PANDUAN PELAKSANAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) Bab 1 Latar Belakang Berlakunya Bea

Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) berdasarkan Undang Undang No. 21 Tahun 1997 tanggal 29 Mei 1997 Tentang "Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan, yang diubah lagi dengan UU No. 28 Tahun 2009 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH (PDRB). Bagi Negara Republik lndonesia yang sedang meningkatkan pembangunan di segala bidang menuju masyarakat adil dan makmur, pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat penting bagi penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan kewajiban perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan yang merupakan sarana peran serta dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional guna tercapainya masyarakat adil dan makmur, dan sejahtera. Sesuai dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tanah sebagai bagian dari bumi yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki fungsi sosial, disamping memenuhi kebutuhan dasar untuk pangan dan lahan usaha, juga merupakan alat investasi yang sangat menguntungkan. Di samping itu, bangunan juga memberi manfaat ekonomi bagi pemiliknya. Oleh karena itu, bagi mereka yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan, wajar menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak, yang dalam hal ini Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Namum, pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menurut Undang-undang ini telah memperhatikan aspek keadilan bagi masyarakat terutama masyarakat golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpenghasilan rendah, yaitu dengan mengatur nilai perolehan hak atas tanah dan bangunan yang tidak dikenakan pajak. Pada masa lalu ada pungutan pajak dengan nama Bea Balik Nama yang diatur dalam Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291. Bea Balik Nama ini dipungut atas setiap perjanjian pemindahan hak atas harta tetap yang ada di wilayah Indonesia, termasuk peralihan harta karena hibah wasiat yang ditinggalkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal terakhir di Indonesia. Yang dimaksud dengan harta tetap dalam Ordonansi tersebut adalah barang-barang

tetap dan hak-hak kebendaan atas tanah, yang pemindahan haknya dilakukari dengan pembuatan akta menurut cara yang diatur dalam undang-undang, yaitu Ordonansi Balik Nama Staatsblad 1834 Nomor 27. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, hak-hak kebendaan yang dimaksud di atas tidak berlaku lagi, karena semuanya sudah diganti dengan hak-hak baru yang diatur dalam Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dengan demikian, sejak diundangkannya Undang-undang tentang peraturan Dasar PokokPokok Agraria, Bea Balik Nama atas hak harta tetap berupa hak atas tanah tidak dipungut lagi, sedangkan ketentuan mengenai pengenaan pajak atas akta pendaftaran dan pemindahan kapal yang didasarkan pada Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291 masih tetap berlaku. Dengan pertimbangan hal tersebut di atas dan sebagai pengganti Bea Balik Nama atas harta tetap berupa hak atas tanah yang tidak dipungut lagi sejak diundangkannya Undangundang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, perlu diadakan pungutan pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dengan nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Tarif yang ditetapkan menurut Undang-undang ini adalah sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak. Dengan demikian, semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undang ini tidak diperkenankan. Prinsip yang dianut dalam Undang-undang ini adalah: a. pemenuhan kewajiban Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah berdasarkan sistem self assesment, yaitu Wajib Pajak menghitung dan membayar sendiri utang pajaknya; b. besarnya tarif ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak; c. agar pelaksanaan Undang-undang ini dapat berlaku secara efektif, maka baik kepada Wajib Pajak maupun kepada pejabat-pejabat umum yang melanggar ketentuan atau tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana ditentukan oleh Undang-undang ini, dikenakan sanksi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku; d. hasil penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan merupakan penerimaan negara yang sebagian besar diserahkan kepada Pemerintah Daerah, untuk meningkatkan pendapatan daerah guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan dalam rangka memantapkan otonomi daerah; e. semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undang ini tidak diperkenankan. Penyusunan Undang-undang tersebut dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama penerimaan daerah yang dinilai penting bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan nasional.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

2

Berdasarkan pemikiran itu pula, subjek pajak yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan dianggap wajar apabila diwajibkan untuk menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak yang diberi nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Dengan memperhatikan fungsi tanah yang demikian penting bagi penyelenggaraan kehidupan masyarakat ataupun bagi pembangunan, penggalian sumber penerimaan pajak tersebut sudah barang tentu akan berarti sekali terutama sebagai sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Namun demikian, dengan terjadinya gejolak moneter pada akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998 yang demikian besar pengaruhnya terhadap kehidupan perekonomian dan pelaksanaan pembangunan, maka penggalian sumber-sumber penerimaan pajak yang baru menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Gejolak moneter yang terjadi beberapa bulan terakhir, telah memberi pengaruh yang besar dan menimbulkan gangguan terhadap pelaksanaan pembangunan nasional terutama dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Diantara berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh untuk mengurangi pengaruh gejolak moneter yang tidak menguntungkan tadi adalah penangguhan rencana pengenaan beban baru terhadap masyarakat. Behan baru seperti itu akan merupakan tambahan biaya ekonomi, yang dalam keadaan perekonomian yang sulit akan mengurangi kemantapan penciptaan lapangan kerja dan menurunkan kesempatan kerja yang baru, yang besar artinya terhadap kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu dikeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang "Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No. 1 Tahun 1997 tentang Penangguhan Mulai berlakunya Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Peralehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Menjadi Undang- Undang" . Pada Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1998 menyatakan "Undang Undang No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3688), ditangguhkan mulai berlakunya selama enam bulan dari tanggal 1 Januari 1998 sampai dengan tanggal 30 Juni 1998. Pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan harus memperhatikan asas-asas keadilan, kepastian hukum, legalitas, dan kesederhanaan serta didukung oleh sistem administrasi perpajakan yang memudahkan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Sehubungan dengan diberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 yang bersamaan dengan terjadinya perubahan tatanan perekonomian nasional dan internasional, berpengaruh terhadap perubahan perilaku perekonomian masyarakat sehingga perlu diakomodasikan dengan penyempurnaan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

3

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839) dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. b. maka pokok-pokok perubahan sebagai berikut: a. bertujuan untuk mewujudkan tata. dan kesederhanaan. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. arah dan tujuan penyempurnaan Undang-undang ini adalah sebagai berikut: a. c. menampung perubahan tatanan dan perilaku ekonomi masyarakat dengan tetap berpedoman pada tujuan pembangunan nasional di bidang ekonomi yang bertumpu pada kemandirian bangsa untuk membiayai pembangunan de ngan sumber pembiayaan yang berasal dari penerimaan pajak. legalitas. kehidupan bangsa yang aman. meningkatkan disiplin dan pelayanan kepada masyarakat serta pengenaan sanksi bagi pejabat dan Wajib Pajak yang melanggar. memperluas cakupan objek pajak untuk mengantisipasi terjadinya perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dalam bentuk dan terminologi yang baru. sejahtera. tertib.Oleh karena itu dibuat Undang-Undang No. dan berkeadilan. kepastian hukum. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848). Berlandaskan pada arah dan tujuan penyempurnaan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tersebut. b. d. 20 Tahun 2000 tentang " Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan". Berpegang teguh pada asas-asas keadilan. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 'tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 4 . menyesuaikan ketentuan yang berkaitan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat pelaku ekonomi untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan sesuai dengan kewajibannya. memberikan kemudahan dan perlindungan hukum kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajibannya.

Daerah. sekarang ditangani sendiri oleh pemerintah kabupaten/kota dan merupakan pajak daerah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3688) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 5 . perlu disesuaikan dengan kebijakan otonomi daerah. Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka di buatlah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tanggal 15 September 2009 tentang "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah". 28 Tahun 2009 O Memperbaiki kewenangan pemungutan O Meningkatkan local taxing power O Meningkatkan efektivitas pengawasan O Meningkatkan sistem pengelolaan Inti dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah: ► Pengenaan pajak yang close list ► Pengawasan:represive 4 preventif dan korektif ► Sanksi bagi daerah apabila melanggar ► Memperkenalkan earmarking system ► Pengalihan hak pemungutan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah Berdasarkan Pasal 2 ayat 2 huruf "k" Undang undang PDRD dinyatakan bahwa salah satu Jenis pajak kabupaten/ kota adalah Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan retribusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Tujuan UU No. pemerataan dan keadilan. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaanpemerintahandaerah. Dalam rangkameningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan kemandirian daerah. disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. pecan serta masyarakat. Aturan Peralihan Pengelolaan BPHTB ■ Pasal 180 ayat (6) Undang-Undang PDRD "Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44. perlu dilakukan perluasan objek pajak daerah dan retribusi daerah dan pemberian diskresi dalam penetapan*tarif. Kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi. maka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya. Sehingga BPHTB yang dulunya ditangani oleh pemerintah pusat yang merupakan pajak pusat. dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah.

Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 130. yaitu. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 6 . sedangkan mulai tahun 2011. Oleh karena Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan (BPHTB) merupakan Pajak Baru yang akan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Buku ini juga berguna bagi Stage holder pemerintah daerah yang terlihat dalam penanganan BPHTB. Kantor pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memungut BPHTB sampai dengan 31 Desember 2010. Badan Pertanahan(BPN). maka penulis mencoba membuat buku panduan bagi bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan BPHTB. Dan tak kalah pentingnya buku ini sangat berguna bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan khususnya BPHTB. Bank Persepsi maupun Bank Pembagi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988) tetap berlaku paling lama 1 (satu) tahun sejak diberlakukannya UndangUndang ini". Notaris/PPAT. Dengan demikian. DJP tidak berwenang memungut BPHTB lagi.

1. Menetapkan. Makna dari Desentralisasi pengelolaan BPHTB adalah menyerahkan semua kewenangan: Mendata. Syarat-syarat untuk membentuk Desentralisasi yang Ideal adalah: • Infrastruktur sudah berjalan baik • Undang-Undang/Aturan yang mendasari • Lebih efisien pelaksanaannya • Hasil yang lebih baik • Tidak memicu disintegrasi bangsa • Daerah siap menerima pelimpahan wewenang dari pemerintah Pusat. Penilaian dan Pemungutan. NPOPTKP. Beberapa kemungkinan tahap implementasi yang bisa diadopsi oleh Pemda: • Mengadopsi tax rate. Memungut dan lain-lain kepada Pemerintah daerah. Mengadministrasikan. Peraturan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 7 . Aspek Pengelolaan (Administrasi) Meliputi semua kegiatan Pengelolaan: Identifikasi Objek/ Subjek. Aspek Wewenang Perumusan ( Policy) Untuk meningkatkan local Taxing Power. sistem pendataan dan penilaian yang sudah berjalan • Menggunakan seluruh informasi properti yang sudah ada saat ini • Melakukan cloning terhadap seluruh kebijakan dan keahlian yang dimiliki pemerintah pusat Dalam rangka persiapan Desentralisasi BPHTB. dan tepat jika dikelola oleh pemerintah daerah. hal hal yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota adalah. Aspek Penerimaan (Revenue) Pajak Properti merupakan sumber penerimaan yang potensial bagi daerah. dimana BPHTB menjadi Pajak Daerah hal itu berarti Desentralisasi BPHTB kepada pemerintah kabupaten/kota.Bab 2 Persiapan yang Harus Dilakukan oleh Pemerintah Daerah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan merupakan salah satu pajak property yang harus ditangani dengan tepat. Menilai. NJOPTKP. Akuntabilitas dan Trasparancy Dengan Berlakunya UU Nomor 28 Tahun 2009. 3. Aspek Tinjauan Dalam Pengelolaan Pajak Properti: 1. 2. Basis Data.

Peralatan Perangkat Lunak: aplikasi oracle. Pencetakan Keluaran (SPPT. Komputer dan Printer 4. STTS dan lain-lain ) 3. dan lain-lain ) 5. Pengadaan Peralatan 4.STTS. NPOPTKP. Honorarium Tim (Petugas Pungut. Input Data Objek/Subjek 10. Pengadaan Barang (Blangko SPPT. NJOP • Penetapan Pajak {NPOPTKP. Distometer 6. GPS 5.Peraturan-peraturan terkait tentang: • Pendataan • Penilaian/Penentuan NJOP • Pencetakan SPPT/STTS/DHKP • Penerbitan SPPT/Salinan/Ket. DBKB. Scanner dan Plotter untuk pets 3. Biaya Pemungutan 8. Biaya Administrasi 7. Pelatihan SDM 6. dan lain-lain 4. Ketetapan Minimal dan lain-lain) • Administrasi Penerimaan • Pemungutan dan Tempat Pembayaran • Penagihan • Tunggakan • Pemeriksaan/ Penelitian • Pengurangan dan Keberatan • dan lain-lain 2. Theodolit 7.DHKP) 5. Pelaksanaan Pendataan & Penilaian 9. Digital Camera 9. High Speed Printer 2. SISMIOP dan lain-lain Perangkat Keras : 1. Pembiayaan 1. Personil Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 8 . Pembangunan Basis Data 2. BDNPP. File Storage 8.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 9 . pemetaan dan Selain mempersiapkan empat hal tersebut diatas. maka pemerintah daerah juga harus melaksanakan beberapa kegiatan yaitu: 1. membimbing pelaksanaan kegiatan pengelolaaan dan pengawasannya yang dilakukan di Kantor pemerintah daerah. Koordinasi antar instansi Pemerintah daerah mengadakan koordinasi dengan stakeholder atau pihak lain yang terkait. Media Asistensi/Pendampingan Asistensi/Pendampingan dilakukan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak dengan melakukan pelatihan secara langsung. Kantor Pertanahan dan lain-lain. Bank. Pemagangan/Pelatihan Pemagangan/pelatihan dapat dilakukan pemerintah daerah dengan menempatkan pegawai pada Kantor Pelayanan. Tahapan. Misalnya dengan Notaris/PPAT. 3. Developer. kegiatan untuk Transfer Knowledge Transfer knowledge dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dengan membuat diktat yang bekerjasama dengan Balai Pusat Pelatihan Keuangan (BPPK) atau pihak lain yang berkompeten. 4. 2. Pajak Pratama untuk dapat mengetahui secara langsung kegiatan apa saja yang dilakukan dalam pengelolaan BPHTB dan sekaligus mempraktekkannya.• • • • • • • Petugas Pendata/ Surveyor untuk pengidentifikasian objek pajak Penilai (Valuer) Operator Console (OC) Petugas Administrasi Pemungutan Petugas Pungut Petugas Penagih/Juru Sita Pendistribusi SPPT pengukuran.

000.000.000 30.48.001 .000 42.000.000 18.000.000.42.000 24. UU PDRD.NPOPTKP waris dan N P O P T K P w a ris hibah wasiat paling dan hibah wasiat tinggi 300jt paling rendah .000.000.000 12.001 .000 48.000.18.000. UU BPHTB Tarif UU PDRD Paling Tinggi 5% Paling rendah Rp300 juta untuk Waris dan Hibah Wasiat Paling rendah Rp60 juta untuk Selain Waris dan Hibah Wasiat 5% (Maksimal) x (NPOPNPOPTKP) Sebesar 5% NPOPTKP Paling banyak Rp300 juta untuk Waris dan Hibah Wasiat Paling banyak Rp60 juta untuk Selain Waris dan Hibah Wasiat BPHTB Terutang 5% x (NPOP .000.24.001 . dengan asumsi: dengan asumsi: .Matrik Perbedaan BPHTB pada Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).000 Jumlah 175 163 96 32 1 2 0 0 4 497 @) Berdasarkan kompilasi data di DIP Tahun 2009 Perubahan UU BPHTB.000.001 .000.000.001 .001 .NPOPTKP paling 300jt tinggi 60 jt untuk selain waris N P O P T K P p a lin g Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 10 .000.NPOPTKP) Dampak pengalihan BPHTB.000 36.Tarif 5 % Tarif 5 % .54.001 .12.000 NPOPTKP KAB/KOTA 24 2 3 4 5 6 7 8 9 10 6.000 54.000.000.000.30.60. Sebaran Kabupaten/Kota dan Penerapan NPOPTKP NO 1 16.36.000.000.001 .001 .

memperbaiki/ menyesuaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 11 . Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) waris dan hibah wasiat menggunakan Nilai yang paling rendah yaitu 300 Juta. 2. maka pemerintah daerah disarankan untuk mengambil langkah-langkah: 1. Melakukan intensifikasi maupun Ekstensifikasi dari data perpajakan yang dimiliki. 5.01 T Dampak yang timbul dari penerapan UU PDRD secara nasional. Meningkatkan koordinasi dengan instansi lain yang terkait.67 % Potensi Penerimaan 8. 6. 3. Untuk mengantisipasi kemungkinan semakin turunnya potensi penerimaan BPHTB. 7. Melakukan perbaikan administrasi pembuktian BPHTB.dan hibah wasiat rendah 60 jt untuk selain waris dan. stakeholder maupun Wajib Pajak. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) selain Waris dan hibah wasiat menggunakan nilai yang paling rendah. 4. misalnya Menambah jumlah Wajib Pajak. Tarif yang digunakan adalah yang paling tinggi atau 5%.hibah w asiat Potensi penerimaan 4.99 T -37. Pemerintah daerah harus lebih mengintensifkan pengawasan terhadap laporan BPHTB baik dari internal.

a. Kepala SubBag Umum 3. Fungsional Penilai b. Fungsi Pendataan dan Penilaian. Fungsi Penagihan -Seksi Penagihan 7. Fungsi Pengawasan a. Bagan Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan Kanwil Pajak 1.Bab 3 Struktur Organisasi yang Dapat Diterapkan oleh Pemerintah Daerah Dalam bentuk struktur organisasi yang akan menangani pelaksanaan BPHTB di daerah maka Pemda dapat mengadosi contoh dari Struktur organisasi yang dilaksanakan oleh Dirjen Pajak. Fungsi Penetapan dan Pelayanan Seksi Pelayanan 5. Seksi Pemeriksaan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 12 . Kepala Kantor 2. Fungsi Penerimaan dan Manajemen IT Seksi Pusat Data dan Informasi 6. dimana bentuk organisasi tersebut didasarkan pada fungsi (organization byfungtion). Ekstensifikasi dan Penilaian 4. Seksi Pengawasan dan Konsultasi b.

fotokopi identitas Wajib Pajak. 2) Dalam hal BPHTB terutang nihil. daerah dapat mengadopsi/mencontoh perturan yang sudah ada sebelumnya.Bab 4 Penelitian Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Dalam upaya untuk meningkatkan pengawasan terhadap penerimaan BPHTB maka pemerintah daerah dapat melaksanakan kegiatan penelitian SSB.16/PJ/2008 Tanggal 17 April 2008. Pasal 2 1) KPPBB/KPP Pratama/ Pemerintah Daerah melakukan Penelitian SSB atas SSB yang sudah tertera Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) atau SSB yang dilampiri dengan Bukti Penerimaan Negara (BPN) yang disampaikan oleh Wajib Pajak atau kuasanya untuk keperluan Penelitian SSB. Untuk itu pemerintah. Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah SSB ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah/Pejabat Lelang atau Pejabat Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang/Pejabat Kantor Pertanahan yang berkaitan dengan perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. Kegiatan penelitian SSB tersebut tidak diatur dalam Undang-Undang PDRD. Tata cara penelitian Surat Setoran BPHTB (SSB) diatur dengan Peraturan No. 4) Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan apabila atas tanah dan/ atau bangunan yang diperoleh haknya tidak memiliki tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan. oleh karena itu pemerintah daerah harus membuat Peraturan Daerah (Perda) mengenai petunjuk pelaksannnanya. dan fotokopi kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dalam hal Wajib Pajak sudah memiliki NPWP. Proses pengajuan Penelitian SSB (Pasal 2): Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 13 . 3) Penyampaian SSB oleh Wajib Pajak atau kuasanya untuk keperluan Penelitian SSB dilakukan dengan menggunakan formulir sebagaimana pada Lampiran 1 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dan dilampiri dengan fotokopi SPPT atau Surat Tanda Terima Setoran (STTS)/Struk ATM bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan/ bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan lainnya atas tanah dan/atau bangunan yang diperoleh haknya.

Pemerintah daerah menindaklanjuti dengan: a. NPOPTKP. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 14 . Tarif. NPOP. b. mencocokkan NOP yang dicantumkan dalam SSB dengan NOP yang tercantum dalam fotokopi SPPT atau Surat Tanda Terima Setoran (STTS)/bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan lainnya. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). • Kebenaran penghitungan. SPPT. termasuk besarnya pengurangan yang dihitung sendiri. hibah wasiat. Pengenaan atas objek pajak tertentu (waris/hibah wasiat/pemberian hak pengelolaan). mencocokkan NJOP bumi per meter persegi yang dicantumkan dalam SSB dengan NJOP bumi per meter persegi pada Basis Data PBB. e. atau pemberian Hak Pengelolaan Item-item yang diteliti adalah: • NOP antara SSB. besarnya BPHTB yang terutang. dan BPHTB yang harus dibayar. • NJOP bangunan antara SSB dengan basis data. c. yang terdiri. 2) Objek pajak tertentu sebagaimana dimaksud pda ayat (1) huruf d meliputi perolehan hak karena waris. mencocokkan NJOP bangunan per meter persegi yang dicantumkan dalam SSB dengan NJOP bangunan per meter persegi pada Basis Data PBB. meneliti kebenaran penghitungan BPHTB yang disetor. d.Pasal 3 1) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 telah terpenuhi. dan bukti pembayaran PBB • NJOP bumi antara SSB dengan basis data. meneliti kebenaran penghitungan BPHTB yang meliputi komponen Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP). tarif. pengenaan atas objek pajak tertentu.

jangka waktu penyelesaian Penelitian SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi paling lama 1 (satu) hari kerja dihitung sejak diterimanya SSB bukti pelunasan kekurangan tersebut yang sudah tertera NTPN atau dilampiri BPN. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 15 .BPHTB terutang . Pasal 5 (1) KPPBB/KPP Pratama/Pemerintah Daerah harus menyelesaikan Penelitian SSB dalam jangka waktu: a. paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal diterimanya SSB dalam hal tidak memerlukan Penelitian Lapangan SSB. BPHTB yang harus dibayar . Penelitian SSB Pasal 4: Penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (1) dapat dilanjutkan dengan Penelitian Lapangan SSB apabila diperlukan. (3) Dalam hal tersebut kekurangan pembayaran BPHTB seba-gaimana dimaksud pada ayat (2). palinglama3 (tiga) hari kerja sejak tanggal diterimanya SSB dalam hal memerlukan Penelitian Lapangan SSB. (2) Hasil Penelitian Lapangan SSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Laporan Hasil Penelitian Lapangan SSB dengan menggunakanformulirsebagaimana pada Lampiran 2 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Pasal 4 (1) Penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dapat dilanjutkan dengan Penelitian Lapangan SSB apabila diperlukan. (4) SSB atau SSB bukti pelunasan yang telah diteliti. b. (2) Dalam hal berdasarkan Penelitian SSB dan/ atau Penelitian Lapangan SSB ternyata BPHTB yang harus disetor lebih besar daripada BPHTB yang disetor oleh Wajib Pajak. distempel dengan bentuk stempel sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Wajib Pajak diminta untuk melunasi kekurangan tersebut.

hasil pemeriksaan terhadap SSB terdapat kekurangan pembayaran BPHTB sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitting. b. atau Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB) apabila berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah BPHTB terutang kurang dibayar. Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB) apabila pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. c. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) apabila ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah diterbitkan SKBKB.Pasal 6 Terhadap SSB yang telah diteliti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) masih dapat diterbitkan: a. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 16 .

(2) Perolehan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. hak milik. 3) hibah. e. hak milik atas satuan rumah susun. dan f. atau 2) di luar pelepasan hak. 9) pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. 10) penggabungan usaha. 2) tukar menukar. hak pakai. 7) pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. (3) Hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada .Bab 5 Pengertian Umum tentang BPHTB Pengertian mengenai BPHTB yang diulas disini berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 (PDRD) dan dikombinasikan dengan Undang-Undang 20 Tahun 2000 (BPHTB) beserta peraturan pelaksanaannya. b. hak pengelolaan. 4) Hibah wasiat.ayat (1) adalah: a. (4) Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 17 . atau 13) hadiah. pemindahan hak karena: 1) jual beli. c. hak guna usaha. 11) peleburan usaha. Berdasarkan Undang-Undang PDRD tetang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan diatur pada Bagian Ke tujuh Belas: OBJEK PAJAK Pasal 85 (1) Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan. 6) pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain. 8) penunjukan pembeli dalam lelang. pemberian hak baru karena: 1) kelanjutan pelepasan hak. 5) waris. d. 12) pemekaran usaha. hak guna bangunan. b.

d. Objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang dapat berupa: a. badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut. Objek BPHTB yang diatur pada UU PDRD sama dengan Objek BHTB yang diatur pada UU PBB. dan orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. tanah dan bangunan. orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama. b. Hibah wasiat adalah suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu. orang pribadi atau Badan karena wakaf. rumah. tanah. e. kolam renang. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah penetapan pemenang lelang oleh Pejabat Lelang sebagaimana yang tercantum dalam Risalah Lelang. c. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama. bangunan. negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum.Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh: a. d. tempat olah raga. c. b. c. silo. yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia. Yang dimaksud dengan pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut. antara lain: a. termasuk tanaman di atasnya. e. b. perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Yang dimaksud dengan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 18 . gedung.

Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut. Yang dimaksud dengan pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang memberi Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 19 . Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama.Sebagai pelaksanaan dari putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Hadiah adalah suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah. Yang dimaksud dengan pemberian hak baru karena kelanjutan pelepasan hak adalah pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak. terkuat. Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunanbangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Hak milik adalah hak turun-temurun. Hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku. dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. terjadi peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut. Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain.

tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk instansi pemerintah. penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya. Contoh: Perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB). berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah. Hak pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya. 2. jalan umum. rumah sakit pemerintah. Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik tanpa adanya perubahan nama. yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah. dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan. Bekas tanah hak milik adat (dengan bukti surat Girik atau sejenisnya) menjadi hak baru. misalnya. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama. penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga. yang dilaksanakan baik sebelum maupun setelah berakhirnya HGB. Hak milik atas satuan rumah susun adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. Yang dimaksud wakaf adalah perbuatan hukum orang pribadi atau badan yang Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 20 .wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya. benda bersama. Yang dimaksud dengan perbuatan hukum lain misalnya memperpanjang hak atas tanah tanpa adanya perubahan nama. termasuk pengakuan hak oleh pemerintah. Yang dimaksud dengan konversi hak adalah perubahan hak dari hak lama menjadi hak baru menurut Undang-Undang Pokok Agraria. Badan atau perwakilan organisasi internasional yang dimaksud dalam pasal ini adalah badan atau perwakilan organisasi internasional. Contoh: 1. segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. baik pemerintah maupun non pemerintah. Yang dimaksud dengan tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum adalah tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan baik Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah dan kegiatan yang semata-mata tidak ditujukan untuk mencari keuntungan. antara lain.

Untuk lebih memberi kepastian hukum tentang Wajib Pajak. 8 Tahun 1953 Obyek Pajak yang diperoleh karena waris. Pasal 86 (1) Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.. untuk lebih memberikan rasa keadilan: ♦ Saat pewaris meninggal dunia pada hakikatnya telah terjadi pemindahan hak dari pewaris kepada ahli waris ♦ mengingat ahli waris memperoleh hak secara cuma-cuma. 5 Tahun 1960). Hak Pakai: UUPA (UU No. hibah wasiat dan pemberian hak pengelolaan diatur dengan PP No 8/1953 Pasal 3 ayat (2) Pengenaan BPHTB pada waris dan hibah wasiat. DASAR PENGENAAN Pasal 87 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 21 . ♦ Hak Pengelolaan: Peraturan Pemerintah No. maka perlu dijelaskan pada Peraturan Daerah. maka adalah wajar apabila perolehan hak karena waris termasuk objek pajak ♦ hibah wasiat merupakan penetapan wasiat yang khusus berlaku pada saat pemberi wasiat meninggal dunia. SUBJEK PAJAK Subjek Pajak yang diatur dalam UU PDRD sama dengan UU PBB 32 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. 16 Tahun 1985).memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa hak milik tanah dan atau bangunan dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya tanpa imbalan apa pun. ♦ Hak Milik atas satuan Rumah susun : UU Rumah Susun (UU No. (2) Wajib Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.. Hak Guna Bangunan. Hak Guna Usaha. yaitu ketentuan yang belum diatur dalam dalam Undang-Undang PDRD. misalnya yang tidak diketahui siapa Wajib Pajaknya atau adanya perselisihan dalam menetapkan Wajib Pajaknya. pada umumnya penerima hibah wasiat adalah orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga yang tidak mampu atau badan sebagai penghargaan Pengenaan BPHTB karena Pemberian hak pengelolaan: • Hak pengelolaan merupakan hak menguasai dari negara atas tanah yang sebagian kewenangannya dilimpahkan kepada pemegang haknya. jenis jenis hak hak atas tanah dasar hukumnya adalah sebagai berikut: ♦ Hak Milik.

(2) Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). hibah wasiat adalah nilai pasar. k. waris adalah nilai pasar. h. dalam hal: a. n. Dan NPOPTKP untuk waris atau hibah wasiat ditetapkan paling Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 22 . pemekaran usaha adalah nilai pasar. e.000.00 (tiga ratus juta rupiah).. d.(1) Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangu-nan adalah Nilai Perolehan Objek Pajak. dasar pengenaan yangdipakai adalah NJOP Pajak Bumi dan Bangunan.000.enam puluh juta untuk setiap WP. peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar. peleburan usaha adalah nilai pasar. besarnya NPOPTKP ditetapkan paling rendah Rp. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar. penggabungan usaha adalah nilai pasar. c. 1. (5) Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. dan/atau o.000. 60. jual beli adalah harga transaksi. (6) Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) ditetapkan dengan Peraturan Daerah NPOPTKP pada UU PDRD terdapat perbedaan dengan UU PBB. m. j. termasuk suami/istri.00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar.000. hadiah adalah nilai pasar. tukar menukar adalah nilai pasar. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp 300. hibah adalah nilai pasar. penunjukkan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. (3) Jika Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan.000. f. i. (4) Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp60. g.000. pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar. b. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar.

Yang perlu diantisipasi dari Undang Undang PDRD ini dalam hal Penetapan NPOPTKP ini adalah Pasal 87 ayat (4). Keu No. Men. SaatTerhutang Pajak atas Perolehan Hak karena Waris dan Hibah Wasiat sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. dimana. penguranagan NPOPTKP ditetapkan "Untuk Setiap Wajib Pajak" hal tersebut akan menimbulkan polemik karena sulit dilaksanakan di lapangan. • Perolehan hak karena hibah wasiat adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan dari pemberi hibah wasiat yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.000.514/KMK.04/2000 tanggal 14 Desember 2000.rendah Rp.(Tiga ratus juta rupiah). Seperti yang diamanatkan pada UU PDRD maka. Misalnya untuk kegiatan transaksi-transaksi yang dilakukan pada satu Hamparan Objek Pajak pada satu waktu tertentu maka pengenaan NPOPTKP nya hanya Satu Kali.. Besarnya BPHTB terhutang atas perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan karena Waris &Hibah wasiat yang diterima dikenakan sebesar 50% dari BPHTB yang seharusnya terhutang. • Perolehan hak karena waris adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh ahli waris kepada pewaris. hal tersebut perlu dibuat Peraturan Daerah yang lebih efektif dalam pengenaan BPHTB.000. Tapi perlu diantisipasi juga kemungkinan kecurangan yang dilakukan Wajib Pajak dengan cara memecah transaksi sebanyak mungkin agar memperoleh pengurangan jumlah NPOPTKP yang banyak. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 23 . Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) BPHTB 2. Berikut ini beberapa contoh mengenai Pengenaan BPHTB yang dapat diadopsi oleh Pemerintah Daerah. Pengenaan BPHTB atas Hak Baru 5. yaitu mengenai: 1. dalam Pengenaan BPHTB perlu diatur dalam Perda. Seharusnya pengurangan NPOPTKP diterapkan "Untuk Setiap Transaksi Wajib Pajak". Pengenaan BPHTB Karena Waris dan Hibah Wasiat PERATURAN PEMERINTAH RI NOMOR 111 TAHUN 2000 TENTANG PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KARENA WARIS DAN HIBAH WASIAT Kep. 300. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar (SKPDLB) BPHTB 3. Surat Ketetapan Bebas BPHTB (SKB BPHTB) 4. yang berlaku setelah pewaris meninggal dunia .

Pemerintah Daerah Provinsi. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 24 . Keu. • 50% (lima puluh persen) dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan selain dimaksud pada huruf a.. 36 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Saat terutang pajak atas perolehan hak atas tanah dan bangunan untuk pemberian Hak Pengelolaan adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak Pengelolaan adalah Hak menguasai dari Negara atas tanah yang kewenangan pelak-sanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya. Dalam hal nilai pasar lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan. dalam hal penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen. Antara lain untuk: • merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah • keperluan pelaksanaan tugas • menyerahkan bagian tanah tersebut kepada pihak ketiga atau bekerja sama dengan pihak ketiga Besarnya Bea Perolehan Hak-atas Tanah dan Bangunan karena pemberian Hak Pengelolaan adalah sebagai berikut: • 0% (nol persen) dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang. Men. lembaga pemerintah lainnya.. 6. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota hanya dapat melakukan pendaftaran perolehan hak karena waris dan hibah wasiat pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.Nilai Perolehan Objek Pajak karena waris dan hibah wasiat adalah nilai pasar pada saat didaftarkannya perolehan hak tersebut ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.515/KMK. Lembaga Pemerintah Non Departemen. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. No. dan Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas). Pengenaan BPHTB Karena Pemberian Hak Pengelolaan PERATURAN PEMERINTAH RI NOMOR 112 TAHUN 2000 TENTANG PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAKATAS TANAH DAN BANGUNAN KARENA PEMBERIAN HAK PENGELOLAAN Kep.04/2000 tanggal 14 Desember 2000. Nilai Perolehan Objek Pajak yang digunakan sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan.

Pasal 89 (1) Besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (2) dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (6).000. TARIF.00 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 25 . CARA MENGHITUNG DAN TEMPAT PAJAK TERHUTANG Pasal 88 (1) Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen).000M.000. Bila NJOP sebagai dasar Pengenaan maka: BPHTB .( NJOP . (2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Tanah dan/ atau Bangunan berada.000. Cara Menghitung BPHTB: BPHTB .NPOPTKP ) x Tarif Atau. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (a) dapat diubah dengan mempertimbangkan perkembangan perekonomian regional. (2) Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.000. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ditetapkan oleh setiap Pemerintah Kabupaten/Kota dengan memperhatikan usulan Masyarakat b.( NPOP . Tata Cara Penentuan Besarnya NPOPTKP BPHTB (Contoh Perda NPOPTKP pada Lampiran 1) a. Dalam hal nilai pasar lebih rendah dari pada Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan.Nilai Perolehan Objek Pajak dalam hal pemberian Hak Pengelolaan adalah nilai pasar pada saat diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan. 7.00 (-) Rp 35.00 = Rp 60.NPOPTKP ) x Tarif Contoh: Wajib Pajak "A" membeli tanah dan bangunan Nilai Perolehan Objek Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak = Rp 95. Nilai Perolehan Objek Pajak yang digunakan sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan.

m.000. pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. BPHTB yang terutang sehubungan dengan penjualan tanah dan atau bangunan secara lelang yang harga lelangnya lebih rendah daripada NJOP PBB. (2) Pajak yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)./1999 Tentang Tata Cara Pembayaran BPHTB sehubungan Merger Bank Mandiri dan Lelang. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang terutang sehubungan dengan Penggabungan Usaha (merger) dan Pembentukan Bank Mandiri. i. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke kantor bidang pertanahan. b. jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.750. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. j. k. h. pemasukan dalam perseroan atau badanhukumlainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. c.00 Pasal 90 (1) Saat terutangnya pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan ditetapkan untuk: a. f.00 SAAT TERHUTANG = Rp 1. hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. g. tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.000. pemberian hak baru atas Tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak.Pajak yang Terutang = 5% x Rp35.000. lelang adalah sejak tanggal penunjukkan pemenang lelang. dapat dibayar Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 26 . Untuk Penetapan BPHTB terhutangatas lelang dan Penggabungan usaha atas Bank Mandiri maka pemerintah daerah dapat merujuk pada: Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP 09/PJ. dapat dibayar sebesar BPHTB terutang setelah dikurangi sebesar 100% (seratus persen) dengan menggunakan Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB). 1. e. dan o. putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pangadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. n. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. d.

00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pelanggaran. Pasal 93 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara.000. (3) Kepala kantor bidang pertanahan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (3) dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.500. Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pasal 91.sebesar BPHTB terutang menurut harga lelang dengan menggunakan SSB. yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) dan ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp7. Kewajiban membayar sebagaimana dimaksud pada hal di atas dilaksanakan sebelum akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan atau risalah lelang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)/ Notaris/ Pejabat Lelang.00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap laporan. (2) Kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara hanya dapat menandatangani risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. (2) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara. pasal 92 dan pasal 93 telah diatur ketentuan bagi Pajabat Pembuat Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 27 . (3) Kepala kantor bidang pertanahan hanya dapat melakukan pendaftaran Hak atas Tanah atau pendaftaran peralihan Hak atas Tanah setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak.000. (2) Tata cara pelaporan bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 92 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara melaporkan pembuatan akta atau risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan kepada Kepala Daerah paling lambat pada tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya. Pasal 91 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. KETENTUAN BAGI PEJABAT . yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp250.

PPAT/ Notaris/ Camat yang terlambat melakukan pelaporan bulanan Pembuatan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 28 . harga transaksi atau nilai pasar. maka pejabat dimaksud juga perlu memberitahukan penerbitan keputusan pemberian hak baru atas tanah. Laporan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud di atas disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Dalam hal terjadi perpanjangan atau pembaharuan hak karena berakhirnya hak atas tanah yang sudah bersertifikat dan diberikan kepada pemegang hak semula. letak tanah dan atau bangunan. Ketentuan pemberian hak baru oleh Badan pertanahan berlaku dalam hal perolehan hak atas tanah karena pemberian hak baru dimaksud merupakan objek pajak dan pelaksanaannya tidak dilakukan melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah atau Kantor Lelang. untuk tertib administrasi pelaporan dan pemberitahuan serta pemberlakuan sanksi administrasi bagi pejabat. serta tanggal dan jumlah setoran. 4. status hak. luas tanah. Hal-hal yang perlu disiapkan oleh Pemerintah Daerah Dalam Rangka penyusunan Perda tentang Pelaporan dan Pemberitahuan Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 1. Selain itu. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya tidak perlu menyampaikan pemberitahuan dimaksud. nama dan alamat pihak yang mengalihkan dan memperoleh hak. luas bangunan. Apabila tanggal 10 bulan berikutnya jatuh pada hari libur. nomor dan tahun Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan. Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan. Risalah Lelang atau surat keputusan pemberian hak atas tanah. atau Risalah Lelang atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.Akta Tanah/ Notaris dan Kepala Kantor Lelang/Pejabat Lelang untuk menyampaikan laporan tentang pembuatan akta. maka Laporan disampaikan pada hari kerja berikutnya. maka tata cara pelaporan atau pemberitahuan perolehan hak atas tanah atau bangunan perlu diatur lebih detail dan juga menampung semua aspirasi dari stakeholder. Pelaporan atau pemberitahuan dimaksud tidak perlu dilakukan dalam hal tidak terjadi perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Oleh karena itu. 5. mengingat pendaftaran perolehan hak baru atas tanah dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya. 2. 3. Laporan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sekurang-kurangnya memuat nomor dan tanggal akta. Penyampaian laporan tersebut diperlukan dalam rangka pengawasan terhadap kepatuhan dan kebenaran pemenuhan kewajiban perpajakan.

dikenakan sanksi administrasi dan denda sebesar Rp 7.yang harus dibayar. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. bisa dikenakan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD)..00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pelanggaran. 28 Tahun 2009) 3. maka: a. Agar membayar denda di Bank-bank Pemerintah/ Kantor Pos yang ditunjuk. Pemerintah Daerah dapat mengeluarkan ketetapan perihal pemberian sanksi bagi PPAT dan Pejabat Lelang yang melanggar Pasal 91 ayat 1 dan ayat 2 dengan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD) dengan jumlah denda yang: Rp. Pembayaran denda dilaksanakan dengan menggunakan Surat Setoran Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 29 . SSPDPD Lembar ke-2. Agar membayar denda di Bank-bank Pemerintah/ Kantor Pos yang ditunjuk. No. 250. Dengan diterbitkannya Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD). Pembayaran denda dilaksanakan dengan menggunakan Surat Setoran Pembayaran Denda Pajak Daerah (SSPDPD). 250. No.-yang harus dibayar 4. 7. paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya 2. maka: a. No. Pasal 93 ayat 1 UU. dengan ini disampaikan penjelasan sebagai berikut: 1.000. b. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) wajib menyampaikan Laporan Bulanan Pembuatan Akta Tanah oleh PPAT kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan.500. Pasal 91 ayat (1) W.000.Akta Tanah dikenakan Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD). 3.000.(Dua ratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap laporan (Pasal 93 ayat 2 UU. 28 Tahun 2009.500. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan Pejabat Lelang Negara yang melanggar Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) dan ayat (2). Dengan diterbitkannya Surat Tagihan Denda Pajak Daerah (STDPD).28 Tahun 2009 2. Bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud di atas dikenakan sanksi denda sebesar Rp. dengan penjelasan sebagai berikut: 1. supaya dikirimkan ke Kantor Pemerintah Daerah. 28 Tahun 2009 yaitu Surat Tagihan Denda Pajak Daerah(STDPD) dengan jumlah denda yang: Rp. c. Apa bila Akta ditandatangani sebelum BPHTB terbayar. b. Pemerintah daerah dapat mengeluarkan Ketetapan perihal pemberian sanksi bagi PPAT yang melanggar Pasal 93 ayat 2 UU no.000. 4.

dasar pengenaan. c. keringanan. dan Subjek Pajak.Pembayaran Denda Pajak Daerah (SSPDPD). Surat Tagihan Denda Pajak Daerah dapat dibatalkan dengan menunjukkan SSPDB telah dilaporkan sebelum tanggal ditandatanginya akta. f. dan pembebasan da-lam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya. sanksi administratif. PENETAPAN DAN MUATAN YANG DIATUR DALAM PERATURAN DAERAH Pasal 95 (1) Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah. berupa pemberian pengurangan. (2) Peraturan Daerah tentang Pajak tidak berlaku surut. tata cara pembayaran dan penagihan. asas timbal balik. h. dan cara penghitungan pajak. SSBP Lembar ke-2. (4) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa karcis dan nota perhitungan. konsulat. dan i. supaya dikirimkan ke Kantor Pemerintah Daerah d. dan perwakilan negara asing sesuai dengan kelaziman internasional. penetapan. (2) Setiap Wajib Pajak wajib membayar Pajak yang terutang berdasarkan surat ketetapan pajak atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. keringanan. nama. tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa. b. g. b. wilayah pemungutan. pemberian pengurangan. PEMUNGUTAN PAJAK Pasal 96 Tata Cara Pemungutan (1) Pemungutan Pajak dilarang diborongkan. kedaluwarsa. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 30 . c. dan pembebasan pajak kepada kedutaan. e. objek. tanggal mulai berlakunya. (3) Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan berdasarkan penetapan Kepala Daerah dibayar dengan menggunakan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan. (3) Peraturan Daerah tentang Pajak paling sedikit mengatur ketentuan mengenai: a. tarif. (4) Peraturan Daerah tentang Pajak dapat juga mengatur ketentuan mengenai: a. dan/atau c. d. masa pajak.

dan hadiah. (Contoh Formulir SPTPD untuk BPHTB pada Lampiran 2). Untuk lebih mempermudah bagi Pemerintah Daerah dalam membuat bentuk formulir SPTPD maka dapat mencontoh bentuk formulir SSB yang sudah ada dengan beberapa penyesuaian untuk kentingan daerah masing-masing. Nomor2 (1) SPTPD untuk BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 ayat (1) digunakan untuk melakukan pembayaran/ penyetoran BPHTB yang terutang dan sekaligus digunakan untuk melaporkan data perolehan hak atas tanah dan bangunan. tukar menukar. (2) SPTPD selain berfungsi sebagai alat pembayaran/ penyetoran BPHTB dan pelaporan data perolehan hak atas tanah dan atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berfungsi sebagai Surat Pemberitahuan Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (SPOP PBB). e. (2) Kewajiban membayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada saat: a. SKPDKB. d. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 31 . ditunjuknya pemenang lelang dalam hal lelang. b. c. hibah. dibuat dan ditandatanganinya akta dalam hal jual beli. ditandatanganinya surat keputusan pemberian hak oleh Pejabat Pertanahan dalam hal pemberian hak baru. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. KEPUTUSAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBAYARAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DAN BENTUK SERTA FUNGSI SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH BPHTB Nomor 1 (1) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang terutang wajib dibayar oleh Wajib Pajak atau Kuasanya dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB) ke Tempat Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah di wilayah Kabupaten/Kota yang meliputi letak tanah dan atau bangunan. peleburan usaha. dilakukan pendaftaran hak oleh Pejabat Pertanahan dalam hal waris dan hibah wasiat.(5) Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan menggunakan SPTPD. penggabungan usaha. dan/ atau SKPDKBT. putusan pengandilan mempunyai kekuatan hukum tetap dalam hal pelaksananan putusan hakim.

SSB nihil lembar ke-3. c. Lembar ke-2: untuk Kantor Pelayanan Pemda melalui Bank Operasional BPHTB. Nomor6 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 32 . Pemda. Nomor4 (1) Dalam hal Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang nihil. dan tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala KPPBB. e. yaitu: a. b. Lembar ke-4: untuk Tempat Pembayaran BPHTB. (3) Tempat Pembayaran BPHTB mengirimkan SPTPD Lembar ke-2 Bank Operasional untuk diteruskan ke Pemda yang bersangkutan setiap ada pelimpahan. (3) SPTPD nihil lembar ke-2.(3) SPTPD BPHTB terdiri dari 5 (lima) rangkap. Tempat Pembayaran BPHTB. Kantor Lelang. (6) SPTPD lembar ke-5 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Wajib Pajak kepada PPAT/ Notaris/Kepala Kantor Lelang/Pejabat Lelang/Pejabat Pertanahan. Lembar ke-1: untuk Wajib Pajak. Nomor 5 Penyampaian SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 3 ayat (4) dan Pasal 4 ayat (3) dilakukan dalam jangka jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal pembayaran atau perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. dan SSB nihil lembar ke-4 disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Pemda. Lembar ke-5: untuk PPAT/ Notaris/Pejabat Lelang/ Pejabat Pertanahan Nomor3 (1) Formulir SPTPD disediakan di PPAT/Notaris. (2) SPTPD nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) cukup diketahui oleh PPAT/Notaris/Kepala Kantor Lelang/ Pejabat Lelang/Pejabat Pertanahan. (5) SPTPD Lembar ke-4 disimpan oleh Tempat Pembayaran BPHTB sebagai arsip. Kantor Pertanahan. (2) Wajib Pajak setelah melakukan pembayaran memperoleh SPTPD lembar ke-1. dan SPTPD Lembar ke-5. d. maka Wajib Pajak tetap mengisi SPTPD dengan keterangan nihil. Lembar ke-3: untuk Pemda disampaikan oleh Wajib Pajak. (4) SPTPD Lembar ke-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Pemda. SSB lembar ke-3.

3) jika kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi. Kepala Daerah dapat menerbitkan: a. SKPDKBT jika ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak-yang terutang. c. b. (5) Jumlah pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 3) dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 1) dan angka 2) dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. SKPDKB.Bentuk formulir dan petunjuk pengisian SPTPD adalah sebagai mana ditetapkan dalam Lampiran Keputusan Pemerintah Daerah. 2) jika SPTPD tidak disampaikan kepada Kepala Daerah dalam jangka waktu tertentu dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran. SKPDN DAN SKPDKBT Pasal 97 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. Untuk lebih mempermudah pemahaman pada SPTPD untuk BPHTB maka dapat dilihat pada diagram arus berkas dan arus dokumen pembayaran BPHTB. SKPDKB dalam hal: 1) jika berdasarkan hasil pemeriksaan atau ketera-ngan lain. (3) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. SKPDN jika jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. (Lampiran 3) DALUARSA PAJAK. Pasal 98 Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 33 . pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. SPTPD. pajak yang terutang dihitung secara jabatan. (4) Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan jika Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.

Kepala Pemerintah Daerah dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang dan sebelumnya telah pernah diterbitkan SKPDKB. dihitung mulai saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKPDKB. SPTPD. dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (3) dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. CONTOH KEPUTUSAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KURANG BAYAR (SKPDKB). Kepala Pemerintah Daerah dapat melakukan pemeriksaan atas kebenaran data objek pajak yang tertuang dalam SSPD. SKPDKB. Nomor 1 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengisian dan penyampaian SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan. dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (3) dan ayat(5) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 99 (1) Tata cara penerbitan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan. Nomor2 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. SKPDKB. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 34 . SURAT KETETAPAN PAJAK DAERAH BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPDKBT). (3) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. (2) Berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang terutang kurang dibayar.Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis Pajak yang dapat dipungut berdasarkan penetapan Kepala Daerah atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dan ketentuan lainnya berkaitan dengan pemungutan pajak diatur dengan Peraturan Pemerintah. SPTPD. maka Kepala Pemerintah Daerah menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKPDKB).

SKBKBT sebagaimana dimaksud diatas. merupakan dasar penagihan pajak. (2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang berdasarkan SKPDKB. (2) tanda penerimaan surat permohonan diberikan oleh Kantor Pemerintah Daerah atau tanda pengiriman surat permohonan melalui pos tercatat dan sejenisnya. maka atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dimaksud dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 35 . SKBKBT. Surat Ketetapan Pajak Daerah bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. Nomor 1 (1) Untuk memperoleh pengembalian kelebihan pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan pembayaran. Bentuk SKBKB. harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterima oleh Wajib Pajak. Nomor2 (1) Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. dengan syarat belum dilakukan tindakan pemeriksaan. Kepala Kantor Pemerintah Daerah menerbitkan: a. (3) Apabila atas pajak yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak atau kurang dibayar pada saat jatuh tempo. menjadi tanda bukti penerimaan surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Nomor3 (1) SKBKB.sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. apabila jumlah bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar ternyata lebih besar dari yang seharusnya terutang atau dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang. Wajib Pajak mengajukan permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan menyebutkan jumlah kelebihan pembayaran disertai alasan yang jelas kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan. PEMERINTAH DAERAH TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. SKPDKBT yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Sanksi administrasi berupa kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dikenakan apabila SKPDKBT diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri. sebagaimana lampiran 29 dan 30. dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya surat permohonan Wajib Pajak.

apabila jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar sama dengan jumlah Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terutang. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Kantor Pemerintah belum memberikan keputusan. Surat ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Nihil. harus menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. maka Permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan dan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak berakhirnya jangka waktu tersebut Kepala Kantor Pemerintah Daerah harus menerbitkan Surat ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. Nomor3 Kepala Kantor Pemerintah Daerah menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian kelebihan Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar atau Surat Keputusan/Putusan lain yang menyebabkan timbulnya kelebihan pembayaran pajak. Nomor4 (1) Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan atas nama Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan lebih bayar. (3) Apabila Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar terlambat diterbitkan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara. maka kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan lebih Bayar. c. Bank Tunggal/Bank Operasional. (2) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat. apabila jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang ternyata lebih besar dari jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dibayar. maka kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 2 (dua) bulan tersebut sampai dengan diterbitkannya Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Surat ketetapan Pajak Daerah bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar. Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan belum diterbitkan.b. dan mengirimkannya kepada Wajib Pajak. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 36 .

(5) Dalam hal Wajib Pajak mempunyai utang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan atau Pajak Bumi dan Bangunan dalam wilayah Daerah Tingkat 11 yang sama. (3) SKPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih melalui STPD. dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung. SURAT TAGIHAN PAJAK Pasal 100 (1) Kepala Daerah dapat menerbitkan STPD jika: a. (6) Perhitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dicantumkan dalam Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan atas sisanya diterbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. dan ayat (3) diperhitungkan terlebih dahulu dengan utang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan atau Pajak Bumi dan Bangunan. b. ayat (2). Wajib Pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda. pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. c. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak.(3) Dalam hal Wajib Pajak diberikan imbalan bunga diterbitkan Surat keputusan Imbalan Bunga. TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENAGIHAN Pasal 101 (1) Kepala Daerah menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya pajak dan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh Wajib Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 37 . maka kelebihan pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang tercantum dalam Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Nomor 2 ayat (1) huruf a. (4) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterbitkan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga.

(2) SPPT. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT). Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar BPHTB (SKPDKBB). SKPD. SKPDKB. Dasar penagihan yang dapat diikuti dengan Surat Paksa karena BPHTB menganut sistem self assesment maka dasar penagihan BPHTB yang tidak atau kurang dibayar setelah lewat jatuh tempo pembayaran dapat ditagih dengan Surat Paksa terdiri atas: 1.STPD. Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan ju mlah pajak yang harus dibayar bertambah. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran. STPD. (3) Kepala Daerah atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. Surat Tagihan Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan (STPDB). 4. tempat pembayaran.Pajak. Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 38 . SKPDKBT. Surat Keputusan Pembetulan yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa. SKPDKBT. SKPDKB. penyetoran. 5. Surat Keputusan Keberatan. Surat Keputusan Pembetulan. 2. (2) Penagihan pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. umum Petunjuk Pelaksanaan ini merupakan petunjuk pelaksanaan yang digunakan dalam rangka penagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTP): A. dan Putusan Ban-ding. TATA CARA PELAKSANAAN PENAGIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN 1. SKPD. yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Surat Keputusan Pembetulan. Surat Keputusan Keberatan. 6. Pasal 102 (1) Pajak yang terutang berdasarkan SPPT. 3. angsuran. dan penundaan pembayaran pajak diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.

d. II. Penerbitan Surat Teguran Penerbitan Surat Teguran sebagai langkah awal dari tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran STPD B/ SKPDKB B/ SKPDKBT B/atau SK. Penerbitan STPD BPHTB Penerbitan STPD BPHTB atas SKBKB yang tidak atau kurang dibayar lewat jatuh tempo pembayaran yang dilanjutkan dengan penerbitan Surat Paksa.Keberatan/ Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia. Penerbitan Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus diterbitkan tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran STPD atau SKPDKB/SKPDKBT/ SK. atau Terjadi penyitaanatas barang Penganggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan. Namun demikian. dalam rangka memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. Pada dasarnya pelaksanaan penagihan BPHTB diawali dengan penerbitan Surat Teguran oleh Kepala Pemerintah Daerah/kuasa yang ditunjuk. Tindakan pelaksanaan penagihan harus dilakukan sampai tuntas dengan hasil akhir berupa pelunasan utang pajak beserta biaya penagihannya. Terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usahanya atau berniat untuk itu. Badan usaha akan dibubarkan oleh negara. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat untuk itu. B.Keberatan/ Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah apabila: a. seadangkan jadwal waktu penagihan setelah diterbitkannya Surat Paksa mengikuti jadwal waktu normal. Oleh karena itu pengecualian jadwal waktu penagihan tersebut hanya berlaku sebelum diterbitkannya Surat Paksa.bertambah.Pembetulan/ SK. Dalam hal terhadap Penanggung Pajak telah diterbitkan Surat Teguran. ataupun memindahtangankan barang yang dimiliki atau dikuasainya. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus diterbitkan sebelum penerbitan Surat Paksa. B. pendekatan persuasif baik melalui pemberitahuan lewat telepon. maka Penagihan Seketika dan Sekaligus dilakukan tanpa menunggu lewat tenggang waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Surat Teguran diterbitkan. c. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 39 . surat. Penanggung pajak menghentikan atau secara nyata mengecilkan kegiatan perusahaan. PELAKSANAAN PENAGIHAN A.Pembetulan/ SK. b. atau cara lain sebelum saat jatuh tempo pembayaran hendaknya dilakukan.

Buku-buku yang bertaHan dengan jabatan atau pekerjaan Penanggung Pajak dan alat-alat yang dipergunakan untuk pendidikan. tabungan. Persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan beserta peralatan masak yang ada di rumah. Penyitaan brang bergerak dan atau barang tidak bergerak berupa tanah atau bangunan dilakukan secara fisik dan sedapat mungkin dokumen bukti kepemilikan seperti sertifikat hak atas tanah dapat ikut disita Dalam rangka menjaga kelangsungan hidup dan usaha Penanggung Pajak. dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. kebudayaan. uang tunai.diterbitkannya Surat Teguran apabila utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi atau telah diterbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus. baik yang berada di tempat tinggal.C. Tujuan penyitaan adalah memperoleh jaminan pelunasan utang pajak dan biaya penagihannya dari Penanggung Pajak. bangunan. Penyitaan dilaksanakan apabila utang pajak tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam sejak tanggal Surat Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak. atau surat berharga lainnya. giro. saham. Penerbitan Surat Paksa Surat Paksa diterbitkan segera setalah lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak. Perlengkapan Penanggung Pajak yang bersifat dings. berupa: a. dan deposito berjangka. gadai. Pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Pelaksanaan Sita Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan oleh Jurusita Pajak berdasarkan Surat Perintah melaksanakan Penyitaan. piutang. oleh karena itu penyitaan dapat dilaksanakan terhadap semua barang milik Penanggung Pajak. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 40 . dan keilmuan. obligasi. d. dan penyertaan modal kepada perusahaan lain. dan atau b. tempat kedudukan. tempat usaha. b. terhadap barang bergerak tertentu dikecualikan dari penyitaan yaitu: a. c. atau dipinjamkan atau yang dibebani hak atnggungan (hipotik. perhiasan. 1). dan kapal dengan isi kotor paling sedikit 20 (dua puluh) meter kubik. agunan). Barang bergerak termasuk mobil. Barang tidak bergerak termasuk tanah. saldo rekening koran.

000.00) diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB dan disampaikan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak serta instansi terkait dan tindakannya disimpan dalam berkas penagihan Wajib Pajak/ Penanggung Pajak yang bersangkutan sebagai peninggal- Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 41 . Terhadap semua jenis barang yang disita oleh pengadilan Negeri atau instansi lain yang berwenang.00 (sepuluh juta rupiah). 2. kemudahan penjualan atau pencairannya. Peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Berdasarkan putusan pengadilan/putusan hakim dari peradilan umum. Dalam memperkirakan nilai barang yang disita Jurusita dimungkinkan untuk meminta bantuan jasa penilai.PBB/ BPHTB 5. misalnya putusan atas gugatan gugatan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita. Apabila Penenggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya penagihannya. Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan dengan memperhatikan jumlah dan jenis barang berdasarkan harga wajar yang diperkirakan cukup untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak. d. misalnya barang bergerak yang dapat dijadikan objek sits tidak dijumpai atau barang bergerak yang dijumpai tidak mempunyai nilai atau harganya tidak memadai dibandingkan dengan utang pajak. misalnya objek sita terbakar. tidak boleh disita lagi oleh Jurusita Pajak. misalnya Panitia Urusan Piutang Negara. c. namun dalam keadaan tertentu penyitaan dapat dilaksanakan langsung terhadap barang tidak bergerak. Peralatan dalam keadaan jalan yang masih digunakan untuk melaksanakan pekerjaan atau usaha seharihari dengan jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp 10. hilang atu musnah. Pencabutan Sita dilaksanakan berdasarkan Surat Pencabutan Sita yang berfungsi sebagai pencabutan Berita Acara Pelaksanaan Sita 3. Surat Pencabutan Sita (KP. Berdasarkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Pencabutan Sita 1.42 . Urutan barang bergerak dan atau barang tidak bergerak yang disita ditentukan dengan memperhatikan jumlah utang pajak dan biaya penagihan pajak. b.000. f.e. misalnya putusan atas gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan sita. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyitaan yang berlebihan. Berdasarkan penetapan Menteri Keuangan karena adanya sebab-sebab diluar kekuasan. E. Pencabutan Sita dilaksanakan: a. Pada dasarnya penyitaan dilaksanakan dengan mendahulukan barang bergerak.

Apabila Penanggung Pajak belum juga melunasi utang pajaknya. kecuali barang yang disita berupa uang tunai. saldo rekening koran. Pelaksanaan Penjualan Barang Sitaan Secara Lelang Kepala Pemerintah Daerah berwenang menjual secara lelang terhadap barang yang disita melalui Kantor Lelang. maka lelang tetap dilaksanakan walaupun keberatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak belum memperoleh keputusan keberatan atau tanpa dihadiri oleh Penaggung Pajak. Untuk memberi kesempatan kepada Penangggung Pajak guna melunasi utang pajak dan biaya penagihannya serta sesuai dengan peraturan lelang. apabila objek sita yang akan dilelang musnah karena terbakar atau bencana alam. saham. Akan tetapi lelang ti-dak dilaksanakan: a. dilaksanakan. tabungan. c. keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus dan anak angkat tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang dilelang. Hasil lelang digunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya penagihan pajak dan sisanya untuk membayar utang pajak. piutang dan penyertaan modal pada perusahaan lain. obligasi. beserta istri. atau surat berharga lainnya. Mengingat bahwa lelang merupakan tindakan lanjut eksekusi dari Surat Paksa yang kedudukannya sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada Penanggung Pajak. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 42 . d. sedangkan lelang tetap harus. Dalam hal Penanggung Pajak tidak menggunakan kesempatan dimaksud atau apabila pelaksanaan lelang terhadap urutan tersebut menjadi terhambat. sedangkan lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah pengumuman lelang. maka setiap penjualan barang sitaan secara lelang harus didahului dengan pengumuman lelang.F. maka Kepala Pemerintah Daerah menentukan kembali urutan barang yang dilelang dimaksud. Pada dasarnya tujuan lelang adalah untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak. pelaksanaan lelang agar tidak dilakukan secara berlebihan misalnya dalam hal hasil lelang sudah mencapai jumlah yang cukup untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak. b. Pengumuman lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah penyitaan. berdasarkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) yang mengabulkan gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan pajak. Kepala Pemda dan Jurusita Pajak. maka: a. apabila Penanggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya penagihannya. kepada Penganggung Pajak masih diberi kesempatan untuk menentukan urutan barang yang akan dilelang. deposito berjangka. pelaksanaan lelang dihentikan walaupun barang yang akan dilelang masih ada. berdasarkan putusan pengadilan yang mengabulkan gugatan pihak ketiga atas kepemilikan barang yang disita.

saldo rekening koran. biaya pelaksanaan penyitaan sebesar Rp 75.000. c. f.000.00 (sepuluh ribu rupiah) untuk biaya harian Jurusita Pajak dan Rp 15. keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus dan anak angkat tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang penjulannya dikecualikan dari penjualan secara lelang.000.00 (tujuh puluh ribu rupiah) untuk setiap Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan yang dilaksanakan. dengan rincian Rp 10. Penyertaan modal. III. e. Obligasi. c. Kepala Pemerintah Daerah mengembalikan sisabarangsitaan beserta kelebihan uang hasil lelang kepada Penanggung Pajak segera setelah dibuatnya Risalah Lelang. dengan rincian untuk biaya harian Jurusita Pajak dan 2 (dua) orang saksi masing-masing Rp 10. Kepala Pemerintah Daerah agar tidak sewenang-wenang dalam melakukan penjualan secara lelang. seperti penentuan harga limit.000.00 (sepuluh ribu rupiah) dan untuk biaya perjalanan Jurusita Pajak dan 2 (dua) orang saksi masing-masing Rp 15. d. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 43 .000. G. dan g. Saham. Kepala Pemerintah daerah dan Jurusita beserta istri.00 (lima belas ribu rupiah) untuk biaya perjalanan Jurusita Pajak. Piutang. giro atau bentuk lain yang daapt dipersamakan dengan itu. biaya pelaksanaan Surat Paksa sebesar Rp 25. tabungan. Kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank seperti deposito berjangka. b. Pelaksanaan Penjualan barang Sitaan yang Dikecualikan dari Penjualan Secara Lelang Barang sitaan yang dikecualikan dari penjualan lelang berupa: a.000.00 (lima belas ribu rupiah). b. BIAYA PENAGIHAN Biaya penagihan pajak meliputi: a.b.00 (dua puluh lima ribu rupiah) untuk setiap pemberitahuan Surat Paksa. Ketentuan pelaksanaan penjualan barang sitaan lelang mengacu pada Surat Edaran Bersama Direktur Jenderal Pajak dan Kepala Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-214/PJ/1999 tanggal 25 Agustus 1999 tentang Lelang Eksekusi Pajak. Uang tunai. Surat berharga lainnya.

biaya pencegahan dan atau biaya penyanderaan. dan Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan daerah. tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).c. SKPDKBT. (4) Keberatan dapat diajukan apabila Wajib Pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak. d. (3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat. d. (5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kecuali jika Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. e. 3) biaya penyimpanan barang yang disita. ayat (2). SKPD. (2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. c. e. (6) Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atau tanda pengiriman surat keberatan melalui surat pos tercatat sebagai tanda bukti penerimaan surat keberatan. KEBERATAN DAN BANDING Pasal 103 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas suatu: a. f. b. 2) biaya lelang. dan ayat (4) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. biaya pelaksanaan lelang meliputi: 1) biaya pengumuman lelang di surat kabar. 4) biaya lain yang berhubungan dengan lelang. biaya yang timbul karena penjualan barang sitaan yang dilakukan tidak secara lelang. SKPDKB. SPPT. ayat (3). SKPDN. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 44 . SKPDLB.

(5) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. (2) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. Pasal 105 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Pengadilan Pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. dengan alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima. dilampiri salinan dari surat keputusan keberatan tersebut. keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. (2) Imbalan bunga sebagaintana dimaksud pada ayat(1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKPDLB. (3) Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. (3) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. sejak tanggal Surat Keberatan diterima. KEBERATAN BPHTB Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 45 .Pasal 104 (1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan. atau menambah besarnya pajak yang terutang. Pasal 106 (1) Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya. menolak. (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberi suatu keputusan. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan. (4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding. harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. (2) Permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia.

Tertulis. Syarat Formal : 1. SKPDKBT. Menerima seluruh/sebagian 2. Bahasa Indonesia.Ke Kepala Daerah atas: SPPT. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. Membayar sebagian Pajak Keputusan Max 12 Bulan : 1. POTPUT. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 46 . Max 3 bulan 3. Menambah Lebih 12 Bulan -Permohonan Dikabulkan (3) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. SKPDKB. SKPD. Menolak 3. SKPDN. 2. alas an. SKPDKB.

Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun Petugas dan dalam rangka tertib administrasi. (5) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian.(4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding. apabila dalam jangka waktu tersebut Wajib Pajak tidak menerima surat keputusan dari Direktur Jenderal Pajak atas Surat Keberatan yang diajukan. berarti keberatan tersebut dikabulkan. Tanda Bukti penerimaan Surat Keberatan sangat Diperlukan untuk memenuhi ketentuan formal. Dalam keputusan keberatan ini tidak tertutup kemungkinan utang pajaknya bertambah berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain karena ada data baru yang tadinya belum terungkap atau belum dilaporkan. sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan. yaitu apabila dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Keberatan. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. misalnya Wajib Pajak sedang sakit atau kena musibah. Tanda bukti penerimaan tersebut oleh Wajib Pajak dapat juga digunakan sebagai alat kontrol baginya untuk mengetahui sampai kapan batas waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (1) berakhir. Pemerintah Daerah tidak memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan. KEBERATAN BPHTB Yang dimaksud dengan alasan-alasan yang jelas adalah mengemukakan dengan data atau bukti bahwa jumlah pajak yang terutang atau pajak lebih bayar yang ditetapkan oleh Petugas tidak benar. Imbalan bunga dihitung sejak bulan pelunasan sampai de ngan diterbitkannya Surat Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 47 . Tanda bukti penerimaan itu diperlukan untuk memastikan bahwa keberatan dikabulkan. tergantung dipenuhinya ketentuan batas waktu sebagaimana dimaksud pada Pasal 105 yaitu selama 3 bulan. Diterima atau tidaknya hak mengajukan Surat Keberatan dimaksud. yang dihitung mulai diterbitkannya surat ketetapan pajak sampai saat diterimanya Surat Keberatan tersebut oleh Pemerintah Daerah. Pengertian di luar kekuasaannya adalah keterlambatan Wajib Pajak mengajukan keberatan yang bukan karena kesalahannya.

denda. PEMBETULAN. dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya. Keputusan Pemda atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat berupa kurang bayar dengan menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar atau berupa lebih bayar dengan menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar atau mengukuhkan pajak yang terutang tetap dengan menerbitkan Surat ketetapan Bea Perolehan Hakatas Tanah dan Bangunan Nihil. SKPD. Kepala Daerah dapat membetulkan SPPT. pajak yang dibayar lebih besar daripada yang seharusnya terutang. SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar. antara lain. dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundangundangan perpajakan daerah. d. dan e. (2) Kepala Daerah dapat: a. Yang dimaksud dengan hal-hal tertentu adalah dalam hal tanah dan atau bangunan digunakan untuk tujuan tertentu yaitu untuk kegiatan sosial dan pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan mencari keuntungan atau kondisi tertentu tanah dan atau bangunan yang ada hubungannya dengan Wajib Pajak. mengurangkan atau membatalkan SPPT. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga. Wajib Pajak dapat mengajukan usul permohonan pengembahan kelebihan pembayaran pajak. namun perolehan hak atas tanah dan atau bangunan tersebut batal. PEMBATALAN. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. c. SKPDKBT atau STPD. SKPDKBT atau STPD. b. PENGURANGAN KETETAPAN. mengurangkan atau membatalkan STPD. b. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 48 . SKPDKB.Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. dalam hal: a. DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 107 (1) Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya. SKPDN atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. pajak yang terutang yang dibayarkan oleh Wajib Pajak sebelum akta ditandatangani. membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan. SKPD. mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar Wajib Pajak atau kondisi tertentu objek pajak. SKPDKB.

PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK-ATAS TANAH DAN BANGUNAN.Contoh: • Tanah dan atau bangunan digunakan untuk mendirikan panti asuhan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 49 .03/ 2004 jo. dapat diberikan pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan dalam hal: a. • Seorang Wajib Pajak yang memiliki tanah dibebaskan oleh Pemerintah untuk kepentingan Negara atau kepentingan umum dan terhadap Wajib Pajak tersebut diberikan ganti rugi yang jumlahnya lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan. Nomor 1 Atas permohonan Wajib Pajak. sekolah. 104/ PMK. rumah sakit. 2. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum. dan Rumah Susun Sederhana serta Rumah Sangat Sederhana (RSS) yang diperoleh langsung dari pengembangan dan dibayar secara angsuran. 2. b. 3. Untuk pelaksanaan pengurangan BPHTB dapat mengacu peraturan yang sudah ada yaitu Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/ KMK. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya di bawah Nilai Jual Objek Pajak. panti jompo. dan kemudian Wajib Pajak membeli tanah dan atau bangunan baru. 4. 1. PMK No. Wajib Pajak orang pribadi yang menerima hibah dan orang pribadi yang mempunyai hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah di bidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis. 03/ 2005 jo. Wajib Pajak Badan yang memperoleh hak baru selain Hak Pengelolaan dan telah menguasai tanah dan atau bangunan secara fisik lebih dari 20 (dua puluh) tahun yang dibuktikan dengan surat pernyataan Wajib Pajak dan keterangan dari Pejabat Pemerintah Daerah setempat. 91/PMK. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan Rumah Sederhana (RS). Terhadap Wajib Pajak ini dapat diberi pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dengan mengajukan permohonan. Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu yaitu.03/2006. PMK No. Kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yaitu: 1.

Tentara Nasional Indonesia (TNI). Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang tidak berfungsi lagi seperti semula disebabkan bencana alam atau sebab-sebab lainnya seperti kebakaran. sekolah yang tidak ditujukan mencari keuntungan.3. Bank Dagang Negara. Wajib Pajak orang pribadi Veteran. Wajib Pajak Badan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS. 7. Wajib Pajak Badan yang terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga Wajib Pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah. Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan antara lain untuk panti asuhan. tanah longsor. Wajib Pajak Badan yang melakukan Penggabungan Usaha (merger) atau Peleburan Usaha (konsolidasi) dengan atau tanpa terlebih dahulu mengadakan likuidasi dan telah memperoleh keputusan persetujuan penggunaan Nilai Buku dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dari Direktur Jenderal Pajak. gunung meletus. Wajib Pajak Badan anak perusahaan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang berasal dari perusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai ke lanjutan dari pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. rumah sakit swasta milik institusi pelayanan sosial masyarakat. 6. panti jompo. Purnawirawan POLRI atau janda/dudanya yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan rumah dings pemerintah. c. Purnawirawan TNI. rumah yatim piatu. 4. Pensiunan PNS. banjir. Nomor2 Besarnya pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan ditetapkan sebagai berikut: a. Wajib Pajak Bank Mandiri yang memperoleh hak atas tanah yang berasal dari Bank Bumi Daya. gempa bumi. Polisi Republik Indonesia (POLRI). Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 50 . 5. 8. 9. Bank Pembangunan Indonesia. dan huruhara yang terjadi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak penandatanganan akta. sebesar25 (dua puluh lima persen) dari pajakyangterutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 3. dan Bank Ekspor Impor dalam rangkaian proses penggabungan usaha (merger).

dan angka 5. angka 4. (3) Dalam hal kewenangan memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan berada pada Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (2). angka 8. angka 5. Nomor 4 (1) Kepala Kantor Pemerintah Daerahberwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a. angka 8. angka 6. (2) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas wajib mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Nomor 5 ayat (4) atau ayat (5). angka 7. dan huruf b angka 3 dan angka 7. c. serta huruf c. dan huruf b angka 1. sebesar 50 (lima puluh persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 2 dan angka 4. Nomor5 (1) Wajib Pajak mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pemerintah Daerah yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan atau dapat mengajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 3. sebesar 75 (tujuh puluh lima persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a angka 1. sebesar 100 (seratus persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 4. dan angka 9. angka 8. Nomor 3 (1) Wajib Pajak dapat menghitung sendiri besarnya pengura-ngan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebelum melakukan pembayaran dan membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terutang sebesar perhitungan setelah pengurangan. angka 2. angka 2. dan angka 9 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 51 . (2) Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan selain dimaksud dalam Nomor 1 huruf b angka 3. angka 2. angka 4 dan angka 5. danNomor 1 huruf b angka 1. huruf b angka 1. angka 7. d. angka 6. angka 9. Kepala Kantor Pemerintah Daerah meneruskan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya surat permohonan. (4) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam hal Nomor 1 huruf a angka 1 dan angka 3.b.

dalam waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan harus memberikan keputusan atas permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak. atau STPD.dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. (4) Apabila dalam waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) telah lewat dan Kepala Kantor Pemerintah Daerah atau Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan. Contoh Surat Keputusan Pemberian Pengurangan BPHTB pada Lampiran 21. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) berupa mengabulkan sebagian. atau mengabulkan seluruhnya. (5) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam hal Nomor 1 huruf a angka 2 dan Nomor 1 huruf b angka 3. dalam waktu paling la ma 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan harus memberikan keputusan atas permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak. berupa bunga. SKPDKBT. YANG TIDAK BENAR Nomor I Kepala Pemerintah Daerah karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat: a. dan/atau kenaikan yang dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan Wajib Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 52 . mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi yang tercantum dalam SKPDKB. permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan dianggap dikabulkan dengan mengacu kepada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 2. (2) Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (2). TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN PERMOHONAN PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN ATAU SURAT TAGIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. angka 4 dan angka 5 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat pembayaran sebesar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terutang setelah pengurangan sebagaimana ditetapkan dalam Nomor 2." Nomor 6 (1) Kepala Kantor Pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4 ayat (1) dan (2). denda. atau menolak.

SKPDLB atau SKPDN. fotokopi identitas Wajib Pajak.Pajak. SKPDN atau STPD tersebut tidak benar. dalam hal Wajib Pajak pernah mengajukan keberatan atas SKPDKB. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa sanksi administrasi dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan Wajib Pajak. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomo 1 huruf b. dokumen pendukung lainnya. fotokopi surat pemberitahuan pengajuan keberatan BPHTB tidak dapat dipertimbangkan. secara langsung. fotokopi surat pemberitahuan pengajuan keberatan BPHTB tidak dapat dipertimbangkan. SKPDLB. mengurangkan atau membatalkan SKPDKB. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b. SKPDKBT. b.dan/atau d. atau b. dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan. SKPDLB. SKPDLB. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa SKPDKB. b. dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan. SKPDKBT. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa SKPDKB. SKPDN. SKPDN. SKPDN atau STPD tersebut tidak benar. atau STPD. SKPDKBT.dan/ atau d. SKPDN. dokumen pendukung lainnya. SKPDKBT. SKPDLB. dan fotokopi identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan. yang tidak benar. fotokopi identitas Wajib Pajak. melalui pos dengan bukti pengiriman surat. SKPDKBT. permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. b. Nomor3 (1) Permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 diajukan kepada Pemerintah Daerah: a. (2) Untuk mendukung permohonan pengurangan SKPDKB. Nomor2 (1) Untuk mendukung permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a.dan/atau c. SKPDLB. c. (3) Untuk mendukung permohonan pembatalan SKPDKB. permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. dalam hal Wajib Pajak pernah mengajukan keberatan atas SKPDKB atau SKPDKBT. fotokopi identitas Wajib Pajak. (2) Atas penyampaian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 53 . dan/atau b. SKPDKBT. permohonan dimaksud dilampiri dengan: a. c. dokumen pendukung lainnya.

tanggal stempel pos yang tercantum pada bukti pengiriman surat. (2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan surat tugas dan hasilnya dituangkan dalam laporan hasil penelitian. tanggal terima yang tercantum pada bukti penerimaan surat. SKPDN. SKPDLB. (3) Dalam hal dilakukan penelitian di lapangan. Nomor4 Tanggal bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 3 ayat (3) yaitu: a. SKPDN. SKPDLB. Nomor5 Direktur Jenderal Pajak berwenang memberikan keputusan atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. dapat berupa mengabulkan atau menolak permohonan Wajib Pajak. (3) Bukti pengiriman surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b atau tanda bukti penerimaan surat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak. harus memberi suatu keputusan atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1. (4) Keputusan Pemerintah Daerah atas permohonan pembatalan SKPDKB. SKPDKBT. Nomor 6 (1) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 5 ditetapkan berdasarkan hasil penelitian di kantor. atau b. dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya. (2) Keputusan Pemerintah Daerah atas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf a dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya. SKPDKBT. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b.(1) huruf a diberikan tanda bukti penerimaan surat. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 54 . dalam hal surat permohonan Wajib Pajak disampaikan secara langsung. atau menolak permohonan Wajib Pajak. terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis waktu pelaksanaan penelitian di lapangan kepada Wajib Pajak atau kuasanya. (3) Keputusan Pemerintah daerah atas permohonan pengurangan SKPDKB. dan apabila diperlukan dapat dilanjutkan dengan penelitian di lapangan. atau STPD sebagaimana dimaksud dalam Nomor 1 huruf b. atau menolak permohonan Wajib Pajak. Nomor7 (1) Pemerintah Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal bukti penerimaan surat permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Nomor 4. dalam hal surat permohonan Wajib Pajak disampaikan melalui pos.

sebagaimana Lampiran 24. sebagaimana Lampiran 23 c. 1. 2. pembatalan S TPD yang tidak benar. e. SKPDKBT. meliputi: 1) Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar (SKPDKB). pengurangan STPD yang tidak benar. sebagaimana. yang tidak benar. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PDRD terhadap surat keputusan atau surat ketetapan. atau menolak permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4). 3) Surat Ketetapan BPHTB Lebih Bayar (SKPDLB). Pemerintah Daerah harus memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). atau SKPDN. permohonan yang diajukan dianggap dikabulkan dan Pemerintah Daerah harus menerbitkan keputusan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak jangka waktu dimaksud berakhir. kesalahan hitung. Lampiran 26. TATA CARA PEMBETULAN KESALAHAN TULIS. 2) Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT). pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi BPHTB atas SKPDKB. Bentuk formulir Keputusan Pemerintah Daerah mengenai: a. d. pembatalan SKPDKB. KESALAHAN HITUNG. Permohonan Pembetu Ian adalah permohonan pembetulan yang diajukan oleh Wajib Pajak atas kesalahan tulis. SKPDLB. kesalahan hitung. atau SKPDN. SKPDKBT.(5) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui dan Pemerintah Daerah tidak memberi suatu keputusan. pengurangan SKPDKB. Atas dasar permohonan Wajib Pajak atau secara jabatan. yang tidak benar. SKPDLB. DAN/ATAU KEKELIRUAN PENERAPAN KETENTUAN TERTENTU DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. 5) Surat Tagihan BPHTB (STB). (6) Atas permintaan tertulis dari Wajib Pajak. SKPDKBT. 6) Surat Ketetapan Pemberian Pengurangan BPHTB Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 55 . atau STPD sebagaimana Lampiran 22b. 4) Surat Ketetapan BPHTB Nihil (SKPDN). pembetulan kesalahan tulis. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan dapat dilakukan terhadap surat keputusan atau surat ketetapan sebagai berikut: Untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). sebagaimana Lampiran 25.

10) Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi. dalam hal surat permohonan disampaikan melalui pos tercatat. • kesalahan hitung. antaralain kesalahan penulisanNomor Objek Pajak. pengurangan. 8) Surat Ketetapan Keberatan. c. luas bangunan. 5. kekeliruan penerapan persentase Nilai Jual Kena Pajak (NW). perkalian. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 56 . Tahun Pajak. nomor surat keputusan atau surat ketetapan. luas tanah. dan/atau pembagian suatu bilangan. dan/atau • kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundangundangan. dan kekeliruan penerapan sanksi administrasi. 3. Tanggal penerimaan surat yang dijadikan dasar untuk mem-proses surat permohonan sebagaimana dimaksud adalah: a. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi. Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud di atas. dan/atau tanggal jatuh tempo pembayaran. tanggal terima surat Wajib Pajak. antara lain kesalahan penjumlahan. dan d. nama Wajib Pajak. dalam hal disampaikan secara langsung oleh Wajib Pajak pada petugas Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) atau Pelayanan Satu Tempat (PST) atau petugas yang ditunjuk. dan dalam hal surat permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak: 6. setiap permohonan hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) surat keputusan atau surat ketetapan b. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak. kekeliruan pengenaan BPHTB. Permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud Perseorangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. surat permohonan ditandatangani oleh Wajib Pajak. yaitu: • kesalahan tulis.7) Surat Ketetapan Pembetulan. atau b. kekeliruan penerapan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). antara lain kekeliruan dalam penerapan tarif. alamat Wajib Pajak. alamat objek pajak PBB. atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak . Permohonan pembetulan hanya dapat diajukan oleh wajib Pajak atau kuasanya secara perseorangan. 9) Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. kekeliruan penerapan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP). 4. diajukan kepada pejabat. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia disertai alasan yang mendukung permohonannya. permohonan pembetulan surat ketetapan BPHTB berupa SPPT dapat diajukan secara kolektif. tanggal stempel pos tercatat. Pembetulan sebagaimana dimaksud diatas meliputi pembetulan atas kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi yang tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan Wajib Pajak.

Keputusan sebagaimana dimaksud diatas dapat berupa menambahkan. memperbaiki kesalahan dan kekeliruan lainnya. Pejabat harus memberi keputusan atas permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat permohonan pembetulan diterima. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 57 . kesalahan hitung. 10. 8. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PBB atau BPHTB atas surat keputusan atau surat ketetapan sebagaimana dimaksud di atas yang diterbitkannya. tetapi Pejabat tidak memberi suatu keputusan. Formulir Surat Keputusan Pembetulan BPHTB secara jabatan adalah sebagaimana contoh pada Lampiran 28.000. Permohonan pembetulan yang tidak memenuhi persyaratan dianggap bukan sebagai surat permohonan sehingga tidak dipertimbangkan. atau menolak permohonan Wajib Pajak. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui. dan pejabat wajib menerbitkan surat keputusan pembetulan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak berakhirnya jangka waktu 6 (enam) bulan. atau sanksi administrasi. permohonan pembetulan dianggap dikabulkan. mengurangkan atau menghapuskan jumlah yang terutang. Dalam hal tidak ada permohonan oleh Wajib Pajak tetapi diketahui oleh pejabat telah terjadi kesalahan tulis. Pejabat harus memberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak atau kuasanya. pejabat dimaksud harus menerbitkan surat keputusan untuk membetulkan kesalahan atau kekeliruan tersebut secara jabatan. PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN Pasal 169 (1) Wajib Pajak yang melakukan usaha dengan omzet paling sedikit Rp300. • • Formulir Surat Keputusan Pembetulan BPHTB berdasarkan permohonan adalah sebagaimana contoh pada Lampiran 27. BPHTB yang terutang. Dalam hal permohonan pembetulan tidak dipertimbangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Apabila keputusan masih terdapat kesalahan tulis. baik secara jabatan maupun atas permohonan Wajib Pajak. kesalahan hitung. dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan PBB atau BPHTB. pejabat dapat melakukan pembetulan lagi. 9.00 (tiga ratus juta rupiah) per tahun wajib menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan.7. 11.000.

wajib dilakukan dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB selain permohonan karena keputusan keberatan. Pemeriksaan Kantor adalah Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan di kantor Pemerintah Daerah 4. b. keterangan. 3. dan/atau bukti untuk menguji pemenuhan kewajiban BPHTB atau untuk menyelesaikan keberatan BPHTB. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang selanjutnya disebut dengan BPHTB adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. putusan banding. Wajib Pajak mengajukan keberatan BPHTB. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan Pajak dan Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 170 (1) Kepala Daerah berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan kewajiban Retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah dan Retribusi. b. 2. yang mengakibatkan kelebihan pembayaran BPHTB. dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek Pajak atau objek Retribusi yang terutang. Pemeriksaan BPHTB: a. memberikan keterangan yang diperlukan. atau Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 58 . memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan. dapat dilakukan dalam hal: 1. keputusan pengurangan. atau keputusan lain. dan/atau c. yang dimaksud dengan: 1. Pemeriksaan Lapangan adalah Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan di luar kantor Pemerintah Daerah. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan.cara pembukuan atau pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. TATA CARA PEMERIKSAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN.(2) Kriteria Wajib Pajak dan penentuan besaran omset serta tata . Pemeriksaan BPHTB adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data. putusan peninjauan kembali. (2) Wajib Pajak atau Wajib Retribusi yang diperiksa wajib: a.

Nomor 2 (1) Dalam rangka Pemeriksaan BPHTB. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 59 . Nomor 3 (1) Pemeriksaan BPHTB dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor. (2) Pemeriksaan Lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan Surat Tugas Pemeriksaan Lapangan yang ditandatangani oleh kepala. (5) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB merupakan bagian dari pemeriksaan untuk seluruh jenis pajak. keterangan dan/ atau bukti yang tidak terdapat di Kantor Pemerintah Daerah. dan dapat dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lapangan dalam hal diperlukan data. terdapat indikasi kewajiban BPHTB yang tidak dipenuhi. dapat dilakukan pemanggilan kepada Wajib Pajak dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 34 (2) Wajib Pajak atau kuasanya harus memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan dalam Surat Panggilan dalam rangka Pemeriksaan BPHTB dengan membawa buku. (4) Dalam hal terdapat penggantian Pemeriksa atau perubahan tim Pemeriksa. Kepala Pemerintah Daerah tidak perlu memperbaharui SP2B tetapi harus menerbitkan Surat Tugas. catatan. (3) Penugasan Pemeriksa ditetapkan dengan Surat Perintah Pemeriksaan BPHTB (SP2B) yang ditandatangani oleh Kepala Pemerintah Daerah dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 31. SP2B sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak perlu diterbitkan dan penugasan Pemeriksa mengikuti penugasan yang ditetapkan dalam Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3). Nomor 4 (1) Untuk kepentingan Pemeriksaan BPHTB. kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan BPHTB dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 32. Pemerintah Daerah dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 33.2. (2) Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari seorang ketua tim dan seorang atau lebih anggota tim. dan/atau dokumen yang diperlukan oleh Pemeriksa. Nomor 1 (1) Pemeriksaan BPHTB dilaksanakan oleh Pemeriksa atau tim Pemeriksa.

dan/ atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau fotokopinya sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Kurang Bayar (SKPDKB). Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Nihil (SKPDN). apabila jumlah BPHTB yang dibayar ternyata lebih besar daripada jumlah BPHTB yang terutang atau dilakukan pembayaran BPHTB yang tidak seharusnya terutang. kepada Wajib Pajak diberikan bukti peminjaman. Pemeriksaan BPHTB tetap dilanjutkan berdasarkan data yang ada pada Pemerintah Daerah. atau e. (5) Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/ atau salah hitung.(3) Dalam hal buku. apabila jumlah BPHTB yang terutang kurang dibayar. Nomor 5 Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dihadiri oleh Wajib Pajak. Pemeriksa harus memperlihatkan Kartu Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak/kartu tanda pengenal pegawai Pemerintah Daerah dan SP2B kepada Wajib Pajak. maka Wajib Pajak harus membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa fotokopi tersebut sesuai dengan aslinya. dan/atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa fotokopi. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT). apabila pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Nomor 7 LHPB sebagaimana dimaksud dalam Nomor 6 digunakan untuk pembuatan nota penghitungan BPHTB sebagai dasar penerbitan: a. Nomor 6 (1) Hasil Pemeriksaan BPHTB dituangkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan BPHTB (LHPB) dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 35. catatan. atau dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 60 . (2) Dalam hal dilakukan pemeriksaan untuk seluruh jenis pajak. atau d. apabila terdapat penambahan jumlah BPHTB yang terutang setelah diterbitkannya SKPDKB. Surat Tagihan Pajak Daerah BPHTB (STPD). atau c. (4) Dalam hal diperlukan peminjaman buku. LHPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari laporan hasil pemeriksaan pajak. Surat Ketetapan Pajak Daerah BPHTB Lebih Bayar (SKPDLB). apabila jumlah BPHTB yang dibayar sama dengan jumlah BPHTB yang terutang. catatan. atau b.

(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 61 . jangka waktu Pemeriksaan BPHTB adalah paling lama 2 (dua) bulan yang dihitung sejak tanggal SP2B sampai dengan tanggal LHPB. (2) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor dan dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lapa ngan. dalam hal Pemeriksaan BPHTB yang dilakukan merupakan bagian dari proses penyelesaian keberatan Wajib Pajak. Nomor 8 (1) Dalam hal Pemeriksaan BPHTB dilakukan hanya dengan Pemeriksaan Kantor. KETENTUAN PIDANA Pasal 174 (1) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. atau f. Surat Keputusan Keberatan. jangka waktu Pemeriksaan BPHTB diperpanjang menjadi paling lama 4 (empat) bulan yang dihitung sejak tanggal SP2B sampai dengan tanggal LHPB. INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 171 (1) Instansi yang melaksanakan pemungutan Pajak dan Retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. (3) Pemeriksaan BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dan huruf b angka 1 diselesaikan dengan memperhatikan jatuh tempo pemberian keputusan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB atau keberatan BPHTB.bunga.

Pasal 175 Tindak pidana di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 5 {lima) tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau berakhirnya Bagian Tahun Pajak atau berakhirnya Tahun Pajak yang bersangkutan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 62 .pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Dan Hal tersebut merupakan potensi Untuk Penerimaan BPHTB. Pemerintah Daerah dan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) dapat menghilangkan hal tersebut dengan konsekuen terhadap peraturan/ketentuan yang berlaku. maka perlu Pelepasan Hak kemudian Permohonan Hak Guna Usaha atau Hak Guna Bangunan atas nama Perusahaan / PT baru setelah itu Pemberian Hak oleh BPN. tapi masih banyak menggunakan Akta Jual Beli (AJB) agar hak miliknya tidak turun menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) Solusi: a. Izin lokasi — Sertifikat Hak Milik ? — Seharusnya sertifikat HGB Hak milik Pelepasan Hak Permohonan Hak( PT) Pemberian Hak (BPN) Jadi Perusahaan atau Badan Hukum yang akan membebaskan Lahan Maka Sertifikat yang diperbolehkan Adalah Hak Guna Usaha (HGU) atau Hak Guna Bangunan (HGB ). Masih adanya Badan Usaha yang sertifikat tanahnya atas nama pemilik/salah satu Direksi. Penggalian Potensi BPHTB terhadap hal tersebut dapat ditingkatkan. sehingga NPOPTKP sesuai jumlah SK BPN yang dikeluarkan.Bab 6 Studi Kasus BPHTB 1. b. padahal setiap badan usaha dalam rangka pembebasan lahannya harus melalui izin lokasi dan pembebasannya dengan surat pelepasan hak. Apabila sertifikat yang digunakan oleh perusahaan masih nama perorangan dan bentuk Haknya merupakan Hak Milik. Solusi: Terutangnya BPHTB adalah kelanjutan daripada Pelepasan Hak yaitu pada saat terbitnya Surat Keputusan Kantor Badan Pertanahan Nasional. misalnya: setiap izin lokasi harus ditindak lanjuti dengan pelepasan hak bukan dengan Akta Jual Beli (AJB). Dan apabila ada perusahaan yang mendaftarkan Izin Mendirikan Bangunan dengan menggunakan sertifikat Hak Milik maka perlu di rubah dulu Hak sertifikat tersebut.Pelepasan Hak — Permohonan Hak( PT ) ------------Pemberian Hak (BPN) Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 63 . BPHTB Hak milik ---. Pembayaran BPHTB pada saat pelepasan hak sering terjadi/ dilaksanakan oleh pengembang/perusahaan sehingga NPOPTKP dterapkan setiap Surat Pelepasan Hak (SPH). 2. Pada saat Perusahaan mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) maka harus dilihat dulu bentuk Hak atas sertifikat Tanahnya. c.

Jadi Tanah tanah yang dimiliki oleh perorangan (Hak Milik atau Tanah Adat) apabila akan dibebaskan oleh Perusahaan /PT akan menjadi Tanah Negara. Perusahaan tersebut umumnya menghitung Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) diterapkan pada setiap pelepasan Hak. Kalau yang dijual adalah tanah kosong maka BPHTB terhutang adalah atas tanah saja b. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 64 . Dan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) di terapkan hanya sejumlah Pemberian Hak Baru tersebut. 4. setelah itu kemudian Perusahaan mengajukan Permohonan atas tanah tersebut. Sering terjadi penerapan NJOP yang dipakai saat SPH diproses. Bagaimana pengenaan BPHTB atas transaksi jual-beli terhadap objek pajak tanah kavling siap bangun? Apa kriteria yang menjadi dasar bahwa objek pajak tanah kavling siap bangun dalam perhitungan BPHTBnya dikenakan Tanah dan bangunan? Sedangkan dalam kenyataannya objek tersebut belum berdiri bangunan (tanah kosong). Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor. Solusi: Pemerintah Daerah akan menindak lanjuti setiap tindasan SK BPN yang terbit dengan mengadakan peninjauan dan penggabungan data sesuai dengan luas yang tertera di SK BPN dengan NJOP yang berlaku saat/ tahun berjalan dengan NPOPTKP sesuai SK BPN. padahal SK BPN terbit tahun berikutnya. • Developer hanya akan membangun jika sudah ada konsumen yang membeli. Seharusnya BPHTB mulai terhutang saat dikeluarkanya Pemberian Hak Baru oleh Badan Pertanahan. Permasalahannya adalah Developer menjual ke Konsumen dengan nilai Tanah dan Bangunan padahal kondisi lapangan masih tanah kosong. 3. Solusi: a. Seharusnya NPOP yang di gunakan mengacu pada NJOP pada SPPT saat dikeluarkannya Pemberian Hak Baru dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Transaksi (NJOP) Tahun depan Penyesuaian NJOP dan luas Pada saat pelepasan Hak tersebut sering kita jumpai Perusahaan Membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sejumlah surat/sertifikat yang dilepaskannya dan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) yang digunakan mengacu pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang tercantum di SPPT pada saat itu. Proses SPH Objek. antara lain: Adanya peraturan BPN dalam pembatasan lahan yang diperjualbelikan tidak boleh tanah kosong.

Untuk Perhitungan BPHTB Adalah sesuai dengan Harga Transaksi ,bukan hanya dari nilai perolehan Tanah saja. Objek BPHTB adalah peralihan atas Hak Apabila objek yang dialihkan terkandung "Future Value" maka Besarnya BPHTB terhutang sesuai dengan "harga transaksi" karena nilai transaksi sudah mengakomudir semua unsur nilai objek. Developer ---- jual KSB harga transaksi

Jadi apabila ada Developer yang Menjual Kavling Siap Bangun (KSB). Berdasarkan UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukirnan dijelaskan bahwa Developer tidak diperkenankan menjual dalam kondisi tanah kosong,sering terjadi ada penjualan kavling tersebut dibawah tangan (antara Developer dan Pembeli). Dan ada pula Developer yang menjual Tanah Plus Bangunan padahal Kondisi lapangan masih berupa tanah kosong, maka Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dihitung berdasarkan nilai transaksi. 5. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap perolehan hak atas pemberian hak baru dan kapan saat terutangnya BPHTB tersebut? Solusi: Pengertian Pemberian Hak Baru: a. Karena Kelanjutan pelepasan Hak; b. Karena diluar pelepasan hak Saat terhutang BPHTB; sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak oleh BPN, Jadi Pada waktu pelepasan Hak Belum terhutang BPHTB, Untuk menghitung besarnya SSB; NJOP yang digunakan adalah sesuai dengan besarnya NJOP yang tercantum dalam SPPT pada tahun pajak yang sama dengan saat diterbitkannya SK pemberian hak baru, bukan tahun pajak saat pelepasan hak. SSB Pelepasan Hak ---- permohonan Hak PHB

6. Bagaimana pengenaan BPHTB Terhadap suatu objek pajak dimana pada saat transaksi jual-beli diatas tanah tersebut sudah berdiri sebuah bangunan sedangkan di dalam SPPT data objek pajak masih kondisi tanah kosong? Solusi: a. SPPT tidak sesuai dengan kondisi Objek: Luas tanah, luas bangunan/bangunan kosong. b. Penyebab: Kesalahan ukur, penambahan tanah atau bangunan yang tidak dilaporkan WP.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

65

Langkah yang ditempuh WP; a. WP mengajukan pembetulan SPPT PBB ke KP PBB baik terhadap tanah maupun bangunan. b. WP dapat tetap melakukan transaksi peralihan Hak tanpa menunggu hasil perubahan. (karena pengisian SSB adalah self assesment). Tapi dengan syarat syarat sebagai berikut: • Pengisian SSB harus Benar, Lengkap dan Jelas serta ditandatangani WP/kuasanya. Luas tanah dan luas bangunan harus sesuai dengan luas yang ditransaksikan, bukan luas yang tercantum pada SPPT. Nilai per m2 untuk tanah dan bangunan diisi sesuai dengan yang tercantum dalam SPPT. Nilai transaksi harus dicantumkan sesuai nilai transaksi real bukan mengikuti NPOP dari SPPT. SPPT Luas yang ditransaksikan x per m2 dari SPPT harga transaksi SSB Jadi apabila SPPT yang digunakan sebagai acuan untuk transaksi tetapi tidak sesuai dengan kondisi lapangan maka yang terpenting adalah pada SPPT tersebut tercantum Nilai Per M2 untuk Tanah dan Bangunan dan Apabila untuk Bangunan Tidak ada maka harus didaftarkan dulu. Untuk perhitungannya maka Luas Tanah dan Luas bangunan yang dihitung adalah sebesar luas yang ditransaksikan bukan luas pada SPPT. Hasil dari penjumlahan Nilai Tanah dan Bangunan tersebut akan di bandingkan dengan Harga Transaksi. Nilai yang tertinggi antara keduanya. dijadikan Dasar untuk Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dan menentukan besarnya BPHTB yang harus dibayar. 7. Suatu perusahaan melakukan penggabungan usaha (merger) dengan perusahaan lain, apakah sama dengan peleburan usaha? Bagaimana pengenaan dan perhitungan BPHTBnya? Solusi: Tidak sama antara penggabungan dan peleburan usaha. Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan badan usaha yang bergabung. Perhitungan BPHTB: Penggabungan Usaha; Besarnya aset tak begerak Badan usaha yang dilikuidasi sedangkan aset tak begerak dari badan usaha yang berdiri tidak dihitung.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

66

Peleburan Usaha; Besarnya aset tak bergerak dari semua badan usaha yang bergabung. Penggabungan dan Peleburan usaha likuidasi BPHTB Badan usaha yang

Untuk perusahaan yang melakukan Penggabungan usaha maupun Peleburan Usaha yaitu dihitung dari Aset yang tak bergerak saja yang mengalami likudasi/Penghapusan. Jadi Karena Peleburan Usaha aset tak bergerak dari semua badan usaha dilebur maka aset tak bergeraknya dihitung semua untuk menentukan besarnya BPHTB. 8. Bagaimana pengenaan BPHTB atas waris/hibah wasiat terhadap objek pajak yang kepemilikannya masih kredit. Solusi: a. Pengenaan BPHTB diberlakukan sama dengan pe ngenaan waris atau hibahwasiat secara umum. b. Tanggungan kredit yang masih melekat ke objek pajak sangat tergantung pada hak penguasaan atas objek tersebut kecuali dalam catatan waris/hibah wasiat dinyatakan lain. Objek Waris/hibah ---- NPOPTKP Waris/hibah wasiat --- SSB Ahli waris tertanggung kredit. Jadi untuk pengenaan waris atau hibah yang kepemilikannya masih ada tertanggung kredit maka besarnya BPHTB terhutang dihitung sama dengan pemberlakuan Waris/Hibah wasiat. Dan tanggungan atas kredit masih melekat pada objek tersebut. 9. Bagaimana pengenaan BPHTB atas objek pajak yang berubah hak atas tanah dari Hak Guna Bangunan (HGB) ke Hak Milik atau sebaliknya? Solusi: Pengalihan jenis Hak atas tanah dari HGB ke HM atau yang sebaliknya Bukan merupakan objek BPHTB karena tidak ada pergantian nama dan tidak ada perubahan status kepemilikan. (konversi Hak). Perubahan jenis Hak atas Tanah Bukan Objek BPHTB 10. Bagaimana pengenaan BPHTB atas perubahan nama perusahaan? Solusi: a. Pergantian nama perusahaan dilakukan oleh badan usaha dengan akta notaris b. Akta notaris tersebut tidak otomatis dijadikan dasar perubahan sertifikat atas aset perusahaan tersebut karena bukan akta PPAT jadi harus didaftarkan ke BPN. c. Penggantian nama tersebut harus mencantumkan kondisi kepemilikan saham, ada penambahan atau pengurangan aset yang dimiliki. Apabila ada perubahan maka harus dikenakan BPHTB. d. Penggantian nama tersebut yang berkaitan dengan pihak perbankkan penjamin

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT

67

Entitas kepemilikan atas objek tersebut ada perubahan atau tidak. •Pada saat di daftarkan ke ahli waris dihitung seperti penerapan terhadap waris.Peruhan hak atas aset dan jumlah aset BPHTB Jadi yang terpenting disini harus dilihat dulu 1. Bagaimana pengenaan BPHTB atas pembagian hak bersama atas waris? Solusi: a. Jika tidak berubah tidak kena BPHTB dan masih dalam jangka waktu izin Perusahaan( Perpajangan Hak). 11. c. Cara perhitungannya. b. diluar hak yang memperoleh. Perlu diantisipasi apakah yang baru tersebut merupakan pemekaran usaha yang lain atau bukan. (perbuatan hukum) BPHTB BHTB Pendaftaran APHB Hak Ahli Waris Masing masing AW Ke sebagian AW APHB .NPOPTKP(waris) x 5% x 50% Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 68 . serta jika "pemberian Hak" maka kena BPHTB. (peristiwa hukum) •Tetapi jika di alihkan. •Apabila dibagi ke Hak masing-masing ahli waris maka Tidak terhutang BPHTB. Aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan awal apa ada perubahan atau tidak. Perubahan nama Badan Hukum ---. NJOP . e. Bagaimana pengenaan BPHTB atas Hibah Anak Haram Solusi: Pengertian anak haram dalam hukum Perdata Diperlakukan sama seperti anak biasa yang dalam perhitungan BPHTB diberi pengurangan BPHTB sebesar 50% Pemberian hibah anak haram -BPHTB 50% Dalam hukum Perdata memang dikenal adanya anak haram dan pemberlakuannya sama dengan dengan anak sendiri. 12.harus memperhatikan surat aktiva yang dijaminkan. APHB adalah masuk dalam rezim waris sehingga saat terhutangnya adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke BPN. Jika ada maka yang dihitung hanya penambahannya saja. ke salah satu atau sebagian ahli waris maka besarnya nilai aset yang dialihkan terhutang BPHTB. Dalam menerapkan akta pembagian hak bersama (APHB) harus diperhatikan kondisi saat didaftarkannya akta tersebut ke BPN. 2.

Jadi APHB yang dibahas disini adalah: 1. misalnya Hukum Indonesia dan Hukum Islam. Sehingga nama aset yang dijaminkan masih nama perusahaan yang lama. Namun hukum yang sering dipakai/umum di Indonesia adalah hukum Indonesia Dalam perpajakan (BPHTB). Perusahaan yang ditangani oleh Eks BPPN (bubar) di ganti PPA adalah perusahaan yang mengalami kredit macet pada perbankkan. Sehingga yang dilihat atas peralihan Haknya adalah: Berapa Hak saudaranya yang diterima/diserahkan oleh anak penerima (itulah yang harus dibayarkan BPHTBnya) 5. Tidak/belum membahas PPh 3. namun bila dari APHB yang menerima bisa satu atau lebih anak. ada pembedaan pembagian antara Hak-laki-laki dan perempuan. Batasan Pembahasan Kewajiban Perpajakan atas Peralihan Hak atas tanah dan Bangunan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB). Alur Pelaporan BPHTB Setelah SSB diteliti . Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pengalihan perusahaan eks. Pengalihan Hak atas Piutang terhadap aset tesebut sudah menjadi objek BPHTB. c.APHB Pembagian Hak ada bermacam. BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) atau PPA (Perusahaan Pengelolaan Aset)? Solusi: a. Penghitungan BPHTB .APHB Setiap Anak memiliki hak masing-masing. Perusahaan yang ditangani eks BPPN jual beli/ peralihan piutang BPHTB Jadi perusahaan yang akan membeli dari aset eks BPPN atau PPA maka punya Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 69 . yang dilihat (Objek pajak) adalah Peralihan Haknya. Pajak atas warisan BPHTB atas Akta Pembagian Hak Bersama 2. 4. Untuk Waris menganut Hukum apa? Bukan kewenangan Pemerintah Daerah untuk menentukan hukum apa yang dipakai tetapi kita menghitung berdasarkan hukum yang dipakai /dilaporkan oleh wajib pajak 13. Penghitungan BPHTB . b. Dalam Hukum Indonesia. Hak anak adalah sama rata. Badan hukum yang akan membeli aset tersebut dari BPPN atau PPA secara otomatis memiliki piutang terhadap perusahaan asal. Sedangkan dalam Hukum Islam. Akta dapat ditandatangani.

permohonan pengurangan Perlu di ketahui tidak semua rumah dinas dapat dialihkan. Yang dimaksud Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan . Tetapi Pemohon wajib membuat surat permohonan Pengurangan kepada pemerintah daerah. PT swasta sarana Keagamaan — Pengurangan BPHTB 50% Aset aset yang Lain -. Keagamaan? Solusi: a.kewajiban untuk membayar BPHTB. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pengalihan Rumah Dings? Solusi: a. Perguruan Tinggi swasta dan sarana. dan PT swasta Sarana keagamaan sama dengan objek yang lain. Apabila ada institusi yang menaunginya memberi izin pengalihan atas rumah dinas (tentunya dengan kriteria khusus) maka atas pengalihan objek tersebut terhutang BPHTB. b. Sekolah Tinggi. Untuk aset aset lain yang dimiliki Wajib Pajak tersebut di atas tetapi penggunaannya tidak berhubungan langsung maka pengenaan BPHTBnya tetap penuh (mis. (75%) Rumah dinas ---.tingkat perkembangan para peserta didik serta keluasan dan kedalaman bahan pengajaran yang lebih tinggi dari pada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah. Dalam peralihan rumah dinas harus diperhatikan status rumah tersebut dan Wajib pajak yang memohon rumah dinas tersebut.Pengalihan ---. jika disetujui Besarnya pengurangan sebesar 50%. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap objek yang akan digunakan untuk Rumah Sakit swasta. Pengenaan BPHTB atas objek yang diperuntukan RS swasta. hal tersebut sangat tergantung pada institusi yang memilikinya. b. dan data tersebut di jadikan bahan kontrol kepatuhan WP serta jika ditemukan data yang tidak sesuai maka pemerintah daerah dapat mengkonfimasi ke WP serta berhak mengeluarkan SKPDKB. 15. Untuk Pemerintah Daerah berwenang untuk mengecek apakah nama pemohon sama dengan Nama orang yang diberi hak atas rumah dinas tersebut. Politeknik. rumah dinas) RS swasta. c. Pengalihan rumah dinas merupakan Objek BPHTB.Pengenaan BBPHTB 100% PENGENAAN BPHTB ATAS PERGURUAN TINGGI SWASTA (PTS) 1. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 70 . c. WP tersebut diatas mempunyai hak untuk mengajukan pengurangan. 14. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan Pengura ngan. 2. Pemohon atas rumah dinas tersebut langsung dapat membayar sebesar 25% dari besarnya BPHTB terhutang tanpa menunggu dulu keputusan Pengurangan dari Kepala Pemerintah Daerah. d. Yang dimaksud Perguruan Tinggi Swasta selanjutnya disebut PTSadalahperguruantinggiyangberbentakAkademi.

5. 8. Penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) PBB atas PTS dilaksanakan apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut: • Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SSP) dan pungutan lainnya dengan nama apa pun rata-rata >= Rp.000 m2 • Lantai/tingkat bangunan >= 4 lantai • Luas tanah >= 20. dimiliki dan/ atau dimanfaatkan oleh PTS.Institut.000 M2 • Jumlah mahasiswa >= 3. misalnya: Laporan Keuangan (antara lain Neraca Awal dan Neraca Akhir Tahun) yang telah diaudit oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah dan/atau akuntan publik. 7. dan Universitas. Data lain yang mendukung. Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Rutin sebagaimana terlampir. dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan.6/1994 Tanggal 25 Juni 1994 tentang Pendaftaran. tetap dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku (BPHTB 100%). perkumpulan sosial dan/atau badan wakaf. Pendaftaran/pendataan objek dan subjek pajak berpedoman pada Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai. 6. • Luas bangunan >= 2. Yang dimaksud keuntungan PTS adalah selisih lebih antara besarnya penerimaan yang diperoleh dari: • SPP • biaya seleksi masuk perguruan tinggi • sumbangan wajib pembangunan/pengadaan prasarana yang dikenakan kepada mahasiswa • hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peranan dan fungsi perguruan tinggi • penerimaan dari hasil usaha sampingan dan sebagainya. 3.000 mahasiswa. Pendataan.000. 2.000. dimiliki dan/ atau dimanfaatkan oleh PTS tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk penyelenggaraan pendidikan secara langsung yang terletak di luar lingkungan PTS yang bersangkutan. dikenakan BPHTB sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari PBB yang seharusnya terutang Jika pengajuannnya disetujui. Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai. 4.00 (dua juta rupiah) satu tahun. yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggaraan PTS yang berbentuk yayasan. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 71 . maka PTS tersebut dapat mengajukan permohonan pengurangan dan harus didukung dengan data yang dapat di pertanggung jawabkan serta menunjukkan besarnya manfaat yang diperoleh maupun beban yang ditanggung oleh subjek pajak sehubungan dengan pengelolaan objek tersebut. Kep-31/PJ. Apabila PTS dapat membuktikanbahwa dalam kegiatannya nyata-nyata tidak memperoleh surplus/ keuntungan.

Atas bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/ dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan secara langsung yang terletak di luar lingkungan rumah sakit. tetap dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bagaimana pengenaan BPHTB atas Hak Pakai dan HGB ? Solusi: Hak Pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Atas bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud di atas. Rumah Sakit Swasta Pemodal yang bukan merupakan Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan didirikan oleh suatu badan yang berbentuk perseroan terbatas. Yang dimaksud dengan Rumah Sakit Swasta dalam keputusan ini adalah Rumah Sakit Swasta IPSM (Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat) yang: a. 25% dari jumlah tempat tidur digunakan untuk pasien yang tidak mampu. b. 1. 2. HGB adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Sisa Hasil Usaha (SHU) digunakan untuk reinvestasi Rumah Sakit dalam rangka pengembangan Rumah Sakit dan tidak digunakan untuk investasi di luar Rumah Sakit. Dengan jangka waktu tertentu BPHTB terhutang saat diberikanya tandatangan dan diterbitkanya surat keputusan dari BPN. dikenakan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar 50% dari jumlah yang seharusnya terhutang jaka permohonan pengurangannya disetujui. 16.BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN RUMAH SAKIT SWASTA. Apabila masa berlaku-nya sudah jatuh tempo maka dapat diajukan lagi permohonan hak pakai dan HGB tanpa harus memenuhi kewajiban BPHTBnya lagi. dikenakan BPHTB sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. (konversi hak) Pengajuan Hak Pakai /HGB persetujuan SK BPN BPHTB Jadi BPHTB terhadap Hak Pakai (HIP) dan Hak Guna Bangunan (HGB) terhutang saat diberikannya Surat Persetujuan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk yang pertama kali. 3. dan/atau milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan pejabat berwenang yang bukan sewa menyewa atau pengolahan tanah. Selanjutnya untuk persetujuan perpanjangan Hak Pakai atau HGB tidak dikenakan BPHTB karena merupakan Konversi Hak tanpa ada Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 72 .

Pemerintah Daerah agar Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 73 . Bagaimana cara penghitungan BPHTB Karena Pemberian Hak Baru di luar Pelepasan Hak yang di atasnya terdapat bangunan? Solusi: Cara penghitungan BPHTB dalam peristiwa perolehan hak atas tanah dan bangunan karena pemberian hak baru di luar pelepasan hak yang di atasnya terdapat bangunan.perubahan Nama. B memiliki hanya sebidang Tanah dengan Nilai Jual Objek Pajak Y maka apabila mereka mengadakan Tukar Menukar maka Mr. B harus membayar kewajiban BPHTB dengan NJOP=NPOP sebesar "X" 18. 17. Solusi: Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama. Bagaimana pengenaan BPHTB terhadap pemekaran Usaha? 112 Panduan Pelaksanaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Solusi: Dalam proses tukar menukar kedua belah pihak saling memperoleh hak baru sehingga kedua belah pihak terhutang BPHTB sesuai dengan nilai aset yang diperolehnya. Peralihan tukar menukar objek Kewajiban BPHTB pada dua belah pihak Jadi pada proses tukar menukar aset tak bergerak yang dilakukan oleh wajib Pajak maka pada keduanya dikenakan kewajiban BPHTB . Yang terhutang BPHTB adalah atas pasiva yang dialihkan ke badan usaha yang baru saja. Jadi BPHTB yang terhutang untuk perusahaan yang melakukan pemekaran Usaha adalah dihitung dari Nilai Jual Objek Pajak (Karena NPOP=NJOP) dari aset yang dialihkan pada perusahaan yang baru hasil pemekaran. sedangkan Mr. dimana masing-masing harus membayar sebesar dari Nilai Aset yang mereka "Peroleh" Contoh: Mr. A memiliki tanah dan Bangunan dengan Nilai Jual Objek Pajak X. dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Pemekaran Usaha BPHTB atas passiva yang dialihkan saja... Bagaimana pengenaan BPHTB atas tukar-menukar?. Dalam hak Wajib Pajak menghitung BPHTB terutang berdasarkan atas NJOP tanah tanpa NJOP bangunan (dalam SSB). A membayar BPHTB dengan NJOP=NPOP sebesar "Y" sedangkan MR. 19.

4. tidak perlu menerbitkan SKPDKB "apabila bangunan telah didirikan/dimiliki oleh penerima hak sebelum Undang-Undang PDRD diberlakukan . ditegaskan bahwa tidak dikenakan BPHTB atas objek yang diperoleh untuk digunakan kepentingan ibadah. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. 3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas sebelum menerbitkan SKPDKB. musholla. dan.diberikan pengurangan BPHTB sebesar 50% (lima puluh persen) 21. Bagaimana BPHTB Atas Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Untuk kepentingan Ibadah dan Untuk kegiatan Sosial / Pendidikan? Solusi: Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 95. 20. b. Surat keterangan lainnya. Pembuktian bahwa bangunan sebagaimana tersebut di atas adalah didirikan/dimiliki oleh penerima hak sebelum atau setelah Undang-Undang PDRD diberlakukan 1 Januari 2011 antara lain dengan memperhatikan: a. dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Kondisi fisik bangunan. Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB)/ Pemulihan Izin Membangun. wihara. pondok pesantren. agar Kantor Pemerintah Daerah terlebih dahulu melakukan penelitian kembali untuk mendapatkan data/informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. pura. b. maupun sarana ibadah lainnya. menerbitkan SKPDKB dengan menambahkan NJOP bangunan sebagai dasar pengenaan BPHTB terutang "apabila bangunan didirikan/ dimiliki oleh penerima hak setelah UndangUndang PDRD diberlakukan . Mengapa diberi nama Bea Bukan Pajak pada BPHTB? Solusi: Asal usul dinamai Bea. Bahwa tata cara penghitungan BPHTB tersebut diatas hanya ditujukan terhadap Pemberian Hak di luar Pelepasan Hak dalam rangka Ajudikasi.menindaklanjuti dengan: a. Terhadap Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang digunakan untuk kegiatan sosial dan pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan keuntungan. karena dulu waktu pembuatan UU tentang BPHTB.tentan Penetapan dan Muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah maka perlu diatur Pengenaan BPHTB atas perolehan hak atas tanah dan bangunan yang digunakan untuk kepentingan ibadah serta untuk kegiatan sosial/ pendidikan yang semata-mata tidak bertujuan mencari keuntungan. Kepentingan ibadah sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut antara lain untuk masjid. c. 2. (pasal 85 ayat 4 huruf f) f 2. gereja. atau. dikhawatirkan adanya pemahaman pajak berganda atas tanah dan atau bangunan Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 74 .

walaupun belum terjadi saat terutang pajak. Siapapun pihak yang membeli meterai tempel berarti ia sudah membayar Bea Meterai. dalam BPHTB ini tidak diperlukan Nomor Identitas baik untuk Wajib Pajak ataupun objek pajaknya. 2. Pembatasan Pembahasan BPHTB atas Objek Pajak yang Wajib Pajak Orang Pribadi yang diikutkan dalam Program Pemerintah bidang Pertanahan yang Wajib Pajaknya tidak mampu secara ekonomi 3. Contohnya.(maksudnya dengan PBB). yangharus dibayar sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Ciri ketiga adalah frekuensi pembayaran bea terutang dapat dilakukan secara insidentil ataupun berkali-kali dan tidak terikat dengan waktu. 3. Rumor BPTHB Nihil tidak usah mengisi SSB (lapor BPHTB) BPHTB terutang Otomatis dikenakan 25% 5. Ciri pertama. demikian pula membayar BPHTB terutang. Ciri kedua.000 m2 untuk tanah pertanian Luas tidak lebih dari 200 m2 untuk tanah pemukirnan Biaya pendaftaran yang timbul seluruhnya atau sebagian dibebaskan oleh pemerintah WP tidak mampu secara ekonomis 4. Misalnya membeli (membayar) meterai tempel dapat dilakukan kapan saja. sehingga di beri istilah Bea bukan Pajak. 1. Ciri inilah yang membedakan bea dengan pungutan yang bernama pajak. Objek Pajak (Ajudikasi) Pendaftaran tanah untuk pertama kali Luas tidak lebih dari 5. pembeli tanah bersertifikat sudah diharuskan membayar BPHTB terutang sebelum terjadi saat terutang (sebelum akta dibuat dan ditandatangani). Bagaimana cara pembayaran BPTHB atas Ajudikasi Massal? Solusi: 1.03/2006 tentang Pemberian Pengurangan BPHTB 2. 28 Tahun 2009 tentang PDRB PMK Nomor 91 PMK. Hal ini tentunya berbeda dengan pajak. saat pembayaran pajak terjadi lebih dahulu daripada saat terutang. Ada beberapa ciri khusus yang membuatnya dinamai bea. Hal ini terjadi juga dalam Bea Meterai. Seharusnya Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 75 . Dasar Hukum UU No. dalam BPHTB. 22.

Dengan dasar pertimbangan sebagai berikut: 1. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Berbahasa Indonesia. Angka 3: Hak atas tanah adalah hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang No. 0. yang dimaksud dengan: Angka 1: Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan. Surat Keterangan Tidak Mampu Secara Ekonomi dari desa/ kelurahan setempat dan Dinas Sosial. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 76 . 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. PengajuanPenguranganWajibPajak Surat: Pengajuan Tertulis. Disebutkan Alasannya Surat Ditujukan ke: kepada Bupati/Walikota / Kepala Dinas Pendapatan / Kepala DPPKA 7. bila disetujui dapat diberikan Pengurangan BPHTB sebesar 75% 6. 8. Pendukung Pengajuan Wajib Pajak Surat Keterangan WajibPajakorang pribadi memperolehhakbaru melalui Program Pemerintah dari Badan Pertanahan Nasional.. Wajib Pajak dapat diberikan pengurangan BPHTB dalam hal kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yaitu: Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah dibidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis (PerMenKeu No.03/2006 Pasal 1 huruf a angka 1) Ketentuan Pejabat BPN Pasal 91 ayat (3) Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten / Kota hanya dapat melakukan pendaftaran hak atas tanah atau pendaftaran peralihan hak atas tanah setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak (SSB) UU Nomor 28 Tahun2009_ 23. 91/PMK. Berdasarkan Pasal 85 Undang-undang No. Apakah BPHTB bisa jadi Biaya/Pengurang Penghasilan Bruto? Bagaimana caranya? Solusi: Sehubungan dengan Peralihan BPHTB ke Daerah maka Pemerintah Daerah dapat mengusulkan perlakuan Pajak Penghasilan atas Pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Sebagai Biaya/Pengurang Penghasilan Bruto.(Nihil) TETAP mengisi SSB dan divalidasi BPHTB terutang Bukan dikenakan 25 % tapi mengajukan pengurangan BPHTB.Sekalipun BPHTB teruntangnya adalah Rp.

Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. perbaikan. sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diteima. dilakukan dalam bagianbagian yang sama masa manfaat. dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat. termasuk antara lain pajak kecuali Pajak Penghasilan. hak guna bangunan. Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan. amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan. 17 Tahun 2000 (Undang-undang Pajak Penghasilan). pengeluaran untuk mendapatkan. Berdasarkan Pasal 11A ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus. hak guna usaha. atau perubahan harta berwujud. penambahan. kecuali tanah yang berstatus hak milik. 5. 6. ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi antara lain biaya untuk mendapatkan. dan memelihara penghasilan. dan memelihara penghasilan. besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap.2. Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan. harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 77 . 3. menagih. yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan. dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas. menagih. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. dan hak pakai. menagih. dengan syarat dilakukan secara taat asas. Ayat (2): Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) selain bangunan. dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus. melainkan dibebankan melalui penyusunan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A. pendirian. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku. Berdasarkan Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan antara lain diatur bahwa: Ayat (1): Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian. 4. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut. menagih. hak guna usaha.

dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan Penghasilan Kena. 30 % dan 50%. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 78 . dengan ini di usulkan agar : a. c. Contoh: Pewaris meninggalkan satu aset dengan ahli waris satu istri dan 4 orang anak. 24. BPHTB atas hak atas tanah yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan. BPHTB atas hak atas bangunan yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan. 2. Apa pengertian APHB pada Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)? Akta Pembagian Hak Bersama (APHB) terbagi pada dua kelompok. APHB yang Terikat/ tertutup/ Peristiwa hukum Yaitu Akta yang dibuat atas suatu asset oleh dua orang atau lebih karena adanya peristiwa waris. Kegiatan mereka disebut "Peristiwa Hukum" karena secara otomatis kejadian tersebut terjadi pada mereka. yaitu: I. atau dimiliki untuk mendapatkan.7. Usulan dimaksud pada huruf-huruf b dan c di atas. b. Pajak melalui penyusutan bangunan tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-undang Pajak Penghasilan. dan besarnya hak atas asset tersebut juga bebas ditentukan oleh mereka sesuai kesepakatan bersama. jadi pemohon disini terbatas masih ada hubungan Saudara atau keluarga dengan pewaris atau dengan kata lain sifatnya tertutup hanya untuk ahli waris. dan memelihara penghasilan. Contoh: kepemilikan bersama atas satu aset yang dibuat oleh tiga orang dewasa dengan proporsi pembagian asetnya adalah 20 %. APHB yang Bebas/ terbuka/ Perbuatan Hukum Yaitu akta yang dibuat atas suatu aset oleh dua orang atau lebih di mana besarnya kepemilikan atas aset tersebut sangat tergantung pada kesepakatan yang dibuat oleh mereka. d. atau dimiliki untuk mendapatkan. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas. menagih.Hal tersebut bebas dilakukan oleh siapapun walau tanpa hubungan keluarga atau Saudara. berlaku atas penghasilan yang tidak berkaitan dengan penerimaan/perolehan penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final dan atau dikenakan berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto/Norma Penghitungan Khusus. BPHTB adalah pajak yang dibayar dalam rangka dan merupakan bagian dari biaya pengeluaran untuk memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan Penghasilan Kena. menagih dan memelihara penghasilan. Kegiatan yang mereka lakukan tersebut dapat dikatakan sebagai "Perbuatan Hukum" karena mereka secara sadar dan sah membuat kesepakatan hukum atas suatu aset. Pajak melalui amortisasi hak atas tanah sepanjang hak atas tanah tersebut dapat diamortisasi sesuai ketentuan Pasal 11A Undangundang Pajak Penghasilan.

Baru kemudian dibuat pembagian hak pada masing-masing ahli waris.hukum waris yang digunakan adalah Hukum Indonesia. Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT 79 . Besarnya harta gono gini istri sebesar 50%. Maka APHB harus didaftarkan ke BPN sebagai Ahli Waris Cs. Yang diwariskan 50% sisanya ke istri dan 4 anaknya yaitu masing-masing 10 %.