P. 1
Kemdiknas 2010 Panduan Perangkat Penilaian Sektor Pendidikan 02 Buku Manual

Kemdiknas 2010 Panduan Perangkat Penilaian Sektor Pendidikan 02 Buku Manual

|Views: 77|Likes:
Published by djuniprist
1

P

erangkat Kajian Pasca Bencana untuk Sektor Pendidikan ini merupakan pelengkap dari sistern evaluasi kerusakan dan kerugian pasca bencana di sekoIah-sekolah yang telah dirniliki Kementerian Pendidikan Nasional selama ini. Perangkat ini diharapkan dapat memudahkan setiap pengguna khususnya Kementerian Pendidikan serta jajaran Dinas Pendidikan di Propinsi dan Kabupaten/Kota dalam mendapatkan data yang akurat. Sebagaimana kita tahu, sektor pendidikan adalah salah satu sektor yang sangat rawan
1

P

erangkat Kajian Pasca Bencana untuk Sektor Pendidikan ini merupakan pelengkap dari sistern evaluasi kerusakan dan kerugian pasca bencana di sekoIah-sekolah yang telah dirniliki Kementerian Pendidikan Nasional selama ini. Perangkat ini diharapkan dapat memudahkan setiap pengguna khususnya Kementerian Pendidikan serta jajaran Dinas Pendidikan di Propinsi dan Kabupaten/Kota dalam mendapatkan data yang akurat. Sebagaimana kita tahu, sektor pendidikan adalah salah satu sektor yang sangat rawan

More info:

Published by: djuniprist on Apr 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2012

pdf

text

original

C

M
Y
CM
MY
CY
CMY
K
cover buku - depan.pdf 4/29/2010 12:19:07 AM
P
erangkat Kajian Pasca Bencana untuk Sektor Pendidikan ini merupakan pelengkap
dari sistern evaluasi kerusakan dan kerugian pasca bencana di sekoIah-sekolah
yang telah dirniliki Kementerian Pendidikan Nasional selama ini. Perangkat ini
diharapkan dapat memudahkan setap pengguna khususnya Kementerian Pendidikan
serta jajaran Dinas Pendidikan di Propinsi dan Kabupaten/Kota dalam mendapatkan
data yang akurat.
Sebagaimana kita tahu, sektor pendidikan adalah salah satu sektor yang sangat
rawan terkena dampak bencana, dengan demikian dalam pengumpulan data perlu
mendapatkan perhatan khusus. Adanya data yang berubah-ubah dan berasal dari
banyak sumber sering menyebabkan kebingungan di masyarakat. Kementerian
Pendidikan Nasional dan jajaran Dinas Pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/Kota
adalah lembaga yang berwenang untuk mengklarifkasi data dan informasi tersebut.
Atas dasar itu sebuah perangkat yang kornunikatf dan mudah di gunakan menjadi
sangat pentng agar dalarn situasi-situasi yang sulit-pun kita bisa mendapatkan data
dan kemudian memberikan bantuan kemanusiaan di sektor pendidikan secara cepat,
tepat, dan berdaya guna.
Bersamaan dengan proses pendataan, hal pentng yang harus diperhatkan adalah
sistem. Sistem yang dirnaksud adalah sebuah mekanisme atau alur pendataan yang
sistemats rnulai dari pencarian data, verifkasi sampai pada pelaporan dari level
sekolah ke Dinas Kabupaten/Kota, kemudian Propinsi hingga mencapai Kementerian
Pendidikan Nasional.
Perangkat ini diharapkan menjadi pelengkap dari sistem yang ada dan dapat
memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat pendidikan dan digunakan olah
sernua pihak yang akan melakukan kajian paska bencana dalam sektor pendidikan.
Atas nama Kementerian Pendidikan Nasional, saya menyampaikan penghargaan
kepada UNESCO serta Humanitarian Forum Indonesia yang rnenjadi mitra dalam
penyusunan Sistem Kajian Pasca Bencana untuk Sektor Pendidikan. Penghargaan juga
saya sampaikan pada segenap jajaran di Kementerian Pendidikan Nasional yang telah
memberikan dukungan penuh atas inisiatf ini. Terima kasih juga saya sampaikan pada
seluruh pihak yang teIah bekerja keras dalam mengembangkan Perangkat Kajian ini.
Pengantar Kementerian
Pendidikan Nasional
1
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n


P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 1 4/28/2010 10:55:52 PM
2
Saya mengharapkan sistem ini dapat secara nyata digunakan oleh seluruh jajaran di
sektor pendidikan yang berkepentngan untuk dapat lebih meningkatkan pelayanan
kita pada anak didik kita khususnya pada kondisi Pasca Bericana,
Direktur Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional
Prof. Suyanto, Ph.D
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n


P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 2 4/28/2010 10:55:53 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
3
UNESCO Ofce, Jakarta
Cluster Ofce for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines
and Timor Leste Regional Science Bureau for Asia and the Pacifc
Kata Pengantar
Perangkat Kajian Pasca Bencana
untuk Sektor Pendidikan
S
aya, atas nama UNESCO, sangat gembira akan
kerjasama yang terjalin dalam mendukung penerbitan
dan penggunaan Perangkat Kajian Pasca Bencana untuk
Sektor Pendidikan.
Tujuan dari pengembangan perangkat ini adalah untuk mewujud-
kan suatu sistem evaluasi pasca bencana yang tersentralisasi
dan menjadi milik Kementerian Pendidikan Nasional. Si stem
i ni berangkat dari apa yang sudah ada dan di gunakan
ol eh Kementeri an Pendidikan Nasional dan melengkapinya
dengan beberapa perangkat yang dapat digunakan dengan
cepat dan mudah pada saat rapid response, early recovery,
dan rehabilitaton and reconstructon.
Perangkat Kajian Pasca Bencana untuk Sektor Pendidikan
diharapkan menjadi satu jawaban atas kebutuhan ini, khususnya
untuk sektor pendidikan. Paket ini tidak hanya menyediakan
formulir-formulir kuesioner, namun juga memberikan panduan
mekanisme yang diharapkan akan membantu koordinasi antara
pemerintah dan organisasi-organisasi kemanusiaan. Dalam
pengembangannya, perangkat ini dikembangkan melalui beberapa
mekanisme konsultasi dengan berbagai pihak yang aktif dalam
kegiatan respon pasca bencana dan telah diujicobakan di beberapa
daerah yang terkena bencana di wilayah Jawa Barat pada bulan
Februari dan Maret 2010 ini, berbagai masukan penyempurnaan
telah diterima dan diintegrasikan dalam produk akhir ini.
Saya percaya perangkat kajian pasca pencana untuk sektor
pendidikan akan memberikan nilai penting dalam menyediakan
data dan informasi yang lebih handal, akurat, dan menyeluruh.
Walaupun perangkat ini disusun untuk kepentingan pendataan
dan informasi bagi pemerintah, saya yakin perangkat ini tdak hanya
dapat digunakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, Dinas
Pendidikan di daerah tingkat provinsi dan kabupaten / kota, namun
juga dapat digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan
untuk menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar dalam
masa darurat dan krisis.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
sebesar-besarnya atas kerjasama dengan Direktorat Jenderal
panduan pendidikan final - edit.indd 3 4/28/2010 10:55:54 PM
4
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah yang dalam hal ini
diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal, Bambang Indriyanto, yang
secara resmi mendukung dan memberikan berbagai masukan yang
berharga dalam penyusunan perangkat ini.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada Humanitarian Forum
Indonesia (HFI); salah satu lembaga swadaya masyarakat yang
mengakui pentingnya kesiapsiagaan dan penanganan bencana
terutama di sektor pendidikan yang telah membantu dalam
operasional penyusunan perangkat ini. Tidak lupa juga penghargaan
kami sampaikan pada berbagai pihak yang telah secara langsung
maupun tdak langsung memberikan masukan dalam penyempurnaan
buku perangkat kajian pasca pencana untuk sektor pendidikan ini.
Dr. Hubert J. Gijzen
Direktur dan Perwakilan
Kantor UNESCO Jakarta
Perwakilan untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippina
dan Timor Leste Direktur Bio Sains Regional Asia Pasifik
April 2010
UNESCO House
JI. Galuh (II) No. 5, Kebayoran Baru
PO Box 1273 / JKT 10002 Jakarta 12110, INDONESIA Tel, : +62 (21) 739 98
18 Fax : +62 (21) 7279 64 89 E-mail: jakarta@unesco.org
4
P
e
n
d
a
h
u
l
u
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 4 4/28/2010 10:55:54 PM
5
D
alam buku panduan ini Anda akan memperoleh sistem penilaian
yang komprehensif, terinsttusi dengan baik dan cepat serta dapat
dipergunakan oleh berbagai pihak yang ingin membantu, tdak hanya
struktur dan infrastruktur, tapi juga menjalankan sistem pendidikan dalam
masa tanggap darurat bencana sesuai dengan standar pelayanan minimum
pendidikan dalam keadaan bencana .
Penilaian pasca bencana dalam sektor pendidikan merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari ruang kegiatan pelaksanaan rehabilitasi pasca bencana:
1. Fasilitas pendidikan termasuk sarana umum atau fasilitas sosial umum yang
menjadi cakupan kegiatan perbaikan prasarana dan sarana umum. Indikator
perbaikan fasilitas pendidikan adalah bahwa fasilitas TK/PAUD/Kelompok
Bermain/Setara, SD/MI/setara, SMP/MTs/Setara, SMA/MA/Setara, PT/Setara,
serta lembaga pendidikan lain dapat menjalankan fungsinya kembali. Instansi
terkait yang bertanggung jawab dalam rekonstruksi fasilitas pendidikan adalah
instansi Kementerian PU dan Kementerian Pendidikan Nasional.
2. Pelayanan pendidikan juga adalah salah satu bagian dari pelayanan publik.
Pemulihan pelayanan publik merupakan salah satu kegiatan rehabilitasi pasca
bencana non fsik , dengan indikator bahwa kegiatan pendidikan yang mencakup
TK/PAUD/Kelompok Bermain/Setara, SD/MI/setara, SMP/MTs/Setara, SMA/
MA/Setara, PT/Setara, serta lembaga pendidikan lain dapat menjalankan
fungsinya kembali dapat berjalan kembali terutama pendidikan dasar.
Pelaksanaan pembangunan kembali prasarana dan sarana atau rekonstruksi sarana
sosial masyarakat termasuk pendidikan, antara lain:
1. Proses pembangunan kembali sarana sosial masyarakat dilaksanakan oleh
insttusi terkait di bawah koordinasi BNPB atau BPBD di tngkat daerah, bersama-
sama dengan masyarakat melalui suatu penyusunan Rencana Teknis kegiatan
pembangunan yang ingin diwujudkan.
2. Penyusunan Rencana Teknis dilakukan melalui survei investgasi dan desain
dengan memperhatkan kondisi lingkungan, sosial ekonomi, budaya, adat
istadat, dan standar konstruksi bangunan.
Pendahuluan
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n


P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 5 4/28/2010 10:55:54 PM
6
6
Indikator capaiannya adalah kondisi bangunan berfungsi penuh dengan baik sehingga
proses kegiatan yang terjadi didalamnya dapat berlangsung dengan lancar, nyaman,
dan aman sepert semula atau bahkan lebih baik.
Dalam pelaksanaan rekonstruksi non fsik, fungsi pelayanan publik dan pelayanan
utama dalam masyarakat termasuk sektor pendidikan tercakup didalamnya. Indikator
keberhasilan dari program ini, yakni pelayanan pendidikan berfungsi kembali sesuai
dengan Standar Pelayanan Minimum Pendidikan yang mengacu kepada 8 Standar
Nasional Pendidikan berikut : 1). Standar Isi, 2). Standar Proses, 3). Standar Kompetensi
Lulusan, 4). Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 5). Standar Sarana dan Pra
Sarana, 6). Standar Pengelolaan, 7). Standar Pembiayaan dan 8). Standar Penilaian.
Peningkatan fungsi pelayanan publik pendidikan dilaksanakan oleh dinas terkait di
bawah koordinasi badan penanggulangan bencana, melalui upaya-upaya:
1. Rehabilitasi dan pemulihan prasarana dan sarana pelayanan publik;
2. Mengaktfan kembali fungsi pelayanan publik pada instansi/lembaga terkait;
3. Pengaturan kembali fungsi pelayanan publik.
Tujuan
Secara prakts panduan ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan analisa situasi dan dampak kerusakan dan kerugian serta respons yang
diperlukan untuk mengaktfan kembali fungsi pelayanan publik sampai di tngkat
sekolah pasca bencana
Strategi
Strategi yang dilakukan di dalam pelaksanaan assessment sektor pendidikan pasca
bencana ini meliput:
1. Pengumpulan informasi awal, diperoleh melalui Jardiknas, Dinas Pendidikan
Kota/Kabupaten dan BPBD atau Satlak Kota/Kabupaten
2. Pengumpulan informasi dari narasumber sesuai dengan prosedur operasional
standar untuk setap tahap
3. Kunjungan langsung ke satuan pendidikan, UPTD, dan tempat tnggal peserta
didik dan keluarga
Metodologi
Metode yang digunakan adalah
1. Penilaian Cepat dilaksanakan oleh Tim Penilai yang diangkat oleh Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota
2. Penilaian mendalam menjelang akhir masa tanggap darurat dan atau pada
pemulihan dini dengan kunjungan langsung ke sekolah, melakukan wawancara
dan observasi tentang kondisi satuan pendidikan
3. Penggalian informasi dilakukan dengan cara observasi, wawancara, pengisian
kuesioner,dan kajian terhadap dokumen pendukung. Informasi yang digali
P
e
n
d
a
h
u
l
u
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 6 4/28/2010 10:55:55 PM
berkaitan keenam indikator penilaian
4. Informasi lain terkait juga dikumpulkan dalam rangka untuk memberikan
gambaran yang lebih lengkap tentang situasi pelayanan publik di sektor
pendidikan, dampak kerusakan, dan kerugian serta respon yang diperlukan
pada tahap tanggap darurat sampai pemulihan kembali sektor pendidikan
pasca bencana.
Indikator Penilaian
Setelah menganalisis beberapa metode (INEE Standar minimum pendidikan dalam
keadaan darurat, krisis kronis dan rekonstruksi awal, The Inter-Agency Network for
Educaton in Emergency (INEE) 2004, Joint Needs Assesment Toolkit For Educaton in
Emergency, 10 Agustus 2009, Joint Inital Rapid Assesment, 12 November 2008) dan
beberapa dokumen terkait lainnya, maka diperoleh tujuh indikator yang bersesuaian
berikut :
a. Informasi Umum
b. Akses terhadap fasilitas pendidikan
c. Proses pembelajaran
d. Peserta didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan
e. Fasilitas pendukung pendidikan
f. Partsipasi masyarakat untuk pendidikan
g. Kebijakan dan Koordinasi untuk Pendidikan
Prosedur Operasional Standar Penilaian
Prosedur Operasional Standar penilaian pasca bencana dalam sektor pendidikan ini
dikembangkan berdasarkan 3 (tga) lingkup, yaitu:
a. Tahap Penilaian Cepat.
b. Tahap Pemulihan Dini.
c. Tahap Rekonstruksi dan Rehabilitasi.
Tahap Penilaian Cepat
Alat penilaian cepat pasca bencana pada sektor pendidikan diperlukan untuk menggali
informasi bantuan yang diperlukan agar pelayanan pendidikan dapat berjalan selama
masa tanggap darurat yang ditetapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana sesuai
dengan tngkat bencana yang terjadi. Dalam penilaian ini informasi yang akan digali
meliput: Kerusakan Sekolah, Kehilangan Fasilitas, dan Jumlah Korban.
Hasil penilaian ini diharapkan dapat segera diperoleh untuk mengetahui kebutuhan-
kebutuhan yang diperlukan sepert jumlah tenda, lokasi distribusi, pertolongan
pertama, dan bantuan kemanusiaan pada tanggap darurat.
Alat Penilaian Cepat disusun mengikut Formulir Dafar 1 yang biasa dilaporkan oleh
kepala Sekolah setap bulannya dilengkapi dengan POS untuk menggali informasi umum
mengenai keenam indikator penilaian pasca bencana untuk sektor pendidikan.
7
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n


P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 7 4/28/2010 10:55:55 PM
8
-FWFM
#FODBOB/BTJPOBM
-FWFM
#FODBOB1SPWJOTJ
-FWFM#FODBOB
,BCVQBUFO,PUB
1SFTJEFO
Gubernur
8P8D/SATKOPLAK
Provlnsl
Dlnas Pendldlkan Proplnsl: Porm A-3
8upatl/wallkota
Dlnas Pendldlkan Provlnsl: Porm A-2a, A-2a, A-2c
UPTD / SMK
1FOJMBJBO
- Porm A.la
- Porm 8erlta Acara
- foto
Mengumpulkan basls data dan lnformasl
- Dapodlk, - Daftar |
|nternal
Kategorl
Penglsl
Porm
Lksternal
Mulal
CSO/NGO/|NGO
Tlm Penllal
dltentukan
oleh dlnas
pendldlkan
setempat
8P8D/SATLAK Kabupaten/Kota
8NP8 Kemendlknas: Porm A-4a, A-4b
%JBHSBN"MJS1FOJMBJBO$FQBUVOUVL5,4%4.1
Selesal
|ntruksl/Pelaporan
Koordlnasl
Level 8encana
panduan pendidikan final - edit.indd 8 4/28/2010 10:56:02 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
9
1SFTJEFO
Gubernur
8P8D/SATKOPLAK
Provlnsl
Dlnas Pendldlkan Proplnsl: Porm A-3
8upatl/wallkota
Dlnas Pendldlkan Kabupaten/Kota: Porm A-2D, A-2e
UPTD/SMK
1FOJMBJBO
- Porm 8.l.a
- Porm 8erlta Acara
- foto
Mengumpulkan basls data dan lnformasl
- Dapodlk, - Daftar |
|nternal Selesal
Kategorl
Penglsl
Porm
Lksternal
Mulal
CSO/NGO/|NGO
Tlm Penllal
dltentukan
oleh dlnas
pendldlkan
setempat
8P8D/SATLAK Kabupaten/Kota
8NP8 Kemendlknas: Porm A-4a, A-4b
-FWFM
#FODBOB/BTJPOBM
-FWFM
#FODBOB1SPWJOTJ
-FWFM#FODBOB
,BCVQBUFO,PUB
%JBHSBN"MJS1FOJMBJBO$FQBUVOUVL4."4.,
|ntruksl/Pelaporan
Koordlnasl
Level 8encana
panduan pendidikan final - edit.indd 9 4/28/2010 10:56:08 PM
Prosedur Operasional Standar Penilaian Cepat
1. Data dan informasi awal yang diperlukan
a. Data Pokok Pendidikan setap Sekolah yang dikelola pemerintah, pemerintah
daerah, dan masyarakat melalui Jardiknas
b. Dafar 1 Sekolah yang dikelola pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat yang sudah dilaporkan resmi oleh pimpinan Sekolahkepada
Dinas Pendidikan
2. Pirant yang diperlukan
a. Formulir A
b. Berita Acara penyerahan Formulir A
c. Rekapitulasi Formulir A
d. Berita Acara penyerahan Rekapitulasi Formulir A
e. Alat tulis
3. Pengisian Formulir A pada tahap Penilaian Cepat
Formulir A pada tahap Penilaian Cepat disediakan sebagai berikut:
- Formulir A-1 Sekolah
- Formulir A-1a : Informasi TK-SD-SMP
- Formulir A-1b : Informasi SMA dan SMK
- Formulir A-2 Dinas Kabupaten
- Formulir A-2a : Rekapitulasi TK
- Formulir A-2b : Rekapitulasi SD
- Formulir A-2c : Rekapitulasi SMP
- Formulir A-2d : Rekapitulasi SMA
- Formulir A-2e : Rekapitulasi SMK
- Formulir A-3 Dinas Provinsi : Rekapitulasi Kabupaten
- Formulir A-4 Mandikdasmen Kemendiknas
- Formulir A-4a : Rekapitulasi Kabupaten
- Formulir A-4b : Rekapitulasi Provinsi
4. Penyerahan Formulir A-1
Penyerahan Formulir A-1 yang sudah diisi lengkap oleh Tim Penilai dan
ditandatangani serta dicap oleh pimpinan atau yang berhak mewakili Sekolah
kepada UPTD dan Dinas Pendidikan dilaksanakan selambat-lambatnya 3 X 24
jam pasca bencana.
Tim Penilai menyerahkan Formulir A-1 pada tahap Penilaian Cepat kepada UPTD
terkait di kecamatan masing-masing dengan menyertakan :
10
P
e
n
d
a
h
u
l
u
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 10 4/28/2010 10:56:09 PM
a. Berita Acara Penyerahan Formulir A-1 yang ditandatangani Tim Penilai
sebanyak 3(tga) lembar
b. Formulir A-1 sebanyak 3 (tga) lembar yang sudah diisi lengkap, ditandatangani
dan dicap Sekolah yang sudah dinilai.
c. Foto berwarna untuk setap sarana dan prasarana yang terkena dampak
bencana 3 (tga) Lembar.
d. Dafar 1 Sekolah yang dikelola pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat yang sudah dilaporkan resmi oleh pimpinan Sekolahkepada
Dinas Pendidikan .
5. Pengesahan Berita Acara penyerahan Formulir A-1
Pengesahan Berita Acara penyerahan Formulir A-1 dan lampiran yang sudah
lengkap dilaksanakan oleh UPTD terkait dan diberi nomor sesuai dengan tanggal
penyerahan Formulir A-1.
a. Lembar I lengkap untuk arsip Tim Penilai
b. Lembar II lengkap diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
c. Lembar III lengkap untuk arsip di UPTD
6. Penyusunan Formulir A-2 Dinas Pendidikan Kabupaten
a. UPTD TK-SD-SMP dari setap kecamatan bersama-sama menyusun
Rekapitulasi untuk jenjang TK (Formulir A-2a), SD (Formulir A-2b), SMP
(Formulir A-2c) yang berdasarkan nomor Berita Acara penyerahan Formulir
A-1a dan kelengkapannya :
i. Formulir A-2a, Formulir A-2b, Formulir A-2c yang ditandatangani dan
dicap oleh UPTD terkait
ii. Berita Acara Penyerahan Formulir A-1a yang ditandatangani Pimpinan
atau yang berhak mewakili 3 (tga) lembar
iii. Formulir A-1a sebanyak 3 (tga) lembar yang sudah diisi lengkap,
ditandatangani, dan dicap Sekolah yang sudah dinilai.
iv. Foto berwarna untuk setap sarana dan prasarana yang terkena dampak
bencana 3 (tga) lembar
v. Dafar 1 Sekolah yang dikelola pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat yang sudah dilaporkan resmi oleh pimpinan Sekolah kepada
Dinas Pendidikan
b. UPTD SMA-SMK dari setap kecamatan bersama-sama menyusun Rekapitulasi
untuk jenjang SMA (Formulir A-2d), SMK (Formulir A-2e) yang berdasarkan
nomor Berita Acara penyerahan Formulir A-1a dan kelengkapannya:
i. Formulir A-2d dan Formulir A-2e yang ditandatangani dan dicap oleh
UPTD terkait
ii. Berita Acara Penyerahan Formulir A-1a yang ditandatangani Pimpinan
atau yang berhak mewakili 3(tga) lembar
iii. Formulir A-1b 3 (tga) lembar yang sudah diisi lengkap, ditandatangani
11
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n


P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 11 4/28/2010 10:56:09 PM
12
dan dicap Sekolah yang melaporkan
iv. Foto berwarna untuk setap sarana dan prasarana yang terkena dampak
bencana 3 (tga) lembar
v. Dafar 1 Sekolah yang dikelola pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat yang sudah dilaporkan resmi oleh pimpinan Sekolah kepada
Dinas Pendidikan
c. Rekapitulasi TK, SD, SMP, SMA, dan SMK yang sudah disusun dan
ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota disiapkan 4 (empat)
Lembar
i. Lembar ke-1 lengkap dengan lampirannya diserahkan kepada Bupat/
Walikota
ii. Lembar ke-2 lengkap dengan lampirannya disampaikan kepada Dinas
Pendidikan Provinsi
iii. Lembar Ke-3 lengkap dengan lampirannya untuk BPBD/Satlak Kabupaten/
Kota
iv. Lembar ke-4 lengkap dengan lampirannya untuk Dinas Pendidikan Kota/
kabupaten
7. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan pemutakhiran DAPODIK dan
berkoordinasi dengan BPBD/Satlak Kabupaten/Kota untuk menyalurkan
Bantuan pada tahap tanggap darurat berdasarkan informasi yang dikumpulkan
pada tahap penilaian cepat dalam upaya memenuhi standar minimum dalam
keadaan bencana.
8. Lembaga Bantuan kemanusiaan lokal maupun internasional diharapkan
berkoordinasi dengan BPBD/Satlak Kabupaten/Kota sebelum mengirimkan tm
penilaian cepat. Pemutakhiran data diharapkan dilakukan setdaknya setap
jam untuk mengantsipasi kebutuhan bantuan kemanusiaan agar pelayanan
pendidikan berjalan sesuai dengan standar minimum pendidikan dalam situasi
bencana.
9. Penyusunan Formulir A-3 di Dinas Pendidikan Provinsi
Dinas Pendidikan Provinsi menyusun Formulir A-3 sebagai rekapitulasi Formulir
A-2 berdasarkan Nomor Urut Berita Acara penyampaian Data setap jenjang
sekolah pasca bencana dari Kabupaten/Kota lengkap dengan lampiran-
lampirannya selambat-lambatnya 14 X 24 jam pasca bencana.
a. Lembar ke- 1 lengkap dengan lampirannya diserahkan kepada Gubernur
b. Lembar ke-2 lengkap dengan lampirannya disampaikan kepada
Kemendiknas
c. Lembar ke-3 lengkap dengan lampirannya untuk BPBD/Satkorlak Provinsi
d. Lembar ke-4 lengkap dengan lampirannya untuk Dinas Pendidikan Provinsi
P
e
n
d
a
h
u
l
u
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 12 4/28/2010 10:56:09 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
13
10. Dinas Pendidikan Provinsi :
Dinas Pendidikan Provinsi melakukan koordinasi pemutakhiran data kerusakan
dan kerugian untuk setap jenjang sekolah pasca bencana dari seluruh
kabupaten/kota yang terkena dampak bencana bersama dinas pendidikan
kabupaten/kota dan melaporkan Formulir A-3a kepada Gubernur. Informasi
yang dikumpulkan menjadi bahan rujukan BPBD/Satkorlak untuk menyalurkan
bantuan kemanusiaan yang diperlukan agar pelayanan pendidikan memenuhi
standar minimum dalam keadaan bencana di Provinsi tersebut.
11. Penyusunan Formulir A-4 di Kementerian Pendidikan Nasional
Kementerian Pendidikan Nasional menyusun formulir A-4a berdasarkan formulir
A-2 dari Dinas Pendidikan Kabupaten
a. Kementerian Pendidikan Nasional menyusun formulir A-4b berdasarkan
formulir A-3 dari Dinas Pendidikan Provinsi
b. Koordinasi Kemendiknas dengan BNPB
12. Selambat-lambatnya mulai 3X 24 jam pasca bencana Kemendiknas sudah
berkordinasi dengan BNPB dalam penyusunan Data kerusakan dan kerugian
Sekolah
Siapa yang melakukan penilaian cepat?
Tim Penilai merupakan pelaku internal yang diangkat oleh Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota untuk mengisi Formulir-1 A berdasarkan temuan langsung di sekolah
pasca bencana. Informasi yang diperoleh menjadi baseline data untuk bantuan yang
diperlukan sesuai standar minimum pendidikan dalam keadaan bencana.
Dalam hal pimpinan sekolah berhalangan, pendidik/tenaga kependidikan dapat
menggantkan pimpinan untuk mengesahkan Formulir A-1 ini.
a. UPTD terkait menggantkan Sekolah yang dikelola pemerintah dan pemerintah
daerah
b. Ketua Yayasan atau Perkumpulan atau yang berwenang mewakili sesuai AD/
ART menggantkan Sekolah yang dikelola masyarakat
Tahap Pemulihan Dini
Penilaian dalam tahap ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai kebutuhan
lokasi dan ruang sekolah sementara, desain konstruksi utama, dukungan kebutuhan
materi pendidikan, kebutuhan relawan guru, dan dukungan psikososial. Dukungan yang
diperoleh dalam penilaian ini diharapkan adanya penyediaan meliput; penyediaan
sekolah sementara, dukungan psikosoial bagi peserta didik dan pendidik, bantuan
material pendidikan, dan relawan guru.
Penilaian pemulihan dini meliput indikator yang terkait langsung dengan informasi
kerusakan bangunan, proses pembelajaran, fasilitas pendukung pendidikan, partsipasi
masyarakat, dan kebijakan koordinasi.
panduan pendidikan final - edit.indd 13 4/28/2010 10:56:09 PM
14
|ntruksl/Pelaporan
Koordlnasl
Level 8encana
1SFTJEFO
Gubernur
8P8D/SATKOPLAK
Dlnas Pendldlkan Proplnsl: Porm 8-2
8upatl/wallkota
Dlnas Pendldlkan Kabupaten/Kota: Porm 8-lb
UPTD/SMK
UPTD SMA/SMK dan UPTD TK-SD-SMP
1FOJMBJBO
Porm 8.l.a
Porm 8erlta Acara, foto
Mengumpulkan basls data dan lnformasl
Porm
%JOBT1FOEJEJLBO,BCVQBUFO,PUB 8SNP
8adan Akredltasl Sekolah
Perguruan Tlnggl
CSO/NGO/|NGO
8P8D/SATLAK Kabupaten/Kota
8NP8 Kemendlknas: Porm 8-3a, 8-3b
%JBHSBN"MJS1FOJMBJBO1FNVMJIBO%JOJ
-FWFM
#FODBOB/BTJPOBM
-FWFM
#FODBOB1SPWJOTJ
-FWFM#FODBOB
,BCVQBUFO,PUB
P
e
n
d
a
h
u
l
u
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 14 4/28/2010 10:56:16 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
15
Prosedur Operasional Standar Penilaian Pemulihan Dini
1. Data dan Informasi yang diperlukan
a. Formulir A beserta lampiran-lampiran yang sudah disahkan pejabat terkait
b. Data Pokok Pendidikan dari Jardiknas
c. Laporan situasi dan respon yang diperlukan di sektor pendidikan
d. Data monograf
2. Pirant yang diperlukan
a. Formulir B
b. Berita acara penyerahan formulir B
c. Rekapitulasi Formulir B
d. Berita acara penyerahan rekapitulasi formulir B
e. Alat tulis
3. Pengisian Formulir pada tahap Pemulihan dini
Formulir B pada tahap pemulihan dini disediakan sebagai berikut :
- Formulir B-1 Dinas Kabupaten/Kota
- Formulir B-1a : Formulir Penilaian Sekolah
- Formulir B-1b : Rekapitulasi Penilaian Sekolah
- Formulir B-2 Dinas Propinsi : Rekapitulasi dari Kabupaten
- Formulir B-3 Kemendiknas
- Formulir B-3a : Rekapitulasi di Kabupaten
- Formulir B-3b : Rekapitulasi di Propinsi
4. Penyerahan Formulir B-1
Penyerahan Formulir rekapitulasi B-1 yang sudah diisi lengkap dan ditandatangani
serta oleh pimpinan atau yang berhak mewakili UPTD Kecamatan setempat
kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dilaksanakan selambat-lambatnya
pada hari ke-21 setelah kejadian bencana.
Dengan menyertakan :
a. Berita Acara Penyerahan Formulir B-1 yang ditandatangani Pimpinan atau
yang berhak mewakili 3 (tga) lembar
b. Formulir B-1 sebanyak 3 (tga) lembar yang sudah diisi lengkap, ditandatangani
dan dicap sekolah yang melaporkan.
c. Foto berwarna untuk setap sarana dan prasarana yang terkena dampak
bencana 3 (tga) lembar
5. Pengesahan Berita Acara penyerahan Formulir B-1a
a. Pengesahan Berita Acara penyerahan Formulir B-1a yang sudah lengkap
dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan diberi nomor
sesuai dengan tanggal penyerahan Formulir B-1a.
1. Lembar ke-1 lengkap sebagai arsip dinas pendidikan Kabupaten/Kota
2. Lembar ke-2 disahkan kepada Dinas pendidikan Propinsi.
panduan pendidikan final - edit.indd 15 4/28/2010 10:56:16 PM
16
3. Lembar ke-3 lengkap diserahkan kepada Kementerian Pendidikan
Nasional
6. Penyusunan Rekapitulasi Formulir B-1b
Dinas pendidikan Kabupaten/Kota menyusun Rekapitulasi Formulir B-1b yang
berdasarkan nomor Berita Acara penyerahan Formulir B-1a dan kelengkapannya
dari UPTD kecamatan.
1. Formulir B-1b ditandatangani dan dicap oleh Dinas Kabupaten/Kota.
2. Berita Acara Penyerahan Formulir B-1b yang ditandatangani dan di cap
Pimpinan atau yang berhak mewakili 3 (tga) lembar
3. Foto berwarna untuk setap sarana dan prasarana yang terkena dampak
bencana 3 (tga) lembar
7. Penyerahan Rekapitulasi Formulir B-1b dan Formulir B-2
a. Penyerahan Rekapitulasi Formulir B-1b beserta lampirannya oleh Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota kepada Dinas Pendidikan provinsi dilaksanakan
selambat-lambatnya pada hari ke-25 setelah kejadian bencana..
Berita Acara Penyerahan Rekapitulasi B-1b lengkap dengan lampirannya
Lembar 3 (tga) dan disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
selambat-lambatnya pada hari ke-25 setelah terjadi bencana.
1. Lembar ke-1 lengkap dengan lampirannya diserahkan kepada Dinas
Pendidikan Provinsi.
2. Lembar ke-2 lengkap dengan lampirannya diserahkan kepada Kementerian
Pendidikan Nasional.
3. Lembar ke-3 lengkap dengan lampirannya disimpan sebagai arsip Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota.
b. Penyerahan Rekapitulasi Formulir B-2 beserta lampirannya oleh Dinas
Pendidikan Provinsi kepada Kementerian Pendidikan Nasional dilaksanakan
selambat-lambatnya pada hari ke-28 setelah kejadian bencana..
Berita Acara Penyerahan Rekapitulasi B-2 lengkap dengan lampirannya
disusun sebanyak 3 (tga) lembar dan disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan
Provinsi selambat-lambatnya pada hari ke-28 setelah terjadi bencana.
1. Lembar ke-1 lengkap dengan lampirannya diserahkan kepada
Kemendiknas.
2. Lembar ke-2 lengkap dengan lampirannya disimpan sebagai arsip Dinas
Pendidikan Provinsi.
8. Penyusunan dan Penyerahan Data
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menyusun data keseluruhan sekolah pasca
bencana secara bertahap berdasarkan Nomor Urut Berita Acara penyerahan
Rekapitulasi Pirant Penilaian Pendidikan lengkap dengan lampiran-lampirannya
selambat-lambatnya pada minggu ke 3 pasca bencana atau 2/3 masa tanggap
darurat yang telah ditetapkan oleh Bupat/Walikota berdasarkan usulan Badan
Penggulangan Bencana Daerah atau Satlak Kabupaten/Kota
P
e
n
d
a
h
u
l
u
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 16 4/28/2010 10:56:17 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
17
Data kerusakan dan kerugian sekolah pasca bencana ini meliput keenam
indikator tersebut dan disusun sebanyak 4 (empat) lembar
1. Lembar ke-1 lengkap dengan lampirannya diserahkan kepada Bupat/
Walikota
2. Lembar ke-2 lengkap dengan lampirannya disampaikan kepada Dinas
Pendidikan Provinsi
3. Lembar ke-3 lengkap dengan lampirannya untuk BPBD/Satlak Kabupaten/
Kota
4. Lembar ke-4 lengkap dengan lampirannya untuk Dinas Pendidikan Kota/
kabupaten
9. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan pemutakhiran DAPODIK dan
berkoordinasi dengan BPBD atau Satlak Kabupaten/Kota untuk menyalurkan
bantuan yang diperlukan agar pelayanan pendidikan memenuhi standar
minimum dalam keadaan bencana.
10. Lembaga Bantuan kemanusiaan lokal maupun internasional diharapkan
berkoordinasi dengan BPBD atau Satlak Kabupaten/Kota sebelum mengirimkan
tm pemulihan dini. Pemutakhiran data diharapkan dilakukan setdaknya setap
jam untuk mengantsipasi kebutuhan bantuan agar pelayanan pendidikan
berjalan sesuai dengan standar minimum pendidikan dalam situasi bencana.
11. Penyusunan dan Penyerahan Rekapitulasi Data Sekolah Pasca Bencana
Dinas Pendidikan Provinsi berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/
Kota untuk menyusun rekapitulasi data sekolah pasca bencana secara bertahap
berdasarkan Nomor Urut Berita Acara penyampaian Data SekolahPasca
Bencana di Kabupaten/Kota lengkap dengan lampiran-lampirannya selambat-
lambatnya pada hari ke-28 setelah terjadi bencana.
Rekapitulasi Data kerusakan dan kerugian Sekolahpasca bencana ini meliput
keenam indikator tersebut dan disusun 4 (empat) lembar
1. Lembar ke-1 lengkap dengan lampirannya diserahkan kepada Gubernur
2. Lembar ke-2 lengkap dengan lampirannya untuk BPBD/Satkorlak Provinsi
3. Lembar ke-3 lengkap dengan lampirannya untuk Dinas Pendidikan Provinsi
4. Lembar ke-4 lengkap dengan lampirannya disampaikan kepada
Kemendiknas
12. Dinas Pendidikan Provinsi :
Koordinasi pemutakhiran rekapitulasi data kerusakan dan kerugian sekolah
paska bencana di tngkat kota/kabupaten dengan dinas pendidikan kota/
kabupaten dan Gubernur untuk menyalurkan bantuan yang diperlukan agar
pelayanan pendidikan memenuhi standar minimum dalam keadaan bencana.
Koordinasi penyusunan data kerusakan dan kerugian sekolah pasca bencana
di tngkat provinsi berdasarkan lembar ke-2 lengkap beserta lampirannya yang
diterima dari Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten
13. Kemendiknas :
1. Koordinasi pemutakhiran data kerusakan dan kerugian sekolah pasca
bencana di tngkat kota/kabupaten dengan dinas pendidikan kota/kabupaten,
panduan pendidikan final - edit.indd 17 4/28/2010 10:56:17 PM
18
BPBD kota/kabupaten untuk menyalurkan Penilaian Cepat yang diperlukan
agar pelayanan pendidikan memenuhi standar minimum dalam keadaan
bencana.
2. Kordinasi penyusunan data kerusakan dan kerugian Sekolah pasca bencana di
tngkat provinsi berdasarkan Rekapitulasi Data II lengkap beserta lampirannya
yang diterima dari Dinas Pendidikan Provinsi
3. Kordinasi penyusunan Data Kerusakan dan kerugian Sekolah pasca bencana di
tngkat nasional berdasarkan pemutakhiran data dari Bupat/Walikota, Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, BPBD kabupaten/
Kota, dan Gubernur
14. Koordinasi Kemendiknas dengan BNPB
Selambat-lambatnya pada hari ke-28 setelah kejadian bencana, Kemendiknas
sudah berkordinasi dengan BNPB dalam penyusunan Data kerusakan dan
kerugian sekolah.
Siapa yang melakukan penilaian pendidikan pada tahap pemulihan dini?
Pimpinan sekolah dibantu UPTD Kecamatan (Formulir B) merupakan pelaku utama
dalam melakukan penilaian dan mengesahkan Formulir B-1 untuk menyusun
baseline data agar bantuan yang diperlukan selama menunggu proses pemulihan
dini sepenuhnya dapat diberikan sesuai standar minimum pendidikan yang berlaku
di Indonesia. Pirant penilaian dan SOP pada tahap ini juga ditujukan kepada Dinas
Kabupaten (Formulir B-1b), Dinas Provinsi (Formulir B-2), Kementerian Pendidikan
Nasional (B-3) dalam melakukan rekapitulasi data.
Dalam hal ini pengisian formulir hanya dapat diberikan oleh pihak sesuai kewenangan
yang dimiliki dalam lembaganya.
Tahap Rehabilitasi Dan Rekonstruksi
Pada tahap ini, Badan Penanggulangan Bencana menyiapkan tm verifkasi data
1. Bencana kota/kabupaten, BPBD atau Satlak Kota/Kabupaten berkordinasi
dengan Dinas Pendidikan kota/kabupaten serta Perguruan Tinggi di kabupaten/
kota tersebut untuk menyiapkan tm verifkasi data sesuai peraturan daerah
yang berlaku
2. Bencana provinsi, BPBD atau Satkorlak Provinsi berkordinasi dengan Dinas
Pendidikan Provinsi serta Perguruan Tinggi di Provinsi tersebut untuk
menyiapkan tm verifkasi data sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan
yang berlaku.
3. Bencana nasional, BNPB berkordinasi dengan Kemendiknas dan Perguruan
Tinggi menyiapkan tm verifkasi data sesuai dengan Peraturan Perundang-
undangan yang berlaku
P
e
n
d
a
h
u
l
u
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 18 4/28/2010 10:56:17 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
19
Tim verifkasi data bekerja secara mandiri untuk melakukan inventarisasi kerusakan
dan kerugian berdasarkan Data Sekolah yang diterbitkan oleh Bupat/Walikota serta
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
Formulir C ini bertujuan untuk melakukan penilaian berdasarkan Kebutuhan,
kerusakan dan kehilangan di sektor pendidikan khususnya di TK, SD, SMP, SMA, dan
SMK.
Prosedur Operasional Standar Penilaian Tahap Rehabilitasi dan
Rekonstruksi
1. Data dan Informasi yang diperlukan
a. Formulir C beserta lampiran-lampiran yang sudah disahkan pejabat terkait.
b. Data Pokok Pendidikan dari Jardiknas.
c. Laporan situasi yang diperlukan di sertor pendidikan.
2. Pirant yang diperlukan
a. Formulir C
b. Berita acara penyerahan formulir C
c. Rekapitulasi Formulir C
d. Berita acara penyerahan rekapitulasi formulir C
e. alat tulis
3. Pengisian Formulir pada tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Formulir C pada tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi disediakan sebagai berikut
:
 Formulir C-1 Penilaian Kebutuhan, Kerusakan dan Kehilangan di TK, SD, SMP,
SMA, dan SMK
 Formulir C-2 Rekapitulasi Penilaian Kebutuhan, Kerusakan dan Kehilangan di
TK, SD, SMP, SMA dan SMK
4. Penyerahan Formulir C
Penyerahan Rekapitulasi Formulir C yang sudah diisi lengkap dan ditandatangani
serta di cap oleh pimpinan atau yang berhak mewakili UPTD Kecamatan
setempat kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dilaksanakan selambat-
lambatnya pada hari ke-60 setelah kejadian bencana.
a. Pengesahan berita acara penyerahan formulir C
b. Penyusunan Rekapitulasi formulir C
c. Penyerahan rekapitulasi formulir C
d. Penyusunan dan penyerahan data
5. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan pemutahiran DAPODIK dan
berkoordinasi dengan BPBD atau Satlak Kabupaten /Kota untuk menyalurkan
informasi mengenai langkah-langkah dan upaya dalam pelaksanaan rehabilitasi
dan rekonstruksi sekolah.
6. Pengesahan berita acara penyerahan formulir C-1
Pengesahan berita acara penyerahan formulir C-1 dan lampiran yang sudah
panduan pendidikan final - edit.indd 19 4/28/2010 10:56:17 PM
20
lengkap dilaksanakan oleh Tim Verifkasi dan diberi nomor sesuai dengan
tanggal penyerahan Formulir C-1.
a.Lembar ke-1 lengkap diserahkan kembali ke sekolah sebagai arsip
b.Lembar ke-2 lengkap diserahkan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota
c.Lembar ke-3 lengkap diserahkan untuk arsip Tim Verifkasi
7. Penyusunan Formulir C-2 Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
UPTD dari setap kecamatan bersama-sama menyusun rekapitulasi berdasarkan
nomor berita acara penyerahan formulr C-1 dan kelengkapannya.
a. Formulir C-2 yang ditandatangani dan dicap oleh Dinas Pendidikan.
b. Berita acara penyerahan formulir C-1 yang ditandatanganiTim dan Komite
Sekolah atau yang berhak mewakili sebanyak 3 (tga) lembar.
c. Formulir C-1 sebanyak 3 (tga) lembar yang sudah diisi lengkap,
ditandatangani dan dicap sekolah yang diverifkasi.
d. Foto berwarna untuk setap sarana dan prasarana, yang menunjukkan
kondisi terbaru.
e. Dafar 1 sekolah yang dikelola pemerintah , daerah, dan
masyarakat yang sudah dilaporkan resmi oleh pimpinan sekolah
kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.

8. Dinas pendidikan kabupaten/kota melakukan pemutakhiran DAPODIK dan
berkoordinasi dengan BPBD atau Saktlak Kabupaten/Kota untuk menyalurkan
bantuan pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan informasi yang
dikumpulkan.
9. Lembaga Bantuan kemanusiaan lokal, nasional maupun internasional diharapkan
berkoordinasi dengan BPBD atau Satlak Kabupaten/Kota dalam memberikan
informasi mengenai langkah-langkah dalam memasuki tahap rehabilitasi dan
rekonstruksi.
Siapa yang melakukan penilaian pendidikan pada tahap rehabilitasi
dan rekonstruksi ?
Dinas Pendidikan Kabupaten (Formulir C) merupakan pelaku utama dalam
melakukan penilaian dan mengesahkan Formulir C untuk melakukan verifkasi
dalam penilaian kerusakan dan kehilangan akibat bencana.
Dalam hal ini pengisian formulir hanya dapat diberikan oleh pihak sesuai
kewenangan yang dimiliki di dalam lembaganya.
panduan pendidikan final - edit.indd 20 4/28/2010 10:56:18 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
21
1SFTJEFO
Gubernur
8P8D/SATKOPLAK
Dlnas Pendldlkan Proplnsl
8upatl/wallkota
Dlnas Pendldlkan Kabupaten/Kota: Porm C-2
UPTD /SMK
Tlm verlñkasl
1FOJMBJBO
Porm C-l,
Porm 8erlta Acara, foto
Mengumpulkan basls data dan lnformasl
Porm
%JOBT1FOEJEJLBO,BCVQBUFO,PUB 8SNP
8adan Akredltasl Sekolah
Perguruan Tlnggl
CSO/NGO/|NGO
8P8D/SATLAK Kabupaten/Kota
8NP8 Kemendlknas: Porm 8-3a, 8-3b
-FWFM
#FODBOB/BTJPOBM
-FWFM
#FODBOB1SPWJOTJ
-FWFM#FODBOB
,BCVQBUFO,PUB
%JBHSBN"MJS3FIBCJMJUBTJEBOSFLPOTUSVLTJ
|ntruksl/Pelaporan
Koordlnasl
Level 8encana
panduan pendidikan final - edit.indd 21 4/28/2010 10:56:24 PM
22
panduan pendidikan final - edit.indd 22 4/28/2010 10:56:24 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
23
A. ORGANISASI PENANGGULANGAN BENCANA DITJEN MANDIKDASMEN
Struktur Organisasi adalah salah satu alert yang digunakan untuk dapat melaksanakan
seluruh rangkaian kegiatan Penanggulangan Bencana Bidang Pendidikan untuk
mencapai maksud, tujuan dan sasaran sesuai visi, misi dan program yang telah
ditetapkan.
Struktur Organisasi ini dibentuk secara berjenjang baik di tngkat Pusat (Pos Komando/
Posko), Provinsi (Satkorlak/ Satuan Koordinasi Pelaksana) dan Kabupaten/Kota (Satlak/
Satuan Pelaksana). Prinsip dari Struktur Organisasi adalah terdiri atas dua unit utama,
yaitu:
Unit yang pertama berfungsi sebagai unit koordinasi dan pengarah yang berhubungan
antara semua jenjang Pemerintahan Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota baik pada
sektor Pendidikan maupun instansi terkait dengan penanggulangan bencana
Unit yang kedua adalah Unit Operasional di setap Direktorat Jenderal untuk
penanggulangan bencana bidang pendidikan.
Secara umum berikut adalah gambaran organisasi Penanggulangan Bencana Bidang
Pendidikan di lingkungan Ditjen Mandikdasmen dan hubungannya dengan berbagai
instansi terkait.
Organisasi penanggulangan bencana bidang pendidikan di lingkungan Ditjen
Mandikdasmen adalah sebagai berikut:
Penanggung Jawab : Ditjen Mandikdasmen
Ketua : Sekretaris Dirjen Mandikdasmen
Wakil Ketua : Direktur Pembinaan TK SD
Direktur Pembinaan SMP
Direktur Pembinaan SMA
Direktur Pembinaan SMK
Direktur Pembinaan SLB
MANAJEMEN PENANGGULANGAN
PENDIDIKAN DI WILAYAH BENCANA
*)
*) disalin dari Panduan Penanggulangan Bencana Bidang Pendidikan, Depdiknas, 2009
panduan pendidikan final - edit.indd 23 4/28/2010 10:56:24 PM
24
M
a
n
a
j
e
m
e
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
i

W
i
l
a
y
a
h

B
e
n
c
a
n
a
Sekretaris : Kepala Bagian Perencanaan
Wakil Sekretaris : Kepala Bagian Umum
Kepala Bagian Keuangan
Kepala Bagian Tatalaksana dan Kepegawaian
Anggota : Kepala Subdirektorat pada masing-masing
Direktorat dan Kepala Subbagian di lingkungan
Sekretariat Direktorat Jenderal
B. FUNGSI, PERANAN DAN TANGGUNGJAWAB DITJEN MANDIKDASMEN
DALAM PENANGGULANGAN PENDIDIKAN DI WILAYAH BENCANA
Manajemen dan Organisasi Ditjen Mandikdasmen dibangun berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan. Nasional Nomor Republik Indonesia
Nomor 25 Tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di lingkungan Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah yang menganut prinsip-prinsip
desentralisasi dan pernberdayaan masyarakat, mengedepankan sifat koordinatf
namun tetap menjaga aspek hirarkis vertkal dan horizontal. Prinsip ini bertujuan
untuk mampu mengoperasionalisasikan program secara sistemats, efsien, dan efektf
serta senantiasa tetap berada di dalam kerangka ketentuan dan aturan yang
disepakat bersama.
Dalam melakukan penanganan sekolah di wilayah bencana, Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah mempunyai tugas merumuskan kebijakan dan
standarisasi penanggulangan pendidikan akibat bencana di lingkungan pendidikan
dasar dan menengah.
Fungsi Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah dalam
penanggulangan bencana di lingkungan pendidikan dasar dan menengah adalah
sebagai berikut :
1. Penyiapan perumusan kebijakan penanggulangan pendidikan akibat bencana di
lingkungan pendidikan dasar dan menengah
2. Penyusunan standar, pedoman, dan prosedur penanggulangan pendidikan akibat bencana
di lingkungan pendidikan dasar dan menengah
3. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi penanggulangan pendidikan akibat
bencana di lingkungan pendidikan dasar dan menengah
Untuk mencapai maksud, tujuan, dan sasaran yang mengacu pada pencapaian indikator
keberhasilan, diterapkan sistem kerja di lingkungan Ditjen Mandikdasmen dengan prinsip-prinsip
kerja sebagai berikut:
- Sistemats, transparansi, efsien, dan efektf;
- Koordinatf dan hirarkis - vertkal dan horizontal;
M
a
n
a
j
e
m
e
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
i

W
i
l
a
y
a
h

B
e
n
c
a
n
a
25
panduan pendidikan final - edit.indd 24 4/28/2010 10:56:25 PM
- Sesuai ketentuan dan aturan yang disepakat;
- Desentralisasi dan pemberdayaan masyarakat
C. MEKANISME KERJA PENANGGULANGAN PENDIDIKAN DI WILAYAH
BENCANA
Mekanisme pelaksanaan Penanganan Sekolah Di Wilayah Bencana secara garis besar
meliput hal-hal berikut:
1. Koordinasi
Koordinasi dilaksanakan dalam setap tahun Anggaran melalui berbagai pertemuan,
yaitu:
a. Koordinasi tngkat Nasional dilaksanakan pada tahapan persiapan/awal kegiatan di
setiap akhir tahun anggaran yang bertujuan untuk membedah mengenai
kebijakan Penanganan Bencana Alam (yang telah ada pada Rencana Strategis
Departemen Pendidikan Nasional /Renstra Depdiknas dan Rencana Program
Jangka Menengah/RPJM Sektor Pendidikanj terhadap rencana Implementasi
yang akan dioperasionalkan oleh masing-masing Direktorat Jenderal, menggali
dan menyamakan persepsi dan pemahaman, usulan/masukan, pelaporan
hasil pelaksanaan yang dicapai tahun sebelumnya, alokasi pendanaan pada tahun
anggaran dan konsep rencana penganggaran kemudian.
b. Pada pelaksanaan Koordinasi nasional dihadiri oleh: Unit Operasional setap
Direktorat Jenderal, Ketua Tim Satkorlak Dinas pendidikan Provinsi yang terkena
Bencana Alam dan Ketua Satlak Kabupaten/Kota yang terkena Bencana Alam
c. Koordinasi di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Koordinasi ini dilakukan
secara berkala dan sesuai dengan jadwal Menteri Pendidikan Nasional. Koordinasi ini
berfungsi sebagai sarana untuk pelaporan seluruh pelaksanaan kegiatan Unit
Kerja Departemen Pendidikan Nasional (tdak terbatas kepada Penanganan
Sekolah di Wialayah Bencana Alam saja).
d. Koordinasi Unit Operasional Direktorat Jenderal untuk “Penanganan Sekolah Di
Wilayah Bencana Alam” dilaksanakan pada periode setap bulan untuk mendiskusikan
mengenai hasil pengumpulan data mutakhir, sasaran yang sudah dilakukan, kemajuan
pelaksanaan kegiatan, rencana kerja selanjutnya.
e. Pada pelaksanaan Koordinasi ini khususnya pada Direktorat Jenderal Mandikdasmen
dihadiri oleh: Direktur Jenderal, Sekretaris Direktur Jenderal, Direktur Pembinaan
di lingkungan Dirjen Mandikdasmen Kepala Bagian di lingkungan Sekretariat
Ditjen Mandikdasmen, Unit Operasional Penanganan Bencana Alam, dan Penanggung
Jawab Kegiatan terkait penanggulangan bencana bidang pendidikan di lingkungan Ditjen
Mandikdasmen.
f. Koordinasi ini berlaku untuk semua Direktorat Jenderal lainnya.
g. Pada waktu tertentu pada koordinasi ini dapat juga mengundang Donor/
sumber dana non-pemerintah sebagai uji silang informasi.
25
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n


P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 25 4/28/2010 10:56:25 PM
26
M
a
n
a
j
e
m
e
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
i

W
i
l
a
y
a
h

B
e
n
c
a
n
a
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
27
h. Koordinasi di tngkat Provinsi, dipimpin oleh Ketua Pos Komando. Koordinasi
dilakukan secara berkala, berfungsi sebagai sarana koordinasi antara Posko termasuk
Unit Operasional seluruh Direktorat Jenderal di lingkungan Depdiknas, Tim
Satkorlak Dinas Pendidikan Provinsi, Tim Satlak Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota
yang terkena Bencana Alam, dan Donor/ sumber dana non-pemerintah. Koordinasi
ini bertujuan untuk melakukan evaluasi data, laporan dafar sekolah yang telah
menerima bantuan dan berbagai sumber dana (adanya dafar sekolah lengkap
dengan jumlah bantuan dan sumber dananya) serta kemajuan pelaksanaannya,
menggali pendapat donor, laporan dafar sekolah rusak yang belum didanai, rencana
kegiatan selanjutnya, kendala/masalah dan hal yang perlu dilakukan.
j. Pada pelaksanaan Koordinasi ini dihadiri oleh Pos Komando, Satkorlak Dinas
Pendidikan Provinsi, Satlak Dinas Pendidikan Kab. /Kota, Unit Operasional
Penanganan Bencana Alam setap Direktorat Jenderal dan Donor/sumber dana Non
Pemerintah.
2. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahap penjabaran visi, misi, maksud, tujuan dan sasaran
ke dalam bentuk program dan rencana kegiatan yang di dalamnya termasuk
persoalan pengaturan sumber daya (pengorganisasian), meliput 4 aspek pokok
yaitu:
a. Administrasi, menyangkut persiapan dokumen-dokumen dan hal-hal yang
berhubungan dengan aspek legalitas penyelenggaraan dan manajemen
penanganan sekolah di wilayah bencana
b. Pemetaan Sekolah (dilakukan secara kajian cepat/rapid assesment) di wilayah
bencana yang meliput pengumpulan data, analisis data dan rancangan
kebutuhan
c. Teknis pelaksanaan program, kegiatan, dan waktu (penjadwalan)
d. Perencanaan keuangan (financial plan)
Tahap perencanaan secara umum melibatkan seluruh tngkatan organisasi Pos
Komando tngkat Pusat, unit Operasional pada setap Direktur Jenderal, Satkorlak
tingkat Provinsi, dan Satlak tingkat Kabupaten/Kota, dengan gambaran sebagai
berikut:
a. Pengurusan Dokumen Administrasi yang menyangkut persiapan
dokumen-dokumen dan hal-hal yang berhubungan dengan aspek
legalitas penyelenggaraan dan manajemen penanganan sekolah di wilayah
bencana, yang terdiri dari:
- Surat Keputusan Unit Operasional di setap Direktorat Jenderal
- Ketentuan kerja sama antara Departemen Pendidikan Nasional dengan pihak
Donor, Sumber Dana Non-Pemerintah yang ditandatangani oleh Menteri
Pendidikan Nasional. Ketentuan meliput Prosedur penetapan sekolah yang
mendapat bantuan, informasi formal mengenai jenis bantuan, jumlah
bantuan dan perkiraan dana, pemenuhan terhadap ketentuan baku mutu
sekolah dan kekuatan konstruksi tahan gempa
panduan pendidikan final - edit.indd 26 4/28/2010 10:56:25 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
27
- Memorandum of Understanding (MOU) antara Pemerintah dengan pihak
Donor/ Sumber Dana Non Pemerintah
b. Pemetaan Sekolah (dilakukan secara kajian Cepat/Rapid Assesment) di wilayah
Bencana Alam yang meliput pengumpulan data, analisis data dan rancangan
kebutuhan.
Rapid Assesment adalah berupa data sekolah di wilayah bencana pada
kondisi sebelum dan sesudah bencana alam terjadi. Kumpulan data ini akan
di anal i si s sampai dengan di hasi l kannya suatu rancangan kebutuhan.
Rapid Assesment dilakukan oleh Tim Pendataan yang merupakan
kerjasama Posko dengan Satkorlak dan Satlak (termasuk informasi langsung
dan sekolah yang terkena bencana alam).
Rapi d Assesment merupakan tanggung j awab Uni t Operasi onal
penanggulangan bencana bidang pendidikan.
- Teknis pelaksanaan program, kegiatan, dan waktu (penjadwalan),
merupakan langkah lanjut dari hasil Rapid Assesment. Kegiatan ini akan
meliput:
Perencanaan program akan diklasifkasikan pada 3 jenis kegiatan, yaitu:
- Pengadaan sarana belajar/ruang belajar untuk keberlangsungan
Kegiatan Belajar Mengajar
- Bantuan baju seragam dan peralatan belajar
- Bantuan tenaga Guru (apabila diperlukan)
- Bantuan untuk Trauma Councelling
- Perencanaan program “Penanganan Sekolah di Wilayah Bencana” yang
didasarkan pada hasil rancangan program yang diperoleh dari Rapid
Assesment dan perkiraan lamanya waktu penyelesaian.
- Perencanaan jenis kegiatan terhadap waktu yang diperlukan untuk setap
tahun dalam batasan periode penyelesaian
Tahap Perencanaan ini merupakan tanggung jawab Ketua Unit
Operasional dengan melibatkan Penanggung Jawab Kegiatan yang terkait
dengan Penanggulangan Bencana Bidang Pendidikan
d. Perencanaan Keuangan (Financial Plan), terkait erat dengan tga aspek lain
tersebut di atas dan permasalahan penganggaran (budgetng)
3. Pelaksanaan Penanggulangan Pendidikan di Wilayah Bencana
Tahap Pelaksanaan dibagi atas 3 jenis kegiatan:
a. Kegiatan darurat yang dilaksanakan pada waktu bencana alam terjadi dan
pasca bencana alam, tetapi masih bersifat kegiatan sementara untuk
membantu meringankan penderitaan dan menghidupkan kembali kegiatan
rutinitas. Pada kondisi dana tersedia secara cukup, dapat langsung
dilakukan kegiatan rehabilitasi, adapun kegiatan darurat hanya merupakan
pekerjaan sementara/temporary work.
panduan pendidikan final - edit.indd 27 4/28/2010 10:56:26 PM
28
M
a
n
a
j
e
m
e
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
i

W
i
l
a
y
a
h

B
e
n
c
a
n
a
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
29
b. Kegiatan rehabilitasi yang dilaksanakan pada pasca bencana alam
merupakan kegiatan pemulihan secara bertahap
c. Kegiatan rekonstruksi yang dilaksanakan pada pasca bencana alam
merupakan kegiatan pemulihan seluruh sarana/ prasarana yang ada.
Kegiatan Rekonstruksi ini merupakan kesinambungan dan kegiatan
rehabilitasi.
Perlu menjadi pemahaman bersama bahwa masing-masing kegiatan tersebut
bukan merupakan kegiatan yang terpisah tahapannya tetapi merupakan
proses kegiatan yang saling mendukung dan dapat direncanakan dalam
periode waktu yang bersamaan.
4. Monitoring, Evaluasi, dan Rekomendasi
a. Salah satu mata rantai manajemen penanggulangan pendidikan di wilayah
bencana yang pentng adalah monitoring dan evaluasi.
b. Fungsi utama monitoring dan evaluasi pada dasarnya adalah sebagai “pemberi
peringatan dini” dan “Project Internal Evaluator” guna memberikan
dukungan terhadap pengendalian dan penyempurnaan ki nerj a, peni l ai an
sel uruh rangkai an kegi atan dal am rangka pencapaian maksud, tujuan
dan sasaran kegiatan baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan ataupun
pencapaian hasil kegiatan sesuai dengan ketentuan, peraturan dan indikator
yang berlaku
c. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan sepanjang perjalanan secara
berkala dan pada akhir tahun kegiatan.
d. Untuk mengukur terjadinya kesesuian pelaksanaan dengan peraturan yang
berlaku, kegiatan monitoring dan evaluasi ini dilengkapi dengan Indikator
Penilaian.
e. Hasil kajian monitoring dan evaluasi disampaikan sesegera mungkin kepada
pihak yang berwenang diperlukan untuk menginformasikan mengenai kesesuaian/
ketdaksesuaian pelaksanaan kegiatan terhadap kesepakatan, ketentuan,
peraturan dan indikator yang berlaku, dan menjadi rekomendasi untuk
pelaksanaan selanjutnya.
D. PROSEDUR PENYALURAN BANTUAN BENCANA
Mengingat penanggulangan pendidikan di wilayah bencana merupakan
kepentingan nasional, seluruh aspek kegiatan dari berbagai sumber dana
(Pemerintah dan Non-Pemerintah) harus dapat dikoordinasikan secara nasional
melalui Ketentuan/ Prosedur sebagai berikut:
1. Seluruh sumber dana (Pemerintah dan Non Pemerintah) dan jenis bantuan
harus terkoordinasi secara nasional
2. Penetapan sekol ah peneri ma bantuan dan berbagai sumber dana
(Pemerintah dan Non Pemerintah) harus dikoordinasikan secara nasional,
meskipun koordinasi awal dan rutin dapat dilakukan pada tingkat
Pemerintah Daerah
panduan pendidikan final - edit.indd 28 4/28/2010 10:56:26 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
29
3. Seluruh sumber dana (Pemerintah dan Non Pemerintah) harus memenuhi
ketentuan pada Petunjuk Pelaksanaan
4. Petunjuk Teknis Penanggulangan Pendidikan di wilayah bencana
dari berbagai sumber dana (Pemerintah dan Non Pemerintah) harus
mengikuti seluruh ketentuan pada ,Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan
Pendidikan di Wilayah Bencana
5. Sistem pendataan harus dapat dikonsolidasikan secara nasional baik
dari awal penanganan maupun pada tahap proses penanganan
6. Seluruh pihak dari berbagai sumber dana (Pemerintah dan Non Pemerintah)
hares mengikuti koordinasi berkala yang diselenggarakan di tingkat Provinsi
serta memberi kan l aporan tertul i s terkai t proses pel aksanaan
serta masukan guna kelengkapan data informasi dan perbaikan tahap
selanjutnya
7. Seluruh jenjang Pemerintahan (Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat) harus
mel akukan si stem konsol i dasi pel aporan yang di sampai kan secara
berjenjang sampai dengan adanya konsolidasi nasional Penanggulangan
Pendidikan di wilayah bencana. Konsolidasi merupakan informasi secara
komprehensif termasuk aspek berbagai sumber dana (Pemerintah/
Non Pemerintah)
Sebagai kelengkapan ketentuan/prosedur di atas, berikut disampaikan
Alur Kerja Penanggulangan Pendidikan di wilayah bencana
E. SISTEM PELAPORAN
Pendanaan penanggulangan pendidikan di wilayah bencana umumnya
berasal dan berbagai sumber dana, yaitu: APBN, Dekonsentrasi, APBD
I, APBD II, Bantuan Asing (Donor Asing) dan Bantuan Dari Non Pemerintah/
Lembaga Non Pemerintah dalam negeri. Seluruh pendanaan/bantuan yang
Pelaksanaan
Monitoring dan Evaluasi
Pada akhir Tahun
Pemetaan Sekolah /
Up-dating (Pendataan,
analisis dan rancangankebutuhan)
Perencanaan/review perencanaan
Koordinasi Tingkat
Nasional
Koordinasi
rutin dan
berkala
Monitoring
berkala
Gambar 4.1 Alur Kerja Benanggulangan Bencana Bidang Pendidikan
panduan pendidikan final - edit.indd 29 4/28/2010 10:56:29 PM
30
M
a
n
a
j
e
m
e
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
i

W
i
l
a
y
a
h

B
e
n
c
a
n
a
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
31
diberikan kepada sekol ah korban bencana, bai k pada ti ndakan darurat,
rehabi l i tasi dan rekonstruksi perlu dilaporkan secara berjenjang dari mulai
tingkat Sekolah, Kabupaten/Kota, Provi nsi , sampai dengan ti ngkat Pusat.
Dengan si stem pelaporan yang berjenjang diharapkan seluruh informasi
penanggulangan pendi di kan di wi l ayah bencana dapat terj ari ng secara
l engkap sehi ngga perhi tungan pendanaan dan kebutuhan dana tahun
sel anj utnya dapat dianalisis lebih akurat.
Pada Gambar di bawah i ni di j el as kan al ur penyampai an l apor an
penanggulangan pendidikan di wilayah bencana di lingkungan Direktorat
Jenderal Manaj emen Pendi di kan Dasar dan Menengah (berl aku untuk
Direktorat Jenderal lainnya di lingkungan Depdiknas) yang perlu dipatuhi oleh
seluruh tingkatan pelaksana.
Ruang lingkup pelaporan Penanggulangan Pendidikan di Wilayah Bencana secara
berjenjang mulai dari tingkat Sekolah, Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Pusat
dapat dijelaskan pada tabel berikut :
DIRJEN MANDIKDASMEN
Sekertariat Ditjen
Mandikdasmen
Direktorat di lingkungan
Ditjen mandikadasmen
Dinas Pendidikan
Provinsi
SEKERTARIS JENDERAL
MENDIKNAS
Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota
Tingkat Sekolah
Gambar 4.2 Alur Penyampaian Laporan
Penanggulangan Pendidikan di Wilayah Bencana
panduan pendidikan final - edit.indd 30 4/28/2010 10:56:31 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
31
Jenjang
Penyusunan
Laporan
Periode
Pelaporan
Penyampaian
Laporan
isi Laporan
Sekolah
Kabupaten/
Kota
Bulanan
Bulanan
- 1enls bantuan, sumber
dana dan besaran dana
yang diberikan
- 1adwal pelaksanaan
kegiatan
- Progres ñslk pelaksanaan
- Kendala dan Permasalah-
an
Merupakan laporan
konsolidasi sekolah
penerima bantuan
bencana tlngkat Kab/Kota,
dengan lingkup
pelaporan:
- Nama sekolah, alarnat,
[enls bantuan, sumber
dana dan besaran dana
yang diberikan
- 1adwal pelaksanaan
kegiatan
- Progres ñslk pelaksanaan
- Kendala
dan permasalahan
- Dokumentasl
Pelaksanaan
Penjelasan dari pelaporan
dlkelompokkan berdasar-
kan jenis bantuan dan
sumber dana.
Dlsampalkan ke :
Dlnas Pendldlkan
Kabupaten/Kota
Dlsampalkan ke :
- Dlnas Pendldlkan
Provinsi
- Penanggung 1awab
Kegiatan di Tingkat
Pusat (untuk kegiatan
yang langsung didanai
oleh Pusat) dan
tembusan ke Dlnas
Pendidikan Propinsi
Tabel 4.1 Sistem Pelaporan Penanggulangan Pendidikan di Wilayah Bencana
panduan pendidikan final - edit.indd 31 4/28/2010 10:56:32 PM
32
M
a
n
a
j
e
m
e
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
i

W
i
l
a
y
a
h

B
e
n
c
a
n
a
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
33 Jenjang
Penyusunan
Laporan
Periode
Pelaporan
Penyampaian
Laporan
isi Laporan
PUSAT :
- Sekretariat
(Penang-
gung
Jawab
Kegiatan
Bencana
Alam)
- Direktorat
Laporan
dari
masing-
masing
kegiatan
yang sasar-
annya ada
wilayah
bencana
Provinsi
t-BQPSBO
Konsolidasi
dari ber-
bagai sum-
ber dana
t-BQPSBO
khusus dari
sumber
dana
Sekretariat
Ditjen dan
Direktorat
2 Bulanan
2 Bulanan Merupakan laporan
konsolidasi sekolah
penerima bantuan
bencana tingkat Provinsi,
dengan lingkup
pelaporan :
t+FOJT#BOUVBOTVNCFS
dana dan besaran dana
yang diberikan
t+BEXBMQFMBLTBOBBO
kegiatan
t1SPHSFTöTJLQFMBLTBOBBO
t,FOEBMBEBO1FSNBTBMBI
an
t%PLVNFOUBTJ1FMBLTBOB
an
Penjelasan dari pelaporan
dikelompokkan berdasar-
kan jenis bantuan dan
sumber dana.
Merupakan laporan
konsolidasi penanggul-
angan pendidikan di
wilayah bencana, dengan
lingkup laporan :
t+FOJTCBOUVBOTVNCFS
dana dan besaran dana
yang diberikan
t+BEXBMQFMBLTBOBBO
kegiatan
t1SPHSFTöTJLQFMBLTBOBBO
t,FOEBMBEBO1FSNBTBMBI
an
t%PLVNFOUBTJ1FMBLTBOB
an
Penjelasan dari pelaporan
dikelompokkan berdasar-
kan jenis bantuan dan
sumber dana.
Disampaikan ke :
Direktur
Jenderal/ Sekretaris
Direktorat Jenderal
Disampaikan ke :
t4FLSFUBSJT%JSFLUPSBU
Jenderal (laporan
konsolidasi berbagai
sumber dana)
t1FOBOHHVOH+BXBC
Kegiatan terkait di
Sekretariat dan
Direktorat (untuk dana
yang dikelola langsung)
panduan pendidikan final - edit.indd 32 4/28/2010 10:56:32 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
33 Jenjang
Penyusunan
Laporan
Periode
Pelaporan
Penyampaian
Laporan
isi Laporan
3 Bulanan Disampaikan ke :
Sekretaris Jenderal
Depdiknas
Merupakan laporan
konsolidasi penang-
gulangan pendidikan di
wilayah bencana, dengan
lingkup laporan :
t+FOJTCBOUVBOTVNCFS
dana dan besaran dana
yang diberikan
t+BEXBMQFMBLTBOBBO
kegiatan
t1SPHSFTöTJLQFMBLTBOBBO
t,FOEBMBEBO1FSNBTBMBI
an
t%PLVNFOUBTJ1FMBLTBOB
an
Penjelasan dari pelaporan
dikelompokkan berdasar-
kan jenis bantuan dan
sumber dana.
Direktorat
Jenderal
panduan pendidikan final - edit.indd 33 4/28/2010 10:56:33 PM
34
M
a
n
a
j
e
m
e
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
i

W
i
l
a
y
a
h

B
e
n
c
a
n
a
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
35
\
panduan pendidikan final - edit.indd 34 4/28/2010 10:56:33 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
35
PENANGGULANGAN PENDIDIKAN
PASCA BENCANA
*)
A. PENJELASAN UMUM
Penanganan pendidikan pada saat terjadinya bencana (kegiatan darurat)
maupun pada tahap pemulihan (rehabilitasi clan rekonstruksi) dimaksudkan agar
proses belajar mengajar tetap dapat dilaksanakan meskipun bersifat darurat, yang
selanjutnya dapat ditata kembali sesuai kondisi semula bahkan lebih balk dari semula.
Pada kondisi darurat, yaitu pada saat kejadian bencana atau tepat setelah terjadinya
bencana, kegiatan lebih memfokuskan kepada kebutuhan prioritas dan krits yang
berkaitan dengan pemberian berbagai sarana darurat untuk sekolah maupun
kebutuhan-kebutuhan pokok untuk proses belajar mengajar pada kondisi darurat.
Pada proses lebih lanjut yaitu pada tahap pemulihan (rehabilitasi dan
rekonstruksi), seluruh kegiatan yang direncanakan terhadap proses ICBM lebih mengarah
kepada penataan secara permanen dari tujuan utama pembangunan pendidikan
dalam kerangka tiga pilar pembanguran pendidikan, yaitu peningkatan dan
perluasan akses, (ii) peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dan (iii) peningkatan
tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.
Untuk mendukung tujuan dari semua langkah pada penanganan sekolah di wilayah
bencana, perlu adanya ketersediaan dana sesuai kebutuhan dari berbagai
sumber (Pemerintah atau Non-Pemerintah) dan keberhasilan akan dicapai apabila
didukung oleh usaha dan keseriusan dari individu-individu/kelornpok yang
langsung terlibat pada program tersebut serta adanya partisipasi masyarakat. Dengan
kata lain, terbentuknya sinergi seluruh stakeholder Pemerintah (Pusat, Provinsi
dan Kabupaten/Kota) dengan masyarakat, organisasi masyarakat dan tokoh-tokoh
agama dalam melakukan usaha yang sejalan dengan konsep yang diberikan akan
sangat mendukung keberhasilan program ini.
Pada pelaksanaan tahap ini juga membutuhkan pengalaman-pengalaman dari sistem
yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga dapat dilakukan suatu langkah perbaikan
yang lebih jelas untuk mengarah kepada pencapaian target yang diharapkan. Secara
ringkas kegiatan pemulihan ini akan meliput: Rapid Assesment, koordinasi dengan
seluruh stakeholder di wilayah bencana, pengadaan/pemanfaatan sarana untuk
proses belajar mengajar, pengadaan sukarelawan, capacity building terhadap
komponen Pemerintah Daerah, pengelolaan masyarakat, guru bantu sementara/
guru kontrak pengadaan alat bantu belajar dan buku, pelatihan guru, trauma
konseling, remedial teaching, serta monitoring dan evaluasi.
Dan penjelasan tersebut, pada sub bab ini akan lebih memfokuskan kepada kegiatan
yang diperlukan sesuai konsep penanganan sekolah pada kondisi darurat,
rehabilitasi dan rekonstruksi, sepert yang dijelaskan pada Tabel berikut:
*) disalin dari Panduan Penanggulangan Bencana Bidang Pendidikan, Depdiknas, 2009
panduan pendidikan final - edit.indd 35 4/28/2010 10:56:33 PM
36
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
36
PENANGANAN
DARURAT :
Pada saat atau
tepat setelah
bencana alam
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Penjelasan
ringkas pada
Bab VI
Bersifat
penanganan
darurat untuk
mempertahankan
keberlangsungan
proses belajar
mengajar dalam
rangka memenuhi
akses belajar dan
mempertahankan
mutu
RAPID ASESSMENT :
Kegiatan pengum-
pulan data, analisis
dan rancangan
kebutuhan dalam
waktu singkat
BANTUAN UNTUK
PROSES BELAJAR
MENGAJAR (KBM)
Bantuan langsung
untuk proses KBM
berupa bantuan
pokok keberlang-
sungan belajar
mengajar, meliputi :
. Baju seragam
. Sepatu sekolah
. Kelangkapan
kebutuhan guru
melalui guru suka-
relawan dan guru
kontrak
. Buku tulis dan alat-
alat tulis
. Alat bantu belajar :
Buku pelajaran dan
alat peraga
BANTUAN SARANA
UNTUK TEMPAT
BELAJAR :
Bantuan sarana
untuk tempat belajar
belajar berupa :
. Bangunan darurat
atau sarana semen-
tara untuk melaku-
kan KBM (Tenda)
. Papan tulis
. Meja / Kursi
. Tikar untuk belajar
TRAUMA COUNCELL-
ING
. Membantu dalam
memberikan penge-
tahuan dan pema-
haman mengenai
trauma konseling
. Melakukan bim-
bingan dan
konseling trauma
pada siswa yang
mengalami
kesulitan belajar
akibat bencana
Penanganan
Sekolah
Di Wilayah
Bencana Alam
Kegiatan Yang
Dilakukan
Penjelasan
Keterangan
Penjelasan
Tabel 5.1 Konsep penanganan sekolah diwilayah bencana
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
panduan pendidikan final - edit.indd 36 4/28/2010 10:56:34 PM
37
PENANGANAN
REHABILITAS
dan REKON-
TRUKSI
Pemulihan
bertahap pasca
bencana dalam
rangka
mendukung
pembangunan
pendidikan
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Penjelasan
ringkas pada
Bab VI
Peningkatan dan
perluasan akses
UP-DATING
RAPID ASESSMENT :
Evaluasi data
mutakhir kondisi
sekolah pasca
bencana, analisis dan
rancangan
kebutuhan dalam
waktu singkat.
BANTUAN UNTUK
PROSES BELAJAR
MENGAJAR (KBM)
Bantuan langsung
untuk proses KBM
yang lebih sfesik
PEMBANGUNAN
DAN RENOVASI
SEKOLAH YANG
HANCUR ATAU
RUSAK
Bantuan subsidi
sarana prasarana
pendidikan untuk
rehabilitas
bangunan sekolah
pasca bencana
TRAUMA COUNCELL-
ING
. Membantu dalam
memberikan penge-
tahuan dan pema-
haman mengenai
trauma konseling
. Melakukan bim-
bingan dan
konseling trauma
pada siswa yang
mengalami
kesulitan belajar
akibat bencana
Penanganan
Sekolah
Di Wilayah
Bencana Alam
Kegiatan Yang
Dilakukan
Penjelasan
Keterangan
Penjelasan
panduan pendidikan final - edit.indd 37 4/28/2010 10:56:34 PM
38
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
B. RAPID ASSESMENT (KAJIAN CEPAT)
Kegiatan awal yang perlu dilakukan pada saat terjadinya bencana (kegiatan darurat)
maupun pada tahap pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi) adalah mengetahui
kondisi pendidikan sesaat setelah terjadi bencana di Kabupaten/Kota,
khususnya pada wilayah yang terkena Bencana melalui kegiatan Pemetaan
Sekolah dalam waktu singkat yang disebut Rapid Asessment yang terfokus pada
penanganan sekolah korban bencana. Proses pengumpulan data dapat dilakukan
dengan cara mencari data beberapa sumber/instansi terkait yang telah melakukan
pemutakhiran data kondisi pendidikan pasca bencana maupun pernbentukan tm
gabungan dari Posko Pusat bekerjasama dengan tm Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk
melakukan observasi langsung kondisi lapangan.
Data-data yang perlu dijaring pada Rapid Asessment mencakup data-data dasar
yang diperlukan dalam menetapkan Iangkah-langkah untuk pelaksanaan penanganan
sekolah di wilayah bencana. Beberapa data yang perlu dijaring antara l ai n,
J uml ah dan Nama Sekol ah, J uml ah Mur i d dan perempuan, Jumlah
Kepala Sekolah dan Guru, Kondisi Gedung Sekolah (termasuk infrastrukturnya),
Jumlah dan Kondisi Mebelair, Jumlah dan Kondisi Buku-buku Pelajaran. Jumlah dan
Kondisi Alat-Alat Peraga, dan lain-lain. Berdasarkan data yang diperoleh dan hasil
Rapid Asessment inilah nantnya dapat diketahui kebijakan dan langkah-langkah
apa yang harus menjadi prioritas untuk dilakukan.
Pemetaan pendidikan yang dilakukan meliput:
1. Inventarisasi pendataan terhadap kondisi wilayah pada pasca bencana yang
berkaitan dengan informasi jumlah anak usia sekolah, keberadaan siswa, guru
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Penjelasan
ringkas pada
Bab V
Peningkatan mutu
relefansi dan
daya saing
Peningkatan tata-
kekola akuntanbi-
litas dan
pencitraan
publik
. PENDIDIKAN DAN
PELATIHAN
. SUBSIDI DAN
PENINGKATAN
MUTU
. BEA SISWA
. CAPACITY
BUILDING
. PENINGKATAN
MANAJEMEN
. BIMBINGAN TEKNIS
. MONITORING DAN
EVALUASI
. PENYUSUNAN
NEWSLETTER
. PENYUSUNAN
LAPORAN
Penanganan
Sekolah
Di Wilayah
Bencana Alam
Kegiatan Yang
Dilakukan
Penjelasan
Keterangan
Penjelasan
panduan pendidikan final - edit.indd 38 4/28/2010 10:56:35 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
39
dan bangunan sekolah yang masih ada serta penilaian terhadap kondisi fsik
sekolah yang dinilai masih dapat digunakan/difungsikan (dalam keadaan baik
sampai dengan rusak sedang) dan yang rusak berat/total;
2. Mengidentfkasi sumber dana bantuan dan jenisnya, Dengan pemetaan ini
dapat dihasilkan suatu informasi data yang berisikan jumlah berbagai pihak yang
membantu lengkapnya dengan nama insttusinya atau organisasinya, jenis
bantuan, jumlah dana dan lokasi bantuan. Pendataan ini harus diperbaharui/
diupdate terus menerus selama dilakukan penanganan darurat,
penanganan rehabilitasi dan penanganan rekonstruksi dikarenakan cukup
dinamisnya kondisi yang ada.
3. Membuat peta pendidikan yang memadukan antara data yang diperoleh dengan
peta wilayah sehingga akan diperoleh peta yang alat berat tentang kondisi nyata
pendidikan di kecamatan tersebut. Hasil Pemetaan tersebut dapat digunakan untuk
membantu melakukan analisis kebutuhan dan rnenyusun rencana kegiatan yang
diperlukan.
4. Peta ini akan sangat bermanfaat untuk dapat mengetahui perubahan yang terjadi
terus menerus pada sarana dan prasarana pendidikan atau informasi lain
yang terkait dengan pendidikan sampai dengan selesainya pemulihan. Peta
pendidikan dapat dibuat untuk berbagai macam kebutuhan informasi terkait
dengan berbagai aspek pendidikan.
5. Melakukan analisis terhadap hasil Pemetaan Pendidikan tersebut untuk mengetahui
jenis kegiatan, jumlah dan lokasinya yang diperlukan pada penanganan pendidikan
pasca bencana alam sebagai tanggap kondisi darurat dari Pemerintah. Dari hasil
analisis tahap ini, akan membantu Pemerintah dalam menentukan program apa
saja yang diperlukan sesuai kebutuhan, berapa jumlah sasarannya dan di
mana lokasinya serta bagaimana melakukan keputusan-keputusan yang
strategis untuk mensinergikan komponen sumber dana lainnya dengan dana/
bantuan Pemerintah agar lebih optmal dalam membantu pemulihan wilayah yang
terkena bencana tersebut.
6. Untuk membantu gambaran dari format “Rapid Asessment” pada
penanganan darurat dan rehabilitasi, setdaknya Format jenis data yang dibutuhkan
sesuai dengan yang disampaikan pada Lampiran.
7. Pada masa pemulihan yang bersifat rekonstruksi, umumnya penduduk sudah
semakin banyak yang kembali ke daerahnya masing-masing oleh karena
itu diperlukan berbagai sarana prasarana pendidikan untuk menunjang
pembangunan pendidikan, sehingga informasi data pada pemetaan sekolah
perlu ditngkatkan kelengkapannya.
panduan pendidikan final - edit.indd 39 4/28/2010 10:56:35 PM
40
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
Inventarisasi kondisi wilayah pada pasca bencana (khususnya pada penanganan
rekonstruksi), lingkup jenis data yang diperlukan antara lain se bagai berikut:
Data yang dikumpulkan
Data umum
Data sekolah
Meliputi nama desa, batas desa, jalan-jalan utamam, dan
jumlah penduduk, jumlah anak (1 s/d 18 thn) jumlah
sekolah, nama sekolah, dan status sekolah.
Data murid, meliputi jumlah murid berdasarkan jenis
kelamin, jumlah murid berdasarkan kelas, jumlah
rombongan belajar
Data guru, meliputi jumlah dan nama kepala sekolah
dan guru, kinerja guru, kapan pensiun, status guru
(pegawai negeri, tenaga tetap lain, dan tenaga
tidak tetap) kualikasi guru
Data pengawas, meliputi jumlah dan nama pengawas,
kinerja pengawas, kapan pensiun, dan fungsi lain selain
menjadi pengawas
Data fasilitator kabupaten/kota, meliputi jumlah dan
nama, tugas rutinnya, serta kinerjanya
Data sik, meliputi letak sekolah, luas lahan, jumlah
gedung dan ruang sekolah, kondisi gedung dan
ruang sekolah, meubeler, WC, dan air bersih
Data keuangan, meliputi penerimaan dana dan
sumbernya serta pengeluaran dana
Investarisasi data sumber dana bantuan, jenis dan
lokasi pendistribusian bantuan
Perencanaan
kebutuhan sekolah
yang akan datang
Pembentukan
Multy Grade
School
Kelebihan dan
Kekurangan guru,
Kebutuhan guru
Kebutuhan
Pengawas
Pembentukan dan
peningkatan
kemampuan
Fasilitator daerah
Kebutuhan alat
bantu belajar dan
buku pelajaran
Kebutuhan
rehabilitas sekolah
Kebutuhan unit
sekolah Baru
Kebutuhan ruang
kelas baru
Kebutuhan
meubelair dan
sarana pendukung
lainnya
Perawatan sekolah
Alokasi dana
Analisa biaya siswa
tiap lembaga
Program pemulihan
pasca bencana alam
yang lebih terpadu
Pemanfaatan Data
panduan pendidikan final - edit.indd 40 4/28/2010 10:56:36 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
41
C. PENANGANAN KEBERLANGSUNGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
1. Penanganan Darurat
Sesuai dengan hasil Pemetaan Sekolah dalam bentuk Rapid Assesment, dapat
ditentukan berbagai kebutuhan dasar yang diperlukan dari setap sekolah dalam
rangka membantu keberlangsungan Kegiatan BeIajar Mengajar (KMB), antara lain
bantuan sarana darurat untuk ruang belajar yang dapat berbentuk bangunan
sementara atau penitpan KBM pada bangunan sekolah yang masih utuh maupun
pada bangunan sarana umum yang masih layak digunakan. Bangunan sementara ini
perlu dilengkapi tempat duduk (meja dan kursi ), papan tul i s, al at tul i s dan l ai n-
l ai n. Apabi l a ruang bel aj ar yang disediakan belum dapat mengakomodasikan
sejumlah kelas yang diperlukan, sistem belajar dapat dilakukan bersama-sama atau
campuran dari siswa-siswa yang berbeda kelas.
Kebutuhan lain untuk membantu keberlangsungan KBM pada wilayah bencana
adalah:
- Baju seragam
- Buku tulis dan alat tulis
- Bahan ajar berupa buku mata pelajaran dan alat peraga sederhana
- Pengadaan guru apakah merupakan guru sukarelawan atau guru kontrak
- Trauma Konseling
2. Penanganan Masa Pemulihan (Rehabilitasi dan Rekonstruksi)
Penanganan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar dalam rangka
rnempertahankan Angka Partsipasi 1.(dasar APIC) dan Angka Partsipasi Murni
(APM) pasca bencana adalah sangat pentng. Setelah dapat ditangani secara darurat,
Pemerintah harus berkonsentrasi untuk penanganan yang bersifat pemulihan
(Rehabilitasi dan Konstruksi) agar suasana kegiatan belajar mengajar menjadi
lebih tertata dari berbagai aspek pendukungnya. Muara akhir dalam pendidikan
adalah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan mutu basil belajar, untuk
dapat menciptakan hat tersebut perlu membangun dan meningkatkan mutu guru.
Dengan demikian arah kebijakan pembangunan pendidikan untuk tahap pemulihan
(Rehabilitasi dan Konstruksi) adalah meningkatkan mutu guru, mutu siswa, mutu
proses, mutu basil dan memenuhi kebutuhan jumlah guru. Dana pemulihan ini akan
bersumber dari APBN, dekonsentrasi, APBD I dan APBD II bahkan dari berbagai
donor non Pemerintah.
Beberapa langkah yang dilakukan untuk mempertahankan APK dan APM serta
membangun mutu pendidikan pada tahap pemulihan (Rehabilitasi dan rekonstruksi)
adalah sebagai berik
-
ut:
 Pemetaan Pendidikan yang merupakan basil Rapid Assesrnent yang di update
sangat diperlukan berkaitan dengan rencana kebutuhan dan pengembangan.
 Perbaikan dan pengadaan sarana belajar mengajar (sekolah) yang bersifat permanen
sesuai kebutuban.
panduan pendidikan final - edit.indd 41 4/28/2010 10:56:36 PM
42
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
- Pengadaan baju seragam, alat sekolah (buku tulis dan alat tulis), alat bantu
belajar dan buku pelajaran sesuai dengan kebutuhan .
- Alat bantu belajar dan buku pelajaran ini adalah sangat pentng dalam
membantu proses belajar mengajar. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah
menentukan jumlah alat bantu belajar dan buku pelajaran sesuai dengan hasil
pemetaan pendidikan yang berkaitan dengan sejumlah lokasi belajar darurat yang
akan dioperasikan. Setelah sistem belajar darurat diimplementasikan, secara
bertahap pemetaan pendidikan untuk kebutuhan alat bantu belajar dari
buku pelajaran ini perlu dilakukan untuk membantu menentukan berapa
jumlah peralatan yang masih diperlukan pengadaannya. Pengadaan ini harus
sesuai dengan sistem belajar darurat yang akan dilakukan, sehingga perlu
dibuat kriterianya. Hal utama yang perlu dijadikan kriteria adalah pemenuhan
peralatan, guru-guru yang bertugas dan keterwakilan tngkatan kelas. Kriteria
lain yang perlu dipertmbangkan adalah pemenuhan berdasarkan kriteria
sistem belajar mengajar yang akan dilakukan.
- Pengadaan guru bantu/guru kontrak sesuai kebutuhan serta proses
penetapan status guru honor/guru bantu/guru kontrak untuk menjadi Pegawai
Negeri Sipil.
- Apabila dari hasil pemetaan pendidikan yang dilakukan diperoleh informasi
bahwa jumlah guru yang ada tdak rnemadai untuk ditempatkan pada lokasi-lokasi
sekolah yang ada, maka perlu adanya pengambilan keputusan untuk melakukan
pengadaan sukarelawan yang bersedia mengajar di lokasi bencana/pengadaan
Guru Bantu Sementara/Guru Kontrak. Sangat dimungkinkan bahwa tenaga Guru
bantu ini atau tenaga sukarelawan yang bersedia membantu mengajar adalah
tdak berlatar belakang sekolah pendidikan atau yang berpengalaman mengajar.
Tetapi mengingat situasi darurat, kriteria dari tertaga pengajar yang dapat
diterima adalah berdasarkan kualifkasi tngkat pendidikannya. Oleh karena
itu agar target Pemerintah tercapai berkaitan dengan keberlangsungan
proses pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan, selama proses belajar
mengajar perlu dilakukan supervisi maupun observasi terhadap sukarelawan/
Guru Bantu Sementara/ Guru Kontrak tersebut dalam melakukan tugasnya. Selain
itu juga perlu diberikan pelathan-pelathan peningkatan kemampuan dan tukar
pendapat dan pengalaman bagi guru-guru tersebut secara efektif setiap
periode 2 mingguan. Dengan sistem ini diharapkan proses belajar mengajar
darurat ini akan lebih terimplementasikan dengan baik.
- Pembentukan Fasilitator Pemerintah Daerah Bidang pendidikan.
- Melakukan pelatihan Kepala Sekolah, guru, dan Pengawas untuk
ditingkatkan menjadi Fasilitator Pemerintah Daerah dalam hal pembelajaran
aktf, kreatf, dan menyenangkan, MBS dan peran serta masyarakat.
- Melakukan pelathan kepada masyarakat melalui Komite Sekolah, Kepala Sekolah
dan Guru mengenai peran serta masyarakat dalam berpartsipasi pada proses
peningkatan mutu pendidikan.
- Memberikan beasiswa kepada anak-anak siswa yang membutuhkan.
panduan pendidikan final - edit.indd 42 4/28/2010 10:56:36 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
43
- Meningkatkan mutu siswa melalui kegiatan ekstra kurikuler
- Melakukan pelatihan Kepala Sekolah, Guru dan Pengawas untuk
ditngkatkan menjadi Fasilitator Pemerintah Daerah yang berkaitan dengan
Pembinaan dan Trauma Konseling
- Melanjutkan trauma konseling dan remedial teaching pada siswa yang masih
mengalami trauma (gangguan) psikologis dan kesulitan belajar akibat bencana
alam.
- Monitoring dan Evaluasi.
D. PENANGANAN BANGUNAN SEKOLAH PASCA BENCANA
1. Penananganan Bangunan Sekolah Pasca Bencana
Banyak/sebagian dari sekolah yang dekat dengan lokasi bencana akan mengalami
kerusakan sehingga tdak layak untuk digunakan sebagai tempat belajar-mengajar. Pada
saat kejadian maupun tepat setelah bencana terjadi, sangat diperlukan penanganan
darurat sehingga kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangaung. Sarana
belajar yang disediakan melalui penanganan darurat selain kondisi bangunannya
sangat sederhana dan non permanen, dari sisi kondisi ruangnya juga belum dapat
mengakomodasikan jumlah siswa terhadap tngkat kelasnya. Oleh karena itu
pelaksanaan KBM cenderung dilakukan bersama-sama atau campuran dari siswa-siswa
yang berbeda kelas maupun usia. Kondisi ini akan lebih banyak ditemui pada wilayah
bencana yang terjadi secara hebat yang menghilangkan seluruh dokumen-dokumen
pemerintah maupun perorangan/keluarga, sehingga sulit untuk mengidentfkasi
dengan tepat tngkat pendidikan anak-anak di lokasi tersebut. Salah satu cara adalah
menanyakan langsung kepada anak-anak tersebut dan juga melakukan tes secara
berkala setelah proses penanganan pendidikan tersebut dilakukan.
Alternatf penanganan darurat ini antara lain siswa belajar dapat dittpkan di
sekolah-sekolah yang relatf aman atau yang tdak terkena akibat bencana dan dapat
juga dilakukan di fasilitas tempat umum yang tdak mengalami kerusakan. Penanganan
lain yang bersifat darurat adalah dengan memberikan bantuan tenda-tenda, bangunan
non permanen dari bambu, kayu, maupun dinding asbes. Penggunaan bangunan non
permanen merupakan alternatf yang cukup baik selain penggunaan tenda karena
selain suasana belajar lebih nyaman, dapat digunakan lebih lama tetapi dari sisi harga
juga masih selaras dengan tenda bahkan ada yang lebih murah dari penggunaan
tenda.
Pada gambar berikut adalah beberapa contoh bangunan non permanen yang digunakan
untuk membantu kegiatan belajar mengajar siswa pada kondisi darurat yaitu saat
terjadinya bencana alam atau tepat setelah terjadinya bencana alam.
panduan pendidikan final - edit.indd 43 4/28/2010 10:56:37 PM
44
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
2. Rehabilitasi Rekonstruksi Bangunan Sekolah Tahan Gempa
2.1 Konsep Penanganan Sekolah di Wilayah Bencana
Penanganan ruang belajar darurat sudah tentu menyebabkan kegiatan beiajar
mengajar tidak dapat berjalan dengan nyaman. Untuk itu perlu segera
dilakukan perbaikan maupun pembangunan sekolah-sekolah tersebut sebagai
langkah dari tahap pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi). Perbaikan
maupun pembangunan kembali akan dilakukan terhadap sekolah-sekolah yang
mengalami kerusakan akibat bencana dengan berbagai tingkat kerusakan
pada katagori sedang & berat ataupun rusak total. Pengambilan keputusan
penanganan bangunan sekolah apakah bersifat perbaikan atau pembangunan
kembali akan dilakukan setelah tingkat kerusakan dapat diidentfkasi.
Untuk gedung sekolah yang kondisi rusak berat atau total akan diperbaiki secara
total/dibangun kembali sehingga layak dan aman untuk digunakan sebagai
tempat kegiatan belajar mengajar. Sedangkan untuk kondisi bangunan
yang rusak sedang juga, akan direhabilitasi sesuai dengan kebutuhannya.
Perencanaan teknis dan anggaran biaya rehabilitasi gedung sekolah ini nantnya
akan dilakukan oleh tm perencana dan pengawas pada pelaksanaan rehabilitasi
gedung maupun pembangunan sekolah tersebut. Tim Perencana dan Pengawas ini
akan ditetapkan oleh Pihak Penanggung Jawab Kegiatan untuk kemudian mereka
akan menetap di lokasi di daerah bencana untuk melaksanakan tugasnya.
Langkah-langkah perencanaan rehabilitasi dapat dilakukan sebagai berikut
- Sesuai dengan hasil Pemetaan Pendidikan serta analisis data yang
dilakukan dapat ditentukan lokasi mana saja yang layak untuk
ditetapkan sebagai lokasi sekolah yang permanen dalam rangka
penanganan pendidikan pasca bencana.
- Survei kondisi gedung sekolah yang diusulkan untuk direhabilitasi (mengacu
pada data pemetaan sekolah yang ada).
- Tim Perencana dan Pengawas membuat perencanaan teknis rehabilitasi
(termasuk gambar, desain lengkap, rencana anggaran biaya, jadwal
pelaksanaan pekerjaan, rencanan tenaga kerja dari material dan rencana
anggaran pelaksanaan pekerjaan.
- Agar perencanaan yang dibuat mencakup aspek ekonomis, efsiensi dan
transparansi maka sebelum penyusunan RAB, Tim Perencana dan
Pengawas akan melakukan survei harga barang dengan melakukan
perbandingan dari minimal 3 suplier/toko/sumber. Harga hasil survei ini akan
dijadikan dasar bagi perencanaan rehabilitasi.
- Perencanaan yang dibuat oleh Tim Perencana dan Pengawas ini akan dijadikan
dasar teknis pelaksanaan rehabilitasi.
- Dengan adanya perencanaan yang terinci diharapkan pengawasan dan
pengontrolan pelaksanaan rehabilitasi dapat lebih mudah dilakukan baik oleh
Penanggung Jawab Kegiatan maupun instansi terkait lainnya.
Tim Perencana dan Pengawas harus membuat laporan terkait dengan proses
perencanaan yang dilaksanakan, menyangkut aspek teknis maupun
panduan pendidikan final - edit.indd 44 4/28/2010 10:56:37 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
45
administrasi kepada Penanggung Jawab Kegiatan. Penanggung Jawab
Kegi atan akan mel akukan eval uasi dari pertanggungjawaban yang
disampaikan oleh Tim Perencana dan Pengawas.
Bangunan yang direncanakan diharapkan memiliki keamanan struktur
(dengan memperhitungkan efek gempa), ramah lingkungan dan memiliki umur
ekonomis yang cukup tnggi.
Dalam pelaksanaan rehabilitasi dan pembangunan kembali/baru sarana belajar
mengajar yang dibutuhkan, sangat disarankan untuk menggunakan sumber daya
alam dan sumber daya manusia yang ada di sekitar. Sarana belajar ini harus
direncanakan untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal Nasional baik dari sisi
luas lahan, dimensi bangunan, maupun kelengkapan sarana pendukungnya.
Konsep perbaikan dart pembangunan dapat dilakukan dengan 2 (dua) alternatif
- Melibatkan masyarakat di sekitar lokasi dalam rangka “transfer knowledge” dengan
sistem Kerja Sama Operasional (MO) yang diwakili oleh elemen sekolah dan
masyarakat yang tergabung pada Tim Rehabilitasi Pembangunan
Sekolah dengan tenaga Kontraktor (pihak ke III) serta didukung oleh
pengawasan dan pengendalian yang berupa bantuan teknis dari tenaga ahli/
iembaga yang berpengedaman di bidangnya.
- Mengingat di lokasi bencana cukup sulit untuk menerapkan konsep
partsipasi masyarakat, pelaksanaan kegiatan ini dapat direncanakan
dengan sistem dikontrakkan pada pihak ketga. Tetapi meskipun demikian,
demi keamanan kualitas hasil pelaksanaan konstruksi dan tumbuhnya rasa
memiliki serta tanggung jawab masyarakat, Pemerintah Pusat perlu menyusun
strategi pengendalian yang berkesinambungan melalui pemberdayaan
dan kebersamaan Pemerintah Daerah serta masyarat dan didukung dengan
bantuan teknis dari tenaga ahli/lembaga yang berpengalaman di
bidangnya.
2.2 Konsep Bangunan Sekolah Tahan Gempa Permasalahan
Bangunan yang runtuh akibat gempa bumi sebagian besar rnerupakan
bangunan berdinding tembok. Dalam peristwa gempa bumi tersebut, beban gempa
yang bekerja pada dinding tembok bersifat tdak menentu. Macam keruntuhan
dinding tergantung dari bentuk hubungan antara dinding dengan dinding lainnya
dan antara dinding dengan rangka kolom atau dengan rangka kusen, juga tergantung
pada luas bidang dinding.
Permasalahan lain yang menyebabkan keruntuhan bangunan sekolah adalah
sebagai berikut
- Bangunan tdak mengikut prinsip-prinsip dasar bangunan tahan gempa.
- Ketdaktahuan unsur-unsur ketahanan gempa pada bangunan sekolah.
- Ketdakadaan pengetahuan teknik serta keterampilan dalam membangun sekolah
berdinding tembok,
panduan pendidikan final - edit.indd 45 4/28/2010 10:56:37 PM
46
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
Oleh karena itu pada Petunjuk Pelaksanaan ini dikaji mengenai beberapa hal
berikut:
1. Beberapa pelaksanaan bangunan darurat di beberapa lokasi sekolah
1a. Bangunan sementara
menggunakan atap weliat
dan dinding anyam bambu
1b. Bangunan sementara
menggunakan tiang kayu,
dinding asbes, dan atap
seng
1c. Bangunan sementara
menggunakan tenda
1e. Bangunan sementara
dengan tipe tenda
1d. Bangunan sementara
dari bambu dan atap seng
panduan pendidikan final - edit.indd 46 4/28/2010 10:56:41 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
47
Prinsip Utama
Secara prinsip konsep bangunan tahan gempa harus mengikut ketentuan
sebagai berikut:
- Seluruh komponen bangunan yang digunakan hams mengikut kaidah teknis
yang berlaku, dan mengikuti ketentuan berbagai peraturan konstruksi,
yaitu; Peraturan Beton Indonesia (PB1 83), SNI 2002, Peraturan
Konstruksi Kayu Indonesia (PKKU, Peraturan Baja Indonesia).
- Mengikuti ketentuan Baku Mutu Bangunan Gedung Sekolah yang
diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Pemilihan Jenis Bangunan Sekolah
Hampir seluruh wilayah Kepulauan Indonesia tergolong rawan gempa. Perlu
dipikirkan berbagai alternatf jenis bangunan tahan gempa.
- Bangunan sekolah dari kayu
Salah satu alternatf adalah penggunaan bahan kayu. Kayu memiliki sifat yang
alot (liat) sehingga jika terjadi getaran atau guncangan, rangkaiannya tidak
mudah patah. Dengan demikian bidang dinding yang potensiai runtuh
menimpa murid-murid bisa diminimalisasi.
Sifat elastis tersebut tidak dimiliki oleb bahan berstruktur tembok,
Struktur tembok (semen) memiliki sifat yang betas alias mudah patah. Tak
heran, begitu ada guncangan, dinding tembok potensial retak, patah, dan roboh
menimpa orang-orang yang ada di dalam ruangan. Terutama pada bangunan
tembok yang dilaksanakan secara tidak disiplin dan tidak menggunakan
ketentuan/kaidah teknis yang diberlakukan pada Peraturan Beton Bertulang
dan SNI 2002.
Intinya, struktur tembok atau bahan beton pada bidang dinding sebisa
mungkin diminimalisir. Selaku bidang datar tegak yang potensial ambruk jika
terjadi getaran, dinding harus dominan dari bahan baku kayu. Di daerah-
daerah pedalaman, bahan baku bangunan berupa papan tentulah tdak terlalu
sulit diperoleh.
Struktur beton berupa campuran semen dan pasangan batu bata hanya
ada pada di ndi ng bagi an bawah. Seki tar satu setengah meter dari
permukaan lantai dan fondasi, dinding sengaja dibangun dari tembok. Itu
agar tdak mudah lapuk terkena tempiasan air hujan atau termakan rayap.
Penggunan bahan campuran semen, pasir, dan pasangan batu bata, hanya
tampak dominan pada lantai ruang dan selasar. Pertimbangannya,
walaupun terpaksa retak karena gempa, kondisinya tetap aman karena
bidangnya tdak berdiri tegak, atau tdak mungkin runtuh menimpa murid
dan guru.
Akan halnya pondasi dan tulangan, tentu sudah pasti menggunakan
campuran semen. Pondasi menggunakan batu kali, sedangkan tulangan
berupa sloof dan kolom dibangun dengan stuktur beton yang dicor.
panduan pendidikan final - edit.indd 47 4/28/2010 10:56:41 PM
48
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
Tentu saja hitungan pembesian cor tidak boleh sembarangan. Sebab, itu
salah satu unsur penopang kekuatan rangka dan ikatannya.
Rangkaian tulangan yang menopang atap dirancang dari balok-balok kayu
dengan ukuran proporsional. Demikian pula kusen, daun jendela, dan dan
pintu.
Sementara bahan atap dirancang dari seng maupun asbes. Mengapa bukan
genteng? Pada wilayah luar Jawa, pemilihan bahan itu ada pertmbangan
tersendiri. Di luar Jawa, seng dan asbes lebih mudah diperoleh, sementara
pabrik genteng masih jarang. Pertmbangan lainnya, bila terjadi guncangan,
seng dan asbes tidak mudah lepas dari ikatannya. Bandingkan dengan
genteng yang mudah copot dan potensial terjatuh menimpa murid dan
guru.
Terkait dengan itu, ahli penelit utama dart Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (UPI) Dr Ir Bambang Subiyanto MSc menawarkan konsep
partkel berperekat semen (cement bonded partcleboard / CPB)
Maksudnya, bahan eksterior bangunan berupa dinding direkayasa tampak
sepert tembok. Caranya, serbuk kayu gergajian dan serat tandan kelapa
sawit dicampur dengan semen sehingga menjadi lembaran panel siap
pasang. Selain ringan dan tidak mudah retak, penggunaan CPB pun
merangsang tumbuhnya industri baru pengolahan limbah.
Secara teknis kita sudah mampu membuat bangunan tahan gempa, tdak
peduli berapa pun kekuatan gempanya. Namun, secara ekonomi kita harus
mau berkompromi menerima risiko dalam skala tertentu karena bila tdak
demikian bangunannya akan terlalu mahal.
- Bangunan sekolah dari Tembok
Pilihan dengan menggunakan bangunan berdinding tembok tahan gempa
adalah untuk mengurangi dampak kerusakan yang merugikan dan
membahayakan keselamatan manusia akibat bencana gempa.
Dari pengalaman bencana gempa bumi di Indonesia, bangunan yang roboh
itu sebagian besar merupakan bangunan berdinding tembok yang dibangun
secara spontan dan menurut kebiasaan setempat yang tdak benar untuk
daerah gempa. Untuk membangun bangunan rumah tembok sesuai
ketentuan konstruksi bangunan tahan gempa dengan memperhatkan:
1. Persyaratan bahan yang meliput persyaratan bata merah, batako dan adukan
untuk pasangan tembok. Semua bahan harus memenuhi persyaratan teknis
yang berlaku.
2. Pekerjaan pemasangan sangat pentng karena merupakan penentu terhadap
kualitas pekerjaan pasangan tembok. Tahapan pekerjaan harus memenuhi
persyaratan teknis.
3. Perkuatan rangka. Perkuatan pada dinding tembok merupakan kolom, balok
pondasi dan balok pengikat keliling, bisa dibuat dari beton bertulang
atau kayu. Pemasangan banyaknya kolom praktis berdasarkan luas
panduan pendidikan final - edit.indd 48 4/28/2010 10:56:42 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
49
permukaan dinding yang berguna untuk mencegah keruntuhan dinding akibat
beban permukaan.
Faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan pada bangunan adalah aebagai
berikut:
- Kondisi tanah dan geologi. Kondisi tanah mempengaruhi kerusakan pada
bangunan, kegagalan tanah dapat terjadi dalam bentuk tanah longsor,
penurunan tanah dan likuifaksi. Intensitas goncangan berhubungan langsung
dengan jenis lapisan tanah tempat bangunan. Jenis tanah pasir sangat halus dan
tanah liat yang sensitf harus dihindari karena akan rusak jika digoncang oleh
gempa burni
- Konfgurasi bangunan. Teratur dan simetris adalah yang baik, denah bangunan
berbentuk persegi teratur dan simetris terhadap sumbu bangunannya
- Bukaan (pintu dan jendela). Kekakuan bangunan ditentukan juga oleh banyaknya.
bukaan-bukaan. Kegagalan sering terjadi pada sudut bukaan
Kerusakan yang terjadi pada dinding
 Dinding cenderung retak pada arah diagonal akibat beban tarikan
- Dinding-dinding cenderung untuk berpisah akibat hubungan dinding yang tdak
besar
 Dinding cenderung runtuh akibat beban permukaan, tdak mampu menahan
momen guling
- Kegagalan pada sudut-sudut dinding dan kehancuran setempat
- Kegagalan dinding pada sudut bukaan
- Kegagalan dinding ampig yang tdak diperkuat
- Kegagalan akibat beban geser, retak pada dinding berbentuk horizontal
Keretakan awal pada dinding tembok disebabkan
- Susut bahan. Susut bahan selalu terjadi pada setap campuran adukan maupun
plesteran, di mana penyusutan ini sangat ditentukan oleh jumlah air semen yang
dipakai, rasio agregat halus yang dipakai, proses penguapan sehubungan dengan
temperatur dan penyerapan oleh bahan lain misalnya oleh batu bata,
- Tebal plesteran dan acian. Plesteran yang terlalu tebal ± 3 cm menyebabkan
pengerjaan yang sempurna sulit diperoleh, karena akibat gravitasi semakin besar
pada adukan, volume yang besar dan permukaan yang luas memberikan
peluang yang semakin besar bagi terjadinya. keretakan. Acian (campuran
PC dan air) terlalu tebal jugs menyebabkan keretakan. Tebal acian yang baik
adalah 0,5 mm sampai dengan 1 mm. Tembok yang diplester harus dibasahi
dengan sikat untuk menghilangkan debu dan meratakan penghisapan dari
pasangan tembok, kemudian diberikan lapisan kamprotan dengan tebal 2
mm - 3 mm, setelah itu diberi lapisan plesteran maksimum 10 mm, terakhir
lapisan acian. Tebal plesteran beserta acian tidak boleh lebih dari 1,3 cm.
panduan pendidikan final - edit.indd 49 4/28/2010 10:56:42 PM
50
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
- Pelaksanaan konstruksi. Sudah menjadi sifat dari adukan dengan nilai
campuran yang berbeda akan menghasilkan nilai susut bahan yang berbeda
pula, sehingga pada pertemuan antara pasangan tembok dan kolom-kolom
prakts terdapat retakan.
- Retakan pada dinding atas karena beban terpusat. Pola retakan
berbentuk miring diagonal, keretakan ini dapat dihindarkan dengan
memasang balok perata beban berupa balok ring atau balok pengikat keliling
yang meliput seluruh bagian atas dinding.
- Retak pada daerah bukaan. Retak pada sudut bukaan disebabkan pengaruh
penyusutan dan pemuaian kusen kayu.
Kunci bangunan tahan gempa
Kunci ketahanan gempa yang utama adalah pemakaian balok pondasi (sloof),
kolom prakts, dan ring balok yang dibuat dari beton bertulang dan disatukan
dengan pasangan batanya.
Kunci kedua adalah dengan memakai atap yang relatf ringan dan terikat dengan
baik pada konstruksi atapnya. Rumah tradisional Sumatera Barat dengan atap
sengnya dan Bali dengan atap alang-alangnya menunjukkan kearifan nenek
moyang kita, hal mana seharusnya diteruskan ke generasi saat ini. Kedua
daerah rawan gempa ini telah memilih jenis atap yang sesuai sehingga tdak
mengakibatkan gaya inersia yang besar saat terjadi gempa.
Untuk gedung-gedung konstruksi beton, kunci keberhasilannya dalam menahan
gempa terletak pada dua hal, yaitu menaruh kait sengkang yang cukup dengan
ujung yang cukup panjang dan ditekuk 135 derajat dan membuat tiang kolom
beton lebih kuat daripada baloknya. Di Jakarta hal ini sudah banyak diterapkan
sehingga umumnya bangunan gedung bertingkat di Jakarta diyakini mampu
bertahan bila terjadi gempa yang besar.
Pembangunan gedung sekolah selalu berintegerasi dengan alam
lingkungannya, menggunakan bahan yang ada disekitarnya, sepert tanah lempung
untuk bata merah, trass dan kapur untuk batako.
Bahan bangunan bata merah dan batako secara umum digunakan sebagai dinding
tembok. Dan pengalaman bancana gempa bumi di Indonesia, bangunan yang
roboh itu sebagian besar merupakan bangunan berdinding tembok yang dibangun
secara spontan dan menurut kebiasaan setempat yang tdak benar untuk daerah
gempa.
Persyaratan bahan dan pengerjaan
- Bata Merah. Ukuran dan bentuk bata harus benar, tdak mudah patah atau
pecah, sudut-sudutnya siku-siku, bebas dari debu dan kotoran yang
menempel, bila diketuk ringan dengan benda keras berbunyi nyaring_
Sesaat belum dipakai, bata harus direndam dengan air bersih selama 2-8
menit. Hasil produksi bata merah tidak lazim diuji. Kualitas bata merah
yang rendah disebut “bata rakyat” dan kualitas yang menengah dan baik
panduan pendidikan final - edit.indd 50 4/28/2010 10:56:42 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
51
disebut “bata pabrik”. Tinggi rendahnya kualitas bata rnerah ini bergantung pada:
1. Kualitas tanah lempung sebagai bahan mentah
2. Metode serta pengawasan proses pengolahan dan percetakan
3. Proses pembakaran
Penyimpanan tumpukan bata harus terlindung dari kelembaban tanah dan
hujan, tumpukan diberi penutup plastk, dan pada tumpukan paling bawah
diberi alas papan.
- Bat ako
Ukuran dan bentuk harus benar, tdak mudah pecah, sudut-sudutnya siku-
siku dan tdak mudah direpihkan dengan jari, bebas dari debu dan kotoran
lain yang menempel. Pada lapisan paling bawah tumpukan diberi alas
yang kering, tumpukan batako dilindungi kemungkinan menjadi basah atau
lembab dengan ditutupi lapisan plastk. Pada saat hendak dipakai, batako perlu
dibasahi dengan menyapukan kuas basah, jangan merendam batako ke dalam
air. Dari hasil penelitan sebaiknya dipakai batako yang mempunyai umur lebih
dari 2 bulan.
- Adukan pasangan tembok. Adukan adalah campuran dari bahan
pengikat, bahan pengisi dan air. Bahan pengikat adalah semen atau kapur,
sedangkan bahan pengisi adalah pasir atau trass. Fungsi adukan dalam
pemasangan adalah pengikat antara bata atau batako jugs meratakan
permukaan atas pasangan tembok. Untuk mendapatkan kekuatan geser
dan kekuatan lentur yang cukup, dibutuhkan adukan yang mempunyai
kekuatan tekan minimal harus sama dengan kekuatan tekan bata atau
batako pasangannya. Berdasarkan pengalaman penelitian komposisi
campuran adukan 1 PC : 5PS dan 1 PC : 6PS memenuhi persyaratan teknis
pasangan bata. Bahan pengikat semen mempunyai proses pergeseran
relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan bahan pengikat lain, daya
ikat semen tinggi sedangkan penyusutannya termasuk rendah. Bahan
pengikat kapur mempunyai proses pengerasan lama, dan penyusutannya
besar yang menyebabkan retak-retak. Kapur sebaiknya direndam dulu sebelurn
digunakan selama 18 - 24 jam. Berdasarkan pengalaman komposisi
adukan untuk pemasangan batako adalah 1/4PC : lKp : 5Trs, atau ‘/.PC
: 1Kp : 6Trs memenuhi persyaratan teknis dan sedikit retakannya. Bahan
pengisi agregat harus keras dan bergradasi balk. Sedangkan air untuk adukan
dipakai air bersih.
Pengujian yang dilakukan terhadap bahan dan pasangan, adalah sebagai
berikut:
- Bentuk dan ukuran. Bentuk bata atau batako yang prismatis dan
mempunyai sudut siku sangat membantu dalam kemudahan
pemasangan dan menambah produktvitas pekerjaan.
- Penyerapan (absorbsi) Daya serap yang rendah nilainya dapat
mengurangi penggunaan air pada adukan yang akan digunakan untuk
pemasangan,
panduan pendidikan final - edit.indd 51 4/28/2010 10:56:43 PM
52
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
- Kuat tekan Harga hemat tekan ditentukan dengan menggunakan
minus sebagai berikut: stk =P/A (Kg/cm
2
). P = Beban tekan (Kg) A = Luas
permukaan yang ditekan (cm
2
)
- Kuat lentur dan modulus elastsitas untuk mengetahui kemampuan lentur
dalam arah tebal maupun arah lebar. Kuat lentur ditentukan dengari rumus
stk = P/A (Kg/cm
2
) Sedangkan Modulus Elastsitas dihitung dengan: E = 1/4
P/A (Kg/cm
2
)
- Kuat geser. Sejajar siar, ditentukan dengan rumus t = P/A (Kg/cm
2
), P =
Beban (Kg). A = Luas bidang geser (cm
2
). Kuat geser diagonal, ditentukan
dengan rumus t = Pv/A (Kg/ cm
2
). Pv = Beban vertkal (Kg) dan A Luas
bidang geser (cm
2
)
Pekerjaan pemasangan
1. Adukan diletakkan cukup untuk satu buah dan bata/batako diletakkan
dengan cara pesawat udara mendarat. Dengan cara ini kita mel etakkannya
pada posi si yang di t uj u sekal i gus uj ungnya menggaruk/mendorong
sedikit adukan, untuk penyesuaikan posisi cukup digeser ke depan dan
belakang secara mendatar.
2. Pasangan harus tetap datar dan tegak lurus, pada pemasangan
digunakan tali pelurus. Semua siar vertikal, siar antara dinding dan kolom
maupun balok harus terisi penuh, tebal adukan siar ± 1 cm, dengan
variasi 3 mm. Pasangan bata/batako yang baru selesai perlu dilindungi
dari hujan dari terik mataharl, dengan jalan ditutup dengan lembaran plastk,
atau disirami/diperciki air tap hari selarna 1-2 minggu atau cara perlindungan
lainnya.
3. Sebagai penutup, pasangan tembok diberi plesteran yang gunanya untuk
melindungi tembok dari pengaruh cuaca, pengaruh mekanik dan untuk
meratakan permukaan pasangan.
4. Kecakapan pekerja, Keterampilan kerja atau kecakapan tukang yang
melaksanakan pekerjaan pasangan adalah sangat penting karena
merupakan penentu kualitas pekerjaan pasangan. Bila tukang yang
mengerjakan mempunyai pengetahuan cukup tentang sifat-sifat bahan dan
mempunyai keterampiIan yang baik maka biarpun bahan kurang baik akan
menghasilkan pasangan yang relatf baik.
Perkuatan dengan Rangka
1. Bangunan tembok dengan perkuatan sangat dianjurkan untuk daerah rawan
gempa. Perkuatan pada dinding tembokan merupakan kolom prakts, balok
pondasi, balok pengikat atau balok keliling yang biasa disebut rangka
bangunan yang dapat dibuat dari beton bertulang maupun kayu.
2. Perkuatan dengan rangka beton bertulang boleh dibangun diseluruh wilayah
gempa. Mutu campuran beton yang dianjurkan minimum perbandinganriya
adalah 1PC : 2PS : 3Krl, bahan pasir dan kerikil harus bersih dari lumpur.
Kadar lumpur maksimum 5% untuk pasir dan 1% untuk kerikil.
panduan pendidikan final - edit.indd 52 4/28/2010 10:56:43 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
53
Pencampuran bahan tersebut menggunakan air setengah (0,5) bagian. Tulang
utama minimum untuk kolom 12 mm dengan sengkang 8 mm jarak 10 cm,
sedangkan tulangan memanjang balok menggunakan diameter minimum 12
mm, dan tulangan sengkang 8 mm jarak 15 cm. Hubungan antara balok
dan kolom pinggir, dengan panjang penyaluran 50 cm.
Pada pertemuan antar dinding dibuat kolom praktis dengan tulangan
utama 10 dan tulangan sengkang 8 jarak 10cm.
3. Semua kolom hams dilengkapi angkur dengan 8 mm panjang 30 cm,
maksimum setap 6 lapis bata atau 3 lapis batako. Kuda-kuda diangkur dengan
baik ke kolom atau ke balok keliling dengan 12 mm. Hubungan balok pondasi
memakai angkur 10 mm setap 1 m.
4. Pintu dan jendela (bukaan) Luas bukaan dinding harus lebih kecil dari 50%
dari luas dindingnya. Kusen harus dipasang angkur 8 mm panjang 30
cm pada setap 6 lapis bata atau 3 lapis batako. Untuk kusen dipakai kayu yang
kering udara,
5. Pada ampig harus diberi perkuatan berupa kolom penerus dari koloin
dibawahnya, ditengah ampig.
6. Setap luas dinding maksimum 6 m
2
harus dipasang kolom prakts beton bertulang
selain rangka beton bertulang.
Kesimpulan
1. Prinsip utama bangunan tahan gempa adalah adanya kesatuan dari
struktur bangunan, semua unsur bekeda bersarna-sama sebagai satu
kesatuan, jadi tdak bekerja secara terpisah.
2. Detail sambungan antar unsur bangunan sangat pentng, antara Jain:
- Hubungan unsur rangka beton bertulang, rangka perkuatan dinding balok
dengan kolom, balk balok pondasi maupun balok pengikat keliling dinding,
dengan panjang penyaluran tulangan 50 cm.
- Hubungan antara kolom pengaku dinding dengan dinding tembok
menggunakan angkur 8 mm panjang 30 cm setap 6 lapis bata atau 3
lapis batako. Begitu pula antara kusen bukaan dengan dinding tembok
menggunakan angkur 8 mm
- Rangka kuda-kuda harus diangkur 12 mm dengan baik pada kolom
atau pada balok perata kerning.
- Hubungan balok pondasi (aloof) dengan pondasi memakai angkur 10
mm setap jarak 1 meter.
- Pemasangan dinding tembok. Pasangan hams tetap datar dan tegak
lurus, tebal adukan ± 1 cm, dengan variasi 3 mm, semua siar terisi
penuh, tebal siar sarna dengan tebal adukan. Tebal plesteran beserta
acian tidak boleh lebih dart 1,3 cm, dimana tebal kamprotan 2 mm - 3
mm dan tebal acian 0,5 mm - 1 mm.
panduan pendidikan final - edit.indd 53 4/28/2010 10:56:43 PM
54
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
 Luas bukaan dinding harus lebih kecil dari 50 % dari Iuas dindingnya.
Perkuatan dinding untuk luas dinding lebih kecil dari 6 m
2
, bila lebih
ditambah kolom prakts secara proporsional.
3. Hal lain yang periu diperhatkan dalam pembangunan sekolah atau fasilitas
umum adalah:
Pertama, bangunan harus terletak di atas tanah yang stabil. Kedua, denah
bangunan sebaiknya sederhana, simetris atau seragam. Ketga, pondasi
diikat kaku dengan sloot. Keempat, setap luasan dinding 12 meter persegi harus
dipasang kolom. Kelima, dipasang balok keliling (ring balk) yang diikat kaku dengan
kolom. Keenam, seluruh kerangka bangunan harus terikat secara kokoh dan
kaku. Tujuh, gunakan kayu kering, pilih bahan atap yang seringan mungkin. Delapan,
pilih bahan dinding seringan mungkin, sepert papan, papan berserat, papan
lapis, bilik, dll. Sembilan, bila dinding menggunakan pasangan bataibatako,
pasang anker setap jarak vertkal 30 cm yang dijangkarkan ke kolom, pasangan
diberi anker yang dijangkarkan ke kolom. Sepuluh, perhatkan bahan spesi/
adukan komposisi campuran dan ikut standar yang berlaku.
Ketentuan dari sistem pelaksanaan rehabilitasi/ perbaikan atau pembangunan
kembali/baru secara lebih operasional akan diatur pada Petunjuk Teknis yang
dikembangkan oleh Sekretariat dan masing-masing Direktorat di lingkungan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Petunjuk Teknis
ini merupakan satu kesatuan yang tdak terpisahkan dari Petunjuk Pelaksanaan,
Oleh karena itu Petunjuk Teknis yang dibuat harus mengikut seluruh ketentuan
pada Petunjuk Pelaksanaan ini.
panduan pendidikan final - edit.indd 54 4/28/2010 10:56:43 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
55
TRAUMA KONSELING
PASCA BENCANA
*)
A. RESPONS INDIVIDU TERHADAP BENCANA
Bencana alam maupun konfik sosial atau kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada saat
ini mempengaruhi aspek mental dan psikososial bagi para siswa. Akibat konfik sosial
dan bencana alam tersebut banyak terjadi peristwa-peristwa tragis di depan mata
yang memilukan bagi sesama manusia, terutama yang mengakibatkan trauma bagi anak
anak.
Respons individu yang terkena bencana merupakan reaksi emosional yang dapat
dilihat (observasi). Ada 3 (tga) tahapan reaksi emosi yang dapat terjadi setelah
bencana, yaitu :
1. Reaksi individu segera (24 jam) setelah bencana
- Tegang, cemas, panik
- Terpaku, linglung, syok, tdak percaya
- Gembira atau eforia, tdak terlalu merasa menderita
- Lelah, bingung
- Gelisah, menangis, menarik diri
- Merasa bersalah
2. Minggu pertama - ketga setelah bencana
- Ketakutan, waspada, sensitf, mudah marah, kesulitan tdur
- Khawatr, sangat sedih
- Mengulang-ulang kembali (fashback) kejadian
- Bersedih
- Menerima bencana sebagai takdir
*) disalin dari Panduan Penanggulangan Bencana Bidang Pendidikan, Depdiknas, 2009
panduan pendidikan final - edit.indd 55 4/28/2010 10:56:44 PM
56
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
3. Lebih dari minggu ketga setelah bencana
- Reaksi yang diperlihatkan dapat menetap dan dimanifestasikan dengan :
- Kelelahan
- Merasa panik
- Kesedihan yang terus berlanjut, pesimis, dan berpikir tdak realists
- Tidak beraktvitas, isolasi, dan menarik diri
- Kecemasan yang dimanifestasikan dengan : palpasi, pusing, leth, mual, sakit
kepala dan lain-lain.
Kondisi tempat mengungsi dan kepenatan selama berada di daerah pengungsian
menimbulkan gangguan psikologis bagi anak-anak. Gangguan mental ini sangat
berpengaruh terhadap kelangsungan pendidikan mereka, dalam jangka panjang akan
berdampak buruk terhadap sikap mental mereka di masa depan.
Dalam jangka panjang, masalah-masalah yang dihadapi siswa terutama karena trauma
peristiwa masa lalunya akan mempersulit penyesuaian diri para siswa dan
perkembangan sosialnya, baik yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan
maupun untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam kehidupannya secara luas.
Kesulitan dan penderitaan pada anak-anak tersebut membutuhkan penanganan
langsung untuk pemulihan ke arah kehidupan yang normal, serta perlu dilakukan
upaya-upaya pencegahan terjadinya hambatan psikologis karena faktor psikososial itu.
Kesaksian dan pengalaman yang dialami siswa terhadap terjadinya bencana alam atau konfik
sosial menimbulkan luka psiko-fsik yang dalam (trauma) dan berdampak terhadap
kelangsungan kehidupan selanjutnya, baik pada jangka pendek, menengah, maupun jangka
yang panjang. Oleh karena itu, diperlukan penanganan psikologis yang profesional agar
mental anak-anak tersebut menjadi lebih baik. Setelah kondisi anakanak normal secara
psikologis maka dapat dilanjutkan program di bidang pendidikan yang komprehensif,
terintegrasi, dan berkesinambungan serta melibatkan berbagai sumberdaya atau
unsur terkait dan relevan dengan kebutuhan.
Program penanganan konseling yang bersifat kuratf, rehabilitatf maupun yang
preventf, perlu dilakukan khususnya kepada anak-anak yang masih berada pada taraf
perkembangan. Program konseling trauma diharapkan dapat mengurangi beban
psikologis, sekaligus dapat membantu mengatasi masalah psikologis yang dialami
anak-anak dengan berbagai metode yang dianggap tepat.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah berupaya memulihkan kondisi mental (psikologis) para siswa agar
mereka dapat secepatnya mengikut kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah dalam
kondisi yang sehat dan wajar sebagaimana semestnya.
56
T
r
a
u
m
a

K
o
n
s
e
l
i
n
g

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
panduan pendidikan final - edit.indd 56 4/28/2010 10:56:44 PM
B. TUJUAN TRAUMA KONSELING
1. Tujuan Umum
a. Membantu siswa yang mengalami trauma (gangguan) psikologis dan kesulitan
belajar akibat bencana alam atau konfik sosial; agar yang bersangkutan
memiliki kondisi psikologis yang sehat dan dapat melangsungkan pendidikan, serta
meningkatkan kemampuannya untuk menyesuaikan did kembali dalarn kehidupan
sehari-hari sehingga dapat mengikut proses pembelajaran secara wajar.
b. Membantu guru memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai
karakteristk dan dasar-dasar penanganan perilaku siswa yang mengalami
trauma serta kesulitan belajar.
2. Tujuan Khusus
a. Pencegahan
- Memberikan pencerahan tentang pemanfaatan kelebihan dan kekurangan siswa
serta solusinya jika berhadapan dengan masalah.
- Membuka wawasan tentang potensi diri dan mengembangkan keterampilan pribadi
yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan/masalah hidup.
- Mengembangkan lingkungan pendidikan dan lingkungan pembelajaran yang
memfasilitasi perkembangan peserta didik
b. Penyembuhan:
- Menghilangkan atau mengurangi trauma yang dialami siswa
- Memberikan dorongan untuk memperbaiki atau mengubah diri.
c. Ketahanan dan Pengembangan diri:
- Memberikan bantuan untuk mendapatkan teknik dan strategi untuk survive
(mempertahankan diri) dalam mengatasi masalah atau stress yang dihadapi.
- Meningkatkan kemampuan, ketahanan, dan kepercayaan diri siswa untuk menghadapi
kondisi kehidupannya secara optmis.
- Mengembangkan kecakapan hidup siswa agar dapat mehgantsipasi dan
mengatasi persoalan kehidupannya di kemudian hari.
d. Meni ngkatkan keterampi l an guru bi mbi ngan dan konsel i ng dal am
dan mengklasifkasikan siswa yang mengalami trauma dan kesulitan belajar.
e. Mengembangkan alternatf tndakan oleh guru bimbingan dan konseling dalam
membantu siswa mengatasi masalah psikologis dan kesulitan belajar.
f. Membantu siswa mengembangkan perencanaan masa depan
g. Mendorong sekolah mengembangkan sistem pendukung pelayanan siswa.
57
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n


P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
panduan pendidikan final - edit.indd 57 4/28/2010 10:56:44 PM
58
P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
C. SASARAN
Program ini bersifat educatonal recovery atau penanggulangan masalah psikologis dan
kesulitan belajar (Psiko-edukatf) yang dihadapi siswa akibat terjadinya Bencana Alam
atau konfik sosial. Sasaran program ini yaitu para siswa atau peserta didik SD, SMP, SMU/
SMK atau yang sederajat. Melalui program yang dimaksud, para siswa diharapkan
dapat melangsungkan pendidikan secara wajar dan kehidupannya secara normal.
D. PELAKSANAAN PROGRAM
Penyelenggara program Bimbingan dan Trauma Konseling untuk siswa Korban Bencana alam
dan konfik sosial dilakukan oleh Sekretariat dan Direktorat di lingkungan Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah yang dibantu oleh Dinas
Pendidikan Propinsi dn Kabupaten/Kota setempat. Adapun pelalcsana kegiatan Bimbingan
dan trauma konseling yang menyangkut substansi dan proses treatment masalah psikologis
siswa dilakukan oleh lembaga Pendidikan yang memiliki keahlian di bidang Psikologi serta
Bimbingan dan Konseling. Deskripsi tentang organisasi, tugas dan tanggung jawab dari
setap tngkatan mulai dari tngkat pusat, Dinas pendidikan tngkat provinsi, kabupaten
dan kota serta tngkat sekolah akan dijelaskan secara rind pada Petunjuk Teknis yang
disusun oleh masing-masing kegiatan/program di Sekretariat dan Direktorat di
lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
E. MEKANISME PELAKSANAAN PROGRAM
Mekanisme pelaksanaan kegiatan program bimbingan dan trauma konseling bagi siswa
secara garis besar meliput hal-hal berikut:
1. PERSIAPAN
Tahap persiapan meliput identfkasi masalah siswa dan pemetaan kondisi siswa
yang mengalami trauma, metoda treatment yang akan digunakan, dan rencana
kegiatan di lapangan.
2. PELAKSANAAN PELATIHAN
Pelatihan diberikan oleh Psikolog atau tenaga Ahli Konseling kepada guru
pendamping yaitu guru Bimbingan Konseling (BK), guru Agama atau wakil kepala
sekolah urusan kesiswaan. Guru Pendamping kemudian bertugas melakukan
pendampingan bagi siswa yang mengalami trauma.
3. PELAKSANAAN PENDAMPINGAN BIMBINGAN KONSELING DAN SUPERVISI.
Kegiatan trauma konseling dilakukan oleh Guru pendamping dan dibimbing oleh
tenaga supervisor (Profesi Psikolog atau konselor) dari lembaga profesional bidang
psikologi dan bimbingan konseling yang diseleksi oleh Depdiknas.
Pelaksanaan konseling terhadap siswa yang trauma dilakukan minimal 3 bulan dengan
frekuensi pertemuan antara Guru pendamping dengan siswa minimal seminggu
sekali, sedangkan pertemuan dengan supervisor minimal tap 2 minggu sekali
58
T
r
a
u
m
a

K
o
n
s
e
l
i
n
g

P
a
s
c
a

B
e
n
c
a
n
a
panduan pendidikan final - edit.indd 58 4/28/2010 10:56:45 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
59
Rasio antara guru pendamping dan jumlah siswa sasaran adalah 1: 10, sedangkan rasio
antara supervisor dengan guru pendamping adalah 1: 20.
Kegiatan program bimbingan dan konseling bagi siswa yang mengalami trauma
akibat bencana alam maupun konfik sosial dibagi tga yaitu:
a. Diagnosis
- Meng identfkasi Diagnosis tngkat trauma yang dialami oleh siswa
- Diagnosis aspek-aspek yang dapat mempengaruhi terjadinya stress dan
trauma.
- Diagnosis kesulitan belajar.
b. Prognosis
Penentuan metodologi mana yang akan digunakan untuk bimbingan dan trauma
konseling bagi siswa sesuai dengan kondisi budayanya.
c. Treatment pada siswa yang trauma
- Intervensi individual dan kelompok
- Trauma konseling kategori berat oleh psikolog dan konselor yang berfungsi
sebagai supervisor dan koordinator lapangan
- Pendampingan oleh guru, diberikan kepada siswa dan guru yang
mengalami trauma ringan untuk “tension release”.
- Memberikan dasar-dasar keterampilan mengatasi stress, mengembangkan
penyesuaian diri, pemecahan masalah dan berpikir positf
- Mengembangkan kemampuan konsentrasi belajar, mengembangkan
perasaan aman, dan membangun kepercayaan pada orang lain (trust
building).
- Pengembangan kccakapan hidup dan pendidikan berwawasan
kebangsaan.
- Pengukuran hasil treatmnet:
- Pre test konseling pada siswa yang mengalami trauma.
- Post test konseling pada siswa yang mengalami trauma setelah
mendapatkan treatment konseling.
4. PELAKSANAAN REMEDIAL TEACHING
Mengadakan diagnostk kesulitan belajar untuk mengetahui tngkat kesulitan yang
dihadapi siswa, dan memberikan strategi pemecahaan kesulitan belajar tersebut
serta pelajaran tambahan. Materi remedial teaching bagi siswa diberikan oleh guru
mata pelajaran tambahan tersebut. Remedial teaching untuk siswa yang lambat
penyerapannya dilakukan dengan pendekatan repetsi, kemampuan siswa yang
sedang dengan pendekatan pengukuhan (pengayaan),
panduan pendidikan final - edit.indd 59 4/28/2010 10:56:45 PM
60
sedangkan kemampuan siswa yang cepat dengan pendekatan percepatan
(akselerasi).
5. MONITORING DAN EVALUASI
Secara umum tujuan monitoring dan evaluasi adalah untuk meyakinkan bahwa
pelaksanaan bimbingan dan trauma konseling bagi siswa berjalan sesuai dengan
sasaran, jumlah, waktu, dan pelaksanaan konseling.
Adapun tujuan khusus monitoring dan evaluasi adalah untuk memantau dan
mengevaluasi komponen utama di dalam program bimbingan dan trauma konseling
bagi siswa, terutama (1) mengenai kondisi siswa sebelum dan sesudah dilakukan
bimbingan dan trauma konseling, (2) Pelaksanaan pendampingan dan supervisi
yang meliputi waktu dan frekuensi konseling, (3) Administrasi keuangan
pelaksanaan bimbingan dan konseling.
Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi program bimbingan dan trauma konseling
dilakukan oleh tm Monitoring dan Evaluasi dan Sekretariat atau masing-masing
Direktorat di lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah
6. PELAPORAN
Secara umum, hal-hal yang dilaporkan oleh pelaksana program adalah yang
berkaitan dengan bimbingan dan trauma konseling bagi siswa yang isinya antara
lain :
a. Laporan hasil pelathan, meliput :
- Waktu, tempat dan materi pelathan
- Jumlah peserta guru pendamping yang dilath dalam kegiatan bimbingan dan
konseling trauma.
- Hasil evaluasi pelathan dan permasalahan yang terjadi
b. Laporan hasil identfkasi siswa, meliput :
- Gambaran umum dan biodata siswa yang mengalami trauma
- Gambaran lingkungan yang ada di daerah yang mengalami bencana alam
maupun kon fik sosial.
- Hasil pre test mengenai kondisi siswa tentang gejala dan hasil diagnosis
kepribadian.
c. Laporan hasil penanganan trauma konseling dan remedial teaching, meliput :
- Keadaan kondisi awal siswa sebelum treatment yang diperoleh berdasarkan
hasil pre test tngkat gejala trauma siswa.
- Hasil kondisi akhir siswa setelah treatment, yaitu meliput :
- Hasil post test kondisi trauma siswa setelah treatment
- Hasil remedial teaching terhadap siswa.
- Pencapaian sasaran yaitu adanya perubahan peningkatan kondisi siswa
panduan pendidikan final - edit.indd 60 4/28/2010 10:56:45 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
61
sebelum dan setelah dilakukan trauma konseling.
- Evaluasi tentang keberhasilan trauma konseling, hambatan yang dihadapi
dalam pelaksanaan serta solusinya.
- Proses pemberian bantuan/ layanan yang diberikan
- Gambaran perkembangan kondisi siswa
- Laporan yang menyentuh sisi kemanusiaan sebagai pendukung data utama
kondisi perkembangan peserta didik secara kualitatf.
panduan pendidikan final - edit.indd 61 4/28/2010 10:56:45 PM
62
Dafar Pustaka :
Departemen Pendidikan Nasional. 2009. Petunjuk Teknis (Subsidi Sarana Prasarana
Pendidikan), Jakarta
Departemen Pendidikan Nasional. 2009. Panduan Penanggulangan Bencana Bidang
Pendidikan, Jakarta
Peraturan Kepala BNPB Nomor 10 tahun 2008 tentang pedoman rekonstruksi dan
Rehabilitasi Pasca Bencana
Joint Needs Assesment Toolkit For Educaton in Emergency, 10 Agustus 2009
Joint Inital Rapid Assesment, 12 November 2008
UNESCO. 2006. INEE (Standart Minimum Pendidikan dalam Keadaan Darurat, Krisis
Kronis dan Rekonstruksi Awal), Jakarta
D
a
f
t
a
r

P
u
s
t
a
k
a
panduan pendidikan final - edit.indd 62 4/28/2010 10:56:46 PM
B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

d
a
n

P
e
r
a
n
g
k
a
t

P
e
n
i
l
a
i
a
n

P
a
s
k
a

B
e
n
c
a
n
a

d
i

S
e
k
t
o
r

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n
63
panduan pendidikan final - edit.indd 63 4/28/2010 10:56:46 PM
C
M
Y
CM
MY
CY
CMY
K
cover buku - belakang.pdf 4/29/2010 12:20:55 AM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->