Etika pemerintahan dan politik

MAKNA ETIKA PEMERINTAHAN Konsepsi etika, sebenarnya sudah lama diterima sebagai suatu sistem nilai yang tumbuh dan berkembang pada peradaban manusia, sehingga dengan demikian- pada dasarnya etika berkenaan dengan serangkaian upaya yang menjadikan moralitas- sebagai landasan bertindak dalam tatanan kehidupan yang kolektip. Nilai- nilai etika yang hidup dan berlaku dalam suatu masyarakat, bukanlah sekedar menjadi keyakinan pribadi- bagi para anggotanya, akan tetapi juga menjadi seperangkat norma yang terlembagakan. Dengan kata lain, suatu nilai etika harus menjadi acuan dan pedoman bertindak yang membawa akibat dan pengaruh secara moral. Dalam etika pemerintahan, terdapat asumsi yang berlaku bahwa melalui penghayatan yang etis yang baik, seorang aparatur akan dapat membangun komitmen untuk menjadikan dirinya sebagai teladan tentang kebaikan dan menjaga moralitas pemerintahan. Aparatur pemerintahan yang baik dan bermoral tinggi, akan senantiasa menjaga dirinya agar dapat terhindar dari perbuatan tercela, karena ia terpanggil untuk menjaga amanah yang diberikan, melalui pencitraan perilaku hidup sehari- hari. Dalam lingkup profesi pemerintahan misalnya, ada nilai- nilai tertentu yang harus tetap ditegakkan- demi menjaga citra pemerintah dan yang dapat menjadikan pemerintah, mampu menjalankan tugas dan fungsinya. Diantara nilai- nilai tersebut, ada yang tetap menjadi bagian dari etika dan adapula yang telah ditranspormasikan ke dalam hukum positip. Misalnya, tindakan kolusi dengan kelompok tertentu, lebih tepat dipandang sebagai pelanggaran etika- daripada pelanggaran hukum. Mengapa lebih cenderung kepada pelanggaran etika ? hukum belum secara rinci mengatur tentang bentuk pelanggaran yang umumnya- berlangsung secara diam- diam dan tersembunyi. Oleh karena itu, seorang aparatur pemerintah yang ketahuan melakukan tindakan kolusi, sekalipun tidak dapat selalu dituduh melanggar hukum- ia dinilai telah melanggar etika, sehingga secara profesional dan moral, tetap dapat dikenakan sanksi. III. TUGAS POKOK PEMERINTAHAN Secara umum, tugas pokok pemerintahan mencakup 7 bidang pelayanan, akan tetapi dapat lebih difokuskan lagi menjadi 3 fungsi yang utama, yaitu : Pelayanan ( service ), pemberdayaan ( empowerment ) dan pembangunan ( development ). Dipandang dari sudut etika, keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diamanahkan, haruslah dapat diukur dari ketiga fungsi utama tersebut. Pelayanan yang baik- akan membuahkan keadilan dalam masyarakat, pemberdayaan yang setara- akan mendorong kemandirian masyarakat, dan pembangunan yang merata- akan menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Etika pemerintahan, seyogianya dikembangkan dalam upaya pencapaian misi tersebut, artinya- setiap tindakan yang dinilai tidak sesuai- dianggap tidak mendukung- apalagi dirasakan dapat menghambat pencapaian misi dimaksud, seyogianya dianggap sebagai satu pelanggaran etik. Pegawai pemerintah yang malas masuk kantor, tidak secara sungguh-sungguh melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya, minimal dapat dinilai- telah melanggar etika profesi pegawai negeri sipil. Mereka yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi- kelompok- atau golongan- dengan merugikan kepentingan umum, pada hakikatnya telah melanggar etika pemerintahan. Urgensi suatu pemerintahan pada level manapun, untuk memiliki pedoman tentang landasan etika bagi para aparatnya dalam rangka mengemban tiga fungsi pemerintahan, menjadi semakin penting dan dibutuhkan. Hanya dengan modal dasar kepribadian yang baik, aparatur pemerintah dapat dibina lebih lanjut- agar membangun komitmen moral yang lebih spesifik untuk mentaati nilai- nilai etika profesinya. Pada saat yang sama, kewenangan- kewenangan yang melekat pada kekuasaan pemerintahan- perlu disusun dan dibagi kedalam struktur- struktur yang mengikat secara kolektip, saling membatasi, saling mengawasi dan saling terkait satu sama lain- sebagai satu mata rantai yang saling menguatkan. Sehingga, dengan memperkuat kepribadian dan berupaya mengakomodasi kepribadian yang baik- kedalam sistem yang baik, kecenderungan terjadinya power abuse, akan dapat ditekan sampai pada tingkat terendah. IV. PENUTUP

berfikir. Montesque) 4. dsb) 7. Hak-hak asasi manusia (Locke.Aktualisasi etika politik harus senantiasa mendasarkan kepada ukuran harkat dan martabat manusia sebagai manusia.    Mengimplikasikan pengakuan terhadap kebabasan beragama. setiap warga masyarakat. penegakannya terjalin erat dengan pelaksanaan prinsip penerapan hukum. Kebebasan berfikir dan beragama (Locke) 3. maka sebuah pemerintahan yang bersih. Berdasarkan suatu kenyataan bahwa masyarakat. aparatur pemerintah seyogianya. (Lihat suseno.tanpa kewenangan yang jelas dan disertai pemberian imbalan atau ganti rugi yang wajar. Keadilan sosial 2. yang segala tingkah laku dan produk kebijakannya.berangkat dari komitmen moral yang kuat. Negara hukum demokratis/repulikan (Kant) 6. Pembagian kekuasaan (Locke. hukum dan konstitusi. Dasar ini lebih meneguhkan akar etika politik bahwa kebaikan senantiasa didasarkan kepada hakikat manusia sebagai makhluk yang beradab dan berbudaya. sudah bukan waktunya lagi.oleh refresentasi pemenuhan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat. Etika pemerintahan. Perpisahan antara kekuasaan gereja dan kekuasaan negra (John Locke) 2. mencari informasi dan toleransi Memerlukan kematangan kepribadian seseorang dan kelompok orang Terungkap dalam Ketuhanan Yang Maha Esa yang menyatakan bahwa di Indonesia tidak ada orang yang boleh didiskriminasikan karna keyakinan religiusnya. Kedaulatan rakyat (Roesseau) 5. toleran. agama. Walaupun dalam hubunganya dengan masyarakat bangsa maupun negara.dengan kata lain. karena hak asasi manusia . Maka kewajiban moral dibedakan dengan pengertian kewajiban-kewajiban lainya. hanya dapat dinikmati.dengan lebih baik.berdasarkan nilai.menjadikan dirinya sebagai teladan di dalam pelaksanaan etika. dan biasa/normal bersama warga masyarakat yang berbeda pandangan hidup. 1987: 15) Sejak abad ke-17 filsafat mengembangkan pokok-pokok etika politik seperti : 1.  HAM Jaminan hak-hak asasi manusia adalah bukti kemanusiaan yang adil dan beradab. bangsa maupun negara bisa berkembang kearah keadaan yang tidak baik dalam arti moral. damai.nilai etika dan hukum yang berlaku. Singkatnya. Sikap ini adalah bukti keberadaban dan kematangan karakter klektif bangsa b.  Pluralisme Dengan pluralism dimaksud kesediaan untuk menerima pluralitas.Dalam pemahaman konteks tersebut. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa pengertian moral senantiasa menunjuk kepada manusia sebagai subyek etika. budaya dan adat. Itulah sebabnya. Dengan demikian. Etika politik tetap meletakkan dasar fundamental manusia sebagai manusia. artinya untuk hidup dengan positif. karena yang dimaksud adalah kewajiban manusia sebagai manusia. pemerintah dapat begitu saja mengambil hak milik orang lain. Oleh karena itu etika politik berkait erat dengan bidang pembahasan moral.tidaklah berdiri sendiri.- Etika Politik Secara subtantif pengertian etika politik tidak dapat dipisahkan dengan subyek sebagai pelaku etika yaitu manusia.berhak memperoleh pelayanan dan perlakuan yang adil dari aparatur pemerintah. Prinsip-prinsip Dasar Etika Politik Kontemporer a.

Keadilan Sosial Keadilan merupakan norma moral paling dasar dalam kehidupan masyarakat. Keadilan adalah yang terlaksana  Keadilan sosial diusahakan dengan membongkar ketidak adilan dalam masyarakat 3.menyatakan bagaimana manusia wajib diperlakukan dan wajib tidak diperlakuakan agar sesuai dengan martabatnya sebagai manusia  Kontekstual karena baru mempunyai fungsi dimana manusia tidak lagi dilindungi oleh adat/tradisi dan sebaliknya diancam oleh Negara modern  Mutlak karena manusia memilikinya bukan karena pemberian Negara. bangsa. agama-agama tertentu. sikap obyektif. dan kompetensi orang/kelompok orang yang korup d. Sebaliknya kalangan kolektivisme yang merupakan cikal bakal sosialisme dan komunisme mamandang siafat manusia sebagi manusia sosial sauja. Korupsi bak kanker yang mengerogoti kejujuran.   Kemanusiaan yang adil dan beradab juga menolak kekerasan dan eklusivisme suku dan ras Solidaritas Bangsa Solidaritasd mengatakan bahwa kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri melaikan juga demi orang lain Solidaritas dilanggar kasar oleh korupsi. Segala hak dan kewajiban dalam kehidupan bersama senantiasa diukur berdasarkan kepentingan da tujuan berdasarkan paradigma sifat kodrat manusia sebagai individu.    Kekuasaan dijalankan atas dasar ketaatan terhadap hukum Pengakuan dan jaminan terhadap HAM. Paham individualismeyang merupakan cikal bakal paham liberalisme. meliankan karena ia manusia. . Keadilan sosial mencegah dari perpecahan Tuntutan keadilan sosial tidak boleh dipahami secara ideolodis. Manusia Sebagai Makhluk Individu-Sosial Berbagai paham antropologi filsafat memandang hakikat sifat kodrat manusia. untuk menentukan dan memaksakan bagaimana orang lain harus atau boleh hidup  Demokrasi berdasarkan kesadaran bahwa mereka yang dipimpin berhak menentukan siapa yang memimpin mereka dan kemana tujuan mereka dipimpin  Demokrasi adalah kedaulatan rakyat dan keterwakilan. masyarakat. maupun negara dasar ontologis ini merupakan dasar moral politik negara. dari kacamata yang berbeda-beda. Oleh karena itu konsekuensinya segala aspek dalam realisasi kehidupan masyarakat. Individu menurut paham kolekvitisme dipandang sekedar sebagai sarana bagi amasyarakat. jadi dari tangan pencipta  c. sebagai pelaksana ide-ide.  Demokrasi Prinsip “kedaulatan rakyat” menyatakan bahwa tidak ada manusia atau sebuah elit. memandang manusia sebagai makhluk individu yang bebas. Konsekuensinya dalam setiap kehidupan masyarakat. Dimensi Politik Manusia a. tanggung jawab. Jadi demokrasi memerlukan sebuah sistem penerjemah kehendak rakyat kedalam tindakan politik Dasar-dasar demokrasi   e.

Kesosialanya tidak hanya merupakan tambahan dari luar terhadap individualitasnya. b.bangsa dan negara paham kolektivisme mendasarkan kepada sifat kodrat manusia sebagai makhluk sosial. hal ini dikarenakan manusia sebagai masyarakat atau makhluk sosial.Dimensi ini memiliki dua segi fundamental yaitu pengertian dan kehendak untuk bertindak. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” serta sila ke dua “kemanusiaan yang adoil dan beradab” adalah merupakan sumber nilai-nilai moral bagi . dan lemabaga itu adalah negara. Oleh karena itu yang secara efektif dapat menentukan kekuasaan masyarakat hanyalah yang mempunyai kekuasaan untuk memaksakan kehendaknya. Lembaga penata normatif masyarakat adalah hukum. kebebasan sebagi invidu dan segala aktivitas dan kreatifitas dalam hidupnya senantiasa tergantung pada orang lain. bangsa dan negara senantiasa diukur berdasarkan filsofi manusia sebagai makhluk sosial. Segala hak dan kewajiban baik moral maupun hukum. Dalam suatu kehidupan masyarakat hukumlah yang memberitahukan kepada semua anggota masyarakat bagaimana mereka harus bertindak. maka harus dilakukan suatu pembatasan secara normatif. Manusia sebagai makhluk yang berbudaya. senantiasa tergantung pada orang lain. malainkan juga merupakan sumber moraliatas terutama dalam hubunganya dengan legitimasi kekuasaan. melainkan secara kodrati manusia ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Apabila pada tindakan moralitas kehidupan manusia tidak dapat dipenuhi oleh manusia dalam menghadapai hak orang lain dalam masyarakat. Manusia didalam hidupnya mampu bereksistensi kare orang lain dan ia hanya dapat hidup dan berkembang karena dalam hubunganya dengan orang lain. Nilai-nilai pancasila Sebagai Sumber Etika Politik Sebagi dasar filsafah negara pancasila tidak hanya merupakan sumber derivasi peraturan perundang-undangan. Hukum hanya bersifat normatif dan tidak secara efektif dan otomatis menjamin agar setiap anggota masyarakat taat kepada norma-normanya. yaitu penatan yang berdasarkan kenyataan menentukan kelakuan masyarakat. Dimensi Politis Kehidupan Manusia Dimensin politis manusia senantiasa berkaitan dengan kehidupan negara dan hukum. Penataan efektif adalah penataan de facto. Namun perlu dipahami bahwa negara yang memiliki kekuasaan itu adalah sebagai perwujudan sifat kodrat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Dasar filosofi sebagaimana terkandung dalam pancasila yang nilainya terdapat dalam budaya bangsa. dalam hubungan masyarakat. Secara moralitas negara bukanlah hanya demi tujuan kepentingan dan kkesejahteraan individu maupun masyarakat secara bersama. sehingga senantiasa berkaitan dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Dua aspek ini yang senantiasa berhadapan dengan tindakan moral manusia. sehingga mausia mengerti dan memahami akan suatu kejadian atau akibat yang ditimbulkan karena tindakanya. Sehingga dua segi fundamental itu dapat diamati dalam setiap aspek kehidupan manusia. Jadi lemabaga negara yang memiliki kekuasaan adalah lembaga negara sebagai kehendak untuk hidup bersama (lihat Suseno :1987 :21) 4. senantiasa mendasarkan hakikat sifat kodrat manusia adalah monodualis yaitu sbagai makhlukindividu dan sekaligus sebagai makhluk sosial. akan tetapi hal ini dapat dihindarkan karena kesadaran moral akan tanggung jawabnya terhadap manusia lain dan masyarakat. hukum serta sebagai kebijakan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara. sehingga konsekuensinya segala keputusan. Maka sifat serta ciri khas kebangsaan dan kenegaraan indonesia bukanlah totalis individualistis. kebijaksanaan serta arah dari tujuan negara indonesia harus dapat dikembalikan secara moral kepada dasar-dasar tersebut. Dasar ini merupakan basis moralitas bagi pelaksanaan dan penyelenggaraan negara.

Dari pengalaman ini orang mulai curiga jangan. kebebasan berserikat dan berkumpul. tetapi mengenal kembali bekas-bekas goresan itu. Jeritan korban adalah berita duka bagi etika politik. dan (3) membangun institusi-institusi yang adil. mengingat melibatkan usaha untuk memberi makna. (Suseno. Apalagi. Korban akan membangkitkan simpati dan reaksi indignation (terusik dan protes terhadap ketidakadilan). Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki tiga dasar tersebut. Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara. Pengertian kebebasan yang terakhir ini dimaksudkan sebagai syarat fisik. serta pembagian senantiasa harus berdasarkan atas hukum yang berlaku. bersama dan untuk orang lain. Penyelesaian semacam ini tidak akan terwujud bila tidak mengacu pada etika politik. dan politik yang perlu demi pelaksanaan konkret kebebasan atau democratic liberties: kebebasan pers.jangan tiadanya proses hukum terhadap kekerasan dan pembunuhan yang terjadi merupakan upaya sistematik untuk mengubur ingatan sosial. secara demokrasi (legitimasi demokrasi) dan dilaksanakan berdasrkan prinsip-prinsip moral (legitimasi moral). Hidup baik tidak lain adalah cita-cita kebebasan: kesempurnaan eksistensi atau pencapaian keutamaan. pertarungan kekuasaan dan konflik kepentingan yang berlarut-larut akan membangkitkan kesadaran tentang perlunya penyelesaian yang mendesak dan adil. kebijaksanaan yang menyangkut publik. betapa pun kasar dan tidak santunnya suatu politik. Banyak dari bekas goresan ingatan manusia terhapus dan dilupakan. kebebasan mengeluarkan pendapat. Tiga tuntutan tersebut saling terkait. Ketiga. Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara baik menyangkut kekuasaan. tetapi bagian dari masa lalu yang terus hidup dalam diri orang atau kelompok masyarakat yang tunduk pada representasi dan sudut pandang dewasa ini. dalam rangka memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang adil. nilai-nilai. Keberpihakan pada korban tidak akan menoleransi politik yang kasar. segala kebijakan. Ingatan bukan sekadar bekas goresan. Haryatmoko (2003) menjelaskan pentingnya pembahasan mengenai etika politik setidaknya karena tiga alasan. Pernyataan "perubahan harus konstitusional" menunjukkan bahwa etika politik tidak bisa diabaikan begitu saja. Dalam pelaksanaan dan penyelenggaran negara. dan struktur-struktur yang ada. "Hidup bersama dan untuk orang lain" tidak mungkin terwujud kecuali bila menerima pluralitas dan dalam kerangka institusi-institusi yang adil. . Institusi-institusi yang adil memungkinkan perwujudan kebebasan yang mencegah warga negara atau kelompok-kelompok dari perbuatan yang saling merugikan. sosial. pembagian serta kewenagan harus berdasarkan legitimimasi moral religius serta moral kemanusiaan. Maka. (2) upaya memperluas lingkup kebebasan. membangun-kembali makna. pelbagai kasus kekerasan dan pembunuhan massal selalu terulang di Indonesia. Definisi etika politik ini membantu menganalisis korelasi antara tindakan individual. hukum atau peraturan perundangan. Etika politik Dalam konteks inilah agaknya pembicaraan tentang etika politik menjadi relevan. pengertian etika politikmengandung tiga tuntutan: (1) upaya hidup baik bersama dan untuk orang lain. Etika politik ini harus direalisasikan oleh setiap individu yang ikut terlibat secara kongkrit dalam pelaksanaan pemerintahan negara. tindakannya tetap membutuhkan legitimasi. Etika politik menuntut agar kekuasaan dalam negara dijlankan sesuai dengan Asas legalitas (Legitimasi hukum) . Dalam konteks ini pembicaraan mengenai ingatan sosial erat kaitannya dengan etika politik.kehidupan berbangsa dan bernegara. Ingatan bukan keseluruhan dari masa lalu. Kebebasan warga negara mendorong inisiatif dan sikap kritis terhadap institusi-institusi yang tidak adil. Legitimasi tindakan ini mau tidak mau harus merujuk pada norma-norma moral. kewenangan. Di sinilah letak celah di mana etika politik dapat berbicara dengan otoritas. Dalam perspektif ini. upaya memverifikasi hipotesis-hipotesis pengingat. kekuasaan. tindakan kolektif. 1987 :115). Tujuan etika politik adalah mengarahkan ke hidup yang baik. Kedua. Politik yang kasar dan tidak adil akan mengakibatkan jatuhnya korban. etika politik berbicara dari sisi korban. Pertama. dan sebagainya.

. Bangsa yang tanpa ingatan sosial adalah bangsa tanpa masa depan. menghidupkan kembali ingatan sosial berarti membangun bersama proyek perdamaian dan berusaha tidak mengulangi kekeliruan masa lampau yang tragis.Karenanya. yang masih menghantui dan melukai ingatan sosial.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful