P. 1
sejarah-perkembangan-pragmatik

sejarah-perkembangan-pragmatik

|Views: 629|Likes:
Published by Lintang Gt'h

More info:

Published by: Lintang Gt'h on Apr 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2014

pdf

text

original

Sejarah Perkembangan Pragmatik

Pragmatik adalah kajian ilmu bahasa tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu. Hemmm membingungkan yah ? itulah adanya, dalam edisi ini mari kita bahas, Apa dan bagaimana peran ilmu ini dalam sistem bahasa, kita berjalan-jalan mempelajari Ilmu pragmatik, tentunya dimulai dari kemunculan dan perkembangannya.. A. Pengertian Pragmatik Seorang filosof yang bernama Charles Morris, memperkenalkan sebuah cabang ilmu yaitu pragmatik. Pragmatik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu (Moris, 1938: 6 dalam Levinson, 1997: 1). Batasan pengertian ilmu pragmatik juga dikemukakan oleh para ahli yang lain. Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Pragmatik menurut Geoffrey Leech (1993: 8) adalah ilmu tentang maksud dalam hubungannya dengan situasi-situasi tuturan (speech situation). Proses tindak tutur ditentukan oleh konteks yang menyertai sebuah tuturan tersebut. Dalam hal ini Leech menyebutnya dengan aspek-aspek situasi tutur, antara lain : pertama, yang menyapa (penyapa) dan yang disapa (pesapa); kedua, konteks sebuah tuturan; ketiga, tujuan sebuah tuturan; keempat, tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan tindak tutur (speech act); dan kelima, tuturan sebagai hasil tindak verbal (Leech, 1993: 19-20). George Yule dalam bukunya Pragmatics (1996) mengemukakan bahwa “Pragmatics is the study of speaker meaning as distinct from word or sentence meaning (1996: 133), yang berarti pragmatik mempelajari tentang makna yang dimaksudkan penutur yang berbeda dengan makna kata atau makna kalimat. Batasan ini mengemukakan bahwa makna yang dimaksudkan oleh penutur merupakan tuturan yang telah dipengaruhi oleh berbagai situasi tuturan, hal ini berbeda dengan makna kata atau kalimat, karena makna kata atau kalimat merupakan makna yang sesuai dengan makna yang berdasarkan arti yang tertulis saja. Pengertian pragmatik dapat diintisarikan sebagai ilmu yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yang ditentukan oleh konteks dan situasi yang melatarbelakangi pemakaian bahasa dalam

komunikasi yang merupakan dasar penentuan pemahaman maksud penggunaan tuturan oleh penutur dan mitra tutur.‟ Kutipan tersebut memberikan pengertian bahwa. Batasan yang dikemukakan parker tersebut dapat dikatakan pula bahwa studi kajian tata bahasa dianggap sebagai studi yang bebas konteks (context independent).” „Pragmatik adalah studi hubungan antara bahaasa dengan konteksnya (luar bahasa) yang merupakan dasar penentuan pemahamannya. dan waktu. Levinson mengungkapkan hal yang sama pula. 1986:11). Pragmatics is distinct from grammar. Antara studi tata bahasa dan pragmatik dibedakan menurut Parker. pengalaman. Dalam bukunya yang berjudul Pragmatics. hal ini mempunyai maksud bagaimana satuan lingual tertentu digunakan dalam komunikasi yang sebenarnya. Dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud parameter konteks adalah unsur-unsur yang terkait di luar bahasa yang menyertai sebuah tuturan. dan pragmatik studi bahasa secara eksternal. Menurut Halliday “terdapat teks dan terdapat pula teks yang menyertainya: teks yang menyertai teks tersebut adalah konteks” (1994:6). diantaranya penutur. “Pragmatics is the study of all those aspecs of meaning not captured in a semantic theory (1997:12)” „Pragmatik adalah kajian aspek-aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. Levinson memberikan beberapa batasan pragmatik antara lain seperti dalam kutipan berikut. persoalan yang . Hal tersebut dapat diamati dalam kutipan berikut. Pragmatik berbeda dengan tata bahasa. yang mempelajari struktur internal bahasa.‟ Batasan tersebut menjelaskan bahwa istilah konteks digunakan untuk mengacu pada pemahaman antara penutur dengan mitra tutur tentang pengetahuan. situasi. “Pragmatics is study of how language is used to communicate. pragmatik mengkaji makna satuan lingual secara eksternal sedangkan semantik mengkaji makna satuan lingual secara internal atau memandang bahasa menurut makna leksikal yang terpisah dari situasi dan konteks. seperti dalam kutipan berikut.‟ Jadi menurut Parker bahwa studi tata bahasa dianggapnya sebagai studi bahasa secara internal. Menurut pendapat Parker (1986) pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. which is the study of the internal struture of language (Parker.” „Pragmatik mempelajari bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi. mitra tutur. “ Pragmatics is the study of relations between language and context that are basic to an account of language understanding (1997: 21).

semua latar belakang yang berkaitan dengan pengetahuan penutur dan mitra tutur. direktif. Karya Austin yang dianggap sebagai perintis pragmatik berjudul How to Do Things with Words (1962). Morris (1938) dianggap sebagai peletak tonggaknya lewat pandangannya tentang semiotik. Dalam ilmu pragmatik suatu peristiwa tutur lebih mengacu pada maksud penutur terhadap tuturannya. maka dapat disimpulkan bahwa pragmatik sebagai cabang ilmu linguistik yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yang ditentukan oleh konteks dan situasi yang melatarbelakangi pemakai bahasa. serta menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. dan pragmatik. ilokusi. dan. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantic. yaitu: representatif. Menurut Grace. keunggulan . 1975).dipraanggapkan. Dalam karya tersebut. karya filsuf Austin (1962) dan muridnya Searle (1969. Ia mencetuskan teori tentang tindak tutur yang dianggap sangat penting dalam kajian pragmatik. kualitas. tempat dan peristiwa. dan daya ilokusi tuturan. Beberapa pemikir pragmatik lainnya. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai perkembangan ilmu pragmatic. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik. situasi. waktu. semantik. yaitu makna. Tindak tutur yang tidak terbatas jumlahnya itu dikategorisasikan berdasarkan makna dan fungsinya menjadi lima macam. komisih. Menurut Gunarwan (1994: 54).Dalam jangka yang cukup lama. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. seperti akan saya jelaskan kemudian. dan cara. banyak mengilhami perkembangan pragmatik. B. Perkembangan Pragmatik Pragmatik telah tumbuh di Eropa pada 1940-an dan berkembang di Amerika sejak tahun 1970an. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Makalah ini bertujuan menjelaskan perkembangan ilmu pragmatik serta pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Dengan kata lain. Ia membagi ilmu tanda itu menjadi tiga cabang: sintaksis. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. yaitu: Searle (1969) mengembangkan pemikiran Austin. dan deklaratif. Kemudian Halliday (1960) yang berusaha mengembangkan teori sosial mengenai bahasa yang memandang bahasa sebagai fenomena sosial. Gagasan penting lainnya adalah tentang tindak lokusi. relasi. Dari beberapa batasan mengenai pragmatik di atas. perlokusi. Di Amerika. Prinsip ini terdiri atas empat bidal: kuantitas. Untuk tujuan tersebut. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. ekspresif. Austin mengemukakan gagasannya mengenai tuturan performatif dan konstatif. menunjukkan pentingnya pragmatik di dalam ilmu linguistik. prinsip kerja sama adalah prinsip percakapan yang membimbing pesertanya agar dapat melakukan percakapan secara kooperatif dan dapat menggunakan bahasa secara efektif dan efisien. Grice (1975) mencetuskan teori tentang prinsip kerja sama (cooperative principle) dan implikatur percakapan (conversational implicature).

. dan kesimpatian. kesetujuan. Gumperz (1982) mengembangkan teori implikatur Grizer dalam bukunya Discourse Strategies. Pada karya Tallei (1988). Buku pragmatik pertama yang tergolong kritis adalah karya Bambang Kaswanti Purwo (1990) dengan judul Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Hal ini berdasarkan penelitian tentang penerapan prinsip kerja sama di masyarakat Malagasi. Fraser (1978) telah melakukan deskripsi ulang tentang jenis tindak tutur. Ia mengidentifikasi adanya lima karakteristik yang harus dipertimbangkan di dalam CDA. Perkembangan Pragmatik di Indonesia Istilah pragmatik secara nyata di Indonesia muncul pada 1984 ketika diberlakukannya Kurikulum Sekulah Menengah Atas tahun 1984. kemurahhatian. hampir sepenuhnya mengacu pada buku Discourse Analyses karya Stubbs (1983). Gadzar (1979) membicarakan bidang pragmatik dengan tekanan pada tiga topik. Keenan (1976) menyimpulkan bahwa bidal kuantitas. Levinson (1983) mengemukakan revisi sebagai uapaya penyempurnaan pendapat Grize tentang teori implikatur. yaitu: implikatur. menyatakan dan mempertanyakan status. Karya Wijana (1996) yang berjudul Dasar-dasar Pragmatik sudah menuju ke arah pragmatik yang lebih lengkap dan mendalam. kerendahhatian. tetapi orisinalitas gagasanya agak diragukan karena. praanggapan. konteks.teori prinsip kerja sama ini terletak pada potensinya sebagai teori inferensi apakah yang dapat ditarik dari tuturan yang bidal kerja sama itu. Yule (1996) mengembangkan teori tentang PKS dengan menghubungkannya dengan keberadaan tamengan (hedges) dan tuturan langsung-tuturan tak langsung. Sesuatu yang tidak diekspresikan itulah yang dinamakan implikatur percakapan. kekuasaan dan ideologi. 1984). Mey (1993) mengemukakan gagasan baru tentang pembagian pragmatik: mikropragmatik dan makropragmatik. Ia berpendapat bahwa pelanggaran atas prinsip kerja sama seperti pelanggaran bidal kuantitas dan cara menyiratkan sesuatu yang tidak dikatakan. yaitu “buatlah sumbangan Anda seinformatif-informatifnya sesuai dengan yang diperlukan”. Diawali oleh Tarigan (1986) yang membahas tentang pragmatik secara umum. Nababan (1987) dan Suyono (1990) juga masih terkesan „memperkenalkan pragmatik“. Lubis (1993). dan Ibrahim (1993) tampak deskripsi yang agak mendalam. melainkan juga untuk menyuruh. sebab belum membahas pragmatik secara rinci dan luas. C. Beberapa karya mengenai pragmatik mulai bermunculan. Goody (1978) menemukan bahwa pertanyaan tidak hanya terbatas digunakan untuk meminta informasi. terutama pada karya Tallei. historis. Leech (1983) mengemukakan gagasannya tentang prinsip kesantunan dengan kaidah yang dirumuskannya ke dalam enam bidal: ketimbangrasaan. dan bentuk logis. menandai hubungan antarpelaku percakapan. Dalam kurikulum ini pragmatik merupakan salah satu pokok bahasan bidang studi bahasa Indonesia (Depdikbud. keperkenanan. Schiffrin (1994) mambahas berbagai kemudian kajian wacana dengan menggunakan pendekatan pragmatic. Van Dijk (1998-2000) mengembangkan model analisis wacana kritis (Critical Discourse Analyses/ CDA) di dalam teks berita. yaitu: tindakan.

Dengan kata lain. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. misalnya. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. . Berdasarkan truth conditional semantics. dan kedua.Beberapa penelitian pun telah dilakukan dalam rangka disertasi. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. Namun demikian. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Secara umum. dan terakhir Saifullah (2001) dalam tesis magisternya. Atas dasar ini. Lebih tepatnya. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. dan memang sering kita temukan. Gunarwan (1992-1995). seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. dapat dipahami. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. D. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit di awal. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. makna apa yang dituturkan. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dalam kehidupan sehari-hari. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. pertama. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. Dengan demikian. Dalam sintaksis. di samping sintaksis dan semantik. di antaranya adalah Kaswanti Purwo (1984). bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. Kegunaan pragmatik. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. dan maksud dari tuturan. Rofiudin (1994). Rustono (1998). dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. Dengan demikian. dalam analisis bahasa. bagaimana memahami implikatur percakapan. untuk dapat dinyatakan benar. selain tata bahasa. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa.

Simpulan Pragmatik adalah studi baru dalam ilmu bahasa di dunia termasuk Indonesia. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. Kaidah bersifat deskriptif. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). Tentang perbedaan yang pertama. sebab daya mencakup juga makna. Lebih jauh lagi. dan kedua. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. agar bahasa dapat digunakan dalam komunikasi. dapat bertentangan dengan prinsip lain. bahasa yang digunakan harus baik. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. Namun. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. berkaitan dengan . semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Dalam pengajaran bahasa asing. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. terdapat keterkaitan. dalam arti praktis. Linguistik adalah studi yang jangkauannya semakin meluas sehingga menyebabkan pandangan mengenai hakikat bahasa dan batasan linguistik juga berubah dan semakin meluas. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. membawa pengetahuan dan perkembangan baru bagi studi yang dapat dikatakan baru seumur jagung ini. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Seperti telah disebutkan di muka.Selanjutnya. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. mereka yang mengembangkan paradigma pragmatik masih mendapat pengaruh besar terutama dari Austin dan Searle. Berdasarkan penjelasan di atas. perumus pandangan tentang makna dari segi daya ilokusi. dalam pengajaran bahasa. absolut atau bersifat mutlak. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. Selanjutnya. perkembangannya sangat pesat. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. pertama. Meskipun hingga saat ini. Secara umum. Banyak pemikir pragmatik bermunculan bersama karyanya. kedua. Hal ini dimungkinkan karena adanya sifat-sifat bahasa yang dapat dimengerti melalui linguistik. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). pertama. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. dan dari Grice yang memandang makna dari segi amplikatur percakapan. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Dengan kata lain. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. karena selain benar. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). misalnya. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya.

1990. A Short History of Linguistics. Renkema. Oxford: Oxfod University Press. jangan lupa tinggalkan komentar anda….ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. A Critique of Politeness Theories. Basuki. IKIP Singaraja. Edinburgh: Pearson Education. 1996. Levinson. Bandung Austin.selamat belajar. . Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. Pragmatics. 2002.” Dalam Pesona Bahasa Langkah Awal memahami Linguistik. Jan. George. 2005. Gino. Eelen. berkaitan dengan pengajaran bahasa. 1978. 1995. Oxford. Selain itu. K. dan Stephen C. Manchester. John L. “Tokoh-tokoh Linguistik Abad ke-20.. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Oxford University Press. ok. 2001. London/New York: Longman. Jaszczolt. Asim. Cambridge: Cambridge University Press. Jenny. Laporan Jurnal Pragmatik: dari Morris sampai Dijk dan Perkembangannya di Indonesia . Jakarta: Gramedia Pustaka Thomas. Politeness: Some Universal in Language Usage. Penelope. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. 2004. Brown. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Jerome Publishing Gunarwan.M. 2002. 2004. 1962. R. Robins. (ed) Multamia Luder. Referensi Aceng Ruhendi Saifullah. London: Longman Suhardi. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Introduction to Discourse Studies. UK: St.H. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. How to Do Things with Word (edisi kedua). Yule.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->