i

Catatan Selama Kuliah

ANALISIS REAL I DAN II
Sebuah terjemahan dari sebagian buku Introductions to Real Analysis karangan
Robert G. Bartle












Drs. Jafar., M.Si

Printed by:
Abu Musa Al Khwarizmi





KOMUNITAS STUDI AL KHWARIZMI
UNAAHA
2012


ii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadlirat Allah Swt. karena atas
perkenaannya jualah hand-out ini dapat terselesaikan penyusunannya. Penyusunan hand-
out ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan diskusi Komunitas Studi Al
Khwarizmi Sultra dan masyarakat penimat Kajian Matematika pada umumnya.
Materi hand-out ini terdiri atas 5 (lima) bab, yaitu : Yakni Bab I sampai dengan
Bab 3 adalah materi Analisis Real I, sedangkan Bab 4 dan Bab 5 adalah materi Analisis
Real II.
Tentu saja, hand-out ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu sangat
diharapkan sumbang saran dan kritikan yang konstruktif dari pembaca dalam rangka
perbaikan dan penyempurnaannya, sehingga pada akhirnya dapat dijadikan buku standar
untuk dijadikan buku ajar Analisis Real I dan II. Surat kritikan dan saran anda dapat
anda kirimkan ke: ks.algorizm@gmail.com; karyanto@bismillah.com; Atau melalui
facebook: -Yanto Kendari.
Akhirnya, semoga hand-out ini membawa manfaat yang semaksimal mungkin
bagi siapa saja yang menggunakannya, dan hanya kepada Alloh SWT segala sesuatunya
kita serahkan. Semoga kita termasuk umatNya yang bersyukur dan dimudahkan dalam
memahami ilmu. Amien

Unaaha, Januari 2012

KSA
iii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
Bab I PENDAHULUAN ............................................................................................ 2
1.1 Aljabar Himpunan ................................................................................... 2
1.2 Fungsi ...................................................................................................... 8
1.3 Induksi Matematika ................................................................................. 15

Bab II BILANGAN REAL ........................................................................................ 22
2.1 Sifat Aljabar R ......................................................................................... 22
2.2 Sifat Urutan dalam R ............................................................................... 30
2.3 Nilai Mutlak ............................................................................................ 40
2.4 Sifat Kelengkapan R ................................................................................ 46
2.5 Aplikasi Sifat Supremum ........................................................................ 51

Bab III BARISAN BILANGAN REAL .................................................................... 60
3.1 Barisan dan Limit Barisan ....................................................................... 60
3.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 72
3.3 Barisan Monoton ..................................................................................... 82
3.4 Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass ......................................... 90
3.5 Kriteria Cauchy ....................................................................................... 97
3.6 Barisan-barisan Divergen Murni ............................................................. 105

Bab IV LIMIT FUNGSI ............................................................................................ 110
4.1 Limit-limit Fungsi ................................................................................... 110
4.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 123
4.3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit ................................................... 133

Bab V FUNGSI-FUNGSI KONTINU ...................................................................... 149
5.1 Fungsi-fungsi Kontinu ............................................................................. 150
5.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu ................................................... 157
5.3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval ....................................................... 164
5.4 Kekontinuan Seragam ............................................................................. 174
5.5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers ......................................................... 189

Daftar Pustaka ........................................................................................................... 201
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 2




PENDAHULUAN
Pada bab pertama ini, kita akan membahas beberapa prasyarat yang diperlukan
untuk mempelajari analisis real. Bagian 1.1 dan 1.2 kita akan mengulang sekilas ten-
tang aljabar himpunan dan fungsi, dua alat yang penting untuk semua cabang mate-
matika.
Pada bagian 1.3 kita akan memusatkan perhatian pada metoda pembuktian
yang disebut induksi matematika. Ini berhubungan dengan sifat dasar sistem bilangan
asli, dan walaupun penggunaannya terbatas pada masalah yang khusus tetapi hal ini
penting dan sering digunakan.
1.1. Aljabar Himpunan
Bila A menyatakan suatu himpunan dan x suatu unsurnya, kita akan tuliskan
dengan
x∈A,
untuk menyingkat pernyataan x suatu unsur di A, atau x anggota A, atau x termuat
di A, atau A memuat x. Bila x suatu unsur tetapi bukan di A kita tuliskan dengan
x∉A.
Bila A dan B suatu himpunan sehingga x∈A mengakibatkan x∈B (yaitu,
setiap unsur di A juga unsur di B), maka kita katakan A termuat di B, atau B me-
muat A atau A suatu subhimpunan dari B, dan dituliskan dengan
A ⊆ B atau B ⊇ A.
Bila A ⊆ B dan terdapat unsur di B yang bukan anggota A kita katakan A subhim-
punan sejati dari B.
BAB
1
Pendahuluan
Analisis Real I 3

1.1.1. Definisi. Dua himpunan A dan B dikatakan sama bila keduanya memuat unsur-
unsur yang sama. Bila himpunan A dan B sama, kita tuliskan dengan A = B
Untuk membuktikan bahwa A = B, kita harus menunjukkan bahwa A ⊆ B dan
B ⊆ A.
Suatu himpunan dapat dituliskan dengan mendaftar anggota-anggotanya, atau
dengan menyatakan sifat keanggotaan himpunan tersebut. Kata “sifat keanggotaan”
memang menimbulkan keraguan. Tetapi bila P menyatakan sifat keanggotaan (yang
tak bias artinya) suatu himpunan, kita akan tuliskan dengan
{xP(x)}
untuk menyatakan himpunan semua x yang memenuhi P. Notasi tersebut kita baca de-
ngan “himpunan semua x yang memenuhi (atau sedemikian sehinga) P”. Bila dirasa
perlu menyatakan lebih khusus unsur-unsur mana yang memenuhi P, kita dapat juga
menuliskannya dengan
{ x∈SP(x)}
untuk menyatakan sub himpunan S yang memenuhi P.
Beberapa himpunan tertentu akan digunakan dalam bukti ini, dan kita akan
menuliskannya dengan penulisan standar sebagai berikut :
• Himpunan semua bilangan asli, N = {1,2,3,...}
• Himpunan semua bilangan bulat, Z = {0,1,-1,2,-2,...}
• Himpunan semua bilangan rasional, Q = {m/n m,n ∈ Z, n≠0}
• Himpunan semua bilangan real, R.
Contoh-contoh :
(a). Himpunan {x ∈ N x
2
-3x+2=0}, menyatakan himpunan semua bilangan asli yang
memenuhi x
2
- 3x + 2 = 0. Karena yang memenuhi hanya x = 1 dan x = 2, maka
himpunan tersebut dapat pula kita tuliskan dengan {1,2}.
(b). Kadang-kadang formula dapat pula digunakan untuk menyingkat penulisan him-
punan. Sebagai contoh himpunan bilangan genap positif sering dituliskan dengan
{2x x∈ N}, daripada {y∈ N y = 2x, x∈ N}.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 4
Operasi Himpunan
Sekarang kita akan mendefinisikan cara mengkonstruksi himpunan baru dari
himpunan yang sudah ada.
1.1.2. Definisi. (a). Bila A dan B suatu himpunan, maka irisan (=interseksi) dari A ⊂
B dituliskan dengan A∩B, adalah himpunan yang unsur-unsurnya terdapat di A juga
di B. Dengan kata lain kita mempunyai
A∩B = {x x∈A dan x∈B}.
(b). Gabungan dari A dan B, dituliskan dengan A∪B, adalah himpunan yang unsur-
unsurnya paling tidak terdapat di salah satu A atau B. Dengan kata lain kita mempun-
yai
A∪B = {x x∈A atau x∈B}.
1.1.3. Definisi. Himpunan yang tidak mempunyai anggota disebut himpunan kosong,
dituliskan dengan { } atau ∅. Bila A dan B dua himpunan yang tidak mempunyai un-
sur bersama (yaitu, A∩B = ∅), maka A dan B dikatakan saling asing atau disjoin.
Berikut ini adalah akibat dari operasi aljabar yang baru saja kita definisikan.
Karena buktinya merupakan hal yang rutin, kita tinggalkan kepada pembaca sebagai
latihan.
1.1.4. Teorema. Misalkan A,B dan C sebarang himpunan, maka
(a). A∩A = A, A∪A = A;
(b). A∩B = B∩A, A∪B = B∪A;
(c). (A∩B) ∩C = A∩(B ∩C), (A∪B)∪C = A∪(B∪C);
(d). A∩(B∪C) = (A∩B)∪(A∩C), A∪(B ∩C) = (A∪B) ∩ (A∪C);
Kesamaan ini semua berturut-turut sering disebut sebagai sifat idempoten, ko-
mutatif, asosiatif dan distributif, operasi irisan dan gabungan himpunan.
Melihat kesamaan pada teorema 1.1.4(c), biasanya kita tanggalkan kurung dan
cukup ditulis dengan
A∩B ∩C, A∪B∪C.
Pendahuluan
Analisis Real I 5
Dimungkinkan juga untuk menunjukkan bahwa bila {A
1
,A
2
, ,A
n
} merupakan koleksi
himpunan, maka terdapat sebuah himpunan A yang memuat unsur yang merupakan
pa-ling tidak unsur dari suatu A
j
, j = 1,2,...,n ; dan terdapat sebuah himpunan B yang
unsur-unsurnya merupakan unsur semua himpunan A
j
, j=1,2,...,n. Dengan menang-
galkan kurung, kita tuliskan dengan
A = A
1
∪A
2
∪ ∪ A
n
= {x x∈A
j
untuk suatu j},
B = A
1
∩ A
2
...∩A
n
= {x x∈A
j
untuk semua j}.
Untuk mempersingkat penulisan, A dan B di atas sering dituliskan dengan
A = A
j
j 1
n
=
U

B = A
j
j 1
n
=
I

Secara sama, bila untuk setiap j unsur di J terdapat himpunan A
j
, maka A
j
j J ∈
U

menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya paling tidak merupakan unsur dari salah
satu A
j
. Sedangkan A
j
j J ∈
I
, menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya adalah unsur
semua A
j
untuk j∈J.
1.1.5. Definisi. Bila A dan B suatu himpunan, maka komplemen dari B relatif terha-
dap A, dituliskan dengan A\B (dibaca “A minus B”) adalah himpunan yang unsur-
unsurnya adalah semua unsur di A tetapi bukan anggota B. Beberapa penulis meng-
gunakan notasi A - B atau A ~ B.
Dari definisi di atas, kita mempunyai
A\B = {x ∈ A x ∉ B}.
Seringkali A tidak dinyatakan secara eksplisit, karena sudah dimengerti/disepakati.
Dalam situasi begini A\B sering dituliskan dengan C(B).
1.1.6. Teorema. Bila A,B,C sebarang himpunan, maka A\(B∪C) = (A\B)∩(A\C),
A\(B∩C) = (A\B) ∪(A\C).
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 6
Bukti :
Kita hanya akan membuktikan kesamaan pertama dan meninggalkan yang
kedua sebagai latihan bagi pembaca. Kita akan tunjukkan bahwa setiap unsur di
A\(B∪C) termuat di kedua himpunan (A\B) dan (A\C), dan sebaliknya.
Bila x di A\(B∪C), maka x di A, tetapi tidak di B∪C. Dari sini x suatu unsur
di A, tetapi tidak dikedua unsur B atau C. (Mengapa?). Karenanya x di A tetapi tidak
di B, dan x di A tetapi tidak di C. Yaitu x ∈ A\B dan x ∈ A\C, yang menunjukkan
bahwa
x ∈(A\B)∩(A\C).
Sebaliknya, bila x ∈(A\B)∩(A\C), maka x ∈(A\B)dan x ∈ (A\C). Jadi x ∈ A
tetapi bukan anggota dari B atau C. Akibatnya x ∈ A dan x ∉ (B∪C), karena itu x ∈
A\(B∪C).
Karena himpunan (A\B)∩(A\C) dan A\(B∪C).memuat unsur-unsur yang
sama, menurut definisi 1.1.1 A\(B∪C).= (A\B)∩(A\C).
Produk (hasil kali) Cartesius
Sekarang kita akan mendefinisikan produk Cartesius.
1.1.7. Definisi. Bila A dan B himpunan-himpunan yang tak kosong, maka produk
cartesius A×B dari A dan B adalah himpunan pasangan berurut (a,b) dengan a∈ A dan
b ∈ B.
Jadi bila A = {1,2,3} dan B = {4,5}, maka
A×B = {(1,4),(1,5),(2,4),(2,5),(3,4),(3,5)}
Latihan 1.1.
1. Gambarkan diagram yang menyatakan masing-masing himpunan pada Teorema
1.1.4.
2. Buktikan bagian (c) Teorema 1.1.4.
3. Buktikan bagian kedua Teorema 1.1.4(d).
4. Buktikan bahwa A ⊆ B jika dan hanya jika A∩B = A.
Pendahuluan
Analisis Real I 7
5. Tunjukkan bahwa himpunan D yang unsur-unsurnya merupakan unsur dari tepat
satu himpunan A atau B diberikan oleh D = (A\B) ∪ (B\A). Himpunan D ini ser-
ing disebut dengan selisih simetris dari A dan B. Nyatakan dalam diagram.
6. Tunjukkan bahwa selisih simetris D di nomor 5, juga diberikan oleh
D = (A∪B)\(A∩B).
7. Bila A ⊆ B, tunjukkan bahwa B = A\(A\B).
8. Diberikan himpunan A dan B, tunjukkan bahwa A∩B dan A\B saling asing dan
bahwa A = (A∩B) ∪ (A\B).
9. Bila A dan B sebarang himpunan, tunjukkan bahwa A∩B = A\(A\B).
10. Bila {A
1
, A
2
, ... , A
n
} suatu koleksi himpunan, dan E sebarang himpunan, tunjuk-
kan bahwa E A (E A ), E A (E A )
j j j
j=1
n
j
j 1
n
j 1
n
j 1
n
∩ = ∩ ∪ = ∪
= = =
U U U U

11. Bila {A
1
, A
2
, ... , A
n
} suatu koleksi himpunan, dan E sebarang himpunan, tunjuk-
kan bahwa E A (E A ), E A (E A )
j
j 1
n
j
j 1
n
j
j=1
n
j
j 1
n
∩ = ∩ ∪ = ∪
= = =
I I I I

12. Misalkan E sebarang himpunan dan {A
1
, A
2
, ... , A
n
} suatu koleksi himpunan.
Buktikan Hukum De Morgan
E \ A (E \ A ), E \ A (E \ A ).
j
j 1
n
j
j 1
n
j
j=1
n
j
j 1
n
= = =
= =
I U U I

Catatan bila E\A
j
dituliskan dengan C(A
j
), maka kesamaan di atas mempunyai
bentuk

( ) ( )
C C C C A A , A A .
j
j 1
n
j
j 1
n
j
j=1
n
j
j 1
n
= = =
|
\

|
¹
| =
|
\

|
¹
| =
I U U I

13. Misalkan J suatu himpunan dan untuk setiap j∈J, A
j
termuat di E. Tunjukkan
bahwa

( ) ( )
C C C C A A , A A .
j
j J
j
j J
j
j J
j
j J ∈ ∈ ∈ ∈
|
\

|
¹
| =
|
\

|
¹
| =
I U U I

14. Bila B
1
dan B
2
subhimpunan dari B dan B = B
1
∪ B
2
, tunjukkan bahwa
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 8
A×B = (A×B
1
) ∪ (A×B
2
).
1.2. Fungsi.
Sekarang kita kembali mendiskusikan gagasan fundamental suatu fungsi atau
pemetaan. Akan kita lihat bahwa fungsi adalah suatu jenis khusus dari himpunan,
walaupun terdapat visualisasi lain yang sering lebih bersifat sugesti. Semua dari
bagian terakhir ini akan banyak mengupas jenis-jenis fungsi, tetapi sedikit abstrak di-
bandingkan bagian ini.
Bagi matematikawan abad terdahulu kata “fungsi” biasanya berarti rumus ter-
tentu, seperti
f(x) = x
2
+ 3x -5
yang bersesuaian dengan masing-masing bilangan real x dan bilangan lain f(x). Mung-
kin juga seseorang memunculkan kontroversi, apakah nilai mutlak
h(x) = x
dari suatu bilangan real merupakan “fungsi sejati” atau bukan. Selain itu definisi
xdiberikan pula dengan
x=
x, bila x 0
x, bila x < 0


¦
´
¹

Dengan berkembangnya matematika, semakin jelas bahwa diperlukan definisi fungsi
yang lebih umum. Juga semakin penting untuk kita membedakan fungsi sendiri den-
gan nilai fungsi itu. Di sini akan mendefinisikan suatu fungsi dan hal ini akan kita la-
kukan dalam dua tahap.
Definisi pertama :
Suatu fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan korespondensi yang
memasangkan masing-masing unsur x di A secara tunggal dengan unsur f(x) di B.
Definisi di atas mungkin saja tidak jelas, dikarenakan ketidakjelasan frase
“aturan korespondensi”. Untuk mengatasi hal ini kita akan mendefinisikan fungsi
de-ngan menggunakan himpunan seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya.
Pendahuluan
Analisis Real I 9
De-ngan pendefinisian ini dapat saja kita kehilangan kandungan intuitif dari definisi
terdahulu, tetapi kita dapatkan kejelasan.
Ide dasar pendefinisian ini adalah memikirkan gambar dari suatu fungsi;
yaitu, suatu korelasi dari pasangan berurut. Bila kita perhatikan tidak setiap koleksi
pasangan berurut merupakan gambar suatu fungsi, karena sekali unsur pertama dalam
pasangan berurut diambil, unsur keduanya ditentukan secara tunggal.
1.2.1. Definisi. Misalkan A dan B himpunan suatu fungsi dari A ke B adalah him-
punan pasangan berurut f di A×B sedemikian sehingga untuk masing-masing a ∈ A
terdapat b ∈ B yang tunggal dengan (a,b),(a,b’) ∈ f, maka b = b’. Himpunan A dari
unsur-unsur pertama dari f disebut daerah asal atau “domain” dari f, dan dituliskan
D(f). Sedangkan unsur-unsur di B yang menjadi unsur kedua di f disebut “range” dari
f dan dituliskan dengan R(f). Notasi
f : A → B
menunjukkan bahwa f suatu fungsi dari A ke B; akan sering kita katakan bahwa f
suatu pemetaan dari A ke dalam B atau f memetakan A ke dalam B. Bila (a,b) suatu
unsur di f, sering ditulis dengan
b = f(a)
daripada (a,b) ∈ f. Dalam hal ini b merupakan nilai f di titik a, atau peta a terhadap f.
Pembatasan dan Perluasan Fungsi
Bila f suatu fungsi dengan domain D(f) dan D
1
suatu subhimpunan dari D(f),
seringkali bermanfaat untuk mendefinisikan fungsi baru f
1
dengan domain D
1
dan
f
1
(x) = f(x) untuk semua x ∈ D
1
. Fungsi f
1
disebut pembatasan fungsi f pada D
1
.
Menurut definisi 1.2.1, kita mempunyai
f
1
= { (a,b) ∈ f a ∈ D
1
}
Kadang-kadang kita tuliskan f
1
= f D
1
untuk menyatakan pembatasan fungsi f pada
himpunan D
1
.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 10
Konstruksi serupa untuk gagasan perluasan. Bila suatu fungsi dengan domain
D(g) dan D
2
⊇ D(g), maka sebarang fungsi g
2
dengan domain D
2
sedemikian sehingga
g
2
(x) = g(x) untuk semua x ∈ D(g) disebut perluasan g pada himpunan D
2
.
Bayangan Langsung dan Bayangan Invers
Misalkan f : A → B suatu fungsi dengan domain A dan range B.
1.2.2. Definisi. Bila E subhimpunan A, maka bayangan langsung dari E terhadap f
adalah sub himpunan f(E) dari B yang diberikan oleh
f(E) = {f(x) : x ∈ E}.
Bila H subhimpunan E, maka bayangan invers dari H terhadap f adalah subhim-
punan
f
-1
(H) dari A, yang diberikan oleh
f
-1
(H) = { x ∈ A : f(x) ∈ H}
Jadi bila diberikan himpunan E ⊆ A, maka titik y
1
∈ B di bayangan langsung
f(E) jika dan hanya jika terdapat paling tidak sebuah titik x
1
∈ E sedemikian sehingga
y
1
= f(x
1
). Secara sama, bila diberikan H⊆B, titik x
2
∈A di dalam bayangan invers f
-
1
(H) jika dan hanya jika y
2
= f(x
2
) di H.
1.2.3. Contoh. (a). Misalkan f : R → R didefinisikan dengan f(x) = x
2
. Bayangan
langsung himpunan E = {x 0 ≤ x ≤ 2} adalah himpunan f(E) = {y 0 ≤ y ≤ 4}. Bila G
= {y 0 ≤ y ≤ 4}, maka bayangan invers G adalah himpunan f
-1
(G) = {x -2 ≤ x ≤ 2}.
Jadi f
-1
(f(E)) ≠ E.
Disatu pihak, kita mempunyai f(f
-1
(G)) = G. Tetapi bila H = {y -1 ≤ y ≤ 1},
maka kita peroleh f(f
-1
(H)) = {x 0 ≤ x ≤ 1} ≠ H.
(b). Misalkan f : A → B, dan G,H subhimpunan dari B kita akan tunjukkan bahwa
f
-1
(G∩H) ⊆ f
-1
(G)∩ f
-1
(H)
Kenyataannya, bila x ∈ f
-1
(G∩H) maka f(x) ∈ G∩H, jadi f(x) ∈ G dan f(x) ∈ H. Hal
ini mengakibatkan x ∈ f
-1
(G) dan x ∈ f
-1
(H). Karena itu x ∈ f
-1
(G)∩ f
-1
(H), bukti sele-
sai. Sebaliknya, f
-1
(G∩H) ⊇ f
-1
(G)∩ f
-1
(H) juga benar, yang buktinya ditinggalkan se-
bagai latihan.
Pendahuluan
Analisis Real I 11
Sifat-sifat Fungsi
1.2.4. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan injektif atau satu-satu bila x
1
≠ x
2
,
mengakibatkan f(x
1
) ≠ f(x
2
). Bila f satu-satu, kita katakan f suatu injeksi.
Secara ekivalen, f injektif jika dan hanya jika f(x
1
) = f(x
2
) mengakibatkan x
1
=
x
2
, untuk semua x
1
,x
2
di A.
Sebagai contoh, misalkan A = {x ∈ R x ≠ 1} dan f : A → R dengan f(x) =
x
x 1 −
. Untuk menunjukkan f injektif, asumsikan x
1
,x
2
di A sehingga f(x
1
) = f(x
2
).
Maka kita mempunyai
x
x 1
x
x 1
1
1
2
2

=


yang mengakibatkan (mengapa?) bahwa
x
x 1
x
x 1
1
1
2
2

=

dan dari sini x
1
= x
2
. Karena
itu f injektif.
1.2.5. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan surjektif atau memetakan A pada B,
bila f(A) = B. Bila f surjektif, kita sebut f suatu surjeksi.
Secara ekivalen, f : A → B surjektif bila range f adalah semua dari B, yaitu
untuk setiap y ∈ B terdapat x ∈ A sehingga f(x) = y.
Dalam pendefinisian fungsi, penting untuk menentukan domain dan himpunan
dimana nilainya diambil. Sekali hal ini ditentukan, maka dapat menanyakan apakah
fungsi tersebut surjektif atau tidak.
1.2.6. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan bijektif bila bersifat injektif dan
surjektif. Bila f bijektif, kita sebut bijeksi.
Fungsi-fungsi Invers
Bila f suatu fungsi dari A ke B, (karenanya, subhimpunan khusus dari A×B),
maka himpunan pasangan berurut di B×A yang diperoleh dengan saling menukar un-
sur pertama dan kedua di f secara umum bukanlan fungsi. Tetapi, bila f injektif, maka
penukaran ini menghasilkan fungsi yang disebut invers dari f.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 12
1.2.7. Definisi. Misalkan f : A → B suatu fungsi injektif dengan domain A dan
range R(f) di B. Bila g = {(b,a)∈B×A (a,b) ∈ f}, maka g fungsi injektif dengan do-
main D(g) = R(f) dan range A. Fungsi G disebut fungsi invers dari f dan dituliskan
dengan f
-1
.
Dalam penulisan fungsi yang standar, fungsi f
-1
berelasi dengan f sebagai
berikut : y = f
-1
(y) jika dan hanya jika y = f(x).
Sebagai contoh, kita telah melihat bahwa fungsi f(x) =
x
x 1 −
didefinisikan un-
tuk x ∈ A = {x x ≠ 1} bersifat injektif. Tidak jelas apakah range dari f semua (atau
hanya sebagian) dari R. Untuk menentukannya kita selesaikan persamaan y =
x
x 1 −

dan diperoleh x =
y
y 1 −
. Dengan informasi ini, kita dapat yakin bahwa rangenya R(f)
= {y y ≠ 1} dan bahwa fungsi invers dari f mempunyai domain {y y ≠ -1} dan f
-1
(y)
=
y
y 1 −
.
Bila suatu fungsi injektif, maka fungsi inversnya juga injektif. Lebih dari itu,
fungsi invers dari f
-1
adalah f sendiri. Buktinya ditinggalkan sebagai latihan.
Fungsi Komposisi
Sering terjadi kita ingin mengkomposisikan dua buah fungsi denga mencari
f(x) terlebih dahulu, kemudian menggunakan g untuk memperoleh g(f(x)), tetapi hal
ini hanya mungkin bila f(x) ada di domain g. Jadi kita harus mengasumsikan bahwa
range dari f termuat di domain g.
1.2.8. Definisi. Untuk fungsi f : A → B dan g : B - C, komposisi fungsi gof (perhati-
kan urutannya!) adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan dengan gof(x) = g(f(x))
untuk x ∈ A.
1.2.9. Contoh. (a). Urutan komposisi harus benar-benar diperhatikan. Misalkan f dan
g fungsi-fungsi yang nilainya di x ∈ R ditentukan oleh
f(x) = 2x, g(x) = 3x
2
- 1
Pendahuluan
Analisis Real I 13
Karena D(g) = R dan R(f) ⊆ R, maka domain D(gof) adalah juga R, dan fungsi kom-
posisi gof ditentukan oleh
gof(x) = 3(2x)
2
- 1 = 2x
2
- 1
Di lain pihak, domain dari fungsi komposisi gof juga R, tetapi dalam hal ini kita
mempunyai fog(x) = 2(3x
2
- 1) = 6x
2
- 2. Jadi fog ≠ gof.
(b). Beberapa perhatian harus dilatih agar yakin bahwa range dari f termuat di domain
dari g. Sebagai contoh, bila f(x) = 1 - x
2
dan y = x , maka fungsi komposisi yang
diberikan oleh gof(x) = 1 x
2
− didefinisikan hanya pada x di D(f) yang memenuhi
f(x) ≥ 0; yaitu, untuk x memenuhi -1 ≤ x ≤ 1. Bila kita tukar urutannya, maka kom-
posisi
fog, diberikan oleh gof(x) = 1 - x, didefinisikan untuk semua x di domain dari g; yaitu
himpunan {x ∈ R : x ≥ 0}.
Teorema berikut memperkenalkan hubungan antara komposisi fungsi dan
petanya. Sedangkan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.
1.2.10. Teorema. Misalkan f : A → B dan g : B → C fungsi dan H suatu sub-
himpunan dari C. Maka (fog)
-1
(H) = g
-1
(f
-1
(H)).
Sering terjadi bahwa komposisi dua buah fungsi mewarisi sifat-sifat fungsi
yang didefinisikan. Berikut salah satunya dan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.
1.2.11. Teorema. Bila f : A → B dan g : B → C keduanya bersifat injektif, maka
komposisi gof juga bersifat injektif.
Barisan
Fungsi dengan N sebagai domain memeainkan aturan yang sangat khusus
dalam analisis, yang kita akan perkenalkan berikut ini.
1.2.12. Definisi. Suatu barisan dalam himpunan S adalah suatu fungsi yang domain-
nya himpunan bilangan asli N dan rangenya termuat di S.
Untuk barisan X : N → S, nilai X di n∈N sering dituliskan dengan x
n
dari-
pada (x
n
), dan nilainya sering disebut suku ke-n barisan tersebut. Barisan itu sendiri
sering dituliskan dengan (x
n
n ∈ N) atau lebih sederhana dengan (x
n
). Sebagai con-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 14
toh, barisan di R yang dituliskan dengan ( n n ∈ N) sama artinya dengan fungsi X :
N → R dengan X(n) = n .
Penting sekali untuk membedakan antara barisan (x
n
n ∈ N) dengan
nilainya
{x
n
n ∈ N}, yang merupakan subhimpunan dari S. Suku barisan harus dipandang
mempunyai urutan yang diinduksi dari urutan bilangan asli, sedangkan range dari ba-
risan hanya merupakan subhimpunan dari S. Sebagai contoh, suku-suku dari bari-
san ((-1)
n
n ∈ N) berganti-ganti antara -1 dan 1, tetapi range dari barisan itu adalah
{-1,1}, memuat dua unsur dari R.
Latihan 1.2.
1. Misalkan A = B = {x∈R -1 ≤ x ≤ 1} dan sub himpunan C = {(x,y) x
2
+ y
2
= 1}
dari A×B, apakah himpunan ini fungsi ?
2. Misalkan f fungsi pada R yang didefinisikan dengan f(x) = x
2
, dan E = {x∈R -1 ≤
x ≤ 0} dan F = {x∈R 0 ≤ x ≤ 1}. Tunjukkan bahwa E∩F = {0} dan f(E∩F) = {0},
sementara f(E) = f(F) = {y∈R 0 ≤ y ≤ 1}. Di sini f(E∩F) adalah subhimpunan se-
jati dari f(E) ∩ f(F). Apa yang terjadi bila 0 dibuang dari E dan F?
3. Bila E dan F seperti latihan no. 2, tentukan E\F dan f(E)\f(F) dan tunjukkan bahwa
f(E\F) ≤ f(E)\f(F) salah.
4. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan E,F sub himpunan dari A, maka f(E∪F) = f(E)
∪ f(F) dan f(E ∩ F) ≤ f(E) ∩ f(F)
5. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan G,H sub himpunan dari B,
maka f
-1
(G∪H) = f
-1
(G) ∪ f
-1
(H) dan f
-1
(G ∩ H) ≤ f
-1
(G) ∩ f
-1
(H)
6. Misalkan f didefinisikan dengan f(x) =
x
x 1
2
+
, x ∈R. Tunjukkan bahwa f bijektif
dari R pada {y : -1 ≤ y ≤ 1}..
7. Untuk a,b ∈R dengan a < b, tentukan bijeksi dari A = {x a < x < b} pada B = {y
0 < y < 1}
Pendahuluan
Analisis Real I 15
8. Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat injektif dan E ⊆ A, maka f
-1
(f(E)). Berikan
suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak injektif.
9. Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat surjektif dan H ⊆ B, maka f(f
-1
(H)). Beri-
kan suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak surjek-
tif.
10.Buktikan bahwa bila f injeksi dari A ke B, maka f
-1
= {(b,a) (a,b)∈f} suatu fungsi
dengan domain R(f). Kemudian buktikan bahwa f
-1
injektif dan f invers dari f
-1
.
11.Misalkan f bersifat injektif. Tunjukkan bahwa f
-1
of(x) = x, untuk semua x ∈ D(f)
dan fof
-1
(y) = y untuk semua y ∈ R(f).
12. Berikan contoh dua buah fungsi f,g dari R pada R sehingga f ≠ g, tetapi fog = gof
13. Buktikan teorema 1.2.10.
14. Buktikan teorema 1.2.11.
15. Misalkan f,g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f). Tunjukkan bahwa f in-
jektif dan R(f) ⊆ D(f) dan R(g) ⊇ D(g).
16. Misalkan f,g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f) dan fog(y) untuk semua y
di D(g). Buktikan bahwa g = f
-1.
.
1.3. Induksi Matematika
Induksi matematika merupakan metode pembuktian penting yang akan sering
digunakan dalam buku ini. Metode ini digunakan untuk menguji kebenaran suatu
pernyataan yang diberikan dalam suku-suku bilangan asli. Walau kegunaannya terba-
tas pada masalah tertentu, tetapi induksi matematika sangat diperlukan disemua ca-
bang matematika. Karena banyak bukti induksi mengikuti urutan formal argumen
yang sama, kita akan sering menyebutkan “hasilnya mengikuti induksi matematika”
dan meninggalkan bukti lengkapnya kepada pembaca. Dalam bagian ini kita memba-
has prinsip induksi matematika dan memberi beberapa contoh untuk mengilustrasikan
bagaimana proses bukti induksi.
Kita akan mengasumsikan kebiasaan (pembaca) dengan himpunan bilangan
asli
N = {1,2,3,...}
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 16
dengan operasi aritmetika penjumlahan dan perkalian seperti biasa dan dengan arti
suatu bilangan kurang dari bilangan lain. Kita juga akan mengasumsikan sifat funda-
men-
tal dari N berikut.
1.3.1. Sifat urutan dengan baik dari N. Setiap subhimpunan tak kosong dari N mem-
punyai unsur terkecil.
Pernyataan yang lebih detail dari sifat ini sebagai berikut : bila S subhimpunan
dari N dan S ≠ ∅, maka terdapat suatu unsur m ∈ S sedemikian sehingga m ≤ k untuk
semua k ∈ S.
Dengan berdasar sifat urutan dengan baik, kita akan menurunkan suatu versi
prinsip induksi matematika yang dinyatakan dalam suku-suku subhimpunan dari N.
Sifat yang dideskripsikan dalam versi ini kadang-kadang mengikuti turunan sifat N.
1.3.2. Prinsip Induksi Matematika. Misalkan S sub himpunan dari N yang mempu-
nyai sifat
(i).1 ∈ S
(ii).jika k ∈ S., maka k + 1 ∈ S.
maka S = N.
Bukti :
Andaikan S ≠ N. Maka N\S tidak kosong, karenanya berdasar sifat urutan dengan baik
N\S mempunyai unsur terkecil, sebut m. Karena 1 ∈ S, maka m ≠ 1. Karena itu m > 1
dengan m - 1 juga bilangan asli. Karena m - 1 < m dan m unsur terkecil di N\S, maka
m - 1 haruslah di S.
Sekarang kita gunakan hipotesis (2) terhadap unsur k = m - 1 di S, yang
berakibat k + 1 = (m - 1) + 1 = m di S. Kesimpulan ini kontradiksi dengan pernyataan
bahwa m tidak di S. Karena m diperoleh dengan pengandaian bahwa N\S tidak kos-
ong, kita dipaksa pada kesimpulan bahwa N\S kosong. Karena itu kita telah buktikan
bahwa S = N.
Prinsip induksi matematika sering dinyatakan dalam kerangka sifat atau per-
nyataan tentang bilangan asli. Bila P(n) berarti pernyataan tentang n ∈ N, maka P(n)
Pendahuluan
Analisis Real I 17
benar untuk beberapa nilai n, tetapi tidak untuk yang lain. Sebagai contoh, bila P(n)
pernyataan “ n
2
= n”, maka P(1) benar, sementara P(n) salah untuk semua n ≠ 1,
n∈N. Dalam konteks ini prinsip induksi matematika dapat dirumuskan sebagai beri-
kut :
Untuk setiap n ∈ N, misalkan P(n) pernyataan tentang n. Misalkan bahwa
(a). P(1) benar
(b). Jika P(k) benar, maka P(k + 1) benar.
Maka P(n) benar untuk semua n ∈ N.
Dalam kaitannya dengan versi induksi matematika terdahulu yang diberikan
pada 1.3.2, dibuat dengan memisalkan S = { n ∈ N P(n) benar}. Maka kondisi (1)
dan (2) pada 1.3.2 berturut-turut tepat bersesuaian dengan (a) dan (b). Kesimpulan S =
N pada 1.3.2. bersesuaian dengan kesimpulan bahwa P(n) benar untuk semua n ∈ N.
Dalam (b) asumsi “jika P(k) benar” disebut hipotesis induksi. Di sini, kita ti-
dak memandang pada benar atau salahnya P(k), tetap hanya pada validitas implikasi
“jika P(k) benar, maka P(k+1) benar”. Sebagai contoh, bila kita perhatikan pernyataan
P(n) : n = n + 5, maka (b) benar. Implikasinya “bila k = k + 5, maka k + 1 = k + 6”
juga benar, karena hanya menambahkan 1 pada kedua ruas. Tetapi, karena pernyataan
P(1) : 1 = 2 salah, kita tidak mungkin menggunakan induksi matematika untuk meny-
impulkan bahwa n = n + 5 untuk semua n ∈ N.
Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana prinsip induksi mate-
matika bekerja sebagai metode pembuktian pernyataan tentang bilangan asli.
1.3.3. Contoh. (a). Untuk setiap n ∈ N, jumlah n pertama bilangan asli diberikan oleh
1 + 2 + ... + n =
1
2
n (n + 1).
Untuk membuktikan kesamaan ini, kita misalkan S himpunan n ∈ N, sehingga ke-
samaan tersebut benar. Kita harus membuktikan kondisi (1) dan (2) pada 1.3.2. dipe-
nuhi.
Bila n = 1, maka kita mempunyai 1 =
1
2
.1(1 + 1), jadi 1 ∈ S dan dengan asumsi ini
akan ditunjukkan k + 1 ∈ S. Bila k ∈ S, maka kita mempunyai
1+2+...+k =
1
2
(k+1). (*)
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 18
Bila kita tambahkan k+1 pada kedua ruas, kita peroleh
1+2+...+k+(k+1) =
1
2
k(k+1) + (k+1)
=
1
2
(k+1) (k+2)
Karena ini menyatakan kesamaan di atas untuk n = k + 1, kita simpulkan bahwa k + 1
∈ S. Dari sini kondisi (2) pada 1.3.2. dipenuhi. Karena itu dengan prinsip induksi
matematika, kita simpulkan bahwa S = N dan kesamaan (*) benar untuk semua n ∈
N.
(b). Untuk masing-masing n ∈ N, jumlah kuadrat dari n pertama bilangan asli diberi-
kan oleh
1
2
+2
2
+...+n
2
=
1
6
n(n+1)(2n+1)
Untuk membuktikan kebenaran formula ini, pertama kita catat bahwa formula ini
benar untuk n = 1, karena 1
2
=
1
6
.1 (1+1)(2+1). Bila kita asumsikan formula ini benar
untuk k, maka dengan menambahkan (k+1)
2
pada kedua ruas, memberikan hasil
1
2
+2
2
+...+k
2
+ (k+1)
2
=
1
6
k(k+1)(2k+1) + (k+1)
2

=
1
6
(k+1)(2k
2
+k+6k+6)
=
1
6
(k+1)(k+2)(2k+3)
Mengikuti induksi matematika, validitas formula di atas berlaku untuk semua n ∈ N.
(c). Diberikan bilangan a,b, kita akan buktikan bahwa a - b faktor dari a
n
- b
n
untuk
semua n ∈ N. Pertama kita lihat bahwa pernyataan ini benar untuk n = 1. Bila
sekarang kita asumsikan bahwa a - b adalah faktor dari a
k
- b
k
, maka kita tuliskan
a
k+1
- b
k+1
= a
k+1
- ab
k
+ ab
k
- b
k+1

= a(a
k
- b
k
) + b
k
(a - b).
Sekarang berdasarkan hipotesis induksi a-b merupakan faktor dari a(a
k
-b
k
). Disamp-
ing itu a-b juga faktor dari b
k
(a - b). Dari sini a-b adalah dari a
k+1
- b
k+1
. Dengan in-
duksi matematika kita simpulkan bahwa a-b adalah faktor dari a
n
- b
n
untuk semua
n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 19
(d). Ketaksamaan 2
n
≤ (n+1)!. Dapat dibuktikan dengan induksi matematika sebagai
berikut. Pertama kita peroleh bahwa hal ini benar untuk n = 1. Kemudian kita asumsi-
kan bahwa 2
k
≤ (k+1).Dan dengan menggunakan fakta bahwa 2 ≤ (k+2), diperoleh
2
k+1
= 2.2
k
≤ 2(k+1)! ≤ (k+2)(k+1)! = (k+2)!
Jadi, bila ketaksamaan tersebut berlaku untuk k, maka berlaku pula untuk k+1.
Karenanya dengan induksi matematika, ketaksamaan tersebut benar untuk semua n ∈
N.
(e). Bila r ∈ R, r ≠ 1 dan n ∈ N, maka
1 + r + r
2
+ ... + r
n
=
1 r
1 r
n 1


+

Ini merupakan jumlah n suku deret geometri, yang dapat dibuktikan dengan induksi
matematika sebagai berikut. Bila n = 1, kitya mempunyai 1 + r =
1 r
1 r


2
, jadi formula
tersebut benar. Bila kita asumsikan formula tersebut benar untuk n = k dan tambahkan
r
k+1
pada kedua ruas, maka kita peroleh
1+r+ ... +r
k
+ r
k+1
=
1 r
1 r
k 1


+
+ r
k+1
=
1 r
1 r
k 2


+

yang merupakan formula kita untuk n = k + 1. Mengikuti prinsip induksi matematika,
maka formula tersebut benar untuk semua n ∈ N.
Hal ini dapat dibuktikan tanpa menggunakan prinsip induksi matematika. Bila
kita misalkan S
n
= 1+r+...+r
n
, maka rS
n
= r+r
2
+...+r
n+1

Jadi
(1-r)S
n
= S
n-r
S
n
= 1-r
n+1

Bila kita selesaikan untuk Sn, kita peroleh formula yang sama.
(f). Penggunaan prinsip induksi matematika secara ceroboh dapat menghasilkan ke-
simpulan yang slah. Pembaca diharap mencari kesalahan pada “bukti teorema” beri-
kut.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 20
Bila n sebarang bilangan asli dan bila maksimum dari dua bilangan asli p dan
q adalah n, maka p = q. (Akibatnya bila p dan q dua bilangan asli sebarang, maka p =
q).
Bukti :
Misalkan S subhimpunan bilangan asli sehingga pernyataan tersebut benar. Maka 1 ∈
S, karena bila p,q di N dan maksimumnya 1, maka maksimum dari p-1 dan q-1 adalah
k. Karenanya p-1 = q-1, karena k ∈ S, dan dari sini kita simpulkan bahwa p = q. Jadi,
k + 1 ∈ S dan kita simpulkan bahwa pernyataan tersebut benar untuk semua n ∈ N.
(g). Beberapa pernyataan yang benar untuk beberapa bilangan asli, tetapi tidak
untuk semua. Sebagai contoh formula P(n) = n
2
- n + 41 memberikan bilangan prima
untuk n =1,2,3,...41. Tetapi, P(41) bukan bilangan prima.
Terdapat versi lain dari prinsip induksi matematika yang kadang-kadang san-
gat berguna. Sering disebut prinsip induksi kuat, walaupun sebenarnya ekivalen den-
gan versi terdahulu. Kita akan tinggalkan pada pembaca untuk menunjukkan ekiva-
lensinya dari kedua prinsip ini.
1.3.4. Prinsip Induksi kuat. Misalkan S subhimpunan N sedemikian sehinga 1∈S,
dan bila {1,2,...,k}⊆ S maka k + 1 ∈ S. Maka S = N.
Latihan 1.3
Buktikan bahwa yang berikut berlaku benar untuk semua n ∈ N,
1.
1
1.2
1
2.3
.. .
1
n(n 1)
n
n 1
+ + +
+
=
+

2. 1
3
+ 2
3
+ ... + n
3
= [
1
2
n(n+1)]
2

3. 1
2
-2
2
+3
2
-...+(-1)
n+1
n(n+1)/2
4. n
3
+ 5n dapat dibagi dengan 6
5. 5
2n
- 1 dapat dibagi dengan 8
6. 5
n
- 4n - 1 habis dibagi 16.
7. Buktikan bahwa jumlah pangkat tiga dari bilangan asli yang berturutan n, n+1, n +
2 habis dibagi 9
Pendahuluan
Analisis Real I 21
8. Buktikan bahwa n < 2
n
untuk semua n ∈ N
9. Tentukan suatu formula untuk jumlah

( )
1
1.3
1
3.5
...
1
2n 1 (2n 1)
+ + +
− +

dan buktikan dugaan tersebut dengan mengunakan induksi matematika. (Dugaan
terhadap pernyataan matematika, sebelum dibuktikan sering disebut “Conjecture”).
10.Tentukan suatu formula untuk jumlah n bilangan ganjil yang pertama
1 + 3 + ... + (2n - 1)
kemudian buktikan dugaan tersebut dengan menggunakan induksi matematika.
11. Buktikan variasi dari 1.3.2. berikut : Misalkan S sub himpunan tak kosong dari N
sedemikian sehingga untuk suatu n
0
∈ N berlaku (a). n
0
∈ S, dan (b) bila k ≥ n
0

dan k ∈ S, maka k + 1 ∈ S. Maka S memuat himpunan { n ∈ N n ≥ n
0
}.
12. Buktikan bahwa 2
n
< n! untuk semua n ≥ 4, n ∈ N. (lihat latihan 11).
13. Buktikan bahwa 2n - 3 ≤ 2
n-2
untuk semua n ≥ 5, n ∈ N. (lihat latihan 11).
14. Untuk bilangan asli yang mana n
2
< 2
n
? Buktikan pernyataanmu (lihat latihan
11).
15. Buktikan bahwa
1
1
1
2
...
1
n
n + + + > untuk semua n ∈ N.
16. Misalkan S sub himpunan dari N sedemikian sehingga (a). 2
k
∈ S untuk semua k
∈ N, dan (b). bila k ∈ S, dan k ≥ 2, maka k - 1 ∈ S. Buktikan S = N.
17. Misalkan barisan (x
n
) didefinisikan sebagai berikut : x
1
= 1, x
2
= 2 dan x
n+2
=
1
2
(x
n+1
+ x
n
) untuk n∈N. Gunakan prinsip induksi kuat 1.3.4 untuk menunjukkan
1 ≤ x
n
≤ 2 untuk semua n ∈ N.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 22



BILANGAN REAL
Dalam bab ini kita akan membahas sifat-sifat esensial dari sistem bilangan
real R. Walaupun dimungkinkan untuk memberikan konstruksi formal dengan di-
dasarkan pada himpunan yang lebih primitif (seperti himpunan bilangan asli N atau
himpunan bilangan rasional Q), namun tidak kita lakukan. Akan tetapi, kita perkenal-
kan sejumlah sifat fundamental yang berhubungan dengan bilangan real dan menun-
jukkan bagaimana sifat-sifat yang lain dapat diturunkan darinya. Hal ini lebih berman-
faat dari pada menggunakan logika yang sulit untuk mengkonstruksi suatu model un-
tuk R dalam belajar analisis.
Sistem bilangan real dapat dideskripsikan sebagai suatu “medan/lapangan
lengkap yang terurut”, dan kita akan membahasnya secara detail. Demi kejelasan, kita
tidak akan membahas sifat-sifat R dalam suatu bagian, tetapi kita lebih berkonsentrasi
pada beberapa aspek berbeda dalam bagian-bagian yang terpisah. Pertama kita perke-
nalkan, dalam bagian 2.1, sifat aljabar (sering disebut sifat medan) yang didasarkan
pada ope-rasi penjumlahan dan perkalian. Berikutnya kita perkenalkan, dalam bagian
2.2 sifat urutan dari R, dan menurunkan beberapa konsekuensinya yang berkaitan
dengan ketaksamaan, dan memberi ilustrasi penggunaan sifat-sifat ini. Gagasan ten-
tang nilai mutlak, yang mana didasarkan pada sifat urutan, dibahas secara singkat
pada bagian 2.3.
Dalam bagian 2.4, kita membuat langkah akhir dengan menambah sifat
“kelengkapan” yang sangat penting pada sifat aljabar dan urutan dari R. Kemudian
kita menggunakan sifat kelengkapan R dalam bagian 2.5 untuk menurunkan hasil
fundamental yang berkaitan dengan R, termasuk sifat archimedes, eksistensi akar
(pangkat dua), dan densitas (kerapatan) bilangan rasional di R.
BAB
2
Pendahuluan
Analisis Real I 23
2.1 Sifat Aljabar R
Dalam bagian ini kita akan membahas “struktur aljabar” sistem bilangan real.
Pertama akan diberikan daftar sifat penjumlahan dan perkaliannya. Daftar ini men-
dasari semua untuk mewujudkan sifat dasar aljabar R dalam arti sifat-sifat yang lain
dapat dibuktikan sebagai teorema. Dalam aljabar abstrak sistem bilangan real meru-
pakan lapangan/medan terhadap penjumlahan dan perkalian. Sifat-sifat yang akan
disajikan pada 2.1.1 berikut dikenal dengan “Aksioma medan”.
Yang dimaksud operasi biner pada himpunan F adalah suatu fungsi B dengan
domain F×F dan range di F. Jadi, operasi biner memasangkan setiap pasangan berurut
(a,b) dari unsur-unsur di F dengan tepat sebuah unsur B(a,b) di F. Tetapi, disamping
menggunakan notasi B(a,b), kita akan lebih sering menggunakan notasi konvensional
a+b dan a.b (atau hanya ab) untuk membicarakan sifat penjumlahan dan perkalian.
Contoh operasi biner yang lain dapat dilihat pada latihan.
2.1.1. Sifat-sifat aljabar R. Pada himpunan bilangan real R terdapat dua operasi
biner, dituliskan dengan “+” dan “. .. .” dan secara berturut-turut disebut penjumlahan
dan perkalian. Kedua operasi ini memenuhi sifat-sifat berikut :
(A
1
). a + b = b + a untuk semua a,b di R (sifat komutatif penjumlahan);
(A
2
). (a + b) + c = a + (b + c) untuk semua a,b,c di R (sifat assosiatif penjumlahan);
(A
3
) terdapat unsur 0 di R sehingga 0 + a = a dan a + 0 = a untuk semua a di R (ek-
sistensi unsur nol);
(A
4
). untuk setiap a di R terdapat unsur -a di R, sehingga a + (-a) = 0 dan (-a) + a = 0
(eksistensi negatif dari unsur);
(M
1
). a.b = b.a untuk semua a,b di R (sifat komutatif perkalian);
(M
2
). (a.b) . c = a . (b.c) untuk semua a,b,c di R (sifat asosiatif perkalian);
(M
3
). terdapat unsur 1 di R yang berbeda dari 0, sehingga 1.a = a dan a.1 = a untuk
semua a di R (eksistensi unsur satuan);
(M
4
). untuk setiap a ≠ 0 di R terdapat unsur 1/a di R sehingga a.1/a = 1 dan (1/a).a =
1 (eksistensi balikan);
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 24
(D). a . (b+c) = (a.b) + (a.c) dan (b+c) . a = (b.a) + (c.a) untuk semua a,b,c di R (si-
fat distributif perkalian terhadap penjumlahan);
Pembaca perlu terbiasa dengan sifat-sifat di atas. Dengan demikian akan me-
mudahkan dalam penurunan dengan menggunakan teknik dan manipulasi aljabar.
Berikut kita akan dibuktikan beberapa konsekuensi dasar (tetapi penting).
2.1.2 Teorema. (a). Bila z dan a unsur di R sehingga z + a = a, maka z = 0.
(b). Bila u dan b ≠ 0 unsur R sehingga u.b = b, maka u = 1.
Bukti :
(a). Dari hipotesis kita mempunyai z + a = a. Kita tambahkan unsur -a (yang eksis-
tensinya dijamin pada (A
4
)) pada kedua ruas dan diperoleh
(z + a) + (-a) = a + (-a)
Bila kita berturut-turut menggunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
) pada ruas kiri, kita
peroleh
(z + a) + (-a) = z + (a + (-a)) = z + 0 = z;
bila kita menggunakan (A
4
) pada ruas kanan
a + (-a) = 0.
Dari sini kita simpulkan bahwa z = 0.
Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat
penting.
Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa bila diberikan a di R, maka unsur -a
dan 1/a (bila a ≠ 0) ditentukan secara tunggal.
2.1.3 Teorema. (a). Bila a dan b unsur di R sehinga a + b = 0, maka b = -a.
(b). Bila a ≠ 0 dan b unsur di R sehingga a.b = 1, maka b = 1/a.
Bukti :
(a). Bila a + b = 0, maka kita tambahkan -a pada kedua ruas dan diperoleh
(-a) + (a + b) = (-a) + 0.
Bila kita berturut-turut menggunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
) pada ruas kiri, kita peroleh
(-a) + (a + b) = ((-a) + a) + b = 0 + b = b;
bila kita menggunakan (A
3
) pada ruas kanan kita dapatkan
Pendahuluan
Analisis Real I 25
(-a) + 0 = -a.
Dari sini kita simpulkan bahwa b = -a.
Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat
penting.
Bila kita perhatikan sifat di atas untuk menyelesaikan persamaan, kita peroleh
bahwa (A
4
) dan (M
4
) memungkinkan kita untuk menyelesaikan persamaan a + x = 0
dan a . x = 1 (bila a ≠ 0) untuk x, dan teorema 2.1.3 mengakibatkan bahwa solusinya
tunggal. Teorema berikut menunjukkan bahwa ruas kanan dari persamaan ini dapat
sebarang unsur di R.
2.1.4 Teorema. Misalkan a,b sebarang unsur di R. Maka :
(a). persamaan a + x = b mempunyai solusi tunggal x = (-a) + b;
(b). bila a ≠ 0, persamaan a . x = b mempunyai solusi tunggal x = (1/a) . b.
Bukti :
Dengan menggunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
), kita peroleh
a + ((-a) + b) = (a + (-a)) + b = 0 + b = b,
yang mengakibatkan x = (-a) + b merupakan solusi dari persamaan a + x = b. Untuk
menunjukkan bahwa ini merupakan satu-satunya solusi, andaikan x
1
sebarang solusi
dari persamaan tersebut, maka a + x
1
= b, dan bila kita tambahkan kedua ruas dengan
-a, kita peroleh
(-a) + (a + x
1
) = (-a) + b.
Bila sekarang kita gunakan (A
2
), (A
4
) dan (A
3
) pada ruas kiri, kita peroleh
(-a) + (a + x
1
) = (-a + a) + x
1
= 0 + x
1
= x
1
.
Dari sini kita simpulkan bahwa x
1
= (-a) + b.
Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan.
Sejauh ini, ketiga teorema yang telah dikenalkan kita hanya memperhatikan
penjumlahan dan perkalian secara terpisah. Untuk melihat keterpaduan antara kedua-
nya, kita harus melibatkan sifat distributif (D). Hal ini diilustrasikan dalam teorema
berikut.
2.1.5 Teorema. Bila a sebarang unsur di R, maka :
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 26
(a). a . 0 = 0 (b). (-1) . a = -a
(c). -(-a) = a (d). (-1) . (-1) = 1
Bukti :
(a). Dari (M
3
) kita ketahui bahwa a . 1 = a. Maka dengan menambahkan a . 0 dan
mengunakan (D) dan (A
3
) kita peroleh
a + a . 0 = a . 1 + a . 0
= a. (1 + 0) = a . 1 = a.
Jadi, dengan teorema 2.1.2(a) kita peroleh bahwa a . 0 = 0.
(b). Kita gunakan (D), digabung dengan (M
3
), (A
4
) dan bagian (a), untuk memperoleh
a + (-1) . a = 1 . a + (-1) . a = 0 . a = 0
Jadi, dari teorema 2.1.3(a) kita peroleh (-1) . a = - a.
(c). Dengan (A
4
) kita mempunyai (-a) + a = 0. Jadi dari teorema 2.1.3 (a) diperoleh
bahwa a = - (-a).
(d). Dalam bagian (b) substitusikan a = -1. Maka
(-1) . (-1) = -(-1).
Dari sini, kita menggunakan (c) dengan a = 1.
Kita simpulkan deduksi formal kita dari sifat medan (bilangan real) dengan
menutupnya dengan hasil-hasil berikut.
2.1.6 Teorema. Misalkan a,b,c unsur-unsur di R.
(a). Bila a ≠ 0, maka 1/a ≠ 0 dan 1/(1/a) = a
(b). Bila a . b = a . c dan a ≠ 0, maka b = c
(c). Bila a . b = 0, maka paling tidak satu dari a = 0 atau b = 0 benar.
Bukti :
(a). Bila a ≠ 0, maka terdapat 1/a. Andaikan 1/a = 0, maka 1 = a . (1/a) = a . 0 = 0,
kontradiksi dengan (M
3
). Jadi 1/a ≠ 0 dan karena (1/a) . a = 1, Teorema 2.1.3(b) men-
gakibatkan 1/(1/a) = a.
(b). Bila kita kalikan kedua ruas persamaan a . b = a . c dengan 1/a dan menggunakan
sifat asosiatif (M
2
), kita peroleh
((1/a) . a) . b = ((1/a) . a) . c.
Pendahuluan
Analisis Real I 27
Jadi 1 . b = 1 . c yang berarti juga b = c
(c). Hal ini cukup dengan mengasumsikan a ≠ 0 dan memperoleh b = 0. (Mengapa?)
Karena a . b = 0 = a . 0, kita gunakan bagian (b) terhadap persamaan a . b = a . 0
yang menghasilkan b = 0, bila a ≠ 0.
Teorema-teorema di atas mewakili sebagian kecil tetapi penting dari sifat-sifat
aljabar bilangan real. Banyak konsekuensi tambahan sifat medan R dapat diturunkan
dan beberapa diberikan dalam latihan.
Operasi pengurangan didefinisikan dengan a - b = a + (-b) untuk a,b di R. Se-
cara sama operasi pembagian didefinisikan untuk a,b di R, b ≠ 0 dengan a/b = a.(1/b).
Berikutnya, kita akan menggunakan notasi ini untuk pengurangan dan pembagian.
Secara sama, sejak sekarang kita akan tinggalkan titik untuk perkalian dan menulis-
kan ab untuk a.b. Sebagaimana biasa kita akan menuliskan a
2
untuk aa, a
3
untuk
(a
2
)a; secara umum, untuk n∈N, kita definisikan a
n+1
= (a
n
)a. Kita juga menyetujui
penulisan a
0
= 1dan a
1
= a untuk sebarang a di R (a ≠ 0). Kita tinggalkan ini sebagai
latihan bagi pembaca untuk membuktikan (dengan induksi) bahwa bila a di R, maka
a
m+n
= a
m
a
n

untuk semua m,n di N. Bila a ≠ 0, kita akan gunakan notasi a
-1
untuk 1/a, dan bila

n∈N, kita tuliskan a
-n
untuk (1/a)
n
, bila memang hal ini memudahkan.
Bilangan Rasional dan Irasional
Kita anggap himpunan bilangan asli sebagai subhimpunan dari R, dengan
mengidentifikasi bilangan asli n∈N sebagai penjumlahan n-kali unsur satuan 1∈R.
Secara sama, kita identifikasi 0∈Z dengan unsur nol di R, dan penjumlahan n-kali
unsur -1 sebagai bilangan bulat -n. Akibatnya, N dan Z subhimpunan dari R.
Unsur-unsur di R yang dapat dituliskan dalam bentuk b/a dengan a,b di Z dan
a ≠ 0 disebut bilangan rasional. Himpunan bilangan rasional di R akan dituliskan de-
ngan notasi standar Q. Jumlah dan hasil kali dua bilangan rasional merupakan bilan-
gan rasional (Buktikan!), dan lebih dari itu, sifat-sifat medan yang dituliskan di awal
bagian
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 28
ini dapat ditunjukkan dipenuhi oleh Q.
Fakta bahwa terdapat unsur di R yang tidak di Q tidak begitu saja dikenali.
Pa-
da abad keenam sebelum masehi komunitas Yunani kuno pada masa Pytagoras me-
nemukan bahwa diagonal dari bujur sangkar satuan tidak dapat dinyatakan sebagai
pembagian bilangan bulat. Menurut Teorema Phytagoras tentang segitiga siku-siku,
ini mengakibatkan tidak ada bilangan rasional yang kuadratnya dua. Penemuan ini
mempunyai sumbangan besar pada perkembangan matematika Yunani. Salah satu
konsekuensinya adalah unsur-unsur R yang bukan unsur Q merupakan bilangan yang
dikenal dengan bilangan irrasional, yang berarti bilangan-bilangan itu bukan rasio (=
hasil bagi dua buah) bilangan rasional. Jangan dikacaukan dengan arti tak rasional.
Kita akan tutup bagian ini dengan suatu bukti dari fakta bahwa tidak ada bi-
lang-an rasional yang kuadratnya 2. Dalam pembuktiannya kita akan menggunakan
gagasan bilangan genap dan bilangan ganjil. Kita ingat kembali bahwa bilangan genap
mempu-nyai bentuk 2n untuk suatu n di N, dan bilangan ganjil mempunyai bentuk 2n
- 1 untuk suatu n di N. Setiap bilangan asli bersifat ganjil atau genap, dan tidak pernah
bersifat keduanya.
2.1.7 Teorema. Tidak ada bilangan rasional r, sehingga r
2
= 2
Bukti :
Andaikan terdapat bilangan rasional yang kuadratnya 2. Maka terdapat bilan-
gan bulat p dan q sehingga (p/q)
2
= 2. Asumsikan bahwa p,q positif dan tidak mem-
punyai faktor persekutuan lain kecuali 1. (Mengapa?) Karena p
2
= 2q
2
, kita peroleh
bahwa p
2
genap. Ini mengakibatkan bahwa p juga genap (karena bila p = 2n - 1ganjil,
maka kuadratnya, p
2
= 4n
2
- 4n + 1 = 2(2n
2
- 2n +1) - 1 juga ganjil). Akibatnya, teo-
rema 2 bukan faktor persekutuan dari p dan q maka haruslah q ganjil.
Karena p genap, maka p = 2m untuk suatu m ∈ N, dan dari sini 4m
2
= 2q
2
, jadi
2m
2
= q
2
. Akibatnya q
2
genap, yang diikuti q juga genap, dengan alasan seperti pada
paragraf terdahulu.
Pendahuluan
Analisis Real I 29
Dari sini kita sampai pada kontradiksi bahwa tidak ada bilangan asli yang ber-
sifat genap dan ganjil.
Latihan 2.1
Untuk nomor 1 dan 2, buktikan bagian b dari teorema
1. 2.1.2
2. 2.1.3.
3. Selesaikan persamaan berikut dan sebutkan sifat atau teorema mana yang anda
gunakan pada setiap langkahnya.
(a). 2x + 5 = 8; (b). 2x + 6 = 3x + 2;
(c). x
2
= 2x; (d). (x - 1) (x + 2) = 0.
4. Buktikan bahwa bila a,b di R, maka
-(a + b) = (-a) + (-b) (b). (-a).(-b) = a.b
(-a) = -(1/a) bila a ≠ 0 (d). -(a/b) = (-a)/b bila b ≠ 0
5. Bila a,b di R dan memenuhi a.a = a, buktikan bahwa a = 0 atau a = 1
6. Bila a ≠ 0 dan b ≠ 0, tunjukkan bahwa 1/(ab) = (1/a).(1/b)
7. Gunakan argumentasi pada bukti teorema 2.1.7 untuk membuktikan bahwa tidak
ada bilangan rasional s, sehingga s
2
= 6.
8. Modifikasi argumentasi pada bukti teorema 2.1.7 untuk membuktikan bahwa ti-
dak ada bilangan rasional t, sehingga t
2
= 3.
9. Tunjukkan bahwa bila ξ di R irasional dan r ≠ 0 rasional, maka r + ξ dan rξ ira-
sional.
10. Misalkan B operasi biner pada R. Kita katakan B :
(i). komutatif bila B(a,b) = B(b,a) untuk semua a,b di R.
(ii). asosiatif bila B(a,B(a,c)) = B(B(a,b),c) untuk semua a,b,c di R.
(iii). mempunyai unsur identitas bila terdapat unsur e di R sehingga B(a,e) = a =
B(e,a), untuk semua a di R
Tentukan sifat-sifat mana yang dipenuhi operasi di bawah ini
(a). B
1
(a,b) =
1
2
(a + b) (b). B
2
(a,b) =
1
2
(ab)
(c). B
3
(a,b) = a - b (d). B
4
(a,b) = 1 + ab
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 30
11. Suatu operasi biner B pada R dikatakan distributif terhadap penjumlahan bila me-
menuhi B(a,b + c) = B(a,b) + B(a,c) untuk semua a,b,c di R. Yang mana (bila
ada) dari operasi nomor 12 yang bersifat distributif terhadap penjumlahan?.
12. Gunakan induksi matematika untuk menunjukan bahwa bila a di R dan m,n di N,
maka a
m+n
= a
m
a
n
dan (a
m
)
n
= a
m.n
.
13. Buktikan bahwa bilangan asli tidak dapat bersifat genap dan ganjil secara ber-
samaan.
2.2. Sifat Urutan Dalam R
Sifat urutan R mengikuti gagasan positivitas dan ketaksamaan antara dua bi-
lang-an real. Seperti halnya pada struktur aljabar sistem bilangan real, di sini kita
utamakan beberapa sifat dasar sehingga sifat yang lain dapat diturunkan. Cara paling
sederhana yaitu dengan mengidentifikasi sub himpunan tertentu dari R dengan meng-
gunakan gagasan “positivitas”.
2.2.1 Sifat Urutan dari R. Terdapat sub himpunan tak kosong P dari R, yang disebut
himpunan bilangan real positif, yang memenuhi sifat-sifat berikut :
(i). Bila a,b di P, maka a + b di P
(ii). Bila a,b di P, maka a.b di P
(iii). Bila a di R, maka tepat satu dari yang berikut dipenuhi
a ∈ P, a = 0, -a ∈ P
Dua sifat yang pertama kesesuaian urutan dengan operasi penjumlahan dan
perkalian. Kondisi (iii) biasa disebut “Sifat Trikotomi”, karena hal ini membagi R
menjadi tiga daripada unsur yang berbeda. Hal ini menyatakan bahwa himpunan {-a
a ∈ P} bilangan real negatif tidak mempunyai unsur sekutu di P, dan lebih dari itu, R
gabungan tiga himpunan yang saling lepas.
2.2.2 Definisi. Bila a∈P, kita katakan a bilangan real positif (atau positif kuat) dan
kita tulis a > 0. Bila a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak negatif dan ditulis a ≥
0.
Pendahuluan
Analisis Real I 31
Bila -a∈P, kita katakan a bilangan real negatif (atau negatif kuat) dan kita tulis
a < 0. Bila -a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak positif dan ditulis a ≤ 0.
Sekarang kita perkenalkan gagasan tentang ketaksamaan antara unsur-unsur R
dalam himpunan bilangan positif P.

2.2.3 Definisi. Misalkan a,b di R.
(i). Bila a - b ∈ P, maka kita tulis a > b atau b < a.
(ii). Bila a - b ∈ P∪{0} maka kita tulis a ≥ b.atau b ≤ a.
Untuk kemudahan penulisan, kita akan menggunakan a < b < c, bila a < b dan
b < c dipenuhi. Secara sama, bila a ≤ b dan b ≤ c benar, kita akan menuliskannya de-
ngan
a ≤ b ≤ c
Juga, bila a ≤ b dan b < d benar, dituliskan dengan
a ≤ b < d
dan seterusnya.
Sifat Urutan
Sekarang akan kita perkenalkan beberapa sifat dasar relasi urutan pada R. Ini
merupakan aturan ketaksamaan yang biasa kita kenal dan akan sering kita gunakan
pada pembahasan selanjutnya.
2.2.4 Teorema. Misalkan a,b,c di R.
(a). Bila a > b dan b > c, maka a > c
(b). Tepat satu yang berikut benar : a > b, a = b dan a < b
(c). Bila a ≥ b dan b ≥ a, maka a = b
Bukti :
(a). . Bila a - b ∈ P dan b - c ∈ P, maka 2.2.1(i) mengakibatkan bahwa (a - b) + (b -
c) = a - c unsur di P. Dari sini a > c.
(b). . Dengan sifat trikotomi 2.2.1(iii), tepat satu dari yang berikut benar : a - b ∈ P, a
- b = 0, -(a - b) = b - a ∈ P.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 32
(c). . Bila a ≠ b, maka a - b ≠ 0, jadi menurut bagian (b) kita hanya mempunyai a - b
∈ P atau b - a ∈ P., yaitu a > b atau b > a. Yang masing-masing kontradiksi den-
gan satu dari hipotesis kita. Karena itu a = b.
Adalah hal yang wajar bila kita berharap bilangan asli merupakan bilangan
positif. Kita akan tunjukkan bagaimana sifat ini diturunkan dari sifat dasar yang
diberikan dalam 2.2.1. Kuncinya adalah bahwa kuadrat dari bilangan real tak nol posi-
tif.
2.2.5 Teorema. (a). Bila a∈R dan a ≠ 0, maka a
2
> 0
(b). 1 > 0
(c). Bila n∈N, maka n > 0
Bukti :
(a). Dengan sifat trikotomi bila a ≠ 0, maka a ∈ P atau -a ∈ P. Bila a ∈ P., maka de-
ngan 2.2.1(ii), kita mempunyai a
2
= a.a ∈ P. Secara sama bila -a ∈ P, maka 2.2.1
(ii), kita mempunyai (-a).(-a) ∈ P. Dari 2.1.5(b) dan 2.1.5(d) kita mempunyai
(-a).(-a) = ((-1)a) ((-1)a) = (-1)(-1).a
2
= a
2
,
jadi a
2
∈ P. Kita simpulkan bahwa bila a ≠ 0, maka a
2
> 0.
(b). Karena 1 = (1)
2
, (a) mengakibatkan 1 > 0.
(c). Kita gunakan induksi matematika, validitas untuk n = 1 dijamin oleh (b). Bila per-
nyataan k > 0, dengan k bilangan asli, maka k∈P. Karena 1 ∈ P, maka k + 1 ∈ P,
menurut 2.2.1(i) . Dari sini pernyataan n > 0 untuk semua n∈N benar.
Sifat berikut berhubungan dengan urutan di R terhadap penjumlahan dan per-
kalian. Sifat-sifat ini menyajikan beberapa alat yang memungkinkan kita bekerja den-
gan ketaksamaan.
2.2.6 Teorema. Misalkan a,b,c,d ∈ R
(a). bila a > b, maka a + c > b + c
(b). bila a > b dan c > d, maka a + c > b + d
(c). bila a > b dan c > 0, maka ca > cb
bila a > b dan c < 0, maka ca < cb
Pendahuluan
Analisis Real I 33
(d). bila a > 0, maka 1/a > 0
bila a < 0, maka 1/a < 0
Bukti :
(a). Bila a - b ∈ P, maka (a + c) - (b + c) unsur di P. Jadi a + c > b + c
(b). Bila a - b ∈ P dan c - d ∈ P, maka (a + c) - (b + d) = (a - b) + (c - d) juga unsur di
P menurut 2.2.1(i). Jadi, a + c > b + d.
(c). Bila a - b ∈ P dan c ∈ P, maka ca - cb = c(a - b) ∈ P menurut 2.2.1(ii), karena itu
ca > cb, bila c > 0. Dilain pihak, bila c < 0, maka -c ∈ P sehingga cb - ca = (-c)(a -
b) unsur di P. Dari sini, cb > ca bila c < 0.
(d). Bila a > 0, maka a ≠ 0 (menurut sifat trikotomi), jadi 1/a ≠ 0 menurut 2.1.6(a).
Andaikan 1/a < 0, maka bagian (c) dengan c = 1/a mengakibatkan bahwa 1 =
a(1/a) < 0, kontradiksi dengan 2.2.5(b). Karenanya 1/a > 0.
Secara sama, bila a < 0, maka kemungkinan 1/a > 0 membawa ke sesuatu yang
kontradiksi yaitu 1 = a(1/a) < 0.
Dengan menggabung 2.2.6(c) dan 2.2.6(d), kita peroleh bahwa
1
n
dengan n
sebarang bilangan asli adalah bilangan positif. Akibatnya bilangan rasional dengan
bentuk
m
n
= m
1
n
|
\

|
¹
|
, untuk m dan n bilangan asli, adalah positif.
2.2.7 Teorema. Bila a dan b unsur di R dan bila a < b, maka a <
1
2
(a + b) < b.
Bukti :
Karena a < b, mengikuti 2.2.6(a) diperoleh bahwa 2a = a + a < a + b dan juga a + b <
b + b = 2b. Karena itu kita mempunyai
2a < a + b < 2b
Menurut 2.2.5(c) kita mempunyai 2 > 0, karenanya menurut 2.2.6(d) kita peroleh
1
2
>
0. Dengan menggunakan 2.2.6(c) kita dapatkan
a =
1
2
(2a) <
1
2
(a + b) <
1
2
(2b) = b
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 34
Dari sifat urutan yang telah dibahas sejauh ini, kita tidak mendapatkan bilan-
gan real positif terkecil. Hal ini akan ditunjukkan sebagai berikut :
2.2.8 Teorema Akibat. Bila b ∈ R dan b > 0, maka 0 <
1
2
b < b.
Bukti :
Ambil a = 0 dalam 2.2.7.
Dua hasil yang berikut akan digunakan sebagai metode pembuktian selanjut-
nya. Sebagai contoh, untuk membuktikan bahwa a ≥ 0 benar-benar sama dengan 0,
kita lihat pada hasil berikut bahwa hal ini cukup dengan menunjukkan bahwa a
kurang dari sebarang bilangan positif manapun.
2.2.9 Teorema. Bila a di R sehingga 0 ≤ a < ε untuk setiap ε positif, maka a = 0.
Bukti :
Andaikan a > 0. Maka menurut 2.2.8 diperoleh 0 <
1
2
a <a. Sekarang tetapkan ε
0
=
1
2
a, maka 0 < ε
0
< a. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa 0 < ε untuk setiap ε
positif. Jadi a = 0.
2.2.10 Teorema. Misalkan a,b di R, dan a - ε < b untuk setiap ε >0. Maka a ≤ b.
Bukti :
Andaikan b < a dan tetapkan ε
0
=
1
2
(a - b). Maka ε
0
dan b < a - ε
0
, kontradiksi dengan
hipotesis. (Bukti lengkapnya sebagai latihan).
Hasil kali dua bilangan positif merupakan bilangan positif juga. Tetapi, posi-
tivitas suatu hasil kali tidak mengakibatkan bahwa faktor-faktornya positif. Ken-
yataannya adalah kedua faktor tersebut harus bertanda sama (sama-sama positif atau
sama-sama negatif), seperti ditunjukkan berikut ini.
2.2.11 Teorema. Bila ab > 0, maka
(i). a > 0 dan b > 0 atau
(ii). a < 0 dan b < 0
Bukti :
Pendahuluan
Analisis Real I 35
Pertama kita catat bahwa ab > 0 mengakibatkan a ≠ 0 dan b ≠ 0 (karena bila a
= 0 dan b = 0, maka hasil kalinya 0). Dari sifat trikotomi, a > 0 atau a < 0. Bila a >0,
maka 1/a > 0 menurut 2.2.6(d) dan karenanya
b = 1.b = ((1/a)a) b = (1/a) (ab) > 0
Secara sama, bila a < 0, maka 1/a < 0, sehingga b = (1/a) (ab) < 0.
2.2.12 Teorema Akibat. Bila ab < 0, maka
(i). a < 0 dan b > 0 atau
(ii). a > 0 dan b < 0
Buktinya sebagai latihan.
Ketaksamaan
Sekarang kita tunjukkan bagaimana sifat urutan yang telah kita bahas dapat
digunakan untuk menyelesaikan ketaksamaan. Pembaca diminta memeriksa dengan
hati-hati setiap langkahnya.
2.2.13 Contoh-contoh.
(a). Tentukan himpunan A dari semua bilangan real x yang memenuhi 2x = 3 ≤ 6.
Kita catat bahwa x ∈ A ⇔ 2x + 3 ≤ 6 ⇔ 2x ≤ 3 ⇔ x ≤ 3/2.
Karenanya, A = {x ∈ R x ≤ 3/2}.
(b). Tentukan himpunan B = {x ∈ R x
2
+ x > 2}
Kita ingat kembali bahwa teorema 2.2.11 dapat digunakan. Tuliskan bahwa x
∈ B ⇔ x
2
+ x - 2 > 0 ⇔ (x - 1) (x + 2) > 0. Karenanya, kita mempunyai (i). x - 1
> 0 dan x + 2 > 0, atau (ii). x - 1 < 0 dan x + 2 < 0. Dalam kasus (i). kita mem-
punyai x > 1 dan x > -2, yang dipenuhi jika dan hanya jika x > 1. Dalam kasus (ii)
kita mempunyai x < 1 dan x < -2, yang dipenuhi jika dan hanya jika x < -2.
Jadi B = {x ∈ R x > 1}∪{x ∈ R x < -2}.
(c). Tentukan himpunan C = {x ∈ R (2x + 1)/(x + 2) < 1}. Kita catat bahwa x ∈ C ⇔
(2x + 1)/(x + 2) - 1 < 0 ⇔ (x - 1)/(x + 2) < 0. Karenanya, kita mempunyai (i).x - 1
< 0 dan x + 2 > 0, atau (ii). x - 1 > 0 dan x + 2 < 0 (Mengapa?). Dalam kasus (i)
kita harus mempunyai x < 1 dan x > -2, yang dipenuhi, jika dan hanya jika -2 < x
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 36
< 1, sedangkan dalam kasus (ii), kita harus mempunyai x > 1 dan x < -2, yang ti-
dak akan pernah dipenuhi.
Jadi kesimpulannya adalah C = {x ∈ R -2 < x < 1}.
Contoh berikut mengilustrasikan penggunaan sifat urutan R dalam pertak-
samaan. Pembaca seharusnya membuktikan setiap langkah dengan mengidentifikasi
sifat-sifat yang digunakan. Hal ini akan membiasakan untuk yakin dengan setiap lang-
kah dalam pekerjaan selanjutnya. Perlu dicatat juga bahwa eksistensi akar kuadrat dari
bilangan positif kuat belum diperkenalkan secara formal, tetapi eksistensinya kita ter-
ima dalam membicarakan contoh-contoh berikut.
(Eksistensi akar kuadrat akan dibahas dalam 2.5).
2.2.14. Contoh-contoh. (a). Misalkan a ≥ 0 dan b ≥ 0. Maka (i). a < b ⇔ a
2
< b
2

a b <
Kita pandang kasus a > 0 dan b > 0, dan kita tinggalkan kasus a = 0 kepada
pembaca. Dari 2.2.1(i) diperoleh bahwa a + b > 0. Karena b
2
- a
2
= (b - a) (b + a),
dari 2.2.6(c) diperoleh bahwa b - a > 0 mengakibatkan bahwa b - a > 0.
Bila a > 0 dan b > 0, maka a b > > 0 dan 0 , karena a = ( a )
2
dan b =
( b )
2
, maka bila a dan b berturut-turut diganti dengan a dan b , dan kita guna-
kan bukti di atas diperoleh a < b ⇔ a b <
Kita juga tinggalkan kepada pembaca untuk menunjukkan bahwa bila a ≥ 0
dan b ≥ 0, maka
a ≤ b ⇔ a
2
≤ b
2
⇔ a ≤ b
(b). Bila a dan b bilangan bulat positif, maka rata-rata aritmatisnya adalah
1
2
(a + b)
dan rata-rata geometrisnya adalah ab . Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris
diberikan oleh
ab ≤
1
2
(a + b) (2)
dan ketaksamaan terjadi jika dan hanya jika a = b.
Pendahuluan
Analisis Real I 37
Untuk membuktikan hal ini, perhatikan bahwa bila a > 0, b > 0, dan a ≠ b,
maka a > 0, b > 0 dan a ≠ b (Mengapa?). Karenanya dari 2.2.5(a) diperoleh
bahwa ( a - b )
2
> 0. Dengan mengekspansi kuadrat ini, diperoleh
a - 2 ab + b > 0,
yang diikuti oleh
ab <
1
2
(a + b).
Karenanya (2) dipenuhi (untuk ketaksamaan kuat) bila a ≠ b. Lebih dari itu, bila a = b
(> 0), maka kedua ruas dari (2) sama dengan a, jadi (2) menjadi kesamaan. Hal ini
membuktikan bahwa (2) dipenuhi untuk a > 0, b > 0.
Dilain pihak, misalkan a > 0, b > 0 dan ab <
1
2
(a + b). Maka dengan meng-
kuadratkan kedua ruas kemudian mengalikannya dengan 4, kita peroleh
4ab = (a + b)
2
= a
2
+ 2ab + b
2
,
yang diikuti oleh
0 = a
2
- 2ab + b
2
= (a - b)
2
.
Tetapi kesamaan ini mengakibatkan a = b (Mengapa?). Jadi kesamaan untuk (2) men-
gakibatkan a = b.
Catatan : Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris yang umum untuk bilangan positif a
1
, a
2
,...,a
n

adalah
(a
1
a
2
... a
n
)
1/n

a a a
1 2
+ + + . . .
n
n
(3)
dengan kesamaan terjadi jika dan hanya jika a
1
= a
2
= ... = a
n
.
(c). Ketaksamaan Bernoulli. Bila x > -1, maka
(1 + x)
n
≥ 1 + nx ; untuk semua n ∈ N. (4)
Buktinya dengan menggunakan induksi matematika. Untuk n = 1, menghasilkan ke-
samaan sehingga pernyataan tersebut benar dalam kasus ini. Selanjutnya, kita asumsi-
kan bahwa ketaksamaan (4) valid untuk suatu bilangan asli n, dan akan dibuktikan
valid juga untuk n + 1. Asumsi (1 + x)
n
≤ 1 + nx dan fakta 1 + x > 0 mengakibatkan
bahwa
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 38
(1 + x)
n+1
= (1 + x)
n
(1 + x)
≥ (1 + nx) (1 + x) = 1 + (n + 1)x + nx
2

≥ 1 + (n + 1)x
Jadi, ketaksamaan (4) valid untuk n + 1, bila valid untuk n. Dari sini, ketaksamaan (4)
valid untuk semua bilangan asli.
(d). Ketaksamaan Cauchy. Bila n∈N dan a
1
, a
2
, ... ,a
n
dan b
1
, b
2
, ..., b
n
bilangan real
maka
(a
1
b
1
+ ... + a
n
b
n
)
2
≤ (a
1
2
+ ... + a
n
2
) (b
1
2
+ ... + b
n
2
). (5)
Lebih dari itu, bila tidak semua b
j
= 0, maka kesamaan untuk (5) dipenuhi jika dan
hanya jika terdapat bilangan real s, sehingga
a
1
= sb
1
, ..., a
n
= sb
n
.
Untuk membuktikan hal ini kita definisikan fungsi F : R → R, untuk t∈R
de-ngan
F(t) = (a
1
- tb
1
)
2
+ ... + (a
n
- tb
n
)
2
.
Dari 2.2.5(a) dan 2.2.1(i) diperoleh bahwa F(t) ≥ 0 untuk semua t∈R. Bila kuadratnya
diekspansikan diperoleh
F(t) = A - 2Bt + Ct
2
≥ 0,
dengan A,B,C sebagai berikut
A = a
1
2
+ ... + a
n
2
;
B = a
1
b
1
+ ... + a
n
b
n
;
C = b
1
2
+ ... + b
n
2
.
Karena fungsi kuadrat F(t) tak negatif untuk semua t ∈ R, hal ini tidak mungkin
mempunyai dua akar real yang berbeda. Karenanya diskriminannya
∆ = (-2B)
2
- 4AC = 4(B
2
- AC)
harus memenuhi ∆ ≤ 0. Karenanya, kita mempunyai B ≤ AC, yang tidak lain adalah
(5).
Bila b
j
= 0, untuk semua j = 1, ..., n, maka kesamaan untuk (5) dipenuhi untuk
sebarang a
j
. Misalkan sekarang tidak semua b
j
= 0. Maka, bila a
j
= sb
j
untuk suatu
Pendahuluan
Analisis Real I 39
s∈R dan semua j = 1, ..., n, mengakibatkan kedua ruas dari (5) sama dengan s
2
(b
1
2
+
... +b
n
2
)
2
. Di lain pihak bila kesamaan untuk (5) dipenuhi, maka haruslah ∆ = 0, se-
hingga terdapat akar tunggal s dari persamaan kuadrat F(t) = 0. Tetapi hal ini men-
gakibatkan (mengapa?) bahwa
a
1
- sb
1
= 0, ..., a
n
- sb
n
= 0
yang diikuti oleh a
j
= sb
j
untuk semua j = 1, ..., n.
(e). Ketaksamaan Segitiga. Bila n ∈ N dan a
1
, ..., a
n
dan b
1
, ..., b
n
bilangan real maka
[(a
1
+ b
1
)
2
+ ... + (a
n
+ b
n
)
2
]
1/2
≤ [a
1
2
+ ... + a
n
2
]
1/2
+ [b
1
2
+ ... + b
n
2
]
1/2
(6)
lebih dari itu bila tidak semua b
j
= 0, kesamaan untuk (6) dipenuhi jika dan hanya jika
terdapat bilangan real s, sehingga a
1
= sb
1
, ..., a
n
= sb
n
.
Karena (a
j
+ b
j
)
2
= a
j
2
+ 2a
j
b
j
+ b
j
2
untuk j = 1, ..., n,dengan menggunakan
ketaksamaan Cauchy (5) [A,B,C seperti pada (d)], kita mempunyai
(a
1
+ b
1
)
2
+ ... + (a
n
+ b
n
)
2
= A + 2B + C
≤ A + 2 AC + C = ( A + C )
2

Dengan mengunakan bagian (a) kita mempunyai (mengapa?)
[(a
1
+ b
1
)
2
+ ... + (a
n
+ b
n
)
2
]
1/2
≤ A + C ,
yang tidak lain adalah (b).
Bila kesamaan untuk (b) dipenuhi, maka B = AC, yang mengakibatkan ke-
samaan dalam ketaksamaan Cauchy dipenuhi.
Latihan 2.2
1. (a). Bila a ≤ b dan c < d, buktikan bahwa a + c < b + d.
(b). Bila a ≤ b dan c ≤ d, buktikan bahwa a + c ≤ b + d.
2. (a). Bila 0 < a < b dan 0 < c < d, buktikan bahwa 0 < ac < bd
(b). Bila 0 < a < b dan 0 ≤ c ≤ d, buktikan bahwa 0 ≤ ac ≤ bd.
Juga tunjukkan dengan contoh bahwa ac < bd tidak selalu dipenuhi.
3. Buktikan bila a < b dan c < d, maka ad + bc < ac + bd.
4. Tentukan bilangan real a,b,c,d yang memenuhi 0 < a < b dan c < d < 0, sehingga
(i). ac < bd, atau (ii). bd < ac.
5. Bila a,b ∈ R, tunjukkan bahwa a
2
+ b
2
= 0 jika dan hanya jika a = 0 dan b = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 40
6. Bila 0 ≤ a < b, buktikan bahwa a
2
≤ ab < b
2
. Juga tunjukkan dengan contoh bahwa
hal ini tidak selalu diikuti oleh a
2
< ab < b
2
.
7. Tunjukan bahwa bila 0 < a < b, maka a < ab < b dan 0 < 1/b < 1/a.
8. Bila n ∈ N, tunjukan bahwa n
2
≥ n dan dari sini 1/n
2
≤ 1/n.
9.Tentukan bilangan real x yang memenuhi
(a). x
2
> 3x + 4; (b). 1 < x
2
< 4;
(c). 1/x < x; (d). 1/x < x
2
.
10. Misal a,b ∈ R dan untuk setiap ε > 0 kita mempunyai a ≤ b + ε.
(a). Tunjukkan bahwa a ≤ b.
(b). Tunjukkan bahwa tidak selalu dipenuhi a < b.
11. Buktikan bahwa (
1
2
(a + b))
2

1
2
(a
2
+ b
2
) untuk semua a,b ∈ R. Tunjukkan
bahwa kesamaan dipenuhi jika dan hanya jika a = b.
12. (a). Bila 0 < c < 1, tunjukkan bahwa 0 < c
2
< c < 1
(b). Bila 1 < c, tunjukkan bahwa 1 < c < c
2

13. Bila c > 1, tunjukkan bahwa c
n
≥ c untuk semua n ∈ N. (Perhatikan ketaksamaan
Bernoulli dengan c = 1 + x).
14. Bila c > 1, dan m,n ∈ N, tunjukkan bahwa c
m
> c
n
jika dan hanya jika m > n.
15. Bila 0 < c < 1, tunjukkan bahwa c
n
≤ c untuk semua n ∈ N.
16. Bila 0 < c < 1 dan m,n ∈ N, tunjukkan bahwa c
m
< c
n
jika dan hanya jika m > n.
17. Bila a > 0, b > 0 dan n ∈ N, tunjukkan bahwa a < b jika dan hanya jika a
n
< b
n
.
18. Misalkan c
k
> 0 untuk k = 1,2,...,n. Buktikan bahwa
n
2
≤ (c
1
+ c
2
+ ... + c
n
)
( )
1 1 1
1 2
c c c
+ + + . . .
n

19. Misalkan c
k
> 0 untuk k = 1,2,...,n. Tunjukkan bahwa
[ ]
c c c
c c c
1 2
1
2
2
2 2
1 2
+ + +
≤ + + +
...
n
...
n
n
/
≤ c
1
+ c
2
+ ... + c
n
20. Asumsikan eksistensi akar dipenuhi, tunjukkan bahwa bila c > 1, maka c
1/m
< c
1/n

jika dan hanya jika m > n.
2.3. Nilai Mutlak
Pendahuluan
Analisis Real I 41
Dari sifat trikotomi 2.2.1(ii), dijamin bahwa bila a ∈ R dan a ≠ 0, maka tepat
satu dari bilangan a atau -a positif. Nilai mutlak dari a ≠ 0 didefinisikan sebagai bi-
langan yang positif dari keduanya. Nilai mutlak dari 0 didefinisikan 0.
2.3.1 Definisi. Bila a ∈ R, nilai mutlak a, dituliskan dengan ¦a¦, didefinisikan den-
gan
a
a a
a
a a
=

¦
´
¦
¹
¦
, bila > 0
0 , bila = 0
, bila < 0

Sebagai contoh 3 = 3 dan −2 = 2. Dari definisi ini kita akan melihat bahwa
¦a¦ ≥ 0, untuk semua a ∈ R. Juga ¦a¦ = a bila a ≥ 0, dan ¦a¦ = -a bila a < 0.
2.3.2 Teorema. (a). ¦a¦ = 0 jika dan hanya jika a = 0
(b). ¦-a¦ = ¦a¦, untuk semua a ∈ R.
(c). ¦ab¦ = ¦a¦¦b¦, untuk semua a,b ∈ R.
(d). Bila c ≥ 0, maka ¦a¦ ≤ c jika dan hanya jika -c ≤ a ≤ c.
(e). - ¦a¦ ≤ a ≤ ¦a¦ untuk semua a ∈ R.
Bukti :
(a). Bila a = 0, maka ¦a¦ = 0. Juga bila a ≠ 0, maka -a ≠ 0, jadi ¦a¦ ≠ 0. Jadi bila ¦a¦
= 0, maka a = 0.
(b). Bila a = 0, maka ¦0¦ = 0 = ¦0¦. Bila a > 0, maka -a < 0 sehingga ¦a¦ = a = -(-a)
= ¦-a¦. Bila a < 0, maka -a > 0, sehinga ¦a¦ = -a = ¦-a¦.
(c). Bila a,b keduanya 0, maka ¦ab¦ dan ¦a¦¦b¦ sama dengan 0. Bila a > 0 dan b > 0,
maka ab > 0, sehingga ¦ab¦ = ab = ¦a¦¦b¦. Bila a > 0 dan b < 0, maka ab < 0, se-
hingga ¦ab¦ = -ab = a(-b) = ¦a¦¦b¦. Secara sama untuk dua kasus yang lain.
(d). Misalkan ¦a¦ ≤ c. Maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c. (Mengapa?) Karena
ke-taksamaan terakhir ekivalen dengan a ≥ -c, maka kita mempunyai -c ≤ a ≤ c. Se-
balik-nya, bila -c ≤ a ≤ c, maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c. (Mengapa?), se-
hingga ¦a¦ ≤ c.
(e). Tetapkan c = ¦a¦ pada (d).
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 42
Ketaksamaan berikut akan sering kita gunakan.
2.3.3. Ketaksamaan Segitiga. Untuk sebarang a,b di R, kita mempunyai
a b a b + ≤ +
Bukti :
Dari 2.3.2(e), kita mempunyai -¦a¦ ≤ a ≤ ¦a¦ dan -¦b¦ ≤ b ≤ ¦b¦. Kemudian dengan
menambahkan dan menggunaka 2.2.6(b), kita peroleh
( )
− + ≤ + ≤ + a b a b a b
Dari sini, kita mempunyai a b a b + ≤ + dengan menggunakan 2.3.2(d).
Terdapat banyak variasi penggunaan Ketaksamaan Segitiga. Berikut ini dua di
antaranya.
2.3.4 Teorema Akibat. Untuk sebarang a,b di R, kita mempunyai
(a). a b a b − ≤ −
(b). a b a b − ≤ +
Bukti :
(a). Kita tuliskan a = a - b + b dan gunakan Ketaksamaan Segitiga untuk memperoleh
a a b b a b b = − + ≤ − + .
Sekarang kita kurangi dengan b untuk memperoleh a b a b − ≤ − . Secara
sama, dari b b a a b a a = − + ≤ − + dan 2.3.2(b), kita peroleh − − a b = − − b a
≤ − a b . Bila kedua ketaksamaan ini kita kombinasikan, dengan menggunakan
2.3.2(d), kita memperoleh ketaksamaan di (a).
(b). Tukar b pada Ketaksamaan Segitiga dengan -b untuk memperoleh a b − ≤
¦a¦+¦-b¦ Karena − = b b [menurut 2.3.2(b)] kita dapatkan ketaksamaan (b).
Aplikasi langsung induksi matematika memperluas Ketaksamaan Segitiga un-
tuk sejumlah hingga bilangan real.
2.3.5 Teorema Akibat. Untuk sebarang a
1
, a
2
,...,a
n
∈ R, kita mempunyai
a a a a a a
1 2 1 2
+ + + ≤ + + + . . . . . .
n n

Pendahuluan
Analisis Real I 43
Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana sifat-sifat nilai mutlak
terdahulu dapat digunakan.
2.3.6 Contoh-contoh.
(a). Tentukan himpunan A dari bilangan real x yang memenuhi 2x 3 6 + <
Dari 2.3.2(d), kita lihat bahwa x ∈ A jika dan hanya jika -6 < 2x + 3 < 6, yang
dipenuhi jika dan hanya jika -9 < 2x < 3. Dengan membagi dua, kita peroleh
A = {x ∈ R -9/2 < x < 3/2}.
(b). Tentukan himpunan B = {x ∈ R x 1 x − < }.
Caranya dengan memperhatikan setiap kasus bila tanda mutlak dihilangkan.
Di sini kita perhatikan kasus-kasus (i). x ≥ 1, (ii). 0 ≤ x < 1, (iii). x < 0. (Mengapa kita
hanya memperhatikan ketiga kasus di atas?). Pada kasus (i) ketaksamaan kita men-
jadi x - 1 < x, yang dipenuhi oleh semua bilangan real x. Akibatnya semua x ≥ 1 ter-
muat di B. Pada kasus (ii), ketaksamaan kita menjadi -(x - 1) < x, yang menghasilkan
pembahasan lebih lanjut, yaitu x > 1/2. Jadi, kasus (ii) menyajikan semua x dengan
1/2 < x < 1 termuat di B. Pada kasus (iii), ketaksamaan menjadi -(x - 1) < -x, yang
ekivalen dengan 1 < 0. Karena 1 < 0 selalu salah, maka tiodak ada x yang memenuhi
ketaksaman kita pada kasus (iii). Dengan mengkombinasikan ketiga kasus ini
diperoleh bahwa
B = {x ∈ R x > 1/2}.
(c). Misalkan f fungsi yang didefinisikan dengan f (x)
2x 3x 1
2x 1
2
=
− +

untuk 2 ≤ x ≤
3. Tentukan konstanta M sehingga f (x) M ≤ untuk semua x yang memenuhi 2 ≤ x ≤
3.
Kita akan perhatikan secara terpisah pembilang dan penyebut dari
f (x)
2x 3x 1
2x 1
2
=
− +


Aljabar Himpunan
Analisis Real I 44
Dari ketaksamaan segitiga, kita peroleh 2x 3x 1
2
− + ≤ + + 2 x 3x 1
2

≤ ⋅ + ⋅ + 2 3 3 3 1
2
= 28, karena x 3 ≤ untuk semua x yang kita bicarakan. Juga,
2x 1 − ≥ − 2 x 1 ≥ ⋅ − 2 2 1 = 3, karena x 2 ≥ untuk semua x yang kita bicarakan.
(Mengapa?) Karena itu, untuk 2 ≤ x ≤ 3 kita memperoleh bahwa f (x)
28
3
≤ . Dari
sini kita dapat menetapkan M = 28/3. (Catatan bahwa kita meneukan sebuah kon-
stanta yang demikian, M; sebenarnya semua bilangan M ≥ 28/3 juga memenuhi
f (x) M ≤ . Juga dimungkinkan bahwa 28/3 bukan pilihan terkecil untuk M).
Garis Bilangan Real
Interpretasi geometri yang umum dan mudah untuk sistem bilangan real
adalah garis bilangan. Pada interpretasi ini, nilai mutlak ¦a¦ dari unsur a di R diang-
gap seba-
gai jarak dari a ke pusat 0. Lebih umum lagi, jarak antara unsur a dan b di R adalah
a b − .
Kita akan memerlukan bahasa yang tepat untuk membahas gagasan suatu bi-
langan real “dekat” ke yang lain. Bila diberikan bilangan real a, maka bilangan real x
dikatakan “dekat” dengan a seharusnya diartikan bahwa jarak antara keduanya x − a
“kecil”. Untuk membahas gagasan ini, kita akan menggunakan kata lingkungan, yang
sebentar lagi akan kita definisikan.
2.3.7 Definisi. Misalkan a ∈ R dan ε > 0. Maka lingkungan-ε dari a adalah himpunan
V
ε
(a) = {x ∈ R x − a < ε}.
Untuk a ∈ R, pernyataan x termuat di V
ε
(a) ekivalen dengan pernyataan
-ε < x - a < ε ⇔ a - ε < x < a + ε
2.3.8 Teorema. Misalkan a ∈ R. Bila x termuat dalam lingkungan V
ε
(a) untuk setiap
ε > 0, maka x = a.
Bukti :
Pendahuluan
Analisis Real I 45
Bila x memenuhi x − a < ε untuk setiap ε > 0, maka dari 2.2.9 diperoleh bahwa
x − a = 0, dan dari sini x = a.
2.3.9. Contoh-contoh.
(a). Misalkan U = {x 0 < x < 1}. Bila a ∈ U, misalkan ε bilangan terkecil dari a atau
1 - a. Maka V
ε
(a) termuat di U. Jadi setiap unsur di U mempunyai lingkungan-ε yang
termuat di U.
(b). Bila I = {x : 0 ≤ x ≤ 1}, maka untuk sebarang ε > 0, lingkungan-ε V
ε
(0) memuat
titik di luar I, sehingga V
ε
(0) tidak termuat dalam I. Sebagai contoh, bilangan x
ε
= -ε/2
unsur di V
ε
(0) tetapi bukan unsur di I.
(c). Bila x − a < ε dan y − < b ε , maka Ketaksamaan Segitiga mengakibatkan
bahwa
( ) ( ) x y + − + a b = ( ) ( ) x y − + − a b
= x y 2 . − + − < a b ε
Jadi bila x,y secara berturut-turut termuat di lingkungan -ε dari a,b maka x + y ter-
muat di lingkungan -2ε dari (a + b) (tetapi tidak perlu lingkungan -ε dari (a + b)).
Latihan 2.3.
1. Misalkan a ∈ R. tunjukkan bahwa
(a). ¦a¦ = a
2
(b). a a
2 2
=
2. Bila a,b ∈ R. dan b ≠ 0, tunjukkan bahwa a b a b / / = .
3. Bila a,b ∈ R, tunjukkan bahwa a b a b + = + .jika dan hanya jika ab > 0.
4. Bila x,y,z ∈ R, x ≤ z, tunjukan bahwa x < y < z jika dan hanya jika x y − +
y z x z − = − Interpretasikan secara geometris.
5. Tentukan x ∈ R, yang memenuhi pertaksamaan berikut :
(a). 4x 3 13 − ≤ ; (b). x 1 3
2
− ≤ ;
(c). x 1 x 1 − > + ; (d). x x 1 2 + + < .
6. Tunjukkan bahwa x − < a ε jika dan hanya jika a - ε < x < a + ε.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 46
7. Bila a < x < b dan a < y < b, tunjukkan bahwa x y − < − b a . Interpretasikan se-
cara geometris.
8. Tentukan dan sketsa himpunan pasangan berurut (a,b) di R×R yang memenuhi
(a x y = ; (b). x y 1 + = ;
(c xy 2 = ; (d). x y 2 − = .
9. Tentukan dan sketsa himpunan berurut (x,y) yang memenuhi
(a). x y ≤ ; (b). x y 1 + ≤ ;
(c). xy 2 ≤ ; (d). x y 2 − ≥ .
10. Misalkan ε > 0 dan δ > 0, a ∈ R. Tunjukkan bahwa V
ε
(a) ∩ V
δ
(a) dan V
ε
(a) ∪
V
δ
(a) adalah lingkungan-γ dari a untuk suatu γ.
11. Tunjukkan bahwa bila a,b ∈ R, dan a ≠ b, maka terdapat lingkungan-ε U dari a
dan lingkungan-γ V dari b, sehingga U∩V = ∅.
2.4. Sifat Kelengkapan R
Sejauh ini pada bab ini kita telah membahas sifat aljabar dan sifat urutan sis-
tem bilangan real. Pada bagian ini kita akan membahas satu sifat lagi dari R yang ser-
ing disebut dengan “sifat kelengkapan”. Sistem bilangan rasional Q memenuhi sifat
aljabar 2.1.1 dan sifat ururtan 2.2.1, tetapi seperti kita lihat 2 tidak dapat direpre-
sentasikan sebagai bilangan rasional, karena itu 2 tidak termuat di Q. Observasi ini
menunjukan perlunya sifat tambahan untuk bilangan real. Sifat tambahan ini, yaitu
sifat kelengkapan, sangat esensial untuk R.
Ada beberapa versi sifat kelengkapan. Di sini kita pilih metode yang paling
efisien dengan mengasumsikan bahwa himpunan tak kosong di R mempunyai supre-
mum.
Supremum dan Infimum
Sekarang kita akan perkenalkan gagasan tentang batas atas suatu himpunan
bilangan real. Gagasan ini akan sangat penting pada pembahasan selanjutnya.
2.4.1 Definisi. Misalkan S suatu sub himpunan dari R.
(i). Bilangan u ∈ R dikatakan batas atas dari S bila s ≤ u, untuk semua s ∈ S.
Pendahuluan
Analisis Real I 47
(ii). Bilangan w ∈ R dikatakan batas bawah dari S bila w ≤ s, untuk semua s ∈ S
Pembaca seharusnya memikirkan (dengan teliti) tentang apa yang dimaksud
dengan suatu bilangan bukan batas atas (atau batas bawah) dari himpunan S. Pem-
baca seharusnya menunjukkan bahwa bilangan v ∈ R bukan batas atas dari S jika dan
hanya jika terdapat s’ ∈ S, sehingga v < s’. (secara sama, bilangan z ∈ R bukan batas
bawah dari S jika dan hanaya jika terdapat s’’ ∈ S, sehingga s” < z).
Perlu kita cata bahwa subhimpunan S dari R mungkin saja tidak mempunyai
batas atas (sbagai contoh, ambil S = R). Tetapi, bila S mempunyai batas atas, maka S
mempunyai tak hingga banyak batas atas sebab bila n batas atas dari S, maka sebarang
v dengan v > u juga merupakan batas atas dari S. (Observasi yang serupa juga berlaku
untuk batas bawah).
Kita juga catat bahwa suatu himpunan mungkin mempunyai batas bawah
tetapi tidak mempunyai batas atas (dan sebaliknya). Sebagai contoh, perhatikan him-
punan S
1
= {x ∈ R : x ≥ 0} dan S
2
= {x ∈ R : x < 0}
Catatan : Bila kita menerapkan definisi di atas untuk himpunan kosong ∅, kita dipaksa kepada ke-
simpulan bahwa setiap bilangan real merupakan batas atas dari ∅. Karena agar u ∈ R bukan batas atas
dari S, unsur s’ ∈ S harus ada, sehingga u < s’. Bila S = ∅, maka tidak ada unsur di S. Dari sini setiap
bilangan real merupakan batas atas dari himpunan kosong. Secara sama, setiap bilangan real meru-
pakan batas bawah dari himpunan kosong. Hal ini mungkin artifisial, tetapi merupakan konsekuensi
logis dari definisi.
Pada pembahasan ini, kita katakan bahwa suatu himpunan S di R terbatas di
atas bila S mempunyai batas atas. Secara sama, bila himpunan P di R mempunyai
batas bawah, kita katakan P terbatas di bawah. Sedangkan suatu himpunan A di R
dikatakan tidak terbatas bila A tidak mempunyai (paling tidak satu dari) batas atas
atau batas bawah. Sebagai contoh, {x ∈ R : x ≤ 2} tidak terbatas (walaupun mempun-
yai batas atas) karena tidak mempunyai batas bawah.
2.4.2 Definisi. Misalkan S subhimpunan dari R,
(i). Bila S terbatas di atas, maka batas atas u dikatakan supremum (atau batas atas
ter-kecil) dari S bila tidak terdapat batas atas (yang lain) dari S yang kurang dari u.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 48
(ii). Bila S terbatas di bawah, maka batas bawah w dikatakan infimum (atau batas
bawah terbesar) dari S bila tidak terdapat batas bawah (yang lain) dari S yang kurang
dari w.
Akan sangat berguna untuk memfarmasikan ulang definisi supremum dari
suatu himpunan.
2.4.3 Lemma. Bilangan real u merupakan supremum dari himpunan tak kosong S di
R jika dan hanya jika u memenuhi kedua kondisi berikut :
(1). s ≤ u untuk semua s ∈ S.
(2). bila v < u, maka terdapat s’ ∈ S sehingga v < s’.
Kita tinggalkan bukti dari lemma ini sebagai latihan yang sangat penting bagi
pembaca. Pembaca seharusnya juga memfarmasikan dan membuktikan hal yang se-
rupa untuk infimum.
Tidak sulit untuk membuktikan bahwa supremum dari himpunan S di R bersi-
fat tunggal. Misalkan u
1
dan u
2
supremum dari S, maka keduanya merupakan batas
atas dari S. Andaikan u
1
< u
2
dengan hipotesis u
2
supremum mengakibatkan bahwa u
1

bukan batas atas dari S. Secara sama, pengandaian u
2
< u
1
dengan hipotesis u
1
supre-
mum menga-kibatkan bahwa u
2
bukan batas atas dari S. Karena itu, haruslah u
1
= u
2
.
(Pembaca seharusnya menggunakan cara serupa untuk menunjukkan infimum dari
suatu himpunan di R bersifat tunggal).
Bila supremum atau infimum dari suatu himpunan S ada, kita akan menulis-
kan-nya dengan
sup S dan inf S
Kita amati juga bahwa bila u’ sebarang batas atas dari S, maka sup S ≤ u’.
Yaitu, bila s ≤ u’ untuk semua s ∈ S, maka sup S ≤ u’. Hal ini mengatakan bahwa sup
S merupakan batas atas terkecil dari S.
Kriteria berikut sering berguna dalam mengenali batas atas tertentu dari suatu
himpunan merupakan supremum dari himpunan tersebut.
2.4.4 Lemma. Suatu batas atas u dari himpunan tak kosong S di R merupakan supre-
mum dari S jika dan hanya jika untuk setiap ε > 0 terdapat s
ε
∈ S sehingga u - ε < s
ε
.
Pendahuluan
Analisis Real I 49
Bukti :
Misalkan u batas atas dari S yang memenuhi kondisi di atas. Bila v < u dan
kita tetapkan ε = u - v, maka ε > 0, dan kondisi di atas mengakibatkan terdapat s
ε
∈ S
sehingga v = u - ε < s
ε
. Karennya v bukan batas atas dari S. Karena hal ini berlaku un-
tuk sebarang v yang kurang dari u, maka haruslah u = sup S.
Sebaliknya, misalkan u = sup S dan ε > 0. Karena u - ε < u, maka u - ε bukan
batas atas dari S. Karenanya terdapat unsur s
ε
di S yang lebih dari u - ε, yaitu u - ε <
s
ε
.
Penting juga untuk dicatat bahwa supremum dari suatu himpunan dapat meru-
pakan unsur dari himpunan tersebut maupun bukan. Hal ini bergantung pada jenis
himpunannya. Kita perhatikan contoh-contoh berikut.
2.4.5 Contoh-contoh
(a). Bila himpunan tak kosong S
1
mempunyai berhingga jumlah unsur, maka S
1
mem-
punyai unsur terbesar u dan unsur terkecil w. Lebih dari itu u = sup S
1
dan w = inf S
1

keduanya unsur di S
1
. (Hal ini jelas bila S
1
hanya mempunyai sebuah unsur, dan dapat
digunakan induksi matematika untuk sejumlah unsur dari S
1
).
(b). Himpunan S
2
= {x : 0 ≤ x ≤ 1} mempunyai 1 sebagai batas atas. Kita akan bukti-
kan 1 merupakan supremum sebagai berikut. Bila v < 1, maka terdapat unsur s’ di S
2

sehingga v < s’. (pilih unsur s’). Dari sini v bukan batas atas dari S
2
dan, karena v se-
barang bilangan v < 1, haruslah sup S
2
= 1. Secara sama, dapat ditunjukkan inf S
2
= 0.
Catatan : sup S
2
dan inf S
2
keduanya termuat di S
2
.
(c). Himpunan S
3
= {x : 0 < x < 1} mempunyai 1 sebagai batas atas. Dengan meng-
gunakan argumentasi serupa (b) untuk S
2
, diperoleh sup S
3
= 1. Dalam hal ini, him-
punan S
3
tidak memuat sup S
3
. Secara sama, inf S
3
= 0, tidak termuat di S
3
.
(d). Seperti telah disebutkan, setiap bilangan real merupakan batas atas dari himpunan
kosong, karenanya himpunan kosong tidak mempunyai supremum. Secara sama him-
punan kosong juga tidak mempunyai infimum.
Sifat Supremum dari R
Berikut ini kita akan membahas asumsi terakhir tentang R yang sering disebut
dengan Sifat Kelengkapan dari R. Selanjutnya kita katakan R merupakan suatu
medan terurut yang lengkap.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 50
2.4.6 Sifat Supremum dari R. Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mem-
punyai batas atas mempunyai supremum di R.
Sifat infimum yang serupa dapat diturunkan dari sifat supremum. Katakan S
sub himpunan tak kosong yang terbatas di bawah dari R. Maka himpunan S’ = {-s : s
∈ S} terbatas di atas, dan sifat supremum mengakibatkan bahwa u = sup S’ ada. Hal
ini kemudian diikuti bahwa -u merupakan infimum dari S, yang pembaca harus bukti-
kan.
2.4.7 Sifat Infimum dari R. Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mem-
punyai batas bawah mempunyai infimum di R.
Pembaca seharusnya menuliskan bukti lengkapnya.
Latihan 2.4
1. Misalkan S
1
= {x ∈ R : x ≥ 0}. Tunjukkan secara lengkap bahwa S
1
mempunyai
batas bawah, tetapi tidak mempunyai batas atas. Tunjukkan pula bahwa inf S
1
= 0.
2. Misalkan S
2
= {x ∈ R : x ≥ 0}. Apakah S
2
mempunyai batas bawah ? Apakah S
2

mempunyai batas atas ? Buktikan pernyataan yang anda berikan.
3. Misalkan S
3
= {1/n n ∈ N}. Tunjukkan bahwa sup S
3
= 1 dan inf S
3
≥ 0. (Hal ini
akan diikuti bahwa inf S
3
= 0, dengan menggunakan Sifat Arechimedes 2.5.2 atau
2.5.3 (b)).
4. Misalkan S
4
= {1 - (-1)
n
/n : n ∈ N}.Tentukan inf S
4
dan sup S
4
.
5. Misalkan S subhimpunan tak kosong dari R yang terbatas di bawah. Tunjukkan
bahwa inf S = -sup{-s : s ∈ S}.
6. Bila S ⊆ R memuat batas atasnya, tunjukkan bahwa batas atas tersebut merupakan
supremum dari S.
7. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. Tunjukkan bahwa u ∈ R merupakan batas atas
dari R jika dan hanya jika kondisi t ∈ R dan t > u mengakibatkan t ∉ S.
8. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. Tunjukkan bahwa u = sup S, kaka untuk setiap
n∈N, u - 1/n bukan batas atas dari S, tetapi u + 1/n batas atas dari S. (Hal sebali-
knya juga benar ; lihat latihan 2.5.3).
Pendahuluan
Analisis Real I 51
9. Tunjukkan bahwa bila A dan B sub himpunan yang terbatas dari R, maka A∪B
juga terbatas. Tunjukkan bahwa sup (A∪B) = sup {sup A, sup B}.
10.Misalkan S terbatas di R dan S sub himpunan tak kosong dari S. Tunjukkan bahwa
inf S ≤ inf S
0
≤ sup S
0
≤ sup S.
11.Misalkan S ⊆ R dan s
*
= sup S termuat di S. Bila u∉ S, tunjukkan bahwa sup
(S∪{u}) = sup {s
*
,u}.
12.Tunjukkan bahwa suatu himpunan tak kosong dan berhingga S ⊆ R memuat su-
premumnya. (Gunakan induksi matematika dan latihan nomor 11).
2.5 Aplikasi Sifat Supremum
Sekarang kita akan membahas bagaimana supremum dan infimum digunakan.
Contoh berikut menunjukkan bagaimana definisi supremum dan infimum digunakan
dalam pembuktian. Kita juga akan memberikan beberapa aplikasi penting sifat ini un-
tuk menurunkan sifat-sifat fundamental sistem bilangan real yang akan sering diguna-
kan.
2.5.1 Contoh-contoh
(a). Sangatlah penting untuk menghubungkan infimum dan supremum suatu
.,KKMNBV himpunan dengan sifat-sifat aljabar R. Di sini kita akan sajikan salah
satunya ; yaitu tentang penjumlahan, sementara yang lain diberikan sebagai latihan.
Misalkan S sub himpunan tak kosong dari R. Definisikan himpunan
a + S = {a + x : x ∈ S}.
Kita akan tunjukkan bahwa
sup (a + S) = a + sup S.
Bila kita misalkan u = sup S, maka karena x ≤ u untuk semua x ∈ S, kita mempunyai
a + x ≤ a + u. Karena itu a + u batas atas dari a + S ; akibatnya kita mempunyai sup (a
+ S) ≤ a + u. Bila v sebarang batas atas dari himpunan a + S, maka a + x ≤ v untuk
semua x ∈ S. Maka x ≤ v - a untuk semua x ∈ S, yang mengakibatkan u = sup S ≤ v -
a, sehingga a + u ≤ v. Karena v sebarang batas atas dari a + S, kita dapat mengganti v
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 52
dengan sup (a + S) untuk memperoleh a + u ≤ sup (a + S). Dengan menggabungkan
ketaksamaan di
atas diperoleh bahwa
sup (a + S) = a + u = a + sup S.
(b). Misalkan f dan g fungsi-fungsi bernilai real dengan domain D ⊆ R. Kita asumsi-
kan rangenya f(D) = {f(x) : x ∈ D} dan g(D) = {g(x) : x ∈ D}himpunan terbatas di R.
(i). Bila f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D, maka sup f(D) ≤ sup g(D).
Untuk membuktikan hal ini, kita catat bahwa sup g(D) merupakan batas atas
himpunan f(D) karena untuk setiap x ∈ D, kita mempunyai f(x) ≤ g(x) ≤ sup g(D).
Karenanya sup f(D) ≤ sup g(D).
(ii). Bila f(x) ≤ g(y) untuk semua x,y ∈ D, maka sup f(D) ≤ sup g(D).
Buktinya dalam dua tahap. Pertama, untuk suatu y tertentu di D, kita lihat
bahwa f(x) ≤ g(y) untuk semua x ∈ D, maka g(y) batas atas dari himpunan f(D). Aki-
batnya sup f(D) ≤ g(y). Karena ketaksamaan terakhir dipenuhi untuk semua y ∈ D,
maka sup f(D) merupakan batas bawah dari g(D). Karena itu, haruslah sup f(D) ≤ inf
g(D).
(c). Perlu dicatat bahwa hipotesis f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D pada (b) tidak
menghasilkan hubungan antara sup f(D) dan inf g(D). Sebagai contoh, bila f(x) = x
2

dan g(x) = x dengan D = {x ∈ R : 0 < x < 1}, maka f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D,
tetapi sup f(D) = 1 dan inf g(D) = 0, serta sup g(D) = 1. Jadi (i) dipenuhi, sedangkan
(ii) tidak.
Lebih jauh mengenai hubungan infimum dan supremum himpunan dari nilai
fungsi diberikan sebagai latihan.
Sifat Archimedes
Salah satu akibat dari sifat supremum adalah bahwa himpunan bilangan asli N
tidak terbatas di atas dalam R. Hal ini berarti bahwa bila diberikan sebarang bilangan
real x terdapat bilangan asli n (bergantung pada x) sehingga x < n. Hal ini tampaknya
mudah, tetapi sifat ini tidak dapat dibuktikan dengan menggunakan sifat aljabar dan
Pendahuluan
Analisis Real I 53
urutan yang dibahas pada bagian terdahulu. Buktinya yang akan diberikan berikut ini
menunjukkan kegunaan yang esensial dari sifat supremum R.
2.5.2. Sifat Archimedes. Bila x ∈ R, maka terdapat n
x
∈ N sehingga x < n
x
.
Bukti :
Bila kesimpulan di atas gagal, maka x terbatas atas dari N. Karenanya, menu-
rut sifat supremum, himpunan tak kosong N mempunyai supremum u∈R. Oleh
karena u -1 < u, maka menurut Lemma 2.4.4 terdapat m ∈ N sehingga u -1 < m.
Tetapi hal ini mengakibatkan u < m + 1, sedangkan m + 1 ∈ N, yang kontradiksi den-
gan u batas atas dari N.
Sifat Archimedes dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Berikut kita sajikan
tiga variasi diantaranya.
2.5.3 Teorema Akibat. Misalkan y dan z bilangan real positif. Maka :
(a). Terdapat n ∈ N sehingga z < ny.
(b). Terdapat n ∈ N sehingga 0 < 1/n < y.
(c). Terdapat n ∈ N sehingga n - 1 ≤ z < n.
Bukti :
(a). Karena x = z/y > 0, maka terdapat n ∈ N sehingga z/y = x < n dan dari sini diper-
oleh z < ny.
(b). Tetapkan z = 1 pada (a) yang akan memberikan 1 < ny, dan akibatnya 1/n < y.
(c). Sifat Archimedes menjamin subhimpunan {m ∈ N : z < m} dari N tidak kosong.
Misalkan n unsur terkecil dari himpunan ini (lihat 1.3.1). Maka n - 1 bukan unsur
himpunan tersebut, akibatnya n - 1 ≤ z < n.
Eksistensi 2
Pentingnya sifat supremum terletak pada fakta yang mana sifat ini menjamin
eksistensi bilangan real di bawah hipotesis tertentu. Kita akan menggunakan ini be-
berapa kali. Sementara ini, kita akan mengilustrasikan kegunaannya untuk membukti-
kan eksistensi bilangan positif x sehingga x
2
= 2. Telah ditunjukkan (lihat Teorema
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 54
2.1.7) bahwa x yang demikian bukan bilangan rasioanl ; jadi, paling tidak kita akan
menunjukkan eksistensi sebuah bilangan irrasional.
2.5.4 Teorema. Terdapat bilangan real positif x sehingga x
2
= 2.
Bukti :
Misalkan S = {s ∈ R 0 ≤ s, s
2
< 2}. Karena 1 ∈ s, maka S bukan himpunan
kosong. Juga, S terbatas di atas oleh 2, karena bila t > 2, maka t
2
> 4 sehingga t ∉ S.
Karena itu, menurut sifat supremum, S mempunyai supremum di R, katakan x = sup
S. Catatan : x > 1.
Kita akan buktikan bahwa x
2
= 2 dengan menanggalkan dua kemungkinan x
2

< 2 dan x
2
> 2.
Pertama andaikan x
2
< 2. Kita akan tunjukkan bahwa asumsi ini kontradiksi
dengan fakta bahwa x = sup S yaitu dengan menemukan n ∈ N sehingga x + 1/n ∈ S,
yang berakibat bahwa x bukan batas atas dari S. Untuk melihat bagaimana cara
memilih n yang demikian, gunakan fakta bahwa 1/n
2
≤ 1/n, sehingga
( ) ( ) x x x 2x 1
1
n
2
2 2x
n
1
n
2 1
n
2
+ = + + ≤ + +
Dari sini kita dapat memilih n sehingga
1
n
(2x + 1) < 2 - x
2
,
maka kita memperoleh (x + 1/n)
2
< x
2
+ (2 - x
2
) = 2. Dari asumsi, kita mempunyai 2 -
x
2
> 0, sehingga (2 - x
2
)/(2x + 1) > 0. Dari sini sifat Archimedes dapat digunakan un-
tuk memperoleh n ∈ N sehingga
1
n
2 x
2x 1
2
<

+

Langkah-langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan n ini
kita mempunyai x +
1
n
∈ S, yang kontradiksi dengan fakta bahwa x batas atas dari S.
Karenanya, haruslah x
2
≥ 2.
Sekarang andaikan x
2
> 2. Kita akan tunjukkan bahwa dimungkinkan untuk
menemukan m ∈ N sehingga x - 1/m juga merupakan batas atas dari S, yang meng-
kontradiksi fakta bahwa x = sup S. Untuk melakukannya, perhatikan bahwa
Pendahuluan
Analisis Real I 55
( )
x x x
1
m
2
2 2x
m
1
m
2 2x
m
2
+ = + + > −
Dari sini kita dapat memilih m sehingga
2x
m
x 2
2
< − ,
maka (x - 1/m)
2
> x
2
- (x
2
- 2) = 2. Sekarang dengan pengandaian x
2
- 2 > 0, maka
x 2
2x
2

> 0. Dari sini, dengan sifat Archimedes, terdapat m ∈ N sehingga
1
m
x 2
2x
2
<


Langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan m ini kita
mempunyai (x - 1/m)
2
> 2. Sekarang bila s ∈ S, maka s
2
< 2 < (x - 1/m)
2
, yang mana
menurut 2.2.14(a) bahwa s < x - 1/m. Hal ini mengakibatkan bahwa x - 1/m meru-
pakan batas atas dari S, yang kontradiksi dengan fakta bahwa x = sup S. Jadi tidak
mungkin x
2
> 2.
Karena tidak mungkin dipenuhi x
2
> 2 atau x
2
< 2, haruslah x
2
= 2. (*)
Dengan sedikit modifikasi, pembaca dapat menunjukkan bahwa bila a > 0,
maka terdapat b > 0 yang tunggal, sehingga b
2
= a. Kita katakan b akar kuadrat
positif dari a dan dituliskan dengan b = a atau b = a
1/2
. Dengan cara sedikit lebih
rumit yang melibatkan teorema binomial dapat diformulasikan eksistensi tunggal dari
akar pangkat-n positif dari a, yang dituliskan dengan a
n
atau a
1/n
, untuk n ∈ N.
Densitas (= kepadatan) Bilangan Rasional di R
Sekarang kita mengetahui terdapat paling tidak sebuah bilangan irrasional,
yaitu 2 . Sebenarnya terdapat “lebih banyak” bilangan irasional dibandingkan bi-
langan rasional dalam arti himpunan bilangan rasional terhitung sementara himpunan
bilangan irrasional tak terhitung. Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa himpunan
bilangan rasional “padat” di R dalam arti bahwa bilangan rasional dapat ditemukan
diantara sebarang dua bilangan real yang berbeda.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 56
2.5.5 Teorema Densitas. Bila x dan y bilangan real dengan x < y, maka terdapat bi-
langan rasional r sehingga x < r < y.
Bukti :
Tanpa mengurangi berlakunya secara umum, misalkan x > 0. (Mengapa?).
De-
ngan sifat Archimedes 2.5.2, terdapat n ∈ N.sehingga n > 1/(y - x). Untuk n yang
demi-kian, kita mempunyai bahwa ny - nx > 1. Dengan menggunakan Teorema Aki-
bat 2.5.3(c) ke nx > 0, kita peroleh m ∈ N sehingga m - 1 ≤ nx < m. Bilangan m ini
juga memenuhi m < ny, sehingga r = m/n bilangan rasional yang memenuhi x < r < y.
Untuk mengakhiri pembahasan tentang hubungan bilangan rasional dan ira-
sional, kita juga mempunyai sifat serupa untuk bilangan irasional.
2.5.6 Teorema akibat. Bila x dan y bilangan real dengan x < y, maka terdapat bilan-
gan irasional z sehingga x < z < y.
Bukti :
Dengan menggunakan Teorema Densitas 2.5.5 pada bilangan real x 2 dan
y 2 , kita peroleh bilangan rasional r ≠ 0 sehingga
x 2 < r < y 2 .
Maka z = r 2 adalah bilangan irrasional (Mengapa?) dan memenuhi x < z < y.
Latihan 2.5
1. Gunakan Sifat Archimedes atau Teorema Akibat 2.5.3 (b) untuk menunjukkan
bahwa inf {1/n n ∈ N} = 0.
2. Bila S = {1/n - 1/m n,m ∈ N}, tentukan inf S dan sup S.
3. Misalkan S ⊆ R tak kosong. Tunjukkan bahwa bila u di R mempunyai sifat : (i).
untuk setiap n ∈ N, u - 1/n bukan batas atas dari S, dan (ii). untuk setiap n ∈ N, u +
1/n bukan batas atas dari S, maka u = sup S. (Ini merupakan kebalikan Teorema
2.4.8).
4. Misalkan S himpunan tak kosong dan terbatas di R.
Pendahuluan
Analisis Real I 57
(a). Misalkan a > 0, dan aS = {as s ∈ S}. Tunjukkan bahwa
inf (aS) = a inf S, sup (aS) = a sup S.
(b). Misalkan b < 0, dan bS = {bs s ∈ S}. Tunjukkan bahwa
inf (bS) = b sup S, sup (bS) = b inf S.
5. Misalkan X himpunan tak kosong dan f : X →R mempunyai range yang terbatas
di R. Bila a ∈ R, tunjukkan bahwa contoh 2.5.1(a) mengakibatkan bahwa
sup {a + f(x) x ∈ X} = a + sup {f(x) x ∈ X}.
Tunjukkan pula bahwa
inf {a + f(x) x ∈ X} = a + inf {f(x) x ∈ X}.
6. Misalkan A dan B himpunan tak kosong dan terbatas di R, dan A + B = {a + b a
∈ A, b ∈ B}. Tunjukkan bahwa sup (A + B) = sup A + sup B dan inf (A + B) = inf
A + inf B.
7. Misalkan X himpunan tak kosong, f dan g fungsi terdefinisi pada X dan mempun-
yai range yang terbatas di R.
Tunjukkan bahwa
sup{f(x) + g(x) x ∈ X} ≤ sup{f(x) x ∈ X} + sup{g(x) x ∈ X}
dan
inf{f(x) x ∈ X} + inf {g(x) x ∈ X} ≤ inf{f(x) + g(x) x ∈ X}
Berikan contoh yang menunjukkan kapan berlaku kesamaan atau ketaksamaan
murni.
8. Misalkan X = Y = {x∈R 0 < x < 1}. Tentukan h : X×Y →R dan h(x,y) = 2x +
y.
(a). untuk setiap x ∈ X, tentukan f(x) = sup {h(x,y) : y ∈ Y}
Kemudian tentukan inf {f(x) x ∈ X}.
(b). untuk setiap y ∈ Y, tentukan g(y) = inf {h(x,y) : x ∈ X}
Kemudian tentukan sup {g(y) y ∈ Y}.
Bandingkan hasilnya dengan bagian (a).
9. Lakukan perhitungan di (a) dan (b) latihan nomor 8 untuk fungsi h : X×Y → R
yang didefinisikan dengan
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 58
( ) h x,y
bila x < y
1 , bila x y
=

¦
´
¹
0 ,

10. Misalkan X,Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range
terbatas di R. Misalkan f : X → R dan g : Y → R didefinisikan dengan
f(x) = sup {h(x,y) y ∈ Y}, g(y) = inf {h(x,y) x ∈ X}.
Tunjukkan bahwa
sup{g(y) y ∈ Y} ≤ inf {f(x) x ∈ X}
Kita akan menuliskannya dengan
supinf ( )
y
x
x,y h ≤ supinf ( )
x
y
x,y h
Catatan, pada latihan nomor 8 dan nomor 9 menunjukkan bahwa ketaksamaan
bisa berupa kesamaan atau ketaksamaan murni.
11. Misalkan X,Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range
terbatas di R. Misalkan F : X → R dan G : Y → R didefinisikan dengan
F(x) = sup {h(x,y) y ∈ Y}, G(y) = inf {h(x,y) x ∈ X}.
Perkenalkan Prinsip Iterasi Supremum :
sup{h(x,y) x ∈ X, y ∈ Y} = sup {F(x) x ∈ X}
= sup {G(y) y ∈ Y}.
Hal ini sering dituliskan dengan
sup x, y
x,y
h( ) = sup x, y
x y
sup ( ) h = sup x, y
y x
sup ( ) h
12. Diberikan sebarang x∈R, tunjukkan bahwa terdapat n∈Z yang tungal sehingga n -
1 ≤ x < n.
13. Bila y > 0 tunjukkan bahwa terdapat n ∈ N sehingga 1/2
n
< y.
14. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.5.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat
bilangan real positif y sehingga y
2
= 3.
15. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.5.4 untuk menunjukkan bahwa bila a > 0,
maka terdapat bilangan real positif z sehingga z
2
= a.
16. Modifikasi argumentasi pada teorema 2.5.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat
bilangan real positif u sehingga u
3
= 2.
Pendahuluan
Analisis Real I 59
17. Lengkapi bukti Teorema Densitas 2.5.5 dengan menghilangkan hipotesis x > 0.
18. Bila u > 0 dan x < y, tunjukkan bahwa terdapat bilangan rasional r sehingga x < ru
< y. (Dari sini himpunan {ru r ∈ Q} padat di R).























Aljabar Himpunan
Analisis Real I 60



BARISAN BILANGAN REAL

3.1. Barisan dan Limit Barisan
Di sini diharapkan pembaca mengingat kembali bahwa yang dimaksud dengan
suatu barisan pada suatu himpunan S adalah suatu fungsi pada himpunan N = {1, 2, 3,
...} dengan daerah hasilnya di S. Selanjutnya dalam bab ini kita hanya memperhatikan
barisan di R.
3.1.1. Definisi. Suatu barisan bilangan real (atau suatu barisan di R) adalah suatu
fungsi pada himpunan N dengan daerah hasil yang termuat di R.
Dengan kata lain, suatu barisan di R memasangkan masing-masing bilangan
asli n = 1, 2, 3, ... secara tunggal dengan bilangan real. Bilangan real yang diperoleh
tersebut disebut elemen, atau nilai, atau suku dari barisan tersebut. Hal yang biasa
untuk menuliskan elemen dari R yang berpasangan dengan n∈N, dengan suatu simbol
seperti x
n
(atau a
n
, atau z
n
). Jadi bila X : N → R suatu barisan, kita akan biasa
menuliskan nilai X di n dengan X
n
, dari pada X(n), kita akan menuliskan barisan ini
dengan notasi
X, X
n
, (X
n
: n ∈ N),
Kita menggunakan kurung untuk menyatakan bahwa urutan yang diwarisi dari N
adalah hal yang penting. Jadi, kita membedakan penulisan X = (X
n
: n∈N), yang
suku-sukunya mempunyai urutan dan himpunan nilai-nilai dari barisan tersebut { X
n
:
n∈N} yang urutannya tidak diperhatikan. Sebagai contoh, barisan X = ((-1)
n
: n∈N)
yang berganti-ganti -1 dan 1, sedangkan himpunan nilai barisan tersebut { (-1)
n
: n∈N }
sama dengan {-1, 1}.
BAB
3
Pendahuluan
Analisis Real I 61
Dalam mendefinisikan barisan sering lebih mudah dengan menulis secara
berurutan suku-sukunya, dan berhenti setelah aturan formasinya kelihatan. Jadi
kita boleh menulis
X = (2, 4, 6, 8, ...)
untuk barisan bilangan genap positif,
atau
Y =
( )
1
1
1
2
1
3
1
4
, , , , ...
untuk barisan kebalikan dari bilangan asli,
atau
Z =
( )
1
1
1
2
1
3
1
4
, , , , ...
untuk barisan kebalikan dari kuadrat bilangan asli. Metode yang lebih memuaskan
adalah degan menuliskan formula untuk suku umum dari barisan tersebut, seperti
X = (2n : n∈N), Y = (
1
m
: m∈N), Z = (
1
s
2
: s∈N)
Dalam prakteknya, sering lebih mudah dengan menentukan nilai x
1
dan suatu
formula untuk mendapatkan x
n + 1
(n ≥ 1) bila x
n
diketahui dan formula x
n+1
(n ≥ 1)
dari x
1
, x
2
, ... x
n
. Metode ini kita katakan sebagai pendefinisian barisan secara induktif
atau rekursif. Dengan cara ini, barisan bilangan bulat positif X di atas dapat kita de-
finisikan dengan
x
1
= 2 x
n+1
= x
n
+ 2 (n ≥ 1);
atau dengan definisi
x
1
= 2 x
n+1
= x
1
+ x
n
(n ≥ 1).
Catatan : Barisan yang diberikan dengan proses induktif sering muncul di ilmu komputer, Khusus-
nya, barisan yang didefinisikan dengan suatu proses induktif dalam bentuk x
1
= diberikan, x
n+1
= f(x
n
)
untuk n∈N dapat dipertanggungjawabkan untuk dipelajari dengan menggunakan komputer. Barisan
yang didefinisikan dengan proses : y
1
= diberikan, y
n
= .g
n
(y
1
,y
2
, ... ,y
n
) untuk n∈N juga dapat dikerja-
kan (secara sama). Tetapi, perhitungan dari suku-suku barisan demikian menjadi susah untuk n yang
besar, karena kita harus menyimpan masing-masing nilai y
1
, ..., y
n
dalam urutan untuk menghitung y
n+1
.
3.1.2. Contoh-contoh.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 62
(a). Bila b ∈ R, barisan B = (b, b, b, ...), yang sukunya tetap b, disebut barisan kon-
stan b. Jadi barisan konstan 1 adalah (1, 1, 1, ...) semua yang sukunya 1, dan bari-
san konstan 0 adalah baisan (0, 0, 0, ...).
(b). Barisan kuadrat bilangan asli adalah barisan S = (1
2
, 2
2
, 3
2
, ...) = (n
2
: n∈N), yang
tentu saja sama dengan barisan (1, 4, 9, ..., n
2
, ...).
(c). Bila a∈R, maka barisan A = (a
n
: n∈N) adalah barisan (a
1
, a
2
, a
3
, ..., a
n
, ...).
Khususnya bila a =
1
2
, maka kita peroleh barisan
1
2
: n
n

|
\

|
¹
|
N
(d). Barisan Fibonacci F = (f
n
: n ∈ N) diberikan secara induktif sebagai berikut :
f
1
= 1, f
2
= 1, f
2+1
= f
n-1
+ f
n
(n ≥ 2)
Maka sepuluh suku pertama barisan Fibonacci dapat dilihat sebagai F = (1, 1, 2, 3,
5, 8, 13, 21, 34, 55, ...)
Sekarang akan kita kenalkan cara-cara penting dalam mengkonstruksi barisan
baru dari barisan-barisan yang diberikan.
3.1.3. Definisi. Bila X = (x
n
) dan Y = (y
n
) barisan bilangan real, kita definisikan jum-
lah X + Y = (x
n
+ y
n
: n∈N), selisih X - Y = (x
n
- y
n
: n∈N), dan hasil kali XY = (x
n
y
n

: n∈N). Bila c ∈ R, kita definisikan hasil kali X dengan c yaitu cX = (cx
n
: n∈N).
Akhirnya, bila Z = (z
n
) suatu barisan dengan z
n
≠ 0 untuk semua n∈N, maka hasil
bagi X oleh Z adalah X/Z = (x
n
/ z
n
: n∈N).
Sebagai contoh, bila X dan Y berturut-turut adalah barisan-barisan
X = (2, 4, 6, ..., 2n, ...), Y =
( )
1
1
1
2
1
3
1
n
, , , ..., , ... ,
maka kita mempunyai
X + Y =
( )
3
1
9
2
19
3
2n 1
n
, , , ..., , ...
2
+

X - Y =
( )
1
1
7
2
17
3
2n 1
n
, , , ..., , ... ,
2


XY = (2, 2, 2, ...,2, ...),
3X = (6, 12, 18, ..., 6n, ...),
Pendahuluan
Analisis Real I 63
X
Y
= 2, 8, 18, ...,2n
2
, ...).
Kita catat bahwa bila z menyatakan barisan
Z = (0, 2, 0, ..., 1 + (-1)
n
, ...),
maka kita dapat mendefinisikan X + Z, X-Z, dan X.Z; tetapi tidak dengan X/Z, karena
Z mempunyai suku 0.
Limit suatu barisan
Terdapat beberapa konsep limit dalam analisa real. Pemikiran limit barisan
merupakan yang paling mendasar dan merupakan fokus kita dalam bab ini.
3.1.4. Definisi. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan real. Suatu bilangan real x dikata-
kan limit dari (x
n
), bila untuk setiap ε > 0 terdapat bilangan asli K(ε), sedemikian se-
hingga untuk semua n ≥ K(ε), suku-suku x
n
terletak dalam lingkungan-ε, V
ε
(x).
Bila x merupakan suatu limit dari barisan tersebut, kita katakan juga bahwa X
= (x
n
) konvergen ke x (atau mempunyai limit x). Bila suatu barisan mempunyai limit,
kita katakan barisan tersebut konvergen, bila tidak kita katakan divergen.
Penulisan K(ε) digunakan untuk menunjukkan secara eksplisit bahwa pemili-
han K bergantung pada ε; namun demikian sering lebih mudah menuliskannya dengan
K, dari pada K(ε). Dalam banyak hal nilai ε yang “kecil” biasanya akan memerlukan
nilai K yang “besar” untuk menjamin bahwa x
n
terletak di dalam lingkungan V
ε
(x)
untuk semua n ≥ K = K(ε).
Kita juga dapat mendefinisikan kekonvergenan X = (x
n
) ke x dengan menga-
takan : untuk setiap lingkungan-ε V
ε
(x) dari x, semua (kecuali sejumlah hingga) suku-
suku dari x terletak di dalam V
ε
(x). Sejumlah hingga suku-suku tersebut mungkin ti-
dak terletak di dalam V
ε
(x) yaitu x
1
, x
2
, ..., x
K(ε)-1
.
Bila suatu barisan x = (x
n
) mempunyai limit x di R, kita akan menggunakan
notasi.
lim X = x atau lim (x
n
) = x.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 64
Kita juga akan menggunakan simbol x
n
→ x, yang menyatakan bahwa nilai x
n

“mendekati” x bila n menuju 0.
3.1.5. Ketunggalan limit. Suatu barisan bilangan real hanya dapat mempunyai satu
limit.
Bukti :
Andaikan sebaliknya, yaitu x′ dan x′′ keduanya limit dari X = (x
n
) dan x’≠x”. Kita
pilih ε > 0 sehingga V
ε
(x’) dan V
ε
(x”) saling asing (yaitu, ε < ½x” - x’). Sekarang
misalkan K’ dan K” bilangan asli sehingga bila n > K’ maka x
n
∈V
ε
(x’) dan bila n >
K” maka x
n
∈V
ε
(x”). Tetapi ini kontradiksi dengan pengandaian bahwa V
ε
(x’) dan
V
ε
(x”) saling asing. (Mengapa?). Haruslah x’ = x”.
3.1.6. Teorema. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan real dan misalkan pula x∈R.
Maka pernyataan berikut ekivalen.
(a). X konvergen ke x.
(b). untuk setiap lingkungan-ε V
ε
(x), terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk se-
mua n ≥ K(ε), suku-suku x
n
∈V
ε
(x).
(c). untuk setiap ε > 0, terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε),
suku-suku x
n
memenuhi x
n
- x<ε.
(d). untuk setiap ε > 0, terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε),
suku-suku x
n
memenuhi
x-ε < x
n
< + ε, ∀ n ≥ K(ε)
Bukti :
Ekivalensi dari (a) dan (b) merupakan definisi. Sedangkan ekivalensi dari (b), (c), dan
(d) mengikuti implikasi berikut :
x
n
∈V
ε
(x) ⇔ x
n
- x < ε. ⇔ -ε < x
n
- x < ε
⇔ x- ε < x
n
< x + ε
Catatan : Definisi limit barisan bilangan real digunakan untuk membuktikan bahwa nilai x yang
telah ditetapkan merupakan limit. Hal ini tidak menentukan berapa nilai limit seharusnya. Sehingga
diperlukan latihan untuk sampai kepada dugaan (conjecture) nilai limit dengan perhitungan langsung
suku-suku barisan tersebut. Dalam hal ini komputer akan sangat membantu. Namun demikian karena
Pendahuluan
Analisis Real I 65
komputer hanya dapat menghitung sampai sejumlah hingga suku barisan, maka perhitungan demikian
bukanlah bukti.
Untuk menunjukkan bahwa suatu barisan X = (x
n
) tidak konvergen ke x, cu-
kup dengan memilih ε
o
> 0 sehingga berapapun nilai K yang diambil, diperoleh suatu
n
k
> K sehingga x
n
k
tidak terletak dalam V
ε
(x), (Perubahan lebih detail pada 3.4).
3.1.7. Contoh-contoh
(a). lim
1
n
0
|
\

|
¹
|
= .
Misalkan diberikan sebarang ε > 0. Maka menurut sifat Archimedes terdapat K∈N
sehingga sehingga
1
K
< ε . Akibatnya untuk semua n ≥ K dipenuhi
¦
1
n
- 0¦ =
1
n

1
K
< ε
Ini membuktikan lim
1
n
0
|
\

|
¹
|
=
(b). lim
1
n
0
2
|
\

|
¹
|
=
Bila diberikan sebarang ε > 0, maka terdapat K∈N, sehingga
1
K
< ε . Karena itu un-
tuk semua n ≥ K dipenuhi
1
0
2
n
− =
1
2
n

1
K
2
<
( )
ε
2
= ε
Ini membuktikan lim
1
n
0
2
|
\

|
¹
|
=
(c). Barisan ( )
( ) ( )
0 2 0 2 1 1 , , , , , , L L + −
n
, tidak konvergen ke 0.
Pilih ε
0
= 1, sehingga untuk sebarang K∈N, jika n ≥ K dan n bilangan ganjil,
maka
¦x
n
- 0¦ = ¦2 - 0¦ = 2 > 1.
Ini mengatakan bahwa barisan ( )
( )
1 1 + −
n
tidak konvergen ke 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 66
(d). lim
3n 2
n -1
+
|
\

|
¹
|
= 3
Perhatikan kesamaan berikut
3n 2
n 1 n 1
+

− =

3
5

Bila diberikan sebarang ε > 0, maka terdapat K∈N, K>1, sehingga
1
K 1 −
<
ε
5
. Aki-
batnya untuk semua n ≥ K > 1 dipenuhi
3n 2
n 1 n 1
+

− =

3
5
< 5
ε
5
|
\

|
¹
|
= ε
Ini membuktikan bahwa lim
3n 2
n -1
+
|
\

|
¹
|
= 3.
Ekor Barisan
Perlu dimengerti bahwa kekonvergenan (atau kedivergenan) suatu barisan ber-
gantung hanya pada prilaku suku-suku “terakhirnya”. Artinya, bila kita hilangkan m
suku pertama suatu barisan yang menghasilkan X
m
konvergen jika hanya jika barisan
asalnya juga konvergen, dalam hal ini limitnya sama.
3.1.8. Definisi. Bila X = (x
1
, x
2
, ..., x
n
, ...) suatu barisan bilangan real dan m selalu
bilangan asli maka ekor-m dari X adalah barisan
X = (x
m+n
: n∈N) = (x
m+1
,x
m+2
, ...).
Sebagai contoh, ekor-3 dari barisan X = (2, 4, 6, 8, 10, ..., 2n, ...) adalah baris-
an X
3
= (8, 10, 12, ..., 2n + 6,...).
3.1.9. Teorema. Misalkan X = (x
n
: n∈N) suatu barisan bilangan real dan m∈N. Maka
ekor-m adalah X
m
= (x
m+n
: n∈N) dari X konvergen jika dan hanya jika X konvergen,
dalam hal ini, lim X
m
= lim

X.
Bukti :
Dapat kita catat untuk sebarang p∈N, suku ke-p dari X
m
merupakan suku ke-(m+p)
dari X. Secara sama bila q > m, maka suku ke-q dari X merupakan suku ke-(q-m) dari
X
m
.
Pendahuluan
Analisis Real I 67
Misalkan X konvergen ke x. Maka untuk sebarang ε > 0, bila untuk n ≥ K(ε)
suku-suku dari X memenuhi x
n
-x < ε, maka suku-suku dari X
m
dengan k ≥ K
m
(ε) -
m memenuhi x
n
-x < ε. Jadi kita dapat memilih K
m
(ε) = K
m
(ε) - m, sehingga X
m

juga konvergen ke x.
Sebaliknya, bila suku-suku dari X
m
untuk k ≥ K
m
(ε) memenuhi x
n
-x < ε
maka suku-suku dari X dengan n ≥ K
m
(ε) + m memenuhi x
n
-x < ε. Jadi kita dapat
memilih K(ε) = K
m
(ε) + m. Karena itu, X konvergen ke x jika dan hanya jika X
m
kon-
vergen ke x.
Kadang-kadang kita akan mengatakan suatu barisan X pada akhirnya mempunyai sifat ter-
tentu, bila beberapa akar x mempunyai sifat tersebut. Sebagai contoh, kita katakan bahwa barisan (3, 4,
5, 5, 5, ...,5, ...) pada akhirnya konstan. Di lain pihak, barisan 3, 5, 3, 5, ..., 5, 5, ...) tidaklah pada
akhirnya konstan. Gagasan kekonvergenan dapat pula dinyatakan dengan begini : suatu barisan X kon-
vergen ke x jika dan hanya jika suku-suku dari X pada akhirnya terletak di dalam lingkungan-ε ke x.
3.1.10. Teorema. Misalkan A = (a
n
) dan X = (x
n
) barisan bilangan real dan x∈R. Bila
untuk suatu C > 0 dan suatu m∈N, kita mempunyai
x
n
-x ≤ Ca
n
untuk semua n∈N dengan n ≥ m, dan lim (a
n
) = 0, maka lim (x
n
) = x.
Bukti :
Misalkan diberikanε > 0. Karena lim (a
n
) = 0, maka terdapat bilangan asli K
A
(ε/C),
sehingga bila n ≥ K
A
(ε/C) maka a
n
= a
n
- 0 < ε/C.
Karena itu hal ini mengakibatkan bila n ≥ K
A
(ε/C) dan n ≥ m, maka
x
n
-x ≤ C x
n
- x < C
( )
ε
C
= ε.
Karena ε > 0 sebarang, kita simpulkan x = lim (x
n
).
3.1.11. Contoh-contoh.
(a). Bila a > 0, maka lim
1
1 n +
|
\

|
¹
|
a
= 0.
Karena a > 0, maka 0 < na < 1 + na. Karenanya 0
1
n 1
1
n
<
+
<
a a
, yang selanjutnya
mengakibatkan
1
1 n
0
1 1
n +
− ≤
|
\

|
¹
|
a a
untuk semua n∈N.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 68
Karena lim
1
n
0 = , menurut Teorema 3.1.10 dengan C =
1
a
dan m = 1 diperoleh
bahwa
lim
1
1 n +
|
\

|
¹
|
a
= 0.
(b). lim
1
2
0
n
|
\

|
¹
|
=
Karena 0 < n < 2
n
(buktikan !) untuk semua n∈N, kita mempunyai 0
1
2
1
n
n
< < yang
mengakibatkan
1
2
0
1
n
n
− ≤ untuk semua n∈N.
Tetapi lim
1
n
0 = , dengan menggunakan Teorema 3.1.10 diperoleh lim
1
2
0
n
|
\

|
¹
|
=
(c). Bila 0 < b < 1, maka lim (b
n
) = 0.
Karena 0 < b < 1, kita dapat menuliskan b
a
=
+
1
1 ( )
, dimana a
b
= −
1
1 sehingga a >
0. Dengan ketaksamaan Bernoulli 2.2.14 kita mempunyai (1 + a)
n
≥ 1 + na. Dari sini
0
1
(1 )
1
1 n
1
n
n
n
< =
+

+
< b
a a a
,
sehingga dengan menggunakan Teorema 3.1.10, diperoleh lim (b
n
) = 0.
(d). Bila C > 0, maka lim
( )
C 1
1
n
= .
Untuk kasus C = 1 mudah, karena
( )
C
1
n
merupakan barisan konstan (1, 1, 1, ...) yang
jelas konvergen ke 1.
Bila C > 1, maka C 1 d
1
n
n
= + untuk suatu d
n
> 0.
Dengan menggunakan ketaksamaan Bernoulli 2.2.14(c),
( ) C 1 d 1 nd
n
n
n
= + ≥ + , untuk semua n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 69
Karenanya C - 1 ≥ nd
n
, sehingga d
n

C
n
−1
. Akibatnya ( ) C 1 d C 1
1
n
1
n
n
− = ≤ − un-
tuk semua n∈N.
Dengan menggunakan Teorema 3.1.10 diperoleh lim
( )
C
1
n
= 1.
Sedangkan bila 0 < C < 1; maka C
1
n
= 1/(1 + h
n
) untuk suatu h
n
> 0. Dengan meng-
gunakan kesamaan Bernoulli diperoleh
( )
C
1
1 h
1
1 nh
1
nh
n
n
n n
=
+

+
<
yang diikuti oleh 0 < h
n
<
1
nC
untuk semua n∈N.
Karenanya kita mempunyai
0 1 C
h
1 h
h
1
nC
1
n
n
n
n
< − =
+
< <
sehingga C 1
1
C
1
n
1
n
− <
|
\

|
¹
|
untuk semua n∈N.
Dengan menggunakan Teorema 3.1.10 diperoleh lim
( )
C 1
1
n
= untuk 0 < C < 1.
(e). lim
( )
n 1
1
n
= .
Karena
( )
n
1
n
> 1 untuk n > 1, maka n 1 k
1
n
n
= + untuk suatu k
n
> 0 bila n > 1. Aki-
batnya n = (1 + k
n
)
n
untuk n > 1. Dengan teorema Binomial, bila n > 1 kita mempun-
yai
( ) ( ) n 1 nk n n 1 k ... 1+ n n 1 k ,
n
1
2
n
2 1
2
n
2
= + + − + ≥ −
yang diikuti oleh
n 1 n
1
2
− ≥ ( ) n 1 k .
n
2

Aljabar Himpunan
Analisis Real I 70
Dari sini k
n
n

2
untuk n > 1. Sekarang bila ε > 0 diberikan, maka menurut sifat Ar-
chimedes terdapat bilangan asli N
ε
sehingga
2
N
.
2
ε
ε < Hal ini akan diikuti oleh bila n
≥ sup{2, N
ε
} maka
2
n
2
< ε , karena barisan itu
0 n 1 k
n
1
n
1
2
n
< − = ≤
|
\

|
¹
|
<
2
ε .
Karena ε > 0 sebarang, maka lim
( )
n 1
1
n
= .
Latihan 3.1
1. Suku-suku ke-n dari barisan (x
n
) ditentukan oleh formula berikut. Tuliskan lima
suku pertama dari masing-masing barisan tersebut
(a) ( ) x 1 1
n
n
= + − (b).
( )
x
1
n
n
n
=

,
(c).
( )
x
1
n n 1
n
=
+
(d). x
1
n 2
n
2
=
+

2. Beberapa suku pertama barisan (x
n
) diberikan sebagai berikut. Anggap “pola da-
sarnya” diberikan oleh suku-suku tersebut, tentukan formula untuk suku ke-n, x
n
,
(a). 5, 7, 9, 11, ... (b).
1
2
1
8
1
16
- , - , ... , ,
1
4

(c).
1
2
2
3
3
4
4
5
, , , , ... (d). 1, 4, 9, 16, ...
3. Tuliskan lima suku pertama dari barisan yang didefinisikan secara induktif berikut
(a). x
1
= 1, x
n+1
= 3x
n
+ 1;
(b). y
1
= 2, y
n+1
=
( )
1
2
y +
n
2
y
n
;
(c). z
1
= 1, z
2
= 2, z
n+2
= (z
n+1
+z
n
)/z
n+1
- z
n
);
(d). s
1
= 3, s
2
= 5, s
n+2
= s
n
+ s
n+1
.
4. Untuk sebarang b∈R, buktikan lim
b
n
0
|
\

|
¹
|
=
5. Gunakan definisi limit untuk membuktikan limit barisan berikut.
Pendahuluan
Analisis Real I 71
(a). lim
1
n 1
0
2
+
|
\

|
¹
|
= (b). lim
2n
n 1
0
+
|
\

|
¹
|
=
(c). lim
3n 1
2n 5
3
2
+
+
|
\

|
¹
|
= (d). lim
n 1
2n 3
2
2

+
|
\

|
¹
| = 0
6. Tunjukkan bahwa
(a). lim
1
n 7
0
+
|
\

|
¹
|
= (b). lim
2n
n 2
2
+
|
\

|
¹
|
=
(c). lim
n
n 1
0
+
|
\

|
¹
| = (c). lim
( ) −
+
|
\

|
¹
|
|
=
1 n
n 1
0
n
2

7. Buktikan bahwa lim (x
n
) = 0 jika dan hanya jika lim
( )
x
n
= 0. Berikan contoh
yang menunjukkan bahwa kekonvergenan dari
( )
x
n
tidak perlu mengakibatkan
kekonvergenan dari (x
n
).
8. Tunjukkan bahwa bila x
n
≥0 ∀ n∈N dan lim (x
n
) = 0, maka lim
( )
x
n
= 0.
9. Tunjukkan bahwa bila lim (x
n
) = x dan x > 0, maka terdapat bilangan M∈N se-
hingga x
n
> 0 untuk semua n ≥ M.
10. Tunjukkan bahwa lim
1
n
1
n 1
0 −
+
|
\

|
¹
|
=
11. Tunjukkan lim
1
3
n
0
|
\

|
¹
|
=
12. Misalkan b∈R memenuhi 0 < b < 1. Tunjukkan bahwa lim(nb
n
)
13. Tunjukkan bahwa lim ( )
( )
2n 1
1
n
=
14. Tunjukkan bahwa lim
n
n!
0
2
|
\

|
¹
| =
15. Tunjukkan bahwa lim
( )
2
n n
2
3
n 2
n!
0. Bila n 3, maka 0 <
2
n!
2
|
\

|
¹
| = ≥ ≤

¸

(
¸
(




Aljabar Himpunan
Analisis Real I 72
3.2. Teorema-teorema Limit
Dalam bagian ini kita akan memperoleh beberapa hal yang memungkinkan
kita mengevaluasi limit dari barisan bilangan real yang tertentu. Hasil ini memung-
kinkan kita menambah koleksi barisan konvergen.
3.2.1. Definisi. Barisan bilangan real X = (x
n
) dikatakan terbatas bila terdapat bilan-
gan real M > 0 sehingga x
n
≤ M; untuk semua n∈N.
Jadi barisan X = (x
n
) terbatas jika dan hanya jika himpunan {x
n
: n∈N} terba-
tas di R,
3.2.2. Teorema. Suatu barisan bilangan real yang konvergen tarbatas.
Bukti :
Misalkan lim (x
n
) = x dan ε = 1. Dengan menggunakan teorema 3.1.6(c), terdapat bi-
langan asli K = K(1) sehingga bila n ≥ K maka x x 1.
n
− < Dari sini, dengan meng-
gunakan akibat 2.3.4(a) tentang ketaksamaan segitiga, bila n ≥ K, maka x x 1
n
< + .
Dengan menetapkan
M = sup
{ }
x , x , ..., x , x 1 ,
1 2 K-1
+
maka diperoleh x M
n
≤ untuk semua n∈M.
Dalam definisi 3.1.3 kita telah mendefinisikan jumlah, selisih, hasil kali dan
pembagian barisan bilangan real. Kita sekarang akan menunjukkan bahwa barisan
yang diperoleh dengan cara demikian dari barisan-barisan konvergen, mengakibatkan
limit barisan barunya dapat diprediksi.
3.2.3. Teorema.
(a). Misalkan X = (x
n
) dan Y = (y
n
) barisan bilangan real yang berturut-turut konver-
gen ke x dan y, serta c∈R. Maka barisan X + Y, X - Y, X . Y dan cX berturut-
turut konvergen ke x + y, x - y, xy dan cx.
(b). . Bila X = (x
n
) konvergen ke x dan Z = (z
n
) barisan tak nol yang konvergen ke z,
dan z ≠ 0, maka barisan X/Z konvergen ke x/z.
Bukti :
Pendahuluan
Analisis Real I 73
(a). Untuk membuktikan lim (x
n
+ y
n
) = x + y kita akan menaksir
¦(x
n
+ y
n
) - (x + y)¦ = ¦(x
n
+ x) + (y
n
+ y)¦
≤ − + − x x y y .
n n

Dari hipotesis, untuk sebarang ε > 0 terdapat K∈N sehingga bila n ≥ K
1
, maka
x x
n
− <
ε
2
, juga terdapat K
2
∈N sehingga bila n ≥ K
2,
maka x x
n
− <
ε
2
. Bila K(ε) =
sup{K
1
, K
2
}, maka untuk semua n ≥ K(ε)
( ) ( ) x y x y x x y y
n n n n
+ − + ≤ − + −
< + =
1
2
1
2
ε ε ε
Karena ε > 0 sebarang, kita peroleh bahwa X + Y = (x
n
+ y
n
) konvergen ke x + y.
Argumen serupa dapat digunakan untuk membuktikan bahwa X - Y = (x
n
- y
n
)
konvergen ke x - y.
Untuk membuktikan bahwa XY = (x
n
y
n
) konvergen ke xy, kita akan menges-
timasi
( ) ( ) x y xy x y x y x y xy
n n n n n n
− = − + −
( ) ( ) ≤ − + − x y y x x y
n n n

= − + − x y y x x y
n n n

Menurut Teorema 3.2. terdapat bilangan real M
1
> 0 sehingga x M
n 1
≤ untuk semua
n∈N dan tetapkan M = sup
{ }
M , y .
1
Selanjutnya kita mempunyai
x y xy My y Mx x
n n n n
− ≤ − + −
Dari kekonvergenan X dan Y, bila diberikan sebarang ε > 0, maka terdapat K
1
, K
2
,∈N
sehingga bila n ≥ K
1
maka x x
n 2M
− <
ε
, dan bila n ≥ K
2
maka y y
n 2M
− <
ε
.
Sekarang tetapkan K(ε) = sup {K
1
, K
2
}, maka untuk semua n ≥ K(ε) diperoleh
¦x
n
y
n
- xy¦ ≤ M¦y
n
- y¦ + ¦x
n
- x¦

( ) ( )
< + = M M
M M
ε ε
ε
2 2
.
Karena ε > 0 sebarang, hal ini membuktikan bahwa barisan XY = (x
n
y
n
) konvergen ke
xy.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 74
Bukti untuk barisan cX= (cx
n
) konvergen ke cx ditinggalkan sebagai latihan.
(b). Berikutnya kita akan menunjukkan bila Z = (z
n
) barisan tak nol yang konvergen
ke z, maka barisan
1
z
n
|
\

|
¹
| konvergen ke
1
z
(karena z ≠ 0). Pertama misalkan α =
1
2
z
maka α > 0. Karena lim (z
n
) = z, maka terdapat K
1
∈N, sehingga bila n ≥ K
1
maka
z z
n
− <α. Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga diperoleh -α ≤ -¦zn - z¦ ≤
¦z
n
¦ - ¦z¦ untuk n ≥ K
1
. Karena itu
1 2
z z
n
≤ untuk n ≥ K
1
, jadi kita mempunyai

1
z
1
z
z z
z z
1
z z
z z
n
n
n n
n
− =

= −
≤ −
2
z
z z
n
2 n
untuk semua n > K(ε).
Sekarang kita berikan ε > 0, mak terdapat K
2
∈N sehingga bila n ≥ K
2
maka

1
z
1
z
n
− ≤ ε untuk semua n > K(ε).
Karena ε > 0 sebarang, jadi lim
1
z
1
z
.
n
|
\

|
¹
| =
Dengan mendefinisikan Y barisan
1
y
n
|
\

|
¹
| dalam menggunakan XY =
x
z
n
n
|
\

|
¹
| konvergen
ke x
z
x
z
1
|
\

|
¹
|
= , bukti (b) telah selesai.
Beberapa hasil Teorema 3.2.3 dapat diperluas, dengan induksi matematika,
untuk sejumlah hingga barisan konvergen. Sebagai contoh, bila A = (a
n
), B = (b
n
), ...,
Z = (z
n
) barisan konvergen, maka jumlahnya A + B + ... + Z = ( a
n
+ b
n
+ ... + z
n
) juga
merupakan barisan konvergen dan
(1) lim(a
n
+ b
n
+ ... + z
n
) = lim(a
n
) + lim(b
n
) + ... + lim(z
n
)
Hasil kalinya juga konvergen dan
(2) lim (a
n
b
n
...z
n
) = ( )
[ ]
( )
[ ]
( ) lim a lim b ... lim z
n n n
.
Pendahuluan
Analisis Real I 75
Dan bila b∈N dan A = (a
n
) barisan konvergen, maka
(3) lim (a
n
k
) = ( )
[ ]
lim a .
n
k

Buktinya ditingggalkan sebagai latihan.
3.2.4. Teorema. Bila X = (x
n
) barisan konvergen dan x
n
≥ 0, untuk semua n∈N, maka
x = lim (x
n
) ≥ 0.
Bukti :
Andaikan x < 0, pilih z = - x > 0. Karena X konvergen ke x, maka terdapat
K∈N, sehingga x - ε < x
n
< + ε untuk semua n ≥ Κ. Khususnya, kita mempunyai
x
K
< x + z = x + (-x) = 0. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa x
n
≥ 0 untuk se-
mua n∈N. Jadi haruslah x ≥ 0.
3.2.5 Teorema. Bila X = (x
n
) dan Y = (y
n
) barisan konvergen dan x
n
≤ y
n
untuk semua
n∈N, maka lim (x
n
) ≤ lim (y
n
).
Bukti :
Misalkan z
n
= y
n
- x
n
sehingga Z = (z
n
) = Y - X dan z
n
≥ 0 untuk semua n∈N.
Dari teorema 3.2.4 dan 3.2.3 diperoleh 0 ≤ lim Z = lim (y
n
) - lim (x
n
).
Jadi lim (x
n
) ≤ lim (y
n
).
Yang berikut mengatakan bahwa bila semua suku dari barisan konvergen me-
menuhi ketaksamaan a ≤ x
n
≤ b, maka limitnya memnuhi ketaksamaan yang sama.
3.2.6. Teorema. Bila x = (x
n
) suatu barisan konvergen dan a ≤ x
n
≤ b untuk semua
n∈N, maka a ≤ lim (x
n
) ≤ b.
Bukti :
Misalkan Y barisan konstan (b, b, b, ...). Dari Teorema 3.2.5 diperoleh lim X ≤ lim Y
= b. Secara sama dapat ditunjukkan bahwa a ≤ lim X.
Sedangkan yang berikut menyatakan bahwa bila barisan Y diapit oleh dua ba-
risan konvergen yang limitnya sama, maka barisan y tersebut juga konvergen ke limit
dari kedua barisan yang mengapitnya.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 76
3.2.7. Teorema Apit. Misalkan bahwa X = (x
n
), Y = (y
n
), dan Z = (z
n
) barisan yang
memenuhi
x
n
≤ y
n
≤ z
n
untuk semua n∈N,
dan lim (x
n
) = lim (z
n
) maka (y
n
) konvergen dan lim (x
n
) = lim (y
n
) = lim (x
n
).
Bukti :
Misalkan w = lim (x
n
) = lim (z
n
). Bila ε > 0 diberikan, maka karena X dan Z
konvergen ke w, terdapat K∈N sehingga untuk semua n∈N dengan n ≥ K dipenuhi
x w dan x w
n n
− < − < ε ε
Dari hipotesis diperoleh bahwa x
n
- w ≤ y
n
- w ≤ z
n
-w, untuk semua n∈N, yang dii-
kuti oleh (mengapa ?)
-ε < y
n
- w < ε
untuk semua n ≥ K. Karena ε > 0 sebarang, jadi lim (y
n
) = w.
Catatan : Karena sebarang ekor barisan mempunyai limit yang sama, hipotesis dari 3.2.4, 3.2.5,
3.2.6, dan 3.2.7 dapat diperlemah dengan menerapkannya pada ekor barisan. Sebagai contoh, pada
Teorema 3.2.4, bila X = (x
n
) pada “akhirnya positif” dalam arti bahwa terdapat m∈N sehingga x
n
≥ 0
untuk semua n ≥ m, maka akan diperoleh kesimpulan yang sama yaitu n ≥ 0. Modifikasi yang sama
juga berlaku untuk Teorema yang lain, yang pembaca perlu buktikan.
3.2.8. Beberapa Contoh
(a). Barisan (n) divergen.
Mengikuti Teorema 3.2.2, andaikan barisan X = (n) konvergen, maka terdapat bilan-
gan real M > 0 sehingga n = n < M untuk semua n∈N. Tetapi hal ini melanggar sifat
Archimedes.
(b). Barisan ((-1)
n
) divergen
Barisan ini terbatas (ambil M = 2), sehingga kita tidak dapat menggunakan Teorema
3.2.2. Karena itu, andaikan X = ((-1)
n
) konvergen dan a = lim X. Misalkan ε = 1,
maka terdapat K∈N sehingga
( ) -1
n
− < a 1, untuk semua n ≥ K.
Tetapi bila n ganjil dan n ≥ K, hal ini memberikan -1 1 − < a , sehingga -2 < a < 0
(Mengapa?). Sedangkan bila n genap dan n ≥ K, hal ini memberikan 1 1, − < a se-
Pendahuluan
Analisis Real I 77
hingga 0 < a < 2. Karena a tidak mungkin memenuhi kedua ketaksamaan tersebut,
maka pengandaian bahwa X konvergen menghasilkan hal yang kontradiksi. Haruslah
X divergen.
(c). lim
2n 1
n
2
+
|
\

|
¹
|
=
Misalkan X = (2) dan Y
n
, maka
2n 1
n
X Y, =
|
\

|
¹
|
+
|
\

|
¹
|
= +
1

Dengan menggunakan Teorema 3.2.3(a) diperoleh bahwa lim (X + Y) = lim X + lim
Y = 2 + 0 = 2.
(d). lim
2n 1
n 5
2.
+
+
|
\

|
¹
|
=
Karena barisan (2n + 1) dan (n + 5) tidak konvergen, kita tidak dapat mengguanakan
Teorema 3.2.3(b) secara langsung. Tetapi kita dapat melakukan yang berikut

2n 1
n 5
2
1
,
1
n
5
n
+
+
=
+
+

yang memberikan X = 2 +
1
n
|
\

|
¹
|
dan Z = 1
n
+
|
\

|
¹
|
5
sehingga Teorema 3.2.3(b) dapat
digunakan. (Selidiki terlebih dahulu syarat-syarat yang harus dipenuhi). Selanjutnya
diperoleh

( )
( )
lim
2n 1
n 5
lim
2
1
lim 2
lim 1
1
n
5
n
1
n
5
n
+
+
|
\

|
¹
|
=
+
+
|
\

|
¹
|
=
+
+
= =
2
1
2
(e) lim
2n
n 1
0
2
+
|
\

|
¹
|
=
Teorema 3.2.3(b) tidak dapat digunakan secara langsung, juga sampai pada

2n
n 1
2
n
,
2
1
n
+
=
+

(mengapa ?). Tetapi karena

2n
n 1 n
,
2
2
n
1
n
2
+
=
+

dan
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 78
lim
n
0 dan lim 1+
1
n
1, maka lim
2n
n 1
0
2 2
2 0
1
|
\

|
¹
|
=
|
\

|
¹
|
=
+
|
\

|
¹
|
= = ,
dengan menggunakan Teorema 3.2.3(b).
(f) lim
sin n
n
0 =
Di sini kita tidak dapat menggunakan Teorema 3.2.3(b) secara langsung. Tetapi perlu
dicatat bahwa -1 ≤ sin n ≤ 1, maka
-
1
n
sinn
n
1
n
≤ ≤ , untuk semua n∈N.
Karena lim ( ) ( ) − = =
1
n
1
n
lim 0, dengan menggunakan Teorema Apit diperoleh bahwa
lim
sin n
n
0
|
\

|
¹
|
= .
(g). Misalkan X = (x
n
) barisan yang konvergen ke x. Sedangkan p polinomial, sebagai
contoh
p(t) = a
0
+ a
1
t + a
2
t
2
+ ... + a
k
t
k

dengan k∈N dan a
j
∈R untuk j = 0, 1, ..., k, a
k
≠ 0. Dengan menggunakan Teorema
3.2.3 barisan (p(x
n
)) konvergen ke p(x).
Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan.
(h). Misalkan X = (x
n
) barisan yang konvergen ke x. Sedangkan r(t) =
( )
( )
p
q
t
t
dengan p
dan q polinomial. Misalkan juga q(x
n
) ≠ 0 untuk semua n∈N dan q(x) = 0. Maka bari-
san r(x
n
) konvergen ke r(x). Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan.
Kita akan mengakhiri bagian ini dengan beberapa hasil berikut.
3.2.4. Teorema. Misalkan barisan X = (x
n
) konvergen ke x, maka barisan
( )
x
n
kon-
vergen ke x , yaitu bila x = lim (x
n
), maka
( )
x lim x .
n
=
Bukti :
Mengikuti sifat segitiga diperoleh
x x x x
n n
− ≤ − untuk semua n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 79
Selanjutnya kekonvergenan dari
( )
x
n
ke x suatu akibat langsung dari kekonver-
genan dari (x
n
) ke x.
3.2.10. Teorema. Misalkan barisan X = (x
n
) konvergen ke x dan x
n
≥ 0 , untuk semua
n∈N. Maka barisan
( )
x
n
konvergen dan lim
( )
x
n
= x.
Bukti :
Dari Teorema 3.2.4 diperoleh bahwa x = lim (x
n
) ≥ 0.
Sekarang kita tinjau dua kasus (i). x = 0 dan (ii). x > 0.
(i). Misalkan x = 0, dan ε > 0 sebarang diberikan. Karena x 0
n
→ maka terdapat
K∈N sehingga 0 ≤ x
n
= x
n
- 0 < ε
2
.
Karena itu [lihat contoh 2.2.14(a)], 0 ≤ x
n
≤ ε untuk n ≥ K.
Karena ε > 0 sebarang, maka
( )
x 0
n
→ .
(ii). Bila x > 0, maka x 0 > dan kita mempunyai

( )( )
x x
x x x x
x x
x x
x x
n
n n
n
n
n
− =
− +
+
=

+

Karena x x x 0
n
+ ≥ > , maka
x x
1
x
x x
n n
− ≤
|
\

|
¹
|
− .
Kekonvergenan dari x x
n
→ merupakan akibat yang mudah dari x x
n
→ .
Untuk jenis-jenis barisan tertentu, yang berikut menyajikan “uji rasio” yang mudah
dan cepat untuk kekonvergenan.
3.2.11. Teorema. Misalkan (x
n
) barisan bilangan real positif sehingga L = lim
x
x
n+1
n
|
\

|
¹
|
ada. Bila L < 1, maka (x
n
) konvergen dan lim (x
n
) = 0.
Bukti :
Menurut 3.2.4 diperoleh bahwa L ≥ 0. Misalkan r bilangan dengan L < r < 1, dan ε = r
- L > 0. Maka terdapat n∈K. dipenuhi
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 80

x
x
L
n 1
n
+
− < ε .
Akibatnya (mengapa ?) untuk bila n ≥ K, maka
( )
x
x
L L + r L r
n 1
n
+
< + = − = ε .
Karena itu, bila n ≥ K diperoleh
0 < x
n+1
< x
n
r < x
n-1
r
2
< ... < x
K
r
n-K+1

Bila kita tetapkan C = x
K
/r
K
, kita peroleh 0 < x
n+1
< Cr
n+1
untuk semua n ≥ K. Karena
0 < r <1, menurut 3.1.11(c) diperoleh lim (r
n
) = 0 dan karenanya menurut Teorema
3.1.10 lim (x
n
) = 0.
Latihan 3.2
1. Untuk x
n
yang diberikan berikut, tunjukkan kekonvergenan atau kedivergenan dari
X = (x
n
)
(a). x
n
n 1
n
=
+
, (b). x
(-1) n
n 1
n
n
=
+
,
(c). x
n
n 1
n
2
=
+
, (d). x
2n 3
n 1
n
2
2
=
+
+

2. Berikan contoh barisan X.Y yang divergen, tetapi jumlahnya X + Y konvergen.
3. Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X dan X + Y konvergen, maka Y
konvergen.
4. Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X konvergen ke x dan xy konver-
gen, maka Y konvergen.
5. Tunjukkan bahwa barisan (2
n
) tidak konvergen.
6. Tunjukkan bahwa barisan ((-1)
n
n
2
) tidak konvergen.
7. Tentukan limit dari barisan-barisan berikut :
(a). lim 2
n
n
+
|
\

|
¹
|
|
\

|
¹
|
|
1
(b). lim
( 1)
n 2
n

+
|
\

|
¹
|
Pendahuluan
Analisis Real I 81
(d). lim
n 1
n 1

+
|
\

|
¹
| (d). lim
n 1
n n
+ |
\

|
¹
|

8. Misalkan y n 1 n
n
= + − , untuk n∈N. Tunjukkan bahwa (y
n
) dan
( )
ny
n
kon-
vergen.
9. Misalkan z
n
=
( )
a b
n n
1
n
+ dengan 0 < a < b, maka lim (z
n
) = b.
10. Gunakan Teorema 3.2.11 pada barisan-barisan berikut, bila a, b memenuhi 0 < a
< 1 dan b > 1.
(a). (a
n
) (b).
b
2
n
2
|
\

|
¹
|
(c).
n
n
b
|
\

|
¹
|
(d).
( )
2
3
3n
2n

11. (a). Berikan contoh barisan bilangan positif (x
n
) yang konvergen sehingga
lim
x
x
1
n 1
n
+
|
\

|
¹
| =
(b). Berikan pula contoh barisan divergen dengan sifat tersebut. (Jadi, sifat ini tidak
dapat digunakan untuk uji konvergensi).
12. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan positif sehingga lim
x
x
L 1
n 1
n
+
|
\

|
¹
| = > . Tunjuk-
kan bahwa X barisan tak terbatas, karenanya X tidak konvergen.
13. Selidiki konvergensi barisan-barisan berikut, bila a, b memenuhi 0 < a < 1 dan
b > 1
(a). (n
2
a
n
), (b).
b
n
2
n
|
\

|
¹
|
(c).
b
n
n!
|
\

|
¹
| (d).
n!
n
n
|
\

|
¹
|

Aljabar Himpunan
Analisis Real I 82
14. Misalkan (x
n
) barisan bilangan positif dengan lim
( )
x
n
1
n
= L < 1. Tunjukkan
bahwa terdapat bilangan dengan 0 < r < 1 sehingga 0 < x
n
< r
n
untuk suatu n∈N
yang cukup besar. Gunakan ini untuk menunjukkan lim (x
n
) = 0.
15. (a) Berikan contoh barisan bilangan positif (x
n
) yang konvergen sehingga lim
( )
x
n
1
n
= 1.
(b). Berikan contoh barisan bilangan positif (x
n
) yang divergen sehingga lim
( )
x
n
1
n
=
1. (Jadi , sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi).
16. Misalkan (x
n
) barisan konvergen dan (y
n
) barisan sehingga untuk sebarang ε > 0
terdapat M sehingga x y
n n
− < ε untuk semua n ≥ M. Apakah hal ini mengaki-
batkan (y
n
) konvergen ?
3.3. Barisan Monoton
Sampai saat ini, kita telah mempunyai beberapa metode untuk menunjukkan
bahwa barisan X = (x
n
) konvergen :
(i). Kita dapat menggunakan defenisi 3.1.4. atau Teorema 3.1.6. secara langsung.
Tetapi ini sering (tetapi tidak selalu) sukar dikerjakan.
(ii). Kita dapat mendominasi x
n
- x dengan perkalian dari suku-suku dalam barisan
(a
n
) yang diketahui konvergen ke 0, kemudian menggunakan Teorema 3.1.10.
(iii). Kita dapat mengidentifikasi barisan X diperoleh dari barisan-barisan yang
diketahui konvergennya dari lebar barisannya, kombinasi aljabar, nilai mutlak atau
datar dengan menggunakan Teorema 3.1.9, 3.2.3, 3.2.9, atau 3.2.10.
(iv). Kita dapat mengapit X dengan dua barisan yang konvergen ke limit yang sama
dengan menggunakan Teorema 3.2.7.
(v). Kita dapat menggunakan “Uji rasio” dari Teorema 3.2.4.
Kecuali (iii), semua metode ini mengharuskan kita terlebih dahulu mengetahui (atau
paling tidak dugaan) nilai limitnya yang benar, dan kemudian membuktikan bahwa
dugaan kita benar.
Pendahuluan
Analisis Real I 83
Terdapat banyak contoh, yang mana tidak ada calon limit yang mudah dari
suatu barisan, bahkan walaupun dengan analisis dasar diduga barisannya konvergen.
Dalam bagian ini dan dua bagian berikutnya, kita akan membahas hasil-hasil yang
lebih mendalam dibanding bagian terdahulu yang mana dapat digunakan untuk mem-
perkenalkan konvergensi suatu barisan bila tidak ada kandidat limit yang mudah.
3.3.1 Definisi. Misalkan X = (x
n
) barisan bilangan real, kita katakan X tak turun bila
memenuhi ketaksamaan :
x
1
≤ x
2
.... ≤ x
n
≤ x
n
+ 1 ≤ .....
Kita katakan X tak naik bila memenuhi ketaksamaan
x
1
≥ x
2
≥ .... ≥ x
n
≥ x
n+1
≥ ......
Kita katakan X monoton bila X tak naik, atau tak turun.
Berikut ini barisan-barisan tak turun
(1,2,3,4,.....,n,.....); (1,2,2,3,3,3, .......);
(a,a
2
,a
3
,.....,a
n
,......) bila a > 1
Berikut ini barisan-barisan tak naik
(1,1/2,1/3,.....,1/n,...), (1,1/2,1/2
3
,.......,1/2
n-1
,......),
(b,b
2
,b
3
,.......,b
n
,....), bila 0 < b < 1.
Barisan-barisan berikut tak monoton
(+1, -1, +1, ......, (-1)
n+1
,....), (-1, +2, -3, ....., (-1)
n
n, ....)
Berisan-barisan berikut tak monoton, tetapi pada akhirnya monoton
(7,6,2,1,2,3,4,......), (-2,0,1,1/2,1/3,1/4,.....).
3.3.2 Teorema Konvergensi Monoton. Barisan bilangan real monoton konvergen
jika dan hanya jika barisan ini terbatas.
Lebih dari itu :
(a). Bila X = (x
n
) barisan tak turun yang terbatas, maka lim (x
n
) = sup{x
n
}
(b). Bila Y = (y
n
) barisan tak naik yang terbatas, maka lim (y
n
) = inf{y
n
}.
Bukti :
Dari teorema 3.2.2 diketahui bahwa barisan konvergen pasti terbatas.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 84
Sekarang kita akan buktikan sebaliknya, misalkan X barisan monoton yang
terbatas. Maka X tak turun atau tak naik.
(a). Pertama misalkan X barisan tak turun dan terbatas.Dari hipotesis terdapat Μ∈R,
sehingga R
n
≤ M untuk semua n∈N. Menurut prinsip supremum terdapat x
*
= sup{x
n
:
n∈N.}; kita akan tunjukkan bahwa x
*
= lim (x
n
).
Bila ε > 0 diberikan, maka x
*
- ε bukanlah batas atas dari {x
n
: n∈N}; dari sini terda-
pat K∈N sehingga x
*
- ε < x
k
. Tetapi karena (x
n
) tak turun maka hal ini diikuti
x
*
- ε < x
k
≤ x
n
≤ x
*
untuk semua n ≥ Κ.
Akibatnya
x x
n
*
− < ε untuk semua n ≥ Κ.
Karena ε > 0 sebarang, jadi (x
n
) konvergen ke x
*
.
(b). Bila Y = (y
n
) barisan terbatas tak naik, maka jelaslah bahwa X = -Y= (-y
n
) barisan
terbatas tak turun. Dari (a) diperoleh lim X = sup{-y
n
: n∈N}. Di lain pihak, dengan
Teorema 3.2.3 (a) lim X = - lim Y, sedangkan dari latihan 2.5.4(b), kita mempunyai
sup{-y
n
; n∈N} = - inf {y
n
; n∈N }. Karenanya lim Y = -lim X = inf{y
n
; n∈N }
Teorema konvergensi monoton memperkenalkan eksistensi limit dari barisan
monoton terbatas. Hal ini juga memberikan cara perhitungan limit yang menyajikan
kita dapat memperoleh supremum (a), infimum (b). Sering kali sukar untuk menge-
valuasi supremum (atau infimum), tetapi kita ketahui bahwa hal ini ada, sering pula
mungkin mengevaluasi limit ini dengan metode lain.
3.3.3. Beberapa contoh
(a). lim
1
n
0
|
\

|
¹
|
= .
Kita dapat menggunakan Teorema 3.2.10; tetapi, kita akan menggunakan Teorema
Konvergen Monoton. Jelaslah bahwa 0 merupakan batas bawah, dari himpunan {
1
n
:
n∈N}, dan tidak sukar untuk menunjukkan bahwa infimumnya 0; dari sini
0 = lim
1
n
|
\

|
¹
|
.
Pendahuluan
Analisis Real I 85
Di lain pihak, kita ketahui bahwa X =
1
n
|
\

|
¹
|
.terbatas dan tak naik, yang men-
gakibatkan X konvergen ke bilangan real x. Karena X =
1
n
|
\

|
¹
|
.konvergen ke x,
menurut Teorema 3.2.3, X . X = (1/n) konvergen x
2
. Karena itu x
2
= 0, akibatnya x =
0.
(b). Misalkan x 1
1
2
1
3
...
1
n
n
= + + + + untuk n∈N.
Karena x x
1
n 1
x ,
n 1 n n +
= +
+
> kita melihat bahwa (x
n
) suatu barisan naik. Dengan
menggunakan Teorema Konvergensi Monoton 3.3.2, pertanyaan apakah barisan ini
konvergensi atau tidak dihasilkan oleh pertanyaan apakah barisan tersebut terbatas
atau tidak. Upaya-upaya untuk menggunakan kalkulasi numerik secara langsung tiba
pada suatu dugaan mengenai kemungkinan terbatasnya barisan (x
n
) mengarah pada
frustrasi yang tidak meyakinkan. Dengan perhitungan komputer akan memberikan
nilai aproksiasi x
n
≈ 11,4 untuk n = 50.000 dan x
n
≈ 12,1 untuk n = 100.000. Fakta
numerik ini dapat menyatukan pengamat secara sekilas untuk menyimpulkan bahwa
barisan ini terbatas. Akan tetapi pada kenyataannya barisan ini divergen, yang diperli-
hatkan oleh
X 1 ...
1
2 1
....
1
2
2 n 1 n
n
= + + +
|
\

|
¹
|
+ +
+
+ +
|
\

|
¹
|

1
2
1
3
1
4

> + + +
|
\

|
¹
|
+ + + +
|
\

|
¹
|
1 ...
1
2
...
1
2
n n
1
2
1
4
1
4

= 1
1
2
1
2
1
2
+ + + + ... = 1
2
+
n

Dari sini barisan (x
n
) tak terbatas, oleh karena itu divergen (teorema 3.2.2).
(c) Misalkan Y = (y
n
) didefenisikan secara induktif oleh Y
1
= 1, Y
n+1
= ( )
1
4 n
2y 3 +
untuk n ≥ 1. Kita akan menunjukkan bahwa lim Y =
3
2
.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 86
Kalkulasi langsung menunjukkan bahwa y
2
=
5
4
. Dari sini kita mempunyai y
1

< y
2
< 2. Dengan induksi, kita akan tunjukkan bahwa y
n
< 2 untuk semua n∈N. Ini
benar untuk n = 1,2. Jika y
k
< 2 berlaku untk suatu k∈N, maka
y
k+1
= ( ) ( )
1
4 k
1
4
3
4
2y 3 4 3 1 2 + < + = + <
Dengan demikian y
k+1
< 2. Oleh karena itu y
n
< 2 untuk semua n∈N.
Sekarang, dengan induksi, kita akan tunjukkan bahwa y
n
< y
n+1
untuk semua
n∈N. Kemudian pernyataan ini tidak dibuktikan untuk n = 1. Anggaplah bahwa y
k
<
y
k+1
untuk suatu k∈N;
y
k+1
= ( ) ( )
1
4 k
1
4 k+1 k 2
2y 3 2y 3 y + < + <
+

Jadi y
k
< y
k+1
mengakibatkan y
k+1
< y
k+2
. Oleh karena itu y
n
< y
n+1
untuk semua n∈N.
Kita telah menunjukkan bahwa Y = (y
n
) adalah barisan naik dan terbatas di
atas oleh 2. Menurut Teorema konvergensi Menoton, Y konvergen ke suatu limit
yakni pada kurang dari atau sama dengan 2. Dalam hal ini, tidak mudah untuk
mengevaluasi lim(y
n
) dengan menghitung sup{y
n
: n∈N}. Tetapi terdapat cara lain
untuk mengevaluasi limitnya. Karena y
n+1
= ( )
1
4 n
2y 3 + untuk semua n∈N, maka suku
ke n dari 1-ekor Y
1
dan suku ke n dari Y mempunyai relasi aljabar sederhana. Dengan
Teorema 3.1.9, kita mempunyai y = lim Y
1
= lim Y yang diikuti dengan Teorema
3.2.3 diperoleh y = ( )
1
4
2y 3 + yang selanjutnya mengakibatkan y =
3
2
.
(d). Misalkan Z = (z
n
) dengan z
1
= 1, z
n+1
= 2z
n
untuk semua n∈N, kita akan lan-
jutkan lim (z
n
) = 2.
Catatan bahwa z
1
= 1 dan z
2
= 2 ; Dari sini 1 ≤ z
1
≤ z
2
< 2. Kita klaim bahwa
Z tak turun dan terbatas di atas oleh 2. Untuk membuktikannya kita akan lakukan se-
cara induksi, yaitu 1 ≤ z
n
< z
n+1
< 2 untuk semua n∈N. Faktor ini dipenuhi untuk n =
1. Misalkan hal ini juga dipenuhi untuk n = K, maka 2 ≤ 2z
K
< 2z
K+1
< 4, yang diikuti
oleh 1 < 2 ≤ z
K+1
= 2z
K
< z
K+2
= 2z
K 1 +
< 4 = 2.
[Pada langkah terakhir kita menggunakan contoh 2.2.14 (a)]. Dari sini ketaksamaan 1
≤ z
K
< z
K+1
< 2 mengakibatkan 1 ≤ z
K+1
< z
K+2
< 2. Karena itu 1 ≤ z
n
< z
n+1
< 2 untuk
semua n∈N.
Pendahuluan
Analisis Real I 87
Karena Z = (z
n
) terbatas dan tak turun, menurut Teorema Konvergensi
Monoton Z konvergen ke z = sup {z
n
}. Akan ditunjukkan secara langsung bahwa
sup{z
n
}= 2, jadi z = 2. Atau kita dapat menggunakan cara bagian (c). Relasi z
n+1

= 2z
n
memberikan relasi antara suku ke n dari Z
1
dan suku ke n dari Z. Dengan
Teorema 3.1.9,kita mempunyai lim Z
1
= z = lim Z. Lebih dari itu, menurut Teorema
3.2.3 dan 3.2.10, z harus memenuhi z = 2z . Ini menghasilkan z = 0, 2. Karena 1 ≤ z
≤ 2. Jadi z = 2
Perhitungan akar kuadrat
3.3.4. Contoh
Misalkan a > 0, kita akan mengkonstruksi barisan (s
n
) yang konvergen ke a .
Misalkan s
1
> 0 sebarang dan didefinisikan s
n+1
=
1
2
n
n
s
s
+
|
\

|
¹
|
a
untuk semua
n∈N. Kita akan tunjukkan bahwa (s
n
) konvergen ke a . (Proses ini untuk menghi-
tung akar kuadrat yang sudah dikenal di Mesopotamia sebelum 1500 B.C.).
Pertama kita tunjukkan bahwa s
n 1
2
+
≥ a untuk semua n ≥ 2. Karena s
n
2
- 2s
n+1

s
n
+ a = 0, persamaan ini mempunyai akar real. Dari sini diskriminannya 4s 4
n 1
2
+
− a
harus tak negatif, yaitu s
n 1
2
+
≥ a untuk n ≥ 1.
Untuk melihat (s
n
) Pada akhirnya tak naik, kita catat bahwa untuk n ≥ 2 kita
mempunyai

( )
s s s s
s
s
s
0
n n 1 n
1
2
n
n
1
2
n
2
n
− = − +
|
\

|
¹
| = ≥
+
a

Dari sini, s
n+1
≤ s
n
untuk semua n ≥ 2. Menurut Teorema konvergensi monoton lim(s
n
)
= s ada. Lebih dari itu, dari Teorema 3.2.3, s harus memenuhi
s s
s
1
2
= +
|
\

|
¹
|
a
,
yang mengakibatkan s =
a
s
atau s
2
= a. Jadi s = a .
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 88
Untuk perhitungan, sering penting untuk mengestimasi bagaimana cepatnya
ba-risan (s
n
) konvergen ke a . Dari di atas, kita mempunyai a ≥ s
n
untuk semua n
≥ 2. Dengan menggunakan ketaksamaan ini kita dapat menghitung a dengan dera-
jat akurasi yang diinginkan.
Bilangan Euler
3.3.5 Contoh.
Misal e
n
= (1 + 1/n)
n
untuk n∈N. Kita akan tunjukkan bahwa Ε = (e
n
) terbatas
atau tak turun, karenanya Ε konvergen yang sangat terkenal itu, yang nilainya
didekati dengan e ≈ 2,718281828459045... dan kemudian digunakan sebagai bilangan
dasar logaritma natural.
Bilamana kita menggunakan teorema Binomial, kita mempunyai
e
n
=
( )
1
1
+
n
n
= 1 +
n
1 n

1
+
( ) n n-1
2!
n
2

1
+
( )( ) n n-1 n-2
3!
n
3

1
+ ... +
( ) n n-1
n!
n
n
K2 1
1


Ini dapat ditulis menjadi
e
n
= 1 + 1 +
( )
1
2
1
1
!

n
+
( )( )
1
3
1 2
1 1
!
− −
n n
+ ... +
( )( ) ( )
1 1 2
1 1 1
n n n
n-1
n !
− − − K
Dengan cara serupa kita mempunyai :
e
n+1
= 1 + 1 +
( )
1
2
1
1
!

n+1
+
( )( )
1
3!
1
n+1
2
n+1
1 1 − − + ...
+
( )( ) ( )
1
n!
1
n+1
2
n+1
n-1
n+1
1 1 1 − − − K +
( )
( )( ) ( )
1
n 1 !
1
n 1
2
n 1
n
n+1
1 1 ... 1
+ + +
− − −
Perhatikan bahwa ekspresi untuk e
n
menurut n + 1 suku, sedangkan untuk e
n+1
menu-
rut n+2 suku. Selain itu, masing-masing suku dalam e
n
adalah lebih kecil atau sama
dengan suku yang bersesuaian dalam e
n+1
dan e
n+1
mengandung lebih satu suku posi-
tif. Oleh karena itu, kita mempunyai 2 ≤ e
1
≤ e
2
< ... < e
n
< e
n+1
< ..., dengan demikian
suku-suku dari E naik.
Untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari E terbatas di atas, kita perhatikan
bahwa jika p = 1 , 2 , ... , n, maka 1
p
n
1 −
|
\

|
¹
|
< . Selain itu 2
p-1
≤ p! [lihat 1.3.3 (d)]
dengan demikian
1
p!
1
2
p 1


Oleh karena itu, jika n > 1, maka kita mempunyai
2 1 1
1
2
1
2
...
1
2
n
2 n 1
< < + + + + +

e
Pendahuluan
Analisis Real I 89
Karena dapat dibuktikan bahwa [lihat 1.3.3 (b)]

1
2
1
2
...
1
2
1
1
2
1,
2 n 1 n 1
+ + + = − <
− −

kita simpulkan bukan 2 ≤ e
n
< 3 untuk semua n∈N. Menurut Teorema Konvergensi
Monoton, kita peroleh bahwa barisan E konvergen ke suatu bilangan real antara 2 dan
3. Kita definisikan bilangan e merupakan limit dari barisan ini.
Dengan penghalusan estimasi kita dapat menemukan bilangan yang dekat
sekali ke e, tetapi kita tidak dapat menghitungnya secara eksak, karena e adalah suatu
bilangan irasional. Akan tetapi mungkin untuk menghitung e sampai beberapa tempat
desimal yang diinginkan. Pembaca boleh menggunakan kalkulator (atau komputer)
untuk menghitung e
n
dengan mengambil nilai n yang “besar”
Latihan 3.3.
1. Misalkan x
1
> 1 dan x 2
x
n 1
n
+
= −
1
untuk n ≥ 2. Tunjukkan bahwa (x
n
) terbatas
dan menoton. Tentukan limitnya.
2. Misalkan y
1
= 1 dan y
n+1
= 2 y
n
+ . Tunjukkan bahwa (y
n
) konvergen dan tentu-
kan limitnya.
3. Misalkan a > 0 dan z
1
> 0, Definisikan z
n+1
= (a + z
n
)
1/2
untuk n∈N. Tunjukkan
bahwa (z
n
) konvergen dan tentukan limitnya.
4. Misalkan x
1
= a > 0 dan x
n+1
= x
n
+ 1/x
n
. Tentukan apakah (x
n
) konvergen atau
divergen.
5. Misalkan (x
n
) barisan terbatas dan, untuk masing-masing n∈N, s
n
= sup{x
k
: k ≥
n} dan t
n
= inf{x
k
: k ≥ n}. Buktikan bahwa (s
n
) dan (t
n
) konvergen,. Juga buktikan
bahwa bila lim (s
n
) = lim (t
n
), maka (x
n
) konvergen. [ lim (s
n
) disebut limit supe-
rior dari (x
n
), dan lim (t
n
) disebut limit inferior dari (x
n
) ]
6. Misalkan (a
n
) barisan tak turun, (b
n
) barisan tak naik dan misalkan a
n
≤ b
n
untuk
semua n∈N. Tunjukkan bahwa lim (a
n
) ≤ lim (b
n
), dan dari sini buktikan Teorema
Interval Bersarang 2.1.b dari Teorema Konvergensi Monoton 3.3.2.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 90
7. Misalkan A subhimpunan tak hingga dari R dan terbatas di atas dengan u = sup A.
Tunjukkan bahwa terdapat suatu barisan tak turun (x
n
) dengan x
n
∈ A untuk se-
mua n∈N sehingga u = lim (x
n
).
8. Tentukan apakah barisan (y
n
) konvergen atau divergen, bila y
n
=
1
n 1
1
n 2
1
2n
...
+ +
+ + +
untuk n∈N.
9. Misalkan x
n
=
1
1
1
2
1
2 2
+ + +
n
2
L untuk n∈N. Buktikan bahwa (x
n
) tak turun dan
terbatas, jadi konvergen. [ Catatan bila k ≥ 2, maka
( )
1 1 1 1
k k k - 1 k - 1 k
2
≤ = − ]
10. Perkenalkan konvergensi barisan berikut dan tentukan limitnya.
(a).
( )
1
n
n 1
+
|
\

|
¹
|
+
1
; (b).
( )
1
n
2n
+
|
\

|
¹
|
1
;
(c).
( )
( )
1
1
n 1
n
+
+
; (d).
( )
1
n
n

|
\

|
¹
|
1
.
11. Gunakan metode pada contoh 3.3.4 untuk menghitung 2 , dengan benar sampai
4 desimal.
12. Gunakan metode pada contoh 3.3.4 untuk menghitung 5 , dengan benar sampai
5 desimal.
13. Hitung e
n
pada contoh 3.3.5 untuk n = 2, 4, 8, 16.
14. Gunakan kalkulator untuk menghitung e
n
untuk n = 50 dan n = 100.
15. Gunakan Komputer untuk menghitung e
n
untuk n = 1000.
3.4. Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass
Dalam bagian ini kita akan memperkenalkan gagasan subbarisan dari barisan
yang diberikan. Gagasan ini agak lebih umum daripada ekor barisan (yaitu dibahas
pada 3.1.8) sering bermanfaat dalam membuktikan divergensi barisan. Kita juga akan
membuktikan Teorema Bolzano-Weistrass, yang akan digunakan untuk memperke-
nalkan sejumlah hasil akibatnya.
3.4.1. Definisi. Misalkan X = (x
n
) barisan dan r
1
< r
2
< ... < r
n
< ..., barisan bilangan
asli yang naik. Maka barisan X’ dalam R yang diberikan oleh
Pendahuluan
Analisis Real I 91

( )
x , x , x , , x ,
r r r r
1 2 3 n
L L
disebut subbarisan dari X.
Sebagai contoh, berikut ini adalah subbarisan dari X =
1
1
1
2
1
3
1
, , , , , L L
n
|
\

|
¹
|
.

1
3
1
4
1
5
1
, , , , , L L
n + 2
|
\

|
¹
|
,
1
1
1
3
1
5
1
, , , , , L L
2n -1
|
\

|
¹
|
,
( )
1
2
1
4
1
6
1
!
,
!
,
!
, , , L L
2n !
|
\

|
¹
| .
Sedangkan yang berikut bukan subbarisan dari X =
1
n
|
\

|
¹
|
:

1
2
1
1
1
4
1
3
1
6
1
5
, , , , , ,L
|
\

|
¹
|
,
1
1
0
1
3
0
1
5
0 , , , , , ,L
|
\

|
¹
|
.
Tentu saja, sebarang ekor barisan merupakan subbarisan, ekor-m bersesuaian dengan
barisan yang ditentukan dengan
r
1
= m + 1, r
2
= m + 2, ..., r
n
= m + n
1
...
Tetapi, tidak setiap subbarisan merupakan ekor barisan.
Subbarisan dari barisan konvergen juga konvergen ke limit yang sama, seperti
yang akan kita tunjukkan berikut.
3.4.2. Teorema. Jika suatu barisan bilangan real X = (x
n
) konvergen ke x, maka se-
barang subbarisan dari X juga konvergen ke x.
Bukti :
Misalkan ε > 0 diberikan dan pilih bilangan asli Κ(ε) sedemikian sehingga jika n ≥
Κ(ε), maka x x
n
− < ε. Karena r
1
< r
2
<...< r
n
< ... adalah barisan bilangan real naik
maka dapat dibuktikan (dengan induksi) bahwa r
n
≥ n .Dari sini, bila n ≥ Κ(ε) kita
juga mempunyai r
n
≥ n ≥ Κ(ε) dengan demikian x x
r
n
− < ε. Oleh karena itu su-
barisan
( )
x
r
n
juga konvergen ke x.
3.4.3 Beberapa contoh
(a). lim (b
n
) = 0 bila 0 < b < 1.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 92
Kita telah melihat, pada Contoh 3.1.11 (c), bahwa bila 0 < b < 1 dan bila x
n
=
b
n
, maka dari Ketaksamaan Bernoulli diperoleh bahwa lim(x
n
) = 0. Cara lain, kita
melihat bahwa karena 0 < b < 1, maka x
n+1
= b
n+1
< b
n
= x
n
dengan demikian (x
n
)
adalah barisan turun. Jelas juga bahwa 0 ≤ x
n
≤ 1, sehingga menurut Teorema Kon-
vergensi Monoton 3.3.2 barisan tersebut konvergen. Misalkan x = lim (x
n
). Karena
(x
2n
) subbarisan dari (x
n
) menururt Teorema 3.4.2 maka x = lim (x
2n
). Di lain pihak,
karena x
2n
= b
2n
= (b
n
)
2
= (x
n
)
2
, menurut Teorema 3.2.3 diperoleh
x = lim (x
2n
) = [lim (x
n
)]
2
= x
2

Oleh karena itu kita mesti mempunyai x = 0 atau x = 1. Karena (x
n
) barisan turun dan
terbatas di atas oleh 1, maka haruslah x = 0.
(b). lim
( )
c
1
n
1 = untuk c > 1.
Limit ini telah diperoleh dalam contoh 3.1.11 (d) untuk c > 0, dengan
pemikiran argumen yang banyak diakal-akali. Di sini kita melihat pendekatan lain
untuk kasus c > 1. Perhatikan bahwa jika z
n
= c
1/n
, maka z
n
> 1 dan z
n+1
< z
n
untuk
semua n∈N. Jadi dengan menggunakan Teorema Konvergensi Monoton, z = lim (Z
n
)
ada. Menurut teorema 3.4.2, berlaku z = lim (Z
2n
). Di lain pihak, karena
z
2n
=
( )
c c
1
2n
1
n
1
2 1
2
z
n
= =
dan Teorema 3.2.10,maka
( ) ( ) ( )
z lim Z lim Z z
2n n
1
2
1
2
= = = .
Karena itu z
2
= z yang menghasilkan z = 0 atau z = 1. Karena Z
n
> 1 untuk semua
n∈N, maka haruslah z = 1.
Untuk kasus 0 < c < 1, kita tinggalkan sebagai latihan.
Kegunaan subbarisan membuatnya mudah untuk menyajikan uji divergensi
suatu barisan.
3.4.4. Kriterian Divergensi. Misalkan X = (x
n
) suatu barisan.
maka pernyataan berikut ekivalen :
(i) Barisan X = (x
n
) tidak konvergen ke x∈R.
Pendahuluan
Analisis Real I 93
(ii) Terdapat ε
0
> 0 sehingga untuk sebarang k∈N, terdapat r
k
∈N sehingga r
k
≥ k dan
x x
r
k
− ≥ ε
0

(iii) Terdapat ε
0
> 0 dan subbarisan X =
( )
x
r
n
dari X sehingga x x
r
n
− ≥ 0 untuk se-
mua n∈N.
Bukti :
(i) ⇒ (ii). Bila X = (x
n
) tidak konvergen ke x, maka untuk suatu ε
0
> 0 tidak mungkin
memperoleh bilangan Κ(ε) sehingga 3.1.b (c) dipenuhi. Yaitu, untuk sebarang k∈N
tidak benar bahwa untuk semua n ≥ k sehingga x x
r 0
k
− ≥ ε .
(ii) ⇒ (iii). Misalkan ε
0
seperti pada (ii) dan misalkan r
1
∈N sehingga r
1
≥1 dan
x x
r 0
1
− ≥ ε . Sekarang misalkan r
2
∈N sehingga r
2
> r
1
dan x x
r 0
2
− ≥ ε ; misalkan r
3

> r
2
dan x x
r
3
− ≥ ε
0
. dengan meneruskan cara ini diperoleh subbarisan X’ =
( )
x
r
n
(x
rn
) dari X sehingga x x
r
n
− ≥ ε
0
.
(iii) ⇒ (i) Misalkan X = (x
n
) mempunyai subbarisan X’ =
( )
x
r
n
memenuhi kondisi
(iii); maka X tidak mungkin konvergen ke x. Karena andaikan demikian, maka menu-
rut Teorema 3.4.2 subbarisan X’ juga akan konvergen ke x. Tetapi ini tidak mungkin
suku dari x’ termuat dilingkungan x
0
dari x.
3.4.5. Beberapa contoh.
(a). Barisan ( )
( )
−1 divergen
n
.
Bila barisan X = ( )
( )
−1
n
konvergen ke x, maka (menururt Teorema 3.4.2) setiap sub-
barisan dari X harus konvergen ke x. Karena terdapat subbarisan yang konvergen ke
+1 dan sub-barisan yang lain konvergen ke -1, maka haruslah X divergen.
(b). Barisan
( )
1, ,3, ,...
1
2
1
4
divergen.
[Kita dapat mendefinisikan barisan ini dengan Y = (y
n
), yang mana y
n
= n bila
n ganjil, dan y
n
=
1
n
bila n genap]. Secara mudah dapat dilihat bahwa barisan ini tidak
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 94
terbatas; dari sini, menurut Teorema 3.2.2, barisan ini tidak mungkin konvergen. Se-
cara alternatif, walaupun sub-barisan ( )
1
2
1
4
1
6
, , ,... dari Y konvergen ke 0, keseluru-
han barisan Y tidak konvergen ke 0. Yaitu, terdapat subbarisan (3,5,7,...) dari Y yang
berada di luar lingkungan -1 dari 0; karena itu Y tidak konvergen ke 0.
Eksistensi Subbarisan Monoton
Sementara tidak setiap barisan monoton, kita sekarang akan menunjukkan
bahwa setiap barisan mempunyai sub-barisan monoton.
3.4.6. Teorema Subbarisan Monoton. Setiap barisan X = (x
n
) mempunyai subbarisan
monoton.
Bukti
Untuk tujuan ini kita akan menyatakan suku ke-m x
m
merupakan puncak bila
x
m
≥ x
n
untuk semua n ≥ m. Selanjutnya kita akan mempertimbangkan dua kasus.
Kasus 1. X mempunyai sejumlah tak hingga puncak. Dalam kasus ini, kita mengururt
puncak-puncak tersebut dengan indeks naik. Jad kita mempunyai puncak-puncak
x , x ,..., x ,...
m m m
1 2 k
dengan m
1
< m
2
< ... < m
k
< ...,.Karena masing-masing suku
tersebut puncak, kita mempunyai x x x ... x ...
m m m m
1 2 3 k
≥ ≥ ≥ ≥ ≥
Karenanya subbarisan
( )
x
m
k
merupakan subbarisan tak naik dari X.
Kasus 2. X mempunyai sejumlah hingga (mungkin nol) puncak. Misalkan puncak-
puncak ini x , x ,..., x ,...
m m m
1 2 r
. Misalkan s
1
= m
r
+ 1 (indeks pertama setelah puncak
terakhir) Karena x
s
1
bukan puncak, maka terdapat s
2
> s
1
sehingga x x
s s
2 1
> .
Karena x
s
2
bukan puncak, maka terdapat s
3
> s
2
, sehingga x x
s s
3 2
> . Bila kita
meneruskan proses ini, kita peroleh subbarisan tak turun (bukan naik)
( )
x
s
n
dari X.
Teorema Bolzana Weierstrass
3.4.7. Teorema Bolzana-Weierstrass. Setiap barisan terbatas mempunyai subbarisan
konvergen.
Bukti
Pendahuluan
Analisis Real I 95
Mengikuti Teorema Subbarisan Monoton, maka barisan terbatas X = (x
n
)
mempu-nyai subbarisan X’ =
( )
x
s
n
monoton. Subbarisan inipun juga terbatas, se-
hingga menururt Teorema Konvergensi Monoton X’ =
( )
x
s
n
konvergen.
Dari sini mudah dilihat bahwa barisan terbatas dapat mempunyai beberapa
sub-barisan yang konvergen ke limit yang berbeda, sebagai contoh, barisan ( )
( )
−1
n

mempunyai subbarisan yang konvergen ke -1, dan subbarisan yang lain konvergen ke
+1. Barisan ini juga mempunyai sub-barisan yang tidak konvergen.
Misalkan X’ subbarisan dari barisan X. Maka X’ sendiri juga merupakan bari-
san, yang juga dapat mempunyai sub-barisan, katakan X”. Di sini dapat kita catat ba-
hawa X” juga merupakan subbarisan dari X.
3.4.8. Teorema. Misalkan X barisan terbatas dan x∈R yang mempunyai sifat bahwa
setiap sub-barisan konvergen dari X limitnya adalah x. Maka barisan X konvergen ke
x.
Bukti
Misalkan M > 0, sehingga x M
n
≤ untuk semua n∈N. Andaikan X tidak konvergen
ke x. Menurut Kriteria Divergensi 3.4.4 terdapat ε
0
> 0 dan subbarisan X’ =
( )
x
r
n
dari
X sehingga
(#) x x
r 0
n
− ≥ ε , untuk semua n∈N.
Karena X’ subbarisan dari X, maka X’ juga terbatas oleh M. Dari sini, menurut Teo-
rema Bolzano-Weierstrass bahwa X’ mempunyai subbarisan X” yang konvergen.
Tetapi X” juga merupakan subbarisan dari X, karenanya harus konvergen ke x, menu-
rut hipotesis. Akibatnya pada akhirnya X” terletak di dalam lingkungan-ε
0
dari x.
Karena setiap suku dari X” juga merupakan suku dari X’, hal ini membawa kita ke
suatu yang kontradiksi dengan (#)
Latihan 3.4
1. Berikan contoh barisan tak terbatas yang mempunyai subbarisan konvergen.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 96
2. Gunakan metode pada contoh 3.4.3 (b) untuk menunjukkan bahwa 0 < c < 1,
maka
( )
lim
1
n
c = 1.
3. Misalkan X = (x
n
) dan Y = (y
n
) dan barisan Z = (z
n
) didefenisikan dengan z
1
= x
1
,
z
2
= y
1
, ... z
2n-1
= x
n
, z
2n
= y
n
,.... Tunjukkan bahwa Z konvergen jika dan hanya jika
X dan Y konvergen dan lim X = lim Y.
4. Misalkan x n
n
1
n
= untuk n∈N.
(a). Tunjukkan bahwa x
n+1
< x
n
ekivalen dengan ( ) 1
1
n
n
+ < n, dan diduga bahwa
ketaksamaan ini benar untuk n ≥ 3. [ lihat contoh 3.3.5 ]Buktikan bahwa (x
n
)
pada akhirnya tak naik dan η = lim (x
n
) ada.
(b) Gunakan fakta subbarisan (x
2n
) juga konvergen ke x untuk menunjukkan
bahwa x = x . Simpulkan x = 1
5. Misalkan setiap sub-barisan dari X = (x
n
) mempunyai subbarisan lagi yang kon-
vergen ke 0. Tunjukkan bahwa lim X = 0.
6. Perkenalkan konvergensi dan tentukan limit barisan berikut :
(a). ( )
( )
1
1
2n
2
+ (b). ( )
( )
1
1
2n
n
+
(c).
( )
1
1
n
n
2
2
+
|
\

|
¹
| (d). ( )
( )
1
2
n
n
+
7. Misalkan (x
n
) barisan terbatas dan untuk masing-masing n∈N s
n
= sup{x
k
: k ≥ n}
dan s = inf{ s
n
: n∈N}. Tunjukkan bahwa terdapat subbarisan dari (x
n
) yang kon-
vergen ke s.
8. Misalkan bahwa x
n
≥ 0 untuk semua n∈N dan lim ( )
( )
−1 x
n
n
ada. Tunjukkan
bahwa (x
n
) konvergen.
9. Tunjukkan bahwa bila (x
n
) tak terbatas, maka terdapat subbarisan
( )
x
n
k
sehingga
lim
1
x
0
n
k
|
\

|
¹
|
|
=
Pendahuluan
Analisis Real I 97
10. Bila x
n
=
( ) −1
n
n
, tentukan subbarisan (x
n
) yang dikonstruksi pada bukti kedua
Teorema Bolzano-Weierstrass.
11. Misalkan (x
n
) barisan terbatas dan s = sup{ x
n
: n∈N }. Tunjukkan bahwa bila s ∉
{x
n
: n∈N}, maka terdapat subbarisan dari (x
n
) yang konvergen ke s.
12. Berikan contoh bahwa Teorema 3.4.8 gagal bila hipotesis X barisan terbatas dihi-
langkan.
3.5 Kriteria Cauchy
Teorema Konvergensi Monoton sangat penting dan berguna, tetapi sayangnya
hanya dapat diterapkan pada barisan monoton. Padahal sangat penting untuk mem-
perkenalkan kriteria konvergensi yang tidak bergantung pada barisan monoton mau-
pun nilai limitnya,seperti yang akan kita bahas berikut ini.
3.5.1 Definis.i Barisan X = (x
n
) dikatakan barisan Cauchy bila untuk setiap ε > 0
terdapat H(ε)∈N sehingga bila m,n ≥ H(ε), maka x
m
dan x
n
memenuhi x x
n m
− < ε .
Pembaca sebaiknya membandingkan definisi ini dekat dengan Teorema 3.1.6
(c) yang menyinggung konvergensi barisan x. Akan kita lihat bahwa barisan Cauchy
ekivalen dengan barisan konvergen. Untuk membuktikannya kita akan tunjukkan ter-
lebih dahulu bahwa barisan konvergen merupakan barisan Cauchy.
3.5.2. Lemma. Bila X = (x
n
) barisan konvergen, maka X barisan Cauchy.
Bukti :
Misalkan x = lim X, maka menurut Teorema 3.1.6(c) untuk sebarang ε > 0, ter-
dapat Κ(
ε
2
)∈N sehingga x x
n
− <
ε
2
untuk semua n ≥ Κ(
ε
2
). Jadi, bila m,n ≥ Κ(
ε
2
)
maka
( ) ( ) x x x x x x
n m n m m
− = − + −
≤ − + − < x x x x
n m
ε
2
+
ε
2
= ε
Karena ε > 0 sebarang, maka (x
n
) barisan Cauchy.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 98
Untuk menunjukkan bahwa barisan Cauchy konvergen kita akan mengguna-
kan hasil berikut.
3.5.3. Lemma. Barisan Cauchy terbatas.
Bukti :
Misalkan x barisan Cauchy dan ε = 1. Bila H = H(1) dan n ≥ H, maka x x 1
n H
− ≤ .
Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga kita mempunyai x x 1
n H
≤ + untuk n ≥
Η. Bila kita definisikan
} {
M sup x , x ,..., x , x 1 ,
1 2 H 1 H
= +


maka x M
n
≤ untuk semua n∈N.
3.5.4 Kriteria Konvergensi Cauchy. Barisan bilangan real konvergen jika dan hanya
jika merupakan barisan cauchy.
Bukti :
Lemma 3.5.2 telah membuktikan bahwa barisan konvergen merupakan barisan
Cauchy. Sebaliknya, misalkan X = (x
n
) barisan Cauchy; kita akan tunjukkan bahwa X
konvergen ke suatu bilangan. Pertama dari Lemma 3.5.3 kita peroleh bahwa X terba-
tas. Karena itu menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3.4.7 terdapat subbarisan X’ =
( )
x
n
k
dari X yang konvergen ke x
*
suatu bilangan real. Kita akan melengkapi bukti
dengan menunjukkan bahwa X konvergen ke x
*
.
Karena X = (x
n
) barisan Cauchy, untuk sebarang ε > 0 terdapat H(
ε
2
)∈N se-
hingga bila m,n ≥ H(
ε
2
) maka
(*) x x
n m
− <
ε
2

Karena subbarisan X’ =
( )
x
n
k
konvergen ke x
*
, maka terdapat bilangan asli K ≥
H(
ε
2
) unsur dari {n
1
,n
2
,...} sehingga x x
K
*
− <
ε
2
.
Karena K ≥ H(
ε
2
), dari (*) dengan m = K diperoleh
x x
n k
− <
ε
2
, untuk n ≥ H(
ε
2
)
Pendahuluan
Analisis Real I 99
Karena itu, bila n ≥ H(
ε
2
), kita mempunyai
( )
( )
x x x x x x
n
*
n K K
*
− = − + −
≤ − + − x x x x *
n K K

<
ε
2
+
ε
2
= ε
Karena ε > 0 sebarang, maka lim (x
n
) = x
*
.
Berikut kita lihat beberapa contoh aplikasi dari Kriteria Cauchy.
3.5.5. Beberapa Contoh
(a) Barisan
1
n
|
\

|
¹
|
konvergen.
Tentu saja kita telah membuktikan bahwa barisan ini konvergen ke 0 pada
3.1.7(a). Tetapi untuk menunjukkan secara langsung bahwa barisan ini Cauchy, kita
catat bahwa bila diberikan sebarang ε > 0. maka terdapat H = H(ε)∈N, sehingga H >
( )
2
ε
(Mengapa?). Dari sini, bila m,n ≥ H, maka

1
n
1
m
1
n
1
m
2
H
− ≤ + ≤ < ε
Karena ε > 0 sebarang, maka
1
n
|
\

|
¹
|
barisan Cauchy; berdasar kriteria Konvergensi
Cauchy barisan ini konvergen.
(b). Misalkan X = (x
n
) didefinisikan dengan
x
1
= 1, x
2
= 2 dan ( ) x x x
n n 2 n 1
= +
− −
1
2
untuk n > 2.
Dapat ditunjukkan dengan induksi bahwa 1 ≤ x
n
≤ 2 untuk semua n∈N. Beberapa
perhitungan menunjukkan bahwa barisan x tidak menoton. Tetapi, karena suku-
sukunya diperoleh dari rata-rata, mudah dilihat bahwa
x x
1
2
n n 1
n 1
− =
+

untuk n∈N
(Buktikan dengan induksi) Jadi, bila m > n, kita dapat menggunakan ketaksamaan
segitiga untuk memperoleh
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 100
x x x x x x ... x x
n m n n 1 n 1 n 2 m 1 m
− ≤ − + − + + −
+ + + −

=
1
2
1
2
...
1
2
n 1 n m 2 − −
+ + +
=
1
2
1
1
2
...
1
2
1
2
n 1 m n 1 n 2 − − − −
+ + +
|
\

|
¹
|
<
Karena itu, bila diberikan ε > 0, dengan memilih n yang begitu besar sehingga
1
2 4
n
<
ε
dan bila M ≥ n, maka x x
n m
− < ε . Karenanya, X barisan Cauchy. Dengan
menggunakan Kriteria Cauchy 3.5.4 diperoleh barisan X konvergen ke suatu bilangan
x.
Untuk mencari nilai x, kita harus menggunakan aturan untuk definisi
( ) x x x
n
1
2 n 1 n 2
= +
− −
yang akan sampai pada kesimpulan ( ) x x x
1
2
= + , yang memang
benar, tetapi tidak informatif. Karena itu, kita harus mencoba cara yang lain.
Karena X konvergen ke x, demikian juga halnya subbarisan X’ dengan indeks
ganjil. Menggunakan induksi pembaca dapat menunjukkan bahwa [lihat 1.3.3 (c)]
x 1
1
2
1
2
...
1
2
2n 1
3 2n 1
+

= + + + +
=1
2
3
1
1
4
n
+ −
|
\

|
¹
|

Dari sini diperoleh bahwa (bagaimana ?) x = lim X = lim X’ = 1
2
3
5
3
+ = .
(c) Misalkan Y = (y
n
) barisan dengan

( )
y
1
1!
, y
1
1!
1
2!
, , y
1
1!
1
2!
1
n!
,
1 2 n
n 1
= = − = − + +

+
L L L
Jelaslah, Y bukan barisan monoton. Tetapi, bila m > n, maka

( )
( )
( )
( )
( )
y y
1
n 1 !
1
n 2 !
...
1
m!
m n
n 2 n 3 m 1
− =

+
+

+
+ +

+ + +
.
Karena 2
r-1
≤ r! [lihat 1.3.3 (d)], karenanya bila m > n, maka (mengapa ?)
Pendahuluan
Analisis Real I 101

( ) ( )
y y
1
n 1 !
1
n 2 !
...
1
m!
m n
− ≤
+
+
+
+ +
≤ + + + <
+ − −
1
2
1
2
...
1
2
1
2
.
n n 1 m 1 n 1

Karena itu, (y
n
) barisan Cauchy, sehingga konvergen, katakan ke y, saat ini kita tidak
dapat menentukan nilai y secara langsung; kita mempunyai y y
n
n-2
− ≤
1
2
.
dari sini, kita dapat menghitung nilai y sampai derajat akurasi yang diinginkan dengan
menghitung y
n
untuk n yang cukup besar. Pembaca sebaiknya mengerjakan hal ini dan
menunjukkan bahwa y sama dengan 0.632 120 559. (Tepatnya y adalah 1-
1
e
)
(d) Barisan
1
1
1
2
1
3
...
1
n
+ + + +
|
\

|
¹
|
divergen.
Misalkan H = (h
n
) barisan yang didefinisikan dengan h
1
1
1
2

1
n
n
= + + + L un-
tuk n∈N, yang telah dibahas pada 3.3.3 (b). Bila m > n, maka
h h
1
n 1
...
1
m
m n
− =
+
+ + .
Karena masing-masing suku m-n ini melebihi
1
m
, maka h h .
m n
− >
m- n
n
= 1
n
m
− .
Khususnya, bila m = 2n kita mempunyai h h
2n n
− >
1
2
. Hal ini menunjukkan bahwa H
bukan barisan Cauchy (mengapa ?); karenanya H bukan barisan konvergen.
3.5.6. Definisi. Barisan X = (x
n
) dikatakan kontraktif bila terdapat konstanta C, 0 <
C < 1, sehingga x x C x x
n 2 n 1 n 1 n + + +
− ≤ − untuk semua n∈N. Bilangan C disebut
konstanta barisan kontraktif tersebut.
3.5.7. Teorema. Setiap barisan kontraktif merupakan barisan Cauchy, karenanya kon-
vergen.
Bukti :
Bila kita menggunakan kondisi barisan kontraktif, kita dapat membalik lang-
kah kerja kita untuk memperoleh :
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 102
x x Cx x C x x
n 2 n 1 n 1 n
2
n n 1 + + + −
− ≤ − ≤ −
≤ − ≤ ≤ −
− −
C x x C x x
3
n 1 n 2
n
2 1
L
untuk m > n, kita mempunyai
x x
m n
− ≤ x x
m m 1


+ x x
m 1 m 2 − −
− + ... + x x
n 1 n +

≤ (C
m-2
+ C
m-3
+ ... + C
n-1
)x
2
-x
1

= C
n-1
(C
m-n-1
+ C
m-n-2
+ ... + 1)x
2
- x
1

= C
n-1
1
1


|
\

|
¹
| −
C
C
x x
m-1
2 1

≤ C
n-1
1
1−
|
\

|
¹
|

C
x x
2 1

Karena 0 < C < 1, maka lim(C
n
) = 0 [lihat 3.1.11(c)]. Karena itu (x
n
) barisan Cauchy,
sehingga (x
n
) konvergen.
Dalam proses menghitung limit dari barisan kontraktif, sering sangat penting
untuk mengestimasi kesalahan pada tahap ke-n. Berikut ini kita memberikan dua es-
timasi; pertama melibatkan dua suku kata pertama dan n; yang kedua melibatkan
selisih x
n
-x
n-1
.
3.5.8. Akibat. Bila x = (x
n
) bariasan konstraktif dengan konstanta C, 0 < C < 1, dan x
*

= lim X, maka :
(i). x x
C
1 C
x x
*
n
n 1
2 1
− ≤




(ii). x x
C
1 C
x x
*
n n n-1
− ≤


Bukti :
Kita telah melihat pada bukti terdahulu bahwa bila m>n, maka x x
m n
− ≤
C
1- C
x x
n-1
2 1
− . Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m), kita
peroleh (i).
Untuk membuktikan (ii), kita gunakan lagi m > n, maka
x x
m n
− .≤ x x
m m 1


+ ... + x x
n 1 n +

Pendahuluan
Analisis Real I 103
Dengan induksi diperoleh
x x C x x
n k n k 1
k
n n 1 + + − −
− ≤ −
karenanya
( )
x x C ... C C x x
m n
m n 2
n n 1
− ≤ + + + −



Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m) diperoleh (ii).
3.5.9. Contoh.
Diketahui solusi dari x
3
- 7x + 2 = 0 terletak antara 0 dan 1 dan kita akan
mendekati solusi tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur it-
erasi berikut. Pertama kita tuliskan persamaan di atas menjadi x =
1
7
(x
3
+ 2) dan
gunakan ini untuk mendefinisikan barisan, kita pilih x, sebarang nilai antara 0 dan 1,
kemudian definisikan
x
n+1
=
( )
1
7
x 2
n
3
+ , n∈N
Karena 0< x
1
< 1, maka 0< x
n
<1 untuk semua n∈N. (Mengapa?) lebih dari itu kita
mempunyai

( ) ( )
x x x 2 x 2
n 2 n 1 n 1
3
n
3
+ + +
− = + − +
1
7
1
7

= −
+
1
7
x x
n 1
3
n
3

= + + −
+ + +
1
7
x x x x x x
n 1
2
n 1 n n
2
n 1 n

≤ −
+
3
7
x x
n 1 n

Karena itu, (x
n
) barisan kontraktif, sehingga terdapat r dengan lim (x
n
) = r. Bila kita
menggunakan limit pada kedua sisi (terhadap n) pada x
n+1
=
( )
1
7
x
n
3
, diperoleh r =
( )
1
7
r 2
3
+ atau r
3
- 7r + 2 = 0. Jadi r merupakan solusi dari persamaan tersebut.
Kita dapat mendekati nilai r dengan memilih x
1
kemudian menghitung x
2
, x
3
,
..., secara berturut-turut. Sebagai contoh, bila kita memilih x
1
= 0,5 kita peroleh (sam-
pai sembilan tempat desimal) x
2
= 0,303571429, x
3
= 0,289710830, x
4
=
0,289188016, x
5
= 0,289169244, x
6
= 0,289 168 571, dan seterusnya. Untuk menges-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 104
timasi akurasi, kita catat bahwa x x 0,2.
2 1
− < Jadi, setelah langkah ke n menurut
Akibat 3.5.8(i) kita yakin bahwa x x
*
6
− ≤
( )
3
7 20
5
4
=
243
48020
< 0,0051. Sebenarnya
pendekatannya lebih baik daripada ini. Karena x x 0,000005,
6 5
− < menurut 3.5.8
(ii) maka x x
*
6
− ≤
3
4
x x
6 5
− < 0,0000004 . Jadi kelima tempat desimal yang per-
tama benar.
Latihan 3.5
1. Beri contoh barisan terbatas yang bukan barisan Cauchy.
2. Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut barisan Cauchy
(a).
n 1
n
+
|
\

|
¹
|
; (b) 1
1
2!
...
1
n!
+ + +
|
\

|
¹
|
.
3. Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut bukan barisan
Cauchy
(a). ( )
( )
−1
n
; (b)
( )
n
1
n
n
+

|
\

|
¹
|
|

4. Tunjukkan secara langsung bahwa bila (x
n
) dan (y
n
) barisan Cauchy, maka (x
n
+
y
n
) dan (x
n
y
n
) juga barisan Cauchy.
5. Misalkan (x
n
) barisan Cauchy sehingga x
n
bilangan untuk semua n∈N. Tunjukkan
bahwa (x
n
) pada akhirnya konstan.
6. Tunjukkan bahwa barisan monoton tak turun yang terbatas merupakan barisan
Cauchy.
7. Bila x
1
< x
2
sebarang bilangan real dan ( ) x x x
n n 2 n 1
= +
− −
1
2
untuk n > 2, tunjuk-
kan bahwa (x
n
) konvergen. Hitunglah limitnya.
8. Bila y
1
< y
2
sebarang bilangan real dan y y y
n n 1 n 2
= +
− −
1
3
2
3
untuk n > 2, hitun-
glah limitnya.
9. Bila 0 < r < 1 dan x x r
n 1 n
n
+
− < untuk semua n∈N, tunjukkan bahwa (x
n
) bari-
san Cauchy.
Pendahuluan
Analisis Real I 105
10. Bila x
1
> 0 dan ( ) x 2 x
n 1 n
1
+

= + untuk n ≥ 1, tunjukkan bahwa (x
n
) barisan kon-
traktif. Tentukan limitnya.
11. Persamaan x
3
- 5x + 1 = 0 mempunyai akar r antara 0 dan 1. Gunakan barisan
kontraktif yang bersesuaian untuk menghitung r sampai 10
-4
.
3.6. Barisan-barisan Divergen Murni
Untuk tujuan-tujuan tertentu dipandang baik sekali untuk mendefinisikan atau
yang dimaksudkan dengan suatu barisan bilangan real (x
n
) yang “menuju ke ± ±± ± ∞ ∞∞ ∞“.
3.6.1. Definisi. Misalkan (x
n
) suatu barisan bilangan real.
(i). Kita katakan bahwa (x
n
) menuju ke + ∞, dan ditulis lim (x
n
) = +∞, jika untuk
setiap α∈R terdapat bilangan asli K(α) sedemikian sehingga jika n ≥ K(α), maka
x
n
> α.
(ii). Kita katakan bahwa (x
n
) menuju ke - ∞, dan ditulis lim (x
n
) = - ∞, jika untuk
setiap β∈R terdapat bilangan asli K(β) sedemikian sehingga jika n ≥ K(β), maka
x
n
< β.
Kita katakan bahwa (x
n
) divergen murni dalam hal kita mempunyai lim (x
n
)
= +∞ dan (x
n
) = - ∞.
3.6.2. Contoh-contoh
(a). lim (n) = + ∞.
Kenyataannya, jika diberikan α∈R, misal K(α) sebarang bilangan asli
sedemikian sehingga K(α) > α.
(b). lim (n
2
) = + ∞.
Jika K(α) suatu bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α, dan jika n ≥
K(α) maka kita mempunyai n
2
≥ n > α.
(c). Jika c > 1, maka lim (c
n
) = + ∞
Misalkan c = 1 + b, dimana b > α, Jika diberikan α∈R, misal K(α) suatu bi-
langan asli sedemikian sehingga K(α) >
α
b
. Jika n ≥ K(α) maka menurut ketaksama-
an Bernoulli
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 106
c
n
= (1 + b)
n
≥ 1 + nb > 1+ α > α.
Oleh karena itu lim (c
n
) = + ∞.
Barisan-barisan monoton khususnya adalah sederhana dalam memandang
konvergennya. Kita telah melihat dalam Teorema Konvergensi Monoton 3.2.2 bahwa
suatu barisan monoton adalah konvergen jika dan hanya jika terbatas. Hasil berikut
adalah suatu reformulasi dari hasil tersebut di atas.
3.6.3. Teorema. Suatu barisan bilangan real yang monoton divergen murni jika dan
hanya jika barisan tersebut tidak terbatas.
(a). Jika (x
n
) suatu barisan naik tak terbatas, maka lim (x
n
) = +∞
(b). Jika (x
n
) suatu barisan turun tak terbatas, maka lim (x
n
) = -∞
Bukti :
(a). Anggaplah bahwa (x
n
) suatu barisan naik. Kita ketahui bahwa jika (x
n
) terbatas,
maka (x
n
) konvergen. Jika (x
n
) tak terbatas, maka untuk sebarang α∈R terdapat
n(α)∈N sedemikian sehingga α < x
n(α)
. Tetapi karena (x
n
), kita mempunyai α < x
n

untuk semua n ≥ n(α). Karena α sebarang, maka berarti lim (n) = + ∞.
Bagian (b) dibuktikan dengan cara yang serupa.
“Teorema perbandingan” berikut senantiasa akan dipergunakan dalam
menunjukkan bahwa suatu barisan divergen murni. [Pada kenyataannya, tidak
digunakan secara implisit dalam contoh 3.6.2 (c)].
3.6.4. Teorema. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) dua barisan bilangan real dan anggaplah
bahwa
(*) x
n
≤ y
n
untuk semua n∈N.
(a). Jika lim (x
n
) = + ∞, maka lim (y
n
) = + ∞.
(b). Jika lim (y
n
) = - ∞, maka lim (x
n
) = - ∞.
Bukti :
(a) Jika lim (x
n
) = + ∞, dan jika diberikan α∈R, maka terdapat bilangan asli K(α)
sedemikian sehingga jika n ≥ K(α), maka α < x
n
. Mengingat (*), berarti α < y
n
untuk
semua n ≥ K(α). Karena α sebarang, maka ini menyatakan bahwa lim (y
n
) = + ∞.
Pendahuluan
Analisis Real I 107
Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara yang serupa.
Remakkan :(a). Teorema 3.6.4 pada akhirnya benar jika syarat (*) pada akhirnya benar; yaitu, jika
terdapat m ∈ Ν sedemikian sehingga x
n
≤ y
n
untuk semua n ≥ m.
(b). Jika syarat (*) dari teorema 3.6.4 memenuhi dan jika lim (y
n
) = + ∞, tidak mesti berlaku bukan lim
(x
n
) = + ∞. Serupa juga, jika (*) dipenuhi dan jika lim (x
n
) = - ∞, belum tentu berlaku lim (y
n
) = - ∞.
Dalam pemakaian teorema 3.6.4 untuk menunjukkan bahwa suatu barisan menuju ke + ∞ [atau ke -∞]
kita perlu untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari barisan ini adalah pada akhirnya lebih besar dari
[atau lebih kecil] atau sama dengan suku-suku barisan lain yang bersesuaian dimana barisan lain kita
ketahui bahwa menuju ke + ∞ [atau ke - ∞].
Karena kadang-kadang sangat sulit untuk memperlihatkan ketaksamaan seba-
gaimana (*), maka “Teorema Perbandingan Limit” berikut masing-masing lebih
tepat untuk digunakan daripada Teorema 3.6.4.
3.6.5. Teorema. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) dua barisan bilangan real positif dan ang-
gaplah bahwa untuk suatu L∈R, L > 0, kita mempunyai
(#) lim
x
y
n
n
|
\

|
¹
| = L
Maka lim (x
n
) = + ∞ jika dan hanya jika lim (y
n
) = + ∞
Bukti :
Jika (#) berlaku, maka terdapat K∈N sedemikian sehingga

1
2
n
n
L
x
y
L < <
3
2
untuk semua n ≥ K
Dari sini kita mempunyai
( ) ( )
1
2
3
2
L y x L y
n n n
< < untuk semua n ≥ K. Sekarang ke-
simpulan didapat dari suatu modifikasi kecil teorema 3.6.4. Detailnya ditinggalkan
untuk dikerjakan oleh pembaca.
Pembaca dapat menunjukkan bahwa konklusi tidak perlu berlaku jika L = 0
atau L = + ∞. Akan tetapi ada suatu hasil parsial belum dapat ditunjukkan dalam ka-
sus-kasus ini, seperti telah diperlihatkan dalam latihan.
Latihan 3.6.
1. Tunjukkan bahwa jika (x
n
) suatu barisan tak terbatas, maka terdapat suatu sistem
barisannya yang divergen murni.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 108
2. Berikan contoh dari barisan-barisan (x
n
) dan (y
n
) yang divergen murni dengan y
n

0 untuk semua n∈N sedemikian sehingga
(a)
x
y
n
n
|
\

|
¹
| konvergen (b)
x
y
n
n
|
\

|
¹
| divergen murni
3. Tunjukkan bahwa jika x
n
> 0 untuk semua n∈N, maka lim (x
n
) = 0 jika dan hanya
jika lim
1
x
n
|
\

|
¹
| = + ∞
4. Perlihatkan kedivergenan murni dari barisan-barisan berikut :
(a).
( )
n (b).
( )
n 1 +
(c).
( )
n 1 − (d).
n
n 1 +
|
\

|
¹
|

5. Apakah barisan (n sin n) divergen murni ?
6. Misalkan (x
n
) divergen murni dan misalkan (y
n
) barisan sedemikian sehingga lim
(x
n
y
n
) masuk ke R. Tunjukkan bahwa (y
n
) konvergen ke 0.
7. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim
x
y
n
n
|
\

|
¹
| = 0
(a) Tunjukkan bahwa jika lim (x
n
) = + ∞, maka lim (y
n
) = + ∞
(b) Tunjukkan bahwa jika (y
n
) terbatas, maka lim (x
n
) = 0
8. Selidikilah bahwa kekonvergenan atau kedivergenan dari barisan-barisan berikut :
(a).
( )
n 2
2
− (b)
n
n 1
2
+
|
\

|
¹
|
(c).
n 1
n
2
+
|
\

|
¹
|
|
(d)
( )
sin n
9. Misalkan (x
n
) dan (y
n
) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim
1
x
n
|
\

|
¹
| = + ∞
(a) Tunjukkan bahwa jika lim (y
n
) = + ∞, maka lim (y
n
) = + ∞
Pendahuluan
Analisis Real I 109
(b) Tunjukkan bahwa jika (x
n
) terbatas, maka lim (x
n
) = 0
10. Tunjukkan bahwa jika lim
a
n
n
L
|
\

|
¹
|
= , dimana l > 0, maka lim ( ) a
n
= + ∞.


























Aljabar Himpunan
Analisis Real I 110





LIMIT-LIMIT
Secara umum, “Analisis secara matematika” merupakan dasar matematika
yang mana dibangun secara sistematik dari variasi konsep-konsep limit. Kita telah
menjumpai salah satu dari konsep-konsep dasar tentang limit : kekonvergenan dari
suatu barisan bilangan real. Dalam bab ini kita akan membahas pengertian dari limit
suatu fungsi. Kita akan memperkenalkan pengertian limit ini dalam Pasal 4.1dan
pembahasan selanjutnya dalam Pasal 4.2. Ini akan dilihat bahwa bukan hanya penger-
tian limit suatu fungsi yang sangat paralel dengan konsep tentang limit barisan, akan
tetapi juga pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadan limit-limit fungsi sering dapat
dicobakan dengan pertimbangan tertentu yang berkaitan dengan barisan. Dalam Pasal
4.3 kita akan mengenal beberapa perluasan dari pengertian limit yang mana sering
dipergunakan.
4.1. Limit-limit Fungsi
Pada pasal ini kita akan mendefinisikan pengertian penting dari limit suatu
fungsi. Pembaca akan memperoleh pengertian yang paralel dengan definisi limit suatu
barisan. Gagasan secara intuisi dari suatu fungsi yang mempunyai limit L pada c
adalah bahwa nilai f(x) sangat dekat dengan L untuk x yang sangat dekat dengan c.
Akan tetapi kita perlu mempunyai teknik-teknik pengerjaan dengan gagasan “dekat
sekali”, dan ini memerlukan penggunaan pengertian lingkungan dari suatu titik. Jadi
pernyataan: “fungsi f mendekati L pada c” berarti bahwa nilai f(x) akan terletak dalam
sebarang lingkungan-ε yang diberikan dari L, asalkan kita mengambil x dalam ling-
kungan-δ dari c yang cukup kecil, dimana x ≠ c. Pemilihan δ akan bergantung pada ε
yang diberikan. Kita tidak ingin terpengaruh dengan nilai dari f(c) pada c, karena
BAB
4
Pendahuluan
Analisis Real I 111
kita hanya ingin memandang “kecenderungan” ditentukan oleh nilai dari f pada titik-
titik yang dekat sekali (tetapi berbeda dari) titik c.
Agar limit fungsi ini bermakna, maka diperlukan fungsi f yang terdefinisi pada
sekitar titik c. Kita menekankan bahwa fungsi f tidak perlu terdefinisi pada titik c atau
pada setiap titik sekitar c, akan tetapi cukup terdefinisi pada titik-titik yang dekat
sekali dengan c untuk menjadikan pembahasan menjadi menarik. Ini merupakan ala-
san untuk definisi berikut.
4.1.1. Definisi. Misalkan A⊆R. Suatu titik c∈R adalah titik cluster dari A
jika setiap lingkungan-δ V
δ
(c) = (c-δ,c+δ) dari c memuat aling kurang satu titik dari A
yang berbeda dengan c.
Catatan : Titik c merupakan anggota dari A atau bukan, tetapi meskipun demikian itu tidan
menentukan apakah c suatu titik cluster dari A atau bukan, karena secara khusus yang diperlukan
adalah bahwa adanya titik-titik dalam V
δ
(c)∩A yang berbeda dengan c agar c menjadi titik Cluster dari
A.
4.1.2. Teorema. Suatu bilangan c∈R merupakan titik cluster dari A⊆R jika
dan hanya jika terdapat barisan bilangan real (a
n
) dalam A dengan a
n
≠ c untuk semua
n∈N sedemikian sehingga lim (a
n
) = c.
Bukti. Jika c merupakan titik cluster dari A, maka untuk setiap n∈N, ling-
kungan-(1/n) V
1/n
(c) memuat paling kurang satu titik yang berbeda dengan c. Jika titik
yang dimaksud adalah a
n
, maka a
n
∈A, a
n
≠ c, dan lim (a
n
) = c.
Sebaliknya, jika terdapat suatu barisan (a
n
) dalam A\{c} dengan lim (a
n
) = c, maka
untuk sebarang δ>0 terdapat bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n≥K(δ),
maka an∈V
δ
(c). Oleh karena itu lingkungan-δ dari c V
δ
(c) memuat titik-titik a
n
,
n≥K(δ), yang mana termuat dalam A dan berbeda dengan c.
Contoh-contoh berikut ini menekankan bahwa suatu titik cluster dari suatu
himpunan bisa masuk dalam himpunan tersebut atau tidak. Bahkan lebih dari itu,
suatu himpunan bisa mungkin tidak mempunyai titik cluster.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 112
4.1.3. Contoh-contoh. (a) Jika A
1
= (0,1), maka setiap titik dalam interval tu-
tup [0,1] merupakan titik cluster dari A
1
. Perhatikan bahwa 0 dan 1 adalah titik cluster
dari A
1
, messkipun titik-titik itu tidak termuat dalam A
1
. Semua titik dalam A
1
adalah
titik cluster dari A
1
(mengapa ?)
(b) Suatu himpunan berhingga tidak mempunyai titik cluster (mengapa ?)
(c) Himpunan tak berhingga N tidak mempunyai titik cluster.
(d) Himpunan A
4
= {1/n : n∈N} hanya mempunyai 0 sebagai titik clusternya.
Tidak satu pun titik dalam A
4
yang merupakan titik cluster dari A
4
.
(e) Himpunan A
5
= I∩Q yaitu himpunan semua bilangan rasional dalam inter-
val tutup I={0,1]. Menurut Teorema Kepadatan 2.5.5 bahwa setiap titik dalam I me-
rupakan titik cluster dari A
5
.
Sekarang kita kembali kepada pengertian limit dari suatu fungsi pada titik
cluster domainnya.
Definisi Limit
Berikut ini kita akan menyajikan definisi limit dari suatu fungsi pada suatu
titik.

Gambar 4.1 1. Limit dari f pada c adalah L

x
y
Ada V
δ
(c)
(
(
(
(
o
o
Diberikan V
ε
(L)
L
c
f
Pendahuluan
Analisis Real I 113
4.1.4 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c suatu titik cluster dari
A. Kita katakan bahwa suatu bilangan real L merupakan limit dari f pada c jika
diberikan sebarang lingkungan-ε dari L V
ε
(L), terdapat lingkungan-δ dari c V
δ
(c)
sedemikian sehingga jika x ≠ c sebarang titik dari V
δ
(c)∩A, maka f(x) termasuk
dalam V
ε
(L). (Lihat Gambar 4.1.1)
Jika L merupakan suatu limit dari f pada c, maka kita juga mengatakan bahwa
f konvergen ke L pada c. Sering dituliskan
L = f
c x→
lim atau L = ( ) x f
c x→
lim
Kita juga mengatakan bahwa “f(x) menuju L sebagaimana x mendekat ke c”, atau
“f(x) menuju L sebagaimana x menuju ke c”. Simbol
F(x) → L sebagaimana x → c
juga diperguanakan untuk menyatakan fakta bahwa f mempunyai limit L pada c. Jika f
tidak mempunyai suatu limit pada c, kita kadang-kadang mengatakan bahwa f diver-
gen pada c.
Teorema berikut memberikan jaminan kepada kita akan ketunggalan
limit suatu fungsi, jika limit dimaksud ada. Ketunggalan limit ini bukan merupakan
bagian dari definisi limit, akan tetapi merupakan fakta yang harus dibuktikan.
4.1.5. Teorema. Jika f : A → R dan c suatu titik cluster dari A, maka f
hanya dapat mempunyai satu limit pada c.
Bukti. Andaikan kontradiksi, yaitu terdapat bilangan real L’ ≠ L” yang me-
menuhi definisi 4.1.4. Kita pilih ε>0 sedemikain sehingga lingkungan-ε V
ε
(L’) dan
V
ε
(L”) saling lepas. Sebagai contoh, kita dapat mengambil sebarang ε yang lebih kecil
dari ½¦L’ – L”¦. Maka menurut definisi 4.1.4, terdapat δ’ > 0 sedemikian sehingga
jika x sebarang titik dalam A∩V
δ’
(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam V
ε
(L’). Se-
cara serupa, terdapat δ” > 0 sedemikain sehingga jika x sebarang titik dalam
A∩V
δ”
(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam V
ε
(L”). Sekarang ambil δ = min
{δ’,δ”}, dan misalkan V
δ
(c) lingkungan-δ dari c. Karena c titik cluster dar A, maka
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 114
terdapat paling sedikit satu titik x
0
≠ c sedemikian sehingga x
0
∈A∩Vδ(c). Akibatnya,
f(x
0
) mesti termasuk dalam V
ε
(L’) dan V
ε
(L”), yang mana kontradiksi dengan fakta
bahwa kedua himpunan ini saling lepas. Jadi asumsi bahwa L’ ≠ L” merupakan limit-
limit f pada c menimbulkan kontradiksi.
Kriteria ε εε ε-δ δδ δ untuk Limit
Sekarang kita akan menyajikan formulasi yang ekivalen dengan definisi 4.1.4
dengan menyatakan syarat-syarat lingkungan dalam ketaksamaan. Contoh-contoh
yang mengikutinya akan menunjukkan bagaimana formulasi ini dipergunakan untuk
memperlihatkan limit-limit fungsi. Pada bagian akhir kita akan membahas kriteria
sekuensial (barisan) untuk limit suatu fungsi.
4.1.6 Teorema. Misalkan f : A → R dan c suatu titik cluster dari A; maka
(i) f
c x→
lim = L jika dan hanya jika
(ii) untuk sebarang ε > 0 terdapat suatu δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x∈A
dan 0 < ¦x - c¦ < δ(ε), maka ¦f(x) - L¦ < ε.
Bukti. (i) ⇒ (ii) Anggaplah bahwa f mempunyai limit L pada c. Maka diberi-
kan ε > 0 sebarang, terdapat δ = δ(ε) > 0 sedemikian sehingga untuk setiap x dalam A
yang merupakan unsur dalam lingkungan-δ dari c V
δ
c), x ≠ c, nilai f(x) termasuk
dalam lingkungan-ε dari L V
ε
(L). Akan tetapi, x∈V
δ
(c) dan x≠c jika dan hanya jika 0
< ¦x - c¦ < δ. (Perhatikan bahwa 0 < ¦x - c¦ adalah cara lain untuk menyatakan
bahwa x ≠ c). Juga, f(x) termasuk dalam V
ε
(L) jika dan hanya jika ¦f(x) – L¦ < ε. Jadi
jika x∈A memenuhi 0 < ¦x - c¦< δ, maka f(x) memenuhi ¦f(x) - L¦ <ε.
(ii) ⇒ (i) Jika syarat yang dinyatakan dalam (ii) berlaku, maka kita ambil lingkungan-
δ V
δ
(c) = (c - δ,c + δ) dan lingkungan-ε V
ε
(L) = (L - ε,L + ε). Maka syarat (ii) beraki-
bat jika x masuk dalam V
δ
(c), dimana x∈A dan x≠c, maka f(x) termasuk dalam V
ε
(L).
Oleh karena itu, menurut definisi 4.1.4, f mempunyai limit L pada c.
Sekarang akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan ba-
gaimana Teorema 4.1.6. sering dipergunakan.
Pendahuluan
Analisis Real I 115
4.1.7. Contoh-contoh.. (a) b
c x→
lim = b.
Untuk menjadi lebih eksplisit, misalkan f(x) = b untuk semua x∈R; kita claim
bahwa f
c x→
lim = b. Memang, diberikan ε > 0, misalkan δ = 1. Maka jika 0 <¦x - c¦< 1,
kita mem[unyai ¦f(x) - b¦ = ¦b - b¦ = 0 < ε. Karena ε > 0 sebarang, kita simpulkan
dari 4.1.6(ii) bahwa f
c x→
lim = b.
(b). x
c x
lim

= c.
Misalkan g(x) = x untuk semua x∈R. Jika ε > 0 misalkan δ(ε) = ε. Maka jika
0 <¦x - c¦ < δ(ε), maka secara triviaal kita mempunyai ¦g(x) - c¦ = ¦x - c¦ < ε.
Karena ε > 0 sebarang, maka kita berkesimpulan bahwa g
c x→
lim = c.
(c).
2
lim x
c x→
= c
2
.
Misalkan h(x) = x
2
untuk semua x∈R. Kita ingin membuat selisih
¦h(x) – c
2
¦ = ¦x
2
– c
2
¦
lebih kecil dari suatu ε > 0 yang diberikan dengan pengambilan x yang cukup dekat
dengan c. Untuk itu, kita perhatikan bahwa x
2
– c
2
= (x – c)(x + c). Selain itu, jka ¦x -
c¦ < 1, makaa
¦x¦ ≤ ¦c¦ + 1 dengan demikian ¦x + c¦ ≤ ¦x¦ + ¦c¦ ≤ 2¦c¦ + 1.
Oleh karena itu, jika ¦x - c¦ < 1, kita mempunyai
(*) ¦x
2
– c
2
¦ = ¦x – c¦¦x + c¦ ≤ (2¦c¦ + 1)¦x - c¦
Selain itu suku terakhir ini akan lebih kecil dari ε asalkan kita mengambil ¦x - c¦ <
ε/(2¦c¦ + 1). Akibatnya, jika kita memilih
δ(ε) = inf
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+1 2
, 1
c
ε
,
maka jika 0 <¦x - c¦ < δ(ε), pertama akan berlaku bahwa x - c¦ < 1 dengan demikian
(*) valid, dan oleh karena itu, karena ¦x - c¦ < ε/(2¦c¦ + 1) maka
¦x
2
– c
2
¦ < ε/(2¦c¦ + 1)¦x - c¦ < ε.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 116
Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0, maka den-
gan demikian kita telah menunjukkan bahwa (x) lim h
c x→
=
2
lim x
c x→
= c
2
.
(d)
c
c x
1
x
1
lim =

, jika c > 0.
Misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0 dan misalkan c > 0. Untuk menunjukkan
bahwa ϕ lim
c x→
= 1/c kita ingin membuat selisih
( )
c
x
1
− ϕ =
c x
1 1

lebih kecil dar ε >0 yang diberikan dengan pengambilan x cukup dekat dengan c > 0.
Pertama kita perhatikan bahwa

c x
1 1
− = ( ) x c
cx

1
= c x
cx

1

untuk x > 0.Itu berguna untuk mendapatkan batas atas dari 1/(cx) yang berlaku dala
suatu lingkungan c. Khususnya, jika ¦x - c¦ <
2
1
c, maka
2
1
c < x <
2
3
c (mengapa?),
dengan demikian
0 <
cx
1
<
2
2
c
untuk ¦x - c¦ <
2
1
c.
Oleh karena itu, untuk nilai-nilai x ini kita mempunyai
(#) ( )
c
x
1
− ϕ < c x
c

2
2
.
Agar suku terakhir lebih kecil dar ε, maka cukup mengambil ¦x – c¦ <
2
1
c
2
ε.
Akibatnya, jika kita memilih
δ(ε) = inf{
2
1
c,
2
1
c
2
ε},
maka jika 0 < ¦x - c¦ < δ(ε), pertama yang berlaku bahwa ¦x - c¦ <
2
1
c dengan
demikian (#) valid, dan olehnya itu,, karena ¦x – c¦ <
2
1
c
2
ε maka berlaku
( )
c
x
1
− ϕ =
c x
1 1
− < ε.
Pendahuluan
Analisis Real I 117
Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0, maka den-
gan demikian kita telah menunjukkan bahwa (x) lim ϕ
c x→
=
x
1
lim
c x→
=
c
1
.
(e).
5
4
1 x
4
lim
2
3
=
+


x
c x

Misalkan ψ(x) = (x
3
– 4)/(x
2
+ 1) untuk x∈R. Maka sedikit manipulasi secara
aljabar memberikan
( )
5
4
x − ψ =
( ) 1 5
24 4 5
2
2 3
+
− −
x
x x

=
( ) 1 5
12 6 5
2
2
+
− +
x
x x
¦x - 2¦
Untuk mendapatkan suatu batas dari koefiien ¦x - 2¦, kita membatasi x dengan syarat
1 < x < 3. Unntuk x dalam interval ini, kita mempunyai 5x
2
+ 6x + 12 ≤ 5(3
2
) + 6(3) +
12 =75 dan 5(x
2
+ 1) ≥ 5(1 + 1) = 10, dengan demikian
( )
5
4
x − ψ ≤
10
75
¦x - 2¦ =
2
15
¦x - 2¦.
Sekarang diberikan ε > 0, kita pilih
δ(ε) = inf
)
`
¹
¹
´
¦
ε
15
2
, 1 .
Maka jika 0 <¦x - 2¦ < δ(ε), kita mempunyai ¦ψ(x) – (4/5)¦ ≤ (15/2)¦x - 2¦ ≤ ε.
Karena ε > 0 sebarang, maka contoh (e) terbukti.
Kriteria Barisan Untuk Limit
Berikut ini merupakan formulasi penting dari limit suatu fungsi dalam kai-
tannya dengan limir suatu barisan. Karakterisasi ini memungkinkan teori-teori pada
bab3 dapat dipergunakan untuk mempelajari limit-limit fungsi.
4.1.8. Teorema. (Kriteria Barisan) Misalkan f : A → R dan c suatu titik
cluster dari A; maka :
(i) f
c x→
lim = L jika dan hanya jika
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 118
(ii) untuk sebarang barisan (x
n
) dalam A yang konvergen ke c sedemikian se-
hingga x ≠ c untuk semua n∈N, barisan (f(x
n
)) konvergen ke L.
Bukti. (i) ⇒ (ii). Anggaplah f mempunyai limit L pada c, dan asumsikan (x
n
)
barisan dalam A dengan ( )
n
c x
x

lim = c dan x
n
≠ c untuk semua n∈N. Kita mesti mem-
buktikan bahwa barisan (f(x
n
)) konvergen ke L. Misalkan diberikan ε > 0 sebarang.
Maka dengan kriteria ε-δ 4.1.6, terdapat δ > 0 sedemikian sehingga jika x memenuhi
0 <¦x - c¦ < δ, dimana x∈A maka f(x) memenuhi ¦f(x) - L¦ < ε. Sekarang kita akan
menggunakan definisi kekonvergenan barisan untuk δ yang diberikan untuk mem-
peroleh bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n > K(δ) maka ¦x
n
– c¦ < δ.
Akan tetapi untuk setiap x
n
yang demikian kita mempunyai ¦f(x
n
) - L¦ < ε. Jadi, jika n
> K(δ), maka ¦f(x
n
) - L¦ < ε. Oleh karena itu, barisan (f(x
n
)) konvergen ke L.
(ii) ⇒ (i). [Pembuktian ini merupakan argumen kontrapositif.] Jika (i) tidak benar,
maka terdapat suatu lingkungan-ε
0
dari L, ( ) L V
0
ε
, sedemikian sehingga lingkunga-δ
apapun yang kita pilih, akan selalu terdapat paling kurang satu x
δ
dalam A∩V
δ
(c)
dengan x
δ
≠ c sedemikian sehingga f(x
δ
)∉ ( ) L V
0
ε
. Dari sini untuk setiap n∈N, ling-
kungan-(1/n) dari c memuat suatu bilangan x
n
sedemikian sehingga
0 <¦x
n
- c¦ < 1/n dan x
n
∈A,
tetapi sedemikian sehingga
¦f(x
n
) - L¦ ≥ ε
0
untuk semua n∈N.
Kita menyimpulkan bahwa barisan (x
n
) dalam A\{c} konvergen ke c, tetapi barisan
(f(x
n
)) tidak konvergen ke L. Oleh karena itu kita telah menunjukkan bahwa jika (i)
tidak benar, maka (ii) juga tidak benar. Kita simpulkan bahwa (ii) menyebabkan (i).
Pada seksi selanjutnya kita akan melihat bahwa beberapa sifat-sifat dasar limit
fungsi dapat diperlihatkan dengan penggunaan sifat-sifat untuk kekonvergenan bari-
san yang bersesuaian. Sebagai contoh, kita telah kerjakan dengan barisan bahwa jika
(x
n
) sebarang barisan yang konvergen ke c, maka barisan (x
n
2
) konvergen ke c
2
. Oleh
Pendahuluan
Analisis Real I 119
karena itu dengan kriteria barisan, kita dapat menyimpulkan bahwa fungsi h(x) = x
2

mempuntai limit ) ( lim x h
c x→
= c
2
.
Kriteria Kedivergenan
Kadang-kala penting untuk dapat menunjukkan (i) bahwa suatu bilangan ter-
tentu bukan limit dari suatu fungsi pada suatu titik, atau (ii) bahwa suatu fungsi tidak
mempunyai suatu limit pada suatu titik. Hasil berikut merupakan suatu konsekuensi
dari pembuktian teorema 4.1.8. Pembuktiannya secara detail ditinggalkan untuk
dikerjakan oleh pembaca.
4.1.9. Kriteria Divergensi. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik
cluster dari A.
(a). Jika L∈R, maka f tidak mempunyai limit L pada c jika dan hanya jika
terdapat suatu barisan (x
n
) dalam A dengan x
n
≠ c untuk semua n∈N sedemikian se-
hingga barisan (x
n
) konvergen ke c tetapi barisan (f(x
n
)) tidak konvergen ke L.
(b). Fungsi f tidak mempunyai limit pada c jika dan hanya jika terdapat suatu
barisan (x
n
) dalam A dengan x
n
≠ c untuk semua n∈N sedemikian sehingga barisan
(x
n
) konvergen ke c tetapi barisan (f(x
n
)) tidak konvergen dalam R.
Berikut ini diberikan beberapa aplikasi dari kriteria divergensi untuk
menunjukkan bagaimana kriteria itu dapat dipergunakan.
4.1.10. Contoh-contoh. (a). ( ) x
x
/ 1 lim
0 →
tidak ada dalam R.
Seperti Contoh dalam 4.1.7(d), misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0. Akan tetapi,
disini kita menyelidiki pada c = 0. Argumen yang diberikan pada contoh 4.1.7(d) ga-
gal berlaku jika c = 0 karena kita tidak akan memperoleh suatu batas sebagaimana
dalam (#) pada contoh tersebut. Jika kita mengambil barisan (x
n
) dengan x
n
= 1/n un-
tuk n∈N, maka lim (x
n
) = 0, tetapi ϕ(x
n
) = 1/1/n = n. Seperti kita ketahui bahwa bari-
san (ϕ(x
n
)) = (n) tidak konvergen dalam R, karena barisan ini tidak terbatas. Dari sini,
dengan teorema 4.1.9(b), ( ) x
x
/ 1 lim
0 →
tidak ada dalam R. [Akan tetapi, lihat contoh
4.3.9(a).]
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 120
(b) ( ) x
x
sgn lim
0 →
tidak ada.

Misalkan fungsi signum didefinisikan dengan
sgn (x) =
¦
¹
¦
´
¦
< −
=
> +
0 untuk x , 1
0 untuk x 0,
0 untuk x , 1

Perhatikan bahwa sgn(x) = x/¦x¦ untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.1.2) Kita akan menun-
jukkan bahwa sgn tidak mempunyai limit pada x = 0. Kita akan mengerjakan ini den-
gan menunjukkan bahwa terdapat barisan (x
n
) sedemikian sehingga lim(x
n
) = 0, tetapi
sedemikian sehingga (sgn(x
n
)) tidak konvergen.
Misalkan x
n
= (-1)
n
/n untuk n∈N dengan demikian lim(x
n
) = 0. Akan tetapi ,
karena
sgn (x
n
) = (-1)
n
untuk n∈N,
maka dari Contoh 3.4.5(a), (sgn(x
n
)) tidak konvergen. Oleh karena itu ( ) x
x
/ 1 lim
0 →
tidak
ada.
(c) ( ) x
x
/ 1 sin lim
0 →
tidak ada dalam R.
Misalkan g(x) = sin(1/x) untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.1.3.) Kita akan menun-
jukkan bahwa g tidak mempunyai limit pada c = 0, dengan memperlihatkan dua arisan
(x
n
) dan (y
n
) dengan x
n
≠ 0 dan y
n
≠ 0 untuk semua n∈N dan sedemikian sehingga lim
Gambar 4.1.2 Fungsi Signum
.
(
)
-1
1
0
Pendahuluan
Analisis Real I 121
(x
n
) = 0 = lim (y
n
), tetapi sedemikian sehingga lim (g(x
n
)) ≠ lim (g(y
n
)). Mengingat
Teorema 4.1.9, ini mengakibatkan g
x
lim
0 →
tidak ada. (Jelaskan mengapa.)
Gambar 4.1 3. Grafik f(x) = sin(1/x), x ≠ 0

Kita mengingat kembali dari kalkulus bahwa sin t = 0 jika t = nπ untuk n∈Z,
dan sin t = +1 jika t = ½π + 2πn untuk n∈Z. Sekarang missalkan x
n
= 1/nπ untuk
n∈N; maka lim (x
n
) = 0 dan g(x
n
) = 0 untuk semua n∈N, dengan demikian lim
(g(x
n
)) = 0. Di pihak lain, misalkan y
n
= (½π + 2πn)
-1
untuk n∈N; maka lim (y
n
) = 0
dan g(y
n
) = sin (½π + 2πn) = 1 untuk semua n∈N, dengan demikian lim (g(y
n
)) = 1.
Kita simpulkan bahwa ( ) x
x
/ 1 sin lim
0 →
tidak ada.
Soal-soal Latihan
1. Tentukan suatu syarat pada ¦x - 1¦ yang akan menjamin bahhwa :
(a) ¦x
2
- 1¦ < ½,
(b) ¦x
2
- 1¦ < 1/10
3

(c) ¦x
2
- 1¦ < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan,
(d) ¦x
3
- 1¦ < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 122
2. Misalkan c suatu titik cluster dari A⊆R dan f : A → R. Buktikan bahwa ( ) x lim
0
f
x→
=
L jika dan hanya jika ( ) L f
x


x lim
0
= 0.
3. Misalkan f : R → R, dan c∈ R. Tunjukkan bahwa ( ) x lim f
c x→
= L jika dan hanya jika
( ) c f
x
+

x lim
0
= L.
4. Misalkan f : R → R, I⊆ R suatu interval buka, dan c∈I. Jika f
1
merupakan pembata-
san dari f pada I, tunjukkan bahwa f
1
mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f
mempunyai suatu limit pada c dan tunjukkan pula bahwa f
c x
lim

=
1
lim f
c x→
.
5. Misalkan f : R → R, J⊆ R suatu interval tutup, dan c∈J. Jika f
2
merupakan pembata-
san dari f pada I, tunjukkan bahwa jika f mempunyai suatu limit pada c dan hanya jika f
2

mempunyai suatu limit pada c. Tunjukkan bahwa tidak berlaku bahwa jika f
2
mempun-
yai suatu limit pada c dan hanya jika f mempunyai suatu limit pada c.
6. Misalkan I = (0,a), a > 0, dan misalkan g(x) = x
2
untuk x∈I. Untuk sebarang x,c dalam I,
tunjukkan bahwa ¦g(x) – c
2
¦ ≤ 2a¦x - c¦. Gunakan ketaksamaan ini untuk membuktikan
bahwa
2
lim x
c x→
= c
2
untuk sebarang c∈I.
7. Misalkan I⊆ R suatu interval, f : I → R, dan c∈I. Misalkan pula terdapat K dan L
sedemikian sehingga ¦f(x) - L¦≤K¦x - c¦ untuk x∈I. Tunjukkan bahwa f
c x
lim

= L.
8. Tunjukkan bahwa
3
lim x
c x→
= c
3
untuk sebarang c∈ R.
9. Tunjukkan bahwa c x
c x
=

lim untuk sebatang c ≥ 0.
10. Gunakan formulasi ε-δ dan formulasi formulasi barisan dari pengertian limit untuk mem-
perlihatkan berikut :
(a)
x
x


1
1
lim
2
= -1 (x > 1), (b)
2
1
1
lim
1
=
+

x
x
x
(x > 0),
(c)
x
x
x
2
0
lim

= 0 (x ≠ 0), (d)
2
1
1
1
lim
2
1
=
+
+ −

x
x x
x
(x > 0).
11. Tunjukkan bahwa limit-limit berikut ini tidak ada dalam R:
Pendahuluan
Analisis Real I 123
(a)
2
0
1
lim
x
x→
(x > 0), (b)
x
x
1
lim
0 →
(x > 0),
(c) . ( ) ( ) x x
x
sgn lim
0
+

, (d) |
¹
|

\
|

2
1
1
sin lim
x
x
(x ≠ 0).
12. Misalkan fungsi f : R → R mempunyai limit L pada 0, dan misalkan pula a > 0. Jika g
: R → R didefinisikan oleh g(x) = f(ax) untuk x∈R, tunjukkan bahwa g
x
lim
0 →
= L.
13. Misalkan c titik cluster dari A⊆ R dan f : A → R sedemikian sehingga ( ) ( )
2
lim x f
c x→

= L. Tunjukkan bahwa jika L =,0, maka ( ) x f
c x
lim

= 0. Tnjukkan dengan contoh bahwa
jika L ≠ 0, maka f bisa mungkin tidak mempunyai suatu limit pada c.
14. Misalkna f : R → R didefinisikan oleh f(x) = x jika x rasional, dan f(x) = 0 jika x ira-
sional. Tunjukkan bahwa f mempunyai suatu limit pada x = 0. Gunakan argumen barisan
untuk menunjukkan bahwa jika c ≠ 0, maka f tidak mempunyai limit pada c.
4.2. Teorema-teorema Limit
Sekarang kita akan memperlihatkan hasil-hasil yang dipergunakan dalam me-
nentukan limit fungsi. Hasil-hasil ini serupa dengan teorema-teorema limit untuk ba-
risan.yang telah diperlihatkan pada Pasal 3.2. Pada kenyataannya, dalam banyak kasus
hasil-hasil ini dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4.1.8 dan hasil-hasil
dari Pasal 3.2. Secara alternatif, hasil-hasil dalam Pasal ini dapat dibuktikan dengan
menggunakan argumen ε-δ yang sangat serupa untuk hal yang sama dalam Pasal 3.2.
4.2.1 Definisi. Misalkan A⊆ R, f : R → R, dan c∈R suatu titik cluster dari
A. Kita mengatakan bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c jika terdapat
lingkungan-δ dari c V
δ
(c) dan suatu konstanta M > 0 sedemikian sehingga kita mem-
punyai ¦f(x)¦ ≤ M untuk semua x ∈ A∩V
δ
(c).
4.2.2 Teorema Jika A⊆ R dan f : A → R mempunyai suatu limit pada c∈
R, maka f terbatas pada suatu lingkungan dar c.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 124
Bukti. Jika L = ) ( lim x f
c x→
, maka oleh Teorema 4.1.6, dengan ε = 1, terdapat δ
> 0 sedemikian sehingga jika 0 <¦x - c¦ < δ, maka ¦f(x) - L¦ < 1; dari sini (oleh Teo-
rema Akibat 2.3.4(a)),
¦f(x)¦ - ¦L¦ ≤ ¦f(x) - L¦ < 1.
Oleh karena itu, jika x∈A∩V
δ
(c), x≠c, maka ¦f(x)¦ ≤ L + 1. Jika c∉A, kita ambil M =
¦L¦+ 1, sedangkan jika c∈A kita ambil M = sup{¦f(c)¦,¦L¦+1}. Ini berarti bahwa jika
c∈A∩V
δ
(c), maka ¦f(x)¦ ≤ M. Ini menunjukkan bahwa f terbatas pada V
δ
(c) suatu
lingkungan-δ dari c.
Definisi berikut serupa dengan definisi 3.1.3 untuk jumlah, selisih, ha-
sil kali, dan hasil bagi barisan-barisan.
4.2.3 Definisi Misalkan A⊆R dan misalkan pula f dan g fungsi-fungsi
yang terdefinisi pada A ke R. Kita mendefinisikan jumlah f + g, selisih f – g, dan ha-
sil kali fg pada A ke R sebagai fungsi-fungsi yang diberikan oleh
(f + g)(x) = f(x) + g(x), (f - g)(x) = f(x) - g(x),
(fg)(x) = f(x)g(x),
untuk semua x∈A. Selanjutnya, jika b∈R, kita definisikan kelipatan bf sebagai
fungsi yang diberikan oleh
(bf)(x) = bf(x) untuk semua x∈A.
Akhirnya, jika h(x) ≠ 0 untuk x∈A, kita definisikan hasil bagi f/h adalah fungsi yang
didefinisikan sebagai
( )
( )
( ) x h
x f
x
h
f
= |
¹
|

\
|
untuk semua x∈A.
4.2.4 Teorema. Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi pada A ke R,
dan c∈R titik cluster dari A. Selanjutnya, misalkan b∈R.
(a) Jika f
c x→
lim = L dan g
c x→
lim = M, maka
( ) g f
c x
+

lim = L + M, ( ) g f
c x


lim = L -
M,
Pendahuluan
Analisis Real I 125
( ) fg
c x→
lim = LM, ( ) bf
c x→
lim = bL.
(b) Jika h : A → R, h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A, dan jika h
c x→
lim = H
≠ 0, maka

H
L
h
f
c x
= |
¹
|

\
|

lim .
Bukti. Salah satu cara pembuktian dari teorema-teorema ini sangat se-
rupa dengan pembuktian Teorema 3.2.3. Secara alternatif, teorema ini dapat dibukti-
kan dengan menggunakan Teorema 3.2.3 dan Teorema 4.1.8. Sebagai contoh, misal-
kan (x
n
) sebarang barisan dalam A sedemikain sehingga x
n
≠ c untuk semua n∈N,dan
c = lim (x
n
). Menurut Teorema 4.1.8, bahwa
Lim (f(x
n
)) = L, lim (g(x
n
)) = M.
Di pihak lain, Definisi 4.2.3 mengakibatkan
(fg)(x
n
) = f(x
n
)g(x
n
) untuk semua n∈N.
Oleh karena itu suatu aplikasi dari Teorema 3.2.3 menghasilkan
Lim ((fg)(x
n
)) = lim (f(x
n
)g(x
n
))
= (lim f(x
n
)) (lim (g(x
n
)))
= LM.
Bagian lain dari teorema ini dibuktikan dengan cara yang serupa. Kita
tinggalkan untuk dilakukan oleh pembaca.
Catatan (1) Kita perhatikan bahwa, dalam bagian (b), asumsi tambahan dibuat
bahwa H = h
c x→
lim ≠ 0. Jika asumsi ini tidak dipenuhi, maka

( )
( ) x h
x f
c x
lim


tidak ada. Akan tetapi jika limit ini ada, kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk menghi-
tungnya.
(2) Misalkan A∈R, dan f
1
, f
2
, …, f
n
fungsi-fungsi pada A ke R, dan c suatu titk clus-
ter dari A. Jika
L
k
=
k
lim f
c x→
untuk k = 1,2, …, n,
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 126
maka ,menurut Teorema 4.2.4 dengan argumen induksi kita peroleh bahwa
L
1
+ L
2
+ … + L
n
= ( )
n
c x
f f f + + +

L
2 1
lim
dan
L
1
· L
2
· … · L
n
= ( )
n
c x
f f f ⋅ ⋅ ⋅

L
2 1
lim
(3) Khususnya, kita deduksi dari (2) bahwa jika L = f
c x→
lim dan n∈N, maka
L
n
= ( ) ( )
n
c x
x f

lim
4.2.5 Contoh-contoh (a) Beerapa limit yang diperlihatkan dalam Pasal 4.1 dapat
dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4.2.4. Seagai contoh, mengikuti hasil ini
bahwa karena x
c x
lim

= c, maka
2
lim x
c x→
= c
2
, dan jika c > 0, maka

c x
c x
1 1
lim =

.
(b)
2
lim
→ x
(x
2
+ 1)(x
3
– 4) = 20
Berdasarkan Teorema 4.2.4, kita peroleh bahwa

2
lim
→ x
(x
2
+ 1)(x
3
– 4) = (
2
lim
→ x
(x
2
+ 1))(
2
lim
→ x
(x
3
– 4))
= 5(4) = 20.
(c) .
5
4
1
4
lim
2
3
2
=
|
|
¹
|

\
|
+


x
x
x

Jika kita menggunakan Teorema 4.2.4(b), maka kita mempunyai

|
|
¹
|

\
|
+


1
4
lim
2
3
2
x
x
x
=
( )
( )
.
5
4

1 lim
4 lim
2
2
3
2
=
+



x
x
x
x

Perhatikan bahwa karena limit pada penyebut [yaitu ( ) 1 lim
2
2
+

x
x
= 5] tidak sama den-
gan 0, maka Teorema 4.2.4(b) dapat dipergunakan.
(d) .
3
4
6 3
4
lim
2
2
=
|
|
¹
|

\
|



x
x
x

Pendahuluan
Analisis Real I 127
Jika kita misalkan f(x) = x
2
– 4 dan h(x) = 3x – 6 untuk x∈R, maka kita tidak
dapat menggunakan Teorema 4.22.4(b) untuk meneghitung
2
lim
→ x
(f(x)/h(x)) sebab
H = ( ) x h
x
lim
2 →
= ( ) 6 3 lim
2


x
x

= 3 x
x
lim
2 →
- 6 = 3(2) – 6 = 0
Akan tetapi, jika x ≠ 2, maka berarti bahwa

6 3
4
2


x
x
=
( )( )
( ) 2 3
2 2

+ −
x
x x
=
3
1
(x + 2).
Oleh karena itu kita mempunyai

|
|
¹
|

\
|



6 3
4
lim
2
2
x
x
x
= ( ) 2 lim
3
1
2
+

x
x
= |
¹
|

\
|
+

2 lim
2
3
1
x
x

=
3
1
(2 + 2) =
3
4

Perhatikan bahwa fungsi g(x) = (x
2
– 4)/(3x – 6) mempunyai limit pada x = 2
meskipun tidak terdefinisi pada titik tersebut.
(e)
x
x
1
lim
0 →
tidak ada dalam R.
Tentu saja
0
lim
→ x
1 = 1 dan H = x
x
lim
0 →
= 0. Akan tetapi, karena H = 0, kita tidak
dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk menghitung
x
x
1
lim
0 →
. Kenyataannya,
seperti kita telah lihat pada Contoh 4.1.10(a), fungsi ϕ(x) = 1/x tidak mempunyai
limit pada x = 0. Kesimpulan ini mengikuti juga Teorema 4.2.2 karena fungsi ϕ(x) =
1/x tidak terbatas pada lingkungan daro x = 0. (Mengapa?)
(f) Jika p fungsi polinimial, maka ) ( lim x p
c x→
= p(c).
Misalkan p fungsi polinimial pada R dengan demikian p(x) = a
n
x
n
+ a
n-1
x
n-1
+
… + a
1
x + a
0
untuk semua x∈R. Menurut Teorema 4.2.4 dan fakta bahwa
k
lim x
c x→
=
c
k
, maka
) ( lim x p
c x→
= [ ]
0 1
1
1
lim a x a x a x a
n
n
n
n
c x
+ + + +



L
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 128
= ) ( lim
n
n
c x
x a

+ ) ( lim
1
1



n
n
c x
x a + … + ) ( lim
1
x a
c x→
+
0
lim a
c x→

= a
n
c
n
+ a
n-1
c
n-1
+ … + a
1
c + a
0

= p(c).
Dari sini ) ( lim x p
c x→
= p(c) untuk ssebarang fungsi polinomial p.
(g) Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R dan jika q(c) ≠ 0, maka

( )
( )
( ) c q
c p
x q
x p
c x
=

) (
lim .
Karena q(x) suatu fungsi polinomial, berarti menurut sutu teorema alam aljabar
bahwa terdapat paling banyak sejumlah hingga bilangan real α
1
, α
2
, … ,α
m
[pembuat
nol dari q(x)] sedemikain sehingga q(α
j
) = 0 dan sedemikian sehingga jika x∉{α
1
, α
2
,
…, α
m
} maka q(x) ≠ 0. Dari sini, jika x∉{α
1
, α
2
, …, α
m
} kita dapat mendefinisikan
r(x) =
( )
( ) x q
x p
.
Jika c bukan pembuat nol dari q(x), maka q(c) ≠ 0, dari berdasarkan bagian (f) bahwa
( ) x q
c x
lim

= q(c). ≠ 0. Oleh karena itu kita dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk
menyimpulkan bahwa

( ) ( )
( )
( ) c q
c p
x q
x p
x q
x p
c x
c x
c x
= =



lim
) ( lim
) (
lim .
Hasil berikut adalah suatu analog langsung dari Teorema 3.2.6.
4.2.6 Teorema Misalkan A⊆R. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari
A. Jika
a ≤ f(x) ≤ b untuk semua x∈A, x ≠ c,
dan jika f
c x
lim

ada, maka a ≤ f
c x
lim

≤ b.
Bukti. Jika L = f
c x
lim

, maka menurut Teorema 4.1.8 bahwa jika (x
n
) sebarang
barisan bilangan real sedemikain sehingga c≠ x
n
∈A untuk semua n∈N dan jika bari-
Pendahuluan
Analisis Real I 129
san (x
n
) konvergen ke c, maka barisan (f(x
n
)) konvergen ke L. Karena a ≤ f(x
n
) ≤ b
untuk semua n∈N, berarti menurut Teorema 3.2.6 bahwa a ≤ L ≤ b.
Sekarang kita akan menyatakan suatu hasil yang analog dengan Teorema Apit
3.2.7. Kita akan tinggalkan pembuktiannya untuk dicoba oleh pembaca.
4.2.7 Teorema Apit. Misalkan A⊆R, f,g,h : A → R, dan c∈R suatu titik
cluster dari A. Jika
f(x) ≤ g(x) ≤ h(x) untuk semua x∈A, x ≠ c,
dan jika f
c x
lim

= L = h
c x
lim

, maka g
c x
lim

= L.
4.2.8 Contoh-contoh (a)
2 / 3
0
lim x
x→
= 0 (x > 0).
Misalkan f(x) = x
3/2
untuk x > 0. Karena ketaksamaan x < x
1/2
≤ 1 berlaku un-
tuk 0 < x ≤ 1, maka berarti bahwa x
2
< f(x) = x
3/2
≤ x untuk 0 < x ≤ 1. Karena

2
0
lim x
x→
= 0 dan x
x
lim
0 →
= 0,
maka dengan menggunakan Teorema Apit 4.2.7 diperoleh
2 / 3
0
lim x
x→
= 0.
(b) x
x
sin lim
0 →
= 0.
Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan diba-
has pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa
-x ≤ sin x ≤ x untuk semua x ≥ 0.
Karena ( ) x
x
±

lim
0
= 0, maka menurut Teorema Apit bahwa x
x
sin lim
0 →
= 0.
(c) x
x
cos lim
0 →
= 1.
Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan diba-
has pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa
(*) 1 - ½x
2
≤ cos x ≤ 1 untuk semua x ∈ R.
Karena ( )
2
2
1
0
1 lim x
x


= 1, maka menurut Teorema Apit bahwa x
x
cos lim
0 →
= 1.
(d) |
¹
|

\
| −

x
x
x
1 cos
lim
0
= 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 130
Kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2.4 (b) secara langsung untuk men-
ghitung limit ini. (Mengapa?) Akan tetapi, dari ketaksamaan (*) dalam bagian (c)
bahwa
-½x ≤ (cos x – 1)/x ≤ 0 untuk x > 0
dan juga bahwa
0 ≤ (cos x – 1)/x ≤ ½x untuk x < 0.
Sekarang misalkan f(x) = - x/2 untuk x ≥ 0 dan f(x) = 0 untuk x < 0, dan misalkan
pula h(x) = 0 untuk x ≥ 0 dan h(x) = -x/2 untuk x < 0. Maka kita mempunyai
f(x) ≤ (cos x – 1)/x ≤ h(x) untuk x ≠ 0.
Karena , mudah dilihat (Bagaimana?) bahwa f
x
lim
0 →
= h
x
lim
0 →
, maka menurut Teorema
Apit bahwa
x
x
x
1 cos
lim
0


= 0.
(e) |
¹
|

\
|

x
x
x
sin
lim
0
= 1.
Sekali lagi, kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2.4(b) untuk menghitung
limit ini. Akan tetapi, dapat dibuktikan (pada lanjutan diktat ini) bahwa
x -
6
1
x
3
≤ sin x ≤ x untuk x ≥ 0
dan bahwa
x ≤ sin x ≤ x -
6
1
x
3
untuk x ≤ 0.
Oleh karena itu berarti (Mengapa?) bahwa
1 -
6
1
x
2
≤ (sin x)/x ≤ 1 untuk semua x ≠ 0.
Tetapi karena ( )
2
6
1
0
1 lim x
x


= 1 -
2
0
6
1
lim x
x→
= 1, kita simpulkan dari Teorema Apit
bahwa |
¹
|

\
|

x
x
x
sin
lim
0
= 1.
(f) ( ) ( ) x x
x
/ 1 sin lim
0 →
= 0.
Misalkan f(x) = x sin (1/x) untuk x ≠ 0. Karena –1 ≤ sin z ≤ 1 untuk semua z
∈ R, kita mempunyai ketaksamaan
Pendahuluan
Analisis Real I 131
-¦x¦ ≤ f(x) = x sin(1/x) ≤ ¦x¦
untuk semua x ∈ R, x ≠ 0. Karena x
x 0
lim

= 0, maka dari Teorema Apit diperoleh
bahwa f
x 0
lim

= 0.
Terdapat hasil-hasil yang paralel dengan Teorema 3.2.9 dan 3.2.10; akan
tetapi, akan dilewatkan untuk latihan bagi para pembaca. Kita tutup bagian ini dengan
suatu hasil yang merupakan konvers parsial dari Teorema 4.2.6.
4.2.9 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari
A. Jika
f
c x→
lim > 0 [ atau, f
c x→
lim < 0],
maka terdapat suatu lingkungan dari c V
δ
(c) sedemikian sehingga f(x) > 0 [atau f(x) <
0] untuk semua x∈A∩V
δ
(c), x ≠ c.
Bukti. Misalkan L = f
c x→
lim and anggaplah L > 0. Kita ambil ε = ½L > 0
dalam Teorema 4.1.6(b), dan diperoleh suatu bilangan δ > 0 sedemikain sehingga jika
0 <¦x - c¦< δ dan x∈A, maka ¦f(x) - L¦ < ½L. Oleh karena itu (Mengapa?) berarti
bbahwa jika x∈A∩V
δ
(c), x ≠ c, maka f(x) > ½L > 0.
Jika L < 0, dapat digunakan argumen yang serupa.
Latihan 4.2
1. Gunakan Teorema 4.2.4 untuk menentukan limit-limit berikut :
(a)
1
lim
→ x
(x + 1)(2x + 3) (x∈R), (b)
2
2
lim
2
2
1

+

x
x
x
(x > 0),
(c) |
¹
|

\
|

+

x x
x
2
1
1
1
lim
2
(x > 0), (d)
2
1
lim
2
0
+
+

x
x
x
(x∈R)
2. Tentukan limit-limit berikut dan nyatakan teorema-teorema mana yang digunakan dalam
setiap kasus. (Anda bisa menggunakan latihan 14 di bawah.)
(a)
3
1 2
lim
2
+
+

x
x
x
(x > 0), (b)
2
4
lim
2
2



x
x
x
(x > 0),
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 132
(c)
( )
x
x
x
1 1
lim
2
0
− +

(x > 0), (d)
1
1
lim
1



x
x
x
(x > 0)
3. Carilah
2
0
2
3 1 2 1
lim
x x
x x
x
+
+ − +

dimana x > 0.
4. Buktikan bahwa ( ) x
x
/ 1 cos lim
0 →
tidak ada, akan tetapi ( ) x x
x
/ 1 cos lim
0 →
= 0.
5. Misalkan f,g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R, dan misalkan c suatu
titik cluster dari A. Anggaplah bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c dan g
c x→
lim
= 0. Buktikan bahwa fg
c x→
lim = 0.
6. Gunakanlah formuasi ε-δ dari limit fungsi untuk membuktikan pernyataan pertama dalam
Teorema 4.2.4(a).
7. Gunakanlah formulasi sekuensial untuk limit fungsi untuk membuktikan Teorema
4.2.4(b).
8. Misalkan n∈N sedemikian sehingga n ≥ 3. Buktikan ketaksamaan –x
2
≤ x
n
≤ x
2
untuk –1
< x < 1. Selanjutnya, gunakan fakta bahwa
2
0
limx
x→
= 0 untuk menunjukkan bahwa
n
x
x
0
lim

= 0.
9. Misalkan f,g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R, dan misalkan c suatu
titik cluster dari A.
(a) Tunjukkan bahwa jika f
c x→
lim dan ( ) g f
c x
+

lim ada, tunjukkanlah bahwa f
c x→
lim ada.
(b) Jika f
c x→
lim dan fg
c x→
lim ada, apakah juga g
c x→
lim ada ?
10. Berikan contoh fungsi-fungsi f dan g sedemikian sehingga f dan g tidak mempunyai limit
pada suatu titik c, tetapi sedemikian sehingga fungsi-fungsi f + g dan fg mempunyai limit
pada c.
11. Tentukan apakah limit-limit berikut ada dalam R.
(a) ( )
2
0
/ 1 sin lim x
x→
(x ≠ 0), (b) ( )
2
0
/ 1 sin lim x x
x→
(x ≠ 0),
(c) ( ) x
x
/ 1 sin sgn lim
0 →
(x ≠ 0), (d) ( )
2
0
/ 1 sin lim x x
x→
(x > 0)
Pendahuluan
Analisis Real I 133
12. Misalkan f : R → R sedemikian sehingga f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x,y dalam
R. Anggaplah f
x 0
lim

= L ada. Buktikan bahwa L = 0, dan selanjutnya buktikan bahwa f
mempunyai suatu limit pada setiap titik c∈R. [Petunjuk : Pertama-tama catat bahwa
f(2x) = f(x) + f(x) = 2f(x) untuk semua x∈R. Juga perhatikan bahwa f(x) = f(x – c) + f(c)
untuk semua x,c dalam R.]
13. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. Jika f
x 0
lim

ada, dan jika
¦f¦ menyatakan fungsi yang terdefinisi untuk x∈A dengan ¦f¦(x) = ¦f(x)¦, buktikan
bahwa f
x 0
lim

= ¦ f
x 0
lim

¦.
14. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. Tambahan, anggaplah
bahwa f(x) ≥ 0 untuk semua x ∈ A, dan misalkan f suatu fungsi yang terdefinisi pada
A dengan f (x) = ( ) x f untuk semua x∈A. Jika f
x 0
lim

ada, buktikan bahwa
f
x 0
lim

= f
x 0
lim

.
Pasal 4.3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit
Pada pasal ini kita akan menyajikan tiga macam perluasan dari pengertian
limit fungsi yang sering terjadi.
Limit-limit Sepihak
Terdapat banyak contoh fungsi f yang tidak mempunyai limit pada suatu titik
c, meskipun demikian limit fungsi f tersebut ada jika dibatasi untuk suatu interval se-
pihak dari titik cluster c.
Salah satu contohnya adalah fungsi signum dalam Contoh 4.1.10(b) dan gambarnya diperli-
hatkan pada Gambar 4.1.2, tidak mempunyai limit pada c = 0. Akan tetapi, jika kita membatasi fungsi
signum pada interval (0,∞), maka fungsi hasil pembatasannya mempunyai limit 1 pada c = 0. Demikian
juga, jika kita membatasi fungsi signum pada interval (-∞,0), maka fungsi hasil pembatasannya mem-
punyai limit –1 pada c = 0. Ini merupakan contoh-contoh dari konsep tentang limit-kiri dan lmit-kanan
dari sutu fungsi pada suatu titik c = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 134
Definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan merupakan modifikasi langsung dari Definisi 4.1.4.
Dalam kenyataannya, Penggantian A dalam Definisi 4.1.4 oleh himpunan A∩(c,∞) menghasilkan de-
finisi limit-kanan suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(c,∞). Demikian
juga, dengan penggantian A pada Definisi 4.1.4 oleh himpunan A∩(-∞,c) menghasilkan definisi limit-
kiri suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(-∞,c). Untuk lebih mudahnya,
definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan yang dimaksud akan diformulasi dalam bentuk ε-δ, analog
dengan Teorema 4.1.6 seperti berikut ini.
4.3.1 Definisi. Misalkan A⊆R dan f : A → R
(i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c,∞) = {x∈A:x > c}, maka kita mengatakan bahwa
L∈R adalah suatu limit-kanan dari f pada c dan dituliskan
f
c x
+

lim = L
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan
0 < x – c < δ, maka ¦f(x) - L¦ < ε.
(ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞,c) = {x∈A : x < c}, maka kita mengatakan
bahwa L∈R adalah suatu limit-kiri dari f pada c dan dituliskan
f
c x


lim = L
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan
0 < c – x < δ, maka ¦f(x) - L¦ < ε.
Catatan: (1) Jika L suatu limit kanan dari f pada c, kita kadang-kadang mengatakan bahwa L
adalah limit dari kanan pada c. Kita menggunakan notasi
( ) x f
c x
+

lim = L.
Terminologi dan notasi yang serupa digunakan juga untuk limit-kiri.
Pendahuluan
Analisis Real I 135
(2) Limit-limit f
c x
+

lim dan f
c x
-
lim

disebut limit-limit sepihak dari f pada c. Ini dimung-
kinkan kedua limit sepihak dimaksud ada. Juga bisa mungkin salah satu saja yang ada. Serupa, seperti
kasus pada fungsi f(x) = sgn (x) pada c = 0, limit-limit ini ada, meskipun berbeda.
(3) Jika A suatu interval dengan titik ujung kiri c, maka jelas nampak bahwa f : A → R
mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f mempunyai suatu limit kanan pada c. Selain itu,
dalam kasus ini limit f
c x→
lim dan limit pihak kanan f
c x
+

lim sama. (Situasi serupa juga akan berlaku
untuk limit-kiri suatu interval dengan titik ujung kanan adalah c.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa f hanya dapat memiliki satu limit-
kanan (atau, limit-kiri) pada suatu titik. Berikut ini adalah hasil yang analog dengan fakta yang diperli-
hatkan pada Pasal 4.1 dan 4.2 untuk limit-limit dua-pihak. Khususnya, keberadaan limit satu-pihak da-
pat direduksi untuk bahan pertimbangan selanjutnya.
4.3.2 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan c suatu titik cluster dari A∩(c,∞). Maka
pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen.
(i) f
c x
+

lim = L∈R;
(ii) Untuk sebarang barisan (x
n
) yang konvergen ke c sedemikian sehingga x
n
∈A dan x
n

> c untuk semua n∈N, barisan (f(x
n
)) konvergen ke L∈R.
Kita tinggalkan pembuktian Teorema ini (dan formulasi dan pembuktian dari teorema yang
analog dengannya untuk limit-kiri) untuk dilakukan oleh pembaca.
Berikut ini adalah suatu hasil yang merupakan hubungan pengertian limit suatu fungsi dengan
limit-limit sepihak dari fungsi tersebut pada suatu titik.
4.3.3 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik Cluster dari A∩(c,∞) dan
A∩(-∞,c). Maka f
c x→
lim = L∈R jika dan hanya jika f
c x
+

lim = L = f
c x


lim .
4.3.4 Contoh-contoh (a) Misalkan f(x) = sgn(x).
Kita telah lihat dari contoh 4.1.10(b) bahwa sgn tidak mempunyai limit pada c = 0. Ini jelas
bahwa ) sgn( lim
0
x
x
+

= +1 dan bahwa ) sgn( lim
0
x
x


= -1. Karena limit-limit satu pihak ini berbeda,
maka mengikuti Teorema 4.3.3 bbahwa sgn tidak mempunyai limit pada 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 136
(b) Misalkan g(x) = e
1/x
untuk x ≠ 0. (Lihat gambar 4.3.1)
Pertama kita tunjukkan bahwa g tidak mempunyai limit kanan hingga pada c = 0 karena g ti-
dak terbatas pada sebarang lingkungan kanan (0,∞) dari 0. Kita akan menggunakan ketaksamaan
(*) 0 < t < e
t
untuk t > 0
yang pada bagian ini tidak akan diberikan pembuktiannya. Berdasarkan (*), jika x > GAMBAR 4.3.1
Grafik dari g(x) =
x
e
/ 1
(x ≠ 0)
0 maka 0 < 1/x < e
1/x
. Dari sini, jika kita mengambil xn = 1/n, maka g(x
n
) > n untuk semua n∈N. Oleh
karena itu
x
x
e
/ 1
0
lim
+

tidak ada dalam R.
Akan tetapi,
x
x
e
/ 1
0
lim


= 0. Kita perhatikan bahwa, jika x < 0 dan kita men-
gambil t = 1/x dalam (*) kita peroleh 0 < -1/x < e
-1/x
. Karena x < 0, ini mengakibatkan 0 < e
1/x
< -x un-
tuk semua x < 0. Mengikuti ketaksamaan ini diperoleh
x
x
e
/ 1
0
lim


= 0.
(c) Misalkan h(x) = 1/(e
1/x
+ 1) untuk x ≠ 0. (lihat gambar 4.3.2).
Kita telah melihat bagian (b) bahwa 0 < 1/x < e
1/x
untuk x > 0, dengan
demikian
Pendahuluan
Analisis Real I 137
0 <
1
1
/ 1
+
x
e
<
x
e
/ 1
1
< x
yang mengakibatkan bahwa
+
→0
lim
x
h = 0.
GAMBAR 4.3.2. Grafik dari h(x) = 1/(e
1/x
+1) (x ≠ 0)
Karena kita telah melihat dalam bagian (b) bahwa
+
→0
lim
x
e
1/x
= 0, maka dari
analog Teorema 4.2.4(b) untuk untuk limit-kiri, kita peroleh
|
¹
|

\
|
+


1
1
lim
/ 1
0
x
x
e
=
( ) 1 lim
1
/ 1
0
+


x
x
e
=
1 0
1
+
= 1
Perhatikan bahwa untuk fungsi ini, limit sepihak kedua-duanya ada, akan tetapi tidak sama.
Limit-limit Tak Hingga
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 138
Fungsi f(x) = 1/x
2
untuk x ≠ 0 (lihat Gambar 4.3.3) tidak terbatas pada suatu
lingkungan 0, dengan demikian fungsi tersebut tidak mempunyai suatu limit sesuai pengertian dalam
Definisi 4.1.4. Sementara itu simbol-simbol ∞ (= +∞) dan -∞ tidak menyatakan suatu bilangan real, ini
kadang-kadang menjadi bermakna dengan mengatakan bahwa “f(x) = 1/x
2
cenderung ke ∞ apabila x →
0”.
Pendahuluan
Analisis Real I 139
4.3.5 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A.
(i) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis
∞ =

f
c x
lim
jika untuk setiap α∈R terdapat δ = δ(α) > 0 sedemikain sehinggauntuk semua x∈A dengan 0 < ¦x - c¦
< δ, maka f(x) > α.
(ii) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis
−∞ =

f
c x
lim
jika untuk setiap β∈R terdapat δ = δ(β) > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < ¦x - c¦
< δ, maka f(x) < β.
4.3.6 Contoh-contoh (a) ( ) −∞ =

2
0
/ 1 lim x
x
.
Karena, jika α > 0 diberikan, misalkan δ = α / 1 . Ini erarti bahwa jika 0 <¦x¦<δ, maka x
2
<
1/α dengan demikian 1/x
2
> α.
(b) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.3.4)
Fungsi g tidak menuju ke ∞ atau ke -∞ sebagaimana x→0. Karena, jika α > 0 maka g(x) < α
untuk semua x < 0, dengan demikian g tidak menuju ke ∞ apabila x→0. Serupa juga, jika β < 0 maka
g(x) > β untuk semua x > 0, dengan demikian g tidak menuju ke -∞ apabila x→0.
Hasil berikut analog dengan Teorema Apit 4.2.7. (Lihat juga Teorema 3.6.4).
4.3.7 Teorema Misalkan A⊆R, f,g : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. Anggaplah
bahwa f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A, x ≠ c.
(a) Jika ∞ =

f
c x
lim , maka ∞ =

g
c x
lim .
(b) Jika −∞ =

g
c x
lim , maka −∞ =

f
c x
lim .
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 140


Pendahuluan
Analisis Real I 141
GAMBAR 4.3.3 Grafik dari f(x) = 1/x
2
(x ≠ 0)
GAMBAR 4.3.4 Grafik dari g(x) = 1/x (x ≠ 0)

Bukti. (a) Jika ∞ =

f
c x
lim dan α∈R diberikan, maka terdapat δ(α) > 0 sedemikian sehingga
jika 0 <¦x - c¦ < δ(α) dan x∈A, maka f(x) > α. Akan tetapi, jika f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A x ≠ c,
maka berarti jika 0 <¦x - c¦ < δ(α) dan x∈A, maka g(x) > 0. Oleh karena itu ∞ =

g
c x
lim .
Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara serupa.
Fungsi g(x) = 1/x dalam Contoh 4.3.6(b) menyarankan bahwa itu dapat berguna untuk me-
mandang limit-limit sepihaknya.
4.3.8 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 142
(i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c,∞) ={x∈A: x > 0}, maka kita mengatakan bahwa f
menuju ∞ ∞∞ ∞ [atau -∞ ∞∞ ∞] apabila x→ →→ →c
+
, dan ditulis
∞ =
+

f
c x
lim [ ] −∞ =
+

f
c x
lim , atau ,
jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x – c < δ,
maka f(x) > α [atau, f(x) < α].
(ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞,c) ={x∈A: x < 0}, maka kita mengatakan bahwa f
menuju ∞ ∞∞ ∞ [atau -∞ ∞∞ ∞] apabila x→ →→ →c
-
, dan ditulis
∞ =


f
c x
lim [ ] −∞ =


f
c x
lim , atau ,
jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < c – x < δ,
maka f(x) > α [atau, f(x) < α].
4.3.9 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. Kita telah mencatat dalam Contoh
4.3.6(b) bahwa g
x 0
lim

tidak ada. Akan tetapi suatu latihan yang mudah untuk menunjukkan bahwa
( ) ∞ =
+

x
x
/ 1 lim
0
dan ( ) −∞ =


x
c x
/ 1 lim
(b) Telah diperoleh pada Contoh 4.3.4(b) bahwa fungsi g(x) = e
1/x
untuk x ≠ 0 tidak terba-
tas pada sebarang interval (0,δ), δ > 0. Dari sini limit-kanan dari e
1/x
apabila x→0
+
tidak ada dalam
pengertian Definisi 4.3.1(I). Akan tetapi, karena
1/x < e
1/x
untuk x > 0,
maka secara mudah kita melihat bahwa ( ) ∞ =
+

x
x
e
/ 1
0
lim dalam pengertian dari Definisi 4.3.8.
Limit-limit pada Ketakhinggaan
Kita dapat mempertimbangkan pula untuk mendefinisikan pengertian limit dari suatu fungsi
apabila x→∞ [atau, x→-∞].
4.3.10 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.
Pendahuluan
Analisis Real I 143
(i) Anggaplah bahwa (a,∞) ⊆ A untuk suatu a∈R. Kita mengatakan bahwa L∈R merupakan
limit dari f apabila x→ →→ →∞ ∞∞ ∞, dan ditulis
L f
x
=
∞ →
lim ,
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K, maka
¦f(x) - L¦ < ε.
(ii) Anggaplah bahwa (-∞,b) ⊆ A untuk suatu b∈R. Kita mengatakan bahwa L∈R meru-
pakan limit dari f apabila x→ →→ →-∞ ∞∞ ∞, dan ditulis
L f
x
=
−∞ →
lim ,
jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K, maka
¦f(x) - L¦ < ε.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa limit-limit dari f apabila x→±∞
adalah tunggal jika ada. Kita juga mempunyai Kriteria Sekuensial untuk limit-limit ini; kita hanya akan
menyatakan kriteria apabila x→∞. Ini digunakan pengertian dari limit dari suatu barisan yang divergen
murni (lihat Definisi 3.6.1)
4.3.11 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan anggaplah bahwa (a,∞) ⊆ A untuk suatu
a∈R. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen :
(i) L = f
x ∞ →
lim ;
(ii) Untuk sebarang barisan (x
n
) dalam A∩(a,∞) sedemikian sehingga lim(x
n
) = ∞, barisan
(f(x
n
)) konvergen ke L.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk membuktikan teorema ini dan untuk merumuskan serta
membuktikan teorema serupa dengannya untuk limit dimana x→-∞.
4.3.12 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 144
Ini merupakan suatu latihan dasar untuk membuktikan bahwa ( ) x
x
/ 1 lim
∞ →
= 0 = ( ) x
x
/ 1 lim
−∞ →
.
(Lihat Gambar 4.3.4)
(b) Misalkan f(x) = 1/x
2
untuk x ≠ 0.
Pembaca dapat menunjukkan bahwa bahwa ( )
2
/ 1 lim x
x ∞ →
= 0 = ( )
2
/ 1 lim x
x −∞ →
. (Lihat Gambar
4.3.3). Cara lain untuk menunjukkan ini adalah dengan menunjukkan bahwa jika x ≥ 1 maka 0 ≤ 1/x
2

1/x. Mengingat bagian (a), ini mengakibatkan ( )
2
/ 1 lim x
x ∞ →
= 0.
GAMBAR 4.3.5 f
x ∞ →
lim = -∞
4.3.13 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.
(i) Anggaplah bahwa (a,∞)⊆A untuk suatu a∈A. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞
[atau, -∞] apabila x→∞, dan ditulis
f
x ∞ →
lim = ∞ [ ] −∞ =
∞ →
f
x
lim atau ,
jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K, maka
f(x) > α [atau, f(x) < α]. (Lihat Gambar 4.3.5)
Κ(α)
α
x
y
Pendahuluan
Analisis Real I 145
(ii) Anggaplah bahwa (-∞,b)⊆A untuk suatu b∈A. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞
[atau, -∞] apabila x→-∞, dan ditulis
f
x −∞ →
lim = ∞ [ ] −∞ =
−∞ →
f
x
lim atau ,
jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K, maka
f(x) > α [atau, f(x) < α].
Sebagaimana sebelumnya, terdapat kriteria sekuensial untuk limit ini. Kita akan memformulas-
inya apabila x→∞.S
4.3.14 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan anggaplah bahwa (a,∞)⊆A untuk suatu
a∈R. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen :
(i) f
x ∞ →
lim = ∞ [atau, f
x ∞ →
lim = -∞]
(ii) Untuk sebarang barisan (x
n
) dalam (a,∞) sedemikian sehingga lim(x
n
) = ∞, maka lim
(f(x
n
)) = ∞ [atau lim (f(x
n
)) = -∞].
Hasil berikut ini analog dengan Teorema 3.6.5.
4.3.15 Teorema Misalkan A⊆R, f,g : A → R, dan anggaplah ahwa (a,∞)⊆A untuk suatu
a∈R. Misalkan pula bahwa g(x) > 0 untuk semua x > a dan bahwa

( )
( ) x g
x f
x ∞ →
lim = L
untuk suatu L∈R, L ≠ 0.
(i) Jika L > 0, maka f
x ∞ →
lim = ∞ jika dan hanya jika g
x ∞ →
lim = ∞.
(ii) Jika L < 0, maka f
x ∞ →
lim = -∞ jika dan hanya jika g
x ∞ →
lim = -∞.
Bukti. (i) Karena L > 0, hipotesis mengakibatkan bahwa terdapat a
1 >
a sedemikian sehingga
0 < ½L <
( )
( ) x g
x f
<
2
3
L untuk x > a
1
.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 146
Oleh karena itu kita mempunyai (½L)g(x) < f(x) < (
2
3
L)g(x) untuk semua x > a
1
, dari sini dengan mu-
dah kita peroleh kesimpulannya.
Pembuktian bagian (ii) dikerjakan dengan cara serupa.
Kita tinggalkan bagi pembaca untuk memformulasi hasil-hasil yang analogi dengan Teorema
di atas, apabila x→-∞.
4.3.16 Conyoh-contoh (a)
n
x
x
∞ →
lim = ∞ untuk n∈N.
Misalkan g(x) = x
n
untuk x∈(0,∞). Diberikan α∈R, misalkan K = sup{1,α}. Maka untuk se-
mua x > K, kita mempunyai g(x) = x
n
≥ x ≥ α. Karena α∈R sebarang, maka ini berarti g
x ∞ →
lim = ∞.
(b)
n
x
x
−∞ →
lim = ∞ untuk n∈N, n genap, dan
n
x
x
−∞ →
lim = -∞ untuk n∈N, n ganjil.
Kita akan mencoba kasus n ganjil, katakanlah n = 2k+1 dengan k = 0,1, … . Diberikan α∈R,
misalkan K = inf{α,-1}. Untuk sebarang x < K, maka karena (x
2
)
k
≥ 1, kita mempunyai x
n
= (x
2
)
k
x ≤ x
< α. Karena α∈R sebarang, maka berarti
n
x
x
−∞ →
lim = -∞.
(c) Misalkan p : R → R fungsi polinomial
p(x) = a
n
x
n
+ a
n-1
x
n-1
+ … + a
1
x + a
0
Maka p
x ∞ →
lim = ∞, jika a
n
> 0, dan p
x ∞ →
lim = -∞ jika a
n
< 0.
Misalkan g(x) = x
n
dan gunakan Teorema 4.3.15. Karena

( )
( ) x g
x p
= a
n
+ a
n-1 |
¹
|

\
|
x
1
+ … + a
1 |
¹
|

\
|
−1
1
n
x
+ a
0 |
¹
|

\
|
n
x
1
,
maka diperoleh
( )
( ) x g
x p
x ∞ →
lim = a
n
. Karena g
x ∞ →
lim = ∞, maka menurut Teorema 4.3.15, p
x ∞ →
lim = ∞.
Pendahuluan
Analisis Real I 147
(d) Misalkan p fungsi polinomial dalam bagian (c). Maka p
x −∞ →
lim = ∞ [atau, -∞] jika n
genap [atau, ganjil] dan a
n
> 0.
Kita tinggalkan detailnya untuk pemaca kerjakan.
Latihan-latihan
1. Buktikan Teorema 4.3.2.
2. Berikan contoh suatu fungsi yang mempunyai limit-kanan, tetapi tidak mempunyai limit-
kiri pada suatu titik.
3. Misalkan f(x) = ¦x¦
½
untuk x ≠ 0.. Tunjukkan bahwa ( ) x f
x
+
→0
lim = ( ) x f
x

→0
lim = +∞.
4. Misalkan c∈R dan f didefinisikan untuk x∈(c,∞) dan f(x) > 0 untuk semua x∈(c,∞).
Tunjukkan bahwa f
c x→
lim = ∞ jika dan hanya jika ( ) f
c x
1 lim

= 0.
5. Hitunglah limit-limit berikut, atau tunjukkan bahwa limit-limit ini tidak ada.
(a)
1
lim
1

+

x
x
x
(x ≠ 1), (b)
1
lim
1


x
x
x
(x ≠ 1),
(c)
x
x
x
2
lim
1
+
+

(x > 0), (d)
x
x
x
2
lim
+
∞ →
(x > 0),
(e)
x
x
x
1
lim
0
+

(x > -1), (f)
x
x
x
1
lim
+
∞ →
(x > 0),
(g)
3
5
lim
+

∞ →
x
x
x
(x > 0), (h)
x x
x x
x
+

∞ →
lim (x > 0).
6. Buktikan Teorema 4.3.11.
7. Misalkan f dan g masing-masing mempunyai limit dalam R apabila x→∞ dan f(x) ≤ g(x)
untuk semua (α,∞). Buktikan bahwa f
x ∞ →
lim ≤ g
x ∞ →
lim .
8. Misalkan f terdefinisi pada (0,∞) ke R. Buktikan bahwa ( ) x f
x ∞ →
lim = L jika dan hanya
jika ( ) x f
x
1 lim
0
+

= L.
9. Tunjukkan bahwa jika f : (a,∞) → R sedemikian sehingga ( ) x xf
x ∞ →
lim = L dimana
L∈R, maka ( ) x f
x ∞ →
lim = 0.
10. Buktikan Teorema 4.3.14.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 148
11. Lengkapkan bukti dari Teorema 4.3.15.
12. Misalkan ( ) x f
c x→
lim = L dimana L > 0, dan ( ) x g
c x→
lim = ∞. Tunjukkan bahwa
( ) ( ) x g x f
c x→
lim = ∞. Jika L = 0, tunjukkan dengan contoh bahwa konklusi ini gagal.
13. Carilah fungsi-fungsi f dan g yang didefinisikan pada (0,∞) sedemikain sehingga f
x ∞ →
lim
= ∞ dan g
x ∞ →
lim = ∞, akan tetapi ( ) g f
x

∞ →
lim = 0. Dapatkan anda menemukan fungsi-
fungsi demikian, dengan g(x) > 0 untuk semua x∈(0,∞), sedemikain sehingga g f
x ∞ →
lim
= 0?
14. Misalkan f dan g terdefinisi pada (a,∞) dan misalkan pula f
x ∞ →
lim = L dan g
x ∞ →
lim = ∞.
Buktikan bahwa g f
x
o
∞ →
lim = L.















Pendahuluan
Analisis Real I 149





FUNGSI-FUNGSI KONTINU

Dalam bab ini kita akan memulai mempelajari kelas terpenting dari fungsi-
fungsi yang muncul dalam analisis real, yaitu kelas fungsi-fungsi kontinu. Pertama-
tama kita akan mendefinisikan pengertian dari kekontinuan pada suatu titik dan pada
suatu himpunan, dan menunjukkan bahwa variasi kombinasi dari fungsi-fungsi kon-
tinu menghasilkan fungsi kontinu.
Sifat-sifat dasar yang membuat fungsi-fungsi kontinu demikain penting diper-
lihatkan pada Pasal 5.3. Misalnya, kita akan memuktikan bahwa suatu fungsi kontinu
pada suatu interval tertutup dan terbatas mesti mencapai nilai maksimum dan mini-
mum.Kita juga akan membuktikan bahwa suatu fungsi kontinu mesti selalu memuat
nilai antara untuk sebarang dua nilai yang dicapainya. Sifat-sifat ini dan beberapa
lainnya tidak dimiliki oleh fungsi-fungsi pada umumnya, dan dengan demikian ini
membedakan fungsi-fungsi kontinu sebagai suatu kelas yang sangat khusus dari
fungsi-fungsi.
Kedua, dalam Pasan 5.4 kita akan memperkenalkan pengertian penting dari
kekontinuan seragam, dan kita akan menggunakan pengertian ini untuk masalah dari
pendekatan (pengaproksimasian) fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi-fungsi dasar
(elementer) (seperti polinomial). Fungsi-fungsi monoton adalah suatu kelas penting
dari fungsi-fungsi dan mempunyai sifat-sifat kekontinuan kuat; mereka didiskusikan
dalam Pasal 5.5. Khususnya, akan ditunjukkan bahwa fungsi monoton kontinu mem-
punyai fungsi invers yang monoton kontinu juga.
BAB
5
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 150
PASAL 5.1 Fungsi-fungsi Kontinu
Dalam Pasal ini, yang mana sangat serupa dengan pasal 4.1, kita akan
mendefinisikan tentang apa yang dimaksudkan dengan fungsi kontinu pada suatu titik,
atau pada suatu himpunan. Pengertian kekontinuan ini adalah salah satu dari penger-
tian sentral dari analisis matematika dan akan dipergunakan dalam hampir semua
pada pembahasan dalam buku ini. Akibatnya, konsep ini sangat esensial yang pem-
baca mesti menguasainya.
5.1.1 Definisi Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈A. Kita katakan bahwa f
kontinu pada c jika, diberikan sebarang lingkungan V
ε
(f(c)) dari f(c) terdapat suatu
lingkungan
V
δ
(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada A∩V
δ
(c), maka f(x) ter-
muat dalam V
ε
(f(c)). (Lihat Gambar 5.1.1).
GAMBAR 5.1.1 Diberikan V
ε
(f(c)), lingkungan V
δ
(c) ditentukan

Peringatan (1) Jika c∈A merupakan titik cluster dari A, maka pembandingan dari
Definisi 4.1.4 dan 5.1.1 menunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika
(1) f(c) = f
c x→
lim .
Jadi, jika c titik cluster dari A, maka agar (1) berlaku, tiga syarat harus dipenuhi: (i) f harus
terdefinisi pada c (dengan demikian f(c) dapat dimengerti), (ii) limit dari f harus ada dalam R
Pendahuluan
Analisis Real I 151
(dengan demikian f
c x→
lim dapat dimengerti), dan (iii) nilai-nilai dari f(c) dan f
c x→
lim harus
sama.
(2) Jika c bukan titik cluster dari A, maka terdapat lingkun-
gan V
δ
(c) dari c sedemikian sehingga A∩V
δ
(c) = {c}. Jadi kita menyimpulkan bahwa suatu
fungsi f kontinu secara otomatis pada c∈A yang bukan titik cluster dari A. Titik-titik
demikian ini sering disebut “titik-titik terisolasi” dari A; titik-titik ini kurang menarik untuk
kita bahas, karena “far from the action”. Karena kekontinuan erlaku secara otomatis untuk
titik-titik terisolasi ini, kita akan secara umum menguji kekontinuan hanya pada titik-titik
cluster. Jadi kita akan memandang kondisi (1) sebagai karakteristik untuk kekontinuan pada
c.
Dalam definisi berikut kita mendefinisikan kekontinuan
dari f pada suatu himpunan.
5.1.2 Definisi Misalkan A⊆R, f : A → R. Jika
B⊆A, kita katakan bahwa f kontinu pada B jika f kontinu pada setiap titik dalam B.
Sekarang kita berikan suatu formulasi yang setara untuk
Definisi 5.1.1.
5.1.3 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c∈A. Maka kondisi-
kondisi berikut ekivalen.
(i) f kontinu pada c; yaitu, diberikan sebarang lingkungan V
ε
(f(c)) dari f(c)
terdapat suatu lingkungan V
δ
(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada
A∩V
δ
(c), maka f(x) termuat dalam V
ε
(f(c))
(ii) Diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ > 0 sedemikian sehingga untuk
semua x∈A dengan ¦x - c¦ < δ, maka ¦f(x) – f(c)¦ < ε.
(iii) Jika (x
n
) sebarang barisan bilangan real sedemikian sehingga x
n
∈A untuk
semua n∈N dan (x
n
) konvergen ke c, maka barisan (f(x
n
)) konvergen ke f(c).
Pembuktian teorema ini hanya memerlukan sedikit
modifikasi pembuktian dari Teorema 4.1.6 dan 4.1.8. Kita tinggalkan detailnya seba-
gai suatu latihan penting bagi pembaca.
Kriteria Diskontinu berikut adalah suatu konsekuensi
dari ekuivalensi dari (i) dan (ii) dari teorema sebelumnya; ini akan dibandingkan den-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 152
gan Kriteria Divergensi 4.1.9(a) dengan L = f(c). Pembuktiannya akan dituliskan se-
cara detail oleh pembaca.
5.1.4. Kriteria Diskontinu Misalkan A⊆R, f : A →
R, dan c∈A. Maka f diskontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (x
n
)
dalam A sedemikian sehingga (x
n
) konvergen ke c, tetapi barisan (f(x
n
)) tidak kon-
vergen ke f(c).
5.1.5 Contoh-contoh (a) f(x) = b kontinu pada R
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(a) bahwa jika
c∈R, maka kita mempunyai f
c x→
lim = b. Karena f(c) = b, maka f kontinu pada setiap
titik c∈R. Jadi f kontinu pada R.
(b) g(x) = x kontinu pada R.
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(b) bahwa jika
c∈R, maka kita mempunyai g
c x→
lim = c. Karena g(c) = c, maka g kontinu pada setiap
titik c∈R. Jadi g kontinu pada R.
(c) h(x) = x
2
kontinu pada R.
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(c) bahwa jika c∈R, maka kita mempunyai
h
c x→
lim = c
2
. Karena h(c) = c
2
, maka h kontinu pada setiap titik c∈R. Jadi h kontinu
pada R.
(d) ϕ(x) = 1/x kontinu pada A = {x∈R : x > 0}.
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(d) bahwa jika c∈A, maka kita mempunyai
ϕ
→c x
lim = 1/c. Karena ϕ(c) = 1/c, maka ϕ kontinu pada setiap titik c∈A. Jadi ϕ kontinu
pada A.
(e) ϕ(x) = 1/x tidak kontinu pada x = 0
Memang, jika ϕ(x) = 1/x untuk x > 0, maka tidak terdefinisi pada x= 0, dengan
demikian tidak kontinu pada titik ini. Secara alternatif, telah diperlihatkan pada Con-
Pendahuluan
Analisis Real I 153
toh 4.1.10(a) bahwa ϕ
→0
lim
x
tidak ada dalam R, dengan demikian ϕ tidak kontinu pada
x = 0.
(f) Fungsi signum tidak kontinu pada x = 0.
Fungsi signum telah didefinisikan pada contoh
4.1.10(b), dimana juga telah ditunjukkan bahwa ) sgn( lim
0
x
x→
tidak ada dalam R. Oleh
karena itu sgn tidak kontinu pada x = 0 meskipun sgn 0 terdefinisi.
(g) Misalkan A = R dan f “fungsi diskontinu” Dirichlet yang didefinisikan
oleh
f(x) =
¹
´
¦
irasional x jika , 0
rasional x jika , 1

Kita claim bahwa f tidak kontinu pada sebarang titik pada R. (Fungsi ini diperke-
nalkan pada tahun 1829 oleh Dirichlet)
Memang, jika c bilangan rasional, misalkan (x
n
) suatu barisan bilangan
irasional yang konvergen ke c. (Teorema Akibat 2.5.6 untuk Teorema 2.5.5 menjamin
adanya barisan seperti ini.) Karena f(x
n
) = 0 untuk semua n∈N, maka kita mempunyai
lim (f(x
n
)) = 0 sementara f(c) = 1. Oleh karena itu f tidak kontinu pada bilangan ra-
sional c.
Sebaliknya, jika b bilangan rasional, misalkan (y
n
) suatu
barisan bilangan irasional yang konvergen ke b. (Teorema Akibat 2.5.6 untuk Teo-
rema 2.5.5 menjamin adanya barisan seperti ini.) Karena f(y
n
) = 1 untuk semua n∈N,
maka kita mempunyai lim (f(y
n
)) = 1 sementara f(b) = 0. Oleh karena itu f tidak kon-
tinu pada bilangan irasional b.
Karena setiap bilangan real adalah bilangan rasional
atau irasional, kita simpulkan bahwa f tidak kontinu pada setiap titik dalam R.
(h) Misalkan A = {x∈R : x > 0}. Untuk sebarang bilangan irasional x > 0
kita definisikan h(x) = 0. Untuk suatu bilangan rasional dalam A yang berbentuk m/n,
dengan bilangan asli m,n tidak mempunyai faktor persektuan kecuali 1, kita definisi-
kan h(m/n) = 1/n. (Lihat Gambar 5.1.2.) Kita claim bahwa h kontinu pada setiap bi-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 154
langan irasional pada A, dan diskontinu pada setiap bilangan rasional dalam A.
(Fungsi ini diperkenalkan pada tahun 1875 oleh K.J. Thomae)
Memang, jika a > 0 bilangan rasional, misalkan (x
n
)
suatu barisan bilangan irasional dalam A yang konvergen ke a. maka lim h(x
n
) = 0
sementara h(a) > 0. Dari sini h diskontinu pada a.
Di pihak lain, jika b suatu bilangan irasional dan ε > 0,
maka (dengan Sifat Arcimedean) terdapat bilangan asli n
0
sedemikian sehingga 1/n
0
<
ε. Terdapat hanya sejumlah hingga bilangan rasional dengan penyebut lebih kecil dari
n
0
dalam interval (b – 1, b + 1). (Mengapa?) Dari sini δ > 0 dapat dipilih sekecil
mungkin yang mana lingkungan (b - δ,b + δ) tidak memuat tidak memuat bilangan
rasional dengan penyebut lebih kecil dari n
0
. Selanjutnya, bahwa untuk ¦x - b¦< δ,
x∈A, kita mempunyai ¦h(x) – h(b)¦ = h(x) ≤ 1/n
0
< ε. Jadi h kontinu pada bilangan
irasional b.
Akibatnya, kita berkesimpulan bahwa fungsi Thomae h
kontinu hanya pada titik-titik irasional dalam A.
GAMBAR 5.1.2 Grafik Fungsi Thomae
5.1.6 Peringatan (a) Kadang-kadang suatu fungsi f : A → R tidak kontinu pada suatu
titik c, sebab tidak terdefinisi pada titik tersebut.. Akan tetapi, jika fungsi f mempunyai suatu limit L
pada tiitik c dan jika kita definisikan F pada A∪{c} →R dengan

¹
´
¦

=
=
A x x f
c x L
x F
untuk ) (
untuk
) (
1/2
1
*
*
*
*
* * * * * * * *
*
*
*
* *
* * * * * * *
1 2
1/2
3/2
1/7
* * * * * * * * * * * *
Pendahuluan
Analisis Real I 155
maka F kontinu pada c. Untuk melihatnya, perlu mengecek bahwa F
c x→
lim = L, tetapi ini brlaku (men-
gapa?), karena f
c x→
lim = L
(b) Jika fungsi g : A → R tidak mempunyai suatu limit pada c,
maka tidak ada cara untuk memperoleh suatu fungsi G : A∪{c} → R yang kontinu pada c dengan
pendefinisian

¹
´
¦

=
=
A x x g
c x C
x G
untuk ) (
untuk
) (
Untuk melihatnya, amati bahwa jika G
c x→
lim ada dan sama dengan C, maka g
c x→
lim mesti ada juga dan
sama dengan C.
5.1.7 Contoh-contoh (a) Fungsi g(x) = sin (1/x) untuk x ≠ 0 (lihat Gambar
4.1.3) tidak mempunyai limit pada x = 0 (lihat contoh 4.1.10(c)). Jadi tidak terdapat
nilai yang dapat kita berikan pada x = 0. Untuk memperoleh suatu perluasan kontinu
dari g pada x = 0.
(b) Misalkan f(x) = x sin(1/x) untuk x ≠ 0. (Lihat Gam-
bar 5.1.3) Karena f tidak terdefinisi pada x = 0, fungsi f tidak bisa kontinu pada titik
ini. Akan tetapi, telah diperlihatkan pada Contoh 4.2.8(f) bahwa ( ) ( ) x x
x
1 sin lim
0 →
= 0.
Oleh karena itu mengikuti Peringatan 5.1.6(a) bahwa jika kita definisikan F : R →
R dengan

( )
¹
´
¦

=
=
0 untuk x 1 sin
0 untuk 0
) (
x x
x
x F
maka F kontinu pada x = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 156
Gambar 5.1.3 Grafik dari f(x) = x sin(1/x) x ≠ 0
Latihan-latihan
1. Buktikan Teorema 5.1.4.
2. Perlihatkan Kriteria Diskontinu 5.1.4.
3. Misalkan a < b < c. Misalkan pula bahwa f kontinu pada [a,b], g kontinu pada [b,c], dan
f(b) = g(b). Definisikan h pada [a,c] dengan h(x) = f(x) untuk x∈[a,b] dan h(x) = g(x) un-
tuk x∈(b,c]. Buktikan bahwa h kontinu pada [a,c].
4. Jika x∈R, kita definisikan ⇓x◊ adalah bilangan bulat terbesar n∈Z sedemikian sehingga
n ≤ x. (Jadi, sebagai contoh, ⇓8,3◊ = 8, ⇓π◊ = 3, ⇓-π◊ = -4.) Fungsi x a ⇓x◊ disebut
fungsi bilangan bulat terbesar. Tentukan titik-titik dimana fungsi-fungsi berikut kon-
tinu :
(a). f(x) = ⇓x◊, (b) g(x) = x⇓x◊,
(c). h(x) = ⇓sin x◊, (d) k(x) = ⇓1/x◊ (x ≠ 0).
5. Misalkan f terdefinisi untuk semua x∈R, x ≠ 2, dengan f(x) = (x
2
+ x – 6)/(x – 2). Dapat-
kah f terdefinisi pada x = 2 dimana dengan ini menjadikan f kontinu pada titik ini?
Pendahuluan
Analisis Real I 157
6. Misalkan A⊆R dan f : A → R kontinu pada titik c∈A. Tunjukkan bahwa untuk se-
barang ε > 0, terdapat lingkungan V
δ
(c) dari c sedemikian sehingga jika x,y∈A∩V
δ
(c),
maka ¦f(x) – f(y)¦ < ε.
7. Misalkan f : R → R kontinu pada c dan misalkan f(c) > 0. Tunjukkan bahwa terdapat
V
δ
(c) suatu lingkungan dari c sedemikian sehingga untuk sebarang x∈ V
δ
(c) maka f(x) >
0.
8. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan misalkan S = {x∈R : f(x) = 0} adalah “him-
punan nol” dari f. Jika (x
n
) ⊆ S dan x = lim (x
n
), tunjukkan bahwa x∈S.
9. Misalkan A⊆B⊆R, f : B → R dan g pembatasan dari f pada A (yaitu, g(x) = f(x) un-
tuk x∈A).
(a). Jika f kontinu pada c∈A, tunjukkan bahwa g kontinu pada c.
(b). Tunjukkan dengan contoh bahwa jika g kontinu pada c, tidak perlu berlaku bahwa f
kontinu pada c.
10. Tunjukkan bahwa fungsi nilai mutlak f(x) = ¦x¦ kontinu pada setiap titik c∈R.
11. Misalkan K > 0 dan f : → R memenuhi syarat ¦f(x) – f(y)¦ ≤ K¦x - y¦ untuk semua
x,y∈R. Tunjukkan bahwa f kontinu pada setiap titik c∈R.
12. Misalkan bahwa f : R → R kontinu pada R dan f(r) = 0 untuk setiap bilangan rasional
r. Buktikan bahwa f(x) = 0 untuk semua x∈R.
13. Definisikan g : R → R dengan g(x) = 2x untuk x rasional, dan g(x) = x + 3 untuk x
irasional. Tentukan semua titik dimana g kontinu.
14. Misalkan A = (0,∞) dan k : A → R didefinisikan sebagai berikut. Untuk x∈A, x ra-
sional, kita definisikan k(x) = 0; untuk x∈A rasional dan berbentuk x = m/n dengan bi-
langan asli m, n tidak mempunyai faktor persekutuan kecuali 1, kita definisikan k(x) = n.
Buktikan bahwa k tidak terbatas pada setiap interval terbuka dalam A. Simpulkan bahwa
k tidak kontinu pada sebarang titik dari A.
PASAL 5.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu
Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R.
Dalam Definisi 4.2.3 kita mendefinisikan jumlah, selisih, hasil kali, dan kelipatan
fungsi-fungsi disimbol f + g, f – g, fg, bf. Juga, jika h : A → R sedemikian sehingga
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 158
h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A, maka kita definisikan fungsi hasil bagi dinotasi dengan
f/h.
Hasil berikut ini serupa dengan Teorema 4.2.4.
5.2.1 Teorema Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A
ke R dan b∈R. Andaikan bahwa c∈A dan f dan g kontinu pada c.
(a) Maka f + g, f – g, fg, dan bf kontinu pada c.
(b) Jika h : A → R kontinu pada c∈A dan jika h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A,
maka fungsi f/h kontinu pada c.
Bukti. Jika c bukan suatu titik cluster dari A, maka konklusi berlaku secara
otomatis. Dari sini, kita asumsikan bahwa c titik cluster dari A.
(a) Karena f dan g kontinu pad
(b) a c, maka
f(c) = f
c x→
lim dan g(c) = g
c x→
lim
Oleh karena itu mengikuti Teorema 4.2.4(a) diperoleh
(f + g)(c) = f(c) + g(c) = ( ) g f
c x
+

lim
Dengan demikian f + g kontinu pada c. Pernyataan-pernyataan lain pada bagian (a)
dibuktikan dengan cara serupa.
(c) Karena c∈A, maka h(c) ≠ 0. Tetapi karena h(c) = h
c x→
lim , berikut dari Teo-
rema 4.2.4(b) bahwa
( ) c
h
f
=
( )
( ) c h
c f
=
h
f
c x
c x


lim
lim
= |
¹
|

\
|

h
f
c x
lim .
Oleh karena itu f/h kontinu pada c.
Hasil berikut merupakan konsekuensi dari Teorema 5.2.1, diterapkan untuk
semua titik dalam A. Akan tetapi, secara ekstrim, ini adalah suatu hasil penting, kita
akan menyatakannya secara formal.
5.2.2 Teorema Misalkan A⊆R, f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A
ke R dan b∈R.
Pendahuluan
Analisis Real I 159
(a) Maka f + g, f – g, fg, dan bf kontinu pada A.
(b) Jika h : A → R kontinu pada A dan h(x) ≠ 0 untuk x∈A, maka fungsi
f/h kontinu pada A.
5.2.3 Komentar Untuk mendefinisikan fungsi hasil bagi, kadang-kadang lebih cocok me-
mulainya sebagai berikut : Jika ϕ : → R, misalkan A
1
= {x∈A : ϕ(x) ≠ 0}. Kita akan mendefinisikan
fungsi hasil bagi f/ϕ pada himpunan A
1
dengan
(*)
) (
) (
) (
x
x f
x
f
ϕ ϕ
=
|
|
¹
|

\
|
untuk x ∈ A
1
.
Jika ϕ kontinu pada titik c∈A
1
, maka jelas bahwa pembatasan ϕ
1
dari ϕ pada A
1
juga kontinu pada c.
Oleh karena itu mengikuti Teorema 5.2.1(b) dipergunkan untuk ϕ
1
bahwa f/ϕ kontinu pada c∈A
1
. Se-
rupa juga jika f dan ϕ kontinu pada A, maka fungsi f/ϕ, didefinisikan pada A
1
oleh (*), kontinu pada
A
1
.
5.2.4 Contoh-contoh (a) Fungsi-fungsi polinomial.
Jika p suatu fungsi polinimial, dengan demikian p(x) = anxn + an-1xn-1 + …
+ a1x + a0 untuk semua x∈R, maka mengikuti Contoh 4.2.5(f) bahwa p(c) = p
c x→
lim
untuk sebarang c∈R. Jadi fungsi polinomial kontinu pada R.
(b) Fungsi-fungsi rasional
Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R, maka terdapat paling banyak
sejumlah hingga α
1

2
, … , α
n
akar-akar real dari q. Jika x∉{α
1

2
, … , α
n
} maka
q(x) ≠ 0 dengan demikian kita dapat mendefinisikan fungsi rasional r dengan
r(x) =
) (
) (
x q
x p
untuk x∉{α
1

2
, … , α
n
}.
Telah diperlihatkan dalam Contoh 4.2.5(g) bahwa jika q(c) ≠ 0, maka
r(c) =
) (
) (
c q
c p
=
) ( lim
) ( lim
x q
x p
c x
c x


= ) ( lim x r
c x→

Dengan kata lain, r kontinu pada c. Karena c sebarang bilangan real yang bukan akar
dari q, kita katakan bahwa suatu fungsi rasional yang kontinu pada setiap bilangan
real dimana fungsi tersebut terdefinisi.
(c) Kita akan menunjukkan bahwa fungsi sinus kontinu pada R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 160
Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan
cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan. Untuk semua x,y,z∈R kita mem-
punyai
¦sin z¦ ≤ ¦z¦, ¦cos z¦ ≤ 1,
sin x – sin y = 2sin[½(x – y)]cos[½(x + y)].
Dari sini, jika c∈R, maka kita mempunyai
¦sin x – sin c¦ ≤ 2(½¦x – c¦)(1) = ¦x - c¦.
Oleh karena itu sin kontinu pada c. Karena c∈R sebarang, maka ini berarti fungsi sin
kontinu pada R.
(d) Fungsi cosinus kontinu pada R.
Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan
cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan. Untuk semua x,y,z∈R kita mem-
punyai
¦sin z¦ ≤ ¦z¦, ¦sin z¦ ≤ 1,
cos x – cos y = 2sin[½(x + y)]sin[½(y - x)].
Dari sini, jika c∈R, maka kita mempunyai
¦cos x – cos c¦ ≤ 2(1)(½¦c – x¦) = ¦x - c¦.
Oleh karena itu cos kontinu pada c. Karena c∈R sebarang, maka ini berarti fungsi cos
kontinu pada R. (Cara lain, kita dapat menggunakan hubungan cos x = sin (x + π/2).)
(e) Fungsi-fungsi tan, cot, sec, csc kontinu dimana fungsi-fungsi ini terde-
finisi.
Sebagai contoh, fungsi cotangen didefinisikan dengan
Cot x =
x
x
sin
cos

Asalkan sin x ≠ 0 (yaitu, asalkan x ≠ nπ, n∈Z). Karena sin dan cos kontinu pada R,
maka mengikuti Komentar 5.2.3 bahwa fungsi cot kontinu pada domainnya. Fungsi-
fungsi trigonometri yang lain dilakukan dengan proses pengerjaan yang serupa.
5.2.5 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan ¦f¦ didefinisikan untuk
x∈A dengan ¦f¦(x) = ¦f(x)¦.
Pendahuluan
Analisis Real I 161
(a) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A, maka ¦f¦ kontinu pada c.
(b) Jika f kontinu pada A, maka ¦f¦ kontinu pada A.
Bukti. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4.2.13.
5.2.6 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R dan f(x) ≥ 0 untuk semua
x∈A. Kita misalkan f didefinisikan untuk x∈A dengan f (x) = ) (x f .
(c) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A, maka f kontinu pada c.
(d) Jika f kontinu pada A, maka f kontinu pada A.
Bukti. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4.2.14.
Komposisi Fungsi-fungsi Kontinu
Sekarang kita akan menunjukkan bahwa jika f : A → R kontinu pada suatu
titik c dan jika g : B → R kontinu pada b = f(c), maka komposisi g o f kontinu pada
c. Agar menjamin bahwa g o f terdefinisi pada seleruh A, kita perlu menganggap
bahwa f(A) ⊆ B.
5.2.7 Teorema Misalkan A,B⊆R, f : A → R dan g : B → R fungsi-
fungsi sedemikian sehingga f(A)⊆B. Jika f kontinu pada suatu titik c∈A dan g kon-
tinu pada b = f(c) ∈B, maka komposisi g o f : A → R kontinu pada c.
Bukti. Misalkan W suatu lingkungan-ε dari g(b). Karena g kontinu pada b,
maka terdapat suatu lingkungan-δ V dari b = f(c) sedemikian sehingga jika y∈B∩V
maka g(y)∈W. Karena f kontinu pada c, maka terdapat suatu lingkungan-γ U dari c
sedemikian sehingga jika x∈U∩A, maka f(x)∈V. (Lihat Gambar 5.2.1.) Karena
f(A)⊆B, maka ini berarti jika x∈A∩U, maka f(x)∈B∩V dengan demikian g o f(x) =
g(f(x))∈W. Tetapi karena W suatu lingkungan-ε dari g(b), ini mengakibatkan bahwa g
o f kontinu pada c.
5.2.7 Teorema Misalkan A,B⊆R, f : A → R kontinu pada A dan g : B
→ R kontinu pada B. Jika f(A)⊆B, maka komposisi g o f : A → R kontinu pada
A.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 162
Bukti. Teorema ini secara serta-merta mengikuti hasil sebelumnya, jika , ber-
turut-turut, f dan g kontinu pada setiap titik A dan B.
Teorema 5.2.7 dan 5.2.8 sangat bermanfaat dalam menunjukkan bahwa
fungsi-fungsi tertentu kontinu. Teorema-teorema ini dapat dipergunakan dalam ber-
bagai situasi dimana situasi ini akan sulit untuk menggunakan definisi kekontinuan
secara langsung.
5.2.9 Contoh-contoh (a) Misalkan g
1
(x) = ¦x¦ untuk x∈R. Menurut
Ketaksamaan Segitiga (Lihat Akibat 2.3.4) bahwa
¦g
1
(x) – g
1
(c)¦ ≤ ¦x - c¦
untuk semua x,c∈R. Dari sini g
1
kontinu pada c∈R. Jika f : A → R sebarang
fungsi kontinu pada A, maka Teorema 5.2.8 mengakibatkan bahwa g
1
o f = ¦f¦ kon-
tinu pada A. Ini memberikan cara lain pembuktian dari Teorema 5.2.5.
(b) Misalkan g
2
(x) = x untuk x ≥ 0. Mengikuti Teorema 3.2.10 dan 5.1.3
bahwa g
2
kontinu pada sebarang c ≥ 0. Jika f : A → R kontinu pada A dan jika f(x)
≥ 0 untuk semua x∈A, maka menurut Teorema 5.2.8 g
2
o f = f kontinu pada A. Ini
memberikan pembuktian lain dari Teorema 5.2.6.
(c) Misalkan g
3
(x) = sin x untuk x∈R. Kita telah tunjukkan dalam Contoh
5.2.4(c) bahwa g
3
kontinu pada R. Jika f : A → R kontinu pada A, maka mengikuti
Teorema 5.2.8 bahwa g
3
o f kontinu pada A.
Khususnya, jika f(x) = 1/x untuk x ≠ 0, maka fungsi g(x) = sin(1/x) kontinu
pada setiap titik c ≠ 0. [Kita telah tunjukkan, dalam Contoh 5.1.7(a), bahwa g tidak
didefinisikan pada 0 agar g menjadi kontinu pada titik itu.]
f
g
A
B C
U
V
W
c
b
g(b)
GAMBAR 5.2.1 Komposisi dari f dan g
Pendahuluan
Analisis Real I 163

Soal-soal
1. Tentukan titik-titik kekontinuan dari fungsi-fungsi berikut dan nyatakan teorema-
teorema mana yang dipergunakan dalam setiap kasus :
(a). f(x) =
1
1 2
2
2
+
+ +
x
x x
(x∈R); (b) g(x) = x x + (x ≥ 0);
(c). h(x) =
x
x sin 1+
(x ≠ 0); (d) k(x) = cos 1
2
+ x (x∈R).
2. Tunjukkan bahwa jika f : A→ R kontinu pada A⊆R dan jika n∈N, maka fungsi f
n
dide-
finisikan oleh f
n
(x) = (f(x))
n
untuk x∈A, kontinu pada A.
3. Berikan satu contoh f dan g yang kedua-duanya tidak kontinu pada suatu titik c dalam R
sedemikian sehingga : (a) fungsi jumlah f + g kontinu pada c, (b) fungsi hasil kali fg kon-
tinu pada c.
4. Misalkan x ξ ⇓x◊ menyatakan fungsi bilangan bulat terbesar (lihat Latihan 5.1.4.) Tentu-
kan titik-titik kekontinuan dari fungsi f(x) = x - ⇓x◊, x∈R.
5. Misalkan g didefinisikan pada R oleh g(1) = 0, dan g(x) = 2 jika x ≠ 1, dan misalkan f(x)
= x + 1 untuk semua x∈R. Tunjukkan bahwa f g
x
o
0
lim

≠ g o f(0). Mengapa ini tidak
kontradiksi dengan Teorema 5.2.7?
6. Misalkan f,g didefinisikan pada R dan c∈R. Misalkan juga bahwa f
x 0
lim

= b dan g kon-
tinu pada b. Tunjukkan bahwa f g
x
o
0
lim

= g(b). (Bandingkan hasil ini dengan Teorema
5.2.7 dan latihan sebelumnya.)
7. Berikan contoh dari fungsi f : [0,1] → R yang diskontinu pada setiap titik dalam [0,1]
tetapi sedemikian sehingga ¦f¦ kontinu pada [0,1].
8. Misalkan f,g fungsi-fungsu kontinu dari R ke R, dan misalkan pula f(r) = g(r) untuk se-
mua bilangan rasional r. Apakah benar bahwa f(x) = g(x) untuk semua x∈R?
9. Misalkan h : R → R kontinu pada R memenuhi h(m/2
n
) = 0 untuk semua m∈Z, n∈N.
Tunjukkan bahwa h(x) = 0 untuk semua x∈R.
10. Misalkan f : R → R kontinu pada R, dan misalkan pula P = {x∈R : f(x) > 0}. Jika c∈P,
tunjukkan bahwa terdapat suatu lingkungan V
δ
(c)⊆P.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 164
11. Jika f dan g kontinu pada R, misalkan pula S = {x∈R : f(x) ≥ g(x)}. Jika (s
n
)⊆S dan lim
(s
n
) = s, tunjukkan bahwa s∈S.
12. Suatu fungsi f : R → R dikatakan aditif jika f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x,y∈R.
Buktikan bahwa jika f kontinu pada suatu titik x
0
, maka fungsi itu kontinu pada setiap ti-
tik dalam R. (Lihat Latihan 4.2.12.)
13. Misalkan f fungsi aditif kontinu pada R. Jika c = f(1), tunjukkan bahwa kita mempunyai
f(x) = cx untuk semua x∈R. [Petunjuk : Pertama-tama tunjukkan bahwa jika r suatu bi-
langan rasional, maka f(r) = cr.]
14. Misalkan g : R → R memenuhi hubungan g(x + y) = g(x)g(y) untuk semua x,y∈R. Tun-
jukkan bahwa jika g kontinu pada x = 0, maka g kontinu pada setiap titik dalam R. Juga
jika kita mempunyai g(a) = 0 untuk suatu a ∈R, maka g(x) = 0 untuk semua x∈R.
15. Misalkan f,g : R → R kontinu pada suatu titik c, dan h(x) = sup{f(x), g(x)} untuk x∈R.
Tunjukkan bahwa h(x) = ½(f(x) + g(x)) + ½¦f(x) – g(x)¦ untuk semua x∈R. Gunakan
hasil ini untuk menunjukkan bahwa h kontinu pada c.
16. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R terbatas dan kontinu pada I. Definisikan g : I → R den-
gan g(x) = sup{f(t) : a ≤ t ≤ b} untuk semua x∈I. Buktikan bahwa g kontinu pada I.
PASAL 5.3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval
Fungsi-fungsi yang kontinu pada interval-interval mempunyai sejumlah sifat
penting yang tidak dimiliki oleh fungsi kontinu pada umumnya. Dalam pasal ini kita
akan memperlihatkan beberapa hasil yang agak mendalam yang dapat dipandang
penting, dan yang akan diterapkan pada bagian-bagian selanjutnya.
5.3.1 Definisi Suatu fungsi f : A → R dikatakan terbatas pada A, jika terda-
pat M > 0 sedemikan sehingga ¦f(x)¦ ≤ M untuk semua x∈A.
Dengan kata lain, suatu fungsi dikatakan terbatas jika range-nya merupakan suatu
himpunan terbatas dalam R. Kita mencatat bahwa suatu fungsi kontinu tidak perlu terbatas.
Contohnya, fungsi f(x) = 1/x adalah fungsi kontinu pada himpunan A = {x∈R : x > 0}. Akan
tetapi, f tidak terbatas pada A. Kenyataannya, f(x) = 1/x tidak terbatas apabila dibatasi pada B
= {x∈R : 0 < x < 1}. Akan tetapi, f(x) = 1/x terbatas apabila dibatasi untuk himpunan C =
{x∈R : 1 ≤ x}, meskipun himpunan C tidak terbatas.
Pendahuluan
Analisis Real I 165
5.3.2 Teorema Keterbatasan Misalkan I = [a,b] suatu interval tertutup dan
terbatas dan misalkan f : I → R kontinu pada I. Maka f terbatas pada I.
Bukti. Andaikan f tidak terbatas pada I. Maka, untuk sebarang n∈N terdapat
suatu bilangan x
n
∈I sedemikian sehingga ¦f(x
n
)¦ > n. Karena I terbatas, barisan X =
(x
n
) terbatas. Oleh karena itu, menurut Teorema Bolzano-Weiestrass 3.4.7 bahwa ter-
dapat subbarisan X‘ = (
r
n
x ) dari X yang konvergen ke x. Karena I tertutup dan unsur-
unsur X’ masuk kedalam I, maka menurut Teorema 3.2.6, x∈I. Karena f kontinu pada
x, dengan demikian barisan (f(
r
n
x )) konvergen ke f(x). Kita selanjutnya menyimpul-
kan dari Teorema 3.2.2 bahwa kekonvergenan barisan (f(
r
n
x )) mesti terbatas. Tetapi
ini suatu kontradiksi karena
¦f(
r
n
x )¦ > n
r
≥ r untuk r∈N
Oleh karena itu pengandaian bahwa fungsi kontinu f tidak terbatas pada interval tertu-
tup dan terbatas I menimbulkan kontradiksi.
5.3.3 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. Kita katakan f mempunyai
suatu maksimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik x
*
∈A sedemikian se-
hingga
f(x
*
) ≥ f(x) untuk semua x∈A.
Kita katakan f mempunyai suatu minimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik
x
*
∈A sedemikian sehingga
f(x
*
) ≤ f(x) untuk semua x∈A.
Kita katakan bahwa x
*
suatu titik maksimum mutlak untuk f pada A, dan x
*
suatu
titik minimum mutlak dari f pada A, jika titik-titik itu ada.
Kita perhatikan bahwa suatu fungsi kontinu pada himpunan A tidak perlu mempun-
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 166
yai suatu maksimum mutlak atau minimum mutlak pada himpunan tersebut. Sebagai contoh,
f(x) = 1/x, yang tidak mempunyai baik titik maksimum mutlak maupun minimum mutlak
pada himpunan A = {x∈R : x > 0}. (Lihat Gambar 5.3.1). Tidak adanya titik maksimum ab-
solut untuk f pada A karena f tidak terbatas diatas pada A, dan tidak ada titik yang mana f
mencapai nilai 0 = inf{f(x) : x∈A}. Fungsi yang sama tidak mempunyai baik suatu mak-
simum mutlak maupun minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : 0 < x < 1},
sedangkan fungsi ini mepumyai nilai maksimum mutlak dan juga minimum mutlak apabila
dibatasi pada himpunan {x∈R : 1 ≤ x ≤ 2}. Sebagai tambahan, f(x) = 1/x mempunyai suatu
maksimum mutlaktetapi tidak mempunyai minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan
{x∈R : x ≥ 1}, tetapi tidak mempunyai maksimum mutlak dan tidak mempunyai nilai mini-
mum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : x > 1}.

GAMBAR 5.3.1 Grafik fungsi f(x) = 1/x (x > 0)
Jika suatu fungsi mempunyai suatu titik maksimum mutlak, maka titik ini ti-
dak perlu ditentukan secara tunggal. Sebagai contoh, fungsi g(x) = x
2
didefinisikan
untuk x∈A = [-1,+1] mempunyai dua titik x = !1 yang memberikan titik maksimum
pada A, dan titik tunggal x = 0 menghasilkan minimum mutlaknya pada A. (Lihat
Gambar 5.3.2.) Untuk memilih suatu contoh ekstrim, fungsi konstan h(x) = 1 untuk
x∈R adalah sedemikian sehingga setiap titik dalam R merupakan titik maksimum
mutlak dan sekaligus titik minimum mutlak untuk f.
5.3.4 Teorema Maksimum-Minimum Misalkan I = [a,b] interval tertutup
dan terbatas dan f : I → R kontinu pada I. Maka f mempunyai maksimum mutlak dan
minimum mutlak pada I.
Bukti. Pandang himpunan tak kosong f(I) = {f(x) : x∈I} nilai-nilai dari f pada
I. Dalam Teorema 5.3.2 sebelumnya telah diperlihatkan bahwa f(I) merupakan sub-
Pendahuluan
Analisis Real I 167
himpunan dari R yang terbatas. Misalkan s
*
= sup f(I) dan s
*
= inf f(I). Kita claim
bahwa terdapat titik-titik x
*
dan x
*
sedemikian sehingga s
*
= f(x
*
) dan s
*
= f(x
*
). Kita
akan memperlihatkan bahwa keberadaan titik x
*
, meninggalkan pembuktian eksistensi
dari x
*
untuk pembaca.

GAMBAR 5.3.2 Grafik fungsi g(x) = x
2
(¦x¦ ≤ 1)
Karena s
*
= sup f(I), jika n∈N, maka s
*
- 1/n bukan suatu batas atas dari him-
punan f(I). Akibatnya terdapat bilangan real x
n
∈I sedemikian sehingga
(#) s
*
-
n
1
< f(x
n
) ≤ s
*
untuk n∈N.
Karena I terbatas, barisan X = (x
n
) terbatas. Oleh karena itu, dengan menggunakan
Teorema Bolzano-Weiestrass 3.4.7, terdapat subbarisan X‘ = (
r
n
x ) dari X yang kon-
vergen ke suatu bilangan x
*
. Karena unsur-unsur dari X’ termasuk dalam I = [a,b],
maka mengikuti Teorema 3.2.6 bahwa x
*
∈I. Oleh karena itu f kontinu pada x
*
dengan
demikian lim (f(
r
n
x )) = f(x
*
). Karena itu mengikuti (#) bahwa
s
*
-
r
n
1
< f(
r
n
x ) ≤ s
*
untuk r∈N,
kita menyimpulkan dari Teorema Apit 3.2.7 bahwa lim (f(
r
n
x )) = s
*
. Oleh karena itu
kita mempunyai
f(x
*
) = lim (f(
r
n
x )) = s
*
= sup f(I).
Kita simpulkan bahwa x
*
adalah suatu titik maksimum mutlak dari f pada I.
Hasil berikut memberikan suatu dasar untu lokasi akar dari fungsi-fungsi kon-
tinu. Pembuktiannya memberikan juga suatu algoritma untuk pencarian akar dan da-
pat dengan mudah diprogram untuk suatu komputer. Suatu alternatif pembuktian dari
teorema ini ditunjukkan dalam Latihan 5.3.8.
5.3.5 Teorema Lokasi Akar Misalkan I suatu interval dan f : I → R fungsi
kontinu pada I. Jika α < β bilangan-bilangan dalam I sedemikian sehingga f(α) < 0 <
f(β) (atau sedemikian sehingga f(α) > 0 > f(β)), maka terdapat bilangan c∈(α,β)
sedemikian sehingga f(c) = 0.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 168
Bukti. Kita asumsikan bahwa f(α) < 0 < f(β). Misalkan I
1
= [α,β] dan γ = ½(α
+ β). Jika f(γ) = 0 kita ambil c = γ dan bukti lengkap. Jika f(γ) > 0 kita tetapkan α
2
=
α, β
2
= γ, sedangkan jika f(γ) < 0 kita tetapkan α
2
= γ, β
2
= β. Dalam kasus apapun,
kita tetapkan I
2
= [α
2

2
], dimana f(α
2
) < 0 dan f(β
2
) > 0. Kita lanjutkan proses biseksi
ini.
Anggaplah bahwa kita telah mempunyai interval-interval I
1
, I
2
, …, I
k
= [α
k

k
]
yang diperoleh dengan biseksi secara berturut-turut dan sedemikian sehingga f(α
k
) < 0
dan f(β
k
) > 0. Misalkan γ
k
= ½(α
k
+ β
k
). Jika f(γ
k
) = 0 kita ambil c = γ
k
dan bukti
lengkap. Jika f(γ
k
) > 0 kita tetapkan α
k+1
= α
k
, β
k+1
= γ
k
, sedangkan jika f(γ
k
) < 0 kita
tetapkan α
k+1
= γ
k
, β
k+1
= β
k
. Dalam kasus apapun, kita tetapkan I
k+1
= [α
k+1

k+1
],
dimana
f(α
k+1
) < 0 dan f(β
k+1
) > 0.
Jika proses ini diakhiri dengan penetapan suatu titik γ
n
sedemikian sehingga f(γ
n
) =0,
pembuktian selesai. Jika proses ini tidak berakhir, kita memperoleh suatu barisan
nested dari interval-interval tutup I
n
= [α
n

n
], n∈N. Karena interval-interval ini
diperoleh dengan biseksi berulang, kita mempunyai β
n
- α
n
= (β - α)/2
n – 1
. Mengikuti
Sifat Interval Nested 2. 6.1 bahwa terdapat suatu titik c dalam I
n
untuk semua n∈N.
Karena α
n
≤ c ≤ β
n
untuk semua n∈N, kita mempunyai 0 ≤ c - α
n
≤ β
n
- α
n
= (β -
α)/2
n – 1
, dan 0 ≤ β
n
– c ≤ β
n
- α
n
= (β - α)/2
n – 1
. Dari sini diperoleh bahwa c = lim

n
) dan c = lim (β
n
). Karena f kontinu pada c, kita mempunyai
lim (f(α
n
)) = f(c) = lim (f(β
n
)).
Karena f(β
n
) ≥ 0 untuk semua n∈N, maka mengikuti Teorema 3.2.4 bahwa f(c) = lim
(f(β
n
)) ≥ 0. Juga Karena f(α
n
) ≤ 0 untuk semua n∈N, maka mengikuti hasil yang sama
(gunakan –f) bahwa f(c) = lim (f(α
n
)) ≤ 0. Oleh karena itu kita mesti mempunyai f(c) =
0. Akibatnya c merupakan akar dari f.
Hasil berikut adalah generalisasi dari teorema sebelumnya. Ini menjamin
bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval memuat sejumlah bilangan yang ma-
suk diantara dua nilainya.
Pendahuluan
Analisis Real I 169
5.3.6 Teorema Nilai Antara Bolzano Misalkan I suatu interval dan f : I →
R kontinu pada I. Jika a, b∈I dan jika k∈R memenuhi f(a) < k < f(b), maka terdapat
suatu titik c∈I antara a dan b sedemikian sehingga f(c) = k.
Bukti. Anggaplah a < b dan misalkna g(x) = f(x) – k; maka g(a) < 0 < g(b).
Menurut Teorema Lokasi Akar 5.3.5 terdapat suatu titik c dengan a < c < b
sedemikian sehingga 0 = g(c) = f(c) – k. Oleh karena itu f(c) = k.
Jika b < a, misalkan h(x) = k – f(x) dengan demikian h(b) < 0 < h(a). Oleh
karena itu terdapat titik c dengan b < c < a sedemikian sehingga 0 = h(c) = k – f(c),
dari sini f(c) = k.
5.3.7 Akibat Misalkan I = [a,b] suatu interval tutup dan terbatas. Misalkan
pula f : I → R kontinu pada I. Jika k∈R sebarang bilangan yang memenuhi
inf f(I) ≤ k ≤ sup f(I)
maka terdapat suatu bilangan c∈I sedemikian sehingga f(c) = k.
Bukti. Ini mengikut pada Teorema MaksimumMinimum 5.3.4 bahwa terda-
pat titik-titik c
*
dan c
*
dalam I sedemikian sehingga
inf f(I) = f(c
*
) ≤ k ≤ f(c
*
) = sup f(I).
Sekarang kesimpulan mengikut pada Teorema 5.3.6.
Teorema berikut ini meringkaskan hasil utama dari pasal ini. Teorema ini
menyatakan bahwa peta dari suatu interval tertutup dan terbatas dibawah suatu fungsi
kontinu juga interval tertutup dan terbatas. Titik-titik ujung dari interval peta adalah
nilai maksimum mutlak dan minimum mutlak dari fungsi, dan pernyataan bahwa se-
mua nilai antara nilai maksimum dan nilai minimum masuk dalam interval peta
adalah suatu cara dari pertimbangan Teorema Nilai Antara Bolzano.
5.3.8 Misalkan I = [a,b] suatu interval tutup dan terbatas. Misalkan pula f : I
→ R kontinu pada I. Maka himpunan f(I) = {f(x) : x∈I} adalah interval tutup dan ter-
batas.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 170
Bukti. Jika kita memisalkan m = inf f(I) dan M = sup f(I), maka mengetahui
dari Teorema Maksimum-Minimum 5.3.4 bahwa m dan M masuk dalam f(I). Selain
itu, kita mempunyai f(I) ⊆ [m,M]. Di pihak lain, jika k sebarang unsur dari [m,M],
maka menurut Teotema Akibat sebelumnya bahwa terdapat suatu titik c∈I sedemikian
sehingga k = f(c). Dari sini, k∈f(I) dan kita menyimpulkan bahwa [m,M]⊆f(I). Oleh
karena itu, f(I) adalah interval [m,M].

GAMBAR 5.3.3 f(I) = [m,M]
Catatan. Jika I = [a,b] suatu interval dan f : I → R kontinu pada I, kita mem-
punyai bukti bahwa f(I) adalah interval [m,M]. Kita tidak mempunyai bukti (dan itu
tidak selalu benar) bahwa f(I) adalah interval [f(a),f(b)]. (ihat Gambar 5.3.3.)
Teorema sebelumnya adalah suatu teorema “pengawetan” dalam pengertian,
teorema ini menyatakan bahwa peta kontinu dari suatu interval tutup dan terbatas
adalah himpunan yang bertipe sama. Teorema berikut memperluas hasil ini untuk in-
terval secara umum. Akan tetapi, akan dicatat bahwa meskipun peta kontinu dari
suatu interval adalah juga suatu interval, tidak benar bahwa interval peta perlu mem-
punyai bentuk sama seperti interval domain. Sebagai contoh, peta kontinu dari inter-
m
f(a)
b
a
M
f(b)
x
*
x
*
Pendahuluan
Analisis Real I 171
val buka tidak perlu suatu interval buka, dan peta kontinu dari suatu interval tertutup
tak terbatas tidak perlu interval tertutup. Memang, jika f(x) = 1/(x
2
+ 1) untuk xεR,
maka f kontinu pada R [lihat Contoh 5.2.4(b)]. Mudah untuk melihat bahwa jika I
1
=
(-1,1), maka f(I
1
) = (½,1], yang mana bukan suatu interval buka. Juga, jika I
2
= [0,∞),
maka f(I
2
) = (0,1] yang mana bukan interval tutup. (Lihat Gambar 5.3.4.)
Untuk membuktikan Teorema Pengawetan Interval 5.3.10, kita perlu lemma
pencirian interval berikut.

GAMBAR 5.3.4 Grafik fungsi f(x) = 1/(x
2
+ 1) (x∈R)
5.3.9 Lemma Misalkan S⊆R suatu himpunan tak kosong dengan sifat
(*) jika x,y∈S dan x < y, maka [x,y]⊆S.
Maka S suatu interval.
Bukti. Kita akan menganggap bahwa S mempunyai sekurang-kurangnya dua
titik. Terdapat empat kasus untuk diperhatikan : (i) S terbatas, (ii) S terbatas diatas
tetapi tidak terbatas dibawah, (iii) ) S terbatas dibawah tetapi tidak terbatas diatas, dan
(iv) S tidak terbatas baik diatas maupun dibawah.
(i) Misalkan a = inf S dan b = sup S. Jika s∈S maka a ≤ s ≤ b dengan
demikian s∈[a,b]; karena s∈S sebarang, kita simpulkan bahwa S⊆[a,b].
Dipihak lain kita claim bahwa (a,b)⊆S. Karena jika z∈(a,b), maka z bukan
suatu batas bawah dari S dengan demikian terdapat x∈S dengan x < z. Juga z ukan
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 172
suatu batas atas darin S dengan demikian terdapat y∈S dengan z < y. Akibatnya,
z∈[x,y] dan sifat (*) mengakibatkan z∈[x,y]⊆S. Karena z unsur sebarang dalam (a,b),
maka disimpulkan bahwa (a,b) ⊆ S.
Jika a∉S dan b∉S, maka kita mempunyai S = (a,b); jika a∉S dan b∈S kita
mempunyai S = (a,b]; jika a∈S dan b∉S kita mempunyai S = [a,b); dan jika a∈S dan
b∈S kita mempunyai S = [a,b].
(ii) Misalkan b = sup S. Jika s∈S maka s ≤ b dengan demikian kita mesti
mempunyai S⊆(-∞,b]. Kita claim bahwa (-∞,b)⊆S. Karena, jika z∈(-∞,b), argumen
yang diberikan (i) mengakibatkan terdapat x,y∈S sedemikian sehingga [x,y]⊆S. Oleh
karena itu (-∞,b)⊆S.
Jika b∉S, maka kita mempunyai S = (-∞,b); jika b∈S, maka kita mempunyai S
= (-∞,b].
(iii) Misalkan a = inf S dan memperlihatkan seperti dalam (ii). Dalam ka-
sus ini kita mempunyai S = (a,∞) jika a∉S, dan S = [a,∞) jika a∈S.
(iv) Jika z∈R, maka argumen yang diberikan pada (i) mengakibatkan
bahwa terdapat x,y∈S sedemikian sehingga z∈[x,y]⊆S. Oleh karena itu R⊆S, dengan
demikian S = (-∞,∞).
Jadi, dalam semua kasus, S merupakan suatu interval.
5.3.10 Teorema Pengawetan Interval Misalkan I suatu interval dan f : I →
R kontinu pada I. Maka himpunan f(I) merupakan suatu interval.
Bukti. Misalkan α,β∈f(I) dengan α < β; maka terdapat titik-titik a,b∈I
sedemikian sehingga α = f(a) dan β = f(b). Selanjutnya, menurut Teorema Nilai
Antara Bolzano 5.3.6 bahwa jika k∈(α,β) maka terdapat suatu c∈I dengan k =
f(c)∈f(I). Oleh karena itu [α,β]⊆f(I), meninjukkan bahwa f(I) memiliki sifat (*) pada
lemma sebelumnya. Oleh karena itu f(I) merupakan suatu interval.
Pendahuluan
Analisis Real I 173
Latihan-latihan
1. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R fungsi kontinu sedemikian sehingga f(x) > 0 untuk
setiap x∈I. Buktikan bahwa terdapat suatu α > 0 sedemikian sehingga f(x) ≥ α untuk se-
mua x∈I.
2. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R dan g : I → R fungsi kontinu pada I. Tunjukkan bahwa
himpunan E = {x∈I : f(x) = g(x)} mempunyai sifat bahwa jika (x
n
)⊆E dan x
n
→ x
0
, maka
x
0
∈E.
3. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I sedemikian sehingga untuk setiap
x dalam I terdapat y dalam I sedemikian sehingga ¦f(y)¦ ≤ ½¦f(x)¦. Buktikan bahwa ter-
dapat suatu titik c dalam I sedemikian sehingga f(c).
4. Tunjukkan bahwa setiap polinomial derajat ganjil dengan koefisien real mempunyai pal-
ing sedikit akar real.
5. Tunjukkan bahwa polinomial p(x) = x
4
+ 7x
3
– 9 mempunyai paling sedikit dua akar real.
Gunakan kalkulator untuk menemukan akar-akar ini hingga dua tempat desimal.
6. Misalkan f kontinu pada interval [0,1] ke R dan sedemikian sehingga f(0) = f(1). Bukti-
kan bahwa terdapat suatu titik c dalam [0,½] sedemikian sehingga f(c) = f(c + ½). [Petun-
juk : Pandang g(x) = f(x) – f(x +½).] Simpulkan bahwa , sebarang waktu, terdapat titik-
titik antipodal pada equator bumi yang mempunyai temperatur yang sama.
7. Tunjukkan bahwa persamaan x = cos x mempunyai suatu solusi dalam interval [0,π/2].
Gunakan prosedur biseksi dalam pembuktian Teorema Pencarian Akar dan kalkulator un-
tuk menemukan suatu solusi oproksimasi dari persamaan ini, teliti sampai dua tempat de-
simal.
8. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I dan misalkan f(a) < 0, f(b) > 0.
Misalkan pula W = {x∈I : f(x) < 0}, dan w = sup W. Buktikan bahwa f(w) = 0. (Ini
memberikan suatu alternatif pembuktian Teorema 5.3.5.)
9. Misalkan I = [0,π/2], dan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = sup {x
2
,cos x} untuk x∈I.
Tunjukkan terdapat suatu titik minimum mutlak x
0
∈I untuk f pada I. Tunjukkan bahwa x
0

merupakan suatu solusi untuk persamaan cos x = x
2
.
10. Andaikan bahwa f : R → R kontinu pada R dan bahwa f
x −∞ →
lim = 0 dan f
x ∞ →
lim = 0.
Buktikan bahwa f terbatas pada R dan mencapai maksimum atau minimum pada R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 174
Berikan contoh untuk menunjukkan bahwa maksimum dan minimum, keduanya, tidak
perlu dicapai.
11. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan β∈R. Tunjukkan bahwa jika x
0
∈R sedemikian
sehingga f(x
0
) < β, maka terdapat suatu lingkungan-δ U dari x
0
sedemikian sehingga f(x)
< β untuk semua x∈U.
12. Ujilah bahwa interval-interval buka [atau, tutup] dipertakan oleh f(x) = x
2
untuk x∈R
pada interval-interval buka [atau, tutup].
13. Ujilah pemetaan dari interval-interval buka [atau, tutup] dibawah fungsi-fungsi g(x) =
1/(x
2
+ 1) dan h(x) = x
3
untuk x∈R.
14. Jika f : [0,1] → R kontinu dan hanya mempunyai nilai-nilai rasional [atau, nilai-nilai
irasional], mesti f fungsi konstan.
15. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R suatu fungsi (tidak perlu kontinu) dengan sifat bahwa
untuk setiap x∈I, fungsi f terbatas pada suatu lingkungan ( ) x V
x
δ
dari x (dalam penger-
tian pada Definisi 4.2.1). Buktikan bahwa f terbatas pada I.
16. Misalkan J = (a,b) dan g : J → R fungsi kontinu dengan sifat bahwa untuk setiap x∈J,
fungsi g terbatas pada suatu lingkungan ( ) x V
x
δ
dari x. Tunjukkan bahwa g tidak perlu
terbatas pada J.
PASAL 5.4 Kekontinuan Seragam
Misalkan A⊆R dan f : A → R. Telah dilihat pada Teorema 5.1.3 bahwa pern-
yataan-pernyataan berikut ini ekivalen :
(i) f kontinu pada setiap titik u∈A;
(ii) diberikan ε > 0 dan u∈A, terdapat δ(ε,u) > 0 sedemikian sehingga untuk
semua x∈A dan ¦x - u¦ < δ(ε,u), maka ¦f(x) – f(u)¦ < ε.
Suatu hal kita ingin menekankan disini bahwa, secara umum, δ bergantung pada ε >
0 dan u∈A. Fakta bahwa δ bergantung pada u adalah suatu refleksi bahwa fungsi f
dapat diubah nilai-nilainya dengan cepat dekat titik-titik tertentu dan dengan lambat
dekat dengan nilai-nilai lain. [Sebagai contoh, pandang f(x) = sin(1/x) untuk x > 0;
lihat Gambar 4.1.3.]
Pendahuluan
Analisis Real I 175
Sekarang, sering terjadi bahwa fungsi f sedemikian sehingga δ dapat dipilih
tidak bergantung pada titik u∈A dan hanya bergantung pada ε. Sebagai contoh, jika
f(x) = 2x untuk semua x∈R, maka
¦f(x) – f(u)¦ = 2¦x - u¦,
dan dengan demikian kita dapat memilih δ(ε,u) = ε/2 untuk semua ε > 0, u∈R (Men-
gapa?)
Di pihak lain jika kita memandang g(x) = 1/x unuk x∈A {x∈R : x > 0}, maka
(1) g(x) – g(u) =
ux
x u −
.
Jika u∈A diberikan dan jika kita memilih
(2) δ(ε,u) = inf {½u, ½u
2
ε},
maka jika ¦x - u¦ < δ(ε,u) kita mempunyai ¦x - u¦ < ½u dengan demikian ½u < x <
2
3
u, dimana berarti bahwa 1/x < 2/u. Jadi, jika ¦x - u¦ < ½u, ketaksamaan (1)
menghasilkan ketaksamaan
(3) ¦g(x) – g(u)¦ ≤ (2/u
2
)¦x - u¦.
Akibatnya, jika ¦x - u¦ < δ(ε,u), ketaksamaan (3) dan definisi (2) mengakibatkan
¦g(x) – g(u)¦ < (2/u
2
)(½u
2
ε) = ε
Kita telah melihat bahwa pemilihan δ(ε,u) oleh formula (2) “works” dalam pengertian
bahwa pemilihan itu memungkinkan kita untuk memberikan nilai δ yang akan men-
jamin bahwa ¦g(x) – g(u)¦ < ε apabila ¦x - u¦ < δ dan x,u∈A. Kita perhatikan bahwa
nilai δ(ε,u) yang diberikan pada (2) tidak memunculkan satu nilai δ(ε) > 0 yang akan
“work” untuk semua u > 0 secara simultan, karena inf{δ(ε,u) : u > 0} = 0.

Aljabar Himpunan
Analisis Real I 176
GAMBAR 5.4.1 g(x) = 1/x (x > 0)

Suatu tanda bagi pembaca akan mempunyai pengamatan bahwa terdapat pili-
han lain yang dapat dibuat untuk δ. (Sebagai contoh kita juga dapat memilih δ
1
(ε,u) =
inf{
3
1
u,
3
2
u
2
ε}, sebagaimana pembaca dapat tunjukkan; akan tetapi kita masih mem-
punyai inf{δ(ε,u) : u > 0} = 0.) Kenyataannya, tidak ada cara pemilihan satu nilai δ
yang akan “work” untuk semua u > 0 untuk fungsi g(x) = 1/x, seperti kita akan lihat.
Situasi di atas diperlihatkan secara grafik dalam Gambar 5.4.1 dan 5.4.2 di-
mana, untuk lingkungan-ε yang diberikan sekitar f(2) = ½ dan f(½) = 2, sesuai den-
gan nilai maksimum dari δ terlihat sangat berbeda. Seperti u menuju 0, nilai δ yang
diperbolehkan menuju 0.
5.4.1 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. Kita katakan f kontinu
seragam pada A jika untuk setiap ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika
x,u∈A sebarang bilangan yang memenuhi ¦x - u¦ < δ(ε), maka ¦f(x) – f(u)¦ < ε.
Ini jelas bahwa jika f kontinu seragam pada A, maka f kontinu seragam pada
setiap titk dalam A. Akan tetapi, secara umum konversnya tidak berlaku, sebagaimana
telah ditunjukkan oleh fungsi g(x) = 1/x pada himpunan A = {x∈R : x > 0}.
Pengertian di atas berguna untuk memformulasi syarat ekuivalensi untuk
mengatakan bahwa f tidak kontinu seragam pada A. Kita akan memberikan kriteria
demikian dalam hasil berikut, ditinggalkan pembuktiannya seagai latihan bagi pem-
baca.
5.4.2 Kriteria Kekontinuan tidak Seragam Misalkan A⊆R dan f : A →
R. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen :
(i) f tidak kontinu seragam pada A;
(ii) Terdapat ε
0
> 0 sedemikian sehingga untuk setiap δ > 0 terdapat titik-
titik x
δ
, u
δ
dalam A sedemikian sehingga ¦x
δ
- u
δ
¦ < δ dan ¦f(x
δ
) – f(u
δ
)¦ ≥ ε
0
.
Pendahuluan
Analisis Real I 177
(iii) Terdapat ε
0
> 0 dan dua barisan (x
n
) dan (u
n
) dalam A sedemikian se-
hingga lim (x
n
– u
n
) = 0 dan ¦f(x
n
) – f(u
n
)¦ ≥ ε
0
untuk semua n∈N.
Kita dapat menggunakan hasil ini untuk menunjukkan bahwa g(x) = 1/x kon-
tinu tidak seragam pada A = {x∈R : x > 0}. Karena, jika x
n
= 1/n dan u
n
= 1/(n + 1),
maka kita mempunyai lim (x
n
– u
n
) = 0, tetapi ¦g(x) – g(u)¦ = 1 untuk semua n∈N.

GAMBAR 5.4.1 g(x) = 1/x (x > 0)

Sekarang kita menyajikan suatu hasil penting yang menjamin bahwa suatu
fungsi kontinu pada interval tertutup dan terbatas I adalah kontinu seragam pada I.
5.4.3 Teorema Kekontinuan Seragam Misalkan I suatu interval tutup dan
terbatas dan f : I → R kontinu pada I. Maka f kontinu seragam pada I.
Bukti. Jika f tidak kontinu seragam pada I maka menurut hasil sebelumnya,
terdapat ε
0
> 0 dan dua barisan (x
n
) dan (u
n
) dalam A sedemikian sehingga ¦x
n
- u
n
¦ <
1/n dan ¦f(x
n
) – f(u
n
)¦ > ε
0
untuk semua n∈N. Karena I terbatas, barisan (x
n
) terbatas;
menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3.4.7 terdapat subbarisan (
k
n
x ) dari (x
n
) yang
konvergen ke suatu unsur z. Karena I tertutup, limit z masuk dalam I, menuurt Teo-
rema 3.2.6. Ini jelas bahwa subbarisan yang bersesuaian (
k
n
u ) juga konvergen ke z,
karena
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 178
¦
k
n
u - z¦ ≤ ¦
k
n
u -
k
n
x ¦ + ¦
k
n
x - z¦.
Sekarang jika f kontinu pada titik z, maka barisan (f(x
n
)) dan (f(u
n
)) mesti
konvergen ke f(z). Akan tetapi ini tidak mungkin karena
¦f(x
n
) – f(u
n
)¦ ≥ ε
0

untuk semua n∈N. Jadi hipotesis bahwa f tidak kontinu seragam pada interval tutup
dan terbatas I mengakibatkan f tidak kontinu pada suatu titik z∈I. Akibatnya, jika f
kontinu pada setiap titik dalam I, maka f kontinu seragam pada I.
Fungsi-fungsi Lipschitz
Jika suatu fungsi kontinu seragam diberikan pada suatu himpunan yang meru-
pakan interval tidak tertutup dan terbatas, maka kadang-kadang sulit untuk menun-
jukkan kekontinuan seragamnya. Akan tetapi, terdapat suatu syarat yang selalu terjadi
yang cukup untuk menjamin kekontinuan secara seragam.
5.4.4 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. Jika terdapat suatu konstanta
K > 0 sedemikian sehingga
¦f(x) – f(u)¦ ≤ K¦x - u¦
untuk semua x,u∈A, maka f dikatakan fungsi Lipschitz (atau memenuhi syarat
Lipschitz) pada A.
Syarat bahwa suatu fungsi f : I → R pada suatu interval I adalah fungsi
Lipschitz dapat diinterpretasi secara geometri sebagai berikut. Jika kita menuliskan
syaratnya sebagai

( ) ( )
u x
u f x f


≤ K, x,u∈I, x ≠ u,
maka kuantitas dalam nilai mutlak adalah kemiringan segmen garis yang melalui titik-
titik (x,f(x)) dan (u,f(u)). Jadi, suatu fungsi f memenuhi syarat Lipschitz jika dan
hanya jika kemiringan dari semua segmen garis yang menghubungkan dua titik pada
grafik y = f(x) pada I terbatas oleh suatu K.
5.4.5 Teorema Jika f : A → R suatu fungsi Lipschitz, maka f kontinu
seragam pada A.
Pendahuluan
Analisis Real I 179
Bukti. Jika syarat Lipschitz dipenuhi dengan konstanta K, maka diberikan ε >
0 sebarang, kita dapat memilih δ = ε/K. Jika x,u∈A dan memenuhi ¦x - u¦ < δ, maka
¦f(x) – f(u)¦ < K(ε/K) = ε
Oleh karena itu, f kontinu seragam pada A.
5.4.6 Contoh-contoh (a) Jika f(x) = x
2
pada A = [0,b], dimana b suatu kon-
stanta positif, maka
¦f(x) – f(u)¦ = ¦x + u¦¦x -u¦ ≤ 2b¦x - u¦
untuk semua x,u dalam [0,b]. Jadi f memenuhi syarat Lipschitz dengan konstanta K =
2b pada A, dan oleh karena itu f kontinu seragam pada A. Tentu saja, karena fkontinu
pada A yang merupakan interval tertutup dan terbatas, ini dapat juga disimpulkan dari
Teorema Kekontinuan Seragam. (Perhatikan bahwa f tidak memenuhi kondisi
Lipschitz pada interval [0,∞).)
(b) Tidak semua fungsi yang kontinu seragam merupakan fungsi Lipschitz.
Misalkan g(x) = x untuk x dalam interval tertutup dan terbatas I = [0,2]. Karena g
kontinu pada I, maka menurut Teorema Kekontinuan Seragam 5.4.3, g kontinu
seragam pada I. Akan tetapi, tidak terdapat bilaknagn K > 0 sedemikian sehingga
¦g(x)¦ ≤ K¦x¦ untuk semua x∈I. (Mengapa tidak?) Oleh karena itu, g bukan suatu
fungsi Lipschitz pada I.
(c) Teorema Kekontinuan Seragam dan Teorema 5.4.5 kadang-kadang dapat
dikombinasikan untuk memperlihatkan kekontinuan seragam dari suatu fungsi pada
suatu himpunan. Kita pandang g(x) = x pada himpunan A = [0,∞). Kekontinuan
seragam dari g pada interval I = [0,2] mengikuti Teorema Kekontinuan Seragam
seperti dicatat dalam (b). Jika J = [1,∞), maka jika x dan u dalam J, kita mempunyai
¦g(x) – g(u)¦ = ¦ x - u ¦ =
u x
u x
+

≤ ½¦x - u¦
Jadi g suatu fungsi Lipschitz pada J dengan konstanta K = ½, dan dari sini menurut
Teorema 5.4.5, g kontinu seragam pada [1,∞). Karena A = I∪J, ini berarti [dengan
pemilihan δ(ε) = inf{1,δ
I
(ε),δ
J
(ε)}] bahwa g kontinu seragam pada A. Kita tinggalkan
detailnya untuk pembaca.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 180
Teorema Perluasan Kontinu
Kita telah melihat fungsi yang kontinu tapi tidak kontinu seragam pada inter-
val buka; sebagai contoh, fungsi f(x) = 1/x pada interval (0,1). Di pihak lain, dengan
Teorema Kekontinuan Seragam, suatu fungsi yang kontinu pada interval tutup dan
terbatas selalu kontinu seragam. Dengan demikian muncul pertanyaan: Syarat apa
yang diperlukan suatu fungsi untuk kontinu seragam pada suatu interval buka? Jawa-
bannya menampakkan kekuatan dari kekontinuan seragam, karena akan ditunjukkan
bahwa suatu fungsi pada (a,b) kontinu seragam jika dan hanya jika dapat didefinisi-
kan pada titik-titik ujung untuk menghasilkan suatu fungsi yang kontinu pada interval
tertutup. Pertama=tama kita akan menunjukkan suatu hasil sebagai teorema berikut.
5.4.7 Teorema Jika f : A → R kontinu seragam pada suatu A⊆R dan jika
(x
n
) barisan Cauchy dalam A, maka (f(x
n
)) barisan Cauchy dalam R.
Bukti. Misalkan (x
n
) barisan Cauchy dalam A, dan ε > 0 diberikan. Pertama-
tama pilih δ > 0 sedemikian sehingga jika x,u dalam A memenuhi ¦x - u¦ < δ, maka
¦f(x) – f(u)¦ < ε. Karena (x
n
) barisan Cauchy, maka terdapat H(δ) sedemikian se-
hingga ¦x
n
- x
m
¦ < δ untuk semua n,m > H(δ). Dengan pemilihan δ, ini mengakibat-
kan bahwa untuk n,m > H(δ), kita mempunyai ¦f(x
n
) – f(x
m
)¦ < ε. Oleh karena itu ba-
risan (f(x
n
)) barisan Cauchy.
Hasil di atas memberikan kita suatu cara alternatif dalam melihat bahwa f(x) =
1/x tidak kontinu seragam pada (0,1). Kita perhatikan bahwa barisan yang diberikan
oleh x
n
= 1/n dalam (0,1) merupakan barisan Cauchy, tetapi barisan petanya, dimana
f(x
n
) = n untuk semua n∈N bukan barusan Cauchy.
5.4.8 Teorema Perluasan Kontinu Suatu fungsi f kontinu seragam pada
interval (a,b) jika dan hanya jika f dapat didefinisikan pada titik-titik ujung a dan b
sedemikian sehingga fungsi perluasannya kontinu pada [a,b].
Bukti. Suatu fungsi yang kontinu seragam pada [a,b] tentu saja kontinu pada
(a,b), dengan demikian kita hanya perlu membuktikan implikasi sebaliknya.
Pendahuluan
Analisis Real I 181
Misalkan f kontinu seragam pada (a,b). Kita akan menunjukkan bagaimana
memperluas f ke a; argumen untuk b dilakukan dengan cara yang sama. Ini dilakukan
dengan menunjukkan bahwa ) ( lim x f
c x→
= L ada, dan ini diselesaikan dengan peng-
gunaan Kriteria Sekuensial untuk limit. Jika (x
n
) barisan dalam (a,b) dengan lim (x
n
)
= a, maka barisan ini barisan Cauchy, dan dengan demikian konvergen menurut Teo-
rema 3.5.4. Jadi lim (f(x
n
)) = L ada. Jika (u
n
) sebarang barisan lain dalam (a,b) yang
konvergen ke a, maka lim (u
n
- x
n
) = a – a = 0, dengan demikian oleh kekontinuan
seragam dari f kita mempunyai
Lim (f(u
n
)) = lim (f(u
n
) – f(x
n
)) + lim (f(x
n
))
= 0 + L = L.
Karena kita memperoleh nilai L yang sama untuk sebarang barisan yang konvergen ke
a, maka dari Kriteria Sekuensial untuk limit kita menyimoulkan bahwa f mempunyai
limit L pada a. Argumen yang sama digunakan untuk IbI, dengan demikian kita sim-
pulkan bahwa f mempunyai perluasan kontinu untuk interval [a,b].
Karena lim dari f(x) = sin(1/x) pada 0 tidak ada,
kita menegaskan dari Teorema Perluasan Kontinu bahwa fungsi ini tidak kontinu
seragam pada (0,b] untuk sebarang b > 0. Di pihak lain, karena ( ) x x
x
1 sin lim
0 →
= 0 ada,
maka fungsi g(x) = x sin (1/x) kontinu seragam pada (0,b) untuk semua b > 0.
Aproksimasi
Dalam banyak aplikasi adalah penting untuk dapat
mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan suatu fungsi yang memiliki sifat-sifat
dasar. Meskipun terdapat variasi definisi yang dapat digunakan untuk membuat kata
“aproksimasi” lebih tepat, satu diantaranya yang sangat alami (dan juga salah satu
yang terpenting) adalah memaksa bahwa setiap titik dari domain yang diberikan,
fungsi aproksimasinya akan tidak berbeda dari fungsi yang diberikan dengan lebih
kecil dari kesalahan yang ditentukan.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 182
5.4.9 Definisi Misalkan I⊆R suatu interval dan s
: I → R. Maka s dinamakan fungsi tangga jika s hanya mempunyai sejumlah hingga
nilai-nilai yang berbeda, setiap nilai diberikan pada satu atau lebih interval dalam I.
Sebagai contoh, fungsi s : [-2,4] → R didefinisikan
oleh

s(x) =
¦
¦
¦
¦
¹
¦
¦
¦
¦
´
¦
≤ <
≤ ≤ −
< ≤
< <
< ≤
< ≤
, 4 x 3 2,
3, x 1 2,
, 1 3,
, 0 ,
0, 1 - 1,
, 1 2 - 0,
2
1
2
1
2
1
x
x
x
x

merupakan fungsi tangga. (Lihat Gambar 5.4.3)

GAMBAR 5.4.3 Grafik y = s(x)
(
(
(
[
[
[
[
[
[
[
(
(
x
y
Pendahuluan
Analisis Real I 183
Sekarang kita akan menunjukkan bahwa suatu
fungsi kontinu pada suatu interval tertutup dan terbatas I dapat diaproksimasi secara
sebarang dengan fungsi tangga.
5.3.10 Teorema Misalkan I interval tertutup dan
terbatas. Misalkan pula f : I → R kontinu pada I. Jika ε > 0, maka terdapat suatu
fungsi tangga s
ε
: I → R sedemikian sehingga ¦f(x) - s
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Bukti. Karena fungsi f kontinu seragam (menurut
Teorema Kekontinuan Seragam 5.4.3), maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terda-
pat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x,y∈I dan ¦x - y¦ < δ(ε), maka ¦f(x) – f(y)¦ < ε.
Misalkan I = [a,b] dan m∈N cukup besar dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε).
Sekarang kita membagi I = [a,b] ke dalam m interval saling lepas yang panjangnya h;
yaitu I
1
= [a,a+h], dan I
k
= (a+(k-1)h,a+kh] untuk k = 2, … ,m. Karena panjang setiap
subinterval I
k
adalah h < δ(ε), maka selisih antara dua nilai dari f dalam I
k
lebih kecil
dari ε. Sekarang kita definisikan
(4) s
ε
(x) = f(a + kh) untuk x∈I
k
, k = 1, … ,m,
dengan demikian s
ε
adalah konstanta pada setiap interval I
k
. (Kenyataannya bahwa
nilai dari s
ε
pada I
k
adalah nilai dari f pada titik ujung dari I
k
, Lihat Gambar 5.4.4.)
Akibatnya jika x∈I
k
, maka
¦f(x) - s
ε
(x)¦ = ¦f(x) - f(a + kh)¦ < ε.
Oleh karena itu kita mempunyai ¦f(x) - s
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 184

GAMBAR 5.4.4 Aproksimasi dengan fungsi tangga
Perhatikan bahwa pembuktian dari teorema sebe-
lumnya agak lebih dibandingkan dengan pernyataan dalam teorema. Pada ken-
yataannya kita telah membuktikan pernyataan berikut.
5.4.11 Akibat Misalkan I = [a,b] interval tutup
dan terbatas, dan f : I → R kontinu pada I. Jika ε > 0, maka terdapat bilangan asli m
sedemikian sehingga jika kita membagi I dalam m interval saling lepas I
k
yang mem-
punyai panjang h = (b – a)/m, maka fungsi tangga s
ε
didefinisikan pada (4) memenuhi
¦f(x) - s
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Fungsi tangga merupakan fungsi yang memiliki
karakter dasar, akan tetapi tidak kontinu (kecuali dalam kasus trivial). Karena itu ser-
ing diperlukan sekali untuk mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi
kontinu sederhana, bagaimana kita akan menunjukkan bahwa kita dapat mengaprok-
simasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi linear kontinu piecewise (potong demi
potong).
5.4.12 Definisi Misalkan I = [a,b] suatu interval.
Maka suatu fungsi g : I → R dikatakan linear potong demi potong pada I jika I me-
rupakan gabungan dari sejumlah hingga interval saling lepas I
1
, … I
m
, sedemikian se-
hingga pembatasan dari g untuk setiap interval I
k
merupakan fungsi linear.
Remark. Jelas bahwa agar suatu fungsi linear potong demi
potong g kontinu pada I, segmen garis yang membentuk grafik g bertemu pada titik-titik ujung dari
subinterval yang berdekatan I
k
dan I
k
+ 1
k + 1
(k = 1, … , m-1)
Teorema 5.4.13 Misalkan I suatu interval tutup
dan terbatas, dan f : I → R kontinu pada I. Jika ε > 0, maka terdapat suatu fungsi lin-
ear potong-demi-potong kontinu g
ε
: I → R sedemikian sehingga ¦f(x) - g
ε
(x)¦ < ε
untuk semua x∈I.
Pendahuluan
Analisis Real I 185
Bukti. Karena fungsi f kontinu seragam pada I =
[a,b] maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga
jika x,y∈I dan ¦x - y¦ < δ(ε), maka ¦f(x) – f(y)¦ < ε. Misalkan m∈N cukup besar
dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε). Sekarang kita membagi I = [a,b] ke dalam m
interval saling lepas yang panjangnya h; yaitu I
1
= [a,a + h], dan I
k
= (a + (k-1)h,a +
kh] untuk k = 2, … ,m. Pada setiap interval I
k
kita definisikan g
ε
fungsi linear yang
menghubungkan titik-titik
(a + (k – 1)h,f(a + (k – 1)h) dan (a + kh,f(a
+ kh)).
Maka g
ε
fungsi linear potong-demi-potong kontinu pada I. Karena, untuk x∈I
k
nilai
f(x) tidak lebih dari ε dari f(a + (k –1)h) dan f(a + kh), ditinggalkan sebagai latihan
pembaca untuk menunjukkan bahwa ¦f(x) - g
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I
k
; oleh karena
itu ketaksamaan ini berlaku untuk semua x∈I. (Lihat Gambar 5.4.5.)

GAMBAR 5.4.5 Aproksimasi oleh fungsi linear potong-demi-potong
Kita akan menutup pasal ini dengan mengemu-
kakan teorema penting dari Weierstrass mengenai aproksimasi fungsi-fungsi kontinu
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 186
dengan fungsi polinimial. Seperti diharapkan, agar memperoleh suatu aproksimasi
tidak lebih dari suatu ε > 0 yang ditentukan, kita mesti bersedia untuk menggunakan
polinomial sebarang derajat tinggi.
5.4.14 Teorema Aproksimasi Weierstrass Mis-
alkan I = [a,b] dan misalkan f : I → R kontinu. Jika ε > 0 diberikan, maka terdapat
suatu fungsi polinimial p
ε
sedemikian sehingga ¦f(x) - p
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈I.
Terdapat sejumlah pembuktian dari teorema ini.
Sayangnya, semua pembyktiian itu agak berbelit-belit, atau memakai hasil-hasil yang
belum pada pengerjaan kita. Salah satu pembuktian yang paling elementer berdasar-
kan pada teorema berikut yang dikemukakan oleh Serge Bernsteîn, untuk fungsi kon-
tinu pada [0,1]. Diberikan f : [0,1] → R, Bernsteîn mendefinisikan barisan polinomial
:
(5) B
n
(x) = ( )

=


|
|
¹
|

\
|
|
¹
|

\
|
n
k
k n k
x x
k
n
n
k
f
0
1 .
Fungsi polinomial B
n
, yang didefinisikan dalam (5) dinamakan polinomial Bernsteîn
ke-n untuk f; ini adalah suatu polinomial derajat aling tinggi n dan koefisien-
koefisiennya bergantung pada nilai dari fungsi f pada n + 1 titik
0,
n
1
,
n
2
, … ,
n
k
, … ,1,
dan koefisien-koefisien binomial


|
|
¹
|

\
|
k
n
=
)! ( !
!
k n k
n

=
( ) ( )
k
k n k n n
L
L
2 1
1

+ − −

5.4.15 Teorema Aproksimasi Bernsteîn Misal-
kan f : [0,1] → R fungsi konttinu dan misalkan ε > 0. Terdapat n
ε
∈N sedemikian se-
hingga jika n ≥ n
ε
, maka kita mempunyai ¦f(x) – B
n
(x)¦ < ε untuk semua x∈[0,1].
Bukti. Pembuktian Teorema ini diberikan dalam
Elements of Analysis Real, H. 169-172. Disana ditunjukkan bahwa jika δ(ε) > 0
Pendahuluan
Analisis Real I 187
sedemikian sehingga ¦f(x) – f(y)¦ < ε untuk semua x,y∈[0,1] dengan ¦x - y¦ < δ(ε),
dan jika M ≥ ¦f(x)¦ untuk semua x∈[0,1], maka kita dapat memilih
(6) n
ε
=sup{(δ(ε/2)
-4
,M
2

2
}.
Menaksir (6) memberikan informasi tentang seberapa besar n yang mesti kita pilih
agar B
n
mengaproksimasi f tidak melebihi ε.
Teorema Aproksimasi Weierstrass 5.4.14 dapat
diperoleh dari Teorema Aproksimasi Bernsteîn 5.4.15 dengan suatu pengubahan vari-
abel. Secara khusus, kita ganti f : [a,b] → R dengan fungsi F : [0,1] → R yang dide-
finisikan oleh
F(t) = f(a + (b – a)t) untuk t∈[0,1].
Fungsi F dapat diaproksimasi dengan polinmial Bernsteîn untuk F pada interval [0,1],
yang mana selanjutnya menghhasilkan polinomial pada [a,b] yang mengaproksimasi f.
Latihan-latihan
1. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/x kontinu seragam pada himpunan A = [a,∞),
dimana a suatu konstanta positif.
2. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) 1/x
2
kontinu seragam pada A = [1,∞), tetapi tidak
kontinu seragam pada B = (0,∞).
3. Gunakan Kriteria Kekontinuan Tak-Seragam 5.4.2 untuk menunjukkan bahwa
fungsi-fungsi berkut ini tidak kontinu seragam pada himpunan yang diberikan.
(a) f(x) = x
2
A =[0,∞);
(b) g(x) = sin(1/x) B = (0,∞).
4. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/(1 + x
2
) untuk x∈R kontinu seragam pada R
5. Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R, maka f + g juga kon-
tinu seragam pada A.
6. Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R dan jika kedua-duanya
terbatas pada A, maka hasil kali fg juga fungsi kontinu seragam.
7. Jika f(x) = x dan g(x) = sin x, tunjukkan bahwa f dan g kontinu seragam pada R,
tetapi hasil kali fg tidak kontinu seragam pada R.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 188
8. Buktikan bahwa jika f dan g masing-masing kontinu seragam pada R maka fungsi
komposisinya f o g juga kontinu seragam pada R.
9. Jika f kontinu seragam pada A⊆R, dan ¦f(x)¦ ≥ k > 0 untuk semua x∈A, tunjuk-
kan bahwa 1/f kontinu seragam pada A.
10. Buktikan bahwa jika f kontinu seragam pada suatu himpunan A⊆R yang terbatas,
maka f terbatas pada A.
11. Jika g(x) = x untuk x∈[0,1], tunjukkan bahwa tidak terdapat suatu konstanta K
sedemikian sehingga ¦g(x)¦ ≤ K¦x¦ untuk semua x∈[0,1]. Berikan kesimpulan
bahwa g kontinu seragam yang tidak merupakan fungsi Lipschitz pada [0,1].
12. Tunjukkan bahwa jikaf kontinu pada [0,∞) dan kontinu seragam pada [a,∞) untuk
suatu konstanta positif a, maka f kontinu seragam pada [0,∞).
13. Misalkan A⊆R dan f : A → R memiliki difat: untuk setiap ε > 0 terdapat suatu
fungsi g
ε
: A → R sedemikian sehingga g
ε
kontinu seragam pada A dan ¦f(x) -
g
ε
(x)¦ < ε untuk semua x∈A. Buktikan bahwa f kontinu seragam pada A.
14. Suatu fungsi f : R → R dikatakan fungsi periodik pada A jika terdapat suatu
bilangan p > 0 sedemikian sehingga f(x + p) = f(x) untuk semua x∈R. Buktikan
bahwa suatu fungsi periodik kontinu pada R adalah terbatas dan kontinu seragam
pada R.
15. Jika f
0
(x) = 1 untuk x∈[0,1], Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn
untuk f
0
.Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f
0
. [Petunjuk: Teorema
Binomial menyatakan bahwa (a + b)
n
=
k n k
n
k
b a
k
n

=

|
|
¹
|

\
|
0
].
16. Jika f
1
(x) = x untuk x∈[0,1], Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn
untuk f
1
.Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f
1
.
17. Jika f
2
(x) = x
2
untuk x∈(0,1), Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn
untuk f
2
.Tunjukkan bahwa B
n
(x) = (1 –1/n)x
2
+ (1/n)x.
Pendahuluan
Analisis Real I 189
18. Gunakan hasil latihan sebelumnya untuk f
2
, seberapa besarnya n sedemikian se-
hingga polinomial Bernsteîn ke-n B
n
untuk f
2
memenuhi ¦f
2
(x) – B
n
(x)¦ ≤ 0,001
untuk semua x∈[0,1].
Pasal 5.5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers
Ingat kembali bahwa jika A⊆R, maka fungsi f : A → R dikatakan naik pada
A jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A dengan x
1
≤ x
2
berlaku f(x
1
) ≤ f(x
2
). Fungsi f dikatakan
naik secara murni pada A jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A dengan x
1
< x
2
berlaku f(x
1
) <
f(x
2
). Demikian juga, g : A → R dikatakan turun pada A jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A
dengan x
1
≥ x
2
berlaku g(x
1
) ≥ g(x
2
). Fungsi g dikatakan turun secara murni pada A
jika untuk setiap x
1
,x
2
∈A dengan x
1
> x
2
berlaku g(x
1
) > g(x
2
).
Jika suatu fungsi naik atau turun pada A, maka kita katakan fungsi tersebut
monoton pada A. Jika f fungsi naimk murni ayau turun murni pada A, kita katakan
bahwa f monoton murni pada A.
Kita perhatikan bahwa jika f : A → R naik pada A maka g = -f turun pada A;
demikian juga jika ϕ : A → R turun pada A, maka ψ = -ϕ naik pada A.
Dalam pasal ini, kita akan bekerja dengan fungsi-fungsi monoton yang dide-
finisikan pada suatu interval I⊆R. Kita akan mendiskusikan fungsi-fungsi naik secara
eksplisit, tetapi itu jelas bahwa terdapat persesuaian hasil untuk fungsi-fungsi turun.
Hasil-hasil ini dapat diperoleh secara langsung dari hasil-hasil untuk fungsi-fungsi
naik atau dibuktikan dengan argumen yang serupa.
Fungsi monoton tidak perlu kontinu. Sebagai cintoh, jika f(x) = 0 untuk
x∈[0,1] dan f(x) = 1 untuk x∈(1,2], maka f merupakan fungsi naik pada [0,1], tetapi
tidak kontinu pada x = 1. Akan tetapi, hasil berikut ini menunjukkan bahwa suatu
fungsi monoton selalu mempunyai limit-limit sepihak baik limit pihak-kiri maupun
pihak-kanan (lihat Definisi 4.3.1) dalam R pada setiap titik yang bukan titik ujung
dari domainnya.
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 190
5.5.1 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. An-
daikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I. Maka
(i) f
c x − →
lim = sup{f(x) : x∈I, x < c}
(ii) f
c x + →
lim = inf{f(x) : x∈I, x > c}
Bukti. Pertama-tama kita perhatikan jika x∈I dan x < c, maka f(x) ≤ f(c). Dari
sini himpunan {f(x) : x∈I, x < c}, yang mana tidak kosong karena c bukan titik ujung
dari I, terbatas diatas oleh f(c). Jadi ini menunjukkan bahwa supremumnya ada; kita
simbol dengan L. Jika ε > 0 diberikan, maka L - ε bukan suatu batas atas dari him-
punan ini. Dari sini, terdapat y
ε
∈I, y
ε
< c sedemikian sehingga L - ε < f(y
ε
) ≤ L.
Karena f fungsi naik, kita simpulkan bahwa jika δ(ε) = c - y
ε
dan jika 0 < c – y < δ(ε),
maka ), maka y
ε
< y < c dengan demikian
L - ε < f(y
ε
) ≤ f(y) ≤ L
Oleh karena itu f(y) - L < ε bila 0 < c – y < δ(ε). Karena ε > 0 sebarang, kita kata-
kan bahwa (i) berlaku.
Pembuktian bagian (ii) dilakukan dengan cara serupa.
Hasil berikut memberikan kriteria untuk kekontinuan dari fungsi naik f pada
suatu titik c yang bukan titik ujung interval pada mana f didefinisikan.
5.5.2 Akibat Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. An-
daikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini
ekuivalen.
(a) f kontinu pada c.
(b) f
c x − →
lim = f(c) = f
c x + →
lim
(c) sup{f(x) : x∈I, x < c} = f(c) = inf{f(x) : x∈I, x > c}
Pembuktiannya mudah, tinggal mengikuti Teorema 5.5.1 dan 4.3.3. Kita ting-
galkan detailnya untuk pembaca.
Pendahuluan
Analisis Real I 191
Misalkan I suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik. Jika a titik ujung
kiri dari I, maka merupakan suatu latihan untuk menunjukkan bahwa f kontinu pada a
jika dan hanya jika
f(a) = inf{f(x) : x∈I, a < x}
atau jika hanya jika f
a x + →
lim . Syarat yang serupa diterapkan pada suatu titik ujung
kanan dari I, dan untuk fungsi-fungsi turun.

GAMBAR 5.5.1 Lompatan dari f pada c
Jika f : I → R fungsi naik pada I dan jika c bukan suatu titik ujung dari I, kita
definisikan lompatan dari f pada c sebagai j
f
(c) = f
c x + →
lim - f
c x − →
lim . (Lihat Gambar
5.5.1.) Mengikuti Teorema 5.5.1 bahwa
j
f
(c) = inf{f(x) : x∈I, x > c} - sup{f(x) : x∈I, x < c}
untuk suatu fungsi naik. Jika titik ujung kiri a dari I masuk dalam I, kita mendefinisi-
kan lompatan dari f pada a menjadi j
f
(a) = f
a x + →
lim - f(a). Jika titik ujung kanan b
dari I masuk dalam I, kita mendefinisikan lompatan dari f pada b menjadi j
f
(b) =
f(b) - f
b x − →
lim .
5.5.3 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. Jika
c∈I, maka f kontinu pada c jika dan hanya jika j
f
(c) = 0
Bukti. Jika c bukan suatu titik ujung, ini secara mudah mengikuti Akibat
5.5.2. Jika c∈I titik kiri ujung dari I, maka f kontinu pada c jika dan hanya jika f(c) =
{
j
f
(c)
c
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 192
f
c x + →
lim , yang mana ekuivalen dengan j
f
(c) = 0. Cara serupa juga dapat diperoleh un-
tuk kasus c∈I titik ujung kanan dari I.
Sekarang kita akan menunjukkan bahwa bisa terdapat paling banyak sejumlah terhitung titik-
titik dimana fungsi monoton diskontinu.
5.5.4 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi monoton
pada I. Maka himpunan titik-titik D⊆I dimana f diskontinu adalah himpunan terhi-
tung.
Bukti. Kita akan menganggap bahwa f fungsi naik pada I. Mengikuti Teorema
5.5.3 bahwa D = {x∈I : j
f
(x) ≠ 0}. Kita akan memandang kasus bahwa I = [a,b] suatu
interval tertutup dan terbatas, ditinggalkan kasus lain sebagai latihan bagi pembaca.
Pertama-tama kita perhatikan bahwa karena f fungsi naik, maka j
f
(c) ≥ 0 untuk
semua c∈I. Selain itu, jika a ≤ x
1
< … < x
n
≤ b, maka (mengapa?) kita mempunyai
f(a) ≤ f(a) + j
f
(x
1
) < … < j
f
(x
n
) ≤ f(b),
yang mana berarti bahwa
j
f
(x
1
) < … < j
f
(x
n
) ≤ f(b) – f(a).
(Lihat Gambar 5.5.2.) Akibatnya bisa terdapat paling banyak k buah titik dalam I =
[a,b] dimana j
f
(x) ≥ (f(b) – f(a))/k. Kita simpulkan bahwa terdapat paling banyak satu
titik x∈I dimana j
f
(x) ≥ f(b) – f(a); terdapat baling banyak dua titik dalam I dimana
j
f
(x) ≥ (f(b) – f(a))/2; terdapat baling banyak tiga titik dalam I dimana j
f
(x) ≥ (f(b) –
f(a))/3; dan seterusnya. Oleh karena itu terdapat paling banyak sejuemlah terhitung
titik-titik x dimana j
f
(x) > 0. Akan tetapi karena setiap titik dalam D mesti masuk
dalam himpunan ini, kita simpulkan bahwa D himpunan terhitung.
Teorema 5.5.4 beberapa aplikasi yang berguna. Sebagai contoh, diperlihatkan
dalam Latihan 5.2.12 bahwa jika h : R → R memenuhi identitas
(*) h(x + y) = h(x) + h(y) untuk semua x,y∈R
Pendahuluan
Analisis Real I 193
dan jika h kontinu pada satu titik x
0
, maka h kontinu pada setiap titik dalam R. Ini
berarti bahwa jika h merupakan fungsi monotan yang memenuhi (*), maka h mesti
kontinu pada R.

GAMBAR 5.5.2 j
f
(x
1
) + … + j
f
(x
n
) ≤ f(b) – f(a)
Fungsi-fungsi Invers
Sekarang kita akan memandang keberadaan invers suatu fungsi yang kontinu
pada suatu interval I⊆R. Kita ingat kembali (lihat Pasal 1.2) bahwa suatu fungsi f : I
→ R mempunyai fungsi invers jika dan hanya jika f injektif ( = satu-satu); yaitu x,y∈I
dan x ≠ y mengakibatkan bahwa f(x) ≠ f(y). Kita perhatikan bahwa suatu fungsi
monoton murni adalah injektif dan dengan demikian mempunyai invers. Dalam teo-
rema berikut, kita menunjukkan bahwa jika f : I → R fungsi kontinu monoton murni,
maka f mempunyai suatu fungsi invers g pada J = f(I) yang juga fungsi kontinu
monoton murni pada J. Khususnya, jika f fungsi naik murni maka demikian juga den-
gan g, dan jika f fungsi turun murni maka demikian juga g.
{
{
{
{
f(b) - f(a)
f(a)
f(b)
j
f
(x
4
)
j
f
(x
3
)
j
f
(x
2
)
j
f
(x
1
)
x
4
x
3
x
2
x
1
b
a
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 194
5.5.5 Teorema Invers Kontinu Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I→ R
monoton murni dan kontinu pada I. Maka fungsi g invers dari f adalaj fungsi
monoton murni dan kontinu pada J = f(I).

GAMBAR 5.5.3 g(y) ≠ x untuk y∈J
Bukti. Kita pandang kasus f fungsi naik murni, meninggalkan kasus bahwa f
fungsi turun murni untuk pembaca.
Karena f kontinu dan I suatu interval, maka menurut Teorema Pengawetan In-
terval 5.3.10, J = f(I) suatu interval. Selain itu, karena f naik murni pada I, maka f
fungsi injektif pada I; oleh karena itu fungsi g : J → R invers dari f ada. Kita claim
bahwa g naik murni. Memang, jika y
1
< y
2
, maka y
1
= f(x
1
) dan y
2
= f(x
2
) untuk suatu
x
1
, x
2
∈I. Kita mesti mempunyai x
1
< x
2
; untuk hal lain x
1
≥ x
2
, mengakibatkan y
1
=
f(x
1
) ≥ f(x
2
) = y
2
, bertentangan dengan hipotesis bahwa y
1
< y
2
. Oleh karena itu kita
mempunyai
g(y
1
) = x
1
< x
2
= g(x
2
).
Karena y
1
dan y
2
sebarang unsur dalam J dengan y
1
< y
2
, kita simpulkan bahwa g naik
murni pada J.
{
j
g
(c)
c
o .
g(c)
x
J
Pendahuluan
Analisis Real I 195
Tinggal menunjukkan bahwa g kontinu pada J. Akan tetapi, ini merupakan
konsekuensi dati fakta bahwa g(J) = I suatu interval. Memang, jika g diskontinu pada
suatu titik c∈J, maka lompatan dari g pada c tidak nol dengan demikian
g
c x − →
lim < g
c x + →
lim
Jika kita memilih sebarang x ≠ g(c) yang memenuhi g
c x − →
lim < x < g
c x + →
lim , maka x
mempunyai sifat bahwa x ≠ g(y) untuk sebarang y∈J. (Lihat Gambar 5.5.3.) Dari sini
x∉I, yang mana kontradikdi dengan fakta bahwa I suatu interval. Oleh karena itu kita
menyimpulkan bahwa g kontinu pada J.
Fungsi Akar ke-n
Kita kan menggunakan Teorema Invers Kontinu 5.5.5 untuk fungsi pangkat
ke-n. Kita perlu membedakan atas dua kasus: (i) n genap, dan (ii) n ganjil.

GAMBAR 5.5.4 Grafik dari f(x) = x
n
(x ≥ 0, n genap)
(i) n genap. Agar diperoleh suatu fungsi yang monoton murni, kita batasi
perhatian kita untuk interval I = [0,∞). Jadi, misalkan f(x) = x
n
untuk x∈I. (Lihat
Gambar 5.5.4.) Kita telah melihat (dalam Latihan 2.2.17) bahwa jika 0 ≤ x < y, maka
f(x) = x
n
< y
n
= f(y); oleh karena itu f monoton murni pada I. Selain itu, mengikuti
Contoh 5.2.4(a) bahwa IfI kontinu pada I. Oleh karena itu, menurut Teorema Pen-
gawetan Interval 5.3.10, J = f(I) suatu interval. Kita akan menunjukkan bahwa J =
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 196
[0,∞). Misalkan y ≥ 0 sebarang; menurut Sifat Archimedean, terdapat k∈N
sedemikian sehingga 0 ≤ y < k. Karena (Mengapa?)
f(0) = 0 ≤ y < k ≤ k
n
= f(k),
mengikuti Teorema Nilai Antara Bolzano 5.3.6 bahwa y∈J. Karena y ≥ 0 sebarang,
kita simpulkan bahwa J = [0,∞).
Kita menyimpulkan dari Teorema Invers Kontinu 5.5.5 bahwa fungsi g yaitu
invers dari f(x) = x
n
pada I = [0.) naik murni dan kontinu pada J = [0,). Kita lazimnya
menuliskan
g(x) = x
1/n
atau g(x) =
n
x
untuk x ≥ 0 (n genap), dan menyebut x
1/n
=
n
x akar ke-n dari x ≥ ≥≥ ≥ 0 (n genap).
Fungsi g dinamakan fungsi akar ke-n (n genap). (Lihat Gambar 5.5.5.)

GAMBAR 5.5.5 Grafik dari f(x) = x
1/n
(x ≥ 0, n genap)
Karena g invers untuk f, kita mempunyai
g(f(x)) = x dan f(g(x)) = x untuk semua x∈[0,∞).
Kita dapat menuliskan persamaan-persamaan ini dalam bentuk berikut:
(x
n
)
1/n
= x dan (x
1/n
)
n
= x
untuk semua x∈[0,∞) dan n genap.
(ii) n ganjil. Dalam kasus ini kita misalkan F(x) = x
n
untuk semua x∈R;
menurut 5.3.4(a), F kontinu pada R. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjuk-
kan bahwa F naik murni pada R dan F(R) =R. (Lihat Gambar 5.5.6.)
Pendahuluan
Analisis Real I 197
Mengikuti Teorema Invers Kontinu 5.5.5, fungsi G yaitu invers dari F(x) = x
n

untuk x∈R, adalah fungsi naik murni dan kontinu pada R. Kita lazimnay menuliskan
G(x) = x
1/n
atau G(x) =
n
x untuk x∈R, n ganjil
Dan menyebut x
1/n
sebagai akar ke-n dari x∈ ∈∈ ∈R. Fungsi G disebut fungsi akar ke-n
(n ganjil). (Lihat Gambar 5.5.7.) Disini kita mempunyai
(x
n
)
1/n
= x dan (x
1/n
)
n
= x
untuk semua x∈R dan n ganjil.

GAMBAR 5.5.6 Grafik F(x) = x
n
(x∈R, n ganjil)
Pangkat-pangkat Rasional
Telah didefinisikan fungsi-fungsi akar ke-n untuk n∈N, yang mana hal ini
memudahkan untuk mendefinisikan pangkat-pangkat rasional.
5.5.6 Definisi (i) Jika m,n∈N dan x ≥ 0, kita definisikan x
m/n
= (x
1/n
)
m
. (ii)
Jika m,n∈N dan x > 0, kita definisikan x
-m/n
= (x
1/n
)
-m
.
Dari sini kita telah mendefinisikan x
r
apabila r bilangan rasional dan x > 0.
Grafik dari x ξ x
r
bergantung pada apakah r > 1, r = 1, 0 < r < 1, r = 0, atau r < 0. (Li-
hat Ganbar 5.5.8.) Karena suatu bilangan rasional r∈Q dapat ditulis dalam bentuk r =
m/n dengan m∈Z, n∈N, dalam banyak cara, akan diunjukkan bahwa Definisi 5.5.6
tidak berarti ganda. Yaitu, jika r = m/n = p/q dengan m,p∈Z dan n,q∈N dan jika x >
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 198
0, maka (x
1/n
)
m
= (x
1/q
)
p
. Kita tinggalkan sebagai latihan bagi pembaca untuk mem-
buktikan hubungan ini.
5.5.7 Teorema Jika m∈Z,n∈N, dan x > 0, maka x
m/n
= (x
m
)
1/n
.
Bukti. Jika x > 0 dan m,n∈Z, maka (x
m
)
n
= x
mn
= (x
n
)
m
. Sekarang misalkan y
= x
m/n
= (x
1/n
)
m
> 0 dengan demikian y
n
= ((x
1/n
)
m
)
n
= ((x
1/n
)
n
)
m
= x
m
. Oleh karena itu
diperoleh bahwa y = (x
m
)
1/n
.

GAMBAR 5.5.7 Grafik G(x) = x
1/n
(x∈R, n ganjil)
Pembaca akan menunjukkan juga, sebagai latihan, bahwa jika x > 0 dan
r,s∈Q, maka
x
r
x
s
= x
r + s
=x
s
x
r
dan (x
r
)
s
= x
rs
= (x
s
)
r
.
Latihan-latihan
1. Jika I = [a,b] suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik, maka titik a [atau juga, b]
suatu titik minimum mutlak [atau juga, titik maksimum absolut] untuk f pada I. Jika f
suatu fungsi naik murni, maka a merupakan satu-satunya titik minimum mutlak untuk f
pada I.
2. Jika f dan g fungsi-fungsi naik pada suatu interval I⊆R, tunjukkan bahwa f + g juga
suatu fungsi naik pada I. Jika f juga fungsi naik murni pada I, maka f + g fungsi naik
murni pada I.
3. Tunjukkan bahwa f(x) = x dan g(x) = x – 1 naik murni pada I = [0,1], akan tetapi hasil
kali fg tidak naik pada I.
Pendahuluan
Analisis Real I 199
4. Tunjukkan bahwa jika f dan g fungsi-fingsi positif naik pada suatu interval I, maka
fungsi hasil-kalinya fg merupakan fungsi naik pada I.
5. Tunjukkan bahwa jika I = [a,b] dan f : I → R fungsi naik pada I, maka f kontinu pada a
jika dan hanya jika f(a) = inf{f(x) : x∈(a,b]}.

GAMBAR 5.5.8 Grafik dari x ξ x
r
(x > 0)
6. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I. Misalkan juga c∈I bukan
titik ujung dari I. Tunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu
barisan (x
n
) dalam I sedemikian sehingga x
n
< c untuk n = 1,3,5, … ; x
n
> c untuk n =
2,4,6, … ; dan sedemikian sehingga c = lim (x
n
) dan f(c) = lim (f(x
n
)).
7. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I. Jika c∈I bukan titik ujung
dari I, tunjukkan bahwa lompatan j
f
(c) dari f pada c diberikan oleh inf{f(y) –f(x) : x < c <
y, x,y∈I}.
8. Misalkan f,g fungsi-fungsi naik pada suatu interrval I⊆R dan f(x) > g(x) untuk semua
x∈I. Jika y∈f(I)∩g(I), tunjukkan bahwa f
-1
(y) < g
-1
(y). [Petunjuk: Pertama-tama interpre-
tasi pernyataan ini secara geometri].
9. Misalkan I = [0,1] dan misalkan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = x untuk x rasional,
dan f(x) = 1 – x untuk x irasional. Tunjukkan bahwa f injektif pada I dan f(f(x)) = x untuk
Aljabar Himpunan
Analisis Real I 200
semua x∈I. (Dari sini f adalah fungsi invers untuk dirinya sendiri!) Tunjukkan bahwa f
kontinu hanya pada x = ½.
10. Misalkan I = [a,b] dan f : I → R kontinu pada I. Jika f mempunyai suatu maksimum mut-
lak [atau, minimum mutlak] pada suatu titik interior c dari I, tunjukkan bahwa f bukan in-
jektif pada I.
11. Misalkan f(x) = x untuk x∈[0,1], dan f(x) = x + 1 untuk x∈(1,2]. Tunjukkan bahwa f dan
f
-1
merupakan fungsi-fungsi naik murni. Apakah f dan f
-1
kontinu pada setiap titik?
12. Misalkan f : [0,1] → R suatu fungsi kontinu yang tidak memuat sebarang dari nilai-
nilainya dua kali dan dengan f(0) < f(1). Tunjukkan bahwa f fungsi naik murni pada [0,1].
13. Misalkan h : [0,1] → R suatu fungsi yang memuat nilai-nilainya tepat dua kali. Tunjuk-
kan bahwa h tidak kontinu pada setiap titik. [Petunjuk : Jika c1 < c2 titik-titik dimana h
mencapai supremumnya, tunjukkan bahwa c1 = 0, c2 = 1. Sekarang titik-titik dimana h
mencapai infimumnya.]
14. Misalkan x∈R, x > 0. Tunjukkan bahwa jika m,p∈Z, n,q∈N, dan mq = np, maka (x
1/n
)
m

= (x
1/q
)
p
.
15. Jika x∈R, x > 0, dan jika r,s∈Q, tunjukkan bahwa x
r
x
s
= x
r + s
=x
s
x
r
dan (x
r
)
s
= x
rs
=
(x
s
)
r
.

Pendahuluan
Analisis Real I 201
11. DAFTAR PUSTAKA

Bartle, Robert G. 1992. Introductions to Real Analysis. Second edition. New York :
John Wiley & Sons, Inc.

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadlirat Allah Swt. karena atas perkenaannya jualah hand-out ini dapat terselesaikan penyusunannya. Penyusunan handout ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan diskusi Komunitas Studi Al Khwarizmi Sultra dan masyarakat penimat Kajian Matematika pada umumnya. Materi hand-out ini terdiri atas 5 (lima) bab, yaitu : Yakni Bab I sampai dengan Bab 3 adalah materi Analisis Real I, sedangkan Bab 4 dan Bab 5 adalah materi Analisis Real II. Tentu saja, hand-out ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu sangat diharapkan sumbang saran dan kritikan yang konstruktif dari pembaca dalam rangka perbaikan dan penyempurnaannya, sehingga pada akhirnya dapat dijadikan buku standar untuk dijadikan buku ajar Analisis Real I dan II. Surat kritikan dan saran anda dapat anda kirimkan ke: ks.algorizm@gmail.com; karyanto@bismillah.com; Atau melalui facebook: -Yanto Kendari. Akhirnya, semoga hand-out ini membawa manfaat yang semaksimal mungkin bagi siapa saja yang menggunakannya, dan hanya kepada Alloh SWT segala sesuatunya kita serahkan. Semoga kita termasuk umatNya yang bersyukur dan dimudahkan dalam memahami ilmu. Amien

Unaaha,

Januari 2012

KSA

ii

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL ............................................................................................ KATA PENGANTAR ............................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................................ Bab I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1.1 Aljabar Himpunan ................................................................................... 1.2 Fungsi ...................................................................................................... 1.3 Induksi Matematika ................................................................................. Bab II BILANGAN REAL ........................................................................................ 2.1 Sifat Aljabar R ......................................................................................... 2.2 Sifat Urutan dalam R ............................................................................... 2.3 Nilai Mutlak ............................................................................................ 2.4 Sifat Kelengkapan R ................................................................................ 2.5 Aplikasi Sifat Supremum ........................................................................ i ii iii 2 2 8 15 22 22 30 40 46 51

Bab III BARISAN BILANGAN REAL .................................................................... 60 3.1 Barisan dan Limit Barisan ....................................................................... 60 3.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 72 3.3 Barisan Monoton ..................................................................................... 82 3.4 Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass ......................................... 90 3.5 Kriteria Cauchy ....................................................................................... 97 3.6 Barisan-barisan Divergen Murni ............................................................. 105 Bab IV LIMIT FUNGSI ............................................................................................ 4.1 Limit-limit Fungsi ................................................................................... 4.2 Teorema-teorema Limit ........................................................................... 4.3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit ................................................... Bab V FUNGSI-FUNGSI KONTINU ...................................................................... 5.1 Fungsi-fungsi Kontinu ............................................................................. 5.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu ................................................... 5.3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval ....................................................... 5.4 Kekontinuan Seragam ............................................................................. 5.5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers ......................................................... 110 110 123 133 149 150 157 164 174 189

Daftar Pustaka ........................................................................................................... 201

iii

Aljabar Himpunan

BAB 1
PENDAHULUAN
Pada bab pertama ini, kita akan membahas beberapa prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari analisis real. Bagian 1.1 dan 1.2 kita akan mengulang sekilas tentang aljabar himpunan dan fungsi, dua alat yang penting untuk semua cabang matematika. Pada bagian 1.3 kita akan memusatkan perhatian pada metoda pembuktian yang disebut induksi matematika. Ini berhubungan dengan sifat dasar sistem bilangan asli, dan walaupun penggunaannya terbatas pada masalah yang khusus tetapi hal ini penting dan sering digunakan.

1.1. Aljabar Himpunan
Bila A menyatakan suatu himpunan dan x suatu unsurnya, kita akan tuliskan dengan x∈A, untuk menyingkat pernyataan x suatu unsur di A, atau x anggota A, atau x termuat di A, atau A memuat x. Bila x suatu unsur tetapi bukan di A kita tuliskan dengan x∉A. Bila A dan B suatu himpunan sehingga x∈A mengakibatkan x∈B (yaitu, setiap unsur di A juga unsur di B), maka kita katakan A termuat di B, atau B memuat A atau A suatu subhimpunan dari B, dan dituliskan dengan A ⊆ B atau B ⊇ A. Bila A ⊆ B dan terdapat unsur di B yang bukan anggota A kita katakan A subhimpunan sejati dari B.
Analisis Real I 2

n ∈ Z. Contoh-contoh : (a). kita harus menunjukkan bahwa A ⊆ B dan B ⊆ A. (b). Kata “sifat keanggotaan” memang menimbulkan keraguan..3. daripada {y∈ N y = 2x.. Kadang-kadang formula dapat pula digunakan untuk menyingkat penulisan himpunan.1.-1.2. x∈ N}. Z = {0. Analisis Real I 3 .Pendahuluan 1. Dua himpunan A dan B dikatakan sama bila keduanya memuat unsurunsur yang sama. n≠0} Himpunan semua bilangan real. kita dapat juga menuliskannya dengan { x∈SP(x)} untuk menyatakan sub himpunan S yang memenuhi P. kita akan tuliskan dengan {xP(x)} untuk menyatakan himpunan semua x yang memenuhi P. dan kita akan menuliskannya dengan penulisan standar sebagai berikut : • • • • Himpunan semua bilangan asli. Karena yang memenuhi hanya x = 1 dan x = 2. Bila himpunan A dan B sama.. menyatakan himpunan semua bilangan asli yang memenuhi x2 .1.1.3x + 2 = 0.} Himpunan semua bilangan bulat.2. Q = {m/n  m. atau dengan menyatakan sifat keanggotaan himpunan tersebut. Definisi. Notasi tersebut kita baca dengan “himpunan semua x yang memenuhi (atau sedemikian sehinga) P”.-2. N = {1. kita tuliskan dengan A = B Untuk membuktikan bahwa A = B. Himpunan {x ∈ N x2-3x+2=0}. Tetapi bila P menyatakan sifat keanggotaan (yang tak bias artinya) suatu himpunan. Bila dirasa perlu menyatakan lebih khusus unsur-unsur mana yang memenuhi P.2}. Suatu himpunan dapat dituliskan dengan mendaftar anggota-anggotanya.} Himpunan semua bilangan rasional... Sebagai contoh himpunan bilangan genap positif sering dituliskan dengan {2x x∈ N}. Beberapa himpunan tertentu akan digunakan dalam bukti ini. maka himpunan tersebut dapat pula kita tuliskan dengan {1.. R.

1. Misalkan A. Analisis Real I 4 . 1. asosiatif dan distributif. (d). operasi irisan dan gabungan himpunan.Aljabar Himpunan Operasi Himpunan Sekarang kita akan mendefinisikan cara mengkonstruksi himpunan baru dari himpunan yang sudah ada. Gabungan dari A dan B. (A∩B) ∩C = A∩(B ∩C). Berikut ini adalah akibat dari operasi aljabar yang baru saja kita definisikan.4(c).1. kita tinggalkan kepada pembaca sebagai latihan.3.2. A∪B∪C. Karena buktinya merupakan hal yang rutin. Teorema. (c). A∪A = A. Dengan kata lain kita mempunyai A∪B = {x x∈A atau x∈B}.B dan C sebarang himpunan. A∪B = B∪A. (b). Bila A dan B suatu himpunan. adalah himpunan yang unsurunsurnya paling tidak terdapat di salah satu A atau B. A∩(B∪C) = (A∩B)∪(A∩C). (b). A∩B = ∅). maka irisan (=interseksi) dari A ⊂ B dituliskan dengan A∩B. dituliskan dengan A∪B. 1. Melihat kesamaan pada teorema 1. Bila A dan B dua himpunan yang tidak mempunyai unsur bersama (yaitu. A∩A = A. A∪(B ∩C) = (A∪B) ∩ (A∪C). komutatif. Definisi. A∩B = B∩A.4. maka (a).1. maka A dan B dikatakan saling asing atau disjoin. (a). (A∪B)∪C = A∪(B∪C). Kesamaan ini semua berturut-turut sering disebut sebagai sifat idempoten. 1. Definisi. Himpunan yang tidak mempunyai anggota disebut himpunan kosong. Dengan kata lain kita mempunyai A∩B = {x x∈A dan x∈B}. adalah himpunan yang unsur-unsurnya terdapat di A juga di B. biasanya kita tanggalkan kurung dan cukup ditulis dengan A∩B ∩C. dituliskan dengan { } atau ∅.1.

n .C sebarang himpunan. 1.5.n.. dituliskan dengan A\B (dibaca “A minus B”) adalah himpunan yang unsurunsurnya adalah semua unsur di A tetapi bukan anggota B. Untuk mempersingkat penulisan.. .B atau A ~ B. j = 1. Sedangkan semua Aj untuk j∈J. Dari definisi di atas. Teorema.An} merupakan koleksi himpunan. maka U Aj j∈J menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya paling tidak merupakan unsur dari salah satu Aj.B. dan terdapat sebuah himpunan B yang unsur-unsurnya merupakan unsur semua himpunan Aj. A\(B∩C) = (A\B) ∪(A\C)....∩An = {x x∈Aj untuk semua j}.6.. kita mempunyai A\B = {x ∈ A x ∉ B}. maka A\(B∪C) = (A\B)∩(A\C). B = A1 ∩ A2. Beberapa penulis menggunakan notasi A . kita tuliskan dengan A = A1 ∪A2 ∪ ∪ An = {x x∈Aj untuk suatu j}. menyatakan himpunan yang unsur-unsurnya adalah unsur j∈J Analisis Real I 5 . I A j ... Definisi. A dan B di atas sering dituliskan dengan n A= UAj j=1 n B= IAj j=1 Secara sama. maka terdapat sebuah himpunan A yang memuat unsur yang merupakan pa-ling tidak unsur dari suatu Aj. maka komplemen dari B relatif terhadap A.. Bila A dan B suatu himpunan. Bila A.Pendahuluan Dimungkinkan juga untuk menunjukkan bahwa bila {A1. Seringkali A tidak dinyatakan secara eksplisit. bila untuk setiap j unsur di J terdapat himpunan Aj. karena sudah dimengerti/disepakati.2.2. Dengan menanggalkan kurung.1.A2.1. Dalam situasi begini A\B sering dituliskan dengan C(B).. 1. j=1.

4. (Mengapa?).(1.(3.1. Analisis Real I 6 .1.b) dengan a∈ A dan b ∈ B. Sebaliknya.4).(2. Produk (hasil kali) Cartesius Sekarang kita akan mendefinisikan produk Cartesius. bila x ∈(A\B)∩(A\C). Kita akan tunjukkan bahwa setiap unsur di A\(B∪C) termuat di kedua himpunan (A\B) dan (A\C). Jadi bila A = {1.1.5}.5)} Latihan 1.1.1.(3. Yaitu x ∈ A\B dan x ∈ A\C.2. yang menunjukkan bahwa x ∈(A\B)∩(A\C).5). Buktikan bagian (c) Teorema 1. Jadi x ∈ A tetapi bukan anggota dari B atau C.3} dan B = {4.= (A\B)∩(A\C). 4. Dari sini x suatu unsur di A. maka x ∈(A\B)dan x ∈ (A\C).Aljabar Himpunan Bukti : Kita hanya akan membuktikan kesamaan pertama dan meninggalkan yang kedua sebagai latihan bagi pembaca.memuat unsur-unsur yang sama. tetapi tidak di B∪C. tetapi tidak dikedua unsur B atau C. 2. Definisi. Gambarkan diagram yang menyatakan masing-masing himpunan pada Teorema 1. Karenanya x di A tetapi tidak di B. maka A×B = {(1. 1.5). Buktikan bahwa A ⊆ B jika dan hanya jika A∩B = A. 3. maka produk cartesius A×B dari A dan B adalah himpunan pasangan berurut (a.1. Karena himpunan (A\B)∩(A\C) dan A\(B∪C).(2.1 A\(B∪C).4. Akibatnya x ∈ A dan x ∉ (B∪C). Buktikan bagian kedua Teorema 1.7.4). 1. dan x di A tetapi tidak di C.4(d).4). Bila x di A\(B∪C). maka x di A. karena itu x ∈ A\(B∪C). Bila A dan B himpunan-himpunan yang tak kosong. menurut definisi 1. dan sebaliknya.

Pendahuluan 5..  j∈J  j∈J  j∈J  j∈J ( ) ( ) 14. tunjukkan bahwa Analisis Real I 7 . E ∪ U A j = U (E ∪ A j ) j=1 j=1 j=1 j=1 n n n n 11. Nyatakan dalam diagram. . tunjukkan bahwa B = A\(A\B). C U A j = I C A j . A2. Misalkan J suatu himpunan dan untuk setiap j∈J. E ∪ I A j = I (E ∪ A j ) j=1 j=1 j=1 j =1 n n n n 12. Bila A dan B sebarang himpunan. Bila A ⊆ B. 8. 10. Tunjukkan bahwa selisih simetris D di nomor 5. An} suatu koleksi himpunan. Himpunan D ini sering disebut dengan selisih simetris dari A dan B. . Bila {A1. tunjukkan bahwa E ∩ I A j = I (E ∩ A j ). tunjukkan bahwa E ∩ U A j = U (E ∩ A j ). A2. Aj termuat di E. A2. An} suatu koleksi himpunan. An} suatu koleksi himpunan. tunjukkan bahwa A∩B = A\(A\B).. maka kesamaan di atas mempunyai bentuk n n  n   n  C  I A j = U C A j . dan E sebarang himpunan. Tunjukkan bahwa     C  I A j = U C A j . . Buktikan Hukum De Morgan E \ I A j = U (E \ A j ). Bila B1 dan B2 subhimpunan dari B dan B = B1 ∪ B2. j=1 j =1 j=1 j=1 n n n n Catatan bila E\Aj dituliskan dengan C(Aj). Diberikan himpunan A dan B. Tunjukkan bahwa himpunan D yang unsur-unsurnya merupakan unsur dari tepat satu himpunan A atau B diberikan oleh D = (A\B) ∪ (B\A). ... ..  j =1  j=1  j=1  j=1 ( ) ( ) 13. tunjukkan bahwa A∩B dan A\B saling asing dan bahwa A = (A∩B) ∪ (A\B). 9. 6. C U A j = I C A j . juga diberikan oleh D = (A∪B)\(A∩B). 7. Misalkan E sebarang himpunan dan {A1.. dan E sebarang himpunan. Bila {A1. E \ U A j = I (E \ A j ). .

dikarenakan ketidakjelasan frase “aturan korespondensi”. Definisi pertama : Suatu fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan korespondensi yang memasangkan masing-masing unsur x di A secara tunggal dengan unsur f(x) di B. Mungkin juga seseorang memunculkan kontroversi. Sekarang kita kembali mendiskusikan gagasan fundamental suatu fungsi atau pemetaan. seperti f(x) = x2 + 3x -5 yang bersesuaian dengan masing-masing bilangan real x dan bilangan lain f(x). semakin jelas bahwa diperlukan definisi fungsi yang lebih umum. walaupun terdapat visualisasi lain yang sering lebih bersifat sugesti. Di sini akan mendefinisikan suatu fungsi dan hal ini akan kita lakukan dalam dua tahap.2. 1. Fungsi. Semua dari bagian terakhir ini akan banyak mengupas jenis-jenis fungsi. tetapi sedikit abstrak dibandingkan bagian ini. Untuk mengatasi hal ini kita akan mendefinisikan fungsi de-ngan menggunakan himpunan seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. Definisi di atas mungkin saja tidak jelas. Juga semakin penting untuk kita membedakan fungsi sendiri dengan nilai fungsi itu. Akan kita lihat bahwa fungsi adalah suatu jenis khusus dari himpunan. Bagi matematikawan abad terdahulu kata “fungsi” biasanya berarti rumus tertentu.Aljabar Himpunan A×B = (A×B1) ∪ (A×B2). Selain itu definisi xdiberikan pula dengan  x. Analisis Real I 8 . apakah nilai mutlak h(x) = x dari suatu bilangan real merupakan “fungsi sejati” atau bukan. bila x ≥ 0 x=  − x. bila x < 0 Dengan berkembangnya matematika.

karena sekali unsur pertama dalam pasangan berurut diambil. Bila (a. seringkali bermanfaat untuk mendefinisikan fungsi baru f1 dengan domain D1 dan f1(x) = f(x) untuk semua x ∈ D1. unsur keduanya ditentukan secara tunggal. Ide dasar pendefinisian ini adalah memikirkan gambar dari suatu fungsi. Himpunan A dari unsur-unsur pertama dari f disebut daerah asal atau “domain” dari f. sering ditulis dengan b = f(a) daripada (a.Pendahuluan De-ngan pendefinisian ini dapat saja kita kehilangan kandungan intuitif dari definisi terdahulu. Notasi f:A→B menunjukkan bahwa f suatu fungsi dari A ke B. akan sering kita katakan bahwa f suatu pemetaan dari A ke dalam B atau f memetakan A ke dalam B.b) ∈ f a ∈ D1} Kadang-kadang kita tuliskan f1 = f D1 untuk menyatakan pembatasan fungsi f pada himpunan D1.b) ∈ f.1. suatu korelasi dari pasangan berurut. Definisi. Analisis Real I 9 . Sedangkan unsur-unsur di B yang menjadi unsur kedua di f disebut “range” dari f dan dituliskan dengan R(f).1. Fungsi f1 disebut pembatasan fungsi f pada D1.b). dan dituliskan D(f).b) suatu unsur di f. 1. Pembatasan dan Perluasan Fungsi Bila f suatu fungsi dengan domain D(f) dan D1 suatu subhimpunan dari D(f). Bila kita perhatikan tidak setiap koleksi pasangan berurut merupakan gambar suatu fungsi. Menurut definisi 1. yaitu. maka b = b’. tetapi kita dapatkan kejelasan. atau peta a terhadap f.2.2. Dalam hal ini b merupakan nilai f di titik a. Misalkan A dan B himpunan suatu fungsi dari A ke B adalah himpunan pasangan berurut f di A×B sedemikian sehingga untuk masing-masing a ∈ A terdapat b ∈ B yang tunggal dengan (a.b’) ∈ f.(a. kita mempunyai f1 = { (a.

2. bila diberikan H⊆B. Analisis Real I 10 . f-1(G∩H) ⊇ f-1(G)∩ f-1(H) juga benar. Bayangan Langsung dan Bayangan Invers Misalkan f : A → B suatu fungsi dengan domain A dan range B.H subhimpunan dari B kita akan tunjukkan bahwa f-1(G∩H) ⊆ f-1(G)∩ f-1(H) Kenyataannya. Jadi f-1(f(E)) ≠ E. bila x ∈ f-1(G∩H) maka f(x) ∈ G∩H. Bila H subhimpunan E. Contoh. maka bayangan invers dari H terhadap f adalah subhimpunan f-1(H) dari A. Misalkan f : A → B. Disatu pihak. titik x2∈A di dalam bayangan invers f1 (H) jika dan hanya jika y2 = f(x2) di H. yang buktinya ditinggalkan sebagai latihan. dan G. Bila E subhimpunan A.Aljabar Himpunan Konstruksi serupa untuk gagasan perluasan.3. maka sebarang fungsi g2 dengan domain D2 sedemikian sehingga g2(x) = g(x) untuk semua x ∈ D(g) disebut perluasan g pada himpunan D2. 1. Sebaliknya. (a). Secara sama. yang diberikan oleh f-1(H) = { x ∈ A : f(x) ∈ H} Jadi bila diberikan himpunan E ⊆ A. Bila G = {y 0 ≤ y ≤ 4}. Definisi.2. maka bayangan invers G adalah himpunan f-1(G) = {x -2 ≤ x ≤ 2}. maka titik y1 ∈ B di bayangan langsung f(E) jika dan hanya jika terdapat paling tidak sebuah titik x1 ∈ E sedemikian sehingga y1 = f(x1).2. 1. Bayangan langsung himpunan E = {x 0 ≤ x ≤ 2} adalah himpunan f(E) = {y 0 ≤ y ≤ 4}. Tetapi bila H = {y -1 ≤ y ≤ 1}. maka bayangan langsung dari E terhadap f adalah sub himpunan f(E) dari B yang diberikan oleh f(E) = {f(x) : x ∈ E}. jadi f(x) ∈ G dan f(x) ∈ H. kita mempunyai f(f-1(G)) = G. (b). Karena itu x ∈ f-1(G)∩ f-1(H). Misalkan f : R → R didefinisikan dengan f(x) = x2. Bila suatu fungsi dengan domain D(g) dan D2 ⊇ D(g). maka kita peroleh f(f-1(H)) = {x 0 ≤ x ≤ 1} ≠ H. Hal ini mengakibatkan x ∈ f-1(G) dan x ∈ f-1(H). bukti selesai.

Pendahuluan

Sifat-sifat Fungsi
1.2.4. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan injektif atau satu-satu bila x1 ≠ x2,
mengakibatkan f(x1) ≠ f(x2). Bila f satu-satu, kita katakan f suatu injeksi. Secara ekivalen, f injektif jika dan hanya jika f(x1) = f(x2) mengakibatkan x1 = x2, untuk semua x1,x2 di A. Sebagai contoh, misalkan A = {x ∈ R x ≠ 1} dan f : A → R dengan f(x) =
x . Untuk menunjukkan f injektif, asumsikan x1,x2 di A sehingga f(x1) = f(x2). x −1 Maka kita mempunyai

x1 x2 = x1 − 1 x 2 − 1 yang mengakibatkan (mengapa?) bahwa itu f injektif. x1 x2 = dan dari sini x1 = x2. Karena x1 − 1 x 2 − 1

1.2.5. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan surjektif atau memetakan A pada B,
bila f(A) = B. Bila f surjektif, kita sebut f suatu surjeksi. Secara ekivalen, f : A → B surjektif bila range f adalah semua dari B, yaitu untuk setiap y ∈ B terdapat x ∈ A sehingga f(x) = y. Dalam pendefinisian fungsi, penting untuk menentukan domain dan himpunan dimana nilainya diambil. Sekali hal ini ditentukan, maka dapat menanyakan apakah fungsi tersebut surjektif atau tidak.

1.2.6. Definisi. Suatu fungsi f : A → B dikatakan bijektif bila bersifat injektif dan
surjektif. Bila f bijektif, kita sebut bijeksi.

Fungsi-fungsi Invers
Bila f suatu fungsi dari A ke B, (karenanya, subhimpunan khusus dari A×B), maka himpunan pasangan berurut di B×A yang diperoleh dengan saling menukar unsur pertama dan kedua di f secara umum bukanlan fungsi. Tetapi, bila f injektif, maka penukaran ini menghasilkan fungsi yang disebut invers dari f.

Analisis Real I

11

Aljabar Himpunan

1.2.7. Definisi. Misalkan f : A → B suatu fungsi injektif dengan domain A dan
range R(f) di B. Bila g = {(b,a)∈B×A (a,b) ∈ f}, maka g fungsi injektif dengan domain D(g) = R(f) dan range A. Fungsi G disebut fungsi invers dari f dan dituliskan dengan f-1. Dalam penulisan fungsi yang standar, fungsi f-1 berelasi dengan f sebagai berikut : y = f-1(y) jika dan hanya jika y = f(x). Sebagai contoh, kita telah melihat bahwa fungsi f(x) = x didefinisikan unx −1

tuk x ∈ A = {x x ≠ 1} bersifat injektif. Tidak jelas apakah range dari f semua (atau hanya sebagian) dari R. Untuk menentukannya kita selesaikan persamaan y = dan diperoleh x = x x −1

y . Dengan informasi ini, kita dapat yakin bahwa rangenya R(f) y −1

= {y y ≠ 1} dan bahwa fungsi invers dari f mempunyai domain {y y ≠ -1} dan f-1(y) = y . y −1 Bila suatu fungsi injektif, maka fungsi inversnya juga injektif. Lebih dari itu, fungsi invers dari f-1 adalah f sendiri. Buktinya ditinggalkan sebagai latihan.

Fungsi Komposisi
Sering terjadi kita ingin mengkomposisikan dua buah fungsi denga mencari

f(x) terlebih dahulu, kemudian menggunakan g untuk memperoleh g(f(x)), tetapi hal
ini hanya mungkin bila f(x) ada di domain g. Jadi kita harus mengasumsikan bahwa range dari f termuat di domain g.

1.2.8. Definisi. Untuk fungsi f : A → B dan g : B - C, komposisi fungsi gof (perhatikan urutannya!) adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan dengan gof(x) = g(f(x)) untuk x ∈ A.

1.2.9. Contoh. (a). Urutan komposisi harus benar-benar diperhatikan. Misalkan f dan g fungsi-fungsi yang nilainya di x ∈ R ditentukan oleh f(x) = 2x,
Analisis Real I

g(x) = 3x2 - 1
12

Pendahuluan

Karena D(g) = R dan R(f) ⊆ R, maka domain D(gof) adalah juga R, dan fungsi komposisi gof ditentukan oleh

gof(x) = 3(2x)2 - 1 = 2x2 - 1
Di lain pihak, domain dari fungsi komposisi gof juga R, tetapi dalam hal ini kita mempunyai fog(x) = 2(3x2 - 1) = 6x2 - 2. Jadi fog ≠ gof. (b). Beberapa perhatian harus dilatih agar yakin bahwa range dari f termuat di domain dari g. Sebagai contoh, bila f(x) = 1 - x2 dan y = diberikan oleh gof(x) =

x , maka fungsi komposisi yang

1 − x 2 didefinisikan hanya pada x di D(f) yang memenuhi

f(x) ≥ 0; yaitu, untuk x memenuhi -1 ≤ x ≤ 1. Bila kita tukar urutannya, maka komposisi

fog, diberikan oleh gof(x) = 1 - x, didefinisikan untuk semua x di domain dari g; yaitu
himpunan {x ∈ R : x ≥ 0}. Teorema berikut memperkenalkan hubungan antara komposisi fungsi dan petanya. Sedangkan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.

1.2.10. Teorema. Misalkan f : A → B dan g : B → C fungsi dan H suatu subhimpunan dari C. Maka (fog)-1(H) = g-1 (f-1(H)). Sering terjadi bahwa komposisi dua buah fungsi mewarisi sifat-sifat fungsi yang didefinisikan. Berikut salah satunya dan buktinya ditinggalkan sebagai latihan.

1.2.11. Teorema. Bila f : A → B dan g : B → C keduanya bersifat injektif, maka
komposisi gof juga bersifat injektif.

Barisan
Fungsi dengan N sebagai domain memeainkan aturan yang sangat khusus dalam analisis, yang kita akan perkenalkan berikut ini.

1.2.12. Definisi. Suatu barisan dalam himpunan S adalah suatu fungsi yang domainnya himpunan bilangan asli N dan rangenya termuat di S. Untuk barisan X : N → S, nilai X di n∈N sering dituliskan dengan xn daripada (xn), dan nilainya sering disebut suku ke-n barisan tersebut. Barisan itu sendiri sering dituliskan dengan (xn  n ∈ N) atau lebih sederhana dengan (xn). Sebagai conAnalisis Real I
13

Aljabar Himpunan

toh, barisan di R yang dituliskan dengan ( n  n ∈ N) sama artinya dengan fungsi X :

N → R dengan X(n) =

n.

Penting sekali untuk membedakan antara barisan (xn  n ∈ N) dengan nilainya {xn  n ∈ N}, yang merupakan subhimpunan dari S. Suku barisan harus dipandang mempunyai urutan yang diinduksi dari urutan bilangan asli, sedangkan range dari barisan hanya merupakan subhimpunan dari S. Sebagai contoh, suku-suku dari barisan ((-1)n  n ∈ N) berganti-ganti antara -1 dan 1, tetapi range dari barisan itu adalah {-1,1}, memuat dua unsur dari R.

Latihan 1.2.
1. Misalkan A = B = {x∈R -1 ≤ x ≤ 1} dan sub himpunan C = {(x,y) x2 + y2 = 1} dari A×B, apakah himpunan ini fungsi ? 2. Misalkan f fungsi pada R yang didefinisikan dengan f(x) = x2, dan E = {x∈R -1 ≤ x ≤ 0} dan F = {x∈R 0 ≤ x ≤ 1}. Tunjukkan bahwa E∩F = {0} dan f(E∩F) = {0}, sementara f(E) = f(F) = {y∈R 0 ≤ y ≤ 1}. Di sini f(E∩F) adalah subhimpunan sejati dari f(E) ∩ f(F). Apa yang terjadi bila 0 dibuang dari E dan F? 3. Bila E dan F seperti latihan no. 2, tentukan E\F dan f(E)\f(F) dan tunjukkan bahwa

f(E\F) ≤ f(E)\f(F) salah.
4. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan E,F sub himpunan dari A, maka f(E∪F) = f(E) ∪ f(F) dan f(E ∩ F) ≤ f(E) ∩ f(F) 5. Tunjukkan bahwa bila f : A→B dan G,H sub himpunan dari B, maka f-1(G∪H) = f-1(G) ∪ f-1(H) dan f-1(G ∩ H) ≤ f-1(G) ∩ f-1(H) 6. Misalkan f didefinisikan dengan f(x) = dari R pada {y : -1 ≤ y ≤ 1}.. 7. Untuk a,b ∈R dengan a < b, tentukan bijeksi dari A = {x a < x < b} pada B = {y x x +1
2

, x ∈R. Tunjukkan bahwa f bijektif

0 < y < 1}

Analisis Real I

14

maka f-1(f(E)).3.a) (a..Buktikan bahwa bila f injeksi dari A ke B. Kita akan mengasumsikan kebiasaan (pembaca) dengan himpunan bilangan asli N = {1. 11. maka f(f-1(H)). Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat injektif dan E ⊆ A. kita akan sering menyebutkan “hasilnya mengikuti induksi matematika” dan meninggalkan bukti lengkapnya kepada pembaca.g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f) dan fog(y) untuk semua y di D(g). 9.} Analisis Real I 15 . 16.. maka f-1 = {(b. Buktikan teorema 1.g fungsi dan gof(x) = x untuk semua x di D(f).Pendahuluan 8. Walau kegunaannya terbatas pada masalah tertentu. Dalam bagian ini kita membahas prinsip induksi matematika dan memberi beberapa contoh untuk mengilustrasikan bagaimana proses bukti induksi.2.g dari R pada R sehingga f ≠ g. untuk semua x ∈ D(f) dan fof-1(y) = y untuk semua y ∈ R(f). 12. Berikan contoh dua buah fungsi f. 14. Tunjukkan bahwa bila f : A→B bersifat surjektif dan H ⊆ B.10. Tunjukkan bahwa f injektif dan R(f) ⊆ D(f) dan R(g) ⊇ D(g). Misalkan f. Berikan suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak surjektif. tetapi induksi matematika sangat diperlukan disemua cabang matematika. 15. Kemudian buktikan bahwa f-1 injektif dan f invers dari f-1. Tunjukkan bahwa f-1of(x) = x..2. Buktikan bahwa g = f-1.b)∈f} suatu fungsi dengan domain R(f). tetapi fog = gof 13.Misalkan f bersifat injektif.11.3. 10.2.. Misalkan f. Berikan suatu contoh untuk menunjukkan kesamaan tidak dipenuhi bila f tidak injektif. Metode ini digunakan untuk menguji kebenaran suatu pernyataan yang diberikan dalam suku-suku bilangan asli. 1. Induksi Matematika Induksi matematika merupakan metode pembuktian penting yang akan sering digunakan dalam buku ini. Buktikan teorema 1. Karena banyak bukti induksi mengikuti urutan formal argumen yang sama.

3. Kesimpulan ini kontradiksi dengan pernyataan bahwa m tidak di S. maka m ≠ 1.3. maka terdapat suatu unsur m ∈ S sedemikian sehingga m ≤ k untuk semua k ∈ S.1) + 1 = m di S. Misalkan S sub himpunan dari N yang mempunyai sifat (i). Bukti : Andaikan S ≠ N. Karena 1 ∈ S. Kita juga akan mengasumsikan sifat fundamental dari N berikut.1. maka m . Sekarang kita gunakan hipotesis (2) terhadap unsur k = m .1 di S. kita dipaksa pada kesimpulan bahwa N\S kosong.Aljabar Himpunan dengan operasi aritmetika penjumlahan dan perkalian seperti biasa dan dengan arti suatu bilangan kurang dari bilangan lain.. kita akan menurunkan suatu versi prinsip induksi matematika yang dinyatakan dalam suku-suku subhimpunan dari N. maka S = N.1 juga bilangan asli. maka k + 1 ∈ S. karenanya berdasar sifat urutan dengan baik N\S mempunyai unsur terkecil. Karena m diperoleh dengan pengandaian bahwa N\S tidak kosong. 1. Sifat urutan dengan baik dari N.1 < m dan m unsur terkecil di N\S. Karena itu m > 1 dengan m . sebut m. Maka N\S tidak kosong. Dengan berdasar sifat urutan dengan baik. Karena itu kita telah buktikan bahwa S = N. Prinsip induksi matematika sering dinyatakan dalam kerangka sifat atau pernyataan tentang bilangan asli. Sifat yang dideskripsikan dalam versi ini kadang-kadang mengikuti turunan sifat N. 1. Bila P(n) berarti pernyataan tentang n ∈ N. Karena m .2.1 ∈ S (ii). Pernyataan yang lebih detail dari sifat ini sebagai berikut : bila S subhimpunan dari N dan S ≠ ∅. Setiap subhimpunan tak kosong dari N mempunyai unsur terkecil. yang berakibat k + 1 = (m .1 haruslah di S. maka P(n) Analisis Real I 16 .jika k ∈ S. Prinsip Induksi Matematika.

dibuat dengan memisalkan S = { n ∈ N P(n) benar}.. Dalam kaitannya dengan versi induksi matematika terdahulu yang diberikan pada 1. Maka kondisi (1) dan (2) pada 1.2. Di sini. Maka P(n) benar untuk semua n ∈ N. karena hanya menambahkan 1 pada kedua ruas. kita misalkan S himpunan n ∈ N. Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana prinsip induksi matematika bekerja sebagai metode pembuktian pernyataan tentang bilangan asli. maka P(k + 1) benar. jadi 1 ∈ S dan dengan asumsi ini akan ditunjukkan k + 1 ∈ S. + n = 1 2 n (n + 1). kita tidak memandang pada benar atau salahnya P(k). (a). Untuk setiap n ∈ N.3.2.3.2 berturut-turut tepat bersesuaian dengan (a) dan (b). Misalkan bahwa (a). Bila k ∈ S. Implikasinya “bila k = k + 5. maka kita mempunyai 1 = 1 2 . dipenuhi. maka P(k+1) benar”. bila kita perhatikan pernyataan P(n) : n = n + 5. n∈N.. maka (b) benar. kita tidak mungkin menggunakan induksi matematika untuk menyimpulkan bahwa n = n + 5 untuk semua n ∈ N.3. tetapi tidak untuk yang lain. 1. sementara P(n) salah untuk semua n ≠ 1. tetap hanya pada validitas implikasi “jika P(k) benar... (*) 17 . Dalam konteks ini prinsip induksi matematika dapat dirumuskan sebagai berikut : Untuk setiap n ∈ N. Contoh.3. misalkan P(n) pernyataan tentang n.3. Sebagai contoh. P(1) benar (b). jumlah n pertama bilangan asli diberikan oleh 1 + 2 + . Jika P(k) benar. Kesimpulan S = N pada 1.3.+k = Analisis Real I 1 2 (k+1). Untuk membuktikan kesamaan ini.Pendahuluan benar untuk beberapa nilai n. maka k + 1 = k + 6” juga benar.2. bila P(n) pernyataan “ n2 = n”. Kita harus membuktikan kondisi (1) dan (2) pada 1. Bila n = 1. karena pernyataan P(1) : 1 = 2 salah. maka P(1) benar. Tetapi. Sebagai contoh. maka kita mempunyai 1+2+. bersesuaian dengan kesimpulan bahwa P(n) benar untuk semua n ∈ N. sehingga kesamaan tersebut benar. Dalam (b) asumsi “jika P(k) benar” disebut hipotesis induksi.1(1 + 1).

Sekarang berdasarkan hipotesis induksi a-b merupakan faktor dari a(ak-bk). (c). karena 12 = 1 6 . pertama kita catat bahwa formula ini benar untuk n = 1.b adalah faktor dari ak . kita simpulkan bahwa S = N dan kesamaan (*) benar untuk semua n ∈ N.bk+1 = ak+1 .+k+(k+1) = = 1 2 1 2 k(k+1) + (k+1) (k+1) (k+2) Karena ini menyatakan kesamaan di atas untuk n = k + 1. memberikan hasil 12+22+. maka kita tuliskan ak+1 . maka dengan menambahkan (k+1)2 pada kedua ruas.b). Bila sekarang kita asumsikan bahwa a . kita simpulkan bahwa k + 1 ∈ S.b faktor dari an .Aljabar Himpunan Bila kita tambahkan k+1 pada kedua ruas.2. Karena itu dengan prinsip induksi matematika.. Bila kita asumsikan formula ini benar untuk k. Dari sini a-b adalah dari ak+1 . Dengan induksi matematika kita simpulkan bahwa a-b adalah faktor dari an .bk+1.+k2 + (k+1)2 = = = 1 6 1 6 1 6 k(k+1)(2k+1) + (k+1)2 (k+1)(2k2+k+6k+6) (k+1)(k+2)(2k+3) Mengikuti induksi matematika.1 (1+1)(2+1).+n2 = 1 6 n(n+1)(2n+1) Untuk membuktikan kebenaran formula ini.bn untuk semua n∈N.. Analisis Real I 18 . Disamping itu a-b juga faktor dari bk(a .. kita akan buktikan bahwa a . Untuk masing-masing n ∈ N.3. validitas formula di atas berlaku untuk semua n ∈ N.abk + abk . Dari sini kondisi (2) pada 1. Pertama kita lihat bahwa pernyataan ini benar untuk n = 1. jumlah kuadrat dari n pertama bilangan asli diberikan oleh 12+22+. (b)..bn untuk semua n ∈ N. kita peroleh 1+2+.bk..b.b).bk+1 = a(ak .bk) + bk(a . dipenuhi. Diberikan bilangan a..

. +r + r k k+1 1 − r k +1 k+1 1 − r k + 2 = +r = 1− r 1− r yang merupakan formula kita untuk n = k + 1. (f).Dan dengan menggunakan fakta bahwa 2 ≤ (k+2). diperoleh 2k+1 = 2.Pendahuluan (d). ketaksamaan tersebut benar untuk semua n ∈ N.. maka berlaku pula untuk k+1. bila ketaksamaan tersebut berlaku untuk k.. Mengikuti prinsip induksi matematika..+rn+1 Jadi (1-r)Sn = Sn-rSn = 1-rn+1 Bila kita selesaikan untuk Sn. kitya mempunyai 1 + r = 1− r tersebut benar. Karenanya dengan induksi matematika. kita peroleh formula yang sama. Pertama kita peroleh bahwa hal ini benar untuk n = 1. Dapat dibuktikan dengan induksi matematika sebagai berikut.. maka kita peroleh 1+r+ ..2k ≤ 2(k+1)! ≤ (k+2)(k+1)! = (k+2)! Jadi. maka formula tersebut benar untuk semua n ∈ N. maka 1 − r n +1 1 + r + r + . + r = 1− r 2 n Ini merupakan jumlah n suku deret geometri. Bila n = 1.+rn. Kemudian kita asumsikan bahwa 2k ≤ (k+1). maka rSn = r+r2+.. Bila r ∈ R. Ketaksamaan 2n ≤ (n+1)!. Analisis Real I 19 . Pembaca diharap mencari kesalahan pada “bukti teorema” berikut. r ≠ 1 dan n ∈ N.. Bila kita misalkan Sn = 1+r+. Penggunaan prinsip induksi matematika secara ceroboh dapat menghasilkan kesimpulan yang slah. Hal ini dapat dibuktikan tanpa menggunakan prinsip induksi matematika. jadi formula matematika sebagai berikut. (e). Bila kita asumsikan formula tersebut benar untuk n = k dan tambahkan rk+1 pada kedua ruas. yang dapat dibuktikan dengan induksi 1 − r2 .

. Maka 1 ∈ S. maka p = q. Misalkan S subhimpunan N sedemikian sehinga 1∈S. n+1.. dan bila {1... Beberapa pernyataan yang benar untuk beberapa bilangan asli.1 dapat dibagi dengan 8 6. Buktikan bahwa jumlah pangkat tiga dari bilangan asli yang berturutan n.2 2. Terdapat versi lain dari prinsip induksi matematika yang kadang-kadang sangat berguna. Sebagai contoh formula P(n) = n2 . Prinsip Induksi kuat. 13 + 23 + . 1 1 1 n + +.3 Buktikan bahwa yang berikut berlaku benar untuk semua n ∈ N. Kita akan tinggalkan pada pembaca untuk menunjukkan ekivalensinya dari kedua prinsip ini. walaupun sebenarnya ekivalen dengan versi terdahulu..2. 1. k + 1 ∈ S dan kita simpulkan bahwa pernyataan tersebut benar untuk semua n ∈ N.Aljabar Himpunan Bila n sebarang bilangan asli dan bila maksimum dari dua bilangan asli p dan q adalah n. tetapi tidak untuk semua.. karena k ∈ S. dan dari sini kita simpulkan bahwa p = q.4. Sering disebut prinsip induksi kuat. Karenanya p-1 = q-1. Maka S = N. 1. n + 2 habis dibagi 9 Analisis Real I 20 .1 habis dibagi 16.. Latihan 1. + n3 = [ 2 n(n+1)]2 3.q di N dan maksimumnya 1.3.3 n(n + 1) n + 1 1 2. n3 + 5n dapat dibagi dengan 6 5.2. 52n .n + 41 memberikan bilangan prima untuk n =1. maka maksimum dari p-1 dan q-1 adalah k. Jadi. Bukti : Misalkan S subhimpunan bilangan asli sehingga pernyataan tersebut benar. 7. (Akibatnya bila p dan q dua bilangan asli sebarang..3. 5n .41.4n . maka p = q). 12-22+32-. Tetapi. karena bila p. P(41) bukan bilangan prima.k}⊆ S maka k + 1 ∈ S. (g)...+(-1)n+1n(n+1)/2 4...+ = 1..

11.3 ≤ 2n-2 untuk semua n ≥ 5.Pendahuluan 8. Maka S memuat himpunan { n ∈ N n ≥ n0}.Tentukan suatu formula untuk jumlah n bilangan ganjil yang pertama 1 + 3 + . 2k ∈ S untuk semua k ∈ N.3. 10. bila k ∈ S..5 (2n − 1)(2n + 1) dan buktikan dugaan tersebut dengan mengunakan induksi matematika...3 3. Buktikan S = N. Buktikan bahwa n < 2n untuk semua n ∈ N 9. Gunakan prinsip induksi kuat 1. maka k . n0 ∈ S. + (2n . dan (b) bila k ≥ n0 dan k ∈ S.+ 1. berikut : Misalkan S sub himpunan tak kosong dari N sedemikian sehingga untuk suatu n0 ∈ N berlaku (a). Untuk bilangan asli yang mana n2 < 2n ? Buktikan pernyataanmu (lihat latihan 11). maka k + 1 ∈ S. n ∈ N. Misalkan S sub himpunan dari N sedemikian sehingga (a). n ∈ N. dan (b). Tentukan suatu formula untuk jumlah 1 1 1 + +.. x2 = 2 dan xn+2 = 1 2 (xn+1 + xn) untuk n∈N... (Dugaan terhadap pernyataan matematika. Analisis Real I 21 .3. Buktikan bahwa 1 1 1 + +. 12. Buktikan bahwa 2n . Misalkan barisan (xn) didefinisikan sebagai berikut : x1 = 1.+ > n untuk semua n ∈ N. (lihat latihan 11). Buktikan bahwa 2n < n! untuk semua n ≥ 4. sebelum dibuktikan sering disebut “Conjecture”).1 ∈ S. 17.1) kemudian buktikan dugaan tersebut dengan menggunakan induksi matematika. 14. (lihat latihan 11).4 untuk menunjukkan 1 ≤ xn ≤ 2 untuk semua n ∈ N. 1 2 n 16. Buktikan variasi dari 1. 13. 15. dan k ≥ 2.2.

namun tidak kita lakukan.5 untuk menurunkan hasil fundamental yang berkaitan dengan R. dalam bagian 2.3. termasuk sifat archimedes.4. dan memberi ilustrasi penggunaan sifat-sifat ini. kita perkenalkan sejumlah sifat fundamental yang berhubungan dengan bilangan real dan menunjukkan bagaimana sifat-sifat yang lain dapat diturunkan darinya. yang mana didasarkan pada sifat urutan. Gagasan tentang nilai mutlak. Berikutnya kita perkenalkan.Aljabar Himpunan BAB 2 BILANGAN REAL Dalam bab ini kita akan membahas sifat-sifat esensial dari sistem bilangan real R. kita tidak akan membahas sifat-sifat R dalam suatu bagian. tetapi kita lebih berkonsentrasi pada beberapa aspek berbeda dalam bagian-bagian yang terpisah. dan densitas (kerapatan) bilangan rasional di R. Dalam bagian 2. dibahas secara singkat pada bagian 2. Hal ini lebih bermanfaat dari pada menggunakan logika yang sulit untuk mengkonstruksi suatu model untuk R dalam belajar analisis. dan kita akan membahasnya secara detail.1. Walaupun dimungkinkan untuk memberikan konstruksi formal dengan didasarkan pada himpunan yang lebih primitif (seperti himpunan bilangan asli N atau himpunan bilangan rasional Q).2 sifat urutan dari R. Kemudian kita menggunakan sifat kelengkapan R dalam bagian 2. Pertama kita perkenalkan. sifat aljabar (sering disebut sifat medan) yang didasarkan pada ope-rasi penjumlahan dan perkalian. Akan tetapi. Analisis Real I 22 . kita membuat langkah akhir dengan menambah sifat “kelengkapan” yang sangat penting pada sifat aljabar dan urutan dari R. dan menurunkan beberapa konsekuensinya yang berkaitan dengan ketaksamaan. Sistem bilangan real dapat dideskripsikan sebagai suatu “medan/lapangan lengkap yang terurut”. Demi kejelasan. dalam bagian 2. eksistensi akar (pangkat dua).

Pertama akan diberikan daftar sifat penjumlahan dan perkaliannya. Jadi. (M2). disamping menggunakan notasi B(a.1. Contoh operasi biner yang lain dapat dilihat pada latihan. (M4). a + b = b + a untuk semua a. Sifat-sifat aljabar R. Pada himpunan bilangan real R terdapat dua operasi biner. a. sehingga 1. kita akan lebih sering menggunakan notasi konvensional a+b dan a. Tetapi.b. sehingga a + (-a) = 0 dan (-a) + a = 0 (eksistensi negatif dari unsur). terdapat unsur 1 di R yang berbeda dari 0.b) dari unsur-unsur di F dengan tepat sebuah unsur B(a. Sifat-sifat yang akan disajikan pada 2.” dan secara berturut-turut disebut penjumlahan dan perkalian. Yang dimaksud operasi biner pada himpunan F adalah suatu fungsi B dengan domain F×F dan range di F.c) untuk semua a.b (atau hanya ab) untuk membicarakan sifat penjumlahan dan perkalian. operasi biner memasangkan setiap pasangan berurut (a. c = a .b).1 berikut dikenal dengan “Aksioma medan”.b = b.b) .b.1. (a. dituliskan dengan “+” dan “. Analisis Real I 23 . Dalam aljabar abstrak sistem bilangan real merupakan lapangan/medan terhadap penjumlahan dan perkalian. (a + b) + c = a + (b + c) untuk semua a. (M1). Kedua operasi ini memenuhi sifat-sifat berikut : (A1). (A2).c di R (sifat asosiatif perkalian).a untuk semua a.1 Sifat Aljabar R Dalam bagian ini kita akan membahas “struktur aljabar” sistem bilangan real. (M3). (A3) terdapat unsur 0 di R sehingga 0 + a = a dan a + 0 = a untuk semua a di R (eksistensi unsur nol).b) di F. untuk setiap a di R terdapat unsur -a di R.a = 1 (eksistensi balikan). (b.c di R (sifat assosiatif penjumlahan). (A4). Daftar ini mendasari semua untuk mewujudkan sifat dasar aljabar R dalam arti sifat-sifat yang lain dapat dibuktikan sebagai teorema.a = a dan a. untuk setiap a ≠ 0 di R terdapat unsur 1/a di R sehingga a.b di R (sifat komutatif perkalian). 2.1 = a untuk semua a di R (eksistensi unsur satuan).Pendahuluan 2.b di R (sifat komutatif penjumlahan).1.1/a = 1 dan (1/a).

Pembaca perlu terbiasa dengan sifat-sifat di atas.a) untuk semua a. a . bila kita menggunakan (A3) pada ruas kanan kita dapatkan Analisis Real I 24 . Kita tambahkan unsur -a (yang eksistensinya dijamin pada (A4)) pada kedua ruas dan diperoleh (z + a) + (-a) = a + (-a) Bila kita berturut-turut menggunakan (A2). Bukti : (a). Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa bila diberikan a di R.1.b = 1. (A4) dan (A3) pada ruas kiri.b = b. maka b = 1/a. Bila z dan a unsur di R sehingga z + a = a. kita peroleh (-a) + (a + b) = ((-a) + a) + b = 0 + b = b. (a). maka kita tambahkan -a pada kedua ruas dan diperoleh (-a) + (a + b) = (-a) + 0. kita peroleh (z + a) + (-a) = z + (a + (-a)) = z + 0 = z. (A4) dan (A3) pada ruas kiri. Bukti : (a). Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. maka u = 1. (b).b. maka z = 0. (b+c) = (a. (a). a = (b. Berikut kita akan dibuktikan beberapa konsekuensi dasar (tetapi penting). Dari sini kita simpulkan bahwa z = 0. Bila a ≠ 0 dan b unsur di R sehingga a.1. Bila a + b = 0. Bila u dan b ≠ 0 unsur R sehingga u.b) + (a. (b). 2. bila kita menggunakan (A4) pada ruas kanan a + (-a) = 0.c di R (sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan). Dengan demikian akan memudahkan dalam penurunan dengan menggunakan teknik dan manipulasi aljabar. maka unsur -a dan 1/a (bila a ≠ 0) ditentukan secara tunggal.2 Teorema.c) dan (b+c) .a) + (c. maka b = -a.Aljabar Himpunan (D).3 Teorema. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat penting. Dari hipotesis kita mempunyai z + a = a. Bila a dan b unsur di R sehinga a + b = 0. 2. Bila kita berturut-turut menggunakan (A2).

(A4) dan (A3). 2.1. Bila a sebarang unsur di R. b. kita peroleh (-a) + (a + x1) = (-a) + b. kita peroleh a + ((-a) + b) = (a + (-a)) + b = 0 + b = b. Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan. Bila kita perhatikan sifat di atas untuk menyelesaikan persamaan. bila a ≠ 0.1. Perlu dicatat bahwa hipotesis b ≠ 0 sangat penting. persamaan a + x = b mempunyai solusi tunggal x = (-a) + b. x = 1 (bila a ≠ 0) untuk x. Bukti (b) ditinggalkan sebagai latihan.5 Teorema. Untuk menunjukkan bahwa ini merupakan satu-satunya solusi.3 mengakibatkan bahwa solusinya tunggal. dan bila kita tambahkan kedua ruas dengan -a. kita peroleh bahwa (A4) dan (M4) memungkinkan kita untuk menyelesaikan persamaan a + x = 0 dan a . Misalkan a. Maka : (a).Pendahuluan (-a) + 0 = -a. Sejauh ini. dan teorema 2. yang mengakibatkan x = (-a) + b merupakan solusi dari persamaan a + x = b. maka a + x1 = b. Bila sekarang kita gunakan (A2). kita harus melibatkan sifat distributif (D). persamaan a . andaikan x1 sebarang solusi dari persamaan tersebut. Teorema berikut menunjukkan bahwa ruas kanan dari persamaan ini dapat sebarang unsur di R. (A4) dan (A3) pada ruas kiri.4 Teorema. Hal ini diilustrasikan dalam teorema berikut. kita peroleh (-a) + (a + x1) = (-a + a) + x1 = 0 + x1 = x1. ketiga teorema yang telah dikenalkan kita hanya memperhatikan penjumlahan dan perkalian secara terpisah. Dari sini kita simpulkan bahwa x1 = (-a) + b. maka : Analisis Real I 25 .1. Untuk melihat keterpaduan antara keduanya. x = b mempunyai solusi tunggal x = (1/a) . Dari sini kita simpulkan bahwa b = -a. (b). 2. Bukti : Dengan menggunakan (A2).b sebarang unsur di R.

(-a).Aljabar Himpunan (a). (d). a = 1 .0=a. (-1) . Analisis Real I 26 . Andaikan 1/a = 0. a = -a (d). (b).1+a. (c).1.1. c. b = a . Maka dengan menambahkan a . 0 dan mengunakan (D) dan (A3) kita peroleh a+a. Jadi 1/a ≠ 0 dan karena (1/a) . kita menggunakan (c) dengan a = 1. maka paling tidak satu dari a = 0 atau b = 0 benar. a = 1.1. a = 0 .a.b. Misalkan a. b = ((1/a) . c dan a ≠ 0. (a). b = 0. maka b = c (c). (-1) . maka 1/a ≠ 0 dan 1/(1/a) = a (b).1. a) .6 Teorema. a = . maka terdapat 1/a. Bila a ≠ 0. (-1) = -(-1). Dari sini. Teorema 2.c unsur-unsur di R. a) .1. Kita simpulkan deduksi formal kita dari sifat medan (bilangan real) dengan menutupnya dengan hasil-hasil berikut.3(a) kita peroleh (-1) . (1/a) = a . 0 = 0. untuk memperoleh a + (-1) . b = a . Bila kita kalikan kedua ruas persamaan a . -(-a) = a (b). Bukti : (a). Dengan (A4) kita mempunyai (-a) + a = 0. digabung dengan (M3). kontradiksi dengan (M3).2(a) kita peroleh bahwa a . c dengan 1/a dan menggunakan sifat asosiatif (M2). Bila a ≠ 0. dari teorema 2. Bila a . Bila a .3 (a) diperoleh bahwa a = . 1 = a. 0 = 0 (c).0 = a. Dalam bagian (b) substitusikan a = -1. (A4) dan bagian (a). Jadi. (1 + 0) = a . 0 = 0. a . a + (-1) . (b). Maka (-1) . 2.3(b) mengakibatkan 1/(1/a) = a. maka 1 = a . kita peroleh ((1/a) . (-1) = 1 Bukti : (a). 1 = a. dengan teorema 2. Jadi dari teorema 2. Kita gunakan (D). Dari (M3) kita ketahui bahwa a . a = 0 Jadi.

b di R.b di R. dan penjumlahan n-kali unsur -1 sebagai bilangan bulat -n. kita tuliskan a-n untuk (1/a)n. kita akan menggunakan notasi ini untuk pengurangan dan pembagian. sejak sekarang kita akan tinggalkan titik untuk perkalian dan menuliskan ab untuk a.b. Himpunan bilangan rasional di R akan dituliskan dengan notasi standar Q. 0.(1/b). dan lebih dari itu. c yang berarti juga b = c (c).b di Z dan a ≠ 0 disebut bilangan rasional. Hal ini cukup dengan mengasumsikan a ≠ 0 dan memperoleh b = 0. N dan Z subhimpunan dari R. b = a . Secara sama. kita gunakan bagian (b) terhadap persamaan a . Teorema-teorema di atas mewakili sebagian kecil tetapi penting dari sifat-sifat aljabar bilangan real. Bila a ≠ 0. sifat-sifat medan yang dituliskan di awal bagian Analisis Real I 27 . Operasi pengurangan didefinisikan dengan a . b = 1 . Secara sama. secara umum. 0 yang menghasilkan b = 0. bila a ≠ 0.n di N. dan bila n∈N. kita identifikasi 0∈Z dengan unsur nol di R.Pendahuluan Jadi 1 . (Mengapa?) Karena a . Akibatnya. Berikutnya. Sebagaimana biasa kita akan menuliskan a2 untuk aa. Unsur-unsur di R yang dapat dituliskan dalam bentuk b/a dengan a. a3 untuk (a2)a. Banyak konsekuensi tambahan sifat medan R dapat diturunkan dan beberapa diberikan dalam latihan. kita definisikan an+1 = (an)a. Jumlah dan hasil kali dua bilangan rasional merupakan bilangan rasional (Buktikan!).b = a + (-b) untuk a. Kita juga menyetujui penulisan a0 = 1dan a1 = a untuk sebarang a di R (a ≠ 0). bila memang hal ini memudahkan. maka am+n = aman untuk semua m. untuk n∈N. Bilangan Rasional dan Irasional Kita anggap himpunan bilangan asli sebagai subhimpunan dari R. kita akan gunakan notasi a-1 untuk 1/a. dengan mengidentifikasi bilangan asli n∈N sebagai penjumlahan n-kali unsur satuan 1∈R. b = 0 = a . b ≠ 0 dengan a/b = a. Secara sama operasi pembagian didefinisikan untuk a. Kita tinggalkan ini sebagai latihan bagi pembaca untuk membuktikan (dengan induksi) bahwa bila a di R.

maka kuadratnya. dan bilangan ganjil mempunyai bentuk 2n . Menurut Teorema Phytagoras tentang segitiga siku-siku. Tidak ada bilangan rasional r.q positif dan tidak mempunyai faktor persekutuan lain kecuali 1. Dalam pembuktiannya kita akan menggunakan gagasan bilangan genap dan bilangan ganjil. Analisis Real I 28 .1. Kita ingat kembali bahwa bilangan genap mempu-nyai bentuk 2n untuk suatu n di N. Penemuan ini mempunyai sumbangan besar pada perkembangan matematika Yunani. dan tidak pernah bersifat keduanya. (Mengapa?) Karena p2 = 2q2. dengan alasan seperti pada paragraf terdahulu. Akibatnya.1ganjil. Karena p genap.1 juga ganjil). Asumsikan bahwa p.7 Teorema. 2. sehingga r2 = 2 Bukti : Andaikan terdapat bilangan rasional yang kuadratnya 2. yang berarti bilangan-bilangan itu bukan rasio (= hasil bagi dua buah) bilangan rasional. dan dari sini 4m2 = 2q2.4n + 1 = 2(2n2 . teorema 2 bukan faktor persekutuan dari p dan q maka haruslah q ganjil. Akibatnya q2 genap.1 untuk suatu n di N.Aljabar Himpunan ini dapat ditunjukkan dipenuhi oleh Q. Setiap bilangan asli bersifat ganjil atau genap.2n +1) . Pada abad keenam sebelum masehi komunitas Yunani kuno pada masa Pytagoras menemukan bahwa diagonal dari bujur sangkar satuan tidak dapat dinyatakan sebagai pembagian bilangan bulat. maka p = 2m untuk suatu m ∈ N. ini mengakibatkan tidak ada bilangan rasional yang kuadratnya dua. Fakta bahwa terdapat unsur di R yang tidak di Q tidak begitu saja dikenali. Jangan dikacaukan dengan arti tak rasional. Salah satu konsekuensinya adalah unsur-unsur R yang bukan unsur Q merupakan bilangan yang dikenal dengan bilangan irrasional. Maka terdapat bilangan bulat p dan q sehingga (p/q)2 = 2. p2 = 4n2 . yang diikuti q juga genap. Ini mengakibatkan bahwa p juga genap (karena bila p = 2n . Kita akan tutup bagian ini dengan suatu bukti dari fakta bahwa tidak ada bilang-an rasional yang kuadratnya 2. jadi 2m2 = q2. kita peroleh bahwa p2 genap.

2x + 5 = 8. x = 2x.b di R. 8.e) = a = B(e. (c).1.c di R. Latihan 2. Modifikasi argumentasi pada bukti teorema 2.1.a). B3(a.b) = 1 + ab 29 .1. B4(a.1) (x + 2) = 0. untuk semua a di R Tentukan sifat-sifat mana yang dipenuhi operasi di bawah ini (a). (iii).b di R dan memenuhi a. (a). Buktikan bahwa bila a. asosiatif bila B(a.b. mempunyai unsur identitas bila terdapat unsur e di R sehingga B(a.7 untuk membuktikan bahwa tidak ada bilangan rasional t.c) untuk semua a. B2(a.b) = a .a) untuk semua a. 2.(-b) = a.Pendahuluan Dari sini kita sampai pada kontradiksi bahwa tidak ada bilangan asli yang bersifat genap dan ganjil.a = a.b). sehingga t2 = 3. -(a/b) = (-a)/b bila b ≠ 0 5. 2x + 6 = 3x + 2. (ii).c)) = B(B(a. Kita katakan B : (i). (x . 2.1.b di R.7 untuk membuktikan bahwa tidak ada bilangan rasional s. Bila a.b) = 1 2 (ab) (c). Bila a ≠ 0 dan b ≠ 0. 4. sehingga s2 = 6.2 2.1 Untuk nomor 1 dan 2. (-a).b) = 1 2 (a + b) (b).3. 3. Gunakan argumentasi pada bukti teorema 2. (d). buktikan bagian b dari teorema 1. 10.b) = B(b.(1/b) 7. maka -(a + b) = (-a) + (-b) (-a) = -(1/a) bila a ≠ 0 (b).b (d). Selesaikan persamaan berikut dan sebutkan sifat atau teorema mana yang anda gunakan pada setiap langkahnya. 9.B(a. tunjukkan bahwa 1/(ab) = (1/a). Tunjukkan bahwa bila ξ di R irasional dan r ≠ 0 rasional. B1(a. buktikan bahwa a = 0 atau a = 1 6.b Analisis Real I (d). Misalkan B operasi biner pada R. maka r + ξ dan rξ irasional. komutatif bila B(a. 2 (b).

yang disebut himpunan bilangan real positif. Bila a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak negatif dan ditulis a ≥ 0. maka a. yang memenuhi sifat-sifat berikut : (i). a = 0. -a ∈ P Dua sifat yang pertama kesesuaian urutan dengan operasi penjumlahan dan perkalian. Cara paling sederhana yaitu dengan mengidentifikasi sub himpunan tertentu dari R dengan menggunakan gagasan “positivitas”. Sifat Urutan Dalam R Sifat urutan R mengikuti gagasan positivitas dan ketaksamaan antara dua bilang-an real. Analisis Real I 30 . dan lebih dari itu. Buktikan bahwa bilangan asli tidak dapat bersifat genap dan ganjil secara bersamaan. maka a + b di P (ii).b di P.b di P (iii). 2. Suatu operasi biner B pada R dikatakan distributif terhadap penjumlahan bila memenuhi B(a. Bila a. R gabungan tiga himpunan yang saling lepas.b) + B(a. karena hal ini membagi R menjadi tiga daripada unsur yang berbeda.b di P.Aljabar Himpunan 11. 13. Bila a di R. 2.c di R. maka tepat satu dari yang berikut dipenuhi a ∈ P. Terdapat sub himpunan tak kosong P dari R. kita katakan a bilangan real positif (atau positif kuat) dan kita tulis a > 0.n di N.2. maka am+n = aman dan (am)n = am. Hal ini menyatakan bahwa himpunan {-a  a ∈ P} bilangan real negatif tidak mempunyai unsur sekutu di P. Yang mana (bila ada) dari operasi nomor 12 yang bersifat distributif terhadap penjumlahan?.2. 2.b. Bila a∈P. di sini kita utamakan beberapa sifat dasar sehingga sifat yang lain dapat diturunkan. Kondisi (iii) biasa disebut “Sifat Trikotomi”.2. Seperti halnya pada struktur aljabar sistem bilangan real.c) untuk semua a.b + c) = B(a. Bila a.1 Sifat Urutan dari R. Gunakan induksi matematika untuk menunjukan bahwa bila a di R dan m.2 Definisi. 12.n.

Tepat satu yang berikut benar : a > b.2. 2. maka kita tulis a > b atau b < a.b. Misalkan a. kita akan menggunakan a < b < c. a = b dan a < b (c). Dengan sifat trikotomi 2.c unsur di P. Secara sama. Sifat Urutan Sekarang akan kita perkenalkan beberapa sifat dasar relasi urutan pada R.b ∈ P dan b .b) = b .2. -(a .3 Definisi. Bila a > b dan b > c. Bila a .b ∈ P. kita katakan a bilangan real negatif (atau negatif kuat) dan kita tulis a < 0.c di R.b) + (b - c) = a .b ∈ P∪{0} maka kita tulis a ≥ b. Analisis Real I 31 . (a). Sekarang kita perkenalkan gagasan tentang ketaksamaan antara unsur-unsur R dalam himpunan bilangan positif P. bila a ≤ b dan b ≤ c benar. Dari sini a > c. . (i). Misalkan a. dituliskan dengan a≤b<d dan seterusnya.4 Teorema. Bila -a∈P∪{0} kita katakan a bilangan real tak positif dan ditulis a ≤ 0. Untuk kemudahan penulisan. maka a = b Bukti : (a). . tepat satu dari yang berikut benar : a .a ∈ P. (ii). bila a ≤ b dan b < d benar. Bila a .c ∈ P.2. maka a > c (b). Ini merupakan aturan ketaksamaan yang biasa kita kenal dan akan sering kita gunakan pada pembahasan selanjutnya. maka 2.2. a .b ∈ P. 2. (b).atau b ≤ a. bila a < b dan b < c dipenuhi.b di R. Bila a ≥ b dan b ≥ a. Bila a . kita akan menuliskannya dengan a≤b≤c Juga.1(iii).b = 0.Pendahuluan Bila -a∈P.1(i) mengakibatkan bahwa (a .

(a). maka ca < cb Analisis Real I 32 . Karena itu a = b.b.1(ii).(-a) ∈ P.a ∈ P.2. maka a2 > 0.1.b ∈ P atau b . Dari 2. (a) mengakibatkan 1 > 0.d ∈ R (a). kita mempunyai (-a).1.1 (ii). maka a ∈ P atau -a ∈ P. Secara sama bila -a ∈ P.a ∈ P. Dari sini pernyataan n > 0 untuk semua n∈N benar.5(d) kita mempunyai (-a). Sifat berikut berhubungan dengan urutan di R terhadap penjumlahan dan perkalian. menurut 2. .. Dengan sifat trikotomi bila a ≠ 0. Bila pernyataan k > 0.. bila a > b dan c > d. Kita simpulkan bahwa bila a ≠ 0. (b).(-a) = ((-1)a) ((-1)a) = (-1)(-1).1. 2. Misalkan a. Bila a∈R dan a ≠ 0. maka a2 > 0 (b). Adalah hal yang wajar bila kita berharap bilangan asli merupakan bilangan positif. maka n > 0 Bukti : (a). (c). maka k∈P. Kita akan tunjukkan bagaimana sifat ini diturunkan dari sifat dasar yang diberikan dalam 2. maka dengan 2.2. Bila n∈N. Bila a ≠ b. jadi menurut bagian (b) kita hanya mempunyai a . bila a > b. Karena 1 ∈ P. Kita gunakan induksi matematika. maka a + c > b + c (b).5(b) dan 2.c.2.b ≠ 0.1(i) .6 Teorema. maka a + c > b + d (c). validitas untuk n = 1 dijamin oleh (b).2. dengan k bilangan asli. jadi a2 ∈ P. maka k + 1 ∈ P. bila a > b dan c > 0. Karena 1 = (1)2.a2 = a2.Aljabar Himpunan (c). Yang masing-masing kontradiksi dengan satu dari hipotesis kita.2. maka ca > cb bila a > b dan c < 0. Kuncinya adalah bahwa kuadrat dari bilangan real tak nol positif. 1 > 0 (c).5 Teorema. maka a . Bila a ∈ P. maka 2. 2.2. Sifat-sifat ini menyajikan beberapa alat yang memungkinkan kita bekerja dengan ketaksamaan. kita mempunyai a2 = a. yaitu a > b atau b > a.

maka ca .2.(b + c) unsur di P.cb = c(a . maka 1/a < 0 Bukti : (a).1. Bukti : Karena a < b. kita peroleh bahwa 1 dengan n n sebarang bilangan asli adalah bilangan positif. Dengan menggunakan 2. karenanya menurut 2.6(c) kita dapatkan a= 1 2 1 2 > (2a) < 1 2 (a + b) < 1 2 (2b) = b Analisis Real I 33 . adalah positif. Bila a > 0. maka -c ∈ P sehingga cb .2.(b + d) = (a . maka a < 2 (a + b) < b. bila a > 0.2.2.1(ii).6(d). Bila a dan b unsur di R dan bila a < b. bila c > 0.6(c) dan 2. Dilain pihak.d) juga unsur di P menurut 2.b) + (c .7 Teorema.6(d) kita peroleh 0. maka kemungkinan 1/a > 0 membawa ke sesuatu yang kontradiksi yaitu 1 = a(1/a) < 0.b ∈ P dan c ∈ P. Dari sini. Jadi.2. Andaikan 1/a < 0. cb > ca bila c < 0.1(i). maka bagian (c) dengan c = 1/a mengakibatkan bahwa 1 = a(1/a) < 0. mengikuti 2. Bila a .5(c) kita mempunyai 2 > 0. maka 1/a > 0 bila a < 0. a + c > b + d.b) ∈ P menurut 2. Jadi a + c > b + c (b). bila c < 0. Bila a .2.5(b).6(a). Bila a . kontradiksi dengan 2. Karena itu kita mempunyai 2a < a + b < 2b Menurut 2.d ∈ P.2. maka (a + c) . Secara sama. bila a < 0.6(a) diperoleh bahwa 2a = a + a < a + b dan juga a + b < b + b = 2b.2.  n n 1 2.2.ca = (-c)(a b) unsur di P.b ∈ P dan c . karena itu ca > cb. (d). Akibatnya bilangan rasional dengan bentuk m  1 = m   . Karenanya 1/a > 0. untuk m dan n bilangan asli.b ∈ P.2. maka (a + c) .Pendahuluan (d). jadi 1/a ≠ 0 menurut 2. Dengan menggabung 2. (c). maka a ≠ 0 (menurut sifat trikotomi).

untuk membuktikan bahwa a ≥ 0 benar-benar sama dengan 0. 2.ε < b untuk setiap ε >0. Bila ab > 0. maka a = 0.10 Teorema. Bila a di R sehingga 0 ≤ a < ε untuk setiap ε positif.2.ε0.2.8 diperoleh 0 < 1 2 1 2 a <a. maka 0 < Bukti : Ambil a = 0 dalam 2. kontradiksi dengan hipotesis. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa 0 < ε untuk setiap ε positif. Bukti : Andaikan a > 0.2. seperti ditunjukkan berikut ini. Bila b ∈ R dan b > 0. Sebagai contoh. Bukti : 1 Andaikan b < a dan tetapkan ε0 = 2 (a . Maka menurut 2. 1 2 b < b. a < 0 dan b < 0 Bukti : Analisis Real I 34 . kita tidak mendapatkan bilangan real positif terkecil. Dua hasil yang berikut akan digunakan sebagai metode pembuktian selanjutnya. Tetapi. 2. Jadi a = 0. Maka a ≤ b.11 Teorema. Misalkan a.2.9 Teorema. (Bukti lengkapnya sebagai latihan).2. Hal ini akan ditunjukkan sebagai berikut : 2.8 Teorema Akibat. 2. a > 0 dan b > 0 atau (ii). dan a .Aljabar Himpunan Dari sifat urutan yang telah dibahas sejauh ini. kita lihat pada hasil berikut bahwa hal ini cukup dengan menunjukkan bahwa a kurang dari sebarang bilangan positif manapun.b). maka 0 < ε0 < a. Kenyataannya adalah kedua faktor tersebut harus bertanda sama (sama-sama positif atau sama-sama negatif). Hasil kali dua bilangan positif merupakan bilangan positif juga.7.2. maka (i). Sekarang tetapkan ε0 = a.b di R. Maka ε0 dan b < a . positivitas suatu hasil kali tidak mengakibatkan bahwa faktor-faktornya positif.

Karenanya. maka hasil kalinya 0).1 > 0 dan x + 2 < 0 (Mengapa?). Tentukan himpunan C = {x ∈ R (2x + 1)/(x + 2) < 1}. kita mempunyai (i). (a). kita mempunyai (i).12 Teorema Akibat.2.1 < 0 dan x + 2 > 0.11 dapat digunakan.1)/(x + 2) < 0. maka 1/a < 0.1 > 0 dan x + 2 > 0. Dalam kasus (i) kita harus mempunyai x < 1 dan x > -2. (c). maka (i). sehingga b = (1/a) (ab) < 0.1 < 0 ⇔ (x .6(d) dan karenanya b = 1. Tuliskan bahwa x ∈ B ⇔ x2 + x . Bila a >0. Tentukan himpunan A dari semua bilangan real x yang memenuhi 2x = 3 ≤ 6.2 > 0 ⇔ (x .1 < 0 dan x + 2 < 0.b = ((1/a)a) b = (1/a) (ab) > 0 Secara sama.2. x . Dalam kasus (ii) kita mempunyai x < 1 dan x < -2. atau (ii). Kita catat bahwa x ∈ A ⇔ 2x + 3 ≤ 6 ⇔ 2x ≤ 3 ⇔ x ≤ 3/2. a > 0 dan b < 0 Buktinya sebagai latihan. (b). yang dipenuhi jika dan hanya jika x < -2. yang dipenuhi jika dan hanya jika x > 1.13 Contoh-contoh. Karenanya. 2. Dalam kasus (i). maka 1/a > 0 menurut 2. bila a < 0. Jadi B = {x ∈ R x > 1}∪{x ∈ R x < -2}. atau (ii).1) (x + 2) > 0. x .Pendahuluan Pertama kita catat bahwa ab > 0 mengakibatkan a ≠ 0 dan b ≠ 0 (karena bila a = 0 dan b = 0. Kita catat bahwa x ∈ C ⇔ (2x + 1)/(x + 2) . x . Ketaksamaan Sekarang kita tunjukkan bagaimana sifat urutan yang telah kita bahas dapat digunakan untuk menyelesaikan ketaksamaan.2. A = {x ∈ R  x ≤ 3/2}. kita mempunyai x > 1 dan x > -2.x . jika dan hanya jika -2 < x Analisis Real I 35 . a > 0 atau a < 0. a < 0 dan b > 0 atau (ii). Pembaca diminta memeriksa dengan hati-hati setiap langkahnya. Dari sifat trikotomi. yang dipenuhi. 2.2. Karenanya. Tentukan himpunan B = {x ∈ R  x2 + x > 2} Kita ingat kembali bahwa teorema 2. Bila ab < 0.

Aljabar Himpunan < 1. Perlu dicatat juga bahwa eksistensi akar kuadrat dari bilangan positif kuat belum diperkenalkan secara formal.2.a2 = (b . Dari 2. (a). a < b ⇔ a2 < b2 ⇔ a< b Kita pandang kasus a > 0 dan b > 0. maka rata-rata aritmatisnya adalah dan rata-rata geometrisnya adalah diberikan oleh (a + b) ab . Maka (i).5).6(c) diperoleh bahwa b . maka a > 0 dan b > 0 .2.2. dan kita tinggalkan kasus a = 0 kepada pembaca. Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris ab ≤ 1 2 (a + b) (2) dan ketaksamaan terjadi jika dan hanya jika a = b.a) (b + a). Pembaca seharusnya membuktikan setiap langkah dengan mengidentifikasi sifat-sifat yang digunakan.1(i) diperoleh bahwa a + b > 0. maka bila a dan b berturut-turut diganti dengan kan bukti di atas diperoleh a < b ⇔ dan b ≥ 0.a > 0 mengakibatkan bahwa b . Contoh-contoh. Hal ini akan membiasakan untuk yakin dengan setiap langkah dalam pekerjaan selanjutnya. karena a = ( a )2 dan b = a dan b . dari 2. kita harus mempunyai x > 1 dan x < -2. Jadi kesimpulannya adalah C = {x ∈ R -2 < x < 1}. Analisis Real I 36 .a > 0. tetapi eksistensinya kita terima dalam membicarakan contoh-contoh berikut. 2.14. sedangkan dalam kasus (ii). Karena b2 . Bila a dan b bilangan bulat positif. maka a< b Kita juga tinggalkan kepada pembaca untuk menunjukkan bahwa bila a ≥ 0 a ≤ b ⇔ a2 ≤ b2 ⇔ a ≤ b 1 2 (b). Contoh berikut mengilustrasikan penggunaan sifat urutan R dalam pertaksamaan. (Eksistensi akar kuadrat akan dibahas dalam 2. Misalkan a ≥ 0 dan b ≥ 0. Bila a > 0 dan b > 0. dan kita guna- ( b )2. yang tidak akan pernah dipenuhi.

(c). kita asumsikan bahwa ketaksamaan (4) valid untuk suatu bilangan asli n. perhatikan bahwa bila a > 0. = an. dan a ≠ b. maka kedua ruas dari (2) sama dengan a.. maka (1 + x)n ≥ 1 + nx . Untuk n = 1..an adalah (a1 a2 . Dengan mengekspansi kuadrat ini. yang diikuti oleh ab < 1 2 (a + b).2ab + b2 = (a . Karenanya (2) dipenuhi (untuk ketaksamaan kuat) bila a ≠ b. Maka dengan meng- kuadratkan kedua ruas kemudian mengalikannya dengan 4. (4) Buktinya dengan menggunakan induksi matematika. Ketaksamaan Bernoulli. an)1/n ≤ a1 + a2 +. Selanjutnya.+ an n (3) dengan kesamaan terjadi jika dan hanya jika a1 = a2 = . misalkan a > 0. b > 0 dan ab < 1 2 (a + b). Bila x > -1..5(a) diperoleh bahwa ( a .2 ab + b > 0. b > 0. yang diikuti oleh 0 = a2 . bila a = b (> 0).Pendahuluan Untuk membuktikan hal ini.b )2 > 0. b > 0 dan a ≠ b (Mengapa?). b > 0. menghasilkan kesamaan sehingga pernyataan tersebut benar dalam kasus ini... Lebih dari itu. Asumsi (1 + x)n ≤ 1 + nx dan fakta 1 + x > 0 mengakibatkan bahwa Analisis Real I 37 . Dilain pihak. diperoleh a . dan akan dibuktikan valid juga untuk n + 1.. Jadi kesamaan untuk (2) mengakibatkan a = b. Tetapi kesamaan ini mengakibatkan a = b (Mengapa?).. Karenanya dari 2. maka a > 0. jadi (2) menjadi kesamaan.b)2. Hal ini membuktikan bahwa (2) dipenuhi untuk a > 0. a2. kita peroleh 4ab = (a + b)2 = a2 + 2ab + b2.2.... untuk semua n ∈ N. Catatan : Ketaksamaan rata-rata aritmetis-geometris yang umum untuk bilangan positif a1.

. an = sbn.5(a) dan 2. bn bilangan real maka (a1b1+ . Karenanya. + an2) (b12 + . bila aj = sbj untuk suatu Analisis Real I 38 .2..Aljabar Himpunan (1 + x)n+1 = (1 + x)n (1 + x) ≥ (1 + nx) (1 + x) = 1 + (n + 1)x + nx2 ≥ 1 + (n + 1)x Jadi. + anbn. dengan A. ketaksamaan (4) valid untuk n + 1. Karena fungsi kuadrat F(t) tak negatif untuk semua t ∈ R. Dari 2. sehingga a1 = sb1. Untuk membuktikan hal ini kita definisikan fungsi F : R → R.. maka kesamaan untuk (5) dipenuhi untuk sebarang aj. Maka... + bn2. + (an . Ketaksamaan Cauchy. maka kesamaan untuk (5) dipenuhi jika dan hanya jika terdapat bilangan real s.. Bila bj = 0. n. C = b12 + .1(i) diperoleh bahwa F(t) ≥ 0 untuk semua t∈R... untuk semua j = 1.tbn)2. Misalkan sekarang tidak semua bj = 0.2... . ketaksamaan (4) valid untuk semua bilangan asli. b2. . yang tidak lain adalah (5). Bila kuadratnya diekspansikan diperoleh F(t) = A .. Dari sini. untuk t∈R de-ngan F(t) = (a1 ... (d).an dan b1. .. bila valid untuk n.2Bt + Ct2 ≥ 0..B...4AC = 4(B2 .. a2...tb1)2 + . bila tidak semua bj = 0. Bila n∈N dan a1. + an2. B = a1b1 + . (5) Lebih dari itu. kita mempunyai B ≤ AC. hal ini tidak mungkin mempunyai dua akar real yang berbeda. + anbn)2 ≤ (a12 + . + bn2)....AC) harus memenuhi ∆ ≤ 0. . ..C sebagai berikut A = a12 + . Karenanya diskriminannya ∆ = (-2B)2 ..

maka B = samaan dalam ketaksamaan Cauchy dipenuhi. .. Tetapi hal ini mengakibatkan (mengapa?) bahwa a1 .. Bila 0 < a < b dan 0 < c < d. A+ C. Tentukan bilangan real a. Ketaksamaan Segitiga. Bila a ≤ b dan c < d.. buktikan bahwa a + c ≤ b + d.dengan menggunakan ketaksamaan Cauchy (5) [A. .b ∈ R. n. (a). (e).2 1. +bn2)2. Bila n ∈ N dan a1. (b). Bila kesamaan untuk (b) dipenuhi... kesamaan untuk (6) dipenuhi jika dan hanya jika terdapat bilangan real s. .. maka haruslah ∆ = 0. bn bilangan real maka [(a1 + b1)2 + . ..Pendahuluan s∈R dan semua j = 1. Analisis Real I 39 .. buktikan bahwa a + c < b + d.. 3. buktikan bahwa 0 ≤ ac ≤ bd. .. yang mengakibatkan ke- Latihan 2. Juga tunjukkan dengan contoh bahwa ac < bd tidak selalu dipenuhi.. 4... + (an + bn)2 = A + 2B + C ≤ A + 2 AC + C = ( A + C )2 Dengan mengunakan bagian (a) kita mempunyai (mengapa?) [(a1 + b1)2 + ..C seperti pada (d)].. n.d yang memenuhi 0 < a < b dan c < d < 0.c... bd < ac. Bila a.... ac < bd. sehingga terdapat akar tunggal s dari persamaan kuadrat F(t) = 0.sb1 = 0.. (a). 5. mengakibatkan kedua ruas dari (5) sama dengan s2(b12 + . AC . + (an + bn)2]1/2 ≤ [a12 + .. Bila a ≤ b dan c ≤ d.. Buktikan bila a < b dan c < d.. + (an + bn)2]1/2 ≤ yang tidak lain adalah (b)... . sehingga (i). n. tunjukkan bahwa a2 + b2 = 0 jika dan hanya jika a = 0 dan b = 0. kita mempunyai (a1 + b1)2 + .. an dan b1.b. Karena (aj + bj)2 = aj2 + 2ajbj + bj2 untuk j = 1. Bila 0 < a < b dan 0 ≤ c ≤ d. Di lain pihak bila kesamaan untuk (5) dipenuhi.. an = sbn. + bn2]1/2 (6) lebih dari itu bila tidak semua bj = 0..sbn = 0 yang diikuti oleh aj = sbj untuk semua j = 1.. atau (ii)... + an2]1/2 + [b12 + . sehingga a1 = sb1. maka ad + bc < ac + bd.B. buktikan bahwa 0 < ac < bd (b). . 2.. an .

Bila 0 ≤ a < b. + cn) ( 1 c1 + 1 c2 +. Bila 0 < c < 1. + cn n [ ] 20. dan m. (d). Misalkan ck > 0 untuk k = 1. Bila n ∈ N.. 12. 15. (c).+ 1 cn ) 19. tunjukkan bahwa cn ≥ c untuk semua n ∈ N. tunjukkan bahwa bila c > 1. tunjukkan bahwa a < b jika dan hanya jika an < bn. tunjukkan bahwa cm < cn jika dan hanya jika m > n. Asumsikan eksistensi akar dipenuhi. Juga tunjukkan dengan contoh bahwa hal ini tidak selalu diikuti oleh a2 < ab < b2. (a2 + b2) untuk semua a.. 1 11. tunjukkan bahwa 1 < c < c2 13. Tunjukkan bahwa 1/ 2 c1 + c2 +. 1/x < x. maka c1/m < c1/n jika dan hanya jika m > n. (a).n ∈ N. tunjukan bahwa n2 ≥ n dan dari sini 1/n2 ≤ 1/n..2. Bila 0 < c < 1. Tunjukan bahwa bila 0 < a < b. maka a < ab < b dan 0 < 1/b < 1/a. 8. Tunjukkan bahwa tidak selalu dipenuhi a < b. tunjukkan bahwa cn ≤ c untuk semua n ∈ N.b ∈ R. Buktikan bahwa n2 ≤ (c1 + c2 + .. 17. 16.. Tunjukkan bahwa a ≤ b... 10. 2. tunjukkan bahwa 0 < c2 < c < 1 (b)..2.n ∈ N.3. (a). Misal a. Bila 0 < c < 1 dan m. tunjukkan bahwa cm > cn jika dan hanya jika m > n... (Perhatikan ketaksamaan Bernoulli dengan c = 1 + x). Bila c > 1. x2 > 3x + 4. Misalkan ck > 0 untuk k = 1... 1/x < x2.. (b).. 18..Tentukan bilangan real x yang memenuhi (a). Bila c > 1. b > 0 dan n ∈ N. 9..n. Bila a > 0. Tunjukkan bahwa kesamaan dipenuhi jika dan hanya jika a = b. Buktikan bahwa ( 2 (a + b))2 ≤ 1 2 (b).. Bila 1 < c.n.Aljabar Himpunan 6.. 7.b ∈ R dan untuk setiap ε > 0 kita mempunyai a ≤ b + ε.+ cn 2 ≤ c1 + c2 + . 14. Nilai Mutlak Analisis Real I 40 . buktikan bahwa a2 ≤ ab < b2.+ cn ≤ c12 + c2 2 +. 1 < x2 < 4.

maka ab < 0. dituliskan dengan a. Tetapkan c = a pada (d). Nilai mutlak dari 0 didefinisikan 0. (e). maka kita mempunyai -c ≤ a ≤ c. maka -a < 0 sehingga a = a = -(-a) = -a. (e). maka ab > 0.2. (Mengapa?). Maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c. 2. Sebalik-nya. (c). Bila a < 0. maka a ≤ c jika dan hanya jika -c ≤ a ≤ c. didefinisikan dengan  a . sehinga a = -a = -a. maka a = 0. (Mengapa?) Karena ke-taksamaan terakhir ekivalen dengan a ≥ -c. untuk semua a ∈ R. Bila a ∈ R.3. Juga a = a bila a ≥ 0. Bukti : (a). maka ab dan ab sama dengan 0. untuk semua a. Bila c ≥ 0.b ∈ R. nilai mutlak a. maka -a ≠ 0. ab = ab. Bila a > 0. Bila a = 0.3.1 Definisi. maka kita mempunyai a ≤ c dan -a ≤ c.b keduanya 0. (d).1(ii). Jadi bila a = 0. Bila a = 0. bila a = 0 − a . Bila a. Bila a > 0 dan b < 0. a = 0 jika dan hanya jika a = 0 (b). (d). (b). Analisis Real I 41 .2 Teorema. Bila a > 0 dan b > 0. maka a = 0. sehingga a ≤ c. Dari definisi ini kita akan melihat bahwa a ≥ 0. Misalkan a ≤ c. 2. bila a < 0  Sebagai contoh 3 = 3 dan −2 = 2. bila a > 0  a =  0 .Pendahuluan Dari sifat trikotomi 2. Juga bila a ≠ 0. Secara sama untuk dua kasus yang lain. jadi a ≠ 0. (c). maka -a > 0.a ≤ a ≤ a untuk semua a ∈ R. maka 0 = 0 = 0. -a = a. (a). sehingga ab = -ab = a(-b) = ab. sehingga ab = ab = ab. bila -c ≤ a ≤ c. . Nilai mutlak dari a ≠ 0 didefinisikan sebagai bilangan yang positif dari keduanya. untuk semua a ∈ R. maka tepat satu dari bilangan a atau -a positif. dijamin bahwa bila a ∈ R dan a ≠ 0. dan a = -a bila a < 0.

Bila kedua ketaksamaan ini kita kombinasikan.3. Sekarang kita kurangi dengan b untuk memperoleh a − b ≤ a − b .. 2. Kita tuliskan a = a . dari b = b − a + a ≤ b − a + a dan 2.2. Untuk sebarang a1. 2.3.3.6(b)..b di R.+ an Analisis Real I 42 .. (b).2(e).3. Tukar b pada Ketaksamaan Segitiga dengan -b untuk memperoleh a − b ≤ a+-b Karena − b = b [menurut 2. a − b ≤ a + b Bukti : (a).3.Aljabar Himpunan Ketaksamaan berikut akan sering kita gunakan.5 Teorema Akibat.3.2(d). Aplikasi langsung induksi matematika memperluas Ketaksamaan Segitiga untuk sejumlah hingga bilangan real. 2.+ an ≤ a1 + a2 +... kita mempunyai a+b ≤ a + b Bukti : Dari 2.2(d). kita memperoleh ketaksamaan di (a)..2(b).b di R. Untuk sebarang a. kita mempunyai a + b ≤ a + b dengan menggunakan 2.an ∈ R. Berikut ini dua di antaranya. Secara sama. Untuk sebarang a. kita mempunyai -a ≤ a ≤ a dan -b ≤ b ≤ b. kita mempunyai (a).. kita peroleh − a − b = − b − a ≤ a − b . Kemudian dengan menambahkan dan menggunaka 2.3. kita mempunyai a1 + a2 +. a − b ≤ a − b (b). kita peroleh −( a + b ) ≤ a + b ≤ a + b Dari sini.b + b dan gunakan Ketaksamaan Segitiga untuk memperoleh a = a − b + b ≤ a − b + b.4 Teorema Akibat.3. a2..2(b)] kita dapatkan ketaksamaan (b).3. dengan menggunakan 2. Terdapat banyak variasi penggunaan Ketaksamaan Segitiga. Ketaksamaan Segitiga.

maka tiodak ada x yang memenuhi ketaksaman kita pada kasus (iii). kita peroleh A = {x ∈ R  -9/2 < x < 3/2}. Misalkan f fungsi yang didefinisikan dengan f (x) = 2x 2 − 3x + 1 2x − 1 untuk 2 ≤ x ≤ 3. Akibatnya semua x ≥ 1 termuat di B. Tentukan himpunan A dari bilangan real x yang memenuhi 2x + 3 < 6 Dari 2.3. Pada kasus (iii). Jadi. Dengan membagi dua. 2. (Mengapa kita hanya memperhatikan ketiga kasus di atas?).2(d). (ii). 0 ≤ x < 1. Kita akan perhatikan secara terpisah pembilang dan penyebut dari f (x) = 2x 2 − 3x + 1 2x − 1 Analisis Real I 43 .6 Contoh-contoh.1 < x. (a). (b). x ≥ 1. Caranya dengan memperhatikan setiap kasus bila tanda mutlak dihilangkan.Pendahuluan Contoh-contoh berikut mengilustrasikan bagaimana sifat-sifat nilai mutlak terdahulu dapat digunakan. yang dipenuhi jika dan hanya jika -9 < 2x < 3.3. (c). Karena 1 < 0 selalu salah. Dengan mengkombinasikan ketiga kasus ini diperoleh bahwa B = {x ∈ R x > 1/2}.1) < x. Tentukan konstanta M sehingga f (x) ≤ M untuk semua x yang memenuhi 2 ≤ x ≤ 3. ketaksamaan menjadi -(x . yang dipenuhi oleh semua bilangan real x.1) < -x. kasus (ii) menyajikan semua x dengan 1/2 < x < 1 termuat di B. Di sini kita perhatikan kasus-kasus (i). yang menghasilkan pembahasan lebih lanjut. kita lihat bahwa x ∈ A jika dan hanya jika -6 < 2x + 3 < 6. Pada kasus (i) ketaksamaan kita menjadi x . (iii). yaitu x > 1/2. Pada kasus (ii). yang ekivalen dengan 1 < 0. Tentukan himpunan B = {x ∈ R  x − 1 < x }. ketaksamaan kita menjadi -(x . x < 0.

kita peroleh 2x 2 − 3x + 1 ≤ 2 x + 3x +1 2 ≤ 2 ⋅ 32 + 3 ⋅ 3 + 1 = 28. jarak antara unsur a dan b di R adalah a−b .3. Lebih umum lagi. Pada interpretasi ini. (Catatan bahwa kita meneukan sebuah konstanta yang demikian. Maka lingkungan-ε dari a adalah himpunan Vε(a) = {x ∈ R  x − a < ε}. pernyataan x termuat di Vε(a) ekivalen dengan pernyataan -ε < x . Juga dimungkinkan bahwa 28/3 bukan pilihan terkecil untuk M). maka x = a. Bila x termuat dalam lingkungan Vε(a) untuk setiap ε > 0.7 Definisi. Juga. sebenarnya semua bilangan M ≥ 28/3 juga memenuhi f (x) ≤ M . Untuk a ∈ R. maka bilangan real x dikatakan “dekat” dengan a seharusnya diartikan bahwa jarak antara keduanya x − a “kecil”.Aljabar Himpunan Dari ketaksamaan segitiga. Untuk membahas gagasan ini. Misalkan a ∈ R.a < ε ⇔ a . karena x ≤ 3 untuk semua x yang kita bicarakan. Garis Bilangan Real Interpretasi geometri yang umum dan mudah untuk sistem bilangan real adalah garis bilangan.8 Teorema. Dari 3 sini kita dapat menetapkan M = 28/3. Bila diberikan bilangan real a. nilai mutlak a dari unsur a di R dianggap sebagai jarak dari a ke pusat 0. 2. Kita akan memerlukan bahasa yang tepat untuk membahas gagasan suatu bilangan real “dekat” ke yang lain. karena x ≥ 2 untuk semua x yang kita bicarakan.3. M. Bukti : Analisis Real I 44 . kita akan menggunakan kata lingkungan. yang sebentar lagi akan kita definisikan. Misalkan a ∈ R dan ε > 0.ε < x < a + ε 2. 2x − 1 ≥ 2 x − 1 ≥ 2 ⋅ 2 − 1 = 3. (Mengapa?) Karena itu. untuk 2 ≤ x ≤ 3 kita memperoleh bahwa f (x) ≤ 28 .

Analisis Real I 45 . sehingga Vε(0) tidak termuat dalam I. tunjukan bahwa x < y < z jika dan hanya jika x − y + y − z = x − z Interpretasikan secara geometris. Sebagai contoh.Pendahuluan Bila x memenuhi x − a < ε untuk setiap ε > 0. Bila a. (b). 4. tunjukkan bahwa a + b = a + b . 5. 3.a. maka untuk sebarang ε > 0.3. 2.ε < x < a + ε. tunjukkan bahwa a / b = a / b . (c). dan dari sini x = a. maka dari 2. tunjukkan bahwa (a). Jadi setiap unsur di U mempunyai lingkungan-ε yang termuat di U.3. Bila x − a < ε dan y − b < ε . misalkan ε bilangan terkecil dari a atau 1 . 1.9 diperoleh bahwa x − a = 0. x ≤ z. yang memenuhi pertaksamaan berikut : (a). (b). Contoh-contoh. Bila a. Latihan 2. dan b ≠ 0. lingkungan-ε Vε(0) memuat titik di luar I. Misalkan U = {x  0 < x < 1}. x + x + 1 < 2 . x − 1 > x + 1 .b ∈ R. maka Ketaksamaan Segitiga mengakibatkan bahwa ( x + y) − ( a + b) = ( x − a ) + ( y − b) = x − a + y − b < 2 ε. x 2 − 1 ≤ 3 .b maka x + y termuat di lingkungan -2ε dari (a + b) (tetapi tidak perlu lingkungan -ε dari (a + b)). Bila x.y. (d). Maka Vε(a) termuat di U.9. a 2 = a 2 2. (c). Tentukan x ∈ R. (a). Jadi bila x.b ∈ R. Bila I = {x : 0 ≤ x ≤ 1}. Bila a ∈ U. 4x − 3 ≤ 13 . Misalkan a ∈ R. a = a2 (b).z ∈ R.y secara berturut-turut termuat di lingkungan -ε dari a. bilangan xε = -ε/2 unsur di Vε(0) tetapi bukan unsur di I.jika dan hanya jika ab > 0. Tunjukkan bahwa x − a < ε jika dan hanya jika a .2. 6.

(b). a ∈ R. x − y = 2 . Misalkan S suatu sub himpunan dari R. (c). x ≤ y . Observasi ini menunjukan perlunya sifat tambahan untuk bilangan real.2. x + y ≤ 1 . (i). (c xy = 2 . Sifat tambahan ini.1.y) yang memenuhi (a). Analisis Real I 46 . yaitu Supremum dan Infimum Sekarang kita akan perkenalkan gagasan tentang batas atas suatu himpunan bilangan real.4. Interpretasikan secara geometris.b ∈ R. sangat esensial untuk R. 2. Bila a < x < b dan a < y < b. Tentukan dan sketsa himpunan pasangan berurut (a. xy ≤ 2 . Misalkan ε > 0 dan δ > 0. karena itu sifat kelengkapan. maka terdapat lingkungan-ε U dari a dan lingkungan-γ V dari b.1 Definisi. Tentukan dan sketsa himpunan berurut (x. tunjukkan bahwa x − y < b − a . Pada bagian ini kita akan membahas satu sifat lagi dari R yang sering disebut dengan “sifat kelengkapan”.1. Tunjukkan bahwa Vε(a) ∩ Vδ(a) dan Vε(a) ∪ Vδ(a) adalah lingkungan-γ dari a untuk suatu γ. 2. Gagasan ini akan sangat penting pada pembahasan selanjutnya. 10.1 dan sifat ururtan 2.4. dan a ≠ b. untuk semua s ∈ S. (d). Sistem bilangan rasional Q memenuhi sifat aljabar 2. Bilangan u ∈ R dikatakan batas atas dari S bila s ≤ u. (d). x − y ≥ 2 . 11.Aljabar Himpunan 7.b) di R×R yang memenuhi (a x = y . 8. Sifat Kelengkapan R Sejauh ini pada bab ini kita telah membahas sifat aljabar dan sifat urutan sistem bilangan real. tetapi seperti kita lihat sentasikan sebagai bilangan rasional. x + y = 1 . Tunjukkan bahwa bila a. 2 tidak dapat direpre- 2 tidak termuat di Q. sehingga U∩V = ∅. Di sini kita pilih metode yang paling efisien dengan mengasumsikan bahwa himpunan tak kosong di R mempunyai supremum. (b). 9. Ada beberapa versi sifat kelengkapan.

Bilangan w ∈ R dikatakan batas bawah dari S bila w ≤ s. Karena agar u ∈ R bukan batas atas dari S. Secara sama. bila himpunan P di R mempunyai batas bawah. Bila S = ∅. unsur s’ ∈ S harus ada. maka batas atas u dikatakan supremum (atau batas atas ter-kecil) dari S bila tidak terdapat batas atas (yang lain) dari S yang kurang dari u. maka sebarang v dengan v > u juga merupakan batas atas dari S. kita katakan P terbatas di bawah. {x ∈ R : x ≤ 2} tidak terbatas (walaupun mempunyai batas atas) karena tidak mempunyai batas bawah. Sebagai contoh. Pada pembahasan ini. tetapi merupakan konsekuensi logis dari definisi. Misalkan S subhimpunan dari R. sehingga u < s’. Sedangkan suatu himpunan A di R dikatakan tidak terbatas bila A tidak mempunyai (paling tidak satu dari) batas atas atau batas bawah. Sebagai contoh. bilangan z ∈ R bukan batas bawah dari S jika dan hanaya jika terdapat s’’ ∈ S. Hal ini mungkin artifisial. Kita juga catat bahwa suatu himpunan mungkin mempunyai batas bawah tetapi tidak mempunyai batas atas (dan sebaliknya). kita katakan bahwa suatu himpunan S di R terbatas di atas bila S mempunyai batas atas. Perlu kita cata bahwa subhimpunan S dari R mungkin saja tidak mempunyai batas atas (sbagai contoh. bila S mempunyai batas atas. untuk semua s ∈ S Pembaca seharusnya memikirkan (dengan teliti) tentang apa yang dimaksud dengan suatu bilangan bukan batas atas (atau batas bawah) dari himpunan S.4. Pembaca seharusnya menunjukkan bahwa bilangan v ∈ R bukan batas atas dari S jika dan hanya jika terdapat s’ ∈ S. sehingga v < s’. Secara sama. maka tidak ada unsur di S.Pendahuluan (ii). Bila S terbatas di atas. sehingga s” < z). kita dipaksa kepada kesimpulan bahwa setiap bilangan real merupakan batas atas dari ∅. Tetapi. ambil S = R). Dari sini setiap bilangan real merupakan batas atas dari himpunan kosong. perhatikan himpunan S1 = {x ∈ R : x ≥ 0} dan S2 = {x ∈ R : x < 0} Catatan : Bila kita menerapkan definisi di atas untuk himpunan kosong ∅. (Observasi yang serupa juga berlaku untuk batas bawah). Analisis Real I 47 . (i). (secara sama. maka S mempunyai tak hingga banyak batas atas sebab bila n batas atas dari S.2 Definisi. setiap bilangan real merupakan batas bawah dari himpunan kosong. 2.

2. (Pembaca seharusnya menggunakan cara serupa untuk menunjukkan infimum dari suatu himpunan di R bersifat tunggal).3 Lemma. Bila supremum atau infimum dari suatu himpunan S ada. maka sup S ≤ u’. bila s ≤ u’ untuk semua s ∈ S. maka keduanya merupakan batas atas dari S. maka batas bawah w dikatakan infimum (atau batas bawah terbesar) dari S bila tidak terdapat batas bawah (yang lain) dari S yang kurang dari w. kita akan menuliskan-nya dengan sup S dan inf S Kita amati juga bahwa bila u’ sebarang batas atas dari S. (2). Akan sangat berguna untuk memfarmasikan ulang definisi supremum dari suatu himpunan. Suatu batas atas u dari himpunan tak kosong S di R merupakan supremum dari S jika dan hanya jika untuk setiap ε > 0 terdapat sε ∈ S sehingga u . Secara sama. 2.4 Lemma. maka sup S ≤ u’. Tidak sulit untuk membuktikan bahwa supremum dari himpunan S di R bersifat tunggal. Andaikan u1 < u2 dengan hipotesis u2 supremum mengakibatkan bahwa u1 bukan batas atas dari S.Aljabar Himpunan (ii). Bilangan real u merupakan supremum dari himpunan tak kosong S di R jika dan hanya jika u memenuhi kedua kondisi berikut : (1). Kita tinggalkan bukti dari lemma ini sebagai latihan yang sangat penting bagi pembaca. Misalkan u1 dan u2 supremum dari S. Yaitu. Kriteria berikut sering berguna dalam mengenali batas atas tertentu dari suatu himpunan merupakan supremum dari himpunan tersebut.4. Karena itu.4. s ≤ u untuk semua s ∈ S.ε < sε. bila v < u. Hal ini mengatakan bahwa sup S merupakan batas atas terkecil dari S. pengandaian u2 < u1 dengan hipotesis u1 supremum menga-kibatkan bahwa u2 bukan batas atas dari S. Analisis Real I 48 . maka terdapat s’ ∈ S sehingga v < s’. Pembaca seharusnya juga memfarmasikan dan membuktikan hal yang serupa untuk infimum. haruslah u1 = u2. Bila S terbatas di bawah.

maka S1 mempunyai unsur terbesar u dan unsur terkecil w. yaitu u .v. Penting juga untuk dicatat bahwa supremum dari suatu himpunan dapat merupakan unsur dari himpunan tersebut maupun bukan.ε < u. Himpunan S2 = {x : 0 ≤ x ≤ 1} mempunyai 1 sebagai batas atas. Secara sama.4. Dari sini v bukan batas atas dari S2 dan. misalkan u = sup S dan ε > 0. Dalam hal ini. Sifat Supremum dari R Berikut ini kita akan membahas asumsi terakhir tentang R yang sering disebut dengan Sifat Kelengkapan dari R. Karena hal ini berlaku untuk sebarang v yang kurang dari u. maka haruslah u = sup S. Kita akan buktikan 1 merupakan supremum sebagai berikut. dan dapat digunakan induksi matematika untuk sejumlah unsur dari S1). (c). (d). Bila v < 1. Bila himpunan tak kosong S1 mempunyai berhingga jumlah unsur. Karenanya terdapat unsur sε di S yang lebih dari u .ε < sε. Himpunan S3 = {x : 0 < x < 1} mempunyai 1 sebagai batas atas. Sebaliknya.Pendahuluan Bukti : Misalkan u batas atas dari S yang memenuhi kondisi di atas. Secara sama himpunan kosong juga tidak mempunyai infimum. maka terdapat unsur s’ di S2 sehingga v < s’. Catatan : sup S2 dan inf S2 keduanya termuat di S2. Analisis Real I 49 . inf S3 = 0. Dengan menggunakan argumentasi serupa (b) untuk S2. Selanjutnya kita katakan R merupakan suatu medan terurut yang lengkap. (pilih unsur s’).ε bukan batas atas dari S. Karennya v bukan batas atas dari S. himpunan S3 tidak memuat sup S3. Lebih dari itu u = sup S1 dan w = inf S1 keduanya unsur di S1. Hal ini bergantung pada jenis himpunannya. Seperti telah disebutkan. maka u . Kita perhatikan contoh-contoh berikut.ε < sε. Secara sama. setiap bilangan real merupakan batas atas dari himpunan kosong. diperoleh sup S3 = 1. haruslah sup S2 = 1. dan kondisi di atas mengakibatkan terdapat sε ∈ S sehingga v = u . (b). maka ε > 0. (Hal ini jelas bila S1 hanya mempunyai sebuah unsur.ε. 2. Bila v < u dan kita tetapkan ε = u .5 Contoh-contoh (a). Karena u . tidak termuat di S3. dapat ditunjukkan inf S2 = 0. karena v sebarang bilangan v < 1. karenanya himpunan kosong tidak mempunyai supremum.

u . Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mempunyai batas bawah mempunyai infimum di R. 2. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. Bila S ⊆ R memuat batas atasnya. dan sifat supremum mengakibatkan bahwa u = sup S’ ada. Misalkan S2 = {x ∈ R : x ≥ 0}. Misalkan S ⊆ R yang tak kosong. 2.(-1)n/n : n ∈ N}. Tunjukkan bahwa u = sup S. tetapi u + 1/n batas atas dari S.5.2 atau 2.3).7 Sifat Infimum dari R. Tunjukkan bahwa inf S = -sup{-s : s ∈ S}. Misalkan S subhimpunan tak kosong dari R yang terbatas di bawah.5.4. 8. lihat latihan 2. Katakan S sub himpunan tak kosong yang terbatas di bawah dari R. Tunjukkan pula bahwa inf S1 = 0. Hal ini kemudian diikuti bahwa -u merupakan infimum dari S.Tentukan inf S4 dan sup S4. tetapi tidak mempunyai batas atas. Pembaca seharusnya menuliskan bukti lengkapnya. tunjukkan bahwa batas atas tersebut merupakan supremum dari S. Apakah S2 mempunyai batas bawah ? Apakah S2 mempunyai batas atas ? Buktikan pernyataan yang anda berikan. Analisis Real I 50 . Setiap himpunan bilangan real tak kosong yang mempunyai batas atas mempunyai supremum di R. kaka untuk setiap n∈N.Aljabar Himpunan 2. yang pembaca harus buktikan. (Hal sebaliknya juga benar . 4. Misalkan S4 = {1 . 6.4. Tunjukkan secara lengkap bahwa S1 mempunyai batas bawah. dengan menggunakan Sifat Arechimedes 2. Misalkan S3 = {1/n n ∈ N}. Sifat infimum yang serupa dapat diturunkan dari sifat supremum. Maka himpunan S’ = {-s : s ∈ S} terbatas di atas. (Hal ini akan diikuti bahwa inf S3 = 0. 5. Tunjukkan bahwa u ∈ R merupakan batas atas dari R jika dan hanya jika kondisi t ∈ R dan t > u mengakibatkan t ∉ S. 3.4 1.6 Sifat Supremum dari R.1/n bukan batas atas dari S. Tunjukkan bahwa sup S3 = 1 dan inf S3 ≥ 0.5. 7. Latihan 2. Misalkan S1 = {x ∈ R : x ≥ 0}.3 (b)).

12. maka a + x ≤ v untuk semua x ∈ S. yaitu tentang penjumlahan.Misalkan S ⊆ R dan s* = sup S termuat di S. Bila u∉ S. kita dapat mengganti v Analisis Real I 51 . kita mempunyai a + x ≤ a + u. 11. Tunjukkan bahwa bila A dan B sub himpunan yang terbatas dari R. 2. Kita akan tunjukkan bahwa sup (a + S) = a + sup S.Pendahuluan 9. Contoh berikut menunjukkan bagaimana definisi supremum dan infimum digunakan dalam pembuktian.. sementara yang lain diberikan sebagai latihan.KKMNBV himpunan dengan sifat-sifat aljabar R. Tunjukkan bahwa inf S ≤ inf S0 ≤ sup S0 ≤ sup S. (Gunakan induksi matematika dan latihan nomor 11). tunjukkan bahwa sup (S∪{u}) = sup {s*. Misalkan S sub himpunan tak kosong dari R. 2. yang mengakibatkan u = sup S ≤ v - a. Karena itu a + u batas atas dari a + S . Karena v sebarang batas atas dari a + S. akibatnya kita mempunyai sup (a + S) ≤ a + u. Tunjukkan bahwa sup (A∪B) = sup {sup A.1 Contoh-contoh (a). Bila kita misalkan u = sup S. 10. Di sini kita akan sajikan salah satunya . Sangatlah penting untuk menghubungkan infimum dan supremum suatu . sehingga a + u ≤ v. sup B}. maka A∪B juga terbatas. Definisikan himpunan a + S = {a + x : x ∈ S}.Misalkan S terbatas di R dan S sub himpunan tak kosong dari S.a untuk semua x ∈ S. Maka x ≤ v .u}.Tunjukkan bahwa suatu himpunan tak kosong dan berhingga S ⊆ R memuat supremumnya. maka karena x ≤ u untuk semua x ∈ S. Bila v sebarang batas atas dari himpunan a + S. Kita juga akan memberikan beberapa aplikasi penting sifat ini untuk menurunkan sifat-sifat fundamental sistem bilangan real yang akan sering digunakan.5.5 Aplikasi Sifat Supremum Sekarang kita akan membahas bagaimana supremum dan infimum digunakan.

Aljabar Himpunan dengan sup (a + S) untuk memperoleh a + u ≤ sup (a + S). Jadi (i) dipenuhi. Sebagai contoh. Dengan menggabungkan ketaksamaan di atas diperoleh bahwa sup (a + S) = a + u = a + sup S. (c). maka sup f(D) ≤ sup g(D). sedangkan (ii) tidak. serta sup g(D) = 1. Bila f(x) ≤ g(y) untuk semua x. Hal ini berarti bahwa bila diberikan sebarang bilangan real x terdapat bilangan asli n (bergantung pada x) sehingga x < n. Karena itu. haruslah sup f(D) ≤ inf g(D). (ii). Perlu dicatat bahwa hipotesis f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D pada (b) tidak menghasilkan hubungan antara sup f(D) dan inf g(D). Bila f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D. kita lihat bahwa f(x) ≤ g(y) untuk semua x ∈ D. maka f(x) ≤ g(x) untuk semua x ∈ D. Lebih jauh mengenai hubungan infimum dan supremum himpunan dari nilai fungsi diberikan sebagai latihan. kita catat bahwa sup g(D) merupakan batas atas himpunan f(D) karena untuk setiap x ∈ D. (b). untuk suatu y tertentu di D. maka sup f(D) merupakan batas bawah dari g(D). Sifat Archimedes Salah satu akibat dari sifat supremum adalah bahwa himpunan bilangan asli N tidak terbatas di atas dalam R. bila f(x) = x2 dan g(x) = x dengan D = {x ∈ R : 0 < x < 1}. maka g(y) batas atas dari himpunan f(D). Kita asumsikan rangenya f(D) = {f(x) : x ∈ D} dan g(D) = {g(x) : x ∈ D}himpunan terbatas di R. Karenanya sup f(D) ≤ sup g(D). Pertama. tetapi sup f(D) = 1 dan inf g(D) = 0. Untuk membuktikan hal ini. Buktinya dalam dua tahap. Akibatnya sup f(D) ≤ g(y). Karena ketaksamaan terakhir dipenuhi untuk semua y ∈ D. Misalkan f dan g fungsi-fungsi bernilai real dengan domain D ⊆ R. kita mempunyai f(x) ≤ g(x) ≤ sup g(D). tetapi sifat ini tidak dapat dibuktikan dengan menggunakan sifat aljabar dan Analisis Real I 52 . maka sup f(D) ≤ sup g(D). Hal ini tampaknya mudah.y ∈ D. (i).

maka menurut Lemma 2. menurut sifat supremum.1). Buktinya yang akan diberikan berikut ini menunjukkan kegunaan yang esensial dari sifat supremum R. 2. (c).1 ≤ z < n. maka x terbatas atas dari N.5. (c). Misalkan y dan z bilangan real positif. Tetapkan z = 1 pada (a) yang akan memberikan 1 < ny.4 terdapat m ∈ N sehingga u -1 < m. Sifat Archimedes. Sifat Archimedes dapat dinyatakan dalam beberapa cara. himpunan tak kosong N mempunyai supremum u∈R. yang kontradiksi dengan u batas atas dari N. (b). dan akibatnya 1/n < y. Maka : (a). maka terdapat n ∈ N sehingga z/y = x < n dan dari sini diperoleh z < ny.1 bukan unsur himpunan tersebut. Bukti : (a). Karena x = z/y > 0.2. Maka n . Oleh karena u -1 < u.5. maka terdapat nx ∈ N sehingga x < nx. akibatnya n . Misalkan n unsur terkecil dari himpunan ini (lihat 1. Karenanya. Kita akan menggunakan ini beberapa kali. Eksistensi 2 Pentingnya sifat supremum terletak pada fakta yang mana sifat ini menjamin eksistensi bilangan real di bawah hipotesis tertentu.3 Teorema Akibat. Bila x ∈ R. sedangkan m + 1 ∈ N.4. Terdapat n ∈ N sehingga z < ny. Berikut kita sajikan tiga variasi diantaranya. Bukti : Bila kesimpulan di atas gagal.Pendahuluan urutan yang dibahas pada bagian terdahulu. kita akan mengilustrasikan kegunaannya untuk membuktikan eksistensi bilangan positif x sehingga x2 = 2. Tetapi hal ini mengakibatkan u < m + 1.1 ≤ z < n. Terdapat n ∈ N sehingga n . 2. Telah ditunjukkan (lihat Teorema Analisis Real I 53 . Sifat Archimedes menjamin subhimpunan {m ∈ N : z < m} dari N tidak kosong.3. Terdapat n ∈ N sehingga 0 < 1/n < y. (b). Sementara ini.

Karenanya.x2. Karena itu. Dari asumsi. S terbatas di atas oleh 2.x2)/(2x + 1) > 0. Kita akan buktikan bahwa x2 = 2 dengan menanggalkan dua kemungkinan x2 < 2 dan x2 > 2. haruslah x2 ≥ 2. yang mengkontradiksi fakta bahwa x = sup S. 2. Kita akan tunjukkan bahwa asumsi ini kontradiksi dengan fakta bahwa x = sup S yaitu dengan menemukan n ∈ N sehingga x + 1/n ∈ S. maka S bukan himpunan kosong. gunakan fakta bahwa 1/n2 ≤ 1/n. Untuk melakukannya. katakan x = sup S. Terdapat bilangan real positif x sehingga x2 = 2.x2) = 2. paling tidak kita akan menunjukkan eksistensi sebuah bilangan irrasional. Karena 1 ∈ s. Kita akan tunjukkan bahwa dimungkinkan untuk menemukan m ∈ N sehingga x . sehingga (2 . maka kita memperoleh (x + 1/n)2 < x2 + (2 .1. perhatikan bahwa Analisis Real I 54 . Catatan : x > 1.Aljabar Himpunan 2. kita mempunyai 2 x2 > 0. jadi. karena bila t > 2.4 Teorema.1/m juga merupakan batas atas dari S. Untuk melihat bagaimana cara memilih n yang demikian. Sekarang andaikan x2 > 2. s2 < 2}. Juga.5. sehingga (x + ) 1 n 1 2 n = x2 + 2x n + 1 n2 ≤ x2 + 1 n ( 2x + 1) Dari sini kita dapat memilih n sehingga (2x + 1) < 2 . Dari sini sifat Archimedes dapat digunakan untuk memperoleh n ∈ N sehingga 1 2 − x2 < n 2x + 1 Langkah-langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan n ini kita mempunyai x + 1 n ∈ S. maka t2 > 4 sehingga t ∉ S. yang berakibat bahwa x bukan batas atas dari S.7) bahwa x yang demikian bukan bilangan rasioanl . Bukti : Misalkan S = {s ∈ R  0 ≤ s. menurut sifat supremum. Pertama andaikan x2 < 2. S mempunyai supremum di R. yang kontradiksi dengan fakta bahwa x batas atas dari S.

yang dituliskan dengan n a atau a1/n. maka x2 − 2 > 0.14(a) bahwa s < x .1/m merupakan batas atas dari S.2. Selanjutnya kita akan tunjukkan bahwa himpunan bilangan rasional “padat” di R dalam arti bahwa bilangan rasional dapat ditemukan diantara sebarang dua bilangan real yang berbeda. sehingga b2 = a. dengan sifat Archimedes. Jadi tidak mungkin x2 > 2. haruslah x2 = 2.(x2 . Dengan cara sedikit lebih rumit yang melibatkan teorema binomial dapat diformulasikan eksistensi tunggal dari akar pangkat-n positif dari a.1/m)2. m maka (x . Sebenarnya terdapat “lebih banyak” bilangan irasional dibandingkan bi- langan rasional dalam arti himpunan bilangan rasional terhitung sementara himpunan bilangan irrasional tak terhitung.1/m)2 > x2 . Analisis Real I 55 . Dari sini. yaitu 2 . untuk n ∈ N. pembaca dapat menunjukkan bahwa bila a > 0. Sekarang bila s ∈ S. Densitas (= kepadatan) Bilangan Rasional di R Sekarang kita mengetahui terdapat paling tidak sebuah bilangan irrasional. terdapat m ∈ N sehingga 2x 1 x2 − 2 < m 2x Langkah ini dapat dibalik untuk menunjukkan bahwa dengan pemilihan m ini kita mempunyai (x .Pendahuluan (x + ) 1 2 m = x2 + 2x m + 1 m2 > x 2 − 2x m Dari sini kita dapat memilih m sehingga 2x < x2 − 2 . Kita katakan b akar kuadrat positif dari a dan dituliskan dengan b = a atau b = a1/2.1/m)2 > 2. yang mana menurut 2. Karena tidak mungkin dipenuhi x2 > 2 atau x2 < 2. Sekarang dengan pengandaian x2 . maka terdapat b > 0 yang tunggal.2) = 2. yang kontradiksi dengan fakta bahwa x = sup S. maka s2 < 2 < (x .1/m.2 > 0. (*) Dengan sedikit modifikasi. Hal ini mengakibatkan bahwa x .

2.5. kita mempunyai bahwa ny . Bukti : Tanpa mengurangi berlakunya secara umum. 2. kita juga mempunyai sifat serupa untuk bilangan irasional. terdapat n ∈ N. untuk setiap n ∈ N.5 pada bilangan real x y 2 . Dengan sifat Archimedes 2. misalkan x > 0. Misalkan S ⊆ R tak kosong. maka terdapat bilangan rasional r sehingga x < r < y.3(c) ke nx > 0. tentukan inf S dan sup S.5. 2 dan 2 adalah bilangan irrasional (Mengapa?) dan memenuhi x < z < y.5 1. (Mengapa?).5 Teorema Densitas.1/m  n. Misalkan S himpunan tak kosong dan terbatas di R. Gunakan Sifat Archimedes atau Teorema Akibat 2. u . u + 1/n bukan batas atas dari S.4. 3.1 ≤ nx < m.1/n bukan batas atas dari S.Aljabar Himpunan 2. Untuk mengakhiri pembahasan tentang hubungan bilangan rasional dan irasional. untuk setiap n ∈ N. Bila x dan y bilangan real dengan x < y.8). Bila x dan y bilangan real dengan x < y. 4. Analisis Real I 56 .5. Bila S = {1/n .m ∈ N}. (Ini merupakan kebalikan Teorema 2. Bilangan m ini juga memenuhi m < ny.5. sehingga r = m/n bilangan rasional yang memenuhi x < r < y. maka u = sup S. kita peroleh bilangan rasional r ≠ 0 sehingga x Maka z = r 2 <r< y 2.sehingga n > 1/(y . maka terdapat bilangan irasional z sehingga x < z < y. Bukti : Dengan menggunakan Teorema Densitas 2.5. Untuk n yang demi-kian.3 (b) untuk menunjukkan bahwa inf {1/n  n ∈ N} = 0. Latihan 2.x).5. Tunjukkan bahwa bila u di R mempunyai sifat : (i).nx > 1. 2. Dengan menggunakan Teorema Akibat 2. kita peroleh m ∈ N sehingga m .6 Teorema akibat. dan (ii).

Tunjukkan bahwa sup{f(x) + g(x)  x ∈ X} ≤ sup{f(x)  x ∈ X} + sup{g(x)  x ∈ X} dan inf{f(x)  x ∈ X} + inf {g(x)  x ∈ X} ≤ inf{f(x) + g(x)  x ∈ X} Berikan contoh yang menunjukkan kapan berlaku kesamaan atau ketaksamaan murni.1(a) mengakibatkan bahwa sup {a + f(x)  x ∈ X} = a + sup {f(x)  x ∈ X}. (b). tentukan g(y) = inf {h(x. dan A + B = {a + b  a ∈ A. (a). 8. 9. Misalkan a > 0. Tunjukkan bahwa sup (A + B) = sup A + sup B dan inf (A + B) = inf A + inf B. Tunjukkan pula bahwa inf {a + f(x)  x ∈ X} = a + inf {f(x)  x ∈ X}. b ∈ B}.5.y) : y ∈ Y} Kemudian tentukan inf {f(x) x ∈ X}. Tunjukkan bahwa inf (bS) = b sup S. 7. Misalkan A dan B himpunan tak kosong dan terbatas di R. Misalkan X = Y = {x∈R 0 < x < 1}. untuk setiap y ∈ Y. tunjukkan bahwa contoh 2. Misalkan X himpunan tak kosong. 6. (b). Misalkan b < 0.y) : x ∈ X} Kemudian tentukan sup {g(y) y ∈ Y}.Pendahuluan (a). 5. Tentukan h : X×Y →R dan h(x. Misalkan X himpunan tak kosong dan f : X →R mempunyai range yang terbatas di R. Tunjukkan bahwa inf (aS) = a inf S. sup (aS) = a sup S. sup (bS) = b inf S. dan bS = {bs  s ∈ S}. tentukan f(x) = sup {h(x. Bandingkan hasilnya dengan bagian (a).y) = 2x + y. dan aS = {as  s ∈ S}. Lakukan perhitungan di (a) dan (b) latihan nomor 8 untuk fungsi h : X×Y → R yang didefinisikan dengan Analisis Real I 57 . Bila a ∈ R. untuk setiap x ∈ X. f dan g fungsi terdefinisi pada X dan mempunyai range yang terbatas di R.

maka terdapat bilangan real positif z sehingga z2 = a. Analisis Real I 58 . Modifikasi argumentasi pada teorema 2. y ) x. Misalkan X. 11.5. y ∈ Y} = sup {F(x)  x ∈ X} = sup {G(y)  y ∈ Y}.y) =   1 . Modifikasi argumentasi pada teorema 2. 15. Tunjukkan bahwa g(y) = inf {h(x. Perkenalkan Prinsip Iterasi Supremum : sup{h(x. 14.y) y ∈ Y}. bila x < y h( x. Misalkan X.y x y y x 12.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat bilangan real positif y sehingga y2 = 3. Misalkan f : X → R dan g : Y → R didefinisikan dengan f(x) = sup {h(x. pada latihan nomor 8 dan nomor 9 menunjukkan bahwa ketaksamaan bisa berupa kesamaan atau ketaksamaan murni.5. Modifikasi argumentasi pada teorema 2. 16. Misalkan F : X → R dan G : Y → R didefinisikan dengan F(x) = sup {h(x. sup{g(y) y ∈ Y} ≤ inf {f(x)  x ∈ X} Kita akan menuliskannya dengan sup inf h ( x.y) y ∈ Y}. bila x ≥ y 10.Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range terbatas di R.4 untuk menunjukkan bahwa terdapat bilangan real positif u sehingga u3 = 2. G(y) = inf {h(x. Diberikan sebarang x∈R.y) x ∈ X}. 13.y) x ∈ X.y ) y x x y Catatan. y ) = sup sup h ( x.y) x ∈ X}. Bila y > 0 tunjukkan bahwa terdapat n ∈ N sehingga 1/2n < y. Hal ini sering dituliskan dengan sup h ( x.Aljabar Himpunan 0 .4 untuk menunjukkan bahwa bila a > 0.5. y ) = sup sup h ( x. tunjukkan bahwa terdapat n∈Z yang tungal sehingga n 1 ≤ x < n.y ) ≤ sup inf h ( x.Y himpunan tak kosong dari h : X×Y → R yang mempunyai range terbatas di R.

Pendahuluan 17. (Dari sini himpunan {ru  r ∈ Q} padat di R).5 dengan menghilangkan hipotesis x > 0. tunjukkan bahwa terdapat bilangan rasional r sehingga x < ru < y.5. Bila u > 0 dan x < y. Lengkapi bukti Teorema Densitas 2. Analisis Real I 59 . 18.

. Barisan dan Limit Barisan Di sini diharapkan pembaca mengingat kembali bahwa yang dimaksud dengan suatu barisan pada suatu himpunan S adalah suatu fungsi pada himpunan N = {1. Analisis Real I 60 . atau suku dari barisan tersebut. Dengan kata lain. 2. dengan suatu simbol seperti xn (atau an. Bilangan real yang diperoleh tersebut disebut elemen.1. .. secara tunggal dengan bilangan real. Jadi bila X : N → R suatu barisan.Aljabar Himpunan BAB 3 BARISAN BILANGAN REAL 3. Sebagai contoh. 1}. barisan X = ((-1)n : n∈N) yang berganti-ganti -1 dan 1. (Xn : n ∈ N). sedangkan himpunan nilai barisan tersebut { (-1)n: n∈N } sama dengan {-1. kita akan biasa menuliskan nilai X di n dengan Xn. . kita akan menuliskan barisan ini dengan notasi X.. atau nilai.. 3. 2. Jadi. atau zn). Hal yang biasa untuk menuliskan elemen dari R yang berpasangan dengan n∈N. suatu barisan di R memasangkan masing-masing bilangan asli n = 1. 3.1. Xn . Definisi. Kita menggunakan kurung untuk menyatakan bahwa urutan yang diwarisi dari N adalah hal yang penting. kita membedakan penulisan X = (Xn : n∈N). 3.1. Suatu barisan bilangan real (atau suatu barisan di R) adalah suatu fungsi pada himpunan N dengan daerah hasil yang termuat di R. yang suku-sukunya mempunyai urutan dan himpunan nilai-nilai dari barisan tersebut { Xn : n∈N} yang urutannya tidak diperhatikan. Selanjutnya dalam bab ini kita hanya memperhatikan barisan di R.} dengan daerah hasilnya di S. dari pada X(n).

x2. 1 3 .1. 1 4 ..yn) untuk n∈N juga dapat dikerjakan (secara sama). xn+1 = xn + 2 (n ≥ 1).. yn dalam urutan untuk menghitung yn+1.. Z=( 1 : s∈N) s2 Dalam prakteknya. sering lebih mudah dengan menentukan nilai x1 dan suatu formula untuk mendapatkan xn + 1 (n ≥ 1) bila xn diketahui dan formula xn+1 (n ≥ 1) dari x1.. 1 2 .. 1 Y = ( m : m∈N).gn(y1..) untuk barisan bilangan genap positif.. dan berhenti setelah aturan formasinya kelihatan. Jadi kita boleh menulis X = (2. 6. karena kita harus menyimpan masing-masing nilai y1. Khususnya. atau Y= ( 1 1 .Pendahuluan Dalam mendefinisikan barisan sering lebih mudah dengan menulis secara berurutan suku-sukunya. 3. yn = .) untuk barisan kebalikan dari bilangan asli. xn+1 = f(xn) untuk n∈N dapat dipertanggungjawabkan untuk dipelajari dengan menggunakan komputer. 8. Metode yang lebih memuaskan adalah degan menuliskan formula untuk suku umum dari barisan tersebut. Tetapi.) untuk barisan kebalikan dari kuadrat bilangan asli. xn. perhitungan dari suku-suku barisan demikian menjadi susah untuk n yang besar.. 1 3 . barisan yang didefinisikan dengan suatu proses induktif dalam bentuk x1 = diberikan. . 4. Analisis Real I 61 . Catatan : Barisan yang diberikan dengan proses induktif sering muncul di ilmu komputer. . . . Metode ini kita katakan sebagai pendefinisian barisan secara induktif atau rekursif. .. barisan bilangan bulat positif X di atas dapat kita definisikan dengan x1 = 2 atau dengan definisi x1 = 2 xn+1 = x1 + xn (n ≥ 1). . 1 2 . 1 4 . Contoh-contoh. Dengan cara ini.. . Barisan yang didefinisikan dengan proses : y1 = diberikan.. seperti X = (2n : n∈N).. atau Z= ( 1 1 ..y2.2.

dan barisan konstan 0 adalah baisan (0. . . X+Y= 3 1 1 1 9 2 7 2 .).. 1.. f2 = 1..). Bila X = (xn) dan Y = (yn) barisan bilangan real. kita definisikan hasil kali X dengan c yaitu cX = (cxn : n∈N)..yn : n∈N). . yang tentu saja sama dengan barisan (1...... . .) semua yang sukunya 1. 18.). 3X Analisis Real I = (6. yang sukunya tetap b. 2. . a3... (c). n2.. Sebagai contoh. 9.. . 3... maka kita peroleh barisan 2  1   n : n ∈N  2  (d). . dan hasil kali XY = (xnyn : n∈N).Aljabar Himpunan (a). 5. . .Y = (xn .. XY = (2. 0. 2n 2 + 1 n 2n 2 − 1 n . selisih X .. 22.... 21. Jadi barisan konstan 1 adalah (1. maka barisan A = (an : n∈N) adalah barisan (a1..). 55. Akhirnya. (b)...). 1 2 .. .) . 0..) = (n2 : n∈N)..). 6. 1 n . Barisan kuadrat bilangan asli adalah barisan S = (12. disebut barisan kon- stan b... ..3. 13. 8. 4. maka kita mempunyai Y= ( 1 1 . 2. 1..). 2n. 2.. ..) Sekarang akan kita kenalkan cara-cara penting dalam mengkonstruksi barisan baru dari barisan-barisan yang diberikan.... 12. 4.. . ) . 19 3 17 3 . bila X dan Y berturut-turut adalah barisan-barisan X = (2. Definisi. an. 3. Bila c ∈ R..... . . . kita definisikan jumlah X + Y = (xn + yn : n∈N).). 1 3 . a2. . 34.... Bila b ∈ R. X-Y= ( . bila Z = (zn) suatu barisan dengan zn ≠ 0 untuk semua n∈N.. .. 1.2. 32. (.. b. Barisan Fibonacci F = (fn : n ∈ N) diberikan secara induktif sebagai berikut : (n ≥ 2) f1 = 1.1. .. . f2+1 = fn-1 + fn Maka sepuluh suku pertama barisan Fibonacci dapat dilihat sebagai F = (1. .. barisan B = (b. 62 . maka hasil bagi X oleh Z adalah X/Z = (xn/ zn : n∈N).. Khususnya bila a = 1 . Bila a∈R.. b. . 6n.

maka kita dapat mendefinisikan X + Z.1. x2. tetapi tidak dengan X/Z. Analisis Real I 63 . kita katakan juga bahwa X = (xn) konvergen ke x (atau mempunyai limit x). 18. .. . X-Z. dari pada K(ε). dan X. Pemikiran limit barisan merupakan yang paling mendasar dan merupakan fokus kita dalam bab ini. Limit suatu barisan Terdapat beberapa konsep limit dalam analisa real.. namun demikian sering lebih mudah menuliskannya dengan K. 1 + (-1)n.. sedemikian sehingga untuk semua n ≥ K(ε)... Vε(x).. bila untuk setiap ε > 0 terdapat bilangan asli K(ε).Pendahuluan X = 2. Penulisan K(ε) digunakan untuk menunjukkan secara eksplisit bahwa pemilihan K bergantung pada ε.. Misalkan X = (xn) barisan bilangan real. . Y Kita catat bahwa bila z menyatakan barisan Z = (0. Dalam banyak hal nilai ε yang “kecil” biasanya akan memerlukan nilai K yang “besar” untuk menjamin bahwa xn terletak di dalam lingkungan Vε(x) untuk semua n ≥ K = K(ε). Definisi. 3. kita akan menggunakan notasi. karena Z mempunyai suku 0. . semua (kecuali sejumlah hingga) sukusuku dari x terletak di dalam Vε(x). . Suatu bilangan real x dikatakan limit dari (xn).. Sejumlah hingga suku-suku tersebut mungkin tidak terletak di dalam Vε(x) yaitu x1... 0. suku-suku xn terletak dalam lingkungan-ε. kita katakan barisan tersebut konvergen.).. Bila suatu barisan mempunyai limit.4. 8.).2n2. Bila suatu barisan x = (xn) mempunyai limit x di R. lim X = x atau lim (xn) = x. Bila x merupakan suatu limit dari barisan tersebut.Z. 2. Kita juga dapat mendefinisikan kekonvergenan X = (xn) ke x dengan mengatakan : untuk setiap lingkungan-ε Vε(x) dari x.. bila tidak kita katakan divergen. xK(ε)-1..

Hal ini tidak menentukan berapa nilai limit seharusnya. Sekarang misalkan K’ dan K” bilangan asli sehingga bila n > K’ maka xn∈Vε(x’) dan bila n > K” maka xn∈Vε(x”). X konvergen ke x. Tetapi ini kontradiksi dengan pengandaian bahwa Vε(x’) dan Vε(x”) saling asing. (b).6. terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε). Haruslah x’ = x”. (Mengapa?). untuk setiap ε > 0. terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε). (c). 3. ε < ½x” . Namun demikian karena Analisis Real I 64 . Dalam hal ini komputer akan sangat membantu. Sehingga diperlukan latihan untuk sampai kepada dugaan (conjecture) nilai limit dengan perhitungan langsung suku-suku barisan tersebut.x<ε. Sedangkan ekivalensi dari (b).x < ε. dan (d) mengikuti implikasi berikut : xn∈Vε(x) ⇔ xn .x < ε ⇔ x.ε < xn < x + ε Catatan : Definisi limit barisan bilangan real digunakan untuk membuktikan bahwa nilai x yang telah ditetapkan merupakan limit. Kita pilih ε > 0 sehingga Vε(x’) dan Vε(x”) saling asing (yaitu. ⇔ -ε < xn . Maka pernyataan berikut ekivalen. yang menyatakan bahwa nilai xn “mendekati” x bila n menuju 0. untuk setiap lingkungan-ε Vε(x).5. suku-suku xn memenuhi xn . suku-suku xn∈Vε(x). Suatu barisan bilangan real hanya dapat mempunyai satu limit. (a). Ketunggalan limit. Misalkan X = (xn) barisan bilangan real dan misalkan pula x∈R. terdapat bilangan asli K(ε) sehingga untuk semua n ≥ K(ε). untuk setiap ε > 0. suku-suku xn memenuhi x-ε < xn< + ε. 3. ∀ n ≥ K(ε) Bukti : Ekivalensi dari (a) dan (b) merupakan definisi.x’). (d). (c).Aljabar Himpunan Kita juga akan menggunakan simbol xn → x. Bukti : Andaikan sebaliknya. Teorema.1. yaitu x′ dan x′′ keduanya limit dari X = (xn) dan x’≠x”.1.

7. Akibatnya untuk semua n ≥ K dipenuhi K  1 1 1 .0 = ≤ < ε n n K Ini membuktikan lim   = 0  1  n  1 (b). 65 Analisis Real I .4). n ( ( ) ) Pilih ε0 = 1. 3. maka perhitungan demikian bukanlah bukti.0 = 2 . Karena itu unK ( ε) 2 =ε  1 Ini membuktikan lim  2  = 0 n  (c).0. sehingga tuk semua n ≥ K dipenuhi 1 1 1 −0 = 2 ≤ 2 < 2 n n K 1 < ε .Pendahuluan komputer hanya dapat menghitung sampai sejumlah hingga suku barisan.1. lim  2  = 0 n  Bila diberikan sebarang ε > 0. 1 + ( −1) .  n Misalkan diberikan sebarang ε > 0.2. maka xn . Ini mengatakan bahwa barisan 1 + ( −1) ( n ) tidak konvergen ke 0. diperoleh suatu nk > K sehingga x n k tidak terletak dalam Vε(x).L. Barisan 0. lim   = 0 . (Perubahan lebih detail pada 3. maka terdapat K∈N. Untuk menunjukkan bahwa suatu barisan X = (xn) tidak konvergen ke x. tidak konvergen ke 0.0 = 2 > 1. cukup dengan memilih εo > 0 sehingga berapapun nilai K yang diambil. sehingga untuk sebarang K∈N.L . Maka menurut sifat Archimedes terdapat K∈N sehingga sehingga 1 < ε .2. Contoh-contoh  1 (a). jika n ≥ K dan n bilangan ganjil.

Definisi.) suatu barisan bilangan real dan m selalu bilangan asli maka ekor-m dari X adalah barisan X = (xm+n : n∈N) = (xm+1. 10. ekor-3 dari barisan X = (2.. .9. Secara sama bila q > m. . 4.... Teorema. dalam hal ini.. Misalkan X = (xn : n∈N) suatu barisan bilangan real dan m∈N. 3. 12. .1..Aljabar Himpunan  3n + 2  (d). Sebagai contoh. Bila X = (x1. 10. x2. suku ke-p dari Xm merupakan suku ke-(m+p) dari X...xm+2.. 6. 8. 2n. ... 3.). Bukti : Dapat kita catat untuk sebarang p∈N.). bila kita hilangkan m suku pertama suatu barisan yang menghasilkan Xm konvergen jika hanya jika barisan asalnya juga konvergen.. lim Xm = lim X. maka suku ke-q dari X merupakan suku ke-(q-m) dari Xm . sehingga batnya untuk semua n ≥ K > 1 dipenuhi 3n + 2 5  ε < 5  = ε −3 =  5 n −1 n −1 1 ε < . ... 2n + 6. Artinya. dalam hal ini limitnya sama..1. K>1. maka terdapat K∈N. . Analisis Real I 66 .. AkiK −1 5  3n + 2  Ini membuktikan bahwa lim   = 3. Maka ekor-m adalah Xm = (xm+n : n∈N) dari X konvergen jika dan hanya jika X konvergen.. lim   =3  n -1  Perhatikan kesamaan berikut 5 3n + 2 −3= n −1 n −1 Bila diberikan sebarang ε > 0.8.. xn.) adalah barisan X3 = (8.  n -1  Ekor Barisan Perlu dimengerti bahwa kekonvergenan (atau kedivergenan) suatu barisan bergantung hanya pada prilaku suku-suku “terakhirnya”.

bila beberapa akar x mempunyai sifat tersebut.Pendahuluan Misalkan X konvergen ke x. yang selanjutnya na + 1 na .. Jadi kita dapat memilih Km(ε) = Km(ε) . maka suku-suku dari Xm dengan k ≥ Km(ε) m memenuhi xn -x < ε. dan lim (an) = 0.  1 + na  Karena a > 0..x < C ( ) = ε.1. . kita simpulkan x = lim (xn). X konvergen ke x jika dan hanya jika Xm konvergen ke x.10. . Sebaliknya.  a n 1 + na Analisis Real I 67 1 1 < . Gagasan kekonvergenan dapat pula dinyatakan dengan begini : suatu barisan X konvergen ke x jika dan hanya jika suku-suku dari X pada akhirnya terletak di dalam lingkungan-ε ke x. 5. 5. Karena itu hal ini mengakibatkan bila n ≥ KA(ε/C) dan n ≥ m.. maka 0 < na < 1 + na. 5. Teorema. 3.) pada akhirnya konstan.. Karenanya 0 < mengakibatkan 1  1 1 − 0 ≤   untuk semua n∈N. Bila untuk suatu C > 0 dan suatu m∈N. . 5. Maka untuk sebarang ε > 0. 3. 5. Jadi kita dapat memilih K(ε) = Km(ε) + m. maka xn -x ≤ C xn . Karena itu. sehingga Xm juga konvergen ke x.1... barisan 3. Misalkan A = (an) dan X = (xn) barisan bilangan real dan x∈R. Bukti : Misalkan diberikanε > 0. 3.0 < ε/C.. Contoh-contoh. 5..5. Di lain pihak.  1  (a). Karena lim (an) = 0. 5.. maka lim   = 0. ε C Karena ε > 0 sebarang. maka lim (xn) = x. kita mempunyai xn -x ≤ Can untuk semua n∈N dengan n ≥ m. Sebagai contoh.. bila suku-suku dari Xm untuk k ≥ Km(ε) memenuhi xn -x < ε maka suku-suku dari X dengan n ≥ Km(ε) + m memenuhi xn -x < ε.11. sehingga bila n ≥ KA(ε/C) maka an  = an . 4. Bila a > 0. Kadang-kadang kita akan mengatakan suatu barisan X pada akhirnya mempunyai sifat tertentu. . kita katakan bahwa barisan (3.) tidaklah pada akhirnya konstan. bila untuk n ≥ K(ε) suku-suku dari X memenuhi xn -x < ε.m. maka terdapat bilangan asli KA(ε/C).

Dengan menggunakan ketaksamaan Bernoulli 2. . Untuk kasus C = 1 mudah.. Bila C > 1. diperoleh lim (bn) = 0. maka 1 Cn = 1 + d n untuk suatu dn > 0. dengan menggunakan Teorema 3. 1.2. C = (1 + d n ) ≥ 1 + nd n .1. lim  n  = 0 2  Karena 0 < n < 2n (buktikan !) untuk semua n∈N. untuk semua n∈N.10 dengan C = n 1 a dan m = 1 diperoleh  1  lim   = 0.14 kita mempunyai (1 + a)n ≥ 1 + na.2. Bila 0 < b < 1. menurut Teorema 3.1.1.  1 + na   1 (b). kita dapat menuliskan b = 1 1 . (d). Karena 0 < b < 1.Aljabar Himpunan Karena lim bahwa 1 = 0 .10.14(c)..10 diperoleh lim  n  = 0 2  n (c). karena ( C ) merupakan barisan konstan (1. maka lim (bn) = 0. Dari sini 0 < bn = 1 1 1 ≤ < . Bila C > 0. maka lim C ( ) = 1.) yang 1 n 1 n jelas konvergen ke 1. 1 1 < yang n 2 n 1  1 = 0 . 1. Dengan ketaksamaan Bernoulli 2. kita mempunyai 0 < mengakibatkan 1 1 −0 ≤ n 2 n Tetapi lim untuk semua n∈N. n 1 + na na (1 + a ) sehingga dengan menggunakan Teorema 3. n Analisis Real I 68 . dimana a = − 1 sehingga a > b (1 + a ) 0.

Karena ( n ) > 1 untuk n > 1. C −1 1 1 . ≥ 1 + 2 n( n − 1) k 2 ..1. Akibatnya C n − 1 = d n ≤ ( C − 1) unn n Dengan menggunakan Teorema 3. Dengan teorema Binomial. n 2 Analisis Real I 69 . bila n > 1 kita mempunyai 1 1 n = 1 + nk n + 2 n( n − 1) k 2 + . Dengan meng- gunakan kesamaan Bernoulli diperoleh C= 1 (1 + h n ) n ≤ 1 1 < 1 + nh n nh n yang diikuti oleh 0 < hn < 1 untuk semua n∈N.10 diperoleh lim C Sedangkan bila 0 < C < 1. maka C 1 n ( ) = 1.1..  C n Dengan menggunakan Teorema 3. 1 n = 1/(1 + hn) untuk suatu hn > 0. Aki- batnya n = (1 + kn)n untuk n > 1. maka n 1 n 1 n 1 n = 1 + k n untuk suatu kn > 0 bila n > 1. 1 n ( ) = 1. lim n ( ) = 1 untuk 0 < C < 1. sehingga dn ≤ tuk semua n∈N.1 ≥ ndn. nC Karenanya kita mempunyai 0 < 1− C n = 1 hn 1 < hn < 1 + hn nC 1  1 1 sehingga C n − 1 <   untuk semua n∈N. n n yang diikuti oleh n − 1 ≥ 1 n ( n − 1) k 2 .Pendahuluan Karenanya C .10 diperoleh lim C (e).

( ) = 1. x n = n (b). s2 = 5. 1 2 (y n + y2 . 9. Gunakan definisi limit untuk membuktikan limit barisan berikut. Hal ini akan diikuti oleh bila n Nε chimedes terdapat bilangan asli Nε sehingga ≥ sup{2. 2 3 .14 . sn+2 = sn + sn+1. . Tuliskan lima suku pertama dari barisan yang didefinisikan secara induktif berikut (a). x n = 2. xn. 3.. x n ( −1) n = n 1 n +2 2 . . Tuliskan lima suku pertama dari masing-masing barisan tersebut (a) x n = 1 + ( −1) (c). (d). (a). karena barisan itu n 1 1 2 n  2 0 < n − 1 = kn ≤    n Karena ε > 0 sebarang. 1 n( n + 1) (d).1 1. maka lim n 1 n < ε. . Nε} maka 2 < ε 2 . 3 4 . Suku-suku ke-n dari barisan (xn) ditentukan oleh formula berikut. x1 = 1. (b). 1 2 (b). 1 8 . (d). yn+1 = z2 = 2. 9. 4. 11. .Aljabar Himpunan Dari sini k n ≤ 2 untuk n > 1. . Sekarang bila ε > 0 diberikan.. maka menurut sifat Arn 2 < ε 2 .zn). buktikan lim   = 0  n 5.  b 4. 7.116 .. s1 = 3. . tentukan formula untuk suku ke-n. 1 2 . n ) zn+2 = (zn+1 +zn)/zn+1 . xn+1 = 3xn + 1... (c). y1 = 2. Untuk sebarang b∈R. z1 = 1.. Latihan 3. Anggap “pola da- sarnya” diberikan oleh suku-suku tersebut. .. 5. 4 5 . 16. (c). Analisis Real I 70 .. 1. Beberapa suku pertama barisan (xn) diberikan sebagai berikut.

1  1 10. Tunjukkan bahwa lim   = 0  n!   2n   2n 15. Buktikan bahwa lim (xn) = 0 jika dan hanya jika lim yang menunjukkan bahwa kekonvergenan dari kekonvergenan dari (xn). Tunjukkan bahwa bila xn≥0 ∀ n∈N dan lim (xn) = 0. Tunjukkan bahwa lim(nbn) 13. lim   =2  n + 2  ( −1) n n   (c).  Bila n ≥ 3. lim  2  n +1 = 0   7.Pendahuluan  1  (a). lim   =0  n + 1  2n  (b). lim  2  = 0  n + 1  3n + 1 3 (c). Tunjukkan bahwa lim  −  =0  n n + 1  1 11. lim  =  2n + 5 2 6. Tunjukkan bahwa  2n  (b). maka lim ( x ) = 0. lim   =0  n + 1  n2 − 1  (d). lim  2  =0  2n + 3  1  (a). Tunjukkan bahwa lim ( 2n) ( 1 n )=1 ( 23 ) n−2   n2  14. lim   =0  n + 7  n  (c). (x ) n = 0. Tunjukkan bahwa lim   = 0. Misalkan b∈R memenuhi 0 < b < 1. Berikan contoh (x ) n tidak perlu mengakibatkan 8. Tunjukkan lim  n  = 0 3  12. maka terdapat bilangan M∈N sehingga xn > 0 untuk semua n ≥ M. maka 0 < ≤2 n!  n!     Analisis Real I 71 . Tunjukkan bahwa bila lim (xn) = x dan x > 0. n 9.

X . Y dan cX berturutturut konvergen ke x + y.2. Hasil ini memungkinkan kita menambah koleksi barisan konvergen. . Teorema. Jadi barisan X = (xn) terbatas jika dan hanya jika himpunan {xn : n∈N} terbatas di R.3 kita telah mendefinisikan jumlah. X . Bila X = (xn) konvergen ke x dan Z = (zn) barisan tak nol yang konvergen ke z. terdapat bilangan asli K = K(1) sehingga bila n ≥ K maka x n − x < 1. Misalkan X = (xn) dan Y = (yn) barisan bilangan real yang berturut-turut konvergen ke x dan y. dengan menggunakan akibat 2. selisih. bila n ≥ K.3. Dalam definisi 3. 3. mengakibatkan limit barisan barunya dapat diprediksi. Maka barisan X + Y. x + 1}.4(a) tentang ketaksamaan segitiga. Suatu barisan bilangan real yang konvergen tarbatas. Bukti : Analisis Real I 72 . Dengan menetapkan M = sup { x1 . Kita sekarang akan menunjukkan bahwa barisan yang diperoleh dengan cara demikian dari barisan-barisan konvergen. maka barisan X/Z konvergen ke x/z. Dengan menggunakan teorema 3.6(c).1.3.Aljabar Himpunan 3.. Bukti : Misalkan lim (xn) = x dan ε = 1. 3.2.2. 3. Teorema-teorema Limit Dalam bagian ini kita akan memperoleh beberapa hal yang memungkinkan kita mengevaluasi limit dari barisan bilangan real yang tertentu.. (b). maka x n < x + 1 .Y. untuk semua n∈N.1. maka diperoleh x n ≤ M untuk semua n∈M. Teorema. Barisan bilangan real X = (xn) dikatakan terbatas bila terdapat bilangan real M > 0 sehingga xn ≤ M. x K-1 .y. . Dari sini. (a).. serta c∈R.2.1. Definisi. dan z ≠ 0. hasil kali dan pembagian barisan bilangan real. x 2 . x .2. xy dan cx.

kita akan mengestimasi xn yn − xy = ( xn yn − xn y) + ( xn y − xy) ≤ xn ( yn − y) + ( xn − x) y = xn yn − y + xn − x y Menurut Teorema 3. K2}. K2.Y = (xn . Untuk membuktikan bahwa XY = (xnyn) konvergen ke xy. Karena ε > 0 sebarang.y. Untuk membuktikan lim (xn + yn) = x + y kita akan menaksir (xn + yn) . maka untuk semua n ≥ K(ε) ( xn + yn ) − ( x + y) ≤ xn − x + yn − y < 1ε+ 1ε = ε 2 2 Karena ε > 0 sebarang. juga terdapat K2∈N sehingga bila n ≥ K2.Pendahuluan (a).x <M ( 2εM ) + M( 2εM ) = ε . Selanjutnya kita mempunyai x n y n − xy ≤ M y n − y + M x n − x Dari kekonvergenan X dan Y. Argumen serupa dapat digunakan untuk membuktikan bahwa X . maka x n − x < ε 2 . K2}.2.yn) konvergen ke x . Analisis Real I 73 . dan bila n ≥ K2 maka y n − y < ε 2M . bila diberikan sebarang ε > 0. Bila K(ε) = sup{K1. kita peroleh bahwa X + Y = (xn + yn) konvergen ke x + y. untuk sebarang ε > 0 terdapat K∈N sehingga bila n ≥ K1. y } . terdapat bilangan real M1 > 0 sehingga x n ≤ M 1 untuk semua n∈N dan tetapkan M = sup { M 1 . maka xn − x < ε 2 . Dari hipotesis. maka terdapat K1.y + xn . hal ini membuktikan bahwa barisan XY = (xnyn) konvergen ke xy. maka untuk semua n ≥ K(ε) diperoleh xnyn .∈N sehingga bila n ≥ K1 maka x n − x < ε 2M .(x + y) = (xn + x) + (yn + y) ≤ xn − x + yn − y . Sekarang tetapkan K(ε) = sup {K1.xy ≤ Myn .

. Karena lim (zn) = z.. bila A = (an).. Sekarang kita berikan ε > 0...z ≤ zn .. jadi lim   = . bukti (b) telah selesai..2.Aljabar Himpunan Bukti untuk barisan cX= (cxn) konvergen ke cx ditinggalkan sebagai latihan. . 74  xn    konvergen  zn  Hasil kalinya juga konvergen dan (2) Analisis Real I [ ][ ] . maka barisan   konvergen ke (karena z ≠ 0). dengan induksi matematika. + zn) juga merupakan barisan konvergen dan (1) lim(an + bn + .  zn  z  1 Dengan mendefinisikan Y barisan   dalam menggunakan XY =  yn   1 ke x  = x . + Z = ( an + bn + . jadi kita mempunyai zn z 1 1 z − zn 1 − = = z − zn zn z zn z zn z ≤ 2 zn 2 z − z n untuk semua n > K(ε). Pertama misalkan α = z 2 z  zn  maka α > 0. maka terdapat K1∈N. Berikutnya kita akan menunjukkan bila Z = (zn) barisan tak nol yang konvergen  1 1 1 ke z. + zn) = lim(an) + lim(bn) + . Karena itu 1 2 ≤ untuk n ≥ K1. sehingga bila n ≥ K1 maka z n − z <α. maka jumlahnya A + B + . untuk sejumlah hingga barisan konvergen.zn) = lim( a n ) lim( b n ) .. B = (bn). + lim(zn) lim (anbn .. Z = (zn) barisan konvergen. (b). Sebagai contoh.. Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga diperoleh -α ≤ -zn ... lim( zn )..z untuk n ≥ K1.. z  z Beberapa hasil Teorema 3. mak terdapat K2∈N sehingga bila n ≥ K2 maka 1 1 − ≤ε zn z untuk semua n > K(ε).  1 1 Karena ε > 0 sebarang.3 dapat diperluas..

2. Teorema. Bukti : Misalkan zn = yn .ε < xn < + ε untuk semua n ≥ Κ.5 Teorema.2.. maka x = lim (xn) ≥ 0. Bila x = (xn) suatu barisan konvergen dan a ≤ xn ≤ b untuk semua n∈N. 3. Karena X konvergen ke x. Dari teorema 3. Bukti : Misalkan Y barisan konstan (b. Teorema. Secara sama dapat ditunjukkan bahwa a ≤ lim X.5 diperoleh lim X ≤ lim Y = b. b. Jadi haruslah x ≥ 0. b. Bukti : Andaikan x < 0.4 dan 3.4. maka terdapat K∈N. untuk semua n∈N. Yang berikut mengatakan bahwa bila semua suku dari barisan konvergen memenuhi ketaksamaan a ≤ xn ≤ b. 3. maka barisan y tersebut juga konvergen ke limit dari kedua barisan yang mengapitnya.2.2. Jadi lim (xn) ≤ lim (yn). k [ ] Buktinya ditingggalkan sebagai latihan. Analisis Real I 75 . . Dari Teorema 3. Khususnya.. maka limitnya memnuhi ketaksamaan yang sama.x > 0.xn sehingga Z = (zn) = Y . 3. maka a ≤ lim (xn) ≤ b.3 diperoleh 0 ≤ lim Z = lim (yn) .Pendahuluan Dan bila b∈N dan A = (an) barisan konvergen.2. maka lim (xn) ≤ lim (yn). kita mempunyai xK < x + z = x + (-x) = 0. maka (3) lim (ank) = lim( a n ) . Bila X = (xn) dan Y = (yn) barisan konvergen dan xn ≤ yn untuk semua n∈N.6.2. sehingga x .). Bila X = (xn) barisan konvergen dan xn ≥ 0.X dan zn ≥ 0 untuk semua n∈N. Hal ini kontradiksi dengan hipotesis bahwa xn ≥ 0 untuk semua n∈N. Sedangkan yang berikut menyatakan bahwa bila barisan Y diapit oleh dua barisan konvergen yang limitnya sama.lim (xn). pilih z = .

maka terdapat bilangan real M > 0 sehingga n = n < M untuk semua n∈N. Barisan (n) divergen.w < ε untuk semua n ≥ K. Sedangkan bila n genap dan n ≥ K.7 dapat diperlemah dengan menerapkannya pada ekor barisan. Bila ε > 0 diberikan. (b).w ≤ zn -w.Aljabar Himpunan 3.2. yang pembaca perlu buktikan. seAnalisis Real I 76 . jadi lim (yn) = w. dan Z = (zn) barisan yang memenuhi xn ≤ yn ≤ zn untuk semua n∈N. andaikan barisan X = (n) konvergen.2.2. sehingga -2 < a < 0 (Mengapa?). bila X = (xn) pada “akhirnya positif” dalam arti bahwa terdapat m∈N sehingga xn ≥ 0 untuk semua n ≥ m. hipotesis dari 3. andaikan X = ((-1)n) konvergen dan a = lim X. Tetapi hal ini melanggar sifat Archimedes.4. 3. untuk semua n∈N.w ≤ yn . Y = (yn).2. 3. Sebagai contoh.2. dan lim (xn) = lim (zn) maka (yn) konvergen dan lim (xn) = lim (yn) = lim (xn). untuk semua n ≥ K.2. Karena ε > 0 sebarang.6. Barisan ((-1)n) divergen Barisan ini terbatas (ambil M = 2). Karena itu.8. hal ini memberikan 1 − a < 1. dan 3.7. maka akan diperoleh kesimpulan yang sama yaitu n ≥ 0. Misalkan ε = 1.2. yang diikuti oleh (mengapa ?) -ε < yn .2. Bukti : Misalkan w = lim (xn) = lim (zn).2. Teorema Apit. Beberapa Contoh (a).5. 3. Catatan : Karena sebarang ekor barisan mempunyai limit yang sama. hal ini memberikan -1 − a < 1 . terdapat K∈N sehingga untuk semua n∈N dengan n ≥ K dipenuhi x n − w < ε dan x n − w < ε Dari hipotesis diperoleh bahwa xn . Tetapi bila n ganjil dan n ≥ K. maka karena X dan Z konvergen ke w. Misalkan bahwa X = (xn). pada Teorema 3. Modifikasi yang sama juga berlaku untuk Teorema yang lain. Mengikuti Teorema 3.2. maka terdapat K∈N sehingga (-1) n − a < 1.4.2. sehingga kita tidak dapat menggunakan Teorema 3.

2.2. lim  = 2.  n+5 Karena barisan (2n + 1) dan (n + 5) tidak konvergen. Tetapi kita dapat melakukan yang berikut 2n + 1 2 + 1 n = .Pendahuluan hingga 0 < a < 2. Tetapi karena 2 2n n = .  n  n  Dengan menggunakan Teorema 3.3(a) diperoleh bahwa lim (X + Y) = lim X + lim Y = 2 + 0 = 2. n + 1 n + 1n 2 (mengapa ?). juga sampai pada 2n 2 = .3(b) dapat n digunakan. (Selidiki terlebih dahulu syarat-syarat yang harus dipenuhi).  2n + 1 (d). Haruslah X divergen.2. lim =2  n   1  2n + 1 Misalkan X = (2) dan Y =   . Selanjutnya diperoleh  2 + 1 n  lim( 2 + 1n) 2  2n + 1 lim = =2  = lim =  n+5  1 + 5 n  lim(1 + 5 n) 1  2n  (e) lim 2  = 0  n + 1 Teorema 3. maka pengandaian bahwa X konvergen menghasilkan hal yang kontradiksi. 2 n + 1 n + 1n 2 dan Analisis Real I 77 . Karena a tidak mungkin memenuhi kedua ketaksamaan tersebut.2.3(b) secara langsung.  2n + 1 (c).3(b) tidak dapat digunakan secara langsung. kita tidak dapat mengguanakan Teorema 3. maka   = X + Y. n + 5 1 + 5n 1   yang memberikan X =  2 +  dan Z =  1 +    n 5  sehingga Teorema 3.

maka 1 sinn 1 ≤ ≤ . + aktk dengan k∈N dan aj∈R untuk j = 0.  n  (g). Misalkan X = (xn) barisan yang konvergen ke x. ak ≠ 0. Bukti : Mengikuti sifat segitiga diperoleh x n − x ≤ x n − x untuk semua n∈N. Maka barisan r(xn) konvergen ke r(x). Teorema. Dengan menggunakan Teorema 3. Sedangkan r(t) = p( t ) dengan p q( t ) dan q polinomial. 3.3(b).. Analisis Real I 78 .. Tetapi perlu dicatat bahwa -1 ≤ sin n ≤ 1. yaitu bila x = lim (xn). Misalkan X = (xn) barisan yang konvergen ke x.2. . n n n Karena lim ( − 1 n) = lim( 1 n) = 0.  n  n   n + 1 1 dengan menggunakan Teorema 3. (f) lim sin n =0 n Di sini kita tidak dapat menggunakan Teorema 3. maka x = lim( x n ).. k. Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan.2.3(b) secara langsung..4.2. Sedangkan p polinomial. Bukti lengkapnya ditinggalkan sebagai latihan.Aljabar Himpunan 1  2   2n  0 lim  = 0 dan lim 1 + 2  = 1.3 barisan (p(xn)) konvergen ke p(x). maka lim 2  = = 0 . sebagai contoh p(t) = a0 + a1t + a2t2 + . Misalkan barisan X = (xn) konvergen ke x.2. Kita akan mengakhiri bagian ini dengan beberapa hasil berikut. (h). Misalkan juga q(xn) ≠ 0 untuk semua n∈N dan q(x) = 0. maka barisan ( x n ) konvergen ke x . dengan menggunakan Teorema Apit diperoleh bahwa  sin n  lim  = 0.. untuk semua n∈N. 1.

Sekarang kita tinjau dua kasus (i).Pendahuluan Selanjutnya kekonvergenan dari genan dari (xn) ke x. x  3. Misalkan barisan X = (xn) konvergen ke x dan xn ≥ 0 . Misalkan x = 0. Dari Teorema 3. Untuk jenis-jenis barisan tertentu.4 diperoleh bahwa L ≥ 0.2. dan ε > 0 sebarang diberikan. Misalkan (xn) barisan bilangan real positif sehingga L = lim  n +1   xn  ada. xn − x x > 0 dan kita mempunyai xn − x = Karena ( )( xn + x xn + x )= xn − x xn + x x n + x ≥ x > 0 . Maka barisan Bukti : ( x ) konvergen dan lim ( x ) = n n x.L > 0. Bila L < 1.2. maka (ii). maka n x n ≤ ε untuk n ≥ K. untuk semua n∈N. ( x ) → 0.2.  x n Kekonvergenan dari x n → x merupakan akibat yang mudah dari x n → x .11.14(a)]. Bukti : Menurut 3. (x ) n ke x suatu akibat langsung dari kekonver- 3. Teorema.0 < ε2.2. maka (xn) konvergen dan lim (xn) = 0.2. 0 ≤ Karena ε > 0 sebarang. maka  1  xn − x ≤  x −x.4 diperoleh bahwa x = lim (xn) ≥ 0. yang berikut menyajikan “uji rasio” yang mudah dan cepat untuk kekonvergenan.10. dipenuhi Analisis Real I 79 . (i). Misalkan r bilangan dengan L < r < 1. Karena x n → 0 maka terdapat K∈N sehingga 0 ≤ xn = xn . Teorema. Bila x > 0. Karena itu [lihat contoh 2. x = 0 dan (ii). x > 0. dan ε = r . Maka terdapat n∈K.

.1. Tunjukkan bahwa barisan (2n) tidak konvergen. 4. n +1 2n 2 + 3 (d).10 lim (xn) = 0. maka Y konvergen. 6. x n = .Aljabar Himpunan x n +1 − L < ε. maka Y konvergen. maka x n +1 < L + ε = L + ( r − L) = r .Y yang divergen. bila n ≥ K diperoleh 0 < xn+1 < xnr < xn-1r2 < . lim   2 +    n     ( −1) n  (b).1. 5. n +1 (-1) n n (b). menurut 3.11(c) diperoleh lim (rn) = 0 dan karenanya menurut Teorema 3. x n = . xn Karena itu. Karena 0 < r <1. < xKrn-K+1 Bila kita tetapkan C = xK/rK. 3.. kita peroleh 0 < xn+1 < Crn+1 untuk semua n ≥ K. xn Akibatnya (mengapa ?) untuk bila n ≥ K. x n = 2 n +1 2. lim    n+2 Analisis Real I 80 .2 1. x n = . tunjukkan kekonvergenan atau kedivergenan dari X = (xn) n (a). tetapi jumlahnya X + Y konvergen. 7. n +1 n2 (c). Tunjukkan bahwa barisan ((-1)nn2) tidak konvergen. Berikan contoh barisan X. Latihan 3. Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X dan X + Y konvergen. Tunjukkan bahwa bila X dan Y barisan dengan X konvergen ke x dan xy konvergen. Untuk xn yang diberikan berikut. Tentukan limit dari barisan-barisan berikut : n  1  (a).

11 pada barisan-barisan berikut.  n  2  3n (d). karenanya X tidak konvergen. (Jadi.    n!   bn  (b). (a). Berikan pula contoh barisan divergen dengan sifat tersebut. 2 ( 32n ) 11. (n2an). (a). Tunjuk xn  kan bahwa X barisan tak terbatas. Berikan contoh barisan bilangan positif (xn) yang konvergen sehingga x  lim  n +1  = 1  xn  (b). maka lim (zn) = b. lim    n n n + 1 − n .Pendahuluan  n − 1 (d). 13. Misalkan y n = vergen. Tunjukkan bahwa (yn) dan ( ny n kon- ) ( ) 1 n dengan 0 < a < b. 10. bila a. sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi).2. lim    n + 1 8. Misalkan zn = a n + b n  n + 1 (d). x  12.  n  n  Analisis Real I 81 . Gunakan Teorema 3.  bn  (c). Misalkan X = (xn) barisan bilangan positif sehingga lim  n +1  = L > 1 .  n  b  n  b2  (b). bila a. b memenuhi 0 < a < 1 dan b > 1. untuk n∈N.  2  n   n!  (d). b memenuhi 0 < a < 1 dan b>1 (a). Selidiki konvergensi barisan-barisan berikut. 9. (a )  n (c).

10. dan kemudian membuktikan bahwa dugaan kita benar.2. Kecuali (iii). 3. Apakah hal ini mengakibatkan (yn) konvergen ? 3. Kita dapat mengapit X dengan dua barisan yang konvergen ke limit yang sama dengan menggunakan Teorema 3. Kita dapat mendominasi xn .7. kita telah mempunyai beberapa metode untuk menunjukkan bahwa barisan X = (xn) konvergen : (i). Kita dapat mengidentifikasi barisan X diperoleh dari barisan-barisan yang diketahui konvergennya dari lebar barisannya. secara langsung. (v).2. ( )= 1 n 16.4.9. (a) Berikan contoh barisan bilangan positif (xn) yang konvergen sehingga lim (x ) = 1.1. Gunakan ini untuk menunjukkan lim (xn) = 0.1.3. Barisan Monoton Sampai saat ini.3.2.1. kombinasi aljabar. atau 3. Kita dapat menggunakan defenisi 3.Aljabar Himpunan 14. Tunjukkan 1 n bahwa terdapat bilangan dengan 0 < r < 1 sehingga 0 < xn < rn untuk suatu n∈N yang cukup besar. semua metode ini mengharuskan kita terlebih dahulu mengetahui (atau paling tidak dugaan) nilai limitnya yang benar. 15. 1 n n (b).4. Analisis Real I 82 .10.9. (iii). kemudian menggunakan Teorema 3.x dengan perkalian dari suku-suku dalam barisan (an) yang diketahui konvergen ke 0.2.2. Kita dapat menggunakan “Uji rasio” dari Teorema 3. (Jadi . Tetapi ini sering (tetapi tidak selalu) sukar dikerjakan.1. (iv). (ii). sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi). Misalkan (xn) barisan konvergen dan (yn) barisan sehingga untuk sebarang ε > 0 terdapat M sehingga x n − y n < ε untuk semua n ≥ M. Berikan contoh barisan bilangan positif (xn) yang divergen sehingga lim x n 1. nilai mutlak atau datar dengan menggunakan Teorema 3. atau Teorema 3.6. 3. Misalkan (xn) barisan bilangan positif dengan lim x n ( ) = L < 1.

.1... ......a2. Bila Y = (yn) barisan tak naik yang terbatas. (1..bn.. bila 0 < b < 1..1/2n-1..1/3..)..)... kita akan membahas hasil-hasil yang lebih mendalam dibanding bagian terdahulu yang mana dapat digunakan untuk memperkenalkan konvergensi suatu barisan bila tidak ada kandidat limit yang mudah.. +1.3.. (-1.) Berisan-barisan berikut tak monoton. (a.2...b3.) bila a > 1 Berikut ini barisan-barisan tak naik (1...1/23..1/2.an.a3.3.......1.).. ..3..... Berikut ini barisan-barisan tak turun (1...3..... Bila X = (xn) barisan tak turun yang terbatas... maka lim (yn) = inf{yn}. (-2......2.1/2.... -1... Analisis Real I 83 ... tetapi pada akhirnya monoton (7. kita katakan X tak turun bila memenuhi ketaksamaan : x1 ≤ x2 ..)...2 diketahui bahwa barisan konvergen pasti terbatas.1/3. Kita katakan X tak naik bila memenuhi ketaksamaan x1 ≥ x2 ≥ ...2...... ≤ xn ≤ xn + 1 ≤ ..n.Pendahuluan Terdapat banyak contoh...).). (-1)nn.. yang mana tidak ada calon limit yang mudah dari suatu barisan.. atau tak turun... Bukti : Dari teorema 3. .b2...1/4.)..... (-1)n+1......2.. .1 Definisi. bahkan walaupun dengan analisis dasar diduga barisannya konvergen.... Misalkan X = (xn) barisan bilangan real..0.3.2..4... 3. Lebih dari itu : (a). Barisan bilangan real monoton konvergen jika dan hanya jika barisan ini terbatas..1/n.2. maka lim (xn) = sup{xn} (b).... Dalam bagian ini dan dua bagian berikutnya... -3.. ≥ xn ≥ xn+1 ≥ .2 Teorema Konvergensi Monoton..)..1/2..6... Kita katakan X monoton bila X tak naik. (b... +2. (1. Barisan-barisan berikut tak monoton (+1.. 3..4..3.3.

inf {yn .3 (a) lim X = .ε < xk ≤ xn ≤ x* untuk semua n ≥ Κ. dengan Teorema 3. tetapi.}. n∈N } Teorema konvergensi monoton memperkenalkan eksistensi limit dari barisan monoton terbatas. Hal ini juga memberikan cara perhitungan limit yang menyajikan kita dapat memperoleh supremum (a). n∈N }.2. dari sini terdapat K∈N sehingga x* . Dari (a) diperoleh lim X = sup{-yn : n∈N}.2. dari himpunan { n∈N}. Di lain pihak. maka x* .ε bukanlah batas atas dari {xn : n∈N}. Maka X tak turun atau tak naik. jadi (xn) konvergen ke x*. Karenanya lim Y = -lim X = inf{yn . Beberapa contoh  1  (a).5.  n Analisis Real I 84 .4(b).ε < xk. Tetapi karena (xn) tak turun maka hal ini diikuti x* . Bila ε > 0 diberikan. sedangkan dari latihan 2. (b). Pertama misalkan X barisan tak turun dan terbatas. Menurut prinsip supremum terdapat x* = sup{xn : n∈N. Sering kali sukar untuk mengevaluasi supremum (atau infimum).Dari hipotesis terdapat Μ∈R. infimum (b). 3.  n Kita dapat menggunakan Teorema 3.3. dari sini 1 n :  1  0 = lim  . Karena ε > 0 sebarang. Jelaslah bahwa 0 merupakan batas bawah. kita akan menggunakan Teorema Konvergen Monoton. Bila Y = (yn) barisan terbatas tak naik. maka jelaslah bahwa X = -Y= (-yn) barisan terbatas tak turun. n∈N} = . kita mempunyai sup{-yn . misalkan X barisan monoton yang terbatas.lim Y. lim   = 0. tetapi kita ketahui bahwa hal ini ada.3. kita akan tunjukkan bahwa x* = lim (xn).10. dan tidak sukar untuk menunjukkan bahwa infimumnya 0.Aljabar Himpunan Sekarang kita akan buktikan sebaliknya. (a). Akibatnya x n − x* < ε untuk semua n ≥ Κ. sehingga Rn ≤ M untuk semua n∈N. sering pula mungkin mengevaluasi limit ini dengan metode lain.

Karena itu x2 = 0.. Misalkan x n = 1 + Karena x n + 1 = x n + 1 1 1 + +.4 untuk n = 50.konvergen ke x.3. X = (1/n) konvergen x2. Upaya-upaya untuk menggunakan kalkulasi numerik secara langsung tiba pada suatu dugaan mengenai kemungkinan terbatasnya barisan (xn) mengarah pada frustrasi yang tidak meyakinkan. Yn+1 = untuk n ≥ 1..+ = 1 + 2 2 2 2 Dari sini barisan (xn) tak terbatas.. akibatnya x = 0.. Karena X =   . X ... Analisis Real I 85 . yang men n  1  gakibatkan X konvergen ke bilangan real x. Dengan perhitungan komputer akan memberikan nilai aproksiasi xn ≈ 11..2..terbatas dan tak naik. Akan tetapi pada kenyataannya barisan ini divergen. oleh karena itu divergen (teorema 3. pertanyaan apakah barisan ini konvergensi atau tidak dihasilkan oleh pertanyaan apakah barisan tersebut terbatas atau tidak. Dengan n +1 menggunakan Teorema Konvergensi Monoton 3. kita ketahui bahwa X =   ..+ n  2 4 2  1 1 1 n + + . yang diperlihatkan oleh X2 n = 1 + > 1+ = 1+ 1  1 1 1  1 +  +  +. 2 3 n 1 > x n .+  n +. Fakta numerik ini dapat menyatukan pengamat secara sekilas untuk menyimpulkan bahwa barisan ini terbatas.000 dan xn ≈ 12.2).Pendahuluan  1  Di lain pihak. kita melihat bahwa (xn) suatu barisan naik..3.2..+ n −1 +.+ untuk n∈N.000. (b).2...+ n  2 +1 2  3 4 2  1 1 + + 2 4 1 1  1  +. Kita akan menunjukkan bahwa lim Y = 3 2 1 4 ( 2y n + 3) .  n menurut Teorema 3.1 untuk n = 100. (c) Misalkan Y = (yn) didefenisikan secara induktif oleh Y1 = 1.

Dengan induksi. Kita telah menunjukkan bahwa Y = (yn) adalah barisan naik dan terbatas di atas oleh 2. Misalkan Z = (zn) dengan z1 = 1.1.2. zn+1 = jutkan lim (zn) = 2.14 (a)]. Kemudian pernyataan ini tidak dibuktikan untuk n = 1. dengan induksi. Oleh karena itu yn < 2 untuk semua n∈N. Dari sini ketaksamaan 1 ≤ zK < zK+1 < 2 mengakibatkan 1 ≤ zK+1 < zK+2 < 2. Sekarang. kita mempunyai y = lim Y1 = lim Y yang diikuti dengan Teorema 3. [Pada langkah terakhir kita menggunakan contoh 2. Dari sini kita mempunyai y1 < y2 < 2. Untuk membuktikannya kita akan lakukan secara induksi. maka 2 ≤ 2zK < 2zK+1 < 4. Karena yn+1 = 4 ( 2y n + 3) untuk semua n∈N. Jika yk < 2 berlaku untk suatu k∈N. Dalam hal ini. (d). Kita klaim bahwa Z tak turun dan terbatas di atas oleh 2.Aljabar Himpunan Kalkulasi langsung menunjukkan bahwa y2 = 5 4 . Tetapi terdapat cara lain 1 untuk mengevaluasi limitnya. Misalkan hal ini juga dipenuhi untuk n = K. 2zn untuk semua n∈N.3 diperoleh y = 1 4 ( 2y + 3) yang selanjutnya mengakibatkan y = 3 2 . tidak mudah untuk mengevaluasi lim(yn) dengan menghitung sup{yn : n∈N}. Ini benar untuk n = 1. yang diikuti oleh 1< 2 ≤ zK+1 = 2zK < zK+2 = 2zK +1 < 4 = 2.2. yaitu 1 ≤ zn < zn+1 < 2 untuk semua n∈N. kita akan tunjukkan bahwa yn < 2 untuk semua n∈N.2. Karena itu 1 ≤ zn < zn+1 < 2 untuk semua n∈N. Y konvergen ke suatu limit yakni pada kurang dari atau sama dengan 2. kita akan tunjukkan bahwa yn < yn+1 untuk semua n∈N. Analisis Real I 86 . Faktor ini dipenuhi untuk n = 1.9. maka suku ke n dari 1-ekor Y1 dan suku ke n dari Y mempunyai relasi aljabar sederhana. kita akan lan- Catatan bahwa z1 = 1 dan z2 = 2 . Dengan Teorema 3. maka yk+1 = 1 4 ( 2y k + 3) < 1 ( 4 + 3) = 1 + 43 < 2 4 Dengan demikian yk+1 < 2. Dari sini 1 ≤ z1 ≤ z2 < 2. Anggaplah bahwa yk < yk+1 untuk suatu k∈N. Oleh karena itu yn < yn+1 untuk semua n∈N. yk+1 = 1 4 ( 2y k + 3) < 1 ( 2y k +1 + 3) < y k + 2 4 Jadi yk < yk+1 mengakibatkan yk+1 < yk+2. Menurut Teorema konvergensi Menoton.

Lebih dari itu. Karena sn2 .10.2sn+1 n sn + a = 0. Karena 1 ≤ z Perhitungan akar kuadrat 3. Atau kita dapat menggunakan cara bagian (c). kita akan mengkonstruksi barisan (sn) yang konvergen ke a.kita mempunyai lim Z1 = z = lim Z. Lebih dari itu. menurut Teorema Konvergensi Monoton Z konvergen ke z = sup {zn}. menurut Teorema 3. sn+1 ≤ sn untuk semua n ≥ 2. n Untuk melihat (sn) Pada akhirnya tak naik. Contoh Misalkan a > 0. Analisis Real I 87 . z harus memenuhi z = ≤ 2.1.9.). Dari sini diskriminannya 4s2 +1 − 4 a n harus tak negatif. Relasi zn+1 = 2z n memberikan relasi antara suku ke n dari Z1 dan suku ke n dari Z. Jadi z = 2 2z . Menurut Teorema konvergensi monoton lim(sn) = s ada.2. kita catat bahwa untuk n ≥ 2 kita mempunyai sn − sn + 1 = s n − 1 s 2 n  a + = sn  1 2 (s ) ≥ 0 2 n sn Dari sini.  s yang mengakibatkan s = a atau s2 = a. persamaan ini mempunyai akar real. jadi z = 2. 2. Akan ditunjukkan secara langsung bahwa sup{zn}= 2.C.Pendahuluan Karena Z = (zn) terbatas dan tak turun. (Proses ini untuk menghi- tung akar kuadrat yang sudah dikenal di Mesopotamia sebelum 1500 B. Jadi s = s a. dari Teorema 3.3. Kita akan tunjukkan bahwa (sn) konvergen ke a .4.3. Ini menghasilkan z = 0. yaitu s2 +1 ≥ a untuk n ≥ 1. Pertama kita tunjukkan bahwa s2 +1 ≥ a untuk semua n ≥ 2.3 dan 3. Dengan Teorema 3. s harus memenuhi a 1 s = 2 s+  .2.2. a 1 Misalkan s1 > 0 sebarang dan didefinisikan sn+1 = 2  sn +  untuk semua sn   n∈N.

Bilamana kita menggunakan teorema Binomial.3.718281828459045... kita mempunyai en = (1 + 1 n n ) =1+ n 1 ⋅1+ n n ( n -1) 2! ⋅ n12 + n ( n -1)( n -2 ) 3! ⋅ n13 + .. + n ( n -1)K2⋅1 n! ⋅ n1n Ini dapat ditulis menjadi en = 1 + 1 + 1 2! (1 − ) + (1 − )(1 − ) + . sedangkan untuk en+1 menurut n+2 suku. Selain itu...3 (d)]  n dengan demikian 1 1 ≤ p −1 Oleh karena itu. maka  1 −  < 1 . Dari di atas.3. dengan demikian suku-suku dari E naik. Kita akan tunjukkan bahwa Ε = (en) terbatas atau tak turun. sering penting untuk mengestimasi bagaimana cepatnya ba-risan (sn) konvergen ke a . kita mempunyai a ≥ sn untuk semua n a dengan dera- ≥ 2.. Bilangan Euler 3.. + (1 − )(1 − )K(1 − ) 1 n 1 3! 1 n 2 n 1 n! 1 n 2 n n -1 n 1 2! Dengan cara serupa kita mempunyai : en+1 = 1 + 1 + (1 − ) + (1 − )(1 − ) + .. 1 n +1 1 3! 1 n +1 2 n +1 + 1 n! 1 n 2 n-1 (1 − n1+1)(1 − n+1)K(1 − n+1) + ( n +1)! (1 − n1+1)(1 − n2+1 ).. masing-masing suku dalam en adalah lebih kecil atau sama dengan suku yang bersesuaian dalam en+1 dan en+1 mengandung lebih satu suku positif. kita perhatikan p  bahwa jika p = 1 .5 Contoh.. n. Selain itu 2p-1 ≤ p! [lihat 1. 2 .. yang nilainya didekati dengan e ≈ 2. . kita mempunyai 2 ≤ e1≤ e2 < . < en < en+1 < .. karenanya Ε konvergen yang sangat terkenal itu..+ n −1 2 2 2 88 2 < en < 1 + 1 + Analisis Real I . Untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari E terbatas di atas..(1 − n+1) Perhatikan bahwa ekspresi untuk en menurut n + 1 suku. Oleh karena itu. Dengan menggunakan ketaksamaan ini kita dapat menghitung jat akurasi yang diinginkan... jika n > 1. .. Misal en = (1 + 1/n)n untuk n∈N.. dan kemudian digunakan sebagai bilangan dasar logaritma natural.. maka kita mempunyai p! 2 1 1 1 + 2 +.Aljabar Himpunan Untuk perhitungan.

sn = sup{xk : k ≥ n} dan tn = inf{xk : k ≥ n}. karena e adalah suatu bilangan irasional.Pendahuluan Karena dapat dibuktikan bahwa [lihat 1. Misalkan x1 = a > 0 dan xn+1 = xn + 1/xn.. 5. Misalkan (an) barisan tak turun. (bn) barisan tak naik dan misalkan an ≤ bn untuk semua n∈N.3 (b)] 1 1 1 1 + 2 + .2.1. 4. Analisis Real I 89 . dan dari sini buktikan Teorema Interval Bersarang 2.3. Tunjukkan bahwa (xn) terbatas xn 2 + y n .3. 2 2 2 2 kita simpulkan bukan 2 ≤ en < 3 untuk semua n∈N. Tunjukkan bahwa (zn) konvergen dan tentukan limitnya. Menurut Teorema Konvergensi Monoton. Tunjukkan bahwa (yn) konvergen dan tentu- rior dari (xn).b dari Teorema Konvergensi Monoton 3.3. Buktikan bahwa (sn) dan (tn) konvergen. dan lim (tn) disebut limit inferior dari (xn) ] 6. [ lim (sn) disebut limit supe1 untuk n ≥ 2. Dengan penghalusan estimasi kita dapat menemukan bilangan yang dekat sekali ke e. Kita definisikan bilangan e merupakan limit dari barisan ini. kita peroleh bahwa barisan E konvergen ke suatu bilangan real antara 2 dan 3. Tunjukkan bahwa lim (an) ≤ lim (bn). Misalkan x1 > 1 dan x n + 1 = 2 − dan menoton. Pembaca boleh menggunakan kalkulator (atau komputer) untuk menghitung en dengan mengambil nilai n yang “besar” Latihan 3. Akan tetapi mungkin untuk menghitung e sampai beberapa tempat desimal yang diinginkan. untuk masing-masing n∈N.. 2.. Misalkan y1 = 1 dan yn+1 = kan limitnya. 1. Juga buktikan bahwa bila lim (sn) = lim (tn). tetapi kita tidak dapat menghitungnya secara eksak. Tentukan limitnya.+ n −1 = 1 − n −1 < 1. Misalkan a > 0 dan z1 > 0. Definisikan zn+1 = (a + zn)1/2 untuk n∈N. 3. Tentukan apakah (xn) konvergen atau divergen. maka (xn) konvergen. Misalkan (xn) barisan terbatas dan.

4 untuk menghitung 5 desimal. dengan benar sampai 14. (1 + ( 1 n +1  n  1 n n +1 ) . barisan bilangan asli yang naik. ( ) .4.3.  (b).  (a)..3..Aljabar Himpunan 7.4. Gunakan metode pada contoh 3. Maka barisan X’ dalam R yang diberikan oleh Analisis Real I 90 .1 k k 10. < rn < .. Gunakan kalkulator untuk menghitung en untuk n = 50 dan n = 100..8) sering bermanfaat dalam membuktikan divergensi barisan.. jadi konvergen.3. Buktikan bahwa (xn) tak turun dan 2 1 2 n 1 n +1 + 1 n+ 2 1 + .. 8.  1 +   (d).1) k . maka 1 1 1 1 ≤ = − ] 2 k( k .4 untuk menghitung 4 desimal.+ 2n terbatas. Misalkan xn = 1 1 1 + 2 + L + 2 untuk n∈N. yang akan digunakan untuk memperkenalkan sejumlah hasil akibatnya. 9.1. 13. Kita juga akan membuktikan Teorema Bolzano-Weistrass. Tentukan apakah barisan (yn) konvergen atau divergen. Gunakan metode pada contoh 3. Gagasan ini agak lebih umum daripada ekor barisan (yaitu dibahas pada 3.5 untuk n = 2. 15. 3. Perkenalkan konvergensi barisan berikut dan tentukan limitnya. Misalkan A subhimpunan tak hingga dari R dan terbatas di atas dengan u = sup A. 12.  1 −  ( 1 2n   n  1 n  n  ) . Subbarisan dan Teorema Bolzano-Weiestrass Dalam bagian ini kita akan memperkenalkan gagasan subbarisan dari barisan yang diberikan. Tunjukkan bahwa terdapat suatu barisan tak turun (xn) dengan xn ∈ A untuk semua n∈N sehingga u = lim (xn). Hitung en pada contoh 3. [ Catatan bila k ≥ 2. ( ) ).1. 2 ..  1 +  (c). 11. 8. bila yn = untuk n∈N. 16. 4. dengan benar sampai 5 . 3. Misalkan X = (xn) barisan dan r1 < r2 < . Gunakan Komputer untuk menghitung en untuk n = 1000. Definisi.

.2.x r3 . lim (bn) = 0 bila 0 < b < 1.x r2 . .< rn < .0. sebarang ekor barisan merupakan subbarisan.L . .x rn . maka x n − x < ε. .. .L . rn = m + n1. r2 = m + 2. 1  1 1 1 Sebagai contoh. Tetapi.L . tidak setiap subbarisan merupakan ekor barisan.L .. . Subbarisan dari barisan konvergen juga konvergen ke limit yang sama. ekor-m bersesuaian dengan barisan yang ditentukan dengan r1 = m + 1. seperti yang akan kita tunjukkan berikut. . 3.Dari sini. . Bukti : Misalkan ε > 0 diberikan dan pilih bilangan asli Κ(ε) sedemikian sehingga jika n ≥ Κ(ε). .L .0.. .L . berikut ini adalah subbarisan dari X =  .Pendahuluan (x r1 . . 1 2 3 n  1 1 1 1  . Oleh karena itu subarisan x rn juga konvergen ke x.L .. Karena r1 < r2 <.L .3 Beberapa contoh (a). 1 3 5 2n -1   2 ! 4! 6! ( 2n)!   1 Sedangkan yang berikut bukan subbarisan dari X =   :  n  1 1 1 1 1 1  1 1 1   . Jika suatu barisan bilangan real X = (xn) konvergen ke x. ( ) 3. .0.  . . .L . .  . . 3 4 5 n+2   1 1 1 1 1  1 1 1 . Teorema. maka sebarang subbarisan dari X juga konvergen ke x.  .L .4. .  . adalah barisan bilangan real naik maka dapat dibuktikan (dengan induksi) bahwa rn ≥ n . bila n ≥ Κ(ε) kita juga mempunyai rn ≥ n ≥ Κ(ε) dengan demikian x rn − x < ε..L .. Analisis Real I 91 .L ) disebut subbarisan dari X..4. .  2 1 4 3 6 5  1 3 5  Tentu saja...

Cara lain. kita tinggalkan sebagai latihan.3 diperoleh x = lim (x2n) = [lim (xn)]2 = x2 Oleh karena itu kita mesti mempunyai x = 0 atau x = 1.10.maka z = lim( Z2n ) = ( lim( Z n )) 1 2 = z 2. karena z2n = c 1 2n = c ( ) 1 n 1 2 = z n2 1 dan Teorema 3. maka dari Ketaksamaan Bernoulli diperoleh bahwa lim(xn) = 0. Misalkan X = (xn) suatu barisan. 1 n Limit ini telah diperoleh dalam contoh 3. 1 Karena itu z2 = z yang menghasilkan z = 0 atau z = 1. berlaku z = lim (Z2n). Analisis Real I 92 .4.11 (d) untuk c > 0. kita melihat bahwa karena 0 < b < 1. Kriterian Divergensi. dengan pemikiran argumen yang banyak diakal-akali. Di sini kita melihat pendekatan lain untuk kasus c > 1. Jadi dengan menggunakan Teorema Konvergensi Monoton. menurut Teorema 3. Karena (x2n) subbarisan dari (xn) menururt Teorema 3. 3. (b). karena x2n = b2n = (bn)2 = (xn)2. Karena (xn) barisan turun dan terbatas di atas oleh 1. Kegunaan subbarisan membuatnya mudah untuk menyajikan uji divergensi suatu barisan. pada Contoh 3.Aljabar Himpunan Kita telah melihat.2. z = lim (Zn) ada. Misalkan x = lim (xn).1. lim c ( ) = 1 untuk c > 1. Untuk kasus 0 < c < 1.4.2 barisan tersebut konvergen. maka zn > 1 dan zn+1 < zn untuk semua n∈N.4.11 (c). Jelas juga bahwa 0 ≤ xn ≤ 1. Di lain pihak. sehingga menurut Teorema Konvergensi Monoton 3. Perhatikan bahwa jika zn = c1/n. maka haruslah x = 0. maka xn+1 = bn+1 < bn = xn dengan demikian (xn) adalah barisan turun.1. Di lain pihak.2 maka x = lim (x2n). bahwa bila 0 < b < 1 dan bila xn = bn.2.3.4. Menurut teorema 3.2. Karena Zn > 1 untuk semua n∈N. maka pernyataan berikut ekivalen : (i) Barisan X = (xn) tidak konvergen ke x∈R. maka haruslah z = 1.

b (c) dipenuhi.) divergen.1.. 1 (b). untuk sebarang k∈N tidak benar bahwa untuk semua n ≥ k sehingga x rk − x ≥ ε 0 . dengan meneruskan cara ini diperoleh subbarisan X’ = ( x ) (x rn rn) dari X sehingga x rn − x ≥ ε0. 3. Tetapi ini tidak mungkin suku dari x’ termuat dilingkungan x0 dari x. Secara mudah dapat dilihat bahwa barisan ini tidak n 93 . Sekarang misalkan r2∈N sehingga r2 > r1 dan x r2 − x ≥ ε 0 .5. 2 .4.4. yang mana yn = n bila n ganjil. maka haruslah X divergen. (ii) ⇒ (iii). 4 [Kita dapat mendefinisikan barisan ini dengan Y = (yn). maka menurut Teorema 3. dan yn = Analisis Real I 1 bila n genap].. terdapat rk∈N sehingga rk ≥ k dan x rk − x ≥ ε0 (iii) Terdapat ε0 > 0 dan subbarisan X = x rn dari X sehingga x rn − x ≥ 0 untuk semua n∈N. maka untuk suatu ε0 > 0 tidak mungkin memperoleh bilangan Κ(ε) sehingga 3. misalkan r3 > r2 dan x r3 − x ≥ ε0.Pendahuluan (ii) Terdapat ε0 > 0 sehingga untuk sebarang k∈N. ( (−1) ) divergen . Beberapa contoh. Bila X = (xn) tidak konvergen ke x. Karena andaikan demikian. 1 . Misalkan ε0 seperti pada (ii) dan misalkan r1∈N sehingga r1 ≥1 dan x r1 − x ≥ ε 0 . Barisan n n barisan dari X harus konvergen ke x.3. maka (menururt Teorema 3.2 subbarisan X’ juga akan konvergen ke x.4. Karena terdapat subbarisan yang konvergen ke +1 dan sub-barisan yang lain konvergen ke -1.. Bila barisan X = (( −1) ) konvergen ke x. Barisan (1. (iii) ⇒ (i) Misalkan X = (xn) mempunyai subbarisan X’ = x rn ( ) memenuhi kondisi (iii). Bukti : ( ) (i) ⇒ (ii). maka X tidak mungkin konvergen ke x. Yaitu.2) setiap sub(a).

Teorema Bolzana-Weierstrass.2.) dari Y yang berada di luar lingkungan -1 dari 0.. Setiap barisan X = (xn) mempunyai subbarisan monoton. x m 2 . 1 6 .. X mempunyai sejumlah tak hingga puncak.) dari Y konvergen ke 0. dari sini. maka terdapat s2 > s1 sehingga x s2 > x s1 .. Secara alternatif.. walaupun sub-barisan ( 12 ...4. Bila kita meneruskan proses ini. keseluru- han barisan Y tidak konvergen ke 0. dengan m1 < m2 < . Eksistensi Subbarisan Monoton Sementara tidak setiap barisan monoton..... kita mempunyai x m1 ≥ x m2 ≥ x m 3 ≥.7. ( ) Teorema Bolzana Weierstrass 3.5. kita mengururt puncak-puncak tersebut dengan indeks naik. ( ) Kasus 2. Kasus 1.. Karenanya subbarisan x m k merupakan subbarisan tak naik dari X.. kita peroleh subbarisan tak turun (bukan naik) x sn dari X.x m r . Setiap barisan terbatas mempunyai subbarisan konvergen.6. Yaitu. barisan ini tidak mungkin konvergen. karena itu Y tidak konvergen ke 0. Bukti Untuk tujuan ini kita akan menyatakan suku ke-m xm merupakan puncak bila xm ≥ xn untuk semua n ≥ m... < mk < . 3..4... ... maka terdapat s3 > s2.. sehingga x s3 > x s2 . X mempunyai sejumlah hingga (mungkin nol) puncak.Karena masing-masing suku tersebut puncak. terdapat subbarisan (3. Teorema Subbarisan Monoton. Bukti Analisis Real I 94 .x m2 .≥ x m k ≥. Misalkan puncakpuncak ini x m1 .. 1 4 .7... Dalam kasus ini..... Karena x s2 bukan puncak.Aljabar Himpunan terbatas.. Misalkan s1 = mr + 1 (indeks pertama setelah puncak terakhir) Karena x s1 bukan puncak. Jad kita mempunyai puncak-puncak x m1 . kita sekarang akan menunjukkan bahwa setiap barisan mempunyai sub-barisan monoton.2. Selanjutnya kita akan mempertimbangkan dua kasus. x m k .. menurut Teorema 3..

4. barisan ( ) ((−1) ) n mempunyai subbarisan yang konvergen ke -1. karenanya harus konvergen ke x.4. menurut hipotesis. dan subbarisan yang lain konvergen ke +1. menurut Teorema Bolzano-Weierstrass bahwa X’ mempunyai subbarisan X” yang konvergen. Menurut Kriteria Divergensi 3.8. Maka X’ sendiri juga merupakan barisan. Subbarisan inipun juga terbatas. Karena X’ subbarisan dari X. Di sini dapat kita catat bahawa X” juga merupakan subbarisan dari X. Teorema. se- hingga menururt Teorema Konvergensi Monoton X’ = x sn konvergen. Tetapi X” juga merupakan subbarisan dari X. Misalkan X’ subbarisan dari barisan X. sebagai contoh. Bukti Misalkan M > 0. maka barisan terbatas X = (xn) mempu-nyai subbarisan X’ = x sn ( ) monoton. Dari sini mudah dilihat bahwa barisan terbatas dapat mempunyai beberapa sub-barisan yang konvergen ke limit yang berbeda. maka X’ juga terbatas oleh M. katakan X”. Maka barisan X konvergen ke x. Analisis Real I 95 . sehingga x n ≤ M untuk semua n∈N.4 1. 3. Karena setiap suku dari X” juga merupakan suku dari X’. Misalkan X barisan terbatas dan x∈R yang mempunyai sifat bahwa setiap sub-barisan konvergen dari X limitnya adalah x. Akibatnya pada akhirnya X” terletak di dalam lingkungan-ε0 dari x. Berikan contoh barisan tak terbatas yang mempunyai subbarisan konvergen. hal ini membawa kita ke suatu yang kontradiksi dengan (#) Latihan 3. Andaikan X tidak konvergen ke x. Dari sini. Barisan ini juga mempunyai sub-barisan yang tidak konvergen. yang juga dapat mempunyai sub-barisan.4 terdapat ε0 > 0 dan subbarisan X’ = x rn dari X sehingga (#) ( ) x rn − x ≥ ε 0 .Pendahuluan Mengikuti Teorema Subbarisan Monoton. untuk semua n∈N.

. (1 + 1 2n)  (c). maka lim c ( ) = 1. Perkenalkan konvergensi dan tentukan limit barisan berikut : (a). Tunjukkan bahwa Z konvergen jika dan hanya jika X dan Y konvergen dan lim X = lim Y. Tunjukkan bahwa bila (xn) tak terbatas. . Simpulkan x = 1 5.. Tunjukkan bahwa lim X = 0. Misalkan X = (xn) dan Y = (yn) dan barisan Z = (zn) didefenisikan dengan z1 = x1. dan diduga bahwa ketaksamaan ini benar untuk n ≥ 3. 1 n 3. Misalkan x n = n 1 n untuk n∈N. ((1 + ) ) (b). z2n-1 = xn. Tunjukkan ( ) Analisis Real I 96 . Misalkan (xn) barisan terbatas dan untuk masing-masing n∈N sn = sup{xk: k ≥ n} dan s = inf{ sn : n∈N}. (1 + 1 2n) 2 n n n 7. n (a). 8.5 ]Buktikan bahwa (xn) pada akhirnya tak naik dan η = lim (xn) ada.. 9. Misalkan bahwa xn ≥ 0 untuk semua n∈N dan lim bahwa (xn) konvergen.Aljabar Himpunan 2. Gunakan metode pada contoh 3.. z2n = yn. 4.. 6.3 (b) untuk menunjukkan bahwa 0 < c < 1.. z2 = y1. [ lihat contoh 3. Tunjukkan bahwa terdapat subbarisan dari (xn) yang konvergen ke s. Tunjukkan bahwa xn+1 < xn ekivalen dengan (1 + 1 n) < n. (b) Gunakan fakta subbarisan (x2n) juga konvergen ke x untuk menunjukkan bahwa x = x .4.  (1 +  1 n 2 ( 2 )    ) n2 ( ) (d).3. Misalkan setiap sub-barisan dari X = (xn) mempunyai subbarisan lagi yang konvergen ke 0. maka terdapat subbarisan x n k sehingga  1   lim  x  = 0  nk  ((−1) x ) n n ada.

Untuk membuktikannya kita akan tunjukkan terlebih dahulu bahwa barisan konvergen merupakan barisan Cauchy. Pembaca sebaiknya membandingkan definisi ini dekat dengan Teorema 3. maka (xn) barisan Cauchy.6(c) untuk sebarang ε > 0. Lemma. maka terdapat subbarisan dari (xn) yang konvergen ke s. maka xm dan xn memenuhi x n − x m < ε .n ≥ Κ( 2 ) maka xn − xm = ( xn − xm ) + ( x − xm ) ≤ xn − x + xm − x < ε 2 + ε 2 =ε Karena ε > 0 sebarang. Bila X = (xn) barisan konvergen.1. tentukan subbarisan (xn) yang dikonstruksi pada bukti kedua Teorema Bolzano-Weierstrass. 3.n ≥ H(ε). Bila xn = ( −1) n n . Bukti : Misalkan x = lim X.5. maka menurut Teorema 3.i Barisan X = (xn) dikatakan barisan Cauchy bila untuk setiap ε > 0 terdapat H(ε)∈N sehingga bila m.Pendahuluan 10. Padahal sangat penting untuk memperkenalkan kriteria konvergensi yang tidak bergantung pada barisan monoton maupun nilai limitnya. 3. Tunjukkan bahwa bila s ∉ {xn : n∈N}. Berikan contoh bahwa Teorema 3. Jadi.8 gagal bila hipotesis X barisan terbatas dihilangkan.2.1.4.1 Definis.6 (c) yang menyinggung konvergensi barisan x. 3.5. tetapi sayangnya hanya dapat diterapkan pada barisan monoton. Analisis Real I 97 . bila m. Misalkan (xn) barisan terbatas dan s = sup{ xn : n∈N }. Akan kita lihat bahwa barisan Cauchy ekivalen dengan barisan konvergen.seperti yang akan kita bahas berikut ini. 12. 11. terε dapat Κ( 2 )∈N sehingga x n − x < ε 2 ε ε untuk semua n ≥ Κ( 2 ). maka X barisan Cauchy.5 Kriteria Cauchy Teorema Konvergensi Monoton sangat penting dan berguna.

maka x n − x H ≤ 1 . Karena itu menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3.. 3. x H −1 . Lemma. untuk sebarang ε > 0 terdapat H( 2 )∈N seε hingga bila m.n2.Aljabar Himpunan Untuk menunjukkan bahwa barisan Cauchy konvergen kita akan menggunakan hasil berikut.7 terdapat subbarisan X’ = ( x ) dari X yang konvergen ke x nk * suatu bilangan real.5.5. ε Karena X = (xn) barisan Cauchy. x H + 1 }.5. Bila kita definisikan M = sup{ x1 . untuk n ≥ H( 2 ) Analisis Real I 98 . misalkan X = (xn) barisan Cauchy.2 telah membuktikan bahwa barisan konvergen merupakan barisan Cauchy.3 kita peroleh bahwa X terbatas. Bukti : Lemma 3.... x 2 .4.4 Kriteria Konvergensi Cauchy. Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga kita mempunyai x n ≤ x H + 1 untuk n ≥ Η. Barisan Cauchy terbatas. maka terdapat bilangan asli K ≥ ε ε H( 2 ) unsur dari {n1. 3..3.. Barisan bilangan real konvergen jika dan hanya jika merupakan barisan cauchy.5.n ≥ H( 2 ) maka (*) xn − xm < ε 2 Karena subbarisan X’ = (x ) nk konvergen ke x*. kita akan tunjukkan bahwa X konvergen ke suatu bilangan. maka x n ≤ M untuk semua n∈N.} sehingga x K − x* < 2 . Kita akan melengkapi bukti dengan menunjukkan bahwa X konvergen ke x*. Sebaliknya.. Bukti : Misalkan x barisan Cauchy dan ε = 1. Bila H = H(1) dan n ≥ H. ε Karena K ≥ H( 2 ). Pertama dari Lemma 3. dari (*) dengan m = K diperoleh ε ε x n − x k < 2 .

bila m. sehingga H > ( 2ε ) (Mengapa?). x2 = 2 dan x n = 1 2 ( x n − 2 + x n −1 ) untuk n > 2. maka   barisan Cauchy. bila m > n. Berikut kita lihat beberapa contoh aplikasi dari Kriteria Cauchy.n ≥ H. kita mempunyai x n − x * = ( x n − x K ) + x K − x* ≤ xn − xK + xK − x * < ε 2 ε + 2 =ε ( ) Karena ε > 0 sebarang. Dapat ditunjukkan dengan induksi bahwa 1 ≤ xn ≤ 2 untuk semua n∈N. Tetapi untuk menunjukkan secara langsung bahwa barisan ini Cauchy. maka 1 1 1 1 2 − ≤ + ≤ <ε n m n m H  1 Karena ε > 0 sebarang. kita dapat menggunakan ketaksamaan segitiga untuk memperoleh Analisis Real I 99 . Tetapi.7(a). (b).Pendahuluan ε Karena itu. bila n ≥ H( 2 ). 3.5. Dari sini. Beberapa Contoh  1 (a) Barisan   konvergen. Beberapa perhitungan menunjukkan bahwa barisan x tidak menoton. berdasar kriteria Konvergensi  n Cauchy barisan ini konvergen.  n Tentu saja kita telah membuktikan bahwa barisan ini konvergen ke 0 pada 3. maka terdapat H = H(ε)∈N.1.5. maka lim (xn) = x*. Misalkan X = (xn) didefinisikan dengan x1 = 1. mudah dilihat bahwa x n − x n +1 = 1 2 n −1 untuk n∈N (Buktikan dengan induksi) Jadi. kita catat bahwa bila diberikan sebarang ε > 0. karena sukusukunya diperoleh dari rata-rata.

dengan memilih n yang begitu besar sehingga 1 ε < dan bila M ≥ n. bila m > n.5. 3 3 . ym − yn = m! ( n + 1)! ( n + 2)! Karena 2r-1 ≤ r! [lihat 1.+ m − n −1  < n − 2 n −1   2 2  2 2 Karena itu.3.. Karenanya. yang memang benar.3 (d)]... maka (mengapa ?) Analisis Real I 100 .. Karena X konvergen ke x.L Jelaslah.. X barisan Cauchy..+ 2n −1 2 2 2 2 1 =1 +  1 − n  3 4  Dari sini diperoleh bahwa (bagaimana ?) x = lim X = lim X’ = 1 + (c) Misalkan Y = (yn) barisan dengan y1 = 1 1 1 1 1 ( −1) .+ ( −1) m+1 ... tetapi tidak informatif. Tetapi. demikian juga halnya subbarisan X’ dengan indeks ganjil. maka x n − x m < ε . Dengan n 4 2 menggunakan Kriteria Cauchy 3. karenanya bila m > n. Karena itu. y n = − + L + 1! 1! 2! 1! 2! n! n +1 2 5 = .L . bila diberikan ε > 0..3 (c)] x 2n +1 = 1 + 1 1 1 + 3 +. Y bukan barisan monoton.. y 2 = − . maka ( −1) n + 2 + ( −1) n + 3 +. kita harus menggunakan aturan untuk definisi xn = 1 2 ( x n −1 + x n − 2 ) yang akan sampai pada kesimpulan x = 1 2 ( x + x) . Menggunakan induksi pembaca dapat menunjukkan bahwa [lihat 1. Untuk mencari nilai x.4 diperoleh barisan X konvergen ke suatu bilangan x.3. kita harus mencoba cara yang lain.+ m − 2 n 2 2 1  1 1  1 1 + +.+ x m −1 − x m = = 1 2 n −1 + 1 1 + .Aljabar Himpunan x n − x m ≤ x n − x n +1 + x n +1 − x n + 2 + .

(Tepatnya y adalah 1. katakan ke y..Pendahuluan ym − yn ≤ ≤ 1 1 1 + +.. kita dapat membalik langkah kerja kita untuk memperoleh : Analisis Real I 101 . Teorema. n+1 m 1 m-n n .3. Setiap barisan kontraktif merupakan barisan Cauchy. 3. n 2 2 2 2 Karena itu. saat ini kita tidak dapat menentukan nilai y secara langsung. sehingga x n + 2 − x n +1 ≤ C x n +1 − x n untuk semua n∈N.. Hal ini menunjukkan bahwa H bukan barisan Cauchy (mengapa ?). maka h m − h n . > = 1− . kita mempunyai y n − y ≤ 1 2 n-2 .+ .+  divergen.632 120 559. maka hm − hn = 1 1 + .. Bukti : Bila kita menggunakan kondisi barisan kontraktif. Barisan X = (xn) dikatakan kontraktif bila terdapat konstanta C.+ m! ( n + 1)! ( n + 2)! 1 1 1 1 + n +1 +..7. 0 < C < 1. Pembaca sebaiknya mengerjakan hal ini dan menunjukkan bahwa y sama dengan 0.6. Bilangan C disebut konstanta barisan kontraktif tersebut.. sehingga konvergen.5. 1 2 3 n Misalkan H = (hn) barisan yang didefinisikan dengan h n = tuk n∈N.3 (b).5. karenanya konvergen. (yn) barisan Cauchy. kita dapat menghitung nilai y sampai derajat akurasi yang diinginkan dengan menghitung yn untuk n yang cukup besar.+ m −1 < n −1 .. m n m Karena masing-masing suku m-n ini melebihi 1 Khususnya. dari sini. bila m = 2n kita mempunyai h2n − h n > 2 .. Definisi. karenanya H bukan barisan konvergen. 3. Bila 1 1 1 + + L+ un1 2 n m > n.1 ) e 1 1 1 1 (d) Barisan  + + +. yang telah dibahas pada 3.

kita mempunyai x m − x n ≤ x m − x m −1 + x m −1 − x m − 2 + . Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m). Karena itu (xn) barisan Cauchy. yang kedua melibatkan selisih xn-xn-1.x1 =C n-1  1 − Cm-1    x 2 − x1  1− C   1  ≤ Cn-1   x − x1  1 − C 2 Karena 0 < C < 1. maka lim(Cn) = 0 [lihat 3. + 1)x2 . Berikut ini kita memberikan dua estimasi. + Cn-1)x2-x1 = Cn-1(Cm-n-1 + Cm-n-2 + .1.5..≤ x m − x m −1 + . 0 < C < 1.Aljabar Himpunan x n + 2 − x n +1 ≤ C x n +1 − x n ≤ C 2 x n − x n −1 ≤ C3 x n −1 − x n − 2 ≤ L ≤ C n x2 − x1 untuk m > n. kita gunakan lagi m > n.. + x n +1 − x n ≤ (Cm-2 + Cm-3 + . + x n +1 − x n Analisis Real I 102 . maka x m − x n . 3. dan x* = lim X. sehingga (xn) konvergen. Untuk membuktikan (ii). sering sangat penting untuk mengestimasi kesalahan pada tahap ke-n..11(c)].. maka : (i). maka xm − xn ≤ C n-1 x 2 − x1 . Bila x = (xn) bariasan konstraktif dengan konstanta C..8. x* − x n ≤ x n − x n-1 1− C Bukti : Kita telah melihat pada bukti terdahulu bahwa bila m>n. x* − x n ≤ C n −1 x 2 − x1 1− C C (ii). Dalam proses menghitung limit dari barisan kontraktif. kita 1-C peroleh (i)... pertama melibatkan dua suku kata pertama dan n.. Akibat.

Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur iterasi berikut. diperoleh r = 3 n (r 3 + 2 atau r 3 .+ C2 + C x n − x n −1 Bila kita menggunakan limit pada ketaksamaan ini (terhadap m) diperoleh (ii). secara berturut-turut.Pendahuluan Dengan induksi diperoleh x n + k − x n + k −1 ≤ C k x n − x n − 1 karenanya x m − x n ≤ Cm − n +. kita pilih x.289188016. Pertama kita tuliskan persamaan di atas menjadi x = 1 7 (x3 + 2) dan gunakan ini untuk mendefinisikan barisan. Bila kita menggunakan limit pada kedua sisi (terhadap n) pada xn+1 = 1 7 1 7 ( x ) .. bila kita memilih x1 = 0.5.7x + 2 = 0 terletak antara 0 dan 1 dan kita akan mendekati solusi tersebut. x5 = 0.. dan seterusnya. Diketahui solusi dari x3 . ( ) 3. Kita dapat mendekati nilai r dengan memilih x1 kemudian menghitung x2. n∈N ) Karena 0< x1 < 1. x6 = 0.5 kita peroleh (sampai sembilan tempat desimal) x2 = 0.9. x4 = 0. x3.289169244. (xn) barisan kontraktif. sehingga terdapat r dengan lim (xn) = r.7r + 2 = 0. kemudian definisikan xn+1 = 1 7 (x 3 n + 2 . Sebagai contoh. Jadi r merupakan solusi dari persamaan tersebut. maka 0< xn <1 untuk semua n∈N.289 168 571.289710830. ) . Untuk mengesAnalisis Real I 103 .. Contoh. sebarang nilai antara 0 dan 1.303571429. x3 = 0. (Mengapa?) lebih dari itu kita mempunyai x n + 2 − x n +1 = = = 1 7 1 7 1 7 3 7 (x 3 n +1 +2 − ) (x 1 7 3 n +2 ) x 3 +1 − x 3 n n x 2 +1 + x n +1x n + x 2 x n +1 − x n n n ≤ x n +1 − x n Karena itu...

4. Jadi kelima tempat desimal yang per- Latihan 3. maka (xn + yn) dan (xn yn) juga barisan Cauchy. menurut 3. tunjuk- kan bahwa (xn) konvergen. 6. Bila 0 < r < 1 dan x n +1 − x n < r n untuk semua n∈N.5. hitun3 3 glah limitnya. Jadi.5 1. Tunjukkan bahwa barisan monoton tak turun yang terbatas merupakan barisan Cauchy.Aljabar Himpunan timasi akurasi.  . 1 1  (b)  1 + +. Sebenarnya 7 (20) 48020 pendekatannya lebih baik daripada ini. Hitunglah limitnya.. kita catat bahwa x 2 − x1 < 0.  n  Cauchy (a).0000004 . 9. Misalkan (xn) barisan Cauchy sehingga xn bilangan untuk semua n∈N. tunjukkan bahwa (xn) barisan Cauchy.5. Analisis Real I 104 . Beri contoh barisan terbatas yang bukan barisan Cauchy.+  .0051 . 7. Bila y1 < y2 sebarang bilangan real dan y n = 1 y n −1 + 2 y n − 2 untuk n > 2.8(i) kita yakin bahwa x − x 6 * 35 243 ≤ 4 = < 0.  2! n! 3. Tunjukkan secara langsung bahwa bila (xn) dan (yn) barisan Cauchy. setelah langkah ke n menurut Akibat 3. 5.2. Karena x 6 − x5 < 0.. 8.000005. 2. Tunjukkan bahwa (xn) pada akhirnya konstan. Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut bukan barisan  ( −1) n   (b)  n +  n    ( (−1)n ) . 3 4 x6 − x5 < 0. Tunjukkan secara langsung dari definisi bahwa yang berikut barisan Cauchy  n + 1 (a).8 (ii) maka x* − x 6 ≤ tama benar. Bila x1 < x2 sebarang bilangan real dan x n = 1 2 ( x n − 2 + x n −1 ) untuk n > 2.

maka lim (cn) = + ∞ Misalkan c = 1 + b. Contoh-contoh (a). 3. (c). Jika K(α) suatu bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α. Kita katakan bahwa (xn) menuju ke . dan ditulis lim (xn) = +∞. dan jika n ≥ K(α) maka kita mempunyai n2 ≥ n > α. lim (n) = + ∞. Persamaan x3 . (ii). misal K(α) sebarang bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α. jika diberikan α∈R. Definisi. 3.5x + 1 = 0 mempunyai akar r antara 0 dan 1. Barisan-barisan Divergen Murni Untuk tujuan-tujuan tertentu dipandang baik sekali untuk mendefinisikan atau yang dimaksudkan dengan suatu barisan bilangan real (xn) yang “menuju ke ± ∞“. Kita katakan bahwa (xn) menuju ke + ∞. dimana b > α. maka xn > α. Tentukan limitnya.∞. Bila x1 > 0 dan x n +1 = ( 2 + x n ) traktif. Jika n ≥ K(α) maka menurut ketaksamab an Bernoulli Analisis Real I 105 . (i).∞. Kita katakan bahwa (xn) divergen murni dalam hal kita mempunyai lim (xn) = +∞ dan (xn) = . jika untuk setiap β∈R terdapat bilangan asli K(β) sedemikian sehingga jika n ≥ K(β).Pendahuluan 10. 3. misal K(α) suatu bilangan asli sedemikian sehingga K(α) > α .1.6. dan ditulis lim (xn) = . Jika c > 1. maka xn < β. (b). Kenyataannya. Gunakan barisan kontraktif yang bersesuaian untuk menghitung r sampai 10-4.2.∞. −1 untuk n ≥ 1.6. Jika diberikan α∈R.6. lim (n2) = + ∞. Misalkan (xn) suatu barisan bilangan real. tunjukkan bahwa (xn) barisan kon- 11. jika untuk setiap α∈R terdapat bilangan asli K(α) sedemikian sehingga jika n ≥ K(α).

∞.Aljabar Himpunan cn = (1 + b)n ≥ 1 + nb > 1+ α > α. berarti α < yn untuk semua n ≥ K(α). tidak digunakan secara implisit dalam contoh 3. 3. Bukti : (a) Jika lim (xn) = + ∞. kita mempunyai α < xn untuk semua n ≥ n(α). Mengingat (*). Teorema. Anggaplah bahwa (xn) suatu barisan naik. maka terdapat bilangan asli K(α) sedemikian sehingga jika n ≥ K(α). maka berarti lim (n) = + ∞. Analisis Real I 106 . Jika lim (xn) = + ∞. Tetapi karena (xn). Teorema. Jika (xn) tak terbatas. dan jika diberikan α∈R.4. Barisan-barisan monoton khususnya adalah sederhana dalam memandang konvergennya. Hasil berikut adalah suatu reformulasi dari hasil tersebut di atas.6. Bagian (b) dibuktikan dengan cara yang serupa. Karena α sebarang.2. (b). “Teorema perbandingan” berikut senantiasa akan dipergunakan dalam menunjukkan bahwa suatu barisan divergen murni. maka α < xn. Suatu barisan bilangan real yang monoton divergen murni jika dan hanya jika barisan tersebut tidak terbatas.2 (c)]. Kita telah melihat dalam Teorema Konvergensi Monoton 3. maka lim (xn) = -∞ Bukti : (a). Jika (xn) suatu barisan naik tak terbatas. Oleh karena itu lim (cn) = + ∞. maka lim (yn) = + ∞.6. maka lim (xn) = . maka lim (xn) = +∞ (b). Karena α sebarang. 3. Kita ketahui bahwa jika (xn) terbatas.2 bahwa suatu barisan monoton adalah konvergen jika dan hanya jika terbatas. (a).3. [Pada kenyataannya. maka untuk sebarang α∈R terdapat n(α)∈N sedemikian sehingga α < xn(α).∞. (a). maka (xn) konvergen. Misalkan (xn) dan (yn) dua barisan bilangan real dan anggaplah bahwa (*) xn ≤ yn untuk semua n∈N.6. Jika lim (yn) = . maka ini menyatakan bahwa lim (yn) = + ∞. Jika (xn) suatu barisan turun tak terbatas.

6.4.4 pada akhirnya benar jika syarat (*) pada akhirnya benar. tidak mesti berlaku bukan lim (xn) = + ∞. maka terdapat K∈N sedemikian sehingga 1 2 L < xn < yn 3 2 L untuk semua n ≥ K untuk semua n ≥ K.6. Analisis Real I 107 .6. jika (*) dipenuhi dan jika lim (xn) = . Jika syarat (*) dari teorema 3.4 untuk menunjukkan bahwa suatu barisan menuju ke + ∞ [atau ke -∞] kita perlu untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari barisan ini adalah pada akhirnya lebih besar dari [atau lebih kecil] atau sama dengan suku-suku barisan lain yang bersesuaian dimana barisan lain kita ketahui bahwa menuju ke + ∞ [atau ke .4. belum tentu berlaku lim (yn) = . 1. Tunjukkan bahwa jika (xn) suatu barisan tak terbatas. (b). Teorema 3.∞. Teorema. seperti telah diperlihatkan dalam latihan.6. L > 0.4 memenuhi dan jika lim (yn) = + ∞.∞.6. Pembaca dapat menunjukkan bahwa konklusi tidak perlu berlaku jika L = 0 atau L = + ∞.6. kita mempunyai (#) x  lim  n  = L  yn  Maka lim (xn) = + ∞ jika dan hanya jika lim (yn) = + ∞ Bukti : Jika (#) berlaku. Detailnya ditinggalkan untuk dikerjakan oleh pembaca. Misalkan (xn) dan (yn) dua barisan bilangan real positif dan anggaplah bahwa untuk suatu L∈R. 3. yaitu. Karena kadang-kadang sangat sulit untuk memperlihatkan ketaksamaan sebagaimana (*). Latihan 3.∞]. Dalam pemakaian teorema 3. maka “Teorema Perbandingan Limit” berikut masing-masing lebih tepat untuk digunakan daripada Teorema 3. Sekarang ke- Dari sini kita mempunyai ( 21 L)y n < x n < ( 23 L)y n simpulan didapat dari suatu modifikasi kecil teorema 3. Remakkan :(a).Pendahuluan Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara yang serupa.6. Serupa juga.5. jika terdapat m ∈ Ν sedemikian sehingga xn ≤ yn untuk semua n ≥ m. maka terdapat suatu sistem barisannya yang divergen murni. Akan tetapi ada suatu hasil parsial belum dapat ditunjukkan dalam kasus-kasus ini.

Selidikilah bahwa kekonvergenan atau kedivergenan dari barisan-barisan berikut : (a). 7. Misalkan (xn) dan (yn) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim  xn   =0  yn  (a) Tunjukkan bahwa jika lim (xn) = + ∞.   n    ( ) 9. (b). maka lim (xn) = 0 8. Berikan contoh dari barisan-barisan (xn) dan (yn) yang divergen murni dengan yn ≠ 0 untuk semua n∈N sedemikian sehingga x  (a)  n  konvergen  yn  x  (b)  n  divergen murni  yn  3. Tunjukkan bahwa jika xn > 0 untuk semua n∈N. maka lim (yn) = + ∞ (b) Tunjukkan bahwa jika (yn) terbatas. maka lim (yn) = + ∞ Analisis Real I 108 . ( n2 −2 )  n  (b)  2   n +1 (d) sin n  n2 + 1   (c).Aljabar Himpunan 2. Tunjukkan bahwa (yn) konvergen ke 0.    n +1  5. Apakah barisan (n sin n) divergen murni ? 6. Misalkan (xn) dan (yn) barisan-barisan bilangan positif dan anggaplah bahwa lim  1  =+∞  xn  (a) Tunjukkan bahwa jika lim (yn) = + ∞. Misalkan (xn) divergen murni dan misalkan (yn) barisan sedemikian sehingga lim (xnyn) masuk ke R. ( n +1 )  n  (d). maka lim (xn) = 0 jika dan hanya  1 jika lim   = + ∞  xn  4. ( n − 1) (a). Perlihatkan kedivergenan murni dari barisan-barisan berikut : ( n) (c).

Pendahuluan (b) Tunjukkan bahwa jika (xn) terbatas. dimana l > 0. Tunjukkan bahwa jika lim  n  = L . maka lim ( a n ) = + ∞. maka lim (xn) = 0 a  10.  n Analisis Real I 109 .

Dalam bab ini kita akan membahas pengertian dari limit suatu fungsi.1dan pembahasan selanjutnya dalam Pasal 4. dan ini memerlukan penggunaan pengertian lingkungan dari suatu titik. karena Analisis Real I 110 . Pembaca akan memperoleh pengertian yang paralel dengan definisi limit suatu barisan.3 kita akan mengenal beberapa perluasan dari pengertian limit yang mana sering dipergunakan. Kita telah menjumpai salah satu dari konsep-konsep dasar tentang limit : kekonvergenan dari suatu barisan bilangan real.Aljabar Himpunan BAB 4 LIMIT-LIMIT Secara umum.2. 4.1. Kita tidak ingin terpengaruh dengan nilai dari f(c) pada c. Akan tetapi kita perlu mempunyai teknik-teknik pengerjaan dengan gagasan “dekat sekali”. Limit-limit Fungsi Pada pasal ini kita akan mendefinisikan pengertian penting dari limit suatu fungsi. dimana x ≠ c. Ini akan dilihat bahwa bukan hanya pengertian limit suatu fungsi yang sangat paralel dengan konsep tentang limit barisan. Pemilihan δ akan bergantung pada ε yang diberikan. Gagasan secara intuisi dari suatu fungsi yang mempunyai limit L pada c adalah bahwa nilai f(x) sangat dekat dengan L untuk x yang sangat dekat dengan c. akan tetapi juga pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadan limit-limit fungsi sering dapat dicobakan dengan pertimbangan tertentu yang berkaitan dengan barisan. Jadi pernyataan: “fungsi f mendekati L pada c” berarti bahwa nilai f(x) akan terletak dalam sebarang lingkungan-ε yang diberikan dari L. asalkan kita mengambil x dalam lingkungan-δ dari c yang cukup kecil. “Analisis secara matematika” merupakan dasar matematika yang mana dibangun secara sistematik dari variasi konsep-konsep limit. Dalam Pasal 4. Kita akan memperkenalkan pengertian limit ini dalam Pasal 4.

Pendahuluan

kita hanya ingin memandang “kecenderungan” ditentukan oleh nilai dari f pada titiktitik yang dekat sekali (tetapi berbeda dari) titik c. Agar limit fungsi ini bermakna, maka diperlukan fungsi f yang terdefinisi pada sekitar titik c. Kita menekankan bahwa fungsi f tidak perlu terdefinisi pada titik c atau pada setiap titik sekitar c, akan tetapi cukup terdefinisi pada titik-titik yang dekat sekali dengan c untuk menjadikan pembahasan menjadi menarik. Ini merupakan alasan untuk definisi berikut.

4.1.1. Definisi. Misalkan A⊆R. Suatu titik c∈R adalah titik cluster dari A
jika setiap lingkungan-δ Vδ(c) = (c-δ,c+δ) dari c memuat aling kurang satu titik dari A yang berbeda dengan c.
Catatan : Titik c merupakan anggota dari A atau bukan, tetapi meskipun demikian itu tidan menentukan apakah c suatu titik cluster dari A atau bukan, karena secara khusus yang diperlukan adalah bahwa adanya titik-titik dalam Vδ(c)∩A yang berbeda dengan c agar c menjadi titik Cluster dari A.

4.1.2. Teorema. Suatu bilangan c∈R merupakan titik cluster dari A⊆R jika
dan hanya jika terdapat barisan bilangan real (an) dalam A dengan an ≠ c untuk semua
n∈N sedemikian sehingga lim (an) = c.

Bukti. Jika c merupakan titik cluster dari A, maka untuk setiap n∈N, lingkungan-(1/n) V1/n(c) memuat paling kurang satu titik yang berbeda dengan c. Jika titik yang dimaksud adalah an, maka an∈A, an ≠ c, dan lim (an) = c. Sebaliknya, jika terdapat suatu barisan (an) dalam A\{c} dengan lim (an) = c, maka untuk sebarang δ>0 terdapat bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n≥K(δ), maka an∈Vδ(c). Oleh karena itu lingkungan-δ dari c Vδ(c) memuat titik-titik an,
n≥K(δ), yang mana termuat dalam A dan berbeda dengan c.

Contoh-contoh berikut ini menekankan bahwa suatu titik cluster dari suatu himpunan bisa masuk dalam himpunan tersebut atau tidak. Bahkan lebih dari itu, suatu himpunan bisa mungkin tidak mempunyai titik cluster.

Analisis Real I

111

Aljabar Himpunan

4.1.3. Contoh-contoh. (a) Jika A1 = (0,1), maka setiap titik dalam interval tutup [0,1] merupakan titik cluster dari A1. Perhatikan bahwa 0 dan 1 adalah titik cluster dari A1, messkipun titik-titik itu tidak termuat dalam A1. Semua titik dalam A1 adalah titik cluster dari A1 (mengapa ?) (b) Suatu himpunan berhingga tidak mempunyai titik cluster (mengapa ?) (c) Himpunan tak berhingga N tidak mempunyai titik cluster. (d) Himpunan A4 = {1/n : n∈N} hanya mempunyai 0 sebagai titik clusternya. Tidak satu pun titik dalam A4 yang merupakan titik cluster dari A4. (e) Himpunan A5 = I∩Q yaitu himpunan semua bilangan rasional dalam interval tutup I={0,1]. Menurut Teorema Kepadatan 2.5.5 bahwa setiap titik dalam I merupakan titik cluster dari A5. Sekarang kita kembali kepada pengertian limit dari suatu fungsi pada titik cluster domainnya.

Definisi Limit
Berikut ini kita akan menyajikan definisi limit dari suatu fungsi pada suatu titik.

y f (
Diberikan Vε(L) Lo

(

o c

Ada V δ(c)

Gambar 4.1 1. Limit dari f pada c adalah L

Analisis Real I

(

(

x

112

Pendahuluan

4.1.4 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c suatu titik cluster dari
A. Kita katakan bahwa suatu bilangan real L merupakan limit dari f pada c jika diberikan sebarang lingkungan-ε dari L Vε(L), terdapat lingkungan-δ dari c Vδ(c) sedemikian sehingga jika x ≠ c sebarang titik dari Vδ(c)∩A, maka f(x) termasuk dalam Vε(L). (Lihat Gambar 4.1.1) Jika L merupakan suatu limit dari f pada c, maka kita juga mengatakan bahwa
f konvergen ke L pada c. Sering dituliskan L = lim f
x→ c

atau

L = lim f ( x )
x→ c

Kita juga mengatakan bahwa “f(x) menuju L sebagaimana x mendekat ke c”, atau “f(x) menuju L sebagaimana x menuju ke c”. Simbol
F(x) → L

sebagaimana

x→c

juga diperguanakan untuk menyatakan fakta bahwa f mempunyai limit L pada c. Jika f tidak mempunyai suatu limit pada c, kita kadang-kadang mengatakan bahwa f diver-

gen pada c.
Teorema berikut memberikan jaminan kepada kita akan ketunggalan limit suatu fungsi, jika limit dimaksud ada. Ketunggalan limit ini bukan merupakan bagian dari definisi limit, akan tetapi merupakan fakta yang harus dibuktikan.

4.1.5. Teorema. Jika f : A → R dan c suatu titik cluster dari A, maka f
hanya dapat mempunyai satu limit pada c.

Bukti. Andaikan kontradiksi, yaitu terdapat bilangan real L’ ≠ L” yang memenuhi definisi 4.1.4. Kita pilih ε>0 sedemikain sehingga lingkungan-ε Vε(L’) dan Vε(L”) saling lepas. Sebagai contoh, kita dapat mengambil sebarang ε yang lebih kecil dari ½L’ – L”. Maka menurut definisi 4.1.4, terdapat δ’ > 0 sedemikian sehingga jika x sebarang titik dalam A∩Vδ’(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam Vε(L’). Secara serupa, terdapat δ” > 0 sedemikain sehingga jika x sebarang titik dalam A∩Vδ”(c) dan x ≠ c, maka f(x) termuat dalam Vε(L”). Sekarang ambil δ = min {δ’,δ”}, dan misalkan Vδ(c) lingkungan-δ dari c. Karena c titik cluster dar A, maka
Analisis Real I
113

Aljabar Himpunan

terdapat paling sedikit satu titik x0 ≠ c sedemikian sehingga x0∈A∩Vδ(c). Akibatnya,
f(x0) mesti termasuk dalam Vε(L’) dan Vε(L”), yang mana kontradiksi dengan fakta

bahwa kedua himpunan ini saling lepas. Jadi asumsi bahwa L’ ≠ L” merupakan limitlimit f pada c menimbulkan kontradiksi.

Kriteria ε-δ untuk Limit δ
Sekarang kita akan menyajikan formulasi yang ekivalen dengan definisi 4.1.4 dengan menyatakan syarat-syarat lingkungan dalam ketaksamaan. Contoh-contoh yang mengikutinya akan menunjukkan bagaimana formulasi ini dipergunakan untuk memperlihatkan limit-limit fungsi. Pada bagian akhir kita akan membahas kriteria sekuensial (barisan) untuk limit suatu fungsi.

4.1.6 Teorema. Misalkan f : A → R dan c suatu titik cluster dari A; maka
(i) (ii)

lim f = L jika dan hanya jika
x→ c

untuk sebarang ε > 0 terdapat suatu δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x∈A dan 0 < x - c < δ(ε), maka f(x) - L < ε.

Bukti. (i) ⇒ (ii) Anggaplah bahwa f mempunyai limit L pada c. Maka diberikan ε > 0 sebarang, terdapat δ = δ(ε) > 0 sedemikian sehingga untuk setiap x dalam A yang merupakan unsur dalam lingkungan-δ dari c Vδc), x ≠ c, nilai f(x) termasuk dalam lingkungan-ε dari L Vε(L). Akan tetapi, x∈Vδ(c) dan x≠c jika dan hanya jika 0 < x - c < δ. (Perhatikan bahwa 0 < x - c adalah cara lain untuk menyatakan bahwa x ≠ c). Juga, f(x) termasuk dalam Vε(L) jika dan hanya jika f(x) – L < ε. Jadi jika x∈A memenuhi 0 < x - c< δ, maka f(x) memenuhi f(x) - L <ε. (ii) ⇒ (i) Jika syarat yang dinyatakan dalam (ii) berlaku, maka kita ambil lingkunganδ Vδ(c) = (c - δ,c + δ) dan lingkungan-ε Vε(L) = (L - ε,L + ε). Maka syarat (ii) berakibat jika x masuk dalam Vδ(c), dimana x∈A dan x≠c, maka f(x) termasuk dalam Vε(L). Oleh karena itu, menurut definisi 4.1.4, f mempunyai limit L pada c. Sekarang akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bagaimana Teorema 4.1.6. sering dipergunakan.
Analisis Real I 114

x →c Misalkan g(x) = x untuk semua x∈R. Karena ε > 0 sebarang.c = x .c < δ(ε). x→ c Untuk menjadi lebih eksplisit. makaa x ≤ c + 1 dengan demikian x + c ≤ x + c ≤ 2c + 1. Akibatnya. Maka jika 0 <x .1.b = b .c< 1.Pendahuluan 4.1. Memang. Oleh karena itu. misalkan δ = 1. karena x . pertama akan berlaku bahwa x . maka kita berkesimpulan bahwa lim g = c.c < 1.c < δ(ε).  2 c + 1   maka jika 0 <x . Untuk itu. lim x 2 = c2. Kita ingin membuat selisih h(x) – c2 = x2 – c2 lebih kecil dari suatu ε > 0 yang diberikan dengan pengambilan x yang cukup dekat dengan c. Analisis Real I 115 . kita mempunyai (*) x2 – c2 = x – cx + c ≤ (2c + 1)x .. jika x . kita perhatikan bahwa x2 – c2 = (x – c)(x + c). (a) lim b = b. jka x c < 1. maka secara triviaal kita mempunyai g(x) . diberikan ε > 0. lim x = c. Jika ε > 0 misalkan δ(ε) = ε.b = 0 < ε. . x→ c Misalkan h(x) = x2 untuk semua x∈R.6(ii) bahwa lim f = b. dan oleh karena itu. misalkan f(x) = b untuk semua x∈R. Maka jika 0 <x . kita claim bahwa lim f = b.c < ε.c < ε/(2c + 1). Selain itu. x→ c kita mem[unyai f(x) .c < ε/(2c + 1) maka x2 – c2 < ε/(2c + 1)x . x→ c (b).c Selain itu suku terakhir ini akan lebih kecil dari ε asalkan kita mengambil x . x→ c (c). Contoh-contoh. Karena ε > 0 sebarang.c < 1 dengan demikian (*) valid.c < ε. kita simpulkan dari 4.7. jika kita memilih  ε    δ(ε) = inf 1.

x c c Analisis Real I 116 . untuk nilai-nilai x ini kita mempunyai (#) ϕ (x ) − 2 1 < 2 x−c . 1 2 maka jika 0 < x . Untuk menunjukkan bahwa lim ϕ = 1/c kita ingin membuat selisih x →c ϕ (x ) − 1 1 1 = − x c c lebih kecil dar ε >0 yang diberikan dengan pengambilan x cukup dekat dengan c > 0. Oleh karena itu.c < cx c 1 2 1 2 c. Khususnya..c < dengan demikian 0< 1 2 < 2 untuk x . pertama yang berlaku bahwa x .Itu berguna untuk mendapatkan batas atas dari 1/(cx) yang berlaku dala suatu lingkungan c. dan olehnya itu. c. maka cukup mengambil x – c < Akibatnya. c c 1 2 Agar suku terakhir lebih kecil dar ε.c < δ(ε). maka dengan demikian kita telah menunjukkan bahwa lim h(x) = lim x 2 = c2. δ(ε) = inf{ 1 c. jika x . x→ c x→ c (d) lim x →c 1 1 = .c < demikian (#) valid. jika c > 0. x c Misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0 dan misalkan c > 0. Pertama kita perhatikan bahwa 1 1 1 (c − x ) = 1 x − c − = x c cx cx untuk x > 0. maka 1 2 c<x< 3 2 c (mengapa?).Aljabar Himpunan Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0. jika kita memilih c2ε. karena x – c < 1 2 c dengan c2ε maka berlaku ϕ (x ) − 1 1 1 = − < ε. 2 1 2 c2ε}.

lim x →c x3 − 4 4 = x2 + 1 5 Misalkan ψ(x) = (x3 – 4)/(x2 + 1) untuk x∈R. Karakterisasi ini memungkinkan teori-teori pada bab3 dapat dipergunakan untuk mempelajari limit-limit fungsi. kita membatasi x dengan syarat 1 < x < 3. kita pilih  2  δ(ε) = inf 1. kita mempunyai ψ(x) – (4/5) ≤ (15/2)x . Maka sedikit manipulasi secara aljabar memberikan 5 x3 − 4 x 2 − 24 4 = ψ (x ) − 5 5 x2 + 1 ( ) = 5 x 2 + 6 x − 12 5 x2 + 1 ( ) x .2 = x . Unntuk x dalam interval ini.  15  Maka jika 0 <x . maka dengan demikian kita telah menunjukkan bahwa lim ϕ (x) = lim x →c x →c 1 1 = . (Kriteria Barisan) Misalkan f : A → R dan c suatu titik cluster dari A. maka : (i) lim f = L x →c jika dan hanya jika 117 Analisis Real I . x c (e).2 Untuk mendapatkan suatu batas dari koefiien x . maka contoh (e) terbukti. dengan demikian ψ (x ) − 75 15 4 ≤ x .1.2. Teorema.2 ≤ ε. 4. kita mempunyai 5x2 + 6x + 12 ≤ 5(32) + 6(3) + 12 =75 dan 5(x2 + 1) ≥ 5(1 + 1) = 10. 10 2 5 Sekarang diberikan ε > 0.2 < δ(ε). ε  .2. Karena ε > 0 sebarang. Kriteria Barisan Untuk Limit Berikut ini merupakan formulasi penting dari limit suatu fungsi dalam kaitannya dengan limir suatu barisan.8.Pendahuluan Karena kita mempunyai pilihan δ(ε) > 0 untuk sebarang pilihan dari ε > 0.

Kita menyimpulkan bahwa barisan (xn) dalam A\{c} konvergen ke c. maka barisan (xn2) konvergen ke c2. [Pembuktian ini merupakan argumen kontrapositif. maka f(xn) . terdapat δ > 0 sedemikian sehingga jika x memenuhi 0 <x . Jadi.L < ε. Sekarang kita akan menggunakan definisi kekonvergenan barisan untuk δ yang diberikan untuk memperoleh bilangan asli K(δ) sedemikian sehingga jika n > K(δ) maka xn – c < δ. jika n > K(δ). maka terdapat suatu lingkungan-ε0 dari L. Kita mesti memx →c buktikan bahwa barisan (f(xn)) konvergen ke L.6.c < 1/n dan xn∈A. (ii) ⇒ (i). maka (ii) juga tidak benar.] Jika (i) tidak benar.L < ε. Pada seksi selanjutnya kita akan melihat bahwa beberapa sifat-sifat dasar limit fungsi dapat diperlihatkan dengan penggunaan sifat-sifat untuk kekonvergenan barisan yang bersesuaian. Oleh Analisis Real I 118 . Oleh karena itu kita telah menunjukkan bahwa jika (i) tidak benar. Vε 0 (L ) . barisan (f(xn)) konvergen ke L.c < δ. tetapi sedemikian sehingga f(xn) . Akan tetapi untuk setiap xn yang demikian kita mempunyai f(xn) . kita telah kerjakan dengan barisan bahwa jika (xn) sebarang barisan yang konvergen ke c. Oleh karena itu. lingkungan-(1/n) dari c memuat suatu bilangan xn sedemikian sehingga 0 <xn .Aljabar Himpunan (ii) untuk sebarang barisan (xn) dalam A yang konvergen ke c sedemikian sehingga x ≠ c untuk semua n∈N. dimana x∈A maka f(x) memenuhi f(x) . barisan (f(xn)) konvergen ke L. Kita simpulkan bahwa (ii) menyebabkan (i). Maka dengan kriteria ε-δ 4.L < ε. dan asumsikan (xn) barisan dalam A dengan lim( xn ) = c dan xn ≠ c untuk semua n∈N. sedemikian sehingga lingkunga-δ apapun yang kita pilih. Dari sini untuk setiap n∈N. tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen ke L. Misalkan diberikan ε > 0 sebarang. Bukti. Anggaplah f mempunyai limit L pada c.L ≥ ε0 untuk semua n∈N. (i) ⇒ (ii). Sebagai contoh. akan selalu terdapat paling kurang satu xδ dalam A∩Vδ(c) dengan xδ ≠ c sedemikian sehingga f(xδ)∉ Vε 0 (L ) .1.

8. (a).9(b). [Akan tetapi. Hasil berikut merupakan suatu konsekuensi dari pembuktian teorema 4. misalkan ϕ(x) = 1/x untuk x > 0. Jika L∈R. Berikut ini diberikan beberapa aplikasi dari kriteria divergensi untuk menunjukkan bagaimana kriteria itu dapat dipergunakan. lim (1 / x ) tidak ada dalam R. maka f tidak mempunyai limit L pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn) dalam A dengan xn ≠ c untuk semua n∈N sedemikian sehingga barisan (xn) konvergen ke c tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen ke L. Contoh-contoh.9(a). x →c Kriteria Kedivergenan Kadang-kala penting untuk dapat menunjukkan (i) bahwa suatu bilangan tertentu bukan limit dari suatu fungsi pada suatu titik. 4. atau (ii) bahwa suatu fungsi tidak mempunyai suatu limit pada suatu titik. x →0 Seperti Contoh dalam 4. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. 4. Misalkan A⊆R. Seperti kita ketahui bahwa barisan (ϕ(xn)) = (n) tidak konvergen dalam R. Jika kita mengambil barisan (xn) dengan xn = 1/n untuk n∈N.1. (a). Pembuktiannya secara detail ditinggalkan untuk dikerjakan oleh pembaca. Akan tetapi.] Analisis Real I 119 .7(d) gagal berlaku jika c = 0 karena kita tidak akan memperoleh suatu batas sebagaimana dalam (#) pada contoh tersebut.1. lim (1 / x ) tidak ada dalam R.7(d).9. maka lim (xn) = 0.1. dengan teorema 4. kita dapat menyimpulkan bahwa fungsi h(x) = x2 mempuntai limit lim h( x) = c2.1.10. Argumen yang diberikan pada contoh 4. Dari sini. (b).3. disini kita menyelidiki pada c = 0. karena barisan ini tidak terbatas. Fungsi f tidak mempunyai limit pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn) dalam A dengan xn ≠ c untuk semua n∈N sedemikian sehingga barisan (xn) konvergen ke c tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen dalam R.1. tetapi ϕ(xn) = 1/1/n = n.1. Kriteria Divergensi.Pendahuluan karena itu dengan kriteria barisan. lihat contoh x →0 4.

(Lihat Gambar 4. Kita akan mengerjakan ini dengan menunjukkan bahwa terdapat barisan (xn) sedemikian sehingga lim(xn) = 0. x →0 1 ( . untuk x > 0  sgn (x) =  0. (c) lim sin (1 / x ) tidak ada dalam R.) Kita akan menunjukkan bahwa g tidak mempunyai limit pada c = 0.1. 0 ) -1 Gambar 4.1. tetapi sedemikian sehingga (sgn(xn)) tidak konvergen. Oleh karena itu lim (1 / x ) tidak x →0 ada.2) Kita akan menunjukkan bahwa sgn tidak mempunyai limit pada x = 0. maka dari Contoh 3. Akan tetapi . dengan memperlihatkan dua arisan (xn) dan (yn) dengan xn ≠ 0 dan yn ≠ 0 untuk semua n∈N dan sedemikian sehingga lim Analisis Real I 120 . Misalkan xn = (-1)n/n untuk n∈N dengan demikian lim(xn) = 0.4.5(a).1. karena sgn (xn) = (-1)n untuk n∈N. (Lihat Gambar 4.3. untuk x < 0  Perhatikan bahwa sgn(x) = x/x untuk x ≠ 0.Aljabar Himpunan (b) lim sgn ( x ) tidak ada. untuk x = 0 − 1. x →0 Misalkan g(x) = sin(1/x) untuk x ≠ 0.2 Fungsi Signum Misalkan fungsi signum didefinisikan dengan + 1. (sgn(xn)) tidak konvergen.

1 yang akan menjamin bahhwa : (a) x2 . (Jelaskan mengapa.Pendahuluan (xn) = 0 = lim (yn). ini mengakibatkan lim g tidak ada. Analisis Real I 121 .1 < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan. (b) x2 . maka lim (yn) = 0 dan g(yn) = sin (½π + 2πn) = 1 untuk semua n∈N.) x →0 Gambar 4. maka lim (xn) = 0 dan g(xn) = 0 untuk semua n∈N. Sekarang missalkan xn = 1/nπ untuk n∈N. dengan demikian lim (g(xn)) = 0. misalkan yn = (½π + 2πn)-1 untuk n∈N. x →0 Soal-soal Latihan 1. dan sin t = +1 jika t = ½π + 2πn untuk n∈Z. Mengingat Teorema 4.1 < ½. tetapi sedemikian sehingga lim (g(xn)) ≠ lim (g(yn)).1.9.1 3. (d) x3 . Di pihak lain. Kita simpulkan bahwa lim sin (1 / x ) tidak ada.1 < 1/103 (c) x2 . x ≠ 0 Kita mengingat kembali dari kalkulus bahwa sin t = 0 jika t = nπ untuk n∈Z.1 < 1/n untuk suatu n∈N yang diberikan. dengan demikian lim (g(yn)) = 1. Grafik f(x) = sin(1/x). Tentukan suatu syarat pada x .

I⊆ R suatu interval buka. x →c 8. dan c∈ R. Jika f2 merupakan pembatasan dari f pada I. Buktikan bahwa lim f (x ) = x →0 L jika dan hanya jika lim f (x ) − L = 0. dan c∈J. dan c∈I. Misalkan f : R → R. tunjukkan bahwa jika f mempunyai suatu limit pada c dan hanya jika f2 mempunyai suatu limit pada c. x →c 7.a). x →0 4. tunjukkan bahwa f1 mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f mempunyai suatu limit pada c dan tunjukkan pula bahwa lim f = lim f1 .L≤Kx . 6. dan c∈I. Gunakan ketaksamaan ini untuk membuktikan bahwa lim x 2 = c2 untuk sebarang c∈I. Misalkan f : R → R. dan misalkan g(x) = x2 untuk x∈I. Misalkan I⊆ R suatu interval. Tunjukkan bahwa lim x →c x = c untuk sebatang c ≥ 0. f : I → R. x →1 x +1 2 11. Tunjukkan bahwa tidak berlaku bahwa jika f2 mempunyai suatu limit pada c dan hanya jika f mempunyai suatu limit pada c. Misalkan f : R → R. 10. Misalkan I = (0.c. Tunjukkan bahwa lim f (x ) = L jika dan hanya jika x →c lim f (x + c ) = L. x →c x →c 5. (b) lim x x x →1 1 + = 1 (x > 0).c untuk x∈I.Aljabar Himpunan 2. Jika f1 merupakan pembatasan dari f pada I. Tunjukkan bahwa lim x 3 = c3 untuk sebarang c∈ R. Misalkan pula terdapat K dan L sedemikian sehingga f(x) . Tunjukkan bahwa lim f = L. a > 0. x →0 x x2 − x + 1 1 (d) lim = (x > 0). x →c 9. Gunakan formulasi ε-δ dan formulasi formulasi barisan dari pengertian limit untuk memperlihatkan berikut : (a) lim 1 x x→2 1 − = -1 (x > 1).c dalam I. Misalkan c suatu titik cluster dari A⊆R dan f : A → R. J⊆ R suatu interval tutup. tunjukkan bahwa g(x) – c2 ≤ 2ax . x →0 3. 2 x2 (c) lim = 0 (x ≠ 0). Untuk sebarang x. Tunjukkan bahwa limit-limit berikut ini tidak ada dalam R: Analisis Real I 122 .

Misalkan c titik cluster dari A⊆ R dan f : A → R sedemikian sehingga lim x→ c x →c ( f ( x ))2 = L. dalam banyak kasus hasil-hasil ini dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4. Secara alternatif.2.1.Pendahuluan (a) lim x→ 0 1 (x > 0).0. Tunjukkan bahwa jika L =. Hasil-hasil ini serupa dengan teorema-teorema limit untuk barisan.2. 4. Kita mengatakan bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c jika terdapat lingkungan-δ dari c Vδ(c) dan suatu konstanta M > 0 sedemikian sehingga kita mempunyai f(x) ≤ M untuk semua x ∈ A∩Vδ(c). 4. x →0 (d) lim sin  x →1  1  (x ≠ 0). Analisis Real I 123 . Misalkan A⊆ R. hasil-hasil dalam Pasal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan argumen ε-δ yang sangat serupa untuk hal yang sama dalam Pasal 3. maka lim f ( x ) = 0. Jika g : R → R didefinisikan oleh g(x) = f(ax) untuk x∈R.8 dan hasil-hasil dari Pasal 3.1 Definisi.2 Teorema Jika A⊆ R dan f : A → R mempunyai suatu limit pada c∈ R. Misalkna f : R → R didefinisikan oleh f(x) = x jika x rasional.2. Gunakan argumen barisan untuk menunjukkan bahwa jika c ≠ 0.2. Tnjukkan dengan contoh bahwa jika L ≠ 0. Tunjukkan bahwa f mempunyai suatu limit pada x = 0.2. Teorema-teorema Limit Sekarang kita akan memperlihatkan hasil-hasil yang dipergunakan dalam menentukan limit fungsi. 14. maka f tidak mempunyai limit pada c. dan f(x) = 0 jika x irasional. 2 x  12. Pada kenyataannya. maka f bisa mungkin tidak mempunyai suatu limit pada c. Misalkan fungsi f : R → R mempunyai limit L pada 0.yang telah diperlihatkan pada Pasal 3. tunjukkan bahwa lim g = L. dan misalkan pula a > 0. 4. x →0 13. f : R → R.2. dan c∈R suatu titik cluster dari A. lim ( x + sgn ( x )) . maka f terbatas pada suatu lingkungan dar c. x (c) . x2 (b) lim x →0 1 (x > 0).

Selanjutnya. maka x→ c x→ c lim( f + g ) = L + M. lim ( f − g ) = L x →c x →c M. 4.1.6.3 untuk jumlah. Selanjutnya. untuk semua x∈A. f(x) .1.4(a)). Ini menunjukkan bahwa f terbatas pada Vδ(c) suatu lingkungan-δ dari c. Kita mendefinisikan jumlah f + g. selisih f – g. maka oleh Teorema 4. dan hasil bagi barisan-barisan.2. f dan g fungsi-fungsi pada A ke R. maka f(x) ≤ M. Jika L = lim f ( x) . Oleh karena itu. misalkan b∈R. selisih. kita definisikan kelipatan bf sebagai fungsi yang diberikan oleh (bf)(x) = bf(x) untuk semua x∈A. (a) Jika lim f = L dan lim g = M. Analisis Real I 124 . hasil kali.g)(x) = f(x) .3 Definisi Misalkan A⊆R dan misalkan pula f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R. kita definisikan hasil bagi f/h adalah fungsi yang didefinisikan sebagai f (x ) f   ( x ) = h( x ) h (f . Misalkan A⊆R. dari sini (oleh Teorema Akibat 2.L < 1. x≠c. Definisi berikut serupa dengan definisi 3. terdapat δ x→ c > 0 sedemikian sehingga jika 0 <x . Ini berarti bahwa jika c∈A∩Vδ(c). Akhirnya. (fg)(x) = f(x)g(x). Jika c∉A.4 Teorema.g(x).2. jika b∈R.L < 1. 4.3. maka f(x) . sedangkan jika c∈A kita ambil M = sup{f(c).Aljabar Himpunan Bukti. maka f(x) ≤ L + 1. untuk semua x∈A. kita ambil M = L+ 1. jika h(x) ≠ 0 untuk x∈A. jika x∈A∩Vδ(c). dan ha- sil kali fg pada A ke R sebagai fungsi-fungsi yang diberikan oleh (f + g)(x) = f(x) + g(x). dan c∈R titik cluster dari A.L+1}.L ≤ f(x) . dengan ε = 1.c < δ.

dan jika lim h = H ≠ 0. n. Secara alternatif. Kita tinggalkan untuk dilakukan oleh pembaca. Salah satu cara pembuktian dari teorema-teorema ini sangat serupa dengan pembuktian Teorema 3.dan c = lim (xn). Definisi 4. kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.1.3 dan Teorema 4. Sebagai contoh.Pendahuluan lim ( fg ) = LM. Oleh karena itu suatu aplikasi dari Teorema 3.2. teorema ini dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 3.2. maka f L lim  = .3.2.4(b) untuk menghitungnya. …. dalam bagian (b). Bagian lain dari teorema ini dibuktikan dengan cara yang serupa. maka x→ c lim x →c f (x ) h( x ) tidak ada. (2) Misalkan A∈R. x→ c x→ c (b) Jika h : A → R. misalkan (xn) sebarang barisan dalam A sedemikain sehingga xn ≠ c untuk semua n∈N. …. Jika asumsi ini tidak dipenuhi.8. bahwa Lim (f(xn)) = L. Akan tetapi jika limit ini ada. fn fungsi-fungsi pada A ke R.3 menghasilkan Lim ((fg)(xn)) = lim (f(xn)g(xn)) = (lim f(xn)) (lim (g(xn))) = LM. (fg)(xn) = f(xn)g(xn) untuk semua n∈N. Di pihak lain. asumsi tambahan dibuat bahwa H = lim h ≠ 0. x→ c Analisis Real I 125 . h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A. x → c h  H Bukti.2. dan c suatu titk cluster dari A.2. Menurut Teorema 4. Catatan (1) Kita perhatikan bahwa.2. f2. Jika Lk = lim f k untuk k = 1.1.3 mengakibatkan lim (g(xn)) = M. dan f1.8. x→c lim (bf ) = bL.

2. maka Teorema 4.2. mengikuti hasil ini bahwa karena lim x = c. dan jika c > 0. (c) lim  2 x→2  x + 1    5 Jika kita menggunakan Teorema 4. maka lim x 2 = c2.2. maka x→c x→ c lim x →c x→2 1 1 = .  x2 − 4  4 = .4 dengan argumen induksi kita peroleh bahwa L1 + L2 + … + Ln = dan L1 · L2 · … · Ln = lim ( f1 + f 2 + L + f n ) x →c lim ( f1 ⋅ f 2 ⋅ L ⋅ f n ) x →c (3) Khususnya.Aljabar Himpunan maka . lim  2 x →2  x + 1  lim x 2 + 1 5   x→2 ( ( ) ) Perhatikan bahwa karena limit pada penyebut [yaitu lim x 2 + 1 = 5] tidak sama denx →2 ( ) gan 0.4. kita peroleh bahwa lim (x2 + 1)(x3 – 4) = ( lim (x2 + 1))( lim (x3 – 4)) x→2 x→2 x→2 = 5(4) = 20. maka kita mempunyai 3  x3 − 4  lim x − 4 4 x →2 = = .4. kita deduksi dari (2) bahwa jika L = Ln = lim f dan n∈N. (d) lim  x →2  3x − 6    3 Analisis Real I 126 . x c (b) lim (x2 + 1)(x3 – 4) = 20 Berdasarkan Teorema 4.2.4(b).5 Contoh-contoh (a) Beerapa limit yang diperlihatkan dalam Pasal 4. maka x→ c lim ( f ( x ))n x →c 4.2. Seagai contoh.  x3 − 4  4 = .menurut Teorema 4.4(b) dapat dipergunakan.1 dapat dibuktikan dengan menggunakan Teorema 4.2.

2 karena fungsi ϕ(x) = 1/x tidak terbatas pada lingkungan daro x = 0. jika x ≠ 2. Akan tetapi.6 = 3(2) – 6 = 0 x→2 Akan tetapi. Menurut Teorema 4. Kenyataannya. (Mengapa?) (f) Jika p fungsi polinimial. maka kita tidak dapat menggunakan Teorema 4. x→ c Misalkan p fungsi polinimial pada R dengan demikian p(x) = anxn + an-1xn-1 + … + a1x + a0 untuk semua x∈R.1.4(b) untuk menghitung lim 1 . maka x→ c x →c lim p ( x) = lim an x n + an −1x n −1 + L + a1x + a0 Analisis Real I [ ] 127 .2. (e) lim x →0 1 tidak ada dalam R. karena H = 0.Pendahuluan Jika kita misalkan f(x) = x2 – 4 dan h(x) = 3x – 6 untuk x∈R. x x →0 x →0 Tentu saja lim 1 = 1 dan H = lim x = 0.22. fungsi ϕ(x) = 1/x tidak mempunyai limit pada x = 0. x x →0 seperti kita telah lihat pada Contoh 4. maka berarti bahwa x 2 − 4 ( x − 2 )( x + 2 ) 1 = = 3 (x + 2). maka lim p ( x) = p(c). Kesimpulan ini mengikuti juga Teorema 4.2.4(b) untuk meneghitung lim (f(x)/h(x)) sebab x →2 H = lim h( x ) = lim (3 x − 6 ) x →2 x→2 = 3 lim x . 3x − 6 3( x − 2 ) Oleh karena itu kita mempunyai  x2 − 4   = lim 1 ( x + 2 ) = lim  3 x →2  3x − 6    x →2 = 1 (2 + 2) = 3 4 3 1 3  lim x + 2     x →2  Perhatikan bahwa fungsi g(x) = (x2 – 4)/(3x – 6) mempunyai limit pada x = 2 meskipun tidak terdefinisi pada titik tersebut. kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.4 dan fakta bahwa lim x k = x→ c ck.2.10(a).

Dari sini. jika x∉{α1. Jika a ≤ f(x) ≤ b x →c untuk semua x∈A.2.6. α2.Aljabar Himpunan = lim (an x n ) + lim (an −1x n −1 ) + … + lim (a1x) + lim a0 x →c x →c x→ c x→ c = ancn + an-1cn-1 + … + a1c + a0 = p(c).4(b) untuk x →c menyimpulkan bahwa lim x →c p ( x) lim p ( x) p (c ) = x→c = . x ≠ c. 4. Dari sini lim p ( x) = p(c) untuk ssebarang fungsi polinomial p. maka q(c) ≠ 0. …. αm} maka q(x) ≠ 0.1. maka menurut Teorema 4. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A.2. berarti menurut sutu teorema alam aljabar bahwa terdapat paling banyak sejumlah hingga bilangan real α1. α2. Bukti. maka lim x →c p ( x) p (c ) .αm [pembuat nol dari q(x)] sedemikain sehingga q(αj) = 0 dan sedemikian sehingga jika x∉{α1. = q ( x ) q (c ) Karena q(x) suatu fungsi polinomial.6 Teorema Misalkan A⊆R. q(x ) Jika c bukan pembuat nol dari q(x). dari berdasarkan bagian (f) bahwa lim q ( x ) = q(c). x→ c (g) Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R dan jika q(c) ≠ 0. α2.8 bahwa jika (xn) sebarang x →c barisan bilangan real sedemikain sehingga c≠ xn∈A untuk semua n∈N dan jika bari- Analisis Real I 128 . Jika L = lim f . αm} kita dapat mendefinisikan r(x) = p(x ) . …. maka a ≤ lim f ≤ b. ≠ 0. … . x →c dan jika lim f ada. Oleh karena itu kita dapat menggunakan Teorema 4. q ( x ) lim q ( x ) q (c ) x →c Hasil berikut adalah suatu analog langsung dari Teorema 3.2.

2.Pendahuluan san (xn) konvergen ke c. Kita akan tinggalkan pembuktiannya untuk dicoba oleh pembaca. maka berarti bahwa x2 < f(x) = x3/2 ≤ x untuk 0 < x ≤ 1. Karena lim (± x ) = 0. dan jika lim f = L = lim h . Jika f(x) ≤ g(x) ≤ h(x) untuk semua x∈A. x ≠ c. berarti menurut Teorema 3. )  cos x − 1  (d) lim   = 0.7 diperoleh lim x3 / 2 = 0. f. x→ 0 x →0 maka dengan menggunakan Teorema Apit 4. x →0  x  Analisis Real I 129 . Karena a ≤ f(xn) ≤ b untuk semua n∈N.2.2.h : A → R.6 bahwa a ≤ L ≤ b. maka barisan (f(xn)) konvergen ke L. maka menurut Teorema Apit bahwa lim sin x = 0. x→ 0 Misalkan f(x) = x3/2 untuk x > 0.g. 4. x→ 0 (b) lim sin x = 0. Karena lim x 2 = 0 dan lim x = 0. x →0 x →0 (c) lim cos x = 1. x →0 Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan dibahas pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa (*) x →0 Karena lim 1 − 1 x 2 = 1. dan c∈R suatu titik cluster dari A. x →0 Dapat dibuktikan dengan menggunakan pendekatan deret Taylor (akan dibahas pada lanjutan dari tulisan ini) bahwa -x ≤ sin x ≤ x untuk semua x ≥ 0. x →c x →c x →c 4.7.7 Teorema Apit. maka lim g = L. 2 x →0 ( 1 .8 Contoh-contoh (a) lim x3 / 2 = 0 (x > 0).½x2 ≤ cos x ≤ 1 untuk semua x ∈ R.2. Karena ketaksamaan x < x1/2 ≤ 1 berlaku untuk 0 < x ≤ 1.2. maka menurut Teorema Apit bahwa lim cos x = 1. Misalkan A⊆R. Sekarang kita akan menyatakan suatu hasil yang analog dengan Teorema Apit 3.

Karena .4(b) untuk menghitung limit ini. x →0 Misalkan f(x) = x sin (1/x) untuk x ≠ 0. x →0  x  Sekali lagi. Maka kita mempunyai f(x) ≤ (cos x – 1)/x ≤ h(x) untuk x ≠ 0. dan misalkan pula h(x) = 0 untuk x ≥ 0 dan h(x) = -x/2 untuk x < 0. dapat dibuktikan (pada lanjutan diktat ini) bahwa xdan bahwa x ≤ sin x ≤ x 1 6 1 6 x3 ≤ sin x ≤ x untuk x ≥ 0 x3 untuk x ≤ 0. dari ketaksamaan (*) dalam bagian (c) bahwa -½x ≤ (cos x – 1)/x ≤ 0 untuk x > 0 dan juga bahwa 0 ≤ (cos x – 1)/x ≤ ½x untuk x < 0. maka menurut Teorema x →0 x →0 Apit bahwa lim cos x − 1 = 0. kita simpulkan dari Teorema Apit  sin x  bahwa lim   = 1. kita tidak dapat menggunakan Teorema 4.2.x/2 untuk x ≥ 0 dan f(x) = 0 untuk x < 0. Oleh karena itu berarti (Mengapa?) bahwa 11 6 x2 ≤ (sin x)/x ≤ 1 untuk semua x ≠ 0. Sekarang misalkan f(x) = . (Mengapa?) Akan tetapi. mudah dilihat (Bagaimana?) bahwa lim f = lim h .Aljabar Himpunan Kita tidak dapat menggunakan Teorema 4. Tetapi karena lim 1 − 1 x 2 = 1 6 x →0 ( ) 1 lim 6 x→ 0 x 2 = 1. kita mempunyai ketaksamaan Analisis Real I 130 . x →0 x  sin x  (e) lim   = 1.4 (b) secara langsung untuk menghitung limit ini. Karena –1 ≤ sin z ≤ 1 untuk semua z ∈ R. Akan tetapi. x → 0 x  (f) lim ( x sin (1 / x )) = 0.2.

Pendahuluan -x ≤ f(x) = x sin(1/x) ≤ x untuk semua x ∈ R.6. x→2 x − 2 131 . Kita tutup bagian ini dengan suatu hasil yang merupakan konvers parsial dari Teorema 4. f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. x→ c x→ c maka terdapat suatu lingkungan dari c Vδ(c) sedemikian sehingga f(x) > 0 [atau f(x) < 0] untuk semua x∈A∩Vδ(c). (Anda bisa menggunakan latihan 14 di bawah. maka f(x) > ½L > 0.9 Teorema Misalkan A⊆R.2 1. Bukti. x →1 x 2 − 2 x +1 (x∈R) x2 + 2 (c) lim  1   1 −  (x > 0). Latihan 4.10.2. Oleh karena itu (Mengapa?) berarti bbahwa jika x∈A∩Vδ(c). 4.4 untuk menentukan limit-limit berikut : (a) lim (x + 1)(2x + 3) (x∈R). Jika lim f > 0 [ atau. akan dilewatkan untuk latihan bagi para pembaca.L < ½L. x ≠ c.9 dan 3. x ≠ 0. x →1 (b) lim x2 + 2 (x > 0). x →0 Terdapat hasil-hasil yang paralel dengan Teorema 3.2. x→2 x+3 Analisis Real I x2 − 4 (b) lim (x > 0). Misalkan L = lim f and anggaplah L > 0. Gunakan Teorema 4.2. akan tetapi. x ≠ c.1. lim f < 0].2.6(b). Tentukan limit-limit berikut dan nyatakan teorema-teorema mana yang digunakan dalam setiap kasus. Kita ambil ε = ½L > 0 x→ c dalam Teorema 4. dapat digunakan argumen yang serupa.2. maka dari Teorema Apit diperoleh x →0 bahwa lim f = 0. dan diperoleh suatu bilangan δ > 0 sedemikain sehingga jika 0 <x .c< δ dan x∈A. x → 2 x + 1 2 x  (d) lim x →0 2. maka f(x) . Jika L < 0. Karena lim x = 0.) 2x +1 (a) lim (x > 0).

Anggaplah bahwa f terbatas pada suatu lingkungan dari c dan lim g x→ c = 0. akan tetapi lim x cos(1 / x ) = 0.2.g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R. dan misalkan c suatu titik cluster dari A. (d) lim x →1 x −1 (x > 0) x −1 3. Misalkan f. 5.2. gunakan fakta bahwa lim x 2 = 0 untuk menunjukkan bahwa x→ 0 lim x n = 0. Gunakanlah formuasi ε-δ dari limit fungsi untuk membuktikan pernyataan pertama dalam Teorema 4. (b) lim x sin 1 / x 2 x→ 0 ( ) (x ≠ 0). 7. Misalkan n∈N sedemikian sehingga n ≥ 3. Buktikan bahwa lim cos(1 / x ) tidak ada. x →0 (d) lim x sin 1 / x 2 x→ 0 ( Analisis Real I 132 . ) (x > 0) (c) lim sgn sin (1 / x ) (x ≠ 0). Gunakanlah formulasi sekuensial untuk limit fungsi untuk membuktikan Teorema 4. x + 2 x2 x →0 x →0 4. 8. 11. (a) lim sin 1 / x 2 x→ 0 ( ) (x ≠ 0). x →0 9. Selanjutnya. (a) Tunjukkan bahwa jika lim f dan lim ( f + g ) ada. Misalkan f.Aljabar Himpunan (c) ( x + 1)2 − 1 lim x →0 x (x > 0).g fungsi-fungsi yang didefinisikan pada A⊆R ke R.4(b).4(a). tetapi sedemikian sehingga fungsi-fungsi f + g dan fg mempunyai limit pada c. Buktikan ketaksamaan –x2 ≤ xn ≤ x2 untuk –1 < x < 1. apakah juga lim g ada ? x→ c x→ c x→ c 10. x→ c 6. Tentukan apakah limit-limit berikut ada dalam R. Berikan contoh fungsi-fungsi f dan g sedemikian sehingga f dan g tidak mempunyai limit pada suatu titik c. Carilah lim x →0 1 + 2 x − 1 + 3x dimana x > 0. tunjukkanlah bahwa lim f ada. dan misalkan c suatu titik cluster dari A. Buktikan bahwa lim fg = 0. x→ c x →c x→ c (b) Jika lim f dan lim fg ada.

Salah satu contohnya adalah fungsi signum dalam Contoh 4. Misalkan A⊆R. x →0 f ( x ) untuk semua x∈A. Analisis Real I 133 . x →0 x →0 14. Jika lim f ada. f : A → R dan c suatu titik cluster dari A.2. Misalkan A⊆R.∞). [Petunjuk : Pertama-tama catat bahwa f(2x) = f(x) + f(x) = 2f(x) untuk semua x∈R. dan misalkan A dengan f suatu fungsi yang terdefinisi pada x →0 f (x) = lim f . Jika lim f ada.1. Misalkan f : R → R sedemikian sehingga f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x. jika kita membatasi fungsi signum pada interval (0. tidak mempunyai limit pada c = 0.] 13. anggaplah bahwa f(x) ≥ 0 untuk semua x ∈ A. jika kita membatasi fungsi signum pada interval (-∞. meskipun demikian limit fungsi f tersebut ada jika dibatasi untuk suatu interval se- pihak dari titik cluster c.c dalam R. f : A → R dan c suatu titik cluster dari A.y dalam R.1. Limit-limit Sepihak Terdapat banyak contoh fungsi f yang tidak mempunyai limit pada suatu titik c. maka fungsi hasil pembatasannya mempunyai limit –1 pada c = 0. Buktikan bahwa L = 0. dan jika x →0 f menyatakan fungsi yang terdefinisi untuk x∈A dengan f(x) = f(x). dan selanjutnya buktikan bahwa f x →0 mempunyai suatu limit pada setiap titik c∈R. Juga perhatikan bahwa f(x) = f(x – c) + f(c) untuk semua x. buktikan bahwa lim x →0 f = Pasal 4.Pendahuluan 12. Tambahan. Akan tetapi.3 Beberapa Perluasan dari Konsep Limit Pada pasal ini kita akan menyajikan tiga macam perluasan dari pengertian limit fungsi yang sering terjadi.0). maka fungsi hasil pembatasannya mempunyai limit 1 pada c = 0. Ini merupakan contoh-contoh dari konsep tentang limit-kiri dan lmit-kanan dari sutu fungsi pada suatu titik c = 0. Anggaplah lim f = L ada. Demikian juga. buktikan bahwa lim f =  lim f .10(b) dan gambarnya diperlihatkan pada Gambar 4.

kita kadang-kadang mengatakan bahwa L adalah limit dari kanan pada c.c). Misalkan A⊆R dan f : A → R (i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c.c) = {x∈A : x < c}. definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan yang dimaksud akan diformulasi dalam bentuk ε-δ.Aljabar Himpunan Definisi tentang limit-kiri dan limit-kanan merupakan modifikasi langsung dari Definisi 4. Demikian juga. dengan penggantian A pada Definisi 4.3.∞).c) menghasilkan definisi limitkiri suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(-∞.4. Dalam kenyataannya. analog dengan Teorema 4. Analisis Real I 134 .4 oleh himpunan A∩(-∞.L < ε.1 Definisi. x →c + Terminologi dan notasi yang serupa digunakan juga untuk limit-kiri.6 seperti berikut ini.L < ε. Untuk lebih mudahnya.∞) menghasilkan definisi limit-kanan suatu fungsi pada suatu titik c yang merupakan titik cluster dari A∩(c. maka kita mengatakan bahwa L∈R adalah suatu limit-kanan dari f pada c dan dituliskan x →c + lim f = L jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x – c < δ. (ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞.1.4 oleh himpunan A∩(c. Catatan: (1) Jika L suatu limit kanan dari f pada c.1. Penggantian A dalam Definisi 4.1.∞) = {x∈A:x > c}. maka f(x) . maka f(x) . Kita menggunakan notasi lim f ( x ) = L.1. 4. maka kita mengatakan bahwa L∈R adalah suatu limit-kiri dari f pada c dan dituliskan x →c − lim f = L jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ = δ(ε)> 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < c – x < δ.

maka jelas nampak bahwa f : A → R mempunyai suatu limit pada c jika dan hanya jika f mempunyai suatu limit kanan pada c.3 bbahwa sgn tidak mempunyai limit pada 0. seperti kasus pada fungsi f(x) = sgn (x) pada c = 0. Ini jelas bahwa x →0 + lim sgn( x) = +1 dan bahwa lim− sgn( x) = -1.Pendahuluan (2) Limit-limit lim f dan lim f disebut limit-limit sepihak dari f pada c. meskipun berbeda. Analisis Real I 135 .3. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa f hanya dapat memiliki satu limitkanan (atau. Khususnya.2 Teorema Misalkan A⊆R. Selain itu. keberadaan limit satu-pihak dapat direduksi untuk bahan pertimbangan selanjutnya. (i) (ii) x→c + lim f = L∈R.∞) dan A∩(-∞. dalam kasus ini limit lim f dan limit pihak kanan lim f sama.3. Maka lim f = L∈R jika dan hanya jika lim+ f = L = lim− f .1 dan 4.∞). 4. Ini dimungx→c + x →c - kinkan kedua limit sepihak dimaksud ada. Serupa. f : A → R dan c suatu titik cluster dari A∩(c.1. Untuk sebarang barisan (xn) yang konvergen ke c sedemikian sehingga xn∈A dan xn > c untuk semua n∈N.4 Contoh-contoh (a) Misalkan f(x) = sgn(x).3 Teorema Misalkan A⊆R.3.10(b) bahwa sgn tidak mempunyai limit pada c = 0.2 untuk limit-limit dua-pihak. Karena limit-limit satu pihak ini berbeda. f : A → R dan c∈R suatu titik Cluster dari A∩(c. x→0 maka mengikuti Teorema 4. (3) Jika A suatu interval dengan titik ujung kiri c. 4. Berikut ini adalah suatu hasil yang merupakan hubungan pengertian limit suatu fungsi dengan limit-limit sepihak dari fungsi tersebut pada suatu titik. Juga bisa mungkin salah satu saja yang ada. Kita tinggalkan pembuktian Teorema ini (dan formulasi dan pembuktian dari teorema yang analog dengannya untuk limit-kiri) untuk dilakukan oleh pembaca. x→ c x→c x →c 4. Berikut ini adalah hasil yang analog dengan fakta yang diperlihatkan pada Pasal 4. barisan (f(xn)) konvergen ke L∈R. limit-kiri) pada suatu titik.c).3. limit-limit ini ada. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen. Kita telah lihat dari contoh 4. (Situasi serupa juga akan berlaku x→ c x→c + untuk limit-kiri suatu interval dengan titik ujung kanan adalah c.

Aljabar Himpunan
(b) Misalkan g(x) = e1/x untuk x ≠ 0. (Lihat gambar 4.3.1) Pertama kita tunjukkan bahwa g tidak mempunyai limit kanan hingga pada c = 0 karena g tidak terbatas pada sebarang lingkungan kanan (0,∞) dari 0. Kita akan menggunakan ketaksamaan (*) 0 < t < et untuk t > 0

yang pada bagian ini tidak akan diberikan pembuktiannya. Berdasarkan (*), jika x > GAMBAR 4.3.1

Grafik dari g(x) = e1 / x (x ≠ 0)
0 maka 0 < 1/x < e1/x. Dari sini, jika kita mengambil xn = 1/n, maka g(xn) > n untuk semua n∈N. Oleh karena itu

x→0

lim+ e1 / x tidak ada dalam R.
Akan tetapi,

x→0 −

lim e1 / x = 0. Kita perhatikan bahwa, jika x < 0 dan kita men-

gambil t = 1/x dalam (*) kita peroleh 0 < -1/x < e-1/x. Karena x < 0, ini mengakibatkan 0 < e1/x < -x untuk semua x < 0. Mengikuti ketaksamaan ini diperoleh
x→0 −

lim e1 / x = 0.

(c) Misalkan h(x) = 1/(e1/x + 1) untuk x ≠ 0. (lihat gambar 4.3.2). Kita telah melihat bagian (b) bahwa 0 < 1/x < e1/x untuk x > 0, dengan demikian

Analisis Real I

136

Pendahuluan
0<

1
e
1/ x

+1

<

1
e
1/ x

<x

yang mengakibatkan bahwa

x→0 +

lim h = 0.
(x ≠ 0)

GAMBAR 4.3.2. Grafik dari h(x) = 1/(e1/x+1)

Karena kita telah melihat dalam bagian (b) bahwa analog Teorema 4.2.4(b) untuk untuk limit-kiri, kita peroleh

x→0 +

lim e1/x = 0, maka dari

1 1  1  = =1 lim−  1 / x  = 1/ x x→0  e 0 +1 + 1  lim− e + 1
x→0

(

)

Perhatikan bahwa untuk fungsi ini, limit sepihak kedua-duanya ada, akan tetapi tidak sama.

Limit-limit Tak Hingga

Analisis Real I

137

Aljabar Himpunan
Fungsi f(x) = 1/x2 untuk x ≠ 0 (lihat Gambar 4.3.3) tidak terbatas pada suatu lingkungan 0, dengan demikian fungsi tersebut tidak mempunyai suatu limit sesuai pengertian dalam Definisi 4.1.4. Sementara itu simbol-simbol ∞ (= +∞) dan -∞ tidak menyatakan suatu bilangan real, ini kadang-kadang menjadi bermakna dengan mengatakan bahwa “f(x) = 1/x2 cenderung ke ∞ apabila x → 0”.

Analisis Real I

138

Pendahuluan
4.3.5 Definisi. Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. (i) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis

lim f = ∞
x →c

jika untuk setiap α∈R terdapat δ = δ(α) > 0 sedemikain sehinggauntuk semua x∈A dengan 0 < x - c < δ, maka f(x) > α. (ii) Kita katakan bahwa f menuju ke ∞ apabila x→c, dan ditulis

lim f = −∞
x →c

jika untuk setiap β∈R terdapat δ = δ(β) > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x - c < δ, maka f(x) < β. 4.3.6 Contoh-contoh (a)

lim 1 / x 2 = −∞ .
x →0

(

)

Karena, jika α > 0 diberikan, misalkan δ = 1/α dengan demikian 1/x2 > α.

1 / α . Ini erarti bahwa jika 0 <x<δ, maka x2 <

(b) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. (Lihat Gambar 4.3.4) Fungsi g tidak menuju ke ∞ atau ke -∞ sebagaimana x→0. Karena, jika α > 0 maka g(x) < α untuk semua x < 0, dengan demikian g tidak menuju ke ∞ apabila x→0. Serupa juga, jika β < 0 maka g(x) > β untuk semua x > 0, dengan demikian g tidak menuju ke -∞ apabila x→0.

Hasil berikut analog dengan Teorema Apit 4.2.7. (Lihat juga Teorema 3.6.4). 4.3.7 Teorema Misalkan A⊆R, f,g : A → R dan c∈R suatu titik cluster dari A. Anggaplah bahwa f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A, x ≠ c. (a) Jika (b) Jika

lim f = ∞ , maka lim g = ∞ .
x→c x→c

lim g = −∞ , maka lim f = −∞ .
x→c x →c

Analisis Real I

139

Aljabar Himpunan Analisis Real I 140 .

x→c Pembuktian bagian (b) dilakukan dengan cara serupa. maka berarti jika 0 <x .6(b) menyarankan bahwa itu dapat berguna untuk memandang limit-limit sepihaknya. Oleh karena itu lim g = ∞ .3.3. 4.3 Grafik dari f(x) = 1/x2 (x ≠ 0) GAMBAR 4. (a) Jika lim f = ∞ dan α∈R diberikan. maka g(x) > 0.c < δ(α) dan x∈A.Pendahuluan GAMBAR 4.c < δ(α) dan x∈A.8 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. Analisis Real I 141 . maka f(x) > α. maka terdapat δ(α) > 0 sedemikian sehingga x→c jika 0 <x . Akan tetapi.3. jika f(x) ≤ g(x) untuk semua x∈A x ≠ c.4 Grafik dari g(x) = 1/x (x ≠ 0) Bukti.3. Fungsi g(x) = 1/x dalam Contoh 4.

maka secara mudah kita melihat bahwa x →0 + lim e1 / x = ∞ dalam pengertian dari Definisi 4.δ).3.4(b) bahwa fungsi g(x) = e1/x untuk x ≠ 0 tidak terba- tas pada sebarang interval (0. (ii) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(-∞. maka kita mengatakan bahwa f menuju ∞ [atau -∞] apabila x→c-.8.Aljabar Himpunan (i) Jika c∈R suatu titik cluster dari A∩(c. Kita telah mencatat dalam Contoh 4. Analisis Real I 142 . Akan tetapi suatu latihan yang mudah untuk menunjukkan bahwa x →0 x →0 + lim (1 / x ) = ∞ dan lim− (1 / x ) = −∞ x→c (b) Telah diperoleh pada Contoh 4. x→-∞].c) ={x∈A: x < 0}. karena 1/x < e1/x untuk x > 0.∞) ={x∈A: x > 0}.3. dan ditulis ∞ → x→c − lim f = ∞ [atau .3. jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < c – x < δ. maka f(x) > α [atau. maka f(x) > α [atau.6(b) bahwa lim g tidak ada. maka kita mengatakan bahwa f menuju ∞ [atau -∞] apabila x→c+. dan ditulis ∞ → x→c + lim f = ∞ [atau .10 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. jika untuk setiap α∈R terdapat δ=δ(α) sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan 0 < x – c < δ.3. δ > 0. lim f = −∞] x→c + . ( ) Limit-limit pada Ketakhinggaan Kita dapat mempertimbangkan pula untuk mendefinisikan pengertian limit dari suatu fungsi apabila x→∞ [atau. Akan tetapi.3. f(x) < α]. Dari sini limit-kanan dari e1/x apabila x→0+ tidak ada dalam pengertian Definisi 4.9 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0. 4.1(I). 4. lim f = −∞] x→c − .3. f(x) < α].

barisan (f(xn)) konvergen ke L.3. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk membuktikan teorema ini dan untuk merumuskan serta membuktikan teorema serupa dengannya untuk limit dimana x→-∞.∞) sedemikian sehingga lim(xn) = ∞.L < ε. kita hanya akan menyatakan kriteria apabila x→∞.11 Teorema Misalkan A⊆R. jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K. f : A → R. dan ditulis →∞ x → −∞ lim f = L .L < ε.6. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini eqivalen : (i) (ii) L= lim f . maka f(x) .Pendahuluan (i) Anggaplah bahwa (a. 4.∞) ⊆ A untuk suatu a∈R.∞) ⊆ A untuk suatu a∈R. Ini digunakan pengertian dari limit dari suatu barisan yang divergen murni (lihat Definisi 3. Kita mengatakan bahwa L∈R merupakan limit dari f apabila x→∞. x →∞ Untuk sebarang barisan (xn) dalam A∩(a.1) 4. Kita mengatakan bahwa L∈R merupakan limit dari f apabila x→-∞. x →∞ jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat K=K(ε) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K. dan anggaplah bahwa (a. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa limit-limit dari f apabila x→±∞ adalah tunggal jika ada. dan ditulis → lim f = L .3. (ii) Anggaplah bahwa (-∞. Kita juga mempunyai Kriteria Sekuensial untuk limit-limit ini. maka f(x) . Analisis Real I 143 .b) ⊆ A untuk suatu b∈R.12 Contoh-contoh (a) Misalkan g(x) = 1/x untuk x ≠ 0.

(i) Anggaplah bahwa (a.5 lim f = -∞ x→∞ 4. dan ditulis lim f = ∞ x →∞ [atau lim f = −∞] x →∞ . x→∞ x → −∞ lim 1 / x 2 = 0 = lim 1 / x 2 .3. Cara lain untuk menunjukkan ini adalah dengan menunjukkan bahwa jika x ≥ 1 maka 0 ≤ 1/x2 ≤ 1/x. ini mengakibatkan lim 1 / x 2 = 0.3. (Lihat Gambar x → −∞ ( ) ( ) 4.13 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) > a sedemikian sehingga untuk sebarang x > K. Mengingat bagian (a). Pembaca dapat menunjukkan bahwa bahwa x →∞ lim (1 / x ) = 0 = lim (1 / x ) .3.3). -∞] apabila x→∞.Aljabar Himpunan Ini merupakan suatu latihan dasar untuk membuktikan bahwa (Lihat Gambar 4.4) (b) Misalkan f(x) = 1/x2 untuk x ≠ 0.5) Analisis Real I 144 .3. f(x) < α].∞)⊆A untuk suatu a∈A. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞ [atau. x →∞ ( ) y Κ(α) x α GAMBAR 4. (Lihat Gambar 4.3. maka f(x) > α [atau.

b)⊆A untuk suatu b∈A. L ≠ 0.6. ] jika diberikan sebarang α∈R terdapat K = K(α) < b sedemikian sehingga untuk sebarang x < K. f. (i) Karena L > 0. maka lim (f(xn)) = ∞ [atau lim (f(xn)) = -∞].∞)⊆A untuk suatu a∈R. Analisis Real I 145 . maka f(x) > α [atau. Hasil berikut ini analog dengan Teorema 3. dan anggaplah ahwa (a. Sebagaimana sebelumnya. -∞] apabila x→-∞.Pendahuluan (ii) Anggaplah bahwa (-∞.5.3. Misalkan pula bahwa g(x) > 0 untuk semua x > a dan bahwa lim x→∞ f (x ) =L g (x ) untuk suatu L∈R. Kita mengatakan bahwa f menuju ke ∞ [atau. f : A → R. x →∞ x →∞ Bukti. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen : (i) (ii) lim f = ∞ [atau. maka Jika L < 0.3. f(x) < α].S 4. dan ditulis x → −∞ lim f = ∞ [atau x → −∞ lim f = −∞ .15 Teorema Misalkan A⊆R. dan anggaplah bahwa (a. maka lim f = ∞ jika dan hanya jika lim g = ∞. 4. x →∞ x →∞ lim f = -∞ jika dan hanya jika lim g = -∞. lim f = -∞] x →∞ x →∞ Untuk sebarang barisan (xn) dalam (a. Kita akan memformulasinya apabila x→∞. hipotesis mengakibatkan bahwa terdapat a1 > a sedemikian sehingga 0 < ½L < f (x ) < g (x ) 3 2 L untuk x > a1.∞) sedemikian sehingga lim(xn) = ∞. terdapat kriteria sekuensial untuk limit ini.∞)⊆A untuk suatu a∈R.g : A → R.14 Teorema Misalkan A⊆R. (i) (ii) Jika L > 0.

Pembuktian bagian (ii) dikerjakan dengan cara serupa. katakanlah n = 2k+1 dengan k = 0. x→∞ g (x ) x→∞ x→∞ Analisis Real I 146 . jika an > 0. kita mempunyai xn = (x2)kx ≤ x < α.16 Conyoh-contoh (a) lim x n = ∞ untuk n∈N. Untuk sebarang x < K. Karena α∈R sebarang.15.∞).α}. dan lim p = -∞ jika an < 0. 4. misalkan K = sup{1. Karena lim g = ∞. dari sini dengan mu2 dah kita peroleh kesimpulannya. x →∞ Misalkan g(x) = xn untuk x∈(0. … . n ganjil.Aljabar Himpunan Oleh karena itu kita mempunyai (½L)g(x) < f(x) < ( 3 L)g(x) untuk semua x > a1. (c) Misalkan p : R → R fungsi polinomial p(x) = anxn + an-1xn-1 + … + a1x + a0 Maka lim p = ∞.3. lim p = ∞. dan lim x n = -∞ untuk n∈N.-1}. Karena α∈R sebarang. maka menurut Teorema 4. apabila x→-∞. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk memformulasi hasil-hasil yang analogi dengan Teorema di atas.3. Diberikan α∈R. kita mempunyai g(x) = xn ≥ x ≥ α. g (x )  x x  x  maka diperoleh lim p(x ) = an. Diberikan α∈R. maka karena (x2)k ≥ 1. misalkan K = inf{α. Maka untuk semua x > K.3.1. n genap.15. x → −∞ Kita akan mencoba kasus n ganjil. x→∞ (b) x → −∞ lim x n = ∞ untuk n∈N. maka ini berarti lim g = ∞. Karena p(x ) 1  1   1  = an + an-1   + … + a1  n −1  + a0  n  . x →∞ x →∞ Misalkan g(x) = xn dan gunakan Teorema 4. maka berarti x → −∞ lim x n = -∞.

∞). x → −∞ lim p = ∞ [atau.. Tunjukkan bahwa lim f ( x ) = lim f ( x ) = +∞.14. Berikan contoh suatu fungsi yang mempunyai limit-kanan.Pendahuluan (d) Misalkan p fungsi polinomial dalam bagian (c). x x +1 (x > -1). x →c x →c 5. Buktikan Teorema 4. Kita tinggalkan detailnya untuk pemaca kerjakan. Tunjukkan bahwa jika f : (a. Maka genap [atau. Misalkan f(x) = x½ untuk x ≠ 0. Buktikan Teorema 4. -∞] jika n Latihan-latihan 1.∞) → R sedemikian sehingga lim xf ( x ) = L dimana x →∞ L∈R. Misalkan f dan g masing-masing mempunyai limit dalam R apabila x→∞ dan f(x) ≤ g(x) untuk semua (α. x→∞ 10. x x −5 (x > 0). Buktikan bahwa lim f ( x ) = L jika dan hanya x→∞ jika lim f (1 x ) = L. Misalkan f terdefinisi pada (0. 3. (a) x →1 lim + lim + x (x ≠ 1). Buktikan bahwa lim f ≤ lim g . x+x (e) lim x →0 (f) lim x →∞ (g) lim x →∞ (h) lim x→∞ 6.∞). Buktikan Teorema 4.3. x →1 x − 1 (c) x →1 (d) lim x+2 (x > 0). + − x→0 x→0 4. Hitunglah limit-limit berikut.∞) ke R. x +3 (b) lim x (x ≠ 1). Analisis Real I 147 .3. atau tunjukkan bahwa limit-limit ini tidak ada. x →∞ x →∞ 8.11.3. 2. Tunjukkan bahwa lim f = ∞ jika dan hanya jika lim(1 f ) = 0. + x→0 9. tetapi tidak mempunyai limitkiri pada suatu titik. maka lim f ( x ) = 0. ganjil] dan an > 0. 7.2. x→∞ x x +1 (x > 0). Misalkan c∈R dan f didefinisikan untuk x∈(c.∞) dan f(x) > 0 untuk semua x∈(c. x x−x (x > 0). x −1 x+2 (x > 0).

akan tetapi lim ( f − g ) = 0. x→∞ Analisis Real I 148 . dengan g(x) > 0 untuk semua x∈(0. 13. Lengkapkan bukti dari Teorema 4. Carilah fungsi-fungsi f dan g yang didefinisikan pada (0. dan x→c x→c lim g ( x ) = ∞.∞) dan misalkan pula lim f = L dan lim g = ∞. 12. x →∞ x→∞ Buktikan bahwa lim f o g = L. Misalkan lim f ( x ) = L dimana L > 0. tunjukkan dengan contoh bahwa konklusi ini gagal.15.∞). Tunjukkan bahwa x→c lim f ( x )g ( x ) = ∞. Misalkan f dan g terdefinisi pada (a. Dapatkan anda menemukan fungsix→∞ x→∞ fungsi demikian. sedemikain sehingga lim f g x→∞ = 0? 14. Jika L = 0.∞) sedemikain sehingga lim f x →∞ = ∞ dan lim g = ∞.3.Aljabar Himpunan 11.

Pendahuluan

BAB 5
FUNGSI-FUNGSI KONTINU
Dalam bab ini kita akan memulai mempelajari kelas terpenting dari fungsifungsi yang muncul dalam analisis real, yaitu kelas fungsi-fungsi kontinu. Pertamatama kita akan mendefinisikan pengertian dari kekontinuan pada suatu titik dan pada suatu himpunan, dan menunjukkan bahwa variasi kombinasi dari fungsi-fungsi kontinu menghasilkan fungsi kontinu. Sifat-sifat dasar yang membuat fungsi-fungsi kontinu demikain penting diperlihatkan pada Pasal 5.3. Misalnya, kita akan memuktikan bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval tertutup dan terbatas mesti mencapai nilai maksimum dan minimum.Kita juga akan membuktikan bahwa suatu fungsi kontinu mesti selalu memuat nilai antara untuk sebarang dua nilai yang dicapainya. Sifat-sifat ini dan beberapa lainnya tidak dimiliki oleh fungsi-fungsi pada umumnya, dan dengan demikian ini membedakan fungsi-fungsi kontinu sebagai suatu kelas yang sangat khusus dari fungsi-fungsi. Kedua, dalam Pasan 5.4 kita akan memperkenalkan pengertian penting dari kekontinuan seragam, dan kita akan menggunakan pengertian ini untuk masalah dari pendekatan (pengaproksimasian) fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi-fungsi dasar (elementer) (seperti polinomial). Fungsi-fungsi monoton adalah suatu kelas penting dari fungsi-fungsi dan mempunyai sifat-sifat kekontinuan kuat; mereka didiskusikan dalam Pasal 5.5. Khususnya, akan ditunjukkan bahwa fungsi monoton kontinu mempunyai fungsi invers yang monoton kontinu juga.
Analisis Real I
149

Aljabar Himpunan

PASAL 5.1 Fungsi-fungsi Kontinu
Dalam Pasal ini, yang mana sangat serupa dengan pasal 4.1, kita akan mendefinisikan tentang apa yang dimaksudkan dengan fungsi kontinu pada suatu titik, atau pada suatu himpunan. Pengertian kekontinuan ini adalah salah satu dari pengertian sentral dari analisis matematika dan akan dipergunakan dalam hampir semua pada pembahasan dalam buku ini. Akibatnya, konsep ini sangat esensial yang pembaca mesti menguasainya.

5.1.1 Definisi Misalkan A⊆R, f : A → R dan c∈A. Kita katakan bahwa f kontinu pada c jika, diberikan sebarang lingkungan Vε(f(c)) dari f(c) terdapat suatu
lingkungan
Vδ(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada A∩Vδ(c), maka f(x) ter-

muat dalam Vε(f(c)). (Lihat Gambar 5.1.1).

GAMBAR 5.1.1 Diberikan Vε(f(c)), lingkungan Vδ(c) ditentukan Peringatan (1) Jika c∈A merupakan titik cluster dari A, maka pembandingan dari
Definisi 4.1.4 dan 5.1.1 menunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika (1)

f(c) = lim f .
x →c

Jadi, jika c titik cluster dari A, maka agar (1) berlaku, tiga syarat harus dipenuhi: (i) f harus terdefinisi pada c (dengan demikian f(c) dapat dimengerti), (ii) limit dari f harus ada dalam R

Analisis Real I

150

Pendahuluan
(dengan demikian lim f dapat dimengerti), dan (iii) nilai-nilai dari f(c) dan lim f harus
x →c x →c

sama. (2) Jika c bukan titik cluster dari A, maka terdapat lingkungan Vδ(c) dari c sedemikian sehingga A∩Vδ(c) = {c}. Jadi kita menyimpulkan bahwa suatu fungsi f kontinu secara otomatis pada c∈A yang bukan titik cluster dari A. Titik-titik demikian ini sering disebut “titik-titik terisolasi” dari A; titik-titik ini kurang menarik untuk kita bahas, karena “far from the action”. Karena kekontinuan erlaku secara otomatis untuk titik-titik terisolasi ini, kita akan secara umum menguji kekontinuan hanya pada titik-titik cluster. Jadi kita akan memandang kondisi (1) sebagai karakteristik untuk kekontinuan pada

c.

Dalam definisi berikut kita mendefinisikan kekontinuan dari f pada suatu himpunan.

5.1.2 Definisi

Misalkan A⊆R, f : A → R. Jika

B⊆A, kita katakan bahwa f kontinu pada B jika f kontinu pada setiap titik dalam B. Sekarang kita berikan suatu formulasi yang setara untuk Definisi 5.1.1.

5.1.3 Teorema Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c∈A. Maka kondisikondisi berikut ekivalen. (i) f kontinu pada c; yaitu, diberikan sebarang lingkungan Vε(f(c)) dari f(c) terdapat suatu lingkungan Vδ(c) dari c sedemikain sehingga jika x sebarang titik pada A∩Vδ(c), maka f(x) termuat dalam Vε(f(c)) (ii) Diberikan sebarang ε > 0 terdapat suatu δ > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dengan x - c < δ, maka f(x) – f(c) < ε. (iii) Jika (xn) sebarang barisan bilangan real sedemikian sehingga xn∈A untuk semua n∈N dan (xn) konvergen ke c, maka barisan (f(xn)) konvergen ke f(c). Pembuktian teorema ini hanya memerlukan sedikit modifikasi pembuktian dari Teorema 4.1.6 dan 4.1.8. Kita tinggalkan detailnya sebagai suatu latihan penting bagi pembaca. Kriteria Diskontinu berikut adalah suatu konsekuensi dari ekuivalensi dari (i) dan (ii) dari teorema sebelumnya; ini akan dibandingkan denAnalisis Real I
151

Aljabar Himpunan

gan Kriteria Divergensi 4.1.9(a) dengan L = f(c). Pembuktiannya akan dituliskan secara detail oleh pembaca.

5.1.4. Kriteria Diskontinu Misalkan A⊆R, f : A → R, dan c∈A. Maka f diskontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn)
dalam A sedemikian sehingga (xn) konvergen ke c, tetapi barisan (f(xn)) tidak konvergen ke f(c).

5.1.5

Contoh-contoh (a) f(x) = b kontinu pada R
Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(a) bahwa jika

c∈R, maka kita mempunyai lim f = b. Karena f(c) = b, maka f kontinu pada setiap
x →c

titik c∈R. Jadi f kontinu pada R. (b) g(x) = x kontinu pada R. Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(b) bahwa jika
c∈R, maka kita mempunyai lim g = c. Karena g(c) = c, maka g kontinu pada setiap
x→c

titik c∈R. Jadi g kontinu pada R. (c) h(x) = x2 kontinu pada R. Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(c) bahwa jika c∈R, maka kita mempunyai lim h = c2. Karena h(c) = c2, maka h kontinu pada setiap titik c∈R. Jadi h kontinu
x→c

pada R. (d) ϕ(x) = 1/x kontinu pada A = {x∈R : x > 0}. Telah diperlihatkan pada Contoh 4.1.7(d) bahwa jika c∈A, maka kita mempunyai lim ϕ = 1/c. Karena ϕ(c) = 1/c, maka ϕ kontinu pada setiap titik c∈A. Jadi ϕ kontinu
x →c

pada A. (e) ϕ(x) = 1/x tidak kontinu pada x = 0 Memang, jika ϕ(x) = 1/x untuk x > 0, maka tidak terdefinisi pada x= 0, dengan demikian tidak kontinu pada titik ini. Secara alternatif, telah diperlihatkan pada Con-

Analisis Real I

152

misalkan (xn) suatu barisan bilangan irasional yang konvergen ke c. jika b bilangan rasional. Untuk suatu bilangan rasional dalam A yang berbentuk m/n.2. (Lihat Gambar 5.1.5. (Teorema Akibat 2. maka kita mempunyai lim (f(yn)) = 1 sementara f(b) = 0.Pendahuluan toh 4. Oleh karena itu sgn tidak kontinu pada x = 0 meskipun sgn 0 terdefinisi. dengan demikian ϕ tidak kontinu pada x →0 x = 0. kita simpulkan bahwa f tidak kontinu pada setiap titik dalam R. jika c bilangan rasional.10(a) bahwa lim ϕ tidak ada dalam R.5. dengan bilangan asli m.5.6 untuk Teorema 2.n tidak mempunyai faktor persektuan kecuali 1.5 menjamin adanya barisan seperti ini. (Fungsi ini diperkenalkan pada tahun 1829 oleh Dirichlet) Memang.1.) Karena f(xn) = 0 untuk semua n∈N.5 menjamin adanya barisan seperti ini. Oleh karena itu f tidak kontinu pada bilangan irasional b. jika x rasional f(x) =  0 . (h) Misalkan A = {x∈R : x > 0}. Sebaliknya.) Karena f(yn) = 1 untuk semua n∈N.6 untuk Teorema 2. maka kita mempunyai lim (f(xn)) = 0 sementara f(c) = 1. Untuk sebarang bilangan irasional x > 0 kita definisikan h(x) = 0. misalkan (yn) suatu barisan bilangan irasional yang konvergen ke b. jika x irasional Kita claim bahwa f tidak kontinu pada sebarang titik pada R. Oleh karena itu f tidak kontinu pada bilangan rasional c. (Teorema Akibat 2. Fungsi signum telah x →0 didefinisikan pada contoh 4. Karena setiap bilangan real adalah bilangan rasional atau irasional. dimana juga telah ditunjukkan bahwa lim sgn( x) tidak ada dalam R. (f) Fungsi signum tidak kontinu pada x = 0.) Kita claim bahwa h kontinu pada setiap bi- Analisis Real I 153 .5.10(b).1. kita definisikan h(m/n) = 1/n. (g) Misalkan A = R dan f “fungsi diskontinu” Dirichlet yang didefinisikan oleh 1 .

Akibatnya. 1 * * 1/2 * * * 1/7 * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 3/2 * * * * * * * * 1/2 1 2 GAMBAR 5.J. kita berkesimpulan bahwa fungsi Thomae h kontinu hanya pada titik-titik irasional dalam A.b + δ) tidak memuat tidak memuat bilangan rasional dengan penyebut lebih kecil dari n0.6 Peringatan (a) Kadang-kadang suatu fungsi f : A → R tidak kontinu pada suatu titik c. jika fungsi f mempunyai suatu limit L pada tiitik c dan jika kita definisikan F pada A∪{c} →R dengan untuk L F ( x) =  f ( x) untuk  Analisis Real I x=c x∈ A 154 . (Mengapa?) Dari sini δ > 0 dapat dipilih sekecil mungkin yang mana lingkungan (b . Di pihak lain. sebab tidak terdefinisi pada titik tersebut. Selanjutnya. Dari sini h diskontinu pada a. jika a > 0 bilangan rasional.b< δ.1. (Fungsi ini diperkenalkan pada tahun 1875 oleh K. jika b suatu bilangan irasional dan ε > 0. Akan tetapi. b + 1). Jadi h kontinu pada bilangan irasional b.δ. bahwa untuk x .. Thomae) Memang. Terdapat hanya sejumlah hingga bilangan rasional dengan penyebut lebih kecil dari n0 dalam interval (b – 1.Aljabar Himpunan langan irasional pada A. misalkan (xn) suatu barisan bilangan irasional dalam A yang konvergen ke a. dan diskontinu pada setiap bilangan rasional dalam A.2 Grafik Fungsi Thomae 5.1. kita mempunyai h(x) – h(b) = h(x) ≤ 1/n0 < ε. maka (dengan Sifat Arcimedean) terdapat bilangan asli n0 sedemikian sehingga 1/n0 < ε. x∈A. maka lim h(xn) = 0 sementara h(a) > 0.

Untuk memperoleh suatu perluasan kontinu dari g pada x = 0.Pendahuluan maka F kontinu pada c. x=0 x≠0 Analisis Real I 155 .3) tidak mempunyai limit pada x = 0 (lihat contoh 4.1. telah diperlihatkan pada Contoh 4. karena lim f = L x→ c (b) Jika fungsi g : A → R tidak mempunyai suatu limit pada c. perlu mengecek bahwa lim F = L. maka tidak ada cara untuk memperoleh suatu fungsi G : A∪{c} → R yang kontinu pada c dengan pendefinisian untuk C G( x) =   g ( x) untuk x→ c x=c x∈ A x→ c Untuk melihatnya. (Lihat Gambar 5.1.7 Contoh-contoh (a) Fungsi g(x) = sin (1/x) untuk x ≠ 0 (lihat Gambar 4. Untuk melihatnya. fungsi f tidak bisa kontinu pada titik ini. Akan tetapi.6(a) bahwa jika kita definisikan F : R → R dengan untuk 0 F ( x) =   x sin (1 x ) untuk maka F kontinu pada x = 0.10(c)). (b) Misalkan f(x) = x sin(1/x) untuk x ≠ 0. Jadi tidak terdapat nilai yang dapat kita berikan pada x = 0. x →0 Oleh karena itu mengikuti Peringatan 5.2. amati bahwa jika lim G ada dan sama dengan C.8(f) bahwa lim( x sin (1 x )) = 0. 5.3) Karena f tidak terdefinisi pada x = 0.1.1. maka lim g mesti ada juga dan sama dengan C. tetapi ini brlaku (menx→ c gapa?).1.

Dapatkah f terdefinisi pada x = 2 dimana dengan ini menjadikan f kontinu pada titik ini? Analisis Real I 156 .b]. Misalkan a < b < c.4. Tentukan titik-titik dimana fungsi-fungsi berikut kontinu : (a).c].4. ⇓π◊ = 3. 5. (d) k(x) = ⇓1/x◊ (x ≠ 0).c]. 4. (Jadi.1. Buktikan Teorema 5. f(x) = ⇓x◊.3 Grafik dari f(x) = x sin(1/x) x ≠ 0 Latihan-latihan 1. Perlihatkan Kriteria Diskontinu 5. 3. dan f(b) = g(b). sebagai contoh. Misalkan f terdefinisi untuk semua x∈R. h(x) = ⇓sin x◊. Misalkan pula bahwa f kontinu pada [a. kita definisikan ⇓x◊ adalah bilangan bulat terbesar n∈Z sedemikian sehingga n ≤ x.1. ⇓8.) Fungsi x a ⇓x◊ disebut fungsi bilangan bulat terbesar. (b) g(x) = x⇓x◊.c] dengan h(x) = f(x) untuk x∈[a.Aljabar Himpunan Gambar 5. x ≠ 2.c]. 2. Definisikan h pada [a.3◊ = 8. (c). Jika x∈R. g kontinu pada [b.b] dan h(x) = g(x) untuk x∈(b.1. dengan f(x) = (x2 + x – 6)/(x – 2). ⇓-π◊ = -4. Buktikan bahwa h kontinu pada [a.

fg. Misalkan f : R → R kontinu pada c dan misalkan f(c) > 0. hasil kali. dan g(x) = x + 3 untuk x irasional. kita definisikan k(x) = n. tunjukkan bahwa x∈S. 9.2 Kombinasi dari Fungsi-fungsi Kontinu Misalkan A⊆R. Tentukan semua titik dimana g kontinu.2. terdapat lingkungan Vδ(c) dari c sedemikian sehingga jika x. Definisikan g : R → R dengan g(x) = 2x untuk x rasional. x rasional. selisih. Tunjukkan bahwa terdapat Vδ(c) suatu lingkungan dari c sedemikian sehingga untuk sebarang x∈ Vδ(c) maka f(x) > 0. Simpulkan bahwa k tidak kontinu pada sebarang titik dari A. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan misalkan S = {x∈R : f(x) = 0} adalah “himpunan nol” dari f. (a). kita definisikan k(x) = 0. 8. PASAL 5. 14. f – g. maka f(x) – f(y) < ε. Misalkan K > 0 dan f : → R memenuhi syarat f(x) – f(y) ≤ Kx .y∈R. 10. Tunjukkan bahwa f kontinu pada setiap titik c∈R. Tunjukkan dengan contoh bahwa jika g kontinu pada c. Jika (xn) ⊆ S dan x = lim (xn). tunjukkan bahwa g kontinu pada c. f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R. 7. Misalkan A⊆B⊆R.y∈A∩Vδ(c). Buktikan bahwa k tidak terbatas pada setiap interval terbuka dalam A. (b). dan kelipatan fungsi-fungsi disimbol f + g. Dalam Definisi 4. Tunjukkan bahwa fungsi nilai mutlak f(x) = x kontinu pada setiap titik c∈R. Juga. Misalkan bahwa f : R → R kontinu pada R dan f(r) = 0 untuk setiap bilangan rasional r. Buktikan bahwa f(x) = 0 untuk semua x∈R.y untuk semua x. jika h : A → R sedemikian sehingga Analisis Real I 157 . Untuk x∈A. Misalkan A = (0. 13. g(x) = f(x) untuk x∈A). tidak perlu berlaku bahwa f kontinu pada c.3 kita mendefinisikan jumlah. untuk x∈A rasional dan berbentuk x = m/n dengan bilangan asli m. f : B → R dan g pembatasan dari f pada A (yaitu. 11. Tunjukkan bahwa untuk sebarang ε > 0.∞) dan k : A → R didefinisikan sebagai berikut. bf. n tidak mempunyai faktor persekutuan kecuali 1. Jika f kontinu pada c∈A. Misalkan A⊆R dan f : A → R kontinu pada titik c∈A.Pendahuluan 6. 12.

Tetapi karena h(c) = lim h . Andaikan bahwa c∈A dan f dan g kontinu pada c.   x →c h h h(c ) lim h   x →c Oleh karena itu f/h kontinu pada c.1. maka kita definisikan fungsi hasil bagi dinotasi dengan f /h. Analisis Real I 158 . f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R.4(a) diperoleh (f + g)(c) = f(c) + g(c) = lim( f + g ) x →c Dengan demikian f + g kontinu pada c. fg. maka h(c) ≠ 0.2. maka f(c) = lim f x →c dan g(c) = lim g x →c Oleh karena itu mengikuti Teorema 4.2. f – g. Akan tetapi. maka konklusi berlaku secara otomatis. f dan g fungsi-fungsi yang terdefinisi pada A ke R dan b∈R. kita asumsikan bahwa c titik cluster dari A. dan bf kontinu pada c. berikut dari Teox→c rema 4. ini adalah suatu hasil penting.1 Teorema Misalkan A⊆R. kita akan menyatakannya secara formal. Pernyataan-pernyataan lain pada bagian (a) dibuktikan dengan cara serupa. diterapkan untuk semua titik dalam A.4. 5.2. (b) Jika h : A → R kontinu pada c∈A dan jika h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A. (a) Karena f dan g kontinu pad (b) a c.2 Teorema Misalkan A⊆R. 5. (c) Karena c∈A.2.2. Hasil berikut merupakan konsekuensi dari Teorema 5.4(b) bahwa lim f f (c ) = f (c ) = x →c = lim f  .2. secara ekstrim. (a) Maka f + g.Aljabar Himpunan h(x) ≠ 0 untuk semua x∈A. maka fungsi f/h kontinu pada c. Jika c bukan suatu titik cluster dari A. Hasil berikut ini serupa dengan Teorema 4. Dari sini. Bukti.

2.Pendahuluan (a) Maka f + g. αn}. Serupa juga jika f dan ϕ kontinu pada A.2. kontinu pada A1. Jika x∉{α1.α2. fg. (b) Fungsi-fungsi rasional Jika p dan q fungsi-fungsi polinomial pada R. misalkan A1 = {x∈A : ϕ(x) ≠ 0}. αn akar-akar real dari q. αn} maka q(x) ≠ 0 dengan demikian kita dapat mendefinisikan fungsi rasional r dengan r(x) = p ( x) q( x) untuk x∉{α1. kita katakan bahwa suatu fungsi rasional yang kontinu pada setiap bilangan real dimana fungsi tersebut terdefinisi.3 Komentar Untuk mendefinisikan fungsi hasil bagi. dan bf kontinu pada A. … . … .α2. Jika ϕ kontinu pada titik c∈A1. maka terdapat paling banyak sejumlah hingga α1. (c) Kita akan menunjukkan bahwa fungsi sinus kontinu pada R. … . Karena c sebarang bilangan real yang bukan akar dari q. kadang-kadang lebih cocok memulainya sebagai berikut : Jika ϕ : → R.2. Jika p suatu fungsi polinimial. Oleh karena itu mengikuti Teorema 5. 5.5(g) bahwa jika q(c) ≠ 0. maka mengikuti Contoh 4. maka r(c) = p (c) lim p ( x) = x →c = lim r ( x) x →c q (c ) lim q ( x) x→c Dengan kata lain. (b) Jika h : A → R kontinu pada A dan h(x) ≠ 0 untuk x∈A.5(f) bahwa p(c) = lim p x →c untuk sebarang c∈R.2.2. maka fungsi f/ϕ.4 Contoh-contoh (a) Fungsi-fungsi polinomial. Kita akan mendefinisikan fungsi hasil bagi f/ϕ pada himpunan A1 dengan (*) f  ϕ   f ( x) ( x ) =  ϕ ( x)  untuk x ∈ A1.1(b) dipergunkan untuk ϕ1 bahwa f/ϕ kontinu pada c∈A1. didefinisikan pada A1 oleh (*). maka fungsi f/h kontinu pada A. Analisis Real I 159 . maka jelas bahwa pembatasan ϕ1 dari ϕ pada A1 juga kontinu pada c. dengan demikian p(x) = anxn + an-1xn-1 + … + a1x + a0 untuk semua x∈R. Telah diperlihatkan dalam Contoh 4. 5. f – g. r kontinu pada c. Jadi fungsi polinomial kontinu pada R.α2.

5 Teorema Misalkan A⊆R. sin x – sin y = 2sin[½(x – y)]cos[½(x + y)].2. sec.y. maka kita mempunyai cos x – cos c ≤ 2(1)(½c – x) = x . n∈Z). f : A → R dan f didefinisikan untuk x∈A dengan f(x) = f(x).) (e) Fungsi-fungsi tan. Untuk semua x. csc kontinu dimana fungsi-fungsi ini terdefinisi.x)]. Sebagai contoh. maka kita mempunyai sin x – sin c ≤ 2(½x – c)(1) = x . Karena sin dan cos kontinu pada R. Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan. kita dapat menggunakan hubungan cos x = sin (x + π/2). jika c∈R. maka ini berarti fungsi cos kontinu pada R.z∈R kita mempunyai sin z ≤ z.y. Dari sini. Karena c∈R sebarang. cos x – cos y = 2sin[½(x + y)]sin[½(y . (d) Fungsi cosinus kontinu pada R. Karena c∈R sebarang. Fungsifungsi trigonometri yang lain dilakukan dengan proses pengerjaan yang serupa. jika c∈R. fungsi cotangen didefinisikan dengan Cot x = cos x sin x Asalkan sin x ≠ 0 (yaitu. Oleh karena itu cos kontinu pada c. 5.3 bahwa fungsi cot kontinu pada domainnya.c. Oleh karena itu sin kontinu pada c.z∈R kita mempunyai sin z ≤ z. cos z ≤ 1.c. (Cara lain. sin z ≤ 1. Analisis Real I 160 .Aljabar Himpunan Untuk mengerjakan ini kita akan menggunakan sifat-sifat dari fungsi sinus dan cosinus yang pada bagian ini tidak akan dibuktikan. Untuk semua x.2. cot. Dari sini. maka mengikuti Komentar 5. maka ini berarti fungsi sin kontinu pada R. asalkan x ≠ nπ.

2. Jika f kontinu pada suatu titik c∈A dan g kontinu pada b = f(c) ∈B. Kita misalkan f didefinisikan untuk x∈A dengan f (x) = f (x) . (c) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A. maka komposisi g o f : A → R kontinu pada c. Karena g kontinu pada b.7 Teorema Misalkan A. kita perlu menganggap bahwa f(A) ⊆ B. (Lihat Gambar 5.6 Teorema Misalkan A⊆R. maka (d) Jika f kontinu pada A.2. Bukti. maka komposisi g o f kontinu pada c.2. Tetapi karena W suatu lingkungan-ε dari g(b). Agar menjamin bahwa g o f terdefinisi pada seleruh A. Jika f(A)⊆B.13. Komposisi Fungsi-fungsi Kontinu Sekarang kita akan menunjukkan bahwa jika f : A → R kontinu pada suatu titik c dan jika g : B → R kontinu pada b = f(c). f : A → R dan f(x) ≥ 0 untuk semua x∈A.B⊆R.2. maka f(x)∈B∩V dengan demikian g o f(x) = g(f(x))∈W. f : A → R dan g : B → R fungsifungsi sedemikian sehingga f(A)⊆B.2. 5.14. (b) Jika f kontinu pada A. maka f(x)∈V.2.Pendahuluan (a) Jika f kontinu pada suatu titik c∈A. maka ini berarti jika x∈A∩U.1.7 Teorema Misalkan A. 5.B⊆R. Misalkan W suatu lingkungan-ε dari g(b). maka f kontinu pada c. f kontinu pada A. maka f kontinu pada c. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4. maka komposisi g o f : A → R kontinu pada A. Bukti. maka terdapat suatu lingkungan-δ V dari b = f(c) sedemikian sehingga jika y∈B∩V maka g(y)∈W. maka terdapat suatu lingkungan-γ U dari c sedemikian sehingga jika x∈U∩A. ini mengakibatkan bahwa g of kontinu pada c. 5. Analisis Real I 161 . Karena f kontinu pada c. Ini merupakan konsekuensi dari Latihan 4.) Karena f(A)⊆B. f : A → R kontinu pada A dan g : B → R kontinu pada B. Bukti. maka f kontinu pada A.

dalam Contoh 5.2. Ini memberikan pembuktian lain dari Teorema 5. Jika f : A → R kontinu pada A dan jika f(x) ≥ 0 untuk semua x∈A. maka fungsi g(x) = sin(1/x) kontinu pada setiap titik c ≠ 0.2. [Kita telah tunjukkan.7(a). Mengikuti Teorema 3.2. Teorema 5. (c) Misalkan g3(x) = sin x untuk x∈R.10 dan 5.5.2.9 Contoh-contoh Ketaksamaan Segitiga (Lihat Akibat 2.Aljabar Himpunan Bukti. jika .1. maka menurut Teorema 5. maka Teorema 5.c untuk semua x. Jika f : A → R sebarang fungsi kontinu pada A.2. Teorema ini secara serta-merta mengikuti hasil sebelumnya. Kita telah tunjukkan dalam Contoh 5. jika f(x) = 1/x untuk x ≠ 0. Ini memberikan cara lain pembuktian dari Teorema 5.1. Teorema-teorema ini dapat dipergunakan dalam berbagai situasi dimana situasi ini akan sulit untuk menggunakan definisi kekontinuan secara langsung.8 mengakibatkan bahwa g1 o f = f kontinu pada A. maka mengikuti Teorema 5.2.3.7 dan 5. bahwa g tidak didefinisikan pada 0 agar g menjadi kontinu pada titik itu.2.2.2.1 Komposisi dari f dan g . berturut-turut.2. (b) Misalkan g2(x) = x untuk x ≥ 0. f dan g kontinu pada setiap titik A dan B.4(c) bahwa g3 kontinu pada R.8 bahwa g3 o f kontinu pada A.3 bahwa g2 kontinu pada sebarang c ≥ 0. Dari sini g1 kontinu pada c∈R.8 sangat bermanfaat dalam menunjukkan bahwa fungsi-fungsi tertentu kontinu.6.4) bahwa g1(x) – g1(c) ≤ x .] V W b U c g(b) Analisis Real I f A B g C 162 GAMBAR 5. Khususnya.2. Jika f : A → R kontinu pada A.8 g2 o f = f kontinu pada A. Menurut 5. (a) Misalkan g1(x) = x untuk x∈R.c∈R.

tunjukkan bahwa terdapat suatu lingkungan Vδ(c)⊆P. n∈N. (d) k(x) = cos x 2 + 1 (x∈R).7 dan latihan sebelumnya. 4.g fungsi-fungsu kontinu dari R ke R. 8. x∈R. Misalkan f. Berikan satu contoh f dan g yang kedua-duanya tidak kontinu pada suatu titik c dalam R sedemikian sehingga : (a) fungsi jumlah f + g kontinu pada c. dan misalkan f(x) = x + 1 untuk semua x∈R. h(x) = 1 + sin x x (x ≠ 0).1]. 3.7? 6. Misalkan f. Tunjukkan bahwa jika f : A→ R kontinu pada A⊆R dan jika n∈N.1] tetapi sedemikian sehingga f kontinu pada [0. Apakah benar bahwa f(x) = g(x) untuk semua x∈R? 9. 10. Tunjukkan bahwa lim g o f = g(b). dan misalkan pula P = {x∈R : f(x) > 0}. Mengapa ini tidak kontradiksi dengan Teorema 5. 2. dan misalkan pula f(r) = g(r) untuk semua bilangan rasional r. Jika c∈P. Tunjukkan bahwa h(x) = 0 untuk semua x∈R. Tentukan titik-titik kekontinuan dari fungsi-fungsi berikut dan nyatakan teoremateorema mana yang dipergunakan dalam setiap kasus : (a). Misalkan h : R → R kontinu pada R memenuhi h(m/2n) = 0 untuk semua m∈Z.⇓x◊.g didefinisikan pada R dan c∈R.2.2.) Tentukan titik-titik kekontinuan dari fungsi f(x) = x . Misalkan juga bahwa lim f = b dan g konx →0 tinu pada b.1.1] → R yang diskontinu pada setiap titik dalam [0.Pendahuluan Soal-soal 1. Analisis Real I 163 . Misalkan x ξ ⇓x◊ menyatakan fungsi bilangan bulat terbesar (lihat Latihan 5.4. Misalkan g didefinisikan pada R oleh g(1) = 0.) 7. maka fungsi fn didefinisikan oleh fn(x) = (f(x))n untuk x∈A. Berikan contoh dari fungsi f : [0. f(x) = x2 + 2 x + 1 (x∈R). (b) fungsi hasil kali fg kontinu pada c. 5. dan g(x) = 2 jika x ≠ 1. (c). (Bandingkan hasil ini dengan Teorema x→0 5. Tunjukkan bahwa lim g o f ≠ g x→0 o f(0). x2 + 1 (b) g(x) = x+ x (x ≥ 0). Misalkan f : R → R kontinu pada R. kontinu pada A.

Kenyataannya. 16. 5. Akan tetapi. f tidak terbatas pada A. Tunjukkan bahwa h(x) = ½(f(x) + g(x)) + ½f(x) – g(x) untuk semua x∈R. Dengan kata lain.y∈R. f(x) = 1/x terbatas apabila dibatasi untuk himpunan C = {x∈R : 1 ≤ x}. Juga jika kita mempunyai g(a) = 0 untuk suatu a ∈R. f(x) = 1/x tidak terbatas apabila dibatasi pada B = {x∈R : 0 < x < 1}. meskipun himpunan C tidak terbatas. Misalkan f fungsi aditif kontinu pada R. PASAL 5. dan yang akan diterapkan pada bagian-bagian selanjutnya. Misalkan g : R → R memenuhi hubungan g(x + y) = g(x)g(y) untuk semua x. Gunakan hasil ini untuk menunjukkan bahwa h kontinu pada c. jika terdapat M > 0 sedemikan sehingga f(x) ≤ M untuk semua x∈A. Definisikan g : I → R dengan g(x) = sup{f(t) : a ≤ t ≤ b} untuk semua x∈I. misalkan pula S = {x∈R : f(x) ≥ g(x)}. Jika f dan g kontinu pada R. g(x)} untuk x∈R.y∈R. Buktikan bahwa g kontinu pada I.3. Suatu fungsi f : R → R dikatakan aditif jika f(x + y) = f(x) + f(y) untuk semua x. Kita mencatat bahwa suatu fungsi kontinu tidak perlu terbatas. Dalam pasal ini kita akan memperlihatkan beberapa hasil yang agak mendalam yang dapat dipandang penting. 12. Buktikan bahwa jika f kontinu pada suatu titik x0.g : R → R kontinu pada suatu titik c. Jika c = f(1). maka f(r) = cr. tunjukkan bahwa kita mempunyai f(x) = cx untuk semua x∈R. Akan tetapi. Contohnya. Tunjukkan bahwa jika g kontinu pada x = 0. [Petunjuk : Pertama-tama tunjukkan bahwa jika r suatu bilangan rasional.2. maka g kontinu pada setiap titik dalam R.1 Definisi Suatu fungsi f : A → R dikatakan terbatas pada A. maka fungsi itu kontinu pada setiap titik dalam R.b] dan f : I → R terbatas dan kontinu pada I. (Lihat Latihan 4. 15. fungsi f(x) = 1/x adalah fungsi kontinu pada himpunan A = {x∈R : x > 0}.Aljabar Himpunan 11. maka g(x) = 0 untuk semua x∈R.) 13. Misalkan I = [a. Jika (sn)⊆S dan lim (sn) = s. Analisis Real I 164 . dan h(x) = sup{f(x).3 Fungsi-fungsi Kontinu pada Interval Fungsi-fungsi yang kontinu pada interval-interval mempunyai sejumlah sifat penting yang tidak dimiliki oleh fungsi kontinu pada umumnya.12. suatu fungsi dikatakan terbatas jika range-nya merupakan suatu himpunan terbatas dalam R. tunjukkan bahwa s∈S. Misalkan f.] 14.

x∈I. Kita perhatikan bahwa suatu fungsi kontinu pada himpunan A tidak perlu mempun- Analisis Real I 165 . menurut Teorema Bolzano-Weiestrass 3. barisan X = (xn) terbatas. Karena I tertutup dan unsurunsur X’ masuk kedalam I. Karena I terbatas.2 Teorema Keterbatasan Misalkan I = [a. jika titik-titik itu ada. Tetapi ini suatu kontradiksi karena f( xnr ) > nr ≥ r untuk r∈N Oleh karena itu pengandaian bahwa fungsi kontinu f tidak terbatas pada interval tertutup dan terbatas I menimbulkan kontradiksi. Kita katakan bahwa x* suatu titik maksimum mutlak untuk f pada A.7 bahwa terdapat subbarisan X‘ = ( xnr ) dari X yang konvergen ke x. Kita katakan f mempunyai suatu minimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik x*∈A sedemikian sehingga f(x*) ≤ f(x) untuk semua x∈A. dengan demikian barisan (f( xnr )) konvergen ke f(x).3. Kita selanjutnya menyimpulkan dari Teorema 3. Maka f terbatas pada I.2.2 bahwa kekonvergenan barisan (f( xnr )) mesti terbatas. Oleh karena itu. Maka.b] suatu interval tertutup dan terbatas dan misalkan f : I → R kontinu pada I. dan x* suatu titik minimum mutlak dari f pada A.4.3.2. Andaikan f tidak terbatas pada I.6.Pendahuluan 5. untuk sebarang n∈N terdapat suatu bilangan xn∈I sedemikian sehingga f(xn) > n.3 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R. 5. Bukti. Kita katakan f mempunyai suatu maksimum mutlak pada A jika terdapat suatu titik x*∈A sedemikian sehingga f(x*) ≥ f(x) untuk semua x∈A. Karena f kontinu pada x. maka menurut Teorema 3.

4 Teorema Maksimum-Minimum Misalkan I = [a. Sebagai contoh.3.1).) Untuk memilih suatu contoh ekstrim.+1] mempunyai dua titik x = !1 yang memberikan titik maksimum pada A. (Lihat Gambar 5. maka titik ini tidak perlu ditentukan secara tunggal.2 sebelumnya telah diperlihatkan bahwa f(I) merupakan sub- Analisis Real I 166 . Sebagai tambahan.3. Dalam Teorema 5. fungsi g(x) = x2 didefinisikan untuk x∈A = [-1. sedangkan fungsi ini mepumyai nilai maksimum mutlak dan juga minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : 1 ≤ x ≤ 2}. Maka f mempunyai maksimum mutlak dan minimum mutlak pada I. Fungsi yang sama tidak mempunyai baik suatu maksimum mutlak maupun minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : 0 < x < 1}. GAMBAR 5. dan tidak ada titik yang mana f mencapai nilai 0 = inf{f(x) : x∈A}.b] interval tertutup dan terbatas dan f : I → R kontinu pada I. (Lihat Gambar 5. Sebagai contoh.2. Bukti. Tidak adanya titik maksimum absolut untuk f pada A karena f tidak terbatas diatas pada A.Aljabar Himpunan yai suatu maksimum mutlak atau minimum mutlak pada himpunan tersebut.3.3. yang tidak mempunyai baik titik maksimum mutlak maupun minimum mutlak pada himpunan A = {x∈R : x > 0}. dan titik tunggal x = 0 menghasilkan minimum mutlaknya pada A. fungsi konstan h(x) = 1 untuk x∈R adalah sedemikian sehingga setiap titik dalam R merupakan titik maksimum mutlak dan sekaligus titik minimum mutlak untuk f. f(x) = 1/x mempunyai suatu maksimum mutlaktetapi tidak mempunyai minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : x ≥ 1}. 5.1 Grafik fungsi f(x) = 1/x (x > 0) Jika suatu fungsi mempunyai suatu titik maksimum mutlak. f(x) = 1/x. tetapi tidak mempunyai maksimum mutlak dan tidak mempunyai nilai minimum mutlak apabila dibatasi pada himpunan {x∈R : x > 1}.3. Pandang himpunan tak kosong f(I) = {f(x) : x∈I} nilai-nilai dari f pada I.

Kita akan memperlihatkan bahwa keberadaan titik x*.2 Grafik fungsi g(x) = x2 (x ≤ 1) Karena s* = sup f(I). kita menyimpulkan dari Teorema Apit 3.4.6 bahwa x*∈I. Oleh karena itu kita mempunyai f(x*) = lim (f( xnr )) = s* = sup f(I). terdapat subbarisan X‘ = ( xnr ) dari X yang konvergen ke suatu bilangan x*. Akibatnya terdapat bilangan real xn∈I sedemikian sehingga (#) s* 1 < f(xn) ≤ s* n untuk n∈N. Misalkan s* = sup f(I) dan s* = inf f(I). 5. dengan menggunakan Teorema Bolzano-Weiestrass 3.Pendahuluan himpunan dari R yang terbatas. Karena I terbatas. Karena itu mengikuti (#) bahwa s* 1 < f( xnr ) ≤ s* nr untuk r∈N.2.β) sedemikian sehingga f(c) = 0.2. Kita claim bahwa terdapat titik-titik x* dan x* sedemikian sehingga s* = f(x*) dan s* = f(x*). Pembuktiannya memberikan juga suatu algoritma untuk pencarian akar dan dapat dengan mudah diprogram untuk suatu komputer. Oleh karena itu f kontinu pada x* dengan demikian lim (f( xnr )) = f(x*). Karena unsur-unsur dari X’ termasuk dalam I = [a.b]. maka s* . Oleh karena itu. barisan X = (xn) terbatas. meninggalkan pembuktian eksistensi dari x* untuk pembaca.3. jika n∈N.7. Hasil berikut memberikan suatu dasar untu lokasi akar dari fungsi-fungsi kontinu. Kita simpulkan bahwa x* adalah suatu titik maksimum mutlak dari f pada I.7 bahwa lim (f( xnr )) = s*.1/n bukan suatu batas atas dari himpunan f(I).3.5 Teorema Lokasi Akar Misalkan I suatu interval dan f : I → R fungsi kontinu pada I. Jika α < β bilangan-bilangan dalam I sedemikian sehingga f(α) < 0 < f(β) (atau sedemikian sehingga f(α) > 0 > f(β)). Suatu alternatif pembuktian dari teorema ini ditunjukkan dalam Latihan 5. GAMBAR 5. maka terdapat bilangan c∈(α. maka mengikuti Teorema 3. Analisis Real I 167 .3.8.

pembuktian selesai. Dari sini diperoleh bahwa c = lim (αn) dan c = lim (βn). Karena interval-interval ini diperoleh dengan biseksi berulang. kita mempunyai βn . Jika f(γk) = 0 kita ambil c = γk dan bukti lengkap. Karena αn ≤ c ≤ βn untuk semua n∈N. Jika f(γ) > 0 kita tetapkan α2 = α. Jika f(γ) = 0 kita ambil c = γ dan bukti lengkap. Jika proses ini tidak berakhir. Kita lanjutkan proses biseksi ini.αn ≤ βn . βk+1 = βk. kita mempunyai 0 ≤ c . maka mengikuti hasil yang sama (gunakan –f) bahwa f(c) = lim (f(αn)) ≤ 0. Oleh karena itu kita mesti mempunyai f(c) = 0.2. n∈N. Kita asumsikan bahwa f(α) < 0 < f(β). dimana f(α2) < 0 dan f(β2) > 0.β2]. dan 0 ≤ βn – c ≤ βn .βk] yang diperoleh dengan biseksi secara berturut-turut dan sedemikian sehingga f(αk) < 0 dan f(βk) > 0. Mengikuti Sifat Interval Nested 2. Karena f(βn) ≥ 0 untuk semua n∈N. Akibatnya c merupakan akar dari f. Karena f kontinu pada c. Ik = [αk. Anggaplah bahwa kita telah mempunyai interval-interval I1. Jika proses ini diakhiri dengan penetapan suatu titik γn sedemikian sehingga f(γn) =0. Hasil berikut adalah generalisasi dari teorema sebelumnya.1 bahwa terdapat suatu titik c dalam In untuk semua n∈N. kita mempunyai lim (f(αn)) = f(c) = lim (f(βn)). sedangkan jika f(γ) < 0 kita tetapkan α2 = γ.βn]. maka mengikuti Teorema 3. kita memperoleh suatu barisan nested dari interval-interval tutup In = [αn. Jika f(γk) > 0 kita tetapkan αk+1 = αk.α)/2n – 1. 6. β2 = γ.αn = (β α)/2n – 1.Aljabar Himpunan Bukti.α)/2n – 1.βk+1]. Dalam kasus apapun. Misalkan I1 = [α.αn = (β . ….αn = (β . Analisis Real I 168 . βk+1 = γk. Dalam kasus apapun. I2.4 bahwa f(c) = lim (f(βn)) ≥ 0. dimana f(αk+1) < 0 dan f(βk+1) > 0. β2 = β. sedangkan jika f(γk) < 0 kita tetapkan αk+1 = γk. Juga Karena f(αn) ≤ 0 untuk semua n∈N. kita tetapkan Ik+1 = [αk+1.β] dan γ = ½(α + β). Ini menjamin bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval memuat sejumlah bilangan yang masuk diantara dua nilainya. Misalkan γk = ½(αk + βk). kita tetapkan I2 = [α2.

3. Jika k∈R sebarang bilangan yang memenuhi maka terdapat suatu bilangan c∈I sedemikian sehingga f(c) = k. Menurut Teorema Lokasi Akar 5. 5. maka terdapat suatu titik c∈I antara a dan b sedemikian sehingga f(c) = k.3. dan pernyataan bahwa semua nilai antara nilai maksimum dan nilai minimum masuk dalam interval peta adalah suatu cara dari pertimbangan Teorema Nilai Antara Bolzano.6.b] suatu interval tutup dan terbatas.3. Misalkan inf f(I) ≤ k ≤ sup f(I) pula f : I → R kontinu pada I. Maka himpunan f(I) = {f(x) : x∈I} adalah interval tutup dan ter- batas.5 terdapat suatu titik c dengan a < c < b sedemikian sehingga 0 = g(c) = f(c) – k.Pendahuluan 5.6 Teorema Nilai Antara Bolzano Misalkan I suatu interval dan f : I → R kontinu pada I. Teorema ini menyatakan bahwa peta dari suatu interval tertutup dan terbatas dibawah suatu fungsi kontinu juga interval tertutup dan terbatas. Ini mengikut pada Teorema MaksimumMinimum 5. Bukti. Anggaplah a < b dan misalkna g(x) = f(x) – k.3.b] suatu interval tutup dan terbatas.3. Jika a.8 Misalkan I = [a.3. Sekarang kesimpulan mengikut pada Teorema 5. 5. misalkan h(x) = k – f(x) dengan demikian h(b) < 0 < h(a). Misalkan pula f : I → R kontinu pada I. Oleh karena itu f(c) = k. Oleh karena itu terdapat titik c dengan b < c < a sedemikian sehingga 0 = h(c) = k – f(c). Bukti. b∈I dan jika k∈R memenuhi f(a) < k < f(b). Analisis Real I 169 .4 bahwa terdapat titik-titik c* dan c* dalam I sedemikian sehingga inf f(I) = f(c*) ≤ k ≤ f(c*) = sup f(I). Teorema berikut ini meringkaskan hasil utama dari pasal ini.7 Akibat Misalkan I = [a. maka g(a) < 0 < g(b). Titik-titik ujung dari interval peta adalah nilai maksimum mutlak dan minimum mutlak dari fungsi. Jika b < a. dari sini f(c) = k.

M]⊆f(I).3.4 bahwa m dan M masuk dalam f(I).M] Catatan.3 f(I) = [m.3. (ihat Gambar 5. maka mengetahui dari Teorema Maksimum-Minimum 5. k∈f(I) dan kita menyimpulkan bahwa [m. f(I) adalah interval [m. Oleh M f(b) f(a) m a x* x* b karena itu.M]. teorema ini menyatakan bahwa peta kontinu dari suatu interval tutup dan terbatas adalah himpunan yang bertipe sama.3. kita mempunyai f(I) ⊆ [m. Sebagai contoh. Di pihak lain. Kita tidak mempunyai bukti (dan itu tidak selalu benar) bahwa f(I) adalah interval [f(a). tidak benar bahwa interval peta perlu mempunyai bentuk sama seperti interval domain. Jika kita memisalkan m = inf f(I) dan M = sup f(I). jika k sebarang unsur dari [m. Akan tetapi. peta kontinu dari interAnalisis Real I 170 . GAMBAR 5. akan dicatat bahwa meskipun peta kontinu dari suatu interval adalah juga suatu interval.) Teorema sebelumnya adalah suatu teorema “pengawetan” dalam pengertian. Jika I = [a. Selain itu.M].M]. Teorema berikut memperluas hasil ini untuk interval secara umum.Aljabar Himpunan Bukti.b] suatu interval dan f : I → R kontinu pada I. Dari sini.3. maka menurut Teotema Akibat sebelumnya bahwa terdapat suatu titik c∈I sedemikian sehingga k = f(c).f(b)].M]. kita mempunyai bukti bahwa f(I) adalah interval [m.

Juga z ukan Analisis Real I 171 .4 Grafik fungsi f(x) = 1/(x2 + 1) (x∈R) 5. Karena jika z∈(a. jika I2 = [0. (i) Misalkan a = inf S dan b = sup S. (Lihat Gambar 5. Jika s∈S maka a ≤ s ≤ b dengan demikian s∈[a.y∈S dan x < y. yang mana bukan suatu interval buka. maka f(I1) = (½.4(b)].1).b). dan peta kontinu dari suatu interval tertutup tak terbatas tidak perlu interval tertutup. (ii) S terbatas diatas tetapi tidak terbatas dibawah. Mudah untuk melihat bahwa jika I1 = (-1.3. kita simpulkan bahwa S⊆[a.b].3.3. (iii) ) S terbatas dibawah tetapi tidak terbatas diatas.3. Memang. Juga. maka [x. dan (iv) S tidak terbatas baik diatas maupun dibawah. maka f(I2) = (0. Dipihak lain kita claim bahwa (a. jika x. Kita akan menganggap bahwa S mempunyai sekurang-kurangnya dua titik. jika f(x) = 1/(x2 + 1) untuk xεR.b]. kita perlu lemma pencirian interval berikut. maka z bukan suatu batas bawah dari S dengan demikian terdapat x∈S dengan x < z.9 Lemma Misalkan S⊆R suatu himpunan tak kosong dengan sifat (*) Maka S suatu interval.y]⊆S.1] yang mana bukan interval tutup. Terdapat empat kasus untuk diperhatikan : (i) S terbatas.4. karena s∈S sebarang. GAMBAR 5.2.10.1]. maka f kontinu pada R [lihat Contoh 5.b)⊆S. Bukti.Pendahuluan val buka tidak perlu suatu interval buka.) Untuk membuktikan Teorema Pengawetan Interval 5.∞).

meninjukkan bahwa f(I) memiliki sifat (*) pada lemma sebelumnya.b].b). 5.b]. Oleh karena itu [α.β]⊆f(I).b)⊆S.y]⊆S. (ii) Misalkan b = sup S. dengan demikian S = (-∞.y] dan sifat (*) mengakibatkan z∈[x.b∈I sedemikian sehingga α = f(a) dan β = f(b).y]⊆S. maka disimpulkan bahwa (a.β) maka terdapat suatu c∈I dengan k = f(c)∈f(I). Jika b∉S.y∈S sedemikian sehingga [x.10 Teorema Pengawetan Interval Misalkan I suatu interval dan f : I → R kontinu pada I. S merupakan suatu interval.b].∞) jika a∉S.b). jika a∈S dan b∉S kita mempunyai S = [a. maka kita mempunyai S = (-∞. Karena.b) ⊆ S.∞). Analisis Real I 172 . Oleh karena itu R⊆S.b). Maka himpunan f(I) merupakan suatu interval. maka kita mempunyai S = (a. jika z∈(-∞. Kita claim bahwa (-∞. dalam semua kasus.∞) jika a∈S. jika b∈S.b). menurut Teorema Nilai Antara Bolzano 5. Jadi. Misalkan α. dan S = [a. Oleh karena itu f(I) merupakan suatu interval.y∈S sedemikian sehingga z∈[x.3. Oleh karena itu (-∞.b]. maka argumen yang diberikan pada (i) mengakibatkan sus ini kita mempunyai S = (a. (iv) bahwa terdapat x. maka terdapat titik-titik a.Aljabar Himpunan suatu batas atas darin S dengan demikian terdapat y∈S dengan z < y. Dalam kaJika z∈R.y]⊆S.3.b). Jika a∉S dan b∉S. (iii) Misalkan a = inf S dan memperlihatkan seperti dalam (ii).6 bahwa jika k∈(α. maka kita mempunyai S = (-∞. z∈[x. Bukti. Selanjutnya. Akibatnya.b)⊆S. dan jika a∈S dan b∈S kita mempunyai S = [a.β∈f(I) dengan α < β. Karena z unsur sebarang dalam (a. Jika s∈S maka s ≤ b dengan demikian kita mesti mempunyai S⊆(-∞. jika a∉S dan b∈S kita mempunyai S = (a. argumen yang diberikan (i) mengakibatkan terdapat x.

Tunjukkan bahwa polinomial p(x) = x4 + 7x3 – 9 mempunyai paling sedikit dua akar real. sebarang waktu.b] dan f : I → R dan g : I → R fungsi kontinu pada I. 10.] Simpulkan bahwa . Buktikan bahwa terdapat suatu titik c dalam [0. Misalkan I = [a. x → −∞ x→∞ Buktikan bahwa f terbatas pada R dan mencapai maksimum atau minimum pada R. dan w = sup W.b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I sedemikian sehingga untuk setiap x dalam I terdapat y dalam I sedemikian sehingga f(y) ≤ ½f(x). maka x0∈E. Misalkan I = [a. Tunjukkan bahwa himpunan E = {x∈I : f(x) = g(x)} mempunyai sifat bahwa jika (xn)⊆E dan xn→ x0. 8. f(b) > 0. Buktikan bahwa terdapat suatu α > 0 sedemikian sehingga f(x) ≥ α untuk semua x∈I. Andaikan bahwa f : R → R kontinu pada R dan bahwa lim f = 0 dan lim f = 0. 7. dan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = sup {x2. (Ini memberikan suatu alternatif pembuktian Teorema 5. 5. Tunjukkan bahwa persamaan x = cos x mempunyai suatu solusi dalam interval [0. Buktikan bahwa f(w) = 0. teliti sampai dua tempat desimal. Tunjukkan bahwa setiap polinomial derajat ganjil dengan koefisien real mempunyai paling sedikit akar real. Misalkan I = [0. 6.b] dan f : I → R fungsi kontinu sedemikian sehingga f(x) > 0 untuk setiap x∈I. Misalkan f kontinu pada interval [0. Misalkan I = [a. Analisis Real I 173 .b] dan f : I → R fungsi kontinu pada I dan misalkan f(a) < 0. Buktikan bahwa terdapat suatu titik c dalam I sedemikian sehingga f(c).) 9. 4. Tunjukkan bahwa x0 merupakan suatu solusi untuk persamaan cos x = x2. Gunakan kalkulator untuk menemukan akar-akar ini hingga dua tempat desimal.Pendahuluan Latihan-latihan 1. Misalkan pula W = {x∈I : f(x) < 0}. 2. terdapat titiktitik antipodal pada equator bumi yang mempunyai temperatur yang sama. Gunakan prosedur biseksi dalam pembuktian Teorema Pencarian Akar dan kalkulator untuk menemukan suatu solusi oproksimasi dari persamaan ini.π/2].3.cos x} untuk x∈I.½] sedemikian sehingga f(c) = f(c + ½). 3.5.1] ke R dan sedemikian sehingga f(0) = f(1). [Petunjuk : Pandang g(x) = f(x) – f(x +½). Tunjukkan terdapat suatu titik minimum mutlak x0∈I untuk f pada I.π/2]. Misalkan I = [a.

nilai-nilai irasional]. Ujilah bahwa interval-interval buka [atau.1). Tunjukkan bahwa g tidak perlu terbatas pada J.Aljabar Himpunan Berikan contoh untuk menunjukkan bahwa maksimum dan minimum.b) dan g : J → R fungsi kontinu dengan sifat bahwa untuk setiap x∈J.u) > 0 sedemikian sehingga untuk semua x∈A dan x .u). PASAL 5. Buktikan bahwa f terbatas pada I.2.u < δ(ε. fungsi f terbatas pada suatu lingkungan Vδ x ( x ) dari x (dalam pengertian pada Definisi 4. mesti f fungsi konstan. tidak perlu dicapai. tutup] dipertakan oleh f(x) = x2 untuk x∈R pada interval-interval buka [atau. pandang f(x) = sin(1/x) untuk x > 0. maka terdapat suatu lingkungan-δ U dari x0 sedemikian sehingga f(x) < β untuk semua x∈U.1. terdapat δ(ε. (ii) diberikan ε > 0 dan u∈A. lihat Gambar 4. 16.] Analisis Real I 174 . Misalkan J = (a. 12. fungsi g terbatas pada suatu lingkungan Vδ x ( x ) dari x.1. 15. Jika f : [0.3 bahwa pernyataan-pernyataan berikut ini ekivalen : (i) f kontinu pada setiap titik u∈A. tutup] dibawah fungsi-fungsi g(x) = 1/(x2 + 1) dan h(x) = x3 untuk x∈R. 11. 14.b] dan f : I → R suatu fungsi (tidak perlu kontinu) dengan sifat bahwa untuk setiap x∈I.1] → R kontinu dan hanya mempunyai nilai-nilai rasional [atau. 13. Misalkan I = [a. maka f(x) – f(u) < ε. Ujilah pemetaan dari interval-interval buka [atau. Telah dilihat pada Teorema 5. Fakta bahwa δ bergantung pada u adalah suatu refleksi bahwa fungsi f dapat diubah nilai-nilainya dengan cepat dekat titik-titik tertentu dan dengan lambat dekat dengan nilai-nilai lain. Tunjukkan bahwa jika x0∈R sedemikian sehingga f(x0) < β . [Sebagai contoh.3. Suatu hal kita ingin menekankan disini bahwa.4 Kekontinuan Seragam Misalkan A⊆R dan f : A → R. δ bergantung pada ε > 0 dan u∈A. Misalkan f : R → R kontinu pada R dan β∈R. secara umum. tutup]. keduanya.

maka f(x) – f(u) = 2x .u) kita mempunyai x . ux Jika u∈A diberikan dan jika kita memilih (2) δ(ε.u < ½u. karena inf{δ(ε.u) : u > 0} = 0.u) = inf {½u.u). sering terjadi bahwa fungsi f sedemikian sehingga δ dapat dipilih tidak bergantung pada titik u∈A dan hanya bergantung pada ε. g(x) – g(u) < (2/u2)(½u2ε) = ε Akibatnya. ketaksamaan (1) menghasilkan ketaksamaan (3) g(x) – g(u) ≤ (2/u2)x . Sebagai contoh.u < δ dan x. Jadi. ½u2ε}. dimana berarti bahwa 1/x < 2/u. jika x .u < δ(ε. Analisis Real I 175 . jika x . maka jika x . Kita perhatikan bahwa nilai δ(ε.u.u) yang diberikan pada (2) tidak memunculkan satu nilai δ(ε) > 0 yang akan “work” untuk semua u > 0 secara simultan.Pendahuluan Sekarang. maka (1) g(x) – g(u) = u−x . jika f(x) = 2x untuk semua x∈R. dan dengan demikian kita dapat memilih δ(ε.u∈A.u < δ(ε.u. u∈R (Mengapa?) Di pihak lain jika kita memandang g(x) = 1/x unuk x∈A {x∈R : x > 0}.u) = ε/2 untuk semua ε > 0. ketaksamaan (3) dan definisi (2) mengakibatkan Kita telah melihat bahwa pemilihan δ(ε.u) oleh formula (2) “works” dalam pengertian bahwa pemilihan itu memungkinkan kita untuk memberikan nilai δ yang akan menjamin bahwa g(x) – g(u) < ε apabila x .u < ½u dengan demikian ½u < x < 3 2 u.

1 dan 5.uδ < δ dan f(xδ) – f(uδ) ≥ ε0. ditinggalkan pembuktiannya seagai latihan bagi pembaca. Ini jelas bahwa jika f kontinu seragam pada A.4.u < δ(ε). Kita katakan f kontinu seragam pada A jika untuk setiap ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x. Situasi di atas diperlihatkan secara grafik dalam Gambar 5.u) : u > 0} = 0.u∈A sebarang bilangan yang memenuhi x .2 Kriteria Kekontinuan tidak Seragam Misalkan A⊆R dan f : A → R. sebagaimana pembaca dapat tunjukkan. nilai δ yang diperbolehkan menuju 0. Pengertian di atas berguna untuk memformulasi syarat ekuivalensi untuk mengatakan bahwa f tidak kontinu seragam pada A. tidak ada cara pemilihan satu nilai δ yang akan “work” untuk semua u > 0 untuk fungsi g(x) = 1/x. 5.4.4.1 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.) Kenyataannya. Kita akan memberikan kriteria demikian dalam hasil berikut. untuk lingkungan-ε yang diberikan sekitar f(2) = ½ dan f(½) = 2. akan tetapi kita masih mem- punyai inf{δ(ε. Analisis Real I 176 . sesuai dengan nilai maksimum dari δ terlihat sangat berbeda.1 g(x) = 1/x (x > 0) Suatu tanda bagi pembaca akan mempunyai pengamatan bahwa terdapat pilihan lain yang dapat dibuat untuk δ. 3 2 3 u2ε}. 5. sebagaimana telah ditunjukkan oleh fungsi g(x) = 1/x pada himpunan A = {x∈R : x > 0}. Terdapat ε0 > 0 sedemikian sehingga untuk setiap δ > 0 terdapat titik- titik xδ. secara umum konversnya tidak berlaku. Akan tetapi. maka f(x) – f(u) < ε. (Sebagai contoh kita juga dapat memilih δ1(ε.4.4.2 dimana.u) = inf{ 1 u. maka f kontinu seragam pada setiap titk dalam A. seperti kita akan lihat.Aljabar Himpunan GAMBAR 5. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen : (i) (ii) f tidak kontinu seragam pada A. uδ dalam A sedemikian sehingga xδ . Seperti u menuju 0.

Pendahuluan (iii) Terdapat ε0 > 0 dan dua barisan (xn) dan (un) dalam A sedemikian sehingga lim (xn – un) = 0 dan f(xn) – f(un) ≥ ε0 untuk semua n∈N. barisan (xn) terbatas. menuurt Teorema 3.3 Teorema Kekontinuan Seragam Misalkan I suatu interval tutup dan terbatas dan f : I → R kontinu pada I. maka kita mempunyai lim (xn – un) = 0. Jika f tidak kontinu seragam pada I maka menurut hasil sebelumnya. Karena I tertutup.4. Kita dapat menggunakan hasil ini untuk menunjukkan bahwa g(x) = 1/x kontinu tidak seragam pada A = {x∈R : x > 0}. terdapat ε0 > 0 dan dua barisan (xn) dan (un) dalam A sedemikian sehingga xn . karena Analisis Real I 177 . Karena I terbatas. jika xn = 1/n dan un = 1/(n + 1).7 terdapat subbarisan ( xnk ) dari (xn) yang konvergen ke suatu unsur z. menurut Teorema Bolzano-Weierstrass 3. tetapi g(x) – g(u) = 1 untuk semua n∈N.2.un < 1/n dan f(xn) – f(un) > ε0 untuk semua n∈N. Karena. Ini jelas bahwa subbarisan yang bersesuaian ( unk ) juga konvergen ke z.4. GAMBAR 5. limit z masuk dalam I.6. 5.1 g(x) = 1/x (x > 0) Sekarang kita menyajikan suatu hasil penting yang menjamin bahwa suatu fungsi kontinu pada interval tertutup dan terbatas I adalah kontinu seragam pada I. Bukti. Maka f kontinu seragam pada I.4.

4 Definisi Misalkan A⊆R dan f : A → R.f(x)) dan (u. Jika terdapat suatu konstanta K > 0 sedemikian sehingga f(x) – f(u) ≤ Kx .xnk  +  xnk .z ≤  unk . Sekarang jika f kontinu pada titik z. Syarat bahwa suatu fungsi f : I → R pada suatu interval I adalah fungsi Lipschitz dapat diinterpretasi secara geometri sebagai berikut. Jadi. maka f kontinu 178 . Jadi hipotesis bahwa f tidak kontinu seragam pada interval tutup dan terbatas I mengakibatkan f tidak kontinu pada suatu titik z∈I. jika f kontinu pada setiap titik dalam I.Aljabar Himpunan  unk .u∈I. maka barisan (f(xn)) dan (f(un)) mesti konvergen ke f(z).5 Teorema seragam pada A. Akibatnya. maka f kontinu seragam pada I. Akan tetapi. x ≠ u. Akan tetapi ini tidak mungkin karena f(xn) – f(un) ≥ ε0 untuk semua n∈N. 5. terdapat suatu syarat yang selalu terjadi yang cukup untuk menjamin kekontinuan secara seragam. Analisis Real I Jika f : A → R suatu fungsi Lipschitz. maka kadang-kadang sulit untuk menunjukkan kekontinuan seragamnya.f(u)).4. Fungsi-fungsi Lipschitz Jika suatu fungsi kontinu seragam diberikan pada suatu himpunan yang merupakan interval tidak tertutup dan terbatas.u∈A. 5. suatu fungsi f memenuhi syarat Lipschitz jika dan hanya jika kemiringan dari semua segmen garis yang menghubungkan dua titik pada grafik y = f(x) pada I terbatas oleh suatu K. maka f dikatakan fungsi Lipschitz (atau memenuhi syarat Lipschitz) pada A.4.u untuk semua x. Jika kita menuliskan syaratnya sebagai f ( x ) − f (u ) ≤ K. maka kuantitas dalam nilai mutlak adalah kemiringan segmen garis yang melalui titiktitik (x. x−u x.z.

δI(ε).6 Contoh-contoh (a) Jika f(x) = x2 pada A = [0. Jika syarat Lipschitz dipenuhi dengan konstanta K. Jika J = [1.4. Akan tetapi. kita dapat memilih δ = ε/K.u < δ. ini berarti [dengan pemilihan δ(ε) = inf{1.u∈A dan memenuhi x . ini dapat juga disimpulkan dari Teorema Kekontinuan Seragam. f kontinu seragam pada A.) (b) Tidak semua fungsi yang kontinu seragam merupakan fungsi Lipschitz.4. dan oleh karena itu f kontinu seragam pada A. (Mengapa tidak?) Oleh karena itu. Kekontinuan seragam dari g pada interval I = [0.5 kadang-kadang dapat dikombinasikan untuk memperlihatkan kekontinuan seragam dari suatu fungsi pada suatu himpunan.u untuk semua x. maka menurut Teorema Kekontinuan Seragam 5. Jadi f memenuhi syarat Lipschitz dengan konstanta K = 2b pada A.3.2] mengikuti Teorema Kekontinuan Seragam seperti dicatat dalam (b).∞).∞). Kita tinggalkan detailnya untuk pembaca. Tentu saja.2]. kita mempunyai x−u x + u g(x) – g(u) =  x - u = ≤ ½x .4. (Perhatikan bahwa f tidak memenuhi kondisi Lipschitz pada interval [0.∞).u Jadi g suatu fungsi Lipschitz pada J dengan konstanta K = ½. Karena g kontinu pada I. g bukan suatu fungsi Lipschitz pada I.5. maka f(x) – f(u) = x + ux -u ≤ 2bx . maka f(x) – f(u) < K(ε/K) = ε Oleh karena itu.δJ(ε)}] bahwa g kontinu seragam pada A. karena fkontinu pada A yang merupakan interval tertutup dan terbatas. (c) Teorema Kekontinuan Seragam dan Teorema 5. dimana b suatu konstanta positif. dan dari sini menurut Teorema 5. Jika x.b]. maka diberikan ε > 0 sebarang.u dalam [0.Pendahuluan Bukti. g kontinu seragam pada I. Misalkan g(x) = x untuk x dalam interval tertutup dan terbatas I = [0. maka jika x dan u dalam J. Analisis Real I 179 . tidak terdapat bilaknagn K > 0 sedemikian sehingga g(x) ≤ Kx untuk semua x∈I.∞). g kontinu seragam pada [1.4. Karena A = I∪J. Kita pandang g(x) = x pada himpunan A = [0.b]. 5.

m > H(δ). Dengan demikian muncul pertanyaan: Syarat apa yang diperlukan suatu fungsi untuk kontinu seragam pada suatu interval buka? Jawabannya menampakkan kekuatan dari kekontinuan seragam.4.b). dengan demikian kita hanya perlu membuktikan implikasi sebaliknya.4. Pertama=tama kita akan menunjukkan suatu hasil sebagai teorema berikut. ini mengakibatkan bahwa untuk n.b]. Analisis Real I 180 . Bukti.7 Teorema Jika f : A → R kontinu seragam pada suatu A⊆R dan jika (xn) barisan Cauchy dalam A.b) kontinu seragam jika dan hanya jika dapat didefinisikan pada titik-titik ujung untuk menghasilkan suatu fungsi yang kontinu pada interval tertutup. fungsi f(x) = 1/x pada interval (0.b] tentu saja kontinu pada (a.u dalam A memenuhi x . karena akan ditunjukkan bahwa suatu fungsi pada (a.xm < δ untuk semua n. Dengan pemilihan δ.b) jika dan hanya jika f dapat didefinisikan pada titik-titik ujung a dan b sedemikian sehingga fungsi perluasannya kontinu pada [a. Oleh karena itu barisan (f(xn)) barisan Cauchy. maka f(x) – f(u) < ε. Suatu fungsi yang kontinu seragam pada [a. Bukti.1).u < δ. Misalkan (xn) barisan Cauchy dalam A.m > H(δ).1) merupakan barisan Cauchy.Aljabar Himpunan Teorema Perluasan Kontinu Kita telah melihat fungsi yang kontinu tapi tidak kontinu seragam pada interval buka. 5. Karena (xn) barisan Cauchy. dengan Teorema Kekontinuan Seragam.8 Teorema Perluasan Kontinu Suatu fungsi f kontinu seragam pada interval (a. Di pihak lain. Pertamatama pilih δ > 0 sedemikian sehingga jika x. dimana f(xn) = n untuk semua n∈N bukan barusan Cauchy. kita mempunyai f(xn) – f(xm) < ε. sebagai contoh. suatu fungsi yang kontinu pada interval tutup dan terbatas selalu kontinu seragam. tetapi barisan petanya. 5. Kita perhatikan bahwa barisan yang diberikan oleh xn = 1/n dalam (0. Hasil di atas memberikan kita suatu cara alternatif dalam melihat bahwa f(x) = 1/x tidak kontinu seragam pada (0.1). maka terdapat H(δ) sedemikian sehingga xn . maka (f(xn)) barisan Cauchy dalam R. dan ε > 0 diberikan.

Ini dilakukan dengan menunjukkan bahwa lim f ( x) = L ada.xn) = a – a = 0. Aproksimasi Dalam banyak aplikasi adalah penting untuk dapat mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan suatu fungsi yang memiliki sifat-sifat dasar.b]. Karena lim dari f(x) = sin(1/x) pada 0 tidak ada. Karena kita memperoleh nilai L yang sama untuk sebarang barisan yang konvergen ke a. Analisis Real I 181 .b).Pendahuluan Misalkan f kontinu seragam pada (a. Jadi lim (f(xn)) = L ada. dan ini diselesaikan dengan pengx →c gunaan Kriteria Sekuensial untuk limit. Meskipun terdapat variasi definisi yang dapat digunakan untuk membuat kata “aproksimasi” lebih tepat. karena lim x sin (1 x ) = 0 ada.b) dengan lim (xn) = a.5. maka lim (un . fungsi aproksimasinya akan tidak berbeda dari fungsi yang diberikan dengan lebih kecil dari kesalahan yang ditentukan. maka barisan ini barisan Cauchy.4. dengan demikian oleh kekontinuan seragam dari f kita mempunyai Lim (f(un)) = lim (f(un) – f(xn)) + lim (f(xn)) = 0 + L = L.b] untuk sebarang b > 0. satu diantaranya yang sangat alami (dan juga salah satu yang terpenting) adalah memaksa bahwa setiap titik dari domain yang diberikan. Di pihak lain. Jika (un) sebarang barisan lain dalam (a. dan dengan demikian konvergen menurut Teorema 3. dengan demikian kita simpulkan bahwa f mempunyai perluasan kontinu untuk interval [a.b) untuk semua b > 0. Jika (xn) barisan dalam (a. maka dari Kriteria Sekuensial untuk limit kita menyimoulkan bahwa f mempunyai limit L pada a. x →0 maka fungsi g(x) = x sin (1/x) kontinu seragam pada (0. Argumen yang sama digunakan untuk IbI. kita menegaskan dari Teorema Perluasan Kontinu bahwa fungsi ini tidak kontinu seragam pada (0. argumen untuk b dilakukan dengan cara yang sama.b) yang konvergen ke a. Kita akan menunjukkan bagaimana memperluas f ke a.

(Lihat Gambar 5. .3) GAMBAR 5. 2 ≤ x < 1. . 3 < x ≤ 4.   1.4] → R didefinisikan oleh  0.2 ≤ x < 1.4.   2.4.  1.9 Definisi Misalkan I⊆R suatu interval dan s : I → R. 1 ≤ x ≤ 3.  y [ ( [ [ [ ( ( merupakan fungsi tangga. − 2. Sebagai contoh. setiap nilai diberikan pada satu atau lebih interval dalam I.  2 s(x) =  2 1  3. Maka s dinamakan fungsi tangga jika s hanya mempunyai sejumlah hingga nilai-nilai yang berbeda. 0 < x < 1. fungsi s : [-2.Aljabar Himpunan 5.4.3 Grafik y = s(x) Analisis Real I [ [ [ x 182 ( ( .1 ≤ x < 0.

… . Analisis Real I 183 .f(a + kh) < ε. maka f(x) – f(y) < ε.4. Sekarang kita definisikan (4) untuk x∈Ik.Pendahuluan Sekarang kita akan menunjukkan bahwa suatu fungsi kontinu pada suatu interval tertutup dan terbatas I dapat diaproksimasi secara sebarang dengan fungsi tangga.sε(x) < ε untuk semua x∈I.b] dan m∈N cukup besar dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε).a+h]. Karena panjang setiap subinterval Ik adalah h < δ(ε). Jika ε > 0. k = 1.3). dan Ik = (a+(k-1)h. maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x. Misalkan pula f : I → R kontinu pada I. Bukti.4. sε(x) = f(a + kh) dengan demikian sε adalah konstanta pada setiap interval Ik. Sekarang kita membagi I = [a. Lihat Gambar 5.10 Teorema Misalkan I interval tertutup dan terbatas. 5.4.m. … .y < δ(ε). maka terdapat suatu fungsi tangga sε : I → R sedemikian sehingga f(x) .3. (Kenyataannya bahwa nilai dari sε pada Ik adalah nilai dari f pada titik ujung dari Ik.) Akibatnya jika x∈Ik.m.y∈I dan x .sε(x) < ε untuk semua x∈I.b] ke dalam m interval saling lepas yang panjangnya h. maka selisih antara dua nilai dari f dalam Ik lebih kecil dari ε.sε(x) = f(x) . yaitu I1 = [a. Misalkan I = [a. maka f(x) . Karena fungsi f kontinu seragam (menurut Teorema Kekontinuan Seragam 5.a+kh] untuk k = 2. Oleh karena itu kita mempunyai f(x) .

Analisis Real I 184 . akan tetapi tidak kontinu (kecuali dalam kasus trivial).gε(x) < ε untuk semua x∈I.4.sε(x) < ε untuk semua x∈I.11 Akibat Misalkan I = [a. … Im.Aljabar Himpunan GAMBAR 5.4 Aproksimasi dengan fungsi tangga Perhatikan bahwa pembuktian dari teorema sebelumnya agak lebih dibandingkan dengan pernyataan dalam teorema. dan f : I → R kontinu pada I. Remark.13 Misalkan I suatu interval tutup dan terbatas. Fungsi tangga merupakan fungsi yang memiliki karakter dasar.12 Definisi Misalkan I = [a. Jika ε > 0. segmen garis yang membentuk grafik g bertemu pada titik-titik ujung dari subinterval yang berdekatan Ik dan Ik + 1k + 1 (k = 1. Pada kenyataannya kita telah membuktikan pernyataan berikut. maka terdapat bilangan asli m sedemikian sehingga jika kita membagi I dalam m interval saling lepas Ik yang mempunyai panjang h = (b – a)/m.b] suatu interval. … .b] interval tutup dan terbatas.4. Jelas bahwa agar suatu fungsi linear potong demi potong g kontinu pada I. maka fungsi tangga sε didefinisikan pada (4) memenuhi f(x) . Karena itu sering diperlukan sekali untuk mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi kontinu sederhana. maka terdapat suatu fungsi linear potong-demi-potong kontinu gε : I → R sedemikian sehingga f(x) . sedemikian sehingga pembatasan dari g untuk setiap interval Ik merupakan fungsi linear. dan f : I → R kontinu pada I. m-1) Teorema 5.4. bagaimana kita akan menunjukkan bahwa kita dapat mengaproksimasi fungsi-fungsi kontinu dengan fungsi linear kontinu piecewise (potong demi potong). Jika ε > 0. Maka suatu fungsi g : I → R dikatakan linear potong demi potong pada I jika I merupakan gabungan dari sejumlah hingga interval saling lepas I1.4. 5. 5.

5. Karena fungsi f kontinu seragam pada I = [a. maka f(x) – f(y) < ε. … .b] ke dalam m interval saling lepas yang panjangnya h. Pada setiap interval Ik kita definisikan gε fungsi linear yang menghubungkan titik-titik (a + (k – 1)h.gε(x) < ε untuk semua x∈Ik.) GAMBAR 5.4. (Lihat Gambar 5. oleh karena itu ketaksamaan ini berlaku untuk semua x∈I. yaitu I1 = [a.Pendahuluan Bukti.a + h].y∈I dan x .f(a f(x) tidak lebih dari ε dari f(a + (k –1)h) dan f(a + kh).m.4. Maka gε fungsi linear potong-demi-potong kontinu pada I. dan Ik = (a + (k-1)h. ditinggalkan sebagai latihan pembaca untuk menunjukkan bahwa f(x) .y < δ(ε). untuk x∈Ik nilai dan (a + kh. Karena.5 Aproksimasi oleh fungsi linear potong-demi-potong Kita akan menutup pasal ini dengan mengemukakan teorema penting dari Weierstrass mengenai aproksimasi fungsi-fungsi kontinu Analisis Real I 185 . Sekarang kita membagi I = [a.a + kh] untuk k = 2.f(a + (k – 1)h) + kh)). Misalkan m∈N cukup besar dengan demikian h = (b – a)/m < δ(ε).b] maka itu berarti bahwa diberikan ε > 0 terdapat δ(ε) > 0 sedemikian sehingga jika x.

1. … . Fungsi polinomial Bn. dan koefisien-koefisien binomial 1 2 k .1] → R fungsi konttinu dan misalkan ε > 0. Terdapat sejumlah pembuktian dari teorema ini.1].b] dan misalkan f : I → R kontinu.14 Teorema Aproksimasi Weierstrass Misalkan I = [a. kita mesti bersedia untuk menggunakan polinomial sebarang derajat tinggi. .4. Disana ditunjukkan bahwa jika δ(ε) > 0 Analisis Real I 186 . Terdapat nε∈N sedemikian sehingga jika n ≥ nε. n n n n n! n(n − k )L(n − k + 1)  =  k  k! (n − k )! = 1 ⋅ 2L k   5.Aljabar Himpunan dengan fungsi polinimial. Salah satu pembuktian yang paling elementer berdasarkan pada teorema berikut yang dikemukakan oleh Serge Bernsteîn. 169-172. . ini adalah suatu polinomial derajat aling tinggi n dan koefisienkoefisiennya bergantung pada nilai dari fungsi f pada n + 1 titik 0. Seperti diharapkan.4. … .1] → R. agar memperoleh suatu aproksimasi tidak lebih dari suatu ε > 0 yang ditentukan.1]. maka terdapat suatu fungsi polinimial pε sedemikian sehingga f(x) . Diberikan f : [0. Sayangnya. Pembuktian Teorema ini diberikan dalam Elements of Analysis Real. Jika ε > 0 diberikan.15 Teorema Aproksimasi Bernsteîn Misalkan f : [0. 5. maka kita mempunyai f(x) – Bn(x) < ε untuk semua x∈[0. atau memakai hasil-hasil yang belum pada pengerjaan kita. Bernsteîn mendefinisikan barisan polinomial : (5) Bn (x) = k =0 ∑ f  n  k  x k (1 − x )   n  k  n     n−k . yang didefinisikan dalam (5) dinamakan polinomial Bernsteîn ke-n untuk f. untuk fungsi kontinu pada [0. Bukti. H.pε(x) < ε untuk semua x∈I. semua pembyktiian itu agak berbelit-belit.

Tunjukkan bahwa fungsi f(x) 1/x2 kontinu seragam pada A = [1. Menaksir (6) memberikan informasi tentang seberapa besar n yang mesti kita pilih agar Bn mengaproksimasi f tidak melebihi ε. (a) f(x) = x2 (b) g(x) = sin(1/x) A =[0.∞). B = (0. maka f + g juga kontinu seragam pada A. Secara khusus. yang mana selanjutnya menghhasilkan polinomial pada [a. 6.14 dapat diperoleh dari Teorema Aproksimasi Bernsteîn 5. 2.∞). maka kita dapat memilih (6) nε =sup{(δ(ε/2)-4. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/x kontinu seragam pada himpunan A = [a. Jika f(x) = x dan g(x) = sin x. Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 1/(1 + x2) untuk x∈R kontinu seragam pada R 5.1]. tetapi tidak kontinu seragam pada B = (0. tetapi hasil kali fg tidak kontinu seragam pada R.b] → R dengan fungsi F : [0.y∈[0.Pendahuluan sedemikian sehingga f(x) – f(y) < ε untuk semua x.2 untuk menunjukkan bahwa fungsi-fungsi berkut ini tidak kontinu seragam pada himpunan yang diberikan. tunjukkan bahwa f dan g kontinu seragam pada R. Analisis Real I 187 .∞). 3.∞). F(t) = f(a + (b – a)t) Fungsi F dapat diaproksimasi dengan polinmial Bernsteîn untuk F pada interval [0.b] yang mengaproksimasi f. Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R dan jika kedua-duanya terbatas pada A.4.1] dengan x . maka hasil kali fg juga fungsi kontinu seragam. Tunjukkan bahwa jika f dan g kontinu seragam pada A⊆R.4.M2/ε2}.15 dengan suatu pengubahan variabel. Teorema Aproksimasi Weierstrass 5. 7. dan jika M ≥ f(x) untuk semua x∈[0. dimana a suatu konstanta positif. Latihan-latihan 1.1] → R yang didefinisikan oleh untuk t∈[0.∞).4.y < δ(ε).1].1]. Gunakan Kriteria Kekontinuan Tak-Seragam 5. 4. kita ganti f : [a.

1]. 12. 10. Jika f1(x) = x untuk x∈[0.1]. Suatu fungsi f : R → R dikatakan fungsi periodik pada A jika terdapat suatu bilangan p > 0 sedemikian sehingga f(x + p) = f(x) untuk semua x∈R. Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn untuk f0. 13.∞) untuk suatu konstanta positif a. [Petunjuk: Teorema Binomial menyatakan bahwa (a + b)n = k =0 ∑  k a k b n − k ].Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f0. Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn untuk f1. Analisis Real I 188 . Buktikan bahwa jika f kontinu seragam pada suatu himpunan A⊆R yang terbatas. tunjukkan bahwa tidak terdapat suatu konstanta K sedemikian sehingga g(x) ≤ Kx untuk semua x∈[0. Berikan kesimpulan bahwa g kontinu seragam yang tidak merupakan fungsi Lipschitz pada [0.1]. 9. Jika f0(x) = 1 untuk x∈[0. dan f(x) ≥ k > 0 untuk semua x∈A.∞). Jika f kontinu seragam pada A⊆R. Buktikan bahwa jika f dan g masing-masing kontinu seragam pada R maka fungsi komposisinya f o g juga kontinu seragam pada R. 14.Tunjukkan bahwa Bn(x) = (1 –1/n)x2 + (1/n)x. tunjukkan bahwa 1/f kontinu seragam pada A. Misalkan A⊆R dan f : A → R memiliki difat: untuk setiap ε > 0 terdapat suatu fungsi gε : A → R sedemikian sehingga gε kontinu seragam pada A dan f(x) - gε(x) < ε untuk semua x∈A.∞) dan kontinu seragam pada [a.     n n 16.1]. Buktikan bahwa f kontinu seragam pada A. Hitunglah beberapa polinomial pertama Bernsteîn untuk f2.Aljabar Himpunan 8.1]. maka f terbatas pada A. 17. Tunjukkan bahwa jikaf kontinu pada [0. Jika g(x) = x untuk x∈[0. 15. maka f kontinu seragam pada [0. 11.Tunjukkan bahwa polinomial ini serupa dengan f1. Jika f2(x) = x2 untuk x∈(0. Buktikan bahwa suatu fungsi periodik kontinu pada R adalah terbatas dan kontinu seragam pada R.1).

Fungsi f dikatakan naik secara murni pada A jika untuk setiap x1.1]. Jika f fungsi naimk murni ayau turun murni pada A. seberapa besarnya n sedemikian sehingga polinomial Bernsteîn ke-n Bn untuk f2 memenuhi f2(x) – Bn(x) ≤ 0. Dalam pasal ini.Pendahuluan 18. kita akan bekerja dengan fungsi-fungsi monoton yang didefinisikan pada suatu interval I⊆R. Fungsi monoton tidak perlu kontinu.1) dalam R pada setiap titik yang bukan titik ujung dari domainnya. Sebagai cintoh. maka kita katakan fungsi tersebut monoton pada A.2]. Demikian juga.x2∈A dengan x1 < x2 berlaku f(x1) < f(x2). demikian juga jika ϕ : A → R turun pada A. g : A → R dikatakan turun pada A jika untuk setiap x1.x2∈A dengan x1 ≤ x2 berlaku f(x1) ≤ f(x2).1] dan f(x) = 1 untuk x∈(1.3.5 Fungsi Monoton dan Fungsi Invers Ingat kembali bahwa jika A⊆R. jika f(x) = 0 untuk x∈[0.001 untuk semua x∈[0. Analisis Real I 189 . Jika suatu fungsi naik atau turun pada A. tetapi itu jelas bahwa terdapat persesuaian hasil untuk fungsi-fungsi turun. maka fungsi f : A → R dikatakan naik pada A jika untuk setiap x1. Fungsi g dikatakan turun secara murni pada A jika untuk setiap x1. Kita akan mendiskusikan fungsi-fungsi naik secara eksplisit. Gunakan hasil latihan sebelumnya untuk f2.x2∈A dengan x1 ≥ x2 berlaku g(x1) ≥ g(x2). Kita perhatikan bahwa jika f : A → R naik pada A maka g = -f turun pada A. tetapi tidak kontinu pada x = 1.1]. hasil berikut ini menunjukkan bahwa suatu fungsi monoton selalu mempunyai limit-limit sepihak baik limit pihak-kiri maupun pihak-kanan (lihat Definisi 4. maka f merupakan fungsi naik pada [0. Hasil-hasil ini dapat diperoleh secara langsung dari hasil-hasil untuk fungsi-fungsi naik atau dibuktikan dengan argumen yang serupa. kita katakan bahwa f monoton murni pada A. maka ψ = -ϕ naik pada A. Akan tetapi.x2∈A dengan x1 > x2 berlaku g(x1) > g(x2). Pasal 5.

yε < c sedemikian sehingga L . Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. Dari sini himpunan {f(x) : x∈I. kita simpulkan bahwa jika δ(ε) = c . terdapat yε ∈I.5. Maka (i) (ii) x →c − x →c + lim f = sup{f(x) : x∈I. maka f(x) ≤ f(c).2 Akibat daikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I. x > c} Pembuktiannya mudah. Dari sini.ε < f(yε) ≤ L. maka yε < y < c dengan demikian L . Karena ε > 0 sebarang. terbatas diatas oleh f(c).1 dan 4. kita katakan bahwa (i) berlaku. Hasil berikut memberikan kriteria untuk kekontinuan dari fungsi naik f pada suatu titik c yang bukan titik ujung interval pada mana f didefinisikan. Kita tinggalkan detailnya untuk pembaca. Andaikan bahwa c∈I bukan titik ujung dari I. Jika ε > 0 diberikan.L < ε bila 0 < c – y < δ(ε). (a) f kontinu pada c. x < c}.1 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I.ε bukan suatu batas atas dari himpunan ini. Karena f fungsi naik. An- 5. x < c} = f(c) = inf{f(x) : x∈I. Jadi ini menunjukkan bahwa supremumnya ada. tinggal mengikuti Teorema 5. Pertama-tama kita perhatikan jika x∈I dan x < c. Analisis Real I 190 . Pembuktian bagian (ii) dilakukan dengan cara serupa.5.yε dan jika 0 < c – y < δ(ε). kita simbol dengan L.Aljabar Himpunan 5.5. yang mana tidak kosong karena c bukan titik ujung dari I. x < c} lim f = inf{f(x) : x∈I. maka L . (b) lim f = f(c) = lim f x →c − x →c + (c) sup{f(x) : x∈I. x > c} Bukti. Maka pernyataan-pernyataan berikut ini ekuivalen.ε < f(yε) ≤ f(y) ≤ L Oleh karena itu f(y) . maka ).3.3.

maka f kontinu pada c jika dan hanya jika jf(c) = 0 Bukti. kita mendefinisikan lompatan dari f pada b menjadi jf(b) = f(b) .lim f . Syarat yang serupa diterapkan pada suatu titik ujung x →a + kanan dari I.5. kita mendefinisikan lompatan dari f pada a menjadi jf(a) = lim f .Pendahuluan Misalkan I suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik.3 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R naik pada I. Jika titik ujung kiri a dari I masuk dalam I. maka merupakan suatu latihan untuk menunjukkan bahwa f kontinu pada a jika dan hanya jika f(a) = inf{f(x) : x∈I. jf(c) { c GAMBAR 5. Jika titik ujung kanan b x →a + dari I masuk dalam I. Jika c∈I titik kiri ujung dari I.2.5. Jika c∈I.1 Lompatan dari f pada c Jika f : I → R fungsi naik pada I dan jika c bukan suatu titik ujung dari I.) Mengikuti Teorema 5.1 bahwa jf(c) = inf{f(x) : x∈I.f(a).5.1.sup{f(x) : x∈I. kita definisikan lompatan dari f pada c sebagai jf(c) = lim f . Jika c bukan suatu titik ujung.5.lim f .5. x < c} untuk suatu fungsi naik. maka f kontinu pada c jika dan hanya jika f(c) = Analisis Real I 191 . a < x} atau jika hanya jika lim f . dan untuk fungsi-fungsi turun. (Lihat Gambar x →c + x →c − 5. x > c} . x →b − 5. ini secara mudah mengikuti Akibat 5. Jika a titik ujung kiri dari I.

5. Bukti. maka (mengapa?) kita mempunyai f(a) ≤ f(a) + jf(x1) < … < jf(xn) ≤ f(b).5. Kita akan menganggap bahwa f fungsi naik pada I. dan seterusnya. Sekarang kita akan menunjukkan bahwa bisa terdapat paling banyak sejumlah terhitung titiktitik dimana fungsi monoton diskontinu. Maka himpunan titik-titik D⊆I dimana f diskontinu adalah himpunan terhitung.Aljabar Himpunan x →c + lim f .y∈R h(x + y) = h(x) + h(y) Analisis Real I 192 . Kita akan memandang kasus bahwa I = [a.2.b] suatu interval tertutup dan terbatas. (Lihat Gambar 5. kita simpulkan bahwa D himpunan terhitung. Cara serupa juga dapat diperoleh un- tuk kasus c∈I titik ujung kanan dari I.4 Teorema Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi monoton pada I.4 beberapa aplikasi yang berguna. Selain itu. terdapat baling banyak dua titik dalam I dimana jf(x) ≥ (f(b) – f(a))/2. diperlihatkan dalam Latihan 5. ditinggalkan kasus lain sebagai latihan bagi pembaca.3 bahwa D = {x∈I : jf(x) ≠ 0}. Kita simpulkan bahwa terdapat paling banyak satu titik x∈I dimana jf(x) ≥ f(b) – f(a). 5.b] dimana jf(x) ≥ (f(b) – f(a))/k.2.12 bahwa jika h : R → R memenuhi identitas (*) untuk semua x.) Akibatnya bisa terdapat paling banyak k buah titik dalam I = [a. Oleh karena itu terdapat paling banyak sejuemlah terhitung titik-titik x dimana jf(x) > 0. jika a ≤ x1 < … < xn ≤ b. Sebagai contoh. Mengikuti Teorema 5.5. maka jf(c) ≥ 0 untuk semua c∈I. Pertama-tama kita perhatikan bahwa karena f fungsi naik. yang mana ekuivalen dengan jf(c) = 0. terdapat baling banyak tiga titik dalam I dimana jf(x) ≥ (f(b) – f(a))/3. Teorema 5. Akan tetapi karena setiap titik dalam D mesti masuk dalam himpunan ini.5. yang mana berarti bahwa jf(x1) < … < jf(xn) ≤ f(b) – f(a).

Pendahuluan dan jika h kontinu pada satu titik x0. maka h kontinu pada setiap titik dalam R. GAMBAR 5.2) bahwa suatu fungsi f : I → R mempunyai fungsi invers jika dan hanya jika f injektif ( = satu-satu).f(a) jf(x2) { jf(x1) { f(a) a x1 x2 x3 x4 b kontinu pada R. jika f fungsi naik murni maka demikian juga dengan g. Analisis Real I 193 . kita menunjukkan bahwa jika f : I → R fungsi kontinu monoton murni. Kita perhatikan bahwa suatu fungsi monoton murni adalah injektif dan dengan demikian mempunyai invers. maka h mesti jf(x4) jf(x3) { f(b) { f(b) .2 jf(x1) + … + jf(xn) ≤ f(b) – f(a) Fungsi-fungsi Invers Sekarang kita akan memandang keberadaan invers suatu fungsi yang kontinu pada suatu interval I⊆R. yaitu x. Khususnya. Dalam teorema berikut. Ini berarti bahwa jika h merupakan fungsi monotan yang memenuhi (*). Kita ingat kembali (lihat Pasal 1. maka f mempunyai suatu fungsi invers g pada J = f(I) yang juga fungsi kontinu monoton murni pada J.y∈I dan x ≠ y mengakibatkan bahwa f(x) ≠ f(y). dan jika f fungsi turun murni maka demikian juga g.5.

10. untuk hal lain x1 ≥ x2. Karena f kontinu dan I suatu interval. mengakibatkan y1 = f(x1) ≥ f(x2) = y2. Kita claim bahwa g naik murni.Aljabar Himpunan 5. oleh karena itu fungsi g : J → R invers dari f ada. meninggalkan kasus bahwa f fungsi turun murni untuk pembaca. maka f fungsi injektif pada I. bertentangan dengan hipotesis bahwa y1 < y2. Karena y1 dan y2 sebarang unsur dalam J dengan y1 < y2. J = f(I) suatu interval. Maka fungsi monoton murni dan kontinu pada J = f(I). Kita pandang kasus f fungsi naik murni. Kita mesti mempunyai x1 < x2. karena f naik murni pada I. maka y1 = f(x1) dan y2 = f(x2) untuk suatu x1. Selain itu. kita simpulkan bahwa g naik murni pada J. Memang. Oleh karena itu kita mempunyai g(y1) = x1 < x2 = g(x2).3 g(y) ≠ x untuk y∈J Bukti.5. g invers dari f adalaj fungsi x jg(c) {.5. Analisis Real I 194 . x2∈I. maka menurut Teorema Pengawetan Interval 5.3.5 Teorema Invers Kontinu Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I→ R monoton murni dan kontinu pada I. o g(c) c J GAMBAR 5. jika y1 < y2.

oleh karena itu f monoton murni pada I.3. Akan tetapi. Kita perlu membedakan atas dua kasus: (i) n genap. jika g diskontinu pada suatu titik c∈J. misalkan f(x) = xn untuk x∈I. Oleh karena itu.4(a) bahwa IfI kontinu pada I. Agar diperoleh suatu fungsi yang monoton murni.Pendahuluan Tinggal menunjukkan bahwa g kontinu pada J. dan (ii) n ganjil. n genap) (i) n genap.17) bahwa jika 0 ≤ x < y. ini merupakan konsekuensi dati fakta bahwa g(J) = I suatu interval.5.) Dari sini x∉I. Selain itu. maka x mempunyai sifat bahwa x ≠ g(y) untuk sebarang y∈J. menurut Teorema Pengawetan Interval 5.∞). maka f(x) = xn < yn = f(y).2. (Lihat Gambar 5.5 untuk fungsi pangkat ke-n. maka lompatan dari g pada c tidak nol dengan demikian x →c − lim g < lim g x →c + x →c − x →c + Jika kita memilih sebarang x ≠ g(c) yang memenuhi lim g < x < lim g .5.4 Grafik dari f(x) = xn (x ≥ 0. Fungsi Akar ke-n Kita kan menggunakan Teorema Invers Kontinu 5. J = f(I) suatu interval. kita batasi perhatian kita untuk interval I = [0.4.3. GAMBAR 5.10. Jadi. yang mana kontradikdi dengan fakta bahwa I suatu interval.) Kita telah melihat (dalam Latihan 2.5. Kita akan menunjukkan bahwa J = Analisis Real I 195 . (Lihat Gambar 5.5. Oleh karena itu kita menyimpulkan bahwa g kontinu pada J.2. mengikuti Contoh 5. Memang.

) Analisis Real I 196 .5. kita mempunyai untuk semua x∈[0. (ii) n ganjil. menurut 5.5 Grafik dari f(x) = x1/n (x ≥ 0.∞).5. Kita tinggalkan bagi pembaca untuk menunjukkan bahwa F naik murni pada R dan F(R) =R. terdapat k∈N sedemikian sehingga 0 ≤ y < k. n genap) Karena g invers untuk f.3. F kontinu pada R.3.6 bahwa y∈J. Karena (Mengapa?) f(0) = 0 ≤ y < k ≤ kn = f(k). Dalam kasus ini kita misalkan F(x) = xn untuk semua x∈R. (Lihat Gambar 5.5.) naik murni dan kontinu pada J = [0.).6.5. menurut Sifat Archimedean. Misalkan y ≥ 0 sebarang.5 bahwa fungsi g yaitu invers dari f(x) = xn pada I = [0. (Lihat Gambar 5.∞). Kita lazimnya menuliskan g(x) = x1/n atau g(x) = n x n untuk x ≥ 0 (n genap). Kita menyimpulkan dari Teorema Invers Kontinu 5. mengikuti Teorema Nilai Antara Bolzano 5.4(a).5. dan menyebut x1/n = x akar ke-n dari x ≥ 0 (n genap).∞) dan n genap.) GAMBAR 5. Karena y ≥ 0 sebarang. g(f(x)) = x (xn)1/n = x dan f(g(x)) = x (x1/n)n = x Kita dapat menuliskan persamaan-persamaan ini dalam bentuk berikut: dan untuk semua x∈[0. Fungsi g dinamakan fungsi akar ke-n (n genap).Aljabar Himpunan [0. kita simpulkan bahwa J = [0.∞).

5. n ganjil) Pangkat-pangkat Rasional Telah didefinisikan fungsi-fungsi akar ke-n untuk n∈N.8. kita definisikan xm/n = (x1/n)m.5. yang mana hal ini memudahkan untuk mendefinisikan pangkat-pangkat rasional. Kita lazimnay menuliskan G(x) = x1/n atau G(x) = n x untuk x∈R. jika r = m/n = p/q dengan m. adalah fungsi naik murni dan kontinu pada R. r = 0.) Disini kita mempunyai (xn)1/n = x dan (x1/n)n = x untuk semua x∈R dan n ganjil. Fungsi G disebut fungsi akar ke-n (n ganjil).p∈Z dan n.6 tidak berarti ganda. dalam banyak cara.n∈N dan x > 0. (ii) Jika m.Pendahuluan Mengikuti Teorema Invers Kontinu 5. (Lihat Gambar 5.n∈N dan x ≥ 0. r = 1.6 Definisi (i) Jika m.7.5. 5. kita definisikan x-m/n = (x1/n)-m. fungsi G yaitu invers dari F(x) = xn untuk x∈R. 0 < r < 1. Yaitu.q∈N dan jika x > Analisis Real I 197 .6 Grafik F(x) = xn (x∈R.5. n ganjil Dan menyebut x1/n sebagai akar ke-n dari x∈R.) Karena suatu bilangan rasional r∈Q dapat ditulis dalam bentuk r = m/n dengan m∈Z. Grafik dari x ξ xr bergantung pada apakah r > 1. GAMBAR 5. atau r < 0. Dari sini kita telah mendefinisikan xr apabila r bilangan rasional dan x > 0. (Lihat Ganbar 5.5. n∈N. akan diunjukkan bahwa Definisi 5.5.5.

Jika f suatu fungsi naik murni. Tunjukkan bahwa f(x) = x dan g(x) = x – 1 naik murni pada I = [0. maka f + g fungsi naik murni pada I. Jika f dan g fungsi-fungsi naik pada suatu interval I⊆R. maka xrxs = xr + s =xsxr dan (xr)s = xrs = (xs)r. titik maksimum absolut] untuk f pada I. maka titik a [atau juga.Aljabar Himpunan 0.n∈N. sebagai latihan. Jika I = [a. 5. Sekarang misalkan y = xm/n = (x1/n)m > 0 dengan demikian yn = ((x1/n)m)n = ((x1/n)n)m = xm. bahwa jika x > 0 dan r. Jika f juga fungsi naik murni pada I. maka xm/n = (xm)1/n. Latihan-latihan 1. Bukti.7 Grafik G(x) = x1/n (x∈R. b] suatu titik minimum mutlak [atau juga. akan tetapi hasil kali fg tidak naik pada I.5.n∈Z. maka (xm)n = xmn = (xn)m. Jika x > 0 dan m. Oleh karena itu diperoleh bahwa y = (xm)1/n. 3.b] suatu interval dan f : I → R suatu fungsi naik. n ganjil) Pembaca akan menunjukkan juga. Analisis Real I 198 . 2.s∈Q. Kita tinggalkan sebagai latihan bagi pembaca untuk membuktikan hubungan ini. maka (x1/n)m = (x1/q)p. maka a merupakan satu-satunya titik minimum mutlak untuk f pada I.5. dan x > 0.1]. tunjukkan bahwa f + g juga suatu fungsi naik pada I. GAMBAR 5.7 Teorema Jika m∈Z.

Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I. Misalkan I = [0.5. tunjukkan bahwa f-1(y) < g-1(y).4.1] dan misalkan f : I → R didefinisikan oleh f(x) = x untuk x rasional. 5. GAMBAR 5. xn > c untuk n = 2. Tunjukkan bahwa f injektif pada I dan f(f(x)) = x untuk Analisis Real I 199 . 8. … . dan f(x) = 1 – x untuk x irasional. Tunjukkan bahwa f kontinu pada c jika dan hanya jika terdapat suatu barisan (xn) dalam I sedemikian sehingga xn < c untuk n = 1.8 Grafik dari x ξ xr (x > 0) 6.b] dan f : I → R fungsi naik pada I. maka f kontinu pada a jika dan hanya jika f(a) = inf{f(x) : x∈(a. … . Misalkan juga c∈I bukan titik ujung dari I. tunjukkan bahwa lompatan jf(c) dari f pada c diberikan oleh inf{f(y) –f(x) : x < c < y. maka fungsi hasil-kalinya fg merupakan fungsi naik pada I.3. Misalkan f. Misalkan I⊆R suatu interval dan f : I → R fungsi naik pada I.6. Jika c∈I bukan titik ujung dari I. x. 7. Tunjukkan bahwa jika I = [a.Pendahuluan 4. [Petunjuk: Pertama-tama interpretasi pernyataan ini secara geometri]. Tunjukkan bahwa jika f dan g fungsi-fingsi positif naik pada suatu interval I.y∈I}. dan sedemikian sehingga c = lim (xn) dan f(c) = lim (f(xn)). Jika y∈f(I)∩g(I). 9.5.b]}.g fungsi-fungsi naik pada suatu interrval I⊆R dan f(x) > g(x) untuk semua x∈I.

Misalkan f : [0. Tunjukkan bahwa jika m. Misalkan f(x) = x untuk x∈[0. tunjukkan bahwa c1 = 0. tunjukkan bahwa f bukan injektif pada I. Jika f mempunyai suatu maksimum mutlak [atau.1] → R suatu fungsi yang memuat nilai-nilainya tepat dua kali.1]. dan jika r. Analisis Real I 200 . c2 = 1. x > 0. 10. Misalkan x∈R. Tunjukkan bahwa f fungsi naik murni pada [0. n. dan mq = np.s∈Q. Misalkan h : [0. Tunjukkan bahwa f dan f-1 merupakan fungsi-fungsi naik murni. Sekarang titik-titik dimana h mencapai infimumnya. Jika x∈R. Tunjukkan bahwa h tidak kontinu pada setiap titik. tunjukkan bahwa x x = x r s r+s =xsxr dan (xr)s = xrs = (xs)r.q∈N. 15.Aljabar Himpunan semua x∈I. [Petunjuk : Jika c1 < c2 titik-titik dimana h mencapai supremumnya.p∈Z.] 14.b] dan f : I → R kontinu pada I.1] → R suatu fungsi kontinu yang tidak memuat sebarang dari nilainilainya dua kali dan dengan f(0) < f(1). 13. (Dari sini f adalah fungsi invers untuk dirinya sendiri!) Tunjukkan bahwa f kontinu hanya pada x = ½. minimum mutlak] pada suatu titik interior c dari I.2]. x > 0. Apakah f dan f-1 kontinu pada setiap titik? 12. Misalkan I = [a. dan f(x) = x + 1 untuk x∈(1.1]. 11. maka (x1/n)m = (x1/q)p.

Robert G. DAFTAR PUSTAKA Bartle. New York : John Wiley & Sons. Second edition. Inc. Introductions to Real Analysis.Pendahuluan 11. Analisis Real I 201 . 1992.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful