P. 1
SAP-PP-71-Thn-2010-Lampiran-I.02-PSAP-01-Penyajian-Laporan-Keuangan1

SAP-PP-71-Thn-2010-Lampiran-I.02-PSAP-01-Penyajian-Laporan-Keuangan1

|Views: 696|Likes:
Published by Agung Muhatri

More info:

Published by: Agung Muhatri on Apr 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2013

pdf

text

original

[Type text

]

LAMPIRAN I.02 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 TANGGAL 22 OKTOBER 2010

STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL PERNYATAAN NO. 01

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

DAFTAR ISI Paragraf
PENDAHULUAN --------------------------------------------------------------------------------------TUJUAN------------------------------------------------------------------------------------------------RUANG LINGKUP ------------------------------------------------------------------------------------BASIS AKUNTANSI ----------------------------------------------------------------------------------DEFINISI ------------------------------------------------------------------------------------------------TUJUAN LAPORAN KEUANGAN --------------------------------------------------------------TANGGUNG JAWAB PELAPORAN KEUANGAN ------------------------------------------KOMPONEN-KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN ---------------------------------------STRUKTUR DAN ISI ---------------------------------------------------------------------------------PENDAHULUAN-----------------------------------------------------------------------------------Identifikasi Laporan Keuangan --------------------------------------------------------------Periode Pelaporan------------------------------------------------------------------------------Tepat Waktu--------------------------------------------------------------------------------------LAPORAN REALISASI ANGGARAN --------------------------------------------------------LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH --------------------------------NERACA ---------------------------------------------------------------------------------------------Klasifikasi -----------------------------------------------------------------------------------------Aset Lancar---------------------------------------------------------------------------------------Aset Nonlancar ----------------------------------------------------------------------------------Pengakuan Aset---------------------------------------------------------------------------------Pengukuran Aset--------------------------------------------------------------------------------Kewajiban Jangka Pendek -------------------------------------------------------------------Kewajiban Jangka Panjang ------------------------------------------------------------------Pengakuan Kewajiban-------------------------------------------------------------------------Pengukuran Kewajiban------------------------------------------------------------------------Ekuitas ---------------------------------------------------------------------------------------------INFORMASI YANG DISAJIKAN DALAM NERACA ATAU DALAM CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN -------------------------------------------------LAPORAN ARUS KAS ---------------------------------------------------------------------------LAPORAN OPERASIONAL --------------------------------------------------------------------LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS ---------------------------------------------------------CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN -------------------------------------------------Struktur --------------------------------------------------------------------------------------------Penyajian Kebijakan-kebijakan Akuntansi------------------------------------------------Pengungkapan-Pengungkapan Lainnya --------------------------------------------------TANGGAL EFEKTIF ---------------------------------------------------------------------------------1-7 1 2-4 5-7 8 9 - 12 13 14 - 24 25-113 25 - 26 27 - 31 32 - 33 34 35 - 40 41 - 43 44 - 85 45 - 53 54 - 55 56 - 66 67 - 68 69 - 74 75 - 77 78 - 80 81 - 82 83 84 - 85 86 - 88 89 - 91 92 - 100 101 - 103 104 - 113 104 - 107 108 - 112 113 114 - 115

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lampiran : Ilustrasi Lampiran I.02 PSAP 01.A : Ilustrasi Lampiran I.02 PSAP 01.B : Ilustrasi Lampiran I.02 PSAP 01.C : Ilustrasi Lampiran I.02 PSAP 01.D : Contoh Format Neraca Pemerintah Pusat Contoh Format Neraca Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Contoh Format Laporan Perubahan Ekuitas Pemerintah Pusat Contoh Format Laporan Perubahan Ekuitas Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota Contoh Format Laporan Perubahan SAL Pemerintah Pusat Contoh Format Laporan Perubahan SAL Pemerintah Provinsi/Kabupaten/ Kota

Ilustrasi Lampiran I.02 PSAP 01.E : Ilustrasi Lampiran I.02 PSAP 01.F :

Lampiran I.02 PSAP 01 – (iii)

.

Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan termasuk lembaga legislatif sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. serta pemerintah. dan pengungkapan transaksi-transaksi spesifik dan peristiwa-peristiwa yang lain. yang harus dibaca dalam konteks paragraf-paragraf penjelasan yang ditulis dengan huruf biasa dan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. standar ini menetapkan seluruh pertimbangan dalam rangka penyajian laporan keuangan. antar periode. dan persyaratan minimum isi laporan keuangan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL PERNYATAAN NO. 4. Yang dimaksud dengan pengguna adalah masyarakat. maupun antar entitas. pengukuran. diatur dalam standar akuntansi pemerintahan lainnya. Laporan keuangan meliputi laporan keuangan yang disajikan terpisah atau bagian dari laporan keuangan yang disajikan dalam dokumen publik lainnya seperti laporan tahunan. Laporan keuangan untuk tujuan umum disusun dan disajikan dengan basis akrual. PENDAHULUAN TUJUAN 1. 3. pemeriksa/pengawas. fihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. RUANG LINGKUP 2. Laporan keuangan disusun dengan menerapkan basis akrual. dan pinjaman. termasuk lembaga legislatif. Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. pedoman struktur laporan keuangan. Untuk mencapai tujuan tersebut. Pengakuan. 01 PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN Paragraf-paragraf yang ditulis dengan huruf tebal dan miring adalah paragraf standar. investasi. Pernyataan Standar ini berlaku untuk entitas pelaporan dalam menyusun laporan keuangan suatu entitas pemerintah pusat.02 PSAP 01- 1 . Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur penyajian laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) dalam rangka meningkatkan keterbandingan laporan keuangan baik terhadap anggaran. pemerintah Lampiran I.

dan laporan keuangan konsolidasian. BASIS AKUNTANSI 5. dan pembiayaan yang diukur dalam satuan rupiah. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah yaitu basis akrual.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 daerah. Berikut ini adalah istilah-istilah yang digunakan dalam Pernyataan Standar dengan pengertian: Anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan. Aset tak berwujud adalah aset nonkeuangan yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam . 6. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. belanja. Arus Kas adalah arus masuk dan arus keluar kas dan setara kas pada Bendahara Umum Negara/Daerah. Entitas pelaporan yang menyelenggarakan akuntansi berbasis akrual. kewajiban. Apropriasi merupakan anggaran yang disetujui DPR/DPRD yang merupakan mandat yang diberikan kepada Presiden/gubernur/bupati/walikota untuk melakukan pengeluaran-pengeluaran sesuai tujuan yang ditetapkan. DEFINISI 8. termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. baik oleh pemerintah maupun masyarakat. tidak termasuk perusahaan negara/daerah. transfer. maupun pengakuan aset. Entitas pelaporan menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan basis akrual baik dalam pengakuan pendapatan dan beban. dan ekuitas. yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk satu periode. Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. serta dapat diukur dalam satuan uang. menyajikan Laporan Realisasi Anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan tentang anggaran. 7.

Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.02 PSAP 01- 3 . atau dimaksudkan untuk digunakan. yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban. Kas Negara adalah tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara. Investasi adalah aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi seperti bunga. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/ pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Gubernur/Bupati/Walikota untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah. Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi atau entitas pelaporan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Lampiran I. dan royalti. dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi. atau manfaat sosial sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat Kas adalah uang tunai dan saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan. Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan. dividen. Basis kas adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya termasuk hak atas kekayaan intelektual. Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang menurunkan ekuitas.

Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah Laporan keuangan konsolidasian adalah suatu laporan keuangan yang merupakan gabungan keseluruhan laporan keuangan entitas pelaporan. dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh suatu entitas pelaporan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. aturan-aturan. dasar-dasar. sehingga tersaji sebagai satu entitas tunggal. Otorisasi Kredit Anggaran (allotment) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang menunjukkan bagian dari apropriasi yang disediakan bagi instansi dan digunakan untuk memperoleh uang dari Bendahara Umum Negara/Daerah guna membiayai pengeluaran-pengeluaran selama periode otorisasi tersebut. yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran. atau entitas akuntansi. Materialitas adalah suatu kondisi jika tidak tersajikannya atau salah saji suatu informasi akan mempengaruhi keputusan atau penilaian pengguna yang dibuat atas dasar laporan keuangan.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Kebijakan akuntansi adalah prinsip-prinsip. dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Mata uang pelaporan adalah mata uang rupiah yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan. . Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang pelaporan entitas. Materialitas tergantung pada hakikat atau besarnya pos atau kesalahan yang dipertimbangkan dari keadaan khusus di mana kekurangan atau salah saji terjadi. Pembiayaan (financing) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah. konvensikonvensi. Kemitraan adalah perjanjian antara dua fihak atau lebih yang mempunyai komitmen untuk melaksanakan kegiatan yang dikendalikan bersama dengan menggunakan aset dan atau hak usaha yang dimiliki. Nilai wajar adalah nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antar fihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar. Pendapatan-LO adalah hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.

Surplus/defisit-LRA adalah selisih lebih/kurang antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode pelaporan. serta penerimaan dan pengeluaran pembiayaan dalam APBN/APBD selama satu periode pelaporan. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh gubernur/bupati/walikota untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Penyusutan adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu aset tetap yang dapat disusutkan (depreciable assets) selama masa manfaat aset yang bersangkutan. Selisih kurs adalah selisih yang timbul karena penjabaran mata uang asing ke rupiah pada kurs yang berbeda.02 PSAP 01- 5 . Pos luar biasa adalah pendapatan luar biasa atau beban luar biasa yang terjadi karena kejadian atau transaksi yang bukan merupakan operasi biasa. dan berada di luar kendali atau pengaruh entitas bersangkutan. Saldo Anggaran Lebih adalah gunggungan saldo yang berasal dari akumulasi SiLPA/SiKPA tahun-tahun anggaran sebelumnya dan tahun berjalan serta penyesuaian lain yang diperkenankan. Piutang transfer adalah hak suatu entitas pelaporan untuk menerima pembayaran dari entitas pelaporan lain sebagai akibat peraturan perundang-undangan. setelah diperhitungkan surplus/defisit dari kegiatan non operasional dan pos luar biasa. tidak diharapkan sering atau rutin terjadi. Pos adalah kumpulan akun sejenis yang ditampilkan pada lembar muka laporan keuangan. dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Lampiran I. Setara kas adalah investasi jangka pendek yang sangat likuid yang siap dijabarkan menjadi kas serta bebas dari risiko perubahan nilai yang signifikan. Surplus/defisit-LO adalah selisih antara pendapatan-LO dan beban selama satu periode pelaporan. Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah. Rekening Kas Umum Negara adalah rekening tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara pada bank sentral. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA) adalah selisih lebih/kurang antara realisasi pendapatan-LRA dan belanja.

dan ekuitas pemerintah. e) menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya. b) menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi. alokasi. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan. 10. c) menyediakan informasi mengenai sumber. dan perubahan ekuitas suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Secara spesifik. dan . kewajiban.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Tanggal pelaporan adalah tanggal hari terakhir dari suatu periode pelaporan. termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. realisasi anggaran. saldo anggaran lebih. kewajiban. hasil operasi. Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi pengguna mengenai: a) indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran. f) menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN 9. menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan. Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain. g) menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya. Utang transfer adalah kewajiban suatu entitas pelaporan untuk melakukan pembayaran kepada entitas lain sebagai akibat ketentuan perundangundangan. dan penggunaan sumber daya ekonomi. dengan: a) menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi. dan ekuitas pemerintah. Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan prediktif dan prospektif. sumberdaya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan. d) menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya. serta risiko dan ketidakpastian yang terkait. arus kas.

dan k. e. g) Catatan atas Laporan Keuangan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 b) indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan. namun tidak dapat sepenuhnya memenuhi tujuan tersebut.Informasi dalam laporan keuangan tersebut relevan untuk memenuhi tujuan sebagaimana terdapat dalam paragraf 9. beban. g. pembiayaan. b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih. sehingga seluruh komponen menjadi sebagai berikut: a) Laporan Realisasi Anggaran. 12. c.02 PSAP 01- 7 . Komponen-komponen yang terdapat dalam satu set laporan keuangan terdiri dari laporan pelaksanaan anggaran (budgetary reports) dan laporan finansial. pendapatan-LO. 11. pendapatan-LRA. Informasi tambahan. arus kas. j. e) Laporan Arus Kas. transfer. kewajiban. c) Neraca. KOMPONEN-KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN 14. d) Laporan Operasional. belanja. b. TANGGUNG JAWAB PELAPORAN KEUANGAN 13. Untuk memenuhi tujuan umum ini. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal: a.Tanggung jawab penyusunan dan penyajian laporan keuangan berada pada pimpinan entitas. h. f) Laporan Perubahan Ekuitas. f. termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh DPR/DPRD. saldo anggaran lebih i. termasuk laporan nonkeuangan. ekuitas. aset. dapat dilaporkan bersama-sama dengan laporan keuangan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai aktivitas suatu entitas pelaporan selama satu periode. Lampiran I. d.

dan dampak kumulatif akibat perubahan kebijakan dan kesalahan mendasar.Entitas pelaporan menyajikan kekayaan bersih pemerintah yang mencakup ekuitas awal. 20.Laporan keuangan memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi dan kewajiban entitas pelaporan pada tanggal pelaporan dan arus sumber daya ekonomi selama periode berjalan. 18.Unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum adalah unit yang ditetapkan sebagai bendahara umum negara/daerah dan/atau sebagai kuasa bendahara umum negara/daerah. entitas pelaporan harus mengungkapkan semua informasi penting baik yang telah tersaji maupun yang tidak tersaji dalam lembar muka laporan keuangan. 21. kecuali: (a) Laporan Arus Kas yang hanya disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 15. 17. (b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih yang hanya disajikan oleh Bendahara Umum Negara dan entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan konsolidasiannya. Laporan keuangan menyediakan informasi mengenai apakah sumber daya ekonomi telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan. 19. penggunaan. Laporan Realisasi Anggaran memuat anggaran dan realisasi. 23. surplus/defisit periode bersangkutan. 16. .Komponen-komponen laporan keuangan tersebut disajikan oleh setiap entitas pelaporan. penggunaan Saldo Anggaran Lebih. Informasi ini diperlukan pengguna untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan entitas pelaporan dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintahan di masa mendatang. seperti halnya dalam pembuatan dan evaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya ekonomi.Entitas pelaporan menyajikan informasi untuk membantu para pengguna dalam memperkirakan hasil operasi entitas dan pengelolaan aset. perubahan kas dan setara kas selama suatu periode akuntansi dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan.Kegiatan keuangan pemerintah dibatasi dengan anggaran dalam bentuk apropriasi atau otorisasi anggaran. 22. 24. dan penyesuaian lain yang diperkenankan. Entitas pelaporan mengungkapkan informasi tentang ketaatan terhadap anggaran.Entitas yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum menyajikan informasi mengenai sumber.Entitas pelaporan pemerintah pusat juga menyajikan Saldo Anggaran Lebih pemerintah yang mencakup Saldo Anggaran Lebih tahun sebelumnya.Untuk menghindari kesalahpahaman dalam membaca laporan keuangan. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA) tahun berjalan.

28. apakah satu entitas tunggal atau konsolidasian dari beberapa entitas pelaporan.Pernyataan Standar ini menggunakan istilah pengungkapan dalam arti yang seluas-luasnya.Pernyataan Standar ini mensyaratkan adanya pengungkapan tertentu pada lembar muka (on the face) laporan keuangan. namun bukan merupakan subyek yang diatur dalam Pernyataan Standar ini. informasi berikut harus dikemukakan secara jelas dan diulang pada setiap halaman laporan bilamana perlu untuk memperoleh pemahaman yang memadai atas informasi yang disajikan: a) nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi lainnya. c) tanggal pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan.Laporan keuangan diidentifikasi dan dibedakan secara jelas dari informasi lainnya dalam dokumen terbitan yang sama.02 PSAP 01- 9 . Identifikasi Laporan Keuangan 27. penting bagi pengguna untuk dapat membedakan informasi yang disajikan menurut Standar Akuntansi Pemerintahan dari informasi lain. 26. Oleh karena itu. meliputi pos-pos yang disajikan dalam setiap lembar muka laporan keuangan maupun dalam Catatan atas Laporan Keuangan. yang sesuai dengan komponen-komponen laporan keuangan. pengungkapan yang demikian dibuat pada lembar muka laporan keuangan yang relevan atau dalam Catatan atas Laporan Keuangan. dan e) tingkat ketepatan yang digunakan dalam penyajian angka-angka pada laporan keuangan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 STRUKTUR DAN ISI PENDAHULUAN 25. d) mata uang pelaporan. Kecuali ada standar yang mengatur sebaliknya. Pengungkapan yang disyaratkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan lainnya disajikan sesuai dengan ketentuan dalam standar tersebut. Di samping itu. b) cakupan laporan keuangan. dan merekomendasikan format ilustrasi standar ini yang dapat diikuti oleh suatu entitas pelaporan sesuai dengan situasi masing-masing.Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan hanya berlaku untuk laporan keuangan dan tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam suatu laporan tahunan atau dokumen lainnya. mensyaratkan pengungkapan pos-pos lainnya dalam lembar muka laporan keuangan atau dalam Catatan atas Laporan Keuangan. 29. Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas. Lampiran I.

Laporan keuangan seringkali lebih mudah dimengerti bilamana informasi disajikan dalam ribuan atau jutaan rupiah. LAPORAN REALISASI ANGGARAN 35. Berbagai pertimbangan digunakan untuk pengaturan tentang penomoran halaman. 33. Contoh selanjutnya adalah dalam masa transisi dari akuntansi berbasis kas ke akrual. Dalam situasi tertentu. 31. Laporan keuangan disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. suatu entitas pelaporan mengubah tanggal pelaporan entitas-entitas akuntansi yang berada dalam entitas pelaporan untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan konsolidasian. Penyajian demikian ini dapat diterima sepanjang tingkat ketepatan dalam penyajian angka-angka diungkapkan dan informasi yang relevan tidak hilang. referensi. dan susunan lampiran sehingga dapat mempermudah pengguna dalam memahami laporan keuangan. Pengungkapan atas perubahan tanggal pelaporan adalah penting agar pengguna menyadari kalau jumlah-jumlah yang disajikan untuk periode sekarang dan jumlah-jumlah komparatif tidak dapat diperbandingkan. tanggal laporan suatu entitas berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari satu tahun. Kegunaan laporan keuangan berkurang bilamana laporan tidak tersedia bagi pengguna dalam suatu periode tertentu setelah tanggal pelaporan.Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD. Tepat Waktu 34. Faktor-faktor yang dihadapi seperti kompleksitas operasi suatu entitas pelaporan bukan merupakan alasan yang cukup atas kegagalan pelaporan yang tepat waktu. entitas pelaporan mengungkapkan informasi berikut: a) alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 30.Dalam situasi tertentu suatu entitas pelaporan harus mengubah tanggal pelaporannya. Periode Pelaporan 32. . b) fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif untuk laporan tertentu seperti arus kas dan catatan-catatan terkait tidak dapat diperbandingkan. misalnya sehubungan dengan adanya perubahan tahun anggaran.Persyaratan dalam paragraf 27 dapat dipenuhi dengan penyajian judul dan judul kolom yang singkat pada setiap halaman laporan keuangan.

Ilustrasi hanya merupakan contoh dan bukan merupakan bagian dari standar. Contoh format Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih disajikan pada ilustrasi PSAP 01 E dan 01 F. Pendapatan-LRA. f) Saldo Anggaran Lebih Akhir. Tujuan ilustrasi ini adalah menggambarkan penerapan standar untuk membantu dalam pelaporan keuangan. belanja. Di samping itu. f. Laporan Realisasi Anggaran menyajikan sekurang-kurangnya unsur-unsur sebagai berikut: a. e. sebab-sebab terjadinya perbedaan yang material antara anggaran dan realisasinya. LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH 41.Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos berikut: a) Saldo Anggaran Lebih awal. sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran. b) Penggunaan Saldo Anggaran Lebih. d. 38.PSAP No. c. 43. serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut angka-angka yang dianggap perlu untuk dijelaskan. b. c) Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun berjalan. 02 mengatur persyaratan-persyaratan untuk penyajian Laporan Realisasi Anggaran dan pengungkapan informasi terkait. 42.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 36. 39. 40.02 PSAP 01- 11 . transfer. Lampiran I. pembiayaan. suatu entitas pelaporan menyajikan rincian lebih lanjut dari unsur-unsur yang terdapat dalam Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih dalam Catatan atas Laporan Keuangan. surplus/defisit-LRA. d) Koreksi Kesalahan Pembukuan tahun Sebelumnya.Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber.Laporan Realisasi Anggaran dijelaskan lebih lanjut dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Penjelasan tersebut memuat hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran seperti kebijakan fiskal dan moneter. alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah dalam satu periode pelaporan 37. dan e) Lain-lain.Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan.

46. perlu adanya klasifikasi terpisah antara aset lancar dan nonlancar dalam neraca untuk memberikan informasi mengenai barang-barang yang akan digunakan dalam periode akuntansi berikutnya dan yang akan digunakan untuk keperluan jangka panjang. c) piutang pajak dan bukan pajak.Apabila suatu entitas pelaporan menyediakan barang-barang yang akan digunakan dalam menjalankan kegiatan pemerintahan.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 NERACA 44.Setiap entitas pelaporan mengungkapkan setiap pos aset dan kewajiban yang mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan dan jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan.Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset. Klasifikasi 45. Neraca menyajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos berikut: a) kas dan setara kas.Pos-pos selain yang disebutkan pada paragraf 49 disajikan dalam Neraca jika Standar Akuntansi Pemerintahan mensyaratkan. 50. b) investasi jangka pendek. kewajiban. d) persediaan.Setiap entitas pelaporan mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar dan nonlancar serta mengklasifikasikan kewajibannya menjadi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam neraca. 48. Informasi tentang tanggal penyelesaian aset nonkeuangan dan kewajiban seperti persediaan dan cadangan juga bermanfaat untuk mengetahui apakah aset diklasifikasikan sebagai aset lancar dan nonlancar dan kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.Informasi tentang tanggal jatuh tempo aset dan kewajiban keuangan bermanfaat untuk menilai likuiditas dan solvabilitas suatu entitas pelaporan. atau jika . h) kewajiban jangka panjang. 47. e) investasi jangka panjang. 49. f) aset tetap. g) kewajiban jangka pendek. dan ekuitas pada tanggal tertentu. i) ekuitas.

penjualan angsuran. atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. c) Jumlah.B Standar ini. denda. b) Fungsi pos-pos tersebut dalam entitas pelaporan. Sebagai contoh. dan persediaan. 52. Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk digunakan. diklasifikasikan sebagai aset nonlancar. misalnya barang pakai habis seperti alat tulis kantor. 53.Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang dan aset tak berwujud. dan piutang lainnya yang diharapkan diterima dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Pos-pos investasi jangka pendek antara lain deposito berjangka 3 (tiga) sampai 12 (dua belas) bulan dan surat berharga yang mudah diperjualbelikan. likuiditas. dan materialitas aset. sekelompok aset tetap tertentu dicatat atas dasar biaya perolehan dan kelompok lainnya dicatat atas dasar nilai wajar yang diestimasikan.Aset dan kewajiban yang berbeda dalam sifat dan fungsi kadangkadang diukur dengan dasar pengukuran yang berbeda. Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika: a) diharapkan segera untuk direalisasikan. piutang. Semua aset selain yang termasuk dalam (a) dan (b). dipakai. tuntutan ganti rugi. yang digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. investasi jangka pendek. Ilustrasi hanya merupakan contoh dan bukan merupakan bagian dari standar. sifat. barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa. dan barang bekas pakai seperti komponen bekas. Pos-pos piutang antara lain piutang pajak.02 PSAP 01- 13 . Aset Nonlancar 56. Pertimbangan disajikannya pos-pos tambahan secara terpisah didasarkan pada faktor-faktor berikut ini: a) Sifat. dan jangka waktu kewajiban. Aset Lancar 54. Lampiran I.Contoh format Neraca disajikan dalam ilustrasi PSAP 01. 55.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 penyajian demikian perlu untuk menyajikan secara wajar posisi keuangan suatu entitas pelaporan. atau b) berupa kas dan setara kas.Aset lancar meliputi kas dan setara kas.A dan 01. Tujuan ilustrasi ini adalah menggambarkan penerapan standar untuk membantu dalam pelaporan keuangan. 51. retribusi.

aset kerjasama dengan fihak ketiga (kemitraan). 63. lembaga keuangan negara. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud. Investasi nonpermanen terdiri dari: a) Investasi dalam Surat Utang Negara. dan kas yang dibatasi penggunaannya. .1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 57.Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari dua belas bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Aset nonlancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya. b) Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan kepada fihak ketiga. c) Gedung dan bangunan. Investasi permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan. Aset nonlancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang. Investasi jangka panjang terdiri dari investasi nonpermanen dan investasi permanen. 58. irigasi.Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran.Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari 12 (dua belas) bulan. d) Jalan. e) Aset tetap lainnya. dan c) Investasi nonpermanen lainnya 62.Investasi permanen terdiri dari: a) Penyertaan Modal Pemerintah pada perusahaan negara/perusahaan daerah. badan internasional dan badan hukum lainnya bukan milik negara. dan f) Konstruksi dalam pengerjaan. 66. b) Peralatan dan mesin. 65. 61. tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan. badan hukum milik negara. 60.Investasi nonpermanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan. 64. b) Investasi permanen lainnya. dana cadangan. 59.Aset tetap terdiri dari: a) Tanah. dan jaringan. aset tetap. Dana cadangan dirinci menurut tujuan pembentukannya. dan aset lainnya untuk mempermudah pemahaman atas pos-pos aset nonlancar yang disajikan di neraca.

b) Investasi jangka pendek dicatat sebesar nilai perolehan. Investasi jangka panjang dicatat sebesar biaya perolehan termasuk biaya tambahan lainnya yang terjadi untuk memperoleh kepemilikan yang sah atas investasi tersebut. dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan. tenaga listrik. 72. Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah Lampiran I. 68. (2) Biaya Standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri. 73. Aset moneter dalam mata uang asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. bahan baku. Penjabaran mata uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca. d) Persediaan dicatat sebesar: (1) Biaya Perolehan apabila diperoleh dengan pembelian. Kewajiban Jangka Pendek 75. perlengkapan. Aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan.Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan. Pengukuran aset adalah sebagai berikut: a) Kas dicatat sebesar nilai nominal.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Pengakuan Aset 67. Aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. 74. Aset diakui pada saat diterima atau kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.02 PSAP 01- 15 . 70. c) Piutang dicatat sebesar nilai nominal. seluruh aset tetap dapat disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut. dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut. sewa peralatan. Pengukuran Aset 69. Biaya perolehan aset tetap yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja. (3) Nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan. 71.

b) entitas bermaksud mendanai kembali (refinance) kewajiban tersebut atas dasar jangka panjang. Namun dalam situasi di mana kebijakan pendanaan kembali tidak berada pada entitas (seperti dalam kasus tidak adanya persetujuan pendanaan kembali). atau adanya penjadualan kembali terhadap pembayaran.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 tanggal pelaporan. 79. 77. 80. utang jangka pendek dari fihak ketiga. bersama-sama dengan informasi yang mendukung penyajian ini. Kewajiban jangka pendek dapat dikategorikan dengan cara yang sama seperti aset lancar. pendanaan kembali ini tidak dapat dipertimbangkan secara otomatis dan kewajiban ini diklasifikasikan sebagai pos jangka pendek kecuali penyelesaian atas perjanjian pendanaan kembali sebelum persetujuan laporan keuangan membuktikan bahwa substansi kewajiban pada tanggal pelaporan adalah jangka panjang. meskipun kewajiban tersebut jatuh tempo dan untuk diselesaikan dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan jika: a) jangka waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 (dua belas) bulan. Beberapa perjanjian pinjaman menyertakan persyaratan tertentu (covenant) yang menyebabkan kewajiban jangka panjang menjadi kewajiban . seperti utang transfer pemerintah atau utang kepada pegawai merupakan suatu bagian yang akan menyerap aset lancar dalam tahun pelaporan berikutnya. Beberapa kewajiban yang jatuh tempo untuk dilunasi pada tahun berikutnya mungkin diharapkan dapat didanai kembali (refinancing) atau digulirkan (roll over) berdasarkan kebijakan entitas pelaporan dan diharapkan tidak akan segera menyerap dana entitas. yang diselesaikan sebelum laporan keuangan disetujui. Kewajiban yang demikian dipertimbangkan untuk menjadi suatu bagian dari pembiayaan jangka panjang dan diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Suatu entitas pelaporan tetap mengklasifikasikan kewajiban jangka panjangnya. Beberapa kewajiban jangka pendek. dan bagian lancar utang jangka panjang. utang perhitungan fihak ketiga (PFK). Jumlah setiap kewajiban yang dikeluarkan dari kewajiban jangka pendek sesuai dengan paragraf ini. 76. Misalnya bunga pinjaman. dan c) maksud tersebut didukung dengan adanya suatu perjanjian pendanaan kembali (refinancing). Semua kewajiban lainnya diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Kewajiban jangka pendek lainnya adalah kewajiban yang jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Kewajiban Jangka Panjang 78.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 jangka pendek (payable on demand) jika persyaratan tertentu yang terkait dengan posisi keuangan peminjam dilanggar. sesuai dengan sifatnya. Faktor- Lampiran I. Dalam keadaan demikian. Suatu entitas pelaporan mengungkapkan. kewajiban dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang hanya jika: a) pemberi pinjaman telah menyetujui untuk tidak meminta pelunasan sebagai konsekuensi adanya pelanggaran. 85. Penjabaran mata uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.02 PSAP 01- 17 . Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah pada tanggal laporan. 87. Pengukuran Kewajiban 83. Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sampai saat pelaporan. Pengakuan Kewajiban 81. diklasifikasikan dengan cara yang sesuai dengan operasi entitas yang bersangkutan. Kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Suatu pos disubklasifikasikan lebih lanjut. Ekuitas 84. Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. baik dalam Neraca maupun dalam Catatan atas Laporan Keuangan subklasifikasi pos-pos yang disajikan. dan perubahan atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur dengan andal. Saldo ekuitas di Neraca berasal dari saldo akhir ekuitas pada Laporan Perubahan Ekuitas. 82. Rincian yang tercakup dalam subklasifikasi di Neraca atau di Catatan atas Laporan Keuangan tergantung pada persyaratan dari Standar Akuntansi Pemerintahan dan materialitas jumlah pos yang bersangkutan. bilamana perlu. INFORMASI YANG DISAJIKAN DALAM NERACA ATAU DALAM CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 86. Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada saat kewajiban timbul. dan b) tidak mungkin terjadi pelanggaran berikutnya dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. LAPORAN ARUS KAS 89. fihak terkait. (c) aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kelompok sesuai dengan standar yang mengatur tentang aset tetap. judul dan subtotal disajikan dalam laporan operasional jika standar ini mensyaratkannya. (d) utang transfer dianalisis menurut entitas penerimanya. Pengungkapan akan bervariasi untuk setiap pos.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 faktor yang disebutkan dalam paragraf 86 dapat digunakan dalam menentukan dasar bagi subklasifikasi. dan jumlah lainnya. misalnya: (a) piutang dirinci menurut jumlah piutang pajak. kegiatan operasional suatu entitas pelaporan dapat dianalisis menurut klasifikasi ekonomi atau klasifikasi fungsi/program untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. b) Beban dari kegiatan operasional . penjualan.Laporan Arus Kas menyajikan informasi mengenai sumber. c) Surplus/defisit dari Kegiatan Non Operasional. d) Pos luar biasa. tingkat pengendalian dan metode penilaian. bila ada. 93. perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi. uang muka. 90. 88. (b) persediaan dirinci lebih lanjut sesuai dengan standar yang mengatur akuntansi untuk persediaan. 91. Dalam hubungannya dengan laporan operasional. piutang transfer dirinci menurut sumbernya. pendanaan. Penyajian Laporan Arus Kas dan pengungkapan yang berhubungan dengan arus kas diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas. LAPORAN OPERASIONAL 92. bila ada. Laporan finansial mencakup laporan operasional yang menyajikan pos-pos sebagai berikut: a) Pendapatan-LO dari kegiatan operasional. Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi. e) Surplus/defisit-LO. (f) pengungkapan kepentingan pemerintah dalam perusahaan negara/daerah/lainnya adalah jumlah penyertaan yang diberikan. (e) dana cadangan diklasifikasikan sesuai dengan peruntukannya. dan transitoris. retribusi. atau jika diperlukan untuk menyajikan dengan wajar hasil operasi suatu entitas pelaporan. Penambahan pos-pos. penggunaan. . investasi.

A dan 12. Metode ini sederhana untuk diaplikasikan dalam kebanyakan entitas kecil karena tidak memerlukan alokasi beban operasional pada berbagai fungsi. beban-beban dikelompokkan menurut program atau yang dimaksudkannya. 100. meliputi beban penyusutan/amortisasi. Karena penerapan masing-masing metode pada entitas yang berbeda mempunyai kelebihan tersendiri. berbeda dengan output entitas pelaporan bersangkutan. Dalam laporan operasional yang dianalisis menurut suatu klasifikasi beban. Penambahan pos-pos pada laporan operasional dan deskripsi yang digunakan serta susunan pos-pos dapat diubah apabila diperlukan untuk menjelaskan operasi dimaksud. beban-beban dikelompokkan menurut klasifikasi ekonomi (sebagai contoh beban penyusutan/amortisasi. Laporan Operasional disajikan dalam bentuk perbandingan dengan tahun sebelumnya. beban transportasi. yang contoh formatnya dapat dilihat pada ilustrasi PSAP 12. dan tidak direalokasikan pada berbagai fungsi dalam suatu entitas pelaporan. Penyajian laporan ini memberikan informasi yang lebih relevan bagi pemakai dibandingkan dengan laporan menurut klasifikasi ekonomi.l. 95. Dalam Laporan Operasional. 98. 96. dan beban gaji dan tunjangan pegawai).02 PSAP 01- 19 . 97.B. surplus/defisit penjualan aset nonlancar dan pendapatan/beban luar biasa dikelompokkan dalam kelompok tersendiri.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 94. beban gaji dan tunjangan pegawai. PSAP 12 menguraikan secara lebih rinci Laporan Operasional yang beban-bebannya dikelompokkan menurut klasifikasi ekonomi. baik langsung maupun tidak langsung. Untuk memilih metode klasifikasi ekonomi atau klasifikasi fungsi tergantung pada faktor historis dan peraturan perundang-undangan. Entitas pelaporan yang mengelompokkan beban menurut klasifikasi fungsi mengungkapkan pula tambahan informasi beban menurut klasifikasi ekonomi. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan meliputi materialitas dan sifat serta fungsi komponen pendapatan-LO dan beban. dan beban bunga pinjaman. Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan kurangnya pos-pos: a) Ekuitas awal b) Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan. Kedua metode ini dapat memberikan indikasi beban yang mungkin. Dalam laporan operasional yang dianalisis menurut klasifikasi fungsi. a. 99. beban alat tulis kantor. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS 101. walau dalam hal ini pengalokasian beban ke fungsi-fungsi adakalanya bersifat arbitrer dan atas dasar pertimbangan tertentu. serta hakikat organisasi. sekurang- Lampiran I. maka standar ini memperbolehkan entitas pelaporan memilih salah satu metode yang dipandang dapat menyajikan unsur operasi secara layak.

Tujuan ilustrasi ini adalah menggambarkan penerapan standar untuk membantu dalam pelaporan keuangan. dan .1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 c) Koreksi-koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas.D. d) Ekuitas akhir. Neraca. Laporan Arus Kas. koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode-periode sebelumnya. Catatan atas Laporan Keuangan disajikan secara sistematis. 105. 102. Setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Struktur 104. c) Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih. Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: a) Informasi Umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi. Ilustrasi hanya merupakan contoh dan bukan merupakan bagian dari standar. perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap. d) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakankebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksitransaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya. Laporan Operasional. misalnya: 1. 2. Di samping itu. e) Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka laporan keuangan. Agar dapat digunakan oleh pengguna dalam memahami dan membandingkannya dengan laporan keuangan entitas lainnya. g) Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. 103. f) Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan. yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan. yang antara lain berasal dari dampak kumulatif yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan mendasar. suatu entitas pelaporan menyajikan rincian lebih lanjut dari unsur-unsur yang terdapat dalam Laporan Perubahan Ekuitas dalam Catatan atas Laporan Keuangan. b) Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro.C dan 01. Contoh format Laporan Perubahan Ekuitas disajikan pada ilustrasi PSAP 01.

Lampiran I. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Laporan Perubahan Ekuitas harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Operasional. 109. (c) Pengakuan beban. (b) sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan masa transisi Standar Akuntansi Pemerintahan diterapkan oleh suatu entitas pelaporan. Apabila lebih dari satu basis pengukuran digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. tetapi tidak terbatas pada. seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya. 110. dan (c) setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk memahami laporan keuangan. Neraca. 106. Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran. Kebijakan-kebijakan akuntansi yang perlu dipertimbangkan untuk disajikan meliputi. (b) Pengakuan belanja. Misalnya informasi tingkat bunga dan penyesuaian nilai wajar dapat digabungkan dengan informasi jatuh tempo surat-surat berharga. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan. Dalam menentukan apakah suatu kebijakan akuntansi perlu diungkapkan. hal-hal sebagai berikut: (a) Pengakuan pendapatan-LRA dan pendapatan-LO. Bagian kebijakan akuntansi pada Catatan atas Laporan Keuangan menjelaskan hal-hal berikut ini: (a) dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. maka informasi yang disajikan harus cukup memadai untuk dapat mengindikasikan aset dan kewajiban yang menggunakan basis pengukuran tersebut. manajemen harus mempertimbangkan apakah pengungkapan tersebut dapat membantu pengguna untuk memahami setiap transaksi yang tercermin dalam laporan keuangan. dan Laporan Perubahan Ekuitas. Penyajian Kebijakan-kebijakan Akuntansi 108. 107.02 PSAP 01- 21 . Pengguna laporan keuangan perlu mengetahui basis–basis pengukuran yang digunakan sebagai landasan dalam penyajian laporan keuangan. Dalam keadaan tertentu masih dimungkinkan untuk mengubah susunan penyajian atas pos-pos tertentu dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

c. TANGGAL EFEKTIF 114. Pengakuan dan penghentian/penghapusan aset berwujud dan tidak berwujud. penjabaran mata uang asing. (j) Biaya penelitian dan pengembangan. (l) Dana cadangan. 112. perlu pula diungkapkan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan yang tidak diatur dalam Pernyataan Standar ini. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) ini berlaku efektif untuk laporan keuangan atas pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran mulai Tahun Anggaran 2010. entitas pelaporan dapat menerapkan PSAP Berbasis Kas Menuju Akrual paling lama 4 (empat) tahun setelah Tahun Anggaran 2010. (m) Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai. penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan pokoknya. 111. Setiap entitas pelaporan perlu mempertimbangkan sifat kegiatankegiatan dan kebijakan-kebijakan yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. ketentuan perundang-undangan yang menjadi landasan kegiatan operasionalnya. domisili dan bentuk hukum suatu entitas serta jurisdiksi dimana entitas tersebut beroperasi. (i) Kemitraan dengan fihak ketiga. Dalam hal entitas pelaporan belum dapat menerapkan PSAP ini. yaitu: a. dan perlakuan akuntansi terhadap selisih kurs. Investasi. baik yang untuk dijual maupun untuk dipakai sendiri. Selain itu. retribusi dan bentuk-bentuk lainnya dari iuran wajib (nonreciprocal revenue).1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 (d) (e) (f) Prinsip-prinsip penyusunan laporan konsolidasian. (k) Persediaan. 115. (g) Kontrak-kontrak konstruksi. pengungkapan informasi untuk pengakuan pajak. Kebijakan akuntansi bisa menjadi signifikan walaupun nilai pospos yang disajikan dalam periode berjalan dan sebelumnya tidak material. Sebagai contoh. Pengungkapan-Pengungkapan Lainnya 113. Suatu entitas pelaporan mengungkapkan hal-hal berikut ini apabila belum diinformasikan dalam bagian manapun dari laporan keuangan. b. . (h) Kebijakan kapitalisasi pengeluaran.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 ASET ASET LANCAR Kas di Bank Indonesia Kas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Pajak Piutang Penerimaan Negara Bukan Pajak Penyisihan Piutang Beban Dibayar Dimuka Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Lembaga Internasional Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi Piutang Lainnya Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 19) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Nonpermanen Pinjaman Jangka Panjang Dana Bergulir Investasi dalam Obligasi Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Nonpermanen Lainnya Jumlah Investasi Nonpermanen (24 s/d 28) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (31 s/d 32) Jumlah Investasi Jangka Panjang (29 + 33) ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Uraian 20X1 20X0 xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx .A Contoh Format Neraca Pemerintah Pusat PEMERINTAH PUSAT NERACA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 ILUSTRASI PSAP 01.

Irigasi.Sektor Perbankan Utang Dalam Negeri .Obligasi Premium (Diskonto) Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (68 s/d 72) JUMLAH KEWAJIBAN (65+73) EKUITAS EKUITAS JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (74+77) 20X1 xxx xxx xxx (xxx) xxx 20X0 xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxxx .LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 ILUSTRASI PSAP 01. dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap (37 s/d 43) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain Jumlah Aset Lainnya (47 s/d 51) JUMLAH ASET (20+34+44+52) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Pendapatan Diterima Dimuka Utang Belanja Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (59 s/d 64) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Luar Negeri Utang Dalam Negeri . 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Uraian Jalan.A Contoh Format Neraca Pemerintah Pusat PEMERINTAH PUSAT NERACA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.

B Contoh Format Neraca Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN /KOTA NERACA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Irigasi.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 ILUSTRASI PSAP 01. dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Uraian 20X1 20X0 xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Pajak Piutang Retribusi Penyisihan Piutang Belanja Dibayar Dimuka Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi Piutang Lainnya Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 19) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Nonpermanen Pinjaman Jangka Panjang Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Nonpermanen Lainnya Jumlah Investasi Nonpermanen (24 s/d 27) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (30 s/d 31) Jumlah Investasi Jangka Panjang (28 + 32) ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.

Obligasi Premium (Diskonto) Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (71 s/d 74) JUMLAH KEWAJIBAN (68+75) EKUITAS EKUITAS JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (76+79) 20X1 xxx (xxx) xxx 20X0 xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxxx . 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 Uraian Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap (36 s/d 42) DANA CADANGAN Dana Cadangan Jumlah Dana Cadangan (46) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain Jumlah Aset Lainnya (50 s/d 54) JUMLAH ASET (20+33+43+47+55) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Pendapatan Diterima Dimuka Utang Belanja Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (62 s/d 67) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .Contoh Format Neraca Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN /KOTA NERACA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Sektor Perbankan Utang Dalam Negeri .

C Contoh Format Laporan Perubahan Ekuitas Pemerintah Pusat PEMERINTAH PUSAT LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 NO 1 2 3 4 5 6 7 URAIAN EKUITAS AWAL SURPLUS/DEFISIT-LO DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN/KESALAHAN MENDASAR: KOREKSI NILAI PERSEDIAAN SELISIH REVALUASI ASET TETAP LAIN-LAIN EKUITAS AKHIR 20X1 XXX XXX XXX XXX XXX XXX 20X0 XXX XXX XXX XXX XXX XXX .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 ILUSTRASI PSAP 01.

LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 ILUSTRASI PSAP 01.D Contoh Format Laporan Perubahan Ekuitas Provinsi/Kabupaten/Kota PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 NO 1 2 3 4 5 6 7 URAIAN EKUITAS AWAL SURPLUS/DEFISIT-LO DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN/KESALAHAN MENDASAR: KOREKSI NILAI PERSEDIAAN SELISIH REVALUASI ASET TETAP LAIN-LAIN EKUITAS AKHIR 20X1 XXX XXX XXX XXX XXX XXX 20X0 XXX XXX XXX XXX XXX XXX .

E Contoh Format Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih Pemerintah Pusat PEMERINTAH PUSAT LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 NO 1 Saldo Anggaran Lebih Awal 2 Penggunaan SAL sebagai Penerimaan Pembiayaan Tahun Berjalan 3 Subtotal (1 .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 ILUSTRASI PSAP 01.2) 4 Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA) 5 Subtotal (3 + 4) 6 Koreksi Kesalahan Pembukuan Tahun Sebelumnya 7 Lain-lain 8 Saldo Anggaran Lebih Akhir (5 + 6 + 7) URAIAN 20X1 XXX (XXX) XXX XXX XXX XXX XXX XXX 20X0 XXX (XXX) XXX XXX XXX XXX XXX XXX .

2) Subtotal (3 + 4) 4 Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA) 6 Koreksi Kesalahan Pembukuan Tahun Sebelumnya 7 Lain-lain 8 Saldo Anggaran Lebih Akhir (5 + 6 + 7) URAIAN 20X1 XXX (XXX) XXX XXX XXX XXX XXX XXX 20X0 XXX (XXX) XXX XXX XXX XXX XXX XXX .LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2010 ILUSTRASI PSAP 01.F Contoh Format Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih Pemerintah Daerah PEMERINTAH DAERAH LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 NO 1 Saldo Anggaran Lebih Awal 2 Penggunaan SAL sebagai Penerimaan Pembiayaan Tahun Berjalan 3 5 Subtotal (1 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->