Peluang dan Tantangan Pengalihan PBB P2 dan BPHTB...

36

Masih Perlukah Pengajuan Banding dengan Pembayaran 50%? .. 50

n oneSlan ax eVlew
TAX FOCUS
Faktur Pajak dalam UU PPN Baru Menanti Kejelasan Saat Pembuatan Faktur Pajak 12

6

TAX PAYER PROFILE
Putra Priyadi: Tolong Ringankan Pajak Bagi Pengusaha Muda 20

MY TAX ADVISOR
Fasilitas PPh untuk UMKM 22

TAX COURT
Pencatatan Tidak Benar, Timbul Sengketa

46

ISSN 1829-5096

9

111111111111111111111111
771829 509609

...... Selama ini Wajib Pajak bimbang saat ingin memenuhi persyaratan banding karena ada pertentangan antara UU Pengadilan Pajak dengan UU KUP. sebagai bahan rujukan sebelum tenggang waktu persiapan berakhir.Untuk itu ketentuan mana yang harus diikuti oleh Wajib Pajak? EXECUTAX SUMMARY ...36 TAX FOR IDIOTS Gengsi Pakai'SS:..12 TAXPAYER PROFILE Putra Priyadi: Tolong Ringankan Pajak Bagi Pengusaha Muda ..28 Peluang dan Tantangan Pengalihan PBBP2 dan BPHTB . maka PBBkhusus sektor perdesaan dan perkotaan dan BPHTB dialihkan menjadi pajak daerah.79 .46 TAX BUG Masih Perlukah Pengajuan Banding dengan Pembayaran 50%?.4 TAX FOCUS Faktur Pajak dalam UU PPN Baru.Telor-Kornet .. ONCE UPON A TAX IN TWO WEEKS .. Melalui tulisan ini...Sama Saja Melanggar HAM.. penulis mencoba menjabarkan berbagai peluang dan tantangan yang harus dihadapi oleh aparatur pemerintah daerah.62 TAX COLUMN Solihin Makmur Alam: Efektivitas Tax Holiday Bagi Penanaman Modal Asing Langsung .Indonesian Tax Review EDITAXORIAL Eksternalitas Retroaktif Biaya Promosi..Timbul Sengketa .20 MY TAX ADVISOR 36 The Untaxable Fasilitas PPh untuk UMKM 22 Pajaknya Si Penulis Cerpen 24 Peluang dan Tantangan Pengallhan PSB P2 dan BPHTB Seiring berlakunya UU PDRDyang baru..26 INTAXMEZO Indomie...70 TAX BLITZ Anwar Fuady: Kesadaran Membayar Pajak Sudah Lebih Baik..50 LOOK WHO'S TAXING Hussein Kartasasmita: Membatasi Usia Konsultan Pajak.44 TAX COURT Pencatatan Tidak Benar..78 CAFETAXRIA Zakat Vs 5PT 1770 55. Hal ini terjadi dalam kasus pengajuan banding ke Pengadilan Pajak.68 SO Tax Bug Masih Perlukah PengaJuan Banding dengan Pembayaran 50%7 Ketika sebuah aturan bertabrakan dengan aturan lainnya.6 Menanti Kejelasan Saat Pembuatan Faktur Pajak......... Korbannya yang jelas adalah Wajib Pajak..1 TAX MAIL . Tentunya pemerintah daerah harus segera bersiap diri agar dapat menerapkannya dengan baik.. sudah pasti akan menimbulkan masalah dalam praktiknya di lapangan..27 TAX UNTAXABLE Penerapan Transfer Pricing di Indonesia .

yaitu UU Nomor 18 Tahun 1997.Iuangdan tantangan yang arus dihadapi oleh aparatur merintah daerah. pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2009 ten tang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD). Penggantian UU ini dipicu karena adanya sejumlah perubahan yang fundamental dalam hal pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah. BPHTBdiatur dalam Bagian Ketujuh Belas pada bab yang sarna. Sebagai informasi.Peluang dan Tantangan Penualiban PBB P2 danBPHTB Oleh: Heru Supriyanto Widyaiswara Pusdiklat Pajak. selama ini PBB dan BPHTB merupakan pajak pusat. Salah satunya adalah dialihkannya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) khusus sektor perdesaan dan perkotaan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)menjadi pajak daerah.Menyusul. maka PBBkhusus tor perdesaan dan perkotaan an BPHTBdialihkan menjadi ajak daerah. M .yang secara resmi berlaku pada tanggal 1Januari 2010. elalui tulisan ini. Kehadiran UU PDRD terse but akan menggantikan UU PDRD yang lama. penulis encoba menjabarkan berbagai . Lebih lanjut. edioSeptember 2009 lalu. dalam UU PDRD yang baru PBBPerdesaan dan Perkotaan (PBB P2) termaktub dalam Bab II Bagian Keenam Belas. Departemen Keuangan iring berlakunya UU PDRD g baru. Tentunya merintah daerah harus ra bersiap diri agar dapat erapkannya dengan baik. sebagai han rUjukan sebelum ggang waktu persiapan akhir.

mengingat Indonesia tidak lagi menjadi negara pengekspor minyak bumi. tergantung pada volume transaksi perolehan hak atas tanah yang sangat sulit untuk diprediksi setiap tahunnya. BPHTB Tak Bisa Dipungut Jika menyitir bunyi Pasal185 UU PDRD. Penerimaan daerah kabupaten/kota bisa mengalami peningkatan/penurunan akibat adanya pengalihan PBB P2 dan BPHTB. Cara seperti ini sebenarnya lebih disukai oleh banyak pemerintah kabupaten/kota (pemerintah daerah). pertanyaan yang muncul adalah mengapa pemerintah pusat lebih suka untuk mengalihkan PBBP2 dan BPHTBmenjadi pajak daerah? Menurut penulis. NJOP Tak Ada. Singkat kata. Penerimaan PBBP2 dan BPHTB akan sepenuhnya menjadi bagian kabupaten/kota.Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak. sebagian besar dari mereka tidak ingin menerima pengalihan ini.Peningkatan ini terjadi karena: a. UU Nomor 12Tahun 1994 yang merupakan perubahan atas UU Nomor 12 Tahun 1985tentang Pajak Bumi dan Bangunan dan UU Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2000. Mayoritas negara maju menyerahkan urusan Pajak Properti (jika di Indonesia adalah PBB) menjadi urusan pemerintah daerah. Diperlukan persiapan-persiapan yang matang sampai . Tentu karena pemerintah daerah tidak perlu mengeluarkan biaya tinggi untuk memungut pajak tersebut.bukanlah hal mudah dalam memprediksi/menargetkan kabupaten/kota.. Reformasi birokrasi di tubuh Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) telah berhasil membentuk Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama yang merupakan peleburan dari KPp. Dengan demikian. tergantung pada volume transaksi perolehan hak atas tanah yang sangat sulit untuk diprediksi setiap tahunnya.Latar Belakang Pengalihan Seperti disinggung di awal. keberadaan PBB dengan sejumlah permasalahan dan tidak diimbangi dengan jumlah penerimaannya. Pemerintah daerah tinggal menerima dana bagi hasilnya dari pemerintah pusat. sehingga pembentukan KPP Pratama ini merupakan cara cerdas membuat biaya pemungutan PBB menjadi lebih efisien. b. mengingat sifat Objek BPHTB yang spesifik. bukanlah hal mudah dalam memprediksi/ menargetkan berapa pajak yang akan diperoleh sebuah kabupaten/kota. berapa sifat pajak yang akan diperoleh sebuah mengingat Objek BPHTB yang spesifik.Namun. Akibatnya.maka sejak 1 Januari 2010 pemerintah kabupaten/kota sudah diperbolehkan untuk menerima pengalihan PBB P2 dan BPHTB. sedangkan untuk hibah wasiat satu derajat dan waris diberikan NPOPTKP sekurang-kurangnya Rp300 juta. telah menetapkan bahwa PBB dan BPHTBtergolong sebagai pajak pusat. pajak menempati posisi strategis dalamAPBN. NPOPTKPsekurang-kurangnya Rp60 juta. Memang. c. b. Dihapuskannya pengenaan BPHTB untuk waris.Kantor Pelayanan PBB(KPPBB). penerimaan pajak tersebut secaramayoritas diserahkankembali kepada daerah kabupaten/kota. penurunan penerimaan dapat saja terjadi akibat: a. sebaliknya kini sebagai negara yang mengimpor minyak bumi. Walaupun berstatus sebagai pajak pusat. pemerintah pusat tentu menyadari bahwa tidak semua daerah siap dengan perubahan ini. . Jika diamati. NJOPTKP sekurang-kurangnya RplO juta b. antara lain: a. Jika demikian halnya. Sebaliknya. jawabannya adalah karena adanya beberapa kenyataan. sumber pendapatan bagi APBN bergeser dari penerimaan migas kepada penerimaan pajak.. memang bisa dirasakan mengganggu konsentrasi Ditjen Pajak sebagai tulang punggung pemenuhan APBN. Migas (minyak dan gas bumi) sudah tidak bisa lagi diandalkan sebagai sumber pendapatan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). hibah wasiat dan hak pengelolaan (UU PDRD) akan menghapus PP Nomor 111Tahun 2000 dan PP Nomor 112Tahun 2000).

maka ada banyak hal yang hams diketahui dan dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota. maka PBB P2 masih akan menjadi pajak pusat sampai dengan 31 Desember 2013. pemerintah mendelegasikan Menteri Keuangan bersama dengan Menteri Dalam Negeri untuk mengatur tahapan pengalihan PBBP2 dan BPHTB. Namun demikian. Salah satu hasil nyata dari reformasi birokrasi terse but khususnya di kubu Ditjen Pajak adalah terbentuknya KPP Pratama. Jakarta. mulai dari pengiriman Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) sampai dengan penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Temtang (SPPT). Hal-hal yang hams diketahui dan dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota yang secara garis besar. bagi pemerintah kabupaten/kota yang sudah matang tingkat persiapannya. sampai dengan saat tulisan ini ditumnkan. sesudah tanggal tersebut. Apabila pemungutan PBBP2 dirasakan tidak menguntungkan. Peraturan tersebut tentu akan menjadi trigger (pemicu) bagi pemerintah kabupaten/kota untuk segera menerima pengalihan pajak tersebut. maka BPHTBtidak dapat dipungut! Selain itu. Pemenuhan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak Mengatur pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak mempakan salah satu tugas yang hams dilakukan pemerintah. Seperti yang diatur dalam Pasal 182 UU PDRD. Dari sinilah berkembang ke arah yang lebih luas lagi. Yang patut disayangkan. pemerintah juga memberikan tenggang waktu kepada pemerintah daerah untuk menyiapkan segal a kelengkapan guna mendukung kebijakan bam terse but. pemerintah memberikan tenggang waktu sampai dengan 31Desember 2013. Sedangkan. mungkin saja ingin secepatnya menerima pengalihan pajak terse but. belum juga diterbitkan. keputusan ini akan membawa konsekuensi serius pacta BPHTB. Salah satu rekomendasi International Monetary Fund (IMF) pada tahun 1997 agar Indonesia keluar dari krisis ekonomi adalah dibentuknya kantor pajak bam. yaitu LTO(large tax payer office/Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar). yaitu: a.ada baiknya jika terlebih dulu dibuat simulasi penerimaan PBB P2 dan BPHTB dengan menggunakan data yang selama ini sudah ada pada KPPPratama. Untuk itu pemerintah hams bempaya untuk menyusun agar prosedur pemungutan pajak menjadi efektif. yakni pada 31 Desember 2010. suka atau tidak suka. bagi pihak (pemerintah daerah. Hal yang Daerah? Perlu diketahui Pemerintah Dalam rangka menerima pengalihan PBB P2 dan BPHTB.Oleh karena itu. pemerintah daerah hams menerima pengalihan PBBP2 beserta selumh aspeknya. Mengapa? Sebab. ada baiknya segera mempersiapkan perangkatnya dan bila perlu dapat melakukan kegiatan pengamatan (studi banding) terhadap kabupaten/kota yang telah mengambil alih terlebih dulu.pemerintah daerah benar-benar siap untuk menerapkan kebijakan pengalihan ini. bagi kabupaten/kota yang mungkin merasa potensi PBB P2 kurang memadai sehingga memutuskan untuk tidak memungut. maka UU PDRD yang bam memperbolehkan Pemda untuk tidak melakukan pemungutan PBB P2 (sudah dijelaskan di atas). BPHTB dialihkan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak berlakunya UU PDRD. Semen tara itu. kebijakan NJOPTKP minimal RplO juta dan NPOPTKP minimal Rp60 juta dan Rp300 juta akan menyebabkan hilangnya potensi pajak. dapat penulis kelompokkan menjadi lima bagian. red) yang belum siap. KPP Pratama juga telah mengubah paradigma lama menjadi paradigma bamPetugas pajak takutmelanggar peraturan sehingga korupsi dapat diminimalkan dan pelayanan kepada Wajib Pajak semakin baik. sehingga NilaiJual Objek Pajak (NJOP)PBBP2 juga tidak ada lagLJika NJOP tidak ada. peraturan pelaksana yang akan mengatur lebih lanjut ten tang tahapan pengalihan PBB P2 dan BPHTB sesuai dengan Pasal 182 tersebut. Hal . maka UU PBByang mengatur ten tang PBBP2 tidak berlaku lagi.Artinya. Sedang. sebelum memutuskan untuk tidak memungut PBB. Selain berhasil menerapkan administrasi modern.Selain itu. Padahal. yaitu reformasi birokrasi di tubuh Departemen Keuangan (Depkeu). pemenuhan hak Wajib Pajak sampai dengan sengketa dengan Wajib Pajak di Pengadilan Pajak. maka harga transaksi dan nilai pasar tidak dapat dibandingkan dengan NJOP' Jika tidak bisa dibandingkan. Terkait masa persiapan ini.

bendungan PLTA. gedung bioskop. pertanian dan lain-lain. mmah sakit. jalan tol. pemerintah daerah minimal bisa mengimbangi performa dari KPP Pratama. sebaiknya pemerintah kabupaten/kota melakukan sosialisasiterlebih dulu Tidak hanya mengenai alamat kantor yang bam. restoran. apartemen. Semestinya. Di mana dalam ketentuannya ditetapkan minimal Rp60 juta per WajibPajak dan Rp300 juta untuk hibah wasiat satu derajat dan waris. sarna saja artinya dengan memindahkan birokrasi. tambak ikan. tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. pelabuhan laut. hibah wasiat dan lain-lain. b. mko. Penilaian properti yang dilakukan oleh tenaga penilai tidak semata . Semoga pemerintah kabupaten/kota juga mampu menciptakan SOP dengan kualitas minimal sarna dengan yang sebelumnya. pelabuhan udara. Dalam proses administrasi dan pengelolaan PBB P2 ini tentu diperlukan sumber daya manusia (SDM)yang mumpuni.ini berarti. permohonan tentang penerbitan SPPT bam kini dijanjikan selesai dalam waktu 1(satu)hari kerja dengan catatan seluruh berkas adalah lengkap dengan syarat tidak membutuhkan inspeksi ke alamat objek pajak. pelayanan kepada masyarakat menjadi prioritas utama Sebagaicontoh. areal penangkapan ikan di laut. perlu ditekankan bahwa semua pelayanan yang diberikan tidak dipungut biaya alias gratis. peluang dikenakannya BPHTB lebih tinggi untuk waris. Pertanyaannya. Artinya. embangkit listrik p tenaga panas bumi/PLTP.mampukah kabupaten/kota memberikan pelayanan prima pacta WajibPajak sebagaimana layanan yang telah diberikan oleh KPPPratama? Menjawab hal tersebut. Profesi Penilai dibutuhkan untuk menghitung NJOP khususnya objek khusus dan objek non standar contohnya. Salah satunya dibutuhkan SDM untuk penilai (appraiser IvaI uer) dan opera tor console.lapangan golf. Satu hal lagi. Dengan adanya pengalihan PBBP2 dan BPHTB menjadi pajak daerah. pemerintah daerah hams mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat (Wajib Pajak PBBdan BPHTB)sebagaimana yang telah diberikan oleh KPPPratama. pemmahan. Administrasi PBB P2 dan Pengelolaan BPHTB Sebelum menerima kebijakan pengalihan ini. telah memaksa Ditjen Pajak untuk menciptakan aturan/SOP (standard operating procedure) bam ataupun menyempurnakan SOP yang telah ada. sistem administrasi modern perpajakan yang diterapkan oleh Ditjen Pajak. Lebih penting lagi. hotel. SPBU. pabrik. menara seluler. areal pembudidayaan ikan/ kerang mutiara. toko. tapi juga perlu diimbangi sosialisasi tentang Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). kampus. pusat perbelanjaan/ mall.

proses pendistribusian SPPTkepada Wajib Pajak sering melibatkan peran serta aparat mulai dari RT. Oleh karena itu. Caranya adalah dengan menggunakan penilaian massal. pembebasan lahan dan lainlain. RW. Kegiatan penilaian individu diterapkan untuk objek pajak non standar. Kemudian. antara lain: a. Tidak hanya SDM. Artinya. b. perbankan.mengapa dinamakan BPHTB. Misalnya tidak memahami apa yang menjadi objek. jerih payah mereka hendaknya dihargai sewajarnya. Pemahaman Metode Penilaian Objek PBB Lebih lanjut. Walaupun UU BPHTB sudah berumur hampir 12 tahun.ditujukan untuk menentukan NJOP'tetapi dapat juga untuk tujuan yang lain. pembebasan tanah yang adil. kepala desa dan camat. Surabaya. misalnya menilai aset daerah.Juga. Semarang. Diharapkan jangan berlebihan dalam memberikan punishment terhadap mereka. Jerih payah para pejabat seperti notaris Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).bukannya PajakPerolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (PPHTB) ataupun BeaPerolehan Bumi dan Bangunan (BPBB). yang biasanya disebut dengan Computer Assisted Valuation (CAV). c. peleburan usaha. perangkat lain yang juga diperlukan dalam pengalihan PBB P2 dan BPHTB adalah Kantor Pelayanan PBB (KP PBB).tidak memahami filosofi waris sehingga dikenakan BPHTB yang memberatkan Wajib Pajak.nama KPPPratama tidaklagi berdasarkan nama kabupaten ataupun kota. tidak sedikit petugas pajak yang salah memahami dan menerapkannya. serta perbedaan antara bumi dan hak atas tanah. jika terpaksa dilakukan pemekaran kantor. tetapi cenderung kepada nama kecamatan. Hal ini sebagaimana telah diatur dalam Pasal 24 UU BPHTBataupun Pasal 91 UU PDRD. yaitu suatu metode penilaian yang sistema tis untuk sejumlah objek pajak yang dilakukan pada saat tertentu secara bersamaan dengan menggunakan suatu prosedur standar. Namun sayang sekali. asuransi. KPPBBKota X Tiga dan seterusnya. bahkan nama kelurahan. Dalam menilai Objek PBB. Medan. pejabat lelang. sampai hari ini. Tidak sedikit pula masyarakat yang belum mengerti mengapa dinamakan PBBbukannya Bea Bumi dan Bangunan (BBB)ataupun Pajak Hak atas Tanah dan Bangunan (PHTB). . Penilaian Individual Adalah suatu cara penilaian terhadap Objek PBB dengan cara memperhitungkan semua karakteristik dari setiap Objek PBB. Selain melakukan kegiatan penilaian. maka dibentuklah KPPBBKota X Satu. digunakan 2 (dua) metode penilaian. dalam pendirian/pembentukan kantorkantor baru. satu-satunya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan formal untuk mencetak penilai adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Gadjah Mada pada Program Pasca Sarjana (S-2). badan pertanahan dan pejabat di pengadilan juga semestinya jangan dilupakan. tentunya dengan mempertimbangkan biaya yang harus disediakan. Bandung. pemekaran usaha. Akibatnya sering terjadi salah penerapan undang-undang. Yogyakarta. seorang penilai harus mampu melakukan pemetaan.sudah seharusnya para pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten/kota mengetahui perbedaan antara bea dan pajak. objek pajak khusus maupun objek pajak yang bernilai tinggi (NJOP-nya lebih dari Rp1 miliar). penggabungan usaha. KPPBBKota X Dua.Bila dulu. Palembang dan kota lainnya. tukar guling.Surat Ketetapan BPHTBKurang Bayar (SKBKB) an Surat Keterangan BPHTBKurang Bayar d Tambahan (SKBKBT). Pemahaman BPHTB tentang Karakter PBB P2 dan Sebagailangkah awal untuk menerima pengalihan PBBP2 dan BPHTB. Hal ini ditujukan untuk memperluas cakupan pelayanan dan cakupan penggalian potensi. tidak mengetahui hakikat Surat Tagihan BPHTB(STB). nama KPPBBadalah sesuai dengan nama kabupaten ataupun kota. maka pemerintah kabupaten/kota pun sebaiknya mengadopsi KPPPratama. misalnya KP PBBKota X. Penilaian Massal Dibutuhkan cara yang cepat untuk menilai Objek PBB yang berjumlah ribuan bahkan jutaan. dari tingkat konvensional sampai dengan pembuatan peta digital. terutama untuk kota besar semacam Jakarta. tidak memahami NPOPTKp. Sekarang. d.

Solusinya adalah perlu koordinasi yang lebih baik lagi dengan BPN sebagai pihak yang menerbitkan SKPH.Sebaliknya. Oleh karena itu. Objek ini sangatlah jelas.Dikenakan atau tidaknya objek terse but. perlu pemahaman yang sarna antara Ditjen Pajak dengan pemerintah kabupaten/kota dalam menentukan objek apa saja yang tergolong PBBP2 atau PBBP3. Hal ini tentu akan memudahkan dalam proses penindakan terhadap daluarsa penetapan. sekolah swasta komersil atas nama yayasan. objek implisit (Pasal8S ayat (4) humf d UU PDRD) masih remang-remang. prod uk/ . untuk memahami secara benar UU PDRDkhususnya bagian Ketujuh Belas. Contohnya PBB sektor Perkebunan. Dengan demikian. perlu adanya kerja sarna dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN)untuk menjelaskannya. pengalihan PBB P2 dan BPHTB tentunya dialihkan juga tentang data Objek dan Subjek PBB P2 dan BPHTB. Oleh karena itu. mengingat BPHTB sering menyerempet kepada ranahBPN. Pemahaman seputar produk/keluaran PBBjuga sepatutnya menjadi perhatian. penagihan dan pidana. Kehutanan dan Pertambangan (PBBP3) misalnya perkebunan dengan luas sekurang-kurangnya 2 (dua) hektar dalam hal tertentu bisa dituntut sebagai PBBP2. Objek implisit akan menjadi terang benderang manakala peraturan yang menjelaskannya ada dan diketahui oleh masyarakat secara luas. pengalihan PBBP2 dan BPHTBini seharusnya mampu menciptakan suasana yang kondusif bagi masuknya ams modal ke kabupaten/ kota. keterlambatan penerbitan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH)untuk hak atas tanah akan berakibat pada makin tingginya BPHTB yang hams dibayar oleh pemegang hak atas tanah tersebut. tampaknya pemerintah kabupaten/kota perlu memahami peraturan dengan baik dan benar. pada Pasal2 UU BPHTB(ataupun Pasal 8S ayat (2) UU PDRD)penulis menyebutnya sebagai . dan lain-lain.. tetapi dijelaskan hanya dengan dua kata yaitu cukup jelas. mmah sakit komersil atas nama Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat (lPSM). keterlambatan penerbitan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH) untuk hak atas tanah akan berakibat pada makin tingginya BPHTB yang harus dibayar oleh pemegang hak atas tanah tersebut.akan menimbulkan salah persepsi yang dapat memicu munculnya sengketa. Pemahaman peraturan PBBP2 dan BPHTBlainnya adalah seputar pemahaman aturan sengketa pajak. Lebih lanjut. Oleh karena itu. Contohnya.. Satu lagi. Sementara itu.pengalihan PBBP2 don BPHTB ini seharusnya mampu menciptakan suasana yang kondusif bagi masuknya arus modal ke kabupaten/kota. pengalihan PBBP2 dan BPHTBbetakibat juga pada pemindahan sengketa pajak ke kabupaten/kota.maka hams dilakukan penafsiran secara historis (merujuk kembali kepada UU Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2000). Pengalihan PBB P2 dan BPHTB hams tetap memerhatikan proses keberatan yang lama prosesnya sampai 12 bulan. jika tidak diketahui maka NPOP adalah NJOP PBB. Tidak tertutup kemungkinan. . pembetulan yang jangka waktunya sampai dengan daluarsa. Contoh lainnya adalah kuburan komersil. Contohnya. tepatnya adalah sengketa antara Wajib Pajak dengan Dirjen Pajak. Tetapi sayang. Pada dasarnya. Mengapa? Karena NPOP (Nilai Perolehan Objek Pajak) pemberian hak bam adalah nilai pasar. sengketa tersebut akan terbawa ke Pengadilan Pajak. maka NJOP makin tinggi. dalam keberatan pajak terkandung sebuah sengketa. Artinya semakin lama. akan dipaksa membayar lagi manakala ia tidak bisa menunjukkan bukti pembayarannya (Surat Tanda Terima Setoran). Contoh yang paling sederhana adalah jangan sampai terjadi pembayaran ganda.objek eksplisit. sampai hari ini pun peraturan penjelas terse but tidak pernah ada.Ada juga isi dari UU PDRD yang harusnya dijelaskan secara panjang lebar. Peraturan yang kurang jelas. Pasalnya. misalnya Wajib Pajak yang sudah membayar PBB.

Narnun. ontoh sederhana C adalah jika untuk kepentingan PBB. Mernang. tetapi rnanakala ditujukan untuk tujuan ganti rugi. aksesibilitas yang sarna/serupa. Mengingat sarnpai hari ini tidak ada kewajiban bagi broker properti untuk rnelaporkan data listing dan data transaksi usahanya. Alangkah baiknya jika NJOP bisa rnenjadi single value for multi purpose (SVMP). Berbeda dengan notaris/PPAT yang selalu rnernberikan laporan setiap bulannya. rnaka perlu kerja sarna dengan pihak broker properti. e. Ditjen Pajak rnernerlukan kerja sarna dengan berbagai instansi baik pernerintah ataupun swasta.keluaran PBB. Dalarn hal ini. Bahasan selanjutnya adalah selarna ini NJOP selalu digunakan untuk kepentingan PBB. agar dapat tercipta NJOP yang rnendekati nilai pasar. yang dapat rnenyebabkan berkurangnya pernbayaran BPHTBdan ini adalah legal/sah. Ditjen Pajak sudah rnerintis jalan untuk rnernpublikasikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)burni rnelalui internet. Seyogyanya. rnaka rnasyarakat tidak rnau rnenggunakan NJOP karena dianggap terlalu rendah nilainya.Oleh karena itu. ada baiknya jika SPPTnihil tetap diterbitkan. rnutu/kualitas produk/output yang dihasilkan pihak ketiga tidak lebih baik dari produk/outputyang dihasilkan oleh fungsional penilai PBB. Hal Krusial Lainnya perlu dikenakan PBB. Lebih jauh lagi adalah bahwa rnasyarakat tidak tahu bahwa sebetulnya ada kondisi-kondisi tertentu (rnisalnya pengurangan) yang telah diatur dalarn undangun dang dan peraturan Menteri Keuangan.Hal ini sernata-rnata ditujukan untuk rnengetahui nilai asetnya sebagai bagian awal dari Manajernen Aset Daerah yang lebih luas lagi.rnisalnya Surat Pernberitahuan Pajak Terutang (SPPT)sering dianggap rnasyarakat sebagai bukti pernilikan hak atas tanah. SPPT PBB atas objek yang digunakan untuk penyelenggaraan pernerintahan seharusnya diterbitkan. tentunya dengan syarat rnernpunyai sifat fisik. Tetapi sayang. sebagian besar rnasyarakat juga enggan untuk rnengetahui BPHTB. bukan tidak rnungkin jika NJOP tidak hanya digunakan untuk kepentingan PBB. fasilitas. Hal ini pun dapat diberlakukan kepada pengernbang properti.sehingga segala rnacarn urusan BPHTB diserahkan kepada para pejabat sebagairnana diatur dalarn Pasal 24 UU BPHTB (Pasal 91 UU Nornor 28 Tahun 2009). Padahal SPPTadalah surat yang digunakan untuk rnernberitahukan besarnya PBB P2 yang terutang kepada Wajib Pajak. Untuk rnengantisipasi kejadian terse but. Anggapan ini sernakin dipertegas oleh BPN yang rnasih rnensyaratkan SPPT sebagai salah satu bagian dalarn proses pendaftaran tanah. Tentu pernerintah kabupaten/kota pasti rnarnpu rnernaksa pihak broker properti untuk rnelaporkan data-data terse but. Contoh lain adalah koordinasi dengan pernerintah kabupaten/kota yang wilayahnya berbatasan satu dengan yang lain sehingga NJOP burni di daerah yang saling berbatasan adalah sarna. Dewasa ini.langkah terbaik yang seharusnya diternpuh para pernerintah daerah dalarn rnenyikapi kebijakan baru ini adalah segera rnernbenahi dan rnelengkapi segala kekurangan yang ada. prinsip hatihati dan waspada harus selalu dikedepankan agar kesalahan yang selarna ini terjadi tidak akan terulang kernbali. Misalnya. dan tidak Penutup Bagairnanapun juga.tetapi juga dapat digunakan untuk segala tujuan. segala harnbatan dianggap sebagai tantangan dan segala kekurangan rnenjadi peluang • . Harapan dari publikasi NJOP burni adalah agar tercipta transparansi pernbentukan NJOP serta rneningkatkan peranan rnasyarakat dalarn pernbentukan NJ0P. peraturan rnernbolehkan kegiatan pendataan Objek dan Subjek PBB dilakukan oleh pihak ketiga (swasta). rnasyarakat rnenginginkan NJOP yang rendah. Selain itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful