P. 1
Laporan Resmi Mikro Modul 3 Ku

Laporan Resmi Mikro Modul 3 Ku

|Views: 262|Likes:
Published by dhani_viking

More info:

Published by: dhani_viking on Apr 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2014

pdf

text

original

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LAUT

“PENGENCERAN, ISOLASI DAN PENGAMATAN MIKROBA” (Sinularia sp)

aca

Oleh : ABDULLAH AFIF 26020110110031 Asisten : TEDI SEPTIADI K2D 008 077

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Mikrobiologi merupakan suatu istilah luas yang berarti studi tentang organisme hidup yang terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikrobiologi mencakup studi tentang bakteri (bakteriologi), virus (virologi), khamir dan jamur (mikologi); protozoa (protozoologi), beberapa ganggang, dan beberapa bentuk kehidupan yang tidak sesuai untuk dimasukkan ke dalam kelompok tersebut di atas. Organime yang berukuran mikro disebut

mikroorganisme. Mikroorganime hidup di segala tempat (tanah, air udara makanan, pembuangan, dan pada permuikaan tubuh). Keberadaan mereka yang ada di segala tempat menyulitkan para mikrobiolog untuk memperoleh suatu koloni mikroorganisme tertentu dan yang sejenis tanpa adanya mikroorganisme lain yang mencampuri koloni tersebut. Kultur mikroorganisme yang tersusun dari sel-sel sejenis (tuinggal) disebut juga sebagai kultur murni. Untuk mempelajari mikroorganisme dalam kultur murni, maka para mikrobiolog memerlukan alat-alat yang menunjang dalam usaha mendapatkan kultur murni. Dalam mikrobiologi, peralatan laboratorium merupakan unsur penting yang harus ada. Peralatan yang ada dalam laboratorium pun haruslah steril agar dapat menunjang pekerjaan yang berhubungan dengan mikroorganisme dan hal tersebut merupakan syarat mutlak. Artinya, pada bahan atau peralatan yang akan digunakan harus bebeas dari mikroorganisme yang tidak diingikan yang dapat merusak media atau koloni suatu mikroorganisme yang diinginkan. Adapun peralatan yang umumnya digunakan di dalam laboratorium mikrobiologi antara lain : Media yaitu; cair, semi solid, solid (agak miring (siant), agak tegak (deep), agak cawan(plate)) dan peralatan yaitu; autoklaf, tabung kultur, cawan petri, jarum inokulasi, pipet, waterbath, inkubator, dan lemari pendingin. Menurut Soetarto (2008), Bakteri merupakan mikrobia uniseluler yang termasuk dalam kelas Shizomycetes. Pada umumnya bakteri tersebar luas di alam. Ada yang hidup bebas, besifat saprofitik, parasit, atau patogen pada manusia,

binatang atau tumbuhan.ada beberapa jenis bakteri bersifat fotosinteteik. Ada tiga bentuk dasar bakteri, yaitu bentuk bulat (coccus), batang (bacillus), dan melilit (spiral) (Irianto, 2007). Mikroba merupakan salah satu unsur penyusun bumi yang sangat luar biasa pentingnnya.seperti yang telah kita ketahui banyak bakteri yang ditemukan dihampir seluruh ekosistem dunia dari dasar laut yang paling dalam hingga ke puncak gunung yang tertinggi selkalipun kita dapat menemukan yang nammya bakteri itu, sunggu luarbiassa cara suatu bakteri beradaptasi terhadap perebahaan lingkungan yang sangat ekstrim. Contohnnya dalah disuatu perairan dikutup telah ditemukan suatu bakteri yang mampu bertahan terhadap suhu yang rendah juga telah ditemukan spesies bakteri yang mampu bertahan pada kawah gunung berapi atau sumber mata air panas yang memiliki suhu sanggat tinggi skalipun bakteri masih dapat bertahan hidup dan mampu menjaga eksistensinnya dilingkungan tersebut. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa bakteri kemungkinan memiliki suatu sisitem pertahannan tubuh yang luar biasa yang kemungkinan dapat dimanfaatkan oleh manusia kelak mendatang.pada hakekatnnya suatu bekteri memang memiliki struktur tubuh yang sangat sederhanna singga dapat dengan mudah deradaptasi terhadap lingkungan. Kemudian menurut penelitian para akhli mikrobiologi,menyebutkan bahwa bakteri memiliki system metabolism skunder yang dapat menyesuakan dengan lingkungan sekitar. Seperti contonnya bakteri yang hidup pada kadar suhu yang rendah dapat metabolismennya agar tigak terjadi pemborosan energy. Identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi dapat dilakukan dengan cara pengamatan sifat morfologi koloni, morfologi sel bakteri, pengujian sifa-sifat fisiologi dan biokimianya. Selain itu, identifikasi juga dapat dilakukan dengan pengujian sifat patogenitas dan serologinya. Pertumbuhan bakteri di alam dipengaruhi oleh berapa faktor luar seperti substrat pertumbuhan, pH, temperatur, dan bahan kimia. Bakteri yang nampak dapat memiliki morfologi yang sama, namun keperluan nutrisi dan persyaratan ekologinya berbeda (Soetarto, 2008). Untuk pengamatan morfologi meminimalisasi system

bakteri dengan jelas, tubuhnya perlu diisi dengan cat warna, pewarnaan ini disebut pengecatan bakteri ( Irianto, 2007). Menurut Pelczar (1958), bentuk morfologi pertumbuhan koloni bakteri pada streak agar ada beberapa macam yaitu filiform, villous, echinulate, bead, rhizoid, effuse, dan arborescent. Bentuk pertumbuhan koloni pada nutrient cair yaitu pellicle, membranous, flocculent dan ring. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Beratus ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sebagai contoh, sekali bersin dapat menyebarkan beribu-ribu mikroorganisme. Satu tinja dapat mengandung jutaan bakteri (Pelczar, 1986). Steril merupakan syarat mutlak keberhasilan kerja dalam lab mikrobiologi. Dalam melakukan sterilisasi, diperlukan teknik-teknik agar sterilisasi dapat dilakukan secar sempurna, dalam arti tidak ada mikroorganisme lain yang mengkontaminasi media. Sterilisasi adalah proses untuk menjadikan alat-alat terbebas dari segala bentuk kehidupan. Seperti yang telah disebutkan bahwa tujuan sterilisasi untuk mematikan mikroorganisme yang tidak diinginkan agar tidak ikut tumbuh. Ada beberapa teknik sterilisasi, yaitu dengan cara fisik dengan panas, mekanik dengan filtrasi dan kimia dengan senyawa-senyawa kimia. Dalam praktikum ini kami mencoba mempelajari bagaimana cara mensterilisasi alat – alat yang nantinya dipakai untuk bekerja di dalam laboratorium mikrobiologi. Kami mencoba untuk melakukan sterilisasi guna bekal untuk keberhasilan dalam menumbuhkan suatu biakan koloni mikroorganisme yang diinginkan dengan berhasil. Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal (Pelczar, 1986). Pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru harus dilakukan secara teliti. Terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat-

alat yang ada sangkut pautnya dengan medium dan pekerjaan inokulasi itu benarbenar steril. Hal ini untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikkroorganisme yang tidak diinginkan (Budiarti, 2009). Medium ialah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau didalamnya. Sebelum menumbuhkan mikroorganisme, pertama-tama kita harus dapat memahami kebutuhan dasarnya lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang memberikan hasil baik. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba dapat diklasifikasikan berdasarkan pada komposisi (medium sintetis, semi sintetis, dan non sintetis), konsentrasi (solid medium, semi solid medium, dan broth medium), dan selektivitas (medium umum, selektif, diferensial, medium uji, dan medium diperkaya) Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi bakteri, mikroba dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran serta micromanipulator. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah tekhnik cawan tuang dan cawan gores. Kedua metode ini didasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan organisme sedemikian rupa sehingga dapat diamati. Pemahaman mengenai teknik dasar dalam praktikum mikrobiologi, seperti pengenalan ose serta cara menggunakannya, dan teknik plating sehingga seorang praktikan dapat melakukan praktikum mikrobiologi yang sesuai dengan kaidah serta ketentuan yang berlaku merupakan hal yang terpenting. Berbagai jenis ose yang dikenal serta penggunaannya disesuaikan dengan mikroorganisme yang akan diteliti, baik dalam hal pemindahan maupun pemilihan dari suatu koloni. Teknik plating dan ose merupakan satu kesatuan sehingga keduanya memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Rangkaian antara pengenceran ,isolasi dan pengamatan bakteri merupan suatu yang tidak dapat dipisahkan.penjelasannya adalah sebagai berikut. Pengenceran adalah suatu proses awal yaitu dengan mengrangi tiap pangkat dari suatu larutan media.dimana pengenceran ini dimaksudkan untuk menjadikan agar dapat dilakukan perbandingan apakah atara media cair yang telah dilakukan

pengenceran beberapa kali mungkinkah mempunyain koloni bakteri yang jumlahnnya berbeda-beda.hal tersebut bisa saja terjadi karena beberapa faktor yang terpengaruhi diantarannya adalah penyam;puran yang kurang merata dan faktor-faktor lainnya.isolasi dilakukan untuk menjaga agar sampel bakteri dapat berkembang dengan baik dan tidak terganggu dengan bakteri yang diluar yang bisa saja dapat mengkontaminasi bakteri yang ditanam didalamnnya.pengamatan bakteri dapat dilakukan dengan menggunakan mata telanjang ataupun dibawah mikroskop. Yang biasannya diamati secara langsung adalah biasanya warna dari koloni dan bentuk dari koloni serta yang tidak kalah pentingnya adalah menghitung dari kolono dan apakah ada jamur yang tumbuh dimedia penanaman. 1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Praktikan dapat melakukan pengamatan mengenai morfologi bakteri. 2. Praktikan dapat mengetahui jumlah koloni bakteri dari tiap tabung pengenceran. 3. Praktikan memahami bermacam-macam teknik isolasi mikroba. 4. Praktikan mempunyai ketrampilan melakukan isolasi mikroba. 1.3 Manfaat Manfaat dari serangkaian praktikum ini sangat luar biasa banyak terutama bagi mahasiswa. Khusus modul 3 yang membahas tentang pengenceran,isolasi dan pengamatan morfologi mikroba memberikan manfaat yaitu mahasiswa menjadi lebih tau bagaimana tahap-tahap isolasi bakteri dan dapat

membandingkan pertumbuhan bakteri yang membentuk koloni pada konsentrasi media yang berbeda-beda.kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah mahasiswa dapat mengetahui morfologi dari bakteri dari proses pengamatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mikroba Segala jasad hidup yang berukuran kecil disebut mikroba / mikroorganisme / jasad renik. Disedut jasad renik karena ukurannya yang kecil (kurang dari 0,1 mm), sehingga sukar dilihat dengan mata biasa, umumnya hanya dapat dilihat dengan alat pembesar atau mikroskop, ada mikroba yang berukuran besar sehingga dapat dilihat tanpa alat pembesar, pengaturan kehidupannya yang lebih sederhana dibandingkan dengan jasad tingkat tinggi. Penggolongan Mikroba diantara Jasad Hidup.Secara klasik jasad hidup hanya digolongkan menjadi dua macam, yaitu dunia tumbuhan (plantae) dan dunia binatang (animalia). Dalam penggolongan klasik ini, mikroorganisme sulit dimasukan diantara kedua golongan tersebut, hal ini dikarenakan mikroba mempunyai ukuran yang sangat kecil, dan kadang mempunyai sifat seperti tumbuhan dan hewan sehingga mikroba tidak dapat dimasukkan diantara keduanya(http://www.anneahira.com/mikrobiologi-lingkungan.htm). 2.2 Bakteri Bakteri tersebar sangat luas baik ditanah, air dan udara, bila hendak mengisolasi bakteri dari tanah/ benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut, atau zat cair lain, maka dilakukan serangkaian pengenceran (dilution series) terhadap zat tersebut. Sumber isolat dari bakteri benda yang liat atau padat, misalnya daging maka zat tersebut dihancurkan terlebih dahulu. Terhadap bakteri yang hanya terdapat dipermukaan maka pengenceran dilakukan terhadap air tempat zat tersebut dicelupkan/ direndam. Dan jika bakteri hendak diisolasi dari udara, cukup dengan membuka cawan Petri yang berisi media agar steril beberapa saat(http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri).. 2.2 Prinsip pengenceran Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacammacam spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari enceran inii kemudian diambil sampel 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut. Jika dari

pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu koloni tumbuh dalam medium tersebut, tetapi mungkin juga kita hanya memperoleh satu koloni saja. Dalam hal yang demikian ini kita memperoleh satu koloni saja. Dalam hal yang demikian ini kita memperoleh satu koloni murni. Kalau kita belum yakin, bahwa koloni tunggal yang kita peroleh itu murni, kita dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel

Gambar : Prinsip dasar Pengenceran(http://id.wikipedia.org/wiki/pengenceran). 2.4 Morfologi bakteri

Berdasarkan bentuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:

Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
o o o

Mikrococcus, jika kecil dan tunggal Diplococcus, jka berganda dua-dua Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar

o o

Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus Staphylococcus, jika bergerombol

o 

Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai

Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:
o o

Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai

Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berik.
o

Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk koma)

o o

Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel.

Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan usia. Walaupun secara morfologi berbeda-beda, bakteri tetap merupakan sel tunggal yang dapat hidup mandiri bahkan saat terpisah dari koloninya(Hanson 1996). 2.5 Bentuk bakteri Berdasarkan bentuk morfologinya maka bakteri dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu golongan basil, kokus dan spiril.Golongan basil (dari bacillus) berbentuk serupa tongkat pendek silindris. Basil dapat bergandeng – gandengan panjang, dua atau terlepas satu sama lain. Yang bergandengan panjang disebut streptobasil, yang dua – dua disebut diplobasil. Ujung – ujung basil yang terlepas satu sama lain itu tumpul, sedang ujung – ujung yang masih bergandengan itu tajam. Kokus adalah bakteri yang bentuknya berupa bola – bola kecil.Golongan ini tidak sebanyak golongan basil. Kokus ada yang berupa gandengan panjang serupa tali leher,disebut streptokokus, yang bergandengan dua disebut diplokokus dan yang mengelompok empat disebut tetrakokus sedangkan yang mengelompok menjadi suatu untaian disebut stafilokokus. Spiril ialah bakteri yang bengkok berupa spiral. Bakteri yang berbentuk spiral jarang ditemukan(

Dwidjoseputro,2005).

2.6.Pengenceran Cara ini pertama-tama dilakukan oleh Lister dalam tahun 1865. Ia berhasil memiara murni Streptococcus lactis yang diisolasikannya dari susu yang sudah masam. Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari enceran ini kemudian diambil 1 ml untuk diencerkan lagi. Dan dari pengenceran yang kedua ini diambil 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan besar kita akan mendapatkan beberapa koloni tumbuh dalam medium tersebut, tetapi mungkin juga kita hanya memperoleh satu koloni saja. Dalam hal yang demikian ini kita memperoleh satu koloni murni, dan selanjutnya spesies ini dapat kita jadikan biakan murni. Kalau kita belum yakin, bahwa koloni tunggal yang kita peroleh itu murni, kita dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel(http://www.inforedia.com/2010/09/teknik-isolasi-bakteri-dan-

mikrobia.html). 2.7 Isolasi Isolasi bakteri adalah proses mengambil bakteri dari medium atau lingkungan asalnya dan menumbuhkannya di medium buatan sehingga diperoleh biakan yang murni. Bakteri dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya harus menggunakan prosedur aseptik. Aseptik berarti bebas dari sepsis, yaitu kondisi terkontaminasi karena mikroorganisme lain. Teknik aseptik ini sangat penting bila bekerja dengan bakteri. Beberapa alat yang digunakan untuk menjalankan prosedur ini adalah bunsen dan laminar air flow Bila tidak dijalankan dengan tepat, ada kemungkinan kontaminasi oleh miroorganisme lain sehingga akan mengganggu hasil yang diharapkan. Teknik aseptik juga melindungi laboran dari kontaminasi bakteri (Singleton dan Sainsbury, 2006). 2.8 Macam isolasi Ada beberapa metode untuk menginokulasi bakteri sesuai dengan jenis medium tujuannya. Pada medium agar tegak, dilakukan metode tusuk

menggunakan jarum ose. Pada medium agar miring, dilakukan metode gores dengan menggunakan loop ose. Pada medium petridisk, dapat digunakan metode streak plate (metode gores), pour plate (metode tuang) atau spread plate (metode sebar) Setelah inokulasi, dilakukan proses inkubasi, yaitu menyimpan medium pada alat atau kontainer ada temperatur tertentu dan periode tertentu, sehingga tercipta lingkungan yang menyediakan kondisi cocok untuk pertumbuhan bakteri. Metode gores atau streak plate menggunakan loop ose dan menggoreskannya ke permukaan medium agar dengan pola tertentu dengan harapan pada ujung goresan, hanya sel-sel bakteri tunggal yang terlepas dari ose dan menempel ke medium. Sel-sel bakteri tunggal ini akan membentuk koloni tunggal yang kemudian dapat dipindahkan ke medium selanjutnya agar didapatkan biakan murni. Metode tuang atau pour plate dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mencampur suspensi bakteri dengan medium agar pada suhu 50ºC kemudian menuangkannya pada petridisk atau dengan menyemprotkan suspensi pada dasar petridisk, kemudian menuang medium agar keatasnya dan diaduk. Setelah agar mengeras, bakteri akan berada pada tempatnya masing-masing dan diharapkan bakteri tidak mengelompok sehingga terbentuk koloni tunggal. Metode sebar atau spread plate dilakukan dengan menyemprotkan suspensi ke atas medium agar kemudian menyebarkannya secara merata dengan trigalski. Dengan ini diharapkan bakteri terpisah secara individual, kemudian dapat tumbuh menjadi koloni tunggal. Metode pemaparan pada udara terbuka adalah metode untuk mengisolasi bakteri udara. Metode ini sangat simpel, yaitu dengan memaparkan medium pada udara terbuka, dengan harapan ada bakteri yang menempel dan kemudian akan tumbuh menjadi koloni.(Hopson.2006) 2.9 Inokulasi Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan

tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998). Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik penanaman bakteri (inokulasi) yaitu : 1. Menyiapkan ruangan Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan .dalam labotarium pembuataan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah kotak kaca (encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut dilewatkan saringan melalui suatu jalan agar tekena sinar ultraviolet (Pelezar, 1986). 2. Pemindahan dengan dengan pipet Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan untuk diambil 1 ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 ml murni (Pelezar, 1986). 3. Pemindahan dengan kawat inokulasi Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel .ujungnya boleh lurus juga boleh berupa kolongan yang diametrnya 1-3mm. Dalam melakukuan penanaman bakteri kawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi dalam nyala (Pelezar, 1986). 2.10 Teknik Isolasi Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal (Pelczar, 1986).

Kultur murni atau biakan murni sangat berguna didalam mikrobiologi, yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri cultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu popolasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993). Sifat organisme dalam suatu biakan murni dapat dipelajari dengan metode yang amat keras dengan hasil yang sangat akurat karena pengaruh sel hidup yang lain dapat ditiadakan (Volk,1993). Terdapat beberapa cara untuk mencegah masuknya mikroorganisme yang tidak diinginkan dan untuk menanam suatu species yaitu : 1. Penanaman dengan penggoresan Merupakan cara rutin yang dipakai untuk mengasingkan mikroba agar didapatkan biakan murni. 2. Penanaman lapangan Dilakukan dengan membasahi seluruh permukaan lempeng agar dengan suspensi mikroba. Cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan biakan murni terdapat beberapa, yaitu : 1. Pengenceran 2. Penuangan 3. Penggesekan 4. Single cell isolation 5. Inokulasi hewan (Budiarti, 2009) Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan isolasi mikroba yaitu: 1. Sifat setiap jenis mikroba yang akan diisolasi 2. Tempat hidup atau asal mikroba tersebut 3. Medium pertumbuhan yang sesuai 4. Cara menginokulasi mikroba 5. Cara menginkubasi mikroba 6. Cara menguji bahwa mikrobia yang diisolasi telah berupa kultur murni dan sesuai dengan yang dimaksud 7. Cara memelihara agar mikrobia yang telah diisolasi tetap merupakan kultur murni

Penggunaan

media

bukan

hanya

untuk

pertumbuhan

dan

perkembangbiakan mikroba, tetapi juga untuk tujuan-tujuan lain, misalnya untuk isolasi, seleksi, evaluasi, dan deferensiasi biakan yang didapatkan. Artinya penggunaan beberapa jenis zat tertentu yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, banyak dilakukan dan

dipergunakan. Sehingga tiap-tiap media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya Bakteri adalah salah satu contoh mikroorganisme yang penting dan memiliki bentuk yang beragam. Pada umumnya bakteri berhubungan dengan makanan. Adanya bakteri dalam bahan pangan dapat mengakibatkan pembusukan yang tidak diinginkan atau menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau dapat melangsungkan fermentasi yang menguntungkan (Buckle, 1987). Dilakukan serangkaian pengenceran terhadap zat tersebut untuk

mengisolasi bakteri dari tanah/benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair. Misalnya suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain (Dwidjoseputro, 1994). Pertumbuhan bakteri pada medium agar pada umumnya berbentuk koloni berupa lendir dan mengkilap. Pemurnian dengan suhu inkubasi 30ºC selama 2 x 24 jam (Cappuccino & Sherman, 1983). 2.11 Koloni bakteri Koloni adalah kumpulan dari mikrobia yang memilki kesamaan sifat-sifat seperti bentuk, susunan, permukaan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh di permukaan medium adalah : 1. Besar kecilnya koloni. Ada koloni yang hanya serupa suatu titik, namun ada pula yang melebar sampai menutup permukaan medium. 2. Bentuk. Ada koloni yang bulat, ada yang memanjang.Ada yang tepinya rata, ada yang tidak rata. 3. Kenaikan permukaan. Ada koloni yang rata saja dengan permukaan medium, ada pula yang timbul yaitu menjulang tebal di atas permukaan medium.

4. Halus kasarnya permukaan. Ada koloni yang permukaannya halus, ada yang permukaannya kasar dan tidak rata. 5. Wajah permukaan. Ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang permukaannya suram. 6. Warna. Kebanyakan koloni bakteri berwarna keputihan atau kekuningan. 7. Kepekatan. Ada koloni yang lunak seperti lendir, ada yang keras dan kering( Dwidjoseputro,2005). 2.12 Penghitungan koloni bakteri Fardiaz (1993) menyatakan ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghitung atau mengukur jumlah jasad renik di dalam suatu suspensi atau bahan, yang dapat dibedakan atas beberapa kelompok yaitu : A. Perhitungan jumlah sel 1. Hitungan mikroskopik 2. Hitungan cawan 3. MPN (Most Probable Number) B. Perhitungan massa sel secara langsung 1. Volumetrik 2. Gravimetrik 3. Kekeruhan (turbidimetri) C. Perhitungan massa sel secara tidak langsung 1. Analisis komponen sel 2. Analisis produk katabolisme 3. Analisis konsumsi nutrient Dari metode-metode tersebut, metode hitungan cawan paling banyak digunakan. Hal ini disebabkan metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitive untuk menghitung jumlah mikroba karena: 1. Hanya sel yang masih hidup yang dihitung 2. Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus

3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sel dengan penampakan pertumbuhan yang spesifik. Prinsip dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang masih hidup pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop (Fardiaz,1993). 2.13 Pengukuran Pertumbuhan Pertumbuhan diukur dari perubahan jumlah sel atau berat kering massa sel. Jumlah sel dapat dihitung dari jumlah sel total yang tidak membedakan jumlah sel hidup atau mati, dan jumlah sel hidup (viable count). Jumlah total sel mikrobia dapat ditetapkan secara langsung dengan pengamatan mikroskopis, dalam bentuk sampel kering yang diletakkan di permukaan gelas benda (slide) dan dalam sampel cairan yang diamati menggunakan metode counting chamber, misalnya dengan alat Petroff-Hausser Bacteria Counter (PHBC) untuk menghitung bakteri atau dengan alat haemocytometer untuk menghitung khamir, spora, atau sel-sel yang ukurannya relatif lebih besar dari bakteri.Jumlah sel hidup dapat ditetapkan dengan metode plate count atau colony count,dengan cara ditaburkan pada medium agar sehingga satu sel hidup akan tumbuh membentuk satu koloni, jadi jumlah koloni dianggap setara dengan jumlah sel. Cara ini ada dua macam, yaitu metode taburan permukaan (spread plate method) dan metode taburan (pour plate method). Cara lain untuk menghitung jumlah sel hidup adalah dengan filter membran dan MPN (Most Probable Number) yang menggunakan medium cair. Sampel mikrobia yang dihitung biasanya dibuat seri pengenceran.Pertumbuhan sel dapat diukur dari massa sel dan secara tidak langsung dengan mengukur turbiditas cairan medium tumbuh. Massa sel dapat dipisahkan dari cairan mediumnya menggunakan alat sentrifus (pemusing) sehingga dapat diukur volume massa selnya atau diukur berat keringnya (dikeringkan dahulu dengan pemanasan pada suhu 90-1100C semalam). Umumnya berat kering bakteri adalah 10-20 % dari berat basahnya.Turbiditas dapat diukur menggunakan alat photometer (penerusan cahaya),semakin pekat atau semakin banyak populasi mikrobia maka cahaya yang diteruskan semakin sedikit. Turbiditas juga dapat diukur menggunakan spektrofotometer (optical density/ OD), yang sebelumnya

dibuat kurva standart berdasarkan pengukuran jumlah sel baik secara total maupun yang hidup saja atau berdasarkan berat kering sel. Unit photometer atau OD proporsional dengan massa sel dan juga jumlah sel, sehingga cara ini dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah atau massa sel secara tidak langsung.(Metting, F.B.,1993). 2.14 Pertumbuhan Populasi Mikroba Suatu bakteri yang dimasukkan ke dalam medium baru yang sesuai akan tumbuh memperbanyak diri. Jika pada waktu-waktu tertentu jumlah bakteri dihitung dan dibuat grafik hubungan antara jumlah bakteri dengan waktu maka akan diperoleh suatu grafik atau kurva pertumbuhan. Pertumbuhan populasi mikrobia dibedakan menjadi dua yaitu biakan sistem tertutup (batch culture) dan biakan sistem terbuka (continous culture).Pada biakan sistem tertutup, pengamatan jumlah sel dalam waktu yang cukup lama akan memberikan gambaran berdasarkan kurva pertumbuhan bahwa terdapat fase-fase pertumbuhan. Fase pertumbuhan dimulai pada fase permulaan, fase pertumbuhan yang dipercepat, fase pertumbuhan logaritma (eksponensial), fase pertumbuhan yang mulai dihambat, fase stasioner maksimum, fase kematian dipercepat, dan fase kematian logaritma.Pada fase permulaan, bakteri baru menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, sehingga sel belum membelah diri. Sel mikrobia mulai membelah diri pada fase pertumbuhan yang dipercepat, tetapi waktu generasinya masih panjang. Fase permulaan sampai fase pertumbuhan dipercepat sering disebut lag phase. Kecepatan sel membelah diri paling cepat terdapat pada fase pertumbuhan logaritma atau pertumbuhan eksponensial, dengan waktu generasi pendek dan konstan. Selama fase logaritma, metabolisme sel paling aktif, sintesis bahan sel sangat cepat dengan jumlah konstan sampai nutrien habis atau terjadinya penimbunan hasil metabolisme yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan. Selanjutnya pada fase pertumbuhan yang mulai terhambat, kecepatan pembelahan sel berkurang dan jumlah sel yang mati mulai bertambah. Pada fase stasioner maksimum jumlah sel yang mati semakin meningkat sampai terjadi jumlah sel hidup hasil pembelahan sama dengan jumlah sel yang mati,sehingga jumlah sel hidup konstan, seolah-olah tidak terjadi pertumbuhan (pertumbuhan nol). Pada fase kematian yang dipercepat kecepatan kematian sel

terus meningkat sedang kecepatan pembelahan sel nol, sampai pada fase kematian logaritma maka kecepatan kematian sel mencapai maksimal, sehingga jumlah sel hidup menurun dengan cepat seperti deret ukur. Walaupun demikian penurunan jumlah sel hidup tidak mencapai nol, dalam jumlah minimum tertentu sel mikrobia akan tetap bertahan sangat lama dalam medium tersebut(Metting, F.B.,1993). 2.15 Sinularia Category Phylum Class Order Family Genus Soft corals cnidaria anthozoa alcyonacea Alcyoniidae Sinularia Bentuk koloni hampir seperti S. flexibilis hanya bagian lobus tidak lentur. Pada bagian permukaan dan internal lobus (top) terdapat club dengan tiga bentuk, club kecil dengan ukuran 0,06-0,08 mm, club besar dengan ukuran sampai 0,12 mm, dan kumparan byang panjang dan kurus berukuran 0,15-0.30 mm. Club pada tangkai (base) lebih tebal dan lebar berukuran 0,08 – 0,19 mm. Sklerit pada bagian internal tangkai berbentuk kumparan biasa.Sebaran : baru ditemukan di Pulau Sangiang, Selat Sunda(http://www.coral.discovery.com).

BAB III MATERI DAN METODE 3.1 Waktu danTempat Hari / Tanggal Waktu Tempat :30 November 2011 : Pukul 17.00-selesai : Laboratorium Mikrobiologi,Lantai 2,Gedung E,Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang 3.2 Materi Alat dan Bahan 3.2.1 Pengamatan Morfologi Bakteri Alat : Bunsen Gelas benda dan gelas penutup Jarum Ose Mikroskop Bahan 3.2.2 Pengenceran Alat : tabung reaksi Bunsen Jarum ose Pipet mikro Bahan : Bakteri Sinularia Media cair (air laut steril) 3.2.3 Isolasi Alat : Cawan Petri Bunsen Jarum Ose Kertas Label Tabung reaksi Bahan : Sampel air laut Sampel organism laut dan Media zobell,s 2216 : Biakan murni SCS (Sinularia)

3.3 Cara kerja 3.3.1 Destruksi a) panaskan air didalam panic sampai mendidih. b) Pisahkan antara bagian atas dan bawah dari cawan petri dan masukan kedam air mendidih. c) Biarkan sampai 15 menit d) Tiriskan dan cuci dengan alcohol lalu bungkus dengan kertas masukan kedalam outokaf. 3.3.2 Pengenceran a) Siapkan tabung reaksi b) Pembuatan larutan pengenceran dari 10 0 sebagai cara awal. c) Tabung reaksi diisi 10 ml air laut steril. d) Inokulasi bakteri dengan menggunakan mikro pipet atau jarum ose sebannyak 200 mikron. e) Masukkan kedalam tabung reaksi yang telah diisi air laut steril. f) Untuk mendapatkan 101 – 104 . g) Isi dengan air laut pada masing-masing tabung dengan sampel air laut sampai 10 %. 3.3.3 Isolasi dan Penanaman mikroba a) Cairkan media zobell 2216 e dalam penangas air b) Tuang secara aseptic kedalam cawan petri c) Biarkan hingga memadat d) Ambil 1 ose air laut atau suspense jaringan organism laut secara aseptis, dan buat goresan pada media agar e) Beri Label (nama dan NIM) f) Inkubasi secara terbalik dengan plastic wrap selama 24 jam g) Amati koloni bakteri yang tumbuh pada permukaan agar h) Ambil koloni dengan jarum ose i) Tanam pada media miring dengan cara goresan 3.3.4 Pengamatan morfologi Bakteri a) Gelas benda di bersihkan dengan alcohol 70% b) Ambil bakteri dengan menggunak. dan

c) an jarum ose d) Goreskan sedikit pada gelas benda e) Ambil Pangaduk dan tambahkan cat methilen blue pada preparat yang ingin kita amati f) Ratakan setipis mungkin hingga tidak terbentuk gelembung g) Diangin anginkan sampai kering h) Mengamati dengan menggunakan mikroskop i) Gambar hasilnya 3.3.5. Inokulasi a) Ambil hasil dari pengenceran b) Masukan pada cawan petri c) Ambil speader tetapi sterilisasi terlebih dahulu dengan alcohol dan dibakar. d) Oleskan pada bakteri yang ada di cawan petri.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. HASIL Pengamatan morfologi bakteri

Pengamatan hari pertama bakteri yang tumbuh 135

Pengamatan hari kedua koloni bakteri yang tumbuh sebanyak 124. Pengamatan morfologi bakteri.

Dari pengamatan bakteri SCS (sinularia) diperoleh warna putih susu/putih bening/putih transparan serta biperoleh serabut jamur sejumlah 6 koloni.  Tabel perbandingan dengan kelompok lain Jumlah koloni bakteri hari 1 100 10
-1

Konsentrasi pada tabung reaksi

Jumlah koloni bakteri hari 2 429 134 60 124 68

450 72 50 135 68

10-2 10-3 10-4

4.2. PEMBAHASAN 4.2.1 Pengenceran Pengenceran dilakukan agar untuk mendapatkan perbandingan antara jumlah koloni dari suatu pengenceran satu dengan pengenceran yang lainnya.dari hasil pengenceran telah didapatkan hasil seperti yang telah di tampilkan diatas.dari hasil pemgenceran 100 sampai dengan 104 diperoleh jumlah koloni yang terhitung sangat berfariasi.pada hasil jumlah koloni 100 memperoleh hasil yang paling besar hal itu dikarekan pada pengenceran ini merupakan awal dari proses sehingga jumlah bakteri yang terkandung dalam sampel air laut steril masih cukup banyak.sedangkan untuk pada pengenceran-pengenceran sterusnnya seharusnnya jumlah koloni semakin lama-semakin turun tetapi terjadi fluktuasi yang cukup berbeda terutama pada pengenceran 103 yang hasil dari jumlah koloninnya berbeda jauh dengan koloni sebelumnnya ataupun koloni

sesudahnnya.kemungkinan hal ini bisa terjadi dikarenakan oleh beberapa factor diantarannya adalak ketika kita akan melakukan pengenceran kita tidak melakukannya denagn benar seperti pengambilan sampel yang kurang dari seharusnnya ataupun kurang merata dalam penggojokan sehinnga jumlah bakteri yang ditanam tidak merata.ada juga ketika akan meninokulasi bakteri pada media

bisa saja ketika proses spreding,spreader masih panas dan dapat membunuh secara langsung koloni dari sibakteri itu sendiri mennyebabkan hanya sedikit bakteri yang tertanam 4.2.2 Isolasi dan Penanaman bakteri Penanaman bakteri ini dilakukan dengan memindahkan media dari tabung reaksi hasil pengenceran ke dalam cawan petri melalui metode spread.Metode spread dilakukan dengan mengencerkan eksperimen dalam medium agar yang telah dicairkan dan didinginkan yang kemudian di cawankan. Karena konsentrasi sel- sel mikroba di dalam eksperimen pada umumnya tidak diketahui sebelumnya, maka pengenceran perlu dilakukan beberapa tahap sehingga sekurangkurangnyya satu di antara cawan – cawan tersebut mengandung koloni- koloni terpisah baik di atas permukaan maupun di dalam agar. Metode ini memboroskan waktu dan bahan namun tidak memerlukan keterampilan yang terlalu tinggi.Untuk inokulasi dengan metode terlebih dahulu harus disiapkan bakteri dengan berbagai seri pengenceran dari 10-0 sampai 10-4.hasil pengenceran tersebut kemudian diinokulasi pada media yang telah disiapkan yaitu berupa bacto agar ataupun media padat.hal-hal yang perlu diperhatikan dalam meinokulasi ataupun peroses penanama bakteri adalah diantarannya.ketikaakan melakukan penanaman bakteri semua alat harus disterilkan terlebih dahulu yaitu ketika akan memasukan bakteri pada cawan petri yang telah diberi media pertumbuhan pipet mikro,cawan petri dan tabung reaksi yang berisi pengenceran harus selalu dekat dengan api Bunsen supannya tidak terjadi kontaminasi oleh bakteri lain. Kemudian ada lagi spreder harus disterilisasi dengan menggunakan alcohol dan kemudian dibakar lalu ratakan bakteri dengan spresder tetapi pastikan spreder dalam keadaan yang dingin supaya bakteri yang akan diratakan tidak mati. 4.3 Pengamatan morfologi bakteri Pada pengamatan yang dilakukan pada isolasi bakteri sinularia dengan pengenceran 103 diperoleh pada hari pertama sejumlah bakteri 135 dan hari kedua yaitu berjumlah 124.kemudian yang juga ditemukan 6 koloni jamur yang berbentuk sepeti serabut juga tumbuh di antara koloni bakteri.mengapa koloni bakteri antara hari pertama dan hari kedua bisa berbeda jumlah

koloninnya.padahal seharusnnya koloni bakteri dari hari-kehari seharusnnya bertambah. Kemungkinan berkurngnnya bakteri dikarenakan oleh pengaruh dari tumbuhnnya koloni jamur. Jamur disini menyebabkan penghambatan

pertumbuhan dari si bakteri. Mengapa jamur tersebut bisa tumbuh di media tumbuh bakteri mungkin ini alasannya. Cawan yang digunakan untuk menanam bakteri dilapisi oleh parafilm.Parafilm adalah plastik berbahan wax yang diciptakan untuk penggunaan laboratorium. Parafilm biasa digunakan untuk membungkus atau melindungi bejana (seperti flask atau kuvet).Parafilm dapat direntangkan, dapat dibentuk, tahan air, antibau, termoplastik, semitransparan, dan dapat melekat sendiri.parafilm juga dapat digunakan untuk membungkus kontainer untuk menjaga kelembaban pada penyimpanan jangka panjang. Karena sifatnya yang termoplastik maka parafilm tidak dapat dipakai di dalam autoklaf.Penggunaan parafilm bisa menimbulkan dampak buruk bagi bakteri karena parafilm ini terlalu melekat sehingga lembab dan dapat menimbulkan tumbuhnya jamur dan merusak bakteri.kemudian untuk warna dari koloni bakteri sinularia adalah bewarna putih susu/putih bening/putih transparan warna itu juga diperoleh pada kelompok lain. Hubungan antara pengenceran dengan jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada media padat adalah sebagai berikut. Dari tiap pengenceran itu jumlah koloni yang didapatkan tidak ada yang sama atntar kelompok tetapi seharusnya pada keadaan yang wajar jumlah koloni bakteri yang ada semakin ke pengenceran kepangkat yang lebih besar seharusnnya koloni yang tumbuh harus lebih kecil. Tetapi pada data yang telah diperoleh ada sebagian yang tidak sesuai denganyang seharusnnya bahkan ada yang koloninnya besar dan beda jauh dengan pengenceran awalnnya. Hal tersebut bisa terjadi karena hal-hal yang telah dibahas diatas.

BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Setelah melakukan praktikum mikrobiologi laut modul 3 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a) Morfologi bakteri yang diamati dari bakteri scs (sinularia) diperoleh warna putih susu/putih bening/putih transparan serta biperoleh serabut jamur sejumlah 6 koloni. b) Dari pengamatan koloni hari pertama di peroleh koloni berjumlah 135 sedangkan untuk hari kedua koloni berjumlah 125. c) Macam-macam isolasi antara lain metode gores,metode tuang dan metode sebar. d) Pada praktikum kali ini digunakan metode isolasi gores dengan menggunakan jarum ose dan diratakan dengan spreader. 5.2 SARAN Setelah melakukan praktikum mikrobiologi laut modul 3 dapat memberikan saran sebagai berikut: a) Praktikan sebaiknnya harus menguasai modul terlebih dahulu agar praktikum dapat berjalan lancar. b) Asisten harus lebih tegas dalam memenejemen waktuk praktikum. c) Untuk praktikum berikutnnya agar disiapkan alat-alatnnya agar waktu bisa lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA Buckle, K.A. 1987. Ilmu Pangan. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Budiarti, Lia Yulia. 2009. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Terintegrasi. Penerbit Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas

Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Cappuccino, J. G. dan Natalie. S. 1983. Microbiology A Laboratory Manual. Addison-Wesley Publishing Company, New York.

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan. Jakarta. Fardiaz, S. 1993. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hanson RS, Hanson TE. 1996. Methanotrophic bacteria. Microbiol Rev 60:439-471. Irianto, K. 2007.Mikrobiologi. Yrama Widya, Bandung Pelczar .M.J .1998.Dasar – dasar mikrobiologi.Universitas Indonesia; Jakarta. Pelczar. M.J., and Reid.R.D.,1986.Microbiology.Mc-Graw Hill-book Company, Japan. Postlethwait dan Hopson. 2006. Modern Biology. Holt, Rinehart and Winston. Texas. Singleton dan Sainsbury. 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology 3rd Edition. John Wiley and Sons. Sussex, England. Soetarto, E.S., Suharni. T.T, Nastiti. S.Y dan Sembiring, L. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Untuk Mahasiswa Fakultas Biologi. Laboratorium

Metting, F.B. (1993). Soil Microbial Ecology.Applications in Agriculture and Environment Management.Marcel Dekker. Inc. NY Mikrobiologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga, Jakarta (http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri).diakses pada 4 desember 2011 pukul 13.31. http://www.inforedia.com/2010/09/teknik-isolasi-bakteri-dan-mikrobia.html diakses pada 4 desember 2011 pukul 13.31.

(http://www.coral.discovery.com). diakses pada 4 desember 2011 pukul 13.31.

http://www.anneahira.com/mikrobiologi-lingkungan.htm). diakses pada 4 desember 2011 pukul 13.31.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->