jangka waktu tertentu dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran. SKPDN DAN SKPDKBT Pasal 97 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. pajak yang terutang dihitung secara jabatan. (Lampiran 3) DALUARSA PAJAK. (3) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 1) dan angka 2) dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. (4) Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan jika Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan. Pasal 98 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 33 . 3) jika kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi. Untuk lebih mempermudah pemahaman pada SPTPD untuk BPHTB maka dapat dilihat pada diagram arus berkas dan arus dokumen pembayaran BPHTB. SKPDKB dalam hal: 1) jika berdasarkan hasil pemeriksaan atau ketera-ngan lain.

SPTPD. dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (3) dan ayat(5) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Nomor2 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. (3) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. SKPDKB. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 34 . Pasal 99 (1) Tata cara penerbitan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan. SPTPD. Kepala Pemerintah Daerah dapat melakukan pemeriksaan atas kebenaran data objek pajak yang tertuang dalam SSPD. dihitung mulai saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKPDKB. Nomor 1 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. CONTOH KEPUTUSAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KURANG BAYAR (SKPDKB). SKPDKB. SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPDKBT). (2) Berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang terutang kurang dibayar. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengisian dan penyampaian SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan.Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis Pajak yang dapat dipungut berdasarkan penetapan Kepala Daerah atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dan ketentuan lainnya berkaitan dengan pemungutan pajak diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (3) dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. maka Kepala Pemerintah Daerah menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKPDKB). Kepala Pemerintah Daerah dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang dan sebelumnya telah pernah diterbitkan SKPDKB.

menjadi tanda bukti penerimaan surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Sanksi administrasi berupa kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dikenakan apabila SKPDKBT diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri. harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterima oleh Wajib Pajak. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 35 .sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. Nomor3 (1) SKBKB. dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya surat permohonan Wajib Pajak. Kepala Kantor Pemerintah Daerah menerbitkan: a. (2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang berdasarkan SKPDKB. sebagaimana lampiran 29 dan 30. PEMERINTAH DAERAH TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. merupakan dasar penagihan pajak. Bentuk SKBKB. maka atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dimaksud dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. (3) Apabila atas pajak yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak atau kurang dibayar pada saat jatuh tempo. Nomor 1 (1) Untuk memperoleh pengembalian kelebihan pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. dengan syarat belum dilakukan tindakan pemeriksaan. (2) tanda penerimaan surat permohonan diberikan oleh Kantor Pemerintah Daerah atau tanda pengiriman surat permohonan melalui pos tercatat dan sejenisnya. apabila jumlah bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar ternyata lebih besar dari yang seharusnya terutang atau dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang. Nomor2 (1) Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. Surat Ketetapan Pajak Daerah bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. SKPDKBT yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Wajib Pajak mengajukan permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan menyebutkan jumlah kelebihan pembayaran disertai alasan yang jelas kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan. SKBKBT. SKBKBT sebagaimana dimaksud diatas. dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan pembayaran.

dan mengirimkannya kepada Wajib Pajak. Surat ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Nihil.b. apabila jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar sama dengan jumlah Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang. Nomor3 Kepala Kantor Pemerintah Daerah menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian kelebihan Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar atau Surat Keputusan/Putusan lain yang menyebabkan timbulnya kelebihan pembayaran pajak. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 36 . (3) Apabila Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar terlambat diterbitkan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). harus menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. apabila jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang ternyata lebih besar dari jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar. Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara. Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan belum diterbitkan. Nomor4 (1) Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan atas nama Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan lebih bayar. Bank Tunggal/Bank Operasional. c. maka Permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan dan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak berakhirnya jangka waktu tersebut Kepala Kantor Pemerintah Daerah harus menerbitkan Surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. maka kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 2 (dua) bulan tersebut sampai dengan diterbitkannya Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Kantor Pemerintah belum memberikan keputusan. (2) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat. maka kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan lebih Bayar. Surat ketetapan Pajak Daerah bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar.

dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung. TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENAGIHAN Pasal 101 (1) Kepala Daerah menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya pajak dan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh Wajib Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 37 . pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. ayat (2). (4) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterbitkan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga. (6) Perhitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dicantumkan dalam Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan atas sisanya diterbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. SURAT TAGIHAN PAJAK Pasal 100 (1) Kepala Daerah dapat menerbitkan STPD jika: a. (5) Dalam hal Wajib Pajak mempunyai utang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan atau Pajak Bumi dan Bangunan dalam wilayah Daerah Tingkat 11 yang sama. maka kelebihan pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang tercantum dalam Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Nomor 2 ayat (1) huruf a. Wajib Pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak. dan ayat (3) diperhitungkan terlebih dahulu dengan utang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan atau Pajak Bumi dan Bangunan. (3) SKPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih melalui STPD. b. c.(3) Dalam hal Wajib Pajak diberikan imbalan bunga diterbitkan Surat keputusan Imbalan Bunga.

dan Putusan Ban-ding. (2) Penagihan pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. 3.STPD. dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa. dan penundaan pembayaran pajak diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Surat Keputusan Pembetulan yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.Pajak. STPD. umum Petunjuk Pelaksanaan ini merupakan petunjuk pelaksanaan yang digunakan dalam rangka penagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTP): A. 5. Surat Keputusan Pembetulan. Surat Tagihan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan (STPDB). SKPD. SKPDKB. SKPDKB. 6. penyetoran. SKPDKBT. tempat pembayaran. Surat Keputusan Keberatan. SKPDKBT. angsuran. yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar BPHTB (SKPDKBB). Surat Keputusan Pembetulan. Pasal 102 (1) Pajak yang terutang berdasarkan SPPT. TATA CARA PELAKSANAAN PENAGIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN 1. Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan ju mlah pajak yang harus dibayar bertambah. (2) SPPT. 2. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran. Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 38 . Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT). dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. SKPD. 4. (3) Kepala Daerah atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. Dasar penagihan yang dapat diikuti dengan Surat Paksa karena BPHTB menganut sistem self assesment maka dasar penagihan BPHTB yang tidak atau kurang dibayar setelah lewat jatuh tempo pembayaran dapat ditagih dengan Surat Paksa terdiri atas: 1. Surat Keputusan Keberatan.

B. PELAKSANAAN PENAGIHAN A.Pembetulan/ SK. B.bertambah. c. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat untuk itu. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus diterbitkan sebelum penerbitan Surat Paksa. Tindakan pelaksanaan penagihan harus dilakukan sampai tuntas dengan hasil akhir berupa pelunasan utang pajak beserta biaya penagihannya. Oleh karena itu pengecualian jadwal waktu penagihan tersebut hanya berlaku sebelum diterbitkannya Surat Paksa. Penerbitan Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus diterbitkan tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran STPD atau SKPDKB/SKPDKBT/ SK. Penanggung pajak menghentikan atau secara nyata mengecilkan kegiatan perusahaan. maka Penagihan Seketika dan Sekaligus dilakukan tanpa menunggu lewat tenggang waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Surat Teguran diterbitkan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 39 . atau Terjadi penyitaanatas barang Penganggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan. d. b. atau cara lain sebelum saat jatuh tempo pembayaran hendaknya dilakukan. ataupun memindahtangankan barang yang dimiliki atau dikuasainya. Penerbitan STPD BPHTB Penerbitan STPD BPHTB atas SKBKB yang tidak atau kurang dibayar lewat jatuh tempo pembayaran yang dilanjutkan dengan penerbitan Surat Paksa. atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia.Keberatan/ Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. surat. Namun demikian. Pada dasarnya pelaksanaan penagihan BPHTB diawali dengan penerbitan Surat Teguran oleh Kepala Pemerintah Daerah/kuasa yang ditunjuk.Pembetulan/ SK. Badan usaha akan dibubarkan oleh negara. pendekatan persuasif baik melalui pemberitahuan lewat telepon. Penerbitan Surat Teguran Penerbitan Surat Teguran sebagai langkah awal dari tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran STPD B/ SKPDKB B/ SKPDKBT B/atau SK. II.Keberatan/ Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah apabila: a. Dalam hal terhadap Penanggung Pajak telah diterbitkan Surat Teguran. dalam rangka memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. Terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usahanya atau berniat untuk itu. seadangkan jadwal waktu penagihan setelah diterbitkannya Surat Paksa mengikuti jadwal waktu normal.

kebudayaan. c. dan kapal dengan isi kotor paling sedikit 20 (dua puluh) meter kubik. Pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 40 . Pelaksanaan Sita Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan oleh Jurusita Pajak berdasarkan Surat Perintah melaksanakan Penyitaan. saham. atau surat berharga lainnya.diterbitkannya Surat Teguran apabila utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi atau telah diterbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus. dan keilmuan. tempat usaha. Tujuan penyitaan adalah memperoleh jaminan pelunasan utang pajak dan biaya penagihannya dari Penanggung Pajak. dan atau b. dan penyertaan modal kepada perusahaan lain. d. tempat kedudukan. Barang tidak bergerak termasuk tanah.C. bangunan. oleh karena itu penyitaan dapat dilaksanakan terhadap semua barang milik Penanggung Pajak. uang tunai. Penyitaan dilaksanakan apabila utang pajak tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam sejak tanggal Surat Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak. dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. giro. 1). gadai. perhiasan. obligasi. berupa: a. Perlengkapan Penanggung Pajak yang bersifat dings. Barang bergerak termasuk mobil. atau dipinjamkan atau yang dibebani hak atnggungan (hipotik. baik yang berada di tempat tinggal. saldo rekening koran. tabungan. dan deposito berjangka. terhadap barang bergerak tertentu dikecualikan dari penyitaan yaitu: a. Penyitaan brang bergerak dan atau barang tidak bergerak berupa tanah atau bangunan dilakukan secara fisik dan sedapat mungkin dokumen bukti kepemilikan seperti sertifikat hak atas tanah dapat ikut disita Dalam rangka menjaga kelangsungan hidup dan usaha Penanggung Pajak. Buku-buku yang bertaHan dengan jabatan atau pekerjaan Penanggung Pajak dan alat-alat yang dipergunakan untuk pendidikan. b. Persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan beserta peralatan masak yang ada di rumah. piutang. Penerbitan Surat Paksa Surat Paksa diterbitkan segera setalah lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak. agunan).

Pencabutan Sita 1. tidak boleh disita lagi oleh Jurusita Pajak.00 (sepuluh juta rupiah). kemudahan penjualan atau pencairannya.PBB/ BPHTB 5. Urutan barang bergerak dan atau barang tidak bergerak yang disita ditentukan dengan memperhatikan jumlah utang pajak dan biaya penagihan pajak. Peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya.000.e. 2. misalnya objek sita terbakar. E. Pencabutan Sita dilaksanakan berdasarkan Surat Pencabutan Sita yang berfungsi sebagai pencabutan Berita Acara Pelaksanaan Sita 3. Dalam memperkirakan nilai barang yang disita Jurusita dimungkinkan untuk meminta bantuan jasa penilai. b. Pencabutan Sita dilaksanakan: a.000. hilang atu musnah. Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan dengan memperhatikan jumlah dan jenis barang berdasarkan harga wajar yang diperkirakan cukup untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak. Berdasarkan penetapan Menteri Keuangan karena adanya sebab-sebab diluar kekuasan. c. Surat Pencabutan Sita (KP. misalnya putusan atas gugatan gugatan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita. d.00) diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB dan disampaikan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak serta instansi terkait dan tindakannya disimpan dalam berkas penagihan Wajib Pajak/ Penanggung Pajak yang bersangkutan sebagai peninggal- Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 41 . Peralatan dalam keadaan jalan yang masih digunakan untuk melaksanakan pekerjaan atau usaha seharihari dengan jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp 10. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyitaan yang berlebihan. Berdasarkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). misalnya barang bergerak yang dapat dijadikan objek sits tidak dijumpai atau barang bergerak yang dijumpai tidak mempunyai nilai atau harganya tidak memadai dibandingkan dengan utang pajak. Pada dasarnya penyitaan dilaksanakan dengan mendahulukan barang bergerak. Apabila Penenggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya penagihannya.42 . misalnya Panitia Urusan Piutang Negara. namun dalam keadaan tertentu penyitaan dapat dilaksanakan langsung terhadap barang tidak bergerak. Berdasarkan putusan pengadilan/putusan hakim dari peradilan umum. f. Terhadap semua jenis barang yang disita oleh pengadilan Negeri atau instansi lain yang berwenang. misalnya putusan atas gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan sita.

sedangkan lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah pengumuman lelang. maka Kepala Pemerintah Daerah menentukan kembali urutan barang yang dilelang dimaksud. Dalam hal Penanggung Pajak tidak menggunakan kesempatan dimaksud atau apabila pelaksanaan lelang terhadap urutan tersebut menjadi terhambat. c. Pelaksanaan Penjualan Barang Sitaan Secara Lelang Kepala Pemerintah Daerah berwenang menjual secara lelang terhadap barang yang disita melalui Kantor Lelang. beserta istri. Pada dasarnya tujuan lelang adalah untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak. keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus dan anak angkat tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang dilelang. Akan tetapi lelang ti-dak dilaksanakan: a. pelaksanaan lelang agar tidak dilakukan secara berlebihan misalnya dalam hal hasil lelang sudah mencapai jumlah yang cukup untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak. sedangkan lelang tetap harus. Mengingat bahwa lelang merupakan tindakan lanjut eksekusi dari Surat Paksa yang kedudukannya sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada Penanggung Pajak. atau surat berharga lainnya. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 42 . Untuk memberi kesempatan kepada Penangggung Pajak guna melunasi utang pajak dan biaya penagihannya serta sesuai dengan peraturan lelang. Kepala Pemda dan Jurusita Pajak. maka lelang tetap dilaksanakan walaupun keberatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak belum memperoleh keputusan keberatan atau tanpa dihadiri oleh Penaggung Pajak. dilaksanakan. Pengumuman lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah penyitaan. piutang dan penyertaan modal pada perusahaan lain. apabila objek sita yang akan dilelang musnah karena terbakar atau bencana alam. obligasi. Hasil lelang digunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya penagihan pajak dan sisanya untuk membayar utang pajak. maka setiap penjualan barang sitaan secara lelang harus didahului dengan pengumuman lelang. kecuali barang yang disita berupa uang tunai. d. tabungan. saham.F. kepada Penganggung Pajak masih diberi kesempatan untuk menentukan urutan barang yang akan dilelang. apabila Penanggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya penagihannya. saldo rekening koran. deposito berjangka. berdasarkan putusan pengadilan yang mengabulkan gugatan pihak ketiga atas kepemilikan barang yang disita. maka: a. pelaksanaan lelang dihentikan walaupun barang yang akan dilelang masih ada. Apabila Penanggung Pajak belum juga melunasi utang pajaknya. berdasarkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) yang mengabulkan gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan pajak. b.

b.00 (lima belas ribu rupiah) untuk biaya perjalanan Jurusita Pajak. Kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank seperti deposito berjangka. dan g. Ketentuan pelaksanaan penjualan barang sitaan lelang mengacu pada Surat Edaran Bersama Direktur Jenderal Pajak dan Kepala Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-214/PJ/1999 tanggal 25 Agustus 1999 tentang Lelang Eksekusi Pajak.00 (tujuh puluh ribu rupiah) untuk setiap Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan yang dilaksanakan. saldo rekening koran. Saham.b.00 (sepuluh ribu rupiah) dan untuk biaya perjalanan Jurusita Pajak dan 2 (dua) orang saksi masing-masing Rp 15.000.00 (lima belas ribu rupiah).00 (sepuluh ribu rupiah) untuk biaya harian Jurusita Pajak dan Rp 15.00 (dua puluh lima ribu rupiah) untuk setiap pemberitahuan Surat Paksa.000. c. Surat berharga lainnya. d. Kepala Pemerintah daerah dan Jurusita beserta istri. tabungan. b. e. biaya pelaksanaan Surat Paksa sebesar Rp 25. Penyertaan modal. seperti penentuan harga limit. keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus dan anak angkat tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang penjulannya dikecualikan dari penjualan secara lelang. BIAYA PENAGIHAN Biaya penagihan pajak meliputi: a. Uang tunai. III. Obligasi. G. f. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 43 . biaya pelaksanaan penyitaan sebesar Rp 75. giro atau bentuk lain yang daapt dipersamakan dengan itu.000. dengan rincian Rp 10. dengan rincian untuk biaya harian Jurusita Pajak dan 2 (dua) orang saksi masing-masing Rp 10.000. Kepala Pemerintah Daerah agar tidak sewenang-wenang dalam melakukan penjualan secara lelang.000. c. Kepala Pemerintah Daerah mengembalikan sisabarangsitaan beserta kelebihan uang hasil lelang kepada Penanggung Pajak segera setelah dibuatnya Risalah Lelang. Piutang.000. Pelaksanaan Penjualan barang Sitaan yang Dikecualikan dari Penjualan Secara Lelang Barang sitaan yang dikecualikan dari penjualan lelang berupa: a.

SPPT. (6) Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atau tanda pengiriman surat keberatan melalui surat pos tercatat sebagai tanda bukti penerimaan surat keberatan. d. KEBERATAN DAN BANDING Pasal 103 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas suatu: a. b. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 44 . biaya pelaksanaan lelang meliputi: 1) biaya pengumuman lelang di surat kabar.c. SKPDKB. ayat (2). SKPDN. 3) biaya penyimpanan barang yang disita. e. e. (5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ayat (4) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. 4) biaya lain yang berhubungan dengan lelang. ayat (3). biaya pencegahan dan atau biaya penyanderaan. kecuali jika Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. f. dan Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan daerah. SKPDKBT. d. biaya yang timbul karena penjualan barang sitaan yang dilakukan tidak secara lelang. SKPDLB. (4) Keberatan dapat diajukan apabila Wajib Pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak. 2) biaya lelang. (2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. SKPD. c. (3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat.

(2) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian. atau menambah besarnya pajak yang terutang. (2) Permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberi suatu keputusan. (2) Imbalan bunga sebagaintana dimaksud pada ayat(1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKPDLB. Pasal 105 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Pengadilan Pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. sejak tanggal Surat Keberatan diterima. dilampiri salinan dari surat keputusan keberatan tersebut. KEBERATAN BPHTB Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 45 . dengan alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima. sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan. (5) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. (3) Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. (4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding. (3) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian.Pasal 104 (1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. menolak. kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. Pasal 106 (1) Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya.

Bahasa Indonesia. Max 3 bulan 3. SKPDKB. Menolak 3. POTPUT. SKPDKB. Menerima seluruh/sebagian 2. Membayar sebagian Pajak Keputusan Max 12 Bulan : 1. Menambah Lebih 12 Bulan -Permohonan Dikabulkan (3) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. Syarat Formal : 1. alas an. SKPD. Tertulis. SKPDKBT. SKPDN. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 46 .Ke Kepala Daerah atas: SPPT. 2.

Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. berarti keberatan tersebut dikabulkan. yaitu apabila dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Keberatan. Tanda bukti penerimaan tersebut oleh Wajib Pajak dapat juga digunakan sebagai alat kontrol baginya untuk mengetahui sampai kapan batas waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (1) berakhir. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun Petugas dan dalam rangka tertib administrasi. Tanda bukti penerimaan itu diperlukan untuk memastikan bahwa keberatan dikabulkan. KEBERATAN BPHTB Yang dimaksud dengan alasan-alasan yang jelas adalah mengemukakan dengan data atau bukti bahwa jumlah pajak yang terutang atau pajak lebih bayar yang ditetapkan oleh Petugas tidak benar. Pengertian di luar kekuasaannya adalah keterlambatan Wajib Pajak mengajukan keberatan yang bukan karena kesalahannya. Pemerintah Daerah tidak memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan. (5) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. apabila dalam jangka waktu tersebut Wajib Pajak tidak menerima surat keputusan dari Direktur Jenderal Pajak atas Surat Keberatan yang diajukan.(4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding. misalnya Wajib Pajak sedang sakit atau kena musibah. Diterima atau tidaknya hak mengajukan Surat Keberatan dimaksud. Tanda Bukti penerimaan Surat Keberatan sangat Diperlukan untuk memenuhi ketentuan formal. sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan. yang dihitung mulai diterbitkannya surat ketetapan pajak sampai saat diterimanya Surat Keberatan tersebut oleh Pemerintah Daerah. tergantung dipenuhinya ketentuan batas waktu sebagaimana dimaksud pada Pasal 105 yaitu selama 3 bulan. Imbalan bunga dihitung sejak bulan pelunasan sampai de ngan diterbitkannya Surat Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 47 . Dalam keputusan keberatan ini tidak tertutup kemungkinan utang pajaknya bertambah berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain karena ada data baru yang tadinya belum terungkap atau belum dilaporkan.

mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar Wajib Pajak atau kondisi tertentu objek pajak. dan e. SKPDKB. dalam hal: a. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. SKPD. dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundangundangan perpajakan daerah. PEMBETULAN. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga. SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar. b. DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 107 (1) Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya. namun perolehan hak atas tanah dan atau bangunan tersebut batal.Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. Kepala Daerah dapat membetulkan SPPT. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 48 . mengurangkan atau membatalkan STPD. denda. SKPDN atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. SKPD. mengurangkan atau membatalkan SPPT. Keputusan Pemda atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat berupa kurang bayar dengan menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar atau berupa lebih bayar dengan menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar atau mengukuhkan pajak yang terutang tetap dengan menerbitkan Surat ketetapan Bea Perolehan Hakatas Tanah dan Bangunan Nihil. c. Wajib Pajak dapat mengajukan usul permohonan pengembahan kelebihan pembayaran pajak. d. pajak yang dibayar lebih besar daripada yang seharusnya terutang. Yang dimaksud dengan hal-hal tertentu adalah dalam hal tanah dan atau bangunan digunakan untuk tujuan tertentu yaitu untuk kegiatan sosial dan pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan mencari keuntungan atau kondisi tertentu tanah dan atau bangunan yang ada hubungannya dengan Wajib Pajak. dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya. PEMBATALAN. b. pajak yang terutang yang dibayarkan oleh Wajib Pajak sebelum akta ditandatangani. SKPDKB. PENGURANGAN KETETAPAN. antara lain. SKPDKBT atau STPD. membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan. (2) Kepala Daerah dapat: a. SKPDKBT atau STPD.

dapat diberikan pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan dalam hal: a. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum. b. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan Rumah Sederhana (RS). Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu yaitu. Wajib Pajak Badan yang memperoleh hak baru selain Hak Pengelolaan dan telah menguasai tanah dan atau bangunan secara fisik lebih dari 20 (dua puluh) tahun yang dibuktikan dengan surat pernyataan Wajib Pajak dan keterangan dari Pejabat Pemerintah Daerah setempat. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 49 .Contoh: • Tanah dan atau bangunan digunakan untuk mendirikan panti asuhan. 2.03/ 2004 jo. 03/ 2005 jo. Terhadap Wajib Pajak ini dapat diberi pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dengan mengajukan permohonan. rumah sakit. 91/PMK. 104/ PMK. Wajib Pajak orang pribadi yang menerima hibah dan orang pribadi yang mempunyai hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah. dan kemudian Wajib Pajak membeli tanah dan atau bangunan baru. 1. Nomor 1 Atas permohonan Wajib Pajak. Untuk pelaksanaan pengurangan BPHTB dapat mengacu peraturan yang sudah ada yaitu Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/ KMK. panti jompo. PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK-ATAS TANAH DAN BANGUNAN. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah di bidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis. 3. • Seorang Wajib Pajak yang memiliki tanah dibebaskan oleh Pemerintah untuk kepentingan Negara atau kepentingan umum dan terhadap Wajib Pajak tersebut diberikan ganti rugi yang jumlahnya lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan. PMK No. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya di bawah Nilai Jual Objek Pajak. dan Rumah Susun Sederhana serta Rumah Sangat Sederhana (RSS) yang diperoleh langsung dari pengembangan dan dibayar secara angsuran. Kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yaitu: 1. 4. sekolah.03/2006. 2. PMK No.

Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tentara Nasional Indonesia (TNI). banjir. Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan antara lain untuk panti asuhan. dan Bank Ekspor Impor dalam rangkaian proses penggabungan usaha (merger). sebesar25 (dua puluh lima persen) dari pajakyangterutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 3. Polisi Republik Indonesia (POLRI). dan huruhara yang terjadi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak penandatanganan akta. rumah yatim piatu. Bank Dagang Negara. c.3. Wajib Pajak Bank Mandiri yang memperoleh hak atas tanah yang berasal dari Bank Bumi Daya. Wajib Pajak Badan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS. sekolah yang tidak ditujukan mencari keuntungan. Wajib Pajak orang pribadi Veteran. 7. Wajib Pajak Badan yang terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga Wajib Pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah. Wajib Pajak Badan anak perusahaan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang berasal dari perusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai ke lanjutan dari pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Pensiunan PNS. Nomor2 Besarnya pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan ditetapkan sebagai berikut: a. 5. panti jompo. Purnawirawan POLRI atau janda/dudanya yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan rumah dings pemerintah. 6. 4. tanah longsor. 9. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 50 . gempa bumi. gunung meletus. Bank Pembangunan Indonesia. Purnawirawan TNI. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang tidak berfungsi lagi seperti semula disebabkan bencana alam atau sebab-sebab lainnya seperti kebakaran. rumah sakit swasta milik institusi pelayanan sosial masyarakat. Wajib Pajak Badan yang melakukan Penggabungan Usaha (merger) atau Peleburan Usaha (konsolidasi) dengan atau tanpa terlebih dahulu mengadakan likuidasi dan telah memperoleh keputusan persetujuan penggunaan Nilai Buku dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dari Direktur Jenderal Pajak. 8.

huruf b angka 1. angka 8. angka 2. Nomor5 (1) Wajib Pajak mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan atau dapat mengajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 3.b. angka 8. dan angka 9 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 51 . dan angka 9. angka 9. (2) Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan selain dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 3. d. Nomor 4 (1) Kepala Kantor Pemerintah Daerahberwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a. angka 2. dan angka 5. sebesar 100 (seratus persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 4. angka 8. danNomor 1 huruf b angka 1. (3) Dalam hal kewenangan memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan berada pada Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (2). angka 6. sebesar 50 (lima puluh persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 2 dan angka 4. angka 4. angka 7. sebesar 75 (tujuh puluh lima persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 1. angka 7. dan huruf b angka 3 dan angka 7. (2) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas wajib mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Nomor 5 ayat (4) atau ayat (5). c. dan huruf b angka 1. angka 2. angka 6. angka 5. Kepala Kantor Pemerintah Daerah meneruskan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya surat permohonan. serta huruf c. (4) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam hal Nomor 1 huruf a angka 1 dan angka 3. angka 4 dan angka 5. Nomor 3 (1) Wajib Pajak dapat menghitung sendiri besarnya pengura-ngan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebelum melakukan pembayaran dan membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terutang sebesar perhitungan setelah pengurangan.

(3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) berupa mengabulkan sebagian. (2) Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (2). atau menolak. atau STPD. atau mengabulkan seluruhnya. angka 4 dan angka 5 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat pembayaran sebesar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terutang setelah pengurangan sebagaimana ditetapkan dalam Nomor 2. dalam waktu paling la ma 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan harus memberikan keputusan atas permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak. dalam waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan harus memberikan keputusan atas permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi yang tercantum dalam SKPDKB. dan/atau kenaikan yang dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan Wajib Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 52 ." Nomor 6 (1) Kepala Kantor Pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (1) dan (2). berupa bunga. (4) Apabila dalam waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) telah lewat dan Kepala Kantor Pemerintah Daerah atau Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan. (5) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam hal Nomor 1 huruf a angka 2 dan Nomor 1 huruf b angka 3. YANG TIDAK BENAR Nomor I Kepala Pemerintah Daerah karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat: a.dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. SKPDKBT. TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN PERMOHONAN PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. Contoh Surat Keputusan Pemberian Pengurangan BPHTB pada Lampiran 21. DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN ATAU SURAT TAGIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan dianggap dikabulkan dengan mengacu kepada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 2. denda.

dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan. yang tidak benar. b. SKPDLB. SKPDKBT. SKPDN. fotokopi surat pemberitahuan pengajuan keberatan BPHTB tidak dapat dipertimbangkan. SKPDKBT. (2) Untuk mendukung permohonan pengurangan SKPDKB. atau b. SKPDN.dan/ atau d. fotokopi identitas Wajib Pajak. permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. SKPDKBT. SKPDLB. atau STPD.Pajak. dalam hal Wajib Pajak pernah mengajukan keberatan atas SKPDKB. fotokopi identitas Wajib Pajak. SKPDLB. SKPDLB. Nomor3 (1) Permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 diajukan kepada Pemerintah Daerah: a. SKPDN atau STPD tersebut tidak benar. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomo 1 huruf b. dalam hal Wajib Pajak pernah mengajukan keberatan atas SKPDKB atau SKPDKBT. SKPDKBT. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa SKPDKB. mengurangkan atau membatalkan SKPDKB. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa SKPDKB. (3) Untuk mendukung permohonan pembatalan SKPDKB. dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan. dokumen pendukung lainnya. permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. fotokopi identitas Wajib Pajak.dan/atau c. dan/atau b. fotokopi surat pemberitahuan pengajuan keberatan BPHTB tidak dapat dipertimbangkan. SKPDN. dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan. SKPDN atau STPD tersebut tidak benar. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b. (2) Atas penyampaian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 53 . dokumen pendukung lainnya. c. SKPDLB. SKPDKBT.dan/atau d. dokumen pendukung lainnya. melalui pos dengan bukti pengiriman surat. SKPDLB atau SKPDN. c. secara langsung. Nomor2 (1) Untuk mendukung permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a. b. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa sanksi administrasi dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan Wajib Pajak. permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. SKPDKBT. b.

