P. 1
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tonsil It Is

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tonsil It Is

|Views: 472|Likes:
Published by Ariska Juniar Arlan

More info:

Published by: Ariska Juniar Arlan on Apr 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada tahap perkembangan anak usia 4-6 tahun penyakit mudah menjangkit. Salah satunya adalah Amandel atau tonsil yang merupakan kumpulan jaringan limfoid yang terletak pada kerongkongan di belakang kedua ujung lipatan belakang mulut. Tonsil berfungsi mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan kuman memasuki tubuh melalui mulut, hidung, dan kerongkongan, oleh karena itu tidak jarang tonsil mengalami peradangan. Peradangan pada tonsil disebut dengan tonsilitis, penyakit ini merupakan salah satu gangguan THT (Telinga Hidung & Tenggorokan). Tonsilitis dapat bersifat akut atau kronis. Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari, dan umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Seperti yang di jelaskan di atas, maka kami mencoba untuk mencari tahu tentang tonsillitis dengan keterkaitan pada kasus yang ada.

B. Identifikasi Kasus 1. Jelaskan anatomi dan fisiologi bronchus dan bronchioles 2. Jelaskan fungsi respirasi terkait dengan masalah 3. Jelaskan diferensial diagnosis untuk kasus tersebut (influenza, pneumonia, bronchopneumonia) 4. Jelaskan proses patofisiologi (gunakan pathway) 5. Sebutkan pemeriksaan diagnostic yang mungkin dilakukan pada kasus diatas 6. Proses keperawatan a. Aspek pengkajian dengan pendekatan keperawatan anak b. Diagnosa keperawatan c. Rencana tindakan 7. Jelaskan aspek etik dan legal yang berhubungan dengan perawatan kasus diatas C. Tujuan Pembuatan makalah ini bertujuan untuk:
1

1. Mampu melakukan simulasi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi pada kasus tonsillitis 2. Mampu melakukan simulasi asuhan keperawatan pada kasus tonsillitis 3. Mampu menggunakan hasil penelitian yang terkait dengan kasus pada system respirasi

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.A. Anatomi dan Fisiologis Sistem Pernapasan Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru-paru beserta pembungkusnya (pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di dalam rongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut oleh diafragma.

Saluran nafas yang dilalui udara adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan alveoli. Di dalamnya terdapat suatu sistem yang sedemikian rupa dapat menghangatkan udara sebelum sampai ke alveoli. Terdapat juga suatu sistem pertahanan yang memungkinkan kotoran atau benda asing yang masuk dapat dikeluarkan baik melalui batuk ataupun bersin. PARU • Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut • Terletak dalam rongga dada atau toraks • Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan pembuluh darah besar • Setiap paru mempunyai apeks dan basis
3

Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru • Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan. Diantara pleura visceral dan pleura parietal terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas sehingga memungkinkan pergerakan dan pengembangan paru secara bebas tanpa ada gesekan dengan dinding dada.• Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris • Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus • Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya PLEURA • Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis • Terbagi mejadi 2 : .Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada . Pleura ada yang menempel langsung ke paru. hal ini untuk mencegah kolap paru-paru Paru-paru dibungkus oleh pleura. disebut sebagai pleura visceral. juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru • Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir. Rongga dada diperkuat oleh tulang-tulang yang membentuk rangka dada. sternum (tulang dada) tempat 4 . Sedangkan pleura parietal menempel pada dinding rongga dada dalam. Rangka dada ini terdiri dari costae (iga-iga).

interkostalis internus (antar iga dalam) yang menurunkan iga-iga. Otot-otot yang berfungsi dalam bernafas adalah sebagai berikut : 1. 5. 3. dan vertebra torakal (tulang belakang) tempat menempelnya iga-iga di bagian belakang. otot dalam diafragma yang dapat menurunkan diafragma. sternokleidomastoid yang mengangkat sternum (tulang dada). 5 .sebagian iga-iga menempel di depan. otot perut yang menarik iga ke bawah sekaligus membuat isi perut mendorong diafragma ke atas. interkostalis eksterrnus (antar iga luar) yang mengangkat masing- masing iga. 2. 4. Terdapat otot-otot yang menempel pada rangka dada yang berfungsi penting sebagai otot pernafasan. skalenus yang mengangkat 2 iga teratas. 6.

Bagian terakhir dari perjalanan udara adalah di alveoli. Sampai dengan percabangan bronkus terakhir sebelum bronkiolus.Percabangan saluran nafas dimulai dari trakea yang bercabang menjadi bronkus kanan dan kiri. bronkus dilapisi oleh cincin tulang rawan untuk menjaga agar saluran nafas tidak kolaps atau kempis sehingga aliran udara lancar. Masing-masing bronkus terus bercabang sampai dengan 20-25 kali sebelum sampai ke alveoli. Di sini terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dari pembuluh darah kapiler dengan 6 .

Bronkiolus respiratori • Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori • Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas 5. Trakea • Disebut juga batang tenggorok • Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina Saluran Nafas Bawah : 1. limfatik dan saraf 2. Terdapat sekitar 300 juta alveoli di kedua paru dengan diameter masingmasing rata-rata 0.2 milimeter.udara. Duktus alveolar dan Sakus alveolar • Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar • Dan kemudian menjadi alveoli 7 . Bronkiolus • Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus • Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas 3. Bronkus • Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri • Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus) • Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental • Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri. Bronkiolus Terminalis • Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia) 4.

Pernapasan  Dinding alveolus terdiri dari lapisan sel alveolus Tipe I (membranuos pneumocytes)  Epitel alveolus juga mengandung sel alveolus Tipe II yg mengeluarkan surfaktan  Ruang interstitium antara kapiler dan alveolus membentuk sawar yg sangat tipis (0. volume paru bertambah.Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps) .Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan II. yaitu: 1. Proses Pernafasan Eksternal Bernapas atau pernapasan merupakan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi). difragma turun. dapat mengembang dan berbentuk buah anggur yg terdapat diujung percabangan sal. Pada inspirasi. volume rongga dada membesar.B. 8 .6. Alveoli  Kantung udara tipis.2 µm)   Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2 Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2  Terdiri atas 3 tipe : .Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli . Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya. Udara masuk dan keluar dari paru-paru dikarenakan adanya selisih tekanan udara di atmosfer dan alveolus didukung oleh kerja mekanik otot-otot. Proses bernapas terdiri dari 3 bagian.

difragma relaksasi dan paru-paru mengempis. Hal tersebut menyebabkan penurunan luas rongga dada. C. Selama inspirasi. Tekanan udara atmosfir Udara mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke tekanan rendah. Luas Permukaan Paru 9 .5 mm). Tekanan alveoli kemudian melebihi tekanan di atmosfer. sehingga menurunkan tekanan dalam rongga dada sampai di bawah tekanan atmosfer. kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. tekanan parsial ini mengalami penurunan sebagai akibat dari udara yang tercampur dengan ruang anatomis pada saluran udara dan dengan uap air. bronkiolus. pergerakan diafragma dan otot Bantu pernapasan lainnya memperluas rongga dada. Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi A. Pada waktu O2 diinspirasi dan sampai pada alveolus. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-paru yang tipis(<0. sehingga udara terdesak keluar dari paru-paru menuju atmosfer. udara bergerak dari luar ke dalam trachea. Jalan napas yang bersih Adanya benda asing dalam saluran napas akan mengakibatkan udara terhambat masuk ke dalam alveolus. B. gas yang terdapat dalam alveolus prosesnya berjalan seperti inspirasi dengan alur terbalik. Pada saat ekspirasi normal.Mekanisme ventilasi adalah dimulai dari proses inspirasi. Pada saat inspirasi paruparu mengembang dan saat ekspirasi paru-paru mengempis. Pengembangan paru yang adekuat Kemampuan paru untuk mengembang atau mengempis. Selama ekspirasi. bronkus. dan alveoli. 2. Hal ini menyebabkan udara tertarik melalui trakea dan bronkiolus lalu masuk hingga ke adalam alveoli. Selama inspirasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi: A.

3. Tekanan pada membran Semakin besar perbedaan tekanan pada membran maka semakin cepat kecepatan difusi.Semakin besar area membran paru-paru maka semakin besar kuantitas gas yang dapat berdifusi melewati membran dalam waktu tertentu. Koefisien Difusi Secara langsung berbanding lurus terhadap kemampuan terlarut suatu gas dalam cairan membran paru-paru dan berbanding terbalik terhadap ukuran molekul. Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. D. Keadaan atau jumlah kapiler darah F. Curah Jantung (cardiac output/CO) b) . nitrogen = 0. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi: a) . Hematokrit darah 10 . C. Molekul kecil berdifusi lebih tinggi atau cepat daripada ukuran gas besar yang kurang dapat larut. Transpor Yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari tubuh ke kapiler. Nilai koefisien difusi O2 = 1. Jumlah darah E. Waktu adanya udara di alveoli G. Jumlah sel darah merah c) .53 dan CO2= 20. Tebal membran respirasi Semakin tipis membran maka semakin cepat difusi gas melalui membran tersebut ke bagian yang berlawanan. B. Perbandingan nilai koefisien tersebut menggambarkan bahwa CO2 paling mudah larut dan N2 yang paling kurang dapat larut. 3.

Kelarutan CO2 lebih besar dari O2 sehingga dapat dipastikan CO2 lebih banyak dari O2. Ikatan ini bersifat reversible. 3) 70% ditranspor sebagai bikarbonat plasma. Pengangkutan O2 ke jaringan tertentu tergantung pada : 1) 2) 3) 4) Jumlah O2 yang masuk paru-paru Pertukaran gas yang cukup pada paru-paru Aliran darah ke jantung Kapasitas pengangkutan O2 oleh darah Dinamika reaksi hemoglobin (Hb) debgan O2 sangat memudahkan pengangkutan O2. Oksigen dapat disalurkan dari paru-paru ke jaringan melalui dua cara yaitu fisik larut dalam plasma atau secara kimia berikatan dengan Hb sebagai oksihemoglobin (HbO2). Selanjutnya O2 masuk ke sel-sel jaringan tubuh untuk memnuhi kebutuhan jaringan yang bersangkutan. Hemoglobin yang berikatan dengan CO2 disebut pada vena karbaminohemoglobin. Karbondioksida yang berdifusi dapat dengan cepat mengalami hidrasi menjadi H2CO3 yang disebabkan adanya aktivitas 11 .Transportasi gas antara paru-paru dan jaringan meliputi proses-proses berikut ini: A. Transpor Karbondioksida dalam darah Transpor karbondioksida dari jaringan ke paru-paru yang selanjutnya untuk dibuang dilakukan dengan tiga cara yaitu: 1) 10% secara fisik larut dalam plasma 2) 20% berikatan dengan gugus amino pada hemoglobin dalam sel darah merah. Transpor oksigen dalam darah Sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri atas paru-paru dan system kardiovaskuler. Pada tingkat ini jaringan. O2 mengalami disosiasi (berpisah) dari hemoglobin kemudian berdifusi ke dalam plasma. Hemoglobin yang melepaskan O2 pada tingkat jaringan disebut hemoglobin tereduksi. Hemoglobin ini berwarna ungu dan menyaebabkan waran kebiruan pada daerah vena seperti superficial. B.

Etik merupakan studi perilaku. Hipoventilasi dapat menyebabkan asidosis akibat retensi tertahannya CO2 di dalam paru-paru. Kurva disosiasi oksihemoglobin Oksihemoglobin adalah struktur terikatnya oksigen pada hemoglobin. Efek tersebut bermanfaat karena menciptakan efisiensi transportasi di dalam alveoli. Hipoventilasi terjadi jika total paru-paru berkurang seperti apabila seseorang bernapas cepat dan dangkal.enzim anhidrase karbonat. Besi tersebut berbentuk ferro sehingga reaksinya adalah oksigenasi bukan oksidasi. C. Istilah yang menggambarkan terganggunya keseimbangan asam dan basa pada system respirasi adalah hiperventilasi dan hipoventilasi. Reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: CO2 + H2O <=> H2CO3 <=> H+ + HCO3Keseimbangan asan dan basa sangat dipengaruhi oleh fungsi paru-paru serta homeostatis karbondioksida.3 disfosfogliserat. karakter dan motif yang baik serta ditekankan pada penetapan apa yang baik dan berharga bagi semua orang. Hiperventilasi terjadi jika metabolisme tubuh terlampaui sehingga mendesak alveolus melakukan ventilasi secara berlebihan. Heme pada unit hemoglobin adalah kompleks yang dibentuk dari porfirin dan satu atom besi ferro. Selanjutnya H2CO3 berdisosiasi menjadi H+ dan HCO3-. Aspek Etik Dan Legal Definisi etik Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar dan salah. Masing-masing atom besi dapat berikatan secara reversible dengan satu molekul O2. II. suhu. Kondisi itu akan menyebabkan alkalosis respiratorik. 12 .Terdapat tiga faktor penting yang mempengaruhi kurva ikatan (disosiasi) oksihemoglobin yaitu pH. baik dan buruk dalam hubungan dengan orang lain. dan konsentrasi 2. C.

Kebaikan. dan kemanusiaan. Dalam kasus ini perawat juga harus bisa melindungi dan memberikan rasa aman pada pasien dari bahaya karena pasien masih anak-anak yang berusia 4 tahun. dan juga pendekatan pada keluarga klien dan orang yang berarti bagi klien. perasaan. dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. kerahasiaan. b. standar praktek. legal. Kaitan dari kasusu di atas. Sedangkan prinsip sekunder dari prinsip etis adalah kejujuran. keinginan. Kejujuran berarti kewajiban untuk mengungkapkan 13 . maka perawat harus memberikan perawatan yang sama dengan pasien lain dan perawat memberikan perawatan kepada pasien sesuai dengan takaran yang sudah di tentukan. Praktek professional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya. Perawatan yang baik memerlukan pendekatan yang holistik pada pasien meliputi menghargai pada keyakinan. dan kesetiaan. Tujuan utama tim kesehatan untuk memberikan sesuatu yang baik buat pasien. Beneficence : Beneficience berarti. c. Dalam kasus ini berdasarkan konsep tumbuh kembang klien yang masih berusia 4 tahun termasuk pada masa kanak-kanak awal yang belum mampu mengambil keputusan sendiri maka aspek etik ini lebih difokuskan pada orang tuanya. hanya melakukan sesuatu yang baik. d. Justice : Prinsip keadilan dibutuhkan untuk pelayanan yang sama dan adil pada setiap pasien yang menjunjung prinsip-prinsip moral. Orang tua klien dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat keputusan sendiri.a. Nonmaleficience : Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya atau cedera fisik dan psikologis pada klien Terpenuhi prinsip ini saat petugas kesehatan tidak melakukan sesuatu yang membahayan bagi pasien (do no harm) disadari atau tidak disadari. berhak memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai orang lain. Nilai ini direfleksikan dalam praktek professional ketika perawat bekerja untuk melayani secara baik dan benar yang sesuai hokum. Autonomy : Prinsip autonomy didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. tidak boleh melebihi dan mengurangi.

Causation : Membuat kerugian. kerahasiaan berarti kewajiban untuk melindungi informasi rahasia. d. hukum b. Break of duty : Melanggar standar. Aspek Legal (sukamto. 14 . c. Dalam hal ini. Prinsip kejujuran mengarahkan praktisi atau perawat untuk menghindari melakukan kebohongan kepada klien atau menipu mereka. Malpraktek : Tidak melaksanakan pekerjaan yang lazim dilakukan oleh profesi menurut tolak ukur ilmu. perawat berusaha menjaga kerahasiaan tentang status kesehatan klien karena klien pun memiliki hak untuk hal itu. keterampilan. Jika dalam keperawatan. Kelalaian berat mengakibatkan kematian. legal berarti tindakan perawtan yang sah sesuai dengan undang– undang kesehatan yang berlaku di Indonesia dank ode etik keperawatan. cidera orang lain. sumpah/janji. kode etik. Perawat menghindari pembicaraan mengenai kondisi klien dengan siapapun yang secara tidak langsung tidak terlibat dalam perawatan klien. perawat harus bekerja dan melayani sesuai standar yang tidak boleh melanggar standar agar tetap menjaga kualitas pelayanan kesehatan yang menunjang untuk kesembuhan pasien. Negligence : Kelalaian yang mengakibatkan kerugian materi. Kerahasiaan adalah prinsip etika dasar yang menjamin kemandirian klien. dan kesetiaan berarti kewajiban untuk menepati janji.kebenaran. Prinsip kesetiaan menyatakan bahwa perawat harus memegang janji yang dibuatnya pada klien. a. mencelakakan. e.1989) Legal adalah tindakan sah yang sesuai dengan aturan perundang – perundangan. Duty : Kewajiban yang harus dilaksanakan perawat terhadap pasiennya.

dan kerongkongan. hidung. Peradangan pada tonsil disebut dengan tonsilitis. penyakit ini merupakan salah satu gangguan THT (Telinga Hidung & Tenggorokan). 15 . serta tidak menimbulkan komplikasi tidak perlu dilakukan pembedahan/operasi. Sedangkan radang amandel/tonsil yang kronis terjadi secara berulang-ulang dan berlangsung lama. Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari.A Anatomi dan Fisiologis Bronchus dan bronchioles Amandel atau tonsil merupakan kumpulan jaringan limfoid yang terletak pada kerongkongan di belakang kedua ujung lipatan belakang mulut. Tonsil berfungsi mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan kuman memasuki tubuh melalui mulut. dan umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Peradangan tonsil yang akut ataupun pembengkakan tonsil yang tidak terlalu besar dan tidak menghalangi jalan pernapasan. oleh karena itu tidak jarang tonsil mengalami peradangan.BAB III PEMBAHASAN KASUS III. Pembesaran tonsil/amandel bisa sangat besar sehingga tonsil kiri dan kanan saling bertemu dan dapat mengganggu jalan pernapasan. karena tonsil yang terbuat dari jaringan getah bening dapat berfungsi mencegah tubuh agar tidak terkena penyakit yang berhubungan dengan infeksi. Tonsilitis dapat bersifat akut atau kronis.

Saluran Nafas Bawah : 1. Duktus alveolar dan Sakus alveolar • Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar • Dan kemudian menjadi alveoli 16 . Bronkiolus • Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus • Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas 3. Bronkus • Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri • Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus) • Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental • Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri. Bronkiolus Terminalis • Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia) 4. Bronkiolus respiratori • Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori • Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas 5. limfatik dan saraf 2.

Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps) . kripta melebar di atasnya tertutup eksudat yang purulen (Perawatan Anak 17 .2 µm)   Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2 Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2   Terdiri atas 3 tipe : . Alveoli  Kantung udara tipis.6. Gangguan fungsi respirasi yang dapat terjadi karena penyakit tersebut adalah : 1.Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli .B Fungsi Respirasi Terkait Keterkaitan dengan kasus : Pada kasus tersebut pasien A menderita penyakit tonsillitis. Penderita tonsillitis akan mengalami gangguan saat inspirasi dan ekspirasi. Pernapasan  Dinding alveolus terdiri dari lapisan sel alveolus Tipe I (membranuos pneumocytes)  Epitel alveolus juga mengandung sel alveolus Tipe II yg mengeluarkan surfaktan  Ruang interstitium antara kapiler dan alveolus membentuk sawar yg sangat tipis (0. dapat mengembang dan berbentuk buah anggur yg terdapat diujung percabangan sal.Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan III. Ventilasi Gangguan terjadi pada saat inspirasi dikarenakan jalan nafas yang tidak bersih. Adanya pembesaran tonsil disetai perlengketan ke jaringan sekitar.

Penyebab dari timbulnya influenza adalah Haemophillus influenza (tipe A. 3. Difusi Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai pada alveolus jumlahnya sedikit maka oksigen yang didifusi sedikit juga. influenza tidk sama dengan virus perut yang menyebabkan diare dan muntah.Sakit hal. Hipoventilasi dapat menyebabkan asidosis akibat retensi tertahannya karbondioksida di dalam paru. dan C).C . Tonsilitis yang membesar akan menyebabkan gangguan pernafasan melalui hidung maka pasien selalu bernafas melalui mulut. Pnemonia dan Bronchopnemonia INFLUENZA Influenza adalah infeksi virus yang menyerang system pernapasan termasuk hidung. Diferensial Diagnosis Untuk Influenza. Transportasi Keseimbangan asam basa sangat dipengaruhi oleh fugsi paru-paru serta homeostasis karbondioksida. B. III. saluran bronchial dan paru-paru yang menjangkit pasien pada semua tingkat usia. tenggorokan. Kompensasi yang diberikan tubuh terhadap gangguan yang terjadi pada pasien tonsillitis tersebut adalah bernafas dengan cepat dan dangkal untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang kurang dalam tubuhnya. 36) menyebabkan oksigen yang masuk dari atmosfer ke dalam alveolus sangat sedikit jumlahnya begitu pula dengan karbondiksida yang terentensi di dalam paru (hipoventilasi). Hipoventilasi alveolus akan menyebabkan asidosis respiratori sehingga pH akan menurun. 2. Pada pasien A keseimbangan asam dan basa pada system respirasi terganggu karena adanya hipoventilasi. Hipoventilasi alveolus dapat terjadi jika total volume paru –paru berkrang seperti yang terjadi apabila pasien bernafas cepat dan dangkal. Tipe A bertanggungjawab atas pandemic influenza mematikan 18 . Meskipun umum disebut flu.

Btuk. Nyeri otot. Gemetar dan berkeringat Batuk kering Suara serak 10. Meskipun influenza dapat berkembang menjadi lebih parah dan dapat menyebabkan pneumonia. Penyebab pneumonia yang paling sering adalah bakteri. rinorrhea. Terdapat beberapa keluhan perasaan lemas selama 1-2 minggu setelah periode akut. Pertukaran gas tidak dapat berlangsung pada daerah yang mengalami konsolidasi dan darah dialirkan ke sekitar alveoli yang tidak berfungsi. Tipe B dapat menyebabka wabah yang lebih kecil atau terlokalisasi yang biasanya muncul setiap 3-15 tahun sekali. 8. virus. 6. Sakit biasanya berlangsung 2-5 hari diikuti dengan rasa lelah selama 2-3 minggu. bahkan kematian namun komplikasi ini jarang terjadi. Tipe C kurang umumdan hanya menyebabkan gejala ringan. protozoa. Baik tipe A atau B dapat menyebabkan flu yang beredar setiap musim hujan. jamur.(epidemic seluruh dunia) yang menyerang setiap 10 sampai 40 tahun sekali. 2. Nyeri kepala hebat. kerusakan saraf dan otak. lengan. 5. Umumnya perjalanan 19 . riketsia dan benda-benda asing. PNEUMONIA Pneumonia adalah suatu proses peradangan dimana terdapat konsolidasi yang disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat (nanah dan cairan lain). 9. dan hidung tersumbat c. 7. Sakit dan gatal tenggorokan b. bersin. Tanda dan gejala umum influenza. 4. dan kaki. micoplasma. terutama punggung. Demam (38-40)° dan menggigil Fatigue dan weakness Anoreksia Manifestasi kinik pada system pernapasan : a. antar lain: 1. 3.

Bare. Pneumococcus. Kesukaran bernafas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Aspergillus Sp. Jamur : Citoplasma Capsulatum. batuk produktif yang lama. (Suzzane G. Nyeri dada/sesak nafas (sakit waktu bernafas) 3. Virus Sitomegalik. Streptococcus Hemoliticus Aureus. 5. Pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernafas. diantaranya : 1. Gejala penyakit ini berupa napas sesak dan cepat. Candida Albicans. Mycoplasma Pneumonia. Dahak berwarna kehijauan atau seperti karet. diantaranya : 20 . Haemophilus Influenza. Virus : Respiratory Syntical Virus. tetapi kemudian menghasilkan sputum (dahak) tebal yang bercampur dengan darah. nadi meningkat. BRONCHOPNEUMONIA  Adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercaj infiltrate. pernafasan meningkat. 7. 1996)  Adalah frekuensi komplikasi pulmonary. Nadi cepat 8. Blastomices Dermatides. serta gambaran hasil rontgen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru-paru. 2. Virus Influenza. tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat. 1993) Penyebabnya: 1. Bakteri : Diplococcus Pneumonia. Tanda dan gejala bronchopneumonia. 4.pneumonia disebabkan oleh cedera atau infeksi pada saluran nafas bawah yang menyebabkan peradangan. 6. Basillus Friendlander (Klebsial Pneumoni). Batuk yang mula-mula kering dan sakit. Demam mendadak yang disertai dengan gemetar dan menggigil 2. karena paru-paru meradang secara mendadak.. Mycobacterium Tuberculosis. (Whalley and Wong. Cocedirides Immitis. Criptococcus Nepromas. Tanda dan gejala pneumonia. 3.

Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus tersebut maka akan timbul tonsillitis. Patofisiologi Tonsilitis Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid). Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut. tonsillitis membranosa. saat aukultasi suara nafas bronchi basah yang halus dan nyaring. Batuk-batuk yang non produktif “nafas bunyi”. Batuk pilek yang mungkin berat sampai terjadi insufisiensi pernafasan dimulai degan infeksi saluran bagian atas. Hal ini akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang. Nafas cepat dan sesak 3. bagian organ tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. tonsil berfungsi sebagai filter/penyaring menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. 4.D. tonsil palatina. yaitu tonsillitis akut. Tonsillitis sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki virus atau bakteri. 7. 21 . dan tonsil faringal yang membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. 8. 5. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis. dan tonsillitis kronis. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara kedua pilar fausium dan berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini. Anoreksia dan kesulitan menelan. pemeriksaan paru saat perkusi redup. Sakit kepala. Suhu meningkat (39-40)° disertai menggigil 2. Nyeri otot. III.1. Penderita batuk kering. 6.

tidak nafsu makan. nyeri tenggorok dan nyeri sewaktu menelan. nyeri kepala. dan rasa nyeri di telinga. rasa lesu. Tonsilitis akut Tonsillitis akut ini lebih disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus beta hemolitikus. Tonsilitis Difteri Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram positis pleomorfik5penghuni saluran pernapasan atas yang dapat menimbulkan abnormalitas toksik yang dapat mematikan bila terinfeksi bakteriofag. serta Angina Plaut Vincent. Gejala dan tanda kenaikan suhu subfebril. Tonsillitis difteri ini lebih sering terjadi pada anak-anak pada usia 2-5 tahun. Tonsillitis ini seringkali terjadi mendadak pada anak-anak dengan peningkatan suhu 1-4 derajat celcius. badan lemah. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan. Virus terkadang juga menjadi penyebab penyakit ini. tidak nafsu makan.1. demam dengan suhu tubuh yang tinggi. Membran ini melekat erat pada dasar 22 . suara akan menjadi serak. rasa nyeri di persendian.1. Tonsilitis septic. tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor makin lama makin meluas dan menyatu membentuk membran semu. Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak. hiperemis. 2. benda atau makanan uang terkontaminasai dengan masa in kubasi 2-7 hari. nafas yang berbau. nyeri tnggorok. Gejala dan Tanda suhu tubuh naik hingga 40o celcius. dan nadi lambat. lacuna akan tertutup oleh membrane semu. Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes. Tonsilitis membranosa Ada beberapa macam penyakit yang termasuk dalam tonsillitis membranosa beberapa diantaranya yaitu Tonsilitis difteri. 2. dan terdapat detritus berbentuk folikel. Gejala local berupa nyeri tenggorok. pneumokokus. Penularan melalui udara.

tenggorokan terasa kering. Gejala dan Tanda Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam sampai 39o celcius. badan lemah. Bila infeksi tidak terbendung kelenjar limfa leher akan membengkak menyerupai leher sapi. nuyeri kepala.2. 2. pengobatan radang akut yang tidak adekuat. pernapasan berbau. 23 . Tonsilitis septic Penyebab dari tonsillitis ini adalah Streptokokus hemolitiku yang terdapat dala susu sapi sehingga dapat timbul epidemic. rangsangan kronik karena rokok maupun makanan.3.dan bila diangkat akan timbul pendarahan. Rasa nyeri di mulut. Oleh karena itu perlu adanya pasteurisasi sebelum mengkonsumsi susu sapi tersebut. bila menghebat akan terjadi sesak nafas. namun terkadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan Gram negatif. dan gusi berdarah. 3. defisiensi vitamin C serta kuman spirilum dan basil fusi form. hipersalivasi. Angina plaut vincent Penyakit ini disebabkan karena kurangnya hygiene mulut. dan terkadang terdapat gangguan pencernaan. Gejala eksotoksin akan menimbulkan kerusakan pada jantung berupa miokarditis sampai decompensation cordis 2. Gejala dan Tanda Adanya keluhan pasien di tenggorokan seperti ada penghalang. kriptus membesar dan terisi detritus. Faktor penyebab : Mulut yang tidak hygiene. Tonsilitis kronik bakteri penyebab tonsillitis kronis sama halnya dengan tonsillitis akut . Saat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata. Jika menutupi laring akan menimbulkan serak dan stridor inspirasi. gigi.

Catat warna. 5. jumlah dan bau sputum dan dokumentasi tanggal dan waktu spesimen dikirim ke laboratorium khusus untuk dianalisis. Saat melakukan kultur tenggorok perawat memasukkan swab ke dalam daerah faring dan menghapuskannya sepanjang daerah yang berwarna kemerahan dan daerah eksudat. Normal udara yang diinspirasi itu adalah 500 ml. Sputum kultur dapat mengidentifikasikan mikroorganisme tertentu dan resistansi serta sensitivitasnya terhadap obat. UJI USAP TENGGOROKAN Uji usap tenggorokan dilakukan dengan menggunakan kasa steril. Suatu sampel kultur tenggorok diperoleh dengan mengusap daerah tonsil dan daerah orofaring dengan swab steril. Bila hasil laboratorium positif maka pasien kita berikan antibiotic untuk mengobati infeksi pada tenggorokan. Dengan spirometri ini kita dapat mengkaji jumlah udara yang diinspirasi.III.. 3. SPIROMETRI STATIK Alat ini berguna untuk mengukur kapasitas pernapasan paru-paru. SPESIMEN SPUTUM Untuk mengidentifikasi tipe organisme yang berkembang dalam sputum. Kasa steril diusapkan ke tenggorokan yakni pada bagian yang meradang atau kemerahan kemudian diperiksa di laboratorium untuk melihat ada tidaknya bakteri pada tenggorokan seperti bakteri Streptococus. 4. BRONKOSKOPI Merupakan pemeriksaan visual pada pohon trakeobronkial melalui bronkoskop serat optic yang fleksibel dan sempit. 24 . konsistensi. Dilakukan untuk memperoleh sample biopsi dan carian atau sampel sputum dan untuk mengangkat plak lendir atau benda asing yang menghambat jalan napas. Kultur tenggorok menentukan adanya mikroorganisme patogenik. Pada kasus pasien sulit untuk menarik napas yang mengakibatkan volume udara yang dihirup melalui hidung berkurang dan proses ventilasi juga terganggu. KULTUR TENGGOROK. 2.D Pemeriksaan Diagnostik 1.

Dengan foto polos ini kita dapat melihat adanya infeksi pada tenggorokan seperti pada pasien kasus 2. Kebutuhan Dasar Manusia 25 . Riwayat kesehatan maasa lalu e.6. Peradangan pada tonsil mengakibatkan adanya peningkatan jumlah leukosit untuk membunuh bakteri yang menyebabkan radang tersebut. ada pembengkakan pada nodus limpha submandibular . PEMERIKSAAN DARAH. Riwayat kesehatan saat ini awalnya klien mengalami kenaikan suhu (390 C) disertai sesak nafas kemudian tenggorokannya mengalami kemerahan dan agak bau serta pembengkakan tonsil dengan eksudat putih bilateral. Riwayat persalinan f. dimana pasien mengalami pembengkakan pada nodus limph submandibular dan tenggorokan agak kemerahan yang mengakibatkan pasien tidak mampu makan makanan yang keras. III. c. Identitas klien Nama : A Usia : 4 tahun b. tidak mampu makan makanan keras. Keluhan utama Klien mengeluh sesak nafas. Pengumpulan data a. Pengkajian 1. kadang terbangun malam.E. 7. d. sulit untuk menarik nafas. Asuhan Keperawatan A. PEMERIKSAAN RADIOLOGI Yakni dngan cara foto polos esophagus (rontgen).

minum : kadang terbangun minimal 1X dalam : tidak ada masalah g. pembengkakan pd nodus limph s submandibular - auskultasi : HR=120/menit. RR=40/menit palpasi : paru bersih h. agak bau Uvula di tengah Tonsil ++ dengan eksudat putih bilatera 26 . DS: Klien mengeluh sesak nafas tidak mampu makan makanan keras. RR = 40 x/menit Tenggorokan merah. BB = 35 kg Tenggorokan kemerahan. Pemeriksaan fisik inspeksi : TB = 100 cm. Pemeriksaan tumbuh kembang 2. Pengelompokan data a. BB = 35 kg. minum masih bias kadang terbangun minimal 1 kali dalam semalam demam b.- Makan dan minum masih bisa Pola tidur semalam Eliminasi Aktivitas/bermain : - : susah makan makanan berat. HR = 120 x/menit. Tonsil ++ dgn eksudat putih bilateral. DO: TB =100 cm. tidak ada petechiae pd platum uvula tengah.

DS: klien mengeluh sulit menelan makanan yang keras Proses penyakit inflamasi Nutrisi kurang dari tomor dolor kebutuhan sulit menelan 3. DS : klien mengeluh demam DO : suhu meningkat (39°C) Interleukin Hipertemik Mengeset thermostat Reaksi peningkatan panas tubuh Hipertemik 27 . Data DS : klien mengeluh sesak nafas DO : RR 40 x/menit Etiologi Peradangan tonsil Masalah Bersihan jalan nafas Pembengkakan nodus limph Submandibular tak efektif Akumulasi secret Obstruksi Gangguan ventilasi Bersihan jalan nafas Tak efektif 2.Analisa Data No 1.

posisikan klien pada posisi nyaman . Nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan denganporses inflamasi(tumor. dimana penelanan dapat dipastikan terjadi -membiasakan klien untuk tetap menelan makanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi .berikan makanan 28 -klien kembali mampu untuk menelan makanan keras -bantu klien untuk -penempatan menggerakan bolus makanan pada makanandari bagian anterior mulut ke bagian posterior bagian posterior mulut.Klien merasa tidak sesak lagi .Kolaborasi untuk pemberian antibiotik .Rencana Perawatan N o 1.dolo r) yang ditandai dengan klien mengeluh sulit untuk menelan makanan keras .Kaji frekuensi/kedalam an penapasan -mempermudah untuk mengeluarkan sekret -mengurangi invansi bakteri pada tonsil Tujuan Intervensi Rasional 2. Diagnosa Keperawatan Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan peradangan pada tonsil yang ditandai dengan klien mengeluh sesak nafas ( 40x/mnt ) Pembersihan potensi jalan napas Kriteria : .klien merasa nyaman saat mengambil napas .sediakan makanan sehat dan menarik agar pasien menjadi nafsu makan .

Aspek Etik dan Legal Kaitannya dengan kasus di atas aspek legal yang terkait.Anjurkan klien untuk banyak minum .yang lunak sehingga pasien dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya karena pasien tidak dapat menelan makanan yang keras-keras . yaitu: Duty karena pada pasien A perawat mempunyai kewajiban memberikan perawatan secara holistic.Observasi tanda – -mengetahui tanda vital .Kolaborasi Badan klien teraba hangat dengan dokter untuk pemberian antipiretik -Menurunkan panas tubuh III.5 °C-37.Meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen keaadaan umum klien Kriteria : Suhu badan kembali normal 36. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit yang ditandai dengan peningkatan suhu badan (39°C) Hipertermi teratasi dalam waktu 2 X 24 jam .5°C .F . 29 .beri vitamin yang dapat menambah nafsu makan pasien serta melengkapi kebutuhan nutrisi yang hilang 3.Berikan kompres hagat di daerah dahi dan axilla .

Break of Duty karena dari kasus di atas perawat wajib memberikan perawatan yang sesuai dengan standar keperawatan hingga pasien sembuh. peran perawat yang berkaitan dengan praktik legal. meliputi: Perawat sebagai Advokasi 30 . Peran keperawatan berkaitan dengan praktek legal. Menurut Perry and Potter.

pada -Tonsilitis -Tonsilitis Kronik tonsilitis ada Akut dua yaitu : dan 2. suara akan menjadi serak. Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman streptococcusi beta hemolyticus. Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan peradangan pada tonsil yang ditandai dengan klien mengeluh sesak nafas( 40x/mnt ) Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit yang ditandai dengan peningkatan suhu badan (39°C) 31 . rasa lesu. streptococcus viridans dan streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus. 3. Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan. dan terdapat detritus berbentuk folikel. nyeri tenggorok dan nyeri sewaktu menelan. rasa nyeri di persendian.BAB IV SIMPULAN Dari kasus di atas dapat di simpulkan : 1. demam dengan suhu tubuh yang tinggi. nafas yang berbau. suhu tubuh naik hingga 40o celcius. tidak nafsu makan. dan rasa nyeri di telinga. hiperemis. lacuna akan tertutup oleh membrane semu.

32 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->