Keberadaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam hubungan antar manusia dan antar negara merupakan sesuatu yang

tidak dapat dipungkiri. HKI juga merupakan sesuatu yang given dan inheren dalam sebuah masyarakat industri atau yang sedang mengarah ke sana. Keberadaannya senantiasa mengikuti dinamika perkembangan masyarakat itu sendiri. Begitu pula halnya dengan masyarakat dan bangsa Indonesia yang mau tidak mau bersinggungan dan terlibat langsung dengan masalah HKI. Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi Paten, Merek, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang dan Varietas Tanaman. 1. Pengertian HKI Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta :  Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.(Pasal 1 ayat 1) Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi:  Paten  Merek  Desain Industri  Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu  Rahasia Dagang  Varietas Tanaman  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten:  Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya (Pasal 1 Ayat 1).  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek :  Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf- huruf, angkaangka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur- unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.(Pasal 1 Ayat 1)  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri :  Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan. (Pasal 1 Ayat 1)  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu :

1

Hukum harus dapat memberikan perlindungan bagi karya intelektual. Instansi yang berwenang dalam mengelola Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen. Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi. Paten dan Merek. Hal ini disebabkan Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak monopoli yang dapat digunakan untuk melindungi investasi dan dapat dialihkan haknya. 2. Rahasia Dagang. mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha. serta sebagian atau semua interkoneksi dalam suatu Sirkuit Terpadu dan peletakan tiga dimensi tersebut dimaksudkan untuk persiapan pembuatan Sirkuit Terpadu. sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif. 2 . yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi elektronik. Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi Merek. Hukum diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan yang timbul berkaitan dengan Hak Kekayaan Intelektual tersebut. dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Pada keadaan seperti ini Hak Kekayaan Intelektual menjadi semakin penting. budaya. Sebagai konsekuensi dari keikutsertaan Indonesia sebagai anggota WTO (World Trade Organization ) mengharuskan Indonesia menyesuaikan segala peraturan perundangannya di bidang Hak Kekayaan Intelektual dengan standar TRIP's (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) yang dimulai sejak tahun 1997 dan diperbaharui kemudian pada tahun 2000 dan tahun 2001.(Pasal 1 Ayat 1)  Desain Tata Letak adalah kreasi berupa rancangan peletakan tiga dimensi dari berbagai elemen. sosial. HKI) yang berada di bawah Departemen Kehakiman dan HAM Republik Indonesia. Pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Desain Industri. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Hal ini juga akibat dari telah diratifikasinya konvensi-konvensi internasional di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan juga telah menyesuaikan dengan ketentuan ketentuan yang diharuskan yaitu Undang-undang tentang Hak Cipta. sehingga mampu mengembangkan daya kreasi masyarakat yang akhirnya bermuara pada tujuan berhasilnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. informasi dapat dengan mudah dan cepat tersebar ke seluruh pelosok dunia. industri. Namun aspek terpenting jika dihubungkan dengan upaya perlindungan bagi karya intelektual adalah aspek hukum. (Pasal 1 Ayat 2)  Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang :  Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis. Rahasia Dagang dan Varietas Tanaman. yang di dalamnya terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif. Desain Industri. Aspek teknologi juga merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Permasalahan mengenai Hak Kekayaan Intelektual akan menyentuh berbagai aspek seperti aspek teknologi. dan berbagai aspek lainnya. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat saat ini telah menyebabkan dunia terasa semakin sempit.

Dan khusus untuk mengelola informasi HKI juga telah dibentuk Direktorat Teknologi Informasi di bawah Ditjen.. Sinergi antara keduanya. demikian pula masyarakat Indonesia dapat menjual produk/karya ciptaannya ke luar negeri secara bebas. 1997:34).ucid=374&ctid=21&type=0 PROBLEMATIKA PERLINDUNGAN MEREK DI INDONESIA Oleh: Prasetyo Hadi Purwandoko. diharapkan tingkat permohonan pendaftaran Hak Kekayaan Indonesia di Indonesia semakin meningkat.dgip. Salah salah satu implementasi era pasar bebas ialah negara dan masyarakat Indonesia akan menjadi pasar yang terbuka bagi produk ataupun karya orang/perusahaan luar negeri (asing). Selanjutnya.cgi?. Pendahuluan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disingkat HKI) merupakan langkah maju bagi Bangsa Indonesia yang pada tahun 2020 memasuki era pasar bebas. Sekali lagi menunjukkan bahwa pengakuan HKI di Indonesia benar-benar mendapat perhatian yang serius. dari sisi konsumen. Apabila dilihat dari sudut produsen. Apabila suatu produk tidak mempunyai merek maka tentu saja produk yang bersangkutan tidak 3 .H. yang menghormati hasil karya cipta orang lain. S. Merek produk (baik barang maupun jasa) tertentu yang sudah menjadi terkenal dan laku di pasar tentu saja akan cenderung membuat produsen atau pengusaha lainya memacu produknya bersaing dengan merek terkenal. sudah selayaknyalah produk-produk ataupun karya-karya lainnya yang merupakan HKI dan sudah beredar dalam pasar global diperlukan perlindungan hukum yang efektif dari segala tindak pelanggaran yang tidak sesuai dengan persetujuan TRIPs serta konvensi-konvensi yang telah disepakati. 1997:60). Merek sebagai tanda pengenal atau tanda pembeda dapat menggambarkan jaminan kepribadian (individuality) dan reputasi barang dan jasa hasil usahanya sewaktu diperdagangkan. Merek dapat dianggap sebagai “roh” bagi suatu produk barang atau jasa (Insan Budi Maulana. pada akhirnya akan membawa bangsa Indonesia kepada kehidupan yang lebih beradab. Oleh karena itu. Merek merupakan hal yang sangat penting dalam dunia bisnis. bahkan dalam hal ini akhirnya muncul persaingan tidak sehat.M. merek diperlukan untuk melakukan pilihanpilihan barang yang akan dibeli (Wiratmo Dianggorro. Sedangkan dengan penegakan hukum secara integral (dimana termasuk di dalamnya Hak Kekayaan Intelektual). Namun demikian peran serta dan dukungan masyarakat secara aktif tetap merupakan k Sumber : http://www. di samping untuk promosi barang-barang dagangannya guna mencari dan meluaskan pasar. Salah satu contoh HKI yang harus dilindungi ialah merek.S.id/ebscript/publicportal.go. I. pelanggaran dalam bentuk pembajakan hasil karya intelektual yang dilindungi undang-undang akan semakin berkurang. Dengan adanya sebuah sistem informasi Hak Kekayaan Intelektual yang integral dan mudah diakses oleh masyarakat. merek digunakan sebagai jaminan hasil produksinya. sistem informasi Hak Kekayaan Intelektual dan penegakan hukum yang integral. khususnya mengenai kualitas. HKI.

1999:1). III. Kasus yang banyak terjadi berupa gugatan pembatalan merek yang banyak diajukan oleh pemilik merek yang berasal dari luar negeri. 1999:7). Perkara Merek Seiring dengan dimulainya pembangunan ekonomi Indonesia melalui program Pelita kasus-kasus merek mulai mengalami peningkatan. di Kota Surakarta pun juga ada kasus pelanggaran merek kecap “Cap Piring Lombok” yang sudah diputus PN Surakarta.A. 19 Tahun 1992 kasus sengketa merek secara perdata cenderung mengalami penurunan (Insan Budi Maulana. Merek merupakan identifikasi suatu produk atau hasil perusahaan yang dijual di pasaran. suatu produk (produk yang baik atau tidak) tentu memiliki merek.akan dikenal oleh konsumen. November 2003:34-35). Kasus merek yang pernah ditangani Polda Jawa Tengah dan telah diteruskan ke kejaksaan untuk disidangkan perkaranya antara lain pemalsuan merek pupuk “ATONIK” dengan “ANTONIK” (Murawi Effendi. dan mencapai puncaknya tahun 1991 dengan jumlah 283 kasu. Fungsi merek tersebut berkembang seiring perkembangan perekonomian nasional dan internasional. merek merupakan hal yang sangat penting dalam dunia bisnis. Oleh karena itu. Pada 4 . 1999:1). Perkara atau sengketa merek yang terjadi di Indonesia hingga saat ini lebih didominasi oleh perkara gugatan ganti rugi dan pembatalan merek yang berkaitan dengan pelanggaran hak atas merek terkenal. Perkara antara Societe des Produits Nestle S. ditiru. Selanjutnya. Selanjutnya. merek yang telah dikenal luas oleh konsumen karena mutu dan harganya akan selalu diikuti. Fungsi merek dalam dunia perdagangan ialah agar konsumen dapat membedakan hasil suatu produk tertentu dengan produk lainnya untuk barang atau jasa yang sejenis. Bahkan tidak mustahil. kemudian perkara abtara Hari Sanusi dan Frazer and Neave Limited Singapura tentang merek “100” dan “100 Plus Power” (Legal Review. pada tahun 1987 mengalami peningkatan yang pesat yaitu dengan jumlah kasus 236. sangat bernilai dilihat dari berbagai aspek ( Paul Latimer. terrmasuk merek terkenal asing. Perkembangan perkara merek itu sendiri dapat diikuti dari perkara PT Tancho Indonesia melawan Wong A Kiong mengenai merek Tancho sampai perkara PT Nabisco Foods melawan PT Perusahaan Dagang dan Industri Ceres mengenai merek Ritz (Ridwan Khairandy. April 2004:38-39). 1997:60). dan PT Danone Biskuits Indonesia tentang merek waferKit-Kat dan Chit-Chat (Legal Review. bahkan mungkin dipalsukan oleh produsen lain yang melakukan persaingan curang (Insan Budi Maulana. dapat diketahui bahwa pada masa kolonial Belanda berlaku Reglemen Industriele Eigendom (RIE) yang dimuat dalam Staatblad 1912 Nomor 545 jo Staatblad 1913 Nomor 214. Selanjutnya. Selanjutnya. Merek sangat erat kaitannya dengan dunia perdagangan baik berupa perdagangan barang maupun jasa. Dengan demikian. “dibajak”. Perlindungan merek secara khusus diperlukan mengingat merek sebagai sarana identifikasi individual terhadap barang dan jasa merupakan pusat “jiwa” suatu bisnis. SekilasPerkembangan Perlindungan Merek di Indonesia Dalam sejarah perundang-undangan merek.. 1997:161). yaitu pada tahun 1970-an berjumlah 20-an kasus per tahun. II. berdasarkan data dari Kantor Merek. setelah diberlakukannya UU Merek No.

menggunakan sendiri merek tersebut. Selanjutnya. dikeluarkan peraturan merek. kata hurufhuruf. 2. 5 . meskipun Undang-Undang tersebut pada dasarnya mempunyai banyak kesamaan dengan produk hukum kolonial Belanda tersebut (Saidin. gambar. yaitu: 1. huruf-huruf. Tanda yang dapat menjadi simbol merek terdiri dari unsur-unsur. Pada akhirnya. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan adanya beberapa unsur merek. sejak era kebijakan ekonomi terbuka pada Tahun 1961 diberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1961 tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan yang menggantikan peraturan warisan kolonial Belanda yang sudah dianggap tidak memadai. UndangUndang Merek ini merupakan hukum yang mengatur perlindungan merek di Indonesia. peraturan tersebut masih diberlakukan berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945. dinyatakan bahwa Merek adalah tanda yang berupa gambar. susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut. hak eksklusif memuat dua hal. Perkembangan selanjutnya. pertama. yaitu. nama. Setelah Indonesia Merdeka (17 Agustus 1945). Dalam merek dikenal adanya hak eksklusif sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek.masa penjajahan Jepang. susunan warna. Undang-Undang tersebut merupakan produk hukum terbaru di bidang merek sebagai respon untuk menyesuaikan perlindungan merek di Indonesia dengan standar internasional yang termuat dalam Pasal 15 Perjanjian TRIPs sebagai pengganti UU sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 14 tahun 1997 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 tahun 1992 tentang Merek. dan merupakan pemilik satu-satunya yang berhak memakai dan mempergunakan serta melarang siapa saja untuk memiliki dan mempergunakannya‟. angka-angka. 1995: 249-250). dan kedua. ataupun kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. kata. pada tahun 2001 diundangkanlah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. baik diganti maupun direvisi karena nilainya sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan. Syarat utama merek adalah tanda yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam perdagangan barang atau jasa. Secara umum hak eksklusif dapat didefinisikan sebagai „hak yang memberi jaminan perlindungan hukum kepada pemilik merek. Dengan demikian. Hak eksklusif bukan merupakan monopoli yang dilarang sebagai persaingan tidak sehat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat. Undang-Undang Merek telah mengalami perubahan. angka-angka. tetapi justru merupakan hak yang bersifat khusus dalam rangka memberi penghormatan dan insentif pengembangan daya intelektual untuk sebuah persaingan sehat dan kesejahteraan masyarakat. nama. yang disebut Osamu Seire Nomor 30 tentang Pendaftaran cap dagang yang mulai berlaku tanggal 1 bulan 9 Syowa (tahun Jepang 2603. Berdasar Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. memberi ijin kepada pihak lain menggunakan merek tersebut. yaitu hak eksklusif yang diberikan negara kepada pemilik merek.

Pemilik merek terdaftar sebagai pemegang merek menggunakan merek itu sendiri atau memberi ijin pihak lain menggunakannya. dengan demikian jelas bahwa sistem merek yang dipakai di Indonesia adalah sistem konstitutif (aktif) sehingga pemilik merek terdaftar adalah sebagai pemegang hak merek. Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 disebutkan. Menurut doktrin ini antara merek yang satu dengan yang lain tetap ada perbedaan tetapi perbedaan tersebut tidak menonjol dan tidak mempunyai kekuatan pembeda yang kuat sehingga satu dengan yang lain mirip (similar) maka sudah dapat dikatakan identik. yaitu bahwa adanya persamaan keseluruhan atau pada pokoknya diartikan sama dengan identik (sama serupa). Yahya Harahap. Ada dua ajaran persamaan dalam merek yaitu: a. yaitu: 1) Persamaan bentuk 2) Persamaan komposisi atau penempatan 3) Persamaan penelitian 4) Persamaan bunyi 5) Persamaan ucapan 6) Persamaan kombinasi unsur-unsur Dengan melihat rumusan Undang-Undang tersebut. „merupakan tiruan‟ dan „menyerupai‟. yaitu kategori pertama adalah merek yang lemah daya pembedanya karena sifatnya yang deskriptif. „persamaan pada keseluruhannya‟. Doktrin persamaan identik. Perlindungan hukum preventif dilakukan melalui pendaftaran merek. dan perlindungan hukum represif diberikan jika terjadi pelanggaran merek 6 . Doktrin persamaan keseluruhan Persamaan merek ditegakkan di atas prinsip entireties similar yang berarti antara merek yang satu dengan yang lain mempunyai persamaan yang menyeluruh meliputi semua faktor yang relevan secara optimal yang menimbulkan persamaan (M. 1996 : 288). b. „merupakan‟. terlihat jelas maksud pembuat Undang-Undang bahwa Undang-Undang menganut doktrin persamaan identik. Undang-Undang Merek tidak memberikan arti dan pengertian untuk membedakan kata-kata tersebut. hak merek diberikan kepada pemilik merek terdaftar. dan kategori kedua adalah merek yang kuat daya pembedanya karena merupakan hasil imajinasi. Perlindungan hukum berdasarkan sistem first to file principle diberikan kepada pemegang hak merek terdaftar yang „beritikad baik‟ bersifat preventif maupun represif.Dalam hukum merek terdapat ajaran atau doktrin persamaan yang timbul berkaitan dengan fungsi merek. Lebih lanjut dalam pasal 40 Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001 dinyatakan bahwa hak merek dapat dialihkan haknya menurut ketentuan Undang-Undang. Berkenaan dengan hal tersebut merek dilihat dari daya pembedanya dibagi dalam dua kategori. Ajaran persamaan dalam Undang-Undang dipresentasikan dalam kata atau kalimat ‟persamaan pada pokoknya‟. yaitu untuk membedakan antara barang atau jasa yang satu dengan yang lainnya. tetapi memberikan beberapa faktor sebagai unsur yang dapat menimbulkan kesan adanya persamaan sebagaimana diuraikan dalam penjelasan Pasal 6 UndangUndang Merek. Fungsi merek sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek adalah sebagai alat pembeda barang atau jasa.

Oleh karena itu. Merek terkenal merupakan merek yang memiliki reputasi tinggi. kemudian besar akan terjebak dengan perumusan yang tumpang tindih dengan definisi merek terkenal (Yahya Harahap. Kesulitan dalam penafsiran. dengan mengurangi IV. Akan tetapi. 1996:82). 1992:2). sehingga mengakibatkan reputasinya digolongkan sebagai ‟merek aristorkat dunia‟ (Yahya Harahap. mengakibatkan kesulitan menentukan batas dan ukuran diantara keduanya. misalnya dalam kasus Piere Cardin dan Levi‟s dan sebagainya (Ekbis. maka pada dasarnya ukuran tersebut juga dimiliki oleh merek terkenal. merek terkenal (well-known marks) dan merek termahsyur (famous mark). Merek Terkenal Persoalan merek terkenal di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri. Merek dapat dibedakan dalam tiga jenis berdasarkan reputasi (reputation) dan kemahsyuran (renown) suatu merek. 1998).melalui gugatan perdata maupun tuntutan pidana kemungkinan penyelesaian alternatif diluar pengadilan. Idealnya pengusaha lokal memang harus memiliki merek sendiri dan mengembangkannya sehingga memiliki reputasi tinggi dan menjadi merek terkenal. Merek ini memiliki kekuatan pancaran yang memukau dan menarik.01 Tahun 1987. Merek ini juga dianggap tidak memiliki draving power yang mampu memberi sentuhan keakraban dan kekuatan mitos (mythical power) yang sugestif kepada masyarakat konsumen. Selanjutnya. Apabila merek termahsyur didasarkan pada ukuran „sangat terkenal dan sangat tinggi reputasinya‟. hal tersebut tentu akan memakan waktu yang cukup lama (Ridwan Kharandy. Merek ini memiliki reputasi tinggi. Merek yang berderajat ‟biasa‟ ini dianggap kurang memberi pancaran simbolis gaya hidup baik dari segi pemakaian maupun teknologi. yaitu merek biasa (normal marks). merek termahsyur ialah merek yang sedemikian rupa mahsyurnya di seluruh dunia.01. Masyarakat konsumen melihat merek tersebut kualitasnya rendah. Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M-02-HC. karena pemilik merek terkenal yang sebenarnya justru digugat oleh pihak lokal. 1996:85). sehingga jenis barang yang berada di bawah merek itu langsung menimbulkan sentuhan keakraban (familiar) dan ikatan mitos (mythical context) kepada segala laposan konsumen (Yahya Harahap.01. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut pada Tahun 1991 diperbaharui dengan dengan Keputusan Menteri Kehakiman RI 7 . 1996:8081). Merek biasa merupakan merek yang tergolong tidak mempunyai reputasi tinggi. bagi yang mencoba membuat definisi merek termahsyur. Di Indonesia ketentuan merek terkenal dapat dijumpai antara lain dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M-02-HC. Untuk membedakan antara merek yang terkenal dan merek yang termahsyur dalam kenyataannya sangatlah sulit.01 Tahun 1987 merek terkenal didefinisikan sebagai merek dagang yang telah lama dikenal dan dipakai di wilayah Indonesia oleh seseorang atau badan untuk jenis barang tertentu. Penggunaan merek terkenal secara melawan hukum yang marak di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari mentala pengusaha lokal yang “potong kompas” dan tanpa usaha yang cukup untuk mengembangkan merek yang mereka buat sendiri. dan tidak mampu membentuk lapisan pasar dan pemakai (Yahya Harahap. 1996).

Setelah diterimanya Sertifikat Merek dan didaftarkannya merek yang bersangkutan di dalam Daftar Umum Merek maka pemilik merek terdaftar tersebut memiliki hak eksklusif tersebut dapat berupa hak menikmati secara eksklusif untuk mengeksploitasi keuntungan (exclusive financial exploitation). apabila seseorang/badan hukum ingin agar mereknya mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan hukum merek.. maka merek yang bersangkutan harus terdaftar terlebih dahulu. Pasal 28 UU Merek menyatakan bahwa merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun dan berlaku surut sejak tanggal penerimaan pendaftaran merek (filling date) yang bersangkutan dan dapat diperpanjang. Dengan demikian. Selanjutnya. Suatu permohonan pendaftaran merek akan diterima pendaftarannya apabila telah memenuhi persyaratan baik yang bersifat formalitas maupun substantif yang telah ditentukan UU Merek. Syarat penting yang sekaligus menjadi ciri utama suatu merek ialah adanya daya pembeda (distinctiveness) yang cukup. Perlindungan Preventif Perlindungan hukum preventif di sini ialah perlindungan sebelum terjadi tindak pidana atau pelanggaran hukum terhadap merek dan merek terkenal. Apabila permohonan pendaftaran merek sudah memenuhi persyaratan formalitas. Dalam hal ini sangat bergantung pada pemilik merek untuk mendaftarkan mereknya agar mendapat perlindungan hukum. perlindungan merek diberikan kepada pemelik merek terdaftar. Mekanisme perlindungan merek terkenal selain melalui inisiatif pemilik merek tersebut dapat juga ditempuh melalui penolakan oleh kantor merek terhadap permintaan pendaftaran merek yang sama pada pokoknya dengan merek terkenal. Dalam UU Undang-Undang 8 .03-HC. Dalam Pasal 3 UU Nomor 15 tahun 2001 (untuk selanjutnya peneliti sebut Undang-Undang Merek) dinyatakan bahwa hak atas merek adalah eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik Merek yang terdaftar dalam daftar umum merek untuk jangka tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan ijin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Dengan demikian.01 Tahun 1991 Pasal 1 Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mendefinisikan merek terkenal sebagai „merek‟ dagang yang secara umum telah dikenal dan dipakai pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau badan/baik di wilayah Indonesia maupun di luar negeri.Nomor: M. Perlindungan Merek dan Merek Terkenal di Indonesia 1. persyaratan substantif. masa pengumuman. Merek yang dipakai haruslah sedemikian rupa sehingga mempunyai cukup kekuatan untuk membedakan barang atau jasa suatu perusahaan dengan barang atau jasa produksi perusahaan lainnya. V. maka jelaslah bahwa pemilik merek terkenal akan memperoleh perlindungan hukum secara preventif dengan adanya berbagai persyaratan permohonan pendaftaran merek tersebut. Namun demikian. Selanjutnya dalam UU Nomor 15 tahun 2001 tidak dapat diketemukan definisi merek terkenal (tidak ada definisi merek terkenal). Berdasarkan uraian di muka.02. Penjelasan Pasal 6 UU Merek tersebut hanya memberikan kriteria merek terkenal. dimungkinkan pula perlindungan terhadap merek tidak terdaftar dengan syarat bahwa merek tersebut termasuk dalam kategori merek terkenal. maka dapat diberikan sertifikat merek dan kemudian didaftarkan dalam daftar umum merek.

dan 6 setelah mengajukan permohonan kepada Direktorat Jenderal (Baca selengkapnya dalam Prasetyo Hadi Purwandoko. menurut Pasal 78 UU Merek. penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). dalam hal tergugat dituntut pula menyerahkan barang yang menggunakan merek tanpa hak. dan/atau b.Merek mekanisme perlindungan merek atas inisiatif pemilik merek dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 68 ayat (2) yang apabila disimpulkan menyatakan bahwa pemilik merek tidak terdaftar dapat mengajukan gugatan pembatalan pendaftaran merek berdasarkan alasan dalam Pasal 4. Menggunakan tanda yang mempunyai persamaan secara keseluruhan dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdaftar. dan kejaksaan sangat diperlukan. Selanjutnya. Perlindungan hukum lainnya ialah berdasarkan ketentuan hukum pidana. yang termasuk pelanggaran merek ialah: a. Menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek yang terdaftar milik pihak lain untuk barang yang sama dan/atau jasa yang sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan (Pasal 90 UU Merek). Dalam hal ini peran lembaga peradilan dan aparat penegak hukum lainnya seperti kepolisian. selama masih dapat memerintahkan tergugat untuk menghentikan perdagangan barang atau jasa yang menggunakan merek secara tanpa hak tersebut. Pasal 27 tersebut membatasi pelanggaran merek hanya terhadap barang atau jasa sejenis saja. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut Dengan demikian. Perlindungan Represif Perlindungan hukum represif yang dimaksud di sini ialah perlindungan hukum terhadap merek manakala ada tindak pidana merek atau pelanggaran hak atas merek. Pasal 78 ayat (2) UU Merek menentukan. atas permintaan pemilik merek atau penerima lisensi merek terdaftar selaku penggugat. b. Disamping itu. 2003) 2. Menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek yang sudah terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan (Pasal 91 UU Merek). 9 . (Pasal 92 ayat 1 UU Merek). hakim dapat memerintahkan bahwa penyerahan barang atau nilai barang tersebut dilaksanakan setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. Pasal 76 ayat (1) UU Merek memberikan hak kepada pemilik merek terdaftar untuk mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek barang dan atau jasa yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan untuk barang atau jasa sejenis berupa: a. Perlindungan hukum yang refresif ini diberikan apabila telah terjadi pelanggaran hak merek (termasuk merek terkenal) . Berdasarkan Pasal 90 – 94. Gugatan tersebut menurut Pasal 76 ayat (2) harus diajukan melalui Pengadilan Niaga. c. gugatan ganti rugi. Pemilik merek terdaftar mendapat perlindungan hukum atas pelanggaran hak atas merek baik dalam wujud gugatan ganti rugi maupun berdasarkan tuntutan hukum pidana melalui aparat penegak hukum. Pemilik merek selain mempunyai hak melakukan gugatan perdata juga dapat pula menyelesaikan sengketanya melalui Arbitrase atau Alternatif Penyelesaian Sengketa. 5.

Gugatan pembatalan tersebut menurut Pasal 68 ayat (1) UU Merek harus diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan seperti dimaksud Pasal 4 ayat. pemilik merek memiliki hak mengajukan pembatalan merek. Gugatan pembatalan merek ini dilakukan apabila ternyata merek yang dimiliki seseorang (termasuk merek terkenal) telah didaftdarkan pada Kantor Merek. Pengadilan mendasarkan pandangannya dengan prinsip iktikat baik. e.d. Hal tersebut disebabkan oleh karena makin majunya ilmu pengetahuan dan tehnologi. dalam perlindungan merek represif. (Pasal 94 ayat 1 UU Merek). Padahal dalam kenyataannya beredar banyak barang yang menggunakan merek terkenal terdaftar secara tanpa hak. yaitu dengan pendaftaran 10 .di samping adanya tuntutan ganti rugi melalui gugatan perdata maupun penjatuhan sanksi pidana. Pencantuman asal sebenarnya pada barang yang merupakan hasil pelanggaran ataupun pencantuman kata yang menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan tiruan dari barang yang terdaftar dan dilindungi berdasarkan Indikasi Geografis (Pasal 92 ayat 3 UU Merek). semakin mudah pula seseorang meniru dan memakai merek orang lain dalam kegiatan usahanya.Memperdagangkan barang dan/atau jasa yang diketahui atau patut diketahui bahwa barang dan/atau jasa tersebut merupakan hasil pelanggaran. Menggunakan tanda yang dilindungi oleh ind-ikasi asal pada barang dan jasa sehingga dapat memperdaya atau menyesatkan masyarakat mengenai barang atau asal jasa tersebut (Pasal 93 UU Merek). atau Pasal 6. sebenarnya dalam banyak kasus pengadilan telah memperluas perlindungan hukum merek tersebut. Berkaitan dengan merek terkenal. Selanjutnya. Dengan peralatan yang semakin canggih dan mudah diperoleh. bahkan masih saja ada orang yang nekat melakukan tindak pidana merek di berbagai kota di Indonesia. Pasal 5. Simpulan UU Merek telah beberapa kali mengalami perubahan tetapi persoalan merek makin kompleks. f. yaitu mencakup perlindungan hukum bagi merek terkenal baik untuk barang yang sejenis maupun bukan. tetapi digunakan pada barang yang tidak sejenis. Sanksi pidana yang lebih berat dalam Undang-Undang Merek 2001 ternyata belum membuat surut pelaku tindak pidana merek. Undang-Undang Merek Indonesia yang berkaitan dengan perlindungan merek yang bersifat represif dibatasi hanya bagi perlindungan hukum bagi barang atau jasa yang sejenis saja. terdapat 168 Merek dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Menggunakan tanda yang sama pada pokoknya dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang terdaftar (Pasal 92 ayat 2 UU Merek). Perlindungan hukum merek dan merek terkenal yang diberikan UU Merek yang bersifat preventif dan represif sebagaimana ditentukan Pasal 6 ayat (3) dan (4) sudah selaras dengan ketentuan TRIPs. Sampai saat ini. mencakup perlindungan terhadap barang atau jasa baik yang sejenis maupun bukan. Gugatan Pembatalan tersebut tidak hanya dapat diajukan oleh pemilik terdaftar tetapi juga pemilik merek tidak terdaftar (termasuk merek terkenal) setelah mengajukan permohonan kepada Direktorat Jenderal (Kantor Merek) (Pasal 68 ayat 2). V.

MEMBANGUN KONSUMEN CERDAS DAN MANDIRI  Perlindungan Merek Pemanfaatan merek-merek terkenal pada saat sekarang sudah mulai marak. selain itu merek tak perlu repot-repot mengurus nomor pendaftaran ke Dirjen HaKI atau mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membangun citra produknya (brand image). penerapan semua ketentuan-ketentuan yang ada dalam TRIPs tersebut adalah merupakan konsekuensi Negara Indonesia sebagai anggota dari WTO (Word Trade Organization). sebab merek (branding) menjadi semacam “penjual awal” bagi suatu produk kepada konsumen. banyak produsen yang mensiasati dengan cara mengkombinasikan barang-barang bermerek yang asli dengan yang bajakan. Merek sebagai aset perusahaan akan dapat menghasilkan keuntungan besar bila didayagunakan dengan memperhatikan aspek bisnis dan pengelolaan manajemen yang baik. diatur pula hal yang berkaitan perlindungan merek bersifat refresif . Apalagi pada saat krisis ekonomi yang berkepanjangan seperti saat sekarang ini.wordpress. selain itu juga didukung oleh daya beli konsumen yang pas-pasan tetapi ingin tampil trendi. Sumber : http://prasetyohp. karena bajakan tersebut secara fisik benar-benar mirip dengan yang asli. Secara ekonomi memang memanfaatkan merek terkenal mendatangkan keuntungan yang cukup besar dan fakta dilapangan membuktikan hal tersebut. Dengan semakin pentingnya peranan merek maka terhadap merek perlu diletakan perlindungan hukum yakni 11 .com/problematika-perlindungan-merek-diindonesia/ LPK KABUPATEN MALANG. salah satunya adalah agar mudah dijual. Inculding Trade in Counterfeit Good). Banyak alasan mengapa banyak industri memanfaatkan merek merek terkenal untuk produk-produknya. Jika dilihat dari sisi hukum hal itu sebenarnya tidak dapat ditolelir lagi karena Negara Indonesia sudah meratifikasi Kovensi Internasional tentang TRIPs dan WTO yang telah diundangkan dalam UU Nomor 7 Tahun 1994 sesuai dengan kesepakatan internasional bahwa pada tanggal 1 Januari 2000 Indonesia sudah harus menerapakan semua perjanjian-perjanjian yang ada dalam kerangka TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Right. karena mereka tinggal menjiplak produk orang lain dan untuk pemasarannya biasanya “Bandar” yang siap untuk menerima produk jiplak tersebut. Merek mempunyai peranan penting bagi kelancaran dan peningkatan perdagangan barang atau jasa dalam kegiatan perdagangan dan penanaman modal.merek Di samping itu. Mereka tidak perlu repot repot membuat divisi riset dan pengembangan untuk dapat menghasilkan produk yang selalu up to date. hal tersebut tidak lain karena menjanjikan keuntungan besar yang akan didapat apabila mempergunakan merek terkenal dari pada menggunakan mereknya sendiri. Merek dengan brand imagenya dapat memenuhi kebutuhan konsumen akan tanda atau daya pembeda yang teramat penting dan merupakan jaminan kualitas dari suatu produk.

sebagai obyek yang terhadapnya terkait hak hak perseorangan ataupun badan hukum. informasi. tentunya akan memberikan dampak dibidang perdagangan terutama karena adanya kemajuan di bidang teknologi. Pemilik produk atau jasa yang bermerek banyak memanfatkan berbagai event-event yang banyak di tonton orang untuk memasarkan merek mereka sehingga orang yang melihat merasa tertarik untuk membeli produk atau meggunakan jasa dari suatu merek yang diiklankan tersebut. Adanya perbedaan persepsi didalam masyarakat mengenai merek menimbulkan berbagai penafsiran. masih banyak terjadi di Indonesia dan kenyataan tersebut benar-benar disadari oleh pemerintah. tetapi ada juga mengutamakan prestise dan memberikan kesan tersendiri dari pemakainya sehingga dengan memakai persepsi mereka adalah suatu “simbol” yang akan menimbulkan gaya hidup baru (life style). Media penyebaran dan periklanan modern menjadi semakin tidak di batasi oleh batas-batas nasional mengingat canggihnya komunikasi teknologi dan frekuensi orang bepergian atau mengadakan perjalanan melintasi dunia. Pemakaian merek terkenal secara tidak sah dikualifikasi sebagai pemakaian merek yang beritikad tidak baik. komunikasi dan transportasi yang mana sebagai bidang tersebut merupakan faktor yang memicu globalisasi Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Penggunaan produk dengan merek-merek tertentu disamping good will yang dimiliki oleh mereknya sendiri selain itu juga sifat fanatik dari konsumen terhadap merek tersebut yang dianggap mempunyai kelebihan atau keunggulan dari merek yang lain. sehubungan dengan persoalan perlu adanya perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi pemilik atau pemegang merek dan perlindungan hukum terhadap masyarakat sebagai konsumen atas suatu barang atau jasa yang memakai suatu merek agar tidak terkecoh oleh merek-merek lain. Dengan berkembangnya dunia perdagangan yang pesat dan sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara. tetapi dalam praktek banyak sekali kendala-kendala sebagaimana dikatakan oleh A Zen Umar Purba (mantan Dirjen HaKI) bahwa Law Enforcement yang lemah. Pada satu sisi keadaan tersebut berdampak positif tetapi pada sisi lain justru yang anggapan demikian itu menyebabakan masyarakat kita sering berpikir kurang ekonomis dan kurang inovatif. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari sisi historis masyarakat Indonesia yang sejak dahulu adalah masyarakat agraris. tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masalah penggunaan merek terkenal oleh pihak yang tidak berhak. walaupun produk atau jasa tersebut secara fisik belum tersedia di pasaran Negara tertentu. Ditinjau dari aspek hukum masalah merek menjadi sangat penting. bahkan ada anggapan dari para pengusaha home industri bahwa merek adalah mempunyai fungsi sosial. sehingga terbiasa segala sesuatunya dikerjakan dan dianggap sebagai milik bersama. Produk atau jasa yang bermerek saling lebih dahulu diiklankan dan dijual. dan atau kualitas barang. tetapi meskipun begitu berarti bahwa tindakan orang-orang 12 . Sifat fanatik yang dimiliki oleh konsumen tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan saja. Pemakaian merek terkenal atau pemakaian merek yang mirip dengan merek terkenal milik orang lain secara tidak berhak dapat menyesatkan konsumen terhadap asal-usul.

Tindakan mempergunakan merek terkenal milik orang lain. Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut maka pemerintah pada waktu itu mengeluarkan UU No.01 untuk lebih memberikan perlindungan terhadap pemilik merekmerek terkenal. Selama masa berlakunya UU No. hal tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian dan politik pada saat itu yang masih memprihatinkan. 290 Tahun 1961. karena dengan membiarkan tindakan yang tidak bertanggung jawab maka secara tidak langsung menghasilkan dan membenarkan seseorang untuk menipu dan memperkaya diri secara tidak jujur. sehingga pengusaha nasional dapat mengetahui dan memanfaatkan merek-merek terkenal untuk digunakan dan didaftar lebih dulu di Indonesia demi kepentingan usahanya. maka pada tahun 1987 pemerintah menetapkan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. secara keseluruhan tidak hanya merugikan pemilik atau pemegang merek itu sendiri dan juga para konsumen tetapi dampak yang lebih luas adalah merugikan perekonomian nasional dan yang lebih luas lagi juga merugikan hubungan perekonomian internasional. M. M. Seiring dengan perkembangan perdagangan dan industri serta sejalan dengan terbukanya sistem ekonomi yang dianut Indonesia pada saat itu maka sengketa-sengketa merek mulai muncul. hal tersebut disebabkan karena :  Terbukanya sistem ekonomi nasional. Untuk menghindari praktek-praktek yang tidak jujur dan memberikan perlindungan hukum kepada pemilik atau pemegang merek serta konsumen maka Negara mengatur perlindungan merek dalam suatu hukum merek dan selalu disesuaikan dengan perkembangan perkembangan yang terjadi di dunia perdagangan internasional yang tujuannya adalah mengakomodasikan semua kepentingan-kepentingan yang ada guna menciptakan suatu perlindungan hukum.01 Tahun 1987 tentang “Penolakan Permohonan Pendaftaran Merek yang mempunyai Persamaan dengan Merek Terkenal Orang lain”. Undang-Undang tersebut disusun secara sederhana hanya berjumlah 24 pasal dan tidak mencantumkan sanksi pidana terhadap pelanggaran merek. Selain itu. No. Dengan pesatnya perkembangan dunia perdagangan banyak sengketa-sengketa merek pada saat itu terutama antara pemilik merek terkenal dengan pengusaha lokal.02.  Pemilik merek terkenal belum atau tidak mendaftarkan dan menggunakan mereknya di Indonesia. asal undang-undang merek tersebut sama dengan undang-undang merek sebelumnya yang ditetapkan oleh Belanda.03-HC.01. Banyaknya sengketa merek sampai pada dekade 80-an. 13 . Dengan adanya ketentuan tersebut maka banyak sekali pemilik merek terkenal yang mengajukan gugatan pembatalan mereknya dan banyak pula perpanjangan merek yang ditolak oleh kantor merek dikarenakan mempergunakan merek orang lain. hal tersebut menyebabkan konsepsi yang tertuang dalam Undang-undang merek Tahun 1961 sudah sangat tertinggal jauh sekali.01-HC. banyak sekali perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam dunia perdagangan. dimana norma dan tatanan dagang telah berkembang dan berubah dengan cepat. Keputusan tersebut kemudian direvisi dengan Keputusan Menteri Kehakiman No. 21 Tahun 1961. Pada tahun 1961 Indonesia mempunyai Undang-undang baru mengenai merek perusahaan dan perniagaan LN.yang memproduksi suatu barang dengan mendompleng ketenaran milik orang lain tidak bisa dibenarkan begitu saja.

selain itu juga disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam persetujuan TRIPs (Trade Releated Aspects Of Intelectual Property Right Including Trade In Counterfeit Goods) atau aspekaspek dagang yang terkait dengan hak atas kekayaan Intelektual. Tujuan dari penyempurnaan tersebut tidak lain adalah mengakomodasikan ketentuan-ketentuan yang sudah menjadi komitmen internasional mengenai Hak atas Kekayaan Intelektual. Sebagai Negara penandatangan persetujuan umum tentang tarif dan perdagangan (General Agrement On Tarif and Trade) dalam putaran Uruguay (Uruguay Round). 14 Tahun 1997 dan diubah dan disempurnakan lagi dengan undang undang No. Sumber : http://balianzahab.21 tahun 1961. Meskipun telah diatur dalam berbagai peraturan yang tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan.19 Tahun1992 tentang merek (LN.5 Tahun 1999 tentang Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.com 14 . Sejalan dengan itu maka pemerintah membuat kebijakan baru dengan melakukan perubahan dan penyempurnaan UU No. oleh karena itu untuk lebih memberikan perlindungan kepada konsumen telah di undangkan UU No.81 Tahun 1992) sebagai pengganti UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang tentu saja tujuannya untuk kesejahteraan rakyat (konsumen) dan untuk menjamin iklim perdagangan yang jujur dan fair maka telah pula diundangkan UU No. 7 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (Agrement Establishing The World Trade Orgnization). 15 Tahun 2001. tetapi dalam undang-undang tersebut masalah perjanjian yang berkaitan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual seperti Merek dikecualikan. 19 Tahun 1992 dengan UU No. tetapi dalam kenyataannya masih banyak juga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan beritikad tidak baik menggunakan merek terkenal milik orang lain yang tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan. Selain itu dalam undang-undang tersebut juga memberikan perlindungan terhadap merek-merek terkenal.15 Tahun 2001 ada perubahan sistem yaitu dari sistem deklaratif (First to use system). Indonesia telah meratifikasi paket persetujuan tersebut dengan UU No. Dalam Undang-undang merek No. karena merek adalah hak Eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemegangnya. Perubahan atau penyempurnaan itu pada dasarnya diarahkan untuk menyesuaikan dengan Konvensi Paris (Paris Convention For The Protection Of Industriale Property) pada tahun 1883. No.wordpress. Dalam hal tersebut maka pihak yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah konsumen. menjadi sistem konstitutif (Fist to file frinciple).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful