KONSEP GADAI SYARIAH (AR-RAHN) DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM DAN FIQH MUAMALAH

Posted: 24/01/2011 in Ekonomi Syariah, Fiqh Muamalah Tag:ekonomi syariah, fiqh muamalah, gadai, gadai syariah, pegadaian, pegadaian syariah, rahn

0 I. LATAR BELKANG MASALAH Kehadiran lembaga pegadaian di Indonsia bukanlah hal yang asing lagi. Bahkan lembaga ini menjadi sangat populer dikalangan masyarakat (khususnya Jakarta), ketika menjelang lebaran tiba. Sudah merupakan tradisi bagi pemudik di ibukota untuk menggadaikan barang berharga mereka menjelang bulan syawal. Dengan menitipkan emas, kendaraan bermotor atau barang berharga lainnya sebagai jaminan atas uang yang dipinjam, keinginan untuk bertemu sanak saudara dikampung dengan kerinduan yang sangat pun terobati. Bukan tanpa alasan karena disaat ongkos dan harga kebutuhan untuk oleh-oleh yang semakin menggila yang tidak lagi dapat diatasi oleh gaji maupun pendapatan selama di Jakarta, maka pegadaian merupakan alternatif yang dapat menjawab tersebut Sekilas lembaga ini memang terlihat sangat membantu. Dan tentu saja dengan menyuarakan motto “ mengatasi masalah tanpa masalah”-nya, lembaga ini berhasil menafsir dan mencitrakan dirinya di mata masyarakat sangat baik. Akan tetapi, disadari atau tidak ternyata dalam prakteknya lembaga ini belum dapat terlepas dari persoalan.Dengan berkaca mata pada syariat islam, ketika perjanjian gadai ditunaikan terdapat unsur-unsur yang dilarang syariat. Hal ini dapat terlihat dari praktek gadai itu sendiri yang menentukan adanya bunga gadai, yang mana pembayarannya dilakukan setiap 15 hari sekali. Dan tentu saja pembayarannya haruslah tepat waktu karena jika terjadi keterlambatan pembayaran, maka bunga gadai akan bertambah menjadi dua kali lipat dari kewajibannya.Bukan hanya riba, ketidak jelasan (gharar), dan qimar juga ikut serta menghiasi aktifitas lembaga ini. Yang secara jelas terdapat kencenderungan merugikan salah satu pihak. Memang hal ini tidaklah terlalu diperhatikan oleh masyarakat. Tetapi, ketika mereka terjebak dengan bunga yang membengkak serta ketidak sanggupan uintuk membayar,maka di sinilah masalah letak permasalahan itu muncul.Oleh karena itu, berangkat dari uraian yang telah dikemukakan di atas,maka saya selaku penulis membuat esai ini dengan maksud untuk menganalisa dan memberikan sebuah solusi dengan pendekatan fiqh islam sebagai jawaban atas ketidak syari’an atas praktek pegadaian saat ini II. POKOK-POKOK PERMASALAHAN Dengan melihat latar belakang di atas maka yang akan menjadi pokok-poko permasalahan yang akan dibahas dalamn esai ini adalah

baik seluruhnya maupun sebagiannya“. ulama Mazhab Hanafi mendefinisikannya dengan “menjadikan suatu barang sebagai jaminan terhadap hak (piutang) yang mungkin dijadikan sebagai pembayar hak tersebut. 2.[4] Dari kalangan Ulama Mazhab Maliki mendefinisikan rahn sebagai “harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan hutang yang bersifat mengikat“.[2] Sedangkan definisi al-rahn menurut istilah yaitu menjadikan suatu benda yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syar’a untuk kepercayaan suatu utang. Pengertian Gadai Konvensional dan Gadai Syariah 1. Muhammad Sholikul Hadi (2003) mengutip pendapat Imam Abu Zakariya al-Anshari dalam kitabnya Fathul Wahhab yang mendefenisikan rahn . Apa definisi dari gadai menurut konvensional dan syari’at Islam? apa yang menjadi dasar hukum gadai konvensional dan syariah? Bagaimana pandangan syari’at Islam terhadap gadai? III. yang dapat dijadikan pembayar utang apabila orang yang berhutang tidak bisa membayar hutangnya. sehingga memungkinkan mengambil seluruh atau sebagaian utang dari benda itu. 3. Ulama Syafii dan Hambali dalam mengartikan rahn dalam arti akad yakni menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang. Pengertian Gadai Konvensional Mengutip pendapat Susilo (1999). ANALISIS A.[1] 2. Seseorang yang berutang tersebut memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang untuk menggunakan barang bergerak yang telah diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang berutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada saat jatuh tempo.[5] Dalam bukunya: Pegadaian Syariah.1.Sedangkan pengertian Perusahaan Umum Pegadaian adalah suatu ban usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalambentuk penyaluran dana ke masyarakat atas dasar hukum gadai. Jadi dapat disimpulkan bahwa gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh orang yang berpiutang atas suatu benda bergerak yang diberikan oleh orang yang berpiutang sebagai suatu jaminan dan barang tersebut bisa dijual jika orang yang berpiutang tidak mampu melunasi utangnya pada saat jatuh tempo.[3] Istilah rahn menurut Imam Ibnu Mandur diartikan apa-apa yang diberikan sebagai jaminan atas suatu manfaat barang yang diagunkan. pengertian pegadaian adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Pengertian Gadai Syariah Gadai Syariah sering diidentikkan dengan Rahn yang secara bahasa diartikan al-tsubut wa aldawam (tetap dan kekal) sebagian Ulama Luhgat memberi arti al-hab (tertahan). Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang.

Perusahaan Negara (1960). baru sekitar tahun 1990 dengan lahirnya PP10/1990 tanggal 10 April 1990. orang yang menggadaikan (ar-rahn). yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai jaminan. barang-barang yang digadai (marhun). rahn adalah jaminan bukan produk dan semata untuk kepentingan sosial.dan kembali ke perusahan jawatan 1969.sebagai: “menjadikan benda bersifat harta sebagai kepercayaan dari suatu utang yang dapat dibayarkan dari (harga) benda itu bilautang tidak dibayar. barang yang dijadikan jaminan ada pada saat akad.[6 B. dan jasa di bidang keuangan lainnya berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. bukan kepentingan bisnis.[13] Dengan terpenuhinya syarat-syarat di atas maka akad rahn dapat dilakukan karena kejelasan akan rahin. dijelaskan bahwa sifat usaha pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan.[11] Berdasarkan dua landasan hukum tersebut ulama bersepakat bahwa rahn merupakan transaksi yang diperbolehkan dan menurut sebagian besar (jumhur) ulama. ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para pihak yang terlibat dalam akad ini yakni: berakal. pegadaian beberapakali berubah status mulai sebagai Perusahaan Jawatan (1901). orang yang menerima gadai (murtahin) sesuatu yang karenanya diadakan gadai.[12] Sedangkan untuk sahnya akad rahn. ada beberapa rukun bagi akad rahn yang terdiri dari. pegadaian berstatus sebagai Perusahaan Umum dan masuk sebagai salah satu BUMN dalam lingkungan Dep.praktek riba dan pinjaman tidak wajar. Sedangkan isi pasal 7. Landasan Hukum Gadai Konvensional dan Gadai Syariah 1. dan sifat akad rahn. hingga sekarang. serta barang jaminan dipegang oleh orang yang menerima gadai (marhun) atau yang mewakilinya. Landasan Hukum Gadai Konvensional Pada awalnya lembaga pegadaian pertamakali didirikan pada tanggal 1 April 1901. Keuangan RI. . Perusahaan di bawah IBW (1928).Dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 pasal 6.dijabarkan:(1) Turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golonganmenengah ke bawah melalui penyediaan dana atas dasar hukum gadai. yakni harga.[10] Dan Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisiyah binti Abu Bakar. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman.” Sedangkan menurut Ahmad Baraja. al-Qur’an dan al-Sunah serta ijma ulama tidak menetapkan secara jelas mengenai akad-akad atau transaksi jual beli yang diizinkan untuk menggunakan akad rahn.(2) Menghindarkan masyarakat dari gadai gelap. sampai dengan terbitnya PP103 tahun 2000. murtahin dan marhun merupakan keharusan dalam akad rahn. baligh. jual beli mitra.[9] Landasan Hukum Gadai Syariah Dasar hukum yang digunakan para ulama untuk membolehkannya rahn yakni bersumber pada al-Qur’an (2): 283 yang menjelaskan tentang diizinkannya bermuamalah tidak secara tunai. Sedangkan mengenai saat diperbolehkan untuk menggunaan akad rahn.

kiranya diperlukan biaya.Berangkat dari persolan tersebut. ketika terdapat sebuah lembaga keuangan formal ( pemerintah) tidak bisa memperoleh pendapatan yang dapat menunjang kelangsungan hidup perusahaan tersebut. walaupun ada perbedaan ulama mengenai waktu dan pemanfaatan dari barang yang dijadikan jaminan tersebut. Akan tetapi. hal ini disebabkan karena pada shaf pada salam disyaratkan tunai. Karena pihak penerima gadai yang saat ini bestatus lembaga pegadaian. maka berikut sebuah solusi yang bisa dijalankan guna lembaga pegadaian yang merupakan lembaga penolong dapat tetap eksis dalam menjalankan mottonya “ mengatasi masalah tanpa masalah . sebagaimana yang dikemukakan Ibn Rusdy bahwa mazhab Maliki beranggapan bawa gadai itu dapat dilakukan pada segala macam harga dan pada semua macam jual beli. yang tentunya dibebankan kepada orang yang menggadai atau dengan cara memanfaatkan barang gadai tersebut. maka hal ini juga akan merugikan pihak penggadai. maka hal ini akan terlihat tidak adil. namun jika uang yang dipinjamkan tersebut sangat besar jumlahnya. karena pemungutan bunganya yang ditetapkan setiap 15 hari sekali. maka tentunya lembaga tersebut akan mengalami hal yang demikian.Persoalan ini cukup kompleks. hal ini berdasar pada ayat yang berkenaan dengan gadai yang terdapat dalam masalah hutang piutang barang jualan. Solusi Mekanisme Operasional Pegadaian dengan Penerapan berdasarkan Prinsip Syariah Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya. Sedangkan benda Rahn yang digadai. dan untuk menjaga serta merawat agar benda (barang) gadai tersebut tetap baik. seandainya dalam aktivitasnya tidak menggunakan sistem bunga ( memungut bunga dari pinjman pokok ). Karena barang atau hartanya telah ditahan oleh penerima gadai. kecuali jual beli mata uang. yang hanya berfungsi sebagai jaminan utang pihak yang menggadai. akan merasa dirugikan jika dalam operasional usahanya tidak mendapay keuntungan yang akan menunjang kegiatan usahanya. di sisi lain sistem tersebut sangat memberatkan bagi nasabah. begitu pula pada harta modal. dan pokok modal pada akad salam yang berkaitan dengan tanggungan. Jika salah satu dimenangkan. Selain itu hal yang menjadi sangat pokok dalam persoalan ini adalah penerapan bunga yang berbuntut riba yang jelas-jelas dilarang oleh syara’. dalam konsep fiqh merupakan amanat yang ada pada murtahin yang harus selalu dijaga dengan sebaik-baiknya. Sedangkan pihak yang menggadaikan diwajibkan membayar berupa bunga setiap 15 harinya. sungguh merupakan suatu hal yang ironis. Memang hal ini tidaklah terlihat berat jika pinjaman tersebut bersifat kecil. Dalam hal pemanfaatan barang gadai. yang diartikan mereka sebagai salam. Sedangkan kelompok Fuqaha Zahiri berpendapat bahwa akad gadai (rahn) tidak boleh selain pada salam yakni pada salam dalam gadai. beberapa ulama berbeda pendapat karena masalah ini sangat berkaitan erat dengan hakikat barang gadai.[14] Dari bebrapa pendapat di atas dapat diartikan bahwa sebagian ulama beranggapan bahwa rahn dapat digunakan pada transaksi dan akad jual beli yang bermacam-macam.Sebagian kecil ulama. maka akan sangat memberatkan bagi nasabah. Adapun lembaga pegadaian.

sehingga barang yang dapat digadaikan bisa semua barang asal memenuhi syarat: (1) Merupakan benda bernilai menurut hukum syara’ (2) Ada wujudnya ketika perjanjian terjadi (3) Mungkin diserahkan seketika kepada murtahin. Sedangkan ulama Hanafiah berpendapat bahwa hal tersebut menjadi tanggungan murtahin sebesar harga barang minimum. maka ini diperbolehkan dengan ketentuan:[16] (1) Murtahin harus mengetahui terlebih dahulu keadaan rahin (2) Dapat memeperpanjang tenggang waktu pemabayaran (3) Kalau keadaan mendesak murtahin boleh memindahkan barang gadai kepada murtahin lain dengan izin rahin . Kemudian hasilnya digunakan untuk menebus utang tersebut sedangkan jika terdapat sisa atas penjualan barang tersebut. dihitung mulai waktu diserahkannya barang gadai kepada murtahin sampai barang tersebut rusak. Pendapat ini dikutip oleh Muhammad Shalikul Hadi dari Sabiq (2003). apabila murtahin mendapat izin dari rahin maka murtahin dapat memungut hasil marhun sesuai dan senilai dengan yang telah ia keluarkan. Tetapi apabila rahin tidak mengizinkannya maka biaya pemeliharaan menjadi utang rahin kepada murtahin. Sedangkan para ulama Hanafiah berpendapat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai menjadi tanggungan penerima gadai yang mana dalam posisinya sebagai penerima amanat. Akan tetapi jika harta atau barang jaminan tersebut menjadi kekuasaan murtahin dan di izinka oleh maka biaya pemeliharaan jatuh pada murtahin. 2. Sedangkan untuk mengganti biaya tersebut nantinya.1. Kategori Barang Gadai Muhammad Shalikul hadi mengutip pendapat Basyir (2003) bahwa jenis barang gadai yang dapat digadaikan sebagai jaminan adalah semua jenis barang bergerak dab tak bergerak. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya pemeliharaan barang gadai adalah hak rahin dalam kedudukannya sebagai pemilik yang sah. Shalikul Hadi mengutip Basyir (2003: 84) Pembayaran Atau Pelunasan Hutang GadaiApabila sudah samapai jatuh tempo dan rahin belum membayarkan kembali utangnya maka murtahin boleh memaksa rahin untuk menjual barangnya.[15]Resiko Atas Kerusakan Menurut para ulama Syafi’iah dan Hanabilah berpendapat bahwa murtahin tidak bertanggung jawab atas rusaknya barang gadai jika tidak disengaja. Pemeliharaan Barang Gadai Ada perbedaan pendapat para ulama dalam halpemeliharaaan barang gadai. Ulama Syafi’iah dan Hanabilah berpendapat biaya pemeliharaan barang gadai menjadi tanggung jawab pemberi gadai karena barang tersebut merupakan miliknya dan akan kembali kepadanya. maka akan dikembalikan kepada rahin.Prosedur Pelelangan GadaiJika ada persyaratan akan menjual barang gadai pada saat jatuh tempo.

yang menjadi dasar hukum gadai konvensional adalah Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 pasal 6 dan pasal 7. Dan tentunya harus sesuai dengan yang digariskan dalamAl-Qur’an dan As-Sunnah.(4) Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi. sehingga memungkinkan mengambil seluruh atau sebagaian utang dari benda itu. maka murtahin boleh menjual barang gadai dan kelebihan uangnya dikembalikan kepada rahin. sedangkan dasar hukum gadai syariah adalah al-Qur’an (2): 283 yang menjelaskan tentang diizinkannya bermuamalah tidak secara tunai. bukan tidak mungkin bahwa segala sesuatu yang bersifat konvensional yang ternyata banyak menyimpan persoalan dapat dijawab dengan menerapkan prinsip-prinsip syari’ah. sehingga diharapkan natinya lembaga ini benar-benar telah menjalankan mottonya sebagai lembaga yang mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah KESIMPULAN Adapun kesimpulan sekaligus penutup esai ini adalah: 1. Danjuga sebagai solusi atas persoalan yang terdapat dalampegadaian saat sekarang ini.sedangkan gadai menurut syariat adalah menjadikan suatu benda yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syar’a untuk kepercayaan suatu utang. Tetapi dari segi kaca mata syariah hal ini dilarang. 2. 3. Pembentukan Laba Pegadaian Pada bab sebelumnya dijelaskan bahwa pegadaian memperoleh laba dari bunga gadai. Sebaliknya jika hal ini diperbolehkan hukum haram atas riba mengikatnya dan tentu saja kerugian salah satu pihak akan terjadi. Dalam pandangan Islam bahwa pegadaian diperbolehkan oleh syariat. 3. Dan Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisiyah binti Abu Bakar.untuk mengatasi hal tersebut dapat diterapkan sebagai berikut: (1) Melakukan transaksi gadai dengan akad Rahn (2) Melakukan transaksi gadai dengan akad Bai’ al Muqoyyadah (3) Melakukan Akad al Mudharabah. Tentunya jika bunga gadai dihapuskan maka lembaga pegadaian tidak akan dapat melanjutkan operasionalnya lagi. Bunga bukanlah satu- . (4) Melakukan dengan akad Qardhul Hasan Itulah beberapa alternatif yang bisa dijalankan guna mengeliminir praktek riba dalam pegadaian konvensional. Seterusnya. yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai jaminan. Pengertian gadai menurut konvensional adalah gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh orang yang berpiutang atas suatu benda bergerak yang diberikan oleh orang yang berpiutang sebagai suatu jaminan dan barang tersebut bisa dijual jika orang yang berpiutang tidak mampu melunasi utangnya pada saat jatuh tempo.

Tetapi dengan memberdayakan akadakad syariah pendapatan atau laba pun dapat diperoleh dan tentunya hasil yang didapatkan pun bersih dan h .satunya jalan yang tepat untuk mendapatkan keuntungan.