MATEMATIKA DISKRIT

Matriks adalah susunan skalar elemen-elemen
dalam bentuk baris dan kolom.

 Matriks Diagonal
adalah matriks bujursangkar dengan a
ij
= 0
untuk i = j.
 Matriks Identitas
adalah matriks diagonal dengan semua
elemen diagonal = 1
 Matriks Segitiga Atas / Bawah
adalah matriks dimana elemen-elemen di
atas/di bawah diagonal bernilai 0, yaitu
a
ij
= 0 jika i < j (i >j)
 Matriks Transpose
adalah matriks yang diperoleh dengan
mempertukarkan baris dan kolom.
 Matriks Setangkup (Symmetry)
Sebuah matriks dikatakan setangkup atau
simetri jika A
T
= A. Dengan kata lain, elemen di
bawah diagonal adalah hasil pencerminan dari
elemen di atas diagonal terhadap sumbu
diagonal matriks.
 Matriks 0/1 (zero-one)
adalah matriks yang setiap elemennya hanya
bernilai 0 atau 1.
 Penjumlahan / Pengurangan Dua Buah Matriks. Dua
buah matriks dapat dijumlahkan / dikurangkan jika
ukuran keduanya sama.
 Perkalian Dua Buah Matriks
Dua buah matriks dapat dikalikan jika jumlah kolom
matriks pertama sama dengan jumlah baris matriks
kedua.
Sifat-sifat operasi perkalian matriks:
1. Tidak Komutatif (AB = BA)
2. Hukum Asosiatif: (AB)C = A(BC)
3. Hukum Distributif : A(B+C) = AB + AC
4. AI = IA = A
5. A
0
= I; A
k
= AAA….A (banyaknya A = k)
6. A adalah matriks ortogonal jika AA
T
= A
T
A = I
Perkalian matriks dengan skalar
Hubungan (relationship) antara elemen
dengan elemen himpunan lainnya sering
dijumpai. Misalnya hubungan antara
mahasiswa dengan mata kuliah yang diambil,
hubungan antara orang dengan kerabatnya,
hubungan antara bilangan genap dengan
bilangan yang habis dibagi 2 dsb.
Di dalam ilmu komputer, contoh hubungan
antara program komputer dengan peubah
yang digunakan, hubungan antara bahasa
pemrograman dengan pernyataan yang sah
dll.
Relasi biner R antara A dan B adalah
himpunan bagian dari A x B.
Misalkan A={Amir, Budi, Cecep} adalah
himpunan nama mahasiswa, dan B={IF221,
IF251, IF342, IF323} adalah himpunan kode
mk di jurusan teknik informatika. Perkalian
kartesian antara A dan B menghasilkan
himpunan pasangan terurut yg jumlah
anggotanya adalah IAI.IBI=3.4=12 buah yaitu :
AxB ={(Amir,IF221),(Amir,IF251),(Amir,IF342),
(Amir,IF323),(Budi,IF221),(Budi,IF251),(Budi,
IF342),(Budi,IF323),(Cecep,IF221),
(Cecep,IF251),(Cecep,IF342),(Cecep,IF323)}
Contoh 1 :
Misalkan R adalah relasi yang menyatakan
mata kuliah yg diambil oleh mahasiswa pada
semester ganjil yaitu :
R = {(Amir,IF251),(Amir,IF323),(Budi,IF221)
 (Budi,IF251),(Cecep,IF323)}
Kita dapat melihat bahwa R_(AxB), A adalah
daerah asal R dan B adalah daerah hasil R.
Pasangan terurut pada relasi dari himpunan A
ke himpunan B dapat digambarkan dengan
diagram panah, seperti yang tampak pada
gambar di bawah ini.

Relasi biner R antara A dan B adalah
himpunan bagian dari A x B.

Amir
Budi
Cecep
- IF221
- IF251
- IF342
- IF323
Daerah Hasil
(Codomain)
Daerah Asal
(Domain)
Contoh 2 :
Misalkan P={2,3,4} dan Q={2,4,8,9,15). Jika
kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan
(p,q) e R jika p habis membagi q
Maka diperoleh :
R= {(2,2),(2,4),(2,8),(3,9),(3,15),(4,4),(4,8)}


2 ●

3●

4●

● 2

● 4

● 8

● 9

●15
Selain dinyatakan sebagai himpunan pasangan
terurut, ada banyak cara lain untuk
merepresentasikan atau menyajikan relasi.
Representasi Relasi dapat dinyatakan dengan:
1. Tabel
2. Matriks
3. Graf Berarah
Relasi biner dapat direpresentasikan sebagai
tabel dimana kolom pertama tabel
menyatakan daeral asal sedangkan kolom
kedua menyatakan daerah hasil. Relasi R
pada contoh 1 dan 2 dapat dinyatakan dalam
tabel.
A B
Amir
Amir
Budi
Budi
Cecep
IF251
IF323
IF221
IF251
IF323
P Q
2
2
4
2
4
3
3
2
4
4
8
8
9
15
Misalkan R adalah relasi dari A = {a
1
, a
2
, …,
a
m
} dan B = {b
1
, b
2
,…,b
n
} maka R dapat
disajikan dengan matriks M=[m
ij
]




Yang dalam hal ini
A
B
Dengan kata lain, elemen matriks pada posisi
(i,j) bernilai 1 jika a
i
dihubungkan dengan b
j

dan bernilai 0 jika a
i
tidak dihubungkan
dengan b
j
.
Relasi R pada contoh 1, dapat dinyatakan
dengan matriks :
 0 1 0 1
 1 1 0 0
 0 0 0 1
Yang dalam hal ini a
1
=Amir,a
2
=Budi,a
3
=Cecep,
dan b
1
=IF221, b
2
=IF251, b
3
=IF342 &b
4
=IF323.

Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan
sebuah titik (dan disebut juga simpul) dan
tiap pasangan terurut dinyatakan dengan
busur yang arahnya ditunjukkan dengan
sebuah panah.
Dengan kata lain, jika (a,b)eR, maka sebuah
busur dibuat dari simpul a ke simpul b.
Simpul a disebut simpul asal dan simpul b
disebut simpul tujuan.
Pasangan terurut (a,a) dinyatakan dengan
busur dari simpul a ke simpul a sendiri. Busur
semacam itu disebut gelang (loop).
Contoh 3: misalkan R = {(a,a), (a,b), (b,a),
(b,c), (b,d), (c,a), (c,d), (d,b)} adalah relasi
pada himpunan {a,b,c,d}. R
direpresentasikan dengan graf berarah
seperti yang tampak pada gambar.
a
b
c d
 Jika R adalah relasi dari himpunan A ke
himpunan B maka inversi dari R dilambangkan
dengan R
-1
.
R
-1
= {(b,a)|(a,b) e R}
Contoh 4:
Misalkan P={2,3,4} dan Q={2,4,8,9,15}, jika
didefiniskan relasi R dari P ke Q dengan
(p,q) e R jika p habis dibagi q
Maka:
R ={(2,2),(2,4),(4,4),(2,8),(4,8),(3,9),(3,15)}
R
-1
adalah invers dari relasi R, yaitu relasi dari Q
ke P dengan
(q,p) e R
-1
jika q adalah kelipatan dari p
Sehingga diperoleh
R
-1
= {(2,2),(4,2),(4,4),
(8,2),(8,4),(9,3),(15,3)}
Jika M adalah matriks
yang merepresentasikan
relasi R, maka matriks
yang merepresentasikan
relasi R
-1
, misalkan N
diperoleh dengan
melakukan transpose
terhadap matriks M

M=
1 1 1 0 0
0 0 0 1 1
0 1 1 0 0



N=

=
1 0 0
1 0 1
1 0 1
0 1 0
0 1 0


Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing
dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
,
maka matriks yang menyatakan gabungan
dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah
M
R1R2
= M
R1
v M
R2
M
R1·R2
= M
R1
. M
R2
 Contoh 5:
Misalkan relasi R1 dan R2 pada himpunan A
dinyatakan oleh matriks


maka matriks yang menyatakan R
1
R
2
dan
R
1
·R
2
adalah




Cara lain mengkombinasikan relasi adalah
dengan mengkomposisikan dua buah relasi
atau lebih.
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke
himpunan B, dan S adalah relasi dari
himpunan B ke himpunan C maka komposisi R
dan S dinotasikan dengan SoR adalah relasi
dari A ke C yang didefinisikan oleh
SoR = {(a,c)|aeA,ceC, dan untuk beberapa
beB,(a,b)eR dan (b,c)eS}


Contoh 6 :
Misalkan
R={(1,2),(1,6),(2,4),(3,4),(3,6),(3,8)}
adalah relasi dari himpunan {1,2,3} ke
himpunan {2,4,6,8} dan
S ={(2,u),(4,s),(4,t), (6,t), (8,u)} adalah
relasi dari himpunan {2,4,6,8} ke himpunan
{s,t,u}. Maka komposisi relasi R dan S adalah

SoR = {(1,u),(1,t),(2,s),(2,t),(3,s),(3,t),(3,u)}

Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika
diperagakan dengan diagram panah seperti
yang tampak pada gambar.
Relasi pada sebuah himpunan adalah kasus
yang paling sering dijumpai. Relasi ini
mempunyai beberapa sifat yaitu :
Refleksif (Reflexive)
Simetris, asimetris dan antisimetris
Menghantar (transitive)
Relasi R pada himpunan A disebut refleksif
jika (a,a)eR untuk setiap aeA
Relasi yang bersifat refleksif mempunyai
matriks yang elemen diagonal utamanya
semua bernilai 1, atau m
ij
=1, untuk i=1,2,…,n
sedangkan graf berarah dari relasi yang
bersifat refleksif dicirikan dengan adanya
gelang pada setiap simpulnya.
Contoh 7
Misalkan A ={1,2,3,4} dan relasi R di bawah ini
didefinisikan pada himpunan A, maka
(a) Relasi R={(1,1),(1,3),(2,1),(2,2),(3,3),(4,2),
(4,3),(4,4)} bersifat refleksif karena terdapat
elemen relasi yang berbentuk (a,a), yaitu
(1,1), (2,2), (3,3) dan (4,4).
(b) Relasi R ={(1,1),(2,2), (2,3),(4,2),(4,3),(4,4)}
tidak bersifat refleksif karena (3,3) e R
Contoh 8
Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan
bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan
bulat posistif selalu habis membagi dirinya sendiri,
sehingga (a,a) e R untuk setiap aeA
Relasi R pada himpunan A disebut simetris
jika (a,b)eR, maka (b,a)eR, untuk semua
a,beA.
Relasi R pada himpunan A disebut asimetris
jika (a,b)eR dan (b,a) eR
Relasi R pada himpunan A disebut anti
asimetris jika (a,b)eR dan (b,a)eR maka
a=b, untuk semua a,b e A.




Contoh 9:
Misalkan A = {1,2,3,4}, dan relasi R di bawah
ini didefinisikan pada himpunan A, maka
(a) Relasi
R={(1,1),(1,2),(2,1),(2,2),(2,4),(4,2),(4,4)}
bersifat simetris
(b) Relasi R = {(1,1),(2,3),(2,4),(4,2)} bersifat
asimetris karena (2,3)eR, tetapi (3,2)eR
(c) Relasi R = {(1,1),(2,2),(3,3)} bersifat anti
asimetris karena (1,1)eR dan 1=1, (2,2)eR
dan 2=2, (3,3) eR dan 3=3.
Perhatikan bahwa R juga simetris



 Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika
(a,b)eR, dan (b,c)eR, maka (a,c)eR untuk semua
a,b,ceA.
Contoh 10 :
a) Misalkan A={1,2,3,4}, dan relasi R di bawah ini
didefinisikan pada himpunan A, maka
R={(2,1),(3,1),(3,2),(4,1),(4,2),(4,3)}
bersifat menghantar
(a,b) (b,c) (a,c)
(3,2)
(4,2)
(4,3)
(4,3)
(2,1)
(2,1)
(3,1)
(3,2)
(3,1)
(4,1)
(4,1)
(4,2)
a) R={(1,1),(2,3),(2,4),(4,2)} tidak menghantar
karena (2,4) dan (4,2) eR, tetapi (2,2) eR,
begitu juga (4,2) dan (2,3) eR tetapi (4,3)
eR.
b) Relasi R={(1,2),(3,4)} menghantar karena
tidak ada (a,b) e R dan (b,c) e R
sedemikian sehingga (a,c) e R.

Ditinjau dari representasi relasi, relasi yang
bersifat menghantar tidak mempunyai ciri
khusus pada matriks representasinya, tetapi
sifat menghantar pada graf berarah
ditunjukkan oleh :jika ada busur dari a ke b
dan dari b ke c, maka juga terdapat busur
berarah dari a ke c.


Relasi R pada himpunan A disebut relasi
kesetaraan (equivalence relation) jika ia
refleksif, setangkup/simetris, dan
menghantar.
Secara intuitif, di dalam relasi kesetaraan,
dua benda berhubungan jika keduanya
memiliki beberapa sifat yang sama atau
memenuhi beberapa persyaratan yang sama.
Dua elemen yang dihubungkan dengan relasi
kesetaraan dinamakan setara (equivalent).
Berdasarkan sifat yang dimilikinya,
kesetaraan tersebut dijelaskan sebagai
berikut :

Karena relasi bersifat setangkup/
simetri maka dua elemen yang
dihubungkan relasi adalah setara.
Karena relasi bersifat refleksif,
maka setiap elemen setara dengan
dirinya sendiri. Karena relasi
bersifat menghantar, maka jika a
dan b setara dan b dan c setara,
maka a dan c setara.
Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi
pengurutan parsial jika ia refleksif,
antisimetris dan menghantar. Himpunan S
bersama-sama dengan relasi R disebut
himpunan terurut secara parsial dan
dilambangkan dengan (S,R).
Relasi > pada himpunan bilangan bulat
adalah relasi pengurutan parsial, karena a >a
untuk setiap bilangan bulat a, relasi >
refleksif. Relasi > antisimetri, karena jika
a>b dan b>a, maka a=b. Relasi > menghantar,
karena jika a>b dan b>c maka a>c
Contoh pengurutan parsial yang lain adalah
relasi “habis membagi”. Karena setiap
bilangan bualt habis membagi dirinya sendiri
maka relasi “habis membagi” bersifat
refrleksif. Bersifat antisimetris karena a
habis membagi b berarti b tiak habis
membagi a kecuali jika a=b. Terakhir relasi
ini bersifat menghantar karena jika a habis
membagi b, dan b b habis membagi c maka a
habis membagi c
 Misalkan R adalah relasi yang tidak refleksif. Dapat
dibuat relasi baru yang mengandung R sedemikian
sehingga relasi baru tersebut menjadi refleksif.Relasi
baru tersebut haruslah relasi terkecil yang
mengandung R.
 Sebagai contoh, relasi R={(1,1),(1,3),(2,3,),(3,2)} pada
himpunan A={1,2,3} tidak refleksif. Bagaimana
membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan
mengandung R? untuk melakukan hal ini, hanya perlu
ditambahkan (2,2) dan (3,3) ke dalam R karena dua
elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam R.
Relasi baru yang terbentuk dilambangkan dengan S,
mengandung R yaitu :
S={(1,1),(1,3),(2,2),(2,3),(3,2),(3,3)}
Sekarang, S bersifat refleksif. Relasi S disebut klosur
refleksif.


Contoh lain, misalkan
R={(1,3),(1,2),(2,1),(3,2),(3,3)} pada
himpunan A={1,2,3}. Jelas R tidak setangkup.
Bagaimana membuat relasi setangkup yang
sesedikit mungkin dan megandung R? untuk
melakukan hal ini, kita hanya perlu
menambahkan (3,1) dan (2,3) ke dalam R
karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam Sagar S menjadi
setangkup. Relasi baru yang terbentuk
mengandung R yaitu :


S={(1,3),(3,1),(1,2),(2,1),(3,2),(2,3),(3,3)}
Sekarang S bersifat setangkup. Relasi S
disebut klosur setangku dari R

Ada tiga jenis klosur , yaitu Klosur refleksif
(reflexive closure), klosur simetris
(symmetric closure) dan klosur menghantar
(transitive closure)

Relasi yang menghubungkan lebih dari dua
buah himpunan. Relasi n-ary mempunyai
terapan penting di dalam basis data

NIM NAMA MATAKULIAH NILAI
13598011
13598011
13598014
13598015
13598015
13598015
13598019
Amir
Amir
Santi
Irwan
Irwan
Irwan
Ahmad
Matematika Diskrit
Arsitektur Komputer
Algoritma
Algoritma
Struktur Data
Arsitektur Komputer
Algoritma
A
B
D
C
C
B
E
Fungsi sering juga disebut pemetaan atau
transformasi.
Misalkan A dan B adalah himpunan. Relasi
biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi
jika setiap elemen di dalam A dihubungkan
dengan tepat satu elemen di dalam B. Jika f
adalah fungsi dari A ke B maka dapat
dituliskan
f: A B
yang artinya f memetakan A ke B
 Fungsi dapat di spesifikasikan dalam berbagai bentuk,
diantaranya:
1. Himpunan pasangan terurut
Fungsi adalah relasi. Sedangkan relasi biasanya
dinyatakan sebagai himpunan pasangan terurut
2. Formula pengisian nilai
Fungsi dispesifikasikan dalam bentuk rumus pengisian
nilai misalnya () =
2

3. Kata-kata
Fungsi dapat dinyatakan secara eksplisit dalam
rangkaian kata-kata, misalnya “ adalah fungsiyang
memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu string biner”
4. Kode program (source code)
Fungsi di spesifikasikan dalam bentuk kode program
komputer. Misalnya dalam bahasa Pascal. Fungsi yang
mengembalikan nilai mutlak dari sebuah bilangan bulat x
yaitu ІxІ
Fungsi dibedakan menjadi fungsi satu ke satu, fungsi pada,
atau bukan salah satu dari keduanya.

Fungsi dikatakan satu ke satu jika tidak ada
dua elemen himpunan A yang memiliki
bayangan sama.
Gambar dibawah ini mengilustrasikan fungsi
satu ke satu




a ●

b ●

c ●

d ●





● 1

● 2

● 3

● 4

● 5

Contoh 11:
Relasi ={(1,w),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w,x} adalah fungsi satu ke satu.
Relasi ={(1,w),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w} juga fungsi satu ke satu.
Relasi =(1,u),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w} bukan fungsi satu ke satu karena
(1)= (2) = u
Contoh 12:
Misalkan :Z Z. Tentukan apakah
=
2
+1 dan (x)=x-1 merupakan fungsi
satu ke satu?




(i) =
2
+1 bukan fungsi satu ke satu,
karena ada dua x yang bernilai mutlak sama
tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya
sama, misalnya (2)=(-2) =5
(x)=x-1 adalah fungsi satu ke satu, misalnya
(2) =1 dan untuk (-2) =-3.
Fungsi dikatakan pada jika jika setiap
elemen himpunan B merupakan bayangan
dari atu atau lebih elemen himpunan A.
Gambar di sebelah mengilustrasikan fungsi
pada











 Contoh 13:
 Relasi ={(1,u),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke B={u,v,w}
bukan fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah
(range) dari
 Relasi ={(1,w),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w} merupakan fungsi pada karena semua
anggota B merupakan jelajah dari .
a●

b●

c●

d●

●1


● 2


● 3

 Jika adalah fungsi berkorespondens satu ke
sati dari A ke B, maka kita dapat menemukan
balikan atau invers dari . Fungsi invers dari
dilambangkan dengan
−1
.Misalkan a
adalahanggota himpunan A dan b adalah anggota
himpunan B, maka
−1
b = a jika (a)=b.
Gambar di bawah ini memperlihatkan diagram
panah yang menggambarkan
−1
sebagai fungsi
.

 f o g adalah fungsi yang memetakan nilai
dari g(a) ke f
(fog)(a) =f(g(a))
a g(a) f(g(a))
(fog)(a)
g(a) f(g(a))
A B
C
Contoh 14:
1. Diberika fungsi g={(1,u),(2,u),(3,v)} yang
memetakan A={1,2,3} ke B={u,v,w}, dan
fungsi f={(u,y),(v,x),(w,z)} yang memetakan
B={u,v,w} ke C={x,y,z}. Fungsi komposisi
dari A ke C adalah fog={(1,y),(2,y),(3,x)}
2. Diberikan fungsi f(x)=x-1 dan g(x)=x
2
+1.
Tentukan fog dan gof.
fog = f(g(x))=f(x
2
+1)=x
2
+1-1=x
2
gof = g(f(x))=g(x-1)=(x-1)
2
+1=x
2
-2x+2
Beberapa fungsi yang dipakai dalam ilmu
komputer:
1. Fungsi Floor dan Ceiling
2. Fungsi modulo
3. Fungsi Faktorial
4. Fungsi Eksponensial dan Logaritmik

Fungsi floor dari x : ¸x¸
¸x¸ menyatakan nilai bilangan bulat terbesar
yang lebih kecil atau sama dengan x
Fungsi ceiling dari x :x(
x( menyatakan nilai bilangan bulat terkecil
yang lebih besar atau sama dengan x
Contoh 15:
¸3.5¸=3 3.5(=4
¸0.5¸=0 0.5(=1
¸4.8¸=4 4.8(=5
¸-0.5¸=-1 -0.5(=0

Fungsi modulo adalah fungsi dengan operator
mod, yang dalam hal ini:
a mod m memberikan sisa pembagian bulat
bila a dibagi dengan m
a mod m = r sedemikian sehingga a=mq+r,
dengan 0sr<m
Contoh 16:
25 mod 7 = 4
15 mod 4 = 3
0 mod 5 = 0
-25 mod 7=3

Untuk sembarang bilangan bulat tidak-negatif
n, faktorial dari n dilambangkan dengan n!,
didefinisikan sebagai:



Contoh 17:
0! =1
1! = 1
4! = 1 x 2 x 3 x 4 = 24
5! = 1 x 2 x 3 x 4 x 5 = 120

Fungsi eksponensial berbentuk


Untuk kasus perpangkatan negatif,
a
-n
= 1/a
n
Fungsi logaritmik berbentuk

Contoh 18:
43 = 4.4.4 = 64

4
log 64 = 3

Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi
fungsinya mengacu pada dirinya sendiri.
Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian:
a. Basis
b. Rekurens
Contoh 19:

 Matriks

adalah susunan skalar elemen-elemen dalam bentuk baris dan kolom.

Matriks Diagonal adalah matriks bujursangkar dengan aij = 0 untuk i  j.  Matriks Identitas adalah matriks diagonal dengan semua elemen diagonal = 1  Matriks Segitiga Atas / Bawah adalah matriks dimana elemen-elemen di atas/di bawah diagonal bernilai 0, yaitu aij = 0 jika i < j (i >j)

Matriks Transpose adalah matriks yang diperoleh dengan mempertukarkan baris dan kolom.  Matriks Setangkup (Symmetry) Sebuah matriks dikatakan setangkup atau simetri jika AT = A. Dengan kata lain, elemen di bawah diagonal adalah hasil pencerminan dari elemen di atas diagonal terhadap sumbu diagonal matriks.  Matriks 0/1 (zero-one) adalah matriks yang setiap elemennya hanya bernilai 0 atau 1.

Penjumlahan / Pengurangan Dua Buah Matriks. Dua buah matriks dapat dijumlahkan / dikurangkan jika ukuran keduanya sama. Perkalian Dua Buah Matriks Dua buah matriks dapat dikalikan jika jumlah kolom matriks pertama sama dengan jumlah baris matriks kedua. Sifat-sifat operasi perkalian matriks: 1. Tidak Komutatif (AB  BA) 2. Hukum Asosiatif: (AB)C = A(BC) 3. Hukum Distributif : A(B+C) = AB + AC 4. AI = IA = A 5. A0 = I; Ak = AAA….A (banyaknya A = k) 6. A adalah matriks ortogonal jika AAT = ATA = I

 Perkalian matriks dengan skalar .

hubungan antara bilangan genap dengan bilangan yang habis dibagi 2 dsb. hubungan antara orang dengan kerabatnya. hubungan antara bahasa pemrograman dengan pernyataan yang sah dll.  Di dalam ilmu komputer. Misalnya hubungan antara mahasiswa dengan mata kuliah yang diambil. . contoh hubungan antara program komputer dengan peubah yang digunakan. Hubungan (relationship) antara elemen dengan elemen himpunan lainnya sering dijumpai.

IF342).IF251). IF342). IF251.IF342). Budi.(Budi. Cecep} adalah himpunan nama mahasiswa.(Cecep.IF323).  Misalkan A={Amir.IF221).(Budi. IF342.(Amir. (Amir.(Budi.(Cecep.IF221).4=12 buah yaitu : AxB ={(Amir. dan B={IF221.IF323).(Amir.IF251). IF323} adalah himpunan kode mk di jurusan teknik informatika.IF221). Perkalian kartesian antara A dan B menghasilkan himpunan pasangan terurut yg jumlah anggotanya adalah IAI. (Cecep.(Budi.(Cecep.IBI=3.IF323)} . Relasi biner R antara A dan B adalah himpunan bagian dari A x B.IF251).

(Amir.IF251). A adalah daerah asal R dan B adalah daerah hasil R.IF323)}  Kita dapat melihat bahwa R(AxB).(Budi.(Cecep. Contoh 1:  Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yg diambil oleh mahasiswa pada semester ganjil yaitu :  R = {(Amir.IF221)  (Budi. seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.IF323).  Pasangan terurut pada relasi dari himpunan A ke himpunan B dapat digambarkan dengan diagram panah.IF251). .

 Relasi biner R antara A dan B adalah himpunan bagian dari A x B. Daerah Hasil (Codomain) Amir Budi Cecep  IF221  IF251  IF342  IF323 Daerah Asal (Domain) .

4} dan Q={2.(4.3.4).4.9.15). Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan  (p.8.9).q)  R jika p habis membagi q  Maka diperoleh :  R= {(2.(2.2).(4.15). Contoh 2:  Misalkan P={2.4).8).(2.8)} ●2 2● 3● 4● ●4 ●8 ●9 ●15 .(3.(3.

Matriks 3. Graf Berarah . ada banyak cara lain untuk merepresentasikan atau menyajikan relasi. Tabel 2. Representasi Relasi dapat dinyatakan dengan: 1.Selain dinyatakan sebagai himpunan pasangan terurut.

Relasi R pada contoh 1 dan 2 dapat dinyatakan dalam tabel. A B P Q Amir Amir Budi Budi Cecep IF251 IF323 IF221 IF251 IF323 2 2 4 2 4 3 3 2 4 4 8 8 9 15 . Relasi biner dapat direpresentasikan sebagai tabel dimana kolom pertama tabel menyatakan daeral asal sedangkan kolom kedua menyatakan daerah hasil.

b2. Misalkan R adalah relasi dari A = {a1. …. a2.bn} maka R dapat disajikan dengan matriks M=[mij] B A Yang dalam hal ini . am} dan B = {b1.….

a3=Cecep.  Relasi R pada contoh 1. dapat dinyatakan dengan matriks :  0 1 0 1  1 1 0 0  0 0 0 1  Yang dalam hal ini a1=Amir. b3=IF342 &b4=IF323. . dan b1=IF221.a2=Budi. Dengan kata lain. b2=IF251. elemen matriks pada posisi (i.j) bernilai 1 jika ai dihubungkan dengan bj dan bernilai 0 jika ai tidak dihubungkan dengan bj .

 Dengan kata lain. Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (dan disebut juga simpul) dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur yang arahnya ditunjukkan dengan sebuah panah.a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a sendiri.  Pasangan terurut (a.b)R. jika (a. maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. . Busur semacam itu disebut gelang (loop). Simpul a disebut simpul asal dan simpul b disebut simpul tujuan.

a). (b. (c. R direpresentasikan dengan graf berarah seperti yang tampak pada gambar.b.b). (c. (d.d).b)} adalah relasi pada himpunan {a.a).a).d). (a. (b.c. Contoh 3: misalkan R = {(a. b a c d . (b.d}.c).

(3.4.(2.4} dan Q={2.b)  R} Contoh 4: Misalkan P={2.p)  R-1 jika q adalah kelipatan dari p  .4).(2.(3.2).9).(4.Jika R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B maka inversi dari R dilambangkan dengan R-1.15)} R-1 adalah invers dari relasi R. yaitu relasi dari Q ke P dengan (q.8.8). R-1 = {(b.9.(4.q)  R jika p habis dibagi q Maka: R ={(2.4). jika didefiniskan relasi R dari P ke Q dengan (p.15}.8).3.a)|(a.

2).2). misalkan N diperoleh dengan melakukan transpose terhadap matriks M 1 1 1 0 0 M= 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 N=𝑀𝑇 = 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 . maka matriks yang merepresentasikan relasi R-1 .(8.4).Sehingga diperoleh R-1 = {(2.2). (8.3).4).(4.(4.(15.3)} Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R.(9.

maka matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah MR1R2 = MR1  MR2 MR1R2 = MR1  MR2 . Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2.

 Contoh 5: Misalkan relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks maka matriks yang menyatakan R1R2 dan R1R2 adalah .

c)S} . dan untuk beberapa bB.cC. Cara lain mengkombinasikan relasi adalah dengan mengkomposisikan dua buah relasi atau lebih.  Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B.(a.b)R dan (b. dan S adalah relasi dari himpunan B ke himpunan C maka komposisi R dan S dinotasikan dengan SR adalah relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh SR = {(a.c)|aA.

4.t).t).(4.u}.6).(2.6.(1.s).u)} adalah relasi dari himpunan {2.(3.2).t. (8.t).(2.t).u).4).(3.s).6). Contoh 6: Misalkan R={(1.8)} adalah relasi dari himpunan {1. Maka komposisi relasi R dan S adalah SR = {(1.3} ke himpunan {2.u)} .(4.t).8} ke himpunan {s.2. (6.(1.8} dan S ={(2.(2.(3.4).(3.(3.4.6.u).s).(3.

. Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah seperti yang tampak pada gambar.

Relasi pada sebuah himpunan adalah kasus yang paling sering dijumpai. Relasi ini mempunyai beberapa sifat yaitu :  Refleksif (Reflexive)  Simetris. asimetris dan antisimetris  Menghantar (transitive) .

a)R untuk setiap aA  Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua bernilai 1. atau mij=1. .….n sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan dengan adanya gelang pada setiap simpulnya.2. Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a. untuk i=1.

a)  R untuk setiap aA .(2.4)} tidak bersifat refleksif karena (3. (3. (b) Relasi R ={(1.3).Contoh 7 Misalkan A ={1.3) dan (4.4)} bersifat refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a.(1.2).2).(3.(4.2). (4.4} dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A.(2. (2.(4.1).(4.1).4).2).(2.3).3.2.2). sehingga (a.1).1). maka (a) Relasi R={(1.a).(4.3)  R Contoh 8 Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan bulat posistif selalu habis membagi dirinya sendiri.3). yaitu (1.3). (2.(4.3).

a)R maka a=b.  Relasi R pada himpunan A disebut asimetris jika (a. .a)R. untuk semua a.a) R  Relasi R pada himpunan A disebut anti asimetris jika (a. maka (b.b)R.b)R dan (b. Relasi R pada himpunan A disebut simetris jika (a.bA. untuk semua a.b)R dan (b.b  A.

(2. maka (a) Relasi R={(1.(2.2)R (c) Relasi R = {(1.4).1).(2.3).(4. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A.(4. Perhatikan bahwa R juga simetris .2.(4.2)} bersifat asimetris karena (2.3) R dan 3=3.(2.1).4)} bersifat simetris (b) Relasi R = {(1.4).2).1).1).2).1)R dan 1=1.3)R.3)} bersifat anti asimetris karena (1.2).2).(2. (2.(1.2)R dan 2=2.4}. tetapi (3.(3.(2. Contoh 9: Misalkan A = {1. (3.3.

(4.2).1).c) (2.3)} bersifat menghantar  (a.1) (4.Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a.3) (4.(4. dan (b.b)R.2.c) (3.2) (a.c)R untuk semua a.c)R.1).b.1) (4.b) (3.4}. Contoh 10 : a) Misalkan A={1.2).2) (4.(3.1) (3. maka (a.cA.3.1) (2.1) (4.(3. maka R={(2.3) (b.2) (4.2) .1) (3.1). dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A.(4.

c)  R.(2. b) begitu juga (4.2)} tidak menghantar karena (2. relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks representasinya. Relasi R={(1.4)} menghantar karena tidak ada (a.2) R. maka juga terdapat busur berarah dari a ke c.4).(4.3) R tetapi (4.4) dan (4.1).(3.3). tetapi (2.2) R.c)  R sedemikian sehingga (a.2) dan (2.a) R={(1.2).3) R. Ditinjau dari representasi relasi. .(2. tetapi sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh :jika ada busur dari a ke b dan dari b ke c.b)  R dan (b.

 Secara intuitif. Berdasarkan sifat yang dimilikinya. dua benda berhubungan jika keduanya memiliki beberapa sifat yang sama atau memenuhi beberapa persyaratan yang sama. di dalam relasi kesetaraan. dan menghantar.  Dua elemen yang dihubungkan dengan relasi kesetaraan dinamakan setara (equivalent). Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia refleksif. setangkup/simetris. kesetaraan tersebut dijelaskan sebagai berikut : .

maka jika a dan b setara dan b dan c setara. maka a dan c setara.Karena relasi bersifat setangkup/ simetri maka dua elemen yang dihubungkan relasi adalah setara. maka setiap elemen setara dengan dirinya sendiri. Karena relasi bersifat refleksif. . Karena relasi bersifat menghantar.

Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara parsial dan dilambangkan dengan (S.  Relasi  pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial. relasi  refleksif. antisimetris dan menghantar. Relasi  menghantar. karena jika ab dan bc maka ac .R). karena a a untuk setiap bilangan bulat a. Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial jika ia refleksif. Relasi  antisimetri. maka a=b. karena jika ab dan ba.

dan b b habis membagi c maka a habis membagi c . Karena setiap bilangan bualt habis membagi dirinya sendiri maka relasi “habis membagi” bersifat refrleksif. Terakhir relasi ini bersifat menghantar karena jika a habis membagi b. Bersifat antisimetris karena a habis membagi b berarti b tiak habis membagi a kecuali jika a=b. Contoh pengurutan parsial yang lain adalah relasi “habis membagi”.

 Sebagai contoh.3).(2.Relasi baru tersebut haruslah relasi terkecil yang mengandung R.3).2).2).1).(2.3} tidak refleksif. hanya perlu ditambahkan (2.(3.3) ke dalam R karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam R. mengandung R yaitu : S={(1.3)} Sekarang.(1. Dapat dibuat relasi baru yang mengandung R sedemikian sehingga relasi baru tersebut menjadi refleksif.(3. Relasi S disebut klosur refleksif.2. Relasi baru yang terbentuk dilambangkan dengan S.Misalkan R adalah relasi yang tidak refleksif.3.(2.1).2)} pada himpunan A={1.(1. S bersifat refleksif.(3.3).2) dan (3. relasi R={(1.).  . Bagaimana membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan mengandung R? untuk melakukan hal ini.

(1.(2.1) dan (2. kita hanya perlu menambahkan (3.(3. Contoh lain.3)} pada himpunan A={1.3}. Jelas R tidak setangkup.2). misalkan R={(1. Relasi baru yang terbentuk mengandung R yaitu : . Bagaimana membuat relasi setangkup yang sesedikit mungkin dan megandung R? untuk melakukan hal ini.(3.3) ke dalam R karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam Sagar S menjadi setangkup.1).3).2.2).

S={(1.3).(2.(2.(3.2).(3.1).1).3).2). yaitu Klosur refleksif (reflexive closure).(1.(3.3)} Sekarang S bersifat setangkup. Relasi S disebut klosur setangku dari R  Ada tiga jenis klosur . klosur simetris (symmetric closure) dan klosur menghantar (transitive closure) .

Relasi n-ary mempunyai terapan penting di dalam basis data NIM 13598011 13598011 13598014 13598015 13598015 13598015 13598019 NAMA Amir Amir Santi Irwan Irwan Irwan Ahmad MATAKULIAH Matematika Diskrit Arsitektur Komputer Algoritma Algoritma Struktur Data Arsitektur Komputer Algoritma NILAI A B D C C B E . Relasi yang menghubungkan lebih dari dua buah himpunan.

Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B. Jika f adalah fungsi dari A ke B maka dapat dituliskan f: A B yang artinya f memetakan A ke B .  Misalkan A dan B adalah himpunan. Fungsi sering juga disebut pemetaan atau transformasi.

Sedangkan relasi biasanya dinyatakan sebagai himpunan pasangan terurut 2.  . Formula pengisian nilai Fungsi dispesifikasikan dalam bentuk rumus pengisian nilai misalnya 𝑓(𝑥) = 𝑥 2 3. Kode program (source code) Fungsi di spesifikasikan dalam bentuk kode program komputer. atau bukan salah satu dari keduanya. fungsi pada. Himpunan pasangan terurut Fungsi adalah relasi. Fungsi yang mengembalikan nilai mutlak dari sebuah bilangan bulat x yaitu ІxІ Fungsi dibedakan menjadi fungsi satu ke satu. Kata-kata Fungsi dapat dinyatakan secara eksplisit dalam rangkaian kata-kata.Fungsi dapat di spesifikasikan dalam berbagai bentuk. diantaranya: 1. misalnya “ 𝑓 adalah fungsiyang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu string biner” 4. Misalnya dalam bahasa Pascal.

 Gambar dibawah ini mengilustrasikan fungsi satu ke satu  Fungsi a● b● c● d● ●1 ●2 ●3 ●4 ●5 .𝑓dikatakan satu ke satu jika tidak ada dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama.

x} adalah fungsi satu ke satu.  Relasi 𝑓={(1.w} juga fungsi satu ke satu.(3.  Relasi 𝑓=(1.2.w} bukan fungsi satu ke satu karena 𝑓 (1)= 𝑓 (2) = u  Contoh 12:  Misalkan 𝑓:Z Z.v)} dari A={1.(3.w). Tentukan apakah 𝑓 𝑥 = 𝑥 2 + 1 dan 𝑓(x)=x-1 merupakan fungsi satu ke satu? .(2.u).v.v)} dari A={1.u). Contoh 11:  Relasi 𝑓={(1.v.2.2.v)} dari A={1.w).3} ke B={u.(2.w.u).3} ke B={u.(3.v.3} ke B={u.u).(2.

𝑓 𝑥 = 𝑥 2 + 1 bukan fungsi satu ke satu. misalnya 𝑓(2)=𝑓(-2) =5  𝑓(x)=x-1 adalah fungsi satu ke satu. karena ada dua x yang bernilai mutlak sama tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama.  Gambar di sebelah mengilustrasikan fungsi pada  (i) .  Fungsi 𝑓dikatakan pada jika jika setiap elemen himpunan B merupakan bayangan dari atu atau lebih elemen himpunan A. misalnya 𝑓(2) =1 dan untuk 𝑓(-2) =-3.

w} merupakan fungsi pada karena semua anggota B merupakan jelajah dari 𝑓.u).3} ke B={u.a● ●1 b● c● d●   ●2 ●3  Contoh 13: Relasi 𝑓={(1.w).3} ke B={u.2.u).v.(2.2.v)} dari A={1.(3.(2.(3.u).v.v)} dari A={1.w} bukan fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah (range) dari 𝑓 Relasi 𝑓={(1. .

.

Misalkan a adalahanggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B. maka 𝑓 −1 b = a jika 𝑓(a)=b. maka kita dapat menemukan balikan atau invers dari 𝑓 . . Jika 𝑓 adalah fungsi berkorespondens satu ke sati dari A ke B. Fungsi invers dari 𝑓 dilambangkan dengan 𝑓 −1 . Gambar di bawah ini memperlihatkan diagram panah yang menggambarkan 𝑓 −1 sebagai fungsi 𝑓.

 f  g adalah fungsi yang memetakan nilai dari g(a) ke f (fg)(a) =f(g(a)) (fg)(a) A g(a) a g(a) B f(g(a)) f(g(a)) C .

Diberika fungsi g={(1.2.w}.Contoh 14: 1.(3.x)} 2.v)} yang memetakan A={1.(w. Tentukan fog dan gof.u).y).y. dan fungsi f={(u.y).v.z}.y).x). fog = f(g(x))=f(x2+1)=x2+1-1=x2 gof = g(f(x))=g(x-1)=(x-1)2+1=x2-2x+2 . Diberikan fungsi f(x)=x-1 dan g(x)=x2+1.(2.u).z)} yang memetakan B={u. Fungsi komposisi dari A ke C adalah fog={(1.(2.v.3} ke B={u.w} ke C={x.(3.(v.

Fungsi Floor dan Ceiling 2. Fungsi modulo 3. Fungsi Faktorial 4.Beberapa fungsi yang dipakai dalam ilmu komputer: 1. Fungsi Eksponensial dan Logaritmik .

5=0 .Fungsi floor dari x : x x menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x Fungsi ceiling dari x :x x menyatakan nilai bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x Contoh 15: 3.8=5 -0.5=4 0.5=0 0.5=1 4.5=-1 -0.8=4 4.5=3 3.

dengan 0r<m Contoh 16: 25 mod 7 = 4 15 mod 4 = 3 0 mod 5 = 0 -25 mod 7=3 . yang dalam hal ini: a mod m memberikan sisa pembagian bulat bila a dibagi dengan m a mod m = r sedemikian sehingga a=mq+r.Fungsi modulo adalah fungsi dengan operator mod.

Untuk sembarang bilangan bulat tidak-negatif n. didefinisikan sebagai: Contoh 17: 0! =1 1! = 1 4! = 1 x 2 x 3 x 4 = 24 5! = 1 x 2 x 3 x 4 x 5 = 120 . faktorial dari n dilambangkan dengan n!.

a-n = 1/an Fungsi logaritmik berbentuk Contoh 18: 43 = 4.Fungsi eksponensial berbentuk Untuk kasus perpangkatan negatif.4.4 = 64 4log 64 = 3 .

Rekurens Contoh 19: . Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri.  Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian: a. Basis b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful