GANGGUAN MENTAL ORGANIK

BAB I GANGGUAN MENTAL ORGANIK A. PENDAHULUAN

Gangguan otak organik didefinisikan sebagai gangguan dimana terdapat suatu patologi yang dapat diidentifikasi (contohnya tumor otak. penyakit cerebrovaskuler, intoksifikasi obat).1,2,3 Sedangkan gangguan fungsional adalah gangguan otak dimana tidak ada dasar organik yang dapat diterima secara umum (contohnya Skizofrenia. Depresi) Dari sejarahnya, bidang neurologi telah dihubungkan dengan pengobatan gangguan yang disebut organik dan Psikiatri dihubungkan dengan pengobatan gangguan yang disebut fungsional.1 Didalam DSM IV diputusakan bahwa perbedaan lama antara gangguan organik dan fungsional telah ketinggalan jaman dan dikeluarkan dari tata nama. Bagian yang disebut “Gangguan Mental Organik” dalam DSM III-R sekarang disebut sebagai Delirium, Demensia, Gangguan Amnestik Gangguan Kognitif lain, dan Gangguan Mental karena suatu kondisi medis umum yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.1 Menurut PPDGJ III gangguan mental organik meliputi berbagai gangguan jiwa yang dikelompokkan atas dasar penyebab yang lama dan dapat dibuktikan adanya penyakit, cedera atau ruda paksa otak, yang berakibat disfungsi otak Disfungsi ini dapat primer seperti pada penyakit, cedera, dan ruda paksa yang langsung atau diduga mengenai otak, atau sekunder, seperti pada gangguan dan penyakit sistemik yang menyerang otak sebagai salah satu dari beberapa organ atau sistem tubuh4 PPDGJ II membedakan antara Sindroma Otak Organik dengan Gangguan Mental Organik. Sindrom Otak Organik dipakai untuk menyatakan sindrom (gejala) psikologik atau perilaku tanpa kaitan dengan etiologi. Gangguan Mental Organik dipakai untuk Sindrom Otak Organik yang etiolognnya (diduga) jelas Sindrom Otak Organik dikatakan akut atau menahun berdasarkan dapat atau tidak dapat kembalinya (reversibilitas) gangguan jaringan otak atau Sindrom Otak Organik itu dan akan berdasarkan penyebabnya, permulaan gejala atau lamanya penyakit yang menyebabkannya. Gejala utama Sindrom Otak Organik akut ialah kesadaran yang menurun (delirium )dan sesudahnya terdapat amnesia, pada Sindrom Otak Organik menahun (kronik) ialah demensia.2,4 BAB II PERBANDINGAN PENGGOLONGAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL ORGANIK Menurut PPDGJ III, klasifikasi gangguan mental organik adalah sebagai berikut : l. Demensia pada penyakit Alzheimer

1.1 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan onset dini. 1.2.Demensia pada penvakit Alzheimer dengan onset lambat. 1.3.Demensia pada penyakit Alzheimer, tipe tak khas atau tipe campuran. 1.4. Demensia pada penyakit Alzheimer Yang tidak tergolongkan ( YTT). 2. Demensia Vaskular 2.1.Demensia Vaskular onset akut. 2.2. Demensia multi-infark 2.3 Demensia Vaskular subkortikal. 2.4. Demensia Vaskular campuran kortikal dan subkortikal 2.5. Demensia Vaskular lainnya 2.6. Demensia Vaskular YTT 3. Demensia pada penyakit lain yang diklasifikasikan di tempat lain (YDK) 3.1. Demensia pada penyakit Pick. 3.2. Demensia pada penyakit Creutzfeldt – Jakob. 3. 3. Demensia pada penyakit huntington. 3.4. Demensia pada penyakit Parkinson. 3.5. Demensia pada penyakit human immunodeciency virus (HIV). 3.6. Demensia pada penyakit lain yang ditentukan (YDT) dan YDK 4. Demensia YTT. Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan demensia pada 1-4 sebagai berikut : 1. Tanpa gejala tambahan. 2. Gejala lain, terutama waham. 3. Gejala lain, terutama halusinasi

Gangguan astenik organik.3. Gangguan katatonik organik. Gangguan depresif organik. Gangguan kopnitif ringan. Gangguan mental akibat kerusakan dan disfungsi otak dan penyakit fisik lain YDT. Gangguan afektif organik campuran.1. 7. Gejala lain. 7. terutama depresi 5. Gangguan mental akibat kerusakan dan disfungsi otak dan penyakit fisik YTT.4. 7.4 DeliriumYTT.10. Gangguan mental lainnya akibat kerusakan dan disfungsi otak dan penyakit fisik.7. 7. 7. 7. Gangguan disosiatif organik. 7. Gejala campuran lain. 5. Delirium. Halusinosis organik. Gangguan suasana perasaan (mood. 7. 7.2. Delirium lainya. 7.4. 3.5.1.4. Gangguan manik organik. 6. 7.4. afektif) organik.2. Sindrom amnestik organik bukan akibat alkohol dan zat psikoaktif lainnya 6. Gangguan anxietas organik 7. Gangguan waham organik (lir-skizofrenia) 7.3.8. Delirium bukan akibat alkohol dan psikoaktif lain nya 6. Delirium. 7.4.4.1. Gangguan bipolar organik. bertumpang tindih dengan demensia 6.4. .9.6.2. 7. tak bertumpang tindih dengan demensia 6.

Gangguan kepribadian dan perilaku organik akibat penyakit. 7. klasifikasi gangguan mental organik sebagai berikut: 1. kerusakan dan fungsi otak 8. Delirium yang tidak ditentukan (YTT) 2. 4. Aterosklerosis otak Demensia senilis Demensia presenilis. Sindrom otak organik karena defisiensi vitamin. . 8. Gangguan kepribadian dan perilaku organik akibat penyakit. Menurut DSM IV. 2. kerusakan dan disfungsi otak lainnya. 3. klasifikasi gangguan mental organik adalah sebagai berikut: 1. gangguan metabolisme dan intoksikasi. Gangguan mental organik atau simtomatik YTT Menurut Maramis. Demensia paralitika.3.2. Demensia tipe Alzheimer.1. 9.1. kerusakan dan disfungsi otak YTT. Delirium 1. Demensia vaskular.2. Gangguan keperibadian dan prilaku akibat penyakit. Gangguan keperibadian organik 8. 2. Sindrom otak organik karena tumor intra kranial. Sindrom pasca-kontusio 8. 1.3.3. Sindrom otak organik karena epilepsi. 1. Demensia dan Delirium Sindrom otak organik karena rudapaksa kepala. 2. 6.5. 5.1. 8. Sindrom pasca-ensefalitis 8.2.4. 9. Delirium akibat zat. Demensia karena kondisi umum. 2.8. Demensia. Delirium karena kondisi medis umum.

3.3. Semuanya mempunyai pola gejala serupa yang berhubungan dengan tingkat kesadaran dan kognitif pasien.3. 3. Demensia karena penyakit Pick Demensia karena penyakit Creutzfeldt – Jakob 2. dan intoksikasi atau reaksi.6. Demensia karena penyakit HIV. Gangguan kognitif yang tidak ditentukan.1. 2. Demensia menetap akibat zat 2.1 . penyakit sistemik.3. serotonin.6.3 putus obat maupun zat toksik. 2. Penyebab utama dapat berasal dari penyakit susunan saraf pusat seperti ( sebagai contoh epilepsi ).5.5. Penyebab delirium terbanyak terletak di luar sistem pusat. Demensia karena penyakit Parkinson.3 Etiologi Delirium mempunyai berbagai macam penyebab. Demensia karena penyakit trauma kepala. 2.1.2 Gangguan amnestik menetap akibat zat 3.3. Gangguan amnestik 3. Demensia karena penyebab multipeL 2. serta glutamat Area yang terutama terkena adalah formasio retikularis.4. Neurotransmiter yang dianggap berperan adalah asetilkolin.Gangguan amnestik karena kondisi medis umum. 2.3.3 Gangguan amnestik yang tidak ditentukan ( YTT ) 4. Demensia yang tidak ditentukan (YTT) 3. misalnya gagal ginjal dan hati.2. 2.4.1. BAB III ISI Delirium Delirium adalah suatu sindrom dengan gejala pokok adanya gangguan kesadaran yang biasanya tampak dalam bentuk hambatan pada fungsi kognitif. Demensia karena penyakit Huntington.3.2.

1. Antikonvulsan. antara lain:    Usia Kerusakan otak Riwayatdelirium . 5. Paru-paru (narkosis karbon dioksida. Sedatif(termasuk alkohol) dan hipnotik. hipoksia). Hati (ensefalopati hepatik). 3.Penyebab Delirium Penyakit intrakranial 1. hipotensi). Obat antipsikotik. Epilepsi atau keadaan pasca kejang Trauma otak (terutama gegar otak) Infeksi (meningitis. Cimetidine. Sistem kardiovaskular (gagal jantung. Ketidakseimbangan elektrolit dengan penvebab apapun Keadaan pasca operatif Trauma (kepala atau seluruh tubuh) Karbohidrat: hipoglikemi.4 Faktor predisposisi terjadinya delirium. Racun Karbon monoksida. 1. Ginjal dan saluran kemih (ensefalopati uremik). Penyakit organ nonendokrin. Obat antihipertensi. Disfungsi endokrin (hipofungsi atau hiperfungsi) Hipofisis. asam nikotinik. Paratiroid.1. B12 atau asain folat) Infeksi sistemik dengan demam dan sepsis. Opiat. Ranitidin. 2. Pankreas. Insulin. tiroid 1. Klonidine. Obat antiparkinson. 4. Logam berat dan racun industri lain. 1. Disulfiram. 6. Obat antikolinergik. Fenitoin. 1. 4. aritmia. Steroid. Adrenal. Fensiklidine. 3.3. Gangguan vaskular Penyebab ekstrakranial 1. Penyakit defisiensi (defisiensi tiamin. Obat-obatan (di telan atau putus).ensetalitis). Neoplasma. 2.

Elektrokardiogram (EKG) h. Tes fungsi tiroid d. Terdapat bukti-bukti dari riwayat penyakit. Gangguan kesadaran (yaitu. Kimia darah (termasuk elektrolit. Tes serologis untuk sifilis e. pemeriksaan fisik. Catatan penulisan : Masukkan nama kondisi medis umum dalam Aksis I. Sinar X dada .     Ketergantungan alkohol Diabetes Kanker Gangguan panca indera Malnutrisi. juga tuliskan kondisi medis umum pada Aksis III Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan standar a. delirium karena ensefalopati hepatik. 2. Perubahan kognisi (seperti defisit daya ingat disorientasi. atau temuan Iaboratorium bahwa gangguan adalah disebabkan oleh akibat fisiologis langsung dan kondisi medis umum. misalnya.3 Diagnosis Kriteria Diagiostik untuk Delirium Karena Kondisi Medis Umum: 1. Gangguan timbul setelah suatu periode waktu yang singkat (biasanya beberapa jam sampai hari dan cenderung berfluktuasi selama perjalanan hari. Tes antibodi HIV (human Immunodeficiency virus) f Urinalisa g. 1. dan glukosa) b. mempertahankan. Elektroensefalogram (EEG) i. atau mengalihkan perhatian. Hitung darah lengkap (CBC) dengan defensial sel darah putih c. 1. atau yang sedang timbul. yang telah ditegakkan. gangguan bahasa) atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak lebih baik diterangkan demensia yang telah ada sebelumnya. penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan) dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan. indeks ginjal dan hati.

katatonik atau mengalami demensia. Pungsi lumbal dan pemetiksaan cairan serebrospinalis Gambaran klinis Kesadaran (Arousal) Dua pola umum kelainan kesadaran telah ditemukan pada pasien dengan delirium. asam folat 3. takikardia. pucat. Pasien dengan delirium yang berhubungan dengan putus zat seringkali mempunyai delirium hiperaktif. Pencitraan otak dengan tomografi komputer (CT) atau pencitraan resonansi magnetik (MRI) 4. Pola lain ditandai oleh penurunan kesiagaan. tempat dan orang harus diuji pada seorang pasien dengan delirium. dokter. Kultur darah. atau membingungkan (inkoheren) dan gangguan kemampuan untuk mengerti pembicaraan Fungsi kognitif lainnya yang mungkin terganggu pada pasien delirium adalah fungsi ingatan dan kognitif umum Kemampuan untuk menyusun. mual. walaupun ingatan kenangan yang jauh mungkin dipertahankan. berkeringat. Kelainan dapat berupa bicara yang melantur. Skrining obat dalam darah dan urin „I‟es tambahan jika diindikasikan : 1. Pasien delirium juga mempunyai gangguan kemampuan memecahkan masalah dan mungkin mempunyai waham yang tidak sistematik.1 Orientasi Orientasi terhadap waktu. anggota keluarga) mungkin juga terganggu pada kasus yang berat Pasien delirium jarang kehilangan orientasi terhadap dirinya sendiri. dan hipertermia. pasien mungkin mempunyai penurunan kognitif yang dramatis sebagai suatu gejala hipoaktif delirium yang karakteristik. Konsentrasi B 12. kadang kadang paranoid. Orientasi terhadap waktu seringkali hilang bahkan pada kasus delirium yang ringan. Disarnping penurunan perhatian. yang juga dapat disertai dengan tanda otonomik. Persepsi Pasien dengan delirium seringkali mempunyai ketidak mampuan umum untuk membedakan stimuli sensorik dan untuk mengintegrasikan persepsi sekarang dengan pengalaman masa lalu .j. Orientasi terhadap tempat dan kemampuan untuk mengenali orang lain (sebagai contohnya. dan cairan serebrospinalis 2. mempertahankan dan mengingat kenangan mungkin terganggu. muntah. Bahasa dan Kognisi Pasien dengan delirium seringkali mempunyai kelainan dalam bahasa. pupil berdilatasi. tidak relevan. seperti kemerahan kulit. urin. satu pola ditandai oleh hiperaktivitas yang berhubungan dengan peningkatan kesiagaan. Pasien dengan gejala hipoaktif kadang-kadang diklasifikasikan sebagai depresi.

Halusinasi paling sering adalah visual atau auditoris walaupun halusinasi dapat taktil atau olfaktoris. Demensia b. hidroksizine (vistaril) dosis 25 – 100 mg. dosis awal antara 2 – 10 mg IM. Seringkali keseluruhan siklus tidur-bangun pasien dengan delirium semata mata terbalik. medikasi oral dalam cairan konsentrat atau bentuk tablet dapat dimulai. kegusaran.5 kali lebih tinggi dibandingkan dosis parenteral Dosis harian efektif total haloperidol 5 – 50 mg untuk sebagian besar pasien delirium. dan rasa takut yang tidak beralasan. Pasien seringkali mengalami eksaserbasi gejala delirium tepat sebelum tidur. dan euforia. sensorik. dosis oral +I. termasuk disfagia. Psikosis atau Depresi Pengobatan Tujuan utama adalah mengobati gangguan dasar yang menyebabkan delirium. contohnva. tremor.mereka. suatu obat antipsikotik golongan butirofenon. diulang dalam satu jam jika pasien tetap teragitasi. Tujuan pengobatan yang penting lainnya adalah memberikan bantuan fisik. dan lingkungan. Gejala Penyerta : Gangguan tidur-bangun Tidur pada pasien delirium secara karakteristik adalah tergangga Paling sedikit mengantuk selama siang hari dan dapat ditemukan tidur sekejap di tempat tidurnya atau di ruang keluarga. asteriksis. Suasana Perasaan Pasien dengan delirium mempunyai kelainan dalam pengaturan suasana Gejala yang paling sering adalah kemarahan. situasi klinis yang dikenal luas sebagai sundowning. Kelainan suasana perasaan lain adalah apati. dan inkontinensia urin.1 Gejala neurologis Gejala neurologis yang menyertai. Ilusi visual dan auditoris adalah sering pada delirium. Dua gejala utama dari delirium yang mungkin memerlukan pengobatan farmakologis adalah psikosis dan insomnia Obat yang terpilih untuk psikosis adalah haloperidol (Haldol). depresi. Droperidol (Inapsine) adalah suatu butirofenon yang tersedia sebagai suatu formula intravena alternatif monitoring EKG sangat penting pada pengobatan ini Insomnia diobati dengan golongan benzodiazepin dengan waktu paruh pendek. segera setelah pasien tenang. Diagnosis Banding a. inkoordinasi. Halusinasi relatif sering pada pasien delirium. Perjalanan Penyakit dan Prognosis .

3. sering pada usia 60 – 70 tahun terutama pada laki-laki. pertimbangan. bahasa. massa subdural. 2. terutama disebabkan oleb sifat serius dan kondisi medis penyerta. abses otak Anoksia Trauma (cedera kepala. Kira-kira 5% dari semua orang yang mencapai usia 65 tahun menderita demensia tipe Alzhermer. Penyebab 1. dan konsentrasi. perhatian. 5. 4. Penyakit Alzheimer Demensia Vaskular Infeksi Gangguan nutrisional Gangguan metabolik Gangguan peradangan kronis Obat dan toksin (termasuk demensia alkoholik kronis) Massa intrakranial : tumor. gejala delirium menghilang dalam periode 3 – 7 hari. Tipe demensia yang paling sering kedua adalah demensia vaskular yaitu demensia yang secara kausatif berhubungan dengan penyakit serebrovaskular. 2. Demensia merupakan sindroma yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. memecahkan masalah. belajar dan ingatan. persepsi. dan kemampuan sosial. Fungsi kognitif yang dipengaruhi pada demensia adalah inteligensia umum.1 DEMENSIA Demensia merupakan suatu gangguan mental organik yang biasanya diakibatkan oleh proses degeneratif yang progresif dan irreversible yang mengenai arus pikir. dibandingkan 15 – 25% dan semua orang yang berusia 85 tahun atau lebih. 4. Gejala delirium biasanya berlangsung selama faktor penyebab yang relevan ditemukan. 5. 6. gejala prodromal (kegelisahan dan ketakutan) dapat terjadi pada hari sebelum onset gejala yang jelas. semakin lama waktu yang diperlukan bagi delirium untuk menghilang. Dan semua pasien demensia. Semakin lanjut usia pasien dan semakin lama pasien mengalami delirium. berkisar antara 15 – 30% dari semua kasus demensia. Terjadinya delirium berhubungan dengan angka mortalitas yang tinggi pada tahun selanjutnya. demensia pugilistika (punch-drunk syndrome)) Hidrosefalus tekanan normal Diagnosis . orientasi. 50 – 60% menderita demensia tipe Alzheimer yang merupakan ripe demensia yang paling sering.Onset delirium biasanya mendadak. 1. Epidemiologi Demensia sebenarnya adalah penyakit penuaan. 3. walaupun beberapa gejala mungkin memerlukan waktu 2 minggu untuk menghilang secara lengkap. Kepribadian pasien juga terpengaruh. walaupun delirium biasanya berlangsung kurang dari I minggu setelah menghilangnya faktor penyebab. Hipertensi merupakan faktor predisposisi terhadap penyakit demensia vaskular.

Suatu diagnosis terpisah gangguan suasana perasaan karena kondisi medis umum tidak diberikan. Dengan onset dini : jika onset pada usia 65 tahun atau kurang 2. skizofrenia) Kode didasarkan pada tipe onset dan ciri yang menonjol : 1. Dengan delirium : jika delirium menumpang pada demensia 3. Satu (atau lebih) gangguan kogntif berikut : a. Gangguan dalam fungsi eksekutif (yaitu. Terdapat bukti dari riwayat penyakit. c. Perkembangan defisit kognitif multipel yang dimanifestasikan oleh baik 1. mengurutkan. Apraksia (gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas motorik walaupun fungsi motorik adalah utuh) c. Defisit kognitif dalam kriteria al dan a2 masing-masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya. 2. Dengan waham : jika waham merupakan ciri yang menonjol 1. atau temuan laboratorium bahwa defisit secara etiologis berhubungan dengan efek menetap dari pemakaian zat (misalnya suatu obat yang disalahgunakan).Kriteria Diagnostik untuk Demensia Tipe Alzheimer : a. Gangguan daya ingat (gangguan kemampuan untuk mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya). pemeriksaan fisik. Dengan suasana perasaan terdepresi : jika suasana perasaan terdepresi (termasuk gambaran yang memenuhi kriteria gejala lengkap untuk episode depresif berat) adalah ciri yang menonjol. Agnosia (kegagalan untuk mengenali atau mengidentitikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh) d. d. Afasia (gangguan bahasa) b. dan abstrak) b. Kondisi akibat zat Defisit tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan Aksis I lainnya (misalnya. mengorganisasi. . merencanakan. gangguan depresif berat. Defisit tidak terjadi semata-mata hanya selama perjalanan suatu delirium dan menetap melebihi lama yang lazim dari intoksikasi atau putus zat.

kelainan gaya berjalan. Gangguan dalam fungsi eksekutif (yaitu. Gangguan daya ingat (ganguan kemampuan untuk mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya) 1. Dengan suasana perasaan terdepresi : jika suasana perasaan terdepresi (termasuk gambaran yang memenuhi kriteria gejala lengkap untuk episode depresif berat) adalah ciri yang menonjol. Tanda dan gejala neurologis fokal (misalnya. mengurutkan. palsi pseudo bulbar. Kriteria Diagnostik untuk Demensia Vaskular : a. Afasia (gangguan bahasa) 2. respon ekstensor plantar. Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing-masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dan tingkat fungsi sebelumnya. Satu (atau lebih) gangguan kognitif berikut : b.2. Perkembangan defisit kognitif multipel yang dimanifestasikan oleh baik. d. Agnosia (kegagalan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh) 4. Dengan waham jika waham merupakan ciri yang menonjol 3. 4. dan abstrak) 1. 1. Suatu diagnosis terpisah gangguan suasana perasaan karena kondisi medis umum tidak diberikan. merencanakan. kelemahan pada satu ekstremitas) atau tanda-tanda laboratorium adalah indikatif untuk penyakit serebrovaskular (misalnya. infark multipel yang mengenai korteks dan substansia putih di bawahnya) yang berhubungan secara etiologi dengan gangguan. Tanpa penyulit : jika tidak ada satupun diatas yang menonjol pada gambaran klinis sekarang Sebutkan jika : Dengan gangguan perilaku. . Dengan delirium :jika delirium menumpang pada demensia 2. Defisit tidak terjadi semata-mata selama perjalanan delirium Kode didasarkan pada ciri yang menonjol 1. mengorganisasi. Catatan penulisan juga tuliskan penyakit Alzheimer pada aksis III. peninggian refleks tendon dalam. Apraksia (gangguan untuk mengenali atau melakukan aktivitas motorik ataupun fungsi motorik adalah utuh) 3. Tanpa penyulit : jika tidak ada satupun di alas yang menonjol pada gambaran klinis sekarang. c.

glukosa. Tes neuropsikologis Gambaran Klinis . Kortikosteroid urine 11. B12 9. Ca . Mg. anti DSDNA 13. Pungsi lumbal d. 4. 7. Tes fungsi tiroid 7. SMA -12 atau kimia serum yang ekuivalen 4. C3C4. 5. 2. 3. Pemeriksaan neurologis a. ginjal 3. Sinar-X dada 8. Elektrokardiogram (EKG) 9. Urinalisa 5. Pemeriksaan fisiologis 1. Pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan neorologis lengkap Tanda vital Mini – mental state exemenation ( MMSE ) Pemeriksaan medikasi dan kadar obat Skrining darah dan urin untuk alkohol 1. Pemeriksaan lengkap : 1. Gas darah Arterial 14. CT atau MRI kepala b. EEG 10. 2. Hit sel darah lengkap dan sel deferensial 6. FTA – ABS 8. Skrining H I V 15. Kadar folat 10.Sebutkan jika : Dengan gangguan perilaku Catalan penulisan : juga tuliskan kondisi serebrovaskular pada Aksis III. Porpobilinogen Urin. SPECT c. Elektrolit. Antibodi antinuklear. Laju endap eritrosit 12. Tes fungsi hati.

emosi yang ekstrim tanpa provokasi yang terlihat. tetapi. Neurologis Disamping afasia. terutama demensia tipe Alzheimer dan demensia vaskular. Sebagai contohnya. dan 30 – 40% memiliki waham. Pasien demensia mempunyai waham paranoid. pasien dengan Demensia mungkin lupa bagaimana kembali ke ruangannya setelah pergi ke kamar mandi. Tanda neurologis lain adalah kejang pada demensia tipe Alzheimer clan demensia vaskular. Gangguan Lain Psikiatrik Pasien demensia juga menunjukkan tertawa atau menangis yang patologis yaitu. Psikosis Diperkirakan 20 -30% pasien demensia tipe Alzheimer. gangguan daya ingat adalah ringan dan paling jelas untuk peristiwa yang baru terjadi Orientasi Karena daya ingat adalah penting untuk orientasi terhadap orang. Kesulitan berbahasa ditandai oleh cara berkata yang samar-samar. Pada awal perjalanan demensia. dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa pasien. mudah marah dan m eledak – ledak.Gangguan Daya Ingat Gangguan ingatan biasanya merupakan ciri yang awal don menonjol pada demensia. atau berputar-putar. Gangguan Bahasa Proses demensia yang mengenai korteks. Gangguan frontal dan temporal kemungkinan mengalami perubahan keperibadian yang jelas. stereotipik tidak tepat. tidak masalah bagaimana beratnya disorientasi. orientasi dapat terganggu secara progresif selama perialanan penyaki Demensia. khususnya pada demensia yang mengenai korteks. . waktu dan tempat. Perubahan Kepribadian Perubahan kepribadian merupakan gambaran yang paling mengganggu bagi keluarga pasien yang terkena. pasien tidak menunjukkan gangguan pada tingkat kesadaran. seperti demensia tipe Alzheimer. apraksia dan afmosia pada pasien demensia adalah sering. memiliki halusinasi. terutama dengan sifat paranoid atau persekutorik dan tidak sistematik.

Serangan iskemik transien 2. tanda neurologis fokal. Reaksi yang katastropik Ditandai oleh agitasi sekunder karena kesadaran subjektif tentang defisit intelektualnya di bawah keadaan yang menegangkan. konfusi. Pengobatan farmakologis dengan obat yang mempunyai aktivitas antikolinergik yang tinggi harus dihindari. Walaupun thioridazine (Mellaril). dan disfagia lebih sering pada demensia vaskular. Keadaan ini terjadi pada pasien lanjut usia yang mengalami sedasi berat dan pada pasien demensia yang bereaksi secara menyimpang bahkan terhadap dosis kecil obat psikoaktif. pasien biasanya berusaha untuk mengkompensasi defek tersebut dengan menggunakan strategi untuk menghindari terlihatnya kegagalan dalam daya intelektual. pusing. Zolpidem (Ambient) dapat digunakan untuk tujuan sedatif. disartria. Benzodiazepim kerja singkat dalam dosis kecil adalah medikasi anxiolitik dan sedatif yang lebih disukai untuk pasien demensia. dan terjatuh secara tidak disengaja. Skizofrenia Pengobatan Pendekatan pengobatan umum adalah untuk memberikan perawatan medis suportit. bantuan emosional untuk pasien dan keluarganya. seperti mengubah subjek. obat ini merupakan inhibitor aktivitas antikolinesterase dengan lama kerja yang agak panjang. Sindroma Sundowner Ditandai oleh mengantuk. Diagnosis Banding 1. yang mempunyai aktivitas antikolinergik yang tinggi. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Perjalanan klasik dan demensia adalah onset pada pasien usia 50 – 60 tahun dengan pemburukan bertahap selama 5 – 10 tahun. merupakan obat yang efektif dalam mengontrol perilaku pasien demensia jika diberikan dalam dosis kecil. ataksia. Delirium 1. usia saat onset dan kecepatan pemburukannya adalah bervariasi diantara tipe demensia yang berbeda dan dalam . Palsi serebrobulbar. dan pengobatan farmakologis untuk gejala spesifik (perilaku yang mengganggu). atau mengalihkan pewawancara dengan cara lain. Gangguan Buatan (Factitious Disorders) 2. pingsan. dan gangguan tidur. kelemahan. membuat lelucon. Depresi 3. TetrahidroaminoKridin (Tacrine) sebagai suatu pengobatan untuk penyakit Alzheimer. Penuaan normal 1. yang akhirnya menyebabkan kematian.Pasien demensia vaskular mempunyai gejala neurologis tambahan seperti nyeri kepala.

atau jika mempunyai gangguan perhatian (attention) atau kesadaran. Defisiensi tiamin (Sindroma Korsakoff) b. seperti yang terlihat pada delirium. Kondisi medis sistemik a. 2. Diagnosis gangguan amnestik tidak dapat dibuat jika mempunyai tanda lain dari gangguan kognitif. GANGGUAN AMNESTIK Gangguan amnestik ditandai terutama oleh gejala tunggal suatu gangguan daya ingat yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan. Amnesia global transien 8. Kejang Trauma kepala (tertutup dan tembus) Tumor serebrovaskular (terutama thalamik dan lobus temporalis) Prosedur bedah pada otak Ensefalitis karena herpes simpleks Hipoksia (terutama usaha pencekikan yang tidak mematikan dan keracunan karbonmonoksida) 7. Terapi elektrokonvulsif 9. Amnesia paling sering ditemukan pada gangguan penggunaan alkohol dan cedera kepala. Hipoglikemia 2. .hipnotik lain) d. Penyebab berhubungan dengan zat a. Benzodiazepin (dan sedatif. 3. 5. Neurotoksin c. Epidemiologi Beberapa penelitian melaporkan insiden atau prevalensi gangguan ingatan pada gangguan spesifik (sebagai contohnya sklerosis multipel). Gangguan pengguanan alkohol b. Banyak preparat yang dijual bebas.kategori diagnostik individual. Sklerosis multipel 3. seperti yang terlihat pada demensia. Penyebab 1. 6. 4. Kondisi otak primer 1.

Demensia dan Delirium 2. Ingatan tentang waktu saat gangguan fisik mungkin juga hilang. 3. Ganguan daya ingat menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan merupakan penurunan bermakna dan tingkat fungsi sebelumnya. 1 Gambaran Klinis Pusat gejala dan gangguan amnestik adalah perkembangan gangguan daya ingat yang ditandai oleh gangguan pada kemampuan untuk mempelajari informasi baru (amnesia anterograd) dan ketidakmampuan untuk mengingat pengetahuan yang sebelumnya diingat (amnesia retrograd). 1. atau temuan laboratorium bahwa gangguan adalah akibat fisiologis langsung dari kondisi medis umum (termasuk trauma fisik) Sebutkan jika : Transien : Kronis : jika gangguan daya ingat berlangsung selama 1 bulan atau kurang jika gangguan daya ingat berlangsung lebih dari 1 bulan. gangguan amnestik karena trauma kepala. juga tuliskan kondisi pada Aksis III. Diagnosis Banding 1. Gangguan daya ingat tidak terjadi semata-mata selama perjalanan suatu delirium atau suatu demensia. Daya ingat jangka jauh (remote post memory) untuk informasi atau yang dipelajari secara mendalam (overlearned) seperti pengalaman maka anak-anak adalah baik. 4. Terdapat bukti dari riwayat penyakit. Perkembangan gangguan daya ingat seperti yang dimanifestasikan oleh gangguan kemampuan untuk mempelajari informasi baru atau ketidak mampuan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya. Gangguan buatan . Penuaan normal 3. Catatan penulisan: Masukkan juga nama kondisi medis umum pada Aksis I. tetapi daya ingat untuk peristiwa yang kurang lama ( Iewat dart 10 tahun) adalah terganggu. Gangguan disosiatif 4. Periode waktu dimana pasien terjadi amnesia kemungkinan dimulai langsung pada saat trauma atau beberapa saat sebelum trauma. Daya ingat jangka pendek (short-term memory) dan daya ingat baru saja (recent memory) biasanya terganggu.Diagnosis Kriteria Diagnosis untuk Gangguan Amnestik Karena Kondisi Medis Umum. misalnya. pemeriksaan fisik. 2.

Gambaran klinis adalah delirium yang menghilang secara bertahap. Kejang parsial melibatkan aktivitas epileptiformis di daerah otak setempat. keadaan pascaiktal yang ditandai oleh pemulihan kesadaran dan kognisi yang lambat dan bertahap kadang-kadang memberikan suatu dilema diagnostik bagi dokter psiktatrik di ruang gawat darurat. Klasifikasi Dua kategori utama kejang adalah parsial dan umum (generalized). ABSENCES (Petit Mal) Suatu tipe kejang umum yang sulit didiagnosis bagi dokter psikiatrik adalah absence atau kejang petitmal. dan inkotinensia. karena manifestasi motorik atau sensorik karakteristik dari epilepsi tidak ada atau sangat ringan sehingga tidak membangkitkan kecurigaan dokter. Epilepsi petit mal biasanya mulai pada masa anak-anak . suatu jenis psikoterapi (sebagai contohnya. kejang umum melibatkan keseluruhan otak. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Onset mungkin tiba-tiba atau bertahap. psikodinamika. Kejang umum Kejang tonik klonik umum mempunyai gejala klasik hilangnya kesadaran.Pengobatan Pendekatan utama adalah mengobati penyebab dasar dari gangguan amnestik Setelah resolusi episode amnestik. Suatu sistem klasifikasi untuk kejang. gejala dapat sementara atau menetap dan hasil akhir dapat terentang dari tanpa perbaikan sampai pemulihan lengkap. atau suportif dapat membantu pasien menerima pangalaman amnestik kedalam kehidupannya. gerakan tonik klonik umum pada tungkai. Periode pemulihan dan kejang tonik klonik umum terentang dari beberapa menit sampai berjam-jam. Sifat epileptik dari episode mungkin berjalan tanpa diketahui.1 GANCGUAN MENTAL ORGANIK LAIN EPILEPSI Definisi Suatu kejang (seizure) adalah suatu gangguan patologis paroksismal sementara dalam gangguan patologis paroksismal sementara dalam fungsi cerebral yang disebabkan oleh pelepasan neuron yang spontan dan luas Pasien dikatakan menderita epilepsi jika mereka mempunyai keadaan kronis yang ditandai dengan kejang yang rekuren. menggigit lidah. Walaupun diagnosis peristiwa kilat dari kejang adalah relatif langsung. kognitif. Masalah psikiatrik yang paling sering berhubungan dengan kejang umum adalah membantu pasien menyesuaikan gangguan neurologis kronis dan menilai efek kognitif atau perilaku dan obat antiepileptik.

adalah karakteristik untuk epilepsi petit mal.Penggunaan perekaman EEG jangka panjang (24 sampai 72 jam) dapat membantu klinisi mendeteksi suatu fokus kejang pada beberapa pasien. mengecapkan bibir. dan yang jelas menambahkan ketidaknyamanan prosedur bagi pasien. epilepsi petitmal dengan onset dewasa dapat ditandai oleh episode psikotik atau delirium yang tiba-tiba dan rekuren yang tampak dan menghilane secara tiba-tiba Gejala dapat disertai dengan riwayat terjatuh atau pingsan. pikiran dipaksakan. depresi. dan mengayah) Gejala Iktal Perilaku yang tidak terinhibisi. Kehilangan kesadaran singkat. keadaan afektif (sebagai contohnya. panik. tetapi. dan elasi) dan secara klasik. kejang psikomotor. rasa takut. Penggunaan elektroda sfenoid atau temporalis anterior dan EEG pada saat tidak tidur dapat meningkatkan kemungkinan ditemukannya kelainan EEG. Epilepsi parsial kompleks adalah bentuk epilepsi pada orang dewasa yang paling senngcang mengenai 3 dan 1. jarang sesorang menunjukkan perilaku kekerasan yang terarah dan tersusun selama episode epileptik Gejala kognitif adalah termasuk amnesia untuk waktu selama kejang dan suatu periode delirium yang menghilang setelah kejang. kompleks. dengan demikian EEG normal tidak dapat digunakan untuk mneyingkirkan diagnosis epilepsi parsial. pasien tidak mengalami kehilangan kesadaran atau gerakan kejang yang sesungguhnya selama episode. suatu fokus kejang dapat ditemukan pada pemeriksaan EEG pada 25 sampai 50 % dari semua pasien. sensasi kognitif(sebagai contohnya. jamais vu. menggosok. terdisorganisasi. Kejang parsial liziane parsial diklasitikasikan sebagai sederhana (tanpa perubahan kesadaran) atau kompleks (dengan perubahan kesadaran) Sedikit lebih banyak dari setengah semua pasien dengan kelane parsial mengalami kejang parsial kompleks. EEG normal multipel seringkali ditemukan dart seorang pasien dengan epilepsi parsial kompleks. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lead nasofaring tidak menambah banyak kepekaan pada EEG.antara usia 5 dan 7 tahun dan menghilang pada pubertas. Elektroensefalogerafi ( EEG) menghasilkan pola karakteristik aktivitas paku dan gelombang (spike and wave) tiga kali perdetik Pada keadaan yang jarang. Gejala praiktal Peristiwa praiktal (aura) pada epilepsi parsial kompleks adalah termasuk sensasi otonomik (sebagai contohnya rasa penuh di perut. istilah lain yang digunakan untuk kejang parsial kompleks adalah epilepsi lobus temporalis. dan keadaan seperti mimpi). Gejala Interiktal Gangguan kepribadian Kelainan psikiatrik yang paling sering dilaporkan pada pasien epileptik adalah gangguan kepribadian. dan perubahan pada pernafasan). dan epilepsi limbik tetapi istilah tersebut bukan merupakan penjelasan situasi klinis yang akurat. Pada pasien dengan epilepsi parsial kompleks. dan singkat menandai serangan iktal. deja vu. Walaupun beberapa pengacara pembela mungkin mengklaim yang sebaliknya. automatisme (sebagai contohnya. kemerahan.000 orang. selama mana pasien tiba-tiba kehilangan kontak dengan hngkungan. dan biasanya kemungkinan terjadi pada pasien dengan epilepsi .

dengan asal lobus temporalis. Religiositas mungkin jelas dan dapat dimanifestasikan bukan hanya dengan meningkatny peran serta pada aktivitas yang sangat religius tetapi juga oleh permasalahan moral dan etik yang tidak umum. hipergrafia yang dianggap oleh beberapa klinisi sebagai patognomonik untuk epilepsi parsial komplaks. penyimpangan dalam minat seksual. Perubahan pada perilaku seksual dapat dimanifestasikan sebagai hiperseksualitas. yang kemungkinan adalah lambat serius. Episode interpsikotik yang mirip skizofrenia dapat terjadi pada pasien dengan epilepsi. Gejala viskositas kepribadian biasanya paling dapat diperhatikan pada percakapan pasien. dan onset gejala psikotik di dahului oleh perkembangan perubahan kepribadian yang berhubungan dengan aktivitas otak epileptik gejala psikosis yang paling karakteristik adalah halusinasi dan waham paranoid. dan pengalaman emosi yang melambung. bahkan pada mereka dengan kejang parsial kompleks dengan asal lobus temporalis. dan meningkatnya minat pada perlahamasalahan global dan filosofi Ciri hiperreligius kadang-kadang dapat tampak seperti gejala prodromal skizofrenia dan dapat menyebabkan mnasalah diagnositik pada seorang remaja atau dewasa muda. suatu kualitas yang biasanya disebut viskositas kepribadian. gejala psikotik tarnpak pada pasien yang telah menderita epilepsi untuk jangka waktu yang lama. Gejala psikotik Keadaan psikotik interiktal adalah lebih sering dari psikosis iktal. Pendengar mungkin menjadi bosan tetapi tidak mampu menemukan cara yang sopan dan berhasil untuk melepaskan diri dari percakapan. Sindroma dalam bentuk komplitnya relatif jarang. Banyak pasien tidak mengalami perubahan kepribadian. yang lainnya mengalami berbagai gangguan yang jelas berbeda dari sindroma klasik. dan yang paling sering. religiositas. suka menonjolkan keilmuan. Biasanya. Kecenderungan pembicaraan seringkali dicerminkan dalam tulisan pasien. seperti fetihisme dan transfetihisme. yang menyebabkan suatu gejala yang dikenal sebagai. penuh dengan rincian-rincian yang tidak penting. perubahan dalam minat seksual mungkin mengganggu dan mengkhawatirkan. dan seringkali berputar-putar. khususnya yang berasal dan lobus temporalis Diperkirakan 10 sampal 30 persen dari semua pasien dengan apilepsi partial kompleks mempunyai gejala psikotik Faktor risiko untuk gejala tersebut adalah jenis kelamin wanita kidal onset kejang selama pubertas. keasyikan dengan benar dan salah. Untuk pasien dengan onset epilepsi parsial kompleks setelah pubertas. berbeda dengan kelainan yang sering . hiposeksualitas Hiposeksualitas ditandai oleh hilangnya minat dalam masalah seksual dan dengan menolak rangsangan seksual Beberapa pasien dengan onset epilepsi parsial kompleks sebelum pubertas mungkin tidak dapat mencapai tingkat minat seksual yang normal setelah pubertas. dan lesi di sisi kiri. Biasanya. walaupun karakteristik tersebut mungkin tidak mengganggu pasien. berat dan lamban. Ciri yang paling sering adalah perubahan perilaku seksual. pasien tetap hangat dan sesuai pada afeknya. Onset gelala psikotik pada epilepsi adalah bervariasi.

klinisi harus mendapatkan satu atau lebih pemeriksaan EEG. Gejala gangguan perasaan. kekerasan. onset delirium yang tiba-tiba tanpa penyebab yang diketahui. Apakah kekerasan merupakan manifestasi dan kejang itu sendiri atau merupakan psikopatologi interiktal adalah tidak pasti. Sampai sekarang ini. Diagnosis banding lain yang dipertimbangkan adalah kejang semu (psudoseizure). dimana pasien mempunyai suatu kontrol kesadaran atas gejala kejang yang mirip. Pada pasien yang sebelumnya belum pernah mendapatkan diagnosis epilepsi. onset psikosis yang tiba-tiba pada seseorang yang sebelumnya dianggap sehat secara psikologis. timbulnya gejala epileptiknya. timbulnya gejala psikiatrik yang baru harus dianggap sebagai kemungkinan mewakili suatu evolusi. dokter psikiatrik harus menjaga tingkat kecurigaan yang tinggi selama memeriksa seorang pasien baru dan harus mempertimbangkan kemungkman gangguan epileptik.ditemukan pada pasien skizofrenik Gejala gangguan pikiran pada pasien epilepsi psikotik paling sering merupakan gejala yang melibatkan konseptualisasi dan sirkumstansialitas. Pengobatan . ketimbang gejala skizofrenik klasik berupa penghambatan (blocking) dan kekenduran (looseness). Hanya pada kasus yang jarang suatu kekerasan pasien epileptik dapat disebabkan oleh kejang itu sendiri. riwayat episode yang serupa dengan onset yang mendadak dan pemulihan spontan. Pada keadaan tersebut klinisi harus menilai kepatuhan pasien terhadap regimen obat antiepileptik dan harus mempertimbangkan apakah gejala psikotik merupakan efek toksik dari obat antipileptik itu sendiri. empat karakteristik hams menyebabkan klinisi mencurigai kemungkinan tersebut. atau gejala kecemasan (sebagai contohnya. terlihat lebih jarang pada epilepsi dibandingkan gejala mirip skizofrenia. gejala gangguan mood. dan riwayat terjatuh atau pingsan sebelumnya yang tidak dapat dijelaskan. timbulnya gejala psikotik. Jika gejala psikotik tampak pada seorang pasien yang pernah mempunyai epilepsi yang telah didiagnosis atau dipertimbangkan sebagai diagnosis di masa lalu. Gejala gangguan mood yang terjadi cenderung bersifat episodik dan terjadi paling sering jika fokus epileptik mengenai lobus temporalis dan hemisfer serebral non dominan. sebagian besar data menunjukkan sangat jarangnya kekerasan sebagai suatu fenomena iktal. seperti depresi dan mania. Diagnosis Diagnosis epilepsi yang tepat dapat sulit khususnya jika gejala iktal dan interiktal dari epilepsi merupakan manifestasi berat dari gejala psikiatrik tanpa adanya perubahan yang bemakna pada kesadaran dan kemampuan kognitif Dengan demikian. kekerasan episodik merupakan masalah pada beberapa pasien dengan epilepsi khususnya epilepsi lobus temporalis dan frontalis. bahkan jika tidak ada tanda dan gejala klasik. Kepentingan gejala gangguan perasaan pada epilepsi mungkin diperlihatkan oleh meningkatnya insidensi usaha bunuh diri pada orang dengan epilepsi. Gejala Gangguan perasaan. perubahan kepribadian. Pada pasien yang sebelumnya mendapatkan suatu diagnosis epilepsi. serangan panik) harus menyebabkan klinisi menilai pengendalian epilepsi pasien dan memeriksa pasien untuk kemungkinan adanya gangguan mental yang tersendiri.

1 . klinisi haru. dan terapi kelompok mungkin berguna dalam menjawab masalah psikososial yang berhubungan dengan epilepsi.karbamazepin ( tegretol) dan Asam valproik (Depakene) mungkin membantu dalam mengendalikan gejala iritabilitas dan meledaknya agresi. konseling keluarga. Disamping itu. karena mereka adalah obat antipsikotik tipikal Psikoterapi. menyadari bahwa banyak obat antiepileptik mempunyai suatu gangguan kognitif derajat ringan sampai sedang dan penyesuaian dosis atau penggantian medikasi harus dipertimbangkan jika gejala gangguan kognitif merupakan suatu masalah pada pasien tertentu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful