P. 1
Ban Aw A

Ban Aw A

|Views: 871|Likes:
Published by BARRA_B

More info:

Published by: BARRA_B on Apr 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

Sections

Sulawesi Tengah yang terletak di bagian barat kepulauan Maluku dan bagian selatan Philipina
membuat pelabuhan di daerah ini sebagai persinggahan kapal-kapal Portugis dan Spanyol lebih
dari 500 tahun lampau. Dalam perjalanannya mengelilingi dunia Francis Drake singgah di salah
satu pulau kecil di bagian timur propinsi ini selama sebulan pada bulan Januari 1580.

Setelah dikuasai oleh Belanda pada tahun 1905 Sulawesi Tengah dibagi menjadi beberapa
kerajaan kecil, dibawah kekuasaan raja yang memiliki wewenang penuh.

Belanda membagi Sulawesi Tengah menjadi tiga daerah yaitu wilayah barat yang kini dikenal
dengan Kabupaten Donggala dan Buol Toli-Toli dibawah kekuasaan Gubernur yang
berkedudukan di Makassar.

Di bagian tengah yang membujur di Donggala kawasan timur dan bagian selatan Poso berada
dibawah pengawasan Residen di Manado, bagian timur dikendalikan dari Bau-Bau.

Pada tahun 1919 raja-raja yang masih berkuasa dibawah kekuasaan Belanda menandatangani

suatu perjanjian yang disebut ―Korte Verklaring Renewcame‖ memperbaharui persekutuan

mereka dan seluruh daerah Sulawesi Tengah dibawah kekuasaan residen di Sulawesi Utara.
Setelah perang dunia kedua wilayah yang merupakan Propinsi Sulawesi Tengah dewasa ini
dibagi menjadi beberapa bagian dan sub bagian hingga pada tahun 1964 terbentuk menjadi

propinsi tersendiri yang terpisah dari Sulawesi Utara yang bergabung sejak 1960. Akhirnya
tanggal 13 April 1964 diangkatlah gubernur tersendiri untuk propinsi ini yang hingga saat ini
tanggal tersebut tetap diperigati sebagai hari ulang tahun propinsi ini.

Wilayah provinsi Sulawesi Tengah sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda
merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan di bawah kepemimpinan
para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh
Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.

Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintahan
Hindia Belanda, dari Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat, kemudian oleh
Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat Pemerintahan
Hindia Belanda yang meliputi, antara lain:

1. Poso Lage di Poso
2. Lore di Wianga
3. Tojo di Ampana
4. Pulau Una-una di Una-una
5. Bungku di Bungku
6. Mori di Kolonodale
7. Banggai di Luwuk
8. Parigi di Parigi
9. Moutong di Tinombo
10. Tawaeli di Tawaeli
11. Banawa di Donggala
12. Palu di Palu
13. Sigi/Dolo di Biromaru
14. Kulawi di Kulawi
15. Tolitoli di Tolitoli

Dalam perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa
lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah
Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian, yakni:

1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai
dan Kabupaten Buol Tolitoli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang
Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi
Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah
Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah dibagi
menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan
Lima Belas Swapraja.
3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi
Timur Bau-bau.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964
terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten
Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya
Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri
sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan
Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut
diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.

Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang
menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat
mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas
Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan
Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah
Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi
Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Kini berdasarkan pemekaran wilayah kabupaten,
provinsi ini terbagi menjadi 10 daerah, yaitu 9 kabupaten dan 1 kota.

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, diantaranya sungai Lariang yang terkenal
sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi
obyek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa
dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi obyek
penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh
Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.

http://infosulawesitengah.wordpress.com/sejarah/

Billy

SEJARAH SULAWESI TENGAH

Sejarah Singkat Pertumbuhan Sulawesi Tengah.

Wilayah Propinsi Sulawesi Tengah, sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda
merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 (Lima Belas) Kerajaan dibawah
kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan
Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.
Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ketangan Pemerintahan Hindia
Belanda, dari Tujuh Kerajaan Di Timur dan Delapan Kerajaan Di Barat, kemudian oleh Pemerintah
Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat Pemerintahan Hindia Belanda yang
meliputi, antara lain :
1. Poso Lage di Poso;
2. Lore di Wianga;
3. Tojo di Ampana ;
4. Pulau Una-una di Una-una;
5. Bungku di Bungku;
6. Mori di Kolonodale;
7. Bagai di Luwuk;
8. Parigi di Parigi;
9. Moutong di Tinombo;
10. Tawaeli di Tawaeli;
11. Banawa di Donggala;
12. Palu di Palu;
13. Sigi/Dolo di Biromaru;
14. Kulawi di Kulawi
15. Tolo-toli di Toli-toli;
Dalam perkembanganya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di
Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, oleh Pemerintah Pusat membagi wilayah Sulawesi Tengah
menjadi 3 (Tiga) bagian yakni :
1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan
Kabupaten Buol Toli-toli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun
1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi;
2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di
Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi
Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah di bagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling
Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.
Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964
terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten
Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Toli-toli. Selanjutnya
Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Propinsi yang otonom berdiri

sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan
Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut
diperingatin sebagai Hari Lahirnya Propinsi Sulawesi Tengah.
Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang
menginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan
kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang
Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan.
Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi
Kabupaten baru di Propinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong. Dengan demikian
hingga saat ini berdasarkan pemekaran Wilayah Kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah, Menjadi
sembilan Daerah yakni :
1. Kabupaten Donggala berkedudukan di Donggala
2. Kabupaten Poso berkedudukan di Poso
3. Kabupaten Banggai berkedudukan di Luwuk
4. Kabupaten Toli-toli berkedudukan di Toli-toli
5. Kota Palu berkedudukan di Palu
6. Kabupaten Buol berkedudukan di Buol
7. Kabupaten Morowali berkedudukan di Kolonodale
8. Kabupaten Banggai Kepulauan berkedudukan di Banggai
9. Kabupaten Parigi Moutong berkedududkan di Parigi

sumber : Sulteng.go.id _______________________________

ini beberapa tambahannya ;

Provinsi Sulawesi Tengah dibentuk tahun 1964. Sebelumnya Sulawesi Tengah merupakan salah satu
wilayah keresidenan di bawah Pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara-Tengah. Provinsi yang
beribukota di Palu ini terbentuk berdasarkan Undang-undang No. 13/1964.

Seperti di daerah lain di Indonesia, penduduk asli Sulawesi Tengah merupakan percampuran antara
bangsa Wedoid dan negroid. Penduduk asli ini kemudian berkembang menjadi suku baru menyusul
datangnya bangsa Proto-Melayu tahun 3000 SM dan Deutro-Melayu tahun 300 SM. Keberadaan para
penghuni pertama Sulawesi Tengah ini diketahui dari peninggalan sejarah berupa peralatan dari
kebudayaan Dongsong (perunggu) dari zaman Megalitikum.

Perkembangan selanjutnya banyak kaum migran yang datang dan menetap di wilayah Sulawesi
Tengah. Penduduk baru ini dalam kehidupan kesehariannya bercampur dengan penduduk lama
sehingga menghasilkan percampuran kebudayaan antara penghuni lama dan baru. Akhirnya, suku-
suku bangsa di Sulawesi Tengah dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu, Palu Toraja, Koro Toraja,
dan Poso Toraja.

Pada abad ke 13, di Sulawesi Tengah sudah berdiri beberapa kerajaan seperti Kerajaan Banawa,

Kerajaan Tawaeli, Kerajaan Sigi, Kerajaan Bangga, dan Kerajaan Banggai. Pengaruh Islam ke
kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah mulai terasa pada abad ke 16. Penyebaran Islam di Sulawesi
Tengah ini merupakan hasil dari ekspansi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Pengaruh yang
mula-mula datang adalah dari Kerajaan Bone dan Kerajaan Wajo.

Pengaruh Sulawesi Selatan begitu kuat terhadap Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Tengah, bahkan
sampai pada tata pemerintahan. Struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah
akhirnya terbagi dua, yaitu, yang berbentuk Pitunggota dan lainnya berbentuk Patanggota.

Pitunggota adalah suatu lembaga legislatif yang terdiri dari tujuh anggota dan diketuai oleh seorang
Baligau. Struktur pemerintahan ini mengikuti susunan pemerintahan ala Bone dan terdapat di
Kerajaan Banawa dan Kerajaan Sigi. Struktur lainnya, yaitu, Patanggota, merupakan pemerintahan
ala Wajo dan dianut oleh Kerajaan Palu dan Kerajaan Tawaeli. Patanggota Tawaeli terdiri dari
Mupabomba, Lambara, Mpanau, dan Baiya.

Pangaruh lainnya adalah datang dari Mandar. Kerajaan-kerajaan di Teluk Tomini adalah cikal
bakalnya berasal dari Mandar. Pengaruh Mandar lainnya adalag dengan dipakainya istilah raja.
Sebelum pengaruh ini masuk, di Teluk Tomini hanya dikenal gelar Olongian atau tuan-tuan tanah
yang secara otonom menguasai wilayahnya masing-masing. Selain pengaruh Mandar, kerajaan-
kerajaan di Teluk Tomini juga dipengaruhi Gorontalo dan Ternate. Hal ini terlihat dalam struktur
pemerintahannya yang sedikit banyak mengikuti struktur pemerintahan di Gorontalo dan Ternate
tersebut. Struktur pemerintahan tersebut terdiri dari Olongian (kepala negara), Jogugu (perdana
menteri), Kapitan Laut (Menteri Pertahanan), Walaapulu (menteri keuangan), Ukum (menteri
perhubungan), dan Madinu (menteri penerangan).

Dengan meluasnya pengaruh Sulawesi Selatan, menyebar pula agama Islam. Daerah-daerah yang
diwarnai Islam pertama kali adalah daerah pesisir. Pada pertengahan abad ke 16, dua kerajaan, yaitu
Buol dan Luwuk telah menerima ajaran Islam. Sejak tahun 1540, Buol telah berbentuk kesultanan
dan dipimpin oleh seorang sultan bernama Eato Mohammad Tahir.

Mulai abad ke 17, wilayah Sulawesi Tengah mulai masuk dalam kekuasaan kolonial Belanda. Dengan
dalih untuk mengamankan armada kapalnya dari serangan bajak laut, VOC membangun benteng di
Parigi dan Lambunu. Pada abad ke 18, meningkatkan tekanannya pada raja-raja di Sulawesi Tengah.
Mereka memanggil raja-raja Sulawesi Tengah untuk datang ke Manado dan Gorontalo untuk
mengucapkan sumpah setia kepada VOC. Dengan begitu, VOC berarti telah menguasai kerajaan-
kerajaan di Sulawesi Tengah tersebut.

Permulaan abad ke 20, dengan diikat suatu perjanjian bernama lang contract dan korte verklaring,
Belanda telah sepenuhnya menguasai Sulawesi Tengah, terhadap kerajaan yang membangkang,
Belanda menumpasnya dengan kekerasan senjata. Pada permulaan abad ke 20 pula mulai muncul
pergerakan-pergerakan yang melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Selain pergerakan
lokal, masuk pula pergerakan-pergerakan yang berpusat di Jawa. Organisasi yang pertama
mendirikan cabang di Sulawesi Tengah adalah Syarikat Islam (SI), didirikan di Buol Toli-Toli tahun

1916. Organisasi lainnya yang berkembang di wilayah ini adalah Partai Nasional Indonesia (PNI)
yang cabangnya didirikan di Buol tahun 1928. organisasi lainnya yang membuka cabang di Sulawesi
Tengah adalah Muhammadiyah dan PSII.

Perlawanan rakyat mencapai puncaknya tanggal 25 Januari 1942. Para pejuang yang dipimpin oleh
I.D. Awuy menangkap para tokoh kolonial seperti Controleur Toli-Toli De Hoof, Bestuur Asisten
Residen Matata Daeng Masese, dan Controleur Buol de Vries. Dengan tertangkapnya tokoh-tokoh
kolonial itu, praktis kekuasaan Belanda telah diakhiri. Tanggal 1 Februari 1942, sang merah putih
telah dikibarkan untuk pertama kalinya di angkasa Toli-Toli. Namun keadaan ini tidak berlangsung
lama karena seminggu kemudian pasukan Belanda kembali datang dan melakukan gempuran.

Meskipun telah melakukan gempuran, Belanda tidak sempat berkuasa kembali di Sulawesi Tengah
karena pada waktu itu, Jepang mendarat di wilayah itu, tepatnya di Luwuk tanggal 15 Mei 1942.
dalam waktu singkat Jepang berhasil menguasai wilayah Sulawesi Tengah. Di era Jepang, kehidupan
rakyat semakin tertekan dan sengsara seluruh kegiatan rakyat hanya ditujukan untuk mendukung
peperangan Jepang. Keadaan ini berlangsung sampai Jepang menyerah kepada Sekutu dan disusul
dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada awal kemerdekaan, Sulawesi tengah merupakan bagian dari provinsi Sulawesi. Sebagaimana
daerah lainnya di Indonesia, pasca kemerdekaan adalah saatnya perjuangan mempertahankan
kemerdekaan yang baru saja diraih. Rongrongan terus datang dari Belanda yang ingin kembali
menjajah Indonesia. Belanda menerapkan politik pecah-belah dimana Indonesia dijadikan negara
serikat. Namun akhirnya bangsa Indonesia dapat melewati rongrongan itu dan ada tanggal 17
Agustus 1950 Indonesia kembali menjadi negara kesatuan.

Sejak saat itu, Sulawesi kembali menjadi salah satu provinsi di Republik Indonesia dan berlangsung
hingga terjadi pemekaran tahun 1960. Pada tahun tersebut Sulawesi dibagi dua menjadi Sulawesi
Selatan-Tenggara yang beribukota di Makassar dan Sulawesi Utara-Tengah yang beribukota di
Manado. Pada tahun 1964, Provinsi Sulawesi Utara-Tengah dimekarkan menjadi provinsi Sulawesi
Utara yang beribukota di Manado dan Sulawesi Tengah yang beribu kota di Palu.

about 9 months ago

Foxsmank

SEJARAH RINGKAS PERLAWANAN RAKYAT SULAWESI TENGAH TERHADAP KEKUASAAN
PENJAJAHAN DI INDONESIA.Tahun 1902 Belanda mulai menginjakkan kakinya di lembah Palu,
dengan siasat ingin bersahabat dengan Raja setempat - Namun tujuan busuk Belanda ketahuan
melalui berbagai pungutan yang mereka lakukan dan tindakan ini menimbulkan perlawan di
masyarakat lembah Palu, yaitu :1. PERLAWANAN RAKYAT SIGI DIPIMPIN OLEH TOI DOMPO ATAU
KARANJA LEMBAH
2. PERLAWANAN RAKYAT BANAWA DIPIMPIN OLEH MALONDA
3. PERLAWANAN RAKYAT KULAWI DIMPIN OLEH TOI TARENGKE
4. PERLAWANAN RAKYAT MORI DI PIMPIN OLEH MARUNDUH
5. PERLAWANAN RAKYAT SALUMPAGA DIPIMPIN OLEH HAJI HAYYUN
6. PERLAWANAN RAKYAT DOLO DIPIMPIN OLEH DATUPAMUSU
7. PERLAWANAN RAKYAT KALEKE/PEWUNU DIPIMPIN OLEH YOTO DAENG PAWINDU DS
8. PERLAWANAN RAKYAT DOLAGO DIPIMPIN OLEH MARJUN HABI DAN ABDUL WAHID TOANA
9. PERLAWANAN RAKYAT PALU DIPIMPIN OLEH RADJAMAILI
10. PERLAWANAN RAKYAT TAVAILI DIPIMPIN OLEH DJAELANGKARA
11. PERLAWANAN RAKYAT TATANGA DIPIMPIN OLEH RATU RANGIGGAMAGI 12. PERLAWANAN
RAKYAT MOUTONG DIPIMPIN OLEH RAJA KUTI TOMBOLOTUTU
13. PERLAWANAN RAKYAT SOJOL DIPIMPIN OLEH KALEOLANGI DAN SINGALAM 14. PERLAWANAN
RAKYAT PARIGI DIPIMPIN OLEH VINONO
15. PERLAWANAN RAKYAT SAUSU DIPIMPIN OLEH LALOVE -
Setelah jepang menduduki Indonesia tahun 1942 rakyat sulawesi tengah membentuk sejumlah
gerakan organisasi :
1. ORGANISASI MERAH PUTIH BERPUSAT DI KALEKE
2. PARTAI PERSATUAN INDONESIA MERDEKA PIMPINAN H.ABDUL KADIR NONCI 3. ANGKATAN
PEMUDA INDONESIA PIMPINAN RADEN AMBIAH DAN JUNUS SUNUSI
4. PEMUDA INDONESIA MERDEKA PIMPINAN PIOLA ISA, ANDI TJELLA NURDIN, ANDI BARU
LAMARAUNA DAN ANDI NGARO PETTALOLO
5. SAREKAT ISLAM PIMPINAN YOTO DAENG PAWINDU DAN RAHIM PAKAMUNDI 6. PNI PIMPINAN
YOTO DAENG PAWINDU DAN ABDUL WAHID TOANA
7. LASKAR PEMUDA MERAH PUTIH PIMPINAN LOLONTOMENE LAMAKARATE, DM GAGARAMUSU
DAN DM LAMAKAMPALI .
8. ORGANISASI KEPANDUAN PIMPINAN ISMAIL BORAHIMA DAN JASIN TANTU 9. AKSI GERILYA
KILAT PIMPINAN M. MASJHUDA, BAHREN THAJEB DLL
10. PERJUANGAN RAKYAT INDONESIA MERDEKA PIMPINAN YOTO DAENG PAWINDU DS
11. GERAKAN RAKYAT INDONESIA MERDEKA PIMPINAN JONDI MARANUA DAN DM LAMAKAMPALI
12. GABUNGAN PARTAI PERJUANGAN RAKYAT INDONESIA PIMPINAN H. MOH ARSYAD DAN M.DJ
ABDULLAH
13. ISTERI SADAR PIMPINAN NY. AMINAH DJANGGOLA
14. PERSATUAN WANITA PIMPINAN : NY KALSUM R.TIANGSO DAN NY. S. SUBAEDAH ABDULLAH
15. ORGANISASI SENI BUDAYA YANG DIMOTOTRI OLEH JUNUS SUNUSI, DM GAGARAMUSU, SUNU
YOTOMARUANGI, YAHYA PAKAMUNDI JONDI MARANUA 16. MELALUI PENDIDIKAN SEPERTI
SEKOLAH ISLAMIYAH, MUHAMMADIYAH, PERGURUAN ISLAM ALKHAIRAAT DAN BALA
KESELAMATAN

- Digedung bekas kediaman penguasa Belanda pada tahun 1950 RAJA TJATJO IDJAZAH
memproklamirkan daerah sulawesi tengah berpisah dari Negara Indonesia Timur dan bergabung
dengan RI yang berpusat di Yogyakarta..Gedung tersebut kini menjadi Gedung Juang 45 - dua
pahlawan tanah kaili yaitu Yoto Daeng Pawindu DS dan Abdul Wahid Toana oleh Pemerintah RI
dinyatakan sebagai Perintis kemerdekaan... ( Dari catatan DAUD AGAN, MANTAN KETUA MARKAS
CABANG LEGIUN VETERAN RI KAB. DONGGALA )

about 9 months ago

Billy

Sebagai nama satu wilayah Sulawesi Tengah sama tuanya dengan sejarah Nusantara namun sebagai
salah satu provinsi Republik Indonesia daerah ini tergolong muda. Propinsi Sulawesi Tengah dengan
ibukotanya Palu dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 13/1964. Pembentukannya ditandai
dengan upacara besar-besaran di kota Palu pada tanggal 13 April 1964 ketika Anwar Gelar Datuk
Rajo Base Nan Kuning menerima penyerahan wilayah dan pemerintahan Keresidenan Sulawesi
Tengah dari Gubernur Sulawesi Utara-Tengah.

Upacara bersejarah itu merupakan akhir dari suatu proses perjuangan rakyat di Sulawesi Tengah
yang berlangsung lebih dari 10 tahun. Sebelum mencapai status sebagai daerah propinsi yang berdiri
sendiri Sulawesi Tengah merupakan daerah keresidenan yang tergabung dalam Propinsi Sulawesi
Utara-Tengah, yang dibentuk dengan Undang-undang Nomor 47/Prp/1960. Karena itu sejarah
pemerintahan kedua propinsi ini tidak terlepas satu sama lain.

Seperti propinsi-propinsi lainnya di Pulau Sulawesi, Sulawesi Tengah juga mencatat beberapa kali
perubahan administrasi pemerintahan sejak Proklamasi Kemerdekaan sampai statusnya ditetapkan
sebagai daerah tingkat I.

Pada permulaan kemerdekaan, wilayah ini merupakan bagian dari Propinsi Sulawesi. Tetapi karena
bergolaknya perang kemerdekaan pada masa itu pembenahan administrasi pemerintahan belum
dapat dilakukan. Pemerintahan daerah Propinsi Sulawesi yang dibentuk bersama tujuh propinsi
lainnya pada awal kemerdekaan Propinsi Sumatera, Propinsi Jawa Barat, Propinsi Jawa Tengah,
Propinsi Jawa Timur, Propinsi Sunda Kecil, Propinsi Kalimantan, dan Propinsi Maluku - tidak banyak
melakukan konsolidasi ke dalam. Demikian pula halnya di Propinsi Sulawesi. Gubernur Propinsi
Sulawesi Dr. G.S.S.J. Ratulangi yang memulai tugasnya di Makassar pada 19 Agustus 1945 ternyata
hanya bertahan sembilan bulan. Sebab pada tanggal 5 April 1946 tentara Belanda yang datang
kembali bersama pasukan Sekutu menangkapnya dan kemudian mengasingkannya ke Serui, Papua.

Kendati demikian, pesan-pesan untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan telah
dikirim ke seluruh pelosok Pulau Sulawesi. Karena itulah meskipun pemerintahan daerah Propinsi
Sulawesi tidak berjalan lagi, tokoh-tokoh pergerakan di daerah ini segera mengambil langkah-
langkah untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah dicapai.

Di Kota Poso misalnya, para pemuda di bawah pimpinan W. L. Talasa mengambil alih kekuasaan
pemerintahan dari tangan Jepang dan membentuk barisan sukarela dengan nama Pemuda Merah
Putih. Organisasi ini dipimpin oleh Yacob Lamayuda, bekas perwira Heiho. Demikian pula di Donggala
dan Palu. Raja Banawa R. Lamara Una mengambil alih kekuasaan tentara Jepang.

Sementara itu kurir Gubernur Sulawesi yang dikirim melalui Palopo tiba di Poso. Utusan ini terdiri
dari Landau dan kawan-kawan. Lalu datang Ali Lemato, A. Tumu dan seorang kurir lainnya dari
Gorontalo. Kedatangan mereka menambah semangat sehingga perjuangan mempertahankan
kemerdekaan lebih bergelora lagi di seluruh Pulau Sulawesi.

Untuk lebih meningkatkan perjuangan ke daerah-daerah lainnya dikirim pula kurir. Ke daerah

Donggala / Palu diutus Abdul Gani (Isa Piola) yang membawa siaran-siaran tertulis dari Gubernur
Sulawesi. Tetapi usaha-usaha para tokoh pergerakan dan pemuda untuk membentuk pemerintahan
nasional RI di daerah ini tidak dapat terwujud karena digagalkan oleh kolonial Belanda (NICA) yang
kembali ke Sulawesi Tengah dengan membonceng kedatangan tentara Sekutu pada bulan September
1945.

Keadaan semakin mencekam dan genting, ketika tentera Sekutu pada 1946 meninggalkan Indonesia
dan menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda. Sejak itu perjuangan mempertahankan
kemerdekaan yang secara langsung berhadapan dengan Belanda dilakukan secara bergerilya dan di
bawah tanah.

Pada tanggal 3 Maret 1946, tokoh-tokoh kelaskaran wilayah Palu-Donggala mengadakan pertemuan
untuk meningkatkan gerakan perlawanan secara nyata melalui pembentukan partai-partai politik.
Terbentuk beberapa organisasi sebagai wadah perjuangan seperti Perjuangan Rakyat Indonesia
Merdeka (Prima) di daerah Sigi-Dolo, Partai Rakyat Indonesia (Parindo) di daerah Wani, Gerakan
Rakyat Indonesia Merdeka (Gerima) di daerah Tawaeli, Angkatan Pemuda Indonesia (API) di Palu
dan Organisasi Wanita di Biromaru. Perlawanan demi perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan,
meskipun kota-kota penting di wilayah ini praktis sepenuhnya di bawah kontrol Belanda.

Penjajah yang ingin mengembalikan kekuasaannya di Indonesia menyadari bahwa untuk
mengembalikan Indonesia seperti halnya sebelum perang (PD II) adalah tidak mungkin sama sekali.
Oleh karena itu Gubernur jenderal Hindia Belanda di Jakarta Dr. H.J. Van Mook mencetuskan gagasan
untuk membentuk negara serikat atau federasi yang akan tergabung dalam Uni Indonesia-Belanda.

Guna mewujudkan gagasan ini Van Mook mengadakan Konferensi Malino pada 15-25 juli 1946.
Konferensi ini menelorkan beberapa keputusan: antara lain, negara Indonesia nantinya harus
berbentuk federasi dan sebelum negara federal tersebut terbentuk, maka di dalam masa peralihan
kedaulatan ada di tangan Belanda.

Tanpa mempedulikan perundingan-perundingan yang sedang dilangsungkan oleh Pemerintah Pusat
Republik Indonesia, Van Mook lebih mematangkan lagi keputusan Konferensi Malino tersebut pada
Konferensi Denpasar yang diselenggarakan pada 24-28 Desember 1946.

Dalam Konferensi Denpasar itulah dibentuk Negara Indonesia Timur (NIT) yang merupakan negara
bagian pertama dari negara serikat yang akan didirikan tersebut. NIT berdiri tanggal 24 Desember
1946 dengan ibukotanya Makassar (Ujungpandang) dan sebagai presidennya Tjokorde Gede Raka
Sukawati. Wilayah NIT meliputi 13 daerah yaitu Sulawesi Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara,
Sulawesi Tengah, Kepulauan Sangihe Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Bali, Lombok, Timor,
dan pulau-pulau Flores, Sumbawa, dan Sumba.

Menurut naskah pembentukan NIT pada bab III pasal 14 ayat 1 sub 5e disebutkan: Daerah Sulawesi
Tengah terdiri dari resort afdeling Poso dan Donggala meliputi kerajaan-kerajaan Tojo, Poso, Lore,
Una-Una, Bungku, Mori, Banggai, Banawa, Tawaeli, Palu, Sigi, Dolo, Kulawi, Parigi, Moutong, dan Toli-

Toli.

Kehadiran NIT segera diketahui oleh tokoh-tokoh pergerakan sebagai negara bentukan kolonial
Belanda. Karena itu pada tanggal 2 Januari 1947 seluruh partai politik di Sulawesi Tengah
mempersatukan diri dalam satu wadah yang dinamakan Gabungan Perjuangan Rakyat Indonesia
(Gapprist).

Keadaan ini berlangsung sampai dilaksanakannya pengakuan kedaulatan RIS oleh Kerajaan Belanda
pada tanggal 27 Desember 1949. Sesudah itu di seluruh Indonesia termasuk di daerah ini terjadi
masa-masa peralihan ketatanegaraan. Sebelumnya yaitu pada tanggal 30 Agustus 1949 Pemerintah
NIT membentuk DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Sulawesi Tengah.

Melalui badan legislatif inilah organisasi-organisasi pergerakan di daerah ini seperti IPPRI (Ikatan
Persatuan Perjuangan Rakyat Indonesia) menuntut pembubaran NIT dan kembali bergabung dengan
Negara Republik Indonesia. Untuk itu pula kepada wakil daerah Sulawesi Tengah di DPR NIT di
Makassar dikirim kawat yang isinya bahwa partai-partai pergerakan di Sulawesi Tengah yang terdiri
dari 29 partai memutuskan menyokong gerakan pembubaran NIT dengan segera dan terbentuknya
Negara Kesatuan RI.

Sebagai kelanjutan dari kawat tersebut, maka pada tanggal 6 Mei 1950 diadakan rapat umum di
Palu yang dihadiri oleh pejabat-pejabat dan para pemimpin partai politik setempat.

Dalam rapat umum itu dibacakan Maklumat Pucuk Pimpinan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Isinya,
antara lain, menyatakan: "Mulai tanggal 6 Mei 1950 pukul 007.00 pagi tiga kerajaan Palu, Sigi, Dolo,
dan Kulawi beserta seluruh rakyatnya menyatakan melepaskan diri dari Negara Indonesia Timur
(NIT) dan menggabungkan diri dengan Republik Indonesia.

Pernyataan yang terdiri atas 12 butir tersebut ditandatangani oleh Tjaqo Idjazah dan R. Sungkowo
atas nama BKR dan Lumowa mewakili pihak Kepolisian. Sejak itu tuntutan pembubaran NIT semakin
gencar dan tak dapat di bendung lagi. Akhirnya Pemerintah NIT memberi kuasa kepada Pemerintah
RIS untuk membicarakan tuntutan sanubari rakyatnya ini dengan Pemerintah RI di Yogyakarta.

Pada tanggal 19 Mei 1950, antara Pemerintah RIS dan Pemerintah RI tercapai persetujuan untuk
membentuk negara kesatuan dengan jalan mengubah konstitusi RIS, yang kemudian dilanjutkan
dengan diterbitkannya UU RIS No. 7 tahun 1950, tentang perubahan UUD RIS menjadi Undang-
undang Dasar Sementara (UUDS). Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1950 dinyatakanlah
pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta pembubaran negara RIS beserta
negara-negara bagiannya.

Sejak itu pemerintahan nasional Propinsi Sulawesi kembali menjalankan fungsinya. Sebagai pejabat
gubernur diangkat BW Lapian (17-8-1950 sampai 1-07-1951). Selanjutnya pada tanggal 4 juli 1951,
ditetapkan Sudiro sebagai gubernur permanen untuk propinsi ini.

Sejalan dengan pembangunan di bidang pemerintahan, pada tahun 1960 dengan Peraturan Presiden
Nomor 5 tahun 1960 yang kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 47/ Prp tahun 1960,
Propinsi Sulawesi dimekarkan menjadi dua propinsi yaitu Propinsi Sulawesi Selatan-Tenggara
(Sulsera) dengan ibukotanya Makassar dan Propinsi Sulawesi UtaraTengah (Sulutteng) dengan
ibukotanya Manado.

Kemudian dengan semakin meningkatnya perkembangan pemerintahan dan pembangunan, maka
Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi UtaraTengah dimekarkan lagi dengan Undang-undang
No.13/1964 menjadi dua propinsi daerah tingkat I yaitu: Propinsi Sulawesi Utara dengan ibukotanya
Manado dan Propinsi Sulawesi Tengah dengan ibukotanya Palu.

Peningkatan status ini membuka peluang bagi Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur
Anwar Gelar Datuk Madjo Baso Nan Kuning (1964-1968) untuk segera mengejar ketertinggalannya,
terutama dalam bidang pemerintahan, dari propinsi-propinsi lainnya di luar bekas NIT. Namun
penataan yang lebih menyeluruh, di barengi dengan pelaksanaan program pembangunan sejalan
dengan pencanangan Repelita 1, baru terjadi mulai masa bakti Mohammad Yasin yang menjadi
gubernur dari tahun 1968 sampai tahun 1973.

Hal ini terjadi karena beratnya persoalan yang dihadapi rakyat Sulawesi Tengah menyusul eskalasi
pemberontakan DI/TlI Kahar Muzakkar dan PRRI/Permesta pada tahun 1950an, dan kemudian G-30-
S/PKI. Serangkaian peristiwa tersebut menimbulkan banyak kerusakan fisik yang memporak-
porandakan kehidupan perekonomian rakyat. Maka di bawah M. Yasin dimulailah perbaikan
berbagai prasarana infrastruktur, seperti sarana perhubungan untuk mempelancar arus barang dan
manusia dari satu daerah ke daerah lainhya. Dalam periode Pelita I Sulawesi Tengah mencatat 92
proyek pembangunan yang menghabiskan biaya lebih dari Rp 2,2 milyar.

Sulawesi Tengah merupakan propinsi terbesar di pulau Sulawesi, dengan luas wilayah daratan
63.033 km2 yang mencakup semenanjung bagian timur dan sebagian semenanjung bagian utara
serta kepulauan Togian di Teluk Tomini dan Kepulauan Banggai di Teluk Tolo, dengan luasa wilayah
laut adalah 189.480 km2.

Sulawesi Tengah yang terletak di bagian barat kepulauan Maluku dan bagian selatan Philipina
membuat pelabuhan di daerah ini sebagai persinggahan kapal-kapal Portugis dan Spanyol lebih dari
500 tahun yang lampau. Dalam perjalanannya mengelilingi dunia Francis Drake, dengan kapalnya
"The Golden Hind" singgah di salah satu pulau kecil di pantai timur propinsi ini selama sebulan pada
bulan Januari 1580. Meskipun tidak ada catatan sejarah, kemungkinan besar pelaut-pelaut Portugal
dan Spanyol menginjakan kakinya di negeri ini yang terbukti dengan masih ada pengaruh Eropa
terhadap bentuk pakaian masyarakat hingga dewasa ini.

Setelah di kuasai oleh Belanda pada tahun 1905 Sulawesi Tengah di bagi menjadi beberapa kerajaan
kecil, dibawah kekuasaan Raja yang memiliki wewenang penuh.

Belanda membagi Sulawesi Tengah menjadi tiga daerah yaitu wilayah barat yang kini dikenal

dengan Kabupaten Donggala dan Buol Toli-toli dibawah kekuasaan Gubernur yang berkedudukan di
Ujung Pandang. Di bagian tengah yang membujur di Donggala kawasan timur dan bagian selatan
Poso berada dibawah pengawasan Residen di Manado, bagian timur dikendalikan dari Baubau.

Pada tahun 1919 Raja-raja yang masih berkuasa dibawah kekuasaan Belanda menanda tangani
suatu perjanjian yang disebut "Korte Verklaring Renewcame" memperbaharui persekutuan mereka
dan seluruh daerah Sulawesi Tengah dibawah kekuasaan residen di Sulawesi Utara.
Pemerintahan Sulawesi Tengah

Setelah perang dunia kedua wilayah yang merupakan propinsi Sulawesi Tengah dewasa ini di bagi
menjadi beberapa bagian dan sub bagian hingga pada tahun 1964 terbentuk menjadi propinsi
tersendiri yang terpisah dari Sulawesi Utara yang bergabung sejak 1960.

Akhir tanggal 13 April 1964 diangkatlah Gubernur tersendiri untuk Propinsi ini yang hingga saat ini
tanggal tersebut tetap diperingati sebagai hari ulang tahun provinsi ini.

http://www.facebook.com/topic.php?uid=154936471183542&topic=190

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->