PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. 2. UU PPN adalah UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM. Pengusaha adalah OP atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa termasuk mengekspor jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. 3. PKP adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenai pajak berdasarkan UU PPN. 4. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut menurut UU PPN dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. 5. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh Pengusaha karena penyerahan JKP, ekspor JKP, atau ekspor BKP Tidak Berwujud, dikecualikan “ termasuk PPN yang dipungut menurut UU PPN dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan JKP” 6. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP atau penyerahan JKP. 7. Pajak Masukan adalah PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh PKP karena perolehan BKP dan/atau perolehan JKP dan/atau pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean dan/atau impor BKP.

Pasal 4 1. Pasal 3 1. 2. wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. Bentuk kerja sama operasi wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP dalam hal melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP atas nama bentuk kerja sama operasi. 2. Tanggung jawab renteng ditagih melalui penerbitan SKPKB. kecuali: a. Pengusaha kecuali pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. www. dan melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang.hukumonline. menyetor. atau b. 3. Bentuk kerja sama operasi merupakan bagian dari bentuk badan lainnya. Pengusaha yang sejak semula bermaksud melakukan penyerahan dapat melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP.BAB II PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK Pasal 2 1. pembeli BKP atau penerima JKP dapat menunjukkan bukti telah melakukan pembayaran pajak kepada penjual barang atau pemberi jasa.com . Pembeli BKP atau penerima JKP bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran PPN atau PPn dan PPnBM. 2. pajak yang terutang tersebut dapat ditagih kepada penjual barang atau pemberi jasa. Pengusaha yang sudah dikukuhkan sebagai PKP wajib memungut.

Pasal 6 PPN dikenakan atas penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha yang dimanfaatkan di dalam atau di luar Daerah Pabean. Pasal 7 Ketentuan mengenai kriteria dan/atau rincian barang dan jasa yang termasuk dalam jenis barang dan jenis jasa yang tidak dikenai PPN diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.” b. 3. Penyerahan BKP melalui juru lelang merupakan penyerahan BKP yang dikenai PPN atau PPN dan PPnBM yang dilakukan dengan penerbitan Faktur Pajak oleh pemilik barang. . 2.BAB III BARANG KENA PAJAK DAN JASA KENA PAJAK Pasal 5 1. tujuan konsumtif. Pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP meliputi pemakaian sendiri untuk: a. Pasal 8 1. PPN yang dibayar atas perolehan BKP dan/atau JKP dalam rangka pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP dapat dikreditkan. Dalam hal pemilik barang menerbitkan Faktur Pajak. Pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP merupakan penyerahan BKP dan/atau JKP yang terutang PPN atau PPN dan PPnBM. kecuali “pemakaian sendiri yang digunakan untuk melakukan penyerahan yang tidak terutang PPN atau mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN. 2. pemungutan PPN atau PPN dan PPnBM dilakukan sendiri oleh pemenang lelangkmelalui Surat Setoran Pajak. tujuan produktif: tidak dilakukan pemungutan PPN atau PPN dan PPnBM.

3. Dasar Pengenaan Pajak meliputi jumlah: a. DPP atas penyerahan BKP yang tergolong mewah yang dilakukan oleh PKP yang menghasilkan BKP yang tergolong mewah atau atas impor BKP yang tergolong mewah. nilai impor. yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang. adalah termasuk PPnBM yang dikenakan atas perolehan atau atas impor BKP yang tergolong mewah tersebut. Harga Jual. . DPP atas penyerahan BKP yang tergolong mewah yang dilakukan oleh PKP selain: a. atas perolehan BKP yang tergolong mewah lainnya tersebut telah dibayar PPnBM DPP berupa Harga Jual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a termasuk PPnBM yang telah dibayar atas perolehan BKP yang tergolong mewah lainnya tersebut. PKP yang menghasilkan BKP yang tergolong mewah. c. PKP yang melakukan impor BKP yang tergolong mewah. d. 4. atau b. dan b. nilai lain. nilai ekspor. Dalam hal: a. 2. PKP yang menghasilkan BKP yang tergolong mewah menggunakan BKP yang tergolong mewah lainnya sebagai bagian dari BKP yang tergolong mewah yang dihasilkannya. b. Penggantian.BAB IV DASAR PENGENAAN PAJAK Pasal 9 1. atau e. adalah “dikecualikan” PPN dan PPnBM yang dikenakan atas penyerahan atau atas impor BKP yang tergolong mewah tersebut.

nilai kontrak. b. Pasal 11 1.X harga atau pembayaran atas penyerahan BKP 110+t 3. 3. 2. DPP ditetapkan sebesar Harga Jual. dan c. dalam kontrak atau perjanjian tertulis wajib disebutkan nilai kontrak atau perjanjian tertulis tersebut termasuk PPN atau PPN dan PPnBM. Kontrak atau perjanjian tertulis mengenai penyerahan BKP dan/atau JKP paling sedikit memuat: a. penghitungan PPN atau PPN dan PPnBM menggunakan rumus sebagai berikut: 10 a.BAB V PENGHITUNGAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH Pasal 10 1. Dalam hal PPN menjadi bagian dari harga atau pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP. Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan PKP tidak melaksanakan sebagian atau seluruh kewajiban pemungutan PPN atau PPN dan PPnBM.X harga atau pembayaran atas penyerahan BKP 110 + t b. Penggantian. . DPP. PPnBM = ----------. Dalam hal nilai kontrak atau perjanjian tertulis sudah termasuk PPn atau PPN dan PPnBM. Dalam hal kontrak atau perjanjian tertulis tidak menyebutkan nilai kontrak atau perjanjian tertulis tersebut termasuk PPN atau PPN dan PPnBM. PPN = ----------. besarnya PPN atau PPn dan PPnBM yang terutang. nilai kontrak yang tercantum dalam kontrak atau perjanjian tertulis tersebut dianggap sebagai DPP. Dalam hal penyerahan BKP juga terutang PPnBM dan telah menjadi bagian dari harga atau pembayaran atas penyerahan BKP. atau nilai lain sesuai hasil pemeriksaan. PPN yang terutang adalah 10/110 (sepuluh per seratus sepuluh) dari harga atau pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP. 2.

Penghapusan piutang tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaian PPN atau PPN dan PPnBM yang telah: a. Besarnya PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dihitung berdasarkan tarif dikalikan DPP menurut hasil pemeriksaan. dan b. besarnya PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dihitung sesuai ketentuan sebagaimanadimaksud pada ayat (3) dan ayat (4). atas PPN atau PPN dan PPPnBM yang salah dipungut hanya dapat dimintakan kembali oleh pihak yang terpungut. dilaporkan oleh PKP penjual atau PKP pemberi jasa. 2. 2. dikreditkan atau yang telah dibebankan sebagai biaya oleh PKP pembeli atau PKP penerima jasa. c. penyerahan BKP.4. Dalam hal Pengusaha yang wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP tidak melaksanakan kewajibannya. penyerahan JKP. atau e. atau belum dikapitalisasi dalam harga perolehan. importir. belum dibebankan sebagai biaya. sepanjang belum dikreditkan.m c. d. Dalam hal terjadi kesalahan pemungutan yang mengakibatkan PPN atau PPN dan PPnBM yang dipungut lebih besar dari yang seharusnya atau tidak seharusnya dipungut dan telah disetorkan dan dilaporkan. pihak yang memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. Pihak yang terpungut meliputi: a. Atas BKP yang musnah atau rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi baik karena di luar kekuasaan PKP atau keadaan kahar. pembeli barang. 5. b. impor BKP. d. b. Pasal 12 1. Pasal 14 Dalam hal transaksi atas: a. atau . pemanfaatan BKP Tidak berwujud dari luar Daerah Pabean. tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaianPPN atau PPN dan PPnBM yang telah dikreditkan atau yang telah dibebankan sebagai biaya untuk perolehan BKP yang musnah atau rusak tersebut. Pasal 13 1. penerima jasa. pihak yang memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean.

penyerahan BKP. Pasal 16 1. d. ekspor BKP Berwujud. Dalam hal impor BKP. Pajak Masukan atas perolehan dan/ atau impor barang modal dapat dikreditkan. b. penghitungan besarnya PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang. g. atau . Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau JKP harus dikreditkan dengan Pajak Keluaran di tempat PKP dikukuhkan. pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean. BAB VI PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN Pasal 15 1. 2. 2.com a. Terutangnya PPN atau PPN dan PPnBM terjadi pada saat:kumonline.e. e. pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean. c. termasuk pengeluaran berkaitan dengan perolehan barang modal yang dikapitalisasi ke dalam harga perolehan barang modal tersebut. harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan mempergunakan kurs yang ditetapkan Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembuatan Faktur Pajak. BAB VII SAAT DAN TEMPAT TERUTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH Pasal 17 1. Bagi PKP yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang PPN atau PPN dan PPnBM. Barang modal adalah harta berwujud yang memiliki masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. dilakukan dengan mempergunakan mata uang asing. penyerahan JKP. f. Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau berdasarkan permohonan tertulis dari PKP dapat menentukan tempat lain selain tempat dilakukannya impor BKP sebagai tempat pengkreditan Pajak Masukan. ekspor BKP Tidak Berwujud. pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean. impor BKP.

atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh PKP. diserahkan kepada juru kirim atau pengusaha jasa angkutan.hukumonline. harga atas penyerahan BKP diakui sebagai piutang atau penghasilan. terjadi pada saat penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai BKP berwujud tersebut. b. secara hukum atau secara nyata. terjadi pada saat: 1. berdasarkan hasil pemeriksaan atau berdasarkan data atau dokumen yang ada. atau saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata. ekspor JKP. penyerahan BKP berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang bergerak. terjadi pada saat: 1. saat terutangnya PPN atau PPN dan PPnBM adalah pada saat pembayaran. pemakaian sendiri. Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan BKP atau sebelum penyerahan JKP atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean. ditandatanganinya akta pembubaran oleh Notaris. atau 4. tanggal penetapan Pengadilan yang menyatakan perusahaan dibubarkan. penyerahan BKP berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang tidak bergerak. kepada pihak pembeli. sebagian atau seluruhnya. 2. atau 4. diserahkan secara langsung kepada pembeli atau pihak ketiga untuk dan atas nama pembeli. dan penyerahan dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan antar cabang. penyerahan BKP tidak berwujud. diserahkan secara langsung kepada penerima barang untuk pemberian cumacuma. atau 2. dalam hal saat sebagaimana dimaksud pada angka 1 tidak diketahui. 2.. BKP berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. 2. yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan terjadi.h. kontrak atau perjanjian ditandatangani. 3. diketahuinya bahwa perusahaan tersebut nyata-nyata sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau sudah dibubarkan. harga atas penyerahan BKP tidak berwujud diakui sebagai piutang atau penghasilan. c. atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh PKP. 3.com 3. Penyerahan BKP untuk: a. d. adalah pada saat yang terjadi lebih dahulu di antara saat: 1. . berakhirnya jangka waktu berdirinya perusahaan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar.

Ekspor BKP Berwujud terjadi pada saat BKP dikeluarkan dari Daerah Pabean. 7. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean terjadi pada tanggal ditandatanganinya kontrak atau perjanjian.e. dalam hal saat sebagaimana dimaksud pada huruf a tidakdiketahui. baik sebagian atau seluruhnya. dalam hal saat terjadinya Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak diketahui. 6. pemecahan. pemecahan atau pengambilalihan usaha. mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata. pemekaran. dan pengambilalihan usaha yang tidak memenuhi ketentuan atau perubahan bentuk usaha. pengalihan BKP dalam rangka penggabungan. atau perubahan bentuk usaha. b. ditandatanganinya akta mengenai penggabungan. peleburan. pemecahan. peleburan. pengambilalihan usaha. disepakati atau ditetapkannya penggabungan. pemekaran. pengambilalihan usaha. 4. 8. atau perubahan bentuk usaha sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham yang tertuang dalam perjanjian penggabungan. peleburan. Penyerahan JKP terjadi pada saat: a. atau perubahan bentuk usaha oleh Notaris. Ekspor BKP Tidak Berwujud terjadi pada saat Penggantian atas BKP Tidak Berwujud yang diekspor tersebut dicatat atau diakui sebagai piutang atau penghasilan. kontrak atau perjanjian ditandatangani. . atau c. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean terjadi pada saat: a. pemecahan. atau 2. dalam hal pemberian cuma-cuma atau pemakaian sendiri JKP. harga atas penyerahan JKP diakui sebagai piutang atau penghasilan. Impor BKPterjadi pada saat BKP tersebut dimasukkan ke dalam Daerah Pabean. atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh PKP. yang terjadi lebih dahulu. harga perolehan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP tersebut dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang memanfaatkannya. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten. b. 9. pemekaran. peleburan. harga jual BKP Tidak Berwujud dan/atau penggantian JKP tersebut ditagih oleh pihak yang menyerahkannya. terjadi pada saat: 1. 5. pemekaran. atau c. harga perolehan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP tersebut dibayar baik sebagian atau seluruhnya oleh pihak yang memanfaatkannya.

tanpa didahului . tidak diterbitkan Surat Tagihan Pajak. www.hukumonline. melalui suatu tempat penjualan eceran atau langsung mendatangi dari satu tempat konsumen akhir ke tempat konsumen akhir lainnya. Pasal 20 1. Pedagang eceran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah PKP yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya melakukan penyerahan BKP dengan cara sebagai berikut: a. dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya dapat menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak untuk memilih satu tempat atau lebih sebagai tempat terutangnya dan wajib menyelenggarakan administrasi penjualan secara terpusat pada 1 (satu) atau lebih tempat kegiatan usaha. Ketentuan mengenai kewajiban penerbitan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP untuk tujuan produktif yang tidak dipungut PPN. Ekspor JKPpada saat Penggantian atas jasa yang diekspor tersebut dicatat atau diakui sebagai piutang atau penghasilan. 3. Pedagang eceran yang membuat Faktur Pajak tanpa mencantumkan keterangan mengenai identitas pembeli serta nama dan tanda tangan penjual. PPN yang tercantum dalam Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat dikreditkan sebagai Pajak Masukan.com Pasal 18 PKP yang terutang PPN atau PPN dan PPnBM pada lebih dari 1 (satu) tempat kegiatan usaha. Faktur Pajak yang diterbitkan oleh PKP setelah melewati jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak saat Faktur Pajak seharusnya dibuat tidak diperlakukan sebagai Faktur Pajak. dengan cara penjualan eceran yang dilakukan langsung kepada konsumen akhir. 2. 2.10. b. Faktur Pajak wajib diterbitkan oleh PKP pada saat penyerahan atau ekspor BKP dan/atau JKP. 5. BAB VIII FAKTUR PAJAK Pasal 19 1. PKP yang menerbitkan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dianggap tidak menerbitkan Faktur Pajak. 4.

pada umumnya penyerahan BKP atau transaksi jual beli dilakukan secara tunai dan penjual atau pembeli langsung menyerahkan atau membawa BKP yang dibelinya. dan c. Termasuk dalam pengertian Pedagang eceran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah PKP yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya melakukan penyerahan JKP dengan cara sebagai berikut:umonline. pemesanan tertulis. atau lelang. pemesanan tertulis. pada umumnya pembayaran atas penyerahan JKP dilakukan secara tunai. kontrak. dilakukan secara langsung kepada konsumen akhir. dengan penawaran tertulis. atau lelang.c. 3.com a. . tanpa didahului dengan penawaran tertulis. dan d. melalui suatu tempat penyerahan jasa secara langsung kepada konsumen akhir atau langsung mendatangi dari satu tempat konsumen akhir ke tempat konsumen akhir lainnya. kontrak. b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful