BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang masalah Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak sekali realitas sosial-keberagaman yang kita temukan terutama seperti yang akan kami jelaskan dalam makalah ini yaitu mengenai

masyarakat sinkretisme agama. Dalam Antropology Today: An Encyclopedia (1953) R. Beals menjelaskan bahwa ―acculturation is combining original and foreign traits either in harmonious whole or with retention of conflicting attitudes which are reconciled in everyday behavior according to specific occasions.‖ sinkretisasi adalah proses penggabungan dan pengombinasian unsur-unsur asli dengan unsur-unsur asing yang dapat memunculkan sebuah pola budaya baru. Oleh sebab itu dalam makalah ini kami mencoba untuk mengungkap bagaimana proses lahirnya masyarakat sinkretisme agama, baik itu penyebab maupun awal perkembangannya. Adapun sinkretisme agama disini yang kami bahas yaitu percampuran antara Islam dan kebudayaan Jawa. B. Rumusan masalah 1. Apa yang melatar belakangi lahirnya sinkretisme Islam-Jawa? 2. Dimana pusat persebarannya? C. Tujuan penulisan makalah Adapun tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas semesteran mata kulyah sosiologi agama.

1

dari pertemuan personal dalam mengabdi dan memuji Tuhan atau dewa sejauh ia sendiri akan dilayani oleh-Nya. Tidak hanya itu.BAB II PEMBAHASAN MASYARAKAT SINKRETISME AGAMA (ISLAM-JAWA) A. magi dalam bentuk murni menetapkan relasi aku-Dia yang manifulatif dengan alam (Dhavamony. menurut Martin Buber. Beals menjelaskan bahwa ―acculturation is combining original and foreign traits either in harmonious whole or with retention of conflicting attitudes which are reconciled in everyday behavior according to specific occasions. menahan. Sistem konsep-konsep yang diwariskan yang terungkap dalam bentuk-bentuk simbolis menjadikan manusia dapat berkomunikasi. dan mengembangkan pengetahuannya tentang kehidupan dan sikap-sikap terhadap kehidupan‖. Sedang. Secara teoritis konsep agama dapat dipahami dengan membedakannya dari konsep magi. Menurut James Frazer. melestarikan. Konsep budaya yang digunakan mengikuti pemikiran Geertz (1973: 89). Berangkat dari pengertian sinkretisme sendiri Secara konseptual sinkretisme merupakan hasil dari proses sinkretisasi. menakan kelancaan alam dan kehiduapan manusia. Dimensi ekspresif merupakan ruang untuk menyatakan dan menyimbolkan relasi-relasi sosial dan kosmologis tertentu. sinkretisasi adalah proses penggabungan dan pengombinasian unsur-unsur asli dengan unsur-unsur asing yang dapat memunculkan sebuah pola budaya baru. secara substansial agama menekankan dimensi ekspresif. penyesuaian dan reaksi. Pengertian Sinkretisme Sinkretisme agama merupakan realita yang terjadi pada proses keberagamaan yang ada pada masyarakat jawa. Agama adalah mencari keredaan atau kekuatan yanng lebih tinggi dari pada manusia yaitu kekuasaan yang disangka oleh manusia dapat mengendalikan. Dalam Antropology Today: An Encyclopedia (1953) R. Sebagian antropolog menganggap bahwa sinkretisisme sebagai salah satu dari tiga hasil proses akulturasi: penerimaan. agama juga mengarahkan diri pada relasi aku-Engkau. sedangkan magi menekankan dimensi instrumental dari kehidupan. bahwa budaya adalah ―suatu pola makna-makna yang diteruskan secara historis yang terwujud dalam simbol-simbol. 1995: 51).‖ Jelasnya. Sedangkan. dimensi instrumental merupakan ruang untuk mencapai tujuantujuan khusus. Konsep budaya ini berkaitan dengan pandangan dunia (world 2 .

Kedua. Bertepatan pada akhir abad XV di mana terjadi Islamisasi secara besar-besaran di tanah Jawa. mengingat kekuatan Islam baik secara politik maupun keilmuan sedang melemah. konsep mengenai alam.. B. pandangan hidup masyarakat Jawa sangat tepo seliro dan bersedia membuka diri serta berinteraksi dengan orang lain.view) masyarakat Baduy. sebaliknya bersifat akomodatif dan toleran. Geertz (1973: 127) menjelaskan bahwa pandangan dunia adalah ―gambaran mengenai kenyataan apa adanya. Pandangan demikian senada dengan filsafat Tantularisme khas Jawa yang mengajarkan humanisme dalam segala bidang dan menentang segala bentuk ekslusivisme dan sektarianisme. maka metode dakwah Islam seperti pada umumnya waktu itu bercorak apresiatif dan toleran terhadap budaya dan tradisi setempat. Akhirnya proses interaksi antara keduanya tidak bersifat konfrontatif. masyarakat Jawa lebih menekankan sikap atau etika dalam berbaur dengan seluruh komponen bangsa yang bermacammacam suku dan bahasa. adat dan termasuk agama. Runtuhnya Dinasti Abbasiyah oleh serangan Mongol pada 1258 M. Lebih lanjut. Hal ini berpengaruh pada tipologi penyiaran Islam yang elastis dan adaptif terhadap kekuatan unsur-unsur lokal. Menurut Marbangun Hardjowirogo. Begitu juga arus keilmuan dan pemikiran Islam saat itu terjadi stagnasi. Ada tiga hal yang sangat penting untuk diketahui berkaitan dengan latar belakang sejarah sinkretisme Islam-Jawa. Karena manusia Jawa sadar bahwa tak mungkin orang Jawa dapat hidup sendiri. pada waktu itu sejarah Islam tercatat dalam periode kemunduran. Pertama. Latar Belakang Lahirnya Sinkretisme Islam-Jawa Membaca lahirnya sinkretisme Islam-Jawa ada baiknya jika dihubungkan dengan masuknya Islam di Jawa. Pandangan hidup masyarakat Jawa seperti ini lebih mempermudah dalam menerima ajaran Islam yang kategorinya paham asing. diri dan masyarakat‖. Kedua hal itulah yang melatarbelakangi sinkretisme Islam dengan budaya kejawen terjadi sangat mudah dan seakan tanpa sekat. 3 . dan tersingkirnya Dinasti Al-Ahmar (Andalusia/Spanyol) oleh gabungan tentara Aragon dan Castella pada 1492 M menjadi pertanda kemunduran politik Islam.

Tiga hal inilah yang melatarbelakangi masuknya Islam di tanah Jawa terhitung cukup mudah dan bisa berinteraksi secara damai dengan masyarakat. Tuhan merupakan wujud kekuatan adikodrati yang mengendalikan segala sesuatu yang manusia harus tunduk kepada-Nya dalam bentuk pengabdian. Hindu. yakni Hindu. sebelum Islam membumi di Jawa. dapat kita lihat dengan mendekatkan ajaran-ajaran tersebut. merupakan esensi dan substansi ajaran yang terserap dalam tradisi-tradisi lokal di tanah Jawa. Budha.Ketiga. Bahwasanya pada dasarnya semua system kepercayaan maupun agama telah membangun nilai-nilai universal tentang tatanan hubungan manusia dengan Tuhan maupun dengan sesamanya. Islam menjadi mudah diterima dan menyatu di dalam masyarakat merupakan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Budha. animisme maupun dinamisme yang menjadi system kepercayaan atau agama tentunya (sesuai agama-agama lain) telah mengajarkan konsep-konsep religiusitas yang mengatur hubungan menusia dengan Tuhan yang diyakini sebagai pencipta alam. termasuk Islam. adalah falsafah yang mengajarkan bahwa agama merupakan sebuah ajaran agar kehidupan yang dijalani mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan. animisme dan dinamisme yang menjadi prinsip keberagamaan masyarakat Jawa Pra-Islam. yaitu kasunyatan atau kesejatian hidup. sebagai ajaran agama nilai-nilai ajaran yang ada di dalamnya pun memuat prinsipprinsip kepercayaan masyarakat Jawa. Dalam semua tradisi tersebut. Dengan menggunakan kerangka berpikir sedemikian. Spiritualitas dan religiusitas yang menjadi pijakan keberagamaan orang Jawa yang terkandung dari keempat unsur tersebut jika kita benturkan dalam ―kesalihan‖ Jawa tidak lain adalah untuk mencapai satu titik tertinggi. khususnya berkaitan dengan keberadaan sang pencipta atau Tuhan. yang membingkai corak kehidupan masyarakat adalah agama Hindu-Budha serta kepercayaan animisme maupun dinamisme. Untuk meneropong universalisme budaya dan agama Jawa terhadap substansi ajaran agama lain. Pandangan Jawa yang meyakini agama ageming aji. Hal ini secara langsung mempengaruhi pemikiran masyarakat Jawa terhadap nilai baru yang bernama Islam. Tetapi di samping itu. tidak 4 . Tak berbeda dengan Islam.

maka tradisi-tradisi Jawa pun sangat kental bercampur dengannya. Proses sinkretisasi antara Islam dengan Jawa yang berlangsung lembut. Kemudian muatan-muatan simbolis maupun nilai-nilai Jawa serta agama dipadukan pada saat penyebaran Islam. Sinkretisme sebagai bentuk Islam-Jawa Sebelum Islam tumbuh dan berkembang di Jawa.terlepas pula peran besar Walisongo yang menggunakan metode yang toleran dan akomodatif terhadap budaya dan agama Jawa. Begitu juga sebaliknya. Dengan membangun kekuatan politik. maka yang kita rujuk adalah tradisi Hindu-Budha yang saat itu menjadi entitas budaya yang sangat besar di tanah Jawa. Islam secara otomatis menjangkau lapisan masyarakat kelas bangsawan atau priyayi. Berbicara mengenai budaya Jawa. jika kita meneropong Jawa saat ini yang terlihat adalah ciri Islam yang begitu besar mempengaruhinya. dan sinkretisme-lah metode yang paling tepat pada waktu itu untuk menyebarkan Islam. Bahkan. 5 . Di samping tradisi tersebut. pada akhirnya menjadikan Islam-Jawa seakan-akan tidak bisa dipisahkan sampai satu sama lain. kepercayaan animisme dan dinamisme sebagai ikatan religi menjadi hal yang sangat penting untuk ditelisik karena hal ini berkaitan dengan mistisime budaya maupun mistisime agama di pulau Jawa. Hal ini merupakan modal besar bagi Islam untuk dapat berakulturasi dengan budaya setempat dan mempunyai pengaruh yang lebih besar. jika kita meneropong Islam di Jawa. baru kemudian Islam masuk ke ranah perpolitikan. menyatu. Berdirinya Kerajaan Demak pada abad XVI sekaligus sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa adalah bukti usaha penyiaran Islam yang dipelopori oleh Walisongo dengan membangun kekuatan politik. Pada masa awal sinkretisasi Islam-Jawa. tradisi yang berlangsung adalah dan ajaran Hindu-Budha maupun kepercayaan dinamisme dan animisme. mengingat kerajaan merupakan pusat perkembangan budaya sekaligus sebagai pusat dinamika masyarakat saat itu. dan bersifat total. agama Islam lebih dulu kuat di pedesaan. Setelah itu. Dan secara keseluruhan modelmodel etika menghormati kepercayaan yang sudah ada ditekankan sekali. C.

Dalam hal ini Allah terhayati sebagai pribadi yang menjadikan. Pada aspek kepercayaan. yakni upacara peralihan yang berupa slametan. dan memberi rizki kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Ritual menjadi simbol Jawa yang tak dapat menghindar pula dari sinkretisasi dengan Islam. atau Sang Hyang Maha Luhur (Allah Ta’ala). fondasi Islam telah menyatu dengan berbagai unsur keyakinan Hindu-Budha maupun kepercayaan primitif. Ingkang Maha Suci. Misalnya. prosesi dengan benda-benda keramat. kenduri atau makan bersama. Untuk itu. Ritual hal ini mengacu kepada tradisi-tradisi dalam budaya Jawa yang berusaha selalu menggapai keamanan dan ketentraman serta menghindari bencana dan kekacauan. Gusti Kang Murbeng Dumadi (al-Khaliq). Kata Hyang berarti Tuhan atau lebih tepatnya dewa. dan lain-lain. Oleh karena itu. Ingkang Maha Esa (al-Ahad). mereka mengadakan crisis rites dan rites de passage. Menggabungkan dua agama/aliran atau lebih dimaksudkan untuk membentuk suatu aliran baru. memberikan petunjuk. Ingkang Maha Kuwaos (al-Qadir). ritual merupakan kesalihan masyarakat yang senantiasa menjunjung tinggi dan percaya kekuatan dan kekuasaan yang lebih besar (yang dipercaya sebagai pengendali). Penggabungan dari nilai-nilai ajaran yang berlainan ini pada akhirnya berujung pada sinkretisme kepercayaan. yang biasanya merupakan sinkretisasi antara kepercayaan-kepercayaan lokal dengan ajaran-ajaran agama Islam dan aagama-agama lainnya. sehingga ka-Hyang-an diartikan sebagai tempat para dewa. dalam konteks masyarakat tradisonal di Jawa. Dari masing-masing agama tersebut diambil yang sesuai dengan alur pemikiran masyarakat setempat. Hyang Jagad Nata (Allah rabb al-alamin). dan sebagainya. Berbagai ritual dalam tradisi kejawen biasanya juga diiringi dengan serangkaian upacara dalam berbagai bentuk.Adapun sinkretisme Islam-Jawa ini terpadu dalam penggabungan antara dua agama/aliran atau selebihnya. memelihara. pergantian waktu dan perubahan fase kehidupan diyakini sebagai saat-saat genting yang perlu dicermati dan diwaspadai. Nama-nama itu bercampur dengan nama dari agama lain sehingga muncul sebutan Hyang Maha Agung (Allahu Akbar). Hyang Widi. Sebutan Allah dengan berbagai nama yang terhimpun dalam asma’ al husna telah berubah menjadi Gusti Allah. 6 .

Sebagai contoh. tidak salah jika kita menggunakan kerangka analisis Clifford Geertz yang mengklasifikasikan masyarakat Islam-Jawa ke dalam tiga varian. Dengan demikian. Dalam hal ini. kita dapat lebih jeli intensitas persebaran pencampuran ajaran Islam dan Jawa. yaitu. Dua hidangan tersebut merupakan simbol pengakuan manusia akan dosa dan saling memaafkan. Karena secara umum sinkretisme antara Islam dan budaya lokal telah memasuki berbagai lini kehidupan di berbagai daerah. Benturan halus terjadi dan memang harus terjadi sehingga Islam mudah diterima. berbakti kepada orang tua dan bersaling memaafkan adalah sebuah kewajiban dalam Islam. Namun. 7 . tetapi tampilan luarnya mengadopsi tradisi-tradisi lokal. abangan. Yang dimaksud dalam konteks penggabungan agama dengan budaya lokal adalah melaksanakan syariat Islam dengan kemasan budaya Jawa. sinkretisme Islam-Jawa sangat kentara dengan penggabungan antara agama dengan budaya lokal. D. oleh Geertz disandarkan pada asumsi bahwa pandangan dunia Jawa adalah agama Jawa yang dihadapkan pada system stratifikasi social di Jawa. substansi syariat yang dijalankan tetap sesuai dengan koridor ajaran Islam. Pusat Persebaran Sinkretisme Islam-Jawa Diakui atau tidak. santri. berdasarkan kondisi social-geografis. dan priyayi. Sungkem yang biasanya bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri tidak bisa terlewati tanpa hidangan kupat dan lontong. Secara keratabasa. Pembacaan ini. Asimilasi ajaran Islam dengan budaya lokal pada mulanya dimulai dari pedesaan dan daerah (yang tidak banyak membutuhkan peran perpolitikan yang besar). Berbicara mengenai persebaran sinkretisme Islam-Jawa kita harus hati-hati dalam membingkai sociogeografis masyarakat Jawa saat itu. sinkretisme benar adanya berkembang seiring ketika Islam ―bertarung‖ dengan budaya Jawa. kupat dapat diartikan ngaku lepat. Baru setelah besar di pedesaan (sekitar Pantura) para ulama menjadi raja-raja kecil yang kemudian mendirikan kesultanan pertama Demak. sedangakan lontong diartikan sebagai olonone kothong.Di samping dua aspek (agama dan ritual) tadi. Dari situ perpolitikan berperan besar dalam persebaran Islam. Dalam melaksanakan syariat ini masyarakat Jawa biasanya menggunakan media sungkem.

Geertz menyebut pula golongan ini adalah Islam yang berada dalang lingkaran fundamentalisme ajaran Islam. Ini berbeda dengan tipologi masyarakat pesisir yang lebih bercorak sedikit rasional karena intensitas informasi yang masuk kepada mereka lebih banyak. Secara geografis. masyarakat pedalaman menghayati agama secara sinkretistik dimana Islam telah bercampur baur dengan unsur animisme dan Hinduisme. di pedalaman nuansa kepercayaan takhayaul dan klenik yang sangat kental. Golongan santri dinilai lebih pure (murni) dalam menjalankan syariat Islam. abangan adalah golongan yang mengamalkan ajaran Islam yang kemudian dipadukan dengan tradisi dan kepercayaan local. Karena kaitannya dengan pengamalan agama. priyayi adalah golongan bangsawan (aristokrat) yang dekat dengan kekuasaan. santri adalah golongan yang berusaha mengamalkan Islam sesuai dengan ajaran yang pertama datang kepada mereka. banyak muncul pesantren (tempat belajar mendalami agama Islam) di sepanjang pantura pulau Jawa. Kedua. Ketiga. yang oleh Geertz disebut sebagai Islam sinkretisme. Berbicara mengenai golongan 8 . Corak santri diwarnai pula dengan tradisi pemahaman agama Islam yang cukup mendalam. abangan adalah sebutan untuk rakyat desa. Santri yang kategorinya adalah orang yang melaksanakan kewajiban agama secara cermat dan teratur dalam hal ini juga sesuai apabila disematkan pada masyarakat yang bermatapencaharian sebagai pedagang karena interaksinya dengan dunia luar yang cukup intens.Pertama. Mengingat pedagang saat itu lebih berkosentrasi pada dunia pelayaran. Secara geografis. Oleh karena itu. yang hidup dalam wilayah pedalaman. para petani. golongan santri biasanya berada dalam wilayah di sekitar pesisir pulau Jawa. yang penghayatan agamanya banyak dipengaruhi oleh Hinduisme. Abangan inilah. Itu sebabnya. Karena pesisir yang berdekatan dengan laut menjadi titik tolak penyebaran Islam yang berasal dari Timur Tengah. Tipologi masyarakat pedalaman adalah masyarakat yang bercorak mistik dalam memandang kehidupan dunia. Walaupun memang Walisongo saat itu berkonsentrasi lebih di lingkungan pesisir Jawa.

Basis kekuatan politik yang dibangun dengan kerajaan mendukung syiar Islam untuk sampai ke masyarakat pedesaan yang dikategorikan dalam wilayah pedalaman. Adapun jika kita berbicara mengenai politik Islam di Jawa. Setelah Islam berkembang di wilayah pesisir dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Para pahlawan penyebar Islam di Jawa biasanya disebutkan Walisongo (sembilan wali) yang sering melakukan pendekatan kebudayaan dalam menyebarkan Islam. tetapi Islam yang sudah menapak di pantai utara Jawa makin memperkuat kedudukannya. kekuatan politik Islam mulai dibangun. ada baiknya kita juga melihat dinamika politik Islam di Jawa. santri. merupakan bukti nyata bahwa penyebaran Islam mulai menggunakan legitimasi kekuasaan dan kekuatan politik. golongan priyayi cenderung pada penggabungan ajaran agama dengan tradisi kejawen. agama Islam yang semula dikembangkan oleh kaum pedagang di pantai utara mau tidak mau memasuki ruang lingkup pedalaman yang agraris tempat unsur keramat (karamah) den berkat (barakah) sangatlah penting untuk melanggengkan kehidupan. Pada umumnya golongan priyayi hidup dalam lingkaran tradisi kejawen yang sangat kuat mengingat istana merupakan pusat kekuatan budaya saat itu. Berkaitan dengan klasifikasi abangan. Dengan demikian golongan priyayi dalam kesehariannya mengamalkan Islam secara sinkretik. dan priyayi dalam rangka membaca persebaran sinkretisme Islam-Jawa.priyayi. Dalam mengamalkan Islam. Dengan makin berkembangnya agama Islam ke pedalaman Jawa. Pada abad XV Majapahit makin pudar kekuasaannya. Mungkin saja mula-mula ditolak tetapi kemudian 9 . Berdirinya Kerajaan Demak pada abad XVI yang dirintis oleh Walsiongo. wilayah keraton atau kerajaan menjadi latar utama persebaran golongan ini. merupakan keharusan untuk meneropong sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Menguatnya agama Islam di Jawa terjadi pada saat Islam menyebar sampai wilayah pedalaman. Adapun tradisi kejawen yang subur di lingkungan kerajaan saat itu adalah Hinduisme yang sangat kuat mengakar. Dari pantai utara (Demak) Islam menerobos makin jauh ke pedalaman dan serentak dengan itu kerajaan Majapahit yang Hindu berakhir riwayatnya.

Pada saat kraton berada di Demak. Legenda yang menyelimuti mereka menandakan penerimaan masyarakat dalam kontinuitas dengan kebudayaan sebelum beserta segala aspirasi religiusnya. dia mengkawinkan unsur Hindu dengan Islam. Sinkretisme Islam-Jawa semakin mengendap tatkala kerajaan Demak di pindah ke Pajang dan kemudian di Mataram. yang berada di bibir pantai. yang dengannya para mubaligh dari luar Jawa dapat mengajar dan menyiarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. yang tidak memerlukan mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya. yakni masyarakat di sekitar pantai 10 . setelah kraton pindah ke pedalaman. dan diamalkan dalam bentuk sinkretisasi dengan budaya Jawa. Karena pendiri Mataram. Dalam pada itu kekuatan politik Islam juga melemah sehingga perlu dilakukan syiar yang lebih menjunjung tinggi adat-istiadat setempat yang kembali menguat. Kejawen. Oleh karena itu. terhenti dan menyebabkan budaya serta kepercayaaan lama menjadi marak kembali. Tetapi. Senopati. akibatnya Islamisasi yang sudah berjalan secara evolutif.diterima dengan tangan terbuka setelah melakukan penyesuaian seperti yang dilakukan oleh Walisongo leluhur pesantren. Berdasarkan klasifikasi demikian. Sinkretisme Islam-Jawa semakin subur setelah berdirinya Mataram Islam yang tetap menjaga tradisi-tradisi kejawen dalam ritual Islam. saat masuk ke kerajaan daerah pedalaman beralih ke dalam mistisisme yang berlatar animisme dan dinamisme yang padu pula dengan budaya kejawen (Hindu-Budha). masyarakat Jawa yang pengetahuan dan pemahamannya tentang Islam belum mapan dapat belajar ke tempat-tempat lain yang Islam-nya relatif lebih maju. dihayati. dapat diambil gambaran bahwa penganut Islam di wilayah sekitar pesisir yang tergolong dalam kaum santri. Islam yang awalnya tersebar di daerah pesisir yang kategorinya tidak condong pada sinkretisme bahkan cenderung sedikit purify. Dalam kurun waktu inilah Islam dipahami. Sisa-sisa kekuatan politik Islam waktu itu terbangun dalam Kerajaan Mataram Islam. adalah keturunan Majapahit. ekonomi masyarakat digerakkan lewat perdagangan antar pulau. di mana keduanya secara geografis terletak di pedalaman. dan sebaliknya. ekonomi masyarakat lebih bertumpu pada pertanian. hubungan dengan dunia luar relatif mudah dilakukan.

11 . Oleh karena itu dapat kita ambil gambaran sederhana bahwa pusat persebaran sinkretisme Islam-Jawa terletak pada sekitar masyarakat pedalaman dan masyarakat lingkungan kerajaan. masyarakat pedalaman yang kental dengan corak msitisime Jawa beserta klenik di dalamnya dikategorikan sebagai Islam abangan yang mengamalkan Islam secara sinkretik. Namun demikian pandangan yang dikemukakan di atas merupakan gambaran sinkretisme agama dan budaya di Jawa secara umum.utara (pantura) Jawa. Demikian pula ketika berbicara tentang Islam pedalaman maupun Islam keraton/kerajaan. dan pembacaan tersebut tidak sepenuhnya akurat. Sebaliknya. mengamalkan Islam dengan tidak menonjolkan nuansa sinkretisme. hakikatnya juga terdapat varian-varian yang menggambarkan bahwa ketika Islam berada di pemahaman masyarakat maka juga akan terdapat varian-varian sesuai dengan kadar paham masyarakat tentang Islam. yang lebih cocok dalam klasifikasi priyayi. Sehingga ketika berbicara tentang Islam pesisir pun tetap ada varian-varian Islam yang pada kenyataannya menunjukkan adanya fenomena bahwa Islam ketika berada di tangan masyarakat adalah Islam yang sudah mengalami humanisasi sesuai dengan kemampuannya untuk menafsirkan Islam. Begitu pula di lingkungan kerajaan. mengamalkan Islam dengan menggabungkannya terhadap tradisi kejawen yang bercorak hindu-budha. Bahwa Islam pesisiran yang sering diidentifikasi lebih murni dari pada Islam pedalaman adalah tidak sepenuhnya benar. Mengingat di Indonesia –khususnya Jawa—varian-varian Islam itu dapat dilihat sebagai realitas sosial yang cukup unik dan rumit.

Kesimpulan Berdasarkan paparan di atas. Selanjutnya. 12 . atau yang tadi disebut sinkretisme menjadi bentuk dan ciri khas Islam di Jawa. Secara umum pandangan dua terminologi tersebut sangat rumit untuk dibedakan karena realitas keIslaman di Jawa yang sangat rumit untuk ditelisik. Setelah Islam dan Jawa bersenyawa menjadi satu dalam sebuah ikatan religius dan spiritual. keduanya sangat padu. pusat persebaran sinkretisme yang terurai melalui pendekatan trikotomi Clifford Geertz.BAB III PENUTUP A. dapat kita tarik pemahaman bahwa proses penyebaran Islam di tanah Jawa menggunakan pendekatan kultural. Dalam meneropong sinkretisme Islam-Jawa sebenarnya ada dua istilah sensitif yang sering muncul ke permukaan dan tak jarang dipertentangkan. corak pengamalan Islam mereka kentara sekali dengan sinkretisme dengan menggabungkan ajaran Islam dengan kejawen. dan priyayi mengantarkan kita pada realitas pemahaman masyarakat Jawa yang telah mengalami sinkretisasi dengan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal setempat. Bahwa Islam sinkretik lebih kental di wilayah pedalaman atau yang tergolong abangan yang diselimuti dengan kepercayaan mistik dan klenik. Bahkan seakan-akan tidak bisa dibedakan sebenarnya yang mana budaya Jawa dan yang mana Islam. Yaitu. Kendati demikian. bukan sepenuhnya masyarakat pesisir melaksanakan ajaran Islam dengan tidak mencampuradukkannya terhadap pemahaman budaya setempat. Sehingga Islam dapat diterima oleh masyarakat Jawa meskipun akhirnya mengalami proses akulturasi dengan nilai-nilai setempat. Kemudian pencampuran keduanya. abangan. yakni adaptif dan akomodatif dengan budaya dan tradisi setempat. Begitu juga kaum bangsawan yang hidup dalam tradisi kerajaan (priyayi). ―Islamisasi Jawa‖ dan ―Jawanisasi Islam‖. santri.

all. Sofwan. Clifford. 2000. Ka’bah dan Garuda: Dilema Islam di Indonesia? dalam Prisma. Darori. Strukturalisme Lévi-Strauss. Cetakan Pertama. et. Koentjaraningrat. Menurut Penuturan Babad. Nomor 4. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Semarang: Dahara Prize. Jambatan. dalam Pemerintahan dan Pembangunan. Ridin. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media. 2000. 2000) 13 . Islamisasi di Jawa: Walisongo Penyebar Islam di Jawa.all. Anwar. Amin. Geertz. Islam dan Kebudayaan Jawa. Refleksi Budaya Jawa. Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Terjemahan dari C. 1992. 2006. Darori Amin.all. 1954. Jakarta: Pustaka Jaya: 1981. et. Heddy Shri. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Abangan. Dewi Fortuna. Geertz 1969). (Yogyakarta: Gama Media. Yogyakarta: KEPEL Press. Sujamto.Daftar Pustaka Ahimsa-Putra. April 1984. Santri. Yogyakarta. Mitos dan Karya Sastra. et.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful