P. 1
Cara Mengajar Anak Sd

Cara Mengajar Anak Sd

|Views: 5,961|Likes:
Published by Bahrudin Kholiq

More info:

Published by: Bahrudin Kholiq on Apr 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2013

pdf

text

original

cara mengajar membaca anak sd

Tips Mengajar Membaca di Kelas I SD
Dalam pembelajaran bahasa Indonesaia di Sekolah Dasar (SD), kita mengenal ada pembelajaran untuk kelas tinggi dan pembelajaran untuk kelas rendah. Yang dimaksud dengan pembelajaran kelas tinggi adalah pembelajaran untuk kelas IV, V, dan VI. Sedangkan pembelajaran kelas rendah meliputi pembelajaran untuk kelas I, II, III. Tentu saja pembelajaran untuk kelas tinggi tidak sama dengan pembelajaran untuk kelas rendah. Pembelajaran membaca untuk kelas rendah pun harus mendapatkan perhatian yang serius. Khususnya untuk kelas I, guru harus berhati-hati dan cermat dalam menyusun perencanaan sekaligus pelaksanaannya. Hal ini penting karena kelas I merupakan fondasi bagi kelas-kelas berikutnya. Kelas I SD merupakan pintu gerbang bagi siswa memasuki dunia pendidikan formal. Sekali guru salah bertindak yang berdampak pada kegagalan siswa, akan sangat berpengaruh bagi kemajuan siswa selanjutnya. Itu sebabnya guru harus benar-benar berhati-hati. Membaca merupakan keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras (Kridalaksana, 1993:135). Pengenalan dan pemahaman tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna ini sulit bagi siswa kelas I SD. Ada banyak metode yang dapat digunakan guru untuk mengajar membaca di kelas I SD. Beberapa metode pembelajaran membaca yang terkenal, yaitu: 1. Metode Abjad. Mula-mula guru memperkenalkan huruf (abjad) kepada siswa: a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z. Selain yang dipasang di papan tulis, masing-masing huruf tadi juga perlu ditulis dalam sebuah kartu (satu huruf satu kartu). Guru memberikan contoh cara membaca huruf-huruf di atas, dan siswa menirukan. Mula-mula bersifat klasikal (seluruh kelas), kemudian dipecah-pecah lagi menjadi separoh kelas, seperempat kelas, per dua bangku, akhirnya perorangan, kembali dua bangku, seperempat kelas, separoh kelas, dan kembali ke seluruh kelas. Apabila pengenalan huruf tadi sudah lancar, maka guru mulai bisa menugaskan beberapa siswa untuk mengambil huruf-huruf tertentu dari kartu-kartu huruf yang tersedia. Biarkan siswa mengenal huruf-huruf itu tanpa makna karena tujuannya adalah mengenal dan memahami huruf (abjad). Lakukan kegiatan ini berulang-ulang sehingga siswa benar-benar mengenal dan memahami huruf-huruf itu. Selanjutnya, kegiatan dapat ditingkatkan dengan membentuk kata. Pilih beberapa konsonan dan vokal, yang apabila digabungkan bisa menjadi kata yang bermakna. Misalnya: m a m a. Tempel atau tulis huruf m-a-m-a di papan tulis. Tunjukkan kepada siswa bahwa kata itu dibaca mama. Kemudian tanyakan kepada siswa kata mama itu terdiri dari huruf apa saja, dan arahkan agar siswa dapat menimpulkan sendiri bahwa apabila huruf m digabung dengan huruf a dibaca ma. Berikan contoh yang lain, misalnya: papa, nana, tata, dan lain-lain. Begitu seterusnya, guru mulai menggabung-gabungkan konsonan dengan vokal, sehingga seluruh vokal (a, e, i, o, u) bisa digunakan. Namun untuk konsonan tidak perlu diberikan semua. Huruf x dan z lebih baik diberikan belakangan.

Setelah siswa bisa membaca gabungan dua huruf konsonan-vokal, susunan bisa diganti menjadi vokal-konsonan. Misalnya: am, an, as, dan lain-lain. Setelah ini baru bisa dilanjutkan dengan tiga huruf (konsonan-vokal-konsonan). Misalnya: man, dan, bas, dan lain-lain. 2. Metode Kupas-Rangkai Suku Kata. Berbeda dari metode abjad di atas, metode kupasrangkai suku kata ini dimulai dengan pengenalan kata terlebih dahulu. Misalnya: mama. Kita perlu juga menjelaskan arti kata mama itu kepada siswa agar mereka mendapatkan makna dari apa yang dipelajari. Kata mama kemudian dipisahkan menjadi dua suku kata yaitu ma dan ma (ma-ma). Masingmasing suku kata dikupas lagi menjadi huruf-huruf, sehingga siswa mengenal bahwa kata mama itu terdiri dari huruf m-a-m-a. Mengingat empat huruf (yang sebetulnya hanya dua huruf) ini tentunya lebih mudah bagi siswa daripada langsung mengingat empat huruf misalnya madu (m-a-d-u). Jadi, mulai dari yang mudah dan dekat dengan kehidupan siswa, maka siswa akan lenih berhasil. Kegiatan selanjutnya adalah mengenalkan kata-kata yang lain, sehingga pada akhirnya siswa bisa membaca sebuah kalimat, misalnya: ini mama saya; itu bola budi, dan lain-lain. Contoh kata-kata yang mudah sebagai pendahuluan: papa pa-pa p-a-p-a pa-pa papa nana na-na n-a-n-a na-na nana mata ma-ta m-a-t-a ma-ta mata 3. Metode Global. Menurut Teori Gestalt, suatu kesatuan lebih bermakna daripada bagianbagian. Metode global dimulai dengan mengenalkan kalimat utuh kepada siswa. Contohnya: ibu makan nasi, disertai gambar, anak membaca tulisan tersebut, baru guru menjelaskan huruf-huruf yang dirangkai membentuk suku kata, kata, dan kalimat. Kalimat-kalimat dipilihkan yang sederhana dan pendek-pendek dahulu, agar siswa tidak mengalami kesulitan. 4. Metode SAS — Struktural Analisa Sintesa. Metode SAS dilaksanakan dengan menggunakan kartu kalimat dan papan flanel. Mula-mula guru menunjukkan gambar kepada siswa (jika benda asli bisa dihadirkan tentunya lebih baik jika benda asli ditunjukkan terlebih dahulu). Misalnya guru menunjukkan bola kepada siswa, kemudian berkata, ”Anak-anak, ini bola.” Suruh siswa mengulangi kata-kata guru. ”ini apa?” Siswa menjawab, ”ini bola.” Apabila siswa hanya menjawab bola saja, maka guru perlu membetulkan ucapan siswa, ”ini bola.” Guru menyuruh siswa menirukan kata-kata guru. Kegiatan selanjutnya, guru menempelkan gambar bola di papan tulis. Di bawah gambar bola itu ditempelkan tulisan ini bola. Guru menunjukkan contoh membaca tulisan ini bola, dan siswa disuruh menirukan. Pastikan bahwa siswa seluruh kelas memperhatikan tulisan ketika mengucapkan kalimat ini bola. Gambar diambil, tulisan ini bola tetap tertempel di papan tulis. Guru menyuruh siswa membaca kembali tulisan ini bola tadi. Kegiatan selanjutnya adalah menganalisis kalimat ini bola, menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf. Setelah itu, huruf-huruf dikembalikan menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat (sintesa).

Berikut adalah contohnya: membaca kalimat, gambar tidak diperlihatkan. ini bola ini bola i ni bo la i n i b o l a i ni bo la ini bola ini bola Komentar: Metode-metode di atas hanyalah contoh. Guru dapat menggunakan metode-metode lain sesuai dengan kondisi di lapangan. Namun yang harus diingat, metode apa pun yang digunakan, siswa harus tetap enjoy dalam belajar. Selain itu guru harus mempertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan indera belajar siswa. Artinya, pembelajaran yang dilaksanakan guru bersama siswa harus bisa memenuhi kebutuhan siswa yang dominan baik di Visual, Auditorial, maupun Kinestetik. Sebab itu dalam pembelajaran harus ada: gambar, benda nyata, tulisan, dan lain-lain (yang isa diamati atau dilihat oleh kelompok Visual); suara yang bisa didengar atau huruf, kata, kalimat yang bisa diucapkan (untuk kelompok Auditorial); serta siswa bisa melakukan manipulasi benda atau alat-alat pelajaran (untuk kelompok kinestetik). Untuk jelasnya, silakan cek kembali artikel tentang Memahami Indera Belajar Siswa. Cek juga artikel tentang “Tips Mengajarkan Alquran” sebagai tambahan informasi.

Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Kelas I SD
Akhir-akhir ini semakin banyak SD yang mengajarkan bahasa Inggris kepada siswanya. Seperti halnya bahasa Indonesia, pembelajaran bahasa Inggris pun bisa dilakukan untuk siswa kelas I SD. Tentu saja pelajaran bahasa Inggris utnuk kelas I ini harus lebih mengarah pada sesuatu yang sifatnya ”permainan” sehingga menyenangkan siswa. Cukup untuk komunikasi sederhana, mengenal nama-nama tumbuhan, hewan, perkenalan sederhana, dan lain-lain. Cara yang paling mudah adalah dengan menirukan guru, permainan kata dan gambar, dan mempraktikkannya secara berulang-ulang.

cara mengajar anak SD yang baik
sebenarnya artikel ini adalah gabungan dari berbagai tips mengajar yang baik di internet karena jujur saya belum praktek ngajar coz masih kuliah. dan karena saya akan mulai praktek ngajar insya Allah bulan depan, jadi saya pikir perlu untuk meng unggah tips-tips ini,, berikut adalah tips untuk mengajar anak SD yang baik, semoga bermanfaat,, Suara yang cukup terdengar jelas oleh anak, intonasi, dsb merupakan hal-hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh guru. untuk kelas SD awal (1-3), mereka masih tergolong anak usia dini,, sebelum memberikan pembelajaran pada anak usia dini, sebagai guru perlu mengenali karakteristik anak usia SD terlebih dahulu. Kenali Kebutuhan mereka,, setelah itu, refleksikan semuanya dalam rencana pembelajaran harian untuk mereka. jangan lupa untuk selalu memberikan sesuatu yang baru dan variatif bagi mereka. tak perlu yang mahal. benda-benda di lingkungan sekitar dapat menjadi objek eksplorasi bagi anak. oya, masa konsentrasi mereka juga sangat pendek. jadi, guru harus memiliki second plan, bahkan third, fourth plan yang perlu disiapkan untuk mereka supaya mereka tidak jenuh. perlu diketahui bahwa masa usia dini merupakan masa bermain. Jadi, pengajaran yang diberikan pada mereka sebaiknya didasarkan pada prinsip bermain (menyenangkan, anak dapat bereksplorasi, memperoleh banyak pengalaman, dsb). yang jelas…anak bukanlah miniatur orang dewasa. tapi, mereka punya karakteristik dan keunikan masing-masing. jadi, jangan samakan mereka dengan anak SMA yang lebih mudah di atur dan mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Selamat mengajar… Semoga Sukses.. source : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081113065628AAP8ZEA

Abi Lintang
Matematika, Budaya, Pribadi, Umum dan Cinta

Kamis, 22 April 2010

10 Cara Kreatif Mengajar Anak Matematika

10 Cara Kreatif Mengajar Matematika
Berikut ini ada beberapa aktifitas di kelas untuk menumbuhkan kreativitas dalam pengajaran matematika. Dalam pengajaran, sering-seringlah mengajukan pertanyaan kritis seperti “Apakah Kamu mencoba ini?” “Apa yang akan terjadi jika ada ini ?” “Apakah kamu dapat?” untuk meningkatkan pemahaman anak-anak dari ide-ide dan kosakata matematika. Berikut beberapa aktifitas yang mungkin dapat dipraktekkan di kelas: 1. Gunakan dramatisasi. [...] Artikel edukasiana’s Website von edukasiana

Berikut ini ada beberapa aktifitas di kelas untuk menumbuhkan kreativitas dalam pengajaran matematika. Dalam pengajaran, sering-seringlah mengajukan pertanyaan kritis seperti “Apakah Kamu mencoba ini?” “Apa yang akan terjadi jika ada ini ?” “Apakah kamu dapat?” untuk meningkatkan pemahaman anak-anak dari ide-ide dan kosakata matematika. Berikut beberapa aktifitas yang mungkin dapat dipraktekkan di kelas: 1. Gunakan dramatisasi. Ajaklah anak-anak berpura-pura berada di sebuah bola (sphere) atau kotak (prisma), merasakan sisi-sisinya, ujung-ujungnya, dan sudutnya dan menyandiwarakan secara sederhana masalah aritmatika seperti: Tiga katak melompat dalam kolam dsb. 2. Menggunakan anggota tubuh anak-anak. Menyarankan agar anak-anak menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya. Ketika diminta untuk menampilkan “tiga tangan,” mereka akan menanggapi dengan protes keras, dan kemudian menunjukkan berapa banyak tangan yang mereka memiliki( “membuktikan”) ini. Kemudian mengajak anak-anak untuk menampilkan nomor dengan jari, dimulai dengan pertanyaaan sederhana, “Berapa usia Kamu?” Kemudian siswa diminta menunjukkan angka yang diminta guru. Selain itu guru menampilkan angka dalam berbagai cara (misalnya, menunjukkan lima dengan tiga pada jari tangan kiri dan dua di jari tangan kanan). 3. Menggunakan permainan. Melibatkan anak-anak bermain yang memungkinkan mereka untuk melakukan matematika dalam berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan bangunan, membuat pola, dan sebagainya. Kemudian memperkenalkan permainan jual-beli di toko, menunjukkan anak-anak permainan membeli dan menjual mainan atau benda kecil lainnya, belajar menghitung, aritmatika, dan konsep uang. 4. Menggunakan mainan. Mendorong anak-anak untuk menggunakan “adegan” dan mainan untuk simulasi kejadian nyata, seperti tiga mobil di jalan, atau misalnya, untuk menunjukkan ada dua monyet di atas pohon dan dua di atas tanah. 5. Menggunakan cerita anak-anak. Bercerita tentang sebuah kisah menarik yang didalamnya berisi konsep matematika. Jika perlu diperagakan khususnya untuk memperjelas konsep matematikanya

6. Gunakan kreativitas alami anak. Menggali ide anak tentang matematika harus didiskusikan dengan mereka. Misal seorang anak 6 tahun ditanya begini: “Pikirkan angka terbesar yang kamu tahu, lalu tambah angka itu dengan lima. Bayangkan kamu memiliki coklat sejumlah angka itu”. “Wow, itu 5 angka lebih besar yang kamu tahu”. 7. Menggunakan kemampuan pemecahan masalah. Menanyakan anak-anak untuk menjelaskan bagaimana mereka mengetahui masalah-masalah seperti mendapatkan hanya cukup untuk mereka gunting tabel atau berapa banyak makanan ringan mereka perlu jika tamu yang bergabung dengan grup. Mendorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau apapun yang mungkin berguna untuk memecahkan masalah. 8. Menggunakan berbagai strategi. Bawalah matematika dimanapun di dalam kelas, dari menghitung jumlah anak-anak di pagi hari, menghitung meja kursi, meminta anak-anak untuk membersihkan barang yang ada nomor tertentu, atau membersihkan barang yang berbentuk geometris tertentu dsb. 9. Menggunakan teknologi. Cobalah gunakan kamera digital untuk memotret hasil kerja anak, permainan dan aktifitas yang dilakukan, dan kemudian menggunakan foto untuk diskusi dengan anakanak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Gunakan juga teknologi lain, seperti komputer secara bijak. 10. Gunakan assessment untuk mengukur penilaian anak-anak belajar matematika. Menggunakan observasi, diskusi dengan anak-anak, dan kelompok-kecil untuk kegiatan belajar anak-anak tentang matematika dan berpikir untuk membuat keputusan tentang apa yang mungkin setiap anak dapat belajar dari pengalaman. Juga mencoba menggunakan komputer untuk penilaian menggunakan program secara otomatis. Sumber: http://www2.scholastic.com/ Term Pencarian:
         

tips mengajar matematika cara mengajar matematika sd kelas 1 cara mengajar matematika kelas 1 SD cara mengajar anak sd kelas 5 kesulitan belajar MTK sd games untuk mengajar matematika cara mengajar matematik permainan mtk trik mengajar matematika cara cepat mengajar matematika sd kelas 2

Artikel Terkait: 1. Membimbing Anak Menjadi Pandai Matematika 2. Tips Mudah Menghitung Perkalian 6 sampai 10 dengan Jari Tangan

Tags: cara mengajar matematika, matematika kreatif, Matematika SD, pembelajaran matematika, pembelajaran matematika sd, pengajaran matematika, strategi pengajaran matematika Diposkan oleh Abi Lintang (STKIP 11 April Sumedang) di 22:52 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Reaksi: 0 komentar: Poskan Komentar

silahkan tambahkan komentar anda
Link ke posting ini

Buat sebuah Link
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

WIB Sekolah Pascasarjana UPI
    

Pemberitahuan Wisuda Gelombang 1 2012 SPs UPI Informasi Beasiswa Unggulan 2012 Informasi Pendaftaran Sekolah Pascasarjana UPI Tahun Akademik 2012/2013 Pemberitahuan Masa Studi Pengangkatan Ketua Prodi Baru

About Me

Abi Lintang (STKIP 11 April Sumedang) sumedang, jawa barat, Indonesia saya orangnya simple, suka humor

Lihat profil lengkapku

Wilujeng Suping
Hatur nuhun kana kasumpingan para nonoman sadayana, mugia ieu eusi Blogs Simkuring tiasa manfaat kanggo nabih-nambih elmu urang sadayana....

Archives
 

► 2011 (18) ▼ 2010 (48) o ► 12/12 - 12/19 (1) o ► 10/24 - 10/31 (1) o ► 10/17 - 10/24 (1) o ► 10/03 - 10/10 (1) o ► 09/05 - 09/12 (2) o ► 08/29 - 09/05 (3) o ► 08/15 - 08/22 (4) o ► 07/25 - 08/01 (2) o ► 07/18 - 07/25 (1) o ► 07/11 - 07/18 (2) o ▼ 04/18 - 04/25 (19)  Diselamatkan Matematika  Sudut dan Angka 0 – 9  Mengenal 9 Tipe Kecerdasan Jamak  Mendownload Video Pembelajaran Dari Internet  Trik Menghitung Pembagian  10 Cara Kreatif Mengajar Anak Matematika  Alat Peraga Matematika Sederhana Untuk Materi Prob...  Permintaan Terakhir Einstein  Mudah Menghafal Rumus Trigonometri  GALILEO, Tokoh yang dihukum karena kecerdasannya.....  Bilangan Prima yang Aneh  Mengapa China sangat Berprestasi dalam Olypiade Ma...  Membuat Pelajaran Matematika Menyenangkan  Rahasiah Pintu Gerbang Edison  Penggunaan Azas Chavaliery dan Implikasinya  Keunikan Matematika  Bpk H. Endang Sukandar, Drs.,M.Si  MATRIKS  Statistik o ► 04/04 - 04/11 (11)

Follow Me

Abi Lintang

Buat Lencana Anda

Followers bagikan akh... Mesin Pencari

My Favourite MuZic Instrument.....
Braveheart Soundtrack.mp3

get more free mp3 & video codes at www.musik-live.net

Translator
English* Japanese* Arabic* French* German

Blogger Login :
Username:

Password: (?)

Gadget by Blogger Tune-Up

Pages
      

Beranda Kasundaan Materi Kuliah Pendidikan Matematika Nilai Mata Kuliah Aljabar Linier SMT 4 Berita Unik Materi Filsafat Pendidikan KALKULUS 1 (chapter report for 1'st smester)

tolong beri makan ikanku... efek salju

Welcome Message
Diberdayakan oleh Blogger.

Site Feed
Atom Feed (xml)

Credits
site design by: free blogger skins

Cara Mengajar Anak Sd
Post Tagged Cara Efektif Mengajar Anak Sd

Relevansi Media Grafis dalam Menunjang Pelaksanaan Pembelajaran Matematika di SD Kelas Rendah
22 May 2011 - mengajar siswa praoperasional yaitu: Gunakan benda-benda/alat yang konkret dan alat peraga untuk membantu dalam mengilustrasikan pelajaran dan memahami materi yang sedang dibicarakan, seperti demonstrasi fisik, menggunakan gambar-gambar tentang suatu kejadian Berikan perintah yang relatif singkat, berikan pengayaan pada saat mengucapkan katakata, berikan petunjuk kemudian perintahkan siswa untuk mendemonstrasikan di depan kelas. Hindarkan pelajaran-pelajaran sosial tentang dunia luar ya ... anak masih sulit untuk diajak berpikir tentang hal-hal yang abstrak. Agar pengajaran berjalan dengan baik, Piaget (Woolfolk, MC. Chomanilcolich, 1984) memberikan petunjuk untuk mengajar siswa praoperasional yaitu: Gunakan benda-benda/alat yang konkret dan alat peraga untuk membantu dalam mengilustrasikan pelajaran dan memahami materi yang sedang dibicarakan, seperti demonstrasi fisik, menggunakan gambar-gambar tentang suatu kejadian Berikan perintah yang relatif singkat, berikan pengayaan ... mengajar siswa praoperasional yaitu: Gunakan benda-benda/alat yang konkret dan alat peraga untuk membantu dalam mengilustrasikan pelajaran dan memahami materi yang sedang dibicarakan, seperti demonstrasi fisik, menggunakan gambar-gambar tentang suatu kejadian Berikan perintah yang relatif singkat, berikan pengayaan pada saat mengucapkan kata-kata, berikan petunjuk kemudian perintahkan siswa untuk mendemonstrasikan di depan kelas. Hindarkan pelajaran-pelajaran sosial tentang dunia luar y ... Anak usia SD kelas rendah (6-7 tahun) berada pada masa transisi tahap praoperasional dan konkret operasional. Pada tahap ini anak masih sulit untuk diajak berpikir tentang hal-hal yang abstrak. Agar pengajaran berjalan dengan baik, Piaget (Woolfolk, MC. Chomanilcolich, 1984) memberikan petunjuk untuk mengajar siswa praoperasional yaitu: Gunakan benda-benda/alat yang konkret dan alat peraga untuk membantu dalam mengilustrasikan pelajaran dan memahami materi yang sedang dibicarakan, seperti demonstrasi fisik, menggunakan gambar-gambar tentang suatu kejadian Berikan perintah yang relatif singkat, berikan pengayaan pada saat mengucapkan

kata-kata, berikan petunjuk kemudian perintahkan siswa untuk mendemonstrasikan di depan kelas. Hindarkan pelajaran-pelajaran sosial tentang dunia luar yang terlalu jauh dari jangkauan pengalaman siswa. Dan hindarkan penyajian materi dengan ceramah yang terlalu panjang. Berikan siswa praktik sebanyak-banyaknya untuk membantu perkembangan keterampilan dan intelektualisasinya misalnya mengunakan guntingan-guntingan gambar, huruf-huruf untuk menyusun kalimat. Hindarkan pengunanaan buku pegangan yang berlebihan. Sedangkan pelajaran untuk tahap perkembangan konkret operasional, Piaget menyarankan : Melanjutkan prinsip penggunaan hal yang bersifat konkret sebagai media dan penggunaan perintah-perintah singkat. Menyusun materi dengan singkat dan jelas. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengelompokkan objek/ide dari yang sederhana ke yang kompleks. Berikan problem yang menuntut pemikiran logis analisis sederhana untuk memecahkan masalah. Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa ...

Download as : MsWord 2003 | PDF 1 Artikel ini disalin dari : http://blog.tp.ac.id/tag/cara-efektif-mengajar-anak-sd#ixzz1qc9RKB4m

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->