(3) Dalam hal dilakukan penelitian di lapangan. (2) Keputusan Pemerintah Daerah atas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b. dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya. SKPDLB. Nomor7 (1) Pemerintah Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4. atau menolak permohonan Wajib Pajak. Nomor5 Direktur Jenderal Pajak berwenang memberikan keputusan atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. tanggal stempel pos yang tercantum pada bukti pengiriman surat. Nomor 6 (1) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 5 ditetapkan berdasarkan hasil penelitian di kantor. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 54 . atau b. dalam hal surat permohonan Wajib Pajak disampaikan melalui pos. SKPDN. terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis waktu pelaksanaan penelitian di lapangan kepada Wajib Pajak atau kuasanya. SKPDLB. (2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan surat tugas dan hasilnya dituangkan dalam laporan hasil penelitian. SKPDKBT. atau menolak permohonan Wajib Pajak. Nomor4 Tanggal bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 3 ayat (3) yaitu: a. SKPDKBT. dan apabila diperlukan dapat dilanjutkan dengan penelitian di lapangan. (4) Keputusan Pemerintah Daerah atas permohonan pembatalan SKPDKB. (3) Keputusan Pemerintah daerah atas permohonan pengurangan SKPDKB. dalam hal surat permohonan Wajib Pajak disampaikan secara langsung. harus memberi suatu keputusan atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. dapat berupa mengabulkan atau menolak permohonan Wajib Pajak.(1) huruf a diberikan tanda bukti penerimaan surat. SKPDN. (3) Bukti pengiriman surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b atau tanda bukti penerimaan surat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak. tanggal terima yang tercantum pada bukti penerimaan surat.

2. e. sebagaimana. TATA CARA PEMBETULAN KESALAHAN TULIS. atau SKPDN. Bentuk formulir Keputusan Pemerintah Daerah mengenai: a. KESALAHAN HITUNG. Atas dasar permohonan Wajib Pajak atau secara jabatan. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PDRD terhadap surat keputusan atau surat ketetapan. permohonan yang diajukan dianggap dikabulkan dan Pemerintah Daerah harus menerbitkan keputusan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak jangka waktu dimaksud berakhir. pembetulan kesalahan tulis. Pemerintah Daerah harus memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). 5) Surat Tagihan BPHTB (STB). sebagaimana Lampiran 24. DAN/ATAU KEKELIRUAN PENERAPAN KETENTUAN TERTENTU DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. SKPDLB. d. 3) Surat Ketetapan BPHTB Lebih Bayar (SKPDLB). SKPDKBT. 2) Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT). yang tidak benar. pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi BPHTB atas SKPDKB. pembatalan S TPD yang tidak benar. (6) Atas permintaan tertulis dari Wajib Pajak. 1. SKPDKBT. sebagaimana Lampiran 23 c. atau SKPDN. sebagaimana Lampiran 25. Permohonan Pembetu Ian adalah permohonan pembetulan yang diajukan oleh Wajib Pajak atas kesalahan tulis. pembatalan SKPDKB. meliputi: 1) Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar (SKPDKB). SKPDKBT. pengurangan SKPDKB. 6) Surat Ketetapan Pemberian Pengurangan BPHTB Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 55 . Lampiran 26. atau STPD sebagaimana Lampiran 22b. atau menolak permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4).(5) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui dan Pemerintah Daerah tidak memberi suatu keputusan. kesalahan hitung. kesalahan hitung. pengurangan STPD yang tidak benar. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan dapat dilakukan terhadap surat keputusan atau surat ketetapan sebagai berikut: Untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). SKPDLB. 4) Surat Ketetapan BPHTB Nihil (SKPDN). yang tidak benar.

Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. dalam hal disampaikan secara langsung oleh Wajib Pajak pada petugas Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) atau Pelayanan Satu Tempat (PST) atau petugas yang ditunjuk. dalam hal surat permohonan disampaikan melalui pos tercatat. dan/atau tanggal jatuh tempo pembayaran. Pembetulan sebagaimana dimaksud diatas meliputi pembetulan atas kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi yang tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan Wajib Pajak. permohonan pembetulan surat ketetapan BPHTB berupa SPPT dapat diajukan secara kolektif. 5. diajukan kepada pejabat. antaralain kesalahan penulisanNomor Objek Pajak. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia disertai alasan yang mendukung permohonannya. 8) Surat Ketetapan Keberatan. nomor surat keputusan atau surat ketetapan. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. yaitu: • kesalahan tulis. dan/atau pembagian suatu bilangan. kekeliruan penerapan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). 3. tanggal terima surat Wajib Pajak. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 56 . Permohonan pembetulan hanya dapat diajukan oleh wajib Pajak atau kuasanya secara perseorangan. • kesalahan hitung. alamat objek pajak PBB. setiap permohonan hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) surat keputusan atau surat ketetapan b. surat permohonan ditandatangani oleh Wajib Pajak. kekeliruan penerapan persentase Nilai Jual Kena Pajak (NW). kekeliruan penerapan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP). Permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud Perseorangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. alamat Wajib Pajak. 9) Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. atau b. pengurangan. Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud di atas. dan d.7) Surat Ketetapan Pembetulan. dan/atau • kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundangundangan. luas tanah. nama Wajib Pajak. Tanggal penerimaan surat yang dijadikan dasar untuk mem-proses surat permohonan sebagaimana dimaksud adalah: a. 10) Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak . c. Tahun Pajak. 4. tanggal stempel pos tercatat. dan kekeliruan penerapan sanksi administrasi. kekeliruan pengenaan BPHTB. luas bangunan. dan dalam hal surat permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak: 6. antara lain kekeliruan dalam penerapan tarif. antara lain kesalahan penjumlahan. perkalian.

PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN Pasal 169 (1) Wajib Pajak yang melakukan usaha dengan omzet paling sedikit Rp300. 10. atau sanksi administrasi. dan pejabat wajib menerbitkan surat keputusan pembetulan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak berakhirnya jangka waktu 6 (enam) bulan.7. 9.00 (tiga ratus juta rupiah) per tahun wajib menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 57 . Permohonan pembetulan yang tidak memenuhi persyaratan dianggap bukan sebagai surat permohonan sehingga tidak dipertimbangkan. permohonan pembetulan dianggap dikabulkan. Formulir Surat Keputusan Pembetulan BPHTB secara jabatan adalah sebagaimana contoh pada Lampiran 28. Pejabat harus memberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak atau kuasanya. Dalam hal tidak ada permohonan oleh Wajib Pajak tetapi diketahui oleh pejabat telah terjadi kesalahan tulis.000. mengurangkan atau menghapuskan jumlah yang terutang. memperbaiki kesalahan dan kekeliruan lainnya. 8. kesalahan hitung. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PBB atau BPHTB atas surat keputusan atau surat ketetapan sebagaimana dimaksud di atas yang diterbitkannya. tetapi Pejabat tidak memberi suatu keputusan. Apabila keputusan masih terdapat kesalahan tulis. kesalahan hitung. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui. Pejabat harus memberi keputusan atas permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat permohonan pembetulan diterima. 11. Dalam hal permohonan pembetulan tidak dipertimbangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PBB atau BPHTB. atau menolak permohonan Wajib Pajak. • • Formulir Surat Keputusan Pembetulan BPHTB berdasarkan permohonan adalah sebagaimana contoh pada Lampiran 27. baik secara jabatan maupun atas permohonan Wajib Pajak. BPHTB yang terutang. Keputusan sebagaimana dimaksud diatas dapat berupa menambahkan. pejabat dimaksud harus menerbitkan surat keputusan untuk membetulkan kesalahan atau kekeliruan tersebut secara jabatan.000. pejabat dapat melakukan pembetulan lagi.

atau keputusan lain. Pemeriksaan Kantor adalah Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan di kantor Pemerintah Daerah 4. keterangan.(2) Kriteria Wajib Pajak dan penentuan besaran omset serta tata . memberikan keterangan yang diperlukan. dan/atau c. yang dimaksud dengan: 1. putusan banding. Pasal 170 (1) Kepala Daerah berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan kewajiban Retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah dan Retribusi. b. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan Pajak dan Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. putusan peninjauan kembali. atau Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 58 . Pemeriksaan BPHTB: a. 3. 2. wajib dilakukan dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB selain permohonan karena keputusan keberatan. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan. Pemeriksaan BPHTB adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data. b.cara pembukuan atau pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. TATA CARA PEMERIKSAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang selanjutnya disebut dengan BPHTB adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. yang mengakibatkan kelebihan pembayaran BPHTB. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan. Pemeriksaan Lapangan adalah Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan di luar kantor Pemerintah Daerah. keputusan pengurangan. dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek Pajak atau objek Retribusi yang terutang. (2) Wajib Pajak atau Wajib Retribusi yang diperiksa wajib: a. dan/atau bukti untuk menguji pemenuhan kewajiban BPHTB atau untuk menyelesaikan keberatan BPHTB. dapat dilakukan dalam hal: 1. Wajib Pajak mengajukan keberatan BPHTB.

Nomor 2 (1) Dalam rangka Pemeriksaan BPHTB. kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan BPHTB dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 32. dapat dilakukan pemanggilan kepada Wajib Pajak dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 34 (2) Wajib Pajak atau kuasanya harus memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan dalam Surat Panggilan dalam rangka Pemeriksaan BPHTB dengan membawa buku. Kepala Pemerintah Daerah tidak perlu memperbaharui SP2B tetapi harus menerbitkan Surat Tugas. (2) Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari seorang ketua tim dan seorang atau lebih anggota tim. terdapat indikasi kewajiban BPHTB yang tidak dipenuhi. dan/atau dokumen yang diperlukan oleh Pemeriksa. (5) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB merupakan bagian dari pemeriksaan untuk seluruh jenis pajak. SP2B sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak perlu diterbitkan dan penugasan Pemeriksa mengikuti penugasan yang ditetapkan dalam Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3). (2) Pemeriksaan Lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan Surat Tugas Pemeriksaan Lapangan yang ditandatangani oleh kepala. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 59 . Pemerintah Daerah dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 33. (3) Penugasan Pemeriksa ditetapkan dengan Surat Perintah Pemeriksaan BPHTB (SP2B) yang ditandatangani oleh Kepala Pemerintah Daerah dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 31. catatan. Nomor 3 (1) Pemeriksaan BPHTB dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor. (4) Dalam hal terdapat penggantian Pemeriksa atau perubahan tim Pemeriksa. dan dapat dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lapangan dalam hal diperlukan data. keterangan dan/ atau bukti yang tidak terdapat di Kantor Pemerintah Daerah. Nomor 4 (1) Untuk kepentingan Pemeriksaan BPHTB. Nomor 1 (1) Pemeriksaan BPHTB dilaksanakan oleh Pemeriksa atau tim Pemeriksa.2.

apabila pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. atau c. apabila jumlah BPHTB yang dibayar sama dengan jumlah BPHTB yang terutang. dan/atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa fotokopi. (2) Dalam hal dilakukan pemeriksaan untuk seluruh jenis pajak. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT). Surat Tagihan Pajak Daerah BPHTB (STPD). catatan. atau b. Nomor 7 LHPB sebagaimana dimaksud dalam Nomor 6 digunakan untuk pembuatan nota penghitungan BPHTB sebagai dasar penerbitan: a. maka Wajib Pajak harus membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa fotokopi tersebut sesuai dengan aslinya. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Kurang Bayar (SKPDKB). Pemeriksa harus memperlihatkan Kartu Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak/kartu tanda pengenal pegawai Pemerintah Daerah dan SP2B kepada Wajib Pajak. dan/ atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau fotokopinya sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Nomor 6 (1) Hasil Pemeriksaan BPHTB dituangkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan BPHTB (LHPB) dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 35. apabila jumlah BPHTB yang terutang kurang dibayar. Nomor 5 Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dihadiri oleh Wajib Pajak. LHPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari laporan hasil pemeriksaan pajak. atau dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 60 . Pemeriksaan BPHTB tetap dilanjutkan berdasarkan data yang ada pada Pemerintah Daerah. atau d. (5) Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(3) Dalam hal buku. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Nihil (SKPDN). apabila terdapat penambahan jumlah BPHTB yang terutang setelah diterbitkannya SKPDKB. terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/ atau salah hitung. catatan. apabila jumlah BPHTB yang dibayar ternyata lebih besar daripada jumlah BPHTB yang terutang atau dilakukan pembayaran BPHTB yang tidak seharusnya terutang. kepada Wajib Pajak diberikan bukti peminjaman. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Lebih Bayar (SKPDLB). atau e. (4) Dalam hal diperlukan peminjaman buku.

INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 171 (1) Instansi yang melaksanakan pemungutan Pajak dan Retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. Nomor 8 (1) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dilakukan hanya dengan Pemeriksaan Kantor. (2) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor dan dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lapa ngan. (3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. KETENTUAN PIDANA Pasal 174 (1) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. jangka waktu Pemeriksaan BPHTB diperpanjang menjadi paling lama 4 (empat) bulan yang dihitung sejak tanggal SP2B sampai dengan tanggal LHPB. (2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 61 . atau f. dalam hal Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan merupakan bagian dari proses penyelesaian keberatan Wajib Pajak. jangka waktu Pemeriksaan BPHTB adalah paling lama 2 (dua) bulan yang dihitung sejak tanggal SP2B sampai dengan tanggal LHPB. Surat Keputusan Keberatan. (3) Pemeriksaan BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dan huruf b angka 1 diselesaikan dengan memperhatikan jatuh tempo pemberian keputusan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB atau keberatan BPHTB.bunga.

pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Pasal 175 Tindak pidana di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 5 {lima) tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau berakhirnya Bagian Tahun Pajak atau berakhirnya Tahun Pajak yang bersangkutan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 62 .

Apabila sertifikat yang digunakan oleh perusahaan masih nama perorangan dan bentuk Haknya merupakan Hak Milik.Pelepasan Hak — Permohonan Hak( PT ) ------------Pemberian Hak (BPN) Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 63 . Masih adanya Badan Usaha yang sertifikat tanahnya atas nama pemilik/salah satu Direksi. Pemerintah Daerah dan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) dapat menghilangkan hal tersebut dengan konsekuen terhadap peraturan/ketentuan yang berlaku. Izin lokasi — Sertifikat Hak Milik ? — Seharusnya sertifikat HGB Hak milik Pelepasan Hak Permohonan Hak( PT) Pemberian Hak (BPN) Jadi Perusahaan atau Badan Hukum yang akan membebaskan Lahan Maka Sertifikat yang diperbolehkan Adalah Hak Guna Usaha (HGU) atau Hak Guna Bangunan (HGB ). Penggalian Potensi BPHTB terhadap hal tersebut dapat ditingkatkan. 2. maka perlu Pelepasan Hak kemudian Permohonan Hak Guna Usaha atau Hak Guna Bangunan atas nama Perusahaan / PT baru setelah itu Pemberian Hak oleh BPN. sehingga NPOPTKP sesuai jumlah SK BPN yang dikeluarkan. Dan apabila ada perusahaan yang mendaftarkan Izin Mendirikan Bangunan dengan menggunakan sertifikat Hak Milik maka perlu di rubah dulu Hak sertifikat tersebut. padahal setiap badan usaha dalam rangka pembebasan lahannya harus melalui izin lokasi dan pembebasannya dengan surat pelepasan hak. tapi masih banyak menggunakan Akta Jual Beli (AJB) agar hak miliknya tidak turun menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) Solusi: a. BPHTB Hak milik ---. Pada saat Perusahaan mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) maka harus dilihat dulu bentuk Hak atas sertifikat Tanahnya. Solusi: Terutangnya BPHTB adalah kelanjutan daripada Pelepasan Hak yaitu pada saat terbitnya Surat Keputusan Kantor Badan Pertanahan Nasional. Dan Hal tersebut merupakan potensi Untuk Penerimaan BPHTB. Pembayaran BPHTB pada saat pelepasan hak sering terjadi/ dilaksanakan oleh pengembang/perusahaan sehingga NPOPTKP dterapkan setiap Surat Pelepasan Hak (SPH). misalnya: setiap izin lokasi harus ditindak lanjuti dengan pelepasan hak bukan dengan Akta Jual Beli (AJB).Bab 6 Studi Kasus BPHTB 1. b. c.

4. Dan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) di terapkan hanya sejumlah Pemberian Hak Baru tersebut. Solusi: a. Perusahaan tersebut umumnya menghitung Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) diterapkan pada setiap pelepasan Hak. Transaksi (NJOP) Tahun depan Penyesuaian NJOP dan luas Pada saat pelepasan Hak tersebut sering kita jumpai Perusahaan Membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sejumlah surat/sertifikat yang dilepaskannya dan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) yang digunakan mengacu pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang tercantum di SPPT pada saat itu. Permasalahannya adalah Developer menjual ke Konsumen dengan nilai Tanah dan Bangunan padahal kondisi lapangan masih tanah kosong. setelah itu kemudian Perusahaan mengajukan Permohonan atas tanah tersebut. Seharusnya BPHTB mulai terhutang saat dikeluarkanya Pemberian Hak Baru oleh Badan Pertanahan.Jadi Tanah tanah yang dimiliki oleh perorangan (Hak Milik atau Tanah Adat) apabila akan dibebaskan oleh Perusahaan /PT akan menjadi Tanah Negara. padahal SK BPN terbit tahun berikutnya. Sering terjadi penerapan NJOP yang dipakai saat SPH diproses. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor. Kalau yang dijual adalah tanah kosong maka BPHTB terhutang adalah atas tanah saja b. • Developer hanya akan membangun jika sudah ada konsumen yang membeli. Proses SPH Objek. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 64 . 3. Bagaimana pengenaan BPHTB atas transaksi jual-beli terhadap objek pajak tanah kavling siap bangun? Apa kriteria yang menjadi dasar bahwa objek pajak tanah kavling siap bangun dalam perhitungan BPHTBnya dikenakan Tanah dan bangunan? Sedangkan dalam kenyataannya objek tersebut belum berdiri bangunan (tanah kosong). Solusi: Pemerintah Daerah akan menindak lanjuti setiap tindasan SK BPN yang terbit dengan mengadakan peninjauan dan penggabungan data sesuai dengan luas yang tertera di SK BPN dengan NJOP yang berlaku saat/ tahun berjalan dengan NPOPTKP sesuai SK BPN. Seharusnya NPOP yang di gunakan mengacu pada NJOP pada SPPT saat dikeluarkannya Pemberian Hak Baru dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). antara lain: Adanya peraturan BPN dalam pembatasan lahan yang diperjualbelikan tidak boleh tanah kosong.

