UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN

1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: bahwa dalam rangka lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan, serta menciptakan sistem perpajakan yang sederhana dengan tanpa mengabaikan pengawasan dan pengamanan penerimaan negara agar pembangunan nasional dapat dilaksanakan secara mandiri, perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994.

Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2), dan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Pertama Tahun 1999; Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3984); Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3263) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000

2.

3.

Dengan Persetujuan: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3568). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3985). sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: . Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51. 4. MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 61. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 61.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3568) diubah sebagai berikut: Angka 1 Ketentuan Pasal 1 diubah.

perseroan lainnya. yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak. yayasan. persekutuan. 7. koperasi. 11. 9. . Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean karena suatu perjanjian di dalam Daerah Pabean. organisasi sosial 2. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat. 13. organisasi massa. dan barang tidak berwujud. Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai. 3. 10. Barang adalah barang berwujud. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. Jasa Kena Pajak adalah jasa sebagaimana dimaksud dalam angka 5 yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini. 4. termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan. Penyerahan Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pemberian Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 6. Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun. termasuk kegiatan tukar menukar barang. Perdagangan adalah kegiatan usaha membeli dan menjual. firma. perseroan komanditer. 5. perkumpulan. 8. Impor adalah setiap kegiatan memasukkan barang dari luar Daerah Pabean ke dalam Daerah Pabean. 6. Barang Kena Pajak adalah barang sebagaimana dimaksud dalam angka 2 yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini. dan ruang udara diatasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. tanpa mengubah bentuk atau sifatnya. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. perairan.1. 12. dana pensiun. Ekspor adalah setiap kegiatan mengeluarkan barang dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean. Penyerahan Barang Kena Pajak adalah setiap kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 3. kongsi.

dan bentuk badan lainnya. Nilai Impor. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan Pabean untuk impor Barang Kena Pajak. atau organisasi yang sejenis. . kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. 17. tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. 18. mengekspor barang. tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini. tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Penggantian. 15. Harga Jual adalah nilai berupa uang. Pembeli adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima penyerahan Barang Kena Pajak dan yang membayar atau seharusnya membayar harga Barang Kena Pajak tersebut. 16. atau kegiatan mengolah sumber daya alam termasuk menyuruh orang pribadi atau badan lain melakukan kegiatan tersebut. mengimpor barang. tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. 19. lembaga. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam angka 13 yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang. 21. 14. melakukan usaha perdagangan. melakukan usaha jasa. 20. Nilai Ekspor. termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak. atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Penggantian adalah nilai berupa uang. Menghasilkan adalah kegiatan mengolah melalui proses mengubah bentuk atau sifat suatu barang dari bentuk aslinya menjadi barang baru atau mempunyai daya guna baru. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual. bentuk usaha tetap. termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan Jasa Kena Pajak.politik. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha sebagaimana dimaksud dalam angka 14 yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini.

26.” 23. atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. atau instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk memungut. dan melaporkan pajak yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada bendaharawan Pemerintah. Pemungut Pajak Pertambahan Nilai adalah bendaharawan Pemerintah. atau instansi Pemerintah tersebut. 24. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak. atau ekspor Barang Kena Pajak. b. Penerima jasa adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima penyerahan Jasa Kena Pajak dan yang membayar atau seharusnya membayar Penggantian atas Jasa Kena Pajak tersebut. 27.22. pengalihan Barang Kena Pajak oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian leasing. penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian. 25. . badan. Angka 2 Di antara Pasal 1 dan Pasal 2 disisipkan 1 (satu) pasal yaitu Pasal 1A yang berbunyi sebagai berikut: “Pasal 1A (1). termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak. Yang termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak adalah: a. penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang. penyerahan Jasa Kena Pajak. menyetor. badan. c. Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan atau penerimaan Jasa Kena Pajak dan atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan atau impor Barang Kena Pajak. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang.

" b. huruf c. Angka 3 Judul Bab IIA diubah. penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi. sepanjang Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan.d. g. . dan wajib memungut. MENYETOR DAN MELAPORKAN PAJAK YANG TERUTANG” Angka 4 Ketentuan Pasal 3A diubah. menyetor. c. yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan. pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak. wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. sehingga keseluruhan Pasal 3A berbunyi sebagai berikut: “Pasal 3A Pengusaha yang melakukan penyerahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a. f. dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang terutang. persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. (2). penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang. atau huruf f. e. sehingga berbunyi sebagai berikut: “BAB IIA KEWAJIBAN MELAPORKAN USAHA DAN KEWAJIBAN MEMUNGUT. penyerahan Barang Kena Pajak dari Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan penyerahan Barang Kena Pajak antar Cabang. penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan utang piutang. penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f dalam hal Pengusaha Kena Pajak memperoleh ijin pemusatan tempat pajak terutang. Yang tidak termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak adalah: a.

Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak wajib melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha. f. sehingga keseluruhan Pasal 4 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 4 Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas: a. atau ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf d dan atau yang memanfaatkan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e wajib memungut." b. impor Barang Kena Pajak. c. sehingga berbunyi sebagai berikut: “BAB III OBJEK PAJAK” Angka 6 Ketentuan Pasal 4 diubah. e.” Angka 5 Judul Bab III diubah. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. menyetor. . dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang yang penghitungan dan tata caranya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha. d.

jasa di bidang pelayanan kesehatan medik. d. jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air. dan sejenisnya. asuransi. Penetapan jenis barang yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan atas kelompok-kelompok barang sebagai berikut: a. Penetapan jenis jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan atas kelompok-kelompok jasa sebagai berikut: a. c. jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. g. h. jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan. jasa di bidang pelayanan sosial. f. (2). Jenis barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 dan jenis jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5 yang tidak dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan sewa guna usaha dengan hak opsi. barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.Angka 7 Ketentuan Pasal 4A diubah dan dijadikan ayat (1) dan ditambah 2 (dua) ayat yaitu ayat (2) dan ayat (3). b. sehingga keseluruhan Pasal 4A berbunyi sebagai berikut: “Pasal 4A (1). e. emas batangan. restoran. makanan dan minuman yang disajikan di hotel. (3). dan surat-surat berharga. jasa di bidang keagamaan. uang. jasa di bidang perbankan. d. . warung. b. jasa di bidang pendidikan. jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko. rumah makan. c. i.

Disamping pengenaan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum. b." Angka 9 Ketentuan Pasal 6 dihapus. jasa di bidang tenaga kerja. impor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dikenakan hanya satu kali pada waktu penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah oleh Pengusaha yang menghasilkan atau pada waktu impor. l. ayat (3) dan ayat (4) diubah. . dikenakan juga Pajak Penjualan Atas Barang Mewah terhadap: a. Angka 10 Ketentuan Pasal 8 ayat (1).” Angka 8 Ketentuan Pasal 5 ayat (1) diubah. k. (2). Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen). sehingga keseluruhan Pasal 8 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 8 (1). sehingga keseluruhan Pasal 5 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 5 (1). jasa di bidang perhotelan. Penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dilakukan oleh Pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah tersebut di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.j.

Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan. Apabila dalam suatu Masa Pajak. (2a). sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya.(2). ayat (11). Jenis Barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. ayat (8). Apabila dalam suatu Masa Pajak. ayat (12). maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dimintakan kembali atau dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya. sehingga keseluruhan Pasal 9 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 9 (1). dan ayat (14) dihapus. (2).” (3). ayat (9). ayat (6). ayat (10). maka selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak. maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak. (5). dan diantara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan ayat baru yaitu ayat (2a). (3). Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk Masa Pajak yang sama. ayat (5). ayat (4). (4). maka Pajak Masukan tetap dapat dikreditkan. Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dengan tarif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dengan Dasar Pengenaan Pajak. Dalam hal belum ada Pajak Keluaran dalam suatu Masa Pajak. ayat (2). Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran. Angka 11 Ketentuan Pasal 9 ayat (1). (4). ayat (7). . dan ayat (13) diubah. Apabila dalam suatu Masa Pajak. Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak. Atas ekspor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah dikenakan pajak dengan tarif 0% (nol persen).

perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha. . jeep. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang bukti pungutannya berupa Faktur Pajak Sederhana. perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan. (8). e. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5). Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan menurut cara sebagaimana diatur dalam ayat (2) bagi pengeluaran untuk: a. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. dapat dihitung dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.(6). h. d. c. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6). sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti. b. Apabila dalam suatu Masa Pajak. f. g. van. maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak. station wagon. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh Pengusaha yang dikenakan Pajak Penghasilan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak. (7). dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan.

(13).i. (9). tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Pertambahan Nilai maupun Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang dipungut berdasarkan Undang-undang ini.” Angka 12 Ketentuan Pasal 10 ayat (1) dan ayat (3) diubah. dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan. yang diketemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan. (11). Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama. dihapus. Pengusaha Kena Pajak yang mengekspor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah dapat meminta kembali Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang telah dibayar pada waktu perolehan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang diekspor tersebut. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dengan Dasar Pengenaan Pajak. Angka 13 . (10). dihapus. sehingga keseluruhan Pasal 10 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 10 (1). (14). dihapus. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. (12). (3). Penghitungan dan tata cara pengembalian kelebihan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang sudah dibayar pada waktu perolehan atau impor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah. dihapus.” (2).

atau ekspor Barang Kena Pajak. (4). sehingga keseluruhan Pasal 12 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 12 (1). pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e. b. sehingga keseluruhan Pasal 11 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 11 (1). Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan saat lain sebagai saat terutangnya pajak dalam hal saat terutangnya pajak sukar ditetapkan atau terjadi perubahan ketentuan yang dapat menimbulkan ketidakadilan. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a. (5)." (3). Angka 14 Ketentuan Pasal 12 ayat (1) dan ayat (4) diubah. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d. c. penyerahan Barang Kena Pajak. ayat (3) dan ayat (5) dihapus. Terutangnya pajak terjadi pada saat: a. e. huruf c dan huruf f terutang pajak di tempat tinggal atau tempat . Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak. saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran. (2). ayat (2). f. impor Barang Kena Pajak. d. dihapus. dihapus. dan ayat (4) diubah.Ketentuan Pasal 11 ayat (1). atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e. penyerahan Jasa Kena Pajak.

(2). Menyimpang dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Faktur Pajak dibuat pada saat pembayaran. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d dan huruf e terutang pajak di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha. Apabila pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak. terutangnya pajak terjadi di tempat Barang Kena Pajak dimasukkan dan dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Angka 15 Ketentuan Pasal 13 ayat (1). ayat (2). (5). Saat pembuatan. (4). ayat (6). dan ayat (7) diubah. ayat (5). dan tata cara pembetulan Faktur Pajak ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. alamat. b. Nama. dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak. Pengusaha Kena Pajak dapat membuat satu Faktur Pajak meliputi seluruh penyerahan yang dilakukan kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak yang sama selama sebulan takwim. Nama. Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan satu tempat atau lebih sebagai tempat pajak terutang. bentuk.” (3). . ukuran. Pengusaha Kena Pajak wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a atau huruf f dan setiap penyerahan Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c. Atas permohonan tertulis dari Pengusaha Kena Pajak. Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. sehingga keseluruhan Pasal 13 berbunyi sebagai berikut: “Pasal 13 (1). (2). (3). tata cara penyampaian. pengadaan.kedudukan dan tempat kegiatan usaha dilakukan atau tempat lain yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Dalam hal impor. Dalam Faktur Pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat: a. (4). alamat.

baik untuk sementara waktu atau selamanya. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut. Tata cara pemungutan. e. sehingga keseluruhan Pasal 16B berbunyi sebagai berikut: “Pasal 16B (1).c.” Angka 16 Ketentuan Pasal 16A diubah. f. dan Nama. jumlah Harga Jual atau Penggantian. atau dibebaskan dari pengenaan pajak. Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak. diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. Jenis barang atau jasa. (7). nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak. penyetoran. sehingga keseluruhan Pasal 16A berbunyi sebagai berikut: “Pasal 16A (1). untuk: a. dan dilaporkan oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai. Kode. Angka 17 Ketentuan Pasal 16 B diubah. Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya. disetor. jabatan dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. g. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang dipungut. kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean. d. Pengusaha Kena Pajak dapat membuat Faktur Pajak Sederhana yang persyaratannya ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. . dan potongan harga. dan pelaporan pajak oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (6). Pajak yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai dipungut.” (2).

penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu.” (3). Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan atau perolehan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai. tidak dapat dikreditkan. Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan atau perolehan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai. c. pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.” Pasal II Undang-undang ini dapat disebut “Undang-undang Perubahan Kedua Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai Tahun 1984”. d. impor Barang Kena Pajak tertentu. sehingga keseluruhan Pasal 16C berbunyi sebagai berikut: “Pasal 16C Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata caranya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. Angka 18 Ketentuan Pasal 16C diubah. . (2). dapat dikreditkan.b. e. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Pasal III Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2001.

Pada Tanggal 2 Agustus 2000 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Ttd.Agar setiap orang mengetahuinya. Disahkan Di Jakarta. ABDURRAHMAN WAHID Diundangkan Di Jakarta. DJOHAN EFFENDI LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR 128 . Ttd. Pada Tanggal 2 Agustus 2000 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful