P. 1
Kemdiknas SCDRR Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran SD

Kemdiknas SCDRR Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran SD

|Views: 578|Likes:
Published by djuniprist

More info:

Published by: djuniprist on Apr 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi secara natural setiap tahun.
Terjadinya El Nino ini disebabkan temperatur di perairan tropis di bagian timur
Samudra Pasifk bertambah panas secara tidak wajar yang menyebabkan terjadinya
pergerakan uap air. Udara yang lebih panas tersebut pada akhirnya menimbulkan
kekeringan di sejumlah kawasan Asia Pasifk, seperti Indonesia.

Gambar 2.2 Proses terjadinya El Nino

FENOMENA DAN PERISTIWA
KEBAKARAN

BAB II

Fenomena dan Peristiwa Kebakaran

10

Pengaruh El Nino di Jawa Barat telah menyebabkan kelembapan udara di Kota
Bandung dan wilayah lainnya di Jabar sangat rendah. Jika biasanya saat musim
kemarau kelembapan udara Kota Bandung mencapai 75 persen, kini hanya sekitar
40 persen. Akibatnya, musibah kebakaran dan kesulitan air lebih rentan terjadi pada
masa ini.

Kebakaran pemukiman adalah sebuah risiko maka kita akan berupaya sekuat
tenaga untuk menghindari risiko kebakaran, kita semua akan berhati-hati dalam
menggunakan dan memperlakukan kompor, lilin, rokok, lampu tempel dan listrik
untuk menghindari risiko kebakaran, termasuk juga dalam menata ruangan, akses
masuk dan lain sabagainya.

Di Jakarta, listrik dan kompor merupakan penyebab utama kebakaran untuk rumah
tangga. Selama 10 tahun terakhir telah terjadi lebih dari 800 kebakaran setiap tahun
atau sekitar 2 hingga 3 kali kebakaran per hari, dengan korban meninggal mencapai
27 jiwa dan kerugian langsung mencapai nilai Rp 250 miliar setiap tahunnya.

Lebih dari 45 persen kebakaran terjadi di bangunan permukiman, dan lebih dari
25 persen terjadi di bangunan umum, seperti pasar tradisional, usaha kecil dan
menengah, dan industri manufaktur. Kebakaran telah memberikan dampak
kepada lebih dari 22.000 orang setiap tahunnya. Dengan demikian kebakaran
sangat berpotensi meninggalkan trauma pada masyarakat luas, dan menyebabkan
kerugian perekonomian masyarakat luas.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan, tampak bahwa kecerobohan atau
ketidakdisiplinan, bersama dengan kegagalan peralatan, dan sistem proteksi
yang tidak memadai sering kali menjadi penyebab utama kecelakaan, termasuk
terjadinya kebakaran. Untuk itu, hal utama yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan upaya pencegahan dengan membangun disiplin teknik keselamatan
kebakaran yang memfokuskan upaya pencegahan dan penanganan kebakaran
sejak suatu bangunan dirancang dan dioperasikan.

Di Inggris disiplin ini dikenal sebagai fre engineering, dan di Amerika Serikat dikenal
sebagai fre protection engineering. Terminologi fre safety engineering relatif baru
digunakan untuk menjelaskan disiplin yang memanfaatkan prinsip-prinsip sains
(matematika, fsika, kimia, statistika) dan teknik (termodinamika, mekanika fuida,
perpindahan kalor dan massa, mekanika benda padat) untuk melindungi manusia,
lingkungan buatan dan lingkungan alamiah.

Fenomena kebakaran merupakan kejadian unik dan khas Indonesia yang
nampaknya sebagai konsekwensi dari meningkatnya perumahan atau permukiman
padal penduduk di perkotaan yang kerap kumuh sehingga kurang memperhatikan
ketentuan dan persyaratan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Kebakaran
besar ini jelas berimplikasi luas menyangkut aspek sosial, ekonomi, psikologis
massa, politik dan lingkungan.

Kebakaran jenis ini (kebakaran gedung dan permukiman) pada dasarnya adalah
disebabkan oleh kalalian manusia, yaitu karena pemilihan bahan bangunan yang
mudah terbakar, pemasangan instalisi listrik yang tidak sesuai dengan aturan,
pemakaian alat elektronik yang tidak terpantau dengan baik.

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

11

2.2 Peristiwa Kebakaran Di Indonesia

Sementara itu, berkaitan dengan kebakaran pemukiman yang terjadi di Jakarta
berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana,
korsleting arus pendek listrik masih menjadi faktor tertinggi penyebab terjadinya
kebakaran. Sepanjang tahun 2009, ada sekitar 191 kebakaran yang disebabkan
karena korsleting listrik dari total kebakaran yang jumlahnya mencapai 316 kasus.

Sementara penyebab lain dari kebakaran seperti akibat ledakan kompor ada
sekitar 34 kasus, lampu tempel tiga kali dan rokok delapan kasus. Dari jumlah
kasus kebakaran tersebut, sedikitnya menyebabkan kerugian material sebesar Rp
83,2 miliar. Sedangkan luas areal yang terbakar mencapai 85.779 meter persegi.
Kebakaran juga menyebabkan 6.457 jiwa kehilangan tempat tinggal atau sekitar
1.724 Kepala Keluarga (KK). Adapun waktu terjadinya kebakaran, terjadi siang hari
99 kasus, malam hari 85 kasus, pagi hari 75 kasus, dan dini hari 57 kasus.

Berdasarkan data diatas untuk mengurangi risiko kebakaran maka perlu di sekolah-
sekolah diberikan Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana dalam bentuk PRB
yang di integrasikan ke mata pelajaran, program pengembangan diri dan muatan
lokal. Dengan harapan sekolah (guru,karyawan,siswa) memiliki kompetensi yang
dapat digunakan untuk mengurangi risiko kebakaran baik kebakaran pemukiman
maupun kebarakan hutan.

Api kecil jadi sahabat api besar jadi lawan. Kata-kata ini mungkin dulu sering kita
dengar tetapi belum tentu benar karena api besar kita butuhkan untuk berbagai
keperluan kita yang bermanfaat. Api kecil juga bisa membuat masalah yang tidak
dikehendaki jika tidak sesuai dengan pemanfaatan yang kita inginkan. Api bisa
merusak semuanya dan apapun yang ia sentuh. Cobalah lihat data statistik di
daerah anda, bahkan dinegara kita berapa kali terjadi kebakaran dan berapa yang
terluka hingga kehilangan nyawa serta berapa kerugian yang diakibatkannya.

Upaya pemerintah sendiri dalam melakukan sosialisasi dan penyuluhan pencegahan
kebakaran kepada masyarakat dirasakan masih belum efektif. Media cetak dan
elektronik umumnya juga lebih tertarik meliput kebakaran sebagai kecelakaan
ketimbang mengungkap akar penyebabnya.

Indonesia sampai kini belum mempunyai angka statistik nasional tentang nilai
ekonomi kerugian kebakaran baik korban jiwa, luka-luka, maupun harta benda.
Dengan demikian persepsi kebakaran sebagai risiko belum dipahami dari aspek
nilai ekonomi.

Sedangkan pendidikan proteksi kebakaran yang ada masih sangat bersifat
sementara belum merupakan kebutuhan pokok. Saat ini belum ada sekolah
kebakaran terakreditasi. Yang ada, hanyalah diklat kebakaran milik pemerintah
DKI Jakarta dan Kursus kilat yang lebih diminati karena sertifkat yang diterbitkan
ketimbang kompetensinya. Di lain pihak sampai saat ini, perguruan tinggi yang
membuka program studi kebakaran masih sangat terbatas sekali.

Agar bangunan seperti rumah, kantor, sekolah, gudang dan lain sebagainya tidak
terbakar dan menimbulkan kebakaran, maka diperlukan pencegahan kebakaran
dengan cara memberikan pendidikan pengurangan risiko bencana (kebakaran)
kepada siswa dengan berbagai pengetahuan, tips dan trik untuk mencegah
terjadinya kebakaran.

BAB IIIPENGURANGAN RISIKO
KEBAKARAN

3.1 Pengurangan Risiko Kebakaran

Langkah-langkah pengurangan Risiko bencana dipahami sebagai pengembangan
dan penerapan secara luas dari kebijakan-kebijakan, strategi-strategi dan praktek-
praktek untuk meminimalkan kerentanan dan risiko bencana di masyarakat yang
berbasis masyarakat. Upaya mengurangi risiko bencana dilakukan melalui tiga
langkah yaitu:

3.1.1 Pencegahan

Pencegahan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk
menghilangkan dan atau mengurangi ancaman bencana. Sebagai contoh,
untuk mencegah terjadinya kebakaran dilakukan tindakan pemasangan
instalasi listrik yang benar, pemilihan bahan bangunan yang tidak mudah
terbakar, jangan menempatkan bahan yang mudah terbakar di dekat sumber
dan sebagainya.

3.1.2 Mitigasi

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fsik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana.Tindakan mitigasi disebut sebagai tindakan
struktural dan non struktural. Tindakan mitigasi yang bersifat struktural
contohnya adalah pemasangan instalasi listrik oleh orang yang propesinal,
bahan bangunan yang tidak mudah terbakar seperti kerangka baja ringan
untuk kap rumah. Tindakan mitigasi yang bersifat non struktural misalnya
pelatihan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap bahaya yang
dihadapi, pelatihan dan pengorganisasian sukarelawan bagi kegiatan bencana
kebakaran.

Tujuan pokok dari tindakan mitigasi adalah:

a. Mengurangi ancaman
Sebagian bencana tidak dapat dicegah agar tidak terjadi, tetapi ancamannya
dapat dikurangi. Misalnya: struktur bangunan yang tahan api.

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

13

b. Mengurangi kerentanan
Berbagai faktor seperti factor fsik, social, ekonomi maupun kondisi geografs
dapat menurunkan kemampuan masyarakat untuk mempersiapkan
diri maupun menanggulangi dampak akibat bahaya kebakaran. Hal
terpenting dalam kegiatan pengelolaan risiko bencana kebakaran adalah
menurunkan kerentanan sehingga masyarakat menjadi tahan terhadap
bencana kebakaran.

c. Meningkatkan kapasitas
Kapasitas merupakan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana
pada semua tahapannya, melalui berbagai sistem yang dikembangkannya.
Contoh peningkatan kapasitas adalah dalam menghadapi kebakaran
yang bersifat musiman, kelompok masyarakat memiliki posko kebakaran
yang akan siap setiap kebakaran terjadi. Peningkatan kapasitas juga
bisa dilakukan dengan meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana
penanggulangan kebakaran, pelatihan tanggap darurat, dan sebagainya.

3.1.3 Kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk meng-
antisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat
guna dan berdaya guna. Sebagai contoh: membangun system peringatan dini,
penyiapan jalur evakuasi bila terjadi bencana, laztihan simulasi bencana.

Kesiapsiagaan diri, keluarga dan sekolah akan sangat membantu dalam
mengurangi dampak bencana, baik kerugian harta maupun korban jiwa,
Kesiapsiagaan dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Memahami potensi ancaman yang ada di daerah masing-masing

2. Memahami penyebab atau tanda-tanda akan terjadinya bencana

3. Memahami apa yang harus dipersiapkan dan yang harus dilakukan baik
sebelum, saat dan sesudah bencana.

Tingkat kerentanan perkotaan di Indonesia adalah suatu hal yang sangat
penting untuk diketahui sebagai salah satu hal yang berpengaruh terhadap
terjadinya bencana alam.

Tingkat kerentanan kota-kota besar di Indonesia dapat ditinjau dari kerentanan
fsik , sosial kependudukan, dan ekonomi. Kerentanan fsik menggambarkan
tingkat kerusakan terhadap fsik bila ada faktor berbahaya tertentu. Melihat dari
berbagai faktor seperti persentase kawasan terbanguin, kepadatan bangunan,
persentase bangunan konstruksi darurat, jaringan listrik, rasio panjang jalan,
jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM, jaringan rel KA, maka perkotaan di
Indonesia dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat rentan karena
persentase di antara unsur-unsur tersebut sangat rendah.

Kerentanan sosial menunjukkan tingkat kerentanan terhadap keselamatan
jiwa/kesehatan penduduk apabila ada bahaya. Dari beberapa indikator antara
lain kepadatan pendusuk, laju pertumbuhan penduudk, persentase penduduk
usia tua-balita dan penduduk wanita, maka kota-kota bsar di Indonesia

Pengurangan Risiko Kebakaran

14

memiliki kerentanan sosial yang sangat tinggi. Belum lagi jika kita melihat
kondisi sosial saat ini yang semakin rentan terhadap bncana non-alam, seperti
rentannya kondisi sosial masyarakat terhadap kerusuhan, tingginya angka
pengangguran, instabilitas politik, dan tekanan ekonomi.

Kerentanan ekonomi menggambarkan besarnya kerugian atau rusaknya
kegiatan ekonomi (proses ekonomi) yang terjadi bila ada ancaman bahaya.
Indikator yang dapat kita lihat menunjukkan tingkat kerentanan ini misalnya
persentase rumah tangga yang bekerja pada sektor rentan (jasa dan distribusi)
dan persentase rumah tangga miskin.

Beberapa kerentana fsik, sosial, dan ekonomi tersebut di atas`menunjukkan
bahwa kota-kota besar di Indonesia memiliki kerentanan yang tinggi , sehingga
hal ini menyebabkan tingginya risiko terjadi bencana.
Tingginya risiko kebakaran gedung dan pemukinan pada berbagai fungsi atau
penggunaan bangunan dapat dinyatakan dengan analisis sebagai berikut:

1. Adanya risiko kebakaran karena hadirnya faktor-faktor penyebab
kebakarana di setiap tempat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: listrik
dan peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik, kompor (gas atau
listrik), lampu tempel/lilin, rokok, obat nyamuk bakar, membakar sampah,
dan kembang api/petasan. Kondisi ini apabila dipicu oleh tindakan yang
salah atau lalai dapat memunculkan terjadinya kebakaran.

2. Ketiadaan sarana pemadan kebakaran pada suatu lingkungan atau
bangunan. Atau kurang terawatnya sarana peringatan dini (sistem alarm
kebakaran) dan sarana pemadam kebakaran; sehingga dalam banyak
kasus ditemukan berbagai sarana pemadaman kebakaran yang tidak
berfungsi. Kondisi ini secara jelas berperan mengurangi atau melemahkan
kemampuan suatu lingkungan atau bangunan gedung dalam mencegah
dan menanggulangi kebakaran apabila suatu saat terjadi.

3. Perilaku orang-orang pada suatu lingkungan atau yang menghuni
bangunan yang cenderung ceroboh/lalai, rendahnya kesadaran menjaga
lingkungan, kurang pengetahuan tentang bahaya api, pembiaran
terhadap anak-anak yang bermain api, keterpaksaaan karena keterbatasan
ekonomi serta vandalisme. Kesemuanya ini merupakan faktor yang ikut
menyumbangkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran pada suatu
bangunan atau lingkungan.

Upaya pengurangan risiko kebakaran di lingkungan sekolah dapat dilakukan
melalui tindakan-tindakan sebagai berikut:

a. Melengkapi bangunan sekolah dengan sarana proteksi kebakaran dan
sarana jalan keluar/penyelamatan jiwa

b. Memberikan penyuluhan atau pelatihan pencegahan dan penanggulangan
kebakaran kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidikan

c. Memberikan materi pembelajaran pengurangan risiko, termasuk risiko
kebakaran kepada siswa

d. Menyediakan panduan/prosedur tetap untuk menghadapi bencana

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->