Untuk Perhitungan BPHTB Adalah sesuai dengan Harga Transaksi ,bukan hanya dari nilai perolehan Tanah saja. Objek BPHTB adalah peralihan atas Hak Apabila objek yang dialihkan terkandung "Future Value" maka Besarnya BPHTB terhutang sesuai dengan "harga transaksi" karena nilai transaksi sudah mengakomudir semua unsur nilai objek. Developer ---- jual KSB harga transaksi

Jadi apabila ada Developer yang Menjual Kavling Siap Bangun (KSB). Berdasarkan UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukirnan dijelaskan bahwa Developer tidak diperkenankan menjual dalam kondisi tanah kosong,sering terjadi ada penjualan kavling tersebut dibawah tangan (antara Developer dan Pembeli). Dan ada pula Developer yang menjual Tanah Plus Bangunan padahal Kondisi lapangan masih berupa tanah kosong, maka Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dihitung berdasarkan nilai transaksi. 5. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap perolehan hak atas pemberian hak baru dan kapan saat terutangnya BPHTB tersebut? Solusi: Pengertian Pemberian Hak Baru: a. Karena Kelanjutan pelepasan Hak; b. Karena diluar pelepasan hak Saat terhutang BPHTB; sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak oleh BPN, Jadi Pada waktu pelepasan Hak Belum terhutang BPHTB, Untuk menghitung besarnya SSB; NJOP yang digunakan adalah sesuai dengan besarnya NJOP yang tercantum dalam SPPT pada tahun pajak yang sama dengan saat diterbitkannya SK pemberian hak baru, bukan tahun pajak saat pelepasan hak. SSB Pelepasan Hak ---- permohonan Hak PHB

6. Bagaimana pengenaan BPHTB Terhadap suatu objek pajak dimana pada saat transaksi jual-beli diatas tanah tersebut sudah berdiri sebuah bangunan sedangkan di dalam SPPT data objek pajak masih kondisi tanah kosong? Solusi: a. SPPT tidak sesuai dengan kondisi Objek: Luas tanah, luas bangunan/bangunan kosong. b. Penyebab: Kesalahan ukur, penambahan tanah atau bangunan yang tidak dilaporkan WP.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

65

Langkah yang ditempuh WP; a. WP mengajukan pembetulan SPPT PBB ke KP PBB baik terhadap tanah maupun bangunan. b. WP dapat tetap melakukan transaksi peralihan Hak tanpa menunggu hasil perubahan. (karena pengisian SSB adalah self assesment). Tapi dengan syarat syarat sebagai berikut: • Pengisian SSB harus Benar, Lengkap dan Jelas serta ditandatangani WP/kuasanya. Luas tanah dan luas bangunan harus sesuai dengan luas yang ditransaksikan, bukan luas yang tercantum pada SPPT. Nilai per m2 untuk tanah dan bangunan diisi sesuai dengan yang tercantum dalam SPPT. Nilai transaksi harus dicantumkan sesuai nilai transaksi real bukan mengikuti NPOP dari SPPT. SPPT Luas yang ditransaksikan x per m2 dari SPPT harga transaksi SSB Jadi apabila SPPT yang digunakan sebagai acuan untuk transaksi tetapi tidak sesuai dengan kondisi lapangan maka yang terpenting adalah pada SPPT tersebut tercantum Nilai Per M2 untuk Tanah dan Bangunan dan Apabila untuk Bangunan Tidak ada maka harus didaftarkan dulu. Untuk perhitungannya maka Luas Tanah dan Luas bangunan yang dihitung adalah sebesar luas yang ditransaksikan bukan luas pada SPPT. Hasil dari penjumlahan Nilai Tanah dan Bangunan tersebut akan di bandingkan dengan Harga Transaksi. Nilai yang tertinggi antara keduanya. dijadikan Dasar untuk Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dan menentukan besarnya BPHTB yang harus dibayar. 7. Suatu perusahaan melakukan penggabungan usaha (merger) dengan perusahaan lain, apakah sama dengan peleburan usaha? Bagaimana pengenaan dan perhitungan BPHTBnya? Solusi: Tidak sama antara penggabungan dan peleburan usaha. Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan badan usaha yang bergabung. Perhitungan BPHTB: Penggabungan Usaha; Besarnya aset tak begerak Badan usaha yang dilikuidasi sedangkan aset tak begerak dari badan usaha yang berdiri tidak dihitung.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

66

Peleburan Usaha; Besarnya aset tak bergerak dari semua badan usaha yang bergabung. Penggabungan dan Peleburan usaha likuidasi BPHTB Badan usaha yang

Untuk perusahaan yang melakukan Penggabungan usaha maupun Peleburan Usaha yaitu dihitung dari Aset yang tak bergerak saja yang mengalami likudasi/Penghapusan. Jadi Karena Peleburan Usaha aset tak bergerak dari semua badan usaha dilebur maka aset tak bergeraknya dihitung semua untuk menentukan besarnya BPHTB. 8. Bagaimana pengenaan BPHTB atas waris/hibah wasiat terhadap objek pajak yang kepemilikannya masih kredit. Solusi: a. Pengenaan BPHTB diberlakukan sama dengan pe ngenaan waris atau hibahwasiat secara umum. b. Tanggungan kredit yang masih melekat ke objek pajak sangat tergantung pada hak penguasaan atas objek tersebut kecuali dalam catatan waris/hibah wasiat dinyatakan lain. Objek Waris/hibah ---- NPOPTKP Waris/hibah wasiat --- SSB Ahli waris tertanggung kredit. Jadi untuk pengenaan waris atau hibah yang kepemilikannya masih ada tertanggung kredit maka besarnya BPHTB terhutang dihitung sama dengan pemberlakuan Waris/Hibah wasiat. Dan tanggungan atas kredit masih melekat pada objek tersebut. 9. Bagaimana pengenaan BPHTB atas objek pajak yang berubah hak atas tanah dari Hak Guna Bangunan (HGB) ke Hak Milik atau sebaliknya? Solusi: Pengalihan jenis Hak atas tanah dari HGB ke HM atau yang sebaliknya Bukan merupakan objek BPHTB karena tidak ada pergantian nama dan tidak ada perubahan status kepemilikan. (konversi Hak). Perubahan jenis Hak atas Tanah Bukan Objek BPHTB 10. Bagaimana pengenaan BPHTB atas perubahan nama perusahaan? Solusi: a. Pergantian nama perusahaan dilakukan oleh badan usaha dengan akta notaris b. Akta notaris tersebut tidak otomatis dijadikan dasar perubahan sertifikat atas aset perusahaan tersebut karena bukan akta PPAT jadi harus didaftarkan ke BPN. c. Penggantian nama tersebut harus mencantumkan kondisi kepemilikan saham, ada penambahan atau pengurangan aset yang dimiliki. Apabila ada perubahan maka harus dikenakan BPHTB. d. Penggantian nama tersebut yang berkaitan dengan pihak perbankkan penjamin

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

67

Perubahan nama Badan Hukum ---. (perbuatan hukum) BPHTB BHTB Pendaftaran APHB Hak Ahli Waris Masing masing AW Ke sebagian AW APHB . ke salah satu atau sebagian ahli waris maka besarnya nilai aset yang dialihkan terhutang BPHTB.Peruhan hak atas aset dan jumlah aset BPHTB Jadi yang terpenting disini harus dilihat dulu 1. Perlu diantisipasi apakah yang baru tersebut merupakan pemekaran usaha yang lain atau bukan. Cara perhitungannya. •Apabila dibagi ke Hak masing-masing ahli waris maka Tidak terhutang BPHTB. Aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan awal apa ada perubahan atau tidak. •Pada saat di daftarkan ke ahli waris dihitung seperti penerapan terhadap waris. NJOP .harus memperhatikan surat aktiva yang dijaminkan. Jika tidak berubah tidak kena BPHTB dan masih dalam jangka waktu izin Perusahaan( Perpajangan Hak). c. 11. Dalam menerapkan akta pembagian hak bersama (APHB) harus diperhatikan kondisi saat didaftarkannya akta tersebut ke BPN. Jika ada maka yang dihitung hanya penambahannya saja. Entitas kepemilikan atas objek tersebut ada perubahan atau tidak. serta jika "pemberian Hak" maka kena BPHTB. 12. diluar hak yang memperoleh. Bagaimana pengenaan BPHTB atas pembagian hak bersama atas waris? Solusi: a. 2.NPOPTKP(waris) x 5% x 50% Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 68 . (peristiwa hukum) •Tetapi jika di alihkan. b. Bagaimana pengenaan BPHTB atas Hibah Anak Haram Solusi: Pengertian anak haram dalam hukum Perdata Diperlakukan sama seperti anak biasa yang dalam perhitungan BPHTB diberi pengurangan BPHTB sebesar 50% Pemberian hibah anak haram -BPHTB 50% Dalam hukum Perdata memang dikenal adanya anak haram dan pemberlakuannya sama dengan dengan anak sendiri. APHB adalah masuk dalam rezim waris sehingga saat terhutangnya adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke BPN. e.

Akta dapat ditandatangani.APHB Pembagian Hak ada bermacam. Alur Pelaporan BPHTB Setelah SSB diteliti . Pajak atas warisan BPHTB atas Akta Pembagian Hak Bersama 2. yang dilihat (Objek pajak) adalah Peralihan Haknya. Badan hukum yang akan membeli aset tersebut dari BPPN atau PPA secara otomatis memiliki piutang terhadap perusahaan asal. Untuk Waris menganut Hukum apa? Bukan kewenangan Pemerintah Daerah untuk menentukan hukum apa yang dipakai tetapi kita menghitung berdasarkan hukum yang dipakai /dilaporkan oleh wajib pajak 13. misalnya Hukum Indonesia dan Hukum Islam. Sehingga yang dilihat atas peralihan Haknya adalah: Berapa Hak saudaranya yang diterima/diserahkan oleh anak penerima (itulah yang harus dibayarkan BPHTBnya) 5. Namun hukum yang sering dipakai/umum di Indonesia adalah hukum Indonesia Dalam perpajakan (BPHTB). Batasan Pembahasan Kewajiban Perpajakan atas Peralihan Hak atas tanah dan Bangunan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB). 4.Jadi APHB yang dibahas disini adalah: 1. b.APHB Setiap Anak memiliki hak masing-masing. ada pembedaan pembagian antara Hak-laki-laki dan perempuan. Perusahaan yang ditangani eks BPPN jual beli/ peralihan piutang BPHTB Jadi perusahaan yang akan membeli dari aset eks BPPN atau PPA maka punya Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 69 . Pengalihan Hak atas Piutang terhadap aset tesebut sudah menjadi objek BPHTB. Dalam Hukum Indonesia. c. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pengalihan perusahaan eks. BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) atau PPA (Perusahaan Pengelolaan Aset)? Solusi: a. namun bila dari APHB yang menerima bisa satu atau lebih anak. Sedangkan dalam Hukum Islam. Penghitungan BPHTB . Tidak/belum membahas PPh 3. Penghitungan BPHTB . Hak anak adalah sama rata. Perusahaan yang ditangani oleh Eks BPPN (bubar) di ganti PPA adalah perusahaan yang mengalami kredit macet pada perbankkan. Sehingga nama aset yang dijaminkan masih nama perusahaan yang lama.

WP tersebut diatas mempunyai hak untuk mengajukan pengurangan. jika disetujui Besarnya pengurangan sebesar 50%. Apabila ada institusi yang menaunginya memberi izin pengalihan atas rumah dinas (tentunya dengan kriteria khusus) maka atas pengalihan objek tersebut terhutang BPHTB. Yang dimaksud Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan .Pengenaan BBPHTB 100% PENGENAAN BPHTB ATAS PERGURUAN TINGGI SWASTA (PTS) 1. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pengalihan Rumah Dings? Solusi: a. b. Yang dimaksud Perguruan Tinggi Swasta selanjutnya disebut PTSadalahperguruantinggiyangberbentakAkademi. Keagamaan? Solusi: a. 15. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan Pengura ngan. 2. Dalam peralihan rumah dinas harus diperhatikan status rumah tersebut dan Wajib pajak yang memohon rumah dinas tersebut. dan data tersebut di jadikan bahan kontrol kepatuhan WP serta jika ditemukan data yang tidak sesuai maka pemerintah daerah dapat mengkonfimasi ke WP serta berhak mengeluarkan SKPDKB. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 70 .tingkat perkembangan para peserta didik serta keluasan dan kedalaman bahan pengajaran yang lebih tinggi dari pada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah. rumah dinas) RS swasta. PT swasta sarana Keagamaan — Pengurangan BPHTB 50% Aset aset yang Lain -. (75%) Rumah dinas ---. Pemohon atas rumah dinas tersebut langsung dapat membayar sebesar 25% dari besarnya BPHTB terhutang tanpa menunggu dulu keputusan Pengurangan dari Kepala Pemerintah Daerah.Pengalihan ---. Tetapi Pemohon wajib membuat surat permohonan Pengurangan kepada pemerintah daerah. Untuk aset aset lain yang dimiliki Wajib Pajak tersebut di atas tetapi penggunaannya tidak berhubungan langsung maka pengenaan BPHTBnya tetap penuh (mis. Pengalihan rumah dinas merupakan Objek BPHTB. 14. Perguruan Tinggi swasta dan sarana. b. Politeknik. Pengenaan BPHTB atas objek yang diperuntukan RS swasta. Untuk Pemerintah Daerah berwenang untuk mengecek apakah nama pemohon sama dengan Nama orang yang diberi hak atas rumah dinas tersebut.permohonan pengurangan Perlu di ketahui tidak semua rumah dinas dapat dialihkan. hal tersebut sangat tergantung pada institusi yang memilikinya. c. d. Sekolah Tinggi. c. dan PT swasta Sarana keagamaan sama dengan objek yang lain. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap objek yang akan digunakan untuk Rumah Sakit swasta.kewajiban untuk membayar BPHTB.

Pendaftaran/pendataan objek dan subjek pajak berpedoman pada Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Rutin sebagaimana terlampir. • Luas bangunan >= 2. 2.000 mahasiswa.000 m2 • Lantai/tingkat bangunan >= 4 lantai • Luas tanah >= 20. 3. Apabila PTS dapat membuktikanbahwa dalam kegiatannya nyata-nyata tidak memperoleh surplus/ keuntungan. 6. Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai. dikenakan BPHTB sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari PBB yang seharusnya terutang Jika pengajuannnya disetujui.6/1994 Tanggal 25 Juni 1994 tentang Pendaftaran. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 71 . perkumpulan sosial dan/atau badan wakaf. Yang dimaksud keuntungan PTS adalah selisih lebih antara besarnya penerimaan yang diperoleh dari: • SPP • biaya seleksi masuk perguruan tinggi • sumbangan wajib pembangunan/pengadaan prasarana yang dikenakan kepada mahasiswa • hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peranan dan fungsi perguruan tinggi • penerimaan dari hasil usaha sampingan dan sebagainya. 7. dimiliki dan/ atau dimanfaatkan oleh PTS. misalnya: Laporan Keuangan (antara lain Neraca Awal dan Neraca Akhir Tahun) yang telah diaudit oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah dan/atau akuntan publik.000 M2 • Jumlah mahasiswa >= 3. Kep-31/PJ. tetap dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku (BPHTB 100%).000.00 (dua juta rupiah) satu tahun. 8. dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan. dimiliki dan/ atau dimanfaatkan oleh PTS tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk penyelenggaraan pendidikan secara langsung yang terletak di luar lingkungan PTS yang bersangkutan. Penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) PBB atas PTS dilaksanakan apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut: • Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SSP) dan pungutan lainnya dengan nama apa pun rata-rata >= Rp. 5. yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggaraan PTS yang berbentuk yayasan. Data lain yang mendukung. dan Universitas. maka PTS tersebut dapat mengajukan permohonan pengurangan dan harus didukung dengan data yang dapat di pertanggung jawabkan serta menunjukkan besarnya manfaat yang diperoleh maupun beban yang ditanggung oleh subjek pajak sehubungan dengan pengelolaan objek tersebut.000. Pendataan. 4.Institut. Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai.

Bagaimana pengenaan BPHTB atas Hak Pakai dan HGB ? Solusi: Hak Pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Sisa Hasil Usaha (SHU) digunakan untuk reinvestasi Rumah Sakit dalam rangka pengembangan Rumah Sakit dan tidak digunakan untuk investasi di luar Rumah Sakit. 25% dari jumlah tempat tidur digunakan untuk pasien yang tidak mampu. Rumah Sakit Swasta Pemodal yang bukan merupakan Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan didirikan oleh suatu badan yang berbentuk perseroan terbatas. Atas bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/ dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan secara langsung yang terletak di luar lingkungan rumah sakit. tetap dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apabila masa berlaku-nya sudah jatuh tempo maka dapat diajukan lagi permohonan hak pakai dan HGB tanpa harus memenuhi kewajiban BPHTBnya lagi. b. 3. 1. Atas bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud di atas.BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN RUMAH SAKIT SWASTA. dikenakan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar 50% dari jumlah yang seharusnya terhutang jaka permohonan pengurangannya disetujui. 4. 2. HGB adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Dengan jangka waktu tertentu BPHTB terhutang saat diberikanya tandatangan dan diterbitkanya surat keputusan dari BPN. dan/atau milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan pejabat berwenang yang bukan sewa menyewa atau pengolahan tanah. Selanjutnya untuk persetujuan perpanjangan Hak Pakai atau HGB tidak dikenakan BPHTB karena merupakan Konversi Hak tanpa ada Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 72 . (konversi hak) Pengajuan Hak Pakai /HGB persetujuan SK BPN BPHTB Jadi BPHTB terhadap Hak Pakai (HIP) dan Hak Guna Bangunan (HGB) terhutang saat diberikannya Surat Persetujuan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk yang pertama kali. dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 16. Yang dimaksud dengan Rumah Sakit Swasta dalam keputusan ini adalah Rumah Sakit Swasta IPSM (Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat) yang: a.

17. dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Solusi: Dalam proses tukar menukar kedua belah pihak saling memperoleh hak baru sehingga kedua belah pihak terhutang BPHTB sesuai dengan nilai aset yang diperolehnya. Jadi BPHTB yang terhutang untuk perusahaan yang melakukan pemekaran Usaha adalah dihitung dari Nilai Jual Objek Pajak (Karena NPOP=NJOP) dari aset yang dialihkan pada perusahaan yang baru hasil pemekaran. Solusi: Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pemekaran Usaha? 112 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Pemerintah Daerah agar Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 73 . Bagaimana pengenaan BPHTB atas tukar-menukar?.. Peralihan tukar menukar objek Kewajiban BPHTB pada dua belah pihak Jadi pada proses tukar menukar aset tak bergerak yang dilakukan oleh wajib Pajak maka pada keduanya dikenakan kewajiban BPHTB . B harus membayar kewajiban BPHTB dengan NJOP=NPOP sebesar "X" 18. dimana masing-masing harus membayar sebesar dari Nilai Aset yang mereka "Peroleh" Contoh: Mr.perubahan Nama.. Bagaimana cara penghitungan BPHTB Karena Pemberian Hak Baru di luar Pelepasan Hak yang di atasnya terdapat bangunan? Solusi: Cara penghitungan BPHTB dalam peristiwa perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemberian hak baru di luar pelepasan hak yang di atasnya terdapat bangunan. B memiliki hanya sebidang Tanah dengan Nilai Jual Objek Pajak Y maka apabila mereka mengadakan Tukar Menukar maka Mr. A memiliki tanah dan Bangunan dengan Nilai Jual Objek Pajak X. Pemekaran Usaha BPHTB atas passiva yang dialihkan saja. 19. A membayar BPHTB dengan NJOP=NPOP sebesar "Y" sedangkan MR. Yang terhutang BPHTB adalah atas pasiva yang dialihkan ke badan usaha yang baru saja. sedangkan Mr. Dalam hak Wajib Pajak menghitung BPHTB terutang berdasarkan atas NJOP tanah tanpa NJOP bangunan (dalam SSB).

karena dulu waktu pembuatan UU tentang BPHTB. Bagaimana BPHTB Atas Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Untuk kepentingan Ibadah dan Untuk kegiatan Sosial / Pendidikan? Solusi: Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 95. maupun sarana ibadah lainnya. ditegaskan bahwa tidak dikenakan BPHTB atas objek yang diperoleh untuk digunakan kepentingan ibadah. gereja. Berkenaan dengan hal tersebut di atas sebelum menerbitkan SKPDKB. Surat keterangan lainnya. menerbitkan SKPDKB dengan menambahkan NJOP bangunan sebagai dasar pengenaan BPHTB terutang "apabila bangunan didirikan/ dimiliki oleh penerima hak setelah UndangUndang PDRD diberlakukan . Bahwa tata cara penghitungan BPHTB tersebut diatas hanya ditujukan terhadap Pemberian Hak di luar Pelepasan Hak dalam rangka Ajudikasi. dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1.tentan Penetapan dan Muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah maka perlu diatur Pengenaan BPHTB atas perolehan hak atas tanah dan bangunan yang digunakan untuk kepentingan ibadah serta untuk kegiatan sosial/ pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan mencari keuntungan. Kepentingan ibadah sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut antara lain untuk masjid. wihara. pondok pesantren. Pembuktian bahwa bangunan sebagaimana tersebut di atas adalah didirikan/dimiliki oleh penerima hak sebelum atau setelah Undang-Undang PDRD diberlakukan 1 Januari 2011 antara lain dengan memperhatikan: a. b. dikhawatirkan adanya pemahaman pajak berganda atas tanah dan atau bangunan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 74 . Kondisi fisik bangunan.menindaklanjuti dengan: a. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. tidak perlu menerbitkan SKPDKB "apabila bangunan telah didirikan/dimiliki oleh penerima hak sebelum Undang-Undang PDRD diberlakukan . musholla.diberikan pengurangan BPHTB sebesar 50% (lima puluh persen) 21. atau. b. dan. 2. Mengapa diberi nama Bea Bukan Pajak pada BPHTB? Solusi: Asal usul dinamai Bea. 4. c. 20. Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB)/ Pemulihan Izin Membangun. pura. 3. agar Kantor Pemerintah Daerah terlebih dahulu melakukan penelitian kembali untuk mendapatkan data/informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Terhadap Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang digunakan untuk kegiatan sosial dan pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan keuntungan. (pasal 85 ayat 4 huruf f) f 2.

yangharus dibayar sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Ciri inilah yang membedakan bea dengan pungutan yang bernama pajak. Misalnya membeli (membayar) meterai tempel dapat dilakukan kapan saja. Pembatasan Pembahasan BPHTB atas Objek Pajak yang Wajib Pajak Orang Pribadi yang diikutkan dalam Program Pemerintah bidang Pertanahan yang Wajib Pajaknya tidak mampu secara ekonomi 3.03/2006 tentang Pemberian Pengurangan BPHTB 2. Ada beberapa ciri khusus yang membuatnya dinamai bea. walaupun belum terjadi saat terutang pajak.(maksudnya dengan PBB). pembeli tanah bersertifikat sudah diharuskan membayar BPHTB terutang sebelum terjadi saat terutang (sebelum akta dibuat dan ditandatangani). Dasar Hukum UU No. Siapapun pihak yang membeli meterai tempel berarti ia sudah membayar Bea Meterai. saat pembayaran pajak terjadi lebih dahulu daripada saat terutang.000 m2 untuk tanah pertanian Luas tidak lebih dari 200 m2 untuk tanah pemukirnan Biaya pendaftaran yang timbul seluruhnya atau sebagian dibebaskan oleh pemerintah WP tidak mampu secara ekonomis 4. 1. Ciri kedua. dalam BPHTB. Hal ini tentunya berbeda dengan pajak. Ciri pertama. Rumor BPTHB Nihil tidak usah mengisi SSB (lapor BPHTB) BPHTB terutang Otomatis dikenakan 25% 5. dalam BPHTB ini tidak diperlukan Nomor Identitas baik untuk Wajib Pajak ataupun objek pajaknya. sehingga di beri istilah Bea bukan Pajak. Seharusnya Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 75 . Ciri ketiga adalah frekuensi pembayaran bea terutang dapat dilakukan secara insidentil ataupun berkali-kali dan tidak terikat dengan waktu. 2. demikian pula membayar BPHTB terutang. Objek Pajak (Ajudikasi) Pendaftaran tanah untuk pertama kali Luas tidak lebih dari 5. 3. 22. 28 Tahun 2009 tentang PDRB PMK Nomor 91 PMK. Hal ini terjadi juga dalam Bea Meterai. Bagaimana cara pembayaran BPTHB atas Ajudikasi Massal? Solusi: 1. Contohnya.

5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 76 . Pendukung Pengajuan Wajib Pajak Surat Keterangan WajibPajakorang pribadi memperolehhakbaru melalui Program Pemerintah dari Badan Pertanahan Nasional.03/2006 Pasal 1 huruf a angka 1) Ketentuan Pejabat BPN Pasal 91 ayat (3) Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten / Kota hanya dapat melakukan pendaftaran hak atas tanah atau pendaftaran peralihan hak atas tanah setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak (SSB) UU Nomor 28 Tahun2009_ 23. yang dimaksud dengan: Angka 1: Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan. 8. Dengan dasar pertimbangan sebagai berikut: 1. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Berdasarkan Pasal 85 Undang-undang No. 91/PMK. 0. PengajuanPenguranganWajibPajak Surat: Pengajuan Tertulis. bila disetujui dapat diberikan Pengurangan BPHTB sebesar 75% 6. Angka 3: Hak atas tanah adalah hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang No. Berbahasa Indonesia.Sekalipun BPHTB teruntangnya adalah Rp..(Nihil) TETAP mengisi SSB dan divalidasi BPHTB terutang Bukan dikenakan 25 % tapi mengajukan pengurangan BPHTB. Surat Keterangan Tidak Mampu Secara Ekonomi dari desa/ kelurahan setempat dan Dinas Sosial. Apakah BPHTB bisa jadi Biaya/Pengurang Penghasilan Bruto? Bagaimana caranya? Solusi: Sehubungan dengan Peralihan BPHTB ke Daerah maka Pemerintah Daerah dapat mengusulkan perlakuan Pajak Penghasilan atas Pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Sebagai Biaya/Pengurang Penghasilan Bruto. Disebutkan Alasannya Surat Ditujukan ke: kepada Bupati/Walikota / Kepala Dinas Pendapatan / Kepala DPPKA 7. Wajib Pajak dapat diberikan pengurangan BPHTB dalam hal kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yaitu: Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah dibidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis (PerMenKeu No.

besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat. Berdasarkan Pasal 11A ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan. 17 Tahun 2000 (Undang-undang Pajak Penghasilan). menagih. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 77 . pendirian. dilakukan dalam bagianbagian yang sama masa manfaat. dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan. Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku. sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diteima. perbaikan. menagih. Ayat (2): Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) selain bangunan. harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima. 6. dan memelihara penghasilan. hak guna usaha. 5. hak guna bangunan. yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan. dan hak pakai. melainkan dibebankan melalui penyusunan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A.2. Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. Berdasarkan Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan antara lain diatur bahwa: Ayat (1): Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian. kecuali tanah yang berstatus hak milik. dan memelihara penghasilan. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas. 3. penambahan. amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan. termasuk antara lain pajak kecuali Pajak Penghasilan. Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan. atau perubahan harta berwujud. pengeluaran untuk mendapatkan. hak guna usaha. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 4. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut. menagih. dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus. dengan syarat dilakukan secara taat asas. ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi antara lain biaya untuk mendapatkan. menagih. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus.

Hal tersebut bebas dilakukan oleh siapapun walau tanpa hubungan keluarga atau Saudara. dan memelihara penghasilan. atau dimiliki untuk mendapatkan.7. Contoh: kepemilikan bersama atas satu aset yang dibuat oleh tiga orang dewasa dengan proporsi pembagian asetnya adalah 20 %. dan besarnya hak atas asset tersebut juga bebas ditentukan oleh mereka sesuai kesepakatan bersama. BPHTB atas hak atas bangunan yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan. b. berlaku atas penghasilan yang tidak berkaitan dengan penerimaan/perolehan penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final dan atau dikenakan berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto/Norma Penghitungan Khusus. BPHTB adalah pajak yang dibayar dalam rangka dan merupakan bagian dari biaya pengeluaran untuk memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. jadi pemohon disini terbatas masih ada hubungan Saudara atau keluarga dengan pewaris atau dengan kata lain sifatnya tertutup hanya untuk ahli waris. Contoh: Pewaris meninggalkan satu aset dengan ahli waris satu istri dan 4 orang anak. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas. Apa pengertian APHB pada Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)? Akta Pembagian Hak Bersama (APHB) terbagi pada dua kelompok. c. dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan Penghasilan Kena. Kegiatan mereka disebut "Peristiwa Hukum" karena secara otomatis kejadian tersebut terjadi pada mereka. APHB yang Bebas/ terbuka/ Perbuatan Hukum Yaitu akta yang dibuat atas suatu aset oleh dua orang atau lebih di mana besarnya kepemilikan atas aset tersebut sangat tergantung pada kesepakatan yang dibuat oleh mereka. yaitu: I. menagih dan memelihara penghasilan. APHB yang Terikat/ tertutup/ Peristiwa hukum Yaitu Akta yang dibuat atas suatu asset oleh dua orang atau lebih karena adanya peristiwa waris. atau dimiliki untuk mendapatkan. 30 % dan 50%. BPHTB atas hak atas tanah yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan. Pajak melalui amortisasi hak atas tanah sepanjang hak atas tanah tersebut dapat diamortisasi sesuai ketentuan Pasal 11A Undangundang Pajak Penghasilan. Usulan dimaksud pada huruf-huruf b dan c di atas. 24. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 78 . Kegiatan yang mereka lakukan tersebut dapat dikatakan sebagai "Perbuatan Hukum" karena mereka secara sadar dan sah membuat kesepakatan hukum atas suatu aset. 2. Pajak melalui penyusutan bangunan tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-undang Pajak Penghasilan. d. dengan ini di usulkan agar : a. dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan Penghasilan Kena. menagih.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 79 . Yang diwariskan 50% sisanya ke istri dan 4 anaknya yaitu masing-masing 10 %.hukum waris yang digunakan adalah Hukum Indonesia. Maka APHB harus didaftarkan ke BPN sebagai Ahli Waris Cs. Besarnya harta gono gini istri sebesar 50%. Baru kemudian dibuat pembagian hak pada masing-masing ahli waris.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful