Telaah Filosofis Pemetaan Keilmuan Islam Masruhan Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan untuk menjawab permasalahan

“bagaimana eksistensi keilmuan Islam?”. Rumusan masalah ini dibreak down menjadi sub-sub variabel yang meliputi klasifikasi ilmu-ilmu keislaman ke dalam bidang, cabang dan ranting sehingga tampak jelas perbatasan obyeknya (baik obyek forma maupun obyek materia), metode, teori dan paradigma yang digunakan. Dalam rangka memberikan jawaban atas permasalahan itu maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data tentang : a) klasifikasi atau penggolongan bidang, cabang dan ranting keilmuan Islam; b) obyek kajian ilmu-ilmu keislaman baik obyek forma maupun obyek materia dan metode, teori serta paradigma yang digunakan. Data ini dikumpulkan dari sumbernya dengan menggunakan teknik studi pustaka disertai dengan content analysis dan teknik interview. Selanjutnya, data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif inferensial dengan pola berpikir deduktif-induktif dan komparatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari analisis tersebut disimpulkan bahwa hakikat ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan metode, prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan atau keorangan untuk mendapatkan kebenaran, pemahaman, memberikan penjelasan atau melakukan penerapan baik pengetahuan biasa, pengetahuan ilmu, pengetahuan filsafat dan pengetahuan agama. Ilmu pengetahuan juga dapat dikatakan sebagai usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang diselidiki (alam, manusia dan agama) sejauh dapat dijangkau oleh pemikiran yang dibantu penginderaan manusia yang kebenarannya diuji secara empiris. Kata Kunci: Keilmuan Islam, Pemetaan Keilmuan Islam, al-Ghazali, Harun Nasution Latar Belakang Suatu ilmu menurut epistemologinya bermula dari pengalaman bersama yang tumbuh menjadi pengetahuan kemudian berkembang menjadi ilmu atas dasar ciri ciri ilmiah. Hal ini berarti bahwa ilmu itu merupakan hasil kreasi manusia dengan daya penalarannya secara rasional berkenaan dengan hal-hal yang kongkrit dan abstrak. Keluasan ruang lingkupnya membuat ilmu itu terbagi-bagi menjadi bidang-bidang, cabang-cabang dan ranting-ranting dengan ruang lingkup yang terkadang tidak tegas perbatasannya. Bagian-bagian ilmu yang berbeda tempo, keluasan dan kedalamannya mengalami laju perkembangan yang seirama dengan perjalanan waktu dan minat orang padanya. Kerumitan ramifikasi dan pertumbuhan bidang, cabang dan ranting kespesialisasian pun tidak sama untuk setiap bagian ilmu. Meskipun demikian, semua bidang, cabang ataupun ranting itu merupakan bagian integral dari pada ilmu sebagai suatu keseutuhan. Masing-masing unsurnya saling mengisi, saling terkait, saling mendukung dan saling bergantung satu sama lain. Aneka ragam bidang, cabang dan ranting ilmu yang banyak itu digolongkan dan dikelompokkan. Secara umum penggolongan ilmu itu ke dalam tiga kelompok besar yaitu ilmu-ilmu eksakta, ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Penamaan terhadap kelompok itu juga mengalami perbedaan antara suatu negara, bangsa dan orang sehingga dalam kepustakaan dikenal adanya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan budaya atau ilmu-ilmu kemanusiaan. Adakalanya pula pengelompokan ilmu itu lebih dikokohkan lagi dengan menambahkan ilmu-ilmu perilaku dan ilmu-ilmu kerohanian. Sebenarnya setiap bidang, cabang dan ranting ilmu itu mempunyai kedudukan, fungsi dan kepentingan yang sama jika dilihat dari perspektif ilmu. Tetapi dalam kenyataannya setiap ilmuan (scientist) dan pandit (scholar) memiliki pandangan yang lain baik terhadap posisi

1

Harun Nasution. Karena tidak berdiri sendiri itu. Hanya sebagian ilmu-ilmu eksakta dan sebagian kecil ilmu-ilmu sosial menggunakan metode ilmiah sehingga mengenal kegiatan penelitian. Penggolongan semacam ini disebut juga Universal Decimal Classification (UDC) dan sekarang pola ini secara umum dianut oleh para pustakawan sedunia. akidah/ilmu kalam. agama lalu dirujuksilangkan dengan pelbagai cabang ilmu lain yang juga terpaut pada agama yaitu geografi. hukum. etika dan sistem filosofi. Sebagai contoh dapat diberikan yaitu adanya ketidak jelasan ruang lingkup antara sosiologi dan antropologi sosial.2 dalam klasifikasi. Pelbagai sistem tersebut tampak menunjukkan adanya keparalelan dan konvergensi sekaligus keanekaragaman dan perbedaan. Dokumen ini kemudian dipakai oleh LIPI sebagai acuan utama dalam menyusun Daftar Kode Bidang/Disiplin Ilmu dan Teknologi. Sungguhpun demikian. Komisi Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP) Kementerian Riset dan Teknologi mencoba menyesuaikan bahan CSIRO itu sebagai pedoman penyusunan bidang penelitian dan kepakaran Pranata Penelitian dan Pengembangan untuk diadopsi dan diterapkan di Indonesia. Keadaan ini mendorong para ilmuwan menginginkan adanya pola atau sistem penataan penggolongan bidang-bidang ilmu untuk pelbagai keperluan. semuanya hampir sepakat bahwa orang menggunakan pendekatan yang rapi dan teratur dalam mengembangkan ilmu yang dipandu oleh etika ilmu masing-masing. Sementara itu – menurut Harun Nasution -. hadits. Keadaannya menjadi lebih menyulitkan karena terdapatnya perbedaan maksud dan tujuan suatu ilmu yang dianut oleh orang di daratan Eropa dan di Amerika Serikat. Suatu klasifikasi kegiatan penelitian dan kepakaran lembaga penelitian dan pengembangan juga dikeluarkan oleh Commonwelth Science and Industrial Research Organizatioan (CSIRO) Australia. sejarah. Suatu standardisasi penamaan dan penataan bidang ilmu juga dirasakan keperluannya untuk melakukan perbandingan internasioanal kegiatan penelitian cabang ilmu yang dilakukan pelbagai negara. Ilmu-ilmu keislaman yang dalam kelompok dasar meliputi tafsir. Perbedaan cakupan disiplin yang dikandung oleh nama yang sama pun sering dijumpai. Etika ilmu dimaksud adalah pola pikir deduktif dan induktif yang dilengkapi dengan metode ilmiah berdasarkan asumsi adanya keteraturan dalam alam semesta. Kalsifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perspektif dalam Harun Nasution dkk. magis dan sihir. Bandung. Alasannya karena ia mudah digunakan untuk menyimpan dan menemukan kembali pelbagai macam bentuk bahan pustaka dan dokumen keilmuan lain yang jumlahnya semakin lama semakin membengkak. pengembangan dan rekayasa yang umumnya mengarah pada proses dan produksi dalam bidang industri dan jasa. Alasan inilah yang membuat UNESCO mengeluarkan dokumen Proposed International Standard Nomenclature for field of Science pada tahun 1970-an. 1998.bahwa ilmu-ilmu keislaman yang berkembang dalam sejarah Islam memiliki cabangnya sendiri-sendiri. Pada tahun 1876 misalnya. Dari masing-masing ilmu ini dikembangkan dengan menambahkan kata agama setelahnya sehingga misalnya sosiologi menjadi sosiologi agama. 7 1 . Dengan demikian telah terjadi kesimpangsiuran dalam penggolongan ilmu. kegiatan seperti ini mulai dibakukan secara tidak langsung sewaktu ada pengenalan Dewey Decimal Classification untuk keperluan penyimpanan tumpukan dokumen informasi ilmiah dalam suatu perpustakaan. 1 Ilmu-ilmu keislaman tersebut diklasifikasikan olehnya ke dalam dua kelompok yaitu kelompok dasar dan kelompok cabang. Dengan sistem ini dapat dikatakan bahwa keilmuan Islam tidak diperlakukan sebagai suatu cabang yang bersifat monolitik. nilai kepentingan maupun mengenai prioritas pengembangan disiplin ilmu yang ditekuni sebagai spesialisasinya. Kedudukannya disejajarkan dengan mitos. Bagaimana dengan sistem pemetaan keilmuan Islam? Dalam sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh UNESCO dan kemudian dianut oleh LIPI secara sepintas terlihat bahwa agama sebagai ilmu hanya diperlakukan sebagai sebuah disiplin yang merupakan salah satu unsur antropologi budaya. Perbedaan nama untuk suatu ilmu yang sama terkadang terjadi. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Pengertian ilmu yang memiliki ruang lingkup yang luas dalam perkembangan di Indonesia selalu dipakai istilah “ilmu pengetahuan” yang secara umum dikaitkan dengan teknologi sehingga sering diakronimkan menjadi IPTEK. sosiologi.

fiqh siyasah. fiqh siyasah (termasuk adminstrasi negara). Fakultas Dakwah mengelola satu bidang yaitu bidang dakwah Islam. hadith. metode dakwah. 6) Pendidikan Islam yang cakupannya sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang in. pendidikan. peradilan dan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang ini. b. Sementara itu. Klasifikasi ilmu-ilmu keislaman ke dalam kelompok dasar dan kelompok cabang pun dapat dibagi lagi menjadi bidang-bidang yaitu bidang-bidang : 1) Sumber ajaran Islam yang mencakup ilmu-Al-Quran. 7) Dakwah Islam yang cakupannnya sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang ini. fiqh muamalah. pranata sosial. falsafah pendidikan Islam. kaligrafi. Penyiaran Islam yang mencakup sejarah dakwah. 4) Sejarah dan peradaban Islam yang cakupannya sama dengan cakupan cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang ini. fiqh ibadah (dalam kaitannya dengan hidup kemasyarakatan). fiqh muamalah (termasuk peraturan kemiliteran. 8) Perkembangan modern/pembaruan yang mencakup bidang-bidang sumber. Menurut Harun Nasution bahwa pengelolaan bidang ilmu perkembangan modern/ pembaruan dalam Islam diserahkan pada semua fakultas yang ada di IAIN. ekonomi dan pranata sosial lainnya). seni tari. Pengajaran Islam kepada anak didik yang mencakup pendidikan Islam. 2) Budaya Islam meliputi arsitektur. 5) Bahasa dan Sastra Arab yang cakupannya sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang ini. Fakultas Tarbiyah mengelola satu bidang yaitu bidang pendidikan Islam. kepolisian. c. Sedangkan ilmu-ilmu keislaman yang dalam kelompok cabang adalah : a. c. perbandingan agama serta perkembangan modern/pembaruan dalam ilmu-ilmu tafsir. pemikiran dasar. fiqh ibadah. fiqh kepolisian. Bahasa-bahasa dan sastra-sastra Islam terutama bahasa dan sastra Arab. Ajaran yang mengatur masyarakat terdiri dari ushul fiqh. 3) Pranata sosial yang mencakup ushul fiqh. seni lukis. falsafah. tasawuf dan tarekat serta perbandingan agama dan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang ini. tarekat. perkembangan modern/pembaruan dalam dakwah Islam dan sebagainya. b. musik dan sebagainya. fiqh ekonomi. Peradaban Islam yang meliputi : 1) Sejarah Islam termasuk Sains Islam. tasawuf. d. sejarah pendidikan Islam. dakwah. 3) Studi kewilayahan Islam. ilmu kalam dan filsafat. tafsir. 2) Pemikiran dalam Islam yang mencakup ilmu kalam. dan pranata-pranata sosial lainnya serta perkembangan modern/pembaruan dalam bidang fiqh. Pengelolaan bidang-bidang keilmuan Islam di atas dalam konteks Institut Agama Islam Negeri menjadi tanggung jawab akademik bagi fakultas-fakultas yang mengasuh dan mengelolanya yaitu : a. Fakultas Syari’ah mengelola satu bidang yaitu bidang fiqh dan pranata sosial.3 filsafat Islam. fiqh kemiliteran. e. hadith dan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang ini. Fakultas Adab mengelola dua (2) bidang terdiri atas bidang bahasa dan sastra Arab serta bidang Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam. d. lembaga pendidikan Islam dan perkembangan modern (pembaruan)dalam pendidikan Islam. Praja . materi dakwah. e. Juhaya S. Fakultas Ushuluddin mengelola dua (2) bidang keilmuan Islam terdiri atas bidang sumber ajaran Islam dan bidang pemikiran dalam Islam. sejarah dan peradaban serta bahasa dan sastra.

Aksiologi menjelaskan “untuk apa” pengetahuan tersebut disusun. 29 M. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menjelaskan eksistensi ilmu-ilmu keislaman dari aspek pembidangannya sehingga 2 3 M. 1955. pada sistem yang dikembangkan UNESCO dan kemudian dianut oleh LIPI secara sepintas terlihat bahwa agama sebagai ilmu hanya diperlakukan sebagai sebuah disiplin yang merupakan salah satu unsur dari antropologi budaya. Ontologi membahas apa sasaran yang dikaji oleh ilmu yang membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia. Yaitu permsalahan yang asasi yang meliputi ontologi. epistemologi dan aksiologi. Claessn. J. b) Masalah tepatnya pemikiran secara formal. metode. menganalisis dan memecahkan permasalahan dengan melalui sudut tinjauan dan cara berfikir filosofis. sistematik dan universal. filsafat Ilmu dan Penelitian. pengembangan dan penguasaan ilmu dakwah itu. teori dan paradigma yang digunakan. Dus berarti ilmu agama tidak diperlakukan sebagai suatu cabang yang bersifat monolitik.J. 2 Sementara itu filsafat ilmu di sini dimaksudkan sebagai pmikiran filosofis untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada tiga masalah pokok. 3 Dengan demikian. Menuju ke Pemikiran Filsafat. dalam rangka usaha manusia mendalami hakikat suatu masalah untuk sampai kepada suatu hasil berupa pengetahuan (kebenaran) maka yang penting adalah hubungan antara dua masalah yaitu : a) Masalah pengetahuan yang didasarkan pada kebenaran supaya menjadi pengetahuan yang benar. 17 . dapatlah dipahami bahwa masalah dan hakikat filsafat ilmu itu adalah bagaimana struktur ilmu itu yakni metode dan bentuk pengetahuan ilmiah yang dimilikinya dan akhirnya adalah apa arti dan makna ilmu itu dalam keperluan praktek dan pengetahuan mengenai alam kenyataan.4 menganggap pengelolaan bidang ilmu ini menjadi tanggung jawab akademik Fakultas Ushuluddin. Terjemahan G. Ilmu dakwah. Dengan pendekatan ini dimaksudkan untuk meninjau. Menurut Langeveld. Jakarta: t. Pasalnya. 1994. Padahal berdasarkan kenyataan lapangan dan keperluan di Indonesia. Langeveld. Menghadapi kenyataan ini agaknya masih terbuka peluang melakukan pendekatan untuk memetakan ulang atas keilmuan Islam yang memungkinkan dihasilkannya suatu sistem klasifikasi yang memenuhi berbagai keperluan dan terutama sesuai untuk keadaan Indonesia. Untuk itu penelitian dengan judul “Pemetaan Keilmuan Islam(Suatu Telaah Filosofis atas Penggolongannya)” perlu dilakukan. bahwa ilmu-ilmu Islam itu bersifat monolitik sebab-sebagaimana ilmu-ilmu lainnya--ilmu-ilmu keislaman pun sekarang harus dikembangkan dengan pendekatan lintas disiplin. Berfikir filosofis adalah mencari kebenaran tentang segala sesuatu yang dipermasalahkan dengan berfikir secara radikal. harus menyadap pengalaman dari ilmu-ilmu komunikasi serta menggalang dukungan teknologi informasi modern dengan segala kecanggihannya yang menakjubkan itu.p. Solly Lubis. Ketepatan pemikiran yang formal ini adalah jalur logika. Permasalahan yang relevan dengan pendektan filsafat ilmu ini adalah tentang masalah pemilihan dan penentuan obyek forma secara tepat yang memungkinkan pengidentifikasian faktor mana saja yang termasuk dalam lingkup permasalahan dan faktor mana saja yang tidak. Dalam rangka melakukan penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan filosofis yang diarahkan pada filsafat ilmu. Dari latar belakang masalah sebagaimana dikemukakan di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana eksistensi keilmuan Islam? Permasalahan ini dicobausahakan untuk dibreak down ke dalam sub-sub variable yang meliputi pembidangan ilmu-ilmu keislaman sehingga tampak jelas perbatasan obyeknya (baik obyek forma maupun obyek materia). Epistemologi menjelaskan bagaimana cara menyusun pengetahuan yang benar yang basisnya adalah metode ilmiah. Bandung: Penerbit Mandang Maju. Begitu pula pelibatan pedagogi dan psikologi pasti akan diperlukan demi keberhasilan pemanfaatan. Ketiga landasan ilmu ini –dalam praktek pengembangan ilmu – saling kait mengkait dan merupakan satu kesatuan sebagai landasan ilmu. Tata pikir yang dikembangkan adalah tata pikir kontekstual yaitu kebermaknaan hubungan antara ketepatan pemilihan dan penentuan obyek forma dengan disiplin ilmu yang menjadi acuannya. misalnya.

Hadits sebagai penjelasan al-Qur’an juga muncul dari Nabi saw secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan umat dalam ruang dan waktu sewaktu Nabi saw masih hidup. ada 4 (empat) hal yang akan dibicarakan sebagaimana termaktub dalam tulisan berikut: a. Sebagaimana diketahui lewat sejarah bahwa ajaran Islam mengalami perkembangan sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai zaman kita sekarang dan akan terus berkembang lagi pada masa yang akan datang. Kemudian. Sumber Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dari sumbernya meliputi informan. buku. Bani Umayah. Palestina. Data yang Dikumpulkan Dalam rangka memberikan jawaban atas masalah yang telah dirumuskan di muka maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi 1) data tentang hakikat ilmu-ilmu keislaman. jurnal. Proses analisa datanya dilakukan dengan Reduksi Data.5 dapat diketahui hakikat ilmu-ilmu keislaman. 2 4 . deduktif. Teknik Pengumpulan Data Dalam rangka mengumpulkan data yang diperlukan dari sumber data tersebut di atas peneliti menggunakan teknik-teknik studi pustaka (studi dokumen). kenyataan ini dilanjutkan oleh Khulafa’ al-Rasyidin. d. induktif dan komparatif. Pada masa khulafa’ al-Rasyidin. Kenyataan ini seperti yang ditunjukkan oleh sejarah politik Islam yang dimulai oleh Nabi Muhammad Saw dengan membentuk negara Madinah. kerajaan di Isfahan dan kerajaan Mughal di India. Terkait dengan metode penelitian. maka khalifah Umar bin Khththablah yang Harun Nasution. Pembahasan Pembidangan ilmu-ilmu keislaman mempunyai hubungan yang erat dengan perkembangan Islam dalam sejarah. Pada akhir hayat Nabi saw wahyu al-Qur’an berhenti diturunkan. Bani Abbas. maka hadits Nabi saw pun terhenti. dan metodenya. ensiklopedia dan karya ilmiah yang lain yang membahas permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan yang dicarikan jawabannya dalam penelitian ini. tidak lama setelah Nabi saw wafat. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah erspektif dalam Harun Nasution dkk. Periode selanjutnya merupakan periode penyempurnaan sejumlah ajaran yang turun pada periode pertama. cabang dan ranting ilmu-ilmu keislaman.. batas-batas obyeknya. baru kemudian Islam sebagai agama. metodenya dan klasifikasinya. 3) data tentang klasifikasi atau penggolongan bidang. Ayat-ayat yang diturunkan pada periode Mekkah adalah ayat-ayat yang mengandung ajaran tentang akidah. c. Pada mulanya. Dalam perkembangannya. Kerajaan Turki Umani di Istanbul. Bandung. Islam yang berkembang dari Semenanjung Arabia ke seluruh penjuru dunia adalah sebagai kekuatan politik. sehingga Madinah menjadi negara adikuasa baru di samping Byzantium. Syria. Irak dan Persia. Nuansa. b. 2) data tentang obyek kejian ilmu-ilmu keislaman baik obyek forma maupun materia. Menurut Harun Nasution 4 bahwa ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an diturunkan dari langit kepada Nabi saw secara berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan umat Islam pada zaman Nabi masih hidup yakni dalam dua periode meliputi periode Mekkah dan periode Madinah. dunia Islam mengalami perluasan yang melebihi Semenanjung Arabia yang mencakup dua negara adikuasa pada waktu itu yaitu Byzantium dan Persia. Perkembangan demikian ini terjadi terutama pada kekhalifahan Umar ibn al-Khatthab RA. Hal ini tidaklah berarti bahwa perkembangan ajaran Islam mengalami keterhentian. 1998. Kekuasaan negara Madinah juga meluas ke Mesir. makalah. Penyajian Data dan Penarikan Kesimpulan. dan wawancara. Metode Analisis Data Data yang telah terolah di atas dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif inferensial. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan Displin Ilmu. ibadah dan ayat-ayat yang mengandung kaidah-kaidah dasar tentang hubungan antara manusia dengan sesamanya. dokumen.

Jundisapur di Irak serta Bakta di Persia. Penguasaan Islam atas Mesir. para alim ulama mempelajari agama-agama lain itu sehingga lahirlah ilmu perbandingan agama sebagaimana ditulis oleh al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal. Pakistan. Dalam hubungan Islam dengan budaya setempat terlahirlah kebudayaan Islam dalam bentuk kaligrafi. Bahkan. Keberadaan Islam semakin kukuh sebagai negara adikusa setelah Bani Umayyah menguasai Spanyol dan kepulauan yang ada di laut putih seperti Sisilia selama berbad-abad. Kontak peradaban ini melahirkan tradisi ilmu kalam dan tradisi filsafat Islam yang terdiri atas aliran al-Farabi / Ibnu Sina dan aliran al-Ghazali. sejarah dakwah dan lain sebagainya. ilmiah dan filosofis. Tradisi seperti ini dibawa oleh Ibnu Rusyd ke Eropa pada abad ke-13 M sehingga melahirkan renaisance yang membawa orang Barat ke zaman modern. Hal ini terutama tampak pada seni arsitektur dengan corak Mesir dan Turki. kepolisian sebagai keamanan dalam negeri dan pemerintahan yang bertugas menjalankan administrasi pemerintahan/negara juga melahirkan sejumlah ilmu baru seperti sistem militer Islam. Nasrani. kenyataan Islam sebagai sebuah kekuatan politik turut menyuburkan tradisi ilmu tata negara yang dikenal dengan sebutan fiqh siyasah yang kajiannya sejak semula didominasi oleh tiga aliran yaitu aliran Ahlussunnah. Vasco da Gama mencari jalan ke Timur melalui Afrika Selatan dan Columbus sampai dapat menemukan Benua Amerika melalui jalan Barat adalah karena dorongan Islam. Sementara. Inggris dan Perancis memasuki dunia Islam Timur Tengah pada abad ke-19. ekonomi Islam. Afganistan. arsitektur yang menunjukkan coral-corak lokal sesuai dengan persentuhan dengan kebudayaan setempat. Karenanya. Penetrasi Islam ke Eropa inilah yang memotivasi negara-negara Eropa terutama Spanyol. Syiah dan Khawarij.6 berhasil menaklukkan Byzantium dan Persia yang masing-masing sebagai negara adikuasa yang berjalan hingga abad ke-20. ilmu pasti dan optika. Antakia dan Harran di Syria. Dalam posisinya Islam sebagai negara adikuasa. metode dakwah. pemerintahan Islam dan pranata sosial Islam lainnya. Secara keilmuan. seni tari. Islam menunjukkan kemajuan peradaban yang tiada tara sehingga terlahirlah sains dalam Islam seperti ilmu kedokteran. Sebagai negara adikuasa. penganut agama Zoroaster dan Hindu. Dorongan ini menghasilkan perkembangan sistem pendidikan dalam Islam sehingga tumbuh subur lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai dari tingkat dasar hingga universitas yang juga membawa perkembangan ilmu dan filsafat pendidikan dalam Islam. Syria (yang berbahasa Persia dan beragama Zoroaster). pranata sosial yang lain seperti sistem peradilan. Irak. Praktek penyebaran ajaran Rasulullah Saw ke daerahdaerah yang masuk dalam kekuasaan Islam juga melahirkan kajian mengenai dakwah Islam yang kemudian berkembang kajiannya pada keilmuan mengenai materi dakwah. Mesir (yang berbahasa Qibti dan beragama Nasrani). Sebagai indikator kemajuan peradaban waktu itu adalah kentalnya nuansa pemikiran rasional. suatu zaman yang ditandai dengan kemajuan sains dan teknologi. Ilmu keislaman tentang studi kewilayahan dan studi bahasa serta sastra Islam juga lahir sebagai akibat lahirnya negara-negara nasional Islam seperti Turki. Perluasan kekuasaan juga dialami oleh Turki Usmani yang memasuki Eropa Timur sampai ke pintu gerbang Wina. seni lukis. kepolisian Islam. Islam memiliki pluralitas warganegara baik dalam aspek agama maupun kebudayaan seperti Yahudi. Islam mempunyai angkatan bersenjata dan tradisi militer yang kokoh yang disokong oleh ekonomi yang kuat. matematika. Indonesia dan Malaysia yang masing-masing memiliki corak yang . Mengapa kemajuan peradaban itu dapat tercapai oleh umat Islam? Jawabannya karena secara normatif Islam menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu sehingga mendorong mereka bersikap terbuka terhadap peradaban yunani dan peradaban-peradaban lainnya terutama dengan budaya lokal wilayah yang berhasil dikuasai umat Islam. Persia. Eropa sejak abad ke-6 sampai abad ke-13 Masehi belum menunjukkan dirinya sebagai negara yang kuat karena masih mengalami masa kegelapan dan kemunduran. Syria. seni musik. Dalam perjumpaannya dengan peradaban Yunani. Irak dan Persia pada permulaan abad ke-7 membuat pusatpusat peradaban Yunani yang dibawa oleh Alexander Agung masuk ke daerah-daerah itu sejak awal abad ke-4 SM seperti Iskandariah di Mesir. astronomi.

Dalam ilmu ini terdapat lima aliran yaitu aliran Khawarij. fiqh siyasah. ilmu hadith. ilmu tafsir. perbandingan agama. Dalam ajaran Islam yang mengatur masalah hubungan manusia dengan sesama lahirlah ilmu fiqh mu’amalah yang membahas masalah kekeluargaan. peradaban Islam. akidah/Ilmu kalam. Dari ‘Ulum al-Qur’an lahirlah Qira’ah. ilmu hadits. kemiskinan dan kenegaraan menurut empat madzhab yakni Maliki. ilmu kalam. Bani Usman yang tentu menimbulkan aneka macam masalah yang kompleks yang dihadapi oleh para khalifah Islam. sejarah politik Islam. perbuatan manusia dan persoalan akal dan wahyu. bahasa Arab. Kekuasaan Islam meluas lagi hingga ke Barat memasuki Andalusia dan ke Timur sampai ke perbatasan Cina pada masa kekuasaan Bani Umayyah. Ilmu Tafsir juga berkembang dan melahirkan ilmu yang beraneka corak dan aliran tafsir al-Qur’an seperti tafsir bi al-ma’tsur. fiqh mua’mlah. Bahasa sebagai penjelas ajaran dan bahasa nasional mereka pun tidak lagi didominasi oleh bahasa Arab tetapi berbeda satu sama lain yaitu Persia. Ilmu tentang ajaran Islam yang mengatur kemasyarakatan terdiri dari ushul fiqh. Bertitik dari dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu keislaman mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ajaran Islam. kepolisian. Ulama yang merasa tidak puas dengan pelaksanaan ibadah menurut aturan fiqh menempuh jalan yang dapat merasakan kedekatannya dengan Tuhan sampai ke ma’rifat yakni melihat Tuhan dengan mata hatinya. kekayaan. kejahatan. ilmu kalam dan ilmu filsafat.7 berbeda. tafsir bi al-ra’yi hingga tafsir maudlu’i. Ilmu-ilmu keislaman yang berkembang itu antara lain adalah ilmu-al-Qur’an. masa kekhalifahan Bani Abbas. tasawwuf. pendidikan dan penyiaran Islam. sedangkan aliran kedua hanya mengajarkan pengalaman keberagamaan sampai pada tingkat ma’rifat. Dengan ijtihad inilah ajaran Islam terus berkembang berkenaan dengan rincian dan tata-cara pelaksanaan ajaran Islam sehingga menghasilkan ajaran-ajaran baru Islam sesuai dengan pertukaran waktu dan tempat tetapi tetap mengacu kepada ajaran Islam yang bermula dari zaman Nabi Muhammad Saw. sejarah ekonomi. akhlak dan alam ligkungan. ekonomi dan pranta sosial lainnya). adalah Kelompok Ilmu Dasar seperti tafsir. Kenyataan ini menuntut ajaran Islam dikembangkan terus lewat ijtihad karena jumlah ayat-ayat al-Qur’an hanya sedikit yang hanya memberikan prinsip-prinsip dan ajaran dasar tanpa rincian penjelasan tentang teknik pelaksanaannya. fiqh ibadah. tarekat. perdagangan. Ilmu-ilmu ini memiliki cabangnya sendirisendiri yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Pertama. Dasar yang mereka gunakan adalah al-Qur’an surat ke-50 ayat 16 yang terjemahannya bahwa “Allah itu lebih dekat kepada manusia daripada pembuluh darahnya sendiri”. sejarah kepolisian. fiqh muamalah (termasuk peraturan kemiliteran. Dalam ajaran tasawwuf ini pada umumnya terdapat dua aliran yaitu aliran Abu Yazid atau al-Hallaj dan aliran al-Ghazali. sejarah kemiliteran. studi bahasa-bahasa dan sastra Islam. bahasa dan sastra-sastra Islam. fiqh siyasah (termasuk administrasi negera). Syafi’i dan Hambali sebagaimana halnya dalam fiqh ibadah. peradilan. aliran Murji’ah. Perkembangan ajaran Islam yang demikian ini melahirkan ilmu-ilmu keislaman seperti ‘Ulum al-Qur’an dan Ilmu Tafsir dengan berbagai cabangnya. filsafat Islam. sejarah sosial umat dan pranata-pranata sosial lainnya. Ijtihad ulama dalam “aqidah” juga menghasilkan ilmu aqidah yang semula hanya membahas masalah iman dan kufur. . aliran Asy’ariyah dan aliran Maturidiyah. Kedua adalah kelompok Ilmu Cabang meliputi : 1) ilmu tentang ajaran Islam yang mengatur kemasyarakatan. Faktor yang dipertajam dalam ajaran ini adalah rasa kedekatan dengan Tuhan yang disebut al-dzawq yang terdapat dalam kalbu. aliran Mu’tazilah. sehingga lahirlah ilmu tasawwuf. tetapi kemudian ia berkembang menjadi “ilmu kalam” karena persentuhannya dengan logika Yunani. asbab al-nuzul dan uslub al-Qur’an. Turki (Urdu). hadits. Di samping itu. ilmu ini juga mengalami perkembangan dari segi perdebatan dan penafsirannya seperti perdebatan tentang: sifat dan perbuatan Tuhan. Aliran yang pertama mengajarkan pengalaman ittihad dengan Tuhan. Hanafi. perkembangan modern dalam Islam. tasawwuf. nasikh mansukh. sejarah administrasi negara. tarekat. Indonesia (Melayu) dan Swahili di Afrika. dakwah Islam. studi wilayah Islam.

3) bahasa-bahasa dan sastra-sastra Islam terutama bahasa dan sastra Arab. fiqh kepolisian dan pranata-pranata sosial lainnya serta perkembangan modern/pembaharuan dalam bidang fiqh. b) sejarah pemikiran islam (yang meliputi ilmu kalam. perkembangan modern dalam dakwah islam dan lain sebagainya. Imam al-Syafi‘i 5 mengelompokkan ilmu menjadi dua bagian yaitu a)‘ilmu ‘ammah (yakni ilmu yang diterima secara umum) yaitu ilmu yang mempunyai nash dengan tegas dalam al-Qur’an. 2) furu>‘ 5 6 A. Al-Ghazali 6 mengelompokkan ilmu menjadi syar’iyyah dan ghoyru syar’iyyah. tasawwuf dan tarekat serta perbandinagn agama dan perkembangan modern/pembaharuan dala. Bidang Dakwah dengan berbagai cabangnya menjadi kajian Fakultas Da’wah. 2003. Jakarta: Direktorat PTAI Depag RI. fiqh kemiliteran. pendidikan. tafsir. sunnah Nabi. falsafah. 5) bahasa dan sastra islam yang cakupannya sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaharuan dalam bidang bahasa dan sastra islam. sejarah pendidikan Islam. Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman. Kelompok dasar dan cabang ilmu-ilmu keislaman di atas dapat diklasifikasikan ke dalam bidang-bidang keilmuan. Sedangkan uraian detailnya tetap terbuka ruang yang lebar untuk terjadinya perbedaan pendapat baik karena perbedaan analisis atau perbedaan kesimpulan penelitiannya.. pemikiran dasar prnata sosial. e) Studi kewilayahan Islam. 6) pendidikan Islam yang cakupannya sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam. 2) pemikiran dasar Islam yang mencakup ilmu kalam. Kelompok ilmu yang kedua ini terbuka ruang untuk terjadinya perbedaan pendapat. b)‘ilm khassah (yakni ilmu yang menjadi wilayah orang-orang tertentu yakni ulama)yang meliputi semua ilmu yang tidak termasuk dsalam kategori ilmu ‘ammah seperti sunnah yang tidak mutawatir. fiqh ibadah. peradilan dan perkembangan modern (pembaharuan) dalam bidang ini. berzina. seni lukis. adminstrasi. dakwah. 3) Pranata sosial yang mencakup ushul fiqh. 16 Qodri Azizi. 7) dakwah Islam yang mempunyai cakupan sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaharuan dalam bidang ini.8 fiqh ibadah (terkait dengan hidup kemasyarakatan). Yaitu bidang 1) sumber ajaran islam yang mencakup ilmu al-Qur’an. 8) cabang ilmu perkembangan modern/pembaharuan dalam bidang-bidang : sumber. Kelompok ini meliputi kewajiban salat lima kali sehari. materi dakwah. membayar zakat. keharaman membunuh. fiqh siyasah. bahasa dan sastra islam dengan berbagai cabangnya menjadi kajian Fakultas Adab. kaligrafi. Apabila bidang-bidang keilmuan Islam itu dihubugkan dengan pembagian fakultas yang ada di Institut Agama Islam negeri (IAIN) maka pengelolaannya dibagi menjadi lima fakultas.m bidang ini. puasa Ramadlan. sejarah dan peradaban serta bahasa dan sastra. ijma’ dan atsar sahabah). Bidang pendidikan Islam dengan berbagai cabangnya menjadi kajian Fakultas Tarbiyah. falsafah pendidikan Islam. fiqh mu’amalah. Bidang sumber dan pemikiran dasar ajaran Islam menjadi kajian di fakultas Ushuluddin. mencuri. Ini berarti ada kebebasan studi. 5) penyiaran Islam yang mencakup sejarah dakwah. Qodri Azizy. metode dakwah. Ilmu syar’iyyah terdiri dari 1) us}u>l (al-Qur’an. Sementara bidang perkembangan modern/pembaharuan dalam Islam menjadi wilayah kajian semua fakultas. musik dan sebagainya. 4) Sejarah dan peradaban Islam yang cakupannya sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaharuan. d) budaya Islam yang mencakup arsitektur. Bidang fiqh dengan berbagai cabangnya menjadi kajian di Fakultas Syari’ah. filsafat dan tasawwuf). minum khamr. kepolisian. peradaban. kemiliteran dan lain sebagainya. seni tari. lembaga pendidikan Islam dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. c) sains Islam. sunnah yang mutawatir dan jelas telah diterima oleh umat Islam. ekonomi. menunaikan ibadah haji jika mampu. 4) pengajaran islam kepada anak-anak didik yang meliputi ilmu pendidikan Islam. Di bidang ini tidak ada ruang untuk terjadinya perbedaan pendapat di antara muslim. Bidang sejarah. 17 . Ibid. hadits dan perkembangan modern/pembaharuan dalam bidang ini. 2) peradaban Islam yang meliputi : a) sejarah Islam yang mencakup sejarah politik. fiqh ekonomi. yakni mengenai garis besar dari beberapa hal tersebut.

Epistemologi Ilmu dalam Sudut Pandang al-Ghazali. Adapun ilmu yang Ghayru Syar’iyyah dikelompokkan menjadi tiga yaitu terpuji. 2) bagian ilmu fardlu ‘ain dan ilmu fardlu kifayah. Pertama. b) basis pembagian menjadi ilmu fardlu ‘ain dan fardlu kifayah. Pemahaman atas kedua ilmu ini dilakukan dengan menggunakan penalaran akal. 123. mubah (yakni ilmu-ilmu yang tidak mengajarkan kebodohan atau kejanggalan berarti netral seperti sejarah) dan tercela seperti sihir. ilmu tentang agama selanjutnya disebut ilmu agama. Bandung: Pustaka Setia. Kedua. tafsir. ilmu tentang kealaman. Ilmu yang mubah ada dua kemungkinan pengertiannya yaitu dianjurkan ketika tampak manfaatnya dan dicela ketika tampak kejelekan atau kemudaratan. Yang terpuji ada juga yang terkategori fardlu kifayah seperti kedokteran. Kaidah besar dalam filsafat Islam menyatakan bahwa ilmu tentang apapun juga mempunyai dua sifat. lahir paradigma dasar ilmu agama yang menyatakan bahwa firman-firman Allah benar dengan sendirinya yang tidak memerlukan pembenaran dari akal manusia. ilmu hadits. Al-Quran dan hadis sebagai sumber ilmu syari’ah dengan bantuan Ulum al-Qur’an dan Ulum al-hadis mencakup tiga macam hukum. Epistemologis di atas mengharuskan keniscayaan keberadaan Tuhan dan kemahaesaan-Nya. Praja 8 menyatakan bahwa ilmu-ilmu agama berkembang di atas dasar sumber ilmu-ilmu ini yang kemudian melahirkan dua cabang Ilmu Agama. Hukum-hukum praktis meliputi dua cabang besar yaitu ibadat dan muamalat. Sholihin. Praja juga menegaskan bahwa dalam filsafat Islam dikenal dua cabang ilmu. c) basis pembagian menjadi ilmu religius dan intelektual. 4) al-Mutammimat yakni ilmu al-Qur’an. 4)bagian ilmu yang dihadirkan (hudluri) dan ilmu yang dicapai (hushuli). ‘ilm matbu’. Konsekuensinya. tasawwuf. Dengan pemahamn seperti ini maka sejarah akan menjadi dianjurkan atau terpuji ketika jelas menampakan kemanfaatan seperti belajar dari kegagalan dan keberhasilan masa lalu untuk keberhasilan masa depan. ilmu kalam. Ilmu yang pertama dapat diartikan sebagai ilmu subyektif yakni pengetahuan tentang sesuatu yang keberadaannya bergantung pada ada atau tidaknya pengetahuan si subyek tentang sesuatu yang menjadi obyek pengetahuan itu.9 (ilmu yang dipahami dari usul yaitu ilmu yang berkaitan dengan kemaslahatan dunia yang biasanya berupa fiqh dan ilmu yang berkaitan dengan kemaslahatan akhirat). 3) al-muqaddimat yakni ilmu alat seperti bahasa. Argumen ini menjadi dasar bagi penerimaan hadits Nabi Muhammad Saw sebagai sumber kebenaran dan sumber ilmu agama. Ketiga adalah hukum-hukum praktis (amaliyah) yang mengatur perbuatan maupun ucapan seseorang. Sholihin 7 mengemukakan empat sistem klasifikasi ilmu menurut al-Ghazali. ushul al-fiqh dan lain-lain. Hukum yang mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhan melahirkan fiqh ibadah. Juhaya S. Juhaya S. Ilmu yang kedua disebut sebagai ilmu obyektif yaitu pengetahuan yang keberadaan obyeknya tidak bergantung kepada ada atau tidaknya pengetahuan si subyek mengenai obyek tersebut. kedua adalah al-fiqh al-ashghar atau ilmu ushul al-fiqh. politik. kedua adalah hukum-hukum etika yaitu keharusan seseorang berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan. . dasar ilmu-ilmu agama yang murni ada dua : Ulum al-Qur’an dan Ulum alHadits. Ini kemudian melahirkan ilmu murni rasional yang kemudian disebut filsafat Islam. akal manusia hanya menerima wahyu itu apa adanya. Pertama. Berkaitan dengan pembicaraan tentang pembagian ilmu-ilmu keislaman. Pertama adalah alfiqh al-akbar atau ilmu ushul al-din. 51 Ibid. magic dan semacamnya. Lebih jauh. Kedua cabang ilmu ini berkembang menjadi sejumlah cabang yang kemudian dikembangkan di Indonesia melalui IAIN selama 47 tahun perjalanan sejarahnya. 3) bagian ilmu religius (syar’iyyah) dan intelektual (aqliyyah). Dengan demikian. pembagian ilmu-ilmu di atas mempnyai basis yang berbeda satu dengan yang lain yaitu a) basis pembagian ilmu menjadi teoritis dan praktis. ‘ilm tabi’. kedua. matematika. Ini berarti. Sedangkan hukum yang mengatur hubungan manusia dengan individu 7 8 M. Pertama adalah hukum yang menyangkut keyakinan orang dewasa (mukallaf). 2001. Argumen keberadaan obyek seperti ini disebut oleh Juhaya sebagai argumen epistemologis. alhawas dan al-tajribah. d) basis pembagian ilmu menjadi ilmu yang dihadirkan dan dicapai. M. yaitu 1) bagian ilmu teoritis dan ilmu praktis. Dengan demikian. filsafat hukum Islam dan epitemologi hukum Islam.

hubungan antara orang nonmuslim di negara Islam dan sebaliknya. c) indera imajinasi (al-mutakhayyilat) yang bertempat di bagian tengah otak dan berfungsi mengatur gambar-gambar yang telah dilepaskan dari materinya dengan memisah-misahkan kemudian menghubungkannya satu dengan yang lainnya. Hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya dalam masyarakat dan negara melahirkan hukum ketatanegaraan (al-ahkam al-dusturiyyah). indera manusia terdiri atas indera luar dan indera dalam. kehadiran ilmu bersifat tidak diusahakan tetapi datang melalui limpahan akal aktif yang merupakan hasil kemampuan di atas al-aql bi alfi’il. e) indera pengingat (al-hifdhiyat) terletak di bagian belakang otak yang berfungsi menyimpan arti yang ditangkap indera penganggap. Bagi aliran empirisme bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya dengan inderanya (mata. Berkaitan dengan prosedur mendapatkan ilmu pengetahuan. Adapun indera dalam terdiri atas : a) indera bersama (al-hiss almusytarak) yang bertempat di bagian depan otak dan berfungsi menerima kesan-kesan yang diperoleh dari pancaindera luar dan meneruskannya ke indera batin berikutnya. pertukaran. b) indera penggambar (al-khayal) bertempat di bagian depan otak yang berfungsi melepaskan kesankesan yang diteruskan indera bersama materinya.Hukum yang mengatur hubungan manusia sebagai individu dengan individu lainnya dalam komunitas melahirkan hukum pidana (al-ahkam al-jinaiy). Indera luar maksudnya adalah perangkat pancaindera luar yaitu penglihatan. Al-Ghazali pun memasukkan metode inderawi sebagai cara yang digunakan manusia untuk memperoleh ilmu. koherensi. Dengan cara ilham. hidung. sikap dan sarana yang digunakan untuk membangun suatu pengetahuan. telinga.10 lainnya dalam keluarga maupun sistem kekerabatannya melahirkan hukum keluarga (al-ahwal al-syakhshiyyah). Hukum yang mengatur hubungan negara Islam dengan negara lain. semantik. bersifat sederhana. Ilmu indera dihasilkan dengan cara persentuhan indera-indera manusia dengan rangsangan yang datang dari luar (alam. suatu pengetahuan harus dianalisis dahulu mengenai cara. . Hukum yang mengatur hubungan yang berkenaan dengan fakir miskin dalam harta orang kaya dan pengaturan sumber pendapatan dan pengeluaran negara melahirkan hukum ekonomi dan keuangan (al-al-iqtishadiyyah wa al-maliyah). perasaan dan perabaan. melahirkan hukum internasional (al-ahkam alduwaliyyah). non-deskriptif dan konsensus. d) indera penganggap atau estima (al-wahmiyat) yang bertempat di bagian tengah otak yang berfungsi menangkap arti yang dikandung oleh gambaran-gambaran itu. Pengetahuan manusia diperoleh dengan menggunakan berbagai alat sebagai media baik bersifat fisik maupun psikis sebagai tempat berprosesnya ilmu. al-Ghazali berasumsi bahwa ilmu yang diperoleh secara inderawi merupakan ilmu yang penuh dengan tipu daya sebab ilmu inderawi tunduk di bawah ilusi dan kesesatan. tidak real. Kedudukan ilmu yang diperoleh dengan cara ini menggantikan kedudukan ilmu yang bersifat tidak diusahakan. penuh keraguan dan belum sampai pada ilmu yang hakiki. atau dalam bahasa Iqbal adalah afaq) dan paham ini disebut sebagai Realisme karena berpendapat bahwa semua yang dapat diketahui hanyalah kenyataan dan pengetahuan berasal dari kenyataan yang dapat diindera. kepemilikan harta dan sebagainya melahirkan hukum perdata (al-ahkam al-madaniyyah). Dalam pandangan tasawuf. Istilah lain untuk cara ini adalah ta’allum robbani (pengajaran dari Tuhan). Adapun hukum yang mengatur hubungan antara manusia sebagai individu dengan individu lainnya dalam hubungannya dalam perserikatan. logik yang berlebihan. penciuman. pragmatik. lidah dan kulit). al-Ghazali menyatakan bahwa cara memperoleh ilmu terdiri atas dua macam yaitu dengan cara ilham dari Tuhan dan dengan cara belajar atau diusahakan. Bagaimana halnya dengan alat untuk memperoleh ilmu dalam ilmu-ilmu keislaman?. Bagainmana soal kebenaran ilmu-ilmu keislaman? Untuk bernilai benar. Hal ini dapat bertolak pada faham yang berkembang dalam penelitian epistemologi yang melahirkan teori-teori kebenaran yaitu teori-teori : korespondensi. karenanya tidak menimbulkan keyakinan. pendengaran.

Dari Ulum al-Qur’an lahir pulalah berbagai cabangnya yang menjadikan al-Qur’an sebagai obyek materialnya tetapi obyek formalnya berbeda. Bagaimana penggolongan ilmu-ilmu keislaman? Ilmu-ilmu keislaman diklasifikasikan ke dsalam kelompok dasar dan kelompok cabang. konsistensi dan pragmatis. Karenanya. di samping tasawwuf falsafi dan tasawwuf ilmiah. Karenanya. Sebagai contoh adalah ilmu al-Qira’ah. ilmu kalam dan filsafat. tarekat. korespondensi maupun pragmatis. ilmu tafsir bil ma’tsur dan ilmu tafsir bl-ra’yi. tasawuf dan tarekat serta . pembedaan cabang-cabang ilmu itu berdasarkan pokok soal atau jenis pertanyaan yang diajukan masing-masing. Menurut teori ini bahwa setiap ilmu memiliki dua sifat yaitu sifat tabi’ (yang kemudian disebut ilmu obyektif) dan sifat matbu’ (yang kemudian disebut ilmu subyektif). Ilmu-ilmu keislaman kelompok dasar meliputi tafsir. Ilmu Subyektif adalah ilmu yang obyeknya bergantung kepada ada atau tidaknya pengetahuan si subyek (manusia). Ukuran lain untuk melakukan penggolongan ilmu adalah pembedaan segenap pengetahuan ilmiah dengan dua kelas yang istilahnya saling berlawanan. hadits. ilmu-ilmu keislaman pun dibangun atas dasar kebenaran-kebenaran rasional yang melahirkan ilmu murni dan dibangun juga atas dasar pengetahuan intuitif. Ilmu obyektif adalah ilmu yang keberadaan obyeknya tidak bergantung kepada ada atau tidaknya pengetahuan si subyek mengenai obyek tersebut. Sedangkan ilmu kalam. kita tidak dapat berbuat apa-apa hanya dengan berpegang pada salah satu dari ketiga kriteria tentang kebenaran itu karena jalan ke arah pengetahuan bukannya satu melainkan banyak. hadis dan perkembangan modern dalam ilmu-ilmu keislaman ini dikategorikan sebagai bidang sumber ajaran Islam. hadis. Di samping itu. Terdapat beberapa ukuran untuk melakukan pembagian ilmu-ilmu itu. Ilmu itu ada jika manusia mengetahui keberadaan ilmu itu. gempa bumi dan sebagainya. Ilmu-ilmu Islam dibangun atas dasar kebenaran yang bersifat autoritatif (al-aqliyyat wa almutawatirat)di bidangnya melalui data-data yang ditransmisikan secara berkesinambungan. filsafat Islam. Kedua.. ilmu itu tidak ada jika manusia tidak mengetahui keberadaannya. Demikian pula sebaliknya. atau menguji putusan-putusan itu dengan kegunaannya dan dengan akibat-akibat praktis. Terdapat teori tentang sifat setiap ilmu yaitu subyektivitas dan obyektivitas. Sekarang. asbab al-nuzul dan uslub alQur’an. Untuk ilmu alQur’an. jalan yang terbaik yang dapat ditempuh adalah melihat idea-idea dan putusan-putusan itu konsisten dengan idea-idea dan putusan-putusan lain yang telah diterima sebagai benar. Teori ini dirumuskan dari kaidah “Adhimah mutsya’ibah” yang dapat diterjemahkan secara bebas “Teori Besar yang bercabang banyak”. Namun dalam beberapa kasus ternyata terdapat idea-idea dan putusan-putusan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenyataan. bagaimana halnya dengan obyek ilmu-ilmu keislaman apabila bertitik tolak dari kerangka teori seperti ini?. Menurut Ibnu Sina bahwa Al-hadasiyyat adalah data empirik yang terjadi di luar kemampuan manusia untuk menciptakan seperti gerhana. Pengetahuan yang tersebut terakhir ini memungkinkan lahirnya ilmu tasawwuf praktis. Bertitik tolak dari kerangka pemikiran seperti ini maka ilmu-ilmu keislaman jelas memiliki kebenaran baik dilihat dari perspektif teori kebenaran konsistnsi.11 Teori yang dijadikan pijakan dalam melakukan penilaian terhadap kebenaran ilmu-ilmu keislaman adalah penggabungan dari teori korespondensi. Sedangkan pengalaman empirik (al-mujarrabat) adalah pengalaman yang diciptakan manusia atau dijadikan bahan eksperimentasi. Pertama. perbandingan agama dan perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. akidah/ilmu kalam. Teori konsistensi dan korespondensi adalah saling melengkapi dan bukan saling kontradiksi. tafsir. tasawuf. Dari sinilah sehingga secara garis besar ilmu dibagi menjadi dua yaitu ilmu agama (al-ilm bi aldin) dn ilmu-ilmu kealaman (al-Ilm bi al-Kainat). nasikh mansukh. falsafah. pembagian ilmu didasarkan pada metode atau pokok soal atau didasarkan pada keduanya. Alasannya. data-data empirik (al-tajribat al-hissiyyat) yang meliputi al-hadasiyyat wa al-mujarrabat). dapatlah dikatakan bahwa kebenaran ialah kesetiaan kepada kenyataan. Berkembang biaknya cabang ilmu khusus menimbulkan masalah pokok tentang penggolongan ilmu-ilmu itu atau pembagiannya (classification of the sciences).

Ilmu-ilmu yang bersumber dari eksperimentasi empiris seperti ilmu alam. Ilmu-ilmu keislaman yang terkategori sebagai cabang peradaban Islam meliputi sejarah Islam. filsafat dan ilmu-ilmu pra Islam (al-ulum alawail)lain yang bersumber dari penalaran rasional cenderung semakin ditolak oleh Ortodoksi Sunni. Jadi. Adapun cabang ilmu Dakwah Islam mencakup sejarah dakwah. fiqh muamalah (termasu peraturan kemiliteran. sejarah administrasi. Bahasa dan sastra Arab ini cakupannya sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern dalam bidang ini. Ilmu-ilmu keislaman dalam kelompok cabang meliputi ilmu-ilmu keislaman yang mengatur masyarakat. fiqh ekonomi. Untuk ilmu-ilmu tentang ajaran yang mengatur masyarakat diklasifiaksikan ke dalam bidang pranata sosial seperti ushul fiqh. dakwah. ulum al-Qur’an dan hadits. Pada saat yang sama. fiqh kemiliteran. kaligrafi. Sedangkan sejarah pemikiran Islam meliputi ilmu kalam. cakupan delapan bidang disiplin ilmu agama tersebut jelas lebih luas dari pada pembidangan dan klasifikasi ilmu agama pada saat meningkatnya ortodoksi Sunni pasca Imam al-Ghazali khususnya yang hanya mencakup bidang-bidang ilmu “murni” agama yakni fiqh. sejarah pemikiran Islam.12 prkembangan pembaruan dalam ilmu-ilmu ini dikelompokkan ke dalam bidang pemikiran Islam. Termasuk juga dalam kategori cabang keilmuan Islam adalah sains Islam. fisika dan lain-lain juga mengalami penolakan. Simpulan Dari uraian tentang pemetaan ilmu-ilmu keislaman sebagaimana dikemukakan di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu adalah rangkaian aktifitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan . sejarah ekonomi. studi kewilayahan Islam dan budaya Islam. Lagi pula. peradaban Islam. Adapun ilmu falak dapat dimasukkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu alamiah.. seni tari dan seni musik. Sementara itu. Penolakan terhadap kedua bidang besar ilmu ini didasari anggapan bahwa masing-masing bersumber dari penalaran dan pengujian empiris yang dinilai tidak selalu selaras oleh ulama ortodoks dengan kebenaran wahyu (al-Qur’an). seni lukis. cakupan sejarah dan peradaban Islam itu sama dengan kelompok cabang ditambah dengan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang ini. metode dakwah. sejarah pendidikan Islam. pranata sosial. kedokteran. sejarah kemiliteran dan sebagainya. secara umum ilmu-ilmu keislaman dapat dikelompokkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu kemanusiaan. sains Islam. peradilan. fiqh ibadah dalam kaitannya dengan hidup kemasyarakatan. materi dakwah dan perkembangan modern/pembaruan dalam cabang ilmu dakwah Islam. Ilmu-ilmu kelompok cabang pengajaran islam kepada anak didik mencakup pendidikan Islam. Sejarah Islam itu termasuk di dalamnya sejarah politik. Bidang ilmu-ilmu keislaman lainnya adalah bidang ilmu perkembangan modern/pembaruan yang mencakup bidang-bidang sumber. pemikiran dasar. kepolisian. filsafat dan tasawuf. bahasa dan sastra Islam serta pengajaran Islam. sejarah kepolisian. ushul fiqh. Berdasarkan pembidangan ilmu itu. Pembidangan ilmu-ilmu keislaman di atas mengandung kerancuan seperti tidak adanya alasan yang jelas mengapa disiplin “ilmu-ilmu keislaman” mencakup hanya delapan bidang. falsafah pendidikan Islam. Untuk budaya Islam itu meliputi arsitektur. pranata sosial. pendidikan dan dakwah dapat dikelompokkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu sosial. Di samping itu. di antara ke delapan bidang itu terdapat bidang yang sulit dikategorikan sebagai disiplin atau subdisiplin ilmu seperti bidang pembaharuan modern di dunia Islam yang lebih merupakan bagian kajian sejarah dan peradaban Islam daripada subdisiplin ilmu. lembaga pendidikan Islam dan perkembangan modern/pembaruan dalam pendidikan Islam. fiqh siyasah termasuk ilmu administrasi negara. ekonomi dan pranata sosial lainnya). sejarah dan peradaban serta bahasa dan sastra terutama bahasa dan sastra Arab. Bidang-bidang ilmu-ilmu keislaman ini menjadi tanggung jawab akademik bagi fakultas-fakultas yang mengasuh dan mengelolanya. pendidikan. fiqh kepolisian dan pranta sosial lainnya serta perkembangan modern dalam bidang fiqh. budaya Islam dan studi kewilayahan Islam.

Bidang-bidang itu adalah bidang : sumber ajaran Islam. profetologi. ilmu-ilmu keislaman diklasifikasikan menjadi ilmu syar’i (agama) dan ilmu aqli (akal) atau ilmu kehadiran dan ilmu capaian.13 kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman. korespondensi dan pragmatis yang merupakan kelengkapan bukan pertentangan atau kotradiksi. jalan untuk memperoleh pengetahuan bukan hanya dengan ketiga teori tersebut tetapi justru yang terpenting kesesuaian pengetahuan tersebut dengan wahyu kenabian yang merupakan perwujudan intelektual universal yang lebih sempurna daripada akal. Pembidangan ilmu-ilmu keislaman ke dalam delapan (8) bidang menunjukkan kompleksitas ilmu-ilmu yang berkembang dalam tradisi keilmuan dan peradaban Islam yang merupakan salah satu bagian dari ilmu-ilmu keislaman secara keseluruhan. eskatologi sebagai tidak ilmiah. teologi. Alasannya karena kebenaran tidaklah hanya berupa kesetiaan putusan-putusan dan ide-ide pada kenyataan (realitas). Atau ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan. pemikiran dalam Islam. pengetahuan filsafat dan pengetahuan agama. tetapi putusan yang tidak dapat dibandingkan dengan situasi aktual dapat diuji dengan putusan lain yang dianggap sah dan benar atau dengan kegunaannya dan dengan akibatakibat praktis dari padanya. baik bersifat tabi‘ (obyektif) maupun matbu‘ (subyektif). ilmu-ilmu keislaman diklasifikasikan ke dalam kelompok dasar dan kelompok cabang yang dari kedua kelompok ini terbagilah ilmu-ilmu keislaman menjadi bidang-bidang. Kedua rumpun ilmu keislaman (ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial) memiliki kesamaan dalam hal unsur informasi dan unsur metodologi. baik bersifat empiris maupun non-empiris. sementara kelompok yang lain dapat diklasifikasikan ke dalam rumpun ilmuilmu sosial dan ilmu kealaman (alamiah). Dari klasifikasi ilmu-ilmu keislaman itu. ontologi. memberikan penjelasan atau melakukan penerapan baik pengetahuan biasa. bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang diselidiki (alam. Namun hal ini merendahkan kedudukan disiplin ilmu yang materi subyeknya bersifat non materi seperti metafisika. manusia dan agama) sejauh dapat dijangkau oleh pemikiran yang dibantu penginderaan manusia yang kebenarannya diuji secara empiris. bahasa dan sastra Islam. pembagian. Namun dalam perkembangannya. Ilmu-ilmu keislaman dapat berupa pengetahuan sain maupun pengetahuan knowledge. kosmologi. Penggolongan ilmu-ilmu keislaman tersebut memang mengandung kerancuan atas pengaturannya di samping tidak adanya kejelasan alasan mengapa hanya delapan bidang. metodis dan teknik tertentu yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan. pendidikan Islam. sejarah dan peradaban Islam. karena itulah ilmu-ilmu keislaman bersifat teoritis esoteris dan praktis eksoteris. tata urutan yang dikemukakannya jelas dan sesuai dengan kronologis menurut hirarchi dan perkembangan ilmu-ilmu agama Islam. Dalam perspektif cara memperolehnya. hal itu lebih luas dari pada pembidangan dan klasifikasi ilmu-ilmu keislaman pada saat meningkatnya ortodoksi sunni paska al-Ghazali yang hanya mencakup bidang-bidang ilmu murni. Pembatasan ilmu hanya pada materi-subyek fisik akan mendorong para ilmuwan untuk terus secara kreatif menggali dan menciptakan bidang-bidang rincian yang lebih komprehensif dan metodologi ilmiah yang lebih canggih sehingga mencapai kemajuan yang spektakuler. Sungguhpun demikian. kemasyarakatan atau keorangan untuk mendapatkan kebenaran. Obyek material ilmu-ilmu keislaman tidak terbatas pada materi-subyek yang empiris saja tetapi juga yang metafisik. Jalan ke arah pengetahuan ada yang bersifat koherensi/konsistensi. pranata sosial. Lagi pula. struktur. memperoleh pemahaman. Bagi ilmu-ilmu keislaman. pengetahuan ilmu. dakwah Islam dan perkembangan modern/pembaruan dalam bidang-bidang. Obyek kajian ilmu-ilmu keislaman terdiri atas obyek material dan obyek formal yang merupakan syarat bagi suatu pengetahuan ilmiah di samping syarat-syarat sistematis. . satu kelompok dapat diklasifikasikan lagi ke dalam rumpun ilmu-ilmu kemanusiaan.

1970. M. 1998. “Kitab Ilmu” dalam Ihya Ulum al-Din. Filsafat Agama. Gie. Miska Muhammad. Harun. Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam dan Penerapannya di Indonesia. Claessen. Harsojo. 2003. Tradisi Penelitian Agama Islam: Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Bina Ilmu. 1994. Jakarta : PT. Bandung: Mandar Maju. Filsafat dan Agama. Yogyakarta: Tt. 1991. 1998. Robert S. Reformulasi Pembidangan Ilmu di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Yogyakarta : Liberty. Psychology. Enrico. Pembangunan. Scientific Man : The Humanistic Significance of Science. Rosyidi. Louis O. Dictionary of Philosophy. The Liang 1977. Azizy. “Risalah al-Ladunniyah” dalam Qushur al-Ahwali. Ilmu. M. Filsafat Agama. Epistemologi Islam dalam Sudut Pandang al-Ghazali. Kattsoft. 1983. Jakarta: Bulan Bintang. Jakarta: UI Press. 1987. Wiebaden Otto Hararsp Witz. 1992. Menuju ke Pemikiran Filsafat. 1994. Nasution. Abbas Hamami. . Jilid II. Bakhtiar. 1963. Anshari. Qodri. Langeveld. S. Dikutip oleh Endang Saefuddin Anshari. Dikutip oleh Abbas Hamami Mintaredja. Jakarta: PT. Cantore. Bakar. H. 2001. Amin. Yogyakarta : Tanpa Penerbit. Bandung : Tanpa Penerbit. Adams and Co. IR. 1979.M. dkk. Marquis. 1983. Elements of Analytic Philosophy. 1957. 1990. al. Nasution. Epistemologi. tt. 2002. 1972. Amsal. M. Amin. Perkembangan Ilmu-Ilmu Keislaman. Jujun S. Bandung: Mizan. Sharif. Pap. Raja Grafindo Persada. dkk. Bandung: Nuansa Kerka Sanma dengan Pusjarlit. Pudjawijatna. Terjemhan GJ.14 DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Jakarta: Bulan Bintang. Woodworth dan G. al. 2003. 1998. Bandung: Pustaka Setia. Sholihin. A.Praja. Nasution. Classification of Knowledge in Islam : A Study in Islamic Philosophy of Science. H. Mintaredja. Dihimpun oleh Mushofa Muhammad Abu al-A’la. Osman.M. 2005. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam : Sebuah Perspektif. Solly Lubis. II. Mesir: Maktabah al-Jundi. Pengantar Filsafat Ilmu. 1967. Yogyakarta: Karya Kencana. Bina Ilmu. Suriasumatri. Jakarta: Direktorat PTAI Departemen Agama RI. Harun. Filsafat Ilmu. Ghazali. Yogyakarta: Tiara Wacana Yoga. M. Jakarta: Tanpa Penerbit. 1971. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan Disiplin Ilmu. Jukaya. Dikutip oleh The Liang Gie. Runes. Surabaya : PT. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Dagobert D. Pengantar Filsafat. Vol. Jakarta: Teraju. Arthur. Terjemahan Soejono Soemargono. Surabaya: PT. Filsafat Ilmu dan Penelitian. Bandung: Nuansa. Apakah Ilmu itu dan Ilmu Gabungan tentang Tingkah Laku Manusia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Indonesia: Dar al-Ihya wa alKutub al-Arabiyah Ghazali. Filsafat dan Agama : Pendahuluan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Islam. Suatu konsepsi ke Arah Penerbitan Bidang Filsafat. Epistemologi. Yogyakarta: Tanpa Penerbit. Dalam Harun Nasution dkk. Harun. 1983. History of Philosophy. 1987. Epistemoligi Islam: Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam. Endang Saefuddin. Tahu dan Pengetahuan: Pengantar Ilmu dan Filsafat. Ilmu. New Jersey: Little Field.

Wild. Jakarta: Bulan Bintang. . Rosyidi. New York: Harper and Brother. Ilmu dalam Perspektif Moral. Ahmad. Policy and Complexity. Remaja Rosda Karya Titus. 1983. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakikat Ilmu. Jakarta : PT. Harold H. 1991. Warfield. Scietal System : Planning. Yogyakarta: Liberty. Bandung : PT. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thals sampai James. Jakarta: Penerbit Gramedia. 1994. 1948. Introduction to Realistic Philosophy. Persoalan-Persoalan Filsafat. Tafsir. Dikutip oleh The Liang Gie dalam Pengantar Filsafat Ilmu. Jujun S.15 Suriasumatri. 1986.Gramedia.M. John. Jujun S. Terjemahan H. John. Sosial dan Politik. Suriasumatri. 1990.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful