Pragmatik October 30th, 2009 • Related • Filed Under Pragmatik itu sendiri menurut Leech (1983:x) adalah studi

tentang makna ujaran di dalam situasi-situasi tertentu. Lebih lanjut ia juga menyatakan bahwa pragmatik merupakan kajian mengenai makna di dalam hubungannya dengan situasi ujar. Dari pengertian ini terlihat bahwa kedua batasan tersebut mengeksplisitkan makna, yang kemudian di dalam pragmatik disebut maksud. Lebih lanjut lagi, Gunarwan menyebutkan salah satu definisi pragmatik, yaitu kajian mengenai kemampuan pengguna bahasa untuk menyesuaikan kalimat dengan konteks sehingga kalimat itu patut diujarkan (dalam Rustono, 1999:2). Jadi pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa, atau maksud di balik suatu tuturan. Penggunaan bahasa yang tepat harus diperoleh seorang anak karena kemampuan berbahasa yang baik tidak hanya terletak pada kepatuhan terhadap aturan gramatikal tetapi juga pada aturan pragmatik. Menurut Ninio dan Snow (dalam Dardjowidjojo, 2000:43-48), mau tidak mau seorang anak mengembangkan pengetahuan yang diperlukan agar dalam situasi komunikasi bahasa yang dia pakai itu pantas, efektif, dan sekaligus mengikuti aturan gramatikal. Lebih lanjut mereka juga menyatakan bahwa untuk menelusuri kemampuan pragmatik seorang anak, paling tidak ada tiga hal yang perlu dipelajari, yaitu: 1. Pemerolehan niat komunikatif Ninio dan Snow mendapati bahwa dalam mewujudkan niat komunikatif secara verbal, terdapat urutan yang dilandaskan pada berbagai kepentingan pragmatik seperti: a. Kepentingan ujaran: bertitik tolak pada sudut pandang anak sehingga jenis ujaran yang muncul juga mencerminkan kepentingan tersebut. 3 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com PEMEROLEHAN PRAGMATIK PADA AMELIA GITA SWASTIKA Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa selain memperoleh aturan tata bahasa atau memiliki kompetensi linguistik, anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu menggunakan bahasa secara sosial dengan tepat, atau memiliki kemampuan komunikatif. Karena anak juga terlibat dalam dunia sosial maka ia harus berhubungan dengan anak-anak maupun orang dewasa lainnya. Anak harus menguasai berbagai aturan sosial termasuk mengucap salam, kata-kata tabu, bentuk panggilan yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda dengan orang yang berbeda. A. Tindak Ujaran dan Dampak Ilokusioner Menurut Dardjowidjojo (2000:277), salah satu bentuk

yang umum dipelajari dalam analisis kemampuan pragmatik adalah dengan menganalisis percakapan yang dibuat seorang anak dengan orang dewasa atau anak lain. Dalam penguasaan ujaran yang termasuk dalam PSA, tujuan ilokusioner dari tindak ujaran seperti [bude nda? punya pərmεn]? Bisa memiliki kemungkinan makna seperti: 1. Perintah: Bude, Amel minta permen. 2. Pertanyaan: Apakah bude punya permen? Untuk tindak ujar meminta tolong, penulis tidak menemukan ujaran yang menggunakan kata ”tolong”. Sedangkan untuk ucapan terima kasih, Amel sudah terbiasa menggunakannya. Misalnya pada percakapan berikut: NN: Me, ini buat kamu. Nanti bilang dari bude Rum ya? AM: [ya. makasih ya]. 9 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com Definisi Pragmatik Seorang filosof dan ahli logika Carnap (1938) menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak. Pragmatik mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda. Selanjutnya Montague mengatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai „idexical“ atau „deictic“. Dalam pengertian ini pragmatik berkaitan dengan teori rujukan atau deiksis, yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakaiannya. Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian linguistik, bidang yang merupakan penelitian bagi para ahli bahasa. Pragmatik yang dimaksud sebagai bahan pengajaran bahasa atau yang disebut fungsi komunikatif, biasanya disajikan dalam ajaran bahsa asing. Levinson (1983) dalam bukunya yang berjudul Pragmatics, memberikan beberapa batasan tentang pragmatik. Beberapa batasan yang dikemukakan Levinson antara lain mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Dalam batasan ini berarti untuk memahami pemakaian bahasa kita dituntut memahami pula konteks yang mewadahi pemakaian bahasa tersebut. Batasan lain yang dikemukakan Levinson mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu. Leech (1983:6(dalam Gunawan 2004:2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam bidang linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini disebut semantisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik dan komplementarisme atau

melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. Pragmatik dibedakan menjadi dua hal: 1. Pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu pragmatik sebagai bidang kajian linguistik dan pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa. 2. Pragmatik sebagai sesuatu yang mewarnai tindakan mengajar. Pragmatik pada dasarnya memperhatikan aspek-aspek proses komunikatif (Noss dan Llamzon, 1986). Menurut Noss dan Llamzon, dalam kajian pragmatik ada empat unsur pokok, yaitu hubungan antar peran, latar peristiwa, topik dan medium yang digunakan. Pragmatik mengarah kepada kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi yang menghendaki adanya penyesuaian bentuk (bahasa) atau ragam bahasa dengan faktor-faktor penentu tindak komunikatif. Faktor-faktor tersebut yaitu siapa yang berbahasa, dengan siapa, untuk tujuan apa, dalam situasi apa, dalam konteks apa, jalur yang mana, media apa dan dalam peristiwa apa sehingga dapat disimpulkan bahwa pragmatik pada hakekatnya mengarah pada perwujudan kemampuan pemakai bahasa untuk menggunakan bahasanya sesuai dengan faktor-faktor penentu dalam tindak komunikatif dan memperhatikan prinsip penggunaan bahasa secara tepat. Konsep-konsep yang berhubungan dengan pragmatik antara lain adalah tindak bahasa, implikatur percakapan, praaggapan dan deiksis. Dalam kamus bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2005 disebutkan bahwa pragmatik adalah yang berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996;3) menyebutkan 4 definsi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melabihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau ter komunikasikan oleh pembicara, dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995;2) menyebut adanya kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian yaitu, pertama dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara. Kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif,

menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran. Selanjutnya Thomas (1995:22) dengan

Katz dan Postal. Kemudian pada tahun 1971 lakoff dan lain.lainnya berargumentasi bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari studi penggunaan bahasa. Katz. Sikap ini berubah ketika pada akhir tahun 1950an Chomsky menemukan titik pusat sintaksis. Masuknya pragmatik dalam linguistik merupakan tahap akhir dalam gelombang ekspansi linguistik. Berikut akan dipaparkan sejarah dan latar belakang pemunculan pragmatik serta perbedaan antara pandangan pragmatik dan pandangan structural 2.2 Pragmatik sebagai bahan pengajaran linguistik Bidang linguistik yang disebut „pragmatik“ dalam linguistik Amerika merupakan bidang baru. ini tahap perkembangan jalur utama aliran linguistik di belahan Amerika. Sejak saat itu pragmatik masuk dalam peta linguistik. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran. Tetapi. sosial.2.sungguh. Padahal dahulu pragmatik dianggap tidak penting. Pada 1940-an di belahan Eropa sudah berkembang kegiatan mengkaji bahasa dengan mempertimbangkan makna dan situasi (aliran praha. Ia sebenarnya mengolah kembali pemikiran para filsuf pendahulunya seperti Locke dan Peirce mengenai semiotik (ilmu tanda dan lambang). dan tidak lama kemudian semangat “California atau bust” membuat pragmatik masih mencakup.1 Sejarah dan Latar Belakang Saat ini topik pragmatik sangat dikenal dalam linguistik. Namun sebagai seorang struktualis ia masih menganggap makna terlalu rumit untuk dipikirkan dengan sungguh. dari sebuah ilmu sempit yang mengurusi data fisik bahasa. Oleh Morris semiotik . 1964. 2. 1963. aliran firth) dan pada tahun 1960-an Halliday megembangkan teori sosial mengenai bahasa. Munculnya istilah pragmatik dapat dihubungkan dengan seorang filsuf yang bernama Charles Morris (1938). Pada permulaan tahun 1960 Katz dan kawankawannya (Katz dan Fodor. 1964) mulai menemukan cara memasukkan makna ke dalam teori linguistik formal.mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. makna dalam konteks. menjadi suatu disiplin ilmu yang luas yang meliputi bentuk. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makan dalam interaksi.

Teori mereka mengenai tindak ujaran mempengaruhi perubahan linguistik dari pengkajian bentukbentuk bahasa (yang sudah mapan dan merata pada tahun 1950-1960-an) ke arah fungsi-fungsi bahasa dan pemakaiannya dalam komunikasi.murid Chomsky tidak puas dan menemukan bahwa betapa sulitnya memisahkan makna dari konteksnya. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. Namun ketika Chomsky mulai menerima sinonim sebagai salah satu data linguisti dasariah. Bila dibandingkan dengan munculnya istilah pragmatik (1938) kita tampaknya jauh ketinggalan dari mereka. dan (4) tradisi etnometodologi. dan pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dengan penafsir. Para strukturalis Amerika yakin sekali bahwa linguistik adalah termasuk ilmu eksakta dan karena itu berusaha keras agar masalah dibuang dari bidang ini. . dan pragmatik. Mey (1998).dibagi menjadi tiga cabang : sintaksis. Perubahan linguistik di Amerika pada tahun 1970-an diilhami oleh karya filsuf-filsuf seperti : Austi (1962) dan Searle (1969).2. Tanda-tanda yang dimaksud di sini adalah tanda bahasa bukan tanda yang lain. Sintaksis mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda. yang melimpahkan banyak perhatian pada bahasa. Kemudian murid. (2) kecenderungan sosial-kritis. ia telah membuka dasar ilmu semantik. semantik. 2. Akibatnya iakah semantik masuk dalam pragmatik. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5).2 Perkembangan Pragmatik Jangkauan linguistik yang semakin luas menyebabkan berubahnya pandangan mengenai hakikat bahasa dan mengenai batasan linguistik. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. karena makna itu berbeda dari konteks yang satu dengan yang lainnya. Yang penting adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan pragmatik dalam hubungannya dengan kajian bahasa. Di Indonesia konsep pragmatik baru diperkenalkan pertama kali dalam kurikulum bidang studi Bahasa Indonesia (Kurikulum 1984) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. semantik mempelajari hubungan antara tanda dengan obyek. (3) tradisi filsafat.

Ludwig Wittgenstein dan terutam John L. Kecenderungan kedua. Dengan kata lain. keapikan sintaksis (Wellformednes) bukanlah segalanya. Menurut Lakoff dan Ross. demikian juga dengan predikatnya. Searle. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dan bagian-bagian tersebut masih dapat dipotong-potong lebih lanjut dan diteruskan sampai pada bagian yang paling kecil. dan bahwa fonologi. adalah tradisi filsafat. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). yang tumbuh di Eropa. Jerman. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. Contoh kalimat: Könnten Sie mir helfen? . Tradisi yang keiga dipelopori oleh Bertrand Russell. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Sebab seperti yang sering kita jumpai komunikasi tetap berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak baik secara sintaksis (ill.formed). tepatnya di Britania. Bagian yang berupa subyek dapat dipotong-potong lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.3 Pandangan struktural dan pandangan pragmatic Dalam analisis struktural yang dibahas adalah bentuk. dan semantik bersifat periferal. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. 2. Suatu kalimat dianalisis dengan mengamati yang mana subyek dan predikat dalam kalimat tersebut. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. Dalam etnometodologi. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. Dalam analisis struktural konteks pemakaian kalimat tidak ikut diperhitungkan. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa misalnya Searle dan Grice dalam pragmati lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. termasuk penggunaannya dalam kaitannya dengan logika/ Leech (1983: 2). bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. morfologi.2. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. Austin dan John R.Kecenderungan yang pertama. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis.

sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. Lebih tepatnya. Makna yang sama dapat juga diutarakan dengan konstruksi imperatif sehingga menjadi kalimat berikut ini. kalimat Könnten Sie mir helfen? Merupakan kalimat interogatif. sehingga dalam analisis pragmatik dibahas tentang hal-hal sebagai berikut: 1. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang . meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. Secara umum. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Dari segi fungsinya kalimat tersebut bermakna perintah (secara tidak langsung). Dalam kehidupan sehari-hari. suatu satuan lingual (dapat dipakai untuk mengungkapkan sejumlah fungsi di dalam komunikasi) 2. Helfen Sie mir! Tentu saja konteksnya menjadi lain pula. Dengan mengamati kapan suatu perintah dibahasakan dengan konstruksi imperatif dan kapan perintah itu dibahasakan dengan konstruksi interogatif. suatu fungsi komunikatif tertentu dapat diungkapkan dengan sejumlah satuan lingual 2. Konteks menjadi patokan utama dalam analisis pragmatik. tetapi dari segi fungsinya kalimat tersebut tidak dimaksudkan untuk menanyakan tentang kemampuan (bisa tidaknya) orang yang diajak bicara. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). Dalam sintaksis. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis.2. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. maka akan terlihat perbedaan yang berhubungan dengan siapa dan kepada siapa kalimat tersebut diucapkan.Dilihat dari segi bentuknya. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis.4 Pragmatik dalam Linguistik Seperti uraikan sebelumnya. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat.

Dengan demikian. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Kegunaan pragmatik. untuk dapat dinyatakan benar. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. misalnya.mereka ujarkan. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. Dengan demikian. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya . dan kedua. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. makna apa yang dituturkan. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. Atas dasar ini. pertama. dan memang sering kita temukan. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. bagaimana memahami implikatur percakapan. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Dengan kata lain. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. dapat dipahami. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. Namun demikian. Berdasarkan truth conditional semantics. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. dan maksud dari tuturan. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. selain tata bahasa. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. dalam analisis bahasa. di samping sintaksis dan semantik. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. pertama. Selanjutnya.

yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik.ac. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). Selanjutnya. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). karena selain benar. dalam arti praktis. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik.id/2009/10/programatik/ 13 maret 2012 . absolut atau bersifat mutlak.(force) pragmatiknya. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. dapat bertentangan dengan prinsip lain. terdapat keterkaitan. bahasa yang digunakan harus baik. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Kaidah bersifat deskriptif. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Dengan kata lain.gunadarma. makna dalam interaksi (meaning in interaction). Dalam pengajaran bahasa Indonesia. sebab daya mencakup juga makna. Tentang perbedaan yang pertama. Secara umum. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. misalnya. Lebih jauh lagi. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. Dalam pengajaran bahasa asing. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. dan kedua. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. dalam pengajaran bahasa. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. pragmat http://wartawarga. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik.

orang minta izin ke belakang untuk keperluan sesuatu. seperti pergi ke toilet atau tempat lainnya. Biasanya. ia berkata kepada gurunya. Sementara itu semantik menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara. sehingga tidak mungkin ia minta izin untuk ke belakang lagi (kita gunakan logika).” Kata yang dicetak miring itu „belakang‟ secara semantik berarti lawan dari depan. sekarang kita kaji dengan menggunakan pragmatik. Akan tetapi. Dewi duduk di deretan kursi belakang. “Pak. Contoh: Di sebuah ruang kelas. Pengenalan Semantik Menurut Katz (1971:3) semantik adalah studi tentang makna bahasa. di mana dalam pragmatik ini dilibatkan yang namanya “konteks”. Lalu. berarti kalau dikaji secara semantik. Nah. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik. Nah.Semantik Bahasa Indonesia 30 Maret 2011 (SEBUAH RANGKUMAN & CATATAN PERKULIAHAN) A. Untuk membedakannya. kalau yang ini masuk akal kan? . Secara singkat. Dewi hendak ke belakang. Akan tetapi. Perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik: 1. kalau kita lihat konteksnya. ada juga pragmatik. ternyata ilmu yang mempelajari atau mengkaji makna ini tidak hanya semantik. Tentu saja tidak mungkin makna „belakang‟ yang diartikan secara semantik yang dimaksud Dewi. berikut ini ada beberapa poin yang mudah untuk diingat dan dapat dengan jelas membedakan semantik dengan pragmatik. Konteksnya apa? Konteksnya yaitu keadaan Dewi yang sudah duduk di belakang. Dewi sudah duduk di deretan paling belakang. maaf saya mau ke belakang. semantik ini mengkaji tata makna secara formal (bentuk) yang tidak dikaitkan dengan konteks.

Selain itu. bagaimana keadaan si pembicara. sedangkan pragmatik bersifat terikat dengan konteks (dependent context). Dan setiap orang pasti mempunyai makna sendiri sesuai dengan konteks yang dipandangnya. 5. Hal ini dapat dijelaskan pada contoh soal poin ke-1.Jadi. ketika kata „belakang‟ dikaji dengan pragmatik. kapan. kajian makna dalam semantik lebih objektif daripada pragmatik. 3. dan konteks. ia tidak memperhatikan konteksnya bagaimana (independent context). 2. 4. Sifat kajian dalam semantik adalah diadic relation (hubungan dua arah). Jadi. konteks siapa yang berbicara. Kajian makna pragmatik dapat dikatakan lebih subjektif. makna. sedangkan pragmatik bersifat non-konvensional. di mana. karena hanya memperhatikan makna tersebut sesuai dengan makna yang terdapat dalam leksemnya. Semantik bersifat konvensional. Dalam pragmatik. Pada contoh tersebut. karena terpaku pada makna kata secara leksikal (tanpa konteks). hanya melibatkan bentuk dan makna. sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Semantik merupakan bidang yang bersifat bebas konteks (independent context). Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik berada di luar jangkauan semantik. Semantik diatur oleh kaidah kebahasaan (tatabahasa). kepada siapa orang itu berbicara. ketika makna kata „belakang‟ dikaji secara semantik. Namun. karena mengandung konteks/memperhatikan konteks. sedangkan pemaknaan pragmatik lebih lentur karena tidak mutlak bermakna “itu”. pemaknaan semantik itu ketat. . yaitu melibatkan bentuk. pragmatik juga dimotivasi oleh tujuan komunikasi. makna kata „belakang‟ dalam kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik. dan apa tujuannya ini sangat diperhatikan. sedangkan pragmatik dikendalikan oleh prinsip komunikasi. objek kajiannya adalah tuturan (utterance) atau maksud. 6. ia hanya dikaji berdasarkan makna yang terdapat dalam kamus. Selain itu. sehingga semantik ini sering disebut makna kalimat. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tatabahasa atau menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan. Salah satu objek kajian semantik adalah kalimat. Sifat kajian dalam pragmatik adalah triadic relation (hubungan tiga arah). hanya bisa dijelaskan secara pragmatik.

Contoh: “Kawan. tidak cukup sekali minum. tidak lagi bersifat individu. Sedangkan pragmatik bersifat interpersonal. kalimat). • Dikaji dari segi pragmatik. Representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan interpretasi pragmatiknya. karena sudah menggunakan konteks. Semantik bersifat formal (dengan memfokuskan bentuk: fonem. maksudnya yaitu makna yang dikaji dapat dipahami/ditafsirkan oleh orang banyak. kata “minum-minum” berarti melakukan kegiatan „minum air‟ berulangulang. habis makan-makan kita minum-minum yuk…” • Dikaji dari semantik. 8. maksudnya yaitu makna yang ditangkap masih bersifat individu dan masih berupa ide. karena belum dipergunakan dalam berkomunikasi. kata “minum-minum” berarti meminum minuman keras (alkohol). klausa. morfem.7. kata. sedangkan pragmatik bersifat fungsional. Semantik bersifat ideasional. . 9.

Jenis semantik ini mengkaji satuan-satuan gramatikal yang terdiri atas sintaksis dan morfologi. .B. maka jenis semantik ini disebut SEMANTIK GRAMATIKAL. misalnya dengan afiksasi menjadi „bersepatu‟. Konteks morfologi: Kata „sepatu‟ akan memiliki makna yang berbeda setelah mengalami proses morfologis. Konteks sintaksis: Di kebun binatang ada enam ekor beruang. Jenis Semantik Penjelasan gambar di atas: • Kalau objek kajian semantiknya adalah makna-makna gramatikal.

• Pada fonologi tidak ada semantiknya. dan bahkan belum menikah. Perbedaan makna „beruang‟ pada kalimat pertama dan kedua itu terjadi karena adanya perbedaan konteks kalimat yang dimasuki kata-kata tersebut. beda makna. Kaidah Umum Semantik 1. • Dikatakan SEMANTIK WACANA kalau objek kajiannya adalah wacana.) Contoh diakronik adalah kata „bapak‟. sehingga maknanya bersifat tetap. Contoh: kata „kursi‟ dengan media (yang sekarang kita ketahui wujudnya dan dinamakan kursi) itu tidak bersifat mutlak. dsb. tetapi arbitrer. belum tua. sehingga maknanya relatif berubah. atau dengan kata lain fonologi tidak termasuk dalam jenis-jenis semantik karena fonologi hanya mampu membedakan makna kata dengan perbedaan bunyi. misalnya „Bapak guru‟. maka jenis semantiknya dinamakan SEMANTIK LEKSIKAL. Kajian waktunya ada yang sinkronik (melihat makna dalam kurun waktu tertentu. Tugas jenis semantik ini adalah mengkaji makna wacana. kata „bapak‟ digunakan pada seorang laki-laki yang mempunyai hubungan darah (dengan anaknya). Hubungan antara leksem dengan acuannya bersifat arbitrer. Kajian semantik leksikal ini adalah makna utuh yang terdapat pada masing-masing leksikon tanpa terpengaruh proses apapun (proses morfologi maupun sintaksis). Pemaknaan suatu wacana tidak terlepas dari pola berpikir yang runtut dan logis. tidak mengalami perubahan baik dulu maupun sekarang) dan diakronik (melihat makna dalm kurun waktu panjang. Tidak ada alasan kenapa media tersebut dinamakan „kursi‟. • Kalau objek kajian semantiknya leksikon (kosa kata) dari suatu bahasa. C. . Beda bentuk. „Bapak walikota‟.- Hanya orang yang beruang yang dapat membeli rumah itu. „Bapak camat‟. sedangkan sekarang kata „bapak‟ dapat digunakan pada seseorang yang tidak mempunyai hubungan darah sekalipun. 2. Dahulu. 3.

Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri. Contoh: Kata „pipis‟. setelah keduanya mendapatkan proses morfologis.+ -an‟.Contoh kata „bisa‟ dan „dapat‟. Contoh: Kereta Kereta api Kereta api ekspres Bandingkan makna kata „kereta‟ dengan makna yang terkandung dalam „kereta api ekspres‟. sehingga bentuknya menjadi „pembisaan‟ dan „pendapatan‟. kata „kereta‟ lebih simpel daripada „kereta api ekspres‟. tetapi dalam Bahasa Bali kata tersebut berati „uang jajan‟. 6. sedangkan dalam Bahasa Indonesia berarti „katak‟. tetapi bagi masyarakat Sunda kata tersebut berati vagina. 5. di mana arti keduanya bersinonim. tetapi bagi masyarakat di Kalimantan dapat berarti „nama kemaluan pria‟. Akan tetapi secara . dalam Bahasa Sunda kata tersebut berarti „air kencing‟. bagi masyarakat Indonesia (umum) kata tersebut berati „perlu‟. Jelas sekali kata „dapat‟ yang diberi proses morfologis itu lebih berterima daripada kata „bisa‟ setelah mendapat proses morfologis. Luasnya bentuk ≠ luasnya makna Secara bentuk. Satu contoh lagi yaitu kata „butuh‟. bagi orang Islam kata „anjing‟ dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bernajis. Contoh kata „anjing‟. tetapi bagi orang Kristen dapat dimaknai sebagai hewan yang lucu dan menggemaskan. 4. Contoh lainnya yaitu „kodok‟. misalkan afiksasi „peN. Makna berkaitan dengan pandangan hidup/budayanya. Contoh lainnya yaitu kata „momok‟. Akan tetapi. begitu sebaliknya. Pada poin ini berkaitan dengan tabu atau tidaknya penggunaan kata tersebut di suatu masyarakat. Secara bentuk. semakin lebar (kata-kata yang digunakan) maka semakin sempit maknanya. bagi masyarakat Indonesia (umum) kata tersebut berarti sesuatu yang menakutkan. dalam Bahasa Sunda berarti „mengambil sesuatu dari sebuah lubang yang dalam‟.

D. „kepala masinis‟. „kepala sekolah‟. Contoh lain misalnya „kepala‟. Penyebutan sifat khas. contoh „si kerdil‟ karena anak tersebut tetap berbadan kecil. contoh „Aqua‟ dan „kodak‟. 3. di mana letak kepala selalu berada di atas. 7. 4. contoh “Ibu membeli empat ekor ayam” yang dimaksud kalimat tersebut pastilah bukan hanya ekor ayamnya saja yang dibeli ibu. Tempat asal. “Pak. „kaki kursi‟. 6. Penamaan sesuatu berdasarkan peniruan bunyinya disebut ONOMATOPE. dan „kepala surat‟. hal yang sama dari empat contoh tersebut adalah letaknya. contoh nama karung „goni‟ karena bahan karung tersebut dari goni. Peniruan bunyi. contohnya „tokek‟ disebut demikian karena bunyi hewan tersebut adalah „tokek-tokek‟. beli Aqua satu botol. dan „kaki meja‟. perhatikan contoh „kaki‟. Penemu dan pembuat. Ada juga nama piagam atau perjanjian-perjanjian besar seperti „Piagam Jakarta‟ karena tempatnya di Jakarta. pasti kita akan berkata. makna „kereta‟ masih terlalu luas. tetapi ayam secara keseluruhan. „kepala surat‟ selalu diletakkan di bagian atas kan? ^_^ . 5. kalau kita mau membeli air minum dalma kemasan. Penyebutan bagian. ikan „sarden‟ berasal dari Pulau Sardinia di Italia. di mana letak kaki selalu ada di bawah. dan „bambu runcing‟ karena benda tersebut terbuat dari bambu dan ujungnya runcing. nama burung „kenari‟ diambil dari asal burung itu berada yaitu Pulau Kenari di Afrika. 2. contoh kata „magnet‟ berasal dari nama tempat Magnesia. „Perjanjian Linggarjati‟ karena pelaksanaan perjanjian tersebut di Linggarjati. atau kereta apa? Sedangkan makna „kereta api ekspres‟ sudah jelas berarti kereta api khusus yang lajunya lebih cepat dan fasilitas serta pelayanannya lebih baik daripada kereta api ekonomi. Penamaan dalam Semantik Penamaan dalam semantik ini ada 8 penyebab yaitu: 1. apakah yang dimaksudkan itu kereta api atau kereta uap.” Padahal di toko tersebut tidak ada air minum kemasan bermerek Aqua. Bahan. tidak tumbuh menjadi besar. Keserupaan.makna. Demikian juga dengan „Kodak‟ yang merupakan nama merek sebuah kamera. „kaki gunung‟. hal yang sama pada kata-kata tersebut yaitu letaknya.

dan maksud atau tujuan (intention). „cireng‟ merupakan kependekan dari „aci digoreng‟. Contoh lain yaitu „cireng‟ yang menjadi nama sebuah makanan ringan. E. Pemendekan. maka akan berbeda pula dengan maksud di penutur (hanya memberi tahu bahwa hari ini cuacanya panas). apabila orang yang diajak berbicara itu menanggapinya dengan hal lain seperti meminta minum. Contohnya yaitu “Hari ini panas”. Nada adalah sikap pembicara terhadap lawan bicaranya. contoh „UPI‟ menjadi nama sebuah universitas negeri di Bandung. . padahal namanya bukan UPI. Maksud adalah hal yang mendorong pembicara untuk mengungkapkan satuan-satuan bahasa. Aspek Makna Aspek makna dibedakan atas empat macam yaitu pengertian (sense). tetapi Universitas Pendidikan Indonesia. perasaan (feeling). Perasaan berkaitan dengan sikap pembicara terhadap apa yang sedang dibicarakan serta bagaimana situasi pembicaraan saat itu. Pengertian sense sama dengan tema. nada (tone).8.

bukan yang lainnya. umum. “Ani sekolah di Lampung”. muridnya. . makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apa pun. Jenis Makna Makna leksikal adalah makna yang terdapat pada kata tersebut secara utuh.F. bukan hanya gedung sekolahnya saja yang menang. makna kata „tikus‟ pada kalimat tersebut adalah „binatang tikus‟. tetapi sudah lebih luas yaitu Ani belajar di gedung yang namanya sekolah dan sekolah tersebut berada di Lampung. Contoh “Tikus itu mati diterkam kucing”. tetapi juga mencakup gurugurunya. sesuai dengan bawaannya. Makna generik adalah makna konseptual yang luas. yang mencakup beberapa makna konseptual yang khusus maupun umum. Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya. Contoh kata „sekolah‟ dalam kalimat “Sekolah kami menang”. hal ini sudah tidak dapat dikaitkan dengan makna konseptual sekolah. Bila kita berkata. dan warga sekolah lainnya.

Contoh pada kalimat “Pertandingan sepak bola itu berakhir dengan kemenangan Bandung”. ungkapan „membanting tulang‟ dalam kalimat tersebut tentu memiliki satu kesatuan makna yaitu „kerja keras‟. Idiom penuh adalah idiom yang unsurunsurnya secara keseluruhan merupakan satu-kesatuan dengan satu makna. yang dimaksud hanya beberapa orang yang bertanding saja. Contoh kata „bunglon‟ berasosiasi dengan makna „orang yang tidak berpendirian‟. Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama. Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom.Makna spesifik adalah makna konseptual yang khusus. minyak. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalam unsur-unsurnya masih terdapat unsur yang memilikii makna . sayur. Contoh lain yaitu bantal. bantal guling. bukan seluruh penduduk Bandung. dan sempit. makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. selimut. khas. Contoh “Orang tua itu membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan anaknya”. Contoh kata-kata ikan. tomat. Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar leksikalnya. Makna stilistika lebih dirasakan di dalam karya sastra. boneka. Makna stilistika berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama kepada pembaca. kata „lintah darat‟ berasosiasi dengan makna „orang yang suka memeras (pemeras) atau pemakan riba‟. garam. dan cabai tentunya akan muncul di lingkungan dapur. gurame. telur. Dalam Bahasa Indonesia ada dua macam idiom yaitu IDIOM PENUH dan IDIOM SEBAGIAN. Makna stilistika adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. seprei. Makna afektif adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atua pembaca terhadap penggunaan bahasa. dan lemari pakaian tentu akan muncul di lingkungan kamar tidur. Makna asosiatif disebut juga makna kiasan. bawang. Contoh “datanglah ke pondok buruk kami”. gadungan „pondok baru kami‟ mengandung makna afektif „merendahkan diri‟. kasur.

(2) Aminah!/anak Bapak Roni meninggal kemarin. makna dari kalimat tersebut bisa ada tiga yaitu: (1) Aminah/anak Bapak Roni/meninggal kemarin. kalimat (2) berarti sebuah informasi memberi tahu Aminah bahwa anak Bapak Roni yang entah siapa namanya telah meninggal kemarin.leksikal. PRINSIP KONTIGUITAS adalah prinsip yang menjelaskan bahwa beberapa kata dapat memiliki makna yang sama/mirip. „air mata‟. prinsip komplementasi. prinsip ini dapat menimbulkan relasi makna yang disebut SINONIMI. Prinsip relasi makna ada empat yaitu prinsip kontiguitas. Contoh “Aminah anak Bapak Roni meninggal dunia kemarin”. maupun penekanan pembicaraan. (3) Aminah/anak/Bapak/Roni/meninggal kemarin. dan kalimat (3) berarti ada emmpat orang yang meinggal kemarin yaitu Aminah. minta nasi!” yang berarti orang tersebut berada dalam situasi yang benar-benar lapar dan ia meminta nasi. „mata keranjang‟. anak. dan „mata duitan‟ maka maknanya akan berubah menjadi makna gramatikal. dan Roni. Bapak. Makna kalimat (1) adalah anak Bapak Roni yang bernama Aminah telah meninggal kemarin. fokus pembicaraan. PRINSIP KOMPLEMENTASI adalah prinsip yang menjelaskan bahwa makna kata yang satu berlawanan dengan makna kata yang . dan prinsip inklusi. Contoh “Saya lapar. Makna kontekstual muncul sebagai akibat adanya hubungan antara ujaran dengan situasi. prinsip overlaping. Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsiinya sebuah kata dalam suatu kalimat. tetapi setelah digabung dengan kata-kata lain menjadi „mata pisau‟. secara leksikal bermakna alat/indera yang berfungsi untuk melihat. „mata air‟. Relasi Makna Relasi makna adalah hubungan antara makna kata yang satu dengan makna kata yang lainnya. Contoh „daftar hitam‟ yang berarti „daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai atau dianggap bersalah‟. Contoh kata „mata‟. Makna tematikal adalah makna yang dikomunikasikan oleh pembicara/penulis melalui urutan kata-kata. Bu. G.

lainnya. Contoh sinonimi: • Pintar. cakap • Cantik. pandai. cerdas. prinsip ini dapat menimbulkan relasi makna yang disebut ANTONIMI. permai • Bunga. beta. bagus. prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut HIPONIMI. hamba Contoh antonimi: • Kuat >< dingin Contoh homonimi: a) Homonimi yang berhomograf dan berhomofon: • bisa = (1) sanggup/dapat. prinsip ini menimbulkan adanya relasi makna yang disebut HOMONIMI dan POLISEMI. PRINSIP INKLUSI adalah prinsip yang menjelaskan bahwa makna satu kata mencakup beberapa mekna kata lain. cerdik. indah. kembang. atau kata-kata yang sama bunyinya tetapi berbeda maknanya. bimbang • sanksi = hukuman. konsekuensi. (2) racun ular • buku = (1) media untuk menulis/membaca. saya. molek. PRINSIP OVERLAPING adalah prinsip yang menjelaskan bahwa satu kata memiliki makna yang berbeda. (2) bagian tekukan pada jari-jari b) Homonimi yang tidak berhomograf (homofon): • bang = bentuk singkat dari „abang‟ yang berarti kakak laki-laki • bank = lembaga yang mengurus lalu lintas uang • sangsi = ragu-ragu. puspa • Aku. akibat • sah = dilakukan menurut hukum • syah = raja • syarat = ketentuan • sarat = penuh .

c) Homonimi yang tidak berhomofon (homograf): • teras = pegawai utama • teras [tѐras] = halaman depan rumah. kepala sekolah) • mulut (sebagai jalan masuk dan letaknya selalu di depan. paham • tahu = nama makanan yang terbuat dari kedelai yang digiling halus contoh hiponimi: Hubungan antar hiponim (merah. contoh kepala suku. mulut harimau. lantai rumah tempat bersantai • apel = nama buah • apel [apѐl] = upacara resmi • tahu [tau] = mengerti. . kepala surat. Contoh polisemi: • kepala (karena selalu terletak di bagian atas/tertinggi posisinya. contoh mulut gua. kuniing hijau) disebut kohiponim.

Pengantar Semantik.wordpress.mulut gang.com/2011/03/30/semantik-bahasa-indonesia/ 13 maret 2012 . Mahmud. Sitaresmi. contoh bibir sungai) Referensi: Fasha. mulut botol) • bibir (terletak di tepian. Bandung: UPI PRESS http://robita. Nunung. 2011.

studi semantik bersifat komplementer yang berarti bahwa studi tentang penggunaan bahasa dilakukan baik sebagai bagian terpisah dari sistem formal bahasa maupun sebagai bagian yang melengkapinya. Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic). 1990: 11. 1990: 16). 1997: 7. dan petutur (Leech. 1983: 8). sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic). linguistic sense) secara internal. Sintaksis adalah kajian tentang hubungan formal antar tanda.Pragmatik dan Lingkupnya Istilah pragmatik sebagaimana kita kenal saat ini dapat ditelusuri melalui nama seorang filosof Charles Morris (1938) yang mengolah kembali pemikiran para filosof pendahulunya (Locke dan Pierce). semantik menelaah makna kata atau klausa tetapi makna yang bebas konteks (context-independent). penutur. the study of the relation of signs to interpreters“. sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna penutur (speaker meaning. 1987: 1. yaitu sintaksis (syntax). semantik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan objek tanda tersebut (designata). sedangkan dalam semantik. dan pragmatik (pragmatics). Dengan demikian. Wijana. Levinson (1985: 1) menyatakan bahwa “pragmatics. Bila dikaitkan dengan semantik. mengenai ilmu tanda atau semiotik (semiotics). sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Nababan. Meskipun semantik dan pragmatik sama-sama berurusan dengan makna. Leech (1983: 1) menyatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu. Purwo. Semantik adalah telaah makna kalimat (sentence). semantik (semantics). dan pragmatik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu (Levinson. Dikatakan oleh Morris bahwa semiotik memiliki tiga cabang kajian. namun keduanya memiliki perbedaan. 1985: 1. 1996: 5). makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan dalam bahasa tertentu terpisah dari situasi. speaker sense) yang bersifat eksternal (Wijana. Semantik sebagai salah satu cabang (linguistik mengkaji makna bahasa (linguistic meaning. Pada dasarnya. 1999: 6). makna dalam pragmatik diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa. Pengertian/pemahaman bahasa menunjuk pada fakta bahwa untuk mengerti suatu ungkapan/ . sedangkan pragmatik menelaah makna yang terikat konteks (context-independent) (Purwo.

Teori pragmatik -menekankan pada fungsi bahasa dalam komunikasi riil karena makna setiap kata akan sangat bergantung pada fungsi yang dimainkan oleh bahasa tersebut dalam komunikasi yang sedang berlangsung. 1985: 54) mendefinisikan pragmatik sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara bentuk linguistik dan konteks. Oleh karenanya sebuah tuturan bisa memiliki makna yang berbeda dari makna secara semantis. 1990: 14). Oller (dalam Yalden. “Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks ditatabahasakan atau yang dikodekan pada struktur bahasa.” (Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized. Teori pragmatik fungsional ini lebih cenderung bersifat sosial daripada psikologis. Secara logis aliran pragmatik juga melibatkan sintaksis. Dari definisi-definisi di atas terlihat bahwa pragmatik akan selalu berhubungan dengan penutur dan makna yang dipengaruhi oleh situasi. “Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar untuk mengartikan bahasa itu”. Hal itu berarti bahwa makna dalam pragmatik bersifat eksternal karena dipengaruhi oleh konteks. 2. 1996: 2) menyatakan “Pragmatics is distinct from grammar. Sebagai konklusi Purwo (1990: 16) menyatakan bahwa pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. suatu bentuk linguistik tertentu yang berhubungan dengan setting paralinguistik yang sering disebut sebagai cash-value dari suatu kata tertentu. or encoded in the structure of a language) (Levinson. (Pragmatics is the study of the relations between . Berkait dengan pengertian pragmatik di antaranya ada rumusan-rumusan lain sebagai berikut : 1. Cash-value ditentukan oleh aturanaturan kebahasaan sehubungan dengan konteks paralinguistik yang berlaku yang bisa memberi arah bagi penutur untuk menggunakan suatu istilah tertentu. sedangkan makna dalam semantik bersifat internal. which is the study of languange use to communicate. kepada siapa. tempat. dan waktu diujarkannya suatu kalimat. yakni hubungan dengan konteksnya. anggapan-anggapan mengenai yang terlibat dalam tindakan mengutarakan kalimat (Purwo. Terjadinya perbedaan makna tersebut disebabkan oleh konteks yang digunakan. Sementara Parker (dalam Wijana. 1985: 9).ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya. Konteks yang dimaksud adalah ihwal siapa yang mengatakan.

menteri dengan presiden.” (Pragmatics is the study of the ability of langunge users to pair sentences with the contexts in which they would be appropriate) (Levinson. sarkastik. Kedua. seperti di ruang kelas. atau istilahnya adalah deixis. 2002: 2). Ketiga. (Levinson. Kalimat ini susah untuk diinterpretasi sebab kita tidak tahu kapan kalimat tersebut ditulis. menjelaskan.language and contexts that are basic to an account of language understanding). marah. menjawab. politik. Kelima. dan melalui telegram (dalam Nurkamto. seperti pendidikan. 1985: 54-55)yang kita baca dari tempelan yang ada di sebuah pintu kantor seseorang: I’ll be back in an hour. Sedangkan menurut Levinson (1985: 54) konteks di mana ujaran diproduksi. sehingga kita pun tidak tahu kapan ia bakal kembali. di pasar. dan anak dengan orang tua. seperti tatap muka. 1985: 21). melalui surat. Pertama. seperti humor. 1985: 24). nada (key). stasiun. merupakan hal yang juga menjadi perhatian di dalam pragmatik. seperti dokter dengan pasien. ironi. pengguna bahasa (participants). media/saluran (channel). melalui telepon. memuji. Dari sinilah sebenarnya terpahami bahwa ujaran yang kita . dan menyuruh. dan warung kopi. kebudayaan. melalui e-mail. Kita tidak tahu siapa yang bakal ditemui. dan lemah lembut. Keenam. penjual dengan pembeli. Definisi-definisi di atas menunjukkan bahwa yang menjadi fokus pragmatik adalah hubungan antara bahasa dan konteks. atau seberapa besar tongkat yang harus kita bawa. tempat dan waktu (setting). “Pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai sehingga kalimat-kalimat tersebut dapat dimaknai. masjid. di mana atau kapan bakal kita temui. Ia lalu memberikan contoh kalimat lainnya yang misalnya kita peroleh dari dalam sebuah botol yang terapung di laut: Meet me here a week from now with a stick about this big. Kalimat tersebut bakal susah diinterpretasikan sebab informasi yang ada tidaklah mencukupi. dosen dengan mahasiswa. Keempat. dan olah raga. topik pembicaraan (content). Konteks menurut Hymes meliputi enam dimensi. Ia memberikan contoh sebuah kalimat (Levinson. bahasa. tujuan (purpose). 3. seperti bertanya.

social deixis yang merujuk kepada aspek-aspek ujaran yang terikat pada beberapa realitas situasi sosial menurut terjadinya ujaran. time deixis yang merujuk pada perbedaan antara saat pengujaran (moment of utterance) yang disebut juga dengan coding time (CT) dengan saat penerimaan suatu ujaran (moment of reception) atau juga diistilahkan dengan receiving time (RT). 1985: 101-102). Levinson kemudian menjabarkan macam-macam deixis berdasarkan rujukannya atas tulisan Bühler. yaitu: . Macam-macam deixis tersebut adalah: 1.temui sehari-hari terikat kuat dengan aspek-aspek konteks ujaran. 4. person deixis yang merujuk pada pemilihan pronomina yang bergantung pada konteks ujaran. 2. 5. dan Lyons (1985: 61). 1985: 97-100). Alasan ketiga adalah bahwa implicature berkait dengan simplifikasi substansial berkait dengan baik struktur ujaran maupun konten deskripsi-deskripsi semantis. Implicature menempati posisi penting di dalam kajian pragmatik disebabkan oleh empat alasan (Levinson. Fillmore. Kemudian Levinson juga memaparkan lingkup pragmatik lainnya yaitu implicature. Frei. Grice mengajukan lima prinsip penggunaan bahasa. Implicature secara istilah adalah suatu teori tentang bagaimana manusia menggunakan bahasa (Levinson. discourse deixis merujuk kepada penggunaan ungkapan yang mengikut pada konteks wacana sebelumnya. Konsep implicature sendiri merupakan konsep yang diusulkan oleh Herbert Paul Grice. Alasan pertama adalah konsep implicature dapat menjelaskan fungsi makna dari fenomena linguistik bahwa penyusunan ujaran terkait dengan interaksi antarmanusia. 3. place deixis atau space deixis merujuk pada kekhasan tempat yang menyebabkan perbedaan ujaran. Alasan kedua adalah bahwa implicature dapat menjelaskan interpretasi sebuah ajaran lebih daripada yang sebenarnya „dikatakan‟. Alasan terakhir adalah konsep implicature menjadi penting di dalam beraneka rupa fakta mendasar mengenai bagaimana bahasa seharusnya diletakkan.

1987.J. . The maxim of Manner. Proyek Pengembangan Tenaga Kependidikan. speech acts (tindak tutur) yang diperkenalkan oleh John Langshaw Austin lalu kemudian dipermak oleh John Rogers Searle. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). (ii) jangan memberikan kontribusi yang melebihi kerangka kebutuhan informasi yang dibutuhkan di dalam komunikasi tersebut. 1983. serta secara khusus: (i) hindari obscurity (ketidakjelasan atau kesulitdimengertii). 5. Stephen C. London: Longman Group UK. 3. The maxim of Quality. agar komunikasi berjalan baik maka: (i) jangan katakan apa yang diyakini salah.1. maka kontribusi yang memadai diperlukan. Meskipun demikian. Limited. The maxim of Quantity. 4. The co-operative principle. (i) kontribusi yang diberikan partisipan haruslah informatif dalam kerangka ketepatan komunikasi. sebab penggunaan bahasa atau komunikasi adalah proses yang bukan satu arah. DAFTAR PUSTAKA Leech. 1985. P. Konsep yang diusulkan oleh Grice sendiri mengalami kesulitan di dalam praktiknya karena tidak semua percakapan mengandung semua prinsip yang ia kemukakan. Nababan. Partisipan harus saling berkerjasama di dalam percakapan. The Principle of Pragmatics. (iv) be orderly (runtut). dan conversation analysis. Geoffrey. Meskipun konsep tersebut dapat dikatakan berhasil digambarkan dalam film The Invention of Lying (2009). Hal lainnya yang juga menjadi objek kajian pragmatik adalah presupposition (persangkakiraan).W. Jakarta: Depdikbud. (ii) jangan katakan hal yang tidak mempunyai kecukupan bukti. The maxim of Relevance. 2. (iii) be brief (tidak usah bertele-tele). (ii) hindari ambiguity (ambiguitas). Levinson. sumbangsih Grice mengenai konsep ideal dari percakapan merupakan bahan kajian yang menarik di dalam pragmatik. berikan kontribusi yang relevan. berikan kontribusi ujaran yang jelas dan dapat dipahami.

blog. I Dewa Putu. Paris K. 2009. 1996.Nurkamto. Bambang K. Yogyakarta: Kanisius. Semantik dan Pragmatik. Joko. and Implementation. Yalden. Design. dan Pragmatik. Linguistik. United States: Warner Bros.com/2011/04/11/pragmatik-dan-lingkupnya/ 13 maret 2012 . The Communicative Syllabus Evolution. et al (Produser). 1997. The Invention of Lying. 1990. Ricky Gervais (Sutradara). Latsis. 1985. Sosiolinguistik. 1999. ________. Purwo. http://dipanugraha. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Makalah Seminar Nasional Semantik I. Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret. Pragmatik. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Makalah Temu Ilmiah Bahasa dan Sastra 26-27 Maret. & Matthew Robinson (Sutradara). ________. Dasar-dasar Pragmatik. 2002. Janice. New York: Pergamon Press. Yogyakarta: Andi. Pictures. Wijana.

dan wacana. terdapat dua cabang yang menjadikan makna satuan bahasa sebagai objek kajiannya. sehingga tidak lagi bermakna “baik” atau “tidak buruk”. Fonologi merupakan cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk bunyi bahasa. Morfologi merupakan cabang linguistik yang mengkajiseluk-beluk morfem dan penggabungannya. PS saja. Sedangkan pragmatic merupakan cabang linguistik yang mengkaji struktur bahasa secara eksternal. . Pd. klausa. Sedangkan pragmatik mengkaji makna-makna satuan lingual secara eksternal. yakni penggunaan satuan kebahasaan dalam komunikasi. Sedangkan pada kalimat (2). morfologi. Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji penggabungan satuan-satuan lingual berupa kata yang dapat membentuk satuan kebahasaan lebih besar. Kedua cabang linguistik itu adalah semantik dan pragmatik. Perbedaan cara pengkajian makna dalam semantik dan (1) (2) Badu Ayah : pragmatik Keterampilan Ayah : Bagus. besok dapat main bahasamu? Yah! ya! Kata bagus. Dari kelima cabang linguistik tersebut. linguistik memiliki berbagai cabang ilmu. antara lain: fonologi. ini dapat dilihat yang sangat dalam bagus. contoh menjadikan ujian 50. Pengertian Pragmatik Sebagai ilmu kajian bahasa. A. Semantik mengkaji makna-makna satuan lingual secara internal. Perbedaan ini terjadi karena makna kata bagus pada kalimat (1) dikaji secara internal. S. berbicaranya : Bagaimana Wah. baik makna leksikal maupun gramatikal. dan pragmatik. semantik.Pragmatik Oleh Ade Heryawan. sehingga bermakna “baik” atau “tidak buruk”. tetapi bermakna sebaliknya dan biasa digunakan untuk menyindir. pada kalimat (1) dan (2) memiliki makna yang berbeda. sintaksis. Semantik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna satuan-satuan lingual. kalimat. seperti: frase. kalimat ia juara berikut. kata bagus harus dikaji secara eksternal. pidato.

Menurut Madelon E. tetapi justru memandang performansi ujaran sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh aneka ragam konvensi sosial. 5. berikut disajikan beberapa pengertian pragmatik dari berbagai sumber. klausa. dialek. Sign. prinsip-prinsip percakapan. dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna satuan bahasa berupa fonem. terutama sekali dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Dan para teoritikus pragmatik telah mengidentifikasi adanya tiga jenis prinsip kegiatan ujaran. 1. morfologi. 1983: 13). 1938: 6). Levinson dalam Pragmatics. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut. Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa (Levinson. Menurut F. Pragmarik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan para penafsir (Morris. W. dan presuposisi (Heatherington. morfem. dan wacana yang digunakan penutur dengan memperhatikan situasi tutur. Pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa mengkaji penggunaan bahasa yang berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri dari fonologi. Leech dalam Principles of Pragmatics. B. kalimat. Sumber Kajian Pragmatik . H. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku dalam keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan tanda (George. sintaksis. 3. Works. George dalam Semantics. dan register. 1964: Heatherington dalam How Language 31). Menurut Geoffrey N. Pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosialperformansi bahasa yang dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi. yaitu kekuatan ilokusi. Pragmatik menelaah bukan saja pengaruh-pengaruh fonem suprasegmental.Bertolak pada perbedaan cara pengkajian dalam semantik dan pragmatik yang mengkaji makna secara internal dan eksternal. Morris dalam 1980: Foundations of the Theory for 155). frase. Pragmatik atau semantik behavioral menelaah perilaku insan. 2. 4. Menurut Stephen C. dan semantik (Leech. 1980: 1). Menurut C.

Semantik menjadikan makna internal yang bersifat bebas konteks (context independent) sebagai sumber kajian. Nasi (Makan nasi apa Kokita permintaan goring goreng berikut. Analisis pragmatik ini dapat dilihat dalam wacana berupa teks iklan bumbu masak (3) (4) (5) Regu Regu nasi tembak Tahanan tembak dan : Coba : tahanan : Hm! goring katakan. sumber kajian semantik dan pragmatik pun berbeda. bersama-sama) Dari teks iklan tersebut.1. Namun. Dalam bahasa Inggris. sedangkan makna yang dikaji pragmatik bersifat triadis. C. sedangkan pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks. dalam teks iklan itu ternyata tahanan menjawab “Nasi goreng . yaitu makna eksternal yang bersifat terikat konteks (context dependent). makna yang menjadi sumber kajian semantik merupakan makna linguistik (linguistic meaning) atau speaker sense. kedua konsep makna itu dapat dibedakan dengan kalimat “What does x mean?” dan “What do you mean by x?”.Dengan mencermati uraian dan berbagai pengertian pada bagian 1. maka jawaban yang disampaikannya adalah “Ingin bertemu dengan keluarga atau teman terdekat”. terakhirmu? Kokita. Dengan demikian. yaitu makna yang dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa makna x itu?”. secara analisis pragmatik diperoleh kesimpulan bahwa nasi goreng dengan bumbu masak Kokita sangat lezat. terlihat jelas bahwa makna yang dikaji semantik dan pragmatik berbeda. Analisis pragmatik merupakan Analisis pengkajian suatu kalimat atau Pragmatik wacana dengan mempertimbangkan situasi tutur yang dapat melahirkan kesimpulan tersirat dalam kalimat atau wacana tersebut. yaitu makna yang dapat dirumuskan dengan kalimat “Apakah yang kau maksud dengan berkata x itu?”. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan hasil perbandingan teks tersebut dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa. Dan bila dicermati secara mendalam. Semantik mengkaji makna yang bebas konteks. Sedangkan sumber kajian pragmatik merupakan dikotomi dari sumber kajian semantik. Hal ini berarti bahwa. bila seorang tahanan yang akan menjalani eksekusi di depan regu tembak ditanyai tentang permitaan terakhirnya. makna yang dikaji semantik bersifat diadis.

html 13 maret 2012 . http://adeheryawan. Dan bila diteruskan dengan menggunakan analisis gramatika secara formal. dan subjeknya “permintaan terakhirmu”.Kokita”.3 dianalisis secara linguistik struktural. yaitu pada kalimat “Coba katakan. 3. Dengan demikian. bila pendekatan pragmatik untuk melengkapinya tidak digunakan. predikat “katakan”. kata.” berupa frase nomina atributif yang menduduki fungsi predikat. klausa interogatif-informatif. sehingga dapat melupakan anak dan istri. setidak-tidaknya akan diperoleh kesimpulan bahwa dalam teks iklan itu terdapat: 1. makan nasi goreng dengan bumbu masak Kokita dipandang lebih penting daripada bertemu dengan anak dan istri. Jadi dalam teks iklan itu diungkapkan secara tersirat bahwa. jawaban “Nasi goreng Kokita” yang diungkapkan tahanan. Analisis formal seperti ini tidak akan menangkap maksud penulisan teks iklan tersebut.blogspot. apa permintaan terakhirmu?” dengan penanda perintah “coba”. yaitu pada kalimat “Hm!” berupa kalimat seru yang terdiri atas interjeksi. kalimat minor. tetapi merupakan informasi yang memiliki daya persuasi yang kuat. dan morfem. bukanlah sekedar informasi biasa.com/2010/03/pragmatik. yaitu pada kalimat “Nasi goreng Kokita. kata Tanya “apa” sebagai predikat. kalimat jawaban. biasanya penganalisisan secara linguistik struktural itu akan dilanjutkan pada tataran subklausa.Hal ini menunjukkan bahwa. Analisis Linguistik Struktural Berbeda dengan analisis pragmatik yang mengkaji suatu kalimat atau wacana dengan mempertimbangkan situasi tutur. 2. sehingga penganalisisannya bersifat formal. bumbu masak Kokita sangat lezat. Bila teks iklan pada bagian 1. D. analisis linguistik struktural merupakan pengkajian suatu kalimat atau wacana dengan menjadikan bentuk-bentuk lingual tanpa mempertimbangkan situasi tutur sebagai dasar pengkajian. serta kedudukan dan kewajiban regu tembak terlupakan karena ikut menikmati nasi goreng dengan bumbu masak Kokita yang diminta tahanannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful