P. 1
Peraturan Menteri Dalam Negeri Hibah Dan Bansos

Peraturan Menteri Dalam Negeri Hibah Dan Bansos

|Views: 2,471|Likes:
Published by bervariasi

More info:

Published by: bervariasi on Apr 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

TAHUN ANGGARAN 2012 ===== TENTANG BELANJA HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL =====

Belanja Hibah
a) Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya dan diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah, rasionalitas serta ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. b) Penganggaran untuk belanja hibah harus dibatasi jumlahnya, mengingat belanja hibah bersifat bantuan yang tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus. Penggunaan hibah harus sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam naskah perjanjian hibah daerah. c) Hibah yang diberikan secara tidak mengikat/tidak secara terus menerus diartikan bahwa pemberian hibah tersebut ada batas akhirnya tergantung pada kemampuan keuangan daerah dan kebutuhan atas kegiatan tersebut dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah. d) Mekanisme penganggaran belanja hibah dari pemerintah daerah kepada pemerintah, mengacu pada ketentuan pengelolaan keuangan daerah. Bagi instansi penerima dalam pelaksanaan dan pertanggungjawabannya mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2008 tentang Hibah Daerah, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK.05/2009 tentang Sistem Akuntansi Hibah dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.05/2010 tentang Tata Cara Pengesahan Realisasi Pendapatan dan Belanja Yang Bersumber Dari Hibah Luar Negeri/Dalam Negeri Yang Diterima Langsung Oleh Kementerian Negara/Lembaga Dalam Bentuk Uang. Pemerintah daerah sebagai pemberi hibah melaporkan penyaluran hibah tersebut kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap akhir tahun anggaran, kecuali pemberian hibah kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) provinsi/kabupaten/kota dan Panita Pengawas Pemilihan Umum (PANWASLU) dalam rangka penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Belanja Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2009. e) Hibah dari pemerintah daerah dapat diberikan kepada pemerintah daerah lainnya sepanjang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. f) Dalam rangka meningkatkan transparansi dan akuntabilitas anggaran daerah, penganggaran untuk hibah harus memperhatikan asas manfaat, keadilan dan kepatutan, mulai dari landasan pertimbangan pemberian, penggunaan sampai

d) Sistem dan prosedur penganggaran. c) Dalam menetapkan kebijakan anggaran untuk bantuan sosial harus mempertimbangkan rasionalitas dan kriteria yang jelas dengan memperhatikan asas manfaat. g) Sistem dan prosedur penganggaran. pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja hibah harus ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. transparan. Belanja Bantuan Sosial a) Dalam rangka menjalankan dan memelihara fungsi pemerintahan daerah dibidang kemasyarakatan dan kesejahteraan masyarakat. pemerintah daerah dapat menganggarkan pemberian bantuan sosial kepada kelompok/anggota masyarakat. kepatutan. Pasal 43. dengan memperhatikan ketentuan Pasal 42. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta peraturan perundang-undangan lainnya. dengan memperhatikan ketentuan Pasal 45 dan Pasal 133 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. keadilan. Pasal 44 dan Pasal 133 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan peraturan perundang-undangan lainnya. Bantuan sosial yang diberikan secara tidak terus menerus/tidak mengikat diartikan bahwa pemberian bantuan tersebut tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun anggaran. Penyediaan anggaran untuk hibah harus dijabarkan dalam rincian obyek belanja sehingga jelas penerimanya serta tujuan dan sasaran penggunaannya. pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja bantuan sosial harus ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. . tidak terus menerus/tidak mengikat serta memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. Penyediaan anggaran untuk bantuan sosial harus dijabarkan dalam rincian obyek belanja sehingga jelas penerimanya serta tujuan dan sasaran penggunaannya. akuntabilitas dan kepentingan masyarakat luas.pengawasannya. b) Penganggaran untuk belanja bantuan sosial dimaksud harus dibatasi jumlahnya dan diberikan secara selektif.

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Pasal 42 1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf d digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang. (2) Hibah kepada perusahan daerah bertujuan untuk menunjang peningkatan pelayanan kepada masyarakat. 5) Pemberian hibah dalam bentuk uang atau dalam bentuk barang atau jasa dapat diberikan kepada pemerintah daerah tertentu sepanjang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. (3) Hibah kepada pemerintah daerah Iainnya bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan layanan dasar umum. Pasal 44 (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 bersifat bantuan yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus dan harus digunakan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam naskah perjanjian hibah daerah. (4) Hibah kepada badan/lembaga/organisasi swasta dan/atau kelompok masyarakat/perorangan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dalam penyelenggaraan pembangunan daerah. Pasal 43 (1) Hibah kepada pemerintah bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan fungsi pemerintahan di daerah. serta hibah kepada pemerintah daerah Iainnya dan kepada perusahaan daerah. 2) Pemberian hibah dalam bentuk uang dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja urusan wajib guna memenuhi standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. dan kelompok masyarakat/ perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. 3) Pemberian hibah dalam bentuk barang dapat dilakukan apabila barang tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis bagi pemerintah daerah yang bersangkutan tetapi bermanfaat bagi pemerintah atau pemerintah daerah lainnya dan/atau kelompok masyarakat/perorangan. 4) Pemberian hibah dalam bentuk jasa dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja urusan wajib guna memenuhi standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 45 . badan/lembaga/organisasi swasta dan/atau kelompok masyarakat/perorangan dikelola dengan mekanisme APBD sesuai dengan peraturan perundang-undangan. barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya. (2) Belanja hibah kepada pemerintah dikelola sesuai dengan mekanisme APBN.

(4) Bantuan kepada partai politik diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dianggarkan dalam bantuan sosial.(1) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf e digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. hibah. Penerima subsidi. Pasal 42 ayat (1). (3) Untuk memenuhi fungsi APBD sebagai instrumen keadilan dan pemerataan dalam upaya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. barang dan/atau jasa . Pasal 45 ayat (1). selektif dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya. (2) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tidak secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran. bantuan sosial. dan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1). dan Pasal 47 ayat (1) dilaksanakan atas persetujuan kepala daerah. dan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Pasal 133 (1) (2) (3) Pemberian subsidi. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 59 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH 9. hibah. ayat (3) dan ayat (4) dihapus serta diantara ayat (4) dan ayat (5) disisipkan 1 (satu) ayat baru yakni ayat (4a) sehingga Pasal 42 berbunyi sebagai berikut: Pasal 42 (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf d digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang. dan bantuan keuangan bertanggung jawab atas penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaannya kepada kepala daerah. bantuan sosial. bantuan dalam bentuk uang dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seiuruh kebutuhan belanja urusan wajib guna terpenuhinya standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. bantuan sosial. dan ayat (2). hibah. Ketentuan Pasal 42 ayat (1) diubah. Tata cara pemberian dan pertanggungjawaban subsidi.

. (4a) Belanja hibah diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. (2) Dihapus. jumlah uang yang dihibahkan. Ketentuan Pasal 43 ayat (4) diubah dan ditambahkan 1 (satu) ayat baru yakni ayat (5). (3) Hibah kepada pemerintah daerah Iainnya bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan layanan dasar umum. (3) Dihapus. sehingga Pasal 44 berbunyi sebagai berikut: Pasal 44 (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 bersifat bantuan yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus dan tidak wajib serta harus digunakan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam naskah perjanjian hibah daerah. (2) Dihapus. dan organisasi kemasyarakatan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya.kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya. (4) Hibah kepada masyarakat dan organisasi kemasyarakatan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi penyelenggaraan pembangunan daerah atau secara fungsional terkait dengan dukungan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 11. 10. sehingga Pasal 43 berbunyi sebagai berikut: Pasal 43 (1) Hibah kepada pemerintah bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan fungsi pemerintahan di daerah. (2) Hibah kepada perusahaan daerah bertujuan untuk menunjang peningkatan pelayanan kepada masyarakat. perusahaan daerah. (5) Pemberian hibah dalam bentuk uang atau dalam bentuk barang atau jasa dapat diberikan kepada pemerintah daerah tertentu sepanjang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. (3) Hibah yang diberikan secara tidak mengikat/tidak secara terus menerus diartikan bahwa pemberian hibah tersebut ada batas akhirnya tergantung pada kemampuan keuangan daerah dan kebutuhan atas kegiatan tersebut dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah. (5) Belanja hibah kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan pemerintah daerah kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap akhir tahun anggaran. masyarakat. (4) Naskah perjanjian hibah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya memuat identitas penerima hibah. (4) Dihapus. dan ayat (2) dihapus serta ditambah 2 (dua) ayat baru yakni ayat (3) dan ayat (4). Ketentuan Pasal 44 ayat (1) diubah. tujuan pemberian hibah. rasionalitas dan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.

tidak terus menerus/tidak mengikat serta memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. (4) Khusus kepada partai politik. Ketentuan Pasal 45 ayat (1) diubah dan ayat (4) dihapus. bantuan diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam bantuan sosial. tidak terus menerus/tidak mengikat serta memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. (3) Dihapus.12. . (3) Dihapus. dan disisipkan 1 (satu) ayat baru diantara ayat (2) dan ayat (3) yakni ayat (2a) serta ayat (3) dihapus. (4) Dihapus. (2) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan secara selektif. (2a) Bantuan sosial yang diberikan secara tidak terus menerus/tidak mengikat diartikan bahwa pemberian bantuan tersebut tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun anggaran. sehingga Pasal 45 berbunyi sebagai berikut: Pasal 45 (1) Belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf e digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan yang bersifat sosial kemasyarakatan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada kelompok/anggota masyarakat. sehingga Pasal 45 berbunyi sebagai berikut: Pasal 45 (1) Belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf e digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan yang bersifat sosial kemasyarakatan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada kelompok/anggota masyarakat. ayat (2) dan ayat (4) diubah. (2a) Bantuan sosial yang diberikan secara tidak terus menerus/tidak mengikat diartikan bahwa pemberian bantuan tersebut tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun anggaran. dan partai politik. Ketentuan Pasal 45 ayat (1). MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH 4. (2) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan secara selektif.

rasionalitas. kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. tidak mengikat dan tidak terus menerus setiap tahun anggaran. yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. perusahaan daerah. kepatutan. b. .  Hibah dapat diberikan kepada: a. Pemerintah. masyarakat dan organisasi kemasyarakatan.Permendagri Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bansos Yang Bersumber Dari APBD 1.  Pemberian hibah memenuhi kriteria paling sedikit: a. keluarga. Ketentuan Umum Pemberian Hibah menurut Permendagri Nomor 32 Tahun 2011  Pemberian hibah ditujukan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas keadilan. memenuhi persyaratan penerima hibah. dan c. Hibah kepada Pemerintah diberikan kepada satuan kerja dari kementerian/lembaga pemerintah non kementerian yang wilayah kerjanya berada dalam daerah yang bersangkutan. 2. b. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. serta tidak secara terus menerus yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan urusan pemerintah daerah. dan manfaat untuk masyarakat. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. peruntukannya secara spesifik telah ditetapkan. Hibah kepada pemerintah daerah lainnya diberikan kepada daerah otonom baru hasil pemekaran daerah sebagaimana diamanatkan peraturan perundang-undangan.  Bantuan Sosial adalah pemberian bantuan berupa uang/barang dari pemerintah daerah kepada individu. tidak wajib. Pemerintah Daerah Lainnya. Pengertian Hibah dan Bantuan Sosial menurut Permendagri Nomor 32 Tahun 2011  Hibah adalah pemberian uang/barang atau jasa dari pemerintah daerah kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya.

keagamaan. dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil sebagai akibat dari krisis sosial. keagamaan. e. kesehatan. atau fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. dan bidang lain yang berperan untuk melindungi individu. politik. Ketentuan Umum Pemberian Bantuan Sosial menurut Permendagri Nomor 32 Tahun 2011  Pemerintah daerah dapat memberikan bantuan sosial kepada anggota/kelompok masyarakat sesuai kemampuan keuangan daerah. Masyarakat. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. pendidikan. berkedudukan dalam wilayah administrasi pemerintah daerah yang bersangkutan. b. Kriteria selektif diartikan bahwa bantuan sosial hanya diberikan kepada calon penerima yang ditujukan untuk melindungi dari kemungkinan resiko sosial. dan b. keluarga. d. lembaga non pemerintahan bidang pendidikan.  Hibah kepada organisasi kemasyarakatan diberikan dengan persyaratan paling sedikit: a. Selektif. kelompok. memiliki kepengurusan yang jelas. b. memiliki sekretariat tetap. individu. dan/atau Hibah kepada masyarakat diberikan kepada kelompok orang yang memiliki kegiatan tertentu dalam bidang perekonomian. dan c. dan keolahragaan non-profesional. Hibah kepada perusahaan daerah diberikan kepada Badan Usaha Milik Daerah dalam rangka penerusan hibah yang diterima pemerintah daerah dari Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hibah kepada organisasi kemasyarakatan diberikan kepada organisasi kemasyarakatan yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan. Perusahaan Daerah.  Anggota/kelompok masyarakat yang dimaksud meliputi: a. bencana. ekonomi. adat istiadat. telah terdaftar pada pemerintah daerah setempat sekurang-kurangnya 3 tahun.  Hibah kepada masyarakat diberikan dengan persyaratan paling sedikit: a. kesenian.c. berkedudukan dalam wilayah administrasi pemerintah daerah yang bersangkutan. Organisasi Kemasyarakatan. dan/atau masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. . 3.  Pemberian bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) memenuhi kriteria paling sedikit: a.

keluarga. Jaminan sosial merupakan skema yang melembaga untuk menjamin penerima bantuan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Pemberdayaan sosial ditujukan untuk menjadikan seseorang atau kelompok masyarakat yang mengalami masalah sosial mempunyai daya. dan b. Memenuhi persyaratan penerima bantuan. Perlindungan sosial. Bersifat sementara dan tidak terus menerus. kelompok masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat dipenuhi sesuai dengan kebutuhan dasar minimal. Penanggulangan kemiskinan. keluarga. o Kriteria sesuai tujuan penggunaan diartikan bahwa tujuan pemberian bantuan sosial meliputi: a. berdomisili dalam wilayah administratif pemerintahan daerah berkenaan. e. kelompok masyarakat yang tidak mempunyai atau mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak bagi kemanusiaan. Penanggulangan bencana merupakan serangkaian upaya yang ditujukan untuk rehabilitasi. Jaminan sosial. o Kriteria bersifat sementara dan tidak terus menerus diartikan bahwa pemberian bantuan sosial tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun anggaran. c. d. dan kegiatan yang dilakukan terhadap orang. Penanggulangan bencana. f. program. b. Rehabilitasi sosial. Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan. Rehabilitasi sosial ditujukan untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. kecuali dalam keadaan tertentu dapat berkelanjutan. sehingga mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. o Keadaan tertentu dapat berkelanjutan diartikan bahwa bantuan sosial dapat diberikan setiap tahun anggaran sampai penerima bantuan telah lepas dari resiko sosial. d.b. Kriteria persyaratan penerima bantuan meliputi: a. c. Pemberdayaan sosial. memiliki identitas yang jelas. 22:30:38 WIB oleh Admin . Perlindungan sosial ditujukan untuk mencegah dan menangani resiko dari guncangan dan kerentanan sosial seseorang. Sesuai tujuan penggunaan. Bontang Perketat Verifikasi Proposal Hibah Bansos Komentar (0) 11 September 2011.

(kalimantan-news) . maksud dan tujuan). kepemudaan. kemanusiaan. Kabid Keuangan DPPKA Agus Rudiansyah menambahkan. sekarang selain verifikasi administrasi juga verifikasi lapangan dengan pengaturan ketentuan melalui Peraturan Wali Kota Nomor 10 tentang Tata Cara dan Pertanggungjawaban Bantuan Sosial. ktp pengurus." kata Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA). Prosedur usulan anggaran melalui dua pintu. rencana anggaran biaya. perempuan dan HIV/AIDS. pertama wali kota atau anggota dewan. Beberapa waktu lalu. Penyaluran bantuan sosial (bansos). menurut Zakaria. "Hingga saat ini sebanyak 13 proposal hibah telah cair. Kalimantan Timur. bansos mulai ditertibkan melalui perwali yang mengacu pada Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan. Proposal bansos meliputi surat permohonan. profil organisasi. hingga saat ini termasuk bantuan sosial (bansos). keagamaan. pendahuluan (latar belakang. karena baru mulai tahun ini. anggaran rumah tangga organisasi. Zakaria di Bontang. akta notaris." kata Dasuki.Print Kalimantan Timur-BONTANG.Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Bontang. rekening bank dan denah lokasi. rekomendasi instansi terkait. jika bantuan kurang dari Rp100 juta maka proses melalui Bagian Sosial karena masuk kategori bansos dan jika bantuan melebihi Rp100 juta masuk kategori hibah dan proses melaui DPPKA. Kabag Sosial. Senin Peraturan wali kota (perwali) tentang hibah saat ini. sedang dalam perbaikan di Bagian Hukum Serekretariat Daerah Pemkot Bontang. Tahun ini bansos yang disalurkan Bagian Sosial mencapai Rp24 miliar dengan klasifikasi bidang pendidikan. (das/ant) . "Ini memang baru. Kabag Sosial berharap setidaknya ada dampak positif melalui ketaatan terhadap aturan bansos untuk menghindari penyalahgunaan bansos oleh lembaga atau organisasi masyarakat yang tidak bertanggung jawab. surat keterangan terdaftar. tentunya setelah melalui verifikasi dan ke-13 kelembagaan penerima dana hibah menunjukkan kewajaran dengan memiliki sekretariat dan program jelas. surat keterangan domisili. melakukan verifikasi administrasi dan lapangan secara ketat terhadap proposal hibah bantuan sosial mengingat adanya kasus bantuan yang fiktif. pencairan telah mencapai 100 lebih kelembagaan. susunan kepengurusan. jadwal pelaksanaan kegiatan. Dasuki menjelaskan. sosial.

dan b. jangan sampai terjadi duplikasi anggaran. Hal ini penting untuk diatur. dan keolahragaan non-profesional. yaitu Pasal 133 (3). agar ada kepastian berapa batas maksimal hibah dan bansos yang diberikan oleh Pemda. bansos dan bantuan keuangan sudah ada sejak Permendagri 13/2006 diterbitkan. kesehatan. pengaturan selanjutnya dengan Peraturan Kepala Daerah. Hal ini harus diperjelas karena terkait dengan siklus penyusunan APBD dan waktu yang dibutuhkan untuk proses verifikasi oleh SKPD (sangat mungkin jumlah proposal yang banyak).  Waktu penyampaian pengajuan proposal hibah dan bansos. Besaran maksimal agar disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan juga jenis kegiatan yang diajukan. apakah dengan Permendagri 32/2011 ini sudah cukup mengakomodir dalam penyusunan PerKDH tentang Hibah dan Bansos? Jika belum.Penyusunan PerKDH Hibah dan Bansos Posted on 2011/10/11 by Riris Sebenarnya amanah bagi Pemda untuk menyusun peraturan kepala daerah tentang hibah. Yang harus diperhatikan adalah. keagamaan. adat istiadat. belanja BANTUAN SOSIAL serta belanja BANTUAN KEUANGAN ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Permendagri memang tidak akan mengatur secara detail dan rigid. Permendagri 32/2011 menyatakan hibah dapat berikan kepada kelompok orang yang memiliki kegiatan tertentu dalam bidang perekonomian. kesenian. maka dalam Permendagri 22/2011 tentang Pedoman Penyusunan APBD TA 2012 dinyatakan bahwa pemerintah daerah HARUS menyusun sistem dan prosedur penganggaran. Apakah kegiatan yang diajukan sudah pernah atau sedang dilaksanakan oleh SKPD. jika Pemda sudah membuat PerKDH tersebut agar disesuaikan dengan Permendagri 32/2011.  “Masyarakat” dalam penerima hibah. berkedudukan dalam wilayah administrasi pemerintah daerah yang bersangkutan. Jika hal ini tidak diatur maka akan sangat mungkin akan terjadi rasa ketidak adilan. pendidikan. . Dengan persyaratan paling sedikit: a. Artinya. hal-hal apa saja yang perlu ditegaskan dan ditambahkan? Beberapa hal yang perlu diatur lebih detail dan rigid dalam PerKDH tentang Hibah dan Bansos adalah:  Batas maksimal hibah dan bansos. tetapi karena masih ada beberapa Pemda yang belum menetapkan PerKDH tersebut. memiliki kepengurusan yang jelas. pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja HIBAH. jika belum menyusun HARUS segera menyusun PerKDH tersebut.

siapa yang menyatakan bahwa kelompok itu memiliki kepengurusan yang jelas? Bukankah hal ini perlu diatur.  Mekanisme Pengadaan Barang dan Jasa terkait dengan hibah uang yang lebih dari 100 juta. Pasal 15 Permendagri 32/2011 menyatakan Pengadaan barang dan jasa dalam rangka hibah berpedoman pada peraturan perundang-undangan. sekda dan pimpinan DPRD memberikan janji hibah dan bansos tanpa melihat regulasi yang berlaku. Hal ini perlu ditegaskan.Jadi sangat memungkinkan bila proposal disediakan oleh Pemda dalam bentuk blanko kosong. kedua apakah bentuk dan kerumitan proposal bansos yang diajukan oleh individu/keluarga harus sama kerumitannya dengan proposal dalam pengajuan hibah? Sebab individu ato keluarga benlum tentu mampu menyusun proposal. ato berlaku antrian.  Kemudahan pertanggunjawaban bansos yang kurang dari 5 juta. Apakah hal ini diartikan bahwa penerima hibah dalam membelanjakan uang harus mengikuti perpres 54/2010? Klo ya. Artinya untuk BMD yang statusnya milik pemda dan peruntukkannya dari awal memang . Permendagri 32/2011 mengatur hibah dan bansos berupa barang yang harus dianggarkan terlebih dahulu. jangan disamakan dengan mekanisme pertanggungjawaban hibah. Jika lelang. misalnya harus mendaftar di Kecamatan. untuk hibah yang lebih dari 100 juta harus lelang. ato cukup di Keluruhan ato Desa?  Kemudahan pengajuan proposal bansos yang kurang dari 5 juta. jika ya. sehingga individu/keluarga tinggal mengisi. Bagaimana dengan warga yang memerlukan 1 hari perjalanan untuk menuju kota/ kantor SKPD dan hanya mengajukan kurang dari 5 juta. apakah salah satu penentuan prioritas pemberian hibah dan bansos bisa berdasarkan sistem antrian pegajuan proposal. Hal ini harus diperhatikan. Apakah hal ini sebanding? apakah memungkinkan proposal bansos dikirimkan via pos?. Harus diperhatikan bahwa. berarti proposal yang sudah berlalu tetap harus diperhatikan. tingkat kesulitan untuk mencapai kota atau kantor SKPD juga berbeda2. pertama kondisi geografis daerah di Indonesia yang bermacam2. Bagaimana mengantisipasi hal tersebut?  Hibah barang yang sudah tersedia (barang lama). Dalam hal tertentu ini perlu dipermudah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan standar harga yang tercantum dalam proposal tersebut? Apakah perlu diperbarui?  Apakah pemda boleh memberikan hibah dan bansos tanpa adanya proposal. Sebab bisa jadi bagi individu ato keluarga tidak akan sebanding antara nilai yang diperoleh dengan tingkat kesulitan dalam menyusun pertanggungjawaban penggunaan dana bansos tersebut. Bukan hibah dan bansos barang yang sudah tersedia (barang lama) di Pemda. siapa yang menjadi panitia lelang? Apakah Pemda harus menyediakan juga?  Apakah proposalnya harus baru.Terkait dengan huruf a dan b diatas. sebab seringkali kepala daerah.

Referensi: 1.digunakan oleh Pemda maka untuk bisa dilakukan hibah harus mengikuti aturan Permendagri 17/2007 tentang Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah. 2. 7. 3. 4. Tentu saja. pengaturan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Semoga bermanfaat. 6. 5. PP 58/2005 PP 24/2005 Permendagri 13/2006 permendagri 17/2007 Permendagri 59/2007 permendagri 21/2011 Permendagri 32/2011 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->