P. 1
Arbitrase

Arbitrase

|Views: 46|Likes:
Published by Hana Khalida

More info:

Published by: Hana Khalida on Apr 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

ARBITRASE

Diunduh dari : http://ualawyer.ru/id/media/95/

A. Latar Belakang Dalam suatu perjanjian antara para pihak atau suatu hubungan bisnis, selalu ada kemungkinan timbulnya sengketa. Sengketa yang terjadi seringkali terkait mengenai cara melaksanakan klausul-klausul perjanjian, apa isi perjanjian ataupun disebabkan hal lainnya di luar yang diatur dalam perjanjian. Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, ada beberapa cara yang biasanya dapat dipilih, yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan dan arbitrase. Berbicara mengenai arbitrase atau lembaga arbitrase, sebenarnya sudah ada dan telah dipraktekkan selama berabad-abad (bahkan pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat Yunani sebelum masehi). Namun, definisi pasti mengenai apakah arbitrase itu, masih saja ditemui begitu banyaknya perbedaan pendapat. Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak sampai menghilangkan makna arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa melainkan justru memberikan konsep yang berbeda-beda mengenai arbitrase. B. Pengertian Arbitrase Istilah arbitrase berasal dari kata “Arbitrare” (bahasa Latin) yang berarti “kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu perkara menurut kebijaksanaan”. Definisi secara terminologi dikemukakan berbeda-beda oleh para sarjana saat ini walaupun pada akhirnya mempunyai inti makna yang sama. Subekti menyatakan bahwa arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang mereka pilih1. H. Priyatna Abdurrasyid menyatakan bahwa arbitrase adalah suatu proses pemeriksaan suatu sengketa yang dilakukan secara yudisial seperti oleh para pihak yang bersengketa, dan pemecahannya akan didasarkan kepada bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak2.

Subekti, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Bandung, 1992, hlm.1. H. Priyatna Abdurrasyid, Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan, Makalah, September 1996, hlm.1.
2

1

Sie Infokum – Ditama Binbangkum

1

2. Cetakan III. Purwosutjipto menggunakan istilah perwasitan untuk arbitrase yang diartikan sebagai suatu peradilan perdamaian.1. perangkat aturan mengenai arbitrase yakni UU No. Poerwosutjipto. Law. Perwasitan. Black’s Law Dictionary juga memberikan definisi arbitrase sebagai a method of dispute resolution involving one or more neutral third parties who are usually agreed to by the disputing parties and whose decision is binding. 4 Brierly J. Oxford.M. Pada dasarnya arbitrase adalah suatu bentuk khusus Pengadilan. maka terdapat beberapa unsur kesamaan.N. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 2 . Pasal 1 angka 1 mendefinisikan arbitrase sebagai cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. instead of carrying it to establish tribunals of justice. arbitrator bertindak sebagai “hakim” dalam mahkamah arbitrase. sebagaimana hakim permanen.M. Dalam arbitrase. Supriyani Kardono. Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan. dikutip dari M. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi.347. How Arbitration Work. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. baik yang akan terjadi maupun telah terjadi kepada seorang atau beberapa orang pihak ketiga di luar peradilan umum untuk diputuskan..2. 1974. 1992. Clarendon Press. hlm.N. hlm. atau Arbitration is an arrangement for taking an abiding by the judgement of selected persons in some disputed matter. the expense and vexation of ordinary litigation. khususnya di sini dalam bidang perdagangan industri dan keuangan. Para pihak setuju sejak semula untuk menerima putusan tersebut secara final dan mengikat5. Putusan tersebut merupakan putusan akhir dan mengikat (final and binding). yaitu: 1. Washington DS. the delay. Pokok-pokok Hukum Dagang. walaupun hanya untuk kasus yang sedang ditangani4. Penyelesaian sengketa yang bisa diselesaikan adalah sengketa yang menyangkut hak pribadi yang dapat dikuasai sepenuhnya. 5 Frank Elkoury dan Edna Elkoury. Husseyn dan A. Menurut Frank Elkoury dan Edna Elkoury. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Dari berbagai pengertian arbitrase di atas. 1995. and is intended to avoid the formalities. dan 3. Poin penting yang membedakan Pengadilan dan arbitrase adalah bila jalur Pengadilan (judicial settlement) menggunakan satu peradilan permanen atau standing court. Jakarta. Djambatan. The Law of Nation.H. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia. di mana para pihak bersepakat agar perselisihan mereka tentang hak pribadi yang dapat mereka kuasai sepenuhnya diperiksa dan diadili oleh hakim yang tidak memihak yang ditunjuk oleh para pihak sendiri dan putusannya mengikat bagi kedua belah pihak3. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. Adanya kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa-sengketa. sedangkan arbitrase menggunakan forum tribunal yang dibentuk khusus untuk kegiatan tersebut. hlm. 3 H. arbitrase adalah suatu proses yang mudah atau simple yang dipilih oleh para pihak secara sukarela yang ingin agar perkaranya diputus oleh juru pisah yang netral sesuai dengan pilihan mereka di mana keputusan berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut. Di Indonesia. 1983. Kertas Kerja Hukum Ekonomi.

Putusan Arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . Penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No.Berakhirnya acara arbitrase (Pasal 648-651 RV) 4. 14 Tahun 1985. yaitu: 1. Sebagaimana dijelaskan di atas. Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis).Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam 2 (dua) bentuk. ketentuan yang tegas memuat pengaturan lembaga arbitrase dapat kita temukan dalam memori penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No. 5. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.” Demikian pula halnya dengan HIR yang diundang pada zaman Kolonial Hindia Belanda masih tetap berlaku. 2. Pasal 615 s/d 651 RV Peraturan mengenai arbitrase dalam RV tercantum dalam Buku ke Tiga Bab Pertama Pasal 615 s/d 651 RV.Upaya-upaya terhadap putusan arbitrase (Pasal 641 s/d 674 RV) . selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini. C. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Satu-satunya undang-undang tentang Mahkamah Agung yang berlaku di Indonesia yaitu UU No. Historis Yuridis Arbitrase di Indonesia 1. Pasal 80 UU No. karena hingga saat ini belum diadakan pengantinya yang baru sesuai dengan Peraturan Peralihan UUD 1945 tersebut. Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo). Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 menentukan bahwa “semua peraturan yang ada masih langsung berlaku. Pasal 377 HIR Ketentuan mengenai arbitrase dalam HIR tercantum dalam Pasal 377 HIR atau Pasal 705 RBG yang menyatakan bahwa : “Jika orang Indonesia atau orang Timur Asing menghendaki perselisihan mereka diputus oleh juru pisah atau arbitrase maka mereka wajib memenuhi peraturan pengadilan yang berlaku bagi orang Eropa”.Pemeriksaan di muka arbitrase (Pasal 631 s/d 674 RV) . yang meliputi : . sama sekali tidak mengatur mengenai arbitrase. Ketentuan peralihan yang termuat dalam Pasal 80 UU Sie Infokum – Ditama Binbangkum 3 . 14 Tahun 1970 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Setelah Indonesia merdeka. peraturan pengadilan yang berlaku bagi Bangsa Eropa yang dimaksud Pasal 377 HIR ini adalah semua ketentuan tentang Acara Perdata yang diatur dalam RV. yang menyatakan “ Penyelesaian perkara diluar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit atau arbitrase tetap diperbolehkan”. 3. atau 2.Persetujuan arbitrase dan pengangkatan para arbiter (Pasal 615 s/d 623 RV) .

Pasal 22 ayat (2) dan (3) UU No. para pihak akan menyelesaikan sengketa tersebut melalui arbitrase internasional yang harus disepakati oleh para pihak. 1 Tahun 1950 menunjuk Mahkamah Agung sebagai pengadilan yang memutus dalam tingkat yang kedua atas putusan arbitrase mengenai sengketa yang melibatkan sejumlah uang lebih dari Rp. 1 Tahun 1967 : “Badan arbitrase terdiri atas tiga orang yang dipilih oleh pemerintah dan pemilik modal masing-masing satu orang. (4) Dalam 7. 6. Pasal 22 ayat (3) UU No.000. 5 Tahun 1968 tentang Pengesahan Persetujuan Atas Konvensi Tentang Penyelesaian Perselisihan Antara Negara dan Warga Asing Mengenai Penanaman Modal atau sebagai ratifikasi atas “International Convention On the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States Dengan undang-undang ini dinyatakan bahwa pemerintah mempunyai wewenang untuk memberikan persetujuan agar suatu perselisihan mengenai Sie Infokum – Ditama Binbangkum 4 . 14 Tahun 1985. UU No. penyelesaian sengketa tersebut melalui arbitrase berdasarkan kesepakatan para pihak. penyelesaian sengketa tersebut dapat dilakukan melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa atau pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 25.(Pasal 15 Jo.dan cara pembayaran kompensasi tersebut. 1 Tahun 1950 tentang Susunan Kekuasaan dan Jalan Pengadilan Mahkamah Agung Indonesia. UU No. 1 Tahun 1967 menyatakan: “Jikalau di antara kedua belah pihak tercapai persetujuan mengenai jumlah. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. 1 Tahun 1950). 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing kemudian dicabut dan digantikan dengan UU No. maka akan diadakan arbitrase yang putusannya mengikat kedua belah pihak”. dan orang ketiga sebagai ketuanya dipilih bersama-sama oleh pemerintah dan pemilik modal”. tidak tercapai. dan jika penyelesaian sengketa tersebut akan dilakukan di pengadilan. Pasal 108 UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing Dalam hal ini Pasal 22 ayat (2) UU No. hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal asing. UU No. Dalam hal ini kita perlu merujuk kembali UU No. dinyatakan tetap berlaku sepanjang peraturan tersebut tidak bertentangan dengan Undang-Undang Mahkamah Agung ini.No. para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase tidak disepakati. macam. (2) Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (3) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal dalam negeri. pada Pasal 32 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan penanaman modal. menentukan bahwa semua peraturan pelaksana yang telah ada mengenai Mahkamah Agung. para pihak terlebih dahulu menyelesaikan sengketa tersebut melalui musyawarah dan mufakat.

30 Tahun 1999. maka pemerintah mengeluarkan UU No. pada tanggal 1 maret 1990 yang berlaku sejak tanggal dikeluarkan. perbankan. Pasal 377 HIR.penanaman modal asing diputus oleh International Centre for the Settlement of Investment Disputes (ICSD) di Washington. memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. 34 Tahun 1958. yang diadakan pada tanggal 10 Juni 1958 di New York. Keppres No. pada tanggal 12 Agustus 1999 yang dimaksudkan untuk menggantikan peraturan mengenai lembaga arbitrase yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan kemajuan perdagangan internasional. industri dan hak milik intelektual. Oleh karena itu ketentuan mengenai arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 615 s/d 651 RV. UU No. Obyek Arbitrase Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat (1) UU No. hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. Sementara itu Pasal 5 ayat (2) UU No. 34 Tahun 1981 Pemerintah Indonesia telah mengesahkan “Convention On the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” disingkat New York Convention (1958). 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 9. 8. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 5 . yang diprakarsai oleh PBB. keuangan. 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. yaitu Konvensi Tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Luar Negeri. dan Pasal 705 RBG. Dengan demikian ketentuan hukum acara dari lembaga arbitrase saat ini telah mempergunakan ketentuan yang terdapat dalam UU No. 1 Tahun 1990 Selanjutnya dengan disahkannya Konvensi New York dengan Keppres No. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan. dinyatakan tidak berlaku lagi. Peraturan Mahkamah Agung No. oleh Mahkamah Agung dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. D. penanaman modal. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Sebagai ketentuan yang terbaru yang mengatur lembaga arbitrase. 10.

8 Indonesian Banking Restructuring Agency (IBRA).30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 6 . (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. yaitu: 6 Gatot Soemartono. BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausul arbitrase sebagai berikut:8 "Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini. yang diperiksa pertama kali adalah klausul arbitrase. 7 Ibid. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase6. misalnya UU No.php?nid=104. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. Jenis Arbitrase Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badanbadan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Artinya ada atau tidaknya. hal 27. terdapat beberapa keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan melalui proses peradilan. atau wanprestasi. F. sah atau tidaknya klausul arbitrase. 9 Ibid. Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL.E. akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI. Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission of International Trade Law) adalah sebagai berikut:9 "Setiap sengketa. Ketua BANI. yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. akan menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir". Arbitrase. Priyatna menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul10. http://www. Pada umumnya arbitrase ad-hoc ditentukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak.com/view. Keuntungan dan Kelemahan Arbitrase Dalam Penjelasan Umum UU No.gontha. Pilihan Tanpa Kepastian. atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris. Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri7. 10 Ibid.” Menurut Priyatna Abdurrasyid. pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian ini. Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase. 2006).

and 3. kerahasiaan sengketa para pihak terjamin. memiliki latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan.id/jur05. mempunyai beberapa keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan dengan cepat. oleh para ahli. Subekti. Arbitrase belum dikenal secara luas. para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase. http://www. Sifat rahasia pada putusan perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha. di negara-negara tertentu proses peradilan dapat lebih cepat dari pada proses arbitrase. quicker resolution of disputes. Sebagai 11 Budhy Budiman.1. “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa. Michael B. baik oleh masyarakat awam. 3. bahkan oleh masyarakat akademis sendiri. serta jujur dan adil. sehingga umum tidak mengetahui tentang kelemahan-kelemahan perusahaan yang bersangkutan. 3. Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”. yaitu masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase. 2. Selain keunggulan diatas. Putusan peradilan wasit dirahasiakan. 4.uika-bogor. yang diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak. keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat dihindari. padahal pengaturan untuk eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas. putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan. ini khususnya terjadi di Indonesia dari praktek arbitrase yang sudah berjalan selama ini. 2. para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman. 4. the availability of professional who are often expert in the subject matter of dispute”. para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk masalahnya. 2. Metzger mengemukakan pendapat keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase ini : “As compared with the court system. bahwa bagi dunia perdagangan atau bisnis. the main advantages clained for arbitration are: 1. Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang dipersengketakan. penyelesaian 5. dan secara rahasia. arbitrase juga mempunyai kelemahan. Beberapa kelemahan dari Arbitrase adalah : 1. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 7 . Penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan dengan cepat. maupun masyarakat bisnis. Sementara itu. Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak. lower costs in time and money to the parties.htm. Menurut Prof.ac. penyelesaian sengketa lewat arbitrase atau perwasitan. HMN Purwosutjipto mengemukakan arti pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah:11 1. Selain itu.

dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. Putusan Arbitrase Nasional Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59 s. baik dengan teknik mengulur-ulur waktu. sehingga mereka seringkali mengingkari dengan berbagai cara. perlawanan. putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri. daya paksa atau kewenangan 4. Berdasar Pasal 62 UU No. Kurangnya kepatuhan para pihak terhadap hasil-hasil penyelesaian yang dicapai dalam Arbitrase. dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan. Pada tanggal 10 Juni 1958 di Sie Infokum – Ditama Binbangkum 8 . Masyarakat belum menaruh kepercayaan yang memadai. Pelaksanaan Putusan Arbitrase 1. BASYARNAS dan P3BI. Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan Pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaannya. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya perkara yang diajukan dan diselesaikan melalui lembaga-lembaga Arbitrase yang ada. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Kurangnya para pihak memegang etika bisnis. 5. 30 Tahun 1999. sehingga enggan memasukkan perkaranya kepada lembaga-lembaga Arbitrase. 30 Tahun 1999. Putusan Arbitrase Internasional Pada mulanya pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di Indonesia didasarkan pada ketentuan Konvensi Jenewa 1927. gugatan pembatalan dan sebagainya. dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri. terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekekuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Bila tidak memenuhi maka.contoh masyarakat masih banyak yang belum mengetahui keberadaan dan kiprah dari lembaga-lembaga seperti BANI. G. Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri. seperti kejujuran dan kewajaran. 2. 3. final dan mengikat. Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. Lembaga Arbitrase tidak mempunyai melakukan eksekusi putusannya. Arbitrase hanya dapat bertumpu di atas etika bisnis. 2. Pasal 64 UU No. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. sebelum memberi perintah pelaksanaan.d. Sebagai suatu mekanisme extra judicial.

30 Tahun 1999.New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award. Hal tersebut terjadi. namun lembaga arbitrase masih memiliki ketergantungan pada pengadilan. Dalam hal sengketa para pihak yang telah ditentukan penyelesaian sengketanya melalui lembaga arbitrase. 30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pengadilan negeri tidak berwenang mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. Peranan pengadilan dalam penyelenggaraan arbitrase berdasar Pasal 14 ayat (3) UU No. menolak permohonan BT bagi pelaksanaan putusan Arbitrase London. antara lain mengenai penunjukkan arbiter atau majelis arbiter dalam hal para pihak tidak ada kesepakatan dan dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun internasional yang harus dilakukan melalui mekanisme sistem peradilan yaitu pendaftaran putusan tersebut dengan menyerahkan salinan autentik putusan. Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak ikut campur tangan dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. PN Jakarta Selatan tetap menerima gugatan Mayora (walaupun ada klausul arbitrase didalamnya) dan menjatuhkan putusan No. Kemudian pada 1 Maret 1990 ditegaskan lagi oleh Mahkamah Agung dengan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York 1958.Int/1999/PN. Hubungan Arbitrase dan Pengadilan Walaupun arbitrase merupakan cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase. Bagi arbitrase internasional mengambil tempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui dalam eksekusi putusan arbitrase asing. seperti dalam kasus Bankers Trust Company dan Bankers Trust International PLC (BT) melawan PT Mayora Indah Tbk (Mayora). misalnya dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase. tanggal 3 Februari 2000. dengan terbitnya PERMA tersebut maka hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia seharusnya bisa diatasi. Hal ini terjadi karena masih adanya keharusan untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan negeri. bahkan ketika lembaga arbitrase itu sendiri sudah menjatuhkan putusannya.001 dan 002/Pdt/Arb. dengan alasan pelanggaran Sie Infokum – Ditama Binbangkum 9 .G/1999 tanggal 9 Desember 1999.46/Pdt. Oleh karenanya. H. Ketua PN Jakarta Pusat dalam putusan No. Sehingga ini menunjukkan bahwa lembaga arbitrase tidak mempunyai upaya pemaksa terhadap para pihak untuk menaati putusan. Hal tersebut merupakan prinsip limited court involvement. dalam prakteknya masih saja ditemukan pengadilan yang menentang. yang memenangkan Mayora.JKT. Namun. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengaksesi Konvensi New York tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981.P/2000/PNJKT.PST juncto 02/Pdt.PST. maka Lembaga Peradilan diharuskan menghormati lembaga arbitrase sebagaimana yang termuat dalam Pasal 11 ayat (2) UU No.

1974. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 10 . Kajian Terhadap Praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999”. tanggal 5 September 2000.N. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. Subekti. Keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Bandung.uikabogor. 2. Budhy Budiman. Black’s Law Dictionary. Bina Cipta.Int/Pdt/2000. Supriyani Kardono. Kertas Kerja Hukum Ekonomi. September 1996.id/jur05.02 K/Ex’r/Arb. 4.ac. 8. Penolakan PN Jakarta Pusat tersebut dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Agung No.M. Gatot Soemartono. Arbitrase Perdagangan. http://www. Proyek Pengembangan Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. UU No. 3. Frank Elkoury dan Edna Elkoury. 1992. H. Pokok-pokok Hukum Dagang. Husseyn dan A. Washington DS. Penyelesaian Sengketa Komersial Nasional dan Internasional) di luar Pengadilan. Referensi: 1.. 7. Perwasitan. 2006). 1992. 5. Priyatna Abdurrasyid. Jakarta. pelanggaran ketertiban umum yang dimaksud adalah bahwa perkara tersebut masih dalam proses peradilan dan belum memiliki kekuatan hukum tetap. Hukum dan Lembaga Arbitrase di Indonesia. Kantor Menteri Negara Koordinasi Bidang Ekonomi. dikutip dari M. Djambatan.ketertiban umum. H. Cetakan III. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 6. 1995. How Arbitration Work. Makalah. Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. Poerwosutjipto. “Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa.htm.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->