P. 1
uud

uud

|Views: 11|Likes:
Published by DimarVeminisnaini

More info:

Published by: DimarVeminisnaini on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2014

pdf

text

original

Nama : Pramidya Ujiana NIM : P07124110022

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang a. AKB menurut SDKI 2007 sebesar 34/1000 kelahiran hidup (BPS,2008). b. JNPK-KR (2008) Pemberian ASI Ekslusif di DIY menurun dari 34,09% pada tahun 2007, menjadi 23,72% pada tahun 2008. c. Menurut BPS, AKB Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara yang mendominasi lebih dari 75% total kematian anak di bawah usia 5 tahun. d. JNPK-KR 2008, kekurangan gizi adalah faktor yang menyebabkan lebih dari setengah kematian bayi. e. Dinkes DIY 2009, cakupan bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif di provinsi DIY tahun 2006 ke 2007 mengalami peningkatan sebesar 118 (1,490%) menjadi 7.994 (34,09%) akan tetapi pada tahun 2007 ke 2008 mengalami penurunan menjadi 23,72%. Angka-angka ini belum mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebesar 40%. f. Dinkes Kota Yogya 2008, cakupan bayi yang mendapat ASI Ekslusif di kota Yogya berturut-turut dari tahun 2006 sampai 2008 adalah 40,29%, 92,73%, dan 30,58%. Peningkatan ASI Ekslusif yang cukup tinggi melebihi target nasional 80% terjadi pada tahun 2007, akan tetapi terjadi penurunan yang sangat tajam sekali pada tahun 2008 menjadi 30,58% dari 92,73%. 2. Faktor Predisposisi a. Fikawati (2003), budaya pemberian makanan dan minuman pralaktal atau pemberian makanan atau minuman kepada BBL sebelum ASI Ekslusif biasanya telah dilakukan dalam 3 hari pertama adalah praktik yang sering dilakukan dan merupakan salah satu faktor utama kegagalan pemberian ASI Ekslusif. 3. Faktor Pemungkin (Enabling Factor) a. Belum lengkapnya fasilitas umum yang menyediakan ruang laktasi b. Ligkungan masyarakat yang kurang mendukung (Konselor ASI DIY Amiruddin S. B. ) 4. Faktor Penguat a. Gencarnya promosi susu formula, sehingga muncul pelanggaran terhadap KEPMENKES No 237/ 97 yang mengatur tentang pemasaran pengganti ASI. b. Rendahnya kualitas konselor yang terlatih. c. Tidak dilakukannya IMD pada 1 jam pertama kelahiran bayi (konselor Amiruddin S. B.) karena IMD setelah persalinan berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI Ekslusif hingga 6 bulan (Hopkinson et. al., LeonCava et al, cit Februhartanty 2008) Tidak dilakukannya IMD dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan tentang pentingnya IMD dan juga besar manfaatnya IMD bagi bayi dan Ibu dan juga dapat terjadi karena kesalahan management dalam

Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung c. Gencarnya promosi susu formula pengganti ASI f. Diagnosa Kebidanan Rendahnya cakupan ASI Ekslusif di Kota Yogayakarta dapat dikarenakan beberapa faktor. yaitu: a.penatalaksanaan bayi baru lahir sehingga bayi sudah memasuli fase tidur dan akan menjadi malas menyusu pada ibunya. Budaya yang tidak mendukung d. Rendahnya kualitas konselor yang terlatih e. Tidak dilakukannya IMD . 5. Belum lengkapnya fasilitas umum b.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->