BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pengertian belajar (learning) secara umum diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Perubahan perilaku dalam diri seseorang adalah suatu proses. Perubahan tersebut dapat diamati hasilnya dalam bentuk perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan dari tidak tahu menjadi tahu (Hitipiew, 2009). Ada banyak jenis belajar dan mengajar jika ditinjau dari tipe prosesnya dan sarana, yaitu pembelajaran tatap muka (face to face learning) dan pembelajaran jarak jauh (distance learning). Sedangkan ditinjau dari sarana dan media komunikasi yang digunakan untuk belajar yaitu mobile media learning, electronical offline learning, electronical online learning, dan traditional media learning. Perencanaan pembelajaran sangat penting untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajar yang disasar (Santyasa, 2005). Pada setiap proses belajar mengajar tentunya membutuhkan perencanaan pembelajaran yang disusun oleh pengajar. Perencanaan ini tidak dimaksudkan untuk membatasi proses peserta didik dalam belajar (pembelajaran kaku) tetapi untuk memastikan bahwa peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dengan proses pembelajaran yang telah disusun oleh pengajar. Perencanaan pembelajaran akan berbeda bergantung pada jenis pembelajaran yang akan dilakukan (pembelajaran tatap muka atau jarak jauh), materi yang akan dipelajari oleh peserta didik, sarana dan media belajar yang tersedia, lingkungan tempat pembelajaran, dan kondisi psikologis dan interaksi peserta didik.

1

Pembelajaran tatap muka merupakan pembelajaran yang sangat umum berlangsung saat ini. Pembelajaran tatap muka harus direncanakan secara khusus berdasarkan kaidah-kaidah pengembangan bahan ajar dan standar proses dalam penerapannya. Pada pembelajaran tatap muka, kemampuan mengajar pengajar sangat menentukan, misalnya penguasaan konsep materi pelajaran dan lingkungan tempat belajar. Konsep materi pelajaran dan lingkungan belajar dapat dikembangkan dengan tepat sesuai dengan kondisi peserta didik melalui modelmodel pembelajaran yang telah banyak dikembangkan saat ini. Menurut Santyasa (2005) model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi hendaknya dikemas koheren dengan hakikat pendidikan bidang studi tersebut. Namun, secara filosofis tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa menjadi pemikir kritis, humanis, lentur, dan adaptif dalam menerapkan pengetahuan di dunia nyata. Model-model pembelajaran yang dapat mengakomodasikan tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif. Santyasa (2005) mengungkapkan bahwa terdapat dua faktor yang cukup esensial dalam pembelajaran yang bermakna, yaitu orientasi desain dan evaluasi pembelajaran. Pembelajaran hendaknya mencoba menggali kesulitan-kesulitan belajar para siswa berbasis pengetahuan awal dengan desain pembelajaran berorientasi pada fenomena dunia nyata. Pembelajaran hendaknya diupayakan dapat memberdayakan pengetahuan awal dan evaluasi yang komprehesif, kerja individu berbasis proyek, pemecahan masalah kolaboratif, dan kerja kooperatif dalam kelompok-kelompok kecil. Menurut Mursell & Nasution (2008) mengajar dengan sukses tak dapat dilakukan menurut suatu pola tertentu yang diikuti secara rutin. Agar berhasil dengan baik, mengajar memerlukan kecakapan, pemahaman, inisiatif, dan kreativitas dari pihak pengajar. Berdasarakan latar belakang tersebut maka penulis melakukan kajian literatur dan menyajikannya dalam bentuk makalah yang berjudul “Metode Pembelajaran Tatap Muka (Face to Face Learning) dan Penerapannya dalam Pembelajaran Biologi”, dengan tujuan untuk memperluas wawasan kependidikan dan menstimulasi kreativitas dalam belajar dan mengajar.

2

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah konsep belajar, pembelajaran, dan pembelajaran tatap muka? 2. Bagaimanakah konsep pengelolaan kelas dan pengelolaan siswa pada

pembelajaran tatap muka?
3. Bagaimanakah konsep pengembangan pembelajaran tatap muka? 4. Bagaimanakah konsep pendekatan, strategi, model, dan metode pembelajaran

tatap muka yang relevan dengan pembelajaran bidang studi biologi?
5. Bagaimanakah konsep kemampuan mengajar guru ditinjau dari kompetensi

profesional guru? 6. Bagaimanakah perbandingan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh ditinjau dari beberapa aspek pendidikan? C. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. Untuk mengetahui konsep belajar, pembelajaran, dan pembelajaran tatap muka; Untuk mengetahui konsep pengelolaan kelas dan pengelolaan siswa pada pembelajaran tatap muka; Untuk mengetahui konsep pengembangan pembelajaran tatap muka; pembelajaran tatap muka yang relevan dengan pembelajaran bidang studi biologi;
5. Untuk mengetahui konsep kemampuan mengajar guru ditinjau dari kompetensi 4. Untuk mengetahui ragam konsep pendekatan, strategi, model, dan metode

profesional guru? 6. Untuk mengetahui perbandingan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh ditinjau dari beberapa aspek pendidikan.

D. Batasan

3

Batasan kajian literatur dan pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut. 1. 2. Kajian literatur dan pembahasan sesuai dengan rumusan masalah, Istilah siswa pada makalah ini adalah seseorang yang terdaftar sebagai peserta didik pada lembaga pendidikan formal, diantaranya adalah SD, SMP, dan SMA.

BAB II

4

KAJIAN LITERATUR DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran tatap muka merupakan pembelajaran yang memungkinkan interaksi pendidik dan peserta didik dalam satu lingkungan dengan tujuan untuk mencapai memberikan pengalaman belajar langsung kepada peserta didik. Berdasarkan interaksi tersebut, maka pada bab ini akan dibahas tentang konsep belajar dan pembelajaran, pengelolaan kelas dan siswa, ragam konsep pendekatan dan strategi-strategi pembelajaran dan kompetensi profesional guru yang berkaitan erat dengan pembelajaran tatap muka. Selain itu, juga dibahas tentang pembelajaran jarak jauh serta perbandingannya dengan pembelajaran tatap muka. A. Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Pembelajaran Tatap Muka 1. Belajar dan Pembelajaran Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik. Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan. Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (attitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental. Faktor eksternal, adalah

5

Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah: lingkungan sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh guru. Raka Joni. peserta didik. dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan. 1992 dalam Depdiknas. Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran. dan keadaan masyarakat). dengan memperhitungkan kejadiankejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel. dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso. 2008). Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh guru di sekolah. baik anak-anak maupun manusia dewasa. 2008). Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. 2008). waktu. 6 . lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang. Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan. sosio kultural. Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne. ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan. Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat. materi. dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak.kondisi di luar individu peserta didik yang mempengaruhi belajarnya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif. 2008). Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang. 1985 dalam Depdiknas. melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey). keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis. 1993 dalam Depdiknas. Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik. 1991 dalam Depdiknas. Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja. metode. Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. dan sumber daya. Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik.

dan motivasi kerja. tanya jawab. tanya jawab. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif. Makna Pengelolaan 7 . kegiatan tugas terstruktur. antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. demonstrasi. kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian eksternal yang berlangsung di dalam peserta didik yang dapat diketahui atau diprediksi selama proses tatap muka. observasi di sekolah. atau simulasi. Untuk sekolah yang menerapkan sistem paket. Pengelolaan Kelas dan Siswa 1. kegiatan pembelajaran perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP). 2. ekplorasi dan kajian pustaka atau internet. dan lingkungan sekolah. diskusi kelompok. kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam. untuk sekolah yang menerapkan sistem SKS. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi dikoveri inkuiri. kondisi fisik. diskusi kelas. kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab. lingkungan sosial. kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. presentasi. Pembelajaran Tatap Muka Berdasarkan makna belajar dan pembelajaran di atas maka dapat diasumsikan bahwa pembelajaran tatap muka merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik secara tatap muka. B. Sedangkan.oleh sebab itu guru harus memiliki persiapan mental. Faktor lingkungan. pembelajaran kolaboratif dan kooperatif. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif. penguasaan bahan. diskusi kelas. atau demonstrasi. eksperimen. presentasi. Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru. Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi.

Pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar. 1987) pengelolaan adalah substansi dari mengelola berartis suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan data. dilakukan kegiatan penilaian. 1987). Berdasarkan hasil pengawasan. pengorganisasian. 1987). perencanaan.1 Bagan Model Pengelolaan Pada gambar tersebut dapat dilihat arus kegiatan dimulai dari pengumpulan data (yang akan dikelola). dan penilaian. dan SMA). Model pengelolaan menurut Arikunto (1987) ditunjukkan oleh gambar 2. pengorganisasian. Pengawasan dilakukan terhadap ke empat kegiatan. Gambar 2. pelaksanaan. dan efisien (Arikunto. Arikunto (1987) memaparkan bahwa semua anak yang sudah mendaftarkan diri kemudian di terima suatu sekolah. dan pelaksanaan kegiatan. perancanaan. secara otomatis menjadi tanggung jawab 8 . Menurut Hamiseno (1987. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengelolaan menghasilkan sesuatu (produk) dan sesuatu itu dapat merupakan sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan selanjutnya.1. pengawasan. efektif. dalam Arikunto. yaitu seseorang yang terdaftar sebagai peserta didik di suatu lembaga pendidikan formal (SD. yang memberikan umpan balik untuk semuanya (Arikunto. 2. SMP. Lebih sempit lagi. Pengelolaan Siswa Pengertian siswa pada makalah ini adalah siapapun yang terdaftar sebagai peserta didik di suatu lembaga pendidikan.

Dengan kata lain yang dimaksud disini adalah kelas dengan sistem pengajaran klasikal dalam pelaksanaan pengajaran secara tradisional (Arikunto. dan melaporkan dan lain-lain pekerjaan yang berhubungan dengan siswa inilah yang disebut pengelolaan siswa. menempatkan. disusun. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur peserta didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. 1987). karena di sekolah inilah siswa diberi ilmu untuk bekal hidup. Pada waktu-waktu tertentu. mencatat. Penggunaan istilah “unit” disini mengandung suatu pengertian bahwa kelas mempunyai ciri yang khusus dan spesifik. sekolah berkewajiban memberikan laporan kepada orang tau atau walinya tentang hasil dari apa yang telah dilakukan oleh peserta didik tersebut dari hari ke hari. Jadi. Bagi seorang siswa. Mereka (peserta didik) ini perlu diatur. yaitu sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. dan ditempatkan di kelas. Kelas merupakan unit atau bagian terkecil sekolah. pengelolaan siswa adalah pekerjaan mengatur siswa yang meliputi mendaftar. diurus. dan dikelola sedemikian rupa sehingga memenuhi harapan. menempatkan. Oleh karena itu. 1987). mencatat. Selanjutnya Arikunto (1987) memaparkan bahwa sekolah adalah “sesuatu”. Mendaftar. Sekolah merupakan tempat untuk menentukan masa depan siswa. dicatat. dikelompok-kelompokkan. Agar setiap peserta didik mendapatkan perlakuan secara maksimal dan adil maka perlu didaftar. Hubungan 9 . dan diadministrasikan sehingga dapat cukup mendapatkan perlakuan sebagaimana diharapkan oleh orang tua atau wali yang mengirimkannya ke sekolah. 3. sekolah ini harus di atur. melaporkan. Setiap kelas mempunyai kekhususan sendiri-sendiri. dan sebagainya (Arikunto. Lebih lanjut Arikunto (1987) menjelaskan bahwa sebuah sekolah terdiri dari serentetan kelas.sekolah. Pengelolaan Kelas Di dalam Didaktik terkandung suatu penegrtian umum mengenai kelas. sekolah adalah dunia dan lingkungan kedua yang memberi arah perkembangan dan kematangan.

dan 3) Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas. Gambar 2. dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. 2) Membantu peserta didik untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan. Mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan keterampilan untuk mengembalikan pada kondisi belajar yang optimal.2. keterampilan mengelola kelas bertujuan untuk: 1) mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya. 2) tantangan. Berdasarkan tujuan tersebut.interpersonal yang baik antara guru dan peserta didik maupun peserta didik dengan peserta didik merupakan syarat keberhasilan dalam pengelolaan kelas. Menurut Arikunto (1987) bagan interaksi belajar mengajar dalam kaitannya dengan pengelolaan siswa dan pengelolaan kelas disajikan pada gambar 2. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajarmengajar yang efektif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rosmini (2007). maka hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah 1) kehangatan dan keantusiasan. 3) 10 .2 Bagan Interaksi Belajar Mengajar Menurut Rosmini (2007). mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif.

serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran.penggunaan variasi media. 5) penekanan pada hal-hal yang positif. dll) Tim dalam gambar 2. serta dilaksanakan secara efektif dan efisien. dan guru KTSP (Struktur kurikulum. atau informasi bagian inventarisasi di sekolah. 4) keluwesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajarnya untuk menghindari gangguangangguan (fleksibel). MGMP. Hasil pengembangan dituangkan dalam rancangan kegiatan pembelajaran dalam bentuk silabus dan desain pembelajaran. lingkungan. desain penilaian dan instrumennya. Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru. 6) penanaman disiplin diri dengan cara memberi contoh dalam perbuatan guru sehari-hari. dan pola interaksi. fasilitas. hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang). Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan pembelajaran. dan lain-lain. Mekanisme kerja tim pengembang kurikulum. Konsep Pengembangan Pembelajaran Tatap Muka Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP (KTSP) dan silabus mata pelajaran. sumber daya. potensi dan kebutuhan peserta didik. Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran.3. Pengembang Kurikulum Evaluasi Silabus Desain Pembelajaran Desain Penilaian MGMP Evaluasi RPP Instumen Penilaian Bahan ajar Pelaksanaan 11 Pembelajaran dan Penilaian Guru Mata Pelajaran . C. gaya mengajar. mata pelajaran disajikan Mekanisme Pembelajaran dan Penilaian. Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat kerja dan/atau kegiatan MGMP. rancangan pelaksanaan pembelajaran lebih rinci (RPP). diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari.

Menjabarkan silabus atau desain pembelajaran dalam bentuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tiap pertemuan. dan mandiri tidak terstruktur. Mengkaji dan memetakan KD (KD) agar diketahui karakteristiknya. Model. 2. Melakukan penilaian proses maupun hasil belajar untuk mengukur pencapaian kompetensi D. menyarankan kegiatan pembelajaran dengan strategi diskoveri inkuiri. MGMP. Hal ini perlu dilakukan guna merancang strategi dan metode yang akan digunakan pada kegiatan tatap muka. Mendeskripsikan KD secara lebih rinci dan terukur ke dalam rumusan indikator kompetensi. dan Guru Matapelajaran Pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Indikator yang dominan pada prinsip dan prosedural misalnya. Melaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/desain pembelajaran dan RPP. 3. Indikator berguna untuk merancang kegiatan pembelajaran yang diperlukan. tugas terstruktur. 5. Ragam Konsep Pendekatan. 4.Gambar 2. dan Metode Pembelajaran Tatap Muka yang Relevan dengan Bidang Studi Biologi 12 . Membuat desain pembelajaran dalam bentuk silabus atau desain umum pembelajaran seperti disajikan dalam Contoh Desain Umum Pembelajaran Sistem SKS. 6. Strategi.3 Skema Mekanisme Kerja Tim Pengembang Kurikulum.

Uraian yang lebih luas terdapat pada model pembelajaran karena dengan model pembelajaran sudah dapat memberikan gambaran pendekatan. Guru yang efektif mempunyai dasar pengetahuan mengenai belajar dan mengajar dan menggunakan pengetahuan ini sebagai petunjuk dalam praktik mengajar mereka. Sebagai seorang guru/pendidik tentu harus berupaya agar usaha yang dilakukan dapat berhasil dengan baik sehingga usahanya efektif. maka pemahaman terhadap strategi pembelajaran biologi mutlak diperlukan. strategi. Agar dapat memainkan perannya secara efektif. 2. kesejawatan dan dalam rangka pemecahan masalah. prosedur) dan dapat menggunakannya untuk membelajarkan siswa dalam kelas dan untuk bekerjasama dengan orang lain di lingkungan sekolah 3. seorang guru menurut Arends (2004) harus mempunyai empat atribut sebagai berikut: 1. learning to be. teknik. Tatanan tertentu yang menjadi fokus pembelajaran mendasarkan diri pada hakikat tuntutan perkembangan iptek. strategi. dan teknik pembelajaran. Guru yang efektif mempunyai pengaturan dan keterampilan untuk melakukan pendekatan pada semua aspek pekerjaannya dengan cara yang reflektif. Beberapa kecenderungan tersebut. dan leraning to life 13 . antara lain: (1) penempatan empat pilar pendidikan UNESCO: learning to know. Melihat pada atribut ke-1 dan ke-2 seperti uraian di atas. Guru yang efektif menguasai sekumpulan cara praktik mengajar (model. Baiklah berikut pengertian masing-masng istilah tersebut. strategi. 4. Pergeseran pola berpikir tersebut berimplikasi pada penetapan tatanan tertentu dalam pembelajaran. metode. Guru yang efektif memandang belajar mengajar sebagai proses belajar sepanjang hayat dan mempunyai pengetahuan dan ketrampilan bekerja untuk meningkatkan kemampuan pengajarannya sendiri dan meningkatkan mutu sekolah. serta model pembelajaran. leraning to do.Pembelajaran atau barang kali menggunakan istilah “belajar dan mengajar” sebenarnya merupakan sebuah usaha secara sadar dan terencana dengan tujuan terjadinya perubahan perilaku pada peserta didik. Di sini sering kali menimbulkan kebingungan untuk membedakan dan menerapkan istilah-istilah seperti pendekatan. metode.

Sedangkan. (6) perubahan paradigma pembelajaran dari standardization menjadi customization. dalam Sugiharto. perubahan yang patut dipahami adalah yang menyangkut pembelajaran. Roy Killen (1998. strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber. terisnpirasi. dikuatkan dan diwadahi oleh pendekatan tertentu. Pembelajaran yang dapat mengakomodasi implementasi KBK dan KTSP tentunya juga harus berubah dari yang telah biasa dilakukan yang cenderung linear. Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Perubahan-perubahan tersebut sangat strategis untuk diinternalisasi dan dipahami oleh para guru di sekolah. 1. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction). (2) kecenderungan bergesernya orientasi pembelajaran dari teacher centered menuju student centered. 2010) misalnya mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran. (4) perubahan teori pembelajaran dan asesmen dari model behavioristik menuju model konstruktivistik.together sebagai paradigma pembelajaran. (3) kecenderungan pergeseran dari content-based curriculum menuju competency-based curriculum. pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif. Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang berlandaskan paradigma konstruktivitik yang senantiasa mengakomodasi pengetahuan awal sebagai starting point. pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. (7) dari evaluasi dengan paper and pencil test yang hanya mengukur convergen thinking menuju open ended question. dan mekanistik menuju pada pembelajaran yang inovatif. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum. performance assessment. dan portfolio assessment. Oleh karenanya. Secara lebih spesifik. yang dapat mengukur divergen thinking. dan (5) perubahan pendekatan teoretis menuju kontekstual. 14 . yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). statik.

2010) dapat diimplementasikan dengan menggunakan beberapa metode pembelajaran. pendekatan interaktif. 4) Menginterprestasikan atau menafsirkan pengalaman-pengalaman keadaan yang telah diketahui. 2) Menafsirkan pengalaman dengan jalan menghubungkan konsep yang telah diketahui untuk menyusun generalisasi. 1) Mengklasifikasikan pengalaman untuk menguasai konsep tertentu. Setiap konsep yang telah diperoleh mempunyai perbedaan isi dan luasnya. Teknologi dan Masyarakat (Salingtemas). pendekatan inkuiri. Dalam pembelajaran tersebut penguasaan konsep sendiri adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Kemampuan membedakan sangat dibutuhkan dalam penguasaan konsep. Macam-macam pendekatan yang sering dikenal dalam pembelajaran antara lain: pendekatan tujuan pembelajaran. pendekatan keterampilan proses. Lingkungan. 3) Mengumpulkan informasi untuk menafsirkan pengalaman. Ciri-ciri suatu konsep adalah: a. a. pendekatan penemuan.tahap ini disebut berpikir asosiatif. dan pendekatan Sains. Dalam Sugiharto.Sebuah pendekatan pembelajaran menurut Rustaman dkk (2003. Manifestasi (perwujudan) proses kognitif melalui tahap-tahap. Demikian pula sebaliknya sebuah metode pembelajaran tertentu dapat digunakan untuk mengimplementasikan beberapa pendekatan yang berbeda. pendekatan lingkungan. pendekatan konsep. Namun demikian. pengalaman dan pengertiannya akan kuat. Berikut ini adalah pembahasan beberapa pendekatan yang relevan dengan pembelajaran bidang studi biologi. pendekatan pemecahan masalah. tidak seluruh pendekatan tersebut akan dibahas pada makalah. Konsep memiliki gejala-gejala tertentu 15 . Seseorang yang memiliki konsep melalui proses yang benar. Pendekatan Berbasis Konsep Pendekatan konsep adalah pendekatan dimana siswa dibimbing memahami sesuatu melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya.

pengalarnan. Contoh pendekatan konsep pada materi biologinya adalah sebagai berikut. Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman.4. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung. menafsirkan. Pendekatan Keterampilan Proses Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati. mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut”. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya. Pendekatan keterampilan proses adalah pengembangan sistem belajar yang mengefektifkan siswa (CBSA) dengan cara mengembangkan keterampilan memproses perolehan pengetahuan sehingga 16 . Gambar 2. kemudian menghafalkan definisnya. Bagan Hubungan Pendekatan Konsep b. d. meramalkan. pebelajar dapat mempelajari fungsi sistem peredaran darah dan mengaitkannya dengan permasalahan-permasalahan yang menyertainya (Jalius. c. dan di saat berikutnya dapat diuji retensinya terhadap sistem peredaran darah. Konsep yang benar membentuk pengertian. 2010). merencanakan penelitian. Pada sistem peredaran darah manusia. Selanjutnya. pebelajar menghafalkan tentang sistem peredaran darah. e. menggolongkan.b. menerapkan.

peserta didik akan menemukan. o Para ahli psikologi umumnya berpendapat bahwa anak-anak muda memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh kongkrit. • 17 . Dimiyati (2002) mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa adalah sebagai berikut: • Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan • Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan. o Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat relatif benar seratus persen penemuannya bersifat relatif o Dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik. • Menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu pengetahuan membuat siswa belajar proses dan produk ilmu pengetahuan sekaligus. mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dituntut dalam tujuan pembelajaran khusus”. mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang melandasi perlu diterapkan pendekatan keterampila proses (PKP) dalam kegiatan belajar mengajar yaitu: o Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Harus berpegang pada dasar pemikiran bahwa semua siswa mempunyai kemampuan (potensi) sesuai dengan kudratnya. serta pembelajaran yang berupa TPU dan TPK. Sedangkan Conny (1990). Menurut Azhar (1993) dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: • Harus sesuai dan selalu berpedoman pada tujuan kurikuler.

pebelajar bisa melihat manfat dari apa yang telah dipelajarinya dan apakah dia menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk memperbaiki belajarnya sesuai dngan konteksnya? 18 . Lebow (1993) dalam Hitipeuw (2009) mengetengahkan nilai-nilai kontruktivistik yang utama antar lain: 1. Harus berpegang pada prinsip "Tut Wuri Handayani". nampaknya yang menjadi titik perkenannya adalah siswa itu adalah siswa itu sendiri sebagai subyek didik dan juga guru dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses benar-benar memperkirakan perbedaan masing-masing siswa.• Harus memberi kesempatan. • • • c. Siswa pembinaan harus berdasarkan pengalaman belajar siswa. bila menggunakan pendekatan konstruktivistik sebagai pendekatan dalam belajarnya maka nilai-nilai berikut menjadi ciri yang bisa menentukan apakah model tersebut lebih kuat aspek kontruktivistiknya atau tidak. berfikir dan mengungkapkan perasaan dan pikiran. Perlu mengupayakan agar pembina mengarah pada kemampuan siswa untuk mengola hasil temuannya. Personal autonomy: apakah kepentingan pribadi pebelajar menentukan kegiatan dan proses pembelajaran yang diterimanya? 3. Reflectivity: apakah setelah pembelajaran selesai misalnya. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk menemukan susuatu yang baru bagi siswa. Pendekatan Konstruktivistik Guru di dalam kelas lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Apapun modelmodel belajar yang digunakan di kelas. Collaboration: apakah tugas-tugas pembelajaran dicapai melalui kerjasama dengan komunitasnya atau tidak? 2. Generativity: apakah ada kemungkinan pebelajar didorong untuk membangun dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan didorong untuk mengelaborasi apa yang diterima? 4. penghargaan dan movitasi kepada peserta didik untuk berpendapat. Memperhatikan azasazas tersebut.

Dalam konteks yang luas.5 Konsep Pembelajaran Konstruktivistik d. dimana para pelajar lebih baik berbicara tentang 19 . etnik. Pendekatan Multikultural Pendidikan multuikultural didefinisikan sebagai sebuah kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya di dalam masyarakat. Personal relevance: apakah pebelajar bisa melihat keterkaitan dari apa yang dipelajarinya dengan kehidupannya sendiri? 7.5. Pembelajaran multikultural pada dasarnya merupakan program pendidikan bangsa agar komunitas multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya (Banks. pendidikan multikultural mencoba membantu menyatukan bangsa secara demokratis. 1993). dan dialek. Pluralism: apakah pembelajarannya tidak menekankan pada satu cara atau satu solusi? Apakah semua pendapat pribadi mendapat tempat dalam dialog pembelajaran? Gambar 2. bahasa. Active engagement: apakah setiap individu terlibat secara aktif dalam belajar untuk membangun pemahamannya atau pebelajar lebih menerima saja pada apa yang diberikan? 6. Dengan demikian sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilai-nilai demokrasi. Kurikulum menampakkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat. kelompok budaya yang berbeda. dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa.

dan bersikap positif terhadap perbedaan budaya. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam. memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. 20 . etnik. ras. sikap dan keterampilan untuk berpartisipasi di dalam demokrasi dan kebebasan masyarakat. 1994 dalam Yaqin 2005). ras. (2) untuk membantu siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural. (3) memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya. etnik. Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural dapat diidentifikasi: (1) untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam. pembelajaran berbasis multikultural dibangun atas dasar konsep pendidikan untuk kebebasan (Dickerson. 1996 dalam Yaqin. Pendidikan multikultural diselenggarakan dalam upaya mengembangkan kemampuan siswa dalam memandang kehidupan dari berbagai perspektif budaya yang berbeda dengan budaya yang mereka miliki. dan etnis.rasa hormat di antara mereka dan menunjung tinggi nilai-nilai kerjasama. 1995 dalam Yaqin. dalam Skeel. 1993. 1994 dalam Yaqin. menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat (Savage & Armstrong. dari pada membicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah pelajar yang berbeda dalam hal ras. (2) memajukan kekebasan. kelompok keagamaan. 2005). (Farris & Cooper. keterampilan terhadap lintas batas-batas etnik dan budaya untuk berpartisipasi dalam beberapa kelompok dan budaya orang lain. 2005). Banks. membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka. (4) untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Banks. yang bertujuan untuk: (1) membantu siswa atau mahasiswa mengembangkan pengetahuan. kecakapan. budaya dan kelompok status sosialnya Pembelajaran dengan pendekatan multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya. 2005) Di samping itu.

dan kemampuan. Menurut Roger dan David dalam Kumalasari (2007) untuk mencapai hasil yang maksimal. Siswa sebagai masyarakat belajar seharusnya berkumpul. (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok. 1993). setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. sosial ekonomi. 2008). yaitu: 1) 2) 3) Saling ketergantungan positif (positive independence) Tanggung jawab perseorangan (individual accountability) Tatap muka (face to face) Komunikasi antar anggota Evaluasi proses kelompok Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif adalah: (a) setiap anggota memiliki peran. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa yang bekerja dalam kelompok akan belajar lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang kelasnya dikelola secara tradisional (Suyanto. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. belajar bersama. (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya. dan bekerja sama untuk saling membantu sehingga semuanya berhasil dalam belajarnya.e. (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Carin. Dalam pembelajaran kooperatif. gender. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Siswa dalam satu kelas dipandang sebagai masyarakat heterogen ditinjau dari etnis. Pendekatan Kooperatif Susanto (2009) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif memandang pembelajaran dari sudut pandangan siswa sebagai masyarakat belajar. 4) 5) 21 . berinteraksi. (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa. ada lima unsur model pembelajaran kelompok yang harus diterapkan.

Pendekatan Salingtemas Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dan lingkungan. ialah “alam sekitar” dan “lingkungan”. Dalam proses interaksi ini dapat terjadi perubahan pada diri individu berupa perubahan tingkah laku. Alam sekitar mencangkup segala hal yang ada di sekitar kita. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respons terhadap lingkungan. Fungsi psikologis 22 . individu menyebabkan terjadinya perubahan pada lingkungan. 4) Lingkungan kultural mencangkup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sumber belajar dan yang dapat menjadi faktor pendukung pengajaran. bahwa fungsi lingkungan merupakan faktor yang penting dalam proses belajar mengajar.f. 2) Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya. baik masa silam mupun yang akan datang tidak terikat pada dimensi waktu yang tepat. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau pengaruh tertentu kepada individu. baik yang positif atau bersifat negatif. 3) Lingkungan alam (fisik) meliputi semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar. Lingkungan belajar atau pembelajaran atau pendidikan terdiri dari berikut ini : 1) Lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat bagi kelompok besar atau kelompok kecil. Dapat juga terjadi. Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor tradisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Ada dua istilah yang sangat erat kaitannya tetapi berbeda secara gradual. Hal ini menunjukkan. baik yang jauh maupun yang dekat letaknya. Suatu lingkungan pendidikan atau pengajaran memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut : 1.

pemahaman. yakni: 23 . yang menunjukkan tingkah laku tertentu. sumbersumber alami. Kreatif. 2. Fungsi instruksional Program instruksional merupakan lingkungan pengajaran atau pembelajaran yang dirancang secara khusus. Di antara metode-metode mengajar yang amat mungkin digunakan untuk mengimple. secara keseluruhan merupakan lingkungan masyarakat. Selanjutnya. efektif. khususnya lingkungan yang sengaja disiapkan sebagai suatu lembaga pendidikan. 2) metode diskusi. sumber budaya. lembaga-lembaga sosial. misalnya keluarga. Fungsi pedagogis Lingkungan memberikan pengaruh-pengaruh yang bersifat mendidik. PAIKEM dapat didefinisikan sebagai: pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif. 3. inovatif. Dalam kontens ini masyarakat mencangkup unsur-unsur individu. dan berbagai hambatan dalam masyarakat. kelompok. para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. 4) metode role-play. g. Selain itu. Inovatif. 2009). Sekurang-kurangnya ada dua alasan perlunya pendekatan PAIKEM diterapkan di sekolah/madrasah kita (Syah. sistem nilai dan norma. Efektif. PAIKEM juga memungkinkan siwa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap.Stimulus bersumber atau berasal dari lingkungan yang merupakan rangsangan terhadap individu sehingga terjadi respons. lembaga pelatihan. kreatif. Suatu dimensi lingkungan yang sangat penting adalah masyarakat. dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata “disuapi” guru. Dengan demikian. kondisi atau situasi serta masalah-masalah. ialah: 1) metode ceramah plus. Pendekatan PAIKEM PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif. dan 5) metode simulasi (Syah. 3) metode demonstrasi. dan Menyenangkan.mentasikan PAIKEM. dan menyenangkan. 2009). sekolah.

Sementara itu. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. tidak menyenangkan. Hanya guru yang aktif (monologis). sementara para siswanya pasif. tidak menarik.a) PAIKEM lebih memungkinkan perserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. PAIKEM dilandasi oleh falsafah konstruktivisme yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan gagasan atau pengetahuan awal yang telah dimilikinya. 2. d. Dengan demikian strategi dalam pembelajaran diartikan sebagai a plan. method. Guru mengupayakan segala cara secara kreatif untuk melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran. sehingga dalam pembelajaran peserta didik selalu menjadi subjek aktif sedangkan guru menjadi fasilitator dan pembimbing belajar mereka (Syah. Falsafah pragmatisme yang berorientasi pada tercapainya tujuan secara mudah dan langsung juga menjadi landasan PAIKEM. peserta didik juga didorong agar kreatif dalam berinteraksi dengan sesama teman. 24 . sehingga hasil pembelajaran dapat meningkat. 2009). Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan perilaku dan pribadi peserta didik. c. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. materi pelajaran dan segala alat bantu belajar. guru. b. Strategi Pembelajaran Dalam konteks pembelajaran terdapat empat unsur dalam strategi yang dijelaskan sebagai berikut. or series of activities designed to achieves a particular education goal. metode dan teknik pembelajaran. bahkan kadang-kadang menakutkan siswa. sehingga mereka mampu membangun makna bagi fenomena yang berbeda. Selama ini kita lebih banyak mengenal pendekatan pembelajaran konvensional. sehingga pembelajaran menjemukan. b) PAIKEM lebih memungkinkan guru dan siswa berbuat kreatif bersama. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur. a.

dalam Sugiharto. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi. a. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja. Kozma (dalam Sanjaya 2007) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih. Menurut Sanjaya (2007. c. 2010). Sifat umum pola tersebut berarti bahwa macam dan urutan perbuatan yang dimaksud tampak dipergunakan dan/atau dipercayakan guru-peserta didik di dalam bermacam-macam peristiwa belajar.Jadi. 2010) dalam konteks pembelajaran. Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. sifat. e. b. Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. 2007) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik. d. Cropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. lingkup. melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya. la menegaskan bahwa 25 . Di bawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang strategi pembelajaran (Sugiharto. strategi berarti pola umum perbuatan guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar.

yaitu: (1) expositiondiscovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Senjaya.setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan. dan sebagainya. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajarmengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan. 9) metode bermain peran. Tentunya ada juga faktor- 26 . strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. 2) metode tanya jawab. 4) metode demonstrasi. Dilihat dari strateginya. 6) metode karya wisata/widya wisata. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya. 2008). Berdasar pengertian-pengertian di atas. strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Senjaya (2008). Oleh karena itu. 5) metode ekspositori atau pameran. sesungguhnya dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. 7) metode penugasan. f. metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. 3) metode diskusi. Strategi pembelajaran pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Menurut Rustaman dkk (2003) ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Jadi. pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian. 8) metode eksperimen. antara lain: 1) metode ceramah. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain.

weil. 2010) dikemukakan bahwa. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran lain. Masih dalam Depdiknas (2004. pada 27 . media. Istilah model pengajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh.faktor lain yang harus diperhatikan. 2010). Istilah model mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi. Pada setiap model pembelajaran dikenal adanya sintaks atau pola urutan yang menggambarkan keseluruhan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). dan teknik dalam pembelajaran dapat diwadahi atau tercermin dalam sebuah model pembelajaran. atau prosedur. (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. 2010). sintaksnya (pola urutannya). metode. dalam Sugiharto. Hal ini dinyatakan dalam Depdiknas (2004. Istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau prosedur tertentu. Model pengajaran diklasifikasikan berdasaran tujuan pembelajarannya. dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. dalam Sugiharto. Setiap model memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. yaitu: a. Ciri-ciri tersebut adalah (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. istilah model pembelajaran digunakan untuk dua alasan penting. b. dan tugas-tugas khusus yang perlu dilakukan oleh siswa”. Model pengajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting. Setiap pendekatan memberikan peran berbeda kepada siswa. strategi. dan sifat lingkungan belajarnya. 3. dalam Sugiharto. 2010). Model Pembelajaran Pendekatan. dan Shower dalam Depdiknas (2004. ”Sintaks pembelajarn menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan guru atau siswa. dan lain-lain (Sugiharto. metode. situasi (lingkungan belajar). seperti: faktor guru. urutan kegiatankegiatan tersebut. anak. Merujuk pada Joyce.

2008) mendefinisikan pembelajaran kontekstual sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beranekaragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa ini. inquiry (menemukan). Berikut ini beberapa model pembelajaran yang relevan untuk pembelajaran biologi. yaitu. learning community (masyarakat belajar). Arends dan para pakar pembelajaran yang lain berpendapat bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran yang lain. Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting. yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya. Menguasai berbagai model pembelajaran merupakan bekal utama bagi seorang guru untuk mencapai tujuan pembelaran tertentu sesuai dengan lingkungan belajar atau kelompok siswa tertentu. Pembelajaran berbasis pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen pembelajaran produktif. 2003). yaitu mengaitkan (relating). constructivism (konstruktivisme). 2011).ruang fisik. bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring) dengan penjelasan sebagai berikut (Sekolah Juara. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. dan authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). questioning (bertanya). modeling (permodelan). a. dalam Purnomo. dan sistem sosial kelas. sosialnya. menerapkan (applying). Contextual Teaching & Learning (Model Pembelajaran Kontekstual) Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Nurhadi. reflecting (refleksi). dan budayanya untuk mencapai tujuan penerapan pembelajaran kontekstual. 28 . Johnson (2002. mengalami (experiencing).

bertujuan untuk mengembangkan sikap ilmiah siswa (menjadi seorang anak yang melek sains. bukan ahli sains). Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif Pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan tujuan dari pembelajaran dan memotivasi siswa 29 . Menurut National Academy of Sciences (dalam Nur. b.Gambar 2. 2001) prinsip-prinsip dalam perangkat pembelajaran kontekstual IPA (termasuk biologi) tersebut meliputi: (1) IPA adalah untuk semua siswa dan (2) pembelajaran IPA merupakan proses aktif.6 Tujuh Komponen Produktif Pembelajaran Kontekstual Gambar 2. penerapan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual sangat cocok dilakukan dalam proses belajar mengajar biologi. Untuk pendidikan biologi.7 Lima Bentuk Belajar yang Muncul dalam Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) menekankan pada kegiatan proses belajar mengajar yang berbasis pada aktivitas siswa dan melibatkan sumber belajar yang nyata dan ada di sekitar siswa.

Tabel 2. 1997).1. Beberapa model pembelajaran kooperatif yang populer dan sering dikembangkan adalag Jigsaw.untuk belajar. Sintaks model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada Tabel 2. Students Teams Achievment Division (STAD). Fase ini diikuti dengan penyajian informasi. Think Pair Share (TPS). Guru mengevaluasi hasi belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. sering dalam bentuk teks bukan verbal. Upaya untuk mengurangi kekurangan penerapan model pembelajaran kooperatif adalah dengan mempertimbangkan materi. waktu. 30 . Team Games Tournament (TGT). sarana. Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu (Arends. Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya dan hasil belajar individu dan kelompok. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasi atau melalui bahan bacaan. Masing-masing model pembelajaran kooperatif mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Group Investigation (GI) dan Cooperative Script. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif. media. jumlah.1 Langkah-langkah Perilaku Guru Menurut Model Pembelajaran Kooperatif FASE Fase I Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Fase II Menyajikan informasi Fase III Mengorganisasikan siswa dalam kelompokkelompok belajar Fase IV Membimbing kelompok bekerja dan belajar Fase V Evaluasi Fase VI Memberikan penghargaan TINGKAH LAKU GURU Guru menyampaikan semua tujuan belajar yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. dan kondisi peserta didik. Kemudian dilanjutkan langkah-langkah di mana siswa di bawah bimbingan guru bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling bergantung. Numbered Head Together (NHT).

dan 5) memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. Model Pendekatan Langsung (Direct Instruction) Landasan teoretik Direct Instruction adalah teori belajar sosial khususnya tentang pemodelan (modelling). Model DI mempunyai lima fase yang sangat penting yaitu: 1) menyampaikan tujuan. Sedangkan bagaimana cara mengoperasikan alat-alat tertentu dalam sains merupakan contoh pengetahuan prosedural. Guru mendemostrasikan keterampilan yang benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik. memberikan umpan balik. mempersiapkan siswa untuk belajar. Rincian perilaku guru pada setiap fase dapat dilihat pada Tabel 2.c. 2010) Fase-fase Fase 1 Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. 4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. 2) mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan. Albert Bandura yang merupakan pengembang teori belajar sosial menyatakan bahwa belajar yang dialami oleh manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan yiatu meniru perilaku dan pengalaman orang lain. Problem Based Instruction (Model Pembelajaran Berbasis Instruksi) Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan 31 . Fase 2 Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan Fase 3 Membimbing pelatihan Fase 4 Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Perilaku Guru Guru menyampaikan tujuan. Tabel 2. 3) membimbing pelatihan. dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari d. Model DI dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. informasi latar belakang pelajaran.2 Sintaks Model Pembelajaran Langsung (Sumber: Sugiharto. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan. pentingnya pelajaran.2. Menghafal rumus dalam bidang sains merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual).

terbuka dan mendua. (3) guru membantu siswa menciptakan makna terkait dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan masalah dan apa rasionalnya). siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah. Jones. mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah. Masalah yang tidak tentu adalah masalah yang kabur. bisa berasal dari hasil seleksi guru atau dari eksplorasi siswa). program komputer. Model problem-based instruction memiliki lima langkah pembelajaran (Arend et al. 2001). melakukan survei dan pengukuran).pemecahan masalah otentik (Arends et al. e. laporan lisan. 1997. informasi. dan belum terdefinisikan (Fogarty. mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah. Problem Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Masalah) Pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau problem based learning adalah pengajaran yang dirancang berdasarkan masalah riil kehidupan yang bersifat tidak tentu (ill-structured). 1. (2) guru membantu siswa mengklarifikasi masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi melibatkan sumbersumber belajar. Belajar berdasarkan masalah dapat membangkitkan minat siswa.. mengumpulkan dan menganalisis data. model. dan (5) presentasi (dalam kelas melibatkan semua siswa. atau tiga minggu. 2001). nyata dan sesuai untuk mengembangkan intelektual serta memberikan kesempatan agar siswa belajar dalam situasi kehidupan nyata. bisa untuk pertemuan satu. menyusun fakta. dan data yang variatif.. dan lain-lain). bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah. bila perlu melibatkan administator dan anggota masyarakat). yaitu: (1) guru mendefisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yang berkaitan (masalah bisa untuk satu unit pelajaran atau lebih. Menurut Pannen (2001) bahwa pandangan konstruktivis pada problem based learning mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Fokus pada kebermaknaan 32 . Dalam pemrolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik. (4) pengorganisasian laporan (makalah. dua. tidak jelas. guru. 1996) dalam Arnyana (2004).

maka informasi tersebut harus digunakan dalam pemecahan masalah. Menurut Arends (1997) penerapan problem based learning terdiri dari lima langkah. 2. Penjelasan kelima langkah tersebut adalah sebagai berikut. menjelaskan logistik memotivasi 2. 3. Membimbing penyelidikan individu • dengan masalah Guru mendorong melaksanakan penyelidikan 4.3 Langkah-langkah Penerapan Problem Based Learning No. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya • siswa untuk dan maupun kelompok mengumpulkan informasi yang sesuai. Kelima langkah tersebut dimulai dari orientasi guru dan siswa pada masalah serta diakhiri dengan analisis kerja siswa. Mengorganisir siswa dalam belajar • • yang siswa dibutuhkan terlibat dan dalam pemecahan masalah Guru membagi siswa dalam kelompok Guru membantu dan siswa dalam mendefinisikan mengorganisir tugas-tugas belajar yang berhubungan 3. Langkah-langkah PBM Orientasi siswa pada masalah Kegiatan yang dilakukan guru • Guru menjelaskan tujuan. sehingga terjadi proses kebermaknaan terhadap informasi. Meningkatkan kemampuan siswa untuk berinisiatif Problem based learning harus membiasakan siswa untuk berinisiatif dalam prosesnya. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan seperti laporan. akan tetapi PBM menyajikan informasi. 33 . Tabel 2. 1.Problem based learning semata-mata tidak menyajikan informasi untuk diingat siswa. sehingga pada akhirnya kemampuan tersebut akan meningkat. Mengembangkan keterampilan sosial Proses pengembangan keterampilan sosial merupakan keterampilan yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.

2001). Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif. 34 . maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara pebelajar. kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan. Langkah-langkah pokok PBP dapat dilihat di tabel 2. 2) menyusun proposal (merumuskan masalah. Project Based Learning ( Model Pembelajaran Berbasis Proyek) Project Based Learning adalah model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dari suatu disiplin. Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh pebelajar ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya. Proyek pebelajar dapat disiapkan dalam kolaborasi dengan instruktur tunggal atau instruktur ganda. Di dalam kerja kelompok suatu proyek. mereka menemukan keterampilan merencanakan. mengorganisasi. dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja.video. negosiasi. 4) menyusun laporan atau produk dan 5) mempresentasikan hasil kerja dan seluruh langkah dikerjakan oleh siswa secara berkelompok. memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri. 1997) atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang f. siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas. menuliskan latar belakang masalah dan memprediksikan penyelesaian masalah). Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi digunakan (Sumber: Arends. dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan.4. melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya. sedangkan pebelajar belajar di dalam kelompok kolaboratif antara 4-5 orang. 3) melakukan praktikum atau kegiatan untuk mengetahui pemecahan permasalahan. dan mode dan membantu mereka 5. Umumnya PBP memiliki sintaks: 1) siswa mengumpulkan informasi tentang suatu topik. dan realistik (BIE. dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai. Ketika pebelajar bekerja di dalam tim. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah • membagi tugas dengan temannya. dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan.

4 Langkah-langkah pokok dalam PBP dan kegiatan Proses Belajar Mengajar (Sintaks PBP) Planning 1) Merancang seluruh proyek 1) Persiapan proyek • Guru menginformasikan tujuan pembelajaran • Guru menginformasikan fenomena nyata sebagai sumber masalah • Siswa menyusun jadwal proyek • Siswa membuat dan menyepakati aturan kolaborasi di dalam keseluruhan sktifitas proyek.Tabel 2. Presentasi proyek mungkin dalam bentuk pameran yang diadakan di lingkungan 35 . siswa melakukan 3) Investigasi (mengumpulkan data) • Analisis data • Menarik kesimpulan • Mengkomunikasikan gagasan atau temuan dengan anggota kelompok • Bekerjasama menyiapkan presentasi/menyusun laporan ilmiah hasil investigasi atau membuat artefak lainnya Processing 1) Presentasi laporan proyek atau artifak. 2) Mengorganisir pekerjaan (kerjasama/kolaboratif) • Mengorganisir kerjasama/kolborasi • Pemilihan topik • Memilih sumber daya/informasi yang terkait • Membuat design investigasi 2) Perencanaan proyek: siswa melakukan: • Pembentrukan kelompok • Mengidentifikasi tema dan pemilihan proyek • Penelusuran sumber • Merumuskan masalah sesuai dengan tema • Menyusun hipotesis • Menentukan variabel penyusunan instrumen dan prosedur penelitian Kegiatan PBM Creating Bekerjasama/dengan yang lain 1) Meneliti data • Bekerjasama dalam mengumpulkan data • Menganalisis data 2) Mengembangkan pemikiran dan dokumentasi • Kerjasama dalam membuat visualisasi artefak-artefak (menyusun laporan proyek) dengan membangun gagasan-gagasan Organisasi kegiatan KBM. Siswa mengkomunikasikan secara aktual kreasi atau temuan dari investigasi 4) Siswa bekerjasama dalam penyajian laporan proyek (artifa).

2003. Learning Cycle (Model Pembelajaran Siklus Belajar) Siklus belajar menempatkan kegiatan inkuiri (investigasi dan penemuan) sebagai hal utama. 2) Refleksi dan tindak lanjut.sekolah. dalam Kirna. selanjutnya dikenal siklus belajar lima fase. seperti penggunaan analogi (Lawson. 2010). yaitu menggunakan “logic of discovery”. tetapi juga abduksi (retroduction). dan enam fase yang disajikan pada gambar . evaluasi • Refleksi dan evaluasi terhadap hasil proyek • Analisis dan evaluasi prosesproses belajar 5) Tahap evaluasi • Refleksi untuk mengevaluasi proses PBM dengan PBP sebagai acuan tindak lanjut • Evaluasi proses menggunakan evaluasi diri sendiri. lima fase. evaluasi teman sebaya. Pentingnya inkuiri dinyatakan oleh Pierce bahwa keyakinan terhadap pemahaman (beliefs) dibangun melalui inkuiri (Maxey. dan yang terakhir dikenal siklus belajar enam fase. Pada perkembangannya tahapan model siklus belajar dari yang paling sederhana dikenal dengan tiga fase. 2010). 36 . Pierce lebih jauh menyatakan bahwa investigator (inkuirer) dalam pemecahan permasalahan tidak hanya menggunakan metode deduktif dan induktif. Berikut ini adalah bagan tentang siklus belajar tiga fase. 1989 dalam Kirna. dan portofolio berlangsung selama pembelajaran mulai dari pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir (Sumber: Mahanal 2008 dalam Mahanal 2009) g. Metode abduksi ini memegang peranan penting dalam memahami sains terutama konsep teori.

9 Bagan Model Siklus Belajar Lima Fase Gambar 2. (2) mendukung kemandirian siswa belajar dan berdiskusi. merumuskan kembali ide-ide.8 Bagan Model Siklus Belajar Tiga Fase Gambar 2.10 Bagan Model Siklus Belajar Enam Fase Seting pengajaran konstruktivistik yang mendorong konstruksi pengetahuan secara aktif memiliki beberapa ciri: (1) menyediakan peluang kepada siswa belajar dari tujuan yang ditetapkan dan mengembangkan ide-ide secara lebih luas. dan menarik kesimpulan sendiri.Gambar 2. membuat hubungan. (3) sharing dengan siswa mengenai pentingnya pesan bahwa dunia adalah tempat yang kompleks di 37 .

dan menerapkan atau mengaplikasikan konsep pada kasus-kasus di lingkungan sekitar yang relevan dengan konsep yang dipelajari. menuntut guru untuk menguasi konsep pokok bahasan secara mantap dan menyeluruh serta menguasai langkah-langkah model pembelajaran yang sedang diterapkan. penemuan konsep. h. Pada pembelajaran biologi. 2005).. Demikian pula pada model siklus belajar. Ini berarti bahwa mengajar bukan melakukan transmisi pengetahuan tetapi memfasilitasi dan memediasi agar terjadi proses negosiasi makna menuju pada proses perubahan konseptual (Hynd. (4) menempatkan pembelajaran berpusat pada siswa dan penilaian yang mampu mencerminkan berpikir divergen siswa (Santyasa. 1994 dalam Santyasa). 38 . Peran guru sebagai fasilitator. dan aplikasi konsep siswa masih dalam lingkungan kontrol guru sehingga meminimalkan miskonsepsi. sehingga eksplorasi. 2005). menemukan konsep secara mandiri.mana terdapat pandangan yang multi dan kebenaran sering merupakan hasil interpretasi. Agar terjadi proses perubahan konseptual. yaitu: (1) mempertahankan intuisinya semula. atau masing-masing berdiri sendiri. dan (3) merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru. siswa dibimbing untuk melakukan eksplorasi. (2) merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi. Dalam kondisi konflik kognitif. Perubahan konseptual terjadi ketika siswa memutuskan pada pilihan yang ketiga. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual Pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan. belajar melibatkan pembangkitan dan restrukturisasi konsepsi-konsepsi yang dibawa oleh siswa sebelum pembelajaran (Brook & Brook. seting lingkungan tempat siswa belajar mempunyai nilai tersendiri terhadap kemampuan siswa untuk mengawali eksplorasi konsep dari pokok bahasan yang sedang dipelajari. kongruen. Sementara pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa konflik. 1993 dalam Santyasa. siswa dihadapkan pada tiga pilihan. et al. Proses negosiasi makna tidak hanya terjadi atas aktivitas individu secara perorangan. tetapi juga muncul dari interaksi individu dengan orang lain melalui peer mediated instruction.

4. Metode Pembelajaran Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. peralatan eksperimen yang sesuai. 2005) menyatakan meaning making is not just an individual operation. analogi. atau contoh-contoh tandingan. model analogi. 2004). Pertanyaan resitasi bertujuan memberi peluang kepada siswa memangil pengetahuan yang telah dimiliki dan pertanyaan konstruksi bertujuan menegosiasi dan mengkonfrontasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru. the individual interacts with others to construct shared knowledge. latihan menjalani learning to be. (6) konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna. yaitu: (1) Sajian masalah konseptual dan kontekstual. Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah: peranan guru sebagai fasilitator. konfrontator. Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa. pemahaman secara mendalam. Model pembelajaran perubahan konseptual memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa. kebebasan. interaksi sosial yang efektif. penumbuhan kecerdasan inter dan intrapersonal. strategi merupakan “a plan of operation achieving something” 39 . meja dan korsi yang mudah dimobilisasi. bahan ajar. Dengan kata lain. panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru. (2) konfrontasi miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut. (5) konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual.Costa (1999 dalam Santyasa. Sistem sosial yang mendukung model ini adalah: kedekatan guru sebagai teman belajar siswa. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan atau tertulis melalui pertanyaan-pertanyaan resitasi dan konstruksi. keterampilan penerapan pengetahuan yang variatif. (3) konfrontasi sangkalan berikut strategi-strategi demonstrasi. negosiator. minimnya peran guru sebagai transmiter pengetahuan. kebiasaan belajar dengan bekerja. Dampak pembelajaran dari model ini adalah: sikap positif terhadap belajar. perubahan paradigma. (4) konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah. Dampak pengiringnya adalah: pengenalan jati diri.

situasi (lingkungan belajar). dalam Sugiharto. Kompetensi guru dituntut dalam menjalankan 40 . 2010). bakat. dan sikap. guru menjadi faktor utama dalam penciptaan suasana pembelajaran. dan alam sekitar (Triluqman. 9) metode bermain peran. 4) metode demonstrasi. 7) metode penugasan. dalam Sugiharto. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. Oleh karena itu. Dukungan lingkungan berkaitan dengan suasana atau situasi dan kondisi yang mendukung terhadap proses pembelajaran seperti lingkngan keluarga. Input berkaitan dengan kondisi peserta didik seperti minat. yaitu menyangkut input.2010). proses. dan sebagainya. Proses berkaitan erat dengan penciptaan suasana pembelajaran. Tentunya ada juga faktorfaktor lain yang harus diperhatikan. potensi. Berkaitan dengan faktor proses. Menurut Rustaman dkk (2003. antara lain: 1) metode ceramah. Jadi. 2) metode tanya jawab. sarana dan prasarana. 2008). seperti: faktor guru. media. yang dalam hal ini lebih banyak ditekankan pada kreativitas guru. 3) metode diskusi. E. 5) metode ekspositori atau pameran. Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan pembelajaran. anak. dan lain-lain (Sugiharto. Konsep Mengajar Guru Ditinjau dari Kompetensi Profesional Guru Mutu pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor penting. motivasi. 2010) ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. dukungan lingkungan. salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajarmengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan. 6) metode karya wisata/widya wisata. 8) metode eksperimen.sedangkan metode adalah “a way in achieving something” Sanjaya (2008. metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. masyarakat.

dan menjadikan siswa terampil untuk saling mengevaluasi. Selanjutnya guru harus berupaya untuk memecahkan masalah metode mengajar. Keterampilan menjelaskan c. yang membangkitkan tujuan yang aktif. Menurut Usman (2005). Tugas organisator ialah memungkinkan kelompok dan individu-individu di dalamnya untuk berfungsi bersama (Mursell dkk. d. g. Hal ini disebabkan keterampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Lebih lanjut Mursell memaparkan bahwa untuk mencapai pendapat tersebut pelajaran harus diorganisasi berbentuk kegiatan-kegiatan yang tampaknya riil. Keterampilan mengadakan variasi e. Dalam hal ini seorang guru perlu menerapkan adanya pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan melalui berbagai keterampilan mengajar di dalam kelas. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil h. yang mengkonfrontasikannya dengan tantangan-tantangan yang berarti. f. ada 8 keterampilan a. yang 41 .tugasnya secara profesional.. dengan pemeriksaan dan kesalahan. Mursell (2008) menjelaskan bahwa usaha mencari metode mengajar yang baik telah dilakukan selama beberapa puluh tahun dengan percobaan-percobaan. sebagai pimpinan guru harus dapat mengevaluasi diri. mengevaluasi siswa. diantaranya adalah sebagai a) pengontrol. dan b) pembangkit kritik diri dan pengevaluasi diri. ada kalanya dengan sukses dan ada kalanya dengan kegagalan. mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran. Jika mengajar dirumuskan sebagai organisasi belajar maka guru pada hakekatnya adalah seorang organisator. karena tanpa kontrol dan ketertiban tidak mungkin suatu kelompok berfungsi dengan baik. 2008). sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. menarik dan berharga bagi murid. Terdapat banyak sifat organisator yang sebaiknya ada pada guru. yaitu: Keterampilan membuka dan menutup pelajaran Keterampilan bertanya Keterampilan memberi kenguatan Keterampilan mengelola kelas b.

Mursell (2008) membandingkan antara sekolah lama dan sekolah baru.5 Harus Ada Perubahan yang Radikal dalam Pola-pola Belajar dan Mengajar Sekolah Lama siswa mempelajari matapelajaran tertentu yang satu sering terpisah dengan yang lain Pelajaran diberikan tanpa mengindahkan minat dan keinginan siswa Diadakan batas tegas antara kurikuler dan ekstrakurikuler Keterampilan dan kecakapan diajarkan dengan latihan khusus secara terpisah dari penggunaannya Tabel 2.membawa dia kepada pengertian yang lebih dalam serta luas dan memberi sikap yang lebih halus serta keterampilan yang nyata. Tabel 2.7 Harus Diadakan Perubahan Besar dalam Suasana Sosial dalam Cara Belajar Sekolah Lama Disiplin dipaksakan oleh guru Disiplin datang dari luar Sekolah Baru Disiplin berarti ketertiban yang memungkinkan kerjasama Disiplin merupakan suatu bagian dari situasi belajar Tabel 2.6 Harus Diadakan Perubahan yang Radikal dalam Motivasi Belajar Sekolah Lama Mendorong siswa dengan paksaan melakukan pekerjaan yang tidak dipilihnya sendiri Tujuan dan taraf penguasaan bahan ditentukan semata-mata oleh guru dengan memberikan angka Menggunakan persaingan antar siswa Sekolah Baru Siswa diberi kesempatan memilih apa yang akan dilakukannya Siswa dapat memilih pekerjaan dan menentukan norma-norma sendiri Siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas Sekolah Baru Siswa mempelajari broadfield atau fungsional Siswa memegang peranan yang esensial dalam memilih dan menentukan kegiatan-kegiatan belajar Segala sesuatu yang dapat membantu perkembangan siswa termasuk dalam kurikulum Keterampilan dikembangkan berhubungan erat dengan penggunaannya Tabel 2. Untuk mengetahui akibat dari pendirian (keputusan) guru terhadap cara mengajar disekolah.8 Harus Diadakan Perubahan Besar dalam Urutan Kronologis dari Tokoh-tokoh dan Bahan yang Akan Dipelajari Sekolah Lama Urutan secara logis atau quasilogis menurut sifat mata pelajaran Urutan ditentukan lebih dahulu tanpa Urutan bahan Sekolah Baru pelajaran bergantung pada perkembangan siswa Guru bertanggung jawab menyusun rencana 42 .

9 Harus Diadakan Perubahan dalam Isi Bahan Pelajaran Terutama kebudayaan Sekolah lama bertujuan untuk menyampaikan Terutama Sekolah mementingkan pembentukan pemahaman tentang keadaan sekarang bertalian dengan kebutuhan siswa. seorang ahli PJJ. dan kebutuhan sosial Di samping bahan akademis juga menggunakan segala jenis pengalaman manusia. dkk. bahkan mengemukakan bahwa kesuksesan institusi PJJ bergantung pada 43 . Perkembangan konsep belajar mandiri di bidang PJJ merupakan konsekuensi salah satu karakteristik PJJ yang menuntut kemampuan belajar mandiri yang lebih tinggi dibandingkan bentuk pendidikan tatap muka. Paul (1990. Metode baru memberi harapan untuk memperbaiki hasil-hasil belajar. Hal ini mengingat lebih terbatasnya interaksi antara mahasiswa dengan instruktur (guru) dan dengan sesama peserta didik.9 dapat dijelaskan bahwa perubahan fundamental dalam organisasi pelajaran mempengaruhi yang lainnya. Penyelidikan-penyelidikan membuktikan bahwa cara mengajar baru secara nyata lebih baik hasilnya dibandingkan dengan cara-cara lama.5 hingga Tabel 2. 2010). dalam Puspitasari. dan etis Mengajarkan keterampilan untuk digunakan dalam Terutama menggunakan bahan akademis Mengajarkan keterampilan dan pengetahuan untuk keperluan siswa kelak setelah dewasa Menggunakan masyarakat sebagai sumber kecakapan sekarang sehingga mengembangkan pribadi siswa Menganjurkan penyelidikan lingkungan setempat Disamping bahan dari zaman lampau juga digunakan bahan-bahan dari zaman sekarang pengalaman untuk pendidikan Menggunakan bahan statistik dari zaman yang lampau seperti karangan-karangan klasik ilmu pengetahuan yang telah lama ditemukan Berdasarkan perbedaan sekolah lama dan sekolah baru Tabel 2. kebutuhan pribadi. F. Perbandingan Pembelajaran Tatap Muka dan Pembelajaran Jarak Jauh Pendidikan jarak jauh (PJJ) seringkali dikaitkan dengan istilah belajar mandiri. estetis..menurutsertakan siswa pembelajaran namun rencana tersebut fleksibel dan dapat diubah atas inisiatif dan kerjasama dengan murid Tabel 2. dan situasi sosial.

dan persistensi dalam belajar. kesiapan belajar mandiri berkaitan dengan kesiapan individu untuk melaksanakan kegiatan belajar atas inisiatif sendiri. 2010). dkk. Pendapat ini senada dengan definisi Hiemstra (1994 dalam Puspitasari. Moore. 1983.kemampuan peserta didik untuk belajar mandiri. 2010). Menurut Sugilar (1999. 2010).. dan mengevaluasi belajarnya sendiri. Siswa yang kemampuan belajar mandirinya tinggi menunjukkan ciri-ciri: 1) mempunyai inisiatif. Siswa yang memiliki kemandirian yang tinggi dalam belajar digambarkan sebagai orang yang mampu mengontrol proses belajar. calon peserta didik dalam sistem PJJ seharusnya sudah mempunyai kesiapan yang memadai untuk belajar mandiri. dkk. pelajar yang mampu belajar mandiri diartikan sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri (Hiemstra. 1980 dalam Puspitasari.. dkk. mengidentifikasi sumber-sumber belajar. dalam Puspitasari.. 2010) mendefinisikan belajar mandiri sebagai suatu proses di mana seseorang mempunyai inisiatif (baik dengan atau tanpa bantuan orang lain) dalam mendiagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar mereka. dkk. 2010) yang mengemukakan bahwa seseorang yang mampu belajar secara mandiri artinya mampu merencanakan belajarnya sendiri.. melaksanakan proses belajar. 1990 dalam Puspitasari. Secara lebih spesifik. 44 . kemandirian. merumuskan tujuantujuan belajar. 1994 dalam Puspitasari. 2010) menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai kemampuan belajar mandiri dicirikan oleh beberapa faktor. memilih dan melaksanakan strategi belajar yang sesuai.. dalam Puspitasari. Beberapa peneliti juga mengemukakan bahwa siswa yang mempunyai kemandirian belajarlah yang akan berhasil menempuh pendidikan dalam sistem PJJ (Long. 2010) serta memiliki konsep diri yang positif dibandingkan dengan mereka yang kemandirian belajarnya rendah (Sabbaghian. Penelitian Guglielmino & Guglielmino (1991 dalam Puspitasari. dan memiliki kemampuan mengatur waktu (Guglielmino & Guglielmino. Oleh karena itu. dengan atau tanpa dukungan pihak lain.. dkk. dkk. Singkatnya. mempergunakan bermacam-macam sumber belajar. 2010).. dkk. 1991. dkk. Paul. serta mengevaluasi hasil belajar mereka sendiri. Knowles (1975.. 1991 dalam Puspitasari. mempunyai motivasi internal.

Evaluasi terhadap situasi belajar dapat mengungkapkan bahwa beberapa kebutuhan belajar tidak terpenuhi atau disadari adanya kebutuhan-kebutuhan belajar yang baru. mengatur kecepatan belajar yang tepat. 3) mempunyai disiplin dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. menurut Guglielmino & Guglielmino (1991 dalam Puspitasari. dkk. Secara singkat. bukan hambatan. yang dapat menyebabkan terganggunya proses belajar mandiri siswa. dan tidak takut menghadapi masalah.. 6) senang belajar dan mempunyai kecenderungan untuk memenuhi target yang telah direncanakan. dkk. banyak orang dewasa yang tidak mampu melaksanakan belajar mandiri karena kurangnya kemandirian. proses belajar mandiri tidak selalu berlangsung secara berurutan seperti pada Gambar 2. Proses belajar mandiri dapat digambarkan seperti pada Gambar 2. 2010). 4) mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar atau mengadakan perubahan serta mempunyai rasa percaya diri.2) menerima tanggung jawab terhadap belajarnya sendiri dan memandang masalah sebagai tantangan. Dalam setiap kegiatan belajar mandiri dapat terjadi kendalakendala belajar. 5) mampu mengorganisasi waktu. dan sumberdaya. dan mengembangkan rencana untuk penyelesaian tugas. 2010). orang yang mampu belajar secara mandiri adalah orang yang mampu bertindak.4. Menurut Lowry (1989 dalam Puspitasari. kepercayaan diri. Pada prakteknya. 1991 dalam Puspitasari. dkk... 2010). 45 . bertanggung jawab. seperti kurangnya sumberdaya atau kurangnya waktu untuk belajar (Guglielmino & Guglielmino.4.

2000 dalam Resta. Easier for participants to ignore instructor Condition of meeting 1. date. strong physical context 1. often dependent on time available 5.10 Perbedaan Pembelajaran Online dan Tatap Muka Instructors sense of control Online 1. Work on multiple issues at the same time 2.11 Proses Belajar Mandiri menurut Guglielmino & Guglielmino (1991) Diantara fasilitas pembelajaran jarak jauh adalah dengan menggunakan media online. No latecomers or early leavers. Discussions usually completed during meeting Mode Physical context Time Work/discussion 1. Group contact continually maintained 4. Concept of 'to meet' is different since no scheduled date and time and location 3. 3. Tabel 2. Deadlines usually adhered to since the expectation to complete them on time is high.at least span of time is greater 4. Group meets continuously 2. etc. Sometimes deadlines are not adhered to since it is possible to extend beyond deadline to next period of online work Face-to-face 1. • Discussions through text only. • Verbal discussions: a more common mode.Gambar 2. Little group contact inbetween meetings 4. can be structured. limited. Not so easy to ignore instructor 1. Analysis varies. 2005). People leave during the meeting. Time less important and doesn't limit group . Group meets in 'stop and start' fashion 2. no shared physical context (other than text) 1. and it is not really possible to continue into next period of time 1. dense. Depth of analysis often increased online 5. Often have to wait for others to arrive 2.all those involved attend at same time. More sense of leadership from Instructor 2. permanent. Usually work on one issue at a time and advance through agenda item by item 2. but impermanent • Meet in a room. Less sense of instructor control 2. No sense of leaving the meeting 5. etc. Controllable 6. Strong sense of when group meets . etc. Discussion often stops for periods of time. then is picked up and restarted 46 . Work not condensed-fluid and interweaved with other activities 3. No waiting for participants to arrive 2. People leave during meeting for other meetings 5. Less controllable 6. Berikut ini adalah perbedaan antara pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka (McConnell. Time important and is a limiter. Work is condensed and focused 3. 4. stark • Don't meet in a room.

Can access other groups easily Can see who is working in other groups Can participate in other groups easily Effects of group software Effects of technology Psychological/emotional stress of rejoining is high Feedback on each individual's piece of work very detailed and focused Whole group can see and read each other's feedback Textual feedback only No one can "hide" and not 3. 2. Dynamics evident but lost after the event 6.6. Anxiety at beginning/during meetings 3. Dynamics 'understandable' to most participants because they have experienced them before 2. Less hierarchies. Participation unequal and often dominated by males. 5. Able to reshape conversations on basis of ongoing understandings and reflection Group dynamics 1. 4. Slower . More chance of hierarchies 5. Absence of rejoining Giving feedback of people's work • 1. Effects of medium • • • 1. participants can take control of this 4. Different expectation about participation 10. More equal participation. but group may try to share time equally among members 4. • Can't see what is happening to others in groups Effects of room/location? Stress of rejoining not so high Less likely to cover as much detail. Group dynamics not same as face-to-face. 47 . participants have to learn how to interpret them online 2. therefore less likely that members will lose sense of where they are 7. No breaks . Less likelihood of conversations being reshaped during meeting 1. Listening without participation may be frowned upon 8. Less sense of anxiety 3. Can be active listening without participation 8. Can't participate in other groups 3. Breaks between meetings 7. 2. Often little time for reflection during meetings 8.time delays in interactions/discussions 6. Dynamics are 'hidden' but traceable 6. 3.immediacy of interactions/discussions 1. Medium (room) may have less impact 9. 4. especially for females. Discussions occur within a set time frame. Quicker . 2. Members sometimes lose sense of where they are in the discussions over long periods of time (information overload) 7. 3. Certain 'accepted' expectations about participation 10. Level of reflection high 8. often more general discussion Group hears feedback Verbal/visual feedback Possible to "free-ride" and avoid giving Accessing other groups 1. Medium (technology) has an impact on dynamics 9.constantly in the meeting 7. Never have access to other groups 2. etc.

give feedback Permanent record of feedback obtained by all Delayed reactions to feedback Sometimes little discussion after feedback Group looks at all participants' work at same time Greater using online learning Loose-bound nature encourages divergent talk and adventitious learning. requiring adherence to accepted protocols Uncertainty less likely due to common understandings about how to take part in discussions 8. 7. Total effort of group Divergence/choice level • 1. 7. 8. BAB III PENUTUP 48 . 2. 2. place. feedback No permanent record of feedback Immediate reactions to feedback possible Usually some discussion after feedback . 6. 6.5. source and recipient Medium frees the sender but may restrict the other participants (receivers) by increasing their uncertainty 5.looking at wider issues Group looks at one participant's work at a time Less than with online learning More tightly bound. since it is an open system regarding time. • 1.

5. dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian eksternal yang berlangsung di dalam peserta didik yang dapat diketahui atau diprediksi selama proses tatap muka. Pengelolaan merupakan bagian penting dari pembelajaran tatap muka. pelaksanaan. dan penilaian. 49 . lingkungan. 1. sumber daya. diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari.A. perencanaan. Pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh. dan lain-lain. pengorganisasian. Kesimpulan Berdasarkan kajian literatur di atas. guru menjadi faktor utama dalam penciptaan suasana pembelajaran. Dalam hal ini seorang guru perlu menerapkan adanya pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan melalui berbagai keterampilan mengajar di dalam kelas. 3. Kompetensi guru dituntut dalam menjalankan tugasnya secara profesional. 4. pengelolaan adalah substansi dari mengelola berartis suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan data. Berkaitan dengan faktor proses. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengelolaan menghasilkan sesuatu (produk) dan sesuatu itu dapat merupakan sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan selanjutnya. Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran. fasilitas. 6. pengawasan. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Pembelajaran tatap muka merupakan pembelajaran yang memungkinkan interaksi pendidik dan peserta didik dalam satu lingkungan dengan tujuan untuk mencapai memberikan pengalaman belajar langsung kepada peserta didik. masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. 2. Berdasarkan makna belajar dan pembelajaran. potensi dan kebutuhan peserta didik. maka dapat diasumsikan bahwa pembelajaran tatap muka merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik secara tatap muka.

1997. 2.S. Perlu dikaji lebih lanjut dan dikembangkan berbagai macam strategi dan pengelolaan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh untuk bidang studi biologi menggunakan berbagai macam media. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas. DAFTAR PUSTAKA Arends. 1.B. maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut. Perlu dikaji lebih lanjut hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran tatap muka di luar negeri yang dapat di adaptasi pada pembelajaran tatap muka di Indonesia. Classroom Instruction and Management. 50 . New York: McGraw Hill. Perlu dikaji lebih lanjut pembelajaran tatap muka yang terjadi di Indonesia. 4. 3. Perlu dikaji lebih lanjut hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran tatap muka di Indonesia.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Imanuel.edb. Disertasi tidak diterbitkan. dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. G.jalius12. I. Tahun VIII. 2008. H.edu. 2003. Nur. Pengembangan Perangkat Model Belajar Berdasarkan Masalah Dipandu Strategis Kooperatif Serta Pengaruh Implementasinya terhadap Kemampuan Berpikir kritis dan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas pada Pelajaran Ekosistem. 2008. Program Pasca Sarjana (S3) Universitas Negeri Malang. 2010. Departemen Pendidikan Nasional. Penugasan Terstruktur dan Tugas Mandiri Tidak Terstruktur. 2009. 26. Mengajar dengan Sukses.edu/organizations/etl/proj. E. 2008. Dwi. Prinsip. Pembelajaran Tatap Muka. I.Arnyana. Makalah yang disajikan pada Pelatihan TOT guru mata pelajaran SLTP dan MTs. No. Pengembangan Model Pembelajaran Tatap Muka. Project-Based Learning. M. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang Mursell. (http://www. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. 2001. (Online). (Online). Malang: Universitas Negeri Malang. dan Konsep.bgsu. Nurhadi. Surabaya: Depdiknas. Pengaruh Penggunaan Hypermedia dalam Pembelajaran Menggunakan Strategi Siklus Belajar terhadap Pemahaman dan Aplikasi Konsep Kimia pada Siswa SMP dengan Dua Gaya Belajar Berbeda. 317-328. Jalius. & Agus. Pendekatan Kontekstual Berpandu Konstruktuvis dan Pelaksanaannya di Kelas. 51 . 2009. 2005. 2008. Jurnal Paradigma. Resta. Belajar dan Pembelajaran.wordpress.. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. (itpm2004_instructor@teachnet. Jakarta: Bina Aksara. (Online).P. Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. & Nasution. (http://www. Penugasan Terstruktur. diakses tanggal 27 Oktober 2011). Differences Between Online dan Face to Face Learning. Buck Institutute for Education (BIE). Purnomo.utexas. Malang. diakses tanggal 26 September 2011) Kirna. Moh. Mahanal. Pengaruh Penerapan Perangkat Pembelajaran Deteksi Kualitas Sungai dengan Indikator Biologi Berbasis Proyek Terhadap Hasil Belajar Siswa Sma di Kota Malang. Tidak Diterbitkan. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual.R. 2004.S. Hitipeuw. Desertasi tidak diterbitkan. 1999. Pengertian Fakta.B. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Disertasi. 2010.com. P. J.html. Malang: Universitas Negeri Malang. diakses tanggal 20 Oktober 2011) Depdiknas. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.

Heri.com/index. Efektif. Syah. diakses 21 Oktober 2011). Santyasa. R. Pembelajaran Aktif.html. Triluqman. Disajikan dalam Penataran Guru-Guru SMP. (htttp://duniaguru.. Model Pembelajaran Inovatif dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Moh. Makalah. (http://heritl. Kreatif. 2005. 2007. Pendidikan Profesi dan Sertifikasi: Upaya Meningkatkan Kualitas Guru di Tengah Keterpurukan Dunia Pendidikan. 2005. Bahan Pelatihan PLPG.com/2008/02/pendidikan-profesi-dansertifikasi. Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.php? option=com_content&task=view&id=411&Itemid=28. Bandung: PT. 2008. dan Menyenangkan (PAIKEM).blogspot. SMA. dan SMK se Kabupaten Jembrana. diakses 21 Oktober 2011). Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Juni – Juli 2005. I Wayan. (Online). Bandung: UIN Sunan Gunung Jati.Rosmini. 2009. Usman. Remaja Rosdakarya. Kariadinata. (Online). Inovatif. Uzer. M. 52 . Menjadi Guru Profesional.