BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Evaluasi merupakan salah satu cara dan bukti untuk mengetahui keberhasilan dari suatu pendidikan. Evaluasi pendidikan sering diartikan sebagai pengukuran atau penilaian hasil belajar dan mengajar. Walaupun di antara keduanya mempunyai pengertian yang berbeda, tapi diantara keduanya masih saling berhubungan. Mengukur adalah membandingan sesuatu dengan satu ukuran (kuantitatif), sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik atau buruk (kualitatif). Bahwa dalam suatu kelompok individu yang tidak dapat dipilih secara khusus memiliki karakteristik tertentu yang frekuensinya

berdistribusi normal. Begitu juga kepandaiannya dalam mata pelajaran tertentu. Dengan demikian suatu alat evaluasi yang baik, akan mencerminkan kemampuan sebenarnya dari siswa yang dievaluasi dan dapat membedakan kemampuan siswa yang diatas rata-rata, yang sedang, dan yang dibawah rata-rata, sedangkan penyebaran skor akan berdistribusi normal. Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang baik diperlukan alat evaluasi yang baik pula, disamping faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Untuk mendapatkan alat evaluasi yang kualitas alatnya baik perlu diperhatikan kriteria yang harus dipenuhi. Alat evaluasi yang baik dapat ditinjau dari validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya

pembedanya yang baik pula. Penilaian tersebut juga meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan sedikit ilmu yang di miliki oleh penulis, maka penulis ingin mengajak segenap civitas akademik untuk berdiskusi serta

1

membahas permasalahan yang terkait dengan asas- asas filsafat pendidikan yang terangkum dalam sebuah makalah sederhana yang penulis memberikan judul dengan “Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar” Sebelum penulis mengakhiri latar belakang yang penulis sampaikan kiraanya kita mengingat kembali suatu goresan tinta pepatah yang berbunyi “ tiada gading yang tak retak” suatu goresan nan penuh makna ini bukan berarti tiada subtansi atau makna yang terkandung didalamnya. Bahwasanya penulis menyadari,semua yang ada di dunia ini tiada yang sempurna kecuali Allah SWT. Penulis mungucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para civitas akademik yang berkenan membaca dan mengoreksi makalah sederhana ini, apabila banyak kekurangan dan kesalahan yang berarti, penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya dan mohon nasihat agar makalah yang selanjutnya lebih baik dan lebih bermanfaat. Amien. B. RUMUSAN MASALAH Adapun yang menjadi pokok permasalahan diatas adalah sebagai berikut: a. Apa yang dimaksud dengan Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar ? b. Apa manfaat Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar ? c. Apa yang dimaksud Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Kognitif, Afektif dan Psikomotorik ? C. TUJUAN DAN MANFAAT PANULISAN 1. Tujuan Tujuan kami menulis makalah yang berjudul “Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar” ini ialah

2

a.

Mengetahui arti/ makna Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar.

b.

Mengetahui manfaat dai Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar.

c.

Mengetahui Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Kognitif, Afektif dan Psikomotorik.

2. Manfaat Melihat tujuan-tujuan dari penulisan makalah sederhana ini kita bisa mengambil beberapa manfaat yang subtansional

diantaranya : a. Mengetahui bagaimana cara menganalisis instrumen

evaluasi hasil belajar. b. Menambah wawasan terutama civitas akademik dan calon pendidik tentang Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar. D. Metodologi penulisan Penulis mempergunakan metode observasi dan kepustakaan. Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah : Studi Pustaka Dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini.

3

BAB II PEMBAHASAN A. serta lembar angket. penafsiran. Pembagian ini berdasarkan pada bentuk pertanyaanya. Bentuk bentuk instrumen evaluasi untuk teknik evaluasi jenis non-ujian adalah pedoman observasi. 2 Mulyasa. Pengantar Evaluasi Pendidikan. 170. pedoman wawancara untuk teknik evaluasi wawancara. dan pertimbangan untuk memberikan informasi tentang tingkat hasil belajar yang dicapai peserta didik. Instrumen evaluasi untuk ujian adalah soal. ( Bandung: PT. skala sikap untuk teknik evaluasi Anas Sudijono. Remaja Rosda Karya. 2005). Implementasi Kurikulum 2004. Raja Grafindo Persada. afektif dan psikomotor. Pendalaman Pembelajaran KBK. 1996). Instrumen evaluasi hasil belajar adalah alat yang dipakai untuk mengambil atau merekam data hasil belajar. hal. 1 4 . hal. pengolahan. daftar cek. Sedangkan evaluasi mempunyai pengertian keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi.1 Pengertian instrumen dalam lingkup evaluasi didefinisikan sebagai perangkat untuk mengukur hasil belajar siswa yang mencakup hasil belajar dalam ranah kognitif.2 Instrumen evaluasi hasil belajar dibagi menjadi instrumen evaluasi bentuk soal atau tes dan bentuk non-soal atau non-tes. (Jakarta: PT. yang dapat berupa soal bentuk objektif atau soal bentuk uraian. 51. skala lajuan untuk teknik evaluasi observasi. Pengertian Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara atau bagianbagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor yang lain.

Afektif dan Psikomotorik) c.angket. f. d. Instrumen evaluasi hasil belajar berbentuk soal atau tes dan bentuk nonsoal atau non-tes. Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik. hal. Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi. yaitu: a. Remaja Rosdakarya. kompentensi afektif dan kompetensi psikomotorik. e. misalnya dengan tes atau non-tes. 2009). Menetukan tolak ukur. Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri. seperti butir-butir soal tes hasil belajar. Menyusun rencana evaluasi belajar. Zaenal Arifin. Sebagaimana kita ketahui bahwasanya hasil belajar meliputi kompetensi kognitif. 2. namun pada umumnya para pakar dalam bidang evaluasi pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar kedalam enam langkah pokok yaitu: 1. norma atauk riteria yang akan di jadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi. Menghimpun data. 3. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya mencakup enam jenis kegiatan. Evaluasi Pembelajaran Prinsip-Teknik-Prosedur. (Bandung: PT. Melakukan verifikasi data.3 Sekalipun tidak sama. b. Menetapkan aspek-aspek yang akan di evaluasi (Kognitif. 117. 3 5 .

Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Kognitif Dalam evaluasi hasil belajar kognitif sesuai dengan taksonomi Bloom. Dalam menyusun instrumen evaluasi hasil belajar kognitif kita bisa memberikan instrumen-isnstrumen tersebut sesuai aspek atau ranah belajar kognitif. Siswa hanya dituntut kesanggupan mengingatnya sehingga jawabannya mudah ditebak. 6 . Tipe hasil belajar Pengetahuan Dalam hal pengetahuan kita bisa menyusun tes pengetahuan hafalan. Dilihat dari segi bentuknya. tipe isisan. 1996). tes yang paling banyak dipakai untuk mengungkapkan aspek pengetahuan adalah tipe melengkapi. 59-62. aplikasi analisis. Karena kurang dipersiapkan dengan baik.4. Ternyata sukar menusun item ini. 4 (Jakarta: PT. Pengantar Evaluasi Pendidikan.4 B. dan evaluasi. banyak item tes yang ditulis secara tergesa-gesa sehingga terperosok kedalam pengunkapan pengetahuan hafalan saja. 6. Aspek yang ditanyakan biasanya fakta-fakta seperti nama orang. hal. dan tipe benar-salah. sintesis. Raja Grafindo Persada. rumus istilah batasan. Anas Sudijono. mempunyai enam ranah yakni pengetahuan. pemahaman. tempat. malahan para penyusun tes ujian belajar tidak sengaja banyak tergelincir atau terperosok masuk kedalam kawasan ini. Mengolah dan menganilis data. Memberikan interpretasi data. Tindak lanjut evaluasi. 1. atau hukum. teori. 5.

yakni: a. Tipe belajar aplikasi Contoh tipe aplikasi dalam rangka menyusun item tes tentang aplikasi. frase-frase atau pertanyaan-pertanyaan kriteria analitik tertentu. 3. tetapi materinya beda. Dalam tes objektif. Tipe hasil belajar pemahaman Dalam menyusun item tes pemahaman. Siswa dapat menetapkan prinsip atau generalisasi yang sesuai untuk situasi baru yang dihadapi. Misalnya mengungkapkan tema. topik. atau masalah yang sama dengan yang pernah dipelajari atau diajarkan. Siswa dapat mengenali hal-hal yang khusus yang terpampang dari prinsip dan generalisasi.2. Dapat mengklasifikasikan kata-kata. b. Tipe hasil belajar Analisis. d. tipe pilihan ganda dan tipe benar salah banyak mengungkapkan aspek pemahaman. a. Siswa dapat memberikan spesifikasi batas-batas relevansi suatu prinsip atau generalisasi. Siswa dapat menyusun problemnya sehingga dapat menetapkan prinsip atau generalisasi mana yang sesuai. c. denah. dengan menggunakan 7 . 4. Sebagian item pemahaman dapat disajikan dalam gambar. karakteristik soal-soal pemahaman sangat mudah dikenal. diagram atu grafik. Dalam membuat item tes kecakapan analisis perlu mengenal berbagai kecakapan yang termasuk klasifikasi analisis.

atau bentuk-bentuk lainnya. skema. 6. data. tujua materi yang dihadapinya. kerangka acuan. hipotesis. 5. Dapat meramalkan sudut pandangan. Tipe ketiga: adalah kemampauan mengabtrasikan sejumlah besar gejala. Tipe kedua: adalah kemampuan menyusun rencana atau langkah-langkah operasi dari suatu tugas atau problem yang diketengahkan.b. 8 . Tipe hasil belajar evaluasi Kecakapan siswa dalam hal evaluasi setidak-tidaknya dapat dikategorikan dalam beberapa tipe diantaranya : a. Tipe pertama: adalah kemampuan menemukan hubungan yang unik. b. dan hasil observasi menjadi terarah. Dapat meramalkan sifat-sifat khusus tertentu yang tidak disebutkan secara jelas. proporsional. b. Dapat memberikan evaluasi tentang tentang ketepatan suatu karya atau dokumen. Dapat mengevaluasi suatu karya dengan memperbandingkannya dengan karya lain yang relevan. c. Tipe hasil belajar sintesis Kecakapan sintesis dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe. a. model. c.

yaitu: 1. afektif. Instrumen penilaian afektif meliputi lembar pengamatan sikap. menulis instrumen 3. Ada 11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen penilaian afektif.5 C. Raja Grafindo Persada. Menurut Andersen (1980) ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengukur ranah afektif. Jadi tindakan atau perbuatan seseorang ditentukan oleh watak dirinya dan kondisi lingkungan. konsep diri. 1980).c. Isi dan validitas konstruk ranah afektif tergantung pada definisi operasional yang secara langsung mengikuti definisi konseptual. 1990). yaitu metode observasi dan metode laporan diri. Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Afektif Dalam memilih karakterisitik afektif untuk pengukuran. Masalah yang timbul adalah bagaimana ranah afektif akan diukur. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. 23-29. perilaku seseorang merupakan fungsi dari watak (kognitif. para pengelola pendidikan harus mempertimbangkan rasional teoritis dan program sekolah. dan moral. menentukan skala instrumen Nana Sudjana. hal. Dapat mengevaluasi tentang suatu karya dengan menggunakan sejumlah kriteria yang ekplisit. (Bandung: PT. Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. 5 9 . nilai. minat. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau reaksi psikologi. Menurut Lewin (dalam Andersen. dan psikomotor) dan karakteristik lingkungan saat perilaku atau perbuatan ditampilkan. menentukan spesifikasi instrumen 2. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri.

Peserta didik melakukan evaluasi secara objektif terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Sikap terhadap mata pelajaran bisa positif bisa negatif. (3) konsep diri. misalnya terhadap kegiatan sekolah. Hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat.4. dan sebagainya. (2) minat. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh. menganalisis hasil ujicoba 9. melaksanakan pengukuran 11. Instrumen sikap Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran. merakit instrumen 7. a. b. menafsirkan hasil pengukuran 1. yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran. pendidik. Instrumen konsep diri Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Spesifikasi instrumen Ditinjau dari tujuannya ada lima macam instrumen pengukuran ranah afektif. menentukan pedoman penskoran 5. yaitu instrumen (1) sikap. Karakteristik potensi peserta didik sangat penting untuk menentukan jenjang karirnya. memperbaiki instrumen 10. dan (5) moral. melakukan ujicoba 8. mata pelajaran. (4) nilai. c. 10 . menelaah instrumen 6.

11 . (2) kisi-kisi instrumen. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif.d. Setelah menetapkan tujuan pengukuran afektif. Dalam menyusun spesifikasi instrumen perlu memperhatikan empat hal yaitu (1) tujuan pengukuran. Kisi-Kisi Instrumen Afektif NO Indikator Jumlah Butir Pertanyaan/pernyataan Skala Anas Sudijono. Instrumen nilai Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan peserta didik. 139. dan (4) panjang instrumen. Hasil pengamatan dan hasil kuesioner menjadi informasi tentang moral seseorang. Selanjutnya mengembangkan definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar. Spesifikasi Instrumen Tabel 1. Spesifikasi Instrumen adalah sesuatu yang didalamnya dimuat rincian materi tes dan tingkah laku beserta proporsi yang dikehendaki tester. Indikator merupakan pedoman dalam menulis instrumen. 6 (Jakarta: PT. kegiatan berikutnya adalah menyusun kisi-kisi instrumen. Informasi moral seseorang diperoleh melalui pengamatan terhadap perbuatan yang ditampilkan dan laporan diri melalui pengisian kuesioner. 1996). (3) bentuk dan format instrumen. Tiap indikator bisa dikembangkan dua atau lebih instrumen. merupakan matrik yang berisi spesifikasi instrumen yang akan ditulis. Raja Grafindo Persada. e. Instrumen moral Instrumen moral bertujuan untuk mengungkap moral. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. yaitu kompetensi yang dapat diukur. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. hal.6 Langkah pertama dalam menentukan kisi-kisi adalah menentukan definisi konseptual yang berasal dari teori-teori yang diambil dari buku teks. Kisi-kisi (blue-print). 2.

12 . Objek bisa berupa kegiatan atau mata pelajaran. Contoh indikator sikap terhadap mata pelajaran matematika misalnya. atau suatu kebijakan.       Membaca buku matematika Mempelajari matematika Melakukan interaksi dengan guru matematika Mengerjakan tugas matematika Melakukan diskusi tentang matematika Memiliki buku matematika Contoh pernyataan untuk kuesioner:  Saya senang membaca buku matematika  Tidak semua orang harus belajar matematika . Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek. Instrumen sikap Definisi konseptual: Sikap merupakan kecenderungan merespon secara konsisten baik menyukai atau tidak menyukai suatu objek. Pertanyaan tentang sikap meminta responden menunjukkan perasaan yang positif atau negatif terhadap suatu objek. Definisi operasional: sikap adalah perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek. misalnya kegiatan sekolah. Kata-kata yang sering digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan arah perasaan seseorang. Sikap bisa positif bisa negatif.1 2 3 4 5 a. diingini-tidak diingini. baik-buruk. menerima-menolak. menyenangi-tidak menyenangi. Cara yang mudah untuk mengetahui sikap peserta didik adalah melalui kuesioner.

b. konsep. Instrumen konsep diri 13 .  Saya berusaha mengerjakan soal-soal matematika sebaikbaiknya. Definisi operasional: Minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek.  Memiliki buku matematika penting untuk semua peserta didik. Definisi konseptual: Minat adalah keinginan yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek. Contoh indikator minat terhadap pelajaran matematika:     Memiliki catatan pelajaran matematika. Saya jarang bertanya pada guru tentang pelajaran matematika. Berusaha memahami matematika Memiliki buku matematika Mengikuti pelajaran matematika Contoh pernyataan untuk kuesioner: • Catatan pelajaran matematika saya lengkap • Catatan pelajaran matematika saya terdapat coretan-coretan tentang hal-hal yang penting • Saya selalu menyiapkan pertanyaan sebelum mengikuti pelajaran matematika • Saya berusaha memahami mata pelajaran matematika • Saya senang mengerjakan soal matematika. aktivitas. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap suatu mata pelajaran yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran tersebut. dan keterampilan untuk tujuan mendapatkan perhatian atau penguasaan. • Saya berusaha selalu hadir pada pelajaran matematika c.  Saya tidak senang pada tugas pelajaran matematika.

Contoh indikator konsep diri:     Memilih mata pelajaran yang mudah dipahami Memiliki kecepatan memahami mata pelajaran Menunjukkan mata pelajaran yang dirasa sulit Mengukur kekuatan dan kelemahan fisik Contoh pernyataan untuk instrumen:         Saya sulit mengikuti pelajaran matematika Saya mudah memahami bahasa Inggris Saya mudah menghapal suatu konsep. ada yang menyukai pelajaran seni tari dan ada yang tidak. ada peserta didik yang menyukai pelajaran keterampilan dan ada yang tidak. Saya mampu membuat karangan yang baik Saya merasa sulit mengikuti pelajaran fisika Saya bisa bermain sepak bola dengan baik Saya mampu membuat karya seni yang baik Saya perlu waktu yang lama untuk memahami pelajaran fisika. Instrumen nilai Nilai merupakan konsep penting dalam pembentukan kompetensi peserta didik. Kegiatan yang disenangi peserta didik di sekolah dipengaruhi oleh nilai (value) peserta didik terhadap kegiatan tersebut. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh oleh peserta didik. Misalnya.Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. 14 . d. Definisi operasional konsep diri adalah pernyataan tentang kemampuan diri sendiri yang menyangkut mata pelajaran. Definisi konsep: konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang menyangkut keunggulan dan kelemahannya.

Kemungkinan ada yang berkeyakinan bahwa prestasi peserta didik sulit ditingkatkan atau ada yang berkeyakinan bahwa guru sulit melakukan perubahan. • Saya berkeyakinan bahwa peserta didik yang ikut bimbingan tes cenderung akan diterima di perguruan tinggi. Definisi konseptual: Nilai adalah keyakinan terhadap suatu pendapat. Misalnya keyakinan akan kemampuan peserta didik dan kinerja guru. • Saya berkeyakinan bahwa hasil yang dicapai peserta didik adalah atas usahanya. Nilai seseorang pada dasarnya terungkap melalui bagaimana ia berbuat atau keinginan berbuat.Semua ini dipengaruhi oleh nilai peserta didik. Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan individu. 15 . atau objek. Hal-hal yang positif ditingkatkan sedang yang negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. • Saya berkeyakinan sekolah tidak akan mampu mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat. Contoh indikator nilai adalah:     Memiliki keyakinan akan peran sekolah Menyakini keberhasilan peserta didik Menunjukkan keyakinan atas kemampuan guru. yaitu yang berkaitan dengan penilaian baik dan buruk. sikap dan aktivitas atau tindakan seseorang. Mempertahankan keyakinan akan harapan masyarakat Contoh pernyataan untuk kuesioner tentang nilai peserta didik: • Saya berkeyakinan bahwa prestasi belajar peserta didik sulit untuk ditingkatkan. Nilai berkaitan dengan keyakinan. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif. Tindakan seseorang terhadap sesuatu merupakan refleksi dari nilai yang dianutnya. Definisi operasional nilai adalah keyakinan seseorang tentang keadaan suatu objek atau kegiatan. • Saya berkeyakinan bahwa perubahan selalu membawa masalah. • Saya berkeyakinan bahwa kinerja pendidik sudah maksimal. kegiatan.

 Bila berjanji pada anak kecil.  Bila bertemu guru. saya selalu memberikan salam. Skala Instrumen Penilaian Afektif http://www. Menunjukkan komitmen terhadap tugas-tugas. Instrumen Moral Instrumen ini bertujuan untuk mengetahui moral peserta didik.  Bila menghadapi kesulitan.  Bila bertemu teman. saya selalu menyapanya walau ia tidak melihat saya.  Saya selalu bercerita hal yang menyenangkan teman. saya berusaha menepatinya. minat.  Bila berjanji kepada orang yang lebih tua. dan nilai dapat digali melalui pengamatan. saya selalu meminta bantuan orang lain.7 3. sikap. d. perlu ditentukan dulu indikator substansi yang akan diukur. walau ia tidak melihat saya.05 WIB. tidak harus menepati. Untuk mengetahui keadaan ranah afektif peserta didik. 07 April 2012.  Kesulitan orang lain merupakan tanggung jawabnya sendiri.  Bila ada orang lain yang menghadapi kesulitan. saya tidak selalu mempercayainya.Selain melalui kuesioner ranah afektif peserta didik.  Bila ada orang yang bercerita. konsep diri. saya berusaha membantu. Contoh pernyataan untuk instrumen moral  Bila saya berjanji pada teman. Memiliki Kejujuran . Contoh indikator moral sesuai dengan definisi tersebut adalah:     Memegang janji. 7 16 . dan pendidik harus mencatat setiap perilaku yang muncul dari peserta didik yang berkaitan dengan indikator tersebut. saya tidak harus menepatinya. walau tidak seluruhnya benar.penilaian ranah afektif. pukul 14. Pengamatan karakteristik afektif peserta didik dilakukan di tempat dilaksanakannya kegiatan pembelajaran.html/ diakses pada hari : Sabtu. Memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar. meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya. 4. Contohnya mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung. meliputi merespon secara diam-diam. kerelaan. memahami hubungan abstrak. Mengorganisasi. 2. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif. merasa puas dalam merespon. 2006). Menghargai. Merespon. Skala Likert. 17 . (Jakarta: Bumi Aksara. meliputi menerima suatu nilai. mengorganisasi sistem suatu nilai. 3. 8 7 6 5 4 3 2 1 Suharsimi Arikunto. Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu: a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim.8 Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran sejarah Tabel 2. karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: 1. 139. b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan. gejala. mengarahkan perhatian. Karakteristik suatu nilai. mengutamakan suatu nilai. komitmen terhadap nilai. dan Skala Beda Semantik. bersedia merespon. hal. Menerima (memperhatikan). mematuhi peraturan. Skala Thurstone Saya senang balajar sejarah Pelajaran sejarah bermanfaat Pelajaran sejarah membosankan Dst…. kesadaran. meliputi kepekaan terhadap kondisi. meliputi mengkonseptualisasikan nilai.

Sistem penskoran 18 . Lembar Penilaian Diri Siswa No Deskripsi 1 Saya lebih suka membaca dibandingkan dengan melakukan hal-hal lain 2 Banyak yang dapat saya ambil hikmah dari buku yang saya baca 3 Saya lebih banyak membaca untuk waktu luang saya 4 Dst…………. Pelajaran sejarah bermanfaat 1. Skala Likert 1. Tidak semua harus belajar sejarah 1.. Sekolah saya menyenangkan SS S T STS Keterangan: SS : Sangat setuju S : Setuju TS : Tidak setuju STS : Sangat tidak setuju Contoh Lembar Penilaian Diri Siswa Minat Membaca Nama Pembelajar:_____________________________ Tabel 4. Ya/Tidak 4.Contoh Skala Likert: Minat terhadap pelajaran sejarah Tabel 3. Pelajaran sejarah sulit 1.

c) butir peranyaaan/pernyataan tidak bias. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik. Hasil telaah selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen. tertinggi 7 terendah. Untuk skala Likert. maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan skor terendah 1. d) format instrumen menarik untuk dibaca. Panjang instrumen berhubungan dengan masalah kebosanan. yaitu tingkat kejemuan dalam mengisi instrumen. Untuk menghindari hal tersebut skala Likert dimodifikasi dengan hanya menggunakan 4 (empat) pilihan. Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban pada katergori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert.Sistem penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. e) pedoman menjawab atau mengisi instrumen jelas. dan pemilihan kata-kata. Telaah dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan lebih baik bila ada pakar penilaian. Bahasa yang digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat pendidikan responden. struktur pertanyaan. pada awalnya skor tertinggi tiap butir 5 dan terendah 1. Langkah pertama dalam menulis suatu pertanyaan/ pernyataan adalah informasi apa yang ingin diperoleh. Pertanyaan yang diajukan jangan sampai 19 . Skor perolehan perlu dianalisis untuk tingkat peserta didik dan tingkat kelas. yaitu dengan mencari rerata (mean) dan simpangan baku skor. b) bahasa yang digunakan komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang benar. dan f) jumlah butir dan/atau panjang kalimat pertanyaan/pernyataan sudah tepat sehingga tidak menjemukan untuk dibaca/dijawab. Apabila digunakan skala Thurstone. 1. Lama pengisian instrumen sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Telaah instrumen Kegiatan pada telaah instrumen adalah menelaah apakah: a) butir pertanyaan/ pernyataan sesuai dengan indikator. Selanjutnya ditafsirkan hasilnya untuk mengetahui minat masing-masing peserta didik dan minat kelas terhadap suatu mata pelajaran. agar jelas sikap atau minat responden. 5. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen.

Contoh pertanyaan yang bias: Sebagian besar pendidik setuju semua peserta didik yang menempuh ujian akhir lulus. 6. Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang menempuh ujian akhir lulus semua? Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kata-kata untuk suatu kuesioner. yaitu: a. Hasil telaah instrumen digunakan untuk memperbaiki instrumen. Format instrumen harus dibuat menarik dan tidak terlalu panjang. namun sebagian lain tidak setuju. Gunakan kata-kata yang sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan responden b. dan pengetikan. yaitu menentukan format tata letak instrumen dan urutan pertanyaan/ pernyataan. waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen. cara pengisian atau cara menjawab instrumen. Perbaikan dilakukan terhadap konstruksi instrumen. Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang mengikuti ujian lulus semua? Contoh pertanyaan yang tidak bias: Sebagian pendidik setuju bahwa tidak semua peserta didik harus lulus. sehingga responden tertarik untuk membaca dan mengisinya. yaitu kalimat yang digunakan. Hindari pertanyaan hipotetikal atau pengandaian. Pertanyaannya jangan samar-samar c. Setiap sepuluh pertanyaan sebaiknya dipisahkan dengan cara memberi spasi yang lebih.bias. positif atau negatif. Hindari pertanyaan yang bias. Urutkan 20 . yaitu mengarahkan jawaban responden pada arah tertentu. atau diberi batasan garis empat persegi panjang. Merakit instrumen Setelah instrumen diperbaiki selanjutnya instrumen dirakit. d.

Perlu diingat bahwa pengisian instrumen penilaian afektif bukan merupakan tes. maka sampelnya juga peserta didik SMA. 8. Analisis hasil ujicoba Analisis hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir pertanyaan/ pernyataan. dan jawaban responden bervariasi dari 1 sampai 7. Agar responden mengisi instrumen dengan akurat sesuai harapan. misalnya pada pilihan nomor 3. Bila yang ingin dinilai adalah peserta didik SMA. kejelasan kalimat yang digunakan. maka butir pertanyaan/pernyataan pada instrumen ini dapat dikatakan baik. Pada saat ujicoba yang perlu dicatat adalah saran-saran dari responden atas kejelasan pedoman pengisian instrumen. Jika menggunakan skala instrumen 1 sampai 7. bisa berasal dari satu sekolah atau lebih. Namun apabila jawabannya hanya pada satu pilihan jawaban saja. Indikator yang digunakan adalah besarnya daya beda. waktu yang diperlukan agar tidak jenuh adalah 30 menit atau kurang. Untuk itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai. sehingga walau ada batasan waktu namun tidak terlalu ketat. Bila daya beda butir instrumen lebih dari 0. 21 . butir instrumen tergolong baik. Sampel yang diperlukan minimal 30 peserta didik.30. Selain itu sebaiknya responden juga diberi minuman agar tidak lelah. dan waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen.pertanyaan/pernyataan sesuai dengan tingkat kemudahan dalam menjawab atau mengisinya. Waktu yang digunakan disarankan bukan waktu saat responden sudah lelah. kepada guru atau orang tua peserta didik. 7. sesuai dengan tujuan penilaian apakah kepada peserta didik. Berdasarkan pengalaman. Ujicoba instrumen Setelah dirakit instrumen diujicobakan kepada responden. maka butir instrumen ini tergolong tidak baik. maka sebaiknya instrumen dirancang sedemikian rupa sehingga waktu yang diperlukan mengisi instrumen tidak terlalu lama.

Indikator lain yang diperhatikan adalah indeks keandalan yang dikenal dengan indeks reliabilitas. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan. Batas indeks reliabilitas minimal 0. Pelaksanaan pengukuran Pelaksanaan pengukuran perlu memperhatikan waktu dan ruangan yang digunakan. dan pedoman pengisian instrumen. Oleh karena itu diusahakan agar indeks keandalan instrumen minimal 0. 11. Misalkan digunakan skala Likert yang berisi 10 butir pertanyaan/ pernyataan dengan 4 (empat) pilihan untuk mengukur sikap peserta didik. 22 . Diusahakan agar responden tidak saling bertanya pada responden yang lain agar jawaban kuesioner tidak sama atau homogen. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria.Tidak setuju . namun hasil ujicoba empirik tidak baik. kesalahan pengukuran akan melebihi batas. berdasarkan analisis hasil ujicoba. Untuk itu butir pertanyaan/pernyataan instrumen harus diperbaiki. Penafsiran hasil pengukuran Hasil pengukuran berupa skor atau angka.Sangat tidak setuju. Skor untuk butir pertanyaan/pernyataan yang sifatnya positif: Sangat setuju .70. Bisa saja hasil telaah instrumen baik. Bila indeks ini lebih kecil dari 0.Tidak setuju . Perbaikan termasuk mengakomodasi saran-saran dari responden ujicoba. Pengisian instrumen dimulai dengan penjelasan tentang tujuan pengisian. Tempat duduk juga diatur agar responden tidak terganggu satu sama lain. manfaat bagi responden. Perbaikan instrumen Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/pernyataan yang tidak baik. Ruang untuk mengisi instrumen harus memiliki cahaya (penerangan) yang cukup dan sirkulasi udara yang baik.Setuju . (4) (3) (2) (1) Sebaliknya untuk pertanyaan/pernyataan yang bersifat negatif Sangat setuju .70. 10.Sangat tidak setuju. Waktu pelaksanaan bukan pada waktu responden sudah lelah.Setuju . 9. Instrumen sebaiknya dilengkapi dengan pertanyaan terbuka.70.

Kategorisasi sikap atau minat peserta didik untuk 10 butir pernyataan. dan skor batas atasnya adalah 27. Selanjutnya dapat dicari sikap dan minat kelas terhadap mata pelajaran tertentu. Penentuan kategori hasil pengukuran sikap atau minat dapat dilihat pada tabel berikut. No 1.70 x 40 = 28. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0. dan sangat rendah (sangat kurang). tinggi (baik). Skor ini dikualifikasikan misalnya menjadi empat kategori sikap atau minat. Tabel 6 Kategorisasi sikap atau minat kelas No. Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0. Skor rata-rata kelas Lebih besar dari 35 28 sampai 35 Kategori Sikap atau Minat Sangat tinggi/Sangat baik Tinggi/Baik 23 . Tabel 5. dengan rentang skor 10 – 40. 1. 4. 2. rendah (kurang). 3. dan batas atasnya 40. 2. dan skor batas atasnya adalah 35. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20.50 x 40 = 20. dan skor terendah 10 butir x 1 = 10. Skor peserta didik Lebih besar dari 35 28 sampai 35 20 sampai 27 Kurang dari 20 Kategori Sikap atau Minat Sangat tinggi/Sangat baik Tinggi/Baik Rendah/Kurang Sangat rendah/Sangat kurang Keterangan Tabel 5: 1.(1) (2) (3) (4) Skor tertinggi untuk instrumen tersebut adalah 10 butir x 4 = 40. Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan minat atau sikap peserta didik.80 x 40 = 36. 2. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0. 4. yaitu sangat tinggi (sangat baik). 3.

50 x 40 = 20. yaitu dimulai dengan penentuan definisi konseptual dan definisi operasional. Rata-rata skor kelas: jumlah skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik di kelas ybs. Prosedurnya sama. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0. Hasil pengukuran minat kelas untuk semua mata pelajaran berguna untuk membuat profil minat kelas. Tabel 6 menujukkan minat atau sikap kelas terhadap suatu mata pelajaran. Penilaian ranah afektif peserta didik selain menggunakan kuesioner juga bisa dilakukan melalui observasi atau pengamatan. peserta didik harus berusaha mempertahankannya. Dalam pengukuran sikap atau minat kelas diperlukan informasi tentang minat atau sikap setiap peserta didik terhadap suatu objek. Pada Tabel 5 dapat diketahui minat atau sikap tiap peserta didik terhadap tiap mata pelajaran. 20 sampai 27 Kurang dari 20 Rendah/Kurang Sangat rendah/Sangat kurang Keterangan Tabel 6 1. Bila sikap peserta didik tergolong rendah.70 x 40 = 28.80 x 40 = 36. dan batas atasnya 40. dan skor batas atasnya adalah 27. Jadi satuan pendidikan akan memiliki peta minat kelas dan selanjutnya dikaitkan dengan profil prestasi belajar. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20. Sedang bila sikap atau minat peserta didik tergolong tinggi.3. 4. Definisi konseptual kemudian diturunkan menjadi sejumlah 24 . Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0. seperti mata pelajaran. 4. dan skor batas atasnya adalah 35. maka peserta didik harus berusaha meningkatkan sikap dan minatnya dengan bimbingan pendidik. 2. 5. Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0. Umumnya peserta didik yang berminat pada mata pelajaran tertentu prestasi belajarnya untuk mata pelajaran tersebut baik. 3.

misal berupa desain alat. Dengan demikian informasi yang diperoleh akan lebih akurat. 3. 4. baik berupa tes identifikasi. Indikator ini menjadi isi pedoman observasi.182. Tes simulasi: tes ini dilakukan jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik. Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Psikomotorik Tes untuk mengukur domain psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai peserta didik. Tes paper and pencil: walaupun bentuk aktivitasnya seperti tes tulis. 1. Tes unjuk kerja (work sample): tes ini dilakukan dengan alat yang sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai atau terampil menggunakan alat tersebut. 25 . desain grafis. Hal.9 Dalam hal ini dapat berupa: 1. namun yang menjadi sasarannya adalah kemampuan peserta didik dalam menampilkan karya. Penyusunan Tes Psikomotor Tes penampilan atau perbuatan. Misalnya indikator peserta didik berminat pada mata pelajaran matematika adalah kehadiran di kelas. sehingga dengan simulasi tetap dapat dinilai apakah peserta didik sudah menguasai keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan. banyaknya bertanya. misal menemukan bagian yang rusak atau yang tidak berfungsi dari suatu alat. kerajinan dalam mengerjakan tugas-tugas.indikator. Tes identifikasi: tes ini lebih ditujukan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi sesuatu hal. simulasi ataupun unjuk kerja semuanya dapat diperoleh dengan 9 Ibid. sehingga kebijakan yang ditempuh akan lebih tepat. kerapihan dan kelengkapan catatan. D. 2. Hasil observasi akan melengkapi informasi dari hasil kuesioner.

Cara mengeluarkan termometer dari tempatnya. yaitu sebagai berikut. Dalam hal ini tentukanlah indikator-indikator yang menunjukkan peserta didik terampil menggunakan alat tersebut. 3). kemudian disusun butir soalnya dalam bentuk daftar cek sebagai berikut. 4). 2). … Peserta didik dinyatakan terampil dalam hal tersebut jika ia mampu melakukan urutan kegiatan tersebut dengan benar. Beri tanda V untuk setiap penampilan yang benar dari setiap tindakan yang dilakukan peserta didik seperti yang diuraikan di bawah ini! …. …. 4. Cara memasang termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya. 3. …. 1. Contoh Penyusunan Butir Soal Bentuk Daftar Cek Misal akan dikakukan pengukuran terhadap keterampilan peserta didik menggunakan termometer badan. Memasang termometer pada tubuh pasien (di mulut atau di ketiak) sehingga bagian yang berisi air raksa kontak dengan tubuh orang yang diukur suhunya. Cara menurunkan posisi air raksa serendah-rendahnya. Menurunkan posisi air raksa dalam pipa kapiler termometer serendah-rendahnya. Setelah diperoleh indikatorindikatornya. …. 1). … 26 .menggunakan daftar cek (check list) atau skala penilaian (rating scale) sebagai lembar penilaian (alat observasi). 2. Mengeluarkan termometer dari tempatnya dengan memegang bagian ujung yang tidak berisi air raksa. 2.

4 jika tepat. butir 5 memperoleh skor 3 berarti 27 . Contoh Penyusunan Butir Soal Bentuk Skala Penilaian Dalam skala penilaian. skala 5 jika suatu indikator dikerjakan dengan sangat tepat. Jadi pada prinsipnya ada tingkat-tingkat penampilan untuk setiap indikator keterampilan yang akan diukur. Cara menurunkan posisi air raksa serendah-rendahnya. Lingkari angka 5 jika sangat tepat. 2 jika tidak tepat. 1 jika sangat tidak tepat. angka 2 jika tidak tepat atau angka 1 jika sangat tidak tepat untuk setiap tindakan di bawah ini. Cara memasang termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya. Misal. angka 4 jika tepat. 54321 54321 54321 Cara mengeluarkan termometer dari tempatnya. 3 jika agak tepat. 4. Teknik Penskoran Tes Psikomotor Misal terdapat 6 butir soal yang dipakai untuk mengukur kemampuan peserta didik dengan skala penilaian. Jika untuk butir 1 seorang peserta didik memperoleh skor 5 berarti sempurna/benar. butir 2 memperoleh skor 4 berarti benar tetapi kurang sempurna.3. angka 3 jika agak tepat. butir 3 memperoleh skor 4 berarti benar tetapi kurang sempurna. setelah diperoleh indikator-indikator keterampilan. selanjutnya ditentukan skala penilaian untuk setiap indicator. butir 4 memperoleh skor 3 berarti kurang benar. Contoh: Untuk mengukur keterampilan peserta didik menggunakan termometer badan disusun skala penilaian sebagai berikut.

maka setiap butir harus dicapai dengan sempurna (skala 5).kurang benar dan butir 6 memperoleh skor 3 berarti kurang benar. Jika dibagi menjadi 4 kategori. maka skor totalnya adalah (5 + 4 + 4 + 3 + 3 + 3). 28 . Jika sifat keterampilannya absolut. skor 19 – 24 dinyatakan berhasil. maka median skornya adalah (6 + 30)/2 = 18. Seorang peserta didik yang gagal akan memperoleh skor 6 dan yang berhasil melakukan dengan sempurna memperoleh skor 30. Oleh karena itu hanya peserta didik yang memperoleh skor 30 yang dinyatakan berhasil dengan kategori sempurna. skor 13 – 18 dinyatakan kurang berhasil. skor 25 – 30 dinyatakan sangat berhasil. maka yang memperoleh skor 6 – 12 dinyatakan gagal. Dengan demikian peserta didik yang memperoleh skor 22 dapat dinyatakan sudah berhasil tetapi belum sempurna.

Raja Grafindo Persada. Sedangkan evaluasi mempunyai pengertian keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi. Anas Sudijono. KESIMPULAN Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara atau bagianbagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor yang lain. Menghimpun data. Pengantar Evaluasi Pendidikan. 2. 51. Tindak lanjut evaluasi. kegiatan evaluasi hasil belajar ada 6 langkah pokok utama yaitu: 1. 1996). Menyusun rencana evaluasi hasil belajar. penafsiran. Melakukan verifikasi data. (Jakarta: PT. Instrumen evaluasi hasil belajar adalah alat yang dipakai untuk mengambil atau merekam data hasil belajar. afektif dan psikomotor. 10 29 . pengolahan. 4. 3.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Memberikan interpretasi data. 6. Mengolah dan menganilis data. Menurut para pakar dalam bidang evaluasi pendidikan. hal. 5. dan pertimbangan untuk memberikan informasi tentang tingkat hasil belajar yang dicapai peserta didik.10 Pengertian instrumen dalam lingkup evaluasi didefinisikan sebagai perangkat untuk mengukur hasil belajar siswa yang mencakup hasil belajar dalam ranah kognitif.

30 .B. Dan tidak kalah pentingnya adalah bahwa dengan pengetahuan dan wawasan historis tersebut. SARAN Kajian tentang berbagai analisis tentang instrumen evaluasi hasil belajar itu akan memberikan pengetahuan dan wawasan historis kepada tenaga kependidikan. setiap tenaga kependidikan diharapkan memiliki bekal yang memadai dalam meninjau berbagai masalah yang dihadapi. serta pertimbangan yang tepat dalam menetapkan kebijakan dan tindakan sehari-hari khususnya dalam bidang evaluasi hasil belajar siswa. terutama dalam bidang evaluasi. Hal itu sangat penting agar para pendidik dapat memahami dan pada gilirannya kelak dapat memberikan kontribusi terhadap dinamika pendidikan itu sendiri.

Bandung: Jemmars. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. 1984. Jakarta: Grasindo. Joni. Suharsimi. Malang: YP2LPM. 2006. Sudjana. Remaja Rosdakarya. 2009. Diakses Tanggal 10 April 2012 31 . Sri.DAFTAR PUSTAKA Arifin. 1984. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Buchori. Sudijono. Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Evaluasi Pembelajaran Prinsip-Teknik-Prosedur. Raka. Shirran. Nana. Wardani. Mudijo. 2008.wordpress. “Aspek Penilaian dalam KTSP Bag 1 (Aspek Kognitif)”. 2008. Evaluating Students/ Mengevaluasi Siswa. 1980. Teknik-teknik Evaluasi Dalam Pendidikan). Arikunto. 2004. Jakarta: PT. Alex. Jakarta: Bina Aksara. Zainal. (Online) http://massofa.com/feed/. Bandung: PT. Suharno . T. Anas. Dari Internet: Anonymous. 2009. Testologi Pengantar. Penilaian Pembelajaran Matematika Berbasis Kompetensi. Tes Hasil Belajar. Remaja Rosdakarya. Jakarta: Bumi Aksara. Bandung: PT.RajaGrafindo Persada. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. 1990.

2009. “Pengukuran Ranah Kognitif.info/. 2009. (Online) http://hadirukiyah. 2009.yski.com/2009/08/pengukuran-ranah-kognitifafektif-dan.(Online) http://nurmanspd.wordpress. Afektif. dan Psikomotor”.blogspot. Diakses Tanggal 10 April 2012 Anonymous.html.com/2009/09/17/pengembanganperangkat-penilaian-psikomotor/. (Online) http://smak. “Sistem Penilaian”. “Pengembnagan Perangkat Penilaian Psikomotor dan Prosedur Penilaian”. Diakses Tanggal 12 April 2012 32 . Diakses Tanggal 10 April 2012 Anonymous.Anonymous.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful