BAB I PENDAHULUAN

1. 1.

Latar Belakang Air yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup sehat harus memenuhi

syarat kualitas. Disamping itu harus pula dapat memenuhi secara kuantitas (jumlahnya). Sumber air yang digunakan sehari-hari haruslah memenuhi syaratsyarat kesehatan serta syarat kualitas kuantitas. Air di bumi selalu mengalami siklus hidrologi sehingga dikenal 4 (empat) sumber air di bumi yaitu air laut; air tanah; air atmosfir, air meteorologik; air permukaan. Air permukaan terbagi 2 macam, yakni air sungai dan air rawa/danau Sungai dapat berfungsi sebagai sumber mata pencaharian, sumber air untuk kegiatan pertanian dan budidaya perikanan serta menunjang berbagai jenis kegiatan industri. Salah satu sungai yang memiliki peran dalam menunjang beragam aktivitas tersebut adalah Sungai Riam Kanan. Sungai Riam Kanan merupakan salah satu dari sungai di Kalimantan Selatan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk melakukan aktivitas seharihari. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2011 tercatat jumlah penduduk yang tinggal di sekitar kawasan Sungai Riam Kanan berjumlah 38.925 jiwa yang terbagi dalam 2 kecamatan : 30.679 penduduk di Kecamatan Karang Intan dan 8.246 penduduk di Kecamatan Aranio. Selain aktivitas rumah tangga, di Sungai Riam Kanan juga terdapat aktivitas budidaya ikan dengan sistem keramba dan jaring apung yang merupakan sumber mata pencaharian masyarakat yang hidup disekitar kawasan sungai ini. Jumlah keramba dan jaring apung yang terdapat di sepanjang DAS Riam Kanan Berdasarkan Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Banjar pada tahun 2011 adalah 3105 unit yang terbagi dalam 2 kecamatan : 951 unit terdapat Kecamatan Aranio dan Kecamatan Karang Intan dengan jumlah 2.154 unit. Dari gambaran aktivitas yang telah dipaparkan diatas, aktivitas-aktivitas tersebut memiliki potensi dalam menyumbang masuknya bahan organik ke badan air. Oleh karena itu sungai ini memiliki potensi tercemar bahan pencemar organik. Diantara bahan pencemar organik yang ada, BOD dan

1

COD memiliki potensi keberadaan yang tinggi di kawasan ini. Uji pendahuluan yang telah dilakukan diketahui bahwa kadar BOD sebesar 5,14 mg/l yang artinya nilai BOD tersebut melebihi baku mutu air kelas 1 yang mensyaratkan kandungan BOD maksimal 2 mg/l. Sedangkan kadar COD yang dilihat dari data sekunder dari BLHD tahun 2009 dan 2010 cenderung berubah-ubah, tidak selalu dalam kadar yang tinggi. BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan hampir semua bahan organik yang terlarut dan sebagai zat-zat organis yang tersuspensi dalam air. COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi di dalam air, baik yang dapat didegradasi secara maupun yang sukar di degradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O guna menguraikan unsur pencemar yang ada. Masuknya zat organik kedalam badan sungai dapat disebabkan oleh aktivitas manusia yang menbuang air buangan dalam air sungai. Selain itu, adanya keramba dan jaring apung juga ikut menyumbangkan bahan organik ke badan air karena adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari pakan ikan yang tidak habis termakan terakumulasi di perairan dan kotoran ikan dari hasil metabolisme pakan yang terbuang ke dalam perairan. BOD dan COD digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran dalam suatu perairan. Bila nilai BOD dan COD suatu perairan tinggi menunjukkan bahwa perairan tersebut sudah tercemar. Pencemaran yang pada badan air dapat ditanggulangi dengan cara pemanfaatan tanaman air untuk mengikat bahan pencemar yang disebut dengan fitoremidiasi. Fitoremidiasi yaitu penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan , menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik senyawa organik maupun senyawa anorganik. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan dalam fitoremidiasi adalah eceng gondok (Eichornia crassipes). Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Oleh karena itu, eceng gondok banyak dibersihkan di sungai oleh penduduk karena dianggap gulma.

2

Berdasarkan studi literatur, eceng gondok memiliki kemampuan untuk menurunkan BOD, COD, TSS, Pb dan Cd dalam air lindi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas penutupan Eceng gondok 75% optimal dalam menurunkan kadar BOD, TSS dan Pb yaitu berturut-turut sebesar 53,812%; 62,843% dan 34,919% dan luas penutupan Eceng gondok 100% optimal menurunkan COD dan Cd masing-masing sebesar 29,215% dan 29,279%. Waktu tinggal 6 hari optimal dalam menurunkan kadar BOD, COD, TSS, Pb, dan Cd berturut-turut sebesar 49,441%; 29,939%; 47,215%; 19,252% dan 27,211%. Kombinasi luas penutupan Eceng gondok 75% dengan lama waktu tinggal 6 hari optimal dalam menurunkan BOD, TSS, Pb dan Cd berturut-turut sebesar 59,193%; 65,142%; 24,981% dan 39,770% sedangkan kombinasi luas penutupan Eceng gondok 100% dengan waktu tinggal 5 hari optimal dalam menurunkan kadar COD yaitu sebesar 30,658%. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pemanfaatan tanaman eceng gondok untuk menurunkan BOD dan COD dengan menggunakan reaktor kontinyu yang dilihat dari persentase tutupan tanaman dan lama waktu tinggalnya dengan skala laboratorium. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat berapa banyak jumlah kadar BOD dan COD yang tersisa di air sampel setelah dilakukan fitoremidiasi oleh eceng gondok tanpa membuat oksigen terlarut (DO) menjadi turun. Kadar BOD dan COD diduga tinggi di Sungai Riam Kanan karena aktivitas penduduk dan kegiatan keramba serta jaring apung. Hal ini dikarenakan ada sekitar lebih dari 38.000 penduduk sekitar Sungai Riam Kanan yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas penangkapan dan budidaya yang ada di sekitar sungai Riam Kanan selain aktivitas lainnya seperti industri rumah tangga dan pertambangan. Jika memang benar terdapat banyaknya kandungan nitrat dan fosfat maka akan menimbulkan pencemaran air sedangkan di Sungai Riam Kanan dipergunakan pula untuk intake PDAM untuk kebutuhan air seharihari 520.721 penduduk.

3

25 %. 75% dan 100%. Kab Banjar dengan teknik pengambilan sampel berdasarkan SNI 6989. 1. d) Sumber air berasal dari air sungai Riam Kanan di Kecamatan Karang Intan.2008.4. 3 hari dan 5 hari) dan tutupan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) sebesar 0%. c) Penelitian ini hanya pada skala laboratorium bukan skala lapangan.1.57. BATASAN PENELITIAN a) Penelitian ini hanya terbatas untuk mengetahui penurunan BOD dan COD pada air sampel sungai setelah melalui proses fitoremidiasi tanpa mengurangi kadar oksigen terlarut (DO). 2. RUANG LINGKUP PENELITIAN a) Tanaman yang digunakan adalah tanaman Eceng Gondok (Eichornia crassipes). b) Eceng Gondok (Eichornia crassipes) yang digunakan akan dianggap homogen dari segi tinggi tanaman. 50%. PERUMUSAN MASALAH Dari latar belakang masalah tersebut. Perumusan masalah yang didapatkan adalah sebagai berikut : a) Berapakah lama waktu tinggal Eceng Gondok (Eichornia crassipes) yang dibutuhkan untuk penurunan kadar BOD dan COD secara maksimal? b) Bagaimana pengaturan persentase tutupan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) untuk penurunan kadar BOD dan COD tanpa mengurangi kadar oksigen terlarut (DO) ? 1. 4 . dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini. c) Variabel yang digunakan adalah waktu detensi (1 hari. b) Penelitian hanya memperhatikan 2 parameter utama yaitu BOD dan COD serta parameter pendukung yaitu DO.3.

b) Menentukan persentase tutupan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) untuk penurunan BOD dan COD tanpa menurunkan kadar oksigen terlarut (DO). 1. 5 .5.1. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan menjadi alternatif untuk menanggulangi pencemaran bahan organik di sungai dengan memanfaatkan Eceng gondok (Eichornia crassipes) yang banyak terdapat disungai sehingga Eceng gondok (Eichornia crassipes) yang dikenal sebagai gulma dapat memberikan manfaat dalam menanggulangi pencemaran bahan organik di lingkungan perairan. 3. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah : a) Menentukan lama waktu tinggal yang dibutuhkan oleh Eceng Gondok (Eichornia crassipes) untuk penurunan kadar BOD dan COD secara maksimal.

tanaman keluarga Pontederiaceae ini justru mendatangkan 6 . Brasil.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Dalam perkembangannya.1 Eceng Gondok (sumber: satudunia. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius. 2010). Awalnya didatangkan ke Indonesia pada tahun 1894 dari Brasil untuk koleksi Kebun Raya Bogor. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan (Triyanto. seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon.1 Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Klasifikasi Eceng Gondok Divisi Sub Divisi Kelas Suku Marga Jenis : Spermatophhyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Pontederiaceae : Eichhornia : Eichhornia crassies Solms Gambar 2. Ternyata dengan cepat menyebar ke beberapa perairan di Pulau Jawa. 1 2. Orang lebih banyak mengenal tanaman ini tumbuhan pengganggu (gulma) diperairan karena pertumbuhannya sangat cepat.net).

Setiap 10 tanaman eceng gondok mampu berkembangbiak menjadi 600. perkembangan secara vegetatif terjadi bila tunas baru tumbuh dari ketiak daun. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. hal inilah membuat eceng gondok banyak dimanfaatkan guna untuk pengolahan air limbah. lalu membesar dan akhirnya menjadi tumbuhan baru.000 tanaman baru dalam waktu 8 bulan. tangkai daun menggelembung. Akarnya merupakan akar serabut. Tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan yang ekstrim dari ketinggian air. tanah basah dan rawa. Perkembangbiakan eceng gondok terjadi secara vegetatif maupun secara generatif. yaitu sebagai biofilter cemaran logam berat.manfaat lain. tempat penampungan air dan sungai. Tidak mempunyai batang.4 – 0. Faktor lingkungan yang menjadi syarat untuk pertumbuhan eceng gondok adalah sebagai berikut : 7 . Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di Afrika Barat. aliran air yang lambat. Nama latin dari eceng gondok adalah Eichornia crassipes. Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam lumpur. Ujung dan pangkalnya meruncing. 2008). fosfat dan potasium. dimana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan akan berkurang saat kandungan garamnya naik pada musim kemarau (Nisma dan Arman. terutama yang kayak dengan nutrien. Tingginya sekitar 0. kelopaknya berbentuk tabung. sebagai bahan kerajinan dan campuran pakan ternak (Mukti. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. temperatur dan racun-racun dalam air. Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air mengandung nutrien yang tinggi. Bunganya termasuk bunga majemuk berbentuk bulir. Pangkal. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau.80 cm dengan daun yang licin dan panjangnya 7 .25 cm.8 meter. laju air dan perubahan ketersediaan nutrien. danau. Eceng gondok dapat mencapai ketinggian antara 40 . 2008). pH. Daunnya tunggal dan membentuk oval.

Eceng gondok dapat hidup ditanah yang selalu tertutup oleh air yang banyak mengandung makanan. Ketersediaan Nutrien Derajat keasaman (pH) air Pada umumnya jenis tanaman gulma air tahan terhadap kandungan unsur hara yang tinggi. 1974 dalam Triyanto 2010). Eceng gondok dapat hidup di lahan yang mempunyai derajat keasaman (pH) air 3. pH air optimum berkisar antara 4. Jika pada perairan kelebihan nutrien ini maka akan terjadi proses eutrofikasi.5 – 7. o o dengan suhu optimum antara 25 C-30 C. jika pH lebih atau kurang maka pertumbuhan akan terlambat (Dhahiyat. sebagian menyerap melalui batang tetapi kehilangan air umumnya berlangsung melalui daun. Laju teraspirasi akan ditentukan oleh struktur daun eceng gondok yang terbuka lebar yang memiliki stomata yang banyak sehingga proses transpirasi akan besar 8 . hal ini dapat dipenuhi dengan baik di daerah beriklim tropis. Di samping itu untuk pertumbuhan yang lebih baik. Cahaya matahari. Agar pertumbuhan eceng gondok menjadi baik. Sedangkan unsur N dan P sering kali merupakan faktor pembatas. PH dan Suhu Pertumbuhan eceng gondok sangat memerlukan cahaya matahari yang cukup.1996 dalam Triyanto.1.5 10. 2. Kandungan N dan P kebanyakan terdapat dalam air buangan domestik. eceng gondok lebih cocok terhadap pH 7. Transpirasi Jumlah air yang digunakan dalam proses pertumbuhan hanyalah memerlukan sebagian kecil jumlah air yang diadsorbsi atau sebagian besar dari air yang masuk kedalam tumbuhan dan keluar meninggalkan daun dan batang sebagai uap air. 2. 2010).Ciri Fisiologi Eceng Gondok Eceng gondok memiliki daya adaptasi yang besar terhadap berbagai macam hal yang ada disekelilingnya dan dapat berkembang biak dengan cepat.2 Ciri. Kemampuan eceng gondok untuk melakukan proses-proses sebagai berikut : a.5.0 . Proses tersebut dinamakan proses transpirasi. Selain itu daya tahan eceng gondok juga dapat hidup ditanah asam dan tanah yang basah (Anonim.1.7. Laju hilangnya air dari tumbuhan dipengaruhi oleh kwantitas sinar matahari dan musim penanamnan.

b.1. Dalam respirasi molekul gula atau glukosa (C H O ) diubah menjadi zat-zat sedarhana yang disertai dengan 6 12 6 pelepasan energi (Tjitrosomo. mulsa. media semai. c). 1991 dalam Triyanto. a). 2. c. Salah satu untuk menanggulangi gulma ini adalah dengan memanfaatkan tumbuhan ini untuk kerajinan. 2008). udara. Energi tersebut dihasilkan melalui pembakaran senyawa-senyawa.dan beberapa faktor lingkungan seperti suhu. membran plasma dan dinding sel. Respirasi Sel tumbuhan dan hewan mempergunakan energi untuk membangun dan memelihara protoplasma. Dalam proses fotosintesis ini tanaman membutuhkan CO dan H O dan dengan 2 2 bantuan sinar matahari akan menghasilkan glukosa dan oksigen dan senyawasenyawa organik lain. 1996 dalam Mukti. 2008). 1983 dalam Mukti. Hasil beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tanaman eceng gondok dapat menyerap polutan logam berat dalam air. pakan ternak dan lain-lain.3 Manfaat dan Kerugian Eceng Gondok Menurut Nisma dan Arman (2008) menyatakan bahwa semua komponen tanaman eceng gondok dapat dimanfaatkan. kelembaban. 2010). Kondisi merugikan yang timbul sebagai dampak pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali diantaranya adalah a) Meningkatnya evapotranspirasi 9 . b). Perkembangan eceng gondok yang cepat menyebabkan tanaman ini menjadi tanaman gulma di wilayah perairan di Indonesia. Menggunakan cahaya sebagai energi dengan oksigen sebagai produk tambahan. Karbondioksida yang digunakan dalam proses ini beasal dari udara dan energi matahari (Sastroutomo. Fotosintesis Fotosintesis adalah sintesa karbohidrat dari karbondioksida dan air oleh klorofil. cahaya dan angin (Anonim. Eceng gondok juga dapat diolah menjadi bahan baku pupuk.

Setiap 10 eceng gondok mampu berkembang biak menjadi 600.b) Menurunnya Oxygens). di antaranya 1) komposisi dan kadar zat yang terkandung dalam air limbah. d) Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia e) Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan. 2010). menyebabkan eceng gondok dimanfaatkan sebagai pengendali pencemaran lingkungan. Di dalam akar. Sedangkan lokalisasi logam pada jaringan bertujuan untuk mencegah keracunan logam terhadap sel. ke bagian tumbuhan lain. dan 3) waktu tinggal eceng gondok dalam air limbah. Eceng gondok sangat peka terhadap keadaan yang yang unsur haranya di dalam air kurang mencukupi. 2. 2) kerapatan eceng gondok. Zat inilah yang kemudian mengikat logam kemudian dibawa ke dalam sel akar.1. 10 . maka tanaman akan melakukan detoksofikasi. jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved c) Mengganggu lalu lintas (transportasi) air. tetapi responnya terhadap kadar unsur hara yang tinggi juga besar (Soerjani.4 Mekanisme Penyerapan Zat Organik Oleh Eceng Gondok Eceng gondok mempunyai daya regenerasi yang cepat karena potongan- potongan vegetatifnya yang terbawa arus akan terus berkembang menjadi eceng gondok dewasa. Agar penyerapan logam meningkat. misalnya menimbun logam kedalam organ tertentu seperti akar.000 tanaman baru dalam waktu 8 bulan. maka tumbuhan ini membentuk molekul rediktase di membran akar. 1975 dalam Triyanto. khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. tanaman biasa melakukan perubahan pH kemudian membentuk suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor. Sedangkan model tranportasi di dalam tubuh tumbuhan adalah logam yang dibawa masuk ke sel akar kemudian ke jaringan pengangkut yaitu xylem dan floem. Kecepatan penyerapan zat pencemar dari dalam air limbah oleh eceng gondok dipengaruhi oleh beberapa faktor. Proses regenerasi yang cepat dan toleransinya terhadap lingkungan yang cukup besar.

939%. TSS dan Pb yaitu berturut-turut sebesar 53.279%.981% dan 39. 62. 24. Lusina Siwi (1994) dalam membandingkan kemampuan eceng gondok dalam bak untuk menurunkan BOD. Pb dan Cd oleh tumbuhan ini. COD.142%. Penelitian lainnya dilakukan L.Dengan mekanisme transportasi seperti itulah enceng gondok mampu menyerap zat-zat organik.215% dan 29. 29. COD.441%. t=40.4 dan 6 hari) kemudian dianalisa sesuai dengan parameter yang akan diukur (BOD5. 47. Pb. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada penurunan BOD5 dan O2 di air limbah tahu yang lebih besar pada bak dengan eceng gondok dibanding 11 . 19.843% dan 34. sedangkan tanaman air yang dipakai adalah eceng gondok (Eichornia crassipes).812%.211%. TSS. 65. TSS. 2 Pemanfaatan Eceng Gondok Untuk Penurunan Bahan Pencemar Studi literatur menunjukkan bahwa serangkaian penelitian telah dilakukan untuk melihat daya serap kadar BOD. Waktu tinggal 6 hari optimal dalam menurunkan kadar BOD. logam berat Pb dan Cd (S. O2 dan pH dengan bak tanpa eceng gondok Penelitian ini menggunakan bak segi empat dengan ukuran p=40.215%.919% dan luas penutupan Eceng gondok 100% optimal menurunkan COD dan Cd masing-masing sebesar 29.252% dan 27. Hasil penelitian pada air lindi menunjukkan bahwa luas penutupan Eceng gondok 75% optimal dalam menurunkan kadar BOD. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F untuk mengetahui adanya pengaruh antar perlakuan kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui persentase luas penutupan Eceng gondok dan lama waktu tinggal yang paling optimum dalam menurunkan kadar bahan organik. TSS. Pb dan Cd berturut-turut sebesar 59. logam berat dan mineral tinggi yang terkandung dalam air yang tercemar oleh limbah rumah tangga dan industri. Kombinasi luas penutupan Eceng gondok 75% dengan lama waktu tinggal 6 hari optimal dalam menurunkan BOD.658%. 2.770% sedangkan kombinasi luas penutupan Eceng gondok 100% dengan waktu tinggal 5 hari optimal dalam menurunkan kadar COD yaitu sebesar 30.193%. Lestari dkk . l=30. 2009). dan Cd berturut-turut sebesar 49. Salah satu faktor yang diperhatikan pada penelitian ini adalah interval waktu tinggal air limbah tahu dalam bak (2.O2 dan pH).

3 Biological Oxygen Demand (BOD) Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisis bahan organik dalam kondisi aerobik (Metcalf & Eddy.9% (1728 mg/l turun menjadi 591 mg/l).08% (1728 mg/l turun menjadi 499.6 mg/l) dan untuk kepadatan 600 gram terjadi penurunan sebesar 79. Untuk kepadatan 300 gram terjadi penurunan 62.31% (1728 mg/l turun menjadi 356. Jenis penelitian adalah eksplanatory atau penelitian penjelasan dengan rancangan penelitian pre test and post test control group design. Untuk kepadatan 400 gram terjadi penurunan sebesr 71. Replikasi dilakukan sebanyak 6 kali. Wardhana (1995) dalam Fitra (2008) mengartikan nilai BOD adalah jumlah oksigen 12 .dengan bak tanpa eceng gondok. Semakin lama waktu tinggal air limbah tahu dalam bak dengan eceng gondok. 2010). Hasil uji t membuktikan ada perbedaan bermakna pada penurunan kadar BOD limbah tahu dengan kepadatn 300 gram. Hasil uji anava satu jalan ternyata ada perbedaan penurunan kadar BOD antara sebelum dan sesudah perlakuan dengan kolam eceng gondok. Untuk kepadatan 500 gram terjadi penurunan sebesr 76. Penurunan kadar BOD limbah tahu pada bak kontrol sebesr 45.82% (1728 mg/l turun menjadi 935 mg/l). semakin besar pula penurunan BOD5 dan O2 air limbah tahu maksimal 60. 2. sedang pada bak tanpa eceng gondok tidak terjadi perubahan pH.9 mg/l).34% terjadi dalam bak dengan eceng gondok yang mempunyai waktu tinggal 6 hari. Terjadi kenaikan nilai pH pada bak dengan eceng gondok dari pH asam menjadi normal. 400 gram.6 mg/l). 500 gram dan 600 gram. 1991 dalam Anonim. Berdasarkan analisa polinomial ortogonal dapat diketahui kepadatan optimum untuk menurunkan kadar BOD sampai memenuhi syarat baku mutu air limbah golongan III yaitu sebesar 150 mg/l.19% (1728 mg/l turun menjadi 411. Penelitian eceng gondok untuk menurunkan BOD juga dilakukan oleh Suparli (1997) yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar BOD antara sebelum dan sesudah perlakuan dengan kolam eceng gondok.

2.2012). bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut. 82 Tahun 2001 mensyaratkan bahwa kadar BOD yang diperbolehkan tidak melebihi kadar maksimum 2 mg/L untuk Kelas 1. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada. dan untuk mendisain sistem-sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. kalau sesuatu badan air dicemari oleh zat organis. sehingga segala macam bahan organik. Bisa saja nilai BOD sama dengan BOD tidak bisa lebih besar dari COD. baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai. 05 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu Air Sungai dan Peraturan Pemerintah No. Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd. dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikanikan dalam air dan keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut (Firmansyah. Dengan demikian. 1991). BOD digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran dalam suatu perairan. Bila nilai BOD suatu perairan tinggi menunjukkan bahwa perairan tersebut sudah tercemar. akan teroksidasi. 13 . 4 Chemical Oxygen Demand (COD) COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air (Boyd. Penguraian zat organis adalah peristiwa alamiah. selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di perairan. Kandungan BOD dalam air ditentukan berdasarkan selisih oksigen terlarut sebelum dan sesudah pengeraman selama 5 x 24 jam pada suhu 20oC karena diketahui dari hasil jumlah zat organik yang diuraikan sudah mencapai 70%. 1990). 1990. Penguraian bahan organik melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup. Metcalf & Eddy. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri. Berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No.yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagai zat-zat organis yang tersuspensi dalam air.

Selanjutnya. 1989. melakukan fotosintetis yang menghasilkan oksigen. Oksigen dari udara di serap dengan difusi langsung permukaan air oleh angin dan arus. Peralatan reflux diperlukan untuk menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan. kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. penggunaan asam pekat.Berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. Pengaruh oksigen terlarut terhadap fisiologis organisme air terutama adalah dalam proses respirasi. Dengan demikian kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan. 1988). 82 Tahun 2001 mensyaratkan bahwa kadar COD yang diperbolehkan tidak melebihi kadar maksimum 10 mg/L untuk Kelas 1. Umaly dan Cuvin. 05 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu Air Sungai dan Peraturan Pemerintah No. dengan bantuan sinar matahari. senyawa kompleks anorganik yang ada di perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De Santo. Pada prinsipnya pengukuran COD adalaha penambahan sejumlaha tertentu kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat. Aktivitas fotosintetis fitoplankton dan 14 . kemudian dipanaskan beberapa waktu. 5 Dissolved Oxygen (DO) Oksigen merupakan salah satu faktor terpenting dalam setiap sistem perairam yang diperlukan organisme untuk melakukan respirasi. 2. Oksigen yang dihasilkan dari fotosintetis ini akan larut di dalam air. Tumbuhan yang ada di dalam air. Jumlah oksigen terlarut di suatu ekosistem perairan dipengaruhi apabila temperatur air menurun dan begitu juga. karena menggunakan peralatan khusus reflux. Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks. Sumber utama oksigen terlarut berasal dari atmosfir dan proses fotosintetis dan dari tumbuhan air lainnya. Kelemahannya. pemanasan dan titrasi (APHA. 2010). Kelompok organisme air yang mempunyai sistem respirasi melalui insang dan kulit secara langsung akan sangat terpengaruh dengan konsentrasi oksigen terlarut dalam air. 1978) sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit ”over estimate” untuk gambaran kandungan bahan organik (Anonim.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. Selain dari itu. 2007).) tekanan . c. 2. 1994 dalam Wardhana. Hal itu karena oksigen terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (ditandai dengan bau busuk). 6 Reaktor Secara Kontinyu Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi berlangsung.) temperatur . b. Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas.tumbuhan air meningkatkan jumlah oksigen terlarut yang mencapai maksimum pada sore hari dan turun lagi pada malam hari karena aktivitas untuk mengikat gas. bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam air. kotoran hewan dan kotoran manusia dan lain sebagainya (Anonim. Rancangan dari reaktor tergantung dari banyak variabel penelitian. tetapi dapat dibagi menjadi tiga kelompok : • Sistem batch (curah) • Sistem kontinyu (sinambung) • Sistem semi sinambung/semi curah (fedbatch) (Sumarsih. 2010). bahan buangan limbah rumah tangga. bahan buangan limbah pertanian. respirasi tumbuhan dan hewan air sebaliknya (Michael. Sistem reaktor yang digunakan ada berbagai macam.) volume . Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah. d. 2008). 82 Tahun 2001 mensyaratkan bahwa kadar DO yang diperbolehkan dengan kadar minimum 6 mg/L untuk kelas 1. 05 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu Air Sungai dan Peraturan Pemerintah No. Beberapa variabel yang mempengaruhi rancangan reaktor : a.) waktu tinggal . industri penyamakan kulit. baik itu reaksi kimia atau nuklir dan bukan secara fisika. makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. 15 . industri pengolahan bahan makanan.

Reaktor ini disusun seri untuk menghemat biaya (Wikipedia. f..) konsentrasi senyawa ( C1. U). Perancangan suatu reaktor harus mengutamakan efisiensi kinerja reaktor. 2008) 16 . Reaktor kontinyu berlangsung secara ajeg.Cn) .2 Contoh Reaktor Secara Kontinyu (Sumber : Mukti. Gambar 2.e. sehingga jumlah yang masuk setara dengan jumlah yang keluar reaktor jika tidak tentu reaktor akan berkurang atau bertambah isinya. C2. dll. 2012). Reaktor kontinyu adalah reaktor yang prosesnya adalah satu atau lebih reaktan masuk ke dalam suatu bejana dan bersamaan dengan itu sejumlah yang sama (produk) dikeluarkan dari reaktor.) koefisien perpindahan panas (h.. C3.

1. RANCANGAN PENELITIAN Limbah dengan kadar BOD + COD tinggi Air Sungai Riam Kanan Eceng Gondok Pembuatan Reaktor Kontrol Perlakuan Pengujian Sampel Awal Penggunaan reaktor kontinyu dengan sampel air sungai dan eceng gondok Hari 1 Hari 3 Hari 5 Terjadi penurunan BOD dan COD tanpa penurunan DO Pengolahan dan analisis data Gambar 3.1 Diagram Alir Rancangan Penelitian 17 .BAB III METODE PENELITIAN 3.

Plastik. Paku payung. Pipa PVC sebagai penyambung aliran.2 ALAT PENELITIAN Alat – alat yang diperlukan dari penelitian ini adalah : Bak kayu persegi panjang ukuran 1 m x 0.3. 3. COD dan DO.3.bahan yang diperlukan dari penelitian ini adalah : Air Sungai Riam Kanan yang terletak di Kecamatan Karang Intan sebagai sampel.25 m sebagai reaktor. Limbah dengan kadar BOD dan COD tinggi untuk campuran pada air sungai Riam Kanan.1 Ide Studi Ide awal yang berasal dari hasil pemikiran peneliti dan konsultasi dengan dosen dalam menemukan permasalahan yang banyak terjadi di kehidupan seharihari.3. 3. Tong Plastik.5 m x 0. Tanaman Eceng gondok (Eichornia crassipes).1 BAHAN DAN ALAT PENELITIAN BAHAN PENELITIAN Bahan . 3.2.2 Observasi Awal Melakukan observasi dengan pengamatan terhadap kondisi yang terjadi sekitar Sungai Riam Kanan di Kecamatan Karang Intan baik itu aktivitas rumah tangga penduduk maupun budidaya yang dilakukan penduduk seperti budidaya jaring apung dan keramba. PROSEDUR PENELITIAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA 3.3. Keran sebagai katup pembuka aliran. 3.2. selain itu juga diadakan pengujian pendahuan untuk parameter BOD.2. hal ini untuk mengetahui apakah air sungai Riam Kanan pada lokasi penelitian memiliki kadar BOD dan COD yang tinggi atau 18 .

08 2. tulisan ilmiah dapat berupa jurnal dan tugas akhir. tulisan ilmiah yang berhubungan dengan penelitian ini.89 20.961 Titik Sampel 19 .3.4 Metode Sampling Sampel diambil dari 3 buah titik yang berbeda yang ditentukan secara SNI di Sungai Riam Kanan.5 (Sumber : Uji Pendahuluan oleh Laboratorium Kualitas Air Fakultas Perikanan Unlam) Selain itu pula juga dilakukan pencarian data sekunder berupa hasil uji kualitas air yang dilakukan instansi terkait.3. Referensi dapat berasal dari buku-buku pengetahuan sesuai bidang penelitian yang bersangkutan.14 A mg/l DO 4. yang mana literatur-literatur tersebut di dapat dari perpustakaan maupun pencarian data melalui media internet. Tabel 3.13 8. 3.1 Hasil Uji BOD & DO Air Sungai Riam Kanan Kec.tidak.186 8. Kecamatan Karang Intan. Dari 3 sampel tersebut dianalisa sampel dengan kadar BOD & COD terbesar untuk dijadikan sampel utama dalam penelitian. Karang Intan Parameter Satuan Hasil Uji BOD 5.1 Hasil Uji COD 25.53 4. 3.3 Studi Literatur Mengumpulkan data-data dengan mempelajari buku-buku. Karang Intan Periode Sampel Satuan Bulan Tahun BOD Juli November 2009 mg/l COD April November 2010 (Sumber : BLHD Tahun 2009 – 2010) Parameter 3.5 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan untuk mendukung penyusunan laporan Tugas Akhir ini terdiri dari : Hasil Uji BOD 11. Untuk parameter BOD dan DO dilakukan uji pendahuluan akan tetapi untuk parameter COD yang digunakan hanya data sekunder dari BLHD.1 4.2 Hasil Uji BOD & COD Air Sungai Riam Kanan Kec. Tabel 3.3.

Alat pengambil contoh Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: o Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh.A. yaitu pada lokasi yang telah menerima limbah (titik 4). Lokasi Pemantauan Kualitas Air Lokasi pemantauan kualitas air pada umumnya dilakukan pada: a) Sumber air alamiah. 20 . o Kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.57:2008). Peralatan a. Pengumpulan data dilakukan pada titik pengambilan sampel. Jenis alat pengambil contoh Alat pengambil contoh sederhana dapat berupa ember plastik yang dilengkapi dengan tali atau gayung plastik yang bertangkai panjang (SNI 6989.  Pengumpulan Data di Lapangan Data penelitian dikumpulkan pada bulan pertama. b. o Mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya. o Contoh mudah dipindahkan ke dalam botol penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya. o Mudah dan aman di bawa. 2. 1. b) Sumber air tercemar. Lokasi dan titik pengambilan contoh a. yaitu pada lokasi yang belum atau sedikit terjadi pencemaran (titik 1). yaitu titik sungai Riam Kanan Kecamatan Karang Intan dengan menggunakan bantuan beberapa tenaga lain.  Data Primer: Pengumpulan data primer ini dilakukan dengan cara: Pengamatan langsung di lapangan Mengamati secara langsung lokasi penelitian untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan obyek penelitian.

Parameter BOD COD Metode SNI 72-6989.  Penelitian Laboratorium (Analisis Parameter Uji) Pengukuran parameter uji BOD.2-2009 kemudian 21 . Titik Pengambilan Contoh Air Sungai Titik pengambilan contoh air sungai ditentukan berdasarkan debit air sungai yang diatur dengan ketentuan sebagai berikut: a) sungai dengan debit kurang dari 5 m3/detik. contoh diambil pada satu titik ditengah sungai pada kedalaman 0. c) sungai dengan debit lebih dari 150 m3/detik.3 Metoda Analisis Parameter BOD.8 kali kedalaman dari permukaan atau diambil dengan alat integrated sampler sehingga diperoleh contoh air dari permukaan sampai ke dasar secara merata lalu dicampurkan (SNI 6989. 1/2. contoh diambil minimum pada enam titik masing-masing pada jarak 1/4.2 dan 0. b. Tabel 3. (titik 2 dan 3).150 m3/detik. d) Lokasi masuknya air ke waduk atau danau (titik 5). yaitu pada lokasi tempat penyadapan sumber air tersebut. 2.57:2008). dan 3/4 lebar sungai pada kedalaman 0.5 kali kedalaman dari permukaan atau diambil dengan alat integrated sampler sehingga diperoleh contoh air dari permukaan sampai ke dasar secara merata . contoh diambil pada dua titik masing-masing pada jarak 1/3 dan 2/3 lebar sungai pada kedalaman 0.c) Sumber air yang dimanfaatkan.72-2009 SNI 2-6989.5 kali kedalaman dari permukaan atau diambil dengan alat integrated sampler sehingga diperoleh contoh air dari permukaan sampai ke dasar secara merata dicampurkan. COD dan DO No 1. COD dan DO dilaksanakan pada laboratorium kualitas air Fakultas Perikanan Unlam dan BBTKL. b) sungai dengan debit antara 5 m3/detik . dengan metode sebagai berikut.

Mukti menggunakan parameter TDS dan warna maka untuk penelitian ini menggunakan parameter BOD. dimana air sungai tersebut akan digunakan kegiatan sehari-hari sehingga sistem harus dilakukan secara berkelanjutan.(Tabel 3.25 m yang pada bagian atasnya dilapisi oleh plastik. Hal ini dikarenakan kadar BOD dan COD yang fluktuatif tergantung dai waktu pengambilan sampel pada air sungai sehingga kadar BOD dan COD yang ada terkadang turun tetapi dapat juga kadarnya tinggi. Bak kontrol hanya dibedakan dari tidak adanya rumpun eceng gondok air digunakan. Dalam penelitian ini akan digunakan 5 buah reaktor yang menggunakan sistem kontinyu. . Sampel yang digunakan dalam penelitian ini selain menggunakan air sungai juga dilakukan pencampuran beberapa jenis limbah yang mengandung kadar BOD dan COD tinggi sehingga sampel yang digunakan akan di pastikan mengandung kadar BOD dan COD yang tinggi. Sistem pengolahan secara kontinyu dipilih karena sesuai dengan penggunaan akhir dari hasil pengolahan. 50%. 25%. Untuk penelitian ini menggunakan variasi tutupan tanaman eceng gondok dari 0%. COD dan DO. dimana air yang digunakan adalah air sampel yang sama digunakan dalam penelitian.5 m x 0. sedangkan 1 buah reaktor akan digunakan sebagai kontrol. Jika dalam penelitian Ahmad M. 4 buah reaktor akan digunakan sebagai alat pengujian dengan variasi waktu 1 hari. DO Winkler 22 .3 Lanjutan) 3. Jenis dan ukuran reaktor ini melihat dari penelitian yang telah dilakukan Ahmad Muhtar Mukti (2008) dalam penelitiannya menggunakan eceng gondok untuk penurunan TDS dan Warna sehingga dilakukan penelitian yang serupa namun berbeda pada parameter yang digunakan.  Pembuatan Desain Reaktor Reaktor secara kontinyu terbuat dari bak kayu persegi panjang dengan dimensi 1 m x 0. debit yang direncanakan sesuai dengan debit asli sungai Riam Kanan. 3 hari dan 5 hari. Oleh karena itu dibuat pencampuran beberapa jenis limbah dengan kadar BOD dan COD tinggi pada air sungai.

23 . Campuran antara air sungai dan air asam tambang sebelum masuk ke dalam reaktor akan diuji parameter BOD. B. Gambar 3. COD dan DO sebelum dan sesudah perlakuan di dalam reaktor. Data-data di peroleh pada instansi seperti Dinas Perikanan dan Kelautan.2 Desain Reaktor Secara Kontinyu  Lokasi Penelitian Reaktor sendiri akan diletakkan pada green house milik Fakultas Pertanian / MIPA sedangkan pengujian parameter BOD. sehingga nantinya akan diketahui kadar BOD. Semua perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan sehingga jumlah sampel akhir dari penelitian ini adalah 45 sampel (15 sampel/1 kali pengulangan). Data Sekunder Pengumpulan data sekunder ini dilakukan dengan cara:  Pencarian Data Sekunder di Instansi Terkait Pencarian data sekunder di lakukan demi melengkapi data-data yang diperlukan dalam pembuatan Tugas Akhir ini. COD dan DO akan dilaksanakan pada Laboratorium Kualitas Air Fakultas Perikanan Unlam dan BBTKL.75% dan 100%. COD dan DO-nya terlebih dahulu. Badan Pengelolaan DAS Barito dan Badan Pusat Statistik Kab Banjar.

Rancangan ini menggunakan satu kelompok subyek. yaitu dengan membandingkan data hasil analisis kadar BOD. yaitu dengan membandingkan kadar BOD.5 Jadwal Kegiatan Dalam penulisan tugas akhir ini. Penelitian ini ditargetkan dapat selesai dalam jangka waktu 3 bulan. berikut tersaji rincian kegiatan tersebut: 24 . Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hasil dengan uji-t yang digunakan untuk mengetahui pengaruh berbagai waktu tinggal tumbuhan eceng gondok terhadap kadar BOD. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan One Group Pretest Postest Design. T2: Pemeriksaan sampel setelah perlakuan (Sumadi Suryabrata. Uji-t juga digunakan untuk mencari waktu tinggal yang paling efektif dalam menurunkan kadar BOD. COD dan DO tiap perlakuan. COD dan DO. 1990 dalam Zaman. 3.3. pertama-tama dilakukan pengukuran (Pretest) kemudian dikenakan perlakuan dan dilakukan pengukuran kedua (post test) yang dapat digambarkan Pretest T1 Test X Postest T2 Gambar 3. dengan membandingkan kadar BOD. penulis membuat jadwal kegiatan yang gunanya dapat membantu dalam penyelesain penelitian sehingga dapat terselesaikan tepat waktu. Keterangan: T1: Pemeriksaan sampel sebelum perlakuan. COD dan DO air sungai sebelum perlakuan dengan setelah perlakuan pada reaktor. COD dan DO sebelum perlakuan dengan setelah perlakuaan pada tiap periode perlakuan.4 Analisis Data Kadar BOD . X : Perlakuan dengan berbagai lama kontak eceng gondok.COD dan DO pada outlet reaktor. 2006).3 One Group Pretest Postest Design. COD dan DO. disajikan dalam tabulasi data berupa tabel dan grafik serta analisis deskriptif.

00 Rp 225.Aklimatisasi Tanaman c.00 Rp 675.5 Rencana Anggaran Biaya (RAB) Dalam kegiatan penelitian ini.Penyusunan Laporan Bulan 1 II III Bulan Bulan 2 II III IV Bulan 3 II III IV IV I I 2.00 Rp 60.00/hari x 9 hari Jumlah 2.1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. Pengujian Parameter Uji  Uji BOD.000.000.000.Pengujian Reaktor Analisa Paramater Uji Pelaporan a.5 cm  Jerigen 5 buah  Keran air 3 buah  Paku payung  Tong plastik Jumlah 25 Rp 34. Kegiatan I Persiapan a.00 Rp 100.000.00  Uji DO (sewa alat) Rp 25.000. dibutuhkan anggaran biaya untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan.Tabel 4.00 Rp 702.5  Pipa PVC diameter 2.000.00 Rp 20.000.00  Uji COD = 45 sampel x Rp 15.000.00 . COD & DO sebelum penggunaan reaktor  Uji BOD = 45 sampel x Rp 13. 1.Perizinan b.000. 4.Persiapan Alat.Survey Lokasi Pelaksanaan a.00 Rp 2.00 Rp 585.000.00 Rp 300.000.000.00 Rp 1.000. Pengesahan Laporan 3. b Penggandaan Laporan c. adapun rincian dana tersebut sebagai berikut.Pembuatan Reaktor b.00 Rp 200.000. 3.519.000. 1.5 m x 1.Bahan c.00 Rp 20.000. Pembuatan Reaktor dan Peralatan Pendukung  Pembuatan Bak Kayu x 5 buah  Plastik Bening 1.

00  Penggandaan dan Penjilidan Laporan 8 x @Rp 30.000.000.000. tinta dan sebagainya) Rp 200.000.911.000. Transportasi  Pengangkutan sampel air dan eceng gondok  Pengangkutan limbah dari industri Jumlah 4.00Rp Jumlah Total Biaya Keseluruhan Rp Rp Rp Rp 150.000.000.00 440.00 240.00 250.00 26 .000.00 100. Pembuatan Proposal dan Laporan Akhir  Pengetikan (kertas.00 Rp 2.3.

Propinsi Kalimantan Selatan dengan batas-batas sebagai berikut : a) Sebelah Timur berbatasan dengan pegunungan Meratus Kusan b) Sebelah Barat berbatasan dengan pegunungan Babaris c) Sebelah Utara berbatasan dengan pegunungan Babaris d) Sebelah Selatan berbatasan dengan pegunungan Meratus. 2012).30 41’ Lintang Selatan. sungai dan rawa). Secara administratif. karamba dan tambak (Effendi.77 km dari total panjang sungai Riam Kanan sepanjang 57. Salah satu kecamatan di Kabupaten Banjar yang mempunyai potensi perairan umum adalah Kecamatan Karang Intan. Sub DAS Kalaan. Panjang Sungai Riam Kanan yang melewati Kecamatan Karang Intan adalah 24. yaitu perairan umum dan perairan laut (kawasan pesisir). Sub DAS Riam Kanan Tengah. DAS Riam Kanan terletak di Kecamatan Karang Intan dan Aranio.833 ha yang terdiri dari enam Sub DAS yaitu Sub DAS Hajawa. Kegiatan penangkapan yang dilakukan masyarakat meliputi kegiatan penangkapan di perairan laut dan perairan umum (waduk.65 km. Di Kecamatan Karang Intan terdapat sungai Riam Kanan yang dimanfaatkan untuk penangkapan dan budidaya ikan tawar berupa keramba dan jaring apung. Pleihari 27 .BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kabupaten Banjar mempunyai sumberdaya perikanan dan kelautan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Luas DAS Riam Kanan adalah 127.1150 24’ Bujur Timur dan 30 22’ . Sedangkan kegiatan budidaya yang dilakukan masyarakat meliputi kegiatan kegiatan budidaya kolam. Kabupaten Banjar juga termasuk salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan yang mempunyai potensi perairan yang lengkap. jaring apung. Secara geografis DAS Riam Kanan terletak pada 1140 55’ . Kabupaten Banjar. Sub DAS Tanjungan. Potensi ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan penangkapan dan budidaya. Sub DAS Sungai Besar dan Sub DAS Riam Kanan Hilir.

2012). Gambar 4. 2012). 28 .2 Peta Jaringan Sungai Sub Sub Das Riam Kanan Kecamatan Karang Intan (Sumber: Balai Pengelolaan DAS Barito.Gambar 4.1 Peta Jaringan Sungai Sub Sub Das Riam Kanan Sub Das Martapura Das Barito (Sumber : Balai Pengelolaan DAS Barito.

Universitas Islam Indonesia. Standar Nasional Indonesia. 2008. Effendi. S. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fatimah & Arman. Peraturan Pemerintah No. Santoso & S. Analisis Kualitas Air Dan Hubungannya Dengan Keanekaragaman Vegetasi Akuatik Di Perairan Perapat Danau Toba. Fakultas Teknik. Database Dinas Perikanan & Kelautan Kab. 2008. Seleksi Tumbuhan Air Sebagai Penyerap Logam Berat Cd. 2012. Pengaruh Waktu Tinggal Air Limbah Tahu Dalam Bak Tanpa Eceng Gondok Dan Bak Dengan Eceng Gondok Terhadap Penurunan “Biological Oxygen Demand” (BOD) Dan Perubahan Derajat Keasaman (pH). 1994. Nanang. 2007. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Universitas Jendral Soedirman. Tugas Kimia Analitik. Budi. 2008. Fitra. Tesis Program Studi Kesehatan Masyarakat. Banjar Tahun 2011. 2008. Banjarmasin. Tesis Program Studi Biologi. Berita Daerah Propinsi Kalimantan Selatan. Efektivitas Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Dalam Penyerapan Bahan Organik Dan Logam Berat Pada Leachate TPA Gunung Tugel Purwokerto. Jakarta. Jogjakarta. 2001. Eva. 2011. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjar. Laporan Hasil Penelitian Program Studi Biologi. . 05 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu Air Sungai. Analisis BOD dan COD Dalam Penentuan Baku Mutu Air Limbah. L.2008 Air dan Air Limbah – Bagian 4: Metoda Pengambilan Contoh Air Permukaan. Tugas Akhir Program Studi Teknik Lingkungan. 2012. Universitas Sumatra Utara. Ahmad Muhtar. Kabupaten Banjar Dalam Angka 2010. Anonim. 2009. Pb dan Cu Kolam FMIPA UHAMKA.57. Universitas Sumatra Utara. Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. Lestari. SNI 6989. Anggorowati. Banten. Penggunaan Tanaman Eceng gondok (Eichornia crassipes) Sebagai Pre Tretment Pengolahan Air Minum Pada Air Selokan Mataratam. Universitas Diponegoro. Siwi Lusina.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Nisma. S. Mukti. Badan Standar Indonesia.

Standar Nasional Indonesia. Semarang). http://id. http://science-agropreneurship.com/2009/02/iv-bioreaktor-sistembatch. 2006. Badrus & Endro.html Diakses pada tanggal 24 Februari 2012. Badan Standar Indonesia. . Kemampuan Penyerapan Eceng Gondok Terhadap Amoniak Dalam Limbah Rumah Sakit Berdasarkan Umur dan Lama Kontak (Studi Kasus: RS Panti Wilasa. Sumarsih. Banten.files.72-2005 Air dan Air Limbah – Bagian 72 : Cara Uji Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand / BOD). Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Sebagai Biofilter Alami Pada Pre-Treatment Pengelolaan Kualitas Air. Standar Nasional Indonesia. Universitas Triyanto. Jurnal Presipitasi 2006. SNI 6989. SNI 6989. 2009. Reaktor Kimia. 2010. Tesis Program Studi Kesehatan Masyarakat. Materi Kuliah Rekayasa Bioproses. Lilik. 2007.blogspot. 1 (1): 49-54. Suparli. Diponegoro.2-2009 Air dan Air Limbah – Bagian 2 : Cara Uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand / COD).pdf Di akses pada tanggal 29 Februari 2010. 2009.wikipedia.wordpress. Pengaruh Kepadatan Eceng Gondok (Eichornia Terhadap Penurunan Kadar Biological Oxygen Demand Limbah Tahu Dalam Kolam Eceng Gondok Di Kelurahan Salatiga. 1997. Crassipes) (BOD) Air Kalitaman. Sutrisno. Wikipedia. Badan Standar Indonesia. http://sumarsih07.org/wiki/Reaktor_kimia Diakses tanggal 2 April 2012 Zaman.com/2011/09/pemanfaatanenceng-gondok-eichornia. Banten. 2012. Sri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.