P. 1
Belajar Dari Gempa Haiti

Belajar Dari Gempa Haiti

|Views: 83|Likes:
Published by Dwi Jenita Maharani

More info:

Published by: Dwi Jenita Maharani on Apr 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2012

pdf

text

original

Cara Adaptasi Masyarakat Terhadap Gempa dan Tsunami

OLEH : PUTRI GUSTIANTI ( G1B009025 )

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BENGKULU 2012

Hidup di Tanah Bencana

Posted on March 22, 2012 by Hendra Syahputra

TUJUH tahun silam, persisnya 26 Desember 2004, adalah saat yang paling menyesakkan bagi bangsa Indonesia. Hanya dalam hitungan tak sampai setengah jam, gempa besar dan gelombang tsunami memorak porandakan sebagian wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Tak hanya bangunan dan infrastruktur yang hancur. Bencana itu pun memakan korban lebih dari 200.000 jiwa. Puluhan ribu orang kehilangan orang tua, anak, sanak saudara. Ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal yang musnah ditelan air bah. Kini tujuh tahun pasca-bencana, kondisi Aceh mulai pulih, walau disana-sini masih tersisa masalah. Aceh sedang nmenggeliat, berusaha menghidupkan kembali seluruh sendi kehidupan yang terhempas oleh bencana paling dahsyat dalam millenium baru ini. SALAH SATU pulau yang dalam beberapa buku sejarah disebut paling sering mengalami gempa adalah Sumatera. Dalam buku Sejarah Sumatera yang ditulis William Marsden tahun 1783 misalnya, disebutkan bahwa gempa telah menjadi bagian dari sejarah Sumatera. “Gempa bumi yang paling keras saya alami terjadi di daerah Manna (Bengkulu) pada 1770. Sebuah kampung musnah, rumah-rumah runtuh dan habis dimakan api. Beberapa orang bahkan tewas,” tulis Marsden. Ia juga menyebutkan, bahwa dirinya mendapat informasi tentang gempa Nias di tahun 1763 yang telah menewaskan seluruh penduduk kampung di pulau itu. Di Indonesia, tsunami tertua yang tercatat di Laut Banda, 17 Feberuari 1674. Tinggi gelombang saat itu diperkirakan mencapai 80 meter dengan korban sekitar 3.000 orang. Selama kurun waktu 200 tahun (1801-2003) tak kurang 161 tsunami terjadi di Indonesia. Sekitar 73 persen tsunami terjadi di bagian timur Indonesia, di wilayah yang terbentang dari selat Makassar kearah timur.

Tsunami Aceh adalah salah satu yang terbesar dalam sejaran Indonesia. Beberapa wilayah terus tercatat dilanda tsunami.000 ribu orang. Megadisaster ini telah menewaskan lebih dari 150.5 skala Richter itu menewaskan 2. Dilaporkan telah menewaskan lebih dari 36. Kompas baru menurunkan beritanya pada edisi 25 April 1969 atau 20 hari setelah kejadian. Gempa 7. Dalam berita tersebut disebutkan bahwa setelah gempa.080 jiwa. Kemudian Kompas memberitakan bencana ini pada edisi Senin. Kompas pada saat itu juga belum mengunakan istilah tsunami. dua tahun kemudian pantai selatan Pulau Lomblen (Kabupaten Flores Timur dan Nusa Tenggara Timur). Letusan Gunung Krakatau itu adalah salah satu terkuat yang pernah tercatat. Puncaknya adalah gempa yang disusul tsunami di Aceh dan Nias pada 26 Desember 2004. kembali dilanda tsunami pada 18 Juli 1979 . Saat itu Kompas memberitakannya sebagai berita utama sehari setelah bencana.000 jiwa di Aceh dan Sumatera Utara. Kemudian tsunami kembali terjadi di Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) pada tanggal 19 Agustus 1977. tidak lagi gelombang pasang. Ini pula untuk pertama kalinya Kompas secara tegas menggunakan istilah tsunami. Misalnya Halmahera pada 5 April 1969. menjadi berita utama dengan judul “57 orang Diketahui Tewas Akibat Gempa”. 22 Agustus 1977. Tak lama berselang. dengan judul “Gempa Dahsyat Guncang Flores sedikitnya 90 orang tewas”. 13 Desember 1992. Dalam sisi informasi. Letusan yang berlangsung sepanjang tiga hari itu diikuti gelombang tsunami setinggi 40 meter. dan subjudul “terjangan tsunami 300 Meter”. Gelombang tsunami itu menyapu . Inilah pertama kalinya Kompas memuat bencana tsunami tepat sehari setelah kejadian. bencana tsunami ini tidak tergambarkan dengan jelas di media massa. menyebutkan Kompas menurunkan berita dengan judul “Gelombang Air Pasang Melanda Halmahera”. Pada 12 Desember 1992 gempa dan tsunami kembali mendera Flores-NTT.Sejarah terus saja mengalir. Ahmad Arif dalam bukunya Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme. Jikapun ada tsunami yang mendekati Aceh. yaitu edisi Minggu. terjadilah gelombang pasang (tsunami) yang menggulung sejauh 400 meter kedaratan. pernah terjadi lebih dari 100 tahun lalu ketika Gunung Krakatau yang berada di pertemuan Jawa dan Sumatera meledak.

disebutkan bahwa terdapat tak kurang dari 1. a selected Natural History Bibliograpgy susunan Audrey Brodie.nimnya literature yang ditulis oleh pribumi mengenai bencana Krakatau itu masih merupakan realitas hingga saat ini. minat ilmiah terhadap tema kebencanaan sangat minim. Krakatau yang dalam literature international pertama kali dicatat dalam peta oleh Luca Janszoon Warghenaer (1584) dan menyebutnya sebagai “Pulo Carcata” adalah gunung api yang menjadi ilustrasi banyak sekali tulisan dan obyek penelitian ilmiah. Kajian dan riset ilmiah yang telah dilakukan peneliti dan penulis tersebut telah mencatat. Aden ( Saudi Arabia) 12 jam. Kalkuta (India) 9 jam. misalnya dari sisi zoology. Tsunami saat itu dilaporkan mencapai Australia dalam waktu 5 jam. osenografi. Krakatoa. Sri Lanka 6 jam. bahkan Krakatoe (groot 1884) dan Krakatao (Zimmerman 1928). Suryadi. pengajar di Universitas Leiden. Akan tetapi. Dalam penelitiannya tentang syair tersebut. bahwa Indonesia sebagai salah satu wilayah paling berbahaya di bumi ini karena ancaman gunung. Dalam literature-literatur tersebut. hanya ada satu sumber pribumi tertulis dan mencatat kesaksian mengenai letusan Krakatau 1883 itu. Dalam bibliografi mengenai gunung itu. dan J. Krakatoa . Sampai abad ke-21. BENCANA nyaris terus datang tanpa bisa ditahan. menggambarkan betapa hebatnya bencana menyusul kedahyatan bencana di ujung barat Pulau Jawa itu .W. yang ditulis oleh Suryadi. Subyek tulisan inipun sangat beragam. Belanda. menyebutkan. Cape Town (Afrika Selatan) 13 jam dan Tanjung Harapan 17 jam. Hal ini pula yang barangkali menjadi penyebab lemahnya sikap siap siaga warga terhadap bencana gempa dan tsunami. Suryadi.082 tulisan ilmiah mengenai gempa dan gunung meletus. gempa dan tsunami. tetapi hampir tak ada perbaikan dalam tata kelola bencana. botani.geologi. Sumber itu adalah “Syair Lampung Karam”. sampai sastra. K.bersih pantai barat Jawa bagian barat dan pantai selatan Sumatera. Krakatau disebut dengan beberapa versi : Rakata. catatan orang Indonesia sendiri akan hal itu sangat sedikit. Sejarah gempa dan tsunami yang melumat Indonesia-pun hampir tidak . Brodie (1982). Diantara banyaknya jumlah kajian ilmiah dan bibliografi mengenai Krakatau itu. Kusumadinata. meteorology.

Sangat jarang ada yang menyoroti ihwal mitigasi dan pendidikan bencana.menjadi acuan kebijakan pemerintah menyiapkan diri hingga bencana hebat datang mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004. sejak era 1970-an. Terlepas dari hal itu. bencana pun selalu saja dilaporkan setelah terjadi. dimaksudkan untuk memberikan sebuah informasi. tentang kondisi yang terjadi di lapangan yang ditujukan untuk pengembangan dan penelitian organisasi-organisasi yang bergerak di bidang penanganan bencana. Walau folklor atau cerita rakyat berisi kebijakan masyarakat tradisional dalam mengantisipasi bencana sering diabaikan. seperti menenggelamkan kisah-kisah inspiratif dan mengandung kebenaran tersebut. suatu badan literatur yang berkembang telah menyoroti pentingnya integrasi pengetahuan lokal dan praktik-praktiknya ke dalam proyekproyek perkembangan dan pelestariannya. manfaat serta permasalahan yang termasuk didalamnya. paling tidak bisa mewakili tentang apa yang terjadi di lapangan. negeri ini memiliki banyak sekali kisah-kisah inspiratif yang mengandung pengetahuan dan mengandung kebenaran sebagai bagian dari mitigasi bencana. Dari literatur-literatur yang ada terkait kearifan lokal pun sebagian besar mengarah pada suatu kesimpulan serupa yang berkaitan dengan bahaya alam . catatan perjalanan penelusuran jejak kearifan lokal serta kerangka kerja penelusurannya. Tulisan dalam buku inipun berupaya untuk menyajikan informasi yang utuh dan tidak separuh-separuh. meski tidak secara khusus. Sebagian besar malah hilang tak tercatat . Hal ini memberikan sebuah gambaran dan kerangka mengenai kearifan lokal dalam kesiapsiagaan bencana. Namun karena semakin hebatnya teknologi dan majunya temuan manusia yang terkait perkembangan teknologi. Selain mencatat bagaimana perkembangan informasi lokal yang tersaji dalam kearifan local (local wisdom) dalam memperkenalkan ketahanan masyarakat di pelosok kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Padahal. Kehadiran buku ini. Pemahaman akan pengetahuan lokal ini juga dimaksudkan untuk mendalami pemahaman tentang bagaimana hal ini dapat dimanfaatkan pada penanganan bencana. dengan risiko-risiko terhadap bahaya bencana alam patut dipertimbangkan Kearifan Lokal Dalam catatan sejarah.

Keseluruhan usaha yang sungguh-sungguh berkaitan dengan pengetahuan lokal di anggap kecil karena banyak orang mengetahui tentang pengetahuan tersebut. literatur utama mengenai bahaya alam dan bencananya banyak sekali dikaitkan dengan pengetahuan lokal dan praktek-praktek sampai saat ini. Dalam bukunya Legend. Meskipun. Semua sambungan kayu menggunakan teknik pasak. sehingga balok-balok kayu dinamis dan tidak patah ketika gempa. dengan meneliti pekerjaan yang menyentuh bagian „Budaya Survival‟. Quarantelli.1978). tetapi ditumpukkan diatas batu besar sehingga bersifat dinamis menghadapi gaya geser. Burtonetal. Geografi (White 1974. 1970. Padahal dari hampir semua literature tentang bangunan rumah. 1978). dan Antropologi (Torry 1979). tinjauan literatur pada penemuan-penemuan penelitian awal di bidang Sosiologi (Dynes. Fritz. Sementara. Di daerah-daerah lain. semua rumah tradisional Indonesia dibangun tahan gempa. Barton. yang difokuskan pada masyarakat adat. Menurut Koen Meyer dan Putri Watson misalnya. turut menambah khasanah pengetahuan terkait kearifan lokal yang ada di duniaSebagian besar penelitian tersebut. Hal ini sebagian disebabkan oleh pemisahan perspektif teknis-sosial. Pentingnya kerja akademik saat ini. sistem teknis dan pengetahuan geofisika yang telah „canggih‟ merupakan mekanisme respon bencana yang paling efektif. „Ekologi Manusia‟. baik secara daerah dan nasional. Sehingga menjadi bukti rumah adat tersebut sampai sekarang masih tegak berdiri. sebagian masyarakat tahu jika . 1968. dijabarkan. Ritual and Architecture on Ring of Fire.dan bencana. kegiatan menelusuri local wisdom ini sendiri sudah pernah dimulai. namun keberadaan dan kegunaan pengetahuan lokal jarang mendapat perhatian. 2008. Misalnya. Tiang-tiang tersebut tidak berada di dalam tanah. diluar Aceh. Diantara kolom utama. dijelaskan struktur rumah Nias terdiri dari tiang (enomo) dan balok menyilang (ndriwa) yang saling terkait. bekerja pada respon manusia dan adaptasi terhadap bahaya alam dan bencana lebih banyak di negara berkembang dibandingkan di negara maju. 1974. Misalnya prinsip rancang-bangun rumah-rumah dan lingkungan yang selama berabad-abad terbukti tanggap terhadap bencana gempa dan tsunami tak dikenali lagi. dan „Penelitian dan Perkembangan Gunung‟. tanpa paku. terdapat kolom-kolom diagonal yang saling kait dan menyokong lantai rumah yang berbentuk oval dan persegi.

rencana. karena sebagian besarnya tidak dicatat atau tertanam dalam karya-karya agama dan budaya lama. Kerangka yang dihasilkan memudahkan identifikasi temuan dan tren dalam literatur saat ini pada pengetahuan lokal yang berhubungan dengan kesiapsiagaanan bencana. referensi dan studi dari suatu wilayah geografis yang lebih luas (yaitu.hujan turut dengan lebat dan akan membawa banjir yang sanghat besar. Diluar kerangka penulisan buku ini. kecamatan dan desa). juga penelusuran ke 23 Kabupaten/Kota yang ada di provinsi Aceh. Meskipun tujuannya adalah agar fokus pada kesiapan bencana di Aceh. pembangunan. Namun dalam kontek sosial. perencanaan kota. Pendekatan kontek Aceh. tetapi biasanya hubungan antara pengetahuan lokal dan manajemen bencana dan kesiapsiagaan tidak dibuat secara eksplisit. Hal yang sama berlaku untuk manajemen bencana. Berdasarkan asumsi bahwa banyak yang bisa dipelajari dari bidang lain. Keberagaman bahasa di wilayah Aceh membuat sulit untuk menyelami sumber daya yang tersedia mengenai pengetahuan lokal. Banyak terdapat studi kasus tentang pengetahuan lokal. perubahan iklim. antropologi. buku ini berdasarkan penelaahan literatur berbagai bidang. dirasakan tidak hanya menulis bagaimana menggunakan pengetahuan lokal yang berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana dan bagaimana mengintegrasikannya ke dalam kegiatan yang berhubungan dengan bencana. geografi. badan-badan nasional dan PBB juga LSM besar tingkat internasional mulai memberikan perhatian lebih besar pada pengetahuan lokal dan para pemangku kepentingannya. budaya lokal. sosiologi pedesaan. Semua ini semakin menguatkan. misalnya. pengelolaan sumber daya alam. dengan meningkatnya inisiatif penelitian. dan . bahwa kerangka kerja yang komprehensif yang akan digunakan untuk memahami pengetahuan lokal tentang kesiapan bencana tidak dapat ditemukan dalam literatur yang khusus. mengupas tentang pengetahuan lokal yang tersebar di berbagai bidang. jarang sekali yang memahami tanda-tanda tersebut di lingkuingan sosialnya. terutama pengetahuan lingkungan lokal. Sebagian besar tulisan dalam buku ini. termasuk untuk mengambil hikmah dari pelajaran yang dipelajari di tempat lain.

Buku ini juga menampilkan penyelidikan bencana alam dari perspektif masyarakat: yaitu apa yang warga tahu tentang risiko bahaya bencana alam dan apa yang mereka percaya dan lakukan bagi mereka sendiri dalam situasi tertentu. untuk siapa dan untuk tujuan apa. Pengetahuan lokal itu sendiri. Asumsinya adalah pengetahuan lokal dan praktek-prakteknya. Terminologi yang beragam: literatur mengacu pada: „pengetahuan asli‟. Oleh karena itu. „ilmu daerah tempatan „. tempat. dalam rangka untuk mempromosikan kepekaan terhadap dan pemahaman tentang pengetahuan lokal tentang kesiapsiagaan bencana. dan „ilmu warga‟ sesamanya. pengetahuan tradisional versus kontemporer). Namun. ini tidak berarti bahwa semua pengetahuan lokal dan praktek-prakteknya sesuai atau berkelanjutan. Pengetahuan lokal selalu perlu diperhitungkan. Namun.kebijakannya. „pengetahuan rakyat‟. langkah penting berikutnya dalam memberikan rekomendasi kebijakan mencakup penilaian bagaimana mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam setiap kegiatan dan praktek-praktek lokal bisa kita dukung dengan kerangka. . „pengetahuan tradisional‟. Sepertipengetahuan lokal yang digunakan di sini dalam lingkup yang sangat luas. yang lebih penting. juga ditulis hal-hal lain yang dianggap perlu dalam menelusuri nilai-nilai yang tidak tergali. wilayah. tidak boleh diabaikan. apakah relevan atau tidak dalam konteks yang spesifik untuk proyek tertentu. penglaju. pengetahuan yang berkaitan dengan rute atau lokasi yang berbeda dari kelompok orang yang bermigrasi secara rutin seperti sebagai pengembara. migran musiman (suatu pengetahuan yang lebih awal dari lainnya. menekankan. Kita semua memiliki pengetahuan lokal: ini mengacu kepada hubungan yang dikembangkan masyarakat dengan lingkungan sekitar mereka dari waktu ke waktu. bagaimana dapat dikombinasikan dengan pengetahuan lainnya untuk bencana kesiapsiagaan. dan di mana konteks pengetahuan lokal dan praktek-praktek berkontribusi terhadap peningkatan kegiatan kesiapsiagaan bencana. lokasi sebanyak gerakan biasa antara titik yang berbeda (misalnya. Pengetahuan asli adalah bagian dari pengetahuan lokal.

mencegah dampak terhadap aset. khusunya masyarakat yang menghuni bumi Sumatera yang dulu dikenal dengan nama Andalas . termasuk kesiapan bencana. menafsirkan. yaitu lempeng India-Autralia dan Lempeng Eurasia. selama periode curah hujan yang berlebihan. Pertemuan dua lempeng tersebut memanjang dari Andaman sampai sebelah selatan Pulau Jawa. Kesiapan bencana mengacu pada kombinasi dari strategi jangka pendek dan jangka panjang yang membantu meminimalkan atau mengurangi efek negatif dari bahaya alam. dan merespon perubahan dinamis dalam ekosistem dan sumber daya dan layanan yang dihasilkan. dan apakah pengetahuan mereka dapat digunakan atau tidak untuk merancang intervensi yang sesuai.Penting untuk dipelajari bagaimana orang (lokal dan asli) dalam suatu wilayah tertentu memandang dan berinteraksi dengan lingkungan mereka. Pengetahuan lokal yang dinamis dan selalu berubah dari waktu ke waktu melalui eksperimentasi dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan dan sosial ekonomi. dan lain-lain) atau konsekuensinya. . Demikian ungkapan bijak yang berakar dari budaya dan tutur masyarakat di Indonesia. Sulit untuk mengisolasi kesiapsiagaan bencana dari komponen lain manajemen bencana (misalnya. Wilayah patahan tersebut adalah wilayah yang kerap menjadi daerah gempa. Kesiapan bencana tersebut didefinisikan secara luas dan mencakup kesiapan darurat yang digunakan oleh negara-negara lainnya untuk merujuk kepada manajemen krisis berdasarkan perintah-dan-kendali (pertahanan sipil) dan strategi respon jangka pendek. Kondisi ini diakibatkan oleh karena Pulau Sumatera berdekatan dengan pertemuan dua lempeng aktif. Tidak salah ungkapan bijak ini dilahirkan oleh leluhur bangsa yang menghuni pulau Sumatera. Dalam beberapa kajian. dan menyelamatkan nilai-nilai tertentu yang berharga (misalnya. bantuan bencana) karena semuanya saling terkait Mitigasi Bencana Dalam Kontek Aceh Alam terkembang menjadi guru. Pulau Sumatera adalah salah satu pulau di dunia yang sering mengalami gempa bumi. apakah mereka memiliki pengetahuan lokal yang membantu memantau. Selain itu di daerah Pulau Sumatera terdapat patahan Sumatera yang memanjang mengikuti alur Bukit Barisan yang membagi 2 wilayah daratan Sumatera.

Ini yang menyebabkan posisi Aceh sangat rentang dengan gempa. 26 Desember 2004 mengajarkan kepada kita bahwa sebagian besar masyarakat modern telah melupakan alam sebagai pemberi system peringatan dini yang paling sederhana dan mudah dipahami. Kesultanan-kesultanan dan kerajaan-kerajaan dengan kekuasaan luas dan mashur di Pulau Sumatera banyak berlokasi di sepanjang patahan Sumatera. Ironisnya. gempa bumi dan tsunami 26 desember 2004 membawa pula kisah bagaimana manusia berjuang mempertahankan hidupnya dengan melihat dan belajar dari alam. pusat pemerintahan Adityawarman. Bayangkan. Sistem peringatan dini yang paling sederhana dan paling mudah dipahami oleh masyarakat awam adalah system peringatan dini yang diberikan oleh alam. Sampai sekarang daerah-daerah bekas kesultanan dan kerajaan tersebut tetap menjadi daerah dengan tingkat hunian penduduk yang cukup tinggi. Kedua patahan tersebut dikenal sebagai “Patahan Darussalam” yang melewati Desa Darussalam dan “Patahan Darul Imarah” yang melewati Desa Darul Imarah. Ketika teknologi tak .Patahan tersebut menggambarkan posisi patahan Sumetera dan tahun-tahun terjadinya gempa bumi di sepanjang patahan tersebut. Kondisi ini idealnya memaksa masyarakat di daerah tersebut untuk melengkapi diri dengan sistem peringatan dini (early warning system) sebagian dari upaya mitigasi bencana. yang dahulu dikenal dengan Kutaraja. Sayang sekali kejadian terakhir dengan efek yang sangat dahsyat yaitu gempa dan tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan Nias (Sumetera Utara) pada Minggu.000 jiwa. Belum lagi adanya sesar semangko (baca : sesar Sumatera) yang saat ini masih bergerak aktif dan berpotensi menyebabkan terjadinya gempa darat. selain menyisakan kepiluan dengan korban jiwa yang mencapai 300. Begitu juga dengan Banda Aceh. Aceh merupakan daerah yang berada di pertemuan tiga lempeng bumi (India. Raja Minangkabau yang termasyur hanya berjarak beberapa kilometer dari patahan Sumatera. Australia dan Eurasia). daerah sepanjang patahan Sumatera adalah daerah dengan tingkat hunian penduduk yang tinggi ejak dahulu. Kesultanan dan Kerajaan tersebut diantaranya Kesultanan Aceh Darussalam dan Kerajaan Minangkabau. Bahkan Istana Pagaruyung. terletak tidak jauh dari jalaur patahan Sumatera yang terpecah dua di wilayah Provinsi Aceh. ibukota Kesultanan Aceh Darussalam dari masa Sultan Iskandar Muda.

Tetapi sebenarnya seperti di banyak tempat di Indonesia. hutan manggrove mencegah mereka melakukan perusakan. yang hidup di Kepulauan Surin di lepas pantai Thailand dan Myanmar sama-sama memanfaatkan pengetahuan mereka yang diturunkan secara lisan dari nenek moyang mereka untuk menyelamatkan diri dari tsunami yang menghancurkan. disadari atau tidak. Hal ini bisa terjadi salah satunya karena pantai-pantai di Pulau Simeulue masih ditutupi rapat oleh hutan manggrove atau dikenal juga sebagai hutan bakau. masyarakat yang sadar bahwa mereka hidup di daerah bencana. sebuah aturan formal tidak berarti apa-apa tanpa kesadaran masyarakat sebagai pelaksana utama. pada saat tsunami menghantam pulau ini. bahwa hutan manggrove memiliki kemampuan menghambat laju arus sekaligus melindungi pulau. Kisah masyarakat Simeulue yang tinggal di lepas pantai Sumatra. Di Simeulue misalnya. Hal ini oleh masyarakat Simeulue. sebenarnya merupakan bagian dari kearifan lokal yang berkembang di Indonesia. dan menjadikannya guru. aturan formal hanyalah sebuiah pengukuhan. Calang dan Banda Aceh. . juga berkembang sikap dan kesadaran masyarakat untuk menanam manggrove. karena merupakan bagian kearifan local yang melekat pada masyarakat. Di Kabupaten Simeulue. Hal ini dikuatkan dengan dikeluarkannya Qanun Nomer 30 Tahun 2003. ada dua kisah sukses yang muncul. Sistem mitigasi bencana berbasis alam ini. yang mencapai 20 meter. sudah lama dipahami secara tradisional dan kemudian secara ilmiah. yang membangkitkan minat baru pada konsep kearifan lokal. dan sudah ada turun temurun. Bahkan kesadaran masyarakat Simeulue secara tradisional tentang fungsi alam. Hal ini bisa dibuktikan. Dalam konteks bencana dan mitigasi alam yang terkembang luas itu adalah sistem peringatan dini bencana yang paling murah dan paling mudah dipahami oleh masyarakat awam. Indonesia dan kaum Moken. hanya berkisar antara 2-4 meter. selain peringatan dini tsunami dalam bentuk budaya bertutur. makas sepantasnya kita berteman dengan alam yang terkembang. berbeda dengan ketinggian tsunami yang menerjang Meulaboh. dan sudah terlebih dahulu mereka membangun harmonisasi dengan alam dalam bentuk tidak melakukan perusakan hutan manggrove.sepenuhnya bisa diharapkan memberi informasi yang cukup. Kesadaran secara masif inilah yang teleh terbukti menyelamatkan masyarakat dari bencana yang lebih fatal. SETELAH Tsunami Samudera Hindia tahun 2004.

Kearifan lokal itu berupa cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat. dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan. tetapi masih ada banyak contoh yang belum banyak diketahui umum dari masyarakat-masyarakat yang juga telah memanfaatkan kearifan lokal mereka untuk menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian bencana dan menghadap kondisi-kondisi lingkungan hidup yang sulit. Kearifan lokal oleh masyarakat-masyarakat ini dalam mengurangi risiko. dapat ditransfer dan diadaptasi oleh komunitas-komunitas lain yang menghadapi situasi serupa. disebar luaskan secara non-formal. ada empat argumen dasar yang mendukung pentingnya kearifan lokal. Pada tahun-tahun belakangan ini semakin banyak orang tertarik untuk mempelajari hubungan antara kearifan lokal dan bencana alam. Pengetahuan semacam ini mempunyai beberapa karakteristik penting yang membedakannya dari jenis. menghadapi dan menyelamatkan diri dari bencana-bencana alam yang terjadi belakangan ini telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi para praktisi dan pengambil kebijakan akan pentingnya kearifan local bagi pengurangan risiko bencana. dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi.kebijakan yang ada akan mendorong partisipasi masyarakat yang terkena bencana dan memberdayakan para .jenis pengetahuan yang lain. Pertama. Diskusi-diskusi terkini dalam hal ini berfokus pada potensi kearifan lokal dalam meningkatkan kebijakan-kebijakan pengurangan risiko bencana melalui integrasi kearifan lokal kedalam pendidikan kebencanaan dan sistem peringatan dini. Kedua. pemaduan kearifan lokal kedalam praktik-praktik dan kebijakan. yang telah terbukti sangat berharga dalam menghadapi bencana-bencana alam. Dalam khasanah pengurangan risiko bencana.Kedua kasus tersebut beberapa tahun belakangan ini paling sering disebut. Kearifan lokal itu berasal dari dalam masyarakat sendiri. yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secara turun-temurun. berbagai praktik dan strategi spesifik masyarakat asli yang terkandung di dalam kearifan lokal. yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat. serta tertanam di dalam cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup.

telah mengangkat ke Permian pelbagai praktik kearifan local yang sebelumnya luput dari perhatian masyarakat internasional yang peduli pada upaya pengurangan risiko bencana. Nias. Nias.000. penduduk Simeulue tahu bahwa mereka harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena ada kemungkinan terjadi tsunami. Dalam tujuh tahun terakhir. Indonesia Dongeng. Dalam penelitiannya yang dilakukan Koen Meyers dan Puteri Watson (Simeulue. dan Siberut. dan Siberut. Pada desember 2004. metode pembangunan dan perencanaan hunian.anggota masyarakat untuk mengambil peran utama dalam semua kegiatan pengurangan risiko bencana. Perbukitan hanya berjarak ratusan meter dari perkampungan dan garis pantai. yakni Simeulue. Ketiga. Selain faktor kearifan lokal itu. ketiga pulau itu. Kendati demikian.beda. dan Siberut mengalami beberapa kejadian gempa bumi dan tsunami. Dengan kebudayaan yang berbeda. Nias. Reaksi ini telah meminimalkan dampak kerusakan akibat tsunami. serta upacara ritual yang terkait. Terakhir. Praktik-praktik itu mencakup antara lain sarana komunikasi tradisional. . tsunami melanda Simeulue dan Nias. Laporan resmi pemerintah setempat menyebutkan hanya ada tujuh korban dari keseluruhan populasi yang jumlahnya sekitar 78. yang dalam kurun waktu lima tahun mengalami bencana gempa bumi dan tsunami. topografi pulau yang berbukit-bukit juga menjadi faktor penting lain yang memperkecil jumlah korban. Ketika terjadi gempa pada 26 Desember 2004. Praktik-praktik itu akan dibahas secara terperinci untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai dampaknya dan bagaimana relevansi praktik dan kearifan lokal bagi pembangunan modern. informasi yang terkandung di dalam kearifan lokal dapat membantu meningkatkan pelaksanaan proyek dengan memberikan informasi yang berharga tentang konteks setempat. dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api) diungkapkan. di mana 95% di antaranya hidup di wilayah pantai. cara penyebarluasan kearifan lokal yang bersifat non-formal member sebuah contoh yang baik untuk upaya pendidikan lain dalam hal pengurangan risiko bencana. di Simeulue hanya jatuh sedikit korban bila dibandingkan dengan di daerah lainnya. Simeulue. praktik-praktik kearifan lokal terbukti telah mengurangi dampak bencana alam di tiga pulau Sumatra. Ritual.

Reaksi yangkompak semacam itu dapat dimungkinkan antara lain karena adanya pengetahuan masyarakat yang dikomunikasikan melalui dongeng dan legenda. hanya jatuh satu korban jiwa.7 skala richter dan merenggut 839 jiwa. terjadi lagi gempa berkekuatan 8. tepatnya 28 Maret 2005. Kehidupan 90% penduduk terkena dampaknya. bergegas meninggalkan rumah dan lari ke tempat terbuka. dia berusia 16 tahun. Sebanyak 140 penduduk tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal. Banyak cerita yang dibawa oleh nenek moyang kita mengenai kebiasaan bencana yang terjadi di daerah dan itu merupakan pengetahuan tersendiri dalam menghadapi tanggap bencana. Ketika berada di Bengkulu. Dampak gempa sangat dahsyat sehingga di beberapa tempat menyebabkan tanah terangkat hingga lebih dari 2 meter. wicklow.9 skala richter terjadi di dekat Siberut. juga digambarkan Pulau Nias mengalami dampak serius akibat gempa 26 Desember 2004 dan tsunami yang terjadi setelahnya. marsden menyebutkan bahwa dia menulis dan mendapatkan informasi tentang gempa di Nias pada 1763 yang telah menewaskan seluruh penduduk kampong di pulau itu. Seperti diketahui. begitu merasakan gempa. Marsden lahir di Verval. Salah satu sebab kecilnya angka korban adalah karena semua orang. pada tanggal 12 September 2007 sebuah gempa berkekuatan 7. sejak ia menjejakkan kaki di Indonesia. Dalam catatan kakainya. dan menyembulkan karang pantai hingga 100 meter dari garis pantai semula. Apalagi bila informasi ini. Namun. 15. Ia tertarik dengan masalah Sejarah Sumatera.000 lainnya harus dibangun kembali. . Marsden menulis “saya didorong oleh orangorang yang perhatian pertamannya dalam bidang ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan publikasi dengan materi apapun yang saya miliki tentang sejarah alam dari daerah tersebut”. bisa dikemas dan dikelola dalam Knowledge Management yang terintegrasi dengan baik Referensi : 1) Marsden berada di Sumatera Barat antara 30 Mei 1771 dan 6 Juli 1779.000 rumah harus diperbaiki dan 29. Irlandia. pada 16 November 1754 dan merupakan anaklaki-laki keenam dan anak kesepuluh dari John marsden. Beberapa bulan kemudian.Dalam penelitian tersebut. direktur Bank Nasional Irlandia (The Nasional Bank of Ireland).

Dalam berita itu disebutkan bahwa setelah gempa. Tahun 2010 Ahmad arif meluncurkan buku Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme. terjadilah gelombang pasang (tsunami) yang menggulung sejauh 400 meter ke daratan. lahir di Rembang. Setelah meninggalkan pekerjaan di dunia akademis dan penelitian. seperti Banda Aceh (Aceh). yang memberi dampak luas bagi kehidupan manusia di dunia 6) Marsden (2008. Jawa Tengah. serta letusan gunung. Padang (Sumatera Barat). tsunami. 22 Agustus 1977. sejak tahun 2003 dia menjadi wartawan Harian Kompas. Karangasem (Bali). Palu (Sulawesi Tengah). 22 Agustus 1977. terjadilah gelombang poasang (tsunami) yang menggulung sejauh 400 meter ke daratan 5) Francis (1976. Sleman (DI Yogyakarta). Titik Nol Menuju Kebangkitan Aceh Dalam Era Globalisasi. Dalam berita itu disebutkan bahwa setelah gempa. 3) Kompas memberitakan bencana ini pada edisi Senin. Survei yang dilakukan Litbang Kompas pada Juni-Juli 2011 mengungkapkan minimnya pengetahuan dan kesiapsiagaan terhadap bencana itu.30) menyebutkan bahwa walaupun gempa kerap terjadi di Pulau Sumatra. . Universitas Gadjah Mada tahun 2001. Teuku Abdullah Sanny . Ia menamatkan kuliah di Teknik Arsitektur. Survei dilakukan di kota yang pernah dan terancam gempa bumi. bahkan sebagian tinggal di dalam kaldera tanpa menyadarinya.2) Ahmad Arif. menjadi berita utama dengan judul “57 orang Diketahui Tewas akibat Gempa”.menjadi berita utama dengan judul “57 Orang Diketahui Tewas Akibat Gempa”. jumlah korban yang meninggal biasanya sangat kecil karena rumah tradisional di pulau ini dibangun dengan konstruksi tahan 7) Kebangkitan rancangan sistem mitigasi.69-81) menyebutkan bahwa letusan Gunung rakata atau Krakatoa merupakan salah satu letusan gunung terbesar yang tercatat. Tsunami Aceh.Jakarta. Ekspedisi ini dilakukan mengingat jutaan orang tinggal dalam jangkauan letusan gunung berapi. Sejak thun 2011 ia dan beberapa rekannya di Harian Kompas melakukan Ekspedisi Cincin Api. Yogyakarta (DI Yogyakarta). dan Bengkulu. 4 September 1977. Kisah ini juga terdapat dalam buku Jurnalisme Bencana-Bencana Jurnalisme 4) Kompas memberitakan bencana ini pada edisi senin.

Indonesia Dongeng. dan Siberut. Simeulue.8 Kearifan lokal dunia. Mengisahkan kearifan local terkait kebencanaan yang menggali semua kisah dan fakta di tengah-tengah masyarakat yang tinggal di daerah rentan bencana di Asia 9) Koen Meyers dan Puteri Watson. Ritual. dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api . Nias.

Patut dicatat. Pertanyaannya. skala 1 MM adalah terendah dan tertinggi adalah 12 MM. namun bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Prancis. badan survei geologi Amerika Serikat. sejarahwan Prancis. Haiti merupakan negara pertama di Amerika Latin yang memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1804. Intensitas gempa mencapai skala 10 modified mercally (MM). Pada 18 Oktober 1751. ada 33 kali gempa susulan. Dosen Teknik Sipil Unhas) Pada awal tahun ini. Selain itu. adalah gempa berskala 7 SR di Haiti masih disusul oleh gempa dengan skala yang masih kuat. mengatakan terjadi gempa di Port-au- . Moreau de Saint-Mery. Gempa bumi di Haiti terjadi pada 12 Januari 2010. Posisi pusat gempanya yang dangkal. USGS mencatat. gempa dengan skala 7 berpusat di Leogane. dibandingkan Aceh yang lebih katastrof dikarenakan adanya faktor tsunami? Salah satu penyebabnya adalah gempa dengan energi sangat kuat. Tak heran jika diperkirakan jumlah korban tewas akan mencapai 200 ribu jiwa. gedung-gedung kolaps. Oleh karena itu. Gempa itu meluluhlantakkan negeri yang membagi dua pulau Hispaniola dengan Republik Dominika. antara skala 5 dan 6 SR. hasil dari revolusi melawan perbudakan. termasuk Presidential Palace. Haiti dulunya adalah jajahan Spanyol. Akibatnya. Dalam sejarahnya.Belajar dari Gempa Haiti Oleh: Ardy Arsyad (Mahasiswa S3 Kyushu University Jepang. negara karibia di sebelah tenggara Kuba dan Florida Amerika Serikat. dan jaraknya sangat dekat dengan kota dengan penduduk yang padat. Sejarah gempa mencatat bahwa sebelum gempa 2010. gempa ini sangat kuat mengguncang daerah-daerah yang padat penduduk. atau di sebelah timur Jamaika. Skala 10 MM tergolong "disastrous". the National Assembly. Skala kerusakan yang ditimbulkannya sangat masif. Penyebab kedua. paling tidak terdapat empat kali Haiti diguncang gempa berskala besar. Dari data USGS. mengapa jumlah korban gempa di Haiti sangat besar. Haiti adalah negara pertama di dunia yang mulai dipimpin oleh presiden berkulit hitam. dan berada pada kedalaman 13 km. Haiti memang merupakan daerah rawan gempa. di mana bangunan dinding bata dan rangka beton akan kolaps. Portau-Prince Cathedral dan kantor PBB di Haiti. berjarak 25 km dari ibukota Port-au-Prince. kita dikejutkan gempa berskala besar di Haiti. Yang menarik.

patahan bumi. gempa skala 8. energi guncangan "terlepaskan". DeMets dari University of Wisconsin-Madison dan Wiggins-Grandison dari University of West Indies. selama 250 tahun.0 hingga 7. Cocos. maka dimungkinkan akan terjadi gempa dengan skala 7. Penelitian mereka kemudian dimuat dalam Journal of International Geophysics pada 2007. Ukuran patahan ini sekitar 65 km dengan ketebalan rata-rata patahan 1. Pergesekan dua lempeng tersebut menghasilkan dua strike-slip fault. patahan Enriquillo-Plaintain Garden seakan "terkunci". batuan akan patah dan pecah. Sebenarnya. Dari penelitian yang diadakan tahun 2006 diketahui bahwa akumulasi regangan pada Enriquillo-Plaintain Garden yang telah diukur.2 richter. .8 meter (Bilham.3.0 dan juga tsunami melanda Haiti dan Republik Dominika. Tahun 1770.709 orang. diperediksi bahwa akan terjadi gempa dengan skala 7. yang sebanding dengan gempa yang terjadi di Jamaica tahun 1692. Dari analisa seismic hazard. Septentrional-Orient fault terletak di utara dan Enriquillo-Plaintain Garden fault di sebelah selatan. Port-auPrince Haiti dan Kingstone Jamaika.Prince hingga hanya satu bangunan yang tidak runtuh ketika itu. Korban tewas tercatat 1. Akibatnya. Massa batuan pada patahan ini masih cukup elastis menahan tegangan deformasi yang ada. dan berdasarkan data gempa selama 40 tahun belakangan. Pertama. Batas tempat pergesekan lempeng lempeng Karibia dengan lempeng Amerika Utara melintang persis di sisi utara Pulau Hispaniola. Mereka mengatakan bahwa pengukuran pergerakan lempeng Gonave-Carribian dengan GPS (Global Positioning System) mendeteksi adanya deformasi yang "terkunci" sepanjang patahan Enriquillo-Plaintain Garden. sejauh 2 cm per tahun. dan masih terjadi deformasi. Diperkirakan. Nazca dan Amerika Selatan. akan terkena dampak yang sangat signifikan. Olehnya itu. Haiti terletak pada lempeng tektonik Karibia yang berhimpit dengan lempeng Amerika Utara. gempa menelan korban yang mencapai 10 ribu orang. Tujuh puluh tahun kemudian. dua kota besar yang berjarak kurang dari 30 km dari patahan ini. melakukan pengukuran geofisika pada tahun 2006. juga sudah dikemukakan oleh Paul Mann dalam Konferensi Geologi Karibia pada 18 Maret 2008. 2010). terjadinya gempa di Haiti sudah dapat diprediksi sebelumnya. Prediksi yang serupa. Namun ketika massa batuan sudah tak mampu lagi berdeformasi karena tegangan sudah terlampau. kembali gempa berskala 7. dan inilah yang menjadi gempa bumi (Amos.5 SR mengguncang dengan korban lebih dari 200 orang. 2010). Lempeng tektonik Karibia bergerak ke timur. Tahun 1946.

prediksi gempa hanya berbicara konsep probabilitas berdasar data pengukuran yang ada. Semoga saja tidak. apakah pelajaran yang dapat diambil pada gempa Haiti. dan ternyata kita lengah untuk bersiap. Belajar dari kasus Gempa Haiti. Pada akhirnya. "Indonesia is a nation with short memory". Tasikmalaya. yang penting bagi kita adalah perlu adanya kesiapsiagaan. kapan dan di mana titik terjadinya. hingga kini tidak dapat diketahui pasti. diketahui bahwa negara itu hingga saat ini tidak memiliki building code. OAS mengatakan bahwa banyak gedung di Haiti dibangun pada daerah lereng dengan pondasi yang tidak tepat.Prediksi akan peluang terjadinya gempa juga bukan hanya dalam kasus gempa Haiti. Infrastruktur di Haiti dibangun tanpa aturan konstruksi yang standar. Gempa di Padang tahun 2009 lalu sebenarnya juga sudah diperkirakan dua tahun sebelum terjadinya. Namun jika seketika gempa ternyata. Terkhusus bagi mereka yang berada di lokasi yang dikategorikan rawan terhadap gempa dan tsunami. . Bahkan dengan tingginya tingkat kemiskinan. Yogyakarta. dan tentunya pemerintah. kita akan selalu bertanya. bertindak secara aktif dalam meningkatkan daya adaptasi dan ketahanan masyarakat terhadap gempa. Maka benar adanya. peneliti LIPI. Danny Hilman Natawijaya dalam sebuah Seminar Geotekenologi di Bandung. mengatakan bahwa setelah gempa besar di Aceh 2004 dan Nias 2005. Mengenai. masyarakat di Haiti banyak yang tinggal pada bangunan liar dengan konstruksi dan sarana yang seadanya. Namun demikian. Semoga kita. Apakah kita dapat belajar dari rentetan gempa yang sudah terjadi di Padang. Olehnya itu. akan terjadi "efek domino" (rangkaian gempa) yang akan menimpa Padang dan Bengkulu. apalagi standar bangunan tahan gempa. Pelaksanaan teknik konstruksi yang tidak memadai. Pada Desember 2007. dan tanpa adanya kontrol atau pengawasan terhadap konstuksi yang dibangun. Organization of American States (OAS) telah melakukan supervisi beberapa waktu lalu sebelum gempa. aturan konstruksi gedung. dan di tempat lainnya.

bahkan terlambat mengetahui adanya tsunami. Kabupaten Kepulauan Mentawai. aspek yang banyak diumbar adalah soal ”drama” setelah . Bahkan. dan Geofisika (BMKG) yang mencabut peringatan adanya tsunami.40. Yogyakarta. yang terjadi pada senja hari Selasa (26/10) hingga tengah malam. Sementara pemberitaan seputar Merapi sudah riuh rendah. Klimatologi. Sedangkan ratusan orang di Kepulauan Mentawai. termasuk seorang wartawan. Televisi masih ramai menyiarkan soal letusan Gunung Merapi. ketika pun kemudian hadir.Bencana Tsunami Sunyi di Mentawai Sejumlah bangunan di Kampung Bosuwa Desa Betumonga Pulau Sipora.2 SR yang terjadi Senin 25 oktober sekitar pukul 21. perhatian pun datang terlambat. Namun. Beberapa warga diberitakan tewas. Dan. kebanyakan media mengandalkan tebengan. media ternyata juga tak hadir di sana karena ”tertipu” pernyataan Badan Meteorologi. ketika bencana melanda kawasan itu. Maka. Sumatera Barat. Masih sedikit foto dan video dari ladang bencana Mentawai. terutama perihal ”drama” sang juru kunci Merapi. Mbah Marijan. Selain itu. tewas dalam senyap. Sedangkan pihak yang biasa ditebengi (baca: pemerintah) terlambat datang. gambaran Mentawai masih samar. hancur akibat gempa dan tsunami. pemberitaan media soal Mentawai memang sangat terlambat. Rabu (27/10/2010). mengakibatkan gelombang tsunami dan menyapu kawasan pinggir pantai antara lain di Pulau Pagai Selatan. Negara ini memang belum hadir di pulau-pulau terluar. sekadar kabar soal terjadinya petaka kerap kali datang terlambat. Hingga hari kedua pascabencana. Pulau Sikakap dan Pulau Sipora. Tanpa mengecilkan tragedi Merapi. Gempa berkekuatan 7.

jika terjadi tsunami. tsunami memang tak terjadi. Perhitungan BMKG Dalam perhitungan BMKG. ternyata tidak ada data yang masuk dari Mentawai dan sekitarnya. semestinya sudah tiba di pantai Mentawai paling lambat 15 menit setelah gempa. ke media. menurut Riyadi. BMKG. Ke mana saja kita sebelum bencana? Masih saja kita terkaget dengan bencana gempa dan tsunami. Apakah alatnya tidak ada atau tak ada yang menyampaikan. Lalu. Namun. faksimile. ”Kami amati terus. di mana sistem deteksi dini tsunami yang dulu disebut-sebut telah disiapkan untuk memagari lautan Nusantara setelah petaka Aceh menelan korban tewas lebih dari 150. Di pesisir barat pantai Sumatera. petaka di Mentawai ini sudah jauh hari diperingatkan akan terjadi. ”Kami sebarkan peringatan itu melalui berbagai moda komunikasi. Riyadi mengatakan.2 skala Richter pada Senin (25/10) pukul 21.000 orang? Melupakan mitigasi Empat menit setelah gempa dangkal berkekuatan 7. akhirnya dikeluarkan status all clear.” ucapnya.” Pascaperingatan itu. terus menunggu kiriman data pasang surut milik Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Nyatanya.bencana dan melupakan mitigasi dan adaptasi. Itu di luar kewenangan kami. termasuk ke Mentawai melalui DVB (digital video broadcast). juga ke 12 pemda. ketika televisi dan radio menyiarkan pencabutan peringatan tsunami itu. Gelombang tsunami . artinya peringatan sudah berakhir. ratusan warga Kepulauan Mentawai sebenarnya tengah bergelut dengan maut. seperti Padang.42. Dan. seperti layanan singkat melalui telepon seluler.” ujarnya. BMKG mengklaim telah merilis peringatan potensi adanya tsunami. kami tidak tahu. ”Kami tidak tahu apakah peringatan itu disampaikan ke masyarakat atau tidak.” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Moch Riyadi. Kenyataan bahwa negeri ini memiliki riwayat panjang petaka gempa dan tsunami seolah-olah dilupakan. Tujuannya agar masyarakat yang tadinya mengungsi kembali pulang. sirene peringatan tsunami tak pernah berbunyi di pesisir Mentawai karena pemerintah tak pernah memasangnya di sana. ”Setelah satu jam ditunggu tidak ada info kenaikan gelombang.

” katanya. ”Banyak yang belum sadar soal ancaman bencana ini sehingga mereka mencuri atau merusak deteksi dini tsunami. Tetapi.” ujarnya. Subandono mengakui. publik baru tahu telah terjadi tsunami di Mentawai pada Selasa (26/10) siang. Misalnya. Tsunami yang datang agak terlambat.menyerbu ke pantai sekitar 40 menit setelah gempa. tetapi sekarang banyak yang abai. proses mitigasi dan upaya untuk mengenalkan masyarakat agar beradaptasi terhadap bencana masih dilakukan setengah hati. jatuhnya banyak korban sebenarnya bisa dihindari jika masyarakat Mentawai tanggap terhadap gempa dan tsunami. masyarakat Mentawai harusnya langsung lari ke bukit seperti di Simeulue (Aceh) dengan smong-nya. Salah satunya mewujud dalam cerita rakyat atau folklor. cerita smong dari . Karena kita belum memiliki alat deteksi yang cukup dan sistem komunikasi yang baik untuk memastikan tsunami tak terjadi. setahu saya baru dipasang tiga dan sekarang mungkin sudah lenyap karena dicuri atau rusak. kalau ada gempa keras. Masyarakat Mentawai sangat dekat dengan sumber gempa sehingga tsunami bisa lebih cepat datangnya dibandingkan peringatan dini. slow earthquake tsunami. pencurian alat deteksi dini tsunami itu menandakan masyarakat juga kehilangan kepekaan terhadap bencana. Strategi adaptasi Subandono juga mengingatkan. Mereka dulu mungkin memiliki kearifan lokal itu.” katanya. Atau permasalahannya bisa jadi karena masyarakat tidak dilibatkan dalam sistem peringatan dini tsunami ini? Subandono menyebutkan. ”Kami memiliki kemampuan terbatas untuk sosialisasi ke masyarakat. Sebagian masyarakat tradisional sebenarnya memiliki mekanisme adaptasi terhadap gempa dan tsunami. Sebab. selain perbaikan teknologi deteksi dini tsunami. peringatan tsunami itu semestinya tak usah dicabut. alat deteksi dini tsunami (tsunami buoy) tak terpasang lagi di Mentawai. Kenapa tsunami yang menghantam Mentawai tak terdeteksi oleh BMKG sehingga mereka mencabut peringatan tsunami? Dampaknya. Ahli tsunami yang juga Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono tak heran soal ”lolosnya” tsunami Mentawai dari deteksi BMKG. Subandono menyarankan. ”Intinya.” ungkapnya. ”Dulu rencananya mau dipasang 22 buoy setelah tsunami Aceh terjadi. Anggaran mitigasi terbatas.

Sunyi. ”Nga linon fesang smong. sebanyak 3. Pengetahuan ini nyatanya menjadi penyelamat warga Simeulue saat terjadi tsunami pada 26 Desember 2004. Aceh.Mentawai) .856 rusak ringan serta 1. yang artinya setelah gempa besar akan datang tsunami.” demikian kepercayaan masyarakat setempat. bahkan mungkin tertua di Nusantara.146 rumah rusak berat dan 4.com/read/2010/10/29/11115638/Tsunami. Sebagai salah satu peradaban tua. ”Hanya” tujuh orang yang meninggal di pulau itu akibat bencana tersebut. Padahal. Menjadi tugas semua pihak untuk menemukan kembali kearifan lokal itu.kompas.597 rumah hilang ditelan tsunami..di.. selain tentunya secara serius membangun sistem deteksi dini tsunami. masyarakat Mentawai semestinya juga memiliki kemampuan adaptasi untuk hidup di pulau yang rentan gempa dan tsunami..Pulau Simeulue. (AIK) (http://regional. Pengetahuan tentang smong ini berasal dari ingatan tentang tsunami yang pernah menimpa pulau ini pada tahun 1907.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->