Diabetes Mellitus

DIABETES MELLITUS Definisi, Klasifikasi, dan Patofisiologi Diabetes mellitus, DM (bahasa Yunani: διαβαίνειν, diabaínein, tembus atau pancuran

air) (bahasa Latin: mellitus, rasa manis) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit kencing gula adalah kelainan metabolis yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan simtoma berupa hiperglisemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari:
  

defisiensi sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau keduanya. defisiensi transporter glukosa atau keduanya (WHO, 1999).

Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Kelainan pada sekresi/kerja insulin tersebut menyebabkan abnormalitas dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah. World Health Organization (WHO) sebelumnya telah merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat, tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Wild, et. al 2004).. Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2009, klasifikasi Diabetes Melitus adalah sbb: 1. Diabetes Melitus tipe 1 DM tipe 1 sering dikatakan sebagai diabetes “Juvenile onset” atau “Insulin dependent” atau “Ketosis prone”, karena tanpa insulin dapat terjadi kematian dalam beberapa hari

Istilah “juvenile onset” sendiri diberikan karena onset DM tipe 1 dapat terjadi mulai dari usia 4 tahun dan memuncak pada usia 11-13 tahun. dan sel beta pankreas gagal berespons terhadap stimulus yang semestinya meningkatkan sekresi insulin. Faktor-faktor yang diduga berperan memicu serangan terhadap sel beta. DM tipe 2 ini bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif. DM tipe 2 tidak memiliki hubungan dengan aktivitas HLA. misalnya pada ras tertentu Afrika dan Asia. dan konsumsi susu sapi pada masa bayi. sitotoksin. Kelainan autoimun ini diduga ada kaitannya dengan agen infeksius/lingkungan. sering terjadi akibat faktor keturunan. sebagaian kecil DM tipe 1 terjadi akibat proses yang idiopatik. tiroiditis Hashimoto atau myasthenia gravis. seperti penyakit Grave. 2. toksin kimia. antara lain virus (mumps. rubella. virus atau autoimunitas dan biasanya pasien mempunyai sel beta yang masih berfungsi (walau terkadang memerlukan insulin eksogen tetapi tidak bergantung seumur hidup). Karakteristik dari DM tipe 1 adalah insulin yang beredar di sirkulasi sangat rendah. Diabetes Melitus tipe 2 Tidak seperti pada DM tipe 1. Pemeriksaan histopatologi pankreas menunjukkan adanya infiltrasi leukosit dan destruksi sel Langerhans. Tidak ditemukan antibodi sel beta atau aktivitas HLA.yang disebabkan ketoasidosis. DM tipe 1 yang bersifat idiopatik ini. DM tipe 1 sekarang banyak dianggap sebagai penyakit autoimun. coxsackie). sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi . Selain akibat autoimun. Sekitar 95% pasien memiliki Human Leukocyte Antigen (HLA) DR3 atau HLA DR4. di mana sistem imun pada orang dengan kecenderungan genetik tertentu. Prevalensi DM tipe 1 meningkat pada pasien dengan penyakit autoimun lain. Pada 85% pasien ditemukan antibodi sirkulasi yang menyerang glutamicacid decarboxylase (GAD) di sel beta pankreas tersebut. selain itu dapat juga terjadi pada akhir usia 30 atau menjelang 40. menyerang molekul sel beta pankreas yang „menyerupai‟ protein virus sehingga terjadi destruksi sel beta dan defisiensi insulin. kadar glukagon plasma yang meningkat.

peningkatan produksi glukosa hati dan peningkatan lipolisis. 3. lemak dan hati serta terdapat respons yang inadekuat pada sel beta pankreas. Terjadi peningkatan kadar asam lemak bebas di plasma. yang mengakibatkan hiperinsulinemia. Pada DM tipe 2 resistensi insulin terjadi pada otot. Terjadi gangguan sekresi insulin namun kerja insulin di jaringan tetap normal. Defek yang terjadi pada DM tipe 2 disebabkan oleh gaya hidup yang diabetogenik (asupan kalori yang berlebihan. trauma. dan carcinoma pankreas. pada wanita mengalami virilisasi dan pembesaran ovarium. .insulin. penurunan transpor glukosa di otot. Penyakit eksokrin pancreas Meliputi pankreasitis. Defek genetik kerja insulin Terdapat mutasi pada reseptor insulin. juga mutasi di kromosom 7p yang mengkode glukokinase. aktivitas fisik yang rendah. dicirikan dengan onset hiperglikemia pada usia yang relatif muda (<25 tahun) atau disebut maturity-onset diabetes of the young (MODY). hiperglikemia dan diabetes. Nilai BMI yang dapat memicu terjadinya DM tipe 2 adalah berbeda-beda untuk setiap ras. yang paling sering adalah mutasi kromosom 12. Beberapa individu dengan kelainan ini juga dapat mengalami akantosis nigricans. pankreatektomi. Selain itu juga telah diidentifikasi kelaian genetik yang mengakibatkan ketidakmampuan mengubah proinsulin menjadi insulin. Diabetes Melitus tipe lain Defek genetik fungsi sel beta Beberapa bentuk diabetes dihubungkan dengan defek monogen pada fungsi sel beta. obesitas) ditambah kecenderungan secara genetik. Saat ini telah diketahui abnormalitas pada 6 lokus di beberapa kromosom.

4. Sindroma genetik lain Down‟s syndrome. Infeksi Virus tertentu dihubungkan dengan kerusakan sel beta. Asam nikotinat dan glukokortikoid mengganggu kerja insulin. feokromositoma dapat menyebabkan diabetes. Diabetes Kehamilan/gestasional Diabetes kehamilan didefinisikan sebagai intoleransi glukosa dengan onset pada waktu kehamilan. dll. kortisol. glukagonoma. Pada sindrom stiffman terjadi peninggian kadar autoantibodi GAD di sel beta pankreas. seperti rubella. seperti sindroma Cushing. dan hiperglikemia dapat diperbaiki bila kelebihan hormon-hormon tersebut dikurangi. yaitu sindrom stiffman dan antibodi antiinsulin reseptor. glukagon dan epinefrin bekerja pada mengantagonis aktivitas insulin. . CMV. dan mumps. Diabetes jenis ini merupakan komplikasi pada sekitar 1-14% kehamilan. Imunologi Ada dua kelainan imunologi yang diketahui. Vacor (racun tikus) dan pentamidin dapat merusak sel beta. coxsackievirus B. Karena obat/zat kimia Beberapa obat dapat mengganggu sekresi dan kerja insulin. Biasanya toleransi glukosa akan kembali normal pada trimester ketiga.- Endokrinopati Beberapa hormon seperti GH. Kelebihan hormon-hormon ini. Klinefelter syndrome. Turner syndrome. Umumnya terjadi pada orang yang sebelumnya mengalami defek sekresi insulin. adenovirus.

10. Di samping itu. patofisiologi DM yaitu : 1) DM Tipe I Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pancreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. angka ini akan bertambah menjadi 366 juta atau sekitar 4. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Daerah dengan angka penderita DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan Maluku Utara yaitu 11. seperti pola makan “Western-style” yang tidak sehat. DM terdapat di seluruh dunia. Insidensnya terus meningkat dengan cepat.1 %. namun lebih sering (terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Di Indonesia sendiri. Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi.5% mengalami Diabetes Melitus yang terdiagnosis dan 4. dan lebih sering pada golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah.2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar. sedangkan kelompok usia penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu 13. Peningkatan prevalens terbesar terjadi di Asia dan Afrika.4% dari populasi dunia. Baik DM maupun TGT lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria. glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). dan diperkirakan pada tahun 2030. Patofisiologi Diabetes Mellitus Menurut Brunner dan Suddarth (2001).5%. sebagai akibat dari tren urbanisasi dan perubahan gaya hidup. hipertensi. kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi sayur-buah kurang dari 5 porsi perhari.8% dari total populasi. Beberapa hal yang dihubungkan dengan risiko terkena DM adalah obesitas (sentral).Epidemiologi Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang di seluruh dunia menderita Diabetes Mellitus. Sebanyak 1.2% mengalami Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. atau sekitar 2. glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia post prandial (sesudah makan). Akibatnya. berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007. dari 24417 responden berusia >15 tahun. Ketika .

glukosa yang berlebihan dieksresikan ke urin. harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan pada penderita toleransi glukosa terganggu. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah. Pasien dapat mengalami peningkatan secara makan (polifagia).full [Diakses 24 Maret 2012]. untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut.diabetesjournals. pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebiha. terjadinya sel resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun. .Available from: http://care. 2004. keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan. Defisisensi insulin juga mengganggu metabolism protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan pula. akibat menurunnya simpanan kalori. 2) Dm Tipe II Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yaitu yang berhubungan dengan insulin : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. DAFTAR PUSTAKA American Diabetes Association. Keadaan ini dinamakan dieresis osmotic. gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Dengan demikian.org/content/27/suppl_1/s5. insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus.

Diabetes Care 2004 May. World Health Organization Department of Noncommunicable Disease Surveillance (1999). Sicree R. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus and its Complications" . "Definition.Brunner dan Suddarth. Wild S. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2001.27(5):1047-53. King H. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Global prevalence of diabetes: estimates for the year 2000 and projections for 2030. Roglic G. Green A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful