P. 1
Askep Klien Dengan Sindrom Zat

Askep Klien Dengan Sindrom Zat

|Views: 239|Likes:
Published by Kelvin Sorsery

More info:

Published by: Kelvin Sorsery on Apr 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2014

pdf

text

original

Askep klien dengan Sindrom Zat (NAPZA

)
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SINDROM ZAT (NAPZA) A. Pendahuluan Penyalahgunaan dan ketergantungan zat yang termasuk dalam katagori NAPZA pada akhirakhir ini makin marak dapat disaksikan dari media cetak koran dan majalah serta media elektrolit seperti TV dan radio. Kecenderungannya semakin makin banyak masyarakat yang memakai zat tergolong kelompok NAPZA tersebut, khususnya anak remaja (15-24 tahun) sepertinya menjadi suatu model perilaku baru bagi kalangan remaja (DepKes, 2001). Penyebab banyaknya pemakaian zat tersebut antara lain karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak pemakaian zat tersebut serta kemudahan untuk mendapatkannya. Kurangnya pengetahuan masyarakat bukan karena pendidikan yang rendah tetapi kadangkala disebabkan karena faktor individu, faktor keluarga dan faktor lingkungan. Faktor individu yang tampak lebih pada kepribadian individu tersebut; faktor keluarga lebih pada hubungan individu dengan keluarga misalnya kurang perhatian keluarga terhadap individu, kesibukan keluarga dan lainnya; faktor lingkungan lebih pada kurang positif sikap masyarakat terhadap masalah tersebut misalnya ketidakpedulian masyarakat tentang NAPZA (Hawari, 2000). Dampak yang terjadi dari faktor-faktor di atas adalah individu mulai melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan akan zat. Hal ini ditunjukkan dengan makin banyaknya individu yang dirawat di rumah sakit karena penyalahgunaan dan ketergantungan zat yaitu mengalami intoksikasi zat dan withdrawal. Peran penting tenaga kesehatan dalam upaya menanggulangi penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA di rumah sakit khususnya upaya terapi dan rehabilitasi sering tidak disadari, kecuali mereka yang berminat pada penanggulangan NAPZA (DepKes, 2001). Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas, maka perlunya peran serta tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan dalam membantu masyarakat yang di rawat di rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat. Untuk itu dirasakan perlu perawat meningkatkan kemampuan merawat klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yaitu asuhan keperawatan klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA (sindrom putus zat). Tujuan a) Perawat dapat mengetahui pengertian klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA. b) Perawat dapat mengetahui proses terjadinya masalah klien NAPZA. c) Perawat dapat melakukan asuhan keperawatan klien NAPZA. B. Pengertian Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada perilaku psikososial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan. Gejala putus zat dan toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik (Stuart dan Sundeen, 1995). Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (DepKes., 2002).

Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi 2. 2003). Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja 6. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai penyakit. terutama penyalahgunaan alcohol • Perubahan metabolisme alkohol yang mengakibatkan respon fisiologik yang tidak nyaman b. Hanya individu yang menggunakan zat berlebihan dapat mengakibatkan penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Faktor penyebab pada klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA meliputi: a. 1995. Stuart dan Laraia. oleh karena rasa rindu (craving) terhadap NAPZA yang selalu terjadi (DepKes.Sesudah klien penyalahgunaan/ketergantungan NAZA menjalani program terapi (detoksifikasi) dan komplikasi medik selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan program pemantapan (pasca detoksifikasi) selama 2 (dua) minggu. Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik 5. maka perawatan di ruang rehabilitasi tidak terlepas dari perawatan sebelumnya yaitu di ruang detoksifikasi. kurang percaya . maka yang bersangkutan dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari. termasuk tidak stabil. Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani detoksifikasi sebagian besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan NAPZA. Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan dengan lingkungannya C. amfetamin. canabis dan alkohol. pusat rehabilitasi dan unit lainnya) selama 3-6 bulan. Penyalahgunaan zat merujuk pada penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah terjadi masalah. 2001). 1) Rentang Respons Kimiawi Perlu diingat bahwa pada rentang respons tidak semua individu yang menggunakan zat akan menjadi penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Proses terjadinya masalah Proses terjadinya masalah penyalahgunaan dan ketergantungan zat memfokuskan pada zat yang sering disalahgunakan individu yaitu: opiat. Faktor biologic • Kecenderungan keluarga. Lama rawat di unit rehabilitasi untuk setiap rumah sakit tidak sama karena tergantung pada jumlah dan kemampuan sumber daya. 2000). Pulih kepercayaan dirinya. tidak ada contoh peran yang positif. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Menurut Hawari (2000) bahwa setelah klien mengalami perawatan selama 1 minggu menjalani program terapi dan dilanjutkan dengan pemantapan terapi selama 2 minggu maka klien tersebut akan dirawat di unit rehabilitasi (rumah sakit. Faktor psikologik • Tipe kepribadian ketergantungan • Harga diri rendah biasanya sering berhub. Berdasarkan pengertian dan lama rawat di atas. 1998). dengan penganiayaan waktu masa kanak kanak • Perilaku maladaptif yang diperlajari secara berlebihan • Mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit • Sifat keluarga. 2) Perilaku 3) Faktor penyebab. mungkin saja bisa sampai 2 tahun (Wiguna. hilang rasa rendah dirinya 4. Sedangkan lama rawat di unit rehabilitasi berdasarkan parameter sembuh menurut medis bisa beragam 6 bulan dan 1 tahun. Dengan rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA dapat: 1. Mampu menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA 3. Toleransi berarti bahwa memerlukan peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan (Stuart dan Sundeen. fasilitas dan sarana penunjang kegiatan yang tersedia di rumah sakit.

mania 2) 26% gangguan ansietas 3) 18% gangguan kepribadian antisocial 4) 7% skizofrenia Mereka dengan penyalahgunaan alkohol sebanyak 37% mengalami komorbiditas psikiatri. intoksikasi atau withdrawal penggunaan zat sangat berhubungan dengan salah satu tipe gangguan mental. Kurang dari 27 diagnosa keperawatan yang umumnya digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan yang dibagi menjadi 4 katagori yaitu: biologik.diri. Sedangkan DepKes (2001) menyatakan bahwa gejala psikiatri yang timbul adalah cemas. diagnosis utama yang berhubungan dengan penggunaan alkohol atau obat dikatagorikan juga sebagai gangguan yang berhubungan dengan zat. Penelitian yang dilakukan di USA menunjukkan > 50% penyalahgunaan NAPZA non alkohol mengidap paling tidak satu gangguan psikiatri antara lain: 1) 26% mengalami gangguan alam perasaan seperti depresi. Asuhan Keperawatan Klien dengan Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAPZA 1. Diagnosis medis dan keperawatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan dan penggunaan zat. norma dan sanksi cultural • Kemiskinan dengan keluarga yang tidak stabil dan keterbatasan kesempatan 4) Diagnosis medis DSM-III-R (American Psychiatric Association. alkohol dan mariyuana • Sikap. sex dan tidur (Stuart dan Laraia. kognitif. Kedua. 1998). Mekanisme koping yang digunakan oleh penyalahguna zat meliputi: . Gangguan yang berhubungan penyalahgunaan zat yang termasuk DSM-III ada 2 cara. tidak mampu memperlakukan anak sebagai individu. delirium. Pertama. kecemasan. withdrawal. 1995). diagnosis medik adalah gangguan mood karena penggunaan (withdarawal) zat. Faktor sosiokultural • Ketersediaan dan penerimaan sosial terhadap pengguna obat • Ambivalens sosial tentang penggunaan dan penyalahgunaan berbagai zat seperti tembakau. halusinasi dan gangguan delusi. psikososial dan spiritual. nilai. Pengkajian Prinsip pengkajian yang dilakukan dapat menggunakan format pengkajian di ruang psikiatri atau sesuai dengan pedoman yang ada di masing-masing ruangan tergantung pada kebijaksanaan rumah sakit dan format pengkajian yang tersedia. Diagnosis NANDA(berhubungan dengan diagnosis keperawatan) yang utama adalah perubahan sensori persepsi. Psikoaktif zat yang menyebabkan gangguan mental organik mengakibatkan intoksikasi. 1998). (Stuart dan Laraia. 1987) membagi menjadi dua katagori yaitu psikoaktif zat yang menyebabkan gangguan mental organik dan gangguan psikoaktif pengguna zat. Perilaku b. demensia. mood. Contoh: seseorang yang mengalami depresi berhubungan dengan withdrawal alkohol. psikotik. Gangguan psikoaktif pengguna zat mengakibatkan ketergantungan atau penyalahgunaan (Wilson dan Kneisl. koping individu tidak efektif dan perubahan proses keluarga (Stuart dan Sundeen. 1992). Katagori yang termasuk dalam diagnosis karena penggunaan zat adalah delirium. D. dan orang tua yang adiksi c. perubahan proses pikir. Adapun pengkajian yang dilakukan meliputi : a. Faktor penyebab dan faktor pencetus c. dan lainnya. depresi dan halusinasi. Klien gangguan yang berhubungan dengan zat juga didiagnosis sebagai gangguan psikiatrik axis I yang disebut dual diagnosis. dimana diagnosis tergantung pada katagori yang menjadi lokasi penyalahgunaan zat.

berbohong. dukungan moril terhadap klien tidak terpenuhi Tujuan : keluarga mampu merawat klien sampai akhirnya mampu mengantisipasi terjadinya kekambuhan (relapse). Masalah keperawatan yang sering terjadi di ruang detoksifikasi adalah selain masalah keperawatan yang berkaitan dengan fisik juga masalah keperawatan seperti: a. Intelektual Pikiran yang selalu ingin menggunakan zat adiktif. perasaan ragu untuk berhenti. e. Potensial mengalami gangguan mental dan perilaku. b. d. penghamburan dan pengurasan ekonomi keluarga oleh klien. aktivitas sekolah atau kuliah yang menurun sampai berhenti. Diagnosa Keperawatan Perlu diingat bahwa diagnosa keperawatan di ruang detoksifikasi bisa berulang di ruang rehabilitasi karena timbul masalah yang sama saat dirawat di ruang rehabilitasi. Sosial Lingkungan sosial yang biasa akrab dengan klien adalah teman pengguna zat. Spiritual Kegiatan keagamaan kurang atau tidak ada. Sumber-sumber koping (support system) yang digunakan oleh klien a. potensial komplikasi. orang lain dan lingkungan. Koping individu tidak efektif: ketidakmampuan menahan sugesti b. f. gangguan pola tidur. pelaksanaan nilai-nilai kebaikan. curiga dan tidak berdaya. Keluarga Ketakutan akan perilaku klien. 2. Tujuan : Klien dapat mengontrol dan mengendalikan emosinya c. mencuri. Dengan tambahan gejala-gejala emosional yang terdapat pada masing-masing NAPZA. Salah satu penyebab muncul masalah yang sama adalah kurangnya motivasi klien untuk tidak melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan zat. pengguna zat di lingkungan sekolah atau kampus. dan seterusnya Sedangkan masalah keperawatan di ruang rehabilitasi bisa sama dengan di ruang detoksifikasi.• penyangkalan (denial) terhadap masalah • rasionalisasi • memproyeksikan tanggung jawab terhadap perilakunya • mengurangi jumlah alkohol atau obat yang dipakainya d. Koping keluarga tidak efektif: ketidakmampuan . nilai-nilai kebaikan ditinggalkan karena perubahan perilaku mis. komunikasi dan pola asuh tidak efektif. diare. efek masing-masing golongan NAPZA pada fungsi fisiologis memiliki banyak kesamaan. malu pada masyarakat. Tujuan : klien mampu berkonsentrasi dan meningkatkan daya pikir ke hal-hal positif. tidak percaya diri. Dibahas pada blog Apa sih NAPZA itu?. Risiko mencederai diri sendiri. Tujuan : klien mampu meningkatkan ibadah. Fisik Secara keseluruhan. perilaku seks melanggar norma. Gangguan konsep diri: harga diri rendah c. maka fokus utama diagnosa keperawatan NANDA di ruang rehabilitasi adalah: a.. menurunnya selera makan. pekerjaan terhenti. anggota keluarga lain. Data yang mungkin ditemukan pada klien yang menggunakan NAPZA antara lain : nyeri. Emosional Perasaan gelisah (takut diketahui). Tujuan : klien mampu untuk hidup teratur. konstipasi. Hal lain yang juga berperan timbulnya masalah pada klien adalah kurangnya dukungan keluarga dalam membantu mengurangi penyalahgunaan dan penggunaan zat. tidak merawat diri.

insomnia. 2) perawatan lanjutan. tahap II dimanifestasikan dengan peningkatan hiperaktivitas ditambah dengan halusinogen. Untuk program di ruang rehabilitasi dibagi menjadi 2 yaitu: 1) rehabilitasi sewaktu-waktu dimana perawat berperan sebagai fasilitator bukan melakukan penanganan masalah fisik maupun psikiatri tetapi pada perawatan diri klien. 2) Pantau aktivitas kejang. • Perubahan gaya hidup. Program intervensi. tingkat III gejala meliputi DTs dan hiperaktifitas autonomik yang berlebihan dengan kekacauan mental berat. Intervensi Keperawatan a) Resiko tinggi terhadap cedera: jatuh berhubungan dengan kesulitan keseimbangan.diaforesis. d. demam. c. hipertensi). • Meningkatkan kesadaran diri klien. Peran perawat adalah menentukan program yang cocok untuk klien sesuai dengan tingkat ketergantungan klien terhadap sakit dan gejala yang tampak. Kurang aktivitas hiburan. Kelompok • Program twelve step : AA dan NA • Terapi modalitas disesuaikan dengan kriteria dan kondisi klien yang akan diikutkan dalam terapi tersebut. Diharapkan klien dapat mengubah penggunaan koping dari destruktif menjadi koping yang konstruktif. dan seterusnya Contoh pohon masalah: Risiko mencederai diri sendiri. bertujuan untuk memberikan pemulihan kembali bagi klien yang mengalami ketergantungan alkohol dan zat atau penolakan keluarga terhadap klien. yaitu mengajarkan klien dengan cara mendiskusikan koping yang biasa digunakan.b. mual/muntah. Pertahankan ketepatan aliran udara. misalnya tahap I diasosiasikan dengan tanda/gejala hiperaktivitas (misalnya tremor. Implementasi keperawatan yang dilakukan mengacu pada perencanaan keperawatan (rencana tindakan keperawatan) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan prioritas masalah klien. tidak dapat beristirahat. Keluarga • Pendidikan kesehatan bagi keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami penyalahgunaan dan ketergantungan zat. 3. Berikut ini beberapa bentuk implementasi yang dilakukan pada klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan zat yaitu (Wilson dan Kneisl. Kriteria hasil: • mendemonstrasikan hilangnya efek-efek penarikan diri yang memburuk • tidak mengalami cedera fisik Intervensi: Mandiri 1) Identifikasi tingkat gejala putus alkohol. ansietas. b. Berikan keamanan lingkungan misalnya bantalan pada pagar tempat tidur. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan perawatan diri secara mandiri. misalnya menganjurkan klien untuk mengikuti sesi-sesi yang diadakan perawat secara individu sesuai kebutuhan klien. 1992): a. orang lain dan lingkungan Perencanaan keperawatan (rencana tindakan keperawatan) secara jelas dapat dilihat pada lampiran. takhikardi. tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan klien dalam membantu memulihkan ketergantungan akan zat. Individu Pendidikan untuk klien. . dengan cara mengidentifikasi hal-hal positif yang dimiliki klien dan bisa dikembangkan secara positif serta mengurangi hal-hal yang negatif dalam diri klien.

(2002). 3) Refleksi tertekan.com/journal/item/7 • http://mustikanurse. alkohol dan zat adiktif). Sebaiknya perawat dan klien bersama-sama melakukan evaluasi terhadap keberhasilan yang telah dicapai dan tindak lanjut yang diharapkan untuk dilakukan selanjutnya. Selain itu perkembangan gejala mengindikasikan perlunya perubahan pada terapi obat-obatan yang lebih intensif untuk mencegah kematian. Evaluasi Evaluasi penyalahgunaan dan ketergantungan zat tergantung pada penanganan yang dilakukan perawat terhadap klien dengan mengacu kepada tujuan khusus yang ingin dicapai. 3. jika memungkinkan 4) Bantu dengan ambulasi dan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Kolaborasi 1) Berikan cairan IV/PO dengan hati-hati sesuai petunjuk 2) Berikan obat-obat sesuai petunjuk: benzodiazepin. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Daftar Kepustakaan • http://mentalnursingunpad. atau hiperaktif. (2001). hipoglikemia. Depkes. 4. Carpenito. (terjemahan).J. terjadinya masalah koordinasi tangan/mata. Kaji cara berjalan. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. . Tujuan penanganan pada klien relaps adalah meningkatkan kemampuan untuk hidup lebih lama bebas dari penyalahgunaan dan ketergantungan zat.blogspot. 2. (2000). (2001). 4. Buku saku diagnosa keperawatan. fenobarbital. L. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. 2) kejang grand mal paling umum terjadi dan dihubungkan dengan penurunana kadar Mg. Jika penanganan yang dilakukan tidak berhasil maka perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap tujuan yang dicapai dan prioritas penyelesaian masalah apakah sudah sesuai dengan kebutuhan klien. 6) Penggantian yang berhati-hati akan memperbaiki dehidrasi dan meningkatkan pembersihan renal dari toksin sambil mengurangi resiko kelebihan hidrasi. Rasional: 1) Pengenalan dan intervensi yang tepat dapat menghalangi terjadinya gejala-gejala dan mempercepat kesembuhan. Buku pedoman praktis bagi petugas kesehatan (puskesmas) mengenai penyalahgunaan narkotika. oksazepam. psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Jakarta: Departemen Kesehatan RI. akan lebih baik perawat bersamasama klien dalam menentukan tujuan ke arah perencanaan pencegahan relaps. Edisi 6. hilang. Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA (narkotik.html Sub Literatur: 1.3) Periksa refleks tenton dalam. magnesium sulfat.multiply. Buku pedoman tentang masalah medis yang dapat terjadi di tempat rehabilitasi pada pasien ketergantungan NAPZA. (1995). Nauropati perifer umum terjadi terutama pada pasien neuropati 4) mencegah jatuh dengan cedera 5) mungkin dibutuhkan pada waktu ekuilibrium. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Perlunya evaluasi yang dilakukan disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan. D. 5. Klien relaps tidak bisa disamakan dengan klien yang mengalami kegagalan pada sistem tubuh.com/2007/02/asuhan-keperawatan-klien-dengan-sindrom. psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). peningkatan alkohol darah atau riwayat kejang. Keputusan Menteri kesehatan RI tentang pedoman penyelenggaraan sarana pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika. Hawari.

Wilson.W.K. Louis: Mosby Year Book. Louis: Mosby Year Book. penghamburan dan pengurasan ekonomi keluarga oleh klien. PENGKAJIAN a. menurunnya selera makan. Stuart. and Beck. California: AddisonWesley. pelaksanaan nilai-nilai kebaikan.P. Asuhan Keperawatan Untuk NAPZA Apr 22.. perasaan ragu untuk berhenti. Fisik Secara keseluruhan. and Kneisl. Tujuan : klien mampu berkonsentrasi dan meningkatkan daya pikir ke hal-hal positif. Emosional Perasaan gelisah (takut diketahui).R..6. (2003). St. tidak percaya diri. Tujuan : Klien dapat mengontrol dan mengendalikan emosinya c. S. konstipasi. and Sundeen. R. curiga dan tidak berdaya. (1995). malu pada masyarakat.S. berbohong.R. St. 10. Psychiatric nursing. St. Spiritual Kegiatan keagamaan kurang atau tidak ada. d.J. S. dukungan moril . Intelektual Pikiran yang selalu ingin menggunakan zat adiktif. gangguan pola tidur. Stuart. Buku saku keperawatan jiwa. f. 9. Dengan tambahan gejala-gejala emosional yang terdapat pada masing-masing NAPZA. Williams. diare. Edisi 3. Third edition. (terjemahan). (1993). Dibahas pada blog Apa sih NAPZA itu?. M. nilai-nilai kebaikan ditinggalkan karena perubahan perilaku mis. komunikasi dan pola asuh tidak efektif. Sosial Lingkungan sosial yang biasa akrab dengan klien adalah teman pengguna zat. tidak merawat diri. perilaku seks melanggar norma. Sixth edition. Louis: Mosby Year Book. Mental health-psychiatric nursing a holistic life-cycle approach. C. anggota keluarga lain. Tujuan : klien mampu untuk hidup teratur. Tujuan : klien mampu meningkatkan ibadah. and Laraia. (1992). efek masing-masing golongan NAPZA pada fungsi fisiologis memiliki banyak kesamaan.. pekerjaan terhenti.Wiguna. '08 10:54 PM untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA 1. T. Potensial mengalami gangguan mental dan perilaku. G.. Principles and practice of psychiatric nursing. aktivitas sekolah atau kuliah yang menurun sampai berhenti.W.. Keluarga Ketakutan akan perilaku klien. mencuri. G.J. potensial komplikasi. b. and Sundeen. Principles and practice of psychiatric nursing. G.. (1998). 8. pengguna zat di lingkungan sekolah atau kampus. 7. Rawlins. C. e. Data yang mungkin ditemukan pada klien yang menggunakan NAPZA antara lain : nyeri.. S. Stuart. Fifth edition. H. T. (1995). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.W.

Kaji cara berjalan.tidak mengalami cedera fisik Intervensi: Mandiri 1. jika memungkinkan 4. fenobarbital. takhikardi. Pertahankan ketepatan aliran udara. mual/muntah. Rasional: 1. Identifikasi tingkat gejala putus alkohol. Bantu dengan ambulasi dan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Kolaborasi 5. Pengenalan dan intervensi yang tepat dapat menghalangi terjadinya gejala-gejala dan mempercepat kesembuhan. insomnia. magnesium sulfat. 4. . hipertensi). peningkatan alkohol darah atau riwayat kejang. ansietas. Periksa refleks tenton dalam. 3. Selain itu perkembangan gejala mengindikasikan perlunya perubahan pada terapi obat-obatan yang lebih intensif untuk mencegah kematian.mendemonstrasikan hilangnya efek-efek penarikan diri yang memburuk .terhadap klien tidak terpenuhi Tujuan : keluarga mampu merawat klien sampai akhirnya mampu mengantisipasi terjadinya kekambuhan (relapse). Berikan obat-obat sesuai petunjuk: benzodiazepin. oksazepam. misalnya tahap I diasosiasikan dengan tanda/gejala hiperaktivitas (misalnya tremor. 2.DIAGNOSA KEPERAWATAN Alkohol a) Resiko tinggi terhadap cedera: jatuh berhubungan dengan kesulitan keseimbangan b) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang kurang Halusinogen a) Perubahan proses pikir sampai dengan kerusakan penyesuaian dengan kehilangan daya ingat b) Ansietas berhubungan dengan proses berpikir Stimulan a) Gangguan pola tidur berhubungan dengan sensori sistem saraf pusat b) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penggunaan obat-obatan IV Depresan a) Gangguan pola tidur berhubungan dengan hipersensitifitas b) Kerusakan pertukaran gas: pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. Pantau aktivitas kejang. Berikan cairan IV/PO dengan hati-hati sesuai petunjuk 6. tingkat III gejala meliputi DTs dan hiperaktifitas autonomik yang berlebihan dengan kekacauan mental berat. 2. Berikan keamanan lingkungan misalnya bantalan pada pagar tempat tidur. kejang grand mal paling umum terjadi dan dihubungkan dengan penurunana kadar Mg. tidak dapat beristirahat. INTERVENSI KEPERAWATAN a) Resiko tinggi terhadap cedera: jatuh berhubungan dengan kesulitan keseimbangan Kriteria hasil: . hipoglikemia. demam. tahap II dimanifestasikan dengan peningkatan hiperaktivitas ditambah dengan halusinogen. 2. diaforesis.

proses pikir anak dan remaja sehingga mengganggu fungsi social dan pendidikannya. terjadinya masalah koordinasi tangan/mata. KASUS (MASALAH UTAMA) Gangguan penggunaan napza II.com asuhan keperawatan pada napza Asuhan keperawatan Napza I.3. Daftar Pustaka Doenges.E. Perawat mungkin ingin membantu tetapi terhalang oleh persepsi bahwa pengguna NAPZA adalah orang yang sulit untuk diajajk bekerjasama dan malas. Penggantian yang berhati-hati akan memperbaiki dehidrasi dan meningkatkan pembersihan renal dari toksin sambil mengurangi resiko kelebihan hidrasi. 2007. mungkin dibutuhkan pada waktu ekuilibrium. 1993. Saunder Co: Pennsylvania. memori alam perasaan. Perawat harus memahami perasaan seseorang tentang alkohol sehingga perawat dapat bekerja secara efektif. physical.B. Gangguan penggunaan zat ini terdiri dari : penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Alkoholisme adalah fenomena dari etiologi yang kompleks melibatkan banyak faktor mental. tetapi tidak mampu menghentikannya. Iyus. EGC: Jakarta. Serta memberikan pendidikan kesehatan agar klien bisa berkomunikasi efektif dan berpersepsi positif. genetik. EGC: Jakarta.id www. PT Reflika Aditama: Bandung. 2003. Ketergantungan zat adiktif adalah suatu kondisi cukup berat . dan lingkungan. Varcaloris. 6. Moorhouse. Satya. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 1994. Yosep. www.or.F..C. Nauropati perifer umum terjadi terutama pada pasien neuropati 4.anti. Foundations of Psychiatric Mental Health Nusing. hilang. M. PROSES TERJADINYA MASALAH Gangguan penggunaan zat adiktif adalah suatu penyimpangan perilaku yang disebabkan oleh penggunaan zat adiktif yang bekerja pada susunan saraf pusat yang mempengaruhi tingkah laku. Perawat jiwa juga membantu dalam mendampingi klien NAPZA dan keluarga dalam melaksanakan terapi. Geissler. A. Joewana. Penyalahgunaan zat adiktif adalah suatu pola penggunaan yang bersifat patologis. Keperawatan Jiwa. mencegah jatuh dengan cedera 5. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif. yang menyebabkan remaja mengalami sakit yang cukup berat dan berbagai macam kesulitan. W. Peran Perawat Jiwa Untuk Gangguan Penggunaan NAPZA Perawat harus mengetahui masalah yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA agar dapat memberikan perawatan kepada klien secara efektif. M. atau hiperaktif. Refleksi tertekan.kapanlagi. Elizabeth M.

5. B. sehingga menimbulkan gejala pemutusan zat.coba. Masyarakat yang ambivalensi tentang penggunaan dan penyalahgunaan zatadiktif: ganja. Rasa bermusuhan dengan orang tua 3. lingkungan sekolah yang terdapat banyak pengedar (mudah didapat: resiko relatif 80 %) e. Lingkungan tempat tinggal. Yang dimaksud sindroma putus zat adalah suatu kondisi dimana orang yang biasa menggunakan secara rutin. 2. menggunakan zat untuk menyatakan kejantanannya. Harga diri rendah: depresi (resiko relatif: 18. Ketergantungan zat adiktif ialah: Penggunaan zat yang cukup berat. Penyakit kronis 2. 3. Orang/ remaja yang mengalami gangguan idetitas diri. stress. Adiktif untuk upacara adat d. Faktor pendukung 1. Genetic: tendensi keluarga b. krisis identitas. telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. frustasi. Biasanya digunakan pada saat sedang konflik. ingin memiliki pengalaman yang baru. paling tidak sudah berlangsung selama 1 bulan. dan terjadi penyimpangan perilaku dan mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan social dan pendidikan. Indikator dari rentang respon berdasarkan perilaku yang ditampakkanoleh remaja dengangangguan penggunaan zat adiktif. disebabkan rasa ingin tahu. c. ekonomi. pada dosis tertentu berhenti menggunakan atau menurunkan jumlah zat yang biasa digunakan. Infeksi pada organ otak c. Ketergantungan fisik ditandai oleh adanya toleransi dan sindroma putus zat. Orang/ remaja yang memiliki perasaan tidak aman e. Penggunaan zat adiktif secara rekreasional ialah: Menguunakan zat od saat berkumpul bersama-sama dengan teman sebaya.8%).ditandai dengan adanya ketergantungn fisik yaitu toleransi dan sindroma putus zat. Penggunaan zat adiktif secara situasional ialah: Orang yang menggunakan zat mempunyai tujuan tertentu secara individual. Respon adaptif Respon maladaptive Gambar 1: Rentang respon penggunaan zat adiktif 1. atau sering dikatakan taraf coba. sudah mulai digunakan secara rutin. yang bertujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya. Rentang respon gangguan penggunaan zat adiktif Rentang respon ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai dengan yang berat. Gangguan kepribadian: anti sosial (resiko relatif 19. Persepsi masyarakat terhadap pengunaan zat . g. Disfungsi keluarga d. Penggunaan zat adiktif secara eksperimental ialah: Kondisi penggunaan pada taraf awal. Penyalahgunaan zat adiktif ialah: Penggunaan zat yang sudah bersifat patologis. alkohol b. A. Faktor biologis a. faktor social. 4. sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri. seringkali penggunaan zat ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapinya. Faktor social cultural a. kecenderungan homoseksual.9%) b. Faktor psikologis a. Orang/ remaja yang memiliki ketrampilan pemecahan masalah yang menyimpang f. Norma kebudayaan c.

Remaja dengan perilaku penyimpangan seksual dini h. koma dan dapat menimbulkan kematian. Tingkah laku klien pengguna alcohol a. kondisi keluarga yang tidak baik itu adalah : 1. Partisipasi di lingkungan social kurang h. Koordinasi motorik terganggu d. Sebagai prinsip kesenangan. koordinasi motorik kurang c. berdiam c. dan ketertekanan itu dapat merupakan faktor penyerta bagi dirinya terlibat dalam penyalahgunaan / ketergantungan NAZA. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang berarti 4. Remaja yang lari dari rumah g. Kontrol didi menurun bahkan hilang b. Sikap bermusuhan b.9% terlibat penyalah gunaan NAZA) Seseorang yang berada dalam disfungsi keluarga akan tertekan. Sangat gembira. Pernyataan untuk mandiri dan dan membutuhkan teman sebaya sebagai pengakuan ( resiko relatif untuk terlibat NAZA: 81. untuk mendapatkan zat adiktif . Dalam keadaan over dosis. teman-teman 5. Bicara cadel. kurang perhatian e. Terkantuk-kantuk b. dan kadang bersikap bermusuhan g.3%) 2. Stressor presipitasi 1. Koordinasi motorik terganggu. Kompleksitas dari kehidupan modern D.f. i. Kurang perhatian f. Kontrol diri menurun d. Sering datang ke dokter untuk minta resep e. Tingkah laku klien pengguna opioda a. bertele-tele d. Gangguan dalam daya pertimbangan h. orang tua cerai. kesadaran menurun bahkan sampai koma. Minum alcohol pagi hari atau tidak kenal waktu g. Orang/ remaja yang terkait dengan tindakan kriminal C. Menurunnya motivasi perubahan diri c. Kadang bersikap murung. Ephoria ringan 3. Perilaku manipulatif. Tingkah laku klien pengguna zat sedatif hipnotik a. Agresi f. Hubungan interpersonal dalam keluarga tidak baik E. Meningkatkan rasa percaya diri 2. Dalam keadaan yang over dosis. Diasingkan oleh lingkungan: rumah. dll 2. kesadaran menurun. Kesibukan orang tua 3. Daya pertimbangan menurun i. Tingkah laku klien pengguna ganja a. Bicara cadel c. Tingkah laku 1. akibat cenerung mendapat kecelakaan j. (depresi). 4. Menurunnya sifat menahan diri b. Suara keras. Keluarga yang tidak utuh : orang tua meninggal. bicara cadel. Faktor kontribusi ( resiko relatif 7. berdiam. Acuh terhadap lingkungan.dan kacau e. Jalan tidak stabil. menghindari sakit/stress 3.

Gelisah. tingkat harga diri klien. Sistem dukungan (keluarga. Tingkah laku klien pengguna halusinogen a. agitasi. finansial) 10. Tampak membesar –besarkan sesuatu i. Tingkah laku manipulatif III. Oral) 4. waktu dan jarak) e. Mekanisme koping Mekanisme pertahanan diri yang biasa digunakan: 1. Cara memperoleh zat (dokter. dan sampai agitasi c. Ancaman kehidupan a. Sering menggunakan 3. POHON MASALAH: Resti Menciderai Diri Intoksikasi (CP) HDR Gangguan Konsep Diri Atau Koping Mal Adaptif IV. Sikap merasa diri benar f. dll) 6. Halusinasi. Resiko terhadap amuk berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik c. mencuri. proyeksi merupakan tingkah laku untuk melepaskan diri dari tanggung jawab 3. Tingkah laku merusak diri sendiri c. insomnia h. intravena. Dalam keadaan over dosis: kejang. Sangat tegang g. Pengalaman yang gaib/ ajaib F. tingkah laku tidak dapat diramalkan b. berapa beratnya 8. muntah berhubungan dengan pemutusan zat opioda b. Metode penggunaan (dirokok. Iritabilitas d. Distorsi (gangguan dalam penilaian. Stressor dalam hidupnya 9. persepsi klien terhadap zat adiktif 11. sedatif. social. delirium. Hiperaktif b. hipnotik d. Data khusus 1. Kewaspadaan yang berlebihan f. Gangguan keseimbangan cairan: mual. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Disosiasi merupakan proses dari penggunaan zat adiktif G. dan paranoid 6. Dampak bila tidak menggunakan 7. Dosis terakhir digunakan 5.f. denial dari masalah 2. Euphoria. Kontrol diri kurang 5. Resiko cidera diri berhubungan dengan intoksikasi aklkohol. Panik berhubungan dengan putus zat alkohol . ilusi d. Depersonalisasi h. Jika over dosis. jumlah dan kemurnian zat yang digunakan 2. Kewaspadaan meningkat g. Tingkah laku klien pengguna kokain a. Halusinasi dan waham e.

Mengkaji tingkat kecemasan klien c. Nyeri berhubungan dengan putus zat opioda.2. Sering gunakan komunikasi terapeutik f. ditujukan agar klien menjadi manusia yang bertanggung jawab. Memberikan perawatan pada klien waham. Bicaralah dengan bahasa yang sederhana. Harga diri rendah berhubungan dengan koping mal adaptif V. Kondisi detoksikasi a. 30 menit pada 3 jam kedua tiap 1 jam pada 24 jam berikutnya . opioda 3. Kondisi intoksikasi Tujuan: intoksikasi pada klien dapat diatasi. Kondisi overdosis a. Resiko melarikan diri berhubungan dengan ketergantungan tehadap zat adiktif Dari pohon masalah. bersikap tegas.Bekerja sama dengan dokter untuk pemberian obat . Memberikan konselin untuk merubah moral dan spiritual klien selama ini yang menyimpang. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak mampu mengenal kualitas yang positif dari diri sendiri. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN 1. Intoksikasi a. Pasca detoksikasi a. Resiko tinggi menciderai diri sendiri berhubungan dengan intoksikasi 2. cemas. Membentuk hubungan saling percaya b. Perubahan proses piker: waham berhubungan dengan putus zat alcohol. kecemasan berkurang/hilang Rencana tindakan: a. sedatif. Dengarkan klien berbicara e. Observasi tanda. alcohol.Menemani klien .Menjaga keselamatan diri klien . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan putus zat opioda 4. curiga. c. Intoksikasi berhubungan dengan menarik diri 3. Withdrawl a. singkat mudah dimengerti d. gembira berlebihan. Melatih konsentrasi: mengadakan kelompok diskusi pagi b.Observasi keseimbangan cairan . . tepatilah janji. Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan konsep diri 4. Hindari sikap yang menimbulkan rasa curiga. tidak berbisik di depan klien. diagnosa yang mungkin timbul : 1. Tujuan : Klien tidak mengalami ancaman kehidupan Rencana tindakan: . hangat dan bersahabat 3. memberi jawaban nyata. kesadaran pada 15 menit pada 3 jam pertama. benarkan persepsi yang salah d. Bekerja sama dengan dokter dalam memberikan obat anti nyeri 4.Fiksasi bila perlu 2.Observasi tanda – tanda vital. hipnotik b. Berikan kompres hangat bila terdapat kejang pada perut c. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik. halusinasi: terutama untuk menuunkan perasaa yang disebabkan masalah ini: takut. Gangguan pemusatan perhatian berhubungan dengan dampak penggunaan zat adiktif b. sehat mental.tanda kejang b. MDMA: extasy c. Cemas berhubungan dengan intoksikasi ganja b. Kondisi withdrawl a.

com/2010/08/askep-klien-dengan-sindrom-zatnapza. Jakarta : Widya Medika Helvie. Hawari. Buku Saku Keperawatan Jiwa. gaya baru http://smkkesehatansumbawabarat2. Jakarta : Penerbit Erlangga Hurlock. Shults. M.S. -------------. (2000). 3. psikolog.E. A Diagnostik Approah. Jakarta.A.W. -------------(2001b). 96 % masyarakat Jakarta Tahu Bahaya Narkoba (2004) hhtp : // Tempointeraktif. Stuart. Darst. (2000). Depkes RI... (2nd. Little. Community Health and Wellness.E.FKUI. (2003). 8 Mcmurray. Pocket Guide to Psichyatric Nursing. Community AS Partner (Theory and Practice in Nursing) : Lippincott. dengan bekerja sama dengan pekerja social.(2001a).Lippincott Company.. Chapter 20. 1992. (1998).J.21. (1998). dan optimis c. Penyelahgunaan dan ketergantungan NAZA. Boston. Buku Pedoman Praktis Bagi Petugas Puskesmas Mengenai Penyalahgunaan Narkotika. G.E and McFarlane. (1999). . 1968. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Kozier.B . Jakarta Green. St.L (1980). C. J. Toronto : Mosby M.M..blogspot. Perkembangan Anak. Achir. Friedman. Jakarta.at all (2004).E. Virginia : SAGE Publications. Dadang. Daftar pustaka: 1. Pedoman Kemitraan : Promosi Kesehatan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat. Alih bahasa Yani.Manual of Psichiatric Nursing Care Plans.W.dan Sundeen. com diperoleh 8 Maret 2005). New Jersey : Pearson Prentice Hall.rasa bersyukur. Chapter 8 2. Edisi 3. California : Connecticut. 1991. (1994).. Louis Mosby Year Book.Brown and Company. Jakarta.2003.1998.A. Chapter 17. California : Mafiel Publishing Company Hamid. Psikologi Umum. Mental Health and Psichiatric Nursing. Cokingting. J. (1999). Advanced Practice Nursing in The Community. Gail W. -------------(2001c). Process and Practice). Mengapa Remaja Menggunakan NAPZA (Riset kualitatif) : Tidak dipublikasikan. Fundamentals of Nursing (Conceps. Health Education Planing.ed). Family Nursing (Research.html DAFT AR P UST AKA Anderson. Philadelpia. P. Jakarta : Penerbit Erlangga Irwanto (1991).. Theory & Practice). Hurlock. S. Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa Pada Anak dan Remaja . Stuart. Buku Pedoman Tentang Masalah Medis Yang Terjadi Ditempat Rehabilitasi Pada Pasien Ketergantungan NAPZA .22. Asbanu. (2003). B. Kemitraan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta. Y. -------------(2002). Jakarta. Informasi Penanggulangan NAPZA Secara terpadu (Pedoman Bagi keluarga). dan Dancy. Jakarta. Mempersiapkan klien untuk kembali ke masyarakat.B. EGC 5. Psikologi Perkembangan Anak. Psikotropika dan Zat adiktif lainnya (NAPZA). 4.

Jakarta : Pustaka Sinar Harapan Notoatmodjo. 9 Tugas praktikum : 1. materi dan Media).T (1998). Jakarta : Tidak dipublikasikan. 97 Persen Masyarakat Jakarta Tahu Bahaya Narkoba . Buatlah lingkup pengkajian sesuai dengan model “Community as Partner” 5. 10 http://www. 3. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan edisi 36 : Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba . Kenakalan Remaja. (2005)Komunikasi Orang Tua-Anak Mencegah Penyalahgunaan Alkohol Dan Obat-obatan. Komunitas (2 buah) dan perencanaan (Pencegahan primer. Penanggulangan Terpadu Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Masyarakat di DKI Jakarta.M. 7. 4.scribd. Stage and sequence: the cognitive developmental approach to socialization. (2005)Pengobatan Narkoba : // Nusa Indah Tripod.K (1998). Principles and Practice of Psichiatric Nursing : Mosby Tempo Interaktif (2004). Sagung Seto Riyanto (2002). hhtp : // Nusa Indah Tripod. Jakarta : Rineka Cipta Stuart. L (1999).Pionir Jaya Rasmun (2001). Analisis Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap Perilaku Sehat Siswa SLTP Negeri Wilayah Jakarta Timur Dalam Konteks Keperaw atan Komunitas Tahun 2002 (Tesis). Wong.com. Jakarta. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Diperoleh tanggal 8 Maret 2005 Pemda DKI. Bayi c. 2. .. W & Laraia.com. Jakarta : Rineka Cipta Nusaindah. Jakarta : Depdiknas.(2003). Com.Mohamad. Buat diagnosa kep. Usia Sekolah e. Remaja f. L. Kelompok pekerja.S. (2004). Dikerjakan dikampus. Diperoleh tanggal 8 Maret 2005 Nusaindah. Avery Publishing Group Inc.G. dikumpul Kamis / 24 Juli 2008. hhtp : // Tempointeraktif. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan keluarga. Kelas dibagi tujuh kelompok (Tugas Sipen). Lansia g.(2001). Tentukan salah satu masalah kesehatan yangu t a m a yang akan menjadi topik diskusi kelompok.diperoleh 8 Maret 2005. Bandung : CV. Balita d. Willis. Nursing Care of Infant and Children. Mengenal dan Mencegah Bahaya Narkotik. USA : Mosby Kohlberg. D. (2001). Jakarta Purwanto (2001). Buat satu rancangan untuk promosi kesehatan (Satpel.com/doc/38749378/askep-napza . sekunder dan tertier). Identifikasi minimal 5 masalah kesehatan atau issue yang berkaitan dengan kelompok khusus yang ada di komunitas : a. Ibu Hamil b. tulis tangan dulu. 6. Sudarsono. S. (1980). Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->