ARBITRASE

Diunduh dari : http://ualawyer.ru/id/media/95/

A. Latar Belakang Dalam suatu perjanjian antara para pihak atau suatu hubungan bisnis, selalu ada kemungkinan timbulnya sengketa. Sengketa yang terjadi seringkali terkait mengenai cara melaksanakan klausul-klausul perjanjian, apa isi perjanjian ataupun disebabkan hal lainnya di luar yang diatur dalam perjanjian. Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, ada beberapa cara yang biasanya dapat dipilih, yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan dan arbitrase. Berbicara mengenai arbitrase atau lembaga arbitrase, sebenarnya sudah ada dan telah dipraktekkan selama berabad-abad (bahkan pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat Yunani sebelum masehi). Namun, definisi pasti mengenai apakah arbitrase itu, masih saja ditemui begitu banyaknya perbedaan pendapat. Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak sampai menghilangkan makna arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa melainkan justru memberikan konsep yang berbeda-beda mengenai arbitrase. B. Pengertian Arbitrase Istilah arbitrase berasal dari kata “Arbitrare” (bahasa Latin) yang berarti “kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu perkara menurut kebijaksanaan”. Definisi secara terminologi dikemukakan berbeda-beda oleh para sarjana saat ini walaupun pada akhirnya mempunyai inti makna yang sama. Subekti menyatakan bahwa arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang mereka pilih1. H. Priyatna Abdurrasyid menyatakan bahwa arbitrase adalah suatu proses pemeriksaan suatu sengketa yang dilakukan secara yudisial seperti oleh para pihak yang bersengketa, dan pemecahannya akan didasarkan kepada bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak2.

Subekti, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Bandung, 1992, hlm.1. H. Priyatna Abdurrasyid, Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan, Makalah, September 1996, hlm.1.
2

1

Sie Infokum – Ditama Binbangkum

1

Kertas Kerja Hukum Ekonomi. Pada dasarnya arbitrase adalah suatu bentuk khusus Pengadilan. Para pihak setuju sejak semula untuk menerima putusan tersebut secara final dan mengikat5. Clarendon Press. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia. How Arbitration Work. Jakarta. and is intended to avoid the formalities. Menurut Frank Elkoury dan Edna Elkoury. 1995. Penyelesaian sengketa yang bisa diselesaikan adalah sengketa yang menyangkut hak pribadi yang dapat dikuasai sepenuhnya.H. hlm. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 2 . Di Indonesia. Putusan tersebut merupakan putusan akhir dan mengikat (final and binding). yaitu: 1. the expense and vexation of ordinary litigation. Cetakan III. arbitrase adalah suatu proses yang mudah atau simple yang dipilih oleh para pihak secara sukarela yang ingin agar perkaranya diputus oleh juru pisah yang netral sesuai dengan pilihan mereka di mana keputusan berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut. dan 3. baik yang akan terjadi maupun telah terjadi kepada seorang atau beberapa orang pihak ketiga di luar peradilan umum untuk diputuskan. arbitrator bertindak sebagai “hakim” dalam mahkamah arbitrase. Perwasitan. 1983.M. sebagaimana hakim permanen. khususnya di sini dalam bidang perdagangan industri dan keuangan. walaupun hanya untuk kasus yang sedang ditangani4. 2.2. Pasal 1 angka 1 mendefinisikan arbitrase sebagai cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.M. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. perangkat aturan mengenai arbitrase yakni UU No.1. instead of carrying it to establish tribunals of justice. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Supriyani Kardono. Washington DS.N. Poerwosutjipto. 1974. 5 Frank Elkoury dan Edna Elkoury. Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan. Djambatan. Poin penting yang membedakan Pengadilan dan arbitrase adalah bila jalur Pengadilan (judicial settlement) menggunakan satu peradilan permanen atau standing court.347. hlm. The Law of Nation. sedangkan arbitrase menggunakan forum tribunal yang dibentuk khusus untuk kegiatan tersebut. atau Arbitration is an arrangement for taking an abiding by the judgement of selected persons in some disputed matter. di mana para pihak bersepakat agar perselisihan mereka tentang hak pribadi yang dapat mereka kuasai sepenuhnya diperiksa dan diadili oleh hakim yang tidak memihak yang ditunjuk oleh para pihak sendiri dan putusannya mengikat bagi kedua belah pihak3. Law. 1992. Dalam arbitrase. Purwosutjipto menggunakan istilah perwasitan untuk arbitrase yang diartikan sebagai suatu peradilan perdamaian. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. the delay.N.. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi. maka terdapat beberapa unsur kesamaan. Black’s Law Dictionary juga memberikan definisi arbitrase sebagai a method of dispute resolution involving one or more neutral third parties who are usually agreed to by the disputing parties and whose decision is binding. Dari berbagai pengertian arbitrase di atas. hlm. Husseyn dan A. Pokok-pokok Hukum Dagang. Oxford. 4 Brierly J. 3 H. dikutip dari M. Adanya kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa-sengketa.

14 Tahun 1970 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Setelah Indonesia merdeka. Penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No.Pemeriksaan di muka arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . yang menyatakan “ Penyelesaian perkara diluar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit atau arbitrase tetap diperbolehkan”. ketentuan yang tegas memuat pengaturan lembaga arbitrase dapat kita temukan dalam memori penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Satu-satunya undang-undang tentang Mahkamah Agung yang berlaku di Indonesia yaitu UU No. yang meliputi : . Pasal 615 s/d 651 RV Peraturan mengenai arbitrase dalam RV tercantum dalam Buku ke Tiga Bab Pertama Pasal 615 s/d 651 RV. 14 Tahun 1985. C. karena hingga saat ini belum diadakan pengantinya yang baru sesuai dengan Peraturan Peralihan UUD 1945 tersebut. Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis). selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini. Pasal 377 HIR Ketentuan mengenai arbitrase dalam HIR tercantum dalam Pasal 377 HIR atau Pasal 705 RBG yang menyatakan bahwa : “Jika orang Indonesia atau orang Timur Asing menghendaki perselisihan mereka diputus oleh juru pisah atau arbitrase maka mereka wajib memenuhi peraturan pengadilan yang berlaku bagi orang Eropa”. sama sekali tidak mengatur mengenai arbitrase. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Historis Yuridis Arbitrase di Indonesia 1. atau 2.Persetujuan arbitrase dan pengangkatan para arbiter (Pasal 615 s/d 623 RV) .Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam 2 (dua) bentuk. yaitu: 1. Ketentuan peralihan yang termuat dalam Pasal 80 UU Sie Infokum – Ditama Binbangkum 3 . peraturan pengadilan yang berlaku bagi Bangsa Eropa yang dimaksud Pasal 377 HIR ini adalah semua ketentuan tentang Acara Perdata yang diatur dalam RV. 5. Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo).Upaya-upaya terhadap putusan arbitrase (Pasal 641 s/d 674 RV) . Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 menentukan bahwa “semua peraturan yang ada masih langsung berlaku. Pasal 80 UU No.Putusan Arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . Sebagaimana dijelaskan di atas. 2.” Demikian pula halnya dengan HIR yang diundang pada zaman Kolonial Hindia Belanda masih tetap berlaku. 3.Berakhirnya acara arbitrase (Pasal 648-651 RV) 4.

para pihak terlebih dahulu menyelesaikan sengketa tersebut melalui musyawarah dan mufakat. para pihak akan menyelesaikan sengketa tersebut melalui arbitrase internasional yang harus disepakati oleh para pihak. 1 Tahun 1950 tentang Susunan Kekuasaan dan Jalan Pengadilan Mahkamah Agung Indonesia. pada Pasal 32 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal. UU No. (4) Dalam 7. 25. 1 Tahun 1950 menunjuk Mahkamah Agung sebagai pengadilan yang memutus dalam tingkat yang kedua atas putusan arbitrase mengenai sengketa yang melibatkan sejumlah uang lebih dari Rp. UU No. dan jika penyelesaian sengketa tersebut akan dilakukan di pengadilan. 1 Tahun 1967 : “Badan arbitrase terdiri atas tiga orang yang dipilih oleh pemerintah dan pemilik modal masing-masing satu orang. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.dan cara pembayaran kompensasi tersebut. dinyatakan tetap berlaku sepanjang peraturan tersebut tidak bertentangan dengan Undang-Undang Mahkamah Agung ini. hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal asing. Pasal 22 ayat (3) UU No. 5 Tahun 1968 tentang Pengesahan Persetujuan Atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warga Asing Mengenai Penanaman Modal atau sebagai ratifikasi atas “International Convention On the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States Dengan undang-undang ini dinyatakan bahwa pemerintah mempunyai wewenang untuk memberikan persetujuan agar suatu perselisihan mengenai Sie Infokum – Ditama Binbangkum 4 . 6. 14 Tahun 1985. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing kemudian dicabut dan digantikan dengan UU No. (2) Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (3) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal dalam negeri. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing Dalam hal ini Pasal 22 ayat (2) UU No. dan orang ketiga sebagai ketuanya dipilih bersama-sama oleh pemerintah dan pemilik modal”. Pasal 22 ayat (2) dan (3) UU No. maka akan diadakan arbitrase yang putusannya mengikat kedua belah pihak”. menentukan bahwa semua peraturan pelaksana yang telah ada mengenai Mahkamah Agung. UU No. 1 Tahun 1950).000.No. tidak tercapai. macam. Pasal 108 UU No. Dalam hal ini kita perlu merujuk kembali UU No. 1 Tahun 1967 menyatakan: “Jikalau di antara kedua belah pihak tercapai persetujuan mengenai jumlah.(Pasal 15 Jo. penyelesaian sengketa tersebut melalui arbitrase berdasarkan kesepakatan para pihak. para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase tidak disepakati. penyelesaian sengketa tersebut dapat dilakukan melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa atau pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

1 Tahun 1990 Selanjutnya dengan disahkannya Konvensi New York dengan Keppres No. industri dan hak milik intelektual.penanaman modal asing diputus oleh International Centre for the Settlement of Investment Disputes (ICSD) di Washington. oleh Mahkamah Agung dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. dinyatakan tidak berlaku lagi. maka pemerintah mengeluarkan UU No. pada tanggal 1 maret 1990 yang berlaku sejak tanggal dikeluarkan. Keppres No. penanaman modal. 34 Tahun 1958. UU No. Pasal 377 HIR. Sementara itu Pasal 5 ayat (2) UU No. yang diadakan pada tanggal 10 Juni 1958 di New York. yang diprakarsai oleh PBB. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan. Dengan demikian ketentuan hukum acara dari lembaga arbitrase saat ini telah mempergunakan ketentuan yang terdapat dalam UU No. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 5 . 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 10. 30 Tahun 1999. 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Obyek Arbitrase Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat (1) UU No. Peraturan Mahkamah Agung No. D. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Sebagai ketentuan yang terbaru yang mengatur lembaga arbitrase. 9. 34 Tahun 1981 Pemerintah Indonesia telah mengesahkan “Convention On the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” disingkat New York Convention (1958). keuangan. memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. dan Pasal 705 RBG. yaitu Konvensi Tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Luar Negeri. perbankan. Oleh karena itu ketentuan mengenai arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 615 s/d 651 RV. pada tanggal 12 Agustus 1999 yang dimaksudkan untuk menggantikan peraturan mengenai lembaga arbitrase yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan kemajuan perdagangan internasional. 8.

akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI. Priyatna menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul10.php?nid=104. terdapat beberapa keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan melalui proses peradilan. Artinya ada atau tidaknya. yang diperiksa pertama kali adalah klausul arbitrase. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission of International Trade Law) adalah sebagai berikut:9 "Setiap sengketa. Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri7. pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase6. atau wanprestasi. Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir". Ketua BANI. akan menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. 7 Ibid. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. http://www. Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase. misalnya UU No. sah atau tidaknya klausul arbitrase. 2006).com/view.gontha. yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. Arbitrase. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 8 Indonesian Banking Restructuring Agency (IBRA). pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian ini. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 6 . Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. hal 27. F.” Menurut Priyatna Abdurrasyid. 9 Ibid. yaitu: 6 Gatot Soemartono.E. Pada umumnya arbitrase ad-hoc ditentukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak. 10 Ibid.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules. Jenis Arbitrase Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). Pilihan Tanpa Kepastian. BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausul arbitrase sebagai berikut:8 "Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badanbadan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Keuntungan dan Kelemahan Arbitrase Dalam Penjelasan Umum UU No. atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris.

Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang dipersengketakan. Arbitrase belum dikenal secara luas. dan secara rahasia. Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”. baik oleh masyarakat awam. and 3. padahal pengaturan untuk eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas.uika-bogor. yang diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak. yaitu masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase. HMN Purwosutjipto mengemukakan arti pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah:11 1. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 7 . “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa. penyelesaian sengketa lewat arbitrase atau perwasitan.id/jur05. mempunyai beberapa keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan dengan cepat. Metzger mengemukakan pendapat keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase ini : “As compared with the court system. 3. Michael B. Beberapa kelemahan dari Arbitrase adalah : 1. 3. quicker resolution of disputes. Putusan peradilan wasit dirahasiakan. Menurut Prof.1. Penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan dengan cepat. bahkan oleh masyarakat akademis sendiri. http://www. penyelesaian 5.htm. ini khususnya terjadi di Indonesia dari praktek arbitrase yang sudah berjalan selama ini. Subekti. Sementara itu.ac. oleh para ahli. Selain keunggulan diatas. para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman. keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat dihindari. 4. 4. serta jujur dan adil. 2. arbitrase juga mempunyai kelemahan. the availability of professional who are often expert in the subject matter of dispute”. di negara-negara tertentu proses peradilan dapat lebih cepat dari pada proses arbitrase. putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan. maupun masyarakat bisnis. Selain itu. 2. bahwa bagi dunia perdagangan atau bisnis. Sifat rahasia pada putusan perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha. kerahasiaan sengketa para pihak terjamin. the main advantages clained for arbitration are: 1. Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak. memiliki latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan. para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase. Sebagai 11 Budhy Budiman. sehingga umum tidak mengetahui tentang kelemahan-kelemahan perusahaan yang bersangkutan. lower costs in time and money to the parties. para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk masalahnya. 2.

Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri. BASYARNAS dan P3BI. Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan Pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). sehingga enggan memasukkan perkaranya kepada lembaga-lembaga Arbitrase. Putusan Arbitrase Nasional Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59 s. Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri. 5. 30 Tahun 1999. Putusan Arbitrase Internasional Pada mulanya pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di Indonesia didasarkan pada ketentuan Konvensi Jenewa 1927. terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. Berdasar Pasal 62 UU No.d. baik dengan teknik mengulur-ulur waktu. daya paksa atau kewenangan 4. putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri. Kurangnya kepatuhan para pihak terhadap hasil-hasil penyelesaian yang dicapai dalam Arbitrase. G.contoh masyarakat masih banyak yang belum mengetahui keberadaan dan kiprah dari lembaga-lembaga seperti BANI. Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaannya. Arbitrase hanya dapat bertumpu di atas etika bisnis. gugatan pembatalan dan sebagainya. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. 2. Lembaga Arbitrase tidak mempunyai melakukan eksekusi putusannya. Pada tanggal 10 Juni 1958 di Sie Infokum – Ditama Binbangkum 8 . 2. dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. perlawanan. 3. 30 Tahun 1999. Kurangnya para pihak memegang etika bisnis. dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan. Sebagai suatu mekanisme extra judicial. final dan mengikat. sebelum memberi perintah pelaksanaan. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Pasal 64 UU No. seperti kejujuran dan kewajaran. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya perkara yang diajukan dan diselesaikan melalui lembaga-lembaga Arbitrase yang ada. Masyarakat belum menaruh kepercayaan yang memadai. Pelaksanaan Putusan Arbitrase 1. sehingga mereka seringkali mengingkari dengan berbagai cara. final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekekuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Bila tidak memenuhi maka.

Dalam hal sengketa para pihak yang telah ditentukan penyelesaian sengketanya melalui lembaga arbitrase. Ketua PN Jakarta Pusat dalam putusan No.001 dan 002/Pdt/Arb.New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award. Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak ikut campur tangan dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. bahkan ketika lembaga arbitrase itu sendiri sudah menjatuhkan putusannya. Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui dalam eksekusi putusan arbitrase asing.G/1999 tanggal 9 Desember 1999. Sehingga ini menunjukkan bahwa lembaga arbitrase tidak mempunyai upaya pemaksa terhadap para pihak untuk menaati putusan.46/Pdt. Hal tersebut merupakan prinsip limited court involvement.P/2000/PNJKT.PST juncto 02/Pdt. 30 Tahun 1999. misalnya dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase. dengan terbitnya PERMA tersebut maka hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia seharusnya bisa diatasi. dalam prakteknya masih saja ditemukan pengadilan yang menentang.PST.JKT. Peranan pengadilan dalam penyelenggaraan arbitrase berdasar Pasal 14 ayat (3) UU No. antara lain mengenai penunjukkan arbiter atau majelis arbiter dalam hal para pihak tidak ada kesepakatan dan dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun internasional yang harus dilakukan melalui mekanisme sistem peradilan yaitu pendaftaran putusan tersebut dengan menyerahkan salinan autentik putusan. Kemudian pada 1 Maret 1990 ditegaskan lagi oleh Mahkamah Agung dengan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York 1958. Hubungan Arbitrase dan Pengadilan Walaupun arbitrase merupakan cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase. tanggal 3 Februari 2000. Oleh karenanya. dengan alasan pelanggaran Sie Infokum – Ditama Binbangkum 9 . 30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pengadilan negeri tidak berwenang mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. seperti dalam kasus Bankers Trust Company dan Bankers Trust International PLC (BT) melawan PT Mayora Indah Tbk (Mayora).Int/1999/PN. namun lembaga arbitrase masih memiliki ketergantungan pada pengadilan. menolak permohonan BT bagi pelaksanaan putusan Arbitrase London. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengaksesi Konvensi New York tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981. Hal tersebut terjadi. maka Lembaga Peradilan diharuskan menghormati lembaga arbitrase sebagaimana yang termuat dalam Pasal 11 ayat (2) UU No. Bagi arbitrase internasional mengambil tempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Namun. Hal ini terjadi karena masih adanya keharusan untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan negeri. PN Jakarta Selatan tetap menerima gugatan Mayora (walaupun ada klausul arbitrase didalamnya) dan menjatuhkan putusan No. H. yang memenangkan Mayora.

Pokok-pokok Hukum Dagang. Jakarta. Bina Cipta. Referensi: 1. Makalah.ac. Bandung. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia. Budhy Budiman. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 10 . H. Washington DS. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan. Black’s Law Dictionary. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia.02 K/Ex’r/Arb. dikutip dari M.N. Djambatan. How Arbitration Work. 2.htm. Frank Elkoury dan Edna Elkoury. September 1996. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. 8. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi. 3. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2006). H. Arbitrase Perdagangan. Supriyani Kardono. Gatot Soemartono. 7. 1995.M. Kertas Kerja Hukum Ekonomi. 1992. 1974. “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa. Husseyn dan A. UU No. Priyatna Abdurrasyid. 5.uikabogor.id/jur05. 1992. Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”. Penolakan PN Jakarta Pusat tersebut dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Agung No. http://www.Int/Pdt/2000. Poerwosutjipto. pelanggaran ketertiban umum yang dimaksud adalah bahwa perkara tersebut masih dalam proses peradilan dan belum memiliki kekuatan hukum tetap. tanggal 5 September 2000. Perwasitan. Subekti.ketertiban umum. 4. Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan.. 6. Cetakan III.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful