P. 1
tek pmbnihn windu

tek pmbnihn windu

|Views: 427|Likes:

More info:

Published by: 'Chacha de Syheeine' on Apr 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2014

pdf

text

original

teknik pembenihan udang windu

By BADARUSZAMAN email: badaruszaman_akil@yahoo.com KOMUNITAS BLOGGER UNIVERSITAS SRIWIJAYA

BAB I PENDAHULUAN I.I. Latar Belakang Perikanan merupakan salah satu sumber devisa negara yang sangat potensial. Pengembangan budidaya air payau di Indonesia untuk waktu yang akan datang sangat penting bagi pembangunan di sektor perikanan serta merupakan salah satu prioritas yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan di sektor perikanan. Udang windu (Penaeus monodon Fab.) merupakan komoditas unggulan Indonesia dalam upaya menghasilkan devisa negara dari eksport nonmigas. Berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan produksi udang windu. Salah satu diantaranya adalah penerapan sistem budidaya udang windu secara intensif yang dimulai sejak pertengahan tahun 1986. Semakin kurangnya ketersediaan induk dan benih udang windu di laut ditambah adanya Keputusan Presiden RI No.39 Tahun 1980 tentang larangan penggunaan pukat harimau (trawl) menyebabkan semakin turunnya produksi udang hasil tangkapan, sehingga produksi udang dari hasil budidaya harus ditingkatkan. Telah disadari bahwa peningkatan produksi udang melalui budidaya tersebut hanya dapat dicapai bila disuplai faktor-faktor produksi, khususnya benih udang dapat terjamin sepenuhnya. Pengembangan teknik-teknik pembenihan udang windu harus terus dilakukan untuk menunjang kegiatan budidaya udang windu. Perkembangan budidaya udang windu sendiri telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini didukung oleh usaha budidaya yang intensif dengan teknologi yang sudah dikuasai, harga yang tinggi dipasar lokal maupun internasional dan peluang yang luas. Hal ini membuat udang windu menjadi komoditas harapan bagi para pengusaha sehingga banyak yang berani menanamkan modal dalam bisnis udang windu ini. Guna menunjang usaha budidaya, yang harus dilakukan adalah dengan mendirikan balai-balai pembenihan (hatchery) udang windu. Usaha pembenihan udang ini berkembang pesat setelah ditemukannya teknik ablasi mata yaitu teknik usaha untuk mempercepat kematangan gonad dengan cara merusak sistem syaraf tertentu yang terdapat dalam tubuh udang. Bagian tubuh udang yang dirusak adalah bagian mata sebab pada tubuh udang mata selain berfungsi sebagai alat penglihatan juga merupakan tempat syaraf yang diantaranya sangat berpengaruh dalam proses perkembangbiakan. Dengan teknik tersebut maka masalah penyediaan induk matang telur dapat diatasi dan seluruh siklus hidup udang dapat diusahakan dalam lingkungan yang terkontrol. Keberhasilan usaha pembenihan udang windu merupakan langkah awal dalam sistem mata rantai budidaya. Keberhasilan pembenihan tersebut pada akhirnya akan mendukung usaha penyediaan benih udang windu yang berkualitas. Hal inilah yang mendorong penulis melaksanakan kerja praktek tentang teknik pembenihan udang windu agar nantinya hasil dari kerja praktek ini dapat diterapkan guna membantu ketersedian bibit udang windu untuk budi daya. I.2. Tujuan Kerja Praktek ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui teknik pembenihan udang windu (Penaeus monodon). 2. Mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan. 3. Menambah pengalaman yang riil di lapangan. 4. Pemenuhan persyaratan akademik. I.3. Manfaat Setelah melaksanakan praktek kerja lapang, diharapkan mahasiswa : >> Dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah. >> Mempedalam materi tentang teknikpembenihan udang windu selama kegiatan Kerja Praktek (KP). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Morfologi Udang Windu (Penaeus monodon) Soetomo (2000) menyatakan udang windu diklasifikasikan sebagai berikut Kingdom : Animalia Phyllum : Arthropoda Class : Malacostraca Ordo : Decapoda Family : Panaeidae

(Soetomo. Bagian kepala ditutupi oleh cangkang kepala (karapas) yang ujungnya meruncing disebut rostrum. 2000). tubuh udang windu (Penaeus monodon Fab. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak (Suyanto dan Mujiman. dapat dilihat dari eksoskeleton. dapat dilihat dari eksoskeleton. Udang jantan biasanya lebih besar. udang windu dikenal dengan nama black tiger. Kerangka tersebut mengeras. alat-alat pembantu rahang (maxilla) dan kaki jalan (pereiopoda).2. ovari lebih besar. tubuh langsing. Dari tingkatan-tingkatan diatas. dibawah ini: Gambar 2.2. 1994). Tabel . Morfologi udang windu selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2. sehingga pada umur yang sama tubuh udang betina lebih besar daripada udang jantan (Soetomo. TKG III Merupakan tingkat kematangan lanjutan. Sedangkan pada pembenihan buatan prinsipnya diperlukan induk betina matang telur yang sudah dikawini oleh udang jantan di dalam bak peneluran atau didalam bak larva.2 Gambar 2. tiger shrimp atau tiger prawn.) terbagi menjadi dua bagian. Alat Kelamin Udang Jantan 2. Tiap ruas badan mempunyai sepasang anggota badan yang beruas-ruas pula (Suyanto dan Mujiman. Udang betina lebih cepat tumbuh daripada udang jantan. Di bawah pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus) (Suyanto dan Mudjiman.1. Udang jantan biasanya lebih agresif dibanding betina. yakni bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada (kepala-dada) disebut cephalothorax dan bagian perut (abdomen) yang terdapat ekor di bagian belakangnya. 1994). TKG II Merupakan tingkat kematangan awal. kecuali pada sambungan-sambungan antara dua ruas tubuh yang berdekatan. Ditinjau dari morfologinya. 1994). (Soetomo. Berturut-turut dari muka ke belakang adalah sungut kecil (antennula).1. Penurunan kadar garam pada awal dan kenaikan pada akhir musim penghujan dibarengi dengan perubahan suhu yang mendadak diduga memberi rangsangan pada induk yang matang telur untuk memijah. 1994). ovari berwarna hijau tua. Alat kelamin jantan disebut petasma yang terdapat pada pangkal periopoda kelima. sedangkan udang betina gemuk karena ruang perutnya membesar.3. Martidjo (2003) menyatakan udang windu memiliki lima tingkat kematangan gonad. sungut besar (antenna). 2000). Untuk udang jantan kematangan gonad ditentukan oleh perkembangan petasma yang sempurna dan biasanya mengandung spermatophora.1. ovari berwarna hijau muda.2. 2. Kepala-dada terdiri dari 13 ruas.1 Morfologi Udang Windu (Penaeus monodon) Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton. rahang (mandibula). TKG IV Tingkat keempat matang telur. Tingkat kematangan gonad udang windu. dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri induk udang betina yang matang gonad adalah jika telahmemasuki TKG III yaitu pada saat tingkat kematangan lanjutan. ovari (kandungan telur) tipis. Alat Kelamin Udang Betina Di bagian kepala sampai dada terdapat anggota-anggota tubuh lainnya yang berpasang-pasangan. ovari berwarna hijau muda. Langkah . Alat kelamin betina bernama thelicum dan terletak di antara dasar sepasang kaki jalan atau periopoda yang berfungsi untuk menyimpan sperma. Tingkat Kematangan Gonad Udang.Genus : Penaeus Species : Penaeus monodon Fabricus Dalam dunia internasional. Pada saat inilah benur dapat ditangkap pada jumlah yang besar. Gambar 2. udang jantan tertarik kepada betina karena adanya hormon ektokrin yang keluar secara eksternal yaitu pada saat telur dikeluarkan melalui saluran telur (oviduk). Sedangkan bagian perut terdiri atas segmen dan 1 telson. sirip kepala (scophocerit). bagian depan dan tengah berkembang penuh. TKG V Telur sudah dilepaskan (spent) Tingkat kematangan gonad udang dapat dilihat pada gambar 2. bagian depan dan tengah mengembang. Reproduksi Toro dan Soegiarto (1979) mengemukakan bahwa udang penaeid termasuk hewan yang heteroseksual yaitu mempunyai jenis kelamin jantan dan betina yang masing-masing terpisah. Kematangan Gonad Ciri &ndash. Perkawinan udang terjadi di laut bebas dengan jalan merapatkan perutnya (ventral) masing-masing. bagian depan dan tengah berkembang penuh. ovari membesar. Di bagian perut terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda).4. perkawinan terjadi setelah betina mengganti kulit (moulting). 4. Pemijahan di alam terjadi sepanjang tahun dengan puncak-puncak tertentu pada awal dan akhir musim penghujan. Ciri TKG I Merupakan tingkat belum matang. Alat kelamin udang betina dapat dilihat pada Gambar 2. yang terbuat dari zat chitin.1 Ciri-ciri Induk Jantan dan Betina Perbedaan alat kelamin induk jantan dan induk betina dapat dilihat dari sisi bawah (ventral) udang tersebut. Semua bagian badan beserta anggota-anggotanya terdiri dari ruas-ruas (segmen). 2000). Gambar 2. sedangkan alat kelamin betina disebut thelicum yang terdapat pada pangkal periopoda ketiga (Suyanto dan Mudjiman. bening tidak berwarna dan terdapat pada abdomen. yaitu kepalanya sendiri 5 ruas dan dadanya 8 ruas. Ujung ruas ke-6 arah belakang membentuk ujung ekor (telson). Langkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. ruang bawah perut sempit.

2000). yaitu sebagai berikut: Tahap embrio Dimulai pada saat pembuahan sampai penetasan. Dalam usaha budidaya. ukuran tubuh mulai stabil. Pada siang hari. Sedang pada tingkat mysis.56 mm dan post larva berukuran 5 mm (Poernomo. Toro dan Soegiarto (1979) menyatakan bahwa hutan mangrove merupakan habitat udang. nauplius. Tahap ini ditandai dengan fluktuasi perbandingan. Disini udang akan melakukan perkawinan. 1979). ataupun karena timbulnya senyawa-senyawa beracun (Suyanto dan Mujiman.33 mm dan pada stadia ini terjadi pergantian kulit sebanyak 6 kali. lumut.5 mm. 1976). dasarnya berpasir atau pasir lumpur. mysis berukuran 3. copepod dan trehophora (Vilalez dalam Poernomo. plankton. Telur akan menets dan berkembang menjadi larva. Akhir dari tahap ini ditandai oleh ruas abdomen ke enam yang lebih panjang dari panjang cangkang dan warna tubuh yang transparan yang ditutupi oleh pita berwarna coklat gelap memanjang dari pangkal antenna hingga telson.2-2.berikutnya adalah menetaskan telur dan memelihara larva dari hasil tetasan tersebut sampai mencapai tingkat post larva umur 5-10 hari (Prawidihardjo et al. pemakan detritus dan sisa-sisa organik baik hewani maupun nabati. veligere. suhu meningkat. Kemudian tahap kedua dimulai dengan perubahan mysis menjadi post larva yang mulai bergerak ke daerah pantai dan mencapai estuaria. udang windu mendapatkan makanan alami yang tumbuh di tambak. akan berlindung dari serangan arus dan aliran air yang deras serta terhindar dari binatang pemangsa. 1979). yang berarti telah menginjak tahap udang muda. mysis dan post larva. Ketidakesuaian ini disebabkan oleh jumlah makanan yang kurang. yaitu tahap ditengah laut dan diperairan muara sungai (estuaria). 2. memijah dan bertelur. disini udang sampai dewasa dan bergerak ke tengah laut untuk memijah lagi (Toro dan Sugiarto. Secara alami daur hidup udang panaeoid meliputi dua tahap. Habitat dan Penyebaran Amri (2003) menyatakan bahwa habitat udang berbeda-beda tergantung dari jenis dari persyaratan hidup dari tingkatan-tingkatan dalam daur hidupnya. Udang windu dewasa menyukai daging binatang lunak atau moluska (kerang. Udang windu daur hidupnya mempunyai beberapa tahap. Tahap pertama dimulai sejak udang tumbuh menjadi dewasa dan matang gonad dan bergerak kelaut dalam. yaitu klekap. Telur udang yang telah dihasilkan kemudian . 2. Zoea dengan bentuk badan lurus ukuran 1. Telur yang telah dibuahi menetas menjadi nauplius berukuran 0.4. Makanan dan Kebiasaan Makan Udang windu bersifat omnivor. dan crustacea.5-4. Udang windu bersifat euryhaline yakni bisa hidup di laut yang berkadar garam tinggi hingga perairan payau yang berkadar garam rendah. kadar garam meningkat. 1976). Pada udang jantan mempunyai spermatozoa pada pasangan ampula terminalis dan pada udang betina mempunyai ovoctus yang telah berkembang di dalam ovariumnya. Daur Hidup Motoh (1981) dalam Nurdjana (1988) membagi daur hidup udang windu menjadi enam tahap. tahap ketiga metecdysis dan tahap keempat intermoult. udang jarang sekali menampakkan diri pada siang hari. kadar oksigen menurun.5.31-0. udang hanya membenamkan diri dalam lumpur atau menempelkan diri pada sesuatu benda yang terbenam dalam air (Soetomo. Tahap juvenil Pada stadia awal ditandai oleh warna tubuh yang transparan dengan pita coklat gelap di bagian sentral. siput). Tahap udang muda Pada tahap ini proporsi ukuran tubuh mulai stabil dan tumbuh tanda-tanda seksual dimana alat kelamin pada udang windu jantan yaitu petasma mulai terlihat setelah panjang cangkang 30 mm. Jenis makanannya sangat bervariasi tergantung pada tingkatan umur. Udang windu juga bersifat benthik. hal ini ditandai oleh perpaduan antara tekstur dasar perairan hutan mangrove (berlumpur) dengan sistem perakaran vegetasi penyusun hutan mangrove.3. Apabila keadaan lingkungan tambak cukup baik. Udang ini mempunyai sifat dapat menyesuaikan diri dengan makanan yang tersedia di lingkunagnnya. Apabila pada suatu tambak udang tampak aktif bergerak di waktu siang hari. sedangkan pada betina thelicum mulai terlihat setelah panjang cangkang mencapi 37 mm Tahap sub adult Ditandai dengan adanya kematangan seksual Tahap dewasa Udang windu dewasa ditandai dengan kematangan gonad yang sempurna. cacing. dalam Poernomo. zoea. tiram. hal tersebut merupakan tanda bahwa ada yang tidak sesuai. Secara bergantian larva dimulai dari menetas menjadi post larva . 1976). protozoea dan mysis. Sutaman (1993) mengemukakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan larva udang windu mengalami beberapa perubahan bentuk dan ganti kulit. Udang windu akan bersifat kanibal bila kekurangan makanan (Soetomo. tahap kedua edysis. Tahap larva Terdiri dari stadia nauplius. annelida yaitu cacing Polychaeta. makanannya berupa campuran diatome. Menurut Amri (2003) bahwa ada 4 tahap moulting yakni tahap pertama proedysis. tidak besifat terlalu memilih-milih (Dall dalam Toro dan Soegiarto. Udang windu tumbuhmenjadi dewasa dan memijah ditengah laut. hidup pada permukaan dasar laut yang lumer (soft) terdiri dari campuran lumpur dan pasir terutama perairan berbentuk teluk dengan aliran sungai yang besar dan pada stadium post larva ditemukan di sepanjang pantai dimana pasang terendah dan tertinggi berfluktuasi sekitar 2 meter dengan aliran sungai kecil. makanan utamanya adalah plankton (fitoplankton dan zooplankton). 2000). Udang windu merupakan organisme yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). zooplankton seperti balanus. Pada stadia benih. 1994). 2. terlebih-lebih larva dan udang muda yang kondisinya masih lemah. dan benthos.

1976). secara bersamaan spermatofor dipecahkan oleh induk betina. Kecepatan metabolisme udang meningkat cepat sejalan dengan meningkatnya suhu lingkungan. kelenjar tersebut dikenal dengan organ-X. ammonia dan moulting. dalam Poernomo. Secara umum suhu optimal bagi udang windu adalah 25-30 oC.1989). Pada saat telur dikeluarkan. rebon dan hati sapi dengan jumlah 10-20% berat badan/hari dan selama proses pematangan. selalu ditemukan ammonia dalam jumlah yang besar. 1983). 2. 2000). Bila telur tersebut telah matang dan siap untuk dibuahi maka dikeluarkan melalui saluran telur (oviduct) yang terdapat pada bagian pangkal dari pasangan kaki jalan ke tiga.5 (Tsai. Kelarutan oksigen akan menurun jika suhu dan kadar garam meningkat atau tekanan udara menurun. phosphatydil cholin. sehingga terjadilah pembuahan.) 2.1986). Sedangkan pada tingkat zoea sering terserang cendawan yang bisa mengakibatkan kematian total setelah 3 hari terinfeksi dan parasit lain yang bisa menyerang zoea-post larva adalah zoothamnium. Ada dua teknik pemeliharaan larva dalam bak yakni teknik Jepang dan teknik Galveston. Telah diketahui toksisitas ammonia memberi pengaruh pada kelangsungan hidup.7. Konsentrasi oksigen terlarut minimum untuk menunjang pertumbuhan optimal udang adalah 4 ppm (Tsai. Makanan yang mengandung beta-caroten. Sebaiknya tiap bak hanya diisi satu induk.5. (2004) menyatakan selama proses pematangan induk secara buatan. (2003) bahwa perubahan status nitrit pada lingkungan dapat menginduksi hypoxia pada jaringan dan mengganggu metabolisme respirasi pada udang Penaeid. pH perlu dipertimbangkan karena mempengaruhi metabolisme dan proses fisiologis udang. Larva udang windu memiliki sistem osmoregulasi yang sangat efisien pada salinitas antara 5-55 ppt (Liao. Hama dan Penyakit Wijayati (1995) menyatakan penyakit yang sering timbul pada stadia mysis sampai post larva adalah penyakit hepatopancreas. Telur yang yang telah dibuahi akan menetas dalam waktu 12 sampai 15 jam dan berkembang menjadi larva hari (Prawidihardjo et al. Hal ini berkaitan dengan nutrisi pada pakan yang mengandung protein. Makanan yang dapat digunakan adalah cumi-cumi. yang ditandai oleh adanya gelembung-gelembung udara yang mirip dengan jaringan lemak di sekitar perut atau hepatopancreas. Toksisitas ammonia mempengaruhi pH perairan. jika toksisitas ammonia meningkat maka pH akan meningkat (Rocotta. air bersih dan sehat serta cukup tersedia makanan yang segar dan bergizi. 1997) >> Salinitas Cheng (1986) menyatakan bahwa larva udang windu mempunyai toleransi yang luas terhadap perubahan salinitas dan berubah-ubah sepanjang hidup. kemudian bilas dengan air bersih. Kokarkin et al. calon induk harus diperiksa secara teratur untuk mengetahui perkembangan ovarinya yang telah dicapai. jambret. cholesterol. >> Ammonia dan Nitrit Dalam budidaya udang. Sebelum dimasukkan di dalam bak peneluran sebaiknya induk udang disuci hamakan dengan larutan furanace 3 mg/l selama 1 jam atau menggunakan larutan formalin 50 mg/l selama 15-20 menit.5-8. Faktor-fakor yang dapat mempengaruhi kehidupan organisme perairan seperti udang antara lain : >> Suhu Suhu air mempunyai peranan paling besar dalam perkembangan dan pertumbuhan udang. Kisaran pH yang optimal untuk pertumbuhan udang windu adalah 6. Kualitas Air Kelulushidupan (survival rate) dan pertumbuhan organisme perairan juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.1989). Pemeriksaan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan stres bagi induk. Ammoniak (NH3) tidak terionosasi bersifat toksik sedangkan ion ammonia memiliki tingkat toksisitas yang rendah atau tidak . >> Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen terlarut yang rendah adalah faktor yang paling lazim menyebabkan mortalitas dan kelambatan pertumbuhan udang. >> Derajat Keasaman (pH) pH merupakan indikator keasaman dan kebasaan air. Udang akan kurang aktif apabila suhu air turun dibawah 18 oC dan pada suhu 15 oC atau lebih rendah akan menyebabkan udang stress bahkan mati (Wardoyo. Maksimum 5 induk yang dapat disuci hamakan dalam 20 liter larutan. Pada teknik Jepang makanan alami yang terdiri dari diatomae (Skeletonema) langsung ditumbuhkan dalam bak larva dan induk matang telur langsung dimasukkan ke bak larva untuk ditelurkan dan ditetaskan. (1995) mengemukakan peneluran dan penetasan telur dapat dilakukan di dalam bak peneluran khusus atau langsung dalam bak pemeliharaan larva dengan ukuran bak berkapasitas 100-300 liter. calon induk harus berada dalam kondisi lingkungan yang optimal yaitu padat penebaran yang tepat (4 ekor/m2 luas bak). 2. Kelarutan oksigen dalam air dipengruhi oleh suhu dan kadar garam. Hal ini dikatakan oleh Wang et al.8. vitamin B dan vitamin D2 (calciferol) dapat merangsang pematangan telur. Ammonia atau hasil oksidasinya (nitrit) pada lingkungan dapat menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen. Teknik Budidaya Suwoyo et al. Aquacop (1976) menyatakan bahwa pematangan dengan rangsangan dilakukan dengan teknik ablasi mata yang didasarkan atas pengrusakan kelenjar penghasil hormon yang menghambat perkembangan gonad (GIH) dan ganti kulit (MIH). karena ammonia adalah bentuk ekskresi bernitrogen pada Crustacea. Gambar 2. cacing laut.disimpan pada bagian punggung dari abdomen betina. Suhu diatas 30 oC masih dianggap baik bagi budidaya udang.6. daging kerang-kerangan. selanjutnya pada teknik galveston makanan alami (sejenis alga) dibiakkan dalam bak khusus secara terpisah (Nurdjana. Penyakit akan timbul bila kualitas air kurang baik karena banyak sisa-sisa makanan serta penggantian air kurang lancar. sehingga fekunditas dan kualitas telur dapat diketahui dengan melihat tingginya presentase penetasan. karena ammonia merupakan hasil metabolisme protein. Sikuls Hidup Udang Windu (Panaeus monodon Fab.

2 No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan 6 Pompa air Merk Teco 4 Untuk sirkulasi air 7 Blower Merk Higasida 2 Suplai oksigen 8 Heater 600 volt 4 Penyetabil suhu 9 Tabung oksigen 1 Suplai oksigen saat pengangkutan 10 Saringan pakan Mesh 100-200 3 Menyaring pakan 11 Saringan Artemia sp Mesh 100 1 Untuk menyaring nauplii Artemia sp 12 Saringan plankton Mesh 200 2 Panen Skeletonema sp 13 Selang aerasi Plastik 1 set Jaringan aerasi 14 Batu aerasi 1 set Jaringan aerasi 15 Pemberat Timah 1 set Jaringan aerasi 16 Ember plastik 10 liter .dan 3. Kecamatan Jepara. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Kerja Praktek (KP) rencananya dilaksanakan pada 09 Maret &ndash. Kabupaten Jepara.1.2. Desa Bulu. Alat dan Bahan Serta Fungsinya Dapat dilihat pada Tabel 3. Propinsi Jawa Tengah. 1986) BAB III METODOLOGI 3.sama sekali toksik (Chen. yang bertempat di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.1. 3. 09 April 2010.

4 Wadah pemberian pakan 17 Waskom plastik 6 liter 10 Wadah penampungan larva saat panen 18 Gayung pakan 1 liter 2 Untuk penebaran pakan 19 Beaker glass 300 ml 1 Kontrol larva 20 Pipet hisap 5 ml 1 Menakar treflan 21 Seser panen Mesh 50 2 Menyeser larva saat panen 22 Sendok scoping Plastik 4 Menakar larva saat panen 23 Pipa paralon Plastik 15 Saluran pembuangan 24 Thermometer 1 0C 6 Untuk mengukur suhu 25 Hand refraktometer 1 0/00 1 Untuk mengukur salinitas 26 pH pen Unit 1 Untuk mengukur pH 27 DO meter Merk YSI Mengukur DO 28 Selang spiral Plastic 5 Untuk penyiponan 29 30 31 Mikroskop Foto digital .

Gunting 1 1 Mengamati larva Mengambil gambar Ablasi mata Table 3. Metode Adapun metode yang digunakan dalam Kerja Praktek ini di bagi dalam dua tahap yaitu : .3. bahan No Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan 1 Induk udang Berasal dari Pandanarang 45 ekor Penghasil benur 2 Air laut Media pemeliharaan larva. dan Artemia sp 3 Air tawar Untuk menurunkan salinitas dan pencucian peralatan Hatchery 4 Artemia sp Merk INVE Sebagai pakan alami dari stadia postlarva 1 sampai postlarva 12 5 Skeletonema sp Lab. Skeletonema sp.3. alat serta fungsinya Tabel.2.1. Pakan Alami Sebagai pakan alami dari stadia zoea-mysis 6 Frippak # 1 CAR Merk INVE Sebagai pakan buatan dari stadia zoea 7 Frippak # 2 CD Merk INVE Sebagai pakan buatan dari stadia mysis 10 Lansy PL Merk INVE Sebagai pakan buatan stadia postlarva 12 Starter 1 Gold Coin Sebagai pakan buatan mulai PL 15 sampai panen 13 Kaporit CaOCl2 Sterilisasi air 3.

Jenis tanah di sekitar balai budidaya berupa tanah lempung berpasir. >> Pelaksanaan sertifikasi sistem mutu dan sertifikasi personil perbenihan dan pembudidayaan ikan. Bagian Tata Usaha dan Kelompok Jabatan Fungsional. tambak di pesisir pantai adalah contoh kegiatan budidaya air payau. Propinsi jawa tengah. >> Pengujian alat. Dan pada tahun 2000.3. FUNGSI >> Identifikasi dan perumusan program pengembangan teknik budidaya air payau. dari awal proses pembenihan sampai berakhirnya proses pembenihan. Keberhasilan BBPBAP justru diukur dari manfaat yang dapat disumbangkan kepada masyarakat. Pada tahun 1977 RCU berubah nama menjadi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) yang secara struktural berada dibawah Direktorat Jendral Perikanan Departemen Pertanian. >> Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi dan publikasi pembudidayaan. >> Pelaksanaan bimbingan penerapan standar perbenihan dan pembudidayaan ikan. Visi. >> Pengembangan teknik dan pengujian standar pengendalian lingkungan dan sumberdaya induk dan benih.1. >> Pengawasan perbenihan. Kecamatan Jepara.1.1. >> Pusat penyediaan tenaga ahli untuk supervise teknis usaha budidaya. yang lahannya terletak di kawasan pantai (Coastal Aquaculture). Letak balai ini berada di kompleks pantai Kartini dengan salinitas perairan pantai 28 &ndash. Sejarah BBPBAP Balai ini berdiri sejak tahun 197 1 bernama Research Center Udang (RCU) dan berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Departemen Pertanian. 4. dan teknik perbenihan.1.>> Tahap pertama melakukan pengamatan atau survey secara langsung dalam proses pelaksanaan teknik pembenihan udang windu. Balai Budidaya Air Payau sebelum berubah menjadi balai besar telah berhasil memproduksi benih udang windu secara massal. 4. Jawa Tengah terletak di Desa Bulu. Pada tahun 1978.26c/MEN/2001 BBPBAP Jepara membidangi empat bidanng pekerjaan yang meliputi Bidang Pelayanan Teknik. magang atau praktek . BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Tujuan utama pendirian lembaga ini pada saat itu adalah meneliti siklus udang dari telur sampai dewasa secara terkendali sehingga dapat dibudidayakan pada lingkungan tambak. Keadaan Umum Lokasi Kerja Praktek 4. Walaupun sebagai salah satu pusat pengembangan IPTEK di bidang Akuakultur BBPBAP tidak berorentasi sebagai menara gading yang tidak tersentuh oleh masyarakat luas. Kita sadar sepenuhnya bahwa IPTEK akan menjadi penentu kemampuan bersaing dalam berbagai aspek. Tugas Pokok Dan Fungsi Tugas Pokok Peranan BBPBAP dalam pengembangan teknologi akuakultur lebih spesifik dan ditekankan pada komoditas yang dapat dikemgangna di lingkungan air payau.1. keberadaan BBAP masih dibawah Direktorat Jendral Perikanan. serta pengendalian hama dan penyakit ikan.1. pembudidayaan ikan. Misi BBPBAP Jepara 4. 35 ppt dan perbedaan pasang surut 1m. Kabupaten Jepara.3.1. Departemen Kelautan dan Perikanan. Namun pada bulan Mei 2001 status BBAP ditingkatkan menjadi eselon II denngan nama Balai Besar Pengembanngan Budidaya Air Payau di bawah Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Sistem diseminasi yang diterapkan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain pelatihan formal. Benih udang windu yang dihasilkan itu menjadi awal pendorong dalam pengembangan industri udanng secara nasional. Dengan demikian kemajuan teknologi yang ditemukan dapat diterapkan oleh masyarakat luas melalui diseminasi. mesin. baik teknik pembenihan udang windu dari prosedur awal sampai hasil pembenihan serta mendeskrifsikan tentang kualitas air dalam proses pembenihan. Sedangkan data sekunder merupakan data yang di proleh dari instansi terkait dengan teknik pembenihan udang windu dan informasi lain yang dirasa diperlukan dalam penulisan laporan nantinya. setelah terbentuknya Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan. BBP-AP telah menjadi salah satu pioneer dalam kancah ilmiah Akuakultur di Indonesia. Fungsi lain >> Tempat pendididkan calon tenaga ahli madya sarjana dan magister dan doctor dalam ilmu perairan >> Pusat informasi ilmu dan teknologi perikanan budidaya. Standardisasi dan Informasi. Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan noomor : Kep. Balai ini berlokasi pada 110° 39'11"BT dan 6° 35' 10" LS yang terletak di sebelah barat Kota Jepara denngan jarak 3 km dari pusat kota. >> Pelaksanaan produksi dan pengelolaan induk penjenis dan induk dasar. Sebagai salah satu instansi pusat pengembangan ilmu perikanan air payau (Akuakultur). Pengembangan dan penerapan teknik berbagai aspek yang terkait dalam teknologi akuakultur dikaji dalam empat kelompok kegiatan perekayasaan yaitu: >> Perbenihan dan Pembudidayaan >> Pengelolaan kesehatan ikan dan pelestarian lingkungan budidaya >> Pengembangan nutrisi dan pakan. Data primer yang di proleh di lapangan. >> Tahap kedua melakukan pembahasan secara deskriptif tentang data primer dan sekunder. >> Pusat jasa layanan analisis laboratorium. Tugas Pokok dan Fungsi. >> Pengelolaan keanekaragaman hayati dan Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.2. Prestasi ini tidak lepas dari penerapan teknik pematangan gonad induk udang dengan ablasi mata sehinngga mampu mengatasi masalah penyedian induk matang telur. serta pembudidayaan ikan. >> Pengelolaan sistem jaringan laboratorium penguji dan pengawasan perbenihan dan pembudidayaan ikan. Kondisi Geografis Secara geografis Balai Budidaya Air Payau Jepara. >> Pengujian standar pembenihan dan pembudidayaan ikan.

Bagian Tata Usaha (M.1. Pengawas Budidaya e. Sub Bagian Keuangan (Ir. Seksi Sarana Lapangan (Abdul Kadir) 2. meliputi : 1. pengujin. Sapto Adi. penerapan. dan demonstrasi langsung di lokasi masayrakat pengguna. pengawasan benih dan budidaya. Adi Susanto. Misi: >> Mengembangkan rekayasa teknologi budidaya berbasis agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia usaha. Si >> Kelompok Kegiatan National Shrimp Broodstock Center (NSBC) Koord : Ir. Pengawas Hama Penyakit Ikan f. Sc >> Kelompok Kegiatan Pakan Hidup dan Buatan Koord : Dra. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Sub Bagian Umum (Ir. SE) a. diharapkan adopsi teknologi dapat diserap lebih cepat dan dapat menumbuhkan keyakinan petani akan manfaat teknologi tersebut. Pranata Humas Untuk mempermudah koordinasi dan memperlancar pelaksanaan tugas pejabat fungsional dibentuk kelompok kegiatan perekayasaan sebagai berikut : >> Kelompok Kegiatan Pembenihan Ikan dan Udang Koord : Ir. Zaenal Arifin. Proses pengambilan kaki renang ini . 4. >> Pengembangan dan penerapan standardisasi perikanan budidaya. B. alat. SH) 3. Darmawan Adiwidjaya >> Kelompok Kegiatan Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Koord : Ir. Antik Erlina. Sesuai dengan SK Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut di dalam struktur organisasi terdapat kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perekayasaan. >> Mengembangkan sistem informasi IPTEK perikanan.4. Ap. Pengadaan Induk Untuk mengadakan induk di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara dalam pembenihan udang windu.1. pelepasan telur. berkelanjutan dan berkeadilan. SH) a. Bidang Pelayanan Teknik (Yahya. Kelompok Jabatan Fungsional a. >> Penembangan jasa pelayanan perikanan budidaya >> Pengembangan dan penerapan serifikasi perikanan budidaya 4. M. perawatan benur.2. Seksi Informasi (Agus Setiadi.2. persiapan bak. pemeriksaan ovari. M.3. serta sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan.2. dan kegitan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.26 C/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Bali Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.kerja lapang. Dengan cara memberi contoh dan praktek teknologi budidaya bersama-sama dengan kontak tani andalan atau calon petani. Perekayasa b. Seksi Standardisasi (V. induk yang diambil dari hasil penangkapan para nelayan dan dari hasil pembesaran di tambak yang di datangkan dari daerah Pandanarang. Mereka biasanya mengikuti kegiatan ujicoba produksi selama beberapa bulan. Pelatihan formal dilaksanakan mengikuti kegiatan yang telah direncanakan atau kegiatan magang dapat diikuti oleh perorangan atau kelompok. Dengan cara memberi contoh dan praktek langusng. Visi Dan Misi Visi: Mewujudkan balai sebagai institusi pemberi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan sistem usaha budidaya air payau yang berdaya saing.1. Seksi Sarana Laboratorium (Suparno. Bidang Standardisasi dan Informasi (Drs. serta pemanenan. Struktur Organisasi Balai Besar Pengembangan Budiaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Hasan Rosyadi) b. Litkayasa c. ablasi mata. Hisyam. Wiwik Malistiyani) 4. SP) b. pengendalian hama dan penyakit ikan. 4. Sc) b. Sementara kegiatan demonstrasi dilakukan dengan menerapkan paket teknologi budidaya bersama-sama dengan kontak tani andalan atau calon petani. Anindiastuti >> Kelompok Kegiatan Pembesaran Ikan dan Udang Koord : Ir. >> Mengembangkan jasa pelayanan dan sertifikasi. Tri Prasetyo Priyoutomo) a. Teknik Pembenihan Udang Awal kegiatan dari usaha kegiatan pembenihan udang windu adalah rangkaian pemilihan induk diunit pembenihan. penyuluh. M. Pengawas Benih d. Induk yang di didatangkan di aklimatisasi (penyesuaian diri) selama 2-3hr dan pada hari ke 4 dilakukan pengambilan sample PIAR dengan cara melakukan pemotongan kaki renang terakhir bagian sebelah kiri. >> Memfasilitasi upaya pelestarian sumberdaya ikan & lingkungan. Kegiatan yang dilakukan meliputi : pengadaan induk. dan mesin. dan bimbingan penerapan standar teknik. berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Sc 4. >> Meningkatkan kapasitas kelembagaan. Nomor: KEP.

4. Untuk mencegah timbulnya penyakit bak direndam dengan larutan kaporit selama 1-2 jam untuk menghilangkan bau kaporit tersebut bak dibilas sampai bersih kemudian keringkan. Adapun ablasi yang dilakukan di BBAP jepara adalah memotong tangkai mata sebalah kiri dengan menggunakan gunting. alkohol secukupnya untuk menjaga kebersihan gunting dari bakteri. Adapun syarat induk yang digunakan adalah di atas 1 tahun. Dimana induk betina dipegang dengan cara melipat ekornya kearah perut secara perlahan-lahan sehingga induk tersebut tidak mampu berontak lagi.3. yaitu dengan cara menggunakan senter yang diarahkan ke bawah sisi tubuh udang dan senter tersebut disorotkan ke atas. Pemasangan aerasi selain menyuplai oksigen dalam air juga berfungsi untuk menciptakan sirkulasi air dalam media pemeliharaan dan mempercepat penguapan gas beracun sebagai proses pembusukan dari sisa pakan dan kotoran hasil metabolisme udang. Dengan induk dari alam ketersediaan akan nutrisinya masih lengkap sehingga masih diperoleh benur yang baik. Untuk bak induk digunakan fiber bulat dan 2 bak besar sebagai pemeliharaan induk (bak perkawinan) yang di tempatkan di ruang tertutup kondisi selalu gelap kecuali pada saat pergantian air dan pemberian pakan. Gambar 4. bak harus bersih dari segala bentuk kotoran yang menempel pada bak seperti lumut dan sisa kotoran dari bak yang sudah lama tidak digunakan.2. Dan dalam hal ini udang yang didatangkan teruji negative atau tidak dalam kondisi terinveksi virus. setelah penyaringan maka dilakukan pengisian air pada bak pemeliharaan induk maupun pemeliharan larva yaitu dengan cara menyaring air dengan filter bag. Persiapan Bak Untuk Pemeliharaan Larva Udang Windu Bak yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Jepara untuk kegiatan pembenihan udang windu adalah bak berbentuk persegi empat panjang dengan kapasitas 10 ton yang terbuat dari beton. Gambar 4. membelah dan mengeluarkan isi bola mata. agar memudahkan dalam pemotongan mata udang di tarik dengan mengguankan karet gelang. Gambar 4. 4.2. Pengisian Air Setiap kegiatan Pembenihan udang memerlukan air sebagai media hidupnya.5. Pelepasan Telur Biasanya setelah tujuh hari dilakukan ablasi induk sudah matang gonad. Dalam bak fiber inilah induk-induk udanng akan melepaskan telurnya dan dalam waktu 24 jam telur-telur tersebut akan berubah menjadi nauplius dan dipindahkan kedalam bak-bak pemeliharaan larva yang telah . Penngambilan sample PIAR Kaki renang udang yang dipotong dimasukkan dalam botol atau satu kaki renang perbotolnya. 4. Penetasan Dan Perawatan Larva Induk sudah memasuki TKG ke tiga yang telah dimasukkan kedalam bak fiber dengan kepadatan 2 ekor/fiber yang telah diaerasi terlebih dahulu.2.1. Hasil pemotongan ini akan dibawa ke laboratorium untuk diuji apakah induk yang didatangkan. ukuran induk yang digunakan berkisar antara 18-29 cm warna yang baik adalah berwarna hitam kecoklatan. baik itu dari hasil alam ataupun dari pembesaran sudah terinveksi virus atau tidak. dengan maksud luka yang di sebabkan karna proses pemotongan dapat segera sembuh dan menngering kemudian udang dimasukkan kedalam larutan PK dan setelah beberapa menit udang di kembalikan ke dalam bak pemeliharaan. Sampling kematangan gonad udang Setelah didapatkan induk udang yang sudah memasuki TKG ke tiga maka dimasukan ke dalam bak pelepasan telur (konikel tank). Sebelum digunakan gunting di celupkan kedalam alcohol kemudian dilakukan pemotongan tangkai mata udang sebelah kiri dan setelah dipotong sisa tangakai dipanas kan dengan pinset yang telah di panaskan dengan kompor gas.4.6. Persiapan Bak Untuk mendukung keberhasilan dalam pembenihan maka harus dilakukan persiapan bak sebaik mungkin. 4.3. Sebelum di potong dengan gunting terlebih dahulu di siapkan kompor gas sebagai pemanas pinset.2. bak ini juga dilengkapi dengan pipa paralon untuk pemasukan dan pembuangan air. Pemijahan Induk Kegiatan pemijahan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara dilakukan dengan cara ablasi mata. membakar bola mata yaitu dengan cara menusukan ujung soulder pada mata dan mengikat bola mata. maka dari itu pemeriksaan gonad perlu dilakukan setiap hari setelah hari ketujuh ablasi mata. Pemberian pakan dilakukan 4 kali dalam satu hari yaitu : pagi hari. Dan edangkan pada induk jantan memiliki berat di atas 70 gram. Ablasi pada mata dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya bisa dengan memotong tangkai mata.5. Pembersihan bak dilakukan dengan cara menggosok dengan menggunakan sikat dan penggosok lainnya.2. Di Balai budidaya Air payau (BBAP) Jepara pengadaan dilakukan dengan memompa air laut dan ditampung pada bak penampungan utama kemudian dialirkan secara gravitasi ke bak filterasi untuk menyaring air sebelum digunakan. Gambar 4.membutuhkan 2 buah sterofoam. Ablasi Mata Kegiatan ablasi mata dilakukan pada udang windu betina yang berkulit keras (tidak sedang atau baru moulting) sebab udang yang baru moulting akan mengalami stress jika diablasi. Perbandingan induk jantan dan betina dalam bak pemeliharaan induk adalah 1:2 dengan harapan 1 ekor indukan jantan dapat membuahi indukan betina secara optinal. sore dan malam hari. sterofoam yang pertama untuk menampung udang dan yang ke 2 sebagai tempat larutan PK (kalium permanganat) yang digunakan setelah proses pemotongnan yaitu setelah kaki renangnya dipotong udang dimasukkan dalam larutan dengan maksud agar udang tidak terinveksi setelah pelaksanaan pemotongan. 4. siang. Persiapan bak indukkan 4. tidak cacat.2. Gambar 4. untuk induk betina memiliki berat di atas 150 gram. ini dilakukan guna menjaga keberhasilan dalam pembenihan dan pembesaran udang nantinya. serta larutan PK atau kalium permanganate (KMnO).2. Proses ablasi mata Selama pada masa pemeliharaan dilakukan pergantian air sebanyak 70 % per hari yaitu pada pagi hari sebelum pemberian pakan.

Secara visual larva dapat diamati dengan aktivitas berenangnya namun untuk lebih detail dalam pengamatan kondisi larva baik itu pertumbuhan dan kesehatannya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. hal ini disebabkan karena nauplius ini memiliki sifat foto taksis.9. Aspek Sosial Ekonomi Dari aspek sosial ekonomi usaha pembenihan haruslah menguntungkan tanpa harus mengesampingkan lingkungan sekitar (aspek sosial). Gambar 4. Untuk di Balai Budidaya Air Payau Jepara sendiri bila tidak ada konsumen yg dating pemanenan larva dilakukan pada saat larva mencapai PL 15 untuk selanjutnya dipindahkan ke dalam bak tongkolan untuk pemeliharaan lebih lanjut sebelum konsumen datang untuk membeli benur.3. Untuk itu ada beberapa aspek ekonomi dan sosial yang harus diperhatikan: o Dekat dengan pantai o Dekat dengan daerah pengembangan budidaya tambak o Dekat dengan jaringan listrik Negara (PLN) . Proses Pemanenan Hingga Packing pada Udang Windu 4. dsb. Dalam memilih lokasi pembenihan baik udang maupun ikan yang ideal tidaklah sembarang.1.3. benur yang telah dipacking siap di bawa oleh konsumen. Gambar 4. Sebelumnya baskom &ndash. baskom yang sudah siapkan.7. alat yang bersih juga salah satu upaya untuk pengendalian penyakit pada larva udang tersebut. Sedangkan setelah larva mencapai setadium Post larva pemberian pakan alami berupa Skeletonema diganti dengan pakan alami yang lain yaitu Artemia salina. Setelah itu benur &ndash. Mencari lokasi yang cocok untuk usaha pembenihan udang windu merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum membangun suatu unit usaha pembenihan atau heatchery. hal yang perlu diamati setiap harinya bukan hanya pertumbuhan dan perkembangan larva saja akan tetapi yang paling penting adalah media dari hidup larva tersebut seperti: kualitas air dan sisa pakan serta kotoran yang ada di dalam wadah pemeliharaan. benih terserang penyakit dan lain sebagainya. karena ini menyangkut dengan uang dan kelangsungan usaha yang akan dijalankan.2. pakan alami yang diberikan adalah Skeletonema dan Artemia salina. 15 atau tergantung terhadap permintaan konsumen. kurangnya air bersih. Pemanenan dilakukan dengan cara mengeluarkan air dari bak dengan membuka saluran pembuangan dan dipasang saringan. tiada mungkin usaha pembenihan dapat berjalan dengan lancar.2. 4. Hal &ndash.8.10.layang di permukaan bak selama 30-90 menit. 4.2. Panen Panen larva dapat dilakukan apabila larva sudah mencapai PL10. tanpa lokasi yang cocok. Pengamatan Secara Mikroskopik Gambar 4. Pengamatan Secara Visual Pengamatan berlangsung setiap kali pemberian pakan. Ada saja kendala yang muncul seperti. Sehingga larva harus bisa menyesuaikan diri dengan cara memasukkan larva kedalam ember dan kemudian ember dibiarkan melayang. Pembahasan 4. Selain itu juga pemakaian alat &ndash.2. Pemanenan nauplius dilakukan dengan cara menyinari bak dengan lampu hingga nauplius berkumpul mendekati cahaya pada lampu tersebut.disiapkan.11. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih lokasi untuk unit pembenihan udang maupun ikan diantaranya: 4. plastik harus disiapkan terlebih dahulu dan diisi dengan air yang kadar garam dan suhunya sama dengan wadah pemeliharaan sebelumnya. plastik &ndash. namun harus dijaga agar masyarakat sekitarnya tidak merasa dirugikan akibat pembuangan dari air limbah hasil budidaya. larva ZM. baskom panen harus disiapkan setelah air berkurang sekitar 50% dari volume yang ada. 12. Pemberian pakan diberikan ketika larva memasuki stadium nauplius 6 sampai mysis 3 diberi pakan Skeletonema yang dibarengi dengan penambahan pakan buatan berupa larva Z Plus. 4.1. Aklimatisasi dan Penebaran Nauplius Sebelum penebaran nauplius maka dilakukan aklimatisasi sebab kondisi air pada saat mengambil nauplius dengan air dalam bak pemeliharaan yang baru tidak mungkin sama baik salinitas.9. Persiapan Lokasi Pembenihan Pemilihan lokasi adalah faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu usaha budidaya. Setelah itu benur dimasukkan ke dalam plastik packing dan diberi oksigen lalu diikat dengan karet. Oleh karena itu pemilihan lokasi usaha pembenihan harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Selain itu dilakukan penyiponan terhadap endapan pakan dan kotoran hasil metabolisme udang tersebut. Sebelum dilakukan proses packing. hal ini perlu di amati karena untuk mengetahui sejauh mana perkembangan larva yang dipelihara dan apa langkah selanjutnya bila larva telah berubah stadia. Pengendalian Penyakit Upaya pengendalian penyakit dilakukan dengan pencegahan timbulnya penyakit dengan cara pengontrolan kualitas air baik berupa fisik dan kimia air.3. dengan kualitas pakan yang baik akan mampu meningkatkan daya tahan tubuh udang.7. Maka larva yang ada dalam bak pemeliharaan diseser dengan serokan yang halus dan dimasukkan ke dalam baskom &ndash. baik itu usaha pembenihan ataupum usaha pembesaran ikan maupun udang.6.1. Setelah itu dilakukan perhitungan dengan takaran dan selanjutnya dilakukan packing. Setelah itu nauplius langsung disipon atau diseser dan dimasukkan ke baskom yang selanjutnya ditebar ke dalam bak pemeliharan. Sebab. hingga udang lebih tahan terhadap serangan patogen. Gambar 4. Pemberian pakan yang baik dan cukup. Aklimatisasi nauplius 4. 4. Pemberian Pakan Jenis pakan yang diberikan pada larva yaitu pakan alami dan pakan buatan. sarana pengangkutan sulit (transportasi). Pengamatan Kondisi Larva Pengamatan kondisi larva dilakukan dengan cara mengambil sampel larva dengan menggunakan beaker glass.8. suhu dan pHnya.2. maksudnya walaupun usaha pembenihan ini menguntungkan. Flake.

Perlakuan Air Media Setelah yakin betul bahwa bak pemeliharan larva telah dibersihkan dengan baik. betul kering. 32 ppt . organisme yang akan dipelihara diberi perlakukan terlebih dahulu sebelum ditebar ke dalam bak pemeliharaan larva. sambil menunggu penetasan telur. Caranya bak dicuci dan disikat. Untuk itu air harus diambil dari laut yang bersih. namun tidak berada ditengah&ndash.3. Persiapan Kegiatan Pembenihan Sukses tidaknya usaha pembenihan ditentukan oleh beberapa perlakuan. Adapun pipa penyaringan yang dipasang di dasar laut berukuran 4" dengan panjang 1. hal tersebut akan mendukung kehidupan organisme. Dengan demikian. Kualitas air yang digunakan harus diperhatikan sungguh-sungguh. Dalam hal ini persiapan untuk induk dan larva sama saja. ???? Selama dalam bak penampungan air harus diaerasi. sarana aerasi dan sarana pembenihan lainnya.3. 10 gram / ton air. ???? Hindari pengambilan air laut yang masih dekat dengan aliran sungai besar. Pada daerah yang kecepatan anginnya tinggi suhu air dan media cenderung rendah dan cepat kotor akibat kotoran yang terbawa angin. bak. 33 ppt. Bak yang telah bersih dapat diisi langsung dengan air laut.Kejernihan air = sangat jernih (kandungan bahan organik rendah) . memilih daerah yang frekuensi curah hujannya rendah dan terlindung dari angin kencang merupakan langkah yang bijaksana. namun bisa saja organisme yang kita tebar membawa penyakit. Pengisian air dari bak penampungan ke dalam bak pemeliharaan induk dan larva di lakukan dengan menggunakan pompa air ukuran kecil yang telah dilengkapi dengan kain saringan ukuran 100 mikron.3. Kondisi air dalam pemeliharaan larva dikatakan siap tebar. Dalam merawat induk maupun larva harus serius dan hati &ndash. lalu dikeringkan sampai betul &ndash. Letak Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee sangat cocok untuk lokasi Pembenihan Udang Windu apabila ditinjau dari aspek sosial ekonomi dan teknis.3. Curah hujan yang tinggi akan mempengaruhi salinitas air media dalam bak kultur pakan alami yang berada di luar bangunan heatchery. Oleh karena itu. yang diberi lubang &ndash. 4.pH = 7. kemudian dibiarkan beberapa saat agar zat kimia yang digunakan dalam pembersihan bak tadi dapat kembali normal.3.Ketinggian air = 80 &ndash.tengah lingkup perumahan penduduk. Agar kegiatan pemeliharaan berjalan mulus dan hasilnya menyenangkan maka perlu persiapan yang matang. minimal 500 m dari bibir pantai.o Tersedianya sarana tranfortasi o Dekat dengan perkampungan.3. 100 cm .3.9 &ndash. lubang kecil serta dibalut dengan ijuk dan kain saringan. Agar lebih steril dapat menggunakan zat kimia berupa klorin dengan dosis 100 ppm.2.1. ???? Kadar garam air laut diusahakan berkisar 30 &ndash. Perlakuan yang diberikan mulai dari telur yang siap menetas sampai menjadi nauplius. Persiapan itu adalah menyediakan media berupa bak dan airnya agar organisme yang dipelihara merasa nyaman dan bebas gangguan.2. 8. 4. 4. Pengambilan air yang ceroboh akan berakibat fatal bagi induk. Persiapan Bak Bak pemeliharaan yang akan digunakan harus disucihamakan dan bersih serta terbebas dari segala bentuk kehidupan baik yang menempel maupun yang berada di dasar bak. ???? Air yang baru diambil.3. Aspek Teknis Aspek teknis yang dominan memperangaruhi adalah faktor iklim. Karena letak lokasi yang dekat dengan pantai. sebelum disaring harus diendapkan dulu di bak tendon (bak penampungan) selama 1 hari dan diberi larutan kaporit sebanyak 7 &ndash.Amonia = Tidak ada . Curah hujan juga dapat mempengeruhi kelancaran operasional pemeliharaan. 4. KMnO4 (Kalium Permangat) 10 ppm dan formalin 50 ppm. dekat dengan daerah pengembangan tambak.3.Suhu = 31°C &ndash. langkah selanjutnya adalah pengisian air laut untuk induk dan persiapan penebaran nauplius. Untuk itu pengambilan air harus memperhatikan hal &ndash. serta pengamatan harian. dekat dengan Jaringan Listrik Negara (PLN). Perlakuan Terhadap Organisme Walaupun bak dan air media telah bebas dari penyakit. benar bebas dari polusi. Pengeringan dimaksud untuk mematikan mikro organisme yang menempel di dalam bak serta mencegah terjadinya berbagai penyakit yang mematikan larva yang dipelihara. dekat dengan pemukiman penduduk serta tersedianya sarana transportasi juga memiliki iklim yang baik.1. bak harus ditutup dengan dark light plastik. Usaha ini akan berjalan lancar bila pembenih tekun dan teliti serta didukung oleh sarana yang memadai. penyediaan dan pemberian pakan. Fasilitas dan Peralatan Pembenihan Hasil pembenihan udang windu yang memuaskan akan diperoleh bila ditunjang oleh sarana yang komplit mulai dari bangunan (heatchery). 4. Hal ini dilakukan untuk menghindari pasir maupun kotoran dari laut ikut tersedot ke bak penampungan air. hal sebagai berikut: ???? Air harus benar &ndash. Air laut yang digunakan di BBAP Jepara ini adalah air laut yang dipompa dan dialirkan melalui pipa paralon yang berukuran 4" yang dipasang atau ditanam beberapa kaki di atas hamparan pantai.Aerasi = Telah terpasang dengan baik dan berjalan dengan sempurna Apa bila pengisian air dianggap cukup (telah memenuhi persyaratan).3.3. sebab air merupakan media penentu suatu keberhasilan usaha pembenihan udang windu dan komoditas lainnya. pertumbuhan dan kehidupan nauplius yang dipelihara.2. 32°C . pengelolaaan kualitas air. hati agar organisme yang ditebar tetap sehat dan tumbuh baik. 4.3 ------------------------------. Mulai dari persiapan. jika memenuhi persyaratan sebagai berikut: .5 m.Salinita = 30 &ndash. Pada Unit BBAP Ujung Batee fasilitas yang tersedia cukup memadai untuk kegiatan pembenihan baik udang maupun ikan. Telur diberi perlakuan dengan bahan kimia yaitu KMnO4 dengan . yaitu angin dan curah hujan.

Hal ini dilakukan agar nauplius udang dapat tumbuh dengan baik. layang mengikuti pergerakan air.000 ekor nauplius. hati agar nauplius tidak stress dengan lingkungan barunya harus diaklimatisasi terlebih dahulu. Fungsi aerasi selain meningkatkan oksigen dalam air juga berperan menciptakan sirkulasi air dalam media pemeliharaan dan mempercepat penguapan gas beracun sebagai proses hasil pembusukan sisa &ndash. Setelah keseluruhan telur &ndash. Bentuk tubuh dan organ nauplius sampai mysis jauh berbeda dengan bentuk udang dewasa. Harga induk yang dibeli mencapai Rp. Juga sekaligus mengetahui jumlah nauplius yang dihasilkan setelah penetasan. jumlah telur maksimum yang dapat dihasilkan induk udang windu sampai 1000. melainkan kombinasi kedua jenis pakan ini.3.7. 0. Ciri &ndash. telur lepas dari induknya.4. hal ini bertujuan untuk mengetahui jumlah telur yang dihasilkan perinduk setelah pelepasan. Jika penetasannya baik. telur udang tersebut dibiarkan di tempat bak konikel sampai menetas menjadi nauplius. respon terhadap cahaya. Aklimatisasi dilakukan dengan cara.1 Jenis Pakan Pada Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee jenis pakan yang digunakan tidak hanya mengandalkan pakan buatan atau pakan alami saja. Umumnya induk yang dibeli tersebut adalah induk yang sudah matang gonad. Untuk mencapai kesuksesan dalam pemeliharaan larva perlu penanganan yang serius dalam hal pemberian pakan. mengumpul dipermukaan bila aerasi dimatikan. hal ini dapat menghemat biaya pemeliharaan induk. 4. Induk udang windu akan melepaskan telurnya pada &frac34. 1000. Penanganan Induk Induk yang digunakan di heatchery BBAP Jepara diperoleh dari hasil tangkapan nelayan didaerah Pandanarang. Dengan demikian dalam pemberian pakan untuk larva jumlahnya harus melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya.25 cm untuk jantan yang digunakan dengan perbandingan 1:2 dengan berat 100 gram&ndash. rata 500.00 malam. Setelah telur &ndash. kebiasan dan cara makan dari setiap stadium agar tingkat efisiensinya tinggi. 4.3.000 butir telur yang dapat menetas menjadi 400.30 cm untuk betina dan 20&ndash.250. Tabel 4.000 butir. ukuran relative seragam. mysis III (M-3). 500.1. Telur yang dilepas akan mengapung dipermukaan air dan melayang &ndash.3. hal ini merupakan kebiasaan yang dimiliki.00 &ndash. maka induk diangkat dan dipindahkan ke bak pemeliharaan induk yang telah disiapkan. Setelah mengalami aklimatisasi maka induk yang matang gonad dilepas ke dalam bak konikoltank untuk pelepasan telur. warna induk yang baik untuk calon induk adalah warna cerah atau hitam kecoklatan. Warna gelap kecoklatan. air media yang ada di dalam bak pemeliharan larva dialirkan perlahan ke dalam baskom yang berisi nauplius dengan menggunakan tangan secara perlahan dan hati &ndash. sebelum dilepas ke dalam bak pemijahan yang sekaligus bak pemeliharan telur. induk terlebih dahulu ditreatmen atau aklimatisasi terhadap suhu dan salinitas air media tempat pemeliharan dengan tujuan agar induk tidak mengalami stress karena perubahan lingkungan dan kualitas air yang mendadak.6. Perkembangan dan Pemeliharaan Larva Yang dimaksud larva disini adalah nauplius &ndash. 140 gram dapat menghasilkan telur rata &ndash. 4. lance nauplius yang baik antara lain. selebihnya baru untuk pertumbuhan. pemanenan nauplius Gambar 4. Seleksi induk terus ditingkatkan dan hanya induk yang berukuran 25&ndash. 4. Penebaran nauplius ini dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi. Jenis pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva . maka satu induk dapat menghasilkan 600. Induk udang windu dengan ukuran 90 &ndash.7. 000/kg.150 gram. Memeriksa Airasi Sehari sebelum penebaran. oleh karena itu seorang pembenih harus mengetahui jumlah pakan.2 ppm agar nauplius bebas jamur. malam menjelang subuh. 70 ekor / lt (hitungan berdasarkan volume air).3. Setelah Nauplius berada di dalam bak pemeliharaan maka aerasi diatur dengan baik dan diperiksa keadaan aerasi apakah berjalan dengan lancer.000 &ndash. pengelolaan kualitas air serta pengamatan perkembangan kesehatan larva.3.4. juga sebelum ditebar ke dalam bak pemeliharaan larva air media yang ada di bak pemeliharaan larva harus dicek terlebih dahulu baik salinitas. lalu krant udara dibuka. 4. aerasi perlu dicek apakah penyebaran gelembung dari aerasi sudah benar &ndash. pembersihan & aklimatisasi nauplius 4.3. juga suhunya. gerakan aktif. Pengaturan Pakan.1 &ndash.000 butir. Penebaran nauplius ke dalam bak pemeliharaan larva harus dilakukan dengan hati &ndash. Ciri &ndash. sisa pakan dan kotoran lain. Dalam satu bak konikel terdapat satu induk udang. Induk yang ditangkap di alam dan hasil pemeliharaan di tambak. Namun.11. Telur &ndash. benar merata. Setelah telur menetas menjadi nauplius diberi perlakuan dengan perendaman menggunakan larutan Treflan 0.dosis 3 ppm selama 30 menit. Gamabar 4. Jadi tidak perlu dipelihara dalam waktu yang lama. Larva udang membutuhkan sejumlah pakan untuk kelangsungan hidupnya.5. Ciri Perkembangan Nauplius Penebaran nauplius ke dalam bak pemeliharaan larva dilakukan denganpadat tebar 50 &ndash. lahan ke dalam bak pemeliharaan larva sampai nauplius habis keluar dari baskom. Penanganan Telur Udang windu akan melepaskan telurnya pada malam hari sekitar pukul 22.000 &ndash. oksigen terlarut.3. hati. 00. pH. bila gelembung yang dihasilkan sama rata berarti aerasi berjalan dengan baik.10. Setelah itu nauplius dilepaskan ke dalam bak pemeliharaan dengan cara baskom dijungkirkan perlahan &ndash. Untuk mengetahui hidupnya blower yang digerakkan dengan tenaga listrik agar dapat mengeluarkan udara yang sama dalam setiap titik. Secara garis besar pakan yang dimakan dipergunakan untuk kelangsungan hidup. jika sudah masuk ke dalam stadia post larva bentuknya sudah menyerupai udang dewasa. telur menetas. maka nauplius udang ini dipindahkan ke bak pemeliharaan larva yang sebelumnya telah disiapkan.

Akan tetapi penutup bak sekali-kali harus dibuka. Dalam pengelolaan kualitas air ada beberapa perlakuan agar air media tetap sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva.dari nauplius &ndash. 150 &mu.3. Larva Z + 150&ndash. tangan dan peralatan yang digunakan harus dalam keadaan bersih. Dari ketiga aspek tersebut ada beberapa parameter yang dapat dideteksi secara langsung.3. 09. dan pengaturan kedalaman. Cara pemberian pakannya adalah sebagai berikut. pakan ini ada yang dijual dalam bentuk kalengan maupun bungkusan. Karena larva mempunyai sifat suka makan pada malam hari.3.2. sedangkan memasuki masa PL pemberian pakan alami bergantian dengan pemberian pakan buatan. Penyiponan ini dilakukan setelah larva mencapai stadium mysis. Penyiponan Penyiponan dilakukan agar sisa &ndash. remas sampai pakan yang ada di dalam saringan tersebut habis. Monitoring kualitas air dilakukan setiap hari yaitu pada pagi hari.7. pengecekan kualitas air. selain itu semua pakan yang akan diberikan perlu disaring.2. maka frekuensi pemberian pakan pada malam hari lebih banyak dibanding dengan siang atau pagi hari. dan BP. Maksud ppm di sini adalah gram per ton volume air media jika pakan berbentuk tepung. keduanya bersifat flanktonis yang aktif berenang dipermukan air. Bagi kedua stadium ini diusahakan agar suasana bak pemeliharaan gelap dengan cara menutup bak. pengaturan pencahayaan. gelembung kecil dipermukaan air sebagai akibat dari kelebihan pakan. Pengelolaan kualitas air pada masa pemeliharaan larva udang windu di BBAP Jepara dilakukan dengan beberapa cara.6. Setelah itu saringan diremas &ndash. Misalnya bak pemeliharaan berkapasitas 10 ton.3. Produk ini sebagian masih diimpor.5 ton. Pakan buatan ini digunakan ketika larva telah memasuki stadia zoea. yaitu monitoring. Kualitas air meliputi aspek fisik. Dosis Ransum Dosis yang diberikan pada larva tidak dihitung berdasarkan jumlah populasi larva. sisa pakan yang tidak di manfaatkan.3.00 dan sore hari pada pukul 16. salinitas berkisar 29 &ndash.9. Jenis Pakan yang diberikan pada Larva Udang Windu Pakan yang digunakan: Fripak # 1 CAR Fripak # 2 CAR BP Eguchi Flek Top Larva Z + 100 &ndash. 4. Tujuan dari dilakukannya penyiponan ini adalah untuk menghindari pembusukan pakan yang tidak termakan dan kotoran dari larva-larva tersebut.000 ekor. Cara Pemberian Pakan Setiap pemberian pakan. 34 ppt dan kadar nitrit 0.250 &mu.4.5. Parameter pH berkisar antara 7.7.5 &ndash.3. karena nauplius dan zoea tidak tahan terhadap panas. sedangkan bila pakan yang diberikan dalam bentuk cair maka dihitung dengan ml/ton. sisa metabolic dari larva dapat terbuang keluar dengan cara penyiponan. Setiap pergantian stadium air bak diganti sebanyak 0. Untuk stadium nauplius dan zoea. dan penyiponan. sehingga harganya lumayan tinggi. Berbagai merk yang dipakai dalam pembenihan udang di BBAP Ujung Batee adalah.00 &ndash. 4. dan warna gelembung &ndash.3. misalnya pada pagi hari pukul 07.000. sedangkan pada dosis pakan alami sel/cc/hari atau individu/ekor larva/hari. Pakan komersil (buatan) dapat dibeli ditoko khusus perikanan. Frekuensi Pemberian Untuk menghindari terbuangnya pakan dengan sia-sia sebaiknya frekuensi pemberian pakan 4 &ndash.7. Sedangkan untuk pengecekan parameter kualitas air selama pemeliharaan larva dilakukan pada setiap pergantian stadia. 4. seperti untuk bak kapasitas 10 ton. pengelolaan kualitas air perlu dijaga agar tetap dalam kondisi prima. Pakan alami fungsinya bukan hanya sebagai pakan larva. Frekuensi penyiponan 2 kali sehari yaitu pada waktu 2 jam setelah pemberian pakan. Pengaturan Cahaya Masalah cahaya perlu diperhatikan karena setiap stadium larva menghendaki cahaya yang berbeda. Jika ada matahari yang langsung masuk terutama pada siang hari maka akan membahayakan. Untuk itu bak di isi air media secara bertahap. Top Flake.3. larva Z Plus. ???? Setelah semua pakan tercampur dengan rata. kimia dan biologi. Kemudian tambahkan pakan alami (skeletonema sp) secukupnya. 4. Dengan demikian Lansy MPL dibutuhkan sebanyak 10 gram dan Flake juga dibutuhkan sebanyak 10 gram. sehingga suhu air tetap stabil. pertama dimasukkan air sebanyak 8 ton setelah itu ditebar nauplius sebanyak 1. 8.5. 5 jam. tetapi diukur dengan satuan ppm. Pengelolaan Kualitas Air Sebagai faktor penting dalam operasional pemeliharaan larva.3. 4.7. Tabel 4. ???? Saringan dimasukkan ke dalam ember pakan yang berisi air tawar. Pengaturan Kedalaman air Bak Pemeliharaan Pengaturan kedalaman air media bertujuan untuk menghemat pakan buatan. sedangkan jenis pakan 2 jenis yaitu Lansy MPL dan Flake dengan dosis 2 ppm.7.00.7. ZM. sebab larva membutuhkan pakan yang tersedia setiap saat (adlibitum). 4.7.7. 6 kali/hari dengan selang waktu 4 &ndash. 17. Pemberian pakan ini bersamaan antara pemberian pakan alami dengan pemberian pakan buatan pada stadia zoea hingga mysis. sisa pakan maupun sisa &ndash. Larva ZM untuk Zoea Larva ZM untuk mysis Larva ZM # 3 PL Larva ZM # 4 PL Artemia Sceletonema 4. pakan langsung ditebar merata di dalam bak pemeliharaan larva. PL adalah Skeletonema costatum dan Artemia sp.7. juga sebagai peneduh dan perombakan sisa &ndash. ???? Pakan yang terdiri dari beberapa jenis. 4. seperti kekeruhan.32°C. Dosis tersebut hanya digunakan pada pakan buatan . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.00 &ndash.1 ppm hal ini sesuai dengan ketentuan SNI produksi benih udang windu. Lansy. dengan pengaturan cahaya ini sirkulasi udara segar akan tetap terjadi. menghemat tenaga penyiponan dan untuk menjaga air tetap segar. suhu optimal yang butuhkan untuk proses metabolisme dan metamorfosis yaitu berkisar antara 29 . dengan perlakuan ini penyiponan dapat dilakukan pada stadium PL 3. Pengamatan Kondisi Dan Perkembangan Larva Pengamatan kondisi dan perkembangan larva penting dilakukan karena larva udang dalam hidupnya mengalami beberapa . misalnya Lansy MPL dan Top Flake keduanya dimasukkan ke dalam saringan sesuai dengan stadium.8. diantaranya penyiponan.

. oksigen.Air yang digunakan untuk pemeliharan larva dan pakan alami harus benar &ndash. Pengendalian Penyakit Untuk mengamati kesehatan larva perlu dilakukan dengan teliti baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan mikroskop. warna tubuh dan perubahan stadium.12. Untuk itu pengusaha pembenihan udang yang akan .Mengurangi kemungkinan memburuknya lingkungan yang dapat menyebabkan stress pada larva. dengan menggunakan alat &ndash. 4. perubahan suhu dan salinitas yang begitu mencolok. seser benur dan air laut yang bersih. Pengendalian penyakit dilakukan dengan menggunakan prinsip dasar yaitu tindakan pencegahan dan pengobatan. Untuk itu mulai dari persiapan panen. Pemberian obat&ndash. dari satu bak ke bak yang lainnya. baiknya. maka hal yang harus diperhatikan adalah kesiapan alat untuk panen. maupun jenisnya sesuai dengan tingkat perkembangan larva. Fase ini merupakan fase terakhir dari metamorfosa larva udang (PL). 4. Sebagai contoh.8.1 Persiapan Panen Setelah benur siap untuk dipanen dengan mutu yang baik. Perkembangan larva pada stadia mysis Setelah tahap larva mysis. . berarti telah memasuki stadium mysis. Untuk para pembenih dini dapat melihat dengan bantuan mikroskop. Kalau dengan mata telanjang dapat ditempuh dengan mengamati aktivitas gerak. pemanenan. benar bebas dari polusi. ???? Jika larva berenang kebelakang. Pengamatan mikroskopis dapat dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor larva udang dari bak pemeliharaan larva lalu diletakkan di atas gelas objek. . sebab jika tidak dilakukan dengan tepat dapat menimbulkan masalah sebagai berikut: . Pada fase ini larva bersifat planktonis dan yang paling menonjol adalah gerakannya mundur dengan cara membengkokkan badannya. Pada stadia mysis terjadi 3 kali pergantian kulit yang dapat dilihat pada table di bawah ini: Tabel 4.3. Oleh karena itu sebelum panen harus dicek terlebih dahulu semua peralatan yang diperlukan. Dalam usaha pembenihan ini pembenih dituntut selain menghasilkan benur yang banyak juga kualitas benur itu sendiri harus diupayakan dan dijaga sebaik &ndash.Berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan pakan alami. Pada fase ini tidak mengalami perubahan bentuk tetapi hanya pengalami perubahan panjang dan berat. aktifitas makan. Pengamatan secara makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel langsung dari bak pemeliharaan sebanyak 1 liter beaker glass kemudian diarahkan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva.7. Post Larva Udang Windu Pengamatan pertumbuhan bertujuan untuk mengontrol pertumbuhan larva. Atau bila larva sudah waktunya berubah stadium tetapi belum berubah berarti larva kurang sehat. 6 hari.Kemungkinan meninggalkan residu yang sangat berbahaya bagi kehidupan dan pertumbuhan larva yang dipelihara. terutama jika tindakan pencegahan tidak memberikan hasil yang memuaskan. 4.stadia.8. seperti kandungan oksigen rendah. Biasanya benur yang dipanen adalah benur yang mencapai PL-14 karena dirasa sudah cukup baik dan kuat untuk ditebar. Selama stadia zoea.Pemberian pakan harus memperlihatkan jumlah. Gambar 4.3. alat yang diperlukan untuk panen adalah sebagai berikut: kantong plastik ukuran 15 kg. . Tingkat perkembangan larva pada stadia zoea Setelah fase zoea berakhir. alat yang lebih teratur dan bersih.10. b) Usaha Pengobatan Tindakan ini merupakan upaya terakhir. ember untuk penampungan.3. pengepakan dan pengangkutan harus dilakukan dengan cermat. Tingkat perkembangan zoea dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 43. karet gelang sebagai pengikat. Fluktuasi udara yang cepat berubah mempengaruhi lingkungan pemeliharan larva udang windu yang sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan. Sedangkan untuk memacu perubahan post larva cukup dengan melakukan pergantian air media. fase selanjutnya adalah Post larva. 4. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui kondisi fisik dan perkembangan tubuh larva yang dapat digunakan untuk mengestimasi populasi sehingga dapat menentukan jumlah pakan yang akan diberikan.8. Alat &ndash.Mencegah menyebarnya orgenisme penyebab penyakit. Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. kemudian diamati di bawah mikroskop. terutama dari stadia nauplius ke stadia zoea. mutu. larva mengalami 3 kali ganti kulit (metamorfosa) dalam waktu 4 &ndash. Stadium mysis adalah stadium terakhir dari larva udang sebelum menjadi udang muda. bila warna tubuh transparan dan bergaris merah berarti larva sehat. maka fase berikutnya adalah fase mysis dan bentuknya mirip dengan udang muda. Pemanenan Post larva Pemanenan post larva atau benur yang dilakukan di BBAP Ujung Batee yaitu apabila benur siap tebar ke dalam tambak. a) Usaha Pencegahan Penyakit Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah penyakit yaitu: .3.Berpengaruh negative terhadap bakteri nitrifikasi yang berperan dalam filter biologis.5. post larva yang telah mencapai umur 14 hari sudah dapat dipanen untuk pemeliharaan udang windu. phatogen yang menyebabkan larva terserang penyakit. Apabila pertumbuhan stadium lambat dapat dipacu dengan pemberian EDTA atau memasukkan antibiotik. pH air terlalu tinggi ataupun terlalu rendah serta amonia yang terlalu tinggi. Cara membedakan stadium dengan mata telanjang adalah sebagai berikut: ???? Apabila larva tampak banyak ekor berarti sudah memasuki stadium zoea.obatan harus dilakukan secara tepat. Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati morfologi tubuh larva. Stadium zoea adalah stadium yang mempunyai tingkat pertumbuhan larva yang paling cepat.00 pagi. . setelah itu dapat dicocokkan dengan gambar yang ada di literature. keberadaan parasit.2 Cara Pemanenan Waktu tebar yang paling baik dilakukan adalah pukul 04.

4. Cara pengepakan yang baik adalah sebagai berikut : . yaitu ember besar yang dilengkapi dengan aerasi. Untuk itu cukup dengan membuka krant tabung oksigen secara pelan &ndash. maka sebagai perekat digunakan lakban yang mempunyai lebar 5 cm dan direkatkan disepanjang tutup yang mudah terbuka. .Setelah benur dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diisi dengan air dan artemia. Sambil menunggu pemanenan benur dari bak. sehingga akan mengurangi jumlah pendapatan yang diperoleh. Harga yang ditetapkan harus sesuai dengan mutu/kualitas benur yang dihasilkan. Disamping itu penangkapan benur tidak boleh dilakukan dengan kasar tetapi harus dengan ekstra hati &ndash. Hal ini terjadi biasanya akibat pengikatan plastik tidak kuat.3. supaya tidak merusak fisik benur.8. Perhitungan benur biasanya dilakukan dengan cara penimbangan dan cara penakaran.3. Ini dimaksudkan agar benur yang akan diangkut dengan kendaraan tidak berlebihan dan tidak terlalu kurang. sebab akan menimbulkan stress pada benur. sehingga plastik bocor atau memang plastiknya tidak rangkap dua hingga mudah pecah. Tidak jarang benur yang dikemas rapi. Artinya untuk memulai suatu usaha pembenihan udang harus terlebih dahulu melihat keadaan dari usaha budidaya tambak. mengingat hasilnya (benur) tidak dapat disimpan lama. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan pada skema system pemasaran di bawah ini. Selain itu faktor yang sangat berpengaruh dalam pemasaran benur adalah mutu benur yang dihasilkan.Apabila jarak angkut terlalu jauh (lebih dari 8 jam).1. hati. Jika benur yang dihasilkan dengan mutu yang berkualitas akan menarik minat pengusaha/ petani tambak untuk membeli benur yang dihasilkan oleh pembenih tersebut.9. dipersiapkan pula kantong plastik untuk wadah benur yang akan diangkut. Gambar 4.Banyaknya oksigen jangan sampai kurang dari banyaknya air yang ada di dalam kantong plastik. Cara pemanenan dilakukan dengan menurunkan air bak terlebih dahulu hingga air bak tinggal 50%.00 malam. tetapi mudah untuk dibuka kembali. sehingga biaya angkut bisa lebih hemat. Tipe A. Pemasaran Pemasaran merupakan langkah akhir dari suatu usaha untuk memperoleh pendapatan yang diharapkan. benur yang telah terkumpul dalam baskom penampungan sebaiknya ditakar dahulu untuk dihitung jumlahnya. Sistem pemasaran yang berlaku pada usaha pembenihan udang windu pada BBAP Jepara ada 2 macam. Biasanya untuk angkutan jarak pendek (1 &ndash. kardus segera diturunkan dengan hati &ndash. Kesimpulan .Pengisian oksigen diusahakan tidak terlalu cepat dan mendadak. harus segera diisi dengan oksigen lalu di packing. Tipe B. 25. . Kemudian kantong plastik tersebut diberi Artemia hidup secukupnya untuk pakan benur selama perjalanan. . yaitu konsumen langsung datang ke tempat pembenihan untuk membeli benur yang diinginkan. benur harus sering dilihat jangan sampai ada posisi kardus yang berubah. maka harus dilakukan adaptasi suhu terhadap air tambak yang akan ditebari benur. tetapi setelah sampai ke tambak banyak yang mati. Ini dimaksudkan agar permukaan dasar dan permukaan air lebih luas sehingga oksigen mudah terlarut dan ruang gerak benurpun lebih luas.Pengikatan kantong plastik diusahakan sekuat mungkin dengan karet. tetapi cukup 2 &ndash. sedangkan untuk jarak jauh 4 &ndash. harus sudah dipersiapkan kendaraan pengangkut untuk mengangkut sejumlah benur secara tepat dan cepat. Hal ini dimaksudkan agar benur mudah ditangkap dengan seser. . BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Tetapi jangan sekali &ndash. Dalam kantong plastic tersebut dimasukkan 10 &ndash. panen dimulai pada pukul 21. Selama dalam pengangkutan. 3 jam perjalanan) panen benur dimulai pada pukul 23. pelan. kali memberikan pakan buatan dalam proses packing karena bisa berakibat fatal terhadap benur yang akan diangkut. diletakkan dalam kardus membujur. Dalam kondisi seperti ini otomatis kandungan oksigen semakin berkurang.Agar tutup kardus tidak mudah terlepas selama dalam pengangkutan. 15 liter air yang mempunyai kadar garam yang sama dengan air pemeliharan sebelumnya.memanen benurnya harus mengetahui lama angkut dari pembenihan ke tambak. Pemasaran adalah faktor yang sangat menentukan bagi suatu usaha pembenihan udang. 4. sebagai patokan perbandingan air dan oksigen adalah 2:3. Apabila benur sudah sampai ketujuan (tambak) kardus &ndash. hati dan pelan &ndash.-/ekor benur untuk PL 15.00. 6 jam perjalanan. pelan. Untuk keperluan pengangkutan. Skema sistem pemasaran benur Udang Windu Dari skema di atas nampak bahwa sistem pemasaran benur pada Balai Budidaya Air Payau Jepara mempunyai dua tipe pemasaran: 1. Seser yang digunakan untuk menangkap benur menggunakan seser yang halus. . Pengepakan dan Pengangkutan Pengepakan memegang peranan yang sangat penting. sehingga kondisi benur tidak lemah dan selalu sehat. terutama dalam menjaga keselamatan benur selama pengangutan. Untuk menghindari hal tersebut perlu rencana kerja yang melihat ke depan.13. yaitu pemasaran langsung bertemu antara Produsen dengan konsumen. Untuk menghindari banyaknya benur yang mati. .Ujung selang oksigen jangan dimasukkan terlalu dalam ke plastik packing. Atau juga dapat melalui perantara/agen. Harga memegang peranan penting dalam memasarkan hasil dari suatu usaha pembenihan. Kantong plastik yang telah terikat dengan baik. karena usaha budidaya tambak merupakan sasaran dari pemasaran usaha pembenihan. Bersamaan dengan pemanenan benur. yaitu pemasaran benur melalui agen perantara artinya Produsen dan konsumen tidak pernah bertemu. 3 cm ke dalam kantong.3. 2. sehingga benur cepat lemah dan mati. Pada usaha pembenihan BBAP Jepara harga benur sampai tahun 2010 sekitar Rp. Semakin lama benur berada di tempat pembenihan berarti semakin bertambah biaya produksi yang akan dikeluarkan. Kemudian benur yang telah ditangkap dimasukkan kedalam wadah penampungan yang telah disiapkan sebelumnya.

Machlean. K. Dalam Pelatihan Manajemen Tambak dan Hathery. Zhang. Budidaya Udang Windu. B. V. Murtidjo. Dizon and L. Jakarta. Hossilos (Eds). T. 1993. Yogyakarta. B. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Philippines : Asian Fisheries Society. The Philippines Technical Report no 7. Lembaga Organisasi (LIPI) Jakarta. and Murai. >> Pengerahan input dan pengawasan pertumbuhan benur udang bila dilakukan dengan baik maka hasil benur yang diperoleh akan tinggi. N. Mujiman.). Machlean... Wijayati. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara..2.A. L. Kansius. 686 Halaman. Y. W. H.. I. Wang. Marguensis and Netapenaeus Entis. Hossilos (Eds). 1989. peralatan dan input) yang baik maka dapat dihasilkan angka kehidupan benur yang tinggi.. A. Hariyono dan Moehit. K. Wardoyo. 2003.. Wang. Jakarta. 20 Halaman. Penaeus monodon. Jepara. J. Produksi Benih Udang Windu (Penaeus monodon) Bebas SEMBV. alat yang digunakan dalam proses budidaya (Pembenihan) harus betul &ndash. 2003. Hossilos (Eds). Proyek Penelitian Potensi Sumberdaya Ekonomi. >> Pengorganisasian sumberdaya. Sebaliknya bil dilakukan kurang baik maka jumlah benur yang diperoleh akan lebih rendah. Agromedia Pustaka. Suwoyo. Jakarta. Budidaya Udang Windu di Tambak Potensial Budidaya Produksi dan Udang Sebagai Lahan Makanan di Indonesia. Maturating and Spawning in Capacity of Penaeid Prawns.R dan A. 1979. Wang.. 10 Halaman. In J. Y. The First Asian Fisheries Forum. H. T. L. Kansiua. Lokakarya Pengelolaan Budidaya Udang. Dizon and L. Dizon and L. 2004. Li. M. Aquacop. Effect of Ammonia and Nitrite on Larval Development of The Shrimp. C. C.. I. Biologi Udang Windu. and Liao. X. Benih Udang Windu Skala Kecil. >> Alat &ndash. 41 Halaman. DAFTAR PUSTAKA Amri. Toro. 2003. Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Bekerja Sama dengan American Soybeans Association. H. A. S. Liao. Yayasan Pendidikan Wijayakusuma dan Institut Politeknik Indonesia. R. L. Yogyakarta.. Chin. 1997. S. Suyanto. In J. Berbagai Aspek Biologi Udang Windu (Penaeus monodon Fab. J. 6 th Annual Worksshop Worrld Marinculture Society. Ketersediaan air di sini maksudnya adalah untuk menjaga ketersediaan pakan alami yang akan diberikan sebagai pakan larva udang. Philippines : Aquaculture Departement Suotheast Asian Fisheries Development Center.. The First Asian Fisheries Forum. Motoh. Effects of Nitrite on Lethal and Immune Response of Macrobrachium Nipponese. Chen. Metabilic Response of The White Shrimp. 443 Halaman. Teknik Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon). Poernomo. L. S.. J. Kokarkin. 123 Halaman.. . 1986. 12 Halaman. A. Tsai. 1995. C. The Effect of Salinity on The Osmotic and Ionic Concentration in The Hemolymph Penaeus monodon and P. 2000. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Machlean. Compararative Biochemystryand Physiology Part A 125. 1986. betul bersih dan tidak terinfeksi organisme lain yang akan menimbulkan penyakit bagi kehidupan larva udang tersebut. Z. C. 1994. M. Sumarwan. Saran >> Untuk meningkatkan pencapaian jumlah benih yang dihasilkan dalam pembenihan maka yang perlu dilakukan adalah pengelolaan kualitas air dan manajemen pemberian pakan. V. >> Dengan pengorganisasian sumberdaya (tenaga ahli. induk udang. 1976. Penebar Swadaya.>> Dengan pengambilan induk dari alam maka dapat meminimkan biaya pemeliharaan Induk dan hasil yang diperoleh dengan memanfaatkan induk dari alam tidak jauh berbeda dengan induk hasil budidaya. The First Asian Fisheries Forum. Philippines : Asian Fisheries Society. Peranan manajemen terlihat dari perbedaan antar perlakuan dan periode produksi. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. S.A. pengerahan dan pengawasan berperan dalam proses pembenihan udang. Lembaga Oceanoligi LIPI.J. L. J. 1988. Perbedaan produksi benur udang ini nyata disebabkan oleh perlakukan pengelolaan tersebut. P. L. Sutaman. 5. 1976. D. Waspadai Penyakit Udang di Pembenihan. Patogen dan Pengendaliannya di Pembenihan Udang Windu. Petunjuk Teknis Pembenihan Udang Windu Skala Rumah Tangga. 1981. J. Pengelolaan Mutu Air.. V dan Soegiarto. V. and Lee. Studies on The Fisheries Biology of The Giant Tiger Prawn Penaeus monodon.. Proc. C. 1995.. 1986. Philippines : Asian Fisheries Society. R. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. C. Kansius. Penicullaius. Proyek Penelitian Sumberdaya Ekonomi. Wijayati dan Pujianto. >> Ketersediaan air bersih baik air laut maupun air tawar harus selalu terjaga terutama pada masa larva udang membutuhkan banyak pakan alami. Balai Besar Pengemban Budidaya Air Payau Jepara. B. Jakarta. 2000. Soetomo.. Pengelolaan Kualitas Air Udang Penaeid. L. Penaeus monodon. 144 Halaman. Penaeus vannamei to Ambient Ammonia. and Sun. Produksi Nauplius Udang Penaeid. B. 2004. Nurjana. I... Aquaculture 232... Sebaliknya bila sumberdaya tersebut diorganisasikan kurang baik maka nilai kehidupan benur yang di dapat akan semakin lebih sedikit. Bogor. K. Rocotta.. and Hernandez-Herrera. Effect of Disolved Oxygen Consumption of The Grass Shrimp. Cheng.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->