G. Geulis

G. Geulis

G. Geulis

.

.

.

Dengan kebijakan tersebut. I Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I .BAB PENDAHULUAN 1. Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dan Universitas Winaya Mukti (UNWIM).1 . dipindahkan empat perguruan tinggi dari Bandung ke Jatinangor yaitu : Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN). Secara hirarkis Jatinangor ditetapkan sebagai sub-pusat (sub-centre) yang mempunyai fungsi sebagai pembangkit pertumbuhan lokal dan pusat pendidikan dalam penataan Kawasan Metropolitan Bandung. Pergantian nama tersebut disahkan pada tanggal 24 Februari 2001 sehubungan dengan pemekaran kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sumedang dari 18 kecamatan menjadi 26 kecamatan.1 Latar Belakang Jatinangor pada awalnya merupakan salah satu kawasan yang berada di Kecamatan Cikeruh Kabupaten Sumedang. Penetapan Jatinagor sebagai kota pendidikan tinggi telah direncanakan sejak tahun 1980 – an sesuai dengan konsep pengembangan wilayah pembangunan (PWP) Bandung Raya. Penetapan tersebut membawa resiko berubahnya Kecamatan Cikeruh dari status kecamatan bernuansa pedesaan dengan dominasi pertanian menjadi suatu kawasan kota yang dipadati oleh kawasan terbangun dan struktur binaan. Universitas Padjadjaran (UNPAD). Selanjutnyan “Jatinangor” ditetapkan sebagai “kecamatan” yang sebelumnya bernama Kecamatan Cikeruh melaui Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 51 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kecamatan serta Keputusan Bupati Sumedang Nomor 6 Tahun 2001 tentang Penetapan Desa dan Kelurahan dalam Wilayah Kecamatan di Kabupaten Sumedang. Jatinangor ditetapkan sebagai kawasan pendidikan tinggi berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor : 583/SK-PIK/1989. Untuk mendukung fungsi tersebut.

Adapun kegiatan perkuliahan berturut-turut dimulai pada tahun 1982.Sumedang. Kawasan Jatinangor saat ini telah menjadi kota kecil yang terus akan mengalami perkembangan sejalan dengan fungsinya sebagai lokasi pendidikan. Pada awalnya Jatinangor merupakan kawasan perdesaan yang didominasi oleh pertanian.2 5. 1980. Desa Cileunyi Kulon. Kabupaten Sumedang yaitu: 1. Desa Cibeusi 1. berkembang pula industri dan kerajinan rumah tangga. kawasan pendidikan tinggi Jatinangor adalah kawasan yang meliputi delapan desa dari duabelas desa yang termasuk Kecamatan Jatinangor. dan 1991. berbagai jasa bagi mahasiswa. Desa Cileles. 1989. 1987. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . Desa Cikeruh 2. Desa Cipacing 7. Pada umumnya perubahan tersebut terjadi karena adanya perluasan kegiatan perdagangan. permukiman. Perubahan fisik terjadi antara tahun 1970 sampai dengan awal tahun 1980-an. Perubahan fisik berlangsung cepat dengan dibangunnya 4 (empat) Perguruan Tinggi di kawasan tersebut yaitu : IKOPIN. UNPAD. Beberapa desa mengalami perubahan ke arah ekonomi yang lebih beragam. Perkembangan tersebut diawali oleh tumbuhnya kegiatan perdagangan di sepanjang Jalan Raya Bandung . Desa Cilayung 4. Perubahan yang terjadi bukan hanya karena masuknya sivitas akademika tetapi juga karena migrasi pelaku kegiatan perdagangan dan jasa. Desa Sayang 6. serta dua desa yang termasuk Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Desa Cileunyi Wetan 2. masing-masing pada tahun 1979. pemerintahan dan industri. yaitu: . Desa Hegarmanah 3. STPDN dan UNWIM.Berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang Kawasan (RUTRK) Perguruan Tinggi Jatinangor Tahun 2000 – 2010. Desa Jatiroke 8. Perubahan fisik Kawasan Jatinangor terjadi secara besar-besaran setelah penetapan Jatinangor sebagai kawasan relokasi perguruan tinggi di atas. Penetapan fungsi Jatinangor sebagai kawasan pendidikan tinggi mempengaruhi perkembangan kota tersebut dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. di Desa Cipacing selain pertanian. 1981 dan tahun 1986. Sebagai contoh.

pedagang dan lainnya telah mengubah kondisi masyarakat. Pada musim kemarau. karena tidak adanya lembaga yang secara khusus mengelolanya. Pembukaan lahan yang tidak terkendali dengan dalih pembangunan mengakibatkan Jatinangor menjadi tidak nyaman. rencana-rencana tata ruang yang ada mempunyai kesamaan dalam fungsi utama yaitu sebagai lokasi perguruan tinggi dan pusat rekreasi. terminal. Pengaruh interaksi antar warga pendatang mengakibatkan melemahnya pemahaman Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . perumahan yang padat. telepon dan lain-lain.3 . pusat pemasaran barang dan jasa. jasa dan distribusi. penumpukan sampah yang sampai saat ini belum ada penyelesaiannya. tetapi lembaga ini tidak diberikan kewenangan untuk mengelola kota. pusat pelayanan kesehatan. longsor serta udara terasa panas. Secara sosiologis. jalanan sempit dan rawan macet. Kehadiran pendatang telah memarjinalkan penduduk lokal. Kebijakan Penataan ruang terbaru adalah Rencana Detail Tata Ruang Pusat Kecamatan Cikeruh 1995-2005. kumuh. permukiman dan perkantoran. kegiatan industri. Kondisi lingkungan Jatinangor pada saat ini mengalami degradasi akibat pembangunan yang tidak terencana dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari pembangunan rumah/gedung yang tidak teratur. sumber pelayanan listrik. meskipun kawasan Jatinangor telah memiliki beberapa rencana tata ruang sejak tahun 1987.Perkembangan Kawasan Jatinangor pada saat ini semakin tidak terarah. Lembaga pemerintah yang terdekat adalah Organisasi Kecamatan Jatinangor. ketidakteraturan tempat kos. sikap masyarakat mulai berubah menjadi individualistis. baik sivitas akademika. sumber air baku. Menurut Revisi Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan Jatinangor (2002). Jatinangor mengalami kesulitan air karena hutan sebagai wilayah konservasi telah rusak. rawan banjir. Kawasan Jatinangor yang terbuka bagi para pendatang. pemakaian air tanah. Untuk fungsi umum. kemudian Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Pendidikan Jatinangor 1999. Disamping itu terdapat beberapa perbedaan prinsip seperti penetapan jalan tol. Hal ini semakin menambah kesenjangan sosial antara penduduk lokal dan pendatang. Hal ini menyebabkan belum diterapkannya konsep tata ruang kota yang ada secara konsisten. ada sedikit perbedaan yaitu dalam pelayanan sosial. TPA.2010.

pedagang. Sebaliknya sektor non pertanian menjadi sektor mata pencaharian yang dominan seperti buruh/karyawan (23. wartel. Dari struktur pendidikan para pekerja terlihat hampir 50% lulusan SD dan hanya 4. Penduduk dengan mata pencaharian buruh tani.5%) serta wirausaha (21. degradasi moral dan retaknya sistem sosial warga lokal Data pada tahun 2004 menunjukkan bahwa selain etnis Sunda. Secara keseluruhan penduduk yang bekerja di sektor pertanian (petani dan buruh tani) tidak lagi mendominasi struktur pekerjaan. Secara umum struktur ekonomi masyarakat Jatinangor mencerminkan ekonomi perkotaan. PNS/TNI (22.terhadap agama. Beberapa kelurahan yang berbatasan langsung dengan kawasan pendidikan bahkan mempunyai etnis non Sunda kurang lebih 20% antara lain Kelurahan Cintamulya.206 penduduk yang tinggal di Jatinangor. hotel dan lain-lain. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . (Bapeda. Hasil sensus tenaga kerja di Kecamatan Jatinangor yang meliputi 12 desa menunjukkan bahwa lebih dari 21% penduduk di Jatinangor adalah penganggur atau bekerja dengan pola dan penghasilan yang tidak jelas. rental komputer. Hampir 25% penduduk bekerja sebagai karyawan pabrik. Pada umumnya penduduk pendatang mempunyai tempat tinggal yang terkait dengan kegiatan usaha yang dimiliki. meskipun buruh tani masih mempunyai persentase yang lebih besar dibandingkan dengan pedagang. Hegarmanah serta Cikeruh. pemilik/penghuni rumah sepanjang jalan raya Sumedang-Jatinangor adalah warga pendatang sementara pemilik/penghuni sebelumnya (etnis Sunda) tersingkir ke lokasi lain di luar Jatinangor.4 . Di Desa Hegarmanah. buruh/karyawan dan wiraswasta adalah 70%. foto kopi. etnis lainnya mempunyai jumlah yang signifikan yaitu sekitar 18% dari total 83. rumah makan.1% lulusan perguruan tinggi. Perubahan struktur pekerjaan juga menunjukkan angka-angka yang signifikan. Namun.9%). termasuk rasa memiliki terhadap Jatinangor. 2002).1%). pelayan toko. mengingat luas lahan pertanian yang semakin berkurang seiring dengan perkembangan kota Jatinangor. Cibeusi. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial di masyarakat. lambat laun kegiatan buruh tani akan bergeser pula ke sektor non pertanian.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Jatinangor menghadapi dua persoalan yaitu pengangguran dan kualitas tenaga kerja yang rendah. fasilitas perkantoran dan fasilitas pendidikan yang mencakup sekolah-sekolah dan dan perguruan tinggi mencapai 96 m3/hari. perguruan tinggi di Jatinangor tidak mengubah tingkat pendidikan penduduk. Empat perguruan tinggi tersebut menimbulkan perubahan terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. Pihak yang memperoleh manfaat ekonomi lebih besar justru para pendatang. serta pada tahun 2020 mencapai 182. menunjukkan bahwa lebih dari 21% penduduk di Jatinangor adalah penganggur atau bekerja dengan pola dan penghasilan yang tidak jelas. fasilitas perdagangan.1% lulusan perguruan tinggi (Forum Jatinangor.5 157. pembantu rumah tangga. Theresia (1998) menunjukkan bahwa keberadaan perguruan tinggi di Jatinangor mengakibatkan pergeseran mata pencaharian penduduk dari sektor pertanian ke sektor jasa dan perdagangan. Sensus tenaga kerja di Kecamatan Jatinangor yang meliputi 12 desa.5%) dari pada penduduk lokal (31. tukang cuci baju mahasiswa.5%). Sebelum dan sesudah adanya perguruan tinggi mayoritas penduduk adalah tamatan Sekolah Dasar. industri. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . terpaksa meninggalkan Jatinangor untuk mempertahankan hidup. tahun 2010 sebesar 135. mall bahkan hotel berbintang. Namun.76 m3/hari. Menurut proyeksi pada tahun 2005 meningkat menjadi 116. Perkembangan Jatinangor dari perdesaan menjadi berciri perkotaan selain dari bergesernya mata pencaharian penduduk dari pertanian ke non pertanian juga tersedianya beraneka macam barang yang didukung oleh munculnya pusat-pusat perbelanjaan supermaket. Pendidikan para pekerja memperlihatkan bahwa hampir 50% lulusan SD dan hanya 4. 2004). Dengan demikian perguruan tinggi kurang dapat mengurangi tingkat pengangguran bagi penduduk lokal.52 m3/hari. Penduduk yang kehilangan mata pencaharian karena lahan pertaniannya terjual dan tidak bisa masuk ke sektor lain.78 . Mardianta (2001) menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi penunjang perguruan tinggi lebih banyak dilakukan oleh pendatang (68. tahun 2015 menjadi m3/hari.31 m3/hari. dan tukang ojek. tukang sapu. Besar tumpukan sampah di Kecamatan Jatinangor yang bersumber dari perumahan.Selain itu juga mencakup buruh bangunan.

Secara sosiologis maupun geografis. 34 Tahun 2009 memberi angin segar bagi masyarakat yang kawasannya mengalami perkembangan ke arah ciri-ciri Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . 2004).649 m3/tahun. Hal ini didukung oleh pencatatan hidrografi di PT Coca Cola yang menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan muka air tanah sebesar 20 meter selama enam bulan terakhir (www. Dari data tersebut terjadi ketidakseimbangan dalam pengambilan air tanah tengan yang dilakukan oleh kegiatan industri pada kedalaman 40 s.933. yaitu kawasan yang dilihat aspek jaraknya jauh dari pusat kota bahkan ada di perbatasan dengan wilayah juridiksi kabupaten lain.d 150 meter di dalam tanah. Sementara itu. kawasan Jatingangor merupakan kawasan pinggiran (periphery). kawasan ini terkategorikan kawasan pinggiran. Pengambilan air tahan tengah secara berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah di Jatinangor sebesar 3.6 . Oleh karena itu.000.d UNPAD banyak pejalan kaki. sejumlah permasalahan yang diuraikan di atas mengindikasikan bahwa Jatinangor seolah-olah tidak bertuan karena memang secara sadar ataupun tidak. Jalan Raya Jatinangor merupakan jalan arteri primer yang memiliki intensitas kegiatan di sepanjang jalan yang banyak membangkitkan pergerakan.5 meter per tahun (Diponegoro. Karakterisrik pergerakan ideal di Jalan Raya Jatinangor adalah pergerakan kendaraan yang relatif cepat dan bebas hambatan.com) Dari aspek transportasi. dan kegiatan ekonomi. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan.600. pelayanan sosial. kawasan ini cukup jauh dari kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi. Namur sepanjang jalan dari Kampus IPDN s.Ketersediaan air di Kawasan Jatinangor memiliki karakteristik yang berbeda antara air tanah tengah dan air tanah dangkal. Peraturan Pemerintah No. serta banyaknya angkutan umum yang menunggu dan menaik-turunkan penumpang sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas. sedangkan pengambilannya sebesar 4.000 m3/tahun.619.pikiranrakyat.000 m3/tahun. pengambilannya sebesar 2. dari aspek hubungan politik personal ataupun kelompok.5 m3tahuni Untuk air tanah tengah sebesar 2.890. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. Potensi air tanah dangkal di Jatinagor sebesar 18.

2 Perumusan Masalah Kawasan Pendidikan Tinggi berubah menjadi kawasan Jatinangor secara planologis telah (urbanized area). mengalami terbangun perkembangan ke arah ciri-ciri perkotaan. berdasarkan Peraturan Perundangan yang ada.Permendagri Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan mengamanatkan bahwa Pengajuan usulan lokasi rencana kawasan perkotaan baru harus dilengkapi dengan hasil studi kelayakan. Namun demikian. Tujuan dan Sasaran Maksud dilakukannya studi sedangkan tujuannya adalah : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . lembaga demikian tidak cukup punya kewenangan dan kekuatan hukum untuk dapat mengatur dan membiayai penyelesaian masalah di daerahnya. .3 Maksud.7 ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai kawasan perkotaan. lingkungan serta aspek tata ruang dan pengembangan wilayahnya. kelembagaan/ pemerintahan.perkotaan (urbanized area). karena diizinkan untuk membentuk badan pengelola kota yang unsur-unsurnya berasal dari masyarakat non PNS. namun sampai saat ini masih belum berstatus sebagai kota. terutama yang terkait dengan dukungan politik dan finansial dari pemerintah lokal. ekonomi. provinsi maupun nasional. namun sampai saat ini masih belum berstatus sebagai kecamatan kota. 1. Untuk menetapkan Jatinangor sebagai kawasan perkotaan tidak cukup hanya dengan menetapkan dari aspek fisik saja tetapi diperlukan kajian bagaimana kelayakan kawasan Jatinangor dari aspek lain seperti kependudukan. keberadaan lembaga demikian sebaiknya perlu dikombinasakan dengan lembaga pemerintahan lokal yang ada (kecamatan dan kelurahan). karena belum ada dasar hukum yang memayunginya. tetapi secara fungsional tidak mempunyai tugas dan fungsi menangani masalah fisik dan sosial perkotaan. 1. karena belum ada dasar hukum yang memayunginya. yang secara hukum mempunyai kedudukan yang kuat. Kawasan Jatinangor walaupun mengalami perkembangan ke arah ciriciri perkotaan. Oleh karena itu.

serta aspek tata ruang.  Pemerintah Kabupaten Sumedang mempunyai bahan acuan guna penetapan program pengembangan kawasan perkotaan di Kawasan Jatinangor.8 . 1. 2. lingkungan. Terdeliniasi kawasan perkotaan dengan perumusan fungsi kawasan sesuai dalam karakteristik dan arahan kebijakan yang telah ditetapkan pada perencanaan yang lebih . 3. Adapun sasaran dari kegiatan studi ini yaitu : 1. 4. ruang lingkup maka keluaran yang diharapkan dari Penyusunan Study Kelayakan Kawasan Perkotaan Jatinangor adalah: Tersusunnya dokumen study kelayakan (feasibility study) kawasan perkotaan Jatinangor dari aspek sosial budaya.5 Manfaat Studi Manfaat dari studi ini adalah:  Pemerintah Kabupaten Sumedang memiliki bahan masukan untuk menetapkan strategi dan kebijakan perencanaan dan pengembangan Kawasan Perkotaan Jatinangor-Cimanggung. kelembagaan.4 Keluaran Sesuai dengan latar belakang. 2. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . 1. Terumuskannya model lembaga pengelola perkotaan yang sesuai dengan kebutuhan. Memberikan rekomendasi secara umum tenteng kebutuhan-kebutuhan kawasan Jatinangor untuk dapat memenuhi persyaratan sebagai kawasan perkotaan. 3. Merumuskan saran-saran studi lebih lanjut yang diperlukan dalam rangka persiapan untuk menjadikan Jatinangor sebagai kawasan perkotaan. maksud dan tujuan. ekonomi. Terumuskannya tipologi kota dan memetakan standar kebutuhan kota sesuai tipologinya. Terumuskannya suatu strategi untuk mewujudkan kawasan perkotaan yang mampu mendorong pengembangan kawasan perkotaan yang diharapkan. lingkungan serta tata ruang. Mengidentifikasi dan menganalisis kelayakan Jatinangor sebagai kawasan perkotaan dari aspek aspek sosia ekonomi. kelembagaan.1..

9 . 5. Teknik pengumpulan dan Analisis Data. 1. manfaat studi serta sistematika pembahasan. ruang lingkup studi. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sumedang Tahun 2009-2013. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan. Permendagri No 1 Tahun 2008 serta Kepmen Kompraswil No 534/KPTS/M/2001 tentang standar pelayanan minimal perkotaan. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 33 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang. Bab 3 Metode Penelitian Bab ini berisi metode penelitian yang digunakan dalam kajian. juga berisi keluaran. serta sasaran. 4.7 Sistematika Pembahasan Adapun sistematika dari laporan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan ini adalah sebagai berikut: Bab 1 Pendahuluan Bab ini berisi latar belakang. 6. tujuan. organisasi pelaksana dan jangka waktu penelitian Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I . 3. sumber data serta operasionalisasi indicator yang digunakan dalam menilai kelayakan kawasan perkotaan Jatinangor. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sumedang Tahun 2005-2025. maksud. 2. Selain itu. Aspek normatif yang diacu antara lain terdiri dari PP No 34 Tahun 2009. Bab 2 Kajian Teori dan Normatif Bab ini berisi teori-teori dan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan studi kelayakan kawasan perkotaan Jatinangor.6 Dasar Hukum 1. perumusan masalah.1.

Modelmodel Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan “Jatinangor” di Kabupaten Sumedang. Arahan Pengembangan Kawasan Perkotaan . Deliniasi atau Batasan Kawasan Perkotaan. Tata Ruang dan Lingkungan. Pengukuran Indikator Kawasan Perkotaan pada Aspek Sosial.10 . Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan “Jatinangor” Bab 7 Kebijakan Dan Strategi Kawasan Perkotaan Bab ini menjabarkan kebijakan dan strategi dalam pengembangan kawasan perkotaan pada kawasan perkotaan Jatinangor setelah ditetapkan sebagai kawasan perkotaan. Ekonomi.Bab 4 Arahan Kebijakan Kawasan Perkotaan Bab ini menjelaskan mengenai Identifikasi Arahan Kawasan Perkotaan Jatinangor pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sumedang 2005-2025. Identifikasi Arahan Kawasan Perkotaan Jatinangor pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang Bab 5 Analisis Kelayakan Kawasan Perkotaan Bab ini menjelaskan tentang Karakteriktik dan Potensi Kawasan Perkotaan Jatinangor-Cimanggung. Bab 8 Pengendalian Pemanfaatan Ruang Perkotaan Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil kajian dan rekomendasi-rekomendasi yang diusulkan dalam menindaklanjuti penetapan kawasan perkotaan Jatinangor Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab I .Bab 6 Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan Bab ini menjelaskan tentang Pengelolaan Kawasan Perkotaan.

dimana kesempatan usaha dan kerja yang ada banyak dinikmati oleh orang luar. Sementara itu disorganisasi sosial pada kawasan ini diindikasikan dengan melonggarnya norma-norma sosial. padahal jika kota tumbuh sebagai parasit akan berakibat terjadinya disorganisasi sosial. kegiatan di kota tersebut harus dapat memberi kesempatan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya. degradasi moral dan retaknya sistem sosial warga lokal. sikap masyarakat mulai berubah menjadi individualistis. yakni tergesernya penduduk asli oleh pendatang merupakan indikasi bahwa kota tidak tumbuh secara generatif. Kajian sosial oleh Bappeda (2002) memperlihatkan bahwa secara sosiologis. namun kenyataannya tetap sebagai daerah pinggiran/ Periphery.BAB KAJIAN TEORI DAN NORMATIF 2. Jika dilihat dari sudut pandang teori ini. Pengaruh interaksi antar warga pendatang mengakibatkan melemahnya pemahaman terhadap agama. tampaknya Jatinangor belum dapat berperan seperti apa yang digambarkan Hoselitz tersebut. lokasi serta persoalan-persoalan kebijakan dan perencanaan pengembangan wilayah.1 Konsep Perkotaan Hoselitz (dikutip oleh Widiarto: 1995) berpendapat bahwa pertumbuhan kota yang senantiasa diharapkan adalah pertumbuhan yang “generative” dan bukan “parasitic’. Jatinangor walaupun dalam konsep Tata Ruang Bandung Raya (MBUDP/Metropolitan Bandung Urban Development Project) telah ditetapkan sebagai kota “counter magnet” yang kegiatannya didominasi oleh perguruan tinggi. dan mampu menarik kawasan sekitarnya (hinterland) untuk tumbuh berkembang bersama-sama. Terjadi gentrifikasi sosial. Terhadap kenyataan ini John Friedmann (1964) menganalisis aspek-aspek tata ruang.1 II . Fenemena yang terjadi di kawasan ini nampaknya menjadi indikasi penguatan apa yang dikatakan dalam teori ini. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Sebagai pertumbuhan yang generatif.

Studi mengenai Konflik Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Perbatasan oleh Puslitbang Permukiman Dep. dsb. Pembangunan Regional Jabodetabek (Jakarta. maka pemerintah yang ada di atasnya harus dapat menjadi mediator. jalan. dan daerah-daerah yang relatif statis sisanya merupakan sub sistem-sub sistem yang kemajuan pembangunannya ditentukan oleh lembaga-lembaga di daerah inti dalam arti bahwa daerah-daerah pinggiran berada dalam satu hubungan ketergantungan substansial. Dalam banyak kasus. Daerah pinggiran sering disebut daerah pedalaman atau daerah sekitarnya. jika dua daerah mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan keduabelah pihak. PU (2007) menunjukkan ke arah fenomena tersebut. misalnya MBUDP yang memberikan bantuan infrastruktur dasar seperti drainase induk. Sedangkan daerah pinggiran dapat dikategorikan sebagai daerah perbatasan (frontier region). Sleman. dan daerah tertekan (depresed region). Bantul). Oleh karena itu walaupun masalah sudah begitu kompleks.2 . Akses terhadap sumber-sumber kekuatan dan kekuasaan juga relatif kecil. kecuali jika ada proyek khusus yang menangani masalah yang bersangkutan. Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 34. akhirnya pihak-pihak yang berkepentingan membentuk lembaga pengelola atau disebut juga sekretariat bersama (sekber) yang bertugas untuk merumuskan penyelesaian masalah. Bekasi).Di daerah perencanaan biasanya terdapat daerah inti (centre) dan daerah pinggiran atau periphery regions. tahun 2009. namun lembaga-lembaga formal yang ada tidak mempunyai kekuatan sendiri untuk menata dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Daerah inti dan wilayah pinggiran bersamasama membentuk sistem spasial yang lengkap. Jatinangor merupakan daerah pinggiran yang kekuatannya hanya kecil karena hanya merupakan sub-sistem pemerintahan dan ekonomi. Depok. Kartamantul (Jogyakarta. Bogor. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Namun eksekusinya biasanya diserahkan kepada masing-masing pihak. sanitasi (sewerage). Gerbangkartasusila (Gersik. Pusat-pusat besar pada umumnya berbentuk kota-kota besar metropolis atau megapolis. Jadi jika dilihat dari kacamata analisis Friedman di atas. yang pusatnya berada di Kota Bandung. Daerah inti pada umumnya dikategorikan sebagai daerah metropolitan (metropolitan region). Tangerang. dikategorikan sebagai daerah daerah inti. Jombang. dan poros pembangunan (development axes).

dan memanfaatkan potensi lokal yang ada untuk mengembangkan ekonomi rakyat dapat menjadi lembaga yang berpengaruh untuk dapat menekan kekuatan inti yang ada di Pusat. Bentuk lain dari penyelesaian konflik antar wilayah. sekaligus menyelesaikan konflik lintas wilayah. Kajian Puslitbang Permukiman (2006) tentang Pengembangan Lembaga Lokal dalam Pembangunan Perumahan menunjukkan bahwa ada Lembaga Pemerintahan Desa (Kabupaten Sleman dan Kabupaten bandung) yang diberi kewenangan untuk memberikan izin konversi lahan untuk perumahan dengan skala yang kecil (di bawah 10 rumah). LED dapat memanfaatkan hasil-hasil penelitian ilmiah untuk dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Sidoarjo. dengan cara yang legal dan terorganisasi dengan baik. Hal ini pula sebenarnya pemikiran yang mengilhami berkembangnya Lembah Silikon di Amerika. Lamongan). Fenomena ini mengindikasikan dimungkinkannya suatu lembaga diberikan kewenangan yang lebih untuk mengurusi masalah-masalah yang dipandang urgen untuk dicarikan secara cepat solusinya. swasta). Dalam kasus tersebut selalu dibentuk lembaga atau sekretaiat bersama yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil dari daerah yang berkonflik. tetapi ke arah pengembangan ekonomi adalah konsep Local Economic Development (LED) dan Pengembangan Lembah Silikon (Silicon Valley) di Amerika Serikat. 2007). Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .3 . sehingga dipandang perlu untuk memberdayakan lembaga pemerintahan desa. (Sadu Wasistiono. Kebijakan (“what”) tentang arah pengembangan kota tingkat kecamatan tetap diatur dan diputuskan pada tingkat kabupaten dalam bentuk Peraturan Daerah dan atau Peraturan Bupati. sedangkan camat sebagai manajer kota lebih banyak menjalankan (“how”). pemerintahan. LED yang mengedepankan kekuatan lembaga yang ada (lembaga-lembaga ilmiah. dari kebijakan yang telah ditetapkan pada tingkat kabupaten. Surabaya. Hal ini disebabkan tidak mampunya lembaga yang berkompeten untuk menangani seluruh permasalahan yang dihadapi. Alternatif lain yang hampir sama antara lain mengangkat camat di daerah perkotaan sebagai manajer kota (city manager). dimana masyarakat sekitar lembah memanfaatkan secara bersama-sama hasil penelitian lembaga riset dan perusahaan swasta yang ada di lembah. dan sebagainya pada dasarnya bertujuan untuk mereduksi konflik-konflik perbatasan.Majakerta.

(2) analisis ekonomi. (4) analisis kelembagaan.blog. ilmu lingkungan dan sebagainya.slideshare. atau kajian lembaga lokal untuk pembangunan perumahan di atas dapat menjadi referensi kajian ini.net/oktavilia): (1) analisis biogeofisik.ac. ekonomi. (3) analisis sosiobudaya.unnes. Dalam pengembangan wilayah termasuk pengembangan kawasan perkotaan setidaknya perlu ditopang oleh 6 pilar analisis. dan Permendagri Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan. kiranya perlu dikaji lebih dalam bahwa penangan kawasan Jatinangor memerlukan sebuah lembaga. 34 Tahun 2009. Model-model pembangunan regional antar kota.id/oktavilia atau http://www. Kajian lebih lanjut pada bagian ini akan menelaah difinisi dan kriteria kelayakan untuk menilai tingkat kekotaan suatu kawasan Di dalam Budiharsono (2001) menyebutkan bahwa ilmu pembangunan wilayah merupakan wahana lintas disiplin yang mencakup berbagai teori dan ilmu terapan yaitu: geografi. lembah silikon. sosiologi. namun tidak mempunyai domain mengurusi masalah perkotaan. (5) analisis lokasi. namun hanya sebatas administrasi dan pemerintahan.4 . Saat ini sudah ada lembaga yang memikirkan masalah tersebut. LED. ilmu politik. Terdapat lembaga yang legal mengurusi masalah perkotaan. statistika. bahwa dalam pengajuan usulan lokasi rencana kawasan perkotaan baru harus dilengkapi dengan:   hasil studi kelayakan rencana induk pembangunan perkotaan baru rencana pembebasan lahan Untuk itu pada studi ini akan dilakukan kajian yang dipersyaratkan oleh kedua  peraturan di atas. yakni studi kelayakan yang ditinjau dari beberapa aspek. namun tidak mempunyai kekuatan politik dan finansial untuk melakukan tindakan operasional.Dari telaah pustaka di atas. Mengikuti amanat Peraturan Pemerintah No. matematika. Oleh karena itu diperlukan kombinasi kekuatan-kekuatan tersebut untuk membentuk lembaga yang berpengaruh. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . yaitu (http://staff. Di sisi lain terdapat lembaga pendidikan tinggi yang mempunyai kekuatan moril dan ilmiah pada kawasan ini. perencanaan daerah.

(6) analisis lingkungan Lebih lanjut juga ditegaskan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008. Masa tugas Badan Pengelola Pembangunan Kawasan Perkotaan Baru sesuai dengan jangka waktu rencana pelaksanaan pembangunan kawasan perkotaan baru. perdagangan dan jasa. Rencana pembangunan kawasan perkotaan baru ditetapkan oleh kepala daerah         dan dapat dibentuk Badan Pengelola Pembangunan Kawasan Perkotaan Baru. sesuai dengan fungsi dan perannya mempunyai luas kawasan budi daya paling sedikit 400 hektar dan merupakan satu kesatuan kawasan yang bulat dan utuh. dengan kawasan perkotaan disekitarnya mendorong aktivitas ekonomi.5 . dan Kabupaten termuat dalam RPJMD memiliki daya dukung lingkungan yang memungkinkan untuk pengembangan fungsi perkotaan dan bukan kawasan yang rawan bencana alam terletak di atas tanah yang bukan merupakan kawasan pertanian beririgasi teknis maupun yang direncanakan beririgasi teknis memiliki kemudahan untuk penyediaan prasarana dan sarana perkotaan. Kawasan perkotaan baru yang berlokasi pada bagian dari dua atau lebih kabupaten yang berbatasan langsung dilakukan atas dasar kerjasama antar daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atau satu kesatuan wilayah perencanaan perkotaan dalam satu daerah kabupaten. dan menyediakan ruang bagi kepentingan pengembangan wilayah di masa depan. tidak mengakibatkan terjadinya pembangunan yang tidak terkendali. Keanggotaan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Provinsi. Pelaksanaan kerjasama antar daerah dapat dibentuk Badan Pengelola Pembangunan Kawasan Perkotaan Baru yang bertanggung jawab kepada masing-masing bupati. Persyaratan penetapan lokasi perencanaan kawasan perkotaan baru meliputi: sesuai dengan sistem pusat permukiman perkotaan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan bahwa perencanaan kawasan perkotaan baru diprioritaskan untuk:    memecahkan permasalahan kepadatan penduduk akibat urbanisasi menyediakan ruang baru bagi kebutuhan industri.

dan bahkan para penyandang cacat dapat berjalan-jalan. Tempat dimana kebersamaan dan canda dapat memecahkan permasalahan yang muncul dalam lingkungan bertetangga. perlu dirumuskan visi tentang kondisi kota yang ingin dicapai di masa depan. 2. Tempat dimana anak-anak. Struktur Organisasi. Badan Pengelola Pembangunan Kawasan Perkotaan Baru melaporkan pelaksanaan tugasnya secara berkala dan atau sewaktu-waktu jika diperlukan kepada bupati dan terbuka bagi masyarakat. 494/PRT/M/2005.6 . yang layak huni bagi seluruh warganya tanpa terkecuali. Pemerintah Desa. dan unsur pengembang. Kota-kota di masa depan adalah kota yang dapat memberikan kehidupan yang sejahtera. tugas dan tata kerja Badan Pengelola Pembangunan kawasan perkotaan baru yang berlokasi di dua atau lebih daerah Kabupaten yang berbatasan langsung diatur dengan Keputusan Bersama Bupati. nyaman dan aman bagi warganya. dan bermain-main bersama. Badan Permusyawaratan Desa. yaitu : 1.Badan Pengelola Pembangunan Kawasan Perkotaan Baru terdiri atas unsur Pemerintah Kabupaten. struktur organisasi.2 Visi dan Misi Perkotaan A. tugas dan tata kerja Badan Pengelola Pembangunan Kawasan Perkotaan Baru ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Keanggotaan. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pembangunan kawasan perkotaan baru. damai. masyarakat setempat. dan sejahtera. Visi Dan Misi Pengembangan Perkotaan Visi dan misi pengembangan perkotaan didasarkan pada Peraturan Menteri PU no. 2.Bupati melaksanakan evaluasi. Secara rinci visi dan misi pengembangan perkotaan adalah sebagai berikut: Visi Untuk mencapai kehidupan perkotaan yang aman. Secara umum kriteria kota yang ingin dicapai. orang tua. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .

Tempat dimana kita tidak hanya melindungi kawasan bersejarah. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . dan berkembang secara berkelanjutan serta saling memperkuat. 4. Perwujudan visi akan lebih optimal apabila terdapat kerjasama yang sinergis antar stakeholders dari seluruh kegiata-kegiatan. Tempat dimana seluruh masyarakatnya dapat menyelenggarakan aktivitasnya seharihari dengan aman dan tenang. berbudaya. Lingkungan kota yang nyaman  Tingkat kepadatan penduduk yang optimal (efisiensi pelayanan. produktif. sesuai dengan daya dukung kota)  Ketersediaan prasarana dan sarana dasar dengan kulaitas yang memadai. dan ancaman terorisme. Tempat dimana tingginya kualitas hidup dapat menarik kegiatan usaha dan tenaga kerja yang berbakat dan dengan demikian menghidupkan perekonomian kota. responsif.3. tetapi juga ruang terbuka hijau dan hutanhutan kota memberikan nilai tambah tersendiri bagi kehidupan dan keindahan permukiman. yang terbebas dari kriminalitas serta kerusahankerusahan sosial. 5. Mengembangkan Kota yang layak huni a. Tempat dimana kita dapat menghabiskan lebih banyak waktu bagi keluarga dan bukan memboroskannya karena terjebak dalam kemacetan lalu-lintas. Dalam kerjasama ini pemerintah bertindak sebagai enabler dan masyarakat sebagai doer. maka visi pengembangan pembangunan perkotaan nasional dapat dijabarkan sebagai berikut: ”Terwujudnya kawasan perkotaan yang layak huni.  Memiliki penataan kawasan dan bangunan yang serasi dan terpelihara. Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut. Untuk itu dibutuhkan perumusan misi sebagai terjemahan dari visi atau kondisi yang diharapkan untuk mengidentifikasi arah kebijakan yang akan ditempuh.7 . dilaksanakan oleh para petaruh (stakeholders) secara partisipatif.berkeadilan sosial sejahtera. transparan dan akuntabel dalam mewujudkan pengembangan wilayah”. 6. Misi Upaya penacapaian Visi tersebut diatas dilakukan beberapa misi berikut ini : 1.  Memiliki tingkat pelayanan dan jumlah fasilitas umum yang memadai.

Lingkungan Kota yang aman  Tingkat polusi udara yang rendah dan terkontrol.  Tingkat pelayanan dan fasilitas kebakaran yang baik (berfungsi dan mencukupi). kelompok masyarakat mempunyai akses yang sama terhadap kesempatan berperan serta dan mengaktualisasikan aspirasinya dalam kehiduan kota. pendapatan mayarakat dan pemeritah bertambah dan tetap dapat mempertahankan kualitas sumber daya alam dan lingkungan. b. politik.  Keamanan (tingkat kriminalitas yang rendah) dan ketertiban kota yang terjaga. Lingkungan sosial budaya yang mendukung keharmonisan kehidupan masyarakat. pelayanan dan permukiman) yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan kebutuhan masing. diffable people.masing (orang tua. ekonomi.  Setiap individu atau kelompok masyarakat memilki akses yang sama terhadap kesempatan berusaha dan mengembangkan usaha. Mengembangkan lingkungan yang berkeadilan sosial. anak-anak. 2.  Kesamaan dan keadilan dalam pelindungan hukum.  Setiap individu.  Tidak adanya kesejangan pendapatan yang besar antar seluruh lapisan masyarakat. 3.  Stabilitas sosial. Mengembangkan pembangunan kota yang berkelanjutan Pengembangan kota yang berkelanjutan secara umum terwujud apabila ekonomi kota berkembang. dst). faktor – faktor penentu daya saing adalah keunggulan sumber daya dan kemampuan pengelolaan kota. a.8 .  Tersedianya lapangan pekerjaan bagi seluruh lapisan masyarakat. 4.  Kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam pemeliharaan dan pengembangan budaya lokal. Aspek ekonomi  Daya saing kota. Dalam hal ini pengefektifan keterkaitan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . prasarana. berdaya saing global. Hal ini antara lain mencakup. sejahtera dan berbudaya. Mengembangkan kota yang sejahtera  Tersedianya segala kebutuhan (sarana.  Tingkat pencemaran air dan tanah yang rendah dan terkontrol.

Pengendalian dampak lingkungan dengan tetap menjaga kulaitas lingkungan. 5. Aspek sosial budaya Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kesetaraan dan keadilan sosial .  Kemampuan kota unutk siaga dan siap mengatasi bencana dan bankit dari bencana. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Penyelesaian masalah ’dislokasi’ penduduk perkotaan berkaitan dengan masalah lahan. Menggali potensi kota melalui pelibatan seluruh stakeholder dalam pembangunan 3. Upaya mencapai masyarakat madani dilaksanakan melalui. Pemeliharaan keanekaragaman budaya Kesamaan hak bagi setiap individu ataupun kelompok masyarakat untuk memenuhi aspirasi budayanya.kota dan desa menjadi sangat penting alam upaya meningkatkan daya saing kota dan mencegah menurunnya ekonomi perdesaan. Pengendalian dampak lingkungan akibat pembangunan Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. 1. Peningkatan peran serta masyarakat dalam kehidupan perkotaan. Mengembangkan inovasi untuk mempertahankan kualitas produk dan jasa.9 .gangguan sosial. Pembangunan kota dilakukan dengan tetap menjaga kualitas lingkungan. 2. dan juga mengurangi gangguan. 4. Pemecahan masalah pengangguran dan semi pengangguran. b.  Pengembangan ekonomi kota.    c. Pengembangan produk unggulan kota melalui pengembangan iklim usaha yang kondusif. Aspek lingkungan      Pengelolaan sumber daya secara efsien dan berkelanjutan. Pengelolaan sektor informal agar mandiri dan sinergis dengan sektor informal .

untuk medukung pola pengelolaan perkotaan dengan penerapan tata pemerintaha yang baik maka diperlukan sistem informasi yang interaktif dari pemerintah. d.upaya peningkatan kemampuan kota unutk memperoleh dana bagi pengelolaan dan pembangunannya antara lain melalui peningkatan daya tarik bagi investor. 6. terdesentralisir serta efsien dan efektif. karena daerah pinggiran tersebut juga terkena dampak pembangunan dan urbanisasi. partisipatif. Mengembangkan pola pengelolaan kota berdasar tata pemerintah yang baik. upaya.  Pembangunan kota hendakya dipadukan dengan perkembangan daerah perdesaan di pinggirnya. penyesuaian struktur dan kewenangan kelembagaan dalam rangka paradigma pembangunan perkotaan yang baru yaitu transparan. Mengembangkan keseimbangan dan keterkaitan antar kota dan antara kota-desa.  b. peran dan hirarki kota sesuai dengan potensi dan kedudukannya dalam pengembangan wilayah.  Pengembangan kebijakan perkotaan sebagai upaya mencegah terjadinya ketimpangan antar wilayah dan antar kota.kota  Pengembangan perkotaan seiring dengan peningkatan efektifitas keterkaitan soaial ekonomi antara kota dan desa ( Wilayah hinterlandnya) agar saling menguntungkan dan memperkuat dalam kerangka pengembangan kawasan. Pengembangan serta peningkatan mekanisme pelibatan masyarakat dan dunia usaha. c. dan sebagainya. Pengembangan potensi pendanaan. a. Pengembangan struktur kelembagaan pengelolaan kota.  Peningkatan kemampuan perdesaan dalam pembangunan. b. Pengembangan sistem perkotaan dengan memperhatikan pemantaan fungsi. Pengembangan sistem informasi. pengeloalaan atau manajemen perusahaan daerah serta peningkatan penerapan konsep kewirausahaan dalam pengelolaan pembangunan kota. pengembangan pola. terutama antara kota-kota besar yang Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .10 Keterkaitan antar kota .masyarakat dan dunia usaha yang mudah diakses dan dimengerti semua pihak terkait.5. a. antara lain melalui forum diskusi dan koordinasi.pola kemitraan . Keterkaitan desa.

dilandasi dengan penerapan tata pemerintahan yang baik (good governance). akan dapat menjamin terselenggaranya pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan secara efesien dan efektif. dan peningkatan produktifitas secara umum bagi terwujudnya Pembinaan dan Pengendalian Prasarana dan Sarana Dasar Perkotaan yang Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Mengevaluasi pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan yang selama ini dilakukan. 2) Terciptanya pola pembangunan yang berkelanjutan termasuk pola pemanfaatan. 4) Terwujudnya kesadaran dan upaya-upaya penanganan masalah sosial budaya. 5) Terwujudnya bentuk-bentuk dukungan kota pada pembangunan nasional. Dengan tersedianya kriteria dan ukuran-ukuran atau indikator-indikator kinerja pembangunan perkotaan dalam pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan. perlindungan dan pelestarian sumber daya alam. dengan kotakota menengah dan kecil lainnya. Pengembangan Indikator Kinerja Pembangunan Perkotaan pada dasarnya diarahkan kepada sasaran pelaksanaan Pembangunan Perkotaan agar dapat : a. 3) Terwujudnya upaya-upaya pengentasan kemiskinan meliputi penyedian lapangan kerja. b.3 Landasan Kebijakan Pengembangan Perkotaan Landasan kebijakan ini adalah suatu kondisi dasar yang ingin dicapai (policy driver) dalam pembangunan perkotaan.11 . agar memberikan hasil yang optimal bagi negara dan masyarakat. Sehingga dapat menilai efektifitas pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan dengan cermat sesuai ketentuan yang berlaku. akses pada perumahan dan modal/ sumber-sumber keuangan. c. serta akses pelayanan dasar yang adil dan merata.sangat potensial terintegrasi dalam sistem perekonomian global. Landasan kebijakan tersebut adalah : 1) Terlaksananya desentralisasi secara efektif dan efisien. 2. Mengkaji dan menganalisis program Pembangunan Perkotaan yang lalu dan yang akan datang. d. Menyesuaikan antara pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan di pusat dan daerah.

program.produktif. Semangat Privatisasi Ada trend yang menuntut bahwa pengusahaan dan pembangunan tidak lagi dilakukan oleh Pemerintah Pusat tetapi lebih banyak dilakukan atas dasar korporasi di daerah. pengelolaan. dalam pengembangan wilayah dan ekonomi dalam Pembangunan Perkotaan. apabila adanya kerjasama antara Departemen Pekerjaan Umum dengan Dinas Pekerjaan Umum di Propinsipropinsi wilayah kajian baik dipusat maupun didaerah. melaksanakan. d. Pembangunan dari pendekatan sektoral ke pendekatan kewilayahan dengan pemberdayaan masyarakat yang bersifat partisipatoris. unggul dan adaptif terhadap globalisasi c. Pengembangan Indikator Kinerja Pembangunan Perkotaan dapat berjalan secara berkesinambungan (sustainable). Paradigma Lama Pembangunan (Dahulu)   Top Down (Sentralistik) Pemerintah menyiapkan. manajemen modern dan terbuka  Ekonomi yang berpihak pada rakyat banyak. anggaran dan kewenangan untuk kebijakan dari Departemen Sektoral di Pusat ke Pemerintahan Kabupaten/Kota  b. Perubahan Paradigma Pembangunan  Otonomi daerah : menggeser kekuasaan regulasi. handal dan bermanfaat. Semangat dan Orientasi Pembangunan  Masyarakat madani. mengendalikan dan Pemerintah/Kota pasif. Peran serta masyarakat untuk ikut dalam Pengembangan Indikator kinerja Pembangunan Perkotaan pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan secara lebih transparan sesuai kriteria dan ukuran-ukuran dalam menilai dan mengevaluasi serta mengetahui untuk mengetahui kinerja penyedian.12 . Namun demikian. dengan Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota sebagai “Enabler” dan masyarakat dan swasta sebagai pelaku utama. Paradigma Baru Pembangunan 1. dan penyampaian pelayanan prasarana dan sarana suatu kota sejalan dengan pergeseran paradigma pembangunan : a. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .

Sosialisasi   Mengupayakan agar prinsip keterbukaan dalam pengembangan Indikator pembangunan Secara aktif mengupayakan agar proses Pengembangan Indikator Kinerja  Pembangunan Perkotaan dapat sampai kepada yang berkepentingan (stakeholder) Mengupayakan agar proses keikutsertaan masyarakat dalam semua tingkat proses Pengembangan Indikator Kinerja Pembangunan Perkotaan makin lama makin terwujud.Kebijakan pembangunan tertutup. Adanya OTDAmenjadikan pengambil keputusan di daerah harus:   Lebih proaktif dalam meberi arah dan peluang bagi dunia usaha untuk kiprah (lokal action) Menentukan pendekatan pegembangan indikator efektivitas pelaksanaan program pembangunan perkotaan sebagai suatu incorporated dimana masing-masing stakeholder peduli 4.13 Tidak melalui mekanisme yang seharusnya . sehingga dalam tahap implementasinya sudah dipahami alasan-alasan dilakukannya kegiatan-kegiatan yang ada. Paradigma Baru     3. melaksanakan dan mengendalikan/mengevaluasi Kebijakan pembangunan transparan. partisipasif 2. rasional dan evaluatif serta partisipatif Sesuai dengan mekanisme penyusunan berpartisipatif Dampak Otonomi Daerah (OTDA) pada pengembangan indikator efektifitas pelaksanaan program pembangunan perkotan. a. Sosialisasi dan Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengembangan Indikator Kinerja Pembangunan Perkotaan. Bottom Up (Desentralistik) Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat menyiapkan. diketahui sekelompok orang dan Pemerintah/Kota pasif . Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .

Departemen Pekerjaan Umum Khususnya. lebih efektif dan efisien dalam penyelenggaraannya serta lebih sustainable bagi kepentingan masyarakat dan negara. Sering terjadi ketidaksinkronan dalam kebijakan Pembangunan Perkotaan itu sendiri.b. serta. Pengalaman selama ini masih menunjukan bahwa antara program Pembangunan Perkotaan dipusat dan di daerah yang ada dirasa belum optimal dan tepat sasaran. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Fungsi dan peranan pemerintah sudah harus bergeser dari peranan sebagai ”provider” dengan tingkat otoritas yang besar ke arah peranan sebagai ”enabler” sebagai pendorong bagi tumbuhnya peran serta masyarakat yang lebih besar. Bentuk Peran Serta Masyarakat dalam Pengembangan Indikator Kinerja Pembangunan Perkotaan  Pemanfaatan (1) Bantuan pemikiran/pertimbangan (2) Penyelenggaraan kegiatan pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan (3) Bantuan teknis  Pengendalian (1) Pengawasan pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan (2) Pemberian informasi / pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan menjelaskan atas hak masyarakat (3) Menjaga konsistensi dengan daerah secara komprehensif (4) Peningkatan peran serta masyarakat menjadi salah satu prioritas. Dengan demikian program Pembangunan Perkotaan yang direncanakan akan dapat tepat pada sasaran. Untuk itulah pengembangan indikator efektifitas pelaksanaan program Pembangunan Perkotaan perlu dilakukan. untuk selanjutnya dapat memberikan bahan masukan teknis bagi perumusan indikator untuk keperluan penentuan kinerja Pembangunan Perkotaan.14 .

semakin tinggi jumlah penduduk suatu kota. atau didasarkan pada fungsi (sesuai PP 47/1997). Oleh karena itu dalam mengukur indikator yang digunakan akan tergantung dengan skala kota (baik ditinjau dari fungsi dan karakter). dan sebagainya. Pengelompokan kota berdasarkan skala (magtitute) dapat dilihat dari berbagai segi. dimana kota dapat diklasifikasikan sebagai PKW.3 Tipologi Kota Penetapan tipologi didasarkan pada: a. demikian sebaliknya. Dalam penentuan dan pengukuran kinerja pembangunan perkotaan. Kota Besar. Pengelompokan kota berdasarkan kesamaan dapat diartikan menyatukan tipe. maupun fungsi kota. PKL. bahwa penilaian terhadap skala kota tidak dapat dibedakan kota dengan skala pelayanan nasional dengan kota skala pelayanan lokal. dimana kota dilihat dari kelengkapan prasarana dalam upaya mendukung pergerakan ekonomi wilayah.tipe kota dalam tipologi. Fungsi utama kota ditentukan berdasarkan kelengkapan prasarana yang dimiliki suatu kota yang dapat berfungsi sebagai outlet aliran barang atau orang.   Kota Metro. semakin kental sifat kekotaan dari kota tersebut). antar lain dari luas kota atau jumlah penduduk. Sedangkan pengelompokan berdasar karakter kota dapat didasarkan pada sifat kota sebagai daerah pesisir. Kota ditinjau dari skalanya dapat dibedakan menjadi. PKN. c. Penentuan tipologi kota dalam penilaian kota skala yang paling signifikan apabila diuji adalah skala kota terhadap penduduk yang dilayaninya. Penentuan tipologi kota dapat dilakukan sesuai dengan skala kota (magnitute) karakter kota. besar kawasan pusat kota. dan fungsi kota yang telah ditetapkan dalam PP 47 tahun 1997. Asumsi bahwa tingkat perkembangan suatu kota dapat dicerminkan oleh jumlah penduduk yang tinggal di kota tersebut (berdasarkan kondisi empiris. daerah daratan ( secara letak geografis). Bab II .15 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . ketersediaan prasaranaperkotaan.2. b. salah satu aspek yang dinilai harus dapat dilakukan dalam kelas yang sama. Dominasi kegiatan wilayah kota ditentukan menurut peranan subsektor yang ada dalam perhitungan PDRB kabupaten/kota terhadap kontribusinya dalam pembentukan nilai PDRB regional (Provinsi). Dalam artian.

Pada UU No 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang pasal …. Selain itu.000 jiwa. indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta dipergunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja pengembangan perkotaan.001 hingga 500. analisis dan evaluasi efektivitas dan effisiensi di masa datang guna peningkatkan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .000 jiwa. 4. dan penjelasannya Tipologi kota berdasarkan jumlah penduduk. Memperjelas tentang aspek yang akan diukur b.1 Konsep Dasar Indikator Perkotaan A.4 Indikator Perkotaan 2. Kawasan Perkotaan Metropolitan yaitu Kawasan Perkotaan atau kota dengan penduduk > 1. Kawasan Perkotaan Kecil yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar 20. Kota Kecil.000 jiwa. Oleh karena itu. Pengertian dan Fungsi Indikator perkotaan Indikator perkotaan adalah ukuran kuantitatif maupun kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran pengembangan perkotaan yang telah ditetapkan.4. Kawasan Perkotaan Sedang yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar 100. Secara umum indikator perkotaan memiliki beberapa fungsi. terutama untuk menuju sasaran yang telah ditentukan.  Kota Sedang. indikator kinerja digunakan untuk meyakinkan bahwa kinerja hari demi hari dari sebuah kota dapat menunjukan perubahan. c. 2.000 hingga 100. dapat dirinci sebagai berikut: 1. Membangun dasar bagi pengukuran. Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak tertentu untuk menghindari kesalahan pelaksanaan kebijakan/program/kegiatan serta dapat pengukur kinerja secara menyeluruh. 2. 3. Kawasan Perkotaan Besar yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih besar dari 500. yaitu: a.000.16 .000 jiwa.

Mengingat keragaman wilayah Indonesia maka kriteria indikator harus bisa diterapkan disemua wilayah secara umum tanpa kecuali.B. Artinya dapat mengakomodasikan perubahan yang ada. Indikator harus mampu digunakan sebagai alat analisis yang lengkap dan menyeluruh diberbagai aspek pelayanan kota.17 . b) Applicability dan simplicity kriteria. Syaratsyarat indikator kinerja antara lain: a) Jelas. sehingga tidak menimbulkan kesalahan penilaian berkaitan dengan perubahan lingkungan g) Obyektif. Kriteria indikator harus kesederhanaan pada alat ukur sangat perlu dikedepankan. Artinya indikator dapat menangani dan menilai berhubungan dengan kinerja e) Fleksibel. Artinya indikator harus dapat diukur baik maupun secara kualitatif d) Relevan. agar indikator yang ada dapat diaplikasikan secara tepat dan bermanfaat. Artinya untuk memperoleh penilaian yang tidak menimbulkan salah persepsi c) Dapat diukur. d) Fleksibilitas dan kemungkinan untuk disesuaikan dari waktu ke waktu termasuk penyesuaian prioritas kajian. Artinya dapat dipahami oleh banyak aktor b) Spesifik. Penetapan kriteria indikator perkotaan Penetapan kriteria indikator perkotaan (urban indicator) dengan mempertimbangkan: a) Comprehensiveness berbagai faset kinerja perkotaan. Oleh karena itu pertimbangan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Artinya indikator yang ditentukan harus cukup mampu mengakomodasikan perubahan yang terjadi lingkungan sekitar f) Sensitif. Artinya indikator harus dapat diukur oleh berbagai pihak dan menghasilkan nilai yang relatif sama didalam penilaiaian dan tuntutan segala hal yang secara kuantitaif bisa diterapkan disemua wilayah Indonesia oleh semua pelaku. Syarat-syarat Indikator Perkotaan Penentuan indikator kinerja harus mempertimbangkan beberapa sendi sendi. c) Universalitas kriteria. C.

A.4. 4. 2. sehingga pada tahap pengumpulan data. Indikator dan data tersebut merupakan data minimum yang diperlukan untuk mengukur sejauh mana komitmen dan konsistensi dalam pengembangan kota dan pemukiman. Tugas pengumpalan data pada penilaian kinerja merupakan kegiatan utama.18 .3 Selain itu dalam pengukuran kinerja harus dilakukan dalam waktu yang singkat dan tepat waktu.2 Lingkup Obyek Penilaian Indikator Perkotaan Pada dasarnya penilaian kinerja pengembangan perkotaan ini menilai bagaimana operasional pemerintah Kota dalam memberikan pelayanan penyediaan/pembangunan perkotaan kepada masyarakat yang berada pada wilayah administratif dari kota tersebut. dikarenakan secara umum pertumbuhan kota sudah barang tentu akan berdampak pada area disekitar kota (urban periphery). Oleh karena itu untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan validitas pengukuran perlu dilakukan bersama dengan stakeholder kota yang menjadi obyek penilaian kinerja. Indikator Perkotaan (Urban Indikator) menurut UNHCS Selain indikator good urban governance. Pendekatan ini dilakukan dengan dasar bahwa pelayanan minimal yang harus disampaikan oleh pemerintah ditekankan pada lingkup batas administrasi. Secara umum pendekatan ini memang menjadi salah satu pembatasan dalam penilaian kinerja pemerintahan. UNHCS juga mengembangkan sistem indikator yang terdiri atas 23 indikator kunci dan 9 daftar data kulitatif. Pengembangn indikator ini didasarkan pada Habitat agenda dan Resolution 15/6 and 17/1 UNHCS. Hal ini terutama berkaitan dengan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penilaian kinerja AB III . serta dapat didefinisikan dengan jelas. Seringkali penilaian kinerja dianggap sederhana. banyak terjadi kesalahan dan kurangnya validitas data.3.h) Efektif. 2. Kota minimal dapat mencakup seluruh wilayah administrasi. mudah diimplementasikan. Kriteria Penilaian Indikator Pengembangan Perkotaan Yang Ada. Penilaian kinerja kota di dalam kegiatan ini lebih Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Kecepatan merupakan hal penting dalam pengumpulan dan pendistribusian data.

Indikator yang dimaksud diklasifikasi ke dalam 5 bab dan disubklasifikasikan menjadi 20 area kunci dari Istanbul +5 Universal Reporting Format.1 Daftar Indikator Kota sebagai respon terhadap 20 Habitat genda Key Areas Of Commitment Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .19 . berikut : Tabel 2. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.1.

Data primer diperoleh dari hasil konsultasi dengan kelompok pakar dalam skala kecil untuk memberikan penilaian yang merepresentasikan keadaan yang sebenarnya. diharuskan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Untuk data pada aspek-aspek yang relatif stabil dalam arti tidak mengalami perubahan yang signifikan dari tahin ke tahun. Indikator Perkotaan untuk manajemen Lingkungan Menurut UNHCS Dalam skala internasional.Indikator-indikator dalam Urban Indicator versi UNHCS ini memerlukan data yang cukup banyak dan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. yang perlu digarisbawahi adalah bahwa penialian terhadap indikatorindikator tersebut tidak dilakukan secara terfragmentasi mengingat adanya hubungan sistematik antar indikator untuk memperoleh gambaran total mengenai setiap sektor dan setiap kota yang dinilai kinerjanya. termutakhir dan sepenuhnya terdokumentasi.2. UNHCS bekerja sama dengan World Bank. yaitu data sekunder dan data primer. Dalam hal ini. diperlukan : (a) Pakar dengan kualifikasi tinggi di masing-masing Negara yang menjadi narasumber untuk melakukan penilaian mengenai indikator-indikator tersebut. Untuk semua data. data lama dapat digunakan dengan dilengkapi proses ekstrapolasi. cepat. Untuk itu. kompleksitas perolehan data yang memenuhi persyaratan sangat tinggi. mengembangkan satu perangkat indikator perkotaan untuk membantu negara-negara menghadapi Konferensi Habitat II tahun 1996. Data tersebut dibagi dua. Sementara data yang menyangkut aspek yang berubah secara menggunakan data yang terbaru. prinsip utamanya adalah bahwa data tersebut adalah data terbaik yang ada. (b) Pakar tersebut harus berkomunikasi langsung dengan UNHCS dan pekerjaannya harus dikaji dan dikomentari melalui beberapa tahapan. dirangkum pada Tabel 2. perlu koordinasi in timely manner. Untuk mengantisipasi adanya inkonsistensi pendataan. Selain itu. indikator-indikator yang dimaksud. Permasalahan yang dihadapi di sini adalah bahwa data-data tersebut dimiliki oleh dinas-dinas pemerintah yang berbeda-beda khususnya per sektor.20 .

Tabel 2.2 Indikator Perkotaan Untuk Manajemen Lingkungan menurut UNHCS Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .21 .

jumlah rumah tangga. ADB menekankan bahwa permasalahan kemiskinan tidak hanya diindikasikan oleh pendaatan yang rendah semata. tingkat keluarga berencana. angka buta huruf untuk orang dewasa. migrasi dan urbanisasi : Menggambarkan karakteristik kependudukan suatu kota melalui indikator-indikator seperti jumlah penduduk (bertempat tinggal dan bekerja). tenaga kerja anak. angka kematian diakibatkan oleh penyakit menular. penganguran (c) Kesehatan dan pendidikan Menggambarkan kondisi kesehatan dan pendidikan masyarakat suatu kota dilihat dari indikator seperti jumlah orang per tempat tidur rumah sakit. Pengukuran kinerja ini dilakukan dengan mengangkat isu kemiskinan perkotan di negara-negara di Asia sebagai isu utama. 2000 angka harapan hidup.B. social protection. pengangguran dan kemiskinan : Menggambarkan kondisi perekonomian suatu kota melalui indikator-indikator seperti distribusi pendapatan. Sementara ringkasannya dipaparkan oleh Peter Hall dalam Urban Indicators for Asia’s Cities : From Theory to Practise. rata-rata tingkat pendidikan akhir dan jumlah murid per kelas. angka kematian bayi. kemiskinan. komposisi penduduk menurut umur. good governance. jumlah anggota keluarga rata-rata dan jumlah rumah tangga yang tingal di pemukiman ilegal. tingkat pnerimaan murid sekolah. yang indikatornya berlaku untuk kota-kota dalam skala internasional. jumlah siswa yang lulus perguruan tinggi. Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2000 meluncurkan sekaligus melakukan pengukuran kinerja 18 kota di Asia. dan aspek human capital development. Indikator perkotaan (urban indikators) menurut Asian Development Bank Lebih spesifik daripada UNHCS. lack of discrimination Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Hasil pengukuran dirangkum dalam Cities Data Book for Asian and Pasific Region. angka migrasi.22 . Pengukuran kinerja tersebut didasarkan pada 140 indikator kota yang dikelompokkan ke dalam 13 divisi utama. melainkan juga menyangkut dan geograic location. (b) Kesenjangan pendapatan. yaitu : (a) Populasi. tenaga kerja informal. gender equity.

investasi per kapita. pengeluaran pemerintah dan jumlah penduduk yang tidak memiliki Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . tingkat produtivitas karyawan dalam melayani publik. tingkat produksi rumah. dan seterusnya. internasional dan mobile) serta tingkat koneksi internet (jumlah dan pertumbuhan). saluran air kotor/limbah. interlokal. tipe kepemmilikan. daftar investasi utama. listrik. (h) Pelayanan Umum : Terdiri atas air. perumahan. harga jual dan sewa rumah. biaya hidup sehari dan jumlah corporate headquarters. melainkan lebih menekankan pada guna lahan dan harga lahan. perumahan dan layanan publik lainnnya). pengeluaran untuk operasional dan pemeliharaan. (g) Lahan kota : Menggambarkan sejauh mana tingkat penggunaan lahan perkotaan. (f) Perumahan : Merepresentasikan pemenuhan kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia. apakah banyak lahan tidur atau tidak serta apakah hal itu berkaitan dengan tingkat permintaan terhadap lahan atau tidak. struktur mata pencaharian. pengeluaran rumah tangga pada item utama. cost recovery. tingkat penggunaan telepon (lokal.23 . indikator-indikator yang digunakan antara lain tipe hunian. penyedia. perlakuan terhadap pemukiman liar. ukuran dan kualitas rumah tidak perlu dipentingkan. Indikator yang digunakan antara lain jumlah koneksi. tingkat kekurangan dan gangguan dalam pelayanan. tingkat investasi menurut sector (infrastruktur. Oleh karena itu. pembiayaan kepemilikan rumah. (e) Teknologi dan Connectivity : Masih berkaitan dengan perkembangan perekonomian perkotaan yang dinilai dari tingkat pengeluaran pemerintah untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. Namun dalam hal ini. tingkat pariwisata.(d) Produktivitas dan daya saing kota : Menggambarkan perkembangan perekonomian kota melalui penilaian terhadap indikator-indikator seperti PDRB per kapita. telepon dan sarana pengumpulan sampah (TPA/TPS). tingkat konsumsi serta tarif berlaku.

employment. yaitu termasuk data-data mengenai fungsi pemerintah daerah. pengelolaan sampah. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . kebebasan dari pemerintah pusat. tingkat kebisingan dan tingkat kerusakan akibat bencana alam. pengeluaran rutin pemerintah daerah. indikator mengenai kulaitas hidup sulit diperoleh dan tidak memungkinkan untuk melakukan survei terhadap persepsi secara langsung. persepsi kota sebagai tempat hidup. (k) Budaya : Hanya diukur dari jumlah pengunjung pada setiap atraksi utama yang diselenggarakan oleh kota. (m) Pemerintahan dan Manajemen Perkotaan : Kelompok yang terakhir ini relatif besar dan sangat heterogen. tingkat kepemilikan kendaraan. antara lain sumber pendapatan daerah. berbagai indeks yang secara langsung berkaitan dengan kualitas hidup (kepuasan pelanggan. (j) Transportasi Perkotaan : Kelompok indikator ini pada dasarnya mengukur lalu lintas barang dan jasa. representasi. tingkat kejahatan) serta indeks-indeks mengenai akses terhadap informs perkotaan. tingkat efisiensi penarikan pajak. indicator-indikator seperti moda yang digunakan dari rumah ke tempat kerja. anggota dewan. cost recoovery from fees dan tingkat kecelakaan lalu lintas. waktu melakukan perjalan (median). tingkat upah dan sejauh mana komputerisasi dilakukan dalam menjalankan fungsi pemerintahan. (l) Keuangan Pemerintah Daerah : Kelompok ini mengukur berbagai jenis indikator input dan output. tingkat kemacetan. aplikasi perencanaan. tingkat penggunaan energi.24 . Sayangnya. debt service charge. Termasuk di dalamnya. hubungan antara administrasi kota dengan masyarakat dan eksistensi unit distrik yang terdesentralisasi. Selain itu. dalam pengukuran di lapangan.(i) Lingkungan Perkotaan : Dinilai dengfan indikator seperti volume sampah yang dihasilkan. pengukuran ini dilakukan pula terhadap aspek kebijakan seperti tingkat pengeluaran pemerintah untuk pembangunan jalan. tingkat aktivitas pelabuhan dan udara. tingkat polusi udara. serta jumlah barang yang diangkut menurut jenis kendaraan. tingkat partisipasi. pengolahan limbah/air kotor.

serta beberapa aspek. Angka Prevelensi Penyakit Diare. dan Ketersediaan apotek. 3. Tingkat kematian bayi. dan Tingkat ketergantungan penduduk. 2. Ketersediaan fasilitas Puskesmas. Dalam hal ini. dan Tingkat kepadatan penduduk. Tingkat pertumbuhan PDRB Kota per pertumbuhan nasional. Aspek Kesehatan dan Pendidikan Indikator yang digunakan:        Tingkat kematian ibu. Ketersediaan fasilitas Rumah Sakit. Tingkat pengangguran. Formulasi Lingkup dan Kriteria Penilaian per-Kotaan Indikator penilaian kinerja pembangunan perkotaan terdiri dari 2 (dua) indeks. yaitu Indeks Pembangunan Kota dan Indeks Kualitas Hidup. ADB lebih banyak menggunakan data kuantitatif dan menekankan pada proses pengolahan data statistik yang pada umumnya dimiliki oleh instansi-instansi di negara-negara di Asia. Tingkat migrasi.Metoda pengukuran ADB secara umum jauh lebih mudah dan feasible dalam hal perolehan data daripada metoda pengukuran yang dikemukakan oleh UNDP dan UNHCS sebelumnya.25 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . Kontribusi sektor perdagangan dan jasa terhadap PDRB. Aspek Produktifitas Perkotaan Indikator yang digunakan:       Tingkat kemiskinan.yaitu: 1. Pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa. Rata-rata usia harapan hidup warga. Aspek Penduduk Indikator yang digunakan: Tingkat pertumbuhan penduduk. Bab II .

Jumla kejadian kebakaran. Luasan permukiman kumuh. 4. Aspek Ekonomi Indikator yang digunakan:            Pertumbuhan Ekonomi (Kenaikan PDRB) Kontribusi Sektor Perdagangan dan Jasa terhadap PDRB Pertumbuhan Sektor Perdagangan dan Jasa 5 tahun terakhir Analisis ICOR Laju Produktifitas Perkapita / Pertumbuhan Pendapatan Perkapita Rata-rata pendapatan penduduk perkapita Disparitas Pendapatan Antarsektor Kemandirian Kota (Keuangan Daerah/Pendapatan Daerah) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Elastisitas kesempatan Kerja Tingkat Kemiskinan 6.    Angka melek huruf. 5. Ketersediaan fasilitas pendidikan (SMP).26 . Aspek Permukiman dan Lingkungan Indikator yang digunakan:        Rasio penduduk kumuh per penduduk total. Aspek Budaya Indikator yang digunakan:  Potensi Fisik (Kuantitas dan kualitas potensi fisik bangunan cagar budaya. Ketersediaan fasilitas pendidikan (SD). dan Ketersediaan fasilitas pendidikan (SMU). situs. Pengaduan polusi/pencemaran. Rasio Ruang Terbuka Hijau. dan Tindak kejahatan per 1000 penduduk. benda arkeologis dan kawasan bersejarah) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Persentase permukiman kumuh.

Kualitas Air c.  Potensi Non Fisik (Potensi asset budaya non-fisik berupa peninggalan atau warisan budaya meliputi seni budaya. Aspek Sosial Kependudukan. Indikator yang digunakan:          Kepadatan Penduduk Kota Kepadatan Penduduk Kelurahan Angka Migrasi Frekuensi penyakit infeksi per 1000 penduduk Tingkat kematian bayi Rata-rata usia harapan hidup warga Ketersediaan fasilitas kesehatan (berkait luasan daerah pelayanan) Ketersediaan jumlah tenaga medis Ketersediaan Apotek 8. Sumber Air b.27 . kebiasaan) Potensi Kelembagaan (Kelompok atau institusi sosial di tingkat masyarakat yang melakukan pengelolaan asset budaya secara aktif) 7. adat. Pelayanan  Cakupan Pelayanan  Cakupan Pelanggan  Konsumsi air bersih per pelanggan rumah tangga (domestik) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Kebocoran Air d. Aspek Spasial Indikator yang digunakan:    Konversi Lahan Ketersediaan Ruang Publik Keberadaan lingkungan kumuh 9. meliputi : a. ritual. Aspek Prasarana 1) Sektor Air Bersih Aset.

meliputi : Cakupan Pelayanan Retribusi Sampah Kerjasama dengan Masyarakat 10. Terminal Angkutan Darat e. Kondisi Jalan d. meliputi : a. Konsumsi air bersih konsumsi lain (non-domestik)  Tingkat penggunaan air  Tarif Air 2). Aspek Pengelolaan Prasarana air bersih Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . meliputi : a. Kondisi pengolahan setempat (on-site system) b. Pengumpulan b. Kapasitas Pembuangan d. Sektor Transportasi Aset. Sektor Sanitasi Aset.28 . Panjang Jalan Sesuai Fungsi b. meliputi : a. Ketergantungan Dengan Pemerintah Pusat c. Sektor Persampahan Aset. Kepemilikan Lahan TPA f. Panjang Jalan Sesuai Kewenangan c. Metoda Pembuangan e. Pelayanan. Akses Informasi Publik e. Kepuasan Masyarakat d. Kondisi Pengolahan terpusat (off-site system) 4). Pewujudan Rencana Tindakan b. Pengangkutan c. Terminal Udara 3). Aspek Pengelolaan Pemerintah a.

Aspek Pengelolaan Prasarana Persampahan g. A. Air Kotor. 3050 lt/org/hari. Di negara kita. untuk permukiman dikawasan perkotaan. Kualitas Pelayanan: Memenuhi standar air bersih kualitas pelayanan dari sumber yang lain adalah:  Kadar garam dalam air bersih: 1000-3000 ppm slightly saline Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Di bawah ini akan dikaji Standar Pelayanan Minimal untuk sektor Air Bersih. Aspek Pengelolaan Prasarana Jalan dan Transportasi C. Aspek Pengelolaan Prasarana Air Limbah h. tingkat debit pelayanan/orang dan tingkat kualitas air minum 2. yaitu. Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum yang merupakan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 534/KPTS/M/2001. Aspek Pengelolaan Prasarana Drainase i. Cakupan Pelayanan: 55-75% penduduk terlayani 3.29 Menteri Permukiman dan Prasarana Beberapa ukuran penilaian . kajian tentang standar pelayanan minimal yang harus diberikan untuk masing-masing sektor prasrana dan sarana perkotaan telah ditetapkan standarnya. Tingkat Pelayanan: 60-220 lt/org/hari. Drainase. khususnya di lingkungan kimpraswil. Kajian tentang Standar Pelayanan Minimal Prasarana dan Sarana Perkotaan ini didasarkan pada Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal bidang Penataan Ruang. Indikator Pelayanan: penduduk terlayani. Standar Pelayanan Minimal (Keputusan Wilayah Nomor 534/KPTS/M/2001 Didalam upaya untuk menilai kualitas pelayanan suatu prasarana dan sarana perkotaan ada baiknya kita mengulas terlebih dahulu tentang pelayanan yang minimal harus diberikan oleh prasarana dan sarana perkotaan tersebut. Persampahan dan Jalan dan Angkutan Kota.f. Sektor Air Bersih Standar Pelayanan Minimal Air Bersih yang diatur dalam Kepmen Kompraswil No 534/KPTS/M/2001 mencakup berbagai hal sebagai berikut : 1. untuk lingkungan perumahan pedesaan 4.

Drainase Standar Pelayanan Minimal Drainase yang diatur dalam Kepmen Kompraswil No 534/KPTS/M/2001 mencakup berbagai hal sebagai berikut : 1. Kualitas Pelayanan: Tidak terjadi lagi genangan banjir. lama genangan < 2 jam. Pedoman Standar Pelayanan Minimal untuk drainase juga informasi tentang Indikasi Penanganan dan kriteria desain yakni :   Genangan < 10 Ha.3000-10000 ppm moderately saline 10000-35000 ppm very saline lebih dari 35000 ppm brine  Ph Air Bersih normal: 6 – 8  Kekerasan air karena mengandung calcium dan magnesium: 0 – 60 ppm soft 61 – 120 ppm moderately hard 121 – 180 ppm hard lebih dari 180 ppm very hard  Faktor biologis yang terkait dengan kualitas air : BOD (Biochemical Oxygen Demand)  Kualitas umum air : tidak berbau.  Kemenerusan pelayanan (jam pelayanan): jam/hari B. berwarna dan tidak mengandung sesuatu yang menyebabkan menurunnya kualitas air. Cakupan Pelayanan : Tidak ada genangan banjir di daerah kota / perkotaan > 10 Ha 3. tinggi genangan rata-rata < 30 cm. bila terjadi genangan. frekuensi kejadian banjir > 2 kali setahun 4.30 . Tingkat Pelayanan: Di lokasi genangan dengan tinggi genangan rata-rata > 30 cm. Indikator Pelayanan : Luas genangan banjir tertangani di daerah perkotaan dan kualitas penangangan 2. penanganan drainase makro Kriteria Disain/Perencanaan meliputi: menyediakan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . lama genangan > 2 jam. berasa. frekuensi kejadian banjir < 2 kali setahun. penanganan drainase mikro Genangan > 10 Ha.

.  Debit saluran pengglontor yang direncanakan harus mampu mendorong limbah air kotor yang ada di jaringan bersangkutan. pengolahan lumpur tinja selanjutnya di IPLT  Sistem Off-site: . PUH 2-5 tahun Beberapa hal lain yang dapat dipakai untuk mengindikasikan tingkat pelayanan drainase adalah: Penanganan kualitas limbah. tanpa ada kebocoran dan baru Tidak ada rembesan langsung/ pencemaran air tinja dari septik tank ke air tanah Efisien removal BOD dan SS > = 85% Tidak ada komplain terhadap permintaan penyedotan dan pengangkutan lumpur tinja.Tidak ada separasi antara grey water terhadap black water. IPLT Sistem off-site: Modular/full Sewerage System terdiri dari jaringan sewer dan IPAL 4. Kualitas Pelayanan:  Sistem On-site: Separasi antara grey water (mandi.31 dapat Toilet RT/ Jambang/MCK. tetapi disain sewerage dapat bersatu dengan storm sewer Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Air Kotor/ Limbah Standar Pelayanan Minimal Air Kotor/ Limbah yang diatur dalam Kepmen Kompraswil No 534/KPTS/M/2001 mencakup berbagai hal sebagai berikut: 1. Cakupan Pelayanan: 80% dari jumlah penduduk kota/perkotaan 3. Dalam hal ini pengenceran air limbah kotor diperlukan untuk dibuang secara langsung ataupun dengan diolah terlebih dahulu. perdagangan. C. permukiman untuk penanganan > 10 Ha. cucian) terhadap black water (kakus) Penyaluran black water yang baik ke septik tank. apabila saluran drainase terpadu dengan saluran limbah rumah tangga. industri. Tingkat Pelayanan:   Sarana sanitasi individual dan komunal (sistem onsite): Septik Tank. untuk penanganan genangan < 10 Ha. PUH 10-25 tahun Saluran Tersier.    Saluran Primer/ Makro drainase untuk kawasan strategis. Truk tinja. PUH 10-25 tahun Saluran sekunder untuk penanganan genangan > 10 Ha. Indikator Pelayanan: Tingkat penyediaan sarana sanitasi terhadap jumlah penduduk kota/ perkotaan dan kualitas penanganan 2.

000 KK Modul IPLT disiapkan untuk 100. dan potensi cost-recovery yang mendukung untuk full sewerage system. dengan taraf muka air tanah < 2m.  Kriteria Desain/ Perencanaan Debit air buangan= 70 .. oxydation dite / ponds.000 jiwa Sistem off-site sesuai dengan rekomendasi FS dan hasil DED.80% konsumsi air bersih Pengendapan lumpur tinja 0. SS IPAL > 90% dan E-Coli > = 99% Pedoman Standar Pelayanan Minimal untuk Air Kotor/limbah juga menyediakan informasi tentang Indikasi Penanganan dan kriteria desain yakni:  Indikasi Penanganan System on-site lebih diarahkan untuk kota sedang kecil dengan kepadatan rata-rata = 200 jiwa/ha. sludge thickener.32 . Indikator debit yang dihasilkan berpengaruh langsung terhadap usaha pengadaan saluran pengglontor. keb lahan = 2ha / 100.Efisiensi removal BOD.  Indikator limbah rumah tangga meliputi biological oxygen demand (BOD). jaringan dan dimensi sewer.3 lr/or/hari Sarana sanitasi individual untuk satu KK Sarana sanitasi komunal untuk lebih dari satu KK MCK ditempat umum u/100-250 ribu orang Truk tinja @3 m3 u/10. perhitungan debit air.2-0. digester dan sludge drying bed. dan sistem IPAL.000 jiwa: kolam lumpur. Indikator kualitas limbah berkaitan dengan tingkat pengenceran limbah air kotor yang diperlukan untuk dapat dibuang langsung atau harus diolah terlebih dahulu. Sedang indikator limbah industri Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . carbon oxygen demand (COB) dan bahan ikutan yang berupa padatan. dengan taraf muka air tanah > 2 m dan potensi cost recovery yang belum mendukung untuk full sewerage system Sistem off-site lebih diarahkan untuk kota metro besar dengan kepadatan rata-rata > = 200 jiwa/ha.Tidak ada blokade dan/ atau kebocoran sewerage . Beberapa hal lain yang dapat dipakai untuk mengindikasikan tingkat pelayanan drainase adalah:  Debit yang dihasilkan serta kualitas limbahnya.

logam berat dan bahan ikutan yang berupa padatan. carbon oxygen demand (COB). Indikator Pelayanan: Tingkat penangganan bangkitan sampah terhadap jumlah penduduk kota/perkotaan dan kualitas penanganan Cakupan Pelayanan: 80% dari jumlah penduduk kota/perkotaan dilayani oleh Sistem DK/PDK dan sisanya 20% dapat ditangani secara saniter (on-site system) Tingkat Pelayanan: Prioritas penanganan system persampahan:  100% untuk kawasan pusat kota / CBD dan pasar  100% untuk kawasan permukiman dengan kepadatan > 100 jiwa/ha  Rata-rata 80% untuk kawasan permukiman perkotaan  100% untuk penanganan limbah industri  100% untuk penanganan limbah B3/ medical waste 4. Kualitas Pelayanan: Penanganan sampah on-site dilakukan secara saniter: individual cora-posting. Persampahan Standar Pelayanan Minimal Persampahan yang diatur dalam Kepmen Kompraswil No 534/KPTS/M/2001 mencakup berbagai hal sebagai berikut: 1. 3. Tempat/kapasitas pewadahan tersedia Pengumpulan dan pengangkutan sampah dilakukan secara reguler Tidak ada penanganan akhir sampah secara open dumping Tidak ada pembuangan sampah secara liar Tingkat composting dan daur ulang sampah minimal 10% Penanganan akhir sampah setidaknya dengan controlled landfill Konsep 3R sudah diterapkan di industri Medical waste ditangani secara swakelola oleh RS Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .33 . separasi sampah untuk diambil pemulung Penanganan sampah oleh sistem DK/PDK dilakukan secara terintegrasi (PewadahanPengumpulan-Pengangkutan/Transfer-Penanganan Akhir).meliputi biological oxygen demand (BOD). D. 2.

 Kriteria Desain/ Perencanaan: Bangkitan sampah 2.5-0.Pedoman Standar Pelayanan Minimal untuk Air Kotor/ Limbah juga menyediakan informasi tentang indikasi penanganan dan criteria desain yakni:  Indikasi Penanganan: Pembakaran sampah on-site harus dihindari. E.5-3 lt atau 0.000 penduduk. membutuhkan peralatan berat: 1 buldozer. lapak dan industri daur ulang Opsi penanganan medical waste incinerator Beberapa hal lain yang dapat dipakai untuk mengindikasikan tingkat pelayanan persampahan adalah: pengangkutan dan penanganan limbah akhir limbah B3 (berbau. beracun dan berbahaya) dilakukan secara terpisah pembuangan sampah dari rumah tangga atau tempat lain sudah dipisahkan minimal dalam dua kategori: bisa diolah lagi dan tidak bisa diolah lagi. 1 wheel loader.34 . dan 1 excavator Composting: individual. Gerobak 1 m3/200 KK Kontainer 1 m3/200 KK Transfer Depo 25-200 m2 untuk 400-4000 KK Truk sampah 6 m3/700 KK 8 m3/1000 KK Arm Roll Truck + kontainer 8 m3/1000 KK Compactor truck 8 m3/ 1200 KK Steet Sweeper Ritasi pengankutan 2-5 rit/hari 1 TPA/ 100. Jaringan Jalan dan Angkutan Kota Standar Pelayanan Minimal Jalan dan Angkutan Kota yang diatur dalam Kepmen Kompraswil No 534/KPTS/M/2001 mencakup berbagai hal sebagai berikut: Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . pemulung. vermi kompos. Bin sampah 50 lt/ 200 m sidewalk jalan protokol atau 50 lt/ 100 m ditempat keramaian umum.6 kg/org/hari. UDPK Daur ulang diarahkan untuk perkuatan jaringan konsumen.

6 km/1. Indikator Pelayanan: Rasio panjang jalan dengan luas wilayah 2. 4. Cakupan Pelayanan:  Jumlah kursi pada seluruh angkutan umum/penduduk kota X 1000  Panjang jalan yang dilayani oleh angkutan kota/panjang jalan kota 3. Kualitas Pelayanan: Akses ke semua bagian kota dengan mudah  Jalan Lingkungan 1. Kecepatan rata-rata (waktu tempuh).35 . 3. Cakupan Pelayanan: Panjang jalan 0.8-2 m Dalam perkembangan pembangunan kota menuju kota yang merupakan suatu kebutuhan penting. Jalan Kota: 1. Oleh karena itu indikator untuk jalan kota dapat ditambahkan sebagai berikut:  Total panjang jalan untuk sepeda / luas kota (km/km2)  Pedoman Standar Pelayanan Minimal di atas tidaklah mencakup Pelayanan untuk Angkutan Kota. Indikator Pelayanan: Panjang jalan/ jumlah penduduk.000 penduduk. Indikator Pelayanan:  Jumlah kursi pada seluruh angkutan umum per 1000 penduduk  Rasio volume lalu lintas dengan kapasitas yang ada (kongesti)  Rasio panjang jalan yang dilayani oleh angkutan kota dengan panjang jalan kota 2. Di bawah ini disajikan Standard Pelayanan Minimal untuk Angkutan Kota yang disarikan dari berbagai sumber. sehat.80 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II . Tingkat Pelayanan: Kecepatan rata-rata 15 s. 2. 1. Cakupan Pelayanan: Panjang 50-11 m/Ha dengan lebar 0. Ratio luas jalan 5% dari luas wilayah 5.d 20 km/jam 6. Tingkat Pelayanan: Rasio volume lalu lintas dengan kapasitas jalan tidak melebihi dari 0. Indikator Pelayanan: Rasio panjang jalan dengan luas wilayah 2. Cakupan Pelayanan: Panjang 40-60 m/Ha dengan lebar 2-5 m  Jalan Setapak 1. jalan untuk sepeda mengingat bercampurnya sepeda dan kendaran bermotor lainnya dapat membahayakan keselamatan pengguna sepeda. Luas jalan/luas kota.

dll. yaitu bahwa kawasan perkotaan harus memperhatian aspek-aspek adalah sebagai berikut: 1. Luas wilayah Jumlah penduduk Sumber mata pencaharian penduduk Subsektor sumber mata pencaharian penduduk SMP SMA 9. Puskesmas 11. 7. 5. Pesawat Telepon/Kantor Pos/Kantor Pos Pembantu 10. Kantor Pos 12. Kriteria lain diberikan oleh National Urban Development Study (NUDS II). 6. 3. Kelompok Pertokoan (Pusat Perdagangan) 12. Pasar dengan bangunan 11. Pasar permanen Bab II . Pabrik 14. 4. 2.36 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . 5. Restoran/Rumah Makan 15. Memiliki fasilitas umum paling tidak 8 dari 16 fasilitas berikut: 1. 2. Listrik Umum (PLN/Non PLN) 16. Poliklinik 10. Bangunan 13. Pertanian (ekonomi 14. 4. Kepadatan penduduk > 5000/jiwa/km2 c. Unit penyewaan alat-alat untuk keperluan pesta. Jumlah rumah tangga 15.4. 8. Bank 13. Kegiatan utama bukan pertanian : rumah tangga pertanian kurang dari 25% b. Kualitas Pelayanan: Akses ke semua bagian kota dengan menggunakan angkutan umum relatif mudah Badan Pusat Statistik memberikan kriteria penilaian suatu kawasan menjadi kota sebagai berikut: a. SD dan sederajad SLTP dan sederajad SLTA dan sederajad Gedung Bioskop Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Puskesmas/Klinik/Balai Pengobatan Jalan yang dapat dilalui kendaraan bermotor roda tiga dan empat 9. 6. 3.

000 hingga 100. Pertokoan No. yaitu kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar 100. kawasan perkotaan Berdasarkan 1. diklasifikasikan sebagai berikut: Kawasan Perkotaan Kecil.000. Kawasan Perkotaan Metropolitan. Kawasan Perkotaan Sedang.37 . yaitu kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih besar dari 1.7. Pasar non permanen 17. 4. 2. 3.001 hingga 500. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab II .000 jiwa.000 jiwa. Akademi/Universitas Rumah Sakit Kepmen Kimpraswil 16. yaitu kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih besar dari 500.000 jiwa. 327/KPTS/2002. 8. yaitu kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar 10.000 jiwa. Kawasan Perkotaan Besar.

(Sugiono. sehingga lebih bersifat leluasa dan fleksibel. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III . Sebagai evaluasi dalam hal ini merupakan bagian dari proses pembuatan keputusan. 2005). tetapi dalam hal lain juga dapat dinyatakan sebagai penelitian.1 . karena terfokus kepada obyek yang mempunyai kompleksitas yang tinggi. dinamis dan intensif. Evaluasi sebagai penelitian berarti akan berfungsi untuk menjelaskan fenomena.1 Metode Penelitian Untuk mengevaluasi kelayakan Kawasan Jatinganor sebagai kawasan perkotaan maka digunakan metode penelitian evaluasi dengan pendekatan kualitatif. Menurut Kidder (dalam Riduwan. Sedangkan menurut Cronbach yang dikutip Rahayaan (2005) : Pendekatan metode penelitian kualitatif dapat menggambarkan secara menyeluruh mengenai hasil evaluasi. (sebagai lawannya adalah eksperimen) peneliti merupakan instrumen kunci dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Dengan digunakan metode kualitatif.BAB METODE PENELITIAN III 3. serta pemahaman terhadap program dengan situasi lingkungannya. maka data yang didapat akan lebih lengkap. Selain itu pendekatan kualitatif yang berdasar naturalistik memungkinkan peneliti berinteraksi dalam suasana yang lebih humanis. dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. produk dengan standar dan program yang telah ditetapkan. yaitu membandingkan suatu kejadian. kegiatan. lebih mendalam. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. 2005): Penelitian evaluasi dapat dinyatakan juga sebagai evaluasi.

Pembuatan program kerja yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan survey. lembar wawancara.2 . dll) yang memuat kebutuhan data yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan. Lingkup wilayah dapat dikembangkan pada Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Jatinangor yang dimungkinkan sebagai pengembangan kawasan perkotaan ke depan (Kecamatan Tanjungsari. peralatan. penyusunan instrumen pendataan (kuesioner.3. Lingkup Pelaksanaan Studi Tahapan kegiatan dalam penyusunan studi kelayakan kawasan Jatinangor sebagai kawasan perkotaan adalah : 1. Pengumpulan Data dan Analisis Data Data yang dikumpulkan dan analisa data baik primer maupun skunder yang sahih yang dan dapat dipercaya untuk digunakan dalam tahap analisa data. Penyiapan personil (surveyor) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III . a. Tahap pengumpulan dan kompilasi data Pada prinsipnya kegiatan pada Pengumpulan dan kompilasi data adalah sebagai berikut:  Persiapan Survey Pembuatan cheklist pengumpulan data dan instrumen pengumpul data (kuesioner. bahan. Kecamatan Sukasari dan Kecamatan Pamulihan).2 Ruang Lingkup Studi : A. B. Tahap Persiapan Pada tahap pendahuluan dilakukan persiapan pelaksanaan yang menyangkut program kegiatan. Lingkup Wilayah Studi Lingkup wilayah studi adalah Kecamatan Jatinangor sebagai fokus utama adalah Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Cimanggung sebagai wilayah yang sebagian besar desanya berbatasan langsung dengan Kecamatan Jatinangor. dan tenaga) b.

dan lain sebagainya. 5. tabel. Survey instansional. Data-data yang dibutuhkan dalam kegiatan penyusunan studi kelayakan ini secara garis besar meliputi : 1. merupan pengumpulan data langsung di lapangan (kawasan studi) dalam rangka menemukenali dan mengidentifikasi karakteristik kawasan studi. merupakan pengumpulan data skunder yang biasanya data-data sudah diolah dalam bentuk deskripsi. Analisis kelayakan tata ruang/pengembangan wilayah d. Data kondisi ekonomi. kesimpulan dan rekomendasi Sebagai hasil akhir dari studi ini adalah tersusunnya skenario (alternatif konsep) kawasan perkotaan jatingaor yangtermuat dalam suatu laporan yang sekurang-kurangnya memuat :  Konsep kawasan perkotaan Jatinangor Bab III .3 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . Survey lapangan. 3. Analisis kelayakan lingkungan 5. Analisis kelayakan ekonomi 3. Analisis kelayakan kelembagaan 4. c. c. Data kondisi fisik dasar. Data kondisi lingkungan. Tahap analisa dan justifikasi potensi dan permasalahan Dalam penyusunan studi kelayakan kawasan perkotaan ini. yakni: a. wawancara langsung dengan masyarakat atau tokoh masyarakat. Analisis kelayakan sosial budaya 2. penyebaran kuesioner. 6. Data kondisi kelembagaan. analisa yang dilakukan meliputi : 1. Data kondisi tata ruang. Data kondisi sosial-budaya. b. Tahap penyusunan skenario (alternatif konsep). 2. 4. peta dan diagram. Pelaksanaan Survey Dalam pelaksanaannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kegiatan utama. Kegiatan ini dapat berupa observasi lapangan.

 Kesimpulan dan rekomendasi terhadap kelayakan kawasan perkotaan Jatinangor yang meliputi : a.4 . Kelayakan tata ruang/pengembangan wilayah 2. Kelayakan ekonomi c. Kelayakan kelembagaan e. kemudian mencari alternatif solusinya secara terinci. lama-lama menjadi besar. Metode Sintesa Metode sintesa adalah mengaitkan (mensntesakan) problem dan solusi hasil analisa yang ada untuk mendapatkan alternatif rancangan yang optimal. 2005). Kelayakan sosial budaya b. Sedangkan Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit. 3. 3. Menurut Sugiono (2005) purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Purposive sampling ialah teknik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk tujuan tertentu (Riduwan. Metode Analisa Metode analisa merupakan penguraian secara rinci atas berbagai masalah dari seluruh aspek yang dikaji. 3.3 Sumber Data Dalam penelitian kualitatif ini. terpadu dan komprehensif.4 Operasionalisasi Indikator perkotaan (urban indicators) yang digunakan (versi Asian Development Bank dan Standar Pelayanan Perkotaan PU dan Kimpraswil) Indikator perkotaan untuk mengukur sejauhmana kondisi Kawasan Perkotaan Jatinangor memenuhi kriteria sebagai kawasan perkotaan. Kelayakan lingkungan d. sumber data dipilih secara purposive sampling dan bersifat snowball sampling. Indikator yang digunakan indicator yang dikembangkan Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2000 dan pada beberapa aspek terutama sarana dan prasarana perkotaan digabungakan dengan didasarkan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III .

dan Ketersediaan apotek. Aspek Penduduk Indikator yang digunakan:    Tingkat pertumbuhan penduduk. Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum yang merupakan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 534/KPTS/M/2001. yaitu Indeks Pembangunan Kota dan Indeks Kualitas 2. Rata-rata usia harapan hidup warga.yaitu: 1. Tingkat migrasi.5 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . Ketersediaan fasilitas Puskesmas. Angka melek huruf.pada Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal bidang Penataan Ruang. dan Tingkat kepadatan penduduk. Pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa. Hidup. Angka Prevelensi Penyakit Diare. Aspek Produktifitas Perkotaan Indikator yang digunakan:       Tingkat kemiskinan. Ketersediaan fasilitas pendidikan (SMP). 3. Ketersediaan fasilitas pendidikan (SD). Tingkat pertumbuhan PDRB Kota per pertumbuhan nasional. Kontribusi sektor perdagangan dan jasa terhadap PDRB. dan Tingkat ketergantungan penduduk. Aspek Kesehatan dan Pendidikan Indikator yang digunakan:           Tingkat kematian ibu. Indikator penilaian pembangunan perkotaan terdiri dari 2 (dua) indeks. Tingkat pengangguran. dan Bab III . serta beberapa aspek. Ketersediaan fasilitas Rumah Sakit. Tingkat kematian bayi.

 Rasio Ruang Terbuka Hijau.  Luasan permukiman kumuh. dan  Tindak kejahatan per 1000 penduduk. Aspek Budaya Indikator yang digunakan:  Potensi Fisik (Kuantitas dan kualitas potensi fisik bangunan cagar budaya.6 . 5. Aspek Permukiman dan Lingkungan Indikator yang digunakan:  Rasio penduduk kumuh per penduduk total. 4. adat.  Jumla kejadian kebakaran. ritual.  Pengaduan polusi/pencemaran. kebiasaan) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III . benda arkeologis dan kawasan bersejarah)  Potensi Non Fisik (Potensi asset budaya non-fisik berupa peninggalan atau warisan budaya meliputi seni budaya. situs. Aspek Ekonomi Indikator yang digunakan:  Pertumbuhan Ekonomi (Kenaikan PDRB)  Kontribusi Sektor Perdagangan dan Jasa terhadap PDRB  Pertumbuhan Sektor Perdagangan dan Jasa 5 tahun terakhir  Analisis ICOR  Laju Produktifitas Perkapita / Pertumbuhan Pendapatan Perkapita  Rata-rata pendapatan penduduk perkapita  Disparitas Pendapatan Antarsektor  Kemandirian Kota (Keuangan Daerah/Pendapatan Daerah)  Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja  Elastisitas kesempatan Kerja  Tingkat Kemiskinan 6.  Persentase permukiman kumuh. Ketersediaan fasilitas pendidikan (SMU).

Pelayanan  Cakupan Pelayanan  Cakupan Pelanggan  Konsumsi air bersih per pelanggan rumah tangga (domestik)  Konsumsi air bersih konsumsi lain (non-domestik)  Tingkat penggunaan air Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III . Aspek Sosial Kependudukan. Kualitas Air c. Potensi Kelembagaan (Kelompok atau institusi sosial di tingkat masyarakat yang melakukan pengelolaan asset budaya secara aktif) 7. Sumber Air b. Aspek Spasial Indikator yang digunakan:    Konversi Lahan Ketersediaan Ruang Publik Keberadaan lingkungan kumuh 9. Aspek Prasarana 1) Sektor Air Bersih Aset. meliputi : a. Kebocoran Air d. Indikator yang digunakan:          Kepadatan Penduduk Kota Kepadatan Penduduk Kelurahan Angka Migrasi Frekuensi penyakit infeksi per 1000 penduduk Tingkat kematian bayi Rata-rata usia harapan hidup warga Ketersediaan fasilitas kesehatan (berkait luasan daerah pelayanan) Ketersediaan jumlah tenaga medis Ketersediaan Apotek 8.7 .

Sektor Transportasi Aset. sedang maupun kurang. Pelayanan. Terminal Angkutan Darat e. Hal tersebut berdasarkan pada jumlah skor tertentu yang representatif. Terminal Udara 3). meliputi : a. Tarif Air 2. Sektor Sanitasi Aset. yaitu kategori penilaian menjadi dasar pilihan tindakan untuk untuk mengukur tingkat tingkat kelayakan kawasan perkotaan. Kondisi Pengolahan terpusat (off-site system) 4). Secara rinci gambaran indicator Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III .8 . Metoda Pembuangan e. Kondisi pengolahan setempat (on-site system) b. Kepemilikan Lahan TPA f. Sektor Persampahan Aset. Panjang Jalan Sesuai Kewenangan c. Kondisi Jalan d. Panjang Jalan Sesuai Fungsi b. Kategori penilaian berdasarkan skala tertentu dan ditetapkan menurut kategori baik. meliputi : Cakupan Pelayanan Retribusi Sampah Kerjasama dengan Masyarakat Asumsi yang digunakan di dalam pembobotan adalah setiap variabel atau kriteria mempunyai bobot yang berbeda sesuai peran dan urgensinya dalam pengelolaan kawasan perkotaan. Kapasitas Pembuangan d. Pengumpulan b. Pengangkutan c. meliputi : a. meliputi : a.

9 .dan bobot penilaian dapat dilihat pada tabel berikut (untuk Kawasan Perkotaan Jatinangor sesuai dengan lingkup wilayah digunakan indikator Kota Sedang): Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III .

43 1.30 % Ada sedang sedang Nilai 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Buruk Parameter >2% <1% < 50 jiwa/ha > 30 % > 10 % Rendah <2% < 20 % Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi < 45 Tahun kurang kurang kurang < 80 % kurang kurang kurang >2% >2% >2% < 30 % Ada Tinggi Tinggi Nilai 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 3 Kesehatan dan Pendidikan 10 4 Permukiman dan Lingkungan 10 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .30 % 5 .10 % Sedang 2-4% 20 .43 1.40 % Sedang Sedang Sedang Sedang 45 .43 1.43 1.10 2 Produktivitas Perkotaan Sedang Parameter 1-2% 1 .43 Baik Parameter <1% > 1.1 Indikator Pengukuran Kelayakan Kawasan Perkotaan Sedang No 1 Aspek Penduduk Indikator Tingkat Pertumbuhan penduduk Tingkat Migrasi Tingkat Kepadatan penduduk (jiwa/ha) Tingkat Kemiskinan (%) Tingkat Pengangguran (%) Tingkat Pertumbuhan PDRB Kota per pertumbuhan nasional Pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa Kontribusi sektor perdagangan dan jasa terhadap PDRB Tingkat ketergantungan penduduk Tingkat kematian ibu Tingkat kematian bayi Angka Prevalensi Penyakit Diare Rata-rata usia harapan hidup warga (thn) Ketersediaan fasilitas puskesmas (unit/jiwa) ketersediaan fasilitas rumah sakit (unit/jiwa Ketersediaan apotik (unit/jiwa) Angka melek huruf Ketersediaan fasilitas pendidikan (SD) (unit/jiwa Ketersediaan fasilitas pendidikan (SMP) (unit/jiwa) ketersediaan fasilitas pendidikan (SMU) (unit/jiwa) Rasio penduduk kumuh per penduduk total Persentase Permukiman Kumuh (unit) Luasan Permukiman Kumuh Rasio ruang terbuka hijau Pengaduan polusi/pencemaran Jumlah kejadian kebakaran Tindak kejahatan per 1000 penduduk Bobot 10 @ 3 2 5 2 1 2 2 2 1 1 1 1 0.5 1 1 1 0.5 1 1 1 1.Tabel 3.55 thn cukup cukup cukup 80 .90 % cukup cukup cukup 1-2% 1-2% 1-2% 40 .43 1.1.5 % > 75 jiwa/ha < 20 % <5% Tinggi >4% > 40 % Rendah Rendah Rendah Rendah > 55 Tahun memadai memadai memadai > 90 % memadai memadai memadai < 1% <1% <1% > 40 % Tidak Rendah Rendah Nilai 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Bab III .5 % 50-75 jiwa/ha 20 .43 1.

Jumlah penduduk terlayani fasilitas komunal (MCK umum) (%) Cakupan pengangkutan sampah (m3/hr) Cakupan penduduk terlayani Cakupan layanan (ha) Sarana pengangkutan sampah .10 5 .No 5 5.60 % 75 .25 % 40 .Truk sampah (unit) .75% 40 .Status tanah TPA .5 .50 % 15.1 Aspek Pelayanan Kota Air Indikator Kapasitas produksi (l/det) Jenis sumber air Rasio sambungan rumah Rasio kebutuhan Tingkat kebocoran rata-rata per tahun Tingkat pelayanan Konsumsi air per pelanggan (domestic) Konsumsi air bersih konsumsi lain (non domestik) Tinggkat penggunaan air Sistem distribusi Kondisi pengolahan setempat(on site system) 1.5 km Metode open Dumping 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5. Jumlah rumah yang menggunakan septic tank (%) 2.25 % 40 .Compactor truck (unit) .Arm-roll sampah (unit) .10 5 .80 % 20 .20 5 .60 % 25 .Jarak ke pembuangan terdekat Metoda pembuangan Bobot @ 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Baik Parameter > 150 air tanah > 50 % > 60 % < 20 % > 60 % > 80 % < 20 % > 80 % Gabungan dengan reservoir Nilai 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sedang Parameter 130 .150 air permukaan 30 -50 % 40 .80 % Perpompaan Nilai 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Buruk Parameter < 130 air hujan < 30 % < 40 % > 25 % < 40 % < 75 % > 25 % < 40 % Gravitasi Nilai 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 5.60 % 30 .10 0.Pick up sampah (unit) .3 Sampah 10 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III .50 % 50 .11 .2 Sanitasi 10 5 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 > 60 % < 30 % > 75 % > 60 % > 50 % > 20 > 10 > 10 > 10 Milik Pemkot > 1 km Metode sanitary land fill 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 40 .60 % 20 .1 km Metode controlled land fill 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 <40 % > 50 % < 50 % < 40 % < 25 % < 15 <5 <5 <5 sewa < 0.

5 2.2/1000 km/jiwa < 10 % > 25 % < 30 km/jam < 75 % < 25 % < 25 % Nilai 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 8 Pemerintahan Kota 5 1.67 10 6 7 Listrik dan Telpon Transportasi Perkotaan 5 Baik Parameter Dataran > 30 % < 0.43 1.67 Ada 3 2 Tidak 1 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III .4 Aspek Drainase Indikator Topografi kota Rasio panjang saluran primer Tinggi genangan Lama genangan Frekuensi genangan Kerugian material genangan Luas genangan dari area urban Cakupan pelayanan Cakupan pelanggan listrik Cakupan pelanggan telpon Rasio panjang jalan per 100 penduduk V/C Ratio rata-rata Panjang jalan sesuai kewenangan Kerusakan jalan Kecepatan tempuh rata-rata Panjang jalan mantap Integrasi antar kota Kontribusi pendapatan dari pajak kemandirian kota (keuangan daerah/pendapatan daerah) ketersediaan dokumen perencanaan pembangunan Bobot @ 1 1 1 1 1 1 2 2 2.85 % 25-50 % 25 .0.12 .43 1.5 m < 2 jam > 2x/tahun ada > 20 % < 40 % < 50 % < 20 % < 0.25 % 30 .43 1.43 1.2 .5 m 1-2 jam 1-2/tahun 5-15 % >60-80% 50 .67 1.75 % Nilai 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Buruk Parameter Perbukitan < 20 % > 0.25 m < 1 jam Tidak ada Tidak ada <5% > 80 % > 75 % > 40 % > 0.No 5.5 1.43 1.60 km/jam 75 .43 1.4/1000 km/jiwa 10 -20 % 10 .0.75 % 20 -40 % 0.43 1.4/1000 km/jiwa > 20 % < 10 % > 60 km/jam > 85 % > 50 % > 75 % Nilai 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sedang Parameter 20 -30 % 0.25 .

fasilitas perkotaan.3. brosur. surat kabar dan bahan kepustakaan lainnya. Kuesioner ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang obyektif dan merupakan salah satu pengumpulan data yang diketahui dan dipahami oleh responden sehingga hasilnya obyektif Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III . laporan. peristiwa dan aspek-aspek yang diteliti di lokasi penelitian. Monografi Kecamatan. Untuk memvalidasi data tersebut dilakukan teknik observasi dan wawancara dengan pejabat struktural instansi terkait yang memahami yang dilaksanakan secara gabungan (triangulasi). aparatur daerah.13 . kelurahan serta desa. Adapun teknik pengumpulan data yang dipilih dalam riset lapangan adalah: a. Kuesioner.5 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan atas kriteria kawasan perkotaan ditinjau dari kondisi demografi. masyarakat dan kelompok sasaran lainnya. mencatat serta mewawancarai secara langsung pejabat politik. Data Sekunder. pemerintahan. aktifitas penduduk. Data yang diperoleh sebagian besar menggunakan data dokumen dengan teknik dokumentasi yang berasal dari berbagai sumber. baik tingkat Propinsi maupun Kabupaten. b. diperoleh dengan penelitian lapangan. mengamati. lingkungan serta aspek lain yang merupakan fokus pengamatan. Data sekunder ini diperoleh dengan penelitian terhadap dokumen. suatu teknik pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala. Sekretariat Daerah. penyebaran angket atau daftar pertanyaan yang telah tersedia yang relevan dengan masalah yang diteliti. kecamatan. Desa/Kelurahan dan instansi lain yang mempunyai informasinya berkaitan dengan topik penelitian ini. baik yang tersedia di BPS setempat. Bappeda. dikumpulkan untuk melengkapi data primer. Data yang diperlukan dalam studi ini adalah data kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan atas yang dibedakan atas : a. Observasi. mengumpulkan data dengan komunikasi langsung berdasarkan kerangka atau pedoman yang telah disusun sebelumnya dengan pihak yang berkompeten dan berwenang terhadap masalah yang diteliti c. arus migrasi. b. Wawancara. dilakukan dengan jalan melihat. Data Primer.

sebagai Anggota Tim. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III . peraturan serta menelaah dan menganalisa literatur.7 Organisasi Pelaksana Studi dilakukan oleh 4 (empat) orang tenaga ahli dengan rincian sebagai berikut : 1) 1 orang tenaga ahli di bidang Bidang Otonomi Daerah (Guru besar) sebagai Ketua Tim. dokumen. dokumen. 3.8 Jangka Waktu Penelitian Penelitian ini memerlukan waktu selama penggunaan waktu. 3. peraturan serta referensi lainnya yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. kemudian dengan pengamatan di lapangan kemudian variabel itu akan dikompilasi melalui file terstruktur. 2) 1 orang ahli dalam bidang sosial ekonomi sebagai Sekretaris Tim 3) 1 orang ahli dalam bidang tata ruang. sebagai Anggota Tim. sebagai berikut : (tiga) bulan atau 12 (dua belas) Alokasi minggu. kemudian dilengkapi dengan kompilasi hasil wawancara secara mendalam. terhitung sejak ditandatanganinya naskah kerjasama penelitian. Sedangkan data kuantitatif akan dikategorikan. Studi Literatur.d. 4) 1 orang ahli dalam bidang lingkungan hidup.14 . menelaah dan menganalisa literatur. diklasifikasikan dan diolah sebagai dasar pengukuran dan analisis untuk memberikan penjelasan dan penilaian terhadap tingkat kelayakan 3. mengumpulkan data dengan mempelajari.6 Pengolah dan Analisis Data Data kualitatif akan dianalisa melalui pendekatan isi dan kedalaman menterjemahkan suatu fenomena dalam menganalisa kriteria kawasan perkotaan Jatinangor yang dapat membantu pihak-pihak terkait dalam menangani kawasan Jatinangor serta dapat membantu masyarakat berperan dalam pengelolaan kawasan Jatinangor Dari daftar struktur pertanyaan terbuka.

KEGIATAN NO. 6.15 . 4. 5. Ekspose Penyusunan design penelitian Pengumpulan & Pengolahan data & informasi Penelitian & Penulisan laporan sementara Lokakarya Laporan Sementara Penulisan Laporan Akhir Sept PELAKSANAAN Okt Nop Des KET Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab III . 1. 2. 3.

Pasal 16 menyebutkan bahwa : Substansi rencana pembangunan Kawasan Perkotaan tertuang dalam dokumen : a. Visi Pembangunan Daerah Kabupaten Sumedang Berdasarkan kondisi sampai dengan saat ini dan tantangan yang akan dihadapi dalam 20 tahun mendatang serta dengan mempertimbangkan modal dasar yang dimiliki dan berbagai masukan dari berbagai pihak pada saat proses penyusunan RPJPD. Visi tersebut dapat diringkas menjadi “SUMEDANG SEHATI”. rencana pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. maka visi pembangunan Kabupaten Sumedang Tahun 2005-2025 adalah “KABUPATEN SUMEDANG SEJAHTERA. dan d. b. rencana kerja pembangunan daerah kabupaten/kota.1 Identifikasi Arahan Kawasan Perkotaan Jatinangor pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sumedang 2005-2025 Berdasarkan PP No 34 tahun 2009 tentang Pedomana Pengelolaan Kawasan Perkotaan. substansi yang kegiatan studi ini adalah meliputi : A. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Sumedang 2005-2025 dituangkan dalam Peraturan Daerah No 2 Tahun 2008. c.BAB IV ARAHAN KEBIJAKAN KAWASAN PERKOTAAN 4.1 yang terkait dengan . yang dapat diartikan sebagai kabupaten yang makin kokoh dan berdaya juang tinggi dalam membangun daerahnya dengan dilandasi orientasi masyarakat berupa : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . rencana tata ruang Kawasan Perkotaan. AGAMIS DAN DEMOKRATIS PADA TAHUN 2025”. rencana pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota.

Kondisi ideal di bidang pendidikan ditunjukkan dari : 1. transparansi. Terwujudnya sistem penyelenggaraan pendidikan di daerah yang berkualitas dan menjangkau seluruh masyarakat yang makim mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Kabupaten Sumedang yang sejahtera ditandai dengan kondisi kehidupan masyarakat Sumedang yang memenuhi standar kelayakan dalam pemenuhan kebutuhan di bidang pendidikan. saling percaya serta senantiasa proporsional dalam mendistribusikan hak dan kewajiban diantara stakeholder pemerintahan guna mewujudkan kemajuan pembangunan daerah yang dikehendaki masyarakat daerah. 3. Meningkatnya tingkat pendidikan formal masyarakat yang dilihat dari target pendidikan dasar telah tuntas dan memasuki tahapan pendidikan menengah.2 . Maknanya adalah dalam lingkungan kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat. permusyawarahan. antara kelompok ekonomi lemah (kaum dhuafa) atau miskin secara materi namun potensial untuk menopang kemajuan kelompok ekonomi kuat (kaum agnia) yang terus menunjukkan kesetiakawanan sosio-ekonominya untuk mengarahkan kaum ekonomi lemah menjadi produktif. 2. kesehatan dan bermatapencaharian layak serta jaminan keamanan dengan senantiasa mempertimbangkan kelestarian daya dukung lingkungan yang berkelanjutan. ilmu pengetahuan dan teknologi dan mampu mengimplementasikan dalam perikehidupan masyarakat daerah yang makin produktif. Perilaku yang berpegang pada prinsip sauyunan. 2. Meningkatnya pelayanan publik. senantiasa mengedepankan kepuasaan dalam layanan pemerintahan dan pembangunan di berbagai bidang melalui pola kemitraan. Meningkatnya penguasaan keterampilan. sareundeuk saigel. Masyarakat yang telah mengedepankan nilai-nilai kesetiakawanan sosial dalam mengelola permasalahan dan kebutuhan masyarakat daerah. 3. 4. 4. Kondisi ideal di bidang kesehatan ditunjukkan dari : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . Masyarakat yang makin kokoh dalam mewujudkan tanggungjawab untuk meredistribusikan kemakmuran daerah. sabobot sapihanean.1. Terwujudnya pendidikan yang berdayaguna dan berhasilguna untuk memenuhi kebutuhan hidup.

pariwisata dan industri daerah. 3. pendidikan dan kesehatan. Terjaminnya ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat Sumedang dengan tingkat harga yang dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. 4.3 . Kondisi ideal di bidang mata pencaharian layak dan berkesinambungan ditunjukkan dari : 1. 5. Meningkatnya perlindungan dan regulasi pemerintah terhadap pelaku sosio ekonomi daerah dalam mendukung iklim investasi yang kondusif. Makin kokohnya perekonomian daerah yang berdaya saing secara regional. Meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat yang ditopang oleh makin produktifnya pendayagunaan potensi agribisnis. sektor sekunder dan sektor tersier dalam suatu sistem yang produktif. Meningkatnya keterkaitan antara sektor primer. Terwujudnya stabilitas kehidupan sosial yang mendukung terciptanya perikehidupan masyarakat daerah yang makin tercermin dalam perilaku silih asah. 3. Terciptanya kondisi lingkungan sehat sesuai standar kesehatan kehidupan individu. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . silih asih dan silih asuh. Meningkatnya laju Pertuimbuhan Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto yang berdampak terhadap penurunan kemiskinan. bernilai tambah dan berdaya saing serta keterkaitan pembangunan ekonomi antar wilayah baik di kawasan perdesan maupun perkotaan. pariwisata dan industri daerah yang selaras dengan kearifan sosial. 4. 2. dengan berbasis pada upaya mengembangkan keunggulan komparatif. keluarga dan masyarakat dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan sosial. Terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang tinggi dengan tidak memilahkan lokasi perdesaan dan perkotaan. 6. 7. Terwujudnya sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang berkeadilan dan berdaya saing.1. 5. kompetitif dan kooperatif dalam mendayagunakan potensi agribisnis. 8. 2. pariwisata dan industri. Meningkatnya pendayagunaan dan pemanfaatan potensi agribisnis. Meningkatnya akses yang lebih berkeadilan terhadap sumberdaya ekonomi bagi seluruh masyarakat Sumedang. nasional dan internasional. Terwujudnya keluarga sebagai basis persemaian nilai-nilai budaya.

12. Terwujudnya keseimbangan pemanfaatan ruang yang serasi dan berkelanjutan antara kawasan lindung dan budidaya serta antara kawasan perkotaan dan perdesaan.9. bermasyarakat. 11. partisipasi masyarakat berlandaskan kesetaraan gender yang makin dewasa dalam proses penetapan dan penyelenggaraan kebijakan pemerintahan dan pembangunan daerah serta pewarisan nilai nilai kejuangan bangsa dan kearifan lokal masyarakat. 2. Menguatnya kemitraan dan tanggungjawab dalam pembangunan pendidikan keagamaan serta sarana dan prasarana keagamaan di daerah. Kabupaten Sumedang yang agamis ditandai dengan kondisi lingkungan kehidupan sosial yang makin dijiwai oleh keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Kuasa sesuai keyakinan masyarakat yang diakui dalam sistem keagamaan nasional. 3. Kabupaten Sumedang yang demokratis ditandai dengan kondisi lingkungan kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat yang makin dijiwai oleh supremasi dan kesadaran hukum.4 . tata kelola penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan baik. Meningkatkan jatidiri dan karakter masyarakat yang makin beriman dan bertakwa dalam keragaman keyakinan beragama dan beribadat yang dijamin kelangsungannya oleh pemerintah. energi. Meningkatnya kerjasama antar domain kepemerintahan dalam penyediaan infrastruktur yang memadai. komunikasi. Kondisi ideal kehidupan demokratis ditunjukkan dari : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . Terwujudnya pembangunan pemeliharaan infrastruktur yang sejalan dengan keseimbangan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Menguatnya kesalehan sosial masyarakat dan aparatur pemerintah serta memperkokoh silaturahmi antar dan inter umat beragama untuk menguatkan pengamalan agama dalam kehidupan berkeluarga. 10. kondisi ideal kehidupan agamis ditunjukkan dari : 1. Meningkatnya penyediaan lapangan pekerjaan dan pendayagunaan tenaga kerja yang berkualitas dan berdaya saing secara berkesinambungan berbasis pada keunggulan potensi daerah guna mendukung pembangunan. berbangsa dan bernegara. Meningkatnya ketersediaan dan kontribusi infrastruktur perekonomian daerah serta infrastruktur transportasi. sumberdaya air yang handal dan sejalan dengan kebutuhan pembangunan skala regional dan nasional. 13.

Meningkatnya penyelenggaraan pelayanan masyarakat yang makin efisien dan efektif dan peningkatan pelayanan prima pada setiap unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah.1. Harus menjadi kecenderungan positif bahwa mewujudkan masyarakat maju. Untuk memperkuat kondisi sejahtera dan demokratis tersebut. SQ. Terwujudnya penyelenggaraan akuntabilitas Pemerintahan daerah dan penyelenggaraan otonomi daerah serta tugas pembantuan yang proporsional. serta makin mengindahkan prasyarat terbangunannya tatanan masyarakat berkesadaran hukum tinggi guna mewujudkan sistem sosial dan politik yang demokratis. transparansi. Terwujudnya ketentraman dan ketertiban masyarakat yang lebih baik. 5.5 . yang senantiasa bersikap arif dan berkemampuan produktif dan mempertimbangkan kesinambungan lingkungan hidup daerahnya. menjadikan corak masyarakat dan daerah Kabupaten Sumedang yang ingin diwujudkan pada tahun 2025 mendatang adalah daerah yang dihuni oleh masyarakat yang makin sejahtera. Dengan visi di atas. 7. 2. Meningkatnya profesionalisme aparatur dan efisiensi birokrasi dalam kerangka reformasi birokrasi yang makin mantap. yang dibangun oleh penghormatan yang makin baik terhadap kesalehan sosial dan keragaman dalam keyakinan beragama dalam satu kesatuan sistem keagamaan nasional yang dilindungi Undang Undang Dasar 1945. Meningkatnya aksesibilitas. EQ). Peletakkan tanggungjawab yang sepenuhnya terhadap para penyelenggara pemerintahan daerah. yang ditandai kecerdasan (IQ. diyakini tidak mungkin lagi mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Terwujudnya kemitraan yang serasi antara legislatif dengan eksekutif. 4. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . pengawasan masyarakat dalam penyusunan kebijakan Pemerintah Daerah. Terselenggaranya otonomi desa yang makin efektif. agamis dan demokratis karena antar komponen tata kelola pemerintahan memiliki batas batas potensi keperansertaan. maka diperlukan pula kelangsungan kehidupan agama yang akan menyeimbangkan kebutuhan ragawi dan ukhrowi. Guna mewujudkan visi pembangunan daerah Kabupaten Sumedang jangka panjang diperlukan pemahaman terhadap pergeseran paradigma dalam tata kelola pemerintahan daerah dalam mengelola fungsi pembangunan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan yang kian variatif. 6. 3. kontribusi serta keterbatasan.

pariwisata dan industri yang mengindahkan kearifan budaya lokal dan keseimbangan lingkungan hidup. memiliki tingkat pendidikan dan kompetensi yang didasari ilmu pengetahuan dan teknologi berdaya saing.6 . Misi Pembangunan Daerah Kabupaten Sumedang Upaya perwujudan visi pembangunan jangka panjang Kabupaten Sumedang 20052025 tersebut akan dicapai melalui 5 (lima) misi pembangunan sebagai berikut : 1. dunia usaha serta komponen masyarakat daerah di Kabupaten Sumedang dengan tetap memperhatikan kelangsungan hidup di daerah. Mewujudkan perekonomian daerah yang tangguh dan berkelanjutan yang berbasis pada agribisnis. Perkembangan ekonomi daerah didukung oleh kerjasama antara domain kepemerintahan dalam penyediaan infrastruktur Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . Misi Kedua. adalah mengembangkan dan memperkuat keterkaitan antar sektor perekonomian daerah yang berdaya saing secara regional dan internasional.demokratisasi dan ketaatan dalam keyakinan agama dan kepercayaan dalam kehidupan sosial. silih asuh sehingga tercipta keluarga yang dapat menjadi tempat persemaian nilai budaya. dengan mendorong kesetaraan gender. silih asih. rohani dan sosial sehingga berada dalam kondisi stabil yang mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang dilandasi kearifan lokal. B. fungsi pertumbuhan ekonomi serta distribusi hasil pembangunan. mengutamakan pola hidup sehat sejahtera secara jasmani. dengan berbasis pada upaya mengembangkan keunggulan komparatif. kompetitif. kesalehan sosial dengan mencerminkan pola perilaku silih asah. Misi Pertama. Dengan meletakan paradigrama pemerintahan berlandasan keseimbangan potensi elemen dalam tata kelola pemerintahan. adalah membangun masyarakat Sumedang yang berbudaya mulia dan mandiri yang memiliki akses terhadap pendidikan formal yang berkualitas. dan kooperatif dalam mendayagunakan potensi sosio ekonomi lokal terutama dalam agribisnis. penyeimbang serta pemberi jaminan kepastian hukum. dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. berbudaya dan berpola hidup sehat. pariwisata dan industri. maka fungsi stabilisasi. akan mampu berjalan efektif manakala masyarakat dan potensi sosio ekonominya menjadi pencipta kemakmuran dan pemerintah daerah menjadi fungsi pemicu. Mewujudkan masyarakat madani yang berpendidikan. pendidikan dan kesehatan. 2. akan menjadi segitiga agenda yang resiprokal antara pemerintah.

bermasyarakat. Misi Kelima. yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang makin toleran sesuai dengan falsafah Pancasila. pemeliharaan pembangunan infrastruktur yang sejalan dengan keseimbangan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. menguatnya kesalehan sosial masyarakat dan aparatur pemerintah serta memperkokoh silaturahmi antar umat beragama dan intern umat beragama untuk menguatkan pengamalan agama dalam kehidupan berkeluarga. penciptaan dan pendayagunaan tenaga kerja yang berkualitas dan berdayasaing serta perlindungan regulasi pemerintahan terhadap pelaku sosio ekonomi daerah guna mendukung penciptaan iklim investasi yang kondusif. 5. meningkatkan aksesibilitas. memperkuat kemitraan dan tanggung jawab dalam pembangunan pendidikan keagamaan dan sarana dan prasarana keagamaan di daerah. pengawasan masyarakat dalam penyusunan kebijakan Pemerintah Daerah. Mewujudkan masyarakat yang demokratis dalam kesetaraan gender berlandaskan hukum dan hak asasi manusia. baik pada supra struktur maupun infrastruktur politik serta meningkatkan budaya hukum dan HAM. Mewujudkan masyarakat daerah yang berakhlak mulia. menyelenggarakan otonomi desa yang makin efektif. meningkatkan profesionalisme aparatur dan efisiensi birokrasi dalam kerangka reformasi birokrasi yang makin mantap. adalah mewujudkan penyelenggaraan akuntabilitas Pemerintahan daerah dan penyelenggaraan otonomi daerah serta tugas pembantuan yang proporsional. serta merwujudkan ketentraman dan ketertiban masyarakat yang lebih baik. 3. adalah meningkatnya jatidiri dan karakter masyarakat yang makin beriman dalam keragaman keyakinan beragama dan beribadat yang dijamin kelangsungannya oleh pemerintah. meningkatkan peran dan partisipasi Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . Misi Ketiga. Misi Keempat. berbangsa dan bernegara. meningkatkan penyelenggaraan pelayanan masyarakat yang makin efisien dan efektif dan peningkatan pelayanan prima pada setiap unit kerja di lingkungan Pemerintah daerah.yang memadai. transparansi. merwujudkan kemitraan yang serasi antara legislatif dengan eksekutif. adalah mewujudkan penyelenggaraan kelembagaan demokrasi daerah.7 . 4. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. keseimbangan pemanfaatan ruang yang serasi antara kawasan lindung dan budidaya serta antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.

Namun demikian. Arah Pembangunan Jangka Panjang Pembangunan jangka panjang daerah membutuhkan tahapan dan skala prioritas yang akan menjadi agenda dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah. WP Tanjungsari ini terdiri dari Kecamatan Tanjungsari. Pada setiap pentahapan tersebut dijelaskan bagaimana kedudukan kawasan pendidikan Jatinangor dan kawasan industri Cimanggung untuk jangka waktu perencanaan 20 tahun yaitu dari tahun 2005–2025 yang meliputi RPJMD ke-1 (2005-2008). pusatnya di Tanjungsari. setiap misi yang telah dan ingin dicapai ditetapkan prioritasnya dalam masing-masing tahapan dengan keberlanjutan. Seperti termaktub dalam RTRW Jawa Barat. Penetapan kawasan (Jatinangor) sebagai kawasan andalan adalah untuk mendorong : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . C. Ini mengindikasikan bahwa pengembangan kawasan perkotaan untuk kawasan Jatinangor dan Cimanggung sudah direncanakan secara sistematis. untuk menstrukturkan penuangan fokus prioritas pada setiap sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. dan Cimanggung sebagai Kawasan Industri. mewujudkan kemitraan dengan media dalam bentuk penyampaian kepentingan masyarakat daerah serta meningkatkan penegakan hukum secara adil dalam kesetaraan gender dan menghormati hak asasi manusia. Pamulihan. Selain itu pula. Tahapan dan skala prioritas yang ditetapkan merupakan pilihan yang paling memungkinkan mendapatkan dukungan sumber daya daerah yang tersedia pada kurun waktu lima tahunan.8 Sukasari dan Cimanggung dengan . jika mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 01 tahun 2008 yang pada intinya menyatakan bahwa perencanaan pembangunan kawasan perkotaan harus tercantum dalam RPJP sudah bisa diakomodasi RPJP 2005-2025 Kabupaten Sumedang. pemantapan dan mempertahankan keunggulan program pembangunan pada setiap tahapan dan tahapan berikutnya yang satu sama lain saling menguatkan dan dapat berjalan secara simultan. Secara umum. walaupun secara tegas disebutkan dalam RPJP Kabupaten tersebut bahwa pengembangan kawasan Jatinangor untuk kawasan Perguruan Tinggi. ke-3 (2014-2018) dan ke-4 (2019-2025). ke-2 (2009-2013). Rancakalong.masyarakat dalam penyusunan kebijakan. penataan peningkatan. dalam RPJP 2005-2025 kawasan Jatinangor dikelompokkan ke dalam wilayah pertumbuhan (WP) Tanjungsari. Jatinangor.

zona industri Jatinangor-Cimanggung dan Ujungjaya. RPJMD ke-1 (2005-2008) Berlandaskan pelaksanaan dan pencapaian pembangunan tahap sebelumnya. Pembangunan infrastruktur terus didorong melalui peningkatan peran swasta dengan meletakkan dasar-dasar kebijakan investasi daerah yang transparan serta reformasi dan restrukturisasi kelembagaan perijinan investasi daerah terutama untuk sektor transportasi. agamis dan demokratis yang semakin terasakan dampaknya bagi masyarakat daerah serta terus memberikan kontribusi terhadap kualitas pembangunan regional Jawa Barat dan nasional. Sumedang yang sejahtera ditandai dengan menurunnya angka pengangguran dan jumlah penduduk miskin sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh pengelolaan sumber daya alam dan mutu lingkungan hidup yang semakin berkualitas serta berkurangnya kesenjangan antar perdesaan dan perkotaan. Jika dirinci kedalam pentahapan periodisasi jangka menengah.9 . Pembangunan infrastruktur diarahkan bagi percepatan pertumbuhan perekonomian daerah antara lain melalui penajaman upaya persiapan pembangunan jalan Tol Cisumdawu. termasuk membaiknya infrastruktur. bendungan Jatigede.• Terwujudnya suatu kawasan yang mampu berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan sekitarnya serta dapat mendukung struktur ruang Jawa Barat sesuai dengan yang telah direncanakan • Sinergisasi keselarasan pengembangan antarwilayah dan antarsektor Dalam arah kebijakan pembangunan Kabupaten Sumedang juga disebukan bahwa tujuan dari Pengembangan Kawasan adalah untu: • • • Mengembangkan pusat kualitas sumberdaya manusia Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana untuk mengantisipasi peluang kerja di dalam dan luar negeri. arah pengembangan kawasan Jatinangor bisa dijelaskan berikut ini: I. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . RPJMD Ke-1 diarahkan untuk melanjutkan hasil hasil pembangunan daerah di segala bidang yang ditujukan untuk menciptakan Sumedang yang sejahtera. agribisnis. Kondisi itu dicapai dengan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan iklim investasi daerah yang kondusif. perdagangan. industri kecil serta kepariwisataan.

kawasan waduk Jatigede. Di dalamnya. serta pengendalian pemanfaatan ruang yang diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. terdapat fokus yang menjadi panduan untuk dapat dituntaskan pada kurun perencanaan tahap ini yang terkait dengan kawasan Jatinangor yaitu yang terkait dengan misi: Mewujudkan perekonomian daerah yang tangguh dan berkelanjutan yang berbasis pada agribisnis. kawasan industri dan kawasan koridor jalan tol) termasuk kawasan perbatasan dengan kabupaten tetangga. pariwisata dan industri. ditunjang pula dengan upaya penguatan dalam fasilitasi kelembagaan-kelembagaan keuangan yang menopang aktivitas usaha mikro dan kecil serta akses pelaku usaha terhadapnya. Seperti di tahap pertama. propinsi dan nasional (antara lain kawasan perguruan tinggi Jatinangor. di point ke-14 di misi yang sama. RPJMD ke-2 (2009-2013) Arah pembangunan jangka panjang tahap kedua ini terdiri dari upaya-upaya untuk meneruskan fokus pembangunan daerah yang belum tercapai pada RPJMD ke-1 yang dapat memperkuat capaian RPJMD ke-2. serta pengendalian pemanfaatan ruang Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . Selain itu. merevisi rencana tata ruang yang telah ada. merevisi rencana tata ruang yang telah ada. Dalam tahapan dan prioritas point ke-7 disebutkan: Peningkatan ketersediaan rencana tata ruang kecamatan dan kawasan strategis kabupaten. kawasan industri dan kawasan koridor jalan tol Cisumdawu serta rencana induk pusat pemerintahan) termasuk kawasan perbatasan dengan kabupaten tetangga. provinsi dan nasional (antara lain kawasan perguruan tinggi Jatinangor. juga dilakukan upaya untuk melanjutkan ketersediaan rencana tata ruang kecamatan dan kawasan strategis kabupaten.10 . juga disebutkan bahwa arah dan prioritas yang dilakukan pada RPJMD-1 ini adalah Pengembangan industri yang sinergis dan berkelanjutan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung potensi ekonomi daerah. kawasan waduk Jatigede. II.rencana induk pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang serta bandara internasional Kertajati di Majalengka. terdapat upaya pemantapan infrastruktur ekonomi dan sosial pada daerah daerah yang dijadikan sentra pengembangan industri manufaktur dan perdagangan daerah serta sektor jasa lainnya. Selain itu. Dari tahapan dan prioritas pada RPJMD ke-1 ini.

upaya penegakkan tata kelola ruang daerah dan pemberian insentif sosial guna kelestarian lingkungan hidup di permukiman juga diharapkan mampu memberikan keseimbangan pemeliharaan dan pelestrarian lingkungan. Secara spesifik terkait dengan pengembangan kawasan Jatinangor. Selain itu.yang diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sasaran berikutnya yaitu upaya lebih memantapkan keterpaduan antara Industri Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . Upaya peningkatan kerja sama antar daerah dan peningkatan penegasan batas daerah juga merupakan salah satu fokus pembangunan di tahap kedua ini. dalam tahap ini. yang mana dalam hal ini tertuju pada pengembangan kawasan sektor usaha di sekitar Jatinangor. Diharapkan dengan upaya ini. ke depannya tidak terjadi perselisihan antar wilayah dikarenakan batas wilayah. III. Kegiatan ini juga ditunjang dengan upaya penguatan pengendalian tata ruang daerah yang makin sinergi dengan tata ruang regional. RPJMD ke-3 (2014-2018) Sasaran pembangunan di tahap ketiga ini juga bertujuan untuk meneruskan fokus pembangunan daerah yang belum tercapai pada RPJMD ke-2 yang dapat memperkuat capaian RPJMD ke-3. Langkah ini sangat penting bagi proses pengembangan kawasan. Upaya penataan moda transfortasi daerah untuk menopang pembangunan antar wilayah juga diperkirakan akan terkait dengan upaya penataan kawasan Jatinangor sebagai kawasan yang akan dikembangkan. Penggunaan yang makin meluas pada ekonomi terbarukan yang semakin pro kesinambungan lingkungan hidup juga akan terkait dengan upaya pengembangan kawasan Jatinangor. upaya pemantapan sinergisitas antara Industi Besar dengan Industri Kecil Menengah (IKM) sehingga tercipta penguatan masingmasing skala usaha juga akan terkait dengan daerah sekitar kawasan Jatinangor. upaya pengembangan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan dan kesehatan daerah melalui corporate social responsibility (CSR) pada para pelaku usaha daerah akan terkait dengan upaya pengembangan kawasan Jatinangor.11 . Pengembangan infrastruktur lingkungan dan moda transformasi yang menghubungkan semua pusat pusat perekonomian daerah yang makin terintegrasi dengan moda transformasi regional dan nasional juga merupakan isu yang terkait erat dengan pengembangan kawasan perkotaan Jatinangor.

kawasan industri dan kawasan koridor jalan tol) termasuk kawasan perbatasan dengan kabupaten tetangga. serta pengendalian pemanfaatan ruang yang diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi sasaran pembangunan. Upaya peningkatan layanan prime di daerah perbatasan dan penguatan SDM aparatur daerah diwilayah perbatasan juga merupakan sasaran strategis di tahap ketiga ini. terutama pada bidang pendidikan. kawasan waduk Jatigede. RPJMD ke-4 (2019-2025) Di tahap terakhir ini. kesehatan. kawasan industri dan kawasan koridor jalan tol) termasuk kawasan perbatasan dengan kabupaten tetangga. Dalam tahap ini juga. kawasan waduk Jatigede. Di tahap ini. merevisi rencana tata ruang yang telah ada. Ada sasaran strategis yang akan dilakukan di tahap ini. sasaran pembangunan jangka panjang pada umumnya adalah berisikan langka-langkah untuk meneruskan fokus pembangunan daerah yang belum tercapai pada RPJMD ke-3 yang dapat memperkuat capaian RPJMD ke-4. upaya untuk memantapkan ketersediaan rencana tata ruang kecamatan dan kawasan strategis kabupaten. merevisi rencana tata ruang yang telah ada. propinsi dan nasional (antara lain kawasan perguruan tinggi Jatinangor. Ini tentu hal penting yang harus dipertimbangkan dalam proses pengembangan kawasan Jatinangor. juga didukung dengan upaya pengembangan tatanan sistem pemerintahan daerah yang menjadi supporting sistem bagi aktivitas ekonomi kreatif.12 . Selain itu. Kedua hal diatas sangat terkait erat dengan pengembangan kawasan Jatinangor sebagai daerah yang merupakan berada di sisi luar dan bersinggungan dengan kabupaten lain. juga dilakukan upaya pematangan reformasi birokrasi yang menopang Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . Di tahap ketiga ini. yaitu pengembangan sistem insentif daerah dalam penyelenggaraan kemitraan pembangunan di sektor swasta. propinsi dan nasional (antara lain kawasan perguruan tinggi Jatinangor.Besar dengan IKM dalam pemanfaatan potensi ekonomi daerah dan keterkaitan antar rantai bisnis juga merupakan isu terkait dengan pengembangan kawasan. yang nota bene kawasan Jatinangor juga akan dikembangkan sebagai kawasan industri. upaya pemantapan ketersediaan rencana tata ruang kecamatan dan kawasan strategis kabupaten. serta pengendalian pemanfaatan ruang yang diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi fokus pembangunan jangka panjang tahap ke 4. tahap 4. IV.

pelayanan

berorientasi customer satisfaction. Ini sangat penting guna mendukung

karakteristik masyarakat perkotaan yang diharapkan terkait dengan upaya pengembangan kawasan Jatinangor. 4.2 Identifikasi Arahan Kawasan Perkotaan Jatinangor pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang Dalam Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat ada beberapa kawasan yang akan dikembangkan sebagai kawasan andalan. Secara umum, penetapan beberapa wilayah di Propinsi Jawa Barat sebagai kawasan andalan adalah untuk mendorong : • Terwujudnya suatu kawasan yang mampu berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan sekitarnya serta dapat mendukung struktur ruang Jawa Barat sesuai dengan yang telah direncanakan • Sinergisasi keselarasan pengembangan antarwilayah dan antarsektor Dalam hal ini, sebagian dari kecamatan Kabupaten Sumedang termasuk dalam kawasan andalan Cekungan Bandung, yaitu Kecamatan Tanjungsari, Cimanggung, dan Jatinangor. Terkait dengan ini, berikut dijelaskan posisi Kabupaten Sumedang dalam pengembangan kawasan andalan di Propinsi Jawa Barat. TABEL 4.1 Posisi Sumedang Dalam Kawasan Andalan Di Jawa Barat (Sumber : RTRWP Jawa Barat 2010) Kawasan Andalan Sektor Unggulan Arahan Kawasan pusat pengembangan SDM dlm rangka mendukung industri, agribisnis, pariwisata, jasa dan SDM.

Cekungan Bandung Industri, perdagangan, jasa dsk (Sumedang) Pertanian hortikultura Pariwisata, Perkebunan

Arahan pengembangan kawasan andalan Cekungan Bandung adalah sebagai pusat pengembangan sumberdaya manusia dalam rangka mendukung industri, agribisnis, pariwisata, jasa, dan sumberdaya manusia Tujuan pengembangan kawasan adalah : • Mengembangkan pusat kualitas sumberdaya manusia
Bab IV - 13

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

• •

Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana untuk mengantisipasi peluang kerja di dalam dan luar negeri.

Sasaran pengembangan kawasan : • Termanfaatkannya lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan dengan melakukan sinergisasi antar lembaga tersebut melalui pembentukan forum komunikasi lembaga terkait. • Meningkatnya kemampuan sumberdaya manusia daerah Cekungan Bandung dalam pembuatan cenderamata khas daerah. Peningkatan kemampuan dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan. • Meningkatnya prasarana komunikasi dan media dengan mendorong jasa telepon dan internet dalam kegiatan bisnis dan menyediakan prasarana pendukung dan komunikasi lainnya. Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Perguruan Tinggi Jatinangor Terkait dengan pengembangan kawasan Jatinangor, berikut adalah Rencana Tata Ruang Kawasan Andalah Perguruan Tinggi Jatinangor. • • • • • Wilayah perencanaan : Kecamatan Jatinangor 8 desa Konsep rencana/ Arahan Pengembangembangan: Meningkatkan akses dari dan ke luar Jatinangor Menghindari arus regional masuk bagian kawasan Perguruan Tinggi untuk mendukung kawasan yang lebih terintegrasi Aktivitas yang ada diselaraskan dengan fungsi perguruan tinggi regional dijelaskan dalam tabel di bawah ini: Linieritas arah perencanaan pengembangan wilayah Kabupaten Sumedang dalam konteks lingkup

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

Bab IV - 14

TABEL 4.2 Arahan Pengembangan Wilayah Kabupaten Sumedang Dalam Lingkup Regional
Rencana 1 RTRW Jawa Barat Wilayah Perencanaan 2 Propinsi Jawa Barat Konsep Rencana / Arahan Pengembangan 3 PKN : Bandung dan Cirebon Kota Sumedang : PKL Kawasan lindung 45% dari luas total Jawa Barat Mengendalikan alih fungsi lahan sawah irigasi teknis Kabupaten Sumedang termasuk dalam Kawasan Andalan Cekungan Bandung, dengan salah satu tugasnya adalah sebagai kawasan andalan Perguruan Tinggi di Kecamatan Jatinangor. Evaluasi Implementasi     4 Kota Sumedang telah berfungsi sebagai PKL Luas kawasan lindung Kabupaten Sumedang sekitar 23% Terjadi alihfungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya (-1,64%/ thn) Pada kawasan andalan Jatinangor telah berdiri Perguruan tinggi yang 4 yaitu STPDN, UNWIM, UNPAD dan IKOPIN. Kawasan ini telah berkembangan menjadi kawasan perguruan tinggi dengan dilengkapi permukiman mahasiswa dan fasilitas penunjang pendidikan tinggi berlokasi di sekitar kampus dan koridor jalan Negara Arahan Pengembangan Dalam RTRW Kab. Sumedang 2012 5  Kawsan lindung 45% melalui beberapa tahapan realisasi  Mempertahankan sawah irigasi teknis yang ada  Peningkatan infrastruktur penghubung dengan kabupaten lain  Pengembangan Buffer Zone di sekitar kawasan lindung  Penataan kawasan andalan Jatinangor sebagai salah satu kawasan tertentu di wilayah Sumedang

    

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

Bab IV - 15

1 Kebijaksanaan Pengembangan Wilayah Metropolitan Bandung

2 Kota Bandung,  Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Cinajur dan Kabupaten Garut 

 

3 4 5 Wilayah Kabupaten Sumedang  Sejalan dengan ergabungnya 3  Perbedaan orientasi pergerakan yang termasuk dalam kawasan kecamatan dalam wilayah ke-3 kecamatan dengan BMA, yaitu Kecamatan Metropolitan Bandung, maka kecamatan lain dalam wilayah Tanjungsari, Cimanggung dan kecenderungan perkembangan Kabupaten Sumedang perlu Jatinangor. Kota-kota kecamatan ke-3 kecamatan tersebut diakomodir serta diupayakan ini direncanakan untuk menjadi menjadi kawasan perkotaan pemanfaatan peluang dari kondisi counter magnet dari lebih cepat dibandingkan tersebut. Misalkan ditangkapnya perkembangan Kota Bandung kecamatan lainnya di peluang pengembangan akibat dalam fungsi-fungsi tertentu. Sumedang limpahan kegiatan dari kota Kecamatan Jatinangor  Orientasi pergerakan penduduk Bandung. dikembangkan untuk ke-3 kecamatan tersebut menampung limpahan fungsi adalah menuju Kota dan pendidikan tinggi Kabupaten Bandung Kecamatan Tanjungsari untuk menampung kebutuhan perumahan Kecamatan Cimanggung serta sebagian Kecamatan Jatinangor yang berdekatan direncanakan untuk menampung kegiatan industri dan perumahan. Skenario penyediaan air baku dari Gua Waled yang ada di Kecamatan Jatinangor juga direncanakan dalam rencana ini.

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

Bab IV - 16

17 . UNWIM. UNPAD dan IKOPIN Perkembangan permukiman  mahasiswa dan fasilitas penunjang pendidikan tinggi di sekitar kampus dan koridor jalan negara Pembangunan ke arah utara dibatasi 5 Pemisahan jalur regional dan jalur lokal perguruan tinggi dengan dibangun jalan elak Pengembangan kecamatan Jatinangor sebagai kawasan khusus Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV .1 2 Kawasan Andalan Kecamatan Perguruan Tinggi Jatinangor 8 desa Jatinangor    3 Meningkatkan akses dari dan ke  luar Jatinangor Menghindari arus regional masuk bagian kawasan  Perguruan Tinggi untuk mendukung kawasan yang lebih terintegrasi Aktivitas yang ada diselaraskan dengan fungsi perguruan tinggi  4 Perguruan tinggi yang 4 yaitu  STPDN.

18 . Adapun kawasan yang dikembangkan adalah sebagai berikut: • • • • • • Wilayah pengembangan Kota Jatinangor yang mana sebagai kawasan tumbuh cepat Wilayah pengembangan kawasan pendidikan tinggi Wilayah pengembangan kawasan kegiatan pemerintahan Kabupaten Wilayah pengembangan pusat-pusat pertumbuhan Wilayah pembangunan kawasan bendungan Jatigede Wilayah pengembangan kegiatan pertanian Arahan kawasan perkotaan Jatinangor dan Cimanggung sebagai kawasan perkotaan secara eksplisit di cantumkan pada arahan pengembangan kawasan sebagaimana tercantum dalam revisi RTRW Kabupaten Sumedang dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV . ada beberapa kawasan yang akan dikembangkan di Kabupaten Sumedang.Dalam RUTR Kabupaten Sumedang.

Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Sumedang 2002-2012 Gambar 4.19 .1 Kawasan Perkotaan di Kabupaten Sumedang Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV .

Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Sumedang 2002-2012 Gambar 4.2 Pusat Pertumbuhan wilayah di Kabupaten Sumedang Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV .20 .

Kawasan Perkotaan yang direncanakan di Kabupaten Sumedang Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab IV .3.Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Sumedang 2002-2012 Gambar 4.21 .

a.BAB ANALISIS KELAYAKAN KAWASAN PERKOTAAN 5. perkotaan. Kawasan Perkotaan Jatinagor-Cimanggung sebagaimana yang cirri dan karakteristik di atas telah diarahkan sebagai kawasan perkotaan pada RTRW Kabupaten Sumedang (2002-2012 ). b.1 berikut V Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .1 .1 Karakteriktik dan Potensi Kawasan Perkotaan Jatinangor-Cimanggung Wilayah atau kawasan perkotaan dipahami sebagai daerah yang berkembang sedemikian rupa menjadi daerah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri serta pelayanan sosial (Nurmandi. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. dan jasa. sengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman. Kriteria Kawasan Perkotaan Berdasarkan PP No 34 Tahun 2009 Pasal 1 butir 3 menyebutkan bahwa : Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. Sementara kriteria kawasan perkotaan berdasarkan Permendagri No 1 Tahun 2008 pasal 2 meliputi: Memiliki karakteristik kegiatan utama budidaya bukan pertanian atau lebih dari 75 % mata pencaharian penduduknya terutama di bidang industri. 2006). dan Memiliki karakteristik sebagai pemusatan dan distribusi pelayanan barang dan jasa didukung prasarana dan sarana termasuk pergantian moda transportasi dengan pelayanan skala kabupaten atau beberapa kecamatan. Mengacu pada kriteria di atas maka Kawasan Perkotaan Jatinangor-Cimanggung yang dapat dianggap layak dan memenuhi sebagaimana digambarkan pada Tabel 5. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. perdagangan.

03 97.94 23.23 95.87 9.1 Karakteristik dan Persentase Kegiatan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Penduduk terutama di Bidang Bukan pertanian Jenis Mata Pencaharian No 1 Desa 2 Pertanian Petani/buruh Tani 3 KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileles Cilayung 158 173 85 130 304 397 373 170 117 117 325 362 304 174 885 61 53 43 81 201 317 304 76 32 3036 595 906 427 174 509 833 232 553 171 559 185 775 213 1916 331 1034 343 3036 331 313 160 453 204 1492 885 1415 1415 2013 1027 743 553 364 553 756 521 Bab V .97 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .83 17.Tabel 5.74 2.13 90.96 17.06 76.07 5.70 19.26 97.64 94.2 Non Pertanian PNS/TNI/POLRI Swasta Pedagang 4 5 6 Buruh Pensiunan 7 8 Total 9 Petani (%) 10 Non pertanian (%) 11 5585 2565 3068 2671 3094 2211 2185 3171 2175 4341 1630 1572 2.36 5.04 82.83 6.62 97.93 94.38 2.17 82.77 4.17 93.30 80.

61 4.11 7.89 53.86 10.33 83.54 26.46 73.28 39.16 84.71 21.89 92.87 9.22 82.84 15.78 17.11 46.3 .13 90.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KECAMATAN CIMANGGUNG 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Cimanggung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih Tegalmanggung Sindulang Cikahuripan Pasirnanjung 2381 277 697 201 594 133 1364 2133 2462 719 1615 11 45 44 60 75 51 15 6 7 12 12 64 36 75 53 101 22 3950 125 159 293 43 70 9 38 109 76 123 75 35 92 251 206 162 709 593 1009 2817 1021 199 51 25 301 62 2654 1312 1488 1330 7545 1406 1860 2558 2572 1194 1949 89.67 16.39 95.72 60.29 78.14 Sumber : Database Kecamatan (Jatinangor dan Cimanggung) Tahun 2008 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .

Keterkaitan antar desa tersebut terjalin dengan adanya interaksi dan saling membutuhkan satu desa dengan desa lainnya lainnya.2 Pengukuran Indikator Kawasan Perkotaan pada Aspek Sosial. sehingga kemungkinan alih fungsi lahan menjadi semakin besar.4 . Sementara desa-desa di Kecamatan Cimanggung meliputi 4 desa dan 1 desa potensial bercirikan perkotaan mengingat pada desa tersebut sebagian besar mata pencaharian petani adalah sebagai buruh atau petani penggarap. Pada desa-desa tersebut merupakan bagian dari zona industri Jatinangor-Cimanggung karena berlokasinya beberapa jenis industri Desa-desa pada kecamatan tersebut merupakan kawasan yang diarahkan menjadi kawasan perkotaan. Ekonomi. Kawasan perkotaan terbentuk berdasarkan fungsi-fungsi desa-desa yang membentuk kawasan perkotaan yang akan dikembangkan. Berdasarkan UU No 26 Tahun 2007 pasal 41 ayat (2) dan penjelasannya kawasan perkotaan diklasifikasikan sebagai berikut: Kawasan Perkotaan Jatinagor Cimanggung berdasarkan tipologi perkotaan dikategorikan pada Kawasan Perkotaan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . 5. Tata Ruang dan Lingkungan Indikator perkotaan sebagaimana telah diuraikan pada Bab II dan Bab III dilakukan berdasarkan tipologi kawasan perkotaan. Pengembangan kawasan perkotaan ini diarahkan dengan mengacu dari peraturan dan rencana yang sudah ada. sehingga diperlukan suatu pengembangan yang sinergi dan terarah untuk menciptakan suatu kawasan yang memiliki interst untuk berkembang.Berdasarkan karakteristik mata pencaharian penduduk di atas. Kepemilikan lahan pertanian justru dimiliki penduduk pendatang yang tidak memiliki keahlian bertani. Sedang. dapat direncanakan tata ruang dan pengembangan kawasan perkotaan sesuai dengan yang diharapkan. sehingga terdapat keterkaitan antar kawasan perkotaan yang mendukung kegiatan yang terdapat di dalamnya. secara sederhana desa-desa yang dikategorikan telah memiliki ciri perkotaan seluruhnya pada desa-desa di Kecamatan Jatinangor. Dengan demikian.

000 (satu juta) jiwa.5 .000 (seratus ribu) jiwa dan kurang dari 500.000 (lima puluh ribu) jiwa dan paling banyak 100. Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya 1. Kawasan perkotaan kecil adalah kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit 50.000 (lima ratus ribu) jiwa.  Kawasan perkotaan sedang adalah kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih dari 100. Dengan demikian.  Kawasan metropolitan yang saling memiliki hubungan fungsional dapat membentuk kawasan megapolitan. kawasan megapolitan mengandung pengertian kawasan yang terbentuk dari dua atau lebih kawasan metropolitan yang memiliki hubungan fungsional dan membentuk sebuah sistem Berdasarkan kriteria tipologi kawasan perkotaan di atas maka kawasan perkotaan Jatinangor dikategorikan pada tipologi kawasan perkotaan sedang sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .000 (lima ratus ribu) jiwa.000.000 (seratus ribu) jiwa.   Kawasan perkotaaan besar adalah perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit 500.

6 .Tabel 5.2 Jumlah Penduduk Kawasan Perkotaan Jatinangor No Nama Desa Jumlah Penduduk (Jiwa) KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung 13919 8312 6344 9394 5728 4630 5900 8354 11123 10505 5054 4800 KECAMATAN CIMANGGUNG 1 2 3 4 5 Total Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon 5685 5494 5143 9872 7817 128074 Sumber : Database Kecamatan Jatinangor dan Cimaggung Tahun 2008 Berdasarkan gambaran di atas maka indikator penilaian kelayakan kawasan perkotaan Jatinangor menggunakan indikator perkotaan kota sedang sebagaimana dapat dilihat pada Tabel dibawah ini : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .

7 .5 1 1 1 >4% > 40 % Rendah Rendah Rendah Rendah > 55 Tahun memadai memadai memadai > 90 % memadai memadai memadai 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2-4% 20 .40 % Sedang Sedang Sedang Sedang 45 .7 2 0.55 thn cukup cukup cukup 80 .10 % Sedang Nilai 2 2 2 2 2 2 Buruk Parameter >2% <1% > 75 jiwa/ha > 30 % > 10 % Rendah Nilai Nilai 1 1 1 1 1 1 2 1 1.30 % 5 .3 1 1 1 1 1 1 1 0.3 Pengukuran Kondisi Eksisting Kawasan Perkotaan Jatinangor berdasarkan Indikator Perkotaan Sedang No 1 Aspek Penduduk Indikator Tingkat Pertumbuhan penduduk Tingkat Migrasi Tingkat Kepadatan penduduk (jiwa/ha) Tingkat Kemiskinan (%) Tingkat Pengangguran (%) Tingkat Pertumbuhan PDRB Kota per pertumbuhan nasional Pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa Kontribusi sektor perdagangan dan jasa terhadap PDRB Tingkat ketergantungan penduduk Tingkat kematian ibu Tingkat kematian bayi Angka Prevalensi Penyakit Diare Rata-rata usia harapan hidup warga (thn) Ketersediaan fasilitas puskesmas (unit/jiwa) ketersediaan fasilitas rumah sakit (unit/jiwa Ketersediaan apotik (unit/jiwa) Angka melek huruf Ketersediaan fasilitas pendidikan (SD) (unit/jiwa Ketersediaan fasilitas pendidikan (SMP) (unit/jiwa) ketersediaan fasilitas pendidikan (SMU) (unit/jiwa) Bobot 10 @ 3 2 5 2 1 2 10 2 2 1 1 1 1 0.3 1 1 1 1 1 1 1 0.5 % < 50 jiwa/ha < 20 % <5% Tinggi Nilai 3 3 3 3 3 3 Sedang Parameter 1-2% 1 .5 0.90 % cukup cukup cukup 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 <2% < 20 % Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi < 45 Tahun kurang kurang kurang < 80 % kurang kurang kurang 1 1.3 10 1 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .5 1 1 1 0.5 1 0.7 0.Tabel 5.7 Baik Parameter <1% > 1.3 2 2 Produktivitas Perkotaan 3 Kesehatan dan Pendidikan 0.7 0.5 % 50-75 jiwa/ha 20 .1.

25 % 40 .43 1.8 2 < 15 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .43 1.3 0.Pick up sampah (unit) 10 5 5 1 1 1 > 60 % < 30 % > 75 % > 60 % > 50 % 3 3 3 3 3 40 .95 1.80 % Perpompaan Sedang Nilai 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Buruk Parameter >2% >2% >2% < 30 % Ada Tinggi Tinggi < 130 air hujan < 30 % < 40 % > 25 % < 40 % < 75 % > 25 % < 40 % Gravitasi Nilai Nilai 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 0.3 0.80 % 20 . Jumlah rumah yang menggunakan septic tank (%) 2.20 Bab V .60 % 30 .1 Pelayanan Kota Air 1 0.43 1.60 % 25 . Jumlah penduduk terlayani fasilitas komunal (MCK umum) (%) Cakupan pengangkutan sampah (m3/hr) Cakupan penduduk terlayani Cakupan layanan (ha) Sarana pengangkutan sampah .150 air permukaan 30 -50 % 40 .60 % 75 .No 4 Aspek Permukiman dan Lingkungan Indikator Rasio penduduk kumuh per penduduk total Persentase Permukiman Kumuh (unit) Luasan Permukiman Kumuh Rasio ruang terbuka hijau Pengaduan polusi/pencemaran Jumlah kejadian kebakaran Tindak kejahatan per 1000 penduduk Kapasitas produksi (l/det) Jenis sumber air Rasio sambungan rumah Rasio kebutuhan Tingkat kebocoran rata-rata per tahun Tingkat pelayanan Konsumsi air per pelanggan (domestic) Konsumsi air bersih konsumsi lain (non domestik) Tinggkat penggunaan air Sistem distribusi Bobot @ Parameter 1.43 1.50 % 50 .43 1.3 0.75% 40 .43 1.25 % 40 .43 1.60 % 20 .3 1 > 20 3 15.50 % 2 2 2 2 2 <40 % > 50 % < 50 % < 40 % < 25 % 1 1 1 1 1 1 5 10 0.43 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 < 1% <1% <1% > 40 % Tidak Rendah Rendah > 150 air tanah > 50 % > 60 % < 20 % > 60 % > 80 % < 20 % > 80 % Gabungan dengan reservoir Nilai 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Baik Parameter 1-2% 1-2% 1-2% 40 .5 0.30 % Ada sedang sedang 130 .3 Sampah Kondisi pengolahan setempat(on site system) 1.3 10 5.2 Sanitasi 5.43 5 5.

25 % 30 .5 2.43 1.0.85 % Nilai 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Buruk Parameter <5 <5 <5 sewa < 0.43 1.3 0.10 5 .3 0.5 m 1-2 jam 1-2/tahun 5-15 % >60-80% 50 .9 .Jarak ke pembuangan terdekat Metoda pembuangan Bobot @ 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2.0 0.0.5 km Metode open dumping Perbukitan < 20 % > 0.5 1.5 m < 2 jam > 2x/tahun ada > 20 % < 40 % < 50 % < 20 % < 0.25 .0 0.5 1.1 km Metode controlled land fill Campuran 20 -30 % 0.67 5.3 1.4/1000 km/jiwa > 20 % < 10 % > 60 km/jam > 85 % Nilai 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sedang Parameter 5 .3 0.60 km/jam 75 .No Aspek Indikator .Truk sampah (unit) .67 1.5 .3 0.43 1.10 0.43 1.7 0.3 2.7 1.43 1.4 Drainase 6 7 Listrik dan Telpon Transportasi Perkotaan Topografi kota Rasio panjang saluran primer Tinggi genangan Lama genangan Frekuensi genangan Kerugian material genangan Luas genangan dari area urban Cakupan pelayanan Cakupan pelanggan listrik Cakupan pelanggan telpon Rasio panjang jalan per 100 penduduk V/C Ratio rata-rata Panjang jalan sesuai kewenangan Kerusakan jalan Kecepatan tempuh rata-rata Panjang jalan mantap Integrasi antar kota kemandirian kota (keuangan daerah/pendapatan daerah) ketersediaan dokumen perencanaan pembangunan 10 5 Baik Parameter > 10 > 10 > 10 Milik Pemkot > 1 km Metode sanitary land fill Dataran > 30 % < 0.25 m < 1 jam Tidak ada Tidak ada <5% > 80 % > 75 % > 40 % > 0.2 .43 1.4/1000 km/jiwa 10 -20 % 10 .Arm-roll sampah (unit) .0 1.3 1.75 % 20 -40 % 0.Status tanah TPA .10 5 .3 0.3 0.43 10 8 Pemerintahan Kota > 75 % Ada 25 .Compactor truck (unit) .75 % Ada/Tidak lengkap < 25 % Tidak Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .5 1.2/1000 km/jiwa < 10 % > 25 % < 30 km/jam < 75 % Nilai Nilai 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1.43 1.3 0.3 0.3 0.

22 Na Sedang (Layak Bersyarat) Aspek Sosial dan Ekonomi Penduduk Produktivitas Perkotaan Kesehatan dan Pendidikan Spasial dan Lingkungan Pemukiman dan Lingkungan Pelayanan Kota/prasarana Air Sanitasi Sampah Drainase Listrik dan Telpon Transportasi Kota 10 10 10 10 5 10 1. produktivitas perkotaan.22.3 4.9 Sedang 10 10 10 2. Kondisi ini dapat disimpulkan bahwa kawasan Jatinangor-Cimanggung layak bersyarat sebagai kawasan perkotaan terutama dalam memenuhi aspek-aspek yang masih belum memenuhi kriteria dan standar yang diharapkan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .3 4.7 100 81.7 8.3 6 66. sampah.4.2 4. Hasil penilaian dan pengukuran pada aspek-aspek tersebut diperoleh hasil sebesar 49.29 57.Berdasarkan hasil pengukuran maka dapat diringkas hasil penilaian sebagai berikut : Tabel 5. pemukiman dan lingkungan.4 13. sanitasi. Hasil Penilaian terhadap kondisi eksisting Kawasan Perkotaan Jatinangor No I 1 2 3 II 4 III 5 6 7 8 9 10 IV 11 Pemerintah Kota Total 5 100 0 49. drainase. kesehatan dan pendidikan. transportasi kota dan pemerintah kota).8 20 100 100 75 100 71. pelayanan kota/prasaranan (air bersih. Na = Not applicable (data tidak tersedia) Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa penilaian didasarkan terhadap 11 aspek yang meliputi aspek penduduk.8 27 83 60 Na Baik Sedang Nilai Total Hasil Penilaian Ketersediaan data (%) % terhadap Nilai Total Kategori Sumber : Hasil Analisis.10 .33 5 3.14 42.22 0 0 49.3 50 33 43 84 48 Buruk Sedang Buruk Sedang Baik Sedang 10 4. listrik dan telpon.

Kepadatan penduduk bersih menunjukkan kemacetan dan tekanan segala pelayanan yang terkait dengan kelangsungan hidup penduduk. Cikeruh. Indikator pertumbuhan kepadatan penduduk menjadi satu sub bagian aspek penduduk yang cukup penting untuk dilakukan pengukuran. Pada aspek penduduk tidak diperoleh data tingkat pertumbuhan migrasi. terutama di desa Cibeusi. Petumbuhan kepadatan yang tinggi berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Pertumbuhan migrasi di kawasan Jatinagor-Cimanggung terutama kawasan pendidikan tinggi dan industri relatif besar. Pengukuran tingkat kepadatan adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas area permukiman. Permukiman lama yang berlokasi dekat pusat kegiatan ekonomi dan jaringan jalan utama tumbuh dan berkembang sangat cepat dengan makin bertambahnya rumah-rumah baru. Perkotaan sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi akan selalu menjadi faktor penarik para pendatang untuk melakukan segala bentuk aktivitas ekonomi.11 . Pengukuran tidak dapat dilakukan secara optimal mengingat ketersediaan data yang relatif rendah (cenderung tidak tersedia) pada beberapa indikator dari masing-masing aspek tersebut.A. dan Hegarmanah pada koridor jalan utama. Kawasan perkotaan Jatinangor memiliki kepadatan relatif tinggi dibanding dengan kawasan lain di Kabupaten Sumedang. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Nilai yang terlalu tinggi-padat berimbas pada masalah kesehatan dan tekanan terhadap transportasi dan jasa. Pertumbuhan migrasi yang cepat akan menimbulkan tekanan pada infrastruktur dan suumberdaya. tingginya tekanan terhadap lahan dan rendahnya kesehatan. Namun jika terlalu rendah. Jumlah civitas akademika yang tinggal di Jatinangor turut diperhitungkan sebagai penduduk kecamatan ini walaupun mereka hanya merupakan penduduk sementara (terutama para mahasiswa apabila telah selesai masa kuliahnya akan kembali ke tempat asalnya). produktivitas perkotaan serta aspek kesehatan dan pendidikan. Aspek Sosial Ekonomi Pada bidang sosial dan ekonomi ada 3 aspek utama yang diukur meliputi aspek penduduk. penyediaan jasa akan menjadi mahal. Demikian pula pendatang yang bekerja di zona industri Jatinangor-Cimanggung semakin meningkatkan jumlah penduduk yang bermukim di kawasan perkotaan Jatinangor. Sayang.

Cikeruh.3 atau sekitar 83 % dari nilai maksimal. Dengan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Sayang. karena sektor ini dianggap memberikan nilai tambah (pendapatan) yang lebih tinggi daripada sektor pertanian. Perkotaan ditopang sektor ekonomi perdagangan sektor perdagangan dan jasa. difokuskan pada pembahasan tentang permasalah pemukiman kumuh di perkotaan. Untuk kos-kosan mahasiwa menyebar di Desa-desa Cibeusi. Setiap tahun tidak kurang dari 3 rumah untuk kos-kosan dibangun. serta kontribusi perdagangan dan jasa terhadap PDRB relatif tinggi (perhitungan terlampir). Perkembangan perkotaan akan dibarengi dengan semakin tingginya jumlah penduduk yang bekerja di sektor non pertanian. Cihanjuang. Kondisi ini didukung oleh tingkat kemiskinan dan pengangguran yang relatif rendah. Rumah sewa dan kos-kos tumbuh di lokasi-lokasi dekat kegiatan utama perguruan tinggi dan kegiatan industri tersebar ada di jaringan jalan utama dengan radius dari jalan utama 300 meter. Semakin banyaknya penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. dan Hegarmanah serta sebagian kecil di Desa Cileles. Sawahdadap.12 . Tingkat pertumbuhan penduduk lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi menunjukkan kegagalan pembangunan ekonomi di perkotaan.000 kamar. Jumlah sampai tahun 2003 lebih dari 700 rumah kos-kosan dengan lebih dari 8. Rumah kos-kos ini tumbuh sangat padat padat tidak teratur dan prasarana maupun sarana lingkungan juga sangat kurang. Mangunarga dan Sindangpakuwon dengan pola pertumbuhan yang hampir sama dengan kos-kosan untuk mahasiswa.Pertumbuhan rumah baru ini menyebabkan kondisi permukiman menjadi padat dan memiliki prasarana maupun sarana lingkungan yang sangat kurang. B. terutama disebabkan oleh tingginya arus migrasi dan urbanisasi penduduk. Aspek Tata Spasial Pada aspek spasial (ruang). Sumbangan nilai terbesar pada bidang sosial ekonomi dari aspek produktivitas perkotaan sebesar 8. Pertumbuhan PDRB merupakan indikator yang mencerminkan produktivitas perkotaan. Rumah sewa atau kos-kosan untuk para pekerja menyebar di Desa Mekargalih. tingkat pertumbuhan PDRB terhadap PDRB Kabupaten. Cipacing dan Cisempur di kecamatan Jatinangor serta pada beberapa desa di zona industri Kecamatan Cimanggung seperti Sukadana. pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa. Cintamulya.

Aspek Lingkungan Pembangunan perkotaan harus mempertimbangkan aspek ekologi dan lingkungan untuk mewujudkan perkotaan yang berkelanjutan. kepemilikan lahan dan bangunan serta kualitas sarana dan prasarana yang ada .adanya tingkat perpindahan penduduk yang cepat maka akan mempercepat laju pertumbuhan penduduk perkotaan. Kawasan kumuh umumnya dihubung-hubungkan dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran tinggi. Kurangnya pelayanan pembuangan sampah juga mengakibatkan sampah yang bertumpuktumpuk. Kawasan kumuh dapat pula menjadi sumber masalah sosial seperti kejahatan. C. pengaduan polusi atau pencemaran. indikator yang diukur meliputi : rasio ruang tebuka hijau. Kawasan kumuh adalah sebuah kawasan dengan tingkat kepadatan populasi tinggi di sebuah kota yang umumnya dihuni oleh masyarakat miskin.13 tingkat kepadatan kawasan. Peningkatan kawasan kumuh juga berkembang seiring dengan meningkatnya populasi penduduk. penduduk tinggal di kawasan yang sangat berdekatan sehingga sangat sulit untuk dilewati kendaraan seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Besarnya arus urbanisasi ini dapat disebabkan oleh adanya faktor lain . indikator yang diukur meliputi : rasio penduduk kumuh. fasilitas dan utilitas publik (pull factor) dan adanya tekanan kawasan perdesaan yang mempunyai keterbatasan lapangan kerja. yaitu daya tarik perkotaan sebagai penyedia lapangan kerja. Di berbagai kawasan kumuh. faslilitas dan utilitas publik (push factor) mengingat kawasan perkotaan selain sebagai kawasan pendidikan tinggi juga merupakan zona industri. jumlah kejadian kebakaran dan tindak kejahatan per 1000 penduduk. obat-obatan terlarang dan minuman keras. Penggunaan lahan untuk ruang terbuka hijau ditujukan untuk fungsi-fungsi wilayah tangkapan air atau memiliki nilai penyerapan air (run in) sebesar mungkin dengan nilai Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Beberapa indikator yang dapat dipakai untuk mengetahui apakah sebuah kawasan tergolong kumuh atau tidak adalah diantaranya dengan melihat : dalam kawasan tersebut. persentase pemukiman kumuh serta luasan permukiman kumuh namun data tidak tersedia secara lengkap. Pada pengukuran aspek aspek spasial. Pada aspek lingkungan.

Cisempur. Areal Rekerasi Golf tetap dipertahankan dengan melarang untuk menambah bangunan-bangunan penunjang perhotelan. Berdasarkan luas kota. sebesar mungkin. Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau yang berfungsi untuk konservasi air diarahkan dengan kebijakan : 1. Padang Olah Raga Golf. Disamping itu Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . RTH yang dibutuhkan setara dengan 24% ruang kota. Namun untuk lebih jelasnya maka acuan dibawah ini dapat dipertimbangkan. perkampungan Cilayung.14 . berkisar antara 10% . yakni :  Berdasarkan proses netralisasi CO2.200 orang/Ha sampai 50 orang/Ha. Areal Wisata Kiara Payung yang masuk dalam wilayah administratif Jatinangor seluas 25 Ha. RTH membutuhkan kurang lebih 36% dari luas area kota. Undang-undang tentang Tata Ruang menyebutkan minimal 30% sementara peraturan menteri dalam negeri menyebutkan minimal 20%. Areal rekreasi golf Bandung Giri Gahana seluas 125 Ha. Secara geografis wilayah untuk pemanfaatan ruang terbuka hijau berada pada    ketinggian di atas 750 meter di atas permukaan laut(dpl) saat ini digunakan untuk kegiatan Pertanian Palawija. Berdasarkan kebutuhan air. Gunung Geulis dibatasi dengan ketinggian lebih dari 750 meter dpl dialih fungsikan dari tanaman pertanian palawija menjadi tanaman tahunan yang lebih banyak berfungsi sebagai areal resapan air seperti hutan bambu atau lainnya. 2. rekreasi golf dan apapun sehingga fungsi resapan akan dapat dipertahankan atau sangat dianjurkan untuk menata kawasannya dengan tanaman dan pepohonan yang meningkatkan fungsi resapan air.koefisien lebih dari 0. Jatiroke. 3.30% tergantung dari lokasi. Cileles. dan Jatimukti dan Bantaran Sungai yang sebagian berupa bangunan rumah dan pekarangan. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan yang diijinkan merupakan kegiatan-kegiatan alam dengan pertimbangan nilai koefisien penyerapan air ke dalam tanah Kepastian tentang kebutuhan yang disyaratkan untuk membangun Ruang Terbuka Hijau belum ditetapkan secara definitif. Bumi Perkemahan.5. Areal Wisata Kiara Payung tetap berfungsi sebagai wisata perkemahan dengan mengembangkan areal menjadi lebih alami untuk menjalankan fungsi resapan air. Berdasarkan jumlah penduduk berkisar antara 1.

Secara bertahap pemanfaatan ruang di koridor sungai yang tidak sesuai harus dialihkan. Koridor kiri – kanan sungai seluas 88 Ha. semakin Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . terbagi menjadi 14 Taman Kota. direncanakan ada di tiap-tiap satuan lingkungan permukiman. Hal ini tentu akan menimbulkan komplain masyarakat. Tindak kejahatan dan kejadian kebakaran di kawasan perkotaan menunjukkan tingkat keamanan perkotaan. Pelayanan Perkotaan atau Prasarana Perkotaan Baik buruknya wajah suatu kawasan perkotaan bisa dilihat dari ketersediaan dan pengelolaan sarana dan prasarana (infrastruktur ) yang ada di kota tersebut. 5. Pada kawasan perkotaan Jatinangor relatif rendah. 4. Ruang publik taman kota diperkirakan luasnya 53 Ha. Pada indikator pengaduan polusi/pencemaran menunjukkan tingkat kenyamanan perkotaan terkait dengan kualitas lingkungan perkotaan. Cintamulya dan Cisempur. Taman Kota atau Hutan Kota adalah ruang publik yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan areal resapan air. Daftar lebar sungai dilihat pada data sungai di lembaga berwenang. Luas tiap lingkungan permukiman disesuaikan. Secara bertahap diarahkan untuk mengubah fungsi asal menjadi fungsi taman kota sebagai ruang publik. Pemanfaatan ruang koridor kiri – kanan sungai tetap untuk ruang terbuka hijau dengan jalan inpeksi yang bahan material jalan yang tidak mengganggu fungsi resapan air. Pada kawasan perkotaan Jatinangor. Apabila pabrik tidak melakukan pengolah limbah sebagaimana dipersyarakatkan tentu akan berdampak pada lingkungan sekitarnya yang dekat dengan lingkungan pemukiman. saat ini areal taman kota masih digunakan sebagai areal pertanian atau permukiman lama. D. pemerintah Kabupaten Sumedang telah menyiapkan zona industri di Cimanggung dan beberapa desa di Jatinangor seperti mekargalih. Areal sempadan sungai dari sungai-sungai yang ada di Jatinangor diarahkan sebagai areal konservasi aliran sungai dengan lebar koridor ½ Lebar Sungai dari ukuran terlebar ditambah 1 meter. Hal ini tentu akan berdampak pada peluang untuk terjadi polusi atau pencemaran yang berasal dari pabrik. Diperkirakan areal Gunung Geulis yang berfungsi sebagai resapan air dan wisata seluas 315 Ha.Gunung Geulis dengan fungsinya yang sekarang tetap diarahkan sebagai areal wisata Gunung Geulis.15 . Pada pemanfaatan taman kota termasuk di dalamnya pemakaman.

Cakupan penduduk yang terlayani sistem persampahan masih sangat rendah. lahan tidur (tidak dimanfaatkan). Pengelolaan sampah dan kebersihan pada umumnya dilakukan sendiri-sendiri baik di lingkungan PT. namun sebaliknya jika infrastruktur yang ada tidak tertata dan terpelihara secara baik menunjukan bahwa pengelolaannya tidak dilakukan secara baik.16 . Pelayanan publik pada sektor ini sangat terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah di Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Cimanggung. Sampah Kondisi yang masih memprihatinkan terutama pada pengelolaan atau pelayanan sampah. Hasil penilaian kelayakan pada aspek ini cenderung masih belum baik. drainase dan transportasi serta listrik dan telpon. Hal ini diindikasikan dengan munculnya tempat pembuangan sampah liar (illegal) yang biasanya berada di lahan-lahan kosong. secara baik. Desa-desa di Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung (terutama yang masuk pada kawasan perkotaan Jatinangor) menempatkan lokasi tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) belum sesuai dengan tata ruang yang ada. industri maupun rumah tangga. Dengan demikian dimungkinkan pemanfaatan keluaran dari penilaian ini untuk bahan identifikasi fasilitasi dan tindakan dalam penyelenggaraan infrastruktur/prasarana perkotaan. Pengukuran pada bidang ini difokuskan pada aspek prasarana perkotaan. Penilaian terhadap aspek pelayanan kota meliputi 6 aspek yaitu aspek air. tertata. Tempat pembuangan Akhir yang dimiliki oleh Pemkab berada 60 Km dari Jatinangor sehingga pembuangan akhir oleh jasa pengangkut dibuang ke TPAS milik Pemkab Bandung Salah satu penyebab utama dari kondisi di atas adalah ketidakmampuan pemerintah desa dan pemerintah daerah untuk menyediakan pelayanan karena ketidakmampuan dalam menyediakan TPS (tempat pembuangan sementara). bantaran sungai dll.lengkap. kontainer dan keterbatasan armanda Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . 1. Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah ketersediaan TPSS (tempat pembuangan sampah sementara) dan TPAS (tempat pembuangan akhir sampah) ataupun berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat terkait dengan permasalahan sampah. sampah. terawat dan terpelihara menunjukan bahwa pengelolaan infrastruktur dilakukan. sanitasi.

pengangkut sampah dll, karena keterbatasan alokasi anggaran dalam APBD untuk pengelolaan sampah.dengan segala keterbatasan tersebut tentu saja cakupan pelayanan persampahan menjadi tidak maksimal. 2. Drainase Permasalahan utama bidang drainase adalah masih tingginya genangan baik luasan maupun frekuensinya di kawasan perkotaan Jatinangor serta minimnya sarana drainase. Pada jalur utama kawasan perkotaan Crossing utilitas atau tumpang tindih pemanfaatan saluran menjadi permasalahan tersendiri bagi sektor drainase antara lain dengan utilitas lain seperti pipa air minum, pipa air limbah kabel telekomunikasi dll. Hingga saat ini pada kawasan perkotaan Jatinangor belum mempunyai sistem drainase yang memadai. Permukaan tanah yang rata pada beberapa bagian tertentu tidak menjadi masalah tetapi pada bagian lain terjadi genangan. Pemeliharaan dan pengawasan terhadap saluran yang ada serta pengawasan pembangunan yang tidak ketat saluran drainase tidak terbentuk, rusak malah beberapa disumbat atau dihilangkan. Sungai yang ada sebagai satu-satunya sistem drainase alami juga tidak terpelihara sehingga sedimentasi dan pendangkalan, penyempitan saluran sampai penghilangan sungai-sungai kecil terjadi terus-menerus. Kondisi ini terjadi pada sebagian besar desa di Kecamatan Cimanggung yang akan menjadi bagian kawasan perkotaan Jatinangor Fungsi drainase yang dimaksud sebagai fasilitas pengatus jalan juga kadang berfungsi ganda sebagai saluran irigasi yang pada akhirnya menimbulkan masalah tersendiri perbedaan sistem, dimensi dan konstruksi. 3. Air Bersih Permasalahan lain pada aspek pelayanan kota adalah penyediaan air bersih. Masalah kualitas, kuantitas dan ketersedian air bersih di kawasan perkotaan Jatinangor menjadi masalah yang menuntut perhatian yang ekstra karena terkait dengan pertumbuhan penduduk dan proses urbanisasi dimana sampai dengan saat ini masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan tingkat pelayanan yang masih cukup besar.

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

Bab V - 17

Sumber air baku yang semakin terbatas akibat konversi lahan yang terus meningkat sehingga semakin mengganggu ketersediaan air baku. Sedangkan sumber air baku terutama air permukaan mengalarni pencemaran yang semakin meningkat akibat domestik, industri dan pertanian. Sehingga ketersediaan air baku semakin tidak bisa dijamin, baik kuantitas dan kualitas. Air minum perpipaan yang dikelola PDAM sebagai sistem pelayanan air minum yang paling ideal hingga saat ini baru dapat dinikmati oleh sebagian kecil penduduk di Kawasan Perkotaan Jatinangor. Pengawasan/akuntabititas terhadap pengelolaan penyedia air minum masih lemah, belum ada sanksi untuk penyelenggara air minum yang tidak memberikan pelayanan sesuai dengan syarat yang diharapkan. Badan pengawas masih lemah/kurang berfungsi. Bagi penduduk yang bermukim di sekitar lokasi pabrik, memiliki ketergantungan air bersih yang tinggi, karena sumber air bersih masih di pasok oleh pabrik.
Keterlibatan swasta dalam penyediaan air minum, masih rendah karena pemerintah daerah belum siap dalam bermitra dengan swasta, belum terdapat aturan yang cukup mantap dan komprehensif bagi kemitraan pemerintah swasta dalam penyediaan air minum.

4. Sanitasi atau pengelolaan limbah Pengelolaan air limbah setempat berpengaruh pada kualitas lingkungan yang ada. Permasalahan pada aspek sanitasi disebabkan pengolahan masih didominasi on site sistem pengolahan setempat). Fasilitas pembuangan air limbah yang berada di daerah persil pelayanan nya (batas tanah yang dimiliki). Idealnya system penangan untuk kota sedang dan kecil diterapkan melalui 2 cara yaitu “on-site” tanpa IPLT (Instalasi pengolahan limbah terpadu) dan “On-Site” dengan IPLT. Kedua sistem ini menggunakan truk tinja untuk penyedotan lumpur septik dari tangki septik. Sistem On-Site tanpa IPLT diterapkan apabila : a) Penduduk kota < 100.000 jiwa dan bukan merupakan ibukota kabupaten b) Jumlah tangki septic < 5000 unit dimana lumpur septic dibuang ke IPLT terdekat. Sistem On-Site dengan IPLT diterapkan apabila : c) Penduduk kota > 100.000
Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V - 18

d) Jumlah tangki septic > 5000 unit dengan volume pengurasan lumpur 2-3 m3/hari. e) Ibukota kabupaten/Kota Pada kawasan perkotaan Jatinangor pembuangan air bekas cucian ke jaringan drainase yang semestinya diperuntukan untuk pembuangan dan peresapan air hujan, karena kapasitas jaringan drainasie tidak lagi sesuai dengan dimensi yang ada maka dampak yang pada akhirnya muncul adalah luapan air dari dari jaringan drainase, genangan di badan jalan dan berjangkitnya berbagai macam penyakit seperti diare, demam berdarah dll. Pencemaran terkait dengan limbah domestik berpotensi tercemarnya air dengan bakteri e-coly karena pesatnya perkembangan permukiman yang kadang sulit untuk dikendalikan, Salah satu permasalahan air limbah di kawasan perkotaan Jatinangor adalah pembangunan septiktank keluarga pada beberapa lokasi yang tidak lagi memenuhi syarat teknis yang disyaratkan dalam rangka pengelolaan kesehatan lingkungan yang semestinya berjarak minimal 10 m dari sumur tidak lagi bisa dipenuhi karena keterbatasan lahan perkotaan. Pencemaran limbah industri mempunyai dampak yang lebih buruk terhadap lingkungan sekitar sehingga harus diolah secara sepesifik. Limbah cair industri dikelola oleh masing-masing masing industri sesuai persyaratan yang ditetapkan peraturan lingkungan. Beberapa kasus terjadi pihak industri membuang limbah cair yang tidak diolah atau hasil olahannya tidak memenuhi syarat, pada tengah malam atau pada saat hujan besar dan pada saat musim hujan dimana arus air sungai cukup besar. Atau pada saat hujan turun, limbasan air hujan yang berasal dari tampungan limbah industri menggenangi atau membanjiri pemukiman warga.

5. Transportasi Pada aspek transportasi, pelayanan belum optimal. Dukungan pelayanan

transportasi yang relatif rendah diperparah banyaknya kondisi jalan lingkungan yang dalam kondisi rusak. Kecepatan tempuh rata-rata relatif rendah juga disebabkan oleh kemacetan yang sering terjadi pada kawasan-kawasan tertentu. Jatinangor berada pada gerbang timur Kota Bandung yang menjadi titik persimpangan pergerakan regional. Pengembangan sistem transportasi bukan hanya untuk
Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V - 19

kepentingan Jatinangor tetapi mencakup pengembangan sistem pergerakan Bandung Timur bahkan regional antar kota. Konflik pada sistem transportasi menjadi pengganggu utama pada kinerja seluruh aktivitas terutama perguruan tinggi dan lokasi disekitar pabrik. jalan yang tidak memenuhi standar sesuai dengan fungsinya. Kemampuan Pemerintah Daerah dalam membangun prasarana baru sangat kecil, sehingga hanya bisa melakukan pemeliharaan dan peningkatan saja. Prasarana transportasi menyimpang dari penggunaan dan fungsi hirarki jalan. Disamping itu, kualitas dan kuantitas

D. Aspek Kelembagaan Pelayanan pemerintahan adalah pelayanan untuk kebutuhan catatan sipil dan kependudukan bagi masyarakat selama ini dilakukan dan dibutuhkan masyarakat, berupa pelayanan kebutuhan catatan sipil seperti Kartu Tanda Penduduk(KTP), Akte Kelahiran, Sertifikat Kepemilikan Tanah, Ijin mendirikan Bangunan(IMB), Rekomendasi Kegiatan Usaha, dan lain-lain. Pelayanan ini dilayani oleh Pemerintah sesuai dengan jenjang dan pembagian kewenangan antar tingkatan pemerintah. Dalam rangkaian pelayanan yang diberikan pemerintah tersebut terkait organisasi masyarakat yang dianggap pemerintah seperti desa, dusun, RW, dan RT. Di kawawan perkotaan Jatinangor sendiri kelembagaan yang melayani kebutuhan masyarakat terdiri dari Kecamatan, Polisi Sektor, Komando Rayon Militer, dan Cabang Dinas meskipun belum semua cabang dinas ada. Dalam pelayanan catatan sipil ini dibutuhkan sarana pelayanan berupa kantor atau tempat pelayanan. Pelayanan Pemerintahan yang disebutkan di atas tehadap kebutuhan catatan sipil dan kependudukan terutama dilayani oleh pemerintah kecamatan, pemerintahan desa., Organisasi Rukun Warga, dan Organisasi Rukun Tetangga(RT), saat ini memiliki prasarana kantor pelayanan masing-masing kecuali RT yang dilayani di rumah Ketua RT dan pelayanan di luar jam kerja. Sedangkan pelayanan RW bervariasi ada yang memiliki kantor pelayanan RW dan banyak yang tidak memiliki, pelayanan ini sama dengan pelayanan RT. Pemerintahan Desa memberikan pelayanan seperti selayaknya organisasi pemerintah dan semua Pemerintahan Desa memiliki kantor pelayanan Pemerintahan Desa, meskipun beberapa desa tidak membuka pelayanannya setiap saat pada jam kerja.
Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V - 20

Kebijakan pelayanan catatan sipil dalam tata ruang ditujukan untuk membangun kondisi kondusif terjadi kemudahan pelayanan oleh lembaga pelayanan catatan sipil dan kemudahan mengakses pelayanan catatan sipil oleh masyarakat dalam tata ruang ditempuh kebijakan sebagai berikut : 1. sehingga mudah diakses oleh seluruh bagian wilayah pelayanan secara adil. Sertifikat Tanah. Perijinan Gangguan(IG). Akte Kelahiran. Lokasi pusat pelayanan catatan sipil tingkat kecamatan berlokasi di jalan arteri sekunder. jenis pelayanan selama ini berjumlah sembilan kewenangan pemerintah kecamatan yaitu : KTP. Pusat pelayanan pemerintahan desa berada di jalan kolektor sekunder dan berada di tengah wilayah pelayanan yang mudah diakses oleh masyarakat desa yang dilayaninya 4. Mengarahkan ruang untuk membentuk struktur ruang yang memiliki hirarki pelayanan dengan radius pelayanan yang seimbang dan memiliki aksesibilitas pelayanan tinggi. IMB dibawah 100 meter persegi dan di luar JaLan Negara. 3. Pusat pelayanan organisasi rukun tetangga dengan upaya masyarakat setempat diarahkan untuk berada di jalan lingkungan di tengah unit permukiman dengan prinsip radius komunikasi yang mudah.Pemerintah Kecamatan merupakan kepanjangan tangan Kepala Pemerintah Daerah (Bupati) untuk pelayanan tingkat kecamatan. 2. Perijinan Wisata/Keramaian. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Organisasi RT di atur sedemikian sehingga silaturahmi antar warga lebih lancar.21 .

Disamping indikator perkotaan yang dikembangkan ADB tersebut, ada alternatif lain mengukur standar perkotaan tipe sedang mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (saat ini masih dalam bentuk rancangan Permendagri) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut: Tabel 5.5 Matrik Standar Pelayanan Perkotaan Untuk Kawasan Perkotaan Sedang
No 1 A. B. Fungsi Jenis Pelayanan Standar Pelayanan 65% Drainase sistem tertutup untuk jaringan jalan arteri dan kolektor kota 85% 60% Penilaian Terbatas sebagian

PERMUKIMAN PERKOTAAN Air Bersih Jaringan Perpipaan Air bersih Drainase dan Sistem Drainase penangulangan banjir Persampahan Air Limbah Sarana dan Prasarana Transportasi TPA dengan sistem pembuangan tertutup Sistem pembuangan air limbah domestik secara terpusat Darat Terminal penumpang Sarana angkutan umum Pemisahan Lalu Lintas Internal dan Eksternal Kota Sistem Pengaturan Lalu lintas Pedestrian Parkir Umum (Off Street) Halte Penerangan Jalan SPBU Jaringan listrik bawah tanah Jaringan telepon bawah tanah Telepon Umum Based tranmission System(BTS) Stasiun Relay Kantor Pos Kotak Surat

C. D. E.

Belum ada Belum tersedia

Terminal C angkutan umum tersedia tersedia tersedia Pelataran Parkir tersedia tersedia tersedia 100% 100% tersedia tersedia tersedia tersedia tersedia

Belum Ada Belum Terbatas Terbatas Terbatas Terbatas Tersedia Tersedia Belum Terbatas Terbatas Tersedia Ada Tersedia Terbatas
Bab V - 22

F. H.

Energi Komunikasi dan Telekomunikasi

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

No I.

Fungsi Ruang Terbuka Hijau

Jenis Pelayanan Taman kota/ Hutan Kota /Jenis RTHKP lainnya

Standar Pelayanan tersedia

Penilaian Tersedia

2 A. B. C. D.

PELAYANAN JASA PEMERINTAHAN Pelayanan Administrasi Kependudukan dan Pertanahan Peizinan Berupa Pelayanan Pemberian Lingkungan Hidup Penanggulangan bencana Sarana monitoring polusi Pos pemadam kebakaran Hidran umum

tersedia tersedia tersedia tersedia tersedia tersedia

Tersedia Tersedia/ Terbatas Belum Belum Tersedia Tersedia

E. 3 A.

Ketentraman dan Ketertiban PELAYANAN SOSIAL Pendidikan

Pendidikan Dasar Sekolah Dasar Umum Sekolah Menengah Pertama Umum dan atau Sederajat Pendidikan Menengah SMU dan atau Sederajat Pendidikan Tinggi Akademi atua Program Diploma Pos Yandu BKIA/ Klinik Bersalin Puskesma Pembantu/ Balai pengobatan Lingkungan Peskesman/ Balai pengobataan Tempat Praktek Dokter Apotek/ Rumah Obat Rumah Sakit (RS) Balai Pertemuan Tempat Rekreasi Gedung Olahraga

tersedia tersedia

Tersedia Tersedia

tersedia tersedia tersedia tersedia tersedia tersedia tersedia tersedia RS kelas B1 tersedia tersedia Gedung Olahraga Tipe B

Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Belum Tersedia Tertentu -

B.

Kesehatan

C.

Rekreasi dan Olah raga

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

Bab V - 23

No D. E. 4 A. B. C.

Fungsi Sarana Peribadan Sesuai dengan Penganut Agama

Jenis Pelayanan

Standar Pelayanan tersedia tersedia

Penilaian Tersedia Tersedia

Tempat Pemakaman Umum PUSAT KEGIATAN EKONOMI Pusat Perdagangan dan Jasa Jasa Kauangan Pusat Pelayanan Kepariwisataan Pusat perdagangan (pasar) Penginapan Pelayanan Kepariwisataan

Pusat perbelanjaan Cabang Bank Umum Hotel Bintang Pusat Informasi Pariwisata

Ada Ada Ada Belum

Berdasarkan hasil pengukuran di atas dapat dilihat bahwa tidak semua standar kebutuhan dan pelayanan yang dipersyaratkan sebagai kota sedang dapat dipenuhi kawasan perkotaan Jatinangor. Sebagian sarana dan prasarana masih tersedia dalam kondisi yang terbatas, bahkan pada beberapa item standar belum dipenuhi. Dengan demikian meskipun kawasan Jatinangor-Cimanggung telah memiliki ciri perkotaaan namun agar dapat berkembang menjadi kota yang layak huni, nyaman dan berkelanjutan membutuhkan beberapa pesyaratan yang menjadi prioritas untuk dipenuhi terutama yang terkait dengan aspek pelayanan perkotaan (prasarana perkotaan) 5.3 Deliniasi atau Batasan Kawasan Perkotaan Berdasarkan hasil kajian terhadap arahan kawasan perkotaan pada berbagai kebijakan dan pemenuhan kriteria yang telah dilakukan, maka deliniasi kawasan perkotaan di wilayah studi diusulkan beberapa alternatif berikut : A. Kawasan perkotaan Jatinangor-Cimanggung (alternatif 1) Alternatif ini terdiri 2 (dua) bagian utama kawasan perkotaan yang saling terkait yaitu Kecamatan Jatinangor sebagai pusat pengembangan kegiatan dan Desa-desa pada sebagian Kecamatan Cimanggung yang merupakan zona industri. 1. Kawasan Perkotaan di kecamatan Jatinangor Kawasan perkotaan Jatinangor terletak di seluruh desa Kecamatan Jatinangor. Hal ini karena, kegiatan perkotaan pada desa-desa di Jatinangor sudah terlihat, serta terdapat lahan yang berpotensi untuk pengembangan kegiatan perkotaan.
Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V - 24

Jatinangor sebagai wilayah kecamatan mempunyai luas 2.650 Ha dengan jumlah 12 meliputi : Desa Cibeusi, Cikeruh, Cipacing, Hegarmanah, Sayang, Cintamulya, Megargalih, Cisempur, Jatiroke, Jatimukti, Cileles,dan Cilayung dengan perbatasan adminitratif kecamatan yaitu :   Bagian Barat dengan Kecamatan Cileunyi Wetan, yang dibatasi oleh Sungai Cibeusi Bagian Timur dengan Kecamatan Tanjungsari, yang dibatasi oleh Sungai Cikeruh dan Puncak Gunung Geulis  Bagian Utara dengan Kecamatan Sukasari dengan batas alam tidak jelas tetapi secara sosial di lapangan didapatkan kesepakatan batasan.  Bagian Selatan dengan Kecamatan Rancaekek, yang secara umum dibatasi oleh beberapa selokan dan Jalan Raya Rancaekek. Meskipun tidak jelas tetapi secara sosial di lapangan terjadi kesepakatan batas daerah administratif. Fungsi Jatinangor sebagai Kawasan Perguruan Tinggi sangat dikenal luas dengan kegiatan empat perguruan tinggi yang menampung lebih dari 30.000 Mahasiswa, belum termasuk Akademi Informatika dan Komputer Al Maksoem sebagai salah salah satu perguruan tinggi di Jatinangor tetapi tidak berada pada kawasan perguruan tinggi. Luas kawasan Perguruan tinggi yang ditempati oleh empat perguruan tinggi 525 Ha. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dengan luas 285 Ha belum seluruhnya difungsikan sebagai sarana dan prasarana perguruan tinggi, sebagain besar (200 Ha) masih berupa lahan kosong yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian yang digarap oleh penduduk sekitar atau sebagai tempat praktek pertanian praja. Sedangkan Unversitas Pajajaran(Unpad) seluas 175 Ha memang dimanfaatkan seluruhnya untuk bangunan tetapi sebagian untuk laboratorium pertanian, perteknakan, perikanan dan lainnya. Sehingga Unpad meskipun bagian dari kawasan Perguruan Tinggi tetapi pemanfaatan ruang sebagian besar pertanian dan ruang terbuka hijau. Demikian juga Universitas Winaya Mukti (Unwim) yang luasnya 51 Ha, baru sebagian lahan yang dimanfaatkan untuk kegiatan akademi, sisanya berupa ruang terbuka dengan pemanfaatan ruang untuk pertanian yang digarap oleh penduduk.

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

Bab V - 25

Kawasan Permukiman dengan ciri campuran dengan tumbuhnya permukiman baru berupa fungsi-fungsi permukiman sebagai rumah sewa dan kos-kosan. Jatimukti dan Cisempur.000 Orang. karena sejarah pertumbuhan wilayah pertanian(Kawasan Pedesaan) yang tumbuh menjadi Kawasan Perkotaan. Masih satu hamparan dengan dalam Kawasan Perguruan Tinggi terdapat lahan yang rencana akan digunakan untuk kegiatan Pendidikan dan Latihan Pegawai Negeri Jawa Barat(Diklat Propinsi Jawa Barat) kurang lebih lahan 10 Ha dan sekarang pemanfaatan ruangnya sebagai ruang terbuka hijau. dan Hegarmanah. Koskos/Pondokan mahasiswa di Desa-desa Cibeusi. Kawasan Permukiman dengan ciri permukiman pengrajin terutama menyebar di Cipacing. Sayang.5 Ha yang tersebar tidak satu hamparan tetapi berada di Koridor Jalan Raya Rancakek masuk Desa Cipacing. Cintamulya dan Cisempur. Cikeuruh. Sepanjang Koridor tersebut didapat pemanfaatan lain yaitu pertanian. Lebih menonjol fungsi perdagangan. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Kawasan Permukiman dengan ciri pertanian atau pedesaan berada menyebar di Desa Cilayung. Jumlah industri 16 Industri dengan jumlah tenaga kerja hampir 32. Koridor Jalan Raya Rancaekek sendiri merupakan lahan dengan pemanfaatan ruang campuran. Permukiman dengan ciri pondokan/kos-kosan pekerja industri berada menyebar di Desa-desa Cipacing. yang dimaksud pemanfaatan ruang untuk hal tersebut lebih ditujukan untuk menyebut sejumlah lahan seluas 76. Kawasan permukiman bersatu dengan pertanian sehingga sulit dipisah secara tegas. Kawasan permukiman merupakan pemanfaatan ruang dominan hampir merata di seluruh wilayah Jatinangor. 2. Cileles. tetapi didominasi kegiatan industri. Sayang. Pemanfaatan fungsi pertanian dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu : 1. Mekargalih. Kawasan Industri. sebagian Cibeusi dan Sayang maupun Cilayung. perdagangan dan permukiman sendiri. Jatiroke.26 . Cintamulya dan Cisempur. 3.Hanya Institut Manajemen Ikopin(IMI) yang luasnya 17 Ha hampir termanfaatkan seluruhnya untuk kegiatan akademi perguruan tinggi.

27 . dengan luas lahan yang masuk wilayah administrasi kecamatan Jatinangor kurang lebih 25 Ha.1) maka kelebihan dan kelemahannya adalah sebagai berikut : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . sehingga data pemanfaatan ruang tahun 1991. Cimanggung) telah berubah dengan cepat dari kawasan pedesaan menjadi kawasan kota-kota satelit sebagai penyangga Kota Metropolitan Bandung. Sebagaimana disebutkan di atas hal ini tidak lepas dari sejarah pertumbuhan Jatinangor yang semula sebagai wilayah pertanian dan perkebunan(sebelum tahun 1970) kemudian terjadi pergeseran lahan menjadi industri di wilayah selatan atau Koridor Jalan Raya Rancaekek dan kegiatan perguruan tinggi di bagian utara dan penunjangnya di Koridor Jalan Raya Jatinangor. Kondisi pemanfaatan ruang untuk pertanian dan juga permukiman lama atau perkampungan menjadi tidak bisa dipisahkan secara tegas. 1999 dan tahun 2001 menjadi seperti tidak masuk akal ketika jumlah luas atau proporsi pemanfaatan ruang untuk permukiman menjadi berkurang padahal kemungkinan data permukiman dan pertanian bisa tergabung pengukurannya. kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah bagian barat (Jatinangor. dan jasa yang sudah barang tentu berpengaruh terhadap kondisi perekonomian masyarakat dan penyerapan tenaga kerja setempat. Pemanfaatan Ruang yang lain yang sangat menonjol dari sisi kegiatannya adalah pemanfaatan ruang wisata perkemahan dan olah raga golf yang dilengkapi fasilitas hotel dan restoran. Jika alternatif ini yang dipilih (batas deliniasi lihat gambar 5. Kecamatan Cimanggung Desa-desa di Kecamatan Cimanggung merupakan kawasan yang berbatasan dengan Desa-desa di Kecamatan Jatinangor yang akan dikembangkan ke arah zona industri terutama pada koridor jalan raya Bandung-Rancaekek-Cicalengka. perdagangan. Dalam dekade dua puluh tahun terahir ini. sebagian lagi masuk wilayah administrasi Kecamatan Sukasari. 2. Kegiatan perkemahan di Bumi Perkemahan Kiara Payung dikelola oleh kwarda Pramuka Jawa Barat.Kawasan Pertanian merupakan pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertanian menyebar hampir di seluruh desa-desa di Jatinangor.

 Dengan daya tampung ruang yang terbatas maka penyediaan ruang terbuka hijau menjadi semakin sulit diakomodasi sesuai dengan ketentuan (minimal 30 %).Kelebihan :  Luasan cakupan wilayah pengelolaan kawasan perkotaan yang tidak terlalu luas akan memudahkan dalam pengelolaan dan penataan fungsi-fungsi kawasan perkotaan (span of control terbatas)  Kawasan kecamatan Jatinangor merupakan arahan kawasan pendidikan tinggi.  Kawasan Jatinangor dan Cimanggung merupakan kawasan zona industri sebagaimana ditetapkan pada RPJP Kabupaten Sumedang. Integrasi penyediaan sarana dan prasarana kawasan perkotaan lebih mudah Luasan wilayah kawasan perkotaan yang kecil. namun dalam pengembangan wilayah ke depan tidak Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Dengan cakupan wilayah kawasan perkotaan yang lebih terbatas maka daya tampung ruang menjadi sedikit. Kawasan Perkotaan Jatinangor dengan kondisi permukaan tanah yang bergelombang mengakibatkan wilayah efektif pengembangan untuk kawasan perkotaan menjadi terbatas.   Penetapan kawasan industri berimplikasi pada kawasan yang relatif cepat berkembang. merupakan fungsi kawasan yang telah jelas sesuai dengan RTRW provinsi maupun RTRW Kabupaten sehingga memudahkan pengelola kawasan perkotaan dalam menata fungsi-fungsi yang dibutuhkan dalam menunjang pengelolaan kawasan pendidikan tinggi yang lebih baik. Kawasan (Alternatif 2) Meskipun wilayah Jatinangor dan Cimanggung merupakan fokus utama wilayah kawasan perkotaan Jatinangor karena telah memiliki ciri perkotaan dan memenuhi standar-standar perkotaan sedang. B. Kelemahan :   Kawasan relatif terbatas untuk pengembangan kawasan ke depan terutama dalam mendukung pengembangan kawasan pemukiman penduduk dan aktivitas perkotaan. potensi konflik sosial ekonomi penduduk akan semakin kecil.28 Perkotaan Jatinangor-Cimanggung-Tanjungsari-Sukasari .

Berikut gambaran kecamatan yang merupakan perluasan kawasan perkotaan pada alternatif 2. wilayah Kecamatan Sukasari dan sebagian wilayah Kecamatan Pamulihan adalah bagian dari Kecamatan Tanjungsari. Sebelum pemekaran. Kecamatan Tanjungsari dan Sukasari merupakan bagian yang berpotensi dalam mendukung pengembangan kegiatan Perkotaan Jatinangor.terelakkan pengembangan kawasan perkotaaan dapat melingkupi daerah-daerah yang berbatasan di sekitarnya. Tanjungsari berada di dekat kawasan pendidikan Jatinangor. Buah-buahan dan umbi-umbian juga merupakan produk Tanjungsari yang cukup dikenal. Tanjungsari adalah salah satu daerah penghasil susu sapi di Jawa Barat. Di kecamatan ini juga terdapat banyak tempat-tempat yang memiliki panorama indah. selain Lembang dan Pangalengan. daerah Tanjungsari sebelah utara (Desa Cijambu dan sekitarnya) merupakan daerah penghasil sayur-mayur. kecamatan Sukasari di barat laut serta wilayah Kabupaten Subang di sebelah utara. Arah pengembangan pada wilayah terdekat kawasan perkotaan Jatinangor yang memiliki akses baik mengikuti jalan arteri sepanjang koridor Bandung – Cirebon. desa-desa pada sebagian Kecamatan Cimanggung yang merupakan zona industri. Pada alternatif 2 ini kawasan perkotaan terdiri 4 (empat) bagian utama kawasan perkotaan yang saling terkait yaitu Kecamatan Jatinangor sebagai pusat pengembangan kegiatan. Kecamatan Tanjung Sari. Kecamatan Tanjungsari dapat dijadikan bagian dari kawasan perkotaan Jatinangor sebagai bagian pengembangan wilayah perkotaan untuk menampung kebutuhan perumahan atau pemukiman. kecamatan Cimanggu di selatan. Selain itu. desa-desa pada sebagian Kecamatan Tanjungsari yang diarahkan sebagai pusat pemukiman dan desa-desa pada sebagian Kecamatan Sukasari. 2. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Kecamatan Tanjungsari memiliki beberapa produk andalan. Kecamatan ini berbatasan dengan kecamatan Jatinangor di barat daya. kecamatan Pamulihan di timur. Kecamatan Sukasari Kecamatan Sukasari dapat dijadikan bagian dari kawasan perkotaan Jatinangor sebagai bagian pengembangan wilayah perkotaan untuk menampung kebutuhan perumahan atau pemukiman.29 . 1.

30 . Dengan cakupan wilayah kawasan perkotaan yang lebih luas maka penyediaan ruang terbuka hijau menjadi semakin besar luasannya. C. Kawasan Perkotaan Jatinagor-Cimanggung-Tanjungsari-Sukasari-Pamulihan (Alternatif 3) Pada alternatif 3 ini. Kelemahan :  Cakupan kawasan yang lebih luas. Beberapa desa pada kecamatan ini berpotensi menjadi bagian kawasan perkotaan yang menjadi penyangga Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Distribusi penyediaan fasilitas umum (sosial dan ekonomi) cukup berat karena sebaran lokasinya yang luas dan kebutuhan anggaran yang besar.2) yang dipilih tentu akan memiliki kelebihan dan kelemahan antara lain : Kelebihan:    Wilayah untuk pengembangan kawasan perkotaan lebih luas. sehingga pengelola lebih leluasa dalam mendistribusikan fungsi-fungsi kawasan perkotaan. menyulitkan di dalam koordinasi kelembagaan antar kecamatan serta dalam mengintegrasikan sarana dan prasarana kawasan perkotaan   Luasan wilayah kawasan perkotaan yang besar. Ketersediaan ruang yang lebih luas akan meningkatkan daya tampung aktivitas perkotaan dan memungkinkan banyak pilihan alternatif lokasi bagi investasi. Tambahan perluasan kawasan perkotaan meliputi beberapa desa di Kecamatan Pamulihan.Jika alternatif 2 ini (batas deliniasi lihat gambar 5. maka potensi konflik sosial ekonomi penduduk akan semakin besar. kawasan perkotaan Jatinangor meliputi 5 kecamatan sebagaimana yang direkomendasikan dalam RTRW Kabupaten Sumedang 2002-2012 revisi. Kawasan Perkotaan Jatinangor dengan kondisi permukaan tanah yang bergelombang mengakibatkan wilayah efektif pengembangan untuk kawasan perkotaan menjadi terbatas. Kecamatan Pamulihan merupakan merupakan kecamatan yang berbatasan dengan Kecamatan Tanjungsari dan Kecamatan Cimanggung.

A. Jatinangor sebagai PKL-1 (pusat Kegiatan Lokal). pusat pengolahan dan simpul transportasi yang mempunyai pelayanan satu kabupaten atau beberapa kecamatan. Ketersediaan ruang yang lebih luas akan meningkatkan daya tampung aktivitas perkotaan dan memungkinkan banyak pilihan alternatif lokasi bagi investasi.3).31 . Jika alternatif ini dipilih sebagai kawasan perkotaan maka maka kelebihan dan kelemahannya : Kelebihan:    Wilayah untuk pengembangan kawasan perkotaan lebih luas. Cimanggung. PKL merupakan Kota sebagai pusat jasa. maka potensi konflik sosial ekonomi penduduk akan semakin besar. Tanjungsari dan Sukasari sebagai sebagai PTK (Pusat Kegiatan Tingkat Kecamatan. Kelemahan :  Cakupan kawasan yang lebih luas. sehingga pengelola lebih leluasa dalam mendistribusikan fungsi-fungsi kawasan perkotaan. Hierarki dan Fungsi Kawasan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Sumedang. dengan kriteria penentuan ditetapkan dengan kriteria: Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Distribusi penyediaan fasilitas umum (sosial dan ekonomi) cukup berat karena sebaran lokasinya yang luas dan kebutuhan anggaran yang besar. menyulitkan di dalam koordinasi kelembagaan antar kecamatan serta dalam mengintegrasikan sarana dan prasarana kawasan perkotaan   Luasan wilayah kawasan perkotaan yang besar.bagi pengembangan bagian kawasan perkotaan lainnya khususnya Kecamatan Tanjungsari yang relatif telah berkembang lebih dahulu (Gambar 5. Kawasan Perkotaan Jatinangor dengan kondisi permukaan tanah yang bergelombang mengakibatkan wilayah efektif pengembangan untuk kawasan perkotaan menjadi terbatas. Dengan cakupan wilayah kawasan perkotaan yang lebih luas maka penyediaan ruang terbuka hijau menjadi semakin besar luasannya.

b. bersifat khusus karena mendorong perkembangan sektor strategis atau kegiatan khusus lainnya di wilayah kabupaten. Kecamatan Jatinangor juga sesuai dengan RTRW Provinsi dan Kabupaten Sumedang ditetapkan sebagai kawasan tertentu yang memiliki pertumbuhan cepat untuk mendorong pengembangan kawasan sekitarnya. simpul transportasi untuk satu kabupaten atau untuk beberapa kecamatan. d. Megargalih. Cisempur). Sejalan dengan bergabungnya 3 kecamatan dalam wilayah Metropolitan Bandung. Sawahdadap. pusat pengelolaan/pengumpul barang untuk beberapa kecamatan. Kecamatan Tanjungsari untuk menampung kebutuhan perumahan. Jainangor berfungsi sebagai pusat perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan lokal di tingkat Kabupaten Sumedang atau beberapa Kecamatan di sekitarnya serta pintu masuk bagian barat ke Kabupaten Sumedang dari Bandung sedangkan Cimanggung merupakan Pusat Kegitan Tingkat Kecamatan berfungsi sebagai zona industri terutama di jalur koridor jalan raya Bandung-Rancaekek-Cicalengka meliputi beberapa desa (Sukadana. Sebagai pengembangan wilayah kawasan perkotaan beberapa desa di Kecamatan Tanjungsari dan Sukasari dapat dikembangkan menjadi bagian dari kawasan perkotaan Jatinangor terutama diarahkan untuk mendukung pengembangan kebutuhan kawasan permukiman bagi civitas akademika perguruan tinggi. c. Cihanjuang. 3 kecamatan di wilayah Kabupaten Sumedang yang termasuk dalam kawasan Bandung Metropolitan Area. yaitu Kecamatan Tanjungsari. pusat jasa keuangan/ bank yang melayani satu kabupaten atau melayani beberapa kecamatan. Mangunarga dan Sindang Pakuwon) dan juga beberapa desa di Kecamatan Jatinangor (Cintamulya. Cimanggung dan Jatinangor.a. Disamping itu. Kecamatan Jatinangor dikembangkan untuk menampung limpahan fungsi pendidikan tinggi. Kota-kota kecamatan ini direncanakan untuk menjadi counter magnet dari perkembangan Kota Bandung dalam fungsi-fungsi tertentu. Berdasarkan fungsi PKL tersebut. Jatinangor dan Cimanggung memiliki keterkaitan yang kuat.32 . Kecamatan Cimanggung serta sebagian Kecamatan Jatinangor yang berdekatan direncanakan untuk menampung kegiatan industri dan perumahan. maka kecenderungan perkembangan ke-3 kecamatan tersebut Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan menjadi Bab V .

tol Cisumdawu diharapkan mampu mendongkrak perekonomian Jawa Barat Timur termasuk Jatinagor yang direncanakan sebagai salah satu pintu gerbang akses masuk tol menuju Cirebon dan Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati Majalengka. secara kewilayahan melalui 3 kabupaten.33 2 Sub. Cintamulya. Cinanjung. Kawasan Perkotaan Bagian Timur Kawasan Penyangga Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . Jatiroke. Raharja dan Kutamandiri) dan Sukasari (Sukarapih. Hegar-manah. Sumedang.kawasan perkotaan lebih cepat dibandingkan kecamatan lainnya di Sumedang. Jatimukti. Megargalih.6 Hierarki dan Fungsi Kawasan Perkotaan Jatinangor No. Sukasari dan Mekarsari) serta Hierarki/Pusat Kegiatan Perkotaan Kota inti       Fungsi Perkotaan Kawasan Pendidikan Tinggi Pusat Perdagangan dan Jasa Kawasan industri Puseur Budaya Sunda Budaya Iptek Pusat Perdagangan (Agribisnis) dan Jasa  Kawasan permukiman  Kawasan Pariwisata  Puseur Budaya Sunda Bab V . namun lintasan terpanjang berada pada Kabupaten Sumedang. dan Majalengka terdiri atas 12 kecamatan dan puluhan desa. Margaluyu. Penentuan struktur kawasan perkotan berdasarkan kondisi eksisting dan kajian yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Tiap sub kawasan perkotaan tersebut memiliki pusat kegiatan perkotaan dan sub pusat kegiatan perkotaan. dan Dawuan dengan jarak 52 km. Cipacing. sub kawasan perkotaan Tanjungsari dan Sukasari sebagai pendukung (kota satelit) dan sub kawasan perkotaan Cimanggung (kota satelit) yang memiliki peran dan fungsi masing-masing yang saling terkait. Margajaya. Sumedang. Orientasi pergerakan penduduk ke-3 kecamatan tersebut adalah menuju Kota dan Kabupaten Bandung. Kemudian rencana pembangunan tol Cisumdawu yaitu pembangunan jalan bebas hambatan yang membentang dari Cileunyi. Untuk mengetahui struktur kawasan perkotaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Sayang. Tabel 5. yaitu Kabupaten Bandung. Jatinangor akan menjadi kawasan potensial yang dalam membangkitkan pelayanan kebutuhan terhadap penggunaan tol tersebut seperti penyediaan feeder road. gudang. Cisem-pur. Gunungmanik. sistem pusat kegiatan kawasan perkotaan dalam pada kawasan perkotaan Jatinangor terbagi menjadi 3 sub bagian kawasan perkotaan yaitu sub kawasan perkotaan Jatinagor sebagai Kota Inti. Dengan mempertimbangkan hal tersebut. Cilayung. Jatisari. Cileles. Jika disimak berdasarkan sudut pandang pengembangan wilayah. 1 Bagian Kawasan Perkotaan Sub Kawasan Perkotaan Bagian Barat Cakupan Desa Kecamatan Jatinangor (Cikeruh. Cipacing) Kecamatan Tanjungsari (Tanjungsari.

Citali.34 . Cigendel. Cimanggung. Sindanggalih. Bagian Kawasan Perkotaan Cakupan Desa Kecamatan Pamulihan (Ciptasari.No. Mangunarga. Haurgombong. Pasirnanjung) Hierarki/Pusat Kegiatan Perkotaan Fungsi Perkotaan 3 Sub Kawasan Perkotaan Bagian Tenggara Kawasan Penyangga  Kawasan industri  Pusat perdagangan dan jasa  Kawasan Pemukiman mendukung industri  Puseur Budaya Sunda Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Cikahuripan. Pamulihan. Mekarbakti dan Cilembu) Kecamatan Cimanggung (Sindang Pakuwon. Sawahdadap. Cihanjuang. Sukadana.

1.35 .Gambar 5. Peta Deliniasi Kawasan Perkotaan Jatinangor (Alternatif 1) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .

Gambar 5. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Peta Deliniasi Kawasan Perkotaan Jatinangor (Alternatif 2) Bab V .2.36 .

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Peta Deliniasi Kawasan Perkotaan Jatinangor (Alternatif 3) Bab V .Gambar 5.37 .3.

Soal nama kawasan memang masih perlu dibahas bersama para pemangku kepentingan.4 Arahan Kebijakan Pengembangan Ekonomi Kawasan Perkotaan Pertumbuhan ekonomi di kawasan perkotaan Jatinangor selama ini dipacu oleh kegiatan perguruan tinggi meskipun perguruan tinggi bukan kegiatan dominan satu-satunya sebagai kegiatan basis yang diandalkan. Nama Jatinangor digunakan sebagai pengganti nama Kecamatan Cikeruh pada tahun 2000. Tetapi nama Jatinangor sudah terkenal di seluruh Indonesia karena di lokasi tersebut terdapat berbagai lembaga pendidikan berskala nasional. Beberapa alasan lain yang menjadi dasar penamaan kawasan perkotaan sebagai Kawasan Perkotaan Jatinangor :  Sebagian besar luasan kawasan yang menjadi bagian kawasan perkotaan berada di lingkungan adminisrasi Kecamatan Jatinangor (seluruh desa di Kecamatan Jatinangor menjadi bagian dari kawasan perkotaan Jatinangor)  Jatinagor merupakan daerah yang telah dikenal bukan hanya pada lingkup lokal Presiden.B. Kegiatan pertanian sebagai basis ekonomi sampai saat ini belum hilang meskipun sudah terdesak oleh kegiatan lain dengan semakin berkurangnya lahan pertanian. sudah sering berdatangan ke kawasan tersebut untuk menghadiri acara atau meresmikan sesuatu yang berskala nasional 5. Persoalan ekonomi kota saat ini berkaitan dengan ruang terutama menyangkut hal sebagai berikut : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Penamaan Kawasan Perkotaan Jatinangor Nama yang popular di kalangan masyarakat untuk kawasan perkotaan tersebut yaitu “ Kawasan Perkotaan Jatinangor”. Wakil Presiden dan para menteri kabinet Kabupaten tapi juga pada lingkup Provinsi dan Nasional (karena merupakan pusat kegiatan pendidikan tinggi). Kegiatan lain yang juga dominan lain yang juga mendorong munculnya kegiatan perdagangan dan jasa adalah kegiatan industri dan kegiatan kerajinan (handicraft). namun keberadaan perguruan tinggi telah mendorong kegiatan perdagangan dan jasa yang menunjang kegiatan perguruan tinggi.38 .

6. di gerbang-gerbang industri seperti Kahatek. dan lainnya.39 . ke sektor perdagangan dan jasa. Tingkat pengangguran angkatan kerja masih cukup tinggi sampai hampi 20 % dan peluang kerja industri lebih diperuntukkan untuk tenaga kerja wanita. 7. Kecuali produks-produks yang sudah membentuk imaj baik pada konsumen seperti bedil angin dan gedek/geribik. pola produksi kerajinan berkembang dengan membuat imitasi dari produks terbaru. Kondisi ini mendorong angkatan kerja muda laki-laki berorientasi ke luar Jatinangor. Kegiatan pertanian dari lahan pertanian produktif yang selama ini beralih ke lahanlahan kosong milik perguruan tinggi. Kegiatan produksi kerajinan terus bertahan dengan beradaptasi pada kondisi ekonomi yang terjadi. 2. Wiska.1. industri maupun milik penduduk di luar Bandung dan para petani yang bekerja sebagian besar berasal dari sekitar Jatinangor. Jatimukti. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Munculnya kegiatan pasar kaget yang semakin besar pada waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat tertentu. serta ke jasa transportasi atau ojeg. Diperkirakan ke depan angkatan kerja akan tetap proposional dengan kondisi yang ada dengan jumlah yang berbeda. Kegiatan pertanian yang masih cukup bisa bertahan ada di desa-desa Cileles. Cilayung. Di Unpad setiap minggu pagi. Jatiroke dan sebagian Cisempur dan sawah dadap pada kawasan industri Cimanggung 8. Pedagang ini berpindah-pindah sesuai hari dan pasar dari para pekerja industri. Dengan kecenderungan industri terus berkembang maka peluang tenaga kerja lebih besar meskipun ada kemungkinan yang dibutuhka tenaga kerja wanita. Tumbuh dan berkembang kegiatan perdagangan dan jasa merubah fungsi bangunan dari rumah menjadi toko. Pelaku pasar kaget atau pedagang pada umumnya berasal dari luar Jatinangor bagian sebagian di tempat asalnya bukan pedagang kaki lima atau memiliki toko. 10. dan terbangunnya lahan kosong menjadi bangunan berfugsi perdagangan di sepanjang koridor tersebut dan tempat yang cocok untuk kegiatan perdagangan dan jasa 5. Pedagang kaki lima penunjang yang melayani mahasiwa maupun pekerja industri menempati lahan yang memungkinkan di koridor Jalan Raya Jatinangor maupun jalan Raya Rancaekek 4. 9. 3.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Proyeksi Penduduk Kawasan Perkotaan Jatinangor 2008-2015 Desa 2008 KECAMATAN JATIANGOR CIPACING SAYANG MEKARGALIH CINTAMULYA CISEMPUR JATIMUKTI JATIROKE HEGARMANAH CIKERUH CIBEUSI CILELES CILAYUNG 12800 8312 5939 7197 6484 4501 4429 9883 8970 10505 4824 4440 Untuk mengukur kebutuhan ruang yang terkait dengan pelayanan jasa perkotaan dapat dapat diproyeksi dari proyeksi penduduk kota inti kawasan perkotaan 2009 15020 9754 6969 8445 7609 5282 5197 11597 10526 12327 5661 5210 5946 5190 4901 8889 13655 142177 2010 15105 9809 7009 8493 7652 5312 5227 11663 10586 12397 5693 5240 6078 5305 5010 9086 13959 143622 2011 15570 10111 7224 8754 7887 5475 5387 12021 10911 12778 5868 5401 6213 5423 5121 9288 14268 147700 2012 16445 10679 7630 9247 8331 5783 5690 12698 11525 13497 6198 5704 6351 5543 5235 9494 14585 154634 2013 17302 11236 8028 9728 8765 6084 5987 13359 12125 14200 6521 6002 6492 5666 5351 9705 14909 161460 2014 17928 11642 8319 10081 9082 6304 6204 13843 12564 14714 6757 6219 6636 5792 5470 9920 15240 166714 2015 18577 12064 8620 10445 9411 6533 6428 14344 13019 15247 7001 6444 6783 5920 5591 10140 15578 172145 KECAMATAN CIMANGGUNG MANGUNARGA 5817 SAWAHDADAP 5077 SUKADANA 4795 CIHANJUANG 8696 SINDANGPAKUON 13359 TOTAL 126028 Sumber : Hasil Analisis Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .7. Namun demikian. Distribusi Penduduk Distribusi penduduk di kawasan perkotaan inti dalam kurun waktu sampai dengan tahun 2015 adalah 172145 jiwa.40 . Tabel 5. Jatinangor A. dengan diarahkannya pengembangan kawasan perkotaan ke wilayah Tanjunsari dan Sukasari. Persebaran jumlah penduduk ini masih terkonsentrasi di Kawasan Perkotaan di Kecamatan Jatinangor dengan jumlah penduduk jiwa 97491 tahun 2015. maka terdapat distribusi penduduk yang tersebar di kawasan tersebut.Sebagaimana telah diuraikan bahwa kawasan perkotaan memiliki fungsi kegiatan perkotaan yang sesuai dengan kebijakan dan potensi yang dimikinya terutama mendukung aktivitas jasa dan perdagangan sebagai karakteristik utama yang mendukung kawasan perkotaan.

000 7.064 8.620 52 61 57 42 26 38 26 28 26 74 48 34 5200 6100 5700 4.800 7.533 9.600 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 13500 0 0 0 0 0 0 0 13500 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kecamatan Cimanggung 1 2 3 4 5 Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuwon Jumlah 6.428 7.411 6.B. Kebutuhan Fasilitas Sarana Perniagaan Berdasarkan proyeksi jumlah penduduk tersebut kemudian diproyeksikan kebutuhan fasilitas jasa perdagangan dan ruang pada kawasan perkotaan seperti yang dapat di lihat pada berikut : Tabel 5.600 2.41 .800 3.200 4.577 12.783 5.600 3.600 4.00 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 36.800 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 13500 81.444 18.000 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .145 27 24 22 41 62 689 2700 2400 2200 4100 6200 68.578 172.344 10.200 7.600 8.591 10.001 6. Proyeksi Kebutuhan Sarana Perniagaan di Kawasan Perkotaan Jatinangor Tahun 2015 No Desa Jumlah Penduduk (jiwa) Sarana dan Ruang Perniagaan Warung Luas (m2) Toko Luas (m2) Pusat Belanja Luas (m2) Pusat Belanja Dan Niga 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Luas (m2) Kecamatan Jatinangor 1 Cikeruh 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cibeusi Hegarmanah Cintamulya Jatimukti Cisempur Jatiroke Cileles Cilayung Cipacing Sayang Mekargalih 13.200 2600 3800 2600 2800 2600 7400 4800 3400 5 6 6 4 3 4 3 3 3 7 5 3 6.920 5.140 15.019 15.200 82.400 4.8.600 3.000 3.800 3.900 3 2 2 4 6 69 3.400 6.400 2.247 14.445 6.

Koridor penggunaan lahan campuran dengan titik simpul kegiatan saung budaya dijadikan pusat perdagangan dan jasa penunjang kegiatan perguruan tinggi 7. 5. Pengembangan ekonomi dengan kondisi dan permasalahan yang ada serta kebutuhan pengembangannya maka sampai dengan tahun 2015 mendatang kebijakan dapat diarahkan ke hal sebagai berikut : 1. Provinsi maupun pemerintahan pusat.42 . Kebutuhan sarana dan prasarana pengembangan kerajinan dikembangkan melalui kerja sama khusus dengan perguruan tinggi 3. 4. Sektor kegiatan ekonomi yang dikembangkan adalah bersifat yang mendorong penyerapan tenaga kerja lokal dan ramah lingkungan seperti : industri hemat air. Pusat lingkungan permukiman di bagian kawasan industri diarahkan untuk menjadi pusat perdagangan dan jasa yang menunjang kegiatan kebutuhan pekerja industri. 6. Bagi pedagang kaki lima yang bukan dari penduduk lokal diatur sedemikian dengan bekerja sama dengan pemerintahan Kabupaten. 8. Perkembangan kegiatan ekonomi penunjang diarahkan dengan membangun kawasan khusus perdagangan dan jasa penunjang perguruan tinggi dan industri. Khusus untuk kegiatan ekonomi handicraft dipadukan dengan pengembangan wisata serta tetap mempertahankan dan mengembangkan pola marketing yang ada. dan produks perguruan tinggi. Penataan koridor penggunaan lahan campuran diarahkan untuk menampung perkembangan kegiatan penunjang perguruan tinggi dan industri disamping kawasan khusus yang disiapkan. Melihat perkembangan industri dan kegiatan perguruan tinggi. Mengakomodasi perkembangan pedagang kaki lima lokal sebagai proses sementara lapangan kerja diarahkan dengan menyediakan tempat untuk perdagangan dan jasa yang sifatnya pedagang kaki lima. kerajinan. 9. Oleh karena khusus pedagang kaki lima diakomodasi pada tempat- Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . lebih dikhususkan pedagang kaki lima penduduk lokal. diperkirakan perdagangan dan jasa akan terus tertarik untuk berkembang terutama perdagangan jasa yang bersifat informal atau pedagang kaki lima. Menunjang sarana dan prasarana untuk kebutuhan pengembangan sektor ekonomi basis dan penunjangnya yang menyerap tenaga kerja 2.Berdasarkan proyeksi tersebut dapat diperkirakan kebutuhan fasilitas dan ruang menyangkut sarana perniagaan pendukung perkotaan.

26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa “Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman. proses pergeseran lahan pertanian menjadi fungsi lain yang non-pertanian masih akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan. 5. produktif. Pentingnya pengembangan suatu wilayah dengan memperhatikan keberlanjutannya.3% menjadi 42% (Gardiner & Mayling.5 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perkotaan Berkelanjutan Pasal 3 Undang-undang No. Perkembangan perdagangan skala modal besar seperti supermarket atau pun mini market diarahkan sesuai ruang pelayanan 11. Sektor pertanian yang masih menjadi mata pencarian sebagian penduduk Jatinangor. 2006) hal ini mengindikasikan bahwa pembangunan suatu kota harus dapat memperhatkan keberlanjutan dari kota tersebut. tetap dipertahankan dan dilindungi dengan peluang bahwa pemanfaatan ruang yang berfungsi konservasi diantaranya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian baik pertanian untuk tanaman tahunan maupun tanaman musiman. oleh karena itu lahan tersebut diarahkan digarap oleh petani Jatinangor. termasuk pula antisipasi untuk mengembangkan orientasi ekonomi kawasan setelah habisnya sumber daya alam tak terbarukan.43 . 12. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . Misalnya pada waktu sore dan malam hari di halaman kantor yang kegiatan pada siang hari dan pada sore dan malam hari tutup. tidak hanya untuk wilayah dengan luasan yang besar tetapi juga untuk wilayah kota yang pada umumnya berbentuk suatu konsentrasi dari penduduk yang heterogen dalam suatu lahan tertentu dengan berbagai aktivitas yang menyertainya yang bersifat non pertanian. nyaman.tempat tertentu dan waktu-waktu tertentu. 10. dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional”. Sejalan dengan pengembangan kawasan perkotaan. Sangat perlu disadari bahwa studi terakhir menunjukkan dalam kurun waktu 1980-2000 jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan telah meningkat dari 22. Dalam penjelasan UU tersebut disebutkan juga bahwa kata “berkelanjutan” mengandung arti yaitu kondisi kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Adanya karakter-karakter pembentuk kota ini mengakibatkan dalam dinamisasi kehidupannya kota akan mengalami berbagai macam kebutuhan dan kepentingan.

44 Mengembangkan kota lestari sendiri berarti pembangunan manusia kota yang berinisiatif dan bekerja sama dalam melakukan perubahan dan gerakan .. yaitu:   Menempatkan suatu kegiatan dan proyek pembangunan pada lokasi di perkotaan secara ekologis.   Pembuangan limbah industri maupun rumah tangga tidak boleh melebihi kapasitas asimilasi pencemaran. benar. Ruang terbuka hijau merupakan ruang yang direncanakan yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. Keberlanjutan pada hakikatnya adalah suatu etik. suatu perangkat prinsip-prinsip dan pandangan ke masa depan. Selain itu ruang terbuka juga merupakan wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakat di wilayah tersebut.1987). Pemanfaatan sumberdaya terbarukan (renewable resources) tidak boleh melebihi potensi lestarinya serta upaya mencari pengganti bagi sumberdaya tak-terbarukan (non-renewable resources). Karena itu. bersama. Kota yang berkelanjutan adalah suatu daerah perkotaan yang mampu berkompetisi secara sukses dalam pertarungan ekonomi global dan mampu pula mempertahankan vitalitas budaya serta keserasian lingkungan. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. tempat tumbuh tanaman. dan Perubahan fungsi ekologis tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung lingkungan perkotaan (carrying capacity) Berkaitan dengan syarat-syarat tersebut maka salah satu komponen dan aset penting dalam kota berkelanjutan adalah keberadaan ruang terbuka hijau pada kota tersebut.Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi penerus untuk mencukupi kebutuhannya “development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs” (WCED. Tata ruang sebagai instrumen spasial dalam pembangunan kota. ruang terbuka mempunyai kontribusi yang akan diberikan kepada manusia berupa dampak positif. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . merupakan alat yang tepat untuk mengkoordinasikan pembangunan perkotaan secara berkelanjutan untuk mewujudkan kota lestari. Terdapat beberapa syarat yang terkait dengan pembangunan kota yang berkelanjutan.

26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.Ketentuan mengenai pentingnya penyediaan ruang hijau pada kawasan perkotaan diamanatkan UU No. Adanya ketentuan-ketentuan ini telah memperlihatkan bahwa penataan ruang pada dasarnya telah mendorong kota untuk dapat berkelanjutan melalui penyediaan ruang terbuka hijau baik yang menjadi tanggung jawab pemerintah maupun swasta dan/atau masyarakat. dan 30. Terkait dengan kebutuhan ruang terbuka hijau pada Kawasan Perkotaan Jatinangor maka kebutuhan ruang terbuka hijau kedepan dapat diproyeksi sebagaimana ditampilkan pada tabel 5. Terhadap kebutuhan 30% dari luas kota tersebut.8 berikut : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V . yaitu dalam segi perencanaan ruang tertuang pada pasal 28.29. UU Penataan Ruang juga telah membagi bahwa pemerintah kota memiliki tanggung jawab untuk menyediakan 20% dari ruang terbuka hijau yang bersifat publik sementara 10%-nya disedikan oleh privat. Secara umum ketiga pasal tersebut menyatakan untuk keberlanjutan suatu kota maka dipersyaratkan suatu kota memiliki luas RTH minimal 30% dari luas kota.45 .

62 4.83 5.94 9.13 105.17 5.25 11.43 4.40 3.70 7.30 6.18 8.41 11.00 5.57 5.93 4.83 5.38 118.52 4.46 8.72 8.27 12.74 4.84 5.45 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .10 11.96 4.40 7.16 4.48 10.36 6.65 4.25 5.95 10.24 7.34 4.27 7.37 5.63 119.56 4.02 3.91 12.38 4.13 5.63 5.42 9.90 6.89 123.71 5.70 138.86 2013 14.57 11.08 6.25 5.82 4.29 4. PROYEKSI KEBUTUHAN RTH MINIMUM (Hektar) DESA CIPACING SAYANG MEKARGALIH CINTAMULYA CISEMPUR JATIMUKTI JATIROKE HEGARMANAH CIKERUH CIBEUSI CILELES CILAYUNG MANGUNARGA SAWAHDADAP SUKADANA CIHANJUANG SINDANGPAKUON TOTAL TAHUN 2008 10.70 8.77 10.27 4.05 7.97 8.9.69 2011 12.72 4.50 5.18 4.60 11.75 5.81 7.17 11.07 4.18 5.02 2009 12.69 8.09 12.26 5.69 8.93 2015 15.93 8.58 9.55 2014 14.59 8.95 6.00 7.43 5.02 7.82 10.34 4.41 4.53 4.47 12.83 4.75 3.66 8.52 8.32 4.40 4.67 6.33 9.70 4.07 4.46 .08 7.33 4.23 4.00 5.75 4.13 10.36 7.57 4.56 8.74 10.93 4.70 6.44 5.89 4.36 9.45 12.65 4.94 4.42 4.48 2010 12.71 6.30 5.09 10.02 9.66 8.85 12.85 4.49 10.36 7.42 134.11 7.99 11.98 143.48 8.18 7.37 5.72 4.36 11.74 11.04 6.Tabel 5.84 7.54 10.15 128.08 2012 13.43 6.

38 168.29 121.63 103.56 286.70 3.70 189.43 218.54 113.86 104.81 253.85 251.76 285.20 118.61 184.96 114.71 160.74 267.79 3.94 231.02 110.34 101.11 2.93 140.Tabel 5.40 198.17 2. PROYEKSI KEBUTUHAN RTH MAXIMUM (Hektar) DESA CIPACING SAYANG MEKARGALIH CINTAMULYA CISEMPUR JATIMUKTI JATIROKE HEGARMANAH CIKERUH CIBEUSI CILELES CILAYUNG MANGUNARGA SAWAHDADAP SUKADANA CIHANJUANG SINDANGPAKUON TOTAL TAHUN 2008 256.07 139.22 255.79 98.66 118.03 129.94 210.21 144.56 3.56 2009 300.78 143.00 130.21 130.81 311.71 247.38 132.41 111.39 202.78 273.50 107.72 115.57 175.843.54 95.91 188.28 135.27 172.80 116.94 113.68 90.09 157.92 267.45 102.94 129.66 113.40 195.01 2012 328.86 104.56 117.56 106.95 230.79 121.10 298.18 3.27 2015 371.83 109.40 210.83 202.00 166.90 152.51 246.88 260.93 166.37 304.03 177.90 173.10 96.88 135.19 2014 358.26 108.66 179.03 128.24 118.53 2010 302.18 242.02 88.55 241.84 113.09 127.86 153.28 294.32 107.11 196.09 124.48 88.092.14 124.57 232.954.23 104.18 2.92 103.48 175.91 213.36 108.50 284.91 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .65 128.21 104.17 169.85 166.56 194.442.05 224.61 181.17 105.520.03 194.26 211.01 124.64 126.39 208.93 123.47 .73 279.68 119.37 201.229.68 2013 346.40 304.18 140.20 181.872.49 269.61 115.10.44 2011 311.58 197.334.42 120.04 106.88 291.10 100.74 109.43 185.58 152.75 240.53 233.07 276.37 2.

48 .Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab V .49 .

Kebutuhan masyarakat pada satu sisi dan peluang kebebasan mengatur urusan pemerintahannya sendiri pada sisi lain. belum dapat dipertemukan karena terkendala tidak adanya dasar hukum yang mengatur mengenai kota-kota kecamatan serta kawasan dalam wilayah kabupaten yang berciri perkotaan skala kecil. selama ini belum memperoleh pelayanan yang memadai dari pemerintah kabupaten. Perubahan paradigma otonomi dari keseragaman menjadi paradigma keanekaragaman dalam kesatuan. Melalui PP tersebut.1.BAB KELEMBAGAAN PENGELOLA KAWASAN PERKOTAAN 6. Pengelolaan Kawasan Perkotaan Pada dasarnya pemerintah dibentuk untuk melayani masyarakat.1 . VI Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI . sehingga pelayanan kepada masyarakat diharapkan dapat lebih meningkat. Pada masyarakat kota kecil di kecamatan maupun kawasan perkotaan skala kecil yang merupakan gabungan dari bagian desa-desa yang berdekatan dalam satu kabupaten. juga karena belum ada peraturan perundangundangan yang memberikan kewenangan untuk mengelolanya secara khusus. Bentuk organisasi pemerintah dan derivasinya mengikuti perkembangan masyarakat yang dilayaninya. Termasuk pengaturan mengenai kecamatan yang ada didalamnya. Selain karena skala kepentingannya relatif kecil dibandingkan keseluruhan kepentingan masyarakat kabupaten. daerah kabupaten dapat mengambil inisiatif untuk mengelola kawasan perkotaan diwilayahnya secara lebih professional. memberi kesempatan yang luas kepada daerah otonom kabupaten/kota untuk mengatur bentuk dan isi otonomi sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakatnya. Kendala tersebut secara minimal kemudian diharapkan akan dapat diatasi setelah lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan.

Kawasan perkotaan dengan cakupan wilayahnya merupakan bagian dari territorial beberapa kecamatan yang berdekatan. camat dapat diberi delegasi wewenang tambahan dari bupati. maka cakupan kawasan perkotaan Jatinangor perlu ditetapkan secara resmi dalam sebuah peraturan perundangundangan. Kawasan perkotaan semacam itu perlu dikelola oleh sebuah lembaga tersendiri karena cakupan ciri-ciri perkotaannya bersifat lintas-kecamatan. sebagian teritorial Kecamatan Cimanggung (5 desa).2. Model-model Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan “Jatinangor” di Kabupaten Sumedang Berdasarkan hasil kajian diperoleh gambaran bahwa seluruh wilayah Kecamatan Jatinangor yang mencakup 12 desa. maka pengelolaan kotanya dapat dilakukan oleh camat yang karena jabatannya (ex-officio) diangkat sebagai manajer kota. Apabila ciri perkotaannya hanya mencakup satu kota kecamatan. langkah strategis pertama yang perlu dilakukan oleh Pemerintahan Kabupaten Sumedang dalam mengelola kawasan perkotaan Jatinangor adalah menetapkan sebuah peraturan daerah tentang pembentukan kawasan perkotaan Jatinangor. Oleh karena itu.6. Mengingat kegiatan pemerintahan bersifat sah dan tertulis. perkotaan. Pasal 1 butir ketiga PP Nomor 34 Tahun 2009 menyebutkan bahwa : “ Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. Pada Pasal 1 butir no 8 PP Nomor 34 Tahun 2009 dikemukakan bahwa : “ Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan yang selanjutnya disebut Lembaga Pengelola adalah lembaga yang dibentuk dengan peraturan daerah untuk mengoptimalkan sumbersumber yang dimiliki dunia usaha dan masyarakat dalam pembangunan Kawasan Perkotaan”. Pada Pasal 3 ayat (1) yang berkaitan dengan Pasal 2 huruf (b) PP Nomor 34 tahun 2009 menyatakan bahwa pembentukan kawasan perkotaan yang berbentuk bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan diatur dengan peraturan daerah kabupaten. satu desa di Kecamatan Tanjungsari serta satu desa di Kecamatan Sukasari layak dikembangkan menjadi satu kawasan perkotaan. dan kegiatan ekonomi”. perlu dikelola secara intensif. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. baik oleh pemerintah daerah dengan membentuk sebuah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI . dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman.2 . Untuk kepentingan tersebut. pelayanan sosial.

Kelebihannya yaitu : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI . SKPD ini dibentuk dengan Peraturan Daerah (lihat Pasal 8 ayat 1 PP Nomor 34 Tahun 2009). Dari ketentuan di atas dapat ditarik pemahaman bahwa ada dua model pengelola kawasan perkotaan dalam wilayah kabupaten yakni : a) Model pengelolaan oleh Unit pemerintah daerah yang dibentuk khusus untuk mengelola kawasan perkotaan. Model pengelolaan oleh Unit pemerintah daerah yang dibentuk khusus untuk mengelola kawasan perkotaan Untuk mengelola kawasan perkotaan yang cakupan wilayahnya meliputi empat kecamatan yang berdekatan seperti telah dikemukakan pada uraian sebelumnya.maupun oleh sebuah Lembaga Pengelola dengan keanggotaannya terdiri kelompok nonpegawai negeri. Kelebihan dan Kekurangan Model Pengelolaan Kawasan Perkotaan oleh Unit Pemerintah Daerah Model Pengelolaan Kawasan Perkotaan oleh Unit Pemerintah Daerah memiliki kelebihan dan kekurangan dibanding model lainnya. wewenang dan tanggung jawab. unit ini mempunyai kedudukan.a. Sebagai sebuah SKPD. Satuan atau Kantor Pengelolaan Kawasan Perkotaan “Jatinangor”.3 . SKPD ini dapat diberi nama Unit. Lembaga ini sifatnya non-pemerintah daerah tetapi bertanggung jawab kepada pemerintah daerah. pembiayaan dan pertanggungjawaban yang setara dengan eselon IIIa lainnya. Pembentukan Peraturan Daerahnya dapat digabung dengan pembentukan SKPD lainnya atau dibuat Peraturan Daerah secara khusus. tugas. nonpartisan serta dari kalangan masyarakat dan dunia usaha. Pasal 7 ayat (2) PP Nomor 34 Tahun 2009 menyebutkan bahwa : “ Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian daerah kabupaten dikelola oleh pemerintah kabupaten atau Lembaga Pengelola yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada pemerintah kabupaten”. maka Pemerintah Kabupaten Sumedang dapat membentuk unit pemerintah daerah setara eselon IIIa sebagai sebuah SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) guna mengkoordinasikan perencanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat perkotaan di kawasan tersebut. Ad. b) Model pengelolaan oleh Lembaga pengelola kawasan perkotaan yang bersifat non-pemerintah daerah.

di luar pengelolaan oleh sebuah SKPD khusus. Lembaga ini dibentuk dengan peraturan daerah Kabupaten Sumedang (lihat Pasal 8 ayat 1 PP Nomor 34 Tahun 2009). Bentuknya adalah Lembaga Pengelola Kawasan “Jatinangor” yang bersifat non.pemerintah daerah. c) memudahkan dalam memperoleh anggaran melalui APBD Kabupaten Sumedang.b. Sebagai sebuah model baru dalam pengelolaan kawasan perkotaan yang cakupan wilayahnya meliputi beberapa bagian dari kecamatan yang bersandingan. model ini memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan. Kelebihannya yaitu : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI .a) mudah dalam hubungan kerja dengan bupati dan DPRD maupun SKPD lainnya karena juga merupakan sebuah SKPD. d) hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan wilayah dapat berbenturan dengan wewenang camat karena sama-sama eselon IIIa. Model Pengelolaan Oleh Lembaga pengelola kawasan perkotaan yang bersifat non-pemerintah daerah Pasal 7 ayat (2) PP Nomor 34 Tahun 2009 memberikan alternatif lain dalam pengelolaan kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari kabupaten. Ad. b) kurang demokratis dan kurang melibatkan pemangku kepentingan. Pada tingkat nasional terdapat pula model seperti ini dengan nama lembaga negara non pemerintah misalnya KPU. Adapun kelemahan model ini yaitu: a) sangat birokratis karena diisi oleh PNS yang terikat pada struktur dan prosedur yang kaku. c) kurang luwes dalam menggali sumber-sumber pembiayaan di luar dana APBD Kabupaten Sumedang. KPK dan lembaga-lembaga lainnya yang sejenis. Kelebihan dan Kekurangan Model Pengelolaan Kawasan Perkotaan oleh Lembaga pengelola kawasan perkotaan yang bersifat non-pemerintah daerah.4 . b) garis komando dan garis pertanggungjawabannya lebih jelas. KPPU. Model ini dapat dikategorikan sebagai lembaga pemerintahan semu (quasi government) atau lembaga daerah non-pemerintah daerah atau yang secara lebih meluas disebut sebagai Quasi Autonomous Nongovernmental Organization (QUANGO). Disebut demikian karena lembaga ini menjalankan sebagian fungsi daerah dan diberi anggaran dari APBD tetapi bukan organ pemerintah daerah.

Selanjutnya dibahas secara intensif antara pemerintah daerah dengan DPRD. penyusunan peraturan daerah didahului dengan naskah akademis yang kemudian dilakukan konsultasi publik. lembaga ini lebih luwes dalam mengembangkan sumber-sumber pembiayaan yang berasal dari masyarakat dan pihak swasta. Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan dibentuk dengan peraturan daerah. yang selanjutnya dibahas dengan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI . Inisiatif pembentukan peraturan daerah berasal dari Pemerintah Kabupaten Sumedang. b) lebih luwes dalam proses penyusunan perencanaan karena melibatkan para pemangku kepentingan. sehingga skala prioritasnya berada di bawah. maka lembaga ini akan mandeg. Pembentukan Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan “Jatinangor” mengikuti ketentuan sebagaimana dikemukakan di atas.5 . Rincian lebih lanjut mengenai Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan “Jatinangor” yang bersifat non-pemerintah daerah yaitu sebagai berikut.a) dalam hal pembiayaan. peraturan daerah tentang pembentukan lembaga pengelolaan kawasan perkotaan akan memperoleh dukungan dari masyarakat. Berdasarkan perbandingan kedua model di atas. c) apabila tidak didukung oleh Sekretariat Lembaga Pengelola yang andal. 6. selain memperoleh dana dari APBD Kabupaten Sumedang.3 Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan “Jatinangor” 1) Pembentukan Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa berdasarkan ketentuan pada Pasal 8 ayat (1) PP Nomor 34 Tahun 2009. apabila para camatnya masih sangat birokratis dan menggunakan paradigma lama. b) dukungan dana dari APBD akan terbatas karena bukan merupakan sebuah SKPD. Adapun kelemahan model ini yaitu : a) hubungan kerja dengan para camat yang masuk dalam kawasan perkotaan akan sulit. Sesuai ketentuan yang termuat pada UU Nomor 10 Tahun 2004. c) lebih demokratis. maka pengelolaan kawasan perkotaan “Jatinangor” nampaknya lebih cocok menggunakan model kedua yakni dikelola oleh Lembaga pengelola kawasan perkotaan yang bersifat nonpemerintah daerah. Melalui proses yang demokratis serta melibatkan para pemangku kepentingan.

Pengaturan mengenai susunan organisasi dan tatakerjanya ditetapkan secara rinci dalam peraturan daerah pembentukan lembaga pengelola kawasan perkotaan. dan atau b) Unsur masyarakat pemerhati Kawasan Perkotaan. dosen. guru. jumlah anggota pengelola dapat ditambah menjadi tujuh orang. Pengelola kawasan perkotaan menjalankan organisasi secara kolektif. Untuk memenuhi syarat sebagai organisasi nonpemerintah yang bersifat nonpartisan. serta tidak dimonopoli oleh koordinator. anggota Kepolisian Negara RI. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI . maka ketentuan Pasal 9 ayat (3) kemudian diperlonggar dengan penjelasan Pasal dan ayat tersebut dengan ketentuan bahwa : “ Pegawai negeri sipil yang dimaksud dalam ketentuan ini tidak termasuk pejabat fungsional antara lain peneliti. maka pada Pasal 3 ayat (3) PP Nomor 34 Tahun 2009 diatur ketentuan bahwa anggota Lembaga Pengelola Perkotaan tidak berasal dari pegawai negeri sipil.6 . Menurut ketentuan Pasal 9 ayat (2) PP Nomor 34 Tahun 2009. Untuk pengelola kawasan perkotaan “ Jatinangor” karena skala kotanya belum terlampau besar. widyaiswara dan perencana”. keanggotaan Lembaga Perkotaan terdiri atas : a) Pakar/ahli di bidang pengelolaan Kawasan Perkotaan. Ditetapkan demikian karena yang secara teknis mengetahui dan memahami seluk beluk perkembangan masyarakat dan pemerintahannya adalah pemerintah daerah. dan anggota partai politik. Tetapi mengingat orang yang mengerti dan memahami masalah perkotaan di Indonesia jumlahnya tidak banyak. Tentara Nasional Indonesia. sehingga keputusan tertinggi berada pada rapat seluruh anggota. Kelima orang pengelola kawasan perkotaan tersebut dapat dinamakan dewan. salah satunya dipilih oleh para anggota menjadi koordinator. karena sifatnya yang kolegial.DPRD Kabupaten Sumedang. maka disarankan pada tahap pertama jumlah pengelolanya cukup lima orang. Pada tahap selanjutnya apabila perkembangan kota sudah semakin maju dan kompleks. 2) Susunan Organisasi Menurut ketentuan Pasal 9 ayat (1) PP Nomor 34 Tahun 2009 bahwa anggota lembaga pengelola kawasan perkotaan paling sedikit berjumlah 5 (lima) orang dan paling banyak berjumlah 7 (tujuh) orang. Dari lima orang anggota.

ahli pemerintahan serta ahli ekonomi. Sekretariat Lembaga Pengelola diisi oleh PNS. pertanyaan pertama adalah berapa eselon untuk Sekretaris LPP? Eselonering suatu jabatan sebenarnya dapat diukur dan beban pekerjaan dan tanggungjawabnya serta Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI . dihadapkan panel para ahli yang terdiri dari ahli perkotaan.Di dalam PP Nomor 34 Tahun 2009 tidak diatur mekanisme pengisian keanggotaan Lembaga Pengelola Perkotaan. waktu kerjanya (penuhwaktu/fulltime atau paruhwaktu/parttime). ketentuan masa jabatan dan penggantian antarwaktu sebelum masa jabatannya berakhir serta mekanisme pertanggungjawabannya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati. Mekanisme pemilihan ini secara implisit sejalan dengan bunyi Pasal 9 ayat (4) PP Nomor 34 Tahun 2009. pindah tugas ke tempat lain. disarankan agar mekanisme pengisian anggota LPP. Kemudian dilakukan fit and proper test untuk mengetahui kecocokan dan kemampuan calon anggota LPP. Setelah seleksi selesai mereka dianggkat dengan Keputusan Bupati Sumedang. c) Ditunjuk langsung oleh bupati. berdasarkan kriteria persyaratan yang telah ditetapkan sebelumnya. mengundurkan diri karena berbagai alasan ataupun melakukan pelanggaran ketentuan yang mengikat anggota LPP. syarat domisili. Lembaga Pengelola dibantu oleh sekretariat Lembaga Pengelola yang dibentuk oleh bupati (lihat ketentuan Pasal 10 ayat 1 PP Nomor 34 Tahun 2009). mekanisme pengelolaan keuangan. Masa jabatan anggota LPP adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) periode masa jabatan berikutnya. sistem pemberian imbalannya dan lain sebagainya. b) Dipilih melalui suatu “beauty contest”. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk merekrut anggota LPP yakni : a) Dilakukan penawaran secara terbuka kepada publik melalui media massa dengan segala persyaratan yang telah ditetapkan sebelumnya. Mengingat pandangan pegawai negeri sipil masih sangat strukturalis.7 . Dalam menjalankan tugasnya. mekanisme kerjanya. sakit permanen. Tetapi di dalam PP Nomor 34 Tahun 2009 tidak diatur mekanisme penggantian antarwaktu apabila ada seorang atau beberapa orang anggota LPP berhalangan tetap (meninggal. menghilang). Calon anggota LPP diminta untuk menyusun visi dan misi. Oleh karena itu. Hal ini secara implisit dapat ditangkap dari bunyi Pasal 10 ayat (4) dan ayat (5) PP Nomor 34 Tahun 2009. termasuk kategori keahliannya.

kedudukan protokolernya dalam suatu acara. Mengingat fungsi sekretariat LPP bersifat “back office” saja, maka eselon sekretaris LPP disarankan IVa. Sebaiknya sekretaris LPP diisi oleh PNS yang memiliki latarbelakang pendidikan mengenai perkotaan dan memahami manajemen, sehingga dapat mengkoordinasikan berbagai masalah yang ditanganinya. Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya, sekretaris LPP perlu dilengkapi paling sedikit 3 (tiga) sub bagian yang masing-masing memiliki eselon Va. Ketiga sub bagian tersebut yaitu sub bagian yang mengurus ketatausahaan meliputi suratmenyurat, keuangan, dan logistik bagi kepentingan LPP, sub bagian yang mengurus inventarisasi sumberdaya badan usaha swasta dan masyarakat, serta sub bagian yang mengurus aspirasi masyarakat serta informasi kawasan perkotaan. Secara resmi, struktur organisasi dan eselonering sekretariat LPP ditetapkan oleh menteri dalam negeri dengan persetujuan menteri yang membidangi urusan pemberdayaan aparatur Negara. (Lihat pada Pasal 10 ayat 5 PP Nomor 34 Tahun 2009). Tetapi mengingat sampai saat ini peraturan yang dimaksud belum terbit, maka Pemerintah Kabupaten Sumedang dapat melakukan terobosan mendahuluinya, sekaligus menjadi ujicoba pelaksanaan PP Nomor 34 Tahun 2009. Melalui ujicoba tersebut akan dapat diketahui kekuatan dan kelemahan PP tersebut, sehingga terbuka peluang untuk memperbaikinya. Bentuk dan susunan organisasi LPP :Jatinangor” yang disarankan melalui penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

DEWAN PENGURUS (5 orang)

SEKRETARIS

SUB BAGIAN KETATAUSAHAAN

SUB BAGIAN INVENTARISASI SUMBER DAYA MASYARAKAT DAN SWASTA

SUB BAGIAN ASPIRASI MASYARAKAT DAN INFORMASI KAWASAN PERKOTAAN
Bab VI - 8

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan

Gambar 1. Bagan Susunan Organisasi Lembaga Pengelola Kawasan Perkotaan “Jatinangor”.

3) Tugas Pokok dan Fungsi Tugas pokok LPP sudah diatur pada Pasal 8 ayat (2) PP Nomor 34 Tahun 2009 yakni : “mengelola Kawasan Perkotaan dan mengoptimalkan peran serta masyarakat serta badan usaha swasta”. Kata “mengelola” di sini berarti LPP menjalankan fungsi manajemen, yang mencakup mulai dari perencanaan, pelaksanaan serta pelaporannya. Kata “peran serta” di sini berarti LPP hanya mengelola berbagai aktivitas masyarakat dalam mengurus kawasan perkotaan yang bersifat sukarela dan volunteer. Sedangkan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetap dikelola oleh pemerintah daerah. Selanjutnya pada Pasal 8 ayat (3) dikemukakan mengenai fungsi LPP yakni : a) Penggalian dan pendayagunaan sumber daya badan usaha swasta dan masyarakat; b) Penjaringan aspirasi masyarakat dan badan usaha swasta Kawasan Perkotaan; c) Pengembangan informasi Kawasan Perkotaan; d) Pemberian pertimbangan kepada bupati dalam kebijakan operasional, implementasi kebijakan, dan pemberdayaan masyarakat, dan e) Perumusan dan pemberian rekomendasi terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan, serta isu-isu strategis Kawasan Perkotaan. Berdasarkan uraian tugas pokok dan fungsi sebagaimana telah dijelaskan pada uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa LPP mempunyai fungsi menggali dan mendayagunakan sumber daya badan usaha swasta dan masyarakat yang ada di kawasan perkotaan, tetapi yang bersifat sukarela. Sebab yang bersifat wajib seperti pajak dan retribusi merupakan kewenangan pemerintah dan atau pemerintah daerah. Peluang untuk menggali potensi partisipasi masyarakat dan dunia usaha masih terbuka lebar sepanjang anggota LPP kreatif. Prinsip dasar partisipasi adalah adanya kesukarelaan, keterlibatan secara emosional serta memperoleh manfaat secara langsung maupun tidak langsung dari keterlibatannya tersebut. Pada sisi lain, perlu dihindarkan
Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI - 9

pembebanan yang memaksa, sehingga menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Hal tersebut akan menjadi disinsentif bagi masuknya investor ke wilayah Kabupaten Sumedang. 4) Kewenangan Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya, sebuah organisasi baik pemerintah, semipemerintah ataupun swasta, memerlukan kewenangan (authority), yakni “kekuasaan yang saha untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu”. Oleh karena itu, kewenangan seringkali juga disebut sebagai kekuasaan yang sah (legitimate power) atau kekuasaan yang terlembagakan (institutionalized power). Di dalam PP Nomor 34 Tahun 2009 tidak diatur secara rinci mengenai kewenangan dari LPP. Hal tersebut dalam implementasinya justru akan menimbulkan masalah besar, karena akan bertabrakan dengan kewenangan yang sudah ada dan dijalankan oleh instansi pemerintah lainnya. Pada prinsipnya, seluruh kewenangan pemerintahan sudah terbagi habis pada unit-unit pemerintahan yang ada. Oleh karena itu, apabila muncul entitas baru yang ikut menjalankan fungsi pemerintahan, perlu dilakukan pengaturan ulang mengenai pembagian urusan pemerintahan dan kewenangan yang melekat didalamnya. Pengaturan secara rinci mengenai kewenangan yang dijalankan oleh LPP, diatur dalam Peraturan Bupati mengenai LPP sebagai tindak lanjut ketentuan yang termuat pada Pasal 13 PP Nomor 34 Tahun 2009. Kewenangan tersebut mencakup : a) Kewenangan untuk memutuskan sesuatu sesuai tugas dan fungsi LPP berkaitan dengan penggalian sumberdaya masyarakat dan badan usaha swasta, misalnya dalam menarik sumbangan dari pihak swasta, mencari sponsor untuk kegiatan dan lain sebagainya. b) c) d) Kewenangan untuk mengumpulkan, mengolah dan menyajikan informasi tentang kawasan perkotaan; Kewenangan merumuskan rancangan kebijakan mengenai kawasan perkotaan untuk disampaikan kepada Bupati Sumedang. Kewenangan lainnya yang diperlukan untuk menjalankan tugas dan fungsi LPP, misalnya dalam menggalang partisipasi masyarakat dalam membangun kawasan perkotaan, pemeliharaan fasilitas dan utilitas kota.
Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI - 10

5)

Hubungan kerja secara internal Hubungan kerja secara internal yang dimaksudkan adalah antar anggota LPP

serta antara LPP dengan Sekretariat LPP. Hubungan antar anggota LPP bersifat sejajar satu sama lainnya, karena kepemimpinan LPP bersifat kolegial. Kalaupun akan diangkat ketua, posisinya adalah sekedar sebagai “juru bicara”. (spokeman). Berbagai keputusan yang bersifat strategis harus diputuskan melalui rapat paripurna. Mekanisme pengambilan keputusan perlu diatur secara rinci dalam Peraturan Bupati Sumedang. Sekretariat LPP berkedudukan sebagai unsur staf dari LPP, dengan tugas dan fungsi memberikan dukungan administrasi kepada LPP. Oleh karena itu secara teknis operasional, sekretariat LPP berada di bawah dan bertanggung jawab kepada LPP. Sedangkan secara teknis administratif bertanggung jawab kepada Sekretaris Daerah melalui asisten yang membidangi ekonomi dan pembangunan. Hubungan kerja ini diatur pada Pasal 10 ayat (4) PP Nomor 34 Tahun 2009. 6) a) Hubungan Kerja dengan Instansi terkait : Dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang LPP “Jatinangor” nantinya dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui peraturan daerah. Meskipun bentuknya adalah lembaga pemerintahan semu, LPP tetap bertanggung jawab kepada pemerintah daerah. Mekanisme pertanggungjawabannya perlu diatur secara rinci dalam peraturan bupati, dengan prinsip dasar bertanggungjawab kepada Bupati Sumedang sebagai pejabat publik yang dipilih dan memperoleh mandat dari rakyat untuk memimpin kabupaten. Hal tersebut juga sudah diatur pada Pasal 7 ayat (2) PP Nomor 34 Tahun 2009. Pada sisi lain, pemerintah daerah memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk melaksanakan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi LPP. Selain karena pembentukannya dilakukan oleh pemerintah daerah, sebagian sumber pembiayaan LPP juga berasal dari APBD Kabupaten Sumedang. Pembinaan dan pengendaliannya diwujudkan dalam bentuk penyampaian laporan dari LPP kepada Bupati Sumedang, baik dalam bentuk laporan triwulanan, laporan tahunan maupun laporan lainnya yang berkaitan dengan hal ikhwal pengelolaan kawasan perkotaan yang dianggap perlu dilaporkan. Hal tersebut sudah diatur pada Pasal 12 ayat (1) dan (2) PP Nomor 34 Tahun 2009.
Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI - 11

konflik ataupun kekosongan pengurusan. wewenang dan kewajiban yang jelas antara kecamatan dengan LPP “Jatinangor” agar tidak timbul tumpangtindih. b) Bentuk dan jenis kegiatan dengan obyek desa dan masyarakat yang sama. Sehingga wajar apabila sebagian sumber biaya untuk menjalankan roda lembaga berasal dari APBD Kabupaten Sumedang. Dari ketentuan Pasal 11 sebagaimana dikemukakan di atas. LPP “Jatinangor” dibentuk bukan untuk mengambil alih sebagian kewenangan ataupun menjadi pesaing kecamatan. LPP :Jatinangor” tidak boleh menjalankan berbagai fungsi pemerintahan yang selama ini sudah dilaksanakan oleh pemerintah kecamatan. c) Pihak swasta yang akan diminta partisipasinya.b) Hubungan Kerja Dengan Kecamatan dan Kecamatan Instansi Vertikal Tingkat Kawasan perkotaan “Jatinangor” wilayahnya mencakup lintas empat kecamatan. 7) Sumber pembiayaan LPP “Jatinangor” dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang dengan tugas mengelola kawasan perkotaan “Jatinangor” sebagai bagian tidak terpisahkan dari wilayah Kabupaten Sumedang.12 . melainkan mengisi kekurangan kecamatan dalam mengelola wilayah atau bagian wilayahnya yang berciri perkotaan. Dalam hal ini diperlukan pembagian tugas. sehingga kepentingan dan kebutuhan masyarakat kawasan perkotaan tidak terlayani dengan baik. sehingga hubungan kerja paling intensif adalah dengan pihak pemerintah kecamatan. terbuka peluang bagi LPP “Jatinangor” untuk mencari sumber-sumber lain di luar dana dari APBD Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI . Besarnya dana APBD Kabupaten Sumedang yang akan diberikan kepada LPP “Jatinangor” akan sangat tergantung pada kesepakatan politik antara Bupati dengan DPRD serta kemampuan LPP “Jatinangor” untuk meyakinkan pihak-pihak terkait mengenai program dan kegiatan yang akan dijalankan. Hal tersebut juga sudah ditegaskan pada Pasal 11 PP Nomor 34 Tahun 2009 bahwa : “ Pendanaan Lembaga Pengelola bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan sumber pendanaan lainnya yang sah”. Penyelarasan kecamatan dengan LPP “ Jatinangor” mencakup : a) Jadual kegiatan yang melibatkan desa dan masyarakat yang sama. Oleh karena itu.

LPP jelas tidak memiliki kewenangan memungut pajak dan retribusi. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VI .Kabupaten Sumedang. sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan. karena LPP bukan lembaga pemerintah yang diberi kewenangan untuk hal tersebut. Beberapa potensi yang dapat digarap LPP “Jatinangor” antara lain dari: 1) Dana CSR (corporate social responsibility) dari berbagai perusahaan yang ada di kawasan perkotaan.13 . 4) Sumbangan dari berbagai pihak yang sah dan tidak mengikat. 2) Iuran warga kawasan perkotaan untuk kepentingan kebersihan dan keindahan kota.. Oleh karena itu harus ada pembatasan yang jelas mengenai sumber dana yang akan diberikan kepada LPP “Jatinangor”. Semangat yang nampak dari PP Nomor 34 Tahun 2009 adalah agar LPP lebih banyak menggalang dana dari nonpemerintah melalui partisipasi masyarakat maupun pihak perusahaan swasta. 3) Sponsor dari perusahaan untuk berbagai kegiatan yang bertujuan memperindah kota.

Kebijakan pengembangan untuk kawasan perkotaan Jatinangor di antaranya adalah sebagai berikut: I. Strategi untuk mendukung kebijakan tersebut diantaranya adalah: 1. Secara khusus kebijakan dan strategi dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam penetapan dan pengembangan kawasan perkotaan. kualitas lingkungan hidup. Semua permasalahan tersebut akan ditangani dengan berlandaskan pada konsep pembangunan yang berkelanjutan. dsb). Penyusunan struktur dan pembagian tugas pengembangan kawasan perkotaan 3. Pengembangan infrastruktur dasar perkotaan dan perhubungan (jaringan jalan. terutama masalah kemiskinan.BAB STRATEGI DAN KEBIJAKAN DALAM PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN VII Dalam perumusannya. serta keamanan dan ketertiban kota. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan perkotaan mengacu pada prioritas-prioritas program pembangunan pada lingkup Kabupaten.1 . Provinsi maupun Nasional. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia II. terutama permasalahan yang timbul sebagai akibat masih kurangnya perhatian terhadap pelayanan prasarana perkotaan. Membentuk kelembagaan yang mengkoordinasikan kegiatan terkait pengembangan kawasan perkotaan. Pembentukan kelembagaan koordinasi kawasan perkotaan Jatinangor 2. Adapun strategi yang dilakukan guna mendukung kebijakan tersebut diantaranya : Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII . serta permasalahan internal kota.

air bersih. pengelola bersama Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII . Pembangunan dan peningkatan jaringan utilitas seperti persampahan. sistem limbah padat dan cair. Atau melibatan organisasi dan kelembagaan swasta dalam pengelolaan infrastruktur persampahan  Menetapkan restribusi khusus dalam pelayanan sampah untuk pembiayaan peningkatan pelayanan sampah. sistem drainase dengan strategi sebagai berikut : a) Persampahan  Sistem pengelolaan sampah digunakan teknologi komposting semaksimal mungkin. b) Pembuangan air limbah  Menetapkan kewenangan pengelolaan limbah pada lembaga tertentu dan lebih baik tergabung dengan pengelolaan sampah padat.  Melakukan kampanye kesadaran sampah dan pemisahan sampah berdasarkan jenisnya kemudian memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat atau lembaga yang melakukannya secara periodik bekerja sama dengan perguruan tinggi Penarikan sampah dilakukan secara hirarkis dari rumah tangga ke Tempat Penyimpanan Sampah Sementara(TPSS). dan pengelolaan sampah dengan sistem daur ulang untuk semua jenis sampah dalam pengembangan kapisitas masyarakat untuk pengelolaan sampah dengan prinsip 3R (Reuse.2 . telekomunikasi. serta pengelola dan jasa kebersihan yang ada terlibat dalam lembaga pengelola dan pelayanan kebersihan ini.1. recycle.  Lokasi pengelolaan sampah oleh lembaga terpusat di kawasan penelitian sampah perguruan tinggi. listrik. dan reduse) melalui kegiatan Community Base Development (CBD)  Menetapkan lembaga yang memiliki kewenangan terhadap pengelolaan dan pelayanan kebersihan. kemudian ditarik ke Tempat Pengolahan Sampah(TPS).

karena teknologi pengelohan tersebut sudah tersedia.  Pengelolaan limbah yang berlandaskan “polluters pay” bahwa setiap orang/badan yang mempunyai andil dalam mencemari lingkungan harus berkontribusi  untuk memberikan kompensasi terhadap pengelolaan lingkungan (misal melalui pajak lingkungan) Limbah cair yang berasal dari septiktank rumah tangga diarahkan agar dikelola secara komunal atau kelompok yang dikelola oleh lembaga pengelola limbah. Bentuk regulasi yang dapat disiapkan adalah terkait kewajiban masyarakat melakukan penyambungan didasarkan atas kewajiban dan peran sertanya dalam pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. tanaman hias ataupun bahkan dimanfaatkan untuk pertanian. Terutama untuk melayani penduduk perkotaan yang tidak terjangkau oleh jaringan pipa air limbah baik induk. Alternatif lain sebagaimana pengelolaan sampah.tidak terbatas hanya masalah pengolahan instalasinya saja.masyarakat melakukan kontrol terhadap pelanggaran pembuangan limbah cair yang dilakukan oleh industri dan mengajukan ke pengadilan. c) Drainase Bab VII .3 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . Salahsatu hasil pengolahan berupa sludge (lumpur tinja) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk taman-taman kota.   Air buangan dari septiktank diupayakan diolah menjadi sumber air baku. hasil pengolahan air limbah domestik pun juga masih mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi.  Perlu diupayakan adanya deregulasi yang memberikan kemudahan dan merangsang kemauan masyarakat untuk menyambung pipa septik tank rumah tangga ke jaringan pipa air limbah. maupun lateral  Lembaga pengelola limbah mengkoordinir penyedia jasa penyedotan limbah domestik agar bisa terjaga kualitas pelayanan dan memudahkan masyarakat mengadu terhadap pelayanan yang buruk dari penyedia jasa.

4 . meliputi perencanaan.   Melakukan upaya penyadaran penting drainase kota. penetapan saluran drainase jalan sesuai standar. mengakibatkan munculnya genangan di badan jalan dll melalui pembangunan. pengaturan pembangunan yang berkaitan dengan saluran–saluran drainase dan penegakan aturan pembangunan yang ketat. demikian juga persiapan ke arah pengelolaan air dengan teknologi “zero waste” Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII . Melakukan upaya-upaya penyelamatan saluran drainase dengan pengerukan sungai. termasuk disiplin membuang sampah yang merusak sistem drainase. Sistem drainase dikembangkan terpadu dengan pengelolaan sumber air baku yang mengarah pada pemanfaatan air permukaan menjadi sumber air baku untuk kebutuhan air bersih dan juga sebagai persiapan membangun sistem “zero waste” d) Air Bersih  Kampanye kesadaran untuk memanfaatkan air bersih sebaik mungkin dan memanfaatkan air buangan maupun air permukaan sebagai sumber air baku.  Penetapan jaringan drainase yang meliputi jaringan drainase primer dan sekunder yang di dasarkan atas besaran jumlah air hujan dan cathment area daerah penangkapan air hujan    Menguatkan fungsi dan peranan sungai-sungai dan saluran alam menjadi sistem drainase utama dengan menjadikan sungai sebagai kawasan lindung. dan sistem drainase buatan ini menjadi bagian dari keseluruhan sistem drainase. penetapan kebijakan. Sistem prasarana transportasi terpadu dengan sistem drainase buatan. peningkatan dan rehabilitas drainase. Penetapan fungsi drainase meliputi upaya mencegah terjadinya luapan air hujan yang berakibat banjir. penertiban sempadan sungai.

   Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang implemetatif lansung untuk pemanfaatan air permukaan secara tepat guna. Pelayanan PDAM diprioritaskan untuk melayani kebutuhan air untuk kebutuhan domestik dan kegiatan ekonomi potensial di wilayah yang tidak memungkinkan menggunakan sumber lain. Pengembangan sumber-sumber air baku diarahkan untuk bekerja sama dengan wilayah lain untuk sumber-sumber mata air. Terutama mengarahkan industri untuk memanfaatkan sumber air hujan untuk sebagian besar kebutuhan air.  Sumber mata air Gua Walet dipertahankan sebagai sumber air baku dengan memberikan share pada penataan lingkungan dan perlindungan lingkungan.  Kebutuhan air untuk kegiatan perdagangan dan jasa atau produktif diarahkan untuk memakai sumber air tanah dalam secara berkelompok dengan pengelola PDAM Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII . tetapi tidak ditekankan sebagai sumber utama.  Penggunaan sumber air tanah dangkal untuk kebutuhan domestik diarahkan dikelola secara kelompok agar penggunaan air bertanggung jawab dan terkontrol.  Menguatkan pengelolaan air untuk berbagai kebutuhan dengan dilengkapi perangkat hukum yang memadai. memberi share pada desa setempat sebagai pendapatan desa sehingga desa bisa menjaga sumber dayanya.  Memanfaatkan air hujan semaksimal mungkin sebagai sumber air baku dengan berbagai teknologi yang memungkinkan. Mengatur penggunaan sumber air baku untuk kebutuhan air bersih berbagai kegiatan sesuai dengan sifatnya.5 .

dengan kesepakatan yang dituangkan pada peraturan. Skala pelayanan SPBU diatur sesuai ketentuan selama ini. Dihindari untuk dimanfaatkan ruang permukiman atau kegiatan manusia lainnya. Sistem Energi  Sistem jaringan listrik sistem dialihkan secara bertahap dengan teknologi jaringan listrik di bawah tanah terpadu dengan jaringan telepon maupun utilitas lain. Kewajiban PDAM untuk menyediakan hidrant umum bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. PDAM untuk melayani kebutuhan-kebutuhan air pelanggan disamping dengan menggunakan sumber yang ada juga menggunakan berbagai sumber air secara inovatif dengan teknologi yang tepat.  Lahan yang berada di bawah jaringan listrik tegangan tinggi dimanfaatkan untuk penggunaan yang efisien seperti ruang terbuka hijau dengan tanaman pendek atau jaringan jalan. air permukaan. SPBU dilokasi di jalan-jalan arteri sekunder dengan jumlah yang memadai. Radius ruang terbuka dari bangunan gudang/penyimpanan elpiji minimal 10 meter. Pergudangan Gas Elpiji diatur sedemikian sehingga aman bagi warga jika terjadi kecelakaan. Sumber air hujan.    Lokasi Gardu Induk dipadukan dengan ruang terbuka hijau dan memiliki radius bebas bangunan minimal sepanjang 3 meter.  Pelayanan elpiji dilakukan dengan diantar langsung kepada pembeli tidak dilakukan dengan menjual di warung-warung atau toko-toko umum. f) Sistem Telekomunikasi Bab VII .6 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . dan air tanah dalam menjadi hal untuk dikelola oleh PDAM sebagai lembaga pelayanan kebutuhan air bersih.   e) Para pengguna air diarahkan untuk share dalam pemeliharaan lingkungan konservasi air.

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII .  Sistem jaringan telepon kabel diarahkan secara bertahap dari jaringan tiang di atas tanah menjadi jaringan di bawah tanah terpadu dengan jaringan kabel listrik dan lainnya. Pengembangan komunikasi televisi dan radio lokal dengan teknologi terjangkau untuk memenuhi komunikasi lokal antar warga.  Tower atau sarana antene relay maupun pancar untuk berbagai jenis telekomunikasi seperti telepon selullar. Televisi.  g) Pemenuhan kebutuhan dilakukan bertahap dengan perkiraan kebutuhan sesuai perhitungan masing-masing lembaga pelayanan.7 . terutama untuk yang berfungsi sebagai arteri primer. Transpotasi/Jaringan Jalan  Memenuhi standar kualitas dan kuantitas jalan sesuai fungsinya.  Tower yang sudah ada secara bertahap untuk dipindahkan kemudian radius tower diamankan untuk kegiatan-kegiatan yang sesuai tidak permanen seperti permukiman atau kegiatan yang menyita waktu sepanjang hari. Pada prinsipnya Tower tersebut harus menempati lokasi geografis tinggi dan terbuka maka lokasi seperti Gunung Geulis dan Kaki Gunung Manglayang disiapkan berbagai titik untuk tempat Tower. Komunikasi lokal dikembangkan untuk mendukung terpenuhinya kepuasan masyarakat terhadap berbagai pelayanan. Komunikasi iklan diatur sedemikian sehingga berkembang keuntungan yang adil antara pemasang iklan dengan pengelola kota sehingga pelayanan kota menjadi semakin meningkat. Radio diatur dan disesuaikan dengan tata ruang yang disepakati.    Sistem telekomunikasi dikembangkan dengan berbagai jenis telekomunikasi dan berbagai teknologi untuk memenuhi kebutuhan komunikasi masyarakat.

Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: 1. Percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Strategi pengembangan sistem jaringan aksesibilitas terpadu dengan berorientasi pada kepentingan akademis dan masyarakat 2. Meningkatkan akses dari dan ke kawasan perkotaan 2. dan Rencana Jalan Tol Cileunyi – Dawuan. Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: 1. Meningkatkan peran kelembagaan yang profesional dan mempermudah investasi dalam dan luar negeri. V. sementara jalan lama jika jalan baru sudah ada dialihkan fungsinya menjadi jalan berfungsi lokal. Jalan Raya Rancaekek. Pembangunan sarana perdagangan untuk meningkatkan kegiatan perekonomian 3. 2.  Jalan yang berfungsi sebagai arteri primer.  Jalan Lokal(dalam sistem primer) atau kolektor sekunder dikembangkan dari jalan lama maupun membangun jalan baru yang menghubungkan antar pusatpusat lingkungan dan lingkungan ke jalan kolektor atau arteri sekunder. Pemantapan peran dan fungsi kota dalam pengembangan kawasan pendidikan tinggi.8 . Strategi pengembangan sistem sarana dan prasarana pelayanan yang mendukung kebutuhan khusus civitas akademika Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII . Jalan kolektor dalam sistem primer membangun jalan baru sesuai dengan standar untuk mengganti jalan lama yang berfungsi kolektor. Adapun strategi yang dilakukan guna mendukung kebijakan tersebut diantaranya : 1. Strategi pengembangan sistem prasarana 2. Meningkatkan kebijakan insentif penanaman modal (investasi). Pembangunan permukiman yang layak huni dan memenuhi kesejahteraan dan keadilan III. Strategi pengembangan kegiatan perekonomian II. dikuatkan jalan yang ada sekarang ditambah jalan tol yaitu Jalan Raya Jatinangor.

dan industri. Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dan jasa penunjang terbatas berskala lokal yang hanya melayani kampus III. Membangun dan meningkatkan sistem transportasi darat yang memiliki interaksi dalam aksesibilitas kegiatan. 4. Pemantapan peran dan fungsi kota dalam pengembangan kawasan industri. c. b. V. Adapun strategi yang mendukung kebijakan tersebut diantaranya adalah: a.9 . Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: 1. Strategi pembatasan pemanfaatan ruang kota sebagai kawasan industri yang tidak haus terhadap kebutuhan air atau dapat menunjukkan teknologi baru untuk pengadaan air yang tidak merusak cadangan air yang ada (missal mendaur ulang limbah) 3.3. Peningkatan kapasitas manajemen pembangunan perkotaan. Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII . Strategi pengembangan sistem prasarana yang mendukung kebutuhan industri 2. Pengembangan kawasan prioritas IV. Pembangunan dan peningkatan jaringan jalan pada kawasan permukiman Penambahan rute dan penambahan sarana angkutan barang Pembangunan terminal sesuai dengan arahan pengembangan kawasan perkotaan Pengembangan sektor andalan jasa-perdagangan. 4. Pemberian insentif kepada investor IV. Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: 1. Pengembangan sistem prasarana 3. Strategi pemanfaatan kawasan perguruan tinggi dalam mendukung fungsi resapan air dengan pemanfaatan ruang detailnya dominan kawasan ruang terbuka hijau . Pemanfaatan ruang kota 4. Pengembangan industri berorientasi manufaktur dengan persyaratan khusus ramah lingkungan. Pengembangan sistem pusat-pusat kegiatan perkotaan 2.

Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: 1. Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII . Mewujudkan Kawasan Perkotaan Jatinangor sebagai pusat budaya iptek. Strategi pengembangan dan peningkatan asset budaya dalam kerangka mendukung Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda 2. Pengembangan perumahan. Strategi pemanfaatan iptek dalam mendukung pelestarian dan peningkatan budaya yang telah berkembang di lingkungan kawasan perkotaan Jatinangor VIII. permukiman dan fasilitas penunjangnya. Melibatkan masyarakat dalam tiap tahap pembangun kegiatan perkotaan Memfasilitasi kegiatan perkotaan yang diadakan oleh masyarakat Menghormati dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya kegotongroyongan dalam kegiatan perkotaan Revitalisasi Kota dan kawasan bersejarah. Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: 1. Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah : 1. Pengendalian lingkungan hidup dan kelestarian hutan. Strategi pemanfaatan ruang kota 2. 3. Pelibatan peran serta masyarakat dalam pembangunan. Strategi pengembangan sistem prasarana VI. Strategi pengembangan sistem prasarana 2. Strategi pengembangan kawasan prioritas VII. X.1. Strategi peningkatan dan pelestarian nilai-nilai lama yang dapat dikembangkan diimbangi dengan menggali nilai-nilai baru yang lebih inovatif 3. Strategi pengembangan sistem pusat-pusat kegiatan perkotaan 2. Strategi pengembangan kawasan prioritas IX.10 . Strategi pemanfaatan ruang kota 3. Adapun strategi yang mendukung kebijakan ini diantaranya adalah: 1. 2.

Strategi pengembangan kawasan prioritas Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan Bab VII .11 . Strategi pengembangan sistem prasarana 3. Strategi pengembangan sistem pusat-pusat kegiatan perkotaan 2. Strategi pemanfaatan ruang kota 4.1.

828 No.493 5.521 2.359 5.587 85.CAKUPAN DESA/KELURAHAN PUSAT-PUSAT DI KABUPATEN SUMEDANG No. 10. CIBUGEL (2 dari 7 Desa/Kel) 2.719 3.947 9.136 1.043 No. 11. 3. Tercakup 1.664 4. 16.702 15.637 3. 6. 11. 1. 4.295 4. 3.392 6.586 4.463 4. Pusat RANCAKALONG (5 dari 10 Desa/Kel) Desa/Kel.814 2.059 6.814 3. 5.624 28.010 5. 4. 7. Situmekar Linggajaya Cisitu Pop. 9.421 3. 2. 10. 7.051 19. 6.960 1.437 9. 2.561 . 3. WADO (4 dari 11 Desa/Kel) 18.514 4. Nagarawangi Cibunar Rancakalong Pangadegan Sukahayu Pop.743 5.232 13.2009 3. 9. 9. 6.288 4.669 8.528 6. SUMEDANG UTARA (13 dari 13 Desa/Kel) 1.134 4. 12. 2. 2. 6. 6.415 3. Cikeruh Hegarmanah Cibeusi Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Jatimukti Cisempur Jatiroke Cileles Cilayung Sindang Pakuwon Cimanggung Sindanggalih Cihanjuang Sukadana Swahdadap Pop. 5. 4. 2.160 5. CIMANGGUNG (9 dari 11 Desa/Kel) 1.243 1. Tercakup 1.689 7.934 9.717 2.290 22. 8.2009 4.294 3.2009 7. Kotakaler Situ Talun Padasuka Mulyasari Girimukti Mekarjaya Margamukti Sirnamulya Kebonjati Jatihurip Jatimulya Rancamulya 11.461 3. 7. 8. 5.239 6. 2.543 8. 13.185 4. 4.643 6. 2. 3. DARMARAJA (9 dari 16 Desa/Kel) 1.549 3. 5.549 5.545 17.312 4. 8. Pusat JATINANGOR (12 dari 12 Desa/Kel) Desa/Kel. Tercakup 1.055 11.977 5.058 7. 12. 7. 3. 4.973 2. Wado Cikareo Utara 7.584 11. 3. Cibugel Jayamekar 3. Darmajaya Darmaraja Sukaratu Jatibungur Neglasari Cieunteung Tarunajaya Cikeusi Karangpakuan 3.877 4. 5. Pusat CISITU (3 dari 10 Desa/Kel) Desa/Kel. 2.764 7.

996 10. 2. 2. Pasanggrahanbaru Kotakulon Regol Wetan Cipameungpeuk Sukagalih Baginda Gunasari Sukajaya Margamekar Ciherang Mekarrahayu Margalaksana 85. 7. 10. 11. PAMULIHAN (7 dari 11 Desa/Kel) 1. Ganeas 4. 2. 3. 6. 4. 4.480 12.307 1. 5.886 12.939 5. 3. 6.945 4.508 5.7.689 5.501 3. 6. GANEAS (1 dari 7 Desa/Kel) 1. 2.828 2.744 1.498 8. Conggeang Wetan Conggeang Kulon Narimbang Cibeureuyeuh Cacaban 2.545 3. TANJUNGSARI (9 dari 12 Desa/Kel) 1. Ciptasari Citali Pamulihan Haurngombong Cigendel Mekarbakti Cilembu 5.388 3.498 4. UJUNGJAYA (1 dari 9 Desa/Kel) CONGGEANG (5 dari 12 Desa/Kel) 22.272 . Paseh Kidul Paseh Kaler 3.170 8.618 4.274 7.843 1.565 4.538 70.898 4.901 61.873 6. 5.534 14.266 1. 2. 8. 3.041 4. PASEH (4 dari 10 Desa/Kel) 1. 4.352 8. 8.127 6.601 2. 2. SUMEDANG SELATAN (12 DARI 14 Desa/Kel) 1.700 7. 5. Tarikolot Sarimekar Sirnasari 4. 7. 9.093 6.518 6. 2.928 7. Tomo Tolengas 3.956 9. Cisarua Kebon Kalapa 4.414 11. 9.160 3.806 24. 2. 9. 23.585 74. 2.266 5. CISARUA (2 dari 7 Desa/Kel) 1.463 4. 7.767 4. 5. 3.886 5.216 4. Tanjungsari Gudang Jatisari Gunungmanik Margaluyu Margajaya Cinanjung Raharja Kutamandiri 5. 4. TOMO (2 dari 9 Desa/Kel) 21.045 8.994 6.905 4.994 1.010 12. JATIGEDE (2 dari 12 Desa/Kel) 20.549 9. 8.216 7.823 5.294 40. Cikareo Selatan Cisurat 4. Ujungjaya 6.575 9.481 1. 12.414 7. Cijeunjing Kadujaya 2.633 6.536 3. JATINUNGGAL (3 dari 9 Desa/Kel) 3.599 4.987 20.218 9. Mangunagra Cikahuripan Pasirnanjung 6.099 1. 3.424 1.403 5. 4.

871 4. 3. 2. 5.594 17.606 3. 4.840 4. SUKASARI (3 dari 7 Desa/Kel) 1.067 2.606 26.819 1.511 3. 2.094 2.217 3. Cimalaka Licin Serang Galudra Cimuja Mandalaherang Cibeureum Kulon Cibeureum Wetan 4.254 4. 6.093 Sumber: Hasil Rencana . 6. 3.356 4.981 3. Sukasari Sukarapih Mekarsari 5.819 2. CIMALAKA (8 dari 14 Desa/Kel) 1.356 11.266 # 1. Sukamantri 4.038 25. Jingkang 3. 4.918 1.737 1.019 29. Legok Kidul Legok Kaler 3. 2. Situraja Situraja Utara Malaka Mekarmulya Jatimekar Cijati 3.397 1.642 2.238 3. 4.460 5. 2. 3.5. Buahdua Panyindangan Nagrak Cilangkap 3. 3. TANJUNGKERTA (1 dari 11 Desa/Kel) 14.781 6. SURIAN (1 dari 8 Desa/Kel) 1. SITURAJA (6 dari 14 Desa/Kel) 3.099 2.832 19. 4. 7. Surian 2. 8.211 13.985 3.009 10. BUAHDUA (4 dari 14 Desa/Kel) 1.919 16. 5.934 2. TANJUNGMEDAR (1 dari 9 Desa/Kel) 15.472 4.

LAPORAN AKHIR STUDI KELAYAKAN KAWASAN JATINANGOR KAWASAN PERKOTAAN SEBAGAI BAPPEDA KABUPATEN SUMEDANG 2009 .

LAPORAN AKHIR STUDI KELAYAKAN KAWASAN JATINANGOR STUDI KELAYAKAN KAWASAN JATINANGOR SEBAGAI KAWASAN PERKOTAAN SEBAGAI KAWASAN PERKOTAAN BAPPEDA SUMEDANG 2009 .

.

.

.

Kajian Puslitbang Permukiman. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan. Press. 12 Oktober 2009. B..T. 276-94. dan M. Pp. 2. Vol 3. Vol 2 Urban Indicators. 1995. Kecamatan Dari Masa ke Masa. 2007.adb. 2006. 6.DAFTAR PUSTAKA I. Bandung 4. 4. UNHCS. Departemen PU. Urban Indicators for Managing Cities : Cities Data Book Asian Development Bank. 2009. Bandung Perkembangan Organisasi 5. Ismail N.org/Documents/Books/Cities_Data_Book/default. Introduction. Indicators Programme : Monitoring Human Settlements Vol 1. Cambridge: The M.W. Hoseliz. Generative and Parasitic cities. Buku 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan 1. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 51 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kecamatan serta Keputusan Bupati Sumedang Nomor 6 Tahun 2001 tentang Penetapan Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 1 . Studi mengenai Konflik Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Perbatasan oleh Puslitbang Permukiman Departemen PU. Bamdung 3. Kajian Puslitbang Permukiman.F.I. Vol 3 Housing Indicators Worksheet. Pengembangan Lembaga Lokal dalam Pembangunan Perumahan. 2. eds.asp. Economic Development and Cultural Change. Sadu Wasisitiono. 3. 7. An Urban Affairs Library Selection II. 1996. Fokusmedia. Fahrurozi. Victoria de Villa and Matthew S. Out of print. Regional Development and Planning: A Reader. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan. Worksheet. 2002. http://www. 1964. William Alonso and John Friedmann.

Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 2 . Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sumedang Tahun 20052025. Peraturan Menteri PU No. 5. 7.Desa dan Kelurahan dalam Wilayah Kecamatan di Kabupaten SumedangPeraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 33 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang. Keputusan Menteri permukiman dan Prasarna Wilayah No 534/PRT/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimal pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang. 6. 494/PRT/M/2005 tentang kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (KNSP Kota) 8. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sumedang Tahun 20092013.

Rekapitulasi Data (instrumen desa) 4. Instrumen 3.LAMPIRAN 1. Penjaringan Aspirasi Masyarakat Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 0 . Pertumbuhan PDRB 2.

585.309.839 72.597 199.795.90 4.435 72.850.95 4.490 76. Juta) 54.516.724 65.1 CIMANGGUNG Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 PDRB ADH Berlaku (Rp.49 PDRB ADH Konstan (Rp.989 63.567 158.09 12.874 60.49 11.489.203 154.794.738.265 258.80 4. Juta) 62.532 Perkembangan (%) 4.076 76.07 15.376 299947087.857.275.085 66.369 137.37 4.17 11.487 69.260.539 88.07 15. Juta) Perkembangan (%) PDRB ADH Konstan (Rp.011.102.95 5.09 12.354.891.Tingkat Perkembangan PDRB Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung berdasarkan Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 PDRB ADH Berlaku (Rp.05 5.945 68.574 270.134 57.763 230.361 200.467.603 83.994.031.257.553.144.34 18.004 178.14 14.406.80 4.82 4.89 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 1 .768.12 17.727 235.828.82 4.04 5.095 79.745 11.17 4.670.91 12.117 Perkembangan (%) 102158942.006.444.34 18.666 171.3 119.91 4.14 14.08 117.91 4.06 5.07 5.412. Juta) Perkembangan (%) 11.828.008 138.91 12.127.12 17.

Jasa-jasa Total 4.691 1.487.391 799.886.804 1.858.578 2.235.302 0 194.313.017.286.782 2.885.530 230.069 154.170 388.883 3.269 1.454.102 3.507 4.719 4.199 10.611 0 41.289 4.037 1.460 2.395.436 1.681 171.830.332 2.379.604.078 1.504.470.417 438.468.637 5.862 4.807.686.912.246.745 Sumber : Hasil Analisis Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 2 .617.059.540 0 52.425.061.247 6.762 2004 5.991.569 2006 7.259.581 19.659 15.955.539 1.708.067 1.795.591 17.870.530 710.412.142.719 8.252.663.957.763 2014 19.255 2.919 54.670.114. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.056 0 115.408.910 3.666 2012 14.570.638.488 0 45.133 1.976 0 766.158.206.325.899.708 2.869.224 2.658 0 128.605 1.582.206.400.734 81.272 71.837.821 12.243 21.663.095.456 91.791.361 2013 16.527 1.059 102.382.120.347.325.639.942 PDRB (Jutaan Rupiah) 2009 10.084 4. Persewaan.535 1.709 7.328.291 17.216.758 76.951 4.034.368 1.491 3.653 3.984 1.476 7.527.206.Proyeksi Struktur Ekonomi di Kecamatan Cimanggung sd Tahun 2015 No.903 5.932 200.597 5.496 0 60.402 0 89. dan Jasa Persh.951.652.749 258.027 2008 86.266.225.516.686 1.935.212 6.698 1.291 2.562.493.413 599.134.257.915 5.175.345 2.532 1.790.739 119.883 0 173.173.375.233.692.841.046 2005 6.275 4.516.400.944.467.203 2011 13.096 0 150.271 2.794.088.153 1.133.239.906 1.773 1.321.358.738. Lapangan Usaha 2003 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.098.733 0 67.404 11.505 3.841.732 976.604.124 2.168 4.586 19.027.735 849.022 137. Gas dan Air bersih Bangunan/Konstruksi Perdagangan.944.054 3. Hotel.265 2015 21.517.596.355.600 60.285.745.157 3.735 26.344.332 4.077.985.987 2.577.635 1.325 0 103.623.464.434.391 2007 8.369 2010 11.828.138.839 956.

Empang No 1 Sumedang-Jawa Barat 45311 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 3 .INSTRUMEN STUDI KELAYAKAN KAWASAN JATINANGOR (KECAMATAN JATINANGOR DAN KECAMATAN CIMANGGUNG) SEBAGAI KAWASAN PERKOTAAAN BADAN PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG Jl.

I. Aspek Produktivitas Jumlah Penduduk Miskin (jiwa) Jumlah Pengangguran (jiwa) Jumlah penduduk Usia 0-14 tahun Usia > 55 tahun Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 303 156 1373 1125 . 5. Jumlah Penduduk (jiwa) Luas desa (ha) Penduduk yang bermigrasi 4. Datang/masuk ke desa Keluar/pergi dari desa 5 1 476 213 958 827 1 390 195 1262 1098 4 Uraian 2005 4355 320. No. Aspek Penduduk 1. Bapak/Ibu/Saudara dapat mengisi sesuai dengan kondisi desa.BADAN PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG Kuesioner ini disusun untuk keperluan Pengkajian Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor Sebagai Kawasan Perkotaaan Kuesioner ini ditujukan kepada Kepala Desa atau perangkat desa yang ditugaskan. 3. 6. 2. Pada pertanyaan/pernyataan yang disusun.24 Ha 3 1 2006 5490 Tahun 2007 5615 2008 8158 2009 9394 10 13 335 127 1653 1378 15 23 185 95 1801 1719 II.

4. 8. ………………………………. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 5 .No. 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 12.……………………. Rata-rata usia harapan hidup warga (tahun) 1 1 1 2 1 11.. 9. Aspek Kesehatan dan Pendidikan 7. ISPA……………………… 2. Uraian 2005 2006 17 1 2 Tahun 2007 11 2 2 8 1 1 2008 9 4 4 2009 III.Perawat .Lain-lain . 1 3. ……………………………….Dokter .……………………. Jumlah tenaga medis : . . .…………………….Mantri . 10 Tingkat Kematian Ibu (Jiwa) Tingkat Kematian Bayi (Jiwa) Angka Prevalensi Penyakit Diare (%) 6 1 1 Penyakit infeksi lainnya : (5 teratas yang paling sering dialami penduduk desa) 1.Bidan desa . 5. GONDOK……………………….. ……………………………….

....………………………………….. unit. 15.... unit..RT/RW Polindes/Puskesdes 1. . unit... Cakupan daerh yang dilayani ……………. Melek Huruf /Buta 50 50 35 32 28 14...... 16..RT/RW termasuk desa tetangga Lain-lain sebutkan : .. Uraian 2005 Ketersediaan fasilitas puskesmas (unit) 2006 Tahun 2007 2008 2009 Puskesmas …………….…………………………………...... Cakupan daerh yang dilayani 33/9……..No. Ketersediaan Apotek/Toko Obat …………………(unit) Penduduk yang tidak huruf (jiwa) - Tingkat Pendidikan Masyarakat : Tidak/ Belum pernah sekolah Tidak/ Belum Tamat SD SD/MI/Paket A SLTP/MTs/Paket B SLTA/MA /Paket C Akademi/ Diploma Universitas Lain-lain .. 63 325 1570 1360 1150 73 8 58 310 1640 1368 1100 85 10 50 290 1657 1392 1031 91 16 47 225 1686 1507 950 96 20 40 273 1686 1507 950 111 20 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 6 . Cakupan daerah yang dilayani ………… RT/RW Pustu …………………. 13....

………………………. 17. 2006 Tahun 2007 2008 2009 Ketersediaan Fasilitas Pendidikan Dasar (perkembangan dari tahun 2005 sd. MTs SMP SMU/SMK Lain-lain (non formal) . .…………………………. Uraian 2005 TK/RA SD MI Lain-lain (non formal) . Tahun 2009) - IV. Aspek Pemukiman dan Lingkungan 19.………………………. 20. Jumlah Pemukiman kumuh (unit) Luas pemukiman kumuh (ha) Ruang terbuka hijau (ha) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 7 . .No. Tahun 2009) 18. Ketersedian Fasilitas Pendidikan Menengah (perkembangan jumlahnya dari tahun 2005 sd. 21.………………………….

Ada/sedang. sebutkan jenisnya : ……………………………………………………………….. …………………………………. …………………………………. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 8 .. 8. sebutkan jenisnya : ………………………………………………………………. Ada/rendah sebutkan jenisnya : ………………………………………………………………. …………………………………… 6. 4. Ada/tinggi. sebutkan jenisnya : ………………………………………………………………. Tidak ada. …………………………………. ………………………………….No.. Jumlah kejadian kebakaran (… kali/tahun) Tindak kejahatan yang pernah terjadi di desa (sebutkan banyak kejadian pada setiap jenis dari tahun 2005 jika memungkinkan) : Jenis kejahatan/kriminal yang terjadi : 1. 5. 22. 3. 24.. 2. …………………………………. ………………………………….. …………………………………. Uraian 2005 Tingkat pulusi/pencemaran (beri tanda  sesuai kondisi desa) 2006 Tahun 2007 2008 2009     23. 7..

Pedagang .………………… Ketersediaan sarana penunjang perekonomian (jumlah yang ada di desa) Hotel Restoran Pasar Terminal Pertokoan Depot air isi ulang Bioskop 2006 Tahun 2007 2008 2009 26. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 9 .No.Buruh .………………… . Uraian 2005 Mata pencaharian penduduk : .TNI .PNS . Aspek Ekonomi 25. V.Petani .Swasta .Polri .

………………………………………. ………………………………………. - Uraian 2005 Bank Jasa Boga Tempat wisata Kolam renang 2006 Tahun 2007 2008 2009 VI. ……………………………………… 2. 5. situs. ………………………………………. ……………………………………… 2. ………………………………………. ………………………………………. ritual. ………………………………………. Aspek Budaya 27. adat dan kebiasaan (jika ada sebutkan): 1. 4. benda arkeologis dan kawasan bersejarah (jika ada sebutkan) 1.No. ………………………………………. ………………………………………. 3. Potensi Non Fisik Peninggalan atau warisan budaya meliputi seni budy. 4. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 10 . 3. Potensi Fisik Bangunan cagar budaya. 6. 28.

Uraian 2005 2006 Tahun 2007 2008 2009 Kelembagaan (Kelompok atau institusi sosial di tingkat masyarakat yang melakukan pengelolaan asset budaya secara aktif) 1. 30. Perumahan/permukiman Pertanian Perkantoran Perdagangan dan jasa Industri Fasilitas umum dan fasilitas sosial Perguruan Tinggi Ruang campuran Kawasan lindung Ketersediaan ruang publik (m2) . ……………………………………… 2. 3. VII.Lapangan olah raga . ………………………………………. Pemanfaatan Lahan (ha) 32. ……………………………………….Taman Kota .Jalur hijau 11 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .Taman bermain .No. Aspek Spasial 31.

Lebar jalan …………………m b.. Panjang jalan setapak : ………………………. Prasarana 33. Tarif Air : Sektor Transportasi a. Angkutan Kota/desa (yang melalui desa) : 34. VIII.. Lebar jalan …………………m c. Kualitas Air : ……………………………………………………………………………. Uraian 2005 2006 Tahun 2007 2008 2009 Sektor Air Bersih a. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 12 . Sumber Air (sebutkan darimana saja air bersih diperoleh warga desa ) :………………… b. d. e. Panjang Jalan Lingkungan…………………. Lebar jalan …………………m c. Kecepatan rata-rata (waktu tempuh). Kondisi Jalan : d. c. Panjang Jalan Utama ……………………….  Cakupan Pelayanan :  Cakupan Pelanggan :  Konsumsi air bersih per pelanggan rumah tangga (domestik) :  Konsumsi air bersih konsumsi lain (non-domestik) :  Tingkat penggunaan air : e. Kebocoran Air : ………………………………………………………………………….. Pelayanan : ……………………………………………………………………………….No.

b. Pelayanan. Persampahan a. Lain-lain sebutkan ……………………………………. Kepemilikan Lahan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) : f. 35.Rumah tangga yang telah memiliki sambungan telpon : Tahun 2007 2008 2009 36. Kapasitas Pembuangan : …………………… d. Pengumpulan :………………………. Kepemilikan lahan TPS (Tempat Pembuangan sementara) : f. Kondisi pengolahan setempat (on-site system) oleh desa b. Kondisi Pengolahan terpusat (off-site system) oleh kecamatan atau dinas kebersihan c. Sanitasi (pilih sesuai kondisi desa) a.No. Pengangkutan : ……………………. Metoda Pembuangan : e.. meliputi :  Cakupan Pelayanan :  Retribusi Sampah :  Kerjasama dengan Masyarakat : 37. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 13 .Rumah tangga yang telah memiliki sambungan dengan jaringan listrik PLN : . Uraian 2005 2006 Listrik dan Telpon . c..

Sungai yang terdapat di (melalui) desa sungai :………………… Panjang …………….Panjang saluran alam (jika ada) …………… m. Kepala Desa (…………………………….……………………………………. Uraian 2005 2006 Tahun 2007 2008 2009 Drainase (saluran pembuangan) . . .m .Ketinggian air tergenang : ………………… cm ... 37.) Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 14 . lebar……………….……………………………………... lebar …………m .No..Ketinggian air sungai dari permukaan : …………………….m.Frekuensi air tergenang dalam 1 tahun : ………………….m.…………………………………….Upaya pemeliharaan dan pengawasan terhadap saluran air yang dilakukan desa/masyarakat : . . lebar…………. Lebar ……………….Panjang saluran pembuangan air (buatan) pada sepanjang jalan lingkungan :……………………. m.cm . Desa ……………………….….Panjang saluran pembuangan air (buatan) pada sepanjang jalan utama :……………….m . m .Lama air tergenang di lingkungan desa jika hujan (pada permukaan jalan atau lainnya): .

Tabel. Tahun/Jiwa 2007 Masuk Keluar 26 25 3 34 5 41 21 3 16 5 250 9 356 2 2 42 7 15 39 1 8 6 106 72 2 10 6 214 8 41 10 - No Desa 2005 Masuk Keluar 28 43 5 21 2 30 17 3 8 18 40 11 17 31 1 5 4 90 48 2006 Masuk Keluar 27 22 0 18 3 30 23 1 6 29 16 39 1 13 4 59 36 2008 Masuk Keluar 24 65 4 10 14 26 6 126 45 10 15 63 9 13 9 14 10 133 99 15 5 26 2 - 2009 Masuk Keluar 14 95 1 15 8 33 8 113 65 10 5 6 58 24 51 2 23 14 20 12 139 114 17 6 21 9 10 15 KECAMATAN JATINANGOR 1 Cipacing 2 Sayang 3 Mekargalih 4 Cintamulya 5 Cisempur 6 Jatimukti 7 Jatiroke 8 Hegarmanah 9 Cikeruh 10 Cibeusi 11 Cileleus 12 Cilayung KECAMATAN CIMANGGUNG 1 Mangunarga 2 Sawahdadap 3 Sukadana 4 Cihanjuang 5 Sindangpakuon 6 Sindanggalih - 287 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 15 .

Tabel. Sebaran Penduduk Jumlah Penduduk Miskin (jiwa) No Desa Tahun Jumlah Pengangguran (jiwa) Tahun Jumlah penduduk usia ketergantungan (jiwa) Tahun 2005 Kecamatan Jatinangor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sidanggalih 871 116 326 2434 1627 1802 1149 476 3192 780 2006 3335 945 390 2538 1627 1922 1149 2007 3464 1033 303 2557 1627 2047 1149 2008 3608 1360 1388 335 2569 1627 2216 1149 1455 2272 2009 3758 1360 1388 185 686 1343 1627 2216 1149 2016 1455 2272 386 318 1515 575 - 2005 793 309 213 2006 831 404 195 2007 866 410 520 156 2008 2009 92 417 611 127 940 428 722 95 1967 2005 3784 1161 1785 4255 2006 3941 1260 2360 4347 1112 3571 2007 4105 1573 2498 4436 1122 3713 2008 4276 1741 3031 4548 1153 3953 - 2009 4454 1966 6325 3520 2380 4630 1265 4113 1657 2751 1459 2979 1460 2973 1465 3152 1567 3276 505 683 1105 3390 1224 1237 1317 Kecamatan Cimanggung 359 116 800 757 486 218 421 262 1515 575 296 621 328 569 342 982 252 582 192 1039 5516 3294 1229 5527 3623 1497 5688 4252 1188 4426 1344 2043 5718 4638 1435 2051 5843 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 16 .

5 10% 2007 2 7% 0.10% 26 0.20% 0.30% 20 (%?) 2.20% 0.30% 18 1.5 2009 4 15% 0.10% 23 12 17 0.30% 16 0.10% 0.10% 16 2 11 2007 1 1 2008 3 - 0.20% 0.Tabel Tingkat kematian ibu No Desa 2005 KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih 17 Tingkat kematian Bayi Tahun 2009 2005 2 9 1 1 12 10 4 5 2 3 1 1 1 1 5 4 1 2 2 1 2 3 2 2 3 4 2006 3 2 2007 2 4 1 1 2008 1 1 4 1 1 2009 3 3 - Angka Prevalensi Penyakit Diare Tahun 2005 2006 1 5% 0.5 Tahun 2006 2 6 0.20% KECAMATAN CIMANGGUNG Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .20% 0.5 10% 2008 1 5% 0.5 20% 20% 10% 2 10% 0.10% 21 18 15 14 1 1 0.30% 15 0.30% 12 0.

Struk. Gatal. TB dan Variecella Jantung. Kulit dan rematik Demam berdarah.Diare 21 18 17 14 2007 (1: 1) 2008 (0:0) (2:1) 2009 - ISPA (0). Gondok (1) iSPA.Tabel. Paru-paru. Diabetes Jantung. Lever. Diare. Stroke. ISPA. malaria dan paru2 Demam(15) ISPA dan TBC Inluensa. diare. tipus. Diare. MAAG. Penyakit infeksi paling sering diderita No Desa 2005 KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih 18 Tahun 2006 (0. muntaber. penyakit kulit. 1) ISPA Diare.Darah Tinggi ISPA. paru-paru dan demam KECAMATAN CIMANGGUNG Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .

Mantri.1. Bidan Desa (1).2) (1.2.1. Bidan(0). (2.3) (4. paraji (2) dokter (1).1.1.1) 1 dokter(1).2. 1) 2007 (1.0. 4) 1 1 (4.1. refleksi(1).1.6) (4.1) 1 (1.3) (2.0) (1. Perawat (3) (2.9. bidan(0).4.1) (4.3) (2. Perawat(6) dokter(1).0.2) (3.4.1.1) (4.4.5.0.4. 1.2) (2.1. bidan(2).1) (2.7. perawatan (5).1) 1 (1.2.1.1.4) (4.2.1.1) (1.2.3.3) 2.1) (4.1.3) 1 (1.0.1.1.4.1.1.Tabel …… Jumlah Tenaga Medis No Desa 2005 KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih Bidan Desa. Perawat(3).2.1.3) 1 (1. Perawat(0) Bidan desa (1) bidan desa (1) dokter(4). Bidan(1).1.1) 1 (1.1.3) 19 Tahun 2006 (1.3) 1 (1. bidan(0). Mantri(0).1.2.1.1. 4) 1 1 (4.1.0. Perawat (4) dokter (0).1.1.0. Mantri (0). mantri (0) Bidan desa (1) dokter (1).8) (1.1.5.3. Bidan(1). mantri(1).4.12. paraji(1) dokter(0).3.12.Mantri (1).2.1) (1.1.2) (0.3) 2009 (2.2.4.1) (1.2) (2. Mantri(1) dokter(0).1. mantri (0).3.4. perawat(0) Bidan desa (0). 4) 1 1 (4. mantri (0) Bidan (1).0.1. Perawat (0).2) (2.2.5.1) (4.1) 1 (1. Perawat.2. Dukun Terlatih (1) Bidan Desa (1) Bidan Desa (1).0.1) KECAMATAN CIMANGGUNG Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .6.1.5.5.2. 4) (1.1) 1 (1. mantri(1).3. Dukun Bayi(Paraji).1) 2008 (2. mantri(2).1. bidan(2).

Tabel ….. No Desa Ketersediaan Fasilitas Puskesmas Puskesmas Pustu Polindes/Puskedes 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9/RW 28/8 Rt/Rw 49/15 Rt/Rw 68/15 RT/RW Balai pengobatan/Poliklinik (3). Tempat Dokter Praktek (1) pos yandu Tempat Bersalin (3unit) 5 cakupannya 68/18 RT/RW 53/13 RT/RW klinik 24 jam 4 bh 33 /9 RT/RW 31/10 26/7 RT/RW 30 RT/5 RW 53/14 RT/RW 53 RT 35/9 RT/RW klinik Arrohmad 3 1 2 1 klinik 24 jam lain-lain Apotik KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih 3 2 - KECAMATAN CIMANGGUNG Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 20 .

Tabel …… No Desa Penduduk Buta Huruf Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tingkat Pendidikan masyarakat SD/MI/PKT A SLTP/MTs/PKT B SLTA/MA/PKT C Akdi/diploma Univer Lain2 KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih 69 297 208 15 12 15 27 102 284 532 706 1487 800 2440 32 4451 11 131 30 149 53 395 13 7 380 526 778 28 40 652 141 273 124 98 78 342 6593 634 73 1870 996 960 1625 1355 1684 1686 703 895 198 488 2037 996 493 1523 1290 1105 1345 1352 1507 508 899 69 348 2953 1998 872 576 1392 2417 2215 1256 950 349 130 11 226 2119 5272 676 174 1362 465 1330 249 111 44 25 6 425 237 517 37 90 98 455 127 751 88 41 72 21 20 487 1555 KECAMATAN CIMANGGUNG Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 21 .

Keagamaan (7) MDA (5) 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 7 1 2 1 1 1 2 2 Paket C (1) Pesantren (2) Paud (3) Lain2 SMP MTs 1 1 Fasilitas Pendidikan Menengah SMU/SMK 1 1 Lain-lain kur jahit (2).Tabel ………… No Desa Fasilitas Pendidikan Dasar TK/RA 4 12 3 3 1 3 2 3 3 1 2 2 1 7 3 SD MI 5 4 1 2 2 2 2 4 4 1 1 1 2 2 5 3 7 TPA(6) Paud(2) 7 3 1 6 2 1 1 2 paud(2) Paud (1) Pend. kur komp (3) - KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih KECAMATAN CIMANGGUNG Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 22 .

294 0.287 60 1.5 15 65 10000m2 44 975 979 981 987 40 1294 90 86 84 82 0.Tabel …… Jumlah pemukiman kumuh (unit) No Desa 2006 70 Tahun 2007 64 2008 60 2009 54 2005 20 2006 187 2005 KECAMATAN JATINANGOR 1 Cipacing 70 2 Sayang 120 3 Mekargalih 4 Cintamulya 5 Cisempur 6 Jatimukti 873 7 Jatiroke 8 Hegarmanah 94 9 Cikeruh 10 Cibeusi 11 Cileleus 12 Cilayung KECAMATAN CIMANGGUNG 1 Mangunarga 61 2 Sawahdadap 3 Sukadana 28 4 Cihanjuang 5 Sindangpakuon 6 Sindanggalih 35 Luas Pemukiman kumuh (ha) Tahun 2007 16 2008 15 2009 15 2005 30 2006 Ruang Terbuka Hijau (ha) Tahun 2007 27 30 ha 35 268 2.5 ha 15 12 2009 27 28 35 20 263 2.5 ha 15 12 12 12 2008 27 33 ha 35 265 2.301 0.329 1417 75 14 30 30 58 12 31 55 9 43 1640m2 6 30 1 0.57 ha 15 - 1 500m2 200m2 200m2 - Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 23 .315 0.2324 40 40 40 40 186 0.25 0.6 ha 900m2 700m2 600m2 - 30 42 46 ha ha 35 35 280 271 3 ha 15 10 800m2 600m2 200m2 1.

Tabel …… Tingkat Polusi/Pencemaran Tinggi/Jenis KECAMATAN JATINANGOR 1 Cipacing 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Sedang/Jenis kendaraan pabrik asap industri Rendah/Jenis polusi udara serapan limbah industri Jumlah kejadian kebakaran (kali/tahun) Tahun 2005 2006 1 1 2007 2 2008 2 2009 1 - No Desa pencemaran lingk asap batu bara polusi udara Kotoran ternak sapi - Asap kendaraan - sampah dan asap kendaraan polusi udara hasil pembakaran batu bara - KECAMATAN CIMANGGUNG 1 Mangunarga 2 Sawahdadap 3 Sukadana Debu dari perusahaan 4 Cihanjuang 5 Sindangpakuon 6 Sindanggalih - Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 24 .

1. 8.1 ) (7.0. perkelahian(1).2. pencurian HP (12) (10.2.6) (5.2. perjudian(1).1.2.0) - KECAMATAN CIMANGGUNG Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .1.1) - 1 4 (3.Tindak Kejahatan yang Pernah Terjadi No Desa 2005 KECAMATAN JATINANGOR 1.2. 12.5) Penc mobil (8. curanmor (0) curanmor Pencurian ternak (1) Curanmor Pencurian.1.5. 1. 11. 2.5) Tahun 2006 2007 2008 2009 (9. pencurian di rumah (3). pencurian tabung gas.2) (9. Pembnhn().4) (6. asusila(1).0.2) - 1 3 (1.3. bunuh diri(0).2. 10.0) 25 1 3 (2.0.2) Curanmor (8). 5. 9.2. 6. Mekargalih Pencurian 4. pencurian hewan ternak.0.4. penipuan dan pencopetan Pembongakaran (1).4. 3. Sayang narkoba(3).1.1. 6.0) (0. penipuan(1) 3. 2. 5.1.3.3) 1 1 (1. 4.1) (8.0.2) 5 1 2 (2.4) (7. penipuan(6) Pencurian motor (4) curanmor. Cipacing Curanmor curanmor(3).0.0. 7. Perkelahian Pemuda (2.4. Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalih Pencri(6).1) (0.0.

Tabel…… Mata Pencaharian Penduduk No Desa 2005 KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung 2600 2600 50 47 130 130 130 130 130 21 26 30 35 56 87 99 253 103 259 105 270 105 59 35 67 30 4 745 157 32 5 758 159 35 7 767 171 15 15 15 18 6 37 7 787 166 4 20 21 160 24 185 26 210 26 4 20 6 39 7 791 166 5 3 4 1 9 5 15 97 10 5 18 101 11 5 25 103 12 12 12 12 10 12 6 31 107 30 34 45 37 49 39 54 48 10 14 10 15 6 31 112 470 18 12 438 471 18 12 441 473 18 14 413 2015 2095 3156 3262 464 475 18 16 427 412 693 703 1454 715 1620 719 1810 723 881 3780 524 480 18 16 438 412 400 375 481 160 721 217 485 165 741 235 488 175 734 248 115 98 75 75 54 490 180 738 255 94 97 99 126 100 119 103 110 105 10 75 50 493 185 731 258 94 441 830 2006 PNS 2007 2008 2009 2005 2006 TNI 2007 2008 2009 2005 2006 POLRI 2007 2008 2009 2005 2006 Swasta 2007 2008 2009 2005 2006 Petani 2007 2008 2009 KECAMATAN CIMANGGUNG 1 2 3 4 5 6 Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalig 10 13 13 13 21 4 4 5 6 8 2 2 2 3 3 351 395 459 734 765 75 75 7 7 9 11 27 84 27 2 3 6 7 15 19 15 1 4 6 3950 11 3950 421 514 617 781 1334 788 1334 63 66 73 85 90 22 23 45 49 55 1147 1539 1861 2000 2600 66 69 75 81 95 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 26 .

Tabel …… MATA PENCAHARIAN PENDUDUK No Desa 2005 KECAMATAN JATINANGOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cipacing Sayang Mekargalih Cintamulya Cisempur Jatimukti Jatiroke Hegarmanah Cikeruh Cibeusi Cileleus Cilayung 130 130 130 48 405 79 233 49 405 76 246 51 405 68 265 21 26 30 455 497 504 625 206 54 410 63 287 153 87 99 253 103 390 399 595 419 605 422 625 427 193 715 231 58 410 51 323 153 200 550 310 405 1375 118 313 405 1381 123 315 405 1437 127 97 78 50 50 78 317 410 1438 127 63 330 419 1600 427 1625 430 1785 438 336 50 78 321 410 1451 131 63 408 1800 3 3 3 3 3 73 76 79 84 87 PNS 2006 2007 2005 2006 Pedagang 2007 2008 2009 2005 2006 Buruh 2007 2008 2009 2005 2006 Dokter 2007 2008 2009 2005 2006 Pensiunan 2007 2008 2009 KECAMATAN CIMANGGUNG 1 2 3 4 5 6 Mangunarga Sawahdadap Sukadana Cihanjuang Sindangpakuon Sindanggalig 451 462 527 567 750 1233 1252 1301 1323 1379 102 241 202 303 109 109 109 71 88 98 103 2817 109 2817 63 66 73 654 687 725 980 1085 606 636 676 710 740 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 27 .

NOTULENSI DISKUSI PUBLIK RENCANA STUDI KELAYAKAN KAWASAN PERKOTAAN JATINANGOR Jatinangor. Sumedang). Bapak Odang (Tokoh Masyarakat sampah Cipacing): Masalah pemeliharaan lebih kesehatan lingkungan. 13 Oktober 2009  Acara dimulai pada pukul 09. Jatinangor adalah penyumbang PAD terbesar bagi Kabupaten Sumedang. Masalah keamanan juga harus dipersiapkan sedini mungkin. Segenap komponen pemerintahan desa akan mendukung upaya yang dilakukan pemerintah terhadap Jatinangor selama 2 tujuan utamanya dapat diperjuangkan: Peningkatan Kualitas Pelayanan Pubik dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Jatinangor merupaka PKL Perdesaan. M. Dudi Supriadi: Politicall Will pemerintah sudah ada. Sekilas Pandang dari Perwakilan Masyarakat Jatinangor yang disampaikan oleh Bapak Warson (Kepala Desa Jatinangor).  (limbah) dan air bersih agar diperhatikan dalam studi ini.Si. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 28 . Jatinangor bukan merupakan kawasan perkotaan. tinggal Politicall Action.     Pelaksanaan diskusi publik dipandu oleh Drs. Kalau melihat Tata Ruang Provinsi Jawa Barat. dan penyampaian sepintas pandangan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumedang terkait Studi Kelayakan Kawasan Perkotaan Jatinangor dan Sambutan Bupati Sumedang. (Kepala Bidang Pemerintahan dan Sosial Bappeda Kab. SESI TANYA JAWAB:      Bp. Sambutan Camat Jatinangor.00 WIB dengan terlebih dahulu disampaikan Laporan Panitia Pengelenggara. Sambutan dari Ketua DPRD Kabupaten Sumedang. Herman Suryatman. Perencanaan di Jatinangor sangat kacau.

  Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kedepan agar dikembangkan desa wisata budaya di Jatinangor. Kawasan Jatinangor kami pandang layak menjadi kawasan perkotaan. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 29 .   Perlu ada dukungan politik dari semua pihak. Semangat ini murni merupakan usulan dari masyarakat (Buttom Up). karakteristik seperti apa yang tepat bagi Jatinangor. Sekiranya hasil studi menyatakan Jatinangor layak menjadi kawasan perkotaan. Semangat mewujudkan Jatinangor sebagai kawasan perkotaan jangan melenceng dari 2 esensi utama yang telah disebutkan diatas. tapi pada dasarnya kami mendukung pengembangan Jatinangor menjadi kawasan perkotaan. tapi yang penting  adalah bagaimana kualitas pelayanan kepada masyarakat ditingkatkan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hendrik Kurniawan (DPRD): Pada dasarnya masyarakat tidak peduli dengan bentuk pemerintahan/pengelolaan kawasan yang seperti apa. Yang diperlukan saat ini adalah bukti nyata itikad Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat Jatinangor. Tatang (LPM Hegarmanah) : secara nomen klatur saat ini di Jatinangor masih desa belum kelurahan. Padahal Jatinangor merupakan penyumbang PAD terbesar.  Bapak Endin: Pelayanan pemerintah kepada masyarakat Jatinangor sangat minim. Bapak Edi Askari (DPRD): segenap stakeholder harus dilibatkan.   Bapak Ismet : Apakah peserta diskusi publik sudah terwakili pada acara ini sehingga segenap komponen masyarakat memahami. Output dari kegiatan ini diharapkan memunculkan beberapa rekomendasi bagi Pemerintah daerah untuk pengembilan kebijakan selanjutnya.    Dede Rohanda (Cintamulya): program saat ini terkesan dipaksakan karena mengantisipasi berbagai isu yang terkait dengan Jatinangor. Atep Somantri : esensi diskusi publik pada kesempatan hari ini pada dasarnya belum sampai kepada kesimpulan. Konsistensi dari agenda yang dilaksanakan pada hari ini bagaimana.  Bapak Aoh (Kabag Tapem): Kawasan Jatinangor menjadi kawasan perkotaan merupakan desakan kehendak masyarakat. sehingga semangat pembentukan Jatinangor menjadi kawasan perkotaan tidak dikecilkan.

sedangkan pembentukan badan pengelola kawasan perkotaan merupakan tahapan selanjutnya setelah mengkaji dan menganalisa data yang ada dikaitkan dengan berbagai alternatif solusi yang dimunculkan. selanjutnya pasti akan ditetapkan dan diatur melalui peraturan Daerah.  Kegiatan yang dilaksanakan pada hari ini bukan merupakan program yang muncul tiba-tiba.TANGGAPAN NARASUMBER   Kepala Bappeda Kabupaten Sumedang: Menurut pola ruang pada Tata Ruang Provinsi Jawa Barat.  Pertemuan ini baru pada tahapan mengeksplorasi berbagai masukan dari segenap komponen masyarakat. Konsep kawasan perkotaan jatinangor akan menjadi percontohan kebijakan nasional. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 30 . Sadu: Tidak seluruh wilayah Jatinagor masuk kedalam kawasan perkotaan. dan tidak semua kawasan wilayah Cimanggung masuk kedalam kawasan perkotaan. tapi merupakan rangkaian dari upaya perjuangan masyarakat Jatinangor pada waktu-waktu sebelumnya.   Komitmen yang dibuat pemerintah harus dibarengi dengan kesiapan masyarakat. tapi terlebih dahulu harus ada studi kelayakan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pada akhirnya seandainya Jatinagor dinyatakan layak menjadi kawasan perkotaan. Prof. Jatinangor merupakan Kawasan Strategis.   Untuk menuju daerah otonom masih jauh. sekarang bagaimana caranya kawasan perkotaan ini dapat dimanaj lebih optimal.

Acara dihadiri oleh Anggota DPRD Kabupaten Sumedang terutama dari Dapil I.Dr. sehingga dalam perkembangannya harus memperlihatkan ciri-ciri spesifik sebagaimana dimaksud. Ober Tua Butarbutar Paparan ketiga disampaikan oleh Bapak H.NOTULENSI MUSYAWARAH PERENCANAAN KAWASAN PERKOTAAN JATINANGOR Jatinangor. Idam Rahmat (Kepala Bidang Pemerintahan Bappeda Provinsi Jawa Barat) Kawasan Jatingangor dilihat dari tata ruang provinsi Jawa Barat merupakan kawasan spesifik. Pengembangan daerah di jawa akan lebih relefan diterapkan konsep pengembangan fungsional daripada pengembangan administratif. Pimpinan OPD se Kabupaten Sumedang.00 WIB dibuka langsung oleh Bapak Wakil Bupati Sumedang. tokoh prmuda dan organisasi masyarakat di Jatinangor   LaPORAN paNITIA DISAMPAIKAN OLEH Kabid Pemsos Bappeda Kabupaten Sumedang Sambutan dari DPRD Kabupaten Sumedang disampaikan oleh Bapak Otong Dartum (Anggota DPRD dari Dapil I): DPRD Kabupaten Sumedang siap mendukung tindak lanjut musyawarah perencanaan Kawasan Perkotaan Jatinangor dari sisi politik. Sadu Wasistiono terkait hasil studi yang telah dilaksanakan terkait Kawasan Perkotaan Jatinangor. Paparan kedua disampaikan oleh Ir.  Sambutan Bupati Sumedang disampaikan oleh Bapak Wakil Bupati Sumedang SESI PAPARAN NARASUMBER:     Paparan pertama disampaikan oleh Prof. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 31 .   Rencana pengaktifan jalur kereta apai akan turut mempengaruhi perkembangan kawasan Jatinangor. 14 Desember 2009   Acara dimulai pada pukul 10. tokoh masyarakat.

DPRD siap memfasilitasi pembentukan PERDA terkait pengembangan kawasan Perkotaan Jatinangor. Sumedang): perjalanan Jatinangor selama ini sangat memperihatinkan bagi masyarakat Jatinangor. Komitmen dunia usaha harus difasilitasi pemerintah dalam upaya turut mengembangkan kawasan perkotaan Jatinangor. Rencana kedepan. Peran provinsi Jabar merlu lebih proaktif dalam mendorong pembentukan kawasan perkotaan Jatinangor. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 32 . Sebagian masyarakat Jatinangor masih mengelola pertanian. mungkinkah Jatinangor jadi daerah otonom baru? Bapak Saepudin (DPRD Kab. sehingga muncul berbagai isu daerah otonom.SESI DISKUSI:              D. Etos kerja harus ditingkatkan. infrastruktur harus ditingkatkan. Rahmat (tokoh masyarakat): Usulan Namanya tetap jatinangor hanya ditambahkan  Kota Mandiri Jatinangor Jatinangor diharapkan jadi tujuan objek wisata berbasis budaya lokal Bapak Ismet Suparmat: Jatinangor menjadi korban produk perundangundangan yang ada. LPM Desa Hegarmanah: ada ketidak konsistenan dari pihak pemerintah Perlu ada koordinasi lontas sektor Perlu ada berbagai upaya antisipasi terkait rencana pengembangan kawasan Jatinangor. Hari ini merupakan hari yang ditunggu2 masyarakat Jatinangor karena akan menentukan langkah kedepan. Kadarrohim (Desa Sayang): Harus ada kejelasan kapan target minimal kawasan Jatinangor dapat terwujud. Ingin adanya konsistensi perencanaan Berkenaan dengan alternatif : nama kawasan perkotaan jatinangor. Masalah lingkungan harus menjadi perhatian . lingkup cukup 2 kecamatan dulu. Masalah tenaga kerja hendaknya juga dapat ditanggulangi dengan adanya konsep pengembangan kawasan perkotaan.        Tujuannya bagaimana kesejahteraan masyarakat Jatinangor dapat ditingkatkan.

Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 33 .  Keseriusan Pemda Sumedang dalam mengembangkan kawasan perkotaan Jatinangor akan terlihat pada RKPD 2010. sebagian Tanjungsari dan sebagian Sukasari. sementara Alternatif II melibatkan Jatinangor. Pa Idam Rahmat: Pemprov mulai tahun depan akan mengawal secara intensif terkait kawasan perkotaan Jatinangor ini. Perlu ada penyusunan Rencana Detail Kawasan Perkotaan Jatinangor Sebagian besar fungsi pengendalian ruang adalah ada di DPRD Bappeda harus memfasilitasi dan mengoordinasikan integritas perencanaan di Kabupaten Sumedang. Data sebagai bahan kajian diperoleh dari pendataan langsung maupun dari data-data sekunder yang diambil dari instansi atau lembaga terkait. Awali dengan konsolidasi Renstra SKPD di Kabupaten Sumedang.          Tim Ahli: dari sisi tata ruang konsistensi keberadaan kawasan Jatinangor sebagai kawasan Pendidikan sudah jelas.  Pa Jayadi (warga Sukasari): Lingkup kawasan alternatif I hanya Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung. Harus ada wakil-wakil khusus yang mengawal upaya akselerasi pembentukan kawasan perkotaan Jatinangor pada musyawarah-musyawarah perencanaan. Selain itu terkait Jatinangor. Cimanggung. SESI FGD (BIDANG PEMERINTAHAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH)    Diskusi dipandu oleh Pa Warson Hasil kajian dinyatakan bahwa Kawasan Jatinangor layak untuk dikembangkan menjadi Kawasan Perkotaan (type sedang) Peran serta masyarakat termasuk berbagai sumbangan pemikiran segenap komponen masyarakat sangat diperlukan untuk mewujudkan cita-cita terbentuknya kawasan Perkotaan Jatinangor. pemprov akan memperhatikan perkembangan sekitar daerah perbatasan. baik pra musrenbang musrenbang wilayah priangan maupun musrenbang provinsi dan Nasional. Pa Ober Tua Butarbutar: kawasan perkotaan harus dapat mempertimbangkan kondisi desa-desa di sekitarnya.

bagaimana upaya memfasilitasi 6 desa lainnya yang tidak masuk kawasan seandainya muncul ”kecemburuan”. supaya lebih terbuka dimana masyarakat lebih leluasa memberikan masukan sebaiknya yang dibentuk adalah LEMBAGA PENGELOLA. regulasi Adang Rukmana (Ketua BPD Kutamandiri-Tanjungsari): bagaimana Tupoksi Lembaga Pengelola sehingga tidak tumpang-tindih dengan kewenangan kecamatan... dan mencintai kawasan tersebut. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 34 . Perlu dikembangkan ruang publik yang terbuka. untuk sementara dalam tahap penyesuaian sebaiknya dikelola oleh birokrat baru kemudian diserahkan ke LPP sepenuhnya. mempunyai integritas. tempat diklat. H. tapi mengapa desa Sindangsari di Kec...   Komitmen disiplin waktu harus benar-benar ditegakkan dan harus diberikan keteladanan dari pemimpin..   Pengelola LPP sebaiknya merepresentasikan cakupan wilayah.   Sudah mampukan pemda Sumedang mewujudkan Kawasan Perkotaan baik dari segi APBD.. Perlu dipertimbangkan seandainya kawasan perkotaan melibatkan 5 desa di Cimanggung.. Sukasari yang berbatasan dengan Cibeusi tidak masuk kedalam rencana kawasan.. Pembagian kewenangan LPP harus Jelas.. Masalahnya bagaimana cara memilih orangorangnya yang diterima masyarakat... Menurut PP 34 psl 7 ayat 2. Pa Nia (Cimanggung): Nama yang akan dipakai harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.    Dalam membentuk organisasi pemerintahan jangan asal-asalan.. sebagiknya ada wilayah tertentu sebagai pusat perkantoran yang terintegrasi. Banyak potensi di Kecamatan Sukasari mulai dari Bumi perkemahan..     Bp.. Keberadaan Pemerintahan Desa (SDM pemerintah desa) harus lebih dimantapkan sebelum kawasan perkotaan benar-benar terbentuk. Deden : secara umum kami menerima hasil kajian. Dengan terwujudnya kawasan perkotaan. Ada baiknya nama Cimanggung dapat terwakili. namun yang menjadi perhatian adalah cakupan wilayahnya. sementara untuk koordinator bisa dari Jatinangor.

Pa Mahri: ”Palias Laas ku Mangsa” & Sumedang Kota Budaya Fenomena yang ada di masyarakat sekarang ini tidak bisa dicegah. Payung hukum di 2010 harus sudah terbentuk dalam bentuk Perda. Pa Warson: pembentukan wilayah suatu kawasan jangan sampai terhalang oleh wilayah lain yang tidak masuk kedalam kawasan. Tokoh Masyarakat Sukasari: minta kejelasan batas wilayah. tapi tidak masuk kedalam kawasan perkotaan. Kondisi saat ini merupakan salah satu kelalaian birokrat Sumedang. fleksibel dan kapabel. Pembentukan Kawasan tidak akan merubah sisi administratif wilayah Kecamatan masing-masing. LAN. Kondisi wilayah kawasan saat ini sangat heterogen. jangan ada warga susupan sebagai sayarat minimal Harus ada yang mengawal mulai dari eksekutif sampai ke legislatif Layanan kepada masyarakat harus lebih baik daripada sebelum adanya kawasan. Kutamandiri (Tanjungsari) yang letaknya di tengah. Upaya harus dilakukan secara bertahap tetapi target harus jelas Pa Rohim (Jatinangor): Lembaga yang akan jadi Pengelola harus lembaga husus Pengelola harus betul-betul warga kawasan. saat ini batas sebagian desa di Sukasari dengan desa di Jatinangor ada yang belum jelas. Yang dibutuhkan saat ini adalah pemerintahan yang bersih.                Untuk nama sangat cocok menggunakan Jatinangor. Pertambahan penduduk saat ini melahirkan konsekwensi harus adanya perluasan wilayah kawasan. Di Sindangsari ada tempat diklat. berwibawa. Perguruan tinggi di Jatinangor harus menciptakan SDM terampil yang siap pakai. Bumi perkemahan yang sangat terkenal tapi mengapa tidak masuk kedalam rencana wilayah kawasan perkotaan.     Tanjungsari agar masuk ke dalam kawasan perkotaan Jatinangor. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 35 . Jatinangor saat ini adalah kota yang dipaksakan sehingga pertumbuhan kawasan pendidikan tidak seimbang dengan pertumbuhan industri.

padahal merupakan unsur penting selain LPP. Keterlibatan beberapa desa di Luar Jatinangor tentu akan memunculkan konflik di kecamatan tersebut. Apakah ststus desa-desa yang masuk kawasan perkotaan menjadi berubah? Pa Atep (Ormas Paguyuban Masy. Jatinangor): kawasan yang akan dibentuk adalah kawasan perkotaan dalam lingkup Kabupaten Sumedang. masih banyak desa-desa yang layak masuk kawasan perkotaan.              Pa Edi Wahyudin (BPD Jatisari-Tanjungsari): Menurut pertimbangan kami. Dilihat dari transportasi dan berbagai gambaran masalah yang ada secara umum hampir sama dengan Jatinangor. Pa Nia: Desa Cikahuripan layak masuk kawasan perkotaan karena ada kompleks industri. Tanpa kajianpun Jatinagor layak jadi kawasan perkotaan.  Kawasan perkotaan tidak bertentangan dengan UU tapi justru dilindung UU. Forum Masyarakat Perkotaan selama ini tidak disebut-sebut. Hasil pembahasan ini harus di sosialisasikan ke masing-masing wilayah. Desa yang masuk kawasan sebaiknya jadi kelurahan. Payung hukum LPP harus jelas. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 36 . Partisipasi semua stakeholders harus terakomodir melalui peraturan perundangan yang berlaku. Harus ada validasi data Harus ada pemisahan kewenangan antara pemerintah kecamatan dan LPP. Pa Warson: perlu ada dukungan tokoh-tokoh masyarakat lintas kecamatan untuk mendukung dan mengawal percepatan pembentukan kawasan perkotaan.

Konservasi daerah tangkapan air b. teknologi daur ulang Konservasi .REKAPITULASI PERMASALAHAN DAN USULAN/SARAN PESERTA MUSYAWARAH PERENCANAAN KAWASAN PERKOTAAN JATINANGOR BIDANG SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN NO 1 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Penduduk Jatinangor yang mayoritas petani akan terkena dampak negatif pengembangan kawasan perkotaan Jatinangor Masalah pengelolaan sampah Ada kawasan kritis bekas perkebunan di bagian utara Jatinangor termasuk desa Cileles . Pembuatan sumur resapan Perlu regulasi tentang proporsi rekruitmen tenaga kerja lokal dan pendatang Antisipasi kebijakan di bidang pariwisata 7 Perlu mencari dan memanfaatkan sumber-sumber air di tempat lain Perlu Langkah-langkah operasional untuk pelestarian budaya local dan budayawan diberdayakan 38 8 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . penanganan sampah. krisis multi dimensi. Pemanfaatan sumber air selain di kawasan utara c. penjajahan kultur lokal a. potensial menjadi penyebab banjir di Jatinangor Kekurangan air bersih USULAN SOLUSI Antisipasi kebijakan yang dapat melindungi masyarakat petani Jatinangor Perlu menetapkan TPA. Pembuatan sumur artesis d. penghijauan kembali lahan kritis 2 3 4 5 6 Pengangguran masyarakat lokal Desa Sindang Sari Manglayang timur akan kena dampak sebagai areal wisata seperti Dago nya Bandung Kekuarangan air bagi kegiatan pertanian akibat akibat eksploitasi besar-besaran bagi pasokan ke kawasan perkotaan Jatinangor Hilangnya kepribadian.

bageur.NO 9 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Usaha-usaha kecil/warung sepanjang jalan di Jatinagor menjadi mati/kalah bersaing oleh toko-toko swalayan USULAN SOLUSI Perlu kebijakan yang dapat melindungi pengusaha-pengusaha kecil dan pembatasan berkembangnya toko-toko swalayan/pasar modern Pemilihan pemimpin Kawasan Perkotaan Jatinangor yang memiliki sifat kepemimpinan. tabligh) 10 Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah 11 Perkembangan kota ke arah kota yang semrawut Ketertiban dan keindahan kota libatkan peran serta masyarakat Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 39 . amanah. perlu persyaratan cageur. sidik. bener. pinter. fatonah.

2. Pada pertemuan di IKOPIN (public hearing mengenai Pembentukan Kawasan Perkotaan Jatinangor yang diselenggarakan Bappeda Kab.Di satu sisi terlihat Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 40 . secara perlahan namun pasti Jatinangor mengalami perubahan yang sangat berarti.WAWANCARA TOKOH MASYARAKAT Nara Sumber: Drs. Apakah perkembangan/perencanaan Jatinangor dari tahun ke tahun sudah mengakomodasi asprirasi masyarakat? Munculnya permintaan Jatinangor untuk dijadikan sebagai kawasan perkotaan ataupun sebagai Kota administratif (dulu) semuanya berasal dari usulan/keinginan masyarakat. tidak ada lagi keraguan bahwa selama ini perkembangan Jatinangor selalu didasari oleh keinginan/suara rakyat. Keinginan menjadikan Jatinangor sebagai kawasan perkotaan sebetulnya mempunyai sejarah panjang dan bukan hanya timbul pada saat ini saja. red) yang sama sekali tidak digerakkan oleh kekuatan ’atas’ ataupun dikendalikan oleh kalangan tertentu.Pertanyaan ini dapat terjawab apabila melihat bagaimana antusiasme masyarakat Jatinangor terhadap kajian yang dilakukan oleh IPDN. Sumedang tanggal 13 Oktober 2009) terlihat bahwa pertemuan dihadiri oleh penduduk asli dan terlihat bahwa keinginan mereka sudah begitu kuat untuk melakukan perubahan di Jatinangor. Selama ini ’pergerakan’ masyarakat Jatinangor memang berasal dari bawah (grass root.Forum Jatinangor mempunyai rekaman data-data otentik tentang aspirasi masyarakat terhadap pembangunan Jatinangor dan apa yang seharusnya dirasakan oleh penduduk asli. Keinginan masyarakat jatinangor memang didasari oleh aspirasi dan keinginan murni masyarakat Jatinangor. Nandang/Penggiat Forum Jatinangor 1. Selama ini langkah apa yang dilakukan untuk merangkul masyarakat Munculnya Forum Jatinangor merupakan bukti bahwa masyarakat Jatinangor mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan/pembangunan wilayah Jatinangor. Kami menyadari bahwa sejak jatinangor dijadikan sebagai kawasan pendidikan.

Apa harapan masyarakat dari pembentukan kawasan Perkotaan Jatinangor?/fungsi kota yang diharapkan? Tidak banyak permintaan masyarakat terhadap pemerintah. Terjadi kesenjangan yang begitu lebar antara penduduk asli dengan pendatang yang diakibatkan karena SDM penduduk asli yang masih rendah. Oleh karena itu Forum jatinangor dibentuk sebagai upaya untuk menjembatani penduduk asli agar dapat memperoleh dampak posistif terhadap pembangunan Jatinangor. karena masyarakat Jatinangor memahami keterbatasan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Sumedang.perkembangan fisik yang jauh berbeda dengan Jatinangor masa lalu namun di sisi lain kehadiran PT di jatinangor tidak membawa dampak terhadap kesejahteraan masyarakat Jatinangor sebagai penduduk asli.Sebetulnya Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan . Hadirnya PP No 34 Tahun 2009 menjadi momentum yang tepat bagi PemKab Sumedang sekaligus sarana bagi masyarakat Jatinangor untuk mewujudkan keinginan yang telah lama diharapkan. red) yang kuat. Dan apabila PemKab Sumedang tidak mempunyai kemampuan untuk itu maka Masyarakat jatinangor hanya minta difasilitasi sesuai kewenangan yang dimiliki Pemerintah agar Masyarakat lebih berdaya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh Jatinangor. 3. Institusi ini berupaya untuk menyerap aspirasi masyarakat agar suara masyarakat mempunyai kekuatan tawar (bargaining position.Forum Jatinagor merupakan institusi yang digagas oleh masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap pembangunan (terutama sosial-budaya-ekonomi)masyarakat Jatinangor. itu menunjukan bahwa masyarakat Jatinangor sudah semakin berdaya dan mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk menggalang aspirasi masyarakat secara langsung. masyarakat Jatinangor hanya ingin mendapat perhatian yang lebih layak dari Pemkab Sumedang terhadap pelayanan publik dan kesejahteraan Masyarakat. Kalaupun kemudian forum Jatinangor tidak begitu berperan aktif di akhir-akhir tahun ini. Apabila aturan ini bisa dimanfaatkan dengan baik makan akan menghasilkan solusi yang sama-sama menguntungkan bagi masyarakat masyarakat Jatinangor Jatinangor maupun tidak Pemerintah begitu perduli kabupaten dengan 41 Sumedang.

masyarakat Jajtinangor dapat menikmati pembangunan yang giat dilakukan di jatinangor. Dan yang lebih penting adalah peningkatan kesejahteraan Masyarakat jatinangor agar tidak terpinggirkan dan mendapat keuntungan positif dari pembangunan yang dilakukan di Jatinangor. Dan ada juga yang sudah memanfaatkan kemajuan Iptek dengan melakukan order melalui pesanan telepon. Bagaimana kemampuan penduduk menguasai lapangan kerja yang berbasis Iptek? 42 Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan .kawasan industri. 6. masyarakat Jatinangor tidak terpinggirkan dan hanya jadi penonton dari gegap gempita pembangunan di Jatinangor. mereka adalah penduduk yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengimbangi perkembangan Jatinangor. Di masa depan diharapkan hal ini tidak terjadi lagi semoga Masyarakat Jatinangor mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk mengimbangi setiap kemajuan/pembangunan di Jatinangor. 4. Bagaimana harapan terhadap perubahan perilaku masyarakat? Apabila dulu. munculnya perguruan tinggi dan pengaruhnya Apabila pengrajin Cipacing masa lalu masih menjual produk di lokasi usaha. maka dapat dilihat sekarang bahwa hal itu sudah berubah. drainage) dan tata kawasan Jatinangor yang semakin semrawut. masyarakat Jatinangor dikenal sebagai masyarakat yang mempunyai tingkat pendidikan yang rendah. sampah. yang penting bagi mereka adalah. Kawasan Jatinangor sebagai kawasan pendidikan telah mengubah pandangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Banyak penduduk asli jatinangor yang tergusur ke daerah pinggiran karena pembangunan fisik yang hebat di Jatinangor. Sejarah pertumbuhan kerajinan cipacing.format/kelembagaan yang akan nanti dihasilkan dari kajian ini. maka sekarang pengrajin Cipacing memperluas wilayah pemasaran sampai ke Pulau Bali. Harapan utama dari pembentukan kawasan Perkotaan jatinangor adalah: Peningkatan pelayanan publik (air. Itu semua disebabkan karena pengaruh kehadiran PT dan pendatang serta budaya mahasiswa yang akrab dengan kemajuan zaman di Jatinangor yang secara perlahan memberi dampak positif terhadap iklim usaha di Jatinangor. 5.

karena merasa senasib sepenanggungan. Nara Sumber: Drs. masyarakat sendiri secara mandiri Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 43 . Ismet/Mantan Ketua DPRD Kab Sumedang 2009-2014 1. namun itu masih perlu ditingkatkan agar masyarakat Jatinangor mampu bersaing sebagaimana masyarakat pendatang. Sekarang sudah banyak terlihat masyarakat Jatinangor usia muda mempunyai pekerjaan di luar pekerjaan agraris maupun pekerjaan tidak terdidik (mayoritas sebagai ojeg). Di luar itu. Aspirasi masyarakat Jatinangor selalu dibawa ke forum yang resmi agar mendapat perhatian yang lebih luas. Selama ini langkah apa yang dilakukan untuk merangkul masyarakat Sebagai salah satu wakil masyarakat yang ’ditua kan’ pintu rumah selalu terbuka lebar dan selalu memberikan waktu untuk masyarakat apabila ada yang ingin bertanya atau hanya sekedar silaturahmi. 2. hubungan masyarakat Jatinangor jauh lebih kental dan dekat karena mempunyai keinginan yang sama. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang datang ke rumah (pada saat wawancara juga terlihat beberapa orang yang datang ke rumah nara sumber dan dipersilahkan menunggu sampai wawancara usai)untuk sekedar bertanya dan berdiskusi tentang berbagai hal. Dibandingkan dengan daerah lain.Ini yang masih harus ditingkatkan karena tingkat pendidikan masyarakat penduduk jatinangor relatif masih rendah. masyarakat yang berpendidikan tinggi adalah masyarakat usia muda yang mempunyai orang tua yang mengerti terhadap pendidikan. apakah dalam bentuk lembaga resmi seperti forum Jatinangor atau dalam bentuk hubungan informal sebagai upaya untuk saling berbagi dan bertukan informasi terhadap perkembangan Jatinangor. Apakah perkembangan/perencanaan Jatinangor dari tahun ke tahun sudah mengakomodasi asprirasi masyarakat? Iya. maka sekarang masyarakat Jatinangor sudah lebih maju dan mandiri sehingga forum lebih banyak dilakukan secara informal tapi dengan hubungan yang jauh lebih erat. Masyarakat Jatinangor mempunyai keterikatan yang kuat satu sama lain. hubungan antar masyarakat diwadahi oleh Forum jatinangor.Apabila dulu.

diharapkan masyarakat akan jauh lebih perduli dan semakin meningkatkan pasrtispasinya terhadap pembangunan di Jatinangor. Sejarah pertumbuhan kerajinan cipacing. ada juga penduduk asli yang pindah ke pinggiran karena tidak dapat beradaptasi dengan kemajuan jatinangor. munculnya perguruan tinggi dan pengaruhnya Pada awalnya. 3.melakukan beberapa upaya sebagai bentuk penyampaian aspirasi masyarakat di tingkat daerah bahkan sampai ke tingkat nasional.Dari dua belas desa di kecamatan jatinangor diharapkan semuanya masuk ke kawasan perkotaan karena perjuangan ini merupakan perjuangan bersama seluruh masyarakat Jatinangor. 6. 4. Walau masih ada ketidakmengertian masyarakat terhadap arti ’Kawasan Perkotaan’ karena masih banyak yang beranggapan bahwa Jatinangor akan menjadi Kota otonom (banyak masyarakat yang memanggil Pak Ismet sebagai walikota. Oleh karena itu masyarakat jajtinangor berharap bahwa pembangunan akan lebih membawa kesejahteraan kepada penduduk asli dan tidak kalah oleh pendatang.red) tapi pada dasarnya Masyarakat jatinangor ingin merasakan dampak pembangunan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. masyarakat hanya mendapatkan keuntungan dari menyediakan fasilitas pendukung mahasiswa (pondokan. ojeg.kawasan industri. Bagaimana kemampuan penduduk menguasai lapangan kerja yang berbasis Iptek? Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 44 . Apa harapan masyarakat dari pembentukan kawasan Perkotaan Jatinangor?/fungsi kota yang diharapkan? Masyarakat Jatinangor hanya ingin mendapat perhatian yang lebih layak dari pemerintah. Karena apabila ini disetujui maka maju dan tidaknya Jatinangor sangat ditentukan oleh masyarakat Jatinangor sendiri. toko kelontong dan rental komputer) itu pun dalam kondisi yang sangat sederhana. Bagaimana harapan terhadap perubahan perilaku masyarakat? Apabila studi tentang Kawasan perkotaan Jatinangor disetujui. warung nasi. 5.

Masih perlu peningkatan karena belum banyak penduduk asli yang mengerti Iptek dan memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi. tapi belum merata. Walaupun sekarang ini banyak kemajuan yang dialami oleh penduduk asli. Dan ini yang perlu dilakukan yaitu peningkatan kualitas SDM Jatinangor di bidang pendidikan. Studi Kelayakan Kawasan Jatinangor sebagai Kawasan Perkotaan 45 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful