ARBITRASE

Diunduh dari : http://ualawyer.ru/id/media/95/

A. Latar Belakang Dalam suatu perjanjian antara para pihak atau suatu hubungan bisnis, selalu ada kemungkinan timbulnya sengketa. Sengketa yang terjadi seringkali terkait mengenai cara melaksanakan klausul-klausul perjanjian, apa isi perjanjian ataupun disebabkan hal lainnya di luar yang diatur dalam perjanjian. Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, ada beberapa cara yang biasanya dapat dipilih, yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan dan arbitrase. Berbicara mengenai arbitrase atau lembaga arbitrase, sebenarnya sudah ada dan telah dipraktekkan selama berabad-abad (bahkan pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat Yunani sebelum masehi). Namun, definisi pasti mengenai apakah arbitrase itu, masih saja ditemui begitu banyaknya perbedaan pendapat. Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak sampai menghilangkan makna arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa melainkan justru memberikan konsep yang berbeda-beda mengenai arbitrase. B. Pengertian Arbitrase Istilah arbitrase berasal dari kata “Arbitrare” (bahasa Latin) yang berarti “kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu perkara menurut kebijaksanaan”. Definisi secara terminologi dikemukakan berbeda-beda oleh para sarjana saat ini walaupun pada akhirnya mempunyai inti makna yang sama. Subekti menyatakan bahwa arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang mereka pilih1. H. Priyatna Abdurrasyid menyatakan bahwa arbitrase adalah suatu proses pemeriksaan suatu sengketa yang dilakukan secara yudisial seperti oleh para pihak yang bersengketa, dan pemecahannya akan didasarkan kepada bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak2.

Subekti, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Bandung, 1992, hlm.1. H. Priyatna Abdurrasyid, Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan, Makalah, September 1996, hlm.1.
2

1

Sie Infokum – Ditama Binbangkum

1

Penyelesaian sengketa yang bisa diselesaikan adalah sengketa yang menyangkut hak pribadi yang dapat dikuasai sepenuhnya. Pada dasarnya arbitrase adalah suatu bentuk khusus Pengadilan. 5 Frank Elkoury dan Edna Elkoury. Putusan tersebut merupakan putusan akhir dan mengikat (final and binding). perangkat aturan mengenai arbitrase yakni UU No. Washington DS. di mana para pihak bersepakat agar perselisihan mereka tentang hak pribadi yang dapat mereka kuasai sepenuhnya diperiksa dan diadili oleh hakim yang tidak memihak yang ditunjuk oleh para pihak sendiri dan putusannya mengikat bagi kedua belah pihak3. Poerwosutjipto. walaupun hanya untuk kasus yang sedang ditangani4. instead of carrying it to establish tribunals of justice. Kertas Kerja Hukum Ekonomi. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Purwosutjipto menggunakan istilah perwasitan untuk arbitrase yang diartikan sebagai suatu peradilan perdamaian. Para pihak setuju sejak semula untuk menerima putusan tersebut secara final dan mengikat5. 1995. Cetakan III. 4 Brierly J. baik yang akan terjadi maupun telah terjadi kepada seorang atau beberapa orang pihak ketiga di luar peradilan umum untuk diputuskan. 1992.N. Pokok-pokok Hukum Dagang.H. 1974. arbitrase adalah suatu proses yang mudah atau simple yang dipilih oleh para pihak secara sukarela yang ingin agar perkaranya diputus oleh juru pisah yang netral sesuai dengan pilihan mereka di mana keputusan berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut. 2. arbitrator bertindak sebagai “hakim” dalam mahkamah arbitrase.. Pasal 1 angka 1 mendefinisikan arbitrase sebagai cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. 3 H. maka terdapat beberapa unsur kesamaan. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. Dalam arbitrase. Adanya kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa-sengketa. and is intended to avoid the formalities. Djambatan.2. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia. Menurut Frank Elkoury dan Edna Elkoury. atau Arbitration is an arrangement for taking an abiding by the judgement of selected persons in some disputed matter. dan 3. khususnya di sini dalam bidang perdagangan industri dan keuangan. hlm. Perwasitan. the delay.N. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 2 .347. Supriyani Kardono. Black’s Law Dictionary juga memberikan definisi arbitrase sebagai a method of dispute resolution involving one or more neutral third parties who are usually agreed to by the disputing parties and whose decision is binding.M. sebagaimana hakim permanen. The Law of Nation. dikutip dari M. Husseyn dan A.M. Oxford.1. sedangkan arbitrase menggunakan forum tribunal yang dibentuk khusus untuk kegiatan tersebut. Poin penting yang membedakan Pengadilan dan arbitrase adalah bila jalur Pengadilan (judicial settlement) menggunakan satu peradilan permanen atau standing court. Di Indonesia. Dari berbagai pengertian arbitrase di atas. How Arbitration Work. hlm. Jakarta. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. hlm. yaitu: 1. Law. 1983. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi. the expense and vexation of ordinary litigation. Clarendon Press. Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan.

14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. ketentuan yang tegas memuat pengaturan lembaga arbitrase dapat kita temukan dalam memori penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No.Upaya-upaya terhadap putusan arbitrase (Pasal 641 s/d 674 RV) . yaitu: 1. sama sekali tidak mengatur mengenai arbitrase. 2. 5. 3. Sebagaimana dijelaskan di atas. Historis Yuridis Arbitrase di Indonesia 1. peraturan pengadilan yang berlaku bagi Bangsa Eropa yang dimaksud Pasal 377 HIR ini adalah semua ketentuan tentang Acara Perdata yang diatur dalam RV.Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam 2 (dua) bentuk. Pasal 615 s/d 651 RV Peraturan mengenai arbitrase dalam RV tercantum dalam Buku ke Tiga Bab Pertama Pasal 615 s/d 651 RV. 14 Tahun 1970 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Setelah Indonesia merdeka. C. Pasal 377 HIR Ketentuan mengenai arbitrase dalam HIR tercantum dalam Pasal 377 HIR atau Pasal 705 RBG yang menyatakan bahwa : “Jika orang Indonesia atau orang Timur Asing menghendaki perselisihan mereka diputus oleh juru pisah atau arbitrase maka mereka wajib memenuhi peraturan pengadilan yang berlaku bagi orang Eropa”. 14 Tahun 1985. karena hingga saat ini belum diadakan pengantinya yang baru sesuai dengan Peraturan Peralihan UUD 1945 tersebut. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Satu-satunya undang-undang tentang Mahkamah Agung yang berlaku di Indonesia yaitu UU No.Putusan Arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis).Berakhirnya acara arbitrase (Pasal 648-651 RV) 4. Ketentuan peralihan yang termuat dalam Pasal 80 UU Sie Infokum – Ditama Binbangkum 3 . Penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No. yang menyatakan “ Penyelesaian perkara diluar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit atau arbitrase tetap diperbolehkan”. Pasal 80 UU No.” Demikian pula halnya dengan HIR yang diundang pada zaman Kolonial Hindia Belanda masih tetap berlaku.Persetujuan arbitrase dan pengangkatan para arbiter (Pasal 615 s/d 623 RV) . selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini. Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 menentukan bahwa “semua peraturan yang ada masih langsung berlaku. yang meliputi : .Pemeriksaan di muka arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . atau 2. Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo).

(Pasal 15 Jo. menentukan bahwa semua peraturan pelaksana yang telah ada mengenai Mahkamah Agung. Pasal 108 UU No. (2) Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (3) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal dalam negeri. macam. 1 Tahun 1967 : “Badan arbitrase terdiri atas tiga orang yang dipilih oleh pemerintah dan pemilik modal masing-masing satu orang. 1 Tahun 1950 menunjuk Mahkamah Agung sebagai pengadilan yang memutus dalam tingkat yang kedua atas putusan arbitrase mengenai sengketa yang melibatkan sejumlah uang lebih dari Rp. UU No. hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal asing. tidak tercapai. para pihak terlebih dahulu menyelesaikan sengketa tersebut melalui musyawarah dan mufakat. dan jika penyelesaian sengketa tersebut akan dilakukan di pengadilan. (4) Dalam 7. 6. Dalam hal ini kita perlu merujuk kembali UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing kemudian dicabut dan digantikan dengan UU No. Pasal 22 ayat (3) UU No. 1 Tahun 1967 menyatakan: “Jikalau di antara kedua belah pihak tercapai persetujuan mengenai jumlah.000. penyelesaian sengketa tersebut dapat dilakukan melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa atau pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. para pihak akan menyelesaikan sengketa tersebut melalui arbitrase internasional yang harus disepakati oleh para pihak. para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase tidak disepakati. UU No.dan cara pembayaran kompensasi tersebut. maka akan diadakan arbitrase yang putusannya mengikat kedua belah pihak”. Pasal 22 ayat (2) dan (3) UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. dan orang ketiga sebagai ketuanya dipilih bersama-sama oleh pemerintah dan pemilik modal”. 1 Tahun 1950). 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing Dalam hal ini Pasal 22 ayat (2) UU No.No. UU No. 25. 1 Tahun 1950 tentang Susunan Kekuasaan dan Jalan Pengadilan Mahkamah Agung Indonesia. 14 Tahun 1985. dinyatakan tetap berlaku sepanjang peraturan tersebut tidak bertentangan dengan Undang-Undang Mahkamah Agung ini. penyelesaian sengketa tersebut melalui arbitrase berdasarkan kesepakatan para pihak. 5 Tahun 1968 tentang Pengesahan Persetujuan Atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warga Asing Mengenai Penanaman Modal atau sebagai ratifikasi atas “International Convention On the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States Dengan undang-undang ini dinyatakan bahwa pemerintah mempunyai wewenang untuk memberikan persetujuan agar suatu perselisihan mengenai Sie Infokum – Ditama Binbangkum 4 . pada Pasal 32 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal.

dan Pasal 705 RBG. memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. 30 Tahun 1999. Dengan demikian ketentuan hukum acara dari lembaga arbitrase saat ini telah mempergunakan ketentuan yang terdapat dalam UU No. Sementara itu Pasal 5 ayat (2) UU No. pada tanggal 12 Agustus 1999 yang dimaksudkan untuk menggantikan peraturan mengenai lembaga arbitrase yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan kemajuan perdagangan internasional. D. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Sebagai ketentuan yang terbaru yang mengatur lembaga arbitrase. 9. keuangan. 8. 10. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan. Peraturan Mahkamah Agung No. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 5 . Pasal 377 HIR. yang diprakarsai oleh PBB. penanaman modal. Oleh karena itu ketentuan mengenai arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 615 s/d 651 RV. 34 Tahun 1981 Pemerintah Indonesia telah mengesahkan “Convention On the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” disingkat New York Convention (1958). 1 Tahun 1990 Selanjutnya dengan disahkannya Konvensi New York dengan Keppres No. yaitu Konvensi Tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Luar Negeri. dinyatakan tidak berlaku lagi. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. 34 Tahun 1958. perbankan. industri dan hak milik intelektual. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. yang diadakan pada tanggal 10 Juni 1958 di New York. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. maka pemerintah mengeluarkan UU No. oleh Mahkamah Agung dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. Keppres No. pada tanggal 1 maret 1990 yang berlaku sejak tanggal dikeluarkan.penanaman modal asing diputus oleh International Centre for the Settlement of Investment Disputes (ICSD) di Washington. 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. Obyek Arbitrase Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat (1) UU No. UU No.

com/view. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.php?nid=104.E. atau wanprestasi. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase6. F. 7 Ibid. 2006). Ketua BANI. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission of International Trade Law) adalah sebagai berikut:9 "Setiap sengketa. yang diperiksa pertama kali adalah klausul arbitrase. akan menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules.” Menurut Priyatna Abdurrasyid. Arbitrase. pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian ini. yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. yaitu: 6 Gatot Soemartono. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. Jenis Arbitrase Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 6 . Pada umumnya arbitrase ad-hoc ditentukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak. 10 Ibid. pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL.gontha. sah atau tidaknya klausul arbitrase. hal 27. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badanbadan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Artinya ada atau tidaknya. Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase. 9 Ibid. sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir". Keuntungan dan Kelemahan Arbitrase Dalam Penjelasan Umum UU No. misalnya UU No. Pilihan Tanpa Kepastian. BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausul arbitrase sebagai berikut:8 "Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini. 8 Indonesian Banking Restructuring Agency (IBRA). Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri7. Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. Priyatna menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul10. http://www. terdapat beberapa keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan melalui proses peradilan. akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI.

Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak.ac. penyelesaian 5. yaitu masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase. lower costs in time and money to the parties. arbitrase juga mempunyai kelemahan. oleh para ahli. the availability of professional who are often expert in the subject matter of dispute”. 4. serta jujur dan adil. Menurut Prof. http://www. Selain keunggulan diatas. Putusan peradilan wasit dirahasiakan.1. maupun masyarakat bisnis. mempunyai beberapa keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan dengan cepat. para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk masalahnya. 3. the main advantages clained for arbitration are: 1. baik oleh masyarakat awam. Sifat rahasia pada putusan perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha. putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan. bahwa bagi dunia perdagangan atau bisnis. para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase. Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang dipersengketakan. 2. yang diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak.uika-bogor. dan secara rahasia. keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat dihindari. kerahasiaan sengketa para pihak terjamin. Michael B. para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman. 2. sehingga umum tidak mengetahui tentang kelemahan-kelemahan perusahaan yang bersangkutan. Penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan dengan cepat. HMN Purwosutjipto mengemukakan arti pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah:11 1. quicker resolution of disputes. “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa.id/jur05. 3. Sebagai 11 Budhy Budiman. 2. Metzger mengemukakan pendapat keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase ini : “As compared with the court system. 4. memiliki latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan. and 3. ini khususnya terjadi di Indonesia dari praktek arbitrase yang sudah berjalan selama ini. di negara-negara tertentu proses peradilan dapat lebih cepat dari pada proses arbitrase. Sementara itu. Selain itu. bahkan oleh masyarakat akademis sendiri. Beberapa kelemahan dari Arbitrase adalah : 1. penyelesaian sengketa lewat arbitrase atau perwasitan.htm. Arbitrase belum dikenal secara luas. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 7 . Subekti. padahal pengaturan untuk eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas. Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”.

G. Pada tanggal 10 Juni 1958 di Sie Infokum – Ditama Binbangkum 8 . Lembaga Arbitrase tidak mempunyai melakukan eksekusi putusannya. Bila tidak memenuhi maka. Sebagai suatu mekanisme extra judicial. putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri. Pasal 64 UU No. Masyarakat belum menaruh kepercayaan yang memadai. 2. BASYARNAS dan P3BI. final dan mengikat. sebelum memberi perintah pelaksanaan. final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekekuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan Pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaannya. 3. Putusan Arbitrase Nasional Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59 s. baik dengan teknik mengulur-ulur waktu. dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri. Kurangnya kepatuhan para pihak terhadap hasil-hasil penyelesaian yang dicapai dalam Arbitrase. 2. daya paksa atau kewenangan 4. Berdasar Pasal 62 UU No. perlawanan. Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri. Kurangnya para pihak memegang etika bisnis. 5.contoh masyarakat masih banyak yang belum mengetahui keberadaan dan kiprah dari lembaga-lembaga seperti BANI.d. sehingga enggan memasukkan perkaranya kepada lembaga-lembaga Arbitrase. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Arbitrase hanya dapat bertumpu di atas etika bisnis. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. gugatan pembatalan dan sebagainya. Putusan Arbitrase Internasional Pada mulanya pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di Indonesia didasarkan pada ketentuan Konvensi Jenewa 1927. terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. 30 Tahun 1999. 30 Tahun 1999. seperti kejujuran dan kewajaran. sehingga mereka seringkali mengingkari dengan berbagai cara. Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya perkara yang diajukan dan diselesaikan melalui lembaga-lembaga Arbitrase yang ada. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Pelaksanaan Putusan Arbitrase 1.

001 dan 002/Pdt/Arb. Bagi arbitrase internasional mengambil tempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. yang memenangkan Mayora. Hubungan Arbitrase dan Pengadilan Walaupun arbitrase merupakan cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase. antara lain mengenai penunjukkan arbiter atau majelis arbiter dalam hal para pihak tidak ada kesepakatan dan dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun internasional yang harus dilakukan melalui mekanisme sistem peradilan yaitu pendaftaran putusan tersebut dengan menyerahkan salinan autentik putusan. menolak permohonan BT bagi pelaksanaan putusan Arbitrase London. Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui dalam eksekusi putusan arbitrase asing.PST juncto 02/Pdt. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengaksesi Konvensi New York tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981. Dalam hal sengketa para pihak yang telah ditentukan penyelesaian sengketanya melalui lembaga arbitrase. dengan alasan pelanggaran Sie Infokum – Ditama Binbangkum 9 . Ketua PN Jakarta Pusat dalam putusan No.PST.New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award.G/1999 tanggal 9 Desember 1999. PN Jakarta Selatan tetap menerima gugatan Mayora (walaupun ada klausul arbitrase didalamnya) dan menjatuhkan putusan No. dengan terbitnya PERMA tersebut maka hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia seharusnya bisa diatasi. H. 30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pengadilan negeri tidak berwenang mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. Kemudian pada 1 Maret 1990 ditegaskan lagi oleh Mahkamah Agung dengan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York 1958. seperti dalam kasus Bankers Trust Company dan Bankers Trust International PLC (BT) melawan PT Mayora Indah Tbk (Mayora). 30 Tahun 1999. maka Lembaga Peradilan diharuskan menghormati lembaga arbitrase sebagaimana yang termuat dalam Pasal 11 ayat (2) UU No.Int/1999/PN.46/Pdt.JKT. Sehingga ini menunjukkan bahwa lembaga arbitrase tidak mempunyai upaya pemaksa terhadap para pihak untuk menaati putusan. Peranan pengadilan dalam penyelenggaraan arbitrase berdasar Pasal 14 ayat (3) UU No. Namun. Hal ini terjadi karena masih adanya keharusan untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan negeri.P/2000/PNJKT. bahkan ketika lembaga arbitrase itu sendiri sudah menjatuhkan putusannya. tanggal 3 Februari 2000. Oleh karenanya. dalam prakteknya masih saja ditemukan pengadilan yang menentang. namun lembaga arbitrase masih memiliki ketergantungan pada pengadilan. misalnya dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase. Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak ikut campur tangan dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. Hal tersebut terjadi. Hal tersebut merupakan prinsip limited court involvement.

7. 8. Kertas Kerja Hukum Ekonomi. Bandung. Bina Cipta. Priyatna Abdurrasyid. How Arbitration Work. Djambatan. Black’s Law Dictionary.. 1974. Poerwosutjipto. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 10 . Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan. Cetakan III. 3. 4. Perwasitan. Penolakan PN Jakarta Pusat tersebut dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Agung No. 1992. H. Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. http://www. Pokok-pokok Hukum Dagang. Washington DS. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia. Referensi: 1. Budhy Budiman. 2006). (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Gatot Soemartono. Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan. tanggal 5 September 2000. 1992.M. 6. Supriyani Kardono. Makalah.Int/Pdt/2000. dikutip dari M. September 1996.htm.uikabogor. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran.ketertiban umum.id/jur05.N. 1995. H. Arbitrase Perdagangan. Subekti.ac. 5. Husseyn dan A. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi. 2. pelanggaran ketertiban umum yang dimaksud adalah bahwa perkara tersebut masih dalam proses peradilan dan belum memiliki kekuatan hukum tetap.02 K/Ex’r/Arb. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. UU No. Frank Elkoury dan Edna Elkoury. Jakarta. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful