i

Catatan Selama Kuliah

ANALISIS REAL I DAN II
Sebuah terjemahan dari sebagian buku Introductions to Real Analysis karangan
Robert G. Bartle












Drs. Jafar., M.Si

Printed by:
Abu Musa Al Khwarizmi





KOMUNITAS STUDI AL KHWARIZMI
UNAAHA
2012


ii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadlirat Allah Swt. karena atas
perkenaannya jualah hand-out ini dapat terselesaikan penyusunannya. Penyusunan hand-
out ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan diskusi Komunitas Studi Al
Khwarizmi Sultra dan masyarakat penimat Kajian Matematika pada umumnya.
Materi hand-out ini terdiri atas 5 (lima) bab, yaitu : Yakni Bab I sampai dengan
Bab 3 adalah materi Analisis Real I, sedangkan Bab 4 dan Bab 5 adalah materi Analisis
Real II.
Tentu saja, hand-out ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu sangat
diharapkan sumbang saran dan kritikan yang konstruktif dari pembaca dalam rangka
perbaikan dan penyempurnaannya, sehingga pada akhirnya dapat dijadikan buku standar
untuk dijadikan buku ajar Analisis Real I dan II. Surat kritikan dan saran anda dapat
anda kirimkan ke: ks.algorizm@gmail.com; karyanto@bismillah.com; Atau melalui
facebook: -Yanto Kendari.
Akhirnya, semoga hand-out ini membawa manfaat yang semaksimal mungkin
bagi siapa saja yang menggunakannya, dan hanya kepada Alloh SWT segala sesuatunya
kita serahkan. Semoga kita termasuk umatNya yang bersyukur dan dimudahkan dalam
memahami ilmu. Amien

Unaaha, Januari 2012

KSA
iii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
Bab I PENDAHULUAN ............................................................................................ 2
1.1 Aljabar Himpunan ................................................................................... 2
1.2 Fungsi ...................................................................................................... 8
1.3 Induksi Matematika ................................................................................. 15

Bab II BILANGAN REAL ........................................................................................ 22
2.1 Sifat Aljabar R ......................................................................................... 22
2.2 Sifat Urutan dalam R ............................................................................... 30
2.3 Nilai Mutlak ............................................................................................ 40
2.4 Sifat Kelengkapan R ................................................................................ 46
2.5 Aplikasi Sifat Supremum ........................................................................ 51

Bab III BARISAN BILANGAN REAL .................................................................... 60
3.1 Barisan dan Limit Barisan ....................................................................... 60
3.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 72
3.3 Barisan Monoton ..................................................................................... 82
3.4 Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass ......................................... 90
3.5 Kriteria Cauchy ....................................................................................... 97
3.6 Barisan-barisan Divergen Murni ............................................................. 105

Bab IV LIMIT FUNGSI ............................................................................................ 110
4.1 Limit-limit Fungsi ................................................................................... 110
4.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 123
4.3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit ................................................... 133

Bab V FUNGSI-FUNGSI KONTINU ...................................................................... 149
5.1 Fungsi-fungsi Kontinu ............................................................................. 150
5.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu ................................................... 157
5.3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval ....................................................... 164
5.4 Kekontinuan Seragam ............................................................................. 174
5.5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers ......................................................... 189

Daftar Pustaka ........................................................................................................... 201
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 2




PENDAHULUAN
Pada bab pertama ini, kita akan membahas beberapa prasyarat yang diperlukan
untuk mempelajari analisis real. Bagian 1.1 dan 1.2 kita akan mengulang sekilas ten-
tang aljabar himpunan dan fungsi, dua alat yang penting untuk semua cabang mate-
matika.
Pada bagian 1.3 kita akan memusatkan perhatian pada metoda pembuktian
yang disebut induksi matematika. Ini berhubungan dengan sifat dasar sistem bilangan
asli, dan walaupun penggunaannya terbatas pada masalah yang khusus tetapi hal ini
penting dan sering digunakan.
1.1. Aljabar Himpunan
Bila A menyatakan suatu himpunan dan x suatu unsurnya, kita akan tuliskan
dengan
x∈A,
untuk menyingkat pernyataan x suatu unsur di A, atau x anggota A, atau x termuat
di A, atau A memuat x. Bila x suatu unsur tetapi bukan di A kita tuliskan dengan
x∉A.
Bila A dan B suatu himpunan sehingga x∈A mengakibatkan x∈B (yaitu,
setiap unsur di A juga unsur di B), maka kita katakan A termuat di B, atau B me-
muat A atau A suatu subhimpunan dari B, dan dituliskan dengan
A ⊆ B atau B ⊇ A.
Bila A ⊆ B dan terdapat unsur di B yang bukan anggota A kita katakan A subhim-
punan sejati dari B.
BAB
1
Pendahuluan
Analisis Real I 3

1.1.1. Definisi. Dua himpunan A dan B dikatakan sama bila keduanya memuat unsur-
unsur yang sama. Bila himpunan A dan B sama, kita tuliskan dengan A = B
Untuk membuktikan bahwa A = B, kita harus menunjukkan bahwa A ⊆ B dan
B ⊆ A.
Suatu himpunan dapat dituliskan dengan mendaftar anggota-anggotanya, atau
dengan menyatakan sifat keanggotaan himpunan tersebut. Kata “sifat keanggotaan”
memang menimbulkan keraguan. Tetapi bila P menyatakan sifat keanggotaan (yang
tak bias artinya) suatu himpunan, kita akan tuliskan dengan
{xP(x)}
untuk menyatakan himpunan semua x yang memenuhi P. Notasi tersebut kita baca de-
ngan “himpunan semua x yang memenuhi (atau sedemikian sehinga) P”. Bila dirasa
perlu menyatakan lebih khusus unsur-unsur mana yang memenuhi P, kita dapat juga
menuliskannya dengan
{ x∈SP(x)}
untuk menyatakan sub himpunan S yang memenuhi P.
Beberapa himpunan tertentu akan digunakan dalam bukti ini, dan kita akan
menuliskannya dengan penulisan standar sebagai berikut :
• Himpunan semua bilangan asli, N = {1,2,3,...}
• Himpunan semua bilangan bulat, Z = {0,1,-1,2,-2,...}
• Himpunan semua bilangan rasional, Q = {m/n m,n ∈ Z, n≠0}
• Himpunan semua bilangan real, R.
Contoh-contoh :
(a). Himpunan {x ∈ N x
2
-3x+2=0}, menyatakan himpunan semua bilangan asli yang
memenuhi x
2
- 3x + 2 = 0. Karena yang memenuhi hanya x = 1 dan x = 2, maka
himpunan tersebut dapat pula kita tuliskan dengan {1,2}.
(b). Kadang-kadang formula dapat pula digunakan untuk menyingkat penulisan him-
punan. Sebagai contoh himpunan bilangan genap positif sering dituliskan dengan
{2x x∈ N}, daripada {y∈ N y = 2x, x∈ N}.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 4
Operasi Himpunan
Sekarang kita akan mendefinisikan cara mengkonstruksi himpunan baru dari
himpunan yang sudah ada.
1.1.2. Definisi. (a). Bila A dan B suatu himpunan, maka irisan (=interseksi) dari A ⊂
B dituliskan dengan A∩B, adalah himpunan yang unsur-unsurnya terdapat di A juga
di B. Dengan kata lain kita mempunyai
A∩B = {x x∈A dan x∈B}.
(b). Gabungan dari A dan B, dituliskan dengan A∪B, adalah himpunan yang unsur-
unsurnya paling tidak terdapat di salah satu A atau B. Dengan kata lain kita mempun-
yai
A∪B = {x x∈A atau x∈B}.
1.1.3. Definisi. Himpunan yang tidak mempunyai anggota disebut himpunan kosong,
dituliskan dengan { } atau ∅. Bila A dan B dua himpunan yang tidak mempunyai un-
sur bersama (yaitu, A∩B = ∅), maka A dan B dikatakan saling asing atau disjoin.
Berikut ini adalah akibat dari operasi aljabar yang baru saja kita definisikan.
Karena buktinya merupakan hal yang rutin, kita tinggalkan kepada pembaca sebagai
latihan.
1.1.4. Teorema. Misalkan A,B dan C sebarang himpunan, maka
(a). A∩A = A, A∪A = A;
(b). A∩B = B∩A, A∪B = B∪A;
(c). (A∩B) ∩C = A∩(B ∩C), (A∪B)∪C = A∪(B∪C);
(d). A∩(B∪C) = (A∩B)∪(A∩C), A∪(B ∩C) = (A∪B) ∩ (A∪C);
Kesamaan ini semua berturut-turut sering disebut sebagai sifat idempoten, ko-
mutatif, asosiatif dan distributif, operasi irisan dan gabungan himpunan.
Melihat kesamaan pada teorema 1.1.4(c), biasanya kita tanggalkan kurung dan
cukup ditulis dengan
A∩B ∩C, A∪B∪C.
Pendahuluan
Analisis Real I 5
Dimungkinkan juga untuk menunjukkan bahwa bila {A
1
,A
2
, ,A
n
} merupakan koleksi
himpunan, maka terdapat sebuah himpunan A yang memuat unsur yang merupakan
pa-ling tidak unsur dari suatu A
j
, j = 1,2,...,n ; dan terdapat sebuah himpunan B yang
unsur-unsurnya merupakan unsur semua himpunan A
j
, j=1,2,...,n. Dengan menang-
galkan kurung, kita tuliskan dengan
A = A
1
∪A
2
∪ ∪ A
n
= {x x∈A
j
untuk suatu j},
B = A
1
∩ A
2
...∩A
n
= {x x∈A
j
untuk semua j}.
Untuk mempersingkat penulisan, A dan B di atas sering dituliskan dengan
A = A
j
j 1
n
=
U

B = A
j
j 1
n
=
I

Secara sama, bila untuk setiap j unsur di J terdapat himpunan A
j
, maka A
j
j J ∈
U

menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya paling tidak merupakan unsur dari salah
satu A
j
. Sedangkan A
j
j J ∈
I
, menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya adalah unsur
semua A
j
untuk j∈J.
1.1.5. Definisi. Bila A dan B suatu himpunan, maka komplemen dari B relatif terha-
dap A, dituliskan dengan A\B (dibaca “A minus B”) adalah himpunan yang unsur-
unsurnya adalah semua unsur di A tetapi bukan anggota B. Beberapa penulis meng-
gunakan notasi A - B atau A ~ B.
Dari definisi di atas, kita mempunyai
A\B = {x ∈ A x ∉ B}.
Seringkali A tidak dinyatakan secara eksplisit, karena sudah dimengerti/disepakati.
Dalam situasi begini A\B sering dituliskan dengan C(B).
1.1.6. Teorema. Bila A,B,C sebarang himpunan, maka A\(B∪C) = (A\B)∩(A\C),
A\(B∩C) = (A\B) ∪(A\C).
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 6
Bukti :
Kita hanya akan membuktikan kesamaan pertama dan meninggalkan yang
kedua sebagai latihan bagi pembaca. Kita akan tunjukkan bahwa setiap unsur di
A\(B∪C) termuat di kedua himpunan (A\B) dan (A\C), dan sebaliknya.
Bila x di A\(B∪C), maka x di A, tetapi tidak di B∪C. Dari sini x suatu unsur
di A, tetapi tidak dikedua unsur B atau C. (Mengapa?). Karenanya x di A tetapi tidak
di B, dan x di A tetapi tidak di C. Yaitu x ∈ A\B dan x ∈ A\C, yang menunjukkan
bahwa
x ∈(A\B)∩(A\C).
Sebaliknya, bila x ∈(A\B)∩(A\C), maka x ∈(A\B)dan x ∈ (A\C). Jadi x ∈ A
tetapi bukan anggota dari B atau C. Akibatnya x ∈ A dan x ∉ (B∪C), karena itu x ∈
A\(B∪C).
Karena himpunan (A\B)∩(A\C) dan A\(B∪C).memuat unsur-unsur yang
sama, menurut definisi 1.1.1 A\(B∪C).= (A\B)∩(A\C).
Produk (hasil kali) Cartesius
Sekarang kita akan mendefinisikan produk Cartesius.
1.1.7. Definisi. Bila A dan B himpunan-himpunan yang tak kosong, maka produk
cartesius A×B dari A dan B adalah himpunan pasangan berurut (a,b) dengan a∈ A dan
b ∈ B.
Jadi bila A = {1,2,3} dan B = {4,5}, maka
A×B = {(1,4),(1,5),(2,4),(2,5),(3,4),(3,5)}
Latihan 1.1.
1. Gambarkan diagram yang menyatakan masing-masing himpunan pada Teorema
1.1.4.
2. Buktikan bagian (c) Teorema 1.1.4.
3. Buktikan bagian kedua Teorema 1.1.4(d).
4. Buktikan bahwa A ⊆ B jika dan hanya jika A∩B = A.
Pendahuluan
Analisis Real I 7
5. Tunjukkan bahwa himpunan D yang unsur-unsurnya merupakan unsur dari tepat
satu himpunan A atau B diberikan oleh D = (A\B) ∪ (B\A). Himpunan D ini ser-
ing disebut dengan selisih simetris dari A dan B. Nyatakan dalam diagram.
6. Tunjukkan bahwa selisih simetris D di nomor 5, juga diberikan oleh
D = (A∪B)\(A∩B).
7. Bila A ⊆ B, tunjukkan bahwa B = A\(A\B).
8. Diberikan himpunan A dan B, tunjukkan bahwa A∩B dan A\B saling asing dan
bahwa A = (A∩B) ∪ (A\B).
9. Bila A dan B sebarang himpunan, tunjukkan bahwa A∩B = A\(A\B).
10. Bila {A
1
, A
2
, ... , A
n
} suatu koleksi himpunan, dan E sebarang himpunan, tunjuk-
kan bahwa E A (E A ), E A (E A )
j j j
j=1
n
j
j 1
n
j 1
n
j 1
n
∩ = ∩ ∪ = ∪
= = =
U U U U

11. Bila {A
1
, A
2
, ... , A
n
} suatu koleksi himpunan, dan E sebarang himpunan, tunjuk-
kan bahwa E A (E A ), E A (E A )
j
j 1
n
j
j 1
n
j
j=1
n
j
j 1
n
∩ = ∩ ∪ = ∪
= = =
I I I I

12. Misalkan E sebarang himpunan dan {A
1
, A
2
, ... , A
n
} suatu koleksi himpunan.
Buktikan Hukum De Morgan
E \ A (E \ A ), E \ A (E \ A ).
j
j 1
n
j
j 1
n
j
j=1
n
j
j 1
n
= = =
= =
I U U I

Catatan bila E\A
j
dituliskan dengan C(A
j
), maka kesamaan di atas mempunyai
bentuk

( ) ( )
C C C C A A , A A .
j
j 1
n
j
j 1
n
j
j=1
n
j
j 1
n
= = =
|
\

|
¹
| =
|
\

|
¹
| =
I U U I

13. Misalkan J suatu himpunan dan untuk setiap j∈J, A
j
termuat di E. Tunjukkan
bahwa

( ) ( )
C C C C A A , A A .
j
j J
j
j J
j
j J
j
j J ∈ ∈ ∈ ∈
|
\

|
¹
| =
|
\

|
¹
| =
I U U I

14. Bila B
1
dan B
2
subhimpunan dari B dan B = B
1
∪ B
2
, tunjukkan bahwa
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 8
A×B = (A×B
1
) ∪ (A×B
2
).
1.2. Fungsi.
Sekarang kita kembali mendiskusikan gagasan fundamental suatu fungsi atau
pemetaan. Akan kita lihat bahwa fungsi adalah suatu jenis khusus dari himpunan,
walaupun terdapat visualisasi lain yang sering lebih bersifat sugesti. Semua dari
bagian terakhir ini akan banyak mengupas jenis-jenis fungsi, tetapi sedikit abstrak di-
bandingkan bagian ini.
Bagi matematikawan abad terdahulu kata “fungsi” biasanya berarti rumus ter-
tentu, seperti
f(x) = x
2
+ 3x -5
yang bersesuaian dengan masing-masing bilangan real x dan bilangan lain f(x). Mung-
kin juga seseorang memunculkan kontroversi, apakah nilai mutlak
h(x) = x
dari suatu bilangan real merupakan “fungsi sejati” atau bukan. Selain itu definisi
xdiberikan pula dengan
x=
x, bila x 0
x, bila x < 0


¦
´
¹

Dengan berkembangnya matematika, semakin jelas bahwa diperlukan definisi fungsi
yang lebih umum. Juga semakin penting untuk kita membedakan fungsi sendiri den-
gan nilai fungsi itu. Di sini akan mendefinisikan suatu fungsi dan hal ini akan kita la-
kukan dalam dua tahap.
Definisi pertama :
Suatu fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan korespondensi yang
memasangkan masing-masing unsur x di A secara tunggal dengan unsur f(x) di B.
Definisi di atas mungkin saja tidak jelas, dikarenakan ketidakjelasan frase
“aturan korespondensi”. Untuk mengatasi hal ini kita akan mendefinisikan fungsi
de-ngan menggunakan himpunan seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya.
Pendahuluan
Analisis Real I 9
De-ngan pendefinisian ini dapat saja kita kehilangan kandungan intuitif dari definisi
terdahulu, tetapi kita dapatkan kejelasan.
Ide dasar pendefinisian ini adalah memikirkan gambar dari suatu fungsi;
yaitu, suatu korelasi dari pasangan berurut. Bila kita perhatikan tidak setiap koleksi
pasangan berurut merupakan gambar suatu fungsi, karena sekali unsur pertama dalam
pasangan berurut diambil, unsur keduanya ditentukan secara tunggal.
1.2.1. Definisi. Misalkan A dan B himpunan suatu fungsi dari A ke B adalah him-
punan pasangan berurut f di A×B sedemikian sehingga untuk masing-masing a ∈ A
terdapat b ∈ B yang tunggal dengan (a,b),(a,b’) ∈ f, maka b = b’. Himpunan A dari
unsur-unsur pertama dari f disebut daerah asal atau “domain” dari f, dan dituliskan
D(f). Sedangkan unsur-unsur di B yang menjadi unsur kedua di f disebut “range” dari
f dan dituliskan dengan R(f). Notasi
f : A → B
menunjukkan bahwa f suatu fungsi dari A ke B; akan sering kita katakan bahwa f
suatu pemetaan dari A ke dalam B atau f memetakan A ke dalam B. Bila (a,b) suatu
unsur di f, sering ditulis dengan
b = f(a)
daripada (a,b) ∈ f. Dalam hal ini b merupakan nilai f di titik a, atau peta a terhadap f.
Pembatasan dan Perluasan Fungsi
Bila f suatu fungsi dengan domain D(f) dan D
1
suatu subhimpunan dari D(f),
seringkali bermanfaat untuk mendefinisikan fungsi baru f
1
dengan domain D
1
dan
f
1
(x) = f(x) untuk semua x ∈ D
1
. Fungsi f
1
disebut pembatasan fungsi f pada D
1
.
Menurut definisi 1.2.1, kita mempunyai
f
1
= { (a,b) ∈ f a ∈ D
1
}
Kadang-kadang kita tuliskan f
1
= f D
1
untuk menyatakan pembatasan fungsi f pada
himpunan D
1
.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 10
Konstruksi serupa untuk gagasan perluasan. Bila suatu fungsi dengan domain
D(g) dan D
2
⊇ D(g), maka sebarang fungsi g
2
dengan domain D
2
sedemikian sehingga
g
2
(x) = g(x) untuk semua x ∈ D(g) disebut perluasan g pada himpunan D
2
.
Bayangan Langsung dan Bayangan Invers
Misalkan f : A → B suatu fungsi dengan domain A dan range B.
1.2.2. Definisi. Bila E subhimpunan A, maka bayangan langsung dari E terhadap f
adalah sub himpunan f(E) dari B yang diberikan oleh
f(E) = {f(x) : x ∈ E}.
Bila H subhimpunan E, maka bayangan invers dari H terhadap f adalah subhim-
punan
f
-1
(H) dari A, yang diberikan oleh
f
-1
(H) = { x ∈ A : f(x) ∈ H}
Jadi bila diberikan himpunan E ⊆ A, maka titik y
1
∈ B di bayangan langsung
f(E) jika dan hanya jika terdapat paling tidak sebuah titik x
1
∈ E sedemikian sehingga
y
1
= f(x
1
). Secara sama, bila diberikan H⊆B, titik x
2
∈A di dalam bayangan invers f
-
1
(H) jika dan hanya jika y
2
= f(x
2
) di H.
1.2.3. Contoh. (a). Misalkan f : R → R didefinisikan dengan f(x) = x
2
. Bayangan
langsung himpunan E = {x 0 ≤ x ≤ 2} adalah himpunan f(E) = {y 0 ≤ y ≤ 4}. Bila G
= {y 0 ≤ y ≤ 4}, maka bayangan invers G adalah himpunan f
-1
(G) = {x -2 ≤ x ≤ 2}.
Jadi f
-1
(f(E)) ≠ E.
Disatu pihak, kita mempunyai f(f
-1
(G)) = G. Tetapi bila H = {y -1 ≤ y ≤ 1},
maka kita peroleh f(f
-1
(H)) = {x 0 ≤ x ≤ 1} ≠ H.
(b). Misalkan f : A → B, dan G,H subhimpunan dari B kita akan tunjukkan bahwa
f
-1
(G∩H) ⊆ f
-1
(G)∩ f
-1
(H)
Kenyataannya, bila x ∈ f
-1
(G∩H) maka f(x) ∈ G∩H, jadi f(x) ∈ G dan f(x) ∈ H. Hal
ini mengakibatkan x ∈ f
-1
(G) dan x ∈ f
-1
(H). Karena itu x ∈ f
-1
(G)∩ f
-1
(H), bukti sele-
sai. Sebaliknya, f
-1
(G∩H) ⊇ f
-1
(G)∩ f
-1
(H) juga benar, yang buktinya ditinggalkan se-
bagai latihan.
Pendahuluan
Analisis Real I 11
Sifat-sifat Fungsi
1.2.4. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan injektif atau satu-satu bila x
1
≠ x
2
,
mengakibatkan f(x
1
) ≠ f(x
2
). Bila f satu-satu, kita katakan f suatu injeksi.
Secara ekivalen, f injektif jika dan hanya jika f(x
1
) = f(x
2
) mengakibatkan x
1
=
x
2
, untuk semua x
1
,x
2
di A.
Sebagai contoh, misalkan A = {x ∈ R x ≠ 1} dan f : A → R dengan f(x) =
x
x 1 −
. Untuk menunjukkan f injektif, asumsikan x
1
,x
2
di A sehingga f(x
1
) = f(x
2
).
Maka kita mempunyai
x
x 1
x
x 1
1
1
2
2

=


yang mengakibatkan (mengapa?) bahwa
x
x 1
x
x 1
1
1
2
2

=

dan dari sini x
1
= x
2
. Karena
itu f injektif.
1.2.5. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan surjektif atau memetakan A pada B,
bila f(A) = B. Bila f surjektif, kita sebut f suatu surjeksi.
Secara ekivalen, f : A → B surjektif bila range f adalah semua dari B, yaitu
untuk setiap y ∈ B terdapat x ∈ A sehingga f(x) = y.
Dalam pendefinisian fungsi, penting untuk menentukan domain dan himpunan
dimana nilainya diambil. Sekali hal ini ditentukan, maka dapat menanyakan apakah
fungsi tersebut surjektif atau tidak.
1.2.6. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan bijektif bila bersifat injektif dan
surjektif. Bila f bijektif, kita sebut bijeksi.
Fungsi-fungsi Invers
Bila f suatu fungsi dari A ke B, (karenanya, subhimpunan khusus dari A×B),
maka himpunan pasangan berurut di B×A yang diperoleh dengan saling menukar un-
sur pertama dan kedua di f secara umum bukanlan fungsi. Tetapi, bila f injektif, maka
penukaran ini menghasilkan fungsi yang disebut invers dari f.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 12
1.2.7. Definisi. Misalkan f : A → B suatu fungsi injektif dengan domain A dan
range R(f) di B. Bila g = {(b,a)∈B×A (a,b) ∈ f}, maka g fungsi injektif dengan do-
main D(g) = R(f) dan range A. Fungsi G disebut fungsi invers dari f dan dituliskan
dengan f
-1
.
Dalam penulisan fungsi yang standar, fungsi f
-1
berelasi dengan f sebagai
berikut : y = f
-1
(y) jika dan hanya jika y = f(x).
Sebagai contoh, kita telah melihat bahwa fungsi f(x) =
x
x 1 −
didefinisikan un-
tuk x ∈ A = {x x ≠ 1} bersifat injektif. Tidak jelas apakah range dari f semua (atau
hanya sebagian) dari R. Untuk menentukannya kita selesaikan persamaan y =
x
x 1 −

dan diperoleh x =
y
y 1 −
. Dengan informasi ini, kita dapat yakin bahwa rangenya R(f)
= {y y ≠ 1} dan bahwa fungsi invers dari f mempunyai domain {y y ≠ -1} dan f
-1
(y)
=
y
y 1 −
.
Bila suatu fungsi injektif, maka fungsi inversnya juga injektif. Lebih dari itu,
fungsi invers dari f
-1
adalah f sendiri. Buktinya ditinggalkan sebagai latihan.
Fungsi Komposisi
Sering terjadi kita ingin mengkomposisikan dua buah fungsi denga mencari
f(x) terlebih dahulu, kemudian menggunakan g untuk memperoleh g(f(x)), tetapi hal
ini hanya mungkin bila f(x) ada di domain g. Jadi kita harus mengasumsikan bahwa
range dari f termuat di domain g.
1.2.8. Definisi. Untuk fungsi f : A → B dan g : B - C, komposisi fungsi gof (perhati-
kan urutannya!) adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan dengan gof(x) = g(f(x))
untuk x ∈ A.
1.2.9. Contoh. (a). Urutan komposisi harus benar-benar diperhatikan. Misalkan f dan
g fungsi-fungsi yang nilainya di x ∈ R ditentukan oleh
f(x) = 2x, g(x) = 3x
2
- 1
Pendahuluan
Analisis Real I 13
Karena D(g) = R dan R(f) ⊆ R, maka domain D(gof) adalah juga R, dan fungsi kom-
posisi gof ditentukan oleh
gof(x) = 3(2x)
2
- 1 = 2x
2
- 1
Di lain pihak, domain dari fungsi komposisi gof juga R, tetapi dalam hal ini kita
mempunyai fog(x) = 2(3x
2
- 1) = 6x
2
- 2. Jadi fog ≠ gof.
(b). Beberapa perhatian harus dilatih agar yakin bahwa range dari f termuat di domain
dari g. Sebagai contoh, bila f(x) = 1 - x
2
dan y = x , maka fungsi komposisi yang
diberikan oleh gof(x) = 1 x
2
− didefinisikan hanya pada x di D(f) yang memenuhi
f(x) ≥ 0; yaitu, untuk x memenuhi -1 ≤ x ≤ 1. Bila kita tukar urutannya, maka kom-
posisi
fog, diberikan oleh gof(x) = 1 - x, didefinisikan untuk semua x di domain dari g; yaitu
himpunan {x ∈ R : x ≥ 0}.
Teorema berikut memperkenalkan hubungan antara komposisi fungsi dan
petanya. Sedangkan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.
1.2.10. Teorema. Misalkan f : A → B dan g : B → C fungsi dan H suatu sub-
himpunan dari C. Maka (fog)
-1
(H) = g
-1
(f
-1
(H)).
Sering terjadi bahwa komposisi dua buah fungsi mewarisi sifat-sifat fungsi
yang didefinisikan. Berikut salah satunya dan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.
1.2.11. Teorema. Bila f : A → B dan g : B → C keduanya bersifat injektif, maka
komposisi gof juga bersifat injektif.
Barisan
Fungsi dengan N sebagai domain memeainkan aturan yang sangat khusus
dalam analisis, yang kita akan perkenalkan berikut ini.
1.2.12. Definisi. Suatu barisan dalam himpunan S adalah suatu fungsi yang domain-
nya himpunan bilangan asli N dan rangenya termuat di S.
Untuk barisan X : N → S, nilai X di n∈N sering dituliskan dengan x
n
dari-
pada (x
n
), dan nilainya sering disebut suku ke-n barisan tersebut. Barisan itu sendiri
sering dituliskan dengan (x
n
n ∈ N) atau lebih sederhana dengan (x
n
). Sebagai con-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 14
toh, barisan di R yang dituliskan dengan ( n n ∈ N) sama artinya dengan fungsi X :
N → R dengan X(n) = n .
Penting sekali untuk membedakan antara barisan (x
n
n ∈ N) dengan
nilainya
{x
n
n ∈ N}, yang merupakan subhimpunan dari S. Suku barisan harus dipandang
mempunyai urutan yang diinduksi dari urutan bilangan asli, sedangkan range dari ba-
risan hanya merupakan subhimpunan dari S. Sebagai contoh, suku-suku dari bari-
san ((-1)
n
n ∈ N) berganti-ganti antara -1 dan 1, tetapi range dari barisan itu adalah
{-1,1}, memuat dua unsur dari R.
Latihan 1.2.
1. Misalkan A = B = {x∈R -1 ≤ x ≤ 1} dan sub himpunan C = {(x,y) x
2
+ y
2
= 1}
dari A×B, apakah himpunan ini fungsi ?
2. Misalkan f fungsi pada R yang didefinisikan dengan f(x) = x
2
, dan E = {x∈R -1 ≤
x ≤ 0} dan F = {x∈R 0 ≤ x ≤ 1}. Tunjukkan bahwa E∩F = {0} dan f(E∩F) = {0},
sementara f(E) = f(F) = {y∈R 0 ≤ y ≤ 1}. Di sini f(E∩F) adalah subhimpunan se-
jati dari f(E) ∩ f(F). Apa yang terjadi bila 0 dibuang dari E dan F?
3. Bila E dan F seperti latihan no. 2, tentukan E\F dan f(E)\f(F) dan tunjukkan bahwa
f(E\F) ≤ f(E)\f(F) salah.
4. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan E,F sub himpunan dari A, maka f(E∪F) = f(E)
∪ f(F) dan f(E ∩ F) ≤ f(E) ∩ f(F)
5. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan G,H sub himpunan dari B,
maka f
-1
(G∪H) = f
-1
(G) ∪ f
-1
(H) dan f
-1
(G ∩ H) ≤ f
-1
(G) ∩ f
-1
(H)
6. Misalkan f didefinisikan dengan f(x) =
x
x 1
2
+
, x ∈R. Tunjukkan bahwa f bijektif
dari R pada {y : -1 ≤ y ≤ 1}..
7. Untuk a,b ∈R dengan a < b, tentukan bijeksi dari A = {x a < x < b} pada B = {y
0 < y < 1}
Pendahuluan
Analisis Real I 15
8. Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat injektif dan E ⊆ A, maka f
-1
(f(E)). Berikan
suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak injektif.
9. Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat surjektif dan H ⊆ B, maka f(f
-1
(H)). Beri-
kan suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak surjek-
tif.
10.Buktikan bahwa bila f injeksi dari A ke B, maka f
-1
= {(b,a) (a,b)∈f} suatu fungsi
dengan domain R(f). Kemudian buktikan bahwa f
-1
injektif dan f invers dari f
-1
.
11.Misalkan f bersifat injektif. Tunjukkan bahwa f
-1
of(x) = x, untuk semua x ∈ D(f)
dan fof
-1
(y) = y untuk semua y ∈ R(f).
12. Berikan contoh dua buah fungsi f,g dari R pada R sehingga f ≠ g, tetapi fog = gof
13. Buktikan teorema 1.2.10.
14. Buktikan teorema 1.2.11.
15. Misalkan f,g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f). Tunjukkan bahwa f in-
jektif dan R(f) ⊆ D(f) dan R(g) ⊇ D(g).
16. Misalkan f,g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f) dan fog(y) untuk semua y
di D(g). Buktikan bahwa g = f
-1.
.
1.3. Induksi Matematika
Induksi matematika merupakan metode pembuktian penting yang akan sering
digunakan dalam buku ini. Metode ini digunakan untuk menguji kebenaran suatu
pernyataan yang diberikan dalam suku-suku bilangan asli. Walau kegunaannya terba-
tas pada masalah tertentu, tetapi induksi matematika sangat diperlukan disemua ca-
bang matematika. Karena banyak bukti induksi mengikuti urutan formal argumen
yang sama, kita akan sering menyebutkan “hasilnya mengikuti induksi matematika”
dan meninggalkan bukti lengkapnya kepada pembaca. Dalam bagian ini kita memba-
has prinsip induksi matematika dan memberi beberapa contoh untuk mengilustrasikan
bagaimana proses bukti induksi.
Kita akan mengasumsikan kebiasaan (pembaca) dengan himpunan bilangan
asli
N = {1,2,3,...}
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 16
dengan operasi aritmetika penjumlahan dan perkalian seperti biasa dan dengan arti
suatu bilangan kurang dari bilangan lain. Kita juga akan mengasumsikan sifat funda-
men-
tal dari N berikut.
1.3.1. Sifat urutan dengan baik dari N. Setiap subhimpunan tak kosong dari N mem-
punyai unsur terkecil.
Pernyataan yang lebih detail dari sifat ini sebagai berikut : bila S subhimpunan
dari N dan S ≠ ∅, maka terdapat suatu unsur m ∈ S sedemikian sehingga m ≤ k untuk
semua k ∈ S.
Dengan berdasar sifat urutan dengan baik, kita akan menurunkan suatu versi
prinsip induksi matematika yang dinyatakan dalam suku-suku subhimpunan dari N.
Sifat yang dideskripsikan dalam versi ini kadang-kadang mengikuti turunan sifat N.
1.3.2. Prinsip Induksi Matematika. Misalkan S sub himpunan dari N yang mempu-
nyai sifat
(i).1 ∈ S
(ii).jika k ∈ S., maka k + 1 ∈ S.
maka S = N.
Bukti :
Andaikan S ≠ N. Maka N\S tidak kosong, karenanya berdasar sifat urutan dengan baik
N\S mempunyai unsur terkecil, sebut m. Karena 1 ∈ S, maka m ≠ 1. Karena itu m > 1
dengan m - 1 juga bilangan asli. Karena m - 1 < m dan m unsur terkecil di N\S, maka
m - 1 haruslah di S.
Sekarang kita gunakan hipotesis (2) terhadap unsur k = m - 1 di S, yang
berakibat k + 1 = (m - 1) + 1 = m di S. Kesimpulan ini kontradiksi dengan pernyataan
bahwa m tidak di S. Karena m diperoleh dengan pengandaian bahwa N\S tidak kos-
ong, kita dipaksa pada kesimpulan bahwa N\S kosong. Karena itu kita telah buktikan
bahwa S = N.
Prinsip induksi matematika sering dinyatakan dalam kerangka sifat atau per-
nyataan tentang bilangan asli. Bila P(n) berarti pernyataan tentang n ∈ N, maka P(n)
Pendahuluan
Analisis Real I 17
benar untuk beberapa nilai n, tetapi tidak untuk yang lain. Sebagai contoh, bila P(n)
pernyataan “ n
2
= n”, maka P(1) benar, sementara P(n) salah untuk semua n ≠ 1,
n∈N. Dalam konteks ini prinsip induksi matematika dapat dirumuskan sebagai beri-
kut :
Untuk setiap n ∈ N, misalkan P(n) pernyataan tentang n. Misalkan bahwa
(a). P(1) benar
(b). Jika P(k) benar, maka P(k + 1) benar.
Maka P(n) benar untuk semua n ∈ N.
Dalam kaitannya dengan versi induksi matematika terdahulu yang diberikan
pada 1.3.2, dibuat dengan memisalkan S = { n ∈ N P(n) benar}. Maka kondisi (1)
dan (2) pada 1.3.2 berturut-turut tepat bersesuaian dengan (a) dan (b). Kesimpulan S =
N pada 1.3.2. bersesuaian dengan kesimpulan bahwa P(n) benar untuk semua n ∈ N.
Dalam (b) asumsi “jika P(k) benar” disebut hipotesis induksi. Di sini, kita ti-
dak memandang pada benar atau salahnya P(k), tetap hanya pada validitas implikasi
“jika P(k) benar, maka P(k+1) benar”. Sebagai contoh, bila kita perhatikan pernyataan
P(n) : n = n + 5, maka (b) benar. Implikasinya “bila k = k + 5, maka k + 1 = k + 6”
juga benar, karena hanya menambahkan 1 pada kedua ruas. Tetapi, karena pernyataan
P(1) : 1 = 2 salah, kita tidak mungkin menggunakan induksi matematika untuk meny-
impulkan bahwa n = n + 5 untuk semua n ∈ N.
Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana prinsip induksi mate-
matika bekerja sebagai metode pembuktian pernyataan tentang bilangan asli.
1.3.3. Contoh. (a). Untuk setiap n ∈ N, jumlah n pertama bilangan asli diberikan oleh
1 + 2 + ... + n =
1
2
n (n + 1).
Untuk membuktikan kesamaan ini, kita misalkan S himpunan n ∈ N, sehingga ke-
samaan tersebut benar. Kita harus membuktikan kondisi (1) dan (2) pada 1.3.2. dipe-
nuhi.
Bila n = 1, maka kita mempunyai 1 =
1
2
.1(1 + 1), jadi 1 ∈ S dan dengan asumsi ini
akan ditunjukkan k + 1 ∈ S. Bila k ∈ S, maka kita mempunyai
1+2+...+k =
1
2
(k+1). (*)
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 18
Bila kita tambahkan k+1 pada kedua ruas, kita peroleh
1+2+...+k+(k+1) =
1
2
k(k+1) + (k+1)
=
1
2
(k+1) (k+2)
Karena ini menyatakan kesamaan di atas untuk n = k + 1, kita simpulkan bahwa k + 1
∈ S. Dari sini kondisi (2) pada 1.3.2. dipenuhi. Karena itu dengan prinsip induksi
matematika, kita simpulkan bahwa S = N dan kesamaan (*) benar untuk semua n ∈
N.
(b). Untuk masing-masing n ∈ N, jumlah kuadrat dari n pertama bilangan asli diberi-
kan oleh
1
2
+2
2
+...+n
2
=
1
6
n(n+1)(2n+1)
Untuk membuktikan kebenaran formula ini, pertama kita catat bahwa formula ini
benar untuk n = 1, karena 1
2
=
1
6
.1 (1+1)(2+1). Bila kita asumsikan formula ini benar
untuk k, maka dengan menambahkan (k+1)
2
pada kedua ruas, memberikan hasil
1
2
+2
2
+...+k
2
+ (k+1)
2
=
1
6
k(k+1)(2k+1) + (k+1)
2

=
1
6
(k+1)(2k
2
+k+6k+6)
=
1
6
(k+1)(k+2)(2k+3)
Mengikuti induksi matematika, validitas formula di atas berlaku untuk semua n ∈ N.
(c). Diberikan bilangan a,b, kita akan buktikan bahwa a - b faktor dari a
n
- b
n
untuk
semua n ∈ N. Pertama kita lihat bahwa pernyataan ini benar untuk n = 1. Bila
sekarang kita asumsikan bahwa a - b adalah faktor dari a
k
- b
k
, maka kita tuliskan
a
k+1
- b
k+1
= a
k+1
- ab
k
+ ab
k
- b
k+1

= a(a
k
- b
k
) + b
k
(a - b).
Sekarang berdasarkan hipotesis induksi a-b merupakan faktor dari a(a
k
-b
k
). Disamp-
ing itu a-b juga faktor dari b
k
(a - b). Dari sini a-b adalah dari a
k+1
- b
k+1
. Dengan in-
duksi matematika kita simpulkan bahwa a-b adalah faktor dari a
n
- b
n
untuk semua
n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 19
(d). Ketaksamaan 2
n
≤ (n+1)!. Dapat dibuktikan dengan induksi matematika sebagai
berikut. Pertama kita peroleh bahwa hal ini benar untuk n = 1. Kemudian kita asumsi-
kan bahwa 2
k
≤ (k+1).Dan dengan menggunakan fakta bahwa 2 ≤ (k+2), diperoleh
2
k+1
= 2.2
k
≤ 2(k+1)! ≤ (k+2)(k+1)! = (k+2)!
Jadi, bila ketaksamaan tersebut berlaku untuk k, maka berlaku pula untuk k+1.
Karenanya dengan induksi matematika, ketaksamaan tersebut benar untuk semua n ∈
N.
(e). Bila r ∈ R, r ≠ 1 dan n ∈ N, maka
1 + r + r
2
+ ... + r
n
=
1 r
1 r
n 1


+

Ini merupakan jumlah n suku deret geometri, yang dapat dibuktikan dengan induksi
matematika sebagai berikut. Bila n = 1, kitya mempunyai 1 + r =
1 r
1 r


2
, jadi formula
tersebut benar. Bila kita asumsikan formula tersebut benar untuk n = k dan tambahkan
r
k+1
pada kedua ruas, maka kita peroleh
1+r+ ... +r
k
+ r
k+1
=
1 r
1 r
k 1


+
+ r
k+1
=
1 r
1 r
k 2


+

yang merupakan formula kita untuk n = k + 1. Mengikuti prinsip induksi matematika,
maka formula tersebut benar untuk semua n ∈ N.
Hal ini dapat dibuktikan tanpa menggunakan prinsip induksi matematika. Bila
kita misalkan S
n
= 1+r+...+r
n
, maka rS
n
= r+r
2
+...+r
n+1

Jadi
(1-r)S
n
= S
n-r
S
n
= 1-r
n+1

Bila kita selesaikan untuk Sn, kita peroleh formula yang sama.
(f). Penggunaan prinsip induksi matematika secara ceroboh dapat menghasilkan ke-
simpulan yang slah. Pembaca diharap mencari kesalahan pada “bukti teorema” beri-
kut.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 20
Bila n sebarang bilangan asli dan bila maksimum dari dua bilangan asli p dan
q adalah n, maka p = q. (Akibatnya bila p dan q dua bilangan asli sebarang, maka p =
q).
Bukti :
Misalkan S subhimpunan bilangan asli sehingga pernyataan tersebut benar. Maka 1 ∈
S, karena bila p,q di N dan maksimumnya 1, maka maksimum dari p-1 dan q-1 adalah
k. Karenanya p-1 = q-1, karena k ∈ S, dan dari sini kita simpulkan bahwa p = q. Jadi,
k + 1 ∈ S dan kita simpulkan bahwa pernyataan tersebut benar untuk semua n ∈ N.
(g). Beberapa pernyataan yang benar untuk beberapa bilangan asli, tetapi tidak
untuk semua. Sebagai contoh formula P(n) = n
2
- n + 41 memberikan bilangan prima
untuk n =1,2,3,...41. Tetapi, P(41) bukan bilangan prima.
Terdapat versi lain dari prinsip induksi matematika yang kadang-kadang san-
gat berguna. Sering disebut prinsip induksi kuat, walaupun sebenarnya ekivalen den-
gan versi terdahulu. Kita akan tinggalkan pada pembaca untuk menunjukkan ekiva-
lensinya dari kedua prinsip ini.
1.3.4. Prinsip Induksi kuat. Misalkan S subhimpunan N sedemikian sehinga 1∈S,
dan bila {1,2,...,k}⊆ S maka k + 1 ∈ S. Maka S = N.
Latihan 1.3
Buktikan bahwa yang berikut berlaku benar untuk semua n ∈ N,
1.
1
1.2
1
2.3
.. .
1
n(n 1)
n
n 1
+ + +
+
=
+

2. 1
3
+ 2
3
+ ... + n
3
= [
1
2
n(n+1)]
2

3. 1
2
-2
2
+3
2
-...+(-1)
n+1
n(n+1)/2
4. n
3
+ 5n dapat dibagi dengan 6
5. 5
2n
- 1 dapat dibagi dengan 8
6. 5
n
- 4n - 1 habis dibagi 16.
7. Buktikan bahwa jumlah pangkat tiga dari bilangan asli yang berturutan n, n+1, n +
2 habis dibagi 9
Pendahuluan
Analisis Real I 21
8. Buktikan bahwa n < 2
n
untuk semua n ∈ N
9. Tentukan suatu formula untuk jumlah

( )
1
1.3
1
3.5
...
1
2n 1 (2n 1)
+ + +
− +

dan buktikan dugaan tersebut dengan mengunakan induksi matematika. (Dugaan
terhadap pernyataan matematika, sebelum dibuktikan sering disebut “Conjecture”).
10.Tentukan suatu formula untuk jumlah n bilangan ganjil yang pertama
1 + 3 + ... + (2n - 1)
kemudian buktikan dugaan tersebut dengan menggunakan induksi matematika.
11. Buktikan variasi dari 1.3.2. berikut : Misalkan S sub himpunan tak kosong dari N
sedemikian sehingga untuk suatu n
0
∈ N berlaku (a). n
0
∈ S, dan (b) bila k ≥ n
0

dan k ∈ S, maka k + 1 ∈ S. Maka S memuat himpunan { n ∈ N n ≥ n
0
}.
12. Buktikan bahwa 2
n
< n! untuk semua n ≥ 4, n ∈ N. (lihat latihan 11).
13. Buktikan bahwa 2n - 3 ≤ 2
n-2
untuk semua n ≥ 5, n ∈ N. (lihat latihan 11).
14. Untuk bilangan asli yang mana n
2
< 2
n
? Buktikan pernyataanmu (lihat latihan
11).
15. Buktikan bahwa
1
1
1
2
...
1
n
n + + + > untuk semua n ∈ N.
16. Misalkan S sub himpunan dari N sedemikian sehingga (a). 2
k
∈ S untuk semua k
∈ N, dan (b). bila k ∈ S, dan k ≥ 2, maka k - 1 ∈ S. Buktikan S = N.
17. Misalkan barisan (x
n
) didefinisikan sebagai berikut : x
1
= 1, x
2
= 2 dan x
n+2
=
1
2
(x
n+1
+ x
n
) untuk n∈N. Gunakan prinsip induksi kuat 1.3.4 untuk menunjukkan
1 ≤ x
n
≤ 2 untuk semua n ∈ N.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 22



BILANGAN REAL
Dalam bab ini kita akan membahas sifat-sifat esensial dari sistem bilangan
real R. Walaupun dimungkinkan untuk memberikan konstruksi formal dengan di-
dasarkan pada himpunan yang lebih primitif (seperti himpunan bilangan asli N atau
himpunan bilangan rasional Q), namun tidak kita lakukan. Akan tetapi, kita perkenal-
kan sejumlah sifat fundamental yang berhubungan dengan bilangan real dan menun-
jukkan bagaimana sifat-sifat yang lain dapat diturunkan darinya. Hal ini lebih berman-
faat dari pada menggunakan logika yang sulit untuk mengkonstruksi suatu model un-
tuk R dalam belajar analisis.
Sistem bilangan real dapat dideskripsikan sebagai suatu “medan/lapangan
lengkap yang terurut”, dan kita akan membahasnya secara detail. Demi kejelasan, kita
tidak akan membahas sifat-sifat R dalam suatu bagian, tetapi kita lebih berkonsentrasi
pada beberapa aspek berbeda dalam bagian-bagian yang terpisah. Pertama kita perke-
nalkan, dalam bagian 2.1, sifat aljabar (sering disebut sifat medan) yang didasarkan
pada ope-rasi penjumlahan dan perkalian. Berikutnya kita perkenalkan, dalam bagian
2.2 sifat urutan dari R, dan menurunkan beberapa konsekuensinya yang berkaitan
dengan ketaksamaan, dan memberi ilustrasi penggunaan sifat-sifat ini. Gagasan ten-
tang nilai mutlak, yang mana didasarkan pada sifat urutan, dibahas secara singkat
pada bagian 2.3.
Dalam bagian 2.4, kita membuat langkah akhir dengan menambah sifat
“kelengkapan” yang sangat penting pada sifat aljabar dan urutan dari R. Kemudian
kita menggunakan sifat kelengkapan R dalam bagian 2.5 untuk menurunkan hasil
fundamental yang berkaitan dengan R, termasuk sifat archimedes, eksistensi akar
(pangkat dua), dan densitas (kerapatan) bilangan rasional di R.
BAB
2
Pendahuluan
Analisis Real I 23
2.1 Sifat Aljabar R
Dalam bagian ini kita akan membahas “struktur aljabar” sistem bilangan real.
Pertama akan diberikan daftar sifat penjumlahan dan perkaliannya. Daftar ini men-
dasari semua untuk mewujudkan sifat dasar aljabar R dalam arti sifat-sifat yang lain
dapat dibuktikan sebagai teorema. Dalam aljabar abstrak sistem bilangan real meru-
pakan lapangan/medan terhadap penjumlahan dan perkalian. Sifat-sifat yang akan
disajikan pada 2.1.1 berikut dikenal dengan “Aksioma medan”.
Yang dimaksud operasi biner pada himpunan F adalah suatu fungsi B dengan
domain F×F dan range di F. Jadi, operasi biner memasangkan setiap pasangan berurut
(a,b) dari unsur-unsur di F dengan tepat sebuah unsur B(a,b) di F. Tetapi, disamping
menggunakan notasi B(a,b), kita akan lebih sering menggunakan notasi konvensional
a+b dan a.b (atau hanya ab) untuk membicarakan sifat penjumlahan dan perkalian.
Contoh operasi biner yang lain dapat dilihat pada latihan.
2.1.1. Sifat-sifat aljabar R. Pada himpunan bilangan real R terdapat dua operasi
biner, dituliskan dengan “+” dan “. .. .” dan secara berturut-turut disebut penjumlahan
dan perkalian. Kedua operasi ini memenuhi sifat-sifat berikut :
(A
1
). a + b = b + a untuk semua a,b di R (sifat komutatif penjumlahan);
(A
2
). (a + b) + c = a + (b + c) untuk semua a,b,c di R (sifat assosiatif penjumlahan);
(A
3
) terdapat unsur 0 di R sehingga 0 + a = a dan a + 0 = a untuk semua a di R (ek-
sistensi unsur nol);
(A
4
). untuk setiap a di R terdapat unsur -a di R, sehingga a + (-a) = 0 dan (-a) + a = 0
(eksistensi negatif dari unsur);
(M
1
). a.b = b.a untuk semua a,b di R (sifat komutatif perkalian);
(M
2
). (a.b) . c = a . (b.c) untuk semua a,b,c di R (sifat asosiatif perkalian);
(M
3
). terdapat unsur 1 di R yang berbeda dari 0, sehingga 1.a = a dan a.1 = a untuk
semua a di R (eksistensi unsur satuan);
(M
4
). untuk setiap a ≠ 0 di R terdapat unsur 1/a di R sehingga a.1/a = 1 dan (1/a).a =
1 (eksistensi balikan);
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 24
(D). a . (b+c) = (a.b) + (a.c) dan (b+c) . a = (b.a) + (c.a) untuk semua a,b,c di R (si-
fat distributif perkalian terhadap penjumlahan);
Pembaca perlu terbiasa dengan sifat-sifat di atas. Dengan demikian akan me-
mudahkan dalam penurunan dengan menggunakan teknik dan manipulasi aljabar.
Berikut kita akan dibuktikan beberapa konsekuensi dasar (tetapi penting).
2.1.2 Teorema. (a). Bila z dan a unsur di R sehingga z + a = a, maka z = 0.
(b). Bila u dan b ≠ 0 unsur R sehingga u.b = b, maka u = 1.
Bukti :
(a). Dari hipotesis kita mempunyai z + a = a. Kita tambahkan unsur -a (yang eksis-
tensinya dijamin pada (A
4
)) pada kedua ruas dan diperoleh
(z + a) + (-a) = a + (-a)
Bila kita berturut-turut menggunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
) pada ruas kiri, kita
peroleh
(z + a) + (-a) = z + (a + (-a)) = z + 0 = z;
bila kita menggunakan (A
4
) pada ruas kanan
a + (-a) = 0.
Dari sini kita simpulkan bahwa z = 0.
Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat
penting.
Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa bila diberikan a di R, maka unsur -a
dan 1/a (bila a ≠ 0) ditentukan secara tunggal.
2.1.3 Teorema. (a). Bila a dan b unsur di R sehinga a + b = 0, maka b = -a.
(b). Bila a ≠ 0 dan b unsur di R sehingga a.b = 1, maka b = 1/a.
Bukti :
(a). Bila a + b = 0, maka kita tambahkan -a pada kedua ruas dan diperoleh
(-a) + (a + b) = (-a) + 0.
Bila kita berturut-turut menggunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
) pada ruas kiri, kita peroleh
(-a) + (a + b) = ((-a) + a) + b = 0 + b = b;
bila kita menggunakan (A
3
) pada ruas kanan kita dapatkan
Pendahuluan
Analisis Real I 25
(-a) + 0 = -a.
Dari sini kita simpulkan bahwa b = -a.
Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat
penting.
Bila kita perhatikan sifat di atas untuk menyelesaikan persamaan, kita peroleh
bahwa (A
4
) dan (M
4
) memungkinkan kita untuk menyelesaikan persamaan a + x = 0
dan a . x = 1 (bila a ≠ 0) untuk x, dan teorema 2.1.3 mengakibatkan bahwa solusinya
tunggal. Teorema berikut menunjukkan bahwa ruas kanan dari persamaan ini dapat
sebarang unsur di R.
2.1.4 Teorema. Misalkan a,b sebarang unsur di R. Maka :
(a). persamaan a + x = b mempunyai solusi tunggal x = (-a) + b;
(b). bila a ≠ 0, persamaan a . x = b mempunyai solusi tunggal x = (1/a) . b.
Bukti :
Dengan menggunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
), kita peroleh
a + ((-a) + b) = (a + (-a)) + b = 0 + b = b,
yang mengakibatkan x = (-a) + b merupakan solusi dari persamaan a + x = b. Untuk
menunjukkan bahwa ini merupakan satu-satunya solusi, andaikan x
1
sebarang solusi
dari persamaan tersebut, maka a + x
1
= b, dan bila kita tambahkan kedua ruas dengan
-a, kita peroleh
(-a) + (a + x
1
) = (-a) + b.
Bila sekarang kita gunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
) pada ruas kiri, kita peroleh
(-a) + (a + x
1
) = (-a + a) + x
1
= 0 + x
1
= x
1
.
Dari sini kita simpulkan bahwa x
1
= (-a) + b.
Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan.
Sejauh ini, ketiga teorema yang telah dikenalkan kita hanya memperhatikan
penjumlahan dan perkalian secara terpisah. Untuk melihat keterpaduan antara kedua-
nya, kita harus melibatkan sifat distributif (D). Hal ini diilustrasikan dalam teorema
berikut.
2.1.5 Teorema. Bila a sebarang unsur di R, maka :
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 26
(a). a . 0 = 0 (b). (-1) . a = -a
(c). -(-a) = a (d). (-1) . (-1) = 1
Bukti :
(a). Dari (M
3
) kita ketahui bahwa a . 1 = a. Maka dengan menambahkan a . 0 dan
mengunakan (D) dan (A
3
) kita peroleh
a + a . 0 = a . 1 + a . 0
= a. (1 + 0) = a . 1 = a.
Jadi, dengan teorema 2.1.2(a) kita peroleh bahwa a . 0 = 0.
(b). Kita gunakan (D), digabung dengan (M
3
), (A
4
) dan bagian (a), untuk memperoleh
a + (-1) . a = 1 . a + (-1) . a = 0 . a = 0
Jadi, dari teorema 2.1.3(a) kita peroleh (-1) . a = - a.
(c). Dengan (A
4
) kita mempunyai (-a) + a = 0. Jadi dari teorema 2.1.3 (a) diperoleh
bahwa a = - (-a).
(d). Dalam bagian (b) substitusikan a = -1. Maka
(-1) . (-1) = -(-1).
Dari sini, kita menggunakan (c) dengan a = 1.
Kita simpulkan deduksi formal kita dari sifat medan (bilangan real) dengan
menutupnya dengan hasil-hasil berikut.
2.1.6 Teorema. Misalkan a,b,c unsur-unsur di R.
(a). Bila a ≠ 0, maka 1/a ≠ 0 dan 1/(1/a) = a
(b). Bila a . b = a . c dan a ≠ 0, maka b = c
(c). Bila a . b = 0, maka paling tidak satu dari a = 0 atau b = 0 benar.
Bukti :
(a). Bila a ≠ 0, maka terdapat 1/a. Andaikan 1/a = 0, maka 1 = a . (1/a) = a . 0 = 0,
kontradiksi dengan (M
3
). Jadi 1/a ≠ 0 dan karena (1/a) . a = 1, Teorema 2.1.3(b) men-
gakibatkan 1/(1/a) = a.
(b). Bila kita kalikan kedua ruas persamaan a . b = a . c dengan 1/a dan menggunakan
sifat asosiatif (M
2
), kita peroleh
((1/a) . a) . b = ((1/a) . a) . c.
Pendahuluan
Analisis Real I 27
Jadi 1 . b = 1 . c yang berarti juga b = c
(c). Hal ini cukup dengan mengasumsikan a ≠ 0 dan memperoleh b = 0. (Mengapa?)
Karena a . b = 0 = a . 0, kita gunakan bagian (b) terhadap persamaan a . b = a . 0
yang menghasilkan b = 0, bila a ≠ 0.
Teorema-teorema di atas mewakili sebagian kecil tetapi penting dari sifat-sifat
aljabar bilangan real. Banyak konsekuensi tambahan sifat medan R dapat diturunkan
dan beberapa diberikan dalam latihan.
Operasi pengurangan didefinisikan dengan a - b = a + (-b) untuk a,b di R. Se-
cara sama operasi pembagian didefinisikan untuk a,b di R, b ≠ 0 dengan a/b = a.(1/b).
Berikutnya, kita akan menggunakan notasi ini untuk pengurangan dan pembagian.
Secara sama, sejak sekarang kita akan tinggalkan titik untuk perkalian dan menulis-
kan ab untuk a.b. Sebagaimana biasa kita akan menuliskan a
2
untuk aa, a
3
untuk
(a
2
)a; secara umum, untuk n∈N, kita definisikan a
n+1
= (a
n
)a. Kita juga menyetujui
penulisan a
0
= 1dan a
1
= a untuk sebarang a di R (a ≠ 0). Kita tinggalkan ini sebagai
latihan bagi pembaca untuk membuktikan (dengan induksi) bahwa bila a di R, maka
a
m+n
= a
m
a
n

untuk semua m,n di N. Bila a ≠ 0, kita akan gunakan notasi a
-1
untuk 1/a, dan bila

n∈N, kita tuliskan a
-n
untuk (1/a)
n
, bila memang hal ini memudahkan.
Bilangan Rasional dan Irasional
Kita anggap himpunan bilangan asli sebagai subhimpunan dari R, dengan
mengidentifikasi bilangan asli n∈N sebagai penjumlahan n-kali unsur satuan 1∈R.
Secara sama, kita identifikasi 0∈Z dengan unsur nol di R, dan penjumlahan n-kali
unsur -1 sebagai bilangan bulat -n. Akibatnya, N dan Z subhimpunan dari R.
Unsur-unsur di R yang dapat dituliskan dalam bentuk b/a dengan a,b di Z dan
a ≠ 0 disebut bilangan rasional. Himpunan bilangan rasional di R akan dituliskan de-
ngan notasi standar Q. Jumlah dan hasil kali dua bilangan rasional merupakan bilan-
gan rasional (Buktikan!), dan lebih dari itu, sifat-sifat medan yang dituliskan di awal
bagian
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 28
ini dapat ditunjukkan dipenuhi oleh Q.
Fakta bahwa terdapat unsur di R yang tidak di Q tidak begitu saja dikenali.
Pa-
da abad keenam sebelum masehi komunitas Yunani kuno pada masa Pytagoras me-
nemukan bahwa diagonal dari bujur sangkar satuan tidak dapat dinyatakan sebagai
pembagian bilangan bulat. Menurut Teorema Phytagoras tentang segitiga siku-siku,
ini mengakibatkan tidak ada bilangan rasional yang kuadratnya dua. Penemuan ini
mempunyai sumbangan besar pada perkembangan matematika Yunani. Salah satu
konsekuensinya adalah unsur-unsur R yang bukan unsur Q merupakan bilangan yang
dikenal dengan bilangan irrasional, yang berarti bilangan-bilangan itu bukan rasio (=
hasil bagi dua buah) bilangan rasional. Jangan dikacaukan dengan arti tak rasional.
Kita akan tutup bagian ini dengan suatu bukti dari fakta bahwa tidak ada bi-
lang-an rasional yang kuadratnya 2. Dalam pembuktiannya kita akan menggunakan
gagasan bilangan genap dan bilangan ganjil. Kita ingat kembali bahwa bilangan genap
mempu-nyai bentuk 2n untuk suatu n di N, dan bilangan ganjil mempunyai bentuk 2n
- 1 untuk suatu n di N. Setiap bilangan asli bersifat ganjil atau genap, dan tidak pernah
bersifat keduanya.
2.1.7 Teorema. Tidak ada bilangan rasional r, sehingga r
2
= 2
Bukti :
Andaikan terdapat bilangan rasional yang kuadratnya 2. Maka terdapat bilan-
gan bulat p dan q sehingga (p/q)
2
= 2. Asumsikan bahwa p,q positif dan tidak mem-
punyai faktor persekutuan lain kecuali 1. (Mengapa?) Karena p
2
= 2q
2
, kita peroleh
bahwa p
2
genap. Ini mengakibatkan bahwa p juga genap (karena bila p = 2n - 1ganjil,
maka kuadratnya, p
2
= 4n
2
- 4n + 1 = 2(2n
2
- 2n +1) - 1 juga ganjil). Akibatnya, teo-
rema 2 bukan faktor persekutuan dari p dan q maka haruslah q ganjil.
Karena p genap, maka p = 2m untuk suatu m ∈ N, dan dari sini 4m
2
= 2q
2
, jadi
2m
2
= q
2
. Akibatnya q
2
genap, yang diikuti q juga genap, dengan alasan seperti pada
paragraf terdahulu.
Pendahuluan
Analisis Real I 29
Dari sini kita sampai pada kontradiksi bahwa tidak ada bilangan asli yang ber-
sifat genap dan ganjil.
Latihan 2.1
Untuk nomor 1 dan 2, buktikan bagian b dari teorema
1. 2.1.2
2. 2.1.3.
3. Selesaikan persamaan berikut dan sebutkan sifat atau teorema mana yang anda
gunakan pada setiap langkahnya.
(a). 2x + 5 = 8; (b). 2x + 6 = 3x + 2;
(c). x
2
= 2x; (d). (x - 1) (x + 2) = 0.
4. Buktikan bahwa bila a,b di R, maka
-(a + b) = (-a) + (-b) (b). (-a).(-b) = a.b
(-a) = -(1/a) bila a ≠ 0 (d). -(a/b) = (-a)/b bila b ≠ 0
5. Bila a,b di R dan memenuhi a.a = a, buktikan bahwa a = 0 atau a = 1
6. Bila a ≠ 0 dan b ≠ 0, tunjukkan bahwa 1/(ab) = (1/a).(1/b)
7. Gunakan argumentasi pada bukti teorema 2.1.7 untuk membuktikan bahwa tidak
ada bilangan rasional s, sehingga s
2
= 6.
8. Modifikasi argumentasi pada bukti teorema 2.1.7 untuk membuktikan bahwa ti-
dak ada bilangan rasional t, sehingga t
2
= 3.
9. Tunjukkan bahwa bila ξ di R irasional dan r ≠ 0 rasional, maka r + ξ dan rξ ira-
sional.
10. Misalkan B operasi biner pada R. Kita katakan B :
(i). komutatif bila B(a,b) = B(b,a) untuk semua a,b di R.
(ii). asosiatif bila B(a,B(a,c)) = B(B(a,b),c) untuk semua a,b,c di R.
(iii). mempunyai unsur identitas bila terdapat unsur e di R sehingga B(a,e) = a =
B(e,a), untuk semua a di R
Tentukan sifat-sifat mana yang dipenuhi operasi di bawah ini
(a). B
1
(a,b) =
1
2
(a + b) (b). B
2
(a,b) =
1
2
(ab)
(c). B
3
(a,b) = a - b (d). B
4
(a,b) = 1 + ab
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 30
11. Suatu operasi biner B pada R dikatakan distributif terhadap penjumlahan bila me-
menuhi B(a,b + c) = B(a,b) + B(a,c) untuk semua a,b,c di R. Yang mana (bila
ada) dari operasi nomor 12 yang bersifat distributif terhadap penjumlahan?.
12. Gunakan induksi matematika untuk menunjukan bahwa bila a di R dan m,n di N,
maka a
m+n
= a
m
a
n
dan (a
m
)
n
= a
m.n
.
13. Buktikan bahwa bilangan asli tidak dapat bersifat genap dan ganjil secara ber-
samaan.
2.2. Sifat Urutan Dalam R
Sifat urutan R mengikuti gagasan positivitas dan ketaksamaan antara dua bi-
lang-an real. Seperti halnya pada struktur aljabar sistem bilangan real, di sini kita
utamakan beberapa sifat dasar sehingga sifat yang lain dapat diturunkan. Cara paling
sederhana yaitu dengan mengidentifikasi sub himpunan tertentu dari R dengan meng-
gunakan gagasan “positivitas”.
2.2.1 Sifat Urutan dari R. Terdapat sub himpunan tak kosong P dari R, yang disebut
himpunan bilangan real positif, yang memenuhi sifat-sifat berikut :
(i). Bila a,b di P, maka a + b di P
(ii). Bila a,b di P, maka a.b di P
(iii). Bila a di R, maka tepat satu dari yang berikut dipenuhi
a ∈ P, a = 0, -a ∈ P
Dua sifat yang pertama kesesuaian urutan dengan operasi penjumlahan dan
perkalian. Kondisi (iii) biasa disebut “Sifat Trikotomi”, karena hal ini membagi R
menjadi tiga daripada unsur yang berbeda. Hal ini menyatakan bahwa himpunan {-a
a ∈ P} bilangan real negatif tidak mempunyai unsur sekutu di P, dan lebih dari itu, R
gabungan tiga himpunan yang saling lepas.
2.2.2 Definisi. Bila a∈P, kita katakan a bilangan real positif (atau positif kuat) dan
kita tulis a > 0. Bila a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak negatif dan ditulis a ≥
0.
Pendahuluan
Analisis Real I 31
Bila -a∈P, kita katakan a bilangan real negatif (atau negatif kuat) dan kita tulis
a < 0. Bila -a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak positif dan ditulis a ≤ 0.
Sekarang kita perkenalkan gagasan tentang ketaksamaan antara unsur-unsur R
dalam himpunan bilangan positif P.

2.2.3 Definisi. Misalkan a,b di R.
(i). Bila a - b ∈ P, maka kita tulis a > b atau b < a.
(ii). Bila a - b ∈ P∪{0} maka kita tulis a ≥ b.atau b ≤ a.
Untuk kemudahan penulisan, kita akan menggunakan a < b < c, bila a < b dan
b < c dipenuhi. Secara sama, bila a ≤ b dan b ≤ c benar, kita akan menuliskannya de-
ngan
a ≤ b ≤ c
Juga, bila a ≤ b dan b < d benar, dituliskan dengan
a ≤ b < d
dan seterusnya.
Sifat Urutan
Sekarang akan kita perkenalkan beberapa sifat dasar relasi urutan pada R. Ini
merupakan aturan ketaksamaan yang biasa kita kenal dan akan sering kita gunakan
pada pembahasan selanjutnya.
2.2.4 Teorema. Misalkan a,b,c di R.
(a). Bila a > b dan b > c, maka a > c
(b). Tepat satu yang berikut benar : a > b, a = b dan a < b
(c). Bila a ≥ b dan b ≥ a, maka a = b
Bukti :
(a). . Bila a - b ∈ P dan b - c ∈ P, maka 2.2.1(i) mengakibatkan bahwa (a - b) + (b -
c) = a - c unsur di P. Dari sini a > c.
(b). . Dengan sifat trikotomi 2.2.1(iii), tepat satu dari yang berikut benar : a - b ∈ P, a
- b = 0, -(a - b) = b - a ∈ P.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 32
(c). . Bila a ≠ b, maka a - b ≠ 0, jadi menurut bagian (b) kita hanya mempunyai a - b
∈ P atau b - a ∈ P., yaitu a > b atau b > a. Yang masing-masing kontradiksi den-
gan satu dari hipotesis kita. Karena itu a = b.
Adalah hal yang wajar bila kita berharap bilangan asli merupakan bilangan
positif. Kita akan tunjukkan bagaimana sifat ini diturunkan dari sifat dasar yang
diberikan dalam 2.2.1. Kuncinya adalah bahwa kuadrat dari bilangan real tak nol posi-
tif.
2.2.5 Teorema. (a). Bila a∈R dan a ≠ 0, maka a
2
> 0
(b). 1 > 0
(c). Bila n∈N, maka n > 0
Bukti :
(a). Dengan sifat trikotomi bila a ≠ 0, maka a ∈ P atau -a ∈ P. Bila a ∈ P., maka de-
ngan 2.2.1(ii), kita mempunyai a
2
= a.a ∈ P. Secara sama bila -a ∈ P, maka 2.2.1
(ii), kita mempunyai (-a).(-a) ∈ P. Dari 2.1.5(b) dan 2.1.5(d) kita mempunyai
(-a).(-a) = ((-1)a) ((-1)a) = (-1)(-1).a
2
= a
2
,
jadi a
2
∈ P. Kita simpulkan bahwa bila a ≠ 0, maka a
2
> 0.
(b). Karena 1 = (1)
2
, (a) mengakibatkan 1 > 0.
(c). Kita gunakan induksi matematika, validitas untuk n = 1 dijamin oleh (b). Bila per-
nyataan k > 0, dengan k bilangan asli, maka k∈P. Karena 1 ∈ P, maka k + 1 ∈ P,
menurut 2.2.1(i) . Dari sini pernyataan n > 0 untuk semua n∈N benar.
Sifat berikut berhubungan dengan urutan di R terhadap penjumlahan dan per-
kalian. Sifat-sifat ini menyajikan beberapa alat yang memungkinkan kita bekerja den-
gan ketaksamaan.
2.2.6 Teorema. Misalkan a,b,c,d ∈ R
(a). bila a > b, maka a + c > b + c
(b). bila a > b dan c > d, maka a + c > b + d
(c). bila a > b dan c > 0, maka ca > cb
bila a > b dan c < 0, maka ca < cb
Pendahuluan
Analisis Real I 33
(d). bila a > 0, maka 1/a > 0
bila a < 0, maka 1/a < 0
Bukti :
(a). Bila a - b ∈ P, maka (a + c) - (b + c) unsur di P. Jadi a + c > b + c
(b). Bila a - b ∈ P dan c - d ∈ P, maka (a + c) - (b + d) = (a - b) + (c - d) juga unsur di
P menurut 2.2.1(i). Jadi, a + c > b + d.
(c). Bila a - b ∈ P dan c ∈ P, maka ca - cb = c(a - b) ∈ P menurut 2.2.1(ii), karena itu
ca > cb, bila c > 0. Dilain pihak, bila c < 0, maka -c ∈ P sehingga cb - ca = (-c)(a -
b) unsur di P. Dari sini, cb > ca bila c < 0.
(d). Bila a > 0, maka a ≠ 0 (menurut sifat trikotomi), jadi 1/a ≠ 0 menurut 2.1.6(a).
Andaikan 1/a < 0, maka bagian (c) dengan c = 1/a mengakibatkan bahwa 1 =
a(1/a) < 0, kontradiksi dengan 2.2.5(b). Karenanya 1/a > 0.
Secara sama, bila a < 0, maka kemungkinan 1/a > 0 membawa ke sesuatu yang
kontradiksi yaitu 1 = a(1/a) < 0.
Dengan menggabung 2.2.6(c) dan 2.2.6(d), kita peroleh bahwa
1
n
dengan n
sebarang bilangan asli adalah bilangan positif. Akibatnya bilangan rasional dengan
bentuk
m
n
= m
1
n
|
\

|
¹
|
, untuk m dan n bilangan asli, adalah positif.
2.2.7 Teorema. Bila a dan b unsur di R dan bila a < b, maka a <
1
2
(a + b) < b.
Bukti :
Karena a < b, mengikuti 2.2.6(a) diperoleh bahwa 2a = a + a < a + b dan juga a + b <
b + b = 2b. Karena itu kita mempunyai
2a < a + b < 2b
Menurut 2.2.5(c) kita mempunyai 2 > 0, karenanya menurut 2.2.6(d) kita peroleh
1
2
>
0. Dengan menggunakan 2.2.6(c) kita dapatkan
a =
1
2
(2a) <
1
2
(a + b) <
1
2
(2b) = b
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 34
Dari sifat urutan yang telah dibahas sejauh ini, kita tidak mendapatkan bilan-
gan real positif terkecil. Hal ini akan ditunjukkan sebagai berikut :
2.2.8 Teorema Akibat. Bila b ∈ R dan b > 0, maka 0 <
1
2
b < b.
Bukti :
Ambil a = 0 dalam 2.2.7.
Dua hasil yang berikut akan digunakan sebagai metode pembuktian selanjut-
nya. Sebagai contoh, untuk membuktikan bahwa a ≥ 0 benar-benar sama dengan 0,
kita lihat pada hasil berikut bahwa hal ini cukup dengan menunjukkan bahwa a
kurang dari sebarang bilangan positif manapun.
2.2.9 Teorema. Bila a di R sehingga 0 ≤ a < ε untuk setiap ε positif, maka a = 0.
Bukti :
Andaikan a > 0. Maka menurut 2.2.8 diperoleh 0 <
1
2
a <a. Sekarang tetapkan ε
0
=
1
2
a, maka 0 < ε
0
< a. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa 0 < ε untuk setiap ε
positif. Jadi a = 0.
2.2.10 Teorema. Misalkan a,b di R, dan a - ε < b untuk setiap ε >0. Maka a ≤ b.
Bukti :
Andaikan b < a dan tetapkan ε
0
=
1
2
(a - b). Maka ε
0
dan b < a - ε
0
, kontradiksi dengan
hipotesis. (Bukti lengkapnya sebagai latihan).
Hasil kali dua bilangan positif merupakan bilangan positif juga. Tetapi, posi-
tivitas suatu hasil kali tidak mengakibatkan bahwa faktor-faktornya positif. Ken-
yataannya adalah kedua faktor tersebut harus bertanda sama (sama-sama positif atau
sama-sama negatif), seperti ditunjukkan berikut ini.
2.2.11 Teorema. Bila ab > 0, maka
(i). a > 0 dan b > 0 atau
(ii). a < 0 dan b < 0
Bukti :
Pendahuluan
Analisis Real I 35
Pertama kita catat bahwa ab > 0 mengakibatkan a ≠ 0 dan b ≠ 0 (karena bila a
= 0 dan b = 0, maka hasil kalinya 0). Dari sifat trikotomi, a > 0 atau a < 0. Bila a >0,
maka 1/a > 0 menurut 2.2.6(d) dan karenanya
b = 1.b = ((1/a)a) b = (1/a) (ab) > 0
Secara sama, bila a < 0, maka 1/a < 0, sehingga b = (1/a) (ab) < 0.
2.2.12 Teorema Akibat. Bila ab < 0, maka
(i). a < 0 dan b > 0 atau
(ii). a > 0 dan b < 0
Buktinya sebagai latihan.
Ketaksamaan
Sekarang kita tunjukkan bagaimana sifat urutan yang telah kita bahas dapat
digunakan untuk menyelesaikan ketaksamaan. Pembaca diminta memeriksa dengan
hati-hati setiap langkahnya.
2.2.13 Contoh-contoh.
(a). Tentukan himpunan A dari semua bilangan real x yang memenuhi 2x = 3 ≤ 6.
Kita catat bahwa x ∈ A ⇔ 2x + 3 ≤ 6 ⇔ 2x ≤ 3 ⇔ x ≤ 3/2.
Karenanya, A = {x ∈ R x ≤ 3/2}.
(b). Tentukan himpunan B = {x ∈ R x
2
+ x > 2}
Kita ingat kembali bahwa teorema 2.2.11 dapat digunakan. Tuliskan bahwa x
∈ B ⇔ x
2
+ x - 2 > 0 ⇔ (x - 1) (x + 2) > 0. Karenanya, kita mempunyai (i). x - 1
> 0 dan x + 2 > 0, atau (ii). x - 1 < 0 dan x + 2 < 0. Dalam kasus (i). kita mem-
punyai x > 1 dan x > -2, yang dipenuhi jika dan hanya jika x > 1. Dalam kasus (ii)
kita mempunyai x < 1 dan x < -2, yang dipenuhi jika dan hanya jika x < -2.
Jadi B = {x ∈ R x > 1}∪{x ∈ R x < -2}.
(c). Tentukan himpunan C = {x ∈ R (2x + 1)/(x + 2) < 1}. Kita catat bahwa x ∈ C ⇔
(2x + 1)/(x + 2) - 1 < 0 ⇔ (x - 1)/(x + 2) < 0. Karenanya, kita mempunyai (i).x - 1
< 0 dan x + 2 > 0, atau (ii). x - 1 > 0 dan x + 2 < 0 (Mengapa?). Dalam kasus (i)
kita harus mempunyai x < 1 dan x > -2, yang dipenuhi, jika dan hanya jika -2 < x
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 36
< 1, sedangkan dalam kasus (ii), kita harus mempunyai x > 1 dan x < -2, yang ti-
dak akan pernah dipenuhi.
Jadi kesimpulannya adalah C = {x ∈ R -2 < x < 1}.
Contoh berikut mengilustrasikan penggunaan sifat urutan R dalam pertak-
samaan. Pembaca seharusnya membuktikan setiap langkah dengan mengidentifikasi
sifat-sifat yang digunakan. Hal ini akan membiasakan untuk yakin dengan setiap lang-
kah dalam pekerjaan selanjutnya. Perlu dicatat juga bahwa eksistensi akar kuadrat dari
bilangan positif kuat belum diperkenalkan secara formal, tetapi eksistensinya kita ter-
ima dalam membicarakan contoh-contoh berikut.
(Eksistensi akar kuadrat akan dibahas dalam 2.5).
2.2.14. Contoh-contoh. (a). Misalkan a ≥ 0 dan b ≥ 0. Maka (i). a < b ⇔ a
2
< b
2

a b <
Kita pandang kasus a > 0 dan b > 0, dan kita tinggalkan kasus a = 0 kepada
pembaca. Dari 2.2.1(i) diperoleh bahwa a + b > 0. Karena b
2
- a
2
= (b - a) (b + a),
dari 2.2.6(c) diperoleh bahwa b - a > 0 mengakibatkan bahwa b - a > 0.
Bila a > 0 dan b > 0, maka a b > > 0 dan 0 , karena a = ( a )
2
dan b =
( b )
2
, maka bila a dan b berturut-turut diganti dengan a dan b , dan kita guna-
kan bukti di atas diperoleh a < b ⇔ a b <
Kita juga tinggalkan kepada pembaca untuk menunjukkan bahwa bila a ≥ 0
dan b ≥ 0, maka
a ≤ b ⇔ a
2
≤ b
2
⇔ a ≤ b
(b). Bila a dan b bilangan bulat positif, maka rata-rata aritmatisnya adalah
1
2
(a + b)
dan rata-rata geometrisnya adalah ab . Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris
diberikan oleh
ab ≤
1
2
(a + b) (2)
dan ketaksamaan terjadi jika dan hanya jika a = b.
Pendahuluan
Analisis Real I 37
Untuk membuktikan hal ini, perhatikan bahwa bila a > 0, b > 0, dan a ≠ b,
maka a > 0, b > 0 dan a ≠ b (Mengapa?). Karenanya dari 2.2.5(a) diperoleh
bahwa ( a - b )
2
> 0. Dengan mengekspansi kuadrat ini, diperoleh
a - 2 ab + b > 0,
yang diikuti oleh
ab <
1
2
(a + b).
Karenanya (2) dipenuhi (untuk ketaksamaan kuat) bila a ≠ b. Lebih dari itu, bila a = b
(> 0), maka kedua ruas dari (2) sama dengan a, jadi (2) menjadi kesamaan. Hal ini
membuktikan bahwa (2) dipenuhi untuk a > 0, b > 0.
Dilain pihak, misalkan a > 0, b > 0 dan ab <
1
2
(a + b). Maka dengan meng-
kuadratkan kedua ruas kemudian mengalikannya dengan 4, kita peroleh
4ab = (a + b)
2
= a
2
+ 2ab + b
2
,
yang diikuti oleh
0 = a
2
- 2ab + b
2
= (a - b)
2
.
Tetapi kesamaan ini mengakibatkan a = b (Mengapa?). Jadi kesamaan untuk (2) men-
gakibatkan a = b.
Catatan : Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris yang umum untuk bilangan positif a
1
, a
2
,...,a
n

adalah
(a
1
a
2
... a
n
)
1/n

a a a
1 2
+ + + . . .
n
n
(3)
dengan kesamaan terjadi jika dan hanya jika a
1
= a
2
= ... = a
n
.
(c). Ketaksamaan Bernoulli. Bila x > -1, maka
(1 + x)
n
≥ 1 + nx ; untuk semua n ∈ N. (4)
Buktinya dengan menggunakan induksi matematika. Untuk n = 1, menghasilkan ke-
samaan sehingga pernyataan tersebut benar dalam kasus ini. Selanjutnya, kita asumsi-
kan bahwa ketaksamaan (4) valid untuk suatu bilangan asli n, dan akan dibuktikan
valid juga untuk n + 1. Asumsi (1 + x)
n
≤ 1 + nx dan fakta 1 + x > 0 mengakibatkan
bahwa
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 38
(1 + x)
n+1
= (1 + x)
n
(1 + x)
≥ (1 + nx) (1 + x) = 1 + (n + 1)x + nx
2

≥ 1 + (n + 1)x
Jadi, ketaksamaan (4) valid untuk n + 1, bila valid untuk n. Dari sini, ketaksamaan (4)
valid untuk semua bilangan asli.
(d). Ketaksamaan Cauchy. Bila n∈N dan a
1
, a
2
, ... ,a
n
dan b
1
, b
2
, ..., b
n
bilangan real
maka
(a
1
b
1
+ ... + a
n
b
n
)
2
≤ (a
1
2
+ ... + a
n
2
) (b
1
2
+ ... + b
n
2
). (5)
Lebih dari itu, bila tidak semua b
j
= 0, maka kesamaan untuk (5) dipenuhi jika dan
hanya jika terdapat bilangan real s, sehingga
a
1
= sb
1
, ..., a
n
= sb
n
.
Untuk membuktikan hal ini kita definisikan fungsi F : R → R, untuk t∈R
de-ngan
F(t) = (a
1
- tb
1
)
2
+ ... + (a
n
- tb
n
)
2
.
Dari 2.2.5(a) dan 2.2.1(i) diperoleh bahwa F(t) ≥ 0 untuk semua t∈R. Bila kuadratnya
diekspansikan diperoleh
F(t) = A - 2Bt + Ct
2
≥ 0,
dengan A,B,C sebagai berikut
A = a
1
2
+ ... + a
n
2
;
B = a
1
b
1
+ ... + a
n
b
n
;
C = b
1
2
+ ... + b
n
2
.
Karena fungsi kuadrat F(t) tak negatif untuk semua t ∈ R, hal ini tidak mungkin
mempunyai dua akar real yang berbeda. Karenanya diskriminannya
∆ = (-2B)
2
- 4AC = 4(B
2
- AC)
harus memenuhi ∆ ≤ 0. Karenanya, kita mempunyai B ≤ AC, yang tidak lain adalah
(5).
Bila b
j
= 0, untuk semua j = 1, ..., n, maka kesamaan untuk (5) dipenuhi untuk
sebarang a
j
. Misalkan sekarang tidak semua b
j
= 0. Maka, bila a
j
= sb
j
untuk suatu
Pendahuluan
Analisis Real I 39
s∈R dan semua j = 1, ..., n, mengakibatkan kedua ruas dari (5) sama dengan s
2
(b
1
2
+
... +b
n
2
)
2
. Di lain pihak bila kesamaan untuk (5) dipenuhi, maka haruslah ∆ = 0, se-
hingga terdapat akar tunggal s dari persamaan kuadrat F(t) = 0. Tetapi hal ini men-
gakibatkan (mengapa?) bahwa
a
1
- sb
1
= 0, ..., a
n
- sb
n
= 0
yang diikuti oleh a
j
= sb
j
untuk semua j = 1, ..., n.
(e). Ketaksamaan Segitiga. Bila n ∈ N dan a
1
, ..., a
n
dan b
1
, ..., b
n
bilangan real maka
[(a
1
+ b
1
)
2
+ ... + (a
n
+ b
n
)
2
]
1/2
≤ [a
1
2
+ ... + a
n
2
]
1/2
+ [b
1
2
+ ... + b
n
2
]
1/2
(6)
lebih dari itu bila tidak semua b
j
= 0, kesamaan untuk (6) dipenuhi jika dan hanya jika
terdapat bilangan real s, sehingga a
1
= sb
1
, ..., a
n
= sb
n
.
Karena (a
j
+ b
j
)
2
= a
j
2
+ 2a
j
b
j
+ b
j
2
untuk j = 1, ..., n,dengan menggunakan
ketaksamaan Cauchy (5) [A,B,C seperti pada (d)], kita mempunyai
(a
1
+ b
1
)
2
+ ... + (a
n
+ b
n
)
2
= A + 2B + C
≤ A + 2 AC + C = ( A + C )
2

Dengan mengunakan bagian (a) kita mempunyai (mengapa?)
[(a
1
+ b
1
)
2
+ ... + (a
n
+ b
n
)
2
]
1/2
≤ A + C ,
yang tidak lain adalah (b).
Bila kesamaan untuk (b) dipenuhi, maka B = AC, yang mengakibatkan ke-
samaan dalam ketaksamaan Cauchy dipenuhi.
Latihan 2.2
1. (a). Bila a ≤ b dan c < d, buktikan bahwa a + c < b + d.
(b). Bila a ≤ b dan c ≤ d, buktikan bahwa a + c ≤ b + d.
2. (a). Bila 0 < a < b dan 0 < c < d, buktikan bahwa 0 < ac < bd
(b). Bila 0 < a < b dan 0 ≤ c ≤ d, buktikan bahwa 0 ≤ ac ≤ bd.
Juga tunjukkan dengan contoh bahwa ac < bd tidak selalu dipenuhi.
3. Buktikan bila a < b dan c < d, maka ad + bc < ac + bd.
4. Tentukan bilangan real a,b,c,d yang memenuhi 0 < a < b dan c < d < 0, sehingga
(i). ac < bd, atau (ii). bd < ac.
5. Bila a,b ∈ R, tunjukkan bahwa a
2
+ b
2
= 0 jika dan hanya jika a = 0 dan b = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 40
6. Bila 0 ≤ a < b, buktikan bahwa a
2
≤ ab < b
2
. Juga tunjukkan dengan contoh bahwa
hal ini tidak selalu diikuti oleh a
2
< ab < b
2
.
7. Tunjukan bahwa bila 0 < a < b, maka a < ab < b dan 0 < 1/b < 1/a.
8. Bila n ∈ N, tunjukan bahwa n
2
≥ n dan dari sini 1/n
2
≤ 1/n.
9.Tentukan bilangan real x yang memenuhi
(a). x
2
> 3x + 4; (b). 1 < x
2
< 4;
(c). 1/x < x; (d). 1/x < x
2
.
10. Misal a,b ∈ R dan untuk setiap ε > 0 kita mempunyai a ≤ b + ε.
(a). Tunjukkan bahwa a ≤ b.
(b). Tunjukkan bahwa tidak selalu dipenuhi a < b.
11. Buktikan bahwa (
1
2
(a + b))
2

1
2
(a
2
+ b
2
) untuk semua a,b ∈ R. Tunjukkan
bahwa kesamaan dipenuhi jika dan hanya jika a = b.
12. (a). Bila 0 < c < 1, tunjukkan bahwa 0 < c
2
< c < 1
(b). Bila 1 < c, tunjukkan bahwa 1 < c < c
2

13. Bila c > 1, tunjukkan bahwa c
n
≥ c untuk semua n ∈ N. (Perhatikan ketaksamaan
Bernoulli dengan c = 1 + x).
14. Bila c > 1, dan m,n ∈ N, tunjukkan bahwa c
m
> c
n
jika dan hanya jika m > n.
15. Bila 0 < c < 1, tunjukkan bahwa c
n
≤ c untuk semua n ∈ N.
16. Bila 0 < c < 1 dan m,n ∈ N, tunjukkan bahwa c
m
< c
n
jika dan hanya jika m > n.
17. Bila a > 0, b > 0 dan n ∈ N, tunjukkan bahwa a < b jika dan hanya jika a
n
< b
n
.
18. Misalkan c
k
> 0 untuk k = 1,2,...,n. Buktikan bahwa
n
2
≤ (c
1
+ c
2
+ ... + c
n
)
( )
1 1 1
1 2
c c c
+ + + . . .
n

19. Misalkan c
k
> 0 untuk k = 1,2,...,n. Tunjukkan bahwa
[ ]
c c c
c c c
1 2
1
2
2
2 2
1 2
+ + +
≤ + + +
...
n
...
n
n
/
≤ c
1
+ c
2
+ ... + c
n
20. Asumsikan eksistensi akar dipenuhi, tunjukkan bahwa bila c > 1, maka c
1/m
< c
1/n

jika dan hanya jika m > n.
2.3. Nilai Mutlak
Pendahuluan
Analisis Real I 41
Dari sifat trikotomi 2.2.1(ii), dijamin bahwa bila a ∈ R dan a ≠ 0, maka tepat
satu dari bilangan a atau -a positif. Nilai mutlak dari a ≠ 0 didefinisikan sebagai bi-
langan yang positif dari keduanya. Nilai mutlak dari 0 didefinisikan 0.
2.3.1 Definisi. Bila a ∈ R, nilai mutlak a, dituliskan dengan ¦a¦, didefinisikan den-
gan
a
a a
a
a a
=

¦
´
¦
¹
¦
, bila > 0
0 , bila = 0
, bila < 0

Sebagai contoh 3 = 3 dan −2 = 2. Dari definisi ini kita akan melihat bahwa
¦a¦ ≥ 0, untuk semua a ∈ R. Juga ¦a¦ = a bila a ≥ 0, dan ¦a¦ = -a bila a < 0.
2.3.2 Teorema. (a). ¦a¦ = 0 jika dan hanya jika a = 0
(b). ¦-a¦ = ¦a¦, untuk semua a ∈ R.
(c). ¦ab¦ = ¦a¦¦b¦, untuk semua a,b ∈ R.
(d). Bila c ≥ 0, maka ¦a¦ ≤ c jika dan hanya jika -c ≤ a ≤ c.
(e). - ¦a¦ ≤ a ≤ ¦a¦ untuk semua a ∈ R.
Bukti :
(a). Bila a = 0, maka ¦a¦ = 0. Juga bila a ≠ 0, maka -a ≠ 0, jadi ¦a¦ ≠ 0. Jadi bila ¦a¦
= 0, maka a = 0.
(b). Bila a = 0, maka ¦0¦ = 0 = ¦0¦. Bila a > 0, maka -a < 0 sehingga ¦a¦ = a = -(-a)
= ¦-a¦. Bila a < 0, maka -a > 0, sehinga ¦a¦ = -a = ¦-a¦.
(c). Bila a,b keduanya 0, maka ¦ab¦ dan ¦a¦¦b¦ sama dengan 0. Bila a > 0 dan b > 0,
maka ab > 0, sehingga ¦ab¦ = ab = ¦a¦¦b¦. Bila a > 0 dan b < 0, maka ab < 0, se-
hingga ¦ab¦ = -ab = a(-b) = ¦a¦¦b¦. Secara sama untuk dua kasus yang lain.
(d). Misalkan ¦a¦ ≤ c. Maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c. (Mengapa?) Karena
ke-taksamaan terakhir ekivalen dengan a ≥ -c, maka kita mempunyai -c ≤ a ≤ c. Se-
balik-nya, bila -c ≤ a ≤ c, maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c. (Mengapa?), se-
hingga ¦a¦ ≤ c.
(e). Tetapkan c = ¦a¦ pada (d).
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 42
Ketaksamaan berikut akan sering kita gunakan.
2.3.3. Ketaksamaan Segitiga. Untuk sebarang a,b di R, kita mempunyai
a b a b + ≤ +
Bukti :
Dari 2.3.2(e), kita mempunyai -¦a¦ ≤ a ≤ ¦a¦ dan -¦b¦ ≤ b ≤ ¦b¦. Kemudian dengan
menambahkan dan menggunaka 2.2.6(b), kita peroleh
( )
− + ≤ + ≤ + a b a b a b
Dari sini, kita mempunyai a b a b + ≤ + dengan menggunakan 2.3.2(d).
Terdapat banyak variasi penggunaan Ketaksamaan Segitiga. Berikut ini dua di
antaranya.
2.3.4 Teorema Akibat. Untuk sebarang a,b di R, kita mempunyai
(a). a b a b − ≤ −
(b). a b a b − ≤ +
Bukti :
(a). Kita tuliskan a = a - b + b dan gunakan Ketaksamaan Segitiga untuk memperoleh
a a b b a b b = − + ≤ − + .
Sekarang kita kurangi dengan b untuk memperoleh a b a b − ≤ − . Secara
sama, dari b b a a b a a = − + ≤ − + dan 2.3.2(b), kita peroleh − − a b = − − b a
≤ − a b . Bila kedua ketaksamaan ini kita kombinasikan, dengan menggunakan
2.3.2(d), kita memperoleh ketaksamaan di (a).
(b). Tukar b pada Ketaksamaan Segitiga dengan -b untuk memperoleh a b − ≤
¦a¦+¦-b¦ Karena − = b b [menurut 2.3.2(b)] kita dapatkan ketaksamaan (b).
Aplikasi langsung induksi matematika memperluas Ketaksamaan Segitiga un-
tuk sejumlah hingga bilangan real.
2.3.5 Teorema Akibat. Untuk sebarang a
1
, a
2
,...,a
n
∈ R, kita mempunyai
a a a a a a
1 2 1 2
+ + + ≤ + + + . . . . . .
n n

Pendahuluan
Analisis Real I 43
Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana sifat-sifat nilai mutlak
terdahulu dapat digunakan.
2.3.6 Contoh-contoh.
(a). Tentukan himpunan A dari bilangan real x yang memenuhi 2x 3 6 + <
Dari 2.3.2(d), kita lihat bahwa x ∈ A jika dan hanya jika -6 < 2x + 3 < 6, yang
dipenuhi jika dan hanya jika -9 < 2x < 3. Dengan membagi dua, kita peroleh
A = {x ∈ R -9/2 < x < 3/2}.
(b). Tentukan himpunan B = {x ∈ R x 1 x − < }.
Caranya dengan memperhatikan setiap kasus bila tanda mutlak dihilangkan.
Di sini kita perhatikan kasus-kasus (i). x ≥ 1, (ii). 0 ≤ x < 1, (iii). x < 0. (Mengapa kita
hanya memperhatikan ketiga kasus di atas?). Pada kasus (i) ketaksamaan kita men-
jadi x - 1 < x, yang dipenuhi oleh semua bilangan real x. Akibatnya semua x ≥ 1 ter-
muat di B. Pada kasus (ii), ketaksamaan kita menjadi -(x - 1) < x, yang menghasilkan
pembahasan lebih lanjut, yaitu x > 1/2. Jadi, kasus (ii) menyajikan semua x dengan
1/2 < x < 1 termuat di B. Pada kasus (iii), ketaksamaan menjadi -(x - 1) < -x, yang
ekivalen dengan 1 < 0. Karena 1 < 0 selalu salah, maka tiodak ada x yang memenuhi
ketaksaman kita pada kasus (iii). Dengan mengkombinasikan ketiga kasus ini
diperoleh bahwa
B = {x ∈ R x > 1/2}.
(c). Misalkan f fungsi yang didefinisikan dengan f (x)
2x 3x 1
2x 1
2
=
− +

untuk 2 ≤ x ≤
3. Tentukan konstanta M sehingga f (x) M ≤ untuk semua x yang memenuhi 2 ≤ x ≤
3.
Kita akan perhatikan secara terpisah pembilang dan penyebut dari
f (x)
2x 3x 1
2x 1
2
=
− +


Aljabar Himpunan
Analisis Real I 44
Dari ketaksamaan segitiga, kita peroleh 2x 3x 1
2
− + ≤ + + 2 x 3x 1
2

≤ ⋅ + ⋅ + 2 3 3 3 1
2
= 28, karena x 3 ≤ untuk semua x yang kita bicarakan. Juga,
2x 1 − ≥ − 2 x 1 ≥ ⋅ − 2 2 1 = 3, karena x 2 ≥ untuk semua x yang kita bicarakan.
(Mengapa?) Karena itu, untuk 2 ≤ x ≤ 3 kita memperoleh bahwa f (x)
28
3
≤ . Dari
sini kita dapat menetapkan M = 28/3. (Catatan bahwa kita meneukan sebuah kon-
stanta yang demikian, M; sebenarnya semua bilangan M ≥ 28/3 juga memenuhi
f (x) M ≤ . Juga dimungkinkan bahwa 28/3 bukan pilihan terkecil untuk M).
Garis Bilangan Real
Interpretasi geometri yang umum dan mudah untuk sistem bilangan real
adalah garis bilangan. Pada interpretasi ini, nilai mutlak ¦a¦ dari unsur a di R diang-
gap seba-
gai jarak dari a ke pusat 0. Lebih umum lagi, jarak antara unsur a dan b di R adalah
a b − .
Kita akan memerlukan bahasa yang tepat untuk membahas gagasan suatu bi-
langan real “dekat” ke yang lain. Bila diberikan bilangan real a, maka bilangan real x
dikatakan “dekat” dengan a seharusnya diartikan bahwa jarak antara keduanya x − a
“kecil”. Untuk membahas gagasan ini, kita akan menggunakan kata lingkungan, yang
sebentar lagi akan kita definisikan.
2.3.7 Definisi. Misalkan a ∈ R dan ε > 0. Maka lingkungan-ε dari a adalah himpunan
V
ε
(a) = {x ∈ R x − a < ε}.
Untuk a ∈ R, pernyataan x termuat di V
ε
(a) ekivalen dengan pernyataan
-ε < x - a < ε ⇔ a - ε < x < a + ε
2.3.8 Teorema. Misalkan a ∈ R. Bila x termuat dalam lingkungan V
ε
(a) untuk setiap
ε > 0, maka x = a.
Bukti :
Pendahuluan
Analisis Real I 45
Bila x memenuhi x − a < ε untuk setiap ε > 0, maka dari 2.2.9 diperoleh bahwa
x − a = 0, dan dari sini x = a.
2.3.9. Contoh-contoh.
(a). Misalkan U = {x 0 < x < 1}. Bila a ∈ U, misalkan ε bilangan terkecil dari a atau
1 - a. Maka V
ε
(a) termuat di U. Jadi setiap unsur di U mempunyai lingkungan-ε yang
termuat di U.
(b). Bila I = {x : 0 ≤ x ≤ 1}, maka untuk sebarang ε > 0, lingkungan-ε V
ε
(0) memuat
titik di luar I, sehingga V
ε
(0) tidak termuat dalam I. Sebagai contoh, bilangan x
ε
= -ε/2
unsur di V
ε
(0) tetapi bukan unsur di I.
(c). Bila x − a < ε dan y − < b ε , maka Ketaksamaan Segitiga mengakibatkan
bahwa
( ) ( ) x y + − + a b = ( ) ( ) x y − + − a b
= x y 2 . − + − < a b ε
Jadi bila x,y secara berturut-turut termuat di lingkungan -ε dari a,b maka x + y ter-
muat di lingkungan -2ε dari (a + b) (tetapi tidak perlu lingkungan -ε dari (a + b)).
Latihan 2.3.
1. Misalkan a ∈ R. tunjukkan bahwa
(a). ¦a¦ = a
2
(b). a a
2 2
=
2. Bila a,b ∈ R. dan b ≠ 0, tunjukkan bahwa a b a b / / = .
3. Bila a,b ∈ R, tunjukkan bahwa a b a b + = + .jika dan hanya jika ab > 0.
4. Bila x,y,z ∈ R, x ≤ z, tunjukan bahwa x < y < z jika dan hanya jika x y − +
y z x z − = − Interpretasikan secara geometris.
5. Tentukan x ∈ R, yang memenuhi pertaksamaan berikut :
(a). 4x 3 13 − ≤ ; (b). x 1 3
2
− ≤ ;
(c). x 1 x 1 − > + ; (d). x x 1 2 + + < .
6. Tunjukkan bahwa x − < a ε jika dan hanya jika a - ε < x < a + ε.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 46
7. Bila a < x < b dan a < y < b, tunjukkan bahwa x y − < − b a . Interpretasikan se-
cara geometris.
8. Tentukan dan sketsa himpunan pasangan berurut (a,b) di R×R yang memenuhi
(a x y = ; (b). x y 1 + = ;
(c xy 2 = ; (d). x y 2 − = .
9. Tentukan dan sketsa himpunan berurut (x,y) yang memenuhi
(a). x y ≤ ; (b). x y 1 + ≤ ;
(c). xy 2 ≤ ; (d). x y 2 − ≥ .
10. Misalkan ε > 0 dan δ > 0, a ∈ R. Tunjukkan bahwa V
ε
(a) ∩ V
δ
(a) dan V
ε
(a) ∪
V
δ
(a) adalah lingkungan-γ dari a untuk suatu γ.
11. Tunjukkan bahwa bila a,b ∈ R, dan a ≠ b, maka terdapat lingkungan-ε U dari a
dan lingkungan-γ V dari b, sehingga U∩V = ∅.
2.4. Sifat Kelengkapan R
Sejauh ini pada bab ini kita telah membahas sifat aljabar dan sifat urutan sis-
tem bilangan real. Pada bagian ini kita akan membahas satu sifat lagi dari R yang ser-
ing disebut dengan “sifat kelengkapan”. Sistem bilangan rasional Q memenuhi sifat
aljabar 2.1.1 dan sifat ururtan 2.2.1, tetapi seperti kita lihat 2 tidak dapat direpre-
sentasikan sebagai bilangan rasional, karena itu 2 tidak termuat di Q. Observasi ini
menunjukan perlunya sifat tambahan untuk bilangan real. Sifat tambahan ini, yaitu
sifat kelengkapan, sangat esensial untuk R.
Ada beberapa versi sifat kelengkapan. Di sini kita pilih metode yang paling
efisien dengan mengasumsikan bahwa himpunan tak kosong di R mempunyai supre-
mum.
Supremum dan Infimum
Sekarang kita akan perkenalkan gagasan tentang batas atas suatu himpunan
bilangan real. Gagasan ini akan sangat penting pada pembahasan selanjutnya.
2.4.1 Definisi. Misalkan S suatu sub himpunan dari R.
(i). Bilangan u ∈ R dikatakan batas atas dari S bila s ≤ u, untuk semua s ∈ S.
Pendahuluan
Analisis Real I 47
(ii). Bilangan w ∈ R dikatakan batas bawah dari S bila w ≤ s, untuk semua s ∈ S
Pembaca seharusnya memikirkan (dengan teliti) tentang apa yang dimaksud
dengan suatu bilangan bukan batas atas (atau batas bawah) dari himpunan S. Pem-
baca seharusnya menunjukkan bahwa bilangan v ∈ R bukan batas atas dari S jika dan
hanya jika terdapat s’ ∈ S, sehingga v < s’. (secara sama, bilangan z ∈ R bukan batas
bawah dari S jika dan hanaya jika terdapat s’’ ∈ S, sehingga s” < z).
Perlu kita cata bahwa subhimpunan S dari R mungkin saja tidak mempunyai
batas atas (sbagai contoh, ambil S = R). Tetapi, bila S mempunyai batas atas, maka S
mempunyai tak hingga banyak batas atas sebab bila n batas atas dari S, maka sebarang
v dengan v > u juga merupakan batas atas dari S. (Observasi yang serupa juga berlaku
untuk batas bawah).
Kita juga catat bahwa suatu himpunan mungkin mempunyai batas bawah
tetapi tidak mempunyai batas atas (dan sebaliknya). Sebagai contoh, perhatikan him-
punan S
1
= {x ∈ R : x ≥ 0} dan S
2
= {x ∈ R : x < 0}
Catatan : Bila kita menerapkan definisi di atas untuk himpunan kosong ∅, kita dipaksa kepada ke-
simpulan bahwa setiap bilangan real merupakan batas atas dari ∅. Karena agar u ∈ R bukan batas atas
dari S, unsur s’ ∈ S harus ada, sehingga u < s’. Bila S = ∅, maka tidak ada unsur di S. Dari sini setiap
bilangan real merupakan batas atas dari himpunan kosong. Secara sama, setiap bilangan real meru-
pakan batas bawah dari himpunan kosong. Hal ini mungkin artifisial, tetapi merupakan konsekuensi
logis dari definisi.
Pada pembahasan ini, kita katakan bahwa suatu himpunan S di R terbatas di
atas bila S mempunyai batas atas. Secara sama, bila himpunan P di R mempunyai
batas bawah, kita katakan P terbatas di bawah. Sedangkan suatu himpunan A di R
dikatakan tidak terbatas bila A tidak mempunyai (paling tidak satu dari) batas atas
atau batas bawah. Sebagai contoh, {x ∈ R : x ≤ 2} tidak terbatas (walaupun mempun-
yai batas atas) karena tidak mempunyai batas bawah.
2.4.2 Definisi. Misalkan S subhimpunan dari R,
(i). Bila S terbatas di atas, maka batas atas u dikatakan supremum (atau batas atas
ter-kecil) dari S bila tidak terdapat batas atas (yang lain) dari S yang kurang dari u.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 48
(ii). Bila S terbatas di bawah, maka batas bawah w dikatakan infimum (atau batas
bawah terbesar) dari S bila tidak terdapat batas bawah (yang lain) dari S yang kurang
dari w.
Akan sangat berguna untuk memfarmasikan ulang definisi supremum dari
suatu himpunan.
2.4.3 Lemma. Bilangan real u merupakan supremum dari himpunan tak kosong S di
R jika dan hanya jika u memenuhi kedua kondisi berikut :
(1). s ≤ u untuk semua s ∈ S.
(2). bila v < u, maka terdapat s’ ∈ S sehingga v < s’.
Kita tinggalkan bukti dari lemma ini sebagai latihan yang sangat penting bagi
pembaca. Pembaca seharusnya juga memfarmasikan dan membuktikan hal yang se-
rupa untuk infimum.
Tidak sulit untuk membuktikan bahwa supremum dari himpunan S di R bersi-
fat tunggal. Misalkan u
1
dan u
2
supremum dari S, maka keduanya merupakan batas
atas dari S. Andaikan u
1
< u
2
dengan hipotesis u
2
supremum mengakibatkan bahwa u
1

bukan batas atas dari S. Secara sama, pengandaian u
2
< u
1
dengan hipotesis u
1
supre-
mum menga-kibatkan bahwa u
2
bukan batas atas dari S. Karena itu, haruslah u
1
= u
2
.
(Pembaca seharusnya menggunakan cara serupa untuk menunjukkan infimum dari
suatu himpunan di R bersifat tunggal).
Bila supremum atau infimum dari suatu himpunan S ada, kita akan menulis-
kan-nya dengan
sup S dan inf S
Kita amati juga bahwa bila u’ sebarang batas atas dari S, maka sup S ≤ u’.
Yaitu, bila s ≤ u’ untuk semua s ∈ S, maka sup S ≤ u’. Hal ini mengatakan bahwa sup
S merupakan batas atas terkecil dari S.
Kriteria berikut sering berguna dalam mengenali batas atas tertentu dari suatu
himpunan merupakan supremum dari himpunan tersebut.
2.4.4 Lemma. Suatu batas atas u dari himpunan tak kosong S di R merupakan supre-
mum dari S jika dan hanya jika untuk setiap ε > 0 terdapat s
ε
∈ S sehingga u - ε < s
ε
.
Pendahuluan
Analisis Real I 49
Bukti :
Misalkan u batas atas dari S yang memenuhi kondisi di atas. Bila v < u dan
kita tetapkan ε = u - v, maka ε > 0, dan kondisi di atas mengakibatkan terdapat s
ε
∈ S
sehingga v = u - ε < s
ε
. Karennya v bukan batas atas dari S. Karena hal ini berlaku un-
tuk sebarang v yang kurang dari u, maka haruslah u = sup S.
Sebaliknya, misalkan u = sup S dan ε > 0. Karena u - ε < u, maka u - ε bukan
batas atas dari S. Karenanya terdapat unsur s
ε
di S yang lebih dari u - ε, yaitu u - ε <
s
ε
.
Penting juga untuk dicatat bahwa supremum dari suatu himpunan dapat meru-
pakan unsur dari himpunan tersebut maupun bukan. Hal ini bergantung pada jenis
himpunannya. Kita perhatikan contoh-contoh berikut.
2.4.5 Contoh-contoh
(a). Bila himpunan tak kosong S
1
mempunyai berhingga jumlah unsur, maka S
1
mem-
punyai unsur terbesar u dan unsur terkecil w. Lebih dari itu u = sup S
1
dan w = inf S
1

keduanya unsur di S
1
. (Hal ini jelas bila S
1
hanya mempunyai sebuah unsur, dan dapat
digunakan induksi matematika untuk sejumlah unsur dari S
1
).
(b). Himpunan S
2
= {x : 0 ≤ x ≤ 1} mempunyai 1 sebagai batas atas. Kita akan bukti-
kan 1 merupakan supremum sebagai berikut. Bila v < 1, maka terdapat unsur s’ di S
2

sehingga v < s’. (pilih unsur s’). Dari sini v bukan batas atas dari S
2
dan, karena v se-
barang bilangan v < 1, haruslah sup S
2
= 1. Secara sama, dapat ditunjukkan inf S
2
= 0.
Catatan : sup S
2
dan inf S
2
keduanya termuat di S
2
.
(c). Himpunan S
3
= {x : 0 < x < 1} mempunyai 1 sebagai batas atas. Dengan meng-
gunakan argumentasi serupa (b) untuk S
2
, diperoleh sup S
3
= 1. Dalam hal ini, him-
punan S
3
tidak memuat sup S
3
. Secara sama, inf S
3
= 0, tidak termuat di S
3
.
(d). Seperti telah disebutkan, setiap bilangan real merupakan batas atas dari himpunan
kosong, karenanya himpunan kosong tidak mempunyai supremum. Secara sama him-
punan kosong juga tidak mempunyai infimum.
Sifat Supremum dari R
Berikut ini kita akan membahas asumsi terakhir tentang R yang sering disebut
dengan Sifat Kelengkapan dari R. Selanjutnya kita katakan R merupakan suatu
medan terurut yang lengkap.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 50
2.4.6 Sifat Supremum dari R. Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mem-
punyai batas atas mempunyai supremum di R.
Sifat infimum yang serupa dapat diturunkan dari sifat supremum. Katakan S
sub himpunan tak kosong yang terbatas di bawah dari R. Maka himpunan S’ = {-s : s
∈ S} terbatas di atas, dan sifat supremum mengakibatkan bahwa u = sup S’ ada. Hal
ini kemudian diikuti bahwa -u merupakan infimum dari S, yang pembaca harus bukti-
kan.
2.4.7 Sifat Infimum dari R. Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mem-
punyai batas bawah mempunyai infimum di R.
Pembaca seharusnya menuliskan bukti lengkapnya.
Latihan 2.4
1. Misalkan S
1
= {x ∈ R : x ≥ 0}. Tunjukkan secara lengkap bahwa S
1
mempunyai
batas bawah, tetapi tidak mempunyai batas atas. Tunjukkan pula bahwa inf S
1
= 0.
2. Misalkan S
2
= {x ∈ R : x ≥ 0}. Apakah S
2
mempunyai batas bawah ? Apakah S
2

mempunyai batas atas ? Buktikan pernyataan yang anda berikan.
3. Misalkan S
3
= {1/n n ∈ N}. Tunjukkan bahwa sup S
3
= 1 dan inf S
3
≥ 0. (Hal ini
akan diikuti bahwa inf S
3
= 0, dengan menggunakan Sifat Arechimedes 2.5.2 atau
2.5.3 (b)).
4. Misalkan S
4
= {1 - (-1)
n
/n : n ∈ N}.Tentukan inf S
4
dan sup S
4
.
5. Misalkan S subhimpunan tak kosong dari R yang terbatas di bawah. Tunjukkan
bahwa inf S = -sup{-s : s ∈ S}.
6. Bila S ⊆ R memuat batas atasnya, tunjukkan bahwa batas atas tersebut merupakan
supremum dari S.
7. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. Tunjukkan bahwa u ∈ R merupakan batas atas
dari R jika dan hanya jika kondisi t ∈ R dan t > u mengakibatkan t ∉ S.
8. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. Tunjukkan bahwa u = sup S, kaka untuk setiap
n∈N, u - 1/n bukan batas atas dari S, tetapi u + 1/n batas atas dari S. (Hal sebali-
knya juga benar ; lihat latihan 2.5.3).
Pendahuluan
Analisis Real I 51
9. Tunjukkan bahwa bila A dan B sub himpunan yang terbatas dari R, maka A∪B
juga terbatas. Tunjukkan bahwa sup (A∪B) = sup {sup A, sup B}.
10.Misalkan S terbatas di R dan S sub himpunan tak kosong dari S. Tunjukkan bahwa
inf S ≤ inf S
0
≤ sup S
0
≤ sup S.
11.Misalkan S ⊆ R dan s
*
= sup S termuat di S. Bila u∉ S, tunjukkan bahwa sup
(S∪{u}) = sup {s
*
,u}.
12.Tunjukkan bahwa suatu himpunan tak kosong dan berhingga S ⊆ R memuat su-
premumnya. (Gunakan induksi matematika dan latihan nomor 11).
2.5 Aplikasi Sifat Supremum
Sekarang kita akan membahas bagaimana supremum dan infimum digunakan.
Contoh berikut menunjukkan bagaimana definisi supremum dan infimum digunakan
dalam pembuktian. Kita juga akan memberikan beberapa aplikasi penting sifat ini un-
tuk menurunkan sifat-sifat fundamental sistem bilangan real yang akan sering diguna-
kan.
2.5.1 Contoh-contoh
(a). Sangatlah penting untuk menghubungkan infimum dan supremum suatu
.,KKMNBV himpunan dengan sifat-sifat aljabar R. Di sini kita akan sajikan salah
satunya ; yaitu tentang penjumlahan, sementara yang lain diberikan sebagai latihan.
Misalkan S sub himpunan tak kosong dari R. Definisikan himpunan
a + S = {a + x : x ∈ S}.
Kita akan tunjukkan bahwa
sup (a + S) = a + sup S.
Bila kita misalkan u = sup S, maka karena x ≤ u untuk semua x ∈ S, kita mempunyai
a + x ≤ a + u. Karena itu a + u batas atas dari a + S ; akibatnya kita mempunyai sup (a
+ S) ≤ a + u. Bila v sebarang batas atas dari himpunan a + S, maka a + x ≤ v untuk
semua x ∈ S. Maka x ≤ v - a untuk semua x ∈ S, yang mengakibatkan u = sup S ≤ v -
a, sehingga a + u ≤ v. Karena v sebarang batas atas dari a + S, kita dapat mengganti v
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 52
dengan sup (a + S) untuk memperoleh a + u ≤ sup (a + S). Dengan menggabungkan
ketaksamaan di
atas diperoleh bahwa
sup (a + S) = a + u = a + sup S.
(b). Misalkan f dan g fungsi-fungsi bernilai real dengan domain D ⊆ R. Kita asumsi-
kan rangenya f(D) = {f(x) : x ∈ D} dan g(D) = {g(x) : x ∈ D}himpunan terbatas di R.
(i). Bila f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D, maka sup f(D) ≤ sup g(D).
Untuk membuktikan hal ini, kita catat bahwa sup g(D) merupakan batas atas
himpunan f(D) karena untuk setiap x ∈ D, kita mempunyai f(x) ≤ g(x) ≤ sup g(D).
Karenanya sup f(D) ≤ sup g(D).
(ii). Bila f(x) ≤ g(y) untuk semua x,y ∈ D, maka sup f(D) ≤ sup g(D).
Buktinya dalam dua tahap. Pertama, untuk suatu y tertentu di D, kita lihat
bahwa f(x) ≤ g(y) untuk semua x ∈ D, maka g(y) batas atas dari himpunan f(D). Aki-
batnya sup f(D) ≤ g(y). Karena ketaksamaan terakhir dipenuhi untuk semua y ∈ D,
maka sup f(D) merupakan batas bawah dari g(D). Karena itu, haruslah sup f(D) ≤ inf
g(D).
(c). Perlu dicatat bahwa hipotesis f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D pada (b) tidak
menghasilkan hubungan antara sup f(D) dan inf g(D). Sebagai contoh, bila f(x) = x
2

dan g(x) = x dengan D = {x ∈ R : 0 < x < 1}, maka f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D,
tetapi sup f(D) = 1 dan inf g(D) = 0, serta sup g(D) = 1. Jadi (i) dipenuhi, sedangkan
(ii) tidak.
Lebih jauh mengenai hubungan infimum dan supremum himpunan dari nilai
fungsi diberikan sebagai latihan.
Sifat Archimedes
Salah satu akibat dari sifat supremum adalah bahwa himpunan bilangan asli N
tidak terbatas di atas dalam R. Hal ini berarti bahwa bila diberikan sebarang bilangan
real x terdapat bilangan asli n (bergantung pada x) sehingga x < n. Hal ini tampaknya
mudah, tetapi sifat ini tidak dapat dibuktikan dengan menggunakan sifat aljabar dan
Pendahuluan
Analisis Real I 53
urutan yang dibahas pada bagian terdahulu. Buktinya yang akan diberikan berikut ini
menunjukkan kegunaan yang esensial dari sifat supremum R.
2.5.2. Sifat Archimedes. Bila x ∈ R, maka terdapat n
x
∈ N sehingga x < n
x
.
Bukti :
Bila kesimpulan di atas gagal, maka x terbatas atas dari N. Karenanya, menu-
rut sifat supremum, himpunan tak kosong N mempunyai supremum u∈R. Oleh
karena u -1 < u, maka menurut Lemma 2.4.4 terdapat m ∈ N sehingga u -1 < m.
Tetapi hal ini mengakibatkan u < m + 1, sedangkan m + 1 ∈ N, yang kontradiksi den-
gan u batas atas dari N.
Sifat Archimedes dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Berikut kita sajikan
tiga variasi diantaranya.
2.5.3 Teorema Akibat. Misalkan y dan z bilangan real positif. Maka :
(a). Terdapat n ∈ N sehingga z < ny.
(b). Terdapat n ∈ N sehingga 0 < 1/n < y.
(c). Terdapat n ∈ N sehingga n - 1 ≤ z < n.
Bukti :
(a). Karena x = z/y > 0, maka terdapat n ∈ N sehingga z/y = x < n dan dari sini diper-
oleh z < ny.
(b). Tetapkan z = 1 pada (a) yang akan memberikan 1 < ny, dan akibatnya 1/n < y.
(c). Sifat Archimedes menjamin subhimpunan {m ∈ N : z < m} dari N tidak kosong.
Misalkan n unsur terkecil dari himpunan ini (lihat 1.3.1). Maka n - 1 bukan unsur
himpunan tersebut, akibatnya n - 1 ≤ z < n.
Eksistensi 2
Pentingnya sifat supremum terletak pada fakta yang mana sifat ini menjamin
eksistensi bilangan real di bawah hipotesis tertentu. Kita akan menggunakan ini be-
berapa kali. Sementara ini, kita akan mengilustrasikan kegunaannya untuk membukti-
kan eksistensi bilangan positif x sehingga x
2
= 2. Telah ditunjukkan (lihat Teorema
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 54
2.1.7) bahwa x yang demikian bukan bilangan rasioanl ; jadi, paling tidak kita akan
menunjukkan eksistensi sebuah bilangan irrasional.
2.5.4 Teorema. Terdapat bilangan real positif x sehingga x
2
= 2.
Bukti :
Misalkan S = {s ∈ R 0 ≤ s, s
2
< 2}. Karena 1 ∈ s, maka S bukan himpunan
kosong. Juga, S terbatas di atas oleh 2, karena bila t > 2, maka t
2
> 4 sehingga t ∉ S.
Karena itu, menurut sifat supremum, S mempunyai supremum di R, katakan x = sup
S. Catatan : x > 1.
Kita akan buktikan bahwa x
2
= 2 dengan menanggalkan dua kemungkinan x
2

< 2 dan x
2
> 2.
Pertama andaikan x
2
< 2. Kita akan tunjukkan bahwa asumsi ini kontradiksi
dengan fakta bahwa x = sup S yaitu dengan menemukan n ∈ N sehingga x + 1/n ∈ S,
yang berakibat bahwa x bukan batas atas dari S. Untuk melihat bagaimana cara
memilih n yang demikian, gunakan fakta bahwa 1/n
2
≤ 1/n, sehingga
( ) ( ) x x x 2x 1
1
n
2
2 2x
n
1
n
2 1
n
2
+ = + + ≤ + +
Dari sini kita dapat memilih n sehingga
1
n
(2x + 1) < 2 - x
2
,
maka kita memperoleh (x + 1/n)
2
< x
2
+ (2 - x
2
) = 2. Dari asumsi, kita mempunyai 2 -
x
2
> 0, sehingga (2 - x
2
)/(2x + 1) > 0. Dari sini sifat Archimedes dapat digunakan un-
tuk memperoleh n ∈ N sehingga
1
n
2 x
2x 1
2
<

+

Langkah-langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan n ini
kita mempunyai x +
1
n
∈ S, yang kontradiksi dengan fakta bahwa x batas atas dari S.
Karenanya, haruslah x
2
≥ 2.
Sekarang andaikan x
2
> 2. Kita akan tunjukkan bahwa dimungkinkan untuk
menemukan m ∈ N sehingga x - 1/m juga merupakan batas atas dari S, yang meng-
kontradiksi fakta bahwa x = sup S. Untuk melakukannya, perhatikan bahwa
Pendahuluan
Analisis Real I 55
( )
x x x
1
m
2
2 2x
m
1
m
2 2x
m
2
+ = + + > −
Dari sini kita dapat memilih m sehingga
2x
m
x 2
2
< − ,
maka (x - 1/m)
2
> x
2
- (x
2
- 2) = 2. Sekarang dengan pengandaian x
2
- 2 > 0, maka
x 2
2x
2

> 0. Dari sini, dengan sifat Archimedes, terdapat m ∈ N sehingga
1
m
x 2
2x
2
<


Langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan m ini kita
mempunyai (x - 1/m)
2
> 2. Sekarang bila s ∈ S, maka s
2
< 2 < (x - 1/m)
2
, yang mana
menurut 2.2.14(a) bahwa s < x - 1/m. Hal ini mengakibatkan bahwa x - 1/m meru-
pakan batas atas dari S, yang kontradiksi dengan fakta bahwa x = sup S. Jadi tidak
mungkin x
2
> 2.
Karena tidak mungkin dipenuhi x
2
> 2 atau x
2
< 2, haruslah x
2
= 2. (*)
Dengan sedikit modifikasi, pembaca dapat menunjukkan bahwa bila a > 0,
maka terdapat b > 0 yang tunggal, sehingga b
2
= a. Kita katakan b akar kuadrat
positif dari a dan dituliskan dengan b = a atau b = a
1/2
. Dengan cara sedikit lebih
rumit yang melibatkan teorema binomial dapat diformulasikan eksistensi tunggal dari
akar pangkat-n positif dari a, yang dituliskan dengan a
n
atau a
1/n
, untuk n ∈ N.
Densitas (= kepadatan) Bilangan Rasional di R
Sekarang kita mengetahui terdapat paling tidak sebuah bilangan irrasional,
yaitu 2 . Sebenarnya terdapat “lebih banyak” bilangan irasional dibandingkan bi-
langan rasional dalam arti himpunan bilangan rasional terhitung sementara himpunan
bilangan irrasional tak terhitung. Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa himpunan
bilangan rasional “padat” di R dalam arti bahwa bilangan rasional dapat ditemukan
diantara sebarang dua bilangan real yang berbeda.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 56
2.5.5 Teorema Densitas. Bila x dan y bilangan real dengan x < y, maka terdapat bi-
langan rasional r sehingga x < r < y.
Bukti :
Tanpa mengurangi berlakunya secara umum, misalkan x > 0. (Mengapa?).
De-
ngan sifat Archimedes 2.5.2, terdapat n ∈ N.sehingga n > 1/(y - x). Untuk n yang
demi-kian, kita mempunyai bahwa ny - nx > 1. Dengan menggunakan Teorema Aki-
bat 2.5.3(c) ke nx > 0, kita peroleh m ∈ N sehingga m - 1 ≤ nx < m. Bilangan m ini
juga memenuhi m < ny, sehingga r = m/n bilangan rasional yang memenuhi x < r < y.
Untuk mengakhiri pembahasan tentang hubungan bilangan rasional dan ira-
sional, kita juga mempunyai sifat serupa untuk bilangan irasional.
2.5.6 Teorema akibat. Bila x dan y bilangan real dengan x < y, maka terdapat bilan-
gan irasional z sehingga x < z < y.
Bukti :
Dengan menggunakan Teorema Densitas 2.5.5 pada bilangan real x 2 dan
y 2 , kita peroleh bilangan rasional r ≠ 0 sehingga
x 2 < r < y 2 .
Maka z = r 2 adalah bilangan irrasional (Mengapa?) dan memenuhi x < z < y.
Latihan 2.5
1. Gunakan Sifat Archimedes atau Teorema Akibat 2.5.3 (b) untuk menunjukkan
bahwa inf {1/n n ∈ N} = 0.
2. Bila S = {1/n - 1/m n,m ∈ N}, tentukan inf S dan sup S.
3. Misalkan S ⊆ R tak kosong. Tunjukkan bahwa bila u di R mempunyai sifat : (i).
untuk setiap n ∈ N, u - 1/n bukan batas atas dari S, dan (ii). untuk setiap n ∈ N, u +
1/n bukan batas atas dari S, maka u = sup S. (Ini merupakan kebalikan Teorema
2.4.8).
4. Misalkan S himpunan tak kosong dan terbatas di R.
Pendahuluan
Analisis Real I 57
(a). Misalkan a > 0, dan aS = {as s ∈ S}. Tunjukkan bahwa
inf (aS) = a inf S, sup (aS) = a sup S.
(b). Misalkan b < 0, dan bS = {bs s ∈ S}. Tunjukkan bahwa
inf (bS) = b sup S, sup (bS) = b inf S.
5. Misalkan X himpunan tak kosong dan f : X →R mempunyai range yang terbatas
di R. Bila a ∈ R, tunjukkan bahwa contoh 2.5.1(a) mengakibatkan bahwa
sup {a + f(x) x ∈ X} = a + sup {f(x) x ∈ X}.
Tunjukkan pula bahwa
inf {a + f(x) x ∈ X} = a + inf {f(x) x ∈ X}.
6. Misalkan A dan B himpunan tak kosong dan terbatas di R, dan A + B = {a + b a
∈ A, b ∈ B}. Tunjukkan bahwa sup (A + B) = sup A + sup B dan inf (A + B) = inf
A + inf B.
7. Misalkan X himpunan tak kosong, f dan g fungsi terdefinisi pada X dan mempun-
yai range yang terbatas di R.
Tunjukkan bahwa
sup{f(x) + g(x) x ∈ X} ≤ sup{f(x) x ∈ X} + sup{g(x) x ∈ X}
dan
inf{f(x) x ∈ X} + inf {g(x) x ∈ X} ≤ inf{f(x) + g(x) x ∈ X}
Berikan contoh yang menunjukkan kapan berlaku kesamaan atau ketaksamaan
murni.
8. Misalkan X = Y = {x∈R 0 < x < 1}. Tentukan h : X×Y →R dan h(x,y) = 2x +
y.
(a). untuk setiap x ∈ X, tentukan f(x) = sup {h(x,y) : y ∈ Y}
Kemudian tentukan inf {f(x) x ∈ X}.
(b). untuk setiap y ∈ Y, tentukan g(y) = inf {h(x,y) : x ∈ X}
Kemudian tentukan sup {g(y) y ∈ Y}.
Bandingkan hasilnya dengan bagian (a).
9. Lakukan perhitungan di (a) dan (b) latihan nomor 8 untuk fungsi h : X×Y → R
yang didefinisikan dengan
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 58
( ) h x,y
bila x < y
1 , bila x y
=

¦
´
¹
0 ,

10. Misalkan X,Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range
terbatas di R. Misalkan f : X → R dan g : Y → R didefinisikan dengan
f(x) = sup {h(x,y) y ∈ Y}, g(y) = inf {h(x,y) x ∈ X}.
Tunjukkan bahwa
sup{g(y) y ∈ Y} ≤ inf {f(x) x ∈ X}
Kita akan menuliskannya dengan
supinf ( )
y
x
x,y h ≤ supinf ( )
x
y
x,y h
Catatan, pada latihan nomor 8 dan nomor 9 menunjukkan bahwa ketaksamaan
bisa berupa kesamaan atau ketaksamaan murni.
11. Misalkan X,Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range
terbatas di R. Misalkan F : X → R dan G : Y → R didefinisikan dengan
F(x) = sup {h(x,y) y ∈ Y}, G(y) = inf {h(x,y) x ∈ X}.
Perkenalkan Prinsip Iterasi Supremum :
sup{h(x,y) x ∈ X, y ∈ Y} = sup {F(x) x ∈ X}
= sup {G(y) y ∈ Y}.
Hal ini sering dituliskan dengan
sup x, y
x,y
h( ) = sup x, y
x y
sup ( ) h = sup x, y
y x
sup ( ) h
12. Diberikan sebarang x∈R, tunjukkan bahwa terdapat n∈Z yang tungal sehingga n -
1 ≤ x < n.
13. Bila y > 0 tunjukkan bahwa terdapat n ∈ N sehingga 1/2
n
< y.
14. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.5.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat
bilangan real positif y sehingga y
2
= 3.
15. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.5.4 untuk menunjukkan bahwa bila a > 0,
maka terdapat bilangan real positif z sehingga z
2
= a.
16. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.5.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat
bilangan real positif u sehingga u
3
= 2.
Pendahuluan
Analisis Real I 59
17. Lengkapi bukti Teorema Densitas 2.5.5 dengan menghilangkan hipotesis x > 0.
18. Bila u > 0 dan x < y, tunjukkan bahwa terdapat bilangan rasional r sehingga x < ru
< y. (Dari sini himpunan {ru r ∈ Q} padat di R).























Aljabar Himpunan
Analisis Real I 60



BARISAN BILANGAN REAL

3.1. Barisan dan Limit Barisan
Di sini diharapkan pembaca mengingat kembali bahwa yang dimaksud dengan
suatu barisan pada suatu himpunan S adalah suatu fungsi pada himpunan N = {1, 2, 3,
...} dengan daerah hasilnya di S. Selanjutnya dalam bab ini kita hanya memperhatikan
barisan di R.
3.1.1. Definisi. Suatu barisan bilangan real (atau suatu barisan di R) adalah suatu
fungsi pada himpunan N dengan daerah hasil yang termuat di R.
Dengan kata lain, suatu barisan di R memasangkan masing-masing bilangan
asli n = 1, 2, 3, ... secara tunggal dengan bilangan real. Bilangan real yang diperoleh
tersebut disebut elemen, atau nilai, atau suku dari barisan tersebut. Hal yang biasa
untuk menuliskan elemen dari R yang berpasangan dengan n∈N, dengan suatu simbol
seperti x
n
(atau a
n
, atau z
n
). Jadi bila X : N → R suatu barisan, kita akan biasa
menuliskan nilai X di n dengan X
n
, dari pada X(n), kita akan menuliskan barisan ini
dengan notasi
X, X
n
, (X
n
: n ∈ N),
Kita menggunakan kurung untuk menyatakan bahwa urutan yang diwarisi dari N
adalah hal yang penting. Jadi, kita membedakan penulisan X = (X
n
: n∈N), yang
suku-sukunya mempunyai urutan dan himpunan nilai-nilai dari barisan tersebut { X
n
:
n∈N} yang urutannya tidak diperhatikan. Sebagai contoh, barisan X = ((-1)
n
: n∈N)
yang berganti-ganti -1 dan 1, sedangkan himpunan nilai barisan tersebut { (-1)
n
: n∈N }
sama dengan {-1, 1}.
BAB
3
Pendahuluan
Analisis Real I 61
Dalam mendefinisikan barisan sering lebih mudah dengan menulis secara
berurutan suku-sukunya, dan berhenti setelah aturan formasinya kelihatan. Jadi
kita boleh menulis
X = (2, 4, 6, 8, ...)
untuk barisan bilangan genap positif,
atau
Y =
( )
1
1
1
2
1
3
1
4
, , , , ...
untuk barisan kebalikan dari bilangan asli,
atau
Z =
( )
1
1
1
2
1
3
1
4
, , , , ...
untuk barisan kebalikan dari kuadrat bilangan asli. Metode yang lebih memuaskan
adalah degan menuliskan formula untuk suku umum dari barisan tersebut, seperti
X = (2n : n∈N), Y = (
1
m
: m∈N), Z = (
1
s
2
: s∈N)
Dalam prakteknya, sering lebih mudah dengan menentukan nilai x
1
dan suatu
formula untuk mendapatkan x
n + 1
(n ≥ 1) bila x
n
diketahui dan formula x
n+1
(n ≥ 1)
dari x
1
, x
2
, ... x
n
. Metode ini kita katakan sebagai pendefinisian barisan secara induktif
atau rekursif. Dengan cara ini, barisan bilangan bulat positif X di atas dapat kita de-
finisikan dengan
x
1
= 2 x
n+1
= x
n
+ 2 (n ≥ 1);
atau dengan definisi
x
1
= 2 x
n+1
= x
1
+ x
n
(n ≥ 1).
Catatan : Barisan yang diberikan dengan proses induktif sering muncul di ilmu komputer, Khusus-
nya, barisan yang didefinisikan dengan suatu proses induktif dalam bentuk x
1
= diberikan, x
n+1
= f(x
n
)
untuk n∈N dapat dipertanggungjawabkan untuk dipelajari dengan menggunakan komputer. Barisan
yang didefinisikan dengan proses : y
1
= diberikan, y
n
= .g
n
(y
1
,y
2
, ... ,y
n
) untuk n∈N juga dapat dikerja-
kan (secara sama). Tetapi, perhitungan dari suku-suku barisan demikian menjadi susah untuk n yang
besar, karena kita harus menyimpan masing-masing nilai y
1
, ..., y
n
dalam urutan untuk menghitung y
n+1
.
3.1.2. Contoh-contoh.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 62
(a). Bila b ∈ R, barisan B = (b, b, b, ...), yang sukunya tetap b, disebut barisan kon-
stan b. Jadi barisan konstan 1 adalah (1, 1, 1, ...) semua yang sukunya 1, dan bari-
san konstan 0 adalah baisan (0, 0, 0, ...).
(b). Barisan kuadrat bilangan asli adalah barisan S = (1
2
, 2
2
, 3
2
, ...) = (n
2
: n∈N), yang
tentu saja sama dengan barisan (1, 4, 9, ..., n
2
, ...).
(c). Bila a∈R, maka barisan A = (a
n
: n∈N) adalah barisan (a
1
, a
2
, a
3
, ..., a
n
, ...).
Khususnya bila a =
1
2
, maka kita peroleh barisan
1
2
: n
n

|
\

|
¹
|
N
(d). Barisan Fibonacci F = (f
n
: n ∈ N) diberikan secara induktif sebagai berikut :
f
1
= 1, f
2
= 1, f
2+1
= f
n-1
+ f
n
(n ≥ 2)
Maka sepuluh suku pertama barisan Fibonacci dapat dilihat sebagai F = (1, 1, 2, 3,
5, 8, 13, 21, 34, 55, ...)
Sekarang akan kita kenalkan cara-cara penting dalam mengkonstruksi barisan
baru dari barisan-barisan yang diberikan.
3.1.3. Definisi. Bila X = (x
n
) dan Y = (y
n
) barisan bilangan real, kita definisikan jum-
lah X + Y = (x
n
+ y
n
: n∈N), selisih X - Y = (x
n
- y
n
: n∈N), dan hasil kali XY = (x
n
y
n

: n∈N). Bila c ∈ R, kita definisikan hasil kali X dengan c yaitu cX = (cx
n
: n∈N).
Akhirnya, bila Z = (z
n
) suatu barisan dengan z
n
≠ 0 untuk semua n∈N, maka hasil
bagi X oleh Z adalah X/Z = (x
n
/ z
n
: n∈N).
Sebagai contoh, bila X dan Y berturut-turut adalah barisan-barisan
X = (2, 4, 6, ..., 2n, ...), Y =
( )
1
1
1
2
1
3
1
n
, , , ..., , ... ,
maka kita mempunyai
X + Y =
( )
3
1
9
2
19
3
2n 1
n
, , , ..., , ...
2
+

X - Y =
( )
1
1
7
2
17
3
2n 1
n
, , , ..., , ... ,
2


XY = (2, 2, 2, ...,2, ...),
3X = (6, 12, 18, ..., 6n, ...),
Pendahuluan
Analisis Real I 63
X
Y
= 2, 8, 18, ...,2n
2
, ...).
Kita catat bahwa bila z menyatakan barisan
Z = (0, 2, 0, ..., 1 + (-1)
n
, ...),
maka kita dapat mendefinisikan X + Z, X-Z, dan X.Z; tetapi tidak dengan X/Z, karena
Z mempunyai suku 0.
Limit suatu barisan
Terdapat beberapa konsep limit dalam analisa real. Pemikiran limit barisan
merupakan yang paling mendasar dan merupakan fokus kita dalam bab ini.
3.1.4. Definisi. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan real. Suatu bilangan real x dikata-
kan limit dari (x
n
), bila untuk setiap ε > 0 terdapat bilangan asli K(ε), sedemikian se-
hingga untuk semua n ≥ K(ε), suku-suku x
n
terletak dalam lingkungan-ε, V
ε
(x).
Bila x merupakan suatu limit dari barisan tersebut, kita katakan juga bahwa X
= (x
n
) konvergen ke x (atau mempunyai limit x). Bila suatu barisan mempunyai limit,
kita katakan barisan tersebut konvergen, bila tidak kita katakan divergen.
Penulisan K(ε) digunakan untuk menunjukkan secara eksplisit bahwa pemili-
han K bergantung pada ε; namun demikian sering lebih mudah menuliskannya dengan
K, dari pada K(ε). Dalam banyak hal nilai ε yang “kecil” biasanya akan memerlukan
nilai K yang “besar” untuk menjamin bahwa x
n
terletak di dalam lingkungan V
ε
(x)
untuk semua n ≥ K = K(ε).
Kita juga dapat mendefinisikan kekonvergenan X = (x
n
) ke x dengan menga-
takan : untuk setiap lingkungan-ε V
ε
(x) dari x, semua (kecuali sejumlah hingga) suku-
suku dari x terletak di dalam V
ε
(x). Sejumlah hingga suku-suku tersebut mungkin ti-
dak terletak di dalam V
ε
(x) yaitu x
1
, x
2
, ..., x
K(ε)-1
.
Bila suatu barisan x = (x
n
) mempunyai limit x di R, kita akan menggunakan
notasi.
lim X = x atau lim (x
n
) = x.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 64
Kita juga akan menggunakan simbol x
n
→ x, yang menyatakan bahwa nilai x
n

“mendekati” x bila n menuju 0.
3.1.5. Ketunggalan limit. Suatu barisan bilangan real hanya dapat mempunyai satu
limit.
Bukti :
Andaikan sebaliknya, yaitu x′ dan x′′ keduanya limit dari X = (x
n
) dan x’≠x”. Kita
pilih ε > 0 sehingga V
ε
(x’) dan V
ε
(x”) saling asing (yaitu, ε < ½x” - x’). Sekarang
misalkan K’ dan K” bilangan asli sehingga bila n > K’ maka x
n
∈V
ε
(x’) dan bila n >
K” maka x
n
∈V
ε
(x”). Tetapi ini kontradiksi dengan pengandaian bahwa V
ε
(x’) dan
V
ε
(x”) saling asing. (Mengapa?). Haruslah x’ = x”.
3.1.6. Teorema. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan real dan misalkan pula x∈R.
Maka pernyataan berikut ekivalen.
(a). X konvergen ke x.
(b). untuk setiap lingkungan-ε V
ε
(x), terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk se-
mua n ≥ K(ε), suku-suku x
n
∈V
ε
(x).
(c). untuk setiap ε > 0, terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε),
suku-suku x
n
memenuhi x
n
- x<ε.
(d). untuk setiap ε > 0, terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε),
suku-suku x
n
memenuhi
x-ε < x
n
< + ε, ∀ n ≥ K(ε)
Bukti :
Ekivalensi dari (a) dan (b) merupakan definisi. Sedangkan ekivalensi dari (b), (c), dan
(d) mengikuti implikasi berikut :
x
n
∈V
ε
(x) ⇔ x
n
- x < ε. ⇔ -ε < x
n
- x < ε
⇔ x- ε < x
n
< x + ε
Catatan : Definisi limit barisan bilangan real digunakan untuk membuktikan bahwa nilai x yang
telah ditetapkan merupakan limit. Hal ini tidak menentukan berapa nilai limit seharusnya. Sehingga
diperlukan latihan untuk sampai kepada dugaan (conjecture) nilai limit dengan perhitungan langsung
suku-suku barisan tersebut. Dalam hal ini komputer akan sangat membantu. Namun demikian karena
Pendahuluan
Analisis Real I 65
komputer hanya dapat menghitung sampai sejumlah hingga suku barisan, maka perhitungan demikian
bukanlah bukti.
Untuk menunjukkan bahwa suatu barisan X = (x
n
) tidak konvergen ke x, cu-
kup dengan memilih ε
o
> 0 sehingga berapapun nilai K yang diambil, diperoleh suatu
n
k
> K sehingga x
n
k
tidak terletak dalam V
ε
(x), (Perubahan lebih detail pada 3.4).
3.1.7. Contoh-contoh
(a). lim
1
n
0
|
\

|
¹
|
= .
Misalkan diberikan sebarang ε > 0. Maka menurut sifat Archimedes terdapat K∈N
sehingga sehingga
1
K
< ε . Akibatnya untuk semua n ≥ K dipenuhi
¦
1
n
- 0¦ =
1
n

1
K
< ε
Ini membuktikan lim
1
n
0
|
\

|
¹
|
=
(b). lim
1
n
0
2
|
\

|
¹
|
=
Bila diberikan sebarang ε > 0, maka terdapat K∈N, sehingga
1
K
< ε . Karena itu un-
tuk semua n ≥ K dipenuhi
1
0
2
n
− =
1
2
n

1
K
2
<
( )
ε
2
= ε
Ini membuktikan lim
1
n
0
2
|
\

|
¹
|
=
(c). Barisan ( )
( ) ( )
0 2 0 2 1 1 , , , , , , L L + −
n
, tidak konvergen ke 0.
Pilih ε
0
= 1, sehingga untuk sebarang K∈N, jika n ≥ K dan n bilangan ganjil,
maka
¦x
n
- 0¦ = ¦2 - 0¦ = 2 > 1.
Ini mengatakan bahwa barisan ( )
( )
1 1 + −
n
tidak konvergen ke 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 66
(d). lim
3n 2
n -1
+
|
\

|
¹
|
= 3
Perhatikan kesamaan berikut
3n 2
n 1 n 1
+

− =

3
5

Bila diberikan sebarang ε > 0, maka terdapat K∈N, K>1, sehingga
1
K 1 −
<
ε
5
. Aki-
batnya untuk semua n ≥ K > 1 dipenuhi
3n 2
n 1 n 1
+

− =

3
5
< 5
ε
5
|
\

|
¹
|
= ε
Ini membuktikan bahwa lim
3n 2
n -1
+
|
\

|
¹
|
= 3.
Ekor Barisan
Perlu dimengerti bahwa kekonvergenan (atau kedivergenan) suatu barisan ber-
gantung hanya pada prilaku suku-suku “terakhirnya”. Artinya, bila kita hilangkan m
suku pertama suatu barisan yang menghasilkan X
m
konvergen jika hanya jika barisan
asalnya juga konvergen, dalam hal ini limitnya sama.
3.1.8. Definisi. Bila X = (x
1
, x
2
, ..., x
n
, ...) suatu barisan bilangan real dan m selalu
bilangan asli maka ekor-m dari X adalah barisan
X = (x
m+n
: n∈N) = (x
m+1
,x
m+2
, ...).
Sebagai contoh, ekor-3 dari barisan X = (2, 4, 6, 8, 10, ..., 2n, ...) adalah baris-
an X
3
= (8, 10, 12, ..., 2n + 6,...).
3.1.9. Teorema. Misalkan X = (x
n
: n∈N) suatu barisan bilangan real dan m∈N. Maka
ekor-m adalah X
m
= (x
m+n
: n∈N) dari X konvergen jika dan hanya jika X konvergen,
dalam hal ini, lim X
m
= lim

X.
Bukti :
Dapat kita catat untuk sebarang p∈N, suku ke-p dari X
m
merupakan suku ke-(m+p)
dari X. Secara sama bila q > m, maka suku ke-q dari X merupakan suku ke-(q-m) dari
X
m
.
Pendahuluan
Analisis Real I 67
Misalkan X konvergen ke x. Maka untuk sebarang ε > 0, bila untuk n ≥ K(ε)
suku-suku dari X memenuhi x
n
-x < ε, maka suku-suku dari X
m
dengan k ≥ K
m
(ε) -
m memenuhi x
n
-x < ε. Jadi kita dapat memilih K
m
(ε) = K
m
(ε) - m, sehingga X
m

juga konvergen ke x.
Sebaliknya, bila suku-suku dari X
m
untuk k ≥ K
m
(ε) memenuhi x
n
-x < ε
maka suku-suku dari X dengan n ≥ K
m
(ε) + m memenuhi x
n
-x < ε. Jadi kita dapat
memilih K(ε) = K
m
(ε) + m. Karena itu, X konvergen ke x jika dan hanya jika X
m
kon-
vergen ke x.
Kadang-kadang kita akan mengatakan suatu barisan X pada akhirnya mempunyai sifat ter-
tentu, bila beberapa akar x mempunyai sifat tersebut. Sebagai contoh, kita katakan bahwa barisan (3, 4,
5, 5, 5, ...,5, ...) pada akhirnya konstan. Di lain pihak, barisan 3, 5, 3, 5, ..., 5, 5, ...) tidaklah pada
akhirnya konstan. Gagasan kekonvergenan dapat pula dinyatakan dengan begini : suatu barisan X kon-
vergen ke x jika dan hanya jika suku-suku dari X pada akhirnya terletak di dalam lingkungan-ε ke x.
3.1.10. Teorema. Misalkan A = (a
n
) dan X = (x
n
) barisan bilangan real dan x∈R. Bila
untuk suatu C > 0 dan suatu m∈N, kita mempunyai
x
n
-x ≤ Ca
n
untuk semua n∈N dengan n ≥ m, dan lim (a
n
) = 0, maka lim (x
n
) = x.
Bukti :
Misalkan diberikanε > 0. Karena lim (a
n
) = 0, maka terdapat bilangan asli K
A
(ε/C),
sehingga bila n ≥ K
A
(ε/C) maka a
n
= a
n
- 0 < ε/C.
Karena itu hal ini mengakibatkan bila n ≥ K
A
(ε/C) dan n ≥ m, maka
x
n
-x ≤ C x
n
- x < C
( )
ε
C
= ε.
Karena ε > 0 sebarang, kita simpulkan x = lim (x
n
).
3.1.11. Contoh-contoh.
(a). Bila a > 0, maka lim
1
1 n +
|
\

|
¹
|
a
= 0.
Karena a > 0, maka 0 < na < 1 + na. Karenanya 0
1
n 1
1
n
<
+
<
a a
, yang selanjutnya
mengakibatkan
1
1 n
0
1 1
n +
− ≤
|
\

|
¹
|
a a
untuk semua n∈N.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 68
Karena lim
1
n
0 = , menurut Teorema 3.1.10 dengan C =
1
a
dan m = 1 diperoleh
bahwa
lim
1
1 n +
|
\

|
¹
|
a
= 0.
(b). lim
1
2
0
n
|
\

|
¹
|
=
Karena 0 < n < 2
n
(buktikan !) untuk semua n∈N, kita mempunyai 0
1
2
1
n
n
< < yang
mengakibatkan
1
2
0
1
n
n
− ≤ untuk semua n∈N.
Tetapi lim
1
n
0 = , dengan menggunakan Teorema 3.1.10 diperoleh lim
1
2
0
n
|
\

|
¹
|
=
(c). Bila 0 < b < 1, maka lim (b
n
) = 0.
Karena 0 < b < 1, kita dapat menuliskan b
a
=
+
1
1 ( )
, dimana a
b
= −
1
1 sehingga a >
0. Dengan ketaksamaan Bernoulli 2.2.14 kita mempunyai (1 + a)
n
≥ 1 + na. Dari sini
0
1
(1 )
1
1 n
1
n
n
n
< =
+

+
< b
a a a
,
sehingga dengan menggunakan Teorema 3.1.10, diperoleh lim (b
n
) = 0.
(d). Bila C > 0, maka lim
( )
C 1
1
n
= .
Untuk kasus C = 1 mudah, karena
( )
C
1
n
merupakan barisan konstan (1, 1, 1, ...) yang
jelas konvergen ke 1.
Bila C > 1, maka C 1 d
1
n
n
= + untuk suatu d
n
> 0.
Dengan menggunakan ketaksamaan Bernoulli 2.2.14(c),
( ) C 1 d 1 nd
n
n
n
= + ≥ + , untuk semua n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 69
Karenanya C - 1 ≥ nd
n
, sehingga d
n

C
n
−1
. Akibatnya ( ) C 1 d C 1
1
n
1
n
n
− = ≤ − un-
tuk semua n∈N.
Dengan menggunakan Teorema 3.1.10 diperoleh lim
( )
C
1
n
= 1.
Sedangkan bila 0 < C < 1; maka C
1
n
= 1/(1 + h
n
) untuk suatu h
n
> 0. Dengan meng-
gunakan kesamaan Bernoulli diperoleh
( )
C
1
1 h
1
1 nh
1
nh
n
n
n n
=
+

+
<
yang diikuti oleh 0 < h
n
<
1
nC
untuk semua n∈N.
Karenanya kita mempunyai
0 1 C
h
1 h
h
1
nC
1
n
n
n
n
< − =
+
< <
sehingga C 1
1
C
1
n
1
n
− <
|
\

|
¹
|
untuk semua n∈N.
Dengan menggunakan Teorema 3.1.10 diperoleh lim
( )
C 1
1
n
= untuk 0 < C < 1.
(e). lim
( )
n 1
1
n
= .
Karena
( )
n
1
n
> 1 untuk n > 1, maka n 1 k
1
n
n
= + untuk suatu k
n
> 0 bila n > 1. Aki-
batnya n = (1 + k
n
)
n
untuk n > 1. Dengan teorema Binomial, bila n > 1 kita mempun-
yai
( ) ( ) n 1 nk n n 1 k ... 1+ n n 1 k ,
n
1
2
n
2 1
2
n
2
= + + − + ≥ −
yang diikuti oleh
n 1 n
1
2
− ≥ ( ) n 1 k .
n
2

Aljabar Himpunan
Analisis Real I 70
Dari sini k
n
n

2
untuk n > 1. Sekarang bila ε > 0 diberikan, maka menurut sifat Ar-
chimedes terdapat bilangan asli N
ε
sehingga
2
N
.
2
ε
ε < Hal ini akan diikuti oleh bila n
≥ sup{2, N
ε
} maka
2
n
2
< ε , karena barisan itu
0 n 1 k
n
1
n
1
2
n
< − = ≤
|
\

|
¹
|
<
2
ε .
Karena ε > 0 sebarang, maka lim
( )
n 1
1
n
= .
Latihan 3.1
1. Suku-suku ke-n dari barisan (x
n
) ditentukan oleh formula berikut. Tuliskan lima
suku pertama dari masing-masing barisan tersebut
(a) ( ) x 1 1
n
n
= + − (b).
( )
x
1
n
n
n
=

,
(c).
( )
x
1
n n 1
n
=
+
(d). x
1
n 2
n
2
=
+

2. Beberapa suku pertama barisan (x
n
) diberikan sebagai berikut. Anggap “pola da-
sarnya” diberikan oleh suku-suku tersebut, tentukan formula untuk suku ke-n, x
n
,
(a). 5, 7, 9, 11, ... (b).
1
2
1
8
1
16
- , - , ... , ,
1
4

(c).
1
2
2
3
3
4
4
5
, , , , ... (d). 1, 4, 9, 16, ...
3. Tuliskan lima suku pertama dari barisan yang didefinisikan secara induktif berikut
(a). x
1
= 1, x
n+1
= 3x
n
+ 1;
(b). y
1
= 2, y
n+1
=
( )
1
2
y +
n
2
y
n
;
(c). z
1
= 1, z
2
= 2, z
n+2
= (z
n+1
+z
n
)/z
n+1
- z
n
);
(d). s
1
= 3, s
2
= 5, s
n+2
= s
n
+ s
n+1
.
4. Untuk sebarang b∈R, buktikan lim
b
n
0
|
\

|
¹
|
=
5. Gunakan definisi limit untuk membuktikan limit barisan berikut.
Pendahuluan
Analisis Real I 71
(a). lim
1
n 1
0
2
+
|
\

|
¹
|
= (b). lim
2n
n 1
0
+
|
\

|
¹
|
=
(c). lim
3n 1
2n 5
3
2
+
+
|
\

|
¹
|
= (d). lim
n 1
2n 3
2
2

+
|
\

|
¹
| = 0
6. Tunjukkan bahwa
(a). lim
1
n 7
0
+
|
\

|
¹
|
= (b). lim
2n
n 2
2
+
|
\

|
¹
|
=
(c). lim
n
n 1
0
+
|
\

|
¹
| = (c). lim
( ) −
+
|
\

|
¹
|
|
=
1 n
n 1
0
n
2

7. Buktikan bahwa lim (x
n
) = 0 jika dan hanya jika lim
( )
x
n
= 0. Berikan contoh
yang menunjukkan bahwa kekonvergenan dari
( )
x
n
tidak perlu mengakibatkan
kekonvergenan dari (x
n
).
8. Tunjukkan bahwa bila x
n
≥0 ∀ n∈N dan lim (x
n
) = 0, maka lim
( )
x
n
= 0.
9. Tunjukkan bahwa bila lim (x
n
) = x dan x > 0, maka terdapat bilangan M∈N se-
hingga x
n
> 0 untuk semua n ≥ M.
10. Tunjukkan bahwa lim
1
n
1
n 1
0 −
+
|
\

|
¹
|
=
11. Tunjukkan lim
1
3
n
0
|
\

|
¹
|
=
12. Misalkan b∈R memenuhi 0 < b < 1. Tunjukkan bahwa lim(nb
n
)
13. Tunjukkan bahwa lim ( )
( )
2n 1
1
n
=
14. Tunjukkan bahwa lim
n
n!
0
2
|
\

|
¹
| =
15. Tunjukkan bahwa lim
( )
2
n n
2
3
n 2
n!
0. Bila n 3, maka 0 <
2
n!
2
|
\

|
¹
| = ≥ ≤

¸

(
¸
(




Aljabar Himpunan
Analisis Real I 72
3.2. Teorema-teorema Limit
Dalam bagian ini kita akan memperoleh beberapa hal yang memungkinkan
kita mengevaluasi limit dari barisan bilangan real yang tertentu. Hasil ini memung-
kinkan kita menambah koleksi barisan konvergen.
3.2.1. Definisi. Barisan bilangan real X = (x
n
) dikatakan terbatas bila terdapat bilan-
gan real M > 0 sehingga x
n
≤ M; untuk semua n∈N.
Jadi barisan X = (x
n
) terbatas jika dan hanya jika himpunan {x
n
: n∈N} terba-
tas di R,
3.2.2. Teorema. Suatu barisan bilangan real yang konvergen tarbatas.
Bukti :
Misalkan lim (x
n
) = x dan ε = 1. Dengan menggunakan teorema 3.1.6(c), terdapat bi-
langan asli K = K(1) sehingga bila n ≥ K maka x x 1.
n
− < Dari sini, dengan meng-
gunakan akibat 2.3.4(a) tentang ketaksamaan segitiga, bila n ≥ K, maka x x 1
n
< + .
Dengan menetapkan
M = sup
{ }
x , x , ..., x , x 1 ,
1 2 K-1
+
maka diperoleh x M
n
≤ untuk semua n∈M.
Dalam definisi 3.1.3 kita telah mendefinisikan jumlah, selisih, hasil kali dan
pembagian barisan bilangan real. Kita sekarang akan menunjukkan bahwa barisan
yang diperoleh dengan cara demikian dari barisan-barisan konvergen, mengakibatkan
limit barisan barunya dapat diprediksi.
3.2.3. Teorema.
(a). Misalkan X = (x
n
) dan Y = (y
n
) barisan bilangan real yang berturut-turut konver-
gen ke x dan y, serta c∈R. Maka barisan X + Y, X - Y, X . Y dan cX berturut-
turut konvergen ke x + y, x - y, xy dan cx.
(b). . Bila X = (x
n
) konvergen ke x dan Z = (z
n
) barisan tak nol yang konvergen ke z,
dan z ≠ 0, maka barisan X/Z konvergen ke x/z.
Bukti :
Pendahuluan
Analisis Real I 73
(a). Untuk membuktikan lim (x
n
+ y
n
) = x + y kita akan menaksir
¦(x
n
+ y
n
) - (x + y)¦ = ¦(x
n
+ x) + (y
n
+ y)¦
≤ − + − x x y y .
n n

Dari hipotesis, untuk sebarang ε > 0 terdapat K∈N sehingga bila n ≥ K
1
, maka
x x
n
− <
ε
2
, juga terdapat K
2
∈N sehingga bila n ≥ K
2,
maka x x
n
− <
ε
2
. Bila K(ε) =
sup{K
1
, K
2
}, maka untuk semua n ≥ K(ε)
( ) ( ) x y x y x x y y
n n n n
+ − + ≤ − + −
< + =
1
2
1
2
ε ε ε
Karena ε > 0 sebarang, kita peroleh bahwa X + Y = (x
n
+ y
n
) konvergen ke x + y.
Argumen serupa dapat digunakan untuk membuktikan bahwa X - Y = (x
n
- y
n
)
konvergen ke x - y.
Untuk membuktikan bahwa XY = (x
n
y
n
) konvergen ke xy, kita akan menges-
timasi
( ) ( ) x y xy x y x y x y xy
n n n n n n
− = − + −
( ) ( ) ≤ − + − x y y x x y
n n n

= − + − x y y x x y
n n n

Menurut Teorema 3.2. terdapat bilangan real M
1
> 0 sehingga x M
n 1
≤ untuk semua
n∈N dan tetapkan M = sup
{ }
M , y .
1
Selanjutnya kita mempunyai
x y xy My y Mx x
n n n n
− ≤ − + −
Dari kekonvergenan X dan Y, bila diberikan sebarang ε > 0, maka terdapat K
1
, K
2
,∈N
sehingga bila n ≥ K
1
maka x x
n 2M
− <
ε
, dan bila n ≥ K
2
maka y y
n 2M
− <
ε
.
Sekarang tetapkan K(ε) = sup {K
1
, K
2
}, maka untuk semua n ≥ K(ε) diperoleh
¦x
n
y
n
- xy¦ ≤ M¦y
n
- y¦ + ¦x
n
- x¦

( ) ( )
< + = M M
M M
ε ε
ε
2 2
.
Karena ε > 0 sebarang, hal ini membuktikan bahwa barisan XY = (x
n
y
n
) konvergen ke
xy.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 74
Bukti untuk barisan cX= (cx
n
) konvergen ke cx ditinggalkan sebagai latihan.
(b). Berikutnya kita akan menunjukkan bila Z = (z
n
) barisan tak nol yang konvergen
ke z, maka barisan
1
z
n
|
\

|
¹
| konvergen ke
1
z
(karena z ≠ 0). Pertama misalkan α =
1
2
z
maka α > 0. Karena lim (z
n
) = z, maka terdapat K
1
∈N, sehingga bila n ≥ K
1
maka
z z
n
− <α. Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga diperoleh -α ≤ -¦zn - z¦ ≤
¦z
n
¦ - ¦z¦ untuk n ≥ K
1
. Karena itu
1 2
z z
n
≤ untuk n ≥ K
1
, jadi kita mempunyai

1
z
1
z
z z
z z
1
z z
z z
n
n
n n
n
− =

= −
≤ −
2
z
z z
n
2 n
untuk semua n > K(ε).
Sekarang kita berikan ε > 0, mak terdapat K
2
∈N sehingga bila n ≥ K
2
maka

1
z
1
z
n
− ≤ ε untuk semua n > K(ε).
Karena ε > 0 sebarang, jadi lim
1
z
1
z
.
n
|
\

|
¹
| =
Dengan mendefinisikan Y barisan
1
y
n
|
\

|
¹
| dalam menggunakan XY =
x
z
n
n
|
\

|
¹
| konvergen
ke x
z
x
z
1
|
\

|
¹
|
= , bukti (b) telah selesai.
Beberapa hasil Teorema 3.2.3 dapat diperluas, dengan induksi matematika,
untuk sejumlah hingga barisan konvergen. Sebagai contoh, bila A = (a
n
), B = (b
n
), ...,
Z = (z
n
) barisan konvergen, maka jumlahnya A + B + ... + Z = ( a
n
+ b
n
+ ... + z
n
) juga
merupakan barisan konvergen dan
(1) lim(a
n
+ b
n
+ ... + z
n
) = lim(a
n
) + lim(b
n
) + ... + lim(z
n
)
Hasil kalinya juga konvergen dan
(2) lim (a
n
b
n
...z
n
) = ( )
[ ]
( )
[ ]
( ) lim a lim b ... lim z
n n n
.
Pendahuluan
Analisis Real I 75
Dan bila b∈N dan A = (a
n
) barisan konvergen, maka
(3) lim (a
n
k
) = ( )
[ ]
lim a .
n
k

Buktinya ditingggalkan sebagai latihan.
3.2.4. Teorema. Bila X = (x
n
) barisan konvergen dan x
n
≥ 0, untuk semua n∈N, maka
x = lim (x
n
) ≥ 0.
Bukti :
Andaikan x < 0, pilih z = - x > 0. Karena X konvergen ke x, maka terdapat
K∈N, sehingga x - ε < x
n
< + ε untuk semua n ≥ Κ. Khususnya, kita mempunyai
x
K
< x + z = x + (-x) = 0. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa x
n
≥ 0 untuk se-
mua n∈N. Jadi haruslah x ≥ 0.
3.2.5 Teorema. Bila X = (x
n
) dan Y = (y
n
) barisan konvergen dan x
n
≤ y
n
untuk semua
n∈N, maka lim (x
n
) ≤ lim (y
n
).
Bukti :
Misalkan z
n
= y
n
- x
n
sehingga Z = (z
n
) = Y - X dan z
n
≥ 0 untuk semua n∈N.
Dari teorema 3.2.4 dan 3.2.3 diperoleh 0 ≤ lim Z = lim (y
n
) - lim (x
n
).
Jadi lim (x
n
) ≤ lim (y
n
).
Yang berikut mengatakan bahwa bila semua suku dari barisan konvergen me-
menuhi ketaksamaan a ≤ x
n
≤ b, maka limitnya memnuhi ketaksamaan yang sama.
3.2.6. Teorema. Bila x = (x
n
) suatu barisan konvergen dan a ≤ x
n
≤ b untuk semua
n∈N, maka a ≤ lim (x
n
) ≤ b.
Bukti :
Misalkan Y barisan konstan (b, b, b, ...). Dari Teorema 3.2.5 diperoleh lim X ≤ lim Y
= b. Secara sama dapat ditunjukkan bahwa a ≤ lim X.
Sedangkan yang berikut menyatakan bahwa bila barisan Y diapit oleh dua ba-
risan konvergen yang limitnya sama, maka barisan y tersebut juga konvergen ke limit
dari kedua barisan yang mengapitnya.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 76
3.2.7. Teorema Apit. Misalkan bahwa X = (x
n
), Y = (y
n
), dan Z = (z
n
) barisan yang
memenuhi
x
n
≤ y
n
≤ z
n
untuk semua n∈N,
dan lim (x
n
) = lim (z
n
) maka (y
n
) konvergen dan lim (x
n
) = lim (y
n
) = lim (x
n
).
Bukti :
Misalkan w = lim (x
n
) = lim (z
n
). Bila ε > 0 diberikan, maka karena X dan Z
konvergen ke w, terdapat K∈N sehingga untuk semua n∈N dengan n ≥ K dipenuhi
x w dan x w
n n
− < − < ε ε
Dari hipotesis diperoleh bahwa x
n
- w ≤ y
n
- w ≤ z
n
-w, untuk semua n∈N, yang dii-
kuti oleh (mengapa ?)
-ε < y
n
- w < ε
untuk semua n ≥ K. Karena ε > 0 sebarang, jadi lim (y
n
) = w.
Catatan : Karena sebarang ekor barisan mempunyai limit yang sama, hipotesis dari 3.2.4, 3.2.5,
3.2.6, dan 3.2.7 dapat diperlemah dengan menerapkannya pada ekor barisan. Sebagai contoh, pada
Teorema 3.2.4, bila X = (x
n
) pada “akhirnya positif” dalam arti bahwa terdapat m∈N sehingga x
n
≥ 0
untuk semua n ≥ m, maka akan diperoleh kesimpulan yang sama yaitu n ≥ 0. Modifikasi yang sama
juga berlaku untuk Teorema yang lain, yang pembaca perlu buktikan.
3.2.8. Beberapa Contoh
(a). Barisan (n) divergen.
Mengikuti Teorema 3.2.2, andaikan barisan X = (n) konvergen, maka terdapat bilan-
gan real M > 0 sehingga n = n < M untuk semua n∈N. Tetapi hal ini melanggar sifat
Archimedes.
(b). Barisan ((-1)
n
) divergen
Barisan ini terbatas (ambil M = 2), sehingga kita tidak dapat menggunakan Teorema
3.2.2. Karena itu, andaikan X = ((-1)
n
) konvergen dan a = lim X. Misalkan ε = 1,
maka terdapat K∈N sehingga
( ) -1
n
− < a 1, untuk semua n ≥ K.
Tetapi bila n ganjil dan n ≥ K, hal ini memberikan -1 1 − < a , sehingga -2 < a < 0
(Mengapa?). Sedangkan bila n genap dan n ≥ K, hal ini memberikan 1 1, − < a se-
Pendahuluan
Analisis Real I 77
hingga 0 < a < 2. Karena a tidak mungkin memenuhi kedua ketaksamaan tersebut,
maka pengandaian bahwa X konvergen menghasilkan hal yang kontradiksi. Haruslah
X divergen.
(c). lim
2n 1
n
2
+
|
\

|
¹
|
=
Misalkan X = (2) dan Y
n
, maka
2n 1
n
X Y, =
|
\

|
¹
|
+
|
\

|
¹
|
= +
1

Dengan menggunakan Teorema 3.2.3(a) diperoleh bahwa lim (X + Y) = lim X + lim
Y = 2 + 0 = 2.
(d). lim
2n 1
n 5
2.
+
+
|
\

|
¹
|
=
Karena barisan (2n + 1) dan (n + 5) tidak konvergen, kita tidak dapat mengguanakan
Teorema 3.2.3(b) secara langsung. Tetapi kita dapat melakukan yang berikut

2n 1
n 5
2
1
,
1
n
5
n
+
+
=
+
+

yang memberikan X = 2 +
1
n
|
\

|
¹
|
dan Z = 1
n
+
|
\

|
¹
|
5
sehingga Teorema 3.2.3(b) dapat
digunakan. (Selidiki terlebih dahulu syarat-syarat yang harus dipenuhi). Selanjutnya
diperoleh

( )
( )
lim
2n 1
n 5
lim
2
1
lim 2
lim 1
1
n
5
n
1
n
5
n
+
+
|
\

|
¹
|
=
+
+
|
\

|
¹
|
=
+
+
= =
2
1
2
(e) lim
2n
n 1
0
2
+
|
\

|
¹
|
=
Teorema 3.2.3(b) tidak dapat digunakan secara langsung, juga sampai pada

2n
n 1
2
n
,
2
1
n
+
=
+

(mengapa ?). Tetapi karena

2n
n 1 n
,
2
2
n
1
n
2
+
=
+

dan
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 78
lim
n
0 dan lim 1+
1
n
1, maka lim
2n
n 1
0
2 2
2 0
1
|
\

|
¹
|
=
|
\

|
¹
|
=
+
|
\

|
¹
|
= = ,
dengan menggunakan Teorema 3.2.3(b).
(f) lim
sin n
n
0 =
Di sini kita tidak dapat menggunakan Teorema 3.2.3(b) secara langsung. Tetapi perlu
dicatat bahwa -1 ≤ sin n ≤ 1, maka
-
1
n
sinn
n
1
n
≤ ≤ , untuk semua n∈N.
Karena lim ( ) ( ) − = =
1
n
1
n
lim 0, dengan menggunakan Teorema Apit diperoleh bahwa
lim
sin n
n
0
|
\

|
¹
|
= .
(g). Misalkan X = (x
n
) barisan yang konvergen ke x. Sedangkan p polinomial, sebagai
contoh
p(t) = a
0
+ a
1
t + a
2
t
2
+ ... + a
k
t
k

dengan k∈N dan a
j
∈R untuk j = 0, 1, ..., k, a
k
≠ 0. Dengan menggunakan Teorema
3.2.3 barisan (p(x
n
)) konvergen ke p(x).
Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan.
(h). Misalkan X = (x
n
) barisan yang konvergen ke x. Sedangkan r(t) =
( )
( )
p
q
t
t
dengan p
dan q polinomial. Misalkan juga q(x
n
) ≠ 0 untuk semua n∈N dan q(x) = 0. Maka bari-
san r(x
n
) konvergen ke r(x). Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan.
Kita akan mengakhiri bagian ini dengan beberapa hasil berikut.
3.2.4. Teorema. Misalkan barisan X = (x
n
) konvergen ke x, maka barisan
( )
x
n
kon-
vergen ke x , yaitu bila x = lim (x
n
), maka
( )
x lim x .
n
=
Bukti :
Mengikuti sifat segitiga diperoleh
x x x x
n n
− ≤ − untuk semua n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 79
Selanjutnya kekonvergenan dari
( )
x
n
ke x suatu akibat langsung dari kekonver-
genan dari (x
n
) ke x.
3.2.10. Teorema. Misalkan barisan X = (x
n
) konvergen ke x dan x
n
≥ 0 , untuk semua
n∈N. Maka barisan
( )
x
n
konvergen dan lim
( )
x
n
= x.
Bukti :
Dari Teorema 3.2.4 diperoleh bahwa x = lim (x
n
) ≥ 0.
Sekarang kita tinjau dua kasus (i). x = 0 dan (ii). x > 0.
(i). Misalkan x = 0, dan ε > 0 sebarang diberikan. Karena x 0
n
→ maka terdapat
K∈N sehingga 0 ≤ x
n
= x
n
- 0 < ε
2
.
Karena itu [lihat contoh 2.2.14(a)], 0 ≤ x
n
≤ ε untuk n ≥ K.
Karena ε > 0 sebarang, maka
( )
x 0
n
→ .
(ii). Bila x > 0, maka x 0 > dan kita mempunyai

( )( )
x x
x x x x
x x
x x
x x
n
n n
n
n
n
− =
− +
+
=

+

Karena x x x 0
n
+ ≥ > , maka
x x
1
x
x x
n n
− ≤
|
\

|
¹
|
− .
Kekonvergenan dari x x
n
→ merupakan akibat yang mudah dari x x
n
→ .
Untuk jenis-jenis barisan tertentu, yang berikut menyajikan “uji rasio” yang mudah
dan cepat untuk kekonvergenan.
3.2.11. Teorema. Misalkan (x
n
) barisan bilangan real positif sehingga L = lim
x
x
n+1
n
|
\

|
¹
|
ada. Bila L < 1, maka (x
n
) konvergen dan lim (x
n
) = 0.
Bukti :
Menurut 3.2.4 diperoleh bahwa L ≥ 0. Misalkan r bilangan dengan L < r < 1, dan ε = r
- L > 0. Maka terdapat n∈K. dipenuhi
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 80

x
x
L
n 1
n
+
− < ε .
Akibatnya (mengapa ?) untuk bila n ≥ K, maka
( )
x
x
L L + r L r
n 1
n
+
< + = − = ε .
Karena itu, bila n ≥ K diperoleh
0 < x
n+1
< x
n
r < x
n-1
r
2
< ... < x
K
r
n-K+1

Bila kita tetapkan C = x
K
/r
K
, kita peroleh 0 < x
n+1
< Cr
n+1
untuk semua n ≥ K. Karena
0 < r <1, menurut 3.1.11(c) diperoleh lim (r
n
) = 0 dan karenanya menurut Teorema
3.1.10 lim (x
n
) = 0.
Latihan 3.2
1. Untuk x
n
yang diberikan berikut, tunjukkan kekonvergenan atau kedivergenan dari
X = (x
n
)
(a). x
n
n 1
n
=
+
, (b). x
(-1) n
n 1
n
n
=
+
,
(c). x
n
n 1
n
2
=
+
, (d). x
2n 3
n 1
n
2
2
=
+
+

2. Berikan contoh barisan X.Y yang divergen, tetapi jumlahnya X + Y konvergen.
3. Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X dan X + Y konvergen, maka Y
konvergen.
4. Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X konvergen ke x dan xy konver-
gen, maka Y konvergen.
5. Tunjukkan bahwa barisan (2
n
) tidak konvergen.
6. Tunjukkan bahwa barisan ((-1)
n
n
2
) tidak konvergen.
7. Tentukan limit dari barisan-barisan berikut :
(a). lim 2
n
n
+
|
\

|
¹
|
|
\

|
¹
|
|
1
(b). lim
( 1)
n 2
n

+
|
\

|
¹
|
Pendahuluan
Analisis Real I 81
(d). lim
n 1
n 1

+
|
\

|
¹
| (d). lim
n 1
n n
+ |
\

|
¹
|

8. Misalkan y n 1 n
n
= + − , untuk n∈N. Tunjukkan bahwa (y
n
) dan
( )
ny
n
kon-
vergen.
9. Misalkan z
n
=
( )
a b
n n
1
n
+ dengan 0 < a < b, maka lim (z
n
) = b.
10. Gunakan Teorema 3.2.11 pada barisan-barisan berikut, bila a, b memenuhi 0 < a
< 1 dan b > 1.
(a). (a
n
) (b).
b
2
n
2
|
\

|
¹
|
(c).
n
n
b
|
\

|
¹
|
(d).
( )
2
3
3n
2n

11. (a). Berikan contoh barisan bilangan positif (x
n
) yang konvergen sehingga
lim
x
x
1
n 1
n
+
|
\

|
¹
| =
(b). Berikan pula contoh barisan divergen dengan sifat tersebut. (Jadi, sifat ini tidak
dapat digunakan untuk uji konvergensi).
12. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan positif sehingga lim
x
x
L 1
n 1
n
+
|
\

|
¹
| = > . Tunjuk-
kan bahwa X barisan tak terbatas, karenanya X tidak konvergen.
13. Selidiki konvergensi barisan-barisan berikut, bila a, b memenuhi 0 < a < 1 dan
b > 1
(a). (n
2
a
n
), (b).
b
n
2
n
|
\

|
¹
|
(c).
b
n
n!
|
\

|
¹
| (d).
n!
n
n
|
\

|
¹
|

Aljabar Himpunan
Analisis Real I 82
14. Misalkan (x
n
) barisan bilangan positif dengan lim
( )
x
n
1
n
= L < 1. Tunjukkan
bahwa terdapat bilangan dengan 0 < r < 1 sehingga 0 < x
n
< r
n
untuk suatu n∈N
yang cukup besar. Gunakan ini untuk menunjukkan lim (x
n
) = 0.
15. (a) Berikan contoh barisan bilangan positif (x
n
) yang konvergen sehingga lim
( )
x
n
1
n
= 1.
(b). Berikan contoh barisan bilangan positif (x
n
) yang divergen sehingga lim
( )
x
n
1
n
=
1. (Jadi , sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi).
16. Misalkan (x
n
) barisan konvergen dan (y
n
) barisan sehingga untuk sebarang ε > 0
terdapat M sehingga x y
n n
− < ε untuk semua n ≥ M. Apakah hal ini mengaki-
batkan (y
n
) konvergen ?
3.3. Barisan Monoton
Sampai saat ini, kita telah mempunyai beberapa metode untuk menunjukkan
bahwa barisan X = (x
n
) konvergen :
(i). Kita dapat menggunakan defenisi 3.1.4. atau Teorema 3.1.6. secara langsung.
Tetapi ini sering (tetapi tidak selalu) sukar dikerjakan.
(ii). Kita dapat mendominasi x
n
- x dengan perkalian dari suku-suku dalam barisan
(a
n
) yang diketahui konvergen ke 0, kemudian menggunakan Teorema 3.1.10.
(iii). Kita dapat mengidentifikasi barisan X diperoleh dari barisan-barisan yang
diketahui konvergennya dari lebar barisannya, kombinasi aljabar, nilai mutlak atau
datar dengan menggunakan Teorema 3.1.9, 3.2.3, 3.2.9, atau 3.2.10.
(iv). Kita dapat mengapit X dengan dua barisan yang konvergen ke limit yang sama
dengan menggunakan Teorema 3.2.7.
(v). Kita dapat menggunakan “Uji rasio” dari Teorema 3.2.4.
Kecuali (iii), semua metode ini mengharuskan kita terlebih dahulu mengetahui (atau
paling tidak dugaan) nilai limitnya yang benar, dan kemudian membuktikan bahwa
dugaan kita benar.
Pendahuluan
Analisis Real I 83
Terdapat banyak contoh, yang mana tidak ada calon limit yang mudah dari
suatu barisan, bahkan walaupun dengan analisis dasar diduga barisannya konvergen.
Dalam bagian ini dan dua bagian berikutnya, kita akan membahas hasil-hasil yang
lebih mendalam dibanding bagian terdahulu yang mana dapat digunakan untuk mem-
perkenalkan konvergensi suatu barisan bila tidak ada kandidat limit yang mudah.
3.3.1 Definisi. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan real, kita katakan X tak turun bila
memenuhi ketaksamaan :
x
1
≤ x
2
.... ≤ x
n
≤ x
n
+ 1 ≤ .....
Kita katakan X tak naik bila memenuhi ketaksamaan
x
1
≥ x
2
≥ .... ≥ x
n
≥ x
n+1
≥ ......
Kita katakan X monoton bila X tak naik, atau tak turun.
Berikut ini barisan-barisan tak turun
(1,2,3,4,.....,n,.....); (1,2,2,3,3,3, .......);
(a,a
2
,a
3
,.....,a
n
,......) bila a > 1
Berikut ini barisan-barisan tak naik
(1,1/2,1/3,.....,1/n,...), (1,1/2,1/2
3
,.......,1/2
n-1
,......),
(b,b
2
,b
3
,.......,b
n
,....), bila 0 < b < 1.
Barisan-barisan berikut tak monoton
(+1, -1, +1, ......, (-1)
n+1
,....), (-1, +2, -3, ....., (-1)
n
n, ....)
Berisan-barisan berikut tak monoton, tetapi pada akhirnya monoton
(7,6,2,1,2,3,4,......), (-2,0,1,1/2,1/3,1/4,.....).
3.3.2 Teorema Konvergensi Monoton. Barisan bilangan real monoton konvergen
jika dan hanya jika barisan ini terbatas.
Lebih dari itu :
(a). Bila X = (x
n
) barisan tak turun yang terbatas, maka lim (x
n
) = sup{x
n
}
(b). Bila Y = (y
n
) barisan tak naik yang terbatas, maka lim (y
n
) = inf{y
n
}.
Bukti :
Dari teorema 3.2.2 diketahui bahwa barisan konvergen pasti terbatas.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 84
Sekarang kita akan buktikan sebaliknya, misalkan X barisan monoton yang
terbatas. Maka X tak turun atau tak naik.
(a). Pertama misalkan X barisan tak turun dan terbatas.Dari hipotesis terdapat Μ∈R,
sehingga R
n
≤ M untuk semua n∈N. Menurut prinsip supremum terdapat x
*
= sup{x
n
:
n∈N.}; kita akan tunjukkan bahwa x
*
= lim (x
n
).
Bila ε > 0 diberikan, maka x
*
- ε bukanlah batas atas dari {x
n
: n∈N}; dari sini terda-
pat K∈N sehingga x
*
- ε < x
k
. Tetapi karena (x
n
) tak turun maka hal ini diikuti
x
*
- ε < x
k
≤ x
n
≤ x
*
untuk semua n ≥ Κ.
Akibatnya
x x
n
*
− < ε untuk semua n ≥ Κ.
Karena ε > 0 sebarang, jadi (x
n
) konvergen ke x
*
.
(b). Bila Y = (y
n
) barisan terbatas tak naik, maka jelaslah bahwa X = -Y= (-y
n
) barisan
terbatas tak turun. Dari (a) diperoleh lim X = sup{-y
n
: n∈N}. Di lain pihak, dengan
Teorema 3.2.3 (a) lim X = - lim Y, sedangkan dari latihan 2.5.4(b), kita mempunyai
sup{-y
n
; n∈N} = - inf {y
n
; n∈N }. Karenanya lim Y = -lim X = inf{y
n
; n∈N }
Teorema konvergensi monoton memperkenalkan eksistensi limit dari barisan
monoton terbatas. Hal ini juga memberikan cara perhitungan limit yang menyajikan
kita dapat memperoleh supremum (a), infimum (b). Sering kali sukar untuk menge-
valuasi supremum (atau infimum), tetapi kita ketahui bahwa hal ini ada, sering pula
mungkin mengevaluasi limit ini dengan metode lain.
3.3.3. Beberapa contoh
(a). lim
1
n
0
|
\

|
¹
|
= .
Kita dapat menggunakan Teorema 3.2.10; tetapi, kita akan menggunakan Teorema
Konvergen Monoton. Jelaslah bahwa 0 merupakan batas bawah, dari himpunan {
1
n
:
n∈N}, dan tidak sukar untuk menunjukkan bahwa infimumnya 0; dari sini
0 = lim
1
n
|
\

|
¹
|
.
Pendahuluan
Analisis Real I 85
Di lain pihak, kita ketahui bahwa X =
1
n
|
\

|
¹
|
.terbatas dan tak naik, yang men-
gakibatkan X konvergen ke bilangan real x. Karena X =
1
n
|
\

|
¹
|
.konvergen ke x,
menurut Teorema 3.2.3, X . X = (1/n) konvergen x
2
. Karena itu x
2
= 0, akibatnya x =
0.
(b). Misalkan x 1
1
2
1
3
...
1
n
n
= + + + + untuk n∈N.
Karena x x
1
n 1
x ,
n 1 n n +
= +
+
> kita melihat bahwa (x
n
) suatu barisan naik. Dengan
menggunakan Teorema Konvergensi Monoton 3.3.2, pertanyaan apakah barisan ini
konvergensi atau tidak dihasilkan oleh pertanyaan apakah barisan tersebut terbatas
atau tidak. Upaya-upaya untuk menggunakan kalkulasi numerik secara langsung tiba
pada suatu dugaan mengenai kemungkinan terbatasnya barisan (x
n
) mengarah pada
frustrasi yang tidak meyakinkan. Dengan perhitungan komputer akan memberikan
nilai aproksiasi x
n
≈ 11,4 untuk n = 50.000 dan x
n
≈ 12,1 untuk n = 100.000. Fakta
numerik ini dapat menyatukan pengamat secara sekilas untuk menyimpulkan bahwa
barisan ini terbatas. Akan tetapi pada kenyataannya barisan ini divergen, yang diperli-
hatkan oleh
X 1 ...
1
2 1
....
1
2
2 n 1 n
n
= + + +
|
\

|
¹
|
+ +
+
+ +
|
\

|
¹
|

1
2
1
3
1
4

> + + +
|
\

|
¹
|
+ + + +
|
\

|
¹
|
1 ...
1
2
...
1
2
n n
1
2
1
4
1
4

= 1
1
2
1
2
1
2
+ + + + ... = 1
2
+
n

Dari sini barisan (x
n
) tak terbatas, oleh karena itu divergen (teorema 3.2.2).
(c) Misalkan Y = (y
n
) didefenisikan secara induktif oleh Y
1
= 1, Y
n+1
= ( )
1
4 n
2y 3 +
untuk n ≥ 1. Kita akan menunjukkan bahwa lim Y =
3
2
.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 86
Kalkulasi langsung menunjukkan bahwa y
2
=
5
4
. Dari sini kita mempunyai y
1

< y
2
< 2. Dengan induksi, kita akan tunjukkan bahwa y
n
< 2 untuk semua n∈N. Ini
benar untuk n = 1,2. Jika y
k
< 2 berlaku untk suatu k∈N, maka
y
k+1
= ( ) ( )
1
4 k
1
4
3
4
2y 3 4 3 1 2 + < + = + <
Dengan demikian y
k+1
< 2. Oleh karena itu y
n
< 2 untuk semua n∈N.
Sekarang, dengan induksi, kita akan tunjukkan bahwa y
n
< y
n+1
untuk semua
n∈N. Kemudian pernyataan ini tidak dibuktikan untuk n = 1. Anggaplah bahwa y
k
<
y
k+1
untuk suatu k∈N;
y
k+1
= ( ) ( )
1
4 k
1
4 k+1 k 2
2y 3 2y 3 y + < + <
+

Jadi y
k
< y
k+1
mengakibatkan y
k+1
< y
k+2
. Oleh karena itu y
n
< y
n+1
untuk semua n∈N.
Kita telah menunjukkan bahwa Y = (y
n
) adalah barisan naik dan terbatas di
atas oleh 2. Menurut Teorema konvergensi Menoton, Y konvergen ke suatu limit
yakni pada kurang dari atau sama dengan 2. Dalam hal ini, tidak mudah untuk
mengevaluasi lim(y
n
) dengan menghitung sup{y
n
: n∈N}. Tetapi terdapat cara lain
untuk mengevaluasi limitnya. Karena y
n+1
= ( )
1
4 n
2y 3 + untuk semua n∈N, maka suku
ke n dari 1-ekor Y
1
dan suku ke n dari Y mempunyai relasi aljabar sederhana. Dengan
Teorema 3.1.9, kita mempunyai y = lim Y
1
= lim Y yang diikuti dengan Teorema
3.2.3 diperoleh y = ( )
1
4
2y 3 + yang selanjutnya mengakibatkan y =
3
2
.
(d). Misalkan Z = (z
n
) dengan z
1
= 1, z
n+1
= 2z
n
untuk semua n∈N, kita akan lan-
jutkan lim (z
n
) = 2.
Catatan bahwa z
1
= 1 dan z
2
= 2 ; Dari sini 1 ≤ z
1
≤ z
2
< 2. Kita klaim bahwa
Z tak turun dan terbatas di atas oleh 2. Untuk membuktikannya kita akan lakukan se-
cara induksi, yaitu 1 ≤ z
n
< z
n+1
< 2 untuk semua n∈N. Faktor ini dipenuhi untuk n =
1. Misalkan hal ini juga dipenuhi untuk n = K, maka 2 ≤ 2z
K
< 2z
K+1
< 4, yang diikuti
oleh 1 < 2 ≤ z
K+1
= 2z
K
< z
K+2
= 2z
K 1 +
< 4 = 2.
[Pada langkah terakhir kita menggunakan contoh 2.2.14 (a)]. Dari sini ketaksamaan 1
≤ z
K
< z
K+1
< 2 mengakibatkan 1 ≤ z
K+1
< z
K+2
< 2. Karena itu 1 ≤ z
n
< z
n+1
< 2 untuk
semua n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 87
Karena Z = (z
n
) terbatas dan tak turun, menurut Teorema Konvergensi
Monoton Z konvergen ke z = sup {z
n
}. Akan ditunjukkan secara langsung bahwa
sup{z
n
}= 2, jadi z = 2. Atau kita dapat menggunakan cara bagian (c). Relasi z
n+1

= 2z
n
memberikan relasi antara suku ke n dari Z
1
dan suku ke n dari Z. Dengan
Teorema 3.1.9,kita mempunyai lim Z
1
= z = lim Z. Lebih dari itu, menurut Teorema
3.2.3 dan 3.2.10, z harus memenuhi z = 2z . Ini menghasilkan z = 0, 2. Karena 1 ≤ z
≤ 2. Jadi z = 2
Perhitungan akar kuadrat
3.3.4. Contoh
Misalkan a > 0, kita akan mengkonstruksi barisan (s
n
) yang konvergen ke a .
Misalkan s
1
> 0 sebarang dan didefinisikan s
n+1
=
1
2
n
n
s
s
+
|
\

|
¹
|
a
untuk semua
n∈N. Kita akan tunjukkan bahwa (s
n
) konvergen ke a . (Proses ini untuk menghi-
tung akar kuadrat yang sudah dikenal di Mesopotamia sebelum 1500 B.C.).
Pertama kita tunjukkan bahwa s
n 1
2
+
≥ a untuk semua n ≥ 2. Karena s
n
2
- 2s
n+1

s
n
+ a = 0, persamaan ini mempunyai akar real. Dari sini diskriminannya 4s 4
n 1
2
+
− a
harus tak negatif, yaitu s
n 1
2
+
≥ a untuk n ≥ 1.
Untuk melihat (s
n
) Pada akhirnya tak naik, kita catat bahwa untuk n ≥ 2 kita
mempunyai

( )
s s s s
s
s
s
0
n n 1 n
1
2
n
n
1
2
n
2
n
− = − +
|
\

|
¹
| = ≥
+
a

Dari sini, s
n+1
≤ s
n
untuk semua n ≥ 2. Menurut Teorema konvergensi monoton lim(s
n
)
= s ada. Lebih dari itu, dari Teorema 3.2.3, s harus memenuhi
s s
s
1
2
= +
|
\

|
¹
|
a
,
yang mengakibatkan s =
a
s
atau s
2
= a. Jadi s = a .
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 88
Untuk perhitungan, sering penting untuk mengestimasi bagaimana cepatnya
ba-risan (s
n
) konvergen ke a . Dari di atas, kita mempunyai a ≥ s
n
untuk semua n
≥ 2. Dengan menggunakan ketaksamaan ini kita dapat menghitung a dengan dera-
jat akurasi yang diinginkan.
Bilangan Euler
3.3.5 Contoh.
Misal e
n
= (1 + 1/n)
n
untuk n∈N. Kita akan tunjukkan bahwa Ε = (e
n
) terbatas
atau tak turun, karenanya Ε konvergen yang sangat terkenal itu, yang nilainya
didekati dengan e ≈ 2,718281828459045... dan kemudian digunakan sebagai bilangan
dasar logaritma natural.
Bilamana kita menggunakan teorema Binomial, kita mempunyai
e
n
=
( )
1
1
+
n
n
= 1 +
n
1 n

1
+
( ) n n-1
2!
n
2

1
+
( )( ) n n-1 n-2
3!
n
3

1
+ ... +
( ) n n-1
n!
n
n
K2 1
1


Ini dapat ditulis menjadi
e
n
= 1 + 1 +
( )
1
2
1
1
!

n
+
( )( )
1
3
1 2
1 1
!
− −
n n
+ ... +
( )( ) ( )
1 1 2
1 1 1
n n n
n-1
n !
− − − K
Dengan cara serupa kita mempunyai :
e
n+1
= 1 + 1 +
( )
1
2
1
1
!

n+1
+
( )( )
1
3!
1
n+1
2
n+1
1 1 − − + ...
+
( )( ) ( )
1
n!
1
n+1
2
n+1
n-1
n+1
1 1 1 − − − K +
( )
( )( ) ( )
1
n 1 !
1
n 1
2
n 1
n
n+1
1 1 ... 1
+ + +
− − −
Perhatikan bahwa ekspresi untuk e
n
menurut n + 1 suku, sedangkan untuk e
n+1
menu-
rut n+2 suku. Selain itu, masing-masing suku dalam e
n
adalah lebih kecil atau sama
dengan suku yang bersesuaian dalam e
n+1
dan e
n+1
mengandung lebih satu suku posi-
tif. Oleh karena itu, kita mempunyai 2 ≤ e
1
≤ e
2
< ... < e
n
< e
n+1
< ..., dengan demikian
suku-suku dari E naik.
Untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari E terbatas di atas, kita perhatikan
bahwa jika p = 1 , 2 , ... , n, maka 1
p
n
1 −
|
\

|
¹
|
< . Selain itu 2
p-1
≤ p! [lihat 1.3.3 (d)]
dengan demikian
1
p!
1
2
p 1


Oleh karena itu, jika n > 1, maka kita mempunyai
2 1 1
1
2
1
2
...
1
2
n
2 n 1
< < + + + + +

e
Pendahuluan
Analisis Real I 89
Karena dapat dibuktikan bahwa [lihat 1.3.3 (b)]

1
2
1
2
...
1
2
1
1
2
1,
2 n 1 n 1
+ + + = − <
− −

kita simpulkan bukan 2 ≤ e
n
< 3 untuk semua n∈N. Menurut Teorema Konvergensi
Monoton, kita peroleh bahwa barisan E konvergen ke suatu bilangan real antara 2 dan
3. Kita definisikan bilangan e merupakan limit dari barisan ini.
Dengan penghalusan estimasi kita dapat menemukan bilangan yang dekat
sekali ke e, tetapi kita tidak dapat menghitungnya secara eksak, karena e adalah suatu
bilangan irasional. Akan tetapi mungkin untuk menghitung e sampai beberapa tempat
desimal yang diinginkan. Pembaca boleh menggunakan kalkulator (atau komputer)
untuk menghitung e
n
dengan mengambil nilai n yang “besar”
Latihan 3.3.
1. Misalkan x
1
> 1 dan x 2
x
n 1
n
+
= −
1
untuk n ≥ 2. Tunjukkan bahwa (x
n
) terbatas
dan menoton. Tentukan limitnya.
2. Misalkan y
1
= 1 dan y
n+1
= 2 y
n
+ . Tunjukkan bahwa (y
n
) konvergen dan tentu-
kan limitnya.
3. Misalkan a > 0 dan z
1
> 0, Definisikan z
n+1
= (a + z
n
)
1/2
untuk n∈N. Tunjukkan
bahwa (z
n
) konvergen dan tentukan limitnya.
4. Misalkan x
1
= a > 0 dan x
n+1
= x
n
+ 1/x
n
. Tentukan apakah (x
n
) konvergen atau
divergen.
5. Misalkan (x
n
) barisan terbatas dan, untuk masing-masing n∈N, s
n
= sup{x
k
: k ≥
n} dan t
n
= inf{x
k
: k ≥ n}. Buktikan bahwa (s
n
) dan (t
n
) konvergen,. Juga buktikan
bahwa bila lim (s
n
) = lim (t
n
), maka (x
n
) konvergen. [ lim (s
n
) disebut limit supe-
rior dari (x
n
), dan lim (t
n
) disebut limit inferior dari (x
n
) ]
6. Misalkan (a
n
) barisan tak turun, (b
n
) barisan tak naik dan misalkan a
n
≤ b
n
untuk
semua n∈N. Tunjukkan bahwa lim (a
n
) ≤ lim (b
n
), dan dari sini buktikan Teorema
Interval Bersarang 2.1.b dari Teorema Konvergensi Monoton 3.3.2.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 90
7. Misalkan A subhimpunan tak hingga dari R dan terbatas di atas dengan u = sup A.
Tunjukkan bahwa terdapat suatu barisan tak turun (x
n
) dengan x
n
∈ A untuk se-
mua n∈N sehingga u = lim (x
n
).
8. Tentukan apakah barisan (y
n
) konvergen atau divergen, bila y
n
=
1
n 1
1
n 2
1
2n
...
+ +
+ + +
untuk n∈N.
9. Misalkan x
n
=
1
1
1
2
1
2 2
+ + +
n
2
L untuk n∈N. Buktikan bahwa (x
n
) tak turun dan
terbatas, jadi konvergen. [ Catatan bila k ≥ 2, maka
( )
1 1 1 1
k k k - 1 k - 1 k
2
≤ = − ]
10. Perkenalkan konvergensi barisan berikut dan tentukan limitnya.
(a).
( )
1
n
n 1
+
|
\

|
¹
|
+
1
; (b).
( )
1
n
2n
+
|
\

|
¹
|
1
;
(c).
( )
( )
1
1
n 1
n
+
+
; (d).
( )
1
n
n

|
\

|
¹
|
1
.
11. Gunakan metode pada contoh 3.3.4 untuk menghitung 2 , dengan benar sampai
4 desimal.
12. Gunakan metode pada contoh 3.3.4 untuk menghitung 5 , dengan benar sampai
5 desimal.
13. Hitung e
n
pada contoh 3.3.5 untuk n = 2, 4, 8, 16.
14. Gunakan kalkulator untuk menghitung e
n
untuk n = 50 dan n = 100.
15. Gunakan Komputer untuk menghitung e
n
untuk n = 1000.
3.4. Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass
Dalam bagian ini kita akan memperkenalkan gagasan subbarisan dari barisan
yang diberikan. Gagasan ini agak lebih umum daripada ekor barisan (yaitu dibahas
pada 3.1.8) sering bermanfaat dalam membuktikan divergensi barisan. Kita juga akan
membuktikan Teorema Bolzano-Weistrass, yang akan digunakan untuk memperke-
nalkan sejumlah hasil akibatnya.
3.4.1. Definisi. Misalkan X = (x
n
) barisan dan r
1
< r
2
< ... < r
n
< ..., barisan bilangan
asli yang naik. Maka barisan X’ dalam R yang diberikan oleh
Pendahuluan
Analisis Real I 91

( )
x , x , x , , x ,
r r r r
1 2 3 n
L L
disebut subbarisan dari X.
Sebagai contoh, berikut ini adalah subbarisan dari X =
1
1
1
2
1
3
1
, , , , , L L
n
|
\

|
¹
|
.

1
3
1
4
1
5
1
, , , , , L L
n + 2
|
\

|
¹
|
,
1
1
1
3
1
5
1
, , , , , L L
2n -1
|
\

|
¹
|
,
( )
1
2
1
4
1
6
1
!
,
!
,
!
, , , L L
2n !
|
\

|
¹
| .
Sedangkan yang berikut bukan subbarisan dari X =
1
n
|
\

|
¹
|
:

1
2
1
1
1
4
1
3
1
6
1
5
, , , , , ,L
|
\

|
¹
|
,
1
1
0
1
3
0
1
5
0 , , , , , ,L
|
\

|
¹
|
.
Tentu saja, sebarang ekor barisan merupakan subbarisan, ekor-m bersesuaian dengan
barisan yang ditentukan dengan
r
1
= m + 1, r
2
= m + 2, ..., r
n
= m + n
1
...
Tetapi, tidak setiap subbarisan merupakan ekor barisan.
Subbarisan dari barisan konvergen juga konvergen ke limit yang sama, seperti
yang akan kita tunjukkan berikut.
3.4.2. Teorema. Jika suatu barisan bilangan real X = (x
n
) konvergen ke x, maka se-
barang subbarisan dari X juga konvergen ke x.
Bukti :
Misalkan ε > 0 diberikan dan pilih bilangan asli Κ(ε) sedemikian sehingga jika n ≥
Κ(ε), maka x x
n
− < ε. Karena r
1
< r
2
<...< r
n
< ... adalah barisan bilangan real naik
maka dapat dibuktikan (dengan induksi) bahwa r
n
≥ n .Dari sini, bila n ≥ Κ(ε) kita
juga mempunyai r
n
≥ n ≥ Κ(ε) dengan demikian x x
r
n
− < ε. Oleh karena itu su-
barisan
( )
x
r
n
juga konvergen ke x.
3.4.3 Beberapa contoh
(a). lim (b
n
) = 0 bila 0 < b < 1.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 92
Kita telah melihat, pada Contoh 3.1.11 (c), bahwa bila 0 < b < 1 dan bila x
n
=
b
n
, maka dari Ketaksamaan Bernoulli diperoleh bahwa lim(x
n
) = 0. Cara lain, kita
melihat bahwa karena 0 < b < 1, maka x
n+1
= b
n+1
< b
n
= x
n
dengan demikian (x
n
)
adalah barisan turun. Jelas juga bahwa 0 ≤ x
n
≤ 1, sehingga menurut Teorema Kon-
vergensi Monoton 3.3.2 barisan tersebut konvergen. Misalkan x = lim (x
n
). Karena
(x
2n
) subbarisan dari (x
n
) menururt Teorema 3.4.2 maka x = lim (x
2n
). Di lain pihak,
karena x
2n
= b
2n
= (b
n
)
2
= (x
n
)
2
, menurut Teorema 3.2.3 diperoleh
x = lim (x
2n
) = [lim (x
n
)]
2
= x
2

Oleh karena itu kita mesti mempunyai x = 0 atau x = 1. Karena (x
n
) barisan turun dan
terbatas di atas oleh 1, maka haruslah x = 0.
(b). lim
( )
c
1
n
1 = untuk c > 1.
Limit ini telah diperoleh dalam contoh 3.1.11 (d) untuk c > 0, dengan
pemikiran argumen yang banyak diakal-akali. Di sini kita melihat pendekatan lain
untuk kasus c > 1. Perhatikan bahwa jika z
n
= c
1/n
, maka z
n
> 1 dan z
n+1
< z
n
untuk
semua n∈N. Jadi dengan menggunakan Teorema Konvergensi Monoton, z = lim (Z
n
)
ada. Menurut teorema 3.4.2, berlaku z = lim (Z
2n
). Di lain pihak, karena
z
2n
=
( )
c c
1
2n
1
n
1
2 1
2
z
n
= =
dan Teorema 3.2.10,maka
( ) ( ) ( )
z lim Z lim Z z
2n n
1
2
1
2
= = = .
Karena itu z
2
= z yang menghasilkan z = 0 atau z = 1. Karena Z
n
> 1 untuk semua
n∈N, maka haruslah z = 1.
Untuk kasus 0 < c < 1, kita tinggalkan sebagai latihan.
Kegunaan subbarisan membuatnya mudah untuk menyajikan uji divergensi
suatu barisan.
3.4.4. Kriterian Divergensi. Misalkan X = (x
n
) suatu barisan.
maka pernyataan berikut ekivalen :
(i) Barisan X = (x
n
) tidak konvergen ke x∈R.
Pendahuluan
Analisis Real I 93
(ii) Terdapat ε
0
> 0 sehingga untuk sebarang k∈N, terdapat r
k
∈N sehingga r
k
≥ k dan
x x
r
k
− ≥ ε
0

(iii) Terdapat ε
0
> 0 dan subbarisan X =
( )
x
r
n
dari X sehingga x x
r
n
− ≥ 0 untuk se-
mua n∈N.
Bukti :
(i) ⇒ (ii). Bila X = (x
n
) tidak konvergen ke x, maka untuk suatu ε
0
> 0 tidak mungkin
memperoleh bilangan Κ(ε) sehingga 3.1.b (c) dipenuhi. Yaitu, untuk sebarang k∈N
tidak benar bahwa untuk semua n ≥ k sehingga x x
r 0
k
− ≥ ε .
(ii) ⇒ (iii). Misalkan ε
0
seperti pada (ii) dan misalkan r
1
∈N sehingga r
1
≥1 dan
x x
r 0
1
− ≥ ε . Sekarang misalkan r
2
∈N sehingga r
2
> r
1
dan x x
r 0
2
− ≥ ε ; misalkan r
3

> r
2
dan x x
r
3
− ≥ ε
0
. dengan meneruskan cara ini diperoleh subbarisan X’ =
( )
x
r
n
(x
rn
) dari X sehingga x x
r
n
− ≥ ε
0
.
(iii) ⇒ (i) Misalkan X = (x
n
) mempunyai subbarisan X’ =
( )
x
r
n
memenuhi kondisi
(iii); maka X tidak mungkin konvergen ke x. Karena andaikan demikian, maka menu-
rut Teorema 3.4.2 subbarisan X’ juga akan konvergen ke x. Tetapi ini tidak mungkin
suku dari x’ termuat dilingkungan x
0
dari x.
3.4.5. Beberapa contoh.
(a). Barisan ( )
( )
−1 divergen
n
.
Bila barisan X = ( )
( )
−1
n
konvergen ke x, maka (menururt Teorema 3.4.2) setiap sub-
barisan dari X harus konvergen ke x. Karena terdapat subbarisan yang konvergen ke
+1 dan sub-barisan yang lain konvergen ke -1, maka haruslah X divergen.
(b). Barisan
( )
1, ,3, ,...
1
2
1
4
divergen.
[Kita dapat mendefinisikan barisan ini dengan Y = (y
n
), yang mana y
n
= n bila
n ganjil, dan y
n
=
1
n
bila n genap]. Secara mudah dapat dilihat bahwa barisan ini tidak
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 94
terbatas; dari sini, menurut Teorema 3.2.2, barisan ini tidak mungkin konvergen. Se-
cara alternatif, walaupun sub-barisan ( )
1
2
1
4
1
6
, , ,... dari Y konvergen ke 0, keseluru-
han barisan Y tidak konvergen ke 0. Yaitu, terdapat subbarisan (3,5,7,...) dari Y yang
berada di luar lingkungan -1 dari 0; karena itu Y tidak konvergen ke 0.
Eksistensi Subbarisan Monoton
Sementara tidak setiap barisan monoton, kita sekarang akan menunjukkan
bahwa setiap barisan mempunyai sub-barisan monoton.
3.4.6. Teorema Subbarisan Monoton. Setiap barisan X = (x
n
) mempunyai subbarisan
monoton.
Bukti
Untuk tujuan ini kita akan menyatakan suku ke-m x
m
merupakan puncak bila
x
m
≥ x
n
untuk semua n ≥ m. Selanjutnya kita akan mempertimbangkan dua kasus.
Kasus 1. X mempunyai sejumlah tak hingga puncak. Dalam kasus ini, kita mengururt
puncak-puncak tersebut dengan indeks naik. Jad kita mempunyai puncak-puncak
x , x ,..., x ,...
m m m
1 2 k
dengan m
1
< m
2
< ... < m
k
< ...,.Karena masing-masing suku
tersebut puncak, kita mempunyai x x x ... x ...
m m m m
1 2 3 k
≥ ≥ ≥ ≥ ≥
Karenanya subbarisan
( )
x
m
k
merupakan subbarisan tak naik dari X.
Kasus 2. X mempunyai sejumlah hingga (mungkin nol) puncak. Misalkan puncak-
puncak ini x , x ,..., x ,...
m m m
1 2 r
. Misalkan s
1
= m
r
+ 1 (indeks pertama setelah puncak
terakhir) Karena x
s
1
bukan puncak, maka terdapat s
2
> s
1
sehingga x x
s s
2 1
> .
Karena x
s
2
bukan puncak, maka terdapat s
3
> s
2
, sehingga x x
s s
3 2
> . Bila kita
meneruskan proses ini, kita peroleh subbarisan tak turun (bukan naik)
( )
x
s
n
dari X.
Teorema Bolzana Weierstrass
3.4.7. Teorema Bolzana-Weierstrass. Setiap barisan terbatas mempunyai subbarisan
konvergen.
Bukti
Pendahuluan
Analisis Real I 95
Mengikuti Teorema Subbarisan Monoton, maka barisan terbatas X = (x
n
)
mempu-nyai subbarisan X’ =
( )
x
s
n
monoton. Subbarisan inipun juga terbatas, se-
hingga menururt Teorema Konvergensi Monoton X’ =
( )
x
s
n
konvergen.
Dari sini mudah dilihat bahwa barisan terbatas dapat mempunyai beberapa
sub-barisan yang konvergen ke limit yang berbeda, sebagai contoh, barisan ( )
( )
−1
n

mempunyai subbarisan yang konvergen ke -1, dan subbarisan yang lain konvergen ke
+1. Barisan ini juga mempunyai sub-barisan yang tidak konvergen.
Misalkan X’ subbarisan dari barisan X. Maka X’ sendiri juga merupakan bari-
san, yang juga dapat mempunyai sub-barisan, katakan X”. Di sini dapat kita catat ba-
hawa X” juga merupakan subbarisan dari X.
3.4.8. Teorema. Misalkan X barisan terbatas dan x∈R yang mempunyai sifat bahwa
setiap sub-barisan konvergen dari X limitnya adalah x. Maka barisan X konvergen ke
x.
Bukti
Misalkan M > 0, sehingga x M
n
≤ untuk semua n∈N. Andaikan X tidak konvergen
ke x. Menurut Kriteria Divergensi 3.4.4 terdapat ε
0
> 0 dan subbarisan X’ =
( )
x
r
n
dari
X sehingga
(#) x x
r 0
n
− ≥ ε , untuk semua n∈N.
Karena X’ subbarisan dari X, maka X’ juga terbatas oleh M. Dari sini, menurut Teo-
rema Bolzano-Weierstrass bahwa X’ mempunyai subbarisan X” yang konvergen.
Tetapi X” juga merupakan subbarisan dari X, karenanya harus konvergen ke x, menu-
rut hipotesis. Akibatnya pada akhirnya X” terletak di dalam lingkungan-ε
0
dari x.
Karena setiap suku dari X” juga merupakan suku dari X’, hal ini membawa kita ke
suatu yang kontradiksi dengan (#)
Latihan 3.4
1. Berikan contoh barisan tak terbatas yang mempunyai subbarisan konvergen.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 96
2. Gunakan metode pada contoh 3.4.3 (b) untuk menunjukkan bahwa 0 < c < 1,
maka
( )
lim
1
n
c = 1.
3. Misalkan X = (x
n
) dan Y = (y
n
) dan barisan Z = (z
n
) didefenisikan dengan z
1
= x
1
,
z
2
= y
1
, ... z
2n-1
= x
n
, z
2n
= y
n
,.... Tunjukkan bahwa Z konvergen jika dan hanya jika
X dan Y konvergen dan lim X = lim Y.
4. Misalkan x n
n
1
n
= untuk n∈N.
(a). Tunjukkan bahwa x
n+1
< x
n
ekivalen dengan ( ) 1
1
n
n
+ < n, dan diduga bahwa
ketaksamaan ini benar untuk n ≥ 3. [ lihat contoh 3.3.5 ]Buktikan bahwa (x
n
)
pada akhirnya tak naik dan η = lim (x
n
) ada.
(b) Gunakan fakta subbarisan (x
2n
) juga konvergen ke x untuk menunjukkan
bahwa x = x . Simpulkan x = 1
5. Misalkan setiap sub-barisan dari X = (x
n
) mempunyai subbarisan lagi yang kon-
vergen ke 0. Tunjukkan bahwa lim X = 0.
6. Perkenalkan konvergensi dan tentukan limit barisan berikut :
(a). ( )
( )
1
1
2n
2
+ (b). ( )
( )
1
1
2n
n
+
(c).
( )
1
1
n
n
2
2
+
|
\

|
¹
| (d). ( )
( )
1
2
n
n
+
7. Misalkan (x
n
) barisan terbatas dan untuk masing-masing n∈N s
n
= sup{x
k
: k ≥ n}
dan s = inf{ s
n
: n∈N}. Tunjukkan bahwa terdapat subbarisan dari (x
n
) yang kon-
vergen ke s.
8. Misalkan bahwa x
n
≥ 0 untuk semua n∈N dan lim ( )
( )
−1 x
n
n
ada. Tunjukkan
bahwa (x
n
) konvergen.
9. Tunjukkan bahwa bila (x
n
) tak terbatas, maka terdapat subbarisan
( )
x
n
k
sehingga
lim
1
x
0
n
k
|
\

|
¹
|
|
=
Pendahuluan
Analisis Real I 97
10. Bila x
n
=
( ) −1
n
n
, tentukan subbarisan (x
n
) yang dikonstruksi pada bukti kedua
Teorema Bolzano-Weierstrass.
11. Misalkan (x
n
) barisan terbatas dan s = sup{ x
n
: n∈N }. Tunjukkan bahwa bila s ∉
{x
n
: n∈N}, maka terdapat subbarisan dari (x
n
) yang konvergen ke s.
12. Berikan contoh bahwa Teorema 3.4.8 gagal bila hipotesis X barisan terbatas dihi-
langkan.
3.5 Kriteria Cauchy
Teorema Konvergensi Monoton sangat penting dan berguna, tetapi sayangnya
hanya dapat diterapkan pada barisan monoton. Padahal sangat penting untuk mem-
perkenalkan kriteria konvergensi yang tidak bergantung pada barisan monoton mau-
pun nilai limitnya,seperti yang akan kita bahas berikut ini.
3.5.1 Definis.i Barisan X = (x
n
) dikatakan barisan Cauchy bila untuk setiap ε > 0
terdapat H(ε)∈N sehingga bila m,n ≥ H(ε), maka x
m
dan x
n
memenuhi x x
n m
− < ε .
Pembaca sebaiknya membandingkan definisi ini dekat dengan Teorema 3.1.6
(c) yang menyinggung konvergensi barisan x. Akan kita lihat bahwa barisan Cauchy
ekivalen dengan barisan konvergen. Untuk membuktikannya kita akan tunjukkan ter-
lebih dahulu bahwa barisan konvergen merupakan barisan Cauchy.
3.5.2. Lemma. Bila X = (x
n
) barisan konvergen, maka X barisan Cauchy.
Bukti :
Misalkan x = lim X, maka menurut Teorema 3.1.6(c) untuk sebarang ε > 0, ter-
dapat Κ(
ε
2
)∈N sehingga x x
n
− <
ε
2
untuk semua n ≥ Κ(
ε
2
). Jadi, bila m,n ≥ Κ(
ε
2
)
maka
( ) ( ) x x x x x x
n m n m m
− = − + −
≤ − + − < x x x x
n m
ε
2
+
ε
2
= ε
Karena ε > 0 sebarang, maka (x
n
) barisan Cauchy.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 98
Untuk menunjukkan bahwa barisan Cauchy konvergen kita akan mengguna-
kan hasil berikut.
3.5.3. Lemma. Barisan Cauchy terbatas.
Bukti :
Misalkan x barisan Cauchy dan ε = 1. Bila H = H(1) dan n ≥ H, maka x x 1
n H
− ≤ .
Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga kita mempunyai x x 1
n H
≤ + untuk n ≥
Η. Bila kita definisikan
} {
M sup x , x ,..., x , x 1 ,
1 2 H 1 H
= +


maka x M
n
≤ untuk semua n∈N.
3.5.4 Kriteria Konvergensi Cauchy. Barisan bilangan real konvergen jika dan hanya
jika merupakan barisan cauchy.
Bukti :
Lemma 3.5.2 telah membuktikan bahwa barisan konvergen merupakan barisan
Cauchy. Sebaliknya, misalkan X = (x
n
) barisan Cauchy; kita akan tunjukkan bahwa X
konvergen ke suatu bilangan. Pertama dari Lemma 3.5.3 kita peroleh bahwa X terba-
tas. Karena itu menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3.4.7 terdapat subbarisan X’ =
( )
x
n
k
dari X yang konvergen ke x
*
suatu bilangan real. Kita akan melengkapi bukti
dengan menunjukkan bahwa X konvergen ke x
*
.
Karena X = (x
n
) barisan Cauchy, untuk sebarang ε > 0 terdapat H(
ε
2
)∈N se-
hingga bila m,n ≥ H(
ε
2
) maka
(*) x x
n m
− <
ε
2

Karena subbarisan X’ =
( )
x
n
k
konvergen ke x
*
, maka terdapat bilangan asli K ≥
H(
ε
2
) unsur dari {n
1
,n
2
,...} sehingga x x
K
*
− <
ε
2
.
Karena K ≥ H(
ε
2
), dari (*) dengan m = K diperoleh
x x
n k
− <
ε
2
, untuk n ≥ H(
ε
2
)
Pendahuluan
Analisis Real I 99
Karena itu, bila n ≥ H(
ε
2
), kita mempunyai
( )
( )
x x x x x x
n
*
n K K
*
− = − + −
≤ − + − x x x x *
n K K

<
ε
2
+
ε
2
= ε
Karena ε > 0 sebarang, maka lim (x
n
) = x
*
.
Berikut kita lihat beberapa contoh aplikasi dari Kriteria Cauchy.
3.5.5. Beberapa Contoh
(a) Barisan
1
n
|
\

|
¹
|
konvergen.
Tentu saja kita telah membuktikan bahwa barisan ini konvergen ke 0 pada
3.1.7(a). Tetapi untuk menunjukkan secara langsung bahwa barisan ini Cauchy, kita
catat bahwa bila diberikan sebarang ε > 0. maka terdapat H = H(ε)∈N, sehingga H >
( )
2
ε
(Mengapa?). Dari sini, bila m,n ≥ H, maka

1
n
1
m
1
n
1
m
2
H
− ≤ + ≤ < ε
Karena ε > 0 sebarang, maka
1
n
|
\

|
¹
|
barisan Cauchy; berdasar kriteria Konvergensi
Cauchy barisan ini konvergen.
(b). Misalkan X = (x
n
) didefinisikan dengan
x
1
= 1, x
2
= 2 dan ( ) x x x
n n 2 n 1
= +
− −
1
2
untuk n > 2.
Dapat ditunjukkan dengan induksi bahwa 1 ≤ x
n
≤ 2 untuk semua n∈N. Beberapa
perhitungan menunjukkan bahwa barisan x tidak menoton. Tetapi, karena suku-
sukunya diperoleh dari rata-rata, mudah dilihat bahwa
x x
1
2
n n 1
n 1
− =
+

untuk n∈N
(Buktikan dengan induksi) Jadi, bila m > n, kita dapat menggunakan ketaksamaan
segitiga untuk memperoleh
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 100
x x x x x x ... x x
n m n n 1 n 1 n 2 m 1 m
− ≤ − + − + + −
+ + + −

=
1
2
1
2
...
1
2
n 1 n m 2 − −
+ + +
=
1
2
1
1
2
...
1
2
1
2
n 1 m n 1 n 2 − − − −
+ + +
|
\

|
¹
|
<
Karena itu, bila diberikan ε > 0, dengan memilih n yang begitu besar sehingga
1
2 4
n
<
ε
dan bila M ≥ n, maka x x
n m
− < ε . Karenanya, X barisan Cauchy. Dengan
menggunakan Kriteria Cauchy 3.5.4 diperoleh barisan X konvergen ke suatu bilangan
x.
Untuk mencari nilai x, kita harus menggunakan aturan untuk definisi
( ) x x x
n
1
2 n 1 n 2
= +
− −
yang akan sampai pada kesimpulan ( ) x x x
1
2
= + , yang memang
benar, tetapi tidak informatif. Karena itu, kita harus mencoba cara yang lain.
Karena X konvergen ke x, demikian juga halnya subbarisan X’ dengan indeks
ganjil. Menggunakan induksi pembaca dapat menunjukkan bahwa [lihat 1.3.3 (c)]
x 1
1
2
1
2
...
1
2
2n 1
3 2n 1
+

= + + + +
=1
2
3
1
1
4
n
+ −
|
\

|
¹
|

Dari sini diperoleh bahwa (bagaimana ?) x = lim X = lim X’ = 1
2
3
5
3
+ = .
(c) Misalkan Y = (y
n
) barisan dengan

( )
y
1
1!
, y
1
1!
1
2!
, , y
1
1!
1
2!
1
n!
,
1 2 n
n 1
= = − = − + +

+
L L L
Jelaslah, Y bukan barisan monoton. Tetapi, bila m > n, maka

( )
( )
( )
( )
( )
y y
1
n 1 !
1
n 2 !
...
1
m!
m n
n 2 n 3 m 1
− =

+
+

+
+ +

+ + +
.
Karena 2
r-1
≤ r! [lihat 1.3.3 (d)], karenanya bila m > n, maka (mengapa ?)
Pendahuluan
Analisis Real I 101

( ) ( )
y y
1
n 1 !
1
n 2 !
...
1
m!
m n
− ≤
+
+
+
+ +
≤ + + + <
+ − −
1
2
1
2
...
1
2
1
2
.
n n 1 m 1 n 1

Karena itu, (y
n
) barisan Cauchy, sehingga konvergen, katakan ke y, saat ini kita tidak
dapat menentukan nilai y secara langsung; kita mempunyai y y
n
n-2
− ≤
1
2
.
dari sini, kita dapat menghitung nilai y sampai derajat akurasi yang diinginkan dengan
menghitung y
n
untuk n yang cukup besar. Pembaca sebaiknya mengerjakan hal ini dan
menunjukkan bahwa y sama dengan 0.632 120 559. (Tepatnya y adalah 1-
1
e
)
(d) Barisan
1
1
1
2
1
3
...
1
n
+ + + +
|
\

|
¹
|
divergen.
Misalkan H = (h
n
) barisan yang didefinisikan dengan h
1
1
1
2

1
n
n
= + + + L un-
tuk n∈N, yang telah dibahas pada 3.3.3 (b). Bila m > n, maka
h h
1
n 1
...
1
m
m n
− =
+
+ + .
Karena masing-masing suku m-n ini melebihi
1
m
, maka h h .
m n
− >
m- n
n
= 1
n
m
− .
Khususnya, bila m = 2n kita mempunyai h h
2n n
− >
1
2
. Hal ini menunjukkan bahwa H
bukan barisan Cauchy (mengapa ?); karenanya H bukan barisan konvergen.
3.5.6. Definisi. Barisan X = (x
n
) dikatakan kontraktif bila terdapat konstanta C, 0 <
C < 1, sehingga x x C x x
n 2 n 1 n 1 n + + +
− ≤ − untuk semua n∈N. Bilangan C disebut
konstanta barisan kontraktif tersebut.
3.5.7. Teorema. Setiap barisan kontraktif merupakan barisan Cauchy, karenanya kon-
vergen.
Bukti :
Bila kita menggunakan kondisi barisan kontraktif, kita dapat membalik lang-
kah kerja kita untuk memperoleh :
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 102
x x Cx x C x x
n 2 n 1 n 1 n
2
n n 1 + + + −
− ≤ − ≤ −
≤ − ≤ ≤ −
− −
C x x C x x
3
n 1 n 2
n
2 1
L
untuk m > n, kita mempunyai
x x
m n
− ≤ x x
m m 1


+ x x
m 1 m 2 − −
− + ... + x x
n 1 n +

≤ (C
m-2
+ C
m-3
+ ... + C
n-1
)x
2
-x
1

= C
n-1
(C
m-n-1
+ C
m-n-2
+ ... + 1)x
2
- x
1

= C
n-1
1
1


|
\

|
¹
| −
C
C
x x
m-1
2 1

≤ C
n-1
1
1−
|
\

|
¹
|

C
x x
2 1

Karena 0 < C < 1, maka lim(C
n
) = 0 [lihat 3.1.11(c)]. Karena itu (x
n
) barisan Cauchy,
sehingga (x
n
) konvergen.
Dalam proses menghitung limit dari barisan kontraktif, sering sangat penting
untuk mengestimasi kesalahan pada tahap ke-n. Berikut ini kita memberikan dua es-
timasi; pertama melibatkan dua suku kata pertama dan n; yang kedua melibatkan
selisih x
n
-x
n-1
.
3.5.8. Akibat. Bila x = (x
n
) bariasan konstraktif dengan konstanta C, 0 < C < 1, dan x
*

= lim X, maka :
(i). x x
C
1 C
x x
*
n
n 1
2 1
− ≤




(ii). x x
C
1 C
x x
*
n n n-1
− ≤


Bukti :
Kita telah melihat pada bukti terdahulu bahwa bila m>n, maka x x
m n
− ≤
C
1- C
x x
n-1
2 1
− . Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m), kita
peroleh (i).
Untuk membuktikan (ii), kita gunakan lagi m > n, maka
x x
m n
− .≤ x x
m m 1


+ ... + x x
n 1 n +

Pendahuluan
Analisis Real I 103
Dengan induksi diperoleh
x x C x x
n k n k 1
k
n n 1 + + − −
− ≤ −
karenanya
( )
x x C ... C C x x
m n
m n 2
n n 1
− ≤ + + + −



Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m) diperoleh (ii).
3.5.9. Contoh.
Diketahui solusi dari x
3
- 7x + 2 = 0 terletak antara 0 dan 1 dan kita akan
mendekati solusi tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur it-
erasi berikut. Pertama kita tuliskan persamaan di atas menjadi x =
1
7
(x
3
+ 2) dan
gunakan ini untuk mendefinisikan barisan, kita pilih x, sebarang nilai antara 0 dan 1,
kemudian definisikan
x
n+1
=
( )
1
7
x 2
n
3
+ , n∈N
Karena 0< x
1
< 1, maka 0< x
n
<1 untuk semua n∈N. (Mengapa?) lebih dari itu kita
mempunyai

( ) ( )
x x x 2 x 2
n 2 n 1 n 1
3
n
3
+ + +
− = + − +
1
7
1
7

= −
+
1
7
x x
n 1
3
n
3

= + + −
+ + +
1
7
x x x x x x
n 1
2
n 1 n n
2
n 1 n

≤ −
+
3
7
x x
n 1 n

Karena itu, (x
n
) barisan kontraktif, sehingga terdapat r dengan lim (x
n
) = r. Bila kita
menggunakan limit pada kedua sisi (terhadap n) pada x
n+1
=
( )
1
7
x
n
3
, diperoleh r =
( )
1
7
r 2
3
+ atau r
3
- 7r + 2 = 0. Jadi r merupakan solusi dari persamaan tersebut.
Kita dapat mendekati nilai r dengan memilih x
1
kemudian menghitung x
2
, x
3
,
..., secara berturut-turut. Sebagai contoh, bila kita memilih x
1
= 0,5 kita peroleh (sam-
pai sembilan tempat desimal) x
2
= 0,303571429, x
3
= 0,289710830, x
4
=
0,289188016, x
5
= 0,289169244, x
6
= 0,289 168 571, dan seterusnya. Untuk menges-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 104
timasi akurasi, kita catat bahwa x x 0,2.
2 1
− < Jadi, setelah langkah ke n menurut
Akibat 3.5.8(i) kita yakin bahwa x x
*
6
− ≤
( )
3
7 20
5
4
=
243
48020
< 0,0051. Sebenarnya
pendekatannya lebih baik daripada ini. Karena x x 0,000005,
6 5
− < menurut 3.5.8
(ii) maka x x
*
6
− ≤
3
4
x x
6 5
− < 0,0000004 . Jadi kelima tempat desimal yang per-
tama benar.
Latihan 3.5
1. Beri contoh barisan terbatas yang bukan barisan Cauchy.
2. Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut barisan Cauchy
(a).
n 1
n
+
|
\

|
¹
|
; (b) 1
1
2!
...
1
n!
+ + +
|
\

|
¹
|
.
3. Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut bukan barisan
Cauchy
(a). ( )
( )
−1
n
; (b)
( )
n
1
n
n
+

|
\

|
¹
|
|

4. Tunjukkan secara langsung bahwa bila (x
n
) dan (y
n
) barisan Cauchy, maka (x
n
+
y
n
) dan (x
n
y
n
) juga barisan Cauchy.
5. Misalkan (x
n
) barisan Cauchy sehingga x
n
bilangan untuk semua n∈N. Tunjukkan
bahwa (x
n
) pada akhirnya konstan.
6. Tunjukkan bahwa barisan monoton tak turun yang terbatas merupakan barisan
Cauchy.
7. Bila x
1
< x
2
sebarang bilangan real dan ( ) x x x
n n 2 n 1
= +
− −
1
2
untuk n > 2, tunjuk-
kan bahwa (x
n
) konvergen. Hitunglah limitnya.
8. Bila y
1
< y
2
sebarang bilangan real dan y y y
n n 1 n 2
= +
− −
1
3
2
3
untuk n > 2, hitun-
glah limitnya.
9. Bila 0 < r < 1 dan x x r
n 1 n
n
+
− < untuk semua n∈N, tunjukkan bahwa (x
n
) bari-
san Cauchy.
Pendahuluan
Analisis Real I 105
10. Bila x
1
> 0 dan ( ) x 2 x
n 1 n
1
+

= + untuk n ≥ 1, tunjukkan bahwa (x
n
) barisan kon-
traktif. Tentukan limitnya.
11. Persamaan x
3
- 5x + 1 = 0 mempunyai akar r antara 0 dan 1. Gunakan barisan
kontraktif yang bersesuaian untuk menghitung r sampai 10
-4
.
3.6. Barisan-barisan Divergen Murni
Untuk tujuan-tujuan tertentu dipandang baik sekali untuk mendefinisikan atau
yang dimaksudkan dengan suatu barisan bilangan real (x
n
) yang “menuju ke ± ±± ± ∞ ∞∞ ∞“.
3.6.1. Definisi. Misalkan (x
n
) suatu barisan bilangan real.
(i). Kita katakan bahwa (x
n
) menuju ke + ∞, dan ditulis lim (x
n
) = +∞, jika untuk
setiap α∈R terdapat bilangan asli K(α) sedemikian sehingga jika n ≥ K(α), maka
x
n
> α.
(ii). Kita katakan bahwa (x
n
) menuju ke - ∞, dan ditulis lim (x
n
) = - ∞, jika untuk
setiap β∈R terdapat bilangan asli K(β) sedemikian sehingga jika n ≥ K(β), maka
x
n
< β.
Kita katakan bahwa (x
n
) divergen murni dalam hal kita mempunyai lim (x
n
)
= +∞ dan (x
n
) = - ∞.
3.6.2. Contoh-contoh
(a). lim (n) = + ∞.
Kenyataannya, jika diberikan α∈R, misal K(α) sebarang bilangan asli
sedemikian sehingga K(α) > α.
(b). lim (n
2
) = + ∞.
Jika K(α) suatu bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α, dan jika n ≥
K(α) maka kita mempunyai n
2
≥ n > α.
(c). Jika c > 1, maka lim (c
n
) = + ∞
Misalkan c = 1 + b, dimana b > α, Jika diberikan α∈R, misal K(α) suatu bi-
langan asli sedemikian sehingga K(α) >
α
b
. Jika n ≥ K(α) maka menurut ketaksama-
an Bernoulli
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 106
c
n
= (1 + b)
n
≥ 1 + nb > 1+ α > α.
Oleh karena itu lim (c
n
) = + ∞.
Barisan-barisan monoton khususnya adalah sederhana dalam memandang
konvergennya. Kita telah melihat dalam Teorema Konvergensi Monoton 3.2.2 bahwa
suatu barisan monoton adalah konvergen jika dan hanya jika terbatas. Hasil berikut
adalah suatu reformulasi dari hasil tersebut di atas.
3.6.3. Teorema. Suatu barisan bilangan real yang monoton divergen murni jika dan
hanya jika barisan tersebut tidak terbatas.
(a). Jika (x
n
) suatu barisan naik tak terbatas, maka lim (x
n
) = +∞
(b). Jika (x
n
) suatu barisan turun tak terbatas, maka lim (x
n
) = -∞
Bukti :
(a). Anggaplah bahwa (x
n
) suatu barisan naik. Kita ketahui bahwa jika (x
n
) terbatas,
maka (x
n
) konvergen. Jika (x
n
) tak terbatas, maka untuk sebarang α∈R terdapat
n(α)∈N sedemikian sehingga α < x
n(α)
. Tetapi karena (x
n
), kita mempunyai α < x
n

untuk semua n ≥ n(α). Karena α sebarang, maka berarti lim (n) = + ∞.
Bagian (b) dibuktikan dengan cara yang serupa.
“Teorema perbandingan” berikut senantiasa akan dipergunakan dalam
menunjukkan bahwa suatu barisan divergen murni. [Pada kenyataannya, tidak
digunakan secara implisit dalam contoh 3.6.2 (c)].
3.6.4. Teorema. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) dua barisan bilangan real dan anggaplah
bahwa
(*) x
n
≤ y
n
untuk semua n∈N.
(a). Jika lim (x
n
) = + ∞, maka lim (y
n
) = + ∞.
(b). Jika lim (y
n
) = - ∞, maka lim (x
n
) = - ∞.
Bukti :
(a) Jika lim (x
n
) = + ∞, dan jika diberikan α∈R, maka terdapat bilangan asli K(α)
sedemikian sehingga jika n ≥ K(α), maka α < x
n
. Mengingat (*), berarti α < y
n
untuk
semua n ≥ K(α). Karena α sebarang, maka ini menyatakan bahwa lim (y
n
) = + ∞.
Pendahuluan
Analisis Real I 107
Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara yang serupa.
Remakkan :(a). Teorema 3.6.4 pada akhirnya benar jika syarat (*) pada akhirnya benar; yaitu, jika
terdapat m ∈ Ν sedemikian sehingga x
n
≤ y
n
untuk semua n ≥ m.
(b). Jika syarat (*) dari teorema 3.6.4 memenuhi dan jika lim (y
n
) = + ∞, tidak mesti berlaku bukan lim
(x
n
) = + ∞. Serupa juga, jika (*) dipenuhi dan jika lim (x
n
) = - ∞, belum tentu berlaku lim (y
n
) = - ∞.
Dalam pemakaian teorema 3.6.4 untuk menunjukkan bahwa suatu barisan menuju ke + ∞ [atau ke -∞]
kita perlu untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari barisan ini adalah pada akhirnya lebih besar dari
[atau lebih kecil] atau sama dengan suku-suku barisan lain yang bersesuaian dimana barisan lain kita
ketahui bahwa menuju ke + ∞ [atau ke - ∞].
Karena kadang-kadang sangat sulit untuk memperlihatkan ketaksamaan seba-
gaimana (*), maka “Teorema Perbandingan Limit” berikut masing-masing lebih
tepat untuk digunakan daripada Teorema 3.6.4.
3.6.5. Teorema. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) dua barisan bilangan real positif dan ang-
gaplah bahwa untuk suatu L∈R, L > 0, kita mempunyai
(#) lim
x
y
n
n
|
\

|
¹
| = L
Maka lim (x
n
) = + ∞ jika dan hanya jika lim (y
n
) = + ∞
Bukti :
Jika (#) berlaku, maka terdapat K∈N sedemikian sehingga

1
2
n
n
L
x
y
L < <
3
2
untuk semua n ≥ K
Dari sini kita mempunyai
( ) ( )
1
2
3
2
L y x L y
n n n
< < untuk semua n ≥ K. Sekarang ke-
simpulan didapat dari suatu modifikasi kecil teorema 3.6.4. Detailnya ditinggalkan
untuk dikerjakan oleh pembaca.
Pembaca dapat menunjukkan bahwa konklusi tidak perlu berlaku jika L = 0
atau L = + ∞. Akan tetapi ada suatu hasil parsial belum dapat ditunjukkan dalam ka-
sus-kasus ini, seperti telah diperlihatkan dalam latihan.
Latihan 3.6.
1. Tunjukkan bahwa jika (x
n
) suatu barisan tak terbatas, maka terdapat suatu sistem
barisannya yang divergen murni.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 108
2. Berikan contoh dari barisan-barisan (x
n
) dan (y
n
) yang divergen murni dengan y
n

0 untuk semua n∈N sedemikian sehingga
(a)
x
y
n
n
|
\

|
¹
| konvergen (b)
x
y
n
n
|
\

|
¹
| divergen murni
3. Tunjukkan bahwa jika x
n
> 0 untuk semua n∈N, maka lim (x
n
) = 0 jika dan hanya
jika lim
1
x
n
|
\

|
¹
| = + ∞
4. Perlihatkan kedivergenan murni dari barisan-barisan berikut :
(a).
( )
n (b).
( )
n 1 +
(c).
( )
n 1 − (d).
n
n 1 +
|
\

|
¹
|

5. Apakah barisan (n sin n) divergen murni ?
6. Misalkan (x
n
) divergen murni dan misalkan (y
n
) barisan sedemikian sehingga lim
(x
n
y
n
) masuk ke R. Tunjukkan bahwa (y
n
) konvergen ke 0.
7. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim
x
y
n
n
|
\

|
¹
| = 0
(a) Tunjukkan bahwa jika lim (x
n
) = + ∞, maka lim (y
n
) = + ∞
(b) Tunjukkan bahwa jika (y
n
) terbatas, maka lim (x
n
) = 0
8. Selidikilah bahwa kekonvergenan atau kedivergenan dari barisan-barisan berikut :
(a).
( )
n 2
2
− (b)
n
n 1
2
+
|
\

|
¹
|
(c).
n 1
n
2
+
|
\

|
¹
|
|
(d)
( )
sin n
9. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim
1
x
n
|
\

|
¹
| = + ∞
(a) Tunjukkan bahwa jika lim (y
n
) = + ∞, maka lim (y
n
) = + ∞
Pendahuluan
Analisis Real I 109
(b) Tunjukkan bahwa jika (x
n
) terbatas, maka lim (x
n
) = 0
10. Tunjukkan bahwa jika lim
a
n
n
L
|
\

|
¹
|
= , dimana l > 0, maka lim ( ) a
n
= + ∞.


























Aljabar Himpunan
Analisis Real I 110





LIMIT-LIMIT
Secara umum, “Analisis secara matematika” merupakan dasar matematika
yang mana dibangun secara sistematik dari variasi konsep-konsep limit. Kita telah
menjumpai salah satu dari konsep-konsep dasar tentang limit : kekonvergenan dari
suatu barisan bilangan real. Dalam bab ini kita akan membahas pengertian dari limit
suatu fungsi. Kita akan memperkenalkan pengertian limit ini dalam Pasal 4.1dan
pembahasan selanjutnya dalam Pasal 4.2. Ini akan dilihat bahwa bukan hanya penger-
tian limit suatu fungsi yang sangat paralel dengan konsep tentang limit barisan, akan
tetapi juga pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadan limit-limit fungsi sering dapat
dicobakan dengan pertimbangan tertentu yang berkaitan dengan barisan. Dalam Pasal
4.3 kita akan mengenal beberapa perluasan dari pengertian limit yang mana sering
dipergunakan.
4.1. Limit-limit Fungsi
Pada pasal ini kita akan mendefinisikan pengertian penting dari limit suatu
fungsi. Pembaca akan memperoleh pengertian yang paralel dengan definisi limit suatu
barisan. Gagasan secara intuisi dari suatu fungsi yang mempunyai limit L pada c
adalah bahwa nilai f(x) sangat dekat dengan L untuk x yang sangat dekat dengan c.
Akan tetapi kita perlu mempunyai teknik-teknik pengerjaan dengan gagasan “dekat
sekali”, dan ini memerlukan penggunaan pengertian lingkungan dari suatu titik. Jadi
pernyataan: “fungsi f mendekati L pada c” berarti bahwa nilai f(x) akan terletak dalam
sebarang lingkungan-ε yang diberikan dari L, asalkan kita mengambil x dalam ling-
kungan-δ dari c yang cukup kecil, dimana x ≠ c. Pemilihan δ akan bergantung pada ε
yang diberikan. Kita tidak ingin terpengaruh dengan nilai dari f(c) pada c, karena
BAB
4
Pendahuluan
Analisis Real I 111
kita hanya ingin memandang “kecenderungan” ditentukan oleh nilai dari f pada titik-
titik yang dekat sekali (tetapi berbeda dari) titik c.
Agar limit fungsi ini bermakna, maka diperlukan fungsi f yang terdefinisi pada
sekitar titik c. Kita menekankan bahwa fungsi f tidak perlu terdefinisi pada titik c atau
pada setiap titik sekitar c, akan tetapi cukup terdefinisi pada titik-titik yang dekat
sekali dengan c untuk menjadikan pembahasan menjadi menarik. Ini merupakan ala-
san untuk definisi berikut.
4.1.1. Definisi. Misalkan A⊆R. Suatu titik c∈R adalah titik cluster dari A
jika setiap lingkungan-δ V
δ
(c) = (c-δ,c+δ) dari c memuat aling kurang satu titik dari A
yang berbeda dengan c.
Catatan : Titik c merupakan anggota dari A atau bukan, tetapi meskipun demikian itu tidan
menentukan apakah c suatu titik cluster dari A atau bukan, karena secara khusus yang diperlukan
adalah bahwa adanya titik-titik dalam V
δ
(c)∩A yang berbeda dengan c agar c menjadi titik Cluster dari
A.
4.1.2. Teorema. Suatu bilangan c∈R merupakan titik cluster dari A⊆R jika
dan hanya jika terdapat barisan bilangan real (a
n
) dalam A dengan a
n
≠ c untuk semua
n∈N sedemikian sehingga lim (a
n
) = c.
Bukti. Jika c merupakan titik cluster dari A, maka untuk setiap n∈N, ling-
kungan-(1/n) V
1/n
(c) memuat paling kurang satu titik yang berbeda dengan c. Jika titik
yang dimaksud adalah a
n
, maka a
n
∈A, a
n
≠ c, dan lim (a
n
) = c.
Sebaliknya, jika terdapat suatu barisan (a
n
) dalam A\{c} dengan lim (a
n
) = c, maka
untuk sebarang δ>0 terdapat bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n≥K(δ),
maka an∈V
δ
(c). Oleh karena itu lingkungan-δ dari c V
δ
(c) memuat titik-titik a
n
,
n≥K(δ), yang mana termuat dalam A dan berbeda dengan c.
Contoh-contoh berikut ini menekankan bahwa suatu titik cluster dari suatu
himpunan bisa masuk dalam himpunan tersebut atau tidak. Bahkan lebih dari itu,
suatu himpunan bisa mungkin tidak mempunyai titik cluster.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 112
4.1.3. Contoh-contoh. (a) Jika A
1
= (0,1), maka setiap titik dalam interval tu-
tup [0,1] merupakan titik cluster dari A
1
. Perhatikan bahwa 0 dan 1 adalah titik cluster
dari A
1
, messkipun titik-titik itu tidak termuat dalam A
1
. Semua titik dalam A
1
adalah
titik cluster dari A
1
(mengapa ?)
(b) Suatu himpunan berhingga tidak mempunyai titik cluster (mengapa ?)
(c) Himpunan tak berhingga N tidak mempunyai titik cluster.
(d) Himpunan A
4
= {1/n : n∈N} hanya mempunyai 0 sebagai titik clusternya.
Tidak satu pun titik dalam A
4
yang merupakan titik cluster dari A
4
.
(e) Himpunan A
5
= I∩Q yaitu himpunan semua bilangan rasional dalam inter-
val tutup I={0,1]. Menurut Teorema Kepadatan 2.5.5 bahwa setiap titik dalam I me-
rupakan titik cluster dari A
5
.
Sekarang kita kembali kepada pengertian limit dari suatu fungsi pada titik
cluster domainnya.
Definisi Limit
Berikut ini kita akan menyajikan definisi limit dari suatu fungsi pada suatu
titik.

Gambar 4.1 1. Limit dari f pada c adalah L

x
y
Ada V
δ
(c)
(
(
(
(
o
o
Diberikan V
ε
(L)
L
c
f
Pendahuluan
Analisis Real I 113
4.1.4 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c suatu titik cluster dari
A. Kita katakan bahwa suatu bilangan real L merupakan limit dari f pada c jika
diberikan sebarang lingkungan-ε dari L V
ε
(L), terdapat lingkungan-δ dari c V
δ
(c)
sedemikian sehingga jika x ≠ c sebarang titik dari V
δ
(c)∩A, maka f(x) termasuk
dalam V
ε
(L). (Lihat Gambar 4.1.1)
Jika L merupakan suatu limit dari f pada c, maka kita juga mengatakan bahwa
f konvergen ke L pada c. Sering dituliskan
L = f
c x→
lim atau L = ( ) x f
c x→
lim
Kita juga mengatakan bahwa “f(x) menuju L sebagaimana x mendekat ke c”, atau
“f(x) menuju L sebagaimana x menuju ke c”. Simbol
F(x) → L sebagaimana x → c
juga diperguanakan untuk menyatakan fakta bahwa f mempunyai limit L pada c. Jika f
tidak mempunyai suatu limit pada c, kita kadang-kadang mengatakan bahwa f diver-
gen pada c.
Teorema berikut memberikan jaminan kepada kita akan ketunggalan
limit suatu fungsi, jika limit dimaksud ada. Ketunggalan limit ini bukan merupakan
bagian dari definisi limit, akan tetapi merupakan fakta yang harus dibuktikan.
4.1.5. Teorema. Jika f : A → R dan c suatu titik cluster dari A, maka f
hanya dapat mempunyai satu limit pada c.
Bukti. Andaikan kontradiksi, yaitu terdapat bilangan real L’ ≠ L” yang me-
menuhi definisi 4.1.4. Kita pilih ε>0 sedemikain sehingga lingkungan-ε V
ε
(L’) dan
V
ε
(L”) saling lepas. Sebagai contoh, kita dapat mengambil sebarang ε yang lebih kecil
dari ½¦L’ – L”¦. Maka menurut definisi 4.1.4, terdapat δ’ > 0 sedemikian sehingga
jika x sebarang titik dalam A∩V
δ’
(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam V
ε
(L’). Se-
cara serupa, terdapat δ” > 0 sedemikain sehingga jika x sebarang titik dalam
A∩V
δ”
(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam V
ε
(L”). Sekarang ambil δ = min
{δ’,δ”}, dan misalkan V
δ
(c) lingkungan-δ dari c. Karena c titik cluster dar A, maka
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 114
terdapat paling sedikit satu titik x
0
≠ c sedemikian sehingga x
0
∈A∩Vδ(c). Akibatnya,
f(x
0
) mesti termasuk dalam V
ε
(L’) dan V
ε
(L”), yang mana kontradiksi dengan fakta
bahwa kedua himpunan ini saling lepas. Jadi asumsi bahwa L’ ≠ L” merupakan limit-
limit f pada c menimbulkan kontradiksi.
Kriteria ε εε ε-δ δδ δ untuk Limit
Sekarang kita akan menyajikan formulasi yang ekivalen dengan definisi 4.1.4
dengan menyatakan syarat-syarat lingkungan dalam ketaksamaan. Contoh-contoh
yang mengikutinya akan menunjukkan bagaimana formulasi ini dipergunakan untuk
memperlihatkan limit-limit fungsi. Pada bagian akhir kita akan membahas kriteria
sekuensial (barisan) untuk limit suatu fungsi.
4.1.6 Teorema. Misalkan f : A → R dan c suatu titik cluster dari A; maka
(i) f
c x→
lim = L jika dan hanya jika
(ii) untuk sebarang ε > 0 terdapat suatu δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x∈A
dan 0 < ¦x - c¦ < δ(ε), maka ¦f(x) - L¦ < ε.
Bukti. (i) ⇒ (ii) Anggaplah bahwa f mempunyai limit L pada c. Maka diberi-
kan ε > 0 sebarang, terdapat δ = δ(ε) > 0 sedemikian sehingga untuk setiap x dalam A
yang merupakan unsur dalam lingkungan-δ dari c V
δ
c), x ≠ c, nilai f(x) termasuk
dalam lingkungan-ε dari L V
ε
(L). Akan tetapi, x∈V
δ
(c) dan x≠c jika dan hanya jika 0
< ¦x - c¦ < δ. (Perhatikan bahwa 0 < ¦x - c¦ adalah cara lain untuk menyatakan
bahwa x ≠ c). Juga, f(x) termasuk dalam V
ε
(L) jika dan hanya jika ¦f(x) – L¦ < ε. Jadi
jika x∈A memenuhi 0 < ¦x - c¦< δ, maka f(x) memenuhi ¦f(x) - L¦ <ε.
(ii) ⇒ (i) Jika syarat yang dinyatakan dalam (ii) berlaku, maka kita ambil lingkungan-
δ V
δ
(c) = (c - δ,c + δ) dan lingkungan-ε V
ε
(L) = (L - ε,L + ε). Maka syarat (ii) beraki-
bat jika x masuk dalam V
δ
(c), dimana x∈A dan x≠c, maka f(x) termasuk dalam V
ε
(L).
Oleh karena itu, menurut definisi 4.1.4, f mempunyai limit L pada c.
Sekarang akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan ba-
gaimana Teorema 4.1.6. sering dipergunakan.
Pendahuluan
Analisis Real I 115
4.1.7. Contoh-contoh.. (a) b
c x→
lim = b.
Untuk menjadi lebih eksplisit, misalkan f(x) = b untuk semua x∈R; kita claim
bahwa f
c x→
lim = b. Memang, diberikan ε > 0, misalkan δ = 1. Maka jika 0 <¦x - c¦< 1,
kita mem[unyai ¦f(x) - b¦ = ¦b - b¦ = 0 < ε. Karena ε > 0 sebarang, kita simpulkan
dari 4.1.6(ii) bahwa f
c x→
lim = b.
(b). x
c x
lim

= c.
Misalkan g(x) = x untuk semua x∈R. Jika ε > 0 misalkan δ(ε) = ε. Maka jika
0 <¦x - c¦ < δ(ε), maka secara triviaal kita mempunyai ¦g(x) - c¦ = ¦x - c¦ < ε.
Karena ε > 0 sebarang, maka kita berkesimpulan bahwa g
c x→
lim = c.
(c).
2
lim x
c x→
= c
2
.
Misalkan h(x) = x
2
untuk semua x∈R. Kita ingin membuat selisih
¦h(x) – c
2
¦ = ¦x
2
– c
2
¦
lebih kecil dari suatu ε > 0 yang diberikan dengan pengambilan x yang cukup dekat
dengan c. Untuk itu, kita perhatikan bahwa x
2
– c
2
= (x – c)(x + c). Selain itu, jka ¦x -
c¦ < 1, makaa
¦x¦ ≤ ¦c¦ + 1 dengan demikian ¦x + c¦ ≤ ¦x¦ + ¦c¦ ≤ 2¦c¦ + 1.
Oleh karena itu, jika ¦x - c¦ < 1, kita mempunyai
(*) ¦x
2
– c
2
¦ = ¦x – c¦¦x + c¦ ≤ (2¦c¦ + 1)¦x - c¦
Selain itu suku terakhir ini akan lebih kecil dari ε asalkan kita mengambil ¦x - c¦ <
ε/(2¦c¦ + 1). Akibatnya, jika kita memilih
δ(ε) = inf
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+1 2
, 1
c
ε
,
maka jika 0 <¦x - c¦ < δ(ε), pertama akan berlaku bahwa x - c¦ < 1 dengan demikian
(*) valid, dan oleh karena itu, karena ¦x - c¦ < ε/(2¦c¦ + 1) maka
¦x
2
– c
2
¦ < ε/(2¦c¦ + 1)¦x - c¦ < ε.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 116
Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0, maka den-
gan demikian kita telah menunjukkan bahwa (x) lim h
c x→
=
2
lim x
c x→
= c
2
.
(d)
c
c x
1
x
1
lim =

, jika c > 0.
Misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0 dan misalkan c > 0. Untuk menunjukkan
bahwa ϕ lim
c x→
= 1/c kita ingin membuat selisih
( )
c
x
1
− ϕ =
c x
1 1

lebih kecil dar ε >0 yang diberikan dengan pengambilan x cukup dekat dengan c > 0.
Pertama kita perhatikan bahwa

c x
1 1
− = ( ) x c
cx

1
= c x
cx

1

untuk x > 0.Itu berguna untuk mendapatkan batas atas dari 1/(cx) yang berlaku dala
suatu lingkungan c. Khususnya, jika ¦x - c¦ <
2
1
c, maka
2
1
c < x <
2
3
c (mengapa?),
dengan demikian
0 <
cx
1
<
2
2
c
untuk ¦x - c¦ <
2
1
c.
Oleh karena itu, untuk nilai-nilai x ini kita mempunyai
(#) ( )
c
x
1
− ϕ < c x
c

2
2
.
Agar suku terakhir lebih kecil dar ε, maka cukup mengambil ¦x – c¦ <
2
1
c
2
ε.
Akibatnya, jika kita memilih
δ(ε) = inf{
2
1
c,
2
1
c
2
ε},
maka jika 0 < ¦x - c¦ < δ(ε), pertama yang berlaku bahwa ¦x - c¦ <
2
1
c dengan
demikian (#) valid, dan olehnya itu,, karena ¦x – c¦ <
2
1
c
2
ε maka berlaku
( )
c
x
1
− ϕ =
c x
1 1
− < ε.
Pendahuluan
Analisis Real I 117
Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0, maka den-
gan demikian kita telah menunjukkan bahwa (x) lim ϕ
c x→
=
x
1
lim
c x→
=
c
1
.
(e).
5
4
1 x
4
lim
2
3
=
+


x
c x

Misalkan ψ(x) = (x
3
– 4)/(x
2
+ 1) untuk x∈R. Maka sedikit manipulasi secara
aljabar memberikan
( )
5
4
x − ψ =
( ) 1 5
24 4 5
2
2 3
+
− −
x
x x

=
( ) 1 5
12 6 5
2
2
+
− +
x
x x
¦x - 2¦
Untuk mendapatkan suatu batas dari koefiien ¦x - 2¦, kita membatasi x dengan syarat
1 < x < 3. Unntuk x dalam interval ini, kita mempunyai 5x
2
+ 6x + 12 ≤ 5(3
2
) + 6(3) +
12 =75 dan 5(x
2
+ 1) ≥ 5(1 + 1) = 10, dengan demikian
( )
5
4
x − ψ ≤
10
75
¦x - 2¦ =
2
15
¦x - 2¦.
Sekarang diberikan ε > 0, kita pilih
δ(ε) = inf
)
`
¹
¹
´
¦
ε
15
2
, 1 .
Maka jika 0 <¦x - 2¦ < δ(ε), kita mempunyai ¦ψ(x) – (4/5)¦ ≤ (15/2)¦x - 2¦ ≤ ε.
Karena ε > 0 sebarang, maka contoh (e) terbukti.
Kriteria Barisan Untuk Limit
Berikut ini merupakan formulasi penting dari limit suatu fungsi dalam kai-
tannya dengan limir suatu barisan. Karakterisasi ini memungkinkan teori-teori pada
bab3 dapat dipergunakan untuk mempelajari limit-limit fungsi.
4.1.8. Teorema. (Kriteria Barisan) Misalkan f : A → R dan c suatu titik
cluster dari A; maka :
(i) f
c x→
lim = L jika dan hanya jika
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 118
(ii) untuk sebarang barisan (x
n
) dalam A yang konvergen ke c sedemikian se-
hingga x ≠ c untuk semua n∈N, barisan (f(x
n
)) konvergen ke L.
Bukti. (i) ⇒ (ii). Anggaplah f mempunyai limit L pada c, dan asumsikan (x
n
)
barisan dalam A dengan ( )
n
c x
x

lim = c dan x
n
≠ c untuk semua n∈N. Kita mesti mem-
buktikan bahwa barisan (f(x
n
)) konvergen ke L. Misalkan diberikan ε > 0 sebarang.
Maka dengan kriteria ε-δ 4.1.6, terdapat δ > 0 sedemikian sehingga jika x memenuhi
0 <¦x - c¦ < δ, dimana x∈A maka f(x) memenuhi ¦f(x) - L¦ < ε. Sekarang kita akan
menggunakan definisi kekonvergenan barisan untuk δ yang diberikan untuk mem-
peroleh bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n > K(δ) maka ¦x
n
– c¦ < δ.
Akan tetapi untuk setiap x
n
yang demikian kita mempunyai ¦f(x
n
) - L¦ < ε. Jadi, jika n
> K(δ), maka ¦f(x
n
) - L¦ < ε. Oleh karena itu, barisan (f(x
n
)) konvergen ke L.
(ii) ⇒ (i). [Pembuktian ini merupakan argumen kontrapositif.] Jika (i) tidak benar,
maka terdapat suatu lingkungan-ε
0
dari L, ( ) L V
0
ε
, sedemikian sehingga lingkunga-δ
apapun yang kita pilih, akan selalu terdapat paling kurang satu x
δ
dalam A∩V
δ
(c)
dengan x
δ
≠ c sedemikian sehingga f(x
δ
)∉ ( ) L V
0
ε
. Dari sini untuk setiap n∈N, ling-
kungan-(1/n) dari c memuat suatu bilangan x
n
sedemikian sehingga
0 <¦x
n
- c¦ < 1/n dan x
n
∈A,
tetapi sedemikian sehingga
¦f(x
n
) - L¦ ≥ ε
0
untuk semua n∈N.
Kita menyimpulkan bahwa barisan (x
n
) dalam A\{c} konvergen ke c, tetapi barisan
(f(x
n
)) tidak konvergen ke L. Oleh karena itu kita telah menunjukkan bahwa jika (i)
tidak benar, maka (ii) juga tidak benar. Kita simpulkan bahwa (ii) menyebabkan (i).
Pada seksi selanjutnya kita akan melihat bahwa beberapa sifat-sifat dasar limit
fungsi dapat diperlihatkan dengan penggunaan sifat-sifat untuk kekonvergenan bari-
san yang bersesuaian. Sebagai contoh, kita telah kerjakan dengan barisan bahwa jika
(x
n
) sebarang barisan yang konvergen ke c, maka barisan (x
n
2
) konvergen ke c
2
. Oleh
Pendahuluan
Analisis Real I 119
karena itu dengan kriteria barisan, kita dapat menyimpulkan bahwa fungsi h(x) = x
2

mempuntai limit ) ( lim x h
c x→
= c
2
.
Kriteria Kedivergenan
Kadang-kala penting untuk dapat menunjukkan (i) bahwa suatu bilangan ter-
tentu bukan limit dari suatu fungsi pada suatu titik, atau (ii) bahwa suatu fungsi tidak
mempunyai suatu limit pada suatu titik. Hasil berikut merupakan suatu konsekuensi
dari pembuktian teorema 4.1.8. Pembuktiannya secara detail ditinggalkan untuk
dikerjakan oleh pembaca.
4.1.9. Kriteria Divergensi. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik
cluster dari A.
(a). Jika L∈R, maka f tidak mempunyai limit L pada c jika dan hanya jika
terdapat suatu barisan (x
n
) dalam A dengan x
n
≠ c untuk semua n∈N sedemikian se-
hingga barisan (x
n
) konvergen ke c tetapi barisan (f(x
n
)) tidak konvergen ke L.
(b). Fungsi f tidak mempunyai limit pada c jika dan hanya jika terdapat suatu
barisan (x
n
) dalam A dengan x
n
≠ c untuk semua n∈N sedemikian sehingga barisan
(x
n
) konvergen ke c tetapi barisan (f(x
n
)) tidak konvergen dalam R.
Berikut ini diberikan beberapa aplikasi dari kriteria divergensi untuk
menunjukkan bagaimana kriteria itu dapat dipergunakan.
4.1.10. Contoh-contoh. (a). ( ) x
x
/ 1 lim
0 →
tidak ada dalam R.
Seperti Contoh dalam 4.1.7(d), misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0. Akan tetapi,
disini kita menyelidiki pada c = 0. Argumen yang diberikan pada contoh 4.1.7(d) ga-
gal berlaku jika c = 0 karena kita tidak akan memperoleh suatu batas sebagaimana
dalam (#) pada contoh tersebut. Jika kita mengambil barisan (x
n
) dengan x
n
= 1/n un-
tuk n∈N, maka lim (x
n
) = 0, tetapi ϕ(x
n
) = 1/1/n = n. Seperti kita ketahui bahwa bari-
san (ϕ(x
n
)) = (n) tidak konvergen dalam R, karena barisan ini tidak terbatas. Dari sini,
dengan teorema 4.1.9(b), ( ) x
x
/ 1 lim
0 →
tidak ada dalam R. [Akan tetapi, lihat contoh
4.3.9(a).]
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 120
(b) ( ) x
x
sgn lim
0 →
tidak ada.

Misalkan fungsi signum didefinisikan dengan
sgn (x) =
¦
¹
¦
´
¦
< −
=
> +
0 untuk x , 1
0 untuk x 0,
0 untuk x , 1

Perhatikan bahwa sgn(x) = x/¦x¦ untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.1.2) Kita akan menun-
jukkan bahwa sgn tidak mempunyai limit pada x = 0. Kita akan mengerjakan ini den-
gan menunjukkan bahwa terdapat barisan (x
n
) sedemikian sehingga lim(x
n
) = 0, tetapi
sedemikian sehingga (sgn(x
n
)) tidak konvergen.
Misalkan x
n
= (-1)
n
/n untuk n∈N dengan demikian lim(x
n
) = 0. Akan tetapi ,
karena
sgn (x
n
) = (-1)
n
untuk n∈N,
maka dari Contoh 3.4.5(a), (sgn(x
n
)) tidak konvergen. Oleh karena itu ( ) x
x
/ 1 lim
0 →
tidak
ada.
(c) ( ) x
x
/ 1 sin lim
0 →
tidak ada dalam R.
Misalkan g(x) = sin(1/x) untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.1.3.) Kita akan menun-
jukkan bahwa g tidak mempunyai limit pada c = 0, dengan memperlihatkan dua arisan
(x
n
) dan (y
n
) dengan x
n
≠ 0 dan y
n
≠ 0 untuk semua n∈N dan sedemikian sehingga lim
Gambar 4.1.2 Fungsi Signum
.
(
)
-1
1
0
Pendahuluan
Analisis Real I 121
(x
n
) = 0 = lim (y
n
), tetapi sedemikian sehingga lim (g(x
n
)) ≠ lim (g(y
n
)). Mengingat
Teorema 4.1.9, ini mengakibatkan g
x
lim
0 →
tidak ada. (Jelaskan mengapa.)
Gambar 4.1 3. Grafik f(x) = sin(1/x), x ≠ 0

Kita mengingat kembali dari kalkulus bahwa sin t = 0 jika t = nπ untuk n∈Z,
dan sin t = +1 jika t = ½π + 2πn untuk n∈Z. Sekarang missalkan x
n
= 1/nπ untuk
n∈N; maka lim (x
n
) = 0 dan g(x
n
) = 0 untuk semua n∈N, dengan demikian lim
(g(x
n
)) = 0. Di pihak lain, misalkan y
n
= (½π + 2πn)
-1
untuk n∈N; maka lim (y
n
) = 0
dan g(y
n
) = sin (½π + 2πn) = 1 untuk semua n∈N, dengan demikian lim (g(y
n
)) = 1.
Kita simpulkan bahwa ( ) x
x
/ 1 sin lim
0 →
tidak ada.
Soal-soal Latihan
1. Tentukan suatu syarat pada ¦x - 1¦ yang akan menjamin bahhwa :
(a) ¦x
2
- 1¦ < ½,
(b) ¦x
2
- 1¦ < 1/10
3

(c) ¦x
2
- 1¦ < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan,
(d) ¦x
3
- 1¦ < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 122
2. Misalkan c suatu titik cluster dari A⊆R dan f : A → R. Buktikan bahwa ( ) x lim
0
f
x→
=
L jika dan hanya jika ( ) L f
x


x lim
0
= 0.
3. Misalkan f : R → R, dan c∈ R. Tunjukkan bahwa ( ) x lim f
c x→
= L jika dan hanya jika
( ) c f
x
+

x lim
0
= L.
4. Misalkan f : R → R, I⊆ R suatu interval buka, dan c∈I. Jika f
1
merupakan pembata-
san dari f pada I, tunjukkan bahwa f
1
mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f
mempunyai suatu limit pada c dan tunjukkan pula bahwa f
c x
lim

=
1
lim f
c x→
.
5. Misalkan f : R → R, J⊆ R suatu interval tutup, dan c∈J. Jika f
2
merupakan pembata-
san dari f pada I, tunjukkan bahwa jika f mempunyai suatu limit pada c dan hanya jika f
2

mempunyai suatu limit pada c. Tunjukkan bahwa tidak berlaku bahwa jika f
2
mempun-
yai suatu limit pada c dan hanya jika f mempunyai suatu limit pada c.
6. Misalkan I = (0,a), a > 0, dan misalkan g(x) = x
2
untuk x∈I. Untuk sebarang x,c dalam I,
tunjukkan bahwa ¦g(x) – c
2
¦ ≤ 2a¦x - c¦. Gunakan ketaksamaan ini untuk membuktikan
bahwa
2
lim x
c x→
= c
2
untuk sebarang c∈I.
7. Misalkan I⊆ R suatu interval, f : I → R, dan c∈I. Misalkan pula terdapat K dan L
sedemikian sehingga ¦f(x) - L¦≤K¦x - c¦ untuk x∈I. Tunjukkan bahwa f
c x
lim

= L.
8. Tunjukkan bahwa
3
lim x
c x→
= c
3
untuk sebarang c∈ R.
9. Tunjukkan bahwa c x
c x
=

lim untuk sebatang c ≥ 0.
10. Gunakan formulasi ε-δ dan formulasi formulasi barisan dari pengertian limit untuk mem-
perlihatkan berikut :
(a)
x
x


1
1
lim
2
= -1 (x > 1), (b)
2
1
1
lim
1
=
+

x
x
x
(x > 0),
(c)
x
x
x
2
0
lim

= 0 (x ≠ 0), (d)
2
1
1
1
lim
2
1
=
+
+ −

x
x x
x
(x > 0).
11. Tunjukkan bahwa limit-limit berikut ini tidak ada dalam R:
Pendahuluan
Analisis Real I 123
(a)
2
0
1
lim
x
x→
(x > 0), (b)
x
x
1
lim
0 →
(x > 0),
(c) . ( ) ( ) x x
x
sgn lim
0
+

, (d) |
¹
|

\
|

2
1
1
sin lim
x
x
(x ≠ 0).
12. Misalkan fungsi f : R → R mempunyai limit L pada 0, dan misalkan pula a > 0. Jika g
: R → R didefinisikan oleh g(x) = f(ax) untuk x∈R, tunjukkan bahwa g
x
lim
0 →
= L.
13. Misalkan c titik cluster dari A⊆ R dan f : A → R sedemikian sehingga ( ) ( )
2
lim x f
c x→

= L. Tunjukkan bahwa jika L =,0, maka ( ) x f
c x
lim

= 0. Tnjukkan dengan contoh bahwa
jika L ≠ 0, maka f bisa mungkin tidak mempunyai suatu limit pada c.
14. Misalkna f : R → R didefinisikan oleh f(x) = x jika x rasional, dan f(x) = 0 jika x ira-
sional. Tunjukkan bahwa f mempunyai suatu limit pada x = 0. Gunakan argumen barisan
untuk menunjukkan bahwa jika c ≠ 0, maka f tidak mempunyai limit pada c.
4.2. Teorema-teorema Limit
Sekarang kita akan memperlihatkan hasil-hasil yang dipergunakan dalam me-
nentukan limit fungsi. Hasil-hasil ini serupa dengan teorema-teorema limit untuk ba-
risan.yang telah diperlihatkan pada Pasal 3.2. Pada kenyataannya, dalam banyak kasus
hasil-hasil ini dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4.1.8 dan hasil-hasil
dari Pasal 3.2. Secara alternatif, hasil-hasil dalam Pasal ini dapat dibuktikan dengan
menggunakan argumen ε-δ yang sangat serupa untuk hal yang sama dalam Pasal 3.2.
4.2.1 Definisi. Misalkan A⊆ R, f : R → R, dan c∈R suatu titik cluster dari
A. Kita mengatakan bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c jika terdapat
lingkungan-δ dari c V
δ
(c) dan suatu konstanta M > 0 sedemikian sehingga kita mem-
punyai ¦f(x)¦ ≤ M untuk semua x ∈ A∩V
δ
(c).
4.2.2 Teorema Jika A⊆ R dan f : A → R mempunyai suatu limit pada c∈
R, maka f terbatas pada suatu lingkungan dar c.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 124
Bukti. Jika L = ) ( lim x f
c x→
, maka oleh Teorema 4.1.6, dengan ε = 1, terdapat δ
> 0 sedemikian sehingga jika 0 <¦x - c¦ < δ, maka ¦f(x) - L¦ < 1; dari sini (oleh Teo-
rema Akibat 2.3.4(a)),
¦f(x)¦ - ¦L¦ ≤ ¦f(x) - L¦ < 1.
Oleh karena itu, jika x∈A∩V
δ
(c), x≠c, maka ¦f(x)¦ ≤ L + 1. Jika c∉A, kita ambil M =
¦L¦+ 1, sedangkan jika c∈A kita ambil M = sup{¦f(c)¦,¦L¦+1}. Ini berarti bahwa jika
c∈A∩V
δ
(c), maka ¦f(x)¦ ≤ M. Ini menunjukkan bahwa f terbatas pada V
δ
(c) suatu
lingkungan-δ dari c.
Definisi berikut serupa dengan definisi 3.1.3 untuk jumlah, selisih, ha-
sil kali, dan hasil bagi barisan-barisan.
4.2.3 Definisi Misalkan A⊆R dan misalkan pula f dan g fungsi-fungsi
yang terdefinisi pada A ke R. Kita mendefinisikan jumlah f + g, selisih f – g, dan ha-
sil kali fg pada A ke R sebagai fungsi-fungsi yang diberikan oleh
(f + g)(x) = f(x) + g(x), (f - g)(x) = f(x) - g(x),
(fg)(x) = f(x)g(x),
untuk semua x∈A. Selanjutnya, jika b∈R, kita definisikan kelipatan bf sebagai
fungsi yang diberikan oleh
(bf)(x) = bf(x) untuk semua x∈A.
Akhirnya, jika h(x) ≠ 0 untuk x∈A, kita definisikan hasil bagi f/h adalah fungsi yang
didefinisikan sebagai
( )
( )
( ) x h
x f
x
h
f
= |
¹
|

\
|
untuk semua x∈A.
4.2.4 Teorema. Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi pada A ke R,
dan c∈R titik cluster dari A. Selanjutnya, misalkan b∈R.
(a) Jika f
c x→
lim = L dan g
c x→
lim = M, maka
( ) g f
c x
+

lim = L + M, ( ) g f
c x


lim = L -
M,
Pendahuluan
Analisis Real I 125
( ) fg
c x→
lim = LM, ( ) bf
c x→
lim = bL.
(b) Jika h : A → R, h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A, dan jika h
c x→
lim = H
≠ 0, maka

H
L
h
f
c x
= |
¹
|

\
|

lim .
Bukti. Salah satu cara pembuktian dari teorema-teorema ini sangat se-
rupa dengan pembuktian Teorema 3.2.3. Secara alternatif, teorema ini dapat dibukti-
kan dengan menggunakan Teorema 3.2.3 dan Teorema 4.1.8. Sebagai contoh, misal-
kan (x
n
) sebarang barisan dalam A sedemikain sehingga x
n
≠ c untuk semua n∈N,dan
c = lim (x
n
). Menurut Teorema 4.1.8, bahwa
Lim (f(x
n
)) = L, lim (g(x
n
)) = M.
Di pihak lain, Definisi 4.2.3 mengakibatkan
(fg)(x
n
) = f(x
n
)g(x
n
) untuk semua n∈N.
Oleh karena itu suatu aplikasi dari Teorema 3.2.3 menghasilkan
Lim ((fg)(x
n
)) = lim (f(x
n
)g(x
n
))
= (lim f(x
n
)) (lim (g(x
n
)))
= LM.
Bagian lain dari teorema ini dibuktikan dengan cara yang serupa. Kita
tinggalkan untuk dilakukan oleh pembaca.
Catatan (1) Kita perhatikan bahwa, dalam bagian (b), asumsi tambahan dibuat
bahwa H = h
c x→
lim ≠ 0. Jika asumsi ini tidak dipenuhi, maka

( )
( ) x h
x f
c x
lim


tidak ada. Akan tetapi jika limit ini ada, kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk menghi-
tungnya.
(2) Misalkan A∈R, dan f
1
, f
2
, …, f
n
fungsi-fungsi pada A ke R, dan c suatu titk clus-
ter dari A. Jika
L
k
=
k
lim f
c x→
untuk k = 1,2, …, n,
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 126
maka ,menurut Teorema 4.2.4 dengan argumen induksi kita peroleh bahwa
L
1
+ L
2
+ … + L
n
= ( )
n
c x
f f f + + +

L
2 1
lim
dan
L
1
· L
2
· … · L
n
= ( )
n
c x
f f f ⋅ ⋅ ⋅

L
2 1
lim
(3) Khususnya, kita deduksi dari (2) bahwa jika L = f
c x→
lim dan n∈N, maka
L
n
= ( ) ( )
n
c x
x f

lim
4.2.5 Contoh-contoh (a) Beerapa limit yang diperlihatkan dalam Pasal 4.1 dapat
dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4.2.4. Seagai contoh, mengikuti hasil ini
bahwa karena x
c x
lim

= c, maka
2
lim x
c x→
= c
2
, dan jika c > 0, maka

c x
c x
1 1
lim =

.
(b)
2
lim
→ x
(x
2
+ 1)(x
3
– 4) = 20
Berdasarkan Teorema 4.2.4, kita peroleh bahwa

2
lim
→ x
(x
2
+ 1)(x
3
– 4) = (
2
lim
→ x
(x
2
+ 1))(
2
lim
→ x
(x
3
– 4))
= 5(4) = 20.
(c) .
5
4
1
4
lim
2
3
2
=
|
|
¹
|

\
|
+


x
x
x

Jika kita menggunakan Teorema 4.2.4(b), maka kita mempunyai

|
|
¹
|

\
|
+


1
4
lim
2
3
2
x
x
x
=
( )
( )
.
5
4

1 lim
4 lim
2
2
3
2
=
+



x
x
x
x

Perhatikan bahwa karena limit pada penyebut [yaitu ( ) 1 lim
2
2
+

x
x
= 5] tidak sama den-
gan 0, maka Teorema 4.2.4(b) dapat dipergunakan.
(d) .
3
4
6 3
4
lim
2
2
=
|
|
¹
|

\
|



x
x
x

Pendahuluan
Analisis Real I 127
Jika kita misalkan f(x) = x
2
– 4 dan h(x) = 3x – 6 untuk x∈R, maka kita tidak
dapat menggunakan Teorema 4.22.4(b) untuk meneghitung
2
lim
→ x
(f(x)/h(x)) sebab
H = ( ) x h
x
lim
2 →
= ( ) 6 3 lim
2


x
x

= 3 x
x
lim
2 →
- 6 = 3(2) – 6 = 0
Akan tetapi, jika x ≠ 2, maka berarti bahwa

6 3
4
2


x
x
=
( )( )
( ) 2 3
2 2

+ −
x
x x
=
3
1
(x + 2).
Oleh karena itu kita mempunyai

|
|
¹
|

\
|



6 3
4
lim
2
2
x
x
x
= ( ) 2 lim
3
1
2
+

x
x
= |
¹
|

\
|
+

2 lim
2
3
1
x
x

=
3
1
(2 + 2) =
3
4

Perhatikan bahwa fungsi g(x) = (x
2
– 4)/(3x – 6) mempunyai limit pada x = 2
meskipun tidak terdefinisi pada titik tersebut.
(e)
x
x
1
lim
0 →
tidak ada dalam R.
Tentu saja
0
lim
→ x
1 = 1 dan H = x
x
lim
0 →
= 0. Akan tetapi, karena H = 0, kita tidak
dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk menghitung
x
x
1
lim
0 →
. Kenyataannya,
seperti kita telah lihat pada Contoh 4.1.10(a), fungsi ϕ(x) = 1/x tidak mempunyai
limit pada x = 0. Kesimpulan ini mengikuti juga Teorema 4.2.2 karena fungsi ϕ(x) =
1/x tidak terbatas pada lingkungan daro x = 0. (Mengapa?)
(f) Jika p fungsi polinimial, maka ) ( lim x p
c x→
= p(c).
Misalkan p fungsi polinimial pada R dengan demikian p(x) = a
n
x
n
+ a
n-1
x
n-1
+
… + a
1
x + a
0
untuk semua x∈R. Menurut Teorema 4.2.4 dan fakta bahwa
k
lim x
c x→
=
c
k
, maka
) ( lim x p
c x→
= [ ]
0 1
1
1
lim a x a x a x a
n
n
n
n
c x
+ + + +



L
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 128
= ) ( lim
n
n
c x
x a

+ ) ( lim
1
1



n
n
c x
x a + … + ) ( lim
1
x a
c x→
+
0
lim a
c x→

= a
n
c
n
+ a
n-1
c
n-1
+ … + a
1
c + a
0

= p(c).
Dari sini ) ( lim x p
c x→
= p(c) untuk ssebarang fungsi polinomial p.
(g) Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R dan jika q(c) ≠ 0, maka

( )
( )
( ) c q
c p
x q
x p
c x
=

) (
lim .
Karena q(x) suatu fungsi polinomial, berarti menurut sutu teorema alam aljabar
bahwa terdapat paling banyak sejumlah hingga bilangan real α
1
, α
2
, … ,α
m
[pembuat
nol dari q(x)] sedemikain sehingga q(α
j
) = 0 dan sedemikian sehingga jika x∉{α
1
, α
2
,
…, α
m
} maka q(x) ≠ 0. Dari sini, jika x∉{α
1
, α
2
, …, α
m
} kita dapat mendefinisikan
r(x) =
( )
( ) x q
x p
.
Jika c bukan pembuat nol dari q(x), maka q(c) ≠ 0, dari berdasarkan bagian (f) bahwa
( ) x q
c x
lim

= q(c). ≠ 0. Oleh karena itu kita dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk
menyimpulkan bahwa

( ) ( )
( )
( ) c q
c p
x q
x p
x q
x p
c x
c x
c x
= =



lim
) ( lim
) (
lim .
Hasil berikut adalah suatu analog langsung dari Teorema 3.2.6.
4.2.6 Teorema Misalkan A⊆R. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari
A. Jika
a ≤ f(x) ≤ b untuk semua x∈A, x ≠ c,
dan jika f
c x
lim

ada, maka a ≤ f
c x
lim

≤ b.
Bukti. Jika L = f
c x
lim

, maka menurut Teorema 4.1.8 bahwa jika (x
n
) sebarang
barisan bilangan real sedemikain sehingga c≠ x
n
∈A untuk semua n∈N dan jika bari-
Pendahuluan
Analisis Real I 129
san (x
n
) konvergen ke c, maka barisan (f(x
n
)) konvergen ke L. Karena a ≤ f(x
n
) ≤ b
untuk semua n∈N, berarti menurut Teorema 3.2.6 bahwa a ≤ L ≤ b.
Sekarang kita akan menyatakan suatu hasil yang analog dengan Teorema Apit
3.2.7. Kita akan tinggalkan pembuktiannya untuk dicoba oleh pembaca.
4.2.7 Teorema Apit. Misalkan A⊆R, f,g,h : A → R, dan c∈R suatu titik
cluster dari A. Jika
f(x) ≤ g(x) ≤ h(x) untuk semua x∈A, x ≠ c,
dan jika f
c x
lim

= L = h
c x
lim

, maka g
c x
lim

= L.
4.2.8 Contoh-contoh (a)
2 / 3
0
lim x
x→
= 0 (x > 0).
Misalkan f(x) = x
3/2
untuk x > 0. Karena ketaksamaan x < x
1/2
≤ 1 berlaku un-
tuk 0 < x ≤ 1, maka berarti bahwa x
2
< f(x) = x
3/2
≤ x untuk 0 < x ≤ 1. Karena

2
0
lim x
x→
= 0 dan x
x
lim
0 →
= 0,
maka dengan menggunakan Teorema Apit 4.2.7 diperoleh
2 / 3
0
lim x
x→
= 0.
(b) x
x
sin lim
0 →
= 0.
Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan diba-
has pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa
-x ≤ sin x ≤ x untuk semua x ≥ 0.
Karena ( ) x
x
±

lim
0
= 0, maka menurut Teorema Apit bahwa x
x
sin lim
0 →
= 0.
(c) x
x
cos lim
0 →
= 1.
Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan diba-
has pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa
(*) 1 - ½x
2
≤ cos x ≤ 1 untuk semua x ∈ R.
Karena ( )
2
2
1
0
1 lim x
x


= 1, maka menurut Teorema Apit bahwa x
x
cos lim
0 →
= 1.
(d) |
¹
|

\
| −

x
x
x
1 cos
lim
0
= 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 130
Kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2.4 (b) secara langsung untuk men-
ghitung limit ini. (Mengapa?) Akan tetapi, dari ketaksamaan (*) dalam bagian (c)
bahwa
-½x ≤ (cos x – 1)/x ≤ 0 untuk x > 0
dan juga bahwa
0 ≤ (cos x – 1)/x ≤ ½x untuk x < 0.
Sekarang misalkan f(x) = - x/2 untuk x ≥ 0 dan f(x) = 0 untuk x < 0, dan misalkan
pula h(x) = 0 untuk x ≥ 0 dan h(x) = -x/2 untuk x < 0. Maka kita mempunyai
f(x) ≤ (cos x – 1)/x ≤ h(x) untuk x ≠ 0.
Karena , mudah dilihat (Bagaimana?) bahwa f
x
lim
0 →
= h
x
lim
0 →
, maka menurut Teorema
Apit bahwa
x
x
x
1 cos
lim
0


= 0.
(e) |
¹
|

\
|

x
x
x
sin
lim
0
= 1.
Sekali lagi, kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk menghitung
limit ini. Akan tetapi, dapat dibuktikan (pada lanjutan diktat ini) bahwa
x -
6
1
x
3
≤ sin x ≤ x untuk x ≥ 0
dan bahwa
x ≤ sin x ≤ x -
6
1
x
3
untuk x ≤ 0.
Oleh karena itu berarti (Mengapa?) bahwa
1 -
6
1
x
2
≤ (sin x)/x ≤ 1 untuk semua x ≠ 0.
Tetapi karena ( )
2
6
1
0
1 lim x
x


= 1 -
2
0
6
1
lim x
x→
= 1, kita simpulkan dari Teorema Apit
bahwa |
¹
|

\
|

x
x
x
sin
lim
0
= 1.
(f) ( ) ( ) x x
x
/ 1 sin lim
0 →
= 0.
Misalkan f(x) = x sin (1/x) untuk x ≠ 0. Karena –1 ≤ sin z ≤ 1 untuk semua z
∈ R, kita mempunyai ketaksamaan
Pendahuluan
Analisis Real I 131
-¦x¦ ≤ f(x) = x sin(1/x) ≤ ¦x¦
untuk semua x ∈ R, x ≠ 0. Karena x
x 0
lim

= 0, maka dari Teorema Apit diperoleh
bahwa f
x 0
lim

= 0.
Terdapat hasil-hasil yang paralel dengan Teorema 3.2.9 dan 3.2.10; akan
tetapi, akan dilewatkan untuk latihan bagi para pembaca. Kita tutup bagian ini dengan
suatu hasil yang merupakan konvers parsial dari Teorema 4.2.6.
4.2.9 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari
A. Jika
f
c x→
lim > 0 [ atau, f
c x→
lim < 0],
maka terdapat suatu lingkungan dari c V
δ
(c) sedemikian sehingga f(x) > 0 [atau f(x) <
0] untuk semua x∈A∩V
δ
(c), x ≠ c.
Bukti. Misalkan L = f
c x→
lim and anggaplah L > 0. Kita ambil ε = ½L > 0
dalam Teorema 4.1.6(b), dan diperoleh suatu bilangan δ > 0 sedemikain sehingga jika
0 <¦x - c¦< δ dan x∈A, maka ¦f(x) - L¦ < ½L. Oleh karena itu (Mengapa?) berarti
bbahwa jika x∈A∩V
δ
(c), x ≠ c, maka f(x) > ½L > 0.
Jika L < 0, dapat digunakan argumen yang serupa.
Latihan 4.2
1. Gunakan Teorema 4.2.4 untuk menentukan limit-limit berikut :
(a)
1
lim
→ x
(x + 1)(2x + 3) (x∈R), (b)
2
2
lim
2
2
1

+

x
x
x
(x > 0),
(c) |
¹
|

\
|

+

x x
x
2
1
1
1
lim
2
(x > 0), (d)
2
1
lim
2
0
+
+

x
x
x
(x∈R)
2. Tentukan limit-limit berikut dan nyatakan teorema-teorema mana yang digunakan dalam
setiap kasus. (Anda bisa menggunakan latihan 14 di bawah.)
(a)
3
1 2
lim
2
+
+

x
x
x
(x > 0), (b)
2
4
lim
2
2



x
x
x
(x > 0),
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 132
(c)
( )
x
x
x
1 1
lim
2
0
− +

(x > 0), (d)
1
1
lim
1



x
x
x
(x > 0)
3. Carilah
2
0
2
3 1 2 1
lim
x x
x x
x
+
+ − +

dimana x > 0.
4. Buktikan bahwa ( ) x
x
/ 1 cos lim
0 →
tidak ada, akan tetapi ( ) x x
x
/ 1 cos lim
0 →
= 0.
5. Misalkan f,g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R, dan misalkan c suatu
titik cluster dari A. Anggaplah bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c dan g
c x→
lim
= 0. Buktikan bahwa fg
c x→
lim = 0.
6. Gunakanlah formuasi ε-δ dari limit fungsi untuk membuktikan pernyataan pertama dalam
Teorema 4.2.4(a).
7. Gunakanlah formulasi sekuensial untuk limit fungsi untuk membuktikan Teorema
4.2.4(b).
8. Misalkan n∈N sedemikian sehingga n ≥ 3. Buktikan ketaksamaan –x
2
≤ x
n
≤ x
2
untuk –1
< x < 1. Selanjutnya, gunakan fakta bahwa
2
0
limx
x→
= 0 untuk menunjukkan bahwa
n
x
x
0
lim

= 0.
9. Misalkan f,g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R, dan misalkan c suatu
titik cluster dari A.
(a) Tunjukkan bahwa jika f
c x→
lim dan ( ) g f
c x
+

lim ada, tunjukkanlah bahwa f
c x→
lim ada.
(b) Jika f
c x→
lim dan fg
c x→
lim ada, apakah juga g
c x→
lim ada ?
10. Berikan contoh fungsi-fungsi f dan g sedemikian sehingga f dan g tidak mempunyai limit
pada suatu titik c, tetapi sedemikian sehingga fungsi-fungsi f + g dan fg mempunyai limit
pada c.
11. Tentukan apakah limit-limit berikut ada dalam R.
(a) ( )
2
0
/ 1 sin lim x
x→
(x ≠ 0), (b) ( )
2
0
/ 1 sin lim x x
x→
(x ≠ 0),
(c) ( ) x
x
/ 1 sin sgn lim
0 →
(x ≠ 0), (d) ( )
2
0
/ 1 sin lim x x
x→
(x > 0)
Pendahuluan
Analisis Real I 133
12. Misalkan f : R → R sedemikian sehingga f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x,y dalam
R. Anggaplah f
x 0
lim

= L ada. Buktikan bahwa L = 0, dan selanjutnya buktikan bahwa f
mempunyai suatu limit pada setiap titik c∈R. [Petunjuk : Pertama-tama catat bahwa
f(2x) = f(x) + f(x) = 2f(x) untuk semua x∈R. Juga perhatikan bahwa f(x) = f(x – c) + f(c)
untuk semua x,c dalam R.]
13. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. Jika f
x 0
lim

ada, dan jika
¦f¦ menyatakan fungsi yang terdefinisi untuk x∈A dengan ¦f¦(x) = ¦f(x)¦, buktikan
bahwa f
x 0
lim

= ¦ f
x 0
lim

¦.
14. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. Tambahan, anggaplah
bahwa f(x) ≥ 0 untuk semua x ∈ A, dan misalkan f suatu fungsi yang terdefinisi pada
A dengan f (x) = ( ) x f untuk semua x∈A. Jika f
x 0
lim

ada, buktikan bahwa
f
x 0
lim

= f
x 0
lim

.
Pasal 4.3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit
Pada pasal ini kita akan menyajikan tiga macam perluasan dari pengertian
limit fungsi yang sering terjadi.
Limit-limit Sepihak
Terdapat banyak contoh fungsi f yang tidak mempunyai limit pada suatu titik
c, meskipun demikian limit fungsi f tersebut ada jika dibatasi untuk suatu interval se-
pihak dari titik cluster c.
Salah satu contohnya adalah fungsi signum dalam Contoh 4.1.10(b) dan gambarnya diperli-
hatkan pada Gambar 4.1.2, tidak mempunyai limit pada c = 0. Akan tetapi, jika kita membatasi fungsi
signum pada interval (0,∞), maka fungsi hasil pembatasannya mempunyai limit 1 pada c = 0. Demikian
juga, jika kita membatasi fungsi signum pada interval (-∞,0), maka fungsi hasil pembatasannya mem-
punyai limit –1 pada c = 0. Ini merupakan contoh-contoh dari konsep tentang limit-kiri dan lmit-kanan
dari sutu fungsi pada suatu titik c = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 134
Definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan merupakan modifikasi langsung dari Definisi 4.1.4.
Dalam kenyataannya, Penggantian A dalam Definisi 4.1.4 oleh himpunan A∩(c,∞) menghasilkan de-
finisi limit-kanan suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(c,∞). Demikian
juga, dengan penggantian A pada Definisi 4.1.4 oleh himpunan A∩(-∞,c) menghasilkan definisi limit-
kiri suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(-∞,c). Untuk lebih mudahnya,
definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan yang dimaksud akan diformulasi dalam bentuk ε-δ, analog
dengan Teorema 4.1.6 seperti berikut ini.
4.3.1 Definisi. Misalkan A⊆R dan f : A → R
(i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c,∞) = {x∈A:x > c}, maka kita mengatakan bahwa
L∈R adalah suatu limit-kanan dari f pada c dan dituliskan
f
c x
+

lim = L
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan
0 < x – c < δ, maka ¦f(x) - L¦ < ε.
(ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞,c) = {x∈A : x < c}, maka kita mengatakan
bahwa L∈R adalah suatu limit-kiri dari f pada c dan dituliskan
f
c x


lim = L
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan
0 < c – x < δ, maka ¦f(x) - L¦ < ε.
Catatan: (1) Jika L suatu limit kanan dari f pada c, kita kadang-kadang mengatakan bahwa L
adalah limit dari kanan pada c. Kita menggunakan notasi
( ) x f
c x
+

lim = L.
Terminologi dan notasi yang serupa digunakan juga untuk limit-kiri.
Pendahuluan
Analisis Real I 135
(2) Limit-limit f
c x
+

lim dan f
c x
-
lim

disebut limit-limit sepihak dari f pada c. Ini dimung-
kinkan kedua limit sepihak dimaksud ada. Juga bisa mungkin salah satu saja yang ada. Serupa, seperti
kasus pada fungsi f(x) = sgn (x) pada c = 0, limit-limit ini ada, meskipun berbeda.
(3) Jika A suatu interval dengan titik ujung kiri c, maka jelas nampak bahwa f : A → R
mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f mempunyai suatu limit kanan pada c. Selain itu,
dalam kasus ini limit f
c x→
lim dan limit pihak kanan f
c x
+

lim sama. (Situasi serupa juga akan berlaku
untuk limit-kiri suatu interval dengan titik ujung kanan adalah c.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa f hanya dapat memiliki satu limit-
kanan (atau, limit-kiri) pada suatu titik. Berikut ini adalah hasil yang analog dengan fakta yang diperli-
hatkan pada Pasal 4.1 dan 4.2 untuk limit-limit dua-pihak. Khususnya, keberadaan limit satu-pihak da-
pat direduksi untuk bahan pertimbangan selanjutnya.
4.3.2 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan c suatu titik cluster dari A∩(c,∞). Maka
pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen.
(i) f
c x
+

lim = L∈R;
(ii) Untuk sebarang barisan (x
n
) yang konvergen ke c sedemikian sehingga x
n
∈A dan x
n

> c untuk semua n∈N, barisan (f(x
n
)) konvergen ke L∈R.
Kita tinggalkan pembuktian Teorema ini (dan formulasi dan pembuktian dari teorema yang
analog dengannya untuk limit-kiri) untuk dilakukan oleh pembaca.
Berikut ini adalah suatu hasil yang merupakan hubungan pengertian limit suatu fungsi dengan
limit-limit sepihak dari fungsi tersebut pada suatu titik.
4.3.3 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik Cluster dari A∩(c,∞) dan
A∩(-∞,c). Maka f
c x→
lim = L∈R jika dan hanya jika f
c x
+

lim = L = f
c x


lim .
4.3.4 Contoh-contoh (a) Misalkan f(x) = sgn(x).
Kita telah lihat dari contoh 4.1.10(b) bahwa sgn tidak mempunyai limit pada c = 0. Ini jelas
bahwa ) sgn( lim
0
x
x
+

= +1 dan bahwa ) sgn( lim
0
x
x


= -1. Karena limit-limit satu pihak ini berbeda,
maka mengikuti Teorema 4.3.3 bbahwa sgn tidak mempunyai limit pada 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 136
(b) Misalkan g(x) = e
1/x
untuk x ≠ 0. (Lihat gambar 4.3.1)
Pertama kita tunjukkan bahwa g tidak mempunyai limit kanan hingga pada c = 0 karena g ti-
dak terbatas pada sebarang lingkungan kanan (0,∞) dari 0. Kita akan menggunakan ketaksamaan
(*) 0 < t < e
t
untuk t > 0
yang pada bagian ini tidak akan diberikan pembuktiannya. Berdasarkan (*), jika x > GAMBAR 4.3.1
Grafik dari g(x) =
x
e
/ 1
(x ≠ 0)
0 maka 0 < 1/x < e
1/x
. Dari sini, jika kita mengambil xn = 1/n, maka g(x
n
) > n untuk semua n∈N. Oleh
karena itu
x
x
e
/ 1
0
lim
+

tidak ada dalam R.
Akan tetapi,
x
x
e
/ 1
0
lim


= 0. Kita perhatikan bahwa, jika x < 0 dan kita men-
gambil t = 1/x dalam (*) kita peroleh 0 < -1/x < e
-1/x
. Karena x < 0, ini mengakibatkan 0 < e
1/x
< -x un-
tuk semua x < 0. Mengikuti ketaksamaan ini diperoleh
x
x
e
/ 1
0
lim


= 0.
(c) Misalkan h(x) = 1/(e
1/x
+ 1) untuk x ≠ 0. (lihat gambar 4.3.2).
Kita telah melihat bagian (b) bahwa 0 < 1/x < e
1/x
untuk x > 0, dengan
demikian
Pendahuluan
Analisis Real I 137
0 <
1
1
/ 1
+
x
e
<
x
e
/ 1
1
< x
yang mengakibatkan bahwa
+
→0
lim
x
h = 0.
GAMBAR 4.3.2. Grafik dari h(x) = 1/(e
1/x
+1) (x ≠ 0)
Karena kita telah melihat dalam bagian (b) bahwa
+
→0
lim
x
e
1/x
= 0, maka dari
analog Teorema 4.2.4(b) untuk untuk limit-kiri, kita peroleh
|
¹
|

\
|
+


1
1
lim
/ 1
0
x
x
e
=
( ) 1 lim
1
/ 1
0
+


x
x
e
=
1 0
1
+
= 1
Perhatikan bahwa untuk fungsi ini, limit sepihak kedua-duanya ada, akan tetapi tidak sama.
Limit-limit Tak Hingga
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 138
Fungsi f(x) = 1/x
2
untuk x ≠ 0 (lihat Gambar 4.3.3) tidak terbatas pada suatu
lingkungan 0, dengan demikian fungsi tersebut tidak mempunyai suatu limit sesuai pengertian dalam
Definisi 4.1.4. Sementara itu simbol-simbol ∞ (= +∞) dan -∞ tidak menyatakan suatu bilangan real, ini
kadang-kadang menjadi bermakna dengan mengatakan bahwa “f(x) = 1/x
2
cenderung ke ∞ apabila x →
0”.
Pendahuluan
Analisis Real I 139
4.3.5 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A.
(i) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis
∞ =

f
c x
lim
jika untuk setiap α∈R terdapat δ = δ(α) > 0 sedemikain sehinggauntuk semua x∈A dengan 0 < ¦x - c¦
< δ, maka f(x) > α.
(ii) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis
−∞ =

f
c x
lim
jika untuk setiap β∈R terdapat δ = δ(β) > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < ¦x - c¦
< δ, maka f(x) < β.
4.3.6 Contoh-contoh (a) ( ) −∞ =

2
0
/ 1 lim x
x
.
Karena, jika α > 0 diberikan, misalkan δ = α / 1 . Ini erarti bahwa jika 0 <¦x¦<δ, maka x
2
<
1/α dengan demikian 1/x
2
> α.
(b) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.3.4)
Fungsi g tidak menuju ke ∞ atau ke -∞ sebagaimana x→0. Karena, jika α > 0 maka g(x) < α
untuk semua x < 0, dengan demikian g tidak menuju ke ∞ apabila x→0. Serupa juga, jika β < 0 maka
g(x) > β untuk semua x > 0, dengan demikian g tidak menuju ke -∞ apabila x→0.
Hasil berikut analog dengan Teorema Apit 4.2.7. (Lihat juga Teorema 3.6.4).
4.3.7 Teorema Misalkan A⊆R, f,g : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. Anggaplah
bahwa f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A, x ≠ c.
(a) Jika ∞ =

f
c x
lim , maka ∞ =

g
c x
lim .
(b) Jika −∞ =

g
c x
lim , maka −∞ =

f
c x
lim .
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 140


Pendahuluan
Analisis Real I 141
GAMBAR 4.3.3 Grafik dari f(x) = 1/x
2
(x ≠ 0)
GAMBAR 4.3.4 Grafik dari g(x) = 1/x (x ≠ 0)

Bukti. (a) Jika ∞ =

f
c x
lim dan α∈R diberikan, maka terdapat δ(α) > 0 sedemikian sehingga
jika 0 <¦x - c¦ < δ(α) dan x∈A, maka f(x) > α. Akan tetapi, jika f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A x ≠ c,
maka berarti jika 0 <¦x - c¦ < δ(α) dan x∈A, maka g(x) > 0. Oleh karena itu ∞ =

g
c x
lim .
Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara serupa.
Fungsi g(x) = 1/x dalam Contoh 4.3.6(b) menyarankan bahwa itu dapat berguna untuk me-
mandang limit-limit sepihaknya.
4.3.8 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 142
(i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c,∞) ={x∈A: x > 0}, maka kita mengatakan bahwa f
menuju ∞ ∞∞ ∞ [atau -∞ ∞∞ ∞] apabila x→ →→ →c
+
, dan ditulis
∞ =
+

f
c x
lim [ ] −∞ =
+

f
c x
lim , atau ,
jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x – c < δ,
maka f(x) > α [atau, f(x) < α].
(ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞,c) ={x∈A: x < 0}, maka kita mengatakan bahwa f
menuju ∞ ∞∞ ∞ [atau -∞ ∞∞ ∞] apabila x→ →→ →c
-
, dan ditulis
∞ =


f
c x
lim [ ] −∞ =


f
c x
lim , atau ,
jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < c – x < δ,
maka f(x) > α [atau, f(x) < α].
4.3.9 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. Kita telah mencatat dalam Contoh
4.3.6(b) bahwa g
x 0
lim

tidak ada. Akan tetapi suatu latihan yang mudah untuk menunjukkan bahwa
( ) ∞ =
+

x
x
/ 1 lim
0
dan ( ) −∞ =


x
c x
/ 1 lim
(b) Telah diperoleh pada Contoh 4.3.4(b) bahwa fungsi g(x) = e
1/x
untuk x ≠ 0 tidak terba-
tas pada sebarang interval (0,δ), δ > 0. Dari sini limit-kanan dari e
1/x
apabila x→0
+
tidak ada dalam
pengertian Definisi 4.3.1(I). Akan tetapi, karena
1/x < e
1/x
untuk x > 0,
maka secara mudah kita melihat bahwa ( ) ∞ =
+

x
x
e
/ 1
0
lim dalam pengertian dari Definisi 4.3.8.
Limit-limit pada Ketakhinggaan
Kita dapat mempertimbangkan pula untuk mendefinisikan pengertian limit dari suatu fungsi
apabila x→∞ [atau, x→-∞].
4.3.10 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.
Pendahuluan
Analisis Real I 143
(i) Anggaplah bahwa (a,∞) ⊆ A untuk suatu a∈R. Kita mengatakan bahwa L∈R merupakan
limit dari f apabila x→ →→ →∞ ∞∞ ∞, dan ditulis
L f
x
=
∞ →
lim ,
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K, maka
¦f(x) - L¦ < ε.
(ii) Anggaplah bahwa (-∞,b) ⊆ A untuk suatu b∈R. Kita mengatakan bahwa L∈R meru-
pakan limit dari f apabila x→ →→ →-∞ ∞∞ ∞, dan ditulis
L f
x
=
−∞ →
lim ,
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K, maka
¦f(x) - L¦ < ε.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa limit-limit dari f apabila x→±∞
adalah tunggal jika ada. Kita juga mempunyai Kriteria Sekuensial untuk limit-limit ini; kita hanya akan
menyatakan kriteria apabila x→∞. Ini digunakan pengertian dari limit dari suatu barisan yang divergen
murni (lihat Definisi 3.6.1)
4.3.11 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan anggaplah bahwa (a,∞) ⊆ A untuk suatu
a∈R. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen :
(i) L = f
x ∞ →
lim ;
(ii) Untuk sebarang barisan (x
n
) dalam A∩(a,∞) sedemikian sehingga lim(x
n
) = ∞, barisan
(f(x
n
)) konvergen ke L.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk membuktikan teorema ini dan untuk merumuskan serta
membuktikan teorema serupa dengannya untuk limit dimana x→-∞.
4.3.12 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 144
Ini merupakan suatu latihan dasar untuk membuktikan bahwa ( ) x
x
/ 1 lim
∞ →
= 0 = ( ) x
x
/ 1 lim
−∞ →
.
(Lihat Gambar 4.3.4)
(b) Misalkan f(x) = 1/x
2
untuk x ≠ 0.
Pembaca dapat menunjukkan bahwa bahwa ( )
2
/ 1 lim x
x ∞ →
= 0 = ( )
2
/ 1 lim x
x −∞ →
. (Lihat Gambar
4.3.3). Cara lain untuk menunjukkan ini adalah dengan menunjukkan bahwa jika x ≥ 1 maka 0 ≤ 1/x
2

1/x. Mengingat bagian (a), ini mengakibatkan ( )
2
/ 1 lim x
x ∞ →
= 0.
GAMBAR 4.3.5 f
x ∞ →
lim = -∞
4.3.13 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.
(i) Anggaplah bahwa (a,∞)⊆A untuk suatu a∈A. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞
[atau, -∞] apabila x→∞, dan ditulis
f
x ∞ →
lim = ∞ [ ] −∞ =
∞ →
f
x
lim atau ,
jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K, maka
f(x) > α [atau, f(x) < α]. (Lihat Gambar 4.3.5)
Κ(α)
α
x
y
Pendahuluan
Analisis Real I 145
(ii) Anggaplah bahwa (-∞,b)⊆A untuk suatu b∈A. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞
[atau, -∞] apabila x→-∞, dan ditulis
f
x −∞ →
lim = ∞ [ ] −∞ =
−∞ →
f
x
lim atau ,
jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K, maka
f(x) > α [atau, f(x) < α].
Sebagaimana sebelumnya, terdapat kriteria sekuensial untuk limit ini. Kita akan memformulas-
inya apabila x→∞.S
4.3.14 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan anggaplah bahwa (a,∞)⊆A untuk suatu
a∈R. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen :
(i) f
x ∞ →
lim = ∞ [atau, f
x ∞ →
lim = -∞]
(ii) Untuk sebarang barisan (x
n
) dalam (a,∞) sedemikian sehingga lim(x
n
) = ∞, maka lim
(f(x
n
)) = ∞ [atau lim (f(x
n
)) = -∞].
Hasil berikut ini analog dengan Teorema 3.6.5.
4.3.15 Teorema Misalkan A⊆R, f,g : A → R, dan anggaplah ahwa (a,∞)⊆A untuk suatu
a∈R. Misalkan pula bahwa g(x) > 0 untuk semua x > a dan bahwa

( )
( ) x g
x f
x ∞ →
lim = L
untuk suatu L∈R, L ≠ 0.
(i) Jika L > 0, maka f
x ∞ →
lim = ∞ jika dan hanya jika g
x ∞ →
lim = ∞.
(ii) Jika L < 0, maka f
x ∞ →
lim = -∞ jika dan hanya jika g
x ∞ →
lim = -∞.
Bukti. (i) Karena L > 0, hipotesis mengakibatkan bahwa terdapat a
1 >
a sedemikian sehingga
0 < ½L <
( )
( ) x g
x f
<
2
3
L untuk x > a
1
.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 146
Oleh karena itu kita mempunyai (½L)g(x) < f(x) < (
2
3
L)g(x) untuk semua x > a
1
, dari sini dengan mu-
dah kita peroleh kesimpulannya.
Pembuktian bagian (ii) dikerjakan dengan cara serupa.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk memformulasi hasil-hasil yang analogi dengan Teorema
di atas, apabila x→-∞.
4.3.16 Conyoh-contoh (a)
n
x
x
∞ →
lim = ∞ untuk n∈N.
Misalkan g(x) = x
n
untuk x∈(0,∞). Diberikan α∈R, misalkan K = sup{1,α}. Maka untuk se-
mua x > K, kita mempunyai g(x) = x
n
≥ x ≥ α. Karena α∈R sebarang, maka ini berarti g
x ∞ →
lim = ∞.
(b)
n
x
x
−∞ →
lim = ∞ untuk n∈N, n genap, dan
n
x
x
−∞ →
lim = -∞ untuk n∈N, n ganjil.
Kita akan mencoba kasus n ganjil, katakanlah n = 2k+1 dengan k = 0,1, … . Diberikan α∈R,
misalkan K = inf{α,-1}. Untuk sebarang x < K, maka karena (x
2
)
k
≥ 1, kita mempunyai x
n
= (x
2
)
k
x ≤ x
< α. Karena α∈R sebarang, maka berarti
n
x
x
−∞ →
lim = -∞.
(c) Misalkan p : R → R fungsi polinomial
p(x) = a
n
x
n
+ a
n-1
x
n-1
+ … + a
1
x + a
0
Maka p
x ∞ →
lim = ∞, jika a
n
> 0, dan p
x ∞ →
lim = -∞ jika a
n
< 0.
Misalkan g(x) = x
n
dan gunakan Teorema 4.3.15. Karena

( )
( ) x g
x p
= a
n
+ a
n-1 |
¹
|

\
|
x
1
+ … + a
1 |
¹
|

\
|
−1
1
n
x
+ a
0 |
¹
|

\
|
n
x
1
,
maka diperoleh
( )
( ) x g
x p
x ∞ →
lim = a
n
. Karena g
x ∞ →
lim = ∞, maka menurut Teorema 4.3.15, p
x ∞ →
lim = ∞.
Pendahuluan
Analisis Real I 147
(d) Misalkan p fungsi polinomial dalam bagian (c). Maka p
x −∞ →
lim = ∞ [atau, -∞] jika n
genap [atau, ganjil] dan a
n
> 0.
Kita tinggalkan detailnya untuk pemaca kerjakan.
Latihan-latihan
1. Buktikan Teorema 4.3.2.
2. Berikan contoh suatu fungsi yang mempunyai limit-kanan, tetapi tidak mempunyai limit-
kiri pada suatu titik.
3. Misalkan f(x) = ¦x¦
½
untuk x ≠ 0.. Tunjukkan bahwa ( ) x f
x
+
→0
lim = ( ) x f
x

→0
lim = +∞.
4. Misalkan c∈R dan f didefinisikan untuk x∈(c,∞) dan f(x) > 0 untuk semua x∈(c,∞).
Tunjukkan bahwa f
c x→
lim = ∞ jika dan hanya jika ( ) f
c x
1 lim

= 0.
5. Hitunglah limit-limit berikut, atau tunjukkan bahwa limit-limit ini tidak ada.
(a)
1
lim
1

+

x
x
x
(x ≠ 1), (b)
1
lim
1


x
x
x
(x ≠ 1),
(c)
x
x
x
2
lim
1
+
+

(x > 0), (d)
x
x
x
2
lim
+
∞ →
(x > 0),
(e)
x
x
x
1
lim
0
+

(x > -1), (f)
x
x
x
1
lim
+
∞ →
(x > 0),
(g)
3
5
lim
+

∞ →
x
x
x
(x > 0), (h)
x x
x x
x
+

∞ →
lim (x > 0).
6. Buktikan Teorema 4.3.11.
7. Misalkan f dan g masing-masing mempunyai limit dalam R apabila x→∞ dan f(x) ≤ g(x)
untuk semua (α,∞). Buktikan bahwa f
x ∞ →
lim ≤ g
x ∞ →
lim .
8. Misalkan f terdefinisi pada (0,∞) ke R. Buktikan bahwa ( ) x f
x ∞ →
lim = L jika dan hanya
jika ( ) x f
x
1 lim
0
+

= L.
9. Tunjukkan bahwa jika f : (a,∞) → R sedemikian sehingga ( ) x xf
x ∞ →
lim = L dimana
L∈R, maka ( ) x f
x ∞ →
lim = 0.
10. Buktikan Teorema 4.3.14.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 148
11. Lengkapkan bukti dari Teorema 4.3.15.
12. Misalkan ( ) x f
c x→
lim = L dimana L > 0, dan ( ) x g
c x→
lim = ∞. Tunjukkan bahwa
( ) ( ) x g x f
c x→
lim = ∞. Jika L = 0, tunjukkan dengan contoh bahwa konklusi ini gagal.
13. Carilah fungsi-fungsi f dan g yang didefinisikan pada (0,∞) sedemikain sehingga f
x ∞ →
lim
= ∞ dan g
x ∞ →
lim = ∞, akan tetapi ( ) g f
x

∞ →
lim = 0. Dapatkan anda menemukan fungsi-
fungsi demikian, dengan g(x) > 0 untuk semua x∈(0,∞), sedemikain sehingga g f
x ∞ →
lim
= 0?
14. Misalkan f dan g terdefinisi pada (a,∞) dan misalkan pula f
x ∞ →
lim = L dan g
x ∞ →
lim = ∞.
Buktikan bahwa g f
x
o
∞ →
lim = L.















Pendahuluan
Analisis Real I 149





FUNGSI-FUNGSI KONTINU

Dalam bab ini kita akan memulai mempelajari kelas terpenting dari fungsi-
fungsi yang muncul dalam analisis real, yaitu kelas fungsi-fungsi kontinu. Pertama-
tama kita akan mendefinisikan pengertian dari kekontinuan pada suatu titik dan pada
suatu himpunan, dan menunjukkan bahwa variasi kombinasi dari fungsi-fungsi kon-
tinu menghasilkan fungsi kontinu.
Sifat-sifat dasar yang membuat fungsi-fungsi kontinu demikain penting diper-
lihatkan pada Pasal 5.3. Misalnya, kita akan memuktikan bahwa suatu fungsi kontinu
pada suatu interval tertutup dan terbatas mesti mencapai nilai maksimum dan mini-
mum.Kita juga akan membuktikan bahwa suatu fungsi kontinu mesti selalu memuat
nilai antara untuk sebarang dua nilai yang dicapainya. Sifat-sifat ini dan beberapa
lainnya tidak dimiliki oleh fungsi-fungsi pada umumnya, dan dengan demikian ini
membedakan fungsi-fungsi kontinu sebagai suatu kelas yang sangat khusus dari
fungsi-fungsi.
Kedua, dalam Pasan 5.4 kita akan memperkenalkan pengertian penting dari
kekontinuan seragam, dan kita akan menggunakan pengertian ini untuk masalah dari
pendekatan (pengaproksimasian) fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi-fungsi dasar
(elementer) (seperti polinomial). Fungsi-fungsi monoton adalah suatu kelas penting
dari fungsi-fungsi dan mempunyai sifat-sifat kekontinuan kuat; mereka didiskusikan
dalam Pasal 5.5. Khususnya, akan ditunjukkan bahwa fungsi monoton kontinu mem-
punyai fungsi invers yang monoton kontinu juga.
BAB
5
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 150
PASAL 5.1 Fungsi-fungsi Kontinu
Dalam Pasal ini, yang mana sangat serupa dengan pasal 4.1, kita akan
mendefinisikan tentang apa yang dimaksudkan dengan fungsi kontinu pada suatu titik,
atau pada suatu himpunan. Pengertian kekontinuan ini adalah salah satu dari penger-
tian sentral dari analisis matematika dan akan dipergunakan dalam hampir semua
pada pembahasan dalam buku ini. Akibatnya, konsep ini sangat esensial yang pem-
baca mesti menguasainya.
5.1.1 Definisi Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈A. Kita katakan bahwa f
kontinu pada c jika, diberikan sebarang lingkungan V
ε
(f(c)) dari f(c) terdapat suatu
lingkungan
V
δ
(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada A∩V
δ
(c), maka f(x) ter-
muat dalam V
ε
(f(c)). (Lihat Gambar 5.1.1).
GAMBAR 5.1.1 Diberikan V
ε
(f(c)), lingkungan V
δ
(c) ditentukan

Peringatan (1) Jika c∈A merupakan titik cluster dari A, maka pembandingan dari
Definisi 4.1.4 dan 5.1.1 menunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika
(1) f(c) = f
c x→
lim .
Jadi, jika c titik cluster dari A, maka agar (1) berlaku, tiga syarat harus dipenuhi: (i) f harus
terdefinisi pada c (dengan demikian f(c) dapat dimengerti), (ii) limit dari f harus ada dalam R
Pendahuluan
Analisis Real I 151
(dengan demikian f
c x→
lim dapat dimengerti), dan (iii) nilai-nilai dari f(c) dan f
c x→
lim harus
sama.
(2) Jika c bukan titik cluster dari A, maka terdapat lingkun-
gan V
δ
(c) dari c sedemikian sehingga A∩V
δ
(c) = {c}. Jadi kita menyimpulkan bahwa suatu
fungsi f kontinu secara otomatis pada c∈A yang bukan titik cluster dari A. Titik-titik
demikian ini sering disebut “titik-titik terisolasi” dari A; titik-titik ini kurang menarik untuk
kita bahas, karena “far from the action”. Karena kekontinuan erlaku secara otomatis untuk
titik-titik terisolasi ini, kita akan secara umum menguji kekontinuan hanya pada titik-titik
cluster. Jadi kita akan memandang kondisi (1) sebagai karakteristik untuk kekontinuan pada
c.
Dalam definisi berikut kita mendefinisikan kekontinuan
dari f pada suatu himpunan.
5.1.2 Definisi Misalkan A⊆R, f : A → R. Jika
B⊆A, kita katakan bahwa f kontinu pada B jika f kontinu pada setiap titik dalam B.
Sekarang kita berikan suatu formulasi yang setara untuk
Definisi 5.1.1.
5.1.3 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c∈A. Maka kondisi-
kondisi berikut ekivalen.
(i) f kontinu pada c; yaitu, diberikan sebarang lingkungan V
ε
(f(c)) dari f(c)
terdapat suatu lingkungan V
δ
(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada
A∩V
δ
(c), maka f(x) termuat dalam V
ε
(f(c))
(ii) Diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ > 0 sedemikian sehingga untuk
semua x∈A dengan ¦x - c¦ < δ, maka ¦f(x) – f(c)¦ < ε.
(iii) Jika (x
n
) sebarang barisan bilangan real sedemikian sehingga x
n
∈A untuk
semua n∈N dan (x
n
) konvergen ke c, maka barisan (f(x
n
)) konvergen ke f(c).
Pembuktian teorema ini hanya memerlukan sedikit
modifikasi pembuktian dari Teorema 4.1.6 dan 4.1.8. Kita tinggalkan detailnya seba-
gai suatu latihan penting bagi pembaca.
Kriteria Diskontinu berikut adalah suatu konsekuensi
dari ekuivalensi dari (i) dan (ii) dari teorema sebelumnya; ini akan dibandingkan den-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 152
gan Kriteria Divergensi 4.1.9(a) dengan L = f(c). Pembuktiannya akan dituliskan se-
cara detail oleh pembaca.
5.1.4. Kriteria Diskontinu Misalkan A⊆R, f : A →
R, dan c∈A. Maka f diskontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (x
n
)
dalam A sedemikian sehingga (x
n
) konvergen ke c, tetapi barisan (f(x
n
)) tidak kon-
vergen ke f(c).
5.1.5 Contoh-contoh (a) f(x) = b kontinu pada R
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(a) bahwa jika
c∈R, maka kita mempunyai f
c x→
lim = b. Karena f(c) = b, maka f kontinu pada setiap
titik c∈R. Jadi f kontinu pada R.
(b) g(x) = x kontinu pada R.
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(b) bahwa jika
c∈R, maka kita mempunyai g
c x→
lim = c. Karena g(c) = c, maka g kontinu pada setiap
titik c∈R. Jadi g kontinu pada R.
(c) h(x) = x
2
kontinu pada R.
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(c) bahwa jika c∈R, maka kita mempunyai
h
c x→
lim = c
2
. Karena h(c) = c
2
, maka h kontinu pada setiap titik c∈R. Jadi h kontinu
pada R.
(d) ϕ(x) = 1/x kontinu pada A = {x∈R : x > 0}.
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(d) bahwa jika c∈A, maka kita mempunyai
ϕ
→c x
lim = 1/c. Karena ϕ(c) = 1/c, maka ϕ kontinu pada setiap titik c∈A. Jadi ϕ kontinu
pada A.
(e) ϕ(x) = 1/x tidak kontinu pada x = 0
Memang, jika ϕ(x) = 1/x untuk x > 0, maka tidak terdefinisi pada x= 0, dengan
demikian tidak kontinu pada titik ini. Secara alternatif, telah diperlihatkan pada Con-
Pendahuluan
Analisis Real I 153
toh 4.1.10(a) bahwa ϕ
→0
lim
x
tidak ada dalam R, dengan demikian ϕ tidak kontinu pada
x = 0.
(f) Fungsi signum tidak kontinu pada x = 0.
Fungsi signum telah didefinisikan pada contoh
4.1.10(b), dimana juga telah ditunjukkan bahwa ) sgn( lim
0
x
x→
tidak ada dalam R. Oleh
karena itu sgn tidak kontinu pada x = 0 meskipun sgn 0 terdefinisi.
(g) Misalkan A = R dan f “fungsi diskontinu” Dirichlet yang didefinisikan
oleh
f(x) =
¹
´
¦
irasional x jika , 0
rasional x jika , 1

Kita claim bahwa f tidak kontinu pada sebarang titik pada R. (Fungsi ini diperke-
nalkan pada tahun 1829 oleh Dirichlet)
Memang, jika c bilangan rasional, misalkan (x
n
) suatu barisan bilangan
irasional yang konvergen ke c. (Teorema Akibat 2.5.6 untuk Teorema 2.5.5 menjamin
adanya barisan seperti ini.) Karena f(x
n
) = 0 untuk semua n∈N, maka kita mempunyai
lim (f(x
n
)) = 0 sementara f(c) = 1. Oleh karena itu f tidak kontinu pada bilangan ra-
sional c.
Sebaliknya, jika b bilangan rasional, misalkan (y
n
) suatu
barisan bilangan irasional yang konvergen ke b. (Teorema Akibat 2.5.6 untuk Teo-
rema 2.5.5 menjamin adanya barisan seperti ini.) Karena f(y
n
) = 1 untuk semua n∈N,
maka kita mempunyai lim (f(y
n
)) = 1 sementara f(b) = 0. Oleh karena itu f tidak kon-
tinu pada bilangan irasional b.
Karena setiap bilangan real adalah bilangan rasional
atau irasional, kita simpulkan bahwa f tidak kontinu pada setiap titik dalam R.
(h) Misalkan A = {x∈R : x > 0}. Untuk sebarang bilangan irasional x > 0
kita definisikan h(x) = 0. Untuk suatu bilangan rasional dalam A yang berbentuk m/n,
dengan bilangan asli m,n tidak mempunyai faktor persektuan kecuali 1, kita definisi-
kan h(m/n) = 1/n. (Lihat Gambar 5.1.2.) Kita claim bahwa h kontinu pada setiap bi-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 154
langan irasional pada A, dan diskontinu pada setiap bilangan rasional dalam A.
(Fungsi ini diperkenalkan pada tahun 1875 oleh K.J. Thomae)
Memang, jika a > 0 bilangan rasional, misalkan (x
n
)
suatu barisan bilangan irasional dalam A yang konvergen ke a. maka lim h(x
n
) = 0
sementara h(a) > 0. Dari sini h diskontinu pada a.
Di pihak lain, jika b suatu bilangan irasional dan ε > 0,
maka (dengan Sifat Arcimedean) terdapat bilangan asli n
0
sedemikian sehingga 1/n
0
<
ε. Terdapat hanya sejumlah hingga bilangan rasional dengan penyebut lebih kecil dari
n
0
dalam interval (b – 1, b + 1). (Mengapa?) Dari sini δ > 0 dapat dipilih sekecil
mungkin yang mana lingkungan (b - δ,b + δ) tidak memuat tidak memuat bilangan
rasional dengan penyebut lebih kecil dari n
0
. Selanjutnya, bahwa untuk ¦x - b¦< δ,
x∈A, kita mempunyai ¦h(x) – h(b)¦ = h(x) ≤ 1/n
0
< ε. Jadi h kontinu pada bilangan
irasional b.
Akibatnya, kita berkesimpulan bahwa fungsi Thomae h
kontinu hanya pada titik-titik irasional dalam A.
GAMBAR 5.1.2 Grafik Fungsi Thomae
5.1.6 Peringatan (a) Kadang-kadang suatu fungsi f : A → R tidak kontinu pada suatu
titik c, sebab tidak terdefinisi pada titik tersebut.. Akan tetapi, jika fungsi f mempunyai suatu limit L
pada tiitik c dan jika kita definisikan F pada A∪{c} →R dengan

¹
´
¦

=
=
A x x f
c x L
x F
untuk ) (
untuk
) (
1/2
1
*
*
*
*
* * * * * * * *
*
*
*
* *
* * * * * * *
1 2
1/2
3/2
1/7
* * * * * * * * * * * *
Pendahuluan
Analisis Real I 155
maka F kontinu pada c. Untuk melihatnya, perlu mengecek bahwa F
c x→
lim = L, tetapi ini brlaku (men-
gapa?), karena f
c x→
lim = L
(b) Jika fungsi g : A → R tidak mempunyai suatu limit pada c,
maka tidak ada cara untuk memperoleh suatu fungsi G : A∪{c} → R yang kontinu pada c dengan
pendefinisian

¹
´
¦

=
=
A x x g
c x C
x G
untuk ) (
untuk
) (
Untuk melihatnya, amati bahwa jika G
c x→
lim ada dan sama dengan C, maka g
c x→
lim mesti ada juga dan
sama dengan C.
5.1.7 Contoh-contoh (a) Fungsi g(x) = sin (1/x) untuk x ≠ 0 (lihat Gambar
4.1.3) tidak mempunyai limit pada x = 0 (lihat contoh 4.1.10(c)). Jadi tidak terdapat
nilai yang dapat kita berikan pada x = 0. Untuk memperoleh suatu perluasan kontinu
dari g pada x = 0.
(b) Misalkan f(x) = x sin(1/x) untuk x ≠ 0. (Lihat Gam-
bar 5.1.3) Karena f tidak terdefinisi pada x = 0, fungsi f tidak bisa kontinu pada titik
ini. Akan tetapi, telah diperlihatkan pada Contoh 4.2.8(f) bahwa ( ) ( ) x x
x
1 sin lim
0 →
= 0.
Oleh karena itu mengikuti Peringatan 5.1.6(a) bahwa jika kita definisikan F : R →
R dengan

( )
¹
´
¦

=
=
0 untuk x 1 sin
0 untuk 0
) (
x x
x
x F
maka F kontinu pada x = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 156
Gambar 5.1.3 Grafik dari f(x) = x sin(1/x) x ≠ 0
Latihan-latihan
1. Buktikan Teorema 5.1.4.
2. Perlihatkan Kriteria Diskontinu 5.1.4.
3. Misalkan a < b < c. Misalkan pula bahwa f kontinu pada [a,b], g kontinu pada [b,c], dan
f(b) = g(b). Definisikan h pada [a,c] dengan h(x) = f(x) untuk x∈[a,b] dan h(x) = g(x) un-
tuk x∈(b,c]. Buktikan bahwa h kontinu pada [a,c].
4. Jika x∈R, kita definisikan ⇓x◊ adalah bilangan bulat terbesar n∈Z sedemikian sehingga
n ≤ x. (Jadi, sebagai contoh, ⇓8,3◊ = 8, ⇓π◊ = 3, ⇓-π◊ = -4.) Fungsi x a ⇓x◊ disebut
fungsi bilangan bulat terbesar. Tentukan titik-titik dimana fungsi-fungsi berikut kon-
tinu :
(a). f(x) = ⇓x◊, (b) g(x) = x⇓x◊,
(c). h(x) = ⇓sin x◊, (d) k(x) = ⇓1/x◊ (x ≠ 0).
5. Misalkan f terdefinisi untuk semua x∈R, x ≠ 2, dengan f(x) = (x
2
+ x – 6)/(x – 2). Dapat-
kah f terdefinisi pada x = 2 dimana dengan ini menjadikan f kontinu pada titik ini?
Pendahuluan
Analisis Real I 157
6. Misalkan A⊆R dan f : A → R kontinu pada titik c∈A. Tunjukkan bahwa untuk se-
barang ε > 0, terdapat lingkungan V
δ
(c) dari c sedemikian sehingga jika x,y∈A∩V
δ
(c),
maka ¦f(x) – f(y)¦ < ε.
7. Misalkan f : R → R kontinu pada c dan misalkan f(c) > 0. Tunjukkan bahwa terdapat
V
δ
(c) suatu lingkungan dari c sedemikian sehingga untuk sebarang x∈ V
δ
(c) maka f(x) >
0.
8. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan misalkan S = {x∈R : f(x) = 0} adalah “him-
punan nol” dari f. Jika (x
n
) ⊆ S dan x = lim (x
n
), tunjukkan bahwa x∈S.
9. Misalkan A⊆B⊆R, f : B → R dan g pembatasan dari f pada A (yaitu, g(x) = f(x) un-
tuk x∈A).
(a). Jika f kontinu pada c∈A, tunjukkan bahwa g kontinu pada c.
(b). Tunjukkan dengan contoh bahwa jika g kontinu pada c, tidak perlu berlaku bahwa f
kontinu pada c.
10. Tunjukkan bahwa fungsi nilai mutlak f(x) = ¦x¦ kontinu pada setiap titik c∈R.
11. Misalkan K > 0 dan f : → R memenuhi syarat ¦f(x) – f(y)¦ ≤ K¦x - y¦ untuk semua
x,y∈R. Tunjukkan bahwa f kontinu pada setiap titik c∈R.
12. Misalkan bahwa f : R → R kontinu pada R dan f(r) = 0 untuk setiap bilangan rasional
r. Buktikan bahwa f(x) = 0 untuk semua x∈R.
13. Definisikan g : R → R dengan g(x) = 2x untuk x rasional, dan g(x) = x + 3 untuk x
irasional. Tentukan semua titik dimana g kontinu.
14. Misalkan A = (0,∞) dan k : A → R didefinisikan sebagai berikut. Untuk x∈A, x ra-
sional, kita definisikan k(x) = 0; untuk x∈A rasional dan berbentuk x = m/n dengan bi-
langan asli m, n tidak mempunyai faktor persekutuan kecuali 1, kita definisikan k(x) = n.
Buktikan bahwa k tidak terbatas pada setiap interval terbuka dalam A. Simpulkan bahwa
k tidak kontinu pada sebarang titik dari A.
PASAL 5.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu
Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R.
Dalam Definisi 4.2.3 kita mendefinisikan jumlah, selisih, hasil kali, dan kelipatan
fungsi-fungsi disimbol f + g, f – g, fg, bf. Juga, jika h : A → R sedemikian sehingga
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 158
h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A, maka kita definisikan fungsi hasil bagi dinotasi dengan
f/h.
Hasil berikut ini serupa dengan Teorema 4.2.4.
5.2.1 Teorema Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A
ke R dan b∈R. Andaikan bahwa c∈A dan f dan g kontinu pada c.
(a) Maka f + g, f – g, fg, dan bf kontinu pada c.
(b) Jika h : A → R kontinu pada c∈A dan jika h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A,
maka fungsi f/h kontinu pada c.
Bukti. Jika c bukan suatu titik cluster dari A, maka konklusi berlaku secara
otomatis. Dari sini, kita asumsikan bahwa c titik cluster dari A.
(a) Karena f dan g kontinu pad
(b) a c, maka
f(c) = f
c x→
lim dan g(c) = g
c x→
lim
Oleh karena itu mengikuti Teorema 4.2.4(a) diperoleh
(f + g)(c) = f(c) + g(c) = ( ) g f
c x
+

lim
Dengan demikian f + g kontinu pada c. Pernyataan-pernyataan lain pada bagian (a)
dibuktikan dengan cara serupa.
(c) Karena c∈A, maka h(c) ≠ 0. Tetapi karena h(c) = h
c x→
lim , berikut dari Teo-
rema 4.2.4(b) bahwa
( ) c
h
f
=
( )
( ) c h
c f
=
h
f
c x
c x


lim
lim
= |
¹
|

\
|

h
f
c x
lim .
Oleh karena itu f/h kontinu pada c.
Hasil berikut merupakan konsekuensi dari Teorema 5.2.1, diterapkan untuk
semua titik dalam A. Akan tetapi, secara ekstrim, ini adalah suatu hasil penting, kita
akan menyatakannya secara formal.
5.2.2 Teorema Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A
ke R dan b∈R.
Pendahuluan
Analisis Real I 159
(a) Maka f + g, f – g, fg, dan bf kontinu pada A.
(b) Jika h : A → R kontinu pada A dan h(x) ≠ 0 untuk x∈A, maka fungsi
f/h kontinu pada A.
5.2.3 Komentar Untuk mendefinisikan fungsi hasil bagi, kadang-kadang lebih cocok me-
mulainya sebagai berikut : Jika ϕ : → R, misalkan A
1
= {x∈A : ϕ(x) ≠ 0}. Kita akan mendefinisikan
fungsi hasil bagi f/ϕ pada himpunan A
1
dengan
(*)
) (
) (
) (
x
x f
x
f
ϕ ϕ
=
|
|
¹
|

\
|
untuk x ∈ A
1
.
Jika ϕ kontinu pada titik c∈A
1
, maka jelas bahwa pembatasan ϕ
1
dari ϕ pada A
1
juga kontinu pada c.
Oleh karena itu mengikuti Teorema 5.2.1(b) dipergunkan untuk ϕ
1
bahwa f/ϕ kontinu pada c∈A
1
. Se-
rupa juga jika f dan ϕ kontinu pada A, maka fungsi f/ϕ, didefinisikan pada A
1
oleh (*), kontinu pada
A
1
.
5.2.4 Contoh-contoh (a) Fungsi-fungsi polinomial.
Jika p suatu fungsi polinimial, dengan demikian p(x) = anxn + an-1xn-1 + …
+ a1x + a0 untuk semua x∈R, maka mengikuti Contoh 4.2.5(f) bahwa p(c) = p
c x→
lim
untuk sebarang c∈R. Jadi fungsi polinomial kontinu pada R.
(b) Fungsi-fungsi rasional
Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R, maka terdapat paling banyak
sejumlah hingga α
1

2
, … , α
n
akar-akar real dari q. Jika x∉{α
1

2
, … , α
n
} maka
q(x) ≠ 0 dengan demikian kita dapat mendefinisikan fungsi rasional r dengan
r(x) =
) (
) (
x q
x p
untuk x∉{α
1

2
, … , α
n
}.
Telah diperlihatkan dalam Contoh 4.2.5(g) bahwa jika q(c) ≠ 0, maka
r(c) =
) (
) (
c q
c p
=
) ( lim
) ( lim
x q
x p
c x
c x


= ) ( lim x r
c x→

Dengan kata lain, r kontinu pada c. Karena c sebarang bilangan real yang bukan akar
dari q, kita katakan bahwa suatu fungsi rasional yang kontinu pada setiap bilangan
real dimana fungsi tersebut terdefinisi.
(c) Kita akan menunjukkan bahwa fungsi sinus kontinu pada R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 160
Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan
cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan. Untuk semua x,y,z∈R kita mem-
punyai
¦sin z¦ ≤ ¦z¦, ¦cos z¦ ≤ 1,
sin x – sin y = 2sin[½(x – y)]cos[½(x + y)].
Dari sini, jika c∈R, maka kita mempunyai
¦sin x – sin c¦ ≤ 2(½¦x – c¦)(1) = ¦x - c¦.
Oleh karena itu sin kontinu pada c. Karena c∈R sebarang, maka ini berarti fungsi sin
kontinu pada R.
(d) Fungsi cosinus kontinu pada R.
Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan
cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan. Untuk semua x,y,z∈R kita mem-
punyai
¦sin z¦ ≤ ¦z¦, ¦sin z¦ ≤ 1,
cos x – cos y = 2sin[½(x + y)]sin[½(y - x)].
Dari sini, jika c∈R, maka kita mempunyai
¦cos x – cos c¦ ≤ 2(1)(½¦c – x¦) = ¦x - c¦.
Oleh karena itu cos kontinu pada c. Karena c∈R sebarang, maka ini berarti fungsi cos
kontinu pada R. (Cara lain, kita dapat menggunakan hubungan cos x = sin (x + π/2).)
(e) Fungsi-fungsi tan, cot, sec, csc kontinu dimana fungsi-fungsi ini terde-
finisi.
Sebagai contoh, fungsi cotangen didefinisikan dengan
Cot x =
x
x
sin
cos

Asalkan sin x ≠ 0 (yaitu, asalkan x ≠ nπ, n∈Z). Karena sin dan cos kontinu pada R,
maka mengikuti Komentar 5.2.3 bahwa fungsi cot kontinu pada domainnya. Fungsi-
fungsi trigonometri yang lain dilakukan dengan proses pengerjaan yang serupa.
5.2.5 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan ¦f¦ didefinisikan untuk
x∈A dengan ¦f¦(x) = ¦f(x)¦.
Pendahuluan
Analisis Real I 161
(a) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A, maka ¦f¦ kontinu pada c.
(b) Jika f kontinu pada A, maka ¦f¦ kontinu pada A.
Bukti. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4.2.13.
5.2.6 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan f(x) ≥ 0 untuk semua
x∈A. Kita misalkan f didefinisikan untuk x∈A dengan f (x) = ) (x f .
(c) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A, maka f kontinu pada c.
(d) Jika f kontinu pada A, maka f kontinu pada A.
Bukti. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4.2.14.
Komposisi Fungsi-fungsi Kontinu
Sekarang kita akan menunjukkan bahwa jika f : A → R kontinu pada suatu
titik c dan jika g : B → R kontinu pada b = f(c), maka komposisi g o f kontinu pada
c. Agar menjamin bahwa g o f terdefinisi pada seleruh A, kita perlu menganggap
bahwa f(A) ⊆ B.
5.2.7 Teorema Misalkan A,B⊆R, f : A → R dan g : B → R fungsi-
fungsi sedemikian sehingga f(A)⊆B. Jika f kontinu pada suatu titik c∈A dan g kon-
tinu pada b = f(c) ∈B, maka komposisi g o f : A → R kontinu pada c.
Bukti. Misalkan W suatu lingkungan-ε dari g(b). Karena g kontinu pada b,
maka terdapat suatu lingkungan-δ V dari b = f(c) sedemikian sehingga jika y∈B∩V
maka g(y)∈W. Karena f kontinu pada c, maka terdapat suatu lingkungan-γ U dari c
sedemikian sehingga jika x∈U∩A, maka f(x)∈V. (Lihat Gambar 5.2.1.) Karena
f(A)⊆B, maka ini berarti jika x∈A∩U, maka f(x)∈B∩V dengan demikian g o f(x) =
g(f(x))∈W. Tetapi karena W suatu lingkungan-ε dari g(b), ini mengakibatkan bahwa g
o f kontinu pada c.
5.2.7 Teorema Misalkan A,B⊆R, f : A → R kontinu pada A dan g : B
→ R kontinu pada B. Jika f(A)⊆B, maka komposisi g o f : A → R kontinu pada
A.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 162
Bukti. Teorema ini secara serta-merta mengikuti hasil sebelumnya, jika , ber-
turut-turut, f dan g kontinu pada setiap titik A dan B.
Teorema 5.2.7 dan 5.2.8 sangat bermanfaat dalam menunjukkan bahwa
fungsi-fungsi tertentu kontinu. Teorema-teorema ini dapat dipergunakan dalam ber-
bagai situasi dimana situasi ini akan sulit untuk menggunakan definisi kekontinuan
secara langsung.
5.2.9 Contoh-contoh (a) Misalkan g
1
(x) = ¦x¦ untuk x∈R. Menurut
Ketaksamaan Segitiga (Lihat Akibat 2.3.4) bahwa
¦g
1
(x) – g
1
(c)¦ ≤ ¦x - c¦
untuk semua x,c∈R. Dari sini g
1
kontinu pada c∈R. Jika f : A → R sebarang
fungsi kontinu pada A, maka Teorema 5.2.8 mengakibatkan bahwa g
1
o f = ¦f¦ kon-
tinu pada A. Ini memberikan cara lain pembuktian dari Teorema 5.2.5.
(b) Misalkan g
2
(x) = x untuk x ≥ 0. Mengikuti Teorema 3.2.10 dan 5.1.3
bahwa g
2
kontinu pada sebarang c ≥ 0. Jika f : A → R kontinu pada A dan jika f(x)
≥ 0 untuk semua x∈A, maka menurut Teorema 5.2.8 g
2
o f = f kontinu pada A. Ini
memberikan pembuktian lain dari Teorema 5.2.6.
(c) Misalkan g
3
(x) = sin x untuk x∈R. Kita telah tunjukkan dalam Contoh
5.2.4(c) bahwa g
3
kontinu pada R. Jika f : A → R kontinu pada A, maka mengikuti
Teorema 5.2.8 bahwa g
3
o f kontinu pada A.
Khususnya, jika f(x) = 1/x untuk x ≠ 0, maka fungsi g(x) = sin(1/x) kontinu
pada setiap titik c ≠ 0. [Kita telah tunjukkan, dalam Contoh 5.1.7(a), bahwa g tidak
didefinisikan pada 0 agar g menjadi kontinu pada titik itu.]
f
g
A
B C
U
V
W
c
b
g(b)
GAMBAR 5.2.1 Komposisi dari f dan g
Pendahuluan
Analisis Real I 163

Soal-soal
1. Tentukan titik-titik kekontinuan dari fungsi-fungsi berikut dan nyatakan teorema-
teorema mana yang dipergunakan dalam setiap kasus :
(a). f(x) =
1
1 2
2
2
+
+ +
x
x x
(x∈R); (b) g(x) = x x + (x ≥ 0);
(c). h(x) =
x
x sin 1+
(x ≠ 0); (d) k(x) = cos 1
2
+ x (x∈R).
2. Tunjukkan bahwa jika f : A→ R kontinu pada A⊆R dan jika n∈N, maka fungsi f
n
dide-
finisikan oleh f
n
(x) = (f(x))
n
untuk x∈A, kontinu pada A.
3. Berikan satu contoh f dan g yang kedua-duanya tidak kontinu pada suatu titik c dalam R
sedemikian sehingga : (a) fungsi jumlah f + g kontinu pada c, (b) fungsi hasil kali fg kon-
tinu pada c.
4. Misalkan x ξ ⇓x◊ menyatakan fungsi bilangan bulat terbesar (lihat Latihan 5.1.4.) Tentu-
kan titik-titik kekontinuan dari fungsi f(x) = x - ⇓x◊, x∈R.
5. Misalkan g didefinisikan pada R oleh g(1) = 0, dan g(x) = 2 jika x ≠ 1, dan misalkan f(x)
= x + 1 untuk semua x∈R. Tunjukkan bahwa f g
x
o
0
lim

≠ g o f(0). Mengapa ini tidak
kontradiksi dengan Teorema 5.2.7?
6. Misalkan f,g didefinisikan pada R dan c∈R. Misalkan juga bahwa f
x 0
lim

= b dan g kon-
tinu pada b. Tunjukkan bahwa f g
x
o
0
lim

= g(b). (Bandingkan hasil ini dengan Teorema
5.2.7 dan latihan sebelumnya.)
7. Berikan contoh dari fungsi f : [0,1] → R yang diskontinu pada setiap titik dalam [0,1]
tetapi sedemikian sehingga ¦f¦ kontinu pada [0,1].
8. Misalkan f,g fungsi-fungsu kontinu dari R ke R, dan misalkan pula f(r) = g(r) untuk se-
mua bilangan rasional r. Apakah benar bahwa f(x) = g(x) untuk semua x∈R?
9. Misalkan h : R → R kontinu pada R memenuhi h(m/2
n
) = 0 untuk semua m∈Z, n∈N.
Tunjukkan bahwa h(x) = 0 untuk semua x∈R.
10. Misalkan f : R → R kontinu pada R, dan misalkan pula P = {x∈R : f(x) > 0}. Jika c∈P,
tunjukkan bahwa terdapat suatu lingkungan V
δ
(c)⊆P.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 164
11. Jika f dan g kontinu pada R, misalkan pula S = {x∈R : f(x) ≥ g(x)}. Jika (s
n
)⊆S dan lim
(s
n
) = s, tunjukkan bahwa s∈S.
12. Suatu fungsi f : R → R dikatakan aditif jika f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x,y∈R.
Buktikan bahwa jika f kontinu pada suatu titik x
0
, maka fungsi itu kontinu pada setiap ti-
tik dalam R. (Lihat Latihan 4.2.12.)
13. Misalkan f fungsi aditif kontinu pada R. Jika c = f(1), tunjukkan bahwa kita mempunyai
f(x) = cx untuk semua x∈R. [Petunjuk : Pertama-tama tunjukkan bahwa jika r suatu bi-
langan rasional, maka f(r) = cr.]
14. Misalkan g : R → R memenuhi hubungan g(x + y) = g(x)g(y) untuk semua x,y∈R. Tun-
jukkan bahwa jika g kontinu pada x = 0, maka g kontinu pada setiap titik dalam R. Juga
jika kita mempunyai g(a) = 0 untuk suatu a ∈R, maka g(x) = 0 untuk semua x∈R.
15. Misalkan f,g : R → R kontinu pada suatu titik c, dan h(x) = sup{f(x), g(x)} untuk x∈R.
Tunjukkan bahwa h(x) = ½(f(x) + g(x)) + ½¦f(x) – g(x)¦ untuk semua x∈R. Gunakan
hasil ini untuk menunjukkan bahwa h kontinu pada c.
16. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R terbatas dan kontinu pada I. Definisikan g : I → R den-
gan g(x) = sup{f(t) : a ≤ t ≤ b} untuk semua x∈I. Buktikan bahwa g kontinu pada I.
PASAL 5.3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval
Fungsi-fungsi yang kontinu pada interval-interval mempunyai sejumlah sifat
penting yang tidak dimiliki oleh fungsi kontinu pada umumnya. Dalam pasal ini kita
akan memperlihatkan beberapa hasil yang agak mendalam yang dapat dipandang
penting, dan yang akan diterapkan pada bagian-bagian selanjutnya.
5.3.1 Definisi Suatu fungsi f : A → R dikatakan terbatas pada A, jika terda-
pat M > 0 sedemikan sehingga ¦f(x)¦ ≤ M untuk semua x∈A.
Dengan kata lain, suatu fungsi dikatakan terbatas jika range-nya merupakan suatu
himpunan terbatas dalam R. Kita mencatat bahwa suatu fungsi kontinu tidak perlu terbatas.
Contohnya, fungsi f(x) = 1/x adalah fungsi kontinu pada himpunan A = {x∈R : x > 0}. Akan
tetapi, f tidak terbatas pada A. Kenyataannya, f(x) = 1/x tidak terbatas apabila dibatasi pada B
= {x∈R : 0 < x < 1}. Akan tetapi, f(x) = 1/x terbatas apabila dibatasi untuk himpunan C =
{x∈R : 1 ≤ x}, meskipun himpunan C tidak terbatas.
Pendahuluan
Analisis Real I 165
5.3.2 Teorema Keterbatasan Misalkan I = [a,b] suatu interval tertutup dan
terbatas dan misalkan f : I → R kontinu pada I. Maka f terbatas pada I.
Bukti. Andaikan f tidak terbatas pada I. Maka, untuk sebarang n∈N terdapat
suatu bilangan x
n
∈I sedemikian sehingga ¦f(x
n
)¦ > n. Karena I terbatas, barisan X =
(x
n
) terbatas. Oleh karena itu, menurut Teorema Bolzano-Weiestrass 3.4.7 bahwa ter-
dapat subbarisan X‘ = (
r
n
x ) dari X yang konvergen ke x. Karena I tertutup dan unsur-
unsur X’ masuk kedalam I, maka menurut Teorema 3.2.6, x∈I. Karena f kontinu pada
x, dengan demikian barisan (f(
r
n
x )) konvergen ke f(x). Kita selanjutnya menyimpul-
kan dari Teorema 3.2.2 bahwa kekonvergenan barisan (f(
r
n
x )) mesti terbatas. Tetapi
ini suatu kontradiksi karena
¦f(
r
n
x )¦ > n
r
≥ r untuk r∈N
Oleh karena itu pengandaian bahwa fungsi kontinu f tidak terbatas pada interval tertu-
tup dan terbatas I menimbulkan kontradiksi.
5.3.3 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. Kita katakan f mempunyai
suatu maksimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik x
*
∈A sedemikian se-
hingga
f(x
*
) ≥ f(x) untuk semua x∈A.
Kita katakan f mempunyai suatu minimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik
x
*
∈A sedemikian sehingga
f(x
*
) ≤ f(x) untuk semua x∈A.
Kita katakan bahwa x
*
suatu titik maksimum mutlak untuk f pada A, dan x
*
suatu
titik minimum mutlak dari f pada A, jika titik-titik itu ada.
Kita perhatikan bahwa suatu fungsi kontinu pada himpunan A tidak perlu mempun-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 166
yai suatu maksimum mutlak atau minimum mutlak pada himpunan tersebut. Sebagai contoh,
f(x) = 1/x, yang tidak mempunyai baik titik maksimum mutlak maupun minimum mutlak
pada himpunan A = {x∈R : x > 0}. (Lihat Gambar 5.3.1). Tidak adanya titik maksimum ab-
solut untuk f pada A karena f tidak terbatas diatas pada A, dan tidak ada titik yang mana f
mencapai nilai 0 = inf{f(x) : x∈A}. Fungsi yang sama tidak mempunyai baik suatu mak-
simum mutlak maupun minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : 0 < x < 1},
sedangkan fungsi ini mepumyai nilai maksimum mutlak dan juga minimum mutlak apabila
dibatasi pada himpunan {x∈R : 1 ≤ x ≤ 2}. Sebagai tambahan, f(x) = 1/x mempunyai suatu
maksimum mutlaktetapi tidak mempunyai minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan
{x∈R : x ≥ 1}, tetapi tidak mempunyai maksimum mutlak dan tidak mempunyai nilai mini-
mum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : x > 1}.

GAMBAR 5.3.1 Grafik fungsi f(x) = 1/x (x > 0)
Jika suatu fungsi mempunyai suatu titik maksimum mutlak, maka titik ini ti-
dak perlu ditentukan secara tunggal. Sebagai contoh, fungsi g(x) = x
2
didefinisikan
untuk x∈A = [-1,+1] mempunyai dua titik x = !1 yang memberikan titik maksimum
pada A, dan titik tunggal x = 0 menghasilkan minimum mutlaknya pada A. (Lihat
Gambar 5.3.2.) Untuk memilih suatu contoh ekstrim, fungsi konstan h(x) = 1 untuk
x∈R adalah sedemikian sehingga setiap titik dalam R merupakan titik maksimum
mutlak dan sekaligus titik minimum mutlak untuk f.
5.3.4 Teorema Maksimum-Minimum Misalkan I = [a,b] interval tertutup
dan terbatas dan f : I → R kontinu pada I. Maka f mempunyai maksimum mutlak dan
minimum mutlak pada I.
Bukti. Pandang himpunan tak kosong f(I) = {f(x) : x∈I} nilai-nilai dari f pada
I. Dalam Teorema 5.3.2 sebelumnya telah diperlihatkan bahwa f(I) merupakan sub-
Pendahuluan
Analisis Real I 167
himpunan dari R yang terbatas. Misalkan s
*
= sup f(I) dan s
*
= inf f(I). Kita claim
bahwa terdapat titik-titik x
*
dan x
*
sedemikian sehingga s
*
= f(x
*
) dan s
*
= f(x
*
). Kita
akan memperlihatkan bahwa keberadaan titik x
*
, meninggalkan pembuktian eksistensi
dari x
*
untuk pembaca.

GAMBAR 5.3.2 Grafik fungsi g(x) = x
2
(¦x¦ ≤ 1)
Karena s
*
= sup f(I), jika n∈N, maka s
*
- 1/n bukan suatu batas atas dari him-
punan f(I). Akibatnya terdapat bilangan real x
n
∈I sedemikian sehingga
(#) s
*
-
n
1
< f(x
n
) ≤ s
*
untuk n∈N.
Karena I terbatas, barisan X = (x
n
) terbatas. Oleh karena itu, dengan menggunakan
Teorema Bolzano-Weiestrass 3.4.7, terdapat subbarisan X‘ = (
r
n
x ) dari X yang kon-
vergen ke suatu bilangan x
*
. Karena unsur-unsur dari X’ termasuk dalam I = [a,b],
maka mengikuti Teorema 3.2.6 bahwa x
*
∈I. Oleh karena itu f kontinu pada x
*
dengan
demikian lim (f(
r
n
x )) = f(x
*
). Karena itu mengikuti (#) bahwa
s
*
-
r
n
1
< f(
r
n
x ) ≤ s
*
untuk r∈N,
kita menyimpulkan dari Teorema Apit 3.2.7 bahwa lim (f(
r
n
x )) = s
*
. Oleh karena itu
kita mempunyai
f(x
*
) = lim (f(
r
n
x )) = s
*
= sup f(I).
Kita simpulkan bahwa x
*
adalah suatu titik maksimum mutlak dari f pada I.
Hasil berikut memberikan suatu dasar untu lokasi akar dari fungsi-fungsi kon-
tinu. Pembuktiannya memberikan juga suatu algoritma untuk pencarian akar dan da-
pat dengan mudah diprogram untuk suatu komputer. Suatu alternatif pembuktian dari
teorema ini ditunjukkan dalam Latihan 5.3.8.
5.3.5 Teorema Lokasi Akar Misalkan I suatu interval dan f : I → R fungsi
kontinu pada I. Jika α < β bilangan-bilangan dalam I sedemikian sehingga f(α) < 0 <
f(β) (atau sedemikian sehingga f(α) > 0 > f(β)), maka terdapat bilangan c∈(α,β)
sedemikian sehingga f(c) = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 168
Bukti. Kita asumsikan bahwa f(α) < 0 < f(β). Misalkan I
1
= [α,β] dan γ = ½(α
+ β). Jika f(γ) = 0 kita ambil c = γ dan bukti lengkap. Jika f(γ) > 0 kita tetapkan α
2
=
α, β
2
= γ, sedangkan jika f(γ) < 0 kita tetapkan α
2
= γ, β
2
= β. Dalam kasus apapun,
kita tetapkan I
2
= [α
2

2
], dimana f(α
2
) < 0 dan f(β
2
) > 0. Kita lanjutkan proses biseksi
ini.
Anggaplah bahwa kita telah mempunyai interval-interval I
1
, I
2
, …, I
k
= [α
k

k
]
yang diperoleh dengan biseksi secara berturut-turut dan sedemikian sehingga f(α
k
) < 0
dan f(β
k
) > 0. Misalkan γ
k
= ½(α
k
+ β
k
). Jika f(γ
k
) = 0 kita ambil c = γ
k
dan bukti
lengkap. Jika f(γ
k
) > 0 kita tetapkan α
k+1
= α
k
, β
k+1
= γ
k
, sedangkan jika f(γ
k
) < 0 kita
tetapkan α
k+1
= γ
k
, β
k+1
= β
k
. Dalam kasus apapun, kita tetapkan I
k+1
= [α
k+1

k+1
],
dimana
f(α
k+1
) < 0 dan f(β
k+1
) > 0.
Jika proses ini diakhiri dengan penetapan suatu titik γ
n
sedemikian sehingga f(γ
n
) =0,
pembuktian selesai. Jika proses ini tidak berakhir, kita memperoleh suatu barisan
nested dari interval-interval tutup I
n
= [α
n

n
], n∈N. Karena interval-interval ini
diperoleh dengan biseksi berulang, kita mempunyai β
n
- α
n
= (β - α)/2
n – 1
. Mengikuti
Sifat Interval Nested 2. 6.1 bahwa terdapat suatu titik c dalam I
n
untuk semua n∈N.
Karena α
n
≤ c ≤ β
n
untuk semua n∈N, kita mempunyai 0 ≤ c - α
n
≤ β
n
- α
n
= (β -
α)/2
n – 1
, dan 0 ≤ β
n
– c ≤ β
n
- α
n
= (β - α)/2
n – 1
. Dari sini diperoleh bahwa c = lim

n
) dan c = lim (β
n
). Karena f kontinu pada c, kita mempunyai
lim (f(α
n
)) = f(c) = lim (f(β
n
)).
Karena f(β
n
) ≥ 0 untuk semua n∈N, maka mengikuti Teorema 3.2.4 bahwa f(c) = lim
(f(β
n
)) ≥ 0. Juga Karena f(α
n
) ≤ 0 untuk semua n∈N, maka mengikuti hasil yang sama
(gunakan –f) bahwa f(c) = lim (f(α
n
)) ≤ 0. Oleh karena itu kita mesti mempunyai f(c) =
0. Akibatnya c merupakan akar dari f.
Hasil berikut adalah generalisasi dari teorema sebelumnya. Ini menjamin
bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval memuat sejumlah bilangan yang ma-
suk diantara dua nilainya.
Pendahuluan
Analisis Real I 169
5.3.6 Teorema Nilai Antara Bolzano Misalkan I suatu interval dan f : I →
R kontinu pada I. Jika a, b∈I dan jika k∈R memenuhi f(a) < k < f(b), maka terdapat
suatu titik c∈I antara a dan b sedemikian sehingga f(c) = k.
Bukti. Anggaplah a < b dan misalkna g(x) = f(x) – k; maka g(a) < 0 < g(b).
Menurut Teorema Lokasi Akar 5.3.5 terdapat suatu titik c dengan a < c < b
sedemikian sehingga 0 = g(c) = f(c) – k. Oleh karena itu f(c) = k.
Jika b < a, misalkan h(x) = k – f(x) dengan demikian h(b) < 0 < h(a). Oleh
karena itu terdapat titik c dengan b < c < a sedemikian sehingga 0 = h(c) = k – f(c),
dari sini f(c) = k.
5.3.7 Akibat Misalkan I = [a,b] suatu interval tutup dan terbatas. Misalkan
pula f : I → R kontinu pada I. Jika k∈R sebarang bilangan yang memenuhi
inf f(I) ≤ k ≤ sup f(I)
maka terdapat suatu bilangan c∈I sedemikian sehingga f(c) = k.
Bukti. Ini mengikut pada Teorema MaksimumMinimum 5.3.4 bahwa terda-
pat titik-titik c
*
dan c
*
dalam I sedemikian sehingga
inf f(I) = f(c
*
) ≤ k ≤ f(c
*
) = sup f(I).
Sekarang kesimpulan mengikut pada Teorema 5.3.6.
Teorema berikut ini meringkaskan hasil utama dari pasal ini. Teorema ini
menyatakan bahwa peta dari suatu interval tertutup dan terbatas dibawah suatu fungsi
kontinu juga interval tertutup dan terbatas. Titik-titik ujung dari interval peta adalah
nilai maksimum mutlak dan minimum mutlak dari fungsi, dan pernyataan bahwa se-
mua nilai antara nilai maksimum dan nilai minimum masuk dalam interval peta
adalah suatu cara dari pertimbangan Teorema Nilai Antara Bolzano.
5.3.8 Misalkan I = [a,b] suatu interval tutup dan terbatas. Misalkan pula f : I
→ R kontinu pada I. Maka himpunan f(I) = {f(x) : x∈I} adalah interval tutup dan ter-
batas.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 170
Bukti. Jika kita memisalkan m = inf f(I) dan M = sup f(I), maka mengetahui
dari Teorema Maksimum-Minimum 5.3.4 bahwa m dan M masuk dalam f(I). Selain
itu, kita mempunyai f(I) ⊆ [m,M]. Di pihak lain, jika k sebarang unsur dari [m,M],
maka menurut Teotema Akibat sebelumnya bahwa terdapat suatu titik c∈I sedemikian
sehingga k = f(c). Dari sini, k∈f(I) dan kita menyimpulkan bahwa [m,M]⊆f(I). Oleh
karena itu, f(I) adalah interval [m,M].

GAMBAR 5.3.3 f(I) = [m,M]
Catatan. Jika I = [a,b] suatu interval dan f : I → R kontinu pada I, kita mem-
punyai bukti bahwa f(I) adalah interval [m,M]. Kita tidak mempunyai bukti (dan itu
tidak selalu benar) bahwa f(I) adalah interval [f(a),f(b)]. (ihat Gambar 5.3.3.)
Teorema sebelumnya adalah suatu teorema “pengawetan” dalam pengertian,
teorema ini menyatakan bahwa peta kontinu dari suatu interval tutup dan terbatas
adalah himpunan yang bertipe sama. Teorema berikut memperluas hasil ini untuk in-
terval secara umum. Akan tetapi, akan dicatat bahwa meskipun peta kontinu dari
suatu interval adalah juga suatu interval, tidak benar bahwa interval peta perlu mem-
punyai bentuk sama seperti interval domain. Sebagai contoh, peta kontinu dari inter-
m
f(a)
b
a
M
f(b)
x
*
x
*
Pendahuluan
Analisis Real I 171
val buka tidak perlu suatu interval buka, dan peta kontinu dari suatu interval tertutup
tak terbatas tidak perlu interval tertutup. Memang, jika f(x) = 1/(x
2
+ 1) untuk xεR,
maka f kontinu pada R [lihat Contoh 5.2.4(b)]. Mudah untuk melihat bahwa jika I
1
=
(-1,1), maka f(I
1
) = (½,1], yang mana bukan suatu interval buka. Juga, jika I
2
= [0,∞),
maka f(I
2
) = (0,1] yang mana bukan interval tutup. (Lihat Gambar 5.3.4.)
Untuk membuktikan Teorema Pengawetan Interval 5.3.10, kita perlu lemma
pencirian interval berikut.

GAMBAR 5.3.4 Grafik fungsi f(x) = 1/(x
2
+ 1) (x∈R)
5.3.9 Lemma Misalkan S⊆R suatu himpunan tak kosong dengan sifat
(*) jika x,y∈S dan x < y, maka [x,y]⊆S.
Maka S suatu interval.
Bukti. Kita akan menganggap bahwa S mempunyai sekurang-kurangnya dua
titik. Terdapat empat kasus untuk diperhatikan : (i) S terbatas, (ii) S terbatas diatas
tetapi tidak terbatas dibawah, (iii) ) S terbatas dibawah tetapi tidak terbatas diatas, dan
(iv) S tidak terbatas baik diatas maupun dibawah.
(i) Misalkan a = inf S dan b = sup S. Jika s∈S maka a ≤ s ≤ b dengan
demikian s∈[a,b]; karena s∈S sebarang, kita simpulkan bahwa S⊆[a,b].
Dipihak lain kita claim bahwa (a,b)⊆S. Karena jika z∈(a,b), maka z bukan
suatu batas bawah dari S dengan demikian terdapat x∈S dengan x < z. Juga z ukan
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 172
suatu batas atas darin S dengan demikian terdapat y∈S dengan z < y. Akibatnya,
z∈[x,y] dan sifat (*) mengakibatkan z∈[x,y]⊆S. Karena z unsur sebarang dalam (a,b),
maka disimpulkan bahwa (a,b) ⊆ S.
Jika a∉S dan b∉S, maka kita mempunyai S = (a,b); jika a∉S dan b∈S kita
mempunyai S = (a,b]; jika a∈S dan b∉S kita mempunyai S = [a,b); dan jika a∈S dan
b∈S kita mempunyai S = [a,b].
(ii) Misalkan b = sup S. Jika s∈S maka s ≤ b dengan demikian kita mesti
mempunyai S⊆(-∞,b]. Kita claim bahwa (-∞,b)⊆S. Karena, jika z∈(-∞,b), argumen
yang diberikan (i) mengakibatkan terdapat x,y∈S sedemikian sehingga [x,y]⊆S. Oleh
karena itu (-∞,b)⊆S.
Jika b∉S, maka kita mempunyai S = (-∞,b); jika b∈S, maka kita mempunyai S
= (-∞,b].
(iii) Misalkan a = inf S dan memperlihatkan seperti dalam (ii). Dalam ka-
sus ini kita mempunyai S = (a,∞) jika a∉S, dan S = [a,∞) jika a∈S.
(iv) Jika z∈R, maka argumen yang diberikan pada (i) mengakibatkan
bahwa terdapat x,y∈S sedemikian sehingga z∈[x,y]⊆S. Oleh karena itu R⊆S, dengan
demikian S = (-∞,∞).
Jadi, dalam semua kasus, S merupakan suatu interval.
5.3.10 Teorema Pengawetan Interval Misalkan I suatu interval dan f : I →
R kontinu pada I. Maka himpunan f(I) merupakan suatu interval.
Bukti. Misalkan α,β∈f(I) dengan α < β; maka terdapat titik-titik a,b∈I
sedemikian sehingga α = f(a) dan β = f(b). Selanjutnya, menurut Teorema Nilai
Antara Bolzano 5.3.6 bahwa jika k∈(α,β) maka terdapat suatu c∈I dengan k =
f(c)∈f(I). Oleh karena itu [α,β]⊆f(I), meninjukkan bahwa f(I) memiliki sifat (*) pada
lemma sebelumnya. Oleh karena itu f(I) merupakan suatu interval.
Pendahuluan
Analisis Real I 173
Latihan-latihan
1. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R fungsi kontinu sedemikian sehingga f(x) > 0 untuk
setiap x∈I. Buktikan bahwa terdapat suatu α > 0 sedemikian sehingga f(x) ≥ α untuk se-
mua x∈I.
2. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R dan g : I → R fungsi kontinu pada I. Tunjukkan bahwa
himpunan E = {x∈I : f(x) = g(x)} mempunyai sifat bahwa jika (x
n
)⊆E dan x
n
→ x
0
, maka
x
0
∈E.
3. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I sedemikian sehingga untuk setiap
x dalam I terdapat y dalam I sedemikian sehingga ¦f(y)¦ ≤ ½¦f(x)¦. Buktikan bahwa ter-
dapat suatu titik c dalam I sedemikian sehingga f(c).
4. Tunjukkan bahwa setiap polinomial derajat ganjil dengan koefisien real mempunyai pal-
ing sedikit akar real.
5. Tunjukkan bahwa polinomial p(x) = x
4
+ 7x
3
– 9 mempunyai paling sedikit dua akar real.
Gunakan kalkulator untuk menemukan akar-akar ini hingga dua tempat desimal.
6. Misalkan f kontinu pada interval [0,1] ke R dan sedemikian sehingga f(0) = f(1). Bukti-
kan bahwa terdapat suatu titik c dalam [0,½] sedemikian sehingga f(c) = f(c + ½). [Petun-
juk : Pandang g(x) = f(x) – f(x +½).] Simpulkan bahwa , sebarang waktu, terdapat titik-
titik antipodal pada equator bumi yang mempunyai temperatur yang sama.
7. Tunjukkan bahwa persamaan x = cos x mempunyai suatu solusi dalam interval [0,π/2].
Gunakan prosedur biseksi dalam pembuktian Teorema Pencarian Akar dan kalkulator un-
tuk menemukan suatu solusi oproksimasi dari persamaan ini, teliti sampai dua tempat de-
simal.
8. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I dan misalkan f(a) < 0, f(b) > 0.
Misalkan pula W = {x∈I : f(x) < 0}, dan w = sup W. Buktikan bahwa f(w) = 0. (Ini
memberikan suatu alternatif pembuktian Teorema 5.3.5.)
9. Misalkan I = [0,π/2], dan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = sup {x
2
,cos x} untuk x∈I.
Tunjukkan terdapat suatu titik minimum mutlak x
0
∈I untuk f pada I. Tunjukkan bahwa x
0

merupakan suatu solusi untuk persamaan cos x = x
2
.
10. Andaikan bahwa f : R → R kontinu pada R dan bahwa f
x −∞ →
lim = 0 dan f
x ∞ →
lim = 0.
Buktikan bahwa f terbatas pada R dan mencapai maksimum atau minimum pada R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 174
Berikan contoh untuk menunjukkan bahwa maksimum dan minimum, keduanya, tidak
perlu dicapai.
11. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan β∈R. Tunjukkan bahwa jika x
0
∈R sedemikian
sehingga f(x
0
) < β, maka terdapat suatu lingkungan-δ U dari x
0
sedemikian sehingga f(x)
< β untuk semua x∈U.
12. Ujilah bahwa interval-interval buka [atau, tutup] dipertakan oleh f(x) = x
2
untuk x∈R
pada interval-interval buka [atau, tutup].
13. Ujilah pemetaan dari interval-interval buka [atau, tutup] dibawah fungsi-fungsi g(x) =
1/(x
2
+ 1) dan h(x) = x
3
untuk x∈R.
14. Jika f : [0,1] → R kontinu dan hanya mempunyai nilai-nilai rasional [atau, nilai-nilai
irasional], mesti f fungsi konstan.
15. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R suatu fungsi (tidak perlu kontinu) dengan sifat bahwa
untuk setiap x∈I, fungsi f terbatas pada suatu lingkungan ( ) x V
x
δ
dari x (dalam penger-
tian pada Definisi 4.2.1). Buktikan bahwa f terbatas pada I.
16. Misalkan J = (a,b) dan g : J → R fungsi kontinu dengan sifat bahwa untuk setiap x∈J,
fungsi g terbatas pada suatu lingkungan ( ) x V
x
δ
dari x. Tunjukkan bahwa g tidak perlu
terbatas pada J.
PASAL 5.4 Kekontinuan Seragam
Misalkan A⊆R dan f : A → R. Telah dilihat pada Teorema 5.1.3 bahwa pern-
yataan-pernyataan berikut ini ekivalen :
(i) f kontinu pada setiap titik u∈A;
(ii) diberikan ε > 0 dan u∈A, terdapat δ(ε,u) > 0 sedemikian sehingga untuk
semua x∈A dan ¦x - u¦ < δ(ε,u), maka ¦f(x) – f(u)¦ < ε.
Suatu hal kita ingin menekankan disini bahwa, secara umum, δ bergantung pada ε >
0 dan u∈A. Fakta bahwa δ bergantung pada u adalah suatu refleksi bahwa fungsi f
dapat diubah nilai-nilainya dengan cepat dekat titik-titik tertentu dan dengan lambat
dekat dengan nilai-nilai lain. [Sebagai contoh, pandang f(x) = sin(1/x) untuk x > 0;
lihat Gambar 4.1.3.]
Pendahuluan
Analisis Real I 175
Sekarang, sering terjadi bahwa fungsi f sedemikian sehingga δ dapat dipilih
tidak bergantung pada titik u∈A dan hanya bergantung pada ε. Sebagai contoh, jika
f(x) = 2x untuk semua x∈R, maka
¦f(x) – f(u)¦ = 2¦x - u¦,
dan dengan demikian kita dapat memilih δ(ε,u) = ε/2 untuk semua ε > 0, u∈R (Men-
gapa?)
Di pihak lain jika kita memandang g(x) = 1/x unuk x∈A {x∈R : x > 0}, maka
(1) g(x) – g(u) =
ux
x u −
.
Jika u∈A diberikan dan jika kita memilih
(2) δ(ε,u) = inf {½u, ½u
2
ε},
maka jika ¦x - u¦ < δ(ε,u) kita mempunyai ¦x - u¦ < ½u dengan demikian ½u < x <
2
3
u, dimana berarti bahwa 1/x < 2/u. Jadi, jika ¦x - u¦ < ½u, ketaksamaan (1)
menghasilkan ketaksamaan
(3) ¦g(x) – g(u)¦ ≤ (2/u
2
)¦x - u¦.
Akibatnya, jika ¦x - u¦ < δ(ε,u), ketaksamaan (3) dan definisi (2) mengakibatkan
¦g(x) – g(u)¦ < (2/u
2
)(½u
2
ε) = ε
Kita telah melihat bahwa pemilihan δ(ε,u) oleh formula (2) “works” dalam pengertian
bahwa pemilihan itu memungkinkan kita untuk memberikan nilai δ yang akan men-
jamin bahwa ¦g(x) – g(u)¦ < ε apabila ¦x - u¦ < δ dan x,u∈A. Kita perhatikan bahwa
nilai δ(ε,u) yang diberikan pada (2) tidak memunculkan satu nilai δ(ε) > 0 yang akan
“work” untuk semua u > 0 secara simultan, karena inf{δ(ε,u) : u > 0} = 0.

Aljabar Himpunan
Analisis Real I 176
GAMBAR 5.4.1 g(x) = 1/x (x > 0)

Suatu tanda bagi pembaca akan mempunyai pengamatan bahwa terdapat pili-
han lain yang dapat dibuat untuk δ. (Sebagai contoh kita juga dapat memilih δ
1
(ε,u) =
inf{
3
1
u,
3
2
u
2
ε}, sebagaimana pembaca dapat tunjukkan; akan tetapi kita masih mem-
punyai inf{δ(ε,u) : u > 0} = 0.) Kenyataannya, tidak ada cara pemilihan satu nilai δ
yang akan “work” untuk semua u > 0 untuk fungsi g(x) = 1/x, seperti kita akan lihat.
Situasi di atas diperlihatkan secara grafik dalam Gambar 5.4.1 dan 5.4.2 di-
mana, untuk lingkungan-ε yang diberikan sekitar f(2) = ½ dan f(½) = 2, sesuai den-
gan nilai maksimum dari δ terlihat sangat berbeda. Seperti u menuju 0, nilai δ yang
diperbolehkan menuju 0.
5.4.1 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. Kita katakan f kontinu
seragam pada A jika untuk setiap ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika
x,u∈A sebarang bilangan yang memenuhi ¦x - u¦ < δ(ε), maka ¦f(x) – f(u)¦ < ε.
Ini jelas bahwa jika f kontinu seragam pada A, maka f kontinu seragam pada
setiap titk dalam A. Akan tetapi, secara umum konversnya tidak berlaku, sebagaimana
telah ditunjukkan oleh fungsi g(x) = 1/x pada himpunan A = {x∈R : x > 0}.
Pengertian di atas berguna untuk memformulasi syarat ekuivalensi untuk
mengatakan bahwa f tidak kontinu seragam pada A. Kita akan memberikan kriteria
demikian dalam hasil berikut, ditinggalkan pembuktiannya seagai latihan bagi pem-
baca.
5.4.2 Kriteria Kekontinuan tidak Seragam Misalkan A⊆R dan f : A →
R. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen :
(i) f tidak kontinu seragam pada A;
(ii) Terdapat ε
0
> 0 sedemikian sehingga untuk setiap δ > 0 terdapat titik-
titik x
δ
, u
δ
dalam A sedemikian sehingga ¦x
δ
- u
δ
¦ < δ dan ¦f(x
δ
) – f(u
δ
)¦ ≥ ε
0
.
Pendahuluan
Analisis Real I 177
(iii) Terdapat ε
0
> 0 dan dua barisan (x
n
) dan (u
n
) dalam A sedemikian se-
hingga lim (x
n
– u
n
) = 0 dan ¦f(x
n
) – f(u
n
)¦ ≥ ε
0
untuk semua n∈N.
Kita dapat menggunakan hasil ini untuk menunjukkan bahwa g(x) = 1/x kon-
tinu tidak seragam pada A = {x∈R : x > 0}. Karena, jika x
n
= 1/n dan u
n
= 1/(n + 1),
maka kita mempunyai lim (x
n
– u
n
) = 0, tetapi ¦g(x) – g(u)¦ = 1 untuk semua n∈N.

GAMBAR 5.4.1 g(x) = 1/x (x > 0)

Sekarang kita menyajikan suatu hasil penting yang menjamin bahwa suatu
fungsi kontinu pada interval tertutup dan terbatas I adalah kontinu seragam pada I.
5.4.3 Teorema Kekontinuan Seragam Misalkan I suatu interval tutup dan
terbatas dan f : I → R kontinu pada I. Maka f kontinu seragam pada I.
Bukti. Jika f tidak kontinu seragam pada I maka menurut hasil sebelumnya,
terdapat ε
0
> 0 dan dua barisan (x
n
) dan (u
n
) dalam A sedemikian sehingga ¦x
n
- u
n
¦ <
1/n dan ¦f(x
n
) – f(u
n
)¦ > ε
0
untuk semua n∈N. Karena I terbatas, barisan (x
n
) terbatas;
menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3.4.7 terdapat subbarisan (
k
n
x ) dari (x
n
) yang
konvergen ke suatu unsur z. Karena I tertutup, limit z masuk dalam I, menuurt Teo-
rema 3.2.6. Ini jelas bahwa subbarisan yang bersesuaian (
k
n
u ) juga konvergen ke z,
karena
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 178
¦
k
n
u - z¦ ≤ ¦
k
n
u -
k
n
x ¦ + ¦
k
n
x - z¦.
Sekarang jika f kontinu pada titik z, maka barisan (f(x
n
)) dan (f(u
n
)) mesti
konvergen ke f(z). Akan tetapi ini tidak mungkin karena
¦f(x
n
) – f(u
n
)¦ ≥ ε
0

untuk semua n∈N. Jadi hipotesis bahwa f tidak kontinu seragam pada interval tutup
dan terbatas I mengakibatkan f tidak kontinu pada suatu titik z∈I. Akibatnya, jika f
kontinu pada setiap titik dalam I, maka f kontinu seragam pada I.
Fungsi-fungsi Lipschitz
Jika suatu fungsi kontinu seragam diberikan pada suatu himpunan yang meru-
pakan interval tidak tertutup dan terbatas, maka kadang-kadang sulit untuk menun-
jukkan kekontinuan seragamnya. Akan tetapi, terdapat suatu syarat yang selalu terjadi
yang cukup untuk menjamin kekontinuan secara seragam.
5.4.4 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. Jika terdapat suatu konstanta
K > 0 sedemikian sehingga
¦f(x) – f(u)¦ ≤ K¦x - u¦
untuk semua x,u∈A, maka f dikatakan fungsi Lipschitz (atau memenuhi syarat
Lipschitz) pada A.
Syarat bahwa suatu fungsi f : I → R pada suatu interval I adalah fungsi
Lipschitz dapat diinterpretasi secara geometri sebagai berikut. Jika kita menuliskan
syaratnya sebagai

( ) ( )
u x
u f x f


≤ K, x,u∈I, x ≠ u,
maka kuantitas dalam nilai mutlak adalah kemiringan segmen garis yang melalui titik-
titik (x,f(x)) dan (u,f(u)). Jadi, suatu fungsi f memenuhi syarat Lipschitz jika dan
hanya jika kemiringan dari semua segmen garis yang menghubungkan dua titik pada
grafik y = f(x) pada I terbatas oleh suatu K.
5.4.5 Teorema Jika f : A → R suatu fungsi Lipschitz, maka f kontinu
seragam pada A.
Pendahuluan
Analisis Real I 179
Bukti. Jika syarat Lipschitz dipenuhi dengan konstanta K, maka diberikan ε >
0 sebarang, kita dapat memilih δ = ε/K. Jika x,u∈A dan memenuhi ¦x - u¦ < δ, maka
¦f(x) – f(u)¦ < K(ε/K) = ε
Oleh karena itu, f kontinu seragam pada A.
5.4.6 Contoh-contoh (a) Jika f(x) = x
2
pada A = [0,b], dimana b suatu kon-
stanta positif, maka
¦f(x) – f(u)¦ = ¦x + u¦¦x -u¦ ≤ 2b¦x - u¦
untuk semua x,u dalam [0,b]. Jadi f memenuhi syarat Lipschitz dengan konstanta K =
2b pada A, dan oleh karena itu f kontinu seragam pada A. Tentu saja, karena fkontinu
pada A yang merupakan interval tertutup dan terbatas, ini dapat juga disimpulkan dari
Teorema Kekontinuan Seragam. (Perhatikan bahwa f tidak memenuhi kondisi
Lipschitz pada interval [0,∞).)
(b) Tidak semua fungsi yang kontinu seragam merupakan fungsi Lipschitz.
Misalkan g(x) = x untuk x dalam interval tertutup dan terbatas I = [0,2]. Karena g
kontinu pada I, maka menurut Teorema Kekontinuan Seragam 5.4.3, g kontinu
seragam pada I. Akan tetapi, tidak terdapat bilaknagn K > 0 sedemikian sehingga
¦g(x)¦ ≤ K¦x¦ untuk semua x∈I. (Mengapa tidak?) Oleh karena itu, g bukan suatu
fungsi Lipschitz pada I.
(c) Teorema Kekontinuan Seragam dan Teorema 5.4.5 kadang-kadang dapat
dikombinasikan untuk memperlihatkan kekontinuan seragam dari suatu fungsi pada
suatu himpunan. Kita pandang g(x) = x pada himpunan A = [0,∞). Kekontinuan
seragam dari g pada interval I = [0,2] mengikuti Teorema Kekontinuan Seragam
seperti dicatat dalam (b). Jika J = [1,∞), maka jika x dan u dalam J, kita mempunyai
¦g(x) – g(u)¦ = ¦ x - u ¦ =
u x
u x
+

≤ ½¦x - u¦
Jadi g suatu fungsi Lipschitz pada J dengan konstanta K = ½, dan dari sini menurut
Teorema 5.4.5, g kontinu seragam pada [1,∞). Karena A = I∪J, ini berarti [dengan
pemilihan δ(ε) = inf{1,δ
I
(ε),δ
J
(ε)}] bahwa g kontinu seragam pada A. Kita tinggalkan
detailnya untuk pembaca.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 180
Teorema Perluasan Kontinu
Kita telah melihat fungsi yang kontinu tapi tidak kontinu seragam pada inter-
val buka; sebagai contoh, fungsi f(x) = 1/x pada interval (0,1). Di pihak lain, dengan
Teorema Kekontinuan Seragam, suatu fungsi yang kontinu pada interval tutup dan
terbatas selalu kontinu seragam. Dengan demikian muncul pertanyaan: Syarat apa
yang diperlukan suatu fungsi untuk kontinu seragam pada suatu interval buka? Jawa-
bannya menampakkan kekuatan dari kekontinuan seragam, karena akan ditunjukkan
bahwa suatu fungsi pada (a,b) kontinu seragam jika dan hanya jika dapat didefinisi-
kan pada titik-titik ujung untuk menghasilkan suatu fungsi yang kontinu pada interval
tertutup. Pertama=tama kita akan menunjukkan suatu hasil sebagai teorema berikut.
5.4.7 Teorema Jika f : A → R kontinu seragam pada suatu A⊆R dan jika
(x
n
) barisan Cauchy dalam A, maka (f(x
n
)) barisan Cauchy dalam R.
Bukti. Misalkan (x
n
) barisan Cauchy dalam A, dan ε > 0 diberikan. Pertama-
tama pilih δ > 0 sedemikian sehingga jika x,u dalam A memenuhi ¦x - u¦ < δ, maka
¦f(x) – f(u)¦ < ε. Karena (x
n
) barisan Cauchy, maka terdapat H(δ) sedemikian se-
hingga ¦x
n
- x
m
¦ < δ untuk semua n,m > H(δ). Dengan pemilihan δ, ini mengakibat-
kan bahwa untuk n,m > H(δ), kita mempunyai ¦f(x
n
) – f(x
m
)¦ < ε. Oleh karena itu ba-
risan (f(x
n
)) barisan Cauchy.
Hasil di atas memberikan kita suatu cara alternatif dalam melihat bahwa f(x) =
1/x tidak kontinu seragam pada (0,1). Kita perhatikan bahwa barisan yang diberikan
oleh x
n
= 1/n dalam (0,1) merupakan barisan Cauchy, tetapi barisan petanya, dimana
f(x
n
) = n untuk semua n∈N bukan barusan Cauchy.
5.4.8 Teorema Perluasan Kontinu Suatu fungsi f kontinu seragam pada
interval (a,b) jika dan hanya jika f dapat didefinisikan pada titik-titik ujung a dan b
sedemikian sehingga fungsi perluasannya kontinu pada [a,b].
Bukti. Suatu fungsi yang kontinu seragam pada [a,b] tentu saja kontinu pada
(a,b), dengan demikian kita hanya perlu membuktikan implikasi sebaliknya.
Pendahuluan
Analisis Real I 181
Misalkan f kontinu seragam pada (a,b). Kita akan menunjukkan bagaimana
memperluas f ke a; argumen untuk b dilakukan dengan cara yang sama. Ini dilakukan
dengan menunjukkan bahwa ) ( lim x f
c x→
= L ada, dan ini diselesaikan dengan peng-
gunaan Kriteria Sekuensial untuk limit. Jika (x
n
) barisan dalam (a,b) dengan lim (x
n
)
= a, maka barisan ini barisan Cauchy, dan dengan demikian konvergen menurut Teo-
rema 3.5.4. Jadi lim (f(x
n
)) = L ada. Jika (u
n
) sebarang barisan lain dalam (a,b) yang
konvergen ke a, maka lim (u
n
- x
n
) = a – a = 0, dengan demikian oleh kekontinuan
seragam dari f kita mempunyai
Lim (f(u
n
)) = lim (f(u
n
) – f(x
n
)) + lim (f(x
n
))
= 0 + L = L.
Karena kita memperoleh nilai L yang sama untuk sebarang barisan yang konvergen ke
a, maka dari Kriteria Sekuensial untuk limit kita menyimoulkan bahwa f mempunyai
limit L pada a. Argumen yang sama digunakan untuk IbI, dengan demikian kita sim-
pulkan bahwa f mempunyai perluasan kontinu untuk interval [a,b].
Karena lim dari f(x) = sin(1/x) pada 0 tidak ada,
kita menegaskan dari Teorema Perluasan Kontinu bahwa fungsi ini tidak kontinu
seragam pada (0,b] untuk sebarang b > 0. Di pihak lain, karena ( ) x x
x
1 sin lim
0 →
= 0 ada,
maka fungsi g(x) = x sin (1/x) kontinu seragam pada (0,b) untuk semua b > 0.
Aproksimasi
Dalam banyak aplikasi adalah penting untuk dapat
mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan suatu fungsi yang memiliki sifat-sifat
dasar. Meskipun terdapat variasi definisi yang dapat digunakan untuk membuat kata
“aproksimasi” lebih tepat, satu diantaranya yang sangat alami (dan juga salah satu
yang terpenting) adalah memaksa bahwa setiap titik dari domain yang diberikan,
fungsi aproksimasinya akan tidak berbeda dari fungsi yang diberikan dengan lebih
kecil dari kesalahan yang ditentukan.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 182
5.4.9 Definisi Misalkan I⊆R suatu interval dan s
: I → R. Maka s dinamakan fungsi tangga jika s hanya mempunyai sejumlah hingga
nilai-nilai yang berbeda, setiap nilai diberikan pada satu atau lebih interval dalam I.
Sebagai contoh, fungsi s : [-2,4] → R didefinisikan
oleh

s(x) =
¦
¦
¦
¦
¹
¦
¦
¦
¦
´
¦
≤ <
≤ ≤ −
< ≤
< <
< ≤
< ≤
, 4 x 3 2,
3, x 1 2,
, 1 3,
, 0 ,
0, 1 - 1,
, 1 2 - 0,
2
1
2
1
2
1
x
x
x
x

merupakan fungsi tangga. (Lihat Gambar 5.4.3)

GAMBAR 5.4.3 Grafik y = s(x)
(
(
(
[
[
[
[
[
[
[
(
(
x
y
Pendahuluan
Analisis Real I 183
Sekarang kita akan menunjukkan bahwa suatu
fungsi kontinu pada suatu interval tertutup dan terbatas I dapat diaproksimasi secara
sebarang dengan fungsi tangga.
5.3.10 Teorema Misalkan I interval tertutup dan
terbatas. Misalkan pula f : I → R kontinu pada I. Jika ε > 0, maka terdapat suatu
fungsi tangga s
ε
: I → R sedemikian sehingga ¦f(x) - s
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Bukti. Karena fungsi f kontinu seragam (menurut
Teorema Kekontinuan Seragam 5.4.3), maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terda-
pat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x,y∈I dan ¦x - y¦ < δ(ε), maka ¦f(x) – f(y)¦ < ε.
Misalkan I = [a,b] dan m∈N cukup besar dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε).
Sekarang kita membagi I = [a,b] ke dalam m interval saling lepas yang panjangnya h;
yaitu I
1
= [a,a+h], dan I
k
= (a+(k-1)h,a+kh] untuk k = 2, … ,m. Karena panjang setiap
subinterval I
k
adalah h < δ(ε), maka selisih antara dua nilai dari f dalam I
k
lebih kecil
dari ε. Sekarang kita definisikan
(4) s
ε
(x) = f(a + kh) untuk x∈I
k
, k = 1, … ,m,
dengan demikian s
ε
adalah konstanta pada setiap interval I
k
. (Kenyataannya bahwa
nilai dari s
ε
pada I
k
adalah nilai dari f pada titik ujung dari I
k
, Lihat Gambar 5.4.4.)
Akibatnya jika x∈I
k
, maka
¦f(x) - s
ε
(x)¦ = ¦f(x) - f(a + kh)¦ < ε.
Oleh karena itu kita mempunyai ¦f(x) - s
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 184

GAMBAR 5.4.4 Aproksimasi dengan fungsi tangga
Perhatikan bahwa pembuktian dari teorema sebe-
lumnya agak lebih dibandingkan dengan pernyataan dalam teorema. Pada ken-
yataannya kita telah membuktikan pernyataan berikut.
5.4.11 Akibat Misalkan I = [a,b] interval tutup
dan terbatas, dan f : I → R kontinu pada I. Jika ε > 0, maka terdapat bilangan asli m
sedemikian sehingga jika kita membagi I dalam m interval saling lepas I
k
yang mem-
punyai panjang h = (b – a)/m, maka fungsi tangga s
ε
didefinisikan pada (4) memenuhi
¦f(x) - s
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Fungsi tangga merupakan fungsi yang memiliki
karakter dasar, akan tetapi tidak kontinu (kecuali dalam kasus trivial). Karena itu ser-
ing diperlukan sekali untuk mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi
kontinu sederhana, bagaimana kita akan menunjukkan bahwa kita dapat mengaprok-
simasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi linear kontinu piecewise (potong demi
potong).
5.4.12 Definisi Misalkan I = [a,b] suatu interval.
Maka suatu fungsi g : I → R dikatakan linear potong demi potong pada I jika I me-
rupakan gabungan dari sejumlah hingga interval saling lepas I
1
, … I
m
, sedemikian se-
hingga pembatasan dari g untuk setiap interval I
k
merupakan fungsi linear.
Remark. Jelas bahwa agar suatu fungsi linear potong demi
potong g kontinu pada I, segmen garis yang membentuk grafik g bertemu pada titik-titik ujung dari
subinterval yang berdekatan I
k
dan I
k
+ 1
k + 1
(k = 1, … , m-1)
Teorema 5.4.13 Misalkan I suatu interval tutup
dan terbatas, dan f : I → R kontinu pada I. Jika ε > 0, maka terdapat suatu fungsi lin-
ear potong-demi-potong kontinu g
ε
: I → R sedemikian sehingga ¦f(x) - g
ε
(x)¦ < ε
untuk semua x∈I.
Pendahuluan
Analisis Real I 185
Bukti. Karena fungsi f kontinu seragam pada I =
[a,b] maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga
jika x,y∈I dan ¦x - y¦ < δ(ε), maka ¦f(x) – f(y)¦ < ε. Misalkan m∈N cukup besar
dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε). Sekarang kita membagi I = [a,b] ke dalam m
interval saling lepas yang panjangnya h; yaitu I
1
= [a,a + h], dan I
k
= (a + (k-1)h,a +
kh] untuk k = 2, … ,m. Pada setiap interval I
k
kita definisikan g
ε
fungsi linear yang
menghubungkan titik-titik
(a + (k – 1)h,f(a + (k – 1)h) dan (a + kh,f(a
+ kh)).
Maka g
ε
fungsi linear potong-demi-potong kontinu pada I. Karena, untuk x∈I
k
nilai
f(x) tidak lebih dari ε dari f(a + (k –1)h) dan f(a + kh), ditinggalkan sebagai latihan
pembaca untuk menunjukkan bahwa ¦f(x) - g
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I
k
; oleh karena
itu ketaksamaan ini berlaku untuk semua x∈I. (Lihat Gambar 5.4.5.)

GAMBAR 5.4.5 Aproksimasi oleh fungsi linear potong-demi-potong
Kita akan menutup pasal ini dengan mengemu-
kakan teorema penting dari Weierstrass mengenai aproksimasi fungsi-fungsi kontinu
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 186
dengan fungsi polinimial. Seperti diharapkan, agar memperoleh suatu aproksimasi
tidak lebih dari suatu ε > 0 yang ditentukan, kita mesti bersedia untuk menggunakan
polinomial sebarang derajat tinggi.
5.4.14 Teorema Aproksimasi Weierstrass Mis-
alkan I = [a,b] dan misalkan f : I → R kontinu. Jika ε > 0 diberikan, maka terdapat
suatu fungsi polinimial p
ε
sedemikian sehingga ¦f(x) - p
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Terdapat sejumlah pembuktian dari teorema ini.
Sayangnya, semua pembyktiian itu agak berbelit-belit, atau memakai hasil-hasil yang
belum pada pengerjaan kita. Salah satu pembuktian yang paling elementer berdasar-
kan pada teorema berikut yang dikemukakan oleh Serge Bernsteîn, untuk fungsi kon-
tinu pada [0,1]. Diberikan f : [0,1] → R, Bernsteîn mendefinisikan barisan polinomial
:
(5) B
n
(x) = ( )

=


|
|
¹
|

\
|
|
¹
|

\
|
n
k
k n k
x x
k
n
n
k
f
0
1 .
Fungsi polinomial B
n
, yang didefinisikan dalam (5) dinamakan polinomial Bernsteîn
ke-n untuk f; ini adalah suatu polinomial derajat aling tinggi n dan koefisien-
koefisiennya bergantung pada nilai dari fungsi f pada n + 1 titik
0,
n
1
,
n
2
, … ,
n
k
, … ,1,
dan koefisien-koefisien binomial


|
|
¹
|

\
|
k
n
=
)! ( !
!
k n k
n

=
( ) ( )
k
k n k n n
L
L
2 1
1

+ − −

5.4.15 Teorema Aproksimasi Bernsteîn Misal-
kan f : [0,1] → R fungsi konttinu dan misalkan ε > 0. Terdapat n
ε
∈N sedemikian se-
hingga jika n ≥ n
ε
, maka kita mempunyai ¦f(x) – B
n
(x)¦ < ε untuk semua x∈[0,1].
Bukti. Pembuktian Teorema ini diberikan dalam
Elements of Analysis Real, H. 169-172. Disana ditunjukkan bahwa jika δ(ε) > 0
Pendahuluan
Analisis Real I 187
sedemikian sehingga ¦f(x) – f(y)¦ < ε untuk semua x,y∈[0,1] dengan ¦x - y¦ < δ(ε),
dan jika M ≥ ¦f(x)¦ untuk semua x∈[0,1], maka kita dapat memilih
(6) n
ε
=sup{(δ(ε/2)
-4
,M
2

2
}.
Menaksir (6) memberikan informasi tentang seberapa besar n yang mesti kita pilih
agar B
n
mengaproksimasi f tidak melebihi ε.
Teorema Aproksimasi Weierstrass 5.4.14 dapat
diperoleh dari Teorema Aproksimasi Bernsteîn 5.4.15 dengan suatu pengubahan vari-
abel. Secara khusus, kita ganti f : [a,b] → R dengan fungsi F : [0,1] → R yang dide-
finisikan oleh
F(t) = f(a + (b – a)t) untuk t∈[0,1].
Fungsi F dapat diaproksimasi dengan polinmial Bernsteîn untuk F pada interval [0,1],
yang mana selanjutnya menghhasilkan polinomial pada [a,b] yang mengaproksimasi f.
Latihan-latihan
1. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/x kontinu seragam pada himpunan A = [a,∞),
dimana a suatu konstanta positif.
2. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) 1/x
2
kontinu seragam pada A = [1,∞), tetapi tidak
kontinu seragam pada B = (0,∞).
3. Gunakan Kriteria Kekontinuan Tak-Seragam 5.4.2 untuk menunjukkan bahwa
fungsi-fungsi berkut ini tidak kontinu seragam pada himpunan yang diberikan.
(a) f(x) = x
2
A =[0,∞);
(b) g(x) = sin(1/x) B = (0,∞).
4. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/(1 + x
2
) untuk x∈R kontinu seragam pada R
5. Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R, maka f + g juga kon-
tinu seragam pada A.
6. Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R dan jika kedua-duanya
terbatas pada A, maka hasil kali fg juga fungsi kontinu seragam.
7. Jika f(x) = x dan g(x) = sin x, tunjukkan bahwa f dan g kontinu seragam pada R,
tetapi hasil kali fg tidak kontinu seragam pada R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 188
8. Buktikan bahwa jika f dan g masing-masing kontinu seragam pada R maka fungsi
komposisinya f o g juga kontinu seragam pada R.
9. Jika f kontinu seragam pada A⊆R, dan ¦f(x)¦ ≥ k > 0 untuk semua x∈A, tunjuk-
kan bahwa 1/f kontinu seragam pada A.
10. Buktikan bahwa jika f kontinu seragam pada suatu himpunan A⊆R yang terbatas,
maka f terbatas pada A.
11. Jika g(x) = x untuk x∈[0,1], tunjukkan bahwa tidak terdapat suatu konstanta K
sedemikian sehingga ¦g(x)¦ ≤ K¦x¦ untuk semua x∈[0,1]. Berikan kesimpulan
bahwa g kontinu seragam yang tidak merupakan fungsi Lipschitz pada [0,1].
12. Tunjukkan bahwa jikaf kontinu pada [0,∞) dan kontinu seragam pada [a,∞) untuk
suatu konstanta positif a, maka f kontinu seragam pada [0,∞).
13. Misalkan A⊆R dan f : A → R memiliki difat: untuk setiap ε > 0 terdapat suatu
fungsi g
ε
: A → R sedemikian sehingga g
ε
kontinu seragam pada A dan ¦f(x) -
g
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈A. Buktikan bahwa f kontinu seragam pada A.
14. Suatu fungsi f : R → R dikatakan fungsi periodik pada A jika terdapat suatu
bilangan p > 0 sedemikian sehingga f(x + p) = f(x) untuk semua x∈R. Buktikan
bahwa suatu fungsi periodik kontinu pada R adalah terbatas dan kontinu seragam
pada R.
15. Jika f
0
(x) = 1 untuk x∈[0,1], Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn
untuk f
0
.Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f
0
. [Petunjuk: Teorema
Binomial menyatakan bahwa (a + b)
n
=
k n k
n
k
b a
k
n

=

|
|
¹
|

\
|
0
].
16. Jika f
1
(x) = x untuk x∈[0,1], Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn
untuk f
1
.Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f
1
.
17. Jika f
2
(x) = x
2
untuk x∈(0,1), Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn
untuk f
2
.Tunjukkan bahwa B
n
(x) = (1 –1/n)x
2
+ (1/n)x.
Pendahuluan
Analisis Real I 189
18. Gunakan hasil latihan sebelumnya untuk f
2
, seberapa besarnya n sedemikian se-
hingga polinomial Bernsteîn ke-n B
n
untuk f
2
memenuhi ¦f
2
(x) – B
n
(x)¦ ≤ 0,001
untuk semua x∈[0,1].
Pasal 5.5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers
Ingat kembali bahwa jika A⊆R, maka fungsi f : A → R dikatakan naik pada
A jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A dengan x
1
≤ x
2
berlaku f(x
1
) ≤ f(x
2
). Fungsi f dikatakan
naik secara murni pada A jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A dengan x
1
< x
2
berlaku f(x
1
) <
f(x
2
). Demikian juga, g : A → R dikatakan turun pada A jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A
dengan x
1
≥ x
2
berlaku g(x
1
) ≥ g(x
2
). Fungsi g dikatakan turun secara murni pada A
jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A dengan x
1
> x
2
berlaku g(x
1
) > g(x
2
).
Jika suatu fungsi naik atau turun pada A, maka kita katakan fungsi tersebut
monoton pada A. Jika f fungsi naimk murni ayau turun murni pada A, kita katakan
bahwa f monoton murni pada A.
Kita perhatikan bahwa jika f : A → R naik pada A maka g = -f turun pada A;
demikian juga jika ϕ : A → R turun pada A, maka ψ = -ϕ naik pada A.
Dalam pasal ini, kita akan bekerja dengan fungsi-fungsi monoton yang dide-
finisikan pada suatu interval I⊆R. Kita akan mendiskusikan fungsi-fungsi naik secara
eksplisit, tetapi itu jelas bahwa terdapat persesuaian hasil untuk fungsi-fungsi turun.
Hasil-hasil ini dapat diperoleh secara langsung dari hasil-hasil untuk fungsi-fungsi
naik atau dibuktikan dengan argumen yang serupa.
Fungsi monoton tidak perlu kontinu. Sebagai cintoh, jika f(x) = 0 untuk
x∈[0,1] dan f(x) = 1 untuk x∈(1,2], maka f merupakan fungsi naik pada [0,1], tetapi
tidak kontinu pada x = 1. Akan tetapi, hasil berikut ini menunjukkan bahwa suatu
fungsi monoton selalu mempunyai limit-limit sepihak baik limit pihak-kiri maupun
pihak-kanan (lihat Definisi 4.3.1) dalam R pada setiap titik yang bukan titik ujung
dari domainnya.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 190
5.5.1 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. An-
daikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I. Maka
(i) f
c x − →
lim = sup{f(x) : x∈I, x < c}
(ii) f
c x + →
lim = inf{f(x) : x∈I, x > c}
Bukti. Pertama-tama kita perhatikan jika x∈I dan x < c, maka f(x) ≤ f(c). Dari
sini himpunan {f(x) : x∈I, x < c}, yang mana tidak kosong karena c bukan titik ujung
dari I, terbatas diatas oleh f(c). Jadi ini menunjukkan bahwa supremumnya ada; kita
simbol dengan L. Jika ε > 0 diberikan, maka L - ε bukan suatu batas atas dari him-
punan ini. Dari sini, terdapat y
ε
∈I, y
ε
< c sedemikian sehingga L - ε < f(y
ε
) ≤ L.
Karena f fungsi naik, kita simpulkan bahwa jika δ(ε) = c - y
ε
dan jika 0 < c – y < δ(ε),
maka ), maka y
ε
< y < c dengan demikian
L - ε < f(y
ε
) ≤ f(y) ≤ L
Oleh karena itu f(y) - L < ε bila 0 < c – y < δ(ε). Karena ε > 0 sebarang, kita kata-
kan bahwa (i) berlaku.
Pembuktian bagian (ii) dilakukan dengan cara serupa.
Hasil berikut memberikan kriteria untuk kekontinuan dari fungsi naik f pada
suatu titik c yang bukan titik ujung interval pada mana f didefinisikan.
5.5.2 Akibat Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. An-
daikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini
ekuivalen.
(a) f kontinu pada c.
(b) f
c x − →
lim = f(c) = f
c x + →
lim
(c) sup{f(x) : x∈I, x < c} = f(c) = inf{f(x) : x∈I, x > c}
Pembuktiannya mudah, tinggal mengikuti Teorema 5.5.1 dan 4.3.3. Kita ting-
galkan detailnya untuk pembaca.
Pendahuluan
Analisis Real I 191
Misalkan I suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik. Jika a titik ujung
kiri dari I, maka merupakan suatu latihan untuk menunjukkan bahwa f kontinu pada a
jika dan hanya jika
f(a) = inf{f(x) : x∈I, a < x}
atau jika hanya jika f
a x + →
lim . Syarat yang serupa diterapkan pada suatu titik ujung
kanan dari I, dan untuk fungsi-fungsi turun.

GAMBAR 5.5.1 Lompatan dari f pada c
Jika f : I → R fungsi naik pada I dan jika c bukan suatu titik ujung dari I, kita
definisikan lompatan dari f pada c sebagai j
f
(c) = f
c x + →
lim - f
c x − →
lim . (Lihat Gambar
5.5.1.) Mengikuti Teorema 5.5.1 bahwa
j
f
(c) = inf{f(x) : x∈I, x > c} - sup{f(x) : x∈I, x < c}
untuk suatu fungsi naik. Jika titik ujung kiri a dari I masuk dalam I, kita mendefinisi-
kan lompatan dari f pada a menjadi j
f
(a) = f
a x + →
lim - f(a). Jika titik ujung kanan b
dari I masuk dalam I, kita mendefinisikan lompatan dari f pada b menjadi j
f
(b) =
f(b) - f
b x − →
lim .
5.5.3 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. Jika
c∈I, maka f kontinu pada c jika dan hanya jika j
f
(c) = 0
Bukti. Jika c bukan suatu titik ujung, ini secara mudah mengikuti Akibat
5.5.2. Jika c∈I titik kiri ujung dari I, maka f kontinu pada c jika dan hanya jika f(c) =
{
j
f
(c)
c
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 192
f
c x + →
lim , yang mana ekuivalen dengan j
f
(c) = 0. Cara serupa juga dapat diperoleh un-
tuk kasus c∈I titik ujung kanan dari I.
Sekarang kita akan menunjukkan bahwa bisa terdapat paling banyak sejumlah terhitung titik-
titik dimana fungsi monoton diskontinu.
5.5.4 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi monoton
pada I. Maka himpunan titik-titik D⊆I dimana f diskontinu adalah himpunan terhi-
tung.
Bukti. Kita akan menganggap bahwa f fungsi naik pada I. Mengikuti Teorema
5.5.3 bahwa D = {x∈I : j
f
(x) ≠ 0}. Kita akan memandang kasus bahwa I = [a,b] suatu
interval tertutup dan terbatas, ditinggalkan kasus lain sebagai latihan bagi pembaca.
Pertama-tama kita perhatikan bahwa karena f fungsi naik, maka j
f
(c) ≥ 0 untuk
semua c∈I. Selain itu, jika a ≤ x
1
< … < x
n
≤ b, maka (mengapa?) kita mempunyai
f(a) ≤ f(a) + j
f
(x
1
) < … < j
f
(x
n
) ≤ f(b),
yang mana berarti bahwa
j
f
(x
1
) < … < j
f
(x
n
) ≤ f(b) – f(a).
(Lihat Gambar 5.5.2.) Akibatnya bisa terdapat paling banyak k buah titik dalam I =
[a,b] dimana j
f
(x) ≥ (f(b) – f(a))/k. Kita simpulkan bahwa terdapat paling banyak satu
titik x∈I dimana j
f
(x) ≥ f(b) – f(a); terdapat baling banyak dua titik dalam I dimana
j
f
(x) ≥ (f(b) – f(a))/2; terdapat baling banyak tiga titik dalam I dimana j
f
(x) ≥ (f(b) –
f(a))/3; dan seterusnya. Oleh karena itu terdapat paling banyak sejuemlah terhitung
titik-titik x dimana j
f
(x) > 0. Akan tetapi karena setiap titik dalam D mesti masuk
dalam himpunan ini, kita simpulkan bahwa D himpunan terhitung.
Teorema 5.5.4 beberapa aplikasi yang berguna. Sebagai contoh, diperlihatkan
dalam Latihan 5.2.12 bahwa jika h : R → R memenuhi identitas
(*) h(x + y) = h(x) + h(y) untuk semua x,y∈R
Pendahuluan
Analisis Real I 193
dan jika h kontinu pada satu titik x
0
, maka h kontinu pada setiap titik dalam R. Ini
berarti bahwa jika h merupakan fungsi monotan yang memenuhi (*), maka h mesti
kontinu pada R.

GAMBAR 5.5.2 j
f
(x
1
) + … + j
f
(x
n
) ≤ f(b) – f(a)
Fungsi-fungsi Invers
Sekarang kita akan memandang keberadaan invers suatu fungsi yang kontinu
pada suatu interval I⊆R. Kita ingat kembali (lihat Pasal 1.2) bahwa suatu fungsi f : I
→ R mempunyai fungsi invers jika dan hanya jika f injektif ( = satu-satu); yaitu x,y∈I
dan x ≠ y mengakibatkan bahwa f(x) ≠ f(y). Kita perhatikan bahwa suatu fungsi
monoton murni adalah injektif dan dengan demikian mempunyai invers. Dalam teo-
rema berikut, kita menunjukkan bahwa jika f : I → R fungsi kontinu monoton murni,
maka f mempunyai suatu fungsi invers g pada J = f(I) yang juga fungsi kontinu
monoton murni pada J. Khususnya, jika f fungsi naik murni maka demikian juga den-
gan g, dan jika f fungsi turun murni maka demikian juga g.
{
{
{
{
f(b) - f(a)
f(a)
f(b)
j
f
(x
4
)
j
f
(x
3
)
j
f
(x
2
)
j
f
(x
1
)
x
4
x
3
x
2
x
1
b
a
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 194
5.5.5 Teorema Invers Kontinu Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I→ R
monoton murni dan kontinu pada I. Maka fungsi g invers dari f adalaj fungsi
monoton murni dan kontinu pada J = f(I).

GAMBAR 5.5.3 g(y) ≠ x untuk y∈J
Bukti. Kita pandang kasus f fungsi naik murni, meninggalkan kasus bahwa f
fungsi turun murni untuk pembaca.
Karena f kontinu dan I suatu interval, maka menurut Teorema Pengawetan In-
terval 5.3.10, J = f(I) suatu interval. Selain itu, karena f naik murni pada I, maka f
fungsi injektif pada I; oleh karena itu fungsi g : J → R invers dari f ada. Kita claim
bahwa g naik murni. Memang, jika y
1
< y
2
, maka y
1
= f(x
1
) dan y
2
= f(x
2
) untuk suatu
x
1
, x
2
∈I. Kita mesti mempunyai x
1
< x
2
; untuk hal lain x
1
≥ x
2
, mengakibatkan y
1
=
f(x
1
) ≥ f(x
2
) = y
2
, bertentangan dengan hipotesis bahwa y
1
< y
2
. Oleh karena itu kita
mempunyai
g(y
1
) = x
1
< x
2
= g(x
2
).
Karena y
1
dan y
2
sebarang unsur dalam J dengan y
1
< y
2
, kita simpulkan bahwa g naik
murni pada J.
{
j
g
(c)
c
o .
g(c)
x
J
Pendahuluan
Analisis Real I 195
Tinggal menunjukkan bahwa g kontinu pada J. Akan tetapi, ini merupakan
konsekuensi dati fakta bahwa g(J) = I suatu interval. Memang, jika g diskontinu pada
suatu titik c∈J, maka lompatan dari g pada c tidak nol dengan demikian
g
c x − →
lim < g
c x + →
lim
Jika kita memilih sebarang x ≠ g(c) yang memenuhi g
c x − →
lim < x < g
c x + →
lim , maka x
mempunyai sifat bahwa x ≠ g(y) untuk sebarang y∈J. (Lihat Gambar 5.5.3.) Dari sini
x∉I, yang mana kontradikdi dengan fakta bahwa I suatu interval. Oleh karena itu kita
menyimpulkan bahwa g kontinu pada J.
Fungsi Akar ke-n
Kita kan menggunakan Teorema Invers Kontinu 5.5.5 untuk fungsi pangkat
ke-n. Kita perlu membedakan atas dua kasus: (i) n genap, dan (ii) n ganjil.

GAMBAR 5.5.4 Grafik dari f(x) = x
n
(x ≥ 0, n genap)
(i) n genap. Agar diperoleh suatu fungsi yang monoton murni, kita batasi
perhatian kita untuk interval I = [0,∞). Jadi, misalkan f(x) = x
n
untuk x∈I. (Lihat
Gambar 5.5.4.) Kita telah melihat (dalam Latihan 2.2.17) bahwa jika 0 ≤ x < y, maka
f(x) = x
n
< y
n
= f(y); oleh karena itu f monoton murni pada I. Selain itu, mengikuti
Contoh 5.2.4(a) bahwa IfI kontinu pada I. Oleh karena itu, menurut Teorema Pen-
gawetan Interval 5.3.10, J = f(I) suatu interval. Kita akan menunjukkan bahwa J =
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 196
[0,∞). Misalkan y ≥ 0 sebarang; menurut Sifat Archimedean, terdapat k∈N
sedemikian sehingga 0 ≤ y < k. Karena (Mengapa?)
f(0) = 0 ≤ y < k ≤ k
n
= f(k),
mengikuti Teorema Nilai Antara Bolzano 5.3.6 bahwa y∈J. Karena y ≥ 0 sebarang,
kita simpulkan bahwa J = [0,∞).
Kita menyimpulkan dari Teorema Invers Kontinu 5.5.5 bahwa fungsi g yaitu
invers dari f(x) = x
n
pada I = [0.) naik murni dan kontinu pada J = [0,). Kita lazimnya
menuliskan
g(x) = x
1/n
atau g(x) =
n
x
untuk x ≥ 0 (n genap), dan menyebut x
1/n
=
n
x akar ke-n dari x ≥ ≥≥ ≥ 0 (n genap).
Fungsi g dinamakan fungsi akar ke-n (n genap). (Lihat Gambar 5.5.5.)

GAMBAR 5.5.5 Grafik dari f(x) = x
1/n
(x ≥ 0, n genap)
Karena g invers untuk f, kita mempunyai
g(f(x)) = x dan f(g(x)) = x untuk semua x∈[0,∞).
Kita dapat menuliskan persamaan-persamaan ini dalam bentuk berikut:
(x
n
)
1/n
= x dan (x
1/n
)
n
= x
untuk semua x∈[0,∞) dan n genap.
(ii) n ganjil. Dalam kasus ini kita misalkan F(x) = x
n
untuk semua x∈R;
menurut 5.3.4(a), F kontinu pada R. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjuk-
kan bahwa F naik murni pada R dan F(R) =R. (Lihat Gambar 5.5.6.)
Pendahuluan
Analisis Real I 197
Mengikuti Teorema Invers Kontinu 5.5.5, fungsi G yaitu invers dari F(x) = x
n

untuk x∈R, adalah fungsi naik murni dan kontinu pada R. Kita lazimnay menuliskan
G(x) = x
1/n
atau G(x) =
n
x untuk x∈R, n ganjil
Dan menyebut x
1/n
sebagai akar ke-n dari x∈ ∈∈ ∈R. Fungsi G disebut fungsi akar ke-n
(n ganjil). (Lihat Gambar 5.5.7.) Disini kita mempunyai
(x
n
)
1/n
= x dan (x
1/n
)
n
= x
untuk semua x∈R dan n ganjil.

GAMBAR 5.5.6 Grafik F(x) = x
n
(x∈R, n ganjil)
Pangkat-pangkat Rasional
Telah didefinisikan fungsi-fungsi akar ke-n untuk n∈N, yang mana hal ini
memudahkan untuk mendefinisikan pangkat-pangkat rasional.
5.5.6 Definisi (i) Jika m,n∈N dan x ≥ 0, kita definisikan x
m/n
= (x
1/n
)
m
. (ii)
Jika m,n∈N dan x > 0, kita definisikan x
-m/n
= (x
1/n
)
-m
.
Dari sini kita telah mendefinisikan x
r
apabila r bilangan rasional dan x > 0.
Grafik dari x ξ x
r
bergantung pada apakah r > 1, r = 1, 0 < r < 1, r = 0, atau r < 0. (Li-
hat Ganbar 5.5.8.) Karena suatu bilangan rasional r∈Q dapat ditulis dalam bentuk r =
m/n dengan m∈Z, n∈N, dalam banyak cara, akan diunjukkan bahwa Definisi 5.5.6
tidak berarti ganda. Yaitu, jika r = m/n = p/q dengan m,p∈Z dan n,q∈N dan jika x >
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 198
0, maka (x
1/n
)
m
= (x
1/q
)
p
. Kita tinggalkan sebagai latihan bagi pembaca untuk mem-
buktikan hubungan ini.
5.5.7 Teorema Jika m∈Z,n∈N, dan x > 0, maka x
m/n
= (x
m
)
1/n
.
Bukti. Jika x > 0 dan m,n∈Z, maka (x
m
)
n
= x
mn
= (x
n
)
m
. Sekarang misalkan y
= x
m/n
= (x
1/n
)
m
> 0 dengan demikian y
n
= ((x
1/n
)
m
)
n
= ((x
1/n
)
n
)
m
= x
m
. Oleh karena itu
diperoleh bahwa y = (x
m
)
1/n
.

GAMBAR 5.5.7 Grafik G(x) = x
1/n
(x∈R, n ganjil)
Pembaca akan menunjukkan juga, sebagai latihan, bahwa jika x > 0 dan
r,s∈Q, maka
x
r
x
s
= x
r + s
=x
s
x
r
dan (x
r
)
s
= x
rs
= (x
s
)
r
.
Latihan-latihan
1. Jika I = [a,b] suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik, maka titik a [atau juga, b]
suatu titik minimum mutlak [atau juga, titik maksimum absolut] untuk f pada I. Jika f
suatu fungsi naik murni, maka a merupakan satu-satunya titik minimum mutlak untuk f
pada I.
2. Jika f dan g fungsi-fungsi naik pada suatu interval I⊆R, tunjukkan bahwa f + g juga
suatu fungsi naik pada I. Jika f juga fungsi naik murni pada I, maka f + g fungsi naik
murni pada I.
3. Tunjukkan bahwa f(x) = x dan g(x) = x – 1 naik murni pada I = [0,1], akan tetapi hasil
kali fg tidak naik pada I.
Pendahuluan
Analisis Real I 199
4. Tunjukkan bahwa jika f dan g fungsi-fingsi positif naik pada suatu interval I, maka
fungsi hasil-kalinya fg merupakan fungsi naik pada I.
5. Tunjukkan bahwa jika I = [a,b] dan f : I → R fungsi naik pada I, maka f kontinu pada a
jika dan hanya jika f(a) = inf{f(x) : x∈(a,b]}.

GAMBAR 5.5.8 Grafik dari x ξ x
r
(x > 0)
6. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I. Misalkan juga c∈I bukan
titik ujung dari I. Tunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu
barisan (x
n
) dalam I sedemikian sehingga x
n
< c untuk n = 1,3,5, … ; x
n
> c untuk n =
2,4,6, … ; dan sedemikian sehingga c = lim (x
n
) dan f(c) = lim (f(x
n
)).
7. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I. Jika c∈I bukan titik ujung
dari I, tunjukkan bahwa lompatan j
f
(c) dari f pada c diberikan oleh inf{f(y) –f(x) : x < c <
y, x,y∈I}.
8. Misalkan f,g fungsi-fungsi naik pada suatu interrval I⊆R dan f(x) > g(x) untuk semua
x∈I. Jika y∈f(I)∩g(I), tunjukkan bahwa f
-1
(y) < g
-1
(y). [Petunjuk: Pertama-tama interpre-
tasi pernyataan ini secara geometri].
9. Misalkan I = [0,1] dan misalkan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = x untuk x rasional,
dan f(x) = 1 – x untuk x irasional. Tunjukkan bahwa f injektif pada I dan f(f(x)) = x untuk
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 200
semua x∈I. (Dari sini f adalah fungsi invers untuk dirinya sendiri!) Tunjukkan bahwa f
kontinu hanya pada x = ½.
10. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R kontinu pada I. Jika f mempunyai suatu maksimum mut-
lak [atau, minimum mutlak] pada suatu titik interior c dari I, tunjukkan bahwa f bukan in-
jektif pada I.
11. Misalkan f(x) = x untuk x∈[0,1], dan f(x) = x + 1 untuk x∈(1,2]. Tunjukkan bahwa f dan
f
-1
merupakan fungsi-fungsi naik murni. Apakah f dan f
-1
kontinu pada setiap titik?
12. Misalkan f : [0,1] → R suatu fungsi kontinu yang tidak memuat sebarang dari nilai-
nilainya dua kali dan dengan f(0) < f(1). Tunjukkan bahwa f fungsi naik murni pada [0,1].
13. Misalkan h : [0,1] → R suatu fungsi yang memuat nilai-nilainya tepat dua kali. Tunjuk-
kan bahwa h tidak kontinu pada setiap titik. [Petunjuk : Jika c1 < c2 titik-titik dimana h
mencapai supremumnya, tunjukkan bahwa c1 = 0, c2 = 1. Sekarang titik-titik dimana h
mencapai infimumnya.]
14. Misalkan x∈R, x > 0. Tunjukkan bahwa jika m,p∈Z, n,q∈N, dan mq = np, maka (x
1/n
)
m

= (x
1/q
)
p
.
15. Jika x∈R, x > 0, dan jika r,s∈Q, tunjukkan bahwa x
r
x
s
= x
r + s
=x
s
x
r
dan (x
r
)
s
= x
rs
=
(x
s
)
r
.

Pendahuluan
Analisis Real I 201
11. DAFTAR PUSTAKA

Bartle, Robert G. 1992. Introductions to Real Analysis. Second edition. New York :
John Wiley & Sons, Inc.

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadlirat Allah Swt. karena atas perkenaannya jualah hand-out ini dapat terselesaikan penyusunannya. Penyusunan handout ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan diskusi Komunitas Studi Al Khwarizmi Sultra dan masyarakat penimat Kajian Matematika pada umumnya. Materi hand-out ini terdiri atas 5 (lima) bab, yaitu : Yakni Bab I sampai dengan Bab 3 adalah materi Analisis Real I, sedangkan Bab 4 dan Bab 5 adalah materi Analisis Real II. Tentu saja, hand-out ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu sangat diharapkan sumbang saran dan kritikan yang konstruktif dari pembaca dalam rangka perbaikan dan penyempurnaannya, sehingga pada akhirnya dapat dijadikan buku standar untuk dijadikan buku ajar Analisis Real I dan II. Surat kritikan dan saran anda dapat anda kirimkan ke: ks.algorizm@gmail.com; karyanto@bismillah.com; Atau melalui facebook: -Yanto Kendari. Akhirnya, semoga hand-out ini membawa manfaat yang semaksimal mungkin bagi siapa saja yang menggunakannya, dan hanya kepada Alloh SWT segala sesuatunya kita serahkan. Semoga kita termasuk umatNya yang bersyukur dan dimudahkan dalam memahami ilmu. Amien

Unaaha,

Januari 2012

KSA

ii

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL ............................................................................................ KATA PENGANTAR ............................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................................ Bab I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1.1 Aljabar Himpunan ................................................................................... 1.2 Fungsi ...................................................................................................... 1.3 Induksi Matematika ................................................................................. Bab II BILANGAN REAL ........................................................................................ 2.1 Sifat Aljabar R ......................................................................................... 2.2 Sifat Urutan dalam R ............................................................................... 2.3 Nilai Mutlak ............................................................................................ 2.4 Sifat Kelengkapan R ................................................................................ 2.5 Aplikasi Sifat Supremum ........................................................................ i ii iii 2 2 8 15 22 22 30 40 46 51

Bab III BARISAN BILANGAN REAL .................................................................... 60 3.1 Barisan dan Limit Barisan ....................................................................... 60 3.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 72 3.3 Barisan Monoton ..................................................................................... 82 3.4 Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass ......................................... 90 3.5 Kriteria Cauchy ....................................................................................... 97 3.6 Barisan-barisan Divergen Murni ............................................................. 105 Bab IV LIMIT FUNGSI ............................................................................................ 4.1 Limit-limit Fungsi ................................................................................... 4.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 4.3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit ................................................... Bab V FUNGSI-FUNGSI KONTINU ...................................................................... 5.1 Fungsi-fungsi Kontinu ............................................................................. 5.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu ................................................... 5.3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval ....................................................... 5.4 Kekontinuan Seragam ............................................................................. 5.5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers ......................................................... 110 110 123 133 149 150 157 164 174 189

Daftar Pustaka ........................................................................................................... 201

iii

Aljabar Himpunan

BAB 1
PENDAHULUAN
Pada bab pertama ini, kita akan membahas beberapa prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari analisis real. Bagian 1.1 dan 1.2 kita akan mengulang sekilas tentang aljabar himpunan dan fungsi, dua alat yang penting untuk semua cabang matematika. Pada bagian 1.3 kita akan memusatkan perhatian pada metoda pembuktian yang disebut induksi matematika. Ini berhubungan dengan sifat dasar sistem bilangan asli, dan walaupun penggunaannya terbatas pada masalah yang khusus tetapi hal ini penting dan sering digunakan.

1.1. Aljabar Himpunan
Bila A menyatakan suatu himpunan dan x suatu unsurnya, kita akan tuliskan dengan x∈A, untuk menyingkat pernyataan x suatu unsur di A, atau x anggota A, atau x termuat di A, atau A memuat x. Bila x suatu unsur tetapi bukan di A kita tuliskan dengan x∉A. Bila A dan B suatu himpunan sehingga x∈A mengakibatkan x∈B (yaitu, setiap unsur di A juga unsur di B), maka kita katakan A termuat di B, atau B memuat A atau A suatu subhimpunan dari B, dan dituliskan dengan A ⊆ B atau B ⊇ A. Bila A ⊆ B dan terdapat unsur di B yang bukan anggota A kita katakan A subhimpunan sejati dari B.
Analisis Real I 2

menyatakan himpunan semua bilangan asli yang memenuhi x2 .3. (b).. Definisi.3x + 2 = 0.2. Himpunan {x ∈ N x2-3x+2=0}. Beberapa himpunan tertentu akan digunakan dalam bukti ini. Bila himpunan A dan B sama. kita dapat juga menuliskannya dengan { x∈SP(x)} untuk menyatakan sub himpunan S yang memenuhi P.2}. Z = {0. Kata “sifat keanggotaan” memang menimbulkan keraguan. Dua himpunan A dan B dikatakan sama bila keduanya memuat unsurunsur yang sama.2. kita tuliskan dengan A = B Untuk membuktikan bahwa A = B. Q = {m/n  m. Notasi tersebut kita baca dengan “himpunan semua x yang memenuhi (atau sedemikian sehinga) P”..Pendahuluan 1. Karena yang memenuhi hanya x = 1 dan x = 2. Tetapi bila P menyatakan sifat keanggotaan (yang tak bias artinya) suatu himpunan. Bila dirasa perlu menyatakan lebih khusus unsur-unsur mana yang memenuhi P.. Analisis Real I 3 .1. x∈ N}. dan kita akan menuliskannya dengan penulisan standar sebagai berikut : • • • • Himpunan semua bilangan asli. Sebagai contoh himpunan bilangan genap positif sering dituliskan dengan {2x x∈ N}. Kadang-kadang formula dapat pula digunakan untuk menyingkat penulisan himpunan.1. Contoh-contoh : (a).. kita akan tuliskan dengan {xP(x)} untuk menyatakan himpunan semua x yang memenuhi P.-1. daripada {y∈ N y = 2x.n ∈ Z.} Himpunan semua bilangan rasional. maka himpunan tersebut dapat pula kita tuliskan dengan {1. Suatu himpunan dapat dituliskan dengan mendaftar anggota-anggotanya.-2.. n≠0} Himpunan semua bilangan real.. N = {1. R. atau dengan menyatakan sifat keanggotaan himpunan tersebut.1.} Himpunan semua bilangan bulat. kita harus menunjukkan bahwa A ⊆ B dan B ⊆ A.

A∩(B∪C) = (A∩B)∪(A∩C). A∩B = B∩A. dituliskan dengan { } atau ∅. (a). 1. komutatif. Definisi.3. adalah himpunan yang unsurunsurnya paling tidak terdapat di salah satu A atau B.B dan C sebarang himpunan. biasanya kita tanggalkan kurung dan cukup ditulis dengan A∩B ∩C. Bila A dan B suatu himpunan.1. dituliskan dengan A∪B. Kesamaan ini semua berturut-turut sering disebut sebagai sifat idempoten.2.4(c).Aljabar Himpunan Operasi Himpunan Sekarang kita akan mendefinisikan cara mengkonstruksi himpunan baru dari himpunan yang sudah ada. kita tinggalkan kepada pembaca sebagai latihan. A∪B∪C. A∪B = B∪A. (d). Definisi. Karena buktinya merupakan hal yang rutin. (c). (b).1.4. (b). adalah himpunan yang unsur-unsurnya terdapat di A juga di B. Teorema. 1. Misalkan A. maka A dan B dikatakan saling asing atau disjoin. Gabungan dari A dan B. A∩A = A. asosiatif dan distributif. Berikut ini adalah akibat dari operasi aljabar yang baru saja kita definisikan. operasi irisan dan gabungan himpunan. maka irisan (=interseksi) dari A ⊂ B dituliskan dengan A∩B. Himpunan yang tidak mempunyai anggota disebut himpunan kosong. (A∩B) ∩C = A∩(B ∩C). A∪A = A.1. Bila A dan B dua himpunan yang tidak mempunyai unsur bersama (yaitu. 1. Dengan kata lain kita mempunyai A∩B = {x x∈A dan x∈B}.1. (A∪B)∪C = A∪(B∪C). A∩B = ∅). Dengan kata lain kita mempunyai A∪B = {x x∈A atau x∈B}. Melihat kesamaan pada teorema 1. A∪(B ∩C) = (A∪B) ∩ (A∪C). maka (a). Analisis Real I 4 .

6.. 1. maka terdapat sebuah himpunan A yang memuat unsur yang merupakan pa-ling tidak unsur dari suatu Aj. j=1.2.. B = A1 ∩ A2. maka komplemen dari B relatif terhadap A.. Dengan menanggalkan kurung. dituliskan dengan A\B (dibaca “A minus B”) adalah himpunan yang unsurunsurnya adalah semua unsur di A tetapi bukan anggota B. karena sudah dimengerti/disepakati. A\(B∩C) = (A\B) ∪(A\C). Definisi. kita tuliskan dengan A = A1 ∪A2 ∪ ∪ An = {x x∈Aj untuk suatu j}..A2.∩An = {x x∈Aj untuk semua j}. Beberapa penulis menggunakan notasi A .. maka A\(B∪C) = (A\B)∩(A\C). .n. 1.5..B atau A ~ B.2. menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya adalah unsur j∈J Analisis Real I 5 . Seringkali A tidak dinyatakan secara eksplisit.. Bila A.n . Sedangkan semua Aj untuk j∈J. kita mempunyai A\B = {x ∈ A x ∉ B}. Untuk mempersingkat penulisan.C sebarang himpunan..Pendahuluan Dimungkinkan juga untuk menunjukkan bahwa bila {A1. j = 1. Dalam situasi begini A\B sering dituliskan dengan C(B). Teorema. bila untuk setiap j unsur di J terdapat himpunan Aj.An} merupakan koleksi himpunan.B. I A j .1.1.. A dan B di atas sering dituliskan dengan n A= UAj j=1 n B= IAj j=1 Secara sama. Dari definisi di atas.. Bila A dan B suatu himpunan. dan terdapat sebuah himpunan B yang unsur-unsurnya merupakan unsur semua himpunan Aj. maka U Aj j∈J menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya paling tidak merupakan unsur dari salah satu Aj.

Buktikan bagian (c) Teorema 1. Karenanya x di A tetapi tidak di B. karena itu x ∈ A\(B∪C).(2.b) dengan a∈ A dan b ∈ B. Gambarkan diagram yang menyatakan masing-masing himpunan pada Teorema 1. Dari sini x suatu unsur di A. Karena himpunan (A\B)∩(A\C) dan A\(B∪C). dan sebaliknya.1. 2. maka x di A.(3. Akibatnya x ∈ A dan x ∉ (B∪C).7.4. (Mengapa?).5).1.2.4.(3.(1.5). Buktikan bahwa A ⊆ B jika dan hanya jika A∩B = A. Definisi.4). Bila A dan B himpunan-himpunan yang tak kosong.3} dan B = {4. 1. Analisis Real I 6 . tetapi tidak dikedua unsur B atau C. tetapi tidak di B∪C.1. bila x ∈(A\B)∩(A\C). Jadi bila A = {1. Buktikan bagian kedua Teorema 1.1.4(d). dan x di A tetapi tidak di C.1.= (A\B)∩(A\C).(2. Jadi x ∈ A tetapi bukan anggota dari B atau C. maka x ∈(A\B)dan x ∈ (A\C).4). 1. maka A×B = {(1. Bila x di A\(B∪C).4). Produk (hasil kali) Cartesius Sekarang kita akan mendefinisikan produk Cartesius. 4.1. yang menunjukkan bahwa x ∈(A\B)∩(A\C).Aljabar Himpunan Bukti : Kita hanya akan membuktikan kesamaan pertama dan meninggalkan yang kedua sebagai latihan bagi pembaca. 3. Sebaliknya.5)} Latihan 1. maka produk cartesius A×B dari A dan B adalah himpunan pasangan berurut (a.1 A\(B∪C).memuat unsur-unsur yang sama. Kita akan tunjukkan bahwa setiap unsur di A\(B∪C) termuat di kedua himpunan (A\B) dan (A\C).5}. Yaitu x ∈ A\B dan x ∈ A\C. menurut definisi 1.

Tunjukkan bahwa selisih simetris D di nomor 5. A2.. Tunjukkan bahwa himpunan D yang unsur-unsurnya merupakan unsur dari tepat satu himpunan A atau B diberikan oleh D = (A\B) ∪ (B\A). Tunjukkan bahwa     C  I A j = U C A j .. juga diberikan oleh D = (A∪B)\(A∩B). E \ U A j = I (E \ A j ). j=1 j =1 j=1 j=1 n n n n Catatan bila E\Aj dituliskan dengan C(Aj).Pendahuluan 5. tunjukkan bahwa Analisis Real I 7 . dan E sebarang himpunan. . tunjukkan bahwa A∩B dan A\B saling asing dan bahwa A = (A∩B) ∪ (A\B). E ∪ U A j = U (E ∪ A j ) j=1 j=1 j=1 j=1 n n n n 11. tunjukkan bahwa B = A\(A\B). Aj termuat di E. . tunjukkan bahwa A∩B = A\(A\B). Nyatakan dalam diagram. A2. Diberikan himpunan A dan B.. maka kesamaan di atas mempunyai bentuk n n  n   n  C  I A j = U C A j . 7. Himpunan D ini sering disebut dengan selisih simetris dari A dan B. An} suatu koleksi himpunan. Misalkan E sebarang himpunan dan {A1. . 10. Bila A dan B sebarang himpunan.. C U A j = I C A j . 9. 6. E ∪ I A j = I (E ∪ A j ) j=1 j=1 j=1 j =1 n n n n 12. Misalkan J suatu himpunan dan untuk setiap j∈J.  j =1  j=1  j=1  j=1 ( ) ( ) 13. An} suatu koleksi himpunan. . . An} suatu koleksi himpunan. tunjukkan bahwa E ∩ I A j = I (E ∩ A j ). Buktikan Hukum De Morgan E \ I A j = U (E \ A j ). C U A j = I C A j . dan E sebarang himpunan.  j∈J  j∈J  j∈J  j∈J ( ) ( ) 14. Bila B1 dan B2 subhimpunan dari B dan B = B1 ∪ B2. Bila {A1... . A2. Bila {A1. Bila A ⊆ B. 8. tunjukkan bahwa E ∩ U A j = U (E ∩ A j ).

bila x < 0 Dengan berkembangnya matematika. Fungsi. bila x ≥ 0 x=  − x.2. Di sini akan mendefinisikan suatu fungsi dan hal ini akan kita lakukan dalam dua tahap. seperti f(x) = x2 + 3x -5 yang bersesuaian dengan masing-masing bilangan real x dan bilangan lain f(x). Definisi pertama : Suatu fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan korespondensi yang memasangkan masing-masing unsur x di A secara tunggal dengan unsur f(x) di B. Akan kita lihat bahwa fungsi adalah suatu jenis khusus dari himpunan. Semua dari bagian terakhir ini akan banyak mengupas jenis-jenis fungsi. Selain itu definisi xdiberikan pula dengan  x. walaupun terdapat visualisasi lain yang sering lebih bersifat sugesti. Bagi matematikawan abad terdahulu kata “fungsi” biasanya berarti rumus tertentu. Juga semakin penting untuk kita membedakan fungsi sendiri dengan nilai fungsi itu. semakin jelas bahwa diperlukan definisi fungsi yang lebih umum. Untuk mengatasi hal ini kita akan mendefinisikan fungsi de-ngan menggunakan himpunan seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. apakah nilai mutlak h(x) = x dari suatu bilangan real merupakan “fungsi sejati” atau bukan. Definisi di atas mungkin saja tidak jelas.Aljabar Himpunan A×B = (A×B1) ∪ (A×B2). Analisis Real I 8 . dikarenakan ketidakjelasan frase “aturan korespondensi”. Sekarang kita kembali mendiskusikan gagasan fundamental suatu fungsi atau pemetaan. Mungkin juga seseorang memunculkan kontroversi. 1. tetapi sedikit abstrak dibandingkan bagian ini.

Fungsi f1 disebut pembatasan fungsi f pada D1. suatu korelasi dari pasangan berurut. karena sekali unsur pertama dalam pasangan berurut diambil. Pembatasan dan Perluasan Fungsi Bila f suatu fungsi dengan domain D(f) dan D1 suatu subhimpunan dari D(f).Pendahuluan De-ngan pendefinisian ini dapat saja kita kehilangan kandungan intuitif dari definisi terdahulu. Misalkan A dan B himpunan suatu fungsi dari A ke B adalah himpunan pasangan berurut f di A×B sedemikian sehingga untuk masing-masing a ∈ A terdapat b ∈ B yang tunggal dengan (a. Notasi f:A→B menunjukkan bahwa f suatu fungsi dari A ke B. akan sering kita katakan bahwa f suatu pemetaan dari A ke dalam B atau f memetakan A ke dalam B. Bila (a.1.2. tetapi kita dapatkan kejelasan. Bila kita perhatikan tidak setiap koleksi pasangan berurut merupakan gambar suatu fungsi.(a. Menurut definisi 1. Himpunan A dari unsur-unsur pertama dari f disebut daerah asal atau “domain” dari f. unsur keduanya ditentukan secara tunggal.b) ∈ f a ∈ D1} Kadang-kadang kita tuliskan f1 = f D1 untuk menyatakan pembatasan fungsi f pada himpunan D1. 1.2.b’) ∈ f. sering ditulis dengan b = f(a) daripada (a. Sedangkan unsur-unsur di B yang menjadi unsur kedua di f disebut “range” dari f dan dituliskan dengan R(f). Analisis Real I 9 . atau peta a terhadap f. yaitu. seringkali bermanfaat untuk mendefinisikan fungsi baru f1 dengan domain D1 dan f1(x) = f(x) untuk semua x ∈ D1. Dalam hal ini b merupakan nilai f di titik a. kita mempunyai f1 = { (a. dan dituliskan D(f).1.b) ∈ f.b) suatu unsur di f. Ide dasar pendefinisian ini adalah memikirkan gambar dari suatu fungsi. Definisi.b). maka b = b’.

Bayangan Langsung dan Bayangan Invers Misalkan f : A → B suatu fungsi dengan domain A dan range B. maka bayangan invers dari H terhadap f adalah subhimpunan f-1(H) dari A. Tetapi bila H = {y -1 ≤ y ≤ 1}. maka bayangan langsung dari E terhadap f adalah sub himpunan f(E) dari B yang diberikan oleh f(E) = {f(x) : x ∈ E}. bila x ∈ f-1(G∩H) maka f(x) ∈ G∩H. Contoh. yang diberikan oleh f-1(H) = { x ∈ A : f(x) ∈ H} Jadi bila diberikan himpunan E ⊆ A. kita mempunyai f(f-1(G)) = G. Secara sama. titik x2∈A di dalam bayangan invers f1 (H) jika dan hanya jika y2 = f(x2) di H. Sebaliknya. maka sebarang fungsi g2 dengan domain D2 sedemikian sehingga g2(x) = g(x) untuk semua x ∈ D(g) disebut perluasan g pada himpunan D2.2. Misalkan f : R → R didefinisikan dengan f(x) = x2. 1. Jadi f-1(f(E)) ≠ E. Analisis Real I 10 . maka titik y1 ∈ B di bayangan langsung f(E) jika dan hanya jika terdapat paling tidak sebuah titik x1 ∈ E sedemikian sehingga y1 = f(x1). (b). Disatu pihak.2.Aljabar Himpunan Konstruksi serupa untuk gagasan perluasan.2. Hal ini mengakibatkan x ∈ f-1(G) dan x ∈ f-1(H). jadi f(x) ∈ G dan f(x) ∈ H. bila diberikan H⊆B. Definisi. Bila E subhimpunan A.H subhimpunan dari B kita akan tunjukkan bahwa f-1(G∩H) ⊆ f-1(G)∩ f-1(H) Kenyataannya. yang buktinya ditinggalkan sebagai latihan. maka bayangan invers G adalah himpunan f-1(G) = {x -2 ≤ x ≤ 2}. Bila suatu fungsi dengan domain D(g) dan D2 ⊇ D(g). (a). bukti selesai.3. maka kita peroleh f(f-1(H)) = {x 0 ≤ x ≤ 1} ≠ H. Misalkan f : A → B. Bayangan langsung himpunan E = {x 0 ≤ x ≤ 2} adalah himpunan f(E) = {y 0 ≤ y ≤ 4}. f-1(G∩H) ⊇ f-1(G)∩ f-1(H) juga benar. Bila G = {y 0 ≤ y ≤ 4}. Karena itu x ∈ f-1(G)∩ f-1(H). dan G. Bila H subhimpunan E. 1.

Pendahuluan

Sifat-sifat Fungsi
1.2.4. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan injektif atau satu-satu bila x1 ≠ x2,
mengakibatkan f(x1) ≠ f(x2). Bila f satu-satu, kita katakan f suatu injeksi. Secara ekivalen, f injektif jika dan hanya jika f(x1) = f(x2) mengakibatkan x1 = x2, untuk semua x1,x2 di A. Sebagai contoh, misalkan A = {x ∈ R x ≠ 1} dan f : A → R dengan f(x) =
x . Untuk menunjukkan f injektif, asumsikan x1,x2 di A sehingga f(x1) = f(x2). x −1 Maka kita mempunyai

x1 x2 = x1 − 1 x 2 − 1 yang mengakibatkan (mengapa?) bahwa itu f injektif. x1 x2 = dan dari sini x1 = x2. Karena x1 − 1 x 2 − 1

1.2.5. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan surjektif atau memetakan A pada B,
bila f(A) = B. Bila f surjektif, kita sebut f suatu surjeksi. Secara ekivalen, f : A → B surjektif bila range f adalah semua dari B, yaitu untuk setiap y ∈ B terdapat x ∈ A sehingga f(x) = y. Dalam pendefinisian fungsi, penting untuk menentukan domain dan himpunan dimana nilainya diambil. Sekali hal ini ditentukan, maka dapat menanyakan apakah fungsi tersebut surjektif atau tidak.

1.2.6. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan bijektif bila bersifat injektif dan
surjektif. Bila f bijektif, kita sebut bijeksi.

Fungsi-fungsi Invers
Bila f suatu fungsi dari A ke B, (karenanya, subhimpunan khusus dari A×B), maka himpunan pasangan berurut di B×A yang diperoleh dengan saling menukar unsur pertama dan kedua di f secara umum bukanlan fungsi. Tetapi, bila f injektif, maka penukaran ini menghasilkan fungsi yang disebut invers dari f.

Analisis Real I

11

Aljabar Himpunan

1.2.7. Definisi. Misalkan f : A → B suatu fungsi injektif dengan domain A dan
range R(f) di B. Bila g = {(b,a)∈B×A (a,b) ∈ f}, maka g fungsi injektif dengan domain D(g) = R(f) dan range A. Fungsi G disebut fungsi invers dari f dan dituliskan dengan f-1. Dalam penulisan fungsi yang standar, fungsi f-1 berelasi dengan f sebagai berikut : y = f-1(y) jika dan hanya jika y = f(x). Sebagai contoh, kita telah melihat bahwa fungsi f(x) = x didefinisikan unx −1

tuk x ∈ A = {x x ≠ 1} bersifat injektif. Tidak jelas apakah range dari f semua (atau hanya sebagian) dari R. Untuk menentukannya kita selesaikan persamaan y = dan diperoleh x = x x −1

y . Dengan informasi ini, kita dapat yakin bahwa rangenya R(f) y −1

= {y y ≠ 1} dan bahwa fungsi invers dari f mempunyai domain {y y ≠ -1} dan f-1(y) = y . y −1 Bila suatu fungsi injektif, maka fungsi inversnya juga injektif. Lebih dari itu, fungsi invers dari f-1 adalah f sendiri. Buktinya ditinggalkan sebagai latihan.

Fungsi Komposisi
Sering terjadi kita ingin mengkomposisikan dua buah fungsi denga mencari

f(x) terlebih dahulu, kemudian menggunakan g untuk memperoleh g(f(x)), tetapi hal
ini hanya mungkin bila f(x) ada di domain g. Jadi kita harus mengasumsikan bahwa range dari f termuat di domain g.

1.2.8. Definisi. Untuk fungsi f : A → B dan g : B - C, komposisi fungsi gof (perhatikan urutannya!) adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan dengan gof(x) = g(f(x)) untuk x ∈ A.

1.2.9. Contoh. (a). Urutan komposisi harus benar-benar diperhatikan. Misalkan f dan g fungsi-fungsi yang nilainya di x ∈ R ditentukan oleh f(x) = 2x,
Analisis Real I

g(x) = 3x2 - 1
12

Pendahuluan

Karena D(g) = R dan R(f) ⊆ R, maka domain D(gof) adalah juga R, dan fungsi komposisi gof ditentukan oleh

gof(x) = 3(2x)2 - 1 = 2x2 - 1
Di lain pihak, domain dari fungsi komposisi gof juga R, tetapi dalam hal ini kita mempunyai fog(x) = 2(3x2 - 1) = 6x2 - 2. Jadi fog ≠ gof. (b). Beberapa perhatian harus dilatih agar yakin bahwa range dari f termuat di domain dari g. Sebagai contoh, bila f(x) = 1 - x2 dan y = diberikan oleh gof(x) =

x , maka fungsi komposisi yang

1 − x 2 didefinisikan hanya pada x di D(f) yang memenuhi

f(x) ≥ 0; yaitu, untuk x memenuhi -1 ≤ x ≤ 1. Bila kita tukar urutannya, maka komposisi

fog, diberikan oleh gof(x) = 1 - x, didefinisikan untuk semua x di domain dari g; yaitu
himpunan {x ∈ R : x ≥ 0}. Teorema berikut memperkenalkan hubungan antara komposisi fungsi dan petanya. Sedangkan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.

1.2.10. Teorema. Misalkan f : A → B dan g : B → C fungsi dan H suatu subhimpunan dari C. Maka (fog)-1(H) = g-1 (f-1(H)). Sering terjadi bahwa komposisi dua buah fungsi mewarisi sifat-sifat fungsi yang didefinisikan. Berikut salah satunya dan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.

1.2.11. Teorema. Bila f : A → B dan g : B → C keduanya bersifat injektif, maka
komposisi gof juga bersifat injektif.

Barisan
Fungsi dengan N sebagai domain memeainkan aturan yang sangat khusus dalam analisis, yang kita akan perkenalkan berikut ini.

1.2.12. Definisi. Suatu barisan dalam himpunan S adalah suatu fungsi yang domainnya himpunan bilangan asli N dan rangenya termuat di S. Untuk barisan X : N → S, nilai X di n∈N sering dituliskan dengan xn daripada (xn), dan nilainya sering disebut suku ke-n barisan tersebut. Barisan itu sendiri sering dituliskan dengan (xn  n ∈ N) atau lebih sederhana dengan (xn). Sebagai conAnalisis Real I
13

Aljabar Himpunan

toh, barisan di R yang dituliskan dengan ( n  n ∈ N) sama artinya dengan fungsi X :

N → R dengan X(n) =

n.

Penting sekali untuk membedakan antara barisan (xn  n ∈ N) dengan nilainya {xn  n ∈ N}, yang merupakan subhimpunan dari S. Suku barisan harus dipandang mempunyai urutan yang diinduksi dari urutan bilangan asli, sedangkan range dari barisan hanya merupakan subhimpunan dari S. Sebagai contoh, suku-suku dari barisan ((-1)n  n ∈ N) berganti-ganti antara -1 dan 1, tetapi range dari barisan itu adalah {-1,1}, memuat dua unsur dari R.

Latihan 1.2.
1. Misalkan A = B = {x∈R -1 ≤ x ≤ 1} dan sub himpunan C = {(x,y) x2 + y2 = 1} dari A×B, apakah himpunan ini fungsi ? 2. Misalkan f fungsi pada R yang didefinisikan dengan f(x) = x2, dan E = {x∈R -1 ≤ x ≤ 0} dan F = {x∈R 0 ≤ x ≤ 1}. Tunjukkan bahwa E∩F = {0} dan f(E∩F) = {0}, sementara f(E) = f(F) = {y∈R 0 ≤ y ≤ 1}. Di sini f(E∩F) adalah subhimpunan sejati dari f(E) ∩ f(F). Apa yang terjadi bila 0 dibuang dari E dan F? 3. Bila E dan F seperti latihan no. 2, tentukan E\F dan f(E)\f(F) dan tunjukkan bahwa

f(E\F) ≤ f(E)\f(F) salah.
4. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan E,F sub himpunan dari A, maka f(E∪F) = f(E) ∪ f(F) dan f(E ∩ F) ≤ f(E) ∩ f(F) 5. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan G,H sub himpunan dari B, maka f-1(G∪H) = f-1(G) ∪ f-1(H) dan f-1(G ∩ H) ≤ f-1(G) ∩ f-1(H) 6. Misalkan f didefinisikan dengan f(x) = dari R pada {y : -1 ≤ y ≤ 1}.. 7. Untuk a,b ∈R dengan a < b, tentukan bijeksi dari A = {x a < x < b} pada B = {y x x +1
2

, x ∈R. Tunjukkan bahwa f bijektif

0 < y < 1}

Analisis Real I

14

Misalkan f bersifat injektif. untuk semua x ∈ D(f) dan fof-1(y) = y untuk semua y ∈ R(f). maka f-1(f(E)).. tetapi induksi matematika sangat diperlukan disemua cabang matematika.Buktikan bahwa bila f injeksi dari A ke B. maka f(f-1(H)). Misalkan f.3.2.b)∈f} suatu fungsi dengan domain R(f).3. Buktikan teorema 1.g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f) dan fog(y) untuk semua y di D(g). Berikan suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak surjektif. 15..10.2. Tunjukkan bahwa f-1of(x) = x.a) (a. Berikan contoh dua buah fungsi f. Induksi Matematika Induksi matematika merupakan metode pembuktian penting yang akan sering digunakan dalam buku ini. 12. Buktikan teorema 1.11.} Analisis Real I 15 . 14. Berikan suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak injektif. 1. maka f-1 = {(b.Pendahuluan 8. Misalkan f. Tunjukkan bahwa f injektif dan R(f) ⊆ D(f) dan R(g) ⊇ D(g). 11. Kemudian buktikan bahwa f-1 injektif dan f invers dari f-1. Buktikan bahwa g = f-1. 9.g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f). Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat surjektif dan H ⊆ B.g dari R pada R sehingga f ≠ g. Kita akan mengasumsikan kebiasaan (pembaca) dengan himpunan bilangan asli N = {1.. 16. Dalam bagian ini kita membahas prinsip induksi matematika dan memberi beberapa contoh untuk mengilustrasikan bagaimana proses bukti induksi. 10. Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat injektif dan E ⊆ A.. tetapi fog = gof 13. Walau kegunaannya terbatas pada masalah tertentu. Metode ini digunakan untuk menguji kebenaran suatu pernyataan yang diberikan dalam suku-suku bilangan asli.2. Karena banyak bukti induksi mengikuti urutan formal argumen yang sama. kita akan sering menyebutkan “hasilnya mengikuti induksi matematika” dan meninggalkan bukti lengkapnya kepada pembaca.

1 haruslah di S.2.jika k ∈ S. Karena m diperoleh dengan pengandaian bahwa N\S tidak kosong. Sekarang kita gunakan hipotesis (2) terhadap unsur k = m . maka m ≠ 1.Aljabar Himpunan dengan operasi aritmetika penjumlahan dan perkalian seperti biasa dan dengan arti suatu bilangan kurang dari bilangan lain.1 ∈ S (ii). maka m .1 < m dan m unsur terkecil di N\S.1 juga bilangan asli. maka P(n) Analisis Real I 16 . Kesimpulan ini kontradiksi dengan pernyataan bahwa m tidak di S. yang berakibat k + 1 = (m . Misalkan S sub himpunan dari N yang mempunyai sifat (i).1. Pernyataan yang lebih detail dari sifat ini sebagai berikut : bila S subhimpunan dari N dan S ≠ ∅. Bila P(n) berarti pernyataan tentang n ∈ N. Sifat yang dideskripsikan dalam versi ini kadang-kadang mengikuti turunan sifat N. karenanya berdasar sifat urutan dengan baik N\S mempunyai unsur terkecil. Bukti : Andaikan S ≠ N. Karena 1 ∈ S.3. Dengan berdasar sifat urutan dengan baik. Setiap subhimpunan tak kosong dari N mempunyai unsur terkecil.1) + 1 = m di S. Karena itu m > 1 dengan m . maka k + 1 ∈ S. sebut m. maka terdapat suatu unsur m ∈ S sedemikian sehingga m ≤ k untuk semua k ∈ S.1 di S. kita akan menurunkan suatu versi prinsip induksi matematika yang dinyatakan dalam suku-suku subhimpunan dari N. Sifat urutan dengan baik dari N.3. 1. Prinsip induksi matematika sering dinyatakan dalam kerangka sifat atau pernyataan tentang bilangan asli. kita dipaksa pada kesimpulan bahwa N\S kosong. maka S = N. Karena m . Prinsip Induksi Matematika. Kita juga akan mengasumsikan sifat fundamental dari N berikut.. 1. Karena itu kita telah buktikan bahwa S = N. Maka N\S tidak kosong.

maka (b) benar.3. bila kita perhatikan pernyataan P(n) : n = n + 5.. Di sini. misalkan P(n) pernyataan tentang n. maka P(1) benar. Dalam konteks ini prinsip induksi matematika dapat dirumuskan sebagai berikut : Untuk setiap n ∈ N.2. Dalam (b) asumsi “jika P(k) benar” disebut hipotesis induksi. n∈N. (a). Dalam kaitannya dengan versi induksi matematika terdahulu yang diberikan pada 1. Bila n = 1. Tetapi. kita tidak mungkin menggunakan induksi matematika untuk menyimpulkan bahwa n = n + 5 untuk semua n ∈ N. Implikasinya “bila k = k + 5..3. Contoh. jadi 1 ∈ S dan dengan asumsi ini akan ditunjukkan k + 1 ∈ S. dibuat dengan memisalkan S = { n ∈ N P(n) benar}. Maka P(n) benar untuk semua n ∈ N. maka P(k + 1) benar. Sebagai contoh. Bila k ∈ S. Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana prinsip induksi matematika bekerja sebagai metode pembuktian pernyataan tentang bilangan asli. karena hanya menambahkan 1 pada kedua ruas.3. Maka kondisi (1) dan (2) pada 1. Jika P(k) benar.. kita misalkan S himpunan n ∈ N. bersesuaian dengan kesimpulan bahwa P(n) benar untuk semua n ∈ N. (*) 17 . Misalkan bahwa (a). tetapi tidak untuk yang lain. P(1) benar (b)..2 berturut-turut tepat bersesuaian dengan (a) dan (b). kita tidak memandang pada benar atau salahnya P(k). maka kita mempunyai 1+2+. bila P(n) pernyataan “ n2 = n”. sementara P(n) salah untuk semua n ≠ 1. jumlah n pertama bilangan asli diberikan oleh 1 + 2 + . Untuk membuktikan kesamaan ini. sehingga kesamaan tersebut benar. + n = 1 2 n (n + 1). maka kita mempunyai 1 = 1 2 . Untuk setiap n ∈ N. 1. Kesimpulan S = N pada 1.2. Sebagai contoh. dipenuhi. karena pernyataan P(1) : 1 = 2 salah.+k = Analisis Real I 1 2 (k+1). Kita harus membuktikan kondisi (1) dan (2) pada 1. maka k + 1 = k + 6” juga benar.1(1 + 1). maka P(k+1) benar”.3.2.3.3. tetap hanya pada validitas implikasi “jika P(k) benar.Pendahuluan benar untuk beberapa nilai n.

Pertama kita lihat bahwa pernyataan ini benar untuk n = 1.bk+1 = a(ak . kita akan buktikan bahwa a .bk. (c). Sekarang berdasarkan hipotesis induksi a-b merupakan faktor dari a(ak-bk). Dari sini kondisi (2) pada 1..abk + abk . Bila sekarang kita asumsikan bahwa a . validitas formula di atas berlaku untuk semua n ∈ N. jumlah kuadrat dari n pertama bilangan asli diberikan oleh 12+22+. karena 12 = 1 6 . memberikan hasil 12+22+.b adalah faktor dari ak .b). maka kita tuliskan ak+1 . Dari sini a-b adalah dari ak+1 . pertama kita catat bahwa formula ini benar untuk n = 1.bn untuk semua n∈N. Untuk masing-masing n ∈ N. Karena itu dengan prinsip induksi matematika. kita simpulkan bahwa k + 1 ∈ S. Diberikan bilangan a. kita peroleh 1+2+.+k+(k+1) = = 1 2 1 2 k(k+1) + (k+1) (k+1) (k+2) Karena ini menyatakan kesamaan di atas untuk n = k + 1.b. maka dengan menambahkan (k+1)2 pada kedua ruas.bk+1 = ak+1 . (b). Dengan induksi matematika kita simpulkan bahwa a-b adalah faktor dari an ..Aljabar Himpunan Bila kita tambahkan k+1 pada kedua ruas.3. dipenuhi.+n2 = 1 6 n(n+1)(2n+1) Untuk membuktikan kebenaran formula ini. Bila kita asumsikan formula ini benar untuk k.bk+1. Analisis Real I 18 .+k2 + (k+1)2 = = = 1 6 1 6 1 6 k(k+1)(2k+1) + (k+1)2 (k+1)(2k2+k+6k+6) (k+1)(k+2)(2k+3) Mengikuti induksi matematika..1 (1+1)(2+1). Disamping itu a-b juga faktor dari bk(a ...bk) + bk(a . kita simpulkan bahwa S = N dan kesamaan (*) benar untuk semua n ∈ N.b faktor dari an .b)..2.bn untuk semua n ∈ N.

r ≠ 1 dan n ∈ N. Bila n = 1.+rn+1 Jadi (1-r)Sn = Sn-rSn = 1-rn+1 Bila kita selesaikan untuk Sn.. Mengikuti prinsip induksi matematika. Dapat dibuktikan dengan induksi matematika sebagai berikut. maka formula tersebut benar untuk semua n ∈ N. bila ketaksamaan tersebut berlaku untuk k. (e). Bila r ∈ R.. diperoleh 2k+1 = 2. Ketaksamaan 2n ≤ (n+1)!. Karenanya dengan induksi matematika. yang dapat dibuktikan dengan induksi 1 − r2 .Dan dengan menggunakan fakta bahwa 2 ≤ (k+2). kitya mempunyai 1 + r = 1− r tersebut benar. (f).. Penggunaan prinsip induksi matematika secara ceroboh dapat menghasilkan kesimpulan yang slah.. Pertama kita peroleh bahwa hal ini benar untuk n = 1. Kemudian kita asumsikan bahwa 2k ≤ (k+1). Bila kita asumsikan formula tersebut benar untuk n = k dan tambahkan rk+1 pada kedua ruas. Analisis Real I 19 ... maka berlaku pula untuk k+1.. Bila kita misalkan Sn = 1+r+.Pendahuluan (d). ketaksamaan tersebut benar untuk semua n ∈ N. jadi formula matematika sebagai berikut.. Pembaca diharap mencari kesalahan pada “bukti teorema” berikut. + r = 1− r 2 n Ini merupakan jumlah n suku deret geometri. maka rSn = r+r2+. +r + r k k+1 1 − r k +1 k+1 1 − r k + 2 = +r = 1− r 1− r yang merupakan formula kita untuk n = k + 1.2k ≤ 2(k+1)! ≤ (k+2)(k+1)! = (k+2)! Jadi. Hal ini dapat dibuktikan tanpa menggunakan prinsip induksi matematika.+rn. maka kita peroleh 1+r+ . kita peroleh formula yang sama. maka 1 − r n +1 1 + r + r + .

Buktikan bahwa jumlah pangkat tiga dari bilangan asli yang berturutan n.. Sebagai contoh formula P(n) = n2 .. n+1. n3 + 5n dapat dibagi dengan 6 5.. 1.+(-1)n+1n(n+1)/2 4. (g).2 2. Bukti : Misalkan S subhimpunan bilangan asli sehingga pernyataan tersebut benar. k + 1 ∈ S dan kita simpulkan bahwa pernyataan tersebut benar untuk semua n ∈ N... Terdapat versi lain dari prinsip induksi matematika yang kadang-kadang sangat berguna.3 Buktikan bahwa yang berikut berlaku benar untuk semua n ∈ N.2. P(41) bukan bilangan prima.4.+ = 1.1 habis dibagi 16. Jadi. (Akibatnya bila p dan q dua bilangan asli sebarang.. tetapi tidak untuk semua.q di N dan maksimumnya 1.n + 41 memberikan bilangan prima untuk n =1. Tetapi. 5n .. karena k ∈ S. + n3 = [ 2 n(n+1)]2 3.. karena bila p.3 n(n + 1) n + 1 1 2.41. dan dari sini kita simpulkan bahwa p = q. Sering disebut prinsip induksi kuat.1 dapat dibagi dengan 8 6.. Karenanya p-1 = q-1. Prinsip Induksi kuat. 12-22+32-. maka p = q). Maka 1 ∈ S.k}⊆ S maka k + 1 ∈ S. 52n . maka maksimum dari p-1 dan q-1 adalah k. maka p = q. Misalkan S subhimpunan N sedemikian sehinga 1∈S. Beberapa pernyataan yang benar untuk beberapa bilangan asli.. Latihan 1. 1 1 1 n + +. dan bila {1.3. Kita akan tinggalkan pada pembaca untuk menunjukkan ekivalensinya dari kedua prinsip ini.2. Maka S = N...4n . walaupun sebenarnya ekivalen dengan versi terdahulu. 1. 7. n + 2 habis dibagi 9 Analisis Real I 20 ..Aljabar Himpunan Bila n sebarang bilangan asli dan bila maksimum dari dua bilangan asli p dan q adalah n. 13 + 23 + .3.

n ∈ N. Untuk bilangan asli yang mana n2 < 2n ? Buktikan pernyataanmu (lihat latihan 11). n ∈ N.3. maka k . maka k + 1 ∈ S. berikut : Misalkan S sub himpunan tak kosong dari N sedemikian sehingga untuk suatu n0 ∈ N berlaku (a).3 3. 15. Misalkan barisan (xn) didefinisikan sebagai berikut : x1 = 1.Tentukan suatu formula untuk jumlah n bilangan ganjil yang pertama 1 + 3 + . (lihat latihan 11). Buktikan bahwa 2n .3 ≤ 2n-2 untuk semua n ≥ 5. 14. 13.+ 1. Misalkan S sub himpunan dari N sedemikian sehingga (a).4 untuk menunjukkan 1 ≤ xn ≤ 2 untuk semua n ∈ N. 11. Gunakan prinsip induksi kuat 1. (Dugaan terhadap pernyataan matematika. dan (b) bila k ≥ n0 dan k ∈ S. + (2n . 1 2 n 16. Tentukan suatu formula untuk jumlah 1 1 1 + +.... dan (b). Buktikan S = N. Maka S memuat himpunan { n ∈ N n ≥ n0}.. 17. Buktikan bahwa 2n < n! untuk semua n ≥ 4.5 (2n − 1)(2n + 1) dan buktikan dugaan tersebut dengan mengunakan induksi matematika.+ > n untuk semua n ∈ N. (lihat latihan 11). Analisis Real I 21 . Buktikan bahwa n < 2n untuk semua n ∈ N 9. Buktikan variasi dari 1. bila k ∈ S. sebelum dibuktikan sering disebut “Conjecture”).Pendahuluan 8.1 ∈ S.. dan k ≥ 2. Buktikan bahwa 1 1 1 + +. x2 = 2 dan xn+2 = 1 2 (xn+1 + xn) untuk n∈N.2.. 10. 12. 2k ∈ S untuk semua k ∈ N.3. n0 ∈ S.1) kemudian buktikan dugaan tersebut dengan menggunakan induksi matematika.

Akan tetapi. dan menurunkan beberapa konsekuensinya yang berkaitan dengan ketaksamaan. Kemudian kita menggunakan sifat kelengkapan R dalam bagian 2. termasuk sifat archimedes.3. Pertama kita perkenalkan. tetapi kita lebih berkonsentrasi pada beberapa aspek berbeda dalam bagian-bagian yang terpisah. Demi kejelasan. Dalam bagian 2. kita membuat langkah akhir dengan menambah sifat “kelengkapan” yang sangat penting pada sifat aljabar dan urutan dari R. kita perkenalkan sejumlah sifat fundamental yang berhubungan dengan bilangan real dan menunjukkan bagaimana sifat-sifat yang lain dapat diturunkan darinya.2 sifat urutan dari R. Walaupun dimungkinkan untuk memberikan konstruksi formal dengan didasarkan pada himpunan yang lebih primitif (seperti himpunan bilangan asli N atau himpunan bilangan rasional Q). dibahas secara singkat pada bagian 2.4. dan densitas (kerapatan) bilangan rasional di R. Berikutnya kita perkenalkan. dalam bagian 2. yang mana didasarkan pada sifat urutan. Analisis Real I 22 . dalam bagian 2. sifat aljabar (sering disebut sifat medan) yang didasarkan pada ope-rasi penjumlahan dan perkalian. kita tidak akan membahas sifat-sifat R dalam suatu bagian. dan memberi ilustrasi penggunaan sifat-sifat ini. eksistensi akar (pangkat dua). namun tidak kita lakukan. dan kita akan membahasnya secara detail.1. Gagasan tentang nilai mutlak. Sistem bilangan real dapat dideskripsikan sebagai suatu “medan/lapangan lengkap yang terurut”. Hal ini lebih bermanfaat dari pada menggunakan logika yang sulit untuk mengkonstruksi suatu model untuk R dalam belajar analisis.5 untuk menurunkan hasil fundamental yang berkaitan dengan R.Aljabar Himpunan BAB 2 BILANGAN REAL Dalam bab ini kita akan membahas sifat-sifat esensial dari sistem bilangan real R.

untuk setiap a ≠ 0 di R terdapat unsur 1/a di R sehingga a.1 Sifat Aljabar R Dalam bagian ini kita akan membahas “struktur aljabar” sistem bilangan real. Dalam aljabar abstrak sistem bilangan real merupakan lapangan/medan terhadap penjumlahan dan perkalian.1. (a.a = 1 (eksistensi balikan). disamping menggunakan notasi B(a.b = b.a = a dan a.b di R (sifat komutatif perkalian). (M1). a. Sifat-sifat aljabar R.b (atau hanya ab) untuk membicarakan sifat penjumlahan dan perkalian. Kedua operasi ini memenuhi sifat-sifat berikut : (A1). terdapat unsur 1 di R yang berbeda dari 0. a + b = b + a untuk semua a.b. (A3) terdapat unsur 0 di R sehingga 0 + a = a dan a + 0 = a untuk semua a di R (eksistensi unsur nol). sehingga 1.1/a = 1 dan (1/a). kita akan lebih sering menggunakan notasi konvensional a+b dan a. dituliskan dengan “+” dan “.” dan secara berturut-turut disebut penjumlahan dan perkalian. (M2).c di R (sifat asosiatif perkalian). Contoh operasi biner yang lain dapat dilihat pada latihan.1.1 = a untuk semua a di R (eksistensi unsur satuan). untuk setiap a di R terdapat unsur -a di R.Pendahuluan 2. Sifat-sifat yang akan disajikan pada 2. (a + b) + c = a + (b + c) untuk semua a.b) di F. Pertama akan diberikan daftar sifat penjumlahan dan perkaliannya. (A2). Yang dimaksud operasi biner pada himpunan F adalah suatu fungsi B dengan domain F×F dan range di F.b) dari unsur-unsur di F dengan tepat sebuah unsur B(a. operasi biner memasangkan setiap pasangan berurut (a. (A4).b). (M4). Daftar ini mendasari semua untuk mewujudkan sifat dasar aljabar R dalam arti sifat-sifat yang lain dapat dibuktikan sebagai teorema. 2.a untuk semua a. Analisis Real I 23 .b. Tetapi. Jadi.1. Pada himpunan bilangan real R terdapat dua operasi biner. (b. c = a .b di R (sifat komutatif penjumlahan). (M3).c di R (sifat assosiatif penjumlahan).c) untuk semua a.1 berikut dikenal dengan “Aksioma medan”.b) . sehingga a + (-a) = 0 dan (-a) + a = 0 (eksistensi negatif dari unsur).

(b).c) dan (b+c) .b.a) + (c. maka kita tambahkan -a pada kedua ruas dan diperoleh (-a) + (a + b) = (-a) + 0. kita peroleh (-a) + (a + b) = ((-a) + a) + b = 0 + b = b. Bila a + b = 0. 2. (a). maka b = -a. maka z = 0. kita peroleh (z + a) + (-a) = z + (a + (-a)) = z + 0 = z. Bukti : (a). Kita tambahkan unsur -a (yang eksistensinya dijamin pada (A4)) pada kedua ruas dan diperoleh (z + a) + (-a) = a + (-a) Bila kita berturut-turut menggunakan (A2). Bukti : (a). Berikut kita akan dibuktikan beberapa konsekuensi dasar (tetapi penting). Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan.3 Teorema.b) + (a.a) untuk semua a. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat penting. (a). maka b = 1/a. (A4) dan (A3) pada ruas kiri. Dari hipotesis kita mempunyai z + a = a. Bila z dan a unsur di R sehingga z + a = a. (b). a .1.b = b. bila kita menggunakan (A3) pada ruas kanan kita dapatkan Analisis Real I 24 .1. (A4) dan (A3) pada ruas kiri.Aljabar Himpunan (D).b = 1. bila kita menggunakan (A4) pada ruas kanan a + (-a) = 0. 2. Pembaca perlu terbiasa dengan sifat-sifat di atas. Bila u dan b ≠ 0 unsur R sehingga u. Dari sini kita simpulkan bahwa z = 0. Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa bila diberikan a di R. maka u = 1.c di R (sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan). Bila kita berturut-turut menggunakan (A2). (b+c) = (a. Dengan demikian akan memudahkan dalam penurunan dengan menggunakan teknik dan manipulasi aljabar. maka unsur -a dan 1/a (bila a ≠ 0) ditentukan secara tunggal. a = (b.2 Teorema. Bila a dan b unsur di R sehinga a + b = 0. Bila a ≠ 0 dan b unsur di R sehingga a.

kita peroleh a + ((-a) + b) = (a + (-a)) + b = 0 + b = b. ketiga teorema yang telah dikenalkan kita hanya memperhatikan penjumlahan dan perkalian secara terpisah. kita peroleh bahwa (A4) dan (M4) memungkinkan kita untuk menyelesaikan persamaan a + x = 0 dan a . x = 1 (bila a ≠ 0) untuk x. Sejauh ini. Misalkan a.b sebarang unsur di R. Bila a sebarang unsur di R. (b). kita harus melibatkan sifat distributif (D).5 Teorema. Bila kita perhatikan sifat di atas untuk menyelesaikan persamaan. persamaan a . Dari sini kita simpulkan bahwa x1 = (-a) + b. x = b mempunyai solusi tunggal x = (1/a) . yang mengakibatkan x = (-a) + b merupakan solusi dari persamaan a + x = b. maka : Analisis Real I 25 . dan bila kita tambahkan kedua ruas dengan -a. andaikan x1 sebarang solusi dari persamaan tersebut.1. Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. maka a + x1 = b. Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. (A4) dan (A3). bila a ≠ 0. kita peroleh (-a) + (a + x1) = (-a + a) + x1 = 0 + x1 = x1.1. Maka : (a). Dari sini kita simpulkan bahwa b = -a.3 mengakibatkan bahwa solusinya tunggal. kita peroleh (-a) + (a + x1) = (-a) + b.1. 2. Hal ini diilustrasikan dalam teorema berikut. Teorema berikut menunjukkan bahwa ruas kanan dari persamaan ini dapat sebarang unsur di R. Bukti : Dengan menggunakan (A2). persamaan a + x = b mempunyai solusi tunggal x = (-a) + b. dan teorema 2. Bila sekarang kita gunakan (A2).Pendahuluan (-a) + 0 = -a.4 Teorema. Untuk melihat keterpaduan antara keduanya. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat penting. 2. (A4) dan (A3) pada ruas kiri. Untuk menunjukkan bahwa ini merupakan satu-satunya solusi. b.

Bila kita kalikan kedua ruas persamaan a . a = -a (d). Maka dengan menambahkan a . Bila a . a = . maka 1/a ≠ 0 dan 1/(1/a) = a (b). kita peroleh ((1/a) . a = 1 .1.2(a) kita peroleh bahwa a .3(b) mengakibatkan 1/(1/a) = a. 2. a = 0 . dari teorema 2.1. 0 dan mengunakan (D) dan (A3) kita peroleh a+a.1+a. maka terdapat 1/a. maka paling tidak satu dari a = 0 atau b = 0 benar. a + (-1) . digabung dengan (M3). Jadi 1/a ≠ 0 dan karena (1/a) . Jadi. Misalkan a. (b). (-1) . a) . (-1) = -(-1). (-1) . Andaikan 1/a = 0. Kita gunakan (D).c unsur-unsur di R. Dari (M3) kita ketahui bahwa a . b = 0. (1 + 0) = a .a. maka b = c (c). dengan teorema 2. Dengan (A4) kita mempunyai (-a) + a = 0. (A4) dan bagian (a). untuk memperoleh a + (-1) . c. 0 = 0. a . Dalam bagian (b) substitusikan a = -1. (1/a) = a .1. a = 0 Jadi. a = 1.Aljabar Himpunan (a). Dari sini.0=a.1. (b). a) . Bila a ≠ 0. kita menggunakan (c) dengan a = 1. 1 = a. Maka (-1) . Jadi dari teorema 2. Bila a .3 (a) diperoleh bahwa a = . c dan a ≠ 0. maka 1 = a .1. Bukti : (a). -(-a) = a (b). (a). Teorema 2. Analisis Real I 26 .0 = a. kontradiksi dengan (M3).(-a). b = a . (-1) = 1 Bukti : (a). (d). b = ((1/a) .b. c dengan 1/a dan menggunakan sifat asosiatif (M2). Bila a ≠ 0. (c). b = a .3(a) kita peroleh (-1) . 1 = a. 0 = 0. 0 = 0 (c).6 Teorema. Kita simpulkan deduksi formal kita dari sifat medan (bilangan real) dengan menutupnya dengan hasil-hasil berikut.

Teorema-teorema di atas mewakili sebagian kecil tetapi penting dari sifat-sifat aljabar bilangan real. b = 1 . Banyak konsekuensi tambahan sifat medan R dapat diturunkan dan beberapa diberikan dalam latihan.b di R. dan lebih dari itu. Jumlah dan hasil kali dua bilangan rasional merupakan bilangan rasional (Buktikan!). sejak sekarang kita akan tinggalkan titik untuk perkalian dan menuliskan ab untuk a. kita definisikan an+1 = (an)a. dan penjumlahan n-kali unsur -1 sebagai bilangan bulat -n. b ≠ 0 dengan a/b = a. Berikutnya. untuk n∈N.b. b = a . a3 untuk (a2)a. dengan mengidentifikasi bilangan asli n∈N sebagai penjumlahan n-kali unsur satuan 1∈R.b di Z dan a ≠ 0 disebut bilangan rasional. c yang berarti juga b = c (c). Kita tinggalkan ini sebagai latihan bagi pembaca untuk membuktikan (dengan induksi) bahwa bila a di R. (Mengapa?) Karena a . 0. kita gunakan bagian (b) terhadap persamaan a . kita identifikasi 0∈Z dengan unsur nol di R.Pendahuluan Jadi 1 . Secara sama. maka am+n = aman untuk semua m.n di N. kita akan gunakan notasi a-1 untuk 1/a.(1/b). 0 yang menghasilkan b = 0. sifat-sifat medan yang dituliskan di awal bagian Analisis Real I 27 . Bilangan Rasional dan Irasional Kita anggap himpunan bilangan asli sebagai subhimpunan dari R. bila a ≠ 0. Bila a ≠ 0. Operasi pengurangan didefinisikan dengan a . kita akan menggunakan notasi ini untuk pengurangan dan pembagian.b di R. N dan Z subhimpunan dari R. Unsur-unsur di R yang dapat dituliskan dalam bentuk b/a dengan a. Akibatnya. Secara sama operasi pembagian didefinisikan untuk a. b = 0 = a . secara umum. Secara sama. dan bila n∈N. kita tuliskan a-n untuk (1/a)n. Kita juga menyetujui penulisan a0 = 1dan a1 = a untuk sebarang a di R (a ≠ 0). Sebagaimana biasa kita akan menuliskan a2 untuk aa.b = a + (-b) untuk a. Hal ini cukup dengan mengasumsikan a ≠ 0 dan memperoleh b = 0. bila memang hal ini memudahkan. Himpunan bilangan rasional di R akan dituliskan dengan notasi standar Q.

Penemuan ini mempunyai sumbangan besar pada perkembangan matematika Yunani. Maka terdapat bilangan bulat p dan q sehingga (p/q)2 = 2.7 Teorema. Fakta bahwa terdapat unsur di R yang tidak di Q tidak begitu saja dikenali. yang diikuti q juga genap. Karena p genap. p2 = 4n2 . kita peroleh bahwa p2 genap.1. Analisis Real I 28 .4n + 1 = 2(2n2 . ini mengakibatkan tidak ada bilangan rasional yang kuadratnya dua. sehingga r2 = 2 Bukti : Andaikan terdapat bilangan rasional yang kuadratnya 2. Salah satu konsekuensinya adalah unsur-unsur R yang bukan unsur Q merupakan bilangan yang dikenal dengan bilangan irrasional. teorema 2 bukan faktor persekutuan dari p dan q maka haruslah q ganjil.Aljabar Himpunan ini dapat ditunjukkan dipenuhi oleh Q. (Mengapa?) Karena p2 = 2q2.1 untuk suatu n di N.1 juga ganjil). yang berarti bilangan-bilangan itu bukan rasio (= hasil bagi dua buah) bilangan rasional.1ganjil. Dalam pembuktiannya kita akan menggunakan gagasan bilangan genap dan bilangan ganjil. dan dari sini 4m2 = 2q2. 2. Pada abad keenam sebelum masehi komunitas Yunani kuno pada masa Pytagoras menemukan bahwa diagonal dari bujur sangkar satuan tidak dapat dinyatakan sebagai pembagian bilangan bulat.2n +1) . dan bilangan ganjil mempunyai bentuk 2n .q positif dan tidak mempunyai faktor persekutuan lain kecuali 1. maka kuadratnya. Ini mengakibatkan bahwa p juga genap (karena bila p = 2n . Jangan dikacaukan dengan arti tak rasional. Setiap bilangan asli bersifat ganjil atau genap. jadi 2m2 = q2. Kita ingat kembali bahwa bilangan genap mempu-nyai bentuk 2n untuk suatu n di N. dengan alasan seperti pada paragraf terdahulu. dan tidak pernah bersifat keduanya. Kita akan tutup bagian ini dengan suatu bukti dari fakta bahwa tidak ada bilang-an rasional yang kuadratnya 2. Akibatnya. Tidak ada bilangan rasional r. Akibatnya q2 genap. maka p = 2m untuk suatu m ∈ N. Asumsikan bahwa p. Menurut Teorema Phytagoras tentang segitiga siku-siku.

B(a. (d). Bila a ≠ 0 dan b ≠ 0. Selesaikan persamaan berikut dan sebutkan sifat atau teorema mana yang anda gunakan pada setiap langkahnya.a). Gunakan argumentasi pada bukti teorema 2. untuk semua a di R Tentukan sifat-sifat mana yang dipenuhi operasi di bawah ini (a).1 Untuk nomor 1 dan 2. Latihan 2.(-b) = a.b di R.b. B4(a.2 2. 2. 9. Kita katakan B : (i).b Analisis Real I (d). 2 (b). 4.7 untuk membuktikan bahwa tidak ada bilangan rasional t. B1(a.b di R.1. Buktikan bahwa bila a.a) untuk semua a.c) untuk semua a.b) = 1 2 (ab) (c).1. x = 2x.e) = a = B(e. B2(a. asosiatif bila B(a. (c). B3(a. sehingga t2 = 3. Modifikasi argumentasi pada bukti teorema 2.c di R. 2x + 6 = 3x + 2. komutatif bila B(a.3.Pendahuluan Dari sini kita sampai pada kontradiksi bahwa tidak ada bilangan asli yang bersifat genap dan ganjil. Misalkan B operasi biner pada R.b (d).1. (x .c)) = B(B(a. maka r + ξ dan rξ irasional. (a). maka -(a + b) = (-a) + (-b) (-a) = -(1/a) bila a ≠ 0 (b). 8. 2x + 5 = 8. tunjukkan bahwa 1/(ab) = (1/a).b) = 1 + ab 29 .b) = B(b.b) = a .b di R dan memenuhi a. (-a). sehingga s2 = 6. (ii).1) (x + 2) = 0. 2.b) = 1 2 (a + b) (b). 3. 10. -(a/b) = (-a)/b bila b ≠ 0 5. (iii).7 untuk membuktikan bahwa tidak ada bilangan rasional s.a = a.b).(1/b) 7. mempunyai unsur identitas bila terdapat unsur e di R sehingga B(a. buktikan bahwa a = 0 atau a = 1 6. Bila a. Tunjukkan bahwa bila ξ di R irasional dan r ≠ 0 rasional. buktikan bagian b dari teorema 1.1.

maka am+n = aman dan (am)n = am.2. yang memenuhi sifat-sifat berikut : (i).n. Bila a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak negatif dan ditulis a ≥ 0. Terdapat sub himpunan tak kosong P dari R. Suatu operasi biner B pada R dikatakan distributif terhadap penjumlahan bila memenuhi B(a. 2. Kondisi (iii) biasa disebut “Sifat Trikotomi”.b di P (iii).2. Buktikan bahwa bilangan asli tidak dapat bersifat genap dan ganjil secara bersamaan. Seperti halnya pada struktur aljabar sistem bilangan real. Bila a. Bila a. Sifat Urutan Dalam R Sifat urutan R mengikuti gagasan positivitas dan ketaksamaan antara dua bilang-an real. karena hal ini membagi R menjadi tiga daripada unsur yang berbeda.Aljabar Himpunan 11. maka tepat satu dari yang berikut dipenuhi a ∈ P.b) + B(a.2 Definisi. kita katakan a bilangan real positif (atau positif kuat) dan kita tulis a > 0. maka a + b di P (ii). maka a.b di P. 12.b + c) = B(a. R gabungan tiga himpunan yang saling lepas. -a ∈ P Dua sifat yang pertama kesesuaian urutan dengan operasi penjumlahan dan perkalian. a = 0.1 Sifat Urutan dari R. Analisis Real I 30 . 13. dan lebih dari itu.2.c di R.n di N. Gunakan induksi matematika untuk menunjukan bahwa bila a di R dan m. Yang mana (bila ada) dari operasi nomor 12 yang bersifat distributif terhadap penjumlahan?. 2. Bila a∈P. Hal ini menyatakan bahwa himpunan {-a  a ∈ P} bilangan real negatif tidak mempunyai unsur sekutu di P. Bila a di R.b di P. Cara paling sederhana yaitu dengan mengidentifikasi sub himpunan tertentu dari R dengan menggunakan gagasan “positivitas”. yang disebut himpunan bilangan real positif. 2.c) untuk semua a. di sini kita utamakan beberapa sifat dasar sehingga sifat yang lain dapat diturunkan.b.

bila a ≤ b dan b ≤ c benar.4 Teorema. kita akan menggunakan a < b < c.b) + (b - c) = a .b. Bila a . Analisis Real I 31 . bila a ≤ b dan b < d benar. kita akan menuliskannya dengan a≤b≤c Juga.b di R.1(i) mengakibatkan bahwa (a .Pendahuluan Bila -a∈P. Dari sini a > c. Bila a . .b ∈ P∪{0} maka kita tulis a ≥ b.b) = b . Misalkan a.c ∈ P. maka 2. Misalkan a. (ii). (a).atau b ≤ a.b ∈ P dan b . a = b dan a < b (c).2. maka kita tulis a > b atau b < a. bila a < b dan b < c dipenuhi. maka a = b Bukti : (a). Ini merupakan aturan ketaksamaan yang biasa kita kenal dan akan sering kita gunakan pada pembahasan selanjutnya. (b).a ∈ P. Tepat satu yang berikut benar : a > b. Sekarang kita perkenalkan gagasan tentang ketaksamaan antara unsur-unsur R dalam himpunan bilangan positif P. Bila a .c di R. 2. Bila -a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak positif dan ditulis a ≤ 0. Bila a > b dan b > c. tepat satu dari yang berikut benar : a .b ∈ P. Sifat Urutan Sekarang akan kita perkenalkan beberapa sifat dasar relasi urutan pada R. . dituliskan dengan a≤b<d dan seterusnya. (i).b ∈ P.3 Definisi.2. maka a > c (b).2.1(iii).2.c unsur di P. Dengan sifat trikotomi 2. Untuk kemudahan penulisan.b = 0. -(a . Secara sama. kita katakan a bilangan real negatif (atau negatif kuat) dan kita tulis a < 0. a . 2. Bila a ≥ b dan b ≥ a.

(a). Bila pernyataan k > 0.b ≠ 0.1 (ii).b. maka ca > cb bila a > b dan c < 0. Yang masing-masing kontradiksi dengan satu dari hipotesis kita.2. maka a + c > b + d (c). yaitu a > b atau b > a.a ∈ P. maka a + c > b + c (b).2. maka a ∈ P atau -a ∈ P. Karena 1 = (1)2.5 Teorema. Bila n∈N. Kita gunakan induksi matematika. (c). menurut 2. Bila a ∈ P. maka a2 > 0 (b). Dengan sifat trikotomi bila a ≠ 0. (a) mengakibatkan 1 > 0. kita mempunyai a2 = a.(-a) ∈ P. maka a . maka ca < cb Analisis Real I 32 . maka n > 0 Bukti : (a).Aljabar Himpunan (c).1(i) .c. Kita simpulkan bahwa bila a ≠ 0.(-a) = ((-1)a) ((-1)a) = (-1)(-1). Kita akan tunjukkan bagaimana sifat ini diturunkan dari sifat dasar yang diberikan dalam 2. bila a > b dan c > 0.2. maka a2 > 0. 1 > 0 (c).1(ii).2. kita mempunyai (-a). Secara sama bila -a ∈ P.a2 = a2. bila a > b dan c > d. Kuncinya adalah bahwa kuadrat dari bilangan real tak nol positif.d ∈ R (a). maka dengan 2.2. maka k∈P. bila a > b.1. maka k + 1 ∈ P. (b). Bila a ≠ b. Sifat berikut berhubungan dengan urutan di R terhadap penjumlahan dan perkalian. Karena itu a = b.2. Dari 2. Dari sini pernyataan n > 0 untuk semua n∈N benar.1. Misalkan a. 2.1. dengan k bilangan asli. Adalah hal yang wajar bila kita berharap bilangan asli merupakan bilangan positif. maka 2.. jadi menurut bagian (b) kita hanya mempunyai a . Karena 1 ∈ P. jadi a2 ∈ P. 2.b ∈ P atau b . validitas untuk n = 1 dijamin oleh (b). Bila a∈R dan a ≠ 0.5(b) dan 2. Sifat-sifat ini menyajikan beberapa alat yang memungkinkan kita bekerja dengan ketaksamaan.6 Teorema.a ∈ P. .5(d) kita mempunyai (-a)..

bila a > 0.  n n 1 2. mengikuti 2.1.cb = c(a .(b + c) unsur di P. Bila a . Secara sama.5(b). maka a < 2 (a + b) < b. Dari sini.1(ii).1(i).ca = (-c)(a b) unsur di P.2.2.(b + d) = (a .d) juga unsur di P menurut 2. maka kemungkinan 1/a > 0 membawa ke sesuatu yang kontradiksi yaitu 1 = a(1/a) < 0.7 Teorema. cb > ca bila c < 0.Pendahuluan (d). Bila a . kita peroleh bahwa 1 dengan n n sebarang bilangan asli adalah bilangan positif. Bila a dan b unsur di R dan bila a < b. maka 1/a > 0 bila a < 0.2.2.6(c) dan 2.b) + (c . (d). Karena itu kita mempunyai 2a < a + b < 2b Menurut 2.6(a).6(d). maka a ≠ 0 (menurut sifat trikotomi). bila a < 0. Jadi. jadi 1/a ≠ 0 menurut 2. maka bagian (c) dengan c = 1/a mengakibatkan bahwa 1 = a(1/a) < 0.6(a) diperoleh bahwa 2a = a + a < a + b dan juga a + b < b + b = 2b.2.5(c) kita mempunyai 2 > 0.b ∈ P dan c ∈ P. adalah positif.6(c) kita dapatkan a= 1 2 1 2 > (2a) < 1 2 (a + b) < 1 2 (2b) = b Analisis Real I 33 . untuk m dan n bilangan asli. bila c > 0. Bila a > 0. Dilain pihak.d ∈ P. (c). Akibatnya bilangan rasional dengan bentuk m  1 = m   .b) ∈ P menurut 2.6(d) kita peroleh 0. bila c < 0.2.2. maka -c ∈ P sehingga cb . Andaikan 1/a < 0. Bukti : Karena a < b. Bila a . karena itu ca > cb.2. Karenanya 1/a > 0.2. maka 1/a < 0 Bukti : (a). kontradiksi dengan 2. Dengan menggabung 2. a + c > b + d. maka (a + c) .2. karenanya menurut 2.b ∈ P dan c . maka (a + c) .b ∈ P. Dengan menggunakan 2. Jadi a + c > b + c (b). maka ca .

maka 0 < ε0 < a.ε0.10 Teorema. Hasil kali dua bilangan positif merupakan bilangan positif juga. 2. untuk membuktikan bahwa a ≥ 0 benar-benar sama dengan 0.2. Dua hasil yang berikut akan digunakan sebagai metode pembuktian selanjutnya. Jadi a = 0. 2. Bila b ∈ R dan b > 0.2. kita lihat pada hasil berikut bahwa hal ini cukup dengan menunjukkan bahwa a kurang dari sebarang bilangan positif manapun.11 Teorema. seperti ditunjukkan berikut ini. Bukti : 1 Andaikan b < a dan tetapkan ε0 = 2 (a .Aljabar Himpunan Dari sifat urutan yang telah dibahas sejauh ini. 2. Sekarang tetapkan ε0 = a. Bukti : Andaikan a > 0. Maka menurut 2. Kenyataannya adalah kedua faktor tersebut harus bertanda sama (sama-sama positif atau sama-sama negatif).8 diperoleh 0 < 1 2 1 2 a <a.b di R.2. dan a . maka 0 < Bukti : Ambil a = 0 dalam 2.9 Teorema. Sebagai contoh. Misalkan a.ε < b untuk setiap ε >0. Maka a ≤ b. kita tidak mendapatkan bilangan real positif terkecil. Maka ε0 dan b < a .2. kontradiksi dengan hipotesis.2. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa 0 < ε untuk setiap ε positif.b). Bila ab > 0. positivitas suatu hasil kali tidak mengakibatkan bahwa faktor-faktornya positif. a < 0 dan b < 0 Bukti : Analisis Real I 34 . Bila a di R sehingga 0 ≤ a < ε untuk setiap ε positif.8 Teorema Akibat.2. maka a = 0. Tetapi. (Bukti lengkapnya sebagai latihan). a > 0 dan b > 0 atau (ii). maka (i). 1 2 b < b.7. Hal ini akan ditunjukkan sebagai berikut : 2.

kita mempunyai x > 1 dan x > -2. Kita catat bahwa x ∈ C ⇔ (2x + 1)/(x + 2) . Jadi B = {x ∈ R x > 1}∪{x ∈ R x < -2}.1 < 0 dan x + 2 > 0. Tuliskan bahwa x ∈ B ⇔ x2 + x . Karenanya.1 > 0 dan x + 2 > 0. yang dipenuhi jika dan hanya jika x < -2. A = {x ∈ R  x ≤ 3/2}. Tentukan himpunan B = {x ∈ R  x2 + x > 2} Kita ingat kembali bahwa teorema 2. maka 1/a < 0.13 Contoh-contoh.1)/(x + 2) < 0. 2. bila a < 0. a > 0 atau a < 0. yang dipenuhi. Ketaksamaan Sekarang kita tunjukkan bagaimana sifat urutan yang telah kita bahas dapat digunakan untuk menyelesaikan ketaksamaan. Dalam kasus (ii) kita mempunyai x < 1 dan x < -2. Dalam kasus (i). (a).2.11 dapat digunakan. a < 0 dan b > 0 atau (ii). atau (ii). yang dipenuhi jika dan hanya jika x > 1. Dalam kasus (i) kita harus mempunyai x < 1 dan x > -2.12 Teorema Akibat.1 > 0 dan x + 2 < 0 (Mengapa?). Bila a >0. atau (ii). (b). sehingga b = (1/a) (ab) < 0.2 > 0 ⇔ (x .x .1 < 0 dan x + 2 < 0. x . kita mempunyai (i). Kita catat bahwa x ∈ A ⇔ 2x + 3 ≤ 6 ⇔ 2x ≤ 3 ⇔ x ≤ 3/2. Karenanya. Tentukan himpunan A dari semua bilangan real x yang memenuhi 2x = 3 ≤ 6. maka hasil kalinya 0).b = ((1/a)a) b = (1/a) (ab) > 0 Secara sama. Tentukan himpunan C = {x ∈ R (2x + 1)/(x + 2) < 1}.2. 2. a > 0 dan b < 0 Buktinya sebagai latihan. Bila ab < 0. (c). Karenanya. kita mempunyai (i).6(d) dan karenanya b = 1.1 < 0 ⇔ (x . maka (i). Dari sifat trikotomi. jika dan hanya jika -2 < x Analisis Real I 35 . x .2.1) (x + 2) > 0. maka 1/a > 0 menurut 2. x .Pendahuluan Pertama kita catat bahwa ab > 0 mengakibatkan a ≠ 0 dan b ≠ 0 (karena bila a = 0 dan b = 0. Pembaca diminta memeriksa dengan hati-hati setiap langkahnya.2.

Contoh berikut mengilustrasikan penggunaan sifat urutan R dalam pertaksamaan. yang tidak akan pernah dipenuhi.2. Contoh-contoh. Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris ab ≤ 1 2 (a + b) (2) dan ketaksamaan terjadi jika dan hanya jika a = b. Perlu dicatat juga bahwa eksistensi akar kuadrat dari bilangan positif kuat belum diperkenalkan secara formal. a < b ⇔ a2 < b2 ⇔ a< b Kita pandang kasus a > 0 dan b > 0. dari 2. Hal ini akan membiasakan untuk yakin dengan setiap langkah dalam pekerjaan selanjutnya.2.2.a > 0. Pembaca seharusnya membuktikan setiap langkah dengan mengidentifikasi sifat-sifat yang digunakan.5). kita harus mempunyai x > 1 dan x < -2. (a).14. Jadi kesimpulannya adalah C = {x ∈ R -2 < x < 1}.6(c) diperoleh bahwa b .Aljabar Himpunan < 1. Misalkan a ≥ 0 dan b ≥ 0. (Eksistensi akar kuadrat akan dibahas dalam 2. Bila a dan b bilangan bulat positif. Karena b2 . karena a = ( a )2 dan b = a dan b . maka bila a dan b berturut-turut diganti dengan kan bukti di atas diperoleh a < b ⇔ dan b ≥ 0.1(i) diperoleh bahwa a + b > 0. dan kita tinggalkan kasus a = 0 kepada pembaca. sedangkan dalam kasus (ii). maka a< b Kita juga tinggalkan kepada pembaca untuk menunjukkan bahwa bila a ≥ 0 a ≤ b ⇔ a2 ≤ b2 ⇔ a ≤ b 1 2 (b). Analisis Real I 36 . dan kita guna- ( b )2.a2 = (b . Bila a > 0 dan b > 0. 2. Maka (i). maka a > 0 dan b > 0 . Dari 2.a > 0 mengakibatkan bahwa b . maka rata-rata aritmatisnya adalah dan rata-rata geometrisnya adalah diberikan oleh (a + b) ab .a) (b + a). tetapi eksistensinya kita terima dalam membicarakan contoh-contoh berikut.

Bila x > -1..2 ab + b > 0. Tetapi kesamaan ini mengakibatkan a = b (Mengapa?).. Hal ini membuktikan bahwa (2) dipenuhi untuk a > 0. Catatan : Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris yang umum untuk bilangan positif a1. = an. Dengan mengekspansi kuadrat ini.. maka (1 + x)n ≥ 1 + nx . Ketaksamaan Bernoulli. dan a ≠ b. perhatikan bahwa bila a > 0. maka a > 0. yang diikuti oleh ab < 1 2 (a + b). Jadi kesamaan untuk (2) mengakibatkan a = b.5(a) diperoleh bahwa ( a . dan akan dibuktikan valid juga untuk n + 1.. (4) Buktinya dengan menggunakan induksi matematika. Selanjutnya. kita asumsikan bahwa ketaksamaan (4) valid untuk suatu bilangan asli n.b)2. Asumsi (1 + x)n ≤ 1 + nx dan fakta 1 + x > 0 mengakibatkan bahwa Analisis Real I 37 . maka kedua ruas dari (2) sama dengan a.. a2. Untuk n = 1. b > 0 dan a ≠ b (Mengapa?). untuk semua n ∈ N. b > 0. Dilain pihak.+ an n (3) dengan kesamaan terjadi jika dan hanya jika a1 = a2 = . yang diikuti oleh 0 = a2 .b )2 > 0. diperoleh a .. Maka dengan meng- kuadratkan kedua ruas kemudian mengalikannya dengan 4..2.Pendahuluan Untuk membuktikan hal ini. Lebih dari itu... jadi (2) menjadi kesamaan. an)1/n ≤ a1 + a2 +.. Karenanya (2) dipenuhi (untuk ketaksamaan kuat) bila a ≠ b. menghasilkan kesamaan sehingga pernyataan tersebut benar dalam kasus ini. b > 0 dan ab < 1 2 (a + b). b > 0.2ab + b2 = (a . kita peroleh 4ab = (a + b)2 = a2 + 2ab + b2. misalkan a > 0. Karenanya dari 2. bila a = b (> 0).an adalah (a1 a2 . (c).

an dan b1.2Bt + Ct2 ≥ 0. n.. (5) Lebih dari itu. kita mempunyai B ≤ AC.tb1)2 + . bila valid untuk n. ketaksamaan (4) valid untuk n + 1..B.C sebagai berikut A = a12 + . B = a1b1 + . C = b12 + .. . Maka. + an2) (b12 + .. . yang tidak lain adalah (5). bn bilangan real maka (a1b1+ . + bn2). a2.Aljabar Himpunan (1 + x)n+1 = (1 + x)n (1 + x) ≥ (1 + nx) (1 + x) = 1 + (n + 1)x + nx2 ≥ 1 + (n + 1)x Jadi.. Karena fungsi kuadrat F(t) tak negatif untuk semua t ∈ R. an = sbn.... b2... . maka kesamaan untuk (5) dipenuhi jika dan hanya jika terdapat bilangan real s. Karenanya. sehingga a1 = sb1.1(i) diperoleh bahwa F(t) ≥ 0 untuk semua t∈R. maka kesamaan untuk (5) dipenuhi untuk sebarang aj.AC) harus memenuhi ∆ ≤ 0.2... untuk semua j = 1. Bila bj = 0. Bila kuadratnya diekspansikan diperoleh F(t) = A . Dari sini. + anbn. Untuk membuktikan hal ini kita definisikan fungsi F : R → R.. bila aj = sbj untuk suatu Analisis Real I 38 . dengan A. Misalkan sekarang tidak semua bj = 0.. Bila n∈N dan a1. (d). hal ini tidak mungkin mempunyai dua akar real yang berbeda..tbn)2.. Karenanya diskriminannya ∆ = (-2B)2 . + bn2. bila tidak semua bj = 0. + (an . ketaksamaan (4) valid untuk semua bilangan asli.. + an2. Ketaksamaan Cauchy..... Dari 2.. + anbn)2 ≤ (a12 + .. untuk t∈R de-ngan F(t) = (a1 .2. ...5(a) dan 2.4AC = 4(B2 . .

. Bila n ∈ N dan a1. tunjukkan bahwa a2 + b2 = 0 jika dan hanya jika a = 0 dan b = 0. Di lain pihak bila kesamaan untuk (5) dipenuhi.2 1..sb1 = 0. (b). buktikan bahwa 0 ≤ ac ≤ bd....... kesamaan untuk (6) dipenuhi jika dan hanya jika terdapat bilangan real s.. Ketaksamaan Segitiga.d yang memenuhi 0 < a < b dan c < d < 0... . kita mempunyai (a1 + b1)2 + .C seperti pada (d)]... Bila 0 < a < b dan 0 < c < d. maka B = samaan dalam ketaksamaan Cauchy dipenuhi. Bila a ≤ b dan c < d..... Bila a ≤ b dan c ≤ d.. 5.. Bila a. buktikan bahwa a + c ≤ b + d... yang mengakibatkan ke- Latihan 2.B. an dan b1. Karena (aj + bj)2 = aj2 + 2ajbj + bj2 untuk j = 1.. n.. A+ C.. + (an + bn)2]1/2 ≤ [a12 + . 4. .dengan menggunakan ketaksamaan Cauchy (5) [A.. Buktikan bila a < b dan c < d. +bn2)2. bn bilangan real maka [(a1 + b1)2 + . maka ad + bc < ac + bd. n. + (an + bn)2]1/2 ≤ yang tidak lain adalah (b). Juga tunjukkan dengan contoh bahwa ac < bd tidak selalu dipenuhi. Bila kesamaan untuk (b) dipenuhi. (a). . atau (ii). .b. an = sbn. . Tetapi hal ini mengakibatkan (mengapa?) bahwa a1 . (e).Pendahuluan s∈R dan semua j = 1. + an2]1/2 + [b12 + . an . Tentukan bilangan real a. Bila 0 < a < b dan 0 ≤ c ≤ d. AC .. + (an + bn)2 = A + 2B + C ≤ A + 2 AC + C = ( A + C )2 Dengan mengunakan bagian (a) kita mempunyai (mengapa?) [(a1 + b1)2 + .. (a).. n. Analisis Real I 39 . sehingga (i). bd < ac..b ∈ R. maka haruslah ∆ = 0. . mengakibatkan kedua ruas dari (5) sama dengan s2(b12 + . . buktikan bahwa a + c < b + d..c. 2. sehingga a1 = sb1. 3. sehingga terdapat akar tunggal s dari persamaan kuadrat F(t) = 0. ac < bd..sbn = 0 yang diikuti oleh aj = sbj untuk semua j = 1... buktikan bahwa 0 < ac < bd (b). + bn2]1/2 (6) lebih dari itu bila tidak semua bj = 0.

.+ cn 2 ≤ c1 + c2 + . 1/x < x.. (a2 + b2) untuk semua a. 9. dan m... (Perhatikan ketaksamaan Bernoulli dengan c = 1 + x).n. maka a < ab < b dan 0 < 1/b < 1/a. Bila c > 1.2.2. tunjukkan bahwa bila c > 1.. tunjukkan bahwa 1 < c < c2 13. Bila a > 0.. Tunjukan bahwa bila 0 < a < b. maka c1/m < c1/n jika dan hanya jika m > n. Bila 0 ≤ a < b.n ∈ N. tunjukkan bahwa cn ≥ c untuk semua n ∈ N. Juga tunjukkan dengan contoh bahwa hal ini tidak selalu diikuti oleh a2 < ab < b2. Bila c > 1. tunjukan bahwa n2 ≥ n dan dari sini 1/n2 ≤ 1/n. 18.3. 15.n ∈ N. Misal a. 1 11. 7. Buktikan bahwa n2 ≤ (c1 + c2 + . Misalkan ck > 0 untuk k = 1. buktikan bahwa a2 ≤ ab < b2. tunjukkan bahwa cm < cn jika dan hanya jika m > n. (a). 14. Bila 1 < c. (d). Bila 0 < c < 1.Aljabar Himpunan 6. 8. 10. Misalkan ck > 0 untuk k = 1. (c). tunjukkan bahwa a < b jika dan hanya jika an < bn. (a)... Tunjukkan bahwa a ≤ b.. tunjukkan bahwa cn ≤ c untuk semua n ∈ N. + cn) ( 1 c1 + 1 c2 +. Bila n ∈ N. 16. tunjukkan bahwa cm > cn jika dan hanya jika m > n.Tentukan bilangan real x yang memenuhi (a). Tunjukkan bahwa kesamaan dipenuhi jika dan hanya jika a = b...b ∈ R dan untuk setiap ε > 0 kita mempunyai a ≤ b + ε. Tunjukkan bahwa tidak selalu dipenuhi a < b.+ cn ≤ c12 + c2 2 +..n. Bila 0 < c < 1 dan m..b ∈ R. 17. 1/x < x2. Buktikan bahwa ( 2 (a + b))2 ≤ 1 2 (b). b > 0 dan n ∈ N. 2. 1 < x2 < 4. Nilai Mutlak Analisis Real I 40 ... x2 > 3x + 4. (b).. tunjukkan bahwa 0 < c2 < c < 1 (b). + cn n [ ] 20.. Bila 0 < c < 1. Asumsikan eksistensi akar dipenuhi.+ 1 cn ) 19. 12.. Tunjukkan bahwa 1/ 2 c1 + c2 +.

(e). (e). 2. Secara sama untuk dua kasus yang lain. Bila a > 0. Bila a ∈ R. dituliskan dengan a. maka -a ≠ 0. maka -a > 0. Analisis Real I 41 . 2. sehingga ab = -ab = a(-b) = ab. bila a > 0  a =  0 .1 Definisi. (c). Bila a > 0 dan b < 0. jadi a ≠ 0. ab = ab. (d). dan a = -a bila a < 0. Maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c. maka kita mempunyai -c ≤ a ≤ c. (c). Nilai mutlak dari 0 didefinisikan 0. maka a = 0. maka 0 = 0 = 0. maka -a < 0 sehingga a = a = -(-a) = -a. maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c. sehingga ab = ab = ab. Nilai mutlak dari a ≠ 0 didefinisikan sebagai bilangan yang positif dari keduanya. bila a < 0  Sebagai contoh 3 = 3 dan −2 = 2.2 Teorema.a ≤ a ≤ a untuk semua a ∈ R. bila a = 0 − a . maka a ≤ c jika dan hanya jika -c ≤ a ≤ c. Juga a = a bila a ≥ 0. (Mengapa?). Bila a > 0 dan b > 0. bila -c ≤ a ≤ c. maka ab dan ab sama dengan 0. Bila a = 0. Bila a < 0. Juga bila a ≠ 0. dijamin bahwa bila a ∈ R dan a ≠ 0. didefinisikan dengan  a . a = 0 jika dan hanya jika a = 0 (b). Bila a = 0. Sebalik-nya. sehinga a = -a = -a.3. (Mengapa?) Karena ke-taksamaan terakhir ekivalen dengan a ≥ -c. Bukti : (a). .3. Bila c ≥ 0.2.Pendahuluan Dari sifat trikotomi 2. untuk semua a. -a = a.b keduanya 0. (d). untuk semua a ∈ R.1(ii). Tetapkan c = a pada (d). Jadi bila a = 0. Dari definisi ini kita akan melihat bahwa a ≥ 0. (b). (a). nilai mutlak a. maka a = 0.b ∈ R. maka ab > 0. Misalkan a ≤ c. maka tepat satu dari bilangan a atau -a positif. untuk semua a ∈ R. maka ab < 0. sehingga a ≤ c. Bila a.

3.3. kita memperoleh ketaksamaan di (a). Untuk sebarang a.+ an Analisis Real I 42 .. kita mempunyai -a ≤ a ≤ a dan -b ≤ b ≤ b. (b).3. kita mempunyai a+b ≤ a + b Bukti : Dari 2..2(d).3. Berikut ini dua di antaranya.2(b)] kita dapatkan ketaksamaan (b). Kita tuliskan a = a .Aljabar Himpunan Ketaksamaan berikut akan sering kita gunakan.3.2.3.. a2.b di R. 2. kita peroleh − a − b = − b − a ≤ a − b . kita mempunyai a1 + a2 +.b di R.6(b). Tukar b pada Ketaksamaan Segitiga dengan -b untuk memperoleh a − b ≤ a+-b Karena − b = b [menurut 2. Ketaksamaan Segitiga. 2.2(b).+ an ≤ a1 + a2 +.3.b + b dan gunakan Ketaksamaan Segitiga untuk memperoleh a = a − b + b ≤ a − b + b. a − b ≤ a + b Bukti : (a).. Untuk sebarang a.. Sekarang kita kurangi dengan b untuk memperoleh a − b ≤ a − b .5 Teorema Akibat.2(e). dari b = b − a + a ≤ b − a + a dan 2.3. Kemudian dengan menambahkan dan menggunaka 2. a − b ≤ a − b (b). kita mempunyai (a). kita peroleh −( a + b ) ≤ a + b ≤ a + b Dari sini.2(d). Terdapat banyak variasi penggunaan Ketaksamaan Segitiga.an ∈ R.4 Teorema Akibat.. kita mempunyai a + b ≤ a + b dengan menggunakan 2. Secara sama. Untuk sebarang a1.. Aplikasi langsung induksi matematika memperluas Ketaksamaan Segitiga untuk sejumlah hingga bilangan real. dengan menggunakan 2.3. 2.. Bila kedua ketaksamaan ini kita kombinasikan.

yang menghasilkan pembahasan lebih lanjut. Pada kasus (iii). (c).1 < x.2(d). ketaksamaan kita menjadi -(x .6 Contoh-contoh. Kita akan perhatikan secara terpisah pembilang dan penyebut dari f (x) = 2x 2 − 3x + 1 2x − 1 Analisis Real I 43 .3. 2.Pendahuluan Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana sifat-sifat nilai mutlak terdahulu dapat digunakan. Tentukan himpunan B = {x ∈ R  x − 1 < x }. Misalkan f fungsi yang didefinisikan dengan f (x) = 2x 2 − 3x + 1 2x − 1 untuk 2 ≤ x ≤ 3. Akibatnya semua x ≥ 1 termuat di B. ketaksamaan menjadi -(x . Karena 1 < 0 selalu salah. yang dipenuhi jika dan hanya jika -9 < 2x < 3. (b). Tentukan himpunan A dari bilangan real x yang memenuhi 2x + 3 < 6 Dari 2. (iii). Tentukan konstanta M sehingga f (x) ≤ M untuk semua x yang memenuhi 2 ≤ x ≤ 3. (a). Jadi. kasus (ii) menyajikan semua x dengan 1/2 < x < 1 termuat di B. Caranya dengan memperhatikan setiap kasus bila tanda mutlak dihilangkan. (ii). x < 0. Dengan mengkombinasikan ketiga kasus ini diperoleh bahwa B = {x ∈ R x > 1/2}. yang dipenuhi oleh semua bilangan real x. maka tiodak ada x yang memenuhi ketaksaman kita pada kasus (iii). yang ekivalen dengan 1 < 0. 0 ≤ x < 1.1) < x. kita lihat bahwa x ∈ A jika dan hanya jika -6 < 2x + 3 < 6. Dengan membagi dua.1) < -x. Di sini kita perhatikan kasus-kasus (i).3. Pada kasus (ii). yaitu x > 1/2. x ≥ 1. Pada kasus (i) ketaksamaan kita menjadi x . kita peroleh A = {x ∈ R  -9/2 < x < 3/2}. (Mengapa kita hanya memperhatikan ketiga kasus di atas?).

kita peroleh 2x 2 − 3x + 1 ≤ 2 x + 3x +1 2 ≤ 2 ⋅ 32 + 3 ⋅ 3 + 1 = 28. Pada interpretasi ini. Misalkan a ∈ R dan ε > 0. karena x ≥ 2 untuk semua x yang kita bicarakan. Bila x termuat dalam lingkungan Vε(a) untuk setiap ε > 0.Aljabar Himpunan Dari ketaksamaan segitiga. Misalkan a ∈ R. Bila diberikan bilangan real a. untuk 2 ≤ x ≤ 3 kita memperoleh bahwa f (x) ≤ 28 .3. yang sebentar lagi akan kita definisikan.8 Teorema. Untuk membahas gagasan ini. Maka lingkungan-ε dari a adalah himpunan Vε(a) = {x ∈ R  x − a < ε}. Kita akan memerlukan bahasa yang tepat untuk membahas gagasan suatu bilangan real “dekat” ke yang lain. 2x − 1 ≥ 2 x − 1 ≥ 2 ⋅ 2 − 1 = 3. jarak antara unsur a dan b di R adalah a−b . 2. maka bilangan real x dikatakan “dekat” dengan a seharusnya diartikan bahwa jarak antara keduanya x − a “kecil”. (Mengapa?) Karena itu. M.7 Definisi. pernyataan x termuat di Vε(a) ekivalen dengan pernyataan -ε < x .ε < x < a + ε 2. Garis Bilangan Real Interpretasi geometri yang umum dan mudah untuk sistem bilangan real adalah garis bilangan. Lebih umum lagi. karena x ≤ 3 untuk semua x yang kita bicarakan. Dari 3 sini kita dapat menetapkan M = 28/3. sebenarnya semua bilangan M ≥ 28/3 juga memenuhi f (x) ≤ M . Untuk a ∈ R. maka x = a. Juga dimungkinkan bahwa 28/3 bukan pilihan terkecil untuk M). Bukti : Analisis Real I 44 .3. nilai mutlak a dari unsur a di R dianggap sebagai jarak dari a ke pusat 0.a < ε ⇔ a . kita akan menggunakan kata lingkungan. (Catatan bahwa kita meneukan sebuah konstanta yang demikian. Juga.

b ∈ R.Pendahuluan Bila x memenuhi x − a < ε untuk setiap ε > 0.9. (c). Jadi bila x. 2. Contoh-contoh. Bila x. (c). (b). dan dari sini x = a. x ≤ z.9 diperoleh bahwa x − a = 0. Sebagai contoh. dan b ≠ 0. lingkungan-ε Vε(0) memuat titik di luar I.y secara berturut-turut termuat di lingkungan -ε dari a. maka untuk sebarang ε > 0.y. tunjukkan bahwa (a).b ∈ R. 3. 5. (d).a.3. 1. (b). 4. maka dari 2. Latihan 2. Tentukan x ∈ R.ε < x < a + ε. Tunjukkan bahwa x − a < ε jika dan hanya jika a . (a). a 2 = a 2 2.jika dan hanya jika ab > 0. tunjukkan bahwa a / b = a / b . 6. Misalkan U = {x  0 < x < 1}. Bila a. 4x − 3 ≤ 13 . Bila I = {x : 0 ≤ x ≤ 1}. Bila a ∈ U. a = a2 (b). maka Ketaksamaan Segitiga mengakibatkan bahwa ( x + y) − ( a + b) = ( x − a ) + ( y − b) = x − a + y − b < 2 ε. Analisis Real I 45 . x + x + 1 < 2 . Maka Vε(a) termuat di U. misalkan ε bilangan terkecil dari a atau 1 .3. Bila x − a < ε dan y − b < ε . bilangan xε = -ε/2 unsur di Vε(0) tetapi bukan unsur di I. tunjukan bahwa x < y < z jika dan hanya jika x − y + y − z = x − z Interpretasikan secara geometris. Jadi setiap unsur di U mempunyai lingkungan-ε yang termuat di U. Misalkan a ∈ R. Bila a. yang memenuhi pertaksamaan berikut : (a).b maka x + y termuat di lingkungan -2ε dari (a + b) (tetapi tidak perlu lingkungan -ε dari (a + b)). tunjukkan bahwa a + b = a + b . sehingga Vε(0) tidak termuat dalam I. x − 1 > x + 1 . x 2 − 1 ≤ 3 .2.z ∈ R.

1 Definisi. x + y = 1 . (b). Pada bagian ini kita akan membahas satu sifat lagi dari R yang sering disebut dengan “sifat kelengkapan”.1. Misalkan S suatu sub himpunan dari R. Interpretasikan secara geometris. Bilangan u ∈ R dikatakan batas atas dari S bila s ≤ u. Sistem bilangan rasional Q memenuhi sifat aljabar 2. 2.4.4. 11. karena itu sifat kelengkapan. Tunjukkan bahwa Vε(a) ∩ Vδ(a) dan Vε(a) ∪ Vδ(a) adalah lingkungan-γ dari a untuk suatu γ. Gagasan ini akan sangat penting pada pembahasan selanjutnya. sehingga U∩V = ∅. (d). maka terdapat lingkungan-ε U dari a dan lingkungan-γ V dari b.2. untuk semua s ∈ S. Analisis Real I 46 . Ada beberapa versi sifat kelengkapan. Sifat Kelengkapan R Sejauh ini pada bab ini kita telah membahas sifat aljabar dan sifat urutan sistem bilangan real. (i). xy ≤ 2 . x − y = 2 . 2. (d).b ∈ R. Observasi ini menunjukan perlunya sifat tambahan untuk bilangan real. Misalkan ε > 0 dan δ > 0. x − y ≥ 2 . 9.Aljabar Himpunan 7.b) di R×R yang memenuhi (a x = y . (c xy = 2 . 2 tidak dapat direpre- 2 tidak termuat di Q. Tentukan dan sketsa himpunan berurut (x. Sifat tambahan ini. 10. a ∈ R. Tentukan dan sketsa himpunan pasangan berurut (a. Tunjukkan bahwa bila a. tunjukkan bahwa x − y < b − a . dan a ≠ b. x + y ≤ 1 . (b). Bila a < x < b dan a < y < b.1. (c).y) yang memenuhi (a). 8. sangat esensial untuk R. yaitu Supremum dan Infimum Sekarang kita akan perkenalkan gagasan tentang batas atas suatu himpunan bilangan real. Di sini kita pilih metode yang paling efisien dengan mengasumsikan bahwa himpunan tak kosong di R mempunyai supremum. x ≤ y . tetapi seperti kita lihat sentasikan sebagai bilangan rasional.1 dan sifat ururtan 2.

perhatikan himpunan S1 = {x ∈ R : x ≥ 0} dan S2 = {x ∈ R : x < 0} Catatan : Bila kita menerapkan definisi di atas untuk himpunan kosong ∅. Tetapi. Karena agar u ∈ R bukan batas atas dari S. Secara sama. Pembaca seharusnya menunjukkan bahwa bilangan v ∈ R bukan batas atas dari S jika dan hanya jika terdapat s’ ∈ S. bila himpunan P di R mempunyai batas bawah. Dari sini setiap bilangan real merupakan batas atas dari himpunan kosong. maka sebarang v dengan v > u juga merupakan batas atas dari S.Pendahuluan (ii). 2. Bilangan w ∈ R dikatakan batas bawah dari S bila w ≤ s. Sebagai contoh.4. Bila S terbatas di atas.2 Definisi. Sebagai contoh. Misalkan S subhimpunan dari R. maka batas atas u dikatakan supremum (atau batas atas ter-kecil) dari S bila tidak terdapat batas atas (yang lain) dari S yang kurang dari u. Hal ini mungkin artifisial. maka tidak ada unsur di S. maka S mempunyai tak hingga banyak batas atas sebab bila n batas atas dari S. sehingga u < s’. Analisis Real I 47 . {x ∈ R : x ≤ 2} tidak terbatas (walaupun mempunyai batas atas) karena tidak mempunyai batas bawah. untuk semua s ∈ S Pembaca seharusnya memikirkan (dengan teliti) tentang apa yang dimaksud dengan suatu bilangan bukan batas atas (atau batas bawah) dari himpunan S. unsur s’ ∈ S harus ada. bila S mempunyai batas atas. kita katakan P terbatas di bawah. Pada pembahasan ini. (secara sama. sehingga v < s’. Bila S = ∅. kita dipaksa kepada kesimpulan bahwa setiap bilangan real merupakan batas atas dari ∅. Sedangkan suatu himpunan A di R dikatakan tidak terbatas bila A tidak mempunyai (paling tidak satu dari) batas atas atau batas bawah. bilangan z ∈ R bukan batas bawah dari S jika dan hanaya jika terdapat s’’ ∈ S. Perlu kita cata bahwa subhimpunan S dari R mungkin saja tidak mempunyai batas atas (sbagai contoh. (i). Secara sama. Kita juga catat bahwa suatu himpunan mungkin mempunyai batas bawah tetapi tidak mempunyai batas atas (dan sebaliknya). (Observasi yang serupa juga berlaku untuk batas bawah). setiap bilangan real merupakan batas bawah dari himpunan kosong. kita katakan bahwa suatu himpunan S di R terbatas di atas bila S mempunyai batas atas. sehingga s” < z). ambil S = R). tetapi merupakan konsekuensi logis dari definisi.

Secara sama. Akan sangat berguna untuk memfarmasikan ulang definisi supremum dari suatu himpunan.4. Kita tinggalkan bukti dari lemma ini sebagai latihan yang sangat penting bagi pembaca. (Pembaca seharusnya menggunakan cara serupa untuk menunjukkan infimum dari suatu himpunan di R bersifat tunggal). Bilangan real u merupakan supremum dari himpunan tak kosong S di R jika dan hanya jika u memenuhi kedua kondisi berikut : (1). bila v < u. Yaitu.ε < sε. pengandaian u2 < u1 dengan hipotesis u1 supremum menga-kibatkan bahwa u2 bukan batas atas dari S.4 Lemma. maka sup S ≤ u’. Karena itu.3 Lemma. Bila S terbatas di bawah. Tidak sulit untuk membuktikan bahwa supremum dari himpunan S di R bersifat tunggal. Bila supremum atau infimum dari suatu himpunan S ada. Kriteria berikut sering berguna dalam mengenali batas atas tertentu dari suatu himpunan merupakan supremum dari himpunan tersebut.4. Misalkan u1 dan u2 supremum dari S. maka keduanya merupakan batas atas dari S. Suatu batas atas u dari himpunan tak kosong S di R merupakan supremum dari S jika dan hanya jika untuk setiap ε > 0 terdapat sε ∈ S sehingga u .Aljabar Himpunan (ii). Hal ini mengatakan bahwa sup S merupakan batas atas terkecil dari S. bila s ≤ u’ untuk semua s ∈ S. kita akan menuliskan-nya dengan sup S dan inf S Kita amati juga bahwa bila u’ sebarang batas atas dari S. s ≤ u untuk semua s ∈ S. 2. (2). haruslah u1 = u2. Andaikan u1 < u2 dengan hipotesis u2 supremum mengakibatkan bahwa u1 bukan batas atas dari S. 2. maka sup S ≤ u’. maka terdapat s’ ∈ S sehingga v < s’. Pembaca seharusnya juga memfarmasikan dan membuktikan hal yang serupa untuk infimum. maka batas bawah w dikatakan infimum (atau batas bawah terbesar) dari S bila tidak terdapat batas bawah (yang lain) dari S yang kurang dari w. Analisis Real I 48 .

Secara sama himpunan kosong juga tidak mempunyai infimum. tidak termuat di S3. dan kondisi di atas mengakibatkan terdapat sε ∈ S sehingga v = u . Bila v < 1.v. maka terdapat unsur s’ di S2 sehingga v < s’. Hal ini bergantung pada jenis himpunannya. diperoleh sup S3 = 1.ε < sε. Analisis Real I 49 . Sifat Supremum dari R Berikut ini kita akan membahas asumsi terakhir tentang R yang sering disebut dengan Sifat Kelengkapan dari R. haruslah sup S2 = 1. Dalam hal ini. (b). Bila himpunan tak kosong S1 mempunyai berhingga jumlah unsur. Sebaliknya. Lebih dari itu u = sup S1 dan w = inf S1 keduanya unsur di S1. Kita akan buktikan 1 merupakan supremum sebagai berikut. dapat ditunjukkan inf S2 = 0. maka haruslah u = sup S. himpunan S3 tidak memuat sup S3. Dari sini v bukan batas atas dari S2 dan. Himpunan S2 = {x : 0 ≤ x ≤ 1} mempunyai 1 sebagai batas atas.Pendahuluan Bukti : Misalkan u batas atas dari S yang memenuhi kondisi di atas. Karena hal ini berlaku untuk sebarang v yang kurang dari u. (c).ε < u. misalkan u = sup S dan ε > 0. Secara sama. Bila v < u dan kita tetapkan ε = u . maka u .ε.ε bukan batas atas dari S.5 Contoh-contoh (a). dan dapat digunakan induksi matematika untuk sejumlah unsur dari S1).ε < sε. karena v sebarang bilangan v < 1. maka ε > 0. Karena u . Penting juga untuk dicatat bahwa supremum dari suatu himpunan dapat merupakan unsur dari himpunan tersebut maupun bukan. Dengan menggunakan argumentasi serupa (b) untuk S2. maka S1 mempunyai unsur terbesar u dan unsur terkecil w. Catatan : sup S2 dan inf S2 keduanya termuat di S2. Karenanya terdapat unsur sε di S yang lebih dari u .4. (Hal ini jelas bila S1 hanya mempunyai sebuah unsur. yaitu u . Seperti telah disebutkan. (d). Secara sama. 2. inf S3 = 0. Selanjutnya kita katakan R merupakan suatu medan terurut yang lengkap. karenanya himpunan kosong tidak mempunyai supremum. Himpunan S3 = {x : 0 < x < 1} mempunyai 1 sebagai batas atas. setiap bilangan real merupakan batas atas dari himpunan kosong. (pilih unsur s’). Kita perhatikan contoh-contoh berikut. Karennya v bukan batas atas dari S.

7. Misalkan S3 = {1/n n ∈ N}.7 Sifat Infimum dari R. Latihan 2. yang pembaca harus buktikan. Bila S ⊆ R memuat batas atasnya. 3. dengan menggunakan Sifat Arechimedes 2. Tunjukkan bahwa inf S = -sup{-s : s ∈ S}.6 Sifat Supremum dari R. Misalkan S subhimpunan tak kosong dari R yang terbatas di bawah.1/n bukan batas atas dari S.4 1.5. 2. 5.(-1)n/n : n ∈ N}. tunjukkan bahwa batas atas tersebut merupakan supremum dari S. tetapi u + 1/n batas atas dari S.3 (b)). 4. lihat latihan 2. Tunjukkan pula bahwa inf S1 = 0. Apakah S2 mempunyai batas bawah ? Apakah S2 mempunyai batas atas ? Buktikan pernyataan yang anda berikan. Hal ini kemudian diikuti bahwa -u merupakan infimum dari S. Misalkan S1 = {x ∈ R : x ≥ 0}. Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mempunyai batas bawah mempunyai infimum di R. 6. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. kaka untuk setiap n∈N.2 atau 2.5. (Hal sebaliknya juga benar . Tunjukkan bahwa u = sup S. 8. Tunjukkan secara lengkap bahwa S1 mempunyai batas bawah. Maka himpunan S’ = {-s : s ∈ S} terbatas di atas. Tunjukkan bahwa sup S3 = 1 dan inf S3 ≥ 0. Analisis Real I 50 . Sifat infimum yang serupa dapat diturunkan dari sifat supremum. (Hal ini akan diikuti bahwa inf S3 = 0. dan sifat supremum mengakibatkan bahwa u = sup S’ ada. tetapi tidak mempunyai batas atas. Misalkan S2 = {x ∈ R : x ≥ 0}.Aljabar Himpunan 2. Misalkan S4 = {1 .4. Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mempunyai batas atas mempunyai supremum di R.4. u .5. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. Pembaca seharusnya menuliskan bukti lengkapnya.3). Tunjukkan bahwa u ∈ R merupakan batas atas dari R jika dan hanya jika kondisi t ∈ R dan t > u mengakibatkan t ∉ S. 2.Tentukan inf S4 dan sup S4. Katakan S sub himpunan tak kosong yang terbatas di bawah dari R.

. maka karena x ≤ u untuk semua x ∈ S.Misalkan S ⊆ R dan s* = sup S termuat di S. akibatnya kita mempunyai sup (a + S) ≤ a + u. yang mengakibatkan u = sup S ≤ v - a. tunjukkan bahwa sup (S∪{u}) = sup {s*. sehingga a + u ≤ v. Contoh berikut menunjukkan bagaimana definisi supremum dan infimum digunakan dalam pembuktian. Kita juga akan memberikan beberapa aplikasi penting sifat ini untuk menurunkan sifat-sifat fundamental sistem bilangan real yang akan sering digunakan.Tunjukkan bahwa suatu himpunan tak kosong dan berhingga S ⊆ R memuat supremumnya. Sangatlah penting untuk menghubungkan infimum dan supremum suatu . Tunjukkan bahwa inf S ≤ inf S0 ≤ sup S0 ≤ sup S.5. 10. Definisikan himpunan a + S = {a + x : x ∈ S}. (Gunakan induksi matematika dan latihan nomor 11). Misalkan S sub himpunan tak kosong dari R.5 Aplikasi Sifat Supremum Sekarang kita akan membahas bagaimana supremum dan infimum digunakan.Pendahuluan 9. 12. sementara yang lain diberikan sebagai latihan.Misalkan S terbatas di R dan S sub himpunan tak kosong dari S. Karena itu a + u batas atas dari a + S . Maka x ≤ v .KKMNBV himpunan dengan sifat-sifat aljabar R. yaitu tentang penjumlahan. Bila u∉ S. Bila kita misalkan u = sup S. kita dapat mengganti v Analisis Real I 51 . 2. Kita akan tunjukkan bahwa sup (a + S) = a + sup S. maka A∪B juga terbatas. sup B}. maka a + x ≤ v untuk semua x ∈ S.u}. 2. Tunjukkan bahwa sup (A∪B) = sup {sup A. Karena v sebarang batas atas dari a + S. 11.1 Contoh-contoh (a).a untuk semua x ∈ S. kita mempunyai a + x ≤ a + u. Tunjukkan bahwa bila A dan B sub himpunan yang terbatas dari R. Di sini kita akan sajikan salah satunya . Bila v sebarang batas atas dari himpunan a + S.

(ii). Dengan menggabungkan ketaksamaan di atas diperoleh bahwa sup (a + S) = a + u = a + sup S. maka sup f(D) merupakan batas bawah dari g(D). kita mempunyai f(x) ≤ g(x) ≤ sup g(D). Karena itu. maka sup f(D) ≤ sup g(D). Untuk membuktikan hal ini. Buktinya dalam dua tahap.y ∈ D. bila f(x) = x2 dan g(x) = x dengan D = {x ∈ R : 0 < x < 1}. Karenanya sup f(D) ≤ sup g(D). serta sup g(D) = 1. Bila f(x) ≤ g(y) untuk semua x. Lebih jauh mengenai hubungan infimum dan supremum himpunan dari nilai fungsi diberikan sebagai latihan. maka g(y) batas atas dari himpunan f(D). kita lihat bahwa f(x) ≤ g(y) untuk semua x ∈ D. sedangkan (ii) tidak. Jadi (i) dipenuhi. (c). haruslah sup f(D) ≤ inf g(D). Perlu dicatat bahwa hipotesis f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D pada (b) tidak menghasilkan hubungan antara sup f(D) dan inf g(D). Sifat Archimedes Salah satu akibat dari sifat supremum adalah bahwa himpunan bilangan asli N tidak terbatas di atas dalam R. Hal ini berarti bahwa bila diberikan sebarang bilangan real x terdapat bilangan asli n (bergantung pada x) sehingga x < n. (b). Bila f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D. Hal ini tampaknya mudah.Aljabar Himpunan dengan sup (a + S) untuk memperoleh a + u ≤ sup (a + S). tetapi sup f(D) = 1 dan inf g(D) = 0. maka f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D. Karena ketaksamaan terakhir dipenuhi untuk semua y ∈ D. Akibatnya sup f(D) ≤ g(y). Pertama. untuk suatu y tertentu di D. kita catat bahwa sup g(D) merupakan batas atas himpunan f(D) karena untuk setiap x ∈ D. Kita asumsikan rangenya f(D) = {f(x) : x ∈ D} dan g(D) = {g(x) : x ∈ D}himpunan terbatas di R. Sebagai contoh. maka sup f(D) ≤ sup g(D). Misalkan f dan g fungsi-fungsi bernilai real dengan domain D ⊆ R. (i). tetapi sifat ini tidak dapat dibuktikan dengan menggunakan sifat aljabar dan Analisis Real I 52 .

yang kontradiksi dengan u batas atas dari N. Telah ditunjukkan (lihat Teorema Analisis Real I 53 . (c). 2. Berikut kita sajikan tiga variasi diantaranya. (c). Sifat Archimedes. Karenanya.1 bukan unsur himpunan tersebut.1). (b). 2.2. sedangkan m + 1 ∈ N. akibatnya n .5.4 terdapat m ∈ N sehingga u -1 < m.1 ≤ z < n.3.1 ≤ z < n. Buktinya yang akan diberikan berikut ini menunjukkan kegunaan yang esensial dari sifat supremum R. maka terdapat nx ∈ N sehingga x < nx. Bukti : (a). Eksistensi 2 Pentingnya sifat supremum terletak pada fakta yang mana sifat ini menjamin eksistensi bilangan real di bawah hipotesis tertentu. (b). Bukti : Bila kesimpulan di atas gagal. Kita akan menggunakan ini beberapa kali. dan akibatnya 1/n < y. Maka : (a). Sementara ini.5. menurut sifat supremum. Terdapat n ∈ N sehingga 0 < 1/n < y. Sifat Archimedes dapat dinyatakan dalam beberapa cara.3 Teorema Akibat. Misalkan y dan z bilangan real positif. Tetapkan z = 1 pada (a) yang akan memberikan 1 < ny. kita akan mengilustrasikan kegunaannya untuk membuktikan eksistensi bilangan positif x sehingga x2 = 2. maka terdapat n ∈ N sehingga z/y = x < n dan dari sini diperoleh z < ny. Karena x = z/y > 0. Terdapat n ∈ N sehingga n . Misalkan n unsur terkecil dari himpunan ini (lihat 1. Tetapi hal ini mengakibatkan u < m + 1. Bila x ∈ R. maka x terbatas atas dari N.Pendahuluan urutan yang dibahas pada bagian terdahulu. Terdapat n ∈ N sehingga z < ny.4. Sifat Archimedes menjamin subhimpunan {m ∈ N : z < m} dari N tidak kosong. Maka n . himpunan tak kosong N mempunyai supremum u∈R. Oleh karena u -1 < u. maka menurut Lemma 2.

Aljabar Himpunan 2. s2 < 2}. 2. Karenanya. Untuk melihat bagaimana cara memilih n yang demikian. Dari sini sifat Archimedes dapat digunakan untuk memperoleh n ∈ N sehingga 1 2 − x2 < n 2x + 1 Langkah-langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan n ini kita mempunyai x + 1 n ∈ S. yang berakibat bahwa x bukan batas atas dari S. sehingga (x + ) 1 n 1 2 n = x2 + 2x n + 1 n2 ≤ x2 + 1 n ( 2x + 1) Dari sini kita dapat memilih n sehingga (2x + 1) < 2 . Juga. Untuk melakukannya.4 Teorema. Kita akan buktikan bahwa x2 = 2 dengan menanggalkan dua kemungkinan x2 < 2 dan x2 > 2. maka t2 > 4 sehingga t ∉ S. jadi. gunakan fakta bahwa 1/n2 ≤ 1/n. Karena itu. karena bila t > 2. Kita akan tunjukkan bahwa asumsi ini kontradiksi dengan fakta bahwa x = sup S yaitu dengan menemukan n ∈ N sehingga x + 1/n ∈ S. Terdapat bilangan real positif x sehingga x2 = 2.x2. maka kita memperoleh (x + 1/n)2 < x2 + (2 .7) bahwa x yang demikian bukan bilangan rasioanl . Kita akan tunjukkan bahwa dimungkinkan untuk menemukan m ∈ N sehingga x . Bukti : Misalkan S = {s ∈ R  0 ≤ s. yang mengkontradiksi fakta bahwa x = sup S.5.x2) = 2. kita mempunyai 2 x2 > 0. haruslah x2 ≥ 2. Sekarang andaikan x2 > 2. paling tidak kita akan menunjukkan eksistensi sebuah bilangan irrasional. sehingga (2 . perhatikan bahwa Analisis Real I 54 .x2)/(2x + 1) > 0. menurut sifat supremum. Karena 1 ∈ s. yang kontradiksi dengan fakta bahwa x batas atas dari S. maka S bukan himpunan kosong. Catatan : x > 1. Dari asumsi.1/m juga merupakan batas atas dari S. S terbatas di atas oleh 2. katakan x = sup S. Pertama andaikan x2 < 2. S mempunyai supremum di R.1.

Kita katakan b akar kuadrat positif dari a dan dituliskan dengan b = a atau b = a1/2. maka x2 − 2 > 0.(x2 . haruslah x2 = 2. m maka (x . Jadi tidak mungkin x2 > 2.1/m.1/m merupakan batas atas dari S. pembaca dapat menunjukkan bahwa bila a > 0.1/m)2 > 2. Dengan cara sedikit lebih rumit yang melibatkan teorema binomial dapat diformulasikan eksistensi tunggal dari akar pangkat-n positif dari a.2) = 2. untuk n ∈ N. yang mana menurut 2. Sebenarnya terdapat “lebih banyak” bilangan irasional dibandingkan bi- langan rasional dalam arti himpunan bilangan rasional terhitung sementara himpunan bilangan irrasional tak terhitung. yang dituliskan dengan n a atau a1/n. (*) Dengan sedikit modifikasi. Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa himpunan bilangan rasional “padat” di R dalam arti bahwa bilangan rasional dapat ditemukan diantara sebarang dua bilangan real yang berbeda.14(a) bahwa s < x . maka terdapat b > 0 yang tunggal.Pendahuluan (x + ) 1 2 m = x2 + 2x m + 1 m2 > x 2 − 2x m Dari sini kita dapat memilih m sehingga 2x < x2 − 2 . maka s2 < 2 < (x .2 > 0. Densitas (= kepadatan) Bilangan Rasional di R Sekarang kita mengetahui terdapat paling tidak sebuah bilangan irrasional.1/m)2. yaitu 2 . terdapat m ∈ N sehingga 2x 1 x2 − 2 < m 2x Langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan m ini kita mempunyai (x . Karena tidak mungkin dipenuhi x2 > 2 atau x2 < 2.1/m)2 > x2 . Sekarang bila s ∈ S.2. Dari sini. dengan sifat Archimedes. yang kontradiksi dengan fakta bahwa x = sup S. Analisis Real I 55 . Hal ini mengakibatkan bahwa x . sehingga b2 = a. Sekarang dengan pengandaian x2 .

5 pada bilangan real x y 2 .Aljabar Himpunan 2. untuk setiap n ∈ N. u . 2. Analisis Real I 56 . Dengan menggunakan Teorema Akibat 2. Untuk mengakhiri pembahasan tentang hubungan bilangan rasional dan irasional. maka terdapat bilangan irasional z sehingga x < z < y. Misalkan S ⊆ R tak kosong.5.5 1.nx > 1. terdapat n ∈ N. maka terdapat bilangan rasional r sehingga x < r < y.3 (b) untuk menunjukkan bahwa inf {1/n  n ∈ N} = 0. Bila x dan y bilangan real dengan x < y. u + 1/n bukan batas atas dari S.m ∈ N}.5.1/n bukan batas atas dari S. Untuk n yang demi-kian. kita mempunyai bahwa ny . misalkan x > 0.5. 2.1/m  n. Tunjukkan bahwa bila u di R mempunyai sifat : (i). Bila S = {1/n .1 ≤ nx < m. 4. Misalkan S himpunan tak kosong dan terbatas di R. Dengan sifat Archimedes 2.x). (Mengapa?).5. kita peroleh bilangan rasional r ≠ 0 sehingga x Maka z = r 2 <r< y 2. 3.5 Teorema Densitas.5. kita juga mempunyai sifat serupa untuk bilangan irasional.6 Teorema akibat. dan (ii). Gunakan Sifat Archimedes atau Teorema Akibat 2. Latihan 2. maka u = sup S. untuk setiap n ∈ N. kita peroleh m ∈ N sehingga m . Bila x dan y bilangan real dengan x < y. 2 dan 2 adalah bilangan irrasional (Mengapa?) dan memenuhi x < z < y. sehingga r = m/n bilangan rasional yang memenuhi x < r < y.sehingga n > 1/(y . Bukti : Dengan menggunakan Teorema Densitas 2. Bukti : Tanpa mengurangi berlakunya secara umum. (Ini merupakan kebalikan Teorema 2.8).3(c) ke nx > 0.2. Bilangan m ini juga memenuhi m < ny.5. tentukan inf S dan sup S.4.

9. Misalkan X himpunan tak kosong dan f : X →R mempunyai range yang terbatas di R. dan bS = {bs  s ∈ S}. Bandingkan hasilnya dengan bagian (a). Misalkan A dan B himpunan tak kosong dan terbatas di R. Lakukan perhitungan di (a) dan (b) latihan nomor 8 untuk fungsi h : X×Y → R yang didefinisikan dengan Analisis Real I 57 . untuk setiap x ∈ X.y) : y ∈ Y} Kemudian tentukan inf {f(x) x ∈ X}.5. Tentukan h : X×Y →R dan h(x. Bila a ∈ R. 7. Misalkan b < 0.y) = 2x + y. Tunjukkan bahwa sup (A + B) = sup A + sup B dan inf (A + B) = inf A + inf B. tentukan f(x) = sup {h(x. (a). 5. 8. Tunjukkan bahwa sup{f(x) + g(x)  x ∈ X} ≤ sup{f(x)  x ∈ X} + sup{g(x)  x ∈ X} dan inf{f(x)  x ∈ X} + inf {g(x)  x ∈ X} ≤ inf{f(x) + g(x)  x ∈ X} Berikan contoh yang menunjukkan kapan berlaku kesamaan atau ketaksamaan murni. b ∈ B}. tentukan g(y) = inf {h(x.y) : x ∈ X} Kemudian tentukan sup {g(y) y ∈ Y}.Pendahuluan (a). dan aS = {as  s ∈ S}. dan A + B = {a + b  a ∈ A. Tunjukkan bahwa inf (bS) = b sup S. Tunjukkan bahwa inf (aS) = a inf S. sup (bS) = b inf S. sup (aS) = a sup S. 6. Misalkan X = Y = {x∈R 0 < x < 1}.1(a) mengakibatkan bahwa sup {a + f(x)  x ∈ X} = a + sup {f(x)  x ∈ X}. untuk setiap y ∈ Y. Misalkan X himpunan tak kosong. tunjukkan bahwa contoh 2. Tunjukkan pula bahwa inf {a + f(x)  x ∈ X} = a + inf {f(x)  x ∈ X}. Misalkan a > 0. (b). (b). f dan g fungsi terdefinisi pada X dan mempunyai range yang terbatas di R.

16. Misalkan F : X → R dan G : Y → R didefinisikan dengan F(x) = sup {h(x.5.y) x ∈ X}.y ) y x x y Catatan.y) y ∈ Y}.Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range terbatas di R. Perkenalkan Prinsip Iterasi Supremum : sup{h(x. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.y x y y x 12. y ) = sup sup h ( x.4 untuk menunjukkan bahwa bila a > 0.Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range terbatas di R. Analisis Real I 58 . tunjukkan bahwa terdapat n∈Z yang tungal sehingga n 1 ≤ x < n.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat bilangan real positif u sehingga u3 = 2. Misalkan X. Diberikan sebarang x∈R.y ) ≤ sup inf h ( x.y) y ∈ Y}. Bila y > 0 tunjukkan bahwa terdapat n ∈ N sehingga 1/2n < y. 15. Tunjukkan bahwa g(y) = inf {h(x.5. maka terdapat bilangan real positif z sehingga z2 = a. bila x < y h( x. 13. 14. pada latihan nomor 8 dan nomor 9 menunjukkan bahwa ketaksamaan bisa berupa kesamaan atau ketaksamaan murni. Misalkan f : X → R dan g : Y → R didefinisikan dengan f(x) = sup {h(x. G(y) = inf {h(x. y ) = sup sup h ( x. Hal ini sering dituliskan dengan sup h ( x.5. Modifikasi argumentasi pada teorema 2. bila x ≥ y 10. 11. y ) x.Aljabar Himpunan 0 .y) x ∈ X}. Misalkan X.y) x ∈ X.y) =   1 . sup{g(y) y ∈ Y} ≤ inf {f(x)  x ∈ X} Kita akan menuliskannya dengan sup inf h ( x. y ∈ Y} = sup {F(x)  x ∈ X} = sup {G(y)  y ∈ Y}. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat bilangan real positif y sehingga y2 = 3.

tunjukkan bahwa terdapat bilangan rasional r sehingga x < ru < y. Bila u > 0 dan x < y. (Dari sini himpunan {ru  r ∈ Q} padat di R).5. 18.5 dengan menghilangkan hipotesis x > 0. Lengkapi bukti Teorema Densitas 2. Analisis Real I 59 .Pendahuluan 17.

Barisan dan Limit Barisan Di sini diharapkan pembaca mengingat kembali bahwa yang dimaksud dengan suatu barisan pada suatu himpunan S adalah suatu fungsi pada himpunan N = {1. dari pada X(n). Xn .. Sebagai contoh. . dengan suatu simbol seperti xn (atau an.} dengan daerah hasilnya di S. 2. . Definisi. 3. kita membedakan penulisan X = (Xn : n∈N). 1}. (Xn : n ∈ N). Dengan kata lain. Selanjutnya dalam bab ini kita hanya memperhatikan barisan di R. yang suku-sukunya mempunyai urutan dan himpunan nilai-nilai dari barisan tersebut { Xn : n∈N} yang urutannya tidak diperhatikan. 3. Analisis Real I 60 .. 2. Bilangan real yang diperoleh tersebut disebut elemen. sedangkan himpunan nilai barisan tersebut { (-1)n: n∈N } sama dengan {-1. Hal yang biasa untuk menuliskan elemen dari R yang berpasangan dengan n∈N.. Jadi.. suatu barisan di R memasangkan masing-masing bilangan asli n = 1.1. 3. Suatu barisan bilangan real (atau suatu barisan di R) adalah suatu fungsi pada himpunan N dengan daerah hasil yang termuat di R. Jadi bila X : N → R suatu barisan. kita akan biasa menuliskan nilai X di n dengan Xn. secara tunggal dengan bilangan real. Kita menggunakan kurung untuk menyatakan bahwa urutan yang diwarisi dari N adalah hal yang penting. atau suku dari barisan tersebut. barisan X = ((-1)n : n∈N) yang berganti-ganti -1 dan 1.Aljabar Himpunan BAB 3 BARISAN BILANGAN REAL 3.1. atau nilai.1. atau zn). kita akan menuliskan barisan ini dengan notasi X.

Catatan : Barisan yang diberikan dengan proses induktif sering muncul di ilmu komputer.. karena kita harus menyimpan masing-masing nilai y1.. yn = . Metode yang lebih memuaskan adalah degan menuliskan formula untuk suku umum dari barisan tersebut.yn) untuk n∈N juga dapat dikerjakan (secara sama).. 1 4 .. barisan bilangan bulat positif X di atas dapat kita definisikan dengan x1 = 2 atau dengan definisi x1 = 2 xn+1 = x1 + xn (n ≥ 1).. Z=( 1 : s∈N) s2 Dalam prakteknya. Dengan cara ini. . Analisis Real I 61 . 4. seperti X = (2n : n∈N). . 1 2 . xn.. 6. 8. xn+1 = xn + 2 (n ≥ 1). 1 4 . 1 Y = ( m : m∈N).1. atau Y= ( 1 1 . atau Z= ( 1 1 . Khususnya. barisan yang didefinisikan dengan suatu proses induktif dalam bentuk x1 = diberikan.. Jadi kita boleh menulis X = (2. 1 2 . ..2. Barisan yang didefinisikan dengan proses : y1 = diberikan.) untuk barisan kebalikan dari kuadrat bilangan asli. dan berhenti setelah aturan formasinya kelihatan. x2. 1 3 . sering lebih mudah dengan menentukan nilai x1 dan suatu formula untuk mendapatkan xn + 1 (n ≥ 1) bila xn diketahui dan formula xn+1 (n ≥ 1) dari x1.. 1 3 . .y2.gn(y1. . 3.... Contoh-contoh. Metode ini kita katakan sebagai pendefinisian barisan secara induktif atau rekursif. Tetapi.) untuk barisan bilangan genap positif. . xn+1 = f(xn) untuk n∈N dapat dipertanggungjawabkan untuk dipelajari dengan menggunakan komputer. perhitungan dari suku-suku barisan demikian menjadi susah untuk n yang besar.) untuk barisan kebalikan dari bilangan asli..Pendahuluan Dalam mendefinisikan barisan sering lebih mudah dengan menulis secara berurutan suku-sukunya. yn dalam urutan untuk menghitung yn+1. .

f2 = 1. (. 12... .yn : n∈N). maka kita mempunyai Y= ( 1 1 . selisih X .2. ) . 1. b. 62 . Sebagai contoh. Bila X = (xn) dan Y = (yn) barisan bilangan real..... Barisan Fibonacci F = (fn : n ∈ N) diberikan secara induktif sebagai berikut : (n ≥ 2) f1 = 1. XY = (2. disebut barisan kon- stan b. . 4.. (c). 0.Aljabar Himpunan (a). n2... . 1 n . 5.. .) semua yang sukunya 1. (b). 13..) = (n2 : n∈N).). 6n. 0.. X+Y= 3 1 1 1 9 2 7 2 . 9..) ..).. . yang sukunya tetap b.. 3. 1. a3.. bila X dan Y berturut-turut adalah barisan-barisan X = (2.. 8. X-Y= ( . .1. Bila a∈R. yang tentu saja sama dengan barisan (1. . .. Jadi barisan konstan 1 adalah (1.. .). .. ... 2. .. 3X Analisis Real I = (6. an.. 1 2 . .. Definisi. Bila b ∈ R.. . 2.). .) Sekarang akan kita kenalkan cara-cara penting dalam mengkonstruksi barisan baru dari barisan-barisan yang diberikan... 2. Bila c ∈ R.Y = (xn . kita definisikan hasil kali X dengan c yaitu cX = (cxn : n∈N)..). 2n 2 + 1 n 2n 2 − 1 n . . maka kita peroleh barisan 2  1   n : n ∈N  2  (d).3. Khususnya bila a = 1 . Akhirnya.).. b...... .... 2n. dan barisan konstan 0 adalah baisan (0. 4. 34. 1. barisan B = (b. 3.. a2... .. maka barisan A = (an : n∈N) adalah barisan (a1... . 18. maka hasil bagi X oleh Z adalah X/Z = (xn/ zn : n∈N).). 6. . kita definisikan jumlah X + Y = (xn + yn : n∈N).. bila Z = (zn) suatu barisan dengan zn ≠ 0 untuk semua n∈N..)... f2+1 = fn-1 + fn Maka sepuluh suku pertama barisan Fibonacci dapat dilihat sebagai F = (1. .. . 19 3 17 3 . Barisan kuadrat bilangan asli adalah barisan S = (12. 1 3 . 22. 21. . 32. 55. dan hasil kali XY = (xnyn : n∈N).

. kita katakan barisan tersebut konvergen. dan X.Z. Misalkan X = (xn) barisan bilangan real. Vε(x). 3. Sejumlah hingga suku-suku tersebut mungkin tidak terletak di dalam Vε(x) yaitu x1. namun demikian sering lebih mudah menuliskannya dengan K. Pemikiran limit barisan merupakan yang paling mendasar dan merupakan fokus kita dalam bab ini. dari pada K(ε). xK(ε)-1. Bila suatu barisan x = (xn) mempunyai limit x di R.2n2.. . maka kita dapat mendefinisikan X + Z. . 8. tetapi tidak dengan X/Z. karena Z mempunyai suku 0... 1 + (-1)n. x2. sedemikian sehingga untuk semua n ≥ K(ε). Dalam banyak hal nilai ε yang “kecil” biasanya akan memerlukan nilai K yang “besar” untuk menjamin bahwa xn terletak di dalam lingkungan Vε(x) untuk semua n ≥ K = K(ε). kita katakan juga bahwa X = (xn) konvergen ke x (atau mempunyai limit x).).). 18.. 0. Suatu bilangan real x dikatakan limit dari (xn).1. lim X = x atau lim (xn) = x. bila tidak kita katakan divergen. bila untuk setiap ε > 0 terdapat bilangan asli K(ε). Bila x merupakan suatu limit dari barisan tersebut. kita akan menggunakan notasi. X-Z.4. ... Kita juga dapat mendefinisikan kekonvergenan X = (xn) ke x dengan mengatakan : untuk setiap lingkungan-ε Vε(x) dari x.... Analisis Real I 63 .. Limit suatu barisan Terdapat beberapa konsep limit dalam analisa real... Bila suatu barisan mempunyai limit. . Definisi. suku-suku xn terletak dalam lingkungan-ε. Penulisan K(ε) digunakan untuk menunjukkan secara eksplisit bahwa pemilihan K bergantung pada ε. Y Kita catat bahwa bila z menyatakan barisan Z = (0. . semua (kecuali sejumlah hingga) sukusuku dari x terletak di dalam Vε(x). 2.Pendahuluan X = 2.

(b). terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε). ∀ n ≥ K(ε) Bukti : Ekivalensi dari (a) dan (b) merupakan definisi. (a). Sehingga diperlukan latihan untuk sampai kepada dugaan (conjecture) nilai limit dengan perhitungan langsung suku-suku barisan tersebut.1. untuk setiap ε > 0. Ketunggalan limit. Teorema. (c). ε < ½x” . Bukti : Andaikan sebaliknya. suku-suku xn memenuhi xn . dan (d) mengikuti implikasi berikut : xn∈Vε(x) ⇔ xn . terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε). Haruslah x’ = x”. 3. (c).x’). yaitu x′ dan x′′ keduanya limit dari X = (xn) dan x’≠x”. ⇔ -ε < xn . yang menyatakan bahwa nilai xn “mendekati” x bila n menuju 0. suku-suku xn memenuhi x-ε < xn< + ε. Sekarang misalkan K’ dan K” bilangan asli sehingga bila n > K’ maka xn∈Vε(x’) dan bila n > K” maka xn∈Vε(x”).x < ε.1. untuk setiap lingkungan-ε Vε(x). Suatu barisan bilangan real hanya dapat mempunyai satu limit.x<ε.6. untuk setiap ε > 0.x < ε ⇔ x.5. Dalam hal ini komputer akan sangat membantu. 3.Aljabar Himpunan Kita juga akan menggunakan simbol xn → x. Misalkan X = (xn) barisan bilangan real dan misalkan pula x∈R. X konvergen ke x. Maka pernyataan berikut ekivalen. Sedangkan ekivalensi dari (b). (d). (Mengapa?). terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε). Kita pilih ε > 0 sehingga Vε(x’) dan Vε(x”) saling asing (yaitu. Namun demikian karena Analisis Real I 64 . Tetapi ini kontradiksi dengan pengandaian bahwa Vε(x’) dan Vε(x”) saling asing. suku-suku xn∈Vε(x). Hal ini tidak menentukan berapa nilai limit seharusnya.ε < xn < x + ε Catatan : Definisi limit barisan bilangan real digunakan untuk membuktikan bahwa nilai x yang telah ditetapkan merupakan limit.

65 Analisis Real I . Barisan 0.0 = 2 > 1.0 = 2 . Karena itu unK ( ε) 2 =ε  1 Ini membuktikan lim  2  = 0 n  (c).L . n ( ( ) ) Pilih ε0 = 1.7. 3. 1 + ( −1) .2.Pendahuluan komputer hanya dapat menghitung sampai sejumlah hingga suku barisan. lim   = 0 . Untuk menunjukkan bahwa suatu barisan X = (xn) tidak konvergen ke x. jika n ≥ K dan n bilangan ganjil. Ini mengatakan bahwa barisan 1 + ( −1) ( n ) tidak konvergen ke 0. maka perhitungan demikian bukanlah bukti. Akibatnya untuk semua n ≥ K dipenuhi K  1 1 1 .L. Maka menurut sifat Archimedes terdapat K∈N sehingga sehingga 1 < ε . maka terdapat K∈N. tidak konvergen ke 0.  n Misalkan diberikan sebarang ε > 0.2.4). sehingga untuk sebarang K∈N. lim  2  = 0 n  Bila diberikan sebarang ε > 0.0. maka xn .0 = ≤ < ε n n K Ini membuktikan lim   = 0  1  n  1 (b). Contoh-contoh  1 (a). diperoleh suatu nk > K sehingga x n k tidak terletak dalam Vε(x).1. (Perubahan lebih detail pada 3. cukup dengan memilih εo > 0 sehingga berapapun nilai K yang diambil. sehingga tuk semua n ≥ K dipenuhi 1 1 1 −0 = 2 ≤ 2 < 2 n n K 1 < ε .

Teorema. xn. suku ke-p dari Xm merupakan suku ke-(m+p) dari X.  n -1  Ekor Barisan Perlu dimengerti bahwa kekonvergenan (atau kedivergenan) suatu barisan bergantung hanya pada prilaku suku-suku “terakhirnya”. Maka ekor-m adalah Xm = (xm+n : n∈N) dari X konvergen jika dan hanya jika X konvergen. lim Xm = lim X. 12. K>1. .. sehingga batnya untuk semua n ≥ K > 1 dipenuhi 3n + 2 5  ε < 5  = ε −3 =  5 n −1 n −1 1 ε < .. Artinya. bila kita hilangkan m suku pertama suatu barisan yang menghasilkan Xm konvergen jika hanya jika barisan asalnya juga konvergen.1. Bukti : Dapat kita catat untuk sebarang p∈N.8... 6. . . . 4.9. maka suku ke-q dari X merupakan suku ke-(q-m) dari Xm . ekor-3 dari barisan X = (2. Analisis Real I 66 . Secara sama bila q > m. Sebagai contoh.. 3...) suatu barisan bilangan real dan m selalu bilangan asli maka ekor-m dari X adalah barisan X = (xm+n : n∈N) = (xm+1...) adalah barisan X3 = (8.). maka terdapat K∈N.. 3. AkiK −1 5  3n + 2  Ini membuktikan bahwa lim   = 3. dalam hal ini limitnya sama.. dalam hal ini. . Misalkan X = (xn : n∈N) suatu barisan bilangan real dan m∈N. 8... 10. . 2n + 6.Aljabar Himpunan  3n + 2  (d).. Bila X = (x1. 2n.)... x2. Definisi. lim   =3  n -1  Perhatikan kesamaan berikut 5 3n + 2 −3= n −1 n −1 Bila diberikan sebarang ε > 0.xm+2..1.. 10.

kita katakan bahwa barisan (3. maka terdapat bilangan asli KA(ε/C). Jadi kita dapat memilih Km(ε) = Km(ε) . . Karenanya 0 < mengakibatkan 1  1 1 − 0 ≤   untuk semua n∈N. sehingga bila n ≥ KA(ε/C) maka an  = an .. 5.5. Di lain pihak. yang selanjutnya na + 1 na .1. . ε C Karena ε > 0 sebarang.  a n 1 + na Analisis Real I 67 1 1 < . sehingga Xm juga konvergen ke x. dan lim (an) = 0. maka lim   = 0. 3. . bila untuk n ≥ K(ε) suku-suku dari X memenuhi xn -x < ε. Bila a > 0. . kita mempunyai xn -x ≤ Can untuk semua n∈N dengan n ≥ m. Karena itu.Pendahuluan Misalkan X konvergen ke x.m... Bila untuk suatu C > 0 dan suatu m∈N.x < C ( ) = ε. 5.. Maka untuk sebarang ε > 0. Sebaliknya. Teorema.1. Bukti : Misalkan diberikanε > 0. 5...  1 + na  Karena a > 0. 5. bila suku-suku dari Xm untuk k ≥ Km(ε) memenuhi xn -x < ε maka suku-suku dari X dengan n ≥ Km(ε) + m memenuhi xn -x < ε.) tidaklah pada akhirnya konstan. Jadi kita dapat memilih K(ε) = Km(ε) + m.0 < ε/C. X konvergen ke x jika dan hanya jika Xm konvergen ke x.) pada akhirnya konstan.. maka xn -x ≤ C xn .. bila beberapa akar x mempunyai sifat tersebut. Karena lim (an) = 0. Karena itu hal ini mengakibatkan bila n ≥ KA(ε/C) dan n ≥ m. 3. 4. 5. 5. 3. Sebagai contoh. Kadang-kadang kita akan mengatakan suatu barisan X pada akhirnya mempunyai sifat tertentu. maka suku-suku dari Xm dengan k ≥ Km(ε) m memenuhi xn -x < ε. Gagasan kekonvergenan dapat pula dinyatakan dengan begini : suatu barisan X konvergen ke x jika dan hanya jika suku-suku dari X pada akhirnya terletak di dalam lingkungan-ε ke x.11. barisan 3. maka 0 < na < 1 + na. kita simpulkan x = lim (xn). Misalkan A = (an) dan X = (xn) barisan bilangan real dan x∈R.  1  (a). maka lim (xn) = x.. Contoh-contoh.10.. 5.

1. Bila C > 1. 1. maka lim (bn) = 0.2. 1.10 diperoleh lim  n  = 0 2  n (c).14(c).1. maka 1 Cn = 1 + d n untuk suatu dn > 0. Bila 0 < b < 1. dengan menggunakan Teorema 3. n 1 + na na (1 + a ) sehingga dengan menggunakan Teorema 3. 1 1 < yang n 2 n 1  1 = 0 .) yang 1 n 1 n jelas konvergen ke 1. C = (1 + d n ) ≥ 1 + nd n . dimana a = − 1 sehingga a > b (1 + a ) 0. Untuk kasus C = 1 mudah.14 kita mempunyai (1 + a)n ≥ 1 + na. n Analisis Real I 68 . Dengan ketaksamaan Bernoulli 2.10. diperoleh lim (bn) = 0. Bila C > 0.  1 + na   1 (b).. Dari sini 0 < bn = 1 1 1 ≤ < .. Dengan menggunakan ketaksamaan Bernoulli 2. karena ( C ) merupakan barisan konstan (1.10 dengan C = n 1 a dan m = 1 diperoleh  1  lim   = 0. . lim  n  = 0 2  Karena 0 < n < 2n (buktikan !) untuk semua n∈N.2. kita dapat menuliskan b = 1 1 . (d). kita mempunyai 0 < mengakibatkan 1 1 −0 ≤ n 2 n Tetapi lim untuk semua n∈N. untuk semua n∈N. Karena 0 < b < 1.1. maka lim C ( ) = 1. menurut Teorema 3.Aljabar Himpunan Karena lim bahwa 1 = 0 .

lim n ( ) = 1 untuk 0 < C < 1. 1 n ( ) = 1. n 2 Analisis Real I 69 . C −1 1 1 .1. bila n > 1 kita mempunyai 1 1 n = 1 + nk n + 2 n( n − 1) k 2 + . Dengan meng- gunakan kesamaan Bernoulli diperoleh C= 1 (1 + h n ) n ≤ 1 1 < 1 + nh n nh n yang diikuti oleh 0 < hn < 1 untuk semua n∈N. maka C 1 n ( ) = 1. maka n 1 n 1 n 1 n = 1 + k n untuk suatu kn > 0 bila n > 1. sehingga dn ≤ tuk semua n∈N.1 ≥ ndn. n n yang diikuti oleh n − 1 ≥ 1 n ( n − 1) k 2 . Aki- batnya n = (1 + kn)n untuk n > 1.10 diperoleh lim C Sedangkan bila 0 < C < 1.1. ≥ 1 + 2 n( n − 1) k 2 .Pendahuluan Karenanya C .10 diperoleh lim C (e). 1 n = 1/(1 + hn) untuk suatu hn > 0. Karena ( n ) > 1 untuk n > 1.. Dengan teorema Binomial.. nC Karenanya kita mempunyai 0 < 1− C n = 1 hn 1 < hn < 1 + hn nC 1  1 1 sehingga C n − 1 <   untuk semua n∈N. Akibatnya C n − 1 = d n ≤ ( C − 1) unn n Dengan menggunakan Teorema 3.  C n Dengan menggunakan Teorema 3.

tentukan formula untuk suku ke-n.. Suku-suku ke-n dari barisan (xn) ditentukan oleh formula berikut. s2 = 5. 9. 9. maka lim n 1 n < ε. . Hal ini akan diikuti oleh bila n Nε chimedes terdapat bilangan asli Nε sehingga ≥ sup{2. karena barisan itu n 1 1 2 n  2 0 < n − 1 = kn ≤    n Karena ε > 0 sebarang.1 1. .116 . 7. Nε} maka 2 < ε 2 . Gunakan definisi limit untuk membuktikan limit barisan berikut. Analisis Real I 70 . 1 8 . 1 2 .. z1 = 1. 4 5 . (d). Tuliskan lima suku pertama dari masing-masing barisan tersebut (a) x n = 1 + ( −1) (c). maka menurut sifat Arn 2 < ε 2 .  b 4. Untuk sebarang b∈R.. x n ( −1) n = n 1 n +2 2 . . .. 11.. Sekarang bila ε > 0 diberikan.. . (a). buktikan lim   = 0  n 5. x n = n (b). 3.Aljabar Himpunan Dari sini k n ≤ 2 untuk n > 1. n ) zn+2 = (zn+1 +zn)/zn+1 . Beberapa suku pertama barisan (xn) diberikan sebagai berikut.14 . (b). . x1 = 1. 1 n( n + 1) (d). x n = 2.. (d). yn+1 = z2 = 2. xn. 4. 1 2 (y n + y2 . Tuliskan lima suku pertama dari barisan yang didefinisikan secara induktif berikut (a). (c). Anggap “pola da- sarnya” diberikan oleh suku-suku tersebut.. 3 4 . ( ) = 1. . s1 = 3. sn+2 = sn + sn+1. y1 = 2. xn+1 = 3xn + 1. 5. 1 2 (b). 1. 2 3 .zn). (c). 16. Latihan 3.

Tunjukkan bahwa lim   = 0. lim   =0  n + 1  n2 − 1  (d). lim   =0  n + 1  2n  (b). 1  1 10. lim  2  =0  2n + 3  1  (a). lim  =  2n + 5 2 6. lim  2  = 0  n + 1  3n + 1 3 (c). Tunjukkan bahwa lim  −  =0  n n + 1  1 11. (x ) n = 0. Berikan contoh (x ) n tidak perlu mengakibatkan 8. n 9. Tunjukkan bahwa bila xn≥0 ∀ n∈N dan lim (xn) = 0. maka 0 < ≤2 n!  n!     Analisis Real I 71 . maka terdapat bilangan M∈N sehingga xn > 0 untuk semua n ≥ M. Tunjukkan bahwa  2n  (b). Misalkan b∈R memenuhi 0 < b < 1.Pendahuluan  1  (a). Tunjukkan bahwa lim   = 0  n!   2n   2n 15. Tunjukkan bahwa bila lim (xn) = x dan x > 0. Buktikan bahwa lim (xn) = 0 jika dan hanya jika lim yang menunjukkan bahwa kekonvergenan dari kekonvergenan dari (xn). Tunjukkan bahwa lim(nbn) 13. lim   =0  n + 7  n  (c).  Bila n ≥ 3. lim  2  n +1 = 0   7. maka lim ( x ) = 0. Tunjukkan bahwa lim ( 2n) ( 1 n )=1 ( 23 ) n−2   n2  14. Tunjukkan lim  n  = 0 3  12. lim   =2  n + 2  ( −1) n n   (c).

mengakibatkan limit barisan barunya dapat diprediksi. bila n ≥ K..6(c).Y. Suatu barisan bilangan real yang konvergen tarbatas. Hasil ini memungkinkan kita menambah koleksi barisan konvergen. Dengan menetapkan M = sup { x1 .2. Maka barisan X + Y. Definisi.3. Dari sini.. Misalkan X = (xn) dan Y = (yn) barisan bilangan real yang berturut-turut konvergen ke x dan y. Teorema. Barisan bilangan real X = (xn) dikatakan terbatas bila terdapat bilangan real M > 0 sehingga xn ≤ M. terdapat bilangan asli K = K(1) sehingga bila n ≥ K maka x n − x < 1. maka x n < x + 1 . Y dan cX berturutturut konvergen ke x + y. serta c∈R. maka barisan X/Z konvergen ke x/z. Teorema. Bila X = (xn) konvergen ke x dan Z = (zn) barisan tak nol yang konvergen ke z.2.2. X . Jadi barisan X = (xn) terbatas jika dan hanya jika himpunan {xn : n∈N} terbatas di R. Teorema-teorema Limit Dalam bagian ini kita akan memperoleh beberapa hal yang memungkinkan kita mengevaluasi limit dari barisan bilangan real yang tertentu. selisih. x + 1}.3.4(a) tentang ketaksamaan segitiga. x K-1 . Bukti : Misalkan lim (xn) = x dan ε = 1. (b). maka diperoleh x n ≤ M untuk semua n∈M.3 kita telah mendefinisikan jumlah. Kita sekarang akan menunjukkan bahwa barisan yang diperoleh dengan cara demikian dari barisan-barisan konvergen. Dengan menggunakan teorema 3.1. Bukti : Analisis Real I 72 .Aljabar Himpunan 3.2.1. (a). 3. X .1.y. . x .2. x 2 . untuk semua n∈N. 3. dan z ≠ 0.. Dalam definisi 3. . dengan menggunakan akibat 2. hasil kali dan pembagian barisan bilangan real. xy dan cx. 3.

maka untuk semua n ≥ K(ε) diperoleh xnyn . Dari hipotesis.y. Karena ε > 0 sebarang.Pendahuluan (a). dan bila n ≥ K2 maka y n − y < ε 2M . juga terdapat K2∈N sehingga bila n ≥ K2.2. K2}. y } . Analisis Real I 73 .xy ≤ Myn . Untuk membuktikan lim (xn + yn) = x + y kita akan menaksir (xn + yn) . Bila K(ε) = sup{K1. maka untuk semua n ≥ K(ε) ( xn + yn ) − ( x + y) ≤ xn − x + yn − y < 1ε+ 1ε = ε 2 2 Karena ε > 0 sebarang. untuk sebarang ε > 0 terdapat K∈N sehingga bila n ≥ K1. maka xn − x < ε 2 . kita peroleh bahwa X + Y = (xn + yn) konvergen ke x + y. kita akan mengestimasi xn yn − xy = ( xn yn − xn y) + ( xn y − xy) ≤ xn ( yn − y) + ( xn − x) y = xn yn − y + xn − x y Menurut Teorema 3. maka x n − x < ε 2 . hal ini membuktikan bahwa barisan XY = (xnyn) konvergen ke xy. terdapat bilangan real M1 > 0 sehingga x n ≤ M 1 untuk semua n∈N dan tetapkan M = sup { M 1 .∈N sehingga bila n ≥ K1 maka x n − x < ε 2M .yn) konvergen ke x .x <M ( 2εM ) + M( 2εM ) = ε . K2}.Y = (xn . Sekarang tetapkan K(ε) = sup {K1. Untuk membuktikan bahwa XY = (xnyn) konvergen ke xy.y + xn . Selanjutnya kita mempunyai x n y n − xy ≤ M y n − y + M x n − x Dari kekonvergenan X dan Y. bila diberikan sebarang ε > 0. maka terdapat K1. Argumen serupa dapat digunakan untuk membuktikan bahwa X .(x + y) = (xn + x) + (yn + y) ≤ xn − x + yn − y . K2.

z ≤ zn . (b).. untuk sejumlah hingga barisan konvergen. bukti (b) telah selesai. mak terdapat K2∈N sehingga bila n ≥ K2 maka 1 1 − ≤ε zn z untuk semua n > K(ε). 74  xn    konvergen  zn  Hasil kalinya juga konvergen dan (2) Analisis Real I [ ][ ] .3 dapat diperluas.Aljabar Himpunan Bukti untuk barisan cX= (cxn) konvergen ke cx ditinggalkan sebagai latihan. + Z = ( an + bn + . Karena itu 1 2 ≤ untuk n ≥ K1.  1 1 Karena ε > 0 sebarang. maka terdapat K1∈N.  zn  z  1 Dengan mendefinisikan Y barisan   dalam menggunakan XY =  yn   1 ke x  = x .2.. Pertama misalkan α = z 2 z  zn  maka α > 0.. bila A = (an)...zn) = lim( a n ) lim( b n ) .. jadi lim   = .. maka jumlahnya A + B + .. Berikutnya kita akan menunjukkan bila Z = (zn) barisan tak nol yang konvergen  1 1 1 ke z. + lim(zn) lim (anbn .. Z = (zn) barisan konvergen.. dengan induksi matematika. maka barisan   konvergen ke (karena z ≠ 0). jadi kita mempunyai zn z 1 1 z − zn 1 − = = z − zn zn z zn z zn z ≤ 2 zn 2 z − z n untuk semua n > K(ε). + zn) = lim(an) + lim(bn) + . Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga diperoleh -α ≤ -zn . Sebagai contoh. B = (bn). ... + zn) juga merupakan barisan konvergen dan (1) lim(an + bn + .. Karena lim (zn) = z. lim( zn ). sehingga bila n ≥ K1 maka z n − z <α. z  z Beberapa hasil Teorema 3. Sekarang kita berikan ε > 0..z untuk n ≥ K1..

). 3. maka (3) lim (ank) = lim( a n ) .x > 0. pilih z = . maka a ≤ lim (xn) ≤ b. maka lim (xn) ≤ lim (yn). Bila X = (xn) dan Y = (yn) barisan konvergen dan xn ≤ yn untuk semua n∈N. Jadi haruslah x ≥ 0. maka barisan y tersebut juga konvergen ke limit dari kedua barisan yang mengapitnya.xn sehingga Z = (zn) = Y . Jadi lim (xn) ≤ lim (yn). Yang berikut mengatakan bahwa bila semua suku dari barisan konvergen memenuhi ketaksamaan a ≤ xn ≤ b. Teorema.2. Bukti : Misalkan zn = yn . Bila x = (xn) suatu barisan konvergen dan a ≤ xn ≤ b untuk semua n∈N. Dari teorema 3. k [ ] Buktinya ditingggalkan sebagai latihan.2.2.. Sedangkan yang berikut menyatakan bahwa bila barisan Y diapit oleh dua barisan konvergen yang limitnya sama. b..3 diperoleh 0 ≤ lim Z = lim (yn) . Dari Teorema 3. Khususnya. kita mempunyai xK < x + z = x + (-x) = 0. 3.5 Teorema.5 diperoleh lim X ≤ lim Y = b. maka x = lim (xn) ≥ 0. Bukti : Andaikan x < 0.lim (xn). untuk semua n∈N. . Analisis Real I 75 . b.Pendahuluan Dan bila b∈N dan A = (an) barisan konvergen. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa xn ≥ 0 untuk semua n∈N. Bila X = (xn) barisan konvergen dan xn ≥ 0. 3. sehingga x .2. maka terdapat K∈N. maka limitnya memnuhi ketaksamaan yang sama.2.2.ε < xn < + ε untuk semua n ≥ Κ.X dan zn ≥ 0 untuk semua n∈N.4. Secara sama dapat ditunjukkan bahwa a ≤ lim X. Bukti : Misalkan Y barisan konstan (b.4 dan 3.6. Teorema. Karena X konvergen ke x.

yang diikuti oleh (mengapa ?) -ε < yn . 3. (b). dan Z = (zn) barisan yang memenuhi xn ≤ yn ≤ zn untuk semua n∈N. Catatan : Karena sebarang ekor barisan mempunyai limit yang sama. dan 3. Tetapi bila n ganjil dan n ≥ K. yang pembaca perlu buktikan. Misalkan bahwa X = (xn).2. pada Teorema 3. Mengikuti Teorema 3. Modifikasi yang sama juga berlaku untuk Teorema yang lain. bila X = (xn) pada “akhirnya positif” dalam arti bahwa terdapat m∈N sehingga xn ≥ 0 untuk semua n ≥ m.2. Teorema Apit.8. sehingga kita tidak dapat menggunakan Teorema 3. Barisan (n) divergen.2. Tetapi hal ini melanggar sifat Archimedes. Barisan ((-1)n) divergen Barisan ini terbatas (ambil M = 2). Sedangkan bila n genap dan n ≥ K. Karena itu. hipotesis dari 3. terdapat K∈N sehingga untuk semua n∈N dengan n ≥ K dipenuhi x n − w < ε dan x n − w < ε Dari hipotesis diperoleh bahwa xn . 3.2. hal ini memberikan -1 − a < 1 . maka terdapat K∈N sehingga (-1) n − a < 1. hal ini memberikan 1 − a < 1.4.2. Karena ε > 0 sebarang.w < ε untuk semua n ≥ K.2.2.7 dapat diperlemah dengan menerapkannya pada ekor barisan. Beberapa Contoh (a).2. dan lim (xn) = lim (zn) maka (yn) konvergen dan lim (xn) = lim (yn) = lim (xn). Misalkan ε = 1.w ≤ yn .2. Sebagai contoh. 3. sehingga -2 < a < 0 (Mengapa?).4.5. maka terdapat bilangan real M > 0 sehingga n = n < M untuk semua n∈N. Bila ε > 0 diberikan.2.w ≤ zn -w. maka akan diperoleh kesimpulan yang sama yaitu n ≥ 0. andaikan X = ((-1)n) konvergen dan a = lim X. Y = (yn). untuk semua n ≥ K. jadi lim (yn) = w.6. maka karena X dan Z konvergen ke w.Aljabar Himpunan 3. untuk semua n∈N. seAnalisis Real I 76 .7.2. Bukti : Misalkan w = lim (xn) = lim (zn). andaikan barisan X = (n) konvergen.

lim  = 2. maka pengandaian bahwa X konvergen menghasilkan hal yang kontradiksi.  n  n  Dengan menggunakan Teorema 3.Pendahuluan hingga 0 < a < 2.  2n + 1 (d). 2 n + 1 n + 1n 2 dan Analisis Real I 77 . Haruslah X divergen.3(b) secara langsung.3(a) diperoleh bahwa lim (X + Y) = lim X + lim Y = 2 + 0 = 2. Selanjutnya diperoleh  2 + 1 n  lim( 2 + 1n) 2  2n + 1 lim = =2  = lim =  n+5  1 + 5 n  lim(1 + 5 n) 1  2n  (e) lim 2  = 0  n + 1 Teorema 3.3(b) dapat n digunakan. n + 5 1 + 5n 1   yang memberikan X =  2 +  dan Z =  1 +    n 5  sehingga Teorema 3. n + 1 n + 1n 2 (mengapa ?). juga sampai pada 2n 2 = . (Selidiki terlebih dahulu syarat-syarat yang harus dipenuhi).2. Tetapi karena 2 2n n = . kita tidak dapat mengguanakan Teorema 3.2.2. Tetapi kita dapat melakukan yang berikut 2n + 1 2 + 1 n = . Karena a tidak mungkin memenuhi kedua ketaksamaan tersebut.  n+5 Karena barisan (2n + 1) dan (n + 5) tidak konvergen.2. lim =2  n   1  2n + 1 Misalkan X = (2) dan Y =   .3(b) tidak dapat digunakan secara langsung. maka   = X + Y.  2n + 1 (c).

Misalkan X = (xn) barisan yang konvergen ke x.4.. (f) lim sin n =0 n Di sini kita tidak dapat menggunakan Teorema 3.. dengan menggunakan Teorema Apit diperoleh bahwa  sin n  lim  = 0. Misalkan X = (xn) barisan yang konvergen ke x. Sedangkan r(t) = p( t ) dengan p q( t ) dan q polinomial.. k. Kita akan mengakhiri bagian ini dengan beberapa hasil berikut. Analisis Real I 78 . 3.  n  (g).2. Misalkan barisan X = (xn) konvergen ke x. Sedangkan p polinomial.2. maka lim 2  = = 0 .2. maka x = lim( x n ). yaitu bila x = lim (xn). Maka barisan r(xn) konvergen ke r(x). sebagai contoh p(t) = a0 + a1t + a2t2 + . Tetapi perlu dicatat bahwa -1 ≤ sin n ≤ 1. (h). Misalkan juga q(xn) ≠ 0 untuk semua n∈N dan q(x) = 0..3(b) secara langsung. Teorema.  n  n   n + 1 1 dengan menggunakan Teorema 3. maka 1 sinn 1 ≤ ≤ . n n n Karena lim ( − 1 n) = lim( 1 n) = 0. Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan. Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan.. Bukti : Mengikuti sifat segitiga diperoleh x n − x ≤ x n − x untuk semua n∈N. + aktk dengan k∈N dan aj∈R untuk j = 0.3 barisan (p(xn)) konvergen ke p(x). 1. ak ≠ 0. untuk semua n∈N. .Aljabar Himpunan 1  2   2n  0 lim  = 0 dan lim 1 + 2  = 1. maka barisan ( x n ) konvergen ke x . Dengan menggunakan Teorema 3.3(b).2.

0 < ε2. (i). Teorema. Misalkan barisan X = (xn) konvergen ke x dan xn ≥ 0 . Dari Teorema 3. untuk semua n∈N.  x n Kekonvergenan dari x n → x merupakan akibat yang mudah dari x n → x .2. xn − x x > 0 dan kita mempunyai xn − x = Karena ( )( xn + x xn + x )= xn − x xn + x x n + x ≥ x > 0 .4 diperoleh bahwa L ≥ 0. ( x ) → 0. x = 0 dan (ii). Untuk jenis-jenis barisan tertentu. maka n x n ≤ ε untuk n ≥ K. Bukti : Menurut 3. Sekarang kita tinjau dua kasus (i).4 diperoleh bahwa x = lim (xn) ≥ 0. Bila L < 1. Maka barisan Bukti : ( x ) konvergen dan lim ( x ) = n n x. dipenuhi Analisis Real I 79 .2.2. x  3. maka (ii). Maka terdapat n∈K. Bila x > 0. Misalkan r bilangan dengan L < r < 1. 0 ≤ Karena ε > 0 sebarang. yang berikut menyajikan “uji rasio” yang mudah dan cepat untuk kekonvergenan. Misalkan x = 0. dan ε = r . Karena itu [lihat contoh 2.2. Karena x n → 0 maka terdapat K∈N sehingga 0 ≤ xn = xn . (x ) n ke x suatu akibat langsung dari kekonver- 3. dan ε > 0 sebarang diberikan.14(a)].L > 0.10. maka  1  xn − x ≤  x −x. maka (xn) konvergen dan lim (xn) = 0. Teorema. x > 0.Pendahuluan Selanjutnya kekonvergenan dari genan dari (xn) ke x.2. Misalkan (xn) barisan bilangan real positif sehingga L = lim  n +1   xn  ada.11.

< xKrn-K+1 Bila kita tetapkan C = xK/rK. kita peroleh 0 < xn+1 < Crn+1 untuk semua n ≥ K. maka Y konvergen. tunjukkan kekonvergenan atau kedivergenan dari X = (xn) n (a).1. n +1 n2 (c). 4. Berikan contoh barisan X.1. lim   2 +    n     ( −1) n  (b). Tunjukkan bahwa barisan ((-1)nn2) tidak konvergen.11(c) diperoleh lim (rn) = 0 dan karenanya menurut Teorema 3. x n = .Aljabar Himpunan x n +1 − L < ε. maka x n +1 < L + ε = L + ( r − L) = r . x n = . n +1 (-1) n n (b). lim    n+2 Analisis Real I 80 . Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X konvergen ke x dan xy konvergen.. menurut 3. bila n ≥ K diperoleh 0 < xn+1 < xnr < xn-1r2 < . Karena 0 < r <1. maka Y konvergen. Tentukan limit dari barisan-barisan berikut : n  1  (a). x n = 2 n +1 2.. xn Akibatnya (mengapa ?) untuk bila n ≥ K.Y yang divergen. x n = . xn Karena itu. 6. 5. Untuk xn yang diberikan berikut.2 1. tetapi jumlahnya X + Y konvergen. 7.10 lim (xn) = 0. n +1 2n 2 + 3 (d). Latihan 3. Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X dan X + Y konvergen. 3. Tunjukkan bahwa barisan (2n) tidak konvergen.

untuk n∈N. bila a.  2  n   n!  (d). lim    n n n + 1 − n . 13. Misalkan zn = a n + b n  n + 1 (d). (n2an). Misalkan y n = vergen. Berikan contoh barisan bilangan positif (xn) yang konvergen sehingga x  lim  n +1  = 1  xn  (b).    n!   bn  (b). lim    n + 1 8. (a). bila a. sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi).  n  b  n  b2  (b). Tunjukkan bahwa (yn) dan ( ny n kon- ) ( ) 1 n dengan 0 < a < b. b memenuhi 0 < a < 1 dan b>1 (a).Pendahuluan  n − 1 (d). Misalkan X = (xn) barisan bilangan positif sehingga lim  n +1  = L > 1 .11 pada barisan-barisan berikut. Selidiki konvergensi barisan-barisan berikut. (Jadi. maka lim (zn) = b. 9. x  12. Berikan pula contoh barisan divergen dengan sifat tersebut. 10. b memenuhi 0 < a < 1 dan b > 1. (a )  n (c). Tunjuk xn  kan bahwa X barisan tak terbatas. 2 ( 32n ) 11. Gunakan Teorema 3.  bn  (c).  n  n  Analisis Real I 81 .  n  2  3n (d).2. karenanya X tidak konvergen. (a).

2.x dengan perkalian dari suku-suku dalam barisan (an) yang diketahui konvergen ke 0. Barisan Monoton Sampai saat ini.1. kemudian menggunakan Teorema 3. kita telah mempunyai beberapa metode untuk menunjukkan bahwa barisan X = (xn) konvergen : (i).2. 1 n n (b). (iv). Misalkan (xn) barisan konvergen dan (yn) barisan sehingga untuk sebarang ε > 0 terdapat M sehingga x n − y n < ε untuk semua n ≥ M. kombinasi aljabar.1.1. Gunakan ini untuk menunjukkan lim (xn) = 0. Apakah hal ini mengakibatkan (yn) konvergen ? 3.6. 15. (iii).2. nilai mutlak atau datar dengan menggunakan Teorema 3. dan kemudian membuktikan bahwa dugaan kita benar. 3. Kita dapat menggunakan defenisi 3.2.Aljabar Himpunan 14. 3.4. (Jadi . Tunjukkan 1 n bahwa terdapat bilangan dengan 0 < r < 1 sehingga 0 < xn < rn untuk suatu n∈N yang cukup besar. Kita dapat menggunakan “Uji rasio” dari Teorema 3. Kita dapat mendominasi xn . Tetapi ini sering (tetapi tidak selalu) sukar dikerjakan. ( )= 1 n 16. sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi). Kecuali (iii). (ii).10. (v). (a) Berikan contoh barisan bilangan positif (xn) yang konvergen sehingga lim (x ) = 1. atau Teorema 3. atau 3. Misalkan (xn) barisan bilangan positif dengan lim x n ( ) = L < 1.3. Kita dapat mengidentifikasi barisan X diperoleh dari barisan-barisan yang diketahui konvergennya dari lebar barisannya. Analisis Real I 82 . semua metode ini mengharuskan kita terlebih dahulu mengetahui (atau paling tidak dugaan) nilai limitnya yang benar.9.9.2.7. secara langsung.10.4.3. Berikan contoh barisan bilangan positif (xn) yang divergen sehingga lim x n 1.1. Kita dapat mengapit X dengan dua barisan yang konvergen ke limit yang sama dengan menggunakan Teorema 3.

3. (-1)n+1.3.1/3..1/2n-1.2. yang mana tidak ada calon limit yang mudah dari suatu barisan.... 3. Kita katakan X tak naik bila memenuhi ketaksamaan x1 ≥ x2 ≥ ..... atau tak turun. .3..2 Teorema Konvergensi Monoton...... 3.. +2.....1/n..a2.1..1/4......bn..6...)... ...)..4. maka lim (xn) = sup{xn} (b).b3. -1....1/3.... (a.... Lebih dari itu : (a). Barisan-barisan berikut tak monoton (+1. kita akan membahas hasil-hasil yang lebih mendalam dibanding bagian terdahulu yang mana dapat digunakan untuk memperkenalkan konvergensi suatu barisan bila tidak ada kandidat limit yang mudah.....)..1 Definisi.. (-1.an. Kita katakan X monoton bila X tak naik.. Bila Y = (yn) barisan tak naik yang terbatas.3. Dalam bagian ini dan dua bagian berikutnya.... bahkan walaupun dengan analisis dasar diduga barisannya konvergen.2. (1..2... ... ≥ xn ≥ xn+1 ≥ . Bila X = (xn) barisan tak turun yang terbatas..3.1...). ≤ xn ≤ xn + 1 ≤ .. Barisan bilangan real monoton konvergen jika dan hanya jika barisan ini terbatas... Bukti : Dari teorema 3.1/2....0.4...3..1/23...1/2.. kita katakan X tak turun bila memenuhi ketaksamaan : x1 ≤ x2 ..b2...) bila a > 1 Berikut ini barisan-barisan tak naik (1. Analisis Real I 83 .....2. . tetapi pada akhirnya monoton (7..n. (-1)nn.).. +1.. Misalkan X = (xn) barisan bilangan real.. bila 0 < b < 1....... -3..) Berisan-barisan berikut tak monoton... (-2.2..Pendahuluan Terdapat banyak contoh...). maka lim (yn) = inf{yn}.. (b..1/2. (1.a3..3.2.)..2 diketahui bahwa barisan konvergen pasti terbatas.. Berikut ini barisan-barisan tak turun (1....).....

sehingga Rn ≤ M untuk semua n∈N. jadi (xn) konvergen ke x*.Aljabar Himpunan Sekarang kita akan buktikan sebaliknya. (b).5. dari sini 1 n :  1  0 = lim  .3 (a) lim X = . Tetapi karena (xn) tak turun maka hal ini diikuti x* . dengan Teorema 3. n∈N }.  n Analisis Real I 84 .2.ε < xk.}. tetapi kita ketahui bahwa hal ini ada. dari sini terdapat K∈N sehingga x* . Menurut prinsip supremum terdapat x* = sup{xn : n∈N. tetapi. dari himpunan { n∈N}. Dari (a) diperoleh lim X = sup{-yn : n∈N}. Beberapa contoh  1  (a).4(b). (a). misalkan X barisan monoton yang terbatas. Bila Y = (yn) barisan terbatas tak naik. sedangkan dari latihan 2.ε bukanlah batas atas dari {xn : n∈N}. Bila ε > 0 diberikan.  n Kita dapat menggunakan Teorema 3.inf {yn . Karena ε > 0 sebarang. 3. kita akan menggunakan Teorema Konvergen Monoton. Di lain pihak. n∈N} = .lim Y. Hal ini juga memberikan cara perhitungan limit yang menyajikan kita dapat memperoleh supremum (a). kita akan tunjukkan bahwa x* = lim (xn). maka jelaslah bahwa X = -Y= (-yn) barisan terbatas tak turun. lim   = 0. Sering kali sukar untuk mengevaluasi supremum (atau infimum). infimum (b). n∈N } Teorema konvergensi monoton memperkenalkan eksistensi limit dari barisan monoton terbatas. kita mempunyai sup{-yn .3.10. Jelaslah bahwa 0 merupakan batas bawah.ε < xk ≤ xn ≤ x* untuk semua n ≥ Κ. maka x* . dan tidak sukar untuk menunjukkan bahwa infimumnya 0. Akibatnya x n − x* < ε untuk semua n ≥ Κ.2. Pertama misalkan X barisan tak turun dan terbatas.Dari hipotesis terdapat Μ∈R. Karenanya lim Y = -lim X = inf{yn .3. Maka X tak turun atau tak naik. sering pula mungkin mengevaluasi limit ini dengan metode lain.

akibatnya x = 0. Dengan perhitungan komputer akan memberikan nilai aproksiasi xn ≈ 11. Yn+1 = untuk n ≥ 1.2.terbatas dan tak naik. (b).2.Pendahuluan  1  Di lain pihak...1 untuk n = 100.konvergen ke x. Analisis Real I 85 .+ untuk n∈N.  n menurut Teorema 3. Dengan n +1 menggunakan Teorema Konvergensi Monoton 3. yang diperlihatkan oleh X2 n = 1 + > 1+ = 1+ 1  1 1 1  1 +  +  +. X . kita melihat bahwa (xn) suatu barisan naik.. Karena X =   ..2).. Misalkan x n = 1 + Karena x n + 1 = x n + 1 1 1 + +.+ n  2 4 2  1 1 1 n + + . pertanyaan apakah barisan ini konvergensi atau tidak dihasilkan oleh pertanyaan apakah barisan tersebut terbatas atau tidak. oleh karena itu divergen (teorema 3. kita ketahui bahwa X =   ..+ = 1 + 2 2 2 2 Dari sini barisan (xn) tak terbatas.3..3..000 dan xn ≈ 12. Karena itu x2 = 0...+ n  2 +1 2  3 4 2  1 1 + + 2 4 1 1  1  +.+ n −1 +. Upaya-upaya untuk menggunakan kalkulasi numerik secara langsung tiba pada suatu dugaan mengenai kemungkinan terbatasnya barisan (xn) mengarah pada frustrasi yang tidak meyakinkan.+  n +. (c) Misalkan Y = (yn) didefenisikan secara induktif oleh Y1 = 1. 2 3 n 1 > x n ... Kita akan menunjukkan bahwa lim Y = 3 2 1 4 ( 2y n + 3) . yang men n  1  gakibatkan X konvergen ke bilangan real x. Akan tetapi pada kenyataannya barisan ini divergen.2. X = (1/n) konvergen x2..4 untuk n = 50.000. Fakta numerik ini dapat menyatukan pengamat secara sekilas untuk menyimpulkan bahwa barisan ini terbatas.

Dengan Teorema 3. tidak mudah untuk mengevaluasi lim(yn) dengan menghitung sup{yn : n∈N}.Aljabar Himpunan Kalkulasi langsung menunjukkan bahwa y2 = 5 4 .14 (a)]. Menurut Teorema konvergensi Menoton. Anggaplah bahwa yk < yk+1 untuk suatu k∈N. Oleh karena itu yn < 2 untuk semua n∈N. maka 2 ≤ 2zK < 2zK+1 < 4.3 diperoleh y = 1 4 ( 2y + 3) yang selanjutnya mengakibatkan y = 3 2 . yaitu 1 ≤ zn < zn+1 < 2 untuk semua n∈N. Dari sini ketaksamaan 1 ≤ zK < zK+1 < 2 mengakibatkan 1 ≤ zK+1 < zK+2 < 2.2. kita mempunyai y = lim Y1 = lim Y yang diikuti dengan Teorema 3.9. zn+1 = jutkan lim (zn) = 2. Misalkan hal ini juga dipenuhi untuk n = K. Dengan induksi. Tetapi terdapat cara lain 1 untuk mengevaluasi limitnya. Y konvergen ke suatu limit yakni pada kurang dari atau sama dengan 2. Faktor ini dipenuhi untuk n = 1.1. maka yk+1 = 1 4 ( 2y k + 3) < 1 ( 4 + 3) = 1 + 43 < 2 4 Dengan demikian yk+1 < 2. yk+1 = 1 4 ( 2y k + 3) < 1 ( 2y k +1 + 3) < y k + 2 4 Jadi yk < yk+1 mengakibatkan yk+1 < yk+2. Dari sini kita mempunyai y1 < y2 < 2. Karena itu 1 ≤ zn < zn+1 < 2 untuk semua n∈N. Dari sini 1 ≤ z1 ≤ z2 < 2. kita akan lan- Catatan bahwa z1 = 1 dan z2 = 2 . Kita telah menunjukkan bahwa Y = (yn) adalah barisan naik dan terbatas di atas oleh 2. dengan induksi. Sekarang. (d). Jika yk < 2 berlaku untk suatu k∈N. yang diikuti oleh 1< 2 ≤ zK+1 = 2zK < zK+2 = 2zK +1 < 4 = 2. Misalkan Z = (zn) dengan z1 = 1. Kita klaim bahwa Z tak turun dan terbatas di atas oleh 2. Kemudian pernyataan ini tidak dibuktikan untuk n = 1. maka suku ke n dari 1-ekor Y1 dan suku ke n dari Y mempunyai relasi aljabar sederhana.2. [Pada langkah terakhir kita menggunakan contoh 2. kita akan tunjukkan bahwa yn < yn+1 untuk semua n∈N. kita akan tunjukkan bahwa yn < 2 untuk semua n∈N. Ini benar untuk n = 1. Untuk membuktikannya kita akan lakukan secara induksi.2. Karena yn+1 = 4 ( 2y n + 3) untuk semua n∈N. Dalam hal ini. Analisis Real I 86 . Oleh karena itu yn < yn+1 untuk semua n∈N. 2zn untuk semua n∈N.

kita akan mengkonstruksi barisan (sn) yang konvergen ke a. yaitu s2 +1 ≥ a untuk n ≥ 1.2.3 dan 3.3.4. Karena 1 ≤ z Perhitungan akar kuadrat 3. sn+1 ≤ sn untuk semua n ≥ 2. Pertama kita tunjukkan bahwa s2 +1 ≥ a untuk semua n ≥ 2. Analisis Real I 87 . z harus memenuhi z = ≤ 2. a 1 Misalkan s1 > 0 sebarang dan didefinisikan sn+1 = 2  sn +  untuk semua sn   n∈N. Jadi z = 2 2z . Karena sn2 . Relasi zn+1 = 2z n memberikan relasi antara suku ke n dari Z1 dan suku ke n dari Z.10. 2.2. Kita akan tunjukkan bahwa (sn) konvergen ke a . Dengan Teorema 3. menurut Teorema Konvergensi Monoton Z konvergen ke z = sup {zn}. kita catat bahwa untuk n ≥ 2 kita mempunyai sn − sn + 1 = s n − 1 s 2 n  a + = sn  1 2 (s ) ≥ 0 2 n sn Dari sini.1. Menurut Teorema konvergensi monoton lim(sn) = s ada. s harus memenuhi a 1 s = 2 s+  .  s yang mengakibatkan s = a atau s2 = a. Lebih dari itu.Pendahuluan Karena Z = (zn) terbatas dan tak turun. Akan ditunjukkan secara langsung bahwa sup{zn}= 2.C. dari Teorema 3. Dari sini diskriminannya 4s2 +1 − 4 a n harus tak negatif. Atau kita dapat menggunakan cara bagian (c).3.2. n Untuk melihat (sn) Pada akhirnya tak naik.). Contoh Misalkan a > 0. jadi z = 2. (Proses ini untuk menghi- tung akar kuadrat yang sudah dikenal di Mesopotamia sebelum 1500 B.2sn+1 n sn + a = 0. Lebih dari itu.9. Jadi s = s a. persamaan ini mempunyai akar real. Ini menghasilkan z = 0.kita mempunyai lim Z1 = z = lim Z. menurut Teorema 3.

. yang nilainya didekati dengan e ≈ 2.. Kita akan tunjukkan bahwa Ε = (en) terbatas atau tak turun... Selain itu.. + n ( n -1)K2⋅1 n! ⋅ n1n Ini dapat ditulis menjadi en = 1 + 1 + 1 2! (1 − ) + (1 − )(1 − ) + . kita mempunyai a ≥ sn untuk semua n a dengan dera- ≥ 2.... 1 n +1 1 3! 1 n +1 2 n +1 + 1 n! 1 n 2 n-1 (1 − n1+1)(1 − n+1)K(1 − n+1) + ( n +1)! (1 − n1+1)(1 − n2+1 ). kita mempunyai 2 ≤ e1≤ e2 < . Selain itu 2p-1 ≤ p! [lihat 1.3.+ n −1 2 2 2 88 2 < en < 1 + 1 + Analisis Real I .. Bilamana kita menggunakan teorema Binomial.5 Contoh. jika n > 1. kita mempunyai en = (1 + 1 n n ) =1+ n 1 ⋅1+ n n ( n -1) 2! ⋅ n12 + n ( n -1)( n -2 ) 3! ⋅ n13 + .. Oleh karena itu.. sedangkan untuk en+1 menurut n+2 suku..... maka kita mempunyai p! 2 1 1 1 + 2 +. Bilangan Euler 3. < en < en+1 < . Dari di atas. kita perhatikan p  bahwa jika p = 1 . .Aljabar Himpunan Untuk perhitungan. dan kemudian digunakan sebagai bilangan dasar logaritma natural. sering penting untuk mengestimasi bagaimana cepatnya ba-risan (sn) konvergen ke a .(1 − n+1) Perhatikan bahwa ekspresi untuk en menurut n + 1 suku.3. 2 ... maka  1 −  < 1 . Untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari E terbatas di atas..3 (d)]  n dengan demikian 1 1 ≤ p −1 Oleh karena itu. n. + (1 − )(1 − )K(1 − ) 1 n 1 3! 1 n 2 n 1 n! 1 n 2 n n -1 n 1 2! Dengan cara serupa kita mempunyai : en+1 = 1 + 1 + (1 − ) + (1 − )(1 − ) + . .718281828459045. Misal en = (1 + 1/n)n untuk n∈N. masing-masing suku dalam en adalah lebih kecil atau sama dengan suku yang bersesuaian dalam en+1 dan en+1 mengandung lebih satu suku positif. Dengan menggunakan ketaksamaan ini kita dapat menghitung jat akurasi yang diinginkan. karenanya Ε konvergen yang sangat terkenal itu. dengan demikian suku-suku dari E naik..

3. Tunjukkan bahwa lim (an) ≤ lim (bn). Analisis Real I 89 . karena e adalah suatu bilangan irasional. Tunjukkan bahwa (yn) konvergen dan tentu- rior dari (xn). Misalkan x1 = a > 0 dan xn+1 = xn + 1/xn.1. 5.+ n −1 = 1 − n −1 < 1.b dari Teorema Konvergensi Monoton 3.Pendahuluan Karena dapat dibuktikan bahwa [lihat 1. (bn) barisan tak naik dan misalkan an ≤ bn untuk semua n∈N. 2. sn = sup{xk : k ≥ n} dan tn = inf{xk : k ≥ n}. Akan tetapi mungkin untuk menghitung e sampai beberapa tempat desimal yang diinginkan. Misalkan y1 = 1 dan yn+1 = kan limitnya. dan dari sini buktikan Teorema Interval Bersarang 2. tetapi kita tidak dapat menghitungnya secara eksak. maka (xn) konvergen. Misalkan x1 > 1 dan x n + 1 = 2 − dan menoton. Kita definisikan bilangan e merupakan limit dari barisan ini. Tentukan apakah (xn) konvergen atau divergen. Tunjukkan bahwa (xn) terbatas xn 2 + y n . 4. 2 2 2 2 kita simpulkan bukan 2 ≤ en < 3 untuk semua n∈N. 1. [ lim (sn) disebut limit supe1 untuk n ≥ 2.. Definisikan zn+1 = (a + zn)1/2 untuk n∈N..2. Tentukan limitnya. Menurut Teorema Konvergensi Monoton.3.3. Pembaca boleh menggunakan kalkulator (atau komputer) untuk menghitung en dengan mengambil nilai n yang “besar” Latihan 3. Dengan penghalusan estimasi kita dapat menemukan bilangan yang dekat sekali ke e. untuk masing-masing n∈N.. Tunjukkan bahwa (zn) konvergen dan tentukan limitnya.3. Buktikan bahwa (sn) dan (tn) konvergen. Misalkan (xn) barisan terbatas dan. Misalkan (an) barisan tak turun. dan lim (tn) disebut limit inferior dari (xn) ] 6. Juga buktikan bahwa bila lim (sn) = lim (tn).3 (b)] 1 1 1 1 + 2 + . Misalkan a > 0 dan z1 > 0. kita peroleh bahwa barisan E konvergen ke suatu bilangan real antara 2 dan 3.

4.  1 +   (d). 11. Misalkan xn = 1 1 1 + 2 + L + 2 untuk n∈N.. dengan benar sampai 14. bila yn = untuk n∈N. 3.  (a).4 untuk menghitung 5 desimal..8) sering bermanfaat dalam membuktikan divergensi barisan. 12.1 k k 10. Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass Dalam bagian ini kita akan memperkenalkan gagasan subbarisan dari barisan yang diberikan. 9.1. Gunakan kalkulator untuk menghitung en untuk n = 50 dan n = 100. 8. dengan benar sampai 5 . [ Catatan bila k ≥ 2. 8.. 2 .  (b). 15. Kita juga akan membuktikan Teorema Bolzano-Weistrass.4 untuk menghitung 4 desimal.3. (1 + ( 1 n +1  n  1 n n +1 ) .  1 +  (c).. Hitung en pada contoh 3.+ 2n terbatas. 4. 16.1. yang akan digunakan untuk memperkenalkan sejumlah hasil akibatnya.. Tunjukkan bahwa terdapat suatu barisan tak turun (xn) dengan xn ∈ A untuk semua n∈N sehingga u = lim (xn).3. Definisi. Tentukan apakah barisan (yn) konvergen atau divergen. Gunakan metode pada contoh 3.. Perkenalkan konvergensi barisan berikut dan tentukan limitnya. Gunakan metode pada contoh 3. barisan bilangan asli yang naik. maka 1 1 1 1 ≤ = − ] 2 k( k .4. Misalkan X = (xn) barisan dan r1 < r2 < . 13. ( ) . Gunakan Komputer untuk menghitung en untuk n = 1000. Buktikan bahwa (xn) tak turun dan 2 1 2 n 1 n +1 + 1 n+ 2 1 + . jadi konvergen.5 untuk n = 2. Maka barisan X’ dalam R yang diberikan oleh Analisis Real I 90 .  1 −  ( 1 2n   n  1 n  n  ) . 3. Gagasan ini agak lebih umum daripada ekor barisan (yaitu dibahas pada 3. ( ) ). < rn < ..Aljabar Himpunan 7. Misalkan A subhimpunan tak hingga dari R dan terbatas di atas dengan u = sup A.1) k .3.

ekor-m bersesuaian dengan barisan yang ditentukan dengan r1 = m + 1. .L . 1 3 5 2n -1   2 ! 4! 6! ( 2n)!   1 Sedangkan yang berikut bukan subbarisan dari X =   :  n  1 1 1 1 1 1  1 1 1   . . Bukti : Misalkan ε > 0 diberikan dan pilih bilangan asli Κ(ε) sedemikian sehingga jika n ≥ Κ(ε). Teorema. rn = m + n1. . . 3. bila n ≥ Κ(ε) kita juga mempunyai rn ≥ n ≥ Κ(ε) dengan demikian x rn − x < ε. .L . tidak setiap subbarisan merupakan ekor barisan. adalah barisan bilangan real naik maka dapat dibuktikan (dengan induksi) bahwa rn ≥ n . maka sebarang subbarisan dari X juga konvergen ke x.. 1 2 3 n  1 1 1 1  .Dari sini.. ... . Karena r1 < r2 <.x rn .L . lim (bn) = 0 bila 0 < b < 1.4.x r2 . Oleh karena itu subarisan x rn juga konvergen ke x. Subbarisan dari barisan konvergen juga konvergen ke limit yang sama. seperti yang akan kita tunjukkan berikut. .  . .L .0. Jika suatu barisan bilangan real X = (xn) konvergen ke x. Tetapi. r2 = m + 2.L .  2 1 4 3 6 5  1 3 5  Tentu saja.L .< rn < .2.0. .3 Beberapa contoh (a).. .. .0.L . sebarang ekor barisan merupakan subbarisan. . .L .  . ..L .L .4. .. maka x n − x < ε. . ( ) 3. 1  1 1 1 Sebagai contoh.Pendahuluan (x r1 . .L .x r3 .L ) disebut subbarisan dari X. berikut ini adalah subbarisan dari X =  .  .. 3 4 5 n+2   1 1 1 1 1  1 1 1 . Analisis Real I 91 .  .

2.Aljabar Himpunan Kita telah melihat. Misalkan X = (xn) suatu barisan. Kegunaan subbarisan membuatnya mudah untuk menyajikan uji divergensi suatu barisan. karena x2n = b2n = (bn)2 = (xn)2.4. (b).1. Perhatikan bahwa jika zn = c1/n.11 (c). Cara lain. Di lain pihak. kita melihat bahwa karena 0 < b < 1. Di sini kita melihat pendekatan lain untuk kasus c > 1. z = lim (Zn) ada. maka pernyataan berikut ekivalen : (i) Barisan X = (xn) tidak konvergen ke x∈R. maka zn > 1 dan zn+1 < zn untuk semua n∈N. maka xn+1 = bn+1 < bn = xn dengan demikian (xn) adalah barisan turun.3.2. Untuk kasus 0 < c < 1. Kriterian Divergensi. pada Contoh 3. Karena (x2n) subbarisan dari (xn) menururt Teorema 3.4. 1 n Limit ini telah diperoleh dalam contoh 3.maka z = lim( Z2n ) = ( lim( Z n )) 1 2 = z 2. dengan pemikiran argumen yang banyak diakal-akali.11 (d) untuk c > 0. berlaku z = lim (Z2n). Di lain pihak. Misalkan x = lim (xn). Jelas juga bahwa 0 ≤ xn ≤ 1. maka dari Ketaksamaan Bernoulli diperoleh bahwa lim(xn) = 0. Karena (xn) barisan turun dan terbatas di atas oleh 1. lim c ( ) = 1 untuk c > 1. bahwa bila 0 < b < 1 dan bila xn = bn. Karena Zn > 1 untuk semua n∈N. 3. maka haruslah z = 1. Menurut teorema 3.2 barisan tersebut konvergen.4.2 maka x = lim (x2n). Jadi dengan menggunakan Teorema Konvergensi Monoton. menurut Teorema 3.1.10. 1 Karena itu z2 = z yang menghasilkan z = 0 atau z = 1. Analisis Real I 92 .3 diperoleh x = lim (x2n) = [lim (xn)]2 = x2 Oleh karena itu kita mesti mempunyai x = 0 atau x = 1.2.4. maka haruslah x = 0. karena z2n = c 1 2n = c ( ) 1 n 1 2 = z n2 1 dan Teorema 3. kita tinggalkan sebagai latihan. sehingga menurut Teorema Konvergensi Monoton 3.

1 (b). Tetapi ini tidak mungkin suku dari x’ termuat dilingkungan x0 dari x..) divergen. maka X tidak mungkin konvergen ke x.b (c) dipenuhi. misalkan r3 > r2 dan x r3 − x ≥ ε0.2 subbarisan X’ juga akan konvergen ke x. maka (menururt Teorema 3. (iii) ⇒ (i) Misalkan X = (xn) mempunyai subbarisan X’ = x rn ( ) memenuhi kondisi (iii).3. 3. Misalkan ε0 seperti pada (ii) dan misalkan r1∈N sehingga r1 ≥1 dan x r1 − x ≥ ε 0 .1. untuk sebarang k∈N tidak benar bahwa untuk semua n ≥ k sehingga x rk − x ≥ ε 0 . maka haruslah X divergen. Bila barisan X = (( −1) ) konvergen ke x. Yaitu. Barisan n n barisan dari X harus konvergen ke x... Sekarang misalkan r2∈N sehingga r2 > r1 dan x r2 − x ≥ ε 0 .4. Karena terdapat subbarisan yang konvergen ke +1 dan sub-barisan yang lain konvergen ke -1. 4 [Kita dapat mendefinisikan barisan ini dengan Y = (yn).Pendahuluan (ii) Terdapat ε0 > 0 sehingga untuk sebarang k∈N.4. dan yn = Analisis Real I 1 bila n genap]. Barisan (1.5. Karena andaikan demikian. yang mana yn = n bila n ganjil. ( (−1) ) divergen .2) setiap sub(a). (ii) ⇒ (iii). Beberapa contoh.4. 2 . maka untuk suatu ε0 > 0 tidak mungkin memperoleh bilangan Κ(ε) sehingga 3. 1 . Bila X = (xn) tidak konvergen ke x. maka menurut Teorema 3. dengan meneruskan cara ini diperoleh subbarisan X’ = ( x ) (x rn rn) dari X sehingga x rn − x ≥ ε0. Secara mudah dapat dilihat bahwa barisan ini tidak n 93 . Bukti : ( ) (i) ⇒ (ii). terdapat rk∈N sehingga rk ≥ k dan x rk − x ≥ ε0 (iii) Terdapat ε0 > 0 dan subbarisan X = x rn dari X sehingga x rn − x ≥ 0 untuk semua n∈N.

1 6 ... barisan ini tidak mungkin konvergen. Kasus 1.≥ x m k ≥.... dari sini. walaupun sub-barisan ( 12 . x m 2 . kita sekarang akan menunjukkan bahwa setiap barisan mempunyai sub-barisan monoton.6. 1 4 .2... sehingga x s3 > x s2 .. maka terdapat s2 > s1 sehingga x s2 > x s1 . < mk < . Setiap barisan terbatas mempunyai subbarisan konvergen. 3.Karena masing-masing suku tersebut puncak. X mempunyai sejumlah tak hingga puncak.. terdapat subbarisan (3. kita mengururt puncak-puncak tersebut dengan indeks naik. kita peroleh subbarisan tak turun (bukan naik) x sn dari X.. Bukti Analisis Real I 94 .) dari Y yang berada di luar lingkungan -1 dari 0. menurut Teorema 3. ( ) Teorema Bolzana Weierstrass 3. Jad kita mempunyai puncak-puncak x m1 .x m r . X mempunyai sejumlah hingga (mungkin nol) puncak. Dalam kasus ini.. ( ) Kasus 2. Setiap barisan X = (xn) mempunyai subbarisan monoton. Eksistensi Subbarisan Monoton Sementara tidak setiap barisan monoton....5. x m k . Karena x s2 bukan puncak. Teorema Bolzana-Weierstrass.4. Misalkan s1 = mr + 1 (indeks pertama setelah puncak terakhir) Karena x s1 bukan puncak.x m2 ..... Teorema Subbarisan Monoton.... kita mempunyai x m1 ≥ x m2 ≥ x m 3 ≥. maka terdapat s3 > s2. Selanjutnya kita akan mempertimbangkan dua kasus. ... Secara alternatif.. dengan m1 < m2 < .7.. karena itu Y tidak konvergen ke 0.) dari Y konvergen ke 0. Karenanya subbarisan x m k merupakan subbarisan tak naik dari X.. keseluru- han barisan Y tidak konvergen ke 0.7. Misalkan puncakpuncak ini x m1 .4.Aljabar Himpunan terbatas..2.. Yaitu.. Bukti Untuk tujuan ini kita akan menyatakan suku ke-m xm merupakan puncak bila xm ≥ xn untuk semua n ≥ m. Bila kita meneruskan proses ini..

Karena X’ subbarisan dari X. Teorema. karenanya harus konvergen ke x. Maka X’ sendiri juga merupakan barisan.4. maka X’ juga terbatas oleh M.Pendahuluan Mengikuti Teorema Subbarisan Monoton. Barisan ini juga mempunyai sub-barisan yang tidak konvergen. dan subbarisan yang lain konvergen ke +1. menurut Teorema Bolzano-Weierstrass bahwa X’ mempunyai subbarisan X” yang konvergen. Menurut Kriteria Divergensi 3.4.4 1. Subbarisan inipun juga terbatas.4 terdapat ε0 > 0 dan subbarisan X’ = x rn dari X sehingga (#) ( ) x rn − x ≥ ε 0 . Dari sini. Tetapi X” juga merupakan subbarisan dari X.8. sehingga x n ≤ M untuk semua n∈N. Bukti Misalkan M > 0. Akibatnya pada akhirnya X” terletak di dalam lingkungan-ε0 dari x. untuk semua n∈N. katakan X”. maka barisan terbatas X = (xn) mempu-nyai subbarisan X’ = x sn ( ) monoton. Berikan contoh barisan tak terbatas yang mempunyai subbarisan konvergen. barisan ( ) ((−1) ) n mempunyai subbarisan yang konvergen ke -1. yang juga dapat mempunyai sub-barisan. Andaikan X tidak konvergen ke x. hal ini membawa kita ke suatu yang kontradiksi dengan (#) Latihan 3. Analisis Real I 95 . Maka barisan X konvergen ke x. se- hingga menururt Teorema Konvergensi Monoton X’ = x sn konvergen. Misalkan X barisan terbatas dan x∈R yang mempunyai sifat bahwa setiap sub-barisan konvergen dari X limitnya adalah x. 3. menurut hipotesis. sebagai contoh. Karena setiap suku dari X” juga merupakan suku dari X’. Misalkan X’ subbarisan dari barisan X. Di sini dapat kita catat bahawa X” juga merupakan subbarisan dari X. Dari sini mudah dilihat bahwa barisan terbatas dapat mempunyai beberapa sub-barisan yang konvergen ke limit yang berbeda.

.. Gunakan metode pada contoh 3.3 (b) untuk menunjukkan bahwa 0 < c < 1. Tunjukkan ( ) Analisis Real I 96 . Misalkan X = (xn) dan Y = (yn) dan barisan Z = (zn) didefenisikan dengan z1 = x1. 1 n 3. Misalkan bahwa xn ≥ 0 untuk semua n∈N dan lim bahwa (xn) konvergen.  (1 +  1 n 2 ( 2 )    ) n2 ( ) (d).5 ]Buktikan bahwa (xn) pada akhirnya tak naik dan η = lim (xn) ada. Misalkan setiap sub-barisan dari X = (xn) mempunyai subbarisan lagi yang konvergen ke 0. (1 + 1 2n)  (c). Tunjukkan bahwa bila (xn) tak terbatas.. z2n = yn. z2n-1 = xn. 9. . Simpulkan x = 1 5. Misalkan (xn) barisan terbatas dan untuk masing-masing n∈N sn = sup{xk: k ≥ n} dan s = inf{ sn : n∈N}. Tunjukkan bahwa terdapat subbarisan dari (xn) yang konvergen ke s.. (b) Gunakan fakta subbarisan (x2n) juga konvergen ke x untuk menunjukkan bahwa x = x . 8. Misalkan x n = n 1 n untuk n∈N. maka lim c ( ) = 1. Tunjukkan bahwa xn+1 < xn ekivalen dengan (1 + 1 n) < n. dan diduga bahwa ketaksamaan ini benar untuk n ≥ 3.4..3. (1 + 1 2n) 2 n n n 7. maka terdapat subbarisan x n k sehingga  1   lim  x  = 0  nk  ((−1) x ) n n ada. 6. n (a). Tunjukkan bahwa Z konvergen jika dan hanya jika X dan Y konvergen dan lim X = lim Y.. z2 = y1. 4. ((1 + ) ) (b). Tunjukkan bahwa lim X = 0. Perkenalkan konvergensi dan tentukan limit barisan berikut : (a).Aljabar Himpunan 2. [ lihat contoh 3.

1. tetapi sayangnya hanya dapat diterapkan pada barisan monoton. Bila X = (xn) barisan konvergen. Untuk membuktikannya kita akan tunjukkan terlebih dahulu bahwa barisan konvergen merupakan barisan Cauchy. Analisis Real I 97 . maka (xn) barisan Cauchy.5. 3. Bila xn = ( −1) n n .1. Misalkan (xn) barisan terbatas dan s = sup{ xn : n∈N }.seperti yang akan kita bahas berikut ini. terε dapat Κ( 2 )∈N sehingga x n − x < ε 2 ε ε untuk semua n ≥ Κ( 2 ). Berikan contoh bahwa Teorema 3. bila m.i Barisan X = (xn) dikatakan barisan Cauchy bila untuk setiap ε > 0 terdapat H(ε)∈N sehingga bila m. Tunjukkan bahwa bila s ∉ {xn : n∈N}. 3. Akan kita lihat bahwa barisan Cauchy ekivalen dengan barisan konvergen.5 Kriteria Cauchy Teorema Konvergensi Monoton sangat penting dan berguna. Bukti : Misalkan x = lim X.n ≥ H(ε).6(c) untuk sebarang ε > 0. Lemma.1 Definis. 12.n ≥ Κ( 2 ) maka xn − xm = ( xn − xm ) + ( x − xm ) ≤ xn − x + xm − x < ε 2 + ε 2 =ε Karena ε > 0 sebarang. maka terdapat subbarisan dari (xn) yang konvergen ke s. Jadi. tentukan subbarisan (xn) yang dikonstruksi pada bukti kedua Teorema Bolzano-Weierstrass. maka X barisan Cauchy.2.Pendahuluan 10. 11.5. Pembaca sebaiknya membandingkan definisi ini dekat dengan Teorema 3. 3. Padahal sangat penting untuk memperkenalkan kriteria konvergensi yang tidak bergantung pada barisan monoton maupun nilai limitnya.8 gagal bila hipotesis X barisan terbatas dihilangkan.6 (c) yang menyinggung konvergensi barisan x.4. maka menurut Teorema 3. maka xm dan xn memenuhi x n − x m < ε .

.5.3 kita peroleh bahwa X terbatas. Karena itu menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3.4 Kriteria Konvergensi Cauchy. x 2 . maka terdapat bilangan asli K ≥ ε ε H( 2 ) unsur dari {n1. Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga kita mempunyai x n ≤ x H + 1 untuk n ≥ Η...n ≥ H( 2 ) maka (*) xn − xm < ε 2 Karena subbarisan X’ = (x ) nk konvergen ke x*. Kita akan melengkapi bukti dengan menunjukkan bahwa X konvergen ke x*. Bukti : Misalkan x barisan Cauchy dan ε = 1. Bila H = H(1) dan n ≥ H.. 3. untuk sebarang ε > 0 terdapat H( 2 )∈N seε hingga bila m.Aljabar Himpunan Untuk menunjukkan bahwa barisan Cauchy konvergen kita akan menggunakan hasil berikut.. ε Karena X = (xn) barisan Cauchy..7 terdapat subbarisan X’ = ( x ) dari X yang konvergen ke x nk * suatu bilangan real.3. Barisan bilangan real konvergen jika dan hanya jika merupakan barisan cauchy.5. x H + 1 }. Lemma. Bila kita definisikan M = sup{ x1 . x H −1 . Sebaliknya. maka x n − x H ≤ 1 .5. ε Karena K ≥ H( 2 ). 3. misalkan X = (xn) barisan Cauchy.4. kita akan tunjukkan bahwa X konvergen ke suatu bilangan. dari (*) dengan m = K diperoleh ε ε x n − x k < 2 . Bukti : Lemma 3.5.} sehingga x K − x* < 2 . untuk n ≥ H( 2 ) Analisis Real I 98 .n2. maka x n ≤ M untuk semua n∈N. Pertama dari Lemma 3.. Barisan Cauchy terbatas.2 telah membuktikan bahwa barisan konvergen merupakan barisan Cauchy.

Misalkan X = (xn) didefinisikan dengan x1 = 1. Dari sini.Pendahuluan ε Karena itu. karena sukusukunya diperoleh dari rata-rata. maka terdapat H = H(ε)∈N. kita mempunyai x n − x * = ( x n − x K ) + x K − x* ≤ xn − xK + xK − x * < ε 2 ε + 2 =ε ( ) Karena ε > 0 sebarang.5.1. sehingga H > ( 2ε ) (Mengapa?). 3. bila n ≥ H( 2 ). berdasar kriteria Konvergensi  n Cauchy barisan ini konvergen. bila m > n. (b). kita dapat menggunakan ketaksamaan segitiga untuk memperoleh Analisis Real I 99 . mudah dilihat bahwa x n − x n +1 = 1 2 n −1 untuk n∈N (Buktikan dengan induksi) Jadi. Tetapi untuk menunjukkan secara langsung bahwa barisan ini Cauchy. Tetapi. x2 = 2 dan x n = 1 2 ( x n − 2 + x n −1 ) untuk n > 2.n ≥ H. kita catat bahwa bila diberikan sebarang ε > 0. maka 1 1 1 1 2 − ≤ + ≤ <ε n m n m H  1 Karena ε > 0 sebarang. maka lim (xn) = x*. Beberapa perhitungan menunjukkan bahwa barisan x tidak menoton. bila m.  n Tentu saja kita telah membuktikan bahwa barisan ini konvergen ke 0 pada 3.5. Berikut kita lihat beberapa contoh aplikasi dari Kriteria Cauchy. Beberapa Contoh  1 (a) Barisan   konvergen.7(a). Dapat ditunjukkan dengan induksi bahwa 1 ≤ xn ≤ 2 untuk semua n∈N. maka   barisan Cauchy.

karenanya bila m > n.. Tetapi. yang memang benar. kita harus menggunakan aturan untuk definisi xn = 1 2 ( x n −1 + x n − 2 ) yang akan sampai pada kesimpulan x = 1 2 ( x + x) . Karena X konvergen ke x. Menggunakan induksi pembaca dapat menunjukkan bahwa [lihat 1. y 2 = − ..3. y n = − + L + 1! 1! 2! 1! 2! n! n +1 2 5 = .L Jelaslah..+ m − n −1  < n − 2 n −1   2 2  2 2 Karena itu..+ m − 2 n 2 2 1  1 1  1 1 + +...Aljabar Himpunan x n − x m ≤ x n − x n +1 + x n +1 − x n + 2 + ..+ x m −1 − x m = = 1 2 n −1 + 1 1 + .. X barisan Cauchy.3 (c)] x 2n +1 = 1 + 1 1 1 + 3 +. kita harus mencoba cara yang lain. tetapi tidak informatif. Y bukan barisan monoton. demikian juga halnya subbarisan X’ dengan indeks ganjil. Karenanya. maka x n − x m < ε . bila diberikan ε > 0. bila m > n. dengan memilih n yang begitu besar sehingga 1 ε < dan bila M ≥ n. Untuk mencari nilai x.4 diperoleh barisan X konvergen ke suatu bilangan x..+ ( −1) m+1 .5. maka (mengapa ?) Analisis Real I 100 .3..L .+ 2n −1 2 2 2 2 1 =1 +  1 − n  3 4  Dari sini diperoleh bahwa (bagaimana ?) x = lim X = lim X’ = 1 + (c) Misalkan Y = (yn) barisan dengan y1 = 1 1 1 1 1 ( −1) . 3 3 .3 (d)]. Dengan n 4 2 menggunakan Kriteria Cauchy 3. Karena itu. maka ( −1) n + 2 + ( −1) n + 3 +. ym − yn = m! ( n + 1)! ( n + 2)! Karena 2r-1 ≤ r! [lihat 1.

sehingga x n + 2 − x n +1 ≤ C x n +1 − x n untuk semua n∈N. kita mempunyai y n − y ≤ 1 2 n-2 .6. m n m Karena masing-masing suku m-n ini melebihi 1 Khususnya.+ m! ( n + 1)! ( n + 2)! 1 1 1 1 + n +1 +.632 120 559. maka hm − hn = 1 1 + . Setiap barisan kontraktif merupakan barisan Cauchy. > = 1− . saat ini kita tidak dapat menentukan nilai y secara langsung. bila m = 2n kita mempunyai h2n − h n > 2 .. kita dapat membalik langkah kerja kita untuk memperoleh : Analisis Real I 101 . Hal ini menunjukkan bahwa H bukan barisan Cauchy (mengapa ?). Definisi.Pendahuluan ym − yn ≤ ≤ 1 1 1 + +. (Tepatnya y adalah 1. yang telah dibahas pada 3. katakan ke y. Teorema. (yn) barisan Cauchy.7. 1 2 3 n Misalkan H = (hn) barisan yang didefinisikan dengan h n = tuk n∈N.+ m −1 < n −1 . n+1 m 1 m-n n . karenanya H bukan barisan konvergen.5. 3. Pembaca sebaiknya mengerjakan hal ini dan menunjukkan bahwa y sama dengan 0. kita dapat menghitung nilai y sampai derajat akurasi yang diinginkan dengan menghitung yn untuk n yang cukup besar... 0 < C < 1.3 (b). sehingga konvergen. 3.5. Bila 1 1 1 + + L+ un1 2 n m > n. karenanya konvergen.1 ) e 1 1 1 1 (d) Barisan  + + +. maka h m − h n . Bukti : Bila kita menggunakan kondisi barisan kontraktif..+ .+  divergen.3. Bilangan C disebut konstanta barisan kontraktif tersebut. dari sini.. n 2 2 2 2 Karena itu. Barisan X = (xn) dikatakan kontraktif bila terdapat konstanta C....

Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m).. dan x* = lim X. + x n +1 − x n Analisis Real I 102 . x* − x n ≤ C n −1 x 2 − x1 1− C C (ii). Akibat.5. maka lim(Cn) = 0 [lihat 3. + 1)x2 . kita 1-C peroleh (i). maka x m − x n . Bila x = (xn) bariasan konstraktif dengan konstanta C. kita mempunyai x m − x n ≤ x m − x m −1 + x m −1 − x m − 2 + .11(c)].. Untuk membuktikan (ii)..... kita gunakan lagi m > n. + Cn-1)x2-x1 = Cn-1(Cm-n-1 + Cm-n-2 + . 3.. sehingga (xn) konvergen. + x n +1 − x n ≤ (Cm-2 + Cm-3 + . yang kedua melibatkan selisih xn-xn-1. 0 < C < 1. Dalam proses menghitung limit dari barisan kontraktif.x1 =C n-1  1 − Cm-1    x 2 − x1  1− C   1  ≤ Cn-1   x − x1  1 − C 2 Karena 0 < C < 1.Aljabar Himpunan x n + 2 − x n +1 ≤ C x n +1 − x n ≤ C 2 x n − x n −1 ≤ C3 x n −1 − x n − 2 ≤ L ≤ C n x2 − x1 untuk m > n. Karena itu (xn) barisan Cauchy.. Berikut ini kita memberikan dua estimasi.≤ x m − x m −1 + . sering sangat penting untuk mengestimasi kesalahan pada tahap ke-n. maka xm − xn ≤ C n-1 x 2 − x1 . x* − x n ≤ x n − x n-1 1− C Bukti : Kita telah melihat pada bukti terdahulu bahwa bila m>n. maka : (i).1. pertama melibatkan dua suku kata pertama dan n.8.

289169244. kemudian definisikan xn+1 = 1 7 (x 3 n + 2 .5 kita peroleh (sampai sembilan tempat desimal) x2 = 0. Untuk mengesAnalisis Real I 103 .289710830. ) .. (xn) barisan kontraktif. n∈N ) Karena 0< x1 < 1. Bila kita menggunakan limit pada kedua sisi (terhadap n) pada xn+1 = 1 7 1 7 ( x ) . sehingga terdapat r dengan lim (xn) = r.289188016.289 168 571. x3. x3 = 0. ( ) 3. maka 0< xn <1 untuk semua n∈N. sebarang nilai antara 0 dan 1. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur iterasi berikut..Pendahuluan Dengan induksi diperoleh x n + k − x n + k −1 ≤ C k x n − x n − 1 karenanya x m − x n ≤ Cm − n +. (Mengapa?) lebih dari itu kita mempunyai x n + 2 − x n +1 = = = 1 7 1 7 1 7 3 7 (x 3 n +1 +2 − ) (x 1 7 3 n +2 ) x 3 +1 − x 3 n n x 2 +1 + x n +1x n + x 2 x n +1 − x n n n ≤ x n +1 − x n Karena itu.9. x5 = 0. secara berturut-turut.. x6 = 0. Pertama kita tuliskan persamaan di atas menjadi x = 1 7 (x3 + 2) dan gunakan ini untuk mendefinisikan barisan. kita pilih x.. Contoh.7x + 2 = 0 terletak antara 0 dan 1 dan kita akan mendekati solusi tersebut. diperoleh r = 3 n (r 3 + 2 atau r 3 . bila kita memilih x1 = 0.5.. Diketahui solusi dari x3 . dan seterusnya.+ C2 + C x n − x n −1 Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m) diperoleh (ii). x4 = 0.7r + 2 = 0. Jadi r merupakan solusi dari persamaan tersebut. Kita dapat mendekati nilai r dengan memilih x1 kemudian menghitung x2.303571429. Sebagai contoh.

+  .000005.  2! n! 3. kita catat bahwa x 2 − x1 < 0. 6.5. Tunjukkan bahwa (xn) pada akhirnya konstan.8 (ii) maka x* − x 6 ≤ tama benar. Jadi. hitun3 3 glah limitnya. Sebenarnya 7 (20) 48020 pendekatannya lebih baik daripada ini.2. 2. 5. Bila y1 < y2 sebarang bilangan real dan y n = 1 y n −1 + 2 y n − 2 untuk n > 2. Jadi kelima tempat desimal yang per- Latihan 3. Bila x1 < x2 sebarang bilangan real dan x n = 1 2 ( x n − 2 + x n −1 ) untuk n > 2.Aljabar Himpunan timasi akurasi. Beri contoh barisan terbatas yang bukan barisan Cauchy. setelah langkah ke n menurut Akibat 3. Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut barisan Cauchy  n + 1 (a). tunjukkan bahwa (xn) barisan Cauchy.0000004 .8(i) kita yakin bahwa x − x 6 * 35 243 ≤ 4 = < 0. 8.0051 . Tunjukkan bahwa barisan monoton tak turun yang terbatas merupakan barisan Cauchy. 9. menurut 3. Bila 0 < r < 1 dan x n +1 − x n < r n untuk semua n∈N. maka (xn + yn) dan (xn yn) juga barisan Cauchy.  . tunjuk- kan bahwa (xn) konvergen. Hitunglah limitnya. Karena x 6 − x5 < 0. 7..  n  Cauchy (a). Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut bukan barisan  ( −1) n   (b)  n +  n    ( (−1)n ) . Misalkan (xn) barisan Cauchy sehingga xn bilangan untuk semua n∈N. Analisis Real I 104 . 4. 1 1  (b)  1 + +.5. Tunjukkan secara langsung bahwa bila (xn) dan (yn) barisan Cauchy.5 1. 3 4 x6 − x5 < 0..

tunjukkan bahwa (xn) barisan kon- 11. misal K(α) suatu bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α . lim (n2) = + ∞. dan ditulis lim (xn) = +∞. −1 untuk n ≥ 1. Gunakan barisan kontraktif yang bersesuaian untuk menghitung r sampai 10-4. maka lim (cn) = + ∞ Misalkan c = 1 + b. Persamaan x3 . 3.6. 3. Bila x1 > 0 dan x n +1 = ( 2 + x n ) traktif. jika diberikan α∈R. Kita katakan bahwa (xn) menuju ke . Contoh-contoh (a). Kenyataannya. (ii). (c). misal K(α) sebarang bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α. dan jika n ≥ K(α) maka kita mempunyai n2 ≥ n > α. Definisi.∞. jika untuk setiap α∈R terdapat bilangan asli K(α) sedemikian sehingga jika n ≥ K(α). Jika n ≥ K(α) maka menurut ketaksamab an Bernoulli Analisis Real I 105 . Jika diberikan α∈R. lim (n) = + ∞. (b).∞. Kita katakan bahwa (xn) menuju ke + ∞.2. jika untuk setiap β∈R terdapat bilangan asli K(β) sedemikian sehingga jika n ≥ K(β).1.Pendahuluan 10. maka xn > α. Kita katakan bahwa (xn) divergen murni dalam hal kita mempunyai lim (xn) = +∞ dan (xn) = . maka xn < β. (i).6. Jika c > 1. Jika K(α) suatu bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α.∞. 3. Tentukan limitnya.6.5x + 1 = 0 mempunyai akar r antara 0 dan 1. dimana b > α. Barisan-barisan Divergen Murni Untuk tujuan-tujuan tertentu dipandang baik sekali untuk mendefinisikan atau yang dimaksudkan dengan suatu barisan bilangan real (xn) yang “menuju ke ± ∞“. Misalkan (xn) suatu barisan bilangan real. dan ditulis lim (xn) = .

Jika (xn) tak terbatas. Teorema.4. Kita ketahui bahwa jika (xn) terbatas.6. maka (xn) konvergen. maka lim (xn) = +∞ (b). Jika lim (xn) = + ∞. Bagian (b) dibuktikan dengan cara yang serupa. Karena α sebarang. Tetapi karena (xn). maka ini menyatakan bahwa lim (yn) = + ∞.Aljabar Himpunan cn = (1 + b)n ≥ 1 + nb > 1+ α > α. maka berarti lim (n) = + ∞.3. Misalkan (xn) dan (yn) dua barisan bilangan real dan anggaplah bahwa (*) xn ≤ yn untuk semua n∈N. Jika (xn) suatu barisan naik tak terbatas.2 (c)]. Anggaplah bahwa (xn) suatu barisan naik. 3. maka lim (xn) = -∞ Bukti : (a). Analisis Real I 106 . maka lim (yn) = + ∞. Jika (xn) suatu barisan turun tak terbatas.2.∞. Bukti : (a) Jika lim (xn) = + ∞. Barisan-barisan monoton khususnya adalah sederhana dalam memandang konvergennya. (a). dan jika diberikan α∈R. Teorema. Karena α sebarang.6. berarti α < yn untuk semua n ≥ K(α).2 bahwa suatu barisan monoton adalah konvergen jika dan hanya jika terbatas. (b). maka lim (xn) = . 3. Oleh karena itu lim (cn) = + ∞. Kita telah melihat dalam Teorema Konvergensi Monoton 3. maka terdapat bilangan asli K(α) sedemikian sehingga jika n ≥ K(α). maka untuk sebarang α∈R terdapat n(α)∈N sedemikian sehingga α < xn(α). Jika lim (yn) = . [Pada kenyataannya. “Teorema perbandingan” berikut senantiasa akan dipergunakan dalam menunjukkan bahwa suatu barisan divergen murni. Suatu barisan bilangan real yang monoton divergen murni jika dan hanya jika barisan tersebut tidak terbatas. (a).6. kita mempunyai α < xn untuk semua n ≥ n(α). tidak digunakan secara implisit dalam contoh 3. maka α < xn. Hasil berikut adalah suatu reformulasi dari hasil tersebut di atas. Mengingat (*).∞.

6.6. Teorema.4. 1. maka “Teorema Perbandingan Limit” berikut masing-masing lebih tepat untuk digunakan daripada Teorema 3. tidak mesti berlaku bukan lim (xn) = + ∞. Analisis Real I 107 . Dalam pemakaian teorema 3. yaitu. maka terdapat suatu sistem barisannya yang divergen murni. Pembaca dapat menunjukkan bahwa konklusi tidak perlu berlaku jika L = 0 atau L = + ∞. Sekarang ke- Dari sini kita mempunyai ( 21 L)y n < x n < ( 23 L)y n simpulan didapat dari suatu modifikasi kecil teorema 3.6. (b). Serupa juga. 3.∞.6. kita mempunyai (#) x  lim  n  = L  yn  Maka lim (xn) = + ∞ jika dan hanya jika lim (yn) = + ∞ Bukti : Jika (#) berlaku.4 untuk menunjukkan bahwa suatu barisan menuju ke + ∞ [atau ke -∞] kita perlu untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari barisan ini adalah pada akhirnya lebih besar dari [atau lebih kecil] atau sama dengan suku-suku barisan lain yang bersesuaian dimana barisan lain kita ketahui bahwa menuju ke + ∞ [atau ke . jika (*) dipenuhi dan jika lim (xn) = . L > 0. maka terdapat K∈N sedemikian sehingga 1 2 L < xn < yn 3 2 L untuk semua n ≥ K untuk semua n ≥ K. Detailnya ditinggalkan untuk dikerjakan oleh pembaca.4.5.∞]. Remakkan :(a).6.4 pada akhirnya benar jika syarat (*) pada akhirnya benar.6. Karena kadang-kadang sangat sulit untuk memperlihatkan ketaksamaan sebagaimana (*). Akan tetapi ada suatu hasil parsial belum dapat ditunjukkan dalam kasus-kasus ini. belum tentu berlaku lim (yn) = . Misalkan (xn) dan (yn) dua barisan bilangan real positif dan anggaplah bahwa untuk suatu L∈R. Latihan 3.∞. Tunjukkan bahwa jika (xn) suatu barisan tak terbatas.Pendahuluan Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara yang serupa.4 memenuhi dan jika lim (yn) = + ∞. seperti telah diperlihatkan dalam latihan. Jika syarat (*) dari teorema 3. jika terdapat m ∈ Ν sedemikian sehingga xn ≤ yn untuk semua n ≥ m. Teorema 3.6.

Aljabar Himpunan 2. ( n +1 )  n  (d). Misalkan (xn) dan (yn) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim  xn   =0  yn  (a) Tunjukkan bahwa jika lim (xn) = + ∞. ( n2 −2 )  n  (b)  2   n +1 (d) sin n  n2 + 1   (c). maka lim (xn) = 0 8. (b). maka lim (yn) = + ∞ (b) Tunjukkan bahwa jika (yn) terbatas. Perlihatkan kedivergenan murni dari barisan-barisan berikut : ( n) (c). maka lim (xn) = 0 jika dan hanya  1 jika lim   = + ∞  xn  4. Selidikilah bahwa kekonvergenan atau kedivergenan dari barisan-barisan berikut : (a).   n    ( ) 9. Berikan contoh dari barisan-barisan (xn) dan (yn) yang divergen murni dengan yn ≠ 0 untuk semua n∈N sedemikian sehingga x  (a)  n  konvergen  yn  x  (b)  n  divergen murni  yn  3. Misalkan (xn) divergen murni dan misalkan (yn) barisan sedemikian sehingga lim (xnyn) masuk ke R. 7. ( n − 1) (a). Tunjukkan bahwa jika xn > 0 untuk semua n∈N. Tunjukkan bahwa (yn) konvergen ke 0.    n +1  5. maka lim (yn) = + ∞ Analisis Real I 108 . Apakah barisan (n sin n) divergen murni ? 6. Misalkan (xn) dan (yn) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim  1  =+∞  xn  (a) Tunjukkan bahwa jika lim (yn) = + ∞.

Pendahuluan (b) Tunjukkan bahwa jika (xn) terbatas. maka lim ( a n ) = + ∞. maka lim (xn) = 0 a  10.  n Analisis Real I 109 . Tunjukkan bahwa jika lim  n  = L . dimana l > 0.

asalkan kita mengambil x dalam lingkungan-δ dari c yang cukup kecil. Jadi pernyataan: “fungsi f mendekati L pada c” berarti bahwa nilai f(x) akan terletak dalam sebarang lingkungan-ε yang diberikan dari L. Gagasan secara intuisi dari suatu fungsi yang mempunyai limit L pada c adalah bahwa nilai f(x) sangat dekat dengan L untuk x yang sangat dekat dengan c. Akan tetapi kita perlu mempunyai teknik-teknik pengerjaan dengan gagasan “dekat sekali”. karena Analisis Real I 110 . Dalam Pasal 4. Ini akan dilihat bahwa bukan hanya pengertian limit suatu fungsi yang sangat paralel dengan konsep tentang limit barisan. Pemilihan δ akan bergantung pada ε yang diberikan. Kita tidak ingin terpengaruh dengan nilai dari f(c) pada c. “Analisis secara matematika” merupakan dasar matematika yang mana dibangun secara sistematik dari variasi konsep-konsep limit. dan ini memerlukan penggunaan pengertian lingkungan dari suatu titik. Kita telah menjumpai salah satu dari konsep-konsep dasar tentang limit : kekonvergenan dari suatu barisan bilangan real. akan tetapi juga pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadan limit-limit fungsi sering dapat dicobakan dengan pertimbangan tertentu yang berkaitan dengan barisan. 4.Aljabar Himpunan BAB 4 LIMIT-LIMIT Secara umum.1.1dan pembahasan selanjutnya dalam Pasal 4. Pembaca akan memperoleh pengertian yang paralel dengan definisi limit suatu barisan. dimana x ≠ c.2.3 kita akan mengenal beberapa perluasan dari pengertian limit yang mana sering dipergunakan. Dalam bab ini kita akan membahas pengertian dari limit suatu fungsi. Limit-limit Fungsi Pada pasal ini kita akan mendefinisikan pengertian penting dari limit suatu fungsi. Kita akan memperkenalkan pengertian limit ini dalam Pasal 4.

Pendahuluan

kita hanya ingin memandang “kecenderungan” ditentukan oleh nilai dari f pada titiktitik yang dekat sekali (tetapi berbeda dari) titik c. Agar limit fungsi ini bermakna, maka diperlukan fungsi f yang terdefinisi pada sekitar titik c. Kita menekankan bahwa fungsi f tidak perlu terdefinisi pada titik c atau pada setiap titik sekitar c, akan tetapi cukup terdefinisi pada titik-titik yang dekat sekali dengan c untuk menjadikan pembahasan menjadi menarik. Ini merupakan alasan untuk definisi berikut.

4.1.1. Definisi. Misalkan A⊆R. Suatu titik c∈R adalah titik cluster dari A
jika setiap lingkungan-δ Vδ(c) = (c-δ,c+δ) dari c memuat aling kurang satu titik dari A yang berbeda dengan c.
Catatan : Titik c merupakan anggota dari A atau bukan, tetapi meskipun demikian itu tidan menentukan apakah c suatu titik cluster dari A atau bukan, karena secara khusus yang diperlukan adalah bahwa adanya titik-titik dalam Vδ(c)∩A yang berbeda dengan c agar c menjadi titik Cluster dari A.

4.1.2. Teorema. Suatu bilangan c∈R merupakan titik cluster dari A⊆R jika
dan hanya jika terdapat barisan bilangan real (an) dalam A dengan an ≠ c untuk semua
n∈N sedemikian sehingga lim (an) = c.

Bukti. Jika c merupakan titik cluster dari A, maka untuk setiap n∈N, lingkungan-(1/n) V1/n(c) memuat paling kurang satu titik yang berbeda dengan c. Jika titik yang dimaksud adalah an, maka an∈A, an ≠ c, dan lim (an) = c. Sebaliknya, jika terdapat suatu barisan (an) dalam A\{c} dengan lim (an) = c, maka untuk sebarang δ>0 terdapat bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n≥K(δ), maka an∈Vδ(c). Oleh karena itu lingkungan-δ dari c Vδ(c) memuat titik-titik an,
n≥K(δ), yang mana termuat dalam A dan berbeda dengan c.

Contoh-contoh berikut ini menekankan bahwa suatu titik cluster dari suatu himpunan bisa masuk dalam himpunan tersebut atau tidak. Bahkan lebih dari itu, suatu himpunan bisa mungkin tidak mempunyai titik cluster.

Analisis Real I

111

Aljabar Himpunan

4.1.3. Contoh-contoh. (a) Jika A1 = (0,1), maka setiap titik dalam interval tutup [0,1] merupakan titik cluster dari A1. Perhatikan bahwa 0 dan 1 adalah titik cluster dari A1, messkipun titik-titik itu tidak termuat dalam A1. Semua titik dalam A1 adalah titik cluster dari A1 (mengapa ?) (b) Suatu himpunan berhingga tidak mempunyai titik cluster (mengapa ?) (c) Himpunan tak berhingga N tidak mempunyai titik cluster. (d) Himpunan A4 = {1/n : n∈N} hanya mempunyai 0 sebagai titik clusternya. Tidak satu pun titik dalam A4 yang merupakan titik cluster dari A4. (e) Himpunan A5 = I∩Q yaitu himpunan semua bilangan rasional dalam interval tutup I={0,1]. Menurut Teorema Kepadatan 2.5.5 bahwa setiap titik dalam I merupakan titik cluster dari A5. Sekarang kita kembali kepada pengertian limit dari suatu fungsi pada titik cluster domainnya.

Definisi Limit
Berikut ini kita akan menyajikan definisi limit dari suatu fungsi pada suatu titik.

y f (
Diberikan Vε(L) Lo

(

o c

Ada V δ(c)

Gambar 4.1 1. Limit dari f pada c adalah L

Analisis Real I

(

(

x

112

Pendahuluan

4.1.4 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c suatu titik cluster dari
A. Kita katakan bahwa suatu bilangan real L merupakan limit dari f pada c jika diberikan sebarang lingkungan-ε dari L Vε(L), terdapat lingkungan-δ dari c Vδ(c) sedemikian sehingga jika x ≠ c sebarang titik dari Vδ(c)∩A, maka f(x) termasuk dalam Vε(L). (Lihat Gambar 4.1.1) Jika L merupakan suatu limit dari f pada c, maka kita juga mengatakan bahwa
f konvergen ke L pada c. Sering dituliskan L = lim f
x→ c

atau

L = lim f ( x )
x→ c

Kita juga mengatakan bahwa “f(x) menuju L sebagaimana x mendekat ke c”, atau “f(x) menuju L sebagaimana x menuju ke c”. Simbol
F(x) → L

sebagaimana

x→c

juga diperguanakan untuk menyatakan fakta bahwa f mempunyai limit L pada c. Jika f tidak mempunyai suatu limit pada c, kita kadang-kadang mengatakan bahwa f diver-

gen pada c.
Teorema berikut memberikan jaminan kepada kita akan ketunggalan limit suatu fungsi, jika limit dimaksud ada. Ketunggalan limit ini bukan merupakan bagian dari definisi limit, akan tetapi merupakan fakta yang harus dibuktikan.

4.1.5. Teorema. Jika f : A → R dan c suatu titik cluster dari A, maka f
hanya dapat mempunyai satu limit pada c.

Bukti. Andaikan kontradiksi, yaitu terdapat bilangan real L’ ≠ L” yang memenuhi definisi 4.1.4. Kita pilih ε>0 sedemikain sehingga lingkungan-ε Vε(L’) dan Vε(L”) saling lepas. Sebagai contoh, kita dapat mengambil sebarang ε yang lebih kecil dari ½L’ – L”. Maka menurut definisi 4.1.4, terdapat δ’ > 0 sedemikian sehingga jika x sebarang titik dalam A∩Vδ’(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam Vε(L’). Secara serupa, terdapat δ” > 0 sedemikain sehingga jika x sebarang titik dalam A∩Vδ”(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam Vε(L”). Sekarang ambil δ = min {δ’,δ”}, dan misalkan Vδ(c) lingkungan-δ dari c. Karena c titik cluster dar A, maka
Analisis Real I
113

Aljabar Himpunan

terdapat paling sedikit satu titik x0 ≠ c sedemikian sehingga x0∈A∩Vδ(c). Akibatnya,
f(x0) mesti termasuk dalam Vε(L’) dan Vε(L”), yang mana kontradiksi dengan fakta

bahwa kedua himpunan ini saling lepas. Jadi asumsi bahwa L’ ≠ L” merupakan limitlimit f pada c menimbulkan kontradiksi.

Kriteria ε-δ untuk Limit δ
Sekarang kita akan menyajikan formulasi yang ekivalen dengan definisi 4.1.4 dengan menyatakan syarat-syarat lingkungan dalam ketaksamaan. Contoh-contoh yang mengikutinya akan menunjukkan bagaimana formulasi ini dipergunakan untuk memperlihatkan limit-limit fungsi. Pada bagian akhir kita akan membahas kriteria sekuensial (barisan) untuk limit suatu fungsi.

4.1.6 Teorema. Misalkan f : A → R dan c suatu titik cluster dari A; maka
(i) (ii)

lim f = L jika dan hanya jika
x→ c

untuk sebarang ε > 0 terdapat suatu δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x∈A dan 0 < x - c < δ(ε), maka f(x) - L < ε.

Bukti. (i) ⇒ (ii) Anggaplah bahwa f mempunyai limit L pada c. Maka diberikan ε > 0 sebarang, terdapat δ = δ(ε) > 0 sedemikian sehingga untuk setiap x dalam A yang merupakan unsur dalam lingkungan-δ dari c Vδc), x ≠ c, nilai f(x) termasuk dalam lingkungan-ε dari L Vε(L). Akan tetapi, x∈Vδ(c) dan x≠c jika dan hanya jika 0 < x - c < δ. (Perhatikan bahwa 0 < x - c adalah cara lain untuk menyatakan bahwa x ≠ c). Juga, f(x) termasuk dalam Vε(L) jika dan hanya jika f(x) – L < ε. Jadi jika x∈A memenuhi 0 < x - c< δ, maka f(x) memenuhi f(x) - L <ε. (ii) ⇒ (i) Jika syarat yang dinyatakan dalam (ii) berlaku, maka kita ambil lingkunganδ Vδ(c) = (c - δ,c + δ) dan lingkungan-ε Vε(L) = (L - ε,L + ε). Maka syarat (ii) berakibat jika x masuk dalam Vδ(c), dimana x∈A dan x≠c, maka f(x) termasuk dalam Vε(L). Oleh karena itu, menurut definisi 4.1.4, f mempunyai limit L pada c. Sekarang akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bagaimana Teorema 4.1.6. sering dipergunakan.
Analisis Real I 114

c < ε. x→ c kita mem[unyai f(x) . Oleh karena itu. misalkan δ = 1. jka x c < 1.b = b . Maka jika 0 <x . Untuk itu. Jika ε > 0 misalkan δ(ε) = ε. makaa x ≤ c + 1 dengan demikian x + c ≤ x + c ≤ 2c + 1. diberikan ε > 0.c = x .c < ε/(2c + 1). Selain itu. x→ c Misalkan h(x) = x2 untuk semua x∈R.1.7. kita perhatikan bahwa x2 – c2 = (x – c)(x + c). dan oleh karena itu. misalkan f(x) = b untuk semua x∈R. x→ c (b)..c < 1. . Contoh-contoh. Karena ε > 0 sebarang.c < ε/(2c + 1) maka x2 – c2 < ε/(2c + 1)x . x→ c (c). Memang. Analisis Real I 115 .c < δ(ε). maka kita berkesimpulan bahwa lim g = c. Akibatnya.6(ii) bahwa lim f = b. Kita ingin membuat selisih h(x) – c2 = x2 – c2 lebih kecil dari suatu ε > 0 yang diberikan dengan pengambilan x yang cukup dekat dengan c.c < 1 dengan demikian (*) valid. pertama akan berlaku bahwa x . x→ c Untuk menjadi lebih eksplisit.1. x →c Misalkan g(x) = x untuk semua x∈R. lim x = c. lim x 2 = c2. jika x . kita claim bahwa lim f = b. kita mempunyai (*) x2 – c2 = x – cx + c ≤ (2c + 1)x .c < δ(ε). maka secara triviaal kita mempunyai g(x) .b = 0 < ε. (a) lim b = b. jika kita memilih  ε    δ(ε) = inf 1.Pendahuluan 4.c Selain itu suku terakhir ini akan lebih kecil dari ε asalkan kita mengambil x . kita simpulkan dari 4. Karena ε > 0 sebarang.c< 1.c < ε.  2 c + 1   maka jika 0 <x . karena x . Maka jika 0 <x .

pertama yang berlaku bahwa x . δ(ε) = inf{ 1 c. karena x – c < 1 2 c dengan c2ε maka berlaku ϕ (x ) − 1 1 1 = − < ε. x→ c x→ c (d) lim x →c 1 1 = . x c c Analisis Real I 116 .c < δ(ε).c < demikian (#) valid. maka 1 2 c<x< 3 2 c (mengapa?). c c 1 2 Agar suku terakhir lebih kecil dar ε. Oleh karena itu. jika x . maka dengan demikian kita telah menunjukkan bahwa lim h(x) = lim x 2 = c2. 1 2 maka jika 0 < x . Khususnya.Aljabar Himpunan Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0. maka cukup mengambil x – c < Akibatnya.c < cx c 1 2 1 2 c. dan olehnya itu. 2 1 2 c2ε}. c.c < dengan demikian 0< 1 2 < 2 untuk x . jika kita memilih c2ε. jika c > 0.Itu berguna untuk mendapatkan batas atas dari 1/(cx) yang berlaku dala suatu lingkungan c. x c Misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0 dan misalkan c > 0. Untuk menunjukkan bahwa lim ϕ = 1/c kita ingin membuat selisih x →c ϕ (x ) − 1 1 1 = − x c c lebih kecil dar ε >0 yang diberikan dengan pengambilan x cukup dekat dengan c > 0. untuk nilai-nilai x ini kita mempunyai (#) ϕ (x ) − 2 1 < 2 x−c . Pertama kita perhatikan bahwa 1 1 1 (c − x ) = 1 x − c − = x c cx cx untuk x > 0..

Karena ε > 0 sebarang.2 = x . ε  . Kriteria Barisan Untuk Limit Berikut ini merupakan formulasi penting dari limit suatu fungsi dalam kaitannya dengan limir suatu barisan. 10 2 5 Sekarang diberikan ε > 0. Unntuk x dalam interval ini.2 ≤ ε.2 < δ(ε). x c (e).2.2 Untuk mendapatkan suatu batas dari koefiien x . kita pilih  2  δ(ε) = inf 1.  15  Maka jika 0 <x . Maka sedikit manipulasi secara aljabar memberikan 5 x3 − 4 x 2 − 24 4 = ψ (x ) − 5 5 x2 + 1 ( ) = 5 x 2 + 6 x − 12 5 x2 + 1 ( ) x . (Kriteria Barisan) Misalkan f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. Karakterisasi ini memungkinkan teori-teori pada bab3 dapat dipergunakan untuk mempelajari limit-limit fungsi. maka : (i) lim f = L x →c jika dan hanya jika 117 Analisis Real I . dengan demikian ψ (x ) − 75 15 4 ≤ x .8. Teorema.2. lim x →c x3 − 4 4 = x2 + 1 5 Misalkan ψ(x) = (x3 – 4)/(x2 + 1) untuk x∈R.1. maka dengan demikian kita telah menunjukkan bahwa lim ϕ (x) = lim x →c x →c 1 1 = . kita membatasi x dengan syarat 1 < x < 3. maka contoh (e) terbukti. kita mempunyai ψ(x) – (4/5) ≤ (15/2)x . 4.Pendahuluan Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0. kita mempunyai 5x2 + 6x + 12 ≤ 5(32) + 6(3) + 12 =75 dan 5(x2 + 1) ≥ 5(1 + 1) = 10.

Kita simpulkan bahwa (ii) menyebabkan (i). Kita menyimpulkan bahwa barisan (xn) dalam A\{c} konvergen ke c.1.L ≥ ε0 untuk semua n∈N. Akan tetapi untuk setiap xn yang demikian kita mempunyai f(xn) . terdapat δ > 0 sedemikian sehingga jika x memenuhi 0 <x . tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen ke L. Sebagai contoh. Kita mesti memx →c buktikan bahwa barisan (f(xn)) konvergen ke L. kita telah kerjakan dengan barisan bahwa jika (xn) sebarang barisan yang konvergen ke c. Oleh karena itu. tetapi sedemikian sehingga f(xn) . Oleh karena itu kita telah menunjukkan bahwa jika (i) tidak benar. Misalkan diberikan ε > 0 sebarang. jika n > K(δ). Bukti. barisan (f(xn)) konvergen ke L.L < ε. maka f(xn) . dan asumsikan (xn) barisan dalam A dengan lim( xn ) = c dan xn ≠ c untuk semua n∈N. Pada seksi selanjutnya kita akan melihat bahwa beberapa sifat-sifat dasar limit fungsi dapat diperlihatkan dengan penggunaan sifat-sifat untuk kekonvergenan barisan yang bersesuaian. sedemikian sehingga lingkunga-δ apapun yang kita pilih.6. Vε 0 (L ) .c < 1/n dan xn∈A. (ii) ⇒ (i). Anggaplah f mempunyai limit L pada c. barisan (f(xn)) konvergen ke L.L < ε.Aljabar Himpunan (ii) untuk sebarang barisan (xn) dalam A yang konvergen ke c sedemikian sehingga x ≠ c untuk semua n∈N.L < ε.] Jika (i) tidak benar. maka barisan (xn2) konvergen ke c2. akan selalu terdapat paling kurang satu xδ dalam A∩Vδ(c) dengan xδ ≠ c sedemikian sehingga f(xδ)∉ Vε 0 (L ) . maka terdapat suatu lingkungan-ε0 dari L. Maka dengan kriteria ε-δ 4.c < δ. Sekarang kita akan menggunakan definisi kekonvergenan barisan untuk δ yang diberikan untuk memperoleh bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n > K(δ) maka xn – c < δ. lingkungan-(1/n) dari c memuat suatu bilangan xn sedemikian sehingga 0 <xn . maka (ii) juga tidak benar. Dari sini untuk setiap n∈N. [Pembuktian ini merupakan argumen kontrapositif. dimana x∈A maka f(x) memenuhi f(x) . Jadi. Oleh Analisis Real I 118 . (i) ⇒ (ii).

atau (ii) bahwa suatu fungsi tidak mempunyai suatu limit pada suatu titik. Akan tetapi. 4. x →0 Seperti Contoh dalam 4.9(b).1. Kriteria Divergensi. 4.1. karena barisan ini tidak terbatas.1. misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0. x →c Kriteria Kedivergenan Kadang-kala penting untuk dapat menunjukkan (i) bahwa suatu bilangan tertentu bukan limit dari suatu fungsi pada suatu titik. dengan teorema 4. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A.Pendahuluan karena itu dengan kriteria barisan. maka lim (xn) = 0. tetapi ϕ(xn) = 1/1/n = n.9.] Analisis Real I 119 .1.3. (b).7(d) gagal berlaku jika c = 0 karena kita tidak akan memperoleh suatu batas sebagaimana dalam (#) pada contoh tersebut. (a). disini kita menyelidiki pada c = 0. Fungsi f tidak mempunyai limit pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn) dalam A dengan xn ≠ c untuk semua n∈N sedemikian sehingga barisan (xn) konvergen ke c tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen dalam R.9(a). Misalkan A⊆R.1. Argumen yang diberikan pada contoh 4. Contoh-contoh. Hasil berikut merupakan suatu konsekuensi dari pembuktian teorema 4. Jika kita mengambil barisan (xn) dengan xn = 1/n untuk n∈N. lihat contoh x →0 4. Pembuktiannya secara detail ditinggalkan untuk dikerjakan oleh pembaca. Dari sini. (a). Seperti kita ketahui bahwa barisan (ϕ(xn)) = (n) tidak konvergen dalam R. Jika L∈R. [Akan tetapi.8. lim (1 / x ) tidak ada dalam R.10.7(d). Berikut ini diberikan beberapa aplikasi dari kriteria divergensi untuk menunjukkan bagaimana kriteria itu dapat dipergunakan.1. kita dapat menyimpulkan bahwa fungsi h(x) = x2 mempuntai limit lim h( x) = c2. lim (1 / x ) tidak ada dalam R. maka f tidak mempunyai limit L pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn) dalam A dengan xn ≠ c untuk semua n∈N sedemikian sehingga barisan (xn) konvergen ke c tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen ke L.

Misalkan xn = (-1)n/n untuk n∈N dengan demikian lim(xn) = 0. 0 ) -1 Gambar 4.1.1. (Lihat Gambar 4. x →0 1 ( . untuk x > 0  sgn (x) =  0. maka dari Contoh 3. dengan memperlihatkan dua arisan (xn) dan (yn) dengan xn ≠ 0 dan yn ≠ 0 untuk semua n∈N dan sedemikian sehingga lim Analisis Real I 120 . Akan tetapi . tetapi sedemikian sehingga (sgn(xn)) tidak konvergen. untuk x < 0  Perhatikan bahwa sgn(x) = x/x untuk x ≠ 0.3. x →0 Misalkan g(x) = sin(1/x) untuk x ≠ 0. karena sgn (xn) = (-1)n untuk n∈N. Kita akan mengerjakan ini dengan menunjukkan bahwa terdapat barisan (xn) sedemikian sehingga lim(xn) = 0.4.2) Kita akan menunjukkan bahwa sgn tidak mempunyai limit pada x = 0.2 Fungsi Signum Misalkan fungsi signum didefinisikan dengan + 1.) Kita akan menunjukkan bahwa g tidak mempunyai limit pada c = 0. (c) lim sin (1 / x ) tidak ada dalam R. (Lihat Gambar 4.Aljabar Himpunan (b) lim sgn ( x ) tidak ada. (sgn(xn)) tidak konvergen. Oleh karena itu lim (1 / x ) tidak x →0 ada. untuk x = 0 − 1.1.5(a).

Sekarang missalkan xn = 1/nπ untuk n∈N.1 < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan. misalkan yn = (½π + 2πn)-1 untuk n∈N.1.1 yang akan menjamin bahhwa : (a) x2 .1 < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan.Pendahuluan (xn) = 0 = lim (yn). ini mengakibatkan lim g tidak ada. maka lim (xn) = 0 dan g(xn) = 0 untuk semua n∈N. x →0 Soal-soal Latihan 1. x ≠ 0 Kita mengingat kembali dari kalkulus bahwa sin t = 0 jika t = nπ untuk n∈Z.9. Grafik f(x) = sin(1/x). Tentukan suatu syarat pada x . maka lim (yn) = 0 dan g(yn) = sin (½π + 2πn) = 1 untuk semua n∈N. (b) x2 .) x →0 Gambar 4.1 < ½. dengan demikian lim (g(yn)) = 1. dengan demikian lim (g(xn)) = 0. Di pihak lain.1 < 1/103 (c) x2 . tetapi sedemikian sehingga lim (g(xn)) ≠ lim (g(yn)).1 3. dan sin t = +1 jika t = ½π + 2πn untuk n∈Z. Analisis Real I 121 . Kita simpulkan bahwa lim sin (1 / x ) tidak ada. Mengingat Teorema 4. (d) x3 . (Jelaskan mengapa.

2 x2 (c) lim = 0 (x ≠ 0). dan c∈I.c dalam I. a > 0. Tunjukkan bahwa lim f (x ) = L jika dan hanya jika x →c lim f (x + c ) = L. tunjukkan bahwa jika f mempunyai suatu limit pada c dan hanya jika f2 mempunyai suatu limit pada c. x →c 8. Misalkan pula terdapat K dan L sedemikian sehingga f(x) . f : I → R. Jika f2 merupakan pembatasan dari f pada I. dan c∈I. Gunakan formulasi ε-δ dan formulasi formulasi barisan dari pengertian limit untuk memperlihatkan berikut : (a) lim 1 x x→2 1 − = -1 (x > 1).a).Aljabar Himpunan 2. J⊆ R suatu interval tutup.c. Buktikan bahwa lim f (x ) = x →0 L jika dan hanya jika lim f (x ) − L = 0. Tunjukkan bahwa tidak berlaku bahwa jika f2 mempunyai suatu limit pada c dan hanya jika f mempunyai suatu limit pada c. Tunjukkan bahwa lim x 3 = c3 untuk sebarang c∈ R. x →c 9. Misalkan I⊆ R suatu interval. tunjukkan bahwa g(x) – c2 ≤ 2ax . Misalkan I = (0. x →c 7. Gunakan ketaksamaan ini untuk membuktikan bahwa lim x 2 = c2 untuk sebarang c∈I.c untuk x∈I. Tunjukkan bahwa limit-limit berikut ini tidak ada dalam R: Analisis Real I 122 . Misalkan f : R → R. x →1 x +1 2 11. Misalkan f : R → R. x →c x →c 5. 10. Tunjukkan bahwa lim f = L. Tunjukkan bahwa lim x →c x = c untuk sebatang c ≥ 0. x →0 3. (b) lim x x x →1 1 + = 1 (x > 0). dan c∈ R. 6. Jika f1 merupakan pembatasan dari f pada I. tunjukkan bahwa f1 mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f mempunyai suatu limit pada c dan tunjukkan pula bahwa lim f = lim f1 .L≤Kx . I⊆ R suatu interval buka. x →0 x x2 − x + 1 1 (d) lim = (x > 0). dan misalkan g(x) = x2 untuk x∈I. Untuk sebarang x. x →0 4. Misalkan f : R → R. Misalkan c suatu titik cluster dari A⊆R dan f : A → R. dan c∈J.

dalam banyak kasus hasil-hasil ini dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4. lim ( x + sgn ( x )) . 14. hasil-hasil dalam Pasal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan argumen ε-δ yang sangat serupa untuk hal yang sama dalam Pasal 3. maka f terbatas pada suatu lingkungan dar c.0. dan misalkan pula a > 0.2. maka f tidak mempunyai limit pada c. 2 x  12. Tunjukkan bahwa jika L =. 4. x →0 (d) lim sin  x →1  1  (x ≠ 0). Jika g : R → R didefinisikan oleh g(x) = f(ax) untuk x∈R. Teorema-teorema Limit Sekarang kita akan memperlihatkan hasil-hasil yang dipergunakan dalam menentukan limit fungsi.8 dan hasil-hasil dari Pasal 3. Hasil-hasil ini serupa dengan teorema-teorema limit untuk barisan. dan f(x) = 0 jika x irasional.2. 4.2. Kita mengatakan bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c jika terdapat lingkungan-δ dari c Vδ(c) dan suatu konstanta M > 0 sedemikian sehingga kita mempunyai f(x) ≤ M untuk semua x ∈ A∩Vδ(c). Misalkan A⊆ R.2.2 Teorema Jika A⊆ R dan f : A → R mempunyai suatu limit pada c∈ R. Tunjukkan bahwa f mempunyai suatu limit pada x = 0. Gunakan argumen barisan untuk menunjukkan bahwa jika c ≠ 0. Tnjukkan dengan contoh bahwa jika L ≠ 0. 4. maka lim f ( x ) = 0. Secara alternatif. x (c) .1 Definisi.2. tunjukkan bahwa lim g = L. x →0 13.1. f : R → R.yang telah diperlihatkan pada Pasal 3. x2 (b) lim x →0 1 (x > 0). Analisis Real I 123 .Pendahuluan (a) lim x→ 0 1 (x > 0). Misalkan c titik cluster dari A⊆ R dan f : A → R sedemikian sehingga lim x→ c x →c ( f ( x ))2 = L. maka f bisa mungkin tidak mempunyai suatu limit pada c.2. dan c∈R suatu titik cluster dari A. Misalkan fungsi f : R → R mempunyai limit L pada 0. Pada kenyataannya. Misalkna f : R → R didefinisikan oleh f(x) = x jika x rasional.

4 Teorema.4(a)). maka x→ c x→ c lim( f + g ) = L + M. Misalkan A⊆R. untuk semua x∈A. terdapat δ x→ c > 0 sedemikian sehingga jika 0 <x . Kita mendefinisikan jumlah f + g. dan c∈R titik cluster dari A. jika h(x) ≠ 0 untuk x∈A. 4. dan ha- sil kali fg pada A ke R sebagai fungsi-fungsi yang diberikan oleh (f + g)(x) = f(x) + g(x).Aljabar Himpunan Bukti. Selanjutnya. maka f(x) ≤ M. maka oleh Teorema 4.L+1}. Ini menunjukkan bahwa f terbatas pada Vδ(c) suatu lingkungan-δ dari c.g)(x) = f(x) . maka f(x) ≤ L + 1. maka f(x) . Oleh karena itu. x≠c. untuk semua x∈A. Akhirnya. (a) Jika lim f = L dan lim g = M.3.L < 1. hasil kali. kita definisikan kelipatan bf sebagai fungsi yang diberikan oleh (bf)(x) = bf(x) untuk semua x∈A.g(x). dari sini (oleh Teorema Akibat 2.6.L < 1. dan hasil bagi barisan-barisan. 4. Selanjutnya.1. sedangkan jika c∈A kita ambil M = sup{f(c). f dan g fungsi-fungsi pada A ke R. Analisis Real I 124 . jika x∈A∩Vδ(c).3 untuk jumlah. kita definisikan hasil bagi f/h adalah fungsi yang didefinisikan sebagai f (x ) f   ( x ) = h( x ) h (f .1.2. Jika L = lim f ( x) . jika b∈R. Ini berarti bahwa jika c∈A∩Vδ(c).L ≤ f(x) . (fg)(x) = f(x)g(x). dengan ε = 1.2. lim ( f − g ) = L x →c x →c M. misalkan b∈R. selisih. Jika c∉A. Definisi berikut serupa dengan definisi 3. selisih f – g.3 Definisi Misalkan A⊆R dan misalkan pula f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R. kita ambil M = L+ 1.c < δ. f(x) .

2. bahwa Lim (f(xn)) = L.8. kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.1. x→ c Analisis Real I 125 . Salah satu cara pembuktian dari teorema-teorema ini sangat serupa dengan pembuktian Teorema 3.Pendahuluan lim ( fg ) = LM.8.4(b) untuk menghitungnya. Sebagai contoh. Menurut Teorema 4. teorema ini dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 3. Bagian lain dari teorema ini dibuktikan dengan cara yang serupa. Jika asumsi ini tidak dipenuhi.3 menghasilkan Lim ((fg)(xn)) = lim (f(xn)g(xn)) = (lim f(xn)) (lim (g(xn))) = LM. maka x→ c lim x →c f (x ) h( x ) tidak ada. Definisi 4.2. (2) Misalkan A∈R. x→c lim (bf ) = bL. fn fungsi-fungsi pada A ke R.2. x → c h  H Bukti. Akan tetapi jika limit ini ada. n.3. Di pihak lain. dan f1. dan jika lim h = H ≠ 0.2.2. Secara alternatif. misalkan (xn) sebarang barisan dalam A sedemikain sehingga xn ≠ c untuk semua n∈N.dan c = lim (xn). Jika Lk = lim f k untuk k = 1.1. h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A.2. …. dalam bagian (b). (fg)(xn) = f(xn)g(xn) untuk semua n∈N. …. maka f L lim  = . Kita tinggalkan untuk dilakukan oleh pembaca. Catatan (1) Kita perhatikan bahwa. f2. dan c suatu titk cluster dari A.3 dan Teorema 4.3 mengakibatkan lim (g(xn)) = M. asumsi tambahan dibuat bahwa H = lim h ≠ 0. Oleh karena itu suatu aplikasi dari Teorema 3. x→ c x→ c (b) Jika h : A → R.

kita deduksi dari (2) bahwa jika L = Ln = lim f dan n∈N. lim  2 x →2  x + 1  lim x 2 + 1 5   x→2 ( ( ) ) Perhatikan bahwa karena limit pada penyebut [yaitu lim x 2 + 1 = 5] tidak sama denx →2 ( ) gan 0.4. Seagai contoh.5 Contoh-contoh (a) Beerapa limit yang diperlihatkan dalam Pasal 4. mengikuti hasil ini bahwa karena lim x = c. maka Teorema 4.2. maka x→c x→ c lim x →c x→2 1 1 = .Aljabar Himpunan maka .2.2.2. dan jika c > 0. maka x→ c lim ( f ( x ))n x →c 4. (c) lim  2 x→2  x + 1    5 Jika kita menggunakan Teorema 4.menurut Teorema 4.1 dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4.2.  x3 − 4  4 = .4(b). (d) lim  x →2  3x − 6    3 Analisis Real I 126 .2. x c (b) lim (x2 + 1)(x3 – 4) = 20 Berdasarkan Teorema 4. maka lim x 2 = c2. maka kita mempunyai 3  x3 − 4  lim x − 4 4 x →2 = = .4(b) dapat dipergunakan. kita peroleh bahwa lim (x2 + 1)(x3 – 4) = ( lim (x2 + 1))( lim (x3 – 4)) x→2 x→2 x→2 = 5(4) = 20.4.4 dengan argumen induksi kita peroleh bahwa L1 + L2 + … + Ln = dan L1 · L2 · … · Ln = lim ( f1 + f 2 + L + f n ) x →c lim ( f1 ⋅ f 2 ⋅ L ⋅ f n ) x →c (3) Khususnya.  x2 − 4  4 = .

maka kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2. 3x − 6 3( x − 2 ) Oleh karena itu kita mempunyai  x2 − 4   = lim 1 ( x + 2 ) = lim  3 x →2  3x − 6    x →2 = 1 (2 + 2) = 3 4 3 1 3  lim x + 2     x →2  Perhatikan bahwa fungsi g(x) = (x2 – 4)/(3x – 6) mempunyai limit pada x = 2 meskipun tidak terdefinisi pada titik tersebut. x→ c Misalkan p fungsi polinimial pada R dengan demikian p(x) = anxn + an-1xn-1 + … + a1x + a0 untuk semua x∈R.4 dan fakta bahwa lim x k = x→ c ck.10(a). Kesimpulan ini mengikuti juga Teorema 4. Akan tetapi.1. maka berarti bahwa x 2 − 4 ( x − 2 )( x + 2 ) 1 = = 3 (x + 2).22. maka lim p ( x) = p(c). karena H = 0.Pendahuluan Jika kita misalkan f(x) = x2 – 4 dan h(x) = 3x – 6 untuk x∈R. (e) lim x →0 1 tidak ada dalam R.4(b) untuk meneghitung lim (f(x)/h(x)) sebab x →2 H = lim h( x ) = lim (3 x − 6 ) x →2 x→2 = 3 lim x . kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.4(b) untuk menghitung lim 1 . Kenyataannya.2 karena fungsi ϕ(x) = 1/x tidak terbatas pada lingkungan daro x = 0. (Mengapa?) (f) Jika p fungsi polinimial.2. x x →0 x →0 Tentu saja lim 1 = 1 dan H = lim x = 0. jika x ≠ 2.6 = 3(2) – 6 = 0 x→2 Akan tetapi. x x →0 seperti kita telah lihat pada Contoh 4. fungsi ϕ(x) = 1/x tidak mempunyai limit pada x = 0. Menurut Teorema 4. maka x→ c x →c lim p ( x) = lim an x n + an −1x n −1 + L + a1x + a0 Analisis Real I [ ] 127 .2.

2.1.8 bahwa jika (xn) sebarang x →c barisan bilangan real sedemikain sehingga c≠ xn∈A untuk semua n∈N dan jika bari- Analisis Real I 128 . q ( x ) lim q ( x ) q (c ) x →c Hasil berikut adalah suatu analog langsung dari Teorema 3.6. α2. Jika a ≤ f(x) ≤ b x →c untuk semua x∈A. x→ c (g) Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R dan jika q(c) ≠ 0. 4. jika x∉{α1. x ≠ c. Oleh karena itu kita dapat menggunakan Teorema 4. … . maka menurut Teorema 4.2. q(x ) Jika c bukan pembuat nol dari q(x).αm [pembuat nol dari q(x)] sedemikain sehingga q(αj) = 0 dan sedemikian sehingga jika x∉{α1. …. …. Bukti. berarti menurut sutu teorema alam aljabar bahwa terdapat paling banyak sejumlah hingga bilangan real α1. maka q(c) ≠ 0. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. α2. = q ( x ) q (c ) Karena q(x) suatu fungsi polinomial.4(b) untuk x →c menyimpulkan bahwa lim x →c p ( x) lim p ( x) p (c ) = x→c = . Dari sini lim p ( x) = p(c) untuk ssebarang fungsi polinomial p. maka a ≤ lim f ≤ b. maka lim x →c p ( x) p (c ) . αm} maka q(x) ≠ 0. dari berdasarkan bagian (f) bahwa lim q ( x ) = q(c).6 Teorema Misalkan A⊆R.Aljabar Himpunan = lim (an x n ) + lim (an −1x n −1 ) + … + lim (a1x) + lim a0 x →c x →c x→ c x→ c = ancn + an-1cn-1 + … + a1c + a0 = p(c). x →c dan jika lim f ada.2. α2. Dari sini. αm} kita dapat mendefinisikan r(x) = p(x ) . Jika L = lim f . ≠ 0.

2.8 Contoh-contoh (a) lim x3 / 2 = 0 (x > 0). )  cos x − 1  (d) lim   = 0. Karena lim x 2 = 0 dan lim x = 0. Jika f(x) ≤ g(x) ≤ h(x) untuk semua x∈A. Karena lim (± x ) = 0.2. f. Karena a ≤ f(xn) ≤ b untuk semua n∈N.g. Kita akan tinggalkan pembuktiannya untuk dicoba oleh pembaca.7 diperoleh lim x3 / 2 = 0. maka menurut Teorema Apit bahwa lim cos x = 1.2.2. x→ 0 x →0 maka dengan menggunakan Teorema Apit 4.7 Teorema Apit.h : A → R.6 bahwa a ≤ L ≤ b. Karena ketaksamaan x < x1/2 ≤ 1 berlaku untuk 0 < x ≤ 1. maka berarti bahwa x2 < f(x) = x3/2 ≤ x untuk 0 < x ≤ 1. 2 x →0 ( 1 . x →0 Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan dibahas pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa -x ≤ sin x ≤ x untuk semua x ≥ 0. maka menurut Teorema Apit bahwa lim sin x = 0. Sekarang kita akan menyatakan suatu hasil yang analog dengan Teorema Apit 3. dan jika lim f = L = lim h . 4. x→ 0 (b) lim sin x = 0. x →0  x  Analisis Real I 129 .½x2 ≤ cos x ≤ 1 untuk semua x ∈ R.Pendahuluan san (xn) konvergen ke c. berarti menurut Teorema 3. x ≠ c.7.2. Misalkan A⊆R. x →0 Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan dibahas pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa (*) x →0 Karena lim 1 − 1 x 2 = 1. x →c x →c x →c 4. maka barisan (f(xn)) konvergen ke L. maka lim g = L. dan c∈R suatu titik cluster dari A. x →0 x →0 (c) lim cos x = 1. x→ 0 Misalkan f(x) = x3/2 untuk x > 0.

Maka kita mempunyai f(x) ≤ (cos x – 1)/x ≤ h(x) untuk x ≠ 0. x →0 Misalkan f(x) = x sin (1/x) untuk x ≠ 0.2. dapat dibuktikan (pada lanjutan diktat ini) bahwa xdan bahwa x ≤ sin x ≤ x 1 6 1 6 x3 ≤ sin x ≤ x untuk x ≥ 0 x3 untuk x ≤ 0. Sekarang misalkan f(x) = . x → 0 x  (f) lim ( x sin (1 / x )) = 0. x →0 x  sin x  (e) lim   = 1. kita tidak dapat menggunakan Teorema 4. Tetapi karena lim 1 − 1 x 2 = 1 6 x →0 ( ) 1 lim 6 x→ 0 x 2 = 1. x →0  x  Sekali lagi.x/2 untuk x ≥ 0 dan f(x) = 0 untuk x < 0. Oleh karena itu berarti (Mengapa?) bahwa 11 6 x2 ≤ (sin x)/x ≤ 1 untuk semua x ≠ 0. Karena .4 (b) secara langsung untuk menghitung limit ini. Akan tetapi. Karena –1 ≤ sin z ≤ 1 untuk semua z ∈ R. kita simpulkan dari Teorema Apit  sin x  bahwa lim   = 1. (Mengapa?) Akan tetapi. dari ketaksamaan (*) dalam bagian (c) bahwa -½x ≤ (cos x – 1)/x ≤ 0 untuk x > 0 dan juga bahwa 0 ≤ (cos x – 1)/x ≤ ½x untuk x < 0.Aljabar Himpunan Kita tidak dapat menggunakan Teorema 4. mudah dilihat (Bagaimana?) bahwa lim f = lim h . maka menurut Teorema x →0 x →0 Apit bahwa lim cos x − 1 = 0. kita mempunyai ketaksamaan Analisis Real I 130 .4(b) untuk menghitung limit ini.2. dan misalkan pula h(x) = 0 untuk x ≥ 0 dan h(x) = -x/2 untuk x < 0.

9 dan 3. maka f(x) > ½L > 0.L < ½L. akan tetapi. 4. x →0 Terdapat hasil-hasil yang paralel dengan Teorema 3. dan diperoleh suatu bilangan δ > 0 sedemikain sehingga jika 0 <x . x→2 x − 2 131 . Gunakan Teorema 4.c< δ dan x∈A.6.6(b). x ≠ c. lim f < 0].2.4 untuk menentukan limit-limit berikut : (a) lim (x + 1)(2x + 3) (x∈R). Oleh karena itu (Mengapa?) berarti bbahwa jika x∈A∩Vδ(c). Misalkan L = lim f and anggaplah L > 0. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. akan dilewatkan untuk latihan bagi para pembaca. Kita tutup bagian ini dengan suatu hasil yang merupakan konvers parsial dari Teorema 4. Karena lim x = 0. x→2 x+3 Analisis Real I x2 − 4 (b) lim (x > 0). dapat digunakan argumen yang serupa.2.2 1.9 Teorema Misalkan A⊆R. Tentukan limit-limit berikut dan nyatakan teorema-teorema mana yang digunakan dalam setiap kasus. x→ c x→ c maka terdapat suatu lingkungan dari c Vδ(c) sedemikian sehingga f(x) > 0 [atau f(x) < 0] untuk semua x∈A∩Vδ(c). maka dari Teorema Apit diperoleh x →0 bahwa lim f = 0.2. Bukti. Kita ambil ε = ½L > 0 x→ c dalam Teorema 4. x ≠ 0. (Anda bisa menggunakan latihan 14 di bawah.1. Latihan 4. x →1 x 2 − 2 x +1 (x∈R) x2 + 2 (c) lim  1   1 −  (x > 0). x → 2 x + 1 2 x  (d) lim x →0 2. Jika L < 0.2.2. maka f(x) . x ≠ c. x →1 (b) lim x2 + 2 (x > 0).Pendahuluan -x ≤ f(x) = x sin(1/x) ≤ x untuk semua x ∈ R. Jika lim f > 0 [ atau.) 2x +1 (a) lim (x > 0).10.

x→ c x →c x→ c (b) Jika lim f dan lim fg ada. Carilah lim x →0 1 + 2 x − 1 + 3x dimana x > 0. x + 2 x2 x →0 x →0 4. Misalkan n∈N sedemikian sehingga n ≥ 3. 11. 7. 8.4(a). x →0 (d) lim x sin 1 / x 2 x→ 0 ( Analisis Real I 132 . tetapi sedemikian sehingga fungsi-fungsi f + g dan fg mempunyai limit pada c. akan tetapi lim x cos(1 / x ) = 0. Misalkan f.g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R. Buktikan bahwa lim cos(1 / x ) tidak ada. Selanjutnya. Buktikan ketaksamaan –x2 ≤ xn ≤ x2 untuk –1 < x < 1.4(b).2. tunjukkanlah bahwa lim f ada. apakah juga lim g ada ? x→ c x→ c x→ c 10. x →0 9. (a) lim sin 1 / x 2 x→ 0 ( ) (x ≠ 0).Aljabar Himpunan (c) ( x + 1)2 − 1 lim x →0 x (x > 0). Tentukan apakah limit-limit berikut ada dalam R. (d) lim x →1 x −1 (x > 0) x −1 3. Anggaplah bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c dan lim g x→ c = 0. Gunakanlah formulasi sekuensial untuk limit fungsi untuk membuktikan Teorema 4. Gunakanlah formuasi ε-δ dari limit fungsi untuk membuktikan pernyataan pertama dalam Teorema 4. gunakan fakta bahwa lim x 2 = 0 untuk menunjukkan bahwa x→ 0 lim x n = 0. ) (x > 0) (c) lim sgn sin (1 / x ) (x ≠ 0). 5.2. dan misalkan c suatu titik cluster dari A. Misalkan f. (b) lim x sin 1 / x 2 x→ 0 ( ) (x ≠ 0). dan misalkan c suatu titik cluster dari A. (a) Tunjukkan bahwa jika lim f dan lim ( f + g ) ada. x→ c 6.g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R. Berikan contoh fungsi-fungsi f dan g sedemikian sehingga f dan g tidak mempunyai limit pada suatu titik c. Buktikan bahwa lim fg = 0.

Salah satu contohnya adalah fungsi signum dalam Contoh 4. Limit-limit Sepihak Terdapat banyak contoh fungsi f yang tidak mempunyai limit pada suatu titik c. meskipun demikian limit fungsi f tersebut ada jika dibatasi untuk suatu interval se- pihak dari titik cluster c.Pendahuluan 12. jika kita membatasi fungsi signum pada interval (0. f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. Analisis Real I 133 . x →0 x →0 14.10(b) dan gambarnya diperlihatkan pada Gambar 4. maka fungsi hasil pembatasannya mempunyai limit 1 pada c = 0. Juga perhatikan bahwa f(x) = f(x – c) + f(c) untuk semua x. x →0 f ( x ) untuk semua x∈A. buktikan bahwa lim f =  lim f . Jika lim f ada.c dalam R. Misalkan A⊆R.∞).1. Demikian juga. maka fungsi hasil pembatasannya mempunyai limit –1 pada c = 0. dan selanjutnya buktikan bahwa f x →0 mempunyai suatu limit pada setiap titik c∈R.] 13. Buktikan bahwa L = 0. Akan tetapi. tidak mempunyai limit pada c = 0. Ini merupakan contoh-contoh dari konsep tentang limit-kiri dan lmit-kanan dari sutu fungsi pada suatu titik c = 0.1. jika kita membatasi fungsi signum pada interval (-∞.y dalam R. Tambahan.2. dan jika x →0 f menyatakan fungsi yang terdefinisi untuk x∈A dengan f(x) = f(x). anggaplah bahwa f(x) ≥ 0 untuk semua x ∈ A. dan misalkan A dengan f suatu fungsi yang terdefinisi pada x →0 f (x) = lim f .0).3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit Pada pasal ini kita akan menyajikan tiga macam perluasan dari pengertian limit fungsi yang sering terjadi. f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. [Petunjuk : Pertama-tama catat bahwa f(2x) = f(x) + f(x) = 2f(x) untuk semua x∈R. Misalkan A⊆R. buktikan bahwa lim x →0 f = Pasal 4. Misalkan f : R → R sedemikian sehingga f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x. Jika lim f ada. Anggaplah lim f = L ada.

4.3.4 oleh himpunan A∩(c. maka f(x) .1. maka kita mengatakan bahwa L∈R adalah suatu limit-kiri dari f pada c dan dituliskan x →c − lim f = L jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < c – x < δ.Aljabar Himpunan Definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan merupakan modifikasi langsung dari Definisi 4.4 oleh himpunan A∩(-∞. dengan penggantian A pada Definisi 4. (ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞. kita kadang-kadang mengatakan bahwa L adalah limit dari kanan pada c.∞) = {x∈A:x > c}. x →c + Terminologi dan notasi yang serupa digunakan juga untuk limit-kiri.c) = {x∈A : x < c}.L < ε. Catatan: (1) Jika L suatu limit kanan dari f pada c.6 seperti berikut ini. Demikian juga. definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan yang dimaksud akan diformulasi dalam bentuk ε-δ.1. analog dengan Teorema 4.∞). Misalkan A⊆R dan f : A → R (i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c.4. Untuk lebih mudahnya. Penggantian A dalam Definisi 4.1 Definisi.c).L < ε.1.c) menghasilkan definisi limitkiri suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(-∞. maka f(x) . Analisis Real I 134 .∞) menghasilkan definisi limit-kanan suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(c.1. maka kita mengatakan bahwa L∈R adalah suatu limit-kanan dari f pada c dan dituliskan x →c + lim f = L jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x – c < δ. Dalam kenyataannya. Kita menggunakan notasi lim f ( x ) = L.

x→ c x→c x →c 4. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen. x→0 maka mengikuti Teorema 4.1 dan 4.4 Contoh-contoh (a) Misalkan f(x) = sgn(x). Berikut ini adalah hasil yang analog dengan fakta yang diperlihatkan pada Pasal 4.∞). Selain itu. (Situasi serupa juga akan berlaku x→ c x→c + untuk limit-kiri suatu interval dengan titik ujung kanan adalah c.3.1. Serupa.10(b) bahwa sgn tidak mempunyai limit pada c = 0.2 Teorema Misalkan A⊆R.∞) dan A∩(-∞. Karena limit-limit satu pihak ini berbeda. limit-limit ini ada. Ini dimungx→c + x →c - kinkan kedua limit sepihak dimaksud ada.3. dalam kasus ini limit lim f dan limit pihak kanan lim f sama. Maka lim f = L∈R jika dan hanya jika lim+ f = L = lim− f . Berikut ini adalah suatu hasil yang merupakan hubungan pengertian limit suatu fungsi dengan limit-limit sepihak dari fungsi tersebut pada suatu titik. f : A → R dan c suatu titik cluster dari A∩(c. Analisis Real I 135 . 4. 4. (i) (ii) x→c + lim f = L∈R. keberadaan limit satu-pihak dapat direduksi untuk bahan pertimbangan selanjutnya.3.c).3 Teorema Misalkan A⊆R. seperti kasus pada fungsi f(x) = sgn (x) pada c = 0. (3) Jika A suatu interval dengan titik ujung kiri c. Untuk sebarang barisan (xn) yang konvergen ke c sedemikian sehingga xn∈A dan xn > c untuk semua n∈N. Juga bisa mungkin salah satu saja yang ada.Pendahuluan (2) Limit-limit lim f dan lim f disebut limit-limit sepihak dari f pada c. Ini jelas bahwa x →0 + lim sgn( x) = +1 dan bahwa lim− sgn( x) = -1. limit-kiri) pada suatu titik. meskipun berbeda. maka jelas nampak bahwa f : A → R mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f mempunyai suatu limit kanan pada c. barisan (f(xn)) konvergen ke L∈R. f : A → R dan c∈R suatu titik Cluster dari A∩(c. Khususnya. Kita tinggalkan pembuktian Teorema ini (dan formulasi dan pembuktian dari teorema yang analog dengannya untuk limit-kiri) untuk dilakukan oleh pembaca. Kita telah lihat dari contoh 4.3.3 bbahwa sgn tidak mempunyai limit pada 0. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa f hanya dapat memiliki satu limitkanan (atau.2 untuk limit-limit dua-pihak.

Aljabar Himpunan
(b) Misalkan g(x) = e1/x untuk x ≠ 0. (Lihat gambar 4.3.1) Pertama kita tunjukkan bahwa g tidak mempunyai limit kanan hingga pada c = 0 karena g tidak terbatas pada sebarang lingkungan kanan (0,∞) dari 0. Kita akan menggunakan ketaksamaan (*) 0 < t < et untuk t > 0

yang pada bagian ini tidak akan diberikan pembuktiannya. Berdasarkan (*), jika x > GAMBAR 4.3.1

Grafik dari g(x) = e1 / x (x ≠ 0)
0 maka 0 < 1/x < e1/x. Dari sini, jika kita mengambil xn = 1/n, maka g(xn) > n untuk semua n∈N. Oleh karena itu

x→0

lim+ e1 / x tidak ada dalam R.
Akan tetapi,

x→0 −

lim e1 / x = 0. Kita perhatikan bahwa, jika x < 0 dan kita men-

gambil t = 1/x dalam (*) kita peroleh 0 < -1/x < e-1/x. Karena x < 0, ini mengakibatkan 0 < e1/x < -x untuk semua x < 0. Mengikuti ketaksamaan ini diperoleh
x→0 −

lim e1 / x = 0.

(c) Misalkan h(x) = 1/(e1/x + 1) untuk x ≠ 0. (lihat gambar 4.3.2). Kita telah melihat bagian (b) bahwa 0 < 1/x < e1/x untuk x > 0, dengan demikian

Analisis Real I

136

Pendahuluan
0<

1
e
1/ x

+1

<

1
e
1/ x

<x

yang mengakibatkan bahwa

x→0 +

lim h = 0.
(x ≠ 0)

GAMBAR 4.3.2. Grafik dari h(x) = 1/(e1/x+1)

Karena kita telah melihat dalam bagian (b) bahwa analog Teorema 4.2.4(b) untuk untuk limit-kiri, kita peroleh

x→0 +

lim e1/x = 0, maka dari

1 1  1  = =1 lim−  1 / x  = 1/ x x→0  e 0 +1 + 1  lim− e + 1
x→0

(

)

Perhatikan bahwa untuk fungsi ini, limit sepihak kedua-duanya ada, akan tetapi tidak sama.

Limit-limit Tak Hingga

Analisis Real I

137

Aljabar Himpunan
Fungsi f(x) = 1/x2 untuk x ≠ 0 (lihat Gambar 4.3.3) tidak terbatas pada suatu lingkungan 0, dengan demikian fungsi tersebut tidak mempunyai suatu limit sesuai pengertian dalam Definisi 4.1.4. Sementara itu simbol-simbol ∞ (= +∞) dan -∞ tidak menyatakan suatu bilangan real, ini kadang-kadang menjadi bermakna dengan mengatakan bahwa “f(x) = 1/x2 cenderung ke ∞ apabila x → 0”.

Analisis Real I

138

Pendahuluan
4.3.5 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. (i) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis

lim f = ∞
x →c

jika untuk setiap α∈R terdapat δ = δ(α) > 0 sedemikain sehinggauntuk semua x∈A dengan 0 < x - c < δ, maka f(x) > α. (ii) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis

lim f = −∞
x →c

jika untuk setiap β∈R terdapat δ = δ(β) > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x - c < δ, maka f(x) < β. 4.3.6 Contoh-contoh (a)

lim 1 / x 2 = −∞ .
x →0

(

)

Karena, jika α > 0 diberikan, misalkan δ = 1/α dengan demikian 1/x2 > α.

1 / α . Ini erarti bahwa jika 0 <x<δ, maka x2 <

(b) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.3.4) Fungsi g tidak menuju ke ∞ atau ke -∞ sebagaimana x→0. Karena, jika α > 0 maka g(x) < α untuk semua x < 0, dengan demikian g tidak menuju ke ∞ apabila x→0. Serupa juga, jika β < 0 maka g(x) > β untuk semua x > 0, dengan demikian g tidak menuju ke -∞ apabila x→0.

Hasil berikut analog dengan Teorema Apit 4.2.7. (Lihat juga Teorema 3.6.4). 4.3.7 Teorema Misalkan A⊆R, f,g : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. Anggaplah bahwa f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A, x ≠ c. (a) Jika (b) Jika

lim f = ∞ , maka lim g = ∞ .
x→c x→c

lim g = −∞ , maka lim f = −∞ .
x→c x →c

Analisis Real I

139

Aljabar Himpunan Analisis Real I 140 .

Analisis Real I 141 .6(b) menyarankan bahwa itu dapat berguna untuk memandang limit-limit sepihaknya. maka g(x) > 0.3 Grafik dari f(x) = 1/x2 (x ≠ 0) GAMBAR 4. x→c Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara serupa.c < δ(α) dan x∈A. 4. jika f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A x ≠ c.8 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. maka berarti jika 0 <x .3. Akan tetapi.3. maka terdapat δ(α) > 0 sedemikian sehingga x→c jika 0 <x . (a) Jika lim f = ∞ dan α∈R diberikan. Fungsi g(x) = 1/x dalam Contoh 4.4 Grafik dari g(x) = 1/x (x ≠ 0) Bukti.c < δ(α) dan x∈A. Oleh karena itu lim g = ∞ .3.3. maka f(x) > α.Pendahuluan GAMBAR 4.

Dari sini limit-kanan dari e1/x apabila x→0+ tidak ada dalam pengertian Definisi 4. 4. Akan tetapi. ( ) Limit-limit pada Ketakhinggaan Kita dapat mempertimbangkan pula untuk mendefinisikan pengertian limit dari suatu fungsi apabila x→∞ [atau. x→-∞]. maka f(x) > α [atau.δ). jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x – c < δ. maka kita mengatakan bahwa f menuju ∞ [atau -∞] apabila x→c-.3.3.10 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.3.3.c) ={x∈A: x < 0}.9 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < c – x < δ. δ > 0.1(I).3. Analisis Real I 142 .∞) ={x∈A: x > 0}.3. 4. maka secara mudah kita melihat bahwa x →0 + lim e1 / x = ∞ dalam pengertian dari Definisi 4. Kita telah mencatat dalam Contoh 4.Aljabar Himpunan (i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c. Akan tetapi suatu latihan yang mudah untuk menunjukkan bahwa x →0 x →0 + lim (1 / x ) = ∞ dan lim− (1 / x ) = −∞ x→c (b) Telah diperoleh pada Contoh 4. (ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞. maka kita mengatakan bahwa f menuju ∞ [atau -∞] apabila x→c+. dan ditulis ∞ → x→c − lim f = ∞ [atau . dan ditulis ∞ → x→c + lim f = ∞ [atau .4(b) bahwa fungsi g(x) = e1/x untuk x ≠ 0 tidak terba- tas pada sebarang interval (0. lim f = −∞] x→c − . karena 1/x < e1/x untuk x > 0. f(x) < α].6(b) bahwa lim g tidak ada. lim f = −∞] x→c + . maka f(x) > α [atau. f(x) < α].8.

dan ditulis → lim f = L . barisan (f(xn)) konvergen ke L. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen : (i) (ii) L= lim f . dan ditulis →∞ x → −∞ lim f = L .∞) ⊆ A untuk suatu a∈R.L < ε. Kita mengatakan bahwa L∈R merupakan limit dari f apabila x→-∞. (ii) Anggaplah bahwa (-∞. kita hanya akan menyatakan kriteria apabila x→∞. dan anggaplah bahwa (a. x →∞ jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk membuktikan teorema ini dan untuk merumuskan serta membuktikan teorema serupa dengannya untuk limit dimana x→-∞. jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K. Ini digunakan pengertian dari limit dari suatu barisan yang divergen murni (lihat Definisi 3.∞) sedemikian sehingga lim(xn) = ∞.∞) ⊆ A untuk suatu a∈R. f : A → R.3. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa limit-limit dari f apabila x→±∞ adalah tunggal jika ada.Pendahuluan (i) Anggaplah bahwa (a.3.1) 4.12 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0.11 Teorema Misalkan A⊆R.b) ⊆ A untuk suatu b∈R.L < ε. x →∞ Untuk sebarang barisan (xn) dalam A∩(a. Kita juga mempunyai Kriteria Sekuensial untuk limit-limit ini. Analisis Real I 143 . maka f(x) . 4. Kita mengatakan bahwa L∈R merupakan limit dari f apabila x→∞.6. maka f(x) .

3. (Lihat Gambar 4. dan ditulis lim f = ∞ x →∞ [atau lim f = −∞] x →∞ .5 lim f = -∞ x→∞ 4.3. Mengingat bagian (a).3.Aljabar Himpunan Ini merupakan suatu latihan dasar untuk membuktikan bahwa (Lihat Gambar 4.5) Analisis Real I 144 . Cara lain untuk menunjukkan ini adalah dengan menunjukkan bahwa jika x ≥ 1 maka 0 ≤ 1/x2 ≤ 1/x.3.∞)⊆A untuk suatu a∈A. ini mengakibatkan lim 1 / x 2 = 0. x→∞ x → −∞ lim 1 / x 2 = 0 = lim 1 / x 2 . Pembaca dapat menunjukkan bahwa bahwa x →∞ lim (1 / x ) = 0 = lim (1 / x ) .3.3). x →∞ ( ) y Κ(α) x α GAMBAR 4.13 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. -∞] apabila x→∞.4) (b) Misalkan f(x) = 1/x2 untuk x ≠ 0. (i) Anggaplah bahwa (a. (Lihat Gambar x → −∞ ( ) ( ) 4. jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K. maka f(x) > α [atau. f(x) < α]. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞ [atau.

15 Teorema Misalkan A⊆R. maka lim f = ∞ jika dan hanya jika lim g = ∞.b)⊆A untuk suatu b∈A.3. f.3. ] jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K. (i) Karena L > 0. f(x) < α].5.14 Teorema Misalkan A⊆R. dan ditulis x → −∞ lim f = ∞ [atau x → −∞ lim f = −∞ . Sebagaimana sebelumnya. lim f = -∞] x →∞ x →∞ Untuk sebarang barisan (xn) dalam (a. terdapat kriteria sekuensial untuk limit ini. f : A → R. Analisis Real I 145 .g : A → R. maka Jika L < 0. L ≠ 0. x →∞ x →∞ Bukti. Kita akan memformulasinya apabila x→∞. maka f(x) > α [atau. Hasil berikut ini analog dengan Teorema 3. hipotesis mengakibatkan bahwa terdapat a1 > a sedemikian sehingga 0 < ½L < f (x ) < g (x ) 3 2 L untuk x > a1. Misalkan pula bahwa g(x) > 0 untuk semua x > a dan bahwa lim x→∞ f (x ) =L g (x ) untuk suatu L∈R.∞)⊆A untuk suatu a∈R. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen : (i) (ii) lim f = ∞ [atau. -∞] apabila x→-∞. dan anggaplah ahwa (a.S 4.∞)⊆A untuk suatu a∈R.∞) sedemikian sehingga lim(xn) = ∞. 4. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞ [atau.6. (i) (ii) Jika L > 0. x →∞ x →∞ lim f = -∞ jika dan hanya jika lim g = -∞.Pendahuluan (ii) Anggaplah bahwa (-∞. maka lim (f(xn)) = ∞ [atau lim (f(xn)) = -∞]. dan anggaplah bahwa (a.

Aljabar Himpunan Oleh karena itu kita mempunyai (½L)g(x) < f(x) < ( 3 L)g(x) untuk semua x > a1. maka berarti x → −∞ lim x n = -∞. x → −∞ Kita akan mencoba kasus n ganjil. x→∞ g (x ) x→∞ x→∞ Analisis Real I 146 . g (x )  x x  x  maka diperoleh lim p(x ) = an. … . katakanlah n = 2k+1 dengan k = 0. Karena α∈R sebarang. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk memformulasi hasil-hasil yang analogi dengan Teorema di atas.α}.3. Diberikan α∈R. Karena lim g = ∞.15. Pembuktian bagian (ii) dikerjakan dengan cara serupa. dan lim x n = -∞ untuk n∈N. Karena p(x ) 1  1   1  = an + an-1   + … + a1  n −1  + a0  n  .∞). apabila x→-∞.3. dan lim p = -∞ jika an < 0. maka karena (x2)k ≥ 1. misalkan K = sup{1.3. n genap.16 Conyoh-contoh (a) lim x n = ∞ untuk n∈N. Karena α∈R sebarang. n ganjil. maka menurut Teorema 4. Maka untuk semua x > K.-1}. x →∞ Misalkan g(x) = xn untuk x∈(0. kita mempunyai xn = (x2)kx ≤ x < α. 4. jika an > 0. x →∞ x →∞ Misalkan g(x) = xn dan gunakan Teorema 4.1. (c) Misalkan p : R → R fungsi polinomial p(x) = anxn + an-1xn-1 + … + a1x + a0 Maka lim p = ∞. maka ini berarti lim g = ∞. dari sini dengan mu2 dah kita peroleh kesimpulannya. Untuk sebarang x < K. lim p = ∞.15. kita mempunyai g(x) = xn ≥ x ≥ α. Diberikan α∈R. misalkan K = inf{α. x→∞ (b) x → −∞ lim x n = ∞ untuk n∈N.

x→∞ 10. x+x (e) lim x →0 (f) lim x →∞ (g) lim x →∞ (h) lim x→∞ 6.14. ganjil] dan an > 0. x→∞ x x +1 (x > 0). tetapi tidak mempunyai limitkiri pada suatu titik. x x −5 (x > 0). Tunjukkan bahwa jika f : (a. Tunjukkan bahwa lim f = ∞ jika dan hanya jika lim(1 f ) = 0.Pendahuluan (d) Misalkan p fungsi polinomial dalam bagian (c). Kita tinggalkan detailnya untuk pemaca kerjakan. atau tunjukkan bahwa limit-limit ini tidak ada.11. Misalkan c∈R dan f didefinisikan untuk x∈(c. Maka genap [atau. 7. Misalkan f dan g masing-masing mempunyai limit dalam R apabila x→∞ dan f(x) ≤ g(x) untuk semua (α. Misalkan f terdefinisi pada (0. 3. Misalkan f(x) = x½ untuk x ≠ 0.∞). 2. Analisis Real I 147 .3.3.∞) ke R. + − x→0 x→0 4. + x→0 9. x x +1 (x > -1). x →1 x − 1 (c) x →1 (d) lim x+2 (x > 0)..3.∞) dan f(x) > 0 untuk semua x∈(c.∞) → R sedemikian sehingga lim xf ( x ) = L dimana x →∞ L∈R. x +3 (b) lim x (x ≠ 1). -∞] jika n Latihan-latihan 1. Buktikan bahwa lim f ( x ) = L jika dan hanya x→∞ jika lim f (1 x ) = L. x →c x →c 5. Buktikan bahwa lim f ≤ lim g .∞). x →∞ x →∞ 8.2. Buktikan Teorema 4. Buktikan Teorema 4. x → −∞ lim p = ∞ [atau. Berikan contoh suatu fungsi yang mempunyai limit-kanan. (a) x →1 lim + lim + x (x ≠ 1). x −1 x+2 (x > 0). Hitunglah limit-limit berikut. Tunjukkan bahwa lim f ( x ) = lim f ( x ) = +∞. Buktikan Teorema 4. x x−x (x > 0). maka lim f ( x ) = 0.

Lengkapkan bukti dari Teorema 4.3. 13. dengan g(x) > 0 untuk semua x∈(0. Misalkan f dan g terdefinisi pada (a. Tunjukkan bahwa x→c lim f ( x )g ( x ) = ∞. tunjukkan dengan contoh bahwa konklusi ini gagal. 12. Dapatkan anda menemukan fungsix→∞ x→∞ fungsi demikian. x →∞ x→∞ Buktikan bahwa lim f o g = L. x→∞ Analisis Real I 148 . akan tetapi lim ( f − g ) = 0.∞) sedemikain sehingga lim f x →∞ = ∞ dan lim g = ∞. Misalkan lim f ( x ) = L dimana L > 0.∞) dan misalkan pula lim f = L dan lim g = ∞. dan x→c x→c lim g ( x ) = ∞. Jika L = 0.Aljabar Himpunan 11.∞).15. sedemikain sehingga lim f g x→∞ = 0? 14. Carilah fungsi-fungsi f dan g yang didefinisikan pada (0.

Pendahuluan

BAB 5
FUNGSI-FUNGSI KONTINU
Dalam bab ini kita akan memulai mempelajari kelas terpenting dari fungsifungsi yang muncul dalam analisis real, yaitu kelas fungsi-fungsi kontinu. Pertamatama kita akan mendefinisikan pengertian dari kekontinuan pada suatu titik dan pada suatu himpunan, dan menunjukkan bahwa variasi kombinasi dari fungsi-fungsi kontinu menghasilkan fungsi kontinu. Sifat-sifat dasar yang membuat fungsi-fungsi kontinu demikain penting diperlihatkan pada Pasal 5.3. Misalnya, kita akan memuktikan bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval tertutup dan terbatas mesti mencapai nilai maksimum dan minimum.Kita juga akan membuktikan bahwa suatu fungsi kontinu mesti selalu memuat nilai antara untuk sebarang dua nilai yang dicapainya. Sifat-sifat ini dan beberapa lainnya tidak dimiliki oleh fungsi-fungsi pada umumnya, dan dengan demikian ini membedakan fungsi-fungsi kontinu sebagai suatu kelas yang sangat khusus dari fungsi-fungsi. Kedua, dalam Pasan 5.4 kita akan memperkenalkan pengertian penting dari kekontinuan seragam, dan kita akan menggunakan pengertian ini untuk masalah dari pendekatan (pengaproksimasian) fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi-fungsi dasar (elementer) (seperti polinomial). Fungsi-fungsi monoton adalah suatu kelas penting dari fungsi-fungsi dan mempunyai sifat-sifat kekontinuan kuat; mereka didiskusikan dalam Pasal 5.5. Khususnya, akan ditunjukkan bahwa fungsi monoton kontinu mempunyai fungsi invers yang monoton kontinu juga.
Analisis Real I
149

Aljabar Himpunan

PASAL 5.1 Fungsi-fungsi Kontinu
Dalam Pasal ini, yang mana sangat serupa dengan pasal 4.1, kita akan mendefinisikan tentang apa yang dimaksudkan dengan fungsi kontinu pada suatu titik, atau pada suatu himpunan. Pengertian kekontinuan ini adalah salah satu dari pengertian sentral dari analisis matematika dan akan dipergunakan dalam hampir semua pada pembahasan dalam buku ini. Akibatnya, konsep ini sangat esensial yang pembaca mesti menguasainya.

5.1.1 Definisi Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈A. Kita katakan bahwa f kontinu pada c jika, diberikan sebarang lingkungan Vε(f(c)) dari f(c) terdapat suatu
lingkungan
Vδ(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada A∩Vδ(c), maka f(x) ter-

muat dalam Vε(f(c)). (Lihat Gambar 5.1.1).

GAMBAR 5.1.1 Diberikan Vε(f(c)), lingkungan Vδ(c) ditentukan Peringatan (1) Jika c∈A merupakan titik cluster dari A, maka pembandingan dari
Definisi 4.1.4 dan 5.1.1 menunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika (1)

f(c) = lim f .
x →c

Jadi, jika c titik cluster dari A, maka agar (1) berlaku, tiga syarat harus dipenuhi: (i) f harus terdefinisi pada c (dengan demikian f(c) dapat dimengerti), (ii) limit dari f harus ada dalam R

Analisis Real I

150

Pendahuluan
(dengan demikian lim f dapat dimengerti), dan (iii) nilai-nilai dari f(c) dan lim f harus
x →c x →c

sama. (2) Jika c bukan titik cluster dari A, maka terdapat lingkungan Vδ(c) dari c sedemikian sehingga A∩Vδ(c) = {c}. Jadi kita menyimpulkan bahwa suatu fungsi f kontinu secara otomatis pada c∈A yang bukan titik cluster dari A. Titik-titik demikian ini sering disebut “titik-titik terisolasi” dari A; titik-titik ini kurang menarik untuk kita bahas, karena “far from the action”. Karena kekontinuan erlaku secara otomatis untuk titik-titik terisolasi ini, kita akan secara umum menguji kekontinuan hanya pada titik-titik cluster. Jadi kita akan memandang kondisi (1) sebagai karakteristik untuk kekontinuan pada

c.

Dalam definisi berikut kita mendefinisikan kekontinuan dari f pada suatu himpunan.

5.1.2 Definisi

Misalkan A⊆R, f : A → R. Jika

B⊆A, kita katakan bahwa f kontinu pada B jika f kontinu pada setiap titik dalam B. Sekarang kita berikan suatu formulasi yang setara untuk Definisi 5.1.1.

5.1.3 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c∈A. Maka kondisikondisi berikut ekivalen. (i) f kontinu pada c; yaitu, diberikan sebarang lingkungan Vε(f(c)) dari f(c) terdapat suatu lingkungan Vδ(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada A∩Vδ(c), maka f(x) termuat dalam Vε(f(c)) (ii) Diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan x - c < δ, maka f(x) – f(c) < ε. (iii) Jika (xn) sebarang barisan bilangan real sedemikian sehingga xn∈A untuk semua n∈N dan (xn) konvergen ke c, maka barisan (f(xn)) konvergen ke f(c). Pembuktian teorema ini hanya memerlukan sedikit modifikasi pembuktian dari Teorema 4.1.6 dan 4.1.8. Kita tinggalkan detailnya sebagai suatu latihan penting bagi pembaca. Kriteria Diskontinu berikut adalah suatu konsekuensi dari ekuivalensi dari (i) dan (ii) dari teorema sebelumnya; ini akan dibandingkan denAnalisis Real I
151

Aljabar Himpunan

gan Kriteria Divergensi 4.1.9(a) dengan L = f(c). Pembuktiannya akan dituliskan secara detail oleh pembaca.

5.1.4. Kriteria Diskontinu Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c∈A. Maka f diskontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn)
dalam A sedemikian sehingga (xn) konvergen ke c, tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen ke f(c).

5.1.5

Contoh-contoh (a) f(x) = b kontinu pada R
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(a) bahwa jika

c∈R, maka kita mempunyai lim f = b. Karena f(c) = b, maka f kontinu pada setiap
x →c

titik c∈R. Jadi f kontinu pada R. (b) g(x) = x kontinu pada R. Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(b) bahwa jika
c∈R, maka kita mempunyai lim g = c. Karena g(c) = c, maka g kontinu pada setiap
x→c

titik c∈R. Jadi g kontinu pada R. (c) h(x) = x2 kontinu pada R. Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(c) bahwa jika c∈R, maka kita mempunyai lim h = c2. Karena h(c) = c2, maka h kontinu pada setiap titik c∈R. Jadi h kontinu
x→c

pada R. (d) ϕ(x) = 1/x kontinu pada A = {x∈R : x > 0}. Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(d) bahwa jika c∈A, maka kita mempunyai lim ϕ = 1/c. Karena ϕ(c) = 1/c, maka ϕ kontinu pada setiap titik c∈A. Jadi ϕ kontinu
x →c

pada A. (e) ϕ(x) = 1/x tidak kontinu pada x = 0 Memang, jika ϕ(x) = 1/x untuk x > 0, maka tidak terdefinisi pada x= 0, dengan demikian tidak kontinu pada titik ini. Secara alternatif, telah diperlihatkan pada Con-

Analisis Real I

152

5.5 menjamin adanya barisan seperti ini. Fungsi signum telah x →0 didefinisikan pada contoh 4.5.) Kita claim bahwa h kontinu pada setiap bi- Analisis Real I 153 . jika c bilangan rasional.) Karena f(xn) = 0 untuk semua n∈N. (Fungsi ini diperkenalkan pada tahun 1829 oleh Dirichlet) Memang.6 untuk Teorema 2.) Karena f(yn) = 1 untuk semua n∈N. misalkan (yn) suatu barisan bilangan irasional yang konvergen ke b. Oleh karena itu f tidak kontinu pada bilangan irasional b. dengan bilangan asli m. (Lihat Gambar 5. (f) Fungsi signum tidak kontinu pada x = 0.5.10(b).2. kita definisikan h(m/n) = 1/n. Sebaliknya. Untuk suatu bilangan rasional dalam A yang berbentuk m/n. Untuk sebarang bilangan irasional x > 0 kita definisikan h(x) = 0. dengan demikian ϕ tidak kontinu pada x →0 x = 0. (h) Misalkan A = {x∈R : x > 0}.5.6 untuk Teorema 2. misalkan (xn) suatu barisan bilangan irasional yang konvergen ke c. dimana juga telah ditunjukkan bahwa lim sgn( x) tidak ada dalam R.10(a) bahwa lim ϕ tidak ada dalam R. jika x rasional f(x) =  0 . (Teorema Akibat 2.Pendahuluan toh 4.5 menjamin adanya barisan seperti ini. jika b bilangan rasional.1. (g) Misalkan A = R dan f “fungsi diskontinu” Dirichlet yang didefinisikan oleh 1 . maka kita mempunyai lim (f(yn)) = 1 sementara f(b) = 0.n tidak mempunyai faktor persektuan kecuali 1. Karena setiap bilangan real adalah bilangan rasional atau irasional. jika x irasional Kita claim bahwa f tidak kontinu pada sebarang titik pada R. (Teorema Akibat 2. maka kita mempunyai lim (f(xn)) = 0 sementara f(c) = 1. Oleh karena itu sgn tidak kontinu pada x = 0 meskipun sgn 0 terdefinisi. kita simpulkan bahwa f tidak kontinu pada setiap titik dalam R.1.1. Oleh karena itu f tidak kontinu pada bilangan rasional c.

Dari sini h diskontinu pada a.b + δ) tidak memuat tidak memuat bilangan rasional dengan penyebut lebih kecil dari n0. Thomae) Memang. maka lim h(xn) = 0 sementara h(a) > 0. misalkan (xn) suatu barisan bilangan irasional dalam A yang konvergen ke a.1.δ. (Fungsi ini diperkenalkan pada tahun 1875 oleh K. bahwa untuk x . maka (dengan Sifat Arcimedean) terdapat bilangan asli n0 sedemikian sehingga 1/n0 < ε. kita berkesimpulan bahwa fungsi Thomae h kontinu hanya pada titik-titik irasional dalam A.b< δ. x∈A. b + 1). Terdapat hanya sejumlah hingga bilangan rasional dengan penyebut lebih kecil dari n0 dalam interval (b – 1. Di pihak lain.2 Grafik Fungsi Thomae 5. jika a > 0 bilangan rasional.J. 1 * * 1/2 * * * 1/7 * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 3/2 * * * * * * * * 1/2 1 2 GAMBAR 5. jika b suatu bilangan irasional dan ε > 0. Selanjutnya. Akan tetapi.6 Peringatan (a) Kadang-kadang suatu fungsi f : A → R tidak kontinu pada suatu titik c. Jadi h kontinu pada bilangan irasional b.Aljabar Himpunan langan irasional pada A. (Mengapa?) Dari sini δ > 0 dapat dipilih sekecil mungkin yang mana lingkungan (b .. jika fungsi f mempunyai suatu limit L pada tiitik c dan jika kita definisikan F pada A∪{c} →R dengan untuk L F ( x) =  f ( x) untuk  Analisis Real I x=c x∈ A 154 .1. dan diskontinu pada setiap bilangan rasional dalam A. sebab tidak terdefinisi pada titik tersebut. Akibatnya. kita mempunyai h(x) – h(b) = h(x) ≤ 1/n0 < ε.

1.1. amati bahwa jika lim G ada dan sama dengan C.1. perlu mengecek bahwa lim F = L.3) tidak mempunyai limit pada x = 0 (lihat contoh 4. Akan tetapi. fungsi f tidak bisa kontinu pada titik ini. maka lim g mesti ada juga dan sama dengan C.10(c)).8(f) bahwa lim( x sin (1 x )) = 0. x →0 Oleh karena itu mengikuti Peringatan 5.Pendahuluan maka F kontinu pada c. (Lihat Gambar 5. (b) Misalkan f(x) = x sin(1/x) untuk x ≠ 0.1. karena lim f = L x→ c (b) Jika fungsi g : A → R tidak mempunyai suatu limit pada c. telah diperlihatkan pada Contoh 4. Untuk memperoleh suatu perluasan kontinu dari g pada x = 0. 5. maka tidak ada cara untuk memperoleh suatu fungsi G : A∪{c} → R yang kontinu pada c dengan pendefinisian untuk C G( x) =   g ( x) untuk x→ c x=c x∈ A x→ c Untuk melihatnya. Untuk melihatnya. Jadi tidak terdapat nilai yang dapat kita berikan pada x = 0.2. x=0 x≠0 Analisis Real I 155 .6(a) bahwa jika kita definisikan F : R → R dengan untuk 0 F ( x) =   x sin (1 x ) untuk maka F kontinu pada x = 0.3) Karena f tidak terdefinisi pada x = 0.7 Contoh-contoh (a) Fungsi g(x) = sin (1/x) untuk x ≠ 0 (lihat Gambar 4. tetapi ini brlaku (menx→ c gapa?).1.

(b) g(x) = x⇓x◊. Jika x∈R. Dapatkah f terdefinisi pada x = 2 dimana dengan ini menjadikan f kontinu pada titik ini? Analisis Real I 156 .4.c]. ⇓-π◊ = -4. (Jadi. (d) k(x) = ⇓1/x◊ (x ≠ 0). 4.b] dan h(x) = g(x) untuk x∈(b.c]. (c). 3. g kontinu pada [b.1.c] dengan h(x) = f(x) untuk x∈[a. sebagai contoh. Misalkan f terdefinisi untuk semua x∈R. Misalkan pula bahwa f kontinu pada [a.c]. Tentukan titik-titik dimana fungsi-fungsi berikut kontinu : (a).) Fungsi x a ⇓x◊ disebut fungsi bilangan bulat terbesar. ⇓8. h(x) = ⇓sin x◊. dengan f(x) = (x2 + x – 6)/(x – 2). f(x) = ⇓x◊. x ≠ 2.4. Buktikan bahwa h kontinu pada [a. Buktikan Teorema 5. Definisikan h pada [a. dan f(b) = g(b). 5. Misalkan a < b < c. kita definisikan ⇓x◊ adalah bilangan bulat terbesar n∈Z sedemikian sehingga n ≤ x.Aljabar Himpunan Gambar 5.3◊ = 8. Perlihatkan Kriteria Diskontinu 5.1.3 Grafik dari f(x) = x sin(1/x) x ≠ 0 Latihan-latihan 1. ⇓π◊ = 3.b]. 2.1.

tunjukkan bahwa g kontinu pada c. 9.2. Buktikan bahwa f(x) = 0 untuk semua x∈R. PASAL 5. (b). terdapat lingkungan Vδ(c) dari c sedemikian sehingga jika x. kita definisikan k(x) = n. n tidak mempunyai faktor persekutuan kecuali 1. bf. 13. Misalkan bahwa f : R → R kontinu pada R dan f(r) = 0 untuk setiap bilangan rasional r. dan g(x) = x + 3 untuk x irasional. Tunjukkan bahwa untuk sebarang ε > 0. Tunjukkan bahwa terdapat Vδ(c) suatu lingkungan dari c sedemikian sehingga untuk sebarang x∈ Vδ(c) maka f(x) > 0. Misalkan A⊆B⊆R. tidak perlu berlaku bahwa f kontinu pada c. kita definisikan k(x) = 0.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu Misalkan A⊆R. jika h : A → R sedemikian sehingga Analisis Real I 157 . Misalkan A⊆R dan f : A → R kontinu pada titik c∈A. Untuk x∈A.3 kita mendefinisikan jumlah. 7. f – g. Tunjukkan bahwa fungsi nilai mutlak f(x) = x kontinu pada setiap titik c∈R. Misalkan K > 0 dan f : → R memenuhi syarat f(x) – f(y) ≤ Kx .∞) dan k : A → R didefinisikan sebagai berikut. 14. 11. g(x) = f(x) untuk x∈A).y untuk semua x. (a). Tunjukkan dengan contoh bahwa jika g kontinu pada c. f : B → R dan g pembatasan dari f pada A (yaitu. fg. Tunjukkan bahwa f kontinu pada setiap titik c∈R.Pendahuluan 6. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan misalkan S = {x∈R : f(x) = 0} adalah “himpunan nol” dari f. 12. f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R. Juga. Simpulkan bahwa k tidak kontinu pada sebarang titik dari A. Tentukan semua titik dimana g kontinu. 8. selisih. 10. Jika f kontinu pada c∈A. hasil kali. Jika (xn) ⊆ S dan x = lim (xn). tunjukkan bahwa x∈S. Dalam Definisi 4. Misalkan f : R → R kontinu pada c dan misalkan f(c) > 0. x rasional. dan kelipatan fungsi-fungsi disimbol f + g.y∈A∩Vδ(c).y∈R. Buktikan bahwa k tidak terbatas pada setiap interval terbuka dalam A. untuk x∈A rasional dan berbentuk x = m/n dengan bilangan asli m. Misalkan A = (0. maka f(x) – f(y) < ε. Definisikan g : R → R dengan g(x) = 2x untuk x rasional.

maka konklusi berlaku secara otomatis. (c) Karena c∈A. Tetapi karena h(c) = lim h .Aljabar Himpunan h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A. maka kita definisikan fungsi hasil bagi dinotasi dengan f /h.1 Teorema Misalkan A⊆R. Dari sini.2.1. f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R. maka fungsi f/h kontinu pada c.4. Andaikan bahwa c∈A dan f dan g kontinu pada c.2.2 Teorema Misalkan A⊆R. (a) Karena f dan g kontinu pad (b) a c.4(b) bahwa lim f f (c ) = f (c ) = x →c = lim f  . maka f(c) = lim f x →c dan g(c) = lim g x →c Oleh karena itu mengikuti Teorema 4. (a) Maka f + g. fg.4(a) diperoleh (f + g)(c) = f(c) + g(c) = lim( f + g ) x →c Dengan demikian f + g kontinu pada c. secara ekstrim.2. berikut dari Teox→c rema 4. Akan tetapi. maka h(c) ≠ 0. 5. (b) Jika h : A → R kontinu pada c∈A dan jika h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A.2. Pernyataan-pernyataan lain pada bagian (a) dibuktikan dengan cara serupa. f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R. Bukti. Jika c bukan suatu titik cluster dari A. dan bf kontinu pada c.   x →c h h h(c ) lim h   x →c Oleh karena itu f/h kontinu pada c. 5. ini adalah suatu hasil penting. Analisis Real I 158 . diterapkan untuk semua titik dalam A. f – g. kita akan menyatakannya secara formal. Hasil berikut ini serupa dengan Teorema 4.2. kita asumsikan bahwa c titik cluster dari A.2. Hasil berikut merupakan konsekuensi dari Teorema 5.

2. Serupa juga jika f dan ϕ kontinu pada A.5(f) bahwa p(c) = lim p x →c untuk sebarang c∈R.2.5(g) bahwa jika q(c) ≠ 0. 5. maka r(c) = p (c) lim p ( x) = x →c = lim r ( x) x →c q (c ) lim q ( x) x→c Dengan kata lain. (c) Kita akan menunjukkan bahwa fungsi sinus kontinu pada R. Jadi fungsi polinomial kontinu pada R. misalkan A1 = {x∈A : ϕ(x) ≠ 0}. Jika x∉{α1.α2. maka mengikuti Contoh 4. fg. didefinisikan pada A1 oleh (*). maka fungsi f/ϕ.2. αn}. dengan demikian p(x) = anxn + an-1xn-1 + … + a1x + a0 untuk semua x∈R. maka fungsi f/h kontinu pada A. Analisis Real I 159 .4 Contoh-contoh (a) Fungsi-fungsi polinomial. f – g. kontinu pada A1. (b) Jika h : A → R kontinu pada A dan h(x) ≠ 0 untuk x∈A.2. maka jelas bahwa pembatasan ϕ1 dari ϕ pada A1 juga kontinu pada c. αn akar-akar real dari q. … . kadang-kadang lebih cocok memulainya sebagai berikut : Jika ϕ : → R.Pendahuluan (a) Maka f + g. Oleh karena itu mengikuti Teorema 5. maka terdapat paling banyak sejumlah hingga α1. αn} maka q(x) ≠ 0 dengan demikian kita dapat mendefinisikan fungsi rasional r dengan r(x) = p ( x) q( x) untuk x∉{α1. … . r kontinu pada c.α2. Karena c sebarang bilangan real yang bukan akar dari q. … . Jika p suatu fungsi polinimial. 5. dan bf kontinu pada A. Telah diperlihatkan dalam Contoh 4. (b) Fungsi-fungsi rasional Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R.α2.1(b) dipergunkan untuk ϕ1 bahwa f/ϕ kontinu pada c∈A1. Kita akan mendefinisikan fungsi hasil bagi f/ϕ pada himpunan A1 dengan (*) f  ϕ   f ( x) ( x ) =  ϕ ( x)  untuk x ∈ A1. Jika ϕ kontinu pada titik c∈A1.2.3 Komentar Untuk mendefinisikan fungsi hasil bagi. kita katakan bahwa suatu fungsi rasional yang kontinu pada setiap bilangan real dimana fungsi tersebut terdefinisi.

Aljabar Himpunan Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan.) (e) Fungsi-fungsi tan.y. cos x – cos y = 2sin[½(x + y)]sin[½(y . jika c∈R. Karena c∈R sebarang.c. Untuk semua x. Oleh karena itu cos kontinu pada c. Sebagai contoh. maka kita mempunyai sin x – sin c ≤ 2(½x – c)(1) = x . maka ini berarti fungsi cos kontinu pada R.2. Fungsifungsi trigonometri yang lain dilakukan dengan proses pengerjaan yang serupa. sin x – sin y = 2sin[½(x – y)]cos[½(x + y)]. maka mengikuti Komentar 5.2. 5. Karena sin dan cos kontinu pada R. Karena c∈R sebarang. asalkan x ≠ nπ.z∈R kita mempunyai sin z ≤ z. maka kita mempunyai cos x – cos c ≤ 2(1)(½c – x) = x .z∈R kita mempunyai sin z ≤ z. fungsi cotangen didefinisikan dengan Cot x = cos x sin x Asalkan sin x ≠ 0 (yaitu. Dari sini.c. Analisis Real I 160 .3 bahwa fungsi cot kontinu pada domainnya. Oleh karena itu sin kontinu pada c. maka ini berarti fungsi sin kontinu pada R. Dari sini.5 Teorema Misalkan A⊆R. n∈Z). (Cara lain. Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan. cot. csc kontinu dimana fungsi-fungsi ini terdefinisi. f : A → R dan f didefinisikan untuk x∈A dengan f(x) = f(x). sec. jika c∈R.x)]. (d) Fungsi cosinus kontinu pada R. cos z ≤ 1.y. Untuk semua x. kita dapat menggunakan hubungan cos x = sin (x + π/2). sin z ≤ 1.

Agar menjamin bahwa g o f terdefinisi pada seleruh A. maka f kontinu pada A.2. Jika f kontinu pada suatu titik c∈A dan g kontinu pada b = f(c) ∈B. Misalkan W suatu lingkungan-ε dari g(b). Jika f(A)⊆B.2. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4.2. f : A → R kontinu pada A dan g : B → R kontinu pada B. f kontinu pada A. 5.) Karena f(A)⊆B. Karena g kontinu pada b.14.2.B⊆R. Komposisi Fungsi-fungsi Kontinu Sekarang kita akan menunjukkan bahwa jika f : A → R kontinu pada suatu titik c dan jika g : B → R kontinu pada b = f(c). maka terdapat suatu lingkungan-δ V dari b = f(c) sedemikian sehingga jika y∈B∩V maka g(y)∈W. (b) Jika f kontinu pada A.13. maka f kontinu pada c. Bukti. maka komposisi g o f kontinu pada c. Bukti. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4. (Lihat Gambar 5. maka terdapat suatu lingkungan-γ U dari c sedemikian sehingga jika x∈U∩A. Karena f kontinu pada c.2. f : A → R dan f(x) ≥ 0 untuk semua x∈A. maka (d) Jika f kontinu pada A. f : A → R dan g : B → R fungsifungsi sedemikian sehingga f(A)⊆B. maka komposisi g o f : A → R kontinu pada c.6 Teorema Misalkan A⊆R. maka komposisi g o f : A → R kontinu pada A. maka f(x)∈V. maka ini berarti jika x∈A∩U. 5. Bukti.1. kita perlu menganggap bahwa f(A) ⊆ B. (c) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A. maka f(x)∈B∩V dengan demikian g o f(x) = g(f(x))∈W.2.B⊆R.Pendahuluan (a) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A. ini mengakibatkan bahwa g of kontinu pada c. 5.7 Teorema Misalkan A.7 Teorema Misalkan A. Tetapi karena W suatu lingkungan-ε dari g(b). Analisis Real I 161 . Kita misalkan f didefinisikan untuk x∈A dengan f (x) = f (x) . maka f kontinu pada c.

Dari sini g1 kontinu pada c∈R. Kita telah tunjukkan dalam Contoh 5.2.8 bahwa g3 o f kontinu pada A.2.2. Menurut 5.10 dan 5.2. maka menurut Teorema 5.7(a).1 Komposisi dari f dan g .c∈R. Khususnya. jika .2. Teorema 5. Ini memberikan pembuktian lain dari Teorema 5.1.2.3. Teorema-teorema ini dapat dipergunakan dalam berbagai situasi dimana situasi ini akan sulit untuk menggunakan definisi kekontinuan secara langsung.2. Jika f : A → R kontinu pada A.4) bahwa g1(x) – g1(c) ≤ x . (b) Misalkan g2(x) = x untuk x ≥ 0. Teorema ini secara serta-merta mengikuti hasil sebelumnya. maka fungsi g(x) = sin(1/x) kontinu pada setiap titik c ≠ 0.5. f dan g kontinu pada setiap titik A dan B.3 bahwa g2 kontinu pada sebarang c ≥ 0.2.8 mengakibatkan bahwa g1 o f = f kontinu pada A. jika f(x) = 1/x untuk x ≠ 0. dalam Contoh 5.8 sangat bermanfaat dalam menunjukkan bahwa fungsi-fungsi tertentu kontinu.2. Ini memberikan cara lain pembuktian dari Teorema 5. Jika f : A → R kontinu pada A dan jika f(x) ≥ 0 untuk semua x∈A.1.6.c untuk semua x.7 dan 5. maka Teorema 5.4(c) bahwa g3 kontinu pada R.9 Contoh-contoh Ketaksamaan Segitiga (Lihat Akibat 2. bahwa g tidak didefinisikan pada 0 agar g menjadi kontinu pada titik itu. Mengikuti Teorema 3. maka mengikuti Teorema 5.] V W b U c g(b) Analisis Real I f A B g C 162 GAMBAR 5.8 g2 o f = f kontinu pada A.2.Aljabar Himpunan Bukti. Jika f : A → R sebarang fungsi kontinu pada A. berturut-turut. [Kita telah tunjukkan. (c) Misalkan g3(x) = sin x untuk x∈R.2. (a) Misalkan g1(x) = x untuk x∈R.

5.2. Misalkan h : R → R kontinu pada R memenuhi h(m/2n) = 0 untuk semua m∈Z. n∈N. maka fungsi fn didefinisikan oleh fn(x) = (f(x))n untuk x∈A. Jika c∈P.1] → R yang diskontinu pada setiap titik dalam [0. 4.7 dan latihan sebelumnya. Misalkan juga bahwa lim f = b dan g konx →0 tinu pada b.1] tetapi sedemikian sehingga f kontinu pada [0. dan misalkan pula f(r) = g(r) untuk semua bilangan rasional r. kontinu pada A. Misalkan f.1.g didefinisikan pada R dan c∈R. tunjukkan bahwa terdapat suatu lingkungan Vδ(c)⊆P. (b) fungsi hasil kali fg kontinu pada c. 10. 3. Tunjukkan bahwa lim g o f = g(b). Berikan satu contoh f dan g yang kedua-duanya tidak kontinu pada suatu titik c dalam R sedemikian sehingga : (a) fungsi jumlah f + g kontinu pada c. h(x) = 1 + sin x x (x ≠ 0). x2 + 1 (b) g(x) = x+ x (x ≥ 0). Tunjukkan bahwa lim g o f ≠ g x→0 o f(0).Pendahuluan Soal-soal 1. Mengapa ini tidak kontradiksi dengan Teorema 5. Apakah benar bahwa f(x) = g(x) untuk semua x∈R? 9. f(x) = x2 + 2 x + 1 (x∈R).) Tentukan titik-titik kekontinuan dari fungsi f(x) = x . Analisis Real I 163 .) 7. Tentukan titik-titik kekontinuan dari fungsi-fungsi berikut dan nyatakan teoremateorema mana yang dipergunakan dalam setiap kasus : (a).7? 6. Misalkan f. dan g(x) = 2 jika x ≠ 1. Misalkan x ξ ⇓x◊ menyatakan fungsi bilangan bulat terbesar (lihat Latihan 5. Misalkan f : R → R kontinu pada R. 2.4.1]. (d) k(x) = cos x 2 + 1 (x∈R). (Bandingkan hasil ini dengan Teorema x→0 5. Tunjukkan bahwa h(x) = 0 untuk semua x∈R. x∈R. Misalkan g didefinisikan pada R oleh g(1) = 0. Berikan contoh dari fungsi f : [0.g fungsi-fungsu kontinu dari R ke R.2. dan misalkan pula P = {x∈R : f(x) > 0}.⇓x◊. (c). Tunjukkan bahwa jika f : A→ R kontinu pada A⊆R dan jika n∈N. 8. dan misalkan f(x) = x + 1 untuk semua x∈R.

Analisis Real I 164 . PASAL 5. Dengan kata lain. f(x) = 1/x terbatas apabila dibatasi untuk himpunan C = {x∈R : 1 ≤ x}. Kita mencatat bahwa suatu fungsi kontinu tidak perlu terbatas. 15.Aljabar Himpunan 11. Tunjukkan bahwa jika g kontinu pada x = 0. [Petunjuk : Pertama-tama tunjukkan bahwa jika r suatu bilangan rasional. Misalkan g : R → R memenuhi hubungan g(x + y) = g(x)g(y) untuk semua x. Misalkan f. Gunakan hasil ini untuk menunjukkan bahwa h kontinu pada c.3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval Fungsi-fungsi yang kontinu pada interval-interval mempunyai sejumlah sifat penting yang tidak dimiliki oleh fungsi kontinu pada umumnya. Contohnya.g : R → R kontinu pada suatu titik c. Jika c = f(1). suatu fungsi dikatakan terbatas jika range-nya merupakan suatu himpunan terbatas dalam R.2. maka fungsi itu kontinu pada setiap titik dalam R. Jika (sn)⊆S dan lim (sn) = s. maka g kontinu pada setiap titik dalam R. Akan tetapi.3. jika terdapat M > 0 sedemikan sehingga f(x) ≤ M untuk semua x∈A. Suatu fungsi f : R → R dikatakan aditif jika f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x. g(x)} untuk x∈R. maka f(r) = cr. maka g(x) = 0 untuk semua x∈R. fungsi f(x) = 1/x adalah fungsi kontinu pada himpunan A = {x∈R : x > 0}.) 13. Tunjukkan bahwa h(x) = ½(f(x) + g(x)) + ½f(x) – g(x) untuk semua x∈R. tunjukkan bahwa kita mempunyai f(x) = cx untuk semua x∈R. f(x) = 1/x tidak terbatas apabila dibatasi pada B = {x∈R : 0 < x < 1}. tunjukkan bahwa s∈S.b] dan f : I → R terbatas dan kontinu pada I. dan yang akan diterapkan pada bagian-bagian selanjutnya.y∈R. 5. Jika f dan g kontinu pada R. f tidak terbatas pada A. Kenyataannya. Definisikan g : I → R dengan g(x) = sup{f(t) : a ≤ t ≤ b} untuk semua x∈I. Misalkan I = [a. 12.] 14. Dalam pasal ini kita akan memperlihatkan beberapa hasil yang agak mendalam yang dapat dipandang penting.y∈R. dan h(x) = sup{f(x). Akan tetapi.12. Buktikan bahwa g kontinu pada I.1 Definisi Suatu fungsi f : A → R dikatakan terbatas pada A. Juga jika kita mempunyai g(a) = 0 untuk suatu a ∈R. (Lihat Latihan 4. Buktikan bahwa jika f kontinu pada suatu titik x0. misalkan pula S = {x∈R : f(x) ≥ g(x)}. meskipun himpunan C tidak terbatas. Misalkan f fungsi aditif kontinu pada R. 16.

Maka.3. maka menurut Teorema 3. untuk sebarang n∈N terdapat suatu bilangan xn∈I sedemikian sehingga f(xn) > n. x∈I.7 bahwa terdapat subbarisan X‘ = ( xnr ) dari X yang konvergen ke x. Bukti.4. Andaikan f tidak terbatas pada I.6. Kita katakan bahwa x* suatu titik maksimum mutlak untuk f pada A. Karena I tertutup dan unsurunsur X’ masuk kedalam I. barisan X = (xn) terbatas. dan x* suatu titik minimum mutlak dari f pada A.Pendahuluan 5. Kita katakan f mempunyai suatu minimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik x*∈A sedemikian sehingga f(x*) ≤ f(x) untuk semua x∈A.b] suatu interval tertutup dan terbatas dan misalkan f : I → R kontinu pada I.3 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.2 Teorema Keterbatasan Misalkan I = [a. jika titik-titik itu ada. Kita katakan f mempunyai suatu maksimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik x*∈A sedemikian sehingga f(x*) ≥ f(x) untuk semua x∈A. Oleh karena itu.3. Kita selanjutnya menyimpulkan dari Teorema 3. menurut Teorema Bolzano-Weiestrass 3.2. Karena I terbatas. Maka f terbatas pada I. Kita perhatikan bahwa suatu fungsi kontinu pada himpunan A tidak perlu mempun- Analisis Real I 165 . Karena f kontinu pada x. 5. Tetapi ini suatu kontradiksi karena f( xnr ) > nr ≥ r untuk r∈N Oleh karena itu pengandaian bahwa fungsi kontinu f tidak terbatas pada interval tertutup dan terbatas I menimbulkan kontradiksi. dengan demikian barisan (f( xnr )) konvergen ke f(x).2.2 bahwa kekonvergenan barisan (f( xnr )) mesti terbatas.

Maka f mempunyai maksimum mutlak dan minimum mutlak pada I.3. Bukti.3.3. sedangkan fungsi ini mepumyai nilai maksimum mutlak dan juga minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : 1 ≤ x ≤ 2}. (Lihat Gambar 5. dan tidak ada titik yang mana f mencapai nilai 0 = inf{f(x) : x∈A}.3. fungsi g(x) = x2 didefinisikan untuk x∈A = [-1.2 sebelumnya telah diperlihatkan bahwa f(I) merupakan sub- Analisis Real I 166 . yang tidak mempunyai baik titik maksimum mutlak maupun minimum mutlak pada himpunan A = {x∈R : x > 0}.) Untuk memilih suatu contoh ekstrim. Sebagai contoh.Aljabar Himpunan yai suatu maksimum mutlak atau minimum mutlak pada himpunan tersebut.2. dan titik tunggal x = 0 menghasilkan minimum mutlaknya pada A. maka titik ini tidak perlu ditentukan secara tunggal.3.4 Teorema Maksimum-Minimum Misalkan I = [a. Sebagai contoh. GAMBAR 5.b] interval tertutup dan terbatas dan f : I → R kontinu pada I. Pandang himpunan tak kosong f(I) = {f(x) : x∈I} nilai-nilai dari f pada I. tetapi tidak mempunyai maksimum mutlak dan tidak mempunyai nilai minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : x > 1}. fungsi konstan h(x) = 1 untuk x∈R adalah sedemikian sehingga setiap titik dalam R merupakan titik maksimum mutlak dan sekaligus titik minimum mutlak untuk f.1 Grafik fungsi f(x) = 1/x (x > 0) Jika suatu fungsi mempunyai suatu titik maksimum mutlak.+1] mempunyai dua titik x = !1 yang memberikan titik maksimum pada A. Tidak adanya titik maksimum absolut untuk f pada A karena f tidak terbatas diatas pada A. Fungsi yang sama tidak mempunyai baik suatu maksimum mutlak maupun minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : 0 < x < 1}. Sebagai tambahan. (Lihat Gambar 5. Dalam Teorema 5. f(x) = 1/x. f(x) = 1/x mempunyai suatu maksimum mutlaktetapi tidak mempunyai minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : x ≥ 1}.1). 5.

7. Oleh karena itu kita mempunyai f(x*) = lim (f( xnr )) = s* = sup f(I).4. Misalkan s* = sup f(I) dan s* = inf f(I). maka terdapat bilangan c∈(α. maka s* .2.8.β) sedemikian sehingga f(c) = 0. dengan menggunakan Teorema Bolzano-Weiestrass 3.3. Oleh karena itu.Pendahuluan himpunan dari R yang terbatas. Akibatnya terdapat bilangan real xn∈I sedemikian sehingga (#) s* 1 < f(xn) ≤ s* n untuk n∈N. Kita claim bahwa terdapat titik-titik x* dan x* sedemikian sehingga s* = f(x*) dan s* = f(x*).2 Grafik fungsi g(x) = x2 (x ≤ 1) Karena s* = sup f(I).6 bahwa x*∈I.3. Oleh karena itu f kontinu pada x* dengan demikian lim (f( xnr )) = f(x*). jika n∈N. Kita akan memperlihatkan bahwa keberadaan titik x*. Analisis Real I 167 . kita menyimpulkan dari Teorema Apit 3. GAMBAR 5. Suatu alternatif pembuktian dari teorema ini ditunjukkan dalam Latihan 5. Karena I terbatas. Kita simpulkan bahwa x* adalah suatu titik maksimum mutlak dari f pada I. maka mengikuti Teorema 3. barisan X = (xn) terbatas. Pembuktiannya memberikan juga suatu algoritma untuk pencarian akar dan dapat dengan mudah diprogram untuk suatu komputer.3.1/n bukan suatu batas atas dari himpunan f(I). 5.2.b]. Jika α < β bilangan-bilangan dalam I sedemikian sehingga f(α) < 0 < f(β) (atau sedemikian sehingga f(α) > 0 > f(β)).5 Teorema Lokasi Akar Misalkan I suatu interval dan f : I → R fungsi kontinu pada I.7 bahwa lim (f( xnr )) = s*. terdapat subbarisan X‘ = ( xnr ) dari X yang konvergen ke suatu bilangan x*. meninggalkan pembuktian eksistensi dari x* untuk pembaca. Karena unsur-unsur dari X’ termasuk dalam I = [a. Karena itu mengikuti (#) bahwa s* 1 < f( xnr ) ≤ s* nr untuk r∈N. Hasil berikut memberikan suatu dasar untu lokasi akar dari fungsi-fungsi kontinu.

αn = (β α)/2n – 1. Dari sini diperoleh bahwa c = lim (αn) dan c = lim (βn). Karena interval-interval ini diperoleh dengan biseksi berulang.αn = (β .α)/2n – 1.α)/2n – 1. Dalam kasus apapun. Jika f(γ) > 0 kita tetapkan α2 = α.βk+1]. Jika f(γk) > 0 kita tetapkan αk+1 = αk. Kita lanjutkan proses biseksi ini. dimana f(α2) < 0 dan f(β2) > 0. Karena f(βn) ≥ 0 untuk semua n∈N.βk] yang diperoleh dengan biseksi secara berturut-turut dan sedemikian sehingga f(αk) < 0 dan f(βk) > 0. β2 = β. Jika proses ini tidak berakhir. ….β2]. kita mempunyai βn . Jika proses ini diakhiri dengan penetapan suatu titik γn sedemikian sehingga f(γn) =0. Dalam kasus apapun. β2 = γ. I2. Analisis Real I 168 .αn ≤ βn . Kita asumsikan bahwa f(α) < 0 < f(β). 6.4 bahwa f(c) = lim (f(βn)) ≥ 0. Juga Karena f(αn) ≤ 0 untuk semua n∈N. pembuktian selesai. Ini menjamin bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval memuat sejumlah bilangan yang masuk diantara dua nilainya. kita mempunyai 0 ≤ c . kita mempunyai lim (f(αn)) = f(c) = lim (f(βn)). Hasil berikut adalah generalisasi dari teorema sebelumnya. Jika f(γk) = 0 kita ambil c = γk dan bukti lengkap.1 bahwa terdapat suatu titik c dalam In untuk semua n∈N. Ik = [αk. Akibatnya c merupakan akar dari f.αn = (β . Misalkan γk = ½(αk + βk). Karena αn ≤ c ≤ βn untuk semua n∈N.Aljabar Himpunan Bukti. Mengikuti Sifat Interval Nested 2.βn]. βk+1 = γk. kita tetapkan Ik+1 = [αk+1. Anggaplah bahwa kita telah mempunyai interval-interval I1. Oleh karena itu kita mesti mempunyai f(c) = 0. sedangkan jika f(γ) < 0 kita tetapkan α2 = γ. Jika f(γ) = 0 kita ambil c = γ dan bukti lengkap. dimana f(αk+1) < 0 dan f(βk+1) > 0. maka mengikuti hasil yang sama (gunakan –f) bahwa f(c) = lim (f(αn)) ≤ 0.β] dan γ = ½(α + β). kita memperoleh suatu barisan nested dari interval-interval tutup In = [αn. Misalkan I1 = [α. dan 0 ≤ βn – c ≤ βn . kita tetapkan I2 = [α2. maka mengikuti Teorema 3. n∈N. Karena f kontinu pada c.2. sedangkan jika f(γk) < 0 kita tetapkan αk+1 = γk. βk+1 = βk.

3. b∈I dan jika k∈R memenuhi f(a) < k < f(b). Bukti. Teorema ini menyatakan bahwa peta dari suatu interval tertutup dan terbatas dibawah suatu fungsi kontinu juga interval tertutup dan terbatas. Bukti.b] suatu interval tutup dan terbatas.b] suatu interval tutup dan terbatas. 5. Jika b < a. Oleh karena itu f(c) = k. misalkan h(x) = k – f(x) dengan demikian h(b) < 0 < h(a). Oleh karena itu terdapat titik c dengan b < c < a sedemikian sehingga 0 = h(c) = k – f(c).7 Akibat Misalkan I = [a.3. Misalkan pula f : I → R kontinu pada I. Jika k∈R sebarang bilangan yang memenuhi maka terdapat suatu bilangan c∈I sedemikian sehingga f(c) = k. Maka himpunan f(I) = {f(x) : x∈I} adalah interval tutup dan ter- batas. Titik-titik ujung dari interval peta adalah nilai maksimum mutlak dan minimum mutlak dari fungsi. dan pernyataan bahwa semua nilai antara nilai maksimum dan nilai minimum masuk dalam interval peta adalah suatu cara dari pertimbangan Teorema Nilai Antara Bolzano. dari sini f(c) = k.6. maka g(a) < 0 < g(b).3.5 terdapat suatu titik c dengan a < c < b sedemikian sehingga 0 = g(c) = f(c) – k. 5. maka terdapat suatu titik c∈I antara a dan b sedemikian sehingga f(c) = k. Anggaplah a < b dan misalkna g(x) = f(x) – k.6 Teorema Nilai Antara Bolzano Misalkan I suatu interval dan f : I → R kontinu pada I.4 bahwa terdapat titik-titik c* dan c* dalam I sedemikian sehingga inf f(I) = f(c*) ≤ k ≤ f(c*) = sup f(I).3. Ini mengikut pada Teorema MaksimumMinimum 5. Menurut Teorema Lokasi Akar 5.3. Jika a.Pendahuluan 5. Analisis Real I 169 .3. Misalkan inf f(I) ≤ k ≤ sup f(I) pula f : I → R kontinu pada I. Sekarang kesimpulan mengikut pada Teorema 5.8 Misalkan I = [a. Teorema berikut ini meringkaskan hasil utama dari pasal ini.

peta kontinu dari interAnalisis Real I 170 .Aljabar Himpunan Bukti.M].) Teorema sebelumnya adalah suatu teorema “pengawetan” dalam pengertian. GAMBAR 5. Oleh M f(b) f(a) m a x* x* b karena itu.3. teorema ini menyatakan bahwa peta kontinu dari suatu interval tutup dan terbatas adalah himpunan yang bertipe sama. kita mempunyai bukti bahwa f(I) adalah interval [m.3.b] suatu interval dan f : I → R kontinu pada I. Selain itu. tidak benar bahwa interval peta perlu mempunyai bentuk sama seperti interval domain. Sebagai contoh.3.3. Akan tetapi. jika k sebarang unsur dari [m. maka menurut Teotema Akibat sebelumnya bahwa terdapat suatu titik c∈I sedemikian sehingga k = f(c). akan dicatat bahwa meskipun peta kontinu dari suatu interval adalah juga suatu interval.M] Catatan. kita mempunyai f(I) ⊆ [m. Dari sini. Di pihak lain. maka mengetahui dari Teorema Maksimum-Minimum 5. (ihat Gambar 5.M]. f(I) adalah interval [m.3 f(I) = [m.M]. k∈f(I) dan kita menyimpulkan bahwa [m.f(b)]. Teorema berikut memperluas hasil ini untuk interval secara umum. Jika kita memisalkan m = inf f(I) dan M = sup f(I).4 bahwa m dan M masuk dalam f(I).M]. Jika I = [a. Kita tidak mempunyai bukti (dan itu tidak selalu benar) bahwa f(I) adalah interval [f(a).M]⊆f(I).

∞). GAMBAR 5.) Untuk membuktikan Teorema Pengawetan Interval 5. maka f(I2) = (0. jika I2 = [0.3. yang mana bukan suatu interval buka.4. kita perlu lemma pencirian interval berikut.Pendahuluan val buka tidak perlu suatu interval buka.b)⊆S. maka [x.y]⊆S.b). maka z bukan suatu batas bawah dari S dengan demikian terdapat x∈S dengan x < z. jika f(x) = 1/(x2 + 1) untuk xεR.3.2. jika x. Dipihak lain kita claim bahwa (a. Memang.4(b)]. (Lihat Gambar 5. Karena jika z∈(a. maka f kontinu pada R [lihat Contoh 5.1].1] yang mana bukan interval tutup. (iii) ) S terbatas dibawah tetapi tidak terbatas diatas. kita simpulkan bahwa S⊆[a. maka f(I1) = (½. Juga z ukan Analisis Real I 171 . Terdapat empat kasus untuk diperhatikan : (i) S terbatas. karena s∈S sebarang. Bukti. Jika s∈S maka a ≤ s ≤ b dengan demikian s∈[a. dan peta kontinu dari suatu interval tertutup tak terbatas tidak perlu interval tertutup. Mudah untuk melihat bahwa jika I1 = (-1.4 Grafik fungsi f(x) = 1/(x2 + 1) (x∈R) 5.b].3. dan (iv) S tidak terbatas baik diatas maupun dibawah. Juga.9 Lemma Misalkan S⊆R suatu himpunan tak kosong dengan sifat (*) Maka S suatu interval. Kita akan menganggap bahwa S mempunyai sekurang-kurangnya dua titik. (i) Misalkan a = inf S dan b = sup S.10.3.1).y∈S dan x < y. (ii) S terbatas diatas tetapi tidak terbatas dibawah.b].

∞) jika a∉S.Aljabar Himpunan suatu batas atas darin S dengan demikian terdapat y∈S dengan z < y. Jika a∉S dan b∉S. dan S = [a.y∈S sedemikian sehingga [x.b)⊆S. (ii) Misalkan b = sup S.b) ⊆ S. Akibatnya.y]⊆S.b).3. menurut Teorema Nilai Antara Bolzano 5.b)⊆S. dalam semua kasus.b]. Maka himpunan f(I) merupakan suatu interval.6 bahwa jika k∈(α.3. Jika b∉S. Bukti.b).b∈I sedemikian sehingga α = f(a) dan β = f(b).b). maka kita mempunyai S = (a. (iii) Misalkan a = inf S dan memperlihatkan seperti dalam (ii).10 Teorema Pengawetan Interval Misalkan I suatu interval dan f : I → R kontinu pada I. Karena z unsur sebarang dalam (a. Karena.b]. Selanjutnya. Dalam kaJika z∈R. dan jika a∈S dan b∈S kita mempunyai S = [a.y∈S sedemikian sehingga z∈[x. jika b∈S. Jika s∈S maka s ≤ b dengan demikian kita mesti mempunyai S⊆(-∞.b].∞). Oleh karena itu (-∞.y] dan sifat (*) mengakibatkan z∈[x.y]⊆S. Kita claim bahwa (-∞. maka disimpulkan bahwa (a. jika z∈(-∞.y]⊆S. (iv) bahwa terdapat x.b]. maka kita mempunyai S = (-∞. dengan demikian S = (-∞. S merupakan suatu interval. z∈[x. 5.∞) jika a∈S. jika a∉S dan b∈S kita mempunyai S = (a.β) maka terdapat suatu c∈I dengan k = f(c)∈f(I). argumen yang diberikan (i) mengakibatkan terdapat x. Analisis Real I 172 . Misalkan α. Oleh karena itu f(I) merupakan suatu interval.β]⊆f(I). maka kita mempunyai S = (-∞. meninjukkan bahwa f(I) memiliki sifat (*) pada lemma sebelumnya. Oleh karena itu [α. jika a∈S dan b∉S kita mempunyai S = [a.β∈f(I) dengan α < β. maka argumen yang diberikan pada (i) mengakibatkan sus ini kita mempunyai S = (a. Oleh karena itu R⊆S. Jadi. maka terdapat titik-titik a.b).b).

teliti sampai dua tempat desimal. Tunjukkan terdapat suatu titik minimum mutlak x0∈I untuk f pada I. Buktikan bahwa terdapat suatu titik c dalam I sedemikian sehingga f(c).3. Gunakan prosedur biseksi dalam pembuktian Teorema Pencarian Akar dan kalkulator untuk menemukan suatu solusi oproksimasi dari persamaan ini. Andaikan bahwa f : R → R kontinu pada R dan bahwa lim f = 0 dan lim f = 0.1] ke R dan sedemikian sehingga f(0) = f(1). Tunjukkan bahwa persamaan x = cos x mempunyai suatu solusi dalam interval [0.) 9. Misalkan I = [a.cos x} untuk x∈I. sebarang waktu. terdapat titiktitik antipodal pada equator bumi yang mempunyai temperatur yang sama. Tunjukkan bahwa polinomial p(x) = x4 + 7x3 – 9 mempunyai paling sedikit dua akar real. Buktikan bahwa terdapat suatu titik c dalam [0.b] dan f : I → R dan g : I → R fungsi kontinu pada I. (Ini memberikan suatu alternatif pembuktian Teorema 5. 10. 6.] Simpulkan bahwa .½] sedemikian sehingga f(c) = f(c + ½).b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I dan misalkan f(a) < 0. Tunjukkan bahwa himpunan E = {x∈I : f(x) = g(x)} mempunyai sifat bahwa jika (xn)⊆E dan xn→ x0.π/2]. Analisis Real I 173 . Misalkan I = [a. Buktikan bahwa f(w) = 0.Pendahuluan Latihan-latihan 1. 4. Gunakan kalkulator untuk menemukan akar-akar ini hingga dua tempat desimal.5.b] dan f : I → R fungsi kontinu sedemikian sehingga f(x) > 0 untuk setiap x∈I.π/2]. 8. f(b) > 0. 2. 3. Misalkan f kontinu pada interval [0. maka x0∈E. dan w = sup W. [Petunjuk : Pandang g(x) = f(x) – f(x +½). Buktikan bahwa terdapat suatu α > 0 sedemikian sehingga f(x) ≥ α untuk semua x∈I. Tunjukkan bahwa setiap polinomial derajat ganjil dengan koefisien real mempunyai paling sedikit akar real. 7. x → −∞ x→∞ Buktikan bahwa f terbatas pada R dan mencapai maksimum atau minimum pada R. Misalkan I = [0. Misalkan I = [a.b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I sedemikian sehingga untuk setiap x dalam I terdapat y dalam I sedemikian sehingga f(y) ≤ ½f(x). Tunjukkan bahwa x0 merupakan suatu solusi untuk persamaan cos x = x2. 5. dan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = sup {x2. Misalkan pula W = {x∈I : f(x) < 0}. Misalkan I = [a.

Suatu hal kita ingin menekankan disini bahwa. δ bergantung pada ε > 0 dan u∈A. 16.4 Kekontinuan Seragam Misalkan A⊆R dan f : A → R.3. secara umum. tutup] dipertakan oleh f(x) = x2 untuk x∈R pada interval-interval buka [atau. Tunjukkan bahwa g tidak perlu terbatas pada J. maka f(x) – f(u) < ε.b] dan f : I → R suatu fungsi (tidak perlu kontinu) dengan sifat bahwa untuk setiap x∈I.1] → R kontinu dan hanya mempunyai nilai-nilai rasional [atau. (ii) diberikan ε > 0 dan u∈A.1. tutup] dibawah fungsi-fungsi g(x) = 1/(x2 + 1) dan h(x) = x3 untuk x∈R. 12. PASAL 5.b) dan g : J → R fungsi kontinu dengan sifat bahwa untuk setiap x∈J. Fakta bahwa δ bergantung pada u adalah suatu refleksi bahwa fungsi f dapat diubah nilai-nilainya dengan cepat dekat titik-titik tertentu dan dengan lambat dekat dengan nilai-nilai lain. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan β∈R. 13. Telah dilihat pada Teorema 5.u < δ(ε.3 bahwa pernyataan-pernyataan berikut ini ekivalen : (i) f kontinu pada setiap titik u∈A.Aljabar Himpunan Berikan contoh untuk menunjukkan bahwa maksimum dan minimum. keduanya. Tunjukkan bahwa jika x0∈R sedemikian sehingga f(x0) < β . pandang f(x) = sin(1/x) untuk x > 0. Jika f : [0.1). mesti f fungsi konstan. fungsi g terbatas pada suatu lingkungan Vδ x ( x ) dari x. Misalkan I = [a.u) > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dan x . Misalkan J = (a. tutup]. maka terdapat suatu lingkungan-δ U dari x0 sedemikian sehingga f(x) < β untuk semua x∈U. nilai-nilai irasional]. Ujilah pemetaan dari interval-interval buka [atau. [Sebagai contoh. Buktikan bahwa f terbatas pada I. fungsi f terbatas pada suatu lingkungan Vδ x ( x ) dari x (dalam pengertian pada Definisi 4. 11. tidak perlu dicapai. 15. Ujilah bahwa interval-interval buka [atau.] Analisis Real I 174 .2. 14.1. lihat Gambar 4.u). terdapat δ(ε.

sering terjadi bahwa fungsi f sedemikian sehingga δ dapat dipilih tidak bergantung pada titik u∈A dan hanya bergantung pada ε.u < δ(ε. jika x .u < ½u dengan demikian ½u < x < 3 2 u. u∈R (Mengapa?) Di pihak lain jika kita memandang g(x) = 1/x unuk x∈A {x∈R : x > 0}. ½u2ε}.u) : u > 0} = 0. ketaksamaan (1) menghasilkan ketaksamaan (3) g(x) – g(u) ≤ (2/u2)x . Sebagai contoh. Kita perhatikan bahwa nilai δ(ε.u.u. Analisis Real I 175 .u∈A. ux Jika u∈A diberikan dan jika kita memilih (2) δ(ε. karena inf{δ(ε.u). jika f(x) = 2x untuk semua x∈R.u) = ε/2 untuk semua ε > 0. Jadi.u < ½u. dan dengan demikian kita dapat memilih δ(ε. maka (1) g(x) – g(u) = u−x . maka f(x) – f(u) = 2x . ketaksamaan (3) dan definisi (2) mengakibatkan Kita telah melihat bahwa pemilihan δ(ε.u) kita mempunyai x .u) = inf {½u.Pendahuluan Sekarang.u < δ dan x. g(x) – g(u) < (2/u2)(½u2ε) = ε Akibatnya. jika x .u) yang diberikan pada (2) tidak memunculkan satu nilai δ(ε) > 0 yang akan “work” untuk semua u > 0 secara simultan.u) oleh formula (2) “works” dalam pengertian bahwa pemilihan itu memungkinkan kita untuk memberikan nilai δ yang akan menjamin bahwa g(x) – g(u) < ε apabila x . dimana berarti bahwa 1/x < 2/u.u < δ(ε. maka jika x .

sebagaimana telah ditunjukkan oleh fungsi g(x) = 1/x pada himpunan A = {x∈R : x > 0}.4.2 Kriteria Kekontinuan tidak Seragam Misalkan A⊆R dan f : A → R.u) : u > 0} = 0.4. ditinggalkan pembuktiannya seagai latihan bagi pembaca. Situasi di atas diperlihatkan secara grafik dalam Gambar 5.4. sebagaimana pembaca dapat tunjukkan. secara umum konversnya tidak berlaku. Analisis Real I 176 . maka f(x) – f(u) < ε. tidak ada cara pemilihan satu nilai δ yang akan “work” untuk semua u > 0 untuk fungsi g(x) = 1/x.1 g(x) = 1/x (x > 0) Suatu tanda bagi pembaca akan mempunyai pengamatan bahwa terdapat pilihan lain yang dapat dibuat untuk δ.1 dan 5. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen : (i) (ii) f tidak kontinu seragam pada A. uδ dalam A sedemikian sehingga xδ . 3 2 3 u2ε}. Seperti u menuju 0. sesuai dengan nilai maksimum dari δ terlihat sangat berbeda. seperti kita akan lihat.u) = inf{ 1 u. Kita akan memberikan kriteria demikian dalam hasil berikut.) Kenyataannya. Terdapat ε0 > 0 sedemikian sehingga untuk setiap δ > 0 terdapat titik- titik xδ.u∈A sebarang bilangan yang memenuhi x . Akan tetapi.2 dimana. Ini jelas bahwa jika f kontinu seragam pada A. 5. untuk lingkungan-ε yang diberikan sekitar f(2) = ½ dan f(½) = 2. maka f kontinu seragam pada setiap titk dalam A.Aljabar Himpunan GAMBAR 5.u < δ(ε). Kita katakan f kontinu seragam pada A jika untuk setiap ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x. akan tetapi kita masih mem- punyai inf{δ(ε. nilai δ yang diperbolehkan menuju 0. Pengertian di atas berguna untuk memformulasi syarat ekuivalensi untuk mengatakan bahwa f tidak kontinu seragam pada A.4.1 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. (Sebagai contoh kita juga dapat memilih δ1(ε.4.uδ < δ dan f(xδ) – f(uδ) ≥ ε0. 5.

Karena. Maka f kontinu seragam pada I.2. Karena I tertutup. Karena I terbatas. terdapat ε0 > 0 dan dua barisan (xn) dan (un) dalam A sedemikian sehingga xn .6.7 terdapat subbarisan ( xnk ) dari (xn) yang konvergen ke suatu unsur z. tetapi g(x) – g(u) = 1 untuk semua n∈N. Jika f tidak kontinu seragam pada I maka menurut hasil sebelumnya. Kita dapat menggunakan hasil ini untuk menunjukkan bahwa g(x) = 1/x kontinu tidak seragam pada A = {x∈R : x > 0}.Pendahuluan (iii) Terdapat ε0 > 0 dan dua barisan (xn) dan (un) dalam A sedemikian sehingga lim (xn – un) = 0 dan f(xn) – f(un) ≥ ε0 untuk semua n∈N. Bukti. GAMBAR 5. karena Analisis Real I 177 . maka kita mempunyai lim (xn – un) = 0. menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3.4.4. jika xn = 1/n dan un = 1/(n + 1).un < 1/n dan f(xn) – f(un) > ε0 untuk semua n∈N. Ini jelas bahwa subbarisan yang bersesuaian ( unk ) juga konvergen ke z.1 g(x) = 1/x (x > 0) Sekarang kita menyajikan suatu hasil penting yang menjamin bahwa suatu fungsi kontinu pada interval tertutup dan terbatas I adalah kontinu seragam pada I. barisan (xn) terbatas. menuurt Teorema 3.4. limit z masuk dalam I.3 Teorema Kekontinuan Seragam Misalkan I suatu interval tutup dan terbatas dan f : I → R kontinu pada I. 5.

u∈I. Syarat bahwa suatu fungsi f : I → R pada suatu interval I adalah fungsi Lipschitz dapat diinterpretasi secara geometri sebagai berikut. x−u x.4.5 Teorema seragam pada A. Akibatnya. Akan tetapi. maka kadang-kadang sulit untuk menunjukkan kekontinuan seragamnya. Akan tetapi ini tidak mungkin karena f(xn) – f(un) ≥ ε0 untuk semua n∈N.z.u∈A. Jadi hipotesis bahwa f tidak kontinu seragam pada interval tutup dan terbatas I mengakibatkan f tidak kontinu pada suatu titik z∈I. x ≠ u. Jadi.4. Sekarang jika f kontinu pada titik z. maka kuantitas dalam nilai mutlak adalah kemiringan segmen garis yang melalui titiktitik (x. maka f kontinu 178 .f(u)).f(x)) dan (u.z ≤  unk . Jika kita menuliskan syaratnya sebagai f ( x ) − f (u ) ≤ K. jika f kontinu pada setiap titik dalam I.u untuk semua x. maka f dikatakan fungsi Lipschitz (atau memenuhi syarat Lipschitz) pada A. Analisis Real I Jika f : A → R suatu fungsi Lipschitz. Fungsi-fungsi Lipschitz Jika suatu fungsi kontinu seragam diberikan pada suatu himpunan yang merupakan interval tidak tertutup dan terbatas. suatu fungsi f memenuhi syarat Lipschitz jika dan hanya jika kemiringan dari semua segmen garis yang menghubungkan dua titik pada grafik y = f(x) pada I terbatas oleh suatu K. maka barisan (f(xn)) dan (f(un)) mesti konvergen ke f(z). 5. Jika terdapat suatu konstanta K > 0 sedemikian sehingga f(x) – f(u) ≤ Kx . maka f kontinu seragam pada I. 5.xnk  +  xnk .4 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. terdapat suatu syarat yang selalu terjadi yang cukup untuk menjamin kekontinuan secara seragam.Aljabar Himpunan  unk .

Kekontinuan seragam dari g pada interval I = [0. Jadi f memenuhi syarat Lipschitz dengan konstanta K = 2b pada A. Tentu saja. maka f(x) – f(u) = x + ux -u ≤ 2bx . tidak terdapat bilaknagn K > 0 sedemikian sehingga g(x) ≤ Kx untuk semua x∈I.4. ini dapat juga disimpulkan dari Teorema Kekontinuan Seragam.u Jadi g suatu fungsi Lipschitz pada J dengan konstanta K = ½. maka jika x dan u dalam J.4. g kontinu seragam pada I.b]. (c) Teorema Kekontinuan Seragam dan Teorema 5.4. g bukan suatu fungsi Lipschitz pada I.Pendahuluan Bukti. Karena g kontinu pada I.u < δ.δI(ε). kita dapat memilih δ = ε/K. Analisis Real I 179 . f kontinu seragam pada A. (Perhatikan bahwa f tidak memenuhi kondisi Lipschitz pada interval [0.4.3.2] mengikuti Teorema Kekontinuan Seragam seperti dicatat dalam (b).δJ(ε)}] bahwa g kontinu seragam pada A. 5. dimana b suatu konstanta positif. kita mempunyai x−u x + u g(x) – g(u) =  x - u = ≤ ½x . (Mengapa tidak?) Oleh karena itu. Kita pandang g(x) = x pada himpunan A = [0. ini berarti [dengan pemilihan δ(ε) = inf{1.) (b) Tidak semua fungsi yang kontinu seragam merupakan fungsi Lipschitz. Misalkan g(x) = x untuk x dalam interval tertutup dan terbatas I = [0.u∈A dan memenuhi x . Jika J = [1.5 kadang-kadang dapat dikombinasikan untuk memperlihatkan kekontinuan seragam dari suatu fungsi pada suatu himpunan. g kontinu seragam pada [1.∞). maka f(x) – f(u) < K(ε/K) = ε Oleh karena itu.b]. Kita tinggalkan detailnya untuk pembaca. dan dari sini menurut Teorema 5.5. Karena A = I∪J. Jika x. dan oleh karena itu f kontinu seragam pada A.6 Contoh-contoh (a) Jika f(x) = x2 pada A = [0.∞). maka menurut Teorema Kekontinuan Seragam 5.2]. maka diberikan ε > 0 sebarang.u untuk semua x.∞).∞).u dalam [0. Akan tetapi. Jika syarat Lipschitz dipenuhi dengan konstanta K. karena fkontinu pada A yang merupakan interval tertutup dan terbatas.

b) jika dan hanya jika f dapat didefinisikan pada titik-titik ujung a dan b sedemikian sehingga fungsi perluasannya kontinu pada [a. tetapi barisan petanya. Di pihak lain. karena akan ditunjukkan bahwa suatu fungsi pada (a.u < δ. ini mengakibatkan bahwa untuk n.m > H(δ).xm < δ untuk semua n. sebagai contoh. suatu fungsi yang kontinu pada interval tutup dan terbatas selalu kontinu seragam. maka terdapat H(δ) sedemikian sehingga xn . fungsi f(x) = 1/x pada interval (0. Bukti. maka (f(xn)) barisan Cauchy dalam R. 5. maka f(x) – f(u) < ε. dengan Teorema Kekontinuan Seragam. Analisis Real I 180 .1). Bukti. Dengan pemilihan δ. Hasil di atas memberikan kita suatu cara alternatif dalam melihat bahwa f(x) = 1/x tidak kontinu seragam pada (0.b). Oleh karena itu barisan (f(xn)) barisan Cauchy. Pertama=tama kita akan menunjukkan suatu hasil sebagai teorema berikut.4.u dalam A memenuhi x . Karena (xn) barisan Cauchy.b]. 5.b) kontinu seragam jika dan hanya jika dapat didefinisikan pada titik-titik ujung untuk menghasilkan suatu fungsi yang kontinu pada interval tertutup. dan ε > 0 diberikan.b] tentu saja kontinu pada (a. Kita perhatikan bahwa barisan yang diberikan oleh xn = 1/n dalam (0. dimana f(xn) = n untuk semua n∈N bukan barusan Cauchy.1).4. Pertamatama pilih δ > 0 sedemikian sehingga jika x.Aljabar Himpunan Teorema Perluasan Kontinu Kita telah melihat fungsi yang kontinu tapi tidak kontinu seragam pada interval buka.7 Teorema Jika f : A → R kontinu seragam pada suatu A⊆R dan jika (xn) barisan Cauchy dalam A. Dengan demikian muncul pertanyaan: Syarat apa yang diperlukan suatu fungsi untuk kontinu seragam pada suatu interval buka? Jawabannya menampakkan kekuatan dari kekontinuan seragam.1) merupakan barisan Cauchy. Misalkan (xn) barisan Cauchy dalam A. dengan demikian kita hanya perlu membuktikan implikasi sebaliknya. Suatu fungsi yang kontinu seragam pada [a. kita mempunyai f(xn) – f(xm) < ε.m > H(δ).8 Teorema Perluasan Kontinu Suatu fungsi f kontinu seragam pada interval (a.

b]. Di pihak lain. dengan demikian oleh kekontinuan seragam dari f kita mempunyai Lim (f(un)) = lim (f(un) – f(xn)) + lim (f(xn)) = 0 + L = L. Jika (xn) barisan dalam (a.4. dan ini diselesaikan dengan pengx →c gunaan Kriteria Sekuensial untuk limit. maka dari Kriteria Sekuensial untuk limit kita menyimoulkan bahwa f mempunyai limit L pada a.b) dengan lim (xn) = a. x →0 maka fungsi g(x) = x sin (1/x) kontinu seragam pada (0. kita menegaskan dari Teorema Perluasan Kontinu bahwa fungsi ini tidak kontinu seragam pada (0.xn) = a – a = 0.b) yang konvergen ke a. Karena kita memperoleh nilai L yang sama untuk sebarang barisan yang konvergen ke a. maka barisan ini barisan Cauchy.b] untuk sebarang b > 0. dengan demikian kita simpulkan bahwa f mempunyai perluasan kontinu untuk interval [a.Pendahuluan Misalkan f kontinu seragam pada (a. argumen untuk b dilakukan dengan cara yang sama. Ini dilakukan dengan menunjukkan bahwa lim f ( x) = L ada. dan dengan demikian konvergen menurut Teorema 3. satu diantaranya yang sangat alami (dan juga salah satu yang terpenting) adalah memaksa bahwa setiap titik dari domain yang diberikan.5. Analisis Real I 181 .b). karena lim x sin (1 x ) = 0 ada. Aproksimasi Dalam banyak aplikasi adalah penting untuk dapat mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan suatu fungsi yang memiliki sifat-sifat dasar. Jika (un) sebarang barisan lain dalam (a. Meskipun terdapat variasi definisi yang dapat digunakan untuk membuat kata “aproksimasi” lebih tepat. Argumen yang sama digunakan untuk IbI. maka lim (un . Jadi lim (f(xn)) = L ada.b) untuk semua b > 0. fungsi aproksimasinya akan tidak berbeda dari fungsi yang diberikan dengan lebih kecil dari kesalahan yang ditentukan. Karena lim dari f(x) = sin(1/x) pada 0 tidak ada. Kita akan menunjukkan bagaimana memperluas f ke a.

4.Aljabar Himpunan 5. setiap nilai diberikan pada satu atau lebih interval dalam I.   1.3) GAMBAR 5. . .9 Definisi Misalkan I⊆R suatu interval dan s : I → R. 2 ≤ x < 1. 1 ≤ x ≤ 3.2 ≤ x < 1. (Lihat Gambar 5. fungsi s : [-2.   2.1 ≤ x < 0.  y [ ( [ [ [ ( ( merupakan fungsi tangga. 0 < x < 1.4] → R didefinisikan oleh  0.3 Grafik y = s(x) Analisis Real I [ [ [ x 182 ( ( .  1. Sebagai contoh.4. 3 < x ≤ 4.  2 s(x) =  2 1  3.4. Maka s dinamakan fungsi tangga jika s hanya mempunyai sejumlah hingga nilai-nilai yang berbeda. − 2.

sε(x) = f(x) . maka terdapat suatu fungsi tangga sε : I → R sedemikian sehingga f(x) .b] ke dalam m interval saling lepas yang panjangnya h. (Kenyataannya bahwa nilai dari sε pada Ik adalah nilai dari f pada titik ujung dari Ik.a+h]. Jika ε > 0.m.y < δ(ε). … . maka f(x) .f(a + kh) < ε.y∈I dan x .a+kh] untuk k = 2.4.4.4. … .m. yaitu I1 = [a. maka selisih antara dua nilai dari f dalam Ik lebih kecil dari ε.10 Teorema Misalkan I interval tertutup dan terbatas. Analisis Real I 183 . Karena panjang setiap subinterval Ik adalah h < δ(ε).3. Misalkan I = [a. Sekarang kita definisikan (4) untuk x∈Ik. sε(x) = f(a + kh) dengan demikian sε adalah konstanta pada setiap interval Ik. maka f(x) – f(y) < ε. dan Ik = (a+(k-1)h. Oleh karena itu kita mempunyai f(x) . maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x. Bukti.Pendahuluan Sekarang kita akan menunjukkan bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval tertutup dan terbatas I dapat diaproksimasi secara sebarang dengan fungsi tangga. k = 1.3).sε(x) < ε untuk semua x∈I. Misalkan pula f : I → R kontinu pada I. 5. Sekarang kita membagi I = [a. Lihat Gambar 5.sε(x) < ε untuk semua x∈I.) Akibatnya jika x∈Ik. Karena fungsi f kontinu seragam (menurut Teorema Kekontinuan Seragam 5.b] dan m∈N cukup besar dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε).

5. Jelas bahwa agar suatu fungsi linear potong demi potong g kontinu pada I.4.12 Definisi Misalkan I = [a. Pada kenyataannya kita telah membuktikan pernyataan berikut.4. dan f : I → R kontinu pada I. Maka suatu fungsi g : I → R dikatakan linear potong demi potong pada I jika I merupakan gabungan dari sejumlah hingga interval saling lepas I1.sε(x) < ε untuk semua x∈I. Analisis Real I 184 . akan tetapi tidak kontinu (kecuali dalam kasus trivial). Karena itu sering diperlukan sekali untuk mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi kontinu sederhana.Aljabar Himpunan GAMBAR 5. … Im. sedemikian sehingga pembatasan dari g untuk setiap interval Ik merupakan fungsi linear. Fungsi tangga merupakan fungsi yang memiliki karakter dasar. maka fungsi tangga sε didefinisikan pada (4) memenuhi f(x) . maka terdapat suatu fungsi linear potong-demi-potong kontinu gε : I → R sedemikian sehingga f(x) . … . Remark. segmen garis yang membentuk grafik g bertemu pada titik-titik ujung dari subinterval yang berdekatan Ik dan Ik + 1k + 1 (k = 1.11 Akibat Misalkan I = [a. maka terdapat bilangan asli m sedemikian sehingga jika kita membagi I dalam m interval saling lepas Ik yang mempunyai panjang h = (b – a)/m.4 Aproksimasi dengan fungsi tangga Perhatikan bahwa pembuktian dari teorema sebelumnya agak lebih dibandingkan dengan pernyataan dalam teorema. bagaimana kita akan menunjukkan bahwa kita dapat mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi linear kontinu piecewise (potong demi potong).4.4. Jika ε > 0.13 Misalkan I suatu interval tutup dan terbatas. 5.b] suatu interval. dan f : I → R kontinu pada I. m-1) Teorema 5.b] interval tutup dan terbatas. Jika ε > 0.gε(x) < ε untuk semua x∈I.

Pada setiap interval Ik kita definisikan gε fungsi linear yang menghubungkan titik-titik (a + (k – 1)h.y < δ(ε). dan Ik = (a + (k-1)h. yaitu I1 = [a. ditinggalkan sebagai latihan pembaca untuk menunjukkan bahwa f(x) . Karena fungsi f kontinu seragam pada I = [a.a + h].Pendahuluan Bukti. untuk x∈Ik nilai dan (a + kh.f(a + (k – 1)h) + kh)). oleh karena itu ketaksamaan ini berlaku untuk semua x∈I.) GAMBAR 5.5. Sekarang kita membagi I = [a.m.f(a f(x) tidak lebih dari ε dari f(a + (k –1)h) dan f(a + kh).5 Aproksimasi oleh fungsi linear potong-demi-potong Kita akan menutup pasal ini dengan mengemukakan teorema penting dari Weierstrass mengenai aproksimasi fungsi-fungsi kontinu Analisis Real I 185 . … . maka f(x) – f(y) < ε. (Lihat Gambar 5. Karena.a + kh] untuk k = 2.b] maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x. Misalkan m∈N cukup besar dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε).b] ke dalam m interval saling lepas yang panjangnya h.gε(x) < ε untuk semua x∈Ik.y∈I dan x .4.4. Maka gε fungsi linear potong-demi-potong kontinu pada I.

4.1]. … . Bukti. . Seperti diharapkan.b] dan misalkan f : I → R kontinu. Disana ditunjukkan bahwa jika δ(ε) > 0 Analisis Real I 186 . . 169-172. Salah satu pembuktian yang paling elementer berdasarkan pada teorema berikut yang dikemukakan oleh Serge Bernsteîn. untuk fungsi kontinu pada [0. n n n n n! n(n − k )L(n − k + 1)  =  k  k! (n − k )! = 1 ⋅ 2L k   5.15 Teorema Aproksimasi Bernsteîn Misalkan f : [0.1] → R fungsi konttinu dan misalkan ε > 0. Terdapat sejumlah pembuktian dari teorema ini.14 Teorema Aproksimasi Weierstrass Misalkan I = [a. semua pembyktiian itu agak berbelit-belit. maka kita mempunyai f(x) – Bn(x) < ε untuk semua x∈[0. ini adalah suatu polinomial derajat aling tinggi n dan koefisienkoefisiennya bergantung pada nilai dari fungsi f pada n + 1 titik 0.1] → R. Jika ε > 0 diberikan. kita mesti bersedia untuk menggunakan polinomial sebarang derajat tinggi. Bernsteîn mendefinisikan barisan polinomial : (5) Bn (x) = k =0 ∑ f  n  k  x k (1 − x )   n  k  n     n−k . maka terdapat suatu fungsi polinimial pε sedemikian sehingga f(x) . Diberikan f : [0. H.4. … .1].1. Terdapat nε∈N sedemikian sehingga jika n ≥ nε.pε(x) < ε untuk semua x∈I. Fungsi polinomial Bn. agar memperoleh suatu aproksimasi tidak lebih dari suatu ε > 0 yang ditentukan. Sayangnya. dan koefisien-koefisien binomial 1 2 k . yang didefinisikan dalam (5) dinamakan polinomial Bernsteîn ke-n untuk f.Aljabar Himpunan dengan fungsi polinimial. Pembuktian Teorema ini diberikan dalam Elements of Analysis Real. 5. atau memakai hasil-hasil yang belum pada pengerjaan kita.

Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R dan jika kedua-duanya terbatas pada A. maka f + g juga kontinu seragam pada A.14 dapat diperoleh dari Teorema Aproksimasi Bernsteîn 5.Pendahuluan sedemikian sehingga f(x) – f(y) < ε untuk semua x.∞). Gunakan Kriteria Kekontinuan Tak-Seragam 5.∞). Tunjukkan bahwa fungsi f(x) 1/x2 kontinu seragam pada A = [1.4. Menaksir (6) memberikan informasi tentang seberapa besar n yang mesti kita pilih agar Bn mengaproksimasi f tidak melebihi ε.4.1].b] yang mengaproksimasi f. Analisis Real I 187 .M2/ε2}. 3.b] → R dengan fungsi F : [0. Secara khusus.1] dengan x . B = (0. dimana a suatu konstanta positif.1].1] → R yang didefinisikan oleh untuk t∈[0. maka kita dapat memilih (6) nε =sup{(δ(ε/2)-4. maka hasil kali fg juga fungsi kontinu seragam. tunjukkan bahwa f dan g kontinu seragam pada R. Latihan-latihan 1.∞). F(t) = f(a + (b – a)t) Fungsi F dapat diaproksimasi dengan polinmial Bernsteîn untuk F pada interval [0. tetapi tidak kontinu seragam pada B = (0. 7. (a) f(x) = x2 (b) g(x) = sin(1/x) A =[0.15 dengan suatu pengubahan variabel. Teorema Aproksimasi Weierstrass 5. kita ganti f : [a.∞). tetapi hasil kali fg tidak kontinu seragam pada R. 4.y∈[0. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/(1 + x2) untuk x∈R kontinu seragam pada R 5. yang mana selanjutnya menghhasilkan polinomial pada [a.1].y < δ(ε). dan jika M ≥ f(x) untuk semua x∈[0. Jika f(x) = x dan g(x) = sin x.4. Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R.2 untuk menunjukkan bahwa fungsi-fungsi berkut ini tidak kontinu seragam pada himpunan yang diberikan.∞). 6. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/x kontinu seragam pada himpunan A = [a. 2.

Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn untuk f1. 12.1].     n n 16. Jika f1(x) = x untuk x∈[0. 10. Buktikan bahwa suatu fungsi periodik kontinu pada R adalah terbatas dan kontinu seragam pada R.∞) dan kontinu seragam pada [a.Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f1. Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn untuk f2.1]. [Petunjuk: Teorema Binomial menyatakan bahwa (a + b)n = k =0 ∑  k a k b n − k ]. maka f terbatas pada A. 17. Misalkan A⊆R dan f : A → R memiliki difat: untuk setiap ε > 0 terdapat suatu fungsi gε : A → R sedemikian sehingga gε kontinu seragam pada A dan f(x) - gε(x) < ε untuk semua x∈A. tunjukkan bahwa tidak terdapat suatu konstanta K sedemikian sehingga g(x) ≤ Kx untuk semua x∈[0.1]. Jika g(x) = x untuk x∈[0. maka f kontinu seragam pada [0. 9. 14.Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f0. Tunjukkan bahwa jikaf kontinu pada [0. Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn untuk f0. Buktikan bahwa jika f dan g masing-masing kontinu seragam pada R maka fungsi komposisinya f o g juga kontinu seragam pada R. 11. Jika f2(x) = x2 untuk x∈(0. dan f(x) ≥ k > 0 untuk semua x∈A. Buktikan bahwa f kontinu seragam pada A. Jika f kontinu seragam pada A⊆R. Jika f0(x) = 1 untuk x∈[0.1].1).Tunjukkan bahwa Bn(x) = (1 –1/n)x2 + (1/n)x.1].∞). Suatu fungsi f : R → R dikatakan fungsi periodik pada A jika terdapat suatu bilangan p > 0 sedemikian sehingga f(x + p) = f(x) untuk semua x∈R. Buktikan bahwa jika f kontinu seragam pada suatu himpunan A⊆R yang terbatas. Analisis Real I 188 .Aljabar Himpunan 8. Berikan kesimpulan bahwa g kontinu seragam yang tidak merupakan fungsi Lipschitz pada [0. 13. 15. tunjukkan bahwa 1/f kontinu seragam pada A.∞) untuk suatu konstanta positif a.

Hasil-hasil ini dapat diperoleh secara langsung dari hasil-hasil untuk fungsi-fungsi naik atau dibuktikan dengan argumen yang serupa. tetapi tidak kontinu pada x = 1.1] dan f(x) = 1 untuk x∈(1.1]. Jika suatu fungsi naik atau turun pada A. Dalam pasal ini.x2∈A dengan x1 ≥ x2 berlaku g(x1) ≥ g(x2). Pasal 5. kita akan bekerja dengan fungsi-fungsi monoton yang didefinisikan pada suatu interval I⊆R. Fungsi monoton tidak perlu kontinu.x2∈A dengan x1 < x2 berlaku f(x1) < f(x2). g : A → R dikatakan turun pada A jika untuk setiap x1.x2∈A dengan x1 ≤ x2 berlaku f(x1) ≤ f(x2). Kita akan mendiskusikan fungsi-fungsi naik secara eksplisit. maka f merupakan fungsi naik pada [0. kita katakan bahwa f monoton murni pada A.001 untuk semua x∈[0.3. Kita perhatikan bahwa jika f : A → R naik pada A maka g = -f turun pada A. Jika f fungsi naimk murni ayau turun murni pada A. maka ψ = -ϕ naik pada A. tetapi itu jelas bahwa terdapat persesuaian hasil untuk fungsi-fungsi turun. jika f(x) = 0 untuk x∈[0.x2∈A dengan x1 > x2 berlaku g(x1) > g(x2). Fungsi g dikatakan turun secara murni pada A jika untuk setiap x1. seberapa besarnya n sedemikian sehingga polinomial Bernsteîn ke-n Bn untuk f2 memenuhi f2(x) – Bn(x) ≤ 0. Fungsi f dikatakan naik secara murni pada A jika untuk setiap x1. Demikian juga.1) dalam R pada setiap titik yang bukan titik ujung dari domainnya. maka fungsi f : A → R dikatakan naik pada A jika untuk setiap x1.1].2].5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers Ingat kembali bahwa jika A⊆R. maka kita katakan fungsi tersebut monoton pada A. Gunakan hasil latihan sebelumnya untuk f2. Sebagai cintoh. Analisis Real I 189 .Pendahuluan 18. demikian juga jika ϕ : A → R turun pada A. Akan tetapi. hasil berikut ini menunjukkan bahwa suatu fungsi monoton selalu mempunyai limit-limit sepihak baik limit pihak-kiri maupun pihak-kanan (lihat Definisi 4.

Karena f fungsi naik. kita simbol dengan L.3. yang mana tidak kosong karena c bukan titik ujung dari I. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. An- 5. maka f(x) ≤ f(c).3. x < c} lim f = inf{f(x) : x∈I. (b) lim f = f(c) = lim f x →c − x →c + (c) sup{f(x) : x∈I.L < ε bila 0 < c – y < δ(ε).1 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I.5. Jadi ini menunjukkan bahwa supremumnya ada. terdapat yε ∈I. maka L . Pertama-tama kita perhatikan jika x∈I dan x < c. maka ).5. (a) f kontinu pada c. Karena ε > 0 sebarang. Pembuktian bagian (ii) dilakukan dengan cara serupa.1 dan 4.ε < f(yε) ≤ f(y) ≤ L Oleh karena itu f(y) . x < c} = f(c) = inf{f(x) : x∈I. Dari sini.2 Akibat daikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I.Aljabar Himpunan 5. Dari sini himpunan {f(x) : x∈I. Andaikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I.ε < f(yε) ≤ L. Kita tinggalkan detailnya untuk pembaca. kita katakan bahwa (i) berlaku. tinggal mengikuti Teorema 5.ε bukan suatu batas atas dari himpunan ini. maka yε < y < c dengan demikian L . x > c} Bukti. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen. Jika ε > 0 diberikan. kita simpulkan bahwa jika δ(ε) = c . Maka (i) (ii) x →c − x →c + lim f = sup{f(x) : x∈I. yε < c sedemikian sehingga L .yε dan jika 0 < c – y < δ(ε).5. terbatas diatas oleh f(c). Hasil berikut memberikan kriteria untuk kekontinuan dari fungsi naik f pada suatu titik c yang bukan titik ujung interval pada mana f didefinisikan. Analisis Real I 190 . x > c} Pembuktiannya mudah. x < c}.

3 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I.f(a). Jika titik ujung kanan b x →a + dari I masuk dalam I. jf(c) { c GAMBAR 5. a < x} atau jika hanya jika lim f .Pendahuluan Misalkan I suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik.) Mengikuti Teorema 5. kita definisikan lompatan dari f pada c sebagai jf(c) = lim f . Jika c∈I. ini secara mudah mengikuti Akibat 5. Jika titik ujung kiri a dari I masuk dalam I.5.5.lim f .5. maka f kontinu pada c jika dan hanya jika f(c) = Analisis Real I 191 . (Lihat Gambar x →c + x →c − 5.1.2. kita mendefinisikan lompatan dari f pada a menjadi jf(a) = lim f . Jika a titik ujung kiri dari I. x →b − 5. maka merupakan suatu latihan untuk menunjukkan bahwa f kontinu pada a jika dan hanya jika f(a) = inf{f(x) : x∈I. Syarat yang serupa diterapkan pada suatu titik ujung x →a + kanan dari I. dan untuk fungsi-fungsi turun. kita mendefinisikan lompatan dari f pada b menjadi jf(b) = f(b) . maka f kontinu pada c jika dan hanya jika jf(c) = 0 Bukti. x < c} untuk suatu fungsi naik.1 bahwa jf(c) = inf{f(x) : x∈I.5.lim f .5.1 Lompatan dari f pada c Jika f : I → R fungsi naik pada I dan jika c bukan suatu titik ujung dari I. x > c} .sup{f(x) : x∈I. Jika c∈I titik kiri ujung dari I. Jika c bukan suatu titik ujung.

Bukti.3 bahwa D = {x∈I : jf(x) ≠ 0}. terdapat baling banyak tiga titik dalam I dimana jf(x) ≥ (f(b) – f(a))/3. dan seterusnya. jika a ≤ x1 < … < xn ≤ b.5. terdapat baling banyak dua titik dalam I dimana jf(x) ≥ (f(b) – f(a))/2.y∈R h(x + y) = h(x) + h(y) Analisis Real I 192 . Mengikuti Teorema 5. maka jf(c) ≥ 0 untuk semua c∈I.5.5.12 bahwa jika h : R → R memenuhi identitas (*) untuk semua x. Kita akan menganggap bahwa f fungsi naik pada I. Teorema 5. Sebagai contoh. Akan tetapi karena setiap titik dalam D mesti masuk dalam himpunan ini.) Akibatnya bisa terdapat paling banyak k buah titik dalam I = [a. yang mana ekuivalen dengan jf(c) = 0. Sekarang kita akan menunjukkan bahwa bisa terdapat paling banyak sejumlah terhitung titiktitik dimana fungsi monoton diskontinu. diperlihatkan dalam Latihan 5. Pertama-tama kita perhatikan bahwa karena f fungsi naik. maka (mengapa?) kita mempunyai f(a) ≤ f(a) + jf(x1) < … < jf(xn) ≤ f(b). Oleh karena itu terdapat paling banyak sejuemlah terhitung titik-titik x dimana jf(x) > 0.4 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi monoton pada I. kita simpulkan bahwa D himpunan terhitung.Aljabar Himpunan x →c + lim f .5. (Lihat Gambar 5. Kita akan memandang kasus bahwa I = [a. Kita simpulkan bahwa terdapat paling banyak satu titik x∈I dimana jf(x) ≥ f(b) – f(a).4 beberapa aplikasi yang berguna.2.2.b] suatu interval tertutup dan terbatas. ditinggalkan kasus lain sebagai latihan bagi pembaca. yang mana berarti bahwa jf(x1) < … < jf(xn) ≤ f(b) – f(a). 5. Cara serupa juga dapat diperoleh un- tuk kasus c∈I titik ujung kanan dari I. Maka himpunan titik-titik D⊆I dimana f diskontinu adalah himpunan terhitung.b] dimana jf(x) ≥ (f(b) – f(a))/k. Selain itu.

Analisis Real I 193 . maka h kontinu pada setiap titik dalam R.2) bahwa suatu fungsi f : I → R mempunyai fungsi invers jika dan hanya jika f injektif ( = satu-satu). Kita ingat kembali (lihat Pasal 1. Khususnya. maka h mesti jf(x4) jf(x3) { f(b) { f(b) . kita menunjukkan bahwa jika f : I → R fungsi kontinu monoton murni. dan jika f fungsi turun murni maka demikian juga g. Dalam teorema berikut.Pendahuluan dan jika h kontinu pada satu titik x0. jika f fungsi naik murni maka demikian juga dengan g.f(a) jf(x2) { jf(x1) { f(a) a x1 x2 x3 x4 b kontinu pada R. Kita perhatikan bahwa suatu fungsi monoton murni adalah injektif dan dengan demikian mempunyai invers. yaitu x.y∈I dan x ≠ y mengakibatkan bahwa f(x) ≠ f(y). Ini berarti bahwa jika h merupakan fungsi monotan yang memenuhi (*). GAMBAR 5. maka f mempunyai suatu fungsi invers g pada J = f(I) yang juga fungsi kontinu monoton murni pada J.2 jf(x1) + … + jf(xn) ≤ f(b) – f(a) Fungsi-fungsi Invers Sekarang kita akan memandang keberadaan invers suatu fungsi yang kontinu pada suatu interval I⊆R.5.

jika y1 < y2. g invers dari f adalaj fungsi x jg(c) {. Selain itu. J = f(I) suatu interval. bertentangan dengan hipotesis bahwa y1 < y2. Memang. mengakibatkan y1 = f(x1) ≥ f(x2) = y2. meninggalkan kasus bahwa f fungsi turun murni untuk pembaca. karena f naik murni pada I. o g(c) c J GAMBAR 5. Karena f kontinu dan I suatu interval. Karena y1 dan y2 sebarang unsur dalam J dengan y1 < y2. x2∈I. maka menurut Teorema Pengawetan Interval 5.10. maka f fungsi injektif pada I. maka y1 = f(x1) dan y2 = f(x2) untuk suatu x1.5.3 g(y) ≠ x untuk y∈J Bukti. Oleh karena itu kita mempunyai g(y1) = x1 < x2 = g(x2).5 Teorema Invers Kontinu Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I→ R monoton murni dan kontinu pada I.Aljabar Himpunan 5. Analisis Real I 194 . Kita claim bahwa g naik murni.5. oleh karena itu fungsi g : J → R invers dari f ada. kita simpulkan bahwa g naik murni pada J. Kita pandang kasus f fungsi naik murni. Maka fungsi monoton murni dan kontinu pada J = f(I). untuk hal lain x1 ≥ x2. Kita mesti mempunyai x1 < x2.3.

) Kita telah melihat (dalam Latihan 2.10. maka x mempunyai sifat bahwa x ≠ g(y) untuk sebarang y∈J. J = f(I) suatu interval. yang mana kontradikdi dengan fakta bahwa I suatu interval.5. misalkan f(x) = xn untuk x∈I. Fungsi Akar ke-n Kita kan menggunakan Teorema Invers Kontinu 5.) Dari sini x∉I. Kita akan menunjukkan bahwa J = Analisis Real I 195 . Jadi.17) bahwa jika 0 ≤ x < y. jika g diskontinu pada suatu titik c∈J. Memang. mengikuti Contoh 5. dan (ii) n ganjil. Agar diperoleh suatu fungsi yang monoton murni.4 Grafik dari f(x) = xn (x ≥ 0.4(a) bahwa IfI kontinu pada I.5.3. GAMBAR 5. Kita perlu membedakan atas dua kasus: (i) n genap. Oleh karena itu. maka lompatan dari g pada c tidak nol dengan demikian x →c − lim g < lim g x →c + x →c − x →c + Jika kita memilih sebarang x ≠ g(c) yang memenuhi lim g < x < lim g . maka f(x) = xn < yn = f(y).Pendahuluan Tinggal menunjukkan bahwa g kontinu pada J. (Lihat Gambar 5. oleh karena itu f monoton murni pada I. Selain itu. Oleh karena itu kita menyimpulkan bahwa g kontinu pada J. menurut Teorema Pengawetan Interval 5.2. Akan tetapi. ini merupakan konsekuensi dati fakta bahwa g(J) = I suatu interval. n genap) (i) n genap. kita batasi perhatian kita untuk interval I = [0.5.2.5 untuk fungsi pangkat ke-n.4.5.∞).3. (Lihat Gambar 5.

5. Fungsi g dinamakan fungsi akar ke-n (n genap). menurut 5.6.∞).∞) dan n genap. (ii) n ganjil.∞).3.Aljabar Himpunan [0.5. Karena (Mengapa?) f(0) = 0 ≤ y < k ≤ kn = f(k).).5. mengikuti Teorema Nilai Antara Bolzano 5. (Lihat Gambar 5.3.∞). terdapat k∈N sedemikian sehingga 0 ≤ y < k. Kita menyimpulkan dari Teorema Invers Kontinu 5.5.5. dan menyebut x1/n = x akar ke-n dari x ≥ 0 (n genap). Karena y ≥ 0 sebarang. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa F naik murni pada R dan F(R) =R.5 Grafik dari f(x) = x1/n (x ≥ 0. Misalkan y ≥ 0 sebarang. menurut Sifat Archimedean.6 bahwa y∈J. kita simpulkan bahwa J = [0.) Analisis Real I 196 .) GAMBAR 5. n genap) Karena g invers untuk f.) naik murni dan kontinu pada J = [0. (Lihat Gambar 5.5 bahwa fungsi g yaitu invers dari f(x) = xn pada I = [0. Kita lazimnya menuliskan g(x) = x1/n atau g(x) = n x n untuk x ≥ 0 (n genap). kita mempunyai untuk semua x∈[0. Dalam kasus ini kita misalkan F(x) = xn untuk semua x∈R. g(f(x)) = x (xn)1/n = x dan f(g(x)) = x (x1/n)n = x Kita dapat menuliskan persamaan-persamaan ini dalam bentuk berikut: dan untuk semua x∈[0.4(a). F kontinu pada R.

fungsi G yaitu invers dari F(x) = xn untuk x∈R.5.p∈Z dan n.q∈N dan jika x > Analisis Real I 197 .n∈N dan x > 0.5. Fungsi G disebut fungsi akar ke-n (n ganjil). jika r = m/n = p/q dengan m.) Disini kita mempunyai (xn)1/n = x dan (x1/n)n = x untuk semua x∈R dan n ganjil. (Lihat Ganbar 5. Grafik dari x ξ xr bergantung pada apakah r > 1. n∈N.5. (Lihat Gambar 5. adalah fungsi naik murni dan kontinu pada R. 0 < r < 1.Pendahuluan Mengikuti Teorema Invers Kontinu 5. kita definisikan x-m/n = (x1/n)-m. n ganjil) Pangkat-pangkat Rasional Telah didefinisikan fungsi-fungsi akar ke-n untuk n∈N. 5. Yaitu.5. atau r < 0.7. GAMBAR 5. Kita lazimnay menuliskan G(x) = x1/n atau G(x) = n x untuk x∈R.8. r = 0. n ganjil Dan menyebut x1/n sebagai akar ke-n dari x∈R. yang mana hal ini memudahkan untuk mendefinisikan pangkat-pangkat rasional. (ii) Jika m. dalam banyak cara.6 Definisi (i) Jika m.5. r = 1.6 tidak berarti ganda.) Karena suatu bilangan rasional r∈Q dapat ditulis dalam bentuk r = m/n dengan m∈Z.5. akan diunjukkan bahwa Definisi 5. kita definisikan xm/n = (x1/n)m.5.6 Grafik F(x) = xn (x∈R. Dari sini kita telah mendefinisikan xr apabila r bilangan rasional dan x > 0.n∈N dan x ≥ 0.

maka (xm)n = xmn = (xn)m. titik maksimum absolut] untuk f pada I. maka xrxs = xr + s =xsxr dan (xr)s = xrs = (xs)r. dan x > 0. Oleh karena itu diperoleh bahwa y = (xm)1/n. maka f + g fungsi naik murni pada I. maka titik a [atau juga.7 Grafik G(x) = x1/n (x∈R. akan tetapi hasil kali fg tidak naik pada I. bahwa jika x > 0 dan r.5.n∈Z. 2. b] suatu titik minimum mutlak [atau juga. Latihan-latihan 1. sebagai latihan. 3.7 Teorema Jika m∈Z. Jika I = [a.5. GAMBAR 5. Sekarang misalkan y = xm/n = (x1/n)m > 0 dengan demikian yn = ((x1/n)m)n = ((x1/n)n)m = xm. Jika f dan g fungsi-fungsi naik pada suatu interval I⊆R. Jika f juga fungsi naik murni pada I.s∈Q. tunjukkan bahwa f + g juga suatu fungsi naik pada I. Jika x > 0 dan m. n ganjil) Pembaca akan menunjukkan juga.n∈N. maka a merupakan satu-satunya titik minimum mutlak untuk f pada I.Aljabar Himpunan 0.1]. maka (x1/n)m = (x1/q)p. Bukti. Analisis Real I 198 . Kita tinggalkan sebagai latihan bagi pembaca untuk membuktikan hubungan ini. maka xm/n = (xm)1/n. 5. Tunjukkan bahwa f(x) = x dan g(x) = x – 1 naik murni pada I = [0.b] suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik. Jika f suatu fungsi naik murni.

6.5. Misalkan I = [0. 5. Misalkan juga c∈I bukan titik ujung dari I. 7. 9. … . Tunjukkan bahwa f injektif pada I dan f(f(x)) = x untuk Analisis Real I 199 .Pendahuluan 4. dan sedemikian sehingga c = lim (xn) dan f(c) = lim (f(xn)). Tunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn) dalam I sedemikian sehingga xn < c untuk n = 1. maka fungsi hasil-kalinya fg merupakan fungsi naik pada I. maka f kontinu pada a jika dan hanya jika f(a) = inf{f(x) : x∈(a.b]}.1] dan misalkan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = x untuk x rasional. x.8 Grafik dari x ξ xr (x > 0) 6. Misalkan f.4. xn > c untuk n = 2. dan f(x) = 1 – x untuk x irasional.5. 8. tunjukkan bahwa lompatan jf(c) dari f pada c diberikan oleh inf{f(y) –f(x) : x < c < y. GAMBAR 5.g fungsi-fungsi naik pada suatu interrval I⊆R dan f(x) > g(x) untuk semua x∈I. tunjukkan bahwa f-1(y) < g-1(y). Jika c∈I bukan titik ujung dari I.y∈I}.b] dan f : I → R fungsi naik pada I. … .3. Jika y∈f(I)∩g(I). Tunjukkan bahwa jika I = [a. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I. Tunjukkan bahwa jika f dan g fungsi-fingsi positif naik pada suatu interval I. [Petunjuk: Pertama-tama interpretasi pernyataan ini secara geometri]. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I.

10. tunjukkan bahwa c1 = 0. dan f(x) = x + 1 untuk x∈(1.s∈Q. Analisis Real I 200 .1] → R suatu fungsi yang memuat nilai-nilainya tepat dua kali.Aljabar Himpunan semua x∈I. Tunjukkan bahwa jika m. Jika f mempunyai suatu maksimum mutlak [atau. dan mq = np. Misalkan f : [0. Misalkan x∈R. dan jika r.2]. maka (x1/n)m = (x1/q)p. x > 0. Tunjukkan bahwa f fungsi naik murni pada [0. minimum mutlak] pada suatu titik interior c dari I.b] dan f : I → R kontinu pada I. Sekarang titik-titik dimana h mencapai infimumnya.1].1]. Tunjukkan bahwa f dan f-1 merupakan fungsi-fungsi naik murni.q∈N. Tunjukkan bahwa h tidak kontinu pada setiap titik.1] → R suatu fungsi kontinu yang tidak memuat sebarang dari nilainilainya dua kali dan dengan f(0) < f(1). 11. 13.] 14. n. Jika x∈R. Misalkan f(x) = x untuk x∈[0. [Petunjuk : Jika c1 < c2 titik-titik dimana h mencapai supremumnya. x > 0. tunjukkan bahwa f bukan injektif pada I. c2 = 1. (Dari sini f adalah fungsi invers untuk dirinya sendiri!) Tunjukkan bahwa f kontinu hanya pada x = ½. Apakah f dan f-1 kontinu pada setiap titik? 12.p∈Z. 15. Misalkan h : [0. tunjukkan bahwa x x = x r s r+s =xsxr dan (xr)s = xrs = (xs)r. Misalkan I = [a.

New York : John Wiley & Sons. Second edition. 1992. DAFTAR PUSTAKA Bartle.Pendahuluan 11. Inc. Introductions to Real Analysis. Robert G. Analisis Real I 201 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful