BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pengertian belajar (learning) secara umum diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Perubahan perilaku dalam diri seseorang adalah suatu proses. Perubahan tersebut dapat diamati hasilnya dalam bentuk perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan dari tidak tahu menjadi tahu (Hitipiew, 2009). Ada banyak jenis belajar dan mengajar jika ditinjau dari tipe prosesnya dan sarana, yaitu pembelajaran tatap muka (face to face learning) dan pembelajaran jarak jauh (distance learning). Sedangkan ditinjau dari sarana dan media komunikasi yang digunakan untuk belajar yaitu mobile media learning, electronical offline learning, electronical online learning, dan traditional media learning. Perencanaan pembelajaran sangat penting untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajar yang disasar (Santyasa, 2005). Pada setiap proses belajar mengajar tentunya membutuhkan perencanaan pembelajaran yang disusun oleh pengajar. Perencanaan ini tidak dimaksudkan untuk membatasi proses peserta didik dalam belajar (pembelajaran kaku) tetapi untuk memastikan bahwa peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dengan proses pembelajaran yang telah disusun oleh pengajar. Perencanaan pembelajaran akan berbeda bergantung pada jenis pembelajaran yang akan dilakukan (pembelajaran tatap muka atau jarak jauh), materi yang akan dipelajari oleh peserta didik, sarana dan media belajar yang tersedia, lingkungan tempat pembelajaran, dan kondisi psikologis dan interaksi peserta didik.

1

Pembelajaran tatap muka merupakan pembelajaran yang sangat umum berlangsung saat ini. Pembelajaran tatap muka harus direncanakan secara khusus berdasarkan kaidah-kaidah pengembangan bahan ajar dan standar proses dalam penerapannya. Pada pembelajaran tatap muka, kemampuan mengajar pengajar sangat menentukan, misalnya penguasaan konsep materi pelajaran dan lingkungan tempat belajar. Konsep materi pelajaran dan lingkungan belajar dapat dikembangkan dengan tepat sesuai dengan kondisi peserta didik melalui modelmodel pembelajaran yang telah banyak dikembangkan saat ini. Menurut Santyasa (2005) model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi hendaknya dikemas koheren dengan hakikat pendidikan bidang studi tersebut. Namun, secara filosofis tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa menjadi pemikir kritis, humanis, lentur, dan adaptif dalam menerapkan pengetahuan di dunia nyata. Model-model pembelajaran yang dapat mengakomodasikan tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif. Santyasa (2005) mengungkapkan bahwa terdapat dua faktor yang cukup esensial dalam pembelajaran yang bermakna, yaitu orientasi desain dan evaluasi pembelajaran. Pembelajaran hendaknya mencoba menggali kesulitan-kesulitan belajar para siswa berbasis pengetahuan awal dengan desain pembelajaran berorientasi pada fenomena dunia nyata. Pembelajaran hendaknya diupayakan dapat memberdayakan pengetahuan awal dan evaluasi yang komprehesif, kerja individu berbasis proyek, pemecahan masalah kolaboratif, dan kerja kooperatif dalam kelompok-kelompok kecil. Menurut Mursell & Nasution (2008) mengajar dengan sukses tak dapat dilakukan menurut suatu pola tertentu yang diikuti secara rutin. Agar berhasil dengan baik, mengajar memerlukan kecakapan, pemahaman, inisiatif, dan kreativitas dari pihak pengajar. Berdasarakan latar belakang tersebut maka penulis melakukan kajian literatur dan menyajikannya dalam bentuk makalah yang berjudul “Metode Pembelajaran Tatap Muka (Face to Face Learning) dan Penerapannya dalam Pembelajaran Biologi”, dengan tujuan untuk memperluas wawasan kependidikan dan menstimulasi kreativitas dalam belajar dan mengajar.

2

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah konsep belajar, pembelajaran, dan pembelajaran tatap muka? 2. Bagaimanakah konsep pengelolaan kelas dan pengelolaan siswa pada

pembelajaran tatap muka?
3. Bagaimanakah konsep pengembangan pembelajaran tatap muka? 4. Bagaimanakah konsep pendekatan, strategi, model, dan metode pembelajaran

tatap muka yang relevan dengan pembelajaran bidang studi biologi?
5. Bagaimanakah konsep kemampuan mengajar guru ditinjau dari kompetensi

profesional guru? 6. Bagaimanakah perbandingan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh ditinjau dari beberapa aspek pendidikan? C. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. Untuk mengetahui konsep belajar, pembelajaran, dan pembelajaran tatap muka; Untuk mengetahui konsep pengelolaan kelas dan pengelolaan siswa pada pembelajaran tatap muka; Untuk mengetahui konsep pengembangan pembelajaran tatap muka; pembelajaran tatap muka yang relevan dengan pembelajaran bidang studi biologi;
5. Untuk mengetahui konsep kemampuan mengajar guru ditinjau dari kompetensi 4. Untuk mengetahui ragam konsep pendekatan, strategi, model, dan metode

profesional guru? 6. Untuk mengetahui perbandingan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh ditinjau dari beberapa aspek pendidikan.

D. Batasan

3

Batasan kajian literatur dan pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut. 1. 2. Kajian literatur dan pembahasan sesuai dengan rumusan masalah, Istilah siswa pada makalah ini adalah seseorang yang terdaftar sebagai peserta didik pada lembaga pendidikan formal, diantaranya adalah SD, SMP, dan SMA.

BAB II

4

KAJIAN LITERATUR DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran tatap muka merupakan pembelajaran yang memungkinkan interaksi pendidik dan peserta didik dalam satu lingkungan dengan tujuan untuk mencapai memberikan pengalaman belajar langsung kepada peserta didik. Berdasarkan interaksi tersebut, maka pada bab ini akan dibahas tentang konsep belajar dan pembelajaran, pengelolaan kelas dan siswa, ragam konsep pendekatan dan strategi-strategi pembelajaran dan kompetensi profesional guru yang berkaitan erat dengan pembelajaran tatap muka. Selain itu, juga dibahas tentang pembelajaran jarak jauh serta perbandingannya dengan pembelajaran tatap muka. A. Konsep Belajar, Pembelajaran, dan Pembelajaran Tatap Muka 1. Belajar dan Pembelajaran Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik. Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan. Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (attitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental. Faktor eksternal, adalah

5

metode.kondisi di luar individu peserta didik yang mempengaruhi belajarnya. Raka Joni. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif. Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne. dan keadaan masyarakat). ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan. 2008). 1985 dalam Depdiknas. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah: lingkungan sekolah. dan sumber daya. Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja. baik anak-anak maupun manusia dewasa. 2008). dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso. 2008). Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan. 1993 dalam Depdiknas. melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey). Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang. 6 . materi. Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat. keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik. waktu. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh guru di sekolah. sosio kultural. dengan memperhitungkan kejadiankejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel. 1992 dalam Depdiknas. Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang. dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan. peserta didik. Dengan demikian diperlukan kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh guru. lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. 1991 dalam Depdiknas. 2008). Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik.

B. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP). dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Untuk sekolah yang menerapkan sistem paket. atau simulasi. lingkungan sosial. presentasi. eksperimen. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif. kegiatan tugas terstruktur. 2. untuk sekolah yang menerapkan sistem SKS. Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi. presentasi. kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab. diskusi kelompok. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif. kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori.oleh sebab itu guru harus memiliki persiapan mental. tanya jawab. observasi di sekolah. Faktor lingkungan. pembelajaran kolaboratif dan kooperatif. Pengelolaan Kelas dan Siswa 1. diskusi kelas. Pembelajaran Tatap Muka Berdasarkan makna belajar dan pembelajaran di atas maka dapat diasumsikan bahwa pembelajaran tatap muka merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik secara tatap muka. kegiatan pembelajaran perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Sedangkan. diskusi kelas. kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka. Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru. antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. Makna Pengelolaan 7 . kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam. ekplorasi dan kajian pustaka atau internet. kondisi fisik. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi dikoveri inkuiri. demonstrasi. penguasaan bahan. dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian eksternal yang berlangsung di dalam peserta didik yang dapat diketahui atau diprediksi selama proses tatap muka. dan lingkungan sekolah. dan motivasi kerja. tanya jawab. atau demonstrasi.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengelolaan menghasilkan sesuatu (produk) dan sesuatu itu dapat merupakan sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan selanjutnya. secara otomatis menjadi tanggung jawab 8 . Lebih sempit lagi. Arikunto (1987) memaparkan bahwa semua anak yang sudah mendaftarkan diri kemudian di terima suatu sekolah. dan SMA). Pengawasan dilakukan terhadap ke empat kegiatan. Berdasarkan hasil pengawasan. dan penilaian.Pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar. 1987) pengelolaan adalah substansi dari mengelola berartis suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan data. dan pelaksanaan kegiatan. dan efisien (Arikunto.1. efektif. SMP. Menurut Hamiseno (1987. 2. yaitu seseorang yang terdaftar sebagai peserta didik di suatu lembaga pendidikan formal (SD. yang memberikan umpan balik untuk semuanya (Arikunto. pengorganisasian. pelaksanaan. Model pengelolaan menurut Arikunto (1987) ditunjukkan oleh gambar 2. pengorganisasian. perancanaan. Gambar 2. pengawasan.1 Bagan Model Pengelolaan Pada gambar tersebut dapat dilihat arus kegiatan dimulai dari pengumpulan data (yang akan dikelola). perencanaan. Pengelolaan Siswa Pengertian siswa pada makalah ini adalah siapapun yang terdaftar sebagai peserta didik di suatu lembaga pendidikan. dilakukan kegiatan penilaian. 1987). 1987). dalam Arikunto.

Penggunaan istilah “unit” disini mengandung suatu pengertian bahwa kelas mempunyai ciri yang khusus dan spesifik. melaporkan. sekolah adalah dunia dan lingkungan kedua yang memberi arah perkembangan dan kematangan. Pengelolaan Kelas Di dalam Didaktik terkandung suatu penegrtian umum mengenai kelas. mencatat. 3. Kelas merupakan unit atau bagian terkecil sekolah. Dengan kata lain yang dimaksud disini adalah kelas dengan sistem pengajaran klasikal dalam pelaksanaan pengajaran secara tradisional (Arikunto. Pada waktu-waktu tertentu. yaitu sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. dan diadministrasikan sehingga dapat cukup mendapatkan perlakuan sebagaimana diharapkan oleh orang tua atau wali yang mengirimkannya ke sekolah. 1987).sekolah. sekolah berkewajiban memberikan laporan kepada orang tau atau walinya tentang hasil dari apa yang telah dilakukan oleh peserta didik tersebut dari hari ke hari. mencatat. Oleh karena itu. Sekolah merupakan tempat untuk menentukan masa depan siswa. Mendaftar. diurus. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur peserta didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. karena di sekolah inilah siswa diberi ilmu untuk bekal hidup. Hubungan 9 . 1987). Selanjutnya Arikunto (1987) memaparkan bahwa sekolah adalah “sesuatu”. Setiap kelas mempunyai kekhususan sendiri-sendiri. Jadi. Lebih lanjut Arikunto (1987) menjelaskan bahwa sebuah sekolah terdiri dari serentetan kelas. dicatat. sekolah ini harus di atur. Mereka (peserta didik) ini perlu diatur. disusun. menempatkan. dan dikelola sedemikian rupa sehingga memenuhi harapan. dikelompok-kelompokkan. dan ditempatkan di kelas. Agar setiap peserta didik mendapatkan perlakuan secara maksimal dan adil maka perlu didaftar. dan sebagainya (Arikunto. dan melaporkan dan lain-lain pekerjaan yang berhubungan dengan siswa inilah yang disebut pengelolaan siswa. menempatkan. Bagi seorang siswa. pengelolaan siswa adalah pekerjaan mengatur siswa yang meliputi mendaftar.

3) 10 .2 Bagan Interaksi Belajar Mengajar Menurut Rosmini (2007). dan 3) Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.2. 2) Membantu peserta didik untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan. Gambar 2.interpersonal yang baik antara guru dan peserta didik maupun peserta didik dengan peserta didik merupakan syarat keberhasilan dalam pengelolaan kelas. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rosmini (2007). dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan keterampilan untuk mengembalikan pada kondisi belajar yang optimal. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajarmengajar yang efektif. 2) tantangan. Berdasarkan tujuan tersebut. keterampilan mengelola kelas bertujuan untuk: 1) mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya. Menurut Arikunto (1987) bagan interaksi belajar mengajar dalam kaitannya dengan pengelolaan siswa dan pengelolaan kelas disajikan pada gambar 2. mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. maka hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah 1) kehangatan dan keantusiasan.

penggunaan variasi media. Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat kerja dan/atau kegiatan MGMP. Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan pembelajaran. Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru. Konsep Pengembangan Pembelajaran Tatap Muka Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP (KTSP) dan silabus mata pelajaran. desain penilaian dan instrumennya. lingkungan. fasilitas. Pengembang Kurikulum Evaluasi Silabus Desain Pembelajaran Desain Penilaian MGMP Evaluasi RPP Instumen Penilaian Bahan ajar Pelaksanaan 11 Pembelajaran dan Penilaian Guru Mata Pelajaran . dll) Tim dalam gambar 2. diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari. potensi dan kebutuhan peserta didik. gaya mengajar. serta dilaksanakan secara efektif dan efisien. 4) keluwesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajarnya untuk menghindari gangguangangguan (fleksibel). C. atau informasi bagian inventarisasi di sekolah. Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran. sumber daya. Mekanisme kerja tim pengembang kurikulum. dan pola interaksi. 5) penekanan pada hal-hal yang positif. dan guru KTSP (Struktur kurikulum. hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang). Hasil pengembangan dituangkan dalam rancangan kegiatan pembelajaran dalam bentuk silabus dan desain pembelajaran. serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran. 6) penanaman disiplin diri dengan cara memberi contoh dalam perbuatan guru sehari-hari. MGMP. rancangan pelaksanaan pembelajaran lebih rinci (RPP). dan lain-lain.3. mata pelajaran disajikan Mekanisme Pembelajaran dan Penilaian.

3. Mendeskripsikan KD secara lebih rinci dan terukur ke dalam rumusan indikator kompetensi. Model. dan Metode Pembelajaran Tatap Muka yang Relevan dengan Bidang Studi Biologi 12 . Indikator yang dominan pada prinsip dan prosedural misalnya. dan Guru Matapelajaran Pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Indikator berguna untuk merancang kegiatan pembelajaran yang diperlukan. 5.3 Skema Mekanisme Kerja Tim Pengembang Kurikulum. Menjabarkan silabus atau desain pembelajaran dalam bentuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tiap pertemuan. 6. Mengkaji dan memetakan KD (KD) agar diketahui karakteristiknya. menyarankan kegiatan pembelajaran dengan strategi diskoveri inkuiri. Strategi. Melaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/desain pembelajaran dan RPP. Membuat desain pembelajaran dalam bentuk silabus atau desain umum pembelajaran seperti disajikan dalam Contoh Desain Umum Pembelajaran Sistem SKS.Gambar 2. dan mandiri tidak terstruktur. Hal ini perlu dilakukan guna merancang strategi dan metode yang akan digunakan pada kegiatan tatap muka. 4. tugas terstruktur. Melakukan penilaian proses maupun hasil belajar untuk mengukur pencapaian kompetensi D. MGMP. 2. Ragam Konsep Pendekatan.

Baiklah berikut pengertian masing-masng istilah tersebut. dan teknik pembelajaran. prosedur) dan dapat menggunakannya untuk membelajarkan siswa dalam kelas dan untuk bekerjasama dengan orang lain di lingkungan sekolah 3. learning to be. Sebagai seorang guru/pendidik tentu harus berupaya agar usaha yang dilakukan dapat berhasil dengan baik sehingga usahanya efektif. Guru yang efektif memandang belajar mengajar sebagai proses belajar sepanjang hayat dan mempunyai pengetahuan dan ketrampilan bekerja untuk meningkatkan kemampuan pengajarannya sendiri dan meningkatkan mutu sekolah. antara lain: (1) penempatan empat pilar pendidikan UNESCO: learning to know. metode. strategi. Beberapa kecenderungan tersebut. seorang guru menurut Arends (2004) harus mempunyai empat atribut sebagai berikut: 1. teknik. Agar dapat memainkan perannya secara efektif. serta model pembelajaran. leraning to do. metode. Guru yang efektif mempunyai dasar pengetahuan mengenai belajar dan mengajar dan menggunakan pengetahuan ini sebagai petunjuk dalam praktik mengajar mereka. 4. dan leraning to life 13 . kesejawatan dan dalam rangka pemecahan masalah. Uraian yang lebih luas terdapat pada model pembelajaran karena dengan model pembelajaran sudah dapat memberikan gambaran pendekatan. maka pemahaman terhadap strategi pembelajaran biologi mutlak diperlukan. Pergeseran pola berpikir tersebut berimplikasi pada penetapan tatanan tertentu dalam pembelajaran. strategi. 2. Guru yang efektif menguasai sekumpulan cara praktik mengajar (model. strategi. Di sini sering kali menimbulkan kebingungan untuk membedakan dan menerapkan istilah-istilah seperti pendekatan. Tatanan tertentu yang menjadi fokus pembelajaran mendasarkan diri pada hakikat tuntutan perkembangan iptek. Guru yang efektif mempunyai pengaturan dan keterampilan untuk melakukan pendekatan pada semua aspek pekerjaannya dengan cara yang reflektif.Pembelajaran atau barang kali menggunakan istilah “belajar dan mengajar” sebenarnya merupakan sebuah usaha secara sadar dan terencana dengan tujuan terjadinya perubahan perilaku pada peserta didik. Melihat pada atribut ke-1 dan ke-2 seperti uraian di atas.

Oleh karenanya. pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. dan (5) perubahan pendekatan teoretis menuju kontekstual. yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches).together sebagai paradigma pembelajaran. (2) kecenderungan bergesernya orientasi pembelajaran dari teacher centered menuju student centered. (6) perubahan paradigma pembelajaran dari standardization menjadi customization. 1. Pembelajaran yang dapat mengakomodasi implementasi KBK dan KTSP tentunya juga harus berubah dari yang telah biasa dilakukan yang cenderung linear. Sedangkan. perubahan yang patut dipahami adalah yang menyangkut pembelajaran. dan mekanistik menuju pada pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang berlandaskan paradigma konstruktivitik yang senantiasa mengakomodasi pengetahuan awal sebagai starting point. yang dapat mengukur divergen thinking. (7) dari evaluasi dengan paper and pencil test yang hanya mengukur convergen thinking menuju open ended question. Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum. pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif. Perubahan-perubahan tersebut sangat strategis untuk diinternalisasi dan dipahami oleh para guru di sekolah. dan portfolio assessment. 2010) misalnya mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran. strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber. Roy Killen (1998. 14 . statik. performance assessment. terisnpirasi. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction). (4) perubahan teori pembelajaran dan asesmen dari model behavioristik menuju model konstruktivistik. dikuatkan dan diwadahi oleh pendekatan tertentu. (3) kecenderungan pergeseran dari content-based curriculum menuju competency-based curriculum. dalam Sugiharto. Secara lebih spesifik.

Seseorang yang memiliki konsep melalui proses yang benar.tahap ini disebut berpikir asosiatif. Konsep memiliki gejala-gejala tertentu 15 . pendekatan inkuiri. 3) Mengumpulkan informasi untuk menafsirkan pengalaman. Ciri-ciri suatu konsep adalah: a. Dalam pembelajaran tersebut penguasaan konsep sendiri adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. pengalaman dan pengertiannya akan kuat. pendekatan penemuan. dan pendekatan Sains. Demikian pula sebaliknya sebuah metode pembelajaran tertentu dapat digunakan untuk mengimplementasikan beberapa pendekatan yang berbeda. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Dalam Sugiharto. 4) Menginterprestasikan atau menafsirkan pengalaman-pengalaman keadaan yang telah diketahui. pendekatan interaktif. pendekatan pemecahan masalah. Macam-macam pendekatan yang sering dikenal dalam pembelajaran antara lain: pendekatan tujuan pembelajaran. pendekatan keterampilan proses. Setiap konsep yang telah diperoleh mempunyai perbedaan isi dan luasnya. Berikut ini adalah pembahasan beberapa pendekatan yang relevan dengan pembelajaran bidang studi biologi. Pendekatan Berbasis Konsep Pendekatan konsep adalah pendekatan dimana siswa dibimbing memahami sesuatu melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. pendekatan konsep. Teknologi dan Masyarakat (Salingtemas).Sebuah pendekatan pembelajaran menurut Rustaman dkk (2003. 2010) dapat diimplementasikan dengan menggunakan beberapa metode pembelajaran. Manifestasi (perwujudan) proses kognitif melalui tahap-tahap. tidak seluruh pendekatan tersebut akan dibahas pada makalah. Lingkungan. 1) Mengklasifikasikan pengalaman untuk menguasai konsep tertentu. 2) Menafsirkan pengalaman dengan jalan menghubungkan konsep yang telah diketahui untuk menyusun generalisasi. pendekatan lingkungan. a. Kemampuan membedakan sangat dibutuhkan dalam penguasaan konsep. Namun demikian.

Pendekatan keterampilan proses adalah pengembangan sistem belajar yang mengefektifkan siswa (CBSA) dengan cara mengembangkan keterampilan memproses perolehan pengetahuan sehingga 16 . menerapkan. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya. dan di saat berikutnya dapat diuji retensinya terhadap sistem peredaran darah. menafsirkan. menggolongkan. Pada sistem peredaran darah manusia. Contoh pendekatan konsep pada materi biologinya adalah sebagai berikut. d. c. mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut”. Pendekatan Keterampilan Proses Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati. merencanakan penelitian. 2010). Selanjutnya. Bagan Hubungan Pendekatan Konsep b. pebelajar menghafalkan tentang sistem peredaran darah. Gambar 2.4.pengalarnan. Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman. e. meramalkan. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung.b. pebelajar dapat mempelajari fungsi sistem peredaran darah dan mengaitkannya dengan permasalahan-permasalahan yang menyertainya (Jalius. kemudian menghafalkan definisnya. Konsep yang benar membentuk pengertian.

mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dituntut dalam tujuan pembelajaran khusus”. serta pembelajaran yang berupa TPU dan TPK. o Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat relatif benar seratus persen penemuannya bersifat relatif o Dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik. • Menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu pengetahuan membuat siswa belajar proses dan produk ilmu pengetahuan sekaligus. mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang melandasi perlu diterapkan pendekatan keterampila proses (PKP) dalam kegiatan belajar mengajar yaitu: o Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Dimiyati (2002) mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa adalah sebagai berikut: • Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan • Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan. Menurut Azhar (1993) dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: • Harus sesuai dan selalu berpedoman pada tujuan kurikuler. Sedangkan Conny (1990).peserta didik akan menemukan. Harus berpegang pada dasar pemikiran bahwa semua siswa mempunyai kemampuan (potensi) sesuai dengan kudratnya. o Para ahli psikologi umumnya berpendapat bahwa anak-anak muda memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh kongkrit. • 17 .

• • • c. pebelajar bisa melihat manfat dari apa yang telah dipelajarinya dan apakah dia menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk memperbaiki belajarnya sesuai dngan konteksnya? 18 . berfikir dan mengungkapkan perasaan dan pikiran. Pendekatan Konstruktivistik Guru di dalam kelas lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. bila menggunakan pendekatan konstruktivistik sebagai pendekatan dalam belajarnya maka nilai-nilai berikut menjadi ciri yang bisa menentukan apakah model tersebut lebih kuat aspek kontruktivistiknya atau tidak. Reflectivity: apakah setelah pembelajaran selesai misalnya. penghargaan dan movitasi kepada peserta didik untuk berpendapat. Siswa pembinaan harus berdasarkan pengalaman belajar siswa. Lebow (1993) dalam Hitipeuw (2009) mengetengahkan nilai-nilai kontruktivistik yang utama antar lain: 1. Apapun modelmodel belajar yang digunakan di kelas. Personal autonomy: apakah kepentingan pribadi pebelajar menentukan kegiatan dan proses pembelajaran yang diterimanya? 3. Collaboration: apakah tugas-tugas pembelajaran dicapai melalui kerjasama dengan komunitasnya atau tidak? 2.• Harus memberi kesempatan. Harus berpegang pada prinsip "Tut Wuri Handayani". Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk menemukan susuatu yang baru bagi siswa. nampaknya yang menjadi titik perkenannya adalah siswa itu adalah siswa itu sendiri sebagai subyek didik dan juga guru dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses benar-benar memperkirakan perbedaan masing-masing siswa. Memperhatikan azasazas tersebut. Perlu mengupayakan agar pembina mengarah pada kemampuan siswa untuk mengola hasil temuannya. Generativity: apakah ada kemungkinan pebelajar didorong untuk membangun dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan didorong untuk mengelaborasi apa yang diterima? 4.

Pluralism: apakah pembelajarannya tidak menekankan pada satu cara atau satu solusi? Apakah semua pendapat pribadi mendapat tempat dalam dialog pembelajaran? Gambar 2. 1993). kelompok budaya yang berbeda. Personal relevance: apakah pebelajar bisa melihat keterkaitan dari apa yang dipelajarinya dengan kehidupannya sendiri? 7. dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa. etnik.5 Konsep Pembelajaran Konstruktivistik d. Pendekatan Multikultural Pendidikan multuikultural didefinisikan sebagai sebuah kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya di dalam masyarakat. Active engagement: apakah setiap individu terlibat secara aktif dalam belajar untuk membangun pemahamannya atau pebelajar lebih menerima saja pada apa yang diberikan? 6. pendidikan multikultural mencoba membantu menyatukan bangsa secara demokratis. dan dialek. dimana para pelajar lebih baik berbicara tentang 19 . Dengan demikian sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilai-nilai demokrasi.5. bahasa. Kurikulum menampakkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat. Dalam konteks yang luas. Pembelajaran multikultural pada dasarnya merupakan program pendidikan bangsa agar komunitas multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya (Banks.

2005). Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural dapat diidentifikasi: (1) untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam.rasa hormat di antara mereka dan menunjung tinggi nilai-nilai kerjasama. (4) untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Banks. (3) memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya. Banks. kelompok keagamaan. menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat (Savage & Armstrong. pembelajaran berbasis multikultural dibangun atas dasar konsep pendidikan untuk kebebasan (Dickerson. keterampilan terhadap lintas batas-batas etnik dan budaya untuk berpartisipasi dalam beberapa kelompok dan budaya orang lain. etnik. ras. dari pada membicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah pelajar yang berbeda dalam hal ras. (2) memajukan kekebasan. Pendidikan multikultural diselenggarakan dalam upaya mengembangkan kemampuan siswa dalam memandang kehidupan dari berbagai perspektif budaya yang berbeda dengan budaya yang mereka miliki. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam. dalam Skeel. 1993. (2) untuk membantu siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural. membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka. ras. 1996 dalam Yaqin. kecakapan. dan bersikap positif terhadap perbedaan budaya. 1995 dalam Yaqin. budaya dan kelompok status sosialnya Pembelajaran dengan pendekatan multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya. etnik. 1994 dalam Yaqin. memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. 20 . yang bertujuan untuk: (1) membantu siswa atau mahasiswa mengembangkan pengetahuan. dan etnis. 1994 dalam Yaqin 2005). (Farris & Cooper. 2005) Di samping itu. sikap dan keterampilan untuk berpartisipasi di dalam demokrasi dan kebebasan masyarakat. 2005).

sosial ekonomi. (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Carin. Menurut Roger dan David dalam Kumalasari (2007) untuk mencapai hasil yang maksimal. yaitu: 1) 2) 3) Saling ketergantungan positif (positive independence) Tanggung jawab perseorangan (individual accountability) Tatap muka (face to face) Komunikasi antar anggota Evaluasi proses kelompok Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif adalah: (a) setiap anggota memiliki peran. 1993). Siswa sebagai masyarakat belajar seharusnya berkumpul. Pendekatan Kooperatif Susanto (2009) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif memandang pembelajaran dari sudut pandangan siswa sebagai masyarakat belajar.e. Siswa dalam satu kelas dipandang sebagai masyarakat heterogen ditinjau dari etnis. (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa. Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa yang bekerja dalam kelompok akan belajar lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang kelasnya dikelola secara tradisional (Suyanto. dan kemampuan. setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif. ada lima unsur model pembelajaran kelompok yang harus diterapkan. 2008). Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya. belajar bersama. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. gender. berinteraksi. (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok. 4) 5) 21 . Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. dan bekerja sama untuk saling membantu sehingga semuanya berhasil dalam belajarnya.

f. baik masa silam mupun yang akan datang tidak terikat pada dimensi waktu yang tepat. Hal ini menunjukkan. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau pengaruh tertentu kepada individu. Dalam proses interaksi ini dapat terjadi perubahan pada diri individu berupa perubahan tingkah laku. ialah “alam sekitar” dan “lingkungan”. bahwa fungsi lingkungan merupakan faktor yang penting dalam proses belajar mengajar. Ada dua istilah yang sangat erat kaitannya tetapi berbeda secara gradual. Fungsi psikologis 22 . Lingkungan belajar atau pembelajaran atau pendidikan terdiri dari berikut ini : 1) Lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat bagi kelompok besar atau kelompok kecil. 4) Lingkungan kultural mencangkup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sumber belajar dan yang dapat menjadi faktor pendukung pengajaran. 3) Lingkungan alam (fisik) meliputi semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respons terhadap lingkungan. baik yang positif atau bersifat negatif. Pendekatan Salingtemas Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dan lingkungan. 2) Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya. Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor tradisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Suatu lingkungan pendidikan atau pengajaran memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut : 1. baik yang jauh maupun yang dekat letaknya. individu menyebabkan terjadinya perubahan pada lingkungan. Dapat juga terjadi. Alam sekitar mencangkup segala hal yang ada di sekitar kita.

Fungsi instruksional Program instruksional merupakan lingkungan pengajaran atau pembelajaran yang dirancang secara khusus. Dalam kontens ini masyarakat mencangkup unsur-unsur individu. Selanjutnya. secara keseluruhan merupakan lingkungan masyarakat. dan 5) metode simulasi (Syah. Inovatif. sistem nilai dan norma. ialah: 1) metode ceramah plus. dan Menyenangkan. pemahaman. yakni: 23 . PAIKEM juga memungkinkan siwa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap. Suatu dimensi lingkungan yang sangat penting adalah masyarakat. Kreatif. dan berbagai hambatan dalam masyarakat.Stimulus bersumber atau berasal dari lingkungan yang merupakan rangsangan terhadap individu sehingga terjadi respons. g. Dengan demikian. kondisi atau situasi serta masalah-masalah. PAIKEM dapat didefinisikan sebagai: pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif. Pendekatan PAIKEM PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif.mentasikan PAIKEM. 3. 2009). para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. lembaga pelatihan. kreatif. sumbersumber alami. yang menunjukkan tingkah laku tertentu. dan menyenangkan. sekolah. inovatif. misalnya keluarga. efektif. Fungsi pedagogis Lingkungan memberikan pengaruh-pengaruh yang bersifat mendidik. lembaga-lembaga sosial. Di antara metode-metode mengajar yang amat mungkin digunakan untuk mengimple. 2. kelompok. sumber budaya. Selain itu. 2009). Efektif. 3) metode demonstrasi. Sekurang-kurangnya ada dua alasan perlunya pendekatan PAIKEM diterapkan di sekolah/madrasah kita (Syah. 4) metode role-play. dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata “disuapi” guru. 2) metode diskusi. khususnya lingkungan yang sengaja disiapkan sebagai suatu lembaga pendidikan.

Guru mengupayakan segala cara secara kreatif untuk melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran. PAIKEM dilandasi oleh falsafah konstruktivisme yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan gagasan atau pengetahuan awal yang telah dimilikinya. tidak menyenangkan. sehingga pembelajaran menjemukan. tidak menarik. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur. sehingga mereka mampu membangun makna bagi fenomena yang berbeda. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. Selama ini kita lebih banyak mengenal pendekatan pembelajaran konvensional. Sementara itu. materi pelajaran dan segala alat bantu belajar. or series of activities designed to achieves a particular education goal. Strategi Pembelajaran Dalam konteks pembelajaran terdapat empat unsur dalam strategi yang dijelaskan sebagai berikut. 2009). bahkan kadang-kadang menakutkan siswa. sehingga dalam pembelajaran peserta didik selalu menjadi subjek aktif sedangkan guru menjadi fasilitator dan pembimbing belajar mereka (Syah. b) PAIKEM lebih memungkinkan guru dan siswa berbuat kreatif bersama. 24 . b. d. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. a. method. 2. metode dan teknik pembelajaran. guru. sehingga hasil pembelajaran dapat meningkat. Hanya guru yang aktif (monologis). peserta didik juga didorong agar kreatif dalam berinteraksi dengan sesama teman. sementara para siswanya pasif. Falsafah pragmatisme yang berorientasi pada tercapainya tujuan secara mudah dan langsung juga menjadi landasan PAIKEM.a) PAIKEM lebih memungkinkan perserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Dengan demikian strategi dalam pembelajaran diartikan sebagai a plan. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan perilaku dan pribadi peserta didik. c.

Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. dalam Sugiharto. Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya. Di bawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang strategi pembelajaran (Sugiharto. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja. c. Kozma (dalam Sanjaya 2007) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih. la menegaskan bahwa 25 . d. 2010). e. Cropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Menurut Sanjaya (2007. dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik. a. 2010) dalam konteks pembelajaran. strategi berarti pola umum perbuatan guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. sifat.Jadi. 2007) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sifat umum pola tersebut berarti bahwa macam dan urutan perbuatan yang dimaksud tampak dipergunakan dan/atau dipercayakan guru-peserta didik di dalam bermacam-macam peristiwa belajar. lingkup. yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. b.

Oleh karena itu. Berdasar pengertian-pengertian di atas. 8) metode eksperimen. yaitu: (1) expositiondiscovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Senjaya. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya. 4) metode demonstrasi. 5) metode ekspositori atau pameran. 9) metode bermain peran. Strategi pembelajaran pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal.setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan. Tentunya ada juga faktor- 26 . Jadi. strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Senjaya (2008). 7) metode penugasan. 6) metode karya wisata/widya wisata. salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajarmengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan. 2) metode tanya jawab. sesungguhnya dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Dilihat dari strateginya. antara lain: 1) metode ceramah. 3) metode diskusi. Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan pembelajaran. dan sebagainya. Dengan kata lain. strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. f. Menurut Rustaman dkk (2003) ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. 2008). metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

pada 27 . (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). atau prosedur. 2010) dikemukakan bahwa. dan sifat lingkungan belajarnya. dan Shower dalam Depdiknas (2004. Merujuk pada Joyce. situasi (lingkungan belajar). Istilah model mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi. yaitu: a. Hal ini dinyatakan dalam Depdiknas (2004. dalam Sugiharto. dan tugas-tugas khusus yang perlu dilakukan oleh siswa”. dalam Sugiharto. dan teknik dalam pembelajaran dapat diwadahi atau tercermin dalam sebuah model pembelajaran. Istilah model pengajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh. sintaksnya (pola urutannya). strategi. b. 2010). dan lain-lain (Sugiharto. istilah model pembelajaran digunakan untuk dua alasan penting. Pada setiap model pembelajaran dikenal adanya sintaks atau pola urutan yang menggambarkan keseluruhan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Ciri-ciri tersebut adalah (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. dalam Sugiharto. Model pengajaran diklasifikasikan berdasaran tujuan pembelajarannya. Istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau prosedur tertentu. dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Setiap model memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Model pengajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting.faktor lain yang harus diperhatikan. seperti: faktor guru. (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. 3. metode. Model Pembelajaran Pendekatan. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran lain. 2010). urutan kegiatankegiatan tersebut. media. Masih dalam Depdiknas (2004. anak. Setiap pendekatan memberikan peran berbeda kepada siswa. metode. ”Sintaks pembelajarn menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan guru atau siswa. weil. 2010).

yaitu.ruang fisik. bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring) dengan penjelasan sebagai berikut (Sekolah Juara. dalam Purnomo. Pembelajaran berbasis pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen pembelajaran produktif. Menguasai berbagai model pembelajaran merupakan bekal utama bagi seorang guru untuk mencapai tujuan pembelaran tertentu sesuai dengan lingkungan belajar atau kelompok siswa tertentu. dan authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. reflecting (refleksi). mengalami (experiencing). yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya. sosialnya. modeling (permodelan). Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting. 2008) mendefinisikan pembelajaran kontekstual sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Berikut ini beberapa model pembelajaran yang relevan untuk pembelajaran biologi. menerapkan (applying). Arends dan para pakar pembelajaran yang lain berpendapat bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran yang lain. constructivism (konstruktivisme). 2003). Johnson (2002. 2011). Contextual Teaching & Learning (Model Pembelajaran Kontekstual) Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Nurhadi. inquiry (menemukan). yaitu mengaitkan (relating). dan sistem sosial kelas. Guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beranekaragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa ini. a. learning community (masyarakat belajar). dan budayanya untuk mencapai tujuan penerapan pembelajaran kontekstual. questioning (bertanya). 28 .

bertujuan untuk mengembangkan sikap ilmiah siswa (menjadi seorang anak yang melek sains. b. Untuk pendidikan biologi.6 Tujuh Komponen Produktif Pembelajaran Kontekstual Gambar 2. Menurut National Academy of Sciences (dalam Nur. Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif Pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan tujuan dari pembelajaran dan memotivasi siswa 29 .7 Lima Bentuk Belajar yang Muncul dalam Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) menekankan pada kegiatan proses belajar mengajar yang berbasis pada aktivitas siswa dan melibatkan sumber belajar yang nyata dan ada di sekitar siswa. bukan ahli sains). 2001) prinsip-prinsip dalam perangkat pembelajaran kontekstual IPA (termasuk biologi) tersebut meliputi: (1) IPA adalah untuk semua siswa dan (2) pembelajaran IPA merupakan proses aktif.Gambar 2. penerapan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual sangat cocok dilakukan dalam proses belajar mengajar biologi.

jumlah. Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu (Arends.1 Langkah-langkah Perilaku Guru Menurut Model Pembelajaran Kooperatif FASE Fase I Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Fase II Menyajikan informasi Fase III Mengorganisasikan siswa dalam kelompokkelompok belajar Fase IV Membimbing kelompok bekerja dan belajar Fase V Evaluasi Fase VI Memberikan penghargaan TINGKAH LAKU GURU Guru menyampaikan semua tujuan belajar yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.1. Students Teams Achievment Division (STAD).untuk belajar. Kemudian dilanjutkan langkah-langkah di mana siswa di bawah bimbingan guru bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling bergantung. media. Team Games Tournament (TGT). Sintaks model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada Tabel 2. waktu. Guru mengevaluasi hasi belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Masing-masing model pembelajaran kooperatif mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Group Investigation (GI) dan Cooperative Script. Numbered Head Together (NHT). 30 . Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasi atau melalui bahan bacaan. Tabel 2. dan kondisi peserta didik. Beberapa model pembelajaran kooperatif yang populer dan sering dikembangkan adalag Jigsaw. Think Pair Share (TPS). sarana. 1997). Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif. Upaya untuk mengurangi kekurangan penerapan model pembelajaran kooperatif adalah dengan mempertimbangkan materi. Fase ini diikuti dengan penyajian informasi. sering dalam bentuk teks bukan verbal. Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya dan hasil belajar individu dan kelompok.

Menghafal rumus dalam bidang sains merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual). Problem Based Instruction (Model Pembelajaran Berbasis Instruksi) Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan 31 . 4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. dan 5) memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. Sedangkan bagaimana cara mengoperasikan alat-alat tertentu dalam sains merupakan contoh pengetahuan prosedural. Model DI mempunyai lima fase yang sangat penting yaitu: 1) menyampaikan tujuan. Model Pendekatan Langsung (Direct Instruction) Landasan teoretik Direct Instruction adalah teori belajar sosial khususnya tentang pemodelan (modelling). dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari d. Model DI dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. mempersiapkan siswa untuk belajar. informasi latar belakang pelajaran. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan. 2010) Fase-fase Fase 1 Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.2 Sintaks Model Pembelajaran Langsung (Sumber: Sugiharto. 2) mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan. Rincian perilaku guru pada setiap fase dapat dilihat pada Tabel 2. pentingnya pelajaran. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik.2. Fase 2 Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan Fase 3 Membimbing pelatihan Fase 4 Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Perilaku Guru Guru menyampaikan tujuan. Guru mendemostrasikan keterampilan yang benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Tabel 2. 3) membimbing pelatihan. memberikan umpan balik. Albert Bandura yang merupakan pengembang teori belajar sosial menyatakan bahwa belajar yang dialami oleh manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan yiatu meniru perilaku dan pengalaman orang lain.c.

guru. e. Menurut Pannen (2001) bahwa pandangan konstruktivis pada problem based learning mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. terbuka dan mendua. Model problem-based instruction memiliki lima langkah pembelajaran (Arend et al.. bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah. mengumpulkan dan menganalisis data. 2001). dan data yang variatif. yaitu: (1) guru mendefisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yang berkaitan (masalah bisa untuk satu unit pelajaran atau lebih. menyusun fakta. 1996) dalam Arnyana (2004). Belajar berdasarkan masalah dapat membangkitkan minat siswa. dan (5) presentasi (dalam kelas melibatkan semua siswa. bisa untuk pertemuan satu. (2) guru membantu siswa mengklarifikasi masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi melibatkan sumbersumber belajar. dan lain-lain). Masalah yang tidak tentu adalah masalah yang kabur. Jones. (4) pengorganisasian laporan (makalah. tidak jelas. mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah. informasi. 1997. Dalam pemrolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik. 1. mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah. laporan lisan. nyata dan sesuai untuk mengembangkan intelektual serta memberikan kesempatan agar siswa belajar dalam situasi kehidupan nyata.. bisa berasal dari hasil seleksi guru atau dari eksplorasi siswa). Problem Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Masalah) Pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau problem based learning adalah pengajaran yang dirancang berdasarkan masalah riil kehidupan yang bersifat tidak tentu (ill-structured). program komputer. atau tiga minggu.pemecahan masalah otentik (Arends et al. melakukan survei dan pengukuran). siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah. dan belum terdefinisikan (Fogarty. dua. Fokus pada kebermaknaan 32 . (3) guru membantu siswa menciptakan makna terkait dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan masalah dan apa rasionalnya). 2001). model. bila perlu melibatkan administator dan anggota masyarakat).

akan tetapi PBM menyajikan informasi. Mengorganisir siswa dalam belajar • • yang siswa dibutuhkan terlibat dan dalam pemecahan masalah Guru membagi siswa dalam kelompok Guru membantu dan siswa dalam mendefinisikan mengorganisir tugas-tugas belajar yang berhubungan 3. sehingga terjadi proses kebermaknaan terhadap informasi. 1. sehingga pada akhirnya kemampuan tersebut akan meningkat. Penjelasan kelima langkah tersebut adalah sebagai berikut.3 Langkah-langkah Penerapan Problem Based Learning No.Problem based learning semata-mata tidak menyajikan informasi untuk diingat siswa. Membimbing penyelidikan individu • dengan masalah Guru mendorong melaksanakan penyelidikan 4. 3. Menurut Arends (1997) penerapan problem based learning terdiri dari lima langkah. Meningkatkan kemampuan siswa untuk berinisiatif Problem based learning harus membiasakan siswa untuk berinisiatif dalam prosesnya. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya • siswa untuk dan maupun kelompok mengumpulkan informasi yang sesuai. Kelima langkah tersebut dimulai dari orientasi guru dan siswa pada masalah serta diakhiri dengan analisis kerja siswa. Langkah-langkah PBM Orientasi siswa pada masalah Kegiatan yang dilakukan guru • Guru menjelaskan tujuan. Tabel 2. 2. 33 . maka informasi tersebut harus digunakan dalam pemecahan masalah. menjelaskan logistik memotivasi 2. Mengembangkan keterampilan sosial Proses pengembangan keterampilan sosial merupakan keterampilan yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan seperti laporan.

dan realistik (BIE. mengorganisasi. Langkah-langkah pokok PBP dapat dilihat di tabel 2.4. melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya. dan mode dan membantu mereka 5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi digunakan (Sumber: Arends.video. 2) menyusun proposal (merumuskan masalah. dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai. Ketika pebelajar bekerja di dalam tim. sedangkan pebelajar belajar di dalam kelompok kolaboratif antara 4-5 orang. dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan. Proyek pebelajar dapat disiapkan dalam kolaborasi dengan instruktur tunggal atau instruktur ganda. 1997) atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang f. memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri. Umumnya PBP memiliki sintaks: 1) siswa mengumpulkan informasi tentang suatu topik. kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan. Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh pebelajar ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya. Di dalam kerja kelompok suatu proyek. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah • membagi tugas dengan temannya. negosiasi. menuliskan latar belakang masalah dan memprediksikan penyelesaian masalah). Project Based Learning ( Model Pembelajaran Berbasis Proyek) Project Based Learning adalah model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dari suatu disiplin. 3) melakukan praktikum atau kegiatan untuk mengetahui pemecahan permasalahan. mereka menemukan keterampilan merencanakan. siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas. 34 . maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara pebelajar. 4) menyusun laporan atau produk dan 5) mempresentasikan hasil kerja dan seluruh langkah dikerjakan oleh siswa secara berkelompok. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif. dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja. 2001). dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan.

4 Langkah-langkah pokok dalam PBP dan kegiatan Proses Belajar Mengajar (Sintaks PBP) Planning 1) Merancang seluruh proyek 1) Persiapan proyek • Guru menginformasikan tujuan pembelajaran • Guru menginformasikan fenomena nyata sebagai sumber masalah • Siswa menyusun jadwal proyek • Siswa membuat dan menyepakati aturan kolaborasi di dalam keseluruhan sktifitas proyek. 2) Mengorganisir pekerjaan (kerjasama/kolaboratif) • Mengorganisir kerjasama/kolborasi • Pemilihan topik • Memilih sumber daya/informasi yang terkait • Membuat design investigasi 2) Perencanaan proyek: siswa melakukan: • Pembentrukan kelompok • Mengidentifikasi tema dan pemilihan proyek • Penelusuran sumber • Merumuskan masalah sesuai dengan tema • Menyusun hipotesis • Menentukan variabel penyusunan instrumen dan prosedur penelitian Kegiatan PBM Creating Bekerjasama/dengan yang lain 1) Meneliti data • Bekerjasama dalam mengumpulkan data • Menganalisis data 2) Mengembangkan pemikiran dan dokumentasi • Kerjasama dalam membuat visualisasi artefak-artefak (menyusun laporan proyek) dengan membangun gagasan-gagasan Organisasi kegiatan KBM.Tabel 2. Presentasi proyek mungkin dalam bentuk pameran yang diadakan di lingkungan 35 . siswa melakukan 3) Investigasi (mengumpulkan data) • Analisis data • Menarik kesimpulan • Mengkomunikasikan gagasan atau temuan dengan anggota kelompok • Bekerjasama menyiapkan presentasi/menyusun laporan ilmiah hasil investigasi atau membuat artefak lainnya Processing 1) Presentasi laporan proyek atau artifak. Siswa mengkomunikasikan secara aktual kreasi atau temuan dari investigasi 4) Siswa bekerjasama dalam penyajian laporan proyek (artifa).

evaluasi teman sebaya. 1989 dalam Kirna. Metode abduksi ini memegang peranan penting dalam memahami sains terutama konsep teori. Learning Cycle (Model Pembelajaran Siklus Belajar) Siklus belajar menempatkan kegiatan inkuiri (investigasi dan penemuan) sebagai hal utama. dan yang terakhir dikenal siklus belajar enam fase.sekolah. selanjutnya dikenal siklus belajar lima fase. Pada perkembangannya tahapan model siklus belajar dari yang paling sederhana dikenal dengan tiga fase. 36 . yaitu menggunakan “logic of discovery”. 2003. dalam Kirna. Berikut ini adalah bagan tentang siklus belajar tiga fase. 2010). dan enam fase yang disajikan pada gambar . tetapi juga abduksi (retroduction). lima fase. seperti penggunaan analogi (Lawson. dan portofolio berlangsung selama pembelajaran mulai dari pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir (Sumber: Mahanal 2008 dalam Mahanal 2009) g. Pierce lebih jauh menyatakan bahwa investigator (inkuirer) dalam pemecahan permasalahan tidak hanya menggunakan metode deduktif dan induktif. evaluasi • Refleksi dan evaluasi terhadap hasil proyek • Analisis dan evaluasi prosesproses belajar 5) Tahap evaluasi • Refleksi untuk mengevaluasi proses PBM dengan PBP sebagai acuan tindak lanjut • Evaluasi proses menggunakan evaluasi diri sendiri. 2010). 2) Refleksi dan tindak lanjut. Pentingnya inkuiri dinyatakan oleh Pierce bahwa keyakinan terhadap pemahaman (beliefs) dibangun melalui inkuiri (Maxey.

dan menarik kesimpulan sendiri. membuat hubungan.9 Bagan Model Siklus Belajar Lima Fase Gambar 2.10 Bagan Model Siklus Belajar Enam Fase Seting pengajaran konstruktivistik yang mendorong konstruksi pengetahuan secara aktif memiliki beberapa ciri: (1) menyediakan peluang kepada siswa belajar dari tujuan yang ditetapkan dan mengembangkan ide-ide secara lebih luas. (3) sharing dengan siswa mengenai pentingnya pesan bahwa dunia adalah tempat yang kompleks di 37 .Gambar 2.8 Bagan Model Siklus Belajar Tiga Fase Gambar 2. (2) mendukung kemandirian siswa belajar dan berdiskusi. merumuskan kembali ide-ide.

belajar melibatkan pembangkitan dan restrukturisasi konsepsi-konsepsi yang dibawa oleh siswa sebelum pembelajaran (Brook & Brook. 1993 dalam Santyasa. sehingga eksplorasi. et al. 2005). atau masing-masing berdiri sendiri. h. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual Pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan. yaitu: (1) mempertahankan intuisinya semula. Proses negosiasi makna tidak hanya terjadi atas aktivitas individu secara perorangan. (4) menempatkan pembelajaran berpusat pada siswa dan penilaian yang mampu mencerminkan berpikir divergen siswa (Santyasa. Ini berarti bahwa mengajar bukan melakukan transmisi pengetahuan tetapi memfasilitasi dan memediasi agar terjadi proses negosiasi makna menuju pada proses perubahan konseptual (Hynd. 38 . menemukan konsep secara mandiri. seting lingkungan tempat siswa belajar mempunyai nilai tersendiri terhadap kemampuan siswa untuk mengawali eksplorasi konsep dari pokok bahasan yang sedang dipelajari. dan aplikasi konsep siswa masih dalam lingkungan kontrol guru sehingga meminimalkan miskonsepsi. Demikian pula pada model siklus belajar. (2) merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi.mana terdapat pandangan yang multi dan kebenaran sering merupakan hasil interpretasi. 2005). Sementara pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa konflik. Perubahan konseptual terjadi ketika siswa memutuskan pada pilihan yang ketiga.. 1994 dalam Santyasa). menuntut guru untuk menguasi konsep pokok bahasan secara mantap dan menyeluruh serta menguasai langkah-langkah model pembelajaran yang sedang diterapkan. siswa dibimbing untuk melakukan eksplorasi. kongruen. Peran guru sebagai fasilitator. siswa dihadapkan pada tiga pilihan. Agar terjadi proses perubahan konseptual. tetapi juga muncul dari interaksi individu dengan orang lain melalui peer mediated instruction. dan menerapkan atau mengaplikasikan konsep pada kasus-kasus di lingkungan sekitar yang relevan dengan konsep yang dipelajari. Dalam kondisi konflik kognitif. Pada pembelajaran biologi. dan (3) merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru. penemuan konsep.

peralatan eksperimen yang sesuai. Model pembelajaran perubahan konseptual memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa. 2004). konfrontator. strategi merupakan “a plan of operation achieving something” 39 . Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan atau tertulis melalui pertanyaan-pertanyaan resitasi dan konstruksi. model analogi. Dampak pembelajaran dari model ini adalah: sikap positif terhadap belajar. minimnya peran guru sebagai transmiter pengetahuan. interaksi sosial yang efektif. (4) konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah. meja dan korsi yang mudah dimobilisasi. perubahan paradigma. Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa. Dengan kata lain. 4. 2005) menyatakan meaning making is not just an individual operation. Sistem sosial yang mendukung model ini adalah: kedekatan guru sebagai teman belajar siswa. Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah: peranan guru sebagai fasilitator. analogi. pemahaman secara mendalam. negosiator. latihan menjalani learning to be. (5) konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual. (6) konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna. kebiasaan belajar dengan bekerja. panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru. bahan ajar. Dampak pengiringnya adalah: pengenalan jati diri. penumbuhan kecerdasan inter dan intrapersonal. keterampilan penerapan pengetahuan yang variatif. atau contoh-contoh tandingan.Costa (1999 dalam Santyasa. yaitu: (1) Sajian masalah konseptual dan kontekstual. kebebasan. Metode Pembelajaran Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Pertanyaan resitasi bertujuan memberi peluang kepada siswa memangil pengetahuan yang telah dimiliki dan pertanyaan konstruksi bertujuan menegosiasi dan mengkonfrontasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru. (3) konfrontasi sangkalan berikut strategi-strategi demonstrasi. the individual interacts with others to construct shared knowledge. (2) konfrontasi miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut.

antara lain: 1) metode ceramah. media. 6) metode karya wisata/widya wisata. yaitu menyangkut input. Proses berkaitan erat dengan penciptaan suasana pembelajaran. sarana dan prasarana. Oleh karena itu. potensi. Menurut Rustaman dkk (2003. 9) metode bermain peran. 7) metode penugasan. dan lain-lain (Sugiharto. dan sikap. situasi (lingkungan belajar). masyarakat. 5) metode ekspositori atau pameran. Dukungan lingkungan berkaitan dengan suasana atau situasi dan kondisi yang mendukung terhadap proses pembelajaran seperti lingkngan keluarga. 2010).sedangkan metode adalah “a way in achieving something” Sanjaya (2008. 2010) ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. anak. salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajarmengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan. 2008). Input berkaitan dengan kondisi peserta didik seperti minat. E. motivasi. guru menjadi faktor utama dalam penciptaan suasana pembelajaran. Jadi. Kompetensi guru dituntut dalam menjalankan 40 . yang dalam hal ini lebih banyak ditekankan pada kreativitas guru. Konsep Mengajar Guru Ditinjau dari Kompetensi Profesional Guru Mutu pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor penting. dalam Sugiharto. 2) metode tanya jawab. dan alam sekitar (Triluqman. 4) metode demonstrasi. 3) metode diskusi. 8) metode eksperimen. metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berkaitan dengan faktor proses. Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan pembelajaran. bakat. seperti: faktor guru. dalam Sugiharto.2010). proses. dukungan lingkungan. dan sebagainya. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. Tentunya ada juga faktorfaktor lain yang harus diperhatikan.

tugasnya secara profesional. dengan pemeriksaan dan kesalahan. Terdapat banyak sifat organisator yang sebaiknya ada pada guru. Tugas organisator ialah memungkinkan kelompok dan individu-individu di dalamnya untuk berfungsi bersama (Mursell dkk. f. dan b) pembangkit kritik diri dan pengevaluasi diri. yang membangkitkan tujuan yang aktif. ada 8 keterampilan a. mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran.. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. g. ada kalanya dengan sukses dan ada kalanya dengan kegagalan. yang 41 . yang mengkonfrontasikannya dengan tantangan-tantangan yang berarti. menarik dan berharga bagi murid. Keterampilan mengadakan variasi e. Keterampilan menjelaskan c. sebagai pimpinan guru harus dapat mengevaluasi diri. dan menjadikan siswa terampil untuk saling mengevaluasi. karena tanpa kontrol dan ketertiban tidak mungkin suatu kelompok berfungsi dengan baik. Hal ini disebabkan keterampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks. 2008). Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil h. Jika mengajar dirumuskan sebagai organisasi belajar maka guru pada hakekatnya adalah seorang organisator. d. Mursell (2008) menjelaskan bahwa usaha mencari metode mengajar yang baik telah dilakukan selama beberapa puluh tahun dengan percobaan-percobaan. Menurut Usman (2005). Selanjutnya guru harus berupaya untuk memecahkan masalah metode mengajar. diantaranya adalah sebagai a) pengontrol. Dalam hal ini seorang guru perlu menerapkan adanya pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan melalui berbagai keterampilan mengajar di dalam kelas. mengevaluasi siswa. yaitu: Keterampilan membuka dan menutup pelajaran Keterampilan bertanya Keterampilan memberi kenguatan Keterampilan mengelola kelas b. Lebih lanjut Mursell memaparkan bahwa untuk mencapai pendapat tersebut pelajaran harus diorganisasi berbentuk kegiatan-kegiatan yang tampaknya riil. sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.

8 Harus Diadakan Perubahan Besar dalam Urutan Kronologis dari Tokoh-tokoh dan Bahan yang Akan Dipelajari Sekolah Lama Urutan secara logis atau quasilogis menurut sifat mata pelajaran Urutan ditentukan lebih dahulu tanpa Urutan bahan Sekolah Baru pelajaran bergantung pada perkembangan siswa Guru bertanggung jawab menyusun rencana 42 .membawa dia kepada pengertian yang lebih dalam serta luas dan memberi sikap yang lebih halus serta keterampilan yang nyata. Untuk mengetahui akibat dari pendirian (keputusan) guru terhadap cara mengajar disekolah.7 Harus Diadakan Perubahan Besar dalam Suasana Sosial dalam Cara Belajar Sekolah Lama Disiplin dipaksakan oleh guru Disiplin datang dari luar Sekolah Baru Disiplin berarti ketertiban yang memungkinkan kerjasama Disiplin merupakan suatu bagian dari situasi belajar Tabel 2. Tabel 2. Mursell (2008) membandingkan antara sekolah lama dan sekolah baru.6 Harus Diadakan Perubahan yang Radikal dalam Motivasi Belajar Sekolah Lama Mendorong siswa dengan paksaan melakukan pekerjaan yang tidak dipilihnya sendiri Tujuan dan taraf penguasaan bahan ditentukan semata-mata oleh guru dengan memberikan angka Menggunakan persaingan antar siswa Sekolah Baru Siswa diberi kesempatan memilih apa yang akan dilakukannya Siswa dapat memilih pekerjaan dan menentukan norma-norma sendiri Siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas Sekolah Baru Siswa mempelajari broadfield atau fungsional Siswa memegang peranan yang esensial dalam memilih dan menentukan kegiatan-kegiatan belajar Segala sesuatu yang dapat membantu perkembangan siswa termasuk dalam kurikulum Keterampilan dikembangkan berhubungan erat dengan penggunaannya Tabel 2.5 Harus Ada Perubahan yang Radikal dalam Pola-pola Belajar dan Mengajar Sekolah Lama siswa mempelajari matapelajaran tertentu yang satu sering terpisah dengan yang lain Pelajaran diberikan tanpa mengindahkan minat dan keinginan siswa Diadakan batas tegas antara kurikuler dan ekstrakurikuler Keterampilan dan kecakapan diajarkan dengan latihan khusus secara terpisah dari penggunaannya Tabel 2.

F. dan etis Mengajarkan keterampilan untuk digunakan dalam Terutama menggunakan bahan akademis Mengajarkan keterampilan dan pengetahuan untuk keperluan siswa kelak setelah dewasa Menggunakan masyarakat sebagai sumber kecakapan sekarang sehingga mengembangkan pribadi siswa Menganjurkan penyelidikan lingkungan setempat Disamping bahan dari zaman lampau juga digunakan bahan-bahan dari zaman sekarang pengalaman untuk pendidikan Menggunakan bahan statistik dari zaman yang lampau seperti karangan-karangan klasik ilmu pengetahuan yang telah lama ditemukan Berdasarkan perbedaan sekolah lama dan sekolah baru Tabel 2. bahkan mengemukakan bahwa kesuksesan institusi PJJ bergantung pada 43 . dan kebutuhan sosial Di samping bahan akademis juga menggunakan segala jenis pengalaman manusia. seorang ahli PJJ.9 dapat dijelaskan bahwa perubahan fundamental dalam organisasi pelajaran mempengaruhi yang lainnya. dkk. dalam Puspitasari.menurutsertakan siswa pembelajaran namun rencana tersebut fleksibel dan dapat diubah atas inisiatif dan kerjasama dengan murid Tabel 2. Metode baru memberi harapan untuk memperbaiki hasil-hasil belajar.5 hingga Tabel 2. kebutuhan pribadi.9 Harus Diadakan Perubahan dalam Isi Bahan Pelajaran Terutama kebudayaan Sekolah lama bertujuan untuk menyampaikan Terutama Sekolah mementingkan pembentukan pemahaman tentang keadaan sekarang bertalian dengan kebutuhan siswa. estetis. Penyelidikan-penyelidikan membuktikan bahwa cara mengajar baru secara nyata lebih baik hasilnya dibandingkan dengan cara-cara lama.. Perbandingan Pembelajaran Tatap Muka dan Pembelajaran Jarak Jauh Pendidikan jarak jauh (PJJ) seringkali dikaitkan dengan istilah belajar mandiri. Hal ini mengingat lebih terbatasnya interaksi antara mahasiswa dengan instruktur (guru) dan dengan sesama peserta didik. Paul (1990. dan situasi sosial. 2010). Perkembangan konsep belajar mandiri di bidang PJJ merupakan konsekuensi salah satu karakteristik PJJ yang menuntut kemampuan belajar mandiri yang lebih tinggi dibandingkan bentuk pendidikan tatap muka.

dalam Puspitasari.. dkk.. 44 . kemandirian. 1990 dalam Puspitasari. Moore. Siswa yang kemampuan belajar mandirinya tinggi menunjukkan ciri-ciri: 1) mempunyai inisiatif. Menurut Sugilar (1999. Oleh karena itu. serta mengevaluasi hasil belajar mereka sendiri. dengan atau tanpa dukungan pihak lain. dkk.. dkk. dalam Puspitasari. 2010) menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai kemampuan belajar mandiri dicirikan oleh beberapa faktor. Paul. 2010) yang mengemukakan bahwa seseorang yang mampu belajar secara mandiri artinya mampu merencanakan belajarnya sendiri. dkk. dan persistensi dalam belajar. 2010). Pendapat ini senada dengan definisi Hiemstra (1994 dalam Puspitasari. Knowles (1975. 1994 dalam Puspitasari. 2010). pelajar yang mampu belajar mandiri diartikan sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri (Hiemstra. kesiapan belajar mandiri berkaitan dengan kesiapan individu untuk melaksanakan kegiatan belajar atas inisiatif sendiri.kemampuan peserta didik untuk belajar mandiri. 2010). 1980 dalam Puspitasari. dan mengevaluasi belajarnya sendiri. 1983. memilih dan melaksanakan strategi belajar yang sesuai. Beberapa peneliti juga mengemukakan bahwa siswa yang mempunyai kemandirian belajarlah yang akan berhasil menempuh pendidikan dalam sistem PJJ (Long. dan memiliki kemampuan mengatur waktu (Guglielmino & Guglielmino. mempunyai motivasi internal.. dkk. 2010). 2010) mendefinisikan belajar mandiri sebagai suatu proses di mana seseorang mempunyai inisiatif (baik dengan atau tanpa bantuan orang lain) dalam mendiagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar mereka. Siswa yang memiliki kemandirian yang tinggi dalam belajar digambarkan sebagai orang yang mampu mengontrol proses belajar. mengidentifikasi sumber-sumber belajar. melaksanakan proses belajar. dkk... 1991. Penelitian Guglielmino & Guglielmino (1991 dalam Puspitasari. dkk. 2010) serta memiliki konsep diri yang positif dibandingkan dengan mereka yang kemandirian belajarnya rendah (Sabbaghian. dkk. Secara lebih spesifik. merumuskan tujuantujuan belajar. 1991 dalam Puspitasari.. Singkatnya. calon peserta didik dalam sistem PJJ seharusnya sudah mempunyai kesiapan yang memadai untuk belajar mandiri. mempergunakan bermacam-macam sumber belajar..

2010).. proses belajar mandiri tidak selalu berlangsung secara berurutan seperti pada Gambar 2.. Proses belajar mandiri dapat digambarkan seperti pada Gambar 2. Dalam setiap kegiatan belajar mandiri dapat terjadi kendalakendala belajar. Menurut Lowry (1989 dalam Puspitasari. 4) mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar atau mengadakan perubahan serta mempunyai rasa percaya diri. Pada prakteknya. 6) senang belajar dan mempunyai kecenderungan untuk memenuhi target yang telah direncanakan. mengatur kecepatan belajar yang tepat. 2010). dkk. bukan hambatan. dkk.4. orang yang mampu belajar secara mandiri adalah orang yang mampu bertindak.4. dan tidak takut menghadapi masalah. 3) mempunyai disiplin dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. menurut Guglielmino & Guglielmino (1991 dalam Puspitasari.. dan mengembangkan rencana untuk penyelesaian tugas. seperti kurangnya sumberdaya atau kurangnya waktu untuk belajar (Guglielmino & Guglielmino. kepercayaan diri. banyak orang dewasa yang tidak mampu melaksanakan belajar mandiri karena kurangnya kemandirian. Evaluasi terhadap situasi belajar dapat mengungkapkan bahwa beberapa kebutuhan belajar tidak terpenuhi atau disadari adanya kebutuhan-kebutuhan belajar yang baru. 5) mampu mengorganisasi waktu.2) menerima tanggung jawab terhadap belajarnya sendiri dan memandang masalah sebagai tantangan. 2010). bertanggung jawab. 45 . yang dapat menyebabkan terganggunya proses belajar mandiri siswa. dkk. 1991 dalam Puspitasari. dan sumberdaya. Secara singkat.

People leave during meeting for other meetings 5. Usually work on one issue at a time and advance through agenda item by item 2. • Discussions through text only. etc. Little group contact inbetween meetings 4. 4.all those involved attend at same time. Work on multiple issues at the same time 2. Group contact continually maintained 4. Controllable 6.Gambar 2. but impermanent • Meet in a room. Group meets in 'stop and start' fashion 2. Time important and is a limiter. Depth of analysis often increased online 5. Sometimes deadlines are not adhered to since it is possible to extend beyond deadline to next period of online work Face-to-face 1. date. • Verbal discussions: a more common mode.10 Perbedaan Pembelajaran Online dan Tatap Muka Instructors sense of control Online 1. and it is not really possible to continue into next period of time 1.at least span of time is greater 4. 2005). More sense of leadership from Instructor 2. Discussion often stops for periods of time.11 Proses Belajar Mandiri menurut Guglielmino & Guglielmino (1991) Diantara fasilitas pembelajaran jarak jauh adalah dengan menggunakan media online. can be structured. Deadlines usually adhered to since the expectation to complete them on time is high. Strong sense of when group meets . Analysis varies. People leave during the meeting. Concept of 'to meet' is different since no scheduled date and time and location 3. often dependent on time available 5. dense. then is picked up and restarted 46 . Not so easy to ignore instructor 1. 3. Berikut ini adalah perbedaan antara pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka (McConnell. Often have to wait for others to arrive 2. No latecomers or early leavers. etc. Discussions usually completed during meeting Mode Physical context Time Work/discussion 1. No waiting for participants to arrive 2. Group meets continuously 2. Tabel 2. 2000 dalam Resta. limited. Work not condensed-fluid and interweaved with other activities 3. etc. Less controllable 6. Work is condensed and focused 3. no shared physical context (other than text) 1. Less sense of instructor control 2. permanent. Easier for participants to ignore instructor Condition of meeting 1. No sense of leaving the meeting 5. Time less important and doesn't limit group . strong physical context 1. stark • Don't meet in a room.

Anxiety at beginning/during meetings 3. 3. Never have access to other groups 2. 2. 3. More equal participation.constantly in the meeting 7. Certain 'accepted' expectations about participation 10. Participation unequal and often dominated by males. Medium (technology) has an impact on dynamics 9. Less likelihood of conversations being reshaped during meeting 1. participants can take control of this 4.time delays in interactions/discussions 6. Listening without participation may be frowned upon 8. 47 .immediacy of interactions/discussions 1. etc. participants have to learn how to interpret them online 2. Dynamics evident but lost after the event 6. 4. but group may try to share time equally among members 4. Members sometimes lose sense of where they are in the discussions over long periods of time (information overload) 7. Dynamics are 'hidden' but traceable 6. Can't participate in other groups 3. Able to reshape conversations on basis of ongoing understandings and reflection Group dynamics 1. Level of reflection high 8. therefore less likely that members will lose sense of where they are 7. Less hierarchies. Discussions occur within a set time frame. Dynamics 'understandable' to most participants because they have experienced them before 2. Can access other groups easily Can see who is working in other groups Can participate in other groups easily Effects of group software Effects of technology Psychological/emotional stress of rejoining is high Feedback on each individual's piece of work very detailed and focused Whole group can see and read each other's feedback Textual feedback only No one can "hide" and not 3. Less sense of anxiety 3. 5. 2. Often little time for reflection during meetings 8. Different expectation about participation 10. More chance of hierarchies 5. • Can't see what is happening to others in groups Effects of room/location? Stress of rejoining not so high Less likely to cover as much detail. Medium (room) may have less impact 9. Group dynamics not same as face-to-face. often more general discussion Group hears feedback Verbal/visual feedback Possible to "free-ride" and avoid giving Accessing other groups 1.6. Slower . especially for females. Quicker . 2. Absence of rejoining Giving feedback of people's work • 1. Effects of medium • • • 1. 4. Can be active listening without participation 8. Breaks between meetings 7. No breaks .

place. 6. 7. requiring adherence to accepted protocols Uncertainty less likely due to common understandings about how to take part in discussions 8. BAB III PENUTUP 48 . 8. source and recipient Medium frees the sender but may restrict the other participants (receivers) by increasing their uncertainty 5. since it is an open system regarding time. give feedback Permanent record of feedback obtained by all Delayed reactions to feedback Sometimes little discussion after feedback Group looks at all participants' work at same time Greater using online learning Loose-bound nature encourages divergent talk and adventitious learning.5.looking at wider issues Group looks at one participant's work at a time Less than with online learning More tightly bound. 6. 7. • 1. Total effort of group Divergence/choice level • 1. 2. 2. feedback No permanent record of feedback Immediate reactions to feedback possible Usually some discussion after feedback .

Berdasarkan makna belajar dan pembelajaran. 4. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengelolaan menghasilkan sesuatu (produk) dan sesuatu itu dapat merupakan sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan selanjutnya. 3. 6.A. Pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh. Pengelolaan merupakan bagian penting dari pembelajaran tatap muka. 2. diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari. Kesimpulan Berdasarkan kajian literatur di atas. 49 . guru menjadi faktor utama dalam penciptaan suasana pembelajaran. 5. fasilitas. dan penilaian. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. pengorganisasian. dan lain-lain. Dalam hal ini seorang guru perlu menerapkan adanya pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan melalui berbagai keterampilan mengajar di dalam kelas. Berkaitan dengan faktor proses. lingkungan. sumber daya. maka dapat diasumsikan bahwa pembelajaran tatap muka merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik secara tatap muka. pengelolaan adalah substansi dari mengelola berartis suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan data. perencanaan. potensi dan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran tatap muka merupakan pembelajaran yang memungkinkan interaksi pendidik dan peserta didik dalam satu lingkungan dengan tujuan untuk mencapai memberikan pengalaman belajar langsung kepada peserta didik. Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran. Kompetensi guru dituntut dalam menjalankan tugasnya secara profesional. 1. dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian eksternal yang berlangsung di dalam peserta didik yang dapat diketahui atau diprediksi selama proses tatap muka. pengawasan. masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. pelaksanaan.

Classroom Instruction and Management.B. 2. 1997. 4. Perlu dikaji lebih lanjut pembelajaran tatap muka yang terjadi di Indonesia. maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas. Perlu dikaji lebih lanjut dan dikembangkan berbagai macam strategi dan pengelolaan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh untuk bidang studi biologi menggunakan berbagai macam media. 1. Perlu dikaji lebih lanjut hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran tatap muka di luar negeri yang dapat di adaptasi pada pembelajaran tatap muka di Indonesia. 3. DAFTAR PUSTAKA Arends. Perlu dikaji lebih lanjut hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran tatap muka di Indonesia.S. New York: McGraw Hill. 50 .

1999. Pengaruh Penerapan Perangkat Pembelajaran Deteksi Kualitas Sungai dengan Indikator Biologi Berbasis Proyek Terhadap Hasil Belajar Siswa Sma di Kota Malang.edb. Pengembangan Perangkat Model Belajar Berdasarkan Masalah Dipandu Strategis Kooperatif Serta Pengaruh Implementasinya terhadap Kemampuan Berpikir kritis dan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas pada Pelajaran Ekosistem.P. Moh. Desertasi tidak diterbitkan. 2008. Buck Institutute for Education (BIE). No. (http://www. & Agus. Malang: Universitas Negeri Malang. (Online). Hitipeuw. Penugasan Terstruktur. (Online). & Nasution. (http://www. Departemen Pendidikan Nasional. diakses tanggal 20 Oktober 2011) Depdiknas.bgsu. 2009. M. Pengaruh Penggunaan Hypermedia dalam Pembelajaran Menggunakan Strategi Siklus Belajar terhadap Pemahaman dan Aplikasi Konsep Kimia pada Siswa SMP dengan Dua Gaya Belajar Berbeda. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Nur. Departemen Pendidikan Nasional.html. Tidak Diterbitkan. Resta. Jalius. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. H. Purnomo. G. Belajar dan Pembelajaran. (itpm2004_instructor@teachnet. Mengajar dengan Sukses. 51 . Surabaya: Depdiknas. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang Mursell.R. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. I. Differences Between Online dan Face to Face Learning. I. diakses tanggal 27 Oktober 2011).jalius12. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Disertasi tidak diterbitkan. 2005.edu/organizations/etl/proj.Arnyana. 2001. 2009. dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur.S. diakses tanggal 26 September 2011) Kirna. 2008. 2010. Dwi. 2003. Penugasan Terstruktur dan Tugas Mandiri Tidak Terstruktur. P. Mahanal. Nurhadi. Malang: Universitas Negeri Malang. E. 2008. Imanuel. 2008. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Pembelajaran Tatap Muka. Depdiknas. Pengertian Fakta. Malang. 2004..wordpress. (Online). dan Konsep. Project-Based Learning.B. 26.com. J. Pengembangan Model Pembelajaran Tatap Muka. Prinsip. Program Pasca Sarjana (S3) Universitas Negeri Malang.utexas. Tahun VIII. Jakarta: Bina Aksara. Pendekatan Kontekstual Berpandu Konstruktuvis dan Pelaksanaannya di Kelas. Disertasi. Makalah yang disajikan pada Pelatihan TOT guru mata pelajaran SLTP dan MTs. Jurnal Paradigma. 2010.edu. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 317-328.

(htttp://duniaguru. M. Model Pembelajaran Inovatif dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.blogspot. Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. dan Menyenangkan (PAIKEM).. Heri. Triluqman. diakses 21 Oktober 2011).php? option=com_content&task=view&id=411&Itemid=28. I Wayan. Pembelajaran Aktif. 2008. R. diakses 21 Oktober 2011). Kariadinata. Usman. 2005. (http://heritl. Disajikan dalam Penataran Guru-Guru SMP. Bandung: UIN Sunan Gunung Jati. Makalah. Moh. Efektif. Remaja Rosdakarya. 2009. Kreatif. Bandung: PT. Uzer. Syah. Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. 2005. SMA. Santyasa. (Online). Inovatif. dan SMK se Kabupaten Jembrana. Pendidikan Profesi dan Sertifikasi: Upaya Meningkatkan Kualitas Guru di Tengah Keterpurukan Dunia Pendidikan. 52 .com/2008/02/pendidikan-profesi-dansertifikasi. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bahan Pelatihan PLPG.com/index.html. Juni – Juli 2005. (Online).Rosmini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful