P. 1
Makalah Akhlak dan Aktualisasinya

Makalah Akhlak dan Aktualisasinya

|Views: 4,043|Likes:
Published by Fina Saindri

More info:

Published by: Fina Saindri on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/09/2015

pdf

text

original

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM AKHLAK DAN AKTUALISASINYA DALAM KEHIDUPAN

KELOMPOK : 02

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Oleh :
JUNARKO AYU GIRI WIDI KURNIAWATI FINA SAINDRI LUTFI NI’MATUS SALAMAH ANNISAUL AZIZAH ALIFIANA LILA SEPTIANI (115080101111028) (115080101111030) (115080101111032) (115080101111034) (115080101111042) (115080101111058)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan Makalah untuk Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam penyusunan makalah “Akhlak dan Aktualisasinya dalam kehidupan” Dasar penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan makalah tersebut. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian penulis berusaha sebisa mungkin menyelesaikan makalah meskipun tersusun sangat sederhana. Penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dukungan kerabat sehingga kami dapat menyelesaikan mkalah ini tepat pada waktunya Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun.

Malang, 22 April 2012 Penulis

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………. DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………. i ii

BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Penulisan BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akhlak 2.2 Ruang Lingkup Akhlak 2.3 Pembinaan Akhlak 2.4 Metode Pendidikan Akhlak 2.5 Karakteristik Akhlak 2.6 Faktor Faktor Akhlak 2.7 Aktualisasi Akhlak dalam Berbagai Bidang Kehidupan BAB III : KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA 23 23 24 4 5 7 8 13 17 19 1 2

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Belakangan ini semakin banyak saja yang menyimpang dari Akhlakhul karimah. Berbicara soal akhlak memang tidak lepas dari generasi muda. Meskipun generasi yang lainpun akhlaknya tidak kalah rusak. Namun mungkin memang generasi muda yang paling terekspose. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan rusaknya akhlak pada generasi muda misalnya : 1. Longgarnya pegangan terhadap Agama. 2. Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan keluarga. 3. Dasarnya budaya matrealistis dan hedonis. 4. Belum ada kemauan yang sungguh sungguh dari masing masing individu. Itu merupakan kerusakan akhlah yang bersifat duniawi. Ketahuilah kerusakan akhlak yang paling besar adalah kerusakan akhlak kepada Allah , dan kerusakan akhlak yang paling besar ini terjadi karena akibat kerusakan aqidah dan tauhid. Tersebarnya segala bentuk peribadatan yang diarahkan kepada selain Allah seperti takut, tawakkal, meminta tolong, meminta perlindungan, bernadzar, menyembelih, mencari barakah, mengagungkan pohon-pohon, tempat-tempat keramat, kuburan-kuburan, dan jin-jin merupakan fenomena kerusakan akhlak kepada Allah. Segala bentuk pengingkaran kepada Allah seperti kufur nikmat, meninggalkan perintah-perintah dan melaksanakan larang-larangan-Nya, su‟udzan kepada Allah, lari dari rahmat-Nya, merasa aman dari balasan tipu daya-Nya dan tidak memiliki rasa malu kepada-Nya termasuk dari sekian dari bentuk fenomena kerusakan akhlak kepada Allah. Dan segala macam bentuk kejahatan berjudi, berzina, minum khamar, mencuri, merampok, membunuh, dan lain sebagainya termasuk dari sekian bentuk fenomena kerusakan akhlak kepada Allah. Kerusakan moral dan akhlak secara umum akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia secara menyeluruh dan akan mempengaruhi terhadap kemajuan dan

perkembangan hidup mereka. Bukankah kehancuran sebuah negara sangat erat hubungannya dengan kerusakan moral dan akhlak anak bangsa itu sendiri? Namun dengan rahmat-Nya, Allah I masih menjaga stabilitas hidup mereka secara menyeluruh. Allah I berfirman:

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251) Itulah salah satu hal yang mendasari kami untuk membahas mengenai akhlak ini lebih dalam lagi. Bisa saja karena ketidaktahuan kita malah menjerumuskan kita ke dalam hal hal yang merusak akhlak oleh karena itu mari bersama sama membahas mengenai akhlak ini dan saling bertukar ilmu serta informasi. 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memperbaiki akhlak akhlak umat muslim khususnya untuk kalangan muda di zaman yang modern ini agar tidak terpengaruh oleh budaya budaya barat yang tidak memiliki adat atau cara berperilaku dengan baik sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan Pembinaan Akhlak Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jika etika diatasi pada sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terlebih dahulu serta mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran.

Akhlak diniah (agama) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa). Disisi lain Al-Qur‟an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Nabi Muhammad SAW, misalnya dinyatakan sebagai manusia yang sempurna, namun dinyatakan pula sebagai Rosul yang memperoleh penghormatan melebihi manusia lain. Karena itu Al-Qur‟an berpesan kepada orang-orang mukmin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Akhlak Akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu jama‟ dari kebiasaan, perangai, tabiat dan agama. Akhlak adalah karakter (pembawaan, perangai) dan tabiat. Akhlak sebagaimana dikatakan ahlul „ilmi adalah bentuk batin manusia. Karena manusia mempunyai dua bentuk: 1. Bentuk lahir, yaitu bentuk ciptaannya yang Allah menjadikan badan pada bentuk itu. Dan bentuk lahir ini ada yang indah bagus, dan ada yang buruk jelek, dan ada yang di antara itu. 2. Bentuk bathin, yaitu keadaan jiwa yang kokoh (tertancap kuat), yang muncul darinya [perbuatan-perbuatan yang bagus atau yang jelek, tanpa butuh kepada pemikiran dan pertimbangan. Bentuk bathin ini juga ada yang bagus, jika yang muncul darinya adalah] akhlak yang bagus, dan ada yang jelek jika yang muncul darinya adalah akhlak yang jelek. Inilah yang disebut dengan akhlak. Jadi akhlak adalah bentuk bathin yang manusia diperangaikan pada bentuk itu. Wajib atas seorang muslim untuk berakhlak dengan akhlak-akhlak yang mulia, yaitu yang baiknya. Yang mulia dari segala sesuatu adalah yang baik darinya sesuai dengan sesuatu itu. Di antaranya sabda Rasul shallallahu „alaihi wasallam kepada Mu‟adz: “Al-khuluq” yang artinya

((‫))إٌَِّاك وكرائم أَمْ والِهم‬ ِْ َ َِ َ َ َ َ
“Hati-hati kamu dari harta-harta mereka yang karim (yang mulia, berharga).”

Menurut Al Gazali, kata akhlak sering diidentikkan dengan kata kholqun (bentuk lahiriyah) dan Khuluqun (bentuk batiniyah), jika dikaitkan dengan seseorang yang bagus berupa kholqun dan khulqunnya, maka artinya adalah bagus dari bentuk lahiriah dan rohaniyah. Dari dua istilah tersebut dapat kita pahami, bahwa manusia terdiri dari dua susunan jasmaniyah dan batiniyah. Untuk jasmaniyah manusia sering menggunakan istilah kholqun, sedangkan untuk rohaniyah manusia menggunakan istilah khuluqun. Kedua komponen ini memilih gerakan dan bentuk sendiri-sendiri, ada kalanya bentuk jelek (Qobi‟ah) dan adakalanya bentuk baik (jamilah). Akhlak yang baik disebut adab. Kata adab juga digunakan dalam arti etiket, yaitu tata cara sopan santun dalam masyarakat guna memelihara hubungan baik antar mereka. Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku / perangai (Imal-Suluh) atau Tahzib alakhlak (Filsafat akhlak), atau Al-hikmat al-Amaliyyat, atau al-hikmat al- khuluqiyyat. Yang dimaksudkan dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang kehinaankehinaan jiwa untuk mensucikannya. Dalam bahasa Indonesia akhlak dapat diartikan dengan moral, etika, watak, budi pekertim, tingkah laku, perangai, dan kesusilaan. 2.2 Ruang Lingkup Akhlak Akhlak memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Akhlak dalam Islam cukup luas merangkumi segenap perkara yang berkaitan dengan kehidupan manusia dengan sesamanya serta hubungan manusia dengan Allah,serta hubungan manusia dengan makhluk lainnya. Berikut adalah Ruang Lingkup dari akhlak : a) Akhlak pribadi Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan

akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan. b) Akhlak Berkeluarga Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewjiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, islam telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapakbapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara istiqomah, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan. Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati. Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik,menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan. c) Akhlak Bermasyarakat Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat

pada tetangga. Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri– sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantumembantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku. d) Akhlak Bernegara Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dab penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka. e) Akhlak Beragama Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan. Berangkat dari sistematika diatas dengan sedikit modifikasi penulis membagi pembahasan ruang lingkup akhlak antar lain: 1. Akhlak terhadap Allah SWT 2. Akhlak terhadap Rasullah Swt 3. Akhlak Pribadi 4. Akhlak dalam keluarga 5. Akhlak bermasyarakat 6. Akhlak bernagara

Dalam konsep akhlak segala sesuatu dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela, semata-mata karena syara (Qu‟an dan Sunah) yang menilainya demikian. Namun akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jikqa etika dibatasi pada sopan santun antar sesame manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. 2.3 Pembinaan Akhlak Pembinaan adalah suatu usaha untuk membina. Membina adalah memelihara dan mendidik, dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Anak didik adalah anak yang masih dalam proses perkembangan menuju kearah kedewasaan. Hal ini berarti bahwa anak harus berkembang menjadi manusia yang dapat hidup dan menyesuaikan dari dalam masyarakat, yang penuh dengan aturanaturan dan norma-norma kesusilaan. Oleh karena itu perlulah anak di didik, dipimpin kearah yang dapat dan sanggup hidup menuruti aturan-aturan dan norma-norma kesusilaan. Jadi maksud dari tujuan pendidikan akhlak atau kesusilaan adalah memimpin anak setia serta mengerjakan segala sesuatu yang baik dan meninggalkan yang buruk atas kemauan sendiri dalam segala hal dan setiap waktu. Pada masa sekarang ini demoralisasi telah merajalela dalam kehidupan masyarakat, maka dari itu diperlukan usaha-usaha pendidikan dalam mengupayakan pembinaan akhlak terutama pada masa remaja, karena pada masa pubertas dan usia baligh anak mengalami kekosongan jiwa yang merupakan gejala kegoncangan pikiran, keragu-raguan, keyakinan agama, atau kehilangan agama. Menurut Al-Gazaly adalah menunjukkan suatu hikmah bahwa anak puber tersebut memerlukan bekal untuk mengisi kekosongan jiwanya melalui sublimasi dan “way out” dari problema yang dihindarinya. 2.4 Metode Pendidikan Akhlak

Yang dimaksud dengan metode disini ialah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Adapun metode Islam dalam upaya perbaikan terhadap akhlak adalah mengacu pada dua hal pokok, yakni pengajaran dan pembiasaan. Yang dimaksud dengan pengajaran adalah sebagai dimensi teoritis dalam upaya perbaikan dan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan pembiasaan untuk dimensi praktis dalam upaya pembentukan (pembinaan) dan persiapan. Ali Kholil Abu‟Ainin didalam kitabnya : Falsafahtul Tarbiyatul Islamiyahtu AlQur‟anil karim” mengemukakan secara panjang lebar tentang metode pendidikan Islam, yang diringkasnya menjadi 11 (sebelas) macam, yaitu : 1. Pengajaran tentang cara beramal dan pengalaman / ketrampilan. Metode ini dapat dilakukan melalui ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan ijtihad. 2. Mempergunakan akal\ 3. Perintah kepada kebaikan, larangan perbuatan munkar saling berwasiat kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. 4. Contoh yang baik dan Jujur 5. Nasihat-nasihat 6. Kisah-kisah 7. Tamsil 8. Menggemarkan dan menakutkan atau dorongan dan ancaman. 9. Menanamkan atau menghilangkan kebiasaan. 10. Menyalurkan bakat. 11. Peristiwa-peristiwa yang berlalu. Menurut al-nahlawi metode pendidikan yang diajurkan, antara lain : 1. Metode Hiwar Qur‟ani dan Nabawi Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam percakapan itu bahan pembicaraan

tidak dibatasi, dapat digunakan berbagai konsep sains, filsafat, seni, wahyu, dll. Kadang-kadang pembicaraan sampai pada satu kesimpulan, kadang-kadang tidak sampai pada kesimpulan, karena salah satu pihak tidak puas terhadap pendapat pihak lain. Yang manapun ditemukan hasilnya dari segi pendidikan tidak jauh berbeda, masing-masing mengambil pelajaran untuk menentukan sikap pada dirinya. Metode Hiwar pada saat ini masih efektif dipakai dalam belajar mengajar, yakni sama dengan diskusi pada zaman sekarang ini, dan memang cukup efektif untuk melatih anak didik lebih mandiri karena mereka dapat berdialog dari hasil bacaan mereka sendiri pada tema yang telah di tentukan oleh gurunya. 2. Metode kisah Qur‟ani dan Nabawi Dalam pendidikan Islam, terutama pendidikan agama Islam (sebagai suatu bidang studi), kisah sebagai suatu metode pendidikan amatlah penting, untuk dapat merenungkan kisahnya, yang menyentuh hati umat manusia. Kisah Qur‟ani adalah untuk mendidik perasaan keimanan. 3. Metode amtsal (perumpamaan) Metode ini banyak kita temui dalam Al-qur‟an, antara lain : Dalam surah Al-Baqarah ayat 17. Perumpamaan orang-orang kafir itu adalah seperti orang yang menyalakan api.

َ ًِ‫قال تعالى: م َثلُهم كم َثل الَّذِي اسْ َت ْوقد َنارً ا فلَمَّآ أَضاءت ما ح ْولَه ذهب َّللا ُ بنورهم و َتركهم ف‬ ََ ْ ُ َ َ َ ْ ِ ِ ُ ِ َّ َ َ َ ُ َ َ ْ َ َ ِ َ َ ُْ َ

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat (Al-baqarah : 17).” Dalam surah Al-Ankabut ayat 41 Allah mengumpamakan sesembahan atau Tuhan orang kafir dengan sarang laba-laba, Perumpamaan orang-orang

yang berlindung kepada selain Allah atau seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. 4. Metode Teladan Secara psikologis anak menang senang meniru, tidak saja yang baik, yang jelekpun ditirunya. Dalam teori tabula rasa (John Lock dan Francis Bacon), bahwa anak yang baru dilahirkan dapat di umpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi, segala kecakapan dan pengetahuan manusia timbul dari pengalaman yang masuk melalui alat indra. 5. Metode Pembiasaan Inti dari pembiasaan adalah pengulangan, metode mendidik anak murid pada masa kini. Yang menetapkan bahwa dengan cara mengulang –ngulangi pengalaman dalam berbuat sesuatu dapat meninggalkan kesan-kesan yang baik dalam jiwanya, dan dari aspek inilah anak akan mendapatkan kenikmatan pada waktu mengulang-ngulangi pengalaman yang baik itu, berbeda dengan pengalaman-pengalaman tanpa melalui praktik. 6. Metode Ibrah dan mau‟idah Ibrah ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan nalar, yang menyebabkan hati mengakuinya. Adapun Mu‟idah ialah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya. 7. Metode Targib dan Tarhib Targib ialah janji terhadap kesenangan, kenilematan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Sedangkan menurut Prof. Dr.H.M Arifin Med, bahwa dalam Al-Qur‟an dan sunah nabi dapat ditemukan metode-metode untuk pendidikan agama, antara lain : a) Perintah / larangan

b) Cerita tentang orang-orang yang taat dan orang-orang yang berdosa (kotor) serta akibat-akibat dari perbuatannya. c) Peragaan, misalnya manusia disuruh melihat kejadian dalam alam ini, dengan melihat gunung,laut, hujan, tumbuhan dan sebagainya. d) Instruksional (bersifat pengajaran), misalnya menyebutkan sifat-sifat orang yang beriman, begini dan begitu dan lain sebainya. e) Acquisition (self : aducation), misalnya menyebutkan tingkah laku orang yang munafik itu merugikan diri mereka sendiri, dengan maksud manusia jangan menjadi munafik dan mau mendidik dirinya sendiri kearah iman yang sesungguhnya. f) Mutual Education (mengajar dalam kelompok), misalnya nabi mengajar sahabat tentang cara-cara sembah yang dengan contoh perbuatan yang mendemonstrasikannya. g) Exposition (dengan menyajikan) yang didahului dengan motivasion

(menumbuhkan minat) yakni dengan memberikan muqodimah lebih dahulu, kemudian baru menjelaskan pelajarannya. h) Function (pelajaran dihidupkan dengan praktek) misalnya nabi mengajarkan tentang hukum-hukum dan syarat-syarat haji, kemudian nabi bersama-sama untuk mempraktekannya. i) Explanation (memberi penjelasan tentang hal-hal yang kurang jelas) misalnya nabi member penafsiran ayat-ayat Al-Qur‟an, seperti ayat-ayat yang memerintahkan bersembahyang dan sebagainya. Konsep pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan al-Gazaly tentang pentingnya pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai suatu metode pembentukan akhlak yang utama, terutama karena pembiasaan itu dapat berpengaruh baik terhadap jiwa manusia, yang memberikan rasa nikmat jika diamalkan sesuai

dengan akhlak yang telah terbentuk dalam dirinya. Begitu juga metode mendidik anak pada masa kini yang menetapkan bahwa dengan cara mengulang-ulangi pengalaman dalam berbuat sesuatu dapat meninggalkan kesan-kesan yang baik dalam jiwanya, dan dari aspek inilah anak akan mendapatkan kenikmatan pada waktu mengulang-ulangi pengalaman yang baik itu, berbeda dengan pengalaman yang diperoleh dengan tanpa melalui praktek, maka kesan yang ditinggalkan adalah jelek. Pandangan Al-Gazaly tersebut sesuai dengan pandangan ahli pendidikan Amerika Serikat, John Dewey, yang mengatakan “Pendidikan moral itu terbentuk dari proses pendidikan dalam kehidupan dan kegiatan yang dilakukan oleh murid secara terus menerus”. Oleh karena itu pendidikan akhlak menurut John Dewey adalah pendidikan dengan berbuat dan berkegiatan (learning by doing) yang terdiri dari pada tolong menolong, berbuat kebajikan dan melayani orang lain, dapat dipercaya dengan jujur. John Dewey berpendapat bahwa akhlak (moralitas) tidak dapat diajarkan kepada anak dengan melalui cerita-cerita yang dikisahkannya, akan tetapi hanya dapat diajarkan melalui praktek yang manusiawi saja. Sehingga kebajikan dan moralitas dan pengertian yang terkandung didalam cerita-cerita tidak mungkin dipindahkan (transformasikan) kedalam jiwa anak untuk menjadi akhlaknya, yang kemudian berinteraksi dengan anak lain berdasarkan atas pemeliharaan keutamaan-keutamaannya, akhlak (moralitas) hanya dapat diajarkan dengan cara membiasakan dengan perbuatan praktis.

2.5.

Karakteristik Akhlak Allah telah berkehendak bahwa akhlak (moral) dalm Islam meiliki karakteristik

yang berbeda dan unik (istimewa) dari agama Yahudi, Nasrani maupun keduanya, yaitu dengan karakterstik yang menjadikannya sesuai untuk setiap individu, kelas sosial, ras, lingkungan, dan segala kondisi. Yusuf Qardhawi mengajukan tujuh karakter etika (moral/akhlak) Islam (Qardhawi, 97) :

1. Moral yang beralasan (argumentatif) dan dapat dipahami. Moral Islam terlepas dari tabiat ritual absolut dogmatis yang dikenal oleh agama Yahudi, dan yang diasumsikan oleh sebagian peneliti tentang moral sebagai suatu konsekuensi langsung bagi bahasa dakwah kepada moral semua agama, namun mereka tidak mengetahui bahwa Islam justru kebalikan dari itu. Sesungguhnya Islam selalu bersandar pada penilaian yang logis dan arumentasi yang dapat diterima oleh akal yang lurus dan naluri yang sehat, yaitu dengan menjelaskan maslahat (kebaikan)dibalik apa yang diperintahkannya dan kerusakan dari terjadinya apa yang dilarangnya. Disebutkan dalam Al-Qur‟an Surat Al-Ankabut : 45

“Dan dirikanlah sholat. Sesunggunya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”.
2. Moral Universal Moral dalam Islam berdasarkan karakter manusiawi yang universal, yaitu larang bagi suatu ras manusia berlaku juga bagi ras lain, bahkan umat Islam dan umat-umat yang lain adalah sama dihadapan moral Islam yang universal. Dalam Al-Qur‟an Surat AlMaidah : 8 , Allah menyebutkan :

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu erhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa”.
Dengan demikian etika (moral/akhlak) Islam adalah bebasdari segala tendensi rasisme kebangsaan, kesukuan maupun golongan. 3. Kesesuaian dengan Fitrah Islam membawa apa yang ada sesuai dengan fitrah dan tabiat manusia serta menyempurnakannya. Islam mngakui eksistensi manusia sebagaimana yng telah diciptakan oleh Allah dengan segala dorongan kejiwaan, kecenderungan fitrah serta segala yang telah digariskan-Nya. Islam menjadikan mulai dari membuat batasan hukum untuknya agar dapat memelihara kebaikan masyarakat dan individu manusia itu sendiri. Islam membolehkan manusia untuk menikmati barang atau hal-hal (rezeki) yang baik, pehiasan dan mengesahkan kepemilikan pribadi. Namun syari‟at Islam tidak membenarkan naluri barang-barang dan hal-hal najis atau merupakan perbuatan maksiat. Firman Allah dalam Surat Al A‟raf : 32

“Ktakanlah : “siapa yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkanNya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?”.

Islam dengan segala yang diperbolehkannya demi menjaga tabiat manusiawi telah meletakkan konsep aturan dan batasan-batasan yang netral atau moderat, sikapsikap berlebihan dan ekstrim akan menjurus kapada parangai bintang yang tercela. 4. Memperhatikan Realita Diantara karakteristik moral Islam merupaka akhak realistik, tidak mengeluarkan perintah dan larangannya kepada orang-orang yang hidup di “menara gading” atau orang-orang terbang melayang diwang-awang idealisme, melainkan memerintahkan kepada manusia yang mimiliki dorongan dan nafsu, keinginan dan cita-cita, kepentingan dan kebutuhan, juga memiliki kecenderungan dan hasrat biologis terhadap kesenangan biologis terhadap ksenangan duniawi sebagaimana mereka juga memiliki kerinduan jiwa kepada Allah yang mengangkat tinggi derajat manusia. Al-Qur‟an tidak memebebankan kepada manusia suatu kewajiban untuk

mencintai musuh-musuhnya karena hal ini merupakan sesuatu hal yang tiak dimiliki jiwa manusia, akan tetapi Al-Qur‟an memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berlaku adil terhadap musuh-musuhnya, supaya rasa permusuhan dan kebencian mereka terhadap musuh-musuhnya tidak mendorong antuk melakukan pelanggaran terhadap musuh-musuh mereka. 5. Moral Positif Islam tidak merelakan orang yang telah berhias dengan moral Islam untk berjalan mengikuti trend sosial, berjalan mengikuti arus, atau bersikap lemah dan bersikap lemah menghadapi peristiwa yang menghadapi hidupnya. Moral slam menganjurkan untuk menggalang kekuatan, perjuangan dan meneruskan amal usaha dengan penuh keyakinan dan cita-cita, melawan sikap ketidakberdayaan dan pesimis (keputusaannya), malas serta segala bentuk penyebab kelemahan. Firman Allah:

“Ambillah kitab itu dengan sungguh-sungguh (penuh kekuatan)”.

Ialam menolak sikap pasif (apatis) dalam menghadapi kerusakan sosial dan politik, dekadensi moral dan agama, bahkan islam memerintahkan kepada muslim untuk merubah sesuatu kemungkinan dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka dengan hatinya. 6. Komprehensifitas Jika sebagian orang menyangka bahwa moral dalam agama berkosar pada pelaksanaan ibadah-ibadah ritual, seremonial dan sebagainya, maka hal ini tidak tepat untuk diprediksikan kepada etika/moral dalam islam, karena etika islam tidak membiarkan kegiatan manusia hanya dalam ibadah saja. Islam telah menggambarkan sebuah konsep moral dengan ibadah tertentu, bahkan menggariskan hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan dengan umatnya, maka moral islam mencakup hubungan manusia dengan alam secara global maupun detail dan untuk itu moral islam meletakkan apa yang dikihendaki manusia dar adab susila yang tinggi dan ajaran yang luhur. 7. Tawazun (Keseimbangan) Di antara karakterisitik moral Islam adalah Tawazun yang menggabungkan sesuatu dengan penuh keserasian dan keharmonisan, tanpa sikap berlebihan maupun pengurangan. Contoh Tawazun adalah ; sikap seimbang antara hak tubuh dan hak roh, sehingga tidak ada penyengsaraan tubuh ataupun penelantaran roh. Contoh lain adalah ; sikap seimbang dalam “mengejar” dunia dan akhirat. Islam menganggap dunia ini adalah lading untuk akhirat dan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, maka tidaklah pantas mereka merusak atau menelantarkan kehidupan dunia, karena orang yang bahagia adalah orang yang beruntung dengan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah : 201 :

“Dan diantara mereka dan orang yang berdoa : Ya Rabb Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah orang-orang yang mendapa bagian dari apa yang mereka usahakan dan Allah sangat cepat perhitungannya”. 2.6 Faktor Faktor Pembentukan Akhlak Faktor - faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlaq, antara lain: 1. Insting (naluri) Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain adalah:  Naluri makan (nutrive instinct) Manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa didorong oleh orang lain.  Naluri berjodoh (seksul instinct), Dalam Al-Qur‟an diterangkan: QS. Ali Imran ayat 14

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah

kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga)”. (Ali Imran: 14)
 Naluri keibuan (peternal instinct) Yaitu tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.  Naluri berjuang (combative instinct) Yaitu tabiat manusia untuk mempertahnkan diri dari gangguan dan tantangan.  Naluri bertuhan Yaitu tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya. 2. Adat/Kebiasaan Adat/Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. 3. Wirotsah (keturunan) Maksudnya adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan). Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifatsifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya. 4. Milieu Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara sedangkan lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. Milieu ada 2 macam:

a. Lingkungan alam Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhn bakat yang dibawa oleh seseorang. b. Lingkungan pergaulan Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling

mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan tingkah laku. Setiap perilaku manusia didasarkan atas kehendak. Apa yang dilakukan manusia timbul dari kejiwaan. Walaupun pancaindra kesulitan melihat pada dasar kejiwaan, namun dapat dilihat dari wujud kelakuan. Maka setiap kelakuan pasti bersumber dari kejiwaan. QS. Al Isra ayat 84

“Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (Al Isra: 84)

2.7 Aktualisasi Akhlak dalam berbagai Bidang Kehidupan Aktualisasi adalah pengaktualan, perwujudan, perealisasian, pelaksanaan, penyadaran. Kata aktualisasi diri sering kita dengar,kata ini diasosiasikan dengan citacita dan prestasi. Aktualisasi diri adalah cita-cita dan peraihannya secara optimal. Aktualiasi diri juga sekaligus pembaharuan cita-cita baru yang lebih tinggi dan perjuangan untuk mencapainya. Demikianlah seterusnya, hingga seseorang bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin dia dapatkan. Ilmuwan yang intensif memperkenalkan konsep aktualisasi diri adalah Abraham Maslow (1908-1970). Idenya diperkenalkan dalam bingkai teori kepribadian. Maslow menempatkan aktualisasi diri sebagai kebutuhan puncak manusia diatas kebutuhannya pada sisi fisiologi (seperti kebutuhan seks, makan, minum, dan bernapas), kebutuhan akan rasa aman dan tentram, kebutuhan untuk dicintai dan dibutuhkan orang lain serta kebutuhan akan penghargaan dari orang lain dan dari diri sendiri (self-respect). Seseorang mulai memasuki tahap aktualisasi diri jika dia dapat memenuhi empat jenis kebutuhan dibawahnya secara seimbang. Empat kebutuhan awal dirasakan dalam keadaan kekurangan (haus = kurang air, kesepian = kurang teman yang memperhatikan, rendah diri = kurang terampil dan kurang mendapat apresiasi, dst).

Karenanya kebutuhan-kebutuhan ini disebut D-needs, dari kata deficit needs. Aktualisasi diri akan tumbuh terus, Sekali dia dipenuhi maka akan lahir kebutuhan yang lebih tinggi lagi. Itu sebabnya ia disebut B-needs, dari being needs, atau disebut juga pertumbuhan motivasi. Ia sangat terkait dengan keinginan sinambung untuk mewujudkan segala potensi “menjadi segala yang Anda bisa”, menjadi “sekomplit mungkin diri Anda”. Dari sinilah istilah aktualisasi diri (self-actualization) muncul. Saat ini,perkembangan zaman sangat maju dengan keadaan masyarakat yang semakin dinamis sebagai akibat kemajuan ilmu dan teknologi, terutama teknologi informasi, maka aktualisasi nilai-nilai agama Islam menjadi sangat penting karena dengan aktualisasi nilai-nilai agama Islam, umat Islam mampu membentuk pribadi umat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas,maju, dan mandiri sebagaimana generasi sahabat. Menurut Said Agil Husin Al-Munawar dalam bukunya “Aktualisasi nilai- nilai Qur‟ani Dalam Sistem Pendidikan Islam”, tujuan yang ingin dicapai dalam proses aktualisasi nilai- nilai al-Qur‟an dalam pendidikan meliputi tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan oleh pendidikan, meliputi : a. Dimensi spiritual Ialah iman, takwa, dan akhlak mulia (yang tercermin dalam ibadah dan mu‟amalah) b. Dimensi budayaIalah kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. c. Dimensi kecerdasan ialah dimensi yang membawa kemajuanseperti cerdas,kreatif, etos kerja, professional, inovatif dan produktif Menurut objeknya aktualisasi akhlak dalam kehidupan terdapat dalam tiga aspek berikut ini : 1. Akhlak kepada Allah SWT  Beribadah kepada Allah SWT

 

Berdzikir kepada Allah SWT karena berdzikir dapat menentramkan hati,sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an Surat Ar-ra‟adu : 28. Berdo‟a kepada Allah SWT. Karena berdo‟a adalah inti dari ibadah. Orangorang yang tidak mau berdo‟a adalah orang-orang yang sombong karena tidak mau mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah SWT.

Tawakal kepada Allah SWT ,karena sikap tawakal merupakan gambaran dari sikap sabar dan kerja keras yang sungguh-sungguh dalam pelaksanaanya yang di harapkan gagal dari harapan semestinya,sehingga ia akan mampu menerima dengan lapang dada tanpa ada penyesalan.

 

Tawadhu kepada Allah SWT,mengakui bahwa dirinya rendah diri di hadapan Allah SWT‟. Berhusnudzhon ,yakni berbaik sangka kepada Allah SWT karena sesungguhnya apa saja yang di berikan Allah merupakan jalan yang terbaik.

2. Akhlak terhadap manusia  Akhlak terhadap diri sendiri       Amanah (setia), dapat di percaya sesuai dengan keharusannya. Shidqatu (benar), dalam perkataan maupun perbuatan. Ifafah (memelihara kesucian), dari tindakn tercela,fitnah dan perbuatan yang dapat mengotori diri sendiri. Hayya (malu),terhadap perbuatan yang melanggar perintah Allah SWT. Sabar , hasil pengendalian hawa nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Syukur ,berterima kasih atas nikmat Allah,orang yang selalu bersyukur akan ditambah nikmatnya.  Akhlak terhadap orang tua      Patuh terhadap orang tua Ihsan,berbuat baik kepada mereka Lemah lembut dalam lisan maupun perbuatan Bersikap rendah hati Berterima kasih

    

Mendoakan mereka. Saling menghormati Kasih sayang Tanggung jawab Memelihara lingkungan dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan

 Akhlak terhadap orang lain

 Akhlak terhadap lingkungan

Ibrahim Anis dalam Al-mu‟jam Al-wasith menyebutkan, bahwa akhlak adalah: “Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa,yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan,baik atau buruk,tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”.

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan Dari berbagai macam aspek yang telah di ungkapkan pada halaman sebelumnya, Akhlak itu adalah tingkah laku atau budi pekerti manusia yang memiliki 2 golongan, bias digolongkan dengan Budi pekerti baik dan ada yang Budi pekerti buruk. Akhlak memiliki karateristik yang berbeda beda. Ada beberapa karekteristik Akhlak (Moral) dalam Agama Islam, yaitu : Moral yang beralasan, Moral Universal, Kesesuaian dengan Fitrah, Memperhatikan realita, Moral Positif, Komprehensifitas, Tawazun (Keseimbangan). Konsep pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan alGazaly tentang pentingnya pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai suatu metode pembentukan akhlak yang utama, terutama karena pembiasaan itu dapat berpengaruh baik terhadap jiwa manusia, yang memberikan rasa nikmat jika diamalkan sesuai dengan akhlak yang telah terbentuk dalam dirinya. Seseorang mulai memasuki tahap aktualisasi diri jika dia dapat memenuhi empat jenis kebutuhan dibawahnya secara seimbang. Empat kebutuhan awal dirasakan dalam keadaan kekurangan (haus = kurang air, kesepian = kurang teman yang memperhatikan, rendah diri = kurang terampil dan kurang mendapat apresiasi, dst). 3.2. Saran Jadi sebagai generasi muda, marilah kita tingkatkan Akhlak (Budi Pekerti) kita menjadi semakin baik, agar lebih berkurangnya kejahatan dan perilaku Moral yang lebih baik dari sebelumnya. Agar suatu saat nanti keturunan dan generasi sesudahnya bias memiliki budi pekerti yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Agar bangsa ini tidak terus jatuh dan menjadi Negara yang tidak memiliki Moral.

DAFTAR PUSTAKA Alexa, 2010. Pengertian Akhlak. Sumber: http://sobatbaru.blogspot.com/2010/03/pengertian-akhlak.html Diakses pada tanggal 21 April 2012 pada pukul 10.06 WIB Hardisakha, Berry, 2011. Sumber:http://www.berryhs.com/2011/04/faktor-faktor-yangmempengaruhi_30.html Diakses pada tanggal 12 April 2012 pada pukul 13.12 WIB TIM DOSEN PAI. Pendidikan Agama Islam. Malang : Universitas Brawijaya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->