Keberadaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam hubungan antar manusia dan antar negara merupakan sesuatu yang

tidak dapat dipungkiri. HKI juga merupakan sesuatu yang given dan inheren dalam sebuah masyarakat industri atau yang sedang mengarah ke sana. Keberadaannya senantiasa mengikuti dinamika perkembangan masyarakat itu sendiri. Begitu pula halnya dengan masyarakat dan bangsa Indonesia yang mau tidak mau bersinggungan dan terlibat langsung dengan masalah HKI. Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi Paten, Merek, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang dan Varietas Tanaman. 1. Pengertian HKI Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta :  Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.(Pasal 1 ayat 1) Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi:  Paten  Merek  Desain Industri  Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu  Rahasia Dagang  Varietas Tanaman  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten:  Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya (Pasal 1 Ayat 1).  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek :  Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf- huruf, angkaangka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur- unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.(Pasal 1 Ayat 1)  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri :  Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan. (Pasal 1 Ayat 1)  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu :

1

Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Hal ini juga akibat dari telah diratifikasinya konvensi-konvensi internasional di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan juga telah menyesuaikan dengan ketentuan ketentuan yang diharuskan yaitu Undang-undang tentang Hak Cipta. Permasalahan mengenai Hak Kekayaan Intelektual akan menyentuh berbagai aspek seperti aspek teknologi. Rahasia Dagang. yang di dalamnya terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif. Hukum harus dapat memberikan perlindungan bagi karya intelektual. 2. sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif. Instansi yang berwenang dalam mengelola Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen. (Pasal 1 Ayat 2)  Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang :  Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis. Desain Industri. Aspek teknologi juga merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. budaya. Desain Industri. yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi elektronik. Hal ini disebabkan Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak monopoli yang dapat digunakan untuk melindungi investasi dan dapat dialihkan haknya. Hukum diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan yang timbul berkaitan dengan Hak Kekayaan Intelektual tersebut. 2 . Namun aspek terpenting jika dihubungkan dengan upaya perlindungan bagi karya intelektual adalah aspek hukum. mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha. sosial. dan berbagai aspek lainnya. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Sebagai konsekuensi dari keikutsertaan Indonesia sebagai anggota WTO (World Trade Organization ) mengharuskan Indonesia menyesuaikan segala peraturan perundangannya di bidang Hak Kekayaan Intelektual dengan standar TRIP's (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) yang dimulai sejak tahun 1997 dan diperbaharui kemudian pada tahun 2000 dan tahun 2001.(Pasal 1 Ayat 1)  Desain Tata Letak adalah kreasi berupa rancangan peletakan tiga dimensi dari berbagai elemen. serta sebagian atau semua interkoneksi dalam suatu Sirkuit Terpadu dan peletakan tiga dimensi tersebut dimaksudkan untuk persiapan pembuatan Sirkuit Terpadu. Rahasia Dagang dan Varietas Tanaman. Pada keadaan seperti ini Hak Kekayaan Intelektual menjadi semakin penting. dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat saat ini telah menyebabkan dunia terasa semakin sempit. HKI) yang berada di bawah Departemen Kehakiman dan HAM Republik Indonesia. industri. Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi. informasi dapat dengan mudah dan cepat tersebar ke seluruh pelosok dunia. Paten dan Merek. Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi Merek. Pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. sehingga mampu mengembangkan daya kreasi masyarakat yang akhirnya bermuara pada tujuan berhasilnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.

Dan khusus untuk mengelola informasi HKI juga telah dibentuk Direktorat Teknologi Informasi di bawah Ditjen. pada akhirnya akan membawa bangsa Indonesia kepada kehidupan yang lebih beradab. Merek produk (baik barang maupun jasa) tertentu yang sudah menjadi terkenal dan laku di pasar tentu saja akan cenderung membuat produsen atau pengusaha lainya memacu produknya bersaing dengan merek terkenal. merek digunakan sebagai jaminan hasil produksinya. Salah satu contoh HKI yang harus dilindungi ialah merek.. Sinergi antara keduanya.go. Namun demikian peran serta dan dukungan masyarakat secara aktif tetap merupakan k Sumber : http://www. khususnya mengenai kualitas. 1997:60). yang menghormati hasil karya cipta orang lain. sudah selayaknyalah produk-produk ataupun karya-karya lainnya yang merupakan HKI dan sudah beredar dalam pasar global diperlukan perlindungan hukum yang efektif dari segala tindak pelanggaran yang tidak sesuai dengan persetujuan TRIPs serta konvensi-konvensi yang telah disepakati. merek diperlukan untuk melakukan pilihanpilihan barang yang akan dibeli (Wiratmo Dianggorro. I. Pendahuluan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disingkat HKI) merupakan langkah maju bagi Bangsa Indonesia yang pada tahun 2020 memasuki era pasar bebas. Apabila dilihat dari sudut produsen. HKI. Salah salah satu implementasi era pasar bebas ialah negara dan masyarakat Indonesia akan menjadi pasar yang terbuka bagi produk ataupun karya orang/perusahaan luar negeri (asing).S. Apabila suatu produk tidak mempunyai merek maka tentu saja produk yang bersangkutan tidak 3 . diharapkan tingkat permohonan pendaftaran Hak Kekayaan Indonesia di Indonesia semakin meningkat. di samping untuk promosi barang-barang dagangannya guna mencari dan meluaskan pasar.ucid=374&ctid=21&type=0 PROBLEMATIKA PERLINDUNGAN MEREK DI INDONESIA Oleh: Prasetyo Hadi Purwandoko.cgi?.dgip. Sedangkan dengan penegakan hukum secara integral (dimana termasuk di dalamnya Hak Kekayaan Intelektual).H. Merek sebagai tanda pengenal atau tanda pembeda dapat menggambarkan jaminan kepribadian (individuality) dan reputasi barang dan jasa hasil usahanya sewaktu diperdagangkan. pelanggaran dalam bentuk pembajakan hasil karya intelektual yang dilindungi undang-undang akan semakin berkurang. sistem informasi Hak Kekayaan Intelektual dan penegakan hukum yang integral.id/ebscript/publicportal. Dengan adanya sebuah sistem informasi Hak Kekayaan Intelektual yang integral dan mudah diakses oleh masyarakat. demikian pula masyarakat Indonesia dapat menjual produk/karya ciptaannya ke luar negeri secara bebas. Merek merupakan hal yang sangat penting dalam dunia bisnis. Merek dapat dianggap sebagai “roh” bagi suatu produk barang atau jasa (Insan Budi Maulana.M. S. Sekali lagi menunjukkan bahwa pengakuan HKI di Indonesia benar-benar mendapat perhatian yang serius. dari sisi konsumen. bahkan dalam hal ini akhirnya muncul persaingan tidak sehat. Oleh karena itu. Selanjutnya. 1997:34).

yaitu pada tahun 1970-an berjumlah 20-an kasus per tahun. Kasus yang banyak terjadi berupa gugatan pembatalan merek yang banyak diajukan oleh pemilik merek yang berasal dari luar negeri. “dibajak”. kemudian perkara abtara Hari Sanusi dan Frazer and Neave Limited Singapura tentang merek “100” dan “100 Plus Power” (Legal Review. sangat bernilai dilihat dari berbagai aspek ( Paul Latimer. Bahkan tidak mustahil. Oleh karena itu. bahkan mungkin dipalsukan oleh produsen lain yang melakukan persaingan curang (Insan Budi Maulana. 19 Tahun 1992 kasus sengketa merek secara perdata cenderung mengalami penurunan (Insan Budi Maulana.akan dikenal oleh konsumen. Fungsi merek tersebut berkembang seiring perkembangan perekonomian nasional dan internasional. Selanjutnya. dapat diketahui bahwa pada masa kolonial Belanda berlaku Reglemen Industriele Eigendom (RIE) yang dimuat dalam Staatblad 1912 Nomor 545 jo Staatblad 1913 Nomor 214. Perkara antara Societe des Produits Nestle S. Selanjutnya. Perlindungan merek secara khusus diperlukan mengingat merek sebagai sarana identifikasi individual terhadap barang dan jasa merupakan pusat “jiwa” suatu bisnis. terrmasuk merek terkenal asing. Pada 4 . berdasarkan data dari Kantor Merek. SekilasPerkembangan Perlindungan Merek di Indonesia Dalam sejarah perundang-undangan merek. November 2003:34-35). merek yang telah dikenal luas oleh konsumen karena mutu dan harganya akan selalu diikuti. 1997:161). di Kota Surakarta pun juga ada kasus pelanggaran merek kecap “Cap Piring Lombok” yang sudah diputus PN Surakarta. dan mencapai puncaknya tahun 1991 dengan jumlah 283 kasu. Merek merupakan identifikasi suatu produk atau hasil perusahaan yang dijual di pasaran. II.. Selanjutnya. Perkembangan perkara merek itu sendiri dapat diikuti dari perkara PT Tancho Indonesia melawan Wong A Kiong mengenai merek Tancho sampai perkara PT Nabisco Foods melawan PT Perusahaan Dagang dan Industri Ceres mengenai merek Ritz (Ridwan Khairandy.A. Fungsi merek dalam dunia perdagangan ialah agar konsumen dapat membedakan hasil suatu produk tertentu dengan produk lainnya untuk barang atau jasa yang sejenis. ditiru. suatu produk (produk yang baik atau tidak) tentu memiliki merek. dan PT Danone Biskuits Indonesia tentang merek waferKit-Kat dan Chit-Chat (Legal Review. 1999:1). III. Perkara atau sengketa merek yang terjadi di Indonesia hingga saat ini lebih didominasi oleh perkara gugatan ganti rugi dan pembatalan merek yang berkaitan dengan pelanggaran hak atas merek terkenal. setelah diberlakukannya UU Merek No. 1999:7). April 2004:38-39). merek merupakan hal yang sangat penting dalam dunia bisnis. Selanjutnya. 1997:60). Perkara Merek Seiring dengan dimulainya pembangunan ekonomi Indonesia melalui program Pelita kasus-kasus merek mulai mengalami peningkatan. Kasus merek yang pernah ditangani Polda Jawa Tengah dan telah diteruskan ke kejaksaan untuk disidangkan perkaranya antara lain pemalsuan merek pupuk “ATONIK” dengan “ANTONIK” (Murawi Effendi. 1999:1). Dengan demikian. Merek sangat erat kaitannya dengan dunia perdagangan baik berupa perdagangan barang maupun jasa. pada tahun 1987 mengalami peningkatan yang pesat yaitu dengan jumlah kasus 236.

tetapi justru merupakan hak yang bersifat khusus dalam rangka memberi penghormatan dan insentif pengembangan daya intelektual untuk sebuah persaingan sehat dan kesejahteraan masyarakat. dikeluarkan peraturan merek. 1995: 249-250).masa penjajahan Jepang. yang disebut Osamu Seire Nomor 30 tentang Pendaftaran cap dagang yang mulai berlaku tanggal 1 bulan 9 Syowa (tahun Jepang 2603. Pada akhirnya. 5 . Syarat utama merek adalah tanda yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam perdagangan barang atau jasa. susunan warna. UndangUndang Merek ini merupakan hukum yang mengatur perlindungan merek di Indonesia. Undang-Undang Merek telah mengalami perubahan. dinyatakan bahwa Merek adalah tanda yang berupa gambar. yaitu. dan merupakan pemilik satu-satunya yang berhak memakai dan mempergunakan serta melarang siapa saja untuk memiliki dan mempergunakannya‟. hak eksklusif memuat dua hal. pertama. ataupun kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Tanda yang dapat menjadi simbol merek terdiri dari unsur-unsur. nama. memberi ijin kepada pihak lain menggunakan merek tersebut. Berdasar Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. gambar. pada tahun 2001 diundangkanlah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. Secara umum hak eksklusif dapat didefinisikan sebagai „hak yang memberi jaminan perlindungan hukum kepada pemilik merek. kata. kata hurufhuruf. 2. sejak era kebijakan ekonomi terbuka pada Tahun 1961 diberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1961 tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan yang menggantikan peraturan warisan kolonial Belanda yang sudah dianggap tidak memadai. Setelah Indonesia Merdeka (17 Agustus 1945). Dengan demikian. baik diganti maupun direvisi karena nilainya sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan. Selanjutnya. Undang-Undang tersebut merupakan produk hukum terbaru di bidang merek sebagai respon untuk menyesuaikan perlindungan merek di Indonesia dengan standar internasional yang termuat dalam Pasal 15 Perjanjian TRIPs sebagai pengganti UU sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 14 tahun 1997 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 tahun 1992 tentang Merek. yaitu: 1. dan kedua. susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut. angka-angka. angka-angka. Perkembangan selanjutnya. Hak eksklusif bukan merupakan monopoli yang dilarang sebagai persaingan tidak sehat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat. yaitu hak eksklusif yang diberikan negara kepada pemilik merek. peraturan tersebut masih diberlakukan berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945. huruf-huruf. meskipun Undang-Undang tersebut pada dasarnya mempunyai banyak kesamaan dengan produk hukum kolonial Belanda tersebut (Saidin. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan adanya beberapa unsur merek. Dalam merek dikenal adanya hak eksklusif sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. nama.menggunakan sendiri merek tersebut.

Yahya Harahap. yaitu untuk membedakan antara barang atau jasa yang satu dengan yang lainnya. „merupakan tiruan‟ dan „menyerupai‟. Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 disebutkan. „persamaan pada keseluruhannya‟. Perlindungan hukum berdasarkan sistem first to file principle diberikan kepada pemegang hak merek terdaftar yang „beritikad baik‟ bersifat preventif maupun represif. dan kategori kedua adalah merek yang kuat daya pembedanya karena merupakan hasil imajinasi. yaitu bahwa adanya persamaan keseluruhan atau pada pokoknya diartikan sama dengan identik (sama serupa). tetapi memberikan beberapa faktor sebagai unsur yang dapat menimbulkan kesan adanya persamaan sebagaimana diuraikan dalam penjelasan Pasal 6 UndangUndang Merek. Undang-Undang Merek tidak memberikan arti dan pengertian untuk membedakan kata-kata tersebut. „merupakan‟.Dalam hukum merek terdapat ajaran atau doktrin persamaan yang timbul berkaitan dengan fungsi merek. dan perlindungan hukum represif diberikan jika terjadi pelanggaran merek 6 . Menurut doktrin ini antara merek yang satu dengan yang lain tetap ada perbedaan tetapi perbedaan tersebut tidak menonjol dan tidak mempunyai kekuatan pembeda yang kuat sehingga satu dengan yang lain mirip (similar) maka sudah dapat dikatakan identik. Fungsi merek sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek adalah sebagai alat pembeda barang atau jasa. 1996 : 288). Ada dua ajaran persamaan dalam merek yaitu: a. Doktrin persamaan identik. b. dengan demikian jelas bahwa sistem merek yang dipakai di Indonesia adalah sistem konstitutif (aktif) sehingga pemilik merek terdaftar adalah sebagai pemegang hak merek. Pemilik merek terdaftar sebagai pemegang merek menggunakan merek itu sendiri atau memberi ijin pihak lain menggunakannya. Doktrin persamaan keseluruhan Persamaan merek ditegakkan di atas prinsip entireties similar yang berarti antara merek yang satu dengan yang lain mempunyai persamaan yang menyeluruh meliputi semua faktor yang relevan secara optimal yang menimbulkan persamaan (M. Berkenaan dengan hal tersebut merek dilihat dari daya pembedanya dibagi dalam dua kategori. Perlindungan hukum preventif dilakukan melalui pendaftaran merek. terlihat jelas maksud pembuat Undang-Undang bahwa Undang-Undang menganut doktrin persamaan identik. Ajaran persamaan dalam Undang-Undang dipresentasikan dalam kata atau kalimat ‟persamaan pada pokoknya‟. Lebih lanjut dalam pasal 40 Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001 dinyatakan bahwa hak merek dapat dialihkan haknya menurut ketentuan Undang-Undang. yaitu kategori pertama adalah merek yang lemah daya pembedanya karena sifatnya yang deskriptif. yaitu: 1) Persamaan bentuk 2) Persamaan komposisi atau penempatan 3) Persamaan penelitian 4) Persamaan bunyi 5) Persamaan ucapan 6) Persamaan kombinasi unsur-unsur Dengan melihat rumusan Undang-Undang tersebut. hak merek diberikan kepada pemilik merek terdaftar.

01 Tahun 1987. dan tidak mampu membentuk lapisan pasar dan pemakai (Yahya Harahap.01. sehingga mengakibatkan reputasinya digolongkan sebagai ‟merek aristorkat dunia‟ (Yahya Harahap. Akan tetapi. Masyarakat konsumen melihat merek tersebut kualitasnya rendah. Selanjutnya. dengan mengurangi IV. sehingga jenis barang yang berada di bawah merek itu langsung menimbulkan sentuhan keakraban (familiar) dan ikatan mitos (mythical context) kepada segala laposan konsumen (Yahya Harahap. 1996:8081). Apabila merek termahsyur didasarkan pada ukuran „sangat terkenal dan sangat tinggi reputasinya‟. Kesulitan dalam penafsiran. Idealnya pengusaha lokal memang harus memiliki merek sendiri dan mengembangkannya sehingga memiliki reputasi tinggi dan menjadi merek terkenal. 1998). Merek terkenal merupakan merek yang memiliki reputasi tinggi. Merek ini memiliki reputasi tinggi. merek terkenal (well-known marks) dan merek termahsyur (famous mark).01. Merek ini juga dianggap tidak memiliki draving power yang mampu memberi sentuhan keakraban dan kekuatan mitos (mythical power) yang sugestif kepada masyarakat konsumen. 1996:82).melalui gugatan perdata maupun tuntutan pidana kemungkinan penyelesaian alternatif diluar pengadilan. kemudian besar akan terjebak dengan perumusan yang tumpang tindih dengan definisi merek terkenal (Yahya Harahap. Merek yang berderajat ‟biasa‟ ini dianggap kurang memberi pancaran simbolis gaya hidup baik dari segi pemakaian maupun teknologi.01 Tahun 1987 merek terkenal didefinisikan sebagai merek dagang yang telah lama dikenal dan dipakai di wilayah Indonesia oleh seseorang atau badan untuk jenis barang tertentu. hal tersebut tentu akan memakan waktu yang cukup lama (Ridwan Kharandy. karena pemilik merek terkenal yang sebenarnya justru digugat oleh pihak lokal. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut pada Tahun 1991 diperbaharui dengan dengan Keputusan Menteri Kehakiman RI 7 . Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M-02-HC. 1996). Merek ini memiliki kekuatan pancaran yang memukau dan menarik. 1996:85). bagi yang mencoba membuat definisi merek termahsyur. Merek Terkenal Persoalan merek terkenal di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri. maka pada dasarnya ukuran tersebut juga dimiliki oleh merek terkenal. misalnya dalam kasus Piere Cardin dan Levi‟s dan sebagainya (Ekbis. merek termahsyur ialah merek yang sedemikian rupa mahsyurnya di seluruh dunia. Merek dapat dibedakan dalam tiga jenis berdasarkan reputasi (reputation) dan kemahsyuran (renown) suatu merek. Untuk membedakan antara merek yang terkenal dan merek yang termahsyur dalam kenyataannya sangatlah sulit. mengakibatkan kesulitan menentukan batas dan ukuran diantara keduanya. Merek biasa merupakan merek yang tergolong tidak mempunyai reputasi tinggi. Di Indonesia ketentuan merek terkenal dapat dijumpai antara lain dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M-02-HC. yaitu merek biasa (normal marks). Penggunaan merek terkenal secara melawan hukum yang marak di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari mentala pengusaha lokal yang “potong kompas” dan tanpa usaha yang cukup untuk mengembangkan merek yang mereka buat sendiri. 1992:2). Oleh karena itu.

Mekanisme perlindungan merek terkenal selain melalui inisiatif pemilik merek tersebut dapat juga ditempuh melalui penolakan oleh kantor merek terhadap permintaan pendaftaran merek yang sama pada pokoknya dengan merek terkenal. Merek yang dipakai haruslah sedemikian rupa sehingga mempunyai cukup kekuatan untuk membedakan barang atau jasa suatu perusahaan dengan barang atau jasa produksi perusahaan lainnya. Dengan demikian. apabila seseorang/badan hukum ingin agar mereknya mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan hukum merek. Dalam Pasal 3 UU Nomor 15 tahun 2001 (untuk selanjutnya peneliti sebut Undang-Undang Merek) dinyatakan bahwa hak atas merek adalah eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik Merek yang terdaftar dalam daftar umum merek untuk jangka tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan ijin kepada pihak lain untuk menggunakannya.Nomor: M. Syarat penting yang sekaligus menjadi ciri utama suatu merek ialah adanya daya pembeda (distinctiveness) yang cukup.. Apabila permohonan pendaftaran merek sudah memenuhi persyaratan formalitas. Perlindungan Merek dan Merek Terkenal di Indonesia 1. masa pengumuman. Dalam hal ini sangat bergantung pada pemilik merek untuk mendaftarkan mereknya agar mendapat perlindungan hukum. Selanjutnya. perlindungan merek diberikan kepada pemelik merek terdaftar. Selanjutnya dalam UU Nomor 15 tahun 2001 tidak dapat diketemukan definisi merek terkenal (tidak ada definisi merek terkenal).03-HC. maka jelaslah bahwa pemilik merek terkenal akan memperoleh perlindungan hukum secara preventif dengan adanya berbagai persyaratan permohonan pendaftaran merek tersebut. maka dapat diberikan sertifikat merek dan kemudian didaftarkan dalam daftar umum merek. Suatu permohonan pendaftaran merek akan diterima pendaftarannya apabila telah memenuhi persyaratan baik yang bersifat formalitas maupun substantif yang telah ditentukan UU Merek. Berdasarkan uraian di muka. persyaratan substantif. maka merek yang bersangkutan harus terdaftar terlebih dahulu. Setelah diterimanya Sertifikat Merek dan didaftarkannya merek yang bersangkutan di dalam Daftar Umum Merek maka pemilik merek terdaftar tersebut memiliki hak eksklusif tersebut dapat berupa hak menikmati secara eksklusif untuk mengeksploitasi keuntungan (exclusive financial exploitation). dimungkinkan pula perlindungan terhadap merek tidak terdaftar dengan syarat bahwa merek tersebut termasuk dalam kategori merek terkenal. V.02. Perlindungan Preventif Perlindungan hukum preventif di sini ialah perlindungan sebelum terjadi tindak pidana atau pelanggaran hukum terhadap merek dan merek terkenal. Dengan demikian. Penjelasan Pasal 6 UU Merek tersebut hanya memberikan kriteria merek terkenal. Dalam UU Undang-Undang 8 .01 Tahun 1991 Pasal 1 Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mendefinisikan merek terkenal sebagai „merek‟ dagang yang secara umum telah dikenal dan dipakai pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau badan/baik di wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Pasal 28 UU Merek menyatakan bahwa merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun dan berlaku surut sejak tanggal penerimaan pendaftaran merek (filling date) yang bersangkutan dan dapat diperpanjang. Namun demikian.

Perlindungan hukum yang refresif ini diberikan apabila telah terjadi pelanggaran hak merek (termasuk merek terkenal) . Berdasarkan Pasal 90 – 94. b. dalam hal tergugat dituntut pula menyerahkan barang yang menggunakan merek tanpa hak. dan kejaksaan sangat diperlukan. Pemilik merek selain mempunyai hak melakukan gugatan perdata juga dapat pula menyelesaikan sengketanya melalui Arbitrase atau Alternatif Penyelesaian Sengketa. 9 . selama masih dapat memerintahkan tergugat untuk menghentikan perdagangan barang atau jasa yang menggunakan merek secara tanpa hak tersebut. Menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek yang terdaftar milik pihak lain untuk barang yang sama dan/atau jasa yang sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan (Pasal 90 UU Merek). penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut Dengan demikian. Pasal 76 ayat (1) UU Merek memberikan hak kepada pemilik merek terdaftar untuk mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek barang dan atau jasa yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan untuk barang atau jasa sejenis berupa: a. menurut Pasal 78 UU Merek. Menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek yang sudah terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan (Pasal 91 UU Merek). yang termasuk pelanggaran merek ialah: a. c. penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). Menggunakan tanda yang mempunyai persamaan secara keseluruhan dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdaftar. dan 6 setelah mengajukan permohonan kepada Direktorat Jenderal (Baca selengkapnya dalam Prasetyo Hadi Purwandoko. gugatan ganti rugi.Merek mekanisme perlindungan merek atas inisiatif pemilik merek dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 68 ayat (2) yang apabila disimpulkan menyatakan bahwa pemilik merek tidak terdaftar dapat mengajukan gugatan pembatalan pendaftaran merek berdasarkan alasan dalam Pasal 4. (Pasal 92 ayat 1 UU Merek). Gugatan tersebut menurut Pasal 76 ayat (2) harus diajukan melalui Pengadilan Niaga. hakim dapat memerintahkan bahwa penyerahan barang atau nilai barang tersebut dilaksanakan setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. 2003) 2. 5. Disamping itu. atas permintaan pemilik merek atau penerima lisensi merek terdaftar selaku penggugat. Pemilik merek terdaftar mendapat perlindungan hukum atas pelanggaran hak atas merek baik dalam wujud gugatan ganti rugi maupun berdasarkan tuntutan hukum pidana melalui aparat penegak hukum. dan/atau b. Pasal 78 ayat (2) UU Merek menentukan. Perlindungan hukum lainnya ialah berdasarkan ketentuan hukum pidana. Dalam hal ini peran lembaga peradilan dan aparat penegak hukum lainnya seperti kepolisian. Pasal 27 tersebut membatasi pelanggaran merek hanya terhadap barang atau jasa sejenis saja. Perlindungan Represif Perlindungan hukum represif yang dimaksud di sini ialah perlindungan hukum terhadap merek manakala ada tindak pidana merek atau pelanggaran hak atas merek. Selanjutnya.

(Pasal 94 ayat 1 UU Merek).Memperdagangkan barang dan/atau jasa yang diketahui atau patut diketahui bahwa barang dan/atau jasa tersebut merupakan hasil pelanggaran. Perlindungan hukum merek dan merek terkenal yang diberikan UU Merek yang bersifat preventif dan represif sebagaimana ditentukan Pasal 6 ayat (3) dan (4) sudah selaras dengan ketentuan TRIPs. bahkan masih saja ada orang yang nekat melakukan tindak pidana merek di berbagai kota di Indonesia. Gugatan pembatalan tersebut menurut Pasal 68 ayat (1) UU Merek harus diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan seperti dimaksud Pasal 4 ayat. semakin mudah pula seseorang meniru dan memakai merek orang lain dalam kegiatan usahanya. Gugatan pembatalan merek ini dilakukan apabila ternyata merek yang dimiliki seseorang (termasuk merek terkenal) telah didaftdarkan pada Kantor Merek. pemilik merek memiliki hak mengajukan pembatalan merek. V. Selanjutnya.di samping adanya tuntutan ganti rugi melalui gugatan perdata maupun penjatuhan sanksi pidana. Pasal 5. Simpulan UU Merek telah beberapa kali mengalami perubahan tetapi persoalan merek makin kompleks. Pengadilan mendasarkan pandangannya dengan prinsip iktikat baik. Undang-Undang Merek Indonesia yang berkaitan dengan perlindungan merek yang bersifat represif dibatasi hanya bagi perlindungan hukum bagi barang atau jasa yang sejenis saja. Gugatan Pembatalan tersebut tidak hanya dapat diajukan oleh pemilik terdaftar tetapi juga pemilik merek tidak terdaftar (termasuk merek terkenal) setelah mengajukan permohonan kepada Direktorat Jenderal (Kantor Merek) (Pasal 68 ayat 2). e. terdapat 168 Merek dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Pencantuman asal sebenarnya pada barang yang merupakan hasil pelanggaran ataupun pencantuman kata yang menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan tiruan dari barang yang terdaftar dan dilindungi berdasarkan Indikasi Geografis (Pasal 92 ayat 3 UU Merek).d. tetapi digunakan pada barang yang tidak sejenis. yaitu mencakup perlindungan hukum bagi merek terkenal baik untuk barang yang sejenis maupun bukan. mencakup perlindungan terhadap barang atau jasa baik yang sejenis maupun bukan. Menggunakan tanda yang sama pada pokoknya dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang terdaftar (Pasal 92 ayat 2 UU Merek). Hal tersebut disebabkan oleh karena makin majunya ilmu pengetahuan dan tehnologi. Menggunakan tanda yang dilindungi oleh ind-ikasi asal pada barang dan jasa sehingga dapat memperdaya atau menyesatkan masyarakat mengenai barang atau asal jasa tersebut (Pasal 93 UU Merek). sebenarnya dalam banyak kasus pengadilan telah memperluas perlindungan hukum merek tersebut. dalam perlindungan merek represif. f. Dengan peralatan yang semakin canggih dan mudah diperoleh. atau Pasal 6. Sanksi pidana yang lebih berat dalam Undang-Undang Merek 2001 ternyata belum membuat surut pelaku tindak pidana merek. yaitu dengan pendaftaran 10 . Sampai saat ini. Padahal dalam kenyataannya beredar banyak barang yang menggunakan merek terkenal terdaftar secara tanpa hak. Berkaitan dengan merek terkenal.

Apalagi pada saat krisis ekonomi yang berkepanjangan seperti saat sekarang ini.com/problematika-perlindungan-merek-diindonesia/ LPK KABUPATEN MALANG.wordpress. Merek dengan brand imagenya dapat memenuhi kebutuhan konsumen akan tanda atau daya pembeda yang teramat penting dan merupakan jaminan kualitas dari suatu produk. selain itu merek tak perlu repot-repot mengurus nomor pendaftaran ke Dirjen HaKI atau mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membangun citra produknya (brand image). selain itu juga didukung oleh daya beli konsumen yang pas-pasan tetapi ingin tampil trendi. Dengan semakin pentingnya peranan merek maka terhadap merek perlu diletakan perlindungan hukum yakni 11 . Merek mempunyai peranan penting bagi kelancaran dan peningkatan perdagangan barang atau jasa dalam kegiatan perdagangan dan penanaman modal. Secara ekonomi memang memanfaatkan merek terkenal mendatangkan keuntungan yang cukup besar dan fakta dilapangan membuktikan hal tersebut. sebab merek (branding) menjadi semacam “penjual awal” bagi suatu produk kepada konsumen.merek Di samping itu. Inculding Trade in Counterfeit Good). Sumber : http://prasetyohp. diatur pula hal yang berkaitan perlindungan merek bersifat refresif . Jika dilihat dari sisi hukum hal itu sebenarnya tidak dapat ditolelir lagi karena Negara Indonesia sudah meratifikasi Kovensi Internasional tentang TRIPs dan WTO yang telah diundangkan dalam UU Nomor 7 Tahun 1994 sesuai dengan kesepakatan internasional bahwa pada tanggal 1 Januari 2000 Indonesia sudah harus menerapakan semua perjanjian-perjanjian yang ada dalam kerangka TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Right. MEMBANGUN KONSUMEN CERDAS DAN MANDIRI  Perlindungan Merek Pemanfaatan merek-merek terkenal pada saat sekarang sudah mulai marak. hal tersebut tidak lain karena menjanjikan keuntungan besar yang akan didapat apabila mempergunakan merek terkenal dari pada menggunakan mereknya sendiri. salah satunya adalah agar mudah dijual. banyak produsen yang mensiasati dengan cara mengkombinasikan barang-barang bermerek yang asli dengan yang bajakan. Merek sebagai aset perusahaan akan dapat menghasilkan keuntungan besar bila didayagunakan dengan memperhatikan aspek bisnis dan pengelolaan manajemen yang baik. karena mereka tinggal menjiplak produk orang lain dan untuk pemasarannya biasanya “Bandar” yang siap untuk menerima produk jiplak tersebut. Banyak alasan mengapa banyak industri memanfaatkan merek merek terkenal untuk produk-produknya. Mereka tidak perlu repot repot membuat divisi riset dan pengembangan untuk dapat menghasilkan produk yang selalu up to date. penerapan semua ketentuan-ketentuan yang ada dalam TRIPs tersebut adalah merupakan konsekuensi Negara Indonesia sebagai anggota dari WTO (Word Trade Organization). karena bajakan tersebut secara fisik benar-benar mirip dengan yang asli.

sehubungan dengan persoalan perlu adanya perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi pemilik atau pemegang merek dan perlindungan hukum terhadap masyarakat sebagai konsumen atas suatu barang atau jasa yang memakai suatu merek agar tidak terkecoh oleh merek-merek lain. tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masalah penggunaan merek terkenal oleh pihak yang tidak berhak. informasi. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari sisi historis masyarakat Indonesia yang sejak dahulu adalah masyarakat agraris. Ditinjau dari aspek hukum masalah merek menjadi sangat penting. sehingga terbiasa segala sesuatunya dikerjakan dan dianggap sebagai milik bersama. masih banyak terjadi di Indonesia dan kenyataan tersebut benar-benar disadari oleh pemerintah. tetapi meskipun begitu berarti bahwa tindakan orang-orang 12 . Pemakaian merek terkenal secara tidak sah dikualifikasi sebagai pemakaian merek yang beritikad tidak baik.sebagai obyek yang terhadapnya terkait hak hak perseorangan ataupun badan hukum. Sifat fanatik yang dimiliki oleh konsumen tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan saja. komunikasi dan transportasi yang mana sebagai bidang tersebut merupakan faktor yang memicu globalisasi Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). tentunya akan memberikan dampak dibidang perdagangan terutama karena adanya kemajuan di bidang teknologi. Media penyebaran dan periklanan modern menjadi semakin tidak di batasi oleh batas-batas nasional mengingat canggihnya komunikasi teknologi dan frekuensi orang bepergian atau mengadakan perjalanan melintasi dunia. tetapi ada juga mengutamakan prestise dan memberikan kesan tersendiri dari pemakainya sehingga dengan memakai persepsi mereka adalah suatu “simbol” yang akan menimbulkan gaya hidup baru (life style). tetapi dalam praktek banyak sekali kendala-kendala sebagaimana dikatakan oleh A Zen Umar Purba (mantan Dirjen HaKI) bahwa Law Enforcement yang lemah. Dengan berkembangnya dunia perdagangan yang pesat dan sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara. Produk atau jasa yang bermerek saling lebih dahulu diiklankan dan dijual. dan atau kualitas barang. Pada satu sisi keadaan tersebut berdampak positif tetapi pada sisi lain justru yang anggapan demikian itu menyebabakan masyarakat kita sering berpikir kurang ekonomis dan kurang inovatif. walaupun produk atau jasa tersebut secara fisik belum tersedia di pasaran Negara tertentu. Pemilik produk atau jasa yang bermerek banyak memanfatkan berbagai event-event yang banyak di tonton orang untuk memasarkan merek mereka sehingga orang yang melihat merasa tertarik untuk membeli produk atau meggunakan jasa dari suatu merek yang diiklankan tersebut. Penggunaan produk dengan merek-merek tertentu disamping good will yang dimiliki oleh mereknya sendiri selain itu juga sifat fanatik dari konsumen terhadap merek tersebut yang dianggap mempunyai kelebihan atau keunggulan dari merek yang lain. Pemakaian merek terkenal atau pemakaian merek yang mirip dengan merek terkenal milik orang lain secara tidak berhak dapat menyesatkan konsumen terhadap asal-usul. Adanya perbedaan persepsi didalam masyarakat mengenai merek menimbulkan berbagai penafsiran. bahkan ada anggapan dari para pengusaha home industri bahwa merek adalah mempunyai fungsi sosial.

Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut maka pemerintah pada waktu itu mengeluarkan UU No. No.01-HC.  Pemilik merek terkenal belum atau tidak mendaftarkan dan menggunakan mereknya di Indonesia. M. asal undang-undang merek tersebut sama dengan undang-undang merek sebelumnya yang ditetapkan oleh Belanda. Untuk menghindari praktek-praktek yang tidak jujur dan memberikan perlindungan hukum kepada pemilik atau pemegang merek serta konsumen maka Negara mengatur perlindungan merek dalam suatu hukum merek dan selalu disesuaikan dengan perkembangan perkembangan yang terjadi di dunia perdagangan internasional yang tujuannya adalah mengakomodasikan semua kepentingan-kepentingan yang ada guna menciptakan suatu perlindungan hukum. Selain itu. hal tersebut disebabkan karena :  Terbukanya sistem ekonomi nasional.01 Tahun 1987 tentang “Penolakan Permohonan Pendaftaran Merek yang mempunyai Persamaan dengan Merek Terkenal Orang lain”. 290 Tahun 1961. Selama masa berlakunya UU No.01 untuk lebih memberikan perlindungan terhadap pemilik merekmerek terkenal.yang memproduksi suatu barang dengan mendompleng ketenaran milik orang lain tidak bisa dibenarkan begitu saja. 21 Tahun 1961. Undang-Undang tersebut disusun secara sederhana hanya berjumlah 24 pasal dan tidak mencantumkan sanksi pidana terhadap pelanggaran merek. hal tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian dan politik pada saat itu yang masih memprihatinkan. Seiring dengan perkembangan perdagangan dan industri serta sejalan dengan terbukanya sistem ekonomi yang dianut Indonesia pada saat itu maka sengketa-sengketa merek mulai muncul. M. Keputusan tersebut kemudian direvisi dengan Keputusan Menteri Kehakiman No. sehingga pengusaha nasional dapat mengetahui dan memanfaatkan merek-merek terkenal untuk digunakan dan didaftar lebih dulu di Indonesia demi kepentingan usahanya.03-HC. 13 .02. maka pada tahun 1987 pemerintah menetapkan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Dengan pesatnya perkembangan dunia perdagangan banyak sengketa-sengketa merek pada saat itu terutama antara pemilik merek terkenal dengan pengusaha lokal. Dengan adanya ketentuan tersebut maka banyak sekali pemilik merek terkenal yang mengajukan gugatan pembatalan mereknya dan banyak pula perpanjangan merek yang ditolak oleh kantor merek dikarenakan mempergunakan merek orang lain. dimana norma dan tatanan dagang telah berkembang dan berubah dengan cepat. karena dengan membiarkan tindakan yang tidak bertanggung jawab maka secara tidak langsung menghasilkan dan membenarkan seseorang untuk menipu dan memperkaya diri secara tidak jujur. Pada tahun 1961 Indonesia mempunyai Undang-undang baru mengenai merek perusahaan dan perniagaan LN. secara keseluruhan tidak hanya merugikan pemilik atau pemegang merek itu sendiri dan juga para konsumen tetapi dampak yang lebih luas adalah merugikan perekonomian nasional dan yang lebih luas lagi juga merugikan hubungan perekonomian internasional. Tindakan mempergunakan merek terkenal milik orang lain.01. banyak sekali perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam dunia perdagangan. hal tersebut menyebabkan konsepsi yang tertuang dalam Undang-undang merek Tahun 1961 sudah sangat tertinggal jauh sekali. Banyaknya sengketa merek sampai pada dekade 80-an.

15 Tahun 2001 ada perubahan sistem yaitu dari sistem deklaratif (First to use system). 19 Tahun 1992 dengan UU No. Sebagai Negara penandatangan persetujuan umum tentang tarif dan perdagangan (General Agrement On Tarif and Trade) dalam putaran Uruguay (Uruguay Round).wordpress. Sejalan dengan itu maka pemerintah membuat kebijakan baru dengan melakukan perubahan dan penyempurnaan UU No. selain itu juga disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam persetujuan TRIPs (Trade Releated Aspects Of Intelectual Property Right Including Trade In Counterfeit Goods) atau aspekaspek dagang yang terkait dengan hak atas kekayaan Intelektual. Indonesia telah meratifikasi paket persetujuan tersebut dengan UU No. Selain itu dalam undang-undang tersebut juga memberikan perlindungan terhadap merek-merek terkenal. Sumber : http://balianzahab. tetapi dalam kenyataannya masih banyak juga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan beritikad tidak baik menggunakan merek terkenal milik orang lain yang tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan.5 Tahun 1999 tentang Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam hal tersebut maka pihak yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah konsumen. karena merek adalah hak Eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemegangnya. 7 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (Agrement Establishing The World Trade Orgnization). Perubahan atau penyempurnaan itu pada dasarnya diarahkan untuk menyesuaikan dengan Konvensi Paris (Paris Convention For The Protection Of Industriale Property) pada tahun 1883. 15 Tahun 2001. Meskipun telah diatur dalam berbagai peraturan yang tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan. Tujuan dari penyempurnaan tersebut tidak lain adalah mengakomodasikan ketentuan-ketentuan yang sudah menjadi komitmen internasional mengenai Hak atas Kekayaan Intelektual.19 Tahun1992 tentang merek (LN. Dalam Undang-undang merek No.com 14 . 14 Tahun 1997 dan diubah dan disempurnakan lagi dengan undang undang No. No. tetapi dalam undang-undang tersebut masalah perjanjian yang berkaitan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual seperti Merek dikecualikan. oleh karena itu untuk lebih memberikan perlindungan kepada konsumen telah di undangkan UU No.21 tahun 1961.81 Tahun 1992) sebagai pengganti UU No. menjadi sistem konstitutif (Fist to file frinciple). 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang tentu saja tujuannya untuk kesejahteraan rakyat (konsumen) dan untuk menjamin iklim perdagangan yang jujur dan fair maka telah pula diundangkan UU No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful