P. 1
Hukum Pidana Dalam Yurisprudensi.tugas.....

Hukum Pidana Dalam Yurisprudensi.tugas.....

|Views: 289|Likes:
Published by Praditha Hasugian

More info:

Published by: Praditha Hasugian on Apr 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2015

pdf

text

original

Hukum Pidana dalam Yurisprudensi Nama NPM : Praditha hasugian : 110110080175 Analisis berdasarkan putusan hakim Mahkamah Agung

RI Reg.No : 1671 K / Pid / 1996 Hakim dalam kasus ini memberikan putusan berdasarkan penafsiran sistematis dan analogis dikarenakan putusan hakim pada tingkat MA ini menyatakan Sukandi bin nabas diputuska hukumannya berdasarkan perimbangan pada putusan PN Tenggarong No.32/PID/B/1996/PN.TGR, Tanggal 17 Juni 1996 ; Pengadilan Tinggi Kalimantan Timur di Samarinda No. 29/Pid/1996/PT, KT.SMDA, tanggal 2 september 1996. Dimana dalam menolak putusan Pengadilan Tinggi yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Tenggarong. Terdakwa mengajukan keberatan kasasi bahwa judex facti telah salah dalam menerapkan hukum mengenai Pasal 55 ( 1 ) ke- 1 KUHP, sebagaimana diatur dalam Pasal 253 ( 1 ) a. KUHP. Kenyataannya Terdakwa tidak ikut aktif melakukan tindakan yang dapat menghilangkan jiwa korban ( pertimbangan judex facti tingkat pertama ). Judex factie tidak mempertimbangkan dengan sempurna sebelummenyatakan unsur terbukti atau tidak. Pertimbangan judex factie hanya didasarkan pada keterangan para saksi ( dalam berkas penuntut umum ) secara formal tanpa memperhatikan lagi aspekaspek yang menjadi dasar untuk mengungkap kebenaran materil. Fakta yang terbukti bahwa sebenarnya terdakwa berperan sebagai “ pembantu “ dalam delik pembunuhan tersebut. Hakim pertama dalam putusannya mempersalahkan terdakwa dalam Dakwaan Alternatif ( delict pembantuan ex Pasal 56 KUHP ) yang tidak didakwakan oleh Jaksa dala Surat Dakwaannya yaitu ex. Pasal 56 jo Pasal 340 KUHP. Dan membebaskan Dakwaan selebihnya. Berdasarkan pembanding ini maka hakim sebenarnya melakukan penafsiran secara analogis dan sistematis dengan tetap memperhatikan alat bukti dan bentuk tindakan terdakwa ( peran ) dalam kasus sehingga hakim dapat memberikan putusan berdasarkan kedudukan terdakwa untuk tidak menimbulkan suatu keambiguan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->