1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana pengelolaan pasien pada klinik Prosthodonsia? 2. Bagaimana prosedur diagnose yang benar? 3.

Apa rencana perawatan yang tepat? 1.3 TUJUAN 1. Kita dapat mngetahui pengelolaan pasien pada klinik Prosthodonsia. 2. . Kita dapat mngetahui prosedur diagnose yang benar. 3. Kita dapat mngetahui rencana perawatan yang tepat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Identitas pasien 1. Nama penderita Hal ini perlu diketahui untuk membedakan seorang penderita dari yang lainnya di samping mengetahui asal suku atau rasnya. Hal terakhir ini penting, karena ras antara lain berhubungan dengan penyusunan gigi depan, contohnya: orang eropa (kas kaukakus) mempunyai profil yang lurus, sedangkan orang Asia (ras Mongoloid)cembung. 2. Alamat Dengan mengetahui alamatnya, penderita dapat dihubungi segera bila terjadi sesuatu yang tak diharapkan, umpamanya kekeliruan pemberian obat. Pemanggilan kembali penderita juga dapat dengan mudah dilakukan. Alamat juga dapat membantu kita mengetahui latar belakanglingkungan hidup seorang pasien, sehingga dapat pula diketahui status sosialnya. 3. Pekerjaan Modifikasi jenis perawatan mungkin perlu dilakukan karena factor jenis pekerjaan. Dengan memahami pekerjaan pasien, keadaan sosial ekonominya juga dapat diketahui. Pada umumnya lebih tinggi kedudukan sosial seseorang lebih besar tuntutannya terhadap faktor estetik. 4. Jenis kelamin Secara jelas sebetulnya tidak terdapat karakteristik konkrit yang berlaku untuk pria dan wanita. Namun demikian hal-hal berikut ini sebaiknya diperhatikan. Wanita pada umumnya cenderung lebih memperhatikan faktor estetik dibanding pria. Sebaliknya pria membutuhkan protesa yang lebih kuat, sebab merekan menunjukkan kekuatan mastikasi yang lebih besar. Pria juga lebih mementingkan rasa enak/nyaman, di samping faktor fungsional geligi tiruan yang dipakainya. Selanjutnya bentuk gigi wanita relatif lebih banyak lengkungan/bulatannya dibanding gigi pria yang memberi kesan lebih kasar dan persegi. Pengelolaan perawatan penderita wanita dalam masa menopouse membutuhkan pertimbangan lebih teliti. Pada periode ini, mulut biasanya terasa lebih kering dan ada rasa seperti terbakar. 5. Jenis kelamin Pengaruh lanjutnya usia pada perawatan prostodontik harus selalu menjadi bahan pertimbangan. Proses menua mempengaruhi toleransi jaringan, kesehatan mulut, koordinasi otot, mengalirnya saliva, ukuran

pulpa gigi serta panjang mahkota klinis. Usia juga menentukan bentuk, warna, serta ukuran gigi seseorang. Pada lanjut usia, lebih sering pula dijumpai pelbagai penyakit seperti hipertensi, jantung dan diabetes melitus.Bila pada orang usia muda lebih sering dijumpai karies dentis, maka pada kelompok usia lanjut penyakit periodontalah yang lebih sering dijumpai. Kemampuan adaptasi penderita usia muda terhadap geligi tiruan biasanya lebih tinggi dibanding penderita usia lanjut. Pada usia di atas empat puluh tahun, adapatasi biasanya mulai berkurang dan akan menjadi sukar setelah usia enampuluhan. 2.2 Anamnesis Anamnesis adalah riwayat yang lalu dari suatu penyakit atau kelainan, berdasarkan pada ingatan penderita pada waktu dilakukan wawancara dan pemeriksaan medic/dental. (Lusiana K.B., 1995) Ditinjau dari cara penyampaian cerita, dikenal dua macam anamnesis. Pada auto anamnesis, cerita mengenaikeadaan penyakit disampaikan sendiri oleh pasien. Disamping itu terdapat keadaan dimana cerita mengenai penyakit ini tidak disampaikan oleh pasien yang bersangkutan, melainkan melalui bantuan orang lain. Keadaan seperi ini dijumpai umpamanya pada paien bisu, ada kesulitan bahasa, penderita yang mengalami kecelakaan atau pada anak-anak kecil. Cara in9i disebut allo anamnesis. (Lusiana K.B., 1995) Dai segi inisiatif penyampaian cerita, dikenal pula anamnesis pasif dimana pasien sendirilah yang menceritakan keadaannya kepada si pemeriksa. Sebaliknya, pada anamnesis aktif penderita perlu dbantu pertanyaan-pertanyaan dalam menyampaikan ceritanya. (Lusiana K.B., 1995) Pada saat anamnesis biasanya ditanyakan hal-hal sebagai berikut :
1. Nama penderita. Hal ini perlu diketahui untuk membedakan seseorang penderita dari yang lainnya,

di samping untuk mengetahui asal suku dan rasnya. Hal terakhir ini penting, karena ras antara lain berhubungan dengan penyusunan gigi depan. Contohnya, orang eropan(ras kaukasus) mempunyai profil yang lurus, sedangkan orang asia (ras mongoloid) cembung.
2. Alamat. Dengan mengetahui alamatnya, penderita dapat dihubungi segera bila terjadi sesuatu yang

tidak diharapkan, umpamanya kekeliruan pemberian obat. Pemanggilan kembali penderita juga dapat dengan mudah dilakukan. Alamat juga membantu mengetahui latar belakang lingkungan hidup seorang pasien, sehingga dapat pula diketahui status sosialnya.
3. Pekerjaan. Dengan mengetahui pekerjaan pasien, keadaan social ekonominya juga dapat diketahui.

Pada umumnya lebih tinggi kedudukan social seseorang, lebih besar tuntutannya terhadap factor estetik.
4. Jenis Kelamin. Secara jelas sebenarnya tidak terdapat karakteristik konkrit yang berlaku untuk pria

dan wanita. Namun demikian hal-hal beikut ini sebaiknya diperhatikan. Wanita pada umumnya cenderung lebih memperhatikan factor estetik disbanding pria. Sebaliknya pria membutuhkan

Ia juga sudah mengalami prosedur pembuatannya. Usia. seperti pada waktu pencetakan. Penderita ditanyai apakah penderita mempunyai kebiasaan buruk dsb. Lama jangka waktu anatara pencabutan terakhir dengan saat dimulainya pembuatan geligi tiruan akan mempengaruhi hasil perawatan. adaptasi biasanya mulai berkurang dan akan menjadi sukar setelah usia enampuluhan. penderita semacam ini juga sering membanding-bandingkan protesa barunya dengan yang pernah dipakai sebelumnya.. 1995) . Keterangan Lain. 8. penentuan gigitan. kesehatan mulut. Sebaliknya. ukuran pulpa igi. bentuk gigi wanita relative lebih banyak lengkungan/bulatannya. 9. Itulah sebabnya penerangan yang diberikan kepada penderita sebelum pembuatan geligi tiruan dilaksanakan menjadi penting sekali.protesa yang lebih kuat. Usia juga menentukan bentuk. warna. maupun pada saat awal pemakaian. Pada penderita usia lebih dari empat puluh tahun. Seorang penderita yang pernah memakai geligi tiruan sudah mempunyai pengalaman. Pengelolaan perawatan penderita wanita dalam masa menopause membutuhkan pertimbangan lebih teliti. 5. Tujuan Pembuatan Geligi Tiruan. Biasanya konstruksi disesuaikan dengan kebutuhan penderita. Pada periode ini. 6. koordinasi otot. Pencabtan Terakhir Gigi. Pria juga lebih mementingkan rasa enak/nyaman. serta ukuran gigi seseorang. Apakah gigi tesebut sengaja dicabut atau tanggal sendiri.B. Selanjutnya. apakah dia lebih mementingkan pemenuhan factor estetik atau fungsional. disbanding ria yang member kesan lebih kasar dan persegi. Pengalaman Memakai Geligi Tiruan. Penderita perlu ditanyai mengenai tujuan pembuatan geligi tiruannya. Kadang- kadang kebiasaan tersebut sulit ditentukan tanpa suatu pengamatan yang intensif. mulut biasanya terasa lebih kering dan ada rasa seperti terbakar. sebab mereka menunjukkan kekuatan mastikasi yang lebih besar. mengalirnya saliva. Bila tanggal sendiri mungkin ada sisa akar yang tertinggal. 7. Waktu dan gigi dibagian mana yang dicabut terakhir perlu diketahui. Mereka yang belum pernah memakai geligi tiruan. biasanya membutuhkan masa adatasi lebih panjang karena kesulitannya menyesuaikan diri. (Lusiana K. Kemampuan adaptasi penderita usia muda terhadap geligi tiruan biasanya lebih tinggi disbanding penderita usia lanjut. disamping factor fungsional geligi tiruan yang dipakainya. sehingga adaptasinya terhadap geligi tiruan baru akan lebih mudah dan cepat. Proses menua mempengaruhi toleransi jaringan. Kelompok ini belum berpengalaman dalam prsedur pembuatan protesa. Pengaruh lanjutnya usia pada perawatan prostodontik harus selalu menjadi bahan pertimbangan. yang sering kali menimbulkan rasa sakit. serta panjang mahkota klinis.

dkk. 3. Gunakan bahan cetak yang bisa mengalir bebas dan buat desain rangka geligi tiruan yang terbuka dan mudah dibersihkan. dsb. menyebabkan resorpsi berlebihan pada tulang alveolar. 2. 1991 : 110). oleh karena bahan ini dapat mempengaruhi tekanan darah (Gunadi. gatal-gatal. tuberculosis. Tuberkulosis dan Lues Terjadinya gangguan metabolism pada penderita Tuberkulosis dan Lues. pembuatan protesa dapat dilakukan dengan saran-saran tambahan sebagai berikut.. mengeringnya kulit. obat-obat apa saja yang sedang diminum. Manifestasi klinis ini terjadi bersama-sama dengan gejala-gejala yang sering ditemukan seperti poliuria. Infeksi monilial. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol diabetesnya dan menyehatkan kembali jaringan mulut. Lakukan pemeriksaan dengan menggunakan Longue Blader.B. Hindari pemakaian anastetikum yang mengandung vasokonstriktor seperti adrenalin. dkk. penyakit kardiovaskular. depresi mental.3 Pemeriksaan Status Umum (riwayat kesehatan) Riwayat penyakit umum yang pernah diderita sebaiknya ditanyakan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terpilih. . seperti jaringan mukosa yang meradang. susunlah oklusi yang harmonis. (Lusiana K. Hal ini perlu dikatahui karena penyakit dan pengobatan tertentu dapat mempengaruhi jaringan yang terlibat dalam perawatan dental. Dalam merawat penderita-penderita ini. serta distribusikan beban fungsional pada semua bagian yang dapat memberikan dukungan. berkurangnya saliva. Akhirnya. cepat lelah. rangsanglah pengaliran air liur dengan obat hisap yang bebas karbohidrat. kecanduan alcohol. Tekankan kepada pasien mengenai pentingnya pemeliharaan kesehatan mulut. bertambahnya pembentukan kalkulus. 1991 : 110). haus. tentukan kunjungan ulang penderita setiap enam bulan sekali (bahkan kalau oerlu lebih sering dari itu) untuk mempertahankan kesehatan mulut (Gunadi. perlindungan terhadap dokter gigi serta penderita lain merupakan pertimbangan yang sangat penting.. Pertama. 1995) 2. merupakan hal yang khas dari penyakit diabetes yang tidak terkontrol.4 Hubungan Dengan Penyakit Sistemik 1. Dalam lingkungan mulut yang sudah sehat kembali. serta berkurangnya berat badan. sedangkan penggunaan sarung tangan karet sangat dianjurkan. Penderita sebaiknya ditanya apakah ia sedang berada dalam perawatan dokter umum/lain dan bila demikian. cepat lapar. Diabetes Mellitus Pada pendertita diabetes. hindari tindakan pembedahan yang besar selama hal itu mungkin dilakukan.2. Lalu. lues. Bila dibutuhkan. Penyakit Kardiovaskular Hal ini perlu diperhatikan pada waktu pencabutan gigi. cepat berkembangnya penyakit periodontal yang sudah ada dengan hilangnya tulang alveolar secara menyolok dan mudah terjadinya abses periapikal. suatu kombinasi infeksi dan penyakit pembuluh darah menyebabkan berkembangnya komplikasi-komplikasi di dalam mulut. umpamanya jangan memasukkan jari telanjang ke dalam mulut seorang penderita Lues.. umpamnya diabetes mellitus.

Torus terletak pada tempat-tempat tertentu dan terletak secara simetris. bila hal ini gagal. sedangkan semua pekerjaan lainnya harus ditunda sampai penyakitnya sembuh(Gunadi.. mata dan kulit pada bagian tengah wajah memerah. Tandatanda penderita semacam ini antara lain napasnya berbau alcohol. bila hal tadi dapat kita penuhi. Maka perawatan dalam bidang prostodontik sebaiknya ditunda dahulu sampai perawatan terhadap depresi mentalnya dapat diatasi. seorang penderita alkoholik cenderung mengalami kecelakaan. baik sekali untuk mencuci wajah secara hati-hati. Keyakinan dirinya serta kerja sama dengan penderita ini dapat dikembangkan. Anemia Penderita anemia biasanya menunjukkan resorpsi tulang alveolar yang cepat.. penderita alkoholik menuntut pemenuhan faktor estetik yang tinggi untuk protesa yang akan dibuat. Alkoholisme Sebagai pemakai geligi tiruan sebagian lepasan. dkk.. Seorang penderita yang frustasi biasanya menempatkan faktor estetik tidak secara realistic. Dalam upaya menutupi rasa rendah dirinya. 5. 4. seperti pada garis .5 Torus Palatina dan mandibula Tonjolan ini merupakan kelainan konginetal dengan permukaan licin dan tidak begitu sakit seperti pada exostosis. 2. menyikat tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan abrasi kecil. Patah atau hilangnya geligi tiruan karena jatuh atau kecelakaan kendaraan adalah suatu hal yang biasa terjadi (Gunadi. tremor. segera sesudah kita merawat penderita tersebut. bisa membawa akibat yang buruk. dkk.Cucilah tangan dengan sabun dan air panas. 1991 : 111-112). dkk. Di samping semua problem di atas. Penderita Lues aktif dan tidak dirawat sebaiknya hanya menerima perawatan darurat saja. Depresi Mental Penderita depresi mental biasanya diberi pengobatan dengan obat yang mempunyai efek samping mengeringnya mukosa mulut. dkk. gugup. Sebagai tambahan. Sebaliknya. Untuk kasus ini sebaiknya gunakanlah elemen gigi tiruan yang tidak ada tonjol (cusp) (Gunadi. 1991 : 110-111). Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya retensi geligi tiruan. 6. supaya pembuatan protesa dapat berhasil untuk jangka waktu cukup panjang. karena mungkin saja setetes darah/ saliva memercik mengenai muka atau sepotong kecil kalkulus terpental mengnai wajah dapat menyebabkan erosi kulit sehingga menyebabkan terjadinya infeksi. Ia mungkin datang dengan sebuah foto yang dibuat pada waktu ia masih muda/ remaja serta mengharapkan penampilan yang sesuai dengan foto tadi diterapkan pada protesa yang akan dibuat (Gunadi. dan kurus.. 1991 : 111). pecandu alcohol biasanya mengecewakan. Dalam hal ini. Perawatan gigi untuk penderita alkoholik pada umumnya dihindari sampai kebutuhan ini sudah begitu mendesak. 1991 : 111).

murah.6 Bentuk Palatum Bentuk palatum keras dibagi menjadi bentuk Quadaratic. Misalnya warna dari makanan dan minuman. gigi tiruan akrilik harus direndam dengan air dingin supaya tidak mengalami perubahan bentuk. Akrilik juga mudah mengalami keausan. Bentuk palatum seperti “U”/ kuadratik adalah yang paling menguntungkan. Gigi tiruan ini mudah dipasang dan dilepas oleh pasien. Jangan menyikat gigi tiruan dengan sikat gigi yang keras karena akan mengakibatkan keausan. 2. Bentuk ini memberikan stabilitas dalam jurusan vertical maupun horizontal. Akan tetapi mudah menyerap cairan dan juga mudah kehilangan komponen airnya. Kelainan ini juga dapat dijumpai pada region lingual premolar bawah dan disebut torus mandibularis. paling menguntungkan stabilitas B = Palatum Ovoid C = Palatum Tapering. dan Taperring. Sedangkan torusmandibularis biasanya bilateral. sehingga jenis gigi tiruan ini memerlukan perawatan yang lebih seksama. Gigi akrilik pun mudah terpengaruh perubahan warna. Ovoid.tengah palatum sehingga disebut torus palatinus. pada permukaan lingual dari rahang bawah di daerah bicuspid/ premolar dan molar. Pada rahang atas. A = Palatum Kuadratik. seperti selalu menyikatnya dengan sikat gigi lunak. sebaliknya bentuk tapering atau ‘V’ memberikan retensi yang kurang baik. Landasan maupun gigi buatan dari akrilik juga mudah patah. Penonjolan tulang seperti ini merupakan hambatan utama bagi kenyamanan pemakaian geligi tiruan. memberikan • MACAM-MACAM GIGI TIRUAN Gigi tiruan lepasan akrilik Gigi tiruan akrilik merupakan gigi tiruan yang paling sering dan umum dibuat pada saat ini. Untuk mengurangi risiko keausan. sehingga landasan gigi tiruan akrilik harus dibuat lebih tebal dan stabilitas paling buruk . bagian ini di bebaskan dari penutupan plat protesa. maka gigi tiruan akrilik bisa dikombinasikan dengan gigi tiruan porselen. dalam beberapa tahun gigi tiruan jenis ini harus diganti. Sehingga bila tidak dipakai. Bahan akrilik merupakan campuran bahan sejenis plastik yang manipulasinya mudah. karena mukosa yang terdapat di atas torus pada umumnya tipis dan mudah kena trauma. ringan dan bisa diwarnai sesuai dengan warna gigi dan warna gusi. daerah torus biasanya dirilif atau bila hal ini tidak mungkin dilakukan. sehingga dengan pemakaian normal pun. baik untuk kehilangan satu atau seluruh gigi.

Untuk membuat gigi pasak. sehingga gigi tiruan ini lebih mahal dari gigi tiruan akrilik. Untuk mengurangi ketebalan dan luasnya landasan. karena tertutupnya langit-langit akan mengganggu kontak lidah dengan langit-langit. Apabila kehilangan gigi hanya di bagian belakang dan tidak terlalu banyak. maka kunjungan pasien ke dokter gigi lebih banyak dari pemasangan gigi akrilik. jadi pengurangan gigi harus lebih banyak daripada akrilik. Karena kekuatan logam.lebih luas. hal itu tidak dapat dilakukan. landasan gigi tiruan tidak terlalu terganggu oleh keadaan cairan/makanan di dalam rongga mulut. Gigi yang rusak tersebut dikurangi sedemikian rupa dengan bentuk tertentu. Gigi tiruan kerangka logam Gigi tiruan ini terdiri dari landasan gigi tiruan dari logam sedang gigi buatannya dari akrilik atau porselen. Gigi tiruan pasak Gigi tiruan pasak adalah gigi tiruan yang mengganti gigi yang belum dicabut tetapi mahkota gigi sudah rusak dan syaraf gigi sudah terinfeksi atau sudah mati. tetapi harus dibuat ulang. daerah langit-langit yang berkontak dengan lidah dapat dibebaskan dari akrilik. Hal itu mengakibatkan ketidaknyamanan. Bahan gigi tiruan ini tergantung pada posisi dan kondisi giginya. kemudian diganti dengan bahan akrilik/porselen/ kombinasi logam-porselen yang menyerupai selubung/jaket yang bentuk dan warnanya disesuaikan dengan gigi sebelumnya atau menggunakan gigi sebelahnya sebagai panduan. landasan gigi tiruan kerangka logam dapat dibuat lebih tipis dan lebih kecil sehingga si pemakai akan lebih nyaman. tetapi akar giginya masih utuh. tetapi bila gigi hilang terlalu banyak dan meliputi gigi depan. Gigi tiruan mahkota/jaket Gigi tiruan mahkota atau umum disebut jaket merupakan gigi tiruan yang dibuat untuk gigi yang belum dicabut tetapi mengalami kerusakan yang parah sehingga sudah tidak bisa ditambal lagi. yang terpengaruh hanya bagian gigi buatannya. Karena bahan logam cukup kuat. Karena landasan logam harus dicoba dulu ketepatannya sebelum dipasang gigi-giginya. Selain itu juga mengganggu bicara. tidak dapat disambung seperti akrilik. maka dapat digunakan gigi tiruan kerangka logam. Apabila patah pada bagian logam. Logam yang dipergunakan merupakan campuran logam khusus yang memerlukan manipulasi lebih rumit. Kontak lidah dengan langit-langit tidak terlalu terganggu. Akan tetapi apabila patah hanya gigi akriliknya saja bisa disambung/diganti akriliknya saja. Keuntungan jaket porselen. Gigi tiruan pasak terdiri dari bagian . sesudah itu baru dilakukan pembentukan konstruksi pasak. Gigi tiruan ini tidak dapat dilepas oleh pasien karena ditempelkan langsung ke gigi dengan semen khusus. tetapi syaraf giginya belum mati. Tetapi lebih mahal karena proses pembuatannya lebih rumit. terlebih dulu harus dilakukan perawatan syaraf dahulu sampai steril dalam beberapa kunjungan. Jaket porselen biasanya diberi penguat logam. warnanya lebih baik serta tahan aus dibanding akrilik.

Kemudian mahkota dibuat di gigi tersebut dan disambungkan dengan gigi yang diganti. Pasak implan dipasang melalui prosedur pembedahan sampai terjadi proses penyembuhan serta terdapat hubungan antara tulang dengan logam pasak. Selain itu peralatan yang dipakai pun khusus dan memerlukan sterilitas tinggi. Sehingga persepsi rasa seperti gigi asli. yaitu jaringan gigi. kemudian dipasang pasak untuk penyangga mahkota. Bahan yang digunakan bisa dari akrilik dan porselen. Pemakaian gigi tiruan tidak hanya mengganti gigi yang hilang. Keuntungannya gigi tiruan implan adalah tidak perlu dibuka/dilepas. Setelah sekrup terpasang ditunggu sampai sembuh luka jaringannya. dll. Fungsinya sebagai penyangga gigi tiruan. dibuat mahkota jaket seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. yaitu pengganti gigi yang hilang serta penyangga. pembuatan implan memerlukan waktu lebih dari 6 bulan. Tidak mengandung landasan yang akan mengganggu pengecapan lidah. Gigi tiruan ini terdiri dari pontik. Penyangga gigi tiruan ini menggunakan gigi asli disebelahnya yang masih ada. tidak ada daerah langit-langit yang tertutup landasan gigi tiruan. Dengan prosedur ini. dan terhindar dari risiko gigi tiruan hilang. Akan tetapi untuk gigi-gigi belakang yang tidak terlalu terlihat lebih baik digunakan bahan logam untuk kekuatan dan mencegah keausan. tetapi berfungsi sebagai pemelihara jaringan yang masih ada. Apabila itu terjadi. Sehingga pemakai gigi tiruan harus betulbetul memerhatikan kebersihan gigi tiruan dan gigi aslinya. Implan Implan adalah gigi tiruan yang dibuat dengan menanamkan pasak khusus ke dalam tulang rahang yang telah kehilangan gigi. Di antaranya kesehatan umum pasien harus betul-betul prima serta tidak mempunyai penyakitpenyakit yang melemahkan seperti diabetes. .logam yang ditanam ke dalam akar gigi serta bagian di luar gigi sebagai pendukung mahkota. Persyaratan untuk pembuatan implan ini lebih berat dibanding dengan gigi tiruan lain. baru setelah itu dipasang mahkotanya. kelainan tulang. dengan cara mengurangi/menggerinda gigi asli tersebut dengan bentuk seperti untuk membuat mahkota/jaket. seperti jenis logam pasak khusus yang dapat merangsang pertumbuhan tulang di sekitar pasak implan. gusi dan tulang. Setelah disemen ke dalam akar gigi. Untuk kehilangan satu gigi. pasak implan yang ditanam hanya satu. dan tidak memerlukan gigi penyangga. gigi penyangga bisa hanya pada satu gigi. tetapi bila lebih bisa beberapa buah. Seperti halnya mahkota dan jembatan. Jadi dapat dipasang pada pasien yang telah kehilangan seluruh giginya. serta biaya yang lebih mahal karena memerlukan bahan-bahan khusus. Gigi tiruan mahkota dan jembatan Merupakan gigi tiruan untuk kasus kehilangan satu atau beberapa gigi yang tidak dapat dilepas sehingga pasien lebih nyaman. Apabila gigi yang diganti lebih kecil dari gigi penyangga. Struktur tulang untuk tempat ditanamnya pasak tersebut harus memunyai ketinggian tertentu serta kondisinya masih baik. maka setelah 6 bulan baru dipasang sekrup penyambung antara pasak dan mahkota dengan membuka lapisan mukosa gusi di ujung atas pasak.

Kedua. bahkan orthodontik perlu dilaksanakan untuk mempersiapkan mulut pasien menerima geligi tiruan yang akan dipakainya. 1991 : 128) Rencana perawatan kemudian disusun berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan secara tuntas. Haryanto dkk. Meskipun seluruh prosedur teknis telah diselesaikan oleh dokter gigi maupun tekniker. (A. mencari bidang bimbing. Tanpa rincian yang baik. Rencana perawatan harus dirinci selengkap dan sebaik mungkin. Gunadi. seperti tindakan bedah. 1991 : 128) Rencana perawatan merupakan tahap yang tidak bias dilepaskan dari proses diagnostik. 1991 : 128-129) . Bila terjadi kerusakan gigi di daerah gusi akan mengakibatkan terjadinya kebocoran di daerah tersebut. membuat sandaran oklusal dan bila perlu menciptakan daerah-daerah untuk retensi mekanis. 1991 : 128) Keberhasilan atau kegagalan perawatan dengan geligi tiruan sebagian lepasan langsung berkaitan dengan kecermatan Preparasi Mulut. pertimbangan pun harus disesuaikan dengan kondisi keuangan pasien. (A. Preparasi Mulut ada dua tahapan. mulut pasien perlu disiapkan untuk pemasangan geligi tiruan yang akan dibuat. konservatif termasuk endodontic. anamnesis maupun model diagnostik. pasak. 2. menguntungkan atau merugikan proses pembuatan galigi tiruan sebagian lepasan. Model dipakai sebagai peta atau petunjuk untuk melaksanakan perubahan-perubahan. Gunadi. Diagnostik biasanya dituliskan pada kolom khusus pada Kartu Status Penderita (Dental Record). Sebelum menentukan langkah perawatab prostodontik. Haryanto dkk. yaitu : 1. Kebocoran lama-kelamaan akan menggerogoti bagian dalam gigi tiruan tersebut sehingga mahkota tidak terdukung. Pemilihan setiap jenis gigi tiruan ini pada akhirnya tergantung dari kondisi dan situasi mulut pasien dan pertimbangan dokter gigi. Gunadi. 2. Di sini dikemukakan semua hal yang abnormal. hasilnya tidaklah selalu memuaskan.7 Rencana Perawatan Setelah semua data terkumpul melalui pemeriksaan klinis obyektif. Tahapan pertama ini ditujukan untuk menciptakan lingkungan mulut yang sehat. Gigi bisa tiba-tiba patah dan mahkota tidak dapat dipertahankan sehingga gigi harus dicabut. bila hal ini tidak ditunjang Persiapan atau Preparasi Mulut yang cermat sesuai Rencana Perawatan yang telah disusun. (A. Gunadi. (A. sehingga terlihat jelas tahapantahapan perawatan yang akan dilakukan. perawatan periodontal. Haryanto dkk.Pada pemakaian jaket. Dalam tahapan ini dilakukan proses pengubahan kontur gigi untuk mengurangi hambatan. Secara garis besar. Haryanto dkk. mahkota dan jembatan kebersihan di daerah gusi harus diperhatikan. Permukaan jaringan yang akan dipreparasi ditandai pada model diagnostik. hendaknya semua aspek ditinjau dan dipertimbangkan. tidak mungkin tercapai efisiensi dan efektivitas perawatan yang diharapkan. dalam proses ini biasanya langkah-langkah pendahuluan. maka diagnostik dapat ditegakkan. Apabila semua jenis gigi tiruan ini memungkinkan. Pertama.

dalam dan sakit. dan pemeriksaan fisik (pshysical assessment). intelegensi. Diduga hal ini karena adanya trauma pada saat beliau kecelakaan sekitar 10 tahun yang lalu. Selain bermasalah pada giginya ternyata pak mughni merasa tidak enak di daerah sendi rahang.1 SKENARIO Bapak Abdul Mughni berumur 32 tahun dengan pekerjaan seorang wiraswasta yang tinggal di kecamatan Rambipuji Jember. sebaiknya dilakukan penggolongan atau klasifikasi data berdasarkan identitas klien. pencabutan dilakukan kurang lebih 2 bulan yang lalu. Setelah merasakan gigi sudah tidah berfungsi dengan baik dan merasa tidak nyaman .2.1 Anamnesis dan Riwayat Kesehatan Agar data atau informasi dari anamnesis dapat terkumpul dengan baik dan terarah. riwayat kesehatan. Apabila merasa sakit pak Mughni minum obat ponstan sebagai penghilang rasa nyerinya. Dalam berkomunikasi ini operator mengajak pasien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaannya yang diistilahkan teknik komunikasi terapeutik. Gigi yang bagian kiri belakang sudah dicabut semua dan sebelah kanan belakang masih terdapat sisa akar. bahkan pernah sampai bengkak dan biasanya gigi-gigi sebelah kanan dan kiri sakit. gigi yang dicabut yaitu gigi yang keropos dan patah. beliau datang ke RSGN FKG UNEJ untuk mencabut gigi. Paling sering sakit yaitu gigi bagian depan. merokok serta minum kopi. dan studi dokumentasi. WAWANCARA Biasa juga disebut dengan anamnesa adalah menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi pasien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan.BAB III PEMBAHASAN 3. pengamatan (observasi). Selain itu bila dilakukan gosok gigi sering gusinya berdarah.2 PEMBAHASAN 3. Selain keropos juga terdapat gigi yang patah yang disebabkan karena makanan keras. sosial. keadaan fisik. A. datang ke klinik prosthodonsia FKG UNEJ meminta agar dibuatkan gigi tiruan. sering terdengar klik ketika membuka mulut lebar dan mudah kram serta cepat lelah. 3. karena setelah kecelakaan itulah baru sendi rahangnya sering terdengar bunyi klik. . psikologis. hasil-hasil pemeriksaan dan keadaan khusus lainnya. keluhan utama. Awalnya gigi atas bawah keropos. spiritual. Metoda yang dapat digunakan dalam pengumpulan data pada tahap pengkajian adalah Wawancara (interview). Pak Mughni sehari-hari gosok gigi 2x sehari.

adanya interupsi dari perawat lain. dan masalah-masalah keperawatan yang aktual maupun potensial. menggali jawaban dan memvalidasi respon pasien. . pembicaraan di luar). Teknik non verbal meliputi mendengarkan secara aktif. Operator diharapkan tidak mempunyai prasangka buruk terhadap pasien. Komunikasi digunakan untuk memperoleh riwayat kesehatan. Mendengarkan penuh dengan perasaan terhadap setiap yang dikatakan pasien Memberikan kesempatan pasien istirahat  Tujuan Wawancara : 1. perawat sedang memikirkan hal lain / tidak fokus ke klien. operator harus melakukan persiapan dengan membaca status pasien. Membantu operator untuk menentukan investigasi lebih lanjut selama tahap pengkajian. Persiapan Sebelum melakukan komunikasi dengan pasien. Teknik verbal meliputi pertanyaan terbuka maupun tertutup. 4. mengantuk. empati dan rasa kepedulian yang tinggi. Meningkatkan hubungan antara operator dengan pasien dalam berkomunikasi. Untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mengidentifikasi dan merencanakan tindakan keperawatan. Riwayat kesehatan merupakan data yang khusus dan data ini harus dicatat.Teknik tersebut mencakup keterampilan secara verbal maupun non verbal. Membantu pasien memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam identifikasi masalah dan tujuan. Mendengarkan secara aktif merupakan suatu hal yang perlu dilatih. Untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan masalah keperawatan pasien. karena riwayat tersebut akan memudahkan operator dalam mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan pasien. Unsur-unsur yang penting dalam mendengarkan secara aktif yaitu : Memperhatikan pesan yang disampaikan Mengurangi hambatan-hambatan. perasaan terburu-buru. Riwayat kesehatan sebaiknya segera didapatkan begitu pasien masuk rumah sakit. 3. diam. sentuhan dan kontak mata. kurangnya privasi.  Tahapan Wawancara / Komunikasi : 1. 5. nyeri. tv. sehingga rencana tindakan keperawatan dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan klien. seperti : suara yang gaduh (suara radio. klien tidak senang dengan perawat atau sebaliknya - Posisi duduk sebaiknya berhadapan. klien merasa cemas. dengan jarak yang sesuai. karena akan mengganggu dalam membina hubungan saling percaya dengan paien. resiko terjadinya gangguan fungsi kesehatan. 2.

Terminasi Operatort mempersiapkan untuk penutupan wawancara.Bila perlu diam. Operator perlu memberikan informasi kepada pasien mengenai data yang terkumpul dan akan disimpan dimana. merasa diperhatikan. bagaimana menyimpannya dan siapa saja yang boleh mengetahuinya.Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien . waktu yang diperlukan dan faktor-faktor yang menjadi pokok pembicaraan. hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara dengan klien adalah : 1. Jika diperlukan.Mendengarkan dengan penuh perhatian.Gunakan pertanyaan terbuka dan tertutup tepat pada waktunya . atau memberi kesempatan kapan pasien sanggup.Jika situasi memungkinkan kita dapat memberikan sentuhan terapeutik. 4. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti .Fokus wawancara adalah pasien . Pengaturan posisi duduk dan teknik yang akan digunakan dalam wawancara harus disusun sedemikian rupa guna memperlancar wawancara.Menanyakan keluhan yang paling dirasakan oleh pasien . status. 2. Dalam melakukan wawancara harus dapat menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien 4. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menyampaikan keluhan-keluhannya / pendapatnya secara bebas 3. Operator harus bersikap tenang. 5. Isi / tahap kerja . operator tidak boleh memaksa. tujuan wawancara. untuk memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya . sopan dan penuh perhatian. Untuk itu pasien harus mengetahui kapan wawancara akan berakhir dan tujuan dari wawancara pada awal perkenalan. yang bertujuan untuk memberikan dorongan spiritual. . Menerima keberadaan pasien sebagaimana adanya 2. operator perlu membuat perjanjian lagi untuk pertemuan berikutnya. 3. sehingga diharapkan pada akhir wawancara perawat dan pasien mampu menilai keberhasilan dan dapat mengambil kesimpulan bersama. Pembukaan atau perkenalan Langkah pertama operator dalam mengawali wawancara adalah dengan memperkenalkan diri : nama.Jika pasien belum bersedia untuk berkomunikasi. Jadi.

Pengukuran dimulai dari dasar fornix sampai puncak ridge.6. cara duduk) 10. Pemeriksaan vestibulum dilakukan dengan kaca mulut nomor tiga dan disebut dalam bila kaca mulut terbenam lebih dari setengahnya. misalnya : “Apakah Anda makan tiga kali sehari ?“ 2. 9. Pemeriksaan dilakukan pada region posterior dan anterior. Memberikan kesempatan istirahat kepada klien  Macam Wawancara : 1. Mendengarkan penuh dengan perasaan 12. Tidak bersifat menggurui 7. Misalnya : “…………….Frenulum .2 PEMERIKSAAN INTRAORAL . Posisi duduk yang sesuai (berhadapan. Misalnya : “Anda tidak bermaksud seperti itu kan?” 3. Memperhatikan pesan yang disampaikan 8. Auto anamnesa : wawancara dengan pasien langsung 2. Anda setuju bukan?” 3. Pertanyaan tertutup : tidak ada kebebasan dalam mengemukakan pendapat / keluhan / respon.2. Menyetujui / tidak menyetujui. terutama pada bagian yang tak bergigi. Vestibulum sedang dijumpai bila kaca mulut terbenam setengahnya dan menjadi dangkal bila bagian kaca yang terbenam kurang dari setengahnya. Menyelidiki : mengajukan pertanyaan yang terus-menerus 4. jarak tepat/sesuai. Menyebutkan secara tidak langsung bahwa klien benar atau salah. sedangkan pada daerah yang masih ada giginya. Mengurangi hambatan-hambatan. Allo anamnesa : wawancara dengan keluarga / orang terdekat. .Vestibulum Dalam atau dangkalnya vestibulum mempengaruhi retensi dan stabilisasi geligi tiruan. Pertanyaan terarah : secara khas menyebutkan respon yang diinginkan. dasar fornix sampai ke tepi gingival. Menghindari adanya interupsi 11.  Teknik Pengumpulan Data Yang Kurang Efektif : 1.

Tuber maksilaris kadang. Penonjolan tulang seperti ini merupakan hambatan utama bagi kenyamanan pemakaian geligi tiruan. karena mukosa yang terdapat di atas torus pada umumnya tipis dan mudah kena trauma. Kadang. yang diletakkan tegak lurus pada bagian vestibulum. Bila kecil gangguan ini dapat diatasi dengan mengubah. Melihat ada tidaknya gigi yang terpendam .Pemeriksaan frenulum meliputi tinggi rendahnya perlekatan masing-masing. Pada rahang atas. Tuber dapat dikatakan rendah bila kaca mulut terbenam kurang dari setengahnya. seperti pada garis tengah palatum sehingga disebut torus palatinus. . Sedangkan torusmandibularis biasanya bilateral. Torus terletak pada tempat-tempat tertentu dan terletak secara simetris. pada permukaan lingual dari rahang bawah di daerah bicuspid/ premolar dan molar. bagian ini di bebaskan dari penutupan plat protesa. Bila kaca mulut yang terbenam hanya setengahnya maka dikatakan kedalaman tuber sedang. Dengan sebuah kaca mulut nomer 3. . Letak perlekatan frenulum dapat digolongkan sebagai berikut : Tinggi Sedang Rendah : : bila bila perlekatan perlekatan hampir kira-kira sampai ditengah ke antara puncak puncak residual ridge dan ridge fornix : bila perlekatannya dekat dengan fornix. diamati : 1. Sebaliknya. 3.Tuber maksilaris Tuber mempunyai perananpenting dalam memberikan retensi kepada suatu geligi tiruan. Kelainan ini juga dapat dijumpai pada region lingual premolar bawah dan disebut torus mandibularis.2. 3. hal ini dikatakan memiliki tuber yang dalam. Perlekatan semacam ini akan mengganggu penutup tepi ( seal ) dan stabilitas geligi tiruan. Frenulum lingualis pada rahang bawah dan frenulum labialis pada rahang atas atau bawah merupakan struktur yang perlekatannya sering kali dekat dengan puncak residual ridge.Torus Palatina dan mandibula Tonjolan ini merupakan kelainan konginetal dengan permukaan licin dan tidak begitu sakit seperti pada exostosis. 2. pada tuber yang besar dan bilateral biasanya suatu koreksi dengan tindakan bedah menjadi pilihan. Bila kaca mulut terbenam lebih dari setengahnya. Melihat sisi akar gigi/radiks pada daerah yang sudah tidak bergigi b. daerah torus biasanya dirilif atau bila hal ini tidak mungkin dilakukan.kadang tindakan bedah ini cukup dilakukan hanya pada satu sisi saja.ubah arah pemasangan protesa atau dengan pembuatan rilif. 3 FOTO RONTGEN Fungsi: a.kadang sedemikian besarnya sehingga merupakan gerong yang sama sekali tidak menguntungkan.

G. 3.). Bentuk Gigi Yang dilihat dalam hal ini adalah bentuk gigi insisivus sentral atas yang masih ada: Persegi Lonjong Lancip (Haryanto. gigi berlebih (supernumerary teeth). dan jumlah akar gigi. Memeriksa adanya kelainan periapikal Tujuan: Untuk melihat kelainan yang dicurigai dalam RM yang tidak dapat dilihatsecara visual. 1991. panjang.). kelompok kami belum melakukannya pada pasien. A. dkk. seperti Hutchinson teeth.c. A. 2. khusunya untuk gigi yang nantinya digunakan sebagai Bentuk Insisif Pertama dan Bentuk Ridge 1. peg shape (bentuknya konis). Namun untuk pemeriksaan foto rontgen ini.. Melihat kelainan bentuk pada residual ridge. f.G. 1991. Kelainan Gigi Kemungkinan adanya kelainan bentuk dan warna gigi. Dalam jurusan sagital adalah apabila sudut antara garis inter alveolaris dengan bidang horizontal: - 800 – 900 : hubungan normal Kurang dari 800 : hubungan Klas II Lebih dari 900 : hubungan Klas III . dkk. Melihat bentuk. (Haryanto.). Macam Gigi Apakah gigi pasien sudah semuanya permanen atau masih ada gigi sulung. (Haryanto.. Kedudukan Prosesus Alveolaris Kedudukan prosesus alveolaris rahang atas dan bawah dilihat dalam jurusan sagital dan transversal (Haryanto. A.). penyangga.G. A. e. umpamanya bila terdapat tonjolan pada prosessus alveolaris g. 1991. Melihat/memeriksa struktur tulang yang akan menjadi pendukung tulang yang padat akan member dukungan yang baik. mottled enamel. 4.. Melihat adanya keradangan pada jaringan perio yang lebih dalam (resorbsi tulang alveolar+pelebaran ligament) d.G. 1991. dkk.. dkk. dan sebagainya. Meneliti keadaan vitalitas gigi h.

Ovoid c. Terdapat empat bentuk ridge. tetapi pengukuran dilakukan pada region Molar dan rahang pasien berada dalam keadaan posisi istirahat (rest position). A. (Haryanto. 1991. klasifikasinya sama seperti untuk jurusan sagital. dkk.G.. Tapering d. 1991..3 DIAGNOSIS Diagnosis kasus prosthodonsia antara lain : Edentulous ridge pada gigi: 15 11 kanan atas 26 28 kiri atas 47 46 kanan bawah dan 36 37 38 kiri bawah Gangren radiks pada gigi: - 18 16 14 kanan atas 13 12kanan atas 21 24 25 27 kiri atas 45 44 kanan bawah dan 34 35 kiri bawah 17 kanan atas dan 48kanan bawah Pulpitis Revessible Pulpitis Ireversible : Gingivitis : . Ovoid c.G.). yaitu: a.). Dalam jurusan transversal.  Bentuk Insisif Pertama RahangAtas Diperiksa bila masih ada gigi insisif pertama atas dan akan dilakukan pencabutan. Square b. Terdapat tiga bentuk. Square b.(Haryanto. A. yaitu: a. dkk. Flat 3. Tapering  Bentuk Ridge Ridge merupakan puncak tulang alveolar.2.

cacat perkembangan seperti dehiscence dan fenestrasi umum dijumpai. berarti bahwa gingival di bagian atas tidak terdukung dan kurang dapat menahan iritasi. menimbulkan resesi gingival dan terbukanya akar gigi. resesi gingival juga mencerminkan suatu perubahan dari anatomi normal. khususnya pada permukaan labial kaninus. Gigi yang tergeser seringkali disertai dengan ketebalan tulang yang lebih besar.4 RESESI GINGIVA Atrofi gingival akan menyebabkan pergeseran ke apical dari tepi gingival. Resesi seringkali diikuti dengan kerusakan jaringan periodontal dan periodontitis kronis. Seperti atrisi gigi. 1993). 1993). rahang sempit dan gigi berjejal-jejal dengan bidang alveolar yang tipis. 1993). Gingival interdental mungkin juga terkena resesi akibat penggunaan alat-alat pembersih daerah interdental yang berlebihan. namun resesi tidak selalu merupakan tanda dari penyakit tersebut. namun semua ini ada batasnya . kondensasi yang tidak terkontrol pada restorasi interproksimal atau srvikal. 2. Ada beberapa factor yang berperan baik secara tunggal maupun dalam bentuk kombinasi pad resesi gingival. 1993). jaringan ini tetap mengalami atrofi bila terkena perlakuan seperti ini (Manson & Eley. beberapa pasien seringkali menggunakan tusuk gigi atau floss dengan cara seperti mencungkil dan walaupun gingival dan tulang di bawahnya sangat resilien.2.- 22 23 kiri atas 43 42 41 kanan bawah dan 31 32 33 kiri bawah 3. Kerusakan fiisk juga dapat timbul akibat dari berbagai prosedur perawatan gigi – pemasangan matriks atau mahkota sementara yang ceroboh. yaitu kepala panjang. 1. Trauma fisik Baik gingival yang sehat maupun dinding gingival dari poket periodontal dapat teratrofi bila terkena stress dari friksi sikat gigi. insisivus bawah dan molar pertama. Daerah gingival interdental yang terlindung mungkin saja tidak terjangkau peyikatan sehingga resesi terbatas hanya pada permukaan labial gigi yang juga mengalami abrasi. Cacat pada bidang alveolar sering berhubungan dengan posisi gigi dan morfologi akar (Manson & Eley. tekanan dari cengkram yang desainnya kurang baik atau dari geligi tiruan (‘gum stripping’) – atau akibat dari kebiasaan yang buruk seperti misalnya kebiasaan menekankan gusi dengan pensil (Manson & Eley. Posisi gigi Posisi gigi pada lengkung rahang menentukan ketebalan tulang di atas akar gigi. Resesi gingival adalah satu perubahan jaringan yang biasanya disebabkan karena pemakaian dan umumnya terletak di antara gingival yang sehat dan patologik aktif. khususnya bila digunakan teknik penyikatan horizontal yang merusak. 3. Tengkorak bangsa Eropa Utara umunya berbentuk dolikosefalik. Cacat alveolar Adanya cacat tepi alveolar misalnya dehiscence. yang tidak selalu merupakan tanda dari penyakit (Manson & Eley.

Enzim ini menyebabkan rusaknya matriks kolagen yang merupakan struktur penyusun gingival. Pulpitis Reversibel • • Pulp capping adalah aplikasi selapis atau lebih material pelindung untuk perawatan pulpa Menghilangkan etiologinya yang terbuka. 3. 4. Penyakit Gingivitis ulseratif akut dapat merusak jaringan gingival yang mungkin saja tidak terbnetuk kembali walaupun penyakit tersebut sudah dihilangkan (Manson & Eley. Selain itu. hanya bila struktur anatomi ini jelas menyebabkan patologi yang progresif maka perlu dilakukan modifikasi operasi (Manson & Eley.2. tepi alveolar labial akan tergeser ke apical atau menjadi lebih tipis (dehiscence) (Manson & Eley. seringkali akan terjadi resesi. menyebabkan akar gigi terbuka (Manson & Eley. seperti misalnya pada gigi molar pertama atas atau bila akar sangat konveks seperti misalnya pada kaninus atas dan bawah. misalnya hidroksida kalsium untuk merangsang pembentukan dentin reparative. 5.2. Bidang Konservatif a. akar palatal yang divergen dari molar partama atas dapat menyebabkan timbulnya resesi gingival yang luas (Manson & Eley. 3. 1993).6 PATOGENESIS RESESI GINGIVA Resesi gingiva juga bias disebabkan oleh bakteri rongga mulut. Namun invasi bakteri ini bisa di tahan dengan CGF yang ada di gingival. 1993). bakteri tersebut bias menginvasi ke daerah yang lebih dalam dengan mengeluarkan enzim yang disebut dengan enzim kolagenase. Bakteri biasanya melekat pada permukaan gigi dan sampai di dekat margin gingival. Keadaan ini mungkin tidak termanifestasi pada keadaan sehat tetapi bila terjadi kerusakan jaringan. Maka akan terjadi invasi yang lebih dalam dan menyebabkan resesi gingival yang lebih ke apical. Perlekatan jaringan lunak Adanya frenulum atau perlekatan otot umumnya tidak berpengaruh pada gingival yang sehat. dinding gingival dari poket periodontal juga dapat bergeser ke apical bila penyakit makin berkembang atau bila inflamsi mereda. b. namun bila ada inflamasi dan poket. Keadaan ini sering terjadi bila daerah perlekatan gingival sempit atau tidak ada. 1993).7 RENCANA PERAWATAN 1. Pulpitis Irreversibel .dan bila gigi-gigi terletak pada misalnya posisi labial. adanya frenulum belum berarti bahwa perlu dilakukan operasi. tulang di atasnya akan menjadi sangat tipis atau berkurang. 1993). Bila jaringan yang rusak cukup luas. Bila CGF tidak mampu menahan bakteri pathogen yang menginvasi tadi. 1993). 6. tegangan dari struktur anatomi ini akan menyebabkan gingival teretraksi dan teresesi. Meskipun demikian. Morfologi gigi Bila akar divergen.

Periodontitis • • Scalling dan root planning dilakukan untuk membersihakan sementum nekrosis dan kalkulus Kuretase dilakukan untuk membersihkan permukaan dalam dinding jaringan lunak poket di permukaan akar serta menghaluskan permukaan akar. Nekrosis Pulpa • Endo Intrakanal 2. b.• Pulpektomi adalah pembuangan pulpa vital di bagian mahkota gigi agar vitalitas pulpa dibagian akar tetap terpelihara. yang tujuannya untuk mengembalikan perlekatannya. Bedah Mulut a. Prostodontik • GTSL (Gigi Tiruan Sebagian Lepasan) BAB IV KESIMPULAN 1. Gingivitis • Scalling dan root planning dilakukan untuk membersihakan sementum nekrosis dan kalkulus di permukaan akar serta menghaluskan permukaan akar. DIAGNOSIS Diagnosis kasus prosthodonsia antara lain : Edentulous ridge pada gigi: 15 11 kanan atas 26 28 kiri atas 47 46 kanan bawah dan 36 37 38 kiri bawah Gangren radiks pada gigi: 18 16 14 kanan atas . Sisa Akar • Ekstraksi (pencabutan gigi) 4. c. Bidang Periodontologi a. 3.

Nekrosis Pulpa • Endo Intrakanal 5. Gingivitis • Scalling dan root planning dilakukan untuk membersihakan sementum nekrosis dan kalkulus di permukaan akar serta menghaluskan permukaan akar. Bidang Periodontologi c. Pulpitis Reversibel • • • Pulp capping adalah aplikasi selapis atau lebih material pelindung untuk perawatan pulpa Menghilangkan etiologinya Pulpektomi adalah pembuangan pulpa vital di bagian mahkota gigi agar vitalitas pulpa yang terbuka. RENCANA PERAWATAN Bidang Konservatif d. Periodontitis • • Scalling dan root planning dilakukan untuk membersihakan sementum nekrosis dan kalkulus Kuretase dilakukan untuk membersihkan permukaan dalam dinding jaringan lunak poket di permukaan akar serta menghaluskan permukaan akar. misalnya hidroksida kalsium untuk merangsang pembentukan dentin reparative. Pulpitis Irreversibel dibagian akar tetap terpelihara. e. f. Bedah Mulut b.Pulpitis Revessible 13 12kanan atas 21 24 25 27 kiri atas 45 44 kanan bawah dan 34 35 kiri bawah 17 kanan atas dan 48kanan bawah 22 23 kiri atas 43 42 41 kanan bawah dan 31 2 33 kiri bawah 2. d. 6. yang tujuannya untuk mengembalikan perlekatannya. Sisa Akar • Ekstraksi (pencabutan gigi) Pulpitis Ireversible : Gingivitis : .

Prostodontik • GTSL (Gigi Tiruan Sebagian Lepasan) .7.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.