ARBITRASE

Diunduh dari : http://ualawyer.ru/id/media/95/

A. Latar Belakang Dalam suatu perjanjian antara para pihak atau suatu hubungan bisnis, selalu ada kemungkinan timbulnya sengketa. Sengketa yang terjadi seringkali terkait mengenai cara melaksanakan klausul-klausul perjanjian, apa isi perjanjian ataupun disebabkan hal lainnya di luar yang diatur dalam perjanjian. Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, ada beberapa cara yang biasanya dapat dipilih, yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan dan arbitrase. Berbicara mengenai arbitrase atau lembaga arbitrase, sebenarnya sudah ada dan telah dipraktekkan selama berabad-abad (bahkan pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat Yunani sebelum masehi). Namun, definisi pasti mengenai apakah arbitrase itu, masih saja ditemui begitu banyaknya perbedaan pendapat. Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak sampai menghilangkan makna arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa melainkan justru memberikan konsep yang berbeda-beda mengenai arbitrase. B. Pengertian Arbitrase Istilah arbitrase berasal dari kata “Arbitrare” (bahasa Latin) yang berarti “kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu perkara menurut kebijaksanaan”. Definisi secara terminologi dikemukakan berbeda-beda oleh para sarjana saat ini walaupun pada akhirnya mempunyai inti makna yang sama. Subekti menyatakan bahwa arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang mereka pilih1. H. Priyatna Abdurrasyid menyatakan bahwa arbitrase adalah suatu proses pemeriksaan suatu sengketa yang dilakukan secara yudisial seperti oleh para pihak yang bersengketa, dan pemecahannya akan didasarkan kepada bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak2.

Subekti, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Bandung, 1992, hlm.1. H. Priyatna Abdurrasyid, Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan, Makalah, September 1996, hlm.1.
2

1

Sie Infokum – Ditama Binbangkum

1

walaupun hanya untuk kasus yang sedang ditangani4. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. di mana para pihak bersepakat agar perselisihan mereka tentang hak pribadi yang dapat mereka kuasai sepenuhnya diperiksa dan diadili oleh hakim yang tidak memihak yang ditunjuk oleh para pihak sendiri dan putusannya mengikat bagi kedua belah pihak3. and is intended to avoid the formalities. the delay. Oxford. Supriyani Kardono. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi. perangkat aturan mengenai arbitrase yakni UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.1. 4 Brierly J. hlm. Adanya kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa-sengketa. Husseyn dan A. dikutip dari M. Para pihak setuju sejak semula untuk menerima putusan tersebut secara final dan mengikat5.. Purwosutjipto menggunakan istilah perwasitan untuk arbitrase yang diartikan sebagai suatu peradilan perdamaian. arbitrase adalah suatu proses yang mudah atau simple yang dipilih oleh para pihak secara sukarela yang ingin agar perkaranya diputus oleh juru pisah yang netral sesuai dengan pilihan mereka di mana keputusan berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut.2. Djambatan. Dalam arbitrase. Washington DS. hlm. Cetakan III. Dari berbagai pengertian arbitrase di atas. Pada dasarnya arbitrase adalah suatu bentuk khusus Pengadilan. Menurut Frank Elkoury dan Edna Elkoury. Jakarta. instead of carrying it to establish tribunals of justice. the expense and vexation of ordinary litigation. Perwasitan. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Poin penting yang membedakan Pengadilan dan arbitrase adalah bila jalur Pengadilan (judicial settlement) menggunakan satu peradilan permanen atau standing court. Clarendon Press. sedangkan arbitrase menggunakan forum tribunal yang dibentuk khusus untuk kegiatan tersebut. Di Indonesia. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 2 . 5 Frank Elkoury dan Edna Elkoury. 3 H. 1992. dan 3. Putusan tersebut merupakan putusan akhir dan mengikat (final and binding).M. Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan. Poerwosutjipto. arbitrator bertindak sebagai “hakim” dalam mahkamah arbitrase. atau Arbitration is an arrangement for taking an abiding by the judgement of selected persons in some disputed matter. 1995.347. Pokok-pokok Hukum Dagang.N. The Law of Nation. 2. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia.N. khususnya di sini dalam bidang perdagangan industri dan keuangan. maka terdapat beberapa unsur kesamaan. hlm. Pasal 1 angka 1 mendefinisikan arbitrase sebagai cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Kertas Kerja Hukum Ekonomi. How Arbitration Work. Black’s Law Dictionary juga memberikan definisi arbitrase sebagai a method of dispute resolution involving one or more neutral third parties who are usually agreed to by the disputing parties and whose decision is binding. baik yang akan terjadi maupun telah terjadi kepada seorang atau beberapa orang pihak ketiga di luar peradilan umum untuk diputuskan. yaitu: 1. Penyelesaian sengketa yang bisa diselesaikan adalah sengketa yang menyangkut hak pribadi yang dapat dikuasai sepenuhnya. 1974.H.M. sebagaimana hakim permanen. 1983. Law.

Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis). 14 Tahun 1970 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Setelah Indonesia merdeka. selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini.Berakhirnya acara arbitrase (Pasal 648-651 RV) 4. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Satu-satunya undang-undang tentang Mahkamah Agung yang berlaku di Indonesia yaitu UU No. peraturan pengadilan yang berlaku bagi Bangsa Eropa yang dimaksud Pasal 377 HIR ini adalah semua ketentuan tentang Acara Perdata yang diatur dalam RV.Putusan Arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . atau 2. Sebagaimana dijelaskan di atas. karena hingga saat ini belum diadakan pengantinya yang baru sesuai dengan Peraturan Peralihan UUD 1945 tersebut. 14 Tahun 1985. sama sekali tidak mengatur mengenai arbitrase. 5. yang menyatakan “ Penyelesaian perkara diluar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit atau arbitrase tetap diperbolehkan”. yaitu: 1. 3.” Demikian pula halnya dengan HIR yang diundang pada zaman Kolonial Hindia Belanda masih tetap berlaku.Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam 2 (dua) bentuk. ketentuan yang tegas memuat pengaturan lembaga arbitrase dapat kita temukan dalam memori penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No. Penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No. C.Upaya-upaya terhadap putusan arbitrase (Pasal 641 s/d 674 RV) . yang meliputi : . Pasal 80 UU No. Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 menentukan bahwa “semua peraturan yang ada masih langsung berlaku. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. 2. Ketentuan peralihan yang termuat dalam Pasal 80 UU Sie Infokum – Ditama Binbangkum 3 .Pemeriksaan di muka arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo). Historis Yuridis Arbitrase di Indonesia 1.Persetujuan arbitrase dan pengangkatan para arbiter (Pasal 615 s/d 623 RV) . Pasal 615 s/d 651 RV Peraturan mengenai arbitrase dalam RV tercantum dalam Buku ke Tiga Bab Pertama Pasal 615 s/d 651 RV. Pasal 377 HIR Ketentuan mengenai arbitrase dalam HIR tercantum dalam Pasal 377 HIR atau Pasal 705 RBG yang menyatakan bahwa : “Jika orang Indonesia atau orang Timur Asing menghendaki perselisihan mereka diputus oleh juru pisah atau arbitrase maka mereka wajib memenuhi peraturan pengadilan yang berlaku bagi orang Eropa”.

macam. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing kemudian dicabut dan digantikan dengan UU No. Pasal 22 ayat (3) UU No. dinyatakan tetap berlaku sepanjang peraturan tersebut tidak bertentangan dengan Undang-Undang Mahkamah Agung ini. 1 Tahun 1950 menunjuk Mahkamah Agung sebagai pengadilan yang memutus dalam tingkat yang kedua atas putusan arbitrase mengenai sengketa yang melibatkan sejumlah uang lebih dari Rp. para pihak akan menyelesaikan sengketa tersebut melalui arbitrase internasional yang harus disepakati oleh para pihak. 1 Tahun 1950 tentang Susunan Kekuasaan dan Jalan Pengadilan Mahkamah Agung Indonesia. 6. 14 Tahun 1985. dan jika penyelesaian sengketa tersebut akan dilakukan di pengadilan. (2) Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (3) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal dalam negeri. pada Pasal 32 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal. para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase tidak disepakati. 1 Tahun 1967 : “Badan arbitrase terdiri atas tiga orang yang dipilih oleh pemerintah dan pemilik modal masing-masing satu orang. UU No. Dalam hal ini kita perlu merujuk kembali UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.000. penyelesaian sengketa tersebut melalui arbitrase berdasarkan kesepakatan para pihak.dan cara pembayaran kompensasi tersebut. para pihak terlebih dahulu menyelesaikan sengketa tersebut melalui musyawarah dan mufakat. menentukan bahwa semua peraturan pelaksana yang telah ada mengenai Mahkamah Agung. 5 Tahun 1968 tentang Pengesahan Persetujuan Atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warga Asing Mengenai Penanaman Modal atau sebagai ratifikasi atas “International Convention On the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States Dengan undang-undang ini dinyatakan bahwa pemerintah mempunyai wewenang untuk memberikan persetujuan agar suatu perselisihan mengenai Sie Infokum – Ditama Binbangkum 4 . tidak tercapai. dan orang ketiga sebagai ketuanya dipilih bersama-sama oleh pemerintah dan pemilik modal”. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing Dalam hal ini Pasal 22 ayat (2) UU No. Pasal 108 UU No. UU No.No. (4) Dalam 7. 1 Tahun 1950). Pasal 22 ayat (2) dan (3) UU No. 25. penyelesaian sengketa tersebut dapat dilakukan melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa atau pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(Pasal 15 Jo. UU No. maka akan diadakan arbitrase yang putusannya mengikat kedua belah pihak”. 1 Tahun 1967 menyatakan: “Jikalau di antara kedua belah pihak tercapai persetujuan mengenai jumlah. hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal asing.

1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. Peraturan Mahkamah Agung No. oleh Mahkamah Agung dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. perbankan. dinyatakan tidak berlaku lagi. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 34 Tahun 1958. 34 Tahun 1981 Pemerintah Indonesia telah mengesahkan “Convention On the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” disingkat New York Convention (1958). Keppres No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. yang diprakarsai oleh PBB. 8. hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. pada tanggal 12 Agustus 1999 yang dimaksudkan untuk menggantikan peraturan mengenai lembaga arbitrase yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan kemajuan perdagangan internasional. Pasal 377 HIR. 9. maka pemerintah mengeluarkan UU No. memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. 1 Tahun 1990 Selanjutnya dengan disahkannya Konvensi New York dengan Keppres No. penanaman modal. yang diadakan pada tanggal 10 Juni 1958 di New York. Sementara itu Pasal 5 ayat (2) UU No. D. 30 Tahun 1999. Dengan demikian ketentuan hukum acara dari lembaga arbitrase saat ini telah mempergunakan ketentuan yang terdapat dalam UU No. pada tanggal 1 maret 1990 yang berlaku sejak tanggal dikeluarkan. industri dan hak milik intelektual. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Sebagai ketentuan yang terbaru yang mengatur lembaga arbitrase. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. yaitu Konvensi Tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Luar Negeri. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 5 . Oleh karena itu ketentuan mengenai arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 615 s/d 651 RV. Obyek Arbitrase Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat (1) UU No. dan Pasal 705 RBG. 10. UU No.penanaman modal asing diputus oleh International Centre for the Settlement of Investment Disputes (ICSD) di Washington. keuangan.

http://www. terdapat beberapa keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan melalui proses peradilan. F. 8 Indonesian Banking Restructuring Agency (IBRA). sah atau tidaknya klausul arbitrase.E. Artinya ada atau tidaknya. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 6 . Keuntungan dan Kelemahan Arbitrase Dalam Penjelasan Umum UU No. 9 Ibid. Arbitrase. akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI. pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian ini. pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. akan menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase6. Priyatna menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul10. 10 Ibid. sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir". yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. Pada umumnya arbitrase ad-hoc ditentukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak. Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission of International Trade Law) adalah sebagai berikut:9 "Setiap sengketa. atau wanprestasi. misalnya UU No. Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri7. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. yang diperiksa pertama kali adalah klausul arbitrase. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badanbadan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase.” Menurut Priyatna Abdurrasyid.php?nid=104. Jenis Arbitrase Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). 7 Ibid.com/view.gontha.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules. hal 27. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris. BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausul arbitrase sebagai berikut:8 "Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini. Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. Ketua BANI. Pilihan Tanpa Kepastian. 2006). Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. yaitu: 6 Gatot Soemartono.

putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan. yang diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak.id/jur05. di negara-negara tertentu proses peradilan dapat lebih cepat dari pada proses arbitrase. penyelesaian 5. bahkan oleh masyarakat akademis sendiri. Menurut Prof. memiliki latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan. baik oleh masyarakat awam. Putusan peradilan wasit dirahasiakan. http://www. ini khususnya terjadi di Indonesia dari praktek arbitrase yang sudah berjalan selama ini. 2. 2. Michael B. Metzger mengemukakan pendapat keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase ini : “As compared with the court system. 4. para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase. oleh para ahli. Penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan dengan cepat. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 7 . penyelesaian sengketa lewat arbitrase atau perwasitan. quicker resolution of disputes. serta jujur dan adil. para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman.uika-bogor. para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk masalahnya. mempunyai beberapa keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan dengan cepat. 2.1. Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”. “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa. Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang dipersengketakan. the availability of professional who are often expert in the subject matter of dispute”. sehingga umum tidak mengetahui tentang kelemahan-kelemahan perusahaan yang bersangkutan. Selain itu. 3. the main advantages clained for arbitration are: 1. bahwa bagi dunia perdagangan atau bisnis. HMN Purwosutjipto mengemukakan arti pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah:11 1. 3. Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak. maupun masyarakat bisnis. lower costs in time and money to the parties. Sementara itu. arbitrase juga mempunyai kelemahan. Sifat rahasia pada putusan perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha. and 3. kerahasiaan sengketa para pihak terjamin. 4. yaitu masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase. Sebagai 11 Budhy Budiman.ac. keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat dihindari. Arbitrase belum dikenal secara luas.htm. Beberapa kelemahan dari Arbitrase adalah : 1. dan secara rahasia. padahal pengaturan untuk eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas. Subekti. Selain keunggulan diatas.

Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri. terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. Lembaga Arbitrase tidak mempunyai melakukan eksekusi putusannya. putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri. final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekekuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Kurangnya kepatuhan para pihak terhadap hasil-hasil penyelesaian yang dicapai dalam Arbitrase. 2. Sebagai suatu mekanisme extra judicial. Pada tanggal 10 Juni 1958 di Sie Infokum – Ditama Binbangkum 8 .d. G. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Bila tidak memenuhi maka. Putusan Arbitrase Nasional Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59 s. Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan Pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). daya paksa atau kewenangan 4. gugatan pembatalan dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya perkara yang diajukan dan diselesaikan melalui lembaga-lembaga Arbitrase yang ada. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. 30 Tahun 1999. dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan. Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaannya. Arbitrase hanya dapat bertumpu di atas etika bisnis. sebelum memberi perintah pelaksanaan. sehingga mereka seringkali mengingkari dengan berbagai cara. dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri.contoh masyarakat masih banyak yang belum mengetahui keberadaan dan kiprah dari lembaga-lembaga seperti BANI. perlawanan. 30 Tahun 1999. Pasal 64 UU No. 5. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Kurangnya para pihak memegang etika bisnis. BASYARNAS dan P3BI. Berdasar Pasal 62 UU No. baik dengan teknik mengulur-ulur waktu. sehingga enggan memasukkan perkaranya kepada lembaga-lembaga Arbitrase. Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. seperti kejujuran dan kewajaran. final dan mengikat. 3. Putusan Arbitrase Internasional Pada mulanya pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di Indonesia didasarkan pada ketentuan Konvensi Jenewa 1927. dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. Masyarakat belum menaruh kepercayaan yang memadai. 2. Pelaksanaan Putusan Arbitrase 1.

Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui dalam eksekusi putusan arbitrase asing. Oleh karenanya.001 dan 002/Pdt/Arb.PST.P/2000/PNJKT. Ketua PN Jakarta Pusat dalam putusan No. Hal tersebut merupakan prinsip limited court involvement. namun lembaga arbitrase masih memiliki ketergantungan pada pengadilan. Kemudian pada 1 Maret 1990 ditegaskan lagi oleh Mahkamah Agung dengan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York 1958. misalnya dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase.PST juncto 02/Pdt. 30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pengadilan negeri tidak berwenang mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. bahkan ketika lembaga arbitrase itu sendiri sudah menjatuhkan putusannya. dengan terbitnya PERMA tersebut maka hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia seharusnya bisa diatasi.New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award.G/1999 tanggal 9 Desember 1999. Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak ikut campur tangan dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. H. PN Jakarta Selatan tetap menerima gugatan Mayora (walaupun ada klausul arbitrase didalamnya) dan menjatuhkan putusan No.JKT.46/Pdt. menolak permohonan BT bagi pelaksanaan putusan Arbitrase London. Namun. Hubungan Arbitrase dan Pengadilan Walaupun arbitrase merupakan cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase. Peranan pengadilan dalam penyelenggaraan arbitrase berdasar Pasal 14 ayat (3) UU No. dalam prakteknya masih saja ditemukan pengadilan yang menentang. Hal ini terjadi karena masih adanya keharusan untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan negeri. antara lain mengenai penunjukkan arbiter atau majelis arbiter dalam hal para pihak tidak ada kesepakatan dan dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun internasional yang harus dilakukan melalui mekanisme sistem peradilan yaitu pendaftaran putusan tersebut dengan menyerahkan salinan autentik putusan. seperti dalam kasus Bankers Trust Company dan Bankers Trust International PLC (BT) melawan PT Mayora Indah Tbk (Mayora). Pemerintah Indonesia sendiri telah mengaksesi Konvensi New York tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981. dengan alasan pelanggaran Sie Infokum – Ditama Binbangkum 9 .Int/1999/PN. maka Lembaga Peradilan diharuskan menghormati lembaga arbitrase sebagaimana yang termuat dalam Pasal 11 ayat (2) UU No. Hal tersebut terjadi. yang memenangkan Mayora. Dalam hal sengketa para pihak yang telah ditentukan penyelesaian sengketanya melalui lembaga arbitrase. Bagi arbitrase internasional mengambil tempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 30 Tahun 1999. Sehingga ini menunjukkan bahwa lembaga arbitrase tidak mempunyai upaya pemaksa terhadap para pihak untuk menaati putusan. tanggal 3 Februari 2000.

Djambatan. Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Washington DS. Budhy Budiman.uikabogor. “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa. Bandung. Makalah. pelanggaran ketertiban umum yang dimaksud adalah bahwa perkara tersebut masih dalam proses peradilan dan belum memiliki kekuatan hukum tetap. Gatot Soemartono. tanggal 5 September 2000. Referensi: 1. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. dikutip dari M. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Penolakan PN Jakarta Pusat tersebut dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Agung No. 5.id/jur05. Supriyani Kardono.. Poerwosutjipto. H.ac. 6. Pokok-pokok Hukum Dagang. UU No.Int/Pdt/2000. Subekti. http://www. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia.N. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi. Kertas Kerja Hukum Ekonomi. Cetakan III. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan. 1992.ketertiban umum. 1992. Jakarta. September 1996. Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”. Arbitrase Perdagangan. Frank Elkoury dan Edna Elkoury. Perwasitan. How Arbitration Work. 2006). Black’s Law Dictionary. Husseyn dan A. Bina Cipta. 8. 7. 1974. Priyatna Abdurrasyid.02 K/Ex’r/Arb.M. 4. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 10 . 2. 1995. 3.htm. H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful