Organisasi Konferensi Islam (OKI) I.

Latar Belakang Didirikannya OKI

Organisasi Konferensi Islam (OKI) merupakan organisasi internasional non militer yang didirikan di Rabat,Maroko pada tanggal 25 September 1969. Dipicu oleh peristiwa pembakaran Mesjid Al Aqsha yang terletak di kota Al Quds (Jerusalem) pada tanggal 21 Agustus 1969 telah menimbulkan reaksi keras dunia, terutama dari kalangan umat Islam. Saat itu dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengorganisir dan menggalang kekuatan dunia Islam serta mematangkan sikap dalam rangka mengusahakan pembebasan Al Quds. Atas prakarsa Raja Faisal dari Arab Saudi dan Raja Hassan II dari Maroko, dengan Panitia Persiapan yang terdiri dari Iran, Malaysia, Niger, Pakistan, Somalia, Arab Saudi dan Maroko, terselenggara Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam yang pertama pada tanggal 22-25 September 1969 di Rabat, Maroko. Konferensi ini merupakan titik awal bagi pembentukan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Secara umum latar belakang terbentuknya OKI sebagai berikut : 1) Tahun 1964 : Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Mogadishu timbul suatu ide untuk menghimpun kekuatan Islam dalam suatu wadah internasional. 2) Tahun 1965 : Diselenggarakan Sidang Liga Arab sedunia di Jeddah Saudi Arabia yang mencetuskan ide untuk menjadikan umat Islam sebagai suatu kekuatan yang menonjol dan untuk menggalang solidaritas Islamiyah dalam usaha melindungi umat Islam dari zionisme khususnya. 3) Tahun 1967 : Pecah Perang Timur Tengah melawan Israel. Oleh karenanya solidaritas Islam di negara-negara Timur Tengah meningkat. 4) Tahun 1968 : Raja Faisal dari Saudi Arabia mengadakan kunjungan ke beberapa negara Islam dalam rangka penjajagan lebih lanjut untuk membentuk suatu Organisasi Islam Internasional.

Tanggal 22-25 September 1969 diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Islam di Rabat. Secara khusus. Pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) III OKI bulan February 1972. sosial. memperkuat kerjasama dalam bidang politik. Aksi bersama untuk : 1) Melindungi tempat-tempat suci umat Islam. telah diadopsi piagam organisasi yang berisi tujuan OKI secara lebih lengkap. 2) Kerjasama dalam bidang politik. ekonomi. C.haknya. OKI bertujuan pula untuk memperkokoh solidaritas Islam diantara negara anggotanya. Memperkuat/memperkokoh : 1) Solidaritas diantara negara anggota. budaya dan iptek. sosial. Bekerjasama untuk : . Maroko untuk membicarakan pembebasan kota Jerusalem dan Mesjid Al Aqsa dari cengkeraman Israel. yaitu : A. ekonomi. budaya dan iptek.5) Tahun 1969 : Tanggal 21 Agustus 1969 Israel merusak Mesjid Al Agsha. Peristiwa tersebut menyebabkan memuncaknya kemarahan umat Islam terhadap Zionis Israel. Dari KTT inilah OKI berdiri. Seperti telah disebutkan diatas. 2) Memberi semangat dan dukungan kepada rakyat Palestina dalam memperjuangkan haknya dan kebebasan mendiami daerahnya. 3) Perjuangan umat muslim untuk melindungi kehormatan kemerdekaan dan hak. Tujuan Didirikannya OKI Secara umum tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk mengumpulkan bersama sumber daya dunia Islam dalam mempromosikan kepentingan mereka dan mengkonsolidasikan segenap upaya negara tersebut untuk berbicara dalam satu bahasa yang sama guna memajukan perdamaian dan keamanan dunia muslim. II. B.

1) menentang diskriminasi rasial dan segala bentuk penjajahan. 5) Abstein dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah. IV. kesatuan nasional atau kemerdekaan politik sesuatu negara. Di hadapan problema umat yang sedemikian kompleks ini. yaitu: 1) Persamaan mutlak antara negara-negara anggota 2) Menghormati hak menentukan nasib sendiri. tidak campur tangan atas urusan dalam negeri negara lain. mediasi. kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara. Yaitu reformasi OKI. Kekuatan ekonomi negara-negara anggotanya yang akan menambah kekuatan OKI dan membuat suara OKI lebih berpengaruh dalam pergaulan dunia internasional Berbagai permasalahn terus Ada satu hal yang menjadi perhatian serius para pakar. Prinsip OKI Untuk mencapai tujuan diatas. OKI sebagai organisasi keislaman terbesar sedunia harus mereformasi diri hingga problem-problem itu mendapatkan penyelesaian yang kontekstual. negara-negara anggota menetapkan 5 prinsip. kekuatan ekonomi negara-negara anggota OKI. 3) Menghormati kemerdekaan. III. 2) menciptakan suasana yang menguntungkan dan saling pengertian diantara negara anggota dan negara-negara lain. . menjadi salah faktor utama yang akan menentukan posisi OKI di dunia internasional. 4) Penyelesaian setiap sengketa yang mungkin timbul melalui cara-cara damai seperti perundingan. Kiprah OKI dalam Dunia Internasional Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi yang juga menjabat sebagai Ketua Organisasi Konferensi Islam berpendapat. rekonsiliasi atau arbitrasi.

suatu agama menjadi ancaman bagi agama yang lain.Reformasi OKI tersebut setidaknya menyangkut dua hal mendasar. OKI membatasi diri untuk negara-negara berpenduduk Islam. kemudian disebut “agama mayoritas” dan “agama minoritas’. Yahudi menjadi Zionis. OKI menetapkan negara-negara berpenduduk muslim sebagai syarat utama menjadi anggota tetapnya. gerakan Islamis bertujuan menerapkan syariat Islam atau negara Islam. Hal tersebut terlihat jelas dalam setiap . Perbedaannya. Relasi antarumat beragama pun terjebak dalam kecurigaan. maupun konferensi luar biasa. istilah mayoritas dan minoritas. Baik yang berbentuk konferensi tingkat tinggi (KTT). Menjadi elitis karena OKI hanya melibatkan pihak-pihak pengambil kebijakan seperti kepala negara dan menteri. Pada titik itu. pemaknaan agama sebagai kekuatan terjadi hampir merata di semua agama. Karena pemaknaan tersebut. Sehingga. Pada perkembangan berikutnya. Di sisi lain. bahkan kekerasan. OKI (secara historis) lahir (25/1969 di Rabat. OKI pun menjadi elitis dan eksklusif. Bukan aliran atau sekte. sudah 59 negara berpenduduk muslim yang bergabung dengan OKI. Maroko) untuk merespons peristiwa politik. kesalahan paling fatal yang pernah dilakukan manusia adalah pemaknaan agama dengan kekuatan. konferensi tingkat Menlu (KTM). Sementara itu. diakui atau tidak. OKI menjadikan Islam sebagai kekuatan untuk membentengi dan membela umat Islam di mana pun. Misalnya. Keanggotaan OKI juga menjadi permasalahan tersendiri. yaitu visi dan keanggotaan. yakni pembakaran Masjid AlAqsha (21/8/1969) oleh ekstremis Yahudi. Perbedaannya. bisa dipahami bahwa permasalahan Palestina selalu menjadi agenda utama pada setiap pelaksanaan konferensi OKI. dan Islam menjadi tak terpisahkan dari kekerasan. Karena itu. di satu sisi. Sebagaimana dimaklumi. Hingga saat ini. OKI sebenarnya “berwajah” Islam politik. Dari segi visi. Dan. OKI tidak berbeda dari lembaga-lembaga politik berkelas dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Liga Arab. ketegangan. Sebab. pemaknaan tersebut melahirkan terma politik yang “diagamakan”. Kristen menjadi asosial. OKI telah menjadikan Islam sebagai kekuatan seperti gerakan Islamis lainnya selama ini.

selain negara-negara Islam. Ibarat payung besar. reformasi sistem keanggotaan OKI. jauh lebih penting daripada para pengambil kebijakan itu. OKI justru memperbanyak angka sekte dalam Islam. aliran. maaf. Karena itu. V. Pertama. bila mau jujur. Ketegangan antara kelompok Syiah dan Sunni di Iraq. Bahkan. dan budayanya. Dari sekadar melibatkan negara dan para pengambil kebijakan menuju tokoh-tokoh lokal yang tersebar di ragam aliran yang ada. . Di sisi lain. Sebaliknya. serta Islam mayoritas dan Ahmadiyah di tanah air merupakan permasalahan serius yang tak gampang diselesaikan. kalangan intelektual. negara. kecurigaan. Secara akademis. baik yang bersifat reguler (tiga tahun sekali) maupun darurat. OKI juga menjadi eksklusif.tidak bisa ambil bagian dalam perumusan masalah serta pengambilan kebijakan. bahkan kekerasan antarsekte Islam sudah merupakan fakta historis yang cukup ironis. para intelektual muslim secara umum dan yang di daerah secara khusus. Tokoh-tokoh muslim pada tingkat lokal (darah) -apalagi umat Islam. OKI gagal menjadi “payung besar” yang bisa menaungi umat Islam di ragam sekte. Alasannya sederhana.konferensi OKI. Mereka tidak mempunyai hak untuk masuk lebih jauh ke dalam pembahasan konferensi dalam bentuk kebijakan. itu tak lebih sekadar “tamu kehormatan”. Diakui atau tidak. OKI harus bisa menaungi umat Islam di semua aliran dan negaranya. Kalaupun melibatkan pihak lain seperti Sekjen PBB. bahkan penyebab perpecahan tersebut. Tak hanya bagi “sosok lain” yang tidak “islami”. mereka lebih dekat dengan masyarakat. dan lainnya. Dalam kondisi seperti itu. Ikhwan Muslimin dan kalangan Islam moderat di Mesir. mereka cukup merasakan “asam garam” kehidupan umat Islam dalam menghadapi berbagai problema. melainkan juga terhadap umat Islam. mereka cukup memahami problem keumatan yang selama ini bergulir di masyarakat. Dengan kata lain. Padahal. tapi telah menjadi “serpihan”. suku. ketegangan. Langkah-langkah OKI ke Depan Ada tiga hal yang mendesak untuk dilakukan ke depan. OKI semestinya mengembangkan “kepak” sayap hingga mencakup sekte-sekte Islam. OKI tak hanya gagal menyatukan umat Islam.

Maroko. OKI selama ini hanya mencerminkan dua aliran besar dalam Islam. Yaitu. misalnya. umat Islam -kalangan agamawan khususnya. Selama ini. Pembentukan OKI antara lain ditujukan untuk meningkatkan solidaritas Islam di antara negara anggota. . Diakui atau tidak. Sebab. serta melindungi tempat-tempat suci Islam dan membantu perjuangan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. ijma’ menempati posisi yang sangat strategis dalam hukum Islam. terutama di ranah teologis. Ijma’ tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketiga. khususnya setelah unsur Zionis membakar bagian dari Masjid suci Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969. Syiah dan Ahlussunnah. dan menyepakati Deklarasi Rabat yang menegaskan keyakinan atas agama Islam. mengkoordinasikan kerjasama antara negara anggota. Padahal. konsensus (ijma’) keumatan. sahabat ini. terutama masalah Palestina. inklusivitas OKI. kecuali dalam bentuk cerita masa lalu. pernah mencapai ijma’ seperti ini Organisasi Konperensi Islam (OKI) dibentuk setelah para pemimpin sejumlah negara Islam mengadakan Konperensi di Rabat. Yakni.Kedua. mendukung perdamaian dan keamanan internasional. Aliran lain seperti Ahmadiyah tidak mempunyai ruang dalam diri OKI.sering “berpapasan” dengan ijma’ tersebut. Ahmadiyah tak kalah besar dari dua aliran Syiah dan Ahlussunnah. Namun. Dalam kitab-kitab klasik. OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim di kawasan Asia dan Afrika. ijma’ pada masa sekarang ibarat “makhluk langka”. penghormatan pada Piagam PBB dan hak azasi manusia. budaya dan ilmu pengetahuan antar negara-negara muslim di seluruh dunia. ditengarai bahwa ulama ini. dalam perkembangannya OKI menjelma sebagai suatu organisasi internasional yang menjadi wadah kerjasama di berbagai bidang politik. harus jujur diakui. Pembentukan OKI semula didorong oleh keprihatinan negara-negara Islam atas berbagai masalah yang diahadapi umat Islam. baik secara kualitas maupun kuantitas. dasar kedua setelah Alquran dan sunah. sosial. pada tanggal 22-25 September 1969. ekonomi. Sebagai organisasi internasional yang pada awalnya lebih banyak menekankan pada masalah politik.

menentang Islamophobia. negara-negara anggota OKI memandang revitalisasi OKI sebagai permasalahan yang mendesak. 11-17 Oktober 2003. keamanan. minoritas muslim seperti Kosovo. OKI sepakat untuk memulai upaya kongkrit dalam merestrukturisasi Sekretariat OKI terutama pada empat aspek: perampingan struktur. OIC 10-years Program of Actions merupakan awal perubahan OKI yang tidak hanya menfokuskan pada masalah politik tetapi juga ekonomi perdagangan. Sedangkan resolusi terkait yang berhubungan dengan keamanan global/ . sosial budaya. terorisme. ekonomi dan ilmu pengetahuan yang diharapkan dapat menjawab kesenjangan kesejahteraan umat. Di bidang politik dan intelektual. hak-hak kelompok minoritas dan komunitas muslim. ekonomi. Program Aksi 10 tahun OKI mencakup isu-isu politik dan intelektual. sosial. Final Communiqué dan sejumlah resolusi. meningkatkan solidaritas dan kerjasama antar negara anggota. dan masalah-masalah yang dialami Afrika. hukum. peningkatan kemampuan keuangan dan sumber daya manusia. KTT Luar Biasa OKI ke-3 di Mekkah. Malaysia. Semangat dan dukungan terhadap perlunya revitalisasi OKI dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa struktur dan kinerja organisasi OKI dinilai belum efisien dan efektif. conflict prevention. termasuk perumusan Statuta OKI baru yang diharapkan dapat dilaksanakan sebelum tahun 2015. isu-isu pembangunan. metodologi. KTT OKI ke-11 berlangsung antara tanggal 13-14 Maret dan bertemakan “The Islamic Ummah in the 21st Century” menghasilkan dokumen utama. peanganan masalah Filipina. membasmi ekstrimisme. yaitu: Piagam OKI. Dalam kaitan ini. dalam 10 tahun OKI diharapkan mampu menangani berbagai isu seperti upaya membangun nilai-nilai moderasi dan toleransi. Palestina. Arab Saudi pada 7-8 Desember 2005 telah mengakomodir keinginan tersebut dan dituangkan dalam bentuk Macca Declaration dan OIC 10-years Program of Actions yang meliputi restrukturisasi dan reformasi OKI.Untuk menjawab berbagai tantangan yang mengemuka. Pada pertemuan tingkat Kepala Negara/Kepala Pemerintahan (KTT) ke-10 di Putrajaya. telah diadakan rangkaian pertemuan yang berhasil mengkaji dan melakukan finalisasi TOR restrukturisasi OKI yang disiapkan oleh Malaysia. kekerasan dan terorisme. iptek dan sosial budaya. Final Communiqué mengangkat isu antara lain mengenai politik.

dan modernitas maupun HAM adalah compatible (e) Islam adalah agama perdamaian dan toleran. . Dalam kesempatan menghadiri KTT OKI ke-14. kompeten. Indonesia sangat mendukung proses revitalisasi OKI dan menginginkan agar OKI dapat semakin efektif dalam menanggapi berbagai perubahan dan tantangan global sesuai dengan tujuan pembentukannya. and the Arab-Israel Conflict. terutama mengingat adanya joint understanding untuk mendirikan negara Palestina pada akhir tahun 2008 (c) potensi kapasitas negara-negara anggota OKI dapat diberdayakan dalam memainkan perannya dalam upaya memelihara perdamaian dan keamanan global. 13-14 Maret 2008. Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Piagam Baru tersebut pada intinya merupakan penegasan bagi OKI untuk mengeksplorasi bentuk kerjasama yang lain dan tidak hanya terbatas pada kerjasama politik saja. dan Arab juga memiliki pandangan yang kurang lebih sama. telah dilakukan penandatanganan Piagam Baru OKI oleh para Menteri Luar Negeri. Indonesia senantiasa berpartisipasi aktif dalam OKI dengan tujuan akhir untuk mendorong proses good governance di dunia Islam untuk menjadikan OKI sebagai organisasi yang kredibel. dan diakui perannya di dunia internasional. termasuk Menteri Luar Negeri RI. Presiden RI dalam pidatonya menyampaikan antara lain (a) dukungan terhadap OIC’s Ten-Year Plan of Action yang merupakan cerminan pragmatisme OKI dalam menghadapi tantangan dan permasalahan umat (b) konflik Palestina-Israel merupakan penyebab utama krisis di Timur Tengah dan juga merupakan tantangan serius perdamaian dan keamanan internasional. Upaya interfaith dan intercivilization dialogue perlu didukung dalam mengurangi persepsi yang salah dan ketakutan terhadap Islam (Islamophobia) di kalangan Barat (f) pembangunan umat Islam harus memperhatikan aspek lingkungan. Dapat disampaikan bahwa wakil Asia. Resolutions on Political Affairs. Afrika. dalam KTM ke-35 OKI dengan tema Prosperity and Development di Kampala. demokrasi. tanggal 18-20 Juni 2008. the City of Al-Quds Al Sharif. Resolutions on Muslim Communities and Minorities in Non-OIC Member States. pemberantasan kemiskinan dan percepatan pembangunan (d) Islam.regional antara lain: Resolutions on the Cause of palestine. Uganda. Presiden Indonesia menyambut baik hasil Konferensi Annapolis pada bulan Desember 2007. Selanjutnya. Terkait dengan hal ini.

hukum. informasi. Peran Indonesia saat ini adalah sebagai Ketua Organization Islamic Conference Peace Committee for the Southern Philippines (PCSP-OIC). khususnya di bidang demokrasi. dan administrasi serta keuangan. Dengan pelaksanaan proses-proses sebagaimana dimaksud. Dalam kesempatan tersebut Menlu RI menyampaikan pokok-pokok pidato antara lain mengenai perlunya diintensifkan pelaksanaan reformasi OKI. komunitas muslim di negara bukan anggota OKI. good governance. serta. tanggal 23-25 Mei 2009 membahas isu-isu kerjasama yang menjadi perhatian bersama seperti politik. MNLF dan PCSP-OIC direncanakan diselenggarakan pada bulan Januari ataupun Februari 2009. diharapkan akan membantu tercapainya proses pencapaian penyelesaian konflik secara damai di kawasan Filipina Selatan dan memberikan situasi aman dan bebas dari konflik di kawasan dimaksud. kerjasama perdagangan dan pelibatan sektor swasta di antara negara anggota. Sebagai tindaklanjutnya. da’wah. Peran Pemri yang menonjol lainnya dalam OKI adalah dalam rangka memfasilitasi upaya penyelesaian konflik antara Pemerintah Filipina (GRP) dengan Moro National Liberation Front (MNLF) dengan mengacu kepada Final Peace Agreement / Perjanjian Damai 1996. sesuai dengan mandat Program Aksi 10 Tahun OKI (TYPOA) dan Piagam Baru OKI. masalah-masalah umum dan keorganisasian. Indonesia selaku Ketua Peace Committee for the Southern Philippines (OIC-PCSP) 2009-2011 berkunjung ke Manila pada tanggal 3-6 November 2009 guna mengadakan serangkaian konsultasi informal dengan para pihak yang terkait dalam proses Tripartite Meeting untuk Filipina Selatan. Adapun hasil penting terakhir adalah diadakannya Pertemuan JWGs ke-2 antara GRP dan MNLF difasilitasi PCSP-OIC pada tgl. 19-28 Agustus 2008.Pertemuan ke-36 Dewan Menteri Luar Negeri OKI (PTM ke-36 OKI) yang dilaksanakan di Damaskus. bertempat di KBRI-Manila. termasuk proses Legal Panel antara Government of the . sosial budaya. dan HAM termasuk hak-hak wanita.sebagai Ketua PCSP-OIC. ilmu pengetahuan dan teknologi. melaporkan perkembangan proses perdamaian di Filipina Selatan terkait dengan pelaksanaan pertemuan Tripartite antara Pemerintah Filipina-MNLF-OKI yang merundingkan implementasi sepenuhnya Perjanjian Damai 1996. Kunjungan tersebut diperlukan untuk mendorong agar proses yang diamanatkan di dalam Communiqué 3rd Session of the Tripartite Meeting between the GRP. MNLF and OICPCSP di Manila pada 11-13 Maret 2009. Pertemuan Tripartite ke-3 antara GRP. ekonomi. disamping isu Palestina. kemanusiaan (humanitarian affairs).

yaitu pengakuan terhadap keputusan Dewan Nasional Palestina (Palestinian National Council) untuk memproklamirkan Negara Palestina pada tanggal 15 Nopember 1988. Lebih lanjut. termasuk OKI. dapat berjalan kembali. Dukungan kemudian dilanjutkan dengan pembukaan hubungan diplomatik antara Pemerintah RI dan Palestina pada tanggal 19 Oktober 1989. Indonesia telah menfasilitasi Pertemuan Pendahuluan Legal Panel GRP-MNLF di KBRI Manila. Komitmen OKI untuk . tanggal dan tempat Pertemuan Legal Panel mendatang.Republic of the Philippines (GRP) dengan Moro National Liberation Front (MNLF) yang sedang macet. Indonesia telah memberikan dukungan bagi berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. yaitu dengan Under-Secretary Office of the Presidential Adviser on the Peace Process (OPAPP) Nabil Tan. Indonesia mengadakan tukar pandangan dengan wakil-wakil negara anggota OIC-PCPS yang memiliki perwakilan di Manila dalam upaya kolektif untuk mendorong kembali kelanjutan proses perdamaian GRP-MNLF. Indonesia adalah anggota “Committee on Al Quds (Yerusalem)” yang dibentuk pada tahun 1975. Isu terorisme juga telah menjadi perhatian utama OKI. Selain itu. Pada Akhir pertemuan konsultasi informal tersebut dicapai kesediaan kedua pihak untuk bertemu kembali di dalam Legal Panel merupakan suatu peluang yang perlu dimanfaatkan (to be seized) bagi kelanjutan proses Tripartite. yang dihadiri pula oleh para wakil negara-negara OICPCSP. Juga dilakukan pertemuan secara terpisah dengan MNLF –baik faksi Nur Misuari maupun faksi Muslimin Sema. Sedangkan mengenai tempat Pertemuan yang diusulkan di Tripoli. Realisasi dari dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk dukungan diplomatik. dan Ketua OPAPP yang baru Secretary Annabelle Tescon Abaya. Di samping itu. masih menunggu konfirmasi dari Libya. Pada tanggal 17 Desember 2009. dalam berbagai forum internasional. Pertemuan diadakan untuk membahas agenda. Selaku Ketua PCSP. Pertemuan telah menghasilkan joint statement yang intinya menyatakan bahwa Pertemuan Legal Panel berikutnya akan dilangsungkan tanggal 11-15 Januari 2010. Libya. Under-Secretary Kemlu Rafael Seguis. serta dengan GRP.

Tajikistan. Hal ini terkait dengan implementasi UN Global Counter-Terrorism Strategy dan penyelesaian draft konvensi komprehensif anti terorisme internasional di mana menyisakan outstanding issue pada definisi terorisme. Pertemuan merupakan KTM OKI pertama yang diadakan di Asia Tengah.mengatasi masalah terorisme terlihat antara lain pada The Extraordinary Session of the Islamic Conference of Foreign Ministers on Terrorism di Kuala Lumpur. Deklarasi tersebut pada intinya menekankan posisi negara-negara anggota OKI dalam upaya untuk memerangi terorisme dan upaya-upaya untuk mengkaitkan Islam dengan terorisme. Inti posisi OKI menekankan perlunya dibedakan antara kejahatan terorisme dengan hak sah perlawanan rakyat Palestina untuk merdeka. dengan tema “Shared Vision of a More Secure and Prosperous Islamic World”. Kedepan. dan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya OKI dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi. Menlu RI menekankan kembali mengenai proses reformasi OKI yang tengah berjalan saat ini dan keperluan untuk negara-negara anggota OKI mendukung proses tersebut antara lain melalui implementasi Charter OKI dan Program Aksi 10 Tahun (TYPOA. Dalam pertemuan tersebut. Pertemuan KTM yang pertama kali diadakan di Asia Tengah ini merupakan momentum khusus bagi kawasan tersebut. pembentukan kedua badan dimaksud akan semakin memperjelas posisi OKI dalam mempromosikan dan mengembangkan HAM dan isu perempuan di dunia internasional. 1-3 April 2002 yang menghasilkan Kuala Lumpur Declaration on International Terrorism. Dalam kaitan ini maka penyelesaian politik konflik Palestina secara adil akan memberikan sumbangan bagi pemberantasan the root causes of terrorism. dalam rangka meningkatkan kerjasamanya dengan negara-negara anggota OKI lain. Disampaikan pula bahwa Pemri mendukung upaya OKI bagi realisasi pembentukan Komisi HAM OKI dan terhadap statuta Organisasi Pembangunan Perempuan OKI yang telah disahkan. Terorisme merupakan salah satu isu di mana OKI memiliki sikap bersama pada pembahasan di forum SMU PBB. Malaysia. Pertemuan ke-37 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Konferensi Islam (KTM ke-37 OKI) telah dilaksanakan di Dushanbe. Pemri . tgl 18-20 Mei 2010.

Afghanistan. Berkenaan dengan isu Islamophobia. Pemri menekankan mengenai perlunya untuk mengajak pihak Barat dalam proses penciptaan proses dialogis lintas agama dan kebudayaan yang konstruktif guna memperkecil timbulnya pemahaman yang keliru atas Islam. Indonesia telah memberikan prioritas pada pengembangan capacity building bagi rakyat palestina pembangunan sosial. . Turki dan Brazil. non proliferasi nuklir dan penggunaan nuklir untuk tujuan damai. Hal ini diharapkan akan membantu penyelesaian isu nuklir Iran. mendorong kelancaran barang. pengutukan agresi Armenia terhadap Azerbaijan. Deklarasi tersebut menggaris-bawahi mengenai beberapa isu seperti Perdamaian di Timur Tengah. Disamping itu. terorisme. dialog antar peradaban dan Islamophibia. Untuk itu. pengembangan SDM dan pendidikan. KTM OKI ke-37 telah mengesahkan apa yang disebut Deklarasi Dushanbe. disamping memperkenalkan Islam sebagai agama yang mengedepankan toleransi dalam menjawab tantangan global saat ini. infrastruktur dan keuangan untuk periode 2008-2013. pada kesempatan yang sama Pemri juga menyatakan dukungannya atas berdirinya negara Palestina yang merdeka dan ajakan kepada komunitas internasional untuk secara bersama memberikan bantuan yang diperlukan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat Palestina.juga menyatakan sikapnya atas upaya terciptanya dunia yang bebas dari senjata nuklir berdasarkan 3 pilar utama yaitu: nuclear disarmament. Di dalam pembahasan resolusi tentang OIC Strategy Paper on Combating Defamation of Religion. Pemri menyambut baik tercapainya kesepakatan antara Iran. ekonomi. Turki dan Brazil dalam hal pengaturan penggunaan enerji nuklir. perlucutan senjata nuklir dan senjata pemusnah massal. pemerintahan. Pemri menekankan kembali perlunya untuk menjaga kesatuan sikap dan posisi Kelompok OKI terhadap isu-isu yang bersifat prinsipil dan juga menghimbau kiranya Kelompok OKI dapat lebih menunjukkan fleksibilitas melalui engagement yang lebih bersifat konstruktif kepada pihak dan kelompok lain. jasa diantara Negara OKI. menyambut baik kesepakatan pertukaran bahan bakar nuklir oleh Iran.

Tajikistan. Turki. Dubes Sayyed El-Masry. Pertemuan dipimpin oleh Dirjen Multilateral Kemlu selaku Ketua PCSP dan dihadiri oleh anggota Komite. Malaysia. Libya. yaitu Arab Saudi.MNLF) Maret 2009 hingga pertemuan di Tripoli.Disela-sela pelaksanaan KTM. Indonesia menyampaikan laporan perkembangan implementasi dari Perjanjian Damai 1996. khususnya pasca Pertemuan Tripartite (GRP . serta Utusan Khusus Sekretaris Jenderal OKI untuk Filipina Selatan. Libya. Bangladesh tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Indonesia mengadakan pertemuan Komite pada tanggal 20 Mei 2010.OKI . selaku Ketua Komite. Brunei Darussalam. . Mesir. Senegal. Dalam kesempatan tersebut. 20 Mei 2010. selaku Ketua Komite Perdamaian OKI untuk Filipina Selatan (OIC-PCSP – Peace Committee for the Southern Philippines).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful